Buku 027 (Seri I Jilid 27)

Sejenak ketiga anak-anak muda itu saling berdiam diri, sehingga pringgitan itu sekali lagi menjadi sepi. Dan sekali lagi terdengar burung hantu seolah-olah merintih menggetarkan udara malam. Di halaman daun-daun yang kuning berguguran oleh sentuhan angin lereng bukit yang semakin keras. Gemerasak seperti gemerasaknya nafas Agung Sedayu dan Wuranta.

Yang memecahkan keheningan itu adalah suara Untara memberat, “Pikirkanlah. Kalian bukan lagi anak kecil yang manja.”

Ketika Untara terdiam, tiba-tiba udara pringgitan itu digetarkan oleh suara Wuranta setajam getar jantungnya, “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Untara.”

Untara mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku kira cukup jelas.”

“Kau agaknya menganggap, bahwa selama ini aku selalu menghindari pertemuan dengan Agung Sedayu. Kau salah sangka. Aku tidak pernah berpikir demikian. Adalah kebetulan sekali bahwa aku tidak bertemu dengan Adi Agung Sedayu untuk beberapa lama.”

Untara menarik nafas dalam-dalam, “Kau aneh Wuranta. Kita sudah cukup dewasa. Aku tahu benar perasaanmu. Jangan ingkar.”

Baju Wuranta telah menjadi basah oleh keringat. Namun ia masih berkata, “Jangan mencari-cari, Untara. Katakan saja apa maksudmu sebenarnya.”

Untara terperanjat mendengar kata-kata itu. Ia adalah seorang senapati perang di daerah ini. Ia adalah orang tertinggi dalam tata keprajuritan Pajang di daerah lereng Merapi. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa di hadapannya duduk seorang anak muda Jati Anom. Bukan seorang prajurit Wira Tamtama. Seorang anak muda kawannya bermain semasa kanak-kanak, sehingga bekas-bekas pergaulan di masa kecilnya itu tidak dapat dihapuskannya. Sikap itulah yang masih dibawa oleh Wuranta kali ini.

Sekali lagi Untara menghela nafas dalam-dalam untuk menahan hatinya. Persoalan yang akan dibicarakannya memang bukan masalah-masalah keprajuritan, meskipun akibatnya akan menyentuh pula.

Wuranta merasa bahwa ruangan itu menjadi semakin lama semakin panas, seperti tungku yang dipanasi dengan bara api kayu mlandingan.

Yang terdengar kemudian adalah suara Untara, “Wuranta, tidak baik apabila aku terpaksa mengatakan dengan berterus terang. Tetapi seharusnya kau dapat menangkap maksudku dan kau tidak perlu menghindarinya lagi. Marilah persoalan ini kita selesaikan. Kemudian, kalian akan dapat hidup seperti sedia kala. Tanpa perasaan canggung dan segan.”

Gigi Wuranta menjadi semakin terkatup rapat untuk menahan gelora perasaannya. Dentang jantung di dadanya serasa menjadi semakin cepat dan keras. Seperti kentong titir yang memekik-mekik hampir-hampir mematahkan seluruh tulang iganya.

Tetapi Agung Sedayu pun tidak pula kalah gelisahnya. Ia belum tahu, apakah yang akan dikatakan kakaknya itu kepadanya. Tetapi menilik pembicaraannya dengan Wuranta, maka ia sudah dapat meraba ujung dan bahkan pangkalnya.

Dengan dada yang semakin berdebar-debar ia mendengar Untara melanjutkannya, “Apakah kau dapat mengerti? Dan kau dapat mempertimbangkan dengan pikiran yang jernih. Tidak sekedar dengan perasaan saja.”

Kini tubuh Wuranta menjadi gemetar. Dipandanginya Untara dan Agung Sedayu berganti-ganti. Kemudian terdengar Wuranta itu menggeram, ”Lalu apakah yang harus aku lakukan menurut pertimbanganmu, Untara? Apakah aku harus minta maaf dan berjanji untuk melupakan persoalan ini.”

“Tidak perlu,” sahut Untara, “tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Tetapi apabila kalian melupakan persoalan di antara kalian, maka dengan demikian sudah terlepas dari persoalan itu.”

Wuranta tidak menjawab. Sekali lagi tatapan matanya jatuh di atas anyaman tikar yang silang-menyilang.

Tetapi Wuranta itu kemudian bergumam seperti kepada diri sendiri, “Apakah yang harus aku lakukan? Aku tidak mengerti. Apakah aku setiap hari harus pergi ke mana pun bersama Adi Sedayu atau aku harus menunggunya di banjar ini atau di kademangan Jati Anom? Dan aku juga tidak mengerti, apakah yang harus dilakukan oleh Adi Agung Sedayu dalam hal ini.”

Tampaklah sebersit warna merah di wajah Agung Sedayu. Sesaat ia mengangkat wajahnya. Sorot matanya menghunjam langsung ke wajah Wuranta, seolah-olah ingin melihat apakah yang sedang bergulat di dalam kepala anak muda itu.

Betapa dahsyatnya jantungnya bergetar, sehingga ia tidak mampu untuk duduk mematung, mendengarkan pembicaraan yang tidak begitu jelas baginya, yang hanya dapat diraba-rabanya saja. Karena itu, maka terloncat katanya dengan suara gemetar, “Aku tidak tahu, apakah yang sedang kita bicarakan.”

Kedua anak-anak muda yang lain, Untara dan Wuranta, serentak berpaling kepadanya. Namun Wuranta kemudian segera melontarkan pandangan matanya ke sudut pringgitan, sedang Untara menarik nafasnya dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Seharusnya kau pun sudah tahu. Setidak-tidaknya kau dapat merabanya.”

Agung Sedayu sendiri tidak mengerti, kekuatan apakah yang tiba-tiba mendorongnya, sehingga ia berkata, “Kakang ingin menyelesaikan masalah yang agaknya menyangkut diriku. Menurut tangkapanku adalah masalah antara aku dan Kakang Wuranta. Aku tidak ingkar, bahwa aku merasakan hubungan antara aku dan Kakang Wuranta menjadi aneh. Aku tidak tahu, siapakah yang menyebabkannya. Tetapi itu adalah kenyataan, Kakang menghendaki persoalan ini harus segera mendapat pemecahan dalam sikap yang cukup dewasa. Tetapi menghadapi persoalan yang harus aku hayati dengan sikap dewasa itu aku hanya dapat meraba-raba.”

Untara terperanjat mendengar jawaban adiknya. Jawaban yang sama sekali tidak diduga-duganya. Dengan tajam ditatapnya wajah Agung Sedayu yang kemudian tertunduk. Seolah-olah anak muda itu baru pertama kali ini dilihatnya.

Di dalam hati Untara bergetar beberapa macam pertanyaan tentang adiknya itu. Namun kemudian ia berkata di dalam hatinya itu, “Anak ini telah benar-benar meningkat menjadi dewasa. Ia agaknya telah menemukan sesuatu pada dirinya. Sikap dan kepercayaan diri. Mudah-mudahan ia tidak kehilangan arah.”

Wuranta pun menjadi gelisah mendengar jawaban Agung Sedayu itu. Terasa dadanya bergetar dan wajahnya menjadi semakin tegang.

Yang berkata kemudian adalah Untara, “Ya, Sedayu. Kau benar. Kau harus mendengar dengan pasti apakah persoalannya.”

Tiba-tiba Wuranta memotong, “Kau dapat memperbesar persoalan itu, Untara. Seolah-olah persoalan yang cukup penting dibicarakan oleh seorang senapati seperti kau. Kalau kau tidak mempersusah dirimu dengan soal yang sama sekali tidak bersangkut-paut dengan jabatanmu itu, maka aku kira persoalan ini pun akan dapat selesai dengan sendirinya.”

Untara menggelengkan kepalanya, “Tidak, Wuranta. Meskipun kemungkinan yang demikian itu ada, tetapi kemungkinan yang lain pun dapat terjadi. Persoalan itu akan menjadi semakin parah.”

Wajah Wuranta menjadi kemerah-merahan.

“Sebaliknya aku berterus terang. Kalian harus melupakan persoalan kalian,” berkata Untara kemudian, “persoalan yang dapat mengganggu hubungan kalian, hubungan antara anak-anak muda Jati Anom pada umumnya.”

“Ya, aku tahu,” sahut Agung Sedayu, “aku akan melupakan persoalan itu. Tetapi persoalan yang mana? Persoalan, bahwa aku siang tadi tidak datang menghadiri upacara pelepasan jenazah atau persoalan lain.”

“Ah,” Untara mengerutkan keningnya, “kau tidak memperlancar pembicaraan ini. Baiklah, aku akan mengatakannya. Aku ingin kalian melupakan Sekar Mirah. Biarlah gadis itu kembali ke Sangkal Putung. Kalian adalah anak-anak muda Jati Anom. Kalian berdua termasuk orang-orang penting, terutama di lingkungan anak-anak muda.”

Wajah-wajah Agung Sedayu dan Wuranta berubah sesaat. Wajah-wajah itu dijalari oleh warna kemerah-merahan. Keduanya menundukkan kepalanya. Dan untuk sejenak keduanya tidak menyahut.

“Nah, aku sudah berterus-terang. Kalian agaknya menghendaki aku berkata begitu. Dan aku sudah mengatakannya,” Untara berkata selanjutnya. Alisnya tampak berkerut, dan ia berkata-pula, “Sudah cukup persoalan yang disebabkan oleh gadis itu. Salah satu sebab dari kepergian Sidanti dari Sangkal Putung adalah gadis itu pula. Kalau tidak ada Sekar Mirah di sana, yang agaknya akan mengecewakannya, maka ia masih harus mempertimbangkan sepuluh kali lagi untuk meninggalkan Sangkal Putung.”

Agung Sedayu dan Wuranta masih berdiam diri. Namun dengan demikian Agung Sedayu kini telah mendapat kepastian, bahwa dugaannya selama ini ternyata benar. Tetapi dengan demikian pula, maka wajahnya menjadi semakin memerah. Ia menjadi malu atas persoalan yang melibatnya. Apalagi apabila diingatnya, bahwa Wuranta adalah kawan sepermainan, meskipun umurnya agak lebih tua sedikit daripadanya.

“Kalian tidak usah ingkar. Kalian sama-sama mencintai gadis itu. Itulah sebabnya, maka kalian seolah-olah menjadi bersaing. Mungkin karena Agung Sedayu telah mengenal gadis ilu lebih dahulu, maka hubungannya menjadi agak lebih rapat dari Wuranta. Hal itulah yang telah timbul pada kalian. Hal itu pulalah yang telah merenggangkan hubungan kalian.”

Keduanya masih berdiam diri. Dan Untara meneruskan, “Kemudian kalian harus bercermin pada padepokan Tambak Wedi. Langsung atau tidak langsung, kehancuran padepokan ini sebagian dipengaruhi pula oleh kehadiran gadis itu di sini. Perkelahian antara Sidanti dan Alap-alap Jalatunda adalah karena Sekar Mirah. Kemudian perkelahian itu menjalar menjadi pertempuran yang menyala antara orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang di bawah pimpinan Sanakeling. Nah, apakah persoalan yang dapat ditumbuhkan oleh Sekar Mirah itu tidak juga belum berakhir? Dan kini kalian berdua terlibat pula dalam masalah itu seperti Sidanti dan Alap-alap Jalatunda.”

Keduanya tidak segera menjawab. Dengan demikian ketika Untara berhenti sejenak, maka pringgitan itu sekali lagi menjadi sepi. Sekali lagi di kejauhan terdengar suara burung hantu. Lalu terdengar pula anjing-anjing liar menggonggong bersahut-sahutan.
Tetapi kesepian malam itu terasa menekan dada Agung Sedayu seperti hendak menghimpit patah tulang-tulang iganya. Ketika ia mencoba mengangkat wajahnya dan memandangi Wuranta, maka anak muda itu masih menundukkan kepalanya.

Terdengar kemudian suara Untara memecah kesepian, “Bagaimana? Apakah kalian dapat mengerti? Aku mempunyai perhitungan atas kalian berdua. Kau, Wuranta. Kau akan menjadi seorang tetindih anak-anak muda Jati Anom. Kau akan dapat memperdalam pengetahuanmu tentang olah kanuragan. Dan kau akan dapat menjadi tempat untuk meletakkan dasar kekuatan Jati Anom.” Untara berhenti sejenak, lalu kepada Agung Sedayu berkata, “Dan kau, Sedayu. Kau masih terlalu muda. Masa depanmu masih sangat panjang. Karena itu, maka sebaiknya kau membentuk dirimu lebih dahulu sebelum kau tertarik akan hal-hal lain. Semula aku tidak menaruh keberatan apapun atas hubunganmu dengan Sekar Mirah. Tetapi ternyata aku melihat sendiri, bahwa hubungan itu akan dapat mengganggumu, yang kini tampak di mataku adalah hubunganmu dengan Wuranta sudah terganggu. Ternyata kau lebih mementingkan gadis itu daripadanya. Sedang kau tahu, bahwa Wuranta adalah seorang yang cukup penting dalam pertempuran yang baru saja terjadi. Bahkan seakan-akan turut menentukan permulaan yang menjadi pembuka jalan masuk ke padepokan ini.”

Meskipun Agung Sedayu sudah menyangka, bahwa kakaknya akhirnya akan sampai juga pada persoalan dan pendirian itu, namun kata-kata itu masih juga membuatnya terperanjat sekali. Terasa seakan-akan dadanya sejenak menjadi pepat, dan nafasnya seolah-olah terhenti.

Untara melihat wajah adiknya yang tiba-tiba menjadi pucat itu. Tetapi sejenak kemudian wajah yang pucat itu menjadi merah membara. Mata Agung Sedayu seakan-akan menyala karena desakan-desakan di dalam dadanya. Sesaat dipandangnya wajah kakaknya, sesaat kemudian matanya hinggap pada wajah Wuranta. Tetapi anak Jati Anom itu menundukkan wajahnya meskipun hatinya juga bergolak seperti hati Agung Sedayu. Namun betapa hati Wuranta bergolak, tetapi ada perbedaan tingkat di antara keduanya. Wuranta kini merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Untara itu adalah wajar. Sebagai seorang pemimpin, ia berusaha untuk menyelesaikan persoalan yang tumbuh di antara orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Ketika ternyata Untara tidak menjadi berat sebelah, tidak memihak kepada Agung Sedayu dan menyalahkannya, maka sejak itu hati Wuranta mempunyai tangkapan lain terhadap usaha penyelesaian yang dilakukan oleh Untara. Tiba-tiba hatinya menjadi sangat terpengaruh oleh cara senapati muda itu. Bahkan kemudan ia menghargainya. Ternyata Untara mempanyai sikap yang tidak disangka-sangkanya. Semula ia menyangka, bahwa Untara pasti akan membela adiknya. Menyalahkannya dan berusaha untuk membela kebenaran Agung Sedayu. Tetapi ternyata tidak. Untara tidak berbuat demikian menurut penilaian Wuranta.

Bahkan Untara itu berkata, bahwa mereka berdua, Agung Sedayu dan Wuranta bersama-sama harus melupakan gadis itu. Gadis yang telah membuat Agung Sedayu dan Wuranta seolah-olah saling menjauhi. Betapapun berat perasaannya, namun ia merasa bahwa hal itu sebaiknya dilakukan. Melupakan Sekar Mirah. Dengan demikian, maka antara dirinya dan Agung Sedayu tidak akan ada lagi batas yang menghalang-halangi seperti yang mereka alami pada saat-saat terakhir.

Tetapi untuk melupakan Sekar Mirah pasti akan terampau sulit. Itulah sebabnya, maka Wuranta masih tetap membisu sambil menundukkan kepalanya. Dadanya yang bergolak terasa menjadi semakin pepat. Namun ia dapat mengerti pendirian Untara. Bagi Untara tidak ada jalan yang lebih baik dari jalan yang ditempuhnya kali ini.

Berbeda dengan Wuranta, maka pendirian Untara itu serasa telah membelah jantung Agung Sedayu. Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ia merasa bahwa ia dihadapkan pada suatu tantangan yang harus dijawabnya berdasarkan atas keyakinan sendiri. Apabila selama ini pendiriannya sebagian besar tergantung kepada kakaknya, maka kali ini tiba-tiba ia merasa kakaknya sebagai orang asing baginya. Orang yang tidak dapat mengerti tentang dirinya dan yang tidak dapat dimengertinya.

Tetapi karena kepepatan hatinya, karena gelora yang dahsyat melanda dadanya seperti kawah gunung Merapi, maka untuk sejenak Agung Sedayu justru terbungkam. Hanya matanya sajalah yang bergetar memancarkan perasaannya yang membara.

Untara dapat menangkap perasaan adiknya. Terasa hatinya pun menjadi berdebar-debar. Adiknya kini ternyata bukan adiknya beberapa waktu yang lalu, yang menangis sambil berpegangan ikat pinggangnya, di perjalanan ke Sangkal Putung ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya dengan Alap-alap Jalatunda dan Pandai Besi dari Sendang Gabus. Tetapi nyala pandangan mata Agung Sedayu kini adalah pancaran perasaan seseorang yang mempunyai keyakinan pada dirinya sendiri.

Dengan demikian maka Untara merasa, bahwa ia harus berhati-hati menghadapi adiknya ini. Adiknya yang bagi Untara masih terlampau muda untuk menentukan sikap dan jalan hidupnya. Adiknya yang menurut pandangan Untara masih terlampau hijau dalam pengalaman dan pengamatan hidup. Mungkin ia sudah merasa dewasa karena keadaan yang memaksanya bersikap dewasa. Tetapi kedewasaan yang demikian bukanlah kedewasaan yang matang. Bahkan mungkin keyakinan diri dalam keadaan yang demikian akan dapat menjerumuskan Agung Sedayu ke dalam tindakan yang salah dan berbahaya.

Namun untuk sesaat, mereka seolah-olah terbungkam. Mereka tidak segera menemukan kata-kata untuk memecahkan kesenyapan yang tegang. Hanya nafas mereka sajalah yang berdesahan memenuhi ruangan pringgitan banjar padepokan Tambak Wedi.

Tetapi akhirnya Untara memecahkan kesepian itu. Katanya, “Aku kira kalian dapat mengerti, bahwa tidak ada jalan lain yang dapat kalian tempuh. Mungkin untuk sesaat, perasaan kalian akan menjadi sakit. Kalian akan merasa kehilangan sesuatu. Tetapi sesuatu itu memang belum pernah menjadi milik kalian. Karena itu, biarlah segera Sekar Mirah kembali ke Sangkal Putung. Aku akan menyediakan pengawalan yang kuat sehingga meyakinkan bahwa mereka akan selamat sampai ke kademangan itu, meskipun seandainya mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya di perjalanan. Kalian berdua akan tetap tinggal di sini. Sebentar lagi kalian akan berhasil melupakannya dan kalian akan segera tenggelam dalam kesibukan yang lain. Kalian adalah anak-anak muda yang memiliki kemampuan yang cukup. Agung Sedayu akan dapat menjadi seorang Wira Tamtama yang pilih tanding. Sedang Wuranta akan dapat menjadi landasan kekuatan Jati Anom. Apabila semuanya itu telah kalian capai, maka jalan hidup kalian akan kalian tentukan sendiri. Aku adalah saudara tua Agung Sedayu. Karena itu, maka aku wajib menuntunmu.”

Dada Agung Sedayu benar-benar akan pecah mendengar kata-kata kakaknya. Betapa ia berusaha untuk menahan gelora di dalam dadanya, namun kegelisahannya memancar juga lewat matanya. Bahkan segenap pergolakan di dalam dirinya.

Tetapi justru karena itu, maka ia tidak segera dapat mengucapkan sesuatu. Agung Sedayu itu duduk saja seperti patung mati, membeku. Namun dalam kebekuannya itu, Untara dapat membaca pada sorot matanya, betapa hati adiknya itu sedang menyala.

Meskipun demikian, Untara merasa wajib untuk mempertahankan pendiriannya itu. Senapati itu mengharap, bahwa dengan demikian adiknya yang masih terlampau muda itu akan terbebas dari pengaruh yang dapat membuatnya tetap kerdil. Menurut jalan pikiran Untara, Agung Sedayu harus mendapatkan dahulu kesempatan yang sebak-baiknya di dalam lapangan yang sesuai bagi seorang laki-laki. Ternyata kini Agung Sedayu telah dapat menyingkirkan perasaan takutnya yang berlebih-lebihan, dan telah memiliki kecakapan dan ilmu yang pantas untuk menjadi seorang prajurit. Bukan saja seorang prajurit kebanyakan, tetapi ia mempunyai bekal yang cukup untuk dalam waktu yang singkat menjadi seorang lurah Wira Tamtama.

Melihat wajah dan sorot mata adiknya, Untara dapat mengetahui bahwa agaknya Agung Sedayu berpendirian lain.

Karena Agung Sedayu tidak segera menyahut, maka Untara itu pun bertanya, “Bagaimana? Apakah kalian dapat mengerti.”

Wuranta masih menundukkan kepalanya. Tetapi dari sikap dan pandangan matanya, Untara pun dapat mengerti, bahwa agaknya Wuranta dapat menerima penjelasannya. Berbeda dengan adiknya, Agung Sedayu.

Sejenak mereka bertiga terdiam. Pringgitan itu dikuasai oleh kesenyapan. Tetapi setiap hati ketiga anak-anak muda yang berada di dalamnya, berdentangan bagaikan seribu genta yang berbunyi bersama-sama di dalam dada mereka.

Namun Agung Sedayu masih berdiam diri. Wajahnya yang tegang telah menjadi basah oleh keringatnya. Terasa keningnya berdenyut dan kepalanya menjadi pening.
Seperti ketakutan baru di kepalanya, ia mendengar kakaknya langsung bertanya kepadanya, “Bagaimana pendirianmu, Agung Sedayu?”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Dengan sepenuh tenaga ia mencoba memenangkan hatinya. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab. Terlampau banyak masalah yang berdesakan di dalam dadanya. Namun seolah-olah masalah yang terlampau banyak itu desak-mendesak berebut dahulu, sehingga justru karena itu, maka meskipun mulutnya bergerak-gerak, tetapi belum sepatah kata pun yang terloncat dari sela-sela bibirnya.

Karena Agung Sedayu masih diam, maka sekali lagi Untara bertanya, “Bagaimana Agung Sedayu. Kenapa kau diam saja?”

Agung Sedayu menggeser diri setapak surut. Titik-titik keringat di keningnnya jatuh satu-satu di pundaknya.

Terbata-bata terdengar ia berkata, “Kakang, aku tidak dapat melakukannya.”

Hanya itulah yang dapat diucapkan. Beribu macam kata-kata masih tetap tersimpan di dalam hatinya. Beribu persoalan yanq tidak terucapkan karena justru berdesakan di dalam dadanya.

Tetapi jawabannya yang singkat itu telah melontarkan pokok persoalan yang bergelora di dalam dadanya. Jawaban yang singkat itu telah menyebabkan dada Untara dan Wuranta berdesir. Meskipun Untara telah dapat meraba lewat sorot matanya, tetapi bahwa dengan tegas Agung Sedayu menyatakan pendapatnya itu, telah mengejutkannya.

Karena itu, maka Untara itu pun kemudian menyahut, “Agung Sedayu. Aku sudah menyangka, bahwa kau akan menjawab demikian. Aku sudah menyangka bahwa kau pasti akan berkeberatan. Tetapi aku yakin, bahwa kau akan mampu mengendalikan perasaanmu. Kau sudah bukan anak-anak lagi. Kau harus sudah dapat membedakan, mana yang baik dan mana yang buruk.”

“Kakang,” suara Agung Sedayu masih bergetar, “aku tidak dapat.”

“Kenapa, Sedayu?” bertanya Untara.

Dada Agung Sedayu masih berdentangan. Dengan susah payah ia berkata, “Aku bersama Adi Swandaru pergi dari Sangkal Putung. Aku akan kembali ke Sangkal Putung bersama-sama.”

Kata-kata Agung Sedayu masih belum dapat tersusun baik. Ia mengatakan apa saja yang dapat dikatakannya. Tetapi Untara dapat mengerti maksudnya. Maka jawabnya, “Itu tidak penting, Sedayu. Kau dan Swandaru telah menemukan Sekar Mirah. Biarlah Swandaru membawa adiknya kepada orang tuanya. Swandaru akan dapat mengatakan bahwa kau akan tetap tinggal di Jati Anom.”

“Tidak,” kata-kata Agung Sedayu terlampau singkat.

Untara mengerutkan keningnya. Ia masih berkata dengan tenang, “Aku kakakmu, Agung Sedayu. Selama ini kau tidak pernah bersikap demikian terhadapku. Apalagi bersitegang tentang sesuatu pendirian. Aku merasa bahwa aku masih bertanggung jawab terhadapmu sebagai seorang kakak. Aku adalah pengganti ayah dan ibu.”

Mendengar kata-kata Untara yang terakhir itu terasa dada Agung Sedayu seperti terhimpit pecahan Gunung Merapi. Ia ingin menjerit sekeras-kerasnya. Ia ingin menyebut nama ayah dan ibunya sambil berteriak sepuas-puasnya untuk mengurangi kepepatan dadanya. Tetapi ia tidak dapat melakukannya.

Yang didengarnya kemudian adalah suara kakaknya itu lagi, “Agung Sedayu, sebagai saudara tua aku ingin melihat kau maju di dalam perkembangan yang wajar. Seperti Sidanti, ia mencoba mulai di bidang keprajuritan. Tetapi sayang, ia ternyata sesat jalan sehingga kemungkinan yang baik tertutup seluruhnya baginya. Kau akan dapat mulai dengan itu pula. Menjadi seorang prajurit. Maka harapan akan terbuka di hadapanmu untuk segera memanjat pada tingkat-tingkat yang tebih tinggi, karena kau mempunyai cukup kemampuan untuk itu.”

Tetapi sekali lagi Untara terkejut mendengar jawaban Agung Sedayu, “Tidak, Kakang. Aku tidak ingin menjadi seorang prajurit.”

Jawaban Agung Sedayu itu benar-benar mendebarkan hati Untara. Ia belum pernah melihat sikap Agung Sedayu yang demikian kerasnya. Namun dengan demikian, maka ia menarik kesimpulan, bahwa pengaruh seorang gadislah yang telah membuat adiknya menjadi berkeras kepala.

Meskipun demikian Untara masih berusaha menahan kata-katanya. Ia masih berusaha untuk berkata dengan tenang, “Agung Sedayu. Kenapa kau tidak ingin menjadi seorang prajurit? Setiap laki-laki ingin dapat menjadi seorang prajurit yang baik, yang berguna bagi negara dan tanah kelahirannya.”

Gejolak di dada Agung Sedayu menjadi semakin bergelora. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab.

“Prajurit adalah suatu lapangan kebaktian yang paling baik bagi seorang laki-laki muda yang mempunyai bekal yang kuat seperti kau. Ayah juga mengharap aku menjadi seorang prajurit. Dan aku telah mencoba untuk memenuhi harapan ayah itu.”

Tetapi tanpa diduga-duga Agung Sedayu menjawab, “Kakang, apakah ayah dan ibu juga mengharap aku menjadi seorang prajurit?”

Sebersit warna merah merayap di wajah Untara. Namun kemudian ia masih mencoba tersenyum. Jawabnya, “Agung Sedayu, kalau ayah mengharap aku menjadi seorang prarjurit, maka ayah pun akan bergembira sekali seandainya sempat melihat kau sudah berubah sifat sama sekali, alangkah senangnya. Kau sekarang sudah tidak takut lagi terhadap Gendruwo Bermata Satu di tikungan Randu Alas. Kau sudah tidak takut lagi terhadap Sidanti. Alangkah senangnya.”

“Tetapi, Kakang,” suara Agung Sedayu sendat, “ibu akan menjadi sedih kalau aku menjadi seorang prajurit. Seandainya ibu masih ada, maka ibu pasti akan berpendirian lain.”

“Ah,” kesabaran Untara sedikit demi sedikit menjadi larut, seperti sebongkah garam yang benamkan ke dalam air, “itu adalah, karena kau pada waktu itu seorang penakut. Tetapi kau harus berbangga, bahwa kau sekarang bukan lagi seorang penakut. Kau kini seorang laki-laki penuh. Dan kau pantas untuk menjadi seorang prajurit.”

“Aku tidak ingin menjadi seorang prajurit, Kakang.”

“He,” wajah Untara menjadi tegang. Sedang Wuranta yang dudut membeku itu pun menjadi tegang juga. Ia kini tinggal mendengarkan saja pembicaraan kakak beradik yang lebih condong pada persoalan keluarga itu. “Kau harus mendengarkan nasehatku, Agung Sedayu. Aku dapat memilih lapangan yang pantas buatmu.”

Terasa getar di dada Agung Sedayu seolah-olah telah merontokkan iga-iganya. Ia merasakan kata-kata kakaknya yang tajam. Perlahan-lahan tumbuhlah keseganannya kepada saudara tuanya itu, meskipun ia tidak dapat mengerti dan menerima petunjuknya.

“Agung Sedayu. Tak ada orang lain yang mencoba menempatkan kau di tempat yang sebaik-baiknya selain aku. Kalau kau tidak ingin menjadi seorang prajurit, lalu kau ingin menjadi apa?”

Agung Sedayu tidak segera dapat menjawab. Selama ini ia memang belum pernah berpikir, lapangan apakah yang paling sesuai dengan dirinya, sifat-sifatnya, dan kemampuannya. Karena itu, ketika kakaknya mengajukan pertanyaan itu, ia menjadi bingung.

“Coba katakan, apakah kau sudah mempunyai pilihan?”

Perlahan-lahan Agung Sedayu menggeleng, “Belum, Kakang.”

“Nah, kau masih belum tahu apa yang akan kau lakukan. Kau masih belum menemukan tempat berpijak, tetapi kau sudah menambatkan hatimu kepada seorang gadis. Coba, apa yang akan kau lakukan dengan gadis itu. Dan apa pula yang akan terjadi dengan dirimu sendiri.”

Dada Agung Sedayu terasa terhantam guntur yang meledak di depan hidungnya. Terasa dadanya menjadi pepat dan nafasnya menjadi sesak. Justru karena itu, maka pikirannya menjadi gelap. Dan ia tidak tahu, apa yang harus dikatakannya.

“Sadari, Sedayu. Sadari. Aku adalah kakakmu. Tidak akan aku menjerumuskan kau ke dalam keadaan yang pahit. Aku berusaha untuk membantumu, menemukan hari depan yang baik. Kau harus mengerti.”

Ketika Untara terdiam sejenak, maka keadaan pringgitan itu menjadi terlampau sepi. Di halaman sudah tidak terdengar lagi suara para prajurit. Sepi. Sepi sekali.

Sejenak mereka tenggelam di dalam angan-angan masing-masing. Betapa dinginnya malam, tetapi dada Agung Sedayu terasa hangus terbakar. Ia sama sekali tidak dapat menerima pendirian kakaknya. Tiba-tiba keinginannya untuk mengantarkan Sekar Mirah ke Sangkal Putung justru menjadi semakin besar. Terbayang di ruang matanya, wajah gadis itu menangis. Dengan suaranya yang pedih memanggil-manggilnya sambil melambaikan tangannya.

Tiba-tiba hatinya berteriak, “Aku akan pergi ke Sangkal Putung.”
Tetapi mulutnya tetap terbungkam.

“Pikirkan, Agung Sedayu. Dengarlah nasehatku. Kau seharusnya menemukan tempat untuk berpijak lebih dahulu. Baru kemudian kau berpikir tentang seorang gadis. Apakah kau dapat mengerti? Apalagi gadis itu telah beberapa kali membuat bencana. Langsung atau tidak langsung, terhadap orang-orang yang menaruh perhatian atasnya. Bukankah itu kau rasakan juga.”

Agung Sedayu tidak menjawab, tetapi hatinya memekik tinggi, “Tidak. Tidak benar.”

“Nah. Sebaiknya kau mendengarkan kata-kataku. Kau tetap di sini. Besok lusa kila kembali ke Jati Anom. Mungkin kita dapat mengadakan sekedar keramaian atas kemenangan kita. Tetapi tidak berlebih-lebihan dan tidak meninggalkan kewaspadaan. Sesudah itu, Swandaru dan Sekar Mirah akan diantarkan ke Sangkal Putung. Kau dan Wuranta tetap berada di Jati Anom. Kalau kelak kau sudah cukup dewasa, dan cukup mempunyai alas yang kuat, terserahlah, apa yang akan kau lakukan.”

Kata-kata kakaknya serasa menyayat dada Agung Sedayu. Kini pendirian itu sudah tegas. Ia tidak boleh pergi ke Sangkal Putung mengantarkan Sekar Mirah. Bahkan ia tidak boleh lagi berhubungan dengan gadis itu.

Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak dapat mendengar alasan kakaknya yang berkepanjangan itu. Tentang umurnya yang masih terlampau muda, tentang kemungkinan-kemungkinan yang masih panjang baginya, kesempatan untuk menjadi seorang prajurit dan lainnya lagi. Yang berputar di kepalanya adalah pendirian kakaknya itu pasti sudah dipengaruhi oleh Wuranta. Kehadiran Wuranta di antara mereka ternyata telah membuat hatinya menjadi pedih.

Namun semuanya itu hanya bergolak saja di dalam dadanya. Ia tidak dapat mengatakannya kepada kakaknya. Sampai saat ini kakaknya ternyata masib terlampau disegani, sehingga bagaimanapun juga hatinya bergolak, tetapi ditahannya saja di dalam dadanya, sehingga dada itu seolah-olah akan meledak.

“Bagaimana, Agung Sedayu?” pertanyaan itu telah menyengat telinganya, sehingga Agung Sedayu bergeser ke samping. Ia menjadi sangat gelisah. Melampaui Wuranta pada saat melihat kedatangannya.

Sejenak Agung Sedayu masih juga membeku. Tetapi hatinya seakan-akan meronta-ronta ingin melepaskan diri dari pendirian kakaknya yang sama sekali tidak dapat diterimanya itu. Betapa ia ingin berbuat atas kehendak sendiri dan tanggung jawab sendiri seperti apa yang dapat dilakukan oleh Swandaru dan Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, meskipun kemudian mereka harus dimarahi justru oleh ayah-ayah mereka.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka Untara mendesaknya lagi, “Bagaimana, Sedayu, apakah kau sependapat? Aku ingin mendengar jawabanmu. Kau tidak usah pergi ke Sangkal Putung. Dan untuk sementara kau masih belum perlu mengadakan hubungan dengan Sekar Mirah dan gadis mana pun juga. Umurmu masih terlampau muda.”

Alangkah sakitnya dada Agung Sedayu. Semuanya itu bertentangan dengan kehendaknya. Tetapi ia tidak dapat menyatakannya. Dan akhirnya ia menyadari, bahwa ia takut untuk menyatakan perasaannya yang bergolak itu. Ia takut mengatakan apa yang sebenarnya dikehendaki.

Ketika sekali lagi Untara bertanya kepadanya, “Bagaimana, Sedayu?” Maka tanpa disadarinya sendiri, dengan gemetar kepalanya mengangguk lemah.

“Kau dapat mengerti?”

Sekali lagi kepalanya mengangguk perlahan sekali.

“Kau tetap tinggal di Jati Anom bersama aku dan Wurata. Kau harus mendapat kesempatan untuk menjadi seorang laki-laki. Lapangan yang paling baik adalah lapangan keprajuritan. Aku akan dapat mencarikan kesempatan untukmu. Dan aku akan dapat menuntunmu.”

Dan sekali lagi kepala itu mengangguk.

“Bagus, kau mengerti Agung Sedayu. Dan ternyata kau masih Agung Sedayu yang dahulu. Kau masih tetap seorang adik yang mengerti bahwa aku adalah pengganti ayah dan ibu.”

Kini kepala Agung Sedayu tertunduk lemah. Jalur-jalur pandan pada anyaman tikar yang didudukinya menjadi semakin lama semakin kabur, seperti hatinya yang tidak dapat lagi melihat dirinya dan kehendak sendiri.

Meskipun demikian, ia masih mendengar kakaknya berkata, “Untuk seterusnya kau pasti akan menjadi seorang prajurit yang pilih tanding. Nah, bagaimanakah kau malam ini? Apakah kau akan tetap tinggal di sini atau kau ingin kembali ke pondokmu? Sebaiknya untuk seterusnya kau tetap tinggal di sini supaya kau tidak terpengaruh lagi oleh gadis itu. Tetapi kalau malam ini kau akan kembali ke pondok itu, maka besok pagi kau harus sudah berada di banjar ini. Seterusnya kau tidak boleh terlampau banyak berhubungan dengan kedua kakak beradik itu. Bukan karena soal-soal lain, bukan karena masalah keprajuritan, tetapi sekedar masalahmu. Itulah sebabnya, supaya tidak menimbulkan salah paham, kau malam ini masih aku perbolehkan kembali lagi ke pondok itu.”

Dada Agung Sedayu seakan-akan terbakar menjadi abu. Hangus tanpa dapat berbuat apa-apa.

“Bagaimana, Sedayu?” bertanya kakaknya.

Bukan saja mata Agung Sedayu, telinganya pun seolah-olah menjadi kabur. Ia benar-benar telah kehilangan akal dan nalar.

“Malam ini sebaiknya kau kembali ke pondok itu. Kau harus dapat membuat alasan yang tidak menimbulkan salah paham tentang keputusanmu untuk tidak pergi ke Sangkal Putung. Kau mengerti?”

Agung Sedayu seolah-olah hanya dapat menganggukkan kepalanya. Dan kali ini pun ia mengangguk.

“Kalau begitu pergilah,” berkata kakaknya kemudian. “Hati-hati, jangan menimbulkan salah paham.”

Sekali lagi Agung Sedayu mengangguk, tetapi ia masih duduk saja di tempatnya, sehingga kakaknya bertanya, “Bagaimana? Kenapa kau masih duduk saja?”

“Oh,” baru Agung Sedayu serasa sadar dari mimpinya yang dahsyat. Baru ia merasa bahwa bajunya basah oleh keringat dinginnya.

Perlahan-lahan ia bangkit dan berkata, “Aku akan kembali ke pondok, Kakang.”

“Hati-hati Sedayu. Kau bukan anak-anak lagi. Jangan menumbuhkan sakit hati, supaya hubungan Sangkal Putung dan prajurit Pajang yang masih berada di sana tidak terpengaruh oleh kesalahanmu.”

Sedayu mengerutkan keningnya. Kalau terjadi demikian, maka ia lagilah yang bersalah. Dan kakaknya pasti akan mengatakan bahwa sumber kesalahan itu juga adalah hubungannya dengan Sekar Mirah.

Karena itu, maka dada Agung Sedayu rasa-rasanya benar-benar akan meledak. Kepalanya bertambah pening dan nalarnya menjadi pepat, sehigga ia berdiri saja tegak seperti patung.

“He, kenapa kau tegak saja di situ?” terdengar suara kakaknya. “Apakah masih ada yang akan kau tanyakan?”

“Oh,” Agung Sedayu tergagap. “Tidak, Kakang. Aku minta diri.”

“Hati-hatilah,” pesan kakaknya sekali lagi.

Agung Sedayu segera melangkah meninggalkan pringgitan itu. Tetapi ia sama sekali tidak ingat untuk minta diri kepada Wuranta. Baru ketika ia sudah berada di pendapa luar pintu pringgitan, ia teringat kepadanya. Tetapi Agung Sedayu tidak melangkah kembali. Ia berjalan terus dengan kaki gemetar di antara beberapa orang yang sudah tertidur di pendapa. Satu dua masih terjaga dan Agung Sedayu mendengar mereka terbatuk-batuk.

Wuranta, yang masih duduk bersama-sama dengan Untara, ternyata merasa tersinggung juga akan sikap Agung Sedayu, sehingga ia berkata, “Kalau hubunganku dengan adikmu itu kemudian tidak juga dapat menjadi baik, sama sekali bukan salahku. Kau lihat sendiri bagaimana sikapnya kepadaku. Ketika ia meninggalkan pringgitan ini ia sama sekali tidak menyapaku. Apalagi minta diri.”

“Ia masih terlampau muda. Perasaannya masih lebih banyak berbicara daripada pikirannya. Kau sendiri pernah juga mengalami masa-masa di mana kau kehilangan pegangan. Sekarang kau sudah menemukan keseimbangan. Kau harus dapat mengerti keadaan Agung Sedayu. Karena itu kau akan dapat memaafkannya.”

Wuranta tidak menjawab. Bagaimanapun juga, Untara adalah kakak Agung Sedayu, sehingga untuk menyalahkannya ia agak segan-segan juga. Namun sikap Agung Sedayu itu benar-benar menyinggung perasaannya. Justru karena di antara mereka ada persoalan yang seakan-akan menjadi kabut yang membatasi mereka itu.

Ketika Agung Sedayu keluar dari regol halaman bandar padepokan Tambak Wedi, maka ia seakan-akan tidak dapat lagi menahan hatinya. Ingin ia berteriak sekeras-kerasnya. Ingin ia menjerit dan melontarkan suaranya sampai kepuncak Gunung. Tetapi yang dirasakannya hanyalah pepat di dadanya.

Hanya tiba-tiba saja meledaklah geramnya seperti gelegak perut Gunung Merapi, “Tidak. Aku tidak dapat melakukannya. Aku akan pergi ke Sangkal Putung, malam ini juga.”

Ternyata Agung Sedayu tidak kuasa menahan dirinya. Tekanan-tekanan yang diberikan oleh Untara hanya dapat menahan anak itu di hadapannya. Tetapi setelah ia meninggalkan pringgitan, maka ia sama sekali telah melupakan kesanggupannya yang dinyatakannya karena perasaan segan dan takut, tetapi yang sebenarnya sama sekali tidak dapat diterima oleh perasaannya.

Tiba-tiba Agung Sedayu itu seolah-olah didorong oleh desakan-desakan di dalam dadanya, langkahnya pun menjadi semakin cepat. Bahkan ia berlari-lari kecil seperti takut kamanungsan karena kokok ayam jantan di kejauhan.

Ia terkejut, ketika tiba-tiba saja di perapatan ia bertemu dengan dua orang peronda yang menyapanya, “He, siapa kau?”

Agung Sedayu berhenti sejenak, tetapi ia tidak segera menjawab, sehingga kedua peronda itu mengulanginya, “Siapa kau?”

Agung Sedayu menjawab dengan malasnya, “Agung Sedayu.”

“O,” orang itu menyahut, “Apakah kau baru dari banjar?”

“Ya,” jawab Sedayu.

Meskipun demikian, salah seorang dari kedua peronda itu mendekati dan mengamat-amatinya dengan seksama. “Kemana kau malam-malam begini?” bertanya peronda itu.

“Kembali ke pondokku.”

“O,” peronda itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “silahkan.”

Agung Sedayu meneruskan langkahnya. Tergesa-gesa. Dadanya serasa selalu mendesaknya untuk segera sampai ke pondoknya, untuk kemudian mengatakan kepada Swandaru dan Sekar Mirah, bahwa mereka harus segera bersiap. Malam ini juga pergi ke Sangkal Putung.

Ketika nyala lampu di regol halaman pondoknya sudah dilihatnya, maka Agung Sedayu semakin mempercepat langkahnya. Jarak yang sudah menjadi semakin pendek itu, terasa terlampau lama dilampauinya. Ia ingin sekali loncat dan langsung sampai ke dalam pondoknya.

Karena itu, maka Agung Sedayu itu kemudian berlari sekuat-kuatnya seolah-olah takut di kejar hantu.

Swandaru dan Sekar Mirah yang belum juga dapat tidur terkejut mendengar langkah berlari-lari di halaman. Swandaru segera meloncat berdiri. Tangannya tanpa disadarinya telah melekat di hulu pedangnya.

“Siapa, Kakang?” bertanya Sekar Mirah yang menjadi cemas.

“Duduklah, Mirah.”

Sekar Mirah yang telah berdiri di belakang Swandaru mendesaknya, “ Siapa, Kakang?”

“Aku tidak tahu. Tenanglah.”

Tetapi kecemasan Sekar Mirah menjadi semakin dalam mengusik jantungnya, sehingga dadanya menjadi berdentangan.

Langkah di luar itu kini terputus. Sejenak kemudian terdengar pintu rumah itu diketuk orang.

Swandaru melangkah mendekati pintu. Ketika Sekar Mirah ingin mengikutinya, maka didorongnya gadis itu surut perlahan-lahan sambil berbisik, “Jangan dekat-dekat. Mungkin aku harus menarik pedangku.”

Wajah Sekar Mirah menjadi berkeringat. Dan ia mendengar Swandaru menyapa, “Siapa di luar?”

Terdengar sebuah jawaban dengan suara bergetar, “Aku, Agung Sedayu.”

“He,” Swandaru terkejut. Ia tidak dapat mengerti, kenapa Agung Sedayu terpaksa berlari-lari. Karena itu, maka dadanya menjadi berdebar-debar. Hanya oleh hal-hal yang luar biasa sajalah, maka Agung Sedayu terpaksa berlari. Karena itu maka cepat ia meloncat meraih palang pintu. Sekali renggut, maka pintu itu pun telah terbuka.
Maka dilihatnya Agung Sedayu berdiri di muka pintu dengan wajah yang pucat dan tubuh gemetar. Karena itu maka Swandaru pun menjadi semakin cemas. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apa yang telah terjadi, Kakang?”

Agung Sedayu yang sedang kebingungan itu menjadi semakin bingung mendengar pertanyaan itu. Tiba-tiba saja ketika ia telah berdiri di muka Swandaru dan Sekar Mirah, ia menjadi ragu-ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi atas dirinya.

“Apa yang telah terjadi, Kakang? Apakah Kakang sedang dalam bahaya?”

Swandaru melihat Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Dan terdengar kata-katanya perlahan, “Tidak, Adi Swandaru. Aku tidak apa-apa.”

“Tetapi,” Swandaru berhenti sejenak. Diamat-amatinya Agung Sedayu yang gemetar. Nafasnya masih terdengar berkejaran lewat lubang hidungnya.

“Tetapi,” Swandaru mengulang, “kau baru saja berlari.”

Agung Sedayu mengangguk lemah, “Ya,” jawabnya.

“Kenapa Kakang berlari-lari?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan hatinya yang sedang terlampau gelisah dan bingung.

”Aku akan masuk dahulu,” desisnya tiba-tiba.

“Oh,” Swandaru tergagap, “Marilah. Masuklah.”

Agung Sedayu itu pun kemudian masuk ke dalam pondoknya. Swandarulah yang kemudian menutup pintu dan menyelaraknya dengan sepotong kayu.

Agung Sedayu kemudian duduk di amben besar yang ada di dalam ruangan itu. Ia mencoba menenteramkan hatinya dan mencoba berpikir apakah yang sebaiknya dilakukan.

Kini ia menjadi ragu-ragu untuk berkata sesungguhnya. Hal itu pasti akan menyinggung perasaan anak-anak muda Sangkal Putung kakak beradik itu. Dan Agung Sedayu masih sempat mengingat kata-kata kakaknya, bahwa apabila terjadi demikian, maka hal itu akan dapat menyulitkan kedudukan prajurit-prajurit Pajang di Sangkal Putung di bawah pimpinan pamannya, Widura. Dan nalarnya tidak menghendaki hal itu terjadi.

Tetapi untuk tetap berdiam diri, dan kemudian menuruti perintah kakaknya untuk tinggal di Jati Anom dan menjadi seorang prajurit, sama sekali tidak terlintas di dalam angan-angannya. Ia tidak ingin tinggal di Jati Anom. Ia tidak ingin lagi selalu berada bersama-sama dengan kakaknya seperti pada masa kanak-kanaknya. Kini ia telah berani menghadapi kehidupan ini seorang diri. Ia telah berani tampil sebagai seorang laki-laki yang berpribadi.

Swandaru dan Sekar Mirah yang kemudian duduk di amben itu pula menjadi heran melihat keadaan Agung Sedayu. Mereka melihat anak muda itu pucat dan gelisah. Bahkan sekali-sekali menarik nafas dan berdesah. Tetapi Swandaru tidak ingin mendesaknya sekali lagi. Ia tahu, bahwa Agung Sedayu sedang kebingungan dan ia tidak ingin menambah anak muda itu menjadi semakin bingung.

Sejenak mereka bertiga saling berdiam diri. Meskipun Swandaru dan Sekar Mirah selalu memandangi Agung Sedayu yang gelisah, tetapi mereka tidak bertanya sepatah katapun. Mereka hanya menyimpan keheranan dan kecemasannya di dalam dadanya.

Di luar gemersik dedaunan menjadi semakin keras ditiup angin lereng pegunungan yang mengalir dari Selatan. Dinginnya menembus dinding pondok yang tidak terlampau rapat, menyusup menyentuh kulit.

Sementara itu, dada Agung Sedayu masih saja bergolak. Dicarinya cara yang sebaik-baiknya untuk mengatakan keadaannya tanpa menyinggung perasaan kedua kakak beradik itu, seolah-olah mereka sama sekali sudah tidak diperlukan lagi di sini dan diusir untuk segera pergi kembali ke Sangkal Putung.

Sekali lagi Agung Sedayu berdesah. Kediamannya telah membuat ruangan itu semakin lama semakin tegang. Dan untuk melepaskan ketegangan itu tiba-tiba saja terloncat dari bibirnya pertanyaan, “Apakah kalian belum tidur?”

Kini Swandaru-lah yang menarik nafas dalam. Pertanyaan itu memang dapat mengurangi ketegangan perasaan masing-masing. Dengan menggelengkan kepalanya, Swandaru menjawab, “Belum, Kakang. Kami tidak segera dapat tidur.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia kehilangan pertanyaan yang akan diucapkannya. Karena itu, sejenak mereka terdorong di dalam kesenyapan kembali, dan kali ini menegangkan lagi.

Baru sejenak kemudian, Agung Sedayu dapat mengucapkan kata-kata, “Malam telah larut. Beristirahatlah.”

Swandaru mengangguk, “Kami sebenarnya juga ingin beristirahat, tetapi kegelisahan dan malam yang terlampau sepi ini membuat kami tidak dapat memejamkan mata.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk pula. Ia melihat pedang Swandaru tergantung di lambungnya. Hal itu telah mengatakan kepadanya, bahwa anak muda Sangkal Putung itu pun pasti benar-benar sedang digelisahkan oleh sepi malam yang telah membakar perasaannya.

Setelah sekian lama Agung Sedayu berusaha, maka ditemukannya kalimat-kalimat yang dapat diucapkannya. Maka katanya, “Aku sudah dapat ijin dari Kakang Untara untuk meninggalkan padepokan ini.”

“He,” ternyata kalimatnya itu telah mengejutkan Swandaru dan Sekar Mirah, sehingga mereka pun bergeser mendekati. “Jadi, bagaimanakah maksudmu, Kakang? Apakah itu berarti kita tidak ada keberatan apa pun lagi untuk segera meninggalkan padepokan ini dan kembali ke Sangkal Putung?” bertanya Sekar Mirah.

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu sejenak. Dengan susah payah ia kemudian menjawab, “Ya, begitulah.”

“Oh,” wajah Sekar Mirah segera berseri. “Jadi kita dapat segera pulang kepada ayah dan ibu? Kalau begitu, kita akan segera pulang ke Sangkal Putung. Bagaimana kalau sekarang?” Tetapi kata-katanya terputus ketika tiba-tiba diingatnya, bahwa menurut kedua anak-anak muda itu dan bahkan menurut Kiai Gringsing, Sidanti mungkin berkeliaran di sekitar tempat itu.

Swandaru dan Agung Sedayu pun tidak segera menyahut kata-kata Sekar Mirah itu. Bahkan sejenak mereka saling berpandangan di dalam kediaman mereka.

Sekar Mirah yang menjadi ngeri membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi apabila Sidanti mencegat perjalanan mereka, menggigit bibirnja. Sekali dipandanginya wajah kakaknya Swandaru dan sekali wajah Agung Sedayu. Seandainya Kiai Gringsing tidak pernah mengatakannya, maka Sekar Mirah tidak akan menjadi demikian ngeri.

Tetapi tiba-tiba, baik Sekar Mirah maupun Swandaru terkejut, ketika mereka mendengar Agung Sedayu berkata, “Kita memang dapat segera meninggalkan tempat ini. Bahkan sekarang pun dapat.”

Kini Swandaru dan Sekar Mirah-lah yang saling berpandangan. Tiba-tiba terasa suasana menjadi demikian tegangnya. Dengan gemetar Sekar Mirah bertanya, “Jadi kita benar-benar dapat kembali ke Sangkal Putung sekarang?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu pendek.

Dalam kegelapan, maka jalan inilah yang akan ditempuh oleh Agung Sedayu. Pergi meninggalkan padepokan ini dan meninggalkan kakaknya. Ia tidak ingin tinggal di Jati Anom, apalagi menjadi seorang prajurit. Karena itu, ia harus segera lari. Lari dari padepokan ini dan menjauhinya.

Tetapi sikap Agung Sedayu itu ternyata menimbulkan berbagai macam pertanyaan di dalam dada Swandaru. Semula Agung Sedayu menyatakan keberatannya untuk segera meninggalkan padepokan ini dengan berbagai alasan. Ketika Sekar Mirah mencoba memaksa untuk minta diantar segera ke Sangkal Putung, maka Agung Sedayu telah mencoba menahannya. Kemudian Kiai Gringsing pun menahan mereka itu pula. Kini tiba-tiba Agung Sedayu sendirilah yang seakan-akan ingin segera meninggalkan padepokan ini.

Swandaru yang hampir-hampir tidak pernah berpikir mengenai persoalan yang dapat membuatnya pening, kini mencoba menghubungkan sikap Agung Sedayu dan apa saja yang baru terjadi atasnya. Baru saja Agung Sedayu berlari-lari seperti orang yang sedang ketakutan dengan wajah yang pucat. Lalu tiba-tiba kini Agung Sedayu berkeinginan untuk segera mengantarkan Sekar Mirah ke Sangkal Putung.

Begitu tajamnya pertanyaan-pertanyaan itu mengganggu perasaannya, sehingga ia tidak dapat lagi menahannya. Dengan nada datar ia bertanya, “Kakang, apakah hal itu tidak akan menimbulkan prasangka yang kurang baik?”

“Siapakah yang akan berprasangka?” bertanya Agung Sedayu. “Bukankah ayah dan ibumu, sudah sekian lamanya menunggu? Bagi mereka, kedatangan kalian semakin cepat akan menjadi semakin baik.”

“Ya,” sahut Sekar Mirah, “semakin cepat semakin baik.”

“Nah, bukankah kau juga sudah rindu kepada ayah ibumu?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Tentu,” sahut Sekar Mirah, “apabila sekarang kita memang dapat berangkat kembali ke Sangkal Putung, aku akan senang sekali.” Sekar Mirah itu terdiam sejenak, lalu tiba-tiba suaranya menjadi sangat perlahan-lahan, “Tetapi, bagaimana dengan Sidanti?”

“Ah,” desah Agung Sedayu, “aku tidak takut dengan Sidanti. Aku dan kakakmu, Adi Swandaru akan menjagamu.”

“Bagaimana dengan Ki Tambak Wedi?”

Agung Sedayu terdiam mendengar pertanyaan itu. Ditatapnya wajah Swandaru yang bulat. Tetapi sepasang mata pada wajah itu memancarkan beribu macam pertanyaan yang bergelora di dalam dada anak muda yang gemuk itu.

“Kakang,” berkata Swandaru, “aku pun sebenarnya ingin segera pulang ke Sangkal Putung. Tetapi betapa tumpul otakku, namun aku merasakan sesuatu yang tidak wajar. Aku tidak tahu, apakah perasaanku yang tidak wajar, apakah memang sebenarnya sedang terjadi sesuatu atasmu. Aku masih belum tahu, apakah sebabnya kau berlari-lari di halaman. Dan sekarang aku pun masih belum tahu, apakah yang menyebabkan kau tergesa-gesa meninggalkan padepokan ini?”

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar pertanyaan itu. Tetapi kemudian ia menyadari, bahwa pertanyaan yang demikian itu justru adalah pertanyaan yang wajar. Dicobanya untuk menahan gelora di dadanya. Dan dicobanya untuk memperhitungkan keadaan yang dihadapinya dengan tenang. Tetapi hatinya benar-benar menjadi pepat. Karena itu, sejenak ia berdiam diri saja. Direnunginya kini sudut ruangan itu dengan pandangan mata yang kosong.

Sekali lagi Swandaru melihat kebingungan yang mencengkam hati Agung Sedayu. Dan sekali lagi ia tidak ingin menambah hati anak muda itu menjadi semakin bingung. Karena itu, maka ia pun tidak mendesak lagi. Kini Swandaru pun duduk merenung. Tanpa sesadarnya tangannya telah membelai hulu pedangnya yang dibuatnya dari gading.

Sedang Sekar Mirah pun menjadi bingung sendiri. Ia tidak tahu persoalan apakah yang sebenarnya sedang dihadapi. Tetapi seperti juga Swandaru, ia pun merasakan pula sebuah sentuhan yang tidak sewajarnya pada perasaannya. Tetapi ia pun tidak bertanya sesuatu.

Namun sekali lagi Swandaru dan Sekar Mirah terkejut, ketika mereka mendengar Agung Sedayu bergumam lirih, “Tetapi aku harus segera meninggalkan padepokan ini.”

Ketika Swandaru dan Sekar Mirah berpaling kepadanya, Sedayu masih saja merenungi sudut ruangan itu.

Sejenak Swandaru masih tetap berdiam diri. Tetapi kini gejolak di dalam dadanya menjadi semakin tajam. Bahkan tiba-tiba tumbuhlah berbagai masalah di dalam dadanya. Dan seperti juga Agung Sedayu yang bergumam perlahan-lahan, maka Swandaru pun kemudian bertanya perlahan-lahan, seperti seseorang yang sedang bergumam, “Kakang, apakah sebenarnya yang telah terjadi? Apakah kehadiran kami, aku dan Sekar Mirah di sini tidak dikehendaki? Dan apakah Kakang sedang mencoba menyingkirkan kami dengan cara yang tidak kami ketahui, supaya kami tidak tersinggung karenanya?”

Meskipun kata-kata Swandaru itu diucapkan perlahan-lahan, bahkan hampir tidak terdengar, tetapi Agung Sedayu terperanjat karenanya. Diangkatnya kepalanya, dipandanginya wajah anak muda yang gemuk itu. Setapak ia bergeser, dan hampir ia berteriak, “Darimana kau mengetahuinya?”

Untunglah, bahwa mulutnya segera dapat dikuasainya. Dan Agung Sedayu tidak mengucapkan kata-kata itu.

Sejenak Agung Sedayu berjuang untuk menenangkan hatinya. Ketika ia mendengar suara burung hantu di kejauhan, maka ia menarik nafas dalam-dalam.

“Kau salah tafsir, Adi Swandaru,” desis Agung Sedayu. Namun suaranya bernada datar dan diwarnai oleh keragu-raguan hatinya.

Swandaru tidak segera menyahut.

“Tidak ada seorang pun yang berpendirian demikian di padepokan ini. Kalian di sini sama sekali tidak mengganggu siapa pun, sehingga karena itu, maka tidak seorang pun yang merasa berkeberatan atas kehadiranmu di sini.” Tetapi hati Agung Sedayu berkata lain. Ia tahu benar, bahwa kakaknya menghendaki agar Sekar Mirah segera meninggalkan padepokan ini. Lebih cepat lebih baik.

Besok atau lusa kakaknya akan menyelenggarakan sebuah pertemuan untuk menyatakan kebesaran hati para prajurit Pajang dan orang-orang Jati Anom, karena mereka telah berhasil menyelesaikan tugas-tugas mereka yang berat. Kemudian setelah itu, segera Sekar Mirah akan diantar ke Sangkal Putung oleh sepasukan prajurit, supaya gadis itu terpisah daripadanya, dan tidak lagi menimbulkan persoalan-persoalan di antara anak-anak muda.

Tetapi keringat dingin mulai mengalir di punggungnya ketika Swandaru bertanya, “Tetapi apakah sebabnya Kakang menjadi terlampau gelisah? Kakang berbuat sesuatu yang sama sekali tidak dapat aku mengerti, dan Kakang bersikap tidak wajar dalam tangkapanku. Mudah-mudahan aku keliru.”

Agung Sedayu memang tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Cemas, gelisah dan bingung. Ia tidak mau menuruti perintah kakaknya. Ia ingin lari malam ini meninggalkan padepokan Tambak Wedi.

“Tetapi tidak ada tujuan lain, selain Sangkal Putung,” katanya di dalam hati. “Untuk itu aku harus pergi bersama-sama dengan Swandaru dan Sekar Mirah. Tetapi bagaimana aku menjelaskan persoalan ini.”

Pengalaman Agung Sedayu yang sedikit, tidak dapat membuka banyak kemungkinan baginya. Ia tidak dapat perpikir untuk lari tidak ke Sangkal Putung. Lari entah ke mana. Mungkin ke daerah Pesisir Utara. Mungkin ke pantai Selatan, menyusur Pegunungan Kidul ke Barat atau ke Timur. Agung Sedayu tidak tahu betapa luasnya bumi. Karena itu, maka tidak ada angan-angannya untuk pergi ke Blambangan di ujung Timur atau ke Banten di ujung Barat. Yang ada di kepalanya Jati Amon dan Sangkal Putung. Kademangan Sangkal Putung, tempat tinggal Sekar Mirah dan kakaknya Swandaru Geni. Kadang-kadang tumbuh juga angan-angannya untuk pergi sejauh-jauhnya. Ke Mentaok atau ke daerah-daerah yang pernah disebut-sebut oleh Sutawijaja dan Kiai Gringsing. Mangir misalnya.

Tetapi di sana Agung Sedayu tidak akan dapat bertemu dengan Sekar Mirah. Dan selama ia pergi, maka akan banyak sekali peristiwa yang dapat terjadi. Mungkin suatu ketika Wuranta akan pergi ke Sangkal Putung dan membuat hubungan pula dengan Sekar Mirah. Mungkin juga suatu ketika Sidanti akan dapat menculiknya lagi.

Karena itu, maka tidak ada pikiran lain yang ada padanya kemudian, selain pergi mengantarkan Sekar Mirah ke Sangkal Putung. Ia akan mengatakan persoalannya kepada pamannya Widura. Tidak sebagai seorang prajurit di bawah perintah kakaknya Untara, tetapi sebagai seorang paman. Ia mengharap, bahwa pengaruh pamannya akan dapat membantunya.

“Kalau perlu aku harus membuat tekanan terhadap Kakang Untara. Swandaru adalah pemimpin anak-anak muda Sangkal Putung. Sikapnya pasti akan berpengaruh terhadap kekuatan Pajang. Aku tidak peduli, apakah dengan demikian aku akan dianggap bersalah oleh Kakang Untara,” desisnya di dalam hatinya.

Tetapi Agung Sedayu itu terperanjat ketika Swandaru berkata, “Aku dan Sekar Mirah ingin penjelasan Kakang. Seandainya memang kehadiran kami di sini tidak dikehendaki, maka kami bersedia untuk meninggalkan tempat ini. Tidak usah menunggu besok. Tetapi malam ini. Aku dan Sekar Mirah tidak perlu takut terhadap Sidanti, bahkan Ki Tambak Wedi. Untuk pergi ke Sangkal Putung ada seribu jalan. Dan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya tidak berada di seribu tempat. Kalau memang seharusnya kami berdua mati di tangan mereka, maka itu adalah akibat yang wajar yang tidak perlu disesali dalam keadaan serupa ini. Adalah kesalahan ayah dan ibu pula, bahwa mereka tidak mengirimkan sepasukan anak-anak muda untuk menjemput kami. Karena kami yakin, bahwa Sangkal Putung dapat membangun kekuatan pengawal-pengawal kademangan segelar sepapan. Dan sudah tentu kami berharap, bahwa kademangan kami akan dapat mempertahankan dirinya tanpa seorang prajurit Pajang pun di daerah kami kelak.”

“Kau salah paham, Adi,” sahut Agung Sedayu dengan serta-merta. Tetapi ia tidak segera menemukan kalimat-kalimat yang dapat meyakinkan Swandaru dan Sekar Mirah.

“Kalau demikian, maka apakah yang sebenarnya terjadi?”

Agung Sedayu menjadi semakin bingung. Akhirnya ia tidak dapat menemukan jawaban yang dianggapnya cukup baik dan beralasan, selain daripada dirinya sendiri. Maka katanja, “Ada perselisihan antara aku dan Kakang Untara.”

Swandaru mengerutkan alisnya, sedang Sekar Mirah menjadi semakin bertanya-tanya di dalam hatinya.

“Apakah soalnya?” bertanya Swandaru.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Terasa hatinya menjadi semakin tegang.
Swandaru dan Sekar Mirah pun menjadi tidak kalah tegangnya. Mereka menunggu apakah yang akan dikatakan oleh Agung Sedayu. Kenapa kakak beradik itu tiba-tiba saja berselisih.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, dan karena desakan perasaan ingin tahu yang tidak dapat ditahankannya, maka Swandaru mendesaknya, “Apakah yang menyebabkan kalian berselisih?”

Agung Sedayu tidak dapat untuk terus menerus berdiam diri tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Karena itu, maka ketika ia tidak dapat mengelak lagi, maka dijawabnya saja sekenanya, “Kakang Untara ingin aku menjadi seorang prajurit seperti dirinya.”

“He,” Swandaru mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia menarik nafas dalam-dalam. “Suatu kesempatan yang sangat baik bagimu, Kakang.”

Kini Agung Sedayu-lah yang terkejut. Ia tidak menyangka, bahwa demikian tanggapan Swandaru tentang tawaran kakaknya padanya untuk menjadi seorang prajurit.

“Tetapi kenapa Kakang menjadi tampak cemas dan gelisah? Bahkan sampai berlari-lari?”

Pertanyaan itu memang terlampau sulit untuk dijawab. Tetapi Agung Sedayu tidak dapat berdiam diri lagi. Ia harus memberi penjelasan supaya tidak terjadi salah paham. Dan penjelasan itu harus disusunnya, dikarangkannya lebih dahulu.

Sorot mata Swandaru memancarkan ketidak-sabaran hatinya. Seolah-olah mata itu telah mendesaknya untuk mengatakan sesuatu.

Terdengar Agung Sedayu berdesah. Perlahan-lahan dan penuh kebimbangan ia menjawab, “Adi Swandaru. Ternyata aku berbeda pendirian dengan Kakang Untara. Aku tidak ingin menjadi seorang prajurit.”

“Ah,” dengan serta merta Swandaru menyahut, “Mustahil. Mustahil seorang laki-laki yang mempunyai bekal yang cukup menolak kesempatan untuk menjadi Wira Tamtama. Kakang, kelak aku pun ingin menjadi seorang Wira Tamtama.”

Agung Sedayu mencoba menganggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin. Mungkin pada suatu ketika aku pun ingin untuk menjadi seorang prajurit Wira Tamtama. Tetapi tidak sekarang.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dari sela-sela bibirnya meluncur pertanyaanya, “Sekarang?”

“Ya. Kakang Untara ingin memaksaku untuk pergi ke Pajang dan langsung menghadap Ki Gede Pemanahan. Aku harus menunggu perintahnya untuk berbuat sesuatu, supaya aku mendapat kepercayaan dan langsung menjadi seorang prajurit Wira Tamtama yang terpandang.”

“Oh, kesempatan yang luar biasa,” tiba-tiba mata Swandaru menjadi berseri-seri. Kalau saja kesempatan itu ada juga buatnya maka ia akan menjadi sangat bergembira. Maka katanya , ”Kakang, tolong katakan kepada Kakang Untara, bahwa aku pun ingin mendapat kesempatan yang serupa. Aku tidak harus mulai dari tataran yang paling rendah. Untuk itu, aku tidak terlampau berkeberatan, seandainya aku harus menjadi seorang prajurit yang paling bawah dalam keadaan yang wajar. Tetapi biasanya kesempatan untuk dapat merambat ketingkat yang lebih tinggi terlampau sulit. Tetapi justru syarat-syarat itu tidak pernah diperhatikan, yang diperhatikan adalah masalah-masalah lain. Hanya orang-orang yang terdekat dengan lurah-lurah Wira Tamtama sajalah yang mendapat perhatian mengenai kemampuan dan keprigelannya.”

Agung Sedayu menjadi semakin bingung mendengar jawaban Swandaru itu. Ternyata Swandaru justru tertarik kepada ceriteranya yang dengan susah payah disusunnya untuk melepaskan diri dari kebingungan. Tetapi ia kini terperosok ke dalam kebingungan yang baru.

“Nah, bagaimana Kakang?”

Tiba-tiba Agung Sedayu menengadahkan dadanya. Ia menemukan jawaban yang untuk sementara dapat membebaskannya dari ketegangan ini. Katanya, “Justru itulah yang aku tidak mau, Adi Swandaru.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Wajahnya yang bulat menjadi berkerut merut.
“Kenapa?” dengan ragu-ragu ia bertanya.

“Aku menyadari bahwa kesempatan yang diberikan oleh Kakang Untara itu adalah kesempatan seperti yang kau katakan. Aku diterima menjadi seorang Wira Tamtama, bahkan mungkin seorang yang langsung mendapat kedudukan yang baik, bukan karena jasa-jasaku sebagai seorang prajurit. Hal itu dapat terjadi karena aku adalah adik Kakang Untara. Aku tidak mau. Aku tidak mau. Itulah sebabnya aku harus menghindarkan diri dari padepokan ini sebelum Kakang Untara memaksaku. Bagiku Adi Swandaru, lebih baik menjadi seorang prajurit yang memanjat tataran demi tataran, tetapi karena hasil keringatku sendiri daripada aku langsung mendapat kedudukan yang baik, tetapi hanya karena aku seorang adik dari Kakang Untara. Dari seorang senapati yang telah berjasa dapat menyelesaikan sisa-sisa orang-orang Jipang di bagian Selatan ini. Tetapi yang berjasa adalah Kakang Untara. Bukan aku. Seandainya mendapat wisuda seharusnya juga Kakang Untara, bukan aku.”

“Oh,” Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari mulutnya terdengar ia berdesis, “itukah sebabnya kau ingin meninggalkan padepokan ini?”

“Ya,” jawab Agung Sedayu, “aku tidak mau. Aku akan pergi ke Sangkal Putung. Mungkin kelak aku ingin menjadi seorang prajurit di sana. Pada pasukan Paman Widura.”

“Tetapi Paman Widura adalah pamanmu pula Kakang. Kalau ternyata kau mendapat kesempatan, maka kau akan menyangka, bahwa kesempatan itu kau terima justru kau kemanakannya.”

Agung Sedayu terdiam. Pertanyaan ini tidak segera dapat dijawabnya. Sekali lagi ia mencoba memutar nalarnya untuk membebaskan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalanya menjadi pening.

Sekali lagi ruangan itu terdampar ke dalam kesenyapan yang tegang. Tubuh Agung Sedayu telah menjadi basah oleh keringat dingin yang seolah-olah diperas dari tubuhnya. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam untuk mencoba menenteramkan hatinya.

Baru sejenak kemudian Agung Sedayu menjawab, “Mungkin aku mempunyai perasaan yang demikian pula, Adi Swandaru, tetapi pasti tidak akan terlampau tajam seperti saat ini. Apabila aku harus memenuhi perintah Kakang Untara dan menghadap Ki Gede Pemanahan, maka segera aku akan terlempar ke atas. Itu pasti tidak akan dapat memberi ketenteraman di hatiku. Apalagi aku tahu, bahwa prajurit-prajurit yang kemudian berada di bawahku adalah orang-orang yang telah berjuang cukup lama dan mempunyai jasa yang cukup besar buat Pajang. Kemampuan dan pengalaman ada pula yang melampaui aku. Nah, aku tidak akan dapat melakukan tugas yang demikian.”

Agung Sedayu memandangi Swandaru Geni untuk mencoba menangkap kesan kata-katanya di hati adik seperguruannya itu. Dan ia melihat Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Karena itu, maka hati Agung Sedayu menjadi agak tenteram. Ia mengharap Swandaru dapat mempercayainya.

Dan dengan tiba-tiba saja Swandaru bertanya, “Jadi bagaimanakah maksudmu, Kakang? Apakah kau akan segera berangkat?”

Dada Agung Sedayu kini dihentak oleh kebimbangannya. Justru karena pertimbangan-pertimbangan yang kemudian tumbuh di dalam hatinya. Justru karena pertanyaan Sekar Mirah tentang Ki Tambak Wedi yang mungkin mereka temui di jalan.

“Kalau aku ingin lari dari persoalan ini, maka akulah yang seharusnya menjumpai akibat yang betapapun beratnya. Tidak sewajarnya aku menyeret kedua kakak beradik itu ke dalam bencana,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya. Tetapi hati itu seakan-akan diliputi oleh kegelapan. Itulah sebabnya maka pertimbangan-pertimbangannya menjadi kabur dan ragu-ragu.

“Kakang,” terdengar Swandaru meneruskan kata-katanya, “apabila kakang menghendaki kami ikut dengan Kakang berangkat saat ini juga, maka kami pasti tidak akan keberatan. Kami tahu bahwa kau sedang diamuk oleh kebimbangan dan keragu-raguan. Mungkin aku dan Sekar Mirah kurang dapat memahami caramu berpikir dan mempertimbangkan persoalanmu, tetapi aku tidak peduli. Aku tidak ingin membingungkan diriku sendiri dan menambah kau menjadi bingung. Sekarang bagaimana pertimbanganmu? Berangkat sekarang atau tidak? Kami akan mengikuti kau. Sebab tanpa kau di sini, maka kami akan menjadi orang asing. Ternyata prajurit-prajurit Pajang yang di sini, sebagian terbesar bukan prajurit-prajurit Pajang yang berada di Sangkal Putung. Hanya satu dua orang sajalah yang mengenal aku dan Sekar Mirah. Selainnya adalah orang asing bagiku, seperti aku juga orang asing bagi mereka. Karena itu, katakanlah keputusanmu. Aku dan Sekar Mirah tidak akan menolak. Kau bagi kami adalah orang terdekat di sini, selain Guru.”

Tetapi ternyata kata-kata Swandaru itu membuat Agung Sedayu semakin bingung. Ia kini benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dikatakan. Keringatnya menjadi semakin deras mengalir di punggung dan tengkuknya. Ia sudah terperosok semakin jauh ke dalam persoalan dan ceritera yang disusunnya, namun yang semakin membingungkannya sendiri.

Karena itu, maka ia pun sekali lagi terbungkam. Sekali-sekali tangannya meraba keningnya mengusap titik keringat yang menetes.

Swandaru melihat wajah Agung Sedayu yang pucat itu. Ia pun tiba-tiba menjadi bingung sendiri. Tetapi untuk mengurangi dan meredakan ketegangan perasaan Agung Sedayu, maka Swandaru tidak bertanya lagi.

Sekar Mirah yang duduk di dekat Swandaru pun menjadi tidak kalah bingungnya. Ia tidak mengerti pendirian Agung Sedayu, tetapi ia merasakan bahwa ada sesuatu yang telah disembunyikan oleh anak muda itu. Dan yang disembunyikan itu menurut dugaan Sekar Mirah, pasti menyangkut dirinya dan kakaknya Swandaru. Namun Sekar Mirah pun tidak bertanya sesuatu. Seperti Swandaru, ia tidak ingin membuat Agung Sedayu bertambah bingung.

Tetapi keheningan dalam ruangan itu terasa semakin lama semakin tegang. Keringat di punggung, tengkuk, dan kening Agung Sedayu menjadi semakin deras mengalir.

Dalam ketegangan itu tiba-tiba mereka serentak mengangkat wajah-wajah mereka. Terdengar langkah-langkah kaki dekat sekali di luar dinding ruangan itu. Kemudian terdengar suara gemerisik mendekati pintu di sepanjang dinding rumah.

Agung Sedayu dan Swandaru tanpa berjanji segera meloncat berdiri. Tangan-tangan mereka melekat di hulu pedang, sedang Sekar Mirah pun telah berdiri pula di belakang Swandaru.

“Ah,” tiba-tiba mereka mendengar suara berdesah, “daerah ini kini adalah daerah yang aman. Kenapa kalian menjadi gelisah dan mudah sekali menjadi terkejut?”

Ketiga anak-anak rnuda itu menarik nafas dalam-dalam. Suara itu sudah amat mereka kenal. Suara Ki Tanu Metir.

Tergopoh-gopoh Swandaru melangkah ke pintu dan menarik selaraknya. Ketika pintu itu terbuka, mereka melihat Ki Tanu Metir berdiri sambil tersenyum, katanya, “Hanya kegelisahan di hati kalianlah yang telah membuat kalian menjadi cemas menanggapi setiap persoalan. Kalian menjadi terlampau mudah terkejut dan kadang-kadang bingung.”

Agung Sedayu dan Swandaru menundukkan kepalanya. Kata-kata gurunya terasa tepat menyentuh jantung mereka yang berdentangan.

“Duduklah. Sebaiknya kita bersikap wajar. Kenapa kalian menjadi gelisah, cemas dan bahkan pucat seperti melihat hantu?”

Agung Sedayu dan Swandaru menjadi semakin tunduk. Perlahan-lahan mereka melangkah dan duduk kembali di atas amben bambu, sementara Ki Tanu Metir sendirilah yang menutup pintu.

Ketika pintu sudah tertutup rapat, maka Ki Tanu Metir itu pun kemudian melangkah ke amben itu pula dan duduk di antara mereka. Di antara ketiga anak-anak muda yang sedang dicengkam oleh persoalan yang tidak begitu jelas.

Demikian Ki Tanu Metir duduk, ia bergumam, “Pintu itu tidak usah diselarak. Tidak akan ada orang yang masuk untuk kepentingan apa pun di malam begini. Di sini, dalam keadaan ini, pasti tidak ada pencuri, dan tidak akan ada orang-orang Jipang atau orang-orang Tambak Wedi yang akan datang.”

Ketiga anak-anak muda itu tidak menjawab. Sedang Swandaru dan Agung Sedayu menjadi semakin tunduk. Ia tahu benar maksud kata-kata gurunya.

“Di luar dinginnya bukan main,” desah gurunya itu. Tetapi tiba-tiba nada suaranya meninggi. “Tetapi kenapa kalian? Aku lihat baju kalian menjadi basah oleh keringat. Apakah udara di dalam rumah ini sangat panas?”

Masih belum ada yang menjawab.

“Aku kira di dalam ini pun cukup sejuk, meskipun tidak sedingin di luar,” Ki Tanu Metir berhenti sebentar. “He, apakah rumah ini beratap ijuk atau daun lalang? Memang kedua-duanya dapat menahan dingin. Apabila udara dingin, maka ruangan di sini tidak akan terlampau dingin. Tetapi apabila udara panas, ruangan ini akan menjadi cukup sejuk, tidak seperti dipanggang di atas bara.”

Belum ada jawaban.

“Aku tidak begitu memperhatikan. Apakah kalian melihatnya siang tadi?”

Swandaru dan Agung Sedayu mengangkat wajah-wajah mereka sejenak, tetapi wajah-wajah itu tertunduk kembali.

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. “Kalau begitu kalian seolah-olah mandi keringat bukan karena panasnya udara. Mungkin kalian sedang ketakutan. Begitu?”

Kini seperti berjanji keduanya menjawab, “Tidak, Guru.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, ya, mungkin kalian tidak sedang ketakutan. Tidak pula sedang kepanasan. Tetapi kenapa kalian gelisah? Ketika kalian mendengar suara kakiku berdesir di samping dinding rumah ini, kalian terkejut. Aku mendengar gerak kalian. Kalian segera berloncatan seperti ada seorang musuh yang mengintip. Aku pun kemudian mengintip. Dan aku melihat tangan kalian telah melekat di hulu pedang sebelum pintu itu terbuka. Nah, apakah yang sudah terjadi atas kalian sehingga kalian menjadi gelisah, dan bahkan seolah-olah ketakutan? Apakah ada persoalan yang membuat kalian cemas? Ancaman dari seseorang misalnya, atau tantangan dari orang yang kalian anggap jauh lebih tinggi ilmu tata beladirinya daripada kalian?”

Sejenak Agung Sedayu dan Swandaru berdiam diri. Namun kemudian hampir bersamaan mereka menggelengkan kepala mereka, “Tidak, Guru.”

“Kalau begitu, apakah yang telah merisaukan hati kalian?”

Sekali lagi anak-anak muda itu terbungkam.

“Nah, aku tahu sekarang,” berkata Ki Tanu Metir sambil tersenyum, “yang merisaukan itu pasti kalian sendiri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, sedang Swandaru mengerutkan keningnya. Mereka masih saja berdiam diri. Tetapi yang menjawab justru Sekar Mirah, “Ya, Kiai. Yang merisaukan kami adalah hati kami sendiri.”

Ki Tanu Metir tertawa perlahan, “Begitulah. Karena itu jangan kau turuti perasaan hati. Setiap persoalan pertimbangkan masak-masak dengan nalar, jangan semata-mata dengan perasaan. Dengan demikian kalian tidak akan dicemaskan oleh hal-hal yang sama sekali tidak perlu.”

Terdengar nafas Ajung Sedayu semakin cepat mengalir lewat lubang-lubang hidungnya. Terengah-engah, seolah-olah baru saja bergulat dengan hantu. Apalagi ketika gurunya berpaling kepadanya dan langsung bertanya, “Apakah yang membuat kau menjadi cemas?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab.

“Bukankah kau baru datang dari banjar padepokan menghadap kakakmu?”

“Ya, Guru. Aku memang baru saja menghadap Kakang Untara di banjar.”

“Hem,” Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya, “kalau begitu, pasti ada pembicaraan yang membuat kau bingung atau risau. Membuat kau kehilangan ketenangan dan pertimbangan. Begitu?”

Sejenak Agung Sedayu tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Meskipun bibirnya bergerak-gerak tetapi tidak terdengar jawaban dari mulutnya.

“Baiklah, mungkin pertanyaanku membuat kau semakin bingung,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “karena itu, sekarang tenangkanlah hatimu. Sebaiknya kau pergi tidur. Angger Swandaru dan Angger Sekar Mirah pun sebaiknya pergi tidur pula.”

Tetapi justru hal itu telah membuat hati Agung Sedayu semakin kisruh. Apabila ia harus pergi tidur, dan besok pagi-pagi ia masih berada di padepokan itu, maka ia akan mengatami kesulitan yang lebih besar. Ia harus meninggalkan pondokan itu. Ia harus bersama dengan kakaknya. Apakah yang akan dikatakannya kepada Swandaru dan Sekar Mirah? Tetapi yang lebih menggelisahkan lagi adalah, bahwa ia tidak boleh berhubungan dengan gadis itu. Ia tidak boleh pergi ke Sangkal Putung dan seterusnya ia harus menjadi seorang prajurit.

Sebenarnya menjadi seorang prajurit itu sendiri sama sekali tidak menakut-nakuti hati Agung Sedayu. Yang paling menggelisahkannya adalah kemungkinan, bahwa ia harus berpisah dengan Sekar Mirah. Agung Sedayu yang masih muda itu tidak tahu pasti, ikatan apakah yang ada di dalam hatinya. Ia tidak menyadari, apakah yang telah membuatnya seperti kehilangan akal karena kemungkinan perpisahan itu.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu tidak segera dapat menjawab kata-kata gurunya, tetapi ia juga tidak beranjak dari tempatnya untuk pergi tidur di sudut amben itu juga. Bukan saja Agung Sedayu, tetapi Swandaru dan Sekar Mirah pun sama sekali tidak berkisar.

Ki Tanu Metir itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu, bahwa perasaan Agung Sedayu benar-benar sedang kacau. Ia tidak dapat lagi berpikir bening, dan ia tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Usianya memang masih cukup muda dan pengalamannya pun masih belum cukup banyak.

Karena itu, maka Ki Tanu Metir tidak lagi sampai hati untuk membiarkan muridnya kehilangan akal. Meskipun agak sulit juga, namun ia berusaha untuk menolong melepaskannya dari kebingungan. Maka katanya, “Swandaru, tungguilah adikmu itu beristirahat. Biarlah aku bawa kakakmu Agung Sedayu berjalan-jalan sebentar. Mungkin dengan demikian, ia akan menjadi agak tenang.”

Swandaru yang telah dibingungkan oleh keadaan itu pula, begitu saja menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Silahkan, Guru.”

“Baiklah. Kalau dapat, tidurlah kalian berdua. Tidak akan ada apa-apa lagi di sini. Percayalah.”

“Ya, Guru,” jawab Swandaru. Meskipun demikian, ia tetap tidak mengerti akan persoalan yang dihadapinya.

Ki Tanu Metir pun kemudian membawa Agung Sedayu keluar lagi dari rumah itu. Oleh Swandaru, pintunya pun segera ditutup kembali. Ia menyuruh Sekar Mirah untuk mencoba berbaring dan apabila mungkin untuk tidur, supaya badannya menjadi agak segar.

“Apakah kau juga akan tidur, Kakang?”

“Tentu, aku juga akan tidur.”

Tetapi Swandaru tidak melepas pedangnya. Dicobanya juga berbaring di amben yang besar itu pula. Tetapi ternyata keduanya sama sekali tidak memejamkan matanya.

Sementara itu, Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu telah keluar dari halaman rumah itu. Mereka terhenti ketika mereka berpapasan dengan dua orang prajurit peronda.

“Siapa?” salah seorang dari prajurit itu menyapa.

Ki Tanu Metir terbatuk-batuk sedikit, kemudian jawabnya, “Aku Ngger, Tanu Metir.”

“O,” prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “malam-malam, Kiai?”

“Berjalan-jalan, Ngger. Aku tidak dapat tidur.”

“Silahkan, Kiai,” sahut salah seorang prajurit itu, yang kemudian meninggalkan Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu.

Maka keduanya pun segera melangkahkan kaki mereka. Mereka berjalan menyusur jalan padepokan, kemudian berbelok ke jalan-jalan sempit yang sepi.

Tetapi Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu masih saja berdiam diri. Ki Tanu Metir belum bertanya sesuatu, dan Agung Sedayu tidak dapat mulai dengan sebuah percakapan apa pun.

Yang terdengar kemudian hanyalah desir kaki-kaki mereka di atas tanah yang keras. Sekali-sekali angin lereng yang dingin bertiup menggugurkan daun-daun kering dan menebarkannya di sepanjang jalan. Di kejauhan terdengar lamat-lamat suara burung kedasih yang sedih.

Baru sejenak kemudian terdengar Ki Tanu Metir berkata, “Aku mendengar percakapan kalian seluruhnya di pondok, Ngger.”

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar kata-kata gurunya. Tetapi ia tidak segera dapat menyahut.

“Aku dapat mengerti, bahwa kau sedang dalam kebingungan. Tetapi aku menyangka, bahwa kau tidak berkata sebenarnya terhadap Angger Swandaru dan Sekar Mirah. Ada sesuatu yang kau sembunyikan atau bahkan apa yang kau katakan seluruhnya tidak benar.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Setelah sekian lama ia menahan kegelisahan di dalam dadanya, tiba-tiba ia merasa mendapat tempat untuk menumpahkannya. Ia hampir lupa, bahwa ia mempunyai seorang guru yang akan dapat memberinya nasehat, dan sekaligus tempat untuk meringankan beban yang menyesak di dadanya.

Karena itu, sebelum Ki Tanu Metir mengulangi pertanyaannya, Agung Sedayu segera menjawab, “Ya, Kiai. Aku telah berdusta. Aku tidak dapat mengatakan yang sebenarnya.”

“Ya, kau tidak dapat berkata sebenarnya. Apakah soalnya?”

Agung Sedayu pun segera menceriterakan pertemuannya dengan kakaknya dan Wuranta. Dikatakannya semua dari awal sampai akhir, sehingga ia menjadi terlampau bingung dan ingin meninggalkan padepokan malam ini juga.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hatinya ia bergumam, “Aku sudah menyangka, bahwa suatu ketika Angger Untara akan sampai kepada keputusan itu. Beberapa kali telah disinggungnya, seakan-akan hubungan antara Angger Agung Sedayu dan Angger Sekar Mirah hanya akan menghambat kemajuan Angger Sedayu dan hanya akan menumbuhkan perselisihan saja. Tetapi Angger Untara ternyata kurang bijaksana menanggapi persoalan-persoalan yang demikian.”

Dan malam ternyata telah menjadi terlampau jauh, sehingga tiba-tiba saja mereka telah mendengar ayam jantan berkokok bersahutan. Seperti hantu yang takut kamanungsan, tiba-tiba Agung Sedayu menjadi semakin gelisah dan tanpa sesadarnya ia berkata, “Kiai, aku harus pergi sebelum pagi. Aku tidak dapat melakukan semua perintah Kakang Untara.”

“Yang mana yang tidak dapat kau lakukan, Ngger?“

Agung Sedayu tiba-tiba terdiam. Pertanyaan itu telah memaksanya untuk bertanya pula kepada diri sendiri, “Yang manakah yang tidak dapat dilakukannya?”

“Apakah kau memang tidak ingin menjadi seorang prajurit, atau ada persoalan lain yang lebih mengikat dari pada itu?”

Agung Sedayu tidak menjawab, tetapi kepalanya kini tertunduk dalam-dalam. Ia tidak dapat ingkar ketika di dalam dadanya bergolak pengakuan, bahwa yang paling memberati dadanya adalah perpisahan dengan Sekar Mirah itu. Tetapi ia tidak dapat mengatakan kepada Ki Tanu Metir dengan terbuka.

Sejenak keduanya terdiam. Angin yang berhembus terasa seolah-olah menjadi semakin dingin membelai tubuh mereka. Kokok ayam jantan pun menjadi semakin riuh pula. Ketika tanpa mereka sadari, mereka menengadahkan wajah mereka, maka tampaklah warna kemerah merahan di langit.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka Ki Tanu Metir-lah yang kemudian berkata, “Angger Sedayu, aku kira Angger Agung Sedayu kini telah benar-benar menjadi seorang laki-laki. Itulah sebabnya aku menduga, bahwa Angger tidak akan takut untuk menjadi seorang prajurit. Sebelum Angger menjadi prajurit, Angger telah berani terjun di medan-medan perang yang paling dahsyat. Angger telah ikut serta dalam peperangan di Sangkal Putung dan di padepokan ini. Tetapi, agaknya yang paling berat bagi Angger adalah keinginan Angger Untara, bahwa Angger harus memutuskan hubungan dengan Angger Sekar Mirah. Adakah begitu?”

Betapa dinginnya malam, namun baju Agung Sedayu telah dijalari oleh keringat yang mengalir dari punggungnya. Terbata-bata ia menjawab, “Ya, Kiai.”

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam, “apakah Angger tidak dapat melakukannya untuk sementara? Bukankah di saat-saat mendatang kesempatan masih luas bagi Angger untuk dapat bertemu dan berhubungan dengan Angger Sekar Mirah?”

Pertanyaan itu tidak dapat segera dijawab oleh Agung Sedayu, perpisahan dengan Sekar Mirah terasa terlampau berat baginya. Apalagi kalau hal itu dilakukan oleh Untara hanya karena sekedar menyenangkan hati Wuranta. Maka hati Agung Sedayu menjadi semakin tidak rela. Meskipun ia tahu peranan apa yang telah dilakukan oleh Wuranta, seolah-olah kunci kemenangan peperangan di padepokan ini adalah di tangan anak muda Jati Anom itu, namun ia tidak akan dapat melepaskan segala macam unsur kemenangan yang lain. Itulah sebabnya, maka apabila kakaknya terlampau memberatkan keputusannya kepada Wuranta, adalah tidak adil baginya.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka Ki Tanu Metir itu pun melanjutkan, “Nah, aku kira kau berkeberatan bukan?”

Tanpa sesadarnya Agung Sedayu pun mengangguk.

Ki Tanu Metir yang tua itu dapat menangkap perasaan yang bergolak di dalam dada muridnya. Betapa sakit dan pedih. Justru dalam umurnya yang masih terlampau muda.

Tiba-tiba Agung Sedayu mendengar gurunya bergumam, “Angger Sedayu, biarlah aku mencoba menolongmu. Aku akan berusaha supaya kau dapat pergi ke Sangkal Putung bersama dengan Angger Swandaru dan Angger Sekar Mirah.”

“Kiai,” hanya itulah yang terloncat dari mulutnya.

“Ya, aku akan mencoba. Tetapi aku tidak tahu apakah usahaku akan berhasil. Meskipun dengan demikian, Angger Untara pasti akan membuat penilaian atas diriku dan dirimu, tetapi baiklah aku mencobanya. Tetapi untuk seterusnya, kau harus dapat membawa dirimu. Sebagian dari keinginan kakakmu harus dapat kau penuhi. Kau sebaiknya memang menjadi seorang prajurit.”

“Ya, Guru. Aku sama sekali tidak berkeberatan menjadi seorang prajurit. Tetapi tidak segera. Aku masih ingin mengantar Sekar Mirah kembali kepada ayah dan ibunya seperti yang pernah aku janjikan.”

“Baiklah. Sekarang Angger kembali saja ke pondok Angger. Aku akan pergi ke banjar untuk berbicara dengan Angger Untara. Aku akan berbicara dengan caraku. Mudah-mudahan Angger Untara dapat mengerti. Jangan cemas, bahwa kau akan terpaksa membunuh, karena dicegat oleh orang-orang yang keras kepala itu.”

“Terima kasih, Guru,” sahut Agung Sedayu.

“Nah, kalau begitu, kita berpisah sampai di sini. Aku akan pergi ke banjar. Kalau Angger Untara dapat mengerti, maka setidak-tidaknya perasaanmu menjadi agak tenang karenanya.”

Maka keduanya pun segera berpisah. Ki Tanu Metir pergi ke banjar dan Agung Sedayu kembali ke pondoknya.

Ketika ia sampai ke pintu rumah, maka ia masih mendengar Swandaru dan Sekar Mirah bercakap-cakap. Agaknya semalam suntuk mereka sama sekali tidak dapat tidur.

Pada saat yang hampir bersamaan, Ki Tanu Metir pun telah sampai pula di banjar padepokan. Tetapi banjar itu masih terlampau sepi. Hanya para penjaganya sajalah yang masih tegak mondar-mandir di halaman, sedang sebagian yang lain duduk mengelilingi sebuah pelita di atas ajug-ajug yang tinggi di gardu peronda.

Ketika Ki Tanu Metir sampai di halaman, maka langit di ujung Timur telah menjadi semakin merah. Bayangan orang-orang yang sedang bertugas itu pun telah menjadi semakin jelas.

“Ah, Kiai,” desah salah seorang dari mereka, “masih terlampau pagi, Kiai sudah datang kemari.”

Ki Tanu Metir tersenyum. Jawabnya, “Aku takut kesiangan. Apakah Angger Untara ada?”

“Ada, Kiai, tetapi agaknya Ki Untara masih tidur. Semalam adiknya berada di sini sampai jauh malam, sehingga baru saja Ki Untara sempat beristirahat.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan menunggunya. Kalau begitu lebih baik aku duduk di gardu ini. Agaknya kalian baru saja mendapat minuman hangat.”

Para peronda itu tertawa, “Marilah, Kiai. Air sere dan jahe. Untuk mengusir dingin.”

Ki Tanu Metir pun kemudian duduk di antara mereka. Berbicara dengan para peronda itu. Bersenda-gurau dan berkelakar. Namun setiap kali teringat oleh orang tua itu, muridnya yang sedang bingung karena sikap kakaknya yang keras. Sikap seorang prajurit. Tetapi agaknya Untara sendiri belum pernah merasakan, betapa sulitnya untuk mengurai ikatan yang telah terlanjur membelit hati dari pertautan kasih antara dua orang remaja. Adalah berbahaya sekali untuk mengurainya dengan paksa dan kekerasan. Itulah sebabnya, ia harus menemui senapati muda yang hidupnya dicengkam oleh kepatuhan yang keras akan tugas-tugasnya.

Dengan tidak terasa, maka langit pun menjadi semakin lama semakin terang. Bintang gemintang satu-satu lenyap dari wajah yang biru membentang dari ujung ke ujung cakrawala.

Ki Tanu Metir yang tubuhnya telah dihangatkan oleh semangkuk air jahe, menggeliat. Dibenahinya kain gringsingnya. Kemudian perlahan-lahan turun dari gardu.

“Ke mana, Kiai?” bertanya salah seorang penjaga.

“Mungkin Angger Untara telah bangun,” jawab Ki Tanu Metir.

“Aku belum melihatnya. Biasanya, Ki Untara apabila bangun terus pergi ke sumur untuk membersihkan diri.”

“Tetapi hari telah pagi.”

“Agaknya ia terlambat bangun. Tidak seorang pun yang membangunkannya, karena setiap orang tahu, bahwa semalam ia hampir tidak tertidur.”

Sekali lagi Ki Tanu Metir menggeliat. Katanya, “Biarlah, aku akan menunggunya di pringgitan.”

“Kalau begitu, silahkanlah, Kiai.”

Ki Tanu Metir itu pun kemudian berjalan melintasi halaman. Naik ke pendapa, kemudian masuk ke pringgitan.

Untara yang baru saja terbangun dari tidurnya terkejut melihai kehadiran Ki Tanu Metir begitu pagi.

“O, apakah Kiai semalam tidur di banjar ini?” bertanya Untara.

“Tidak, Ngger, semalam aku berjalan saja mengelilingi padepokan ini,”

“Dan sesudah itu Kiai langsung datang kemari?”

Ki Tanu Metir menggeleng, “Tidak, Ngger, aku sudah bertemu dengan Angger Agung Sedayu.”

Kening Untara segera berkerut. Anak muda yang berotak tajam itu segera dapat mengerti, bahwa kedatangan Ki Tanu Metir ini pasti berhubungan dengan adiknya, Agung Sedayu. Karena itu, maka hatinya pun menjadi berdebar-debar. Ternyata Agung Sedayu masih saja menjadi persoalan baginya. Agaknya anak itu telah menyampaikan persoalannya kepada gurunya, dan gurunya kini datang kepadanya untuk berusaha merubah sikapnya.

“Tidak,” katanya di dalam hati, “keputusanku tentang Agung Sedayu telah tetap. Ia harus menjadi seseorang yang cukup mempunyai pegangan. Ia harus mempunyai kedudukan yang baik sebelum ia tenggelam dalam hubungan dengan perempuan. Sekar Mirah tidak akan dapat menjadikannya seorang laki-laki yang baik. Hubungan itu hanya akan menghambat kemajuan-kemajuan yang seharusnya dapat dicapainya. Ia memiliki bekal yang cukup untuk memanjat ke tempat yang setinggi-tingginya. Ia kawan baik pula dari Adi Sutawijaya, yang pasti akan berpengaruh bagi kedudukannya.”

Untara itu tersadar ketika ia mendengar Ki Tanu Metir bertanya, “Apakah Angger akan membersihkan diri dahulu?”

“Oh,” Untara segera bangkit, “agaknya aku agak kesiangan.”

“Belum,” sahut Ki Tanu Metir.

Untara pun kemudian segera bangkit dan berjalan keluar untuk sesuci diri, bersama Ki Tanu Metir dan Wuranta.

Sejenak kemudian maka mereka pun telah duduk berhadapan di atas bentangan tikar pandan. Wuranta yang telah selesai pula segera duduk di antara mereka.

“Kiai datang terlampau pagi,” bertanya Untara, “dan aku menjadi berdebar-debar karenanya. Mungkin ada sesuatu hal yang cukup penting yang akan Kiai katakan.”

“Ya,” jawab Ki Tanu Metir pendek.

Jawaban itu telah mengejutkan Untara dan bahkan Wuranta. Mereka tidak menyangka, bahwa jawaban Ki Tanu Metir akan terlampau pendek dan langsung. Apalagi ketika Ki Tanu Metir kemudian berkata, “Aku telah mendengar semuanya dari Angger Agung Sedayu tentang keputusan Angger Untara mengenai dirinya.”

Untara mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi hatinya masih juga berdebar-debar. Sudah dapat diduga sebelumnya, bahwa guru Agung Sedayu pasti akan selalu mencampuri urusannya dengan adiknya itu, seperti juga Ki Tanu Metir mencampuri urusan keprajuritan. Tetapi Untara tidak dapat menolak. Ki Tanu Metir telah terlampau banyak memberikan jasa-jasanya kepadanya, sejak peperangan-peperangan yang terjadi di Sangkal Putung. Bahkan sebelum itu. Ketika ia hampir mati di jalan ke Sangkal Putung dari Jati Anom, di dekat Macanan ia telah bertemu dengan Pande-besi Sendang Gabus, Alap-alap Jalatunda dan kawan-kawannya.

Seandainya Ki Tanu Metir tidak melindunginya saat itu, ia pasti sudah mati dicincang oleh Plasa Ireng, dan adiknya telah lumat oleh Alap-alap Jalatunda.

“Tetapi sebaiknya Ki Tanu Metir tidak mencampuri terlampau banyak persoalan keluargaku,” desisnya di dalam hati.

Karena Untara tidak segera menjawab, maka Ki Tanu Metir itu berkata pula, “Dan adikmu, Angger Agung Sedayu, kini menjadi sangat bingung.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian ia bertanya, “Apakah yang dibingungkannya?”

“Perintahmu, Ngger.”

“Seharusnya Agung Sedayu tidak usah menjadi bingung. Semuanya telah jelas. Dan ketika aku bertanya kepadanya, ia mengiakannya. Semuanya telah dimengertinya.”

“Seharusnya Angger dapat mengerti, bahwa hal itu dilakukannya, karena ia begitu takut dan hormat kepada Angger sebagai seorang saudara tua pengganti ibu bapa. Tetapi perintah Angger telah menyudutkannya dalam suatu pertentangan perasaan yang hampir-hampir tidak dapat dipecahkanya.”

Dahi Untara menjadi berkerut-merut, karena debar di dadanya seolah-olah mengguncang jantungnya. Dan demikian derasnya getar di dadanya itu, sehingga ia bertanya, “Apakah Kiai tidak sependapat dengan perintahku kepada adikku itu.”

Ki Tanu Metir yang juga menyebut dirinya Kiai Gringsing itu tidak segera menjawab. Tetapi ditatapnya wajah Untara tajam-tajam. Seolah-olah ingin membaca apa yang tersirat di wajah anak muda Senapati Wira Tamtama, yang mendapat kekuasaan untuk menyelesaikan masalah orang-orang Jipang di daerah Selatan di sekitar Gunung Merapi.

Betapa besarnya nama Untara, dan betapa tangguhnya ia di medan-medan perang menghadapi lawannya, tetapi tatapan mata Ki Tanu Metir itu terasa terlampau tajam baginya, sehingga sesaat kemudian Senapati muda itu menggeser sudut pandangnya.
Tetapi jawaban Ki Tanu Metir telah mengejutkannya. Perlahan ia mendengar Ki Tanu Metir itu menjawab, “Aku sependapat dengan kau, Ngger.”

Sejenak Untara justru terbungkam. Ia tidak segera dapat mengucapkan kata-kata. Dan didengarnya Ki Tanu Metir itu berkata selanjutnya, “Tetapi, cara yang Angger tempuh, bagiku terlampau tajam, sehingga Angger sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Angger Agung Sedayu mencari jalan yang agak lapang bagi perasaannya.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ketika debar jantungnya telah menjadi agak tenang, maka ia pun bertanya, “Jadi, bagaimanakah yang sebaiknya aku lakukan?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Untara berganti-ganti dengan wajah Wuranta yang tegang pula. Sesaat kemudian ia berkata, “Angger adalah seorang prajurit di medan perang. Angger terlampau biasa menjatuhkan perintah yang langsung tanpa aling-aling. Tetapi masalah Angger Agung Sedayu, agak berbeda dengan keadaan yang sering Angger hadapi. Seandainya Angger Agung Sedayu melakukan juga perintah Angger Untara, namun hatinya pasti akan terluka. Dan luka yang demikian itu akan sangat berbahaya, justru usianya yang masih terlampau muda.”

Untara mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah yang Kiai maksud? Apakah aku harus memutar balikkan kata-kataku sehingga malahan Agung Sedayu tidak tahu maksudnya.”

“Bukan begitu, Ngger,” jawab Ki Tanu Metir, “tetapi Angger memerlukan kebijaksanaan. Maksud Angger tercapai, tetapi hati adik Angger itu tidak terluka karenanya. Luka yang akan dapat menjadi cacat sepanjang hidupnya.”

“Ah, itu terlampau cengeng, Kiai,” sahut Untara, “apabila Agung Sedayu benar-benar seorang jantan, maka hal itu pasti tidak akan terjadi atasnya. Seorang yang berpikir cukup jauh, mempertimbangkan kepentingan-kepentingan yang jauh lebih besar dari yang terlampau kecil. Bukankah Kiai mencemaskan Agung Sedayu akan menjadi patah hati? Mungkin itu akan terjadi. Tetapi itu tidak akan lama. Ia seharusnya dapat mengatasinya. Ia harus bangkit dan melupakan hubungan itu. Dan ia harus menyadari bahwa hubungan itu hanya akan menghambat kemajuannya. Lahir dan batin. Dan ia akan berhenti sampai keadaannya yang sekarang. Kemudian, ia akan kehilangan masa depannya. Ia akan terhenti dan segera akan kawin. Menjadi seorang ayah, dan waktu-waktunya akan hilang di sawah dan ladang. Maka, apakah artinya masa mudanya itu baginya nanti? Mungkin ia akan dapat menjadi seorang Jagabaya. Setinggi-tingginya seorang Demang apabila beruntung. Tetapi tidak lebih dari itu.”

Kata-kata Untara terputus ketika tiba-tiba dilihatnya wajah Ki Tanu Metir berubah. Wajah yang telah dilukisi oleh kerut-merut ketuaannya itu tiba-tiba menjadi tegang. Tetapi hanya sesaat. Orang tua itu berusaha sekuat-kuatnya untuk menahan perasaannya. Dan sejenak kemudian orang tua itu tersenyum.

“Ternyata Angger memandang dunia ini hanya dari satu sudut,” berkata orang tua itu kemudian.

Untara mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Dibiarkannya orang tua itu meneruskannya, “Angger memandangnya dari sudut Angger sendiri.” Sekali lagi orang tua itu terhenti, lalu dilanjutkannya. “Aku pun hanya seorang dukun tua yang tidak berarti apa-apa, Ngger. Bahkan mungkin jauh di bawah arti seorang Jagabaya apalagi seorang Demang.”

“Ah,” Untara berdesah, “bukan maksudku, Kiai. Tetapi Kiai adalah seorang yang mumpuni di dalam bidang yang telah Kiai pilih. Kiai agaknya tidak menyia-nyiakan hari-hari Kiai di masa muda yang sangat berharga itu, sehingga Kiai mendapatkan kemampuan Kiai seperti sekarang. Tidak hanya di bidang pengobatan, tetapi ternyata Kiai adalah seorang yang berilmu hampir sempurna.”

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Seleret dikenangnya masa-masa mudanya. Tetapi sekali lagi ia mentoba mengekang perasaannya. Masa muda itu tidak begitu cerah baginya. Masa yang ingin sekali dapat dilupakannya. Tetapi kadang-kadang kenangan atas masa-masa itu membersit di hatinya.

“Masa-masa yang kelam,” desisnya. “Mudah-mudahan orang lain tidak akan mengalaminya.”

Tetapi ternyata kenangannya di masa muda yang seolah-olah selalu disembunyikannya itu, telah mendorongnya untuk lebih banyak berbuat untuk menyelamatkan perasaan muridnya, sehingga ia kemudian berkata, “Sudahlah, Ngger. Mungkin pendirian Angger itu pun dapat dibenarkan. Dengan demikian maka kesempatan Angger Agung Sedayu akan lebih luas terbuka. Tetapi apabila ia mampu mengatasi hambatan yang tumbuh di dalam dirinya sendiri. Karena itu, Ngger, aku ingin maksud Angger itu tercapai dengan tidak usah menyakiti hatinya.”

“Maksud Kiai?”

“Angger tidak usah dengan tergesa-gesa melarangnya berhubungan dengan Angger Sekar Mirah.”

“Ah,” Untara berdesah, “itu adalah hambatan yang paling besar baginya.”

“Seandainya Angger mengingininya, tetapi jangan dilakukan dengan paksa. Angger harus mencari jalan sebaik-baiknya untuk melakukannya. Aku mengerti maksud Angger, tetapi aku tidak dapat sependapat dengan cara yang Angger tempuh.”

Dahi Untara menjadi berkerut-merut mendengar kata-kata Ki Tanu Metir itu. Seandainya yang berkata itu bukan Kiai Gringsing, yang telah banyak berjasa, tidak saja kepadanya; tetapi juga kepada pasukan Pajang di Sangkal Putung.

Dengan demikian maka dada Untara itu serasa menjadi pepat. Ia tidak segera dapat memilih jalan yang sebaik-baiknya untuk menentukan sikap.

Sejenak pringgitan banjar padepokan Tambak Wedi itu menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah desah nafas mereka yang sedang ditegangkan oleh persoalan yang mereka bicarakan.

Baru sejenak kemudian terdengar Untara bertanya, “Lalu cara yang manakah yang Kiai anggap sebaik-baiknya.”

“Aku mengharap agar Angger melakukannya dengan perlahan,” jawab Ki Tanu Metir.

“Mustahil dapat terjadi,” bantah Untara, “bahkan hubungan mereka akan menjadi semakin erat dan mendalam. Sesudah itu tidak ada jalan lagi untuk memisahkannya. Agung Sedayu tidak lagi dapat berpikir wajar. Seluruh hidupnya akan diikat oleh wanita itu. Badannya dan nyawanya. Kebanggaan baginya adalah mempertahankan perempuan itu. Dan anak itu tidak akan ingat lagi bahwa perjuangan masih jauh untuk mewujudkan Pajang yang besar dan kuat.”

“Aku akan melakukannya,” jawab Ki Tanu Metir tenang, namun cukup mengejutkan hati Untara, “aku akan mencoba membuat Angger Agung Sedayu menjadi seorang yang baik, yang berguna bagi negara dan tanah kelahiran. Aku tidak mempedulikannya, apakah ia masih akan tetap berhubungan dengan Sekar Mirah atau tidak. Seandainya ia terpisah dari padanya pun, maka adalah menjadi kodrat seorang laki-laki untuk memilih seorang perempuan menjadi kawan hidupnya. Tetapi apabila keinginan Angger Untara untuk membuat Angger Agung Sedayu seorang yang kuat dalam kedudukan dan kanuragan, maka serahkanlah kepadaku. Maksudku, Sekar Mirah tidak akan merintanginya atau menjadi penghalangnya, meskipun mereka masih tetap berhubungan. Seharusnya Angger dapat membaca tabiat dan sifat Angger Sekar Mirah. Kalau yang Angger Untara bicarakan adalah mengenai kedudukan, pangkat, jabatan dan apa lagi, maka Angger Sekar Mirah akan dapat menjadi pendorong yang baik. Tetapi kalau soalnya lain, maka harus diutarakan agar hal itu dapat terjadi perlahan-lahan tanpa melukai hatinya seperti yang telah aku katakan.”

Wajah Untara menjadi semakin tegang mendengar kata-kata Kiai Gringsing itu, dan Kiai Gringsing ternyata masih melanjutkan. “Seandainya Angger ingin melihat Angger Agung Sedayu tidak lagi berhubungan dengan Angger Sekar Mirah pun, aku akan mencoba mengusahakannya pula, tetapi tidak dengan tiba-tiba.”

Ketegangan di dada Untara telah memuncak. Sehingga sejenak ia kehilangan penguasaan diri. Dengan gemetar ia berkata, “Kiai, biarlah aku mengatur jalan hidup Agung Sedayu. Aku adalah kakaknya, pengganti ibu bapa.”

Seleret membersitlah dari sepasang mata orang tua yang bening itu, sorot yang tajam, yang seolah-olah langsung menghunjam ke jantung Untara. Tetapi sesaat kemudian sepasang mata itu telah menjadi lunak kembali. Bahkan orang tua itu tersenyum sambil menjawab, “Maaf, Ngger. Kau adalah kakak Angger Agung Sedayu, kau adalah satu-satunya keluarganya yang tinggal. Tetapi sebaiknya Angger ingat bahwa aku adalah gurunya.”

Dada Untara berdesir mendengar jawaban Ki Tanu Metir itu. “Ya, orang tua itu adalah gurunya.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk menguasainya dirinya yang seolah-olah telah terbakar oleh perasaan kecewanya terhadap sikap Ki Tanu Metir yang terlampau banyak mencampuri urusannya. Tetapi orang tua itu adalah gurunya. Wewenang seorang guru kadang-kadang melampaui wewenang orang tua sendiri terhadap seseorang. Seseorang kadang-kadang lebih taat mematuhi perintah gurunya dari pada orang tuanya. Dan Ki Tanu Metir itu adalah guru Agung Sedayu.

“Tetapi,” suatu pergolakan telah terjadi di dalam dada Untara, “aku mempunyai seribu pertimbangan untuk memisahkan Sekar Mirah dari Agung Sedayu. Kecuali untuk kepentingan Agung Sedayu sendiri, maka persoalannya dengan Wuranta pasti tidak akan dapat selesai dengan baik. Padahal keduanya adalah anak-anak Jati Anom. Perselisihan itu mau tidak mau pasti akan menyentuh namaku pula, apalagi apabila keduanya menjadi lupa diri. Sedang keduanya sama sekali tidak seimbang dalam olah kanuragan. Kalau Agung Sedayu kehilangan pengendalian diri, maka akibatnya akan memalukan sekali. Aku pun pasti akan terpercik pula karenanya.”

Tetapi Untara tidak dapat segera mengatakannya. Betapa hatinya bergolak, tetapi ia masih tetap menyadari, bahwa yang duduk itu adalah Ki Tanu Metir. Orang yang telah menyelamatkan jiwanya, dan jiwa adiknya, Agung Sedayu.

Itulah sebabnya, maka dada Untara itu seolah-olah akan meledak. Ia dihadapkan pada suatu persoalan yang baginya jauh lebih rumit dari persoalan Tohpati di Sangkal Putung. Bahkan ia mengeluh di dalam hatinya, “Seandainya tidak ada Sekar Mirah. Seandainya gadis itu tidak terlibat dalam persoalan antara Pajang dan sisa-sisa orang Jipang.”

Sekali lagi pringgitan itu dicengkam oleh kesepian. Tetapi betapa dada mereka dibakar oleh debar jantung masing-masing yang bergolak seperti kawah gunung Merapi.

Titik-titik keringat telah membasahi dahi mereka. Dan punggung mereka pun telah menjadi basah, seakan-akan mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan yang terlampau berat.

Tetapi ternyata dari kening Wuranta titik-titik keringat itu telah menetes satu-satu di atas tikar pandan yang telah menjadi kekuning-kuningan. Bibirnya tampak bergetar, secepat getar di dalam dadanya. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tetapi serasa tersangkut di kerongkongan, sehingga dengan demikian, maka wajahnya pun menjadi semakin tegang.

Kiai Gringsing yang telah cukup banyak menyimpan pengalaman di dalam dadanya, dapat membaca betapa dada anak muda itu hampir retak karena tekanan perasaan yang tidak dapat dilimpahkannya keluar. Karena itu, maka sambil tersenyum ia berkata, “Angger Wuranta, agaknya Angger ingin mengatakan sesuatu. Tetapi Angger merasa terlampau berat untuk melepaskannya. Katakanlah, Ngger, supaya dadamu tidak menjadi pepat, dan kepalamu menjadi pening. Apakah yang kau katakan itu dapat kami mengerti atau tidak, itu adalah soal yang lain. Namun dengan demikian, dadamu pasti akan menjadi agak lapang karenanya.

Wuranta menelan ludahnya yang seolah-olah menyumbat kerongkongannya. Sekali dipandanginya dukun tua itu, dan sekali senapati muda yang bernama Untara itu. Namun tatapan mata mereka terlampau tajam baginya, sehingga anak muda Jati Anom itu menundukkan kepalanya. Tetapi terdengar suara lirih terputus-putus, “Ya, Kiai. Aku memang ingin mengatakan sesuatu.”

“Nah, katakanlah. Mungkin Angger dapat membantu melepaskan keruwetan ini,” sahut Ki Tanu Metir.

Tetapi dahi Untara menjadi semakin berkerut-merut. Apabila Wuranta menuntut supaya ia melaksanakan keputusannya, maka perasaannya pasti akan menjadi semakin kisruh. Ternyata Ki Tanu Metir mempunyai rencananya sendiri atas muridnya yang tidak sesuai dengan rencananya.

Persoalan itu adalah persoalan yang paling rumit yang membebani pikirannya. Persoalan Agung Sedayu dan Wuranta, yang berkisar di seputar gadis Sangkal Putung yang bernama Sekar Mirah, yang langsung atau tidak langsung telah menghancurkan Tambak Wedi karena pertentangan yang tumbuh di dalam tubuh padepokan ini karena gadis itu pula. Sehingga Sidanti dan Alap-alap Jalatunda lelah berkelahi, dan yang masing-masing telah menyeret orang-orangnya ke dalam perkelahian yang dahsyat itu.

“Pertentangan yang demikian itu masih akan terulang?” desisnya di dalam hati, “Apakah Agung Sedayu dan Wuranta akan menyeret pihak masing-masing pula untuk saling bertentangan?”

Untara menahan nafasnya ketika ia mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Silahkan Ngger, silahkan. Katakanlah.”

Wuranta menggigit bibirnya. Keringatnya semakin deras mengalir di keningnya. Dan bajunya pun menjadi semakin kuyup pula.

“Kiai,” terdengar suaranya lambat sekali, “aku minta maaf.”

Kiai Gringsing dan Untara menarik kening mereka. Kata-kata itu telah membuat mereka keheranan. Dan terdengarlah Kiai Gringsing bertanya, “Kenapa Angger minta maaf? Bukankah sudah seharusnya dalam suatu pembicaraan masing-masing pihak mengemukakan pendiriannya?”

Tetapi nafas Wuranta menjadi semakin deras mengalir. Sekali lagi ia berkata, “Aku minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat kekisruhan ini.”

Ki Tanu Metir dan Untara menjadi semakin heran. Sejenak mereka justru terdiam memandangi wajah Wuranta yang telah dibasahi oleh keringatnya. Tetapi sejenak kemudian, Ki Tanu Metir menarik nafas panjang. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Sareh ia berkata, “Tenanglah, Ngger. Coba katakanlah, apakah yang sebenarnya tersimpan di hati Angger sejelas-jelasnya. Jangan ragu-ragu, dan jangan mencemaskan apa pun akibat dari kata-katamu.”

Wuranta masih menundukkan kepalanya. Bahkan tubuhnya menjadi gemetar oleh getaran di dalam dadanya.

“Untara,” katanya perlahan-lahan, “aku merasa bersalah, bahwa aku telah mengganggu ketenanganmu. Selama aku mendengar pembicaraanmu dengan Ki Tanu Metir, aku merasa bahwa aku telah berbuat kesalahan yang besar terhadap Agung Sedayu. Karena itu, maka jangan kau hiraukan aku lagi. Aku menyadari, bahwa tidak seharusnya aku melibatkan diri dalam hidupnya. Aku memang terlampau jauh tenggelam ke dalam suatu dunia mimpi yang memabukkan, sehingga aku telah melupakan tata pergaulan di antara kawan sendiri. Untara, seharusnya aku menjadi malu sekali bahwa hal ini telah terjadi. Karena itu, hanya kepadamu dan kepada Ki Tanu Metir aku mengaku. Pembicaraanmu yang terakhir ternyata telah membuka hatiku. Aku tidak berhak untuk mengganggu hubungan Agung Sedayu dengan Sekar Mirah. Aku telah merasakan betapa pahitnya kehilangan tanpa memilikinya. Apalagi Agung Sedayu. Agaknya hati mereka memang telah terpaut. Karena itu, lupakan saja aku. Jangan kau hiraukan aku lagi.”

“Wuranta,” terdengar suara Untara pun tiba-tiba menjadi bergetar. Tetapi Untara tidak meneruskan kata-katanya.

Sekali lagi pringgitan itu menjadi sepi. Sekali lagi nafas-nafas mereka terdengar memenuhi ruangan itu. Ki Tanu Metir yang tua mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali tangannya meraba-raba keningnya yang basah.

Dan sejenak kemudian, orang tua itu berkata perlahan, “Kau memang berjiwa besar, Ngger.”

“Ah,” Wuranta berdesah. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

“Hatimu yang telah terbuka itu pasti akan banyak sekali menolong kegelapan hati kita masing-masing,” berkata orang tua itu pula.

Tetapi Untara kemudian berkata, “Apakah aku akan membiarkan persoalan ini berlarut-larut?”

Ki Tanu Metir berpaling memandangi wajah Untara dengan kening yang berkerut, sedang Wuranta pun mengangkat kepalanya pula dan berkata, “Persoalan ini telah selesai Untara. Aku telah mengakui segala kesalahan yang telah aku lakukan. Aku tidak akan mengganggu gugat lagi, apa pun yang akan kau lakukan atas Agung Sedayu. Tetapi janganlah Agung Sedayu kau korbankan hanya karena ketamakanku. Kalau terpaksa harus memutuskan hubungan, maka akulah yang sudah sewajarnya menarik diri, sebab aku belum pernah merasakan getaran apa pun yang menghubungkan hati kami. Hatikulah yang terlampau lemah. Mudah-mudahan, aku belum terlambat untuk mengakui kesalahanku ini.”

Sikap Wuranta itu sama sekali tidak diduga-duga sebelumnya oleh Untara dan Ki Tanu Metir. Karena itu, maka tanggapan mereka atas sikap Wuranta itu pun terasa aneh. Namun terbersit di hati mereka kebesaran jiwa anak muda Jati Anom itu, meskipun terlampau dicengkam oleh gelora perasaannya.

Ki Tanu Metir yang tua itu sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya. Di samping perasaan ibanya terhadap Wuranta, orang tua itu menjadi agak lapang pula dadanya. Dengan demikian ia mengharap, bahwa persoalan muridnya dengan demikian akan segera selesai. Untara tidak akan lagi diganggu oleh kemungkinan yang mencemaskannya. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat meretakkan hubungan antara anak-anak muda Jati Anom sendiri.

Untara yang dapat merasakan, betapa pahitnya perasaan Wuranta sejenak menjadi terdiam. Ia melihat betapa sakitnya hati Wuranta, tetapi ia merasakan juga, bahwa sikap Wuranta itu dilambari dengan keikhlasan yang dalam. Wuranta benar-benar telah menyatakan isi hatinya, bukan sekedar untuk memulas diri, basa-basi, atau semacam pameran keluhuran budi. Tetapi Wuranta benar-benar ikhlas menelan kepahitan yang dihadapinya. Setelah nalarnya mampu bekerja dengan bening, maka anak muda itu melihat betapa ia telah dikuasai oleh ketamakan dan kesombongan tiada taranya. Baru berapa hari ia mengenal Sekar Mirah. Ia tidak tahu perasaan apakah yang tersimpan di dalam dada gadis itu terhadap dirinya, maka ia telah merasa berhak untuk beriri-hati terhadap Agung Sedayu yang telah berkenalan jauh lebih lama dengan gadis Sangkal Putung itu, bahkan di antara keduanya telah terjalin hubungan yang betapapun lembutnya.

Namun meskipun demikian, Untara, Senapati Perang dari prajurit Wira Tamtama itu, tiba-tiba merasa terikat oleh keputusannya sendiri. Tiba-tiba ia merasa bahwa pendiriannya itu adalah pendirian yang sebaik-baiknya bagi adiknya.

Karena itu, maka tiba-tiba Untara itu pun berkata, “Aku dapat mengerti Wuranta. Aku berterima kasih kepadamu. Kau telah membantu kami untuk menentukan sikap kami terhadap Agung Sedayu.” Untara itu berhenti sejenak. Namun Ki Tanu Metir terkejut ketika Untara itu meneruskan, “Tetapi aku merasa, bahwa keputusanku adalah jalan yang sebaik-baiknya bagi Agung Sedayu. Bukan saja karena aku ingin melerai pertentangan yang ada di antara kalian, kau dan Agung Sedayu. Meskipun tidak tampak di dalam sikap dan tindak-tanduk, tetapi hanya tersimpan di dalam hati. Namun aku memang menganggap, bahwa sebaiknya Agung Sedayu menghindari rintangan-rintangan yang akan dipasangnya sendiri sepanjang perjalanan hidupnya.”

Ketika Untara berhenti berbicara, terdengar Ki Tanu Metir berdesah. Orang tua itu bergeser setapak maju sambil mengernyitkan alisnya.

“Hem,” orang tua itu menarik nafasnya dalam-dalam sehingga dadanya terangkat.

Untara melihat sikap Ki Tanu Metir dengan dada yang berdebar. Tetapi ia masih saja ingin meyakinkan orang tua itu, bahwa Agung Sedayu masih harus membentuk dan menyusun hari depannya sebaik-baiknya. Kalau pagi-pagi ia sudah tidak dapat melepaskan ikatan pinjung gadis Sangkal Putung itu, maka hari depannya pasti tidak akan dapat diharapkan. Ia tidak akan menjadi orang yang dibicarakan di istana Pajang. Mungkin ia akan dapat menjadi seorang gegedug, seorang yang dipandang pilih tanding suatu daerah, di suatu kademangan atau di suatu daerah tanah perdikan. Tetapi namanya tidak akan sempat disebut-sebut di dalam sidang-sidang agung di istana Pajang, karena tidak seorang pun yang dapat mengenalnya dengan pasti.

“Angger Untara,” berkata Ki Tanu Metir itu kemudian, “aku dapat mengerti perasaan Angger. Aku dapat mengerti kehendak yang sebaik-baiknya yang tersimpan di dalam hati Angger sebagai seorang kakak terhadap adik satu-satunya. Adalah sudah sewajarnya, apabila Angger Untara sebagai seorang saudara tua, seorang pengganti ibu bapa ingin melihat Angger Agung Sedayu menjadi seorang besar, seorang yang terpandang. Bahkan apabila mungkin menjadi seorang yang penting di dalam pemerintahan.”

“Angger Untara, aku kagum akan sikapmu itu. Seorang saudara tua yang benar-benar memikirkan nasib saudara satu-satunya, adiknya. Meskipun sikap ini sebenarnya tumbuh dari persoalan yang telah bergeser dari titik tumpuannya.”

Untara mengerutkan keningnya. Ia tahu benar arah pembicaraan Ki Tanu Metir. Ki Tanu Metir ternyata dapat mengerti maksudnya, tetapi orang tua itu tetap pada pendiriannya pula. Bahkan orang tua itu menganggap, bahwa keputusannya itu beralaskan persoalan yang mula-mula tidak seperti yang dinyatakannya sekarang.

“Tetapi,” Ki Tanu Metir meneruskan, “Angger tidak melihat hati Angger Agung Sedayu. Angger memandang dari satu segi, dan Angger tidak mencoba melihat dari celah-celah perasaan Angger Agung Sedayu itu. Meskipun maksud Angger itu baik dan Angger nyatakan dengan jujur, tetapi Angger kurang memberikan kesempatan kepada Angger Agung Sedayu untuk turut serta menentukan dirinya sendiri. Angger Untara dapat memberikan arah kepada Angger Agung Sedayu, tetapi jangan membunuh perkembangannya dengan cara yang keras. Sudah aku katakan, Ngger, akan mencoba membantu Angger Untara. Dan aku pun merasa bertanggung jawab pula atas Angger Agung Sedayu, karena aku adalah gurunya. Baik-buruk, hitam-putih anak muda itu, pertama-tama pasti diukur dengan kemampuan gurunya. Kalau ia gagal, akulah yang paling parah menanggungnya. Aku pasti akan menjadi tempat untuk melemparkan hinaan dan celaan. Akulah yang menanggung malu karenanya. Seorang guru yang tidak mampu membentuk muridnya menjadi seorang yang baik.”

“Karena itu, Ngger, percayakan ia kepadaku. Aku akan mengikutinya ke Sangkal Putung. Kemudian membawanya bersama Angger Swandaru untuk meninggalkan kademangan itu. Aku ingin memberi mereka sedikit pengalaman dalam perantauan.”

Jantung Untara serasa menjadi semakin cepat berdentang. Tetapi apa yang dikatakan oleh Ki Tanu Metir itu tidak dapat disangkalnya. Tanggung jawab atas Agung Sedayu memang lebih banyak akan dibebankan kepada gurunya daripada kepada kakaknya.
Karena itu maka Untara itu pun terdiam untuk beberapa saat. Tampaklah ketegangan di wajahnya menjadi semakin memuncak.

“Angger Untara,” terdengar Ki Tanu Metir meneruskan, “mudah-mudahan aku dapat membantu Angger, membuat Angger Agung Sedayu menjadi seorang yang Angger harapkan. Aku akan membentuknya sesuai dengan keadaannya dan mempersiapkannya menjadi seorang yang cukup memiliki bekal untuk menjadi seorang yang namanya akan disebut-sebut di istana Pajang.”

“Tentang Angger Sekar Mirah jangan kau hiraukan lagi. Aku mengharap, bahwa Angger Sekar Mirah tidak akan menjadi penghalang, tetapi justru akan menjadi seorang yang dapat mendorong Angger Agung Sedayu untuk meletakkan cita-citanya setinggi bintang di langit.”

Untara masih tetap berdiam diri. Kini di dalam dadanya terjadi pergolakan yang sengit. Ia merasa berat sekali untuk mencabut dan merubah sikapnya, namun ia dapat mengerti dan memahami pendirian Ki Tanu Metir.

Kini sejenak mereka yang berada di pringgitan itu saling berdiam diri. Untara mencoba mencari kemungkinan yang sebaik-baiknya yang dapat dilakukannya.

Akhirnya Senapati muda itu berkata, “Kiai, aku dapat mengerti pendirian Kiai. Tetapi aku juga tidak dapat melepaskan keinginanku, bahwa adikku akan menjadi orang yang mapan di hari depannya. Karena itu Kiai, apabila Kiai merasa, bahwa Kiai dapat membantu aku, menyelamatkan masa depan anak itu, maka aku dapat menyerahkannya kepada Kiai. Tetapi dengan jaminan bahwa Agung Sedayu tidak akan segera terikat dalam suatu ikatan yang dapat menutup kemungkinan-kemungkinan di masa datang.”

“Maksud Angger Untara, agar Angger Agung Sedayu tidak segera kawin sebelum memiliki cukup bekal untuk hidupnya. Begitu?” potong Ki Tanu Metir.

Untara menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk, “Ya, begitulah Kiai, dan tidak lagi mengalami kesulitan justru karena hubungannya dengan gadis itu.”

“Sebenarnya, perkawinan bukan suatu batas bagi perkembangan seseorang. Mungkin justru di dalam masa perkawinan itulah, seseorang mendapat dorongan untuk berbuat sesuatu,” sahut Ki Tanu Metir, “tetapi seandainya Angger menghendaki demikian, maka aku akan mengusahakannya. Aku akan membuatnya bersiap menghadapi masa depannya. Seandainya ia kelak menjadi seorang prajurit, biarlah ia menjadi seorang prajurit yang telah masak. Angger Agung Sedayu saat ini memang masih terlampau hijau. Ia masih banyak memerlukan pengalaman untuk mengikuti Angger Untara merayap ke tangga istana Pajang. Khususnya sebagai seorang prajurit Wira Tamtama.”

Sekali lagi Untara terbungkam. Ia tidak menemukan alasan untuk menyangkal pikiran Ki Tanu Metir itu. Karena itu, maka Untara itu pun kemudian berkata, “Baiklah, Kiai. Aku serahkan Agung Sedayu kepada Kiai. Tetapi ingat, aku sebagai kakaknya, pengganti ibu-bapa, ingin agar Agung Sedayu mendapat tempat di dalam lingkungan keprajuritan, di mana ia akan mendapat kesempatan untuk langsung mengabdikan diri kepada negerinya. Aku akan menyesal apabila kelak Agung Sedayu tidak lebih daripada seorang yang hanya dapat menakut-nakuti pencuri-pencuri ayam di padesan yang jauh dari pimpinan pemerintahan.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar, bahwa cita-cita Untara melambung tinggi ke awang-awang. Seperti cita-citanya sendiri dalam pengabdiannya terhadap negara dan tanah kelahirannya, ia pun mengharap adiknya akan turut serta di dalam pengabdian itu. Tetapi sebagai manusia, maka Untara tidak luput pula dari pamrih. Ia ingin adiknya menjadi seorang yang namanya disebut-sebut di dalam sidang-sidang di istana, seperti juga namanya sendiri selalu disebut-sebutnya.

“Baiklah, Ngger,” berkata Ki Tanu Metir, “aku akan mencoba membantu perkembangan pribadinya, meskipun sebagian terbesar tergantung pada Angger Agung Sedayu sendiri. Aku akan mencoba menempuh jalan yang paling mudah bagi Angger Agung Sedayu. Kelak apabila datang saatnya, maka aku akan datang kembali membawa Angger Agung Sedayu. Aku akan menyerahkannya kepada Angger Untara. Seterusnya jalan akan lebih lapang bagi Angger Agung Sedayu, apabila ia bersama dengan Angger Untara.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan, Kiai. Semuanya terserah kepada Kiai.” Kemudian Untara itu berpaling kepada Wuranta, “Terima kasih akan kerelaanmu mengorbankan kepentinganmu sendiri, Wuranta. Kau telah membantu memecahkan persoalan ini.”

Wuranta mengangkat wajahnya. Kemudian ia berkata, “Aku seharusnya minta maaf langsung kepada Agung Sedayu, kepadamu, dan kepada Ki Tanu Metir. Tetapi aku tidak cukup berani untuk berhadapan dengan Agung Sedayu.”

“Kau cukup berjiwa besar, Ngger. Kau telah mengatakannya kepadaku dan Angger Untara. Itu sudah cukup. Aku akan menyampaikannya kepada Agung Sedayu,” sahut Ki Tanu Metir.

Wuranta tidak menjawab. Tetapi kepalanya ditundukkannya.

Dan terdengar Ki Tanu Metir berkata, “Kalau demikian, maka biarlah aku membawa anak-anak Sangkal Putung itu pulang ke rumahnya. Seterusnya aku akan membawa Angger Agung Sedayu dan Angger Swandaru untuk menambah pengalamannya yang masih terlampau sempit. Mungkin ada tempat-tempat yang perlu dikunjungi. Mungkin aku akan dapat memperkenalkannya dengan orang-orang yang namanya pernah tersebar di seluruh daerah Demak lama, dan yang kini seakan-akan mengasingkan dirinya.”

Untara tidak segera menjawab. Tetapi hatinya terasa berdesir juga. Terbayang di pelupuk matanya, adiknya yang masih muda itu akan memulai dengan sesuatu kehidupan yang baru baginya. Kehidupan yang asing sama sekali dari kehidupannya di masa kanak-kanaknya.

Dibayangkannya, di masa kanak-anak Agung Sedayu, hampir tidak pernah terpisah dari ujung selendang ibunya. Ke mana ibunya pergi, Agung Sedayu hampir pasti ikut bersamanya. Kalau sekali-sekali Agung Sedayu pergi juga dengan ayahnya, maka ibunya selalu berpesan bersungguh-sungguh, supaya anak itu nanti kembali dengan selamat kepadanya.

Kini Agung Sedayu yang hampir tidak pernah menjenguk keluar pagar itu, akan pergi dengan gurunya ke tempat yang tidak menentu. Merantau untuk menambah pengalaman dan menggembleng diri.

Untara tersadar ketika ia mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Angger Untara, aku kira tidak ada lagi kepentingan kami di sini. Karena itu, maka biarlah kami minta diri. Kami akan pergi ke Sangkal Putung untuk mengembalikan Sekar Mirah, kemudian mencoba membentuk Angger Agung Sedayu dan Angger Swandaru untuk menjadi seorang laki-laki dewasa.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak akan mencegah lagi, Kiai. Aku kali ini mempercayakannya kepada Kiai. Mudah-mudahan Kiai tidak gagal. Umur Agung Sedayu akan selalu merayap, dan tidak akan dapat diulang. Tetapi aku minta, Kiai tidak pergi meninggalkan padepokan ini, sekarang atau besok pagi. Aku ingin, kita bersama-sama yang telah berbuat sesuatu untuk menyelesailan pekerjaan ini, berkumpul bersama-sama untuk mengatakan kegembiraan hati kita dan untuk menyatakan terima-kasih kita kepada Tuhan yang telah memberikan jalan yang lapang kepada kita. Aku ingin kita semuanya sempat melepaskan ketegangan yang selama ini telah menghimpit hati kita, meskipun itu tidak berarti bahwa kita akan kehilangan kewaspadaan.”

“Ah,” sahut Ki Tanu Metir, “aku kira kami tidak perlu turut serta dalam kegembiraan itu. Bagi anak-anak Sangkal Putung itu, kegembiraan yang paling besar kini adalah kembali kepada ayah dan ibunya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia berkata, “Aku tahu, Kiai, tetapi biarlah kegembiraan kita menjadi lengkap. Hari itu tidak akan terlampau lama. Dua tiga hari kita akan menyelenggarakannya di Jati Anom, seperti yang telah aku katakan. Aku sudah mengirimkan beberapa orang untuk menemui Ki Demang di Jati Anom. Sayang, bahwa hari-hari yang kita rencanakan itu tidak dapat dilakukan besok atau lusa. Ki Demang memerlukan persiapan untuk itu, apalagi setelah Jati Anom dikacaukan oleh kehadiran orang-orang dari padepokan ini.

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah Angger Untara benar-benar ingin menahan kami.”

“Tentu, Kiai. Terutama Agung Sedayu. Aku harus melepaskannya dengan beberapa pesan yang mudah-mudahan berguna baginya. Sebab aku telah memberikan perintah lain kepadanya. Akulah yang akan memberitahukan perubahan itu, meskipun sebelumnya Kiai dapat mengatakan kepadanya. Tetapi ia harus mendengar dari mulutku, bahwa perubahan itu hanyalah sekedar perubahan cara yang harus ditempuhnya. Bukan masalahnya ia harus tetap menyadari betapa pentingnya membina hari depannya.”

Sekali lagi Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Untara masih harus tetap menjaga kewibawaan dirinya di hadapan adiknya itu. Dan Ki Tanu Metir tidak akan dapat menyalahkannya. Maka jawabnya, “Kalau demikian, baiklah, Ngger. Aku akan memberikan beberapa penjelasan pendahuluan. Biarlah Angger Agung Sedayu datang sendiri kepada Angger Untara.”

“Baiklah, Kiai.”

“Kalau begitu, aku segera minta diri, Ngger. Aku akan kembali ke pondok, supaya aku tidak terlambat memberikan penerangan kepada adik Angger itu.”

Untara mengerutkan keningnya, “Kenapakah Agung Sedayu itu, Kiai?”

“Syarafnya menjadi tegang, hampir tidak dapat dikuasainya. Semalam ia tidak tidur sama sekali, dan hampir-hampir saja aku tidak dapat melihatnya lagi di padepokan ini.”

“Apa yang akan dilakukan?” tiba-tiba wajah Untara-lah yang menjadi tegang.

“Kalau aku tidak segera datang dan mendengar apa yang mereka bicarakan serta mencegahnya, maka semalam Angger Agung Sedayu telah membawa Angger Swandaru dan Angger Sekar Mirah ke Sangkal Putung.”

“Kenapa begitu?”

“Hal-hal serupa itulah yang harus Angger ketahui. Perasaannya tidak dapat menerima tekanan dari luar, tetapi ia tidak berani untuk berterus terang melawannya. Ia tidak berani menolak perintah Angger Untara, tetapi ia tidak dapat melakukan perintah itu. Maka diambilnya jalan ketiga yang mungkin akan dapat menjerumuskannya ke dalam bencana. Kalau mereka bertiga benar-benar meninggalkan padepokan ini, dan di ujung lereng tikungan di luar padepokan ini mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya, seandainya mereka masih berkeliaran di sini, maka mereka pasti akan menjadi endeg amun-amun.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Dadanya menjadi berdebar-debar. Soal semacam ini baginya adalah soal yang baru. Hal yang demikian tidak pernah terjadi di kalangan keprajuritan. Tetapi Agung Sedayu hampir melakukannya.

“Jadikanlah hal ini suatu pengalaman,” berkata Ki Tanu Metir.

Betapa beratnya, namun akhirnya Untara menganggukkan kepalanya, “Ya, Kiai. Untunglah bahwa hal itu belum terjadi.”

Dalam pada itu, dengan nada yang dalam Wuranta berdesis, “Seandainya hal itu terjadi, dan seandainya mereka menemui bahaya di perjalanan, maka aku adalah salah satu penyebabnya. Dan aku pun pasti akan menyesal sepanjang hidupku.”

“Tetapi semuanya itu belum terjadi, Ngger. Semuanya masih belum terlambat.”

Wuranta tidak menyahut. Tetapi bintik-bintik keringat di keningnya masih menitik satu-satu. Sekali ia mengusap wajah yang basah dengan telapak tangannya. Namun wajah itu tidak juga menjadi kering.

“Sekarang,” berkata Ki Tanu Metir, “kabut yang menyelimuti Angger sekalian telah tersingkap. Mudah-mudahan hari-hari berikutnya menjadi cerah.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan, “Mudah-mudahan. Mudah-mudahan semuanya dapat terjadi seperti yang kita inginkan.”

“Tetapi kita tidak boleh menentukan, bahwa keinginan kita pasti akan terjadi, Ngger. Kita hanya dapat berusaha sejauh-jauh mungkin. Namun akhirnya semuanya terserah kepada Yang Maha Besar. Meskipun demikian, kita tidak dapat menunggu saja, dan keinginan kita itu akan terpenuhi dengan sendirinya. Kita harus memohon. Dan kesungguhan dari permohonan kita itu harus tercermin dari kesungguhan usaha kita. Kalau kita tidak bersungguh-sungguh berusaha, maka permohonan kita itu pun tidak bersungguh-sungguh pula, sehingga wajarlah bahwa hal itu tidak terjadi.”

“Aku mengerti, Kiai,” desis Untara.

“Tetapi kita harus percaya, bahwa usaha yang baik pasti akan dilindungi. Kepercayaan itulah yang terungkap sebagai kepercayaan kepada diri sendiri. Percaya kepada kesungguhan diri sendiri dan percaya bahwa kesungguhan itu adalah kesungguhan dari permohonan kita, yang pasti akan didengar oleh Yang Maha Kuasa.”

Untara mengangguk-angguk dan Wuranta pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Ketika Ki Tanu Metir berhenti berbicara, maka sekali lagi pringgitan itu menjadi sepi. Seolah-olah mereka sedang merenungkan kata-kata Ki Tanu-Metir itu.

Mereka terkejut ketika mereka melihat pintu pringgitan itu bergerak. Sebuah kepala tersembul dari luar dan dengan hati-hati orang itu bertanya, “Apakah aku boleh masuk masuk?”

“Untuk apa?” bertanya Untara.

“Makan telah tersedia.”

“Oh,” Untara menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Seolah-olah segenap ketegangan yang menyumbat dadanya selama ini telah dilepaskannya.

“Bawalah masuk,” katanya kemudian, “kita bertiga di sini.”

“Baik,” sahut orang itu.

Sejenak kemudian, orang itu pun hilang di balik pintu. Tetapi segera muncul kembali sambil menjinjing tiga bungkus nasi.

“Letakkanlah di situ,” berkata Untara.

Orang itu pun segera meletakkan ketiga bungkus nasi itu di atas gledeg bambu. Kemudian ia pun segera meninggalkan ruangan itu.

“Marilah, Kiai. Makan telah tersedia. Makanan medan perang nasi tanpa lauk pauk.”

Ki Tanu Metir tertawa. Katanya, “Di medan perang kita masih dapat mengharap rangsum makanan, Ngger. Tetapi di perantauan, kita harus mencarinya sendiri. Bukankah begitu?”

Untara pun tersenyum pula. “Ya, Kiai,” jawabnya. Kemudian kepada Wuranta ia berkata, “Marilah, Wuranta.”

Sejenak kemudian, maka ketiganya pun telah membuka bungkusan masing-masing. Nasi putih dengan sejumput serundeng yang terlalu kering. Sepotong kecil daging lembu dan sambal lombok merah.

“Alangkah nikmatnya,” desis Ki Tanu Metir, “semalam aku sama sekali tidak tidur. Karena itu, maka aku kini merasa sangat penat dan lapar. Nasi hangat ini benar-benar telah menghangatkan tubuhku.”

Untara tidak menyahut. Tetapi ia tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ketika mereka telah selesai makan dan minum, maka Ki Tanu Metir pun segera minta diri. Katanya, “Ah, aku terlampau lama di sini. Aku telah minta diri untuk yang kesekian kalinya. Untunglah, bahwa aku tidak segera pergi. Jika demikian, maka aku tidak akan mendapat bagian nasi serundeng. Apalagi apabila nanti sampai di pondokan Angger Agung Sedayu, rangsum telah habis, dihabiskan oleh Angger Swandaru. Maka aku pun akan menjadi kelaparan. Sekarang, setelah aku kenyang, aku akan benar-benar minta diri, Ngger.”

“Silahkan, Kiai,” jawab Untara, “tetapi harapanku kali ini tergantung pada kebijaksanaan Kiai.”

“Ya, ya aku mengerti,” desis orang tua itu, “aku harus segera sampai kepada Angger Agung Sedayu. Aku takut kalau jantungnya menjadi terlampau tegang dan justru akan berhenti berdetak, atau karena hatinya terlampau gelap, ia telah melakukan rencananya semalam, pergi dari padepokan ini.”

“Silahkan, Kiai,” sahut Untara sambil mengerutkan keningnya.

Setelah minta diri pula kepada Wuranta, maka kali ini Ki Tanu Metir itu pun berdiri dan melangkah perlahan-lahan meninggalkan pringgitan, diantar oleh Untara dan Wuranta sampai ke muka pintu.

Ketika orang tua itu telah turun dari pendapa, maka terdengar Wuranta berdesis, “Aku menjadi malu sekali, Untara.”

“Tak seorang pun yang tahu. Kami yang mengetahui persoalanmu, aku dan Ki Tanu Metir, dapat memahami perasaanmu. Dan kami mengagumi kebesaran jiwamu.”

“Itu terlampau berlebih-lebihan.”

“Jangan kau pikirkan lagi. Semuanya telah selesai.”

“Kalau kau tetap pada pendirianmu untuk melarang Agung Sedayu mengantar Sekar Mirah ke Sangkal Putung, maka hatiku akan menjadi terlampau parah. Aku adalah sebab dari persoalan ini, meskipun kau menyebut alasan-alasan yang lain, tetapi sikapku yang gila selama ini adalah sebab yang terbesar dari keputusanmu.”

“Lupakan. Semuanya sudah selesai.”

“Aku akan mencoba melupakannya, Untara.”

Sesaat Untara tidak menyahut. Dipandangnya langkah Ki Tanu Metir yang ringan di halaman banjar padepokan. Sejenak orang tua itu berhenti di gardu peronda.

Untara tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Ki Tanu Metir dengan para penjaga di gardu itu, tetapi ia melihat Ki Tanu Metir itu tertawa.

“Sebenarnya orang tua itu adalah seorang periang,” berkata Untara di dalam hatinya.
Tanpa sesadarnya, ingatannya merayap kembali kepada masa yang telah dilampauinya. Pada saat-saat ia terluka dan bersembunyi di rumah dukun dari Pakuwon itu. Melihat sepintas, seseorang tidak akan menyangka, bahwa dukun dari Dukuh Pakuwon itu adalah seorang yang mampu mengimbangi kedahsyatan nama Ki Tambak Wedi, dan bahkan tidak akan berada di bawah tingkatan Ki Gede Pemanahan, seorang Panglima Wira Tamtama.

“Aneh,” pikir Untara, “orang ini seolah-olah sama sekali tidak mempunyai pamrih apapun dengan keadaan di sekitarnya. Ia berbuat seperti yang dikehendakinya. Kalau ia bersedia menghubungkan dirinya dengan kepentingan-kepentingan duniawi, maka ia tidak akan jauh dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat dibanggakan. Baik di dalam kedudukan maupun di dalam olah kanuragan.”

Dan keheranan itu semakin lama semakin dalam tergores di dinding hatinya. Untara itu mengenal nama-nama seperti Adiwijaya, Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, Ki Juru Mertani, Ki Mancanegara, Ki Wuragil, Arya Penangsang, Mantahun, Sumangkar, Ki Tambak Wedi dan yang lain-lain. Semuanya ada di dalam dunianya masing-masing. Semuanya memiliki pamrihnya sendiri-sendiri. Meskipun Ki Tambak Wedi tidak berada di dalam lingkungan istana mana pun, Demak, Pajang, atau Jipang. Juga tidak Cerbon dan Banten, namun ia justru terlampau dikuasai oleh pamrihnya sendiri.

“Mas Karebet itu pun didorong oleh pamrih-pamrih duniawi tertentu,” berkata Untara pula di dalam hatinya, “terutama setelah Demak menjadi kosong. Ditambah lagi dengan dua gadis yang dijanjikan oleh Kangjeng Ratu Kalinyamat.”

Tetapi orang ini benar-benar aneh. Ia tinggal di padukuhan yang kecil sebagai seorang dukun. Tidak lebih daripada itu.

Untara menarik nafas dalam-dalam.

Ia tersadar, ketika ia sudah tidak melihat lagi Ki Tanu Metir di halaman itu. Ternyata orang tua itu telah meninggalkan gardu.

Ketika Untara itu berpaling, ia masih melihat Wuranta berdiri di sampingnya.

“Oh,” Untara berdesis, “Marilah, duduklah.”

Wuranta tidak menjawab, tetapi diikutinya Untara melangkah kembali ke bentangan tikar pandan di pringgitan itu.

Sementara itu, Ki Tanu Metir berjalan tergesa-gesa ke pondok Agung Sedayu. Ia mencemaskan anak muda itu. Seandainya Agung Sedayu benar-benar tidak dapat menguasai perasaannya, maka ia akan dapat berbuat hal-hal yang tidak terduga-duga. Mungkin ia akan benar-benar membawa Swandaru dan Sekar Mirah segera pergi ke Sangkal Putung.

Tetapi orang tua itu menarik nafas dalam-dalam ketika ternyata Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah masih ditemuinya di pondoknya, meskipun agaknya Agung Sedayu sudah hampir tidak sabar lagi menantinya.

Belum lagi Ki Tanu Metir masuk ke dalam rumah, maka Agung Sedayu sudah menyongsongnya sambil bertanya, “Bagaimana, Guru. Apakah aku harus menjalani keputusan Kakang Untara itu?”

“Apakah aku tidak kau persilahkan masuk?” bertanya Ki Tanu Metir.

“Oh,” Agung Sedayu menarik nafas. Tetapi ia benar-benar sudah tidak dapat menunggu lagi keterangan dari gurunya itu tertunda-tunda. Dengan tergesa-gesa ia berkata, “Marilah, Kiai. Silahkan duduk. Tetapi bagaimana dengan Kakang Untara?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya wajah Agung Sedayu yang pucat, wajah-wajah Swandaru dan Sekar Mirah yang gelisah dan bingung.

Tiba-tiba orang tua itu berkata sareh, “Bukankah kalian telah dirisaukan oleh hati kalian sendiri?”

Hampir bersamaan ketiganya menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi Sekar Marah menyahut pertanyaan itu, “Ya, Kiai, kami memang sedang dirisaukan oleh hati kami sendiri.”

“Nah, kalau demikian, tenangkanlah hati kalian. Tidak ada alasan apa pun bagi kalian untuk menjadi risau.”

Sejenak Swandaru dan Agung Sedayu saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak menemukan kesan yang mencemaskan di wajah orang tua itu. Bahkan sejenak kemudian orang tua itu bertanya. “Apakah kalian telah mendapat rangsum?”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Pertanyaan itu sama sekali tidak diharapkannya. Tetapi ia menyahut, “Sudah, Kiai. Baru saja. Kami masih belum sempat memakannya.”

“Makanlah.”

“Kami belum lapar, Kiai,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi mungkin Angger Swandaru dan Sekar Mirah menjadi lapar.”

Keduanya bersama-sama menggelengkan kepala mereka, “Belum, Kiai.”

“Kalau begitu akulah yang lapar. Di banjar aku sudah mendapat makan, tetapi hanya satu bungkus. Berapa bungkus kalian mendapat rangsum?”

Sekali lagi Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mulutnya terpaksa juga menjawab, “Empat, Kiai. Kami minta satu untuk Kiai.”

“Bagus. Marilah kita makan. Kita merayakan akhir dari keadaan yang selama ini telah membuat kalian menjadi bingung. Kita akan sampai pada suatu keadaan yang baru. Suatu kehidupan yang lain dari yang pernah kalian tempuh selama ini.”

BAB III.
MELINTAS HUTAN MENTAOK

AWAN YANG PUTIH  kemerah-merahan mengapung di langit. Matahari yang telah perlahan-lahan turun ke punggung Gunung Merapi. Sinarnya semakin lama menjadi semakin pudar. Burung-burung seriti terbang bergumpal-gumpal mengitari sebatang pohon beringin. Ratusan, bahkan ribuan, sehingga seolah-olah mendung yang gelap mengambang di langit.

Lamat-lamat terdengar kentongan di gardu, di pintu gerbang padepokan Tambak Wedi, memecah keheningan senja. Suaranya mengumandang memenuhi lereng Gunung Merapi. Bertalu-talu seperti dibunyikan berulang kali.

Seorang prajurit muda yang berdiri di depan gardu di samping regol padepokan itu berbisik kepada kawannya, “Besok kita turun ke Jati Anom.”

“Ya,” sahut kawannya yang masih muda pula, “suasana yang tegang selama ini akan berakhir. Kita akan terlepas dari cara hidup yang keras dan kasar ini.”

“Di Jati Anom akan diselenggarakan sekedar keramaian untuk menyatakan kegembiraan hati atas kemenangan kita. Dengan hancurnya Tambak Wedi, maka seolah-olah di bagian Selatan ini telah tidak ada lagi gangguan apa pun bagi Pajang.”

Tiba-tiba kawannya mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi kita akan segera ditarik dan dikirim ke pesisir Utara. Kita harus berkelahi lagi melawan orang-orang pesisir.”

Kawannya menggelengkan kepalanya, “Tidak. Peperangan di pesisir pun sudah semakin tipis. Tidak banyak lagi perlawanan yang harus dihadapi oleh Pajang. Setidak-tidaknya kita akan mendapatkan beberapa hari libur, pulang ke rumah dan berada di lingkungan keluarga. Anak dan isteri, meskipun kita kelak harus bertempur lagi.”

“Pekerjaan kita memang berkelahi,” sahut prajurit muda yang pertama. “Kita adalah orang-orang yang dibentuk untuk berkelahi.”

“Ya, kita memang telah menyatakan diri kita sebagai seorang prajurit. Pekerjaan prajurit adalah bertempur. Meskipun demikian kita adalah manusia, yang suatu ketika ingin hidup seperti kebiasaan hidup manusia. Berkeluarga, bercakap-cakap dengan isteri dan bermain-main dengan anak-anak.”

Tiba-tiba keduanya terperanjat ketika di belakang mereka terdengar suara, “Siapa yang berkata bahwa prajurit itu pekerjaannya berkelahi dan bertempur?”

“Oh, Ki Lurah,” desis kedua prajurit itu hampir bersamaan. Ternyata di belakang mereka berdiri seorang lurah Wira Tamtama.

“Habis, apakah yang harus kita lakukan, Ki Lurah?” bertanya salah seorang dari kedua prajurit itu.

Lurah Wira Tamtama itu tersenyum. Namun ia bertanya pula, “Apabila peperangan ini telah selesai, sisa-sisa orang-orang yang berkeras kepala, bekas pengikut Arya Penangsang telah habis dan tidak ada lagi pertentangan di seluruh wilayah Pajang, lalu kita para prajurit harus mencari persoalan baru supaya kita tidak menjadi seorang penganggur?”

“Ah,” desah salah seorang prajurit muda itu.

“Coba katakan,” bertanya lurah Wira Tamtama itu, “apa yang harus kita kerjakan?”

Kedua prajurit itu saling berpandangan. Kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Bukankah jumlah prajurit akan berangsur-angsur dikurangi, dan kita akan kehilangan pekerjaan kita?”

Lurah Wira Tamtama itu tersenyum, “Dan kau akan menjadi sakit hati karenanya?”

Kedua prajurit muda itu terdiam. Sekali lagi mereka saling berpandangan.

“Coba katakan, apakah niatmu ketika kau pertama kali memasuki lapangan ini.”
Keduanya tidak segera menjawab.

“Apakah kalian hanya sekedar ingin mendapat lapangan pekerjaan supaya kalian tidak menjadi penganggur? Hanya itu?”

Kini keduanya menggeleng, “Tidak, Ki Lurah. Aku memasuki lapangan ini oleh suatu dorongan yang kuat.”

“Katakanlah sifat dorongan itu. Supaya kau tidak mati kelaparan? Atau supaya kau menjadi seorang yang ditakuti oleh tetangga-tetanggamu karena kau membawa senjata di lambung? Atau supaya kau mudah untuk mendapatkan yang kau ingini? Karena kau prajurit, maka kau melamar gadis tetanggamu. Apabila gadis itu menolak segera kau mengancamnya, bahwa sekelompok kawan-kawanmu akan datang dan menangkap orang tua gadis itu. Begitu? Atau kepentingan lain, supaya kau dapat mengambil kambing, kerbau atau apa saja kepunyaan tetanggamu yang kau ingini karena kau prajurit?”

“Tentu tidak, Ki Lurah. Tentu tidak. Aku bukan seorang yang gila seperti itu. Seandainya ada seorang prajurit yang hanya didorong oleh nafsunya yang demikian, maka ia telah menodai Wira Tamtama.”

“Bagus,” potong lurah Wira Tamtama. “Lalu dorongan apa yang telah memaksamu masuk ke dalam lingkungan keprajuritan.”

Kedua prajurit itu mengerutkan keningnya, “Aku tidak tahu Ki. Tetapi keinginanku menjadi seorang prajurit demikian besarnya. Aku ingin karena aku melihat prajurit-prajurit yang lebih dahulu daripadaku. Mereka telah banyak sekali berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak.”

Lurah Wira Tamtama itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Bagus. Bagus. Kau hanya tidak pandai mengatakan. Dorongan yang demikian itu lahir karena sifat-sifat ksatria yang ada di dalam dirimu. Kau ingin mengabdikan diri untuk kepentingan lingkunganmu, untuk kepentingan negara dan tanah tumpah darah. Ingat, menjadi seorang prajurit adalah menyerahkan diri dalam pengabdian. Ini adalah landasan pertama yang harus ada di dalam dada setiap prajurit.”

Kedua prajurit yang mendengarkan kata-kata lurah Wira Tamtama itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang mereka pun merasakan arti dari kata-kata itu, tetapi mereka tidak pandai untuk mengatakannya.

“Nah,” lurah Wira Tamtama itu meneruskan, “bukankah dengan demikian tugas seorang prajurit tidak hanya berkelahi, bertempur dan berperang? Tidak setiap kali mencari persoalan supaya ada kerja yang dilakukannya?”

Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Banyak sekali yang harus dilakukan,” sambung lurah itu pula, “Apabila terjadi kerusuhan, kejahatan dan sebagainya, maka prajurit pun harus berbuat untuk melindungi rakyat yang lemah. Tetapi itu pun masih dapat disebut berkelahi atau bertempur. Yang lain misalnya, apabila ada bencana. Bencana alam atau bencana apa pun, maka pengabdian prajurit harus ditunjukkannya juga. Masa-masa yang sulit. Kekeringan air atau malahan banjir.”

“Ya,” kedua prajurit itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Itu adalah kewajiban-kewajiban lahiriah yang tampak oleh mata kita,” berkata lurah Wira Tamtama itu pula. “Yang lebih penting dari itu adalah menanamkan keyakinan, bahwa prajurit adalah pengabdian. Maka semua tindak-tanduk bahkan angan-angannya pun akan selalu berlandaskan pada keyakinan itu. Pengabdian. Bukan sebaliknya dari itu.”

“Ya, ya, Ki Lurah,” berkata salah seorang prajurit itu, “sekarang aku tahu bagaimana mengatakannya. Tetapi demikian itulah yang membersit di dalam dadaku sebelum aku memasuki prajurit.”

“Sebelum memasuki dunia keprajuritan? Lalu, sesudah itu, maka keyakinanmu justru berubah?”

“Tidak, tidak. Bukan maksudku. Aku pun masih tetap memegang keyakinan itu.”

“Bagus,” lurah Wira Tamtama itu berdesis. “Aku percaya kepada kalian. Nah, sebenarnya, bahwa besok kalian akan turun ke Jati Anom. Tetapi tidak seluruhnya. Sebagian dari kalian masih harus tetap berjaga-jaga di padepokan ini. Meskipun kemenangan kalian dapat disebut mutlak, tetapi otak dari padepokan ini ternyata dapat melepaskan diri.”

Kedua prajurit itu menarik nafas dalam-dalam, “Siapakah yang akan tinggal di sini?”

“Sepertiga dari seluruh pasukan akan tinggal di sini.”

Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalian akan menerima perintah nanti malam. Siapakah yang besok akan turun ke Jati Anom dan siapa yang tinggal. Tidak banyak bedanya. Yang tinggal di sini pun pasti akan mendapat bagian dari keramaian yang akan diselenggarakan di Jati Anom. Kalau tidak salah, maka ada lima ekor lembu yang tersedia buat kalian di sini.”

Kedua prajurit itu tidak menjawab. Tetapi kepala mereka terangguk-angguk kecil.

Dan lurah prajurit itu berkata pula, “Sepertiga dari kalian akan tinggal di sini, sepertiga di Jati Anom dan sepertiga dari kalian diperkenankan untuk pulang ke rumah masing-masing untuk waktu-waktu tertentu. Demikian bergiliran, sehingga kalian pasti akan segera mendapat giliran pula. Perintah yang serupa akan diberikan juga kepada pasukan di Sangkal Putung. Sepertiga dari mereka akan bergiliran, kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.”

Kedua prajurit itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, lakukanlah tugasmu baik-baik,” berkata lurah Wira Tamtama itu kemudian, “meskipun seolah-olah kalian sudah tidak berhadapan dengan bahaya, tetapi jangan lengah. Kalau datang waktunya kalian bertugas di regol padepokan ini, maka tugas itu harus kalian lakukan dengan baik. Suatu saat, kalian masih akan mendapat tugas yang cukup berat. Membawa para tawanan ke Pajang.”

“Ya, Ki Lurah,” jawab kedua prajurit itu hampir bersamaan.

Lurah Wira Tamtama itu pun segera meninggalkan gardu itu. Perlahan-lahan ia berjalan menyusur jalan padepokan untuk melihat gardu-gardu yang lain.

Perlahan-lahan pula, maka malam pun turun menyelubungi lereng gunung Merapi. Cahaya kemerah-merahan di puncak gunung itu pun semakin lama menjadi semakin pudar. Asapnya yang putih kemerahan mengepul seolah-olah ingin menggapai bintang yang mulai bermunculan satu demi satu.

Beberapa buah obor mulai dipasang di gardu-gardu, di perapatan dan di jalan-jalan padepokan yang masih dianggap belum aman sama sekali.

Dan malam pun menjadi semakin malam. Sehelai-sehelai kabut yang tipis mengalir menyentuh padepokan yang seakan-akan sedang lelap dalam tidur yang nyenyak.

Padepokan itu terbangun, ketika ayam jantan mulai berkokok bersahut-sahutan. Dari ujung ke ujung terdengar betapa riuhnya, menyongsong warna fajar yang membayang di ujung Timur.

Ketika fajar kemudian menjadi semakin terang, dan semua prajurit telah menunaikan kewajiban masing-masing, maka mereka pun segera bersiap-siap untuk turun ke Jati Anom. Sepertiga dari mereka masih harus tinggal di padepokan itu, menjaga orang-orang Jipang dan Tambak Wedi yang terpaksa diperlakukan sebagai tawanan. Beberapa orang perwira akan tinggal pula di padepokan itu, untuk menjaga setiap kemungkinan, seandainya Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya datang kembali.

“Perintah segera akan disebarkan,” berkata Untara kepada para perwira itu. “Beberapa orang prajurit akan segara pergi ke Sangkal Putung, sebagian akan pergi ke Prambanan dan Pangrantunan. Para prajurit di Prambanan harus mengawasi setiap gerakan yang mencurigakan. Apalagi apabila mereka melihat gerakan yang datang dari seberang hutan Mentaok. Dari Mentaok misalnya, apabila dendam Sidanti benar-benar tidak terkendali.”

Para perwira itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari bahaya yang dapat timbul apabila Sidanti benar-benar datang membawa pasukan dari seberang Hutan Mentaok. Tetapi kekuatan itu pasti sudah tidak akan sedahsyat apabila mereka bergabung dengan kekuatan sisa-sisa orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi.

“Untunglah, bahwa kekuatan-kekuatan yang dapat membantunya di sini sudah tidak ada lagi,” desis salah seorang perwira.

“Ya,” sahut Untara, “aku mempunyai perhitungan, bahwa Sidanti tidak akan berani datang membawa pasukannya apabila perhitungannya masih jernih. Tetapi apabila Sidanti dan Ki Tambak Wedi itu sudah menjadi mata gelap, serta mereka berhasil menghasut Argapati, maka kemungkinan itu akan dapat terjadi.”

“Ya,” para perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tetapi apakah dengan demikian tidak berarti suatu pemberontakan yang terang-terangan melawan Pajang, yang akibatnya akan dapat membuat Tanah Perdikan Menoreh itu menjadi parah?”

“Pemberontakan itu memang sudah dimulai dari Tambak Wedi ini,” sahut Untara. “Tetapi meskipun demikian, aku tidak yakin, bahwa Argapati memiliki sifat-sifat seperti Tambak Wedi. Aku kira Argapati telah salah memilih guru buat puteranya, yang sebenarnya memiliki bekal yang kuat di dalam dirinya.”

“Mungkin,” sahut salah seorang perwira, “tetapi menilik sikap Argajaya, maka Argapati pasti setidak-tidaknya memiliki sifat serupa.”

“Mudah-mudahan tidak. Argapati bukan keturunan seorang pemberontak. Ia seorang yang baik, yang berjasa bagi Demak.”

Para perwira itu terdiam. Dan Untara meneruskan, “Tetapi semua kemungkinan dapat terjadi. Kuwajiban kita adalah siaga menghadapi setiap kemungkinan, tanpa melepaskan kewaspadaan sama sekali.”

Sekali lagi para perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian, maka sampailah saatnya pasukan Pajang yang berada di padepokan itu sebagian turun ke Jati Anom. Untara sendiri memimpin langsung pasukannya. Di antara pasukan yang turun ke Jati Anom itu, terdapat beberapa orang yang bukan prajurit-prajurit Wira Tamtama. Di bagian depan, di sisi Untara sendiri berjalan Wuranta. Langkahnya yang lemah, serta kepalanya yang menunduk, membayangkan perasaannya yang belum tenang benar. Sekali-sekali ia menengadahkan wajahnya dan melihat batu-batu yang berserakan di sebelah-menyebelah jalan yang dilaluinya, namun kepala itu kemudian tunduk lagi.

“Kita pulang ke kampung halaman,” desis Untara yang berjalan di sampingnya.

Wuranta berpaling, Jawabnya, “Sesudah mengalami masa yang menggoncangkan hati.”

Untara tersenyum. Katanya, “Pengalaman yang tidak akan dapat dilupakan. Tetapi pengalaman adalah pelajaran yang baik buat seseorang. Ia akan dapat menggurui kita di saat-saat mendatang, supaya kita menjadi lebih berhati-hati dan lebih cermat memperhitungkan keadaan dengan nalar.”

Wuranta tidak menjawab. Dianggukkannya kepalanya perlahan. Tetapi kemudian ia bertanya, “Kau tidak berkuda?”

Untara menggeleng, “Tidak.”

“Apakah sebagian dari kuda-kuda yang dibawa oleh para prajurit itu akan ditinggalkan di padepokan Tambak Wedi.”

“Ya, hanya sebagian saja yang aku bawa kembali ke Jati Anom. Di sini kuda-kuda itu diperlukan. Apabila terjadi sesuatu, maka beberapa orang harus dengan cepat menyampaikan kabar itu ke Jati Anom.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah tidak bertanya lagi. Ketika ia memandang ke kejauhan, maka dilihatnya sebuah dataran yang lepas menghijau jauh di bawah kakinya. Hutan yang tidak terlampau lebat, kemudian tanah yang coklat kehijauan. Jati Anom.

Pasukan itu pun menjalar menurut jalan kecil yang berkelok-kelok di sepanjang lereng Gunung Merapi, seperti seekor ular raksasa yang turun dari puncak gunung yang sedang terbakar.

Dan ujung Gunung Merapi itu pun sebenarnya sedang memerah seperti bara. Sinar matahari pagi telah mewarnai puncak Merapi itu dengan warna darah.

Di belakang pasukan yang meluncur lambat, berjalan Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah. Beberapa langkah di belakang mereka adalah Ki Tanu Metir. Mereka seolah-olah terpisah dari pasukan Wira Tamtama yang berjalan dalam barisan di hadapan mereka. Meskipun di lambung kedua anak-anak muda itu tergantung juga pedang, tetapi keduanya langsung dapat dibedakan dari para prajurit Wira Tamtama itu.

“Aku sebenarnya segera ingin pulang ke Sangkal Putung, Kakang,” berkata Sekar Mirah kepada Swandaru.

“Aku juga, Mirah. Sebenarnya aku gembira mendengar Kakang Agung Sedayu mengajak kita segera meninggalkan padepokan ini apa pun alasannya. Tetapi ternyata kita masih harus merayap di belakang barisan ini.”

“Dan kita masih harus menunggu keramaian di Jati Anom berakhir. Apakah sebenarnya yang akan diadakan di dalam keramaian itu? Makan bersama atau wayang beber atau tayub?”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya, “Aku pun tidak tahu. Tetapi maksudnya adalah, sekedar melepaskan ketegangan yang selama ini telah mencengkam hati kita masing-masing.”

“Tetapi aku belum terlepas dari ketegangan itu sebelum aku bertemu dengan ibu dan ayahku,” bantah Sekar Mirah.

“Ya, aku tahu, Mirah. Tetapi ini adalah sekedar sopan-santun untuk menunjukkan terima kasih kita. Maksud Kakang Untara adalah baik. Supaya kita ikut bergembira di dalam keramaian itu. Kegembiraan yang pasti akan berkesan di hati kita, terutama kau, Mirah, setelah kau terlepas dari tangan iblis-iblis itu.”

Sekar Mirah tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah kakaknya yang gemuk. Tetapi Swandaru itu sedang memandangi gerumbul-gerumbul liar di sebelah jalan yang sedang mereka lalui. Bahkan seolah-olah tidak mendengar kata-kata Agung Sedayu.

Tetapi baik Sekar Mirah maupun Swandaru, bertanya di dalam hatinya, “Kenapa Kakang Agung Sedayu kemarin dulu malam menjadi seperti orang bingung dan hampir-hampir membawa kami ke Sangkal Putung?”

Tetapi keduanya tidak mengucapkan pertanyaan itu. Keduanya menyimpannya di dalam hatinya.

Pasukan Pajang itu berjalan semakin lama semakin menurun. Jalan menjadi semakin berkelok-kelok, menyusup di antara batu-batu besar yang menjorok, seolah-olah menghadang di jalan yang akan mereka lalui.

Perjalanan itu berlangsung dengan lancar. Tidak ada sesuatu yang menghalangi mereka, sehingga mereka pada saatnya sampai ke Jati Anom dengan selamat.

Ki Demang Jati Anom menjadi sibuk menerima pasukan Pajang itu. Beberapa anak-anak muda menyambut pasukan itu dengan wajah berseri-seri. Apalagi ketika mereka melihat Untara dan Wuranta. Maka tanpa menghiraukan tata barisan lagi langsung mereka mendapatkan mereka.

“Kalian adalah anak-anak muda Jati Anom yang luar biasa,” berkata mereka sambil mengguncang-guncang lengan Untara dan Wuranta.

Untara sama sekali tidak ingin mengecewakan mereka, sehingga diserahkannya barisan Wira Tamtama Pajang itu kepada perwira bawahannya untuk mengaturnya. Sementara itu, ia melayani kawan-kawannya semasa kanak-anak yang mengerumuninya bersama Wuranta.

Kepada Wuranta, anak-anak muda itu berkata, “Maafkan kami Wuranta. Kami tidak tahu apa yang sedang kau lakukan saat itu. Aku sangka kau terbujuk oleh orang-orang Tambak Wedi. Ternyata kau adalah seorang pahlawan bagi Jati Anom.”

“Ah,” Wuranta berdesah, tetapi ia tidak menjawab.

Salah seorang dari anak muda Jati Anom itu berkata, “Kademangan ini telah dipersiapkan untuk menyambut kalian berdua. Untara dan Wuranta. Kalian berdua adalah anak-anak dari kademangan ini, dan kalian berdualah yang telah berhasil memusnahkan musuh kita itu.”

“Terima kasih,” Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebagai seorang senapati, maka yang dilakukan itu adalah sebagian dari kewajibannya. Tetapi sekali lagi Untara tidak mau mengecewakan kawan-kawannya semasa kecil.

“Marilah, marilah,” ajak anak-anak muda itu, “kami sudah menyediakan jamuan khusus buat kalian berdua di kademangan.”

“Terima kasih,” sahut Untara, “aku akan berada di antara anak buahku.”

“Mereka pun telah mendapat sambutan secukupnya. Tetapi kami, kawan-kawan bermain semasa kanak-anak ingin menyambutmu secara khusus, sebelum sambutan resmi besok malam diadakan di pendapa kademangan.”

“Terima kasih,” jawab Untara dan Wuranta hampir bersamaan.

“Jangan kecewakan kami.”

Untara akhirnya tidak dapat menolak lagi. Dilingkari oleh anak-anak muda Jati Anom, mereka berdua dibawa langsung ke gandok sebelah Timur kademangan.

Ketika mereka masuk ke dalamnya, maka mereka pun segera tertegun. Ternyata di gandok itu telah tersedia makanan yang berlimpah-limpah. Nasi putih, beberapa buah ingkung ayam, dan lauk pauk beraneka rupa.

“Kami-lah yang memasaknya,” berkata salah seorang anak muda Jati Anom.

“Kau?” bertanya Untara.

“Maksudku, anak-anak muda dan gadis-gadis. Kami masak khusus untuk kalian berdua, sedang perempuan-perempuan yang lain masak untuk para prajurit.”

Dada Untara menjadi berdebar-debar. Sambutan itu tidak disangka-sangkanya. Apalagi Wuranta. Terasa kerongkongannya justru menjadi kering.

“Mungkin masakan ini tidak seenak masakan yang disuguhkan bagi para prajurit. Tetapi aku kira inilah yang paling kami banggakan. Ini adalah ungkapan dari kegembiraan dan terima kasih kami, karena kalian berdua telah membebaskan kami dari ketakutan.”

“Bukan kami berdua. Bukan aku dan Wuranta,” sahut Untara, “tetapi seluruh pasukan yang ada di sini, bahkan seluruh rakyat di Jati Anom.”

“Apa yang telah kami lakukan selain mengungsi?” bertanya salah seorang anak muda itu.

“Kalian telah mengungsi. Kalian tidak bersedia membantu orang-orang Sidanti dan orang-orang Sanakeling, itu adalah bantuan yang besar sekali bagi kami.”

“Ah,” desis salah seorang dari mereka, “pujian itu berlebih-lebihan. Tetapi baiklah, kami senang mendengarnya, Sekarang, marilah. Makanlah. Kalian pasti sedang lapar dan haus.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Wuranta. Katanya, “Kita tidak dapat menolak, Wuranta.”

Sentuhan-sentuhan di dada Wuranta masih terasa mendebarkan jantungnya. Perlahan-lahan ia menganggukkan kepalanya, “Kita tidak dapat menolak.”

Mereka pun kemudian duduk di antara anak-anak muda itu. Terdengar di sana-sini suara mereka tertawa. Sementara itu para prajurit pun telah di tempatkan di tempat yang telah disediakan. Pendapa, gandok yang sebelah, dan beberapa rumah di sekitar kademangan itu.

Tetapi karena kesibukan masing-masing, maka baik Untara maupun perwira yang diserahinya, tidak ingat lagi bahwa di antara mereka terdapat Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah.

Sehingga dengan demikian, ketika para prajurit Pajang telah mendapat tempatnya masing-masing, maka Ki Tanu Metir, kedua muridnya, dan Sekar Mirah itu masih berada di halaman kademangan.

Sejenak mereka berdiri termangu-manggu. Prajurit-prajurit Pajang yang berada di halaman itu semakin lama menjadi semakin tipis, karena masing-masing segera pergi ke pondok yang telah disediakan untuk beristirahat.

“Kemanakah kita pergi?” bertanya Sekar Mirah kepada kakaknya.

Swandaru tidak menjawab, tetapi ia berpaling memandangi Agung Sedayu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, namun ia pun tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu.

Karena Swandaru dan Agung Sedayu tidak menjawab, maka Sekar Mirah berkata pula, “Apakah kita memang tidak masuk hitungan, Kakang?”

“Ah,” Ki Tanu Metir-lah yang menyahut, “jangan berpikir begitu, Ngger. Suasana di kademangan ini masih berada dalam keadaan perang. Sehingga semua perhatian bercurah kepada para prajurit dan kelengkapannya. Tetapi aku yakin, bahwa mereka sama sekali tidak bermaksud apa-apa terhadap kita. Ini adalah suatu kekhilafan yang tidak disengaja saja.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Dan kita harus berdiri saja di sini menunggu seseorang mempersilahkan kita?”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Ia melihat beberapa orang perwira sibuk mengurus para prajurit itu serta beberapa pimpinan kademangan mengatur tempat dan perlengkapannya.

“Marilah kita duduk di gardu itu sebentar. Di sini semakin lama menjadi semakin panas.”

Sekar Mirah menggelengkan kepalanya, “Aku akan tetap berdiri di sini sampai seseorang mempersilahkan aku.”

(bersambung)

About these ads

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 60 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: