Buku 051 (Seri I Jilid 51)

“Agaknya Prastawa ada di rumah,” desis Agung Sedayu.

“Ya,” jawab Sekar Mirah, “ia baru datang malam ini.”

Prastawa menjadi semakin gelisah.

“Bersama anak ini?” Agung Sedayu melanjutkan.

“Ya,” berkata Sekar Mirah selanjutnya, “anak ini ingin menjemput aku dan membawa pergi ke rumahnya.”

Dahi Agung Sedayu menjadi berkerut-merut karenanya. Namun Sekar Mirah segera berkata, “Tetapi kami, maksudku, Ki Argajaya dan seisi rumah ini, mengharap ia tinggal di sini bersama putera Ki Argajaya itu.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia bertanya, “Apakah anak itu sudah menyatakan keinginannya untuk kembali ke rumah ini?”

“Ya. Ia sudah amat merindukan keluarganya,” jawab Sekar Mirah. “Tetapi ia tidak berani memasuki rumah ini lewat pintu depan, karena para pengawal ada di halaman dan kebun belakang rumah ini.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia ma¬sih belum mengerti, bagaimana anak itu dapat memasuki rumah ini tanpa diketahui oleh para pengawal.

Tetapi agaknya pemimpin pengawal itu tidak sekedar ber¬tanya-tanya di dalam hati, karena pertanyaan itu kemudian diucap¬kannya, “Dari mana ia memasuki rumah ini?”

“Ada dua kemungkinan,” jawab Sekar Mirah, “demikian hebatnya kedua anak-anak muda ini, atau para pengawal telah tertidur semuanya.”

Pemimpin pengawal itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Kami selalu bersiaga di halaman.”

Sekar Mirah tersenyum. “Tetapi suatu kenyataan. Anak itu telah berada di dalam rumah ini.”

Pemimpin pengawal itu dan Agung Sedayu saling berpan¬dangan sejenak.

“Tetapi kenapa anak ini akan berlari?” bertanya Agung Sedayu tiba-tiba.

Sekar Mirah terdiam sejenak, namun kemudian ia menjawab, “Ia tidak yakin, bahwa ia dapat diterima oleh keluarga ini. Bahkan ia ingin membawa aku bersamanya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya anak muda yang berdiri temangu-mangu itu.

“Tetapi jangan marah kepadanya,” Sekar Mirah melanjutkannya, “mungkin sudah terlampau lama ia ditinggalkan kekasihnya, sehingga ia menjadi salah lihat. Aku sudah mena¬warkan, apakah ia bersedia menjadi adikku, karena aku hanya mempunyai seorang saudara laki-laki.”

Anak muda itu masih berdiri dengan tegangnya. Sedang Agung Sedayu memandanginya dengan hampir tidak mengedipkan matanya.

Namun akhirnya Sekar Mirah berkata, “Yang penting kemudian, apakah kehadiran Prastawa dapat diterima seperti kehadiran Ki Argajaya di antara para pemimpin Menoreh yang lain, dalam hubungannya dengan pengampunan umum bersama-sama kawannya ini apabila ia bersedia?”

Agung Sedayu berpaling kepada pemimpin pengawal itu. Katanya, “Aku tidak tahu apakah jawabnya?”

“Aku melihat betapa besar kerinduan yang bergolak di dalam dada Ibu dan anak. Juga di dalam dada Ki Argajaya. Apa¬kah kalian sampai hati untuk memisahkannya kembali?”

Pemimpin pengawal itu mengerutkan keningnya. Lalu ka¬tanya, “Itu bukan hakku. Aku akan menyampaikannya kepada Ki Argapati, sementara anak itu berada di dalam pengawasan kami di sini. Tetapi aku sendiri juga mempunyai anak. Aku da¬pat mengerti arti perpisahan yeng lama antara orang tua dan anaknya. Namun pengampunan itu berada di luar kekuasaanku.”

“Ki Argapati akan mengampuninya,” desis Agung Se¬dayu. “Aku condong pada pendapat itu. Aku harap keluarga ini dapat segera pulih kembali.”

Tidak seorang pun yang menyahut, sehingga ruangan itu dicengkam oleh kesenyapan. Hanya wajah-wajah yang tegang sajalah yang saling memandang berganti-ganti.

Ketika Nyai Argajaya berpaling ke arah Prastawa, maka di¬lihatnya anak muda itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Suara Agung Sedayu pulalah yang kemudian memecahkan kesenyapan. “Aku akan ikut berusaha, agar semuanya dapat segera kembali seperti sediakala. Tanah Perdikan Menoreh, dan setiap keluarga yang selama ini terpecah-belah. Mungkin oleh ketakutan sehingga mereka mengungsi tercerai-berai, mungkin karena sudut pandangan yang berlainan. Mungkin oleh sebab-sebab yang lain.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Semuanya masih diam, seakan-akan membeku di tempatnya.

Agung Sedayu pun kemudian terdiam pula. Sehingga dengan demikian ruangan itu kembali menjadi sepi. Hanya desah-desah nafas sajalah yang terdengar bersahut-sahutan.

Dalam pada itu, Prastawa yang menundukkan kepalanya itu pun seakan-akan mendapat kesempatan untuk mengerti tentang dirinya sendiri selama ini. Seakan-akan terbayang di kepalanya, dirinya sendiri dan beberapa orang kawan-kawannya berkeliaran tidak menentu. Mereka sama sekali tidak mempunyai tujuan apa pun dengan segala macam perbuatan mereka, selain melepaskan dendam.

“Apakah hal itu akan bermanfaat untuk dipertahankan lebih lama lagi?” pertanyaan itu melonjak di dalam dadanya.

Selagi ia dibayangi oleh masalah-masalah yang telah mendebarkan jantungnya, tiba-tiba saja terdengar suara ibunya, “Prastawa, apakah kau sudah menemukan keputusan yang mantap. Tidak ragu-ragu?”

Prastawa mengangkat wajahnya. Sejenak ditatapnya wajah ayahnya yang sedang memandanginya pula. Tiba-tiba dari sela-sela bi¬birnya terdengar suaranya lambat sekali. “Maafkan aku, Ayah.”

“Prastawa,” Ibunya hampir memekik.

“Aku menyadari kesalahanku. Bagaimana pun juga, aku berhadapan dengan orang tuaku.”

Ki Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun Nyai Argajaya tidak dapat menahan perasaan yang melonjak di dadanya. Tiba-tiba ia berlari ke arah anak muda itu. Seperti anak-anak yang sedang tumbuh, dipeluknya Prastawa sambil menitikkan air matanya. Katanya, “Kau memang harus kembali padaku, Ngger. Kau tidak boleh pergi berkeliaran tidak menentu.”

Prastawa tidak menjawab. Kepalanya tertunduk di dalam pelukan ibunya. Tetapi matanya pun menjadi basah karenanya.

Sekar Mirah yang berdiri di pringgitan menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya Agung Sedayu yang membeku di samping pemimpin pengawal yang mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku tidak akan pergi lagi, Ibu,” desis Prastawa. “Meskipun seandainya Paman Argapati tidak memaafkan aku. Aku akan mengangkat wajahku untuk menerima segala macam hukumanku.”

“Kami, aku dan ayahmu akan mohon kepadanya, agar kau mendapat kesempatan hidup di antara kami,” suara Nyai Argajaya menjadi parau.

Prastawa tidak menyahut. Ketika perlahan-lahan ibunya melepaskan pelukannya, anak muda itu mengusap matanya yang kemerah-merahan.

Dalam pada itu, anak muda kawan Prastawa yang masih berdiri termangu-mangu itu tiba-tiba meyadari keadaannya. Dengan na¬nar ia memandang berkeliling. Di muka pintu berdiri Agung Sedayu dan pemimpin pengawal. Di samping pintu dalam, Sekar Mirah menimang-nimang pedang yang dirampas dari tangannya, meskipun kepalanya menunduk, sedang di ruang dalam terdiri Ki Argajaya dan orang tua yang disebut ayah Sekar Mirah. Agak jauh masuk ke dalam, Prastawa dan ibunya.

Dalam keragu-raguan itu ia mendengar, “Bagaimana dengan kau?”

Anak muda itu terkejut. Dilihatnya Agung Sedayu melang¬kah maju sehingga tanpa disadarinya, ia pun mundur setapak.

“Aku harap kau pun dapat menilai keadaan. Kalau kau masih menganggap bahwa perjuanganmu sekarang ini masih per¬lu dilanjutkan, maka kau adalah seorang pemimpi yang malang. Bukan saja karena kau sudah kehilangan kekuatan, tetapi yang lebih parah lagi, kau sudah kehilangan tujuan.” Agung Sedayu berhenti sejenak. Lalu, “Apakah kau masih akan berpikir?”

Anak muda itu tidak menjawab.

“Sedang saat yang kau hadapi kini pun tidak akan dapat kau atasi, apa yang dapat kau lakukan saat ini?”

Anak muda itu masih berdiam diri.

“Kalau kau masih dapat berpikir bening, sebaiknya kau menyerah. Sudah tentu perlakuan atasmu berbeda dengan perlakuan atas Prastawa. Tetapi kau pun pasti akan mendapat ke¬sempatan, seperti yang pernah diumumkan oleh Ki Argapati, bahwa Ki Argapati akan memberikan pengampunan kepada me¬reka yang menyadari keadaan mereka, sejauh itu tidak berbahaya bagi Menoreh. Nah, pertimbangkan.”

Anak itu sama sekali tidak menjawab.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Pilihlah. Apakah kau akan kami bawa sebagai seorang yang menyerah dan menyadari keadaan, atau kau harus kami tangkap dan kami bawa ke padukuhan induk Tanah Perdikan ini sebagai tawanan?”

Wajah anak itu menjadi tegang, ia sedang berjuang di antara kenyataan yang dihadapinya dan harga dirinya sebagai se¬seorang yang menganggap dirinya seorang pejuang yang tidak ingkar.

“Pilihlah,” desis Agung Sedayu.

Namun wajah itu pun kemudian mengendor. Dari sela-sela bi¬birnya terdengar suaranya dalam, “Aku menyerah.”

Agung Sedayu, pemimpin pengawal, dan Sekar Mirah meng¬anggukkan kepalanya. Mereka merasa, bahwa jalan yang akan ditempuh oleh Ki Argapati akan menjadi semakin lancar untuk memulihkan kembali Tanah yang sudah tersobek-sobek dari dalam itu sendiri.

Malam yang kelam menjadi semakin kelam. Dingin telah merasuk sampai ke tulang. Namun beberapa wajah telah dihiasi dengan senyum yang bening.

(***)

BAG. IV
YANG SEDANG TUMBUH

PAGI yang cerah telah membangunkan Tanah Perdikan Menoreh yang sedang lelap. Perlahan-lahan mulailah kehidupan yang berlangsung dari hari ke hari. Setiap kali lebih sibuk dari hari yang kemarin, karena tanah-tanah yang kering telah mulai di¬airi, sawah yang tidak digarap, telah mulai dicangkul, dan pasar-pasar telah mulai terisi oleh para pedagang yang selama ini bersembunyi di pengungsiannya.

Ketika matahari menebarkan sinarnya di lambung pegunung¬an, pedati yang memuat bahan-bahan makanan telah mulai mengalir ke pusat-pusat perdagangan di padukuhan-padukuhan yang berserakan di sepanjang tanah Perdikan yang mulai sembuh dari luka-lukanya, akibat perang yang berkecamuk di antara keluarga sendiri.

Sekelompok demi sekelompok, sisa-sisa pasukan Sidanti telah kembali memenuhi panggilan Ki Argapati. Apalagi setelah Pras¬tawa hilang dari lingkungan mereka. Maka gerombolan-gerombolan yang semula merasa, bahwa satu-satunya jalan adalah menumbuhkan pe¬rasaan takut, ngeri, dan penyebaran pembalasan dendam, mulai menyadari keadaan mereka, bahwa mereka masih mungkin me¬nemukan jalan kembali ke dalam kehidupan yang wajar, tidak seperti rusa yang sedang diburu di tengah-tengah semak-semak yang rimbun, yang selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.

Betapapun lambatnya namun pasti, bahwa luka Ki Argapati pun akan sembuh pula. Tetapi ada sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia, bahwa Ki Argapati tidak dapat pulih kembali seperti sediakala. Betapa pun dukun tua yang bernama Ki Tanu Metir berusaha, namun pada akhirnya ia hanya dapat mengucap sukur kepada Tuhan, bahwa Ki Argapati masih juga dapat sembuh dari luka-lukanya, meskipun ada sesuatu yang telah diambil daripadanya. Kaki kiri Ki Argapati seakan-akan telah mengalami kelumpuhan karena urat-urat yang terputus oleh luka-lukanya. Sedang tangan kirinya pun mengalami kelemahan yang meskipun tidak separah kakinya, namun tangannya itu tidak lagi dapat bergerak leluasa.

“Tuhan telah mengutukku,” desisnya setiap kali. “Aku ternyata tidak mampu mengendalikan Tanah yang dipercayakan kepadaku sebaik-baiknya. Kini Tanah ini telah menjadi tenang. Te¬tapi seperti tanah ini, maka tubuhku pun tidak dapat pulih se¬perti sediakala.”

Meskipun demikian, Ki Argapati tidak menjadi putus-asa. Ia tidak menyesali nasibnya dengan keluhan-keluhan yang cengeng. Meskipun kaki dan tangannya tidak dapat pulih kembali, namun ia masih selalu berada di punggung kudanya, mengelilingi Tanah Perdikan Menoreh yang telah mulai hijau kembali. Tanah yang membentang dari perbukitan di sebelah Barat sampai ke daerah-daerah yang berhutan di sebelah Barat Kali Praga, rasa-rasanya sudah mulai hidup kembali.

Dengan bimbingan Ki Argapati, maka Tanah Perdikan Me¬noreh mulai mengobati diri mereka. Mereka mulai menyembuhkan luka-luka yang agak parah sedikit demi sedikit.

Demikian juga dendam yang selama ini tersebar di atas Ta¬nah itu pun sedikit demi sedikit mulai mencair dari setiap dada. Terutama anak-anak mudanya, yang semula terbagi di dua pihak.

Meskipun masih ada satu dua yang mengeraskan hatinya di dalam kesesatan, namun pada umumnya Tanah Perdikan Me¬noreh sudah menjadi baik. Seperti juga Ki Argapati yang menjadi baik. Namun di dalam lubuk hatinya paling dalam, maka masih juga terdapat cacat seperti cacat pada tubuh Ki Argapati.

Ki Argajaya, adik Ki Argapati, telah dapat menampakkan dirinya kembali di antara rakyat Menoreh. Karena kesungguhannya, serta seluruh keluarganya ikut membangun Tanah yang sudah hampir menjadi abu itulah, maka perlahan-lahan ia mendapatkan tempatnya kembali sebagai adik seorang Kepala Tanah Perdikan.

Perlahan-lahan, seperti pertumbuhan Tanah Perdikan itu, tumbuh dan mekar pulalah perasaan yang tersimpan di dada gadis satu-satunya dari Kepala Tanah Perdikan itu. Putera Ki Demang Sangkal Putung, ternyata lambat-laun mendapatkan tempat di hatinya. Sifatnya yang gembira dan terbuka, telah membuat Pandan Wangi sedikit demi sedikit melupakan kepahitan yang bertimbun-timbun telah menimpanya.

Dengan sadar, Agung Sedayu berusaha untuk tidak mengganggu hubungan yang sedang mekar di hati kedua anak-anak muda itu. Apalagi Sekar Mirah untuk sementara masih juga berada di atas Tanah Perdikan itu. Sedang kedua orang-orang tua, Kiai Gringsing dan Sumangkar, seperti gembala-gembala yang sedang tekun menunggui domba-domba gembalaan mereka, masih juga berada di Menoreh. Selain menunggui murid-murid mereka, maka kedua orang tua itu pun dapat menjadi kawan bercakap-cakap yang mapan bagi Ki Argapati.

“Kalau kalian tinggalkan kami, maka aku akan kehilangan kawan berbicara di sore hari,” berkata Ki Argapati kepada mereka berdua.

Keduanya tersenyum. Kiai Gringsing pun kemudian menjawab, “Apakah tidak ada orang tua di atas Tanah Perdikan ini?”

“Mereka terlampau tua untuk bercakap-cakap tanpa arti,” jawab Ki Argapati sambil tersenyum. “Mereka sukar untuk berbicara tentang bermacam-macam persoalan yang tidak menegangkan urat syaraf, namun bermanfaat bagi pengalaman pengenalan kita atas kehidupan di sekitar kita. Mereka, orang-orang tua di Meno¬reh hanya senang berbicara tentang air, padi yang sedang tumbuh, bintang Gubuk Penceng, bintang Waluku dan bintang Panjer saja.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar tertawa. Berkata Ki Su¬mangkar, “Itu pertanda bahwa mereka adalah petani-petani yang rajin. Petani-petani yang tekun di dalam kerja. Kawan mereka yang terdekat adalah air, musim, dan bintang-bintang yang memberikan petunjuk kepada mereka, kapan mereka harus memulai musim tanam padi, musim tanam palawija, dan musim-musim yang lain, termasuk musim mencari ikan di sungai Praga.”

“He, kau pandai juga membaca pertanda bintang?”

“Aku juga seorang petani.”

“Petani di istana Kepatihan Jipang.”

Sumangkar tertawa. “Aku petani, juru masak, dan sekaligus pemomong di Kepatihan.”

“Jabatan rangkap yang sukar dikerjakan bersama-sama.”

Ketiga orang tua-tua itu tertawa. Di dalam kepala mereka ter¬lintas kenangan masa silam mereka. Terutama Sumangkar. Namun, meskipun ia tertawa seperti anak-anak yang mendapatkan permainan, namun terasa desir yang halus telah menyengat dada¬nya. Kenangan itu sebenarnya tidak begitu menyenangkannya. Tetapi perasaan itu sama sekali tidak berkesan di wajahnya.

Dalam pada itu, Kiai Gringising pun kemudian berkata, “Tetapi bagaimana pun juga, akan datang saatnya, kami minta diri.”

“Ya, aku pun menyadari. Tetapi sudah tentu tidak besok atau lusa.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Terkilas sesu¬atu di dalam angan-angannya, tetapi ia tidak mengatakannya.

Di luar rumah, Pandan Wangi duduk di bawah sejuknya pepohonan di kebun belakang. Di sebelahnya, seorang anak muda yang gemuk duduk bersandar sebatang pohon melandingan.

Mereka tampaknya sedang asyik bercakap-cakap. Mempercakapkan diri mereka sendiri. Sedang di dalam dada mereka, api cinta telah mulai menyala.

“Setiap saat guru dapat membawa aku pergi, Wangi,” kata Swandaru.

“Kapan, Kakang?” bertanya Gadis itu.

“Aku tidak tahu,” berkata Swandaru, “tetapi aku mengharap tidak segera.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi tatapan matanya jauh menusuk bayangan dedaunan yang menari-nari di atas tanah yang kering.

“Tetapi sebelum aku meninggalkan Tanah Perdikan ini, aku akan minta guruku, mewakili ayah dan ibuku, untuk sementara menyampaikan lamaranku, sampai pada saatnya ayah dan ibuku sendiri akan aku minta datang kepada ayahmu.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Aku harap bahwa pada suatu saat kau pun dapat melihat Kademangan Sangkal Putung. Meskipun tidak sebesar Tanah Perdikan ini, tetapi Sangkal Putung adalah daerah yang subur dan kaya raya.”

“Aku ingin sekali melihat daerah itu,” berkata Pandan Wangi. “Apakah Sangkal Putung sudah tidak pernah diganggu oleh gerombolan-gerombolan seperti yang pernah kau ceriterakan kepadaku?”

Swandaru menggelengkan kepalanya. “Tidak. Sejak mereka dihancurkan di padepokan Tambak Wedi, maka tidak ada lagi gangguan yang berarti bagi kademangan itu.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah Sangkal Putung memiliki sawah yang luas?”

“Ya, amat luas sawah dan pategalan. Dari ujung sampai ke ujung, Sangkal Putung tampak hijau segar.”

“Aku pasti akan senang sekali,” desis Pandan Wangi.

“Orangnya pun cukup ramah dan baik seperti orang-orang Tanah Perdikan Menoreh.”

“O. Menyenangkan sekali.”

“Dan kau akan tinggal di daerah itu kelak.”

Tetapi Pandan Wangi pun kemudian mengerutkan kening¬nya. Tiba-tiba saja sorot matanya menjadi buram.

“Tetapi,” suaranya menurun, “apakah kelak aku harus meninggalkan Tanah Perdikan ini?”

“Aku mempunyai kewajiban atas Kademangan Sangkal Putung,” jawab Swandaru. “Aku akan menggantikan ayah yang menjadi semakin tua.”

“Aku mengerti. Tetapi bagaimana dengan Tanah ini? Ayah pun menjadi semakin tua, dan aku adalah satu-satunya anaknya.”

Kening Swandaru pun berkerut pula. Tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera dapat men¬jawab. Ia mengerti kerisauan perasaan gadis itu. Kalau ia men¬jadi isterinya kelak, gadis itu wajib mengikutinya ke Sangkal Putung. Tetapi sebagai satu-satunya anak Kepala Tanah Perdikan ini, ia akan menggantikan ayahnya. Suaminyalah yang kelak harus menjadi Kepala Tanan Perdikan ini. Tetapi bakal suaminya yang gemuk itu mempunyai kewajiban sendiri atas tanah kela¬hirannya.

“Tetapi jangan hiraukan semuanya itu,” berkata Swan¬daru kemudian. “Kita akan dirisaukan oleh masalah yang masih akan datang kelak. Jangan hiraukan supaya hati kita tidak risau kali ini. Pada saatnya kita pasti akan menemukan cara, bagaimana kita akan memecahkan masalah ini.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Sekarang kita hanya akan membuang-buang waktu saja. Senyum kita akan terganggu oleh masalah-masalah yang masih jauh. Jangan hiraukan.”

Pandan Wangi pun kemudian tersenyum pula. Kini ia sudah mengenal anak yang gemuk itu agak lebih baik lagi. Swandaru tidak mau diganggu oleh angan-angan yang suram. Ia ingin menikmati keriangan hari ini. Dan itu dapat menghiburnya di saat-saat kepe¬dihan menyentuh jantungnya.

“Kenapa kita mesti bermuram hati?” berkata Swandaru setiap kali. “Lihatlah langit yang cerah. Hati kita pun harus cerah pula karenanya.”

Dan Pandan Wangi pun berusaha untuk menyesuaikan diri¬nya. Perlahan-lahan ia menemukan kegembiraannya kembali. Kini ia sudah mulai berkeliaran lagi di hutan-hutan perburuan. Tidak sendiri, tetapi bersama-sama dengan kawan-kawannya yang agaknya sesuai dengan keadaannya. Kadang-kadang, Pandan Wangi pergi berburu ber¬sama Swandaru, Sekar Mirah, dan Agung Sedayu. Namun ka¬dang-kadang ia hanya berdua saja dengan anak muda yang gemuk itu, meskipun dalam waktu yang sangat terbatas sekali, karena Ki Argapati selalu mengawasi mereka, meskipun tidak mengekang terlampau keras. Juga Kiai Gringsing, tidak pernah membiarkan keduanya lepas dari pengawasannya, karena apabila Swandaru tergelincir bersama Pandan Wangi, karena gelora remaja mereka, maka semua hubungan yang baik itu pun akan menjadi rusak karenanya. Ki Argapati pasti menganggap muridnya sebagai seorang anak muda yang kurang menghargai hubungan yang dianggap suci menjelang terjalinnya suatu keluarga.

Diketahui atau tidak diketahui, Swandaru selalu tidak per¬nah lepas dari pengamatan dukun tua itu.

Hubungan kedua anak-anak muda itu pun sama sekali tidak lepas dari pengamatan Argapati. Sebagai seorang ayah ia mengerti, betapa di hati anaknya sedang tumbuh perasaan seorang gadis dewasa. Ia menyadari bahwa Pandan Wangi dan Swandaru Geni telah saling mencintai.

Dan Ki Argapati tidak berkeberatan atas cinta yang sedang bersemi itu, meskipun belum seorang pun yang pernah menyata¬kannya kepadanya, sebagai seorang ayah.

Karena Swandaru mempunyai kesibukan sendiri, maka Agung Sedayu pun mengisi waktunya dengan kesibukannya sendiri. Kadang-kadang ia bersama Sekar Mirah mengikuti Ki Argapati menge¬dari tlatah Menoreh yang sedang membangun, diiringi oleh para pemimpin Menoreh yang lain. Namun kadang-kadang ia pergi seorang diri mengikuti Ki Argapati tanpa pengawal. Sedang di saat yang lain, Agung Sedayu berpacu di jalan-jalan yang berbatu padas, di lereng-lereng bukit bersama Samekta atau Kerti. Bahkan kadang-kadang Agung Sedayu, hanya berdua saja bersama Sekar Mirah menjelajahi sawah dan pategalan.

Dengan demikian, maka kedua anak-anak muda itu rasa-rasanya bukan lagi orang asing di Tanah Perdikan Menoreh. Setiap orang Tanah Perdikan Menoreh mengenal mereka berdua. Setiap orang Tanah Perdikan Menoreh menghormati keduanya sebagai orang yang berjasa bagi Tanah Perdikan ini. Bahkan, anak-anak muda yang sebaya dengan Agung Sedayu sambil berkelakar menyebut mereka berdua sebagai, Sepasang Orang Berkuda.

Agung Sedayu dan Sekar Mirah hanya tertawa saja men¬dengar sebutan itu. Bahkan Agung Sedayu sering berdesis kepada Sekar Mirah, “Lain kali, kalau Adi Swandaru sudah tidak terlampau sibuk dengan masalahnya, dan kedua anak-anak itu sering berpacu di sepanjang jalan-jalan Tanah Perdikan Menoreh, akan tum¬buh sebutan baru bagi kita semua.”

“Sebutan apa kira-kira itu, Kakang?” bertanya Sekar Mirah.

“Dua pasang Orang-orang Berkuda.”

Sekar Mirah tertawa. Katanya kemudian, “Tetapi mereka tidak akan sempat melakukannya.”

“Sekarang. Tetapi pada suatu saat, mereka pasti akan tertarik. Apalagi Pandan Wangi adalah satu-satunya anak Ki Argapati.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya. Pandan Wangi adalah satu-satunya pewaris Tanah Perdikan ini.”

Namun demikian, di saat-saat terakhir, Ki Argapati banyak berbicara mengenai Tanah Perdikan ini justru dengan Agung Sedayu, selain dengan pemimpin-pemimpin Menoreh sendiri. Ki Argapati sangat menghargai pikiran-pikiran Agung Sedayu yang mantap, yang dapat memberikan jawaban atas kesulitan yang berkembang di saat-saat Menoreh sedang menyembuhkan dirinya sendiri.

“Kedua murid Kiai Gringsing ini memang agak berbeda,” berkata Ki Argapati di dalam hatinya. “Namun nampaknya Agung Sedayu agak lebih bersungguh-sungguh dari Swandaru. Anak ini mempunyai daya pikir yang luar biasa kuatnya. Pantas, kalau ia adalah adik dari Panglima Pajang yang berkuasa di daerah Selatan, Untara.”

Meskipun demikian, Ki Argapati sama sekali tidak kecewa terhadap Swandaru. Katanya kepada diri sendiri, “Anak muda yang gemuk ini mempunyai kegembiraan dan kemampuan menye¬suaikan diri dengan keadaan, meskipun agak terlampau didorong oleh perasaannya. Tetapi ia adalah seorang anak muda yang kuat dan terbuka.”

Karena itulah, maka ketika pada suatu saat, Kiai Gringsing atas permintaan Swandaru menyampaikan permohonannya kepada Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan itu tidak terkejut lagi.

“Maaf, Ki Gede. Agaknya aku terlampau berani menda¬hului ayah dan ibu muridku. Tetapi anggaplah bahwa apa yang aku sampaikan itu sekedar pemberitahuan, bahwa ada hasrat dari Swandaru, untuk meminang puteri Ki Gede. Pada suatu saat, tentu ayah dan ibunya akan datang mengunjungi Tanah Perdikan Menoreh ini.”

Ki Argapati tersenyum. Katanya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku mengerti. Dan aku tidak akan dapat berbuat lain kecuali mengijinkan anakku memilih bakal suaminya sendiri.”

“Terima kasih,” sahut Kiai Gringsing. “Muridku akan sangat berterima kasih pula.”

“Aku mengenal muridmu yang gemuk itu. Aku mengeta¬hui serba sedikit tentang anak muda itu. Karena itu maka keputusanku untuk mengijinkan Pandan Wangi memilih bakal suami¬nya, sama sekali bukan berarti bahwa aku telah melepaskannya sama sekali.”

“Anak itu anak bengal, bodoh, dan kadang-kadang agak kurang mengendalikan dirinya.”

“Ia periang dan berhati terbuka,” Ki Gede Menoreh mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku tidak berkeberatan apa pun.”

Kabar itu benar-benar telah menggembirakan hati Swandaru, sehingga tanpa sesadarnya ia memukul pundak Agung Sedayu sambil berkata, “Akhirnya aku pun mendapatkan seorang gadis.”

“Hus,” desis Agung Sedayu. “Kenapa tidak? Kau cukup tampan. Wajahmu cerah seperti matahari.”

“Cukup, cukup,” potong Swandaru.

Agung Sedayu tertawa, dan akhirnya Swandaru dan Sekar Mirah pun tertawa pula.

Namun dengan demikian, maka Swandaru pun mulai berpikir untuk segera pulang ke rumahnya, menyampaikan masalahnya itu kepada ayah dan ibunya. Meskipun ia yakin bahwa ayah dan ibunya tidak berkeberatan, namun tiba-tiba saja di luar sadarnya ia berkata, “Ayah dan ibu harus segera pergi ke Tanah Perdikan ini sebelum jalan dari Sangkal Putung kemari menjadi sulit dan bahkan tertutup.”

“Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

“Bukankah telah tumbuh suatu daerah baru di atas Alas Mentaok yang dibuka oleh Ki Gede Pemanahan dan puteranya, Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Sambil mengang¬guk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Memang mungkin hal itu akan menjadi masalah. Tetapi mungkin pula, jalan justru menjadi bertambah baik karena daerah baru itu.”

Kedua muridnya tidak menjawab. Sumangkar yang ada di antara mereka pun tidak menyahut pula.

Dengan demikian maka mereka pun sejenak saling berdiam diri. Namun kini tanpa mereka sadari, angan-angan mereka telah ber¬geser dari pembicaraan mereka semula. Mereka tidak lagi mem¬bayangkan apakah orang tua Swandaru akan dengan senang hati memenuhi permintaan anaknya yang ingin kawin dengan seorang gadis, yang berasal dari tempat yang cukup jauh, yang tidak berasal dari kademangannya sendiri? Apakah ayah dan ibunya masih belum mempunyai seorang calon isteri bagi anak laki-lakinya?

Tetapi menilik sikapnya yang terbuka atas anak gadisnya yang telah membuat hubungan dengan Agung Sedayu, yang ber¬asal dari Jati Anom itu, maka agaknya Ki Demang Sangkal Putung pun tidak akan berkeberatan.

Kini yang mereka pikirkan dan mereka bayangkan, adalah suatu daerah baru di Alas Mentaok. Daerah yang dibuka oleh Ki Ageng Pemanahan dan puteranya, Sutawijaya.

Dalam keheningan itu kemudian terdengar Agung Sedayu berkata, “Tetapi, apakah ketika Ki Sumangkar dan Sekar Mirah melintasi daerah baru itu, tidak ada tanda-tanda apa pun yang dapat memberikan petunjuk, apakah yang kira-kira akan berkembang di sana?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang sulit untuk menilai apakah yang sedang berkembang di daerah baru itu. Aku tidak dapat mengatakan, apakah daerah itu akan men¬jadi bertambah baik bagi lalu lintas atau justru menjadi semakin sulit.”

“Tetapi bagaimana dengan perjalanan Kiai bersama Sekar Mirah pada saat Kiai melintasi daerah itu?”

“Kami memilih jalan yang paling aman. Kami melingkar daerah-daerah yang sedang berkembang, yang mendapat pengawasan yang tajam.” Ki Sumangkar berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi yang kami dengar di sepanjang jalan, daerah baru itu selain membangun wilayahnya, namun juga langsung membangun pertahanannya.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.

“Itulah yang merupakan teka-teki bagiku,” berkata Ki Sumangkar. “Tetapi aku sudah berusaha untuk menjauhi masalah tata pemerintahan di mana pun. Aku tidak akan lagi menghiraukan apa yang terjadi di Pajang dan daerah yang baru itu, supaya aku tidak terlibat dalam keadaan yang kadang-kadang cengkah dengan hati nuraniku.”

Kiai Gringsing tersenyum. Sepintas terbayang olehnya, keragu-raguan Sumangkar pada saat-saat pasukan Jipang yang menjadi liar di bawah pimpinan Tohpati, masih merupakan masalah bagi Pajang.

“Pada suatu saat, aku akan melihat daerah baru itu,” berkata Kiai Gringsing.

“Aku ikut bersama Guru. Sekaligus aku ingin menemui ayah dan ibu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah. Kalau begitu, kita akan menyelam sekaligus minum sebanyak-banyaknya,” berkata Swandaru.

“Apakah perutmu masih kurang gembung?” bertanya Sekar Mirah.

”Ini bukan masalah perut, tetapi masalah yang penting.”

“Penting bagi siapa?” bertanya Sekar Mirah.

“Bagi Sangkal Putung. Kau tahu, bahwa Sangkal Putung terletak di sekitar garis yang menghubungkan dua kekuasaan itu.”

“Kenapa dengan Pajang dan daerah baru itu?” berta¬nya Sekar Mirah.

“Aku tidak tahu pasti. Itulah yang ingin aku ketahui sejauh-jauh mungkin. Tetapi menurut pendengaran kami di sini, agak¬nya hubungan antara Pajang dan daerah baru itu tidak begitu baik.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Sebagai seseorang yang telah lama berada di lingkungan kepatihan, yang hampir setiap hari mempersoalkan tata pemerintahan negara, Sumangkar tidak dapat mengingkari bahwa di dalam dirinya telah tumbuh bebe¬rapa pertimbangan mengenai masalah itu. Tetapi sejauh-jauh dapat dilakukan, ia tidak ingin mengucapkannya. Seperti yang telah dikatakan, ia akan menghindari masalah-masalah yang bersangkut paut dengan masalah pemerintahan.

“Adi Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing, yang tiba-tiba saja bertanya, “bagaimanakah tanggapan Adi sebenarnya atas hal ini? Mustahillah kalau Adi Sumangkar tidak melihat masalah yang sedang berkembang. Di dalam tata pemerintahan, dan masalah-masalah yang berhubungan dengan itu, Adi Sumangkar pasti jauh lebih tajam penglihatannya daripada aku.”

Tetapi Sumangkar menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mempunyai bahan yang cukup untuk menilai perkembangan dae¬rah baru itu, Kiai.”

“Eh, kau ini,” desis Kiai Gringsing. “Tetapi baiklah. Agaknya Adi memang sedang berusaha untuk menjauhi masalah-masalah yang demikian. Begitu?”

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Baiklah. Kita akan melihat kelak, apa yang telah terjadi. Tetapi, bukankah Adi Sumangkar telah mengetahui, bahwa Ki Pemanahan telah meninggalkan istana dan pulang ke Sela, sebe¬lum Mentaok diserahkan dengan resmi?”

“Ya. Aku mendengarnya?”

“Baik. Itulah yang sebenarnya menjadi masalah. Dan Sangkal Putung terletak di antara dua pihak yang terlibat dalam masalah itu. Mungkin Adi Sumangkar tidak menaruh minat untuk ikut mempersoalkan masalah itu. Tetapi Sekar Mirah tidak akan dapat acuh tidak acuh. Sangkal Putung pernah menjadi pusat pertahanan pasukan Pajang menghadapi Tohpati dan pasukannya.”

“Bukan begitu,” Sumangkar mencoba membetulkannya. “Yang benar, Pajang telah meletakkan pasukannya untuk mem¬bantu rakyat Sangkal Putung. Bukankah begitu, Angger Swandaru?”

“Ya. Begitulah.”

“Tepat,” sahut Kiai Gringsing. “Aku keliru. Dan seka¬rang, bagaimana dengan Sangkal Putung?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Kiai Gringsing memang mencoba menariknya ke dalam masalah itu. Tetapi ia masih menggelengkan kepalanya. “Tergantung sekali kepada Ki Demang di Sangkal Putung.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum. Ternyata Sumangkar masih tetap berusaha untuk mengelakkan usaha Kiai Gringsing untuk menyatakan pendapat¬nya tentang keadaan Alas Mentaok sekarang.

“Memang, yang paling baik bagi kita adalah melihat sen¬diri keadaan daerah baru itu,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

“Tepat,” Swandaru menyahut. “Kapan kita berangkat?”

“Huh,” Sekar Mirah mencibirkan bibirnya. “Kalau kau, tentu kepentinganmu sendirilah yang lebih dahulu kau pikirkan. Pulang untuk mengajak ayah dan ibu kemari.”

“Tidak,” jawab Swandaru, “sama sekali tidak. Tetapi seandainya demikian, aku pun tidak akan menolak.”

Gurunya dan Ki Sumangkar tersenyum. Dan Sekar Mirah menyahut, “Jangan terlampau banyak tingkah. Bukankah kamu juga setuju bahwa ayah dan ibu kita undang untuk datang ke Tanah Perdikan ini?”

“He,” Swandaru mengerutkan keningnya. “Kenapa kau marah-marah saja kepadaku? Kau kira akan merampas segala perhatianaAyah dan ibu, hingga mereka tidak sempat mengurusmu?”

“Apa urusanku?”

“Ini,” sahut Swandaru sambil menunjuk Agung Sedayu.

“Sombong kau,” Sekar Mirah mencubit lengan Swandaru sehingga anak itu menyeringai.

“Mirah, he.”

“Nah, lihat. Kau sekarang terlampau cengeng. Tentu kau ingin bukan aku lagi yang mencubitmu.”

“Sudahlah. Aku menyerah. Aku memang tidak pernah menang berbantah dengan kau. Apalagi sekarang, kau mempunyai pengawal dan aku hanya sendiri.”

“Jangan, jangan.” Swandaru itu pun kemudian meloncat menjauhi adiknya yang sudah menjulurkan tangannya untuk men¬cubitnya lagi. Dan tiba-tiba saja ia menyentuh punggung Agung Sedayu sambil bertanya, “Kenapa kau diam saja?”

Agung Sedayu hanya tersenyum saja. Tetapi ia tidak menya¬hut.

“Dengarlah,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “kita akan segera minta diri kepada Ki Argapati. Aku kira dua tiga hari lagi. Selain mengurus soal Swandaru, kita singgah untuk melihat-lihat Alas Mentaok sekarang.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ayah dan ibu Swandaru pasti sudah menunggu Sekar Mirah pula. Ibunyalah yang pasti selalu cemas.”

“Ya. Kita tahu hati seorang ibu. Karena itu, baiklah kita memutuskan saja. Lusa kita berangkat.”

“Semakin cepat makin baik,” sela Swandaru.

“Makin cepat apa?” bertanya Agung Sedayu. “Makin cepat kita meninggalkan tempat ini atau makin cepat kita kem¬bali ke tempat ini?”

Swandaru merenung sejenak. Jawabnya, “Kedua-duanya. Makin cepat kita pergi untuk semakin cepat kita kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.”

“Pantas,” desis Sekar Mirah.

Ketika Swandaru membuka mulutnya untuk menjawab, gurunya mendahului, “Kau tidak usah membantah. Semua orang tahu, bahwa kau memang ingin demikian.”

“Aku memang tidak akan membantah, Guru. Aku justru akan mengiakannya.”

Yang mendengar jawaban itu tertawa. Bahkan Sekar Mirah pun tersenyum pula.

Demikianlah, maka Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, menyampaikan maksud itu kepada Ki Argapati, di saat-saat mereka duduk di pendapa ketika senja menjadi semakin gelap.

“Begitu tergesa-gesa?” Ki Argapati mengerutkan keningnya.

“Memang kami agak tergesa-gesa, Ki Gede, tetapi juga tergesa-gesa untuk segera kembali bersama ayah dan ibu Swandaru.”

Ki Argapati tersenyum. Katanya, “Tetapi akulah yang akan menjadi kesepian.”

“Tanah Perdikan ini sudah akan pulih kembali. Ki Argajaya lambat laun berhasil memperbaiki namanya sendiri.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah,” katanya kemudian, “kami, orang-orang Menoreh, menunggu keda¬tangan kalian. Harapan kami beserta dengan murid Kiai yang gemuk itu. Karena Pandan Wangi adalah satu-satunya anakku.”

Kiai Gringsing dan Sumangkar mengangguk-anggukkan kepala¬nya. Mereka menyadari, bahwa tumpuan harapan Ki Argapati dan seluruh rakyat Menoreh ada pada Swandaru.

Dan tiba-tiba saja tumbuh pertanyaan di hati Kiai Gringsing, “Apakah Swandaru menyadarinya? Ia tidak sekedar meminang Pandan Wangi. Tetapi ia meminang Pandan Wangi beserta se¬gala macam kewajiban yang akan besertanya.”

“Kapan Kiai akan berangkat?” bertanya Ki Argapati.

“Lusa,” jawab Kiai Gringsing, “kami akan berangkat pagi-pagi.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Ka¬mi akan menyediakan semua keperluan kalian. Apakah kalian akan memerlukan kuda?”

Kiai Gringsing merenung sejenak. Ketika ia memandang wajah Sumangkar, orang tua itu pun tampak ragu-ragu.

“Bagaimana, Adi Sumangkar?”

“Bukankah kita ingin melihat-melihat keadaan di sepanjang ja¬lan?”

Kiai Gringsing mengangguk. Dan sebelum ia menjawab, Ki Argapati sudah bertanya lebih dahulu, “Maksud Kiai, me¬lihat keadaan daerah baru itu?”

Sumangkar menganggukkan kepalanya. “Ya. Kami ingin melihat daerah baru itu.”

“Kumandangnya sudah sampai ke sebelah Sungai Praga. Terutama kumandangnya tentang perdagangan. Mereka memer¬lukan beberapa jenis barang dari Menoreh. Para pedaganglah yang lebih dahulu telah melakukan hubungan tidak resmi. Tetapi laporan tentang daerah baru itu sudah ada padaku.” Ki Argapati diam sejenak. Lalu, “Kebetulan sekali, kalau Swandaru mendapatkan beberapa kesimpulan tentang daerah itu kelak, sebelum Tanah ini menentukan sikap.”

Kiai Gringsing dan Sumangkar mengangguk-anggukkan kepala¬nya. Namun mereka menyadari, bahwa dengan demikian Swan¬daru sudah mulai membawa tugas bagi Tanah Perdikan ini. Dan tugas itu berat baginya, meskipun cara mengucapkannya cukup sederhana. Tetapi kesimpulan yang akan dibawa Swandaru itu menentukan, sesuai dengan kata-kata Ki Gede di Menoreh, “Se¬belum Tanah ini menentukan sikap.”

“Sudah sewajarnya,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “anak itu harus mulai belajar bersikap dan berbuat dengan bersungguh-sungguh.”

Namun seandainya tidak ada yang memperingatkan, maka pasti Swandaru hanya sekedar akan melihat perkembangan Ta¬nah yang baru dibuka itu menurut seleranya sendiri. Bukan se¬lera suatu Tanah Perdikan yang besar, Menoreh, yang langsung atau tidak langsung akan menjadi tetangga dekat dari daerah baru itu.

Demikianlah, maka pada hari yang ditentukan, Kiai Gring¬sing, Ki Sumangkar, dan murid-muridnya telah siap meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, untuk memulai dengan perjalanannya ke Timur.

Dengan rendah hati, Kiai Gringsing menyatakan bahwa me¬reka akan lebih senang berjalan kaki saja sambil melihat-lihat keadaan daerah-daerah yang dilaluinya.

Segenap pemimpin Tanah Perdikan Menoreh, Ki Argajaya, dan puteranya, mengantar mereka sampai ke regol halaman rumah Ki Argapati. Meskipun mereka bukan orang-orang Menoreh, tetapi apa yang sudah mereka lakukan buat Menoreh ternyata tidak segera dapat dilupakan. Mereka telah ikut serta mema¬damkan api yang membakar Tanah Perdikan ini dengan berbagai macam cara. Kasar dan halus. Lahiriah dan batiniah.

Tanpa gembala tua dan anak-anaknya. Tanah Perdikan ini pasti akan menjadi lebih parah lagi. Apalagi, apabila luka Ki Argapati tidak dapat disembuhkan.

Pandan Wangi yang sedang mulai dijalari perasaan seorang
gadis merasa menjadi sangat kecewa atas kepergian Swandaru. Ia merasa kehilangan seseorang yang dapat membuatnya tersenyum dan tertawa.

“Aku akan segera kembali,” berkata Swandaru.

“Kau tidak bersungguh-sungguh, seperti apa yang kau lakukan selama ini. Kau selalu mengatakan tentang sesuatu yang tidak benar. Kau mengatakan bahwa pada suatu ketika kau akan ber¬hasil menangkap sesosok tuyul yang sedang mencuri uang di rumahmu. Lain kali kau katakan bahwa seorang kawanmu mempunyai kuda sembrani yang dapat terbang sampai ke bulan. Se-dang yang benar, kau adalah seorang pemimpi.” Pandan Wa¬ngi berhenti sejenak. Lalu, “Dan bagaimana kalau perlawatanmu ke Menoreh ini nanti kau anggap sekedar sebuah mimpi?”

“Mungkin,” jawab Swandaru, “tetapi yang tidak ada hubungannya dengan kau. Sedangkan semua masalah yang ada bubungannya dengan kau, tentu sama sekali bukan sebuah mimpi.”

“Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Maksudku memang demikian.”

“He?”

“Ya. Ya. Aku berkata sebenarnya.”

Wajah Pandan Wangi menjadi bersungut-sungut, tetapi Swan¬daru kemudian berkata, “Aku akan segera kembali membawa tiga ekor, eh, tiga orang, maksudku tiga, bilangan tiga untuk tuyul-tuyul itu.”

“Benar?” tiba-tiba wajah Pandan Wangi menjadi cerah. “Kau akan membawanya untukku?”

“Ya, ya. Tetapi ……….”

“Katakan bahwa kau bersumpah, bahwa kau akan segera kembali membawa tuyul.”

“Eh.”

“Nah, bukankah kau berbohong?”

Swandaru menjadi bingung. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. Aku akan membawa tiga sosok tuyul. Aku sudah mem¬punyai dua. Aku tinggal mencari satu.”

“Kau sudah mempunyai dua?”

“Ya.”

“Mana?”

“Itu. Yang satu tuyul jantan, yang lain tuyul betina,”

“Ah, kau,” desah Pandan Wangi.

Namun Swandaru-lah yang menyeringai kesakitan karena Sekar Mirah mencubitnya. “Aku kau anggap tuyul ya? Kalau aku tuyul, termasuk jenis apakah kakaknya?”

“Sudah Mirah. Sudah.”

Pandan Wangi terpaksa tersenyum karenanya. Sebetulnya tangannya pun hampir saja terjulur. Tetapi segera ditariknya kembali, karena Swandaru masih belum menjadi keluarga atau apa pun secara resmi.

Demikianlah, maka rombongan kecil itu pun segera mening¬galkan halaman rumah Ki Argapati. Perpisahan itu agaknya benar-benar berkesan bagi yang pergi dan bagi yang ditinggalkan. Namun Kiai Gringsing berkata kepada mereka, “Kami akan segera kembali. Dan bukankah tanah ini telah menjadi utuh kem¬bali?”

“Kami selalu mengharap kedatangan kalian,” berkata Ki Argapati.

Maka dilepaslah rombongan kecil itu berangkat meninggal¬kan Tanah Perdikan Menoreh.

Ketika beberapa langkah kemudian Sekar Mirah berpaling, tiba-tiba hatinya berdesir. Ia melihat sorot mata anak muda yang bernama Prastawa itu seakan-akan menyala membakar jantungnya. Namun hanya sejenak, karena anak muda itu segera memalingkan wajahnya, memandang ke kejauhan.

Sentuhan tatapan mata yang hanya sekejap itu telah me¬ninggalkan kesan yang aneh bagi Sekar Mirah, meskipun ia ber¬usaha untuk menghalaunya dari hatinya.

“Adalah kebetulan saja ia memandangku,” katanya di dalam hati, “atau barangkali ia mendendamku?”

Ki Argapati, Ki Argajaya, Samekta, Kerti dan yang lain, memandangi mereka sampai rombongan kecil itu hilang di balik sebuah tikungan.

Meskipun demikian, Ki Argapati yang berdiri bersandar pada sebuah torgkat yang panjang berkata perlahan-lahan, “Me¬reka bagaikan sepasukan prajurit yang pulang dari medan. Meskipun mereka hanya berjumlah 5 orang.”

Ki Argajaya yang berdiri di sampingnya mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia tidak menjawab. Matanya masih tersang¬kut pada tikungan tempat kelima orang itu menghilang.

Yang mula-mula sekali meninggalkan regol itu adalah Pandan Wangi. Sambil menundukkan kepalanya ia melangkah dengan tergesa-gesa melintasi halaman.

Ayahnya, Ki Argapati, menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, perasaan apakah yang sedang mengganggu puterinya itu. Hati¬nya yang sedang mekar, tiba-tiba terputus meskipun hanya untuk beberapa saat. Namun agaknya, dunianya akan menjadi terlam¬pau sepi untuk sementara.

Karena itu, maka ketika Ki Argapati melihat puterinya itu merenung di biliknya, ia sama sekali tidak menegurnya. Biarlah anak itu berangan-angan sebagaimana kebiasaan gadis-gadis. Kalau puterinya itu selalu dibebani oleh sepasang pedangnya, tanpa mem¬beri kesempatan pribadinya sebagai seorang gadis berkembang, maka kelak Pandan Wangi tidak akan dapat menjadi seorang ibu yang baik.

Argajaya dan puteranya pun segera minta diri pula, kembali ke rumahnya. Mereka datang sekedar melepaskan kelima orang itu meninggalkan Menoreh.

“Aku masih mempunyai pekerjaan di sawah, Kakang,” berkata Argajaya.

“Kau kerjakan sendiri sawahmu?”

“Tentu hanya sebagian kecil. Tenagaku sudah tidak se¬kuat anak-anak muda. Tetapi aku ingin mengisi waktuku dengan kerja.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Prastawa juga?”

“Ya, Paman. Aku harus membantu ayah di rumah.”

“Bagus,” desis Ki Argapati.

Keduanya pun kemudian meninggalkan halaman rumah Ki Argapati. Di atas punggung kuda mereka menyusuri jalan-jalan padukuhan induk, dan kemudian mereka melintas di jalan yang membelah sebuah bulak yang panjang.

“Ayah,” tiba-tiba Prsstawa bertanya, “apakah benar, Sekar Mirah itu adik Swandaru?”

“Ya, kenapa?”

“Keduanya sangat berlainan.”

Ayahnya mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Mungkin bentuk tubuhnya. Sudah tentu, bagi seorang gadis kurang pantas apabila ia bertubuh gemuk seperti Swandaru. Tetapi justru Swandaru menjadi pantas. Wajahnya yang bulat dan cerah itu memancarkan kesan keterbukaan hatinya.” Ki Argajaya ber¬henti sejenak. Lalu, “Tetapi kalau kau memandang kening, hidung, dan alisnya, keduanya mempunyai banyak persamaan.”

Prastawa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia terkejut ketika ia mendengar ayahnya bertanya, “Kenapa?”

“O, tidak apa-apa,” anak muda itu tergagap. Lalu, “Bu¬kankah, Swandaru kelak akan menjadi ipar sepupuku?”

“Ya. Agaknya demikian, meskipun masih belum resmi.”

Prastawa mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Katanya ke¬mudian, “Sekar Mirah adalah gadis yang luar biasa. Dengan mudah ia menguasai kawanku yang bertubuh kekar seperti badak itu.”

“Gurunya pun luar biasa, meskipun rendah hati seperti guru Swandaru.”

“Tetapi, saudara seperguruan Swandaru itu terlampau sombong.”

“Agung Sedayu maksudmu?”

“Ya. Ia menganggap aku seorang tawanan. Sampai saat ia meninggalkan rumah Paman Argapati.”

“He. Kau salah, Prastawa. Ia anak yang baik. Ia tidak berbuat apa-apa ketika ia melihat kedatanganmu dan kawanmu di rumah beberapa saat yang lalu.”

“Tetapi agaknya ia merasa tidak pantas berbicara dengan aku. Tidak seperti Swandaru, yang suka berkelakar.”

“Itu adalah sifatnya. Ia pendiam.”

Prastawa terdiam sejenak. Terbayang perkelahian yang terjadi sebelum ia kembali kepada ayahnya, ketika Agung Sedayu berada di bukit bersama Pandan Wangi. Kekalahannya saat itu tidak dapat dilupakannya.

Tetapi tiba-tiba terbersit suatu pertanyaan di hatinya, “Kenapa aku mendendam Agung Sedayu, dan tidak kakak Pandan Wangi?”

Prastawa menelan ludahnya.

Dan ayahnya berkata, “Agung Sedayu pun anak yang baik. Memang sifatnya agak berbeda dengan anak yang gemuk itu. Tetapi bukan maksudnya menyombongkan dirinya.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia bertanya, “Apakah benar, Agung Sedayu itu bakal suami Sekar Mirah?”

“Ya. Tetapi itu pun belum resmi seperti Swandaru dan Pan¬dan Wangi, meskipun orang tuanya tidak berkeberatan seperti juga Kakang Argapati.”

Prastawa tidak menjawab. Tetapi ia tidak mengerti, kenapa wajah gadis, yang bernama Sekar Mirah, itu selalu membayang. Gadis itu begitu tenangnya menghadapi keadaan. Pada saat ia datang ke rumahnya, langsung memasuki bilik ibunya yang ditempati oleh gadis, yang bernama Sekar Mirah itu, gadis itu sama sekali tidak menjadi ketakutan. Justru ia tersenyum penuh keper-cayaan kepada diri sendiri, bahwa ia akan dapat mengatasi setiap persoalan yang tumbuh.

“Gadis itu luar biasa,” desisnya tanpa sesadarnya.

Prastawa terkejut ketika ayahnya bertanya, “Siapa?”

“Maksudku, Sekar Mirah itu hampir seperti Kakak Pandan Wangi. Meskipun ia seorang gadis, tetapi ia mampu melindungi dirinya sendiri. Bedanya, Kakak Pandan Wangi bersenjata sepa¬sang pedang yang ringan, justru gadis ini mempunyai senjata yang aneh. Tongkat baja putih dan berkepala tengkorak yang berwarna kekuning-kuningan.”

“Senjata yang diterima turun-temurun, dari guru ke muridnya.”

Prastawa mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Tetapi ia tidak
berkata-kata lagi.

Namun pertanyaan-pertanyaan Prastawa itu telah memberikan kesan yang aneh pada Ki Argajaya. Agaknya anak itu menaruh per¬hatian pada Sekar Mirah. Tetapi Ki Argajaya tidak tahu, apa¬kah yang agaknya telah menarik hati anaknya. Mungkin justru karena senjatanya yang aneh itu, atau karena jarang sekali terdapat seorang gadis yang memiliki kemampuan seperti Sekar Mirah dan Pandan Wangi di atas Tanah Perdikan ini. Justru kebanyakan gadis-gadis hanya menunggu hari-hari perkawinannya dengan menganyam tikar, atau menunggui perapian untuk membuat gula kelapa di rumah.

“Anak itu akan segera melupakannya,” berkata Ki Arga¬jaya kepada diri sendiri.

Dalam pada itu, Ki Tanu Metir, Ki Sumangkar, dan murid-muridnya berjalan semakin lama semakin menjauhi pedukuhan induk. Namun di sepanjang jalan beberapa orang yang mengenalnya, selalu menganggukkan kepalanya sambil bertanya, “Kemanakah kalian akan pergi?”

“Kami akan menengok rumah kami,” jawab Kiai Gring¬sing.

“O, apakah kalian tidak akan kembali kemari?”

“Tentu. Kami akan kembali lagi.”

“Selamat jalan.”

“Terima kasih.”

Bahkan ada orang-orang yang mencoba untuk mempersilahkan mereka singgah.

“Kami akan senang sekali kalau kalian tinggal di rumah kami sehari dua hari.”

“Maafkanlah. Kami harus segera menyeberangi sungai Praga.”

“Kenapa tergesa-gesa?”

“Tidak apa-apa. Tetapi anak-anak sudah rindu kepada kampung halaman.”

Demikianlah, maka mereka berlima berjalan semakin lama semakin cepat. Matahari yang memanjat langit pun menjadi se¬makin lama semakin tinggi pula. Panasnya pun menjadi semakin tajam menggigit kulit.

Semakin lama, maka padukuhan-padukuhan pun menjadi semakin jarang dan kecil. Hampir tidak ada lagi orang-orang yang mengenal mereka, Orang-orang di padukuhan-padukuhan itu adalah orang yang setiap hari selalu tenggelam di dalam kerja, seperti yang selalu mereka lakukan sehari-hari. Pagi bangun tidur, makan sekedarnya, lalu pergi ke sawah. Di siang hari mereka berhenti. Makan dan minum. Kemudian mereka melanjutkan kerja sampai matahari menjadi sangat rendah. Di senja hari mereka pulang, singgah di sungai sebentar membersihkan diri dan alat-alat mereka. Barulah mereka pulang. Kadang-kadang mereka masih makan sore, tetapi kadang-kadang sudah tidak lagi. Mereka langsung pergi tidur apabila tidak ada keper¬luan yang penting untuk keluar rumah.

Meskipun demikian, hidup mereka tampaknya sangat tente¬ram. Mereka sama sekali tidak mengacuhkan apa pun yang terjadi di luar pedukuhan mereka. Namun demikian, kemajuan tata kehi¬dupan mereka pun sangat lamban, karena seolah-olah mereka menutup pintu padukuhan mereka dengan tata kehidupan yang sudah mereka miliki itu.

Ternyata, tata kehidupan yang demikian itu sangat menarik perhatian Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah. Kehidupan yang sangat sederhana.

“Apakah mereka akan tetap dalam keadaan yang demikian itu sampai puluhan tahun mendatang?” bertanya Agung Sedayu.

“Tentu tidak.” jawab Kiai Gringsing.

“Tetapi kalau tidak ada seseorang yang berani memasuki daerah itu dengan membawa adat dan cara-cara yang lebih baik untuk meningkatkan kehidupan mereka, mereka akan tetap dalam keadaannya,” sahut Swandaru.

“Bukankah tanah ini masih tlatah Menoreh?” tiba-tiba Kiai Gringsing bertanya.

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Nah. Kalau demikian, akan menjadi tugas Swandaru kelak untuk menerobos masuk sampai ke padukuhan yang terpencil ini.”

“Ah,” desis Swandaru, sedang Sekar Mirah tertawa sambil berkata, “Tetapi jangan kau mulai sejak sekarang. Kau sekarang belum apa-apa di sini.”

“Kupuntir telingamu,” potong Swandaru. Tetapi Sekar Mirah masih saja tertawa.

Sementara itu, langkah mereka menjadi semakin jauh. Ketika mereka menengadahkan wajah mereka, ternyata matahari telah melampaui puncak langit.

“Hem, aku haus,” desis Sekar Mirah.

“Kau tadi membawa bekal makanan dari Pandan Wangi, bukan?” bertanya Swandaru.

“Aku haus, tidak lapar,” jawab Sekar Mirah.

Swandaru terdiam. Tetapi mereka masih berjalan terus.

Sejenak kemudian mereka pun segera sampai ke hutan-hutan rindang. Hutan perburuan yang memanjang, sebelum mereka memasuki hutan lebat di seberatag hutan perburuan ini.

“Apakah kita akan langsung mencari tempat kediaman Ki Gede Pemanahan dan puteranya, Sutawijaya?” bertanya Swan¬daru kemudian.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tentu tidak. Kita ingin mengetahui keadaan sebenarnya. Kalau kita langsung mengunjungi Ki Gede Pemanahan dan puteranya, maka kita tidak akan dapat melihat seluruh segi kehidupan di daerah baru itu. Kita hanya akan melihat apa yang pantas kita lihat, sehingga kita tidak akan dapat menilai daerah itu seperti yang sebenarnya, dipandang dari sudut kepentingan kita masing-masing. Bagi Sangkal Putung dan bagi Tanah Perdikan Menoreh.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Besok kita akan memasuki daerah itu. Kita akan melihat apakah yang sedang tumbuh itu akan bermanfaat bagi kita, bagi daerah-daerah di sekitarnya dan bagi keseluruhan keluarga besar di Pulau Jawa ini.”

“Pulau Jawa?” Swandaru mengerutkan keningnya.

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Swandaru mengerutkan keningnya. Gurunya telah menyebut suatu tempat yang hanya dapat dibayangkan oleh Swandaru, Pulau Jawa. Suatu daerah yang tentu sangat luas.

“Apakah hubungannya daerah yang baru dibuka itu dengan Pulau Jawa?” bertanya Swandaru kemudian.

Gurunya tertawa. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Bukan salahmu, kalau kau mengajukan pertanyaan itu. Akulah yang seharusnya menunjukkan kepadamu, bahwa daerah baru itu akan mempengaruhi keadaan Pulau Jawa seluruhnya.”

“Tetapi, bukankah Pulau Jawa itu terbentang dari ujung Timur sampai ke ujung Barat?”

“Ya.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dicobanya untuk mem¬bayangkan, berapa luasnya daerah yang disebut oleh gurunya itu, Pulau Jawa.

“Apakah Pajang juga mempunyai pengaruh yang luas atas Pulau Jawa?” bertanya Agung Sedayu.

“Kau pernah mendengar hal itu?”

“Aku memang pernah mendengar.”

“Nah. Sekarang kalian tahu, bahwa pengalaman kalian itu baru setetes dari air yang melimpah-limpah di telaga. Tetapi untunglah bahwa kalian berada dekat dari pusat pemerintahan, yang mempengaruhi Pulau Jawa itu.”

“Maksud Guru?”

“Meskipun sudah jauh surut, tetapi Pajang memang masih mempunyai pengaruh atas Pulau Jawa. Di saat-saat terakhir Demak masih mengikat kesatuan banyak daerah-daerah di pesisir Utara mem¬bujur ke Timur. Tetapi sebagaimana kalian mengetahui, perpe¬cahan di saat-saat lahirnya Pajang, telah membuat ikatan itu semakin kendor, sehingga banyak sekali daerah-daerah yang merasa berhak berdiri sendiri-sendiri. Kesatuan yang pernah dibina pada jaman Majapahit itu pun sedikit demi sedikit menjadi mundur.”

“Majapahit pernah mempersatukan bukan saja Pulau Jawa,” berkata Agung Sedayu.

“Ya. Nusantara. Pulau-pulau yang dibatasi oleh lautan-lautan yang luas.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang pernah mendengar ceritera tentang kebesaran Majapahit. Perpecahan yang kemudian terjadi, sehingga yang masih dapat dilihatnya adalah perpecahan antara Pajang dan Jipang sepeninggal Sultan Demak yang terakhir.

Sekilas terbayang Kademangan Sangkal Putung yang kaya raya. Tetapi Sangkal Putung adalah sebagian kecil, kecil sekali dari seluruh Pulau Jawa. Seluruh Nusantara.

Namun kemudian terbersit pertanyaan di hatinya, “Benar¬kah Sutawijaya itu mampu berbuat sesuatu yang akan dapat mempengaruhi seluruh pulau Jawa? Memang ia mempunyai banyak kelebihan dari kami, aku dan Kakang Agung Sedayu, tetapi dalam suatu saat kami pun mampu memiliki ilmu setingkat itu. Dan apabila demikian, apakah kami pun mampu berbuat sesuatu yang dapat berkumandang sampai ke ujung-ujung pulau Jawa ini?”

Tetapi Swandaru tetap menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya.

“Kalau kalian ingin lebih jelas lagi,” berkata Kiai Gring¬sing, “bertanyalah kepada Ki Sumangkar. Sebagai seorang yang selalu berada di lingkungan kepatihan, ia pasti jauh lebih menge¬tahui masalah-masalah pemerintahan daripada aku.”

“Ah,” desis Sumangkar. Namun Sekar Mirah segera bertanya, “Benarkah begitu, Guru?”

“Aku adalah seorang juru masak di kepatihan.”

Kiai Gringsing tertawa. Tetapi ia tidak berkata apa-apa.

“Seharusnya Guru sering berceritera kepadaku tentang susunan pemerintahan. Kalau Guru berceritera, hanyalah sekedar garis besarnya saja. Pada suatu saat aku ingin mengetahui lebih banyak lagi, sehingga aku dapat membayangkan tata pemerin¬tahan dari suatu negara yang besar. Bukan sekedar sebuah kademangan. Dengan demikian kami tidak merasa bahwa seolah-olah yang paling penting di muka bumi ini.”

Sumangkar tersenyum. Desisnya, “Kiai membebani aku pekerjaan yang aku tidak mengerti.”

Kiai Gringsing pun tertawa pula. “Sudah waktunya hati anak-anak itu terbuka, melihat dunia yang semakin luas ini. Dengan demikian mereka sadar, bahwa lingkungan mereka sebenarnya amat luas. Bukan sekedar pasukan Tohpati yang berada di sekitar Sangkal Putung, kemudian datang Widura dan Untara membawa sebagian kecil dari pasukannya. Anak-anak harus tahu, bahwa itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan ceritera mengalirnya peme-rintahan sejak jaman dahulu kala. Sejak jaman Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Bahkan sebelumnya, sampai pada jaman kebesaran Majapahit, kemudian menurun dengan pesatnya sejak Demak kehilangan rajanya yang terakhir.

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bukankah masalah Tohpati yang kehilangan sasaran per¬juangannya itu akan menjadi sangat berlainan dengan saat-saat daerah baru yang sedang tumbuh ini? Benturan antara Tohpati dan Untara di sekitar Sangkal Putung adalah merupakan babak-babak terakhir dari tenggelamnya kekuasaan Adipati Jipang. Masalah¬nya merupakan masalah yang dapat dibatasi menjadi masalah setempat, Sangkal Putung. Tetapi yang sedang tumbuh ini mendapat sorotan dari segenap wilayah Pajang, karena justru Ki Gede Pemanahan sendiri yang menyingkir dari lingkungan istana, setelah Ki Penjawi menempati tanahnya yang baru, Pati.”

Kedua orang-orang tua itu tiba-tiba berpaling ketika mereka mendengar Swandaru berdesah.

“Swandaru,” berkata Kiai Gringsing “kau dan Agung Sedayu harus mencoba untuk mengerti masalah-masalah ini. Kalian akan mempunyai wewenang meskipun di daerah yang kecil. Tetapi daerah-daerah yang kecil itulah yang menumbuhkan daerah yang lebih besar dan seterusnya.”

Keduanya pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Terbayang di hadapan mereka masalah yang jauh lebih besar dari api yang membakar Tanah Perdikan Menoreh.

Masalah daerah baru yang dimulai dengan nada yang sum¬bang itu akan langsung menyangkut pimpinan tertinggi peme¬rintah. Seperti pada masa Adipati Jipang masih ada. Bukan sekedar pecahan-pecahan pasukan yang berserakan.

Dengan demikian, maka kelima orang itu harus memper¬siapkan dirinya untuk memasuki suatu daerah yang masih di bayangi oleh kekelaman, seakan-akan mereka hendak meloncat ke dalam gelap. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya ada di belakang kegelapan itu.

Mereka baru mendengar daerah baru itu dari Sutawijaya. Yang barang tentu, akan memiliki masalah-masalah yang dapat dikatakannya. Yang tidak, tentu akan disembunyikannya.

Karena itu, Kiai Gringsing sudah bertekad untuk melihat daerah baru itu langsung tanpa memberitahukan lebih dahulu kepada Sutawijaya, apalagi Ki Gede Pemanahan.

Namun pada hari itu kelima orang itu tidak dapat langsung mencapai Alas Mentaok. Hutan yang lebat di sebelah-menyebelah Kali Praga, agaknya menghambat jalan mereka. Mereka harus mencari jalan setapak yang sering dilalui para pedagang yang saling tukar menukar barang-barang antara mereka yang tinggal di sebelah sungai.

Tetapi kelima orang itu sadar, bahwa kadang-kadang di perjalanan mereka menjumpai penyamun yang masih saja berkeliaran. Apa¬lagi dengan tumbuhnya daerah baru, maka jalan setapak itu menjadi lebih sering dilalui, sehingga para penyamun menjadi semakin mantap melakukan pengintaian. Meskipun demikian, kadang-kadang para penyamun itu gagal melakukan kegiatannya, karena serombongan pedagang yang lewat, dikawal oleh orang-orang yang cukup mampu melayani penyamun-penyamun kecil yang berkeliaran itu.

“Kita bermalam di sebelah Timur sungai,” berkata Kiai Gringsing. “Besok kita mencari tempat yang baik untuk mem¬buat gubug. Kita akan tinggal di tempat itu untuk sementara.”

“Kita akan tinggal?” bertanya Sekar Mirah.

“Ya.”

“Berapa hari?”

“Aku tidak dapat menyebutkan, Mirah. Mungkin sehari, mungkin sebulan.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata, “Sebenarnya aku ingin tinggal bersama Kiai, Kakang Swandaru, dan Kakang Agung Sedayu,” suaranya tiba-tiba merendah. Sambil berpaling kepada gurunya ia bertanya, “Tetapi bagaimana dengan ibu di rumah, Guru?”

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab.

Sebenarnya Sumangkar tidak begitu senang untuk ikut men¬campuri persoalan daerah baru itu, meskipun ia mengerti, bahwa masalahnya akan langsung menyangkut Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi sebagai seseorang yang baru saja dilepaskan dari segala tuntutan oleh Pajang, karena ia langsung atau tidak langsung berada di dalam pasukan Tohpati, maka untuk ikut serta di dalam persoalan yang akan menyangkut juga Pajang, ia agaknya menjadi segan. Jauh-jauh telah terbayang di angan-angannya, bahwa ia akan menjumpai banyak kesulitan apabila masalah daerah baru itu nanti berkembang seperti yang diper¬hitungkannya, meskipun tidak dalam waktu yang dekat.

Kalau Ki Gede Pemanahan dan Sultan Pajang masing-masing tetap di dorong oleh perasaannya, maka jarak antara Pajang dan daerah baru itu akan menjadi semakin panjang.

Sudah tentu ia tidak akan dapat menjerumuskan dirinya sekali lagi dalam persoalan-persoalan yang tidak sejalan dengan hati nuraninya, seperti adanya di dalam pasukan Tohpati, karena ia merasa terikat oleh suatu keharusan.

Kali ini, ia pun melihat kedua belah sisi yang saling berha¬dapan itu pun telah mengikatnya. Ia merasa berhutang budi kepada Pajang yang telah melepaskannya dari segala tuntutan. Sultan Pajang tidak menjatuhkan hukuman atasnya, karena ia tahu, bahwa bukan seperti yang dilakukan oleh Tohpati, bahkan oleh Adipati Jipang itulah yang dimaksudkan oleh Sumangkar.

Tetapi ia tahu benar, bahwa penjelasan tentang pendiriannya itu sebagian terbesar diberikan oleh Ki Gede Pemanahan, yang menerima langsung penyerahan sebagian laskar Tohpati, yang menyerah di Sangkal Putung.

Karena itu, apabila ia melibatkan diri di dalam masalah yang sedang tumbuh itu, ia akan menjumpai banyak kesulitan di dalam dadanya sendiri.

Ki Sumangkar terkejut ketika ia mendengar Sekar Mirah mendesaknya, “Bagaimana, Guru. Apakah ibu tidak terlampau cemas?”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Sekar Mirah. Aku tahu kesulitanmu. Kau ingin tinggal di sini bersama kakak-kakakmu, tetapi kau juga mencemaskan ibumu. Bukan¬kah begitu?”

“Ya, Guru.”

“Dan aku juga mengerti, bagaimana perasaan seorang ibu. Padahal, selama ini kau tidak pernah berpisah daripadanya.”

“Ya, Guru.”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Gringsing seakan-akan ia minta pertimbangan tentang muridnya itu.

Tetapi yang pertama-tama menyatakan sikapnya adalah Swandaru. “Mirah. Sebaiknya kau pulang saja dahulu. Katakan kepada ayah dan ibu, agar mereka bersiap-siap dengan sepengadeg pakaian yang paling baik yang ada di Sangkal Putung. Seperang¬kat upacara peningset dan pedang bertangkai gading itu.” Swandaru berhenti sejenak. Lalu, “Ceriterakan kepada ayah dan ibu, bahwa kita bersama-sama akan pergi melamar gadis Tanah Perdikan Menoreh. Selain itu, dengan demikian ibu pun tidak akan terlampau lama menunggu. Aku yakin bahwa ibu tidak akan pernah dapat tidur nyenyak setiap malam. Kalau salah seorang dari kita sudah datang, dan membawa kabar baik, maka orang tua kita tidak akan terlampau cemas lagi.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Kenapa bukan kau saja yang pulang?”

“Aku di sini bersama guru dan Kakang Agung Sedayu, itu lebih pantas daripada kau yang tinggal di sini.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Ia memang sedang bimbang, apakah ia tinggal bersama kakaknya dan Agung Sedayu, atau pulang dahulu menemui ibu dan ayahnya.

Dalam kebimbangan itu terdengar Kiai Gringsing berkata kepadanya, “Memang sebaiknya kau kembali lebih dahulu, Sekar Mirah.”

“Apakah aku akan mengganggu di sini?” ia bertanya.

“Tentu tidak,” jawab Kiai Gringsing, “karena kau bukan seorang gadis yang hanya dapat menggantungkan kesela¬matannya kepada orang lain. Kau, seperti juga Pandan Wangi, akan dapat membantu kami apabila terjadi sesuatu. Bahkan sudah tentu juga gurumu, Ki Sumangkar. Tetapi yang kita pikirkan bersama adalah ayah dan ibu. Swandaru pergi sudah sekian lama. Kemudian kau dan gurumu menyusulnya. Tetapi keduanya tidak terdengar kabar beritanya.”

Sekar Mirah tidak segera menjawab. Wajahnya masih juga dibayangi oleh keragu-raguan.

“Baiklah, kau aku antar pulang, Mirah,” berkata Ki Su¬mangkar. “Seperti kata Kiai Gringsing, soalnya adalah ayah dan ibumu. Terutama sekali ibumu. Meskipun kepergianmu kali ini tidak seperti kepergianmu ke Tambak Wedi, namun sebagai ibu, maka ia pasti akan selalu mengharap kau segera kembali.”

Sejenak Sekar Mirah merenung. Kemudian jawabnya, “Aku akan menentukan kemudian. Biarlah aku ikut semalam dua malam berada di Alas Mentaok.”

Sejenak Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar saling berpan¬dangan. Namun keduanya kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Berkata Kiai Gringsing, “Apakah begitu menurut pertimbanganmu, Adi Sumangkar?”

“Baiklah. Biarlah ia melihat semalam dua malam suasana hutan yang lebat itu, meskipun sebagian sudah menjadi daerah yang ramai.”

Maka mereka pun kemudian memutuskan, bahwa Sekar Mirah akan beserta dengan mereka meskipun hanya semalam atau dua malam di tlatah Alas Mentaok.

Demikianlah, maka ketika hari telah menjadi buram, kelima orang itu pun segera mencari tempat yang baik untuk bermalam. Meskipun mereka sudah berada di sebelah Timur Sungai Praga, tetapi mereka masih belum sampai ke daerah yang telah dibuka oleh Ki Gede Pemanahan.

“Di sini ada jalan,” desis Sekar Mirah.

“Jalan setapak,” sahut Gurunya, “tentu jalan para peda¬gang yang datang dari daerah di luar daerah baru itu, termasuk dari Tanah Perdikan Menoreh.”

“Bukan ini,” jawab Sekar Mirah, “jalan dari Menoreh adalah jalan sempit yang kita lalui. Tetapi ini jalan menuju ke daerah yang lain.”

“Ya, jalan yang serupa. Mungkin ada padukuhan atau tempat-tempat yang berpenghuni di ujung lorong sempit ini.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Memang menarik,” sela Agung Sedayu.

“Apa yang menarik?” bertanya Swandaru. “Lorong ini lorong biasa saja. Apakah anehnya? Seperti juga lorong yang kita lalui ini.”

“Memang, tidak ada hal-hal yang tampaknya menarik. Lorong sempit di tengah-tengah hutan yang lebat. Meskipun masih terlampau sulit untuk dilalui begitu saja, tetapi tampaknya lorong ini memang pernah dilalui orang.”

“Bukan sekedar pernah, tetapi setiap kali. Mungkin sepe¬kan sekali, atau selapan sekali.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkam kepalanya. Sekilas dipandanginya Gurunya yang masih tetap berdiam diri.

“Yang menarik,” berkata Agung Sedayu kemudian, “sebuah simpang empat di tengah-tengah hutan.”

“Ya, simpang empat kecil. Lihat, ujung-ujung lorong ini tam¬paknya aneh. Seperti juga lorong yang menuju ke Menoreh ini, sebelum kita lalui tampaknya aneh pula, seolah-olah sebuah lubang goa di kaki sebuah gunung, yang kadang-kadang terhalang oleh sulur-sulur dan pepohonan yang roboh,” berkata Sekar Mirah.

Dan tiba-tiba saja Kiai Gringsing berkata, “Kita mencari tempat untuk bermalam.”

“Di simpang empat ini?” bertanya Sekar Mirah.

“Tentu tidak,” jawab Kiai Gringsing. “Di sebelahnya. Tetapi tidak terlampau dekat.”

Mereka pun kemudian menemukan tempat yang mereka ke¬hendaki. Secercah tanah yang tidak begitu banyak ditumbuhi oleh pepohonan perdu meskipun agak lembab.

Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah segera member¬sihkan tempat itu. Mereka menimbun ranting-ranting dan dedaunan kering untuk tempat duduk, karena mereka tidak akan tidur sambil berbaring.

“Hati-hatilah dengan ular,” Kiai Gringsing memperingat¬kan, “di sini ada ular yang paling berbisa di seluruh daerah yang pernah diambah kaki manusia,”

“Ular apa, Kiai?”

“Bandotan tanah.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bulu-buluku meremang. Aku lebih senang bertemu dengan Sidanti daripada ular.”

“Tentu setelah Sidanti tidak ada lagi.”

“He,” Swandaru membelalakkan matanya. “Justru seka¬rang kalau ia datang, aku akan mati lemas.”

Agung Sedayu tertawa kecil. “Sudahlah. Kita akan makan,”

“Aku haus,” desis Sekar Mirah.

“Bukankah kau sudah minum tadi di belik dekat sungai Praga?”

“Sekarang aku haus lagi.”

“Tahankanlah. Besok kita cari mata air, kau harus melatih diri menjadi seorang perantau.”

Sekar Mirah terdiam. Dipandanginya Swandaru yang makan bekal mereka dengan lahapnya.

Namun dalam pada itu, simpang empat itu memang menarik perhatian Kiai Gringsing, meskipun tidak dikatakannya. Setiap kali ia berpaling ke arah jalan sempit yang menyilang jalan yang dilaluinya.

“Lorong itu, Kiai,” tiba-tiba Ki Sumangkar berdesis.

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya, “Mungkin aku terlampau hati-hati. Mungkin Swandaru benar, bahwa lorong itu tidak ada anehnya seperti lorong yang kita lalui,” orang tua itu berbisik.

Sumangkar terdiam sejenak. Namun kemudian ia pun meng¬angguk-anggukkan kepalanya pula. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Sementara itu, Swandaru, Agung Sedayu, dan Sekar Mirah, yang telah selesai menyuapi mulut masing-masing, duduk bersandar batang-batang pohon yang tidak terlampau rimbun. Sekali-sekali mereka menggeliat sambil menggosok-gosok kaki mereka yang lelah.

“Kenapa Guru tidak makan?” bertanya Sekar Mirah, “Dan Kiai Gringsing juga tidak?”

“Nanti sajalah,” jawab Sumangkar.

“Kami sudah menyisihkan untuk Kiai berdua.”

“Terima kasih. Biarlah di situ. Nanti, kalau kami sudah lapar, kami akan mengambilnya.”

Sekar Mirah tidak bertanya lagi. Sekali ia menengadahkan wajahnya. Namun tiba-tiba saja bulu-bulunya meremang. Dalam kesu¬raman senja, dedaunan yang rimbun di atasnya tampaknya bagai¬kan tangan-tangan raksasa yang siap untuk menerkamnya.

Swandaru yang kemudian duduk sambil memeluk lututnya memandang jauh menerawang ke dalam kesuraman. Meskipun demikian ia masih sempat melihat sekilas seekor kijang yang berlari kencang.

“He. Kijang,” desisnya.

“Apakah kau akan mengejarnya?” bertanya Agung Sedayu.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih bergumam, “Aku mengharap ada seekor harimau yang menerkam salah seorang dari kita.”

“Kenapa, he?”

“Aku memerlukan kulitnya.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau yakin bahwa kita dapat membunuh harimau itu?”

“Apalagi seekor harimau, sedang Macan Kepatihan pun dapat dibunuh.”

“Tetapi bukan kau yang membunuhnya.”

Swandaru tidak menyahut. Matanya kembali tersangkut ke kejauhan.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang duduk berdekatan, masih juga saling berdiam diri. Sambil memandang murid-muridnya, mereka merenungkan masalah yang mereka hadapi. Daerah baru yang ada di sebelah bagian hutan ini.

Malam pun semakin lama menjadi semakin malam. Karena nyamuk yang berterbangan di telinga Swandaru, anak itu berdesis, “Kita nyalakan perapian, Kiai.”

Tetapi Kiai Gringsing menggeleng. “Kali ini kita tidak menyalakan perapian.”

“Nyamuknya banyak sekali, belum lagi embun yang dingin ini.”

Yang menjawab adalah Sekar Mirah, “Tahankanlah. Kau harus melatih diri menjadi seorang perantau.”

Swandaru tidak menyahut. Diselubungkannya kain panjangnya menutup telinganya.

Namun sebentar kemudian, karena kantuk dan lelah, maka ketiga anak-anak muda itu pun segera jatuh tertidur. Sekar Mirah bersandar sebatang pohon, Swandaru memeluk lututnya dan mem¬benamkan kepalanya di antara lengan-lengannya. Sedang Agung Sedayu duduk bersila sambil menyilangkan tangannya di dadanya.

“Anak-anak sudah tidur,” desis Kiai Gringsing.

Ki Sumangkar menganggukkan kepalanya. “Ya. Mereka merasa lelah juga.”

“Lebih dari itu, mereka merasa aman. Itulah sifat anak-anak nakal. Orang tua jugalah yang harus menungguinya.”

Sumangkar tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut.

Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka pun merasa perlu pula untuk beristirahat, meskipun tidak tidur senyenyak murid-murid mereka. Bahkan tanpa berjanji, keduanya seolah-olah telah membagi waktu mereka, apabila sesuatu terjadi di tempat yang kurang mereka kenal itu.

Angin yang lembab, yang mengusap tubuh-tubuh mereka, mengalir perlahan-lahan. Daun-daun yang berdesir gemerisik seperti suara orang yang berbisik-bisik.

Lamat-lamat di kejauhan terdengar suara binatang-binatang hutan. Seekor harimau mengaum dengan dahsyatnya, sehingga Swandaru terbangun karenanya.

“Apakah harimau itu akan datang kemari?” desisnya.

Meskipun Agung Sedayu masih saja memejamkan matanya, namun ia menjawab, “Jauh sekali. Apalagi arah angin justru dari arah harimau itu, sehingga bau keringatmu tidak tercium olehnya.”

Swandaru tidak menyahut lagi. Kembali ia membenamkan kepalanya dan menutup telinganya dengan kain panjangnya. Te¬tapi sekali-sekali ia masih juga harus menggaruk-garuk lengannya yang gatal dimakan nyamuk.

Suasana malam di hutan itu telah membuat bulu-bulu roma Sekar Mirah meremang. Tetapi malam ini bukan untuk pertama kalinya ia bermalam. Ketika ia berangkat dari Sangkal Putung, ia pun telah bermalam di perjalanan. Dan sekali di tengah-tengah hutan seperti ini, meskipun Sumangkar membawanya lewat daerah yang tidak selebat tempat ini.

Dalam pada itu, selagi kedua orang-orang tua itu mulai terkantuk-kantuk, tiba-tiba hampir bersamaan mereka mengangkat wajah-wajah mereka. Meskipun masih berbaur dengan desir angin, namun mereka mendengar suara yang lain. Suara yang mereka kenal. Derap kaki-kaki kuda.

Sejenak kedua orang tua itu saling berpandangan. Kemudian perlahan-lahan Kiai Gringsing berdesis, “Kau dengar derap kaki kuda, Adi?”

Sumangkar menganggukkan kepalanya. “Ya. Aku mende¬ngarnya meskipun agaknya masih jauh sekali.”

“Apakah ada orang yang lewat jalan setapak itu di malam begini?”

Sumangkar tidak segera menyahut. Sekilas disambarnya anak-anak muda yang sedang tidur itu dengan tatapan matanya. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam.

“Jalan silang itu memang menarik,” desis Kiai Gringsing.

“Mungkin juga, atau sekedar suatu kebetulan.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Tetapi ia memasang teli¬nganya baik-baik. Derap kaki-kaki kuda itu terdengar semakin lama menjadi semakin jelas.

Sejenak keduanya seakan-akan membeku. Mereka mencoba menebak, siapakah yang berkuda di malam hari, apalagi di tengah hutan yang lebat ini? Tetapi mereka sama sekali tidak dapat menduga apa pun karena mereka sama sekali belum mengenal daerah dan isi dari daerah ini.

Namun demikian jelas bagi keduanya, bahwa derap kuda itu agaknya menyusur jalan setapak yang menuju ke daerah baru yang sedang berkembang itu.

“Tidak hanya seekor kuda,” tiba-tiba Ki Sumangkar ber¬desis.

“Ya. Tiga atau empat,” sahut Kiai Gringsing.

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kembali ia terdiam.

Dalam pada itu, derap kaki-kaki kuda itu semakin lama menjadi semakin jelas, sehingga ketiga anak-anak muda yang tertidur itu pun terbangun karenanya.

Sambil menggosok matanya, Swandaru mencoba meyakinkan dirinya, apakah ia tidak sedang bermimpi, sedang Agung Sedayu berdesis, “Aku mendengar suara derap kaki kuda.”

“Ha,” sahut Swandaru, “kalau begitu aku tidak ber¬mimpi.”

“Ya,” gumam Sekar Mirah dengan suara parau, “aku juga mendengar.”

“Tenanglah,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “Tinggalah kalian di sini. Aku akan melihat, siapakah yang berkuda di tengah malam itu.”

“Aku ikut, Guru,” minta Swandaru.

“Tinggallah di sini bertiga,” jawab Kiai Gringsing. “Kita belum tahu siapakah mereka itu.”

Swandaru ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk¬kan kepalanya.

“Aku ikut bersama Kiai.” berkata Sumangkar.

“Marilah, kita melihat siapakah mereka itu.” Lalu kata¬nya kepada Agung Sedayu, “Hati-hatilah di sini. Daerah ini meru¬pakan daerah asing yang masih penuh dengan rahasia bagi kita. Kalian harus mengawasi keadaan di segenap arah. Jangan sampai kalian diterkam oleh kesulitan tanpa sempat membela diri sama sekali.”

“Baik, Guru.”

“Aku dan pamanmu Sumangkar akan melihat, apakah se¬benarnya yang kami dengar ini benar-benar suara telapak kaki kuda.”

“Atau Sidanti benar-benar menyusulku?” desis Swandaru.

“Ah, kau,” potong Sekar Mirah. “Lebih baik aku ber¬temu dengan Sidanti yang sebenarnya.”

“Jangan hiraukan Swandaru,” berkata Kiai Gringsing. “Ia sendiri agaknya mulai diraba oleh ketakutan.”

“Tidak, Guru. Aku tidak pernah mengenal takut,” ia berhenti sejenak. Lalu, “Kecuali kepada Sidanti sekarang.”

Mau tidak mau Agung Sedayu terpaksa tersenyum. Katanya, “Biarlah aku yang menemuinya. Ia baik kepadaku.”

Swandaru mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menjawab. Sejenak kemudian, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun meninggalkan ketiga anak-anak muda itu. Dengan hati-hati mereka menyusup semak-semak di bawah pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi menusuk kekelaman malam.

Yang ditinggalkan, ketiga anak-anak muda itu pun mulai menga¬tur diri. Tanpa berjanji mereka bergeser maju dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Agung Sedayu, sebagai orang tertua di antara mereka.

“Kita mengawasi segala arah,” desisnya.

“Apakah kita akan duduk beradu punggung?” bertanya Swandaru.

Agung Sedayu berpikir sejenak, lalu katanya, “Tidak perlu, tetapi kita harus mencoba menguasai semua arah dari tempat kita masing-masing. Bukankah dengan duduk berhadapan kita dapat melihat arah yang berlawanan?”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, kita memang harus berhati-hati dalam suasana yang tidak kita mengerti.”

“Ya.”

“Kita sama sekali tidak dapat membayangkan apa yang ada di sekitar kita. Lebih baik kita dikerumuni oleh binatang-binatang buas daripada rahasia yang sama sekali belum kita kenal.”

“Ya.”

“Menghadapi binatang buas, kita dapat membuat perhi¬tungan yang mapan.”

“Ya.”

“Tetapi,” Sekar Mirah tiba-tiba menyela, “kau berbicara terus, Kakang Swandaru. Kalau ada seseorang yang mengintai kita, kau adalah penunjuk yang baik.”

“O, ya. Aku akan diam.”

“Tetapi, apakah yang akan kau lakukan kalau kita dikeru¬muni oleh binatang buas? Membunuh mereka bersama sekali¬gus?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Memanjat pohon setinggi-tingginya.”

“Ah, kalian berbicara saja,” sekali lagi Sekar Mirah memotong. “Dengar. Derap kaki-kaki kuda itu menjadi semakin dekat.”

“Masih agak jauh,” berkata Swandaru. “Gemanya me¬lontar ke segenap penjuru di dalam hutan yang sepi begini.”

Sekar Mirah tidak menyahut lagi, sedang Agung Sedayu pun kemudian terdiam mendengarkan derap kaki-kaki kuda yang menjadi semakin jelas.

Tanpa mereka sadari, maka mereka pun segera mempersiap¬kan diri masing-masing. Sekar Mirah yang menggenggam tongkat baja putihnya, mulai membelai kepala tongkatnya yang berwarna kekuning-kuningan itu. Sedang tanpa sesadarnya, Swandaru telah meng¬urai cambuk yang membelit di pinggangnya.

Ketiganya pun menjadi semakin lama semakin tegang. Agaknya kuda-kuda itu tidak berlari terlampaui kencang. Mungkin karena jalan yang licin berbatu-batu padas, mungkin karena rintangan-rintangan lain.

Tetapi mungkin juga karena penunggang-penunggangnya sengaja memperlambat jalan kuda mereka untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Sejenak ketiga anak-anak muda yang masih duduk di tempatnya itu saling berpandangan. Namun agaknya mereka tidak tenang duduk saja sambil membelai senjata masing-masing, tiba-tiba tanpa disadarinya Swandaru mulai bergerak sambil berdesis lambat, “Aku akan berdiri.”

Tanpa menunggu jawaban ia pun kemudian bangkit berdiri, diikuti oleh Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Perlahan-lahan mereka bergeser memencar. Masing-masing bersandar pada sebatang pohon yang cukup besar, sehingga seakan-akan mereka telah hilang ditelan oleh batang-batang yang besar itu.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun dengan hati-hati merayap mendekati jalan sempit yang bersilang di tengah-tengah hutan yang lebat itu.

Dengan telunjuknya, Kiai Gringsing memberi isyarat kepada Ki Sumangkar, bahwa mereka akan melihat simpang empat itu, karena menurut perhitungan Kiai Gringsing kuda itu pasti akan melintas di jalan silang, lorong mana pun yang dilaluinya.

Ki Sumangkar pun menganggukkan kepalanya.

Perlahan-lahan mereka semakin maju, sehingga akhirnya mereka berada beberapa langkah saja di sebelah simpang empat kecil itu.

Ternyata kuda-kuda itu masih belum lewat, karena suaranya masih menuju ke arah mereka.

“Kita menunggu di sini.” Kiai Gringsing berbisik. Ki Sumangkar menganggukkan kepalanya.

Sambil menahan desah pernafasan mereka, maka kedua orang tua-tua itu pun berjongkok di balik gerumbul-gerumbul yang rimbun, menunggu kuda-kuda yang sebentar lagi pasti akan lewat.

Ternyata mereka tidak usah menunggu terlampau lama. Sejenak kemudian, tampaklah bayang-bayang kehitaman di gelapnya malam, beberapa ekor kuda melintas di lorong sempit itu. Tepat di jalan silang penunggang kuda yang paling depan menarik ken¬dali kudanya, sehingga kuda itu pun berhenti, diikuti oleh orang-orang yang berada di belakangnya.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar menahan nafasnya, su¬paya orang-orang berkuda itu tidak mendengarnya.

Sejenak kemudian kedua orang itu pun terkejut ketika mereka mendengar salah seorang dari mereka berkata, “Kita tidak menjumpai apa pun. Kita sudah menjelajahi bagian hutan ini.”

Dada kedua orang itu menjadi berdebar-debar. Mereka kenal suara itu. Suara Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, sehingga sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi mereka tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

“Tetapi,” terdengar yang lain menjawab, “sebagian dari rakyat menjadi ketakutan karenanya.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sekarang kemana kita pergi. Ke jalan yang mana?”

“Jalan yang ini menuju ke Kali Praga.”

“Langsung ke Tanah Perdikan Menoreh.”

“Ya, dan yang ini akan menerobos daerah yang masih buas menuju ke tlatah Mangir.”

“Ya,” suara Sutawijaya merendah. “Lalu kita sekarang ke mana? Ternyata kita tidak pernah menjumpai apa pun, meskipun sudah tiga malam kita meronda.”

Sejenak pengikut-pengikut Sutawijaya itu tidak menyahut. Namun sejenak kemudian salah seorang berkata, “Memang sulit untuk menemukan hantu-hantu itu.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Agaknya Sutawijaya sedang mencari sesuatu. Hantu, sebenar¬nya hantu atau seseorang yang telah mengganggu ketenteraman daerah baru ini?

“Apakah kau yakin, bahwa rakyat kita benar-benar telah diganggu oleh hantu-hantu?” Sutawijaya-lah yang bertanya kepada pengikut-pengikutnya.

“Demikianlah menurut pendengaran kami. Hantu itu ber¬kerudung hitam. Tetapi yang dapat dilihat oleh rakyat di pinggir hutan yang belum dibuka, hantu-hantu itu kerkepala tengkorak. Kadang-kadang saja terlihat sepintas apabila kerudung tubuh mereka tersingkap, tulang-tulang iga yang tampak jelas pada dada mereka.”

“Apakah hantu-hantu itu berwujud jerangkong?” bertanya Sutawijaya.

“Ya.”

“Aku ingin melihat,” desis Sutawijaya, “sampai sebe¬sar ini aku belum pernah melihat jerangkong.”

“Bukan saja jerangkong,” terdengar suara yang lain, “kuda-kuda yang mereka pergunakan bertelapak putih yang bercaha¬ya. Seseorang pernah melihat di antara dua sosok jerangkong terdapat sesosok hantu yang lain. Berwarna merah menyala, dan di bagian-bagian tertentu berkeredipan seperti kunang-kunang.”

“Ya. Aku sebenarnya juga pernah mendengar keluhan itu. Tetapi aku kira tidak setajam ini, sehingga baru sekarang aku menaruh perhatian.”

“Hantu-hantu itu benar-benar mengganggu pembukaan daerah-daerah yang sudah direncanakan. Bahkan beberapa orang mulai menyingkir ke daerah yang sudah mulai ramai.”

“Baik. Baik,” jawab Sutawijaya. “Tetapi ke mana kita sekarang?”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Aku ingin menemukan sarang hantu,” suara Sutawijaya meninggi sejalan dengan kekesalan hatinya yang memuncak.

“Hantu-hantu itu dapat menghilang,” terdengar seseorang menjawab.

“Aku ingin tahu, apakah hantu-hantu itu mampu melawan pusaka-pusaka Kiai Pasir Sawukir ini, atau Kiai Naga Kemala. Kalau sentuhan ujung tombakku atau ujung keris Ayahanda Ki Gede Pemanahan ini tidak mempan, aku akan bersimpuh di ujung kaki jerangkong-jerangkong itu.”

Suasana menjadi hening. Yang terdengar hanyalah desah nafas Mas Ngabehi Loring Pasar yang sedang menahan perasaannya dan yang tiba-tiba saja bertanya keras-keras, “He, kemana ki¬ta sekarang? Apakah kita akan melanjutkan perjalanan yang tidak berketentuan ini untuk berburu hantu?”

Tetapi suaranya itu pun segera hilang ditelan oleh geram¬nya sendiri di hutan yang sepi itu. Tidak seorang pun dari para pengiringnya yang menjawab.

Terdengar nafas Raden Sutawijaya itu berdesah. Katanya kemudian, “Baiklah. Kita sekarang pulang. Tetapi aku tidak akan berhenti sebelum aku menemukan hantu-hantu itu. Kalau kalian mendengar laporan tentang hantu-hantu itu, kalian harus langsung memberitahukan kepadaku.”

Tetapi Sutawijaya tidak menunggu jawaban. Segera ia menarik kendali kudanya, sehingga kudanya segera bergerak. Sejenak kemudian kudanya itu pun berderap meninggalkan jalan silang, menuju ke daerah yang sudah menjadi ramai dan berpenghuni padat, diiringi oleh para pengawal.

Ketika derap kuda itu menjadi semakin jauh, maka terde¬ngarlah Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar hampir bersamaan menarik nafas dalam-dalam.

“Itulah persoalan yang tumbuh di daerah baru ini,” ber¬kata Kiai Gringsing.

“Persoalan yang menarik. Sama sekali bukan persoalan antara daerah baru ini dengan Pajang. Tetapi justru dengan hantu-hantu.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya kemudian, “Tetapi Anakmas Sutawijaya agaknya tidak percaya, bahwa yang meng¬ganggu daerah barunya ini benar-benar hantu, iblis, dan gendruwo.”

“Tetapi menilik ceritera para pengawalnya itu, agaknya mereka yakin atau setidak-tidaknya ada sedikit kepercayaan bahwa yang berkeliaran dengan bentuk yang menakutkan itu adalah hantu-hantu. Jerangkong dan yang merah-merah itu adalah banaspati.”

“Bagaimana dengan warna-warna yang bercahaya di bagian tubuh mereka?”

“Tentu kita belum dapat menyebutkan, karena kita belum melihatnya sendiri.”

Kedua orang itu pun kemudian merenung sejenak. Mereka mencoba menghubungkan keterangan-keterangan yang didengarnya dari orang-orang yang baru saja lewat di jalan silang itu. Tetapi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Kiai Gringsing berkata, “Aku pun tiba-tiba ingin melihat hantu itu.”

“Aku pun tertarik pula. Seandainya aku tidak membawa Sekar Mirah.”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. Tetapi ia ber¬kata, “Adi Sumangkar. Kita menghadapi suatu keadaan yang tidak wajar, apakah menurut pertimbangan Adi, Sekar Mirah dapat ikut serta? Aku yakin bahwa Sekar Mirah bukan seorang penakut, seandainya ia harus bertempur sebagai seorang prajurit di peperangan yang besar pun ia tidak akan gentar. Tetapi seba¬gai seorang gadis, bagaimanakah kira-kira kalau ia melihat sesuatu yang tidak masuk akal, seperti hantu-hantu itu misalnya. Bukankah seorang gadis lebih banyak dikuasai oleh perasaannya daripada nalarnya?”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Itulah yang aku pikirkan. Tetapi juga kegelisahan ibunya di rumah menjadi persoalan. Dahulu aku berjanji, bahwa aku tidak akan terlampau lama membawa Sekar Mirah untuk melihat-lihat daerah-daerah di luar kademangan itu, dan sekaligus mencari berita tentang Swandaru.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya ke¬mudian, “Jadi, bagaimana sebaiknya?”

“Aku juga menjadi ragu-ragu seperti Sekar Mirah sendiri. Apalagi persoalan hantu ini sangat menarik perhatianku.”

Kiai Gringsing tidak menyahut.

“Tetapi,” berkata Ki Sumangkar selanjutnya, “aku kira, aku memang lebih baik membawa Sekar Mirah kembali ke Sang¬kal Putung lebih dahulu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya,” ka¬tanya, “Memang agaknya lebih baik demikian. Kalau persoalan¬nya bukan persoalan hantu, mungkin Sekar Mirah akan dapat ikut serta.”

“Baiklah. Aku akan mengambil keputusan itu. Aku akan mengatakan kepadanya, bahwa sebaiknya ia kembali lebih da¬hulu ke Sangkal Putung.”

“Aku kira begitu,” sahut Kiai Gringsing.

Demikianlah, maka kedua orang tua itu telah mengambil suatu keputusan, bahwa Sekar Mirah dan Ki Sumangkar akan mendahului Kiai Gringsing dan murid-muridnya, kembali ke Sangkal Putung.

Ketika mereka berdua kembali ke tempat mereka semula, mereka mengangguk-anggukkan kepala, karena mereka melihat ketiga anak-anak muda itu masih juga bersiaga. Sekar Mirah bersandarpada sebatang pohon sambil membelai kepala tongkatnya, sedang Swandaru bermain-main dengan cambuknya. Meskipun Agung Se¬dayu belum mengurai senjatanya sama sekali, tetapi ia sudah memegangi tangkainya erat-erat.

“Bagus,” berkata Kiai Gringsing, “kalian telah siap menghadapi setiap kemungkinan yang dapat timbul setiap saat.”

“Ya,” jawab Agung Sedayu, “apalagi ketika aku men¬dengar derap kuda itu agaknya berhenti di jalan silang. Lamat-lamat aku mendengar juga suara seseorang meskipun tidak jelas, apa yang dikatakannya.”

“Ya,” jawab Kiai Gringsing, “salah seorang dari me¬reka telah berbicara dengan keras.”

“Apakah yang mereka bicarakan?” bertanya Swandaru.

“Aku menjadi cemas, bahwa mereka telah melihat Kiai berdua, sehingga timbul salah paham.”

“Tidak. Ternyata mereka hanya orang-orang lewat, seperti orang-orang lain. Agaknya pedagang-pedagang yang membawa dagangannya ke daerah baru itu.”

“Apakah mereka tidak takut bertemu dengan penyamun?” bertanya Sekar Mirah.

“Menilik sikap dan senjata di lambung masing-masing, mereka tidak takut kepada penyamun-penyamun.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

“Sekarang, kita dapat beristirahat dengan tenteram. Ter¬nyata tidak ada apa-apa di hutan ini.”

“Selain ular bandotan,” potong Swandaru.

Agung Sedayu tersenyum, tetapi ia tidak menyahut. Ia pun kemudian duduk bersandar sebatang pohon. Sekali ia menguap, kemudian menggosok-gosok matanya yang mulai kantuk lagi.

Namun Swandaru masih berkata, “Tetapi, terhadap ular bandotan pun kita tidak usah takut. Guru pasti sudah menyediakan obatnya.”

“Ah, kau,” berkata Kiai Gringsing. “Tidurlah, kalau kau masih ingin tidur.”

Semuanya pun kemudian duduk kembali. Masing-masing mencari tempat yang baik untuk tidur sambil duduk bersandar.

Tetapi orang-orang tua yang melihat Sutawijaya itu pun, sama sekali tidak dapat memejamkan mata. Mereka masih dicengkam oleh teka-teki yang tidak akan dapat mereka pecahkan begitu saja. Mereka memerlukan bahan-bahan yang lebih banyak. Tetapi untuk seterusnya Sumangkar tidak akan dapat ikut serta, karena ia harus mengantarkan Sekar Mirah, kembali ke Sangkal Putung.

Ketika matahari terbit di keesokan harinya, maka kelima orang itu pun segera membenahi dirinya. Mereka akan meneruskan perjalanan, mencari tempat yang baik bagi mereka yang masih akan tinggal di daerah yang baru itu.

“Kita akan segera berpisah,” berkata Sumangkar, “karena aku dan Sekar Mirah akan kembali ke Sangkal Putung.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Katanya, “Jadi kita mendahului, Guru?”

“Ya. Kita mendahului. Bukankah kau juga memikirkan perasaan ibu dan ayahmu?”

Sekar Mirah menganggukkan kepalanya. Tetapi ia ber¬tanya, “Kenapa kita tidak pulang saja bersama-sama?”

“Kakakmu memerlukan bahan yang cukup dari daerah ini. Untuk kepentingan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Me¬noreh. Dua daerah, yang letaknya berseberangan bagi daerah baru ini.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya pula. “Nah, sekarang kau harus minta diri kepada Kiai Gringsing.”

Sekar Mirah memandang gurunya sejenak, lalu berpaling kepada Kiai Gringsing. “Aku minta diri, Kiai.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Hati-hatilah di jalan. Patuhi perintah gurumu, karena jalan yang akan kau lalui adalah jalan yang masih belum memiliki kepastian.”

“Mudah-mudahan kita tidak akan bermalam lagi di jalan,” ber¬kata Ki Sumangkar, “meskipun agaknya kita akan sampai di Sangkal Putung larut malam. Tetapi hutan di seberang Alas Tambak Baya tidak ada lagi yang berbahaya dan lebat.”

“Ya. Sampaikan salamku kepada Ki Demang Sangkal Putung, suami isteri.”

“Baiklah.” Lalu kepada Agung Sedayu dan Swandaru, Ki Sumangkar berkata, “Kawani gurumu. Ia akan segera menemukan permainan baru di Alas Mentaok.”

Kedua anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Dan Agung Sedayu pun segera menjawab, “Baik, Kiai. Kami akan menung¬gui guru di sini beberapa waktu.”

“Apabila kami sudah selesai, kami akan segera menyusul,” sela Swandaru.

Sekar Mirah pun kemudian minta diri pula kepada kakak¬nya dan kepada Agung Sedayu. “Hati-hatilah kalian berdua,” berkata gadis itu. “Daerah ini agaknya memang mempunyai nafas yang menyesakkan.”

“Eh, kau menasehati? Begini segar udara di hutan ini,” Jawab Swandaru.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. “Mudah-mudahan kau menemukan macan tutul. Tetapi ingat, bawa kulitnya pulang ke Sangkal Putung. Aku memerlukannya.”

“Buat apa kau?”

“Selongsong tongkatku. Bukankah lebih baik aku mem¬buat selongsong dan aku gantungkan di punggung seperti pedang?”

“Tidak usah kulit harimau. Kalau aku mendapatkannya akan aku pergunakan sendiri untuk pembalut wrangka pedangku yang bertangkai gading. Aku sudah mempunyai seutas tali yang berwarna kuning keemasan untuk mengikatnya.”

Sekar Mirah memberengut. Tetapi ia tidak berkata apa pun lagi.

Beberapa langkah kemudian, maka mereka pun berpisah. Sekar Mirah dan Ki Sumangkar berjalan lurus ke Timur, mengikuti jalan setapak yang membelah hutan yang lebat, tetapi yang sudah mulai menipis. Sedang Kiai Gringsing dan kedua murid¬nya, akan menjelajahi daerah itu, mencari tempat yang dapat mereka pergunakan untuk tinggal beberapa lama, seperti ketika mereka berada di Tanah Perdikan Menoreh, sebelum mereka secara terbuka berpihak kepada Ki Argapati.

Setelah mereka berpisah, barulah Kiai Gringsing memberitahukan kepada kedua muridnya, apa yang telah dilihatnya semalam bersama Ki Sumangkar.

“Kenapa Guru tidak memanggil kami semalam?” bertanya Swandaru.

“Kenapa kau bertanya begitu?” sahut gurunya.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Memang seharusnya ia tidak usah bertanya begitu.

“Dengan demikian, maka Ki Sumangkar mengambil keputusan bahwa Sekar Mirah harus dibawa kembali. Mungkin ia tidak gentar menghadapi apa pun, tetapi berhadapan dengan hantu, masalahnya jadi lain. Mungkin Sekar Mirah tidak dapat mengendalikan perasaannya melihat wujud-wujud yang mengerikan. Jerangkong, wedon, banaspati, dan jenis-jenis hantu yang lain,” berkata Kiai Gringsing.

“Persetan dengan hantu-hantu,” Swandaru menggeram.

“Jangan congkak,” gurunya tersenyum, “tetapi memang sebaiknya kalian mempersiapkan diri menghadapi masalah yang agaknya tidak mudah kita temui di tempat dan di saat lain.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Agaknya daerah baru ini mempunyai banyak persoalan.” gumam Agung Sedayu, “Suatu ketika Raden Sutawijaya baru berbicara tentang Pajang. Dan kita pun harus bertanya-tanya, apakah yang akan dilakukan oleh Kakang Untara? Sementara ini kita semuanya akan disibukkan oleh hantu-hantu yang agaknya ikut mengambil bagian dalam kesibukan ini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Agung Sedayu itu. Tanpa sesadarnya ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Demikianlah agaknya. ”

“Tetapi persoalan daerah ini dengan Pajang, agaknya masih belum terasa kini,” berkata Agung Sedayu kemudian, “lebih-lebih bagi orang kebanyakan.”

“Yang terasa agaknya baru masalah hantu-hantu itu,” sahut Swandaru.

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang yang terasa agaknya barulah masalah hantu-hantu itu.

Mereka yang kini tinggal bertiga itu pun kemudian sam¬pai pada daerah yang sedang dibuka. Dengan sedikit merubah langkah kakinya dan lenggang tangannya, serta pakaian yang paling kumal yang ada padanya. Kiai Gringsing pun kemudian menempatkan dirinya di antara mereka yang dengan suka rela datang dan ikut membuka daerah baru ini.

“Agaknya Ki Gede Pemanahan melakukan pembukaan hutan ini dengan tertib sekali,” Berkata Kiai Gringsing. “Ter¬nyata hutan ini telah terbagi-bagi.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Pembukaan hutan yang dilakukan oleh Ki Gede Pemanahan agak¬nya telah diatur, sesuai dengan sebuah rencana yang rapi. Bagian-bagian yang telah ditentukan sajalah yang boleh dibuka oleh para pendatang. Mereka tidak boleh menebang hutan sesuka hati mereka. Beberapa orang petugas telah ditempatkan di daerah yang masih akan diperluas, untuk mencegah meluasnya daerah baru ini yang tidak sejalan dengan rencananya Ki Gede Pema¬nahan.

“Nah, kita menyatakan diri sebagai orang-orang yang ingin ikut serta membuka hutan ini,” berkata Kiai Gringsing kepada dua muridnya.

“Kita harus menghubungi petugas-petugas itu,” desis Agung Sedayu.

“Ya. Kita minta ijin untuk ikut serta. Bukankah sampai saat ini masih terus mengalir orang-orang baru yang ingin bertempat tinggal di tlatah yang baru ini?”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mereka pun kemudian dengan caranya yang khusus telah menghubungi para petugas, untuk minta diperkenankan ikut membuka daerah baru itu.

“Siapa namamu, Kek?” bertanya petugas itu.

“Truna Podang,” jawab Kiai Gringsing.

“He, kenapa Podang? Burung Kepodang adalah burung yang manis.”

“Bukankah aku manis juga, Tuan.”

Para petugas itu pun tertawa. “Siapa yang dua orang ini?”

“Anak-anakku, Tuan.”

Para petugas itu pun mengerutkan keningnya. Mereka memandang Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti. Salah se¬orang dari mereka bergumam seperti kepada diri sendiri, “Keduanya tidak mirip sama sekali.”

Dan Kiai Gringsing menjawab, “Keduanya lahir dari ibu yang berlainan.”

“He,” petugas itu membelalakkan matanya. “Kau dapat juga mendapatkan dua orang isteri?”

“Kenapa?”

“Kau yang timpang dan tampaknya sakit-sakitan itu?”

“Ya, kenapa? Apakah aku ini tidak semanis podang? Bu¬kan hanya dua orang itu saja yang mau menjadi isteri-isteriku, Tuan. Tetapi akulah yang berkeberatan.”

Para petugas itu tertawa. Sedang Swandaru mengumpat di dalam hatinya. “Bukan hanya berbeda ibu, tetapi saudara kandung bukan seayah dan ibu.”

“Apakah kalian sudah siap ikut serta menebang hutan?” bertanya para petugas itu.

“Tentu, Tuan. Kami sudah sedia.”

“Dimana isteri-isterimu itu?”

“Keduanya sudah meninggal. Dan aku tidak mau kawin lagi meskipun banyak perempuan yang menghendaki.”

“He, jangan membual!” bentak salah seorang petugas yang tidak senang mendengar kelakar orang tua itu. Tetapi pe¬tugas yang lain tertawa sambil berkata, “Memang sebaiknya kau kawin lagi. Mungkin masih ada nenek-nenek yang mau menjadi isterimu sebelum masuk ke liang kuburnya.”

Kiai Gringsing tertawa dengan nada yang tinggi melengking. “He, kau tertawa seperti kuda meringkik,” berkata sa¬lah seorang dari petugas-petugas itu. “Agaknya suara tertawanya itulah yang menyebabkan kau disebut Truna Podang.”

“Mungkin, Tuan. Memang mungkin sekali.”

“Jangan diajak berbicara,” sela yang lain, “orang ini akan mengigau terus-menerus.” Kemudian kepada Kiai Gring¬sing petugas itu bertanya, “Di mana alat-alatmu?”

“Alat-alat apa, Tuan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kau datang kemari mau apa?” bertanya petugas itu.

“Ikut membuka Alas Mentaok.”

“Kenapa kau tidak membawa alat-alat untuk menebangi pepohonan?”

“Barangkali ada tanah yang sudah bersih, Tuan.”

“Tutup mulutmu,” petugas yang satu itu agaknya ter¬lampau keras. “Bicaralah sungguh-sungguh kalau kau tidak mau aku tampar mulutmu.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dipandanginya beberapa petugas yang lain, yang masih tersenyum-senyum saja. Bahkan kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Kita perlu me¬melihara orang-orang macam ini. Yang tua ini pandai berkicau, anak-anaknya pun tentu pandai menciap-ciap.”

“Lempar saja ia ke tengah-tengah hutan yang lebat. Biarlah ia dimakan hantu yang berkeliaran itu.”

“Tetapi, tetapi kami ingin ikut serta Tuan-Tuan, jangan disangka kami tidak bersungguh-sungguh. Meskipun kami tidak membawa alat-alat untuk itu. Kami menyangka bahwa alat-alat untuk itu telah disediakan di sini.”

“Kau memang bodoh. Apakah kami harus menyediakan alat-alat itu untuk ratusan orang? Setiap hari, masih saja mengalir orang-orang baru yang ingin ikut membuka hutan ini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpa¬ling kepada kedua anak-anaknya. Tetapi baik Agung Sedayu maupun Swandaru, tidak dapat memberikan pertimbangan apa pun.

“Jadi bagaimana?” bertanya petugas itu.

“Tetapi, bukankah hal yang demikian itulah yang dikehendaki? Semakin banyak orang yang datang ke tlatah ini, daerah baru ini akan menjadi semakin cepat ramai.”

“Tetapi mereka harus membawa alat-alatnya masing-masing. Kita tidak akan menyediakan apa pun juga di sini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemu¬dian katanya, “Bagaimana kalau kami meminjam?”

“Dari siapa kau meminjam?”

“Dari para petugas di sini. Apakah di sini tidak ada kapak, parang dan sebagainya?”

Petugas itu menggelengkan kepalanya. Bahkan kemudian ia membentak, “Jangan mengganggu tugas kami. Pergilah kamu. Kalian memang tidak menyiapkan diri untuk ikut membuka hutan ini.”

Sejenak Kiai Gringsing merenung. Ia hampir kehabisan akal untuk menyatakan dirinya ikut serta di dalam perluasan tanah garapan di daerah yang baru ini.

“Apakah aku harus langsung ke pusat daerah ini, daerah yang pasti sudah menjadi ramai?” bertanya Kiai Gringsing kepada diri sendiri, “Tetapi menilik pembicaraan Raden Sutawijaya, maka hantu-hantu itu berkeliaran terutama di daerah-daerah yang baru dibuka ini.”

“Menyingkirlah! Jangan berdiri mematung di situ,” ben¬tak seorang petugas.

Dalam kebingungan itu, tiba-tiba seorang petugas yang lain menghampirinya sambil bertanya, “Kau benar-benar tidak mempu¬nyai alat-alat?”

“Tidak, Tuan. Kami tidak mempunyai apa pun di rumah kami. Itulah sebabnya kami mencoba mengadu untung ke daerah baru ini. Tetapi ternyata tanpa modal alat-alat yang tidak kami miliki itu, kami tidak dapat berbuat apa-apa di sini.”

“Apakah kau seorang petani?”

Kiai Gringsing mengangguk. “Ya, Tuan. Kami adalah petani-petani miskin. Bahkan yang paling miskin di daerah kami.”

“Kalau kau tidak mempunyai alat-alat, dengan apa kau bertani?”

“Kami mempunyai beberapa macam alat pertanian. Tetapi tidak ada harganya sama sekali. Cangkul yang geropok, parang yang sudah patah dan sedikit buntung. Tetapi alat-alat itu sudah tidak pantas kami bawa kemari.”

Petugas itu merenungi Kiai Gringsing dan kedua anak-anaknya berganti-ganti. Tersirat keheranan disorot matanya, melihat tubuh Agung Sedayu yang kuat dan Swandaru yang gemuk.

“Bukankah sayang sekali, tuan?” berkata Kiai Gringsing. “Aku mempunyai anak-anak yang masih muda dan kuat. Kalau tenaganya tidak dipergunakan sebanyak-banyaknya, maka ia akan menjadi beban yang sangat berat bagiku. Padahal keduanya sedang menginjak musim makan sebanyak-banyaknya.

“Apakah mereka tidak mau membantu ayahnya?”

“Tentu mereka mau membantu aku. Tetapi alat-alat kamilah yang tidak mencukupi, sehingga kami harus bekerja bergantian.”

Petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba kawannya membentak, “Biarlah mereka pergi. Mereka pasti hanya akan mengganggu saja di sini.”

“Tunggu,” jawab kawannya, lalu katanya kepada Kiai Gringsing, “Podang. Eh, bukankah namamu, Truna Podang?”

Kiai Gringsing mengangguk. “Ya.”

“Mungkin kau berguna di sini. Kau pasti pandai berceri¬tera. Meskipun ceritera-ceritera khayal sekalipun. Karena itu, aku menjadi kasihan kepadamu. Kalau kau memang berniat untuk ikut menebangi pepohonan dan membuka hutan, aku akan meminjam¬kan alat-alat kepadamu.”

“He? Tentu kami akan sangat berterima kasih, Tuan.”

“Biasanya di sini orang-orang baru bekerja di dalam kelompok-kelompok. Mereka bersama-sama membuka suatu daerah yang kami tunjukkan kepada mereka, menurut rencana yang sudah disusun. Tetapi karena kalian hanya bertiga, maka kami akan memberikan daerah yang barangkali tidak terlampau sulit dikerjakan.”

“Terima kasih, terima kasih.”

Sebelum petugas itu berkata terus, kawannya telah menyahut, “Buat apa kau pelihara orang-orang malas itu?”

“Aku akan melihat, apakah mereka dapat bekerja atau tidak,” jawab kawannya. Dan kepada Kiai Gringsing ia berkata, “Aku beri kau daerah yang berada di pinggir patok yang sudah kami pasang. Agak di tengah. Apakah kalian sanggup mengerjakannya? Tetapi daerah itu tidak terlalu banyak pohon-pohonnya yang besar.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. “Di mana?” ia bertanya.

“Di bagian Utara. Di bagian ini hutan terlampau lebat untuk kalian bertiga. Tetapi kau perlu mengetahui, bahwa daerah itu tidak akan dapat sesubur daerah yang lebat ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah, Tuan. Meskipun daerah ini subur, tetapi kami tidak akan mampu membukanya, karena kami hanya bertiga.”

“Baiklah. Marilah, kita ambil alat-alat itu. Alat-alat itu bukan milikku sendiri. Tetapi aku mendapat titipan dari mereka yang tidak kerasan tinggal di sini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dan di luar sadarnya ia bertanya, “Kenapa ada yang tidak kerasan sebelum mereka berhasil menyelesaikan pekerjaan mereka?”

“Satu dua orang yang berhati kecil, kini sedang meng¬hindari daerah ini.”

“Apa pedulimu?” sahut petugas yang lain. Sedang petu¬gas yang bersedia meminjamkan alat-alatnya itu hanya mengerutkan keningnya saja.

Terlintas di kepala Kiai Gringsing pembicaraan Sutawijaya dengan para pengawalnya. Memang ada satu dua orang yang menjadi ketakutan dan meninggalkan daerah-daerah yang masih sedang dibuka, masuk ke tempat yang sudah mulai ramai.

“Marilah. Ikuti aku ke gubukku,” ajak petugas itu.

Kiai Gringsing pun menganggukkan kepalanya. Kemudian diikutinya petugas yang bersedia meminjamkan alat-alat kepadanya dan kepada anak-anaknya. Sedang petugas yang lain, masih ber¬sungut-sungut, “Kau mencari kesulitan. Orang-orang macam itu tidak akan bermanfaat. Ia tidak akan berhasil membuka tanah yang bagaimanapun baiknya.”

Tetapi petugas yang membawa Kiai Gringsing itu tidak mengacuhkannya. Dibawanya Kiai Gringsing langsung ke sebuah gubuk kecil di antara beberapa gubuk yang lain.

“Inilah rumahku selama aku bertugas di pinggir hutan ini,” berkata petugas itu.

Kiai Gringsing dan kedua murid-muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya beberapa buah gubuk-gubuk kecil untuk para petugas. Kemu¬dian gubuk-gubuk yang lebih besar dengan sebuah barak yang panjang.

“Sementara hutan belum dapat dipergunakan oleh mereka yang membuka tanah, mereka kami tampung di sini,” berkata petugas itu.

“Berapa ratus orang yang ada di barak itu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Tidak banyak. Yang tinggal di barak itu selalu bergiliran. Mereka yang sudah berhasil membuka sebidang tanah garapan dan halaman, mereka akan segera mendirikan gubuk-gubuk mereka sendiri. Dan mereka akan tinggal di rumah-rumah mereka yang baru.” Orang itu berhenti sejenak, tetapi suaranya menjadi lambat, “Namun akhir-akhir ini barak-barak itu menjadi semakin penuh kembali.”

“Begitu banyak orang-orang yang datang?”

“Tidak. Sekarang sudah tidak banyak lagi di bagian ini. Tetapi di bagian Selatan-lah yang menjadi semakin ramai.”

“Kenapa?”

“Tetapi aku kira di segala bagian dari hutan yang dibuka ini, nafsu para pembuka hutan menjadi susut.”

“Kenapa?”

“Mereka menjadi ketakutan tinggal di rumah-rumah yang telah mereka bangun sendiri, sehingga mereka kini berhimpit-himpitan di barak itu bersama-sama beberapa keluarga sekaligus. Di siang hari mereka menggarap tanah mereka, tetapi di malam hari mereka berkumpul di sini. Yang tidak mendapat tempat di dalam barak, mereka lebih baik tidur di emper-emper gubuk ini, daripada kembali ke rumah-rumah mereka yang baru selesai mereka bangun.”

“Kenapa?” desak Kiai Gringsing.

“Hantu-hantu penghuni hutan ini, tiba-tiba saja menjadi marah karena penebangan-penebangan ini.”

“Maksud Tuan, hantu-hantu itu sebenarnya hantu atau perampok-perampok dan penyamun-penyamun yang merasa terganggu dengan pembukaan hutan ini?”

“Hantu, sebenarnya hantu,” orang itu berhenti sejenak sambil memandang sudut-sudut gubuknya. “Sebaiknya aku tidak mengatakannya.”

“Kenapa Tuan? Aku ingin mendengarnya.”

“Tetapi, hantu-hantu itu pasti mendengar apa yang aku percakapkan sekarang.”

“Kita tidak berniat jahat. Kita akan mengatakan apa yang benar-benar telah terjadi.”

Petugas itu masih ragu-ragu sejenak.

“Bukankah kita tidak bermaksud apa-apa?”

“Tetapi kau bertanggung jawab?” bertanya petugas itu.

“Aku bertanggung jawab.”

“Kau terlampau berani. Tetapi itu karena kau belum melihat hantu itu.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Sebaiknya aku berterus terang. Daerah yang aku tunjukkan kepadamu, adalah daerah yang termasuk baik. Daerah yang sudah mulai ditebang, sehingga pohon-pohonan yang besar sudah tidak banyak lagi. Tanahnya pun cukup subur, tidak seperti yang sudah aku katakan ke¬padamu. Tetapi daerah itu sering dilewati hantu-hantu, bahkan hantu-hantu berkuda semberani.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah kau berani meneruskan kerja yang terbengkelai itu?”

“Aku akan mencoba. Sudah aku katakan, bahwa maksud kita baik. Kita sama sekali tidak akan mengganggu mereka, dan sudah tentu kita mengharap mereka tidak mengganggu kita pula.”

Petugas itu nampak menjadi gelisah. Katanya, “Baiklah, aku pun akan mengatakan apa yang terjadi tanpa maksud jelek.” Ia berhenti sejenak. Lalu, “Beberapa orang dari sekelompok pendatang yang menebang pepohonan, di daerah yang aku katakan kepadamu itu, jatuh sakit.”

“Sakit apa, Tuan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Panastis. Kemudian mengigau,” orang itu berhenti berbicara. Wajahnya menjadi tegang dan keringatnya mengaliri seluruh tubuhnya. “Rasa-rasanya badanku pun menjadi panas.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningya. Tetapi ia menggeleng. “Tidak, Tuan. Memang udara terasa panas sekali. Bukan¬kah aku pun basah oleh keringat?”

“O, jadi kau pun merasa panas?”

“Ya. Panas sekali. Hampir aku tidak betah tinggal di dalam gubuk yang terlalu rendah ini. Ya, gubuk ini memang terlalu rendah, sehingga udara di bawah atap ilalang ini terasa amat panas.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Swandaru dan Agung Sedayu saling berpandangan sejenak. Mereka sama sekali tidak merasakan udara yang panas. Bahkan angin bertiup lewat lubang pintu dari daerah hutan yang hijau lebat itu terasa betapa sejuknya.

“Apakah ada yang meninggal karenanya?”

“Tidak. Tetapi mereka tidak berani lagi meneruskan ker¬ja mereka. Bahkan mereka telah pergi meninggalkan tempat ini. Barang-barangnyalah yang dititipkan kepadaku.” Sekali lagi ia ber¬henti untuk menarik nafas dalam-dalam. “Namun ternyata bahwa orang-orang lain pun melihat hantu itu pula. Kini hantu-hantu itu telah menempuh jalan yang lebih dekat lagi dari gubuk-gubuk ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagaimana?” bertanya petugas itu, “Apakah kau berani?”

“Apakah tidak ada bagian lain yang dapat dibuka?” bertanya Kiai Gringsing. “Kalau ada, apakah kami diperkenankan memilih tempat itu?”

Petugas itu terdiam sejenak. Namun kemudian sambil mengerutkan keningnya, ia menggelengkan kepalanya. Dipandangi¬nya Kiai Gringsing dan kedua murid-muridnya berganti-ganti.

Sesaat kemudian ia berkata, “Sayang. Kalau aku memberikan bagian-bagian yang lain, kalian bertiga pasti tidak akan sanggup melakukannya. Apakah kalian bertiga mampu menebas hutan se¬lebat itu hanya bertiga?”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kami memang tidak akan mungkin melakukannya. Tetapi bagaimana dengan hantu-hantu itu?”

“Tergantung sekali kepadamu dan kepada anak-anakmu.”

Kiai Gringsing, yang menyebut dirinya Truna Podang itu berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Apa boleh buat. Aku akan mencoba meneruskan kerja yang terhenti itu. Aku mem¬punyai pendirian, bahwa apabila kita tidak berniat jelek, maka kita pasti tidak akan diganggu.”

“Terserahlah kepadamu. Semua itu akan menjadi tanggung jawabmu bertiga.”

“Baiklah, Tuan. Kami menerima pekerjaan itu.”

“Aku tidak memberimu pekerjaan. Aku memberi kau tanah.”

“Ya, ya. Maksudku, tanah itu aku terima dengan senang hati dan berterima kasih.”

Petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudi¬an, “Kalau begitu kau dapat mempergunakan alat-alat itu. Kalau kau menemui kesulitan, hubungilah aku. Namaku Wanakerti.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. “Wanakerti. Ya, aku akan menghubungi Tuan, Ki Wanakerti.”

Petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia pun berdiri dan mengambil alat-alat yang dititipkan kepadanya.

“Bawalah apa yang kau butuhkan.”

“Kami hanya memerlukan tiga buah kapak, parang dan beberapa gulung tampar.”

“Ambillah.”

Kiai Gringsing beserta kedua muridnya pun, kemudian memilih beberapa macam alat yang dipergunakan. Sambil memisahkan alat-alat itu, Kiai Gringsing berkata, “Kami merasa sangat beruntung atas kebaikan hati Tuan, sehingga kami tidak perlu kembali ke tempat kami semula. Tempat yang sama sekali tidak memberikan harapan apa pun kepada kami sekeluarga.”

“Kalau kalian memang bersedia meneruskan kerja itu, marilah aku tunjukkan letak tanah itu. Bawalah alat-alat yang kau perlukan itu sama sekali.”

“Marilah, Tuan. Aku akan melihat, apakah kami akan mam¬pu melakukan kerja itu.”

Sambil menjinjing alat-alat untuk membuka hutan beserta bungkusan pakaian masing-masing, maka Kiai Gringsing bersama kedua muridnya itu pun mengikuti petugas yang bernama Wanakerti itu.

Sampai di tempat para petugas yang lain menunggui gardu pengawas bagi mereka yang sedang membuka hutan itu, maka seorang petugas berkata, “He, kau bawa ke mana orang-orang itu?”

“Mereka akan meneruskan kerja yang terbengkalai itu.”

“Jangan pedulikan mereka. Suruh mereka pergi orang-orang malas itu, tidak akan berguna,” teriak petugas yang selalu marah-marah saja.

“Mereka akan mencoba,” jawab Wanakerti.

“Tidak ada gunanya. Suruh mereka pergi.”

Tetapi Wanakerti hanya tersenyum saja.

“Kau bawa juga mereka ke sana?” petugas itu mendesak.

Wanakerti menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Mereka akan melihat daerah itu.”

“Gila!” Tetapi kemudian ia menggeram, “Persetan de¬ngan orang-orang malas itu.”

Wanakerti tidak menjawab lagi. Ia berjalan terus diikuti oleh Kiai Gringsing dan kedua muridnya.

“Kenapa ia selalu marah-marah saja?” bertanya Kiai Gringsing.

“Orang itu tidak marah-marah,” jawab petugas yang bernama Wanakerti itu.

“Tetapi, ia membentak-bentak.”

“Memang suaranya terdengar seolah-olah ia membentak-bentak. Apalagi bagi yang belum mengenalnya. Tetapi ia orang baik. Sebenarnya ia merasa sayang bahwa kalian akan terjerumus ke bagian yang mulai dijauhi orang.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tetapi kenapa tuan menem¬patkan aku dan kedua anak-anakku di sana?”

Wanakerti tidak segera menjawab. Agaknya ia sedang menyusun jawaban yang tepat atas pertanyaan yang sulit itu. Na¬mun kemudian ia berkata, “Aku sendiri tidak tahu. Tetapi aku melihat kelainan pada kalian bertiga. Tetapi kalau kau bertanya, kelainan yang mana tampak olehku, itu pun aku tidak akan dapat menjawab.”

Terasa debar yang keras menyentuh dinding jantung Kiai Gringsing. Agaknya daya tangkap mata hati orang yang bernama Wanakerti ini pun agak lebih baik dari kawan-kawannya.

“Aku kira tidak ada bedanya, Tuan.”

“Ternyata ada. Aku sudah pernah bertanya kepada lebih dari sepuluh orang, apakah mereka bersedia meneruskan kerja yang terhenti itu. Tetapi tidak seorang pun yang berani.”

“Tetapi apakah maksud Tuan, dengan keinginan Tuan agar tanah itu tetap dibuka?”

“Sebenarnya aku hanya ingin meyakinkan, apakah yang sudah terjadi itu memang sebenarnya telah terjadi.” Tetepi tiba-tiba suaranya meninggi, “Maksudku, bukan aku tidak percaya, atau aku kurang meyakininya. Aku percaya dan aku memang tidak akan berbuat apa-apa.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia me¬ngerti bahwa Ki Wanakerti sedang di ombang-ambingkan oleh perasaannya sendiri. Di antara percaya, bahkan dengan dibayangi oleh ketakutan, dan keinginannya untuk meyakinkan, apakah hantu-hantu itu benar-benar seperti apa yang pernah didengarnya? Namun ia tidak mempunyai cukup keberanian untuk membuktikannya sendiri.

Sejenak kemudian, mereka pun berjalan sambil berdiam diri. Kiai Gringsing dan kedua muridnya kini dapat menyaksikan be¬berapa kelompok orang-orang yang sedang membuka hutan. Sebagian telah menjadi tanah garapan, pategalan, dan halaman.

Semakin jauh mereka dari gardu pengawas, maka mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Di bagian lain masih tampak kelompok-kelompok yang menebang pepohonan yang besar dan tinggi. Kadang-kadang mereka dikejutkan oleh gemerasak seperti suara pra¬hara, apabila sebatang pohon yang besar rebah menimpa pepohonan di sekitarnya.

“Bukankah mereka masih juga meneruskan kerja mereka?” bertanya Kiai Gringsing kepada petugas yang bernama Wanakerti.

“Ya, di sini. Tetapi, di sebelah daerah ini adalah daerah yang semakin lama menjadi semakin sepi. Hanya orang-orang yang tabah sajalah yang berani tetap mengerjakan tanahnya, meskipun mereka harus berkelompok-kelompok di malam hari.”

“Apakah mereka masih harus tidur di barak-barak itu?”

“Mereka sudah membuat rumah sendiri. Bukankah kau lihat tanah yang sudah dibuka dan sudah mulai digarap, dan gubuk-gubuk kecil di atasnya? Yang mereka kerjakan itu menurut rencana kami, akan dijadikan tanah persawahan di sebelah padukuhan yang mulai terisi itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tanah yang akan aku berikan kepadamu, menurut rencana kami adalah padukuhan berikutnya. Di seberang daerah persawahan yang sedang dibuka ini,”

“Jadi, apabila tanah ini telah terbuka, bagian itu akan terletak di seberang bulak?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ya.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kemudian ia bertanya pula, “Masih ada berapa kelompok yang ada di bagian itu?”

“Sudah aku katakan. Tidak seorang pun yang berani memulainya lagi.”

“He?” Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.

“Aku sudah mengatakannya.”

“Tetapi bukankah Tuan mengatakan bahwa daerah itu menjadi semakin sepi, sehingga menurut tangkapanku masih juga ada orang yang bekerja meskipun semakin sedikit.”

“Bukan daerah yang akan aku berikan kepadamu. Tetapi yang mereka kerjakan adalah sambungan dari bulak yang panjang ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia menyadari, bahwa mereka bertiga bersama murid-muridnya benar-benar akan bekerja tanpa orang lain, di tempat yang terasing.

Sebenarnyalah, bahwa semakin jauh mereka berjalan, tampaknya menjadi semakin sepi, meskipun masih juga ada sekelom¬pok dua kelompok orang-orang yang bekerja. Tetapi seperti apa yang dikatakan oleh petugas itu, mereka akan berkumpul di tempat yang lebih ramai di malam hari, di sekitar gubuk dan barak yang sudah disediakan.

“Di malam hari, kau dapat juga berkumpul bersama kami,” berkata petugas itu.

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya.

“Selama tanah garapanmu belum menghasilkan apa-apa, kau dan kedua anak-anakmu akan mendapat rangsum makan dari kami. Tetapi sudah tentu makan yang sederhana.”

“O, kami akan sangat berterima kasih, Tuan. Di rumah kami, makan sederhana pun jarang-jarang kami peroleh dengan teratur.”

“Tetapi anakmu yang seorang itu gemuk sekali.”

Kiai Gringsing berpaling. Dipandanginya Swandaru yang berjalan beberapa langkah di belakangnya.

“Keduanya senang sekali berburu, Tuan. Agaknya daging buruannya itulah yang membuat mereka gemuk, terutama yang muda.”

“O. Jadi kalian senang berburu juga?”

“Anak-anakku.”

“Hutan ini penuh dengan binatang buruan. Bahkan binatang-binatang buas. Tetapi di antara para pendatang, tidak banyak yang berani berburu.”

“Kenapa? Apakah mereka takut kepada binatang-binatang buas atau kepada hantu-hantu, yang barangkali dianggap oleh mereka sebagai pemilik binatang-binatang di hutan ini.”

Petugas itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun tidak bertanya pula.

Kini mereka menyusup di antara pepohonan hutan yang masih rimbun. Kiai Gringsing sudah tidak melihat lagi kelompok-kelompok yang menebang hutan di daerah ini. Namun nampaknya bahwa hutan ini pun pernah digarap oleh manusia. Di sana-sini pohon-pohon yang roboh masih terbujur lintang.

“Inilah tanah yang harus kalian kerjakan. Sebagian besar dari pepohonan yang tinggi dan besar sudah dirobohkan. Kalian tinggal meneruskan.”

“Apakah kami bertiga harus membuka seluruh padukuhan yang direncanakan?”

“Kalian dapat memiliki tanah seluas dapat kalian kerja¬kan. Kalau kalian mampu menyelesaikan sisa pekerjaan untuk seluruh padukuhan yang direncanakan, kami akan mengesahkan bahwa padukuhan ini milik kalian. Orang-orang yang telah me¬mulainya lebih dahulu, kami anggap telah melepaskan haknya sama sekali.”

“Kalau kami hanya dapat membuka sebagian kecil?”

“Hak kalian juga hanya yang sebagian kecil itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kini mereka berempat berdiri termangu-mangu memandang hutan yang masih tampak liar, meskipun sebagian dari pepohonannya sudah ditundukkan. Sejenak Kiai Gringsing berpaling kepada kedua murid-muridnya yang sedang melihat-lihat daerah yang akan men¬jadi tanah garapan mereka.

“Berapa puluh tahun aku harus tinggal di neraka ini?” Swandaru mengumpat-umpat di dalam hatinya. “Guru selalu saja mencari pekerjaan. Apakah dari tempat yang sesepi kuburan ini, aku dapat melihat daerah baru ini? Dipandang dari segi kepentingan Sangkal Putung dan Menoreh?”

Setelah mereka melihat-lihat daerah yang sepi itu sejenak, maka petugas yang menunjukkan tempat itu pun kemudian membawa Kiai Gringsing beserta anak-anaknya kembali.

“Besok kalian dapat mulai bekerja. Tinggalkan saja alat-alat kalian di sini. Tidak akan ada yang mengambilnya. Kalau ada binatang buas yang berkeliaran sampai ke tempat ini malam nanti, mereka tidak akan menelan kapak dan parang kalian itu,” berkata petugas itu.

Demikianlah, setelah bermalam satu malam bersama-sama para pendatang yang sedang membuka hutan itu, Kiai Gringsing sudah mendapat sedikit gambaran tentang daerah baru yang dihadapinya.

“Ki Gede Pemanahan menyebut daerah ini, Mataram,” berkata salah seorang dari mereka.

“Mataram yang akan berdiri di atas alas Mentaok,” desis Kiai Gringsing. Sekilas lewat di kepalanya ceritera tentang kerajaan Mataram Lama. “Apakah Ki Gede Pemanahan menghubungkan daerah baru ini dalam suatu garis perkembangan kerajaan yang bernama Mataram itu?” bertanya Kiai Gringsing di dalam hatinya. Namun ia tidak mengucapkan pertanyaan itu kepada siapa pun juga.

Agung Sedayu dan Swandaru yang berbicara dengan anak-anak muda sebayanya pun mendengar, bahwa daerah yang sudah mu¬lai digarap, di seberang bulak yang direncanakan itu memang sudah ditinggalkan.

“Aku dahulu ikut di dalam kelompok yang mulai menebangi pepohonan di tempat itu,” berkata seorang anak muda, “tetapi kelompok kami memutuskan untuk menghentikan pekerjaan kami. Sebagian telah bergeser ke tempat lain, dan sebagian kembali ke padukuhan mereka semula.”

“Apakah mereka diganggu oleh hantu-hantu itu?”

“Ya,” jawab anak muda itu, “kami telah melihat sendiri. Beberapa orang di antara kami menjadi sakit.”

Agung Sedayu dan Swandaru hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

Sementara itu, seorang yang sudah berjanggut putih berkata kepada Kiai Gringsing, “Jangan meneruskan kerja yang telah kami tinggalkan. Bekerjalah bersama dengan kami, membuka tanah persawahan itu. Selain kalian akan selamat, tanah itu pun akan segera menghasilkan.”

Kiai Gringsing hanya tersenyum saja. Namun justru di dalam hati, orang tua itu semakin bernafsu untuk melihat, apa yang sebenarnya sudah terjadi di daerah yang menakutkan itu.

Di pagi harinya, Kiai Gringsing dan kedua anak-anaknya telah berangkat pada saat fajar menyingsing, ke tanah garapan yang diperuntukkan bagi mereka.

Beberapa orang yang mengetahui, bahwa orang tua itu bersama kedua anak-anaknya akan melanjutkan kerja yang terhenti itu, memandangnya dengan takjub. Seorang yang bertubuh kurus berkata, “Kasihan. Mereka akan kecewa. Tidak lebih dari sebulan mereka pasti sudah jera meneruskan kerja itu.”

Sedang orang yang bertubuh tinggi kekar menyahut, “Salah sendiri. Mereka adalah orang-orang yang bodoh, tetapi sombong. Bukankah dengan demikian banyak orang akan mengaguminya? Tetapi mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Pada saatnya mereka pasti akan lari terbirit-birit. Belum lagi mereka menghasilkan apa pun juga, mereka pasti sudah pergi. Mungkin mereka tidak akan melaporkan kepergian mereka kepada para petugas, karena malu.”

Tidak ada orang lain yang membantah. Tetapi seorang petugas yang mendengarnya menyahut, “Tetapi ia akan tetap tidur di barak ini di malam hari. Mereka akan kerja di siang hari saja. Dengan demikian diharap bahwa mereka akan dapat melakukan pekerjaan mereka tanpa ketakutan.”

“Meskipun mereka hanya bekerja di siang hari, mereka pasti akan diganggu. Mereka akan jatuh sakit, dan apabila mereka terlampau sombong, mungkin mereka akan mati.”

Petugas itu pun terdiam. Namun ia menjadi ragu-ragu pula di dalam hati.

Wanakerti sendiri akhirnya menjadi ragu-ragu. Bahkan di dalam hati ia berkata, “Apakah aku tidak menjerumuskan orang tua dan kedua anak-anaknya itu ke dalam kesulitan?”

Namun sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata pula, “Aku melihat sesuatu yang lain pada ketiga orang itu. Mudah-mudahan aku tidak membuat kesulitan bagi mereka, dan bagiku sendiri.”

Sejenak kemudian, ketika matahari mulai memanjat langit, maka setiap orang di dalam barak itu pun telah siap dengan alat-alat masing-masing. Kelompok demi kelompok, mereka berangkat ke tempat kerja. Sedang mereka yang telah membuat rumahnya masing-masing dan terletak tidak jauh dari gardu pengawas itu pun meninggal¬kan rumah mereka pula untuk meneruskan kerja, membuka hutan untuk membuat tanah persawahan.

Namun rumah-rumah yang meskipun sudah berdiri dan dirapati dengan dinding-dinding kayu, namun yang letaknya agak berjauhan, ternyata masih juga tetap dikosongkan.

Kiai Gringsing dan kedua muridnya yang telah sampai di daerah kerja mereka, tidak segera mulai. Sejenak mereka mengamati keadaan di sekitarnya. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dan usaha-usaha yang akan dapat mereka lakukan di atas tanah yang dianggap angker dan menakutkan itu.

“Aku tidak melihat sesuatu,” berkata Swandaru.

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya. Aku pun tidak melihat sesuatu yang memberikan tanda-tanda adanya suatu kelainan atau kemungkinan yang dapat menumbuhkan dugaan-dugaan tentang hantu-hantu itu.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Seperti kedua muridnya ia pun tidak melihat sesuatu. Karena itu maka katanya, “Baik¬lah, kita mulai dengan kerja kita.”

“Tetapi,” bertanya Swandaru, “apakah kita benar-benar akan membuka daerah ini dan membuatnya menjadi padukuhan?”

Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya, “Bukan itu maksud kita. Sudah tentu kau tidak akan betah tinggal di sini terlampau lama, seperti tinggal di Tanah Perdikan Menoreh.”

“Ah,” Swandaru berdesah. “Kakang Sedayu pun ingin segera pergi ke Sangkal Putung, menyusul Ki Sumangkar.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian, ia pun tersenyum. Katanya, “Ya. Aku pasti akan segera menyusul Paman Sumangkar.”

“Tentu,” jawab Kiai Gringsing, “apalagi kalau Kiai Sumangkar pergi seorang diri.”

Swandaru tertawa sejenak. Tetapi, kemudian ia bertanya, “Jadi sampai kapan kita akan tinggal di sini, Guru?”

“Tergantung pada keadaan.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah. Marilah, alat-alat itu menunggu kita. Selama kita masih berada di sini, kita akan membuka tanah ini sampai saatnya kita pergi.”

Kedua murid-muridnya itu pun kemudian segera mengambil alat-alat yang mereka pinjam. Kapak dan parang. Maka mereka pun segera mulai menebangi pepohonan. Karena pohon-pohon yang besar telah rebah, mereka pun tidak begitu banyak lagi mendapatkan kesu¬karan dengan pohon-pohon yang agak lebih kecil.

Ternyata bahwa keduanya dapat bekerja sebagai pembuka hutan yang baik. Swandaru yang memiliki kekuatan yang besar itu, mengayunkan kapaknya dengan derasnya. Beberapa kali tebas, maka pohon-pohon yang tidak begitu besar itu pun segera roboh.

“Kita sisihkan kayu-kayu yang malang melintang ini,” berkata Kiai Gringsing, “sehingga tanah ini pun akan segera lebih bersih dan lapang.”

Swandaru menganggukkan kepalanya. Tetapi kemudian keningnya berkerut, “Apakah pohon-pohon sebesar ini dapat kita angkat hanya bertiga?”

“Ah, kau,” desis gurunya, “sudah tentu kita harus mempergunakan alat-alat kita. Kita potong dan kita pecah. Dengan mudahnya kita akan menyingkirkannya.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tersenyum sen¬diri atas kebodohannya.

Demikianlah maka dengan tidak mereka sadari matahari pun menjadi semakin rendah di Barat. Sebentar lagi langit menjadi kemerah-merahan. Dan angin pun menjadi semakin sejuk.

“Apakah kita akan kembali ke perkemahan?” bertanya Swandaru.

“Malam ini kita masih akan kembali ke sana,” jawab Gurunya.

“Bagaimana mungkin kita dapat mengetahui serba sedikit tentang hantu itu, apabila kita berada di tengah-tengah mereka, Guru?” bertanya Agung Sedayu.

“Besok malam saja kita akan tinggal di sini, supaya mereka tidak melihat kelainan yang sangat besar pada kita dan orang-orang lain itu,” jawab Gurunya.

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti maksud gurunya, sehingga dengan demikian tidak segera menum¬buhkan kecurigaan, seakan-akan mereka bukannya orang-orang kebanyakan.

Demikianlah ketika senja mendatang, ketiganya pun kembali ke barak yang sebenarnya sudah terisi penuh. Tetapi karena mereka hanya bertiga dan tidak membawa apa pun selain sebung¬kus pakaian mereka, maka meskipun hanya sekedar di sudut, mereka masih mendapat tempat untuk membentangkan tikar pan¬dan yang kasar, yang mereka terima dari para petugas.

Setelah mereka selesai makan rangsum yang mereka terima dari para petugas, seperti orang-orang yang lain, yang masih belum dapat memetik hasil jerih payah mereka, maka beberapa orang telah mengerumui tiga orang itu sambil bertanya-tanya.

“Apakah kalian mengalami sesuatu?” bertanya seseorang
yang tinggi kurus.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, “Kami tidak mengalami sesuatu yang aneh menurut penglihatan kami.”

“Angin yang tiba-tiba saja datang dan berputaran?” bertanya yang lain.

“Angin pusaran maksudmu?”

“Ya, tetapi angin pusaran tidak akan dapat memutar pepohonan hutan,” jawab orang itu.

Kiai Gringsing menggeleng, “Tidak. Kami tidak melihat angin semacam itu.”

“Gelundung pringis misalnya?” bertanya yang lain lagi.

“Juga tidak.”

“Hati-hatilah,” desis orang yang tinggi besar, yang melihat keberangkatan ketiga orang itu dengan curiga. “Jangan terlampau sombong. Kalau kepala salah seorang dari kalian telah ter¬penggal dan tergantung di ujung pohon yang paling tinggi, yang tidak mungkin dipanjat oleh manusia, barulah kalian akan menye¬sal. Apalagi kalau kemudian kepala itu dapat membara di malam hari dan masih mampu mengeluh kesakitan meskipun tubuhnya sudah dikubur.”

“Mengerikan sekali,” berkata Kiai Gringsing. “Apakah hal itu pernah terjadi?”

“Tentu,” jawab orang yang tinggi kekar itu.

“Kapan dan dimana? Petugas yang mengantarkan aku tidak mengatakan demikian. Memang ada beberapa orang yang jatuh sakit. Tetapi tidak sampai meninggal dunia.”

“Hampir, hampir saja hal itu terjadi. Tetapi kami pernah melihat kepala orang, maksudku tengkorak yang membara di malam hari selagi kami masih memberanikan diri tidur di tempat kerja kami itu.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

“Demi keselamatan kalian,” berkata orang yang tinggi kekar itu, “sebaiknya kalian urungkan niat kalian. Kau sudah terlampau tua, sedang kedua anak-anak itu masih terlampau muda mengalami hal-hal yang tidak kalian harapkan.”

Kiai Gringsing masih terdiam.

“Apakah kalian memang sudah berputus asa? Karena kalian tidak mendapatkan kemungkinan lain lagi bagi hidup kalian, sehingga kalian memilih mati dimakan hantu?”

Kiai Gringsing belum menyahut sepatah kata pun.

“Aku nasehati kalian bertiga,” orang yang kekar itu berkata terus, “urungkan niat itu. Kau dengar, he, Truna Podang?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. “Kami akan mem-pertimbangkannya,” jawabnya.

Tetapi orang yang tinggi kekar itu agaknya tidak puas mendengar jawaban Kiai Gringsing. Meskipun ia tidak berkata apa pun lagi, tetapi nampak di wajahnya, bahwa sesuatu masih tersimpan di hatinya.

Setelah Kiai Gringsing bercakap-cakap sejenak, maka ia bersama kedua muridnya pun kemudian berjalan-jalan di antara mereka yang berada di sekitar barak itu. Tidak begitu jauh, terletak gardu pengawas yang dijaga oleh beberapa orang petugas bersenjata. Sedang di sebelah-menyebelah lorong yang menusuk ke daerah yang sedang dibuka, beberapa buah rumah sudah dihuni oleh beberapa orang keluarga.

Lampu minyak yang bercahaya kemerah-merahan menyusup di antara dinding yang belum rapat benar, mencuat di kegelapan malam.

Ternyata bahwa bukan sekedar di sebelah-menyebelah lorong itu saja berserakan rumah-rumah yang sudah dihuni. Tetapi di arah yang lain, rumah-rumah pun sudah mulai ditempati oleh beberapa kelu¬arga sekaligus, sehubungan dengan berita yang telah mengecil¬kan hati mereka. Sedang meskipun agak ke tengah rumah-rumah sudah siap pula, namun rumah-rumah itu kini menjadi kosong kembali, karena penghuninya tidak berani tinggal hanya sekeluarga saja. Itulah sebabnya maka pada umumnya rumah-rumah tempat tinggal itu berisi dua atau tiga keluarga sekaligus.

“Suasana sepi sekali,” desis Swandaru.

“Mereka benar-benar di dalam ketakutan,” sahut Agung Sedayu.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Marilah kita pergi ke gardu pengawas. Apa saja yang dikerjakan oleh para petugas itu di malam hari?”

Ketika Kiai Gringsing melangkah mendekati gardu pengawas, dilihatnya beberapa orang bersama-sama berdiri sambil menggenggam senjata masing-masing.

“Kami, Tuan. Truna Podang.”

“Gila kau,” geram seorang di antara para pengawas itu. “Kami tidak begitu dapat melihat kalian, di kegelapan. Tetapi agaknya kalian dapat melihat kami dengan jelas.”

“Ya, Tuan.”

“Kenapa kalian kemari? Apakah kalian tidak lelah setelah
sehari bekerja? Atau kalian hanya sekedar duduk-duduk saja di tanah garapanmu?”

“Tidak, Tuan. Kami bekerja keras. Yang mula-mula kami kerjakan adalah menyingkirkan kayu-kayu yang malang-melintang. Kemudian, kami akan segera menyelesaikan penebangan pohon-pohon yang lebih kecil.”

Petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka bertanya, “Lalu apa kerjamu sekarang?”

“Kami tidak biasa tidur di sore hari,Ttuan. Karena itu, kami hanya sekedar berjalan-jalan saja.”

Para petugas itu menarik nafas dalam-dalam. Wanakerti yang ada di antara mereka bertanya, “Apakah kau akan duduk-duduk di sini sebelum kalian akan tidur?”

“Terima kasih, Tuan. Kami memang ingin kawan bercakap-cakap. Kawan-kawan yang lain rupa-rupanya sudah malas untuk berbicara. Mereka sudah berbaring di tempat masing-masing.”

“Begitulah kebiasaan mereka. Kalau senja menjadi gelap, mereka pun segera tidur. Seperti ayam saja agaknya. Dan gubuk-gubuk yang berserakan itu pun pasti sudah tertutup rapat. Pintu-pintu pasti telah diselarak. Kalau kau mengetuk salah satu dari pintu-pintu itu, sebelum mereka pasti siapa yang berada di luar, kau tidak akan mendapat kesempatan apa pun. Pintu pasti tidak akan terbuka.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Demikianlah ketakutan sudah mencengkam semua daerah.

“Kalau keadaan ini dibiarkan terus-menerus, maka nafsu para pembuka hutan itu pun pasti menjadi semakin susut,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

“Masuklah,” Wanakerti pun kemudian mempersilahkan Kiai Gringsing dan kedua anaknya.

Setelah mereka duduk di dalam gardu yang cukup besar dan kemudian mendapat hidangan air panas, maka mereka pun segera berbicara tentang daerah yang sepi itu.

“He,” bertanya Wanakerti tiba-tiba, “bagaimana kau nanti kembali ke barak itu?”

“Kenapa?”

“Apakah kalian tidak takut?”

“Takut?” Kiai Gringsing menjadi heran. “Bukankah jarak ini tidak terlampau panjang?”

Wanakerti mengangguk. “Tetapi biasanya tidak seorang pun yang berani berjalan di luar di malam hari, meskipun jaraknya tidak terlampau jauh.”

“Tetapi ada di antara mereka yang tidur di luar, di serambi-serambi yang terbuka.”

“Mereka tidur berhimpitan sambil menyelubungi diri mereka dengan kain panjang. Itu karena mereka tidak mendapat tempat di dalam barak. Dan di serambi itu agaknya lebih baik bagi mereka, karena mereka tinggal bersama-sama beberapa keluarga sekaligus, daripada mereka tinggal di gubuk-gubuk yang sudah mereka buat, tetapi berpencaran.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia merenungi keadaan tempat itu, sedang Swandaru menyuapi mu¬lutnya dengan jenang alot yang dihidangkan oleh Wanakerti kepada mereka.

Namun tiba-tiba, setiap orang di dalam gardu itu mengangkat kepala mereka. Lamat-lamat mereka mendengar suara gemerincing. Semakin lama semakin dekat, dibarengi oleh derap kaki kuda di atas jalan yang menuju ke perkemahan itu.

“Nah,” desis salah seorang petugas, “kalian dengar?”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. Sedang Agung Sedayu bertanya, “Suara apakah itu? “

Tidak seorang pun yang berani menjawab. Mereka saling berpandangan sambil memegang senjata masing-masing semakin erat. Tetapi ternyata bahwa tangan mereka menjadi gemetar.

“Suara apakah itu?” Agung Sedayu mengulangi. Wanakerti menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tidak men¬jawab.

Orang-orang di dalam gardu itu benar-benar seakan-akan tercekik. Tidak seorang pun yang berani mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan senjata-senjata di tangan mereka pun menjadi bergetar oleh gemetar tangan yang menggenggamnya.

Swandaru yang duduk tidak begitu jauh dari pintu segera melangkah untuk menjenguk keluar. Namun Wanakerti segera meloncat menariknya. “Jangan gila.”

“Aku ingin melihat,” desis Swandaru.

“Jangan gila,” Wanakerti mengulangi.

Sejenak Swandaru berdiri termangu-mangu. Dipandanginya wajah Agung Sedayu yang tegang, kemudian wajah gurunya yang termangu-mangu.

“Aku pemimpin para petugas di sini,” berkata seorang yang berkumis tebal, “kalian jangan membuat ribut. Kalian tidak boleh keluar dari tempat ini.”

Swandaru yang benar-benar bernafsu untuk melangkah ke luar gardu terpaksa mengurungkan niatnya karena gurunya mengge¬lengkan kepalanya, dan segera duduk kembali di tempatnya.

Sejenak kemudian suara gemerincing itu menjadi semakin nyata, seperti suara derap kuda itu pula.

“Dua ekor kuda,” Agung Sedayu berdesis.

“Sst,” pemimpin pengawas itu menempelkan jarinya di bibirnya.

Agung Sedayu menarik nafas. Namun ia mencoba mendengar suara apakah itu sebenarnya.

Dalam keheningan itulah ia mendengar suara itu berputar-putar sejenak mengelilingi gardu pengawas. Kemudian suara itu agak menjauh. Namun tidak seorang pun yang berhasil melihat apakah yang telah berbunyi seperti gemerincingnya genta-genta kecil itu. Di luar gelap malam menjadi semakin pekat, sedang di dalam gardu itu remang-remang cahaya pelita bergerak-gerak ditiup angin yang lemah.

Kini suara gemerincing itu bergerak di sekitar barak, kemudian menjauh dan berpindah di antara rumah-rumah yang sudah ter¬tutup rapat. Suara itu seolah-olah mengelilingi setiap rumah yang berpenghuni, yang berserakan sebelah-menyebelah lorong kecil dan di sepanjang daerah yang sudah dapat dihuni.

Suara itu berputaran beberapa saat lamanya. Sedang para petugas yang ada di dalam gardu itu pun duduk membeku di tem¬pat masing-masing. Keringat yang dingin menitik dari kening mereka yang basah.

Baru setelah beberapa lama, suara itu terdengar menjadi semakin jauh, semakin jauh dan akhirnya hilang.

Ketika malam kembali menjadi senyap, dan tidak lagi terdengar suara apa pun, para petugas itu menarik nafas dalam-dalam.

“Hem,” pemimpin petugas itu berdesah, “belum lagi sampai tengah malam, mereka sudah mulai berkeliaran.”

“Apakah yang lewat itu hantu-hantu yang menjadi pembicaraan?”

Pemimpin pengawas itu menganggukkan kepalanya, “Ya. Itulah sebabnya kami melarang kalian keluar.”

“Apakah mereka akan menyerang?”

“Kami tidak tahu. Tetapi seandainya mereka hanya menerkam orang-orang yang dilihatnya, kami tidak akan berkeberatan.”

“Lalu, kenapa Tuan menahan aku?” bertanya Swandaru.

“Aku masih sayang akan nyawamu. Kau orang baru di sini.”

“Apakah benar-benar sudah ada yang mati diterkamnya? “

“Mati belum. Tetapi seorang yang mencoba memberani¬kan diri melihat hantu itu, di pagi harinya ia mendadak menjadi sakit keras. Ia mengigau tidak berketentuan. Dan bahwa hantu yang dilihatnya itu sudah merasuk ke dalam tubuhnya. Dengan nada yang marah, hantu yang merasuk itu mengancam, bahwa siapa yang berani melihat hantu-hantu itu sekali lagi, maka tidak akan ada ampun. Nyawanyalah yang akan diambilnya.”

Kiai Gringsing dan kedua muridnya mengangguk-anggukkan ke¬palanya. Perlahan-lahan orang tua itu berdesis, “Aku mengucapkan terima kasih, bahwa Tuan telah mencegah anakku yang gemuk itu.”

“Tetapi hati-hatilah. Anak-anakmu agaknya anak-anak yang bengal. Jangan kau biarkan semuanya itu terjadi atas anak-anakmu itu.”

“Terima kasih, Tuan,” jawab Kiai Gringsing. Lalu, “Tetapi kini perkenankanlah kami minta diri. Kami akan segera kembali ke barak.”

“Kalian masih juga berani keluar?”

“Bukankah hantu itu sudah pergi?”

“Kalian memang orang-orang berani,” desis Wanakerti, “tetapi biarlah kalian tidur di sini. Kalian dapat tidur di atas tikar di sudut itu. Kami para pengawas harus bergantian tidur.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Di dalam hatinya ia bertanya, “Apakah sebenarnya yang mereka awasi?”

Tetapi yang diucapkannya adalah, “Kami akan memenuhi tempat yang sebenarnya dapat Tuan pakai di sini. Biarlah kami akan berjalan cepat-cepat ke barak itu.”

Pemimpin pengawas itu memandangi Kiai Gringsing dengan sorot mata keheranan. Namun kemudian ia berdesis, “Memang orang-orang baru biasanya masih belum mengenal takut. Baiklah. Tetapi kalau kalian mengalami sesuatu, cepat-cepat kembalilah kemari dan tidurlah di sini, di antara para pengawas.”

(bersambung)

About these ads

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 60 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: