Buku 138 (Seri II Jilid 38)

Orang berwajah muram itu menegang sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku mengerti. Pringgabaya adalah saudara seperguruanmu. Biarlah orang lain melakukannya. Tetapi untuk melakukan yang lain pun kau ternyata tidak mampu.”
“Apa?” geram Pringgajaya.
“Isi padepokan itu masih utuh. Orang-orang yang kau anggap akan dapat menyelesaikan mereka ternyata justru dihancurkan. Kau tidak akan dapat mengharap orang-orang Gunung Kendeng lagi,” berkata orang berwajah muram, “karena itu, aku tidak tahu, kewajiban apa lagi yang dapat aku berikan kepadamu.”
Wajah Pringgajaya menjadi merah. Tetapi ia masih menahan hatinya.
Dalam pada itu, maka orang-orang yang berada di dalam ruangan itu mulai saling menebak, siapakah yang akan mendapat tugas untuk melepaskan atau membunuh Ki Lurah Pringgabaya yang tertawan, yang menurut perhitungan mereka berada di Mataram.
Orang berwajah muram itu pun kemudian memandang berkeliling, seolah-olah sedang mencari orang yang paling tepat untuk melakukan tugas itu selain Pringgajaya.
Namun ternyata orang berwajah muram itu kemudian berkata, “Sebaiknya, pertama-tama kita menyelidiki lebih dahulu, apakah Pringgabaya benar-benar berada di Mataram. Dengan demikian, maka kita akan dapat mengatur langkah-langkah berikutnya.”
Orang-orang yang berada di dalam ruangan itu mengangguk-angguk. Mereka pada umumnya sependapat, bahwa akan menyelidiki lebih dahulu, apakah benar Pringgabaya berada di Mataram.
Sambil memandang seorang yang bertubuh kurus, maka orang berwajah muram itu berkata, “Kau dapat melakukan itu.”
Orang bertubuh kurus itu berkata, “Tentu aku tidak akan berkeberatan, apapun yang harus aku lakukan. Bahkan seandainya perintah itu berbunyi, melepaskan atau membunuhnya.”
“Apakah kau sanggup melakukan?” bertanya orang berwajah muram itu.
“Kenapa tidak? Aku mempunyai ikatan kesanggupan dan janji. Siapa pun yang menjadi sasaran. Saudara seperguruan atau saudara kandung sendiri. Bahkan seandainya sasaran itu ibu dan bapakku sendiri,” jawab orang bertubuh kurus itu, “karena itu, jatuhkan perintah yang tegas agar aku tidak harus berulang kali menunggu. Hanya orang-orang cengeng sajalah yang berkeberatan melakukannya, siapa pun orang yang harus dibunuh itu.”
Semua orang memandang orang bertubuh kurus itu. Namun kemudian mereka di luar sadar berpaling kepada orang yang duduk dengan gelisah, yang tidak mau lagi dipanggil dengan nama Pringgajaya.
Terasa telinga Ki Pringgajaya itu bagaikan disentuh api. Dengan nada tinggi ia berkata, “Aku tidak senang mendengar sindiran semacam itu.”
“Senang atau tidak senang,” jawab orang bertubuh kurus itu, “kelemahan semacam itu akan menjalar diantara kita. Apalagi jika tidak ada perintah yang tegas. Setiap keragu-raguan ternyata mendapat jalur jalan untuk menghindarinya.”
“Aku bukan bermaksud memanjakannya,” berkata orang berwajah muram itu, “tetapi aku memang meragukan kemampuannya.”
“Tepat,” desis orang bertubuh kurus, “ia tidak berhasil melakukan segala perintah yang diberikan kepadanya.”
“Gila!” geram orang yang semula bernama Ki Pringgajaya itu, “Kau sama sekali bukan seorang petugas yang teguh memegang janji. Jika kau bersedia melakukannya, karena kau mempunyai kepentingan pribadi.”
Orang bertubuh kurus itu mengerutkan keningnya. Sementara orang berwajah muram itu berkata, “Di sini kita tidak sempat berbicara tentang kepentingan pribadi.”
“Tentu kita akan berbicara tentang masalah yang besar yang sedang kita hadapi. Tetapi jika di antara masalah-masalah yang besar itu ada pamrih pribadi yang justru dengan sengaja diselipkan dalam tugas-tugas yang nampaknya besar dan agung, maka pamrih yang bersifat pribadi itu harus dibicarakan dalam hubungan keseluruhan dari tugas kita bersama,” sahut orang yang semula bernama Pringgajaya itu.
“Omong kosong!” orang bertubuh kurus itulah yang menggeram.
“Pamrih yang mana?” bertanya orang berwajah muram.
“Orang itu mempunyai pamrih. Ia akan dengan senang hati berusaha membunuh Pringgabaya, adik seperguruanku itu karena persoalan-persoalan pribadi. Bukan karena tugas yang harus dilaksanakan dalam hubungan kepentingan kita bersama.”
“Bohong, omong kosong!” orang bertubuh kurus itu hampir berteriak.
“Tunggu,” desis orang berwajah muram, “jangan berteriak. Ia belum mengatakan apa-apa. Biarlah ia mengucapkan tuduhannya. Baru kau dapat menangkisnya, atau kawan-kawan kita yang lain akan menjadi saksi, apakah yang dikatakan itu benar atau tidak.”
“Aku tidak mau mendengar fitnah yang paling keji itu,” geram orang bertubuh kurus, “atau aku harus membunuhnya sebelum aku membunuh Pringgabaya.”
“Kau terlalu sombong,” desis orang yang semula bernama Pringgajaya itu, “jika Pringgabaya masih bebas, kau tidak akan dapat membunuhnya dalam perang tanding. Aku adalah saudara tua seperguruannya. Karena itu, maka kau akan lebih banyak mengalami kesulitan membunuh aku, atau katakan setidak-tidaknya akan mengalami kesulitan yang sama jika kau menantang aku untuk berperang tanding.”
“Persetan!” jawab orang bertubuh kurus itu dengan penuh kemarahan, “Aku akan mencoba.”
“Jangan cepat menjadi gila,” potong orang berwajah muram,” katakan, kenapa kau dapat menuduh kawan kita itu mempunyai pamrih pribadi untuk membunuhnya.”
Orang bertubuh kurus itu hampir saja memotong, tetapi orang berwajah muram itu berkata, “Aku bertanya kepada orang yang semula bernama Pringgajaya itu.”
“Sebut namaku sekarang,” desis orang itu.
“Ya. Namamu sekarang Partasanjaya. He, bukankah begitu?” bertanya orang berwajah muram.
“Panggil dengan nama itu,” jawab orang yang semula bernama Pringgajaya tetapi yang kemudian memilih nama Partasanjaya setelah nama Pringgajaya dikuburnya bersama mayat orang lain, ”dan apakah kau masih ingin mendengar sesuatu tentang yang aku sebut dengan pamrih pribadi itu?”
“Aku bunuh kau!” bentak orang bertubuh kurus itu.
Tetapi orang berwajah muram itu berkata, “Katakan. Apakah sebenarnya keberatannya jika kau mengatakannya?”
“Ia berkeberatan justru karena yang aku katakan itu merupakan kebenaran,” desis orang yang kemudian menyebut dirinya Partasanjaya itu.
Orang berwajah muram itu mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya orang bertubuh kurus itu dengan tatapan mata kecurigaan. Namun kemudian katanya, “Kau harus berani mendengar tuduhan Ki Partasanjaya. Dan kau harus dapat membuktikan bahwa tuduhan itu sama sekali tidak benar.”
“Cara yang salah,” bantah orang bertubuh kurus, “ialah yang harus membuktikan bahwa tuduhannya itu benar. Bukan aku yang harus membuktikan.”
“Aku akan menentukan kemudian, siapakah yang harus membuktikan,” sahut orang berwajah muram itu. Kemudian, “katakan Ki Partasanjaya.”
“Gila! Kita berada dalam kumpulan orang-orang gila,” desis orang bertubuh kurus itu.
Tetapi orang yang berwajah muram itu sama sekali tidak menghiraukannya. Katanya kepada Ki Partasanjaya, “Cepat, katakan!”
Ki Partasanjaya bergeser setapak. Kemudian katanya, “Ia mempunyai kepentingan pribadi dengan Pringgabaya. Ia menginginkan kematian Pringgabaya, karena ia telah melakukan hubungan gelap dengan istri Pringgabaya.”
“He,” orang berwajah muram itu terkejut. Wajahnya menegang sejenak. Sementara orang bertubuh kurus itu hampir berteriak, “Tuduhan gila! Kau harus dapat membuktikan tuduhanmu.”
Ki Partasanjaya tersenyum. Katanya, “Tentu aku akan dapat membuktikan. Aku akan menunjukkan di mana rumah perempuan itu. Ia akan dapat berbicara.”
“Gila! Benar-benar gila!” geram orang bertubuh kurus.
“Apakah benar demikian?” bertanya orang berwajah muram.
“Fitnah. Orang itu ingin menjelekkan namaku,” jawab orang bertubuh kurus.
“Bagaimana jika perempuan itu aku panggil,” berkata yang berwajah muram.
“Tidak ada gunanya,” potong orang bertubuh kurus, “aku tidak akan ingkar. Tetapi aku tidak dapat dianggap bersalah, karena perempuan itu pun belum istri Pringgabaya.”
“Partasanjaya tersenyum. Wajahnya memancarkan kemenangan. Katanya, “Siapa pun perempuan itu, tetapi kau mempunyai satu kepentingan pribadi. Kematian Pringgabaya memang sedang kau siapkan. Ada atau tidak ada perintah.”
Wajah orang bertubuh kurus itu menjadi tegang. Sementara orang berwajah muram itu berkata, “Sampai hati kau merebut istri kawan sendiri?”
“Ia bukan istrinya,” orang bertubuh kurus itu hampir berteriak.
“Siapa pun perempuan itu, tetapi kau tengah memperebutkannya,” orang berwajah muram itu membentak.
Orang bertubuh kurus itu menggeretakkan giginya. Namun katanya kemudian, “Ya. Bukan aku merebutnya. Tetapi perempuan itu menerima kehadiranku di dalam hidupnya. Bukan salahku, jika ia menjadi jemu terhadap Pringgabaya. Tetapi Pringgabaya sama sekali tidak tahu diri dan memaksanya untuk tetap menerima kedatangannya.”
“Karena itu kau ingin membunuhnya?” bertanya orang berwajah muram.
Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menjawab tegas, “Ya. Aku akan membunuhnya, karena Pringgabaya juga mengancam akan membunuh aku. Ada atau tidak ada persoalan.”
“Dan kau akan mengorbankan perjuangan kita dalam keseluruhan karena seorang perempuan?” desak orang berwajah muram itu.
Orang bertubuh kurus itu tergagap. Namun katanya, “Aku sekedar membela diri. Pringgabayalah yang mengancam akan membunuhku lebih dahulu. Itu adalah satu kesalahan besar. Ia tidak dapat memaksa perasaan perempuan itu untuk tetap menerimanya. Perempuan itu memilih aku. Dan itu adalah haknya. Sementara mempertahankan hidupku pun adalah hakku.”
Orang berwajah muram itu menegang sejenak. Dipandanginya Partasanjaya sejenak. Kemudian katanya, “Bagaimana menurut pendapatmu Partasanjaya?”
“Ia tidak melakukan perjuangan dengan jujur,” jawab Partasanjaya, “menurut penilaianku, ia telah merebut istri orang lain. Dan orang lain itu adalah kawan sendiri. Sah atau tidak sah perkawinan Pringgabaya dengan perempuan itu, tetapi semula perempuan itu menerima kehadiran Pringgabaya di dalam hidupnya. Namun kedatangannya telah merusak hubungan itu. Ia berusaha untuk memancing persoalan. Akhirnya ia berhasil merebut hati perempuan itu, apapun caranya, dan apapun yang dijanjikannya.”
“Omong kosong!” bantah orang bertubuh kurus itu.
Tetapi orang berwajah muram itu membentak, “Aku yang akan mengambil kesimpulan dari pembicaraan ini.”
Orang bertubuh kurus itu memandang Partasanjaya dengan sorot mata yang menyala. Tetapi ia terdiam.
Namun tiba-tiba ruang itu diherankan oleh suara tertawa orang berwajah muram. Ia memang jarang-jarang tertawa. Tetapi kawan-kawannya telah mengenalnya dengan baik. Justru jika ia tertawa, ia akan mengambil satu keputusan yang mungkin akan terlalu berat untuk seseorang.
Katanya kemudian, “Aku telah menemukan satu penyelesaian yang paling baik. Dari dua orang laki-laki yang sudah saling mengancam untuk saling membunuh, seorang di antaranya memang harus mati. Karena itu, maka salah seorang dari kedua laki-laki itu harus mati. Tanpa mengorbankan perjuangan kita dalam keseluruhan, justru akan dapat memberikan keuntungan dan keselamatan bagi kita semuanya, maka Pringgabayalah yang sebaiknya dikorbankan.”
“Gila,” Partasanjaya meloncat berdiri. Wajahnya membara sementara giginya gemeretak menahan gelora jantungnya.
Tetapi orang berwajah muram itu tetap tenang saja di tempatnya. Bahkan seolah-olah ia sama sekali tidak mengacuhkannya.
“Itu tidak adil!” geram Partasanjaya.
“Itu adalah tindakan yang paling adil yang dapat aku lakukan,” desis orang berwajah muram itu, “bukankah itu lebih baik daripada aku memerintahkanmu? Kau adalah saudara seperguruannya. Mungkin kau akan berusaha sekuat tenagamu untuk melepaskannya. Tetapi jika kau gagal, kau merasa berkeberatan untuk membunuhnya. Kau minta aku menugaskan orang lain. Dan aku sudah melakukannya. Jangan cepat menjadi gelisah. Jika Pringgabaya ternyata tidak berada di Mataram, maka kita akan mengambil langkah-langkah lain. Atau barangkali Pringgabaya justru sudah mati di hutan itu.”
Partasanjaya yang pernah bernama Pringgajaya itu menggeretakkan giginya. Katanya, “Persoalannya bukan pada kematian Pringgabaya. Tetapi perintah untuk membunuhnya dengan dasar-dasar yang tidak adil itu sangat menyakitkan hati. Perintah membunuhnya itu sendiri tidak pernah aku sesalkan Tetapi bahwa dalam persoalan perempuan itu, seolah-olah Pringgabayalah yang bersalah. Orang yang merebut perempuan itu dari padanya, justru telah mendapat perlindungan dan dianggap satu langkah kebenaran.”
Orang berwajah muram itu tersenyum. Senyum aneh. Katanya, “Kau memang seorang laki-laki yang pilih tanding. Tetapi ternyata kau adalah seorang laki-laki cengeng dan perasa. Sebaiknya kau tidak usah merajuk begitu. Masih banyak yang harus kita lakukan. Dan kau masih akan mendapat tugas yang cukup berat. Tugas yang sampai saat ini tidak dapat kau selesaikan. Adik seperguruanmu itu pun tidak dapat menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya. Kau tidak berhasil membunuh Agung Sedayu dan Sabungsari, sementara Pringgabaya tidak mampu membunuh Swandaru, istri dan adik perempuannya, yang merupakan tenaga penggerak yang tiada taranya bagi Sangkal Putung,” orang berwajah muram itu berhenti sejenak, lalu, “yang kita lakukan bukan sekedar dendam semata-mata. Tetapi sudah mencakup perhitungan yang masak. Sangkal Putung harus dibersihkan. Padahal ketiga orang itu telah berhasil membentuk Sangkal Putung seperti sebuah benteng yang sangat kuat. Pengawal kademangan itu mendapat latihan dengan teratur, melampaui keteraturan pada latihan-latihan bagi para prajurit. Karena itu, maka para pengawal di Kademangan Sangkal Putung itu mempunyai kemampuan seperti kemampuan seorang prajurit. Bahakan beberapa orang terpilih di antara mereka, ternyata memiliki kemampuan khusus yang langsung diterimanya dari salah seorang di antara ketiga orang itu.”
“Kau hanya dapat menunjuk kelemahan dan kegagalan seseorang tanpa melihat segi-segi lain yang mungkin menyebabkan kegagalan itu tanpa dapat di atasi oleh siapa pun,” gumam Partasanjaya.
“Aku hanya menilai hasil terakhir dari setiap tugas yang dibebankan kepada kita masing-masing,” jawab orang berwajah muram itu, “mungkin Pringgabaya mengatakan sesuatu yang dapat dipakainya sebagai alasan. Kau pun dapat menyebutnya. Tetapi kami memerlukan bukti keberhasilan seseorang yang mendapat tugas.”
Partasanjaya menarik nafas dalam-dalam Sementara orang berwajah muram itu berkata, “Atas nama Kakang Panji, aku sudah memerintahkan untuk menyelidiki keadaan Pringgabaya. Jika benar ia berada di Mataram, maka ia harus dilepaskan atau dibunuh sama sekali. Sebenarnyalah bahwa nampaknya mustahil untuk dapat membawanya keluar dari tempatnya di Mataram jika benar ia tertawan. Maka jalan lain itulah yang agaknya lebih baik dapat ditempuh.”
“Tidak ada gunanya,” geram Pringgajaya yang kemudian bernama Partasanjaya, “coba kita menilai langkah kita dengan nalar. Jika Pringgabaya tidak tabah, maka ia tentu sudah menceritakan apa yang dimengertinya tentang kita. Jika sampai hari ini ia tidak mengatakan apa-apa, itu berarti bahwa ia akan tetap bungkam sampai kapan pun.”
Tetapi orang berwajah muram itu menggeleng. Katanya, “Ada keterbatasan pada seseorang. Mungkin dalam waktu sepekan, dua pekan, bahkan mungkin sampai satu bulan seseorang dapat bertahan mengalami tekanan lahir dan batin. Tetapi pada saatnya ia akan kehilangan daya tahannya. Mungkin dalam ketidaksadaran, sesuatu akan dapat terjadi. Nah, sebelum hal itu terjadi, maka kita harus membebaskannya dari penderitaan itu. Mungkin dengan membawanya keluar, tetapi mungkin dengan membunuhnya sekali.”
“Tetapi dengan tugas yang kau berikan kepada orang yang mempunyai pamrih itu, maka hanya akan ada satu kemungkinan saja yang dapat terjadi atasnya,” jawab Partasanjaya.
“Jangan membuat aku kehilangan kesabaran,” berkata orang berwajah muram, “aku mengemban tugas besar dalam keseluruhan. Dan yang keseluruhan bagiku itu hanya sebagian saja dari keseluruhan perjuangan Kakang Panji. Karena itu jangan mengganggu. Jangan menghambat dan jangan menghalang-halangi. Aku akan dapat mengambil keputusan lain. Memerintahkan kau melakukan tugas itu misalnya, dengan akibat yang mungkin tidak kau senangi.”
Ki Partasanjaya menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia ingin mengendapkan hatinya yang bergejolak sampai ke ubun-ubun.
“Kita tidak mempunyai persoalan lagi,” berkata orang berwajah muram, “perintah bagi Partasanjaya masih tetap harus dilakukan. Membinasakan isi padepokan kecil itu. Emas masih tetap disediakan jika diperlukan. Bahkan ia masih diberi kesempatan untuk melakukan hubungan dengan pihak mana pun juga yang dapat memberikan keuntungan dengan imbalan emas. Sementara tugas Pringgabaya untuk membinasakan anak-anak Sangkal Putung itu akan dibicarakan. Mungkin tugas itu akan dialihkan kepada orang yang akan membunuhnya di bilik tahanannya. Dengan demikian, maka jalan dari Pajang ke Mataram akan bertambah licin. Sementara ternyata Tanah Perdikan Menoreh pun perlu mendapat perhatian. Tetapi itu bukan tugas kita di sini. Ada orang lain yang mendapat tugas untuk itu.”
Ki Pringgabaya yang kemudian bernama Partasanjaya itu tidak menjawab lagi. Betapa pun hatinya bergejolak melihat orang bertubuh kurus itu menggenggam tugas yang sejalan dengan kepentingan sendiri, namun ia tidak dapat mencegahnya.
“Mudah-mudahan Pringgabaya tidak berada di Mataram. Lebih baik ia sudah mati di hutan itu, atau sempat melarikan diri. Jika ia sempat berhadapan dengan orang gila itu, maka ia masih mempunyai kemungkinan untuk tidak dibunuh, tetapi membunuhnya,” berkata Ki Partasanjaya di dalam hatinya.
Dalam pada itu, maka orang berwajah muram itu pun berkata, “Kita akan mengakhiri pertemuan ini. Tetapi semua perintah harus di jalankan sebaik-baiknya. Semakin cepat semakin baik, karena pada satu saat yang tidak kita ketahui, Kakang Panji akan mengadakan penilaian atas semuanya yang kita lakukan. Juga penilaian atas kita semuanya,” ia berhenti sejenak, lalu, “laksanakan tugas kalian baik-baik. Juga tugas Partasanjaya. Kau sudah dibebaskan dari Untara oleh Prabadaru.
Sementara Kakang Panji sedang merintis satu kesempatan untuk mengadakan pertemuan besar dari beberapa orang terpenting. Mungkin kalian tidak akan serta dalam pertemuan itu. Aku pun mungkin tidak. Tetapi segala keputusan akan mengalir kepada kita untuk dilaksanakan. Kakang Panji tidak ingin lagi mengadakan persiapan besar dengan pameran kekuatan sebelum segala-galanya siap, karena hal yang sama dalam takaran kecil telah gagal sama sekali di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu karena pokal Mataram.”
Orang-orang yang ada di ruang itu pun mengangguk-angguk. Mereka pun mengetahui, bahwa pertemuan antara orang-orang kuat bersama pasukannya tidak menghasilkan apa-apa, karena justru timbul kecurigaan di antara mereka. Dengan tumpuan pusaka-pusaka tertinggi yang sudah berada di Mataram, pertemuan serupa itu pun masih diwarnai oleh kecurigaan dan bahkan pamrih pribadi.
Karena itu, maka sikap orang-orang terpenting yang berada di Pajang dan sekitarnya pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka cenderung untuk mencari cara yang paling baik, untuk membenturkan kekuatan Pajang dan Mataram. Kedua-duanya akan hancur sama sekali, sehingga akan tumbuh kekuatan baru di atas reruntuhan itu.
Orang bertubuh kurus yang mendapat tugas menyelidiki kemungkinan tertawannya Ki Pringgabaya ke Mataram itu pun kemudian meninggalkan bilik itu pula. Dengan dada tengadah ia menuruni pendapa rumah yang tersembunyi dari penglihatan para petugas yang sebenarnya dari Pajang dan Mataram.
Dengan tergesa-gesa ia mengambil kudanya di halaman samping.
Langkahnya tertegun ketika ia mendengar seseorang memanggilnya, “Ki Tandabaya.”
Orang bertubuh kurus itu berpaling. Dilihatnya seorang bertubuh sedang berwajah keras seperti batu padas.
“He, kau masih di situ?” bertanya orang bertubuh kurus yang bernama Tandabaya itu.
Orang yang memanggilnya melangkah mendekat.
“Aku kira kau sudah pergi, Dugul?” bertanya Tandabaya.
“Aku masih menunggumu Ki Tandabaya. Mungkin ada perintah yang harus segera kita lakukan,” jawab Dugul.
Orang bertubuh sedang dan bernama Tandabaya itu menggeleng. Katanya, “Bukan perintah yang tergesa-gesa. Kita dapat melakukannya untuk waktu yang cukup.”
“Sekarang?” bertanya Dugul.
“Kita pulang. Kita masih sempat makan dan minum semalam suntuk. Memanggil kawan-kawan untuk beramai-ramai dengan gamelan,” jawab Tandabaya.
Orang yang bernama Dugul itu mengangguk-angguk. Lalu, “Aku ikut pulang.”
Dugul pun kemudian mengambil kudanya. Ketika keduanya melintasi halaman di muka pendapa, Tandabaya tersenyum melihat Ki Pringgajaya yang kemudian bernama Partasanjaya.
“Marilah orang baru. Kau ternyata lebih beruntung dari adik seperguruanmu. Jika kau masih sempat mengubur namamu saja, maka agaknya Pringgabaya benar-benar harus dikubur bersama tubuhnya,” berkata Tandabaya di antara senyumnya.
“Mudah-mudahan kau berhasil,” jawab Partasanjaya dengan nada yang aneh di telinga Tandabaya. Sama sekali tidak berkesan kemarahan dan apalagi dendam.
“Gila!” pikir Tandabaya, “Perubahan apa yang sudah terjadi di dalam dirinya. Begitu cepatnya ia nampak berubah sikap.”
Apalagi ketika ia melihat Ki Partasanjaya itu tersenyum. Namun orang itu pun kemudian tidak menghiraukannya lagi.
“Permainan gila,” geram Tandabaya, “tentu ia pun mengharap Pringgabaya mati. Perempuan itu nampaknya menarik perhatiannya pula.”
Tetapi Tandabaya kemudian menghentak tali kekang kudanya. Kuda itu pun kemudian berderap meninggalkan halaman diikuti oleh seorang penunggang kuda yang bernama Dugul itu.
“Apakah kita tidak mendapat perintah apapun juga?” bertanya Dugul di perjalanan.
“Ada,” jawab Tandabaya, “nanti kita berbicara. Aku memerlukan beberapa orang kawan yang lain.”
Dugul tidak bertanya lagi. Ia pun mengerti bahwa tugas yang dibebankan kepada Ki Tandabaya itu tentu bukan tugas yang dapat dikatakannya di sepanjang jalan.
Sepeninggal Tandabaya, Ki Pringgajaya yang kemudian bernama Partasanjaya itu pun mengambil kudanya pula. Dengan pakaian seorang petani dan duduk di atas seekor kuda yang berpelana sederhana, meskipun kudanya cukup tegar, ia meninggalkan tempat itu.
“Tandabaya memang gila,” katanya kepada diri sendiri. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil bergumam, “Ia pun harus kecewa karena perempuan itu tidak akan setia kepadanya.”
Namun Partasanjaya tidak segera berniat berbuat sesuatu. Ia harus mempertimbangkan beberapa hal di antara lingkungannya. Bahkan ia tidak dapat menyembunyikan kecemasan tentang keberangkatan Tandabaya menjalankan tugasnya.
Ada dua masalah yang mencemaskannya dengan keberangkatan Tandabaya. Yang pertama adalah kematian Pringgabaya. Jika Tandabaya benar-benar menemukan Pringgabaya di Mataram, maka ia tentu lebih senang membunuhnya daripada berusaha membebaskannya. Sedang yang kedua, ia lebih percaya kepada Pringgabaya daripada kepada Tandabaya. Jika bencana itu terjadi, justru Tandabaya tertangkap, maka ia tidak akan dapat bertahan lebih lama dan lebih baik dari Pringgabaya. Pringgabaya agaknya akan bertahan dengan sikap diamnya, tetapi Tandabaya tidak. Sedangkan Tandabaya tahu pasti tentang dirinya. Tentang Pringgajaya yang telah mengubur namanya dan menggantinya dengan Partasanjaya.
Karena itu, maka Partasanjaya itu pun harus bersiap-siap jika sesuatu yang dicemaskannya itu terjadi. Mataram adalah satu tempat yang sangat gawat. Jika Tandabaya memasukinya, maka kesempatan untuk keluar tinggal separuh. Sedangkan separuh kemungkinan lagi, ia akan tertangkap.
“Persetan!” geram Partasanjaya, “Aku masih mempunyai kerja yang lebih penting dari mengamati Tandabaya. Sementara aku menunggu hasil perjalanannya, aku dapat berbuat sesuatu atas isi padepokan itu. Tetapi tentu aku tidak bersalah, jika sekali-sekali aku menengok perempuan yang dikatakan oleh Tandabaya bukan istri Pringgabaya itu.”
Partasanjaya tertegun ketika ia mendengar seseorang melangkah di belakangnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya orang berwajah muram itu berdiri tegak sambil memandanginya dengan tajamnya.
“Kau jangan mengganggu tugas Tandabaya!” berkata orang berwajah muram itu.
Wajah Partasanjaya menegang. Selangkah ia mendekat sambil bertanya, “Kenapa kau berkata begitu?”
“Nampaknya kau tidak ikhlas dengan keputusanku,” jawab orang berwajah muram itu.
“Apakah kau pernah melihat aku berbuat demikian?“ bertanya Partasanjaya pula.
“Segala kemungkinan dapat terjadi karena kekecewaan. Tetapi ingat, kau jangan bermain-main dengan kami,” orang itu memperingatkan.
“Kau jangan membuat perkara,” geram Partasanjaya, “aku bukan kanak-kanak lagi. Aku berada di lingkungan ini dengan penuh kesadaran bahwa kemungkinan-kemungkinan yang tidak terduga-duga dapat terjadi. Juga aku pun menyadari bahwa pemanfaatan kedudukan dan hubungan pribadi antara kita seorang demi seorang akan dapat mempengaruhi segala macam keputusan. Tetapi aku sudah meletakkan dasar perjuanganku. Dan kau jangan mengada-ada.”
Orang berwajah muram itu menegang. Dengan nada berat ia berkata, “Kau harus tetap menyadari pula urutan kekuasaan yang ada di antara kita.”
“Aku mengerti. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita dapat mengorbankan perjuangan ini bagi kepentingan seseorang hanya karena urutan kekuasaan dan wewenang,” jawab Partasanjaya, “kau pun harus ingat, bahwa orang terpenting di antara kita akan dapat menilai kita masing-masing atas pertimbangan-pertimbangan yang wajar. Bukan sekedar atas urutan wewenang. Sebagaimana kegagalanku menyelesaikan penghuni padepokan itu. Ternyata kegagalan itu dapat dimengerti.
Bahkan Tumenggung Prabadaru telah bersedia menghapus jejakku dari antara pasukan Pajang di Jati Anom yang dipimpin oleh anak muda yang tidak memiliki pandangan jauh itu.”
“Banyak pertimbangan yang memaksa mereka mengambil sikap itu. Kenapa kau harus dinyatakan mati dengan mengorbankan orang dungu yang tidak berguna sama sekali itu,” jawab orang berwajah muram itu, “karena itu kau jangan salah paham. Jangan merasa dirimu terlalu penting.”
“Tidak. Aku memang tidak merasa demikian. Tetapi ada cara lain yang dapat dipergunakan untuk memutuskan jejak dan sebagai hukuman atas kegagalanku. Kenapa kau perhitungkan. Aku tidak akan melangkahi urutan wewenang. Tetapi kau pun jangan menjadi takabur.”
Orang berwajah muram itu menjadi semakin tegang. Namun nampaknya Ki Partasanjaya tidak ingin melayaninya lebih lama lagi. Ia pun kemudian melangkah mengambil kudanya yang diikatkannya di halaman samping, di belakang seketheng.
Sejenak kemudian terdengar kudanya berderap meninggalkan halaman rumah yang tersembunyi dari pengamatan beberapa pihak di Pajang dan Mataram.
Orang berwajah muram itu tidak dapat berbuat banyak atas Ki Pringgajaya yang kemudian bernama Partasanjaya itu. Bukan saja karena orang itu memiliki kemampuan yang disegani. Tetapi ia pun termasuk orang-orang yang diperlukan karena pengetahuannya yang cukup luas mengenai masalah-masalah keprajuritan. Agak berbeda dengan adik seperguruannya. Ia adalah seorang yang mempunyai ilmu setingkat dengan Pringgajaya. Tetapi pengetahuannya dan pengaruhnya tidak sebesar Pringgajaya yang kemudian bernama Partasanjaya itu.
Tetapi orang berwajah muram itu pun tidak mengabaikan kemungkinan, bahwa Partasanjaya akan berusaha menurut caranya, untuk membebaskan adik seperguruannya. Khususnya dari perintah untuk membunuhnya saja jika ia gagal mendapat pertolongan untuk dibebaskan.
“Tetapi ia tidak akan sempat berbicara dengan Kakang Panji,” gumam orang berwajah muram itu.
Meskipun demikian, ia tidak dapat mengabaikan nama-nama Tumenggung Prabadaru dan Tumenggung Giripura dan beberapa orang lain di lingkungan keprajuritan Pajang.
Partasanjaya yang semula bernama Ki Pringgajaya itu memang ingin membicarakan masalah itu dengan Tumenggung Prabadaru. Seorang Tumenggung yang agaknya dapat mengerti persoalan yang dihadapinya dan mempunyai perhatian yang besar terhadapnya.
“Mungkin aku akan dapat berbicara tentang adik seperguruanku itu,” berkata Ki Pringgajaya yang sudah beralih nama itu.
Tetapi Ki Partasanjaya tidak dapat segera pergi ke rumah Ki Tumenggung Prabadaru. Ia harus menyesuaikan waktu, karena orang tentu masih ada yang mengenalinya meskipun ia berusaha untuk menyamar wajah dan pakaiannya.
Karena itulah, maka Partasanjaya itu menunggu senja turun di atas Pajang. Dalam keremangan ujung malam, Partasanjaya dalam pakaian orang kebanyakan berjalan menyusuri jalan yang sudah meremang menuju ke rumah Ki Tumenggung Prabadaru.
Kedatangan Partasanjaya memang mengejutkan. Untuk menghilangkan kecurigaan orang-orang di rumahnya, maka Partasanjaya yang memakai pakaian orang kebanyakan itu pun telah diterima di serambi samping.
“Apakah ada yang penting?” bertanya Tumenggung Prabadaru.
Ki Partasanjaya memandang berkeliling. Sebelum ia bertanya, Tumenggung Prabadaru sudah mendahuluinya,” Katakan! Tidak ada orang yang dapat mendengar pembicaraan kita, asal kau tidak berteriak.”
Partasanjaya beringsut sejenak. Katanya kemudian, “Aku datang dari sebuah pertemuan dengan Ki Racik.”
“Racik yang berwajah gelap seperti wajah kuburan itu?” bertanya Tumenggung Prabadaru.
“Ya,” jawab Partasanjaya.
“Aku tahu. Ia mendapat wewenang cukup dari Kakang Panji,” desis Tumenggung Prabadaru, “ia tentu berbicara tentang laporan terakhir, bahwa adik seperguruanmu tidak kembali pada saat yang dianggap cukup. Apalagi beberapa orang melihat, Pringgabaya terlibat dalam pertempuran yang sulit. Justru seorang diri.”
“Ya. Orang-orang dungu itu sama sekali tidak berusaha membantunya. Mereka telah meninggalkan Pringgabaya sendiri dalam kesulitan,” jawab Partasanjaya.
“Orang-orang itu memang tidak diwajibkan untuk bekerja bersama dengan Ki Lurah Pringgabaya. Tetapi bukan berarti bahwa mereka tidak boleh membantunya,” jawab Prabadaru. Lalu, “Aku sudah mendengar laporan itu. Aku pun tahu, apakah jawab Raden Sutawijaya atas nawala yang diberikan kepadanya. Agaknya ia mengetahui, bahwa nawala itu tidak berasal dari ayahanda angkatnya.”
Partasanjaya mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata, “Ki Tumenggung. Apakah menurut perhitungan Ki Tumenggung, Pringgabaya itu jatuh ke tangan Senapati Ing Ngalaga?”
Ki Tumenggung mengerutkan keningnya. Katanya, “Kemungkinan terbesar memang demikian.”
Partasanjaya pun kemudian mengatakan, “Keputusan apakah yang sudah diambil oleh orang berwajah muram itu terhadap Pringgabaya?”
“Jika ia tidak mungkin dibebaskan, maka ia harus mati,” berkata Partasanjaya.
“Keputusan yang terlalu umum di dalam hubungan peristiwa seperti ini,” berkata Ki Tumenggung Prabadaru.
“Ya. Tetapi cara Ki Racik memilih orang yang ditugaskan untuk melakukan hal itulah yang tidak adil,” berkata Ki Partasanjaya.
“Kenapa?” bertanya Tumenggung Prabadaru.
Partasanjaya pun kemudian menceritakan alasan yang tidak imbang dari orang yang ditugaskan oleh Ki Racik menyelesaikan masalah Ki Pringgabaya di Mataram, apabila benar ia berada di sana.
Ki Tumenggung mendengarkan keterangan Partasanjaya itu dengan seksama. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Partasanjaya. Sebenarnya Ki Partasanjaya tidak dapat menuduh Ki Racik itu tidak adil.”
“Ia memanfaatkan kepentingan pribadi seseorang untuk menyelesaikan tugas ini. Dan kita tahu, bahwa sikap yang diambil oleh Tandabaya itu tentu berat sebelah, la tidak akan berusaha membebaskan Ki Pringgabaya. Tetapi ia lebih senang membunuhnya, meskipun seandainya kesempatan untuk membebaskan itu ada,” jawab Ki Partasanjaya.
“Tetapi ia sudah memberi kesempatan kepadamu, meskipun kau pun akan dapat memanfaatkan hubungan antara saudara seperguruan. Jika kau bersedia melakukannya, maka kau tentu akan berusaha jauh lebih baik dari Tandabaya, karena kau tentu tidak akan sampai hati untuk membunuhnya. Mungkin kau akan melakukan usaha berlipat dari jika usaha itu kau lakukan untuk kepentingan orang lain,” sahut Tumenggung Prabadaru.
Wajah Ki Pringgajaya yang kemudian bernama Partasanjaya itu menjadi tegang. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Tumenggung. Mungkin tanggapan Ki Tumenggung itu benar. Tetapi aku mempunyai keyakinan, bahwa Pringgabaya tidak akan berkhianat. Meskipun ia mengalami apapun juga di dalam bilik tawanan, tetapi ia akan tetap pada sikapnya sebagai seorang prajurit yang baik.
“Karena itu, sebenarnya keputusan untuk membunuhnya itu tidak perlu. Betapa pun sulit dan memerlukan waktu, sebaiknya usaha membebaskannya itulah yang harus dilakukan.”
“Aku tidak yakin!” jawab Ki Tumenggung Prabadaru, “Seseorang mungkin akan dapat bertahan. Tetapi untuk batas waktu tertentu. Sementara itu, orang-orang di Mataram, bukan orang yang tidak mempunyai akal untuk memancing keterangan dari Pringgabaya. Mungkin dengan kasar. Tetapi mungkin dengan sikap yang justru sebaliknya.”
Partasanjaya menggeretakkan giginya. Seolah-olah ia sudah tidak mempunyai cara apapun untuk membebaskan adik seperguruannya. Namun ia pun tidak dapat ingkar, bahwa kemungkinan yang demikian itu memang dapat saja terjadi atas siapa pun. Mungkin atas dirinya pula pada suatu saat. Bukan saja namanya yang dikubur. Tetapi benar-benar dengan tubuhnya.
Namun agaknya Ki Tumenggung Prabadaru tidak membiarkannya dibakar oleh kegelisahan. Karena itu, maka katanya kemudian, “Meskipun demikian Partasanjaya, aku akan memperingatkan Ki Racik, agar ia memerintahkan kepada Tandabaya untuk berusaha membebaskan Pringgabaya sejauh dapat dilakukan.”
Partasanjaya tidak menjawab. Agaknya pernyataan itulah yang paling mungkin didapatkannya dalam hubungannya dengan adik seperguruannya. Ia pun harus mulai merasa, bahwa dirinya bukan lagi Pringgajaya yang sangat diperlukan. Kegagalannya di Jati Anom membuat orang-orang yang semula mempercayainya dengan sepenuh hati, menjadi kecewa. Adalah satu keuntungan, bahwa Tumenggung Prabadaru mendapat akal untuk membebaskannya dari tangan Untara. Meskipun secara pribadi mungkin Untara tidak dapat mengalahkan Partasanjaya, tetapi dengan kekuasaannya ia akan dapat menangkap Pringgajaya dan memeras keterangan dari mulutnya.
Tetapi ternyata yang hilang dari lingkungan mereka adalah justru Pringgabaya.
“Mudah-mudahan ia tidak ditemukan di Mataram. Lebih baik ia mati dalam pertempuran di dekat Sangkal Putung itu, atau mengalami nasib yang lain dari pada ditangkap oleh orang Mataram,” berkata Partasanjaya di dalam hatinya.
Setelah sekali lagi Ki Tumenggung Prabadaru menyatakan ke-sanggupannya untuk menghubungi Ki Racik, maka Ki Partasanjaya pun kemudian minta diri dari rumah Ki Tumenggung.
Sebenarnyalah, bahwa Ki Tumenggung Prabadaru pun kemudian menghubungi Ki Racik untuk menyampaikan pesannya, agar Tandabaya tidak menyalah gunakan tugasnya untuk kepentingan pribadi.
Pesan itu merupakan satu pertanda, bahwa Partasanjaya telah melibatkan Tumenggung Prabadaru ke dalam masalah yang sedang dihadapinya. Betapa pun ia merasa tersinggung, tetapi ia tidak dapat mengabaikan pesan itu.
Tetapi tanggapan Tandabaya sendiri ternyata jauh berbeda dengan sikap Ki Racik. Ketika ia mendengar pesan itu dari seorang pesuruh Ki Racik yang menemuinya, maka ia pun menyatakan kesediaannya. Tetapi demikian orang itu pergi, maka terdengar ia tertawa terbahak-bahak.
“Ada apa?” bertanya Dugul.
“Ki Racik memang aneh,” jawab Tandabaya, “ia begitu mudah di pengaruhi oleh Pringgajaya yang kemudian bernama Partasanjaya itu. Tetapi aku tidak peduli. Kita semuanya tidak memerlukan Pringgabaya lagi. Ia harus dibunuh sebelum ia membuka rahasia yang tersembunyi di sekitar kita. Bahkan seharusnya Pringgajaya itu pun mengerti, jika Pringgabaya tidak dibungkam untuk selamanya, pada suatu saat ia akan mengatakan pula, bahwa sebenarnyalah Pringgajaya masih hidup dan bernama Partasanjaya.”
Dugul mengangguk-angguk. Dengan nada tinggi ia berkata, “Pringgajaya memang dungu. Tetapi, bagaimana kita mengetahui bahwa Pringgabaya benar-benar berada di Mataram.”
“Kita akan memasang jaring-jaring. Untuk mengetahui hal itu nampaknya tidak begitu sulit. Jika benar Pringgabaya tertangkap, maka aku kira namanya akan banyak disebut-sebut oleh para prajurit atau pengawal di Mataram,” berkata Tandabaya.
“Jika kita sudah mengetahui bahwa ia berada di Mataram?” bertanya Dugul.
“Kau memang dungu. Tentu aku belum dapat mengatakan apa-apa sekarang,” jawab Tandabaya, “tetapi sudah pasti bahwa kita akan mencari tempat penyimpanannya. Kemudian datang ke tempat itu dengan alat pembunuh yang paling baik.”
“Apa?” bertanya Dugul.
“Bodoh! Kita akan menunggu sampai kita mengetahui dengan pasti keadaannya. Mungkin kita dapat mempergunakan beberapa ekor ular berbisa. Mungkin dengan senjata kecil beracun atau apapun juga,” jawab Tandabaya, “tetapi mungkin aku akan mengumpankanmu pula.”
“Ah,” desah Dugul.
Tandabaya tertawa. Katanya, “Jangan ributkan sekarang. Kita akan menyuruh dua tiga orang untuk mengetahui apakah Pringgabaya memang berada di Mataram. Itu bukan pekerjaan yang sulit.”
Dugul mengangguk-angguk. Betapa pun dungunya, tetapi ia dapat membayangkan bahwa mencari keterangan tentang hal itu memang tidak terlalu sulit. Tertangkapnya seorang yang mempunyai pengaruh seperti Ki Lurah Pringgabaya itu tentu akan diketahui oleh banyak pengawal. Mereka tentu tidak akan dengan tertib merahasiakannya, jika hal itu memang dianggap sebagai satu rahasia. Tentu ada satu dua mulut yang berbicara tentang tawanan itu dan menyebut namanya.
Seperti yang direncanakan, maka Ki Tandabaya lewat seorang kepercayaannya telah memerintahkan dua orang untuk mencari keterangan ke Mataram. Dua orang yang menyatakan kesediaan mereka, karena mereka memang mempunyai sanak kadang di Mataram.
Dengan bekal uang yang cukup dan janji yang mengikat, maka kedua orang itu pun telah pergi ke Mataram.
Seperti yang diduga, memang tidak sulit untuk mengetahui, apakah Ki Pringgabaya memang berada di Mataram. Bahkan rasa-rasanya hal itu sama sekali tidak dirahasiakannya. Baru dua hari dua orang itu berada di Mataram, maka mereka sudah mendengar dari dua orang pengawal yang dengan sengaja dijumpainya di sebuah kedai, ketika keduanya sedang tidak bertugas.
“Mereka selalu datang kemari,” berkata pemilik warung itu.
Kedua orang petugas Ki Tandabaya itu mengangguk-angguk. Dengan acuh tidak acuh salah seorang dari mereka bertanya, “Kau juga pernah mendengar nama Pringgabaya seperti yang dikatakannya itu?”
“Sekali-sekali ia memang pernah mengatakan seperti yang baru saja dikatakannya. Di dalam dinding halaman rumah Senapati Ing Ngalaga ada seorang tawanan khusus. Namanya Ki Lurah Pringgabaya,” jawab pemilik kedai itu.
“Siapa orang itu?” bertanya salah seorang dari kedua petugas itu.
“Ah, tentu aku tidak tahu. Hanya nama itulah yang pernah aku dengar,” jawab pemilik warung itu.
Kedua orang yang ditugaskan oleh Ki Tandabaya itu mengangguk-angguk. Mereka pun mengerti, bahwa pemilik warung itu tentu tidak akan tahu terlalu banyak. Jika ia mendengar nama orang yang tertawan itu, tentu karena satu dua orang pengawal yang makan di kedainya pernah berbicara tentang tawanan itu.
Namun keterangan itu sudah cukup bagi mereka. Jika mereka sempat, maka mereka akan dapat mencari keterangan yang lebih jelas. Jika tidak, maka keterangan yang didengarnya itu sudah cukup bagi mereka untuk disampaikan kepada Ki Tandabaya.
Meskipun demikian keduanya masih tinggal beberapa lama di Mataram. Ternyata seperti saat mereka berada di kedai itu, mereka pun mendengar hal yang serupa dari orang lain. Bahkan saudaranya yang tinggal di Mataram, telah mempertemukannya dengan seorang pengawal yang telah dikenalnya dengan baik.
“Ya,” jawab pengawal itu ketika kepadanya ditanyakan, apakah ada seorang tawanan yang bernama Ki Pringgabaya. Katanya selanjutnya, “Orang menyebutnya Ki Lurah Pringgabaya.”
“Kenapa ia ditawan?” bertanya salah seorang dari kedua orang yang ditugaskan oleh Ki Tandabaya.
Pengawal itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu. Tidak seorang pun yang tahu kecuali Senapati Ing Ngalaga. Mungkin Ki Juru dan satu dua orang Senapati. Yang lain, sama sekali tidak mengetahui alasan penahanan itu.
“Bukankah Ki Lurah Pringgabaya itu prajurit Pajang?” bertanya pengikut Ki Tandabaya itu.
“Ya. Tetapi agaknya ia telah melakukan kesalahan di telatah kekuasaan Senapati Ing Ngalaga di Mataram,” jawab pengawal itu.
Kedua orang petugas yang dikirim oleh Ki Tandabaya itu tidak bertanya lebih banyak lagi. Tugas mereka adalah mengetahui kebenaran dugaan, apakah Ki Pringgabaya ada di Mataram atau tidak. Jika tugas itu sudah diselesaikan dengan baik, maka itu sudah cukup. Mereka sudah berhak menerima upah yang dijanjikan dan menyimpan harapan-harapan bagi masa depan, jika perjuangan mereka berhasil.
Karena itu, maka keduanya pun kemudian dengan hasil yang mereka anggap cukup, segera kembali ke Pajang untuk menyampaikan laporannya kepada kepercayaan Ki Tandabaya yang memberikan tugas langsung kepada kedua orang itu.
“Kau yakin akan kebenaran berita yang kau dengar?” bertanya kepercayaan Tandabaya itu.
“Ya. Aku yakin,” jawab salah seorang dari keduanya, “aku mendengar bukan dari satu pihak saja. Tetapi dari beberapa pihak.”
“Baiklah. Laporan ini akan aku teruskan kepada orang yang memberikan tugas ini kepadaku.”
“Terserahlah. Tetapi laporan ini dapat dipercaya,” sahut seorang yang lain.
Demikianlah, maka Ki Tandabaya agaknya mempercayai laporan itu. Katanya, “Sesuai dengan perhitungan kami. Orang yang hadir di pertempuran sesuai dengan laporan itu tentu Raden Sutawijaya itu sendiri. Ialah yang telah menangkap Ki Lurah Pringgabaya dan membawanya ke Mataram. Tidak ada orang lain yang akan dapat melakukannya, selain Raden Sutawijaya atau Pangeran Benawa. Mungkin ada orang lain yang dapat mengalahkannya. Tetapi mereka hanya akan dapat menangkap mati Ki Lurah yang keras kepala itu.”
“Agaknya memang demikian,” jawab orang yang dipercayanya itu.
“Tetapi akhirnya Ki Pringgabaya itu akan mati juga. Agaknya itu lebih baik bagi dirinya. Terutama bagi kita. Dengan demikian ia tidak akan dapat berbicara tentang siapa pun juga yang pernah dikenalnya di antara kita semuanya,” berkata Ki Tandabaya.
“Tentu ia sudah mengatakannya.”
“Mungkin belum. Ia masih dapat bertahan barang satu dua pekan atau lebih. Tetapi lebih dari satu bulan, keadaannya tentu sudah gawat. Ki Lurah itu tentu sudah mulai dijamah oleh kejemuan dan perasaan muak terhadap pertanyaan-pertanyaan yang setiap saat didengarnya. Apalagi apabila kejemuan itu mulai mengganggu syarafnya, sehingga ia tidak akan dapat mengendalikan diri lagi,” sahut Ki Tandabaya lebih lanjut.
“Lalu, apakah yang akan kita lakukan?” bertanya kepercayaannya itu.
“Kita akan membantunya, melepaskannya dari penderitaan itu,” jawab Ki Tandabaya, lalu, “namun agar ia ikhlas menerima nasibnya tanpa hambatan, maka ia harus yakin bahwa istrinya tidak akan mengalami nasib buruk sepeninggalnya. Ia harus diyakinkan bahwa istrinya akan mendapat tempat yang baik.”
Pengikut Ki Tandabaya itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa berkepanjangan ketika Ki Tandabaya sendiri tertawa keras-keras.
“Kapan kita membunuhnya?” bertanya kepercayaannya itu kemudian.
“Kau kira, kita akan membunuh jangkrik di padang rumput?” jawab Ki Tandabaya, “Dengar! Yang akan kita bunuh adalah seseorang seperti Ki Lurah Pringgabaya. Kemudian, yang lebih rumit lagi, ia berada di bawah pengawasan para pengawal di Mataram. Kau kira para pengawal itu akan membungkukkan kepalanya, mempersilakan kita mendekati bilik penyimpanan itu, kemudian melepaskan dua atau tiga ekor ular berbisa ke dalam bilik itu, atau lewat lubang dinding atau membuka satu dua genting, melepaskan paser beracun?”
Kepercayaannya mengangguk-angguk pula. Ia mengerti, bahwa tugas itu bukan tugas yang terlalu mudah dilakukannya. Tugas itu harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan dengan sangat cermat, sehingga rencana itu tidak dapat diketahui oleh orang-orang Mataram.
“Aku akan memanggil beberapa orang tertentu. Tentu saja yang dapat aku percaya. Aku akan membicarakan, bagaimana tugas itu dapat aku lakukan sebaik-baiknya berkata Ki Tandabaya.
Kepercayaannya mengangguk-angguk. Tetapi terbesit juga senyum di bibirnya, karena ia tahu pasti, bahwa ada hubungan yang terjadi antara Ki Tandabaya dengan perempuan yang disebut istri Pringgabaya.
Di hari-hari berikutnya, Tandabaya telah bekerja dengan cermat. Ia memanggil beberapa orang kawan-kawannya yang dipercayai sepenuhnya. Mereka membicarakan cara yang dapat ditempuh untuk melenyapkan sama sekali Pringgabaya yang sebenarnya memang berada di Mataram.
“Kita harus mengetahui, di mana ia disimpan,” berkata salah seorang dari kawan-kawan Tandabaya itu.
“Menurut laporan yang aku terima,” jawab Tandabaya, “ia berada di dalam lingkungan halaman rumah Senapati Ing Ngalaga.”
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itu kesulitannya. Pagar dinding halaman rumah Raden Sutawijaya itu seolah-olah mempunyai mata dan telinga.
“Dan apakah kita tidak mempunyai kemampuan untuk menutup mata dengan telinga itu?” bertanya kawannya yang lain.
“Kita harus menemukan cara,” berkata Ki Tandabaya, “aku akan pergi ke Mataram. Aku akan mencari cara yang paling baik untuk memasuki halaman rumah itu. Mungkin aku akan menemukannya.”
“Segalanya harus diperhitungkan sebaik-baiknya,” desis salah seorang dari mereka, “yang kita hadapi adalah Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga. Orang aneh yang memiliki kemampuan tidak terbatas.”
“Omong kosong!” potong Ki Tandabaya, “Tentu kemampuannya ada batasnya. Kau kira orang seperti Senopati Ing Ngalaga itu demikian sempurna sehingga tidak ada cara untuk mengalahkannya atau bahkan hanya sekedar mencari kelengahannya saja?”
“Tentu tidak ada orang yang sempurna,” jawab kawannya, “tetapi apa yang telah dikerjakannya benar-benar menakjubkan. Kadang-kadang sama sekali tidak dapat dijangkau dengan nalar. Bagaimana ia berhasil mencengkam keris-keris kulit yang tertancap pada tiang-tiang pendapanya, sehingga orang yang dengan kekuatan yang luar biasa berhasil menancapkan keris dari kulit itu menghunjam pada sebatang kayu yang terpancang sebagai saka guru, tidak berhasil mencabutnya. Tetapi kemudian seolah-olah dengan acuh tidak acuh, ia mencabut keris-keris kulit itu dengan jepitan dua buah jarinya saja.”
Yang lain pun menyahut, “Nampaknya ia pun dengan mudah dapat menangkap Pringgabaya.”
“Tetapi bagaimana pun juga, aku akan mencobanya,” berkata Tandabaya, “kita pun bukan anak-anak kecil yang baru belajar melangkah. Kita pun orang-orang yang cukup makan pahit asinnya kehidupan dan menjelajahi luasnya padang olah kanuragan.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka percaya bahwa Ki Tandabaya itu pun memiliki kemampuan yang cukup sebagai bekal untuk melakukan tugasnya. Sudah barang tentu, ia tidak akan dapat langsung berhadapan dengan Senopati Ing Ngalaga. Tetapi sekedar mencari kelengahannya saja. Sehingga dengan demikian, maka Tandabaya harus memperhitungkan dengan sebaik-baiknya saat-saat yang dicarinya itu.
Demikianlah, maka Ki Tandabaya mulai mengatur orang-orangnya. Mereka akan pergi ke Mataram. Yang pertama-tama mereka lakukan adalah sekedar melihat keadaan dan mencari kemungkinan disela-sela kesiagaan orang-orang Mataram.
“Tidak banyak orang-orang Mataram yang memiliki ilmu yang tinggi,” berkata Ki Tandabaya kepada orang-orangnya, “Raden Sutawijaya memang orang luar biasa. Tetapi selebihnya, adalah orang-orang yang memiliki kemampuan jauh di bawah tatarannya, kecuali Ki Juru Martani. Apa yang dapat dilakukan oleh orang-orangnya yang tidak memiliki kemampuan cukup untuk melawan kami?”
Namun untuk melihat-lihat keadaan itu pun Ki Tandabaya tidak boleh lengah. Orang-orangnya yang ditunjuk untuk pergi bersamanya telah mendapat pesan khusus dalam tugas mereka masing-masing.
Pada saat yang ditentukan, maka mereka pun telah berada di Mataram. Perjalanan dari Pajang ke Mataram memang bukan jarak yang amat jauh. Karena itu, maka bagi Ki Tandabaya, jarak itu akan dapat dicapainya hilir mudik. Satu hari di Mataram, dan di hari berikutnya ia sudah akan berada di Pajang.
“Kenapa ia memilih cara yang demikian,” bertanya seorang kawannya, “bukankah dengan demikian, kita-kita inilah yang harus dengan cermat mengawasi keadaan dan mencari kemungkinan untuk memasuki dinding halaman rumah Raden Sutawijaya, sementara Ki Tandabaya itu hanya akan menunggu dan mendengar laporan kita.”
“Bukankah itu biasa? Ia adalah seorang yang menganggap dirinya pemimpin kita. Ia berhak berbuat demikian,” jawab kawannya, “tetapi persoalannya bukan sekedar karena ia seorang pemimpin yang mempercayakan tugas-tugas yang dianggapnya tidak begitu berat dan tidak begitu menarik kepada orang-orangnya, namun sudah barang tentu, ia mempunyai kepentingan-kepentingan yang lain.”
“Apa?” bertanya yang lain.
“Perempuan itu,” desis kawannya.
Yang mendengar jawaban itu mengangguk-angguk. Mereka pun mengerti, bahwa ada hubungan antara Ki Tandabaya dengan perempuan yang disebut istri Ki Lurah Pringgabaya, yang menurut beberapa orang, perempuan itu belum istri Ki Pringgabaya yang sah, di samping dua istri Ki Lurah yang lain.
Demikianlah, maka orang-orang yang berada di Mataram dengan menyamar diri itu berusaha untuk mengetahui beberapa hal tentang kebiasaan Raden Sutawijaya. Mereka mulai usaha mereka dengan mengenal kebiasaan Raden Sutawijaya meninggalkan rumahnya, dan berada di pesanggrahannya. Kadang-kadang ia memang berada di Ganjur atau di tempat lain untuk beristirahat. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia terlalu senang bermain-main dengan kudanya.
“Hari-harinya tidak menentu,” berkata salah seorang pengikut Tandabaya itu.
“Tetapi tentu ada saat-saat yang dapat kau kenali,” jawab Ki Tandabaya, “mungkin sepekan sekali. Mungkin sepuluh hari sekali. Atau ia mengambil hari-hari tertentu dalam sepekan.”
“Aku akan menelitinya lebih lanjut. Mungkin ada saat-saat yang dapat diperhitungkan, sehingga kita akan dapat menentukan saat yang paling baik.”
Dengan demikian, maka para pengikut Ki Tandabaya itu harus bekerja lebih cermat lagi. Mereka harus benar-benar memperhitungkan, saat-saat Raden Sutawijaya pergi. Meskipun kepergian Raden Sutawijaya ke pesanggrahan untuk kepentingan-kepentingan khusus, terutama bermain-main dengan kuda-kudanya yang banyak jumlahnya dan juga meningkatkan keterampilannya bermain senjata di atas punggung kuda, namun kepergiannya itu tidak pernah dirahasiakan. Bahkan hampir setiap orang mengetahui, bahwa Raden Sutawijaya memang sering meninggalkan istananya. Yang sebagian besar malahan tidak untuk beristirahat, tetapi justru untuk mesu diri, meningkatkan ilmunya yang sudah terlalu sulit untuk dimengerti oleh orang lain itu.
“Ia pergi, kapan saja ia ingin pergi,” desis salah seorang dari pengikut Ki Tandabaya itu.
“Sulit untuk diperhitungkan,” jawab kawannya.
“Tetapi marilah kita mencobanya memperhatikan sekali lagi. Tetapi tentu memerlukan waktu paling sedikit dua pekan,” berkata pengikut itu.
“Apa?” bertanya kawannya.
“Di malam Jumat Raden Sutawijaya itu tentu pergi. Entah ke mana. Meskipun baru sehari ia berada di rumahnya, tetapi malam Jumat berikutnya ia tentu pergi,” berkata pengikut Ki Tandabaya itu, “ia memang pergi untuk waktu yang tidak menentu. Tetapi tentu melalui malam Jumat. Mungkin hari pertama, mungkin menjelang ia datang kembali, atau saat-saat apapun juga, namun mesti termasuk malam Jumat.”
“Jika demikian, menurut pengamatanmu, di setiap malam Jumat Raden Sutawijaya tentu tidak ada di rumahnya,” bertanya kawannya.
“Ya. Kecuali pada saat-saat yang penting. Misalnya ada tamu, atau ada upacara apapun juga yang menuntut Raden Sutawijaya itu berada di rumahnya. Karena itu, di dalam ketidak-tentuan itu, kita memang dapat melihat, hari-hari yang hampir dapat dipastikan.”
“Kalau demikian, hari itu akan menjadi patokan,” desis kawannya, “meskipun pada saat terakhir, kita masih harus melihat, apakah benar Raden Sutawijaya meninggalkan rumahnya.”
“Kita harus cepat bertindak. Kita sudah terlalu lama kehilangan waktu untuk menghitung saat-saat Raden Sutawijaya pergi. Jika kita berlarut-larut tanpa berbuat apapun juga, maka kita akan terlambat. Ki Pringgabaya sudah tidak dapat menahan kepahitan badani lagi, sehingga ia akan berbicara tentang apa saja yang diketahuinya tentang Pajang dengan segala macam isinya.”
Demikianlah, maka ketika Ki Tandabaya datang lagi ke Mataram, maka pengikutnya itu pun telah dapat menentukan saat-saat yang hampir pasti, bahwa Raden Sutawijaya tidak berada di rumahnya.
“Kau tidak salah hitung?” bertanya Ki Tandabaya.
“Demikianlah menurut pengamatan kami. Sebenarnyalah kami ingin Ki Tandabaya bersama kami di sini, sehingga jika ada sedikit kesalahan dan kekurangan hitungan, Ki Tandabaya dapat ikut mempertanggungjawabkannya,” sahut pengikutnya.
“Bodoh!” geram Ki Tandabaya, “Buat apa aku mempergunakan mu, jika aku masih harus bekerja sendiri? Apalagi untuk tugas-tugas semacam itu, jika kalian tidak berhasil mengerjakan dan menyelesaikan, aku kira kalian sudah tidak berguna lagi bagiku.”
Para pengikutnya saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka tidak menyahut.
“Ketahuilah!” berkata Ki Tandabaya, “Ki Racik sudah menganggap tugas ini terlalu lama belum dapat kita selesaikan. Aku sudah ditegurnya. Bahkan ia mulai ragu-ragu terhadap kemampuanku, seolah-olah aku tidak akan dapat menyelesaikan tugas ini, seperti tugas-tugas yang dibebankan kepada Pringgajaya yang kemudian bernama Partasanjaya itu.”
“Kita memang harus segera bertindak,” desis pengikutnya.
“Sekarang hari apa?” desis Ki Tandabaya.
“Malam Jumat,” jawab pengikutnya.
“Malam Jumat,” ulang Ki Tandabaya, “jadi hari ini Raden Sutawijaya tidak berada di rumahnya?”
“Ya. Aku sudah mencari keterangan. Sudah dua hari Raden Sutawijaya pergi. Hari ini ia masih belum kembali. Biasanya besok ia baru akan kembali,” desis pengikutnya.
“Kenapa kau pernah mengatakan, bahwa hari-hari kepergiannya tidak menentu?” desak Ki Tandabaya.
“Memang tidak menentu. Baru setelah kami meneliti sekali lagi, maka hari-hari yang tidak menentu itu tentu memuat hari Jumat. Mungkin hari pertama saat ia meninggalkan rumahnya. Mungkin hari terakhir sebelum ia kembali.”
Ki Tandabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan mencari keterangan sekali lagi. Jika kita sudah pasti, bahwa ia tidak ada di rumah, maka kita akan mencoba menyelidiki, apakah mungkin kita memasuki halaman rumahnya. Jika mungkin, kita akan mencari di mana ia disimpan. Baru setelah kita mendapat kepastian, maka kita akan mengatur cara yang paling baik untuk membunuhnya.”
“Apakah kita tidak berusaha untuk membebaskannya?” bertanya pengikutnya.
“Kau gila!” geram Tandabaya, “Jika kau sudah tahu jawabnya, kenapa kau masih bertanya?”
Pengikutnya hanya tersenyum saja. Namun senyumnya itu pun segera larut ketika Ki Tandabaya membentak, “Kita harus bertindak cepat. Cari keterangan sekali lagi. Aku sendiri akan melihat ke dalam batas dinding halaman itu.”
Para pengikutnya itu pun segera bangkit dan meninggalkan Ki Tandabaya, untuk meyakinkan, apakah benar Raden Sutawijaya tidak berada di rumahnya.
Dengan cara yang tidak menarik perhatian, mereka mendapat keterangan dari seorang pengawal yang bertugas di regol, bahwa Raden Sutawijaya memang sedang pergi.
“Kami ingin menawarkan seekor kuda yang paling baik yang pernah kita miliki,” berkata salah seorang pengikut Ki Tandabaya itu.
“Raden memang seorang penggemar kuda. Tetapi sayang, sudah dua hari ini ia meninggalkan rumahnya. Mungkin ia berada di Ganjur. Ia memiliki seekor kuda yang baru pula,” jawab pengawal itu.
Para pengikut Ki Tandabaya itu pura-pura menjadi sangat kecewa, bahwa mereka tidak dapat segera menawarkan kuda yang dikatakannya paling baik yang pernah dimilikinya Namun akhirnya salah seorang di antara mereka berkata, “Baiklah Ki Sanak. Kami mohon diri. Jika kami tidak mempunyai seekor kuda yang benar-benar baik. Maka kami tidak akan berani datang untuk menawarkannya kepada Senapati Ing Ngalaga.”
“Datanglah besok,” berkata Pengawal itu, “mungkin Raden Sutawijaya itu sudah kembali.”
“Terima kasih,” jawab pengikut Ki Tandabaya itu yakin, bahwa sebenarnyalah Raden Sutawijaya tidak berada di rumahnya.
Ketika hal itu disampaikan kepada Ki Tandabaya, maka ia pun mengangguk-angguk. Tetapi pertanyaannya telah mengejutkan para pengikutnya, “Senapati Ing Ngalaga tidak ada di rumahnya. Tetapi bagaimana dengan Ki Juru?”
“Ki Juru Martani?” bertanya para pengikutnya.
“Ya. Ki Juru Martani. Siapa lagi?” geram Tandabaya.
Para pengikutnya termangu-mangu. Mereka tidak mengetahui tentang Ki Juru Martani, karena mereka memang tidak memperhitungkannya.
“Kalian memang bodoh!” suara Ki Tandabaya datar, “Seharusnya kalian juga mengetahui apakah Ki Juru mengikuti Raden Sutawijaya atau tidak.”
“Kami tidak mencari keterangan tentang Ki Juru Martani. Tetapi menurut perhitungan kami, Ki Juru tidak meninggalkan Mataram, justru karena Raden Sutawijaya pergi. Meskipun mungkin dalam keadaan khusus kedua-duanya meninggalkan Mataram, tetapi pada saat-saat Raden Sutawijaya berada di pesanggrahannya atau justru sedang mesu diri berkeliling menuruni lembah dan menelusuri sungai, biasanya ia pergi seorang diri dan menyerahkan pimpinan Mataram kepada Ki Juru,” berkata pengikutnya.
“Dari mana kau tahu?” bertanya Ki Tandabaya.
“Menurut cerita orang yang aku dengar selama ini. Tetapi kali ini kami tidak mengetahuinya,” jawab pengikutnya.
Ki Tandabaya mengangguk-angguk kecil. Namun masih terdengar ia bergumam, “Kalian benar-benar dungu! Kalian hanya mengerjakan apa yang diperintahkan tanpa mengingat hubungan persoalannya yang satu dengan lain,” Ki Tandabaya berhenti sejenak. Kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan menyelidiki keadaannya. Melihat kemungkinan-kemungkinannya dan aku akan mengambil satu sikap yang akan kita kerjakan bersama. Mungkin pekan yang akan datang, atau selambat-lambatnya dua pekan mendatang, agar Ki Racik tidak salah menilai kita semuanya.”
Para pengikut Ki Tandabaya kemudian memberikan beberapa keterangan yang mungkin diperlukan tentang para penjaga yang mereka ketahui berada di sekitar rumah Raden Sutawijaya.
“Pada dasarnya, rumah itu tidak terlalu ketat dijaga. Mungkin di sekitar bilik yang mereka pergunakan untuk menawan Ki Lurah Pringgabaya, ada penjaga khusus yang sudah diperhitungkan. Bukankah Ki Lurah itu memiliki ilmu yang tinggi pula.”
Demikianlah, ketika malam turun, Ki Tandabaya pun telah menyiapkan dirinya. Diikuti oleh kepercayaannya yang bernama Dugul, ia mendekati rumah Raden Sutawijaya.
Mataram yang sedang tumbuh itu ternyata menjadi sepi lewat matahari terbenam. Demikian malam menyelubungi kota, maka jalan-jalan pun menjadi lengang, meskipun di simpang-simpang jalan terdapat lampu-lampu minyak yang menyala.
Ki Tandabaya serba sedikit telah mengetahui keadaan rumah Raden Sutawijaya. Ditambah dengan beberapa keterangan dari para pengikutnya. Karena itu, maka ia pun langsung menuju ke tempat yang menurut perhitungannya tidak berada di bawah pengawasan para pengawal.
“Kita menunggu sejenak,” berkata Ki Tandabaya kepada Dugul, “jika malam menjadi semakin sepi, kita akan memasuki halaman. Kau dapat mencari jalan yang paling aman.”
“Jangan cemas,” berkata Dugul, “lebih dari dua puluh tahun aku melakukan pekerjaan seperti ini. Bahkan orang percaya bahwa aku seolah olah dapat menghilang karena aji penglimunan.
“Aku percaya bahwa kau adalah seorang benggol pencuri yang berpengaruh. Karena itu, maka aku memerlukan kau pada saat-saat semacam ini. Meskipun aku yakin akan ilmuku, asal saja aku tidak bertemu dengan Raden Sutawijaya atau Ki Juru Martani. Tetapi adalah lebih baik jika kita dapat memasuki halaman tanpa diketahui oleh para pengawal.”
Dugul tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Tunggulah di sini! Aku akan mendekati dinding halaman itu.”
Untuk beberapa saat Dugul meninggalkan Ki Tandabaya. Dengan pengalamannya yang luas Dugul mulai mengenali medan yang akan ditempuhnya bersama Ki Tandabaya. Dengan pendengarannya yang tajam ia berhasil mengetahui, tempat-tempat yang paling lemah pengawasannya.
Ketika tengah malam telah lewat, maka Dugul pun memberikan isyarat kepada Ki Tandabaya untuk mengikutinya.
Lewat sebatang pohon yang tumbuh di luar dinding halaman belakang rumah Raden Sutawijaya yang luas. mereka mulai memanjat. Dengan sangat berhati-hati. akhirnya keduanya meloncat ke atas dinding dan melayang turun setelah mereka yakin, tidak ada seorang pengawal pun yang melihatnya.
Sejenak mereka mengatur pernafasan dan perasaan. Kemudian Ki Tandabaya itu berbisik, “Kita mencari tempat yang paling kuat penjagaannya. Kita harus dapat mempelajari keadaan sebaik-baiknya, sehingga jika di saat lain kita memasuki halaman ini dengan perlengkapan yang cukup, kita akan dapat segera melakukannya. Mungkin kita memerlukan dua atau seorang lagi untuk melakukan tugas itu dalam keseluruhan.”
Dugul mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Ki Tandabaya. Karena itu, maka mereka pun segera bergeser dari balik sebuah gerumbul ke balik gerumbul yang lain.
Sekali-sekali mereka harus bersembunyi sambil menahan nafas, jika mereka melihat satu dua orang pengawal yang lewat dari regol yang satu ke regol penjagaan yang lain pada dinding di seputar halaman yang luas itu.
Untuk beberapa saat keduanya mengalami ketegangan. Selain menghindari para pengawal, terutama yang sedang nganglang mengitari halaman, mereka masih harus mencari tempat yang dipergunakan oleh orang-orang Mataram untuk menahan Ki Lurah Pringgabaya.
Ternyata mencari tempat penahanan itu tidak semudah saat mereka memasuki halaman. Tidak ada tanda-tanda khusus yang dapat mereka kenal. Bahkan, mereka pun telah memperhitungkan, bahwa tempat itu tentu di jaga oleh beberapa orang pengawal terpilih, karena Ki Lurah Pringgabaya termasuk seseorang yang memiliki kemampuan yang tinggi.
Namun setelah mereka mengitari seluruh halaman, barulah mereka mencoba mengambil kesimpulan, bahwa penjagaan yang paling kuat dari seluruh isi halaman itu, ada pada sebuah pintu butulan di serambi gandok sebelah kanan.
“Apakah mungkin Ki Lurah Pringgabaya berada di salah satu bilik di gandok sebelah kanan?” bertanya Dugul.
Ki Tandabaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kemungkinan terbesar adalah demikian.”
“Kita akan melihat,” desis Dugul.
“Bagaimana mungkin?” bertanya Ki Tandabaya.
“Aku akan memanjat atap. Aku akan mendekati setiap bilik di gandok itu lewat sebelah bubungan bagian dalam, sehingga aku tidak akan terlibat dari bagian timur luar rumah ini,” berkata Dugul.
“Tetapi orang di longkangan akan dapat melihatmu,” desis Ki Tandabaya.”
“Memang ada kemungkinan. Tatapi jarang sekali ada seseorang di longkangan di saat semacam ini. Mungkin para pengawal akan lewat. Di malam yang gelap ini, aku tidak akan nampak jika aku bertiarap melekat atap yang hitam itu,” desis Dugul.
“Tetapi hati-hatilah,” desis Ki Tandabaya.
“Jika terjadi sesuatu,” berkata Dugul, “tinggalkan aku. Cepat menyingkirlah.”
Ki Tandabaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku harap tidak akan terjadi sesuatu.”
Dugul tersenyum. Sambil beringsut ia berkata, “Doakan saja agar aku berhasil.”
Ki Tandabaya tidak menjawab. Ia melihat Dugul berkisar. Namun kemudian seolah-olah Dugul itu hilang ditelan gelap malam.
“Setan!” desis Ki Tandabaya, “Orang menyangka ia mempunyai aji penglimunan.”
Namun sejenak kemudian mata Ki Tandabaya yang tajam dapat melihat sekilas tubuh Dugul melekat dinding di tempat yang terlindung, sekejap lagi tubuh itu pun telah hilang pula.
“Ia sangat cekatan dan terampil,” desis Ki Tandabaya, “kelebihannya agaknya justru pada kepandaiannya memilih ilmu yang penglimunan.”
Untuk beberapa saat Ki Tandabaya menunggu. Ketegangan terasa menekan jantungnya. Di luar sadarnya, ia pun telah berdoa, agar Dugul dapat melakukan tugasnya dengan selamat.
Tetapi, ketika ia menyadarinya, ia menjadi ragu-ragu. Apakah untuk melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh Dugul itu, ia dapat berdoa dan apakah doa itu akan didengar.
Dalam pada itu, ternyata Dugul benar-benar seorang yang berpengalaman. Meskipun demikian ia harus melakukan perbuatannya itu dengan sangat hati-hati, karena menyadari, bahwa di sekitar bilik tahanan itu tentu terdapat orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.
“Asal Raden Sutawijaya benar-benar tidak ada di rumah, dan Ki Juru Martani tidak bermain di gandok ini pula,” katanya.
Dengan kemampuannya, Dugul berhasil memanjat atap rumah tanpa diketahui oleh para pengawal. Ia memilih sudut gandok yang dibayangi oleh dedaunan pepohonan yang rimbun. Dalam gelap malam, maka sudut itu rasa-rasanya menjadi semakin gelap.
Beberapa lama Ki Tandabaya menunggu dalam ketegangan. Rasa-rasanya semua urat dan syarafnya menjadi tegang pula. Jantungnya berdegup semakin lama semakin keras, sehingga Ki Tandabaya menjadi cemas, bahwa para pengawal akan dapat mendengar degup jantungnya itu.
Ketika kesabaran Ki Tandabaya hampir habis, sementara Dugul masih belum nampak, timbullah niatnya untuk menyusul. Meskipun ia tidak berpengalaman seperti Dugul, tetapi ia pun merasa memiliki kemampuan, sehingga ia akan mengerjakannya dengan landasan kemampuannya. Ia memiliki pendengaran yang cukup tajam, kecepatan bergerak dan tenaga yang besar.
Namun selagi ia beringsut, tiba-tiba ia mendengar desir lembut dari arah samping. Karena itu, maka ia pun segera menahan nafasnya dan bersiap- siap menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi dalam keremangan malam, ia pun kemudian melihat bayangan mendekatinya sambil berdesis, “Aku, Dugul.”
Ki Tandabaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan tergesa-gesa ia bertanya, “Bagaimana?”
“Aku menemukannya. Aku berhasil mengintip dari atap gandok itu. Ki Lurah Pringgabaya ada di dalam salah satu bilik yang berdinding kayu. Nampaknya dinding bilik itu telah dibuat khusus, sementara para pengawal yang berada di pintu butulan itu benar-benar khusus mengawasi bilik itu,” jawab Dugul hampir berbisik.
“Aneh,” desis Ki Tandabaya, “apakah tidak ada usaha Ki Lurah untuk melarikan diri. Bukankah ia dengan mudah dapat memecah dinding bilik itu?”
“Tentu ia menganggap tidak ada gunanya,” jawab Dugul, “ia akan segera diketahui oleh para pengawal jika mereka mendengar dinding kayu itu berderak. Kehadiran Raden Sutawijaya akan memaksanya untuk kembali ke dalam bilik itu lagi setelah diperbaiki.”
“Bukan di saat-saat ini Raden Sutawijaya tidak ada?” sahut Ki Tandabaya.
“Tetapi Ki Lurah tentu tidak mengerti, kapan Raden Sutawijaya tidak berada di rumahnya.”
Ki Tandabaya mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa di hadapan Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani, Ki Lurah Pringgabaya tentu akan mengalami kesulitan untuk melarikan diri.
Namun tiba-tiba ia berkata, “Dugul. Jika Ki Lurah itu memecah dinding, memang akan dapat mengundang perhatian para penjaga. Tetapi bagaimana jika ia mempergunakan cara seperti yang kau katakan. Melarikan diri lewat atap?”
Tetapi Dugul menggeleng. Katanya, “Sulit. Ternyata bilik itu benar-benar telah dipersiapkan bagi orang-orang kuat seperti Ki Pringgabaya. Rusuk atap itu pun terlalu rapat. Memang aku dapat mengintip lewat atap, tetapi untuk keluar, Ki Lurah harus memecah beberapa rusuk yang akan dapat didengar pula oleh para penjaga.”
Ki Tandabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita keluar sekarang. Kita menunggu untuk mendapat kesempatan serupa. Mungkin pada malam Jumat yang akan datang. Atau kapan pun jika kita mengetahui bahwa Raden Sutawijaya tidak ada di rumahnya.”
Dugul tidak menjawab. Keduanya pun kemudian bergeser meninggalkan tempat mereka bersembunyi, merayap mendekati dinding. Ketika mereka melihat dua orang pengawal yang sedang mengelilingi halaman itu lewat, maka keduanya telah berjongkok dibalik segerumbul perdu di antara pertamanan di halaman samping.
Ketika kedua orang itu telah hilang, maka Ki Tandabaya dan Dugul pun segera merangkak ke dinding. Sejenak mereka melihat keadaan. Setelah mereka yakin, tidak ada seorang pengawal pun yang akan melihat mereka, maka keduanya pun segera meloncat dinding.
Ternyata bahwa malam itu, Ki Tandabaya telah mendapatkan banyak hasil yang akan dapat menjadi bekal usahanya melakukan perintah Ki Racik untuk melepaskan atau mengakhiri saja hidup Ki Lurah Pringgabaya yang dikhawatirkan akan dapat membocorkan rahasia orang-orang Pajang yang terlibat dalam perjuangan untuk menegakkan kembali satu masa silam yang perkasa menurut citra mereka.
Dengan bekal itulah, maka Ki Tandabaya telah merencanakan untuk melakukan tugasnya pada hari yang akan ditentukan, setelah ia yakin bahwa Raden Sutawijaya tidak ada di rumahnya.
“Kita akan mempergunakan beberapa cara,” berkata Ki Tandabaya, “aku sama sekali tidak akan mempertimbangkannya untuk mencari jalan keluar dari bilik itu. Yang akan aku lakukan adalah membunuhnya.”
“Bagaimana?” bertanya seorang pengikutnya.
“Kita akan melemparkan beberapa ekor ular ke dalam biliknya. Tentu saja dengan diam-diam sehingga Ki Pringgabaya sendiri tidak akan mengetahuinya. Ular-ular berbisa itu pada suatu saat yang tidak terlalu lama akan mematuk dan membunuhnya,” jawab Ki Tandabaya.
“Tetapi Ki Lurah itu tentu mempunyai cara tersendiri untuk membunuh ular-ular itu,” jawab pengikutnya.
“Jika ia sempat melihat ular itu. Tetapi mungkin sekali satu di antara beberapa ekor ular itu akan lepas dari pengamatannya.”
“Mungkin sekali. Tetapi hal itu tentu sangat meragukan. Bagaimana jika kita membunuhnya langsung dengan senjata beracun.?”
Ki Tandabaya merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Mungkin sekali. Itu pun akan kita coba.”
“Serahkan kepadaku,” berkata Dugul. Lalu, “Aku akan dapat membunuhnya dengan cara itu. Lewat atap aku akan dapat meluncurkan anak panah beracun. Mudah sekali seperti saat aku mengintipnya.”
“Kenapa tidak kau lakukan saat itu sama sekali?” bertanya salah seorang pengikut Ki Tandabaya.
“Pertanyaan yang bodoh!” Ki Tandabayalah yang menyahut, “saat itu kami belum tahu pasti, apakah ia benar-benar ada di rumah itu atau di tempat lain. Jika di rumah itu, di bilik yang mana dan kemungkinan apa yang dapat kita lakukan.”
Pengikutnya mengangguk-angguk. Namun dengan demikian, maka agaknya mereka tidak akan banyak berperan jika hal itu akan dapat dilakukan oleh Dugul sendiri.
Ketika hal itu dilaporkannya kepada Ki Racik,ternyata tanggapannya di luar dugaan Tandabaya. Ki Racik nampaknya tidak mengacuhkannya. Bahkan katanya, “Yang kau lakukan terlalu lamban. Aku hampir kehilangan kesabaran sehingga hampir saja aku memerintahkan kepada orang lain untuk melakukannya.”
“Pekerjaan itu termasuk pekerjaan yang sangat sulit,” jawab Tandabaya.
“Jika bukan pekerjaan yang sulit, aku tidak akan menunjukmu,” jawab Ki Racik.
Ki Tandabaya menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Racik berkata, “Laporan resmi telah datang. Justru Senopati Ing Ngalaga telah memberikan laporan kepada pimpinan Keprajuritan di Pajang, bahwa seorang Lurah prajurit telah ditangkap, ketika orang itu sedang melakukan satu kejahatan yang tercela.”
“Apa katanya?” bertanya Ki Tandabaya
“Tuduhannya sangat keji, Perampokan dan pembunuhan di telatah Mataram,” jawab Ki Racik, “karena itu, maka ia perlu ditahan.”
Ki Tandabaya menarik nafas dalam, sementara Ki Racik berkata, “Persoalannya menjadi lebih rumit. Jika kau dapat berbuat lebih cepat, maka Senopati tidak akan sempat membuat pengaduan itu, karena orang yang diadukannya tidak ada.”
“Aku akan segera membunuhnya,” geram Ki Tandabaya, “dengan demikian, maka pengaduan itu akan merupakan pengaduan palsu karena mereka tidak dapat membuktikan bahwa benar Ki Lurah ada di Mataram.”
“Tetapi Senopati Ing Ngalaga telah mengundang pimpinan keprajuritan Pajang untuk melihat keadaan Ki Lurah Pringgabaya,” Ki Racik tiba-tiba saja hampir membentak.
Ki Tandabaya menjadi tegang. Dengan gagap ia berkata, “Jadi, apakah para pemimpin itu benar-benar akan berangkat?”
“Kau memang bodoh tetapi keras kepala. Kau harus dapat melakukan tugasnya sebelum Pajang mengirimkan satu atau dua orang yang mungkin akan memenuhi undangan itu, karena hal itu telah didengar oleh Kangjeng Sultan pribadi,” jawab Ki Racik.
Wajah Ki Tandabaya menegang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Atur sebaik-baiknya. Jangan datang ke Mataram sebelum malam Jumat mendatang.”
Ki Raciklah yang kemudian menegang. Dengan nada-nada marah ia bertanya, “Kenapa harus malam Jumat mendatang?”
“Sudah aku katakan, bahwa setiap malam Jumat, Senopati Ing Ngalaga tidak berada di rumahnya, kecuali pada saat-saat yang khusus,” jawab Ki Tandabaya.
“Apakah kau tidak dapat mengerjakan jika Senopati Ing Ngalaga ada di rumahnya?” bertanya Ki Racik.
“Sulit sekali. Mungkin aku akan gagal,”jawab Ki Tandabaya.
Ki Racik termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan mencoba berhubungan dengan beberapa orang pimpinan keprajuritan di Pajang, agar mereka tidak mengirimkan seorang pun sebelum lewat hari yang kau tentukan. Tetapi jika kau gagal sampai batas waktu yang ditentukan, maka untuk seterusnya aku tidak akan dapat mempertanggungjawabkannya lagi.”
“Aku tidak akan gagal. Justru aku bekerja dengan sangat cermat, sehingga aku memerlukan waktu agak panjang,” berkata Ki Tandabaya.
Dengan demikian, maka Ki Tandabaya benar-benar hanya mempunyai waktu sampai hari yang disebutkan. Ia tidak boleh gagal pada hari yang sudah disebutkannya itu apapun yang terjadi. Seandainya pada hari itu Raden Sutawijaya tidak pergi meninggalkan rumahnya, maka Ki Tandabaya tidak akan dapat menunggu lagi.
Dengan berdebar-debar Ki Tandabaya menunggu hari-hari yang sudah ditentukannya. Dalam ketegangan, rasa-rasanya hari-hari menjadi semakin panjang. Yang sehari, rasa-rasanya lebih dari sepekan. Sementara orang-orangnya pun menunggu pula dengan tidak sabar.
Namun akhirnya, hari-hari itu pun merayap perlahan-lahan. Siang, malam, siang dan kemudian malam, sehingga akhirnya yang ditunggu itu pun menjadi semakin dekat.
Dalam pada itu, untuk melepaskan kejemuannya menunggu hari-hari yang panjang, Ki Tandabaya telah mempergunakan waktunya untuk pergi ke rumah seorang perempuan muda yang cantik, yang beberapa saat lagi akan ditinggal mati oleh laki-laki yang disebut suaminya. Sah atau tidak sah. Justru karena perempuan itulah, maka Ki Tandabaya lebih senang berusaha langsung membunuh Ki Lurah Pringgabaya daripada berusaha melepaskannya.
Tetapi dadanya bagaikan dihentak oleh gumpalan batu padas, ketika ternyata di rumah itu terdapat seorang laki-laki lain yang datang lebih dahulu daripadanya. Ki Pringgajaya yang kemudian bernama Partasanjaya.
“Gila, apa kerjamu di sini?” bertanya Ki Tandabaya.
“Bertanyalah kepada perempuan itu,” desis Ki Partasanjaya.
Ki Tandabaya memandang perempuan yang cantik itu. Sebelum ia bertanya sesuatu, perempuan itu mendekatinya sambil tersenyum. Katanya, “Duduklah. Kenapa kau menjadi tegang? Bukankah kau sudah mengenal Ki Pringgajaya.”
“Sebut namaku,” potong Ki Pringgajaya yang sudah berganti nama itu.
“O, ya. Maksudku, Ki Partasanjaya,” desis perempuan itu.
Ki Tandabaya tidak menyahut. Tetapi ia pun tidak menolak ketika tangan perempuan itu kemudian menggandengnya dan membawanya duduk di sebuah amben yang besar, beberapa langkah di sebelah Ki Partasanjaya yang datang lebih dahulu daripadanya.
“Ia datang beberapa saat sebelum kau datang, Kakang,” berkata perempuan itu.
“Untuk apa?” bertanya Ki Tandabaya.
“Untuk apa?” perempuan itu pun ganti bertanya, “bukankah ia saudara seperguruan kakang Pringgabaya? Bukankah dengan demikian ia sudah mengunjungi saudaranya yang sedang kesepian karena ditinggal oleh suaminya.”
“Persetan!” geram Ki Tandabaya, “Aku tidak senang melihat kunjungannya itu.”
“Kenapa kau menjadi tidak senang? Ia tidak mengganggu aku. Ia tidak berbuat apa-apa. Ia datang karena ia saudara suamiku. Apakah itu salah?”
“Sudah aku katakan, bahwa aku tidak senang melihat kedatangannya,” sekali lagi Ki Tandabaya menggeram.
“Kau memang aneh. Kau sendiri juga datang kemari. Aku menerimamu dengan senang hati. Apakah aku tidak dapat menerima kakang Partasanjaya? Justru ia masih mempunyai sangkut paut dengan kakang Pringgabaya, karena ia adalah saudara tua seperguruannya.
Wajah Ki Tandabaya menjadi tegang. Dipandanginya perempuan cantik itu dengan sorot mata membara. Katanya, “Jadi kau samakan aku dengan Partasanjaya, bahkan kau menganggap bahwa ia lebih berhak datang ke tempat ini daripada aku?”
“Bukan maksudku,” jawab perempuan cantik itu, “aku hanya mengatakan sesuai dengan pengenalanku atas kalian berdua.”
“Persetan!” geram Ki Tandabaya, “Kau dengan sengaja berolok-olok. Jangan mengatakan bahwa kau tidak tahu menahu dengan kedatanganku kemari setiap kali. Aku sudah memberimu kalung, gelang, subang dan perhiasan-perhiasan yang lain. Apakah kau akan ingkar dan sekedar mengatakan sesuai dengan pengenalanmu atas kami berdua?”
Perempuan itu justru tertawa. Perlahan-lahan ia mendekati Ki Tandabaya dan berdiri di belakangnya bersandar punggung sambil memijit-mijit pundak laki-laki itu. Katanya, “Jangan marah kakang. Sebenarnyalah ia datang hanya sekedar untuk menengok keselamatanku.”
“Bohong!” bentak Ki Tandabaya.
Tetapi perempuan itu masih tertawa. Tangannya semakin sibuk memijit pundak Ki Tandabaya. Katanya, “Kau tentu lelah. Karena itu kau tidak sempat berpikir bening. Bertanyalah, apakah yang diperbuat kakang Partasanjaya selain menengok keselamatanku.”
Betapa pun juga, hati Ki Tandabaya rasa-rasanya menjadi luluh. Dibiarkannya perempuan cantik untuk memijit pundaknya. Sementara itu Ki Partasanjaya masih duduk berdiam diri.
“Kau dapat mengatakannya, Kakang,” berkata perempuan itu, “bahwa kau sekedar menengok keselamatanku saja di sini.”
“Ya,” jawab Partasanjaya, “aku hanya menengoknya karena ia adalah istri adik seperguruanku yang terpaksa tidak dapat pulang.”
Ki Tandabaya menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai berpikir tentang sikap Ki Partasanjaya tentang rencana untuk membunuh Pringgabaya.
“Mungkin orang ini akan membalas dendam karena kematian adik seperguruannya itu,” berkata Ki Tandabaya di dalam hatinya. Kemudian, “Tetapi apa boleh buat. Jika perlu orang ini pun harus disingkirkan. Karena sakit hati, ia akan dapat berbuat apa saja yang mungkin berbahaya atas perjuangan yang besar ini.”
Meskipun demikian Ki Tandabaya harus memperhitungkan hubungan dalam keseluruhan. Agaknya Pringgajaya yang berganti nama dengan Partasanjaya ini adalah orang yang sangat dekat dengan Tumenggung Prabadaru, sehingga Tumenggung itu bersedia melindunginya dengan mengubur namanya, disertai dengan seorang korban yang sama sekali tidak bersalah, tetapi harus mati dan dikubur dengan nama Pringgajaya.
Tetapi Tandabaya harus menahan diri. Ia harus memperhitungkan segala macam keadaan. Bahkan ia pun harus mengakui, bahwa Ki Pringgajaya dan Ki Pringgabaya adalah dua orang saudara seperguruan yang sulit dicari tandingnya.
Karena itu, maka untuk beberapa saat ia lebih baik berdiam diri, meskipun harus menahan hati. Ki Partasanjaya pun tidak berkata apapun juga. Tetapi sikapnya benar-benar memancing perhatian. Perlahan-lahan ia bangkit dan mengamati barang-barang yang ada di dalam ruangan itu. Ajug-ajug lampu minyak di sudut. Sebuah geledeg kayu yang terletak di dekat pintu ke ruang dalam.
Namun kemudian sambil tertawa ia berkata, “Sudahlah Nyai. Aku kira kunjunganku sudah cukup lama. Aku akan kembali. Lain kali aku akan berkunjung lagi sebelum Pringgabaya dapat dibebaskan dari tempat penyimpanannya. Mudah-mudahan petugas yang akan melakukannya akan berhasil.”
Ki Tandabaya menggeram. Namun ia tidak menjawab. Dibiarkannya perempuan muda yang cantik itu mengiringi Ki Partasanjaya keluar pintu sambil tertawa kecil. Katanya, “Terima kasih, Kakang. Mudah-mudahan Kakang sempat berkunjung lagi kemari. Sepeninggal Kakang Pringgabaya aku memang kesepian.”
Ki Tandabaya yang berada di dalam mengatupkan giginya rapat-rapat sambil menahan hati. Apalagi ketika ia mendengar tertawa perempuan itu di luar.
“Perempuan gila!” gumamnya.
Sejenak Ki Tandabaya harus tetap bertahan di tempatnya, betapa pun hatinya bergejolak. Baru sesaat kemudian perempuan itu masuk kembali sambil tertawa kecil.
“Bukankah kau sudah mengenalnya dengan baik?” perempuan itu bertanya.
“Justru karena aku mengenalnya dengan baik, aku tidak senang melihat kedatangannya di sini,” geram Ki Tandabaya. Perempuan itu tertawa semakin keras, katanya, “Kenapa? Apakah salahnya ia datang kemari?”
“Persetan! Jangan pura-pura dungu seperti itu. Aku tahu, kau bukan gadis belasan tahun yang tidak mengerti apa-apa tentang seorang laki-laki. Bagiku kau adalah seorang perempuan yang pintar dan memiliki pengetahuan yang luas tentang laki-laki,” geram Tandabaya.
Perempuan itu tertawa semakin keras. Katanya, “Jangan begitu Kakang. Sebaiknya kau tidak berpikir yang aneh-aneh. Sudahlah, silakan duduk. Aku akan menyediakan semangkuk minuman panas bagimu. Kau tahu, bagi orang lain aku tidak menjamunya dengan apapun juga.”
Perempuan itu tidak menunggu Ki Tandabaya menjawab. Ia pun segera melangkah masuk ke ruang dalam dan meninggalkan Ki Tandabaya duduk seorang diri merenungi keadaannya.
Dalam pada itu, hari-hari yang ditunggu itu pun menjadi semakin dekat juga. Di Pajang, peristiwa tertahannya Ki Pringgabaya menjadi bahan pembicaraan. Beberapa orang perwira menjadi marah karenanya. Tetapi ada juga orang yang berpikir dengan hati yang bening. Jika tidak terjadi sesuatu, tentu Senapati Ing Ngalaga tidak akan berani berbuat demikian.
Tetapi kelompok tertentu, tahu pasti apa sebabnya maka Ki Lurah Pringgabaya telah ditahan di Mataram. Bahkan kelompok tertentu itu sudah melakukan usaha-usaha pasti, dengan membunuh orang yang telah tertahan itu. Dan tugas itu diserahkan kepada seseorang yang bernama Ki Tandabaya, yang dalam kedudukannya ia bukan seorang prajurit Pajang, meskipun ia mengenal banyak orang prajurit dan bahkan para perwiranya. Tetapi ia adalah seorang pengawal khusus yang mempunyai kedudukan serupa dengan seorang prajurit di Kepatihan Pajang. Namun yang telah menyerahkan diri dalam satu landasan perjuangan untuk menegakkan kejayaan masa lampau menurut citra mereka.
Dengan licin ia berhasil mengelabui beberapa orang kawannya, sehingga ia mendapat kesempatan yang cukup untuk melakukan tugas-tugasnya yang justru tidak ada hubungannya dengan tugasnya sebagai pengawal khusus di kepatihan.
Sementara beberapa orang perwira dengan tidak sabar ingin datang melihat dan mendengar langsung, apa yang telah terjadi, sehingga Ki Lurah Pringgabaya harus ditahan di Mataram dengan tuduhan yang sangat menyakitkan hati itu, maka Ki Tandabaya telah berusaha untuk membunuh orang itu. Kematiannya tentu akan semakin membakar kemarahan orang-orang Pajang, atau karena kematiannya, Mataram tidak akan dapat membuat tuduhan-tuduhan berdasarkan atas pengakuan Ki Lurah Pringgabaya itu.
Sama sekali tidak terbesit niatnya untuk membebaskan saja Ki Lurah Pringgabaya. Meskipun dengan demikian, Ki Pringgabaya yang sudah berada di luar itu akan dapat melontarkan tuduhan-tuduhan palsu atau semacam itu yang akan dapat menuntut hukuman bagi kelancangan Senapati Ing Ngalaga yang telah berani bertindak atas seorang prajurit Pajang.
“Kematiannya akan memberikan penyelesaian yang lebih baik,” berkata Tandabaya di dalam hatinya.
Sementara itu, maka beberapa orang di lingkungan keprajuritan Pajang telah berusaha untuk menunda setiap usaha untuk mengirimkan beberapa orang ke Mataram memenuhi permintaan Senapati Ing Ngalaga untuk melihat sendiri keadaan Ki Pringgabaya dan barangkali untuk berbicara langsung dengan orang yang tertawan dengan tuduhan yang sangat menyakitkan hati itu.
“Kita menunggu penjelasan Senapati Ing Ngalaga,” berkata salah seorang perwira yang dengan sengaja menghambat keberangkatan sekelompok perwira yang akan bertemu dengan Ki Lurah Pringgabaya.
“Penjelasan yang mana,” jawab mereka yang sudah siap untuk berangkat, “keterangan Senapati Ing Ngalaga sudah jelas. Kitalah yang akan mendapat penjelasan langsung dari Ki Lurah Pringgabaya jika kita akan dapat bertemu dengan orang itu.”
“Apakah Senapati menjamin bahwa Ki Lurah Pringgabaya akan berbicara sebenarnya?” desis orang yang pertama.
“Kenapa?” bertanya kawannya.
“Senapati Ing Ngalaga dapat saja mengancam Ki Lurah Pringgabaya agar memberikan keterangan yang tidak benar, sesuai seperti yang dikehendaki oleh Senapati Ing Ngalaga itu. Jika Ki Lurah tidak berkata seperti yang dikehendaki oleh Raden Sutawijaya, maka Raden Sutawijaya akan dapat berbuat apa saja sepeninggal kita dari Mataram,” jawab perwira yang pertama.
Kawannya mengerutkan keningnya. Namun katanya, “Aku mempunyai satu gambaran tersendiri tentang Ki Lurah Pringgabaya. Ia bukan seorang prajurit yang berjiwa kerdil. Agaknya ia akan bertahan pada harga dirinya. Apapun yang dilakukannya, ia akan mempertanggungjawabkannya.”
“Sebagai perampok dan pembunuh?” desis perwira yang pertama.
“Aku memang tidak yakin. Tetapi jika tuduhan itu tidak benar, maka akibatnya akan menjadi sangat gawat. Hubungan Pajang dan Mataram yang memburuk tanpa diketahui dengan pasti sebab sebabnya ini akan bertambah buruk.”
“Karena itu kita harus berhati-hati,” berkata perwira yang pertama, “kita tidak boleh tergesa-gesa. Kita harus berusaha melihat latar belakang sikap Senapati Ing Ngalaga. Apakah ia dengan sengaja memancing kekeruhan, atau karena sebab-sebab yang lain. Bertemu dengan Ki Lurah itu tidak akan menjamin bahwa persoalannya akan menjadi semakin jelas,” ia berhenti sejenak, namun tiba-tiba ia berkata, “Apakah Senapati tidak sekedar mengada-ada dengan undangannya itu?”
“Mengada-ada bagaimana?” bertanya kawannya.
“Memancing persoalan. Justru karena itu, kita harus berhati-hati dan tidak tergesa-gesa.”
Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi semuanya terserah kepada pimpinan tertinggi prajurit Pajang atau perintah langsung dari Kanjeng Sultan di Pajang atau Ki Patih yang mendapat kuasa dari Kanjeng Sultan karena kesehatannya yang kurang baik.
Namun ternyata tidak segera ada perintah untuk berangkat. Agaknya beberapa pihak memang masih menunggu perkembangan keadaan yang lebih meyakinkan.
Pada saat itulah, Ki Tandabaya dengan jantung yang berdebaran menunggu hari-hari yang menurut perhitungannya merupakan hari-hari yang paling aman untuk melakukan tugasnya.
Sebenarnyalah, dua hari sebelum hari yang ditentukan, Senapati Ing Ngalaga telah meninggalkan rumahnya dengan seekor kudanya yang baru. Kepada para pengawalnya ia telah mengatakan, bahwa ia akan mencoba kemampuan kudanya sampai hari Jumat mendatang.
“Malam Jumat ia tidak ada di rumahnya,” berkata seorang pengikut Ki Tandabaya yang telah mendapatkan keterangan itu.
Ki Tandabaya mengangguk-angguk. Ia dapat mempergunakan malam sebelumnya atau malam Jumat itu sendiri seperti yang diperhitungkan selama ia mempersiapkan diri dalam tugas yang dibebankan oleh Ki Racik kepadanya. Tugas yang memang sangat menarik baginya.
Namun akhirnya Ki Tandabaya memilih hari-hari seperti yang sudah ditentukan, setelah ia mendapat kepastian, bahwa Pajang tidak tergesa-gesa mengirimkan beberapa orang perwiranya untuk menemui Ki Lurah Pringgabaya.
Demikianlah, akhirnya hari yang ditunggu itu pun datang. Ki Tandabaya telah mempersiapkan beberapa orang yang akan ikut mengamati tugasnya. Ia tidak akan sekedar datang melihat keadaan seperti yang pernah dilakukannya. Tetapi ia akan datang dan membunuh orang yang akan dapat menjadi sumber keterangan bagi orang-orang Mataram dan sekaligus akan memaksa Senapati Ing Ngalaga mempertanggung jawabkan peristiwa kematian Ki Lurah Pringgabaya yang berada di bawah kekuasaannya pada hari-hari terakhir, karena Senapati Ing Ngalaga telah menangkap dan menahannya.
Seperti yang pernah dilakukannya, maka Ki Tandabaya pun akan membawa bersama Dugul yang memiliki pengalaman khusus. Tetapi untuk membunuh Ki Lurah Pringgabaya, Ki Tandabaya agaknya kurang mempercayainya. Ki Lurah Pringgabaya adalah orang yang luar biasa, yang memiliki kemampuan yang tinggi. Karena itu, maka ia sendirilah yang akan datang ke tempat Ki Lurah itu ditahan dan ia sendirilah yang akan membunuhnya.
Selain anak panah beracun, Ki Tandabaya juga menyiapkan beberapa ekor ular berbisa. Jika ia tidak sempat membunuhnya langsung, maka ia akan melepaskan ular-ular berbisa itu ke dalam bilik yang sempit dan tertutup.
“Ada empat ekor ular bandotan, seekor ular gadung dan dua ekor ular weling,” berkata salah seorang pengikutnya.
“Yang mana yang paling baik aku bawa?” berkata Ki Tandabaya.
“Ular bandotan termasuk ular yang ganas. Tetapi ular gadung yang hijau itu pun akan sangat berbahaya, karena ia akan menyerang sambil meluncur dari atas pepohonan jika ia berada di luar. Di dalam bilik itu, ular gadung akan menyerang dari atap. Tetapi bisanya tidak setajam bisa ular bandotan,” berkata pengikutnya.
Ki Tandabaya mengangguk-angguk. Tetapi ia lebih percaya kepada ujung panahnya daripada bisa ular itu, karena dalam keadaan yang khusus, orang-orang Mataram akan dapat mengobatinya.
Meskipun mungkin orang-orang Mataram juga dapat mengobati bisa pada ujung anak panahnya, tetapi jika anak panah itu menghunjam ke dalam tubuh, maka waktu yang tersisa dari hidupnya tinggal terlalu singkat, sehingga kemungkinan untuk menolongnya dengan obat yang betapa pun tinggi khasiatnya, tentu akan terlambat. Apalagi Ki Pringgabaya adalah seorang yang berada di dalam bilik tahanan yang tidak dengan cepat dapat ditolong.
Tetapi Ki Tandabaya masih tetap mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang lain, sehingga ular-ular berbisa itu pun akan dibawanya di dalam kantong yang tebal, yang terbuat dari kulit.
“Kalian harus bersiap menghadapi segala kemungkinan,” berkata Ki Tandabaya kepada para pengikutnya, “juga kemungkinan bahwa kerja kami akan diketahui oleh para pengawal. Dalam keadaan yang demikian kalian harus dapat memecah perhatian para pengawal, sehingga kita masing-masing akan mempunyai kesempatan lebih besar untuk melepaskan diri.”
Dengan teliti Ki Tandabaya memberikan pesan kepada para pengikutnya. Di mana masing-masing harus menunggu dan apa yang harus mereka lakukan jika benar-benar para pengawal Mataram dapat melihat mereka.
“Ki Tandabaya terlalu berhati-hati,” berkata Dugul, “jika sekiranya Ki Tandabaya percaya, serahkan tugas itu kepadaku.”
“Bukan aku tidak percaya kepada kemampuanmu, Dugul,” jawab Ki Tandabaya, “tetapi Ki Pringgabaya adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Jika kau harus bertanding ilmu meskipun Ki Pringgabaya ada di dalam bilik tahanan, maka kau tidak akan dapat berbuat apa-apa.”
“Aku tidak akan membenturkan ilmu kanuragan. Tetapi aku akan datang seperti yang aku lakukan pekan yang lalu. Membuka atap dan melepaskan anak panah ke tubuh yang berada di dalam bilik itu,” berkata Dugul, “nah, apakah sulitnya?”
Tetapi keragu-raguan tetap membayang di wajah Ki Tandabaya. Tugas itu tidak dapat begitu saja dipercayakan kepada orang lain. Meskipun Dugul memiliki kemampuan berdasarkan pengalaman yang panjang di dalam pekerjaannya sebagai seorang pencuri dan perampok, namun untuk dilepaskan begitu saja dalam tugas yang penting itu, agaknya masih diragukan.
Karena itu, maka katanya, “Baiklah kita melakukan bersama-sama. Kau dengan pengalamanmu, dan aku akan membayangimu, jika tiba-tiba saja di luar perhitungan kita, terjadi sesuatu yang perlu di atasi dengan kemampuan ilmu. Aku kira aku masih akan sanggup mengimbangi ilmu Ki Lurah Pringgabaya di dalam atau di luar bilik tahanannya. Seandainya ilmunya selapis lebih baik dari ilmuku, namun kesempatankulah yang lebih baik dari kesempatannya. Dengan demikian aku berharap, bahwa dalam keadaan ini aku akan dapat menyelesaikan tugasku.”
Demikianlah, maka segala sesuatu telah dipersiapkan dalam tugas yang akan segera dilaksanakan. Tugas yang cukup berat, meskipun segalanya sudah diperhitungkan.
Ki Tandabaya dan Dugul pun segera mendekati halaman rumah itu ketika malam menjadi semakin malam. Beberapa orang pengikutnya telati menempatkan diri pula ditempai yang sudah ditetapkan. Jika sesuatu terjadi, maka mereka harus bertindak cepat. Jika perlu mereka harus bertempur melawan para pengawal di halaman itu.
“Apakah Ki Tandabaya tidak mempergunakan ilmu sirep untuk mengamankan rencana yang penting itu?” bertanya salah seorang pengikutnya ketika mereka hampir berangkat.
Ki Tandabaya menggeleng. Jawabnya, “Sirep justru akan merupakan isyarat yang dapat dimanfaatkan oleh orang-orang Mataram. Demikian sirep itu mulai menyentuh rumah itu, maka orang-orang terpenting di Mataram, termasuk Ki Juru jika ia tidak mengikuti Senapati Ing Ngalaga pergi ke Ganjur, atau ke tempat mana pun yang dianggapnya paling baik untuk mencoba kemampuan kudanya yang baru, akan segera mengerti, bahwa sesuatu akan terjadi. Dan itu pun akan segera mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Dengan demikian, maka Ki Tandabaya sama sekali tidak mempergunakan ilmu yang dianggapnya justru akan merugikan itu.
Untuk beberapa saat Ki Tandabaya menunggu. Kemudian pada saat yang paling tepat ia pun bergeser melekat dinding halaman. Busur dan anak panah dalam ukuran kecil yang akan dipergunakannya telah disiapkannya. Sementara Dugul membawa kantong kulit berisi beberapa ekor ular berbisa yang akan dilepaskan pula ke dalam bilik Ki Lurah Pringgabaya.
“Kita akan melakukan seperti apa yang pernah dilakukan di halaman ini,” desis Ki Tandabaya. “Jika Ki Racik sendiri pernah melakukannya dan berhasil, meskipun ia mempergunakan paser beracun untuk membunuh seseorang yang ditangkap oleh Raden Sutawijaya beberapa saat lampau, maka sekarang aku pun harus berhasil,” geram Ki Tandabaya.
Dugul mengangguk-angguk. Namun ia pun mengerti, bahwa Ki Racik mempunyai beberapa kelebihan. Namun ia pun berkata di dalam hatinya, “Mudah-mudahan Ki Tandabaya berhasil. Jika Raden Sutawijaya benar-benar tidak ada di rumahnya, maka Ki Lurah Pringgabaya itu untuk sesaat akan terlepas dari pengamatannya langsung. Jika demikian, maka kemungkinan itu akan dapat terjadi tanpa kesulitan.”
Dugul memang pernah mendengar cerita seseorang, bahwa Ki Racik pun pernah membunuh seseorang yang dianggap berbahaya dan ditahan di halaman rumah Raden Sutawijaya. Tetapi Dugul tidak tahu, apakah orang itu mempunyai bobot yang sama dengan Ki Lurah Pringgabaya sehingga pengamatan dan penjagaannya pun setingkat dengan yang dilakukan atas Ki Lurah Pringgabaya.
“Entahlah,” desis Dugul, “mungkin cerita itu sekedar sebagai pendorong tugas Ki Tandabaya atau sekedar dongeng saja.”
Sementara itu, maka keduanya pun bergeser semakin mapan. Dugul yang berpengalaman itu pun segera meloncat dinding untuk memperhatikan keadaan di bagian dalam dinding itu.
Ternyata bahwa di bagian dalam halaman itu rasa-rasanya cukup aman. Karena itulah maka ia pun segera memberi isyarat kepada Ki Tandabaya untuk meloncat pula seperti yang dilakukannya.
Sejenak kemudian, keduanya telah berada di dalam halaman yang kelam dan terlindung oleh bayangan pohon perdu. Sejenak mereka menunggu. Kemudian keduanya pun merayap ke balik sebatang pohon ceplok piring.
“Kita akan memanjat seperti yang pernah kita lakukan,” desis Dugul.
Ki Tandabaya tidak menjawab. Tetapi ia pun ikut beringsut ke balik sebatang pohon soka putih yang berdaun lebat.
Sekali mereka melihat dua orang pengawal melintas. Namun mereka berhasil menahan pernafasan mereka, sehingga tidak menarik perhatian kedua orang yang lewat beberapa langkah saja di hadapan mereka.
Seperti yang pernah mereka lakukan, maka keduanya pun kemudian telah memanjat ke atap. Ketika mereka telah berada di atas atap gandok rumah Raden Sutawijaya, maka untuk beberapa saat yang lamanya keduanya menelungkup melekat tanpa bergerak sama sekali.
Dengan pendengarannya yang tajam. Ki Tandabaya meyakinkan, bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui atau bahkan mengikutinya.
Sejenak kemudian, setelah Ki Tandabaya yakin, bahwa tidak ada seorang pun di sekitarnya, maka mereka pun beringsut setapak demi setapak.
Rasa-rasanya tugas itu tidak terhambat oleh apapun juga. Keduanya dapat melakukannya tugas yang berat itu dengan lancar.
“Disini,” bisik Dugul kemudian.
Ki Tandabaya pun masih mengenal, bahwa mereka berdua telah berada dialas bilik yang pernah dilihatnya pekan lalu. Bilik yang berdinding kayu yang tebal dan dijaga oleh beberapa orang secara khusus itu adalah bilik tempat Ki Pringgabaya disimpan.
Dengan sangat berhati-hati, maka Dugul berusaha membuka atap sedikit demi sedikit. Ketika atap itu terbuka sedikit, maka keduanya dapat melihat ke bawah. Dan keduanya melihat, seseorang yang telah tidur dengan nyenyaknya berselimut kain panjang.
“Gila!” desis Tandabaya, “Pringgabaya itu dapat juga tidur nyenyak dalam keadaan seperti itu.”
“Ia sudah pasrah,” bisik Dugul.
“Tentu ia sudah bertekad untuk tidak berahasia lagi sehingga ia tidak merasa gelisah oleh keadaannya. Ia tentu sudah memutuskan untuk berkhianat saja,” sahut Tandabaya lambat sekali.
Dugul tidak menjawab. Ia pun mengerti, bahwa Ki Tandabaya ingin membunuhnya apapun alasannya, karena itu, bagaimana pun juga, maka di mata Ki Tandabaya, maka Ki Lurah Pringgabaya telah melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan.
Karena itu, maka Ki Tandabaya pun segera memerintahkan Dugul untuk membuka atap itu lebih lebar lagi. Sehingga akhirnya, Ki Tandabaya itu dapat membidik dengan anak panahnya yang berukuran kecil.
“Aku siap membunuhnya,” geramnya, “tetapi siapkan pula ular-ular itu. Kita akan melontarkan ular itu ke dalam, meskipun aku sudah membunuhnya dengan anak panah ini.”
Dugul hanya mengangguk saja. Tetapi ia sudah siap melepaskan kantong kulitnya yang berisi beberapa ekor ular yang sangat berbisa.
Untuk beberapa saat lamanya, Ki Pringgabaya memperhatikan keadaan. Dari celah-celah atap yang terbuka agak lebar ia melihat dinding kayu yang kokoh di seputar bilik itu. Kerangka atap yang jaraknya terlalu sempit sehingga tidak mungkin seseorang dapat meloloskan diri tanpa memecahkannya. Meskipun kemampuan Ki Lurah Pringgabaya memungkinkan, tetapi para pengawal tentu akan mendengarnya dan siap untuk mengepungnya.
“Tidak ada cara yang dapat ditempuh untuk menolongnya, melepaskannya dari bilik itu,” gumamnya sambil memasang anak panahnya yang kecil itu pada busur yang juga dalam ukuran kecil, “karena itu, bukan salahku jika aku menempuh jalan terakhir. Membungkammu dan barangkali kau pun akan berterima kasih karena aku telah membebaskan dari penderitaan itu.”
Dugul menarik nafas dalam-dalam. Namun nafasnya itu bagaikan terhenti ketika ia melihat Ki Tandabaya menarik busur kecilnya.
Dugul melihat bagaimana Ki Tandabaya membidik lewat lubang yang dibuatnya pada atap itu. Kemudian ketegangan itu pun memuncak ketika ia melihat Ki Tandabaya melepaskan anak panahnya.
Tidak terdengar keluhan apapun juga. Ia tidak melihat tubuh itu menggeliat.
Sambil menarik nafas dalam-dalam Ki Tandabaya berdesis, “Aku yakin bahwa aku telah berhasil.”
“Tetapi aku merasa aneh,” sahut Dugul perlahan-lahan, “orang itu sama sekali tidak bergerak. Bagaimana pun juga tajamnya racun pada anak panah itu, tetapi sentuhan ujungnya akan mengejutkannya. Setidak-tidaknya ia akan menggeliat, meskipun ia tidak akan sempat berteriak.”
“Tetapi kau lihat,” sahut Ki Tandabaya, “anak panah itu tertancap pada tubuhnya. Pada Lambungnya.”
Dugul menahan nafasnya. Ketika sekilas, ia memandang wajah Ki Tandabaya, ia pun melihat ketegangan yang sangat. Bahkan Ki Tandabaya beberapa kali telah mengusap keningnya yang nampaknya berkeringat.
“Memang aneh,” tiba-tiba ia berdesis.
“Aku akan melihatnya,” tiba-tiba Dugul berkata perlahan-lahan, “jika Ki Tandabaya tidak berkeberatan, aku akan turun.”
“Bagaimana kau akan memasuki ruangan itu. Kerangka atap ini tidak akan dapat memberikan jalan kepadamu. Tetapi jika kita merusaknya, maka para pengawal akan mendengarnya.”
Dugul termangu-mangu. Dirabanya kerangka yang rapat, yang tidak dapat memberikan jalan kepadanya untuk menyusup masuk ke ruang di bawahnya.
Dalam pada itu, keragu-raguan mereka pun semakin mendebarkan. Tubuh itu sama sekali tidak bergerak. Dan bahkan semakin lama keduanya memperhatikan, jantung mereka menjadi semakin keras berdetak.
Untuk beberapa saat Ki Tandabaya justru membeku. Ia memusatkan pengamatannya kepada tubuh yang terbaring berselimut kain panjang itu.
“Kita terlalu bodoh,” geram Ki Tandabaya
“Kenapa?” bertanya Dugul.
“Kita dicengkam oleh ketegangan dan ketergesa-gesaan, sehingga kita tidak sempat memperhatikan tubuh itu sebelum kita menusuknya dengan anak panah Seharusnya aku mengetahui, apakah yang terbaring itu bernafas atau tidak sebelum aku melontarkan anak panah itu desis Ki Tandabaya.
“Maksud Ki Tandabaya, bahwa Ki Lurah Pringgabaya telah mati sebelum Ki Tandabaya membunuhnya?” bertanya Dugul.
“Mungkin begitu, tetapi mungkin sekali yang berselimut itu bukan Ki Lurah Pringgabaya,” geram Ki Tandabaya.
Wajah Dugul menegang. Ia memang tidak dapat melihat dengan jelas karena lampu minyak yang suram. Tetapi juga jarak dari sisi bumbungan atap itu cukup panjang.
Meskipun demikian, seharusnya mereka dapat melihat lebih seksama sebelum Ki Tandabaya melontarkan anak panahnya, apakah sebenarnya sasaran mereka itu sudah benar.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba Ki Tandabaya berdesis, “Agaknya kita sudah terjebak Dugul. Bersiaplah. Mungkin kita akan menghadapi sesuatu yang tidak kita duga sebelumnya.”
“Bagaimana dengan ular-ular ini?” bertanya Dugul.
“Tidak ada gunanya. Aku mempunyai dugaan kuat, bahwa yang ada di dalam itu bukan Ki Lurah Pringgabaya. Bukan pula mayatnya. Tetapi kita sudah dikelabui, justru karena orang-orang Mataram terlalu cerdik. Mereka mengerti, kehadiran seseorang di sini tentu dicengkam oleh ketegangan dan ketergesa-gesaan, sehingga tidak sempat memperhatikan sasarannya sebaik-baiknya sebelumnya,” bisik Ki Tandabaya, “untunglah bahwa kita sempat mencurigainya setelah kita melontarkan anak panah kita.”
Dugul menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Marilah kita meninggalkan tempat ini.”
Tetapi ketika Dugul akan beringsut, Ki Tandabaya berdesis, “Jangan melalui jalan semula. Kita turun melalui arah lain.”
Dugul mengerutkan keningnya. Namun ia pun mengerti. Mungkin mereka benar-benar telah terjebak dan diawasi sejak mereka memanjat naik. Tetapi jebakan itu mungkin juga sekedar mengelabui orang-orang yang diperhitungkan oleh orang-orang Mataram, akan datang untuk membunuh tawanan mereka, tanpa mengetahui saat-saat yang pasti.
Tetapi mereka memang harus berhati-hati. Karena itu, maka ia pun sependapat dengan Ki Tandabaya untuk mengambil jalan lain saat mereka turun dari atas atap.
Ternyata mereka membutuhkan waktu yang cukup panjang. Dugul yang berpengalaman itu harus memperhatikan keadaan sebaik-baiknya. Sementara kemampuan indera Ki Tandabaya yang terlatih telah membantunya, mengamati medan yang bagi mereka menjadi sangat gawat.
Sampai saat mereka mencapai sudut atap gandok, mereka masih merasa terlepas dari pengawasan. Karena itu, setelah menunggu beberapa saat, maka mereka pun segera meluncur turun.
Untuk beberapa saat mereka menunggu. Mereka berniat untuk merayap melintasi halaman samping dan berlindung dibalik pepohonan perdu yang memang ditanam sebagai pohon hiasan di halaman samping.
Sekilas mereka melihat dalam keremangan malam, bunga ceplok piring yang berwarna putih mengkilap. Baunya yang tajam memenuhi seluruh halaman yang nampaknya sepi lengang.
Namun bagi Ki Tandabaya yang berindera tajam, kesepian itu benar-benar sangat menegangkan.
“Berhati-hatilah,” desisnya sambil menggamit lengan Dugul.
Dugul pun mempersiapkan diri sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Ia masih membawa kantong kulit yang berisi ular-ular berbisa. Bahkan kemudian ia telah mengendurkan ikatan kantong kulit itu.
Ternyata seperti yang diduga oleh Ki Tandabaya. Sambil menggamit Dugul sekali lagi ia berdesis, “Aku melihat ujung tombak dibalik batang kemuning yang rimbun itu.”
Dugul pun menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memperhatikan pohon kemuning di sudut halaman, ia pun melihat, sebatang ujung tombak yang mencuat dari balik pohon itu.
Tetapi akhirnya Ki Tandabaya pun melihat, bukan hanya ujung tombak itu yang menunggunya, tetapi ketika sekelompok pohon perdu bergetar perlahan-lahan, ia pun mengerti, bahwa dibalik pohon itu pun bersembunyi seseorang.
“Beberapa orang telah mengepung kita,” desis Ki Tanda baya kemudian.
“Tidak ada gunanya kita bersembunyi lagi,” berkata Ki Tandabaya kemudian, “kita akan bertempur. Tanpa Senapati Ing Ngalaga, orang-orang Mataram tidak banyak berarti bagiku, selain Ki Juru Martani. Mudah-mudahan Ki Juru Martani tidak ada di antara orang-orang itu atau bahkan pergi bersama Senapati Ing Ngalaga.”
Dugul termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “Kita beri isyarat kepada kawan-kawan kita. Dengan demikian kita akan dapat memecah perhatian para pengawal. Seharusnya Ki Tanda baya dapat melepaskan diri justru ada dua orang di sini yang akan dapat kita akan dapat memecah perhatian para pengawal. Seharusnya Ki Tandabaya dapat melepaskan diri dari tangan orang-orang Mataram. Jika Ki Tandabaya tertangkap, maka justru ada dua orang di sini yang akan dapat menggelisahkan para pemimpin di Pajang.”
Ki Tandabaya menjadi semakin tegang.
“Aku tidak banyak mengetahui tentang orang-orang Pajang. Biarlah aku di sini,” berkata Dugul, “tetapi aku serahkan anak istriku kepada Ki Tandabaya agar mereka tidak mengalami kesulitan hidup.”
Ki Tandabaya menjadi semakin berdebar-debar. Sebelum Ki Tandabaya memberikan pendapatnya, tiba-tiba saja terdengar Dugul itu bersuit nyaring. Suaranya menggeletar sampai keluar dinding halaman dan didengar oleh beberapa orang pengikut Ki Tandabaya.
“Isyarat itu,” desis seseorang.
Ki Tandabaya sendiri menjadi tegang. Tetapi isyarat itu sudah dilontarkan, sehingga ia harus segera menyesuaikan diri.
“Berbuatlah sesuatu untuk menyelamatkan diri, Ki Tandabaya,” berkata Dugul, “jangan hiraukan lagi aku dan kawan-kawan yang akan menarik perhatian para pengawal. Seandainya satu dua orang di antara kami tertangkap, maka tidak ada apapun yang akan dapat kami katakan, karena yang kami ketahui tentang Pajang pun hanya sedikit sekali.”
Jantung Ki Tandabaya tergetar. Baginya Dugul tidak lebih dari seorang pengikut yang kurang berarti. Ia diangkat dari dunianya yang gelap. Pengalamannya sebagai seorang pencuri dan perampok yang disegani oleh lingkungannya, ternyata diperlukan oleh Ki Tandabaya. Namun ternyata Dugul adalah seorang yang memiliki kesetiaan dan tanggung jawab. Bahkan ia telah bersedia mengorbankan dirinya sendiri.
Dalam waktu yang pendek itu tebersit satu kilasan perbandingan antara dirinya sendiri dengan Dugul, orang yang dianggapnya kurang berharga itu. Jika Dugul dengan setia bersedia mengorbankan dirinya, apakah yang telah dilakukannya terhadap kawannya yang justru sedang berada di dalam kesulitan. Yang justru berada di dalam bilik tahanan.
“Aku justru membunuhnya tanpa usaha sedikit pun untuk membebaskannya,” berkata Ki Tandabaya di dalam hatinya. Seharusnya, yang dilakukan itu adalah usaha terakhir, setelah segala usaha tidak berhasil. Namun justru ia telah melakukannya sebagai satu-satunya usaha.
Sementara itu, para pengikut Ki Tandabaya yang telah mendengar isyarat itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka menyadari, bahwa isyarat itu tentu menunjukkan, bahwa Ki Tandabaya mengalami kesulitan
Karena itu, maka mereka pun segera bertindak sesuai dengan pesan-pesan yang telah diberikan oleh Ki Tandabaya itu sendiri.
Beberapa orang pengikut Ki Tandabaya yang sudah disiapkan itu pun segera meloncati dinding memasuki halaman. Mereka langsung menuju ke tempat yang sudah diberitahukan oleh Ki Tandabaya.
Tetapi mereka tidak menjumpai apapun juga. Tanpa mereka mengerti, apa sebenarnya yang telah terjadi. Ki Tandabaya tidak berada di tempat yang sudah disebutkannya.
Sebenarnyalah, mereka tidak mengetahui bahwa Ki Tandabaya telah turun lewat sudut yang lain. Namun, ternyata di sudut yang lain itu pun, para pengawal dapat mengetahuinya.
Dugul pun agaknya mengerti, bahwa perubahan itu akan membingungkan para pengikut Ki Tandabaya. Karena itu, maka ia pun telah bersuit sekali lagi, sebagai satu isyarat, di mana ia berada.
Para pengikut yang telah berada di dalam halaman itu pun segera mengerti, bahwa perubahan telah terjadi, sehingga mereka pun segera menyesuaikan diri.
“Tentu para pengawal berkumpul di tempat itu pula,” desis salah seorang dari mereka.
Tetapi ketika para pengikut Ki Tandabaya itu mulai beringsut dari tempatnya, beberapa orang pengawal telah berlari-lari mendekatinya dengan tombak merunduk. Salah seorang dari mereka membentak, “Berhenti di tempatmu!”
Sejenak para pengikut Ki Tandabaya itu tertegun. Namun kemudian seorang yang tertua di antara mereka berdesis, “Tiga orang di antara kalian tinggal. Kami, yang lain akan mencari Ki Tandabaya.”
Tanpa saling berjanji, tiga orang di antara mereka telah bersiap menghadapi para pengawal yang mendekat, sementara kawan-kawannya telah meninggalkannya.
“Mereka tidak akan sempat berbuat sesuatu,” geram salah seorang dari para pengawal itu, “Kawan-kawan kami telah siap menunggu kalian.”
Ketiga orang itu tidak menjawab. Tetapi mereka pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun pengawal yang mendekati mereka itu berjumlah lima orang, tetapi tiga orang pengikut Ki Tandabaya itu tidak meninggalkan mereka.
Namun dalam pada itu, tiga orang pengikut Ki Tandabaya yang memasuki halaman itu dari arah lain, telah berlari-lari pula mendekat sambil berkata, “Aku akan membantu kalian.”
“Cari Ki Tandabaya,” berkata salah seorang dari ketiga orang yang telah bersiap itu, “aku akan membunuh para pengawal yang dungu ini.”
Ketiga orang yang baru datang itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian yang seorang berkata, “Aku akan tinggal membantu mereka. Carilah Ki Tandabaya dan Dugul!”
Kedua orang kawannya pun segera berlari menghilang. Yang seorang di antara mereka pun segera melangkah satu-satu mendekati kawan-kawannya yang sudah berhadapan dengan lima orang pengawal.
“Jangan rendahkan kemampuan para pengawal,” berkata pengikut Ki Tandabaya yang baru datang itu, “karena itu, aku akan membantu kalian.”
Ketiga orang kawannya tidak menjawab. Tetapi kehadiran orang itu tentu saja membuat hati mereka semakin tenang.
Kelima orang itu pun kemudian menebar. Mereka menghadapi para pengikut Ki Tandabaya itu dari arah yang berbeda. Seakan-akan mereka berusaha untuk mengepung pengikut Ki Tandabaya itu dari segala arah. Tetapi karena seorang dari mereka, justru yang baru datang itu tidak berada di sisi ketiga orang kawannya, maka ia harus dihadapi secara khusus.
“Aku tetap di sini,” berkata orang itu yang nampaknya dengan sengaja berdiri beberapa langkah dari kawan-kawannya.
Para pengawal menghadapi orang keempat yang datang kemudian, sementara empat orang yang lain telah mengepung tiga orang pengikut Ki Tandabaya.
Sejenak kemudian, para pengawal itu pun mulai menggerakkan senjata mereka. Sehingga pertempuran- pun pecah karenanya.
Ternyata para pengikut Ki Tandabaya itu pun merupakan orang-orang terlatih. Meskipun mereka bukan prajurit yang mendapat latihan khusus, tetapi mereka secara pribadi telah memiliki kemampuan yang mereka pelajari secara khusus.
Namun yang mereka hadapi adalah para pengawal Mataram. Pengawal yang dibentuk dalam suasana yang hangat dan prihatin. Sejak Mataram mulai dengan membuka hutan Mentaok sehingga perlahan-lahan tumbuh menjadi daerah yang semakin ramai. Sehingga dengan demikian, maka mereka telah memiliki naluri pertempuran yang gigih.
Karena itulah, maka pertempuran itu pun segera menjadi semakin sengit. Namun, ternyata bahwa kemampuan para pengawal, apalagi dalam jumlah yang tidak sama.
Namun ternyata salah seorang pengikut Ki Tandabaya yang datang kemudian itu memiliki kelebihan dari kawannya. Apalagi ia hanya bertempur seorang melawan seorang. Dengan demikian, maka ia mampu mengembangkan perlawanannya.
Tetapi karena ketiga orang kawannya segera terdesak, maka ia pun telah terpengaruh pula. Bahkan ia pun menjadi gelisah dan tergesa-gesa ingin menyelesaikan pertempuran itu.
“Bertahanlah sejenak,” katanya kepada ketiga orang kawannya, “sebentar lagi, aku akan membunuh pengawal ini dan segera akan datang membantu kalian.”
Tetapi kata-katanya itu hampir tidak dapat diselesaikan karena senjata lawannya hampir saja menyambar mulutnya.
Dalam pada itu, selagi pertempuran itu berlangsung dengan serunya, maka beberapa orang pengikut Ki Tandabaya telah menemukannya. Dugullah meloncat ke halaman dengan senjata di tangan, sementara Ki Tandabaya masih tetap melekat dinding, berlindung dalam bayangan teritisan yang tidak terlalu tinggi.
Namun pada saat itu, beberapa orang pengawal telah mulai bergerak. Beberapa orang telah merayap mendekati tempat itu dari beberapa arah.
“Berhati-hatilah!” teriak Dugul, “Mereka mulai mendekat.”
Para pengikut Ki Tandabaya pun segera bersiap. Tetapi mereka tidak berkumpul di satu tempat. Tiga orang telah berdiri di sisi Dugul, sementara beberapa orang lainnya yang datang dari beberapa arah masih tetap tersebar.
“Gila!” geram seorang pengawal, “Ternyata orang itu membawa pengikut cukup banyak. Mereka telah mempersiapkan diri untuk menghadapi satu pertempuran terbuka. Bukan sekedar datang seperi seorang pencuri.”
“Berhati-hatilah,” berkata kawannya, “tetapi jika perlu, kita akan membunyikan isyarat. Pengawal di luar halaman ini akan berdatangan, dan mereka tidak akan mempunyai kesempatan apapun lagi.”
“Kita akan mencoba mengatasi mereka. Kecuali jika kita memang tidak mampu lagi,” desis kawannya.
Yang lain terdiam. Namun mereka pun kemudian melangkah semakin dekat dengan senjata teracu.
“Menyerahlah,” desis salah seorang pengawal, “kami sudah mengetahui apa yang kalian lakukan sejak kalian masuk ke halaman ini.”
“Aku tahu, “teriak Dugul, “aku menyadari sejak aku mengetahui bahwa yang terbaring di dalam bilik itu bukan Ki Lurah Pringgabaya.”
“Karena itu, kalian tidak akan mempunyai kesempatan lagi,” geram pengawal yang lain.
Dugul tidak menjawab. Tetapi ia bergeser maju sambil berkata, “Kami sudah siap bertempur. Siapa pun lawan kami, kami akan membinasakannya.”
Para pengawal itu pun telah bersiap sepenuhnya ketika mereka melihat Dugul mulai meloncat dengan garangnya sambil berteriak, “Kita bunuh mereka semuanya.”
Para pengikut Ki Tandabaya yang lain pun segera mulai bergerak. Mereka pun berada di tempat yang berpencar. Karena itu, maka para pengawal tidak dapat mengepung mereka, sehingga pertempuran pun kemudian terjadi di beberapa tempat di halaman samping rumah Raden Sutawijaya.
Namun sebenarnyalah, bahwa Ki Tandabaya sependapat dengan Dugul. Bukan sekedar menyelamatkan nyawa. Tetapi untuk kepentingan orang-orang Pajang dalam keseluruhan. Orang-orang Pajang yang tersangkut dalam usaha untuk menegakkan kembali satu masa yang pernah menjadi kebanggaan, meskipun menurut angan-angan mereka.
Karena itulah, maka ia masih tetap berada di tempatnya. Dengan seksama ia memperhatikan keadaan di seputarnya. Ia harus dapat melarikan diri. Kemudian, ia pun harus dapat memberikan isyarat, bahwa para pengikutnya pun harus berusaha melarikan diri pula sebanyak-banyaknya.
Namun dalam pada itu, selagi ia masih sedang memperhitungkan keadaan, seorang pengawal telah menyusup di antara para pengikutnya dan menyerangnya dengan serta merta.
Namun Ki Tandabaya adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itulah, maka ia tidak terlalu sulit untuk menghindarinya. Dengan loncatan pendek ia beringsut, sehingga senjata lawannya tidak menyentuhnya. Bahkan dengan tangkasnya ia telah menyerang kembali dengan dahsyatnya, sehingga pengawal itulah yang justru terkejut. Karena itu, maka ia pun segera meloncat jauh-jauh menghindar. Namun ujung senjata Ki Tandabaya ternyata lebih cepat dari geraknya, sehingga senjata itu telah berhasil menyentuh pundaknya.
Pengawal itu menggeram. Tetapi ia sadar sepenuhnya, siapa yang sedang dihadapinya. Karena itu, ia tidak tergesa-gesa bertindak. Sejenak ia menilai keadaan, sementara Ki Tandabaya telah siap menghadapinya.
Sementara itu Dugul dan kawan-kawannya telah bertempur pula dengan para pengawal. Dengan garangnya mereka memutar senjata mereka. Sekali-sekali terdengar salah seorang dari mereka berteriak nyaring sambil menyerang dengan serunya.
Tetapi para pengawal pun telah bersiap menghadapi mereka. Dengan demikian, maka kegarangan mereka sama sekali tidak mempengaruhi sikap para pengawal.
Dalam pada itu, Ki Tandabaya yang mulai memperhitungkan setiap saat yang akan sangat berarti baginya itu pun, telah mengambil satu sikap. Karena pengawal yang terluka itu tidak segera menyerangnya, maka ialah yang justru meloncat menyerang dengan garangnya.
Pengawal itu bergeser menghindar. Serangan Ki Tandabaya benar-benar serangan yang dilambari dengan segenap kekuatannya. Namun yang mengejutkan pengawal itu, bahwa demikian serangan Ki Tandabaya itu tidak mengenai sasarannya, ia tidak memburunya meskipun pengawal itu sendiri harus mengakui, bahwa ia tidak akan dapat mengimbangi seorang lawan seorang. Tetapi Ki Tandabaya itu pun segera meloncat meninggalkan arena.
Namun baru beberapa langkah ia berlari, tiba-tiba seorang pengawal telah menghadangnya dengan tombak merunduk. Pengawal itu tidak bertanya sesuatu. Tetapi tiba-tiba saja tombaknya telah terjulur menyerang ke arah jantung.
Ternyata Ki Tandabaya benar-benar tangkas. Ia berhasil meloncat menghindar sambil memukul tombak itu sehingga hampir saja tombak itu terlepas dari tangannya. Dalam keadaan yang demikian, Ki Tandabaya telah menjulurkan senjatanya. Demikian cepatnya sehingga pengawal itu tidak sempat menghindari. Ia hanya dapat memiringkan tubuhnya, sehingga senjata Ki Tandabaya sempat menyobek lengannya.
Pengawal itu menggeram. Terasa lengannya menjadi pedih. Namun sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya, Ki Tandabaya telah siap untuk menikamnya.
Tetapi pada saat yang gawat itu, seorang pengawal telah meloncat berlari. Ia tidak sempat mencapai tempat kawannya yang sudah dalam keadaan yang sangat gawat itu. Karena itu, maka ia pun telah melontarkan tombaknya mengarah ke lambung Ki Tandabaya.
Namun Ki Tandabaya benar-benar cekatan. Ia melihat tombak itu menyambarnya. Karena itu, ia sempat meloncat surut dan menghindari ujung tombak itu. Tetapi agaknya pengikut Ki Tandabaya tidak menghiraukan pengawal-pengawal itu lagi. Karena itu, maka ia pun segera berlari meninggalkannya menuju ke sudut halaman.
Ketika seorang pengawal yang lain memburunya, ia sempat berhenti sejenak. Menghindari serangan pengawal itu kemudian melukainya, sehingga ia berkesempatan untuk meninggalkannya.
“Gila!” geram para pengawal. Tetapi mereka tidak dapat ingkar, bahwa seorang di antara mereka yang memasuki halaman itu adalah orang yang memiliki ilmu yang luar biasa, yang tidak dapat mereka tundukkan.
Karena itu, para pengawal itu pun tidak dapat berbuat sesuatu. Mereka harus melihat kenyataan, bahwa tidak seorang pun yang dapat menghalanginya. Untuk menyerangnya bersama-sama dalam satu kelompok kecil yang terdiri atas tiga atau empat orang, nampaknya sudah tidak sempat lagi.
Meskipun demikian, seorang pengawal yang lain tidak membiarkannya. apapun yang akan terjadi, ia merasa, bahwa menjadi kewajibannya untuk menahan orang yang sudah hampir mencapai sudut halaman itu.
Dengan loncatan-loncatan panjang ia berusaha memburu. Seperti yang sudah dilakukan oleh kawannya, maka karena ia tidak akan dapat menyusul langkah orang yang dikejarnya, maka ia pun telah melontarkan tombaknya ke arah punggung.
Sekali lagi Ki Tandabaya disambar oleh ujung tombak. Namun sekali lagi pula ia berhasil menghindar. Tetapi justru karena itu, ia tidak melihat sebuah lubang di depannya. Demikian kakinya terperosok ke dalam lubang itu, maka ia pun telah jatuh berguling.
Tetapi ia benar-benar memiliki ketangkasan yang luar biasa. Demikian ia terguling, maka ia pun segera meloncat tegak kembali.
Pada saat itulah, pengawal yang melontarkan tombaknya berhasil menyusulnya. Ia sempat memungut tombaknya dan kemudian menyerang Ki Tandabaya.
Kemarahan Ki Tandabaya tidak tertahankan lagi. Apalagi karena ia sudah terjatuh sehingga lengannya terasa sakit.
“Aku akan membunuhmu,” geram Ki Tandabaya.
Pengawal itu tidak menjawab. Tombaknya terjulur lurus ke depan. Tetapi serangan itu seakan-akan tidak berarti. Dengan senjatanya, Ki Tandabaya menangkisnya. Kemudian sambil menggeram ia berkata, “Aku bunuh kau. Kau adalah pengawal yang paling menjengkelkan. Aku tidak melakukannya atas kawan-kawanmu, karena mereka tidak licik seperti kau.”
Pengawal itu bergeser surut. Tetapi Ki Tandabaya tidak memberinya kesempatan. Senjatanya telah terayun siap menebas leher pengawal yang malang itu.
Pengawal itu mencoba menghindar sambil memutar tombaknya. Ia masih berusaha menyerang dalam keadaannya yang paling gawat. Tetapi Ki Tandabaya telah menarik serangannya dan memukul tombak itu sekuat tenaganya, sehingga tombak itu terlepas dari tangan pengawal yang menyerangnya.
Jaraknya terlalu jauh bagi kawan-kawannya yang sudah terluka untuk menolongnya. Meskipun mereka juga berlari-lari, tetapi dalam sekejap Ki Tandabaya akan dapat membunuh pengawal yang kehilangan senjata itu
Sebenarnyalah Ki Tandabaya tidak mau membuang waktunya lagi. Ia ingin menikam pengawal itu. Kemudian melarikan diri sebelum pengawal yang lain mencapainya, meskipun ia akan dapat membunuh dua atau tiga orang lagi.
Namun pada saat yang demikian, tiba-tiba saja seorang pengawal telah meloncat, justru dari atas dinding. Agaknya ia bertugas di tempat yang lain. Namun karena hiruk-pikuk telah terjadi di halaman itu, maka ia pun telah meloncat memasuki halaman, tidak melalui pintu gerbang.
Kehadiran pengawal yang meloncat dari atas dinding itu telah mengejutkannya. Karena itu, maka senjatanya yang sudah terjulur ke arah pengawal yang sudah tidak bersenjata itu telah terpengaruh pula karenanya, sehingga tidak langsung menikam sampai ke jantung.
Meskipun demikian, pengawal itu telah mengaduh tertahan dan kemudian terhuyung-huyung beberapa langkah surut.
“Cepat, obati lukamu!” terdengar pengawal yang meloncat turun dari atas dinding itu bergumam.
Pengawal yang terluka itu terdiam. Tetapi kedua tangannya telah menahan darah yang mengalir dari lukanya.
Dalam pada itu, seorang pengawal yang lain, yang telah terluka pula telah datang ke tempat itu. Namun demikian ia menggerakkan tombaknya, pengawal yang meloncat dari atas dinding itu pun berkata, “Tolonglah kawanmu dan kau sendiri. Cepat, cari obat atau barangkali kau sudah membawanya, agar tidak terlambat karena kehabisan darah.”

(bersambung)

About these ads

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 56 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: