Buku 171 (Seri II Jilid 71)

15 Juli 2010

Swandaru mengangguk-angguk. Baca entri selengkapnya »


Buku 172 (Seri II Jilid 72)

15 Juli 2010

Dengan demikian, tanpa hadirnya Raden Sutawijaya, Baca entri selengkapnya »


Buku 173 (Seri II Jilid 73)

15 Juli 2010

Dalam pada itu, pengawal itu-pun kemudian berkata, Baca entri selengkapnya »


Buku 174 (Seri II Jilid 74)

15 Juli 2010

Tetapi lawannya adalah orang-orang yang berpengalaman. Baca entri selengkapnya »


Buku 175 (Seri II Jilid 75)

15 Juli 2010

“Meskipun mungkin orang itu juga tidak terkena sirepku, Baca entri selengkapnya »


Buku 176 (Seri II Jilid 76)

15 Juli 2010

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Baca entri selengkapnya »


Buku 177 (Seri II Jilid 77)

15 Juli 2010

Ki Waskita mengangguk-angguk. Baca entri selengkapnya »


Buku 178 (Seri II Jilid 78)

15 Juli 2010

Tidak seorang pun yang menyahut. Baca entri selengkapnya »


Buku 179 (Seri II Jilid 79)

15 Juli 2010

Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian minta diri kepada anak-anak muda itu. Baca entri selengkapnya »


Buku 180 (Seri II Jilid 80)

15 Juli 2010

Serangan keris itu telah mendebarkan jantung Putut Pradapa. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 60 pengikut lainnya.