Buku 191 (Seri II Jilid 91)

15 Juli 2010

Ketika kemudian matahari menjadi semakin tinggi, Baca entri selengkapnya »


Buku 192 (Seri II Jilid 92)

15 Juli 2010

Wajah Untara menjadi merah. Baca entri selengkapnya »


Buku 193 (Seri II Jilid 93)

15 Juli 2010

“Baiklah Ki Gede” berkata Panembahan Senapati, Baca entri selengkapnya »


Buku 194 (Seri II Jilid 94)

15 Juli 2010

Dengan demikian, maka memang tidak ada pilihan lain yang dapat dilakukan oleh Adipati Pajang itu. Baca entri selengkapnya »


Buku 195 (Seri II Jilid 95)

15 Juli 2010

Beberapa saat lamanya Agung Sedayu masih sempat memandangi kesombongan orang itu. Baca entri selengkapnya »


Buku 196 (Seri II Jilid 96)

15 Juli 2010

Panembahan Senapati masih juga mengangguk-angguk. Baca entri selengkapnya »


Buku 197 (Seri II Jilid 97)

15 Juli 2010

Beberapa saat anak-anak yang sedang mandi itu termangu-mangu. Baca entri selengkapnya »


Buku 198 (Seri II Jilid 98)

15 Juli 2010

Namun dalam pada itu, Raden Rangga yang ingin melihat kebakaran yang lebih besar lagi, Baca entri selengkapnya »


Buku 199 (Seri II Jilid 99)

15 Juli 2010

Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih-pun telah bersiap. Baca entri selengkapnya »


Buku 200 (Seri II Jilid 100)

15 Juli 2010

Glagah Putih tidak dapat berbuat sesuatu jika Raden Rangga memang ingin melakukannya. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 56 pengikut lainnya.