Buku 006 (Seri I Jilid 6)

Untara dan Agung Sedayu kemudian tidak membuang-buang waktu lagi. Segera mereka mulai dengan suatu latihan yang keras. Ternyata Untara benar-benar ingin melihat, sampai di mana puncak kemampuan adiknya.

Ketika latihan itu telah berjalan beberapa lama, maka tahulah Untara bahwa apa yang dikatakan oleh Widura itu memang sebenarnya demikian. Agung Sedayu mempunyai bekal yang cukup untuk menjadi seorang anak muda yang perkasa. Ketangkasan, kekuatan tenaga dan kelincahan. Apalagi kini, setelah anak muda itu menemukan kepercayaannya kepada diri sendiri, maka setiap geraknyapun seolah-olah menjadi lebih mantap. Meskipun beberapa kali Untara melihat kesalahan-kesalahan yang masih dilakukan oleh adiknya, namun kesalahan-kesalahan kecil itu segera dapat diperbaikinya.

Dalam latihan-latihan itulah, maka Widura melihat betapa Untara sebenarnya mempunyai ilmu yang hampir mumpuni. Bahkan kemudian Widura itu tersenyum sendiri mengenangkan perkelahian antara Untara dan Sidanti. “Aneh” pikirnya. “Jarang aku temui anak muda sesabar Untara dalam menghadapi lawan perkelahian apapun alasannya. Tetapi terbawa oleh tugas yang diembannya, maka agaknya Untara harus berlaku bijaksana. Kalau ia mau, maka Sidanti adalah bukan lawannya.”

Namun Agung Sedayu ternyata telah mengagumkan pula. Kini anak itu tampaknya tidak ragu-ragu lagi untuk sekali-sekali membenturkan tenaganya apabila perlu. Meskipun beberapa kali ia terdorong surut oleh kekuatan Untara, namun segera ia berhasil menguasai keseimbangan dengan kelincahannya.

Untara melihat ketangkasan adiknya itu dengan penuh kebanggaan di dalam dadanya. Apa yang dilakukan oleh Agung Sedayu, benar-benar jarang ditemuinya. Melatih diri dalam lukisan-lukisan. Membuat perhitungan-perhitungan dengan gambar. Tetapi ternyata dalam pelaksanaannyapun Agung Sedayu mampu melakukan sebagian besar dari angan-angannya yang dituangkannya di atas rontal-rontal. Hanya di sana-sini Untara masih perlu memberinya beberapa petunjuk dan perubahan, sehingga dengan demikian ilmu Sedayu itupun menjadi semakin sempurna.

Ketika Untara telah cukup mengenal ilmu adiknya, serta menganggap latihan itu telah cukup, maka segera ia menghentikannya. Agung Sedayu, yang sebenarnya telah menjadi kelelahan, segera meloncat surut dan dengan wajah yang riang ia berdiri bertolak pinggang. Meskipun demikian, tampak juga dadanya menggelombang karena nafasnya yang terengah-engah.

“Kau lelah” bertanya Untara.

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Latihan ini terlalu keras bagiku.”

“Belum sekeras perkelahian sebenarnya” Untara menyahut. “Apalagi kalau kau bertemu dengan Macan Kepatihan dengan tongkatnya yang mengerikan itu.”

Agung Sedayu menarik nafas. Kemudian iapun segera duduk di atas seonggok tanah di samping pamannya. Sedang Untara masih saja berdiri untuk kemudian memberikan beberapa petunjuk tentang kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Agung Sedayu.

“Sedayu,” berkata kakaknya, “kau ternyata mampu bertempur seorang lawan seorang. Tetapi suatu ketika kau akan turut serta dalam pertempuran brubuh. Pertempuran antara laskar Pajang dan laskar Jipang. Dalam pertempuran yang demikian kau tidak hanya dapat membanggakan kekuatan pertempuran seorang lawan seorang. Tetapi kau harus dapat menempatkan dirimu di antara kawan dan lawan.”

Agung Sedayu kemudian memperhatikan dengan seksama petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh kakaknya. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di dalam perang atara dua kekuatan dalam jumlah yang banyak. Hal-hal yang sebagian lagi pamannya telah memberitahukannya kepadanya.

Tetapi Untara itupun berhenti ketika dilihatnya sebuah bayangan yang bergerak-gerak di belakang pucuk kecil itu. Namun mereka tidak menjadi cemas karenanya. Orang itu telah mereka kenal baik-baik. Kiai Gringsing.

Namun mereka menjadi heran ketika melihat Kiai Gringsing itu tidak datang sendiri.

Ketika Untara melihat orang yang datang bersama dengan Kiai Gringsing itu, tampak wajahnya menjadi tegang. Dengan agak tergesa-gesa ia kemudian bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting dengan pekerjaanmu?”

Sebelum orang itu menjawab, terdengar Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Kenapa kau tidak mempersilahkan aku dahulu, baru bertanya kepada orang ini?”

Untara tertawa. Jawabnya “Marilah Kiai. Aku mempersilahkan Kiai.”

“Hem” Kiai Gringsing menarik nafas. Kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata, “ Apakah muridmu bertambah seorang lagi Sedayu?”

Agung Sedayu tersenyum, tetapi ia tidak menjawab. Bahkan yang berkata kemudian adalah Kiai Gringsing, “Nah, sekarang bertanyalah kepada orang itu.”

Untara mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada orang yang datang bersama dengan Kiai Gringsing, “Kemarilah.”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Ditatapnya wajah Agung Sedayu dan Widura berganti-ganti.

Untara yang dapat meraba keraguan orang itu berkat,a “Mereka adalah pemimpin laskar-laskar Pajang di Sangkal Putung. Yang satu adalah adikku Agung Sedayu dan yang lain adalah Paman Widura.”

Orang itu menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Aku pernah mendengar tentang Paman Widura di Sangkal Putung, tetapi baru kali ini aku melihat orangnya.”

Widura tersenyum. Sahutnya, “Inilah orangnya. Tak ada yang menarik.”

Orang itu tertawa pendek, yang mendengarpun tertawa pula. Kemudian Untaralah yang berkata, “Soma, berkatalah. Biarlah Paman Widura mendengar pula.”

Soma menarik nafas dalam-dalam, kemudian setelah menelan ludahnya ia berkata, “Ada beberapa berita tentang orang itu.”

Sebelum Soma meneruskan, terdengar Widura menyela. “Untara, aku telah memperkenalkan diriku, tetapi siapakah Ki Sanak ini?”

Untara mengerutkan keningnya. Sesaat ia berdiam diri, namun kemudian jawabnya, “Ia salah seorang pembantuku.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Segera ia mengerti, orang itu pasti dari pasukan sandi. Karena itu maka Widura tidak bertanya lagi.

Kemudian berkatalah Soma itu seterusnya. “Ketika aku datang ke pondokan Kakang, ternyata Kakang telah tidak ada. Menurut pesan Kakang terakhir, aku harus datang ke rumah itu. Dan yang aku jumpai adalah Kiai Gringsing.”

“Aku meninggalkan rumah itu dengan tergesa-gesa tanpa aku rencanakan terlebih dahulu. Tetapi bukankah aku telah berpesan kepada Kiai Gringsing?”

“Pesan yang aneh” gumam Kiai Gringsing.

Untara tersenyum dan Soma itupun tersenyum.

“Tak ada orang yang dapat berbicara dalam bahasamu Untara,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “dan pesan itu sudah aku sampaikan.“

Kemudian kepada Agung Sedayu Kiai Gringsing berkata, “He, Sedayu apakah kau dapat mengerti bahasa Untara itu. Bulan muda, angin selatan, bintang utara. Laju bersama gubug penceng.“ Kiai Gringsing itupun kemudian tertawa terkekeh-kekeh. “Ayo Sedayu apakah kau tahu artinya?”

“Aku tahu Kiai” jawab Agung Sedayu.

“Apa?”

“Ki Sanak itu harus datang bersama Kiai menemui Kakang Untara di sini” jawab Agung Sedayu sambil tertawa.

Untara tertawa, Soma itupun tertawa dan yang lain-lain juga tertawa.

“Akupun dapat memberikan arti menurut kehendakku” berkata Kiai Gringsing.

“Tetapi bukankah Ki Sanak itu datang kemari bersama Kiai?” berkata Sedayu.

Kembali mereka tertawa. Tetapi Untara tidak berkata apa-apa tentang kata-kata sandi itu.

“Nah, Soma,” berkata Untara kemudian, “katakan berita itu?”

“Macan Kepatihan menempatkan beberapa orang untuk mengamat-amati Benda, namun kemudian pergi ke Timur.”

Untara mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah dapat diketahui, pada siapakah orang-orang Tohpati itu bersembunyi?”

“Sudah, tetapi kami belum mengetahui jumlah itu” jawab Soma. “Sedang di hutan-hutan di sebelah barat kadang-kadang tampak juga beberapa orang Jipang. Di antara mereka adalah Plasa Ireng.”

Kini tidak saja Untara yang mengerutkan keningnya. Tetapi Widurapun kemudian memperhatikan berita itu dengan seksama. Bahkan dengan serta-merta ia berkata, “Ada tanda-tanda Tohpati akan menyergap dari barat?”

Untara mengangguk. “Ya” jawabnya. “Mereka sedang menyusun kekuatannya di barat. Plasa Ireng dan pasti Alap-Alap Jalatunda telah ditarik pula kedalamnya.”

Widura kemudian termenung sejenak. Agaknya Tohpati benar-benar mengerahkan segala kekuatan dari sisa-sisa laskar Jipang. Plasa Ireng, Alap-Alap Jalatunda dan mungkin pula pimpinan laskar Jipang di daerah utara, yang terkenal dengan nama Sanakeling.

Sesaat Gunung Gowok itu menjadi sepi. Mereka masing-masing hanyut dalam arus angan-angannya. Widura merasa bersyukur bahwa sampai saat ini Sidanti masih dapat dikuasainya atas kebijaksanaan Untara, sehingga apabila sergapan Tohpati itu datang beserta beberapa orang terkenal dari laskar Jipang, tenaganya masih dapat dipergunakan. Widurapun mengharap Agung Sedayu akan memperkuat laskarnya pula di samping Untara sendiri.

Untara itupun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kepada pembantunya, “Aku terima beritamu. Hubungi Trigata. Aku berada di Sangkal Putung. Beritahukan setiap perkembangan keadaan.”

Orang itu mengangguk. Jawabnya, “Tetapi pasti tidak malam ini. Mungkin besok malam atau lusa.”

“Apakah ada tanda-tanda Tohpati menyergap malam hari?”

“Mungkin. Mereka menyiapkan obor dan panah-panah api.”

“Setan” Untara menggeram. “Tetapi bukan tujuan mereka menghancurkan Sangkal Putung, sebab mereka memerlukan lumbung-lumbung padi di sini. Tetapi bahwa mereka menyerang pada malam hari adalah mungkin sekali.”

“Nah, aku akan pergi dulu Kakang. Mungkin keadaan berkembang terlalu cepat.”

“Baik, aku akan berada di Sangkal Putung.”

Orang itupun kemudian mengangguk, minta diri kepada semua yang hadir di tempat itu, dan menghilang di antara gelapnya malam.

“Petugas yang baik” gumam Untara.

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi wajahnya masih tegang. Sebagai seorang yang bertanggung jawab atas daerah itu, maka segera Widura membuat perhitungan-perhitungan.

Tiba-tiba ia teringat kepada Tambak Wedi. “Sepasar” katanya dalam hati.

Kini dua hari telah dilampauinya. Tiga dengan besok. “Gila orang yang tak tahu keadaan itu. Ia terlalu mementingkan diri sendiri dan muridnya tanpa memandang segenap persoalan dalam jangkauan yang luas.”

Tetapi tiba-tiba ia teringat pula pada orang yang bertopeng yang duduk di mukanya. Dan dengan serta-merta Widura itu bertanya. “Kiai,” katanya “apakah Kiai bertemu dengan Tambak Wedi di lapangan. Bukankah Kiai telah melemparkan cemeti Kiai setelah Tambak Wedi melemparkan gelang besinya.”

Orang itu tertawa. “Ya,” jawabnya, “ia memberi aku salam yang hangat, sehangat api neraka. Tetapi setelah kalian bubar orang itu pergi juga tanpa berbuat sesuatu. Aku sangka ia akan marah kepadaku. Tetapi ia hanya mengancamku.”

“Apakah katanya?”

Kiai Gringsing itu diam sesaat. Kemudian dijawabnya, “Ki Tambak Wedi minta aku tidak ikut mencampuri urusannya dengan kau. Kalau aku tidak memenuhinya, maka aku akan dibunuhnya.”

Widura mengangkat alisnya. Setelah termenung sejenak ia bertanya pula, “Bagaimanakah jawaban Kiai?”

“Hem” Kiai Gringsing menarik nafas. Kemudian katanya, “Aku kira tak seorang pun yang berhak berbuat seperti Ki Tambak Wedi itu. Kalau ia ingin berbuat sekehendaknya, maka akupun akan berbuat sekehendakku. Bukankah nanti apabila Ki Tambak Wedi marah aku mencari perlindungan kepada Agung Sedayu?”

“Ah” Agung Sedayu mendesah, tetapi Widura dan Untara tertawa.

Dan Kiai Gringsing itupun berkata seterusnya, “Tetapi lupakan sajalah Ki Tambak Wedi itu. Aku harap ia tidak bersungguh-sungguh. Yang perlu kau pikirkan, bagaimana kau dapat menghindarkan Sangkal Putung dari bencana yang akan dapat ditimbulkan oleh Tohpati.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Untarapun kemudian berdiam diri, sedang Agung Sedayu memandang jauh ke langit, seakan-akan sedang menghitung bintang yang berhamburan di atas dataran yang biru pekat.

Sesaat mereka saling berdiam diri. Widura sedang mencoba menghitung-hitung kekuatan di pihaknya dan membandingkan dengan kekuatan Tohpati.

Dalam jumlah, maka Widura dapat berbesar hati. Dengan anak-anak muda Sangkal Putung, laskarnya pasti berjumlah lebih banyak dari jumlah laskar Tohpati. Namun dalam penilaian seorang-seorang, maka Widura masih harus berprihatin. Meskipun setiap orang di dalam laskarnya tidak akan kalah dari setiap orang dalam laskar Jipang, tetapi anak-anak muda Sangkal Putung, Widurapun tidak yakin kalau jumlah laskarnya akan memadai. Karena laskar Jipang dapat berada dimana saja yang mereka kehendaki, sehingga suatu ketika, jumlah laskar Jipang itu dapat menjadi banyak sekali.

Karena itu maka Widura mengambil kesimpulan, bahwa anak-anak muda Sangkal Putung itupun selagi sempat harus mendapat penempaan sejauh-jauh mungkin. Bahkan orang-orang yang sudah agak lanjut usianya, asal mereka sanggup dan bersedia, pasti akan menjadi tenaga bantuan yang berarti.

Sesaat kemudian, maka Kiai Gringsing itupun pergi meninggalkan mereka. Katanya, “Aku akan pulang ke rumahku di antara rumpun-rumpun bambu. Hati-hatilah, setiap saat Tohpati itu akan datang. Mungkin benar ia akan menyergap dari arah barat. Karena itu, awasilah arah itu baik-baik. Namun jangan lengahkan penjagaan-penjagaan di tempat-tempat lain.”

“Baik Kiai” jawab Widura.

Namun Kiai Gringsing itu berpalingpun tidak. Orang itu berjalan mendaki puntuk kecil, lewat di bawah pohon kelapa sawit dan seterusnya hilang di balik puntuk kecil itu.

Belum lagi Untara sempat berpaling, terdengar Agung Sedayu bertanya,”Siapakah sebenarnya orang itu?”

Untara tersenyum. Jawabnya, “Kiai Gringsing.”

Agung Sedayu hanya dapat menggigit bibirnya. Ketika kemudian Untara dan Widura tertawa, maka anak muda itu berdiri sambil menggeliat. Katanya, ‘Apakah kita akan tidur disini?”

Widura bahkan tertawa semakin keras. Katanya, “Apakah kau berani tidur disini? Bukankah setiap malam, apabila kita berada di tempat ini kau selalu saja mengajak pulang? Apalagi ketika kau dengar Tohpati sedang berkeliaran di daerah ini?”

“Ketika itu tidak ada Kakang Untara” jawab Sedayu.

“Bagaimanakah kalau aku lari apabila ada bahaya?”bertanya Untara.

“Apa Kakang sangka aku tidak bisa lari secepat Kakang?” bantah Agung Sedayu.

Kembali mereka tertawa. Namun terasa oleh Widura, betapa kemenakannya itu mengalami banyak perubahan. Kini ia sama sekali tidak tampak menjadi cemas seandainya bahaya betul-betul mengancamnya. Apalagi setelah ia mendapat beberapa petunjuk oleh kakaknya. Baik lukisan-lukisannya maupun pelaksanaannya, maka ternyata Agung Sedayu benar-benar dapat menjadi seorang anak muda yang perkasa. Apalagi hatinya benar-benar menjadi besar dan tangguh. Maka kekuatan Agung Sedayu pantas diperhitungkan.

Sesaat kemudian Widura dan Untarapun berdiri pula. Keperluan mereka agaknya sudah cukup buat kali ini. Sehingga dengan demikian segera merekapun kembali ke kademangan.

Hari itu setiap penjagaan menjadi lebih diperkuat. Gardu-gardu peronda dan peronda-peronda keliling. Tohpati yang berada di sekitar tempat mereka, setiap saat dapat menyergap. Namun yang harus mendapat pengawasan paling ketat adalah justru daerah barat.

Sedang kerja Widura hari itu adalah menangani sendiri latihan-latihan bagi anak-anak muda Sangkal Putung di samping beberapa orang anak buahnya. Langsung diberikannya beberapa petunjuk penting apa dan bagaimana mereka harus berbuat di dalam pertempuran-pertempuran. Swandaru, yang memimpin anak-anak muda itupun berlatih dengan sekuat-kuat tenaganya, supaya namanya tidak terlalu jauh di bawah nama-nama yang dikaguminya. Sidanti, Sedayu, Widura dan Untara.

Hanya Sidantilah yang selalu bersikap acuh tak acuh atas semua kesibukan itu. Meskipun demikian, sampai saat itu, Sidanti masih berada dalam barisan Widura.

Hari itupun ternyata Tohpati belum menyergap Sangkal Putung. Sehingga pada malam harinya Agung Sedayu masih dapat memanfaatkannya dengan beberapa latihan penting. Juga anak-anak muda Sangkal Putung, oleh Widura diajarinya bertempur di malam hari. Bagaimana mereka harus mengenal kawan dan lawan di dalam gelap dan bagaimana mereka harus memberikan ciri masing-masing dan tanda-tanda sandi. Selain itu Widurapun telah membuat beberapa persiapan untuk bertempur malam hari. Obor-obor dan panah-panah api untuk mengimbangi laskar Tohpati yang dengan api akan mencoba mengacaukan pertahanan pasukan yang berada di Sangkal Putung.

Namun di pagi hari berikutnya, ketika Untara dan Agung Sedayu sedang sibuk mengurai lukisannya, datanglah seorang penjual keris yang ingin menemui Untara. Kepada para penjaga dikatakannya bahwa ia mendapat pesanan dari Untara itu.

Ketika seseorang menyampaikannya kepada Untara, maka Untara itupun mengerutkan keningnya. Kemudian katanya ,“Ya, aku memang memesan sebuah keris. Bawalah orang itu masuk.”

Sesaat kemudian orang yang menyebut dirinya pedagang keris itu diantar masuk ke pringgitan.

“Duduklah” Untara mempersilahkan.

Orang itupun kemudian duduk di atas sehelai tikar pandan. Di punggungnya terselip sebilah keris, dan di anggarnya pula keris yang lain, pada sangkutannya di dalam jumbai di bagian depan ikat pinggangnya.

“Paman,” berkata Untara kemudian kepada Widura, “apakah Paman tidak ingin melihat beberapa bilah keris?”

Widura tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Namun demikian ia duduk pula di hadapan orang yang menyebut dirinya pedagang keris itu. Agung Sedayupun kemudian hadir juga di antara mereka.

Sesaat kemudian barulah Untara berkata kepada orang itu, “Apakah kau membawa keris itu?”

Orang itu menggangguk. Kemudian dijawabnya, “Ya, Soma telah menyampaikan pesan itu.”

Untara mengangguk-angguk. Bahkan Widurapun mengangguk-angguk pula. Sedang Agung Sedayu sekali-sekali mencoba memandang wajah orang itu.

“Nah, marilah aku perkenalkan dengan pemimpin laskar Pajang di Sangkal Putung” berkata Untara sambil menunjuk Widura. “Paman Widura.”

Orang itu mengangguk dalam sambil berkata, “Aku adalah utusan Kakang Untara.”

Kembali Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Segera ia tahu bahwa orang itu sama sekali bukan pedagang keris. Tetapi orang itu adalah salah seorang pembantu sandi dari Untara dalam kedudukannya sebagai seorang senapati yang memegang kekuasaan atas nama Panglima Wira Tamtama. Ki Gede Pemanahan.

“Namanya Trigata” sambung Untara.

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu mengangguk-angguk pula. Nama itu pernah didengarnya di Gunung Gowok, ketika kakaknya berpesan pada Soma.

“Nah sekarang, apakah yang akan kau sampaikan?”

“Kelanjutan dari berita-berita yang dibawa oleh Soma.”

“Ya.”

“Tohpati hari ini berada di hutan-hutan sebelah barat padukuhan Benda.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah sangkamu persiapannya sudah selesai?”

“Kami menyangka demikian. Orang menyelundup kami yang di sekitar lingkungan mereka yang dapat kami hubungi telah mendengar perintah untuk tetap di tempat bagi mereka.”

Kembali Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagaimanakah dengan obor dan panah api?”

Trigata berpikir sejenak, kemudian jawabnya, “Mungkin akan benar-benar mereka pergunakan. Mereka tidak mau gagal kali ini. Karena itu mereka akan mempergunakan alat-alat untuk mengacaukan pertahanan kita disini.”

Sesaat mereka kini berdiam diri. Masing-masing mencoba membayangkan apakah kira-kira yang akan terjadi seandainya laskar Macan Kepatihan itu benar-benar akan datang.

Yang mula-mula berbicara adalah Widura. Katanya, “Aku harus menyiapkan orang-orangku.”

“Ya” berkata Untara. “Tetapi tidak sekarang. Nanti sore setelah matahari hampir tenggelam, supaya Tohpati tidak sempat mengetahui, bahwa rencananya telah kita mengerti sebelumnya.”

“Kau benar” berkata Widura. “Aku hanya akan membuat latihan-latihan khusus pagi ini.”

Untara menggangguk. Kemudian kepada Trigata Untara itu berkata, “Apakah menurut dugaanmu malam nanti Tohpati akan bergerak.”

“Demikianlah” sahut Trigata.

“Baik” berkata Untara. “Usahakan melihat gerakan mereka meskipun dari jarak yang jauh. Berilah tanda dengan panah sanderan. Tetapi ingat, kau tidak usah membunuh diri. Demikian kau melepaskan anak panah sanderan, kau harus segera melarikan dirimu. Terserahlah kepadamu, siapakah yang berani bertaruh nyawa berdiri di ujung, yang lain akan menerima tanda itu dan meneruskan ke Sangkal Putung.”

“Ah pekerjaan itu tidak terlalu berbahaya,” sahut Trigata, “apalagi di malam hari, kami akan dapat melakukannya dengan aman. Sebab dapat kami lakukan dari jarak yang cukup jauh. Pekerjaan ini jauh lebih aman dari melakukan pertempuran itu sendiri.”

“Bagus. Di mana kalian berada?”

“Di Tegal,” jawab Trigata, “di rumah seorang petani miskin bernama Pada.”

“Kelak, apabila kau tidak datang sesudah serangan selesai, kami akan mencari kalian.”

“Terima kasih” sahut Trigata.

Kembali kemudian mereka berdiam diri. Wajah Agung Sedayu tampak tegang. Ada sesuatu yang bergolak di dalam dadanya. Setelah ia menemukan kepercayaannya pada kekuatan yang tersimpan dalam dirinya, tiba-tiba timbullah keinginannya untuk ikut serta dalam pertempuran itu. Meskipun demikian maksudnya itu tidak segera disampaikannya kepada kakaknya maupun pamannya. Ia akan menunggu sampai nanti apabila diadakan pertemuan di antara para pemimpiin laskar di Sangkal Putung.

Widura kemudian meninggalkan pringgitan. Diberinya anak buahnya beberapa petunjuk khusus. Meskipun belum diberitahukannya bahwa Tohpati mungkin sekali akan menyergap malam nanti, namun secara tidak langsung telah dipersiapkannya anak buahnya untuk menghadapi kemungkinan itu. Dipersiapkannya pula anak-anak muda Sangkal Putung untuk menghadapi setiap kemungkinan, pula laki-laki yang telah berumur agak lanjut. Diberikannya petunjuk tempat-tempat yang harus mereka pertahankan dan diberitahukannya pula cara-cara untuk melawan api apabila timbul kebakaran.

Meskipun Widura belum mengatakan, namun sudah terasa oleh anak buahnya, bahwa bahaya itu semakin dekat. Karena itu, maka merekapun telah mulai mengatur hati masing-masing. Siap menghadapi setiap kemungkinan.

Penduduk Sangkal Putung merasa pula, bahwa mereka harus ikut serta mempersiapkan diri. Perempuan-perempuan telah membuat persiapan secukupnya menghadapi masa-masa yang sulit. Kalau terjadi pertempuran, belum pasti sehari, dua hari akan selesai. Dan yang paling mengerikan bagi mereka, bagaimanakah kalau laskar Pajang bersama-sama anak-anak muda Sangkal Putung tidak mampu menahan arus Macan Kepatihan?

Siang itu juga, Trigata meninggalkan Sangkal Putung kembali ke tempatnya. Di tempat persembunyiannya ternyata telah berkumpul lima orang yang siap melakukan tugas-tugas mereka. Beberapa tanda sandi harus mereka berikan lewat panah sanderan yang nanti akan memberitahukan beberapa masalah mengenai gerakan Tohpati.

Hari itu Sangkal Putung benar-benar menjadi sibuk. Di muka banjar anak-anak Sangkal Putung sibuk berlatih. Sedang anak buah Widura sibuk pula mempersiapkan senjata-senjata mereka.

“Jangan memeras tenaga kalian” Widura menasehati anak-anak muda Sangkal Putung. “Nanti apabila setiap saat diperlukan, kalian telah menjadi kelelahan.”

Anak-anak muda itupun menurut pula. Mereka kini tinggal mendengarkan beberapa petunjuk-petunjuk yang harus mereka lakukan dalam pertempuran yang setiap saat mungkin akan datang.

Ketika matahari telah condong ke barat, beberapa orang penjaga di ujung induk desa Sangkal Putung terkejut mendengar pandah sanderan yang meraung-raung di langit, kemudian jatuh di dekat mereka. Seseorang segera memungut anak panah itu. Namun mereka tidak melihat sesuatu pada anak panah itu. Karena itu, maka seorang dari mereka segera meloncat ke atas punggung kuda dan langsung berpacu ke kademangan.

Widura dan beberapa orang terkejut karenanya, ketika seorang dengan tergesa-gesa lari naik ke pringgitan.

“Ki Lurah,” berkata orang itu kepada Widura, “sebuah anak panah sanderan telah jatuh di dekat gardu penjagaan kami. Tetapi kami tidak menemukan sesuatu apapun pada anak panah itu.”

Widura mengerutkan keningnya. “Bawalah kemari” berkata Widura.

Ketika Untara ikut serta melihat anak panah itu, maka iapun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada peronda yang menemukan anak panah itu ia berkata, “Perkuat penjagaan di gardumu.”

“Baik Tuan” jawab orang itu.

“Kembalilah. Setiap perkembangan akan kami beritahukan, tetapi kaupun harus melaporkan setiap perkembangan yang kau ketahui” berkata Untara pula.

Orang itupun kemudian pergi meninggalkan pringgitan. Di sepanjang jalan ia menggerutu, “Tidak juga mau memberitahukan apakah sebenarnya yang akan terjadi.”

Namun karena itulah maka para peronda itu menjadi semakin berhati-hati.

Sepeninggal orang itu, maka Untarapun berkata kepada Widura, “Paman, anak-anak buahku telah mendapat kepastian. Malam nanti Tohpati akan mulai menyergap Sangkal Putung. Anak panah yang dikirim saat ini hanya sebuah. Menurut pesan yang aku berikan kepada mereka, kalau Tohpati akan bergerak sebelum tengah malam, mereka harus mengirimkan dua anak panah. Sedang kalau kira-kira antara tengah malam atau sesudah itu, satu anak panah. Sehingga dengan demikian maka kemungkinan terbesar, Tohpati nanti akan bergerak pada tengah malam.”

Widura mengerutkan keningnya. “Waktu yang baik” gumamnya. “Mungkin Tohpati memperhitungkan, bahwa pada saat fajar mereka akan memasuki Sangkal Putung.”

Keduanya kemudian berdiam diri. Masing-masing sedang mencoba melihat setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Yang mula-mula berbicara adalah Agung Sedayu, “Kakang, apakah Alap-Alap Jalatunda akan ikut serta dengan Tohpati?”

Untara mengangguk “Mungkin sekali.”

Agung Sedayu menarik nafas. Namun ia tidak berkata apapun. Untara yang melihat wajahnya, segera mengerti perasaan adiknya. “Apakah kau sudah rindu kepadanya?”

Agung Sedayu tersenyum, tetapi ia masih belum menjawab

“Kalau begitu, apakah kau ingin bertemu malam nanti?”

Kini Agung Sedayu mengangguk. “Ya” jawabnya. “Aku sangka Alap-Alap Jalatunda itu tidak terlalu menakutkan.”

Untara tersenyum, namun kini ia berkata kepada Widura. “Paman, barangkali sudah sampai waktunya Paman memberitahukan persoalan Sangkal Putung kepada para pemimpin kelompok anak buah Paman.”

Widura mengangguk. “Ya. Aku sangka demikian. Aku akan memanggilnya beserta beberapa pemimpin anak-anak muda Sangkal Putung, bapak Ki Demang Sangkal Putung dan bapak Jagabaya.”

“Jagabaya?” bertanya Untara

“Ya. Iapun bekas prajurit yang baik. Meskipun umurnya telah agak lanjut, namun tekadnya masih menyala seperti anak-anak muda.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya.

Widurapun kemudian memanggil semua orang-orang penting di Sangkal Putung. Orang-orangnya sendiri, maupun orang-orang Sangkal Putung. Dengan singkat Widura menjelaskan kepada mereka, apakah yang sedang mereka hadapi sekarang. “Mungkin orang-orang Tohpati itu lebih banyak dari orang-orangnya terdahulu” berkata Widura kemudian. “Karena itu setiap tenaga harus kita manfaatkan.”

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun ikut bertanggung jawab atas apa saja yang terjadi di wilayahnya. Karena itu, maka katanya, “Semua anak-anak, akan dikerahkan dan semua laki-laki yang masih mungkin mengangkat senjata. Ada beberapa orang bekas prajurit yang meskipun sudah ubanan, tetapi menyatakan kesediaan mereka untuk ikut serta dalam pertempuran ini. Enam atau tujuh orang. Bahkan mungkin lebih dari itu.”

“Bagus” sambut Widura. “Beberapa orangku akan berada dalam barisan anak-anak muda Sangkal Putung”

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus” katanya. “Anak-anak Sangkal Putung akan menjadi bergembira karenanya.”

Tetapi hampir semuanya kemudian tak bersuara ketika Widura berkata, “Tetapi perhatian terbesar harus kita berikan kepada pemimpin laskar Jipang itu, Macan Kepatihan. Di sini kita akan menentukan, siapakah yang pantas untuk melawannya tanpa menimbulkan kemungkinan yang terlalu buruk bagi kita.”

Sesaat pringgitan itu menjadi sepi. Tak seorangpun yang menyahut. Mereka saling berpandangan dan sebagian dari mereka memandangi Untara dan Sidanti berganti-ganti. Tetapi ada pula diantara mereka yang berpikir, “Ternyata yang pantas melawan Tohpati itu adalah Agung Sedayu.”

Kesepian itu kemudian dipecahkan oleh suara Sidanti perlahan-lahan, “Kakang Widura, siapakah yang menurut Kakang paling pantas melawan Macan Kepatihan itu?

Widura terdiam sejenak. Ia menunggu Untara menjawab pertanyaan itu. Dan sebenarnyalah kemudian Untara berkata, “Biarlah kita melihat keseluruhan dari musuh kita. Di antaranya mereka akan datang juga Plasa Ireng, Alap-Alap Jalatunda dan beberapa orang yang lain. Karena itu, maka tugas kita akan menjadi berat. Aku sama sekali tidak menganggap bahwa akulah yang paling pantas melawan Tohpati. Tetapi aku akan bertanggung jawab terhadap atasanku. Biarlah aku mencoba melawannya, dan sudah tentu Plasa Ireng, Alap-alap Jalatunda dan yang lain-lain itupun perlu mendapat perhatian.”

Sidanti tersenyum. Jawabnya, “Aku sudah menyangka,” katanya, “kemudian kami, yang lain-lain adalah anak-anak yang tidak perlu ikut campur dalam pertempuran itu.”

“Bukan begitu” sahut Untara. “Aku, Paman Widura tak akan dapat berbuat sendiri-sendiri. Kekuatan laskar Sangkal Putung adalah karena kita semua. Satu-satu dari diri kita masing-masing.”

Sidanti itu masih tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sudah memperhitungkan sejak semula, bahwa Untara pasti akan menempatkan dirinya melawan Macan Kepatihan. Sedang di tangan Untara itu tergenggam kekuasaan. Sehingga dengan demikian, tak akan ada kesempatan baginya untuk menyainginya. Namun meskipun demikian, Sidanti mengharap, mudah-mudahan kepala Untara dipecahkan olah Macan yang garang itu dengan tongkat baja putihnya.

Untara melihat senyum yang aneh itu. Tetapi ia sama sekali tidak berkata apapun. Dalam keadaan yang demikian, maka kekuatan mereka sepenuhnya sangat diperlukannya. Karena itu, maka ia pura-pura sama sekali tidak melihat senyum Sidanti itu. Namun Hudaya, Citra Gati dan bahkan Agung Sedayu tidak dapat melepaskan perasaannya yang ganjil. Dari senyum itu mereka melihat, bahwa sesuatu tersembunyi di belakangnya.

“Kalau Untara itu telah mati oleh Tohpati,” berkata Sidanti di dalam hatinya, “maka keadaan Sangkal Putung akan kembali seperti semula. Apalagi kalau aku mampu membunuh Macan Kepatihan itu. Mudah-mudahan apa yang aku peroleh sekarang ini dari guruku, setidak-tidaknya akan dapat mengimbanginya. Sebab Tohpati itu sudah tidak sempat lagi mendalami ilmunya.”

Akhirnya setelah Widura memberikan beberapa pesan kepada pemimpin-pemimpin kelompok itu, maka pertemuan itu segera dibubarkan. Mereka masing-masing kembali kepada kelompoknya, memberikan kepada mereka beberapa petunjuk dan sesaat kemudian mereka itu telah mempersiapkan diri masing-masing untuk menghadapi suatu pertempuran yang berat.

Anak-anak muda Sangkal Putungpun kemudian berlari-larian hilir mudik. Mereka segera memanggil kelompok masing-masing dan seperti juga anak buah Widura, merekapun segera mempersiapkan diri mereka masing-masing.

Ketika kemudian matahari tenggelam di balik punggung bukit, laskar Sangkal Putung itupun telah siap di lapangan. Beberapa orang bekas prajurit ada diantara mereka. Meskipun orang-orang itu telah menjelang setengah abad, namun tubuh-tubuh mereka masih tegap, dan senjata-senjata mereka, yang selama ini disimpannya. Namun kini senjata-senjata itu diambilnya kembali. Terkenanglah mereka pada masa muda mereka. Bertempur untuk suatu keyakinan yang digenggamnya. Kini merekapun akan bertempur kembali untuk suatu pengabdian atas kampung halaman mereka.

Swandaru berdiri dengan gagahnya. Pedangnya yang besar tergantung di pinggangnya. Sekali-sekali ia menatap langit yang biru bersih, yang dibayangi oleh warna-warna merah. Matahari itu seakan-akan betapa malasnya. Gelap yang turun perlahan-lahan terasa sangat menjemukan. Mereka itu, anak-anak muda Sangkal Putung sedang menunggu datangnya tengah malam.

Orang-orang yang sudah setengah tua, mendapat tugas mereka sendiri. Meskipun mereka membawa senjata pula, namun mereka harus berada di dalam desa mereka. Kalau orang-orang Macan Kepatihan itu berhasil menembus pertahanan laskar Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung, maka merekapun akan ikut serta bertempur. Di samping itu, kalau Tohpati itu kemudian menjadi putus asa, dan mempergunakan panah-panah api untuk menimbulkan kebakaran, maka adalah pekerjaan mereka untuk mengatasinya.

Sedang perempuan-perempuan muda tidak kalah sibuknya. Mereka mendapat pekerjaan yang pantas untuk mereka. Mempersiapkan makanan bagi mereka yang akan berangkat berperang. Meskipun demikian, di antara anak-anak gadis itupun ada pula yang menyelipkan keris dan patrem di antara ikat pinggang mereka seakan-akan merekapun siap pula, apabila perlu, untuk ikut serta bertempur bersama anak-anak mudanya.

Tetapi di samping semuanya itu, perempuan-perempuan yang bersembunyi di balik-balik pintu rumahnya mendekap anak-anak mereka yang masih terlalu kecil dengan eratnya. Mereka mencoba untuk menghibur anak-anak mereka.

Ketika malam turun, maka Sangkal Putung benar-benar dikuasai oleh kegelapan. Hampir tak ada rumah yang menyalakan lampunya, dan bahkan hampir tiada rumah yang berpenghuni. Hampir setiap laki-laki telah keluar dengan senjata di tangan, dan hampir setiap perempuan pergi mengungsikan diri ke kademangan, berkumpul bersama mereka untuk menanggungkan segala macam keadaan bersama-sama. Apapun yang mereka alami, apabila dipikulnya bersama-sama, maka terasa akan menjadi bertambah ringan.

Meskipun hampir semua kekuatan laskar Widura dan anak-anak muda Sangkal Putung ditarik kearah barat, namun Widura tidak mengosongkan setiap gardu di sudut-sudut lain. Namun isi dari gardu-gardu itulah yang kemudian sebagian diserahkan kepada laki-laki Sangkal Putung yang tidak ikut serta dalam pertempuran langsung dengan anak-anak Macan Kepatihan. Meskipun satu dua di antara mereka telah diperlengkapi dengan alat-alat tanda bahaya yang sebaik-baiknya. Untuk setiap kali apabila bahaya mengancam mereka, segera mereka dapat memberitahukannya kepada laskar cadangan yang ditinggalkan di kademangan, bersama dengan beberapa orang Sangkal Putung sendiri, di sekitar lumbung-lumbung dan di banjar desa.

Kini para peronda telah tahu benar, apa arti panah sanderan yang setiap saat akan meluncur di sekitar tempat-tempat mereka. Untara telah berpesan kepada anak buahnya, bahwa apabila ada tanda-tanda Tohpati menggerakkan laskarnya, supaya mereka segera mengirimkan anak panah sanderan dua kali ganda berturut-turut. Dan apabila keadaan amat mendesak karena suatu perubahan, sedang mereka para petugas yang telah dikirim oleh Untara, tidak sempat memberitahukan langsung, supaya dikirimnya panah sanderan tiga kali berturut-turut.

Beberapa saat kemudian maka laskar Widura dan anak-anak muda Sangkal Putung telah siap seluruhnya di lapangan di muka banjar desa, segera untuk berangkat. Beberapa orang laki-laki telah siap menempati tempat-tempat yang ditentukan, dan tanda-tanda telah mereka kenal dengan baiknya.

Namun tiba-tiba mereka menjadi tegang ketika mereka mendengar derap kuda yang berlari kencang memecah kesepian. Widura dan Untara segera melangkah maju menyongsong orang berkuda itu, sedang di belakangnya Agung Sedayu berdiri dengan berdebar-debar.

Kali ini untuk pertama kalinya ia mendapat kesempatan untuk ikut serta bertempur dengan lawan yang sebenarnya. Sebilah pedang tergantung di pinggangnya. Namun tanpa setahu kakaknya, di sakunya terdapat beberapa butir batu sebesar telur ayam. Ia sendiri tidak tahu pasti apakah batu-batu itu akan bermanfaat. Namun begitu saja timbul keinginannya untuk mencoba apakah ia benar-benar dapat membidik dalam arti yang sebenarnya. Membidik tidak saja dalam permainan-permainan yang menggembirakan tetapi membidik dalam pertempuran yang berbahaya.

Sesaat kemudian tampaklah seekor kuda berlari dengan kencangnya. Demikian kuda itu berhenti, maka meloncatlah seorang prajurit di hadapan Widura.

Widura dengan tergesa-gesa bertanya kepadanya, “Ada yang penting di penjagaanmu?”

Orang itu mengangguk. Katanya “Kami menerima panah sanderan tiga kali berturut-turut.”

Widura mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling kepada Untara maka tampaklah Untara sedang berpikir. “Ada sesuatu yang menyimpang dari rencana semula” desisnya.

Widura mengangguk.

Setelah Untara itu diam sejenak, maka katanya, “Siapkan seluruh laskar yang ada. Kita siap berangkat kemana saja. Beberapa orang berkuda supaya bersiap pula. Apabila ada perubahan arah, orang-orang itu dapat memberitahukannya ke segenap sudut penjagaan.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia bersuit dua kali. Seorang yang bertubuh kecil berlari-lari datang kepadanya.

“Sonya,” berkata Widura, “siapkan orang-orangmu. Setiap saat kami memerlukan mereka.”

“Baik” sahut Sonya. Kemudian iapun berlari-lari kembali ketempat kawan-kawannya sekelompoknya menunggu di dekat kuda-kuda ditambatkan. Mereka adalah kelompok yang harus menyampaikan setiap berita kepada segenap tempat yang diperlukan.

Sebelum Widura memberikan perintah-perintah berikutnya, kembali mereka mendengar suara kaki kuda berderap. Sekali lagi Widura, Untara dan orang-orang disekitarnya menjadi tegang.

Seperti orang yang pertama, orang itupun tergesa-gesa berkata kepada Widura, “Kami telah menerima panah sanderan dua kali berturut-turut.”

“He?” Widura mengerutkan keningnya. “Mereka mempercepat gerakan mereka.”

“Itulah kecerdikan Macan Kepatihan itu” sahut Untara. “Setiap rencana dirahasiakan di dalam otaknya. Baru pada saat terakhir dilakukannya rencana itu, sehingga orang-orang mereka sendiri tidak dapat mengetahui sebelumnya. Karena itulah maka Trigata itupun tidak dapat mengetahuinya dengan tepat apa yang akan dilakukan oleh Macan Kepatihan. Karena orang-orangnya yang dapat melakukan hubungan dengan orang-orang dalam laskar Tohpati itupun tidak dapat mengatakan dengan tepat pula.”

Sekali lagi Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “ Kita juga sudah siap untuk berangkat. Bukankah kita segera berangkat pula.”

“Marilah” sahut Untara. “Sementara tetap ke barat.”

Sekali lagi Widura bersuit dua kali. Dan sekali lagi Sonya berlari-lari kepadanya.

“Satu di antara kalian pergi ke kademangan. Yang lain ke setiap gardu peronda. Tohpati telah mulai bergerak. Ingat jangan menimbulkan kegelisahan di antara mereka. Kemudian kalian kembali ke tempat ini dan separo dari kalian harus berada di gardu pertama sebelah barat.”

“Baik” Sonya mengangguk, kemudian kembali ia meloncat berlari ke kelompoknya. Sesaat kemudian maka mereka telah menghambur ke segenap penjuru.

Kedua penjaga yang datang berkuda berturut-turut telah kembali ke tempat mereka pula mendahului laskar Widura. Sedang para penghubung telah menghubungi gardu-gardu yang lain. Mereka sengaja tidak mempergunakan tanda-tanda, seperti dahulu, supaya Tohpati tidak menyadari bahwa kehadirannya telah dinantikan.

Para prajurit serta laki-laki dari Sangkal Putung yang merupakan kekuatan cadangan segera bersiap pula. Dengan senjata di tangan mereka, mereka mengawasi setiap tempat yang mereka anggap penting. Beberapa orang berjalan hilir-mudik, dari sudut yang satu ke sudut yang lain dengan pedang terhunus. Setiap jalan yang masuk ke induk desa Sangkal Putung telah tertutup rapat olah penjagaan yang ketat. Gardu-gardu peronda telah dilengkapi dengan senjata-senjata jarak jauh, panah, bandil dan alat-alat tanda bahaya.

Sementara itu laskar Widura telah mulai merayap ke pintu sebelah barat, lewat tiga jalan. Yang separo menyusur jalan besar, sedang yang separo lagi dibagi menjadi dua pula. Sebagian lewat sebelah utara dan sebagian lewat sebelah selatan. Demikian pula anak-anak muda Sangkal Putung itupun dibagi menjadi tiga. Sepertiga lewat jalan besar, sepertiga lewat utara dan sepertiga lewat selatan.

Laskar itu kini telah keluar dari induk desa Sangkal Putung. Setelah melewati sebuah bulak kecil mereka akan sampai ke sebuah desa kecil yang hampir-hampir telah dikosongkan. Semua orang-orangnya telah pergi mengungsi ke induk desa Sangkal Putung.

Ketika Widura yang berjalan di samping Untara menengadahkan wajahnya, tampaklah langit yang bersih ditaburi oleh bintang-binang yang gemerlapan. Selembar-selembar awan mengalir dihanyutkan oleh angin yang lambut.

Sejenak kemudian laskar itupun telah sampai di desa kecil itu. Induk pasukan tepat berada di tengah, sedang kedua sayapnya masing-masing berada di ujung desa-desa itu sebelah utara dan selatan.

Para penjaga masih tetap berada di tempat mereka. Namun mereka tidak lagi berada di dalam gardu. Mereka lebih senang berada di balik pepohonan. Ketika mereka melihat induk pasukan itu datang, maka seakan-akan mereka bersorak di dalam hati mereka. Sebab dengan demikian, apabila laskar Tohpati itu datang setiap saat, mereka tidak harus melakukan perlawanan darurat.

Laskar Widura dan anak-anak muda Sangkal Putung itu tidak maju terus. Mereka tinggal di dalam desa itu, supaya lawan mereka tidak segera melihat kehadiran mereka.

Ketika Widura telah mengenal keadaan sejenak di tempat itu, maka segera diperintahkannya kepada para penjaga, “Nyalakan pelita di dalam gardumu. Dan nyalakan beberapa lampu di rumah-rumah yang terdekat.”

“Kenapa justru dinyalakan, Ki Lurah?” bertanya penjaga itu.

“Biarlah laskar Tohpati menyangka, bahwa keadaan di dalam desa ini seperti dalam keadaan biasa. Kalau kau padamkan lampunya dan semua lampu-lampu, maka itu pasti akan mencurigakan Macan Kepatihan yang cerdik itu.”

Penjaga itu mengangguk-angguk. “Alangkah bodohnya aku” katanya dalam hati.

Karena itu maka segera ia bergegas-gegas pergi ke rumah-rumah yang telah kosong, untuk menyalakan lampu-lampunya. Sedang ting di gardunyapun segera dinyalakannya pula.

“Bagus,” desis Widura kemudian, “desa ini akan memiliki wajah seperti wajahnya di setiap hari. Tohpati yang berpengalaman luas itu pasti pernah melihat pedesaan ini di malam hari sebelum ia memilih arah. Dan dengan demikian ia pasti akan mengenal keadaan ini baik-baik.”

Dalam pada itu, maka beberapa pengawaspun telah dikirim ke depan. Ke tengah-tengah sawah yang menurut perhitungan mereka akan dilalui oleh laskar Tohpati.

Malam yang masih terlalu muda itu telah menjadi semakin gelap. Dan di dalam gelap itulah berkeliaran laskar dari kedua belah pihak dengan alat-alat penyebar maut di tangan mereka masing-masing.

Sebenarnyalah Tohpati telah berada di hadapan hidung laskar Pajang itu. Namun mereka menunggu untuk menyakinkan, apakah yang sebenarnya terjadi di hadapan mereka. Laskar Tohpati yang bergerak jauh sebelum waktu yang ditentukan semula itu, dengan cepatnya mendekati Sangkal Putung. Namun laskar itu terhenti ketika Tohpati melihat suasana pedesaan di hadapannya.

“Desa itu terlampau sepi” desisnya.

Di sampingnya berdiri seorang yang berwajah keras itu, yang bernama Plasa Ireng, tertawa. Gumamnya, “Setidak-tidaknya mereka telah mendengar bahwa pedesaan mereka terancam bahaya.”

Tohpati berdesis, kemudian gumamnya, “Sanakeling. Bawalah laskarmu melingkar ke selatan.”

“Baik” sahut orang yang bernama Sanakeling. Bekas pimpinan laskar Jipang daerah utara. Namun untuk kepentingan kali ini agaknya mereka telah ditarik dalam satu kesatuan.

Namun sebelum Sanakeling itu bergerak, terdengar Alap-Alap Jalatunda yang berdiri di belakang mereka berkata, “Aku melihat pelita-pelita itu dinyalakan.”

Tohpati tertawa. Dengan nada yang tinggi ia berkata, “Paman Widura benar-benar cerdik. Ia ingin menjadikan desa itu seolah-olah tidak mengalami perubahan apa-apa. Namun agaknya anak buahnyalah yang terlalu bodoh. Sanakeling. Berjalanlah melingkari desa itu, langsung ke Sangkal Putung. Sayang Paman Widura agak terlambat menyalakan lampu-lampu itu. Kalau tidak maka kembali kami akan terjebak.”

Sanakeling kemudian dengan cepat membawa laskarnya ke selatan melingkari desa itu langsung menuju Sangkal Putung.

Tetapi Widura dan Untarapun bukan anak kemarin petang. Itulah sebabnya mereka telah memasang beberapa orang jauh di hadapan laskar mereka.

Dalam keheningan malam yang dingin itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sanderan yang meraung-raung di udara. Sekali, dua kali dan kemudian satu kali lagi.

Untara mengangkat alisnya. “Ada sesuatu yang terjadi dalam barisan Tohpati itu” desis Untara.

Wajah Widura berubah menjadi tegang. Dengan gelisah ia menunggu orang-orangnya yang diperintahkannya untuk mengawasi setiap kemungkinan yang ada di hadapan mereka.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang pengawas dengan nafas terengah-engah. Tubuhnya dan seluruh pakaiannya kotor oleh lumpur. Dengan tergesa-gesa ia berkata, “Aku melihat laskar berjalan melingkar di arah selatan langsung menuju induk desa Sangkal Putung. Mereka pasti masuk dari arah selatan pula. Tetapi barisan itu tidak begitu besar.”

“Hem” geram Widura. “Macan Kepatihan itu selalu membuat berbagai macam permainan.”

“Mereka telah mencapai simpang empat di bulak sebelah” orang itu berkata seterusnya.

“He?” Widura terkejut, “Begitu cepatnya?”

“Ya.”

Tiba-tiba Demang Sangkal Putung itu memotong, “Serangan yang sangat berbahaya. Apakah aku boleh menarik laskar Sangkal Putung kembali menyongsong mereka?”

“Jangan” sahut Widura. “Kita belum tahu, siapakah yang memimpin laskar Jipang itu. Mungkin justru itu adalah induk pasukan mereka.”

Demang Sangkal Putung itupun terdiam. Baru sesaat kemudian Widura berkata, “Keadaan itu sangat gawat. Biarlah aku bawa laskar sayap kiri kembali ke kademangan. Seterusnya aku serahkan pimpinan ini kepadamu Untara. Kalau keadaan tidak terlalu gawat aku akan kembali kemari.”

Untara mengangguk. “Baiklah” jawabnya.

Widura itupun dengan cepat berlari ke sayap kiri. Kemudian segera laskar kiri itu ditarik mundur, kembali ke kademangan Sangkal Putung.

Dengan tergesa-gesa mereka berjalan memintas. Mereka tidak lagi lewat di atas jalan di antara daerah persawahan. Namun mereka langsung memotong arah. Melompati tanaman-tanaman yang menghijau. Bahkan sekali-sekali tanaman-tanaman itupun terpaksa terinjak-injak kaki mereka. Namun tanaman itu besok bisa disulami. Tetapi kehancuran kademangan mereka akan memerlukan banyak sekali pengorbanan. Harta, benda, tenaga dan waktu. Itulah sebabnya maka mereka tidak lagi sempat berpikir tentang tanaman-tanaman itu.

Sesaat kemudian mereka dikejutkan oleh bunyi tanda bahaya dari gardu selatan. Ternyata para peronda sempat melihat kedatangan mereka, sehingga mereka terpaksa membunyikan tanda itu, sementara beberapa orang yang lain, telah mencoba menghambat gerakan itu dengan senjata-senjata jarak jauh.

Tetapi mereka terkejut ketika mereka mendengar suara tertawa dari barisan yang datang itu. “He, kenapa kalian berteriak-teriak minta tolong?”

Pimpinan gardu itu sama sekali tidak memperhatikannya. Dengan cekatan mereka terus-menerus menghujani anak-anak panah dari balik gardu mereka seberang menyeberang. Dua orang lagi telah meloncat ke balik semak-semak di belakang pagar. Anak panah merekapun meluncur tak henti-hentinya.

Ternyata usaha itu menolong pula. Gerakan laskar Sanakeling itu terpaksa berhenti sebentar. Mereka sedang melihat, apakah yang sedang dihadapi. Tetapi sesaat kemudian Sanakeling itu tertawa pula, katanya sambil menghitung, “Tiga orang di belakang gardu, dua orang di balik pagar dan satu orang memukul kentongan. Apakah kalian berenam sudah jemu hidup? Dua di antara kalian benar-benar mampu memanah. Namun yang tiga itu sama sekali tak akan berarti apa-apa. Jangan membidik terlalu tinggi. Tarik tali busurmu agak kuat, supaya lari panahmu agak cepat dan keras.”

Yang mendengar suara Sanakeling itu benar-benar menjadi sangat cemas. Orang itu dapat menebak dengan tepat berapa orang yang sedang berjaga-jaga di gardu itu. Mungkin pemimpin barisan itu dapat melihat arah lepasnya anak-anak panah. Tetapi ternyata orang itu dapat menebak pula, siapakah di antara mereka yang benar-benar mampu melepaskan senjata-senjata itu.

Karena itu maka orang itu pasti seorang yang telah kenyang makan garam pertempuran.

Sebenarnyalah para pemuda di gardu itu berjumlah enam orang. Dua di antaranya adalah anggota laskar Widura. Sedang yang empat adalah orang-orang Sangkal Putung. Karena itu, maka perlawanan merekapun berbeda dari mereka yang telah mengalami pertempuran berkali-kali. Meskipun demikian, panah-panah itu benar-benar menjengkelkan Sanakeling. Karena itu, maka tiba-tiba ia berteriak, “He, dua atau tiga orang, pergilah mendahului kami. Ambillah orang-orang yang mencoba merintangi perjalanan kami.”

Pemimpin gardu itu terkejut. Sanakeling hanya memerintahkan dua atau tiga orang. Apakah menurut perhitungannya, orang-orang yang berada di gardu itu benar-benar tidak akan mampu berkelahi melawan tiga orang saja?

Kedua prajurit Pajang itu menggeram. Merekapun prajurit yang telah masak. karena itu maka jawabnya, “Kami berenam di sini seperti dugaanmu. Jangan mengirimkan dua atau tiga orang. Marilah, datanglah bersama-sama, supaya kalian dapat menilai pertahanan Sangkal Putung.”

Sanakeling mengerutkan keningnya. Alangkah besarnya kata-kata penjaga gardu itu. Namun kemudian Sanakeling itu menjawab, “Baiklah. Agaknya kau ingin bunuh diri.”

Sanakeling itu diam sejenak. Namun tiba-tiba ia berteriak, “Menyebar. Masuki Sangkal Putung. Langsung ke kademangan dan kuasai daerah-daerah perbekalan.”

Serentak laskarnya bergerak. Kini mereka sama sekali tak menghiraukan lagi anak panah yang menghujani mereka dari balik gardu dan semak-semak.

Ketika kemudian terdengar seorang anggota laskar Sanakeling itu mengaduh, karena pundaknya terkena anak panah, Sanakeling menggeram. “Setan, bunuh mereka berenam.”

Para penjaga gardu mendengar pula perintah itu. Karena itu maka terasa dadanya berdesir. Betapapun juga, maka mereka benar-benar tidak sedang membunuh diri. Dengan demikian maka mereka harus memperhitungkan setiap kemungkinan yang akan terjadi.

Pemimpin peronda itupun kemudian menyusup di balik semak-semak pula bersama ketiga orang yang berada di sekitar gardu. Ketika tanda bahaya dari gardu itu telah disahut oleh gardu-gardu yang lain dengan tanda kekhususannya, bahwa sumber tanda itu adalah dari gardunya, maka pemukul tanda bahaya itupun melepaskan kentongannya dan bersama-sama dengan kawan-kawannya menyusup di balik semak-semak pula. Dengan beringsut sedikit demi sedikit, mereka terus mengadakan perlawanan dengan anak-anak panah mereka.

Namun laskar lawan mereka, menjadi semakin dekat pula. Bahkan beberapa orang tleah berlari melingkar dan meloncati pagar-pagar batu yang melingkari desa itu.

Orang-orang yang berada di dalam semak-semak itu merasa, bahwa mereka tidak akan dapat melawan mereka. Karena itu maka merekapun semakin dalam membenamkan diri ke dalam padesan sambil mencari perlindungan di dalam gelapnya malam.

Tiba-tiba, keenam orang itu menengadahkan wajah-wajah mereka. Dari kejauhan mereka mendengar derap orang berlari-lari. “Laskar cadangan” pikir mereka. Karena itu maka pemimpin gardu itupun segera memberikan tanda sandi kepada mereka. “Gardu selatan. Langsung dari arah angin. Laskar lawan mendekati pada jarak lima puluh depa.”

Sebenarnyalah mereka adalah laskar cadangan yang berada di kademangan. Namun kekuatan merekapun tidak seberapa. Meskipun demikian, keenam orang peronda itu menjadi berbesar hati. Sebab dengan demikian, maka perlawanan mereka akan menjadi lebih berarti. Dari kejauhan terdengar pemimpin laskar cadangan itu menjawab, “Kami segera datang.”

Yang menyahut kemudian adalah suara Sanakeling. “Hem. Kalian memanggil kawan-kawan kalian. Baiklah. Agaknya kalian ingin mendapat kawan lebih bayak lagi dalam perjalanan kalian ke akhirat.”

Namun beberapa orang Sanakeling itupun telah sedemikian dekatnya. Sehingga tiba-tiba saja mereka telah terlibat dalam perkelahian. Kedua laskar Widura itu segera melepaskan busur mereka, dan dengan serta-merta mereka telah mencabut pedang-pedang mereka. Ketika beberapa orang melompat menerkamnya, maka segera terjadi perkelahian yang sengit.

Keempat kawannya itupun tidak membiarkan kedua orang itu bertempur sendiri. Ketika mereka sudah tidak dapat membidikkan anak panah mereka, maka merekapun segera melemparkan busur mereka, dan dengan golok di tangan mereka menyerbu pula dalam perkelahian iu. Namun mereka benar-benar belum banyak berpengalaman dalam pertempuran malam. Karena itu, maka mereka tidak dapat melakukan perlawanan dengan sebaik-baiknya. Setapak demi setapak mereka terdesak mundur. Apalagi lawan-lawan mereka kemudian datang berloncatan.

Tetapi dalam pada itu, laskar cadangan itupun telah datang pula. Segera mereka melibatkan diri dalam perkelahian itu. Meskipun jumlah mereka belum memadai jumlah laskar Sanakeling, namun di dalam malam yang gelap itu, amatlah sukar untuk membedakan, siapa kawan siapa lawan. Meskipun laskar masing-masing agaknya telah memiliki tanda-tanda sandi mereka masing-masing, namun dalam keributan pertempuran itu, maka banyak di antara mereka yang menjadi ragu-ragu.

Laskar Jipang dan laskar Pajang yang telah jauh lebih berpengalaman dari anak-anak muda Sangkal Putung itupun masih juga belum dapat menempatkan diri mereka dengan baik. Sebab sebenarnya mereka tidak terlalu biasa mengadakan pertempuran di malam hari dalam jumlah yang cukup besar.

Sanakeling melihat kesulitan itu. Maka teriaknya kemudian, “Nyalakan obor. Jumlah kita lebih banyak. Apalagi lawan-lawan kita adalah cucurut-cucurut dari Sangkal Putung.”

Pemimpin laskar cadangan itupun tak mau anak buahnya berkecil hati karena teriakan-teriakan lawannya. Maka dengan lantang pula mereka menjawab, “He, anak-anak muda Sangkal Putung yang ikut dalam pertempuran ini. Lihatlah apa yang kami lakukan. Anggaplah pertempuran ini sebagai latihan. Sebab ternyata yang dikirim oleh Tohpati kemari tidak lebih dari laskar yang mereka temukan di sepanjang pengungsian mereka.”

“Gila” sahut Sanakeling. “Inilah Sanakeling. Siapa yang berteriak-teriak itu?”

Pemimpin laskar cadangan itu tergetar hatinya. Sanakeling. Nama itu pernah didengarnya sebagai pemimpin laskar Jipang di sebelah utara. Namun ia tidak mau mengecilkan hati anak buahnya yang sedang bertempur itu. Maka katanya didalam gelap, “Ha. Bukankah terkaanku benar. Sanakeling yang lari dari tekanan laskar Pajang di sebelah utara, yang dipimpin langsung oleh Ki Panjawi.”

“Gila. Siapakah kau. Ayo tampakkan dirimu.”

Namun pemimpin laskar cadangan itu tidak mendekati Sanakeling. Sebab ia tahu, bahwa orang itu benar-benar bukan lawannya. Meskipun demikian ia menjawab, “Disini. Datanglah kemari.”

Sanakeling menjadi marah bukan buatan. Ia meloncat dengan garangnya ke arah suara itu. Namun perkelahian menjadi semakin ribut. Dan sekali lagi ia berteriak, “Tenaga kita berlebihan. Sebagian dari kalian nyalakan obor.”

Sesaat kemudian beberapa obor telah menyala. Karena itu daerah pertempuran itu menjadi agak terang. Di beberapa bagian segera tampak wajah-wajah mereka samar-samar di dalam bayang-bayang yang selalu bergerak-gerak.

Pemimpin laskar Pajang menjadi cemas karenanya. Dengan demikian keringkihan laskarnya segera akan nampak. Namun demikian, laskar Pajang bersama laki-laki dari Sangkal Putung sendiri itu telah siap mengorbankan apa saja yang ada pada mereka.

Karena itu maka betapapun besarnya bahaya yang mengancam, namun mereka sama sekali tidak gentar. Bahkan dengan demikian, mereka segera menyerbu musuh-musuh mereka, mengamuk sejadi-jadinya. Mereka telah siap berkorban untuk kampung halaman mereka yang mereka cintai. Sawah ladang mereka yang telah memberi kepada mereka makan dan minum, serta lumbung-lumbung mereka, persediaan buat hari-hari mendatang, persediaan buat anak-anak mereka di musim paceklik.

Dengan demikian, maka pertempuran di ujung desa Sangkal Putung itu segera berkobar dengan dahsyatnya. Sanakeling yang melihat keberanian laskar Sangkal Putung itu menggeram marah. Dengan wajah yang merah padam segera iapun terjun ke kancah pertempuran itu.

Namun segera mereka dikejutkan oleh sorak-sorai yang membahana, seolah-olah mengalir di sepanjang jalan di sisi desa itu. Sesaat kemudian mereka melihat obor yang beterbangan menuju ke kancah pertempuran itu. Kemudian diantara sorak yang menggelegar itu terdengar suara lantang, “He, siapakah yang memimpin sempalan laskar Tohpati?”

Suara itu belum terjawab. Namun obor-obor yang seolah-olah beterbangan berebut dahulu itu menjadi semakin dekat. Dari antara mereka terdengar kembali suara, “Angin barat. Sayap selatan. Ayo, siapa yang berada di pihak lawan?”

Mendengar suara itu laskar Pajang yang sedang bertempur itupun tiba-tiba bersorak pula. Mereka mengenal tanda sandi itu, dan merekapun mengenal suara itu, suara Widura. Karena itu maka segera mereka menyahut, “Laskar mereka dipimpin oleh Sanakeling.”

“Setan”geram Sanakeling. “Siapa yang datang?”

Sebenarnyalah yang datang itu adalah Widura beserta sebagian laskarnya. Dengan tergesa-gesa mereka berloncatan di atas parit-parit dan pematang supaya mereka segera sampai ke Sangkal Putung. Ketika mereka melihat nyala obor yang menerangi daerah sekitar gardu selatan itu hati mereka menjadi berdebar-debar. Rupanya laskar lawan benar-benar telah sampai ke Sangkal Putung. Tanda bahaya yang menggema di seluruh kademangan, telah mendorong mereka untuk berjalan lebih cepat. Karena itu kemudian mereka tidak saja berjalan cepat-cepat, namun mereka telah berlari-larian berebut dahulu.

Demikian mereka memasuki Sangkal Putung. Maka segera Widura memerintahkan kepada laskarnya untuk mempengaruhi pertempuran itu dengan caranya. Laskar yang dibawanya itu segera bersorak dengan riuhnya.

Ternyata usaha Widura itupun mempunyai pengaruh pula. Laskar cadangan yang lebih dahulu telah terlibat dalam pertempuran itu menjadi berbesar hati, sehingga karena itu maka perlawanannya menjadi semakin seru. Meskipun saat-saat itu tidak terlalu panjang, namun saat-saat itu adalah saat-saat yang menentukan. Tekanan yang berat dari laskar Sanakeling, hampir-hampir menjebolkan laskar cadangan itu. Apabila demikian, maka arus mereka benar-benar akan melanda kademangan. Sehingga kademangan dan seluruh Sangkal Putung pasti akan menjadi geger.

Beberapa orang dari laskar Sanakeling itu telah siap untuk langsung menerobos masuk ke Sangkal Putung. Namun karena sorak sorai yang riuh itu, serta nyala api obor yang meluncur dengan cepatnya ke daerah pertempuran, terpaksa mereka mengurungkan niat itu. Mereka menunggu sementara apa yang akan terjadi.

Sanakeling yang melihat perubahan di dalam tata pertempuran itu segera mengatur anak buahnya. Mereka yang telah bersiap untuk langsung masuk ke jantung Sangkal Putung segera ditariknya kembali.

Mula-mula Sanakeling itu berharap, bahwa dengan sebagian saja dari laskarnya, maka laskar cadangan itu akan dapat dimusnahkan, sedang yang lain-lain akan dapat merambas jalan masuk ke pusat kademangan itu sebelum laskar Tohpati datang. Namun tiba-tiba rencananya itu terpaksa diurungkan. Dengan marahnya terdengar Sanakeling itu menggeram, “He, ternyata cecurut-cecurut itu bertambah pula. Jangan diberi kesempatan untuk memandang fajar esok.”

Terdengar kemudian suara tertawa. “Aku pernah mendengar suara itu” berkata suara itu di antara tertawanya.

“Setan” Sanakeling itu mengumpat. “Siapakah yang memimpin laskar Pajang itu?”

“Apakah kau Sanakeling?” sahut Widura yang belum menampakkan dirinya.

Sanakeling menggeram keras sekali. Sementara itu, laskar Widura telah terjun pula ke dalam pertempuran yang menjadi semakin riuh.

“Inilah Sanakeling” teriak Sanakeling.

Sesaat Widura melihat pertempuran itu. Ia melihat beberapa orang laskarnya menebar. Mengambil arah yang tepat, langsung menghadapi laskar Sanakeling. Beberapa orang di antaranya memegang obor di tangan kiri dan pedang di tangan kanan. Sedang beberapa orang yang lain berusaha melindunginya.

Karena itu maka pertempuran itupun bertambah ribut pula. Obor-obor berhamburan kian kemari pada kedua belah pihak. Sedang kawan-kawan mereka sibuk mempertaruhkan nyawa mereka.

Gemerincing pedang diantara pekik sorak gemuruh membelah sepi malam. Sekali-sekali terdengar sebuah jerit yang membumbung tinggi.

Tajam pedang berkilat-kilat dalam sinar obor yang kemerah-merahan. Tetapi warna merah itu telah bertambah merah karena darah yang tertumpah.

“Perang brubuh,” desah Widura, “keduanya tidak lagi pasang gelar.”

Tetapi tiba-tiba Widura terkejut. Di antara riuhnya pedang, tampaklah seseorang yang meloncat-loncat dengan lincahnya. Sekali-sekali pedangnya terjulur dan kemudian terayun deras sekali.

Widura itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Itulah Sanakeling” desisnya. “Pedang di tangan kanan dan bindi di tangan kiri.”

Widura tidak dapat membiarkannya menyambar-nyambar di antara laskarnya. Karena itu, maka dengan tangkasnya ia meloncat langsung menghadapi pemimpin laskar Jipang dari utara itu.

“He” Sanakeling itu terkejut ketika ia melihat Widura hadir dalam pertempuran itu.

Widura kini telah tegak di hadapannya dengan sebuah pedang yang khusus. Pedang yang tidak terlalu tajam, namun ujungnya runcing seruncing ujung jarum.

“Aku memang mengharap dapat bertemu dalam pertempuran ini” berkata Sanakeling.

“Sekarang kau telah berhadapan dengan Widura. Menyesal bahwa pertempuran kita kali ini tidak terlalu leluasa” sahut Widura.

Sanakeling menggeram. Widura telah lama dikenalnya, dan ia telah mengenal pula kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya. Mereka dulu adalah kawan yang baik meskipun tidak terlalu akrab. Namun keadaan yang memisahkan Pajang dan Jipang sesudah Sultan Trenggana wafat, telah memutuskan hubungan mereka pula.

Dan Sanakelingpun tahu, siapa yang memimpin laskar Pajang di Sangkal Putung. Dari Tohpati dia mendengar, bahwa Widura beberapa waktu dahulu, setelah ia memimpin sendiri laskar Pajang di Sangkal Putung. Mungkin karena tanggung jawab yang sepenuhnya berada di pundaknya. Mungkin karena ketekunannya berlatih. Dan dari Tohpati ia mendengar bahwa dalam barisan Widura itu pula terdapat seorang anak muda yang bernama Sidanti, murid Ki Tambak Wedi.

Sanakeling menyadari bahwa ia harus berhadapan dengan salah satu di antara keduanya. Kalau ia harus melawan Sidanti maka Plasa Irenglah yang harus melawan Widura atau sebaliknya.

Sedangkan Tohpati akan dapat dengan leluasa membuat rencana mengatur laskarnya untuk langsung menembus jantung Sangkal Putung. Mungkin Plasa Ireng masih belum memadai kekuatan Widura atau Sidanti, namun Alap-Alap Jalatunda akan dapat menyelesaikannya. Betapapun, tetapi anak muda yang menamakan dirinya Alap-Alap Jalatunda memiliki beberapa kelebihan dari orang-orang lain di dalam laskar Tohpati yang diperkuat itu.

Dan kini, ternyata yang tampil di hadapannya adalah Widura. Karena itu maka katanya, “Apakah aku berhadapan dengan induk pasukan?”

Widura mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berpaling dan berkata kepada seseorang yang berdiri tegak di sampingnya dengan sebuah tombak pendek di tangan. Orang itu adalah seorang penghubung yang memang sedang menunggu perintah. Karena itu ia tidak turut bertempur.

“Sampaikan kepada laskar yang tinggal, bahwa aku tetap berada di Sangkal Putung. Sebab aku bertemu kawan lamaku Sanakeling.”

Orang itu mengangguk. Namun ketika ia sedang bergerak maka Sanakeling itu berteriak, ‘Tunggu.”

Orang itu berhenti, namun Widura memberi isyarat untuk berjalan terus. “He” teriak Sanakeling, “berhenti!”

Tetapi orang itu tidak berhenti. Karena itu Sanakeling berteriak pada anak buahnya, “Hentikan orang itu.”

Seseorang meloncat maju memburunya. Namun orang itu telah tenggelam di balik lindungan beberapa orang kawannya, sehingga Sanakeling seterusnya hanya mengumpat-umpat.

“He, Widura,“ bertanya Sanakeling itu pula, “apakah aku berhadapan dengan induk pasukan?”

Widura berpikir sejenak, kemudian katanya, “Ya, kau berhadapan dengan induk pasukan.”

Sanakeling mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Jadi inikah induk pasukan Sangkal Putung yang kau bangga-banggakan?”

“Aku tak pernah membangga-banggakannya. Sekarang kau melihatnya sendiri.”

“Hem” Sanakeling menggeram pula. Sekali lagi ia memandang pertempuran itu. Ia kini benar-benar terkejut. Dalam pertempuran itu terjadi banyak sekali perubahan hanya dalam waktu yang sangat pendek. Ternyata kehadiran laskar Widura benar-benar telah merubah keseimbangan pertempuran itu.

“Gila” Sanakeling mengumpat dengan kasarnya. “Ketahuilah Widura, di belakangku masih ada bagian dari laskar yang jauh lebih kuat dari laskar ini. Kalau aku sudah berhadapan dengan induk pasukan maka pasukanmu yang lain sesaat kemudian pasti sudah akan musnah. Dan kemudian akan datang saatnya induk pasukanmu ini musnah pula.”

Widura tersenyum. Jawabnya, “Ya, aku tahu. Sisa-sisa laskar Jipang agaknya benar-benar telah dipusatkan di sekitar Sangkal Putung. Kalau sempalan laskarnya di sini dipimpin Sanakeling, maka di bagian yang lain masih ada Tohpati sendiri, Plasa Ireng, Alap-Alap Jalatunda dan siapa lagi?”

“Gila, kau sadari kedudukanmu Widura, kalau begitu kau telah benar-benar siap mati. Nah lihatlah, Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya.”

Widura bergeser setapak. Di sekitarnya pertempuran masih berkecamuk. Namun mereka seolah-olah sama sekali tak menghiraukan kedua pemimpin yang asyik bercakap-cakap itu.

Tetapi kini mereka sudah tidak bercakap-cakap lagi. Mereka masing-masing telah mengangkat pedang, dan terdengar Sanakeling itu berkata, “Kau harus mati dulu Widura. Laskarmu akan buyar dengan sendirinya.”

“Aku atau kau” sahut Widura.

Sanakeling tidak menjawab. Digerakkannya pedangnya sambil berkata, “Apakah dadamu sudah berperisai baja.”

Widura menyilangkan pedangnya di muka dadanya sambil menjawab, “Inilah perisaiku.”

Sanakeling sudah tidak melihat kemungkinan lain daripada menyelesaikan dahulu orang ini, pemimpin laskar Sangkal Putung itu. Dengan demikian maka laskar Sangkal Putung itu akan menjadi tercerai berai dengan sendirinya. Apalagi kalau laskar Tohpati kemudian datang melanda desa yang sedang ketakutan itu maka semuanya akan segera selesai. Meskipun ia menjadi cemas juga melihat perkembangan pertempuran itu.

Karena itu maka segera ditundukkannya pedangnya. Dengan gerakan pendek dijulurkannya pedang itu kedada Widura.

Gerak Sanakeling itu menjadi isyarat dari suatu perkelahian yang akan menjadi dasyat sekali. Sebab Widura kemudian mundur selangkah sambil menangkis dengan pedangnya. Sentuhan dari kedua pedang itu untuk yang pertama kalinya, disusul dengan sentuhan-sentuhan yang berikutnya. Semakin lama menjadi semakin dasyat.

Dan berkobarlah pertempuran antara Widura dan Sanakeling itu. Kedua-duanya adalah pemimpin yang telah cukup banyak makan asam garamnya peperangan. Masing-masing telah banyak memiliki perbendaharaan pengalaman di dalam dirinya. Karena itu maka perkelahian itu segera menjadi perkelahian yang sengit.

Sanakeling pernah mendengar keteguhan perlawanan Widura dari Tohpati sehingga ia dapat membandingkannya dengan apa yang pernah dilihatnya atas orang itu dahulu. Sedang Widura pernah mendengar tentang Sanakeling dari berbagai pihak. Ketrampilannya, kecepatannya dan ketangguhannya.

Kini mereka berhadapan dalam satu pertempuran. Dan ternyata apa yang telah mereka dengar itu sebenarnyalah demikian. Sanakeling terpaksa mengagumi ketangguhan lawannya, sedang Widura terpaksa berhati-hati karena ketrampilan Sanakeling itu benar-benar mengherankan.

Dalam pada itu, penghubung yang mendapat perintah Widura memberitahukan keadaan Sangkal Putung itu kepada Untara, segera melakukan tugasnya. Dengan berlari-lari kecil ia menghampiri kudanya yang ditambatkannya di dalam gelap tidak jauh dari pertempuran itu, ditunggui oleh beberapa orang kawannya. Dengan tangkasnya ia meloncat ke atas punggung kudanya, dan seperti angin kuda itu dipacunya ke tempat kedudukan Untara, di ujung Barat dari sebuah desa kecil dari kademangan Sangkal Putung.

Untara menerima berita itu dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Baik. Aku terima beritamu.”

Sesaat kemudian Untara segera mengurai keadaan yang dihadapinya. Kini ia benar-benar memimpin induk pasukan yang diserahkan oleh Widura itu kepadanya.

Ketika ia melihat Sidanti di antara mereka, maka anak muda itu segera dipanggilnya. “Sidanti, sampai saat ini belum ada laporan bahwa induk pasukan Tohpati akan merubah arah. Kalau ia menempuh jurusan ini, maka kita segera akan berhadapan. Sekarang, kau aku serahi untuk memimpin laskar sayap kanan. Atas nama Kakang Widura, yang dikuasakan kepadaku, ambillah pimpinan itu. Kalau Tohpati telah terlibat dalam pertempuran dengan induk pasukan ini, maka ambillah arah lambung dan usahakan serangan itu dengan sangat tiba-tiba.”

Tetapi Untara itu terkejut ketika Sidanti menjawab sama sekali diluar dugaannya. “Aku adalah anak buah Kakang Widura. Berilah perintah kepada Kakang Widura. dan biarlah Kakang Widura yang memberi perintah kepadaku.”

Untara mengerutkan keningnya. Meskipun demikian ditahannya hatinya. Katanya, “Aku disini mendapat kekuasaan dari Kakang Widura.”

Sidanti itu tersenyum. “Aneh, pangkat serta jabatanmu lebih tinggi dari Kakang Widura. Apakah wajar kalau kau mewakilinya?”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Pandangan matanya melontar jauh menembus gelapnya malam, telah siap menerkamnya, Macan Kepatihan beserta laskarnya yang benar-benar telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada pada mereka.

Karena itu, betapa darahnya bergolak, namun Untara mencoba sekuat-kuat tenaganya untuk melawannya. Bahkan katanya kemudian, “Sidanti, kau benar-benar perasa. Dalam keadaan seperti sekarang ini, marilah kita lupakan segala persoalan di antara kita masing-masing. Marilah kita lupakan seandainya ada perselisihan di antara pribadi kita masing-masing. Marilah kita pusatkan kemampuan yang ada pada kita untuk menghadapi lawan kita. Macan Kepatihan beserta laskarnya.”

Sidanti mendengar kata-kata Untara itu. Terasa juga sesuatu menyentuh dadanya, sehingga karena itu katanya, “Baiklah. Untuk kali ini aku penuhi perintah yang tidak lewat saluran yang sewajarnya itu, demi keselamatan Sangkal Putung.”

“Terima kasih Sidanti” sahut Untara.

Sidanti itupun segera pergi ke sayap kanan. Atas nama pimpinan laskar Sangkal Putung ia memegang pimpinan sayap kanan. Apabila induk pasukan telah terlibat dalam pertempuran, maka ia harus segera menyerang dari arah lambung.

Beberapa orang yang berada di sayap kanan itu menjadi kecewa atas kehadirannya. Tetapi mereka dalam keadaan yang genting, sehingga karena itu mereka tidak berbuat apa-apa. Mereka menyadari bahwa Sidanti adalah kekuatan yang tangguh untuk melawan setiap pimpinan yang namanya menakutkan dari pihak lawan. Para anggota itupun telah mendengar bahwa di dalam pasukan lawan itu terdapat pula nama-nama Plasa Ireng, Alap-Alap Jalatunda, Sanakeling dan yang lain-lain.

Di seberang kegelapan malam, Tohpati sedang sibuk menilai keadaan pula. Ketika didengarnya tanda bahaya meraung-raung di seluruh Sangkal Putung, maka Macan Kepatihan itu tertawa. Katanya kepada Plasa Ireng, “Mudah-mudahan laskar Pajang ditarik sebaian besar ke arah suara itu.”

Plasa Ireng dan Alap-Alap Jalatunda yang muda itu tertawa pula. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mereka berkata, “Tanda bahaya itu pasti akan menarik sebagian besar dari mereka. Karena itu marilah kita menerobos langsung ke pusat Kademangan Sangkal Putung. Sebagian dari kita, masih akan sempat menyelamatkan laskar Sanakeling, apabila ia keroban lawan.”

Macan Kepatihan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Bagus. Marilah kita bergerak.”

Plasa Ireng dan Alap-Alap Jalatunda segera pergi ke ke kelompoknya masing-masing. Dan sesaat kemudian Tohpati itupun segera memerintahkan laskar induk itu untuk maju.

Ternyata laskar induk itu tidak saja berjalan dalam gerombolan yang liar. Mereka berada dalam sebuah garis yang luas, hampir dalam gelar Garuda Ngalayang meskipun tidak sempurna.

Sengaja Tohpati memisahkan sayap-sayapnya dengan jarak yang cukup untuk memberi kesempatan kepada sayap-sayapnya itu melakukan kebijaksanaan menurut keadaan. Apabila ternyata laskar lawan tidak begitu berat, maka sayap-sayap pasukannya dapat berjalan terus menuju ke jantung Sangkal Putung. Menduduki tempat-tempat yang penting, terutama lumbung-lumbung padi serta tempat-tempat perbekalan yang lain. Kemudian kademangan dan banjar desa. Tetapi kalau lawan yang dihadapi cukup kuat, maka mereka harus menempuhnya dari lambung.

Pengawas yang dipasang oleh Widura segera melihat kedatangan laskar lawan itu dalam tebaran yang luas. Karena itu segera ia merangkak-rangkak dan berusaha secepatnya menyampaikan berita itu kepada induk pasukannya.

Untara yang menerima berita itu segera mengatur laskarnya. Dipecahnya sebagian dari induk pasukan itu, untuk dengan tergesa-gesa menempati sayap kiri.

“Citra Gati memimpin sayap ini?” berkata Untara.

Citra Gati termangu-mangu sejenak. Dipandangnya Agung Sedayu dengan sudut matanya. Namun ia tidak bertanya sesuatu. Meskipun demikian Untara memaklumi. Katanya, “Citra Gati, pimpinlah sayap ini. Biarlah Agung Sedayu besertamu. Ia bukan salah seorang dari laskar Paman Widura, sehingga ia tidak dapat memegang pimpinan apapun. Tetapi ia akan dapat memberimu bantuan.”

Agung Sedayu menarik nafas. Meskipun kini ia tidak gemetar lagi, namun bagaimanapun juga, ia masih selalu ingin bersama-sama dengan Kakaknya. Tetapi ia tidak dapat membantah. Karena itu maka katanya, “Baik, Kakang.”

“Cepat, berangkatlah.”

Citra Gati dan Agung Sedayu itupun segera membawa sebagian laskar Pajang dan beberapa anak-anak muda Sangkal Putung beserta mereka. Di antara mereka adalah Swandaru yang seolah-olah ingin berada di dekat Agung Sedayu.

Kini Untara tinggal menantikan kedatangan laskar Tohpati. Namun Untara tidak ingin bertempur di dalam desa yang gelap pekat. Karena itu, maka dibawanya laskarnya menyongsong induk laskar Tohpati yang semakin lama semakin dekat.

Setelah Untara itu menempuh jarak beberapa puluh langkah dari pedesaan maka laskarnya segera dihentikan. Diperintahkannya untuk menempatkan diri masing-masing sedemikian, sehingga tidak segera dapat dilihat oleh lawan-lawan mereka yang sedang mendekati. Apalagi dalam malam yang gelap segelap malam itu. Hanya cahaya bintang yang berkedipan di langit sajalah yang dapat memberi kemungkinan untuk dapat memandang pada jarak yang dekat.

Tetapi ternyata laskar Tohpati itu tidak maju langsung dalam gelarnya. Ternyata beberapa orang diperintahkan oleh Macan Kepatihan itu merambas jalan. Mereka berkewajiban untuk mengetahui, apakah jalan yang mereka tempuh itu tidak berbahaya. Sebab Tohpati memang sudah menyangka, bahwa laskar Widura tidak akan menunggunya saja di padesan yang berada di mukanya itu.

Meskipun demikian, namun laskar yang dipimpin oleh Untara itupun memiliki pengalaman yang cukup. Karena itu, ketika mereka telah mengendap di balik pematang, maka dibiarkannya tiga orang laskar Tohpati yang mendahului barisannya untuk berjalan dengan tenang. Dibiarkannya orang itu melampaui barisan Untara yang diam-diam menunggu kehadiran lawannya.

Karena itulah maka, laskar Tohpatipun berjalan dengan tenangnya setenang ketiga orang yang mendahuluinya itu. Mereka tidak menduga bahwa laskar Widura yang dipimpin Untara beserta anak-anak muda Sangkal Putung itu telah menunggu mereka di balik lindungan bayangan pematang yang hitam kelam.

Maka ketika laskar Tohpati itu sudah semakin dekat, tiba-tiba terdengar suara Untara memecah sepi malam, mengatasi suara angin yang berdesah di antara daun-daun padi yang masih sangat muda. Di antara heningnya malam terdengar suara itu, “Sergap…….!”

Seperti kuda yang lepas dari ikatan, maka laskar Untara itupun berloncatan dari balik-balik pematang, langsung menyergap lawan-lawan mereka yang terhenti karena terkejut. Ternyata mereka masih memerlukan waktu sekejap untuk melenyapkan desir yang menggoncangkan dada mereka. Dengan serta-merta mereka menjulurkan senjata-senjata mereka untuk menyongsong laskar Pajang yang melibat mereka seperti badai.

“Setan” geram Tohpati. Dengan lantang ia berkata, “Sayap kanan dan kiri, lihat perkembangan keadaan.”

Sayap-sayap kanan dan kiri itupun tidak segera meneruskan perjalanan mereka menyusup langsung ke jantung Sangkal Putung. Mereka menunggu sesaat untuk melihat perkembangan keadaan induk pasukannya.

Tiga orang yang mendahului gelar laskar Macan Kepatihan itu ternyata terkejut bukan kepalang. Cepat mereka berloncatan kembali dan langsung melibatkan diri dalam pertempuran melawan orang-orang Pajang. Keadaan itu benar-benar tak disangkanya. Ternyata orang-orang Pajang telah berhasil dengan baik, menjebaknya dan menyergap pasukannya.

Pertempuran itupun segera berkobar dengan sengitnya. Tetapi pertempuran ini tidak berlangsung ditengah-tengah desa yang rimbun dalam gelap pepat. Di udara terbuka, maka mereka masih mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk mengamati kawan dan lawan.

Meskipun demikian pertempuran itu tidak berlangsung terlalu cepat. Masing-masing masih juga ragu-ragu untuk mengayunkan pedang-pedang mereka dengan lepas. Karena itu, baik laskar Macan Kepatihan maupun laskar Widura di bawah pimpinan Untara itupun menganggap perlu bahwa beberapa orang diantara mereka menyalakan obor-obor.

Ternyata laskar yang dihadapi oleh Tohpati itu cukup berat, sehingga terdengar suara Macan Kepatihan itu lantang, “Sayap-sayap kanan dan kiri, ikutlah menghancurkan lawan disini. Baru kemudian kami bersama-sama memasuki Sangkal Putung.”

Untara mendengar pula aba-aba itu. Tetapi ia tidak memberi aba-aba imbangan. Dibiarkannya sayap-sayapnya menyergap kemudian setelah pertempuran menjadi riuh.

Sayap-sayap kanan dan kiri dari laskar Tohpati itupun kemudian segera menyergap lawannya dari arah lambung. Sehingga dengan demikian pertempuran itu menjadi bertambah sengit. Ketika sekali lagi Untara mengawasi pertempuran itu, maka hatinya menjadi tenang. Jumlah laskarnya kini telah seimbang dengan laskar Tohpati. Namun meskipun demikian, kemudian disadarinya, bahwa anak-anak muda Sangkal Putung yang ikut serta dengan mereka, masih belum memiliki kekuatan yang sama dengan laskar Pajang sendiri. Karena itu maka Untara kemudian memerintahkan kepada dua orang penghubung untuk segera menggerakkan sayap-sayap laskar mereka.

Macan Kepatihan itu tersenyum melihat keseimbangan pertempuran. Menurut perhitungannya, maka ia akan dapat mengatasi lawannya itu. Namun ia tidak tahu, bagaimanakah keadaan laskar Sanakeling. Kalau induk pasukan Pajang telah ditarik untuk melawan laskar Sanakeling, maka keadaan Sanakeling pasti akan gawat. Karena itu maka Macan Kepatihan segera mengerahkan segenap kekuatan yang ada padanya untuk menebus kekalahan kecil yang dialaminya pada benturan pertama.

Tetapi semakin lama Macan Kepatihan itu menjadi semakin yakin, bahwa laskarnya akan dapat menjebolkan pertahanan pasukan Pajang dan akan dapat langsung memasuki induk desa Sangkal Putung.

Namun tiba-tiba ia terkejut. Dilihatnya sekumpulan pasukan muncul di arah selatan, langsung menyerbu ke dalam perkelahian itu. Sesaat ia berdiri tegak seperti patung, kemudian terdengar suaranya lantang, “Sayap kiri, siap melawan sayap lawan.”

Yang berdiri di sayap kiri terkejut mendengar teriakan itu. Seorang anak muda dengan mata yang tajam setajam mata alap-alap menengadahkan wajahnya. Dilihatnya sekelompok laskar langsung menyerbu ke arah mereka yang sedang menghantam lawan dari arah lambung itu. Dengan tergesa-gesa anak muda itu menarik beberapa orangnya, yang dengan tergesa-gesa pula melepaskan lawan-lawan mereka.

Dengan marahnya anak muda yang memimpin sayap kanan laskar Macan Kepatihan itu menggeram. Kemudian dengan senjata di tangan ia mendahului anak buahnya meloncat menyongsong laskar yang datang itu.

Yang berdiri di paling depan dari laskar Pajang adalah Citra Gati. Ketika ia melihat lawan menyongsongnya, segera ditundukkannya pedangnya. Dan tanpa berkata sepatah katapun maka kedua orang itu telah terlibat dalam satu perkelahian, sedang anak buah merekapun segera menghambur, dan dengan sengitnya kemudian campuh beradu senjata.

Agung Sedayu yang berada di dalam sayap itu melihat Citra Gati bertempur dengan sekuat tenaganya. Lawannya adalah seorang anak muda yang lincah, namun serangannya kuat dan garang. Tiba-tiba dada Agung Sedayu bedesir. “Alap-Alap Jalatunda” desisnya.

Namun ia tidak berbuat sesuatu atas perkelahian di antara kedua pemimpin sayap itu. Ketika kedua belah pihak telah tenggelam dalam suatu pertempuran, Agung Sedayupun ikut bertempur pula.

Pertempuran ini adalah pertempuran yang pertama kali dialami. Meskipun dengan pedangnya ia mampu melawan setiap serangan yang datang kepadanya, namun terasa sesuatu bergolak di dalam dadanya. Ketika sekali pedangnya terayun, memukul pedang lawannya dengan kekuatannya yang tercurah sepenuhnya, maka pedang lawannya itu terpental jatuh. Kini kesempatan terbuka baginya.

Lamat-lamat ia melihat wajah orang itu dalam cahaya obor di kejauhan menyeringai pedih. Dilihatnya betapa wajah itu menjadi ketakutan melihat pedangnya. Ketika tangan Agung Sedayu terjulur, dan ujung pedangnya hampir menembus dada lawannya, tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Ketakutan yang terbayang di wajah lawannya yang telah tidak bersenjata itu membangkitkan iba di hatinya.

Ia belum pernah membunuh orang. Dan ia sendiri pernah mengalami, betapa sakit perasaan yang dikejar-kejar oleh ketakutan. Karena itu maka tiba-tiba tangannya yang sudah terjulur itu digerakkan ke samping, sehingga pedangnya tidak menembus dada lawannya yang telah berputus asa.

Lawannya terkejut bukan main. Matanya telah menjadi gelap dan harapannya telah putus. Sekilas terbayang istrinya yang masih muda menunggunya, serta anaknya yang baru berumur tiga bulan. Anak yang masih belum pernah ditimangnya, sebab selama ini ia selalu mengembara dari satu tempat ke lain tempat bersama-sama dengan Alap-Alap Jalatunda atau pemimpin-pemimpin Jipang yang lain.

Tetapi tiba-tiba terasa kaki lawannya itu mendesak dadanya, dan terdengar suaranya lirih, “Pergi. Kalau kau masih berdiri disitu, aku bunuh kau.”

Orang itu benar-benar tidak mengerti. Namun secepat kilat ia meloncat ke samping, menyusup di antara teman-temannya dan dengan nafas terengah-engah ia berdiri di belakang pertempuran itu. Sesaat ia mencoba untuk mengenangkan apa yang baru saja terjadi.

“Mustahil, mustahil” katanya dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun ternyata ia masih hidup. Ketika ia menggeleng-gelengkan kepalanya, maka yang dilihatnya masih saja perkelahian yang seru. Ia tidak sedang mimpi.

Karena itu segera ia meloncat kembali, mengambil pedang seorang kawannya yang terluka. “Mari, berikan senjata itu kepadaku.”

Kawannya yang terluka itu merangkak ke samping. Diberikannya pedangnya kepada kawannya sambil berdesah, “Bunuhlah. Bunuhlah siapa saja yang kau temui. Aku sudah dilukainya. Dan lukaku parah.”

Orang itu menerima pedang itu dengan tangan gemetar. Kawannya dilukai dadanya, sedang dirinya sendiri, yang telah pasrah pada nasib, tiba-tiba mendapat kesempatan untuk hidup. Dan apakah sekarang ia harus membunuh?

Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk berpikir lebih panjang. Sekali lagi ia melihat seorang kawannya jatuh terlentang dengan luka di dadanya. Karena itu segera ia meloncat kembali memasuki arena pertempuran yang menjadi kian sengit.

Agung Sedayu masih juga bertempur dengan gagahnya. Namun ketika ia melihat beberapa orang kawan dan lawannya terluka, maka kepalanya menjadi serasa pening. Kini lututnya sudah tidak gemetar karena ketakutan. Apalagi setelah ternyata ia dapat melepaskan diri dari berbagai bahanya. Namun ia masih belum sampai hati untuk membunuh orang, meskipun dalam pertempuran.

Tetapi sementara itu pertempuran berjalan terus. Citra Gati dengan gigihnya bertempur melawan Alap-Alap Jalatunda. Alap-Alap yang masih muda itu bertempur dengan tangkasnya. Pedangnya menyambar-nyambar seperti beratus-ratus pedang.

Tetapi Citra Gatipun cukup berpengalaman. Pedangnyapun berputar seperti baling-baling. Dengan sepenuh tenaga dicobanya untuk melawan Alap-Alap Jalatunda. Namun Alap-Alap Jalatunda itu mempunyai beberapa kelebihan daripadanya. Kelincahan dan kecepatannya. Sekali ia menyambar dari samping, namun dengan cepatnya pedangnya telah terjulur ke arah lambung.

Agung Sedayu yang berdiri beberapa langkah dari pertempuran itu kadang-kadang dapat menyaksikannya dengan cermat. Ia melihat, bahwa Alap-Alap Jalatunda itu benar-benar tangkas. Tetapi meskipun demikian, kini Agung Sedayu itu tidak menjadi gentar seperti pada saat ia melihat Alap-Alap Jalatunda bertempur melawan kakaknya. Bahkan tiba-tiba terungkatlah kebenciannya kepada Alap-Alap Jalatunda itu. Sebab ia adalah salah seorang dari mereka yang menyebabkan kakaknya terluka pada waktu itu.

Karena itu untuk melepaskan kebimbangannya melawan setiap orang yang belum pernah dikenalnya dalam laskar lawannya, maka tiba-tiba Agung Sedayu itupun meloncat mendekati Citra Gati. Ia sama sekali tidak cemas lagi melihat pedang Alap-Alap Jalatunda itu. Meskipun demikian, ia menjadi berdebar-debar juga. Kalau ia terpaksa terlibat dalam pertempuran yang seimbang, apakah ia harus membunuh lawannya? Namun demikian, ada juga keinginannya untuk melepaskan gelora yang tersekap di dalam dadanya. Gelora kemarahannya kepada Sidanti yang belum ditumpahkannya.

Alap-Alap Jalatunda yang sedang bertempur melawan Citra Gati itu melihat seseorang mendekati perkelahian itu. Karena itu segera ia berteriak, “Ha, siapa lagi yang ingin bertempur melawan Alap-Alap Jalatunda?”

Dalam pada itu seorang prajurit Jipang tiba-tiba menyerang Agung Sedayu. Namun dengan tangkasnya Agung Sedayu menghindari serangan itu, bahkan dengan kerasnya ia memukul pedang lawannya, ke arah yang sama, sehingga justru karena itu, maka pedang itupun meloncat dan terlepas dari tangannya.

Alap-Alap Jalatunda sempat menyaksikan ketangkasan itu. Karena itu maka segera perhatiannya tertarik kepada lawan yang mendekatinya. Sambil bertempur melawan Citra Gati ia berkata, “He, alangkah tangkasnya anak itu. Siapakah kau? Apakah kau ingin melawan Alap-Alap Jalatunda?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. namun diamatinya perkelahian antara Alap-Alap itu melawan Citra Gati. Baru sesaat kemudian ia berkata, “Aku Agung Sedayu, adik Untara yang kau cegat berempat di sekitar Macanan.”

“He, kaukah itu? Pengecut yang selama ini aku cari-cari.”

“Kita bertemu disini. Apakah aku benar-benar pengecut?”

Citra Gati menjadi heran. Apakah mereka sudah berkenalan? Tetapi kemudian diingatnya cerita Agung Sedayu tentang perjalanannya malam-malam ia pertama kali datang di Sangkal Putung. Karena itu maka katanya sambil menggerakkan pedangnya, menangkis serangan Alap-Alap Jalatunda, “Apakah kau bertemu dengan kawan lama?”

“Ya” sahut Agung Sedayu.

“Kalau kau yang bertempur melawan aku sekarang, maka aku akan dapat melepaskan sakit hatiku. Bukankah kakakmu yang namanya Untara itu membunuh tiga orang kawan-kawanku?” teriak Alap-Alap Jalatunda.

Agung Sedayu menarik nafas. Kemudian katanya, “Kau masih marah?”

“Setan” desis Alap-alap Jalatunda. “Kalau kau tidak melarikan diri waktu itu, maka kau telah aku cincang di bawah randu alas di tikungan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. “Ya” katanya dalam hati. “Kalau pada saat itu Kiai Gringsing tidak menolongku, mungkin aku benar-benar telah dicincangnya.”

Kemudian jawabnya, “Tetapi sekarang kita bertemu lagi.”

“Jangan lari. Setelah aku menyelesaikan yang seorang ini, akan datang giliranmu.”

Citra Gati tersinggung mendengar kata-kata itu. Karena itu ia memperketat serangannya sambil berteriak, “Apa kau sangka aku ini dapat kau kalahkan?”

Alap-Alap Jalatunda terkejut. Serangan Citra Gati benar-benar berbahaya. Sedang seorang yang lain telah menyerang Agung Sedayu pula.

Namun sekali lagi dengan mudahnya Agung Sedayu dapat menghindarinya. Bertempur beberapa saat, kemudian dengan sekuat tenaga melawan serangan orang itu dengan serangan pula, sehingga kedua senjata mereka beradu. Ketika pedang lawannya itu masih bergetar di tangannya, maka dengan cepatnya Agung Sedayu memukul pedang itu sehingga terlepas pula dari genggamannya. Namun sekali lagi ia ragu-ragu untuk membunuhnya. Maka dibiarkannya lawannya itu berlari menyusup di antara riuhnya pertempuran.

Kini, setelah beberapa kali Agung Sedayu meyakinkan kemampuannya, maka dengan tangkasnya ia meloncat mendekati Citra Gati sambil berkata, “Lepaskan anak muda itu Paman. Biarlah ia melawan aku dahulu.”

Citra Gati mengangkat dahinya. Sebenarnya ia ingin menyobek mulut Alap-Alap Jalatunda yang telah menghinanya itu. Tetapi ia tidak mampu. Karena itu maka jawabnya, “Silakan. Kalau kawan lama sudah bertemu, maka aku akan menyingkir.”

“Kau mau bunuh diri?” teriak Alap-alap Jalatunda. “Beberapa waktu yang lalu kau melarikan dirimu, sekarang kau bersombong diri, melawan aku.”

“Pada waktu itupun aku tidak lari” sahut Agung Sedayu yang mencoba menutupi kekecewaannya atas masa lampau itu. “Waktu itu aku sedang menyelamatkan Kakang Untara.”

Alap-Alap Jalatunda mencibirkan bibirnya. Anak muda itu dapat mengingatnya dengan baik ketika Agung Sedayu berdiri dengan gemetar melihat Untara bertempur seorang diri.

Tetapi Alap-Alap Jalatunda itu benar-benar menjadi heran, bahwa kini Agung Sedayu benar-benar berani melawannya atas kehendak sendiri. Bahkan sengaja mendatanginya dan menyatakan dirinya untuk bertempur melawannya.

Sementara itu pertempuran masih berlangsung terus. Citra Gati yang kemudian melepaskan lawannya, segera mendapat serangan dari orang-orang Alap-Alap Jalatunda yang menyangka bahwa Agung Sedayu dan Citra Gati akan mengeroyok pimpinan sayapnya. Tetapi Citra Gati segera berkisar dari tempatnya, dan menyambut serangan itu dalam jarak yang cukup dari Alap-Alap Jalatunda.

Kini Alap-Alap Jalatunda berdiri bebas tanpa lawan seperti Agung Sedayu. Anak buahnya segera mengerti bahwa mereka beruda akan berhadapan sebagai lawan. Demikian juga dengan anak buah Citra Gati. Karena itu maka mereka tidak akan mengganggu kedua orang yang sudah siap untuk bertempur itu. Bahkan mereka sedang sibuk melayani lawan masing-masing.

Alap-Alap Jalatunda itu sekali melayangkan pandangannya ke arena yang tidak begitu luas itu.

Perkelahian masih berlangsung dengan sengitnya. Terasa bahwa jumlah lawannya agak sedikit lebih banyak. Tetapi beberapa orang di antara mereka adalah anak-anak muda yang belum begitu tangkas mempergunakan senjata-senjata mereka, sehingga mereka terpaksa bertempur berpasangan.

Tetapi anak buah Widura sendiri, telah bertempur mati-matian. Dan sebenarnya tandang mereka ngedap-edabi. Dengan demikian maka anak-anak muda Sangkal Putung yang berbekal tekad yang menyala di dalam dada mereka itupun menjadi garang pula.

Di antara mereka, Swandaru tampak mempunyai beberapa kelebihan. Bahkan kini ia tidak kalah tangkas dengan setiap orang di dalam pasukan kecil itu. Pedangnya yang besar berputar menyambar-nyambar seperti baling-baling. Dan setiap benturan, langsung terasa oleh lawannya bahwa kekuatannya benar-benar bukan main. Karena itulah maka Swandaru itu benar-benar mengamuk seperti banteng yang terluka.

Alap-Alap Jalatunda itu kemudian memandang Agung Sedayu yang telah siap berdiri di mukanya. Dengan wajah yang tegang Alap-Alap Jalatunda itu membentak, “He, apakah kau sekarang sudah mendapat seorang guru yang pilih tanding? Yang mampu meremas prahara?

Agung Sedayu masih juga berdebar-debar. Meskipun demikian ia merasa bahwa ia tidak takut lagi menghadapinya. Karena itu maka katanya, “Alap-Alap Jalatunda, aku telah mendapat guru yang sangat baik. Aku berguru pada keadaan dan waktu. Akhirnya aku berani menghadapimu kini.”

Alap-Alap Jalatunda tertawa. Katanya, “Nah, berperisailah dengan segala macam mantra, doa, aji dan ilmu. Namun sebentar lagi dadamu akan tembus oleh ujung pedangku.”

“Tidak. Aku hanya berperisai dengan keyakinan akan kebenaran perjuanganku. Mudah-mudahan Tuhan membenarkan pula.”

“Huh, setiap orang meyakini kebenaran perjuangannya. Akupun yakin, Karena itu jangan membual tentang kebenaran.”

“Kau benar” sahut Agung Sedayu. “Tetapi marilah kita cari kebenaran yang jujur. Kebenaran yang dibenarkan oleh Tuhan kita. Bukankah kau juga mengakui kebenaran yang mutlak itu?”

“Pandangan kita tak akan bertemu.”

“Mungkin tidak. Tetapi apa yang kau lakukan selama ini, perampokan, pencegatan, perkosaan atas kebebasan dan kemanusiaan adalah sama sekali tidak mencerminkan kebenaran perjuanganmu.”

“Jangan menggurui aku. Kita sudah memegang pedang ditangan masing-masing.”

“Bagus. Aku sudah siap.”

Alap-Alap Jalatunda tidak berbicara lagi. Segera ia meloncat sambil menjulurkan pedangnya.

Namun Agung Sedayupun telah siap pula. Ia telah banyak mengalami penempaan selama ini. Dari kakaknya di masa kanak-kanaknya, dari ayahnya dan akhirnya dari pamannya. Namun ia sendiri telah menemukan banyak persoalan yang dapat dipecahkannya lewat lukisan-lukisannya yang telah disempurnakan oleh kakaknya, sehingga dengan demikian, maka Alap-Alap Jalatunda benar-benar menjadi heran. Agung Sedayu adalah anak muda yang perkasa.

Demikianlah mereka terlibat dalam perkelahian yang sengit. Alap-Alap Jalatunda yang bertanggungjawab atas anak buahnya, segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk secepat-cepatnya berusaha menyelesaikan pertempuran itu. Sedang Agung Sedayu kemudian melawannya dengan gigih.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba timbullah berbagai pertanyaan di dalam diri Agung Sedayu. Ia belum pernah mengalami pertempuran yang sebenarnya. Karena itu, ia menjadi heran. Apakah Alap-Alap Jalatunda itu tidak bertempur dengan segenap kemampuannya? Apakah anak muda itu sengaja memancingnya atau membiarkannya menjadi lelah?

Sampai sedemikian lama, Agung Sedayu sama sekali tidak merasakan sesuatu kesulitan untuk melawan Alap-Alap Jalatunda yang ditakutinya. Ia dapat melawan dengan baik, bahkan kadang-kadang ia mampu melibat lawannya dalam keadaan yang sangat sulit.

Karena itu maka Agung Sedayu justru menjadi bingung. Ia akhirnya menyangka bahwa Alap-Alap Jalatunda belum bertempur dengan sepenuh kemampuannya. Dengan demikian, maka Agung Sedayupun berusaha menyimpan sebagian dari tenaganya untuk menghadapi setiap saat apabila Alap-Alap Jalatunda itu mengerahkan ilmunya.

Tetapi sebenarnya bahwa Alap-Alap Jalatunda telah berjuang mati-matian untuk membinasakan lawannya. Namun betapa ia menjadi heran. Lawannya itu menjadi seperti hantu yang sangat membingungkannya. Sekali-sekali ia dapat menghadapinya dengan mantap, namun tiba-tiba bayangannya telah melontar mengitarinya seperti bayangan hantu yang tidak berjejak di atas tanah. Karena itu, maka keringat dingin telah mengalir di segenap wajah kulitnya. Meskipun demikian Alap-Alap Jalatunda itu masih bertempur dengan garangnya.

Hal inilah yang tidak diketahui oleh Agung Sedayu. Ia masih menyangka bahwa Alap-Alap Jalatunda belum bertempur sebenarnya.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu itupun masih menunggu. Disimpannya sebagian dari tenaganya. Apabila saatnya datang, maka segera ia siap untuk bertempur mati-matian.

Bagaimanapun juga, Agung Sedayu itu masih juga terpengaruh kenangan masa-masa lampaunya. Ia masih menganggap bahwa Alap-Alap Jalatunda adalah seorang anak muda yang perkasa. Karena itu maka ketika ia mengalami pertempuran melawan Alap-Alap itu, ia menjadi ragu-ragu. Sebab dalam perkelahian itu ternyata, bahwa Alap-Alap Jalatunda sama sekali tidak segarang yang disangkanya, sehingga dengan demikian ia tetap mengira, bahwa Alap-Alap Jalatunda masih menyimpan sesuatu yang akan dipakainya untuk mengakhiri pertempuran.

Demikianlah maka mereka berdua masih berempur dengan serunya, di dalam riuhnya pertempuran antara laskar Widura dan anak-anak Sangkal Putung di satu pihak dan laskar Tohpati di lain pihak.

Sementara itu, induk pasukan merekapun bertempur dengan serunya pula. Mereka telah berjuang sekuat-kuat tenaga mereka. Sejak munculnya laskar yang dipimpin oleh Citra Gati itu maka Macan Kepatihan yang cerdik segera dapat menduga, bahwa akan datang pula serangan dari sayap lain. Karena itu segera ia berteriak, “Siapkan sayap kiri.”

Dan sebenarnyalah laskar Pajang yang dipimpin oleh Sidanti itupun segera melanda lawannya seperti arus banjir yang berusaha memecahkan tebing. Bergulung-gulung gelombang demi gelombang.

Sidanti telah mengatur anak buahnya dalam sap-sap yang tipis. Sebagian anak buahnya langsung berusaha masuk ke dalam barisan lawan. Sedang lawan-lawan mereka yang berdiri di baris terdepan, harus berhadapan dengan lapis-lapis yang berikutnya. Dengan demikian, maka mereka menjadi ragu-ragu.

Karena itu itu maka pertempuran yang ribut itu berlangsung dalam suasana yang tidak menentu. Apalagi malam yang pekat telah melindungi wajah-wajah mereka sehingga sukar untuk membedakan siapakah lawan dan yang manakah kawan. Tetapi dengan demikian Sidanti telah berhasil mengurangi kemungkinan yang tidak diharapkan bagi mereka yang masih belum lanyah mempermainkan senjata, sebab dalam keadaan demikian, mereka bertempur berpasang-pasang, bahkan kadang-kadang dalam jumlah tiga atau empat bersama-sama.

Dalam keadaan demikian itulah maka kedua belah pihak memandang perlu untuk menyalakan obor-obor lebih banyak lagi sehingga oleh sinar obor-obor itu mereka dapat sedikit membedakan, antara lawan dan kawan.

Namun Plasa Ireng tidak membiarkan pertempuran itu menjadi kisruh tidak menentu. Karena itu maka segera ia berteriak, “Jangan berkisar dari satu titik. Merengganglah, dan carilah jarak di antara kawan sendiri.”

Arena pertempuran yang mula-mula justru menjadi kian sempit itu, maka perlahan-lahan menebar kembali. Laskar Jipang bukan pula laskar kemarin petang. Karena itu segera mereka dapat menempatkan diri mereka dengan baik.

Sidanti yang memimpin laskar Pajang itupun segera dapat melihat siapakah yang memegang perintah dalam laskar lawannya. Karena itu maka tanpa berkata apapun segera ia meloncat menyerbunya.

Plasa Ireng terkejut melihat anak muda itu. Sekali ia meloncat ke samping kemudian dengan menggeram ia berkata, “Siapakah kau?”

“Sidanti” sahut Sidanti. Namun sementara itu, senjatanya yang berujung tajam di kedua sisinya berputar dengan cepatnya. Sekali-sekali mematuk dan sekali-sekali menyambar hampir menyentuh wajah Plasa Ireng.

Plasa Ireng itu menjadi marah bukan buatan. Dengan menangkis setiap serangan Sidanti ia menggeram, “Apakah kau sudah jemu hidup?”

Sidanti menyerang semakin garang. Meskipun demikian ia menjawab, “Kita berada di medan pertempuran. Jangan ribut.”

Plasa Ireng itupun kemudian berteriak nyaring. Dengan garangnya ia melawan serangan-serangan Sidanti. Iapun bukan anak-anak yang baru sekali menyaksikan darah tertumpah. Plasa Ireng adalah prajurit sejak mudanya. Seakan-akan ia memang dilahirkan untuk memanggul senjata.

Demikianlah perkelahian itu cepat menanjak menjadi dahsyat sekali. Sidanti bergerak dengan lincahnya, sedang Plasa Ireng bertempur dengan tangguhnya. Keduanya memiliki beberapa kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

Namun ketika Plasa Ireng sempat memperhatikan senjata lawannya, maka iapun menjadi berdebar-debar. Ciri yang ada di tangan Sidanti itu adalah ciri perguruan Tambak Wedi.

“Hem” desisnya sambil bertempur. “Apakah kau murid Ki Tambak Wedi?”

Sidanti menjadi berbangga hati mendengar pertanyan itu. “Ya” jawabnya singkat.

Sekali lagi Plasa Ireng menggeram. “Jangan berbangga. Aku mendengar nama Ki Tambak Wedi dari Macan Kepatihan. Karena itu aku akan mencoba, apakah berita tentang Tambak Wedi itu benar-benar mendebarkan hati.”

Sidanti menjadi tersinggung karenanya. Maka senjatanya menjadi semakin dahsyat berputar-putar mengitari tubuh lawannya. Bagaimana Plasa Irengpun telah mencapai puncak kemarahannya. Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi bertambah seru.

Sebenarnyalah Sidanti memiliki beberapa keanehan. Ia mampu meloncat-loncat seperti kijang, namun kadang-kadang ia menyambar seperti elang. Dengan penuh tekad, ia ingin menunjukkan kelebihannya dari setiap orang dari kedua belah pihak. Ia ingin membunuh lawannya itu, dan karena itu ia ingin membanggakan dirinya kepada setiap orang di Sangkal Putung.

Tetapi Plasa Ireng itupun ingin berbuat serupa. Ia ingin segera membinasakan murid Ki Tambak Wedi itu. Dengan demikian iapun akan dapat membanggakan dirinya pula.

Plasa Ireng pernah mendengar dari Macan Kepatihan bahwa murid Ki Tambak Wedi ternyata telah berhasil menyelamatkan dirinya ketika ia bertempur melawan Macan Kepatihan itu sendiri. “Tetapi ia akan mati kali ini” berkata Plasa Ireng di dalam hatinya. Dengan demikian maka pertempuran di antara mereka menjadi semakin seru. Masing-masing berhasrat untuk membunuh lawannya. Tanpa ampun, tanpa pertimbangan lain.

Ketika kedua sayapnya telah mendapatkan lawan masing-masing, maka kini Tohpati menjadi tenang. Kini ia tinggal mengatur induk pasukannya. Ketika dengan seksama ia memperhatikan pertempuran itu, maka ia menarik nafas dalam-dalam. Ia menyesal bahwa kunci pertempuran itu telah dibuka oleh laskar Pajang. Sesaat yang pendek itu ternyata benar-benar berpengaruh atas laskarnya.

“Hem” ia menggeram. “Sekali lagi dapat di sergap oleh Widura. Jaringan pengawasannya benar-benar luar biasa. Tetapi sejak pertempuran ini dimulai, aku belum melihatnya. Aku belum melihat seorangpun yang memberi aba-aba pada laskar ini.”

Sasaat ia masih berdiri tegak di belakang garis pertempuran. Namun kemudian ia tidak akan berdiri saja seperti patung. Ketika ia melihat bahwa jumlah laskar lawannya agak lebih banyak maka ia mengerutkan keningnya.

“Tidak akan berpengaruh apa-apa” desah Tohpati itu. Namun ia heran juga, kenapa mereka tidak terpancing oleh tanda bahaya yang bergema di seluruh Sangkal Putung itu sehingga jumlah mereka masih cukup banyak. Apakah jumlah laskar Widura itu telah ditambah?

Namun mata Macan Kepatihan itu benar-benar tajam. Sekali-sekali ia melihat satu dua orang di antara laskar Widura yang mempunyai cara dan sikap yang agak berbeda dari kawan-kawan mereka. Karena itu maka segera Tohpati dapat mengambil kesimpulan bahwa laskar Widura ini telah bergabung dengan anak-anak Sangkal Putung sendiri.

“Biarlah aku memberikan tekanan kepada laskar lawan itu. Mungkin dengan demikian Widura akan menghampiri aku” berkata Tohpati itu di dalam hatinya.

Karena itu maka segera ia meloncat menyusup di antara anak buahnya, sehingga sesaat kemudian senjatanya telah berputaran di arena itu. Tongkatnya yang putih mengkilap dengan ujung yang kekuning-kuningan segera memberitahukan kepada lawan-lawannya bahwa Tohpati sendiri telah hadir di garis peperangan. Karena itu, sebelum mereka sempat berbuat apa-apa, maka seorang dua orang telah terpelanting jatuh. Setiap ia bergerak, maka tak ada seorangpun yang berani menyongsongnya seorang diri. Kalau terpaksa mereka harus melawan Macan Kepatihan itu, maka mereka berusaha untuk melawan berpasangan, tiga empat orang sekaligus. Tetapi lawan-lawan mereka yang lainpun segera menyerang mereka juga, sehingga setiap titik yang dihampiri oleh Tohpati itu, maka seseorang dari laskar lawannya pasti akan jatuh.

Tetapi Tohpati itu tidak terlalu lama dapat berbuat demikian. Tiba-tiba dari laskar Pajang, muncullah seseorang dengan sebuah pedang di tangan. Ketika tongkat Tohpati itu terayun dengan derasnya ke arah salah seorang prajurit Pajang yang telah menjadi berputus asa karenanya, maka tiba-tiba pedang itu telah menyentuhnya. Tidak terlalu keras, namun dari arah yang tepat sehingga tongkat Tohpati itu tergeser dari arahnya.

Tohpati menggeram keras sekali. Ketika ia melihat orang yang menyentuh senjatanya itu di dalam remang-remang cahaya obor ia terkejut. Hampir berteriak ia berkata, “He, adakah kau Adi Untara?”

Orang yang memegang pedang itu menyahut, “Ya.”

Sekali lagi Tohpati menggeram. Kini ia menemukan lawan yang sebenarnya. Karena itu maka ia tidak mau membuang waktu. Betempur melawan Widura, Sidanti atau siapapun, Tohpati tidak akan memerlukan waktu yang terlalu banyak. Namun kini Untara berdiri di hadapannya, maka dengan demikian ada kemungkinan ia harus bertempur lebih lama lagi, mungkin setengah malam, mungkin lebih.

Untara kini telah benar-benar siap untuk melawannya. Pedangnya terjulur setinggi dada. “Kakang Tohpati,” katanya, “aku mendapat tugas untuk menyambut kedatanganmu.”

Tohpati menggertakkan giginya. Dengan sekali loncat, tongkatnya telah mulai menyerang Untara. Namun Untara telah benar-benar siap. Meskipun Untara tidak mempunyai senjata khusus seperti Tohpati itu, namun Untara mampu mempergunakan setiap senjata untuk melawan Tohpati. Karena itu ketika tongkat Tohpati itu terayun kearah kepalanya, dengan tangkasnya ia merendahkan dirinya, sedang tangannya segera menggerakkan pedangnya, mematuk lambung lawannya. Namun Tohpatipun mampu bergerak secepat kilat, sehingga dengan memiringkan tubuhnya, serangan pedang Untara telah dapat dihindari.

Kin Tohpati itu kembali mempersiapkan sebuah serangan. Tongkatnya telah mulai berputaran seperti baling-baling. Bahkan kemudian seakan-akan menjadi sebuah gumpalan cahaya yang putih. Sedang kepala tongkatnya itu menjadi seakan-akan seleret cahaya kuning yang beterbangan di antara gumpalan yang berkilat-kilat itu.

Dalam pada itu terdengar Tohpati itu menggeram, “Kenapa kau berada disini Adi?”

Untara tersenyum. Pada saat itu tongkat Tohpati menyambarnya kembali. Karena itu, ia terpaksa bergeser surut, namun kemudian ia meloncat maju dengan tangkasnya. Kini ia menyerang dengan sebuah sabetan menyilang. Tohpati terkejut. Cepat ia menarik diri setengah langkah, dan mencondongkan badannya ke belakang. Ketika pedang Untara itu lewat, maka tongkatnyalah kini langsung menyambar tangan Untara itu. Namun Untarapun cukup cekatan. Dengan lincahnya ia memutar dirinya dan menarik tangannya, sehingga tongkat lawannya terayun tanpa menyentuhnya.

Meksipun mereka telah bertempur semakin cepat, namun Untara masih sempat berkata, “Huh. Hampir aku tidak sempat menjawab untuk selama-lamanya. Nah Kakang, aku datang kemari khusus untuk menerima kedatangan Kakang.”

“Gila” Tohpati mengumpat. “Apakah Paman Widura sudah ditarik ke Pajang?”

“Kakang mencari Paman Widura?”

“Aku hampir membunuhnya” sahut Tohpati. Dalam pada itu serangannya telah meluncur kembali.

Tetapi Untara sama sekali tidak lengah. Setiap saat ia selalu siap menghadapi serangan lawannya. Bahkan dengan garangnya Untara itupun segera menyerang kembali.

Untara dan Macan Kepatihan itupun kemudian terlibat dalam perkelahian yang semakin lama menjadi semakin seru. Mereka masing-masing adalah pemimpin yang mendapat kepercayaan. Pada masa Jipang masih tegak, maka di samping Mantahun sendiri, pepatih Jipang, maka Tohpatilah prajurit yang paling dipercaya. Sedang Untara walaupun masih agak lebih muda dari Tohpati, namun ia telah menunjukkan kelebihan dari prajurit-prajurit yang lain, sehingga Panglima Wira Tamtama memberinya kepercayaan di daerah-daerah yang gawat, di sekitar lereng gunung Merapi.

Tohpati itu bertempur semakin lama menjadi semakin garang. Tongkatnya menyambar-nyambar seperti elang, sedang kakinya meloncat-loncat dengan cepatnya, seperti seorang yang sedang menari di atas bara api. Tetapi Untara mampu melawannya dengan gigih. Seperti seekor banteng ia siap menghadapi kemungkinan apapun juga. Tenang tetapi yakin.

Anak buah masing-masingpun terpengaruh pula oleh pertempuran kedua pemimpin itu. Merekapun kemudian melepaskan segenap kemampuan yang ada pada mereka. Karena itu, maka di arena pertempura itu semakin lama menjadi semakin riuh. Suara senjata beradu, diselingi pekik mereka yang lengah sehingga ujung senjata lawannya hinggap di tubuhnya.

Malam yang gelap itu menjadi semakin gelap. Perlahan-lahan bintang-bintang di langit merambat melewati garis edarnya. Angin malam yang dingin berhembus perlahan-lahan mengusap tubuh mereka yang sedang basah oleh keringat.

Di pinggir selatan induk desa Sangkal Putung, Widura sedang berjuang dengan gigihnya. Sanakeling yang melawannya telah memeras segenap kemampuan yang ada padanya.

Ternyata apa yang pernah didengarnya tentang Widura, adalah bukan sekedar cerita belaka. Kini ia berhadapan langsung dengan orang yang bernama Widura itu. Tidak saja ia mempunyai kecepatan dan ketrampilan bertempur, namun caranya mengatur anak buahnya benar-benar mengagumkan.

Karena itu, maka Sanakeling harus bertempur mati-matian sehingga dengan demikian ia akan dapat mempengaruhi keadaan keseimbangan laskar mereka. “Kalau aku mampu membunuh Widura, maka laskar mereka akan dapat aku cerai-beraikan” pikir Sanakeling itu.

Namun ternyata Widura tidak mudah didesaknya. Bahkan semakin lama menjadi semakin terasa bahwa Widura menjadi semakin mapan.

Karena itu, maka timbullah berbagai persoalan di dalam dirinya. Sudah cukup lama Sanakeling berusaha mempertahankan kedudukannya. Namun laskar yang lain, masih belum dilihatnya memasuki Sangkal Putung. Apalagi kemudian terasa bahwa laskar Sangkal Putung itu benar-benar sulit untuk dikuasai. Anak-anak muda Sangkal Putung sendiri bertempur dengan gigihnya, di samping laskar Widura yang telah masak menghadapi segala macam keadaan pertempuran. Karena itu, maka Sanakeling itu sama sekali tidak dapat memberikan tekanan-tekanan seperti yang diharapkan, apalagi merambas jalan ke kademangan,

Tetapi Sanakeling bukannya prajurit yang berpikiran pendek. Ia bukan seorang yang lekas menjadi berputus asa. Ia masih tetap dalam pendiriannya, kalau ia dapat membunuh Widura maka pekerjaannya akan dapat dilakukan dengan baik.

Dalam keadaan yang demikian itulah pertempuran itu menjadi semakin sengit. Laskar Widura dan laskar Sangkal Putung ternyata melebihi jumlah laskar lawan. Namun ternyata bahwa laskar Sanakeling memiliki pengalaman dan kelincahan lebih baik dari laskar Sangkal Putung sendiri. Untunglah bahwa laskar Widura mampu mengimbanginya, meskipun jumlahnya tidak dapat memadai.

Di bagian lain, Agung Sedayu masih juga bertempur melawan Alap-Alap Jalatunda. Laskar Citra Gati di sayap itupun ternyata mampu mengimbangi lawannya. Beberapa orang laskar Sangkal Putung yang tidak saja terdiri dari anak-anak muda, tetapi beberapa orang tua, namun justru bekas prajurit-prajurit di masa mudanya, ternyata memberinya banyak bantuan. Meskipun tenaga orang-orang tua itu sudah tidak sekuat anak-anak muda, namun pengalamannya benar-benar dapat memberi beberapa keuntungan.

Mereka masih dapat membingungkan lawan-lawan dengan gerak-gerak yang aneh. Kadang-kadang mereka menghilang di dalam keriuhan pertempuran, namun dengan tiba-tiba mereka muncul kembali dengan sebuah serangan yang mengejutkan. Bahkan kadang-kadang mereka bertempur berpasangan dengan anak-anak muda sambil memberi beberapa petunjuk kepada mereka.

Citra Gati yang melihat cara mereka bertemput, sempat juga tersenyum. Mereka adalah bekas prajurit Demak yang tangguh di masa muda mereka.

Tetapi Agung Sedayu sendiri, masih saja merasa kebingungan. Ia ragu-ragu untuk segera mengakhiri pertempuran. Kalau ia segera mengerahkan segenap kemampuannya, apakah Alap-Alap Jalatunda itu tidak menjadi beruntung karenanya? Apakah Alap-Alap Jalatunda sengaja membuatnya tidak sabar, dan menunggu sampai ia menjadi lemah?

Karena itu, maka akhirnya ia memutuskan untuk melayani saja lawannya. Dibiarkannya lawannya mengambil sikap lebih dahulu, baru kemudian ia akan menyelesaikannya.

“Biarlah” katanya dalam hati. “Akan aku layani Alap-Alap Jalatunda ini. Sehari, dua hari atau seminggu sekalipun. Kalau ia masih mampu menggerakkan senjatanya, masa aku tidak dapat melawannya dengan senjataku?”

Dengan demikian Agung Sedayu itu bertempur saja sekedar untuk melindungi dirinya dari sentuhan senjata lawannya.

Tetapi di sayap yang lain, keadaan Sidanti agak lebih sulit. Laskar Plasa Ireng benar-benar memiliki kemampuan yang baik. Dengan dahsyatnya mereka berhasil menekan laskar yang dipimpin oleh Sidanti, sehingga pertempuran itu telah bergeser beberapa langkah surut. Sidanti terpaksa mengambil kebijaksanaan untuk menarik laskarnya mendekati induk pasukan. Diharapkannya bahwa induk pasukan akan dapat memberinya bantuan.

Untarapun kemudian melihat kesulitan Sidanti. Beberapa kali ia mencoba untuk menilai induk pasukan itu. Namun keadaan induk pasukan itu sendiri tidak sedemikian baiknya. Ternyata laskar Tohpatipun mampu mengimbangi laskar Untara. Bahkan terasa bahwa anak-anak muda Sangkal Putung telah mulai susut tenaganya. Mereka belum biasa memeras tenaganya untuk waktu yang lama, apalagi dalam kesibukan yang membingungkan. Karena itu, maka Untara menjadi prihatin. Walaupun demikian, ia berusaha untuk memberi isyarat kepada Hudaya. Isyarat sandi yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.

Hudaya melihat gerak tangan kiri Untara. Karena itu, maka ia mengerutkan keningnya. Di dalam hati ia bergumam, “Biarlah Sidanti itu mampus. Kenapa Untara itu memerintahkan aku untuk membantunya?”

Sebenarnya bahwa isyarat sandi Untara itu adalah, “Hudaya dan beberapa orang, pergi membantu sayap kanan.” Bantuan itu memang hampir tak berarti. Tetapi sedikit banyak cukup berpengaruh sekedar untuk mengurangi kesibukan Sidanti.

Sidanti melihat Hudaya dan beberapa orang memisahkan diri dari induk pasukannya dan pergi ke sayap yang dipimpinnya. Tetapi ia menjadi sangat kecewa. Bantuan itu sama sekali tidak berarti. Bahkan tersembullah suatu prasangka di dalam hati Sidanti yang mudah menjadi panas itu. “Hem. Untara sengaja membiarkanku dalam kesulitan. Setan. Telah menjadi sumpahku, bahwa Untara itu harus disingkirkan.”

Dan ternyata bahwa bantuan Hudaya itu hampir tak berarti. Namun Hudaya sendiri telah berusaha sebaik-baiknya. Bahkan hampir seperti orang yang kehilangan kesadaran diri. Mengamuk sejadi-jadinya.

Namun hal itu telah mendorong Sidanti untuk berbuat lebih banyak. Kemarahannya kepada Plasa Ireng, dirangkapi oleh kemarahannya kepada Untara menjadikannya berjuang sekuat-kuat tenaganya.

Tetapi betapapun juga, kehadiran Hudaya di dalam sayapnya, telah mengurangi kesibukan pikirannya. Ia menjadi agak tenang untuk menghadapi Plasa Ireng tanpa banyak berpikir tentang laskarnya. Meskipun bantuan yang didapatnya tidak banyak memberi kekuatan pada laskarnya, namun ternyata banyak membantu ketenangannya. Ia kini mencoba memusatkan perhatiannya kepada lawannya. Plasa Ireng. Ia mencoba untuk sesaat melupakan orang-orang lain di dalam sayapnya yang dalam keadaan sulit itu.

Dalam keadaan yang demikian itu, maka Sidanti benar-benar menjadi seorang anak muda yang pilih tanding. Kalau beberapa saat yang lampau ia berhasil menyelamatkan dirinya setelah bertempur beberapa lama melawan Tohpati, maka kini ia berusaha memeras segenap kemampuan yang ada padanya untuk membinasakan lawannya. Selain itu, ternyata Sidantipun seorang yang keras hati. Sekali ia bertekad untuk membunuh lawannya, maka tak ada alasan apapun yang dapat mencegahnya. Kali inipun ia bertekad membunuh Plasa Ireng, seperti Plasa Ireng berusaha membunuhnya. Tak ada pikiran lain di dalam benaknya. Membunuh. Hanya itu. Membunuh.

Dengan demikian maka Sidanti itupun kemudian memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Senjatanya bergerak berputaran sehingga kemudian seakan-akan telah berubah menjadi asap yang hitam kebiru-biruan. Senjata yang hanya sebatang, namun berujung sepasang timbal-balik itu, seakan-akan berubah menjadi senjata serupa yang berpuluh-puluh jumlahnya. Menyerang tubuh Plasa Ireng dari segenap arah.

Meskipun Plasa Ireng bukan seorang prajurit yang baru saja belajar memegang senjata, namun tiba-tiba ia menjadi bingung menghadapi permainan Sidanti. Permainan murid Ki Tambak Wedi itu benar-benar memeningkan kepalanya. Meskipun demikian, Plasa Irengpun tidak segera menjadi cemas. Plasa Ireng adalah seorang prajurit yang tabah. Berpuluh bahkan beratus kali ia mengalami kesulitan di dalam peperangan dan perkelahian perseorangan. Namun berpuluh bahkan beratus kali ia dapat menghindarkan kesulitan itu. Karena itu, maka dengan sekuat-kuat tenaga yang ada padanya, maka ia berusaha untuk mematahkan gumpalan sinar hitam kebiru-biruan yang melandanya.

Tetapi gumpalan sinar hitam kebiru-biruan itu benar-benar seperti asap yang tak dapat disentuh oleh senjatanya. Sidanti yang menjadi semakin bernafsu itu, telah menyerangnya tanpa pertimbangan kecuali membinasakan.

Sekali-sekali Plasa Ireng itupun meloncat mundur. Ia menjadi berbesar hati ketika ia melihat laskarnya berhasil menekan laskar Sidanti. Tetapi ia tidak dapat menutup kenyataan bahwa desing senjata Sidanti itu seakan-akan sebuah siulan maut yang selalu mengejarnya.

Karena itu, maka ia sama sekali tidak menjadi cemas. Kalau perlu ia dapat menarik satu dua orang untuk mengganggu Sidanti.

Hudaya yang bertempur di dekat Sidanti melihat kelebihan Sidanti dari lawannya. Meskipun kebenciannya kepada anak itu sampai ke ujung rambutnya, tetapi, dalam menghadapi musuhnya, Hudaya berbesar hati juga melihat kemenangan Sidanti. Karena itu, maka ia berusaha untuk selalu berada di dekatnya. Ia sudah dapat memperhitungkan apa yang kira-kira akan terjadi. Sebagai seorang prajurit yang telah bertahun-tahun hidup di dalam arena pertempuran, maka ia dapat menduga, bahwa apabila terpaksa Plasa Ireng pasti tidak akan segan-segan memanggil satu dua orang untuk membantunya.

Demikianlah pertempuran disayap kanan itu menjadi semakin ribut. Laskar Sidanti menjadi semakin lama menjadi semakin sulit pula. Plasa Irengpun semakin lama menjadi semakin sulit pula. Sekali-sekali ia meloncat berkisar di sekitar garis pertempuran berlindung di belakang beberapa orang laskar yang sedang berjuang. Namun akhirnya Sidanti berhasil menekannya semakin dalam. Sidantipun mampu memperhitungkan keadaan, bahwa daya tahan laskarnya masih lebih baik dari daya tahan Plasa Ireng. Sehingga meskipun ia melupakan laskarnya sejenak, tetapi ia akan mencapai hasil yang pasti lebih baik.

Sehingga karena itu, maka Sidanti kemudian memusatkan segenap kemampuannya untuk membinasakan lawannya itu.

Plasa Irenguin benar-benar merasakan, betapa serangan-serangan Sidanti semakin menekannya. Senjatanya yang aneh benar-benar telah berputar-putar di telinganya. Betapapun Plasa Ireng mencoba mempertahankan dirinya, namun Sidanti itu mendesaknya semakin kuat.

Akhirnya Plasa Ireng itu menganggap bahwa tak akan ada gunanya ia bertahan seorang diri. Dalam peperangan, tak akan ada celanya, apabila ia harus bertempur berpasangan. Karena itu, tiba-tiba terdengar ia bersuit nyaring.

Sidanti mendengar suara suitan itu. Terasa dadanya bergetar. Iapun tahu pasti, bahwa Plasa Ireng memanggil seorang atau dua orang untuk membantunya.

Dan sebenarnyalah, seseorang yang bertubuh tinggi, namun tidak cukup besar dibandingkan dengan tingginya, meloncat lincahnya, menyerbu ke tempat pertempuran antara Plasa Ireng dan Sidanti. Di tangannya tergenggam sebilah tombak pendek. Dengan cepatnya ujung tombak itu bergetar, dan dengan tangkasnya ia memotong serangan-serangan Sidanti.

Sidanti surut selangkah. Terdengar ia menggeram parau, “Setan. Apakah kau sudah kehabisan akal?”

Plasa Ireng tertawa. “Di dalam pertempuran, maka setiap orang di pihak lawan adalah musuhnya. Panggillah orang-orangmu untuk ikut serta dalam pertempuran berpasangan ini.”

Sidanti menjadi semakin marah. Plasa Ireng ternyata mampu memperhitungkan kekuatan laskarnya. Karena itu, maka sekali lagi Sidanti dipengaruhi oleh keadaan laskarnya.

Namun tiba-tiba tanpa diduga-duga, Hudaya yang dengan cepatnya memperhitungkan kemungkinan itu, meloncat dengan cepatnya. Pedangnya terjulur lurus, langsung ke lambung orang yang tinggi itu. Orang itu terkejut, sekali ia melangkah kesamping dan kemudian dengan memutar tombaknya ia mencoba menghindarkan serangan Hudaya berikutnya.

Tidak saja orang yang tinggi itu yang terkejut. Plasa Irengpun terkejut pula. Ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda Sidanti memanggil seseorang untuk melibatkan diri dalam pertempuran di antara mereka. Tetapi Hudaya bukan seorang yang hanya mampu berbuat karena diperintah. Iapun mampu mengambil sikap dalam setiap pertempuran. Demikianlah pada saat-saat yang penting itu Hudaya mampu membuat perhitungan-perhitungan yang cermat. Ia menjadi marah pula, ketika ia melihat saat-saat terkhir dari lawan Sidanti itu diganggu oleh orang lain.

Dalam keadaan yang demikian itulah Sidanti yang berotak cerdas itu mempergunakan keadaan sebaik-baiknya. Pada saat orang yang tinggi itu masih dalam usaha menyelamatkan dirinya, maka Sidanti meloncat dengan garangnya. Memutar senjatanya dan mendesak Plasa Ireng sejadi-jadinya.

Plasa Ireng benar-benar terkejut dan karena itu sesaat ia kehilangan keseimbangan. Keseimbangan gerak dan keseimbangan pikiran. Dengan demikian maka justru ia lupa untuk memberi isyarat kepada orang lain lagi untuk membantunya. Perhatiannya tercurah sepenuhnya dalam usahanya untuk mempertahankan dirinya. Tetapi ketika kembali terasa nyawanya seakan-akan telah melekat di ujung senjata Sidanti, maka barulah ia teringat kembali kepada orang-orang yang berdiri mengitarinya.

Tetapi Plasa Ireng itu telah terlambat. Getar senjata Sidanti telah benar-benar memusingkan kepalanya. Maka demikian terdengar ia bersuit dua kali untuk memanggil orangnya yang lain, maka demikian pundaknya tergores oleh senjata Sidanti.

Plasa Ireng terkejut bukan buatan. Sekali ia melontar mundur, namun Sidanti itu sempat mengejarnya, dengan satu loncatan pula. Dan sebelum seseorang berhasil datang membantunya, terdengarlah Plasa Ireng memekik pendek. Sekali lagi senjata ciri perguruan Tambak Wedi yang dahsyat itu merobek dadanya.

Kini Plasa Ireng benar-benar telah kehilangan keseimbangannya. Matanya kemudian seakan-akan menjadi gelap, dan sinar-sinar obor disekitarnya itu serasa menjadi padang bersama-sama. Yang terasa kemudian sekali lagi sebuah tusukan menghunjam dadanya, langsung menembus jantungnya.

Plasa Ireng itu mengaduh sekali, kemudian ketika Sidanti menarik senjatanya yang berlumuran darah, Plasa Ireng itu terseret selangkah maju untuk kemudian jatuh terjerembab di bawah kaki anak muda itu.

Ketika seseorang datang mendekatinya, orang itu terkejut. Yang dilihatnya adalah Sidanti berdiri tegak di atas tubuh Plasa Ireng. Karena itu betapa marahnya orang itu. Dengan serta-merta ia menyerang Sidanti tepat di dadanya.

Tetapi serangan itu tidak banyak berarti buat Sidanti. Sekali Sidanti mengelak dan ketika senjata orang itu terjulur di samping tubuh Sidanti, maka tangan Sidanti bergerak dengan cepatnya. Sebuah goresan yang panjang telah melukai lambung orang itu. Ketika orang itu berteriak ngeri, maka sekali lagi Sidanti menusuk perutnya. Orang itupun terbanting jatuh dis amping tubuh Plasa Ireng.

Tetapi agaknya kemaran Sidanti masih belum tercurahkan seluruhnya. Ketika sekali lagi ia melihat tubuh Plasa Ireng, maka terungkatlah geram di hatinya. Karena itu dengan serta-merta ia menggerakkan senjatanya, menyobek punggung lawannya yang sudah tidak bernafas itu. Sekali, dua kali dan dipuaskannya hatinya.

Hudaya yang semula tersenyum melihat kemenangan Sidanti, tiba-tiba mengerutkan keningnya. Sambil melayani lawannya ia melihat betapa Sidanti berbuat melampaui batas. Hudaya sama sekali tidak menyangka, bahwa di dalam hati Sidanti itu tersimpan kekerasan, kekejaman dan kekasaran. Di tubuh anak muda itu ternyata mengalir darah yang buram, sehingga dengan tangannya, anak muda itu sampai hati berbuat demikian atas lawannya yang sudah tidak dapat melawannya.

“Anak setan” geram Hudaya itu. “Alangkah kotornya tangan anak muda itu.”

Sidanti itu benar-benar seperti orang yang sedan kesurupan. Dengan mata yang merah liar dan gigi gemeretak, disobeknya tubuh lawannya yang terbaring diam.

“Adi Sidanti” desis Hudaya yang tidak tahan lagi melihat perbuatan Sidanti. “Sudahlah. Jangan kau turuti hatimu yang gelap.”

“Tutup mulutmu” Sidanti itu membentak.

Dan Hudaya menutup mulutnya. Dalam keadaan itu, ia lebih baik tidak membuat persoalan, sebab kemungkinan menjadi salah paham sangat besar. Pada saat Sidanti sedang kehilangan segenap pertimbangannya. Karena itu, maka lebih baik memusatkan perhatiannya pada lawannya. Diputarnya senjatanya dan dengan dahsyatnya ia menyerang seperti taufan.

Tetapi bukan saja Hudaya yang heran melihat perbuatan Sidanti. Hampir setiap orang, baik dari laskar Pajang maupun dari laskar Jipang, hatinya tergetar melihat perbuatan itu. Perbuatan yang melampaui batas-batas yang dibenarkan dalam tata pergaulan keprajuritan. Apalagi anak-anak muda Sangkal Putung. Mereka menjadi ngeri. Bagi mereka, lebih baik memalingkan wajah-wajah mereka, dan memusatkan segenap perhatian mereka untuk menyelamatkan diri mereka dari kemungkinan yang sama dengan Plasa Ireng.

Perbuatan Sidanti itu ternyata berpengaruh bagi lawannya. Mereka menjadi ngeri dan cemas. Selain kematian pemimpin mereka, maka apa yang mereka lihat itu benar-benar telah mengerutkan hati mereka.

Setelah puas dengan perbuatannya, Sidanti tegak berdiri di atas mayat lawannya. Satu kakinya menginjak punggung, dan satu kakinya di atas kepala. Dengan lantang ia berkata kepada laskar Jipang yang masih bertempur dengan gigihnya, “He, laskar Jipang yang keras kepala. Lihatlah, pemimpinmu telah terbunuh mati oleh tangan Sidanti. Ayo, siapa yang berani mengangkat diri menjadi senapati. Inilah Sidanti, murid Tambak Wedi.”

Suara Sidanti itu menggelegar, menyusup di antara dentang senjata dan jerit kesakitan, menggema berputar-putar di dalam malam yang kelam, seakan-akan getar suara dari neraka, memanggil-manggil setiap nama yang ikut serta dalam pertempuran itu.

Malam menjadi semakin dalam. Bintang-bintang yang gemerlapan di langit bergeser setapak-setapak ke barat dalam hembusan angin malam yang dingin. Selembar-selembar awan yang putiih mengalir ke utara seperti gumpalan-gumpalan kapuk raksasa yang sedang hanyut.

Pertempuran di perbatasan kademangan Sangkal Putung masih berlangsung dengan sengitnya. Di sayap kanan, laskar Jipang seakan-akan telah kehilangan semangat untuk bertempur, setelah mereka menyaksikan pemimpin mereka jatuh. Kekasaran Sidanti, meskipun menumbuhkan kengerian di dalam dada laskar Jipang, namun di dalam dada itu juga menyala dendam yang tiada taranya. Dendam yang seakan-akan tidak akan kunjung padam. Betapa perbuatan Sidanti itu tergores di dinding jantung mereka. Sebelum nyawa mereka melayang, maka peristiwa itu tidak akan mereka lupakan.

Beberapa orang yang tidak dapat menahan hatinya melihat pemimpinnya mendapat perlakuan yang sedemikian menyakitkan hati, segera menyerbu bersama-sama. Namun Sidanti benar-benar memiliki tenaga dan ketrampilan yang luar biasa. Meskipun beberapa orang datang bersama-sama, namun anak muda itu masih saja mampu untuk mengalahkan mereka.

Tetapi, ketika lawan Sidanti menjadi semakin banyak, maka Hudaya juga berasa bertanggung-jawab pula atas kemenangan yang harus mereka perjuangkan. Betapapun hatinya menjadi pedih melihat perbuatan Sidanti, namun ia datang juga untuk membantunya.

Kemenangan-kemenangan yang didapatnya itu telah mendorong Sidanti lebih jauh ke dalam ketamakan dan kesombongannya. Kematian Plasa Ireng merupakan racun yang tajam yang menusuk langsung ke otaknya. Dengan membunuh Plasa Ireng maka Sidanti merasa bahwa ia wajar untuk menerima kehormatan yang jauh dari semestinya. Bahkan kematian Plasa Ireng itu telah menumbuhkan suatu impian yang mengerikan.

Laskar Jipang yang kehilangan pemimpinnya itupun kemudian menjadi semakin kacau. Seorang yang bertubuh tinggi kurus, yang bertempur melawan Hudaya mencoba untuk mengambil alih pimpinan. Dipanggilnya beberapa orang untuk menggantikan perlawanannya terhadap Hudaya, dan ia sendiri meloncat kesana kemari, memekik tinggi memberikan aba-aba kepada sisa-sisa laskarnya. Namun usahanya itu tidak banyak memberikan perubahan apa-apa. Bahkan dengan demikian maka ia memberi kesempatan kepada Hudaya untuk menghindari setiap lawannya, dan membantu Sidanti yang harus bertempur melawan beberapa orang sekaligus.

Serangan orang-orang lain yang berusaha untuk mencegahnya, terpaksa berhadapan dengan laskar Pajang yang lain pula.

Demikianlah maka laskar Jipang disayap itu menjadi semakin lemah. Kini orang yang tinggi kurus itulah yang mengambil alih kebijaksanaan, mendekati induk pasukannya.

Di dalam induk pasukan itu Tohpati bertempur dengan dahsyatnya melawan Untara. Murid kepatihan Jipang yang mendapat julukan Macan Kepatihan itu menggeram tidak habis-habisnya. Untara ternyata mampu menandingi dalam segala hal. Ketrampilannya, kecepatannya, bahkan kekuatannya. Karena itu, maka Tohpati itu semakin lama menjadi semakin marah. Namun Untara tetap tak dapat diatasinya.

Sedang Untarapun terpaksa mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Tetapi bekal yang didapatnya dari ayahnya Ki Sadewa, ternyata cukup banyak untuk menghadapi murid Mantahun ini.

Ketika mereka itu masih dicengkam oleh ketegangan, karena pertempuran yang dahsyat di antara mereka, datanglah seorang penghubung yang dengan hati-hati memberitahukan kekalahan yang terjadi di sayap kiri laskar Jipang itu. Dengan tanda sandi, penghubung itu mengabarkan bahwa Plasa Ireng terbunuh di peperangan.

Alangkah terkejutnya Tohpati itu. Sekali ia meloncat jauh ke belakang sambil berteriak nyaring, “Siapa di sayap laskar Pajang itu?”

Orang itu berhenti sejenak untuk berpikir. Ia mendengar pimimpin laskar Pajang itu sesumbar menyebut namanya sendiri. Ketika kemudian teringat olehnya nama itu, maka jawabnya, “Namanya Sidanti.”

“Sidanti?” ulang Tohpati

Yang menjawab adalah Untara. “Orang itu berkata benar.”

Tohpati menggertakkan giginya. Ingin pada saat itu ia meremas tulang murid Tambak Wedi itu. “Hem, kenapa aku tidak berusaha membunuhnya beberapa waktu dahulu? Aku terlambat sesaat sehingga Paman Widura mampu membebaskannya” katanya dalam hati.

Kini Sidanti itu telah sempat membunuh seorang kepercayaannya, Plasa Ireng. Karena itu, maka kemarahan Tohpati itupun telah meluap sampai ke ubun-ubunnya. Namun ia tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk menumpahkan kemarahannya kepada Sidanti, sebab di hadapannya masih berdiri Untara. Dan Untara ini masih belum dapat dikalahkannya.

Karena itu, maka segera ia menggeram. “Pertahankan diri pada keadaan kalian kini. Usahakan untuk menahan Sidanti dengan dua tiga kekuatan. Sebentar lagi aku akan datang membunuhnya.”

Orang itu kemudian menghilang di dalam hiruk-pikuk perkelahian, kembali ke sayap kiri. Disampaikannya pesan tu kepada orang yang tinggi kurus, yang mengambil alih pimpinan dari tangan Plasa Ireng. Mendengar pesan itu maka orang itupun berteriak, “Pertahankan keadaan kalian. Macan Kepatihan sendiri segera akan datang, membalaskan dendam Kakang Plasa Ireng.“

“Plasa Ireng” desis Sidanti. Jadi orang yang dibunuhnya itu adalah orang yang namanya ditakuti pula hampir seperti Macan Kepatihan sendiri. Dan karena itulah maka Sidanti itu menjadi semakin membanggakan dirinya.

Berita itu telah membangkitkan kembali semangat bertempur prajurit-prajurit Jipang itu. Sebagian dari mereka segera menyerbu dengan dahsyatnya, sedang sebaigan yang lain berusaha untuk tetap mengurung Sidanti dalam satu lingkaran yang pepat.

Tetapi Hudaya tidak membiarkannya terpisah dari laskarnya. Karena itu, maka iapun segera berusaha memecahkan kepungan itu, dan bertempur bersama-sama dengan Sidanti. Namun meskipun Sidanti melihat usaha-usaha yang dilakukan oleh Hudaya itu, tetapi ia tetap merasa, bahwa dirinya sumber kemenangan dari laskar Pajang. Ia yakin bahwa kekalahan sayap ini akan memperngaruhi pertempuran keseluruhannya.

Tohpati yang marah itupun kini benar-benar memeras tenaganya. Untara harus segera dibinasakan. Namun membinasakan Untara adalah pekerjaan yang sulit. Tohpati itu terpakasa melihat kenyataan yang dihadapinya, bahwa Untara adalah seorang anak muda yang perkasa.

Karena itu, maka perkelahian antara Macan Kepatihan dan Untara itupun menjadi semakin sengit. Masing-masing telah sampai ke puncak kemampuan mereka. Namun kini Untara dapat memusatkan segenap perhatiannya pada lawannya yang menakutkan ini, sebab dari pertanda yang ditangkapnya, maka agaknya keadaan sayap kiri lawannya menjadi parah. Dan Untara itu dapat memperhitungkan pula, bahwa Sidanti berhasil membinasakan pimpinan sayap itu.

Namun Tohpati yang marah itu sedang membuat perhitungan pula atas keadaannya. karena itu, maka kini ia membiarkan Untara menyerangnya dan Tohpati menempatkan dirinya dalam suatu pertahanan yang rapat. Ia mencoba menilai sayap-sayap lainnya dan laskar yang dibawa oleh Sanakeling.

“Di samping Untara dan Sidanti masih ada Paman Widura” katanya dalam hati. Namun Tohpati itu masih memiliki satu kelebihan menurut dugaannya. Alap-Alap Jalatunda. “Meskipun demikian anak itu mampu mempengaruhi keseimbangan keadaan.”

Menurut perhitungan Macan Kepatihan yang berotak cair itu, maka Widuralah yang telah mundur kembali ketika didengarnya tanda bahaya, dan menyerahkan pimpinan kepada Untara. Karena itu, maka Tohpati mengharap bahwa Widura itu akan menemukan lawannya yang seimbang, Sanakeling. Sedang Alap-Alap Jalatunda akan merupakan seorang yang akan dapat menggilas laskar Pajang di arenanya. Kalau orang-orang di sayap kiri mampu bertahan terhadap Sidanti, maka orang-orangya di sayap kanan pasti akan dapat menguasai lawannya di bawah pimpinan Alap-Alap Jalatunda.

Perhitungan Macan Kepatihan itu hanya sebagian saja yang tepat. Namun ia tidak tahu, bahwa di sayap kiri lawannya, terdapat seorang anak muda yang bernama Agung Sedayu. Yang meskipun masih sangat hijaunya, namun ia memiliki persiapan yang jauh dari cukup. Persiapan-persiapan yang selama ini tersimpan saja di dalam dirinya. Kini sedikit demi sedikit kekuatan yang membeku itu mulai dicairkannya.

Demikianlah maka akhirnya Tohpati mengambil kesimpulan, bahwa keadaan laskarnya tidak terlalu parah. Tetapi kemenangan-kemenangan kecil yang semula mulai tampak dipihaknya, kini telah runtuh satu demi satu. Dengan penuh tanggung-jawab Tohpati telah mengirim beberapa orang untuk membantu sayap yang lemah di sebelah kiri. Orang-orang itu diharap dapat membantu menutup kebebasan gerak Sidanti. Beru kemudian ia memusatkan perhatiannya atas lawannya. Untara.

Untara yang bertempur dengan dahsyatnya itupun menyadari, bahwa ia harus memeras segenap kemampuannya. Dan kini hal itu telah dilakukannya. Sehingga betapapun Tohpati berusaha untuk menguasainya, namun usaha itu akan sia-sia saja.

Bahkan ketika Untara telah sampai ke puncak segala macam ilmu yang tersimpan di dalam dirinya, terasa bahwa Macan Kepatihan bukanlah seorang yang tak dapat dikalahkan. Dalam remang-remang cahaya obor, Untara yang menerima turunan ilmu ayahnya itu, ternyata sempat membingungkan Macan Kepatihan. Tongkat putih yang menakutkan berujung kuning itu, sama sekali tidak lebih mengerikan dari gerak pedang Untara. Pedang itu mampu berputar dan mematuk dari segenap arah, menembus gumpalan cahaya putih dan garis-garis kuning yang membentengi Tohpati. Sekali-sekali terdengar kedua macam senjata itu beradu, dan meloncatlah bunga-bunga api ke udara.

Senjata Tohpati itu memang sebenarnya merupakan senjata yang luar biasa. Hampir dalam setiap benturan dengan pedang Untara, pasti meninggalkan bekas luka pada pedang itu. Beberapa bagian tajamnya telah terpecah-pecah sehingga pedang itu benar-benar mirip sebuah gergaji. Untunglah pedang yang dipinjamnya dari Widura itu bukan pula sembarang pedang. Sehingga betapapun kerasnya benturan yang terjadi di antara kedua senjata yang digerakkan oleh tenaga-tenaga raksasa itu, namun pedang itu tidak juga dapat dipatahkan. Meskipun demikian, menyadari perbedaan sifat kedua senjata itu, Untara kemudian tidak mau membenturkan senjatanya langsung dalam arah yang bertentangan. Untara selalu berusaha untuk memukul senjata lawannya agak ke samping. Namun Untara itupun terpaksa memperhitungkan apabila perkelahian itu berlangsung terlalu lama, maka senjatanya akan menjadi semakin lemah.

Tetapi kelincahan, ketangkasan dan ketrampilan Untara yang telah memeras segala macam ilmu yang dimilikinya itu, ternyata benar-benar membingungkan Tohpati. Tohpati yang ditakuti di setiap pertempuran dan bahkan setiap prajurit musuhnya tidak berani menyebut namanya, namun ternyata kini ia menemukan lawan yang tanggon. Nama Untarapun merupakan nama yang mengerikan bagi laskar Jipang hampir di setiap garis peperangan. Di samping kecerdasannya mengatur laskarnya, Untarapun memiliki beberapa kelebihan dari beberapa senapati yang lain. Dan ternyata Untarapun mempunyai beberapa kelebihan dari Tohpati.

Keadaan Tohpati semakin lama menjadi semakin sulit. Apalagi ketika disadarinya, bahwa laskarnya di sayap kiri benar-benar hampir pecah bercerai berai. Karena itu, maka Macan Kepatihan yang garang itu menjadi cemas. Cemas akan nasib laskarnya yang sudah tidak begitu besar lagi jumlahnya, yang dengan susah payah dikumpulkan dari segala medan khusus untuk merebut daerah perbekalan ini. Namun sekali lagi Macan Kepatihan itu terpaksa mengumpat tak habis-habisnya. Ia merasa kini, bahwa gerakannya pasti sudah tercium oleh hidung Untara itu sebelumnya, sehingga Sangkal Putung benar-benar sudah siap menghadapi kedatangannya.

Dua kali ia dikecewakan oleh laskar Pajang di Sangkal Putung. “Namun akan datang saatnya aku menebus setiap kekalahan” geramnya.

Tetapi Untara itu seakan-akan menjadi semakin lama menjadi semakin lincah. Pedangnya berputaran mengitari segenap tubuhnya dari segala arah. Bahkan kemudian, sekali-sekali terasa ujung pedang itu menyentuhnya.

“Setan” geramnya. Dan diputarnya tongkatnya semakin cepat. Tetapi Untarapun bergerak semakin cepat pula. Anak muda, yang mendapat kepercayaan langsung dari Panglima Wira Tamtama itu benar-benar tidak mengecewakan. Dan ia benar-benar dapat menanggulangi kedahsyatan Tohpati.

Alangkah terkejutnya Macan Kepatihan itu, ketika dalam sebuah benturan yang dahsyat, tongkatnya tergetar ke samping. Hanya sesaat yang sangat pendek, ia melihat pedang Untara terjulur lurus ke dadanya. Tohpati berusaha untuk memukul pedang itu kembali dengan tongkatnya, namun pedang itu berputar, dan dengan cepatnya pedang itu menyentuh lengannya. Ketika Untara menarik pedang itu, maka tajamnya yang menyerupai gergaji itu meninggalkan bekas luka di tangan Tohpati. Luka yang menganga seperti luka bekas gergaji. Terdengar Tohpati menggeram pendek. Dengan cepatnya ia meloncat ke samping, dan sesaat ia berusaha menjauhi Untara. Ketika ia memandang lengannya, dilihatnya darah mengalir dari lukanya yang menganga, seolah-olah dagingnya telah disayat dengan sebuah gergaji yang tumpul.

“Gila kau Untara” desis Tohpati. Matanya yang meyala menjadi semakin merah karena kemarahannya yang memuncak. Mulutnya itu meskipun terkatub rapat, namun terdengar giginya gemeretak. Dengan sebuah teriakan tinggi Macan Kepatihan itu meloncat dengan garangnya, langsung menyerang Untara dengan tongkatnya. Sebuah ayunan yang deras sekali menyambar kepala Untara. Namun Untara tidak tertidur karena kemenangan kecil itu. Dengan demikian segera ia merendahkan dirinya dan tongkat Tohpati itu terbang lewat di atas kepalanya.

Pertempuran yang sangat seru segera berkobar kembali. Tohpati yang membara karena kemarahannya, melawan Untara yang dengan sekuat tenaga ingin segera menyelesaikan pekerjaannya yang sudah mulai tampak akan berhasil. Sehingga dengan demikian kembali mereka bertempur dalam puncak ilmu masing-masing.

Namun kali inipun segera terasa bahwa Untara memang luar biasa. Meskipun ia masih lebih muda dari Tohpati, namun Tohpati itu tidak dapat menutup kenyataan, bahwa Untara mampu menandinginya dari segala segi.

Kini Tohpati terpaksa membuat pertimbangan-pertinbangan baru. Ia tidak boleh tenggelam dalam arus perasaan melulu. Ia harus mampu meninjau pertempuran itu dalam segala segi, segala kemungkinan dan segala akibat yang dapat timbul karenanya.

Keringkihan di sayap kiri benar-benar sangat mengganggunya. Sedang Alap-Alap Jalatunda yang diharap akan dapat menimbulkan pengaruh yang baru bagi perimbangan kedua pihak, ternyata masih belum mampu berbuat apa-apa. Karena itu maka Tohpati terpaksa sampai pada suatu keputusan untuk menghindarkan laskarnya dari kehancuran.

Dalam kekalutan itu, sekali lagi Tohpati mencoba melihat pertempuran itu. Namun malam sangat pekatnya. Ia hanya melihat titik pertempuran di sayap kirinya telah bergeser jauh ke belakang, dan sayap kanannya masih saja belum mencapai kemajuan. Sedang di induk pasukannya, meskipun laskarnya mendapat beberapa kesempatan yang baik, namun ia sendiri telah terluka.

Untara yang telah masak itu melihat setiap kemungkinan yang akan dilakukan oleh Tohpati. Ketika ia melihat sikapnya, serta usahanya untuk melihat seluruh laskarnya, maka Untara dapat meraba maksudnya. Karena itu, maka tekanannya diperketat, sehingga hampir-hampir Tohpati itu tidak sempat berbuat lain daripada mempertahankan diri dari ujung pedang Untara yang seakan-akan terbang mengelilingi kepalanya.

Sementara itu, laskar Tohpati di sayap kiri telah benar-benar hampir lumpuh, sehingga mereka tidak mampu lagi untuk bertahan sendiri. Mereka itu kemudian segera menggabungkan diri dengan induk pasukan mereka.

Keadaan kedua pasukan di induk pasukan itu kini menjadi semakin ribut. Pertempuran di antara mereka menjadi seakan-akan tidak teratur lagi. Tetapi meskipun demikian, kedua laskar itu masih tetap bertempur dengan gigihnya.

Hanya anak-anak muda Sangkal Putung kini benar-benar telah menjadi pening. Meskipun beberapa orang laskar Widura terus menerus berusaha untuk menuntun mereka dan bahkan selalu mendampingi mereka, namun keadaan mereka itu agak berbeda dengan laskar Pajang maupun laskar Jipang. Sehingga dengan demikian maka keseimbangan kedua laskar itu semakin lama menjadi semakin berat sebelah pula.

Tetapi di pihak Pajang mempunyai kelebihan yang ikut serta menentukan keseimbangan itu. Sidanti yang lepas tidak mempunyai lawan yang seimbang itu, mengamuk seperti serigala lapar. Namun beberapa orang Jipang yang berani telah mengepungnya. Mereka berusaha untuk selalu membatasi gerak Sidanti itu. Tetapi setiap saat Hudaya selalu berhasil memecahkan kurungan itu, dan melepaskan Sidanti untuk bertempur seperti elang yang merajai udara.

Tohpati adalah seorang pemimpin yang bertanggung-jawab. Ia tidak mau membiarkan korban berjatuhan tanpa arti. Setelah memperhitungkan keadaan masak-masak, maka yakinlah ia, bahwa ia tidak akan dapat menembus benteng yang dipertahankan oleh Untara itu. Bahkan tangannya yang telah terluka itu, semakin lama menjadi semakin lemah. Dan darah yang mengalir menjadi semakin banyak pula.

Betapa Macan Kepatihan itu menjadi marah, dan betapa ia menjadi sangat buas, namun ia tidak dapat menuruti perasaannya tanpa menghiraukan kenyataan.

Sesaat kemudian terdengarlah Macan Kepatihan itu bersuit panjang. Suitannya itu segera disambut oleh beberapa pemimpin kelompok di dalam pasukannya. Dan sesaat kemudian menyalalah berpuluh-puluh anak panah berapi.

Untara terkejut melihat hal itu. Tetapi sebelum ia sempat berbuat apa-apa, maka panah-panah api itu seperti hujan berjatuhan di daerah laskarnya.

“Gila” Untara mengumpat. Ia tidak menyangka bahwa hal itu akan dilakukan oleh laskar Tohpati. Meskipun ia tahu betul bahwa Macan Kepatihan membuat anak panah api, tetapi disangkanya anak panah itu hanya untuk dipergunakan untuk membakar rumah atau apapun di Sangkal Putung sehingga menimbulkan kekacauan dan mempengaruhi ketahanan orang-orang Sangkal Putung.

Usaha Tohpati itu sebagian berhasil. Beberapa anak-anak muda Sangkal Putung menjadi kacau dan hampir kehilangan akal. Namun tiba-tiba terdengar Untara berteriak, “Berlindung di daerah lawan!”

Anak-anak muda Sangkal Putung mula-mula tak mengerti maksud aba-aba itu. Namun orang-orang Widura mendahului mereka, menyerang dan langsung menyusup ke daerah perlawanan musuh. Tetapi suitan itu ternyata mempunyai arti yang lain pula. Demikian laskar Pajang berusaha masuk dalam garis pertahanan itu, maka laskar Jipangpun surut ke belakang. Bahkan semakin lama menjadi semakin cepat. Dan kemudian ternyatalah bahwa laskar Jipang sedang menarik diri.

Untara melihat kenyataan itu. Ia berusaha untuk tidak melepaskan lawannya. Mereka harus dapat melumpuhkan pasukan Macan Kepatihan, sehingga untuk seterusnya tidak mendapat kesempatan berbuat serupa. Menyerang Sangkal Putung dengan kekuatan yang berbahaya.

Demikian pula terjadi disayap kanan laskar Tohpati itu. Agung Sedayu yang menunggu kekuatan terakhir yang akan diungkapkan oleh Alap-Alap Jalatunda menjadi bertanya-tanya di dalam hati. Apakah Alap-Alap Jalatunda itu sudah sampai pada puncak kekuatannya? Kalau demikian, apakah yang didengar tentang Alap-Alap Jalatunda hanya sekedar dongengan untuk menakutkan orang-orang yang mendengarnya. Atau kemampuan dirinya telah cukup mengatasi Alap-Alap itu dengan mudah?

Dalam kebingungan itulah Agung Sedayu melihat laskar lawannya surut dengan cepat. Betapa ia berusaha mengejar lawannya, namun Alap-Alap Jalatunda itu kemudian menenggelamkan diri dalam hiruk pikuk laskarnya. Mereka mundur sambil melawan serta melepaskan anak panah.

“Bukan main” desah Agung Sedayu. “Mereka mempergunakan anak panah.”

Agung Sedayu itu menyesal bahwa ia tidak membawa anak panah dan busur. Tetapi tiba-tiba ia teringat, bahwa dalam sakunya ada beberapa butir batu. Timbullah keinginannya untuk bermain-main dengan batu itu. Sekali ia melepaskan sebuah batu, maka terdengarlah seorang lawannya yang sedang membidikkan anak panah memekik tinggi, dan dalam remang-remang Agung Sedayu melihat orang itu jatuh terjerebab. Sesaat ia melihat orang itu menggeliat dan menahan sakit.

Agung Sedayu terkejut melihat akibat perbuatannya. Orang itu tampaknya menjadi sangat menderita. karena itu, maka tiba-tiba ia berlari-lari mendekatinya.

“Kenapa kau?” terdengar Agung Sedayu bertanya.

Orang itu masih menggeliat dan menyeringai kesakitan. Dipegangnya perutnya sambil mengaduh tak habis-habisnya. Sementara itu kawan-kawannya telah semakin jauh, mundur dari pertempuran.

Agung Sedayu mencoba menangkap lawannya yang kesakitan itu dan dicobanya untuk menenangkannya. “Jangan berguling-guling.”

Tetapi alangkah terkejutnya Agung Sedayu itu, karena sesaat kemudian orang itupun menjadi diam membeku.

“Oh” desah Sedayu. “Apakah kau mati he?”

Dan sebenarnya orang itupun telah mati. Karena itu, maka Agung Sedayu menyesal bukan main. Tetapi ia tidak akan dapat menghidupkannya lagi.

Swandaru juga melihat Agung Sedayu sibuk dengan orang itu mendekatinya sambil bertanya, “Kenapa dengan orang itu?”

“Aku tidak sengaja membunuhnya. Tetapi orang ini mati.”

“Kenapa kalau mati? Bukankah orang itu orang Jipang?”

Agung Sedayu kini telah tegak berdiri. Digigitnya bibirnya. Dan terasa sesuatu berdesir di dadanya.

“Ya” katanya dalam hati. “Apakah kita sudah sampai sedemikian jauh menyimpang dari peradaban manusia? Meskipun orang itu orang Jipang, Pajang atau orang yang ditemuinya di pinggir jalan sekalipun namun selama ia masih bernama manusia, apakah kita biarkan saja mereka mati selagi masih ada kesempatan untuk menolongnya?”

Tetapi ketika Agung Sedayu melayangkan pandangan matanya, maka dilihatnya di berbagai tempat, tubuh-tubuh yang terbaring membeku. Tetapi ada juga di antaranya terdengar merintih menahan sakit. Agung Sedayu belum pernah melihat medan pertempuran. Kali ini adalah kali yang pertama. Karena itu ia menjadi ngeri. Meskipun kini ia tidak takut lagi untuk bertempur, tetapi apa yang dilihatnya benar-benar mendirikan bulu romanya.

Namun sesaat kemudian Agung Sedayu itu mendengar Swandaru berkata, “Marilah. Musuh kita masih berada di pelupuk mata kita.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sesaat kemudian dilihatnya Swandaru meloncat dan berlari kearah laskar Jipang mengundurkan dirinya. Agung Sedayupun kemudian mengikutinya pula, namun hatinya benar-benar digelisahkan oleh pengalamannya yang pertama itu.

Meskipun demikian, ada sesuatu yang didapatkannya di medan peperangan itu. Disadarinya kemudian bahwa Alap-Alap Jalatunda pada saat-saat bertempur, sama sekali bukan sekedar menunggunya lelah sambil menyimpan kekuatan terakhirnya. Tetapi Alap-Alap Jalatunda itu benar-benar telah mengerahkan segenap kemampuannya.

Maka hatinya menjadi semakin besar. Agung Sedayu itu semakin melihat kemampuan yang tersimpan didalam dirinya. Ternyata Alap-Alap Jalatunda yang pernah menghantuinya itu tidak lebih daripada yang disaksikannya itu, yang ternyata masih berada di bawah kepandaiannya bermain pedang.

“Aneh” desahnya di dalam hati. “Apakah yang selama ini memagari keberanianku untuk berbuat seperti ini?”

Agung Sedayu itu menjadi semakin percaya kepada diri sendiri. Tetapi ia masih belum dapat melihat tubuh-tubuh yang bergelimpangan di bekas medan pertempuran itu.

Laskar Jipang itupun kemudian mengundurkan dirinya dengan cepat sambil melawan terus, sehingga dengan demikian maka laskar Pajangpun tidak dapat berbuat banyak. Mereka hanya dapat mendesak laskar musuhnya itu. Dalam keadaan yang demikian, maka laskar di kedua belah pihak hampir bercampur baur dalam satu lingkaran pertempuran. Namun kemudian laskar Jipang itu menyebar dan dengan cepat berusaha menyusup ke dalam sebuah desa yang pertama-tama mereka temui.

Di ujung selatan induk desa Sangkal Putung, Sanakeling melihat di arah barat, panah api menari-nari di udara. Karena itu, maka ia menjadi terkejut. Ia tidak menyangka bahwa laskar induknya terpaksa mengundurkan diri.

“Kalau demikian,” katanya dalam hati, “maka laskar yang aku hadapi dan dipimpin oleh Widura sendiri ini bukan laskar induk. Jadi siapakah yang memimpin laskar induk lawan ini?”

Tetapi Sanakeling tidak mendapat jawabannya. Dan ia tidak sempat untuk menanyakannya. Kini ia harus mematuhi perintah itu meskipun sebenarnya keadaan laskarnya sendiri sama sekali tidak mengkhawatirkan. Tetapi kalau laskar induk lawannya yang telah ditinggalkan oleh laskar Jipang itu mengepungnya, maka laskarnya pasti akan tumpas. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain daripada mengundurkan diri pula.

Demikianlah maka seluruh pasukan Tohpati itu kini telah ditarik mundur. Widurapun tidak berusaha mengejar lawannya terlampau jauh. Sanakeling berhasil juga mengundurkan dirinya dengan teratur, sehingga dari pihaknya tidak terlalu banyak korban yang jatuh.

Induk pasukan yang dipimpin oleh Untara itu mengejar lawannya sampai ke desa pertama yang dapat dicapai oleh laskar lawannya. Demikian mereka memasuki desa itu, maka seakan-akan mereka telah lenyap di telan kegelapan. Obor-obor mereka segera menjadi padam, dan orang-orang merekapun segera menyelinap dan hilang di balik daun-daunan yang rimbun serta rumpun-rumpun bambu yang lebat.

Laskar Pajang sejenak menjadi ragu-ragu. Mereka sama sekali tidak mendengar seorangpun memberikan aba-aba kepada mereka. Apakah mereka harus mengejar lawan itu terus atau mereka harus berhenti di batas desa itu. Sebab alangkah berbahayanya melakukan pengejaran di dalam gelap yang pekat itu.

Yang terdengar kemudian adalah suara Sidanti, “He, apakah yang harus kami lakukan?”

Tak ada suara yang menyahut. Karena itu sekali lagi Sidanti berteriak, “Apakah laskar Pajang ini laskar yang liar, yang dapat berbuat sekehendak diri kita masing-masing? Ayo, bagi yang memegang pimpinan, berikan perintah.”

Kembali suara itu bergulung-gulung dan hilang ditelan kabut malam.

Semua yang mendengar suara Sidanti itu menjadi tegang. Mereka menunggu jawaban dari pimpinan mereka. Namun jawaban yang ditunggunya itu tidak juga kunjung datang.

Hudaya, Sidanti dan beberapa orang lagi menjadi gelisah. Citra Gati dan Agung Sedayu dari sayap yang lainpun telah bergabung dalam induk pasukan itu pula.

Dalam ketegangan itu terdengar suara Agung Sedayu gelisah, “Kakang Untara, Kakang Untara.”

Tetapi Untara tidak menyahut. Karena itu seluruh laskar Pajangpun menjadi gelisah. Dalam hiruk pikuk pengejaran mereka tidak melihat kemana Untara pergi. Beberapa orang dari mereka masih melihat Untara berhasil melukai Tohpati. Dan kemudian berusaha mengejarnya. Tetapi tiba-tiba Untara itu seakan-akan menjadi hilang lenyap ditelan oleh malam yang kelam.

Suasana segera meningkat menjadi semakin tegang. Ternyata Untara telah hilang. Dengan demikian, maka laskar Pajang itu benar-benar menjadi bingung. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.

Dalam ketegangan itu terdengar suara Citra Gati, “Siapakah yang melihat Ki Untara untuk yang terakhir kalinya?”

“Aku” jawab salah seorang. “Pemimpin kita itu telah melukai Macan Kepatihan. Tetapi dalam hiruk pikuk pengejaran aku tidak melihatnya.”

“Dimana?” bertanya Citra Gati pula.

“Di garis pertempuran tadi.”

“Mari kita cari.”

Beberapa orang segera bergerak kembali ke garis pertempuran beberapa langkah di belakang mereka. Tetapi terdengar Sidanti berkata, “Kenapa kita cari ia di sana. Bukankah ia telah berhasil melukai Macan Kepatihan dan mengejarnya. Marilah kita cari ke depan, ke dalam desa ini.”

Citra Gati berpikir sejenak. Untara pasti tidak akan berbuat demikian. Berbuat sendiri dan meninggalkan laskarnya dalam keragu-raguan. Pemimpin yang bodohpun akan tahu, bahwa keragu-raguan dalam barisannya adalah sangat berbahaya. Maka sesaat kemudian ia menyahut, “Kita cari di garis pertempuran.”

“Tidak” sahut Sidanti. “Jangan membuang waktu.”

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: