Buku 007 (Seri I Jilid 7)

 

 

Ketegangan menjadi semakin memuncak karenanya. Masing-masing agaknya mempunyai perhitungan sendiri-sendiri. Sidantipun kemudian sudah bergerak diikuti oleh beberapa orang yang kebingungan, siap memasuki padesan di hadapannya.

Tetapi terdengar Citra Gati berteriak, “Jangan berbuat hal-hal yang dapat membahayakan diri kita sendiri, dalam usaha yang sia-sia. Kalau kita pasti Untara ada di depan kita, maka biarlah kita pertaruhkan nyawa kita untuk mencarinya. Tetapi kemungkinan itu tipis sekali.”

“Kau jangan menghinanya” sahut Sidanti keras-keras. “Apakah kau sangka Untara terluka? Untara adalah seorang yang luar biasa. Aku sendiri pernah berkelahi melawannya. Karena itu, maka tak akan ia terluka dan terbaring di antara orang-orang yang luka. Aku hormati dia, aku kagumi dia.”

Kata-kata itu masuk akal pula. Karena itu beberapa orang menjadi mempercayai perhitungan itu. Tetapi Citra Gati tetap pada pendiriannya. Seandainya Untara telah terlanjur memasuki desa itu, maka pasti ia akan segera kembali dan memberikan aba-aba kepada mereka yang mengikutinya.

Dalam ketegangan yang dipenuhi oleh keragu-raguan itu tiba-tiba terdengar kembali Sidanti berkata, “Taati perintahku. Aku mengambil alih pimpinan. Aku adalah orang yang paling baik di antara kalian.”

“Tidak!” Citra Gati tiba-tiba berteriak tak kalah kerasnya. “Aku ambil alih pimpinan. Aku adalah orang yang memiliki kedudukan tertua di antara kalian. Ketika Kakang Widura meninggalkan Sangkal Putung, aku dan Hudayalah yang diserahi pimpinan.”

“Persetan dengan tata cara itu. Sekarang aku mengangkat diri menjadi pemimpin kalian. Apa maumu? Apakah aku harus membunuhmu?”

“Jangan berlagak jantan sendiri Sidanti. Aku tahu kau memiliki beberapa kelebihan dari kami. Tetapi kami bukan kelinci-kelinci yang patuh karena kami kau takut-takuti. Dengan meninggalkan tata cara yang ditetapkan dalam keprajuritan Pajang, maka kau adalah seorang pemberontak. Dan bagiku, bagi kami, laskar yang patuh pada tugas kami, maka nyawa kami akan kami pertaruhkan untuk menumpas setiap pemberontakan.”

“Gila” teriak Sidanti. “Ayo, siapakah yang menentang Sidanti, majulah.”

Citra Gati bukan seorang penakut. Betapapun ia menyadari keringkihannya untuk melawan Sidanti, tetapi ia adalah seorang prajurit yang bertanggung-jawab. Karena itu, maka ia tidak gentar menghadapi apapun. Tetapi sayang, bahwa Citra Gati itupun telah terbakar oleh perasaannya, sehingga ia lupa pada pokok persoalannya. Hilangnya Untara. Apalagi ketika Citra Gati menyadari, bahwa sebagian besar laskarnya condong kepadanya, sehingga dengan demikian hampir-hampir ia menjatuhkan perintah untuk bersama-sama menangkap Sidanti yang telah melanggar tata cara keprajuritan.

Tetapi dalam pada itu terdengar suara Agung Sedayu memecah ketegangan dan kepekatan malam. Katanya, “Persetan dengan pimpinan atas laskar ini. Aku bukan prajurit Pajang, bukan pula laskar Sangkal Putung. Aku di sini dalam kedirianku sendiri, dalam tugas yang aku bebankan sendiri di pundakku, sehingga aku ikut bertempur bersama-sama kalian. Tetapi aku tidak diperintah oleh pemimpin yang manapun. Bertempurlah di antara kalian. Aku akan mencari Kakang Untara. Aku sependapat dengan Kakang Citra Gati, Kakang Untara masih berada di belakang kita. Dan siapakah di antara kalian yang masih memiliki kesetiaan kepadanya, ikutlah aku. Yang merasa diri kalian prajurit-prajurit yang baik, tunggulah sampai salah seorang berhasil membunuh orang-orang lain, dan mengangkat dirinya menjadi pemimpin laskar Pajang. Sedang tak seorangpun di antara kalian yang berusaha memberitahukan hal ini kepada Paman Widura, pemimpin yang sebenarnya atas kalian. Dan siapa yang mencoba menghalangi Agung Sedayu, maka pedangku akan berbicara.”

Kata-kata Agung Sedayu itu seakan-akan merupakan suatu pemecahan yang dapat mereka lakukan. Tiba-tiba salah seorang dari mereka, seorang penghubung berlari ke arah padesan di belakang mereka. Di sanalah kudanya ditambatkan.

“He, kemana kau?” teriak Sidanti yang menjadi marah.

“Aku akan melaporkannya kepada Ki Widura.”

Sidanti tidak mencegahnya. Sikap itu agaknya telah mendapat dukungan dari setiap orang dalam pasukan itu.

Sedang Agung Sedayu kemudian tidak memperdulikan apa-apa lagi. Ia berjalan saja langsung ke garis peperangan untuk mencari kakaknya. Dalam hiruk pikuk perkelahian itu, adalah sangat mungkin bagi seseorang untuk mendapat serangan tanpa diketahuinya, apalagi Untara yang saat itu sedang menumpahkan perhatiannya kepada Tohpati.

Citra Gati, Hudaya dan sebagian besar dari mereka kemudian berjalan mengikuti Agung Sedayu. Mereka berjalan sambil memperhatikan keadaan di sekeliling mereka. Dengan beberapa buah obor di tangan mereka mencoba mengamati setiap tubuh yang terbaring. Dengan demikian maka sekaligus mereka dapat menemukan beberapa orang yang terluka, namun jiwanya masih mungkin diselamatkan.

“Rawat mereka” berkata Agung Sedayu. Ia tidak tahu lagi apakah ia berhak berkata demikian atau tidak. Namun menurut pendapatnya, semua orang berkepentingan dalam masalah kemanusiaan. Berhak atau tidak berhak.

Dalam kesibukan itu, maka mereka mendengar derap beberapa ekor kuda yang datang dari Sangkal Putung. Ketika mereka mengangkat wajah-wajah mereka, maka mereka melihat kedatangan Widura beserta beberapa orang pengawalnya.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” bertanya Widura masih dari atas kudanya.

“Kami mencari Kakang Untara” sahut Agung Sedayu.

Widura mengerutkan keningnya. Sukar dimengerti olehnya bahwa Untara terluka, dan terbaring di antara mereka yang jatuh di dalam pertempuran itu.

“Apakah menurut perhitunganmu, hal itu mungkin terjadi Sedayu?” bertanya Widura.

Sebelum Agung Sedayu menjawab, terdengar suara Sidanti lantang, “Aku sudah mengatakan kepada mereka, bahwa Untara tidak mungkin terluka. Beberapa orang melihat bahwa Untara yang melukai Tohpati, bukan Untara yang dilukai.”

Widura mengerutkan keningnya. Dipandangnya Agung Sedayu yang masih termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Kalau Kakang Untara tidak terluka, maka ia pasti sudah kembali. Apakah menurut dugaan Paman, Kakang Untara tidak terluka tetapi justru tertangkap oleh Tohpati?”

“Tidak mungkin” sahut Widura serta-merta.

“Nah kalau begitu kemana? Terluka tidak, tertangkap tidak. Apakah Kakang Untara mengejar musuh itu seorang diri tanpa memberikan perintah kepada kami di sini?”

Widura menggeleng-gelengkan kepala. Jawabnya, “Juga tidak.”

“Lalu bagaimana?” bertanya Agung Sedayu yang menjadi sangat gelisah karena kehilangan kakaknya.

Semula, ketika ia masih digenggam oleh perasaan takut setiap saat, maka kakaknya adalah satu-satunya tempat untuk melindungkan dirinya. Namun kini, meskipun ia merasa bahwa akhirnya dirinya sendirilah yang paling baik untuk menyelamatkan dirinya itu, maka yang tinggal adalah suatu ikatan kasih sayang seorang adik terhadap seorang kakak yang telah melindunginya bertahun-tahun. Seorang kakak yang telah banyak berkorban untuknya. Seorang kakak yang telah berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk membentuknya menjadi seorang laki-laki yang sebenarnya, meskipun kakaknya itu telah hampir menjadi berputus asa atas kemajuan yang dicapainya. Namun kini ia telah menemukan dirinya. Dan karena itu maka terasa didalam dirinya suatu kewajiban untuk berbuat sesuatu untuk kepentingan kakaknya itu. Apapun yang akan dihadapinya.

Widura itupun kemudian meloncat pula dari kudanya. Setelah ia melayangkan pandangan matanya sejenak berkeliling bekas medan peperangan itu, ia bergumam, “Aku sependapat dengan kau Sedayu.”

Kemudian kepada seluruh laskarnya Widura itu mengeluarkan perintah, “Semua mencari di antara orang-orang yang terluka.”

Beberapa orang kemudian tersebar di sepanjang garis pertempuran. Mereka berusaha untuk melihat satu persatu di bawah cahaya obor yang suram. Hanya Sidanti sajalah yag berjalan mondar-mandir dengan malasnya. Bahkan terdengar ia bergumam, “Tak ada gunanya.”

Agung Sedayu sama sekali tidak memperhatikannya. Dengan tekun ia mencari kakaknya bersama-sama dengan Citra Gati dan Hudaya. Sedangkan Widura sendiri bersama dengan beberapa orang lainpun telah ikut mencari pula di antara mereka.

Tiba-tiba dalam kesepian malam itu terdengar seseorang berteriak lantang sambil melambai-lambaikan obornya, “Inilah! Inilah yang kita cari!”

Agung Sedayu benar-benar terkejut mendengar teriakan itu. Seperti kuda yang terlepas dari ikatan, ia meloncat hampir melanggar beberapa orang lain yang berdiri di sampingnya. Diloncatinya saja setiap tubuh yang terbaring di tanah. Bahkan beberapa kali kakinya telah terperosok ke dalam lubang-lubang di pematang.

Demikian pula dengan beberapa orang yang lain. Widurapun terkejut bukan main. Seperti Agung Sedayu segera ia meloncat berlari ke arah suara itu.

Ketika mereka sampai, dan ketika mereka melihat orang yang terbaring diam dengan darah yang memerahi tubuhnya, ternyatalah bahwa orang itu sebenarnya Untara. Tubuhnya telah menjadi sangat lemahnya, karena darah yang banyak sekali mengalir dari lukanya, bahkan beberapa orang telah menyangkanya mati.

Agung Sedayu dengan gemetar berlutut di samping kakaknya sambil memanggil-manggil, “Kakang, Kakang Untara. Kakang!”

Tetapi Untara tidak menjawab. Bibirnya menjadi seputih kapas, dan tubuhnya telah menjadi sangat dinginnya.

Perlahan-lahan Widura menempelkan telinganya di dada Untara. Kemudian dengan penuh harapan ia berkata, “Masih aku dengar jantungnya berdetak. Karena itu, carilah lukanya. Usahakan untuk menyumbatnya, supaya darahnya tidak terlalu banyak mengalir.”

Tubuh Untara yang lemah itupun segera diangkat. Dan serentak mereka terkejut bukan kepalang. Pasti bukan Tohpati yang melukainya. Sebuah belati tertancap di punggung Untara itu.

”Hem” terdengar Widura menggeram. Dengan hati-hati pisau itu ditariknya. Dan kemudian katanya tergesa-gesa, “Kain. Balutlah lukanya.”

Beberapa orang menjadi bingung. Mereka tidak membawa secarik kainpun untuk membalut luka itu. Namun kemudian Agung Sedayu membuka ikat kepalanya, dan dengan ikat kepala itu ia mencoba menyumbat luka Untara.

Untara itupun kemudian dikerumuni oleh hampir semua orang di dalam pasukan itu. Sidantipun kemudian datang pula, menerobos lingkaran itu sambil berkata, “Apakah benar Kakang Untara terluka?”

Agung Sedayu mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah Sidanti. Wajah yang keras dan tajam. Namun ia tidak menjawab pertanyaan itu. Yang menjawab adalah Widura, “Ya, Untara ternyata terluka.”

“Benar-benar tidak menyangka” katanya sambil melangkah maju. Kini anak muda itu berdiri selangkah di belakang Widura. Ditatapnya tubuh Untara yang lemah terbaring di tanah, sedang beberapa orang masih berusaha membalut luka itu.

Sidanti itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Seseorang melihat Kakang Untara berhasil melukai Tohpati. Tetapi kenapa tiba-tiba ia terluka?”

Tak seorangpun yang menjawab kata-kata itu. Widura juga tidak. Sedang Agung Sedayu telah sibuk kembali dengan luka Untara itu.

Semua orang yang berdiri melingkar itu menahan nafas mereka. Seolah-olah ikut merasakan, betapa pedihnya luka itu. Luka yang menghunjam masuk ke dalam punggung Untara.

Suasana kemudian menjadi sepi. Angin malam yang dingin menghembus perlahan-lahan, mengguncang batang-batang padi yang bergerak-gerak terinjak-injak oleh kaki-kaki mereka yang sedang bertempur. Sedang di kejauhan terdengar bunyi binatang-binatang malam bersahut-sahutan. Di langit yang biru bersih, terpancang berjuta bintang gemintang yang berkilat-kilat. Sekali-sekali tampak kelelawar beterbangan merajai langit di malam hari.

Dalam keheningan malam itu tiba-tiba terdengar Sidanti berdesah, “Terlambat. Tidak ada gunanya lagi. Untara telah mati.”

Semua yang mendengar desah itu terkejut. Lebih-lebih Agung Sedayu. Karena itu, maka tiba-tiba ia berkata lantang, “Jangan memerkecut hati kami. Kami sedang berusaha.”

“Aku memandang segala persoalan menurut pertimbangan nalar” sahut Sidanti. “Keadaan itu sudah sangat gawat. Apapun yang kalian usahakan akan sia-sia saja.”

“Tidak” potong Widura. “Kemungkinan masih ada.”

Terdengar Sidanti tertawa pendek. “Untara bukan malaikat. Tusukan itu tepat dan dalam. Untara, seperti juga orang lain yang mengalami peristiwa serupa, pasti akan mati.”

“Tutup mulutmu!” tiba-tiba Agung Sedayu yang tidak dapat menahan hati lagi membentak lantang. “Kalau kau tidak merasa perlu untuk menolongnya, jangan membuat kami berputus asa.”

Sidanti mengerutkan keningnya mendengar bentakan itu. Dengan tidak kalah lantangnya ia menjawab, “Jangan bersikap seperti kaulah pemimpin laskar ini. Yang mendapat kepercayaan dari Panglima Wira Tamtama adalah Untara, bukan kau. Karena itu jangan membentak-bentak.”

“Aku tidak peduli apakah dan siapakah yang memimpin laskar ini. Tetapi aku tidak mau mendengar kau berkata seolah-olah sudah sewajarnya Kakang Untara harus mati. Kau lihat kami sedang berusaha untuk menolongnya.”

“Itu urusanmu” sahut Sidanti. “Aku hanya mengatakan bahwa menurut pendapatku, Untara tidak akan dapat ditolong lagi.”

“Jangan kau katakan di hadapanku.”

“Apa hakmu melarang aku berkata menurut pertimbanganku sendiri.”

Agung Sedayu bukanlah seorang yang cepat menjadi marah karena pengaruh sifat-sifatnya. Ia adalah seorang yang lemah hati yang memandang semua persoalan dari segi yang paling damai. Tetapi meskipun demikian kali ini ia merasa benar-benar tersinggung. Kakaknya adalah orang yang paling dihormati sepeninggal orang tuanya. Kakaknya adalah orang yang paling baik di muka bumi ini, yang telah banyak berbuat untuknya, untuk kepentingannya.

Karena itu, maka tanggapan Sidanti atas kakaknya itu benar-benar telah membakar telinganya sehingga Agung Sedayu itu seakan-akan kehilangan segenap sifat-sifatnya. Tiba-tiba ia menjadi keras dan dengan serta-merta ia berdiri sambil berkata, “Sidanti, kau ingin perselisihan, maka sekarang adalah waktunya. Aku selalu mencoba menghindari setiap benturan di antara kita sejauh mungkin. Namun kau selalu membuat persoalan. Sekarang, kalau kau menantang aku, aku terima tantanganmu. Dengan atau tanpa senjata.”

Tak seorangpun yang menyangka bahwa Agung Sedayu akan mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang terlalu keras dan langsung. Kata-kata yang menggeletar karena getaran di dalam dadanya. Getaran yang telah memenuhi rongga hatinya yang betapapun luasnya. Sehingga akhirnya meluap juga, menggetarkan udara malam yang dingin.

Sidantipun sama sekali tidak menyangka, bahwa Agung Sedayu tiba-tiba saja berbuat demikian. Sesaat ia berdiri termangu-mangu. Dilihatnya di dalam sinar obor yang kemerah-merahan mata Agung Sedayu yang menyala-nyala.

Namun Sidanti adalah seorang yang keras hati. Ketika ia menyadari keadaan, tiba-tiba ia mengangkat dadanya. Dengan lantang ia menjawab kata-kata Agung Sedayu. “Bagus. Aku tantang kau saat ini.”

Agung Sedayu tidak menunggu apapun lagi. Setapak ia maju. Dan ketika ia melihat di tangan Sidanti masih tergenggam senjatanya yang aneh, maka dengan tanpa menghiraukan apapun lagi, dengan tangkasnya ditariknya pedangnya dari wrangkanya.

Tetapi tepat pada saatnya Widura telah berdiri di antara mereka. Dengan tenang ia berkata, “Aku memerintahkan kalian menghindari bentrokan yang dapat terjadi. Aku perintahkan pada Sidanti selaku seorang prajurit di bawah pimpinanku, dan aku perintahkan kepada Agung Sedayu selagi masih keponakanku.”

 

 

 

Kembali suasana menjadi sunyi senyap. Sidanti dan Agung Sedayu merasakan perbawa kata-kata Widura. Karena itu, maka merekapun menundukkan wajah masing-masing.

Sesaat kemudian terdengar pula Widura itu berkata, “Sekarang bawa Untara kembali ke Sangkal Putung. Cepat, supaya kita dapat memberikan pertolongan yang lebih baik. Darah telah terlampau banyak tertumpah di sini. Apakah masih ada yang akan memeras lagi darahnya? Apalagi tanpa arti?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi segera ia melangkah mendekati tubuh kakaknya dan ikut serta mengangkatnya. Namun terasa bahwa sesuatu bergolak di dalam dadanya.

Sedang Sidanti masih tegak di tempatnya. Diawasinya Agung Sedayu melangkah pergi, menyarungkan pedangnya dan kemudian bersama-sama dengan beberapa orang mengangkat tubuh Untara.

Widurapun kemudian meninggalkan Sidanti itu pula. Di belakang mereka yang mengangkat tubuh Untara, Widura berjalan sambil menggigit bibirnya. Seribu satu macam persoalan membentur dinding hatinya. Untara yang baru saja sembuh dari lukanya, kini telah terluka kembali. Bahkan agak lebih parah. Kalau anak muda itu tidak segera mendapat pengobatan yang baik, maka jiwanya ada dalam bahaya.

Ketika laskar Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung pergi meninggalkan tempat itu, maka Sidanti masih saja berdiri seperti patung. Dilihatnya Widura berjalan sambil menundukkan kepalanya dan dilihatnya laskar itu seakan-akan berduka.

Tiba-tiba timbullah iri di hatinya. “Apakah kalau aku terluka maka semua orang akan berduka seperti itu?” katanya dalam hati.

Ketika kemudian terdengar suara ayam jantan berkokok, Sidanti itu terkejut. Terasa kemudian betapa silirnya angin yang mengusap tubuhnya. Ketika ia mengangkat wajahnya dilihatnya bintang-bintang masih bercahaya di langit di atas kepalanya. Dilihatnya bintang Bima Sakti melintang dari kutub ke kutub, di lingkaran serbuk bintang yang keputih-putihan seperti awan yang bercahaya.

Di mukanya berpuluh-puluh obor berjalan semakin lama menjadi semakin jauh. Ketika ia kemudian melangkah, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah desir yang lembut. Cepat ia berpaling sambil menyiagakan senjatanya. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat orang yang mendatanginya. Gurunya, Ki Tambak Wedi.

“Apakah lau terkejut Sidanti?”

Sidanti menarik nafas. Jawabnya, “Ya Guru. Aku baru saja bertempur di sini. Karena itu, maka aku masih diliputi oleh suasana itu.”

Gurunya itu tertawa pendek. “Aku melihat pertempuran ini. Aku melihat pula kalian mencari pemimpin kalian yang bernama Untara itu.”

Sidanti tersenyum pula. “Hem. Pokal orang-orang gila itu” desisnya.

Ki Tambak Wedi itupun kemudian mengawasi obor-obor yang semakin menjauh. Nyala apinya kemudian seakan-akan hanya merupakan bintik-bintik merah yang bergerak-gerak diatas layar yang hitam.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dengan penuh keprihatinan membawa tubuh kakaknya bersama-sama beberapa orang lain. Terasa pula padanya, alangkah besar bahaya yang selama ini mengancam jiwa kakaknya dalam pengabdiannya. Luka kakaknya yang pertama seakan-akan baru kemarin dibebatnya di daerah sekitar Macanan. Kini kakaknya sudah terluka kembali.

Namun demikian, kakaknya bukanlah korban satu-satunya. Di daerah bekas pertempuran itu masih banyak tubuh-tubuh lain yang bergelimpangan. Kawan atau lawan. Beberapa diantara mereka sudah tidak bernyawa lagi. Namun sebagian lagi masih hidup, merintih-rintih menahan sakit.

Karena itu, tiba-tiba Agung Sedayu itu berpaling kepada pamannya sambil berkata, “Paman, apakah orang-orang lain yang terluka di garis peperangan itu tidak mendapat perawatan seperti kakang Untara ini?”

Pamannya mengangguk. Jawabnya, “Ya. Beberapa orang lain bertugas mengurusi mereka. Baik yang sudah meninggal. Maupun yang masih mungkin mendapat pertolongan.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ketika terpandang kembali wajah kakaknya yang pucat, hatinya berdesir keras. Dengan demikian, maka Agung Sedayu dan orang-orang yang membawa Untara itu berjalan semakin cepat. Untara harus segera mendapat pengobatan sewajarnya.

Kabar tentang Untara segera tersebar ke seluruh Sangkal Putung. Beberapa orang semula menjadi kecewa mendengar berita itu. Salah seorang di antara mereka berkata, “Kalau begitu, Untara benar-benar bukan orang yang pantas kita harapkan di sini. Seperti kabar-kabar yang kita dengar, ternyata Untara sama sekali tidak mampu mempertahankan dan menyelamatkan dirinya sendiri.”

“Kau salah” jawab yang lain. “Untara sebenarnya tidak sisip dari berita yang kita dengar di sini. Ternyata Untara memang tidak dapat dikalahkan oleh Macan Kepatihan. Seseorang melihat Untara berhasil merobek lengan Tohpati. Bahkan kemudian mendesaknya terus. Seandainya Tohpati tidak segera mengundurkan dirinya, maka kemungkinan yang hampir pasti, Tohpati akan dapat dibinasakan oleh Untara. Namun, ketika kita sedang mengejar laskar lawan yang mengundurkan diri, seseorang menyerangnya dengan curang, menusukkan pisau itu terhunjam di punggungnya.”

Orang pertama menyesal atas penilaiannya terhadap Untara. Karena itu cepat-cepat ia membetulkan kesalahan, “Ah, aku keliru. Ternyata Untara benar-benar mengagumkan. Namun jika seandainya seseorang berhasil melukainya, meskipun dari belakang, maka orang yang melakukan itu pasti seseorang yagn pilih tanding pula.”

“Mungkin” jawab orang kedua. “Di dalam laskar lawan terdapat Alap-Alap Jalatunda, Plasa Ireng dan lain-lain”

“Plasa Ireng sudah mati.”

Orang kedua itu mengerutkan keningnya. “Ya, ia mati dalam keadaan yang mengerikan. Hem. Sidanti benar-benar berdarah dingin. Dengan tangannya ia merobek-robek tubuh lawannya yang sudah tidak berdaya.”

“Sungguh berlawanan dengan Agung Sedayu” sahut yang lain. “Menurut Swandaru Geni, Agung Sedayu menyesal ketika ia membunuh seseorang meskipun di dalam peperangan.”

Kemudian keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya beberapa kawan-kawan mereka sedang berbaring-baring saja di muka regol kademangan karena kelelahan. Beberapa orang duduk-duduk di halaman, sedang yang lain masih berada di banjar desa.

Orang-orang yang terlukapun kemudian di bawa ke banjar desa itu untuk mendapat pertolongan sekedarnya. Tetapi Untara itdak dibawa ke banjar desa. Untara itu oleh Widura disuruhnya membawa ke kademangan saja. Sebab Untara adalah orang penting bagi Pajang. Mau tidak mau Ki Ageng Pemanahan pasti akan menjadi heran atas keadaannya.

Untara itupun kemudian dibaringkan di dalam pringgitan kademangan. Agung Sedayu, Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Swandaru dan beberapa orang lagi berdiri memagarinya. Mereka menyaksikan dengan penuh haru, tubuh Untara yang terbaring diam. Meskipun demikian, mereka masih mempunyai harapan bahwa Untara akan dapat sadar kembali, karena mereka masih melihat dada Untara bergerak-gerak dalam pernafasan yang sulit.

Ki Demangpun menjadi gelisah pula. ia telah menyuruh beberapa orang untuk mencari daun-daun yang menurut pendengarannya dapat menolong sementara, menghentikan aliran darah.

“Untunglah” gumam Widura. “Lukanya agak terlalu tinggi, sehingga tidak langsung menyentuh jantungnya.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian, keadaan Untara cukup berbahaya.

Dalam pada itu, hampir setiap orang berbicara tentang Untara, tentang lukanya di punggung. Mereka bersepakat bahwa Untara mendapat serangan dari belakang dengan cara yang curang.

“Di dalam perang brubuh hal itu memang mungkin sekali terjadi” bisik salah seorang yang bertugas di gardu pertama.

Yang diajak berbicara mengangguk. Katanya, “Tetapi aneh. Tohpati dan Untara bertempur tepat di garis pertempuran. Apakah kemudian Untara mendesaknya hingga masuk ke dalam lingkungan laskar Jipang, dan dalam pada itu ia mendapat serangan dari belakang?”

“Aku tidak melihatnya demikian. Kita bersama mendesak mereka. Dan mereka mundur dalam satu garis yang teratur, meskipun di sana sini timbul pula kekacauan yang memungkinkan hal-hal semacam itu terjadi.”

“Tetapi yang melukai Untara pasti bukan Macan Kepatihan.”

“Pasti bukan” jawab yang lain.

Mereka kemudian terdiam. Tetapi mereka dikejutkan oleh sebuah bayangan yang perlahan-lahan mendatanginya. Orang-orang itu segera bersiaga. Dengan menggenggam hulu pedangnya yang masih disangkutkan di dalam sarungnya ia menyapa, “Siapa itu?”

Orang yang disapa itu mengangkat wajahnya. Sambil berjalan terus ia menjawab, “Aku ngger, aku.”

“Aku siapa?” bertanya penjaga itu pula.

Orang yang disapanya itu berjalan semakin dekat. Dengan langkah satu-satu ia menjadi semakin jelas. Seorang tua dengan sebuah tongkat kecil di tangannya.

“Siapa itu” penjaga itu mengulangi.

“Aku ngger, aku” jawabnya. Suaranyapun telah memberitahukan kepada para penjaga bahwa orang itu adalah seorang tua.

“Siapa namamu?”

Orang itu sudah dekat benar. Dengan nafas terengah-engah ia berkata, “Huh. Aku hampir mati ketakutan melihat pertempuran itu.”

“Kau melihat pertempuran itu kek?” bertanya salah seorang penjaga.

“Ya, aku melihat” jawabnya.

“Kenapa melihat, kalau kau hampir mati ketakutan?”

“Aku tidak sengaja melihat. Aku berjalan lewat daerah itu. Dan di daerah itu terjadi pertempuran.”

“Mau kemana kau sebenarnya kakek?”

“Pulang ke dukuh Pakuwon.”

“Dukuh Pakuwon?” bertanya para penjaga keheranan. “Dari mana?”

Orang itu terdiam. Nafasnya masih saja terengah-engah. Baru kemudian ia menjawab, “Aku baru saja pulang dari pesisir.”

“Dari pesisir?”

“Ya. Aku baru saja mencari kulit kerang hijau. Kulit kerang ini sangat baik untuk mengobati luka-luka.”

“Kau dapatkan kulit kerang itu?”

“Ya.”

“Dapatkah dipakai untuk mengobati luka senjata tajam?”

“Tentu. Tentu.”

“Banyak kawan-kawan kami terluka. Apakah kau mau mengobati mereka?”

“Tentu. Tentu.”

Penjaga itu menjadi ragu-ragu sejenak. Ia tidak dapat percaya begitu saja kepada orang yang belum dikenalnya. Karena itu, maka katanya kemudian, “Pemimpin kami terluka. Marilah, aku antarkan kau ke kademangan. Biarlah para pemimpin yang menentukan, apakah obatmu dapat menolongnya.”

“Siapakah yang terluka?”

“Untara.”

“Untara?” kakek itu mengulang.

Orang tua itupun kemudian dibawa oleh beberapa orang penjaga ke kademangan.

Ketika mereka sampai di pendapa, maka mereka melihat beberapa orang masih sibuk di pringgitan, sehingga para penjaga itu menjadi ragu-ragu. Tetapi karena keinginan mereka untuk mengantarkan orang tua itu, maka diberanikan dirinya mengetuk pintu yang masih terbuka itu.

Widura berpaling ke arah mereka. Dilihatnya seorang penjaga berdiri tegak di muka pintu. “Ada apa?” katanya.

Maka diceritakannya tentang orang tua yang telah mendapatkan kerang hijau yang dapat untuk menyembuhkan luka-luka.

Widura yang sedang digelisahkan oleh luka Untara itu tidak berpikir panjang. Segera ia berkata, “Bawa orang itu masuk kemari.”

Orang tua itupun segera dipersilakan masuk ke pringgitan. Namun demikian ia melangkahi pintu, terdengarlah Agung Sedayu menyapanya lantang, “Ki Tanu Metir!”

Orang tua itu memandang berkeliling. Akhirnya dilihatnya Agung Sedayu di antara mereka. Karena itu, maka tampaklah ia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “Kau di sini juga Ngger?”

“Ya Ki Tanu. Aku menunggui kakakku yang terluka.”

Tiba-tiba Agung Sedayu itu teringat pula kepada peristiwa yang dialaminya di Macanan. Maka katanya pula, “Ki Tanu. Kakakku yang terluka ini adalah kakakku itu pula. Kakang Untara.”

“He?” orang tua itu terkejut. “Apakah Angger Untara belum sembuh?”

Semua orang yang berada di pringgitan memandang orang tua yang bernama Ki Tanu Metir itu dengan seksama. Mereka menjadi heran, bahwa ternyata orang itu agaknya telah mengenal Untara dan Agung Sedayu dengan baik.

Agung Sedayupun kemudian menjelaskan. “Kakang Untara baru saja terluka dalam pertempuran di perbatasan Sangkal Putung. Bukan luka yang dahulu.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Hem. Itu adalah akibat dari kedudukannya. Baru saja Angger Untara sembuh, kini ia telah terluka kembali.”

“Ya Kiai” sahut Widura. “Setiap prajurit menyadari hal itu. Kamipun di sini menyadari, dan Untarapun menyadari.”

“Angger benar” jawab Ki Tanu Metir sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Siapakah Angger ini?”

Widura ragu-ragu sesaat. Yang menjawab adalah Agung Sedayu. “Paman Widura. pemimpin laskar Pajang di Sangkal Putung.”

“Oh” desah orang tua itu, yang kemudian berkata pula kepada Widura, “Angger, apakah aku diperbolehkan mencoba mengobati luka Angger Untara?”

“Silakan Kiai. Kami akan berterima kasih kepada Kiai. Menurut cerita yang pernah aku dengar, Kiai pernah juga merawat Untara beberapa waktu yang lewat.”

“Ya ya” sahut Ki Tanu Metir sambil melangkah maju.

Kemudian dengan sangat hati-hati ia mengamati dan meraba-raba luka Untara itu.

Semua orang menegang nafas. Mereka berharap-harap cemas, mudah-mudahan orang tua itu dapat memberinya obat.

Tampaklah Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata, “Angger, tolonglah aku membuka bajunya.”

Dengan tergesa-gesa Agung Sedayupun segera menolong Ki Tanu Metir, dengan sangat hati-hati membuka baju Untara.

Dari bungkusannya, Ki Tanu Metir mengeluarkan beberapa jenis obat-obatan, yang kemudian dilumurkan di sekitar luka Untara.

“Marilah kita berdoa di dalam hati kita. Sebab kita hanya wenang berusaha, dan Tuhanlah yang akhirnya menentukan. Mudah-mudahan Angger Untara segera sembuh.”

“Apakah luka itu tidak terlalu berat Kiai?” bertanya Agung Sedayu dengan cemas.

Ki Tanu Metir menggeleng, “Tidak terlalu berbahaya.”

Semua orang menarik nafas panjang mendengar keterangan Ki Tanu Metir, meskipun banyak di antara mereka yang meragukannya. Kalau luka itu tidak berat, maka orang seperti Untara itu tidak akan mengalami pingsan sedemikian kerasnya.

“Angger” berkata Ki Tanu Metir kepada Widura. “Biarlah Angger Untara beristirahat. Dan biarlah udara di pringgitan ini menjadi sejuk. Karena itu, apabila tidak berkeberatan, biarlah yang kurang berkepentingan meninggalkan ruangan ini.”

Widura menjadi ragu-ragu untuk sesaat. Diamatinya wajah orang tua itu. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. Biarlah ruangan ini menjadi jernih.”

Beberapa orang lain segera meninggalkan ruangan itu. Mereka mengerti juga, bahwa dengan demikian udara di dalam ruang pringgitan itu menjadi tidak terlalu panas.

Di dalam ruang itu kini tinggal Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Agung Sedayu dan Swandaru. Dari balik dinding Sekar Mirah mencoba mengintip mereka. Tetapi ia tidak berani masuk ke dalam pringgitan itu, sebab agaknya ayahnya dan beberapa orang yang lain lagi berwajah tegang. Dari beberapa orang ia mendengar bahwa Untara terluka.

Sekar Mirah menjadi gembira ketika ayahnya memanggilnya. Setelah ia berlari menjauh, maka dari kejauhan itu ia menjawab, “Ya ayah.”

“Kemarilah.”

Dengan berlari-lari kecil Sekar Mirah itu masuk ke pringgitan dari pintu belakang. Gadis itu tertegun di pintu ketika ia memandang wajah Agung Sedayu yang suram. Tetapi kesuramannya itu tampaknya menambah Agung Sedayu menjadi dewasa.

“Ambillah jeruk” berkata ayahnya.

“Jeruk apa ayah?”

“Jeruk pecel” sahut ayahnya.

“Ya ayah” jawab gadis itu sambil berlari.

Widura sekejap memandang wajah kemenakannya. Ia melihat sesuatu pada wajah itu. Namun ia tidak berkata apapun.

Setelah ruangan itu menjadi sepi, maka terdengarlah Agung Sedayu bertanya, “Ki Tanu, apakah benar luka itu tidak begitu parah?”

“Luka itu tidak parah Ngger, tetapi aku kira tidak membahayakan jiwanya apabila aku berhasil mengembalikan pernafasannya dengan wajar. Yang lebih berbahaya bagi Angger Untara bukan luka itu, tetapi lihatlah.”

Ki Tanu Metir itu kemudian menunjukkan sebuah noda kebiru-biruan di lambung kanan Untara. Semua yang menyaksikan noda itu terkejut karenanya. Dengan serta-merta Agung Sedayu bertanya, “Noda apakah itu Kiai?”

“Sebuah pukulan yang tepat di arah ulu hati. Untunglah bahwa pukulan itu dilakukan agak tergesa-gesa, sehingga agaknya belum mempergunakan tenaga sepenuhnya.”

Semua orang yang berada ditempat itu merenungi noda itu dengan seksama. Mereka melihat di sekitar noda yang kebiru-biruan itu menjadi agak bengkak dan berwarna kemerah-merahan.

“Ada dua kemungkinan Kiai” berkata Widura. “Pukulan itu tidak dilakukan dengan sepenuh tenaga karena tergesa-gesa atau memang penyerangnya kurang mempunyai tenaga untuk membuat Untara itu menjadi semakin parah.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya. Mungkin. Namun menilik kemudian yang dapat dilakukan atas Angger Untara, maka orang itu pasti bukan orang kebanyakan.”

Kembali ruangan itu menjadi diam. Masing-masing mencoba untuk mencari setiap kemungkinan yang dapat terjadi atas Untara itu, namun tak seorangpun yang mampu untuk mencoba menebak, siapakah yang telah melakukannya.

Pringgitan itu kini menjadi sepi. Ki Tanu Metir masih saja merenungi tubuh Untara. Diraba-rabanya dan dipijit-pijitnya.

Sekar Mirahpun kemudian masuk kembali ke pringgitan itu dengan beberapa buah jeruk nipis. Diserahkannya jeruk itu kepada ayahnya, dan kemudian oleh ayahnya, jeruk itu diberikannya kepada Ki Tanu Metir.

“Terima kasih” sahut dukun tua itu.

Setelah dipotong-potong maka jeruk nipis itupun diperasnya dan dicampurkannya pada ramuan obat-obatan. Dengan ramuan itu Ki Tanu Metir mencoba mengurut-urut jalan pernafasan Untara. Dari lambung, dada dan punggungnya.

Sesaat kemudian terdengarlah Untara itu berdesah, lalu terdengar pula sebuah tarikan nafas yang panjang.

“Bagaimana Kiai?” terdengar Widura bertanya.

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Ia masih menekan bagian bawah dada Untara dan mengurutnya perlahan-lahan.

Sekali lagi Untara menarik nafas panjang, kemudian terdengar ia mengeluh pendek.

Agung Sedayu, Widura, dan Ki Demang Sangkal Putung mendesak maju. Sedang Swandaru Geni berdiri kaku di belakang ayahnya.

Mereka kemudian menarik nafas lega ketika Ki Tanu Metir itu berkata, “Pernafasan Angger Untara sudah berangsur baik. Mudah-mudahan segera ia menjadi sadar kembali. Gabungan dari dua luka di tubuhnya, benar-benar menjadikannya menderita. Luka tusukan di punggungnya telah sangat melemahkannya, dan noda biru itu telah mengganggu pernafasannya.”

Ternyata gerak dada Untara kini telah jauh berbeda. Kini Untara telah tampak bernafas dengan mudah. Sekali-sekali ia telah bergerak dan menggeliat perlahan-lahan sekali. Apalagi dengan obat-obat yang dilumurkan oleh Ki Tanu Metir pada lukanya, sama sekali telah menyumbat pendarahan.

Kemudian Ki Tanu Metir yang menarik nafas dalam-dalam. Lirih ia bergumam, “Mudah-mudahan.”

Setelah pernafasan Untara itu menjadi baik kembali, serta beberapa kali ia telah dapat menggerakkan tangannya, maka Ki Tanu Metir itupun berkata, “Biarlah Angger Untara tidur. Ia kini sudah tidak pingsan lagi. Namun karena tubuhnya yang sangat lemah, maka ia belum dapat menyadari dirinya sesadar-sadarnya.”

“Jadi, luka-luka itu tidak membahayakan jiwanya Kiai?” desak Agung Sedayu.

Ki Tanu Metir menggeleng. “Marilah kita berdoa. Mudah-mudahan dugaanku benar. Angger Untara akan sembuh kembali.”

Ruang pringgitan itu menjadi sepi kembali. Mereka kini tidak lagi berdiri melingkari Untara, namun mereka kini duduk disamping tubuh Untara yang masih terbaring diam.

Sekar Mirah yang tidak pergi keluar sejak ia menyerahkan jeruk pecel kini ikut duduk di situ pula. Tetapi ia menjadi kecewa ketika ayahnya berkata, “Mirah, manakah minuman kami?”

Sekar Mirah tidak menjawab, tetapi ia segera berdiri dan sambil bersungut-sungut ia keluar dari pringgitan pergi ke dapur.

Sejenak kemudian, mereka yang duduk di pringgitan itu serentak berpaling, ketika mereka mendengar gerit pintu terbuka. Di muka pintu itu mereka melihat, Sidanti berdiri tegak. Ketika dilihatnya Widura maka anak muda itu menganggukkan kepalanya.

“Kakang Widura” katanya. “Apakah aku boleh masuk?”

“Apakah kau mempunyai suatu keperluan Sidanti?” bertanya Widura.

Sidanti mengangguk sambil menjawab, “Ya Kakang.”

“Kemarilah” sahut Widura.

Sidanti itupun kemudian masuk ke pringgitan dan duduk di samping Widura. Di tangannya ia memegang sebuah bungkusan kecil.

“Kakang” katanya “aku telah mencoba menghubungi guruku. Aku katakan kepada Guru, bahwa Kakang Untara terluka. Aku coba mengatakan besar, dalam dan letak luka itu.”

Sidanti berhenti sesaat. Dicobanya mengawasi wajah-wajah mereka yang duduk di sekitarnya. Ketika tak seorangpun menjawab maka Sidanti itu meneruskan, “Namun sayang, menurut guruku, luka demikian adalah luka yang sangat berbahaya. Luka yang tak akan mungkin diobati. Meskipun demikian, maka kita wajib berusaha. Dan gurukupun akan mencoba menolongnya apabila mungkin. Namun segala sesuatu bukanlah kita yang menentukan. Dan inilah obat yang aku terima dari guruku itu. Biarlah aku mencoba mengusapkannya pada luka itu.”

Widura mendengar kata-kata Sidanti itu dengan heran, dan bahkan sesaat ia berdiam diri. Timbullah perasaan aneh terhadap Sidanti. Ternyata anak itu tidak sejahat yang disangkanya. Dalam keadaan yang sulit, ia berusaha pula untuk berbuat sesuatu meskipun hasilnya belum pasti akan tampak. Karena itu, maka sesaat kemudian menjawab, “Terima kasih Sidanti.”

Agung Sedayupun menjadi heran pula. Tiba-tiba matanya menjadi suram. Ia menyesal bahwa ia telah memusuhi anak muda itu. Ternyata kini ia telah berbuat sesuatu untuk keselamatan kakaknya.

Ki Demang dan Swandaru Genipun menjadi bersenang hati atas sikap itu. Dengan demikian, maka pertentangan di antara mereka menjadi semakin tipis. Dan karenanya akan terjalinlah persatuan yang bulat di antara semua kekuatan di Sangkal Putung.

Tetapi yang masih saja berdiam diri adalah Ki Tanu Metir. Ia masih belum tahu, obat apakah yang dibawa oleh Sidanti itu. Karena itu, maka katanya, “Angger, apakah aku boleh melihat obat itu?”

Sidanti memandang kepada Ki Tanu Metir dengan penuh curiga, sehingga kemudian ia bertanya kepada Widura, “Siapakah orang ini Kakang?”

Widura berpaling kepada Ki Tanu Metir, kemudian jawabya, “Orang inilah yang telah melakukan pertolongan pertama kepada Untara. Namanya Ki Tanu Metir. Ki Tanu adalah seorang dukun yang berpengalaman.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Tampaklah dari sorot matanya, bahwa ia tidak senang melihat kehadiran Ki Tanu Metir. Maka katanya, “Apakah Ki Tanu Metir dapat pula mengobati? Atau barangkali seorang dukun yang dapat menebak hati orang, atau menenung orang dari jauh dan menaruh guna-guna?”

“Oh tidak, tidak Ngger” sahut Ki Tanu Metir. “Aku bukan dukun semacam itu. Aku sama sekali tidak dapat menebak hati orang, menaruh guna-guna apalagi menenung. Yang aku ketahui hanyalah sekedar beberapa jenis obat-obatan yang dapat dipakai untuk mengobati luka. Itupun hanya aku dengar dari nenek dan kakek. Hanya itu. Dan sekarang aku mencoba mengobati luka Untara dengan cara yang pernah aku pelajari dari orang-orang tua itu.”

“Hem” Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kalau begitu, obat ini adalah obat yang pasti akan lebih baik dari obat Ki Tanu Metir. Sebab obat ini diberikan oleh guruku, Ki Tambak Wedi.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Sidanti dan Agung Sedayu berganti-ganti. Kemudian ia menyahut, “Mungkin Ki Tambak Wedi itu seorang dukun yang pandai. Tetapi apakah ia dapat mengobati tanpa melihat luka itu?”

“Tentu” jawab Sidanti. “Ki Tambak Wedi dapat mengobati apa saja meskipun luka itu tidak dilihatnya. Sebab ia pasti tahu bahwa luka senjata pada dasarnya sama saja. Menghentikan aliran darah dan kemudian memampatkan luka itu untuk memulihkan jaringan daging yang telah pecah dan sobek.”

“Ya, ya, begitu pulalah yang pernah aku dengar dari orang-orang tua” berkata Ki Tanu Metir. “Namun setiap luka di tempat yang berbeda-beda membawa cirinya sendiri-sendiri. Dan luka Angger Untara itupun sudah pampat dan tidak mengalirkan darah lagi.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin tidak senang melihat Ki Tanu Metir berada di ruangan itu. Ketika ia berpaling kepada Untara, maka katanya, “Apakah tubuh itu akan kita biarkan terbaring diam untuk kemudian mati? Kita harus berusaha, meskipun seandainya usaha itu gagal. Namun kita akan mengkhianatinya apabila kita biarkan saja Untara itu mati tanpa ikhtiar apapun.”

Widura menjadi ragu-ragu sejenak. Dibiarkannya mereka berdua berbicara. Sementara itu ia mencari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Namun ia tidak akan dapat menolak kebaikan hati Ki Tambak Wedi.

Akhirnya Widura itupun berkata, “Sidanti, darah yang mengalir dari luka itu telah berhenti. Untara kini telah tidur nyenyak. Biarlah obat itu kau berikan kepadaku. Nanti apabila ia telah bangun, biarlah aku mengobati lukanya, atau biarlah Ki Tanu Metir yang melumurkannya.”

“Kenapa kita menunda sampai nanti, Kakang Untara pasti akan lebih menderita. Kalau kemudian terlambat, maka akan sia-sia segala usaha.”

“Tetapi pasti tidak dapat sekarang” potong Ki Tanu Metir. “Obat itu mungkin sekali akan mengadakan tenggang-menenggang dengan obat yang lebih dahulu telah aku lumurkan. Karena itu biarlah obat itu menunjukkan akibatnya dahulu. Kalau ternyata tidak bermanfaat, baiklah kita ganti dengan obat yang lain.”

“Banyak waktu yang terbuang” jawab Sidanti. Kemudian kepada Widura ia berkata, “Kakang, aku minta ijin untuk mencoba mengobati luka itu.”

“Nanti dulu Sidanti” berkata Widura sambil berdiri. “Jangan memaksa. Aku sangat berterima kasih kepadamu dan kepada Ki Tambak Wedi yang telah sudi memberikan obat itu. Namun sayang bahwa luka itu telah terlanjur diobati, dan darahnya telah tuntas. Karena itu, marilah berikan kepadaku, barangkali nanti kita perlukan.”

Sidanti itupun menjadi sangat kecewa. Sehingga ia menggeram. Meskipun demikian ia masih ingin memaksa. Katanya, “Kakang, buat apa kita percaya kepada dukun itu. Biarlah aku mengobati luka itu. Kalau dukun itu marah, biarlah aku patahkan lehernya.”

“Ampun Ngger, jangan patahkan leherku. Aku masih sangat memerlukannya” tiba-tiba Ki Tanu Metir itu menyahut. “Tetapi demi kesembuhan Angger Untara, jangan kau sentuh tubuhnya.”

Agung Sedayu menjadi bingung mendengarkan pembicaraan itu. Tetapi tiba-tiba ia menjadi sangat tidak senang mendengar Sidanti mengancam Ki Tanu Metir. Meskipun ia dapat menghargai usaha Sidanti, namun ia tidak dapat melupakan, bahwa Ki Tanu Metir pernah menolong Untara itu dahulu, meskipun ia tidak tahu apa yang telah terjadi setelah ia meninggalkan rumah Ki Tanu Metir itu, namun Untara itu ternyata tertolong jiwanya. Sedang obat yang dibawa Sidanti itu masih harus diuji pula.

Karena itu, maka tiba-tiba ia berkata, “Kakang Sidanti, berikanlah obat itu kepada Paman Widura. Biarlah besok atau nanti, Paman Widura melumurkannya.”

Sidanti itu memandang wajah Agung Sedayu dengan tajamnya. Kemudian terdengarlah suaranya parau, “Agung Sedayu. Ternyata kau tidak mempunyai rasa kasih sayang terhadap kakakmu itu. Apakah kau akan menunggu sampai Untara mati, baru akan kau obati lukanya?”

“Kalau Kakang Untara gugur, maka sudah tentu akulah yang paling bersedih. Tetapi ia kini sudah berangsur baik. Karena itu jangan diganggu.”

Sidanti itu berpaling kepada Widura. Dengan wajah yang tegang ia berkata, “Bagaimana kakang?”

“Berikan obat itu kepadaku, Sidanti.”

Sidanti itu menjadi tegang. Namun kemudian ia tidak akan dapat memaksakan kehendaknya. Karena itu diberikannya bungkusan daun waru di tangannya itu kepada Widura. “Inilah kakang. Namun kalau Untara itu tidak tertolong, maka kalianlah yang telah membunuhnya. Meskipun demikian, aku mengharap obat itu akan dicoba pula.”

“Baiklah, kami akan mencoba obat ini besok kalau ternyata kami perlukan.”

Sidanti tidak berkata-kata lagi. Setelah bungkusan di tangannya itu diterima oleh Widura, maka segera ia meninggalkan ruangan itu. Sekali ia berpaling ke arah Ki Tanu Metir, dan sekali kepada Agung Sedayu.

Ki Tanu Metir menangkap pertanyaan yang menyorot dari mata Widura. Ia ingin penjelasan tentang obat itu. Karena itu, maka Ki Tanu Metir itupun berkata, “Angger Widura, apakah aku boleh melihat obat itu?”

Widura kemudian duduk kembali di tempatnya. Diberikannya bungkusan daun waru di tangannya itu kepada Ki Tanu Metir. Katanya, “Cobalah lihat Kiai, apakah obat ini bermanfaat pula?”

Dengan hati-hati Ki Tanu Metir membuka bungkusan itu. Ketika ia melihat obat yang terbungkus di dalamnya tampak ia terkejut. Namun kemudian wajahnya menjadi tenang kembali.

“Bagaimana Kiai?” bertanya Widura ingin tahu.

Ki Tanu Metir mengangkat alisnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Aku tidak dapat memberikan obat ini kepada Angger Untara, sebab aku tidak melihat manfaatnya.”

Widura memandang Ki Tanu Metir dengan penuh pertanyaan. Ki Tambak Wedi adalah seorang yang cukup sakti. Namun apakah maksud kata-kata Ki Tanu Metir sebenarnya?

Ki Tanu Metir melihat kebimbangan di wajah Widura. Karena itu ia mencoba menjelaskan, “Aku mempergunakan obat yang berlawanan dengan obat ini. Aku kira akibatnya akan merugikan Angger Untara itu. Karena itu, biarlah kita tunggu saja sampai besok pagi. Mudah-mudahan obat yang aku berikan akan berguna.”

Ruangan itu kemudian menjadi sepi kembali. Di kejauhan terdengar ayam jantan berkokok bersahut-sahutan.

“Hampir fajar” gumam Ki Tanu Metir.

Agung Sedayu mengangguk. Perlahan-lahan ia bangkit dan mendekati tubuh Untara terbaring.

Tiba-tiba Agung Sedayu itu membungkukkan badannya sambil berkata lirih, “Ki Tanu, Kakang Untara telah bangun.”

Ki Tanu Metir itupun segera berdiri dan mendekati Untara pula. Demikian pula Ki Demang Sangkal Putung dan Swandaru Geni. Mereka bersama-sama berdiri mengelilingi pembaringan Untara.

Untara itu kini telah dapat menggerakkan kepalanya. Sekali ia menarik nafas panjang, dan kemudian perlahan-lahan ia membuka matanya. Namun sesaat kemudian mata itu terpejam kembali.

“Masih sangat lemah” desis Ki Tanu Metir. “Tetapi pernafasannya telah menjadi wajar kembali.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan tegang ia menunggu perkembangan keadaan Untara. Sehingga karenanya maka ia tetap saja berdiri di samping kakaknya ketika orang-orang lain telah duduk kembali ke tempatnya.

Sesaat kemudian Sekar Mirah datang sambil membawa minuman hangat. Setelah diserahkannya mangkuk-mangkuk itu maka ia duduk di samping kakaknya. Tetapi segera ayahnya berkata, “Kau harus menyiapkan makan pagi Sekar Mirah.”

Sekar Mirah itu mengerutkan keningnya. Sambil memberengut ia menjawab, “Ayah. Aku ingin istirahat. Meskipun aku tidak bertempur, tetapi semalam suntuk aku berjalan mondar-mandir di dapur, menyiapkan segala macam makan dan minuman. Apakah aku tidak boleh duduk sebentar saja?”

“Duduklah, bahkan tidurlah. Tetapi tidak di sini.”

Sekar Mirahpun kemudian berdiri dan berjalan ke belakang. Wajahnya menjadi gelap dan sekali ia berpaling sambil mencibirkan bibirnya kepada Swandaru Geni.

“Kenapa kau” bentak Swandaru.

“Apa” sahut Sekar Mirah. “Aku kan tidak apa-apa.”

“Kau mencibir aku” jawab Swandaru.

“Salahmu kau melihat bibirku.”

Swandaru masih akan menjawab, tetapi ayahnya telah menggamitnya. Karena itu ia berdiam diri. Tetapi dengan tangannya ia mengacungkan tinjunya ke arah Sekar Mirah. Sekali lagi Sekar Mirah mencibirkan bibirnya kepadanya. Namun kemudian ia tenggelam ke balik pintu. Tetapi sebelum ia hilang di belakang daun pintu itu, maka iapun sempat memandang Agung Sedayu dengan sudut matanya, sehingga Agung Sedayu tertunduk karenanya.

Tetapi perhatian Agung Sedayu kini bulat-bulat tertuju kepada kakaknya, karena itu ia hampir tak memperdulikan apa saja yang terjadi.

Ia mendengar juga sekali Sekar Mirah berteriak di belakang rumahnya. “Gila” berkata Sekar Mirah itu. “Pergi sendiri!”

Swandaru mengangkat kepalanya. Hampir saja ia berdiri kalau ayahnya tidak menahannya. “Bukan kau Swandaru.”

Widura menggigit bibirnya. Pasti Sidanti telah mengganggunya. Anak itu benar-benar anak yang keras kepala. Namun Widura tidak segera berbuat apa-apa, sebab suara Sekar Mirah itupun telah hilang, dan bahkan dekat di balik dinding gadis itu menggerutu, “Anak setan. Kenapa ia tidak mati dibunuh Macan Kepatihan?”

Dalam pada itu sekali lagi Agung Sedayu melihat Untara menggerakkan kepalanya. Kemudian perlahan-lahan ia membuka matanya. Ketika ia melihat Agung Sedayu berdiri di sampingnya terdengar ia berdesis, “Sedayu.”

“Ya Kakang” jawab Agung Sedayu serta-merta.

Namun Untara itu terdiam. Kembali matanya terkatub. Namun wajahnya kini sudah tdak seputih mayat. Perlahan-lahan warna-warna merah mulai menjalari wajah itu. Dan perlahan-lahan kepercayaan Agung Sedayupun tumbuh pula.

Ki Tanu Metir, setelah meneguk minuman hangat itu, berdiri pula mendekati Untara. Dirabanya dada anak muda itu, kemudian diurut-urutnya lambungnya pula.

Sekali lagi Untara membuka matanya. Ketika ia melihat Ki Tanu Metir beridiri disampingnya pula, maka tampaklah bibirnya bergerak.

“Kiai disini?”

“Ya Ngger, aku melihat bertempuran itu. Dan aku sengaja datang karena aku mendengar Angger terluka.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Ya, aku terluka.”

Kemudian desisnya, “Sedayu. Kemarilah. Kau ingin tahu siapa yang melukai aku?”

Bukan main terkejutnya Sedayu mendengar kata-kata kakaknya itu. Karena itu dengan serta–merta ia melangkah lebih mendekati kakaknya sambil berdesis, “Ya Kakang, katakanlah siapa yang telah melukai Kakang?”

Tidak saja Agung Sedayu yang tertarik pada kata-kata itu. Namun semuanya tertarik pula. Karena itu, maka semua yang hadir disitu bergeser mendekat.

Namun Untara ternyata masih terlalu lemah. Tiba-tiba matanya terpejam kembali.

“Kakang” panggil Agung Sedayu.

“Jangan Ngger” berkata Ki Tanu Metir. “Jangan dipaksa.”

“Hem” Agung Sedayu menggeram. Ia ingin segera tahu siapa yang telah melakukan perbuatan itu. Tohpati atau Alap-Alap Jalatunda? Tetapi ia harus bersabar lagi menunggu Untara itu menjadi lebih kuat.

Di luar, kabut yang tebal mulai turun. Namun ayam jantan yang berkokok semakin lama menjadi semakin ramai bersahutan. Meskipun demikian, lewat pintu mereka masih melihat kehitaman yang kelam di antara kabut yang keputih-putihan. Tetapi mereka menyadari bahwa sebentar lagi, fajar telah menjenguk di garis kaki langit.

Kini mereka tidak dapat berdiri saja di seputar Untara. Widura dan Ki Tanu Metir minta diri sesaat kepada Agung Sedayu untuk sesuci, untuk kemudian mereka bergantian menunggu Untara yang terluka itu.

“Silakan Paman” berkata Agung Sedayu.

Ki Demang Sangkal Putung dan Swandarupun kemudian meninggalkan ruangan itu, sehingga kini tinggallah Agung Sedayu seorang diri.

Telah lama Widura menunggu kesempatan itu. Berjalan berdua dengan Ki Tanu Metir. Dan kesempatan itu kini datang. Karena itu, maka berkata Widura itu sambil berjalan ke padasan, “Ki Tanu Metir, apakah Ki Tanu telah pernah datang ke tempat ini sebelumnya?”

Ki Tanu Metir menggeleng. “Belum Ngger.”

Widura tersenyum. Katanya, “Baru kali ini?”

“Ya” sahut orang tua itu.

“Ke daerah-daerah sekitar tempat ini?”

“Juga belum.”

“Ki Tanu Metir benar-benar belum mengenal aku?”

Ki Tanu Metir berhenti. Diamatinya Widura dengan seksama, namun ia menggeleng. “Belum ngger. Baru kali ini aku mengenal Angger Widura.”

Sekali lagi Widura tersenyum. “Mungkin Kiai benar.”

Ki Tanu Metir terkejut. Sesaat kemudian ia tersenyum sambil berjalan terus.

Sepeninggal Widura, Agung Sedayu masih juga menunggu kakaknya dengan tekun. Sekali-sekali dilihatnya Untara menarik nafas panjang. Namun Untara itu masih belum juga membuka matanya kembali.

Agung Sedayu hampir-hampir menjadi tidak sabar menunggu. Ia ingin segera tahu, siapakah yang melukai kakaknya itu. Tetapi ia tidak berani memaksa kakaknya untuk berbicara.

Sesaat kemudian ketika Untara itu membuka matanya kembali, segera Agung Sedayu membungkukkan badannya sambil berbisik, “Kakang, apakah akan mengatakan kepadaku, siapakah yang telah melukai Kakang?”

Untara menarik nafas panjang. Tampak ia menyeringai, kemudian mencoba menggerakkan tangannya. “Tanganku masih lemah sekali” desisnya.

“Jangan bergerak-gerak dulu kakang” Agung Sedayu mencoba mencegahnya.

Untara mengangguk kecil. “Dimana Paman Widura?”

“Baru sesuci Kakang” sahut Agung Sedayu.

“Aku ingin mengatakan kepadanya, siapakah yang telah melukai aku.”

“Katakanlah Kakang, selagi Kakang sempat, nanti Kakang dapat tidur dengan nyenyak.”

“Dimana Pamanmu?”

“Biarlah nanti aku sampaikan.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan susah payah ia berkata, “Agung Sedayu. Sebenarnya aku telah berusaha untuk melupakan setiap persoalan yang ada di antara kita masing-masing yang berada di tempat ini untuk kepentingan yang lebih besar. Tetapi ternyata aku menghadapi bahaya yang hampir saja merenggut nyawaku. Kalau kali ini aku, maka mungkin lain kali Paman Widura dan kau. Karena itu maka sebelum terjadi, kau harus mencegahnya. Aku percaya bahwa kau akan dapat melakukannya bersama Paman Widura.”

“Ya Kakang” sahut Agung Sedayu tidak sabar. “Aku siap berbuat.”

“Jangan orang itu mendapat kesempatan meninggalkan tempat ini. Dengan demikian ia akan menjadi lebih berbahaya bagimu dan bagi Sangkal Putung.”

“Ya Kakang, tetapi siapakah itu?”

“Dimanakah Pamanmu Widura?”

“Sebentar lagi ia datang. Aku akan mengatakannya.”

“Ya. Memang harus dilakukan secepatnya. Kalau ia tahu aku belum mati dan masih dapat mengatakannya, maka ada kemungkinan ia segera akan kembali.”

“Ya, ya” sahut Agung Sedayu tidak sabar.

“Anak itu adalah Sidanti.”

“He?” alangkah terperanjat Agung Sedayu. “Sidanti” ulangnya. “Bagaimana mungkin? Bukankah ia berada di sayap yang lain?”

“Sayap itu telah bergabung dengan induk pasukan ketika kami mengejar lawan. Dan ternyata Sidanti telah melakukan rencananya sendiri. Ditinggalkannya anak buahnya untuk berbuat menurut rencananya. Aku terkejut ketika tiba-tiba ia menggamit aku. Tetapi aku tidak mendapat kesempatan. Aku berpaling pada saat pisaunya menembus punggungku. Tetapi aku tidak segera pingsan. Pukulannyalah yang menyebabkan aku tidak tahu apa-apa lagi yang terjadi. Tetapi Tuhan Maha Besar. Aku ternyata diselamatkan olehNya dengan lantaran Ki Tanu Metir.”

 

 

 

Terdengar gigi Agung Sedayu gemeretak. Namun ketika ia masih ingin mengajukan pertanyaan lagi, dilihatnya nafas kakaknya menjadi agak cepat.

“Kakang” panggil Agung Sedayu.

Untara memejamkan matanya. Dicobanya untuk menenangkan hatinya. Disadarinya bahwa ia masih belum dapat terlalu banyak berbicara. Karena itu katanya, “Aku akan beristirahat. Katakanlah hal ini kepada Paman Widura.”

Agung Sedayu tidak menjawab. tetapi dadanya seakan-akan hampir meledak. Dilihatnya kakaknya menarik nafas dalam-dalam, dan sekali Untara itu berdesis, “Aku masih terlalu lemah. Kini kepalaku terasa agak pening. Aku akan mencoba tidur lagi.”

“Tidurlah Kakang” jawab Agung Sedayu. “Tenangkanlah hatimu. Biarkan aku selesaikan persoalan Sidanti.”

“Jangan seorang diri” desis Untara.

Tetapi Agung Sedayu tidak menjawab. Hatinya sudah tidak dapat ditahannya lagi. Meskipun selama ini Sidanti baginya seakan-akan hantu yang selalu mengejarnya kemana ia pergi, namun hantu itu kini sama sekali tidak menakutkan lagi baginya.

Karena itu, maka demikian kakaknya memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur, cepat-cepat Agung Sedayu beringsut surut, dan dengan tergesa-gesa ia meloncat keluar pringgitan. Sedemikian tergesa-gesa sehingga ia lupa menyandang pedangnya yang telah diletakkannya di samping pembaringan kakaknya itu.

Di pendapa dengan nanar Agung Sedayu mencari Sidanti. Namun di sudut pendapa itu tak dilihatnya seseorang. Karena itu dengan berlari-lari ia turun kehalaman dan langsung dicarinya di belakang rumah.

Namun di belakang rumah itupun tak ditemuinya Sidanti. Ia tadi mendengar Sekar Mirah mengumpat-umpat di situ. Karena itu ketika ia melihat gadis itu menjengukkan kepalanya di pintu, dengan serta-merta ia bertanya, “Mirah, kemanakah Sidanti?”

“Kenapa kau mencari Sidanti?” bertanya Sekar Mirah. “Kenapa tidak mencari aku?”

“Aku tergesa-gesa Mirah.”

“Apakah Tuan sangka aku menyembunyikan Sidanti?”

“Tidak. Tetapi bukankah kau tadi bercakap-cakap dengan Sidanti di sini? Barangkali kau tahu kemana ia pergi?”

Sekar Mirah menggeleng sambil tersenyum. Bahkan kemudian ia melangkah keluar, “Biarlah Sidanti pergi menurut kehendaknya sendiri. Apakah kita berkepentingan atasnya?”

“Aku berkepentingan.”

“Aku tidak.”

“Mirah” Agung Sedayu menjadi jengkel karenanya. “Aku sekarang sedang dihadapkan pada suatu keharusan untuk menemukannya. Dimana ia sekarang?”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Dilihatnya wajah Agung Sedayu bersungguh-sungguh. Karena itu, maka ia tak tidak mau bergurau lagi. Jawabnya, “Mungkin ke sungai, mungkin ke prapatan.”

Agung Sedayu berpikir sejenak. Apakah kepentingan Sidanti ke prapatan? Yang paling mungkin baginya adalah pergi ke kali di sebelah ujung halaman kademangan itu. Sebuah kali yang tidak sedemikian besar, yang airnya seakan-akan hampir kering di musim kemarau.

Agung Sedayu itupun tidak berkata-kata lagi. Dengan tergesa-gesa ia berjalan menuju ke kali, tempat beberapa orang laskar Pajang sering mandi dan mencuci pakaiannya. Namun saat itu masih terlalu pagi. Belum ada seorangpun yang pergi k esana, selain Agung Sedayu yang sedang mencari Sidanti itu.

Ki Tanu Metir dan Widura, setelah sesuci segera bersembahyang. Ketika mereka menengok Untara, dilihatnya anak muda yang sedang terluka itu tidur. Karena itu, maka Ki Tanu Metir tidak mendekatinya.

Sehabis sembahyang, mereka berdua duduk kembali, di atas tikar pandan dan kembali meneguk air yang masih hangat-hangat kuku.

“Dimanakah Sedayu?” desis Widura.

“Ya, dimana Angger Sedayu?” sahut Ki Tanu Metir.

Mula-mula mereka menyangka bahwa anak muda itu sedang sesuci di belakang. Tetapi setelah ditunggu beberapa lama, maka Agung Sedayu tidak juga datang. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak menaruh syak bahwa Agung Sedayu sedang pergi mencari Sidanti. Karena itu, maka Widura itu masih saja duduk dengan tenangnya bersama dengan Ki Tanu Metir.

Sekali Ki Tanu Metir itu berdiri. Didekatinya Untara yang kembali jatuh tertidur karena lemahnya. Dirabanya dada anak itu sambil bergumam, “Pernafasannya menjadi bertambah baik. Mudah-mudahan ia dapat segera memiliki kesadarannya sepenuhnya kembali. Dalam keadaannya sekarang, maka Angger Untara kadang-kadang masih menjadi pening dan berkunang-kunang.”

“Mudah-mudahan” sahut Widura.

“Mulai besok, Angger Untara harus banyak minum obat reramuan sehingga badannya akan menjadi segera kuat kembali. Obat-obatan yang dapat mengganti darahnya yang sudah terlalu banyak mengalir seperti yang pernah dialaminya dahulu.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia teringat kepada obat yang diberikan oleh Sidanti. Karena itu, maka katanya, “Bagaimanakah dengan obat yang diberikan oleh Sidanti?”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Sesaat ia berdiam diri. Tampaklah ia menjadi ragu-ragu karenanya.

“Bagaimana?” desak Widura pula.

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sesaat tampak wajahnya menjadi tegang. Dan akhirnya menjawab, “Maaf Ngger. Apakah aku boleh berkata sebenarnya?”

“Ya, tentu” sahut Widura heran.

Perlahan-lahan diraihnya obat dari Sidanti yang diletakkannya di samping kaki pembaringan Untara. Sekali lagi obat itu dibukanya, dan ditunjukkannya kepada Widura.

“Obat ini sangat berbahaya Ngger”

“Kenapa?” bertanya Widura heran.

Sekali Ki Tanu Metir memandang ke daun pintu yang terbuka, namun kemudian kepalanya itu ditundukkannya.

Widura menjadi heran melihat sikap Ki Tanu Metir itu. Karena itu, maka ia mendesaknya, “Kenapa obat itu sangat berbahaya Kiai?”

Ki Tanu Metir berpaling ke arah Untara yang masih tertidur. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia bergumam, “Untunglah bahwa obat ini belum menyentuh lukanya. Kalau Angger pernah melihat, ini adalah salah satu jenis warangan yang akan dapat mempengaruhi peredaran darah.”

“He?” Widura terkejut mendengar keterangan itu.

“Warangan ini,” berkata Ki Tanu Metir, “akan dapat membekukan darah, sehingga cairan darah Angger Untara akan bergumpal-gumpal dan menyumbat jalur-jalur nadinya.”

“Jadi….” Kata-kata Widura terputus di kerongkongannya.

Namun Ki Tanu Metir sudah dapat menangkap maksudnya. Karena itu, maka ia menyahut, “Ya. Ternyata Angger Untara benar-benar akan dibunuhnya.”

Terasa keringat dingin mengalir di tubuhnya. Tiba-tiba teringatlah Widura itu kepada peristiwa yang pernah dialaminya sendiri. Sidanti dan Ki Tambak Wedi pernah akan membunuhnya pula. Sehingga karena itu dengan serta-merta ia berkata, “Kalau begitu, maka luka Untara itupun pasti dibuat oleh Sidanti.”

Ki Tanu Metir terdiam sesaat. Kemudian jawabnya, “Mungkin Ngger. Adalah mungkin sekali.”

Tubuh Widura itu menjadi gemetar karenanya. Perbuatan itu benar-benar tidak dapat dimaafkan lagi. Sidanti benar-benar tidak dapat dilunakkan hatinya. Nafsunya untuk segera menanjak ke tingkatan-tingaktan yang lebih tinggi telah mendorongnya untuk berbuat hal-hal yang kadang-kadang tidak dapat dimengerti. Dengan demikian maka anak muda itu telah kehilangan segala tata cara dalam peradaban manusia. Bahkan Sidanti itu, telah sedemikan sampai hati untuk melenyapkan kawan sendiri. Membunuhnya untuk segera dapat menempati kedudukannya.

Widura itupun menjadi marah bukan buatan. Karena itu, maka segera ia berdiri. Diambilnya pedangnya dan disangkutkan di pinggangnya.

“Akan kemanakah Angger Widura ini?” bertanya Ki Tanu Metir.

“Aku harus menemui Sidanti. Anak itu harus berada dalam pengawasan yang lebih baik. Kali ini Untara, besok aku dan lusa Agung Sedayu.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun iapun berdiri juga.

Widura yang telah siap untuk berbuat apapun juga itu memerlukan menjenguk Untara sesaat. Dilihatnya anak itu membuka matanya. Ketika dilihatnya Widura, maka desisnya, “Dugaan Ki Tanu Metir dan Paman adalah benar. Aku mendengar apa yang kalian percakapkan. Aku telah mengatakan kepada Agung Sedayu.”

“He?” kembali Widura terkejut. “Dimana Sedayu sekarang?”

“Aku suruh ia mengatakannya kepada Paman Widura.”

Widura menggigit bibirnya. Ada sesuatu yang tersimpan di hati Agung Sedayu terhadap Sidanti, seperti minyak yang tersekat di dalam bumbung. Kini ternyata ada api yang menyambarnya, sehingga minyak itu pasti akan menyala dan bumbungnya akan meledak.

Karena itu, maka Widura pun kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah aku temui anak itu.”

Untara tidak mengerutkan keningnya. Dipejamkannya kembali matanya untuk mencoba beristirahat sebanyak-banyaknya. Ki Tanu Metirlah kemudian yang menungguinya sambil duduk di atas tikar di samping pembaringannya.

Widura yang menahan kemarahan di dalam dadanya itu, berjalan perlahan-lahan keluar pringgitan. Di luar malam telah berangsur hilang, sehingga bayangan pepohonan di halaman semakin lama menjadi semakin jelas karenanya. Namun ia tidak melihat Agung Sedayu dan Sidanti di halaman itu. Karena itu, maka segera ia menjadi cemas.

Beberapa orang yang melihat Widura menyandang pedangnya, bertanya-tanya di dalam hati. Widura itu di kademangan hampir tidak pernah membawa pedangnya dalam keadaan biasa. Namun kini pedang itu tergantung di lambungnya.

“Mungkin Ki Lurah itu belum sempat melepas pedangnya” berkata salah seorang.

“Aku sudah melihatnya sesuci. Dan pedang itu tudak tergantung di pinggangnya” sahut yang lain.

“Entahlah” gumam orang yang pertama.

Sementara itu Agung Sedayu yang berlari-lari ke kali di ujung halaman dengan gelora kemarahan yang menyala di dadanya, tiba-tiba terkejut, ketika pada keremangan pagi ia melihat dua sosok tubuh berjalan kearahnya. Namun tiba-tiba sesosok diantaranya segera lenyap dan yang tinggal kemudian adalah Sidanti.

Agung Sedayu itu tidak sempat berpikir dan bertanya, siapakah orang yang satu itu yang kemudian bersembunyi. Namun yang ada di dalam dadanya adalah kemarahan yang menyala-nyala.

Dengan serta-merta, maka Agung Sedayu itu berteriak, “Kau telah berusaha membunuh Untara. Sekarang aku datang untuk menuntut balas atas luka-luka yang dideritanya.”

Sidanti terkejut. Jawabnya “Siapa bilang?”

“Untara sendiri.”

“Omong kosong. Untara belum sadar.”

“Jangan ingkar. Aku sudah tidak mempunyai pilihan lain sekarang.”

Sidanti itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia tertawa. “Bagus” katanya. “Aku yang berusaha membunuh Untara, Sekarang aku harus membunuh Agung Sedayu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Segera ia meloncat maju dan menyerang Sidanti sejadi-jadinya.

Sidanti benar-benar terkejut menerima serangan yang tiba-tiba itu. Karena itu, maka ia tidak segera dapat mengelak. Dengan cepatnya ia berusaha untuk memunahkan serangan Agung Sedayu itu dengan menyilangkan kedua tangannya menyambut tangan Agung Sedayu.

Pada saat itu, Agung Sedayu benar-benar telah mempergunakan segenap kekuatannya dilambari dengan kemarahan yang membara di dalam dirinya. Karena itu, maka kekuatannyapun seakan-akan bertambah-tambah juga. Sehingga kemudian terjadi suatu benturan yang dahsyat antara keduanya,

Benturan kekuatan antara Agung Sedayu yang melontarkan kemarahan yang meledak dengan kekuatan Sidanti yang tegak seperti batu karang. Demikianlah maka kedua kekuatan itu telah melemparkan keduanya, sehingga masing-masing terpental dan jatuh terbanting di atas tanah, Namun mereka terguling, maka segera mereka meloncat berdiri dan siap kembali untuk mempertahankan diri masing-masing.

Agung Sedayu yang sama sekali tidak dapat mengekang dirinya karena kemarahannya, segera menyerang kembali. Serangannya langsung mengarah ke titik-titik yang berbahaya pada tubuh Sidanti. Kalau selama ini Sidanti dan Agung Sedayu selalu urung bertempur dalam setiap persoalan, maka dendam yang tersimpan di hati masing-masing itu kini seakan-akan tertumpahkan. Sidanti yang selama ini merasa, tersisihkan karena kehadiran Agung Sedayu. Baik oleh Widura, orang-orang Sangkal Putung, lebih-lebih Sekar Mirah, namun usahanya untuk memancing perselisihan selalu gagal, Maka kini ia terlibat dalam suatu perkelahian dengan Agung Sedayu.

Karena itu, maka kesempatan ini harus dipergunakan. Ia harus bertempur sampai rampung. Mati atau mematikan. Apalagi Agung Sedayu ternyata telah mengetahui bahwa dirinyalah sebenarnya yang telah berusaha membunuh Untara. Dan Sidanti tidak dapat mengingkari kalau itu dikatakan oleh Untara sendiri. Meskipun demikian Sidanti itu menyesal, kenapa ia tidak dapat menusuk anak muda yang mendapat kepercayaan langsung dari Ki Gede Pemanahan itu sekaligus, sehingga Untara itu masih sempat berkata tentang keadaannya.

Karena itu, maka Agung Sedayu itupun harus mati. Kalau Agung Sedayu sudah mati di sini, maka ia akan dapat membunuh Untara nanti pada suatu kesempatan. Mudah-mudahan obatnya diusapkan pada luka itu. Kalau demikian maka Untara itupun pasti akan mati. Tetapi kalau tidak? Kalau rencana itu gagal?

Sidanti itu menggeram. Apa yang dilakukan kali ini adalah suatu sikap terakhir. Kalau ia gagal, maka kisahnya sebagai prajurit Pajang akan berakhir. Kalau ia berhasil membunuh Agung Sedayu dan Untara, apakah tidak ada orang-orang lain yang akan menuntutnya?

“Hem” sekali lagi Sidanti menggeram. Kegagalannya terletak pada kegagalannya membunuh Untara, sehingga persoalan itu menjadi berlarut-larut. Tetapi meskipun demikian, ia tidak dapat mengingkari. Ia sudah langsung berbuat dengan tangannya meskipun ia berusaha untuk menghilangkan bekasnya. Ia menusuk Untara tidak dengan senjatanya, tetapi dengan pisau yang lain. Kini tangannya telah berbekas darah. karena itu, maka apapun yang akan dihadapinya ia tidak akan ingkar.

Sedangkan Agung Sedayupun telah menyimpan dendam yang membara di dalam dirinya. Sejak ia hadir di Sangkal Putung, maka ia telah merasakan, bahwa seorang ini sama sekali tidak senang melihat kehadirannya. Anak muda inilah yang seakan-akan telah menyebabkan pamannya selalu marah kepadanya, sehingga seolah-olah ia menjadi seorang tawanan yang dikurung didalam pringgitan.

Anak muda ini pulalah yang telah berusaha membunuh kakaknya. Sampai saat itu kakaknya adalah orang yang paling baik yang dikenalnya. Orang yang selalu melindunginya dalam setiap kesempatan. Orang yang tidak pernah menyakiti hatinya. Orang yang telah menggantikan ibu bapaknya. Kini orang yang bernama Sidanti itu akan membunuh kakaknya itu. Karena itu, maka segenap kemarahan dam dendam tertumpah kepadanya. Kepada Sidanti.

Demikianlah maka pertempuran itu menjadi seru sekali. Masing-masing telah menumpahkan segenap tenaganya dalam luapan kemarahan dan dendam. Masing-masing sudah tidak dapat lagi melihat kemungkinan lain daripada membunuh atau dibunuh. Agung Sedayu yang banyak sekali mempunyai pertimbangan dikepalanya hampir dalam setiap persoalan, kini pertimbangan-pertimbangan itu seakan-akan telah membeku.

Tetapi ternyata bahwa Sidanti memiliki pengalaman yang lebih luas dari Agung Sedayu. Meskipun persiapan-persiapan di dalam diri Agung Sedayu telah cukup banyak untuk menghadapi murid Ki Tambak Wedi itu, namun ada beberapa kelebihan dari Sidanti atas Agung Sedayu. Karena itu, maka tampaklah bahwa Sidanti mempunyai kesempatan-kesempatan yang lebih baik dari Agung Sedayu.

Namun meskipun demikian, Agung Sedayupun memiliki keadaan yang tidak dimiliki oleh Sidanti. Agung Sedayu yang seakan-akan menyimpan dan menahan gelora yang menyala di dadanya karena keadaannya, maka tiba-tiba kini ia menemukan saluran yang dapat memuntahkan tekanan itu. Sebagai seorang penakut, maka Agung Sedayu selalu berangan-angan untuk menjadi seorang yang pilih tanding. Seorang yang tak terkalahkan. Namun setiap gejolak di dalam jiwanya selalu disekapnya di dalam hati. Kemudian setelah ia berhasil menembus dinding yang menyelubunginya, tiba-tiba ia dihadapkan pada persoalan yang langsung menyentuh perasaannya yang paling dalam, sehingga dengan demikian maka Agung Sedayu itu seakan-akan benar-benar sebuah bumbung minyak yang terbakar. Meledak dengan dahsyatnya.

Karena itu, maka tandangnyapun menjadi tidak menentu. Ia telah kehilangan kemungkinan untuk mempertimbangkan setiap geraknya. Hanya satu yang ada di dalam hatinya, membinasakan Sidanti.

Sidanti melihat tandang Agung Sedayu itu benar-benar terkejut. Agung Sedayu dalam tangkapan Sidanti adalah seorang yang halus dan lunak. Ia menyangka, bahwa dalam perkelahianpun Agung Sedayu akan mencerminkan sifat-sifatnya itu. Tetapi tiba-tiba ia berhadapan dengan gerak yang ganas dan kasar. Bahkan kadang-kadang sama sekali di luar dugaannya. Agung Sedayu menyerang seperti seekor serigala yang lapar. Tidak hanya seekor, namun tiba-tiba karena luapan perasaannya, Agung Sedayu telah menumpahkan segenap ilmunya, sehingga seakan-akan Sidanti itu menghadapi berpuluh-puluh serigala yang kelaparan sedang berusaha bersantap dengan dagingnya.

Karena itu, maka perkelahian itu menjadi semakin sengit. Sidanti berusaha untuk melawan Agung Sedayu dengan segenap kemampuannya pula. Dengan lincahnya ia menghindari setiap serangan Agung Sedayu. Namun serangan itu mengalir seperti banjir. Meskipun demikian kelincahan Sidanti, sekali-sekali berhasil menerobos pertahanan Agung Sedayu yang kuat, sekali-sekali berhasil mengenai tubuhnya, Sehingga sekali-sekali Agung Sedayu terpaksa terlempar surut dan bahkan jatuh berguling. Tetapi kembali anak muda itu bangkit, dan kembali serangannya datang membadai.

Namun Sidanti pada dasarnya adalah seorang anak muda yang berjiwa kasar. Ia adalah seorang yang berbuat tanpa kesan membunuh lawannya dan bahkan merobek mayat lawannya sekali. Karena itu, maka segera ia menyesuaikan diri dengan Agung Sedayu. Sehingga sesaat kemudian Sidanti itupun bertempur dengan cara yang tidak kalah ganas dan kasar dari Agung Sedayu.

Dengan demikian maka perkelahian itu benar-benar menjadi perkelahian yang keras. Seakan-akan perkelahian di antara binatang-binatang buas yang sedang kelaparan berebut makanan. Setiap serangan hampir tak pernah dielakkan. Namun setiap serangan ditempuhnya dengan pengerahan tenaga.

Namun dalam perkelahian yang demikian itupun, Sidanti mempunyai kesempatan yang lebih banyak dari Agung Sedayu. Pengalamannya yang jauh lebih banyak dan hatinya yang lebih keras, telah memungkinkannya untuk berbuat lebih jauh dari apa yang dapat dilakukan pleh Agung Sedayu.

Tetapi Sidanti itupun menjadi heran. Betapa ia berhasil mengenai lawannya, bahkan dengan segenap tenaganya, dan betapa ia melihat Agung Sedayu terlempar jatuh, tetapi seakan-akan tubuh Agung Sedayu itu sedemikian liatnya. Demikian ia terbanting, demikian ia bangun kembali. Pukulan-pukulan yang mengenainya benar-benar tak pernah membekas, seakan-akan tubuhnya dapat dibebaskan dari rasa sakit.

Sebenarnya Agung Sedayu sudah waringuten, ia seolah-olah kehilangan segenap perasaannya. Bahkan rasa sakitpun seakan-akan tak dimilikinya. Tekanan gelora yang membakar dadanya telah menjadikannya nggegirisi.

Sidanti benar-benar menjadi bimbang. Apakah Agung Sedayu memiliki ilmu kekebalan? “Omong kosong” katanya dalam hati. Dan geraknyapun semakin dipercepatnya.

Sisa gelap malampun semakin lama menjadi semakin tipis. Dan sejalan dengan itu hati Sidantipun menjadi semakin cemas. Ia ingin segera menyelesaikan perkelahian itu. Namun betapa mungkin. Agung Sedayu seakan-akan tak dapat disakitinya.

Seandainya seseorang melihatnya bertempur, dan orang itu mengetahui sebab dari pertempuran itu, maka mau tak mau ia harus berhadapan dengan seluruh laskar Pajang di Sangkal Putung. Meskipun pada saat itu gurunya berada disampingnya, namun alangkah baiknya kalau ia menyelesaikan persoalan itu sendiri. tanpa gurunya. Dan persoalan itu akan selesai kalau ia dapat membunuh Agung Sedayu. Mudah-mudahan baru Agung Sedayu sajalah yang mendengar dari Untara bahwa ialah yang telah melukainya. Nanti, akan dicarinya kesempatan untuk menyempurnakan pembunuhannya atas Untara. Seandanya ia sempat menutup jalan pernafasan anak yang luka itu, maka segera pekerjaannya akan selesai tanpa bekas.

Dengan demikian maka Sidanti semakin memperketat tekanannya, sehingga titik pertempuran itu telah bergeser dari tempatnya. Tanpa setahu mereka, maka mereka kini sudah merambat mendekati kandang kuda Demang Sangkal Putung.

Sidanti terkejut ketika ia mendengar kuda di dalam kandang itu terpekik karena terkejut. Sesaat kemudian kuda-kuda yang lainpun menjadi gelisah pula sehingga kandang itu menjadi ribut karenanya.

“Gila” geram Sidanti.

Suara kuda itu pasti akan memanggil beberapa orang untuk datang kepada mereka. Karena itu, maka sebelum Agung Sedayu sempat berkata, maka ia harus dibunuh atau dilumpuhkan.

Sidanti menjadi semakin gelisah ketika dalam keremangan fajar, benar dilihatnya beberapa orang berdatangan. Dan Agung Sedayu itu masih bertempur dengan garangnya.

Kini Sidanti benar-benar mengerahkan segenap kemampuannya. Ia berkelahi seperti seekor harimau yang ganas. Dengan segenap kemampuan dan tenaganya, ia berusaha segera mengakhiri pertempuran. Namun tubuh Agung Sedayu itu seakan-akan terbuat dari tanah liat.

Tetapi ketika langit menjadi semakin terang, tampaklah bahwa dari tubuh anak muda itu telah mengalir darah dari luka-luka ditubuhnya. Pakaiannya telah rontang-ranting dan wajahnya menjadi merah biru. Bukan saja Agung Sedayu, Sidantipun telah mengalami tekanan-tekanan yang berat karena serangan-serangan Agung Sedayu yang sedang mengamuk itu.

Tetapi pertempuran itu harus segera berakhir. Dalam keadaan itu akhirnya Sidanti mengambil keputusan yang pasti. Agung Sedayu harus dilumpuhkan dengan cara apapun juga. Karena itu, maka dengan serta-merta Sidanti itu meloncat, meraih sepotong kayu yang tersandar di dinding kandang itu. Dengan kayu itu ia bertempur melawan Agung Sedayu.

Betapapun kuatnya Agung Sedayu, namun dalam kegelapan pikiran itu, ia sama sekali telah kehilangan hampir segenap perhitungannya. Itulah sebabnya ia tidak dapat melihat dengan hati yang dingin, apa yang telah dilakukan oleh Sidanti.

Tangan Sidanti benar-benar seperti tangan hantu yang sangat berbahaya. Meskipun kali ini ia tidak memegang senjata perguruannya, namun sepotong kayu itupun benar-benar dapat dipergunakan sebagai senjata yang sangat berbahaya. Dalam perkelahian tanpa senjata, anak muda itu telah menunjukkan beberapa kelebihan dari lawannya. Apalagi kini ia menggenggam sepotong kayu. Maka tanpa mempertimbangkan akibat-akibat yang dapat terjadi, Sidanti telah mempergunakan senjatanya untuk melawan dan berusaha membinasakan Agung Sedayu.

Sebuah pukulan yang keras telah mendorong Agung Sedayu ke samping. Berbareng dengan teriakan beberapa orang tiba-tiba melihat perkelahian itu. Bagaimana Sidanti tidak puas dengan pukulan pertama itu. Sebelum Agung Sedayu sempat menguasai dirinya, maka Sidanti telah mengulangi serangannya. Agung Sedayu masih sempat melihat kayu yang terayun itu, karena itu, maka ia masih berusaha untuk menghindarkan dirinya dengan membungkukkan badannya. Kayu itu menyambar beberapa jari di atas kepalanya.

Namun karena geraknya yang tiba-tiba, Agung Sedayu kurang dapat menguasai keseimbangan dirinya, sehingga ia jatuh terguling. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Sidanti. Agung Sedayu harus menjadi terdiam saat itu, supaya ia tidak dapat mengatakan sebab dari perkelahian ini. Dengan garangnya Sidanti mengangkat sepotong kayu itu untuk diayunkan ke kepala Agung Sedayu yang belum sempat bangun kembali.

Beberapa orang yang melihat perkelahian itu segera berlari-lari mendekati. Mereka melihat Agung Sedayu itu terjatuh, dan mereka melihat Sidanti mengayunkan sepotong kayu ke kepala Agung Sedayu. Namun jarak mereka masih terlalu jauh. Sehingga mereka masih belum sempat untuk mencegah Sidanti. Mereka hanya sempat berteriak keras.

 

 

 

Pada saat itu Widurapun telah sampai ke tempat itu pula. Iapun melihat sepotong kayu yang terayun itu. Namun jaraknyapun masih beberapa langkah lagi. Karena itu, maka Widura itupun hanya dapat berteriak sambil melompat sejauh-jauh mungkin. Tetapi jarak yang harus dicapainya masih ada dua tiga loncatan lagi.

Sidanti sama sekali tidak mau mendengarkan teriakan-teriakan itu lagi. Ia lebih senang mempertanggung-jawabkan perbuatannya itu daripada apabila Agung Sedayu mengatakan sebab yang sebenarnya. Daripada Agung Sedayu bercerita tentang apa yang pernah didengarnya dari Untara. Karena itu, maka sama sekali ia tidak mau mengurungkan niatnya. Hatinya telah bulat sebulat-bulatnya. Dengan demikian maka kayu itupun telah diangkatnya untuk diayunkannya kuat-kuat. Ia tidak perduli lagi seandainya kepala Agung Sedayu itu menjadi pecah karenanya.

Tetapi justru karena itu, maka perhatian Sidanti seluruhnya tercurah pada sepotong kayu di tangannya dan kepala Sedayu. Anak muda itu hampir tidak memperhatikan lagi apa yang terjadi disekitarnya. Juga ia sama sekali tidak tahu, bahwa seseorang telah berdiri dekat di belakangnya. Di samping kandang kuda itu.

Ketika kayu ditangannya itu telah sampai kepuncak ayunan dan siap untuk meluncur ke kepala Agung Sedayu, Sidanti itu terkejut ketika ia mendengar sebuah suitan nyaring. Ia tahu benar, itu adalah suara gurunya. Namun ia tidak segera mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu, maka ia menjadi bingung untuk sekejap.

Dan waktu yang sekejap itu telah merubah segala-galanya. Tiba-tiba ia melihat sesuatu melayang dari balik gerumbul-gerumbul di sekitar tempat itu. Namun sesaat yang pendek. Ia sadar ketika tiba-tiba terdengar sepotong besi yang meluncur itu menghantam sebilah pedang yang terjulur ke punggungnya.

Suara itu berdentang sedemikian kerasnya, sehingga menggetarkan halaman belakang Kademangan Sangkal Putung. Namun semuanya telah terlambat, pedang itu telah menyentuh punggung Sidanti, meskipun kemudian terlontar jatuh. Namun tajamnya telah menyobek punggung itu.

Sidanti mengeluh pendek. Segera ia memutar tubuhnya. Dilihatnya di belakangnya berdiri Swandaru Geni dengan mata yang menyala, namun ternyata mulutnya menyeringai menahan sakit di tangannya. Pedangnya terlempar beberapa langkah daripadanya.

Sidanti itupun menjadi semakin marah bukan buatan. Namun terasa luka di punggungnya itu sedemikian nyerinya. Terasa seakan-akan dari luka itu dihisapnya segenap kekuatannya, Sehingga dalam waktu yang singkat itu, hampir-hampir ia menjadi lemas dan tak berdaya. Namun ia tidak mau jatuh dan mati di tempat itu. Dengan segenap kemampuan yang ada dicobanya untuk tetap tegak berdiri sambil memandang setiap wajah yang berada di sekitarnya.

Dilihatnya Widura yang kini telah tegak di hadapannya dengan pedang tergantung di lambungnya, Dis ampingnya Swandaru Geni yang gemetar, namun dengan wajah yang menyala. Kemudian Agung Sedayu yang telah tegak kembali, dan kemudian beberapa orang lain.

Sidanti itu menggeram penuh kemarahan dan dendam. Ia belum berhasil membunuh Agung Sedayu, dan tiba-tiba Swandaru ikut campur dalam persoalan ini.

Sidanti menjadi semakin marah, ketika dilihatnya beberapa orang berdatangan. Ki Demang Sangkal Putung, bahkan Sekar Mirah dan orang-orang lain.

Dalam saat yang pendek itu, maka Sidanti segera dapat mengambil kesimpulan, bahwa hari ini adalah harinya yang terakhir bagi jabatan keprajuritannya. Hari ini adalah hari penentuan bahwa Sidanti bukan lagi berada dalam lingkungan laskar Pajang. Ia telah gagal mempercepat jalan dan memperpendek jarak dari tingkat ke tingkat yang lebih tinggi. Bahkan sampai ke tingkat yang paling atas. Dan kini ia harus mempertanggungjawabkannya. Namun Sidanti itu menjadi berbesar hati, ketika diingatnya gurunya berada di tempat itu pula.

Dan gurunya ternyata tidak membiarkan Sidanti itu menjadi gelisah sendiri. Dengan garangnya ia meloncat dari tempat persembunyiannya, Dan dengan marahnya ia menggeram sambil berkata, “Hem, kini kita harus berterus terang. Siapa yang harus berhadapan sebagai lawan dan siapakah yang akan dapat kita jadikan kawan. Namun adalah pasti, bahwa Sidanti telah kalian anggap berbuat suatu kesalahan. Nah, cepat katakan kepadaku Widura, apa yang akan kau lakukan? Bukankah kau pemimpin dari laskar Pajang ini? Aku menuntut, yang melukai Sidanti dengan curang, harus mendapat hukuman. Setidak-tidaknya ia harus mengalami luka seperti yang dialami Sidanti.”

Swandaru menjadi berdebar-debar. Apakah ia mau menerima hukuman itu? Yang terdengar adalah jawaban Sedayu, “Sidanti curang pula. Kami berkelahi tanpa senjata, tetapi Sidanti memungut sepotong kayu.”

“Itu bukan senjata. Kau memiliki kesempatan yang sama kalau kau mampu. Tetapi Sidanti tidak menyerang dari belakang.”

Ketika Agung Sedayu akan menjawab, Ki Tambak Wedi itu membentak, “Tutup mulutmu. Aku berkata kepada Widura. Jangan mencoba bermain-main dengan Ki Tambak Wedi.”

Orang-orang yang berdiri di sekitar tempat itu, yang belum reda getar jantungnya atas kehadiran orang yang sedemikian tiba-tiba itu, kembali terguncang ketika mereka mendengar orang itu menyebut dirinya Ki Tambak Wedi.

Sesaat Widura menjadi bimbang. Namun kemudian kembali darah kepemimpinannya mengalir ke dadanya. Maka jawabnya, “Aku tidak akan memberikan hukuman apapun sebelum aku tahu benar, dimana letak kesalahan dari peristiwa ini. Dan apakah sumber yang menyebabkan ini terjadi.”

“Persetan” teriak Ki Tambak Wedi. “Kau jangan mengigau Widura. Atau aku sendiri yang harus menghukumnya?”

Widura mengerutkan keningnya. Yang berdiri di hadapannya adalah Ki Tambak Wedi. Maka segala sesuatu harus dipertimbangkannya masak-masak. Karena itu untuk sesaat ia hanya dapat berdiam diri. Dicobanya untuk mengurai setiap peristiwa yang telah dan bakal terjadi.

Karena Widura tidak segera menjawab, maka Ki Tambak Wedi itupun membentaknya, “Widura, buka mulutmu.”

Widura sama sekali tidak senang mendengar Ki Tambak Wedi membentaknya. Ketika ia berpaling ke arah Sidanti, dilihatnya anak muda itu berdiri gemetar, sedang dari punggungnya menetes darah yang segar. Sekali-sekali tampak ia menyeringai, namun ia masih mencoba untuk berdiri tegak.

Dalam pada itu, Widura sedang menilai setiap orang yang berada di sekitarnya. Dirinya sendiri, Agung Sedayu, sementara itu, beberapa orang laskarnya dan Ki Demang Sangkal Putung. Kalau perlu ia dapat memanggil orang-orang lain, yang pasti akan segera datang juga. Apakah dengan kekuatan itu ia akan dapat menangkap Ki Tambak Wedi?

Widura menjadi bimbang. Mungkin hal itu dapat dilakukannya, namun apakah tidak banyak korban yang jatuh karenanya? Mungkin dirinya sendiri, mungkin Agung Sedayu, mungkin Ki Demang Sangkal Putung dan mungkin mereka bersama-sama.

Dalam kebimbangan itu sekali lagi Ki Tambak Wedi berteriak, “Widura, jawab pertanyaanku. Kalau kau mau menyerahkan anak yang melukai punggung Sidanti dan Agung Sedayu, maka aku tidak akan berbuat apa-apa.”

Kini Widura mengangkat kepalanya. Sudah pasti permintaan itu tidak akan dapat dipenuhinya. Karena itu, maka jawabnya, “Ki Tambak Wedi, aku adalah orang yang bertanggung jawab terhadap semua yang terjadi di Sangkal Putung. Karena itu aku tidak akan mungkin menyerahkan orang-orangku kepada siapapun juga, apapun kesalahannya. Aku sendiri yang harus melakukan hukuman atau segala macam tuntutan atas mereka seandainya mereka ternyata bersalah. Karena itu, tinggalkan Sidanti di sini dan aku akan melihat apakah yang telah terjadi, dan aku akan tentukan siapakah yang bersalah. Aku adalah pemimpin tertinggi dari semua jabatan yang berada di tempat ini, sehingga aku tidak mau ada orang lain yang mencampuri urusanku.”

Terdengar Ki Tambak Wedi menggeram. Betapa dadanya serasa terbakar mendengar kata-kata Widura itu. Matanya tiba-tiba menjadi merah menyala, dan rambutnya yang telah memutih di beberapa bagian itu, seakan-akan tegak di bawah ikat kepalanya. Tanpa sesadarnya tangannya menggenggam sambil bergumam, “Setan. Apakah kaliah sudah bosan hidup?”

Sekali lagi Widura melayangkan pandangan matanya. Beberapa orang berdatangan pula berkerumun di sekitar tempat itu. Widura menarik nafas ketika ia melihat sebagian besar dari mereka telah membawa senjata-senjata mereka Kalau terjadi sesuatu maka mereka pasti akan melawan Ki Tambak Wedi itu dengan gigih. Meskipun mereka tahu, Ki Tambak Wedi adalah seorang yang ditakuti oleh hampir segenap orang di sekitar Gunung Merapi. Namun dalam melakukan kewajibannya, maka tak akan ada di antara mereka yang mengenal takut. Apalagi mereka dalam satu kelompok. Yang mereka hadapi kini hanya seorang saja, meskipun orang itu Ki Tambak Wedi.

Namun meskipun demikian, sebagian besar dari mereka berada di dalam kebimbangan. Widura sendiri menjadi bimbang karenanya. Bukan karena ia takut mati, tetapi apakah ia akan mengorbankan orang-orangnya yang terpercaya untuk menangkap Ki Tambak Wedi? Sedang besok atau lusa Macan Kepatihan masih mungkin menyerang mereka kembali dengan kekuatan yang masih cukup besar? Ternyata di dalam pasukan Macan Kepatihan itu bersembunyi tokoh-tokoh seperti Sanakeling, Alap-Alap Jalatunda dan orang-orang lain yang pernah menjadi kebanggaan Jipang. Baru Plasa Irenglah yang dapat dibinasakan oleh Sidanti itu.

Apakah dalam keadaan yang demikian, ia harus mengurangi kekuatan pokoknya untuk menghadapi bahaya yang datang dari jurusan lain? Widura itu menarik nafas. Ia menyesal, benar-benar menyesal, bahwa di dalam tubuhnya ada anak-anak muda seperti Sidanti itu. Tetapi semuanya itu telah terjadi. Dan kini ia dihadapkan pada puncak dari kesulitan itu.

Widura itu terkejut ketika ia mendengar Ki Tambak Wedi membentak pula, “Widura, jangan mimpi. Kau tidak dapat berbuat lain daripada memilih di antara dua. Menyerahkan anak muda yang melukai Sidanti dan Agung Sedayu, atau aku membunuh kalian bersama-sama. Jawab.”

Sekali lagi Widura menengadahkan dadanya. Ia tidak dapat ingkar akan kewajibannya. Karena itu jawabnya, “Ki Tambak Wedi. Kami adalah prajurit-prajurit. Kami tidak dapat menuruti kehendak dari seseorang yang bertentangan dengan tata keprajuritan. Siapapun orangnya, meskipun orang itu bernama Ki Tambak Wedi. Namun kami terpaksa mempertahankan sendi tata keprajuritan yang menjadi pegangan kami. Kalau kami harus memilih, Ki Tambak Wedi, maka pilihan kami adalah melawan sampai kemungkinan yang terakhir. Bahkan kami telah bertekad untuk menangkap Ki Tambak Wedi dan Sidanti bersama-sama.”

“Gila” teriak Ki Tambak Wedi. kemarahannya menjadi semakin memuncak.

Namun tiba-tiba ia terpaksa mempertimbangkan keadaannya. Widura ternyata benar-benar telah siap dengan segenap anak buahnya. Mereka yang mendengar kata-kata Widura itupun tiba-tiba telah meraba hulu pedang mereka. Dalam kemerahan sinar matahari pagi, Ki Tambak Wedi melihat orang-orang yang berkerumun di sekitarnya dengan wajah-wajah yang tegang. Wajah-wajah jantan yang keras dan kasar. Wajah-wajah yang untuk kesekian kalinya dihadapkan kepada kemungkinan yang paling akhir dari hidupnya untuk kewajibannya. Maut.

Ki Tambak Wedi tidak dapat menutup segala penglihatannya. Pengalamannya yang panjang, segera dapat memberikan pertimbangan kepadanya. Betapapun kesaktian yang tersimpan di dalam dirinya, namun untuk melawan sekian banyak orang sekaligus, adalah pekerjaan yang sangat berat dan berbahaya. Mungkin ia akan membunuh separo dari mereka itu. Namun setelah itu ia akan kehabisan tenaga, dan yang separo lagi akan dapat menangkapnya, mengikatnya dan membawanya ke Pajang.

“Hem” geramnya di dalam hati. “Apakah Ki Tambak Wedi terpaksa diikat tangan dan kakinya digiring ke Pajang?”

Sesaat halaman belakang kademangan Sangkal Putung itu menjadi sepi. Baik Ki Tambak Wedi maupun Widura terpaksa membuat pertimbangan-pertimbangan yang meragukan diri mereka. Keduanya agaknya segan untuk berbuat sesuatu atas yang lain.

Karena itu, maka suasana menjadi sedemikian tegangnya, ketika tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu berkata kepada Sidanti, “Sidanti, ikuti aku. Sangkal Putung sama sekali tak akan memberimu sesuatu.”

Sidanti yang luka itupun menyadari sepenuhnya kata-kata gurunya. Sangkal Putung benar-benar tak akan memberinya sesuatu. Dan ia sependapat dengan gurunya, meninggalkan Sangkal Putung. Tetapi masih ada yang menjadikannya bimbang. Senjatanya berada di pendapa kademangan.

Dengan ragu-ragu ia berkata, “Guru, bagaimana dengan senjataku?”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, “Apakah keberatanmu dengan senjata itu. Senjata itu dapat dibikin. Besok aku bikinkan senjata semacam itu untukmu.”

Sidanti tidak menunggu apa-apa lagi. Segera ia beringsut ke samping gurunya.

Tetapi Widura melangkah selangkah maju. Kembali kebimbangan melandanya. Apakah ia akan bertindak terhadap Ki Tambak Wedi dan Sidanti? Tetapi apakah ia akan memberikan pengorbanan yang sangat besar untuk mereka berdua?

Ki Tambak Wedi yang melihat Widura itu bergerak, segera menggeram. “Widura, aku akan pergi. Kalau kau membuat kegaduhan di antara anak buahmu, baiklah. Mari kita mati bersama-sama. Kau tidak akan dapat menangkap Ki Tambak Wedi. Aku akan membuat timbangan di antara kekuatan kita. Mungkin kau akan dapat membunuh aku, tetapi tiga perempat dari kalian pasti akan mati bersama aku. Jangan mimpi mengikat tangan Tambak Wedi.”

Dada Widura itupun berdesir. Ia percaya akan kata-kata itu. Tiga perempat daripadanya, atau sedikit-sedikitya separo pasti akan mati. Karena itu, maka ia tetap tegak di tempatnya ketika Ki Tambak Wedi dan Sidanti beringsut mundur dari tempatnya.

Agung Sedayu menjadi gemetar melihat keadaan itu. Dengan wajah yang merah membara ia menatap wajah pamannya. Tetapi ia tidak berkata sesuatu. Namun tatapan matanya cukup mengatakan hasratnya untuk menangkap Sidanti.

Agung Sedayu terkejut ketika pamannya menggeleng. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak akan dapat menangkap Ki Tambak Wedi itu seorang diri. Meskipun demikian, tanpa sesadarnya iapun beringsut dari tempatnya.

Ia terkejut ketika tiba-tiba dalam gerakan yang sangat cepat di tangan Ki Tambak Wedi itu telah tergenggam dua buah gelang. Masing-masing sebuah. Gelang dari sepotong besi yang dilengkungkannya. Dengan gelang itu pula, ia mampu menangkis serangan pedang dan alat pemukul lainnya.

Demikianlah, maka akhirnya Widura terpaksa melepaskan Ki Tambak Wedi itu pergi. Dengan penuh pertimbangan Widura masih lebih mengutamakan Macan Kepatihan dengan seluruh laskarnya daripada Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Widura mengharap bahwa Ki Tambak Wedi untuk sementara tidak akan berbuat sesuatu. Sedang Macan Kepatihan dengan laskarnya yang masih cukup kuat itu pasti akan menyerang Sangkal Putung kembali. Mungkin Ki Gede Pemanahan sendiri atau gurunya akan dapat dengan mudah melenyapkan Ki Tambak Wedi yang hanya seorang diri itu.

Namun dengan hilangnya Ki Tambak Wedi, maka bahaya yang sebenarnya akan selalu menghantui Agung Sedayu, Swandaru yang telah melukai Sidanti, dan Widura sendiri.

Demikianlah, ketika Ki Tambak Wedi itu hilang dari lingkungan mereka, segera Agung Sedayu bertanya, “Paman, kenapa mereka itu kita lepaskan?”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Dengan menangkap Ki Tambak Wedi, maka aku pasti akan melepaskan lebih separo dari laskar kita. Seperti yang dikatakannya sendiri, ia sama sekali tidak akan dapat kita tangkap hidup-hidup. Ki Tambak Wedi itu pasti akan menyerah apabila ia telah mati dengan membawa korban yang tidak sedikit dari antara kita.”

Agung Sedayu menundukkan wajahnya. tetapi ia dapat mengerti pikiran pamannya. Pamannya adalah seorang yang ditempatkan di Sangkal Putung untuk menghadapi Macan Kepatihan sehingga karena itu, maka segenap perhatian, perhitungan dan kekuatan dipusatkannya dalam menghadapi lawannya itu. Persoalan lain yang tidak menyangkut itu, adalah bukan tanggung-jawabnya yang utama, sehingga juga dalam menghadapi Ki Tambak Wedi, maka Widura itupun memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan itu.

Sesaat kemudian orang-orang yang berkerumun itupun menjadi sadar bahwa bahaya yang dihadapinya telah menghilang. Dengan lega mereka menarik nafas panjang. Dan satu demi satu merekapun segera pergi meninggalkan tempat itu setelah Widura berkata kepada mereka, “Kembalilah ke tempat masing-masing. Tetapi jangan lupakan kewaspadaan. Peristiwa ini akan dapat berbuntut panjang.”

Kemudian kepada ki Demang Widura berkata, “Kakang Demang, apakah pintu butulan itu boleh kami tutup saja?”

“Silakan, silakan” sahut Ki Demang.

Pintu butulan dinding belakang itupun segera ditutup. Pintu itu hanya boleh dibuka setiap ada kepentingan yang perlu. Mereka yang pergi ke sungai kecil itu harus mengambil jalan lain, jalan di samping dinding kademangan. Tetapi Widura sadar, bahwa apa yang dilakukan itu hampir tak ada gunanya. Ki Tambak Wedi sama sekali tidak memerlukan pintu itu. Ia dapat meloncat atau memanjat atau apapun yang ingin dilakukan. Namun, dengan demikian maka kemungkinan-kemungkinan yang kecil dapat dihindarinya.

Widura sendiri itupun kemudian kembali masuk ke pringgitan bersama Agung Sedayu. Dilihatnya Ki Tanu Metir masih duduk di tempatnya. Ketika ia melihat Widura dan Agung Sedayu yang biru pengab, segera ia bertanya dengan nada cemas, “Kenapa wajahmu Ngger?”

Dengan singkat Agung Sedayu mengatakan apa yang terjadi. Tanpa syak tanpa curiga. Dikatakan semuanya yang telah dialaminya.

Ki Tanu Metir mendengarkan setiap kata-kata Agung Sedayu itu dengan seksama. Sesaat Ki Tanu Metir itu mengangkat wajahnya yang memancarkan kecemasan dan kebimbangan. Tanpa sesadarnya ia berkata, “Jadi, Ki Tambak Wedi itu kini membawa Sidanti serta meninggalkan Sangkal Putung?”

“Ya” jawab Agung Sedayu.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sehingga pringgitan itupun menjadi sepi.

Di luar, panas matahari mulai membakar dedaunan yang letih. Di sana sini, di bawah batang-batang pohon yang rindang, beberapa orang duduk dengan malasnya. Ada diantaranya yang berbaring-baring di atas helaian anyaman daun-daun nyiur tua.

Dalam keheningan itu, terdengarlah tiba-tiba suara Untara yang lemah, “Jadi Sidanti itu tidak kalian tangkap?”

Widura terkejut mendengar suara Untara. Maka segera ia berdiri dan berjalan mendekati, diikuti oleh Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu.

Dengan ragu-ragu Widura menjawab “Tidak Untara. Terpaksa aku tidak dapat menangkap anak muda itu, karena gurunya tiba-tiba datang melindunginya”

“Ki Tambak Wedi?” bertanya Untara

Widura mengangguk. “Ya” sahutnya. “Mungkin aku dapat menangkap Ki Tambak Wedi itu sendiri, namun berapa orang yang harus aku korbankan?”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia menyeringai menahan sakit, namun sesaat kemudian wajahnya menjadi tenang kembali.

“Bagaimana dengan lukamu?” bertanya Widura

“Sudah jauh berkurang. Tidak terlalu pedih. Namun tubuhku masih lemah sekali.”

“Ya. Beristirahatlah sebaik-baiknya” berkata Widura

Tetapi Untara itu bertanya kembali, “Apakah Agung Sedayu berkelahi dengan Sidanti?”

“Ya” jawab Widura. “Wajahnya menjadi biru-biru dan Sidanti terluka oleh Swandaru.”

Sekali lagi Untara menarik nafas dalam-dalam. Persoalan Sangkal Putung benar-benar akan menjadi pelik. Sidanti itu pasti akan menyimpan dendam di dalam hatinya. Kepada dirinya, kepada Agung Sedayu dan kini kepada Swandaru, dan kepada pamannya itu sendiri. Sekilas ia membuka matanya dan memandang wajah Ki Tanu Metir. Namun tiba-tiba Ki Tanu Metir menggeleng lemah.

“Mudah-mudahan mereka segera dapat ditangkap” desah Untara.

Widura terkejut mendengar kata-kata itu. Apakah ia harus menangkap Ki Tambak Wedi? Meskipun demikian Widura itu tidak bertanya sesuatu. Ketika dilihatnya Untara memejamkan matanya kembali, maka Widura itu kembali duduk bersama Agung Sedayu dan Ki Tanu Metir. Sementara itu Ki Demang dan Swandaru datang pula di antara mereka.

Hari itu adalah hari yang tegang bagi Sangkal Putung. Hampir setiap orang tidak terpisah dari senjata mereka. Mungkin Macan Kepatihan, mungkin Ki Tambak Wedi. namun mereka telah bertekad untuk melakukan tugas mereka sebaik-baiknya.

Gardu penjagaanpun masih juga diperkuat. Beberapa pengawas berkuda hilir mudik di sekitar daerah kademangan Sangkal Putung. Namun Sangkal Putung sendiri menjadi sangat sunyinya. Hampir setiap rumah telah menutup pintunya, dan hampir setiap anak-anak tidak berani keluar dari rumah mereka. Bahkan ada di antaranya yang masih belum berani pulang ke rumah sendiri. Mereka masih saja tinggal di kademangan atau banjar desa.

Ki Tanu Metirpun kemudian tidak hanya megobati Untara, tetapi iapun pergi juga ke banjar desa. Dan dicobanya pula untuk meringankan setiap penderitaan dari mereka yang terluka.

Bukan saja hari itu Sangkal Putung diliputi oleh ketegangan. Beberapa orang pengawas yang dipasang oleh Untara masih saja memberikan laporan bahwa Macan Kepatihan masih menyusun kekuatannya di sekitar tempat itu. Karena itu, maka Untara itu berkesimpulan bahwa laskar Pajanglah yang harus mengambil prakarsa membersihkan mereka. Mereka tidak boleh menunggu saja di Sangkal Putung. Menunggu apabila Macan Kepatihan datang menyerang mereka kembali. Tetapi laskar Pajang suatu ketika harus mencari mereka. Menghancurkan mereka disarang-sarang mereka. Karena dengan demikian, maka pekerjaan laskar Pajang di Sangkal Putung akan lekas selesai.

Tetapi Widura tidak dapat dengan tergesa-gesa melakukan pekerjaan itu. Menurut perhitungannya, kekuatan Macan Kepatihan masih cukup banyak untuk mengimbangi kekuatan laskarnya. Dan di dalam pasukan mereka terdapat seorang Macan Kepatihan yang berbahaya, dan beberapa orang penting yang lain.

Untarapun menyadari keadaan itu, sehingga kemudian diambilnya ketetapan bahwa gerakan itu akan segera dilakukan apabila Untara telah sembuh benar dari sakitnya itu.

Namun ketegangan itu semakin lama menjadi semakin tipis. Ternyata Macan Kepatihan tidak segera mengadakan penyerangan kembali. Agaknya mereka masih juga memperhitungkan setiap kemungkinan. Dan hilangnya Plasa Irengpun pasti mempengaruhi keadaan mereka. Bukan saja keadaan Tohpati beserta pasukannya yang tidak lagi tampak di seputar Sangkal Putung, namun perlahan-lahan mereka melupakan pula Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Demikian pula Agung Sedayu dan Swandaru. Mereka semakin lama menjadi semakin kehilangan perhatian atas orang yang menakutkan itu.

Tetapi Widura tidak mau melengahkan diri dan seluruh laskarnya. Setiap hari ia masih saja mengawasi sendiri keadaan anak buahnya. Bahkan setiap malampun ia masih berjalan dari satu gardu ke gardu yang lain. Dan diperingatkannya setiap penjaga gardu itu, bahwa bahaya yang sebenarnya masih saja berada di sekitar Sangkal Putung.

Namun ternyata Widura sendiri telah melupakan setiap kemungkinan yang paling berbahaya bagi dirinya dan Agung Sedayu. Ternyata, mereka berdua sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas diri mereka.

Demikianlah, ketika mereka sedang nganglang kademangan, tiba-tiba mereka terhenti sebelum mereka sampai ke ujung jalan yang mengelilingi daerah Gunung Gowok. Mereka terhenti ketika mereka melihat sesosok tubuh berjongkok di tepi jalan itu.

Widura bukanlah seorang anak kecil yang bodoh. Ketika ia melihat orang itu, segera ia menjadi curiga. Karena itu, maka digamitnya Agung Sedayu, dan keduanyapun berhenti.

“Kau lihat orang itu?” bertanya Widura berbisik.

“Ya” sahut Agung Sedayu perlahan-lahan.

“Siapa menurut dugaanmu?”

Agung Sedayu menggeleng, “Entahlah.”

Widura mengangkat alisnya. Kemudian katanya, “Hanya ada dua kemungkinan. Ki Tambak Wedi atau Tohpati.”

“Tohpati tidak akan seorang diri berada di tempat ini” sahut Agung Sedayu.

“Mungkin saja” jawab Widura. “Beberapa orang lain berada di tempat lain pula. Atau orang yang diumpankannya untuk memancing kita.”

Agung Sedayu menarik nafas. Meskipun demikian mereka menjadi berdebar-debar juga. Baru saat itu mereka menyadari, bahwa bahaya yang demikian itu memang dapat terjadi. Tetapi kesadaran itu datangnya agak terlambat, sebab bahaya itu sendiri telah berada di pelupuk mata mereka. Beberapa saat terakhir, seakan-akan mereka telah melupakan kemungkinan ini. Namun kelengahan itu telah membawa mereka ke dalam satu bahaya.

Kini mereka tidak akan dapat mundur lagi, siapapun yang akan mereka hadapi. Karena itu, maka Widura itupun kemudian berkata, “Marilah kita lihat, siapa orang itu.”

“Kita tidak usah mendekat” berkata Widura.

“Lalu bagaimana?” bertanya Agung Sedayu

“Biarlah ia yang mendekat.”

“Apakah ia mau?”

“Marilah kita lihat” jawab Widura. Widura kemudian tidak menunggu jawaban Agung Sedayu lagi. Perlahan-lahan ia berjalan menepi dan duduk dengan enaknya di tepi jalan. Namun demikian, pedangnya telah disiapkannya, seandainya ada sesuatu yang tiba-tiba harus dihadapinya.

Agung Sedayu kini telah memahami maksud pamannya. Karena itu, maka iapun berjalan menepi pula, dan berjongkok berhadapan dengan pamannya itu.

“Kalau orang itu ingin bertemu dengan kita, ia pasti akan datang kemari” berkata pamannya.

“Ya” sahut Agung Sedayu.

“Kalau ia akan bertahan ditempatnya, maka biarlah kita tunggu di sini sampai besok siang.”

Agung Sedayu tersenyum. Meskipun demikian debar jantungnya menjadi semakin cepat. Seandainya orang itu benar-benar Ki Tambak Wedi, maka apakah mereka berdua akan mati sebelum mereka menyelesaikan pekerjaan mereka yang sebenarnya. Menumpas sisa-sisa laskar Jipang.

Agung Sedayu kini sudah bukan seorang penakut lagi. Tetapi ia mempunyai beberapa perhitungan, yang dikatakannya kepada pamannya. “Paman, adalah tidak menguntungkan sekali seandainya orang itu benar-benar Ki Tambak Wedi. Apakah dengan demikian kita tidak akan kehilangan kesempatan untuk melawan Tohpati dengan laskarnya?”

Widura mengangguk-angguk. “Kau benar Sedayu,” katanya, “tetapi kita sudah tidak mempunyai kesempatan lagi. Kita hanya tinggal memilih satu kemungkinan. Mempertahankan diri. Apalagi? Kalau kita kembali sekalipun maka orang itu pasti akan mengejar kita, dan kita harus bertempur pula.”

“Tidak dapatkah kita memberikan tanda bahaya?”

“Kita tidak membawa alat untuk itu. Yang ada pada kita hanyalah sehelai pedang.”

Agung Sedayu terdiam. Jawaban pamannya tak akan dapat dipungkiri. Seandainya mereka berjalan kembali, maka orang itu pasti akan mengejarnya, atau bahkan menyerang dari arahnya dengan senjata-senjata jarak jauh. Paser atau bandil atau apapun yang akan dapat dilemparkannya.

Tiba-tiba Agung Sedayu itu teringat akan sesuatu. Ia mempunyai beberapa kelebihan dengan daya bidiknya. Mungkin akan mengurangi tekanan-tekanan yang akan dilakukan oleh orang yang berjongkok di pinggir jalan itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja Agung Sedayu itupun mengumpulkan beberapa butir batu yang berada di sekitarnya.

“Untuk apa?” bertanya Widura.

Agung Sedayu tersenyum meskipun masam. “Kalau kita yakin bahwa orang itu lawan kita siapapun ia, maka aku akan menyerangnya sebelum orang itu mendekat.”

Widura menjadi tersenyum pula. Jawabnya, “Tak ada gunanya.”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Meskipun demikian, ia tetap pada pendiriannya.

Tetapi sesaat mereka duduk dipinggir jalan. Orang yang berjongkok itupun tidak bergerak. Orang itu masih juga berada di tempat itu juga. Karena itu, maka Widura dan Agung Sedayu adalah menjadi semakin lama semakin gelisah.

“Orang itu memang membiarkan kita menjadi gelisah,” bisik Widura, “tetapi biarlah. Kita akan tetap berada ditempat ini.”

“Ya” sahut Agung Sedayu pendek.

Sebenarnyalah bahwa kegelisahan mereka sudah hampir tak tertahankan lagi. Orang itu sama sekali tidak bergerak dan seakan-akan sebuah patung yang mati.

Sikap itu sama sekali tidak menyenangkan bagi Widura dan Agung Sedayu. Ketika kegelisahan Agung Sedayu telah memuncak, maka ia berkata, “Paman, biarlah aku mencoba melamparnya dengan batu, apakah ia masih akan berdiam diri? Aku kira aku akan dapat mengenainya.”

“Jangan,” jawab Widura, “kita jangan menjadi gelisah. Kita harus tetap tenang. Orang itu sengaja membuat kita gelisah.

Agung Sedayu terdiam. Namun dadanya benar-benar akan menjadi pecah karena kegelisahan yang menghentak-hentak. Meskipun berkali-kali pamannya mengatakan bahwa orang itu sengaja membiarkan mereka gelisah, namun Agung Sedayu itu benar-benar hampir pingsan dibuatnya.

Sedemikian gelisahnya Agung Sedayu sehingga sekali ia berdiri, kemudian kembali berjongkok di hadapan pamannya. Sesaat kemudian dengan lesunya ia membantingkan diri duduk di sisi Widura.

Sebenarnya Widura itu sendiripun menjadi sangat gelisah. Namun ia masih berhasil mengendalikan dirinya. Ia masih tetap dalam sikapnya. Siap untuk menarik pedangnya apabila terjadi sesuatu.

Di kademangan Sangkal Putung. Ki Tanu Metir duduk sambil mengantuk. Sekali-sekali Untara yang telah menjadi berangsur baik, bertanya-tanya kepadanya. Namun dengan segannya orang tua itu menjawab sekenanya.

“Apakah Ki Tanu Metir sudah mengantuk?” bertanya Untara.

“Hem,” sahut Ki Tanu Metir sambil menguap, “aku tidak biasa mengantuk pada saat-saat seperti ini. Kalau tengah malam sudah lampau, biasanya barulah aku mengantuk. Tetapi kali ini mataku rasa-rasanya tak mau dibuka lagi.”

“Kenapa?” bertanya Untara.

“Mungkin aku makan terlalu kenyang” jawab Ki Tanu Metir.

Untara tertawa. Biasanya Ki Tanu Metir itu, pada saat-saat yang demikian ini, pergi berjalan-jalan ke luar. Baru setelah lewat tengah malam orang tua itu kembali ke pringgitan. Karena itu, maka Untara bertanya pula, “Ki Tanu, apakah Kiai tidak ingin berjalan-jalan?”

Sekali lagi Ki Tanu Metir itu menguap. Jawabnya, “Setiap hari aku pergi berjalan-jalan. Tetapi kali ini rasa-rasanya agak segan. Mungkin karena aku sudah terlalu lelah.”

“Ya” jawab Untara singkat. Ia tahu benar, bahwa Ki Tanu Metir sibuk mengobati orang-orang yang terluka dan dirawat di banjar kademangan. Karena itu, maka Untara itupun kemudian berdiam diri.

Tetapi tiba-tiba ia mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Angger Widura dan angger Sedayu agaknya mempunyai keperluan yang khusus, sehingga sampai saat ini masih belum kembali.”

“Apakah ini telah melampaui tengah malam?” bertanya Untara

“Hampir tengah malam” sahut Ki Tanu Metir. “Biasanya pada saat-saat begini mereka telah kembali.”

Untara tidak menjawab. Mungkin sekali mereka berdua berhenti di salah satu gardu perondan. Berkelakar dengan para petugas, atau menunggu mereka merebus ubi kayu. Tetapi agaknya Ki Tanu Metir berpendapat lain. Katanya, “Hem, aku menjadi semakin mengantuk.”

“Tidurlah Kiai” berkata Untara. “Lebih baik Ki Tanu beristirahat. Tenaga Kiai masih sangat diperlukan disini.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Setiap malam aku keluar berjalan-jalan. Aku kira lebih baik aku berjalan-jalan pula malam ini supaya kantukku hilang. Orang yang tidur sebelum tengah malam, rejekinya akan berkurang.”

Untara tertawa. Jawabnya, “Jangan terlalu jauh Kiai.”

Ki Tanu Metir tertawa pula. “Kenapa?” ia bertanya.

Kembali Untara tertawa. Ia tahu benar, bahwa ia tidak perlu memperingatkan orang tua itu. Karena itu, maka jawabnya, “Nanti Kiai jadi lapar lagi.”

Ki Tanu Metir itupun tertawa. Ki Demang Sangkal Putung yang baru datang, dan mendengar percakapan itupun tertawa pula. Sambungnya, “Jangan takut Kiai, di dapur masih tersedia ubi rebus.”

“Terima kasih” sahut Ki Tanu Metir sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih. Mudah-mudahan aku tidak memerlukannya.”

Ki Tanu Metir itupun kemudian berdiri dan perlahan-lahan berjalan keluar pringgitan. Belum lagi ia melangkahi pintu, maka terdengar Ki Demang berkata, “Apakah aku perlu mengantarkan Kiai?”

“Tidak, tidak” jawab Ki Tanu Metir cepat-cepat. “Jangan repot karena aku. Biarlah aku berjalan-jalan sendiri. Mungkin ke banjar desa, melihat mereka yang terluka, atau mungkin ke gardu-gardu peronda.”

“Jangan ke gardu peronda. Di jalan Kiai dapat bertemu dengan bahaya.”

“Oh ya, baiklah” berkata Ki Tanu Metir.

Kemudian Ki Tanu Metir itupun pergi meninggalkan Ki Demang yang kini duduk mengawani Untara. Dalam kegelapan malam, Ki Tanu Metir itu meraba-raba tongkatnya menuju ke gerbang halaman.

“Selamat malam Kiai” bertanya orang yang sedang bertugas .“Apakah Kiai akan berjalan-jalan?”

“Ya” jawab Ki Tanu Metir.

Orang yang sedang bertugas itu telah mengetahui kebiasaan Ki Tanu Metir itu. Setiap malam berjalan-jalan keluar halaman menikmati sejuknya udara. Karena itu, maka kepergian Ki Tanu Metir itu sama sekali tidak menarik perhatian mereka. Seorang yang sedang duduk menguap di samping regol berkata, “Hem, dingin Kiai. Apakah Kiai tidak lebih senang tidur saja?”

“Uh” sahut Ki Tanu Metir. “Sejak muda aku tidak pernah tidur sebelum lewat tengah malam.”

Dan Ki Tanu Metir itupun berjalan tertatih-tatih menyusup ke dalam gelapnya malam. Namun setelah cukup jauh tiba-tiba Ki Tanu Metir itu berpaling. Sekali ia menarik nafas panjang. Kemudian disangkutkannya kain panjangnya. Dan tiba-tiba orang tua itu berjalan tergesa-gesa. Gumamnya, “Hem, kenapa hari ini aku lebih senang terkantuk-kantuk di kademangan? Justru hari ini Angger Widura dan Angger Agung Sedayu pulang terlambat. Mudah-mudahan tak ada sesuatu yang mengganggunya.”

Meskipun demikian orang tua itu berjalan dengan cepatnya menyusup kegelapan. Kini Ki Tanu Metir itu sama sekali tidak mempergunakan tongkatnya lagi. Ketika dilihatnya di hadapannya sebuah gardu perondan, maka segera dengan tangkasnya ia menyelinap dan hilang di balik pagar. Kini orang tua itu menyusup di antara rimbunnya dedaunan dan dengan cepatnya berjalan melingkari gardu perondan itu.

Dalam pada itu Agung Sedayu yang duduk di pinggir jalan dengan gelisahnya, benar-benar tak dapat menguasai dirinya lagi. Karena itu, maka katanya, “Paman, aku dapat menjadi gila karenanya. Marilah kita datang kepadanya, kita tanyakan apakah keperluannya.”

“Itulah yang diharapkannya. Kita kehilangan kesabaran dan pengamatan diri.”

Agung Sedayu menggeram. Ia dapat mengerti kata-kata pamannya, namun ia tidak dapat melawan perasaan gelisahnya, sehingga karenanya maka tubuhnya segera dilumuri oleh keringat dingin yang mengalir dari segenap permukaan kulitnya.

Meskipun demikian, Agung Sedayu bertanya juga kepada pamannya, “Paman, apakah bedanya, seandainya kita harus benar-benar bertempur, menunggu atau datang kepadanya?”

“Kalau orang itu Ki Tambak Wedi, Sedayu, maka keadaan kita memang hampir sama saja. Tetapi kalau orang itu Tohpati, maka kita akan mendapat beberapa keuntungan. Kalau kita maju lagi, mungkin kita akan dijebak oleh orang-orangnya. Sedangkan kalau kita berada di sini, maka kita mempunyai garis ancang-ancang yang cukup luas.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat juga mengerti keterangan itu. Bahkan seandainya orang itu Ki Tambak Wedipun maka mereka akan lebih banyak waktu untuk memersiapkan diri mereka. Tetapi kenapa mereka harus menunggu terlalu lama?

“Agung Sedayu” berkata Widura. “Sebenarnya pertempuran antara kita melawan orang itu sudah kita mulai. Dalam taraf ini kita sedang mengadu ketabahan hati kita masing-masing. Apakah kita dapat mengendalikan diri atau tidak. Siapa yang lebih dahulu kehilangan kesabaran maka ialah yang lebih dahulu akan kehilangan ketenangan. Seandainya kekuatan kita dengan orang itu seimbang, maka siapa yang kehilangan ketenangannya pasti akan kalah.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak dapat menyabarkan dirinya sendiri lebih lama lagi. Bahkan akhirnya ia berkata, “Paman, meskipun kita tidak mulai lebih dahulu, sebenarnya kita telah kehilangan ketenangan itu. Semakin lama kita menahan diri, maka ketenangan kita akan menjadi semakin tipis. Karena itu selagi kita masih menyadari keadaan, maka marilah kita lihat siapakah yang berada dihadapan kita itu.”

Widura menarik nafas. Iapun sebenarnya telah hampir kehabisan kesabarannya pula. Untunglah bahwa ia masih bersabar sesaat. Namun ternyata waktu yang sesaat itu telah benar-benar menguntungkannya. Bukan karena orang yang berjongkok itu menjadi bingung dan kehilangan ketenangan, tetapi sebenarnya bahwa mereka masih mendapat perlindungan dari Kekuasaan yang melampaui segenap Kekuasaan.

Akhirnya ternyata Agung Sedayu itu menjadi benar-benar tidak dapat mengendalikan dirinya. Kini ia tidak minta ijin lagi kepada pamannya. Dengan serta-merta ia berdiri dan dengan sekuat tenaganya ia melemparkan sebuah batu mengarah kepada orang yang berjongkok di pinggir jalan itu.

 

 

Tetapi alangkah kecewanya, dan bahkan kemarahan di dalam dadanya menjadi semakin menyala, ketika orang itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Apalagi bergerak, sikapnyapun sama sekali tidak berubah. Jongkok.

“Hem” Agung Sedayu menggeram.

“Sudahlah Sedayu” cegah pamannya.

“Aku tidak sabar lagi. Aku akan datang kepadanya dan akan melihat wajahnya. Siapakah orang yang bermain hantu-hantuan itu.”

“Jangan” pamannya segera memotong kata-katanya.

“Biarlah” sahut Agung Sedayu.

“Jangan” ulang pamannya.

Agung Sedayu menjadi kecewa. Tetapi ia tidak berani melanggar kata-kata pamannya. Karena itu, maka ia menjadi semakin bingung.

Tetapi ternyata ketabahan hati Widura telah menjengkelkan orang yang berjongkok itu. Orang itu memang membiarkan Widura dan Agung Sedayu menjadi gelisah dan bingung. Tetapi yang dilihatnya hanya Agung Sedayu sajalah yang benar-benar seperti cacing kepanasan. Sedang Widura masih saja duduk di tempatnya tanpa bergerak. Orang itu ingin melihat keduanya menjadi bingung dan dengan demikian, ia akan mendapat permainan yang lucu dan menyenangkan. Tetapi harapannya itu hanya separo berhasil. Ia hanya melihat Agung Sedayu yang berjingkat-jingkat, berdiri, berjongkok, duduk dan segala macam perbuatan-perbuatan yang aneh.

Karena itu, maka akhirnya ia menganggap bahwa ia tidak perlu menunggu permainan yang lucu itu lebih lama lagi. Disadarinya bahwa cara berpikir pemimpin laskar Pajang itu benar-benar sudah dewasa. Karena itu, maka ia harus membuat permainan yang lain. Mula-mula ia sama sekali tidak menghiraukan lemparan-lemparan batu Agung Sedayu. Dengan sepotong besi batu-batu itu dipukulnya ke samping. Sedemikian cepatnya, sehingga Agung Sedayu sama sekali tidak melihat gerak itu.

Kini ia akan membuat permainan yang lain. Ia ingin melihat Agung Sedayu mati ketakutan atau setidak-tidaknya karena dibakar oleh kemarahannya. Mati dengan cara itu adalah mengerikan sekali. Karena itu, maka orang itupun tersenyum.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Widura benar-benar menjadi sangat terkejut. Sesaat mereka bercakap-cakap sehingga mereka tidak melihat orang yang berjongkok itu. Namun sesaat itu benar-benar telah mendebarkan jantung mereka. Orang yang berjongkok itu telah lenyap.

“Gila” tiba-tiba Agung Sedayu itupun berteriak. “Kemana orang itu?”

“Jangan berteriak” potong Widura. Tetapi Widura itupun menjadi bersiaga. Iapun segera berdiri dan menarik pedang dari wrangkanya. Beberapa langkah ia berjalan ke tengah jalan dan berbisik, “Orang itu akan menyerang kita dari arah yang tidak kita ketahui.”

“Kemana orang itu?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku sangka ia berguling masuk ke parit di pinggir jalan itu. Dari sana ia dapat pergi kemana saja yang disukainya. Karena itu kita harus bersiap menghadapi lawan dari segala arah. Ia dapat selalu memperhatikan kita, sedang kita tidak dapat melihat orang itu.”

“Marilah kita cari.”

“Sangat berbahaya” sahut pamannya. “Aku kini pasti. Orang itu bukan Macan Kepatihan, tetapi Ki Tambak Wedi. Macan Kepatihan tidak akan berbuat sedemikian. Ternyata Ki Tambak Wedi mencoba membunuh kita dengan cara yang paling jahat yang dapat dilakukannya.”

Agung Sedayu menggeram. Tiba-tiba tangannyapun telah menggenggam pedangnya. Dengan suara yang berat ia berkata, “Akhirnya akan sama saja paman. Kenapa kita tidak datang menyerangnya.”

“Sudah aku katakan” sahut pamannya “Aku, sebelum ini tidak yakin kalau orang itu Ki Tambak Wedi.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tiba-tiba ia berputar sambil berteriak, “Ayo, kemarilah. Kita bertempur beradu pedang.”

“Jangan berteriak Sedayu” desis pamannya.

“Punggungku dilemparnya dengan batu” sahut Agung Sedayu.

Pamannya mengerutkan keningnya. Ki Tambak Wedi benar-benar ingin mempermainkan mereka. Karena itu, maka betapa kemarahan melonjak di kepalanya. Tetapi Ki Tambak Wedi itu belum dilihatnya.

Agung Sedayu benar-benar menjadi sangat marah dan bingung, sehingga benar-benar seperti orang yang kehilangan kesadaran diri. Sekali-sekali terasa punggungnya dikenai oleh lemparan-lemparan batu dari arah yang tak diketahuinya.

“Agung Sedayu” berkata Widura. “Jangan menjadi bingung dan kehilangan pengamatan. Tenanglah. Kita sudah bersedia menghadapi segala kemungkinan.”

Kembali Agung Sedayu menggeram. Tetapi ia mencoba menenangkan dirinya. Sekali dua kali dibiarkannya beberapa butir batu mengenainya, namun ternyata semakin lama menjadi semakin keras. Betapapun ia mencoba berdiam diri, tetapi kembali kemarahannya itu meledak. Sehingga terdengar ia berteriak, “Ayo yang bersembunyi di balik alang-alang atau di balik gerumbul-gerumbul itu. Kemarilah, kita bertempur sebagai laki-laki. Jangan bersembunyi dan menyerang sambil bersembunyi.”

Tetapi masih belum terdengar jawaban, sehingga Agung Sedayu seolah-olah benar-benar menjadi gila.

Widurapun telah kehabisan akal. Bagaimana ia akan melawan orang yang tidak dilihatnya. Orang itu pasti bersembunyi sambil berpindah-pindah. Dengan demikian, ia akan dapat menyerangnya menurut arah yang dikehendaki. Namun akhirnya Widura harus mengambil sikap yang dapat memecahkan kebingungan itu. Ia harus berani menghadapi akibat yang paling parah sekalipun.

Karena itu, maka katanya berbisik, “Sedayu. Kita tidak akan dapat tetap tinggal di tempat ini. Kitapun harus mengambil sikap. Mari kita bersembunyi pula dengan kemungkinan yang paling pahit, apabila kita menyuruk ke gerumbul yang ditempati olehnya. Tetapi kalau tidak kita tidak akan menjadi bulan-bulanan lagi. Dan kita mempunyai kesempatan yang sama dengan orang itu.”

“Marilah paman” sahut Agung Sedayu yang juga telah kehilangan akal. Ia sudah tidak dapat berpikir lagi. Sehingga apa saja yang harus dilakukannya, dilaksanakannya tanpa pertimbangan.

Tetapi tiba-tiba didengarnya suara tertawa di dalam semak-semak di seberang parit. Suara itu tidak terlalu keras, tetapi benar-benar menyakitkan hati. Di sela-sela suara tertawa itu terdengar ia berkata, “Agung Sedayu. Aku senang sekali melihat kau kebingungan seperti kera yang ekornya terbakar. Kalian tak usah bersembunyi kemanapun sebab akibatnya akan sama saja. Aku akan selalu dapat melihat kalian. Karena itu lebih baik kalian berada di tempat yang terbuka supaya besok ada yang dapat menemukan mayat kalian.”

Bukan main marah Widura dan Agung Sedayu mendengar suara itu. Namun suara itu seakan-akan memancar dari tempat yang tak dapat diketahui. Suara itu seakan-akan melingkar-lingkar dan bergetaran dari segenap arah.

Sesaat kemudian suara itu berkata kembali, “Agung Sedayu dan Widura. Aku sudah berkeputusan untuk membunuh kalian dengan bantuan kalian sendiri. Kemarahan dan kebingungan, kesakitan dan kelelahan adalah cara pembunuhan yang paling dahsyat. Meskipun kalian tidak menjadi ketakutan, tetapi bagiku tidak ada bedanya. Kalian menderita sebelum ajal datang.”

“Setan” sahut Widura. “Itu bukan perbuatan seorang jantan.”

Kembali suara tertawa itu menggetar. “Jangan mengumpat-umpat” katanya. “Kau hanya akan menambah dosa saja. Sebaiknya kalian berbaring saja di situ, tenangkan hatimu dan berdo’alah supaya nyawamu tidak tersesat masuk neraka.”

“Diam, diam!” teriak Agung Sedayu. “Aku sobek mulutmu dengan pedangku ini.”

“Bagus, bagus” sahut suara itu. “Sobeklah kalau kau ingin. Mulut ini memang tidak terlalu lebar.”

Mereka berdua, Widura dan Agung Sedayu semakin lama menjadi benar-benar hampir gila dibakar oleh perasaan sendri. Dan suara itupun masih selalu mengganggunya dari arah yang tidak ketahuan. Mudah-mudahan Widura masih dapat menyadari, bahwa orang itu pasti berpindah-pindah tempat. Namun disadarinya pula bahwa orang itu adalah seorang yang sakti. Tetapi semakin lama kesadarannya menjadi semakin tipis, sehingga akhirnya suara itu seakan-akan melingkar-lingkar di langit yang kelam.

Namun dalam kebingungan yang hampir menelan Widura dan Agung Sedayu itu tiba-tiba terdengar suara yang lain dari suara yang pertama. Suara yang kedua terdengar lunak dan lembut, meskipun tidak pula mereka ketahui arahnya. Katanya, “Widura dan Agung Sedayu. Jangan bingung. Biarkan saja suara itu mengganggu kalian. Anggaplah suara itu suara angin yang lembut, menyentuh daun-daun yang kering. Memang suaranya gemerisik menyakitkan telinga. Namun suara itu sama sekali tidak berbahaya. Turutilah kehendak yang tersembul di dalam hati kalian, untuk mengurangi ketegangan di hati kalian. Kalau kalian ingin bersembunyi, bersembunyilah. Kalau kalian ingin kembali ke kademangan, kembalilah. Kalau kalian ingin berteriak, berteriaklah. Suara itu benar-benar tidak berbahaya.”

Widura dan Agung Sedayu menggeram. Namun mereka menjadi bertambah bingung. Sehingga karena itu, maka mereka menjadi terpaku diam di tempatnya. Dalam pada itu suara yang kedua itu berkata pula, “Jangan menjadi bingung. Tegasnya, jangan hiraukan suara itu.”

Widura dan Agung Sedayu itupun mencoba mengingat-ingat suara yang kedua itu. Suara itu pernah didengarnya. Lembut, lunak meskipun bernada tinggi. Tiba-tiba Widura itupun bergumam, “Kiai Gringsing.”

Agung Sedayu segera menengadahkan wajahnya. Perlahan-lahan mulutnya berdesis, “Ya, Kiai Gringsing.”

Sesaat kemudian suasana menjadi sunyi. Baik Ki Tambak Wedi maupun Kiai Gringsing tidak berkata-kata lagi. Widura dan Agung Sedayupun berdiri kaku bertolak punggung dengan pedang telanjang di tangan masing-masing. Namun mereka sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam pada itu angin malam yang lembut membelai kening mereka, menggerak-gerakkan ujung ikat kepala mereka yang berjuntai di belakang telinga. Tetapi betapa sejuknya angin menyentuh tubuh mereka, namun hati mereka serasa tersentuh bara. Panas dalam kesunyian malam yang dingin.

Tetapi kesunyian itu benar-benar sangat menjemukan. Kesunyian itu terasa menjadi sedemikian tegangnya, sehingga karenanya Widura dan Agung Sedayu itu seolah-olah telah menahan nafas mereka.

Tiba-tiba Agung Sedayu dan Widura itu terkejut bukan kepalang. Di balik gerumbul-gerumbul itu terdengar suara gemerisik. Bukan saja langkah seseorang, tetapi suara itu sedemikian ributnya.

“Suara apakah itu?” desis Agung Sedayu.

Widura memutar tubuhnya mengarah kepada suara itu. Namun suara itu telah jauh bergeser dari tempatnya semula. Sehingga Widura itupun ikut berputar pula.

“Suara apakah itu paman?” ulang Agung Sedayu sambil menahan nafasnya.

Widura menggeleng lemah. Iapun menjadi kebingungan karenanya. Sedang suara itu masih saja terdengar di antara rimbunnya gerumbul-gerumbul di sekitarnya. Namun seperti suara Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing, maka suara gemerisik itupun melingkar-lingkar tak tentu arahnya.

Namun akhirnya Widura menyadari keadaan itu. Dengan serta-merta ia berkata, “Agung Sedayu. Mereka pasti sedang bertempur.”

“Siapa?”

“Ki Tambak Wedi dengan Kiai Gringsing.”

“He?” Agung Sedayu itupun terkejut. “Dimana?”

“Rupa-rupanya Ki Tambak Wedi tidak senang mendengar suara Kiai Gringsing, sehingga orang itu langsung menyerangnya. Dan kini keduanya sedang bertempur di dalam gelap itu. Mereka bergeser dari satu tempat ke lain tempat. Aku tidak tahu pasti, apakah Ki Tambak Wedi ataukah Kiai Gringsing yang sengaja memberikan kesan kepada kita, bahwa pertempuran itu seakan-akan terjadi di langit yang kelam”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Keterangan pamannya itu benar-benar dapat dimengertinya. Dan akhirnya iapun merasakan, kesibukan perkelahian pada suara yang didengarnya. Tetapi perkelahian antara dua orang yang telah memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari mereka.

Meskipun demikian Agung Sedayu itu menjadi cemas. Ki Tambak Wedi adalah seorang yang telah mempunyai nama yang cukup menggetarkan di seluruh lereng gunung Merapi itu, sedang nama Kiai Gringsing sama sekali belum dikenal oleh siapapun. Sedemikian besar keragu-raguan Agung Sedayu, sehingga terdengar ia berbisik kepada pamannya, “Paman, apakah Kiai Gringsing cukup memiliki kemampuan untuk melawan Ki Tambak Wedi?”

Widura menarik alisnya. Tetapi pedangnya masih selalu siap di dalam genggamannya. Jawabnya “Aku tidak meragukannya. Orang itu memiliki beberapa kelebihan. Kekuatan tenaganya telah membuktikannya.”

“Apakah paman pernah melihat?”

“Aku belum pernah melihat ia bertempur, namun aku pernah melihat Kiai Gringsing mengimbangi kekuatan Ki Tambak Wedi. Orang itu mampu meluruskan kembali lingkaran-lingkaran besi yang dibuat oleh Ki Tambak Wedi dengan tangannya.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian masih saja perasaannya diliputi oleh keragu-raguan dan kecemasan. Di sekitarnya masih terdengar suara gemerisik dan bahkan menjadi jelas. Namun kadang-kadang suara itu menjadi semakin jauh dan berkisar dengan cepatnya.

“Marilah kita melihat, Paman” ajak Agung Sedayu.

“Kemana?” bertanya pamannya.

Agung Sedayupun menjadi bingung. Ia tidak tahu arah yang harus di datangi. Suara itu benar-benar melingkar-lingkar seolah-olah memenuhi segenap penjuru.

Ketika Agung Sedayu dan Widura terdiam, maka suara itu menjadi semakin jelas. Kadang-kadang suara itu sedemikian dekatnya, namun kadang-kadang menjadi agak jauh, tetapi suara itu menunjukkan betapa ributnya pertempuran yang sedang berlangsung.

Tiba-tiba mereka terkejut, ketika mereka melihat bayangan yang melontar dari dalam kegelapan, disusul oleh sebuah bayangan yang lain. Demikianlah maka kedua bayangan itu kini bertempur ditempat yang terbuka. Masing-masing dengan caranya dan masing-masing dengan ilmunya yang khusus. Sehingga dalam malam yang gelap itu, Widura dan Agung Sedayu melihat pameran kekuatan yang mengagumkan.

Ki Tambak Wedi benar-benar tampak sedemikian garangnya. Tangannya bergerak-gerak dengan pasti dan cepat. Tangan yang hanya sepasang itu seakan-akan merupakan sepasang senjata yang sangat dahsyatnya. Seperti sepasang tombak pendek yang mematuk-matuk dari segenap arah.

Tetapi lawannya adalah seorang yang sangat lincah. Seperti asap yang berputaran dalam pusaran angin yang kencang. Sepasang kakinya seakan-akan tidak berjejak di atas tanah. Sehingga dengan cepatnya ia dapat berpindah-pindah tempat. Betapapun kekuatan lawan yang menghantamnya, namun serangan itu seakan-akan tidak dapat menyentuhnya.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin sengit. Widura dan Agung Sedayu berdiri saja mematung. Dadanya terasa berdentangan dan darahnya mengalir semakin cepat. Pedang-pedang ditangan mereka seolah-olah sama sekali tidak akan berarti seandainya mereka harus bertempur melawan salah seorang dari mereka.

“Seandainya kami yang harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi,” desis Agung Sedayu didalam hatinya. “Entahlah apa kira-kira yang akan terjadi.”

Sesungguhnyalah bahwa kekuatannya sama sekali tak akan berarti dibandingkan dengan kekuatan dan kesaktian orang yang menakutkan itu.

Malam yang dingin itu semakin lama menjadi semakin dingin. Angin yang basah perlahan-lahan mengalir dari selatan. Namun hati Widura dan Agung Sedayu terasa betapa panasnya. Mereka melihat perkelahian yang dahsyat antara Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing. Namun kadang-kadang keduanya menjadi hilang di dalam kegelapan malam, untuk kemudian muncul kembali di tempat yang lain. Ternyata mereka berdua telah mempergunakan tempat yang amat luas untuk bertempur. Mereka melontar-lontar sangat cepatnya dan loncatan-loncatan panjang yang mengherankan. Seolah-olah kedua-duanya memiliki sayap dipunggung mereka, sehingga mereka dapat beterbangan berputar-putar.

Pertempuran itu benar-benar seperti pertempuran antara dua ekor burung-burung raksasa di langit yang luas berebut kekuasaan. Seakan-akan mereka sedang bertaruh, siapa yang menang di antara mereka maka ialah yang dapat merajai langit.

Tetapi Widura dan Agung Sedayu menjadi bingung. Mereka sama sekali tidak dapat menilai, siapakah di antara mereka berdua yang lebih kuat. Keduanya sama-sama memiliki keunggulan dan kelebihan yang sulit dimengerti. Desak-mendesak, silih berganti. Sehingga kemudian keduanya menjadi seperti gumpalan-gumpalan asap yang berbenturan tidak menentu.

Namun kemudian Widura dan Agung Sedayu terkejut ketika mereka melihat benda yang berkilat-kilat di tangan Ki Tambak Wedi pada kedua belahnya. Dalam genggaman tangannya, tiba-tiba telah melingkar gelang-gelang besi baja. Sepasang senjata yang pernah mereka lihat di halaman belakang kademangan serta ciri yang sudah pernah mereka kenal pula. Dengan senjata itu, maka tangan-tangan Ki Tambak Wedi itu menjadi semakin berbahaya. Serangan-serangan Kiai Gringsing kemudian selalu tidak pernah dihindarinya, namun dicobanya untuk menempuh serangan itu dengan gelang-gelang baja yang melingkari genggaman tangannya. Bahkan seandainya lawannya mempergunakan pedang sekalipun, namun pedang itu akan ditahannya dengan lingkaran-lingkaran itu.

Dengan senjata itulah maka Ki Tambak Wedi menjadi semakin dahsyat. Tangannya menyambar-nyambar ke segenap tubuh lawannya. Pukulan-pukulannya adalah pukulan-pukulan maut, seandainya tersentuhpun, maka tulang-tulang Kiai Gringsing agaknya akan berserak retak.

Karena itu, maka kini Widura dan Agung Sedayu dapat melihat, bahwa Kiai Gringsinglah yang selalu mencoba menghindar serangan-serangan lawannya. Berkali-kali ia melontar mundur dan menjauh. Tetapi lawannya selalu mengejarnya dengan ganasnya. Sambaran-sambaran tangannya berdesingan seperti lalat yang terbang mengitari tubuh Kiai Gringsing. Sedang cahaya besi baja ditangannya yang bergerak-gerak itu, tampaknya seolah-olah kilat yang menyambar-nyambar.

Widura dan Agung Sedayu menjadi cemas pula karenanya. Meskipun dengan demikian mereka dapat menduga bahwa kemampuan Kiai Gringsing ternyata masih berada setidak-tidaknya menyamai Ki Tambak Wedi. Ternyata dengan senjata yang kemudian terpaksa digunakan oleh Ki Tambak Wedi. Namun apabila dengan senjata itu Kiai Gringsing dapat dikalahkan, lalu apakah jadinya mereka berdua?

Tetapi mereka berdua bukannya pengecut. Juga Agung Sedayu kini sama sekali tidak ingin melarikan dari dari bahaya. Meskipun kadang-kadang terasa juga sesuatu yang berdesir di dalam dadanya, seperti yang pernah dirasakannya dahulu, namun kini ia berkata kepada dirinya, “Orang itu mempunyai kesaktian yang tiada taranya. Seandainya aku melarikan diri, maka itu pasti hanya akan bersifat sementara. Ia akan dapat mengejarku dan menangkapku seperti kalau aku tetap berada di tempat ini. Karena itu, maka biarlah aku di sini bersama-sama dengan Paman Widura dan Kiai Gringsing. Meskipun kekuatanku sama sekali tidak berarti, tetapi lebih baik menghadapinya bersama-sama daripada aku nanti harus dikejarnya seorang diri.”

Karena itu, maka Agung Sedayu masih tetap berdiri di tempatnya. Sekali-sekali ia berkisar mengikuti putaran pertempuran Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing.

Ki Tambak Wedi yang kemudian merasa bahwa lawannya selalu terdesak, berkata dengan lantang sambil mengayukan kedua tangannya berputaran menyerang lawannya, “He, orang yang bodoh. Siapakah kau dan apamukah Agung Sedayu dan Widura ini?”

Jawabannya benar-benar menyakitkan hati Ki Tambak Wedi yang menyangka bahwa lawannya telah menjadi cemas akan nasibnya. Namun dengan jawaban itu, terasa seakan-akan lawannya itu masih saja menganggap perkelahian itu seperti sebuah permainan. Katanya, “Bukan apa-apa. Kami hanya bersama-sama menghuni daerah ini, daerah yang diributkan oleh kehadiran Ki Tambak Wedi.”

“Jangan mengigau,” bentak Ki Tambak Wedi, “apakah kau benar-benar telah jemu hidup?”

“Oh, kau salah sangka. Aku berkelahi karena aku ingin hidup tenteram di daerah ini.”

“Hiduplah tenteram. Kenapa kau ganggu kami yang sedang terlibat dalam persoalan kami sendiri. apakah hubungannya hidupmu dengan persoalan ini?”

“Ada” sahut Kiai Gringsing. “Angger Widura sedang memanggul tugasnya mempertahankan daerah perbekalan ini dari sergapan Macan Kepatihan. Kalau kau binasakan orang itu, maka laskarnyapun akan berhamburan tanpa ikatan. Dan daerah ini akan menjadi kacau balau. Sangkal Putung akan berubah menjadi pusat perbekalan laskar Macan Kepatihan. Sehingga dengan demikian hidupkupun akan terancam.”

“Gila. Jangan menganggap aku anak kambing yang bodoh. Kalau kau mampu bertempur melawan Ki Tambak Wedi, kenapa kau tidak mampu bertempur melawan Macan Kepatihan?”

“Seperti kau, kanapa kau tidak mau membunuh Macan Kepatihan? Kenapa mesti muridmu yang bernama Sidanti?”

“Gila, kau benar-benar gila. Seharusnya aku sudah membunuhmu. Nah sekarang kesempatan itu datang, orang yang tidak mau dikenal seperti kau inipun harus mati. Dan aku akan dapat mengerti, apakah sebabnya kau menyebut dirimu dan memulai dirimu seperti itu. Bukankah kau yang aku jumpai di lapangan dekat banjar desa pada saat Sidanti berlomba memanah?”

Sementara itu perkelahian diantara mereka berdua, Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing menjadi bertambah cepat. Meskipun beberapa kali Kiai Gringsing terpaksa melontar surut, namun perlawanannya masih tetap sengit. Dalam kesibukan perkelahian itu Kiai Gringsing menjawab, “Ya, akulah yang bertemu dengan kau dilapangan itu, Kau masih ingat?”

“Tampangmu tak mudah dilupakan” jawab Ki Tambak Wedi. “Dan di daerah ini jarang-jaranglah orang yang mampu bertempur melawan Ki Tambak Wedi sampai dua tiga loncatan. Tetapi kau mampu bertahan beberapa lama.”

Kiai Gringsing menggeram. Katanya “Jadi kau pasti bahwa akhirnya pertahanankupun akan runtuh?”

“Tentu, meskipun kulitmu berlapis baja sekalipun.”

“Kau, yang mempergunakan lapisan baja di tanganmu.”

“Persetan. Ambillah senjatamu. Kita menentukan siapa di antara angkatan tua yang akan dapat merajai lereng Gunung Merapi”

“Aku tidak ingin” jawab Kiai Gringsing. “Tetapi aku juga tak ingin dirajai.”

Ki Tambak Wedi tidak berkata-kata lagi. Serangannya menjadi bertambah seru. Sepasang gelang di kedua tangannya bergerak dengan dahsyatnya. Setiap sentuhan daripadanya, pasti akibatnya akan sangat dahsyat.

Namun kemudian masih juga ternyata bahwa Kiai Gringsing terpaksa selalu menghindari serangan Ki Tambak Wedi yang semakin garang. Beberapa kali Kiai Gringsing harus melontar surut, sedang Ki Tambak Wedi tidak akan melepaskan segenap kesempatan yang terbuka baginya.

Tetapi kemudian Kiai Gringsing tidak mau menjadi sasaran untuk meluapkan kemarahan Ki Tambak Wedi saja. Ketika kemudian ternyata bahwa ia tidak dapat bertahan terlalu lama menghadapi sepasang gelang itu, maka kemudian dari balik bajunya Kiai Gringsing menarik pula senjatanya yang tak kalah anehnya. Sebuah cambuk. Ya, cambuk yang tidak terlalu besar, dan berujung agak panjang. Tetapi benda itu keseluruhan tidak lebih panjang dari setengah depa sampai ke ujung juntainya.

Ki Tambak Wedi terkejut melihat senjata itu. Ia lebih tatag menghadapi pedang, tombak dan tongkat baja seperti milik Macan Kepatihan. Tetapi menghadapi senjata yang aneh ini, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Cambuk yang kecil itu pasti akan sulit untuk dilawan dengan gelang besinya. Senjata itu lemas dan juntainya akan dapat menyengat tubuhnya dari segenap arah. Dan Ki Tambak Wedi sadar bahwa cambuk itu pasti dari bahan yang dapat dipercaya oleh seorang yang setingkat Kiai Gringsing.

Sebenarnyalah, tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan oleh cambuk kecil itu. Cambuk itu memekik sedemikian kerasnya seperti sebuah ledakan yang dahsyat dalam nada yang tinggi. Sehingga tiba-tiba telinga mereka yang mendengarnya menjadi sakit.

Dengan serta-merta Widura dan Agung Sedayu telah menutup sebelah telinga mereka dengan tangan-tangan kiri mereka.

Yang terdengar kemudian adalah geram Ki Tambak Wedi. “Dahsyat. Kau mau mempengaruhi aku dengan letupan yang memekakkan telinga itu?”

“Kalau kau mau” sehut Kiai Gringsing sekenanya.

“Gila. Kau berhadapan dengan maut. Jangan menyesal kalau kau tidak sempat melihat bintang pagi terbenam.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Kini ia menyerang Ki Tambak Wedi dengan dahsyatnya dengan ujung-ujung cambuknya.

Karena itu maka perkelahian diantara mereka menjadi semakin dahsyat. Masing-masing telah mempergunakan senjata-senjata yang terpercaya. Karena itulah maka perkelahian itu segera meningkat sampai pada saat-saat yang menentukan.

Widura dan Agung Sedayupun menjadi bertambah tegang pula. Meskipun mereka berada diluar lingkungan perkelahian itu namun terasa pula oleh mereka, bahwa kedua orang yang sedang bertempur itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka masing-masing sedang berusaha untuk menumbangkan lawannya dalam taraf ilmu yang tertinggi yang mereka miliki.

 

 

 

Kini Widura dan Agung Sedayu tidak lagi melihat Kiai Gringsing selalu terdesak mundur. Bahkan kini mereka dapat merasakan, bahwa cambuk kecilnya benar-benar berbahaya. Sekali-sekali terdengar cambuk itu meledak dan terasa sebuah sengatan yang pedih pada tubuh lawannya. Kedua gelang besi ditangan Ki Tambak Wedi benar-benar tidak dapat dipergunakannya untuk menangkis serangan senjata yang aneh itu.

Demikianlah maka kini keadaan menjadi berubah. Bayangan Ki Tambak Wedi yang bergerak-gerak dengan lincahnya itu seolah-olah terdesak mundur. Bayangan yang lain perlahan-lahan telah mengurungnya. Tidak saja tangan Kiai Gringsing yang bergerak-terak dengan cepatnya, namun ujung cambuknyapun menjadi seakan-akan gumpalan-gumpalan asap yang menyebarkan maut.

Ternyata kemudian, bahwa saat yang menentukan telah datang. Ki Tambak Wedi menggeram tak henti-hentinya. Lawannya benar-benar menakjubkannya. Betapa ia menjadi marah dan memeras segenap kekuatannya, namun adalah diluar dugaannya bahwa suatu ketika di lereng Merapi akan datang seseorang yang akan dapat mengalahkannya. Karena itu mula-mula ia tidak mau melihat kenyataan itu. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mempertahankan diri dan namanya. Bahkan hampir-hampir ia sampai pada suatu kesimpulan hidup dan mati. Namun tiba-tiba disadarinya kehadiran Widura dan Agung Sedayu. Diingatnya pula muridnya Sidanti yang belum sembuh benar dari lukanya. Dan diingatnya pula cita-cita masa depan muridnya itu. Karena itulah maka akhirnya Ki Tambak Wedi yang namanya ditakuti di sekitar Gunung Merapi itu terpaksa mengakui keadaannya kini.

Kiai Gringsing yang tidak dikenal itu telah mengalahkannya. Karena itu dengan penuh kemarahan, Ki Tambak Wedi menggeram, “He orang gila. Kau mungkin menyangka bahwa Ki Tambak Wedi tidak akan mampu melawanmu. Tetapi aku mempunyai pertimbangan lain sehingga aku menghindari perkelahian seterusnya, hanya kali ini.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Ia ingin bahwa Ki Tambak Wedi tidak mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Namun kelebihannya tidak terpaut banyak dari Ki Tambak Wedi, sehingga karena itu maka usahanya tidak berhasil. Ki Tambak Wedi sempat menghindarkan dirinya dan tenggelam ke dalam gerumbul-gerumbul di dalam gelap. Namun demikian terdengar Ki Tambak Wedi berkata, “He orang yang gila. Kau ternyata telah mendorong Agung Sedayu dan Swandaru ke dalam keadaan yang menyedihkan. Dengan perbuatanmu ini, maka keinginanku untuk membunuh mereka berdua menjadi semakin besar. Sidanti untuk seterusnya tidak akan kembali ke Sangkal Putung. Tak akan ada yang diharapkannya di sini. Karena itu, maka baginya, Widura sudah tidak penting lagi. Tetapi dendamnya kepada Agung Sedayu dan Swandaru tidak akan dapat dilupakan. Aku atau Sidanti sendiri pada suatu ketika pasti akan melakukannya. Membunuh Agung Sedayu dan Swandaru. Menggantung mayat mereka di muka banjar desa Sangkal Putung.”

“Jangan berangan-angan” potong Kiai Gringsing sambil mengejarnya. “Selama aku masih ada, maka selama itu aku akan menghalangi maksud yang terkutuk itu. Marilah kita sejak ini menganggap diri kita sendiri berpacu. Aku berjanji untuk menyelamatkan Agung Sedayu dan Swandaru dari ketakutannya terhadap Sidanti. Sedang kalau kau ikut campur, maka aku akan ikut campur pula. Kalau suatu ketika aku menjadi lengah dan kedua anak itu mengalami bencana karena pokalmu, maka aku berjanji, bahwa aku sendiri akan membunuh Sidanti dan kau bersama-sama.”

“Setan” teriak Ki Tambak Wedi dari kejauhan. Namun nada suarnya menggetarkan kemarahan yang tiada taranya. Belum pernah ia mengalami penghinaan yang sedemikian kasarnya. Ancaman yang langsung diberikan kepadanya dan muridnya.

Namun ia harus mengakui, bahwa hal itu benar-benar mungkin dilakukan oleh orang yang belum dikenalnya dan menamakan dirinya Kiai Gringsing itu. Justru orang itu belum dikenalnya dengan baik, maka kemungkinan yang akan dilakukan oleh orang itu menjadi bertambah besar.

Namun sambil melarikan diri Ki Tambak Wedi yang bukan seorang yang tumpul otaknya itu sempat berpikir, “Aku akan segera mengetahui siapakah orang itu. Siapa yang kemudian memimpin dan menggurui Agung Sedayu dan Swandaru, maka orang itulah sebenarnya yang bernama Kiai Gringsing.”

Widura dan Agung Sedayu yang terpaku di tempatnya masih saja tegak seperti tonggak. Namun tiba-tiba Agung Sedayu terkejut ketika Widura itu berkata, “Agung Sedayu, mari kembali ke kademangan. Cepat!”

Agung Sedayu tidak sempat menjawab. Tiba-tiba dilihatnya pamannya meloncat dan berlari kencang-kencang mendahului, setelah menyarungkan pedangnya. Karena itu, maka Agung Sedayu yang tidak tahu maksudnyapun ikut berlari pula. Sepanjang jalan ia tidak habis berpikir tentang pamannya. Ketika Ki Tambak Wedi masih belum dapat dikalahkan, pamannya sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Kini ketika bahaya telah meninggalkan mereka, tiba-tiba pamannya itu berlari-lari pulang. Tetapi ia tidak sempat untuk menanyakannya. Sehingga karena itu maka Agung Sedayu itupun hanya dapat mengikutinya tanpa tahu maksudnya.

Widura yang berlari itu meloncati parit-parit dan pematang-pematang. Ia tidak lewat jalan yang biasanya dilaluinya. Ditempuhnya jalan yang memintas. Kali ini Widura tidak lagi singgah di gardu-gardu perondan seperti biasanya. Baru ketika ia memasuki desa Sangkal Putung, maka Widura itu tidak berlari-lari lagi. Bagaimana langkahnyapun masih tetap panjang-panjang.

Agung Sedayu yang kemudian menyusulnya bertanya sambil terengah-engah, “Kenapa Paman berlari-lari?”

“Tidak apa-apa” jawabnya.

Agung Sedayu terdiam. Namun sudah tentu ia tidak percaya. Meskipun demikian, ia sudah tidak bertanya lagi. Dengan langkah yang panjang-panjang pula ia berjalan di samping pamannya.

Widura itu benar-benar menjadi seakan-akan tidak bersabar. Semakin dekat ia dengan kademangan, langkahnya menjadi semakin cepat. Tetapi ketika ia hampir sampai regol, maka dihentikannya langkahnya, diaturnya nafasnya. Dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa Widura itu berjalan tenang-tenang.

Agung Sedayu dapat mengerti apa yang dilakukan pamannya terakhir. Widura tidak mau membuat kesan yang aneh terhadap anak buahnya. Ki Widura malam itu datang menurut kebiasaan meskipun agak terlambat.

Seorang penjaga di regol halaman menganggukkan kepalanya sambil menyapa, “Agak terlambat Ki Lurah pulang.”

“Ya” sahut Widura. Ia mencoba menjawab tenang-tenang meskipun terasa nafasnya mendesaknya. “Aku berhenti di beberapa gardu perondan.”

Seorang yang lain, yang berdiri pula di sisi pintu menyahut, “Adakah sesuatu yang perlu diperhatikan?”

“Tidak” jawab Widura sambil melangkahi regol. Namun kemudian ia berkata, “Adakah seseorang yang baru saja memasuki regol ini?”

Penjaga-penjaga di regol itu mengangkat alisnya. Sambil menggeleng-gelengkan kepala penjaga itu menjawab, “Tidak. Sepengetahuanku tidak.”

“Sama sekali tidak?” desak Widura.

Penjaga itu berpikir sejenak. Sambil menggeleng ia menjawab, “Tidak Ki Lurah.”

Widura menggigit bibirnya. Kemudian katanya berbisik kepada Agung Sedayu, “Kalau begitu kita lebih dahulu sampai.”

“Siapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Sst” desis Widura.

Namun tiba-tiba Widura itu menjadi kecewa ketika seorang penjaga berkata, “Ki Tanu Metir, maksud Ki Lurah?”

“He?” bertanya Widura.

“Yang baru saja masuk regol adalah Ki Tanu Metir yang keluar untuk berjalan-jalan seperti yang dilakukannya setiap hari.”

“Setiap hari?” bertanya Widura.

“Ya” jawab penjaga regol itu. “Setiap orang yang bertugas di regol ini melihat, bahwa orang tua itu selalu pergi berjalan-jalan di malam hari.”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Otaknya bergerak menghubungkan keterangan-keterangan yang didengarnya itu. Tetapi kemudian ia tersenyum. “Marilah Agung Sedayu” ajaknya.

Agung Sedayu benar-benar tidak tahu maksud pamannya. Tetapi ketika pamannya itu berjalan naik ke pendapa, maka ia ikut juga di belakangnya.

Widura berjalan perlahan-lahan masuk ke pringgitan. Dilihatnya Ki Tanu Metir duduk dengan tenangnya menggulung sehelai daun pisang pembungkus makanan, di samping Ki Demang dan Swandaru.

“Ha, kau baru pulang?” bertanya orang tua itu ketika dilihatnya Widura dan Agung Sedayu melangkah masuk.

“Ya Kiai” jawab Widura.

“Kau pulang lebih malam dari biasanya. Aku juga baru saja datang. Berjalan-jalan di malam hari benar-benar dapat memberi kesegaran padaku.”

“Ya Kiai. Memang udara sangat segar. Tetapi agaknya terlampau dingin” berkata Widura.

“Ya. Memang malam ini terlampau dingin” sahut Ki Tanu Metir.

“Apakah Kiai juga merasakan dinginnya malam?” bertanya Widura.

“Ya, tentu. Aku menjadi menggigil karenanya.”

“Aku juga” sambung Widura. “Tetapi memang sudah menjadi kebiasaanku, aku selalu berkeringat apabila aku kedinginan.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah kau berkeringat?”

“Ya, seperti Kiai juga.”

Ki Tanu Metir mencoba mengamat-amati pakaiannya. Terasa punggung bajunya memang basah oleh keringat yang mengalir tak habis-habisnya. Karena itu, maka iapun tersenyum sambil berkata, “Aku juga berkeringat. Tetapi aku baru saja kepanasan minum air jahe hangat. Inilah. Mari minumlah mangkuk itu. Bukankah ini memang disediakan untukmu?” Kemudian kepada Swandaru ia bertanya, “Begitu bukan Angger Swandaru?”

“Ya, ya. Silakan Paman Widura dan Tuan…..”

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: