Buku 070 (Seri I Jilid 70)

 

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sekali dua kali ayahnya sudah harus menolak lamaran yang datang dari orang-orang penting di Menoreh, bahkan dari daerah tetangga. Agaknya ayahnya pun masih juga menunggu karena ia sudah pernah membicarakannya dengan Kiai Gringsing, apalagi Ki Argapati mengetahui bahwa agaknya anaknya telah bersetuju di dalam hati.

Perlahan-lahan Pandan Wangi itu pun kemudian mengambil pakaiannya yang disimpannya di geledeg bambu. Seperti di luar kehendaknya sendiri, maka dilepaskannya pakaian berburunya. Dikenakannya pakaiannya yang lain, pakaian seorang gadis. Bahkan dibenahinya rambutnya yang kusut dan disaputnya wajahnya dengan kain yang dibasahinya dengan air kendi.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam.

Namun tiba-tiba ia menyembunyikan wajahnya di balik ke dua telapak tangannya. Ia menjadi malu kepada diri sendiri. Seakan-akan berpuluh-puluh pasang mata sedang memandanginya. Memandang seorang gadis yang sedang dibayangi oleh angan-angannya sendiri.

Dengan tergesa-gesa, Pandan Wangi duduk di pembaringannya. Kepalanya masih saja menunduk dalam-dalam.

Gadis itu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara gelak di pendapa. Agaknya ayahnya dan tamu-tamunya sedang membicarakan kenangan yang menggelikan pada saat tamu-tamunya itu berada di Tanah Perdikan ini.

Pandan Wangi pun tanpa disadarinya telah tersenyum pula meskipun ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

“Ternyata ayah sama sekali tidak marah,” ia berkata kepada diri sendiri.

Pandan Wangi terkejut ketika ia mendengar pintunya diketuk dari luar. Dengan tergesa-gesa ia berdiri dan melangkah membukanya.

“Ada apa, Prastawa,” ia bertanya kepada saudara sepupunya itu.

“Sudah waktunya menghidangkan makan, Pandan Wangi.”

“Bukankah sudah dihidangkan?”

“Belum. Baru minum dan makanan. Belum makan. Baru saja nasi masak.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja memberengut. Katanya, “Bukankah ada pelayan yang dapat menghidangkan suguhan itu? Biarlah mereka membawanya ke pendapa.”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Itu sama sekali bukan kebiasaan Pandan Wangi. Jika ada tamu yang khusus, biasanya Pandan Wangi sendirilah yang mengantarkan suguhan itu ke pendapa. Seperti saat-saat yang lewat, untuk tamu-tamu yang masih ada hubungan keluarga, atau tamu-tamu ayahnya yang terdekat, Pandan Wangi tidak membiarkan orang lain membawakannya. Tetapi kini justru tamu yang datang dari jauh, dan seperti yang sudah didengar oleh Prastawa, hubungan yang pernah terjalin antara Swandaru dan Pandan Wangi, Pandan Wangi menolak membawakannya kepada mereka.

“He. Kenapa kau diam saja dan seperti membeku di situ?” bertanya Pandan Wangi kepada anak muda yang kebingungan itu.

“Jadi, bagaimanakah maksudmu sebenarnya?” bertanya Prastawa.

“Aku sedang lelah sekali. Biar orang lain saja yang menghidangkannya. Apakah Ayah menyuruhmu memanggil aku dan menghidangkan makan itu?”

“Tidak. Tetapi bukankah itu kebiasaanmu? Jika kau tidak membawanya ke pendapa saat ini, tentu Ki Gede akan bertanya-tanya, meskipun hanya di dalam hati.”

“Aku lelah sekali,” Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam.

Prastawa tidak menyahut. Tetapi dipandanginya saja Pandan Wangi yang sudah berpakaian rapi. Bukan lagi pakaian berburunya. Tetapi pakaian seorang gadis.

“He, kenapa kau memandang aku seperti itu?” bertanya Pandan Wangi kepada adik sepupunya.

“O,” Prastawa tergagap. Namun ia masih sempat menjawab sambil tersenyum, “Kau jarang sekali berhias diri seperti sekarang.”

“Ah.”

“Aku tidak pernah melihat kau secantik itu.”

“Prastawa,” potong Pandan Wangi, “pantaskah kau berkata begitu buat kakakmu sendiri.”

“Tentu tidak pantas jika aku berkata buat aku sendiri. Tetapi aku berkata buat tamuku yang gemuk itu.”

“Ah, kau,” Pandan Wangi melangkah maju. Tangannya sudah terjulur untuk mencubit lengan adiknya. Tetapi Prastawa dengan tergesa-gesa meninggalkannya sambil berkata, “Aku berani berkejar-kejaran sekarang jika kau memakai pakaian seperti itu.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Ia mengacukan tangannya ketika ia melihat adik sepupunya itu berpaling. Tetapi sejenak kemudian Prastawa itu sudah hilang di balik pintu.

Prastawa terkejut ketika hampir saja ia melanggar anak muda yang mengikuti Pandan Wangi berburu. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata, “Ah kau. Hampir saja aku terantuk.”

“Kenapa dengan Pandan Wangi?” anak muda itu bertanya.

“Ia sedang bersembunyi.”

“Ya, kenapa?”

“Aku tidak tahu. Bertanyalah kepadanya.”

Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Di mana Pandan Wangi sekarang?”

“Di dalam biliknya. Ia sedang merias diri.”

“Merias diri? Kenapa?”

“Aku tidak tahu, bertanyalah. Ia menjadi cantik sekali. Tidak lagi seperti laki-laki di atas punggung kuda.”

Anak muda itu ragu-ragu sejenak. Tetapi wajahnya yang berkerut-merut itu membuat kesan yang aneh di hati Prastawa. Karena itu ia justru mengganggunya, “Lihatlah sendiri. Apa yang sedang dikerjakannya.”

Anak muda itu ragu-ragu sejenak. Tetapi ia melangkah masuk ke ruang dalam.

Prastawa memandanginya dari kejauhan. Tetapi ketika ia melihat anak muda itu mengayunkan tangannya mengetuk pintu bilik Pandan Wangi yang tertutup, hatinya berdesir. Dengan serta-merta ia berdesis sambil memberikan isyarat agar niat itu diurungkan. Tetapi ia terlambat. Tangan itu sudah mengetuk pintu.

“Bodoh sekali,” desis Prastawa.

Perlahan-lahan pintu bilik itu terbuka. Pandan Wangi terkejut ketika dilihatnya anak muda itu berdiri di muka pintu.

“He, kenapa kau mengetuk pintu?”

Anak muda itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui apa yang sedang kau kerjakan. Menurut Prastawa, kau sedang berhias. Dan kau menjadi sangat cantik, tidak seperti seorang laki-laki di atas punggung kuda. Tetapi kau benar-benar menjadi seorang gadis.”

“Ah,” Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi kemerah-merahan. Ketika ia melihat Prastawa menjengukkan kepalanya di pintu belakang, sekali lagi ia mengacukan tangannya. Tetapi Prastawa itu pun segera menghilang.

“Aku tidak berhias,” berkata Pandan Wangi kemudian, “aku sekedar berganti pakaian. Jika Ayah memanggilku dan menyuruh aku membawa hidangan ke pendapa, aku sudah berpakaian rapi.”

Anak muda itu mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi matanya kemudian hinggap di wajah Pandan Wangi. Matanya seakan-akan tidak berkedip sehingga Pandan Wangi menjadi bingung karenanya.

“Kau memang menjadi cantik sekali seperti yang dikatakan oleh Prastawa.”

“Ah, sudahlah. Jangan hiraukan anak bengal itu.”

“Tidak. Bukan karena Prastawa. Aku benar-benar menganggap kau seorang gadis yang sangat cantik. Sejak aku datang, aku tidak pernah melihat kau berhias seperti ini. Kenapa sekarang kau tiba-tiba saja berhias? Ketika kau menghidangkan suguhan bagi Ayah dan Ibu di pendapa, kau juga berpakaian seorang gadis. Tetapi kau tidak secantik sekarang.”

“Ah, sudahlah. Jangan memuji. Aku akan beristirahat sebentar di dalam bilik.”

Pandan Wangi pun kemudian melangkah surut. Tetapi ia menjadi heran karena anak muda itu tidak segera pergi. Bahkan ia melangkah maju pula sambil berkata, “Aku juga akan beristirahat Pandan Wangi. Aku juga lelah sekali.”

“Di mana kau akan beristirahat?”

“Apakah salahnya jika aku beristirahat di bilikmu juga.”

“He,” wajah Pandan Wangi menjadi merah padam, “apakah maksudmu?”

“Beristirahat,” katanya dengan jujur.

“Kenapa di sini? Apa tidak ada tempat lain.”

“Apakah aku tidak boleh masuk.”

“Sudah disediakan tempat sendiri buatmu dan ayah ibumu.”

Anak muda itu menjadi kecewa. Katanya, “Kau terlampau tinggi hati, Pandan Wangi. Baiklah, memang tempatku tidak di ruang dalam. Aku hanya seorang tamu dari daerah terpencil. Tetapi kau harus ingat bahwa ayahku seorang yang kaya.”

“O,” Pandan Wangi justru menjadi termangu-mangu, “bukan maksudku. Tetapi sebaiknya kau tidak berada di dalam bilikku. Aku akan tidur sejenak.”

Anak muda itu pun kemudian melangkah pergi. Di luar pintu ruang dalam ia melihat Prastawa sedang menunggui para pelayan yang mengatur hidangan yang akan disuguhkan ke pendapa. Sejenak Prastawa memandangi anak muda itu. Kemudian ia mendengar anak muda itu mengeluh.

“Pandan Wangi terlampau tinggi hati. Aku tidak boleh masuk ke dalam biliknya.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bertanya, “Kenapa kau akan masuk ke dalam biliknya? Itu tidak pantas. Ia adalah seorang gadis.”

“Kenapa? Aku hanya ingin memandanginya. Ia memang cantik sekali dalam pakaian yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Kenapa ia berpakaian begitu bagusnya sekarang? Kenapa tidak ketika ia akan menghidangkan suguhan bagi ayah dan ibuku pada saat kami datang?”

“Ah, tentu ia tidak akan memakai pakaian yang sama saja. Itu hanyalah suatu kebetulan bahwa yang dipakainya sekarang agak lebih baik dari yang dipakainya dahulu.”

“Ayahku seorang yang paling kaya di daerahku yang kecil itu. Mungkin juga karena ayah datang dari daerah kecil, sedang tamu-tamu itu datang dari sebuah kademangan yang besar. Begitu?”

Prastawa mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau senang merangkai perasaan. Ada baiknya. Tetapi jika berlebih-lebihan kau akan menjadi seorang anak muda perasa yang agak cengeng.”

“He,” mata anak muda itu menyala sesaat. Namun kemudian katanya, “Kalian tidak menghormati tamu kalian. Pandan Wangi tidak, dan kau juga tidak. Ayahku adalah keluarga Ki Gede Menoreh. Kami adalah tamu dari orang yang berkedudukan paling tinggi di Menoreh. Kalian harus menghormati aku.”

Prastawa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sadar, bahwa anak muda itu sedang merajuk.

“Agaknya ia adalah anak yang terlalu manja. Manja sekali,” berkata Prastawa di dalam hati. “Jika Pandan Wangi menjadi jengkel akan kelakuannya itu, salah-salah ia dapat dibantingnya sampai pingsan.”

Prastawa hanya memandanginya berjalan ke pintu samping. Namun supaya tidak menimbulkan kesan yang dapat membuat anak muda itu semakin merajuk, dan mengatakannya kepada ayah ibunya agak berlebih-lebihan, maka Prastawa pun berkata, “Kami minta maaf. Kami tidak tahu maksudmu yang sebenarnya.”

Anak muda itu berpaling. Dilihatnya Prastawa sejenak. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Aku akan melupakannya. Kau anak yang baik.”

Prastawa menahan senyumnya. Memang anak muda itu agaknya lebih tua daripadanya. Tetapi karena tempaan keadaan, Prastawa menjadi lebih dewasa. Pengalamannya di saat-saat kemelutnya pertentangan di atas Tanah Perdikan ini, membuatnya cepat menjadi dewasa. Kematian Sidanti dan bahkan dirinya sendiri yang hampir saja tenggelam di dalam keputus-asaan, membuatnya lebih matang menghadapi persoalan-persoalan hidup.

Prastawa itu terkejut ketika di belakangnya terdengar suara kakak sepupunya, “Apa yang dikatakannya?”

Prastawa berpaling. Sambil tertawa ia berkata, “Anak itu merajuk. Ayo, kau apakan saja tamumu itu?”

“Aku pilin telingamu. Aku tidak berbuat apa-apa.”

“Katanya kau terlampau tinggi hati karena ia tidak kau perkenankan ikut beristirahat di dalam bilikmu.”

“Ah, anak gila.”

“Tetapi ia tidak bermaksud apa-apa. Ia berkata dengan sorot mata yang jujur. Kau sadari itu?”

Pandan Wangi mengangguk. Katanya, “Anak itu tentu merupakan sebuah golek kencana yang hidup di rumahnya. Ia anak orang yang kaya. Anak satu-satunya.”

“Seperti kau. Anak satu-satunya. Tetapi kau tidak cengeng seperti anak itu.”

“Kau memuji lagi. Tentu kaulah yang menyebabkannya seperti orang mabuk tuak. Ia memuji seperti memuji bakal istrinya.”

“Sedang kau adalah bakal istri orang lain.”

“Hus.”

Prastawa bergeser. Pandan Wangi benar-benar akan memilin telinganya.

 

 

“Jangan,” berkata adik sepupunya itu, “tetapi lihat, hidangan sudah tersedia. Siapakah yang akan menghidangkannya ke pendapa? Pelayan atau aku atau kau?”

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak, lalu, “Marilah, kita bersama-sama menghidangkannya. Kau membawa nasi dan lauk pauknya.”

“Lalu kau membawa apa?”

Pandan Wangi tersenyum. Dipandanginya hidangan yang sudah tersedia itu sejenak, lalu katanya, “Aku membawa nampannya.”

“Ah,” Prastawa berdesah, lalu katanya, “cepatlah. Nanti Paman Argapati menunggu.”

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Marilah kita hidangkan bersama. Kaulah dahulu. Aku di belakang. Bawa apa saja, sisanya aku yang akan membawanya.”

Demikianlah, maka hidangan itu tidak jadi disuguhkan oleh para pelayan yang sudah siap, tetapi Prastawa dan Pandan Wangi sendiri akan membawanya ke pendapa.

Beberapa orang pelayan yang berdiri di ruang belakang itu kemudian saling menggamit. Mereka tahu siapakah tamu yang ada di pendapa itu, sehingga seorang di antaranya tidak dapat menahan senyumnya. Karena itu, maka kepalanya pun segera ditundukkannya dalam-dalam. Apalagi ketika ia merasa bahwa Pandan Wangi sedang memandanginya dengan tajamnya.

Ketika pintu pendapa berderit, maka semuanya pun segera berpaling. Yang mula-mula mereka lihat adalah Prastawa. Namun kemudian Pandan Wangi pun melangkah ke luar dengan kepala tunduk.

Berbeda dengan kebiasaannya, bahwa ia dapat dengan cekatan menghidangkan suguhan bagi tamu-tamu ayahnya, maka kali ini Pandan Wangi menjadi gemetar. Ia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali.

“Ha, inilah anak itu,” berkata Ki Gede Menoreh, “ia baru pulang dari berburu bersama tamu kami.”

Kiai Gringsing tertawa. Di luar sadarnya ia bertanya, “Siapakah nama anak muda itu?”

“Rudita,” jawab Ki Gede.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Nah, tentu hidangan ini hasil buruan Angger Pandan Wangi.”

Pandan Wangi mendengar namanya disebut. Tetapi ia tidak dapat menangkap kata-kata Kiai Gringsing dengan jelas. Terasa tubuhnya benar-benar telah menggigil seperti kedinginan. Namun demikian ia masih juga mencoba tersenyum.

Orang-orang tua yang ada di pendapa itu sama sekali tidak heran melihat keadaan Pandan Wangi. Agak gemetar dan kepalanya selalu menunduk.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Pandan Wangi pun kemudian melangkah surut setelah meletakkan hidangan yang dibawanya. Begitu ia melangkahi pintu, maka ia pun segera berlari-lari ke belakang. Dilemparkannya nampan yang dibawanya dan dengan serta-merta ia pun membanting dirinya duduk di atas sebuah amben yang besar di belakang. Nafasnya menjadi terengah-engah seperti ketika ia sedang memburu kijang di hutan perburuan.

Prastawa pun kemudian menyusulnya. Sambil tersenyum ia berkata, “Kenapa kau menjadi begitu gelisah? Kau sudah terbiasa membawa hidangan bagi para tamu. Apakah bedanya tamu yang sekarang dengan tamu-tamu yang lain?”

Pandan Wangi tidak menjawab. Dicobanya menenangkan hatinya sambil duduk bersandar kedua tangannya.

“Sudahlah. Biarlah aku saja yang menyelesaikannya. Duduk sajalah. Jika kau sekali lagi membawa hidangan itu, maka hidangan itu tentu akan tumpah.”

Pandan Wangi masih tetap diam saja. Dipandanginya bayangan dedaunan di longkangan lewat pintu samping yang terbuka.

Ketika Prastawa kemudian menyelesaikan membawa hidangan itu ke pendapa, maka anak muda yang berburu bersama Pandan Wangi dan bernama Rudita itu sudah berada di gandok kulon menemui kedua orang tuanya.

“Tamu yang datang itu agaknya lebih dihormati oleh Pandan Wangi dari kita, Ayah,” berkata anak muda itu.

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu. Tetapi ia adalah seorang Demang.”

“O,” ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya, “tentu kawan baik Ki Gede Menoreh.”

“Ya,” jawab anaknya. “Pandan Wangi mengenakan pakaiannya yang sangat bagus. Lebih bagus dari yang dipakainya saat membawa suguhan buat kita.”

“Ah, kau.”

“Dan ternyata Pandan Wangi sangat cantik.”

“Cantik? Jadi menurut penilaianmu anak itu sangat cantik?”

“Ya, Ayah. Cantik sekali. Aku belum pernah melihat gadis secantik Pandan Wangi.”

“Berbanggalah bahwa kau mempunyai seorang saudara yang sangat cantik.”

“Ya, Ayah. Aku berbangga,” jawab anak muda itu, “tetapi apakah Pandan Wangi termasuk sanak kita yang dekat?”

Ayahnya menggelengkan kepalanya, “Ia bukan sanak kita yang dekat. Sudah agak jauh, lewat garis keturunan ibunya.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Ayahnya memandanginya sejenak. Ketika anak itu agak membelakanginya, ibunya menggamit ayah Rudita yang duduk di sebelahnya. Keduanya saling berpandangan sejenak, dan ayah Rudita itu pun tersenyum.

Istrinya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak berbicara apa pun juga. Mereka hanya duduk saja berdiam diri sambil memandangi anak laki-lakinya yang kemudian berdiri dan melangkah ke luar.

“Ia sudah dapat menyebut tentang seorang gadis yang cantik. Sayang yang disebut itu adalah Pandan Wangi, sanak sendiri,” berkata ibu anak muda itu.

Ayah Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya istrinya sejenak, kemudian sambil menarik nafas ia berkata, “Sekarang ia menyebut Pandan Wangi. Tetapi dengan demikian perhatiannya kepada perempuan mulai bangkit. Aku berharap bahwa selain Pandan Wangi ada pula perempuan cantik menurut anggapannya nanti.”

“Bagaimana jika tidak?” bertanya isterinya.

“Maksudmu?”

“Jika tidak ada perempuan lain yang menarik selain Pandan Wangi?”

“Ah tentu tidak. Ia tahu bahwa Pandan Wangi adalah sanak sendiri.”

Istrinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia bergumam seperti kepada diri sendiri, “Mereka bukan sanak yang dekat.”

Ayah Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya pula tanpa disadarinya. Namun sesaat kemudian ayahnya itu mengerutkan keningnya dan berkata, “Tetapi siapakah tamu Ki Gede dipendapa itu?”

Istrinya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Orang itu tentu sangat dihormati oleh Ki Gede. Jika tidak, meskipun ia seorang Demang, maka ia tidak akan mendapat pelayanan yang begitu baik dan sambutan yang sangat hangat.”

Istrinya masih berdiam diri.

“Aku ingin memperkenalkan diri,” berkata ayah Rudita.

“Sekarang?”

“Tentu tidak. Tetapi agaknya mereka akan bermalam di sini pula. Kesempatan masih panjang.”

Tetapi belum lagi ia selesai berbicara, dilihatnya Prastawa datang kepadanya sambil berkata, “Paman, Ki Gede mempersilahkan Paman makan bersama tamu-tamu yang datang dari Sangkal Putung itu.”

“O,” ayah Rudita itu mengerutkan keningnya.

“Dan Paman sekarang dipersilahkan ke pendapa bersama Bibi.”

Keduanya saling berpandangan sejenak, lalu, “Baiklah. Kami akan datang. Kami akan membenahi pakaian kami sebentar.”

Demikianlah maka kedua suami isteri itu pun kemudian diperkenalkan dengan tamu-tamu Ki Gede yang datang dari Sangkal Putung itu. Namun mereka masih belum tahu maksud tamu-tamu yang datang dari Sangkal Putung itu. Mereka hanya mendapat keterangan dari Ki Gede, bahwa tamu-tamunya adalah sahabat-sahabatnya yang sudah lama tidak datang.

Apalagi tamu-tamu itu sendiri memang belum mengatakan sesuatu tentang Swandaru, karena dirasa waktunya belum tepat.

Setelah makan, maka tamu-tamu itu pun dipersilahkannya untuk beristirahat. Ayah dan ibu Rudita berada di gandok kulon, sedang tamu-tamu dari Sangkal Putung itu dipersilahkan beristirahat di gandok wetan.

Dalam pada itu, selagi orang-orang tua beristirahat dan berbicara di antara mereka, maka Swandaru dan Agung Sedayu duduk di serambi gandok. Sejenak mereka saling berdiam diri memandang halaman rumah yang sudah berubah itu. Suasananya benar-benar telah jauh berbeda. Halaman rumah itu kini ditanami dengan pohon bunga-bunga di pinggir-pinggir pagar batu. Sebatang bunga soka putih, seolah-olah tidak berdaun lagi karena bunganya yang sedang berkembang. Sedang di sudut halaman itu kini tumbuh sebatang bunga kemuning.

Keduanya berpaling ketika mereka mendengar langkah mendekatinya. Ternyata yang datang itu adalah Prastawa.

Agung Sedayu dan Swandaru bergeser sedikit untuk memberikan tempat kepada anak muda itu, yang sambil tersenyum kemudian Prastawa pun duduk pula di antara mereka.

Sama sekali tidak ada lagi kesan permusuhan di antara mereka seperti juga pada Pandan Wangi dan adik sepupunya itu. Prastawa mencoba memperbaiki keadaannya dengan berbuat sebaik-baiknya, meskipun kadang-kadang hatinya masih juga merasa pedih.

Sejenak mereka berbicara tentang keadaan masing-masing. Meskipun mereka masih juga tetap berhati-hati agar pembicaraan mereka sama sekali tidak menyentuh persoalan yang dapat mengungkat hubungan di masa lalu itu.

Selagi mereka dengan asyiknya berbicara, di halaman melintas seorang anak muda yang pergi berburu bersama Pandan Wangi. Sejenak anak muda itu berpaling memandang Prastawa, namun ia pun kemudian melangkah terus meninggalkan halaman, masuk ke longkangan gandok kulon.

“Siapakah anak muda itu?” bertanya Swandaru.

“Rudita,” jawab Prastawa, “ia adalah kadang yang sudah agak jauh dari Kakak Pandan Wangi dari garis ibunya.”

“O,” Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apakah ia sudah lama berada di sini?”

“Tidak. Ia datang bersama ayah dan ibunya, dua hari yang lalu. Sudah lama mereka tidak berkunjung kemari. Agar hubungan persaudaraan itu tidak terputus, mereka memerlukan mengunjungi Ki Gede di sini.”

Swandaru masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya, dan kemudian ia masih bertanya lagi, “Apakah ia pandai berburu?”

Prastawa tersenyum. Tetapi ia menjawab, “Ya. Ia senang berburu.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia menyahut maka seseorang datang mendekatinya sambil berkata kepada Prastawa, “Rudita memanggilmu.”

Prastawa mengerutkan keningnya. “Ada apa?”

“Aku tidak tahu.”

Prastawa mengangkat pundaknya. Namun ia pun kemudian berdiri dan berkata kepada Agung Sedayu dan Swandaru. “Ia memerlukan pelayanan melampaui seorang gadis kecil yang paling manja.”

Swandaru dan Agung Sedayu berpandangan sejenak. Namun keduanya tidak mengatakan apa pun. Mereka hanya memandangi saja langkah Prastawa yang pergi ke gandok kulon.

Di longkangan, Rudita telah menunggu kedatangan Prastawa. Dengan wajah yang tegang Rudita itu bertanya, “Siapakah mereka itu?”

“Yang mana?” Prastawa ganti bertanya.

“Dua orang anak muda di serambi gandok wetan itu.”

“O, tamu Ki Gede yang baru datang hari ini. Bukankah keduanya ikut duduk di pendapa pada saat kami menghidangkan makanan?”

“Aku sudah tahu. Siapa nama mereka?”

“O,” Prastawa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Yang gemuk itu namanya Swandaru. Ia adalah putra Ki Demang Sangkal Putung. Sedang yang sedang itu bernama Agung Sedayu.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih bertanya, “Kenapa mereka datang kemari? Apakah mereka masih kadang Ki Gede?”

Prastawa menggeleng. “Bukan. Bukan sanak, bukan kadang. Tetapi jika mati, kami akan kehilangan.”

Rudita mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa,” jawab Prastawa, lalu katanya, “marilah. Sebaiknya kau memperkenalkan dirimu.”

“Bukan aku. Merekalah yang harus datang memperkenalkan diri kepadaku. Aku adalah kadang Ki Gede Menoreh. Ayahku meskipun bukan Demang, tetapi ia adalah orang yang terpandang, karena ayahku lebih kaya dari Demang di Tempuran.”

Prastawa mengerutkan dahinya. Jawabnya kemudian, “Mereka tentu tidak akan berani berbuat demikian, karena mereka merasa diri mereka kecil.”

Rudita merenung sejenak, lalu katanya, “Jadi bagaimana sebaiknya?”

“Kaulah yang datang kepadanya. Mereka akan menyambut dengan senang hati.”

Sekali lagi Rudita merenung. Namun kemudian katanya, “Baik, aku akan datang kepadanya. Tetapi jika mereka ternyata menyombongkan diri, aku pilin lehernya sampai patah. Kau dan kedua anak-anak muda itu harus mengerti, bahwa aku adalah murid Kiai Kuda Prakosa.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menjadi berdebar-debar juga. Agaknya anak muda yang manja ini mempunyai bekal dalam olah kanuragan pula. Bahkan ia telah menyebut pula nama gurunya. Tetapi nama itu belum pernah dikenalnya.

“He, kenapa kau diam saja? Kau tidak usah takut mendengar nama guruku. Aku tidak akan berbuat apa-apa kepadamu. Juga kepada kedua anak-anak muda itu pun aku tidak akan berbuat apa-apa jika mereka menghormati aku seperti seharusnya.”

“Aku akan mengatakannya. Dan mereka tentu akan menghormatimu.”

“Baiklah jika demikian. Tetapi sekali lagi aku peringatkan, jangan mempermainkan aku. Kau pun jangan mempermainkan aku.”

“Tidak, tentu aku tidak berani mempermainkan kau,” berkata Prastawa.

“Marilah,” ajak Rudita.

“Tunggulah di sini. Aku akan mempersiapkan kedua anak-anak muda itu agar mereka mengetahui siapakah kau sebenarnya sebelum kau memperkenalkan diri.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya, “Baik. Pergilah.”

Prastawa pun kemudian berlalu. Hampir saja ia yang masih sangat muda itu tidak dapat menahan tawanya. Di dalam kemelutnya api peperangan, ia sudah berani memegang pedang di medan pertempuran yang paling ganas sekali pun. Namun menghadapi anak muda yang terlalu cengeng, ia masih juga dapat menahan diri, untuk tidak menyakiti hatinya. Apalagi Prastawa tahu bahwa anak itu adalah kadang Pandan Wangi dari saluran darah ibunya, sedang ia bersumber dari saluran darah ayahnya. Anak muda yang cepat menjadi dewasa berpikir karena tempaan keadaan itu tidak mau memberikan kesan yang kurang baik kepada tamunya itu.

“Tetapi bagaimanakah jika sikapnya kemudian menjadi berlebih-lebihan?” ia bertanya kepada diri sendiri di dalam hatinya. Namun kemudian dijawabnya sendiri, “Biarlah Pandan Wangi sendiri mengurusnya.”

Agar tidak menimbulkan persoalan, maka Prastawa pun kemudian berkata berterus terang kepada Agung Sedayu dan Swandaru tentang anak muda yang bernama Rudita itu.

“Sekali-sekali anak semacam itu perlu diperkenalkan dengan kehidupan yang sewajarnya,” berkata Swandaru.

“Ah, kau,” potong Agung Sedayu, “itu bukan urusanmu. Biarlah ayahnya membenturkannya kepada kenyataan hidup yang pahit dan keras. Biarlah kita menghindarkan diri dari persoalan-persoalan yang dapat timbul. Apakah ruginya jika kita berbuat demikian dan karena itu dapat menyenangkan hati orang lain?”

“Kau tidak pernah berusaha menyenangkan hatiku,” sahut Swandaru.

“Apa? Kau sangka aku tidak sedang menyenangkan hatimu sekarang, sehingga aku terlunta-lunta sampai ke tempat ini.”

Prastawa-lah yang tersenyum. Katanya, “Tentu. Kita semua sedang menyenangkan hati Swandaru. Semakin senang ia akan menjadi semakin gemuk.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih Ki Sanak, terima kasih.”

Prastawa justru menjadi tertawa karenanya. Dipandanginya wajah Swandaru yang bulat itu. Lalu katanya, “Ingat, kita akan bermain-main dengan sebatang ranting yang kering. Jika kita salah raba, ranting itu akan patah.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menyahut. Mereka hanya memandangi Prastawa yang kemudian pergi menemui Rudita, dan mengajaknya ke serambi gandok wetan.

Agung Sedayu dan Swandaru yg melihat Prastawa dan Rudita berjalan ke arahnya, tergopoh-gopoh berdiri dan menyongsongnya. Namun Swandaru masih juga sempat bergumam perlahan-lahan, “Jika ada orang yang melihat sikap kita seperti kucing melihat tulang ini, mereka tentu akan mentertawakan.”

Agung Sedayu tidak menghiraukan. Ia bergegas mendapatkan Rudita sambil ngapurancang dan membungkuk dalam-dalam.

“Siapa namamu?” bertanya Rudita.

“Namaku Agung Sedayu, Ki Sanak.”

“Rudita, panggil aku Rudita.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang kemudian menganggukkan kepala adalah Swandaru. Dan ketika Rudita bertanya namanya, maka dijawabnya, “Namaku Swandaru. Semula Swandaru Geni.”

“Kenapa semula?”

“Sekarang api itu sudah menjadi suram.”

Rudita mengerutkan keningnya dan Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Apa keperluan kalian kemari?” bertanya Rudita kemudian.

“Tidak apa-apa,” Agung Sedayu-lah yang menjawab, “kami hanya ingin melihat tanah yang sudah sangat lama kami tinggalkan. Beberapa waktu yang lampau, aku dan adikku pernah tinggal di padukuhan ini untuk beberapa lamanya.”

“Kenapa kalian pergi.”

“Kami pulang ke Sangkal Putung.”

“Kenapa saat itu kau tinggal di sini? Di rumah ini maksudmu?”

“Tidak, tidak dirumah ini. Kami tinggal di gubug di padukuhan sebelah. Kami adalah penggembala kambing.”

“Kenapa sekarang kau mengunjungi Tanah Perdikan Menoreh langsung menemui Ki Gede? Kenapa kau tidak pergi ke rumah gubugmu itu?”

“Anak ini memang ingin dipilin lehernya,” berkata Swandaru di dalam hatinya, “dan Kakang Agung Sedayu agaknya menjadi kambuh pula.”

“Rudita,” berkata Agung Sedayu kemudian, “tidak ada tempat yang lebih baik dari rumah ini bagi kami. Itulah sebabnya, ayah kami yang tua itu pun ikut pula untuk mengucapkan terima kasih kepada Ki Gede Menoreh.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Kalian harus mencoba menyesuaikan diri di sini. Aku dengar ayah kalian seorang Demang di Sangkal Putung. Jangan kalian menyangka bahwa pangkat Demang adalah pangkat yang sangat tinggi.”

“Tentu tidak,” Swandaru-lah yang tiba-tiba saja menyahut.

Tetapi sebelum ia melanjutkan, Agung Sedayu telah mendahului, “Kami memang merasa, bahwa ayah kami adalah seorang Demang dari sebuah kademangan yang kecil.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa bahwa kedua anak-anak muda itu cukup menghormatinya. Karena itu, maka ia pun bersikap semakin tinggi, seakan-akan ia memang benar-benar seorang yang pantas dihormati.

Dalam pada itu dari celah-celah dinding pendapa, seseorang sedang mengintip peristiwa yang terjadi di halaman dekat dengan longkangan di muka serambi gandok wetan. Selain orang itu dapat melihat semua yang terjadi, maka meskipun lamat-lamat, ia mendengar pembicaraan mereka, sehingga hampir saja ia tidak dapat menahan hatinya. Kadang-kadang ia menjadi geli sehingga tertawanya harus ditahankannya di dada. Namun kadang-kadang terasa betapa jengkelnya mendengar kata-kata Rudita itu.

Orang itu adalah Pandan Wangi. Bahkan Pandan Wangi itu mengumpat di dalam hati, “Kakang Agung Sedayu selalu bersikap begitu. Tetapi sebenarnya kini sudah bukan masanya lagi untuk berpura-pura. Apalagi berpura-pura menjadi seorang yang sangat rendah martabatnya. Sekali-sekali Rudita memang harus melihat kehidupan ini dengan sewajarnya.”

Tetapi Pandan Wangi tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat menyaksikan sambil mengumpat-umpat di dalam hati.

“Marilah kita duduk di pendapa,” ajak Rudita.

“Terima kasih,” jawab Agung Sedayu, “udaranya sangat panas. Lebih baik aku duduk di serambi. Udaranya terasa agak segar oleh angin yang lembab.”

“Duduklah di pendapa. Aku mengajak kalian duduk di pendapa. Jangan membuat rencana sendiri. Jika aku mempersilahkan kalian ke pendapa, maka kalian akan ke pendapa, bukan pergi ke tempat yang kalian sukai masing-masing. Aku adalah keluarga Ki Gede Menoreh, dan kalian adalah tamu-tamu kami.”

Swandaru berpaling kepada Prastawa. Ia pun kadang langsung dari Ki Gede. Tetapi ia tidak pernah bersikap seangkuh itu.

Namun demikian, ketika sekali lagi Rudita menyuruh mereka naik, maka mereka pun segera naik pula ke pendapa, dan duduk saling berhadapan.

“Ada juga untungnya berkenalan dengan kalian,” berkata anak muda itu, “mungkin kalian lebih banyak mengenal hutan daripadaku. Benar?”

“Maksudmu?” bertanya Agung Sedayu.

“Apakah kau sering berburu?”

“Kadang-kadang.”

“Kau dapat mempergunakan anak panah dan busur?”

“Serba sedikit, Rudita. Tetapi aku memang pernah mencoba.”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku ingin memberikan sebuah hadiah yang menarik buat Pandan Wangi. Seekor rusa hasil buruan. Apakah kau mau pergi bersamaku ke hutan perburuan itu?”

Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan sejenak. Ketika mereka berpaling kepada Prastawa dilihatnya anak muda itu menganggukkan kepalanya, sehingga Agung Sedayu pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku senang sekali mendapat kesempatan mengantarkan kau berburu. Tetapi sebenarnya aku sendiri tidak begitu mengerti cara-cara yang harus dilakukan untuk mendapatkan seekor binatang buruan.”

“Katamu, kau pernah berburu.”

“Hanya kadang-kadang. Kadang-kadang sekali. Itu pun di hutan yang kecil di sekitar Kademangan Sangkal Putung. Memang kami pernah mendapat seekor rusa di hutan itu.”

“Kau panah?”

“Tidak.”

“Bagaimana kau mendapatkannya?”

“Kami beramai-ramai mengejarnya. Tiga puluh orang anak muda.”

“Bodoh sekali,” berkata Rudita. Namun katanya kemudian, “Baiklah, kita coba. Kita akan berburu.”

“Kapan?”

“Sekarang.”

“O, kita akan kemalaman di hutan perburuan itu. Kenapa tidak besok pagi?”

“Aku ingin memberikan hadiah seekor rusa malam nanti.”

“Tetapi, waktunya tinggal sedikit. Sebentar lagi matahari akan mulai turun di barat.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin sekarang. Akulah yang ingin sekarang. Bukan kalian.” Lalu Rudita itu berpaling kepada Prastawa, “Di manakah hutan perburuan yang paling banyak mempunyai rusa atau kijang?”

Prastawa mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun menjawab, “Di ujung timur dari Tanah Perdikan ini. Dekat Kali Praga.”

“Yang baru saja kami kunjungi, bersama Pandan Wangi?”

“Terlalu jauh. Hutan itu sedikit lebih dekat.”

“Berapa lama kita sampai ke tempat itu?”

“Menjelang senja kita sampai ke tempat itu.”

“Bodoh sekali kau. Apa yang dapat kita kerjakan di dalam gelapnya malam?”

“Tidak ada hutan yang lebih dekat lagi yang memiliki binatang buruan sebanyak hutan itu. Di hutan rindang di sebelah barat ada juga satu dua ekor kijang. Tetapi terlalu sedikit untuk diburu dengan tergesa-gesa.”

“Baiklah,” berkata Rudita, “besok pagi saja kita berangkat. Pagi-pagi benar. Kita mengharap bahwa di sore hari kita sudah pulang membawa seekor rusa.”

“Pandan Wangi sering berburu di malam hari. Bahkan pernah ia bermalam dua malam berturut-turut di hutan buruan.”

Rudita mengerutkan keningnya. Dipandanginya Prastawa sejenak, lalu, “Kau berkata sebenarnya?”

“Ya, aku berkata sebenarnya.”

“Dan Pandan Wangi mendapatkan binatang buruan?”

“Ya. Kadang-kadang mendapatkannya. Tetapi kadang-kadang bukan Pandan Wangi sendiri yang berhasil, tetapi para pengiringnya.”

Rudita memandang Prastawa dengan tajamnya. Lalu katanya, “Itulah sebabnya aku ingin memberikan hadiah kepadanya seekor rusa buruan.”

Pandan Wangi yang mengikuti pembicaraan itu dari dalam rumahnya hampir tidak dapat menahan hati lagi. Suara tertawanya hampir saja meledak. Tetapi ia bertahan sekuat-kuatnya. Bahkan kemudian ia pun segera berlalu, agar pada suatu saat ia tidak kehilangan mengendalikan diri.

Demikianlah, anak-anak muda itu masih saja duduk di pendapa. Sebenarnya Pandan Wangi tidak sabar lagi menunggu Rudita itu meninggalkan anak-anak muda dari Sangkal Putung itu. Ada sesuatu yang mendesaknya untuk menemui mereka. Namun kadang-kadang ia mencoba menekan perasaan itu sedalam-dalamnya, justru karena ia adalah seorang gadis.

Namun Pandan Wangi yang duduk sendiri di ruang dalam itu terkejut ketika ayahnya berkata dari balik pintu, “Pandan Wangi.”

“O,” Pandan Wangi menjadi tersipu-sipu. Agaknya ayahnya mengetahui bahwa ia mengintip anak-anak muda yang sedang di pendapa itu. Tetapi sebenarnya ia tidak sedang mengintip Swandaru. Justru ia sedang mengintip Rudita yang berbuat aneh-aneh menurut penilaiannya.

Tetapi Pandan Wangi tidak dapat mengatakannya. Ketika ia kemudian berpaling dan memandang wajah ayahnya, pipinya sendiri menjadi semakin merah, karena ayahnya tersenyum dengan pandangan yang menggelitik hatinya.

“Pandan Wangi,” berkata ayahnya, “mumpung mereka duduk di pendapa, kau dapat menyuguhkan minuman panas bagi mereka.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam.

“Aku kira tidak ada salahnya jika kau menghidangkan minuman bagi mereka. Mereka bukan orang lain bagi kita. Meskipun mereka tamu dari jauh, tetapi mereka sengaja datang untuk memperpendek jarak antara Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.” Ayahnya pun kemudian mendekatinya sambil berkata lirih, “Pandan Wangi. Marilah kita melihat ke dalam diri kita. Aku memang termasuk orang tua yang ketinggalan batasan hidup seperti yang dikehendaki oleh anak-anak muda. Tetapi aku mengerti bahwa kedatangan Ki Demang Sangkal Putung mempunyai maksud yang khusus. Meskipun belum dikatakan, tetapi sudah membayang di dalam pembicaraan kami. Karena itu aku tidak berkeberatan kau menemui anak Ki Demang itu bersama dengan saudara seperguruannya.”

Wajah Pandan Wangi menjadi panas, tetapi hatinya memang terlonjak untuk melakukannya.

Ayahnya masih memandanginya sejenak. Senyumnya masih saja membayang di bibirnya. Bahkan kemudian ia berkata, “Kau memang seorang gadis yang lain dari gadis sebayamu. Kadang-kadang kau bersikap dan bertindak sebagai seorang laki-laki. Namun dalam pakaian seorang gadis yang baik, kau adalah seorang gadis yang utuh. Meskipun demikian lebih baik bagimu keluar sama sekali ke pendapa daripada kau duduk di dalam seorang diri.”

Wajah Pandan Wangi yang merah menjadi semakin tunduk. Ayahnya tidak menyebut saja bahwa ia mengintip. Jika demikian justru ia dapat membantah bahwa sebenarnya ia sekedar tertarik pada sikap Rudita. Tetapi justru karena ayahnya tidak menyebutkannya, ia menjadi bingung.

“Sudahlah, Pandan Wangi. Yang paling baik buat mereka, sediakan minuman hangat. Agaknya Rudita tertarik pula untuk menemui mereka.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Ia pun kemudian pergi ke dapur, menyediakan minuman hangat bagi anak-anak muda yang duduk di pendapa.

Ketika pintu pendapa itu terbuka dari dalam, anak-anak muda itu pun berpaling. Sejenak mereka memandang seorang gadis yang berdiri di muka pintu sambil membawa nampan berisi beberapa mangkuk minuman.

 

 

Perlahan-lahan Pandan Wangi melangkah mendekati mereka. Ditundukkannya saja kepalanya, agar ia tidak menjadi gemetar jika pandangannya beradu dengan tatapan mata Swandaru.

Tetapi yang mula-mula berbicara adalah Rudita, “Ha, duduklah di sini, Pandan Wangi.” Lalu sambil berpaling ia berkata, “Prastawa, kau dapat menerima nampan itu.”

Prastawa mengumpat di dalam hatinya. Tetapi ia beringsut juga menerima nampan yang dibawa oleh Pandan Wangi yang mulai gemetar itu.

“Duduklah di sini. Apakah kau sudah mengenal anak-anak yang baru datang dari Sangkal Putung ini?”

Prastawa hampir tidak dapat menahan gelaknya mendengar pertanyaan itu.

“Apa salahnya kau duduk di sini bersamaku menemui tamu-tamu ayahmu ini. Mereka adalah anak-anak yang datang dari Sangkal Putung.”

“Kakak Pandan Wangi pernah mengenal mereka,” berkata Prastawa. “Bukankah sudah aku katakan, bahwa mereka pernah tinggal di sini? Eh, apakah aku belum mengatakannya?”

Rudita mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu mulutnya pun bergerak, “Jadi kalian memang pernah berkenalan?”

Yang menjawab adalah Prastawa, “Mereka sudah saling mengenal.”

“O,” Rudita masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Kalau begitu, duduklah, Pandan Wangi. Kita temui tamu-tamu kita ini.”

Pandan Wangi menjadi semakin segan duduk di antara mereka justru karena ada Rudita. Tetapi ia tidak dapat pergi lagi karena Prastawa pun mempersilahkannya pula.

“Kita sedang merencanakan untuk pergi berburu,” berkata Rudita. “Aku ingin memberikan hadiah seekor rusa buruan kepadamu.”

Kata-kata itu tidak disangka-sangka akan dikatakannya kepadanya, sehingga karena itu Pandan Wangi justru menjadi tersipu-sipu. Kepalanya menjadi semakin tunduk dan sikapnya yang gelisah menjadi semakin gelisah.

Dalam pada itu, ternyata bahwa Swandaru pun menjadi bingung menghadapi Pandan Wangi. Setelah sekian lamanya mereka tidak bertemu, dan kini Pandan Wangi menemuinya dengan pakaian seorang gadis yang menurut penilaiannya cukup sempurna, maka hatinya pun menjadi berdebar-debar.

Karena itu, meskipun ada juga debar di jantungnya, namun tidak sekeras debar jantung Swandaru, maka Agung Sedayu-lah yang mulai bertanya kepada gadis itu, “Apakah sejak saat kami meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, kau masih saja senang berburu, Pandan Wangi.”

Pertanyaan yang tidak langsung menyentuh dirinya itu membuat gadis itu seakan-akan terlepas dari belenggu yang menyesakkan. Karena itu maka jawabnya, “Sekali-sekali aku masih berburu, Kakang.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun kemudian. bertanya tentang hutan perburuan di daerah Menoreh dan bahkan hutan-hutan yang kadang-kadang masih belum banyak dijamah oleh seseorang.

“Kita akan berburu ke hutan yang lebat itu,” berkata Agung Sedayu, “tentu binatang buruannya masih jauh lebih banyak dari hutan-hutan perburuan.”

“Maksudmu?” bertanya Rudita yang menjadi heran, bukan saja hubungan Agung Sedayu dan Pandan Wangi yang tampaknya sudah begitu erat, juga karena Agung Sedayu menyebut-nyebut hutan yang lebat dan jarang disentuh tangan manusia.

“Kita berburu di hutan itu. Tentu akan lebih menarik dari sekedar berburu di hutan perburuan.”

Belum lagi Rudita mengerti sepenuhnya, Pandan Wangi justru menyahut, “Kita akan mencobanya.”

Sambil menyentuh Swandaru, Agung Sedayu bertanya, “He, bagaimana dengan kau, Swandaru Geni.”

Swandaru tergagap. Tetapi ia menyahut, “Tentu menyenangkan sekali. Aku sependapat.”

Tetapi tiba-tiba saja Prastawa menyahut sambil tersenyum, “Kau tidak usah berburu kemana-mana Swandaru. Kau berburu saja di sini.”

Sejenak Swandaru justru terbungkam. Sepercik warna merah menjalar di wajahnya. Bahkan bukan saja Swandaru, tetapi Pandan Wangi yang mengerti maksud itu pun menjadi semakin tertunduk dalam-dalam.

Tetapi Swandaru cepat dapat mengatasi kesulitannya, bahkan ia sempat menyahut, “Bagaimana aku akan berburu, kalau yang diburu tidak ada di sini di saat perburuan besok, karena justru akan pergi ke hutan.”

Prastawa tidak dapat menahan gelaknya. Agung Sedayu pun tertawa pula. Meskipun wajah Pandan Wangi terasa panas, namun ia tersenyum pula.

Yang terheran-heran adalah Rudita. Ia tidak mengerti kenapa hal itu dapat menimbulkan tertawa. Karena itu ia pun dengan serta-merta bertanya, “He, siapakah yang kalian maksud? Siapakah yang harus diburu di sini? Aku? Atau siapa?”

Prastawa menahan suara tertawanya. Katanya, “Jangan terlampau perasa. Kami berbicara tentang diri kami. Bukan kau. Kami memang saling memburu pada saat lampau pada saat Menoreh masih belum setenteram sekarang. Akulah yang selalu diburu oleh Kakak Pandan Wangi dan kedua anak-anak muda ini. Tetapi sekarang aku sudah menyadari keadaanku, dosa-dosaku, dan kesalahan-kesalahanku.”

Rudita mengerutkan keningnya. Persoalan yang dikatakan Prastawa adalah persoalan yang berat bagi Menoreh. Bukan persoalan yang dapat disebut sambil lalu saja. Tetapi Prastawa mengucapkannya sambil tertawa-tawa, meskipun ia menyebut dirinya sendiri sebagai buruan.

Sejenak Rudita termenung. Namun kemudian ia berkata, “Kalian membohongi aku. Kalian jangan berbicara tentang persoalan-persoalan yang aku tidak mengerti. Di dalam pembicaraan dengan banyak pihak, kalian harus mengambil persoalan yang tidak dapat menimbulkan salah paham.”

Prastawa menganggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Kita akan berbicara saja tentang binatang buruan di hutan lebat itu. Jika kita berburu ke hutan buruan di sebelah Kali Praga kita akan dapat menyusur ke utara dan kita akan sampai ke hutan yang masih liar. Tentu di daerah itu banyak sekali binatang buruan. Apalagi tidak terlalu jauh dari aliran Kali Praga sebagai tempat untuk mendapatkan air bagi binatang-binatang yang kehausan, karena tebingnya yang landai.”

“Aku tidak mau,” berkata Rudita, “aku hanya akan berburu di hutan buruan.”

Namun di luar dugaannya, Pandan Wangi yang selama itu berdiam diri sambil menunduk, tiba-tiba menyahut, “Aku ingin berburu di hutan itu. Jika kau tidak berani, kau dapat menunggu kami di luar hutan.”

“Pandan Wangi,” desis Rudita dengan sorot mata yang aneh. Apalagi saat itu Pandan Wangi mengenakan pakaian seorang gadis yang hampir sempurna. Tidak pantaslah nampaknya jika ia berbicara tentang perburuan.

Namun sebelum ia melanjutkan, Pandan Wangi yang mengenakan kain panjang yang singset dan baju yang rapat itu tersenyum kepadanya sambil berkata, “Ya Rudita. Kami akan berburu di hutan yang paling liar di Menoreh. Tentu menyenangkan sekali. Tidak ada orang yang pernah melakukannya selain aku dan Ayah. Sekarang Ayah sudah tidak pernah lagi melakukannya sejak kakinya tidak mau pulih seperti sediakala. Dan kini aku mempunyai beberapa orang kawan untuk melakukannya.”

Prastawa memandang Pandan Wangi dengan tegangnya. Dari sela-sela bibirnya terdengar suaranya, “Gila. Tentu di hutan liar banyak binatang buas, ular-ular berbisa dan bahkan serangga yang dapat menghentikan jalan darah.”

“Masih banyak lagi. Kumbang biru, semut sabuk putih, kera yang buas berambut merah, harimau dahan yang licik, anjing hutan.”

“Cukup,” Rudita memotong. Wajahnya menjadi kemerah-merahan seperti wajah Pandan Wangi ketika ia baru saja keluar dari pintu depan.

“Apakah kau tidak ingin ikut?” bertanya Pandan Wangi.

Wajah Rudita yang merah menjadi tegang. Namun katanya kemudian, “Aku akan ikut. Akulah yang ingin berburu.”

“Baiklah. Kita akan berangkat besok pagi-pagi. Mungkin kita akan bermalam di hutan itu.”

“Bermalam?” Rudita menjadi heran. “Apakah Paman Argapati mengijinkan kau bermalam? Bukankah kau seorang gadis? Dan apakah kau sering melakukannya seperti yang dikatakan oleh Prastawa, bermalam di hutan dua tiga malam bersama banyak pengiring laki-laki.”

“Kenapa?” bertanya Pandan Wangi.

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Dipeganginya keningnya. Lalu katanya, “Baik, baik. Aku akan pergi berburu besok. Sekarang aku akan berkemas.”

Dengan tergesa-gesa Rudita pun kemudian meninggalkan pendapa itu. Pandan Wangi dan Prastawa memandanginya sambil tersenyum. Namun mereka tidak berkata apa pun juga, sedang Swandaru dan Agung Sedayu pun segan juga bertanya tentang anak muda itu, karena mereka mengetahuinya, bahwa Rudita adalah masih mempunyai hubungan keluarga dengan Pandan Wangi lewat jalur ibunya.

Sejenak kemudian, ketika Rudita telah hilang di longkangan, maka Pandan Wangi pun berkata pula, “Kita benar-benar akan berburu besok. Tetapi yang kita hadapi dan yang mungkin kita temui bukan sekedar binatang buas atau binatang-binatang berbisa. Tetapi mungkin juga bahaya yang lain.”

“Apa yang kau maksud?” bertanya Agung Sedayu.

“Kita harus bersenjata selengkapnya, bukan sekedar senjata untuk berburu, karena di sepaniang tepian Kali Praga kadang-kadang kita jumpai orang-orang yang tidak kita kehendaki.”

Ternyata kata-kata Pandan Wangi itu telah menarik perhatian Agung Sedayu dan Swandaru sehingga tanpa mereka sadari, hampir bersamaan mereka bertanya, “Siapakah mereka itu?”

Pandan Wangi sadar bahwa kata-katanya pasti akan menarik perhatian. Karena itu maka ia pun segera menjawab, “Kami di sini tidak tahu dengan pasti. Tetapi mereka adalah orang-orang yang menyeberang dari sebelah Kali Praga. Kami mengetahui bahwa telah terjadi pertentangan bersenjata di seberang. Dan kami tidak ingin Menoreh menjadi tempat pelarian atau landasan di dalam pertentangan bersenjata itu.”

Kedua anak-anak muda dari Sangkal Putung itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata bahwa cerita pemilik getek yang membawa mereka menyeberang itu pasti bukan sekedar ceritera atau desas-desus.

Namun dalam pada itu, ternyata Swandaru menjadi sangat tertarik, sehingga katanya kemudian, “Jika demikian, besok kita benar-benar pergi ke Kali Praga, berburu atau tidak berburu.”

“Ah, kau,” desis Agung Sedayu, “tujuan kita adalah berburu. Jika kita menjumpai persoalan lain kecuali binatang buruan, kita tidak dapat lari lagi dari padanya.”

Swandaru tersenyum. Dipandanginya Agung Sedayu sejenak, lalu, “Baiklah, jika itu istilah yang paling baik dipergunakan.”

Prastawa pun tersenyum pula, sedang Pandan Wangi menundukkan kepalanya.

Demikianlah maka mereka masih berbicara beberapa lama tentang hutan liar di sebelah Kali Praga itu. Juga tentang orang-orang bersenjata yang kadang-kadang menyeberang ke Barat setelah terjadi benturan senjata di sebelah Timur Kali Praga.

“Ah,” berkata Prastawa, “kenapa kita berbicara tentang hal-hal yang dapat menegangkan syaraf. Marilah kita berbicara tentang diri kita.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Aku akan pergi sebentar ke belakang. Aku ingin melihat, apakah kuda-kuda sudah dibersihkan.”

Prastawa tidak menunggu jawaban siapa pun. Ia pun segera bergeser. Namun sebelum ia pergi, Agung Sedayu menyela, “Apakah aku dapat melihat bagian belakang dari halaman ini. Aku tidak tahu lagi, di manakah letak pakiwan.”

“Baiklah, aku akan menunjukkannya,” sahut Prastawa.

Tetapi tiba-tiba Pandan Wangi berkata, “Prastawa tunggulah di sini. Biarlah aku yang menunjukkannya.”

“Ah.”

Pandan Wangi pun kemudian berdiri. Ia tahu maksud kedua anak-anak muda ini. Namun rasa-rasanya masih asing bagi Pandan Wangi untuk duduk berdua saja dengan Swandaru di pendapa itu. Karena itu dengan tergesa-gesa ia melangkah sambil berkata, “Marilah, Kakang Agung Sedayu.”

Tetapi Agung Sedayu-lah yang kemudian tersenyum sambil berkata, “Ah, tentu tidak pantas jika kau mengantarkan aku ke pakiwan.”

“Apa salahnya. Aku pantas pergi berburu dan bermalam di hutan.”

Agung Sedayu tertawa. Tetapi ia justru memperbaiki letak duduknya dan bergeser mendekati Swandaru.

“Terserahlah,” berkata Pandan Wangi, “tetapi jika perlu, biarlah Prastawa mengantarkanmu.”

Prastawa tidak menyahut. Tetapi tatapan matanya sajalah yang membuat Pandan Wangi menjadi tersipu-sipu.

Demikianlah, ketiga anak-anak muda itu masih berbincang sejenak mengenai orang-orang yang tidak dikehendaki di hutan di sepanjang Kali Praga. Kemudian Agung Sedayu dan Swandaru pun segera kembali ke gandok.

Dalam pada itu maka orang tua di kedua belah pihak, Swandaru dan Pandan Wangi, ternyata telah mempersiapkan diri masing-masing untuk pada saatnya memasuki pembicaraan yang resmi. Agar mereka tidak terlalu lama berada di Menoreh, maka Ki Demang Sangkal Putung telah sependapat dengan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar bahwa pada malam harinya mereka akan menyampaikan maksud kedatangan mereka di Tanah Perdikan Menoreh.

Karena itulah, maka ketika Tanah Perdikan Menoreh, dibayangi oleh cahaya senja, Kiai Gringsing-lah yang pertama-tama menemui Ki Gede Menoreh, dan mengatakan bahwa malam nanti Ki Demang di Sangkal Putung, ingin menyampaikan suatu kepentingan kepada Ki Argapati.

Ki Argapati tersenyum. Katanya kepada Kiai Gringsing, “Aku menjadi berdebar-debar. Tetapi aku mendapat firasat bahwa kedatangan Kiai adalah kelanjutan dari apa yang pernah Kiai katakan sebelumnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Demikianlah adanya, Ki Gede. Sekarang Ki Demang sudah berada di Menoreh. Biarlah nanti malam Ki Demang menyampaikannya sendiri.”

“Baiklah, Kiai Gringsing. Aku akan menerimanya. Dan karena kebetulan di rumah ini ada juga seorang tamu yang sudah agak lama tidak saling mengunjungi, maka kami akan membawanya menerima Ki Demang, Kiai sendiri, dan Ki Sumangkar.”

“Terima kasih, Ki Gede,” desis Kiai Gringsing, “sebenarnya persoalannya sudah jelas jika tidak ada persoalan lain yang selama ini telah terjadi. Tetapi semuanya harus dilakukan sesuai dengan jalur jalan yang sewajarnya.”

“Ya, ya Kiai. Aku mengerti dan berterima kasih.”

Demikianlah, maka segala sesuatunya pun telah dipersiapkan. Ki Gede Menoreh telah menemui ayah Rudita. Dimintanya ayah Rudita untuk ikut menerima Ki Demang Sangkal Putung yang akan membicarakan Pandan Wangi secara resmi.

“Ayah,” berkata Rudita sepeninggal Ki Gede, “apakah maksud Ki Argapati sebenarnya.”

Ayahnya memandang Rudita sejenak. Lalu sambil tertawa ia pun berkata, “Rudita, Pandan Wangi sudah cukup dewasa. Bahkan umurnya justru sudah agak lampau bagi seorang gadis. Namun sebenarnyalah pembicaraan tentang hubungannya dengan anak Sangkal Putung itu sudah agak lama. Tetapi berhubung dengan banyak persoalan, baru sekarang mereka datang dengan resmi untuk membicarakannya.”

Rudita memandang ayahnya dengan wajah yang tegang. Lalu tiba-tiba saja ia berkata, “Jadi, maksud Ayah, Pandan Wangi akan kawin?”

Ayahnya menganggukkan kepalanya.

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja ia menjadi kecewa mendengar kata-kata ayahnya itu. Bahkan Ia pun kemudian berkata, “Sayang sekali.”

“Kenapa?” bertanya ayahnya.

“Ia cantik sekali.”

Ayahnya tertawa. Katanya, “Apakah seseorang yang cantik sekali itu tidak seharusnya mengakhiri masa remajanya dan kemudian kawin?”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau pun sebenarnya sudah dewasa Rudita. Dan sekarang ternyata kau sudah mengenal kecantikan seorang gadis. Memang sudah waktunya bagimu untuk berbicara tentang gadis.”

“Tetapi Pandan Wangi sudah akan kawin.”

“Ya, tentu. Dan kau pun pada saatnya akan kawin juga. Pada suatu kali kau tentu akan menjumpai seorang gadis yang pantas untuk kau jadikan seorang istri.”

Anak muda itu tidak menjawab.

“Nah, kau harus mengucapkan selamat kepada Pandan Wangi. Meskipun sudah tidak terlampau dekat, kau adalah sanak kadangnya.”

Rudita tidak menyahut. Tetapi kepalanya ditundukkannya. Tanpa disadarinya ia mulai memandang dirinya sendiri. Bahkan kemudian ia mencoba memperbandingkan dirinya sendiri dengan anak muda Sangkal Putung itu. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Ayah, yang manakah yang kelak akan menjadi suami Pandan Wangi.”

Ayahnya memandanginya sejenak, lalu, “Yang gemuk dan berwajah cerah seperti wajah kanak-kanak yang tidak berlapis.”

“Yang tidak berlapis?”

“Ya. Yang di luar dan di dalamnya sama sekali tidak berbeda. Mudah-mudahan dugaanku benar, karena aku hanya menangkap kulit luarnya saja. Memang mungkin sifat yang terbaca pada bentuk dan cahaya matanya itu tidak tepat.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi sayang, bahwa betapa pun bersihnya hati seseorang, ada juga nodanya meskipun hanya setitik. Anak yang gemuk itu agak terlampau bernafsu untuk memenuhi semua keinginannya tanpa kendali. Mudah-mudahan aku salah.”

“Tidak, Ayah tidak pernah salah.”

Ayahnya tersenyum, katanya, “Mana mungkin seseorang tidak pernah salah.”

“Pada umumnya. Jika seseorang bertanya kepada Ayah tentang sesuatu, biasanya Ayah benar. Bukankah karena itu Ayah menjadi terkenal dan disegani. Juga bukankah karena itu Ayah menjadi kaya?”

“Ah,” potong ayahnya, “tidak seorang pun yang mengerti tepat seperti yang kemudian terjadi. Yang aku lihat adalah semacam isyarat dari setiap peristiwa. Karena itu ada dua kemungkinan yang dapat membuat aku keliru. Isyarat itu tidak tepat, atau uraianku tentang isyarat itulah yang tidak tepat.”

Anaknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin demikian. Tetapi sampai sekarang, kesalahan semacam itu jarang sekali terjadi. Dan Ayah semakin lama menjadi semakin dikenal orang.”

Ayahnya tersenyum. Katanya, “Berterima kasihlah kepada Yang Maha Murah, bahwa aku mendapat anugerah ketajaman pengamatan atas peristiwa yang bakal terjadi. Tetapi ingat, bahwa yang dapat aku katakan, hanyalah yang aku lihat isyaratnya. Karena banyak sekali persoalan yang tidak dapat aku jawab. Aku juga tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan diri kita, dengan Ki Gede Menoreh dan tentang banyak orang. Namun kadang-kadang seseorang yang datang kepadaku membawa persoalan-persoalan yang sudah disertai dengan isyarat itu sendiri.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Selama ini ia tidak pernah tertarik dengan ketajaman indra ayahnya. Yang ia tahu ayahnya adalah seorang yang kaya dan disegani. Yang banyak dikunjungi orang dan setiap kali dapat meramalkan apa yang akan terjadi atas suatu persoalan.

“Atas sesuatu persoalan,” berkata Rudita di dalam hatinya, “jadi tidak pada setiap persoalan. Menurut Ayah, banyak sekali pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya.”

Dan tiba-tiba saja Rudita bertanya, “Ayah, siapakah bakal suami Pandan Wangi.”

Ayahnya menjadi heran. Jawabnya, “Kau aneh. Bukankah Ki Gede sedang menerima lamaran seseorang? Tentu anak muda Sangkal Putung itulah bakal suaminya. Dalam hal ini, kita tentu tidak perlu menunggu bentuk isyarat yang mana pun dan kemudian mengurainya.”

“Maksudku, apakah benar-benar akan terjadi, bahwa Pandan Wangi akan kawin dengan anak muda Sangkal Putung itu.”

Ayahnya tersenyum. Katanya, “Aku tidak berusaha melihat isyarat lain. Kita menganggap bahwa perkawinan itu akan terjadi.”

“Cobalah, Ayah. Buatlah suatu isyarat bahwa perkawinan itu tidak akan berlangsung.”

 

 

Ayahnya mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah anaknya sejenak tanpa mengucapkan kata-kata.

“Ayah,” ulang anaknya, “buatkan suatu isyarat. Agar kelak perkawinan itu gagal.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Yang aku lihat itu adalah suatu isyarat. Bukan syarat-syarat untuk melakukan sesuatu.”

“Apakah bedanya?”

“Ah kau. Kelak kau akan mengetahui dengan sendirinya. Tetapi dengan mudah dapat aku katakan bahwa syarat-syarat diperlukan untuk melakukan sesuatu, atau untuk mengharap sesuatu terjadi. Tetapi isyarat adalah sekedar petunjuk, tanda-tanda atau semacam itu bahwa sesuatu akan terjadi. Jika aku melihat suatu isyarat bahwa seseorang akan mengalami bencana, bukan akulah yang menyebabkan bencana itu terjadi, atau bukan isyarat itulah yang menyebabkan sesuatu itu terjadi. Tetapi yang akan terjadi itu tetap terjadi dengan atau tidak dengan isyarat.”

Rudita mengerutkan keningnya. Ia selama ini hampir tidak pernah berbicara dengan ayahnya tentang kerja ayahnya itu. Dan tiba-tiba saja ia menjadi tertarik karenanya.

“Jika kau masih juga tidak mengerti Rudita, cobalah perhatikan. Jika malam menjelang fajar, maka kau akan mendengar ayam jantan berkokok. Nah, bagaimana seandainya semua ayam di dunia ini dibungkam? Tentu matahari akan tetap terbit, karena bukannya matahari itu terbit karena ayam berkokok, tetapi kokok ayam adalah suatu isyarat akan datangnya fajar.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia tidak begitu mengerti, tetapi sudah mulai terbayang maksud ayahnya.

Karena itu maka katanya, “Jika demikian, apakah Ayah tidak dapat berbuat sesuatu agar yang akan terjadi itu urung atau batal sama sekali.”

Ayahnya menggelengkan kepalanya. “Tidak Rudita. Aku sebenarnya tidak dapat berbuat apa-apa. Untuk mengetahui isyarat itu pun tidak setiap kali dapat aku lakukan. Kadang aku gagal dan sama sekali tidak melihat apa-apa, tetapi kadang-kadang aku salah mengartikan isyarat itu dengan bahasa sehari-hari.”

Rudita mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Baiklah, Ayah.”

“Kenapa?” bertanya ayahnya dengan curiga.

“Tidak apa-apa. Bukankah Ayah mengatakan bahwa Ayah tidak dapat berbuat apa-apa.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Terasa sesuatu menyentuh hatinya. Sudah lama ia mengharap anaknya itu menyebut sesuatu tentang perempuan, karena umurnya memang sudah cukup dewasa meskipun sifatnya yang kadang masih kekanak-kanakan.

Dan yang membuatnya prihatin, ayah Rudita itu masih saja gagal melihat kemungkinan yang bakal terjadi dengan anaknya, seperti yang kadang-kadang memang terjadi. Tetapi bagi masa depan anaknya, bukan saja karena ia tidak berhasil tetapi sebagian karena pemusatan pikirannya terganggu oleh perasaan takut dan cemas. Ayah Rudita itu tidak berani melihat kenyataan tentang anaknya karena sikap dan sifat anaknya itu sendiri. Jika ia melihat sesuatu yang gelap di masa depan itu, tentu ia akan bersedih. Apalagi jika istrinya mengetahuinya pula.

Karena itulah kemudian ayah Rudita itu hanya pasrah saja kepada Yang Maha Kuasa. Apa pun yang terjadi pasti akan terjadi. Diketahui atau tidak diketahui lebih dahulu. Dan tentu demikian pula atas anaknya itu.

Namun pertanyaan anaknya tentang kemungkinan yang akan terjadi atas Pandan Wangi itu telah membuatnya berprihatin. Ia mengerti, bahwa anaknya yang jarang sekali bergaul dengan perempuan itu telah tertarik oleh Pandan Wangi meskipun mungkin sekali umur Pandan Wangi agak lebih tua daripadanya, dan keduanya masih mempunyai hubungan darah.

Ternyata bukan saja ayahnya. Ibunya yang sama sekali tidak mencampuri pembicaraan itu pun menjadi berprihatin pula. Ketika anaknya kemudian pergi dengan kepala tunduk, maka ibunya mendekati suaminya sambil berkata, “Apakah yang Kakang pikirkan tentang Rudita?”

“Aku justru menjadi semakin prihatin, Nyai,” jawabnya.

“Agaknya ia mulai tertarik kepada perempuan.”

“Ya. Tetapi sayang sekali, bahwa perempuan itu adalah Pandan Wangi.”

“Ya sayang sekali. Tetapi cobalah Kakang, apakah sama sekali tidak ada kemungkinan untuk menuruti keinginan anak itu?”

“Ah, kau. Bagaimana mungkin. Anak muda Sangkal Putung itu sudah datang untuk melamarnya. Sebentar lagi mereka tentu akan kawin. Apa yang dapat aku lakukan?”

“Batalkan perkawinan itu.”

“Ah,” suaminya bergeser sejenak, lalu, “mana mungkin, Nyai. Mana mungkin seseorang dapat merubah keharusan yang bakal terjadi. Jika hal itu akan terjadi, terjadilah. Tetapi jika batal, itu sama sekali bukan karena seseorang.”

“Kakang,” berkata isterinya, “selama ini kau sudah melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Selama ini kau dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Jika demikian, maka kau pun tentu dapat berbuat sesuatu yang tidak dapat diperbuat oleh orang lain pula. Selama ini kau hanya berusaha melihat apa yang bakal terjadi. Tetapi kekuatan batiniah yang sudah ada itu, tentu akan dapat kau pergunakan untuk mempengaruhi sesuatu yang bakal terjadi itu, karena hubungan sebab dan akibat. Jika yang bakal terjadi itu adalah satu saja rangkaian peristiwa dari kejadian-kejadian, maka pengaruh kekuatan batinmu akan berlaku.”

Ayah Rudita itu mengerutkan keningnya. Ia memang memiliki kelebihan dari orang-orang lain. Ia dapat melihat isyarat yang ada pada seseorang, sehingga kadang-kadang ia dapat mengatakan sesuatu yang akan terjadi pada seseorang, meskipun ia tidak ingkar bahwa kadang-kadang ia keliru. Keliru melihat isyarat itu atau keliru mengurai.

“Nyai,” berkata ayah Rudita itu kemudian, “aku pun senang sekali jika aku dapat menuruti keinginan anak itu seperti yang selalu kita lakukan sampai sekarang. Tetapi yang satu ini menyangkut beberapa macam persoalan. Selain aku belum dengan sungguh-sungguh berusaha melihat isyarat apa yang ada pada Pandan Wangi, pada anak muda Sangkal Putung itu dan pada diri anak kita sendiri, sebenarnya aku pun mempunyai beberapa keberatan. Pandan Wangi adalah sanak kita sendiri, sehingga pada kedua anak itu terdapat tetesan darah yang sama. Selain daripada itu, agaknya Pandan Wangi lebih tua dari Rudita.”

“Ah, keberatanmu bukan persoalan yang pokok di dalam kehidupan rumah tangga. Banyak sekali perkawinan antara sanak yang sudah jauh dan sangat berbahagia. Juga umur dua orang suami isteri tidak menentukan.”

“Kau benar. Memang kedua masalah itu tidak menentukan. Tetapi bagiku lebih baik jika Rudita itu kita carikan jodoh yang lain. Bukan Pandan Wangi yang sudah mengikat pembicaraan dengan Demang Sangkal Putung itu.”

“Ah, kau aneh, Kakang. Yang diingini anak kita adalah Pandan Wangi. Ia adalah anak seorang Kepala Tanah Perdikan. Meskipun umurnya lebih tua, tetapi di dalamnya banyak mengandung kemungkinan yang baik bagi Rudita. Kelak Rudita tentu akan dapat menggantikan kedudukan Ki Gede Menoreh. Dibekali dengan kekayaan kita, maka kedudukan Rudita tentu akan menjadi sangat kuat di bagian tarat Kali Praga ini. Apalagi menghadapi perkembangan daerah baru di seberang timur Kali Praga yang dipimpin oleh Ki Gede Pemanahan itu.”

Ayah Rudita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itu adalah pamrih yang berlebih-lebihan. Soalnya adalah Rudita dan Pandan Wangi itu lebih dahulu. Jika Rudita karena kemanjaannya saja dengan tiba-tiba menganggapnya Pandan Wangi seorang perempuan yang paling cantik, itu adalah sangat berbahaya. Setiap saat anggapan itu dapat berubah. Jika demikian maka perkawinannya akan goyah.”

“Kau dapat melihatnya. Seandainya demikian, kau pun dapat mencoba memberikan pengaruh atas rangkaian sebab dan akibat dari kehidupan keduanya sehingga kesulitan itu tidak akan terjadi.”

“Itulah kesalahan orang lain menilai diriku. Bahkan istriku sendiri. Pengaruh batiniah dari seseorang atas orang lain, hanya dapat terjadi sepanjang tidak menyilang garis keharusannya yang sudah tersusun dalam rangkaian kehidupan seseorang. Dan itu pun hanya dapat dilakukan oleh orang tertentu. Bukan aku yang mempunyai kerunia penglihatan saja. Jika seseorang mencoba memaksakan pengaruhnya atas orang lain dan bahkan kemudian dengan sifat kekerasan, maka ia sudah melawan kehendak Maha Penciptanya. Dan itu berarti bahwa ia mencoba melawan Maha Kekuatan di atas langit dan bumi. Mungkin di dalam bentuk lahiriahnya, orang itu akan berhasil. Tetapi sudah tentu bahwa ia tidak akan berhasil berusaha menyelamatkan dirinya sendiri dari tuntutan Yang Maha Adil.”

Isterinya mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Jika Yang Maha Adil itu tidak berkenan di hati, maka kenapa sesuatu itu dapat terjadi? Bukankah kuasanya dapat mencegah peristiwa yang akan berlaku. Jika yang berlaku itu sudah berlaku, itu tandanya bahwa tidak ada persoalan lagi di hadapan Yang Maha Penciptanya.”

“Itulah justru sifat Yang Maha Besar. Bahwa manusia mendapat kebebasan atas dirinya sendiri untuk menentukan sikapnya. Di sinilah letak ujian bagi manusia itu sendiri. Di dalam dirinya ia mendapatkan wewenang untuk memilih sikap dan perbuatan jasmaniah dan rohaniah. Hasil pilihan itulah sebenarnya yang menentukan jalan baginya untuk sampai kepada Yang Maha Pencipta. Itu pun bukan karena kemampuan diri sendiri, tetapi dengan cahaya kasih Yang Maha Kasih itu juga adanya.”

“Di sini aku melihat kecemasan seseorang yang menggenggam senjata atas senjatanya. Memang tidak bijaksana untuk menusuk jantung sendiri. Tetapi jika hati berpandangan terang, yakinilah bahwa senjata itu dapat dipergunakan bagi suatu perjuangan. Kebebasan memilih adalah suatu kurnia pula sehingga tidak akan ada aibnya mempergunakan kurnia atas kita. Kakang seharusnya tidak mengingkari kekuatan alam yang ada di sekitar kita untuk dimanfaatkan seperlunya. Sedangkan aku tahu, bahwa kekuatan Kakang jauh berada di atas kekuatan yang Kakang perlihatkan kepadaku. Dan jika itu melanggar Kuasa-Nya karena Kuasa-Nya tidak terbatas, maka senjata itu akan direnggutnya dari tanganmu.”

“Memang tidak bijaksana menusuk jantung sendiri. Tetapi juga tidak bijaksana menusuk jantung orang lain tanpa sentuhan sebab yang wajar. Dan bahwa Yang Kuasa tidak merampas yang melanggar Kuasa-Nya, itulah sifatnya yang Maha Agung. Tetapi bahwa di dalam alam ini ada kekuatan yang menentang Kuasa-Nya kita harus meyakini, mereka yang sejak semula menyediakan diri dan kekuatannya untuk menentang Kasih dari Yang Maha Kasih dengan pemanjaan nafsu lahiriah dan kekuasaan yang semu. Disinilah manusia berdiri.” Ayah Rudita itu berhenti sejenak, lalu, “Berdoalah Nyai. Barangkali doamu dapat mendekatkan kau kepada kemurnian kurnianya kepadaku. Dan apakah aku dibenarkan untuk melakukan perbuatan seperti yang kau kehendaki, karena pada dasarnya itu pun sekedar pemanjaan nafsu lahiriah. Justru karena Pandan Wangi seorang gadis yang cantik menurut pengamatan Rudita.”

Istrinya tidak segera menjawab. Tetapi seperti biasanya apabila mereka berselisih pendapat tentang Rudita, maka perempuan itu pun menundukkan kepalanya sambil menitikkan air matanya.

“Hem,” ayah. Rudita itu menarik nafas dalam-dalam. Sudah berpuluh kali ia mengalami persoalan yang serupa. Istrinya menangis karena ia tidak dapat memenuhi permintaan anak laki-laki satu-satunya yang menjadi sangat manja itu.

Tetapi tidak seperti biasanya, laki-laki itu berkata, “Nyai. Biasanya aku tidak dapat menolak jika kau sudah mulai menitikkan air mata. Sebenarnya kali ini pun aku ingin memenuhinya. Tetapi apa boleh buat. Persoalannya ada di luar kemampuanku. Aku tidak dapat merobah jalan hidup seseorang jika itu memang harus berlaku.”

“Bukan tidak dapat, tetapi kau tidak mau melakukannya,” jawab istrinya di sela-sela sedu sedannya.

Sekali lagi ayah Rudita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak tahu, bagaimana aku harus mengatakan. Tetapi aku benar-benar tidak mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi jalan hidup seseorang dengan kekuatan batinku.”

Istrinya tidak menyahut lagi. Tetapi kediamannya terasa bukan kediaman yang ikhlas. Agaknya istrinya kali ini merasa bahwa suaminya tidak lagi mau menuruti permintaannya dan permintaan anaknya. Meskipun perasaan itu diredamnya, namun suaminya yang mempunyai pengamatan tajam sekali atas peristiwa manusiawi dan alami di sekitarnya merasakan kekecewaan yang dalam itu. Namun demikian ia pun tidak dapat berbuat apa-apa.

“Nyai,” berkata ayah Rudita itu kemudian, “aku tahu bahwa kau kecewa, Nyai. Tetapi aku harap bahwa kau dapat mengerti keadaanku pula.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Aku tidak dapat menolak, bahwa malam nanti aku akan ikut membicarakan persoalan Pandan Wangi itu secara resmi dengan Ki Demang di Sangkal Putung.”

Tetapi istrinya sama sekali tidak menjawab. Bahkan titik air matanya sajalah yang menjadi semakin deras. Sambil terisak ia berkata, “Rudita adalah satu-satunya anak kita. Alangkah malang nasibnya. Dan alangkah kecil arti orang-orang tua yang tidak dapat memenuhi keinginan anaknya. Kelahiran yang tanpa dimintanya itu adalah sepenuhnya tanggung jawab kita, sehingga kelanjutan dari kelahirannya itu pun akan tetap menjadi tanggung jawab kita.”

Suaminya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Di dalam keadaan yang demikian, istrinya terlampau sulit untuk dapat mengerti kata-katanya. Tetapi kali ini ia sama sekali tidak akan berniat untuk mencoba memenuhi permintaan istrinya itu. Selain ia merasa bahwa ia akan memaksakan dirinya menjelajahi daerah kemampuan yang tersembunyi baginya, juga karena ia merasa terlampau berat untuk mengiakannya.

Dengan demikian maka untuk beberapa lamanya keduanya berdiam diri. Masing-masing dihanyutkan oleh angan-angan yang berselisih jalan.

Dalam pada itu Rudita sendiri sedang berjalan-jalan di kebun belakang. Ada sesuatu yang belum pernah hinggap di perasaannya. Tiba-tiba saja ia merasa tertarik sekali kepada Pandan Wangi. Gadis itu serasa gadis yang paling cantik yang pernah dilihatnya. Selama ini ia tidak pernah menghiraukan gadis yang mana pun juga. Namun tiba-tiba ia merasa tertarik kepada gadis yang masih mempunyai saluran darah dari sumber yang sama.

Langkahnya terhenti ketika kemudian ia melihat Prastawa sedang sibuk di kandang kudanya. Sejenak ia memandang dari kejauhan. Tetapi ia tidak mendekatinya. Sambil menundukkan kepalanya, ia melanjutkan langkahnya menyelusuri pepohonan yang rimbun.

“Besok aku akan berburu,” berkata Rudita di dalam hati, “tetapi anak yang gemuk itu tentu akan lebih menarik bagi Pandan Wangi. Apalagi apabila pembicaraan tentang mereka sudah selesai.”

Rudita mengerutkan keningnya. Lalu, “Ayah kali ini tidak mau membantuku.”

Kekecewaan yang sangat telah mencengkam hati anak muda itu. Namun ia tidak mempunyai jalan untuk memecahkannya.

Demikianlah ketika waktu yang dibicarakan tiba, secara resmi Ki Demang Sangkal Putung, diiringi oleh Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar naik ke pendapa diterima oleh Ki Gede Menoreh bersama ayah Rudita.

Mula-mula mereka memperkenalkan diri masing-masing sebelum mereka terlibat di dalam pembicaraan pendahuluan yang riuh di seling dengan gelak tertawa.

“Namanya Waskita,” berkata Ki Gede Menoreh. Lalu, “Bukan saja karena ia kemudian dapat melihat peristiwa yang bakal terjadi atas seseorang, tetapi nama itu dimilikinya sejak kecil. Adalah kebetulan saja, maksudku adalah terpenuhi keinginan orang tuanya dengan memberinya nama Waskita.”

“Tidak melihat peristiwa yang bakal terjadi atas seseorang. Tetapi aku sekedar mencoba menguraikan isyarat yang dapat aku lihat. Hanya yang dapat aku lihat. Dan yang dapat aku lihat jumlahnya terlampau sedikit dibandingkan dengan kejadian alam yang tidak terhitung jumlahnya.”

“Yang sedikit itu pun sudah merupakan kelebihan, karena pada umumnya kami tidak dapat melihatnya sama sekali.”

“Bukan tidak melihat. Tetapi perhatian kalian tidak tertuju pada penggunaan mata hati untuk melihat isyarat-isyarat yang ada. Kalian tertarik pada persoalan yang lain yang aku tidak dapat melakukannya.”

“Tentu tidak. Kau pun memiliki ilmu yang hampir sempurna di bidang kanuragan. Itulah kelebihanmu.”

Orang yang bernama Waskita itu tersenyum. Dipandanginya Ki Gede Menoreh sesaat, lalu katanya, “Jangan menyebut ilmu di dalam olah kanuragan. Aku menjadi malu karenanya. Benar-benar tidak berarti dibandingkan dengan Ki Gede. Apalagi sebelum Ki Gede kena cidera.”

Ki Gede Menoreh tersenyum. Katanya kemudian, “Kau memang seorang yang rendah hati.” Lalu katanya kepada Ki Demang di Sangkal Putung dan kawan-kawannya, “Inilah orang yang sekarang ada di rumah ini. Sudah lama sekali ia tidak berkunjung kemari. Tiba-tiba saja tanpa mimpi apa pun, aku mendapat kunjungannya.”

“Tentu Ki Gede tidak mengetahuinya bahwa akan ada tamu berkunjung kemari,” bertanya Kiai Gringsing.

“Tidak.”

“Dan kunjungan kami?”

“Juga tidak.”

“Tetapi bagi Ki Waskita, barangkali kunjungan kami tidak mengejutkannya.”

“Ah, tentu mengejutkan. Aku sama sekali tidak mengetahuinya bahwa sesudah kami akan datang tamu dari Sangkal Putung. Sudah aku katakan, hanya jika ada isyarat aku mengetahuinya. Itu pun kadang-kadang harus dengan tekun dan sengaja mencari pada seseorang atau keadaan.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebagai seorang yang mempunyai pengalaman yang luas dan dalam, ia segera mengerti apa yang dimaksudkan oleh Waskita. Demikian juga Ki Sumangkar dan Ki Demang di Sangkal Putung, seperti juga Ki Gede Menoreh.

Dalam pada itu, pembicaraan mereka pun segera berkembang dari satu persoalan ke persoalan yang lain, sehingga akhirnya Ki Demang Sangkal Putung sampai juga pada pokok persoalannya membicarakan hubungan yang sudah lama terjalin antara Swandaru yang gemuk itu dengan Pandan Wangi.

Tidak ada kesulitan di dalam pembicaraan itu. Ki Gede Menoreh yang sebenarnya memang sudah lama menunggu kedatangan mereka, dengan senang hati menerimanya, meskipun sebagai kelaziman seorang ayah Ki Gede berkata, “Baiklah Ki Demang, lamaran Ki Demang bagi putra Ki Demang yang bernama Swandaru itu aku terima. Meskipun demikian, karena bukan aku orangnya yang akan menjalaninya, maka aku akan menanyakannya kepada anakku. Karena itu, kami persilahkan Ki Demang tinggal dua tiga hari di sini. Pada saatnya kami akan memberikan jawaban atas lamaran Ki Demang bagi putra Ki Demang itu.”

Ki Demang pun mengetahui, bahwa akan demikian jawaban Ki Gede Menoreh. Itulah sebabnya ia sudah bersedia jawaban pula. “Baiklah, Ki Gede. Kami akan menunggu sampai pintu yang kami ketuk itu terbuka.”

Demikianlah pembicaraan itu tidak mengalami persoalan apa pun. Semuanya berlangsung seperti yang diharapkan. Meskipun kadang-kadang terasa perasaan Ki Waskita tersentuh. Setiap kali ia teringat kepada anak laki-lakinya. Namun demikian sama sekali tidak terlintas di dalam angan-angannya untuk berbuat sesuatu atas pembicaraan itu. Ia tidak ingin mempergunakan sesuatu yang dimilikinya untuk mempengaruhinya.

“Jika terjadi sesuatu, biarlah itu terjadi karena seharusnya terjadi. Bukan karena aku dan apalagi karena usahaku untuk mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi itu.”

Tetapi kegelisahan di hati Ki Waskita seakan-akan selalu mengganggunya. Ketika ia mendapat kesempatan, maka dicobanya untuk menilik di dalam dirinya, apakah ia menemukan sesuatu yang kurang wajar di dalam persoalan yang sedang dihadapinya.

Tiba-tiba keringat dingin mengembun di keningnya. Ia melihat sesuatu yang seakan-akan disaput oleh mendung yang kelabu.

“Tidak, tidak,” desisnya di dalam hati.

Tetapi itu di luar kuasanya. Ia hanya melihat. Ia tidak dapat berbuat apa pun atas penglihatannya.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengerti, di manakah letak kesalahan dari persoalan yang dihadapinya karena ia tidak sempat merenunginya ketika pembicaraan itu kemudian berlangsung dengan riuhnya, diselingi oleh gelak tertawa.

Ki Waskita mencoba juga untuk tertawa. Namun setiap kali terbayang di rongga mata hatinya, bahwa perkawinan yang dibicarakan ini bagai bayang-bayang di dalam gelapnya kabut yang buram.

“Kenapa?” timbul pertanyaan yang membelit hatinya. Tetapi Ki Waskita tidak sempat mencari jawab. Bahkan menurut tanggapannya di dalam kesempatan yang sempit itu, seakan-akan perkawinan yang akan terjadi antara Swandaru dan Pandan Wangi, akan diliputi oleh kegelapan hati, meskipun perkawinan itu sendiri akan berlangsung.

“Mudah-mudahan aku salah,” ia berkata kepada diri sendiri di dalam hatinya, “aku tidak mendapat waktu yang luas untuk meyakini isyarat yang tidak aku kehendaki terselip di dalam hati ini.”

Namun yang terjadi kemudian adalah pembicaraan-pembicaraan yang berkepanjangan, yang kadang-kadang sudah menyimpang dari persoalan yang sebenarnya.

Sesaat kemudian maka Pandan Wangi pun menghidangkan makanan dan minuman bagi mereka, bahkan makan malam sama sekali.

“Biarlah anak-anak muda makan kemudian,” berkata Ki Gede Menoreh. Lalu, “Biarlah nanti Swandaru, Agung Sedayu dan Rudita berbujana sendiri dengan Prastawa dan Pandan Wangi.” Ki Gede berhenti sejenak, kemudian, “Di mana mereka sekarang?”

“Mereka ada di gandok. Atau mungkin di gardu peronda. Agaknya mereka ingin menemui kawan-kawannya ketika mereka berada di Tanah Perdikan ini.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Bagi Swandaru dan Agung Sedayu, maka sudah banyak sekali anak-anak muda di Tanah Perdikan ini yang dikenalnya. Karena itu, maka mereka tentu ingin juga bertemu dan sedikit membicarakan kenangan masa lampau itu meskipun bagi orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh, masalah-masalah di masa lampau itu sudah tidak ingin dikenangnya lagi.

Tetapi dalam pada itu, ternyata hanya Agung Sedayu sendirilah yang pergi ke gardu di regol halaman. Ketika udara di gandok terasa terlampau panas, maka kedua anak muda itu pun duduk di serambi. Mereka tidak ikut Ki Demang menghadap Ki Gede Menoreh, karena persoalan yang akan dibicarakan adalah persoalan Swandaru.

“Kakang Agung Sedayu,” berkata Swandaru yang gemuk itu, “udara panasnya bukan main. Aku akan ke pakiwan sebentar.”

“Kenapa?”

“Aku akan membasahi wajahku sejenak. Mencuci muka, agar badanku terasa agak segar.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia pun kemudian duduk sendiri di serambi.

Tetapi ternyata Swandaru lama sekali tidak kembali ke serambi gandok. Karena itulah maka Agung Sedayu yang kesepian itu pun berdiri dan melangkah pergi ke gardu di regol untuk menemui beberapa orang yang sedang bertugas meronda. Ternyata ada di antara mereka yang sudah dikenalnya ketika ia berada di Tanah Perdikan itu, sehingga dengan demikian maka Agung Sedayu pun segera terlibat dalam pembicaraan yang mengasyikkan.

Dalam pada itu, Swandaru yang pergi ke pakiwan, dan mencuci mukanya, tidak segera kembali ke serambi gandok karena kebetulan saja ia berpapasan dengan Prastawa. Sejenak mereka bercakap-cakap di dalam keremangan malam di serambi belakang. Tetapi sejenak kemudian, seseorang telah mendekati mereka sambil bertanya, “Apa kerjamu di situ, Prastawa?”

Prastawa berpaling. Lalu jawabnya, “Aku kurang mengerti apa yang dikehendaki orang ini.”

“Siapa?” bertanya orang itu.

“Seorang pekatik. Ia bertanya tentang kudamu yang hitam itu.”

“Kenapa kuda itu?”

Prastawa tidak menjawab. Tetapi dengan sengaja ia bergeser membayangi Swandaru, sehingga tidak dapat terlihat dengan jelas.

Swandaru menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika ia melihat orang yang mendekatinya itu.

“Apa katanya?” orang itu masih bertanya.

“Bertanyalah sendiri kepadanya.”

Ketika orang itu berdiri di hadapan Prastawa, maka tiba-tiba Prastawa berkata, “Uruslah kudamu. Aku akan menyiapkan keperluan tamu-tamu di pendapa itu.”

“Prastawa,” orang itu mencoba mencegah, tetapi Prastawa sudah meninggalkannya.

“Anak Bengal,” orang itu mengumpat. Wajahnya menjadi merah ketika ia melihat bahwa yang disebutnya pekatik itu adalah Swandaru.

Tetapi ia masih berdiri saja sambil menundukkan kepalanya. Ada sesuatu yang seakan-akan mengikatnya untuk tetap di situ.

Swandaru pun menjadi bingung, karena orang itu adalah Pandan Wangi. Sejak Prastawa memanggil gadis itu, maka hampir saja mulutnya terbuka untuk menyatakan dirinya. Tetapi ternyata kata-katanya tidak meloncat dari sela-sela bibirnya.

Kini keduanya berdiri berhadapan di dalam keremangan malam di serambi belakang dalam suasana yang beku.

Tetapi Swandaru pun akhirnya dapat menguasai perasaannya dan berkata, “Bukan maksudku memanggilmu. Tetapi apakah pekerjaanmu sudah selesai? Bukankah kau sedang mempersiapkan hidangan buat para tamu?”

Dengan keringat yang membasahi punggungnya, Pandan Wangi menjawab seperti di luar sadarnya, “Aku sudah selesai. Aku sudah menghidangkan suguhan itu.”

“O,” Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dalam pada itu ada sepercik kegembiraan bahwa Pandan Wangi tidak perlu lagi meninggalkannya.

Namun suaranya masih terasa sendat ketika ia bertanya, “Apakah mereka sudah selesai berbincang?”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya, “Rupa-rupanya pembicaraan mereka sudah selesai.”

“Jadi, jadi,” suara Swandaru bahkan menjadi gemetar, “apakah ayahmu tidak berkeberatan?”

Pandan Wangi nnenundukkan kepalanya. Dengan suara yang hampir tidak terdengar ia berkata, “Ayah menyerahkan persoalannya kepadaku. Aku mendengar ayah berkata, bahwa Ayah akan bertanya kepadaku lebih dahulu.”

 

 

Dada Swandaru menjadi semakin berdebar-debar. Ketika terlihat olehnya sebuah dingklik bambu di serambi belakang, maka katanya, “Apakah kita akan duduk saja di dingklik itu?”

Pandan Wangi tidak mengerti, pesona apakah yang telah menggerakkan kepalanya, sehingga kepalanya itu terangguk-angguk.

Keduanya pun kemudian duduk di atas dingklik bambu di serambi belakang di dalam keremangan malam. Ketika amben bambu itu bergoncang dan keduanya tanpa sengaja bersentuhan, terasa sesuatu bagaikan mengalir di sepanjang jalur darah kedua anak muda itu dan merayap sampai ke pusat jantungnya. Namun dengan demikian mulut mereka justru seakan-akan menjadi terbungkam.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Dalam kesenyapan malam yang menjadi semakin dalam, terdengar jantung mereka berdegup terlampau keras.

Namun perlahan-lahan keduanya berhasil menguasai kegelisahannya. Pandan Wangi mengangkat wajahnya ketika ia mendengar pembantu-pembantunya sibuk mencuci alat-alat dapur di sebelah serambi itu.

“Aku mempunyai pekerjaan di dapur,” berkata Pandan Wangi.

Swandaru .menganggukkan kepalanya sambil menjawab singkat, “Ya.”

Tetapi Pandan Wangi tidak beringsut dari tempatnya. Ia masih saja duduk di samping Swandaru. Tatapan matanya bahkan jauh menembus ke dalam gelapnya malam.

“Pandan Wangi,” sejenak kemudian terdengar suara Swandaru perlahan-lahan, “tentu Ayah dan Ki Gede membicarakan persoalan kita sampai sejauh-jauhnya. Meskipun Ki Gede masih akan bertanya kepadamu, namun sebenarnya mereka telah mengetahui jawabnya, karena Kiai Gringsing sudah mengatakannya kepada Ayah bahwa pernah dibicarakannya masalah ini sebagai pendahuluan.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Meskipun demikian Pandan Wangi, sebaiknya kau mengenal aku lebih jauh lagi. Tentu aku tidak akan dapat mengatakan tentang diriku sendiri. Selama kami masih akan tinggal di sini beberapa hari lagi untuk menunggu jawabmu, selama itu kau dapat bertanya kepada Guru tentang diriku atau kepada Kakang Agung Sedayu. Kau mengenal aku selama ini sebagai tamu di rumah ini. Karena itu, tentu tingkah lakuku, tutur kataku, aku jaga sebaik-baiknya. Tetapi tidak demikian halnya jika aku berada di rumahku sendiri.”

Pandan Wangi berpaling sejenak. Tetapi hanya sejenak. Kata-kata Swandaru itu mempunyai kesan yang aneh di dalam hatinya. Justru karena keterbukaannya itulah, maka Pandan Wangi merasa semakin tertarik kepada anak yang gemuk ini. Hampir di luar sadarnya ia menjawab, “Betapa pun sifatmu, Kakang, tetapi aku melihat kejujuran di dalam sikap, kata, dan kalau aku tidak salah tangkap juga angan-anganmu. Itu adalah bekal yang sangat berharga bagi kita kelak, karena aku tidak ingin ada rahasia di antara keluarga, apalagi pada suami dan istrinya. Pengalaman yang pahit di dalam keluargaku sendiri menyatakan, bahwa ketidak-jujuran hanya akan menimbulkan malapetaka saja.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Pandan Wangi yang tiba-tiba menjadi sayu. Karena itu ia tidak bertanya lebih lanjut. Karena persoalannya pasti akan menyangkut kakaknya, Sidanti, yang pernah menggemparkan Tanah Perdikan ini dan bahkan tanpa dikehendakinya, Sidanti terbunuh oleh adiknya itu sendiri.

“Pandan Wangi,” berkata Swandaru kemudian, “terima kasih atas pengertianmu. Tetapi keterbukaan hati kadang-kadang ujudnya adalah sikap yang barangkali tampak kasar dan tidak sopan. Aku merasakan betapa kadang-kadang orang tuaku, atau guruku, atau orang lain tidak senang melihat sikapku. Aku memang berusaha untuk sedikit melunakkan keterbukaan hatiku dengan bentuk yang lebih baik. Tetapi tidak selalu berhasil. Setiap kali tiba-tiba saja meloncat sikapku yang kadang-kadang menyinggung perasaan orang lain. Apalagi di hadapan Kakang Agung Sedayu yang mempunyai sifat-sifat yang kadang-kadang tidak dimengerti oleh orang lain.”

Pandan Wangi sekali lagi mengangkat wajahnya dan memandang wajah Swandaru yang bulat. Tetapi juga hanya sesaat.

“Kakang Swandaru,” berkata Pandan Wangi kemudian, “kekasaran bukan sifat yang kurang baik apabila itu disadari dan dilandasi dengan niat-niat yang baik. Namun kejujuran itu sendiri mempunyai nilai yang sangat tinggi bagiku.” Pandan Wangi menundukkan kepalanya semakin dalam, lalu, “Dan aku bukannya orang yang terbuka, meskipun aku berusaha untuk berbuat sejujur-jujurnya. Tetapi Kakang, aku adalah seorang gadis yang murung sejak kanak-kanak.”

“Aku mengerti, Pandan Wangi,” jawab Swandaru, “kau pernah kehilangan sesuatu yang paling mahal harganya, yaitu kasih ibumu. Tetapi ayahmu adalah seorang yang sangat baik bagimu sehingga kau dapat berkembang seperti sekarang ini.”

“Aku hanya ingin kau juga mengetahui, Kakang. Jika aku setiap kali berwajah murung, sama sekali bukan selalu karena persoalan yang aku hadapi pada suatu saat. Tetapi itu adalah sifatku yang mungkin sangat menjemukan bagi orang lain.”

“Aku pernah mendengar guruku menasehati aku, Pandan Wangi. bahwa di dalam hidup berkeluarga itu, masing-masing tidak memasang harga diri yang mati. Kadang kita masing-masing harus berbuat sesuatu yang bertentangan dengan keinginan sendiri. Itulah agaknya salah satu bentuk pengorbanan yang kecil, dan tentu kau pun pernah mendengar uraian yang panjang lebar di dalam setiap upacara perkawinan. Jika kita memperhatikan setiap nasehat meskipun tidak ditujukan kepada kita, tetapi kepada nganten yang dirayakan saat itu, kita akan dapat mengambil manfaat sebanyak-banyaknya. Tetapi pokok dari persoalannya adalah bahwa kita masing-masing harus menerima sisihan kita itu seutuhnya. Bukan hanya yang baik saja yang ada padanya, tetapi dengan segada kekurangan-kekurangannya.”

“Aku mengerti, Kakang,” berkata Pandan Wangi. “Dan kita bukan anak-anak yang baru menginjak usia remaja yang membayangkan malam terang bulan di sepanjang tahun, namun yang dengan segera menjadi kecewa ketika melihat bulan tidak bulat lagi.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Kita memang bukan remaja kecil lagi. Mudah-mudahan aku dapat menyesuaikan diriku dalam kehidupan yang lebih dewasa. Dengan segala kekurangan dan kelebihan, aku berharap bahwa kita dapat mempertahankan segala yang baik dan mengurangi sejauh mungkin kekurangan-kekurangan di hati kita masing-masing.”

Pandan Wangi tidak segera menyahut. Tetapi kata-kata Swandaru itu membuatnya berbangga. Sehari-hari ia melihat Swandaru itu seakan-akan tidak pernah bersungguh-sungguh dalam setiap persoalan. Namun ternyata, menghadapi perkawinannya, Swandaru dapat berbicara seperti seorang kakek di depan sepasang mempelai yang sedang dipersandingkan.

“Mudah-mudahan semuanya itu bukan sekedar petuah-petuah yang didengarnya di dalam perhelatan-perhelatan saja,” berkata Pandan Wangi di dalam hatinya, “tetapi benar-benar tumbuh dari dasar hatinya.”

Namun dalam pada itu, selagi keduanya masih sedang mencernakan pembicaraan mereka, maka mereka telah dikejutkan oleh desir langkah seseorang di kegelapan. Keduanya adalah orang-orang yang berilmu tinggi, sehingga pendengaran mereka pun cukup terlatih. Karena itulah, maka keduanya pun segera memperhatikan suara yang mereka dengar itu dengan lebih saksama.

Langkah itu terdengar semakin jelas. Dan tiba-tiba saja dari kegelapan mereka mendengar seseorang berkata, “Pandan Wangi, apakah pantas hal itu kau lakukan?”

Kedua anak muda yang duduk di amben bambu itu segera melihat bayangan di dalam kegelapan. Namun mereka pun segera mengenalnya, bahwa orang itu adalah Rudita.

Perlahan-lahan Rudita mendekati keduanya sambil berkata, “Pandan Wangi. Aku adalah saudaramu. Aku berkeberatan melihat caramu bergaul dengan laki-laki. Laki-laki itu kini bukan sanakmu, bukan kadangmu. Karena itu kau tidak boleh duduk berdua saja di dalam gelap. Sentuhan kulit kalian, membuat kalian menjadi kotor, dan harus disucikan.”

Wajah Pandan Wangi menjadi merah padam. Hampir saja ia meloncat menerkam Rudita dan meremas mulutnya. Namun untunglah bahwa ia masih sempat menguasai perasaannya.

Rudita yang sudah berdiri di hadapan mereka sambil bertolak pinggang berkata, “Pandan Wangi. Kau adalah contoh dari setiap gadis di Tanah Perdikan ini. Jika anak gadis kepala Tanah Perdikannya saja berbuat seperti itu, apakah yang akan dilakukan oleh gadis-gadis yang lain?”

“Rudita,” jawab Pandan Wangi yang berusaha menahan hati itu, “berbicaralah yang agak baik. Apakah yang salah padaku sekarang? Apakah salahnya aku duduk di sini bersama Kakang Swandaru?”

“Kau sudah melanggar pantangan bagi seorang gadis.”

“Rudita,” berkata Pandan Wangi kemudian, “barangkali aku sudah terlampau sering melanggar pantangan serupa ini jika hal serupa ini merupakan sebuah pantangan. Aku dibentuk oleh ayah menjadi seorang gadis yang memang agak lain dari gadis yang lain. Aku oleh ayah diperkenankan pergi berburu dan bermalam di perburuan. Aku adalah satu-satunya perempuan di perburuan itu. Tentu di hutan perburuan aku selalu duduk bersama dengan lebih dari tiga empat orang laki-laki pengiringku.”

“Soalnya berbeda,” sahut Rudita, “kau benar-benar tidak mempunyai sentuhan apa pun dengan laki-laki itu. Lahir dan batin. Tetapi dengan Swandaru, kau telah bersentuhan jasmaniah dan rohaniah. Itu adalah perbuatan terlarang sebelum kalian menjadi pasangan suami isteri yang sah.”

“Ah,” Pandan Wangi berdesah, “kau jangan membuat keributan Rudita. Aku berterima kasih jika kau memperingatkan kesalahanku. Tetapi jangan berbicara terlalu tajam. Kata-kata bagi seseorang dapat berpengaruh baik tetapi juga dapat berpengaruh buruk bagi diri sendiri.”

“Apa yang aku katakan?” bertanya Rudita. “Memang mungkin tidak menyenangkan bagimu. Sudah barang tentu seseorang tidak akan dengan senang hati melihat cacat di tubuh sendiri. Tetapi aku merasa wajib. Dan kau harus menjaga bahwa hal yang serupa ini tidak berkelanjutan.”

Wajah Pandan Wangi terasa menjadi panas. Namun ia masih tetap bertahan untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan persoalan lebih jauh karena orang tua Rudita itu pun sedang menjadi tamu ayahnya pula. Namun yang mencemaskannya adalah Swandaru yang masih berdiam diri. Pandan Wangi sedikit banyak mengenal watak Swandaru. Karena itu, jika anak muda yang gemuk itu menjadi jengkel, maka ia akan dapat berbuat sesuatu yang dapat menumbuhkan keributan dan bahkan mungkin akan berkepanjangan.

Karena itu, maka Pandan Wangi itu pun berkata, “Rudita. Aku berterima kasih. Sekarang, barangkali ibumu mencarimu. Aku pun akan segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makan kita.”

“Kau harus pergi lebih dahulu,” berkata Rudita, “jika tidak, maka sepeninggalku kau dapat berbuat apa saja di dalam gelap.”

“Rudita, apakah kau dengar suara para pelayan mencuci alat dapur di balik dinding ini? Mereka tentu mendengar percakapan kita, juga jika aku berbicara dengan Kakang Swandaru. Di sebelah kiri dari tempat duduk ini adalah sumur dan pakiwan. Setiap saat orang akan pergi hilir-mudik ke sumur. Karena itu kami tidak melanggar pantangan. Terutama pantangan ayahku sendiri, karena yang berkuasa di dalam rumah ini adalah Ayah. Selama aku belum melanggar perintah dan pantangannya, maka aku merasa bahwa aku masih dapat melakukannya.”

Wajah Rudita menjadi tegang, dan Pandan Wangi berkata selanjutnya, “Ingat, ayahlah yang paling berkuasa di sini. Tidak hanya di rumah ini, tetapi di seluruh Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, untuk mengukur apakah aku telah berbuat kesalahan di rumah ini dan di atas Tanah Perdikan ini, bertanyalah kepada ayahku. Katakan apa yang kau lihat, dan mintalah pendapatnya.”

Rudita menjadi semakin tegang. Dipandanginya wajah Pandan Wangi sejenak, kemudian wajah Swandaru yang hampir bulat itu.

Bagi Rudita, kata-kata Pandan Wangi itu seolah-olah merupakan tantangan, bahwa gadis itu tidak akan mendengarkan semua pendapatnya. Pandan Wangi merasa bahwa apa yang dilakukannya itu masih belum melanggar pantangan.

Karena itu, maka dirasa dadanya semakin lama menjadi semakin pepat. Kemanjaannya membuatnya menjadi sakit hati. Kebiasaannya adalah, bahwa semua keinginan dan kata-katanya terpenuhi atau setidak-tidaknya orang lain berusaha untuk memenuhinya. Namun kini Pandan Wangi justru bersandar kepada kekuasaan ayahnya di atas Tanah Perdikan ini.

Sejenak Rudita berdiri termangu-mangu. Namun sejenak kemudian ia pun meninggalkan kedua anak muda itu tanpa berkata sepatah kata pun.

Pandan Wangi menarik nafas dalam. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin menyakiti hati tamunya itu. Tetapi ia tidak mempunyai cara lain, apalagi Rudita sudah melanggar haknya sebagai seorang tamu. Seandainya ia tidak senang melihatnya berbicara berdua dengan Swandaru, sebaiknya ia tidak dengan langsung menegurnya.

Pandan Wangi berpaling ketika ia mendengar Swandaru berkata, “Maafkan Pandan Wangi, jika kehadiranku di sini menimbulkan persoalan di antara kalian, di antara sanak dan kadangmu, karena bukankah Rudita itu masih bersangkut paut keluarga denganmu?”

“Ia tidak berhak mempersoalkannya, Kakang Swandaru,” jawab Pandan Wangi.

“Mungkin maksudnya baik. Tetapi sifatnya yang terlalu memandang setiap persoalan berkisar pada dirinya dan kemanjaannyalah yang membuatnya berbuat sesuatu yang nampaknya kurang menghiraukan perasaan orang lain.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Mungkin begitu, Kakang. Dan aku pun berterima kasih karena Kakang menanggapi persoalan ini dengan hati yang lapang. Sebenarnya aku sudah cemas, jika tiba-tiba saja Kakang Swandaru merasa tersinggung dan bertindak langsung terhadapnya.”

Swandaru tersenyum. Katanya, “Aku pun tamu di sini. Karena itu, sejauh mungkin aku harus menyesuaikan diriku dengan keadaan apa pun di sini.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya, “Sudahlah, Kakang Swandaru, aku akan pergi ke dapur. Jika tamu-tamu di pendapa itu sudah selesai, maka kita akan makan bersama-sama.”

Swandaru memandang Pandan Wangi sejenak, namun kemudian ia menganggukkan kepalanya meskipun sebenarnya ia masih ingin duduk bersamanya agak lebih lama lagi, “Baiklah, Wangi.”

Pandan Wangi pun kemudian berdiri dan melangkah perlahan-lahan meninggalkan Swandaru yang masih duduk di atas amben bambu. Baru beberapa langkah Pandan Wangi berhenti sejenak. Ketika ia berpaling, Swandaru pun sedang memandanginya sehingga tatapan mata keduanya pun beradu.

Dengan tergesa-gesa Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap saja berdiri di tempatnya.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.

Sejenak kemudian, Pandan Wangi menyadari keadaannya. Sekali lagi ia memandang Swandaru sambil tersenyum. Kemudian ia pun meneruskan langkahnya ke pintu dapur.

Swandaru termangu-mangu sejenak di tempatnya. Bahkan kemudian ia bersandar tiang di belakang amben bambunya. Dipandanginya kegelapan malam yang semakin pekat menyelubungi Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan kemudian di balik kegelapan itu seakan-akan dilihatnya Rudita sedang berdiri tegang di balik dedaunan mengawasi setiap gerak-geriknya.

Ketika ia mendengar suara Pandan Wangi yang sedang berbicara dengan pembantunya di dapur, barulah Swandaru menyadari dirinya. Ia pun kemudian berdiri pula dan berjalan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu, kembali ke gandok. Tetapi ia tidak menjumpai Agung Sedayu di gandok itu.

Meskipun demikian, ia tidak segera mencarinya. Ketika dilihatnya mereka yang sedang berbincang masih berada di pendapa, bahkan bekas makan malam mereka pun masih belum disingkirkan, maka Swandaru pun justru masuk ke dalam gandok dan membaringkan dirinya di amben yang besar sambil menarik nafas dalam-dalam. Dibiarkannya angan-angannya terbang ke dalam dunia yang asing baginya, namun memberikan harapan yang cerah bagi hari depannya.

Dalam pada itu, Pandan Wangi mulai menyibukkan dirinya di dapur. Beberapa orang pelayannya pun kemudian pergi ke pendapa untuk menyingkirkan mangkuk dan tempat nasi yang masih ada di pendapa itu. Sementara ayahnya berpesan, agar bagi anak-anak muda yang ada disediakan makan di pringgitan saja, karena orang-orang tua itu masih ingin berbicara panjang, meskipun persoalannya sudah berkisar dari persoalan pokok yang sebenarnya sudah selesai.

Sambil mengatur makan malam bagi Swandaru dan anak-anak muda yang lain, perasaan Pandan Wangi pun selalu disentuh oleh hubungannya dengan anak muda yang gemuk itu. Bahkan ia pun kemudian bertanya kepada diri sendiri, “Apakah benar aku sudah melanggar pantangan bagi seorang gadis?”

Tanpa disadarinya dikenangnya jalan hidup ibunya yang telah diperciki noda yang tidak akan dapat terhapus sepanjang umurnya. Tanpa dikehendakinya sendiri, ia membayangkan apa saja yang dilakukan ibunya. Pergaulan yang melanggar batas dan bahkan kehilangan kekang atas diri sendiri, sehingga lahirlah kakaknya Sidanti, bukan karena ayahnya Ki Argapati. Kelahiran yang sebenarnya tidak dikehendaki oleh Sidanti sendiri, sehingga karena itu, maka Sidanti tidak akan dapat dianggap bersalah oleh keadaannya itu.

Diam-diam Pandan Wangi mcmperbandingkan hubungannya dengan Swandaru dengan apa yang pernah terjadi dengan ibunya, sehingga ia berkata di dalam hatinya, “Aku tidak boleh mengulangi yang pernah terjadi dengan ibuku, agar aku tidak termasuk di dalam kata orang, bahwa kacang tidak dapat ingkar dari lanjaran. Tetapi aku juga tidak dapat membelenggu diriku di dalam bilik yang gelap, karena pada dasarnya Ayah telah memberikan kebebasan kepadaku. Tetapi sudah barang tentu bahwa ia tidak ingin terluka sampai dua kali oleh tusukan keadaan yang sama. Jika ibu pernah melukai hatinya, maka aku harus membuktikan, bahwa aku dapat menjaga diriku sendiri.”

Meskipun demikian, kenangannya atas peristiwa yang pernah terjadi atas ibunya, telah membuatnya menjadi muram. Bahkan kadang-kadang ia terpaksa menghapus setitik air yang mengembang di pelupuknya, meskipun tidak seorang pun yang melihatnya.

Pandan Wangi pun kemudian semakin menyibukkan diri dengan kerja di dapur menyiapkan makan malam tamu-tamunya dan dirinya sendiri di pringgitan. Pandan Wangi berusaha melupakan kepedihan hatinya itu.

Sejenak kemudian, maka semuanya pun telah bersiap, Prastawa-lah yang kemudian mencari Swandaru di gandok, dan diketemukannya anak muda yang gemuk itu sedang berbaring.

“He, bukankah kau belum makan?” ia bertanya.

Swandaru terkejut. Perlahan-lahan ia bangkit dan dilihatnya Prastawa telah berdiri di pintu.

“Ah, agaknya kau sedang melamun, sehingga kau tidak mendengar kedatanganku. Di medan kau dapat mendengar langkah seseorang pada jarak yang jauh. Ternyata di sini kau tidak mendengar langkahku sampai ke ambang pintu.”

“Aku tertidur,” jawab Swandaru.

“Hanya nampaknya kau tertidur. Tetapi angan-anganmu pasti sedang terbang sampai ke bintang.”

Swandaru tersenyum. Dibenahinya pakaiannya yang menjadi agak kusut.

Prastawa pun kemudian mempersilahkannya pergi ke pringgitan. Kemudian dipanggilnya pula Agung Sedayu yang diketemukannya di gardu depan, dan ia masih harus mencari Rudita di gandok yang lain.

“Makanlah sendiri,” berkata Rudita.

“Ah,” Prastawa menyahut, “sebaiknya kau pergi ke pringgitan. Kita makan bersama-sama.”

“Biarlah Pandan Wangi makan bersama anak yang gemuk itu.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam.

“Aku malu mempunyai seorang saudara perempuan seperti Pandan Wangi. Ia duduk berdua di dalam kegelapan. Itu melanggar kesusilaan.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya duduk di amben yang kebetulan terlindung dari sinar lampu di serambi belakang.”

“Itulah salah mereka. Tentu bukan sekedar kebetulan.”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Sudahlah, jangan hiraukan mereka. Marilah kita makan.”

“Aku memang tidak berkepentingan. Tetapi sebagai seorang yang tahu akan kesopanan dan kesusilaan, aku tidak dapat melihat hal serupa itu terjadi”

“Biarlah hal itu diselesaikan oleh orang-orang tua, oleh ayah mereka atau oleh siapa pun juga.”

“O, ternyata kau juga tidak bertanggung jawab. Ternyata kau bukan seorang pembina kesusilaan yang baik.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menemukan jawab, “Aku mengerti. Memang sebaiknya mereka tidak melakukannya. Aku akan mencoba mencegahnya, justru karena aku adalah saudara sepupu Pandan Wangi. Mungkin karena aku tidak melihat sendiri, aku kurang menaruh perhatian. Namun pada suatu saat jika aku melihatnya, aku akan menegur mereka.”

Rudita memandang Prastawa sejenak. Kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Berbuatlah sesuatu sebagai seorang yang beradab. Yang mengerti baik dan buruk.”

“Aku akan mencobanya,” sahut Prastawa, lalu, “sekarang, marilah kita makan.”

Rudita termenung sejenak. Lalu katanya sambil menganggukkan kepalanya, “Baiklah.”

Akhirnya anak-anak muda itu pun makan bersama di pringgitan. Namun suasananya jadi agak tegang. Rudita seakan-akan tidak mau berbicara apa pun juga selain sepatah-sepatah saja, sehingga dengan demikian Pandan Wangi pun menjadi semakin diam pula.

“Besok kita pergi berburu,” Prastawa-lah yang mencoba membuka pembicaraan agar suasananya tidak menjadi beku.

“Ya,” Agung Sedayu-lah yang pertama-tama menyahut, “kita akan pergi berburu besok. Bukankah begitu?”

Dengan sudut matanya Pandan Wangi memandang wajah Rudita yang tegang. Namun kemudian anak muda itu menganggukkan kepalanya sambil menyahut, “Baiklah. Kita besok pergi berburu.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Hampir saja ia menyebut hutan yang liar itu. Namun untunglah bahwa ia tidak mengucapkannya.

“Kita pergi bersama beberapa orang pengiring,” berkata Rudita.

“Bukankah kita sudah berlima?” bertanya Agung Sedayu.

“Belum cukup,” jawab Rudita.

Sebelum Agung Sedayu menyahut, Prastawa-lah yang menengahi, “Ya, kita membawa beberapa orang pengawal. Seperti yang sudah kita bicarakan, di pinggir Kali Praga itu sekarang tidak saja dihuni oleh binatang-binatang buas, tetapi juga orang-orang bersenjata yang tidak diketahui kedudukan dan asal usulnya. Namun demikian, senjata-senjata mereka itu tetap berbahaya.”

“Jika kita tidak berbuat apa-apa?” bertanya Rudita.

“Mereka pun tidak berbuat apa-apa,” sahut Prastawa sebelum Agung Sedayu membuat Rudita menjadi ketakutan.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ketika terpandang olehnya wajah Prastawa, maka anak muda itu mengedipkan matanya.

Isyarat itu dapat dimengerti oleh Agung Sedayu, sehingga karena itu ia hanya menarik nafas saja panjang.

“Besok kita membawa tiga orang pengawal pilihan,” berkata Prastawa, lalu, “ditambah dengan dua orang yang akan melayani kebutuhan kita selama berburu. Makan, minum, dan membawa busur dan anak panah.”

“Kenapa hanya tiga?” bertanya Rudita.

“Masih ditambah dua orang lagi.”

“Tetapi mereka hanya sekedar pesuruh atau pelayan atau juru masak.”

“Tetapi sekaligus pengawal yang berpengalaman mempergunakan senjata.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipandanginya Agung Sedayu sejenak. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya, “Bagaimana dengan kau? Apakah kau berani juga pergi berburu hanya dengan lima orang pengawal?”

Agung Sedayu menjadi bingung. Kenapa justru Rudita itu bertanya kepadanya. Karena itu, maka ia pun kemudian menjawab dengan ragu-ragu pula, “Terserahlah kepadamu.”

Rudita mengangkat wajahnya sambil berkata, “Kau belum mengerti bahaya yang dapat ditimbulkan oleh hutan-hutan liar. Baru saja aku berburu dengan Pandan Wangi di hutan perburuan. Di hutan perburuan itu pun kita dapat menemukan bahaya yang tidak tersangka-sangka. Dan kau dengan tanpa berpikir berkata “Kita sudah berlima.” Nah. Apakah kau dapat membayangkan bahaya yang dapat kita jumpai di perjalanan? Jika kau sudah dapat membayangkannya, maka kau tentu akan minta pengawal lebih dari sepuluh orang.”

 

 

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya dengan suara yang tertahan, “Terserahlah kepadamu. Jika Prastawa berani bertanggung jawab hanya dengan lima orang pengawal, aku juga berani, karena aku percaya bahwa ia sudah mengenal medan dengan sebaik-baiknya.”

Tetapi ternyata bahwa Swandaru mulai digelitik oleh perasaan sendiri, sehingga ia tidak dapat menahan dirinya dan berkata, “Untunglah bahwa selama perjalanan kami berlima tidak ditelan oleh ganasnya Alas Mentaok. Padahal Alas Mentaok jauh lebih ganas dari hutan yang mana pun juga di sebelah selatan sepanjang tanah ini.”

“Ah,” desis Agung Sedayu.

Namun untunglah bahwa Prastawa tidak mengetahui maksud Swandaru yang sebenarnya sehingga ia justru menyahut, “Ya, beruntunglah kalian, bahwa kalian masih tetap hidup. Memang bagi orang yang tidak mengetahui bahaya yang terdapat di perjalanannya, mereka justru tidak akan mengenal takut. Meskipun sebenarnya bukan karena keberanian dan percaya kepada diri sendiri, tetapi justru karena kalian tidak mengerti apakah yang kalian hadapi.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika Agung Sedayu menggamitnya Swandaru tersenyum.

“Demikian juga agaknya sikap kalian tentang perburuan yang akan kita lakukan. Kalian menganggap bahwa perburuan itu seperti sebuah tamasya saja.”

Swandaru masih mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnya ia sudah jemu mendengar sesorah itu. Meskipun demikian ia masih tetap menghormati anak muda yang manja itu.

Ternyata kemudian Prastawa-lah yang berhasil menutup persoalan seperti ia membukanya, “Baiklah. Kita sekarang beristirahat. Kita akan tidur nyenyak malam ini. Besok kita akan berangkat pagi-pagi benar. Nanti sesudah pembicaraan di pendapa selesai, kita masing-masing akan minta ijin. Tentu Pandan Wangi akan minta ijin kepada Ki Gede dan minta beberapa orang untuk mengawalnya.”

Demikianlah pembicaraan itu seakan-akan telah selesai. Demikian juga acara makan malam pun selesai pula. Namun di pendapa ternyata masih terdengar gelak tertawa yang berkepanjangan.

Hampir tengah malam, barulah pembicaraan di pendapa itu diakhiri. Seperti yang sudah direncanakan oleh anak-anak muda yang berkumpul di pringgitan untuk makan malam, masing-masing minta ijin kepada orang tuanya untuk pergi berburu besok pagi-pagi benar dan kembali di hari berikutnya.

“Berhati-hatilah,” berkata Ki Gede Menoreh, “bawalah obat penawar racun karena di hutan liar itu masih banyak terdapat binatang berbisa. Tetapi juga bersiaplah menghadapi kemungkinan yang lain, karena kadang-kadang beberapa orang bersenjata telah menyeberangi Kali Praga jika mereka berbenturan dengan pasukan pengawal Tanah Mataram yang sedang tumbuh itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak diketahui sikap dan pendiriannya dengan pasti, sehingga siapa pun dapat dianggapnya sebagai lawannya.”

“Baik, Ayah,” jawab Pandan Wangi, “kami akan membawa beberapa orang pengawal dan orang-orang yang akan membawa perlengkapan berburu kami.”

“Baiklah. Nanti aku akan mempersiapkannya.”

“Kami akan berangkat besok pagi-pagi benar.”

“Ya. Aku akan memanggil orang yang bertugas di gardu malam ini dan menyuruhnya menghubungi orang itu.”

“Terima kasih, Ayah.”

“Tetapi, apakah Rudita akan ikut serta?”

“Ya, Ayah.”

“Suruhlah ia minta ijin kepada ayahnya.”

“Kami masing-masing akan minta ijin lebih dahulu,” sahut Pandan Wangi, “dan karena bersama Rudita itulah, kami memerlukan beberapa orang pengawal yang sebenarnya tidak kami perlukan.”

“Tentu kalian perlukan. Bukan sekedar untuk menangkap kijang.”

Pandan Wangi memandang ayahnya sejenak. Namun kemudian kepalanya pun terangguk-angguk. Ia mengerti maksud ayahnya, bahwa ayahnya pun menganggap perlu untuk berhati-hati menghadapi orang-orang yang tidak dikenal itu.

“Sekarang, beristirahatlah,” berkata Ki Gede, “aku akan memanggil peronda itu untuk menghubungi orang-orang yang akan aku tunjuk ikut di dalam perburuan itu. Agaknya perburuan memang menjadi suguhan yang menyenangkan, bagi Agung Sedayu dan Swandaru. Mungkin juga Rudita.”

Pandan Wangi menggelengkan kepalanya, katanya, “Rudita bukan seorang pemburu yang baik.”

“Mungkin,” desis ayahnya, “namun ayahnya adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun demikian, jika Rudita ikut serta, hati-hatilah. Jagalah anak muda yang manja itu, agar kulitnya tidak terluka. Jika ia tergores duri betapa pun kecilnya, ibunya akan menjadi sangat cemas dan ketakutan.”

“Baiklah, Ayah,” Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya, “sekarang aku akan tidur saja. Besok pagi-pagi aku akan berangkat.”

Demikianlah maka Pandan Wangi pun pergi ke dalam biliknya. Namun ia tidak segera dapat tertidur. Sebagai seorang gadis, maka ia pun berangan-angan tentang hari depannya. Apalagi setelah ayah Swandaru benar-benar datang ke Tanah Perdikan Menoreh setelah sekian lama bagaikan hilang tidak ada kabar beritanya.

Untunglah bahwa ayahnya termasuk seorang yang tabah, yang tidak segera goyah. Meskipun cukup lama Swandaru tidak ada kabar beritanya, namun ayahnya tetap percaya bahwa pada suatu saat anak muda itu akan kembali. Orang seperti Kiai Gringsing tentu dapat dipercaya kata-katanya.

Dan sebenarnyalah bahwa akhirnya ayah Swandaru itu pun datang untuk melamarnya dengan resmi.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Swandaru pun telah minta ijin kepada gurunya dan kepada Ki Demang untuk pergi berburu besok pagi-pagi bersama Pandan Wangi. Seperti yang didengarnya, maka dikatakannya pula, bahwa daerah di sebelah-menyebelah Kali Praga memang sering dilalui oleh orang-orang yang tidak dikenal. Karena itulah maka mereka selain pergi berlima, akan pergi juga beberapa orang pengawal.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hati-hatilah. Jangan menyia-nyiakan waktu yang sebenarnya sangat berharga bagimu Swandaru.”

“Aku mengerti, Guru.”

“Tetapi ingat, jangan menyeberangi Kali Praga. Jika kebetulan kau bertemu dengan orang-orang bersenjata dan ternyata mereka adalah orang-orang Mataram yang belum kau kenal sehingga terjadi bentrokan senjata, maka kau akan membuat persoalan baru. Menurut dugaanku, orang-orang Mataram tidak akan menyeberang Kali Praga, sehingga jika ada sepasukan orang-orang bersenjata di sebelah barat Kali Praga, maka sudah tentu bukan orang-orang Mataram.”

“Baik, Guru,” jawab Agung Sedayu, “kami akan selalu menjaga diri. Kami tidak akan menyeberang ke timur kali ini.”

“Baiklah. Jagalah dirimu baik-baik,” pesan gurunya.

“Jangan membuat persoalan, dengan siapa pun juga di atas Tanah Perdikan ini Swandaru,” pesan ayahnya.

“Tentu, Ayah. Aku akan menjaga diriku baik-baik.”

Demikianlah maka kedua anak-anak muda itu pun pergi ke pembaringan. Berbeda dengan Pandan Wangi, maka keduanya tidak sekedar merenung. Swandaru mempunyai kawan berbincang untuk mengisi waktu sebelum matanya terpejam.

Di bilik yang lain, Rudita ternyata tidak juga dapat tidur. Bermacam-macam persoalan mengganggu perasaannya. Betapa pun ia mencoba mengusirnya, namun setiap kali bayangan-bayangan yang muram pun datang lagi hinggap di hatinya.

“Persetan,” geramnya, lalu, “aku tidak peduli.” Namun ternyata ia memerlukan waktu yang lama pula untuk dapat tertidur. Bahkan di dalam tidur pun Rudita masih juga diganggu oleh mimpi yang menyeramkan, seakan-akan seekor harimau sedang merunduk untuk menerkamnya.

Untunglah ia segera terbangun sebelum mulutnya berteriak-teriak. Namun rasa-rasanya seluruh bulu-bulunya tegak berdiri. Ketika terlihat olehnya ayahnya tidur di pembaringan yang besar itu juga, maka hatinya pun menjadi tentram.

Ketika kemudian ayam jantan berkokok, maka anak-anak muda di rumah Ki Gede itu pun sudah terbangun. Prastawa sudah sibuk mengisi jambangan pakiwan. Tanpa dimintanya Agung Sedayu pun ikut pula membantunya, menimba air untuk mengisi gentong di dapur.

Sejenak kemudian anak-anak muda itu pun segera bersiap. Rudita pun segera mandi dan mempersiapkan diri. Demikian juga Agung Sedayu setelah selesai mengambil air.

Sebelum matahari terbit, semuanya sudah siap di pendapa. Bahkan para pengawal pun telah siap pula. Semalam-malaman para peronda berkeliling ke rumah mereka memberitahukan bahwa pagi-pagi benar mereka harus sudah siap di halaman rumah Ki Gede Menoreh untuk mengawal Panduan Wangi dan tamu-tamunya berburu.

Meskipun hari masih pagi, namun mereka pun sempat juga makan pagi sekedarnya. Baru kemudian mereka turun ke halaman menuju ke kuda masing-masing.

Sekali lagi anak-anak muda itu minta ijin. Rudita mendapat beberapa pesan dari ibunya yang agaknya sangat berat melepaskannya.

“Biarlah, Nyai,” berkata ayahnya, “di sini ia mendapat kawan anak-anak muda. Biarlah Rudita menjadi seorang anak muda.”

Istrinya tidak menyahut. Dipandanginya saja anaknya yang kemudian meloncat ke punggung kudanya.

“Lihatlah, betapa gagahnya,” desis ayah Rudita itu. Istrinya hanya menganggukkan kepalanya saja. Tetapi ia tidak menyahut.

Sejenak kemudian beberapa ekor kuda itu pun berderap meninggalkan halaman. Debu yang putih mengepul di keremangan pagi. Di langit cahaya merah mulai memancar membayang di wajah yang kebiru-biruan.

Orang-orang tua yang melepas anak-anak muda itu pun kemudian kembali masuk ke tempat mereka masing-masing. Ki Gede naik ke pendapa sedang Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang kembali ke gandok peristirahatannya, sedang ayah dan ibu Rudita di gandok yang lain.

Sementara itu pengawal yang sedang meronda di halaman rumah Ki Argapati, memandang iring-iringan itu dengan perasaan yang aneh. Meskipun Agung Sedayu dan Swandaru bukan anak-anak Tanah Perdikan, namun anak-anak Menoreh mempunyai perhatian terhadap mereka. Apalagi mereka yang pernah bersama-sama berjuang mengatasi perpecahan yang pernah membakar Tanah Perdikan itu.

Dalam pada itu, iring-iringan kuda itu pun telah keluar dari padukuhan induk, tepat pada saat matahari merayap naik ke atas punggung bukit.

Pandan Wangi yang sedang dibelit oleh perasaan gairah seorang gadis yang menjelang hari-hari perkawinannya, tampak begitu cerah di dalam cahaya matahari pagi. Pandan Wangi itu pulalah yang berkuda di paling depan. Dengan dada tengadah ia memegang kendali kudanya yang tegar, memandang tanah persawahan yang hijau terbentang di hadapannya. Cahaya matahari yang kekuning-kuningan terpantul di wajah daun yang hijau menumbuhkan sinar yang menyentuh hati.

Di belakangnya Rudita memandangnya tanpa berkedip. Rambutnya yang disanggul tinggi-tinggi, lehernya yang jenjang, kemudian pakaiannya yang tidak lazim dipergunakan oleh seorang gadis, dengan endong panah di lambung kuda dan busur menyilang punggung, membuat Pandan Wangi bagaikan seorang tokoh yang hanya terdapat dalam dongeng dan mimpi.

Di belakang Rudita, Prastawa berkuda berjajar tiga dengan Agung Sedayu dan Swandaru. Sekali-sekali mereka mengedarkan pandangan mata mereka menyapu langit yang jernih dan ujung pegunungan di kejauhan.

Namun sekali-sekali Swandaru sempat memandang Rudita dan memperhatikan sikapnya. Namun ia selalu mencoba untuk tidak berprasangka, karena Rudita adalah masih ada hubungan darah dengan Pandan Wangi.

Perjalanan ke hutan di pinggir Kali Praga itu merupakan perjalanan yang segar bagi Agung Sedayu dan Swandaru yang sudah lama tidak menjelajahi Tanah Perdikan ini.

Sawah dan ladang yang luas, yang kadang-kadang masih diseling dengan hutan-hutan sempit yang sengaja dibiarkan untuk kepentingan masa depan Tanah Perdikan Menoreh, jalan yang lebar dan dipagari oleh parit yang mengalirkan air yang jernih, pematang yang panjang dan lurus, ditumbuhi rerumputan yang hijau di sela-sela batang padi yang tumbuh dengan suburnya.

Tanpa disadarinya Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ada, sesuatu yang menyentuh hatinya. Tiba-tiba saja ia teringat kepada Sangkal Patung yang subur. Betapa suburnya Menoreh, namun daerah di sebelah barat merupakan daerah pegunungan padas yang keras. Sedangkan Sangkal Putung adalah daerah perbekalan yang terbesar di bagian selatan, di sebelah timur Alas Tambak Baya. Bahkan Prambanan tidak sesubur Sangkal Putung.

“Pada suatu saat aku harus memilih,” tiba-tiba saja Swandaru berangan-angan, “apakah aku harus menangani Tanah Perdikan Menoreh ini atau aku harus berada di kampung halaman kelahiranku. Sudah barang tentu aku tidak akan dapat berada di kedua tempat ini bersama-sama. Jika aku berdiri sebagai menantu Ki Argapati, maka aku adalah orang yang melakukan tugas Pandan Wangi, sebagai Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi dengan demikian aku harus meninggalkan Sangkal Putung. Daerah yang selama ini merupakan tanah yang memberiku segala macam kebutuhan hidupku, dan yang selama ini telah dibina oleh ayah serta seluruh rakyatnya yang baik. Yang sudah dipertahankan dengan segala pengorbanan dari bahaya kehancuran pada saat Tohpati berada di daerah selatan ini. Jika aku berada di sini, maka tugasku di Sangkal Putung akan melimpah kepada Sekar Mirah, dan itu berarti akan jatuh di pundak Kakang Agung Sedayu.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia akan menghadapi persoalan, di mana ia harus menjatuhkan pilihan.

“Tetapi itu masih cukup lama. Selama Ki Gede Menoreh masih dapat menjalankan tugasnya, maka hal itu belum akan menjadi persoalan yang penting bagiku. Juga selama Ayah masih tetap berada di tempatnya, maka semuanya masih akan berjalan seperti biasa. Namun memang akan datang saatnya aku harus memikirkannya.”

Tanpa disadarinya Swandaru memandang kepada Agung Sedayu yang berkuda di sebelah Prastawa.

Namun jantung Swandaru bergetar ketika ia melihat Prastawa yang berkuda sambil memandang lurus ke depan. Ia adalah kemanakan Ki Gede Menoreh. Jika ia tidak mau menerima jabatan Ki Gede Menoreh, karena ia memberatkan kampung halamannya, maka itu berarti bahwa kekuasaan Menoreh akan jatuh ke tangan Ki Argajaya, ayah Prastawa. Dan itu akan berarti pula bahwa arus kekuasaan itu akan sampai kepada Prastawa. Tidak kepada orang lain.

Swandaru menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ingin mengusir persoalan itu. Persoalan yang belum waktunya dipikirkannya sekarang. Namun bagaimana pun juga persoalan itu masih saja membayanginya.

“Aku tidak peduli,” geramnya di dalam hati. Dan Swandaru itu pun kemudian melemparkan pandangan matanya jauh-jauh. Dengan sepenuh niat ia ingin melupakan persoalan itu dan memandang ujung-ujung pepohonan yang hijau berkilat ditempa cahaya matahari pagi.

“Apakah perjalanan ini masih jauh,” tiba-tiba saja Swandaru bertanya untuk melepaskan kepepatan di dadanya.

Yang mendengar pertanyaan itu menjadi heran. Swandaru pernah berada di Tanah Perdikan ini, sehingga seharusnya sudah mengetahui, bahwa perjalanan mereka itu baru saja mulai.

“Pertanyaanmu aneh,” desis Agung Sedayu.

“O,” Swandaru tidak dapat menahan tertawanya Tetapi kali ini ia mentertawakan dirinya sendiri. Karena itu dengan tergesa-gesa ia berkata, “Maksudku, apakah kita akan langsung pergi ke hutan liar itu, atau kita akan beristirahat dahulu sambil melihat-lihat hutan-hutan kecil yang bertebaran itu.”

“Hutan-hutan itu sudah kosong,” Pandan Wangi-lah yang menyahut, “yang ada hanyalah tikus-tikus tanah. Namun dengan demikian, kadang-kadang dapat menimbulkan bencana bagi tanaman.”

“O,” Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya, “apakah tidak ada usaha untuk mengatasinya?”

“Tentu. Dan usaha itu nampaknya akan berhasil.”

Rudita yang berkuda di belakang Pandan Wangi tiba-tiba saja memotong, “Kenapa kita berbicara tentang tikus tanah? Kenapa kita tidak berbicara tentang harimau loreng atau harimau kumbang yang licik. Atau tentang ular sebesar paha.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun ternyata bahwa ia tidak dapat melepaskan sama sekali kebiasaannya, sehingga hampir tanpa disadarinya ia bertanya, “Paha siapa?”

Rudita berpaling mendergar pertanyaan itu. Wajahnya menegang. Ia merasa bahwa Swandaru sedang mempermainkannya.

Tetapi Swandaru menundukkan kepalanya, sedang Prastawa mencoba menyembunyikan tertawanya yang ditahan-tahannya sekuat tenaga. Bahkan Pandan Wangi yang berkuda di paling depan pun tersenyum. Demikian juga para pengawal yang mendengar pertanyaan itu. Bahkan salah seorang dari mereka berbisik, “Paha anak-anak. Bahkan bayi.”

Kawannya tidak menjawab. Mereka mengerti bahwa Rudita sama sekali bukan seorang pemburu yang baik. Bahkan ia masih harus berteriak-teriak memanggil ketika Pandan Wangi memburu kijang di hutan perburuan kemarin.

Ketika Swandaru itu kemudian berpaling memandang Agung Sedayu, dilihatnya anak muda itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan Swandaru pun mendekatinya sambil berbisik, “Aku benar-benar tidak sengaja, Kakang.”

“Itulah. Kau biasa melepaskan setiap kata yang kau pikirkan. Anak itu tentu tersinggung.”

“Begitu saja kata-kata itu terlontar dari bibirku,” Swandaru berhenti sejenak lalu, “sebenarnya aku agak bosan mendengar kata-katanya.”

“Kau tidak mau melihat alasan, kenapa ia berkata begitu.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya, “Apakah alasannya? Untuk menyombongkan diri?”

“Ya, tetapi bukan semata-mata karena ia sombong,” jawab Agung Sedayu. “Ternyata ia merasa betapa dirinya terlampau kecil sehingga ia perlu membusungkan dadanya, agar ia dapat seimbang dengan kebesaran pribadi Pandan Wangi.”

“Kenapa Pandan Wangi?”

“Bukankah ia merasa bahwa masih ada hubungan keluarga dengan gadis itu betapa pun jauh jaraknya? Karena itulah, maka ia harus seimbang dengan pribadi Pandan Wangi. Apalagi ia seorang laki-laki, sedang Pandan Wangi seorang gadis. Selain dari itu, ayahnya pun termasuk orang terpandang, sehingga ia perlu menyesuaikan dirinya.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Hatinya yang kecil jangan kau injak sama sekali,” berkata Agung Sedayu pula. “Cobalah kendalikan kebiasaanmu itu.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baik. Baik. Aku akan mengendalikan kebiasaanku ini.”

Namun Agung Sedayu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Gurunya pun kadang-kadang berbuat sesuatu yang aneh menurut tanggapan kebanyakan orang, meskipun maksudnya jauh lebih jelas dan bermanfaat dari sekedar letupan hati Swandaru.

Samar-samar teringat oleh Agung Sedayu, bagaimana gurunya itu mengenakan topeng dan menegurnya sebagai seorang pertapa ketika ia terjun ke dalam parit, karena ia dicengkam oleh ketakutan tiada taranya selagi dikejar oleh Alap-Alap Jalatunda selagi ia meneruskan tugas kakaknya Untara. Begitu juga permainan gurunya di hutan Tambak Baya selagi ia bertiga pergi ke Alas Mentaok bersama Swandaru dan Raden Sutawijaya.

Swandaru memang merupakan tanah yang subur bagi benih yang ditaburkan oleh gurunya itu, dengan sikap yang kadang-kadang aneh. Namun keterbukaan sifat Swandaru membuat sikap yang aneh itu kadang-kadang terlampau langsung dan menyinggung orang lain.

Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Pandan Wangi masih tetap berkuda di paling depan. Rudita yang di belakangnya kadang-kadang masih saja berpaling memandang Swandaru. Tetapi Swandaru selalu menghindari tatapan mata itu.

“Jangan hiraukan,” tiba-tiba saja Prastawa berdesis.

Swandaru menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Aku justru sedang menghiraukan daerah ini. Aku tidak tahu, kenapa hutan-hutan kecil itu tidak dibuka sama sekali.”

“Sebuah persediaan di masa mendatang. Pada saatnya kita akan kekurangan tanah garapan. Padahal sementara ini kita sudah cukup.”

Swandaru mengerutkan keningnya, katanya, “Apakah jika kita sudah cukup, kita harus berhenti.”

“Bukan berhenti. Tetapi kami justru menyediakan tanah itu buat perkembangan di masa datang.”

Ternyata Swandaru, anak laki-laki seorang Demang yang kelak akan menggantikan kedudukannya itu mempunyai sikap tersendiri. Karena itu, maka katanya, “Sebenarnya Tanah Perdikan ini dapat berbuat lain. Hutan itu sebagian dapat dibuka. Hanya sebagian kecil sajalah yang dapat dibiarkan untuk kepentingan khusus. Meskipun saat ini lahan pertanian bagi Tanah Perdikan ini sudah cukup, namun alangkah baiknya jika hutan-hutan itu dapat digarap sebagai tanah pertanian. Jika ada kelebihan hasil sawah, maka hasil sawah itu dapat dijual atau ditukar dengan kebutuhan-kebutuhan lain yang akan menjadi kebutuhan Tanah Perdikan ini meskipun tidak sekarang, tetapi masa depan. Dengan demikian maka Tanah Perdikan ini sudah mempunyai tabungan yang bermanfaat bagi masa mendatang.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Dan Swandaru berkata seterusnya, “Ada baiknya kita bekerja keras sekarang. Jika kita sudah mendapat sesuap nasi, bukan berarti kita sudah harus puas. Tetapi tidak ada salahnya jika masih ada waktu kita mengumpulkan dua suap nasi. Yang sesuap untuk kepentingan-kepentingan lain bagi kesejahteraan hidup kita.”

Prastawa masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Bagus sekali. Mungkin kelak Tanah Perdikan ini akan berbuat demikian. Sisa tenaga yang ada sekarang, daripada sekedar untuk termenung di pojok padukuhan atau berbincang tentang hal yang tidak bermanfaat, ada baiknya dipergunakan untuk membuat hutan-hutan yang berserakan itu menjadi tanah garapan, setelah diperhitungkan, berapa banyaknya yang harus disisakan, sehingga tanah itu dapat merupakan jaminan bagi masa datang. Bukan sekedar persediaan.”

“Begitulah. Kecuali jika tenaga kita sekarang memang sudah tidak mampu lagi, sehingga kita harus menunggu perkembangan.”

Prastawa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ketika ia menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya matahari menjadi semakin tinggi. Sedang dalam pada itu Agung Sedayu sudah berada agak di depan mereka, tepat di belakang Rudita.

Demikianlah perjalanan itu pun semakin lama menjadi semakin jauh dari induk Tanah Perdikan. Matahari pun menjadi semakin tinggi memanjat langit, sehingga dedaunan yang hijau bagaikan menyala di kejauhan memantulkan cahaya matahari, yang mulai terasa panas di wajah kulit.

Ketika Agung Sedayu melihat gerumbul-gerumbul perdu yang semakin lebat, maka ia pun memperlambat kudanya dan kemudian kepada Prastawa itu berkata, “Bukankah kita sudah mendekati tujuan?”

“Ya. Di seberang hutan perdu inilah kita mendapatkan sebuah lapangan pasir yang agak luas, sampai ke tepian Kali Praga.”

“Jika begitu, bukankah hutan yang tampak itulah yang akan kita tuju?”

“Hutan perburuan.”

“Ya, bukankah kita akan berburu?”

“Tetapi bukankah kita ingin berburu di hutan yang masih liar? Tidak di hutan perburuan itu.”

“O, jika demikian, ke mana kita akan pergi?”

“Kita tidak langsung sampai ke tepian. Kita berbelok di pinggir hutan perdu itu dan kita akan sampai di hutan perburuan. Jika kita ingin beristirahat, kita beristirahat sebentar. Tetapi jika kita ingin langsung berburu di hutan yang liar itu, kita berjalan terus dan kita akan memasuki daerah yang semakin lama menjadi semakin lebat dengan jenis-jenis binatang hutan yang ganas.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun rasa-rasanya ia akan mendapatkan permainan yang mengasyikkan. Sudah lama ia tidak bermain-main dengan alat bidik. Kini ia membawa busur dan anak panah.

“Bagaimana rencana kita selanjutnya?” justru Agung Sedayu-lah yang kemudian bertanya. “Apakah kita akan berhenti atau terus?”

“Terserah kepada kita,” jawab Prastawa.

“Kalau begitu, bertanyalah kepada Pandan Wangi.”

Prastawa pun kemudian mempercepat kudanya dan melampaui Rudita. Ketika ia berada di samping Pandan Wangi, maka ia pun bertanya, “Bagaimana rencanamu, Pandan Wangi?”

“Rencana yang mana?”

“Apakah kita akan langsung pergi ke hutan yang buas?”

Sebelum Pandan Wangi menyahut, Rudita telah menyahut, “Tentu ke hutan perburuan. Kita akan menangkap seekor kijang. Aku akan menghadiahkannya kepada Pandan Wangi.”

Semua orang berpaling kepadanya. Pandan Wangi memandanginya dengan heran. Namun Swandaru-lah yang kemudian bertanya, “Bagaimana jika Pandan Wangi yang mendapat lebih dahulu dari kita?”

Rudita mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya, “Tentu tidak. Ia tidak akan berbuat apa-apa. Ia akan menunggu kita mendapatkan seekor buatnya.”

“Bagaimana jika Agung Sedayu yang mendapatkannya?” bertanya Prastawa.

“Semua yang kita dapatkan, akulah yang akan menyerahkannya kepada Pandan Wangi. Itu sudah menjadi keputusanku. Tidak ada orang lain yang berhak atas hasil buruan ini, selain aku yang akan menyerahkannya kepada Pandan Wangi.”

Swandaru dan Agung Sedayu berpandangan sejenak. Namun mereka pun tidak menghiraukannya lagi. Sikap itu bagaikan sikap anak yang sedang dalam pertumbuhannya, yang menganggap dirinya adalah pusat berkisarnya dunia.

Karena itulah, maka justru mereka tidak memberi tanggapan apa pun juga. Swandaru yang mempunyai sifat yang aneh itu pun kemudian berdiam diri.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: