Buku 078 (Seri I Jilid 78)

 

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah menduga sebelumnya. Meskipun demikian, pengakuan Raden Sutawijaya itu telah menggetarkan dadanya. Hubungan antara Raden Sutawijaya dengan seorang gadis yang dikehendaki oleh Sultan Pajang, tentu akan menimbulkan persoalan yang sangat rumit, justru pada saat Mataram sedang tumbuh dan berkembang menjadi suatu negeri yang ramai.

“Paman,” berkata Sutawijaya kemudian, “aku mengerti bahwa keteranganku ini mengguncangkan kepercayaan Paman kepadaku. Baik sebagai seorang anak muda yang selama ini dianggap sebagai seorang pemimpin oleh orang-orang Mataram maupun sebagai putra angkat Ayahanda Sultan Pajang sendiri.”

Ki Lurah Branjangan tidak segera menanggapinya. Terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Memang ada semacam tuntutan terhadap tingkah laku Raden Sutawijaya itu. Karena dengan demikian, maka semua perjuangan bagi berkembangnya Mataram selama ini menjadi pudar. Kemarahan Sultan Pajang dalam saat semacam ini henar-henar tidak menguntungkan. Di saat Mataram sedang menghadapi kesulitan yang berturut-turut telah menghambat perkembangannya.

“Ki Lurah, Ki Lurah,” desis Raden Sutawijaya, “kenapa kau diam saja? Apakah kau lebih dahulu telah menjatuhkan hukuman atasku dengan sikap diammu itu? Dan dengan demikian kau ingin menunjukkan bahwa kau telah membenciku, menganggap aku seorang anak muda yang liar dan tidak berkesopanan sama sekali? Jika demikian, sebaiknya Paman mengatakannya. Aku tidak akan marah. Aku akan menerima semua caci dan maki dari siapa pun juga.” Raden Sutawijaya terdiam sejenak, lalu, “Tetapi apakah yang dapat aku katakan kepada Ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

Tiba-tiba saja Ki Lurah Branjangan menjadi iba kepada anak muda yang sedang menyesali kesalahannya itu. Sejenak Ki Lurah Branjangan memalingkan wajahnya ke sekitarnya. Ketika ternyata bahwa tidak ada seorang pun yang duduk di dekat mereka, maka ia pun berkata, “Raden, semuanya telah terjadi. Apa pun alasannya, namun hal itu sudah terjadi.”

“Ya, Paman, dan aku mengetahui bahwa aku tidak akan dapat mencari alasan apa pun untuk mengurangi kesalahanku.”

“Begitulah. Tetapi agaknya jalan yang paling baik bagi Raden sekarang adalah berterus terang. Berterus terang kepada Ki Gede Pemanahan. Apa pun yang akan terjadi kemudian, memang tidak akan dapat dihindari dan apalagi dengan sengaja mengelakkan diri dari pertanggungan jawab.”

“Apa yang Paman maksud dengan pertanggungan jawab? Apakah aku harus menghadap Ayahanda Sultan dan mohon untuk memperistri gadis itu? Apakah dengan demikian aku tidak akan segera ditangkap dan dipenggal leherku?”

“Bukan begitu maksudku, Raden. Bertanggung jawab terhadap persoalan ini berarti, Raden harus bersedia melakukan perintah apa pun juga dari ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

“Jika Ayahanda memerintahkan aku menghadap Ayahanda Sultan?”

“Apa boleh buat.”

“Tidak, Paman. Aku tidak dapat menghadap Ayahanda Sultan saat ini. Bukan karena aku takut menghadapi hukuman apa pun yang akan dijatuhkan atasku karena aku sudah menodai gadis yang akan diambilnya menjadi istrinya. Tetapi aku merasa bahwa belum saatnya aku menghadap. Mataram masih belum berbentuk. Aku sudah berprasetia, bahwa aku tidak akan menghadap Ayahanda Sultan sebelum aku berhasil menjadikan Alas Mentaok menjadi sebuah negeri. Pada saat itu, para pemimpin di Pajang seakan-akan telah menghinakan aku dan Ayahanda Ki Gede Pemanahan, bahwa kami tidak akan berhasil membuka Alas Mentaok dan membuat suatu negeri yang ramai. Karena itu maka aku tidak akan menghadap dan bertemu muka dengan para pemimpin pajang sebelum aku dapat menengadahkan dadaku dan berkata, ‘Bahwa Alas Mentaok telah menjadi sebuah negeri yang patut dihitung di dalam percaturan pemerintahan di Pajang’.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian, “Itulah sulitnya, Raden. Sebenarnya aku sependapat, bahwa sebaiknya Raden tidak usah datang ke Pajang apa pun alasannya. Tetapi persoalan yang satu ini agaknya telah menambah segala macam sikap dan tekad kita.”

Raden Sutawijaya menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia bergumam seakan-akan kepada diri sendiri, “Aku telah mengkhianati perjuanganku sendiri. Kini aku berdiri di atas kesulitan yang hampir tidak terpecahkan.”

“Sudahlah, Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian, “sebaiknya Raden tidak hanyut dalam persoalan yang satu itu saja. Masih banyak persoalan yang harus dihadapi. Karena itu, sebaiknya Raden menabahkan hati. Raden harus menghadap ayahanda Ki Gede Pemanahan secepatnya. Kemudian Raden akan mendengarkan keputusan yang akan diambil oleh ayahanda. Apa pun sumpah dan prasetia yang sudah Raden ucapkan, namun kadang-kadang kita harus menelan ludah sendiri untuk tujuan yang lebih besar.”

“Tetapi itu bukan sifat ksatria Ki Lurah. Aku tidak mau. Yang sudah aku ucapkan adalah ucapan ksatria. Aku tidak akan menelan ludah sendiri apa pun akibatnya.”

“Raden benar. Tetapi Raden sendiri sudah melangkahkan kaki Raden melintasi pagar ayu yang dihormati oleh para ksatria. Sehingga akibatnya menuntut agar Raden melepaskan sikap kesatria yang lain lagi.”

“O,” Raden Sutawijaya menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Namun yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi.

Ki Lurah Branjangan dapat mengerti, betapa hati Raden Sutawijaya diombang-ambingkan oleh kebimbangan yang dahsyat. Tetapi bagi Ki Lurah Branjangan, tidak ada jalan lain daripada segera menyelesaikan masalah yang satu itu.

“Raden Sutawijaya sudah bertekad untuk menjadikan Mataram sebuah negeri,” berkata Ki Lurah Branjangan di dalam hatinya, “tetapi jika tidak diketemukan penyelesaian yang baik maka Mataram yang sedang berkembang ini akan segera pecah berserakan.” KI Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam sambil memandang Raden Sutawijaya yang kini memandang ke kejauhan menembus gelapnya malam. Dan Ki Lurah itu pun berkata kepada diri sendiri lebih lanjut, “Ki Gede Pemanahan harus berusaha menemukan jalan itu. Ia adalah orang yang disegani oleh Sultan Pajang, sehingga kemungkinan yang paling besar untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik adalah Ki Gede Pemanahan. Mungkin Ki Gede Pemanahan dapat mencarikan gantinya atau syarat-syarat lain yang dikehendaki oleh Sultan Pajang.”

Tetapi Ki Lurah Branjangan tidak sampai hati mengatakannya kepada Raden Sutawijaya. Jika kelak ia sampai di Mataram dan menghadap Ki Gede Pemanahan, maka ia akan menyampaikannya langsung kepadanya.

Dalam pada itu maka Raden Sutawijaya pun kemudian berdiri dan berjalan hilir-mudik. Kegelisahan yang sangat nampak pada sikapnya. Sekali-sekali ia berhenti, seakan-akan ingin mengatakan sesuatu. Namun kata-kata itu ditelannya kembali di kerongkongannya.

“Sebaiknya Raden beristirahat,” berkata Ki Lurah Branjangan, “bahkan jika mungkin Raden tidur sekejap untuk menyegarkan tubuh Raden. Biarlah para petugas berjaga-jaga mengawasi keadaan. Aku kira, Alas Mentaok menjadi semakin aman setelah Panembahan Agung tidak ada lagi. Jika anak buahnya yang masih berserakan masih saja melakukan kegiatan, semata-mata terdorong oleh dendam atau barangkali sekedar mencari makan. Tetapi mereka tidak lagi mempunyai pegangan yang terarah bagi kegiatannya itu.”

Raden Sutawijaya yang gelisah itu mengangguk kecil. Katanya, “Aku akan mencoba, Paman. Jika Paman ingin beristirahat, silahkanlah.”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya, lalu katanya, “Baiklah, Raden. Aku akan mencoba untuk tidur barang sejenak. Besok pagi kita memasuki kota Mataram yang sedang kita bangun itu dengan tubuh yang segar.”

Tanpa menunggu jawaban Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan pun kemudaan mencari tempat yang mapan untuk membaringkan dirinya. Tanpa alas selain rerumputan yang kering.

Sutawijaya sendiri pun kemudian duduk bersandar sebatang pohon. Meskipun sambil bersandar, namun ia mencoba memejamkan matanya juga untuk melupakan kegelisahannya barang sejenak.

Tetapi rasa-rasanya terbayang wajah gadis Kalinyamat yang muram dan basah oleh air mata, wajah Ayahanda Ki Gede Pemanahan yang penuh penyesalan dan wajah Ayahanda Sultan Pajang yang merah darah karena marah.

Sekali-sekali terdengar Raden Sutawijaya berdesah. Ayahanda Sultan Pajang adalah orang yang tidak terlawan. Di dalam dirinya terkumpul beberapa puluh macam aji yang menurut orang-orang yang mengenal dari dekat sejak masa mudanya memiliki kelebihannya masing-masing. Bahkan beberapa orang berpendapat bahwa di seluruh Pajang tidak ada orang yang menyimpan ilmu dan aji sebanyak yang dimiliki oleh Sultan Pajang. Sejak ia masih kanak-kanak, ia sudah mengelilingi seluruh pulau Jawa dan berguru hampir kepada setiap orang yang sakti, sehingga ia berhasil mempelajari dan kemudian menguasai aji Lebur Seketi, Welut Putih, Tameng Waja, Sepi Angin, Lembu Sekilan, dan masih banyak lagi. Itulah sebabnya maka ketika Arya Penangsang ingin menyingkirkan saudara-saudara sepupunya untuk menguasai tahta Demak, termasuk Adipati Pajang pada waktu itu, meskipun utusannya berhasil memasuki bilik tidur Adipati Pajang, namun senjatanya sama sekali tidak melukainya. Berkali-kali orang-orang yang sudah berada di dalam biliknya selagi Adipati Pajang masih tertidur nyenyak itu berusaha membunuhnya. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan ketika Adipati Pajang itu menyingkapkan selimutnya dan menyentuh utusan itu, maka utusan-utusan itu pun menjadi pingsan karenanya, sehingga keduanya dengan mudahnya dapat ditangkap, dan kemudian disadap keterangannya.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Memang terlintas di dalam kepalanya, jika hal itu akan menjadi dinding pemisah antara Pajang dan Mataram, maka apa boleh buat. Namun setiap kali ia sadar bahwa Ayahanda Adipati Pajang yang kemudian mengangkat dirinya menjadi Sultan Pajang itu adalah orang yang tidak terlawan, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena ia tentu akan gagal membangun Mataram menjadi sebuah negeri. Dan kegagalannya itu akan memberikan kepuasan kepada beberapa orang yang sejak semula tidak percaya bahwa ia akan dapat membuka Alas Mentaok dan membuatnya menjadi suatu negeri.

“Tentu orang-orang itu pulalah yang telah mengirimkan Daksina kepada Panembahan Agung untuk bergabung dengan orang yang luar biasa itu,” berkata Sutawijaya di dalam dirinya sendiri.

Dan tiba-tiba saja hampir di luar sadarnya ia memperbandingkan Sultan Pajang dengan Panembahan Agung.

“Ayahanda Sultan memiliki ilmu yang lengkap. Yang kasat mata dan yang tidak kasat mata. Aku kira Ayahanda Sultan Pajang masih berada di atas Panembahan Agung meskipun hanya selapis tipis. Dan dengan demikian, apakah yang dapat aku lakukan jika Ayahanda Sultan benar-benar akan mengambil tindakan.”

Sutawijaya justru semakin bingung. Apalagi ia tahu pasti bahwa perempuan merupakan bagian dari nafas kehidupan Sultan Pajang.

Rasa-rasanya pikiran Raden Sutawijaya pun menjadi buntu. Ia tidak lagi mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan.

“Tetapi semuanya sudah terlanjur,” tiba-tiba ia menggertakkan gigi. “Semisal orang yang menyeberangi sungai, aku sudah terlanjur basah, sehingga aku tidak akan dapat ingkar lagi.”

Sutawijaya itu menjadi tegang sejenak, lalu, “Aku harus segera menghadap Ayahanda Pemanahan. Apa pun yang harus aku lakukan, kecuali menghadap Ayahanda Sultan. Aku baru akan menghadap jika Mataram sudah menjadi sebuah negeri yang ramai dan dapat aku banggakan, sehingga tidak akan ada orang yang menghinaku lagi.”

Tiba-tiba saja Raden Sutawijaya yang sedang bingung itu berdiri tegak sambil menengadahkan dadanya. Dengan lantang ia berteriak, “Kita berangkat sekarang. Kita lanjutkan perjalanan. Kita akan memasuki gerbang kota.”

Suara Raden Sutawijaya itu benar-benar mengejutkan setiap orang di dalam pasukannya. Bahkan Ki Lurah Branjangan pun terbangun dengan dada yang berdebar-debar.

Sekali lagi mereka mendengar Sutawijaya berkata, “Kita berkemas sekarang. Kita segera melanjutkan perjalanan. Cepat. Siapa yang lambat, akan aku tinggalkan di sini.”

Perintah yang tidak terduga-duga itu membuat para pengawal sejenak kebingungan. Tetapi mereka pun segera bangkit berdiri dan dengan tergesa-gesa mengemasi diri mereka dan kuda-kuda mereka.

Sutawijaya benar-benar bersikap aneh malam itu. Dengan tergesa-gesa ia pun membenahi dirinya. Kemudian berteriak, “Bawa kudaku kemari. Sekarang.”

“Raden,” Ki Lurah Branjangan mendekatinya dan berkata dengan sareh, “apakah sebenarnya yang telah terjadi?”

“Tidak ada apa-apa. Tetapi kita akan berjalan terus. Kita sudah berada dekat dengan gerbang kota. Apa gunanya kita beristirahat di sini?”

“Bukankah pertanyaan yang nadanya serupa itu sudah aku katakan sebelum Raden mengambil keputusan untuk berhenti di sini.”

“Bohong. Kalian menghendaki kita berhenti. Dan aku terpaksa memenuhi permintaan kalian. Ternyata sikap itu adalah sikap yang bodoh.”

“Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan pula, “sebagai orang yang lebih tua, aku mengerti bahwa yang sebenarnya bergejolak adalah dada Raden sendiri. Dan itu pun adalah persoalan yang wajar sekali. Karena itu, cobalah Raden tenang sedikit. Aku tidak berkeberatan seandainya kita melanjutkan perjalanan sekarang. Tetapi tentu tidak tergesa-gesa. Biarlah para prajurit menyiapkan kuda mereka dan membenahi pakaian dan peralatan yang kita bawa. Jika kita tergesa-gesa mungkin ada beberapa macam barang yang tertinggal dan barangkali beberapa orang tawanan akan kurang mendapat pengawasan.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Sikap Ki Lurah Branjangan yang tenang dan sareh, membuat hatinya yang melonjak-lonjak itu menjadi agak tenang pula. Karena itu maka katanya, “Baiklah, aku menunggu sejenak. Tetapi jangan menjadi malas dan berlama-lama mengemasi diri.”

Ki Lurah Branjangar menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian mengemasi pakaian dan beberapa macam alat yang dibawanya. Terutama senjata-senjatanya.

Beberapa saat kemudian, maka para pengawal pun sudah siap. Para tawanan sudah dihitung dan dipersiapkan pula untuk segera berangkat.

“Aku akan menghadap Ayahanda Pemanahan malam ini,” gumam Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan tidak menjawab. Sekilas dipandanginya wajah Raden Sutawijaya yang tegang. Namun ia tahu pasti apakah sebenarnya yang bergejolak di dalam dadanya itu.

Sejenak kemudian maka iring-iringan itu pun segera berangkat. Raden Sutawijaya memerintahkan beberapa orang membawa obor dan berada di paling depan, di tengah-tengah iring-iringan dan di belakang.

Di perjalanan tidak banyak pengawal yang berbincang. Mereka masih terkantuk-kantuk di punggung kuda. Hanya sekali-sekali mereka terkejut jika kuda yang ditumpanginya meloncati lubang dan batu-batu padas di perjalanan.

“Apakah yang sebenarnya terjadi?” bertanya utusan yang memanggil Sutawijaya itu kepada Ki Lurah Branjangan yang berkuda beberapa langkah di belakang Raden Sutawijaya

Ki Lurah Branjangan memandangi utusan itu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berdesis, “Aku tidak mengerti.”

“Agaknya ada sesuatu yang penting. Agaknya benar-benar berhubungan dengan desas-desus itu.”

“Desas-desus yang mana?”

“Setiap orang aku kira sudah mendengar bahwa Raden Sutawijaya telah melakukan hubungan terlarang dengan seorang putri istana yang berasal dari Kalinyamat.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Berita semacam itu memang mudah sekali tersebar. Apalagi menyangkut seorang pemimpin yang disegani seperti Raden Sutawijaya itu.

“Apa kata Ki Gede Pemanahan?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Aku tidak tahu, tetapi Ki Gede Pemanahan agaknya sedang menekan perasaannya. Jika hal itu benar, mungkin Ki Gede akan mengalami kejutan. Meskipun ia seorang Senapati yang pilih tanding di medan perang, tetapi amat sulitlah bagi seseorang untuk memerangi perasaan sendiri.”

Ki Lurah Branjangan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi tentang Raden Sutawijaya.

Demikianlah iring-iringan itu maju terus meskipun tidak begitu cepat. Tetapi jarak yang mereka tempuh memang sudah tidak begitu jauh lagi. Sebentar kemudian mereka pun sudah mendekati gerbang kota yang baru dibangun itu.

Para penjaga gerbang melihat obor yang semakin lama menjadi semakin dekat. Mereka tidak segera mengetahui siapakah yang datang beriringan. Yang mereka ketahui adalah, bahwa ada utusan yang menjemput Raden Sutawijaya ke Tanah Perdikan Menoreh. Namun demikian, belum pasti bahwa yang datang itu adalah Raden Sutawijaya dengan pasukannya.

 

 

Karena itu, maka pemimpin peronda di pintu gerbang itu pun segera memerintahkan para pengawal yang bertugas untuk bersiap. Yang sedang tidur pun dibangunkannya.

“Jika mereka itu hantu-hantu di Alas Mentaok, atau penyamun dari Tambak Baya, maka kita harus menghalaunya,” berkata pemimpin peronda itu.

“Mudah-mudahan bukan mereka,” desis seorang pengawal yang masih terkantuk-kantuk.

“Justru karena sarangnya mungkin telah diduduki oleh Raden Sutawijaya, maka mereka pun berkeliaran sampai ke tempat ini,” gumam pengawal yang lain.

Para pengawal itu pun kemudian mempersiapkan diri. Seorang di antara mereka telah berdiri di sisi kentongan yang jika terpaksa dapat dipergunakannya untuk mengirimkan isyarat pada para peronda di dalam kota Mataram yang sedang dibangun itu.

Obor itu merayap semakin dekat. Namun para peronda masih belum dapat mengetahui siapakah mereka itu.

Namun ketika mereka melihat sepasukan berkuda mendekati gerbang, maka mereka pun mulai yakin, bahwa yang datang itu adalah benar-benar Raden Sutawijaya.

Demikianlah, maka para penjaga pintu gerbang itu pun segera menyibak. Mereka benar-benar melihat seorang anak muda yang menggenggam sebatang tombak pendek.

Namun agaknya wajah anak muda itu tidak secerah biasanya. Di depan pintu gerbang ia sama sekali tidak berpaling, dan tidak memberikan salam kepada para penjaga, selain sebuah anggukan kecil yang kosong.

“Apakah yang sudah terjadi?” para peronda itu bertanya-tanya di dalam hati.

Namun di dalam iring-iringan itu mereka melihat beberapa orang yang tidak mereka kenal, dan bahkan para penjaga itu melihat ciri-ciri mereka sebagai tawanan.

Ketika iring-iringan itu sudah memasuki gerbang, maka para penjaga itu pun menjadi sibuk berbincang. Seorang pengawal yang kurus seolah-olah melihat sendiri apa yang terjadi, dan berkata lantang, “Raden Sutawijaya sudah menguasai lawannya. Yang ada di antara para pengawal itu adalah para tawanan. Mereka adalah sisa-sisa dari pasukan lawan yang terbunuh di peperangan dan menyerah.”

“Dari mana kau tahu?” bertanya kawannya.

Pengawal yang kurus itu termangu-mangu sejenak, lalu, “Tentu demikian yang sudah terjadi.”

“Kira-kira,” kawannya yang lain memotong.

Pengawal yang kurus itu memandangi kawannya sejenak. Namun kemudian ia tidak berkata apa pun lagi.

Dalam pada itu iring-iringan itu pun langsung menuju ke jantung kota. Namun ketika mereka sampai di alun-alun, maka sekali lagi Raden Sutawijaya dilanda oleh keragu-raguan. Di seberang alun-alun itu adalah sebuah bangunan yang besar tempat tinggal Ayahanda Ki Gede pemanahan yang kemudian juga sering disebut Ki Gede Mataram setelah Mataram nampak akan menjadi sebuah negeri yang ramai.

“Apakah Raden akan langsung menghadap?” bertanya Ki Lurah Branjangan kepada Sutawijaya.

“Yang manakah yang baik menurut pertimbangan Paman?”

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Lalu katanya kemudian, “Menurut pertimbanganku sebaiknya Raden menunggu sampai besok.”

“Tetapi kenapa para pengawal agaknya mengeluh ketika kita berhenti di luar pintu gerbang?”

“Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan, “jika kita sejak semula langsung masuk ke pintu gerbang, kita sampai di alun-alun ini sebelum jauh malam seperti sekarang, bahkan menjelang fajar. Kita masih sempat menghadap, dan membagi pekerjaan bagi para pengawal. Yang lain dapat beristirahat di barak-barak dan bergantian menjaga tawanan. Tidak di pinggir hutan.”

“Kita adalah pengawal Tanah Mataram, yang tidak ubahnya seperti prajurit-prajurit Pajang. Apa salahnya kita berada di pinggir hutan di malam hari?”

“Tentu, Raden. Kita dapat berada di segala tempat. Tetapi jika tidak ada kemungkinan lain,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian. “Tetapi baiklah aku tidak menyalahkan siapa pun juga. Tetapi aku mengerti kegelisahan hati Raden. Sebaiknya Raden tidak membawa pasukan seluruhnya untuk menghadap. Raden dapat menyerahkan kepada para pimpinan untuk mengatur anak buahnya dan para tawanan itu. Sedang Raden sendiri dapat beristirahat sejenak sambil menunggu fajar di tempat yang lebih baik dari rerumputan kering itu. Terserahlah kepada Raden siapakah yang harus menyertai Raden menghadap ayahanda besok. Mungkin aku, mungkin beberapa orang lain lagi.”

Raden Sutawijaya terdiam sejenak. Rasa-rasanya hatinya masih saja mendidih karenanya. Namun kemudian ia berkata, “Paman, suruhlah para pengawal beristirahat. Jagalah tawanan itu sebaik-baiknya. Aku akan menghadap ayahanda besok. Sendiri.”

“Sendiri?”

“Ya. Sendiri.”

Ki Lurah Branjangan menjadi termangu-mangu, Sutawijaya adalah seorang anak muda. Darahnya masih terlampau cepat menjadi panas. Karena itu, jika ia berhadapan sendiri dengan ayahnya dalam keadaan seperti itu, mungkin akan dapat timbul salah paham padanya. Karena itu maka Ki Lurah itu pun berkata, “Raden, apakah Raden tidak memerlukan seorang saksi yang dapat ikut serta melaporkan peristiwa-peristiwa yang mengerikan di dalam perjalanan Raden. Dengan demikian maka kesaksian itu akan dapat mengurangi beban Raden.”

“Jadi maksud Paman, kemenangan kita bersama para pengawal dari Menoreh itu akan aku pergunakan untuk memperkecil kesalahanku dalam persoalan gadis Kalinyamat itu?” bertanya Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk lemah sambil menjawab, “Demikianlah apabila mungkin, Raden.”

“Tidak. Aku tidak akan melakukan tukar tambah seperti itu. Biarlah aku menerima hukumanku lebih dahulu sebelum aku melaporkan tentang hasil perburuan kita bersama pengawal dari Menoreh.”

Ki Lurah Branjangan tidak dapat berbuat lain. Namun dengan demikian ia menjadi semakin cemas. Agaknya Sutawijaya akan mengakui segala kesalahannya dengan dada tengadah. Ia akan menghadapi segala akibat dari tindakannya itu. Tetapi ia tidak akan bersedia datang menghadap Sultan Pajang. Bukan karena ia tidak berani mempertanggung-jawabkan perbuatannya dan menerima hukumannya, tetapi justru ia tidak mau menjadi bahan tertawaan para Senapati di Pajang yang sejak semula sudah tidak percaya bahwa Alas Mentaok akan dapat dibuka oleh Ki Gede Pemanahan yang juga disebut Ki Gede Mataram bersama anaknya Raden Sutawijaya.

Sekilas terbayang di angan-angan Ki Lurah Branjangan, seorang senapati muda yang berada di antara Pajang dan Mataram. Senapati yang namanya tidak dapat dikesampingkan. Jika jatuh perintah dari Sultan Pajang untuk menggempur Mataram, maka Untara tentu tidak akan menunggu bantuan kekuatan dari para adipati di pesisir mana pun juga. Kekuatan Untara sendiri dengan prajurit yang berada di Pajang, di bawah pimpinan para senapati yang membenci Raden Sutawijaya beserta ayahandanya Ki Gede Pemanahan, yang iri hati dan yang mempunyai keinginan untuk memiliki sendiri Tanah yang sudah ternyata akan menjadi sebuah negeri yang subur ini, sudah terlalu besar bagi Mataram.

Dengan demikian, maka yang akan disebut oleh Raden Sutawijaya mempertanggung-jawabkan segala kesalahannya itu adalah ambaguguk-akuta-waton. Ia akan bersikap dan menghadapi akibat dari sikapnya itu. Kasar atau halus.

Sebagai orang yang telah mempunyai pengalaman yang luas dan umur yang sudah cukup panjang, maka Ki Lurah Branjangan kemudian memberanikan diri untuk berpesan, “Raden, sebaiknya Raden bersikap dewasa menghadapi persoalan orang-orang dewasa. Raden tidak boleh dibayangi oleh sikap seorang anak muda menghadapi tantangan. Raden akan menghadap ayahanda sendiri. Dan karena itu, Raden harus menyiapkan bekal secukupnya agar Raden dapat disebut sebagai seorang anak yang baik di dalam segala persoalan. Anak yang baik adalah anak yang menghormati orang tuanya di dalam segala bentuk.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Di luar sadarnya anak muda itu mengusap dadanya sambil berkata, “Baiklah, Paman. Aku akan mendengarkan pesan Paman semuanya. Aku akan menghadap sebagai seorang anak menghadap ayahandanya.”

“Apakah Raden dapat bersikap demikian pula kepada Ayahanda Sultan Pajang?”

Raden Sutawijaya memandang Ki Lurah Branjangan dengan tajamnya. Namun kemudian ia menundukkan kepalanya tanpa menjawab sepatah kata pun.

Ki Lurah Branjangan pun tidak mendesaknya. Ia sadar bahwa Raden Sutawijaya memang tidak dapat menjawab saat itu. Nalarnya dan perasaannya masih belum dapat sejalan. Sehingga dengan demikian maka Ki Lurah Branjangan pun terdiam untuk beberapa saat.

Ki Lurah Branjangan itu mengangkat wajahnya ketika terdengar perintah Raden Sutawijaya perlahan-lahan, “Paman, biarlah para pemimpin kelompok mengurus kelompoknya masing-masing. Dan serahkan para tawanan kepada yang bertugas. Beri kesempatan mereka beristirahat. Aku besok akan menghadap sendiri. Tetapi para prajurit harus bersiap di alun-alun agar pada saatnya aku dapat melaporkan perjalanan kita bersama mereka semuanya.”

“Baiklah, Raden.”

“Sekarang, aku pun akan beristirahat.”

“Kemana Raden akan beristirahat? Apakah Raden akan kembali kepada ayahanda malam ini?”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak, lalu, “Tidak. Di mana pun aku dapat beristirahat. Tinggalkan aku di sini sendiri.”

“Sendiri?”

“Ya. Sendiri.”

“Itu tidak mungkin, Raden. Raden harus disertai beberapa orang pengawal yang akan mengawasi keadaan.”

“Tinggalkan aku sendiri.”

Ki Lurah Branjangan menjadi bingung. Namun sebelum ia dapat berbuat sesuatu, justru Raden Sutawijaya sudah memacu kudanya menembus gelapnya malam ke arah yang tidak diketahui.

Ki Lurah Branjangan pun dengan sigapnya melecut kudanya. Tetapi ternyata kelambatan beberapa kejap itu sudah sangat membingungkan. Justru karena jalan yang bercabang-cabang di dalam kota.

Hanya dalam beberapa saat yang pendek, Ki Lurah Branjangan telah kehilangan Raden Sutawijaya. Jika ia berada di bulak yang panjang, mungkin ia sempat menyusul, atau setidak-tidaknya dapat mengikutinya. Tetapi jalan di sekitar alun-alun ini benar-benar membuatnya bingung dan kehilangan jejak. Apalagi di malam hari.

Karena itu, maka Ki Lurah Branjangan pun segera kembali kepasukannya dengan wajah yang tegang. Ketika beberapa orang pemimpin kelompok mendapatkannya dan bertanya tentang Raden Sutawijaya, muka Ki Lurah Branjangan itu hanya menggeleng sambil menjawab, “Aku tidak tahu, apakah yang merisaukannya.”

Namun ternyata bahwa cerita tentang gadis Kalinyamat itu telah merambat ke setiap telinga. Dan setiap pengawal pun berpendapat, bahwa Raden Sutawijaya telah dirisaukan oleh keadaan gadis itu. Apalagi gadis itu adalah gadis simpanan Ayahanda Sultan Pajang.

Dalam kegelisahan itu, maka Ki Lurah Branjangan pun memerintahkan agar pasukan itu beristirahat ke barak mereka. Para tawanan harus mendapat pengawalan dan pengamatan secukupnya.

“Lalu bagaimana dengan Raden Sutawijaya?” bertanya utusan Ki Gede Pemanahan yang memanggil Raden Sutawijaya itu.

“Biar sajalah ia melepaskan kerisauan hatinya. Tetapi aku yakin bahwa ia akan datang besok pagi menghadap Ayahanda Ki Gede Pemanahan tanpa diketahui orang lain. Bagi Raden Sutawijaya persoalan yang akan dibicarakan dengan ayahandanya adalah persoalan yang sangat penting.”

Utusan itu tidak mempersoalkan lagi. Meskipun ia menjadi cemas bahwa Raden Sutawijaya tidak akan memenuhi panggilan Ki Gede dan karena kegelisahan dan perasaan bersalah ia pergi tanpa tujuan. Namun agaknya Raden Sutawijaya yang jantan itu tidak akan lari dari pertanggungan jawab bagaimana pun bentuknya.

Demikianlah maka para pengawal yang letih itu pun segera pergi beristirahat selain mereka yang bertugas, betapa pun risaunya hati mereka melihat sikap Raden Sutawijaya. Tetapi sebagian besar dari mereka dapat mengerti, bahwa anak muda yang sedang kalut itu mencari ketenangan di sepinya malam tanpa orang lain, meskipun kecemasan masih saja membayangi perasaan mereka, jika saja Raden Sutawijaya tidak sempat berpikir jauh.

Dalam pada itu Sutawijaya yang sedang berpacu itu pun tidak menghiraukan apa pun lagi. Dilecutnya kudanya sehingga berlari semakin cepat, berderap di atas jalan berbatu-batu. Ia sadar ketika ia melihat pintu gerbang kota sudah ada di hadapannya. Tetapi ia tidak berhenti. Ketika beberapa orang penjaga mencoba menghentikannya, kudanya yang bagaikan gila itu berlari terus sehingga para penjaga itu pun berloncatan menepi.

“Siapa orang gila itu,” desis seseorang.

Pemimpin penjaga itu pun kemudian berdesis, “Aku tidak akan mengejarnya. Bukankah ia Raden Sutawijaya?”

Yang lain berpikir sejenak, lalu, “Ya. Raden Sutawijaya.”

“Kenapa ia memacu kudanya?”

“Aku tidak tahu. Tetapi ia adalah pemimpin yang terpercaya sehingga kita tidak perlu mencurigainya sama sekali.”

Para pengawal itu pun mengangguk-angguk. Tetapi mereka masih saja dicengkam oleh perasaan heran bahwa Raden Sutawijaya memacu kudanya secepat angin keluar kota di saat yang aneh pula.

“He, bukankah Raden Sutawijaya pergi ke Menoreh?” tiba-tiba seorang penjaga bertanya.

“Baru saja pasukannya memasuki kota lewat gerbang utara. Seorang penghubung telah memberitahukan hal itu kepadaku,” sahut pemimpin penjaga. “Tetapi bahwa ia berlari lewat pintu gerbang ini ke luar kota, aku tidak tahu apakah maksudnya.”

Para penjaga itu pun terdiam. Mereka merenungi sikap yang aneh dari Raden Sutawijaya. Tetapi akhirnya mereka menjadi jemu, dan membiarkan saja apa yang akan terjadi, karena mereka tidak akan dapat menebaknya dengan tepat.

Dalam pada itu kuda Raden Sutawijaya pun berpacu di tengah-tengah bulak yang panjang, menembus gelapnya sisa malam. Nafasnya terasa mengalir berdesakan seperti gejolak perasaannya yang bagaikan merekahkan dadanya.

Namun akhirnya Raden Sutawijaya itu menarik kekang kudanya. Perlahan-lahan kudanya itu pun memperlambat derap kakinya, sehingga akhirnya berhenti sama sekali di tengah-tengah bulak yang kelam.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia ingin menghirup udara yang segar sebanyak-banyaknya setelah ia berpacu di atas punggung kudanya.

Sejenak Raden Sutawijaya duduk diam di atas punggung kuda. Dipandanginya keredip kunang-kunang yang hinggap bertaburan di daun padi, seperti mutiara yang di sebar di atas rerumputan hijau.

Namun kemudian terasa dadanya menjadi sesak. Persoalan yang dihadapinya seakan-akan tidak akan dapat terpecahkan. Ia berdiri pada dua ujung yang bertentangan. Sebagai seorang ksatria ia harus mengakui dan bertanggung jawab atas gadis Kalinyamat yang sudah membuat hubungan gelap dengan dirinya. Jika ia harus digantung, maka ia tidak boleh ingkar. Tetapi sebagai ksatria pula ia sudah bersumpah, bahwa ia akan membuat Mataram menjadi sebuah negeri yang ramai. Ia tidak akan menginjak tangga Istana Pajang sebelum ia dapat menengadahkan dadanya dan berkata, bahwa Mataram sekarang sudah menjadi sebuah negeri seramai Pati.

Raden Sutawijaya berdesah pendek sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Angin malam yang lembab bertiup perlahan-lahan. Namun hati Raden Sutawijaya yang gemuruh bagaikan prahara yang menyapu belukar.

Perlahan-lahan Raden Sutawijaya turun dari kudanya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun jantungnya terasa semakin cepat berdetak.

Dengan lemahnya Raden Sutawijaya duduk di atas sebuah batu di pinggir parit yang mengalir gemericik. Diamatinya arus air bening yang hanya setinggi mata kaki itu.

Namun justru terbayang di dunia angan-angannya, seraut wajah seakan-akan bercermin di dalam air yang jernih itu. Wajah seorang gadis yang sebenarnya sudah bukan gadis lagi. Apalagi ia sudah mulai mengandung.

Sutawijaya mulai membayangkan bagaimana hal itu telah terjadi. Ketika ayahanda angkatnya, Sultan di Pajang menghadap kakandanya Ratu Kalinyamat, maka jatuhlah janji, jika seseorang dapat membunuh Arya Penangsang yang telah membunuh suami Ratu Kalinyamat itu, maka ia akan mendapatkan dua orang gadis cantik.

“Tentu Ratu Kalinyamat tahu benar sifat Ayahanda Sultan Pajang,” berkata Sutawijaya di dalam hatinya.

Dan yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang adalah dirinya. Raden Sutawijaya. Tetapi kepada Sultan Pajang dikatakan bahwa pembunuhnya adalah Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi, agar janji Sultan Pajang atas mereka yang berhasil membunuh Arya Penangsang, hadiah tanah Pati dan Alas Mentaok diserahkan.

“Kedua gadis cantik itu tidak pernah disebut sama sekali oleh Ayahanda Sultan Pajang,” berkata Raden Sutawijaya di dalam dirinya pula.

Dan terbayang pula, betapa akhirnya justru Ki Penjawi dahululah yang menerima Tanah Pati sebagai hadiah. Sedang ayahandanya sendiri, Ki Gede Pemanahan tidak segera menerima bagiannya yang masih berupa hutan belukar.

“Aku yang membunuh Pamanda Arya Penangsang. Tetapi hadiah yang diterima Ayahanda Ki Gede Pemanahan adalah yang paling jelek dan lambat, yang harus didesak dengan sikap yang agak keras,” desis Sutawijaya lambat. “Jadi apakah aku terlalu bersalah jika aku mengambil hadiah yang sebenarnya dijanjikan oleh Ratu Kalinyamat? Salah seorang dari kedua gadis itu?”

Tetapi kepala Raden Sulawijaya pun tertunduk lesu. Memang ia telah melakukan kesalahan. Kedua gadis itu sudah diambil oleh ayahandanya Sultan Pajang. Dan sebagai gantinya Sultan Pajang telah menghadiahkan Tanah Pati dan Alas Mentaok.

Sekali lagi membayang di angan-angannya, bagaimana ayahandanya melakukan suatu cara untuk menangani usaha membinasakan Arya Penangsang itu.

“Tentu Adipati Pajang akan turun ke medan,” berkata Ki Juru Martani pada waktu itu, “ia adalah orang yang sakti tanpa tanding. Mungkin ia akan berhasil mengalahkan Arya Penangsang di medan. Tetapi usahakan bahwa ada orang lain yang diperintahkannya dengan hadiah tanah yang cukup baik.”

Ternyata Ki Pemanahan berhasil menahan Adipati Pajang agar ia tidak turun sendiri ke gelanggang.

“Ampun, Tuanku,” sembah Ki Gede Pemanahan, “jika para panglima sudah tidak sanggup lagi melakukan, barulah Tuanku melakukannya sendiri. Tetapi sepanjang masih ada orang lain yang sanggup, biarlah orang itu melakukannya.”

Sultan Pajang yang pada waktu itu masih seorang adipati menyetujuinya. Bahkan katanya, “Jika ada yang sanggup membunuhnya, maka aku akan memberikan hadiah tanah Pati dan Alas Mentaok. Tetapi jika tidak ada yang sanggup melakukannya, maka aku sendiri akan turun ke medan.”

Seperti yang dikehendaki oleh Ki Juru Martani, maka ayahandanya Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi menyanggupinya di paseban.

“Ternyata perhitungan Ki Juru Martani itu benar,” gumam Raden Sutawijaya. “Ki Juru Martani mengharap aku ingin ikut ke medan bersama ayahanda. Dan aku pun telah memaksa untuk pergi. Dan seperti yang diharapkan oleh Ki Juru Martani pula, maka Ayahanda Sultan tidak sampai hati melepaskan aku, anak angkatnya yang dikasihinya tanpa memberikan sipat kandel. Dan ternyata bahwa Ayahanda Sultan Pajang memberikan Kiai Pleret, tombak pusaka yang tiada duanya itu kepadaku.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Memang tombak Kiai Pleret itulah yang diharapkan oleh Ki Juru Martani. Dan ternyata dengan tombak itu pulalah ia berhasil melukai Arya Penangsang karena kuda Arya Penangsang tiba-tiba menjadi binal tanpa dapat dikendalikan lagi.

Raden Sutawijaya yang sedang diamuk oleh lamunan itu pun terkejut ketika ia mendengar ayam jantan berkokok di kejauhan. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya cahaya merah sudah nampak di langit. Fajar.

Sekilas terbayang darah yang memancar dari lambung Arya Penangsang. Darah yang merah melampaui merahnya fajar di langit. Ususnya yang mencuat ke luar, ditahannya dengan tangannya, kemudian disangkutkannya di keris pusakanya. Tetapi malang, justru ketika Arya Penangsang itu menarik keris pusakanya yang sakti tiada tandingnya itu, ususnya sendiri terpotong, dan Arya Penangsang itu pun tewas seketika.

“Bukan saja karena keris itu,” desis Sutawijaya, “tetapi luka di lambung oleh pusaka Kiai Pleret itu pun merupakan luka yang tidak dapat disembuhkan lagi. Kiai Pleret adalah pusaka yang tiada bandingnya, ditambah pula oleh luka karena keris pusakanya sendiri, Setan Kober.”

Tetapi sekali lagi Sutawijaya terbanting pada kegelisahan yang tidak ada bandingnya pula. Bagaimanakah keputusan ayahandanya Ki Gede Pemanahan tentang gadis Kalinyamat itu.

Raden Sutawijaya menggeram sambil menggeretakkan giginya. Cahaya merah di langit bagaikan warna wajah Ayahanda Ki Gede Pemanahan yang menjadi sangat marah.

“Apa boleh buat. Aku harus menghadap. Apa pun yang akan terjadi.”

Untuk beberapa lamanya Raden Sutawijaya masih berada di tempatnya. Sekali-sekali kepalanya ditengadahkan memandang warna langit yang seakan-akan menjadi semakin tajam.

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya terkejut ketika terdengar derap kuda menuju ke arahnya. Dengan gerak naluriah ia pun meloncat berdiri. Di kejauhan dilihatnya bayangan di dalam samarnya sinar fajar, seekor kuda mendekatinya. Tetapi Raden Sutawijaya tidak segera dapat mengetahui siapakah penunggangnya.

 

 

Baru ketika kuda itu menjadi semakin dekat, Raden Sutawijaya mengenalnya. Ki Lurah Branjangan.

“Darimana Ki Lurah mengetahui bahwa aku ada di sini?” bertanya Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan pun kemudian meloncat turun. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati Raden Sutawijaya sambil berkata, “Raden. Penjaga gerbang itu menjadi bingung. Salah seorang dari mereka memerlukan datang kepada induk pasukan yang memasuki kota ini dari gerbang utara.”

“Apa katanya?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Para penjaga itu menjadi bingung. Baru saja mereka mendengar bahwa pasukan ini memasuki kota lewat gerbang utara. Namun mereka pun segera melihat Raden keluar lagi lewat gerbang ini. Karena itu mereka memerlukan mengirimkan seorang pengawal untuk menanyakan kepada kami, karena mereka selalu dikejar oleh teka-teki tentang Raden.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Dengan demikian Paman menemukan jejakku dan menyusulku kemari?”

“Begitulah,” Ki Lurah Branjangan berhenti sejenak, lalu, “sebaiknya Raden kembali masuk ke kota dan bergabung dengan induk pasukan yang kini sedang beristirahat.”

Raden Sutawijaya tidak segera menyahut. Tetapi ditatapnya warna merah di langit.

“Fajar telah mewarnai langit,” berkata Ki Lurah Branjangan, “apakah Raden tidak segera kembali sebelum langit menjadi terang dan jalan-jalan penuh dengan orang-orang yang akan pergi ke pasar untuk menjual hasil bumi mereka? Jika kita kembali saat ini pun, di perjalanan kita akan bertemu dengan para pedagang dan orang-orang yang akan pergi ke pasar itu.”

Raden Sutawijaya merenung sejenak.

“Silahkan, Raden.”

“Baiklah, Paman,” desis Raden Sutawijaya kemudian, “aku akan kembali.”

“Marilah. Mumpung masih gelap.”

Raden Sutawijaya masih saja ragu-ragu. Namun ia pun kemudian pergi juga ke kudanya.

Keduanya pun kemudian berkuda menuju kembali ke kota. Tetapi Raden Sutawijaya tidak lagi berpacu seperti dikejar hantu.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan, maka di perjalanan mereka telah bertemu dengan orang-orang yang pergi ke pasar. Beberapa orang perempuan masih membawa obor di tangan sedang di beberapa tikungan, orang-orang mulai berkerumun memperjual-belikan dagangan mereka.

Sekali-sekali mereka bertemu dengan pedati yang penuh dengan muatan menuju ke kota. Muatan yang akan dibawa ke pasar.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam di dalam sejuknya udara pagi. Ia sempat melihat sendiri bahwa sebenarnya Mataram memang sudah mulai menjadi ramai.

“Tetapi masih belum menjadi sebuah negeri yang dapat dibanggakan di paseban Pajang. Beberapa orang pemimpin dan senapati tentu masih mencibirkan bibirnya dan mengejek bahwa aku telah menelan ludah kembali,” berkata Raden Sutawijaya di dalam hati.

Tetapi Raden Sutawijaya pun sadar sepenuhnya bahwa tidak ada jalan lain kecuali menghadap Ayahanda Ki Gede Pemanahan.

Meskipun demikian Sutawijaya tidak segera pergi menghadap. Ia masih harus menunggu matahari terbit dan langit menjadi terang. Karena itu, maka ia pun pergi bersama Ki Lurah Branjangan ke tempat para pengawalnya beristirahat.

Kedatangan Raden Sutawijaya di antara para pengawalnya justru menumbuhkan ketegangan. Tidak ada seorang pun yang berani memandangnya, apalagi menegurnya. Mereka yang melihat Raden Sutawijaya mendekatinya, segera menundukkan kepalanya.

Raden Sutawijaya sendiri tidak berkata sepatah kata pun kepada siapa pun juga. Ia hanya duduk saja menyendiri menunggu cahaya matahari yang semakin terang di langit.

Rasa-rasanya hari lambat sekali terbit. Dalam keadaan yang gelisah, ia mengharap agar ia segera dapat bertemu dengan ayahanda, apa pun yang akan terjadi atasnya.

Akhirnya saat yang ditunggunya itu pun datang. Matahari sudah memanjat semakin tinggi, sehingga datanglah saat baginya untuk menghadap ayahanda.

Betapa pun hatinya berdebaran, tetapi Sutawijaya mempersiapkan diri untuk menghadap. Dibenahinya pakaiannya, agar ia cukup pantas menghadap ayahandanya meskipun ia baru saja pulang dari peperangan.

Keberangkatan Raden Sutawijaya menghadap ayahandanya di ikuti oleh pandangan mata yang penuh dengan getaran pertanyaan di dalam dada Ki Lurah Branjangan. Apakah yang kira-kira akan terjadi dengan anak yang masih muda itu.

Tetapi seperti yang diharapkan oleh Raden Sutawijaya bahwa ia akan menghadap ayahanda seorang diri. Tanpa seorang pun yang boleh mengikutinya.

“Mungkin Raden Sutawijaya merasa malu persoalannya itu didengar oleh orang lain,” berkata Ki Lurah Branjangan kepada diri sendiri.

Dalam pada itu dengan dada yang berdebar-debar Raden Sutawijaya menyusuri jalan kota yang mulai ramai itu menuju ke rumahnya. Rumah yang dibangun oleh ayahandanya dalam kedudukannya sebagai seorang cikal bakal dari Tanah Mataram yang besar, yang diharapkannya dapat menjadi negeri yang ramai.

Ada sesuatu yang serasa menahan Raden Sutawijaya untuk memasuki halaman rumahnya yang luas lewat regol depan. Dengan hati yang berdebar-debar ia memasuki regol samping dan langsung menuju ke butulan.

Ketika seorang pengawal melihatnya, maka dengan hati-hati ia mendekatinya sambil membungkuk-bungkukkan punggungnya. Agaknya telah terasa oleh pengawal itu suasana yang lain dari biasanya.

“Ayahanda Raden sudah menunggu di pringgitan,” desis pengawal itu.

Raden Sutawijaya memandanginya sejenak. Lalu, “Dari mana kau tahu?”

“Aku baru saja dari halaman depan. Para pengawal di regol depan siap menunggu kedatangan Raden. Mereka semuanya mengetahui bahwa Ki Gede Mataram berada di pringgitan sejak pagi-pagi benar. Bahkan semalam sampai jauh malam ayahanda menunggu Raden di pringgitan itu juga.”

Terasa sesuatu berdesir di dada Raden Sutawijaya. Agaknya persoalannya itu benar-benar telah membuat ayahandanya sangat berprihatin. Dengan demikian maka dadanya pun menjadi semakin berdebar-debar.

“Silahkan Raden segera menghadap. Bukankah pasukan yang Raden bawa telah memasuki regol utara tadi malam.”

“Dari mana kau tahu?”

“Laporan itu sampai kepada kami di sini. Bahkan semua penjaga gerbang yang ada di kota ini.”

Dada Sutawijaya menjadi semakin berdebaran. Kemudian diserahkannya kudanya kepada pengawal itu sambil berkata, “Aku akan segera menghadap.”

Raden Sutawijaya mengatur dirinya sejenak. Kemudian ia pun memaksa kakinya untuk melangkah lewat longkangan samping menuju ke pendapa.

Dengan dada yang serasa berdentangan Raden Sutawijaya naik ke pendapa. Ayahandanya, Ki Gede Pemanahan seperti yang dikatakan oleh pengawal itu, memang berada di pringgitan. Duduk di atas tikar pandan yang putih menghadap semangkuk minuman.

Rasa-rasanya dada Raden Sutawijaya akan meledak melihat wajah ayahanda yang muram. Jauh berbeda dengan wajah ayahanda ketika melepaskannya pergi mencari orang-orang bersenjata yang mengganggu perkembangan wilayahnya itu.

Beberapa orang pengawal di regol depan melihat Raden Sutawijaya yang justru datang lewat longkangan samping. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Mereka justru memandang saja dari kejauhan.

Ketika Raden Sutawijaya berada di atas tangga, ayahandanya sudah melihatnya. Tetapi ia masih tetap berdiam diri menunggu Sutawijaya mendekatinya.

Dengan ragu-ragu Sutawijaya mendekat. Kemudian duduk di hadapan ayahandanya yang memandanginya dengan tatapan mata sayu.

“Kau sudah datang semalam Sutawijaya?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

“Ya, Ayahanda,” jawab Raden Sutawijaya dengan dada yang bergejolak semakin cepat.

“Kau tidak langsung pulang.”

“Sudah terlampau malam, Ayahanda. Aku takut mengejutkan Ayahanda.”

“Ketika aku mendengar laporan itu, aku menunggu kau di sini. Tetapi kemudian aku mendengar laporan berikutnya bahwa kau keluar lagi lewat gerbang yang lain.”

Raden Sutawijaya menjadi semakin bingung. Justru karena itu ia tidak menjawab.

“Aku akan berbicara dengan kau tentang masalah yang penting. Tetapi tentu tidak sekarang. Kau tentu masih lelah. Nanti setelah kau membersihkan diri, makan dan minum, beristirahat sebentar, kita akan berbicara dengan tenang.”

Sesuatu melonjak di dada Raden Sutawijaya. Ia ingin mendengar keputusan ayahandanya segera. Tetapi ia tidak berani mendesaknya.

“Aku ingin mendengar ceritamu tentang tugas yang kau lakukan. Apakah kau berhasil?”

Raden Sutawijaya menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Kami berhasil, Ayah.”

“Kau mendapat bantuan dari Ki Gede Menoreh?”

“Ya, Ayah. Dan bantuan dari seorang yang menyebut dirinya Ki Waskita, yang juga ternama Jaka Raras. Bantuan yang menentukan.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya, “Apakah kau temukan pula orang bercambuk itu?”

“Ya, Ayah. Mereka berada pula di Menoreh.”

Ki Gede masih mengangguk-angguk. Lalu, “Sekarang pergilah membersihkan dirimu. Aku juga belum makan. Kita akan makan bersama-sama di ruang dalam. Kemudian kita akan berbincang sedikit.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak memandang ayahnya. Wajahnya tiba-tiba saja tampak terlampau tua. Baru beberapa hari ia meninggalkannya. Namun di dalam beberapa hari itu rasa-rasanya ayahnya sudah berubah menjadi bertahun-tahun lebih tua.

“Pergilah ke belakang,” berkata Ki Gede Pemanahan. Meskipun suaranya terdengar sareh, tetapi terasa bahwa di dalam dada orang tua itu bergejolak perasaan yang tertahan.

Sutawijaya pun kemudian bergeser surut. Perlahan-lahan ia pergi meninggalkan ayahandanya duduk seorang diri seperti sebelum ia datang.

Ketika ia turun di halaman, sekali lagi ia memandang ayahandanya yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu bergetar di dadanya. Ayahnya telah benar-benar berubah. Seakan-akan ayahnya bukan lagi seorang prajurit yang bahkan seorang panglima di peperangan. Yang duduk di pendapa sambil menundukkan kepalanya itu seolah olah seorang tua yang putus asa menghadapi penghidupan yang sulit. Yang tidak dapat lagi berusaha mencari makan buat anak dan isterinya.

Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Namun ayahandanya sama sekali tidak berpaling ke arahnya.

Beberapa orang pengawal di regol memandang Raden Sutawijaya dengan heran. Ki Gede Pemanahan menunggu semalam di pendapa. Pagi-pagi benar Ki Gede sudah bangun dan duduk di pendapa itu pula. Kini Raden Sutawijaya sudah datang. Tetapi baru beberapa saat sudah disuruhnya meninggalkannya.

Para pengawal itu tidak mendengar apa yang sudah dikatakan oleh Ki Gede Pemanahan dan apa yang akan dilakukannya.

Sementara itu Sutawijaya pun pergi ke belakang. Sambil termangu-mangu ia kemudian masuk lagi lewat pintu butulan dan langsung ke biliknya mengambil ganti pakaian dan kemudian pergi ke pakiwan.

Baru setelah ia selesai mengemasi dirinya, ia kembali menemui ayahnya yang masih duduk di pendapa. Masih seperti tadi. Kepalanya tertunduk lesu, seakan-akan ayahandanya itu tidak bergerak sama sekali.

Ketika Ki Gede Pemanahan melihat Sutawrjaya naik lagi ke pendapa, maka katanya, “Nah kau sudah selesai. Marilah kita makan bersama di ruang dalam.”

Sutawijaya tidak menjawab. Ia mengikuti saja ketika ayahnya kemudian bangkit dan melangkah masuk ke ruang dalam.

Ternyata makan mereka sudah disediakan. Seorang pelayan yang menunggui makanan itu pun kemudian pergi ke belakang setelah Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya duduk menghadapi hidangan itu.

“Marilah kita makan Sutawijaya,” ajak ayahnya.

Sutawijaya merasa semakin asing di rumah dan di hadapan ayahnya sendiri. Biasanya ayahnya tidak begitu kaku menghadapinya. Bahkan kadang-kadang ayahnya tidak begitu menghiraukan, apakah ia sudah makan atau belum setelah ia sering bertugas keluar.

Seperti melayani seorang tamu, Ki Gede Pemanahan mempersilahkan anaknya untuk menyenduk nasi dari ceting lebih dahulu, kemudian mengambil lauk pauknya sebelum ia sendiri mengambilnya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “tidak banyak orang makan sambil berbicara. Tetapi jika dengan irama yang baik aku kira tidak akan mengganggu. Karena itu, sambil makan, aku akan bertanya tentang perjalananmu.”

Leher Sutawijaya terasa menjadi semakin sempit sehingga ia agak susah menelan nasi yang sudah dikunyahnya lumat-lumat. Namun ia mengangguk sambil menjawab, “Silahkan, Ayah.”

Tetapi Ki Gede Pemanahan tidak segera bertanya. Ia menyuapi mulutnya kemudian mengunyahnya dan menelannya.

Sutawijaya termangu-mangu beberapa saat. Namun ia pun kemudian makan sambil menundukkan kepalanya.

“Bagaimana dengan perjalananmu itu,” tiba-tiba saja Ki Gede Pemanahan bertanya.

Sutawijaya mengangkat wajahnya. Ia sudah menelan suap nasi yang terakhir. Jawabnya kemudian, “Kami berhasil dengan baik, Ayah.”

“Nah, sekarang ceritakanlah. Dari permulaan sampai kau datang lagi menghadap aku sekarang ini.”

Raden Sutawijaya menarik nafas. Kemudian ia pun mulai menceritakan pengalamannya menusuk langsung ke sarang orang-orang yang selama ini dianggapnya mengganggu perkembangan Mataram. Dikatakannya pula tentang pasukan pengawal Tanah Perdkan Menoreh yang membantunya karena kebetulan seorang tamu Menoreh telah hilang pula, Sutawijaya juga menceriterakan tentang Daksina dan Ki Waskita yang memiliki ilmu yang aneh.

Ki Gede Pemanahan yang sudah selesai makan itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mendengarkan cerita Raden Sutawijaya dengan asyiknya.

“Menarik sekali,” berkata Ki Gede kemudian, “untunglah bahwa kau mendapat kawan orang-orang tua yang berpengalaman. Jika kau tidak berhasil menghindarkan diri dari reruntuhan kayu-kayuan dan bebatuan di tebing itu, tentu kau akan kehilangan segala-galanya. Mataram pun kehilangan orang-orangnya yang terbaik, dan gangguan berikutnya tentu akan memunahkan segala keberanian dan hasrat untuk tetap membangun Tanah Mataram. Kemudian orang yang memiliki ilmu yang aneh itu pun sangat berjasa kepada kita di Tanah yang sedang tumbuh ini. Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan bertemu dengan mereka. Dengan Ki Gede Menoreh, dengan orang-orang bercambuk itu dan dengan Ki Waskita. Aku akan mengucapkan terima kasih kepada mereka, karena langsung atau tidak langsung mereka telah ikut menegakkan Mataram yang goyah ini. Dengan demikian jika kemudian ternyata ada orang yang mengganggu perkembangan Mataram dengan alasan apa pun, maka orang itu telah menyia-nyiakan segala pengorbanan dan bantuan yang pernah diterima oleh Mataram.”

Dada Sutawijaya rasa-rasanya menjadi sesak karenanya. Meskipun ayahnya tidak langsung menyebut namanya, tetapi rasa-rasanya kata-kata ayahnya itu memang tertuju kepadanya.

Dengan demikian maka Raden Sutawijaya pun hanya dapat menundukkan kepalanya saja.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “kau pun tidak boleh melupakan semuanya itu. Kau sendiri mengalami dan melihat, bagaimana tebing jurang seperti yang kau ceriterakan itu runtuh. Dan kau tahu sendiri, betapa orang yang bernama Panembahan Agung itu dapat mempermainkan kalian, jika tidak ada orang yang bernama Ki Waskita itu.”

“Ya, Ayah. Aku tidak akan melupakannya.”

“Bagus,” Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk, “sekarang, jika kau sudah selesai makan, beristirahatlah. Aku ingin berbicara sedikit tentang dirimu.”

Dada Raden Sutawijaya berdebar-debar semakin cepat.

“Kau dapat mempergunakan waktumu sekehendakmu. Jika kau lelah dan kantuk karena semalaman kau tidak tidur, sekarang tidurlah. Aku harap setelah tidur sejenak, kau akan menjadi segar, dan pembicaraan kita akan lancar.”

“Aku sama sekali tidak lelah, Ayah. Jika Ayah ingin mengatakan sesuatu, aku sudah siap”

“Tidak, Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “kau perlu beristirahat agar hatimu menjadi bening dan kau dapat mendengarkan penjelasanku sebaik-baiknya.”

“Aku tidak sedang bingung, Ayah.”

Ki Gede menggelengkan kepalanya. Katanya, “Sebaiknya kau memang tidur. Menilik ceritamu, selama kau berada di Menoreh, kau hampir tidak pernah tidur untuk beberapa malam. Semalam kau tentu juga tidak tidur sama sekali. Karena itu, sekarang pergilah ke bilikmu. Kau perlu tidur meskipun hanya sekejap.”

Sutawijaya tidak dapat membantah lagi. Ia pun kemudian meninggalkan ayahnya dan pergi ke dalam biliknya. Namun kegelisahan di hatinya rasa-rasa menyentak-nyentak dadanya, sehingga ia sama sekali tidak dapat tidur. Jangankan tidur, berbaring pun Sutawijaya tidak betah.

Dengan gelisah Sutawijaya duduk di bibir pembaringannya. Sekali-sekali ia bergeser setapak. Kemudian berdiri dan melangkah hilir mudik.

Ternyata ayahandanya membiarkannya dalam kegelisahan itu. Rasa-rasanya sudah berhari-hari Sutawijaya berada di dalam biliknya, namun ayahandanya masih belum juga memanggilnya dan membawanya berbicara.

Namun Sutawijaya itu terkejut, ketika pintu biliknya berderit. Dilihatnya Ki Gede Pemanahan sudah berdiri di depan pintu yang kemudian terbuka.

“O,” desis Sutawijaya, “apakah Ayahanda memanggil aku sekarang?”

Ki Gede Pemanahan tidak menyahut. Tetapi ia melangkah saja masuk dan duduk di tepi pembaringan Sutawijaya.

Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Sehingga ayahnya berkata, “Duduklah. Agaknya lebih baik berbicara di sini daripada di ruang dalam.”

Rasa-rasanya dada Raden Sutawijaya menjadi sesak. Jantungnya berhenti berdetak. Tetapi ia pun kemudian duduk pula di sebelah ayahandanya.

Sejenak keduanya saling berdiam diri, sehingga ruangan itu pun menjadi hening.

Yang terdengar kemudian adalah tarikan nafas yang panjang dari Ki Gede Pemanahan. Agaknya ia pun merasa sulit untuk memulai pembicaraannya dengan anak laki-lakinya.

Namun kemudian akhirnya terucapkan juga pertanyaan, “Sutawijaya, apakah kau telah mendengar desas-desus yang keras tentang dirimu sendiri?”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Darahnya bagaikan benar-benar berhenti mengalir.

“Desas-desus yang semakin lama menjadi semakin merata di seluruh Mataram?”

Sutawijaya tidak segera menjawab pertanyaan itu. Tetapi justru ia pun bertanya, “Dalam hubungannya dengan apa, Ayah?”

Ki Gede Pemanahan memandang wajah anaknya sejenak. Namun kemudian dilontarkannya tatapan matanya ke luar pintu sambil berkata, “Aku kira kau tentu sudah mendengarnya. Hampir setiap orang memperkatakannya.”

Sutawijaya menjadi semakin gelisah.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “apa boleh buat. Aku memang harus mengatakannya kepadamu, bahwa orang-orang Mataram selalu membicarakan tentang hubungan yang menurut desas-desus itu terjadi antara kau dengan salah seorang gadis dari Kalinyamat yang diperuntukkan bagi Kanjeng Sultan Pajang.”

Meskipun Raden Sutawijaya sudah menduga bahwa persoalan itulah yang akan dibicarakan oleh ayahandanya, namun pertanyaan itu rasa-rasanya telah meretakkan dadanya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede kemudian dengan nada yang dalam, “aku hanya sekedar bertanya. Jika memang tidak terjadi hal itu, kau dapat menjawabnya bahwa hal itu tidak benar.”

Sutawijaya berusaha menenangkan hatinya. Rasa-rasanya jika mungkin ia ingin menekan jantungnya yang berdentangan semakin cepat dan keras.

“Aku ingin mendengar jawabanmu Sutawijaya. Katakan dengan jujur apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika kau berkata sebenarnya, maka kita akan dapat bersama-sama mencari jalan yang paling baik dan benar untuk mengatasi persoalan yang agaknya akan menjadi rumit.”

Sutawijaya masih berdiam diri. Terasa dadanya bergolak semakin dahsyat. Meskipun sudah semalam suntuk ia menganyam perasaan, namun ketika pertanyaan itu benar-benar dilontarkan, maka ia pun masih juga menjadi sangat bingung.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “kau sudah bukan anak-anak lagi. Jika pada saat kau baru saja kembali dari peperangan dan membawa hasil yang harus dihargai oleh Mataram, namun kemudian kau sudah dihadapkan pada persoalan pribadimu, sama sekali bukan maksudku untuk memperkecil perjuanganmu bagi Mataram. Tetapi semata-mata karena persoalan yang sudah terjadi itu tidak akan dapat dibiarkannya tanpa penyelesaian.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam.

“Sutawijaya,” Ki Gede meneruskan, “kau bukan kanak-kanak yang hanya pandai memecahkan belanga, namun kemudian kau tinggalkan bersembunyi.”

Sutawijaya bergeser setapak. Katanya kemudian dengan nafas yang tertahan-tahan, “Maafkah aku, Ayahanda. Sebenarnyalah bahwa hal itu sudah terjadi.”

Ki Gede Pemanahan memejamkan matanya sesaat. Jawaban itu pun sudah diduganya. Namun seperti Sutawijaya, ia pun sejenak menjadi bingung mendengarnya.

Namun kemudian Ki Gede Pemanahan, orang tua yang penuh dengan pengalaman dan pengenalan atas hidup dan kehidupan itu pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan susah payah ia berhasil mengendalikan perasaannya yang bergelora.

Meskipun demikian masih juga tampak ketegangan yang memancar di sorot matanya.

Sutawijaya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dan dengan dada yang berdentangan ia mendengar ayahandanya berkata, “Sutawijaya. Setelah kau berhasil menaburi tanah ini dengan bunga yang semerbak dengan usahamu menumpas laskar Panembahan Agung, maka kini kau melumuri Tanah Mataram yang mulai berkembang ini dengan lumpur. Sutawijaya, apakah kau tahu arti seorang gadis bagi Sultan Pajang?”

Raden Sutawijaya tidak menjawab, tetapi kepalanya tertunduk semakin dalam.

“Anakku,” berkata Ki Gede Pemanahan, “ketika aku meninggalkan Pajang dan kembali ke Sela untuk memaksa Sultan Pajang mengingat kembali janjinya untuk menyerahkan Alas Mentaok, aku masih mempunyai keyakinan bahwa ia akan melakukannya. Bahkan sekarang pun jika kau memaksakan kehendakmu untuk mendapatkan suatu daerah yang sudah ramai sekali pun mungkin Sultan Pajang akan memberikannya. Apalagi setiap orang tahu, bahwa sebenarnya kau adalah anak angkatnya yang dikasihinya seperti anaknya sendiri.” Ki Gede terdiam sejenak untuk mengatur pernafasannya, lalu, “Tetapi jika kau mengambil seorang gadis dari padanya, akibatnya tentu akan lain.”

Sutawijaya menjadi semakin tunduk. Ia menyadari sepenuhnya kata-kata ayahandanya. Dan ia pun mengerti akan hal itu. Tetapi ketika semuanya itu terjadi, hatinya serasa gelap dan ia sama sekali tidak ingat apa pun juga, termasuk kemungkinan semacam itu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “kau masih belum menjawab seluruhnya. Kenapa hal itu terjadi dan akibat yang timbul kemudian dari peristiwa yang pahit itu?”

Sutawijaya tidak dapat ingkar lagi. Maka ia pun kemudian menceriterakan, bahwa sama sekali di luar kesengajaannya bahwa ia bertemu dengan gadis di dalam pingitan itu, dan apalagi kemudian terjadi hubungan yang telah menodainya.

“Ayahanda, gadis itu ternyata kini telah mengandung.”

“O,” Ki Gede Pemanahan mengusap dahinya yang berkeringat, “bagaimana mungkin semuanya ini terjadi. Tetapi yang hampir tidak masuk akal itu ternyata telah terjadi.”

 

 

Sutawijaya tidak menyahut.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “tidak ada jalan lain bagimu kecuali menghadap ayahandamu Sultan Pajang. Mungkin ayahandamu sudah mendengar. Tetapi mungkin juga karena ketakutan yang sangat dari gadis itu, serta belas kasihan orang-orang di sekitarnya, hal itu masih belum sampai kepada Sultan meskipun setiap orang sudah mengetahuinya. Tetapi kemungkinan itu adalah kemungkinan yang sangat kecil. Karena itu lebih baik kau datang menghadapnya lebih dahulu dan pasrah diri atas segala kelancanganmu daripada Sultan harus mengambil sikap lebih dahulu.”

Terasa kepala Sutawijaya menjadi pening. Peristiwa demi peristiwa yang membayang di angan-angannya berputar seperti kepalanyalah yang berputar. Lambat, namun kadang-kadang cepat seperti baling-baling ditiup angin yang kencang.

“Tidak ada jalan lain Sutawijaya,” terdengar suara Ki Gede Pemanahan.

Kepala Sutawijaya menjadi semakin pening. Terngiang di kepalanya sumpahnya sendiri yang pernah diucapkan, bahwa ia tidak akan menginjakan kakinya di tangga Istana Pajang sebelum ia menjadikan Mataram sebuah negeri yang ramai. Namun kemudian suara ayahandanya bagaikan meledak di telinganya, “Tidak ada jalan lain Sutawijaya, kau harus menghadap.”

Karena itu, Sutawijaya justru terdiam beberapa saat tanpa dapat berkata apa pun juga. Wajahnya menjadi tegang kemerah-merahan. Sedang denyut jantungnya serasa semakin cepat berdetak.

Tetapi, sekali lagi suara ayahandanya itu seolas-olah menjerit di telinganya, “Kau harus menghadap dan pasrah diri atas segala kesalahan yang kau lakukan.”

Maka terasa sesuatu bergejolak di dalam dada Raden Sutawijaya. Benturan perasaan yang rasa-rasanya akan memecahkan jantungnya.

Namun justru karena itu, maka Raden Sutawijaya itu pun seakan-akan terbungkam karenanya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “apakah kau mempunyai pertimbangan lain?”

Untuk beberapa saat Sutawijaya masih tetap berdiam diri. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, sedang nafasnya bagaikan saling memburu di lubang hidungnya.

“Kau harus cepat memutuskan Sutawijaya. Kau harus melakukannya sebelum ayahandamu Sultan Pajang berbuat sesuatu.”

Dengan susah payah Sutawijaya berusaha untuk mengendapkan perasaannya. Sekali-sekali ia menark nafas dalam-dalam.

“Aku ingin mendengar sikapmu Sutawijaya.”

Sutawijaya masih saja termangu-mangu. Namun ia tidak akan dapat terus menerus berdiam diri. Karena itu maka katanya kemudian, “Ayahanda. Aku mohon beribu-ribu maaf. Sebenarnya aku sama sekali tidak menghendaki hal ini terjadi. Tetapi apa boleh buat, bahwa yang telah terjadi tidak akan dapat diingkari lagi. Namun demikian, Ayahanda, apakah tidak ada jalan lain yang dapat aku tempuh selain datang menghadap Ayahanda Sultan?”

Wajah Ki Gede Pemanahan memerah sejenak. Lalu, “Maksudmu Sutawijaya.”

Dada Sutawijaya menjadi semakin berdebar-debar. Suaranya menjadi semakin dalam dan lamban, “Ayahanda, apakah ada cara lain yang dapat aku tempuh selain menghadap Ayahanda Sultan Pajang. Aku sudah berjanji, bahwa sebelum Mataram menjadi ramai, aku tidak akan menginjakkan kakiku di atas tangga Istana Pajang.”

Ki Gede Pemanahan memandang putranya dengan tajamnya. Lalu katanya, “Apakah kau tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatanmu?”

“Bukan maksudku, Ayahanda. Tetapi hanya karena aku sudah bersumpah,” Sutawijaya tergagap. “Aku tidak mau menjadi sasaran ejekan para pemimpin pemerintahan dan prajurit di Pajang yang sejak semula sudah menganggap bahwa usahaku akan sia-sia.”

“Kenapa kau lebih memperhatikan para pemimpin prajurit dan pemimpin pemerintahan di Pajang daripada ayahandamu Sultan sendiri?”

Kepala Sutawijaya semakin tertunduk. Lambat ia menyahut, “Aku sudah terlanjur bersumpah.”

“Tetapi apakah hal itu bukan sekedar kau buat menjadi alasan, agar kau tidak harus datang ke Pajang?”

“Tidak, Ayahanda. Sama sekali tidak. Itu adalah sumpah yang sebenarnya sudah aku ucapkan. Ketika para pemimpin di Pajang seakan-akan mencibirkan bibirnya mendengar tekad kita untuk membuka Alas Mentaok, aku tidak dapat menahan perasaan lagi. Aku telah mengucapkan sumpah itu.”

“Kenapa para pemimpin di Pajang itu tidak yakin bahwa kita akan berhasil?”

“Aku tidak tahu pasti, Ayah. Tetapi hal itu ada hubungannya dengan perkembangan keadaan kita sejak Mentaok benar-benar diserahkan kepada Ayahanda. Pada saat Ayahanda meninggalkan Pajang dan kembali ke Sela, maka perhatian seluruh pemimpin di Pajang tertuju kepada Ayahanda. Itulah permulaan dari sikap mereka yang menyakitkan hati. Mereka menganggap seolah-olah kita telah memaksakan kehendak kita kepada Ayahanda Sultan. Justru ketika akhirnya Sultan benar-benar menyerahkan Alas Mentaok kepada kita, maka para pemimpin itu mulai melontarkan sikap yang menggelitik hati itu, sehingga akhirnya aku tidak dapat menahan perasaan dan aku telah mengucapkan sumpahku saat itu bahwa aku akan menjadikan Mentaok sebuah negeri yang ramai.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Sutawijaya telah menyentuhnya pula. Dan Ki Gede Pemanahan pun merasa bahwa ia telah melakukan suatu tindakan yang terdorong oleh perasaan semata-mata. Ia telah mengajari Sutawijaya menentang ayahandanya Sultan Pajang. Ia telah bersikap kasar untuk memaksa Sultan Pajang memenuhi janjinya menyerahkan Alas Mentaok sebagai hadiah.

Tetapi semuanya itu sudah terlanjur. Dan kini ternyata bahwa Sutawijaya pun bersikap keras menghadapi para pemimpin di Pajang yang disangkanya pernah menghinanya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian dengan nada yang datar, “jadi kau menyandarkan sikapmu itu kepada sikap ayahandamu waktu itu? Aku mengakui Sutawijaya, bahwa saat itu aku telah didorong oleh perasaan yang kurang mendapat pengekangan, sehingga terjadilah apa yang telah terjadi itu. Tetapi aku berharap bahwa kau akan bersikap lain, Sutawijaya. Kau adalah anak angkat terkasih dari ayahandamu Sultan Pajang. Karena itu, kau pun harus menanggapinya. Kau harus mengakui kesalahan yang pernah kau lakukan itu langsung kepada ayahandamu Sultan Pajang, apa pun yang akan diperbuatnya atasmu. Aku tidak berkeberatan untuk mengantarkanmu ke Pajang secepat-cepatnya.”

Dada Sutawijaya rasa-rasanya akan retak karenanya. Tetapi sangat berat baginya untuk memenuhi perintah ayahandanya itu untuk datang ke Pajang selagi Mataram baru mulai berkembang. Tetapi ia sadar, bahwa persoalan gadis Kalinyamat itu harus segera diselesaikan.

Karena itu, kembali Sutawijaya diam mematung. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Sekilas ada niatnya untuk berbicara. Tetapi kemudian mulutnya terkatup lagi rapat-rapat.

Ki Gede Pemanahan menunggu jawaban Sutawijaya dengan dada yang berdebar-debar. Sepercik penyesalan telah membakar hatinya. Jika ia tidak bertindak kasar dan merajuk, sehingga memaksa Sultan Pajang segera menyerahkan Alas Mentaok, maka yang terjadi tentu akan berbeda.

“Kenapa aku pada waktu itu anggege-mangsa? Kenapa aku berusaha mempercepat saat penyerahan Alas Mentaok? Jika pada waktu itu aku tetap berdiam diri saja, mungkin Kanjeng Sultan akan mengambil sikap yang lebih baik akibatnya daripada sekarang ini,” berkata Ki Pemanahan di dalam hatinya. Dan terngiang di telinganya pendapat bahwa sebenarnya Sultan Pajang sama sekali tidak akan ingkar janji. Tetapi karena akhirnya Alas Mentaok akan jatuh ke tangan Sutawijaya, putra angkatnya yang sangat dikasihinya, maka Sultan Pajang tidak tergesa-gesa menyerahkannya.

“Apakah justru Sultan akan membuka Alas Mentaok menjadi sebuah negeri yang ramai lebih dahulu baru memberikan kepadaku dan Sutawijaya?” bertanya Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya.

Tetapi semuanya sudah terjadi. Anaknya pun ternyata telah dijalari oleh sikapnya pada waktu itu. Keras hati dan gejolak perasaan yang membara di hati, Alas Mentaok harus menjadi sebuah negeri yang besar. Setidak-tidaknya sebesar Pati.

Karena Sutawijaya masih saja tetap berdiam diri maka Ki Gede Pemanahan pun bertanya sekali lagi, “Sutawijaya, kau masih belum memberikan jawaban.”

Sutawijaya masih tetap menundukkan kepalanya. Namun kemudian dengan suara tertahan-tahan ia berkata, “Ampun, Ayahanda. Sebenarnya aku tidak akan ingkar sama sekali akan kesalahan yang telah aku lakukan. Tetapi bagaimana aku akan dapat mengakui kesalahan itu di hadapan Ayahanda Sultan karena aku sudah bersumpah tidak akan datang ke Istana Pajang.”

Terasa sesuatu melonjak di hati Ki Gede Pemanahan. Tetapi ia masih tetap berkata sareh, “Sutawijaya. Kau selama ini tidak pernah membantah. Kau adalah anak yang baik, penurut dan bertanggung jawab.” Ki Gede Pemanahan berhenti sejenak, lalu, “Ingatlah Sutawijaya, betapa besar kasih Sultan Pajang kepadamu. Ketika kau memaksa untuk ikut ke medan melawan Adipati Jipang, ayahandamu angkat itu melarang kau dan menahanmu sedapat-dapat dilakukan. Tetapi kau keras kepala dan memaksa. Dan karena kau tidak dapat ditahan lagi, maka Sultan memberikan pusaka terbesar dari Pajang kepadamu demi keselamatanmu. Bahkan Sultan Pajang berpesan kepadaku, kepada pamanmu Penjawi, jika sampai sobek pakaianmu, dan apalagi luka kulitmu di peperangan, maka aku dan pamanmu Penjawi akan digantung di alun-alun Pajang, karena aku tidak dapat melindungi keselamatan putra Sultan. Kau ingat Sutawijaya?”

Kepala Sutawijaya menjadi semakin tertunduk. Ia ingat jelas, bagaimana ayahanda angkatnya itu menahannya agar ia tidak turun ke medan ketika terjadi perang antara Pajang dan Jipang. Ia merasa betapa besar kasih sayang Sultan Pajang kepadanya.

Namun demikian, terbayang pula wajah-wajah para pemimpin yang dengki dan iri di paseban istana Pajang saat itu, sehingga ia telah melontarkan sumpahnya di hadapan para pemimpin itu. Dan sumpahnya itulah yang sangat memberati hatinya untuk memenuhi perintah ayahandanya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “kau harus segera mengambil keputusan.”

Sutawijaya adalah seorang anak muda yang memiliki kelebihan dari anak-anak muda kebanyakan. Ialah yang dengan ujung tombak pusaka Pajang melukai lambung Arya Penangsang yang sakti tiada bandingnya, meskipun dengan siasat yang cerdik dari Ki Juru Martani, sehingga kuda Arya Perangsang menjadi binal.

Namun menghadapi persoalan yang hampir tidak terpecahkan itu, terasa betapa hatinya bagaikan disayat.

“Sutawijaya,” suara ayahandanya menjadi semakin berat, “kenapa kau diam saja?”

“Ayahanda,” terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya, sehingga Sutawijaya berhenti sejenak, lalu, “berat sekali perasaanku untuk melanggar sumpahku, Ayahanda.”

“Jadi kau lebih memberatkan sumpahmu di hadapan para pemimpin yang iri itu daripada ayahandamu Sultan Pajang?”

“Bukan berarti demikian, Ayahanda. Tetapi yang aku cari adalah penyelesaian lain. Aku tidak akan berkeberatan menghadap Ayahanda Sultan. Tetapi sudah barang tentu tidak menghadapnya di Istana Pajang.”

“Kau gila,” tiba-tiba Ki Gede Pemanahan tidak dapat menahan hatinya lagi. “Jadi kau mengharap bahwa Sultan Pajang yang datang menghadap kau di Mataram ini dan justru bukan kau yang datang di Pajang?”

“Tidak, Ayah. Tidak,” cepat-cepat Sutawijaya memotong, “bukan maksudku, Ayah. Tetapi seandainya Sultan sedang berburu atau sedang pergi mengunjungi daerah pesisir dan kadipaten di Bang Wetan atau Bang Kulon, aku tidak berkeberatan untuk menghadap.”

“Pikiranmu memang sudah tidak waras lagi, Sutawijaya,” geram ayahandanya. “Itu sama sekali tidak sopan. Jika Sultan Pajang pergi berburu, maka maksudnya tentu untuk melupakan kesibukannya sehari-hari. Tetapi kau akan datang mengganggunya sehingga menimbulkan persoalan baru baginya. Kecuali itu, kapan hal itu akan terjadi? Kapan? Setahun, dua tahun lagi atau barangkali setelah bayi yang dikandung itu sempat ikut menghadap Sultan?”

Dada Sutawijaya tergetar karenanya. Ia jarang sekali melihat dan mendengar ayahandanya marah kepadanya. Sejak ia diangkat oleh Sultan Pajang menjadi anaknya, maka sikap Ki Gede Pemanahan kepadanya benar-benar seperti sikap seorang panglima perang di Pajang kepada putra sultan yang sebenarnya. Sedang ketika kemudian ia memutuskan untuk ikut serta dengan Ki Gede Pemanahan membuka Alas Mentaok, maka ayahandanya itu benar-benar menaruh hormat kepadanya, karena ia tidak silau dengan kemukten yang didapatnya di istana Pajang, dan mengikuti ayahandanya berprihatin.

Tetapi justru setelah Alas Mentaok sedang tumbuh dan mekar, ia telah melakukan suatu kesalahan yang membuat ayahandanya itu marah.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan itu pula karena Sutawijaya masih tetap berdiam diri, “kau harus cepat mengambil keputusan.”

Sutawijaya menjadi semakin bimbang. Namun seperti ayahandanya, maka Sutawijaya adalah seorang anak muda yang keras hati. Ia mempunyai pegangan atas nilai-nilai yang diyakininya. Karena itulah maka ia merasa bahwa apabila ia pergi juga ke Pajang, maka ia adalah seorang ksatria yang tidak berharga di mata para pemimpin dan Senapati Pajang yang pernah mendengar sumpahnya. Mereka akan mengejek dan mentertawakannya. Dan bahkan mungkin di antara mereka terdapat orang-orang yang mempunyai hubungan dengan Daksina. Orang-orang itu tentu akan memanfaatkan keadaan dan menekannya sehingga ia menjadi sasaran ejekan dan hinaan, meskipun seandainya tidak terucapkan. Namun tatapan mata dan senyum yang masam, akan menjadi duri yang mematuk dinding jantung.

Karena itu, maka hati Sutawijaya pun telah mengeras. Ia tidak ingin datang menghadap ayahanda di Istana Pajang.

“Sutawijaya. Kenapa kau berdiam diri?” desak ayahandanya.

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian dengan suara bergetar oleh debar jantungnya, “Ayahanda. Tentu Daksina yang telah terbunuh itu tidak berdiri sendiri di lingkungan keprajuritan Pajang. Para senapati yang berpihak kepadanya atau justru yang mengendalikannya, akan menarik keuntungan dengan kehadiranku di Istana Pajang sebagai seorang ksatria yang tidak teguh memegang janji kepada diri sendiri. Tetapi secara terbuka mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak akan dapat menuntut aku di hadapan Ayahanda Sultan, karena Ayahanda Sultan tidak akan berpegang pada sumpahku itu sebagai sumber keadilan untuk menghukum aku. Namun demikian, aku akan tetap merasa, bahwa di dalam hati mereka sudah membuat penilaian atas diriku, bahwa aku adalah laki-laki yang tidak teguh, dan luluh karena langsung atau tidak langsung, oleh sentuhan halusnya kulit seorang perempuan.”

Ki Gede Pemanahan memandang wajah Sutawijaya sejenak, lalu katanya, “Tetapi bukankah hal itu memang sudah terjadi? Dan kau telah melumuri namamu sendiri dengan lumpur?” Ki Gede Pemanahan berhenti sejenak, lalu, “Sutawijaya, aku hanya ingin mendengar jawabmu. Kau bersedia datang ke Pajang atau tidak. Dengan atau tidak dengan aku.”

Dada Sutawijaya menjadi sesak. Tetapi kekerasan hatinya telah melonjak sampai ke tenggorokannya, sehingga jawabnya kemudian dengan kepala tunduk, “Ayahanda, aku mohon maaf. Aku tidak dapat menghadap Ayahanda Sultan di Istana Pajang. Tetapi aku akan menghadap Ayahanda di mana pun jika Ayahanda Sultan sudi menerima aku.”

“Cukup Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “kau tidak usah bercerita panjang lebar. Tetapi jawabmu sudah jelas bagiku. Kau tidak mau menghadap, apa pun alasanmu.”

“Bukan maksudku, Ayahanda …”

Tetapi kata-kata Sutawijaya terpotong oleh kata-kata ayahandanya, “Cukup. Aku sudah cukup, kau tidak usah mengatakan apa-apa lagi.”

“Tetapi Ayah salah mengerti.”

“Salah atau tidak salah, aku mempunyai arti sendiri bagi sikapmu itu.” Ki Gede berhenti sejenak, lalu, “Jika demikian biarlah aku menghadap sendiri.”

“Ayahanda,” potong Sutawijaya, “tentu Ayahanda juga tidak akan menghadap.”

“Aku tidak terikat oleh janji apa pun juga, dan aku tidak mau membiarkan pengkhianatan ini terjadi.”

“Ayahanda. Kenapa Ayahanda menyebut hal ini sebagai pengkhianatan?”

“Pengkhianatan seorang anak kepada ayahandanya, meskipun ia sekedar ayahanda angkat. Seperti sudah aku katakan, bagi Sultan Pajang, nilai seorang gadis akan sama nilainya dengan tanah wewengkonnya. Kau sudah melanggar pagar ayu, terlebih-lebih lagi karena gadis itu adalah pilihan Sultan Pajang.”

“Tidak, Ayahanda. Aku tidak melanggar pagar ayu. Gadis itu belum resmi menjadi istri Ayahanda Sultan. Ia masih dipersiapkan untuk menjadi istrinya.”

“Tidak akan banyak bedanya. Sudahlah, jangan mencari alasan untuk memperingan kesalahanmu. Aku akan menghadap Sultan Pajang. Biarlah aku dihinakan orang, biarlah aku direndahkan oleh mereka yang membenci aku, karena aku datang menghadap setelah aku seolah-olah lari dari Pajang untuk memaksa agar Sultan bersedia menyerahkan Alas Mentaok. Tetapi bagiku persoalanmu harus segera mendapat penyelesaian. Jika akulah yang harus digantung karena aku gagal mengendalikan anak laki-lakiku, dan bahkan putra angkat Sultan sendiri, aku akan menjalaninya dengan senang hati.”

“Ayahanda,” desis Sutawijaya.

Ki Gede Pemanahan tidak menghiraukan suara Sutawijaya lagi. Perlahan-lahan ia terdiri sambil berkata, “Sudahlah, Sutawijaya. Kau tidak perlu mencari alasan apa pun lagi. Tunggulah Tanah Mataram yang sedang berkembang. Aku besok akan pergi. Jika matahari besok terbit di timur, maka aku akan berangkat menuju ke Pajang.”

“Ayahanda,” Sutawijaya berkata dengan suara yang gemetar, “bukan maksudku bahwa Ayah harus pergi ke Pajang. Biarlah Ayah tinggal saja di Mataram. Aku akan mencari jalan untuk menyelesaikan persoalanku sendiri.”

“O,” desis Ki Gede Pemanahan, “jadi kau benar-benar merasa dirimu sudah dewasa, sehingga kau akan mencari jalan untuk menyelesaikan persoalanmu sendiri. Tidak, Sutawijaya. Kau adalah anakku. Kesalahan yang kau buat bukan sekedar tanggung jawabmu. Tetapi juga tanggung jawabku. Karena itu, jika kau memang tidak mau menginjakkan kakimu di tangga Istana Pajang, maka biarlah aku yang pergi.”

“Ayahanda. Sebaiknya Ayahanda jangan pergi.”

“Dan kau akan pergi?”

Sutawijaya terdiam. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Aku juga tidak dapat pergi.”

“Cukup. Kau jangan mempermainkan orang tuamu lagi Sutawijaya. Kau sudah cukup membuat aku pening. Sekarang kau masih juga ingin menambah beban perasaanku.”

“Maafkan aku, Ayahanda. Sama sekali bukan maksudku. Aku ingin Ayahanda tidak bersusah payah berbuat sesuatu karena kesalahanku. Tetapi aku pun tidak dapat pergi ke Pajang sekarang ini.”

“Kau memang keras kepala dan keras hati. Cukup. Semua persoalan sudah selesai. Aku sudah mengambil keputusan.”

“Ayahanda,” Sutawtjaya berjongkok dihadapan ayahandanya. Tetapi Ki Gede Pemanahan sama sekali tidak menghiraukannya. Ia pun kemudian berdiri dan meninggalkan anaknya dengan hati yang tegang.

Sutawijaya pun menyadari, jika ayahandanya sudah berkata demikian, tidak akan ada gunanya lagi ia menahannya, apalagi merengek seperti anak-anak. Jika ayahanda sudah mengambil keputusan, maka keputusan itu tentu akan dilaksanakannya. Dan kini ayahandanya sudah menentukan sikap.

Sepeninggal ayahnya, Sutawijaya diamuk oleh gemuruh di dalam hatinya. Keragu-raguan yang dahsyat telah mengguncangnya. Kadang-kadang timbul pula niatnya untuk pergi menghadap ayahandanya, namun jika terbayang wajah-wajah yang penuh dengan hinaan dan ejekan, maka niat itu pun bagaikan disapu angin yang kencang. Hanyut tanpa bekas.

“Aku tetap pada pendirianku. Aku tidak akan pergi.”

Dan keputusan itu pun kemudian tidak berubah lagi seperti juga keputusan ayahandanya untuk pergi ke Pajang.

Sementara itu, maka Ki Gede Pemanahan telah memerintahkan kenada abdi terdekatnya untuk menyiapkan kudanya. Besok Ki Gede akan pergi bersama dua orang pengawalnya ke Pajang. Apa pun yang akan dihadapinya di Pajang, Ki Gede sudah memutuskan tidak akan ingkar lagi, karena ia merasa bahwa Sutawijaya memang sudah melakukan kesalahan yang besar.

Demikianlah, waktu yang mendebarkan itu akhirnya datang pula. Gelap yang kemudian menyelubungi Mataram telah didorong perlahan-lahan oleh cahaya pagi di ujung timur.

Malam yang gelisah telah lampau. Malam yang rasa-rasanya terlampau panjang, karena hampir semalam suntuk, baik Ki Gede Pemanahan, maupun Raden Sutawijaya, tidak dapat memejamkan matanya sama sekali.

Kabar keberangkatan Ki Gede Pemanahan ke Pajang untuk menghadap Sultan, telah tersebar di seluruh kota. Tidak banyak yang mengetahui alasan yang sebenarnya. Namun setiap orang telah menghubungkan keberangkatan Ki Gede itu dengan desas-desus yang tersiar, bahwa Raden Sutawijaya telah melakukan kesalahan yang besar terhadap Sultan Pajang. Ketegangan antara Pajang dan Mataram menjadi semakin tajam.

Beberapa orang menjadi kecewa oleh keputusan Ki Gede Pemanahan. Mereka sebenarnya ingin memaksa orang-orang Pajang mengakui terlebih dahulu, bahwa Mataram benar-benar sudah menjadi sebuah negeri yang ramai. Sesudah itu, barulah salah seorang pemimpin Mataram akan menghadap ke Pajang dengan bangga, bahwa mereka telah berhasil membuat Alas Mentaok yang besar dan lebat tiada bandingnya itu menjadi sebuah negeri.

Namun setiap orang pun kemudian melontarkan kekecewaannya kepada Raden Sutawijaya. Jika Raden Sutawijaya tidak melakukan kesalahan itu, maka keadaan tidak berkembang demikian cepatnya, justru menuju ke arah yang tidak diinginkan.

Ki Lurah Branjangan hanya dapat menekan dadanya, ketika ia melihat seekor kuda yang tegar sudah siap di depan pendapa rumah Ki Gede Pemanahan. Dua orang pengawal telah bersiap pula di sisi regol.

“Alangkah beratnya tanggung jawab seorang ayah menghadapi anak yang keras hati,” berkata Ki Lurah Branjangan di dalam hati. “Aku kagum kepada kejantanan Raden Sutawijaya. Dan aku kagum pula dengan kekerasan hatinya. Tetapi aku tidak mengerti, bagaimana aku harus menanggapinya melihat sikapnya yang satu ini, sehingga ayahandanyalah yang terpaksa pergi ke Pajang.”

Di pendapa Ki Gede Pemanahan masih sempat memberikan beberapa pesan kepada para pemimpin di Mataram termasuk Sutawijaya sendiri yang tetap berkeras hati untuk tidak mau pergi menghadap ayahanda Sultan.

“Aku tidak akan membawa pengawal lebih dari dua orang,” berkata Ki Gede Pemanahan, “karena aku tidak akan pergi berperang melawan Pajang.”

Ki Lurah Branjangan yang juga hadir saat Ki Gede Pemanahan memberikan pesan-pesan sebelum berangkat, merasakan betapa tekanan perasaan menghimpit jantung Ki Gede Pemanahan. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Persoalan yang dihadapi oleh Ki Gede Pemanahan kali ini bukan persoalan pertahanan dan pengamanan Alas Mentaok yang masih sedang berkembang, tetapi persoalan yang lebih berat pada persoalan keluarga meskipun akibatnya akan dapat menyangkut Tanah Mataram seluruhnya.

Dalam pada itu, Ki Lurah Branjangan tidak dapat menahan hati untuk bertanya kepada Ki Gede Pemanahan, “Ki Gede, memang tidak baik untuk membawa sepasukan pengawal ke Pajang pada saat seperti ini. Tetapi di sepanjang jalan Ki Gede memerlukan kekuatan yang memadai. Mataram masih dikelilingi oleh bahaya yang tersembunyi meskipun Panembahan Agung sudah tidak ada lagi. Tetapi justru karena Daksina terbunuh pula di dalam pertempuran itu, maka tentu ada pihak yang merasa dirugikan dan ingin membalas dendam.”

Tetapi Ki Gede Pemanahan menggelengkan kepalanya. Katanya, “Dua orang sudah cukup. Aku tidak membawa persoalan lain kecuali persoalan Sutawijaya. Karena itu, aku tidak akan menghadapi kekerasan yang mana pun juga selain menghadapi hukuman yang akan dijatuhkan oleh Sultan. Dan aku tidak akan ingkar jika aku harus menjalaninya. Dengan demikian maka pengawal-pengawal itu tidak perlu sama sekali bagiku.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ki Gede Pemanahan adalah seorang perasa. Ia meninggalkan Pajang karena Sultan Pajang dianggap tidak memenuhi janjinya menyerahkan Alas Mentaok. Dan kini ia pergi tanpa pengawal karena anak laki-lakinya telah membuatnya sangat kecewa.

Demikianlah maka akhirnya Ki Gede Pemanahan pun segera berangkat disertai dua orang pengawalnya yang terpercaya. Dua orang lurah yang dibawanya dari kampung halamannya, Sela.

“Mudah-mudahan kita dapat melihat Tanah Mataram ini kembali,” desis Ki Gede Pemanahan.

 

 

Semua orang yang melihat keberangkatan Ki Gede Pemanahan menahan perasaan ibanya. Ki Gede Pemanahan adalah seorang Panglima di Pajang, kemudian bergelar Ki Gede Mataram setelah Mataram mulai berkembang. Kini ia terpaksa pergi ke Pajang karena anak laki-lakinya telah melakukan kesalahan yang besar dan tidak bersedia mempertanggung-jawabkannya sendiri.

Ketika Ki Gede Pemanahan hilang dari tatapan mata mereka yang melepaskannya di regol halaman, maka sebagian besar dari mereka telah berpaling kepada Sutawijaya. Dilihatnya anak muda itu berdiri tegang. Tetapi tidak seorang pun yang mengetahui apakah yang sebenarnya bergejolak di dalam hatinya.

Sutawijaya sendiri kemudian dengan tergesa-gesa naik ke pendapa dan hilang masuk ke ruang dalam. Ia tidak menghiraukan para pemimpin dan orang-orang tua yang masih ada di pendapa. Dengan hati yang bagaikan tersayat ia masuk ke dalam biliknya.

Sutawijaya adalah seorang anak jantan sejak masih terlampau muda. Ia dengan hati jantan memaksa untuk ikut berperang melawan Adipati Jipang. Ia dengan tabah menghadapi Adipati Jipang dengan tombak Kiai Pleret, selagi para panglima ragu-ragu, apakah ada di antara mereka yang dapat mengalahkan Arya Penangsang, seorang yang sakti tiada bandingnya

Namun dalam keadaan serupa itu, Sutawijaya hanya dapat duduk sambil bertopang dagu. Matanya menjadi panas dan tenggorokannya serasa tersumbat.

“Kenapa aku harus mengalami persoalan ini?” ia bergumam di dalam hati.

Sementara itu para pemimpin dan orang-orang tua di pendapa masih berbincang beberapa saat lamanya. Tidak seorang pun yang dapat menilai dengan tepat, apakah tindakan Raden Sutawijaya itu dapat dibenarkan. Demikian pula tindakan tergesa-gesa dari Ki Gede Pemanahan, yang dalam keadaan yang tidak pasti ini pergi ke Pajang hanya dengan dua orang pengawal.

“Ki Gede Pemanahan didorong oleh kemarahan yang tertahan di dalam dadanya,” berkata salah seorang dari mereka.

Ki Lurah Branjangan yang ada di antara mereka sama sekali tidak mengatakan sesuatu. Hatinya merasa pedih. Baru saja ia menyaksikan bagaimana musuh terbesar Mataram dihancurkan. Bagaimana pasukan pengawal Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh bersama Ki Waskita berhasil membinasakan Panembahan Agung dan pengikut-pengikutnya. Dan kini di Menoreh orang tua bercambuk itu agaknya masih berbaring karena luka-lukanya. Juga Ki Sumangkar masih terluka meskipun tidak separah Kiai Gringsing.

Dalam pada itu, di Mataram telah terjadi ketegangan yang lain. Ketegangan yang terjadi antara Raden Sutawijaya dan ayahandanya Ki Gede Pemanahan. Raden Sutawijaya tidak bersedia memenuhi perintah ayahandanya pergi ke Pajang, sedang ayahandanya Ki Gede Pemanahan tidak mau mendengarkan permintaan anaknya agar ayahanda tidak pergi untuk mewakilinya.

“Mudah-mudahan semuanya akan dapat selesai dengan baik,” berkata Ki Lurah Branjangan di dalam hatinya. Hati yang rasa-rasanya menjadi pepat.

Dalam keadaan yang demikian itu, tiba-tiba saja telah timbul suatu keinginan di dalam dadanya untuk pergi ke Menoreh. Jika ia dapat bertemu dengan Kiai Gringsing, Ki Gede Menoreh, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar, maka beban di hatinya itu akan dapat dikuranginya.

Karena itu, di luar pengetahuan Raden Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Menoreh. Tidak ada kepentingan yang lain kecuali sekedar mengurangi beban di dalam hatinya. Di Mataram, semua-orang dibebani oleh perasaan yang sama, sehingga seakan-akan tidak ada tempat baginya untuk membagi perasaan itu.

Setelah minta diri kepada orang-orang tua maka Ki Lurah Branjangan pun segera meninggalkan Mataram. Ia hanya berpesan, jika Raden Sutawijaya mencarinya, mereka dapat mengatakan bahwa Ki Lurah Branjangan sedang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun baru beberapa hari ia kembali dari Menoreh, namun rasa-rasanya ada yang mendorongnya untuk bertemu dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh.

Bersama dengan dua orang pengawalnya, Ki Lurah Branjangan pun berpacu menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Jarak antara Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh sebenarnya tidak terlampau jauh. Tetapi selain jalan yang masih cukup berat, kedua daerah itu dibatasi oleh sebuah sungai yang cukup besar.

Tetapi di antara dua tepian sungai itu, dihubungkan dengan beberapa perahu getek yang hilir mudik di tempat-tempat tertentu. Sehingga karena itu, maka Ki Lurah Branjangan pun tidak menemui banyak kesulitan untuk menyeberang Apalagi di musim kering. Sedang di musim hujan pun banyak getek yang berani menyeberang meskipun banjir. Hanya apabila banjir itu terlampau besar, maka getek-getek pun tertambat erat-erat di tepian.

Ketika kemudian Raden Sutawijaya mengetahui bahwa Ki Lurah Branjangan pergi ke Menoreh, rasa-rasanya ia ingin pergi menyusulnya. Tetapi Raden Sutawijaya masih dicegah oleh perasaan tanggung jawabnya atas Tanah Mataram, justru karena ayahandanya tidak ada.

Karena itu, maka yang dapat dilakukan oleh Raden Sutawijaya hanyalah dengan gelisah mondar-mandir di dalam biliknya, kemudian di ruang dalam dan kadang-kadang ia pergi juga ke pendapa.

Kedatangan Ki Lurah Branjangan di Tanah Perdikan Menoreh benar-benar mengejutkan. Para pengawal yang nganglang di sepanjang perbatasan menerima dengan heran. Baru saja Ki Lurah Branjangan bersama pasukan Mataram meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Kemudian kini Ki Lurah Branjangan datang lagi hanya dengan dikawal oleh dua orang.

“Mungkin ada yang penting,” desis salah seorang pengawal. “Pasukan pengawal Mataram tergesa-gesa kembali ke Mataram karena ada utusan yang sudah menunggu sejak Raden Sutawijaya belum kembali dari peperangan itu.”

“Dan kini ada utusan yang dengan tergesa-gesa pergi ke Menoreh,” sahut kawannya.

Mereka menghubungkan kedatangan Ki Lurah Branjangan dengan kepergian Raden Sutawijaya dengan tergesa-gesa meninggalkan Menoreh. Namun demikian, mereka tidak berani meyakini apa yang sebenarnya telah terjadi.

Diantar oleh beberapa orang pengawal, maka Ki Lurah Branjangan pun langsung pergi ke induk Tanah Perdikan meskipun hari telah menjadi malam. Di dalam kegelapan mereka menyusuri bulak yang panjang di antara tanah persawahan.

Tetapi para pengawal yang mengantarkannya sama sekali tidak berani menanyakan kepada Ki Lurah Branjangan, apakah kepentingannya datang ke Tanah Perdikan Menoreh.

Kedatangan Ki Lurah Branjangan di halaman rumah Ki Gede Menoreh telah mengejutkan seisi rumah itu pula. Tanpa memberikan kabar lebih dahulu, tiba-tiba saja Ki Lurah Branjangan telah berada kembali di Tanah Perdikan Menoreh.

Namun kedatangan Ki Lurah Branjangan ke Tanah Perdikan Menoreh agaknya memang suatu kebetulan yang baik baginya. Meskipun hari telah malam, namun orang-orang tua di rumah itu masih duduk di pendapa sambil bercakap-cakap. Mereka melingkari hidangan yang masih berserakan. Beberapa mangkuk minuman dan beberapa potong makanan masih tersedia di hadapan mereka.

Ketika kedatangan Ki Lurah Branjangan itu diberitahukan kepada Ki Argapati, maka dengan tergesa-gesa Ki Argapati pun segera menyongsongnya, diiringi oleh beberapa tamunya yang sedang berada di pendapa itu pula.

“Kedatangan Ki Lurah mengejutkan kami,” berkata Ki Argapati. “Marilah, silahkan naik ke pendapa.”

Ki Lurah tersenyum. Setelah menyerahkan kudanya, maka Ki Lurah dan kedua pengawalnya pun segera naik ke pendapa.

Setelah Ki Argapati menanyakan keselamatan tamunya dan perjalanannya yang cukup panjang itu, maka ia pun kemudian bertanya, “Ki Lurah, kedatangan Ki Lurah mendebarkan jantung kami, justru karena Ki Lurah baru saja kembali ke Mataram dari Tanah ini. Apakah ada sesuatu yang penting, atau yang tertinggal di sini atau persoalan-persoalan yang lain?”

Ki Lurah Branjangan mencoba tersenyum sambil menjawab, “Tidak Ki Argapati. Tidak ada persoalan apa pun yang penting yang harus aku sampaikan kepada Ki Argapati. Kedatanganku kemari sekedar didorong oleh kepepatan hati menghadapi persoalan yang sedang berkembang di Mataram.”

“Persoalan apa Ki Lurah?”

“Sebenarnya tidak menyangkut Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, supaya kalian tidak terganggu karenanya, silahkan meneruskan pembicaraan jika ada pembicaraan yang penting. Aku akan menyampaikannya nanti jika pembicaraan Ki Gede dan para tamu sudah selesai.”

“Ah,” desis Ki Gede sambil berkisar, “tidak ada persoalan yang penting di sini. Kami sedang berbicara tentang hari depan anak-anak muda. Di sini duduk Ki Demang Sangkal Putung. Aku sedang berbicara tentang anaknya.”

“O,” Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ditatapnya wajah-wajah yang ada di pendapa itu. Wajah orang-orang tua yang sedang membicarakan hari depan anak-anak mereka.

Ki Lurah Branjangan memang pernah mendengar bahwa memang ada hubungan antara putra Ki Demang Sangkal Putung itu dengan anak Ki Argapati. Karena itu, maka sambil tersenyum ia pun berkata selanjutnya, “Sebaiknya aku tidak memberikan warna yang lain dari suasana yang cerah ini. Silahkan. Setelah Menoreh berhasil menyingkirkan orang-orang yang mungkin akan dapat mengganggu ketenteraman dan hubungan baik dengan Mataram, kini Menoreh menghadapi hari-hari yang cerah.”

“Ah,” Ki Argapati tersenyum, “demikianlah agaknya. Sebenarnya kedatangan Ki Demang Sangkal Putung bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar adalah untuk membicarakan hubungan yang sudah lama terjalin antara putra Ki Demang dengan anakku. Tetapi kedatangannya itu terganggu oleh keadaan yang berkembang di Tanah Perdikan Menoreh ini.”

“Tetapi semuanya sudah lampau.”

“Ya, ya, Ki Lurah. Semuanya sudah lampau.”

“Karena itu, silahkanlah. Jika Ki Gede tidak berkeberatan aku ikut mendengarkannya, maka biarlah aku ikut mendengar. Baru nanti atau besok aku akan menceriterakan apa yang terjadi di Mataram.”

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan telah menahan hati untuk tidak mengatakan apakah yang telah mendorongnya pergi ke Menoreh. Ia tidak sampai hati merusakkan suasana yang cerah itu, karena mau tidak mau ceritanya pasti akan menarik banyak perhatian dan membuat setiap wajah menjadi buram.

“Maaf, Ki Lurah. Kami akan melanjutkan pembicaraan kami yang sudah hampir selesai,” berkata Ki Gede Argapati.

“Silahkan, silahkanlah,” sahut Ki Lurah sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam kepada orang-orang yang ada di pendapa itu.

“Kami sedang menentukan saat yang baik,” berkata Ki Demang Sangkal Putung.

“Sayang, Kiai Gringsing belum dapat ikut duduk bersama di pendapa ini,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Ya, Kiai Gringsing masih harus banyak berbaring ditunggui oleh kedua muridnya. Ki Sumangkar juga. Tetapi keadaannya sudah bertambah baik, dan setiap kali pembicaraan kami juga berdasarkan pesan-pesan kedua orang-orang tua itu,” sahut Ki Demang Sangkal Putung.

“Jika demikian,” berkata Ki Lurah Branjangan, “apakah aku diperkenankan menengoknya sebentar, sementara Ki Gede dan Ki Demang bersama orang-orang tua melanjutkan pembicaraan?”

“Baiklah, Ki Lurah,” sahut Ki Argapati, “biarlah Ki Lurah diantar saja ke gandok sebelah.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian diantar oleh seorang bebahu Tanah Perdikan Menoreh pergi ke gandok dengan kedua pengawalnya menengok Kiai Gringsing yang sedang sakit bersama Ki Sumangkar.

Kedatangannya telah membuat orang-orang yang ada di gandok itu menjadi terkejut pula. Namun senyum Ki Lurah Branjangan membuat mereka menjadi agak tenang.

“Tidak ada yang penting,” berkata Ki Lurah Branjangan.

Kiai Gringsing yang masih berbaring di pembaringannya, mempersilahkan Ki Lurah Branjangan duduk di amben bambu. Sedang Ki Sumangkar sudah dapat menemuinya dan duduk bersamanya.

“Sebenarnya aku sudah sembuh,” berkata Ki Sumangkar, “tetapi untuk duduk berlama-lama, badanku masih kurang baik.”

“Sebaiknya Ki Sumangkar masih harus banyak beristirahat,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Keadaanku menjadi semakin baik.”

Dalam pada itu Agung Sedayu dan Swandaru pun kemudian duduk pula bersama mereka. Yang pertama-tama mereka tanyakan adalah keadaan Raden Sutawijaya.

“Tidak ada apa-apa,” berkata Ki Lurah Branjangan, “hanya ada sedikit kesulitan.”

Kedua anak-anak muda itu menjadi semakin tertarik untuk mendengar berita tentang Raden Sutawijaya yang kembali dengan tergesa-gesa karena ayahandanya memanggil tanpa dapat ditunda barang sehari dua hari dari Tanah Perdikan Menoreh.

“Aku tidak mau mengganggu pembicaraan yang sedang berlangsung di pendapa,” berkata Ki Lurah Branjangan sambil tersenyum kepada Swandaru, sedang anak yang gemuk itu pun menundukkan kepalanya dengan wajah yang kemerah-merahan, “mudah-mudahan semuanya segera berlangsung dengan baik. Semakin cepat memang semakin baik. Hubungan yang terlampau lama banyak sekali bahayanya. Tetapi jika keduanya menyadari diri masing-masing maka semuanya akan berlangsung dengan selamat.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Agung Sedayu pun mencoba mencari arti dari kata-kata Ki Lurah Branjangan. Hampir di luar sadarnya Agung Sedayu pun menghubungkan kata-kata Ki Lurah itu dengan kabar tentang Sutawijaya, sehingga dengan demikian anak muda itu semakin ingin segera mendengar berita tentang pemimpin Mataram yang masih muda itu.

Hati Kiai Gringsing pun agaknya tersentuh juga. Tetapi ia tidak sekedar menyimpan pertanyaan di dadanya. Karena itu maka ia pun kemudian bertanya, “Apakah yang telah terjadi di Mataram atau atas Raden Sutawijaya?”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah Kiai pernah mendengar sesuatu tentang Raden Sutawijaya?”

“Utusan yang memanggilnya pulang itu agak menarik perhatianku.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya, “Itu akibat dari hubungan yang tidak disertai kesadaran diri. Agaknya Sutawijaya telah dicengkam oleh nafsu yang tidak terkendali. Memang hanya sesaat. Tetapi akibatnya ternyata sangat parah.”

Kiai Gringsing memandang Ki Lurah Branjangan sejenak, kemudian kedua muridnya yang agaknya sangat tertarik kepada cerita Ki Lurah Branjangan itu.

“Apakah benar-benar telah terjadi sesuatu yang akibatnya terasa di seluruh Mataram?” bertanya Kiai Gringsing kemudian.

“Ya, Kiai. Ternyata telah terjadi sesuatu yang mencemaskan seluruh Mataram.”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Dan Ki Lurah Branjangan pun berkata selanjutnya, “Jika keadaan tidak dapat ditolong lagi dengan kehadiran Ki Gede Pemanahan di Pajang, maka menurut perhitunganku, Mataram akan mengalami guncangan yang dahsyat sekali. Mungkin Mataram masih akan tetap ada, tetapi bukan kelanjutan Mataram yang sekarang.”

“Apakah sebenarnya yang telah terjadi?” bertanya Sumangkar.

“Ah,” Ki Lurah Branjangan tiba-tiba saja tersenyum, “betapa pahitnya aku rasa, lebih baik kita berbicara tentang yang lain. Mungkin tentang Swandaru, atau tentang pembicaraan yang dilakukan oleh Ki Demang dan orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh di pendapa, atau tentang yang lain. Besok sajalah aku akan berceritera tentang Raden Sutawijaya, agar nafasku sudah menjadi semakin teratur, dan sudah barang tentu tidak merusak suasana malam ini di Tanah Perdikan Menoreh.”

Yang mendengarnya menjadi kecewa. Terutama Agung Sedayu dan Swandaru.

Namun Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Baiklah, Ki Lurah. Ki Lurah tentu masih lelah. Sebaiknya Ki Lurah pergi ke pakiwan membersihkan diri. Tetapi sudah barang tentu kami tidak akan bersabar menunggu sampai besok. Aku kira pembicaraan di pendapa itu akan sampai lewat tengah malam, karena sebenarnya mereka sudah tidak mempunyai persoalan lagi. Yang mereka lakukan adalah berbicara sambil berkelakar ke sana ke mari sambil mengawani orang-orang yang sedang ronda di gardu.”

“Baiklah, Kiai. Aku akan mandi dahulu. Nanti aku akan bercerita.”

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan pun segera membersihkan diri, sementara beberapa orang pelayan telah menghidangkan suguhan langsung ke gandok.

“Minumlah, Ki Lurah,” Kiai Gringsing pun mempersilahkannya setelah Ki Lurah dan para pengawalnya membersihkan diri. “Kemudian berceritalah. Sebentar lagi Ki Lurah tentu akan dipersilahkan naik ke pendapa untuk makan bersama. Aku kira Ki Argapati masih belum menjamu makan tamu-tamunya, orang-orang tua yang dibawanya berbicara tentang saat-saat perkawinan Swandaru itu.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian meneguk air panas dari dalam mangkuknya. Terasa tubuhnya menjadi segar kembali setelah menempuh perjalanan yang meskipun tidak begitu jauh tetapi cukup melelahkan.

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian, “yang terjadi memang bukanlah yang kita harapkan.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mendengarkannya dengan saksama. Apalagi Agung Sedayu dan Swandaru.

Ki Lurah Branjangan pun kemudian menceritakan apa yang diketahuinya tentang Raden Sutawijaya dan seluruh persoalannya dengan gadis Kalinyamat itu.

“Jadi Raden Sutawijaya tetap tidak mau menghadap?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ya. Raden Sutawijaya tidak mau menghadap ayahanda Sultan dengan alasannya sendiri,” sahut Ki Lurah Branjangan.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

“Ki Gede Pemanahan yang kemudian pergi menghadap sendiri,” Ki Lurah Branjangan melanjutkannya.

“Memang di luar dugaan,” berkata Kiai Gringsing kemudian. “Adalah sewajarnya jika Ki Gede Pemanahan menjadi sangat kecewa atas putra satu-satunya itu. Putra yang diharapkan akan dapat menyambung namanya.”

“Tetapi alasannya dapat kita mengerti,” Swandaru menyela. “Harga diri Raden Sutawijaya memang terlampau besar. Sebenarnya ia tidak ingin mengingkari hubungannya dengan gadis itu.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Bukankah begitu, Ki Lurah?”

“Ya. Harga diri seorang anak muda. Namun bagaimana pun juga ia telah membuat ayahandanya menjadi sangat kecewa.”

“Dan Ki Gede Pemanahan itu pergi menghadap sendiri dengan dua orang pengawalnya,” sambung Ki Sumangkar.

Swandaru tidak menyahut lagi. Memang terasa betapa pedihnya hati Ki Gede Pemanahan. Namun agaknya Ki Gede juga dapat mengerti alasan Raden Sutawijaya, terbukti bahwa ia tidak memaksa anaknya untuk berangkat ke Pajang. Jika Ki Gede Pemanahan tidak mau mendengar sama sekali alasan Sutawijaya, maka ia tentu akan memaksanya. Mau atau tidak mau.

Dalam pada itu Kiai Gringsing mulai merenungi dirinya sendiri. Selama ini ia menghindari sedapat mungkin hubungan langsung dengan Ki Gede Pemanahan. Bukan karena alasan yang terlampau dalam. Tetapi sekedar karena ia merasa saat untuk itu belum datang. Kiai Gringsing sendiri kecewa melihat perkembangan Demak yang beralih ke Pajang. Semula ia memang ingin melihat, apa yang dapat dilakukan oleh Mas Karebet yang juga disebut Jaka dari Tingkir, putra Ki Kebo Kenanga itu. Namun akhirnya Pajang tidak menjadi lebih baik dari Demak. Justru Pajang seakan-akan telah berhenti.

Ketika ia melihat Raden Sutawijaya, keberanian dan kejantanannya, apalagi ia adalah putra Ki Gede Pemanahan dari Sela timbullah harapannya, bahwa ia akan dapat mengembangkan Pajang. Namun persoalan itu kini harus dihadapinya. Anak muda itu tergelincir ke dalam tindakan yang sangat berbahaya bagi Mataram.

Kiai Gringsing mengerti, seperti juga setiap orang yang mengenal Sultan Pajang mengerti, bahwa baginya seorang gadis mempunyai harga yang khusus di dalam hatinya.

“Mudah-mudahan Ki Gede Pemanahan mendapatkan jalan yang baik untuk melepaskan Mataram dari bencana,” berkata Kiai Gringsing seakan-akan kepada diri sendiri.

Ki Lurah Branjangan hanya dapat mengangguk-angguk saja sambil menyahut, “Mudah-mudahan.”

Dalam pada itu, di pendapa pembicaraan sudah berjalan semakin jauh. Semua yang harus dibicarakan sudah dibicarakan. Ancar-ancar perkawinan Swandaru pun sudah ditentukan pula meskipun tidak dalam waktu yang terlampau singkat. Saatnya pun segera akan diperhitungkan pula.

Rasa-rasanya semua orang yang duduk di pendapa berwajah cerah. Semua mengharap bahwa perkawinan yang bakal berlangsung antara Swandaru dan Pandan Wangi dapat menghubungkan bagian-bagian yang terpisah dari daerah selatan ini. Jika Menoreh berada di sebelah barat Alas Mentaok yang akan berkembang menjadi sebuah negeri yang besar, maka Sangkal Putung berada di sebelah timur.

Namun berbeda dengan orang-orang tua yang lain, meskipun nampaknya ia tersenyum-senyum juga, tetapi di dalam hatinya terasa sentuhan yang mencemaskan. Orang itu adalah Ki Waskita. Meskipun demikian ia mencoba melenyapkan kecemasan itu dari wajahnya yang buram.

Bahkan kemudian ketika orang-orang yang berada di pendapa itu dipersilahkan makan dan minum, Ki Waskita pun berbuat seperti orang-orang lain tanpa menimbulkan kecurigaan. Apalagi setelah Ki Lurah Branjangan dan kedua pengawalnya dipersilahkan naik ke pendapa pula, dan makan bersama dengan mereka.

Ketika semua persoalan dianggap selesai, dan para tamu, orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh sudah makan dan minum di pendapa, pertemuan itu pun mendekati akhirnya. Para tamu, orang-orang tua di Menoreh itu pun seorang demi seorang minta diri dan pulang ke rumah masing-masing. Sedang mereka yang bermalam di rumah itu pun segera pergi ke gandok sebelah-menyebelah.

Seperti mereka yang lain, Ki Waskita pun kembali ke gandok, penginapan yang disediakan baginya. Tetapi wajahnya tidak lagi nampak cerah. Justru karena Ki Waskita melihat sesuatu yang lain dari yang diharapkannya.

Sejak ia melihat Swandaru dalam hubungannya dengan Pandan Wangi, Ki Waskita telah melihat semacam kabut yang membayanginya. Meskipun langit nampaknya cerah, tetapi selembar mendung yang kelam nampak lewat melintas.

“Mudah-mudahan aku salah. Mudah-mudahan aku tidak melihat isyarat yang sebenarnya,” katanya di dalam hati. Namun Ki Waskita tidak dapat ingkar, bahwa biasanya ia melihat isyarat seperti yang sebenarnya akan terjadi sesuai dengan uraiannya.

Ki Waskita menghentikan penglihatannya atas isyarat itu ketika Rudita memasuki ruangan. Sambil tersenyum anak muda itu kemudian bertanya, “Ayah, apakah semua pembicaraan tentang Swandaru itu sudah selesai?”

Ki Waskita pun mencoba tersenyum pula. Katanya, “Sudah, Rudita. Semua persoalan sudah dibicarakan. Sampai pada persoalan yang paling kecil sekalipun. Ternyata Ki Demang Sangkal Putung adalah orang yang mudah menyesuaikan diri. Ia tidak berpegang pada pendiriannya saja.”

“Syukurlah. Mudah-mudahan segera berlangsung dengan baik.”

Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku kira tidak akan ada kesulitan lagi. Baik yang datang dari Sangkal Putung maupun dari Menoreh. Jika ada persoalan yang timbul kemudian adalah persoalan tentang jarak. Jarak antara Menoreh dan Sangkal Putung yang di antarai oleh Tanah Mataram yang sedang tumbuh.”

“Tetapi itu bukannya kesulitan pokok di dalam persoalan ini, Ayah. Jika ada kesulitan perjalanan, aku kira mereka akan dapat mengatasinya. Apalagi Swandaru adalah seorang anak muda yang sudah terbiasa bertualang bersama gurunya dan Agung Sedayu.”

“Mudah-mudahan. Apalagi Mataram sekarang seharusnya sudah menjadi semakin baik.”

Namun tiba-tiba kening Ki Waskita itu berkerut karenanya. Ia melihat kehadiran Ki Luiah Branjangan di pendapa. Tentu bukan sekedar sebuah kunjungan. Meskipun Ki Lurah Branjangan tidak segera mau mengatakan kepentingannya, namun rasa-rasanya memang ada sesuatu yang penting yang akan diceritakannya kepada Ki Argapati.

“Besok aku akan mendengarnya juga,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya, lalu, “apakah kehadirannya itu ada hubungannya dengan selembar mendung yang lewat itu?”

Tetapi Ki Waskita menggeleng lemah. Katanya pula di dalam hatinya, “Tentu tidak. Isyarat itu memberitahukan bahwa mendung itu tidak ada di ujung perjalanan Swandaru. Tetapi kelak, setelah semuanya berlangsung dengan selamat.”

Sekali lagi kecemasan telah mencengkam dada Ki Waskita. Meskipun kedua anak-anak muda yang akan melangsungkan perkawinannya itu bukan anaknya, tetapi rasa-rasanya keduanya sudah terlalu dekat dengan dirinya. Selain Pandan Wangi memang masih ada sangkut paut dalam hubungan keluarga, Swandaru bagi Ki Waskita, yang telah berkumpul beberapa lamanya di Menoreh dan berada di medan yang sama pun mempunyai arti tersendiri.

Rudita yang melihat wajah ayahnya telah berubah itu pun menjadi heran. Tentu ada sesuatu yang telah dilihatnya di dalam isyarat. Sesuatu yang kurang menggembirakan.

Tetapi Rudita tidak mau bertanya jika ayahnya tidak dengan kehendaknya sendiri memberitahukan kepadanya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Rudita duduk di sebelah ayahnya yang masih tepekur. Namun hatinya telah dirambati pula oleh kecemasan tentang masa depan Swandaru.

Ki Waskita yang kemudian berpaling memandang anaknya itu pun berkata, “Rudita, bagaimana pendapatmu tentang Swandaru?”

Rudita yang telah dihentak oleh pengalamannya yang sangat pahit itu, kini menjadi jauh lebih masak dari Rudita beberapa saat yang lalu. Seakan-akan di dalam waktu yang dekat, perkembangan jiwanya telah meloncat jauh meningkat. Ia tidak lagi dikejar oleh perasaannya yang tidak dikendalikan sama sekali oleh nalar. Demikian juga sikapnya terhadap Pandan Wangi. Meskipun ia tetap menganggap bahwa Pandan Wangi adalah seorang gadis yang paling cantik yang pernah dijumpainya, tetapi ia tidak lagi menaruh harapan membabi buta kepadanya, justru karena kini pertimbangan nalarnya mulai mengekangnya, sehingga ia menyadari bahwa gadis itu adalah bakal istri Swandaru, anak muda dari Sangkal Putung.

“Rudita,” desak ayahnya, “bukankah kau mengenal Swandaru agak baik?”

“Ya, Ayah,” jawab Rudita, “menurut pengenalanku, Swandaru adalah anak yang baik. Ia berterus terang dan gembira.”

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang dikatakan oleh Rudita itu sesuai dengan isyarat yang dilihatnya. Namun kemudian ia melihat getaran-getaran yang mendebarkan jantung di perjalanan hidup Swandaru yang terasa melonjak-lonjak tidak menentu.

“Apa yang sebenarnya akan terjadi?” bertanya Ki Waskita kepada diri sendiri, karena ia hanya dapat melihat isyarat dan tidak dapat melihat peristiwa yang terjadi dengan tepat. Jika sekiranya orang lain yang bertanya kepadanya dalam isyarat yang demikian, maka ia akan menjawab, “Kau akan mengalami peristiwa yang sangat pahit dan mendebarkan hati. Hubungan-hubungan yang baik dan nampaknya kokoh akan tergoyahkan dan kau akan dilemparkan ke dalam suatu keadaan yang gelap.”

Tetapi Ki Waskita mencoba mengingkari penglihatannya sendiri justru karena yang dilihat di dalam isyarat itu adalah Swandaru dan Pandan Wangi yang masih ada hubungan keluarga dengan dirinya.

“Tentu aku telah salah mengurai isyarat itu,” desisnya, “atau barangkali keduanya akan menemukan penawar dari kejadian yang tidak dikehendaki itu.”

Namun Ki Waskita telah melupakan bahwa yang dilihatnya adalah yang akan terjadi, bukan penglihatannyalah yang menyebabkan hal itu terjadi.

Rudita masih duduk termenung memandang kegelisahan dan kecemasan ayahnya. Tetapi ia tidak menanyakan kepadanya, apa yang sedang dipikirkannya, meskipun Rudita dapat meraba bahwa sesuatu yang gelap telah dilihatnya dalam jalur kehidupan Swandaru.

Selagi keduanya duduk sambil berdiam diri, maka Nyai Waskita pun dengan wajah yang buram memasuki ruangan itu. Langsung ia duduk di sisi suaminya sambil berkata seakan-akan kepada diri sendiri, “Agaknya kita sama sekali tidak menghiraukan nasib anak kita sendiri.”

Ki Waskita mengangkat wajahnya. Dipandanginya isterinya sejenak, lalu ia pun bertanya, “Apa maksudmu, Nyai?”

 

 

“Kakang, kau lihat bahwa pembicaraan tentang Pandan Wangi itu sudah selesai?”

“Ya. Bukankah aku ikut duduk di pendapa ketika pembicaraan itu berlangsung dihadiri oleh orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh dan Ki Demang Sangkal Putung?”

“Bagaimana pendapatmu tentang perkawinan itu?”

“Kedua anak-anak itu sudah setuju. Orang tua mereka pun sependapat. Biarlah perkawinan itu berlangsung.”

“Kau tidak pernah memikirkan anakmu sendiri.”

“Maksudmu dengan Rudita?”

Isterinya mengangguk.

“Bagaimana dengan Rudita?”

Isterinya memandang Rudita sejenak. Dan agaknya anak muda itu pun menjadi heran mendengar kata-kata ibunya.

“Kakang. Rudita pun sudah meningkat menjadi dewasa. Ia sudah mengatakan bahwa Pandan Wangi adalah gadis yang cantik, dan satu-satunya yang pernah menyentuh hatinya. Kenapa kau tidak berbuat sesuatu agar Pandan Wangi itu memalingkan niatnya untuk kawin dengan Swandaru dan memilih anakmu?”

“Ah,” Rudita-lah yang menyahut, “Ibu. Aku memang tertarik kepada Pandan Wangi. Tetapi sudah barang tentu tidak sampai sejauh itu. Biarlah perkawinan itu berlangsung dan biarlah keduanya mendapatkan kebahagiaannya.”

“Kau memang sudah berubah Rudita. Kau sekarang menjadi ragu-ragu dan kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri.”

“Kau keliru, Nyai,” sahut Ki Waskita, “justru yang terjadi adalah sebaliknya. Rudita sekarang sudah menemukan kepribadiannya. Ia dengan sadar mengambil sikap. Tidak seperti yang pernah terjadi. Rudita seolah-olah tidak mempunyai kekang sama sekali atas dirinya sendiri. Dan hal itu sama sekali bukan karena ia percaya kepada diri sendiri. Tetapi ia tidak memiliki kesadaran tentang dirinya.”

“Ah. Kau selalu menyalahkan anakmu. Lihatlah Rudita sekarang. Aku menjadi iba. Ia tidak berani mengambil keputusan karena setiap keputusan yang diambilnya dengan jujur dan kepercayaan kepada diri sendiri itu selalu kau tentang dan kau anggap tidak baik.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Biasanya ia tidak suka berbantah dengan isterinya Tetapi kali ini ia ingin memberikan penjelasan lebih banyak lagi, sehingga karena itu katanya, “Nyai. Kadang-kadang seseorang cepat tertarik kepada sesuatu sebelum ia sempat berpikir. Agaknya demikian pula dengan Rudita. Tetapi setelah ia mendapat waktu untuk merenungi dirinya sendiri, barulah ia sadar, bahwa ia telah salah langkah.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Agaknya demikianlah yang terjadi atas Rudita kini.”

“Tentu tidak. Ia melangkah surut karena sikap ayahnya. Ayahnya tidak pernah memberikan dorongan apa pun kepadanya.”

Ki Waskita menjadi termangu-mangu. Ia merasa sulit untuk menjelaskannya kepada istrinya, sehingga akhirnya ia berkata, “Rudita, apakah kau dapat menjelaskan sikapmu kepada ibumu?”

Rudita memandang ibunya sejenak. Namun sebelum ia berkata sesuatu ibunya telah melangkah pergi sambil bergumam, “Anakmu tidak mempunyai keberanian lagi untuk mengatakan isi hatinya. Yang dikatakannya adalah sekedar bayangan kecemasan dan kebimbangan hati.”

Rudita mengangkat pundaknya. Ia tidak jadi mengatakan sepatah kata pun. Ditatapnya saja wajah ayahnya yang menjadi semakin buram.

“Ibumu salah mengerti, Rudita,” berkata ayahnya.

“Aku sudah terlampau lama berjalan di atas jalan yang salah, sehingga ibu sudah terbiasa melihat sikapku. Tetapi kini ibu melihatku sebagai orang lain yang justru tidak sesuai dengan kebiasaan yang dikehendakinya.”

“Sudahlah, Rudita. Pada saatnya ibumu akan mengerti. Jika kau pada suatu ketika menyebut nama gadis yang lain, maka persoalan ini akan dilupakannya.”

Rudita tersenyum. Katanya, “Setelah aku mengalami peristiwa yang sangat pahit itu, Ayah, maka perjalananku nampaknya akan menjadi sangat panjang menuju saat-saat yang demikian.”

“Tetapi ibumu memerlukannya, Rudita.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan mencoba, Ayah.”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Rudita pun kemudian berkata, “Aku sudah mengantuk. Aku akan tidur.”

Ki Waskita melihat anaknya hilang di balik pintu. Tanpa disadarinya orang tua itu pun meraba dadanya. Bagaimana pun juga Ki Waskita dapat merasakan getar di dada anaknya, bahwa sebenarnya Rudita memang menaruh perhatian kepada Pandan Wangi. Tetapi kini nalarnya telah mampu mengendalikan perasaannya, sehingga sikap Rudita itu pun menjadi jauh berbeda.

Namun setiap kali Ki Waskita masih saja disentuh oleh penglihatannya tentang masa depan yang buram di sepanjang jalan hidup Swandaru. Tetapi ia tidak sampai hati untuk menerimanya sebagai suatu penglihatan yang benar.

Berbeda dengan Ki Waskita, maka di gandok yang lain, setiap kali terdengar suara tertawa yang cerah. Bahkan untuk beberapa saat, orang-orang yang ada di gandok itu telah melupakan persoalan yang baru saja diceritakan oleh Ki Lurah Branjangan tentang Raden Sutawijaya. Yang mereka bicarakan kemudian adalah hari-hari yang sudah cukup lama ditunggu oleh Swandaru dan keluarga Ki Demang Sangkal Putung.

Bahkan Ki Lurah Branjangan yang merasa dadanya pepat sebelum ia tiba di Menoreh, merasa bebannya menjadi semakin berkurang. Bukan saja karena ia telah menceritakan persoalan yang memberati hatinya, namun karena mereka sedang sibuk membicarakan masa-masa yang bakal ditempuh oleh Swandaru. Bahkan Prastawa pun kemudian masuk pula ke ruangan itu dan dengan jenaka menyindir Swandaru yang hanya tersenyum-senyum saja.

Tetapi ketika kemudian mereka sudah menjadi tenang kembali karena malam menjadi semakin malam, dan apalagi setelah masing-masing berada di pembaringan, maka mulailah angan-angan mereka menyelusuri seluruh peristiwa yang sudah terjadi dan yang akan terjadi.

Ki Lurah Branjangan ternyata masih juga tidak dapat segera tertidur. Ia kadang-kadang tersenyum membayangkan Swandaru yang gemuk itu duduk bersanding dengan Pandan Wangi dalam pakaian pengantin. Namun kemudian wajahnya menjadi suram jika ia mengenangkan apa yang kini terjadi atas Ki Gede Pemanahan yang pergi ke Pajang hanya dengan dua orang pengawalnya.

“He,” tiba-tiba saja Ki Lurah Branjangan bangkit, “kenapa aku justru berada di sini.”

Tetapi ketika tatapan matanya menyentuh dua orang pengawalnya yang ada di dalam satu bilik, dan kemudian lewat pintu yang tidak tertutup rapat dilihatnya di amben yang besar, Agung Sedayu dan Swandaru terbaring diam, Ki Lurah Branjangan menekan dadanya. Ia berada di Tanah Perdikan Menoreh untuk sekedar mengurangi beban yang serasa pepat di dadanya.

“Jika terjadi sesuatu di Mataram, aku tidak menyaksikannya,” geramnya.

Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia harus menunggu sampai pagi. Baru ia dapat kembali ke Mataram.

“Kedatanganku tentu meninggalkan kesan yang aneh,” gumamnya.

Ketika Ki Lurah Branjangan berbaring lagi, didengarnya ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya.

“Hampir pagi,” Ki Lurah Branjangan bergumam.

Sebenarnyalah bahwa sebentar kemudian Ki Lurah Branjangan telah mendengar suara sapu lidi di halaman. Kemudian suara senggot timba berderit di belakang.

Ki Lurah Branjangan yang sama sekali tidak sempat tidur itu pun kemudian bangkit dan duduk bersandar tiang. Kadang-kadang matanya memang terpejam oleh penat dan lelah. Tetapi ia tidak dapat tertidur nyenyak.

Demikianlah ketika di luar cahaya pagi menjadi semakin terang, Ki Lurah Branjangan menjadi gelisah. Kini ia gelisah karena ia telah digelitik oleh kecemasan bahwa sesuatu telah terjadi di Mataram.

Karena itu, maka setelah ia membersihkan dirinya, ia pun segera menyatakan maksudnya untuk minta diri dan kembali ke Mataram kepada Kiai Gringsing.

“He,” Kiai Gringsing terkejut, “kau aneh sekali, Ki Lurah. Kau datang menjelang malam hari. Dan kini pagi-pagi kau sudah ingin kembali ke Mataram. Apakah kepergianmu kemari sekedar mengungsi karena di Mataram tidak ada pembaringan lagi bagimu?”

Ki Lurah Branjangan menjawabnya dengan jujur, bahwa ia memang sedang dalam kebingungan, sehingga kadang-kadang yang dilakukan kurang mendapat pertimbangannya.

“Jika aku menyadari keadaanku sepenuhnya, barangkali aku tidak berada di sini sekarang ini Kiai.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia mengerti kesulitan perasaan yang dialami Ki Lurah Branjangan sebagai seorang yang termasuk dekat dengan Raden Sutawijaya dan ayahandanya Ki Gede Pemanahan.

Karena itu, Kiai Gringsing tidak dapat menahannya lebih lama lagi. Namun demikian katanya, “Ki Lurah, agar kedatanganmu tidak menimbulkan persoalan di dalam hati Ki Gede Menoreh, maka sebaiknya kau mengatakannya dengan jujur, apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ki Gede Menoreh tentu akan dapat mengerti.”

“Baiklah, Kiai,” jawab Ki Lurah Branjangan, “aku akan mengatakan seperti yang sebenarnya bergolak di dalam hatiku. Namun satu hal yang aku dapatkan di sini. Aku sudah mendengar apa yang akan berlangsung atas Swandaru dan Pandan Wangi.”

Orang-orang yang mendengarnya tersenyum karenanya. Namun Swandaru masih juga menjawab, “Mudah-mudahan tidak ada seorang pun yang berlaku seperti Raden Sutawijaya di sini.”

“Ah, kau,” desis Kiai Gringsing bersamaan dengan tangan Agung Sedayu yang menggamitnya.

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menyadari bahwa ia sudah terdorong kata. Dan sudah barang tentu ia tidak akan dapat menelannya kembali.

Dalam pada itu, maka Ki Lurah Branjangan pun segera minta diri kepada Ki Argapati. Benar-benar seperti sekedar sebuah mimpi bahwa malam itu ia berada di Tanah Perdikan Menoreh.

Ternyata Ki Argapati pun dapat mengerti. Bahkan rasa-rasanya seluruh Mataram sedang dalam kecemasan.

“Hari ini Ki Gede Pemananan ada di Pajang,” berkata Ki Lurah Branjangan. “Aku kira secepat-cepatnya hari ini Ki Gede Mataram itu baru dapat menghadap jika tidak ada apa-apa diperjalanan, karena saat ini yang tidak terduga itu dapat terjadi.”

Demikianlah Ki Lurah Branjangan itu pun bersama kedua pengawalnya segera mohon diri dan berpacu meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh setelah semalam tanpa disengaja menyaksikan pembicaraan antara Ki Demang Sangkal Putung dengan Ki Gede Menoreh yang akan mengikat perkawinan anak-anak mereka.

Dalam pada itu, selagi Ki Lurah Branjangan berpacu kembali ke Mataram, Sutawijaya yang masih saja dicengkam oleh kebingungan, hilir-mudik saja di biliknya. Tidak ada kerja yang dapat dilakukan dengan pasti. Setiap kali hatinya selalu dibayangi oleh kebimbangan dan keragu-raguan sehingga ia akhirnya tidak melakukan sesuatu selain berjalan saja kian-kemari dalam biliknya.

Namun setiap kali ia mengenang perjalanan ayahnya, maka hatinya selalu bergejolak dengan dahsyatnya. Berbagai bayangan hilir-mudik di dalam angan-angannya. Kadang-kadang ia hampir tidak dapat menahan hati lagi. Rasa-rasanya ia ingin terbang menyusul ayahnya ke Pajang. Namun setiap kali niatnya itu pun diurungkannya, karena ia benar-benar tidak ingin menginjakkan kakinya di Pajang sebelum Mataram menjadi negeri yang ramai.

“Tetapi bagaimana dengan ayahanda,” ia selalu berbantah dengan dirinya sendiri

“Tetapi jalan ini sudah terbuka. Tentu tidak akan ada lagi orang yang berani mengganggu perjalanan ayahanda. Tidak akan ada lagi orang yang menamakan dirinya Panembahan Tidak Bernama, atau menyebut dirinya Hantu dari Alas Mentaok, atau sebutan yang lain. Perampok-perampok kecil tidak akan dapat mengganggu ayahanda karena ayahanda memiliki kemampuan yang jarang ada bandingnya,” Raden Sutawijaya menenangkan hatinya sendiri.

Meskipun demikian rasa-rasanya ada saja dorongan yang memaksanya untuk pergi. Setiap kali ia selalu menimbang berkali-kali, manakah yang sebaiknya dilakukan.

Tiba-tiba Sutawijaya sampai pada puncak kebingungannya sehingga dengan lantang ia memanggil pengawal di luar yang sedang bertugas di regol dalam.

“Ya, Raden,” pengawal itu datang berlari-lari mendekatinya.

“Panggil Ki Lurah Branjangan,” perintah Raden Sutawijaya.

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun karena ia mengetahui bahwa Ki Lurah Branjangan sedang pergi, maka ia pun kemudian berkata, “Ampun, Raden. Ki Lurah Branjangan sedang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.”

“He,” Sutawijaya terkejut, “kenapa ia pergi ke Menoreh?”

Pengawal itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu, Raden. Ki Lurah Branjangan kemarin pergi dengan dua orang pengawal.”

Raden Sutawijaya menjadi semakin pepat. Dan tiba-tiba saja ia berteriak, “Pergi, kau juga pergi kembali ke tugasmu.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian pergi meninggalkan Raden Sutawijaya yang sedang kebingungan itu.

“Ia tidak pernah berbuat sekasar itu,” berkata pengawal itu di dalam hatinya, “betapa pun marahnya, tetapi Raden Sutawijaya tidak pernah berteriak-teriak seperti orang kesurupan.”

Dalam pada itu Raden Sutawijaya menjadi bertambah bingung. Disangkanya Ki Lurah Branjangan dengan sengaja meninggalkannya karena ia tidak mau pergi bersama ayahandanya Ki Gede Pemanahan ke Pajang.

Sejenak Raden Sutawijaya masih menghentakkan kakinya di lantai, namun sejenak kemudian maka ia pun duduk dengan lemahnya di pembaringannya. Kepalanya tertunduk lesu tertampang pada kedua tangannya yang bertelekan pada lututnya.

“Apakah orang-orang sudah mulai meninggalkan aku?” ia bertanya kepada diri sendiri. “Apakah aku telah berbuat suatu kesalahan karena aku berpegang pada sumpahku?” Namun kemudian sekilas tampak bayangan wajah gadis Kalinyamat itu, sehingga dengan suara datar Raden Sutawijaya berdesis, “Aku telah tergelincir ke dalam keadaan yang sangat sulit.”

Dengan demikian maka Raden Sutawijaya semakin membenamkan diri di dalam biliknya. Ia sama sekali tidak menghiraukan waktu dan apa pun yang terjadi di luar biliknya dan apalagi di luar rumahnya.

Namun ia pun kemudian terkejut ketika ia mendengar pintu biliknya diketuk orang.

“Siapa?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Aku Raden. Lurah Branjangan.”

Di luar sadarnya tiba-tiba Raden Sutawijaya meloncat berdiri dan membuka pintu biliknya, dan dilihatnya Ki Lurah Branjangan benar-benar berada di muka pintu.

“Kau sudah kembali?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ya, Raden.”

“Kau benar-benar pergi ke Menoreh?”

“Ya, Raden. Aku baru saja kembali dari Menoreh. Seorang pengawal mengatakan bahwa Raden mencari aku.”

“Ya. Aku memang mencarimu sejak pagi, Ki Lurah. Marilah, masuklah.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian masuk ke dalam bilik Raden Sutawijaya dan duduk di atas sebuah dingklik kayu persegi panjang.

“Ki Lurah. Hatiku setiap saat menjadi bertambah gelisah sepeninggal ayahanda,” berkata Raden Sutawijaya.

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Dan ia pun bertanya, “Lalu, maksud Raden? Apakah Raden akan menyusul ke Pajang?”

“Tidak. Aku tidak akan pergi ke Pajang sebelum Mataram menjadi sebuah negeri yang ramai.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia bertanya pula, “Jadi, apakah maksud Raden?”

“Ki Lurah,” berkata Raden Sutawijaya kemudian, “aku memang akan pergi, tetapi tidak sampai ke Pajang.”

“Jadi kemana Raden akan pergi?”

“Aku akan menjemput ayahanda. Ada dorongan yang tidak dapat aku elakkan, seakan-akan aku melepaskan ayah berjalan di tengah-tengah kawanan perampok yang paling jahat,” jawab Raden Sutawijaya, “meskipun aku yakin akan kemampuan Ayahanda. Namun kali ini aku tidak dapat mengingkari perasaanku yang tidak aku ketahui sebabnya, bahwa aku harus menjemput ayahanda, setidak-tidaknya sampai ke seberang Alas Tambak Baya, atau bahkan sampai ke Prambanan.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Kenapa Raden tidak pergi saja sama sekali ke Pajang?”

“Tidak, Paman. Aku tetap pada pendirianku.”

Ki Lurah Branjangan tidak dapat memaksanya lagi.

“Aku hanya akan menjemput ayah di perjalanannya kembali,” berkata Raden Sutawijaya kemudian. “Aku tidak tahu, kenapa perasaanku menjadi cemas sekali.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya, “Jika demikian, barangkali ada juga baiknya, Raden. Jika Raden memerintahkan, aku akan pergi bersama Raden.”

“Baiklah, Paman. Sebaiknya Paman menyiapkan sepasukan kecil pengawal. Kita besok pergi menjemput ayahanda. Aku kira hari ini ayahanda baru dapat menghadap. Dan besok pagi ayahanda baru akan kembali.”

“Tetapi, Raden, jika Raden membawa sepasukan pengawal dan berada di daerah Prambanan, apakah pasukan pengawal itu tidak akan dicurigai oleh prajurit Pajang yang berada di daerah selatan ini? Kita tahu bahwa senapati pasukan Pajang di daerah selatan ini adalah Untara yang berada di Jati Anom. Jika ia mengetahui pasukan pengawal Mataram lewat daerahnya, maka kita mungkin akan terpaksa berurusan dengan Untara.”

Raden Sutawijaya menjadi termangu-mangu sejenak. Ia kenal Untara dengan baik, Untara adalah seorang prajurit. Tidak lebih dan tidak kurang. Dan ia tahu sikap Untara menghadapi persoalan yang menyangkut tugasnya. Karena itu, maka Raden Sutawijaya pun harus mempertimbangkannya sebaik-baiknya.

Tetapi dorongan kecemasannya tidak dapat dielakkannya lagi sehingga katanya, “Baiklah, Ki Lurah. Kita tidak akan lewat Prambanan dan menyusuri daerah selatan ini dalam satu barisan. Kita akan lewat dalam kelompok-kelompok kecil seperti kelompok-kelompok pedagang yang menyeberangi Alas Tambak Baya. Tiga atau empat orang berurutan. Tetapi di dalam saat yang diperlukan, kita dapat berkumpul bersama. Lima belas atau dua puluh orang pengawal.”

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Ia menjadi agak bingung menanggapi orang yang begitu banyak diperlukan oleh Raden Sutawijaya.

Namun akhirnya Ki Lurah Branjangan pun menyadari, bahwa Raden Sutawijaya memperhitungkan segenap kemungkinan yang dapat terjadi atas ayahandanya di daerah yang tidak menentu bagi Mataram. Baik sikap maupun tanggapan dari orang-orang yang berada di sepanjang jalan antara Mataram dan Pajang.

“Bukankah cara itu menurut Paman dapat juga ditempuh?” bertanya Raden Sutawijaya kemudian.

“Ya, ya, Raden. Memang cara itu dapat ditempuh,” sahut Ki Lurah Branjangan.

“Nah, jika demikian, siapkanlah orang yang akan berangkat bersama kita besok menjemput ayahanda di perjalanannya kembali dari Pajang.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk dalam-dalam. Kemudian ia pun minta diri untuk menghubungi pengawal-pengawal terpilih dari Tanah Mataram yang sedang tumbuh itu.

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Ki Gede Pemanahan sudah berada di Pajang. Perjalanannya tidak mengalami rintangan apa pun, dan ia dapat sampai dengan selamat. Bahkan ia tidak mengalami kesulitan apa pun untuk memasuki istana Pajang, meskipun ia masih harus menyampaikan pesan kepada Sultan Pajang lewat para abdi bahwa ia akan menghadap.

Meskipun demikian, meskipun kedatangannya tidak mengalami rintangan apa pun, namun Ki Gede Pemanahan merasa, betapa tatapan mata yang tajam selalu mengikutinya ke mana ia pergi. Para pemimpin pemerintahan dan para senapati menyapanya dengan hampa dan ragu-ragu. Bahkan ada di antara mereka, yang dengan acuh tak acuh melihat kedatangannya.

Tetapi di samping mereka yang bersikap asing, ada juga antara para senapati yang dengan tergopoh-gopoh mempersilahkannya dan dengan gairah menyambut tangannya. Bagi para senapati, Ki Gede Pemanahan adalah bekas panglimanya.

Namun agaknya sebagian dari mereka telah dijalari oleh perasaan tidak senang melihat perkembangan Mataram dan seperti yang diduga oleh Ki Gede Pemanahan, para pemimpin di Pajang itu sudah mengetahui apa yang terjadi atas salah seorang dari gadis Kalinyamat itu.

Seperti yang diperhitungkan oleh Raden Sutawijaya, maka baru setelah Ki Gede Pemanahan bermalam semalam di Pajang, barulah ia mendapat kesempatan untuk menghadap Sultan untuk menyampaikan persoalannya.

Di luar paseban dada Ki Gede Pemanahan bagaikan terhimpit oleh kepenatan perasaannya. Apakah yang akan dikatakan oleh Sultan Hadiwijaya kepadanya, dan hukuman apakah yang akan dilimpahkan kepada anaknya dan kepada dirinya sendiri.

“Sultan tentu sudah mengetahui apa yang terjadi atas Sutawijaya dengan gadis Kalinyamat itu,” berkata Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya.

Ketika saat menghadap itu tiba, terasa darah Ki Gede Pemanahan bagaikan semakin cepat mengalir. Sebagai seorang prajurit, Ki Gede Pemanahan tidak pernah dibayangi oleh ketakutan mengenai dirinya sendiri apa pun yang akan terjadi di peperangan. Tetapi kini, menghadap Sultan membawa pengakuan atas kesalahan putranya, rasa-rasanya ia berjalan di atas seonggok bara.

Ketika seorang pengawal mempersilahkannya masuk, hatinya menjadi semakin gelisah dan cemas. Rasa-rasanya ia sendirilah yang kini memasuki sebuah ruang untuk menjalani hukuman yang sangat berat.

Tetapi ia tidak dapat ingkar. Ia harus masuk ke dalam, apa pun yang akan terjadi atasnya.

Dengan langkah yang berat Ki Gede Pemanahan melangkah memasuki pintu ruang paseban dalam.

Ketika ia berada di depan pintu, terasa dadanya terguncang. Ruang yang luas itu ternyata kosong sama sekali. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali Sultan Hadiwijaya sendiri. Sejenak Ki Gede Pemanahan diam mematung. Ia belum pernah melihat suasana paseban seperti itu. Ia belum pernah melihat Sultan Hadiwijaya duduk sendiri di ruangan yang luas itu, tanpa dihadap oleh para panglima dan bahkan Ki Patih.

Ki Gede Pemanahan terkejut ketika kemudian mendengar Sultan Hadiwijaya menyapanya dengan ramah, “Marilah, Kakang Pemanahan, silahkan. Kenapa kau nampak ragu-ragu?”

Ki Gede Pemanahan menundukkan kepalanya. Sambil berjongkok ia maju mendekat.

Ki Gede Pemanahan pun kemudian duduk dengan kepala tertunduk beberapa langkah di hadapan Sultan Hadiwijaya. Sikap Sultan yang ramah dan paseban dalam yang sepi telah menumbuhkan persoalan tersendiri dalam hatinya. Bahkan kemudian timbullah kecurigaannya atas keadaan itu. Rasa-rasanya di balik dinding paseban itu telah siap sepasukan prajurit yang tinggal menunggu perintah untuk menangkapnya.

Sekali lagi Ki Gede Pemanahan terkejut ketika Sultan menyapanya pula, “Kemarilah, mendekatlah, Kakang.”

Ki Gede Pemanahan bergeser maju sambil menyembah dan menyampaikan salam baktinya.

Sultan Hadiwijaya tersenyum. Senyumnya masih seperti dahulu, ketika Ki Gede Pemanahan belum meninggalkan Pajang.

“Kakang Pemanahan,” berkata Sultan itu kemudian, “Kedatanganmu mengejutkan aku, tapi juga menggembirakan. Sudah lama kita tidak bertemu. Aku sudah rindu kepadamu dan anakku Sutawijaya. Tapi agaknya kali ini ia tidak ikut bersamamu. Bagaimana keadaannya, dan apakah ia baik-baik saja?”

“Hamba mohon ampun, bahwa kali ini hamba tidak menghadap bersama putranda. Tapi keadaannya baik-baik saja. Dan hamba berharap bahwa dalam waktu yang dekat, putranda akan datang menghadap,” jawab Ki Gede dengan kepada yang semakin menunduk.

Sultan Hadiwijaya masih saja tersenyum. Di wajahnya tidak ada kesan bahwa ia sudah mengetahui apa yang terjadi atas gadis Kalinyamat yang disimpannya itu.

“Tentu Sutawijaya sedang sibuk,” berkata Sultan itu kemudian. “Aku tahu Sutawijaya adalah seorang anak yang rajin dan suka bekerja keras. Aku sudah mendengar bahwa Mataram sudah menjadi semakin ramai. Aku gembira bahwa perkembangan Mataram akan menjadi pesat meskipun aku juga mendengar banyak rintangan yang harus diatasi.”

“Sebenarnyalah Kanjeng Sultan, Danang Sutawijaya adalah anak yang rajin dan suka bekerja keras. Bahkan bukan saja bekerja membuka hutan, tetapi juga mengamankannya dari gangguan yang bermacam macam.”

“Ya, aku dengar banyak binatang buas yang kadang-kadang mengganggu orang-orang yang sedang membuka hutan.”

“Bukan hanya binatang buas yang selama ini mengganggu pekerjaan hamba dan Danang Sutawijaya.”

“O, apa saja yang telah mengganggu kalian?”

Ki Gede Pemanahan termangu-mangu sejenak. Pertanyaan Sultan Pajang itu tidak menyakinkannya. Apakah benar Sultan Hadiwijaya belum pernah mendengar apa yang terjadi di Alas Mentaok? Bukankah para prajuritnya tersebar sampai di perbatasan?

Tetapi Ki Gede Pemanahan harus menjawab pertanyaan itu. Karena itu maka katanya, “Ampun Kanjeng Sultan. Selain binatang luas agaknya ada juga orang-orang yang tidak senang melihat Alas Mentaok dibuka menjadi sebuah negeri.”

“O,” Sultan Hadiwijaya mengerutkan keningnya, “tetapi itu pun tidak mengherankan. Semua usaha tentu akan mengalami rintangannya. Tetapi usaha yang demikian akan memberikan kepuasan jika kelak berhasil. Danang Sutawijaya akan berbangga bahwa ia telah membuka hutan yang lebat dan menjadikannya sebuah negeri yang ramai. Berbeda dengan mereka yang tanpa berbuat apa-apa sudah dengan sendirinya menerima kedudukan dan kekuasaan yang berlimpah-limpah. Bukankah demikian, Kakang Pemanahan?”

“Ya, ya, Kanjeng Sultan,” Pemanahan tergagap. Ia masih belum dapat menjajagi kata-kata dan sikap Sultan Hadiwijaya. Apakah sikapnya itu sekedar lamis, atau benar-benar melontar dari lubuk hatinya.

Namun ternyata dengan demikian Ki Gede Pemanahan menjadi semakin berdebar-debar. Seakan-akan ia berhadapan dengan seseorang yang tidak dapat dimengerti. Seseorang yang dibayangi oleh rahasia yang tidak terungkapkan. Rasa-rasanya di balik senyum dan sapa yang ramah itu, Sultan Hadiwijaya sengaja menyimpan keputusan hukum pancung yang akan dijatuhkan kepadanya jika saatnya telah tiba.

Tetapi dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan masih juga diganggu oleh keragu-raguan, apakah Sultan Hadiwijaya benar-benar belum mengetahui apa yang telah terjadi dengan gadis Kalinyamat itu?”

“Tetapi, Kakang,” berkata Sultan Hadiwijaya selanjutnya, “di dalam saat-saat seperti ini, dengan tanpa memberitahukan lebih dahulu, Kakang Pemanahan tiba-tiba saja sudah berada di Istana Pajang, telah membuat aku bertanya-tanya.” Sultan Hadiwijaya berhenti sejenak, lalu, “Apakah di dalam usaha Kakang Pemanahan dan Sutawijaya membuka Alas Mentaok menemui kesulitan? Bukankah sejak Kakang meninggalkan Pajang dan kemudian dengan resmi aku menyerahkan Alas Mentaok, aku sudah mengatakan bahwa apabila Kakang Pemanahan dan Danang menemui kesulitan, katakanlah terus terang. Tentu aku tidak akan sampai hati melepaskan kalian bekerja sendiri. Aku tahu betapa liarnya Alas Mentaok karena pada masa mudaku aku sering berkeliaran sampai ke jantung hutan itu.”

Pertanyaan itu membuat hati Ki Gede Pemanahan menjadi semakin berdebar-debar. Ia semakin tidak mengerti sikap sebenarnya dari Sultan Pajang.

Akhirnya Ki Gede Pemanahan tidak lagi dapat menahan hatinya. Daripada ia selalu diombang-ambingkan oleh keragu-raguan, kegelisahan dan tanggapan yang tidak menentu tentang sikap Sultan Hadiwijaya, maka ia pun kemudian mengambil keputusan untuk mengatakan saja kepentingannya datang ke Pajang.

Sekali lagi Ki Gede Pemanahan memandang berkeliling paseban dalam yang sepi. Dan sekali lagi ia mencoba menerka, apakah yang ada di balik dinding paseban dalam itu.

Ternyata Sultan Pajang mengetahui keragu-raguan di hati Ki Gede Pemanahan, sehingga karena itu maka ia pun kemudian berkata, “Kakang Pemanahan. Agaknya kau heran melihat ruangan yang sepi ini. Memang tidak pernah terjadi, bahwa aku berada di paseban tanpa pengawal, tanpa dihadap oleh para pemimpin pemerintahan dan para senapati. Tetapi Kakang, kali ini aku menerimamu bukan dalam sikap resmi sebagai seorang Sultan di Pajang. Aku lebih senang menerimamu sebagai saudara yang di saat-saat Pajang mulai tumbuh, kita telah bersama-sama membangunkannya dan kemudian memeliharanya. Itulah sebabnya aku lebih senang menerimamu seorang diri. Apalagi apabila kemudian di antara kita ada persoalan-persoalan yang bersifat pribadi.”

Dada Ki Gede Pemanahan berdesir karenanya. Entah disengaja atau tidak, Sultan Pajang sudah mulai menyinggung persoalan pribadi seperti yang hendak dikatakannya.

“Ampun, Kanjeng Sultan,” berkata Ki Gede Pemanahan itu kemudian, “sebenarnyalah hamba menjadi heran bahwa hamba telah berada di dalam ruang paseban dalam yang sepi dan tidak seperti kebiasaan yang berlaku. Namun agaknya Kanjeng Sultan telah mempersiapkan pertemuan ini sebagai pertemuan yang akan membicarakan masalah-masalah pribadi.”

“Bukan demikian, Kakang,” sahut Sultan Hadiwijaya, “aku tidak mempersiapkannya demikian meskipun agaknya memang akan terjadi.”

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: