Buku 079 (Seri I Jilid 79)

 

Dada Ki Gede Pemanahan menjadi semakin berdebar-debar. Kini ia mulai condong kepada pendapat bahwa agaknya Sultan Hadiwijaya sudah mengetahui apa yang terjadi atas putra angkatnya Raden Sutawijaya.

Jika demikian, maka selama ini yang dihadapi adalah sikap yang pura-pura saja dari Sultan. Sebenarnya Sultan Pajang itu telah menyimpan kemarahan yang membara di dadanya. Namun agaknya dengan sengaja Sultan telah menyembunyikannya dan pada saatnya menumpahkannya sampai tuntas.

“Apakah Sultan Hadiwijaya sengaja menunggu Sutawijaya?” Ki Gede Pemanahan bertanya kepada diri sendiri

“Kakang,” berkata Sultan Hadiwijaya kemudian, “jika Kakang Pemanahan datang ke Pajang tanpa memberitahukan lebih dahulu, dan datang sendirian tanpa Danang Sutawijaya, tentu Kakang membawa masalah yang cukup penting. Mungkin masalah Alas Mentaok yang semakin lama menjadi semakin ramai. Mungkin hubungan antara Mentaok yang sekarang disebut Mataram dengan daerah di sekitarnya. Mangir, Menoreh atau barangkali dengan senapati di daerah selatan ini, Untara, atau persoalan-persoalan yang lain. Tetapi mungkin persoalan yang lebih bersifat pribadi seperti yang sudah aku katakan. Nah, Kakang Pemanahan, sebaiknya Kakang segera mengatakannya. Kakang tidak usah segan. Anggaplah aku masih seperti dahulu. Kakang bagiku adalah saudara tua yang banyak berjasa bukan saja kepadaku, tetapi juga kepada Pajang. Tanpa Kakang Pemanahan, maka persoalan yang terjadi di Kudus akan berakhir jauh lebih buruk dari yang telah terjadi. Mungkin aku sudah tidak dapat melihat terbitnya matahari lagi.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ia semakin tersiksa oleh sikap Sultan Hadiwijaya. Ia lebih senang jika Sultan Hadwijaya itu bersikap garang. Marah dan membentak-bentak. Atau bahkan dengan lantang menjatuhkan hukuman atasnya.

Tetapi kini Sultan Hadiwijaya tetap tersenyum dan dengan ramah bertanya kepadanya, apakah yang akan dikatakannya.

Sekilas teringat oleh Ki Gede Pemanahan atas apa yang pernah dilakukan oleh Sultan Pajang pada saat Adipati Jipang mulai menebarkan kekuasaannya yang ternyata kemudian gagal. Setelah Sunan Prawata terbunuh, kemudian disusul oleh Sunan Hadiri, terjadilah peristiwa itu. Dua orang utusan Adipati Jipang berhasil memasuki istana Pajang. Namun atas kesigapan Panglima Wira Tamtama yang saat itu dipegang oleh Ki Gede Pemanahan sendiri bersama Ki Penjawi, maka kedua orang itu tertangkap. Ternyata keduanya mendapat perintah untuk membunuh Sultan Hadiwijaya.

Tetapi kemudian apa yang terjadi? Sultan Hadiwijaya dengan sengaja memberi hadiah kepada kedua orang itu dan disuruhnya kembali ke Jipang. Ternyata bahwa hukuman yang sebenarnya diterima oleh orang-orang itu datang dari Arya Penangsang sendiri yang merasa terhina karena keduanya telah menerima hadiah dari Sultan Hadiwijaya.

Karena itu, Ki Gede Pemanahan menjadi semakin bimbang melihat sikap Sultan Hadiwijaya itu.

Namun akhirnya Ki Gede Pemanahan pun kemudian memaksa dirinya untuk mengatakan keperluannya kepada Sultan Hadiwijaya apa pun yang akan dihadapinya. Katanya, “Ampun Kanjeng Sultan. Sebenarnyalah bahwa kedatangan hamba mempunyai suatu kepentingan yang bersifat sangat pribadi. Jika Kanjeng Sultan berkenan, hamba ingin menyebutkannya, apakah sebenarnya kepentingan hamba datang ke Pajang saat ini.”

“Tentu, Kakang, tentu. Bukankah sejak tadi aku sudah mempersilahkan Kakang untuk mengatakan keperluan Kakang?”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas. Kemudian katanya, “Kanjeng Sultan, sebenarnyalah hamba membawa persoalan yang sangat rumit bagi hamba. Sebelum hamba mengatakannya biarlah hamba menyerahkan diri, pasrah hidup mati hamba ke hadapan Kanjeng Sultan.”

“Kakang Pemanahan, apakah sebenarnya yang akan Kakang katakan? Kenapa Kakang pasrah hidup mati Kakang kepadaku seakan-akan Kakang pernah melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan?”

“Ampun Kanjeng Sultan. Sebenarnyalah demikian. Hamba memang sudah melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan atas kekhilafan hamba mengawasi Danang Sutawijaya, sehingga Sutawijaya telah melakukan perbuatan yang tercela.”

Sultan Hadiwijaya mengerutkan keningnya. Ditatapnya Ki Gede Pemanahan sejenak. Lalu dengan nada datar ia berkata, “Katakan.”

“Ampunkan hamba. Bahwa hal itu telah terjadi.”

“Hal yang manakah yang kau maksudkan?”

“Kanjeng Sultan. Adalah di luar kemampuan hamba untuk mencegahnya bahwa Danang Sutawijaya, putra angkat terkasih dari Kanjeng Sultan sendiri telah melanggar pagar ayu.”

“Katakan, katakan,” suara Sultan Hadiwijaya mulai berubah.

“Danang Sutawijaya dengan diam-diam telah melakukan hubungan dengan salah seorang gadis Kalinyamat, putri dari Kanjeng Sunan Prawata yang sedianya diperuntukkan bagi Kanjeng Sultan. Bukankah kedua putri itu hadiah Kanjeng Ratu Kalinyamat kepada siapa pun juga yang berhasil membinasakan Arya Penangsang, dan bukankah Kanjeng Sultan-lah yang saat itu menyanggupinya dan sebenarnyalah Arya Penangsang telah terbunuh. Dengan demikian maka Kanjeng Ratu Kalinyamat tidak akan dapat ingkar dan menyerahkan kedua gadis itu kepada Kanjeng Sultan Hadiwijaya.”

Sultan Hadiwijaya memejamkan matanya. Sejenak ia diam mematung.

Terasa jantung Ki Gede Pemanahan berdetak semakin keras. Dengan menahan nafas ia menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Sultan Hadiwijaya tentang Sutawijaya. Menilik sikapnya maka agaknya Sultan Hadiwijaya sedang menahan gejolak perasaan yang melanda dinding jantungnya.

Namun demikian Ki Gede Pemanahan sama sekali tidak dapat meraba, apakah yang akan dikatakan oleh Sultan Hadiwijaya itu kepadanya, dan apakah yang sebenarnya sedang bergejolak di dalam hatinya.

Sejenak Sultan Hadiwijaya masih berdiam diri, sedangkan jantung Ki Gede Pemanahan seakan-akan semakin berdentangan.

Ki Gede menahan nafasnya ketika ia kemudian melihat Sultan Hadiwijaya membuka matanya. Tanpa berkedip Ki Gede memandang wajah Sultan Hadiwijaya sambil menunggu setiap patah kata yang akan diucapkan.

Namun terasa darah Ki Gede Pemanahan itu berhenti mengalir ketika justru ia melihat Sultan Hadiwijaya itu tersenyum. Senyum yang itu juga, seperti senyumnya sebelum Ki Gede meninggalkan Pajang.

“Ki Gede Pemanahan,” berkata Sultan Pajang, “aku kagum atas kejujuran dan kesetianmu. Kau datang sendiri dengan tergesa-gesa, ternyata kau tidak sempat memberitahukan lebih dahulu, untuk menyampaikan laporan tentang kesalahan yang dilakukan oleh anakmu yang sudah aku angkat menjadi anakku. Jarang orang yang berbuat seperti itu, yang dengan dada tengadah menyatakan kesalahan diri.” Kanjeng Sultan berhenti sejenak, lalu, “Itu adalah ciri watakmu, Kakang. Sejak kita bersama-sama menegakkan Pajang, kau memang seorang yang pantas dikagumi. Kau adalah seorang panglima yang berani dan terlebih-lebih lagi adalah seorang panglima yang jujur. Dan kini sifat itu masih ada padamu. Itulah yang sebenarnya telah memukau hatiku. Bukan karena aku mendengar pengakuanmu bahwa gadis Kalinyamat itu sudah berhubungan diam-diam dengan anak angkatku sendiri. Dan bahkan jika kau belum tahu aku ingin memberitahukan bahwa gadis itu sekarang sudah mengandung.”

Rasa-rasanya telinga Ki Gede Pemanahan itu berdesing. Ternyata Sultan Hadiwijaya sudah mengetahui semuanya. Bahkan mengetahui pula bahwa gadis itu sudah mengandung.

“Ampun Kanjeng Sultan,” Ki Gede Pemanahan menyembah, “kini aku pasrah diri. Hukuman apakah yang akan dilimpahkan kepada hamba dan anak hamba Sutawijaya. Yang terjadi adalah cela yang tidak termaafkan. Apalagi Danang Sutawijaya telah banyak sekali menerima sih dan kanugrahan dari Kanjeng Sultan sendiri.”

Tetapi Ki Gede Pemanahan menjadi semakin bingung ketika ia mendengar Sultan Hadiwijaya itu tertawa perlahan. Dengan sareh ia pun kemudian berkata, “Kakang Pemanahan. Apakah sudah sepantasnya aku menjatuhkan hukuman atasmu dan Sutawijaya.”

“Tentu Kanjeng Sultan. Jika anak hamba telah melakukan kesalahan yang demikian besarnya, maka sudah sepantasnya bahwa hamba pun menerima hukumannya pula.”

Tetapi Sultan Hadiwijaya tertawa pula, sehingga Ki Gede Pemanahan menjadi semakin bingung.

“Kakang,” berkata Sultan Hadiwijaya, “Semangkin dan Prihatin, kedua gadis dari Kalinyamat itu memang telah disediakan bagi orang yang berhasil membunuh Arya Penangsang. Bukankah yang telah berhasil membunuh Arya Penangsang adalah Kakang Pemanahan dan Kakang Penjawi seperti yang dikatakan oleh Kakang Juru Mertani? Tetapi sebenarnya aku pun mengetahui bahwa yang telah membenamkan tombak Kiai Pleret ke lambung Arya Penangsang adalah Danang Sutawijaya. Karena itu, bukankah sudah sewajarnya jika Sutawijaya menerima hadiah yang dijanjikan oleh Kanjeng Ratu Kalinyamat itu?”

“O,” Ki Gede Pemanahan justru menjadi bertambah bingung, sehingga ia hanya dapat menunggu Sultan Hadiwijaya meneruskan, “Kakang Pemanahan. Karena itu, agaknya sudah tertulis di jalur jalan kehidupan Semangkin bahwa ia memang akan menjadi sisihan orang yang berhasil membalaskan dendam ayahandanya dan bibinya, kematian pamandanya Arya Penangsang.”

“Jadi?” Ki Gede Pemanahan tergagap.

“Jadi, tidak ada apa-apa, Kakang Pemanahan. Sutawijaya memang sudah dewasa. Sudah sepantasnya ia mencintai dan dicintai oleh seorang gadis. Dan gadis itu adalah Semangkin.”

“Ampun, Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Sebenarnyalah hamba menjadi bingung. Hamba sama sekali tidak mengerti sikap Kanjeng Sultan. Seharusnya paduka menjatuhkan hukuman atas hamba berdua. Tetapi paduka sama sekali tidak menyebut hukuman apakah yang harus hamba jalani.”

Sultan Hadiwijaya menggelengkan kepalanya, katanya, “Tidak sepantasnya aku menjatuhkan hukuman kepada Sutawijaya. Ia sudah berjalan menurut kodrat manusiawi. Yang dapat aku berikan hanyalah sekedar pesan, bahwa sebaiknya Sutawijaya tidak melakukannya terhadap setiap gadis atau perempuan yang dikehendakinya.”

Terasa tubuh Ki Gede Pemanahan menjadi gemetar. Dan ia mendengar Sultan Hadiwijaya berkata seterusnya, “Dan permintaanku, hubungan yang sudah menumbuhkan buah di tubuh Semangkin itu janganlan disia-siakan. Tentu aku akan menganggapnya sebagai menantuku juga. Namun hendaknya Sutawijaya bertindak sebagai seorang laki-laki di dalam hal ini. Anak yang bakal lahir adalah anaknya. Belahan jiwanya sendiri. Karena itu, selanjutnya hubungan antara Sutawijaya dan Semangkin supaya dapat berlangsung wajar. Aku restui hubungan itu, dan keduanya memang sudah cukup dewasa.”

“Kanjeng Sultan Hadiwijaya,” sembah Ki Gede Pemanahan, “benarkah yang telah hamba dengar, bahwa paduka sama sekali tidak menjatuhkan hukuman apa pun kepada hamba, bahkan justru sebaliknya.”

Sultan Hadiwijaya tertawa. Dipandanginya Ki Gede Pemanahan yang membungkukkan kepalanya sehingga hampir menyentuh lantai.

“Sudahlah, Kakang Pemanahan. Jangan menanggapi keputusanku itu dengan berlebihan. Bukankah aku bersikap wajar pula dan tidak berlebihan. Kau bagiku adalah seorang saudara tua yang pantas aku hormati. Sutawijaya adalah anakku yang aku kasihi. Apalagi? Apakah artinya seorang gadis bagiku? Maksudku bukan karena aku menyiapkannya, karena ia adalah hadiah Kakanda Ratu Kalinyamat. Dan aku harus mengartikan lain dari hadiah itu, karena keduanya adalah kemanakanku sendiri, meskipun hubungan darah dari Adinda Permaisuri.”

Ki Gede Pemanahan untuk beberapa saat justru tidak, dapat berbicara sepatah kata pun.

“Kakang, sebenarnya aku tidak dapat berpura-pura bersih di dalam hal ini. Apalagi terhadap Kakang Pemanahan yang mengetahui Karebet ini seutuhnya. Luar dan dalam. Karena itu, aku tidak bermaksud mengatakan bahwa aku bersih dari nafsu. Bahkan mungkin Kakang Pemanahan menganggap aku sebagai seorang tua yang tidak tahu diri. Dan aku pun tidak ingkar, bahwa kelemahanku adalah pada seorang perempuan. Tetapi tentu tidak untuk menjatuhkan hukuman kepada Sutawijaya karena ia mencintai seorang gadis. Tentu tidak. Karena hal itu adalah wajar sekali. Dan betapa ganasnya seekor harimau, tetapi ia tidak akan menelan anaknya sendiri.”

Ki Gede Pemanahan tiba-tiba saja bergeser maju. Didekapnya kaki Sultan Hadiwijaya sambil berkata, “Kanjeng Sultan adalah seorang yang berhati selapang lautan.”

Sambil menepuk bahu Ki Gede Pemanahan, Sultan Hadiwijaya berkata, “Sekali lagi Kakang, jangan menanggapi sikapku berlebihan.”

 

 

Ki Gede Pemanahan mundur setapak. Sambil menyembah ia berkata, “Hamba mengucapkan terima kasih yang sebesarnya. Hamba tidak tahu, bagaimana hamba akan membalas kebaikan budi Kanjeng Sultan.”

“Tidak ada yang harus dibalas. Jika kita berbicara tentang hutang budi, maka hutangku kepada Kakang Pemanahan jauh lebih banyak dari yang pernah aku berikan. Karena itu, sudahlah. Kita lupakan apa yang sudah terjadi. Tetapi jangan dilupakan pesanku kepada Sutawijaya.”

“Semua pesan Paduka akan hamba sampaikan.”

“Terima kasih, Kakang. Dan pesanku yang lain, aku sudah rindu kepadanya. Aku mengharap ia datang ke Pajang.”

Terasa sesuatu berdesir di dada Ki Gede Pemanahan. Anaknya adalah anak muda yang keras hati. Dan ia telah mengajarinya untuk berbuat seperti yang dilakukannya sekarang.

Kembali dada Ki Gede Pemanahan telah ditusuk oleh penyesalan yang tajam. Namun semuanya itu telah terjadi, dan ia tidak akan dapat menghapus ketergesa-gesaan yang pernah dilakukannya itu.

“Nah, Kakang,” berkata Sultan Pajang kemudian, “apakah masih ada persoalan lain yang akan Kakang katakan?”

“Tidak, Kanjeng Sultan. Hamba datang untuk menyampaikan penyesalan dan pasrah diri. Tetapi Paduka telah melimpahkan keluhuran budi yang tiada taranya. Karena itu hamba hanya dapat mengucapkan beribu-ribu terima kasih.”

“Jika demikian, baiklah Kakang. Aku kira aku sudah cukup lama menerima Kakang. Sekarang Kakang dapat beristirahat. Pada saatnya, Kakang Pemanahan akan pulang ke Mataram, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan.”

“Terima kasih,” sembah Ki Gede Pemanahan, “hamba mohon diri, Paduka.”

Demikianlah maka Ki Gede Pemanahan mengundurkan diri dengan hati yang bergejolak dengan dahsyat. Gambaran yang pernah bermain di angan-angannya sama sekali tidak terjadi. Ia menyangka bahwa ia akan digantung di alun-alun, atau dihukum picis di simpang empat karena selain kesalahan Sutawijaya, tentu Sultan sebenarnya menjadi sangat marah pada saat ia meninggalkan Pajang tanpa pamit dan dengan demikian memaksa Sultan Pajang untuk menyerahkan Alas Mentaok yang sudah dijanjikannya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya.

Atas desakan beberapa orang sahabatnya, maka Ki Gede Pemanahan masih diminta untuk tinggal semalam lagi di Pajang. Beberapa orang di antara mereka masih ingin berbicara dan bercerita tentang banyak hal yang menyangkut Alas Mentaok.

Sebenarnyalah bahwa Ki Gede Pemanahan kurang berhati-hati menghadapi para pemimpin dan Senapati Pajang yang nampaknya sangat ramah dan baik hati. Berbeda dengan Sultan Hadiwijaya yang dengan jujur menanggapi sikap Ki Gede Pemanahan yang jujur itu pula, maka beberapa orang pemimpin dan senapati di Pajang ingin memancing keterangan dari Ki Gede Pemanahan.

Bahkan ketika salah seorang dari mereka dengan terus terang bertanya tentang hubungan antara Sutawijaya dengan gadis Kalinyamat itu, maka Ki Gede Pemanahan pun mengatakan bahwa hal itu sudah diserahkan kepada Sultan Pajang

“Apakah keputusan Sultan?” bertanya seorang perwira yang sudah setengah umur.

Ki Gede Pemanahan ragu-ragu. Namun akhirnya ia berkata, “Kami menunggu perintah Kanjeng Sultan kapan saja perintah itu datang.”

“Apakah Kanjeng Sultan menjadi marah?”

“Aku tidak dapat membedakan, apakah Sultan sedang marah atau justru sedang berkenan di hati,” jawab Ki Gede Pemanahan, “dan hal seperti itu selalu aku alami sejak aku masih menjadi Panglima Tamtama di Pajang.”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa Ki Gede Pemanahan pernah menjabat sebagai panglima di Pajang.

Selain persoalan Sutawijaya, masih banyak lagi yang mereka perbincangkan. Kadang-kadang Ki Gede Pemanahan menganggap bahwa tidak sepantasnya ia berprasangka terhadap para perwira di Pajang. Mereka adalah orang-orang yang baik dan ramah.

“Selama ini, kami terlampau berprasangka,” berkata Ki Gede di dalam hatinya, “terhadap Sultan dan para perwiranya. Ternyata mereka adalah orang yang baik dan bukan pendendam. Untunglah setiap usaha untuk melibatkan Pajang di dalam pertentangan dengan Mataram selalu gagal.”

Dan terbayang di angan-angan Ki Gede wajah seorang senapati yang bernama Daksina. Lalu katanya di dalam hati, “Tetapi terbukti ada juga senapati yang telah berusaha merusak sama sekali rencana kami untuk membuka Tanah Mataram.”

Meskipun demikian Ki Gede Pemanahan telah tenggelam ke dalam sikap yang baik dan ramah dari para perwira sehingga ia menjadi agak lengah dan kadang-kadang memberikan keterangan tentang Mataram agak terlampau banyak.

Memang ada di antara para perwira yang benar-benar dengan jujur mengagumi perkembangan yang telah dicapai oleh Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya. Namun ada pula di antara mereka yang dengan saksama mencari kelemahan-kelemahan yang ada pada Ki Gede.

Namun kemudian ketika pembicaraan telah hilir-mudik tidak menentu salah seorang senapati bertanya, “Kapan Ki Gede akan kembali ke Mataram?”

“Sebenarnya segera. Tetapi baiklah besok saja aku kembali ke Mataram. Besok pagi-pagi jika matahari terbit di Timur.”

Senapati itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja tanpa menanggapinya.

Malam itu Ki Gede Pemanahan tidur di tempat seseorang yang baik sekali kepadanya. Seorang sahabat sejak Ki Gede masih berada di Pajang.

“Kau harus berhati-hati Ki Gede,” berkata orang itu, “di Pajang banyak orang yang tidak senang melihat perkembangan Mataram.”

“Kenapa?”

“Iri hati dan dengki.”

“Ah, ternyata mereka sangat baik dan sama sekali tidak perlu berprasangka. Aku telah berbicara dengan mereka sehari-harian.”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Kau hanya melihat kulit luarnya saja. Dalamilah apa yang mereka katakan dan renungilah setiap pertanyaannya.”

Ki Gede tidak menyahut. Namun baginya sama sekali tidak ada alasan untuk mencurigai siapa pun.

“Kau terlampau bersih, sehingga kau pun menganggap orang lain tidak bercela.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba menilai kembali isi pembicaraannya dan sikap para perwira Pajang kepadanya. Tetapi bagi Ki Gede Pemanahan tidak ada persoalan yang dapat menumbuhkan kecurigaan apa pun.

Meskipun demikian Ki Gede Pemanahan tidak dapat mengabaikan sama sekali pendapat sahabatnya itu, karena Ki Gede Pemanahan pun menyadari bahwa sahabatnya itu tentu bermaksud baik dan tidak sekedar mengada-ada.

Demikianlah ketika fajar di pagi berikutnya mulai memerah di langit, Ki Gede Pemanahan dan kedua pengawalnya pun mulai berkemas. Mereka ingin berangkat pagi-pagi benar selagi matahari belum mulai membakar kulit.

“Berhati-hatilah, Ki Gede Mataram,” pesan sahabatnya sambil menepuk bahu Ki Gede, “Mataram benar-benar suatu Tanah Harapan bagi rakyat Pajang. Bukan saja karena di Mataram akan dapat tumbuh persoalan-persoalan baru dan usaha-usaha baru, melainkan juga karena Mataram menyebarkan cita-cita baru bagi hari depan kita semuanya.”

“Ah, kau terlampau memuji,” sahut Ki Gede Pemanahan, “tetapi, yang tampak, Mataram adalah tanah garapan baru bagi para petani. Itu saja. Di atas tanah yang baru dibuka itu para petani akan dapat mengembangkan usahanya dan beberapa percobaan yang baru di bidangnya.”

Sahabat Ki Gede Pemanahan tersenyum. Namun ketika ia melepas Ki Gede dan kedua orang pengawalnya, sekali lagi ia berkata, “Hati-hatilah, Ki Gede. Kau adalah seorang panglima yang berani di peperangan. Dan sekarang kau masih menunjukkan keberanian itu. Kau bertiga akan menyeberangi jarak yang cukup panjang antara Pajang dan Mataram. Namun selain panjang jarak, itu pun menyimpan berbagai bahaya bagimu.”

“Aku tidak akan berbuat buruk. Tentu perjalananku pun akan lancar dan tidak ada gangguan apa pun di perjalanan.”

“Mudah-mudahan.”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Ia pun kemudian minta diri dan dengan lajunya bersama kedua pengawalnya Ki Gede meninggalkan gerbang kota Pajang.

Namun dalam pada itu, di luar pengetahuan Ki Gede Pemanahan beberapa pasang mata mengawasinya dari kejauhan. Demikian Ki Gede Pemanahan meninggalkan gerbang, maka mereka pun menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang dari mereka berkata, “Kita tentu akan berhasil. Selama ini usaha kita bersama Panembahan Agung selalu gagal. Seakan-akan Mataram benar-benar telah dilindungi oleh Yang Maha Kuasa. Sutawijaya selalu luput dari maut. Tetapi kini kita justru mulai dari Ki Gede Pemanahan sendiri.”

“Ya. Ia pasti tidak akan pernah sampai ke daerah yang dibukanya.”

Orang-orang itu saling berpandangan sejenak. Di bibir mereka nampak membayang senyum yang penuh arti. Seakan-akan mereka pasti, bahwa Ki Gede Pemanahan memang tidak akan dapat sampai ke Mataram kembali.

“Orang-orang itu tentu akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Meskipun Ki Gede Pemanahan dapat menangkap angin sekalipun, ia tidak akan dapat melawan ke empat bersaudara itu,” berkata yang lain lagi.

Orang yang tertua di antara mereka berkata sambil melangkah, “Marilah kita kembali. Pemanahan bukan orang yang bernyawa rangkap. Pada saatnya ia akan kehilangan nyawanya itu.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mungkin saat itu sekarang sudah datang,” orang itu melanjutkan, “dan aku yakin bahwa Pemanahan akan mati. Keempat bersaudara itu memang memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan. Aku sudah mencoba kemampuan mereka. Dan aku tahu pasti, bahwa Pemanahan tidak dapat melawan mereka karena aku sendiri pun agaknya tidak. Dan kemampuan Pemanahan tidak akan lebih tinggi dari kemampuanku. Bagiku sebenarnya Pemanahan bukan orang yang menakutkan. Tetapi kedudukankulah yang tidak memungkinkan aku bertindak sendiri. Usahaku untuk bekerja bersama Panembahan Agung pun ternyata gagal karena Panembahan Agung justru terbunuh. Dan bagiku Panembahan Agung pun bukan orang yang ajaib. Ia hanya dapat membuat mainan kanak-kanak yang kebingungan. Selebihnya, ia adalah seorang cengeng yang manja.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Karena itu aku bersedia bekerja bersamanya. Aku tahu bahwa kelak ia akan menyingkirkan kita jika kerja ini sudah selesai. Tetapi kita pun akan berbuat serupa seandainya ia tidak mati di peperangan. Aku tidak gentar menghadapinya meskipun aku tahu bahwa ia memiliki aji Pangangen-angen yang kadang-kadang membingungkan bagi anak-anak.”

“Nah, kita akan kembali. Besok kita akan mendengar kabar bahwa Ki Gede Pemanahan terbunuh oleh sekelompok penyamun. Empat orang bersaudara dari lereng Gunung Lawu itu akan membawa beberapa orang kawan karena mereka harus melakukan kerja ini sampai selesai. Mungkin kedua orang pengawal Pemanahan itu memiliki kelebihan pula dari kebanyakan orang.”

Yang lain masih saja mengangguk-angguk. Tetapi dari wajah mereka memancar harapan, bahwa Ki Gede Pemanahan akan terbunuh di perjalanan. Selanjutnya, mereka harus berhasil menyingkirkan Sutawijaya. Mereka tidak mempunyai harapan lagi untuk dapat memanfaatkan kedua orang itu. Seandainya Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya yang keras hati itu dapat mereka tangkap hidup-hidup, maka dengan ancaman apa pun juga mereka tidak akan bersedia bekerja bersama sehingga akhirnya keduanya tidak lagi diperlukan.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan sendiri, yang sedang berpacu kembali ke Mataram, hampir tidak pernah berbicara sama sekali. Angan-angannya sedang dipenuhi oleh kegelisahan yang pepat. Sikap Sultan Hadiwijaya benar-benar telah menyiksanya justru karena semua kesalahan yang telah dilakukan oleh Sutawijaya itu sama sekali tidak mendapat hukuman apa pun juga,

“Kebaikan hatinya benar-benar membuat aku semakin merasa bersalah,” berkata Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya. “Dan sikap Sutawijaya yang keras membuat aku semakin menyesali kesalahan yang pernah aku lakukan.”

Terasa sesuatu bergejolak di dada Ki Gede Pemanahan. Ia menjadi sangat perihatin akan kekerasan hati Sutawijaya yang benar-benar tidak mau datang menghadap ke Pajang.

“Aku adalah sumber kesalahan ini. Aku tidak dapat mengajari anakku mengenal kebaikan budi Sultan Pajang. Dan aku tidak dapat mengajari anakku berbuat sebagai seorang ksatria yang berwatak, karena ia sudah melakukan perbuatan tercela. Siapa pun gadis itu, namun perbuatan itu bukannya perbuatan yang terpuji,” keluh Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya. Lalu, “Apalagi ia adalah gadis yang sebenarnya akan diperuntukkan bagi Sultan Hadiwijaya sendiri.”

Namun sebuah kejanggalan telah melonjak pula di hatinya. Kedua gadis itu masih terlalu muda. Sedang Sultan Hadiwijaya sudah melalui masa-masa pertengahan umur seseorang.

Sehingga karena itu, sepercik kekecewaan telah membersit di hatinya. Tetapi Ki Gede Pemanahan cepat-cepat menyingkirkannya. Katanya di dalam hatinya, “Ia adalah seorang raja. Apa pun yang dikehendaki akan terjadi.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Di hatinya telah bergejolak perasaan yang bercampur baur. Namun bagaimana pun juga, sikap Sultan Hadiwijaya telah membuatnya merasa terlalu kecil.

Ketiga ekor kuda yang meninggalkan Pajang itu berderap semakin cepat. Penunggangnya sama sekali tidak menghiraukan lagi keadaan di sekelilingnya. Apalagi Ki Gede Pemanahan. Meskipun ia menatap lurus-lurus ke depan, namun agaknya tidak satu pun yang dilihatnya. Ia sama sekali pasrah pada derap kaki kudanya. Hanya sekali-sekali ia terkejut dan memberikan arah dengan menggerakkan kendali.

Dalam pada itu, sekelompok orang-orang yang garang telah menunggu dengan tegang. Mereka adalah empat bersaudara dari lereng Gunung Lawu. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Apalagi apabila mereka berempat berada di dalam satu pasangan. Apalagi mereka telah membawa beberapa orang kawan yang terpilih. Mereka menyadari bahwa orang yang kali ini harus diselesaikan adalah Ki Gede Pemanahan. Seorang yang pilih tanding.

Keempat saudara dari lereng Gunung Lawu itu tahu benar, bahwa Ki Gede Pemanahan adalah bekas Panglima Wira Tamtama di Pajang. Dan mereka pun tahu benar, bahwa Ki Gede Pemanahan adalah seorang putra dari Sela, dari daerah yang terkenal keturunan seseorang yang menurut berita mampu menangkap petir.

“Kali ini kita harus benar-benar mempersiapkan diri,” berkata orang tertua dari keempat saudara dari lereng Gunung Lawu.

“Ya, Kakang Dandun,” jawab adiknya yang kedua, “kita semua sudah mengetahui siapakah yang kali ini kita hadapi. Karena itu, kita tidak boleh lengah.”

“Ki Gede Pemanahan dengan dua orang pengawal,” sahut yang lain, “betapa pun tinggi ilmu mereka, tetapi mereka tidak akan dapat berbuat banyak. Mungkin aku seorang diri dapat dikalahkan oleh Ki Gede Pemanahan. Tetapi ukurannya adalah paling banyak dua dari kita. Selebihnya adalah tenaga cadangan yang meyakinkan.”

“Ditambah dengan orang-orang kita,” berkata yang lain lagi sambil memandang beberapa orang yang bertebaran duduk di atas rerumputan.

“Kita masih mempunyai waktu,” berkata Dandun, “tetapi baiklah dua orang di antara orang-orang yang malas itu mengamat-amati jalan. Jika Ki Gede Pemanahan sudah tampak, kita harus benar-benar bersiap.”

Demikianlah dua orang di antara mereka harus berada di ujung bulak untuk mengawasi jalan. Jika mereka melihat tiga ekor kuda berpacu menuju ke arah merek, dari Pajang maka ketiganya adalah Ki Gede Pemanahan dengan dua orang pengawalnya.

“Kita sudah memilih tempat yang paling tepat. Jika kita berhasil, kita ceburkan saja mayat mereka ke Kali Opak.”

“Ya. Dan kita akan menerima upah kita dan kelak, jika orang-orang tamak itu berhasil, kita akan mendapat kedudukan yang baik pula.”

Dandun menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian berbaring di atas rerumputan di bawah sebatang pohon yang rimbun.

“Jalan ini jarang dilalui orang,” desisnya. Lalu, “Karena itu kita tidak usah takut diketahui orang. Seandainya ada orang lewat pun, mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika mereka mencoba mencampurinya, kita akan menyelesaikannya sama sekali.”

Adik-adiknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Jalan itu nampaknya memang sepi. Meskipun demikian ada juga beberapa orang yang lewat di dalam kelompok-kelompok kecil. Sudah sejak beberapa lama jalan itu menjadi tenang dan tidak ada lagi gangguan-gangguan yang berarti. Apalagi sejak jalan ke sebelah barat seakan-akan terbuka sama sekali, maka jalan itu rasa-rasanya menjadi benar-benar telah aman meskipun masih belum banyak orang yang melaluinya, karena mereka masih dibayangi oleh kenangan masa yang mendebarkan karena orang-orang yang menyamun di sepanjang jalan itu dan dengan sengaja menakut-nakuti orang-orang yang lewat, terutama yang menuju ke barat.

Semakin tinggi matahari merayap di langit, rasa-rasanya mereka menjadi semakin gelisah. Kadang-kadang mereka tidak telaten lagi menunggu.

“Mungkin Ki Gede Pemanahan belum akan lewat hari ini,” berkata salah seorang dari keempat orang dari Lereng Gunung Lawu itu.

“Orang-orang Pajang sudah memberi tanda. Mereka tahu pasti bahwa hari ini Ki Gede Pemanahan akan kembali ke Mataram. Tetapi mungkin ia tidak berangkat pagi-pagi benar,” jawab Dandun.

Adiknya tidak menyahut lagi. Seperti kakaknya, ia pun kemudian berbaring di bawah pohon yang rindang pula.

Dalam pada itu, beberapa kelompok orang yang lewat menjadi heran melihat beberapa, orang duduk-duduk di pinggir jalan menuju ke daerah Mataram. Tetapi mereka tidak bertanya sesuatu karena orang-orang itu sama sekali tidak mengganggu mereka. Bahkan mereka kemudian beranggapan bahwa mereka adalah sekelompok orang lewat yang sedang beristirahat seperti mereka.

Sementara itu, Ki Gede Pemanahan tidak lagi berpacu dengan tergesa-gesa. Semakin lama dibiarkannya kudanya berlari semakin lambat, sementara itu angan-angannya masih saja dibayangi oleh sikap Sultan Hadiwijaya. Betapa hatinya merasa terbanting di atas batu pualam yang keras oleh sikap yang sangat baik dari Sultan Hadiwijaya itu.

Namun dalam pada itu, Ki Gede sama sekali tidak menyangka bahwa beberapa orang telah diupah untuk mencegatnya di perjalanan. Ia tidak menyangka bahwa orang-orang Pajang benar-benar telah menginginkan kematiannya. Apalagi mereka yang mendengar bahwa sikap Sultan terlampau baik kepadanya.

Ternyata orang-orang Pajang itu sudah mengambil sikap pasti, membunuh Ki Gede Pemanahan.

Karena ia tidak menyangka sama sekali, maka ia tidak mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan itu. Ki Gede Pemanahan tidak membawa senjata lain kecuali keris di punggungnya. Ki Gede menganggap bahwa jalan dari Pajang ke Mataram kini seakan-akan sudah terbuka luas dan tidak ada gangguan lagi. Jika ada penyamun-penyamun kecil, maka penyamun-penyamun itu tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa menghadapi Ki Gede Pemanahan beserta kedua pengawalnya itu.

Dengan demikian maka perjalanan Ki Gede Pemanahan itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan Kali Opak di Prambanan. Dan dengan demikian perjalanannya menjadi semakin lama semakin dekat dengan bahaya yang sebenarnya bagi keselamatannya.

Sekali-sekali Ki Gede Pemanahan masih harus menyusup hutan yang meskipun tidak lebat, tetapi cukup menghambat perjalanannya. Bahkan kadang-kadang kudanya sama sekali tidak dapat berlari. Ki Gede Pemanahan harus menyusup di bawah sulur pohon kayu yang rimbun atau meloncati batang pepohonan yang melintang di jalan. Namun pada dasarnya kudanya dapat maju terus meskipun perlahan-lahan.

Ki Gede Pemanahan tertegun sejenak ketika ia kemudian sampai ke tlatah Sangkal Putung. Masih juga tersangkut sebuah kenangan pada saat ia masih menjadi seorang panglima. Ia pernah datang ke Sangkal Putung khusus untuk menerima penyerahan sisa-sisa dari laskar Jipang, namun yang karena kekhilafan senapati muda di daerah ini, hampir saja ia terbunuh oleh Ki Tambak Wedi yang mencegatnya di perjalanan justru setelah mendekati Sangkal Putung. Untunglah Untara cukup cekatan, sehingga akhirnya ia selamat. Meskipun Ki Gede Pemanahan sendiri adalah lawan yang seimbang dengan Ki Tambak Wedi, namun saat itu Ki Tambak Wedi berhasil mengerahkan anak buahnya lebih banyak dari anak buahnya sendiri.

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Kini Sangkal Putung menjadi daerah yang semakin subur. Tidak ada lagi gangguan yang berarti sepeninggal sisa-sisa pasukan Jipang. Dengan demikian maka orang-orang Sangkal Putung dapat memusatkan kerjanya di sawah dan ladang. Jika matahari memanjat ujung pepohonan, terdengar hampir di setiap padesan suara pande besi menempa alat-alat pertanian. Lembu yang melenguh dan perempuan-perempuan menumbuk padi. Kadang-kadang di seling oleh suara anak-anak melengking minta air susu ibunya. Sedang di tepian, gembala meniup serulingnya menyusup suara desau angin ladang yang lembut.

“Daerah yang semakin segar,” desis Ki Gede Pemanahan.

“Apa, Ki Gede?” bertanya seorang pengawalnya.

“Sangkal Putung ini,” jawab Ki Gede, “sekarang menjadi daerah yang hijau segar. Nampaknya tidak ada lagi kekacauan yang sering terjadi seperti pada saat pasukan Jipang yang sudah terpecah belah berada di daerah ini. Pengaruh orang-orang yang dengan sengaja menutup daerah Mataram pun agaknya tidak begitu terasa di daerah Sangkal Putung ini.”

“Ya, Ki Gede,” sahut pengawalnya, “daerah ini merupakan daerah yang sudah teratur. Tetapi agaknya daerah ini tidak berkembang pesat di bidang pemerintahan.”

“Maksudmu?” bertanya Ki Gede Pemanahan. “Daerah ini adalah daerah Kademangan yang luas. Dengan demikian daerah ini sudah mempunyai bentuknya yang pasti, seperti Menoreh yang telah mendapat pelimpahan kekuasaan sebagai sebuah Tanah Perdikan. Meskipun berbeda bentuk wewenang dan kewajibannya, namun kedua-duanya sudah mempunyai bentuk yang pasti. Jadi bagaimana maksudmu dengan perkembangan pemerintahan?”

“Maksudku, bahwa bentuk kademangan itu tidak meningkat lagi menjadi bentuk yang lebih mantap.”

Ki Gede Pemanahan menggelengkan kepalanya, “Tidak. Kademangan adalah bentuk yang sudah mantap. Untuk menjadi Tanah Perdikan diperlukan syarat-syarat tertentu. Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan di Menoreh mempunyai jasa yang besar sehingga daerahnya pantas diangkat menjadi daerah Tanah Perdikan.”

“Bukankah Sangkal Putung merupakan benteng yang kuat menghadapi Tohpati saat kekuatan Jipang masih terkumpul di bawah pimpinan Macan Kepatihan itu?”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Memang dapat dipertimbangkan. Tetapi daerah ini belum tentu mendapatkan kedudukan yang lebih mantap sebagai Tanah Perdikan, karena Sangkal Putung tidak seluas Tanah Perdikan Menoreh.”

Pengawal Ki Gede itu pun kemudian terdiam. Namun ia mulai membayangkan, bentuk apakah kira-kira yang akan didapat oleh Tanah Mataram nanti jika Tanah itu sudah menjadi ramai. Apakah sekedar sebuah Kademangan atau Tanah Perdikan? Ki Gede Pemanahan pernah menjabat sebagai seorang Panglima yang diakui memiliki kelebihan dari senapati yang lain. Apakah pada saat ia berhasil membuka Alas Mentaok, ia hanya akan mendapatkan kedudukan sebagai seorang Demang? Dan untuk waktu yang jauh sekali, sejauh yang pernah dialami Sangkal Putung, Mataram hanya tetap sebuah Kademangan?

Meskipun hal itu tidak dikatakan, tetapi rasa-rasanya Ki Gede Pemanahan dapat mengerti. Maka katanya, “Bagi Mataram, bentuk tidak penting. Wewenang dan kekuasaan pun akan menyusul dengan sendirinya apabila Mataram berhasil menyusun dirinya. Sultan Hadiwijaya adalah orang yang baik. Dan aku harus bersujud di hadapannya karena kebaikan hatinya.”

Kedua pengwalnya tidak menyahut. Mereka mengerti bahwa Ki Gede sedang dihimpit oleh perasaan yang aneh. Sesudah ia merasa bersalah, khawatir, cemas, dan bayangan yang kelam bahwa ia akan mendapatkan hukuman karena Sutawijaya telah melakukan pelanggaran yang berat, namun tiba-tiba yang terjadi bukan apa-apa. Sultan Hadiwijaya tidak menghukumnya, tidak marah dan bahkan merestui hubungan antara Raden Sutawijaya dengan gadis Kalinyamat itu.

Ternyata Ki Gede Pemanahan telah terlempar kembali ke dalam kediamannya. Matanya kembali menatap ke kejauhan.

Sementara itu, orang-orang Sangkal Putung yang sedang bekerja di sawah sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka memang sering melihat beberapa orang berkuda lewat. Tetapi kali ini yang lewat adalah Ki Gede Pemanahan. Namun orang-orang Sangkal Putung tidak menyangkanya, karena Ki Gede Pemanahan sama sekali tidak mengenakan tanda-tanda kebesarannya. Ia mengenakan pakaian seorang petani. Dan sebagai orang kebanyakan maka ia sama sekali tidak menimbulkan kesan apa pun bagi mereka yang melihatnya, bahkan berpapasan sekalipun.

Demikianlah maka Ki Gede Pemanahan menjadi semakin dekat dengan Kali Opak. Setelah Sangkal Putung ditinggalkannya, maka untuk beberapa saat lamanya Ki Gede menyusuri hutan yang tidak begitu lebat. Tetapi hutan itu adalah hutan yang sudah terlampau sering dilalui, sehingga seakan-akan hutan itu adalah hutan tamasya saja. Binatang-binatang yang masih ada justru menjauhi jalan yang membelah tengah-tengah hutan itu.

Tetapi hutan itu ternyata tidak begitu luas, sehingga beberapa saat kemudian Ki Gede telah berada di bulak persawahan lagi. Namun dengan demikian terasa panas matahari seakan-akan menyengat kulit punggung meskipun dilambari oleh selembar baju yang tebal.

Matahari yang melayang di langit yang biru bersih. Seperti Sangkal Putung, maka Prambanan pun memiliki tanah yang subur. Bendungan yang menyekat kali, kemudian mengangkat air naik ke tanah persawahan di sebelah timur Kali Opak.

Dari kejauhan Ki Gede Pemanahan memandang ujung candi yang bagaikan bercahaya ditimpa teriknya matahari.

“Candi yang manis,” berkata Ki Gede di dalam hatinya, “candi yang bagi rakyat di sekitarnya merupakan lambang keagungan cinta yang dapat melahirkan sebuah karya yang mengagumkan.”

Dengan tatapan mata yang memancarkan kekaguman Ki Gede memandang candi yang semakin lama menjadi semakin dekat. Candi yang terletak tidak terlampau jauh dari Kali Opak. Namun Ki Gede Pemanahan tidak menyangka sama sekali, bahwa sebentar lagi, jika ia lewat di depan candi itu dan menuruni tebing yang landai dari sebuah sungai yang lebar, ia akan berhadapan dengan bahaya yang akan memungut nyawanya.

Namun tiba-tiba saja Ki Gede terkejut ketika kudanya tiba-tiba saja menjadi sendat. Bahkan kemudian seakan-akan tidak mau maju lagi. Beberapa kali kudanya melingkar-lingkar bahkan, kemudian meringkik.

Kedua pengawalnya pun menjadi heran. Kuda itu adalah kuda yang sangat baik. Kuda tunggangan Ki Gede Pemanahan sejak ia berada di Pajang.

“Kenapa dengan kuda ini?” bertanya Ki Gede Pemanahan sambil menepuk leher kudanya supaya kuda itu menjadi tenang.

Kedua pengawalnya pun kemudian berhenti beberapa langkah daripadanya sambil memperhatikan kuda yang menjadi gelisah itu.

 

 

“Aneh,” desis yang seorang.

“Tentu firasatnya mengatakan sesuatu,” sahut yang lain.

Ki Gede Pemanahan sendiri masih menepuk beberapa kali leher kudanya sambil bedesis perlahan-lahan. Kemudian diusapnya dahi kuda itu dengan lembut sehingga akhirnya kudanya menjadi tenang. Tetapi rasa-rasanya kuda itu tidak mau lagi melangkah maju.

“Aku jadi heran,” berkata Ki Gede Pemanahan, “sebentar lagi kita akan menyeberang sungai Opak. Kenapa kuda ini tidak mau berjalan lagi? Apakah Kali Opak sedang banjir?”

“Aku kira tidak, Ki Gede. Langit cerah. Demikian juga di sebelah utara. Agaknya di kaki Gunung Merapi itu pun tidak turun hujan.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Tentu bukan karena telinganya sudah mendengar deru air banjir. Tetapi kenapa?”

“Mungkin sekedar sentuhan kecil. Karena itu biarlah kuda itu menjadi tenang sesaat.”

Ki Gede mengangguk. Ia pun kemudian turun dari kudanya dan membiarkan kudanya merenungi jalan yang akan dilaluinya. Sekali-sekali kuda itu menengadahkan kepalanya dan penciumannya seakan-akan menyentuh sesuatu yang membuatnya gelisah.

“Jika ada binatang buas, tentu kuda-kuda yang mana pun menjadi gelisah pula,” berkata seorang pengawalnya.

“Memang mungkin seekor binatang buas yang sedang minum di Kali Opak,” jawab yang lain.

Ki Gede menganggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin sekali. Sebentar lagi binatang buas itu akan pergi.”

Kedua pengawal Ki Gede yang sudah turun pula, mengikat kuda masing-masing pada sebarang pohon perdu. Keduanya pun kemudian ikut mengusap kuda Ki Gede Pemanahan yang gelisah. Seakan-akan keduanya ingin meyakinkan kepada kuda itu, bahwa tidak ada apa-apa di perjalanan. Seandainya ada binatang buas pun kuda itu tidak perlu cemas.

Agaknya kuda itu pun mengerti. Perlahan-lahan kuda itu menjadi tenang, sehingga dengan demikian maka Ki Gede Pemanahan pun siap melanjutkan perjalanannya.

“Kau dapat minum sampai kenyang nanti di Kali Opak,” berkata pengawal Ki Gede sambil mengusap leher kuda yang gelisah itu.

Sejenak kemudian kuda itu melanjutkan perjalanannya meskipun nampaknya masih ada keragu-raguan. Apalagi ketika mereka muncul di sebuah bulak di sebelah Timur Kali Opak.

“Apakah kau takut melihat candi yang menjulang sampai ke langit itu,” desis Ki Gede Pemanahan seolah-olah berbisik di telinga kudanya.

Tetapi rasa-rasanya kuda itu masih tetap gelisah meskipun perlahan-lahan ia maju terus. Sedang Ki Gede Pemanahan pun tidak mau memaksa kudanya lari lebih cepat.

Dalam pada itu kedua pengawal Ki Gede Pemanahan pun rasa-rasanya menjadi gelisah pula. Seekor kuda adalah binatang yang memiliki firasat yang tajam. Karena itu, tanpa sesadarnya keduanya telah menggeser keris di punggungnya, dan meraba hulu pedangnya. Sekilas mereka memandang Ki Gede yang ada di depannya. Ternyata Ki Gede Pemanahan tidak membawa senjata lain kecuali keris di punggungnya.

Namun demikian mereka berjalan terus. Hanya kadang-kadang mereka harus berhenti sejenak, jika kuda Ki Gede Mataram nampaknya menjadi semakin gelisah. Jika kuda itu menjadi agak tenang, maka mereka pun melanjutkan perjalanannya pula.

Tetapi ternyata bahwa kuda-kuda yang lain pun mulai menjadi gelisah pula, sehingga meskipun kedua pengawal Ki Gede itu tidak mengatakan sesuatu, namun mereka hampir memastikan di dalam hati, bahwa sesuatu akan terjadi.

Sebenarnyalah bahwa saat ketiga orang itu mendekati Kali Opak, maka orang-orang yang harus mengawasinya telah lebih dahulu melihat tiga orang berkuda mendekat. Karena itu maka mereka pun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya yang menunggu di tepi sungai.

“Mereka sudah datang,” desis Dandun.

Ketiga adiknya pun segera bersiap. Mereka sadar sepenuhnya bahwa melawan Ki Gede Pemanahan, adalah suatu perjuangan yang berat. Tetapi mereka berempat di dalam satu kelompok perkelahian merupakan suatu kekuatan yang tidak ada taranya.

Dandun pun kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk bersiap pula. Katanya, “Biarlah dua orang kita berada di belakang ketiga orang itu. Mereka harus dibiarkan melintas, tetapi kedua orang kita itu harus menutup jalan agar Ki Gede dan pengawalnya tidak berbalik dan melarikan diri. Mereka harus masuk ke dalam jebakan dan kita akan mencincang mereka sampai lumat. Mayat mereka kita lemparkan saja ke Kali Opak. Tetapi ingat, keris Ki Gede harus diambil sebagai bukti bahwa kita sudah berhasil.”

Pesan Dandun cukup gamblang. Karena itu maka orang-orangnya pun segera menebar.

“Kita berempat harus menyelesaikan Ki Gede Pemanahan lebih dahulu,” berkata Dandun, “biarlah orang-orang kita yang berjumlah sepuluh orang itu mengurusi kedua pengawalnya. Jika Ki Gede Pemanahan sudah terbunuh, maka ke dua orang itu bagaikan tikus saja di sarang kucing-kucing liar.”

Adik-adiknya tertawa. Namun wajah-wajah mereka pun kemudian menjadi tegang, ketika dari kejauhan mereka melihat tiga orang berkuda datang mendekat.

“Itulah mereka,” desis Dandun.

Demikianlah mereka yang mencegat perjalanan Ki Gede itu pun segera bersembunyi di balik batu-batu padas dan gerumbul-gerumbul liar di tepi Kali Opak. Mereka telah menyiapkan senjata mereka masing-masing. Setiap saat mereka dapat segera menyergap ketiga orang yang sesaat kemudian akan melintasi Kali Opak.

Tetapi rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi melihat ketiga ekor kuda yang tidak berlari cukup cepat. Bahkan kadang-kadang kuda Ki Gede justru berhenti dan meringkik. Baru kemudian kuda itu perlahan-lahan maju lagi beberapa langkah.

“Kuda itu malas sekali,” desis Dandun yang juga tidak sabar menunggu.

“Kita meloncat naik dan mengepungnya,” sahut adiknya.

“Masih terlampau jauh. Jika mereka terkejut, mereka dapat melarikan diri.”

“Kita harus bersabar sedikit,” desis yang lain.

Tetapi ketiga orang itu tidak segera maju mendekat. Bahkan seakan-akan mereka sengaja berhenti dan mengamati keadaan dengan saksama,

“Bagaimana?” bertanya salah seorang dari keempat bersaudara itu.

“Kita tunggu sebentar,” jawab Dandun, “jika mereka masih saja menunggu, kitalah yang menyergap naik ke atas tebing, kemudian kita dorong mereka turun, supaya tidak banyak orang yang dapat menyaksikan perkelahian ini dari jauh.”

“Aku sependapat,” adiknya yang bungsu bergumam. Dengan demikian, maka dengan gelisah dan menahan nafas orang-orang itu menunggu Ki Gede Pemanahan menjadi semakin dekat. Namun agaknya kesabaran mereka pun sudah sampai pada batasnya.

“Kuda-kuda itu agaknya menjadi gila,” berkata Dandun.

Sebenarnyalah bahwa Ki Gede Pemanahan sendiri tidak berusaha lagi untuk maju lagi. Firasatnya sebagai seorang prajurit yang mumpuni seakan-akan memberinya peringatan, bahwa di hadapannya sedang menunggu bahaya yang dapat merenggut nyawanya. Sehingga karena itu, maka Ki Gede itu pun justru mengekang kudanya dan berhenti sejenak.

“Apakah Ki Gede melihat sesuatu?” bertanya salah seorang pengawalnya.

“Jalan ini terlampau lengang,” jawab Ki Gede.

“Jalan ini memang jarang sekali dilalui orang,” sahut yang seorang.

“Ya. Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu.”

“Benar, Ki Gede. Hatiku menjadi berdebar-debar.”

“Baiklah kita berhenti sejenak,” berkata Ki Gede Pemanahan, “mungkin kita sudah dibebani prasangka buruk. Mungkin kita dipengaruhi oleh sikap beberapa orang Pajang yang tidak menyenangkan. Tetapi mungkin pula perasaanku sedang dikacaukan oleh sikap Kanjeng Sultan yang sama sekali berbeda dengan gambaran-gambaran yang tersusun di angan-angan sejak aku berangkat dari Mataram. Tetapi yang terjadi adalah berbeda sekali, bahkan berlawanan. Kejutan itulah agaknya yang membuat aku kadang-kadang menjadi bingung seperti sekarang ini.”

Kedua pengawalnya tidak menyahut. Tetapi rasa-rasanya memang ada sesuatu. Bahkan salah seorang dari keduanya tiba-tiba berdesis, “Ki Gede, agaknya aku memang melihat sesuatu bergerak di kejauhan, di balik sebuah batu yang besar.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia pun telah melihat sesuatu bergerak seperti yang dilihat oleh pengawalnya. Namun ia masih mencoba meyakinkan, apakah yang telah dilihatnya itu.

Karena pengawalnya telah menyebutnya lebih dahulu, maka Ki Gede pun kemudian berkata, “Memang ada sesuatu yang bergerak di tepian. Tetapi banyak sekali kemungkinan yang dapat kita sebut. Mungkin seorang petani yang membersihkan alat-alatnya atau mungkin seorang yang lewat di jalan ini sedang beristirahat.”

“Memang, Ki Gede,” sahut pengawal-pengawalnya, “ada bermacam-macam kemungkinan. Namun agaknya aku mencurigainya.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk. Katanya, “Berhati-hatilah. Firasat seorang prajurit kadang-kadang tidak akan terlampau jauh dari kebenaran jika akan menjumpai bahaya.”

Kedua pengawalnya menjadi semakin berdebar-debar. Dengan demikian keduanya hampir tidak berkedip memandang ke tepian di hadapan mereka.

Tetapi Ki Gede Pemanahan dan kedua pengawalnya tidak segera maju lagi. Di dalam keadaan yang mendebarkan itu, barulah Ki Gede menyadari ketergesa-gesaannya. Ia sama sekali tidak mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang dapat membahayakan jiwanya.

Kini ia baru menyadari bahwa di Pajang, terdapat banyak sekali orang yang tidak senang kepadanya. Yang iri, yang dengki dan yang mempunyai kepentingan-kepentingan lain. Dan kini firasatnya mengatakan kepadanya, bahwa di hadapannya memang ada bahaya yang sedang mengancam.

Sekilas Ki Gede terkenang akan sikap Sultan Pajang. Sepercik kecurigaan melonjak di hatinya.

“Apakah Sultan Pajang hanya berpura-pura, namun kemudian memerintahkan sekelompok Senapati terpilih untuk mencegat aku di tepian Kali Opak?” ia bertanya kepada diri sendiri. Namun kemudian dijawabnya, “Tentu tidak. Aku merasakan sikap Sultan yang ikhlas itu.”

Akhirnya Ki Gede Pemanahan pun jemu menunggu. Ketika kecurigaannya justru semakin tajam, ia berkata kepada kedua pengawalnya, “Kita tidak dapat berhenti di sini sampai sore. Apa pun yang akan kita hadapi kita akan maju.”

“Ki Gede,” berkata seorang pengawalnya, “mungkin aku memang sudah menjadi seorang pengecut. Tetapi sebaiknya Ki Gede tetap berada di sini. Biarlah aku berdua melihat, apakah yang ada di balik bebatuan dan gerumbul-gerumbul di tepian. Jika yang kami jumpai ternyata berbahaya bagi Ki Gede, sebaiknya Ki Gede menghindar. Bukan maksudku untuk memperkecil arti Ki Gede Pemanahan di dalam medan, justru kami tahu bahwa Ki Gede adalah seorang panglima perang. Tetapi adalah tidak seimbang bahwa Ki Gede harus melayani pengecut-pengecut itu.”

Ki Gedu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum pahit. Katanya, “Jika aku berhadapan dengan pengecut, bukan berarti aku sendiri harus menjadi pengecut.”

Kedua pengawalnya tahu benar, bahwa jawaban itu adalah sikap Ki Gede Pemanahan. Karena itu, maka keduanya tidak akan berani mengusulkan apa pun lagi.

“Marilah kita maju,” desis Ki Gede.

Namun sebelum mereka menggerakkan kendali kudanya, mereka terkejut mendengar derap kaki kuda yang semakin lama menjadi semakin dekat.

“Berhati-hatilah,” berkata Ki Gede, “mungkin kita memang sudah terkepung.”

Kedua pengawalnya segera bergeser. Karena Ki Gede Pemanahan kemudian memutar kudanya menghadap arah suara derap kaki kuda yang seolah-olah menyusulnya, maka kedua pengawalnya tetap memandang ke arah tepian. Karena di sana pun terdapat bahaya yang dapat menyergap dengan tiba-tiba. Hanya sekali-sekali saja mereka berpaling. Sekilas mereka melihat beberapa ekor kuda mendekatinya.

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya melihat seorang anak muda yang berpacu di paling depan. Sekali-sekali ia melihat anak muda itu melambaikan tangannya, memberikan isyarat. Tetapi Ki Gede tidak tahu pasti, apakah arti isyarat itu.

“He,” tiba-tiba Ki Gede berdesis, “kau kenal anak muda di paling depan itu?”

Kedua pengawalnya serentak berpaling. Mereka melihat lima ekor kuda. Dan yang paling depan berpakaian sebagai seorang Senapati Pajang.

“Untara,” desis Ki Gede Pemanahan, “bukankah ia Untara?”

“Ya, Ki Gede,” sahut kedua pengawalnya hampir berbareng.

Ki Gede yang sedang termangu-mangu itu menjadi semakin termangu-mangu. Sebelum ia jelas siapakah yang menunggunya di tepian Kali Opak, kini dilihatnya Untara berpacu menyusulnya dikawal oleh empat orang prajuritnya.

“Berhentilah, Ki Gede,” Untara itu berteriak di kejauhan.

Ki Gede tiba-tiba menjadi curiga. Kenapa Untara berteriak menghentikannya. Apakah memang sudah diatur, bahwa Untara akan menyergapnya, sedang di tepian beberapa orang lain sudah menunggunya.

Tetapi Untara sama sekali tidak menyentuh senjatanya. Bahkan ia masih saja mengangkat tangan kanannya, sedang tangan kirinya memegang kendali kudanya.

Beberapa langkah daripadanya Untara itu pun menarik kekang kudanya, sehingga kudanya itu pun menghentikan derap kakinya. Segumpal debu meloncat ke udara dan hanyut didorong angin yang lembut.

“Hampir saja aku terlambat,” berkata Untara tiba-tiba.

Ki Gede mengerutkan keningnya, dan sebelum ia berkata sesuatu Untara mendahuluinya, “Jangan meneruskan perjalanan, Ki Gede.”

Ki Gede menjadi heran. Kenapa Untara menghentikan perjalanannya.

Kedua pengawalnya pun menjadi tegang. Kecurigaan mereka menjadi semakin tajam. Tetapi jika mereka menatap wajah Untara, terasa ada kesan yang lain pada wajah itu.

“Ki Gede,” berkata Untara kemudian, “aku akan mempersilahkan Ki Gede kembali. Maksudku, bukan kembali ke Pajang, tetapi menunda perjalanan kembali ke Mataram barang sehari.”

“Apa maksudmu, Untara. Aku sudah tidak mempunyai keperluan lagi. Aku tergesa-gesa kembali ke Mataram dan menyampaikan hasil kepergianku ke Pajang kepada Sutawijaya.”

“Ki Gede. Kapan pun Ki Gede akan kembali ke Mataram, aku tidak akan mencegahnya. Tetapi tidak sekarang. Dan sekarang aku ingin mempersilahkan Ki Gede kembali sejenak. Sampai saatnya kami dapat mengantarkan Ki Gede sampai ke batas Tanah Mataram.”

Ki Gede mengusap keningnya. Katanya, “Aku menjadi bingung, Untara. Katakanlah, apakah maksudmu yang sebenarnya.”

Untara mencoba menenangkan pernafasannya. Tetapi sejenak kemudian ia berdesis, “Terlambat. Kita harus terlibat dalam perkelahian.”

Ki Gede berpaling ke tepian. Sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian ia bertanya, “Apakah yang akan terjadi, Untara?”

Untara memberi isyarat kepada pengawal-pengawalnya. Mereka pun segera bergeser sebelah-menyebelah.

“Ki Gede,” desis Untara, “aku mendapat perintah dari Kanjeng Sultan Pajang. Petugas sandi Pajang menangkap keterangan bahwa beberapa orang telah menghadang perjalanan Ki Gede di sekitar Kali Opak. Petugas sandi yang berhasil menyadap pembicaraan beberapa orang yang memang dengan sengaja ingin menjebak Ki Gede mengatakan bahwa kekuatan mereka yang disediakan untuk menyingkirkan Ki Gede adalah tidak tanggung-tanggung.

“Lalu apa maksudmu, Untara?”

“Aku mendapat perintah untuk menyelamatkan Ki Gede,” jawab Untara. “Bukan maksudku mengatakan bahwa aku memiliki kelebihan dari Ki Gede, tetapi aku adalah senapati yang bertanggung jawab di daerah ini dan aku mempunyai pengawal yang cukup. Karena itu, untuk menghindari kesan yang jelek terhadap Pajang, seakan-akan Pajang-lah yang telah menjebak Ki Gede, maka aku harus mencegat perjalanan Ki Gede. Tetapi agaknya aku terlambat. Aku mendapat keterangan dari beberapa orang yang bekerja di sawah, bahwa tiga orang berkuda telah lewat. Karena itu aku segera menyusul dengan pengawal yang ada. Aku memang memerintahkan seorang pengawalku untuk menyiapkan prajurit yang berada di daerah Prambanan yang dapat dihimpun untuk menyusul perjalananku sekarang ini, karena kita akan menghadapi kekuatan yang cukup besar.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Sekarang ia mengerti, siapakah yang bergerak-gerak di tepian. Di balik batu-batu besar dan gerumbul-gerumbul liar.

“Kapan kau mendapat keterangan itu, Untara?” bertanya Ki Gede.

“Baru pagi ini,” jawab Untara. “Demikian aku menerima perintah itu aku pun segara berangkat dengan tergesa-gesa. Tetapi aku terlambat. Dan aku berusaha menyusul Ki Gede. Agaknya Ki Gede tidak berpacu terlampau cepat, sehingga aku dapat bertemu Ki Gede di sini.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi siapakah yang telah berusaha menjebak aku?”

“Kami tidak mendapat keterangan itu. Tetapi petugas sandi berhasil mendengar atau mencuri keterangan tentang hal itu. Siapa pun yang telah memerintahkan penyergapan itu, namun Sultan menjadi sangat marah karenanya dan memerintahkan untuk mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan Ki Gede.”

Ki Gede masih mengangguk-angguk. Tetapi berbagai macam persoalan berdesakan di dalam dadanya. Memang ada sepercik kecurigaan. Tetapi kemudian goresan-goresan yang dalam di dinding jantungnya justru karena sikap Kanjeng Sultan yang sangat baik, dan bahkan telah memerintahkan untuk menyelamatkan nyawanya.

Dalam pada itu, Dandun dan adik-adiknya benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Apalagi karena mereka mendapat laporan bahwa lima orang prajurit telah datang untuk menahan Ki Gede Pemanahan.

“Gila,” teriak Dandun, “semakin lama prajurit-prajurit itu akan menjadi semakin banyak. Karena itu, kita selesaikan saja mereka sekarang. Yang terpenting adalah membinasakan Ki Gede Pemanahan itu dahulu.”

“Bagus,” desis adiknya, “kita tidak dapat menunggu lagi.”

Dandun pun kemudian menarik senjatanya sambil menggeram, “Kita bertiga menyelesaikan Ki Gede. Yang seorang, dari kita membayangi pemimpin prajurit itu, sedang yang lain harus membinasakan semua pengawal yang berjumlah enam orang itu.”

“Baik, Kakang”, jawab adiknya yang tertua, “aku akan membinasakan senapati itu.”

Demikianlah, maka mereka tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka sadar bahwa prajurit-prajurit itu akan bertambah-tambah. Karena itu tugas mereka harus segera selesai sebelum mereka akan melarikan diri.

Karena itulah maka sejenak kemudian terdengar Untara berdesis, “Ki Gede, agaknya mereka sudah akan mulai.”

Ki Gede tidak sempat menjawab. Beberapa orang berloncatan dari balik gerumbul-gerumbul dan melingkari kelompok kecil yang memang sudah menyiapkan diri untuk melawan itu.

Ki Gede menyadari, bahwa orang-orang yang telah dikirim untuk mencegat perjalanannya itu tentu bukan orang-orang kebanyakan. Karena itulah maka ia pun segera menyiapkan dirinya sebaik-baiknya.

Sejenak Ki Gede memandang orang-orang yang berlari-larian melingkarinya. Dan di antara mereka terdapat empat orang yang meyakinkan. Dan mereka agaknya adalah pemimpin dari kelompok yang kini telah mengepungnya.

Untara yang melihat kepungan yang dalam waktu yang singkat telah menjadi rapat itu mendekati Ki Gede Pemanahan sambil berkata, “Menurut keterangan yang aku terima, Ki Gede, keempat orang itu datang dari kaki Gunung Lawu. Mereka khusus datang untuk menyambut Ki Gede di Kali Opak ini.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimana mungkin kau menerima keterangan yang lengkap sekali tentang orang-orang itu?”

“Aku belum sempat menanyakannya kepada petugas sandi itu. Aku tergesa-gesa berangkat mencegat Ki Gede. Tetapi Ki Gede sudah lampau. Itulah sebabnya aku hanya membawa lima orang pengawal. Yang seorang dari mereka kini berhenti di Prambanan menghubungi pimpinan kelompok prajurit yang aku tempatkan di sana.

“Kenapa utusan dari Pajang itu tidak langsung menyusul aku? Jika ia harus pergi ke Jati Anom lebih dahulu, maka kau tentu akan terlambat.”

“Aku memiliki pasukan di daerah ini Ki Gede. Dan seperti yang aku katakan aku adalah senapati di daerah ini.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Dipandanginya saja empat orang yang berjalan selangkah demi selangkah mendekatinya.

Wajah Ki Gede Pemanahan menjadi tegang. Demikian juga wajah Untara. Pengawalnya telah menebar menghadap ke segenap arah. Sedang kedua pengawal Ki Gede Pemanahan pun telah merenggang.

“Kita harus melawan mereka sejauh-jauh dapat kita lakukan Ki Gede. Sementara prajurit-prajurit dari Prambanan akan segera datang.”

Ki Gede tidak menyahut.

Dalam pada itu, Dandun dan ketiga adiknya sudah menjadi semakin dekat. Dengan kepala tengadah maka empat bersaudara dari Gunung Lawu itu kemudian berhenti beberapa langkah di hadapan Ki Gede Pemanahan dan Untara.

Sekilas Ki Gede teringat pada saat ia dihentikan oleh sekelompok pasukan yang dipimpin oleh Ki Tambak Wedi. Seorang yang memiliki kemampuan luar biasa. Tetapi Ki Tambak Wedi tidak mempunyai pasangan seperti orang-orang ini. Bahkan sampai empat orang.

Sejenak Ki Gede memandang wajah Dandun yang keras sekeras batu-batu padas di tepian Kali Opak. Kemudian wajah ketiga adik-adiknya berganti-ganti. Wajah mereka memang mirip seperti kebanyakan kakak beradik. Dan agaknya sifat-sifatnya pun tidak jauh berbeda yang satu dengan yang lain.

Dandun, yang tertua di antara mereka pun kemudian maju selangkah. Dipandanginya Ki Gede Pemanahan dan Untara berganti-ganti. Lalu katanya, “Kenapa kalian tidak mau maju lagi sampai ke tepian? Di tepian kita mempunyai tempat yang cukup luas untuk berkelahi. Siapa yang terbunuh di dalam perkelahian itu, dengan mudahnya kita lemparkan saja ke dalam air. Apakah kalian tidak sependapat, sebaiknya kita bertempur di pinggir sungai saja?”

Ki Gede memandang Dandun sejenak, lalu, “Siapakah kau sebenarnya, Ki Sanak. Dan apakah kepentinganmu dengan aku?”

Dandun tertawa. Jawabnya, “Apakah ada perlunya Ki Gede Pemanahan mengetahui? Eh, bukankah kau yang bernama Ki Gede Pemanahan?”

“Benar, Ki Sanak. Akulah yang bernama Pemanahan. Kau tentu sudah mendapat banyak keterangan tentang aku, ujudku. Tubuhku dan tentu kau mendapat pesan bahwa aku menempuh perjalanan ini bersama kedua orang sahabatku.”

“Ya,” sahut Dandun, “dan kau pun tentu sudah dapat menduga apakah keperluanku. Karena itu, sebaiknya kau turun saja dari kudamu dan menundukkan kepalamu dalam-dalam. Aku akan memenggal kepalamu dengan penuh hormat.”

“Tutup mulutmu,” Untara-lah yang membentak. Dengan mata yang merah menyala Untara berkata lantang, “Kau jangan menghina. Kau harus sadar, dengan siapa kau berhadapan.”

Dandun mengerutkan keningnya, lalu, “Sebenarnya kau siapa, Anak Muda. Kau agaknya seorang senapati. Apakah kau akan melindungi Ki Gede Pemanahan atau sebaiknya akan membantu aku mempercepat tugas ini.”

“Aku tahu bahwa kau mendapat tugas dari seseorang yang kebetulan juga seorang prajurit, atau seorang Senapati Pajang. Kau menjual tenagamu untuk melakukan perbuatan terkutuk ini. Tetapi ketahuilah aku mengemban tugas dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya langsung untuk melindungi Ki Gede Pemanahan dan mencari keterangan tentang orang-orang yang telah mengupahmu.”

Dandun tertawa semakin keras. Katanya, “Senapati Muda, kau memang berani. Tetapi jangan menyesal, bahwa karena keterlibatanmu dalam persoalan ini, maka kau pun akan mati terbunuh di tangan kami.”

“Baiklah,” berkata Untara, “jika kau yakin akan dapat membunuh aku, lakukanlah. Tetapi aku pun yakin akan dapat menangkap kalian. Aku ingin kalian tetap hidup, supaya kalian dapat diperas untuk menitikkan keterangan, siapakah yang telah memberimu upah.”

Dandun tertawa terus. Namun tiba-tiba suara tertawanya menurun, lalu, “O, hampir saja aku terpancing. Jika kau sempat memperpanjang pembicaraan, maka mungkin sekali kau akan dapat bantuan dari kawan-kawanmu yang barangkali akan menyusul,” Dandun berhenti, lalu dilambaikannya tangannya sebagai isyarat bagi anak buahnya untuk segera mulai.

Orang-orang yang telah mengepung Ki Gede Pemanahan, Untara, dan para pengawalnya itu mulai bergerak. Perlahan-lahan mereka maju selangkah demi selangkah dengan senjata telanjang di tangan.

Melihat orang-orang yang mengepungnya mulai bergerak, maka Ki Gede dan Untara pun bersiap. Demikian juga para pengawalnya. Namun dalam pada itu, kadang-kadang jauh di dasar hatinya, Ki Gede masih juga bertanya, “Apakah yang terjadi ini bukan sekedar sebuah permainan? Dan Untara adalah salah seorang dari para pemain yang dapat melakukan peranannya dengan baik sekali?”

Tetapi Ki Gede mencoba mengusir, prasangka di hatinya itu. Ia mencoba mempercayai Untara dan dengan demikian Ki Gede akan bekerja dengan senapati itu sepenuhnya.

Sementara itu, bukan saja orang-orang yang mengepung itu telah bergerak maju. Tetapi Dandun dan adik-adiknya pun telah mendekat pula, langsung menghadapi Ki Gede Pemanahan dan Untara.

Ki Gede pun sadar, bahwa ia adalah arah utama dari orang-orang yang telah menunggunya di tepian Kali Opak itu. Karena itu, ia telah menyiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan. Sebagai seorang prajurit yang pernah memegang jabatan tertinggi di Pajang, maka Ki Gede pun tidak merasa gentar sama sekali. Apa pun yang akan terjadi, akan dihadapinya dengan tabah. Apalagi setelah ia tahu pasti, bahwa Sultan Hadiwijaya tidak marah dan tidak mendendam kepada Sutawijaya. Maka rasa-rasanya semua yang harus dihadapinya adalah tugas-tugas yang tidak seberat saat ia berangkat pergi ke Pajang.

Demikian pula agaknya dangan Untara. Meskipun ia sadar, bahwa jumlah orang-orangnya jauh lebih sedikit dari lawan-lawannya, apalagi di antara mereka terdapat empat bersaudara dari kaki Gunung Lawu, namun ia pun bertekad untuk menghadapi mereka dengan tatag. Meskipun demikian ada juga sedikit penyesalan padanya, bahwa ia tidak membawa pengawal yang cukup. Demikian tergesa-gesa dan bahwa ia tidak menyangka akan berhadapan langsung dengan orang-orang yang mencegat Ki Gede karena ia hanya sekedar akan menghentikan perjalanannya, maka ia tidak membawa pengawal lebih dari lima orang.

Untara sama sekali tidak menjadi gentar karena dirinya sendiri, tetapi ia lebih memikirkan nasib Ki Gede Pemanahan. Pesan Sultan Hadiwijaya jelas baginya, bahwa Ki Gede harus dihentikan sebelum sampai ke tepian Kali Opak, agar sikap Sultan Hadiwijaya tentang hubungan antara Sutawijaya dan puteri dari Kalinyamat itu tidak dianggap sekedar sebuah jebakan.

Tetapi kini ia sudah berada di depan hidung empat bersaudara dari Gunung Lawu, sehingga ia tidak akan dapat berbuat lain daripada bertempur, sambil menunggu kedatangan prajurit yang dapat dihimpun di Prambanan.

Dengan tegang Untara menunggu. Dandun dan adik-adiknya beserta orang-orangnya semakin lama menjadi semakin dekat. Sebentar lagi ia harus mulai mengayunkan senjatanya dan bertempur sekuat tenaganya.

Namun Untara itu terkejut. Bahkan bukan saja Untara, tetapi setiap orang yang ada di tempat itu, termasuk keempat orang bersaudara dari Gunung Lawu itu, ketika mereka melihat tiba-tiba saja Ki Gede Pemanahan menghentakkan tali kekang kudanya sehingga kuda itu bagaikan meloncat dengan garangnya ke depan.

Dan ternyata bahwa Ki Gede Pemanahan-lah yang telah memulainya lebih dahulu. Dengan dahsyatnya kudanya menerjang keempat orang bersaudara dari Gunung Lawu itu dengan keris yang terhunus.

Serangan yang tidak terduga itulah yang telah menggoncangkan setiap dada. Dandun dan adik-adiknya pun bagaikan kehilangan pegangan, apakah yang akan dilakukan.

Ternyata perhitungan Ki Gede Pemanahan itu dapat dilakukan dengan tepat meskipun tidak berhasil seperti yang diharapkan. Ternyata keempat orang dari kaki Gunung Lawu itu benar-benar bukan orang kebanyakan. Meskipun mereka terkejut bukan buatan, namun mereka masih sempat berbuat sesuatu. Mereka sempat berloncatan menghindari senjata Ki Gede Pemanahan.

Tetapi tidak semuanya dari keempat orang itu dapat membebaskan, dirinya. Ternyata keris Ki Gede masih berhasil menggores punggung salah seorang dari mereka. Adik Dandun yang paling kecil.

 

 

Ketika keris itu menyentuh kulitnya, terdengar ia mengaduh. Kemudian sebuah dorongan yang kuat telah melemparkannya sehingga ia jatuh berguling di tanah.

Meskipun dalam waktu sekejap ia berhasil meloncat berdiri namun kemudian, terasa punggungnya sangat pedih. Kekuatannya semakin lama bagaikan dihisap oleh luka di punggungnya itu.

Tetapi ia tetap bertahan. Dengan wajah yang tegang dan gigi gemeretak ia siap menghadapi kemungkinan berikutnya.

Agaknya kedua pengawal Ki Gede menyadari, bahwa pertempuran yang sebenarnya, sudah dimulai. Karena itu mereka pun tidak menunggu lebih lama lagi. Kuda mereka pun segera berderap menyerang orang-orang yang mengepungnya.

Dalam pada itu, selagi kuda Ki Gede Pemanahan sedang melingkar, Untara tidak membiarkan keempat orang itu berhasil mempersiapkan diri dan menyergap Ki Gede. Karena itu, maka ia pun segera mendera kudanya dan menyerang dengan pedangnya sambil berkata, “Ki Gede, sebaiknya Ki Gede meninggalkan pertempuran ini. Serahkan semuanya kepadaku, mumpung Ki Gede kini berada di luar lingkaran.”

Sesaat Dandun dan anak buahnya menjadi agak gugup. Mereka benar-benar tidak menyangka, bahwa justru Ki Gede Pemanahan dan Untara-lah yang telah mulai dengan garangnya dalam waktu yang sangat cepat.

Tetapi Dandun adalah orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Itulah sebabnya, maka dalam waktu dekat ia berhasil menguasai dirinya dan anak buahnya.

Namun dalam waktu yang dekat itu, para pengawal Ki Gede Pemanahan dan Untara, telah berhasil mengurangi jumlah lawan mereka meskipun hampir tidak berarti dalam pertempuran yang kemudian berlangsung.

Dalam pada itu, Ki Gede yang mendengar teriakan Untara mengerutkan dahinya. Ia adalah seorang prajurit, bahkan seorang yang pernah menjadi panglima perang Pajang yang disegani.

Karena itulah, maka peringatan Untara itu sama sekali tidak dihiraukannya. Ia tidak akan dapat begitu saja menyelamatkan dirinya, sedang orang lain berada dalam kesulitan. Sehingga dengan demikian Ki Gede Pemanahan sama sekali tidak menghindarkan diri. Meskipun usianya menjadi semakin tua, namun ia masih tetap seorang yang pilih tanding. Seorang yang tidak sekedar mementingkan dirinya sendiri. Apalagi dalam kesulitan selagi mereka bercanda dengan maut.

Dengan demikian, maka Ki Gede Pemanahan yang sudah berada di luar kepungan itu justru sudah siap menyerbu lawannya. Sejenak Ki Gede mempersiapkan diri dan memperhitungkan keadaan. Kemudian kudanya pun berderap dengan lajunya sementara beberapa orang lawannya sedang mempersiapkan dirinya melawan Untara.

Ki Gede yang memiliki pengalaman yang cukup, bahkan berlimpah itu melihat ujung-ujung senjata yang sudah siap menyambut Untara. Sebuah desir yang tajam telah menyentuh jantungnya. Meskipun Untara seorang senapati yang terpercaya, ternyata bahwa umurnya yang masih muda sangat mempengaruhi sikapnya di peperangan. Serangannya terhadap lawan-lawannya saat itu justru telah membahayakan dirinya. Namun Ki Gede pun menyadari bahwa Untara sengaja memancing perhatian lawan-lawannya agar mereka tidak terikat kepada Ki Gede Pemanahan saja.

“Tetapi perbuatan itu adalah perbuatan yang bodoh,” sekilas melintas di pikiran Ki Gede Pemanahan. “Ternyata Untara tidak menyadari, dengan siapa ia berhadapan.”

Itulah sebabnya Ki Gede tidak melepaskan saat yang sekejap. Pada saat Untara terperosok ke dalam bahaya di antara keempat bersaudara dari Kaki Gunung Lawu itu, Ki Pemanahan dengan garangnya telah menyerang mereka dengan kerisnya, sehingga dengan demikian, pemusatan serangan keempat orang itu menjadi pecah.

Namun keempat orang itu masih berhasil menghindari serangan yang menyambar mereka. Mereka sempat meloncat ke arah yang berlawanan sambil merendahkan diri.

Selagi kuda-kuda yang menyambar itu lewat, Dandun yang memiliki pengalaman terbanyak dibanding dengan adik-adiknya segera mengatur diri. Dengan lantang ia berkata kepada adiknya yang kedua, “Hadapi senapati dari Pajang itu, yang lain akan membantu aku membinasakan Ki Gede Pemanahan.”

Waktu yang singkat itu ternyata cukup bagi mereka untuk mempersiapkan diri. Keempatnya kemudian memisahkan diri sesuai dengan perintah yang telah diucapkan oleh Dandun.

Ki Gede Pemanahan yang mendengar perintah itu menjadi berdebar-debar. Bukan karena Ki Gede Pemanahan gentar menghadap tiga orang, sedang yang seorang sudah terluka, tetapi menilik tata gerak yang dilihatnya pada permulaan dari pertempuran itu, ia menganggap bahwa yang seorang itu pun akan menjadi sangat berbahaya bagi Untara. Apalagi jumlah pengawalnya masih belum sebanyak jumlah orang-orang yang mengepungnya.

Meskipun demikian. Ki Gede Pemanahan masih berpengharapan bahwa Untara akan dapat bertahan sampai orang-orangnya yang berada di Prambanan datang.

Demikianlah kemudian terjadi pertempuran yang sengit. Ki Gede Pemanahan yang masih berada di atas kudanya harus melawan tiga orang lawan, sedang Untara seorang diri melawan salah seorang dari keempat bersaudara dari Gunung Lawu itu.

Namun sejenak kemudian mulai nampak, bahwa orang lereng Gunung Lawu itu benar-benar mampu mendesak Untara. Sekali-sekali Untara harus menyingkirkan kudanya menjauhi lawannya yang dapat bergerak dengan cepat sekali.

Sementara itu, Ki Gede Pemanahan sendiri harus menghadapi tiga di antara mereka. Untunglah bahwa ia berhasil melukai yang seorang dari ketiganya, yang ternyata semakin lama menjadi semakin lemah, dan hampir tidak berdaya sama sekali.

Dengan lincahnya Ki Gede masih selalu berhasil menghindarkan dirinya dari serangan kedua lawannya, meskipun setiap kali ia harus selalu menjauhi mereka. Untunglah bahwa kuda Ki Gede Pemanahan itu rasa-rasanya mengerti setiap isyarat yang diberikan oleh Ki Gede, sehingga dalam pertempuran itu kudanya terasa sangat membantunya.

Tetapi dalam pada itu Ki Gede menjadi berdebar-debar melihat Untara. Ternyata, seorang pengikut orang-orang dari kaki Gunung Lawu itu telah mendekati lingkaran pertempuran dan langsung membantu melawan Untara, sehingga dengan demikian Untara segera terlibat dalam kesulitan.

Ki Gede Pemanahan adalah seorang prajurit. Itulah sebabnya maka ia tidak dapat sekedar mementingkan keselamatannya sendiri. Apalagi ia tahu bahwa kedatangan Untara ke tepi Kali Opak ttu adalah sekedar menyelamatkan jiwanya seperti yang diperintahkan oleh Sultan Hadiwijaya.

Dengan demikian, maka perhatian Ki Gede Pemanahan pun mulai terbagi.

Sebenarnya kedua lawan Ki Gede Pemanahan itu cukup berbahaya baginya. Sedang yang seorang dari mereka, yang telah terluka, sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi, selalu bertahan untuk keselamatannya sendiri.

Demikianlah, pertempuran itu pun semakin nampak, bahwa Ki Gede Pemanahan dan Untara beserta para pengawalnya tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Apalagi Untara sendri semakin lama semakin terdesak oleh lawannya.

Bahkan kemudian Untara benar-benar berada dalam kesulitan ketika kedua lawannya sempat memisahkan diri dan berada sebelah-menyebelah kuda Untara. Keduanya pun telah siap mengayunkan senjatanya menyerang dari dua arah.

Untara masih akan dapat menangkis serangan itu. Tetapi tidak kedua-duanya dalam saat yang bersamaan dan dari arah yang berseberangan.

Meskipun kudanya berderap terus, namun kedua ujung senjata yang teracu dalam waktu yang bersamaan itu benar-benar sangat berbahaya baginya.

Tidak ada jalan lain bagi Untara selain memanfaatkan kudanya. Karena itulah, maka ia menarik kendali kudanya dan menderanya ke arah salah seorang dari kedua lawannya.

Ternyata Untara berhasil mengusir salah seorang dari mereka. Tetapi orang itu hanya sekedar meloncat selangkah. Ketika Untara sempat menangkis serangan yang seorang lagi, maka orang itu, salah seorang dari keempat saudara dari kaki Gunung Lawu itu, dengan sigapnya meloncat maju dan mengayunkan senjatanya mengarah ke lambung Untara.

Untara sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengelak atau menangkis serangan itu, selagi kudanya sedang berderap. Seandainya ia memaksa menarik kekang kudanya ke samping, maka kuda itu akan melonjak atau bahkan akan berguling jatuh.

Karena itu, tidak ada jalan lain bagi Untara kecuali mencoba mengelakkan serangan itu dengan menjatuhkan dirinya dari kudanya. Tepat ketika senjata itu mematuk lambungnya, Untara terpaksa melepaskan kendali kudanya dan menjatuhkan diri ke sebelah lain dari kuda itu.

Untara berhasil membebaskan diri dari ujung senjata itu. Beberapa kali ia berguling, dan dengan lincahnya ia meloncat berdiri. Tetapi pada saat itu, salah seorang dari empat bersaudara itu telah siap menerkamnya sebelum ia sempat memperiapkan dirinya.

Ternyata lawan Untara itu adalah orang yang memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Pada saat terakhir agaknya Untara memang sudah tidak mempunyai kesempatan lagi. Ujung senjata lawannya rasa-rasanya sudah siap menembus dadanya, sehingga Senapati Pajang di bagian Selatan itu akan tidak lagi dapat melakukan tugasnya, bukan karena sepasukan prajurit yang telah melawan Pajang, tetapi justru oleh sekelompok penjahat dari kaki Gunung Lawu.

Ki Gede Pemanahan, yang sempat melihat hal itu darahnya bagaikan berhenti mengalir. Tidak ada cara apa pun yang akan dapat dilakukan oleh Untara untuk menyelamatkan dirinya. Untara hanya dapat mencoba menangkis serangan itu. Tetapi itu hanya merupakan perpanjangan sekejap bagi umurnya, karena pada serangan berikutnya Untara yang belum siap sama sekali itu akan segera terdorong oleh sebuah tusukan di dadanya.

Pada saat yang mendebarkan itulah, ternyata Ki Gede Pemanahan yang harus melawan dua dari keempat bersaudara itu, tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Tetapi jarak Ki Gede Pemanahan tidak terlampau dekat dari Untara. Jika ia mendera kudanya meloncat maju, ia akan tertambat.

Karena itu, Ki Gede Pemanahan tidak berpikir lebih panjang lagi. Ia hanya memikirkan kemungkinan untuk menyelamatkan Untara. Karena itu, maka dengan serta-merta Ki Gede Pemanahan telah melontarkan kerisnya ke arah orang yang sudah mulai bergerak menyerang Untara itu.

Serentak terdengar teriakan kedua bersaudara yang sedang menghadapi Ki Gede Pemanahan. Mereka mencoba memperingatkan saudaranya dari sambaran keris Ki Gede Pemanahan. Namun ternyata setiap usaha dari orang itu sudah terlambat. Dengan derasnya keris itu telah menyambar punggung orang yang sudah siap menerkam Untara dengan senjatanya itu.

Terdengar sebuah keluhan tertahan. Orang itu terhuyung-huyung sejenak. Kemudian ia pun jatuh terjerembab di hadapan Untara.

Namun pada saat itu, Untara-lah yang berteriak nyaring. Ia melihat sebuah serangan yang tiba-tiba sekali dan hampir di luar kemampuan penglihatan mata wadag.

Tetapi ternyata Untara pun terlambat. Ki Gede yang sedang memusatkan perhatiannya kepada keselamatan Untara, tidak begitu memperhatikan serangan yang menyambarnya dari salah seorang lawannya yang dibakar oleh dendam yang menyala di hatinya. Bukan saja karena ia mendapat upah untuk membunuh Ki Gede Pemanahan, tetapi Ki Gede ternyata telah membunuh seorang dari mereka dan melukai seorang yang lain.

Ki Gede Pemanahan menyadari keadaannya ketika senjata lawannya sudah hampir menyentuh kulitnya. Dengan sigapnya ia mencoba memiringkan tubuhnya. Tetapi senjata lawannya itu tetap berhasil melukainya di pundak.

Ki Gede Pemanahan berdesis menahan pedih yang menyengat. Ujung senjata orang-orang dari kaki Gunung Lawu itu bukannya ujung senjata kebanyakan. Terasa betapa panas dan pedihnya.

Dalam pada itu, di luar sadarnya oleh gerak naluriah Ki Gede menghentakkan kakinya di perut kudanya. Dan kudanya yang tanggap atas isyarat itulah yang telah menolongnya kemudian, karena pada saat itu yang seorang dari kedua bersaudara yang melawan Ki Gede bersama-sama itu telah siap menyerangnya pula. Namun kuda Ki Gede masih sempat meloncat dan dengan cepat meninggalkan arena.

Beberapa langkah kemudian barulah Ki Gede menyadari keadaannya dan berusaha menghentikan kudanya. Ketika ia berpaling dilihatnya ketegangan yang luar biasa. Yang ada di arena itu adalah Untara dan para pengawal. Sedang di pihak lawan, masih ada dua orang bersaudara dari Gunung Lawu yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Di dalam pertempuran yang dilakukan berpasangan, mereka memiliki kemampuan yang saling mengisi sehingga seakan-akan kekuatan mereka telah terjalin dan luluh menjadi suatu kekuatan yang mengagumkan. Itulah sebabnya, salah seorang dari mereka berhasil melukai Ki Gede Pemanahan di pundaknya.

Sejenak Ki Gede Pemanahan termangu-mangu. Ia kini sudah tidak bersenjata lagi. Pusakanya sudah terlepas dari tangannya.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Adalah pantang melepaskan pusaka. Tetapi ia tidak dapat membiarkan Untara mati di peperangan itu, justru pada saat senapati itu berusaha menyelamatkan jiwanya.

Ternyata Ki Gede Pemanahan masih tetap seorang prajurit. Meskipun darah sudah mengucur dari lukanya, namun ia tidak akan beranjak pergi. Ia tidak dapat membiarkan Untara dan para pengawalnya menjadi banten dan mati terkapar di tepi Kali Opak, karena Ki Gede yakin bahwa mereka tidak akan mampu melawan orang-orang dari Gunung Lawu itu.

Jika mereka dibiarkan saja bertempur, maka Untara dan para pengawal itu tentu akan tumpas.

Ki Gede Pemanahan merenung sejenak. Lukanya telah membuatnya sangat marah meskipun sebagai seorang yang sudah kenyang mengalami peristiwa yang dahsyat ia masih tetap dapat berpikir.

Tiba-tiba saja Ki Gede Pemanahan itu meloncat turun dari kudanya. Sejenak ia diam sambil menundukkan kepalanya. Kedua telapak tangannya digosok-gosokkannya yang satu dengan yang lain.

Dan sesaat kemudian, maka Ki Gede itu pun menengadahkan kepalanya. Sejenak ia berdiri mematung. Namun kemudian ia pun meloncat menggapai sebuah ranting pohon cangkring yang tumbuh di pinggir Kali Opak.

Ketika ranting yang besar itu berderak, maka orang yang masih sedang bertempur itu terkejut. Mereka melihat ranting itu patah.

Derak ranting yang patah itu bagaikan derak di setiap jantung. Ternyata dalam kemarahan yang memuncak, Ki Gede Pemanahan telah menunjukkan kekuatannya yang tersimpan di dalam dirinya. Kekuatan yang melampaui kekuatan orang kebanyakan sehingga ia mampu mematahkan ranting pohon cangkring yang cukup besar.

Dengan keheran-heranan orang-orang yang termangu-mangu itu melihat Ki Gede Pemanahan kemudian memotong kayu itu dengan tangannya pula, melemparkan ranting-ramting yang lebih kecil beserta daun-daunnya. Yang tinggal di tangannya kemudian adalah sepotong kayu cangkring dengan duri-durinya yang tajam meskipun hanya jarang-jarang. Namun tanpa duri-duri yang jarang itu pun kayu cangkring itu dapat memecahkan tulang kepala jika Ki Gede Pemanahan mengayunkannya sekuat tenaga, bukan sekedar tenaga jasmaniahnya sehari-hari.

Sejenak kemudian selangkah demi selangkah Ki Gede yang sudah terluka itu maju mendekati arena pertempuran.

Dandun, seorang adiknya dan seorang lagi yang telah terluka memandang Ki Gede dengan tanpa berkedip. Mereka adalah orang-orang yang pilih tanding. Namun melihat sikap dan tatapan mata Ki Gede Pemanahan, mereka menjadi berdebar-debar juga.

Namun demikian, Dandun dan adiknya berhasil menguasai perasaannya. Pengalamannya dalam petualangan yang bertahun-tahun membuat mereka berhasil mengendapkan keheranan mereka.

“Kita harus berhati-hati,” berkata Dandun, “tetapi Ki Gede tidak akan dapat melawan kita berdua. Yakinlah”

“Ya. Aku sudah dapat menimbang kemampuannya. Tidak terlampau jauh dari kau. Dengan demikian bersama aku, kita tentu akan menang.”

“Kita biarkan saja senapati itu untuk sementara. Biarlah orang-orang lain yang menyelesaikannya, atau setidak-tidaknya menahannya.”

Sejenak kemudian kedua bersaudara dari Gunung Lawu itu pun segera mempersiapkan diri. Seorang lagi dari mereka yang telah terluka, sama sekali sudah tidak berani lagi mendekati Ki Gede Pemanahan yang meskipun sudah terluka pula.

“Aku terpaksa melakukannya,” geram Ki Gede Pemanahan, “kalian telah mendahului, menitikkan darah dari tubuhku.”

Kata-kata itu tidak terlampau keras. Tetapi rasa-rasanya bahwa ancaman itu benar-benar akan terjadi.

Sejenak kemudian kedua bersaudara itu pun segera memencar. Keduanya ternyata telah matang pula dalam ilmunya. Itulah sebabnya, maka Ki Gede Pemanahan masih harus tetap berhati-hati. Dengan mempergunakan sebatang kayu cangkring yang besar Ki Gede Pemanahan menghadapi lawan-lawannya.

Sementara itu Untara sudah mulai sibuk lagi melawan orang-orang dari Gunung Lawu, sementara para pengawalnya pun telah bertempur dengan gigihnya pula.

Namun dalam pada itu, luka di pundak Ki Gede Pemanahan pun terasa pula pengaruhnya. Semakin banyak ia mengerahkan tenaganya, maka rasa-rasanya darahnya menjadi semakin banyak mengalir.

Tetapi Ki Gede sama sekali tidak menghiraukannya. Meskipun ia menyadari bahwa kedua lawannya itu adalah orang-orang yang memiliki kelebihan, namun ia harus melawannya.

Untara yang sudah kehilangan lawan tangguhnya, kini menjadi agak bebas bergerak. Meskipun demikian orang-orang dari Gunung Lawu yang lain telah melawannya dalam kelompok kecil yang kadang-kadang sangat membingungkannya. Sedang pengawal Untara yang hanya empat orang dan dua orang pengawal Ki Gede Pemanahan itu telah berkurang dengan seorang yang mengalami luka parah dan seorang lagi luka meskipun ringan.

Untara terkejut ketika ia mendengar sebuah jerit melengking. Agaknya Dandun telah mulai menyerang Ki Gede untuk menghadapi kayu cangkring dan agaknya dilambari dengan segenap ilmu yang ada pada Ki Gede Pemanahan, maka Dandun dan seorang adiknya itu pun sampai pada puncak ilmunya pula.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Ki Gede yang terluka itu masih mampu bertempur dengan garangnya. Bahkan rasa-rasanya Ki Gede telah berubah sama sekali. Ia bukan lagi seorang laki-laki yang sareh, tenang dan sabar. Tetapi ia adalah seekor banteng yang sudah terluka menghadapi lawan-lawannya dengan ilmunya yang dahsyat yang dipelajarinya temurun dari perguruan Sela.

Tetapi sebenarnyalah cukup berat bagi Ki Gede menghadapi kedua orang dari kaki Gunung Lawu itu. Keduanya ternyata mampu bergerak dengan cepat dibarengi dengan teriakan-teriakan yang melengking-lengking yang sengaja mereka lontarkan untuk membingungkan pemusatan perlawanan Ki Gede Pemanahan.

Sebenarnyalah bahwa perlawanan Ki Gede Pemanahan, Untara, dan anak buahnya masih terasa sangat berat meskipun dua orang dari keempat bersaudara dari kaki Gunung Lawu sudah dapat dilumpuhkan. Tetapi ternyata bahwa jumlah para pengawal Untara dan Ki Gede pun telah berkurang pula. Apalagi Untara yang mengerahkan segenap kemampuannya, seolah-olah telah melepaskan semua nafasnya sehingga nafasnya itu pun mulai mengalir semakin cepat, sedang darah di pundak Ki Gede Pemanahan pun menitik semakin deras pula.

Dalam puncak kesulitan itulah, Ki Gede Pemanahan melihat tiga orang muncul dari arah Kali Opak. Dengan ragu-ragu ketiga orang itu memperhatikan perkelahian itu dengan saksama.

Sejenak ketiganya termangu-mangu. Mereka maju beberapa langkah lagi untuk meyakinkan penglihatan mereka.

 

 

Ternyata bukan saja Ki Gede Pemanahan yang telah melihat mereka. Tetapi Dandun, adiknya, dan Untara pun telah melihat tiga orang dalam pakaian petani biasa sedang menonton perkelahian yang semakin dahsyat itu.

Semula mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Tetapi lambat laun kehadiran mereka itu memang sangat menarik perhatian.

Ketiga orang petani yang melihat pertempuran itu sama sekali tidak menjadi ketakutan atau menghindar. Mereka justru semakin lama merayap semakin dekat. Dan bahkan akhirnya agaknya setelah mereka yakin akan penglihatannya, segera berlari-lari mendekat.

Dandun menjadi heran melihat ketiganya. Seperti juga Ki Gede Pemanahan dan Untara berpendapat, bahwa mereka tentu bukan petani dari Prambanan yang pulang dari sawah dan mencuci badan mereka di Kali Opak.

Setelah ketiga orang itu menjadi semakin dekat, maka Ki Gede menjadi berdebar-debar karenanya. Apalagi ketika salah seorang dari mereka segera berteriak, “Ayahanda.”

Salah seorang dari mereka adalah seorang anak muda yang meskipun memakai pakaian petani yang kumal, namun segera dikenal sebagai pemimpin tertinggi di Mataram setelah Ki Gede Pemanahan.

Anak muda itu, Sutawijaya, segera berlari-lari mendekati arena pertempuran. Dengan isyarat ia memerintahkan seorang anak buahnya memanggil kawan-kawannya.

Terdengarlah sebuah suitan nyaring. Suitan itu ternyata telah disahut oleh suara yang lain. Meskipun lamat-lamat namun masih juga terdengar sambutan yang lain lagi.

Dandun menjadi tegang. Apalagi ketika Sutawijaya itu pun, dengan segera menyingsingkan kain panjangnya dan lengan bajunya. Kemudian ditariknya sebuah pedang pendek yang semula tersembunyi di balik bajunya.

“Aku tidak dapat membawa tombak pendekku dalam pakaian ini, Ayahanda. Tetapi dengan pedang aku akan mampu membantu Ayahanda.”

Sutawijaya tidak menunggu jawaban. Ia pun segera terjun ke arena pertempuran diikuti oleh pengawalnya. Namun ternyata bahwa masih berdatangan beberapa orang yang lain berlari-lari naik tebing Kali Opak yang landai.

Ketika Sutawljaya melihat Untara bertempur mati-matian maka ia pun berkata, “Orang-orangku akan segera datang membantumu, Untara.”

“Terima kasih, Raden. Aku juga sedang memanggil orang-orangku dari Prambanan.”

Sejenak kemudian arena itu menjadi semakin kisruh. Dan jumlah yang bertambah-tambah itu ternyata menjadi perhatian Dandun dan adiknya, yang mengumpat-umpat tidak habis-habisnya di dalam hati.

Sejenak pertempuran masih berlangsung terus. Tetapi keadaannya sudah jauh berubah. Apalagi dari kejauhan masih berdatangan satu dua orang pengawal Sutawijaya yang terpisah-pisah.

Tetapi ternyata Dandun cukup cepat berpikir. Ia sadar bahwa sebentar lagi keadaan medan itu akan menjadi berbeda sama sekali, bahkan akan berbalik pihaknyalah yang harus mengalami tekanan-tekanan yang sangat berat.

Karena itu, selagi masih belum terlampau banyak orang-orang yang datang, maka Dandun pun segera mengambil keputusan. Keputusan yang betapa pun liciknya, tetapi menguntungkan baginya. Ia tidak bertanggung jawab apa pun selain untuk mendapatkan upah. Karena itu, maka ia pun tidak bertanggung jawab pula seandainya usahanya membunuh Ki Gede Pemanahan itu gagal. Ia tidak bertanggung jawab seandainya Ki Gede mengusut usaha pembunuhan itu dan menemukan orang-orang yang berjanji akan mengupahnya.

Ia tidak peduli, bahwa orang itu kemudian akan dihukum atau akan mengalami apa pun juga. Ia sudah terlampau banyak berkorban. Dua orang adiknya.

Sejenak ia memandang adiknya yang terluka. Agaknya ia masih sempat berlari meninggalkan arena.

Karena itu, maka ia pun segera memberi isyarat kepada kedua adiknya dengan isyarat sandi. Isyarat yang hanya diketahui oleh mereka bertiga saja.

Sejenak kemudian adiknya yang terluka itu pun telah bersiap-siap. Mereka sudah memperhitungkan sejak semula, bahwa usaha melenyapkan diri yang paling baik adalah menyusup semak-semak yang lebat di tepian Kali Opak arah selatan menyusur tebing. Meskipun tebing itu tidak begitu curam, tetapi sulit bagi penunggang kuda untuk menembus semak-semak di sela-sela batu karang pada tanah yang miring.

Dandun memang sudah memperhitungkan. Jika ada orang yang melihat perkelahian sehingga orang itu sempat memberitahukan kepada para pengawal yang mana pun juga, ia akan dapat segera menghilang setelah usaha mereka berhasil. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa membunuh Ki Gede Pemanahan adalah pekerjaan yang jauh lebih sulit dari yang mereka perhitungkan.

Demikianlah ketika Dandun memberikan isyarat sekali lagi maka mulailah mereka bergeser mendekati semak-semak. Mereka sama sekali tidak memperhitungkan orang-orangnya yang masih harus bertempur melawan para pengawal. Agaknya orang-orangnya masih belum mengalami banyak kesulitan karena mereka masih cukup. Tetapi satu dua orang pengawal Sutawijaya yang berdatangan akhirnya telah mendesak mereka semakin jauh.

Pada saat yang tepat, Dandun pun segera meloncat masuk ke dalam semak-semak bersama kedua adiknya. Yang seorang terpaksa harus dipapah oleh adiknya yang lain, sedang Dandun sendiri berusaha menahan Sutawijaya yang mendesaknya terus.

Ketika kemudian Dandun lenyap pula di dalam semak-semak, sedang Sutawijaya dengan beberapa pengiringnya akan mengejarnya terus, dan bahkan kemudian Untara pun telah meloncat mendekat pula, terdengar Ki Gede berteriak memanggil.

Sutawijaya tertegun sejenak. Demikian juga Untara dan pengawalnya yang mengiringinya.

“Jangan kau kejar mereka, Sutawijaya,” berkata Ki Gede dengan nada yang dalam.

Sutawijaya memandang ayahnya sejenak. Namun kemudian ia berlari mendekatinya sambil bertanya, “Ayah, bagaimana dengan luka Ayah?”

Untara pun terkejut melihat keadaan Ki Gede Pemanahan. Agaknya darah telah terlampau banyak keluar dari luka itu. Dengan demikian betapa pun tinggi ilmunya, namun kekuatan jasmaniahnya memang terbatas. Dan itu adalah ciri kelemahan manusia. Betapa pun ia memiliki bekal dan kekuatan diarena kekerasan jasmaniah, namun pada batasnya, ia tidak akan mampu melampauinya. Dan ternyata bahwa ilmu yang betapa pun juga tingginya, tidak akan mampu mengatasi kesulitan yang timbul akibat terlampau banyaknya darah yang mengalir dari luka.

Dengan dada yang berdebar-debar, Untara pun kemudian mendekatinya, sementara Ki Lurah Branjangan yang telah hadir pula di tempat itu segera mengambil pimpinan melawan orang-orang dari Gunung Lawu yang masih memberikan perlawanan.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “jangan kau kejar orang-orang itu,” suaranya terengah-engah.

“Ayahanda,” Sutawijaya menjadi cemas.

“Untara,” berkata Ki Gede pula, “mereka ternyata memiliki kemampuan yang jauh berada di atas kalian. Kalian tidak dapat mengejar dan berusaha menangkap mereka. Yang akan terjadi tentu akan sebaliknya. Sedang aku sendiri, dalam keadaan seperti ini, tentu tidak akan mungkin pula mengejar mereka.”

Untara dan Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Kemudian mereka membantu Ki Gede yang dengan kaki gemetar mencoba duduk di atas sebuah batu.

“Tubuhku menjadi lemah oleh darah yang keluar.”

“Apakah Ayahanda tidak membawa obat untuk memampatkan darah itu?”

Ki Gede menggelengkan kepalanya.

“O, aku membawa Ki Gede,” tiba-tiba Untara berdesis.

Dari kantong ikat pinggang kulitnya, Untara mengambil sekantung kecil serbuk yang berwarna kehitam-hitaman. Serbuk yang dibuat dari sarang laba-laba hijau yang dikeringkan setelah dibasahi dengan getah batang pisang kapok, dicampur dengan sarang tawon telutur bersabuk putih.

Dengan tidak menghiraukan hiruk-pikuk pertempuran, maka Untara pun mencoba membersihkan luka Ki Gede Pemanahan dan mencoba mengobatinya.

Sementara itu, ternyata bahwa kekuatan orang-orang yang berusaha menyingkirkan Ki Gede Pemanahan itu, telah hampir kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri. Apalagi ketika mereka melihat bahwa pemimpin-pemimpin mereka yang masih hidup telah melarikan diri.

Dengan demikian, maka mereka masing-masing tidak menganggap perlu lagi untuk mempertaruhkan nyawa. Jika pemimpin-pemimpin mereka meninggalkan arena, maka mereka tidak lagi mempunyai kewajiban untuk bertahan sampai mati.

Karena itulah, maka meskipun tidak ada di antara mereka yang kemudian memegang pimpinan, namun perasaan yang tumbuh itu rasa-rasanya tidak berbeda yang satu dengan yang lain.

Demikianlah ketika salah seorang dari mereka tidak tahan lagi menghadapi tekanan para pengawal, baik mereka yang datang dari Jati Anom, maupun dari Tanah Mataram, sehingga tanpa menghiraukan apa pun lagi berusaha untuk melarikan diri, maka ternyata yang lain pun tanpa mendapat perintah dari siapa pun juga, segera meloncat berlari meninggalkan arena.

Beberapa orang di antara mereka tidak sempat meloncat lebih dari sepuluh langkah, karena lawan yang mengejarnya berhasil menghunjamkan senjatanya di punggung. Tetapi ada juga di antara mereka yang berhasil melintasi gerumbul-gerumbul perdu dan mencoba melepaskan diri dari kejaran lawannya.

Namun tiba-tiba saja mereka terkejut ketika mereka melihat beberapa ekor kuda yang menghambur datang ke arah mereka. Mereka yang berkuda itu adalah prajurit yang telah dihimpun dengan tergesa-gesa di Prambanan. Karena prajurit yang ditempatkan di Prambanan memang tidak begitu banyak, sehingga mereka memerlukan waktu untuk menghimpun diri.

Tujuh orang dari sepuluh prajurit yang ditempatkan di Prambanan berhasil dikumpulkan dan dengan tergesa-gesa menuju ke tepian Kali Opak. Tetapi agaknya mereka sedikit terlambat. Mereka hanya menemukan lawan yang sedang melarikan diri.

Namun ternyata nasib orang-orang yang melarikan diri itu memang terlampau jelek. Hampir tidak ada kesempatan sama sekali untuk tetap hidup, kecuali satu dua orang yang berhasil bersembunyi sebaik-baiknya di bawah semak-semak dan kemudian merayap semakin menjauhi tepian Kali Opak, yang ternyata telah menjadi neraka bagi mereka itu.

Sejenak kemudian para prajurit dan pengawal itu pun telah berkumpul mengerumuni Ki Gede Pemanahan yang terluka. Dalam kesempatan itu Untara masih sempat mengumpati prajurit-prajuritnya yang terlambat.

“Kalian tidak bersikap seperti prajurit. Kalian bukan perempuan yang akan mengunjungi perhelatan perkawinan, sehingga kalian harus berkemas dan menghias diri setengah hari penuh. Tetapi kalian adalah prajurit. Sekarang kalian melihat akibat kelambatan kalian.”

Para prajurit itu menundukkan kepalanya. Namun pengawal Untara yang berangkat dari Jati Anom dengan tergesa-gesa untuk berusaha menghentikan perjalanan Ki Gede Pemanahan itu pun mencoba menjelaskan, “Mereka bertebaran di beberapa tempat. Kami harus memanggil mereka seorang demi seorang.”

“Kenapa mereka bertebaran?”

“Mereka pada umumnya membantu para petani mengerjakan sawahnya, atau membantu kerja yang lain yang dapat mereka lakukan, karena di dalam keadaan yang rasa-rasanya sudah tenang, mereka tidak mempunyai tugas yang berat.”

“Kalian memang bodoh. Kenapa kalian harus menunggu sampai kalian berkumpul sejumlah tujuh orang? Kenapa kalian tidak pergi lebih dahulu meskipun hanya seorang atau dua orang. Demikian berturut-turut sehingga dengan demikian keadaan akan menjadi semakin baik?”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Jika kalian menghadapi pasukan segelar sepapan dalam gelar perang yang mapan, memang kalian tidak akan mungkin berangkat satu atau dua orang saling mendahului. Tetapi berhadapan dengan perampok-perampok yang apalagi kalian tahu bahwa sudah ada prajurit sebelum kalian yang mendahului, kalian harus cepat berpikir.”

Prajurit-prajurit itu hanya menundukkan kepalanya saja.

“Kedatanganmu sudah terlambat. Jauh terlambat,” geram Untara.

Sutawijaya yang berada di sisi Untara hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia pun akan membentak-bentak demikian jika ia menyaksikan kelambatan pengawal-pengawalnya.

Untara kemudian tidak menghiraukan mereka lagi. Kini ia mendekati Ki Gede Pemanahan. Sambil berjongkok di sebelahnya ia berkata, “Bagaimana dengan Ki Gede kemudian? Apakah Ki Gede ingin beristirahat dahulu di Prambanan?”

Ki Gede yang masih duduk di atas sebuah batu merenung sejenak, lalu sambil menggeleng ia menjawab, “Terima kasih, Untara. Tetapi aku tidak akan berhenti di perjalanan. Aku akan meneruskan perjalananku sampai ke Mataram. Bukankah Mataram sudah tidak jauh lagi?”

“Jaraknya memang sudah tidak begitu jauh Ki Gede. Tetapi Ki Gede masih harus melintasi hutan dan menyeberangi sungai.”

Tetapi Ki Gede tertawa. Katanya, “Aku tidak akan menyeberangi Kali Sore seperti Arya Penangsang.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Ki Gede adalah prajurit yang keras hati. Karena itu, maka ia pun tidak dapat memaksa lagi. Apalagi ketika Sutawijaya berkata, “Jika sekiranya Ayahanda menghendaki, kami akan menjaga Ayahanda sebaik-baiknya di perjalanan. Tetapi seandainya Ayahanda ingin beristirahat barang sejenak di Prambanan, terserah kepada Ayahanda.”

Ki Gede Pemanahan memandang Sutawijaya dan Untara berganti-ganti. Keduanya adalah anak muda. Keduanya adalah prajurit-prajurit pilihan yang mempunyai harapan untuk menggantikan para senapati yang telah menjadi semakin tua seperti Ki Gede Pemanahan sendiri.

Namun terasa hati Ki Gede Pemanahan justru menjadi pedih seperti luka-lukanya yang menjadi agak pampat.

Kedua anak-anak muda itu rasa-rasanya berdiri di atas ujung yang berseberangan.

“Akulah yang telah memisahkan Mataram dari Pajang,” berkata Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya.

Dan baru sejenak kemudian Ki Gede itu berkata, “Untara. Baiklah aku meneruskan perjalananku saja. Aku berterima kasih kepadamu, karena langsung atau tidak langsung kau telah menyelamatkan jiwaku. Alangkah sakitnya mati di antara para perampok yang ganas dan liar itu.”

“Ki Gede,” berkata Untara, “aku sekedar menjalankan tugasku. Tetapi Ki Gede Pemanahan pun telah menyelamatkan aku, dan bahkan karena itu Ki Gede telah terluka.”

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Kita telah melakukan tugas kita masing-masing. Kemudian sampaikan ucapan terima kasihku kepada Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang telah dengan susah payah mengirimkan utusan kepadamu dan memerintahkan kau dengan pengawal-pengawalmu melindungi perjalananku.”

“Akan aku sampaikan, Ki Gede,” jawab Untara.

“Nah, sekarang aku minta diri. Sutawijaya telah datang bersama beberapa orang pengawal sehingga aku tidak perlu cemas lagi di perjalanan seandainya orang-orang itu masih berusaha untuk melakukan tugas yang dibebankan kepadanya. Karena agaknya mereka akan mendapat upah yang cukup banyak dari orang-orang yang menugaskan itu.”

“Ya, Ki Gede, dan sudah barang tentu aku tidak perlu mencemaskan perjalanan Ki Gede lagi. Namun apabila Ki Gede perlu beristirahat itulah yang harus mendapat perhatian Ki Gede di sepanjang perjalanan. Sebaiknya Ki Gede memperhatikan keadaan Ki Gede yang rasa-rasanya menjadi kekurangan darah.”

“Ya, ya Untara. Aku akan memperhatikan tubuhku yang agaknya tidak mengalami banyak gangguan karena lukaku.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya kepada Sutawijaya, “Raden, perjalanan masih jauh. Tidak bagi para prajurit dan pengawal, tetapi bagi Ki Gede yang terluka, keadaannya tentu berbeda.”

“Aku akan selalu mengingatnya, Kakang Untara,” jawab Sutawijaya.

Demikianlah maka mereka pun segera berpisah. Ki Gede Pemanahan yang terluka bersama Sutawijaya dan para pengawalnya kembali ke Mataram. Sedang Untara masih harus mengurusi korban yang jatuh di dalam pertempuran itu dan membawa orang-orangnya yang terluka ke Prambanan.

Namun dalam pada itu Untara yang teringat lagi akan kelambatan prajurit-prajuritnya, kembali membentak-bentak dan mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Sedang para prajuritnya hanya dapat mendengarkannya dengan kepala tunduk.

Baru setelah mereka selesai dengan tugas mereka, para pengawal itu pun membawa kawan-kawannya yang menjadi korban dan yang terluka ke Prambanan.

Dalam pada itu perjalanan Ki Gede Pemanahan ke Mataram menjadi semakin lambat. Sutawijaya yang berangkat pagi-pagi benar dari Mataram tanpa membawa kuda-kuda mereka, karena mereka sudah memperhitungkan, bahwa apabila terjadi sesuatu atas Ki Gede, kemungkinan hal itu akan dilakukan oleh orang-orang yang berusaha menyingkirkan Ki Gede di sekitar Alas Tambak Baya atau bahkan di mulut Alas Mentaok. Tetapi mereka sudah berjalan agak lebih jauh, karena mereka telah sampai di daerah Prambanan.

Namun Sutawijaya bertekad, seandainya tidak dijumpainya Ki Gede di Prambanan, maka ia akan terus sampai ke gerbang kota Pajang dengan penyamarannya itu.

Tetapi ternyata Sutawijaya menjumpai ayahandanya di Tepi Kali Opak.

Di perjalanan kembali ke Mataram, Ki Gede yang naik di atas punggung kudanya yang berjalan perlahan-lahan, sempat menceriterakan bagaimana ia harus berhadapan dengan orang-orang yang agaknya telah menunggunya di pinggir Kali Opak.

“Siapakah sebenarnya mereka Ayahanda?” bertanya Sutawijaya.

“Mereka tidak penting bagi kita. Tetapi siapakah yang ada di belakang mereka itulah yang harus mendapat perhatian.”

“Satu dua orang dari mereka yang tertangkap hidup itu akan dapat memberikan keterangan.”

Ki Gede menggelengkan kepalanya. Katanya, “Pengalaman kita sudah cukup meyakinkan, bahwa orang-orang itu tidak tahu-menahu kecuali pemimpin-pemimpinnya.”

“Ayahanda melarang aku mengejar orang yang aku anggap sebagai pemimpin mereka.”

“Sudah aku katakan, mereka bukan lawanmu. Kaulah yang akan dijebaknya. Dan kau, meskipun bersama Untara sekali pun tidak akan dapat melawan mereka.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Jika ayahnya telah berkata demikian, maka ia tidak dapat membuat penilaian lain karena ayahandanya adalah orang yang memiliki pengamatan yang telah masak.

Namun dalam pada itu, perasaan Sutawijaya mulai diganggu oleh angan-angannya tentang sikap Sultan Hadiwijaya. Tetapi ia tidak berani bertanya kepada ayahnya yang sedang terluka itu, bagaimanakah hasil pembicaraannya saat ia menghadap ayahanda angkatnya untuk membicarakan gadis Kalinyamat itu.

Demikianlah, meskipun lambat, namun iring-iringan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan Tanah Mataram. Mereka menyeberangi Alas Tambak Baya dan kemudian Alas Mentaok yang masih belum dibuka.

Di sepanjang perjalanan, iring-iringan itu sama sekali tidak menjumpai gangguan apa pun lagi. Dandun dan anak buahnya sama sekali tidak bermaksud melanjutkan usaha mereka untuk membunuh Ki Gede Pemanahan. Keadaan mereka sudah terlampau parah. Seorang dari keempat saudara itu sudah terbunuh. Yang seorang terluka, sehingga hampir kehabisan darah. Sedang orang-orang yang dibawanya sudah hampir habis musnah. Satu dua orang yang berhasil melepaskan diri, berlari tanpa arah.

Karena itulah maka gangguan satu-satunya di perjalanan adalah luka Ki Gede Pemanahan. Meskipun luka itu sudah pampat, tetapi rasa-rasanya tubuh Ki Gede Pemanahan menjadi semakin lemah.

Namun, akhirnya mereka pun sampai juga dengan selamat. Ketika iring-iringan itu memasuki gerbang, maka para pengawal tercenung sejenak, melihat bahwa Ki Gede Pemanahan terluka di pundaknya.

“Siapakah yang berhasil melukai Ki Gede Pemanahan?” bertanya salah seorang di antara para pengawal.

“Anak dungu,” desis kawannya di sebelahnya.

“Siapa? Aku benar-benar tidak mengerti.”

“Tidak seorang pun di antara kita yang mengerti,” jawab kawannya itu.

Pengawal yang mula-mula bertanya itu mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah jawaban kawannya itu telah memberikan kepuasan padanya.

Namun dalam pada itu, di antara para pengawal yang tidak mengerti apakah yang sebenarnya sudah terjadi, ternyata telah tumbuh berbagai tafsiran. Bahkan ada di antara mereka yang saling berbisik, “Apakah kemurkaan Sultan di Pajang sampai pada puncaknya, sehingga langsung dengan tangannya sendiri melukai Ki Gede Pemanahan?”

Kawannya mengerutkan, keningnya. Namun ia pun menyahut, “Kemarahan yang tidak terkendali memang dapat menumbuhkan sikap yang tidak seimbang. Mungkin sekali Kanjeng Sultan di Pajang tidak dapat mengekang diri. Tetapi jika demikian Ki Gede Pemanahan tentu tidak akan dibiarkan kembali ke Mataram”

“Dengan sengaja Ki Gede dilemparkan kembali ke Mataram agar Raden Sutawijaya melihat kedaannya.”

“Apakah ini berarti suatu permulaan dari pemisahan Mataram dari Pajang dan yang sudah barang tentu akan diikuti oleh tindakan-tindakan Pajang lebih lanjut atas Mataram?”

Kawannya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kita tidak mengetahuinya. Banyak kemungkinan dapat terjadi. Tetapi agaknya kita memang harus mempersiapkan diri. Ki Gede Pemanahan telah menjadi korban, karena Raden Sutawijaya tidak dapat mengendalikan dirinya.”

Namun segala kesimpang-siuran itu pun segera berakhir. Para pengawal yang mengiringi Ki Gede, setelah Ki Gede Pemanahan memasuki halaman rumahnya, maka sebagian dari mereka pun tinggal di regol. Dari mulut merekalah kemudian tersebar cerita tentang Ki Gede Pemanahan yang terluka itu.

“Jadi ada orang yang mampu melukai Ki Gede Pemanahan?” bertanya seorang prajurit hampir tidak percaya.

“Tidak hanya satu orang.”

“Berapa orang?”

“Mula-mula empat orang yang tiada tandingnya. Tetapi seorang dari mereka harus melawan Untara yang datang membantu Ki Gede. Tiga orang itulah.”

“Siapakah mereka bertiga? Tentu orang-orang sakti pula.”

“Ya. Ternyata mereka berhasil melukai Ki Gede Pemanahan,” dan pengawal itu pun menceritakan apa yang dilihatnya dan apa yang didengarnya dari kedua pengawal Ki Gede yang mengikutinya sejak Ki Gede berangkat dari Mataram.

“Jadi luka itu bukan hukuman yang diberikan oleh Kanjeng Sultan.”

“Sama sekali bukan.”

Para pengawal Mataram yang mendengar ceritera itu pun menjadi heran. Menurut pengawal yang dua itu, Kanjeng Sultan Pajang tidak berbuat apa-apa, meskipun mereka tidak tahu pasti keseluruhan persoalan.

Namun mereka pun menjadi panas mendengar bahwa ada orang yang telah mencegat Ki Gede dan melukainya. Ki Gede bagi mereka adalah pemimpin, orang tua dan Panglima yang tiada bandingnya.

Tetapi mereka telah dihadapkan pada suatu kenyataan. Dan mereka pun membayangkan bahwa orang-orang yang telah melukai Ki Gede itu pun adalah orang-orang yang luar biasa pula.

“Raden Sutawijaya dan Untara sama sekali tidak boleh mengejar mereka ketika mereka melarikan diri,” berkata pengawal yang telah ikut bertempur.

“Kenapa?”

“Justru karena keduanya tidak akan dapat mengimbangi kemampuan orang-orang itu.”

“Kenapa tidak seluruh pasukan?”

“Yang lain masih harus bertempur dengan pengawal-pengawal orang-orang yang telah melukai Ki Gede itu.”

Orang-orang yang mendengar cerita itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Ternyata bahwa di luar Mataram masih ada juga orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Namun hampir di luar sadar mereka, mereka pun menilai para senapati yang masih ada di Pajang. Di Pajang tentu tidak hanya satu dua orang saja yang memiliki kemampuan seperti Ki Gede Pemanahan. Apalagi para bupati dan adipati yang masih tetap setia kepada Pajang sampai saat itu.

Para pengawal Mataram itu telah didorong untuk menilai keadaan mereka. Menilai kekuatan Mataram dibandingkan dengan Pajang.

“Seperti sebuah mentimun dibandingkan dengan sebuah durian,” berkata para pengawal itu di dalam hatinya

Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa Mataram memang sudah berdiri. Mataram semakin lama menjadi semakin ramai dan semakin besar.

“Mataram harus membina dirinya sendiri,” tekad itu agaknya telah bergetar di jantung para pengawal.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan langsung memasuki bagian dalam rumahnya. Sutawijaya yang cemas memapahnya dan membawanya ke dalam biliknya. Perlahan-lahan dilayaninya Ki Gede duduk di pembaringannya.

Dengan nafas yang terengah-engah Ki Gede berkata, “Ternyata aku masih sempat sampai ke bilik ini lagi.”

 

 

Sutawijaya yang kemudian duduk pula di sebuah dingklik kayu di sebelah Ki Lurah Branjangan pun bergeser mendekat. Katanya, “Sebaiknya Ayah beristirahat sepenuhnya. Ayahanda tidak usah memikirkan apa pun juga yang terjadi. Baik di Mataram maupun di Pajang.”

Ki Gede menganggukkan kepalanya. Namun jawabnya, “Aku tidak apa-apa Sutawijaya. Lukaku tidak begitu parah.”

“Tetapi Ayahanda kelihatan sangat letih.”

“Ya. Aku memang letih sekali.”

“Aku akan memanggil dukun yang paling baik yang ada di Mataram untuk mengobati luka Ayahanda.”

Ki Gede merenung sejenak, lalu, “Lukaku tidak apa-apa, Sutawijaya.”

“Meskipun demikian, tetapi luka itu harus diobati.”

Ki Gede Pemanahan tidak menyahut. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia kemudian berdesis, “Aku akan berbaring.”

Sutawijaya kemudian membantu Ki Gede yang berbaring sambil berdesis. Lukanya tidak begitu terasa sakit. Tetapi karena darahnya yang terlampau banyak mengalir dari luka itu sebelum dipampatkan, maka rasa-rasanya tubuh Ki Gede menjadi lemah sekali.

“Aku akan tidur,” berkata Ki Gede.

“Para pelayan sedang menyiapkan minuman panas dan makan bagi Ki Gede,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Terima kasih,” Ki Gede berdesis, lalu, “aku memang haus sekali.”

Ki Lurah Branjangan pun segera pergi ke luar untuk memanggil pelayan yang tengah menyiapkan makan dan minum Ki Gede Pemanahan.

Ki Lurah Branjangan pun kemudian membawa semangkuk minuman hangat ke dalam bilik dan dengan hati-hati membantu Ki Gede yang bangkit sejenak untuk menghirup minuman yang terasa menyegarkan tubuhnya.

“Apakah Ki Gede juga akan makan?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Suruhlah menyediakan, Ki Lurah,” sahut Ki Gede.

Ki Lurah Branjangan pun kemudian pergi ke luar bilik itu untuk menyediakan makan bagi Ki Gede Pemanahan.

Sementara itu, tinggal Sutawijaya-lah yang masih ada di dalam bilik ayahnya yang sedang berbaring diam itu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan itu perlahan-lahan, “apakah kau tidak ingin mendengar cerita perjalananku pada saat aku menghadap Kanjeng Sultan Pajang?”

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Ada keinginannya untuk mendengar sikap Sultan Pajang, tetapi ada juga keragu-raguan di dalam hatinya.

Namun demikian ia kemudian menjawab, “Tentu, Ayahanda.”

“Baiklah, Sutawijaya. Yang penting, bahwa sikap dan keputusan yang diambil oleh Kanjeng Sultan di Pajang itu jauh berbeda dengan angan-anganku pada saat aku berangkat. Namun justru karena itu, aku telah mengalami kejutan yang tiada taranya.”

Sutawijaya masih tetap menundukkan kepalanya. Ki Gede pun kemudian menceritakan perjalanannya menghadap Sultan Pajang, dan sekaligus sikap dan keputusan yang diambil oleh Sultan Pajang itu.

“Jika aku dihukum, rasa-rasanya kesalahanku telah aku bayar lunas. Tetapi kini Sultan Pajang seolah-olah membiarkan aku selalu dikejar oleh perasaan bersalah dan berhutang budi,” berkata Ki Gede kemudian.

Sutawijaya masih tetap duduk diam di tempatnya.

Ki Gede pun kemudian mengisahkan perjalanannya kembali, dan diceritakannya pula pertempuran yang terjadi di tepi Kali Opak itu sejak permulaan sampai Sutawijaya datang.

Dengan saksama Sutawijaya mendengarkan cerita ayahandanya. Dicobanya untuk mengurai persoalan yang telah terjadi itu.

“Itulah sebabnya aku merasa bahwa hutangku kepada Sultan Pajang rasa-rasanya menjadi semakin bertimbun,” desis Ki Gede kemudian.

Tetapi ternyata Sutawijaya tidak menanggapinya. Bahkan keningnya nampak berkerut membayangkan ketegangan di dalam dadanya.

Ki Gede Pemanahan dapat menangkap sesuatu yang lain di dalam diri Sutawijaya sehingga ia pun kemudian bertanya, “Apakah kau mempunyai penilaian yang lain Sutawijaya?”

Sutawijaya menjadi ragu-ragu. Karena itu, ia tidak segera menyahut. Bahkan rasa-rasanya keringat dinginnya mulai mengalir di tubuhnya. Dengan susah payah ia berusaha untuk mengarahkan angan-angannya sendiri, sesuai dengan tanggapan Ki Gede Pemanahan. Namun setiap kali telah memercik tanggapan yang jauh berbeda.

Ki Gede Pemanahan menunggu sejenak. Namun terasa bahwa memang ada sesuatu yang lain pada anak laki-lakinya itu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede kemudian, “kenapa kau diam saja?”

“O,” Sutawijaya tergagap. Dengan serta-merta ia berdesis, “begitulah, Ayahanda.”

“Kau tidak berkata sebenarnya,” tiba-tiba saja Ki Gede bergumam seakan-akan kepada diri sendiri, “ada sesuatu yang berbeda dengan penilaianmu.”

“Tidak. Tidak ada yang lain, Ayahanda.”

“Sutawijaya,” suara Ki Gede menjadi dalam, “aku orang tua, Sutawijaya. Aku dapat membedakan tanggapan seseorang. Jika yang aku katakan sesuai dengan perasaanmu, maka tanggapanmu tentu akan langsung terungkap di dalam kata-kata dan sikapmu. Tetapi agaknya bukan begitu. Sikapmu, kata-katamu dan bayangan wajahmu menunjukkan yang lain itu kepadaku.”

Sutawijaya tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk semakin dalam.

“Katakanlah sutawijaya. Aku tetap menganggapmu bahwa, kau sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap. Mungkin sikap kita sekarang ada yang berbeda. Itu tentu wajar, karena aku dan kau adalah dua pribadi yang terpisah. Jika sampai saat ini di antara kau dan aku tidak ada perbedaan apa-apa, itu bukan karena setiap persoalan menimbulkan tanggapan yang sama di dalam hati kita, tetapi justru karena kau adalah anakku, yang di dalam beberapa hal tentu akan menurut saja pendapatku dan sikapku daripada bersikap atas pribadimu sendiri.”

Sutawijaya tidak segera menjawab.

“Sutawijaya,” Ki Gede melanjutkan, “daripada sampai masa yang panjang hal ini akan tetap merupakan teka-teki bagiku, maka sebaiknya, katakanlah. Bagaimanakah sikapmu atas persoalan ini.”

Sutawijaya masih ragu-ragu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede pula, “bukankah kau sudah berani menyatakan perbedaan sikapmu pada saat aku pergi ke Pajang? Kau tetap pada pendirianmu, bahwa kau tidak akan bersedia pergi, dan kau tetap pada sikap itu ketika aku pergi seorang diri dengan dua orang pengawal. Meskipun ternyata kemudian firasatmu telah menuntun kau menyongsong aku pulang, dan menemukan aku dalam bahaya. Tetapi betapa pun juga kau tetap tidak mau menghadap ke Pajang.”

Sutawjaya mengangguk kecil.

“Nah, sekarang kau dapat menyatakan pendapatmu pula”

“Ayahanda,” suara Sutawijaya dalam, “aku mohon maaf, Ayahanda, bahwa aku memang mempunyai tanggapan lain atas peristiwa yang baru saja terjadi.”

Ki Gede Pemanahan menarik keningnya, lalu katanya, “Bukankah hal itu wajar? Nah, katakanlah.”

“Ayahanda, apakah Ayahanda percaya bahwa Ayahanda Sultan di Pajang benar-benar tidak marah karena peristiwa itu?”

Ki Gede Pemanahan berpikir sejenak. Namun pengalamannya dan pengenalannya atas Sutawijaya segera membimbingnya pada suatu kesimpulan tentang sikap Sutawijaya. Karena itulah maka dadanya menjadi berdebar-debar.

“Apakah yang kau maksudkan sebenarnya, Sutawijaya? Apakah kau menganggap bahwa Sultan Hadiwijaya hanya sekedar berpura-pura saja?”

“Ayahanda. Jika Ayahanda Sultan Hadiwijaya benar-benar tidak marah dan tidak mengambil tindakan apa pun terhadap aku, itu pertanda bahwa Ayahanda Sultan Hadiwijaya tidak adil. Ia menandai pemerintahannya dengan kepentingan diri sendiri.”

“Kenapa mementingkan diri sendiri? Bukankah dengan demikian justru menunjukkan bahwa ia seorang Raja yang berjiwa lapang?”

“Tidak, Ayah. Ia hanya mementingkan diri sendiri. Mementingkan keluarganya sendiri, karena aku adalah anaknya, meskipun sekedar anak pungut. Apakah Sultan Hadiwijaya akan berbuat sama jika yang melakukan itu orang lain? Bukan keluarganya, bukan anak angkatnya?”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Kau tentu belum selesai, teruskan.”

Sutawijaya justru termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ya, Ayah. Aku memang belum selisai.” Sutawijaya menelan ludahnya, lalu, “Seharusnya seorang raja yang adil menghukum siapa saja yang bersalah.”

“Kau juga minta dihukum?”

“Setidak-tidaknya ada keputusan bahwa aku harus dihukum. Mungkin aku akan melarikan diri atau mengambil sikap yang lain.”

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede, “tentu kau masih ingat, apa yang dilakukan olea Sultan Hadiwijaya semasa ia masih selalu dibayangi oleh perpecahan dan perang saudara. Arya Penangsang telah mengirimkan beberapa orang, bahkan dengan pertanda kebesaran Jipang, pusaka keris yang disebutnya Brongot Setan Kober. Orang-orang itu berhasil memasuki bilik tidur Sultan Hadiwijaya. Tetapi mereka gagal membunuh. Bahkan kemudian mereka dapat ditangkap. Kau ingat?”

“Ayahanda-lah yang menangkapnya.”

“Aku beserta beberapa orang prajurit,” sahut Ki Gede. “Namun ternyata orang-orang itu juga tidak dihukum. Orang-orang itu masing-masing menerima hadiah dari Kanjeng Sultan.”

“Tetapi nilai hadiah itu sangat berbeda dari ujudnya. Hadiah itu justru suatu alat untuk merendahkan Pamanda Arya Penangsang. Justru hadiah itu suatu hukuman yang paling berat bagi Pamanda”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Sutawijaya memang bukan anak-anak lagi. Ia memiliki pengamatan yang tajam. Hadiah bagi orang-orang yang akan membunuh Sultan Hadiwijaya itu memang salah satu cara yang dipergunakan oleh Sultan Hadiwijaya untuk membakar hati Arya Penangsang, yang memang seorang yang mudah sekali menjadi marah dan kehilangan pertimbangan yang bening.

“Karena itu, Ayahanda,” berkata Sutawijaya, “apakah kita yang mengenal Ayahanda Sultan sejak lama dapat menganggap bahwa sikapnya itu sebagai suatu sikap yang jujur?”

Ki Gede termenung sejenak. Namun dengan hati yang suram ia berkata, “Kau benar, Sutawijaya. Memang saat itu Sultan Hadiwijaya sengaja melemparkan tantangan bagi Arya Penangsang karena kemarahannya, bahwa Arya Penangsang telah mencoba membunuhnya. Tetapi aku kira kali ini ia berbuat lain. Aku melihat pengampunan yang tulus memancar dari sorot matanya.”

“Adalah sangat sulit membedakan, yang manakah yang dinyatakan dengan tulus dan jujur, dan yang manakah yang sekedar untuk memancing pertengkaran seperti yang dilakukan terhadap pesuruh Arya Penangsang. Sureng yang mendapat tugas untuk membunuhnya itu memang tidak berharga sama sekali bagi Ayahanda Sultan sehingga mereka tidak perlu dibunuhnya, dan justru dipergunakan sebagai alat untuk memancing kemarahan Pamanda Arya Penangsang.”

“Sutawijaya,” suara Ki Gede menurun, “kau terlampau berprasangka terhadap ayahandamu. Bagi kita Sutawijaya, apakah keuntungan Sultan untuk berbuat dengan pura-pura. Pada masa pertentangan antara Pajang dan Jipang, keadaan belum meyakinkan seperti sekarang ini. Pajang belum terlampau kuat, dan Jipang masih nampak besar. Sikap para Adipati masih belum pasti, sehingga Sultan Hadiwijaya harus sangat berhati-hati menghadapi Jipang. Tetapi tidak dengan Mataram. Mataram tidak lebih dari sebuah ranti masak yang berada di sisi sebuah durian. Jika durian itu berguling, maka akan lumatlah buah ranti itu.”

“Tidak, Ayahanda. Di Mataram ada Ayahanda. Dan Ayahanda adalah orang yang sangat disegani di Pajang. Para Adipati mengakui kelebihan Ayahanda sebagai seorang panglima. Dan kini Ayahanda masih tetap merupakan hantu bagi mereka dan akhirnya juga bagi Pajang. Itulah sebabnya, maka Ayahanda-lah yang pertama-tama harus disingkirkan.”

“Maksudmu?”

“Ayahanda. Semua pihak berusaha untuk menarik Ayahanda. Orang-orang Panembahan Agung pun berusaha untuk memperalat Ayahanda. Mereka ingin menangkap aku hidup-hidup. Bukan karena aku mereka anggap orang penting, tetapi mereka ingin memeras Ayahanda dengan mempergunakan aku sebagai taruhan.”

Ki Gede Pemanahan tidak segera menyahut. Karena itu Sutawijaya berkata selanjutnya, “Ayahanda, maafkan aku, Ayahanda, bahwa aku mempunyai prasangka buruk terhadap sikap Ayahanda Sultan Hadiwijaya terhadap Ayahanda Pemanahan.”

Ki Gede masih merenung sejenak. Namun kemudian yang nampak pada sikap yang keras dari anak laki-lakinya itu adalah kesalahannya sendiri. Kesalahan Ki Gede Pemanahan sendiri. Pada saat perasaannya melonjak tidak terkendali, dan dengan diam-diam ia meninggalkan Pajang kembali ke Sela, maka pada saat itulah ia mulai meracuni hati Sutawijaya dengan ketidak-percayaan lagi kepada ayahanda angkatnya, Sultan Hadiwijaya.

Dengan demikian maka penyesalan itu terasa semakin pedih menusuk hatinya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “aku sudah dapat membaca sikap dan tanggapanmu. Seperti yang dilakukan terhadap beberapa orang petugas yang dikirim oleh Arya Penangsang untuk membunuh Sultan itulah maka ia bersikap sekarang. Namun seandainya ia berhasil memancing kemarahanmu, apakah yang dimaksudkannya? Apakah ia mengharap kau marah, lalu dengan serta-merta mengangkat senjata untuk melawan Pajang, sehingga dengan demikian Sultan mempunyai alasan untuk menggilas Mataram yang sedang tumbuh ini?”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Ada sesuatu yang masih tersangkut di dalam dadanya. Tetapi ia ragu-ragu untuk mengucapkannya.

Ki Gede Pemanahan menangkap keragu-raguan itu. Karena itu maka katanya, “Sutawijaya, jika masih ada persoalan yang belum kau katakan, katakanlah sampai tuntas. Aku akan mencoba mengerti.”

Sutawijaya tidak segera menyahut. Namun nampak wajahnya menjadi tegang.

Untuk beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Sutawijaya menjadi sangat gelisah. Ia ragu-ragu untuk menentukan sikap. Apakah ia akan mengatakan tanggapannya atas semua peristwa yang telah terjadi atau tidak.

Dalam pada itu, sebelum Sutawijaya mengatakan sesuatu. Ki Lurah Branjangan pun kemudian masuk ke dalam bilik itu sambil berkata, “Ki Gede. Makan telah tersedia. Apakah para pelayan harus membawarya masuk ke dalam bilik? Aku kira itu akan lebih baik bagi Ki Gede. Ki Gede tidak usah pergi ke ruang dalam, karena agaknya Ki Gede masih nampak terlampau letih.”

Ki Gede termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah, Ki Lurah. Suruhlah para pelayan membawa makanan itu masuk. Aku akan makan di dalam bilik ini.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian keluar untuk memanggil para pelayan. Sementara itu, Sutawijaya diam saja sambil menundukkan kepalanya. Ada sesuatu yang masih terasa menyangkut di dalam dadanya

Sejenak Ki Gede Pemanahan berdiam diri. Ia menunggu agar Sutawijaya mengatakan sesuatu yang masih tersisa dihatinya. Tetapi Sutawijaya tidak mengatakan sesuatu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede, “masih ada waktu sebelum aku makan.”

Sutawijaya masih saja ragu-ragu sehingga nampaklah pada sikap dan wajahnya bahwa sesuatu memang masih tersangkut didadanya,

“Katakanlah, Sutawijaya,” desak Ki Gede.

“Ayahanda,” berkata Sutawijaya, “memang masih ada sesuatu di hatiku. Tetapi aku ragu-ragu mengatakannya. Mungkin aku salah. Tetapi aku seakan-akan melihat, bagaimana hal itu sudah terjadi.”

Ki Gede Pemanahan memandang wajah anaknya sejenak, lalu, “Sebutlah.”

Sutawijaya memandang pintu sejenak seakan-akan ia tidak ingin ada orang yang yang mendengarnya, meskipun ia Ki Lurah Branjangan sekalipun.

Baru setelah ia yakin tidak ada seorang pun diluar pintu, maka ia pun berkata, “Ayahanda, seakan-akan aku melihat, bahwa yang terjadi di Prambanan itu adalah akibat dari sikap Ayahanda Sultan Hadiwijaya.”

“Sutawijaya,” desis Ki Gede Pemanahan dengan wajah yang tegang. Bahkan di luar sadarnya ia berusaha bangkit. Namun kemudian ia terbaring lagi dengan lemahnya.

Sutawijaya bergeser maju. Sambil menahan lengan Ki Gede ia berkata, “Ayahanda. Sebaiknya Ayahanda tetap berbaring.”

“O,” Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian dengan nafas terengah-engah, seakan-akan ia baru saja selesai bertempur melawan orang-orang dari kaki Gunung Lawu, “katakan Sutawijaya.”

Sutawijaya menjadi semakin ragu-ragu. Namun ayahandanya mendesak, “Katakanlah, supaya aku tidak keliru menafsirkan dugaanmu itu.”

“Ayahanda,” berkata Sutawijaya, “memang pada bentuk lahiriahnya Ayahanda Sultan Hadiwijaya memaafkan segala kesalahanku. Tetapi mustahil bahwa Ayahanda demikian saja melupakan gadis dari Kalinyamat itu.”

“Jadi?”

“Ayahanda sudah mengatur semuanya. Juga orang yang berada di Kali Opak itu.”

Ki Gede Pemanahan diam bagaikan membeku. Hatinya serasa dibebani oleh berbagai macam persoalan yang hampir tidak dapat dipikulnya.

“Ayahanda, itulah sebabnya maka Untara hanya datang dengan pengawalnya yang sangat terbatas. Sedang pengawal-pengawalnya yang lain baru menyusul setelah terlambat.”

“O,” Ki Gede menekan dadanya.

“Maaf, Ayahanda. Aku tidak tahu, apakah aku benar. Tetapi seolah-olah aku yakin, bahwa sebenarnya Ayahanda Sultan sejak semula sudah tidak bersikap jujur terhadap kita.”

“Kenapa kau berpendirian begitu?”

“Ayahanda. Kenapa Ayahanda tidak segera memenuhi janjinya kepada kita. Hanya kepada kita, sedangkan janjinya yang lain sudah dipenuhi? Kenapa kitalah yang harus menerima daerah yang masih berupa hutan belukar dan apalagi Alas Mentaok. Kenapa bukan daerah yang sudah terbuka seperti Pati. Dan kenapa justru Pamanda Penjawi-lah yang menerima daerah itu lebih dahulu dari kita, itu pun jika Ayahanda Pemanahan tidak memaksa, daerah ini tidak akan diserahkannya.”

“Sutawijaya.”

“Dan kini, semuanya sudah sampai ke puncaknya. Memang aku merasa bersalah. Aku telah berhubungan dengan gadis yang sebenarnya telah disengker oleh Ayahanda Sultan. Tetapi, apakah seimbang, bahwa karena gadis itu Ayahanda Pemanahan harus dilenyapkan?”

“Kau salah Sutawijaya, kau salah,” suara Ki Gede agak mengeras. Namun kemudian suara menurun lagi, “Kau mempunyai tangkapan terlampau jauh atas sikap ayahandamu Sultan Pajang. Barangkali sudah pernah aku katakan kepadamu, bahwa aku menyesali perbuatanku yang tergesa-gesa pada waktu itu.”

“Maksud Ayahanda?”

“Sebenarnya buat apa Sultan mengingkari janjinya? Apalagi atas Alas Mentaok, sedangkan Pati yang ramai itu pun sudah diserahkannya kepada Adi Penjawi,” berkata Ki Gede. “Sutawijaya, barangkali sudah pernah aku katakan pula, bahwa sikap Sultan itu justru karena ia menganggap kau benar-benar sebagai anaknya. Bahwa bukan saja Alas Mentaok, tetapi mungkin sudah ada tempat yang diperuntukkan bagimu, bagi putranya.”

“Tentu tidak, Ayahanda. Aku hanya sekedar anak angkatnya.”

“Tetapi kenapa kau berprasangka sampai sedemikian jauh, Sutawijaya.”

“Semuanya itu berdasarkan atas pengenalanku terhadap sifat dan sikap Ayahanda Sultan Hadiwijaya selama ini.”

“Tetapi kau salah sama sekali. Kali ini pun kau salah menilai keadaan seperti kesalahan yang pernah aku lakukan, sehingga aku meninggalkan Pajang. Untara adalah seorang prajurit jantan. Seandainya semuanya itu hanyalah permainan saja. Untara tidak akan sampai pada ujung nyawanya karena hampir saja ia terbunuh. Sehingga karena itulah maka pusakaku aku lepaskan dan mematuk salah seorang dari lawan Untara yang garang itu.”

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Tetapi seakan-akan ia sama sekali tidak mempercayainya, ia tetap menganggap semuanya itu sebagai suatu permainan yang sempurna.

Itulah yang membuat Ki Gede Pemanahan sangat bersedih.

Ki Gede sudah dapat menangkap seluruh tanggapan Sutawijaya atas peristiwa yang terjadi itu. Sutawijaya menganggap bahwa sikap Sultan Hadiwijaya, yang seakan-akan memaafkan kesalahannya itu, sebagai sifat berpura-pura. Sementara itu, ia menyiapkan sekelompok orang yang harus membunuh Ki Gede Pemanahan. Untara harus berpura-pura menolongnya, tetapi prajuritnya mengalami kelambatan sehingga Ki Gede tidak dapat diselamatkan. Kemudian Sultan mengharap Sutawijaya menjadi marah dan dengan serta-merta mengangkat senjata melawan Pajang.

Dengan demikian, seandainya Sutawijaya dan Mataram yang baru berkembang itu hancur, maka persoalannya bukan semata-mata karena persoalan gadis yang seakan-akan telah dicuri oleh Sutawijaya itu.

Ki Gede Pemanahan berdesis tertahan. Bukan karena pedih lukanya, tetapi pedih di hatinya.

Sementara itu, maka Ki Lurah Branjangan pun memasuki ruangan itu bersama para pelayan yang telah menyediakan makan bagi Ki Gede Pemanahan.

Tetapi ternyata Ki Gede sama sekali tidak berminat untuk makan. Ketika dipaksanya dirinya bangkit perlahan-lahan dilayani oleh Ki Lurah Branjangan, dan menyuapi mulutnya dengan sesuap nasi, rasa-rasanya nasi itu tidak dapat lewat di kerongkongannya.

Sambil menggelengkan kepalanya Ki Gede berkata, “Aku belum ingin makan.”

“Ki Gede,” berkata Ki Lurak Branjangan, “sebaiknya Ki Gede makan meskipun hanya sedikit. Dengan demikian kekuatan tubuh Ki Gede akan menjadi bertambah baik.”

“Aku sudah mengerti, Branjangan. Aku juga sering menasehati demikian itu kepada orang lain yang sedang sakit. Tetapi ternyata mereka pun tidak dapat memaksa diri menyuapi mulut mereka.”

Ki Lurah Branjangan tidak dapat memaksa lagi. Karena itu ia pun kemudian duduk saja sambil merenungi Ki Gede yang sedang sakit.

Namun bagi Ki Lurah Branjangan, terasa bahwa sebenarnya Ki Gede tidak sedang menahan sakit di lukanya. Nampaknya Ki Gede justru tidak menghiraukan lukanya sama sekali.

“Tentu ada sesuatu yang mengganggu perasaannya,” berkata Ki Lurah Branjangan di dalam hati. “Agaknya perasaannya terasa lebih sakit dari lukanya itu sendiri.”

Tetapi Ki Lurah Branjangan tidak berani menanyakannya kepada Ki Gede Pemanahan maupun kepada Raden Sutawijaya, karena ia tahu, bahwa persoalannya tentu berkisar kepada gadis Kalinyamat itu.

Setelah sejenak mereka saling berdiam diri, maka Ki Gede Pemanahan pun kemudian berkata, “Ki Lurah, suruhlah para pelayan menyingkirkan makanan itu. Tetapi biarlah mangkuk minuman itu tetap di situ.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain.

Setelah para pelayan menyingkirkan makanan yang seakan-akan tidak disentuh oleh Ki Gede, maka Ki Gede pun kemudian berkata, “Aku akan mencoba untuk beristirahat. Karena itu, tinggalkan aku sendiri.”

Ki Lurah Branjangan dan Raden Sutawijaya pun kemudian meninggalkan bilik itu. Dengan hati yang bimbang Sutawijaya berdiri sejenak di muka pintu. Namun kemudian ia pun melangkah pergi.

Sejenak anak muda itu merenungi dirinya sendiri. Ia pun menjadi heran, kenapa kepercayaannya kepada Ayahanda Sultan Hadiwijaya itu seolah-olah telah lenyap sama sekali. Sejak ayahandanya, Ki Gede Pemanahan memutuskan untuk meninggalkan Pajang, rasa-rasanya setiap tindakan, setiap keputusan dan kata-kata dari Sultan Hadiwijaya tidak lagi dapat dipercayainya.

Raden Sutawijaya terkejut ketika Ki Lurah Branjangan menggamitnya. Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah yang telah membuat Ki Gede nampaknya menjadi semakin murung?”

Raden Sutawijaya tidak segera menjawab.

“Apakah aku tidak boleh mendengarnya?”

Sutawijaya masih ragu-ragu. Namun kemudian ia bertanya, “Ki Lurah. Apakah masih ada sisa kepercayaan kita kepada Ayahanda Sultan Hadiwijaya?”

Ki Lurah menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak mengerti maksud Raden.”

Raden Sutawijaya menarik nafas. Katanya, “Aku kira kau menggelengkan kepalamu karena kau sependapat dengan aku.”

“Aku masih belum mengerti.”

“Ki Lurah. Apakah kita masih dapat menganggap Sultan Hadiwijaya itu mengambil keputusan dengan jujur sejak kita meninggalkan Pajang dan membuka Alas Mentaok.”

“Kenapa tidak, Raden.”

“Jadi kenapa kau meninggalkan Pajang?”

“Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan, “Sultan Hadiwijaya bukannya tidak lagi dapat dipercaya. Tetapi menurut pendapatku. Sultan Hadiwijaya itu sudah berhenti. Batas kebesaran Pajang sudah tidak akan lagi berkembang. Maksudku, bukannya luas daerahnya, atau kekuasaannya atas rakyatnya. Tetapi Pajang tidak dapat membangun dirinya sendiri. Karena Sultan telah berhenti, maka gairah rakyatnya pun berhenti. Pajang tidak lagi berusaha membangun dirinya. Bendungan yang pecah tidak lagi mendapat perbaikan. Jalan yang terputus dibiarkannya. Penduduk yang berkembang tidak diimbangi dengan perkembangan tanah persawahan dan pategalan. Karena itulah, maka aku mencari tempat yang lebih hidup. Lebih banyak bergerak dan menggelegak. Dan aku menemukan tanah yang baru tumbuh ini. Tanah Mataram.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Ki Lurah Branjangan dengan wajah yang tegang. Namun kemudian Raden Sutawijaya itu melontarkan tatapan matanya ke kejauhan.

“Paman,” berkata Raden Sutawijaya dengan nada datar, “ternyata aku mempunyai pendapat yang lain dengan Paman dan ayahanda. Tetapi aku tidak akan berpendapat bahwa pendapatkulah yang benar. Untuk sementara biarlah kita ada di dalam perbedaan itu. Mungkin di saat lain pendapat kita akan bertemu.”

“Maksud Raden?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Aku meragukan kejujuran Ayahanda Sultan Hadiwijaya.”

“Itu wajar sekali, Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan, “tetapi sebaiknya Raden memperhatikan perkembangannya lebih lanjut.” Ki Lurah Branjangan berhenti sejenak, lalu, “Maksud Raden tentang keputusan Ayahanda Sultan Hadiwijaya?”

Raden Sutawijaya tidak segera menjawab.

“Mungkin memang belum saatnya Raden mengatakannya kepadaku. Tetapi agaknya ada sesuatu yang kurang sesuai antara Raden dan Ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

Raden Sutawijaya masih tetap berdiam diri.

“Baiklah, Raden menenangkan hati. Aku juga akan menghadap ayahanda dan mohon agar Ki Gede mencoba mengendapkan perasaannya. Ki Gede adalah seorang tua yang memiliki pengalaman lahir dan batin yang cukup luas.”

Raden Sutawijaya masih saja tidak menyahut.

“Sudahlah, Raden. Silahkan beristirahat. Raden pun tentu juga letih.”

Sutawijaya kemudian ditinggalkan oleh Ki Lurah Branjangan seorang diri. Hatinya yang memang sedang risau itu rasa-rasanya menjadi semakin risau. Ia diombang-ambingkan oleh gejolak perasaannya yang kadang-kadang tidak sejalan dengan nalarnya.

Tiba-tiba saja Raden Sutawijaya teringat kata-kata Ki Lurah Branjangan. Betapa pun juga, kelemahan ayahanda Sultan memang pada kelemahannya kini. Ia seakan-akan memang telah berhenti. Ia telah dijerat oleh kamukten yang membuatnya kehilangan gelora di masa mudanya.

Selagi masih muda, Sultan Hadiwijaya yang juga disebut Mas Karebet, dan juga dinamai Jaka Tingkir itu memiliki gelora yang bagaikan menyala-nyala di dalam dadanya. Seorang anak muda yang meledak-ledak dalam pencaharian dan pencapaian. Dan itulah yang telah menarik perhatian Sultan Trenggana dan mengangkatnya menjadi hamba yang sangat dekat padanya.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia telah mengulangi apa yang terjadi atas Sultan Hadiwijaya semasa mudanya. Dengan diam-diam Jaka Tingkir telah berhubungan dengan putri Sultan Trenggana di Demak.

“Tetapi Sultan Trenggana mengusirnya dengan marah,” geram Raden Sutawijaya di dalam hatinya, “kenapa Sultan Hadiwijaya tidak mengusirku? Apalagi gadis itu bukan sekedar anaknya, tetapi justru akan diperistrikannya.”

Raden Sutawijaya menghentakkan tangannya. Dan ia pun berkata di dalam hatinya. “Jaka Tingkir yang juga disebut Mas Karebet itu dapat kembali ke istana karena ia berhasil menunjukkkan kemampuannya. Bukan sekedar karena belas kasihan. Apalagi belas kasihan yang tidak jujur dan sekedar merupakan perangkap.”

Tetapi Sutawijaya menjadi berdebar-debar. Ia mulai ragu-ragu atas prasangkanya sendiri, bahwa yang terjadi adalah perangkap semata-mata.

“Persetan,” Raden Sutawijaya menggeram, “apa pun yang terjadi, tetapi Mataram harus menjadi lanjutan dari gejolak dan gairah hidup yang pernah terpancar pada permulaan masa kekuasaan Sultan Hadiwijaya. Mataram tidak akan membiarkan Pajang berhenti. Seandainya Pajang akan berhenti, maka harus ada usaha agar perjuangannya dapat dilanjutkan, Mataram harus membangun dirinya menjadi negara besar. Lebih besar daripada Pajang tanpa menyerap kekuasaan yang ada di Pajang dengan paksa.”

Terasa jantung Raden Sutawijaya bergetar. Ia tidak lagi ingin dikungkung oleh perasaan kecewa dan gusar karena belas kasihan atau karena perangkap yang telah dipasang oleh Sultan Pajang. Yang penting baginya, seperti yang dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan, adalah membangun Mataram di segala segi kehidupannya.

Tanpa sadar Raden Sutawijaya berdiri. Dipandanginya dedaunan hijau di halaman. Bayangan batang pepohonan yang bergerak-gerak disentuh angin.

“Di sinilah aku sudah mulai,” berkata Sutawijaya di dalam hatinya, “dan kerena itu, aku tidak boleh berkisar. Apa pun yang akan terjadi.”

Tekad itulah yang kemudian seakan-akan selalu memanasi darahnya. Darah mudanya yang menggelegak bagaikan mendidih.

“Darah ini tidak boleh membeku seperti darah Ayahanda Sultan Hadiwijaya betapa pun besar usahaku yang akan berhasil nanti. Mataram harus berkembang terus. Mataram harus membangun dirinya tanpa mengenal batas waktu.”

Dalam pada itu, peristiwa yang terjadi di tepi Kali Opak itu pun menjadi bahan pembicaraan di Jati Anom. Setelah Untara kembali bersama prajurit-prajuritnya, dan bahkan dengan beberapa orang korban, maka timbullah berbagai tanggapan atas kejadian itu.

Namun ada di antara mereka yang memang sengaja ingin mengeruhkan keadaan. Orang-orang itulah yang menyebarkan cerita ngayawara. Cerita yang sengaja untuk membakar hati orang-orang Pajang dan terlebih-lebih mereka tidak senang melihat Mataram mulai berkembang. Cerita yang dianyam dan diramu menjadi sebuah cerita yang menarik dalam susunan yang sempurna.

Untara sendiri terkejut ketika pada suatu saat seorang perwira bawahannya datang kepadanya dan bertanya, “Bagaimanakah yang sebenarnya terjadi di Kali Opak itu?”

Untara tidak segera menjawab. Tetapi karena wajah perwira itu nampak bersungguh-sungguh, maka ia pun kemudian menjawab, “Seperti yang pernah aku ceritakan. Bukankah aku pernah mengatakan kepadamu dan kepada kawan-kawan kita semua.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Namun ada sesuatu tersembunyi di balik tatapan matanya.

“Apakah ada sesuatu yang kurang mapan?” bertanya Untara.

“Kakang Untara,” berkata perwira itu, “di antara kita telah jatuh korban. Untunglah beberapa korban itu bukan Kakang Untara sendiri, meskipun Kakang Untara hampir menjadi korban pula.”

“Ya,” sahut Untara dengan ragu-ragu.

“Kakang. Bukan maksudku untuk mengaburkan cerita Kakang Untara. Tetapi sementara orang mempunyai cerita lain. Apalagi di Pajang. Bukankah Kakang tahu, bahwa aku baru saja datang dari Pajang.”

“Apa kata orang-orang yang ada di Pajang?”

“Seakan-akan mereka tidak percaya bahwa orang-orang yang berada di Kali Opak itu adalah penjahat yang berusaha membinasakan Ki Gede Pemanahan. Mereka berpendapat, bahwa orang-orang itu sebenarnyalah orang-orang Ki Gede Pemanahan sendiri.”

“Ah,” desis Untara, “tidak. Aku tahu pasti. Mereka adalah orang-orang yang menghendaki kematian Ki Gede Pemanahan.”

“Darimana kau tahu?”

“Aku mendapat perintah langsung untuk menyelamatkan Ki Gede.”

“Apakah itu bukan sekedar pancingan saja agar kau dengan tergesa-gesa datang ke Kali opak.”

“Maksudnya?”

“Kau adalah senapati yang disegani di daerah ini. Kau adalah seorang prajurit yang kini bertanggung jawab atas daerah selatan. Dan daerah selatan ini adalah jalur lurus antara Pajang dan Mataram.”

Untara mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeram, “Setan. Aku tahu maksudnya. Cerita itu tentu mengatakan bahwa Ki Gede Pemanahan telah menyuruh seseorang memberitahukan kepadaku, seolah-olah perintah langsung dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Hal itu tidak sulit bagi Ki Gede, karena Ki Gede adalah bekas Panglima tertinggi di Pajang. Kemudian Ki Gede menyiapkan sekelompok orang-orang yang siap menunggu di pinggir Kali Opak. Dengan demikian, kematianku seakan-akan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ki Gede. Bahkan justru pada saat aku berusaha menyelamatkan Ki Gede.”

“Ya, begitulah kira-kira.”

 

(bersambung)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: