Buku 080 (Seri I Jilid 80)

 

“Nah, jika kau meragukan kebenarannya, kau dapat menemui utusan itu. Ia masih hidup sampai sekarang. Orang itu tentu akan dapat mengatakan bahwa ia ditugaskan langsung oleh Kanjeng Sultan atas dasar laporan petugas sandi. Jika kau masih belum yakin, ajaklah orang itu menghadap Kanjeng Sultan, agar kau tahu pasti bahwa perintah itu datang dari Kanjeng Sultan.”

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Jadi apakah maksud cerita yang menyimpang dari peristiwa yang sebenarnya itu, Kakang?”

“Kau tentu tahu, bahwa ada orang-orang yang dengan tajam menentang berdirinya Mataram. Aku tahu, bahwa mereka selalu berusaha untuk membakar permusuhan antara Pajang dan Mataram. Setiap persoalan yang dapat dipergunakan sebagai alasan, tentu akan dipergunakannya. Dan kini, aku pula yang disangkutkannya.” Untara berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bantulah aku. Ceritakan yang sebenarnya terjadi. Jika cerita yang tidak benar itu sudah terlampau jauh beredar, biarlah aku sendiri akan memberikan keterangan kepada para perwira dan prajurit, setidak-tidaknya yang ada di bawah kekuasaanku.”

Perwira itu mengangguk. Namun masih juga nampak kebimbangan di sorot matanya. Tetapi agaknya ia dapat mengerti keterangan yang diberikan oleh Untara itu.

“Aku sendiri adalah seorang prajurit,” berkata Untara, “secara pribadi aku tidak mempunyai persoalan dengan berdirinya Mataram. Tetapi jika aku mendapat perintah untuk berbuat sesuatu atas Mataram, maka sebagai prajurit aku akan melaksanakannya.”

Perwira itu mengangguk sekali lagi.

“Nah, lupakan cerita itu. Aku tahu pasti, bahwa hal itu tidak benar. Ki Gede Pemanahan sendiri justru terluka karenanya. Jika kedatangan Raden Sutawijaya dihubungkan dengan rencana itu, maka sudah barang tentu, rencana itu akan dapat dilaksanakan dengan sempurna, karena aku tidak akan dapat melawan mereka meskipun prajurit-prajurit dari Prambanan itu datang. Tetapi aku masih tetap hidup, dan, seperti yang aku ceritakan, justru Ki Gede-lah yang menolong jiwaku di saat yang paling berbahaya.”

“Baiklah, Kakang,” berkata perwira itu, “aku akan berusaha untuk menceritakan yang sebenarnya. Tetapi sikap dan tanggapan yang buruk atas Mataram rasa-rasanya semakin berkembang. Apalagi sejak gadis itu diketahui dengan pasti telah mengandung.”

“Itu adalah persoalan Kanjeng Sultan. Agaknya kedatangan Ki Gede ke Pajang ada pula sangkut pautnya dengan gadis itu. Jika Kanjeng Sultan tidak mengambil tindakan apa pun, bagaimana mungkin justru kita yang akan menjatuhkan hukuman. Meskipun hanya sekedar kebencian?”

Perwira bawahan Untara itu mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti keterangan Untara. Dan sebenarnya ia memang lebih condong mempercayai Untara dari cerita ngayawara tentang usaha Mataram untuk menjebak Untara, tetapi ternyata Untara masih tetap hidup.

Tetapi kebencian orang-orang Pajang terhadap Raden Sutawijaya memang semakin berkembang. Orang-orang mulai ragu-ragu dengan keperwiraan Ki Gede Pemanahan karena tingkah laku anaknya. Gadis yang mengandung itu adalah kemenakan Ratu Kalinyamat sendiri. Gadis itu adalah putra Sunan Prawata suami istri yang telah mendahului Sunan Hadiri dan Kanjeng Ratu Kalinyamat karena dibunuh pula oleh utusan Arya Penangsang.

“Gadis itu adalah tetesan darah Sultan Demak, orang-orang yang dengan sengaja membakar kebencian terhadap Raden Sutawijaya menyebarkan setiap cerita yang dapat menumbuhkan jarak antara Mataram dari Pajang. Tingkah laku Raden Sutawijaya itu telah mencemarkan nama baik keturunan Demak sendiri.”

Ketika perwira bawahan Untara itu mengemukakannya kepada Untara, maka jawab Untara, “Coba pikirkan, manakah yang lebih baik bagimu. Apakah gadis itu menjadi istri Raden Sutawijaya, atau menjadi istri Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Ingat, gadis itu adalah kemenakan langsung Permaisuri Pajang sekarang. Bukankah itu berarti bahwa gadis itu kemenakan Sultan pula.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun Untara pun berkata, “Sudahlah. Jangan persoalkan lagi. Kau harus dapat membantu menjernihkan keadaan. Aku berpendapat bahwa persoalan gadis itu harus ditutup sampai sekian.” Tetapi suara Untara kemudian menurun, “Sekali lagi aku katakan, aku adalah seorang Senapati. Aku akan melakukan segala perintah Sultan Hadiwijaya. Apakah persoalannya menyangkut gadis itu atau tidak.”

Perwira pembantunya tidak bertanya lagi. Ia menyadari bahwa Untara memang seorang prajurit. Tidak lebih dan tidak kurang. Karena itu ia pun harus bersikap serupa.

“Tetapi ada prajurit di Pajang yang tidak bersikap sebagai prajurit,” berkata perwira itu di dalam hati. Dan ia melihat meskipun samar-samar bahwa prajurit-prajurit Pajang sudah mulai menempatkan dirinya dalam percaturan seluk-beluk pemerintahan yang semakin rumit dalam hubungan antara Mataram dan Pajang, justru mereka ingin mengail di air keruh.

Demikianlah ternyata di Pajang telah terjadi benturan-benturan sikap dari para pemimpinnya menghadapi Mataram. Ada di antara mereka yang acuh tidak acuh. Ada yang bersikap sebagai sikap seorang prajurit sejati, tetapi di antara mereka ada yang dengan sengaja mempertajam kebencian yang ada di antara dua daerah itu.

Sementara itu, Raden Sutawijaya mencoba melemparkan dirinya ke dalam kerja. Meskipun kadang-kadang terasa hatinya masih juga berdesir mengenang semua yang telah terjadi, namun ia berusaha melupakannya.

“Tetapi aku tidak boleh melupakan gadis dan anak di dalam kandungan itu,” berkata Sutawijaya di dalam hatinya.

Dan seperti dikatakan oleh ayahandanya Ki Gede Pemanahan, maka Sultan Hadiwijaya mengharap agar ia bersikap baik dan bertanggung jawab atas gadis itu.

“Aku tidak akan ingkar,” katanya di dalam hati. Namun dalam pada itu, Sutawijaya selalu tenggelam dalam usahanya untuk membuat Mataram menjadi sebuah negeri. Semua persoalan pribadinya dan masalah-masalah yang menyangkut keluarganya seakan-akan tidak pernah dihiraukannya lagi sebelum usahanya itu berhasil. Demikian pula dengan gadis yang sudah mengandung itu.

“Aku akan menjemputnya kelak, jika Mataram telah menjadi sebuah negeri. Aku akan menghadap Ayahanda Sultan Pajang dan akan menyembahnya di paseban sambil mempersembahkan usahaku. Mataram yang telah menjadi sebuah negeri. Selebihnya aku akan mengambil Semangkin dan anak di dalam kandungannya itu.”

Karena itu, tidak ada persoalan apa pun yang dapat menahan Raden Sutawijaya. Ayahandanya pun jarang-jarang dapat menemuinya. Anaknya telah benar-benar tenggelam di dalam kerja.

Namun ternyata Sutawijaja tidak hanya melulu bekerja untuk membangun Mataram menjadi sebuah negeri. Kadang-kadang untuk beberapa hari ia tidak dapat dijumpai. Orang-orangnya di bagian selatan menyangkanya ada di bagian utara. Orang-orangnya di bagian utara menyangkanya sedang memimpin pembukaan Hutan di bagian barat. Sedang orang-orang yang ada di bagian barat menduga bahwa Sutawijaya sedang ada di bagian timur. Tetapi orang-orang di bagian timur tidak melihat Sutawijaya untuk beberapa hari, dan menduga bahwa Sutawijaya sedang beristirahat.

Jika demikian maka Sutawijaya sedang berada di tengah-tengah hutan yang masih belum disentuh tangan. Mesu diri dalam olah kanuragan dan kajiwan. Sebagai seorang laki-laki yang memiliki kemampuan melampaui kebanyakan orang, maka Sutawijaya telah mengembangkan diri tanpa tuntunan seorang guru. Dengan dasar ilmu yang ada padanya, yang diwarisinya dari ayahandanya, ia telah menemukan pancadan untuk bertambah maju.

Namun kadang-kadang Sutawijaya tidak berbuat apa-apa sama sekali di dalam sepinya hutan yang lebat. Dengan duduk di atas cabang sebatang pohon, ia memperhatikan alam di sekelingnya. Alam yang nampaknya diam tetapi penuh dengan ketegangan perjuangan antara hidup dan mati dari penghuni-penghuninya.

Dan Sutawijaya mengambil sari dari kehidupan yang tersembunyi itu bagi bekal hidupnya sendiri. Kehidupan yang semata-mata alami dan dikendalikan oleh naluri itu, sebagai bekal dalam kehidupan akal yang ada di dalam dirinya.

Kadang-kadang Sutawijaya menemukan nilai-nilai yang pantas diserapnya di dalam hidupnya. Kadang-kadang Sutawijaya melihat betapa kejamnya kehidupan alami yang dikuasai oleh naluri semata-mata.

Raden Sutawijaya yang memiliki daya tangkap yang tajam itu berhasil menemukan bekal yang sangat berguna. Bukan saja di dalam kehidupannya, tetapi juga di dalam olah kanuragan. Derap kaki kijang, tangkapan tangan beberapa ekor kera yang bekejaran. Bahkan usaha seekor kancil melepaskan diri dari kuku harimau, sangat menarik perhatiannya dan memberikan kekayaan bagi unsur gerak di dalam olah kanuragan yang sedang disempurnakannya.

Meskipun demikian Raden Sutawijaya tidak melupakan tugasnya sebagai seorang pemimpin dari tanah yang sedang tumbuh dan berkembang. Setiap kali Sutawijaya sendiri memimpin penggalian susukan dan parit-parit yang membelah tanah yang akan dijadikan tanah persawahan. Sutawijaya sendiri memimpin pembuatan jalur-jalur jalan yang menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain.

Dengan demikian, maka beberapa kekecewaan atas kekerasan hati Raden Sutawijaya kadang-kadang dapat dihapus oleh kekerasan hatinya pula di dalam kerja.

Namun dalam pada itu, berbeda dengan Raden Sutawijaya yang menenggelamkan diri di dalam kerja, maka Ki Gede Pemanahan rasa-rasanya menjadi semakin lemah. Luka-lukanya memang menjadi berkurang. Tetapi rasa-rasanya perkembangan keadaannya itu sangat lambat. Bahkan kadang-kadang tanpa sebab apa pun juga, Ki Gede Pemanahan seakan-akan menjadi sangat sulit untuk bernafas. Dadanya menjadi sesak, dan kemudian terbatuk-batuk semalam suntuk.

Ki Gede Pemanahan adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Seorang Panglima yang disegani lawan di peperangan. Namun ia tidak dapat melawan dirinya sendiri yang dicengkam oleh kekecewaan, penyesalan, dan kecemasan.

Sekali-sekali terbayang juga di rongga matanya, wajah seorang gadis yang bersih dan bening. Dua orang gadis di kaki bukit Danaraja. Semangkin dan Prihatin. Keduanya adalah anak Sunan Prawata yang telah terbunuh, dan yang kemudian disusul oleh pamannya Sunan Hadiri.

Di kaki bukit Danaraja kedua gadis yang kemudian diberinya nama Pamikatsih dan Pamilutsih itu, dengan setia menunggui bibinya, Kanjeng Ratu Kalinyamat yang bertapa sebagai pernyataan tuntutan nuraninya atas kematian saudaranya suami istri dan suaminya sendiri, tanpa mengenakan pakaian selembar pun, selain menutup tubuhnya dengan rambutnya yang terurai.

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Masih pula terbayang, bagaimana Kanjeng Ratu Kalinyamat itu memanggilnya mendekat pada saat ia mengunjungi pertapaan itu.

“Maaf, Kanjeng Ratu. Hamba tidak dapat mendekat Kanjeng Ratu dalam keadaan seperti itu.”

“Kemarilah, Kakang Pemanahan. Aku akan memberikan sesuatu kepadamu.”

Ki Gede masih tetap ragu-ragu. Dan Kanjeng Ratu itu pun berkata pula, “Kakang, kau selama ini tidak pernah menolak permintaanku. Mendekatlah. Sekarang, kau pun tidak akan menolaknya.”

Dengan ragu-ragu Ki Gede pun kemudian berjalan mundur mendekati Kanjeng Ratu Kalinyamat yang sedang bertapa.

Ternyata dari Kanjeng Ratu Kalinyamat, Ki Gede Pemanahan mendapat sebentuk cincin. Cincin, yang memiliki perlambang bahwa siapa yang mengenakannya, akan menurunkan orang-orang besar di Pulau Jawa.

Ki Gede yang sedang berbaring di pembaringannya itu menarik nafas. Kenangan itu rasa-rasanya baru saja kemarin terjadi. Kini ia bersama anaknya sudah membuka daerah baru. Daerah yang diharapkannya akan tumbuh dan berkembang.

“Apakah Sutawijaya akan menjadi orang besar kelak?” Ki Gede bertanya kepada diri sendiri. Yang kemudian diteruskannya, “Mudah-mudahan. Mudah-mudahan Mataram dapat berdiri tegak dan anakku akan melanjutkan usahaku membuat Mataram besar. Dan agaknya ia sudah mulai sejak sekarang.”

Ki Gede mengusap wajahnya yang basah oleh keringat. Terbayang pula Semangkin yang sudah mengandung. Perempuan itu akan melahirkan anak Raden Sutawijaya. Cucunya dan juga cucu Kanjeng Sunan Prawata.

Namun dalam pada itu, hampir setiap saat Ki Gede Pemanahan telah hanyut dalam dunia angan-angannya. Karena itulah maka keadaannya justru menjadi semakin buram.

Ki Lurah Branjangan yang setiap saat merawatnya menjadi gelisah. Sehingga pada suatu saat ia tidak dapat menahan kecemasannya dan memerintahkan seorang pengawal mencari Raden Sutawijaya.

“Carilah di seluruh sudut Tanah Mataram. Katakanlah bahwa aku memohon Raden Sutawijaya kembali barang sehari. Rasa-rasanya ayahandanya memerlukannya meskipun hanya sesaat.”

Pengawal itu pun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan pusat pemerintahan Tanah yang baru tumbuh itu mencari Raden Sutawijaya. Pengawal itu sadar, bahwa kadang-kadang Raden Sutawijaya mudah sekali dijumpai. Tetapi kadang-kadang harus dicarinya barang dua tiga hari.

Dari beberapa orang pengawal ia mendapat petunjuk bahwa Raden Sutawijaya berada di bagian barat Alas Mentaok yang sedang dibuka itu. Namun ketika pengawal itu memacu kudanya menuju ke arah Barat, maka pengawal yang lain berkata, “Aku baru saja bertemu Raden Sutawijaya di bagian selatan.”

“Tentu tidak mungkin,” sahut pengawal yang mencarinya, “orang yang memberi petunjuk kepadaku itu pun mengatakan bahwa Raden Sutawijaya berada di bagian barat. Baru saja ia bertemu.”

Pengawal yang merasa dirinya baru saja bertemu dengan Raden Sutawijaya itu merenung sejenak. Namun kemudian ia bergumam, “Mungkin. Memang mungkin Raden Sutawijaya yang baru aku lihat di bagian Selatan itu telah berpindah kebagian barat.”

“Ya. Menjelang tengah hari,” sahut yang mencarinya.

“He,” namun tiba-tiba pengawal yang menjumpai Raden Sutawijaya itu mengerutkan keningnya, “tentu tidak menjelang tengah hari. Tentu sesudah tengah hari.”

“Kenapa? Yang menjumpai di sebelah barat itu bukan kau. Tetapi pengawal itu. Dan ia tentu lebih tahu daripada kau.”

“Nanti dulu,” pengawal itu nampak berpikir dengan sungguh-sungguh. Kemudian katanya, “Aku menjumpai Raden Sutawijaya di bagian selatan juga menjelang tengah hari.”

“He? Kau tentu sedang bermimpi di tengah hari.”

“Tidak. Aku tidak pernah bermimpi tanpa tidur. Aku yakin bahwa menjelang tengah hari aku bertemu dengan Raden Sutawijaya di atas seekor kuda berwarna hitam. Bahkan kemudian Raden Sutawijaya turun dari kudanya, berjalan menyusuri parit yang sedang digali. Dengan cemeti kecil ia menunjuk beberapa bagian yang harus disempurnakan. Dan dengan cemeti kecil itu pula Raden Sutawijaya menggores tanah membuat garis-garis batas dari parit itu di tikungan.”

Pengawal yang sedang mencari itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Pengawal yang baru saja datang dari bagian Barat itu melihat Raden Sutawijaya ikut membuat jalan yang membelah sebuah padukuhan kecil yang sedang berkembang karena beberapa orang penghuni baru telah berdatangan.”

“Tidak,” sahut lawannya berbicara.

Hampir saja keduanya bersitegang. Namun kemudian seorang pengawal yang lebih tua dari mereka datang menengahi sambil tersenyum, “Kalian memang bodoh.”

“Kenapa?” bertanya kedua pengawal itu.

“Kenapa kalian bertengkar tentang Raden Sutawijaya?”

“Aku melihatnya. Dan aku membertahukan kepadanya. Tetapi ia tidak percaya.”

“Tentu. Orang lain mengatakan bahwa ia bertemu dengan Raden Sutawijaya di bagian barat.”

“Keduanya benar,” sahut pengawal yang lebih tua itu.

“He,” kedua pengawal itu terkejut.

“Ya. Memang Raden Sutawijaya dapat saja berada di bagian selatan dan di bagian barat sekaligus.”

“Aku tidak mengerti,” desis pengawal itu.

“Raden Sutawijaya dapat berada di beberapa tempat dalam waktu yang sama.”

 

 

“Ah.”

“Itu adalah pertanda bahwa anak muda itu memiliki ilmu yang tinggi. Kau tentu ingat, bahwa Ki Gede Pemanahan pun telah menggemparkan musuh-musuhnya ketika terjadi benturan bersenjata antara Pajang dan Jipang. Sebelum sampai pada saat terakhir sebagai puncak pertempuran di pinggir Bengawan Sore, maka pertentangan di beberapa tempat telah melibatkan Ki Gede Pemanahan dalam pertempuran-pertempuran itu. Ia ada di beberapa tempat dalam waktu yang sama, sehingga kadang-kadang prajurit Jipang saling berbantah sendiri, bahwa mereka telah bertempur melawan sekelompok prajurit di bawah pimpinan Ki Gede Pemanahan langsung.”

Para pengawal yang mendengarkan pembicaraan itu berdiri dengan wajah yang tegang. Namun satu dua di antara mereka memang pernah mendengar cerita semacam itu tentang Ki Gede Pemanahan. Dan kini mereka mendengar pula tentang Raden Sutawijaya.

Karena itu maka pengawal yang sedang mencari Raden Sutawijaya itu pun bertanya, “Jadi, jika demikian, kemana aku harus mencarinya. Apakah aku harus pergi ke barat atau ke selatan. Jika Raden Sutawijaya memang berada di kedua tempat itu, kepada Raden Sutawijaya yang manakah aku harus berhubungan. Karena tentu hanya ada satu saja di antara mereka yang tetap berpribadi.”

“Ya. Satu di antara merekalah yang tetap berpribadi. Tetapi kepribadian itu pun memancar kepada yang lain.”

“Sumbernya.”

“Itulah yang sulit. Tetapi rasa-rasanya bahwa mereka adalah satu. Kau dapat berhubungan dengan Raden Sutawijaya, yang mana pun juga.”

Pengawal itu menjadi agak bingung. Namun, kemudian katanya, “Aku akan pergi ke barat.”

“Pergilah, Mudah-mudahan kau akan segera bertemu. Seperti kalian mengetahui, Raden Sutawijaya dapat berada di beberapa tempat pada suatu waktu, tetapi Raden Sutawijaya pun dapat tidak berada di mana pun dalam suatu waktu.”

Pengawal itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Desisnya, “Aku menjadi bingung. Tetapi biarlah aku mencarinya.”

Sejenak kemudian maka pengawal itu pun telah berpacu pula. Tetapi karena jalan yang dilaluinya kemudian masih terlampau buruk, maka perjalanannya pun menjadi tidak begitu cepat lagi. Beberapa batang kayu masih melintang dijalan. Bahkan kadang-kadang kudanya harus berbelok lewat gerumbul-gerumbul liar disebelah jalan yang belum siap benar itu.

Di sepanjang perjalanannya, pengawal itu selalu dirisaukan oleh cerita kawannya yang lebih tua. Ia tidak dapat mengerti bahwa Raden Sutawijaya dalam suatu waktu dapat berada di beberapa tempat. Tetapi dalam waktu yang lain sama sekali tidak ada di mana pun juga.

“Berbelit-belit,” katanya di dalam hati, “pokoknya aku akan mencarinya. Menyampaikan pesan Ki Lurah Branjangan, mohon agar ia kembali barang sehari dua hari.”

Pengawal itu melanjutkan perjalanan dengan hati yang berdebar-debar. Dipandanginya daerah yang masih sedang dikerjakan di bagian barat dari Alas Mentaok yang sedang dibuka itu. Beberapa bagian telah menjadi padukuhan yang mulai berpenghuni.

“Tentu di sekitar padukuhan itu,” berkata pengawal itu kepada diri sendiri.

Dalam setiap kesempatan pengawal itu mencoba untuk mempercepat perjalanannya. Kadang-kadang ia dapat berpacu agak cepat. Namun kemudian harus dengan sabar membiarkan kudanya berjalan perlahan-lahan.

“Di musim basah, daerah ini akan menjadi rawa-rawa,” berkata pengawal itu di dalam hatinya. Namun ketika kemudian dilihatnya susunan parit yang mulai teratur, maka ia pun berkata pula kepada dirinya sendiri, “Tetapi agaknya daerah ini sudah dihubungkan dengan daerah-daerah yang lebih rendah dengan parit-parit, untuk membuang air yang tergenang di musim basah. Sedang dimusim kering, air dapat diangkat dari sungai-sungai kecil untuk mengaliri daerah yang sedang dibuka ini.”

Pengawal itu pun langsung menuju ke tempat orang-orang yang sedang bekerja, membuat jalan yang menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain, membedah sebuah padukuhan kecil lainnya di antara kedua padukuhan itu.

Pengawal berkuda itu ternyata telah menarik perhatian para pekerja yang sedang giat membangun daerahnya itu. Salah seorang yang sudah setengah umur kemudian mendekatinya dan bertanya, “Ki Sanak, apakah ada sesuatu yang penting yang harus kau sampaikan kepada kami?”

“Aku mendapat perintah untuk menemui Raden Sutawijaya,” jawab pengawal itu.

“O,” orang setengah umur itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpaling. Katanya kepada seorang kawannya, “Pengawal ini ingin bertemu dengan Raden Sutawijaya.”

“Bukankah Raden Sutawijaya baru saja pergi ke daerah selatan?”

Orang setengah umur itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Oh, ya. Hampir aku lupa. Baru saja Raden Sutawijaya pergi ke daerah selatan.”

Pengawal itu menggigit bibirnya. Lalu katanya, “Orang-orang yang haru saja datang dari daerah selatan memang mengatakan Raden Sutawijaya ada di sana. Tetapi bukan baru saja. Tetapi sudah sejak tadi.”

“Ah,” orang setengah umur itu berdesah, “mana mungkin. Baru saja Raden Sutawijaya ada di sini. Makan siang di sini, bersama dengan kami. Nasi jagung dengan jangan lembayung yang tadi pagi dipetik dari batang kacang panjang yang merambat di pagar sepanjang beberapa ratus patok mengelilingi daerah ini.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya.

Karena pengawal itu tidak segera menjawab, orang setengah umur itu melanjutkan, “Ketika perempuan-perempuan memetik lembayung itu, ternyata mereka mendapatkan tiga bakul penuh.”

Pengawal itu pun kemudian memotong, “Ya. Ya. Tetapi aku harus bertemu dengan Raden Sutawijaya.”

“Pergilah ke daerah selatan. Mereka di sana sedang membuat sebuah parit induk. Tentu Raden Sutawijaya menunggui pembuatan parit induk itu.”

“Apakah tidak mungkin pergi ke daerah utara?”

“Raden Sutawijaya tidak mengatakan demikian. Dan barangkali pekerjaan di daerah utara sudah lebih lancar. Jalan menuju ke padukuhan yang paling ujung sudah dapat dilalui. Dan parit-parit sudah mulai mengalir. Jika Raden Sutawijaya pergi ke utara, hanyalah tinggal memberikan petunjuk untuk mengembangkan padukuhan-padukuhan itu. Memelihara yang sudah ada, dan hanya jika perlu saja melengkapinya dengan jalan-jalan dan parit yang baru. Tetapi pekerjaan di sana sudah tidak begitu banyak seperti di sini.”

“Tetapi bagaimana dengan perluasan tanah persawahan? Apakah tidak ada pembukaan hutan baru di daerah utara?”

“Untuk sementara sudah dihentikan. Daerah yang sudah terbuka ini masih harus digarap terus-menerus.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah, aku akan mencari Raden Sutawijaya ke selatan.”

Pengawal itu pun kemudian meloncat kepunggung kudanya dan memacunya meninggalkan daerah yang sedang dikerjakan itu. Tetapi setiap kali derap kaki kudanya terganggu, sehingga kadang-kadang kuda itu harus berjalan perlahan-lahan. Menyimpang dan meloncati batang-batang yang melintang.

“Bodoh sekali,” geram pengawal itu, “seharusnya mereka membersihkan jalan-jalan ini lebih dahulu sebelum membuat perpanjangan dari jalur jalan ini.”

Baru ketika pengawal itu sampai ke jalan yang sudah agak baik, maka kudanya pun berpacu lagi dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Namun pengawal itu masih saja dipengaruhi oleh cerita tentang Raden Sutawijaya yang dapat berada di beberapa tempat dalam waktu yang sama, tetapi juga dapat tidak ada di mana pun juga pada suatu waktu.

“Mudah-mudahan aku tidak mendapatkan Raden Sutawijaya sedang tidak ada di mana pun juga sekarang ini,” katanya kepada diri sendiri.

Kudanya pun kemudian dipacu semakin cepat. Ia segera ingin mengetahui, apakah benar Raden Sutawijaya dapat lenyap untuk suatu saat.

Ketika di kejauhan dilihatnya sekelompok orang bekerja di tengah-tengah bulak, ia menjadi berdebar-debar. Orang-orang itu nampaknya masih terlampau kecil. Seperti lebah yang berkerumun di sarangnya.

Dengan demikian pengawal itu justru menjadi semakin bernafsu untuk mengetahui dengan segera, apakah Raden Sutawijaya ada di antara orang-orang itu atau tidak. Karena itulah maka kudanya pun dipacunya semakin cepat.

Beberapa langkah dari orang-orang yang sedang sibuk itu, kudanya dihentikannya. Dengan tergesa-gesa ia meloncat turun, sehingga hampir saja ia jatuh tertelungkup.

Orang-orang yang sedang bekerja itu pun terkejut melihat kehadirannya yang tergesa-gesa itu. Salah seorang dari mereka mendekatinya sambil bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting?”

Dengan berdebar-debar pengawal itu ganti bertanya, “Apakah Raden Sutawijaya ada di sini?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya, “Baru saja Raden Sutawijaya meninggalkan tempat ini.”

“O,” sepercik kekecewaan membayang di wajah pengawal itu. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Tetapi, apakah Raden Sutawijaya sudah lama berada di tempat ini?”

Orang itu termangu-mangu. Jawabnya, “Sudah cukup lama, Raden Sutawijaya telah cukup lama menunggui kerja kami menyelesaikan parit ini.”

Pengawal itu menggigit bibirnya. Dipandanginya orang itu dengan wajah yang terheran-heran.

“Kenapa?” bertanya orang itu.

Pengawal itu masih bimbang. Lalu jawabnya kemudian, “Raden Sutawijaya baru saja meninggalkan lapangan kerja bagian barat. Aku baru saja datang dari sana.”

“Tentu bukan baru saja, Raden Sutawijaya sudah agak lama berada di sini.”

Pengawal itu tidak ingin mempersoalkannya lagi. Lalu ia pun kemudian bertanya, “Apakah kau tahu, kemana perginya Raden Sutawijaya?”

Orang itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu. Raden Sutawijaya tidak mengatakan ke mana ia akan pergi.”

“Di bagian barat Raden Sutawijaya mengatakan, bahwa ia akan pergi ke selatan.”

“Kami tidak diberitahukannya. Yang kami dengar Raden Sutawijaya tidak akan bermalam di sini.”

“Raden Sutawijaya ingin melihat purnama terbit malam nanti,” tiba-tiba seseorang yang berambut putih memotong pembicaraan itu.

“O,” sahut pengawal yang sedang mencarinya, “di mana?”

“Aku tidak tahu.”

Pengawal itu menjadi bingung. Kemana ia harus mencari Raden Sutawijaya yang akan melihat bulan purnama yang terbit malam nanti.

Karena itu, maka pengawal itu pun kemudian minta diri. Ia harus menyampaikannya kepada Ki Lurah Branjangan, bahwa ia belum berhasil menemukan Raden Sutawijaya. Jika Ki Lurah Branjangan mengetahui kemanakah Raden Sutawijaya pergi untuk melihat purnama terbit, maka ia akan mencarinya menjelang malam.

Dengan demikian maka pengawal itu pun kemudian meninggalkan orang-orang yang sedang bekerja menyelesaikan saluran air itu, dan kembali ke pusat kota untuk menghadap Ki Lurah Branjangan.

“Aku tidak dapat menemukannya Ki Lurah,” berkata pengawal itu.

“Kenapa?”

“Aku sudah datang ke bagian barat, karena menurut beberapa keterangan Raden Sutawijaya ada di bagian barat. Ternyata Raden Sutawijaya sudah pergi ke selatan. Ketika aku pergi ke selatan, Raden Sutawijaya sudah tidak ada lagi. Menurut keterangan orang-orang di bagian selatan itu, Raden Sutawijaya ingin melihat purnama terbit malam nanti.”

“Purnama terbit?” Ki Lurah menjadi heran.

“Ya. Purnama terbit.”

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu. Ia menjadi heran, bahwa Raden Sutawijaya sempat memikirkan untuk melihat purnama terbit.

“Apakah ada sesuatu yang dirindukannya sehingga anak muda itu tiba-tiba menjadi seorang yang agak cengeng,” desisnya.

“He,” pengawal itu memotong, “kenapa cengeng? Purnama terbit memang memberikan kesan tersendiri. Coba Ki Lurah melihatnya sendiri. Ki Lurah akan menjadi muda kembali.”

“Ah.”

“Di dalam terangnya purnama, gadis-gadis padukuhan memukul lesungnya dalam irama yang ngelangut. Seakan-akan mereka mendendangkan debar kerinduan hati mereka kepada kekasihnya.”

“O,” desah Ki Lurah Branjangan, “kau pun menjadi cengeng.”

“Tidak, Ki Lurah. Memang kadang-kadang kita tergerak untuk melihat bulan terbit. Apalagi saat purnama. Tetapi agaknya Ki Lurah pun betul, Raden Sutawijaya sedang diganggu olen perasaan rindu. Karena itu, maka ia ingin melepaskan kerinduannya dengan melihat purnama terbit malam nanti.”

“Tetapi malam nanti. Kenapa sekarang Raden Sutawijaya telah pergi?”

“Tentu aku tidak tahu.”

“Baiklah. Aku akan mencarinya sendiri. Ia harus segera menengok ayahandanya. Ki Gede Pemanahan menjadi semakin pucat dan lemah. Barangkali Raden Sutawijaya dapat berbuat sesuatu. Raden Sutawijaya mempunyai sahabat seorang dukun yang baik. Yang sekarang berada di Menoreh. Meskipun dukun itu sendiri sedang menyembuhkan luka-lukanya, namun ia tentu tidak akan berkeberatan untuk menolong Ki Gede Pemanahan.”

“Dukun?” bertanya pengawal itu.

“Ya. Dan sekarang, aku akan minta diri kepada Ki Gede untuk mencari putranya.”

Pengawal itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi malam masih cukup jauh. Jika Raden Sutawijaya ingin melihat purnama terbit, maka ia tentu akan menunggu lewat senja.

Sementara itu, Ki Lurah Branjangan pun pergi menghadap Ki Gede Pemanahan di pembaringan. Setelah menanyakan apakah yang diperlukan, maka Ki Lurah pun kemudian berkata, “Ki Gede. Aku ingin minta diri barang semalam untuk mencari Raden Sutawijaya.”

“Kenapa kau harus mencarinya?”

“Ki Gede nampaknya menjadi semakin lemah. Aku menjadi teringat kepada dukun yang sekarang ada di Menoreh. Barangkali ia dapat menyembuhkan, atau setidak-tidaknya mengurangi sakit Ki Gede Pemanahan.”

“Aku tidak sakit, Branjangan,” jawab Ki Gede, “sebagaimana kau lihat, luka-lukaku sudah jauh berkurang. Bahkan sudah hampir sembuh sama sekali.”

“Tetapi Ki Gede nampaknya semakin pucat.”

“Apakah nampaknya demikian?”

“Ya, Ki Gede.”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Katanya kemudian, “Aku tidak merasa apa-apa. Badanku menjadi semakin sehat dan segar. Luka-lukaku pun akan segera sembuh.”

“Tetapi jika dukun itu dapat mempercepat kesembuhan Ki Gede itu tentu akan lebih baik.”

Ki Gede tidak segera menyahut. Tetapi tiba-tiba saja ia didorong oleh suatu keinginan untuk bertemu dengan orang yang menyebut dirinya bernada Kiai Gringsing, dan yang pernah juga disebut Ki Tanu Metir. Ada sesuatu yang menarik pada orang itu.

“Apakah Ki Gede Pemanahan belum mengenal dukun itu?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terkenang olehnya, betapa Kiai Gringsing itu selalu menghindari pertemuan dengannya. Sejak di Sangkal Putung, dan saat-saat kemudian Kiai Gringsing tidak pernah berhasil dijumpainya. Hanya anaknya sajalah yang selalu bertemu dan bahkan bekerja bersamanya.

“Ada sesuatu yang menarik pada dukun itu,” berkata Ki Gede Pemanahan, “karena itu, jika aku mengundangnya, bukan semata-mata karena aku mencemaskan sakitku. Aku memang ingin bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing. Orang yang memiliki kemampuan menyembuhkan orang sakit dan sekaligus kemampuan bermain-main dengan cambuk.”

Ki Lurah Branjangan merenung sejenak. Lalu katanya, “Jadi apakah Ki Gede sependapat, bahwa aku akan membicarakannya dengan Raden Sutawijaya?”

Ki Gede tidak segera menyahut. Bahkan ia pun kemudian bertanya, “Apakah kau tahu di mana Sutawijaya sekarang?”

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya, “Seorang pengawal sudah berusaha menjumpainya. Tetapi Raden Sutawijaya tidak ada di beberapa tempat. Terakhir para pekerja yang sedang menyelesaikan sebuah parit di sebelah selatan mengatakan, bahwa Raden Sutawijaya sedang pergi sebentar untuk melihat bulan purnama terbit.”

“He,” Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum. Katanya, “Apakah kau akan mencarinya ke tempat purnama itu terbit di cakrawala?”

Ki Lurah Branjangan pun tersenyum. Jawabnya, “Aku memang akan mencarinya, Ki Gede. Tetapi saat purnama terbit masih terlampau lama. Karena itu, biarlah aku mencarinya ke daerah sebelah timur. Mungkin Raden Sutawijaya ada di ujung bagian timur, di hadapan daerah terbuka yang menghadap Alas Tambak Baya. Dari sana bulan yang sedang terbit akan nampak bagaikan timbul dari balik cakrawala.”

Ki Gede Pemanahan yang pucat itu tertawa. Katanya, “Pergilah. Aku tidak berkeberatan. Bahkan kau dapat mengatakan kepadanya bahwa aku memang ingin dapat bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing itu.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah, Ki Gede. Aku minta diri di luar ada seorang pelayan yang dapat melayani Ki Gede jika Ki Gede perlukan.”

“Aku dapat bangkit, berdiri dan berjalan ke mana-mana.”

“Tetapi Ki Gede harus beristirahat cukup banyak, sehingga agaknya lebih baik jika Ki Gede tidak bangkit dan berjalan ke luar lebih dahulu.”

Ki Gede Pemanahan menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan menjaga diriku sendiri.”

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan pun meninggalkan Ki Gede Pemanahan, ia segera menyuruh seorang pengawal menyiapkan kudanya. Ia sendiri ingin mencari Raden Sutawijaya sampai ketemu, dan kemudian bersama-sama pergi ke Menoreh untuk minta Kiai Gringsing datang berkunjung ke Mataram.

“Mudah-mudahan orang itu belum meninggalkan Menoreh,” katanya, “jika sudah, maka aku harus mencarinya ke Sangkal Putung.”

Namun demikian terbersit suatu pertanyaan pula di dalam hatinya. Ki Gede Pemanahan menaruh minat atas kehadiran Kiai Gringsing bukan untuk mengobatinya. Namun agaknya ada sesuatu yang memang menarik perhatiannya pada Kiai Gringang itu sendiri.

“Apakah memang ada rahasia yang tersembunyi pada orang tua yang perkasa itu,” bertanya Ki Lurah Branjangan kepada diri sendiri. “Hampir setiap saat Kiai Gringsing berbuat sesuatu untuk menolong Mataram. Sebelumnya Kiai Gringsing sudah banyak berbuat untuk Pajang. Pada saat pergolakan berkisar di Sangkal Putung, Kiai Gringsing sudah mulai ikut mengambil bagian. Dan Untara harus mengakui bahwa dukun tua itu sudah menyelamatkan jiwanya. Bahkan kemudian membentuk adiknya menjadi seorang anak muda yang perkasa.”

Setelah siap, maka Ki Lurah Branjangan pun kemudian dengan dikawal oleh dua orang pengawal pergi mencari Raden Sutawijaya. Salah seorang dari kedua pengawal itu adalah pengawal yang sudah mencari Raden Sutawijaya sebelumnya.

“Kita akan pergi ke timur,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Ke ujung Alas Mentaok?” bertanya salah seorang pengawal.

“Ya. Mungkin Raden Sutawijaya ada di ujung Alas Mentaok dan menunggu purnama naik. Sebuah tempat terbuka yang memisahkan Alas Mentaok dan Tambak Baya merupakan tempat yang baik untuk menunggu purnama naik.”

“Bagaimana jika Raden Sutawijaya berada di ujung Alas Tambak Baya?”

Ki Lurah Branjangan hanya menarik nafas. Namun sebenarnyalah bahwa Ki Lurah Branjangan sudah mempunyai perhitungan tersendiri dengan kepergian Raden Sutawijaya. Meskipun demikian ia masih belum mengatakan kepada siapa pun karena ia masih belum yakin bahwa perhitungannya itu benar. Namun demikian, ia pun pergi juga ke arah timur Alas Mentaok.

Ki Lurah Branjangan sama sekali tidak tergesa-gesa. Hari masih terlampau siang untuk menunggu bulan purnama terbit. Meskipun demikian keduanya berjalan juga langsung menuju ke ujung timur Alas Mentaok.

Ketiganya berkuda menyelusuri daerah yang sudah dibuka. Kadang-kadang mereka melewati padukuhan-padukuhan kecil yang sudah dihuni oleh beberapa orang. Bahkan ada pula sebuah padukuhan yang sudah nampak berkembang dan menjadi ramai.

Ketika Ki Lurah Branjangan sampai di depan sebuah gardu peronda yang kebetulan berisi tiga orang, maka ia pun segera berhenti dan bertanya, “Ki Sanak, apakah kalian melihat seseorang lewat?”

Ketiga orang itu pun kemudian keluar dari gardu dan merenung sejenak. Sementara itu Ki Lurah Branjangan mengulangi pertanyaannya, “Apakah ada seseorang yang lewat?”

Salah seorang dari mereka menjawab, “Ada beberapa orang yang lewat di jalan ini.”

“Yang berkuda?”

Orang-orang itu mengerutkan beningnya. Salah seorang menjawab, “Selama kami ada di gardu ini, kami tidak melihatnya.”

“Apakah kalian bertugas meronda di siang hari begini?”

“Tidak. Kami melepaskan lelah dan duduk-duduk saja di gardu.”

“Sudah lama?”

“Belum begitu lama.”

“Apakah kalian sudah mengenal Raden Sutawijaya?”

“O, tentu.”

“Raden Sutawijaya yang aku maksud lewat melalui jalan ini. Apakah kalian melihatnya?”

Mereka saling berpandangan sejenak. Kemudian hampir bersamaan mereka menggeleng, “Tidak. Kami tidak melihat.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Terima kasih. Aku akan melanjutkan perjalananku.”

“Ki Lurah akan kemana?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Mencari Raden Sutawijaya.”

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan dan kedua pengawalnya pun segera meneruskan perjalanan. Mereka percaya kepada keterangan para penjaga gardu itu. Apalagi mereka memang tidak melihat jejak kaki kuda yang masih baru.

Ketika mereka sudah melampaui padukuhan itu, Ki Lurah Branjangan berkata, “Raden Sutawijaya tentu tidak melalui jalan yang sudah terbuka ini.”

“Apakah ada jalan lain?” bertanya pengawal itu.

“Jalan yang sudah terbuka memang tidak ada. Tetapi sejak belum ada jalan sama sekali, Raden Sutawijaya memang sudah hilir-mudik ke Alas Mentaok.”

“Maksud Ki Lurah, hilir-mudik antara Mentaok dan Pajang, begitu?”

Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Ya. Maksudku memang demikian.”

Ketiganya pun kemudian berdiam diri. Mereka memandang jalur jalan di hadapan mereka. Meskipun jalan itu masih belum baik namun jalan itu sudah cukup banyak memberikan manfaat kepada Mataram dan daerah di sekitarnya. Di beberapa bagian Ki Lurah justru melihat orang-orang yang sedang beramai-ramai bekerja menyempurnakan jalan itu. Sedang yang lain masih juga sibuk memperluas tanah garapan mereka dengan menebang hutan. Di beberapa gardu tampak orang-orang yang sedang beristirahat sambil mengunyah makanan, setelah mereka memeras keringat menyempurnakan padukuhan masing-masing.

Tetapi tidak seorang pun yang melihat Raden Sutawijaya lewat.

“Kita harus mempercepat jalan kuda-kuda kita,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Masih terlampau siang,” sahut salah seorang pengawalnya.

“Mungkin kita akan pergi ke Tambak Baya.”

Tidak ada yang menjawab.

“Tetapi Tambak Baya sekarang sudah aman. Jika ada perampok kecil karena orang-orang malas yang kelaparan, akan dapat kita selesaikan.”

Kedua pengawalnya hanya mengangguk-angguk saja. Demikianlah kuda-kuda itu berlari semakin cepat. Mereka melintasi jalan yang sudah agak baik. Namun semakin lama jalan itu menjadi semakin buruk. Dan bahkan pada suatu saat seakan-akan ujung jalan itu menusuk masuk ke dalam hutan yang masih lebat. Ujung sebelah timur dari Alas Mentaok yang memang belum digarap seluruhnya.

Dengan demikian maka perjalanan mereka pun mulai terganggu. Mereka hanya dapat maju dengan perlahan-lahan. Namun mereka sama sekali tidak tergesa-gesa, karena senja masih cukup jauh.

“Meskipun jalan ini seolah-olah terputus sampai di sini, tetapi jalur ini adalah jalur satu-satunya yang paling baik untuk menuju ke timur,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Jalan ini adalah jalan raya menuju ke Pajang,” sahut seorang pengawalnya.

Ki Lurah Branjangan tidak menyahut. Jalan itu memang jalan satu-satunya. Di luar Alas Mentaok jalan itu menjadi agak rata. Apalagi setelah melampaui Alas Tambak Baya. Jalan itu benar-benar merupakan jalan raya.

Ketiganya pun kemudian maju sambil berdiam diri. Meskipun tidak begitu cepat, namun mereka pun kemudian sampai juga ke mulut lorong yang bagaikan pintu goa keluar dari Alas Mentaok.

“Raden Sutawijaya tidak ada di sini,” berkata salah seorang pengawalnya.

“Ya. Kita tidak menemukannya. Menurut dugaanku, tidak ada tempat yang lebih baik dari tempat ini untuk menunggu bulan purnama naik. Purnama itu nampaknya tentu seperti lingkaran emas raksasa yang memanjat di atas hitamnya hutan Tambak Baya yang membujur, seperti garis tebal yang tergores di langit,” sahut yang lain.

“Ah, kau sudah berangan-angan,” potong Ki Lurah Branjangan.

Pengawal itu tertawa. Katanya, “Hampir sepanjang hidupku aku tidak pernah memikirkan purnama naik. Di masa kanak-kanak kadang aku kegirangan jika bulan terang. Aku dapat bermain sampai jauh malam. Kadang-kadang malam menjadi terang seperti siang. Tetapi belum pernah terlintas dikepalaku untuk menunggu dan melihat saat purnama naik di atas cakrawala.”

Kawannya pun tertawa. Ki Lurah Branjangan yang mula-mula mengerutkan keningnya pun tertawa pula.

“Kita akan berjalan terus,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian.

“Kemana?” bertanya pengawal itu dengan herannya.

“Melintasi Alas Tambak Baya. Di ujung Alas Tambak Baya kita tentu akan dapat melihat bulan yang sedang terbit itu tanpa dihalangi oleh seleret garis hitam yang tebal. Kita akan langsung dapat melihat, begitu bulan mulai tersembul di cakrawala.”

Kedua pengawal itu terdiam sejenak. Namun hampir berbareng keduanya tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Aneh. Tiba-tiba saja kita sudah terlibat dalam persoalan bulan yang akan terbit malam ini.”

Kedua orang yang lain pun tertawa pula berkepanjangan.

Namun demikian Ki Lurah Branjangan berkata, “Marilah. Kita akan tetap berjalan terus.”

 

 

Kedua pengawalnya tidak menyahut. Mereka mengikuti saja di belakang Ki Lurah Branjangan yang sudah, mendahului. Dan bahkan berkata, “Kita harus berjalan lebih cepat agar kita tidak kemalaman justru di dalam hutan Tambak Baya.”

Sejenak kemudian kuda-kuda itu pun segera berlari. Jalan di luar Alas Mentaok nampaknya agak lebih baik sehingga kuda mereka dapat berlari agak kencang. Namun ketika mereka mulai memasuki Alas Tambak Baya, maka kuda-kuda itu pun berjalan agak lambat.

“Jalan ini sudah menjadi jauh lebih baik, sejak tidak banyak lagi gangguan,” berkata Ki Lurah Branjangan. “Di waktu-waktu terakhir sudah banyak para pedagang yang hilir-mudik lewat jalan ini. Karena itu, perbaikan jalan di ujung Alas Mentaok itu harus dipercepat, agar arus perdagangan menjadi lebih lancar.”

“Jalan itu sudah jauh lebih baik dari beberapa pekan yang lampau,” berkata seorang pengawalnya.

“Tetapi masih dapat menjadi lebih baik lagi.”

Ketiganya tidak berbicara terlampau banyak lagi. Jalan di hutan Tambak Baya itu pun masih perlu mendapat perhatian. Orang-orang Mataram-lah yang paling berkepentingan untuk membuat jalan itu benar-benar menjadi jalan yang dapat dilalui dengan baik.

“Kita akan terlambat sampai di ujung hutan ini,” berkata salah seorang pengawal tiba-tiba.

“Ya. Kita akan keluar dari hutan ini setelah purnama terbit,” sahut pengawal yang lain.

“Itu tidak penting. Raden Sutawijaya akan tetap berada di sana jika ia memang pergi ke sana.”

“Jika ia sudah kembali?”

“Jalan ini adalah jalan yang akan dilaluinya.”

“Jika Raden Sutawijaya memilih jalan lain? Melintas hutan yang pepat seperti yang sering dilakukan?”

“Kita tidak akan berjumpa di jalan ini.”

Kedua pengawal Ki Lurah Branjangan tidak menjawab. Tetapi ada semacam keseganan di dalam hati mereka untuk manyelusuri jalan itu mencari Raden Sutawijaya. Apalagi dalam ketidak-pastian seperti itu. Seakan-akan mereka sedang melakukan pekerjaan yang tidak berguna sama sekali. Apalagi jalan yang mereka lalui meskipun sudah tenang, namun mereka masih harus berwaspada. Terlebih-lebih lagi, warna kelabu mulai membayang di langit yang kemerah-merahan.

Mereka bertiga menyadari, bahwa mereka akan terlambat keluar dari hutan itu. Namun demikian mereka masih saja berjalan terus menuju ke mulut lorong di hutan Tambat Baya itu.

Perlahan-lahan warna yang kelam mulai turun menyelubungi hutan Tambak Baya. Matahari yang telah merayap semakin dekat dengan cakrawala.

Ketiga orang Mataram itu berjalan terus sambil berdiam diri. Sekali-sekali mereka menengadahkan, wajah ke langit, dan di lihatnya senja menjadi semakin buram.

Ki Lurah Branjangan mencoba mempercepat lari kudanya. Ia berharap bahwa ia masih akan dapat mencapai mulut lorong sebelum gelap menjadi semakin pekat, menjelang purnama yang akan segera terbit. Tetapi cahaya bulan itu tidak akan terlampau banyak menyusup di sela-sela dedaunan hutan yang lebat seperti Alas Tambak Baya.

Tetapi Ki Lurah Branjangan dengan kedua pengiringnya tidak dapat memaksa kudanya berlari lebih cepat lagi. Sebelum mereka sampai ke batas hutan, maka matahari pun segera tenggelam, dan hutan pun menjadi hitam.

“Jika kita berada di tengah sawah, maka agaknya masih akan nampak cahaya merah di langit dan rasa-rasanya kita masih akan dapat melihat jalan yang menjelujur di hadapan kita,” berkata salah seorang pengawal itu di dalam hatinya. Namun karena mereka berada di bawah rimbunnya dedaunan, maka senja itu benar-benar telah menjadi gelap.

Tetapi mereka menyadari, bahwa sesaat lagi udara akan segera menjadi cerah. Bulan purnama akan segera terbit dan menerangi langit.

“Namun hutan ini akan tetap gelap,” gumam pengawal itu pula di dalam hati.

Meskipun demikian mereka berjalan terus.

Ternyata mereka tidak terlambat terlampau banyak. Meskipun mereka tidak dapat melihat saat purnama pecah di atas cakrawala, tetapi mereka pun segera keluar dari hutan itu sebelum, bulan memanjat terlampau tinggi.

Tetapi demikian mereka melihat cahaya bulan yang cerah, demikian mereka bertanya-tanya di dalam diri, “Di manakah Raden Sutawijaya.”

Ki Lurah Branjangan yang berkuda di paling depan segera berhenti ketika mereka berada di tempat terbuka. Sejenak ia memandang berkeliling untuk mencari Raden Sutawijaya, jika ia memang berada di pinggir Hutan Tambak Baya itu.

Kedua pengawalnya pun termangu-mangu di belakangnya. Salah seorang yang tidak dapat menahan hati segera bergumam, “Kita tidak menemukannya juga di sini.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas. Katanya, “Kita akan menunggu di sini.”

“Menunggu siapa?” bertanya pengawalnya yang lain

“Raden Sutawijaya.”

“Di sini? Kenapa di sini?”

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Tetapi ia hanya menjawab, “Kita menunggu saja di sini.”

Kedua pengawalnya menjadi heran. Apalagi ketika mereka melihat Ki Lurah Branjangan turun dari kudanya. Ditambatkannya kudanya pada sebatang pohon perdu di atas rerumputan yang hijau.

Kedua pengawalnya berpandangan sejenak. Namun keduanya pun berbuat serupa itu juga.

“Kita duduk di sini,” berkata Ki Lurah.

Kedua pengawalnya bagaikan terpukau oleh perintah itu dan mereka pun duduk dengan tidak banyak pertanyaan.

“Kita menunggu Raden Sutawijaya.”

“Aku tidak mengerti,” seorang pengawalnya berdesis.

“Mudah-mudahan kali ini kita akan mendapatkannya.”

Sambil menggelengkan kepalanya pengawal yang sudah mencari Raden Sutawijaya lebih dahulu itu bergumam, “Benar-benar membingungkan. Apakah sekarang ini Raden Sutawijaya sedang tidak berada di mana-mana seperti yang dikatakan orang?”

Ki Lurah Branjangan memandang pengawal itu sejenak, lalu, “Mudah-mudahan ia akan berada di tempat ini. Kita menunggu semalam ini.”

“Semalam suntuk?” bertanya pengawal yang lain.

“Ya. Sampai Raden Sutawijaya datang.”

Pengawal itu mengeluh. Katanya, “Dingin, dan sejak siang tadi aku belum makan.”

Ki Lurah tersenyum. Jawabnya, “Kau adalah seorang pengawal. Dan kau mempunyai kedudukan seperti seorang prajurit. Jangankan sejak siang tadi, bahkan sejak kemarin pun kau tidak boleh mengeluh.”

“Jika aku berada di peperangan, aku tidak akan mengeluh. Tetapi melihat bulan purnama dengan perut lapar, aku mempunyai pertimbangan tersendiri,” jawab pengawal itu.

Ki Lurah tertawa. Katanya, “Sekali ini. Kita akan tetap menunggu.”

Terdengar pengawal itu berdesah. Dan Ki Lurah berkata, “Kita akan berjaga-jaga bergantian. Kita bagi malam ini menjadi tiga bagian. Yang berjaga-jaga yang pertama kali mendapat giliran sampai bulan itu tepat di tengah. Kemudian yang kedua sampai menjelang dini hari. Dan yang ketiga, sampai matahari terbit besok pagi.”

“Siapa yang pertama?” bertanya pengawal yang seorang.

“Terserah.”

“Aku yang pertama.”

Demikianlah mereka telah membagi diri. Meskipun demikian kedua orang yang tidak sedang bertugas pun tidak segera dapat tidur karena malam masih terlampau dangkal. Mereka masih dengan ragu-ragu menunggu kedatangan Raden Sutawijaya dari tempat yang tidak diketahui oleh kedua pengawal itu.

Sekali-sekali ketiganya mengangkat kepalanya, jika mereka mendengar aum harimau di kejauhan.

Apalagi apabila kuda mereka menjadi gelisah dan meringkik.

Tetapi jika kuda-kuda itu menjadi tenang kembali, maka ketiga orang pengawal dari Mataram itu sempat melihat dedaunan yang kekuning-kuningan diwarnai oleh cahaya bulan yang terang mengapung di langit.

Namun demikian sebenarnyalah mereka tidak begitu tertarik kepada cahaya bulan di dedaunan dan kepada bulan itu sendiri. Mereka menjadi benar-benar merasa jemu. Meskipun demikian mereka telah memaksa diri untuk menunggu di tempat itu semalam suntuk seperti yang dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan.

Tetapi Ki Lurah Branjangan sendiri tidak yakin, bahwa yang ditunggunya akan datang. Bahkan kemudian ia pun telah dilanda pula oleh kejemuan. Namun Ki Lurah Branjangan tetap berniat untuk menunggu. Meskipun ragu-ragu namun ia masih mengharap bahwa perhitungannya benar.

Ketika bulan merayap semakin tinggi, maka mulailah para pengawal yang duduk di pinggir Alas Tambak Baya itu di ganggu oleh perasaan kantuk. Mereka menyelimuti diri mereka dengan kain panjang untuk melindungi gigitan nyamuk yang tiada henti-hentinya mengganggu mereka. Kemudian dua orang yang tidak sedang bertugas berjaga-jaga segera mencari sandaran. Dan sejenak kemudian meka mereka pun segera tertidur meskipun setiap kali mereka terbangun oleh kegelisahan dan gigitan nyamuk Alas Tambak Baya.

Di belahan malam pertama, mereka tidak menjumpai persoalan apa pun juga. Suara harimau terdengar jauh sekali meskipun cukup menggelisahkan kuda-kuda yang tertambat. Tetapi harimau sama sekali tidak mengecutkan hati para pengawal itu, karena mereka bertiga yakin akan dapat melawannya jika seekor harimau datang menyerang.

Ketika bulan sampai di puncak langit, maka para pengawal itu pun berganti tugas. Yang sudah lebih dahulu tidur, segera menggantikan kawannya yang sudah terlalu lelah menahan kantuk.

Tetapi sampai menjelang dini hari, orang itu pun hanya duduk terkantuk-kantuk, tanpa ada peristiwa apa pun juga.

Yang bertugas terakhir adalah justru Ki Lurah Branjangan sendiri, di saat-saat yang paling malas. Di dini hari rasa-rasanya nikmat sekali tidur bersandar sebatang pohon dan berselimut kain panjang sampai ke kepala. Namun pada saat yang demikian Ki Lurah Branjangan harus duduk berjaga-jaga.

Untuk menghilangkan kantuk dan kejemuan, Ki Lurah Branjangan mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangan. Dilemparkannya batu itu ke dalam rimbunnya batang alang-alang. Kemudian dicarinya batu itu sampai dapat diketemukan. Dengan demikian maka Ki Lurah Branjangan berhasil menahan kantuknya. Tetapi ia tidak mudah melawan kejemuannya untuk tetap menunggu.

Meskipun demikian, ia harus memaksa diri untuk tetap berada di tempat itu. Selain karena kedua pengawalnya sedang tidur lelap, ia memang masih saja mempunyai harapan betapa pun tipisnya.

Bulan di langit yang merayap semakin ke Barat, semakin lama menjadi semakin rendah. Bahkan kemudian hilang di balik dedaunan pepohonan liar di Alas Tambak Baya, sementara wajah langit di ujung Timur menjadi semburat merah.

“Hampir fajar,” desis Ki Lurah Branjangan kepada diri sendiri, “dan kami dengan sia-sia telah berada di sini semalam suntuk.”

Dengan lesu Ki Lurah kemudian duduk bersandar sebatang pohon di sebelah kawan-kawannya.

Namun dalam, pada itu, tiba-tiba saja telinganya yang tajam mendengar derap seekor kuda. Semakin lama menjadi semakin jelas.

Dengan ragu-ragu Ki Lurah Branjangan berdiri. Ketika ia yakin bahwa ia memang mendengar derap kaki kuda, maka ia pun segera berjalan menyongsongnya.

“Mudah-mudahan bukan orang lain.”

Dalam keremangan Ki Lurah Branjangan melihat penunggang kuda mendekatinya. Namun agaknya penunggang kuda itu pun sudah melihatnya, karena Ki Lurah memang berdiri di tengah-tengah jalan.

Karena itu maka derap kuda itu pun menjadi semakin lambat, sehingga akhirnya berhenti beberapa langkah di hadapan Ki Lurah Branjangan.

“Raden Sutawijaya,” sapa Ki Lurah Branjangan.

Ki Lurah Branjangan yang maju semakin dekat melihat dengan jelas, bahwa penunggang kuda itu memang Raden Sutawijaya.

Raden Sutawijaya yang melihat Ki Lurah Branjangan itu pun dengan tergesa-gesa meloncat turun. Dengan gelisah ia bertanya, “Apa yang telah terjadi, Paman?”

Ki Lurah Branjangan tersenyum. Ia tidak mau mengejutkan Raden Sutawijaya. Katanya, “Tidak ada apa-apa, Raden.”

“Tetapi kenapa Paman ada di sini sendiri?”

“Aku membawa dua orang pengawal,” jawab Ki Lurah sambil berpaling. Ternyata kedua pengawal itu sudah terbangun pula dan menggeliat berdiri.

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak, lalu, “Tentu ada persoalan yang penting. Bagaimana dengan Ayahanda?”

“Tidak apa-apa. Memang kami sedang mencari Raden Sulawijaya, tetapi tidak oleh persoalan yang terlampau mendesak.”

“Kenapa Paman tidak menunggu saja aku kembali?”

“Raden,” Ki Lurah menyahut dalam nada datar, “aku ingin Raden segera menghadap ayahanda, meskipun tidak dalam keadaan yang mendesak. Seorang pekerja mengatakan bahwa Raden sedang menunggu purnama terbit malam ini. Itulah yang mendorong kami menunggu Raden di sini.”

Raden Sutawijaya menegang sejenak. Dipandanginya Ki Lurah Branjangan dan kedua pengawalnya berganti-ganti. Terasa sesuatu telah menyentuh perasaannya.

“Raden,” Ki Lurah meneruskan, “ketika aku sampai di tempat ini dan ternyata Raden Sutawijaya tidak ada, maka aku pun bertekad untuk menunggu Raden di sini.”

“Persetan dengan pekerja itu,” geram Raden Sutawijaya.

“Tetapi aku kira orang itu tidak berbohong. Ia berkata sebenarnya. Tentu ia tidak akan dapat mengarang sebuah cerita tentang bulan purnama.”

“Sekarang, apakah yang Paman perlukan,” potong Raden Sutawijaya, “apakah aku harus menghadap Ayahanda? Jika demikian, marilah kita segera pulang. Apa pun alasan Paman berada di sini.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Baiklah, Raden. Sehari penuh kemarin kami mencari Raden. Sekarang barulah kami menemukannya.”

“Apakah aku sudah terlambat?”

“Tentu tidak, Raden. Tentu tidak.”

“Kita akan segera pulang.”

Ki Lurah Branjangan menganggukkan kepalanya. Tetapi rasa-rasanya ia masih ingin bertanya sesuatu. Tetapi ternyata Raden Sutawijaya yang seolah-olah mengetahui perasaan yang tersimpan di dalam hatinya mendahuluinya, “Kau tidak usah bertanya tentang apa pun Ki Lurah. Kita kembali. Cepat.”

Ki Lurah Branjangan menelan pertanyaannya yang sudah hampir meloncat dari bibirnya Bahkan kemudian katanya, “Marilah, Raden. Aku akan mengambil kudaku.”

Ki Lurah Branjangan dan kedua pengawalnya pun kemudian mengambil kudanya yang tertambat. Namun dalam pada itu, agaknya Raden Sutawijaya sudah tidak telaten lagi menunggu mereka. Maka Raden Sutawijaya pun kemudian mendahuluinya memasuki hutan Tambak Baya.

Sementara itu langit di timur menjadi semakin terang. Bulan yang turun di ujung barat telah tidak nampak lagi di langit.

Ternyata hutan Tambak Baya masih cukup gelap. Untunglah bahwa mereka adalah pengawal-pengawal yang berpengalaman, sehingga meskipun tidak dapat maju dengan cepat, namun mereka dapat berjalan terus.

“Ki Lurah,” salah seorang pengawalnya berbisik, “sebenarnya permainan apakah yang sedang kita lakukan ini?”

“Permainan yang mana maksudmu?”

“Raden Sutawijaya pergi dengan diam-diam, kemudian setelah kita tunggu di sini semalam suntuk, tiba-tiba saja kita ketemukan Raden Sutawijaya agaknya baru kembali dari bepergian. Apakah Ki Lurah mengetahuinya dari manakah kira-kira Raden Sutawijaya itu?”

Ki Lurah Branjangan tersenyum. Sesaat dipandanginya bayangan di dalam keremangan pagi di hadapan mereka. Raden Sutawijaya agaknya tidak menghiraukan lagi, apakah Ki Lurah Branjangan berada dalam jarak yang jauh atau dekat di belakangnya.

“Bagaimana Ki Lurah?” desak pengawal itu. “Raden Sutawijaya tidak akan mendengarnya.”

“Kau memang selalu ingin tahu saja,” gumam Ki Lurah Branjangan,

“Semalam suntuk kita menjadi makanan nyamuk. Sebaiknya Ki Lurah memang mengatakannya,” yang lain mendesak juga.

Ki Lurah Branjangan tertawa perlahan. Katanya, “Bukankah sudah kalian ketahui bahwa Raden Sutawijaya pergi untuk melihat bulan purnama.”

“Ah,” desah pengawal itu, “Ki Lurah berolok-olok.”

“Siapa yang mengatakan bahwa Raden Sutawijaya pergi melihat bulan? Bukankah kau sendiri?”

“Tetapi apa yang dilakukan sebenarnya?”

Sekari lagi Ki Lurah tertawa. Dan kedua pengawalnya menjadi tidak sabar. Katanya, “Ki Lurah jangan berolok-olok saja.”

Ki Lurah masih tertawa. Katanya kemudian, “Sebenarnyalah Raden Sutawijaya sedang melihat bulan. Tetapi bukan bulan yang terapung di langit. Aku sudah menduga, bahwa Raden Sutawijaya sedang didesak oleh kerinduan. Karena itu maka agaknya Raden Sutawijaya telah pergi ke Pajang. Sejak kalian mencarinya, Raden Sutawijaya tentu sudah berangkat.”

“Ah, kenapa ia pergi ke Pajang? Dengan keras hati Raden Sutawijaya menolak ajakan Ki Gede Pemanahan. Tetapi kenapa tiba-tiba saja ia pergi?”

“Sebenarnya Raden Sutawijaya tidak pantang pergi ke Pajang. Tetapi ia sudah terlanjur berkata, bahwa ia tidak akan menginjak lantai Istana Pajang sebelum Mataram menjadi sebuah negeri yang ramai. Jadi hanya Istana Pajang.”

“Dan apakah yang dilakukannya sekarang di Pajang?”

“Kalian memang bodoh. Bukankah perempuan yang sedang mengandung itu berada di Pajang?”

“Semangkin, putri Kanjeng Sunan Prawata yang diangkat anak oleh Kanjeng Ratu Kalinyamat?”

“Ya, yang seharusnya diserahkan kepada Sultan Hadiwijaya itu.”

“O,” keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Kenapa Ki Lurah tidak mengatakannya sejak kemarin. Jika kami mengetahuinya, maka tugas kami semalam suntuk ini tidak akan terasa terlampau berat dan menjemukan. Hampir saja aku tidak tahan lagi dan memaksa untuk kembali.”

“Aku pun belum yakin. Tetapi bagaimana pun juga, kalian tidak akan dapat ingkar atas tugasmu.”

Kedua pengawal itu saling berpandangan sejenak. Namun salah seorang dari mereka pun kemudian berkata, “Ki Lurah benar. Senang atau tidak senang, jemu atau tidak jemu, kami memang harus menjalankan tugas kami dengan baik. Tetapi jika tugas itu terasa ringan, maka sudah barang tentu akan dapat kami lakukan lebih baik lagi.”

“Sudah terlanjur. Apakah aku harus mengulangi sekali lagi?”

“Ah.”

Ketiganya pun terdiam. Ketika mereka menengadahkan wajah mereka ke langit, nampak cahaya pagi mulai membayang. Beberapa langkah di hadapan mereka, Raden Sutawijaya nampaknya menjadi semakin kecil karena jarak yang semakin jauh.

“Cepat. Kita susul Raden Sutawijaya,” berkata Ki Lurah Branjangan.

Kedua pengawalnya tidak menjawab. Tetapi kuda-kuda mereka sajalah yang berlari lebih cepat.

Namun di dalam perjalanan itu, para pengawal tidak henti-hentinya menilai tindakan Raden Sutawijaya. Tetapi mereka mengerti, bahwa Raden Sutawijaya adalah seorang anak muda yang keras hati. Kemudaannyalah yang telah membawanya pergi ke Pajang, mengunjungi putri Kalinyamat itu. Apalagi gadis itu memang sudah bukan gadis lagi karena ia sudah mengandung.

Dalam pada itu, selagi Ki Gede Pemanahan berbaring sendiri di dalam biliknya, telah datang mengunjunginya seorang yang dikenalnya dengan akrab, bahkan seperti saudara sekandungnya, Ki Juru Martani.

Ki Juru Martani terkejut ketika ia melihat Ki Gede Pemanahan berbaring dengan wajah pucat. Karena itu maka dengan tegang Ki Juru Martani itu pun duduk di pembaringan sambil meraba tubuh Ki Gede yang lemah.

“Kenapa kau, Adi Pemanahan?” bertanya Ki Juru.

Tetapi Ki Gede Pemanahan tetap tersenyum. Katanya, “Aku tidak apa-apa, Kakang. Barangkali aku terlalu letih. Karena itu aku perlu beristirahat.”

“Tetapi luka-luka itu?”

“Luka-luka itu sudah hampir sembuh.”

“Mungkin luka-lukamu sudah hampir sembuh. Tetapi nampaknya ada luka di dalam hatimu. Itulah agaknya yang parah.”

Tetapi Ki Gede Pemanahan tertawa. Katanya, “Kau masih saja senang menebak. Tetapi kali ini kau keliru, Kakang. Aku tidak apa-apa.”

Tetapi Ki Juru beringsut sambil berkata, “Jangan membohongi saudara tua. Nah, katakan, apa yang sedang kau pikirkan. Sekali lagi aku akan menebak. Dan sekali lagi aku tidak akan salah pula. Kau tentu memikirkan anakmu.”

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Katanya kemudian dalam nada yang datar, “Kau memang pandai menebak, Kakang. Tetapi apakah kau dapat menebak, apakah yang telah dilakukan oleh Sutawijaya?”

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Tentu, Adi Pemanahan. Aku tentu dapat menebak dengan tepat pula.”

Wajah Ki Gede berkerut. Namun ia masih mencoba tersenyum dan bertanya, “Nah. apakah Kakang Juru dapat menyebutnya?”

Ki Juru Martani masih tersenyum. Katanya, “Tentu karena anakmu tidak pernah ada di rumah. Tetapi itu suatu pertanda baik. Anakmu tentu keluar masuk hutan dan barangkali goa-goa dan bukit-bukit yang sepi. Di sana anakmu akan mendapatkan kesejukan rohani dan akan lebih menguntungkan bagimu dan bagi Mataram, jika Raden Sutawijaya dengan demikian akan menjadi seorang ksatria yang linuwih.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Juru Martani berkata selanjutnya, “Adi. Setiap orang sudah mengetahui bahwa putramu itu gemar mesu diri dan olah kanuragan serta kajiwan. Kau tidak perlu memikirkannya. Apalagi dengan cemas dan ketakutan. Serahkan segalanya kepada Yang Maha Pencipta.”

Namun justru kata-kata Ki Juru Martani itu rasa-rasanya membuat luka di hati Ki Gede menjadi semakin parah. Meskipun ia masih tetap berusaha tersenyum, namun ternyata bahwa senyumnya menjadi hambar.

Betapa pun Ki Gede mencoba menyembunyikannya, tetapi Ki Juru berhasil menangkap kepahitan yang tersirat dari tatapan wajah Ki Gede Pemanahan, sehingga karena itu maka dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah sebenarnya yang telah terjadi, Adi Pemanahan? Berapa bulan aku tidak berkunjung kemari. Agaknya sesuatu memang telah terjadi. Dan bukankah kau belum mengatakan, siapakah yang telah melukaimu?”

Ki Gede termenung sejenak. Namun ia pun kemudian berkata, “Sebenarnyalah bahwa tidak ada rahasia lagi di antara kita, Kakang. Karena itu, apakah buruknya jika aku menceriterakan apa yang telah terjadi atas diriku, atas Mataram dan atas Sutawijaya.”

Ki Juru Martani bergeser sejengkal. Katanya, “Agaknya ceriteramu akan menjadi sangat menarik.”

“Mungkin, Kakang. Tetapi mungkin juga sangat memuakkan.”

“Ah,” desah Ki Juru, “katakan jika kau memang tidak berkeberatan.”

Ki Gede termangu-mangu sejenak. Namun kemudian diceritakannya apa yang terjadi. Sebagian Ki Juru sudah mengetahui tentang gangguan yang selama itu memperlambat perkembangan Mataram. Kemudian kepergian Sutawijaya ke Menoreh. Dan yang terakhir adalah kepergian Ki Gede Pemanahan sendiri ke Pajang dengan segala kepentingannya.

“Di perjalanan kembali itulah aku terluka,” Ki Gede menutup ceritanya dengan menguraikan kejadian yang dialaminya di pinggir Kali Opak.

Ki Juru Martani mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kesan bahwa Ki Juru Martani terkejut mendengar cerita itu, terutama tentang Raden Sutawijaya yang telah melakukan suatu perbuatan yang tercela.

“Kakang,” desis Ki Gede Pemanahan, “bagaimanakah pendapat Kakang tentang hal itu? Agaknya Kakang acuh tidak acuh saja mendengarnya.”

“Jangan salah mengerti, Adi Pemanahan. Sebenarnyalah bahwa aku sudah mendengar apa yang telah terjadi dengan putramu itu.”

“O,” wajah Ki Gede Pemanahan menjadi tegang sejenak. Namun ia pun kemudian menjadi lesu dan berdesah, “Jadi Kakang sudah mengetahuinya.”

 

 

Ki Juru Martani mengangguk, “Maaf, Adi. Bukan maksudku untuk menambah Adi Pemanahan menjadi semakin berkecil hati. Berita tentang yang telah terjadi itu sudah banyak didengar orang. Apalagi mereka yang tidak senang kepada Jebeng Sutawijaya. Mereka telah menyiarkan berita itu, seakan-akan Sutawijaya telah melakukan perbuatan yang paling terkutuk di muka bumi.”

“Kakang, tetapi apakah tidak sebenarnya memang demikian?”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Katanya, “Memang demikian, Adi. Tetapi jika hal itu telah terjadi, maka yang perlu dipikirkannya adalah penyelesaiannya.”

“Seperti aku katakan, aku sudah menghadap Sultan Pajang. Tetapi Sutawijaya tidak percaya bahwa Sultan Pajang telah benar-benar mengampuninya. Bahkan timbullah prasangka buruknya atas Untara dan prajurit-prajurit Pajang yang justru telah menolong aku di pinggir Kali Opak itu.”

Tetapi di luar dugaannya, ternyata Ki Juru Martani itu justru tersenyum. Katanya, “Itulah sifat anak-anak muda. Curiga dan kadang-kadang tanpa dipikirkannya masak-masak.”

“Kakang,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “apakah Kakang dapat menunggunya barang sehari ini? Ki Lurah Branjangan sedang mencarinya. Mungkin ia akan segera pulang. Jika Kakang percaya bahwa Sultan Pajang berbuat dengan hati tulus, maka Kakang tentu akan bersedia menolong aku memberitahukan hal itu kepada Sutawijaya.”

Ki Juru merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan menunggu Raden Sutawijaya.”

Demikianlah maka Ki Juru Martani pun tetap tinggal bersama Ki Gede Pemanahan sambil menunggu kedatangan Raden Sutawijaya. Pembicaraan mereka pun kemudian berkisar mengenai perkembangan Tanah Mataram yang nampaknya sangat pesat dan menggembirakan.

Menjelang matahari mencapai ujung pepohonan, Ki Lurah Branjangan mengiringi Raden Sutawijaya memasuki halaman rumahnya. Sutawijaya yang gelisah, segera menyerahkan kudanya kepada seorang pelayan, dan ia sendiri langsung memasuki ruang dalam.

Ketika ia sampai ke pintu bilik ayahandanya, ia pun tertegun. Dilihatnya di dalam bilik itu Ki Juru Martani duduk di pembaringan ayahnya.

“O,” Raden Sutawijaya menundukkan kepalanya, “Pamanda Ki Juru Martani.”

Ki Juru Martani tertawa. Katanya, “Kemarilah, Sutawijaya. Sudah lama uwakmu tidak bertemu. Aku menjadi sangat rindu kepadamu. Ketika aku datang dan aku tidak menemukan kau di dalam rumah ini, aku menjadi kecewa. Tetapi menurut ayahandamu, kau tentu akan segera kembali.”

Raden Sutawijaya tidak menyahut. Ia duduk dengan kepala tunduk di atas sebuah dingklik kayu di sisi pembaringan ayahandanya.

“Ternyata kau telah benar-benar datang,” Ki Juru melanjutkan.

Raden Sutawijaya mencoba tersenyum. Tetapi senyumnya terasa sangat hambar.

Beberapa saat lamanya Ki Juru Martani bertanya-tanya tentang Tanah Mataram yang sedang dibuka. Kemajuan yang telah dicapai, dan rencana yang telah disusun.

Semula Sutawijaya merasa canggung menanggapi pertanyaan-pertanyaan Ki Juru Martani. Ia merasa bahwa akhirnya pembicaraan itu tentu akan sampai kepada persoalannya. Persoalan yang di luar sadarnya telah melihatkan banyak pihak di dalamnya.

Tetapi ternyata Ki Juru Martani sama sekali tidak menyinggung mengenai persoalannya dengan gadis Kalinyamat itu, sehingga lambat laun pembicaraannya menjadi lancar.

Tanpa disadarinya, maka Ki Juru Martani telah membuka hati Raden Sutawijaya. Itulah sebabnya, ketika mereka kemudian duduk berdua setelah mereka makan siang, barulah Sutawijaya menyadari bahwa ia telah terlibat dalam pembicaraan yang bersungguh-sungguh dengan Ki Juru Martani.

Tetapi ternyata bahwa Ki Juru Martani mempunyai sikap yang agak berbeda dengan Ki Gede Pemanahan. Justru karena Ki Juru Martani tidak langsung mengalami persoalan itu pada putranya sendiri. Karena itulah, maka Ki Juru Martani dapat melihat peristiwa itu dengan lebih jernih.

Namun ternyata pandangan mata hati Ki Juru Martani tidak terhenti pada bentuk wadag antara Raden Sutawijaya dan gadis Kalinyamat itu. Dengan suara yang dalam orang tua itu berkata, “Sutawijaya. Sebenarnya bukannya secara kebetulan aku datang kemari. Aku sudah mendengar semua yang terjadi atasmu, bukan baru saja aku dengar dari ayahandamu. Dan aku sudah mengatakan pula kepada ayahandamu tentang hal itu. Tetapi yang belum aku katakan kepadanya, dan barangkali nanti atau dalam kesempatan lain, bahwa rasa-rasanya ada semacam firasat tentang bayi yang akan lahir itu.”

Sutawijaya termenung sejenak. Tetapi karena Ki Juru Martani tidak semata-mata marah kepadanya tentang peristiwa yang telah terjadi, maka ia memberanikan diri untuk bertanya, “Apakah maksud Paman Juru Martani tentang firasat itu?”

Ki Juru Martani termenung sejenak, lalu, “Aku tidak dapat mengatakan sesuatu kepadamu sekarang, Raden. Tetapi kau harus menyambut kedatangan anak itu sebaik-baiknya. Kau harus menerima kehadirannya dengan wajar, dan kau sama sekali tidak boleh menyia-nyiakan ibunya.”

“Tidak, Paman. Aku tidak akan menyia-nyiakan.”

“Kau baru saja mengunjunginya malam ini?”

Sutawijaya tertunduk. Wajahnya menjadi kemerah-merahan.

“Kau tahu, bagaimana tanggapan ayahandamu Sultan Pajang mengenai peristiwa ini?”

“Aku mendengar dari Ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

“Kau harus berterima kasih, bahwa hal ini tidak menjadi alasan ayahandamu untuk marah kepadamu. Ayahandamu Sultan Pajang benar-benar mengampunimu.”

Sutawijaya memandang Ki Juru sekilas. Namun Ki Juru sudah menangkap perasaan yang memercik dari tatapan mata yang hanya sekilas itu.

“Kau tidak percaya?”

Sutawijaya tidak menjawab.

Ki Juru Martani yang mendapat pesan dari Ki Gede Pemanahan untuk mencoba melunakkan hati Sutawijaya itu pun kemudian berkata, “Raden Sutawijaya, kau sebaiknya mencoba mengendapkan persoalan ini di dalam hatimu. Cobalah mengenang sifat ayahandamu Sultan Pajang. Apakah ada sesuatu yang tidak memungkinkan menurut pendapatmu, bahwa ayahandamu itu memaafkan kau?”

Sutawijaya sama sekali tidak menjawab. Sementara Ki Juru Martani mencoba untuk meyakinkannya dengan sikap kebapakan.

Tetapi Ki Juru Martani tidak terlampau panjang berbincang dengan Sutawijaya. Ia tidak ingin membuat anak itu jemu terhadapnya. Karena itu, maka ia pun kemudian mengalihkan pembicaraan pada luka-luka ayahnya yang didapatkannya di tepi Kali Opak.

“Kau kenal dukun dari Dukuh Pakuwon itu?” bertanya Ki Juru Martani.

“Maksud Paman?”

“Kiai Gringsing.”

“O,” Sutawijaya menengadahkan wajahnya. Karena pembicaraan itu agaknya sudah bergeser, maka sikapnya pun segera berubah, “aku mengenalnya dengan baik, Paman,”

“Apakah menurut pendapatmu ia memang seorang dukun dari padukuhan kecil di dekat Jati Anom itu?”

“Maksud Paman?”

“Apakah kau tidak meiihat sesuatu yang dapat menumbuhkan persoalan di dalam hatimu tentang orang tua itu?”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Aku kurang mengerti maksud Paman. Jika yang dimaksud kemampuan olah kanuragan, sebenarnyalah bahwa Kiai Gringsing memiliki kemampuan yang luar biasa.”

“Itu sudah dapat menumbuhkan persoalan.”

Sutawijaya pun kemudian menceritakan pertempuran yang luar biasa yang telah terjadi antara Kiai Gringsing dan Panembahan Alit. Pertempuran yang jarang sekali terjadi. Pertempuran antara dua orang yang memiliki ilmu melampaui orang kebanyakan.”

Ki Juru Martani mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Bagaimana kalau Kiai Gringsing itu diminta untuk mencoba mengobati ayahandamu?”

“Seperti yang dimaksud Ki Lurah Branjangan?”

“Banyak hal yang akan timbul. Orang tua itu tentu mempunyai pandangan yang jauh mengenai Mataram dan Pajang. Apakah ia pernah menyinggungnya?”

“Sekali-sekali, Paman. Kadang-kadang Kiai Gringsing senang juga berbicara tentang Mataram dan Pajang.”

“Demak?”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Memang ada sesuatu yang tersembunyi pada orang itu. Sejak aku menjumpainya di Sangkal Putung, sebenarnya aku telah diganggu oleh beberapa macam pertanyaan tentang dirinya.”

“Sutawijaya,” berkata Ki Juru Martani kemudian, “jika demikian, selagi Mataram menghadapi banyak persoalan sekarang ini, aku sependapat jika kau pergi saja ke Menoreh untuk menjemput Kiai Gringsing. Ia tentu tidak berkeberatan mengobati ayahandamu yang sedang sakit. Sakit ayahandamu bukan sekedar timbul karena ia terluka. Tetapi ada penyakit lain yang harus segera mendapat pengobatan.”

“Maksud Paman?”

Ki Juru Martani tersenyum. Katanya, “Panggil sajalah Kiai Gringsing. Kau tidak usah mengatakan persoalan apa pun juga, selain persoalan luka-luka dan sakit ayahandamu. Kau jangan mencoba mencari-cari sebab penyakit itu sendiri. Katakan apa yang nampak oleh penglihatanmu. Itu saja.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu karena ia yakin, bahwa Ki Juru Martani tentu tidak akan mengatakan lebih jauh daripada itu.

“Nah, marilah kita kembali ke dalam bilik ayahandamu. Kita akan berbicara tentang Kiai Gringsing. Kapan kau dan Ki Lurah Branjangan atau salah seorang dari kalian akan berangkat ke Menoreh.”

“Tetapi Kiai Gringsing sendiri waktu itu sedang terluka, Paman,” sahut Sutawijaya.

“Tentu saja jika ia sudah sembuh atau oleh kemauannya sendiri ia bersedia berangkat segera.”

Raden Sutawijaya merenung sejenak. Luka-luka Kiai Gringsing agaknya memang parah. Tetapi sebagai seorang dukun yang pandai dalam hal obat-obatan Sutawijaya berharap bahwa keadaan Kiai Gringsing telah menjadi baik dan memungkinkan untuk pergi ke Mataram.

“Mudah-mudahan orang itu belum pergi ke Sangkal Putung,” berkata Sutawijaya kemudian, “karena ia berada di Menoreh sebenarnya sekedar mengantarkan Ki Demang Sangkal Putung melamar anak perempuan Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

“O, begitu jauh? Apakah keduanya masih ada hubungan keluarga sehingga mereka ingin mempererat hubungan itu dengan perkawinan anak-anak mereka?”

“Sepanjang pendengaranku mereka tidak pernah menyebut demikian.”

“Jadi bagaimana mereka dapat menempuh jarak sejauh itu tanpa ada hubungan apa pun?”

“Hubungan itu telah dijalin oleh anak-anak mereka sendiri, sedang orang tua mereka tidak berkeberatan.”

Ki Juru Martani mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika memang jodoh itu datang, jarak agaknya tidak menjadi soal. Demikian juga agaknya yang terjadi atas anak Ki Demang Sangkal Putung dan anak perempuan Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu.

Demikianlah maka keduanya pun kemudian memasuki kembali bilik Ki Gede Pemanahan. Mereka duduk di sebelah pembaringan dan mulai lagi berbincang mengenai beberapa hal. Namun mereka kemudian mengambil kesimpulan, bahwa Sutawijaya dan Ki Lurah Branjangan akan pergi ke Menoreh, untuk minta Kiai Gringsing datang ke Mataram.

“Besok pagi-pagi benar aku akan berangkat,” berkata Sutawijaya.

“Hati-hatilah di perjalanan,” pesan Ki Juru Martani, “meskipun menurut perhitunganmu jalan ke Menoreh seakan-akan sudah bersih, seperti juga jalan ke arah timur setelah Panembahan Agung dapat kalian kalahkan, namun kadang-kadang kita menjumpai persoalan yang sama sekali tidak terduga.”

“Baik, Paman,” jawab Sutawijaya, “aku akan membawa beberapa orang serta bersama kami.”

“Itu lebih baik. Tetapi jangan mengejutkan orang-orang Menoreh dengan sikap dan tingkah laku kalian.”

Malam yang kemudian turun menjelang keberangkatan Sutawijaya, Ki Gede Pemanahan masih memberikan beberapa pesan. Pesan buat Kiai Gringsing dan buat Ki Argapati. Tetapi ia pun berkata, “Jika tidak berkeberatan, persilahkan Ki Demang Sangkal Putung itu singgah pula untuk beberapa hari. Bukankah Mataram ada dilalui jalan mereka jika mereka kembali ke kademangannya?”

“Aku akan menyampaikannya, Ayahanda,” jawab Sutawijaya.

“Selain daripada itu, aku menyampaikan terima kasih yang tidak terhingga. Meskipun mereka nampaknya melakukan pembersihan atas daerah mereka sendiri, tetapi sebenarnya bahwa Ki Argapati telah membantu tegaknya Mataram yang sedang tumbuh dan berkembang ini.”

“Dan juga kepada Ki Waskita, Ayahanda.”

“Tentu. Kepada semuanya yang telah berjuang dengan berani. Kita harus mengakui, bahwa tanpa mereka Mataram tidak akan dapat berbuat apa-apa. Apalagi apabila orang-orang yang tidak mau melihat Mataram tumbuh itu sempat membuat rencana yang masak dengan orang-orang mereka yang kini berada di Pajang. Dan tentu tidak akan salah jika aku menduga bahwa orang-orang penting di Pajang pun sebagian telah terlibat dalam perencanaan itu.”

“Itulah yang masih selalu membuat kalian harus berprihatin,” potong Ki Juru Martani.

Ki Gede Pemanahan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Seperti yang telah direncanakan, maka Raden Sutawijaya pun kemudian berkemas bersama Ki Lurah Branjangan. Mereka besok pada dini hari akan berangkat ke Menoreh bersama dengan beberapa orang pengawal. Mereka mengharap sebelum tengah hari mereka sudah akan berada di induk Tanah Perdikan Menoreh dan bertemu dengan Ki Argapati.

“Mudah-mudahan mereka masih ada di sana.”

Ketika ayam jantan berkokok menjelang fajar, Raden Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan, dan empat orang pengawalnya telah siap di halaman rumah. Sutawijaya masih memasuki bilik ayahandanya dan mohon diri. Sedang Ki Juru Martani mengantar kepergian mereka sampai di regol halaman.

“Hati-hatilah,” berkata Ki Juru Martani, “bukan saja di perjalanan. Tetapi juga caramu mengatakannya kepada Kiai Gringsing. Kau jangan menyebut apa saja. Kau tidak boleh menunjukkan prasangka apa pun. Kau undang orang tua itu semata-mata karena ia seorang yang selama ini kau kenal sebagai orang yang pandai mengobati segala macam penyakit. Selebihnya, memang bukan persoalanmu, tetapi persoalan orang tua-tua.”

Sutawijaya pun kemudian berangkat dengan membawa segala macam pesan itu di dalam dadanya. Pesan Ki Juru Martani justru membuatnya semakin bertanya-tanya tentang orang tua itu.

Ketika mereka sudah lewat sebuah alun-alun yang mulai dibangun di hadapan rumah Ki Gede Pemanahan dengan sepasang pohon beringin yang mulai nampak subur. Sutawijaya dan pengawal-pengawalnya mulai berpacu lebih cepat. Langit yang menjadi semakin terang melepaskan warna-warna merah kekuning-kuningan, membayang di dedaunan yang basah oleh embun.

Rasa-rasanya angin yang mulai bertiup telah membangunkan seluruh Mataram. Dedaunan mulai bergerak-gerak dan disetiap halaman terdengar derik sapu lidi.

Raden Sutawijaya menarik nafas panjang. Udara pagi terasa menyegarkan rongga dadanya. Menjelang pagi hari Raden Sutawijaya melihat Mataram yang bangkit dan mulai dengan kerja keras seperti yang dilakukan sehari-hari sebelumnya.

Di sepanjang jalan Sutawijaya ternyata tidak dapat berlalu begitu saja tanpa singgah untuk melihat setiap kelompok pekerja yang sedang mempersiapkan diri dengan tugas masing-masing. Untuk beberapa saat lamanya, Raden Sutawijaya memerlukan berbicara dengan mereka. Bertanya-tanya tentang tugas mereka dan hasil yang pernah mereka capai sampai saat terakhir.

Kedatangan Raden Sutawijaya selalu disambut dengan penuh kegembiraan. Namun kedatangannya tidak pernah mengejutkan, karena sudah terlampau sering dilakukannya.

Yang membuat para pekerja itu heran adalah karena saat itu Raden Sutawijaya pergi bersama Ki Lurah Branjangan dengan diiringi oleh beberapa orang pengawal. Pakaian yang dikenakannya pun bukan pakaiannya sehari-hari jika Raden Sutawijaya pergi berkeliling melihat-lihat orang-orang yang sedang giat bekerja tanpa henti-hentinya.

“Apakah Raden akan bepergian?” bertanya seseorang pekerja.

“Ya. Aku akan pergi ke Menoreh bersama Paman Branjangan dan pengawal-pengawalku ini.”

“Apakah masih ada sesuatu yang belum terselesaikan?” bertanya pekerja yang lain.

“Jika yang kau maksud adalah persoalan Panembahan Agung, maka semuanya sudah selesai. Aku sekarang pergi ke Menoreh dalam persoalan lain. Persoalan pengobatan Ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

Para pekerja itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka semuanya sudah mendengar bahwa Ki Gede Pemanahan berada dalam keadaan sakit. Bukan saja oleh luka-luka senjata, tetapi sebenarnya ia sedang sakit.

Kepergian Raden Sutawijaya ke Menoreh menumbuhkan harapan bagi para pekerja yang menganggap Ki Gede Pemanahan adalah pemimpin mereka. Bukan saja pemimpin, tetapi seakan-akan telah menjadi orang tua mereka. Para pekerja itu pun sudah pernah mendengar bahwa dukun yang pandai yang bernama Kiai Gringsing itu ada di Menoreh.

Demikiankah maka Raden Sutawijaya pun segera melanjutkan perjalanannya. Di beberapa bagian ia melihat para pekerja sudah mulai dengan kerja mereka. Beberapa orang masih saja berusaha memperluas tanah garapan dengan menebang hutan-hutan yang masih pekat. Para pekerja itu tidak perlu takut lagi mendengar bunyi burung kedasih, derap kaki kuda di malam hari dan tengkorak-tengkorak yang menari-nari di atas punggung kuda yang gemerlapan. Mereka tidak pernah lagi menyebut hantu-hantu Alas Mentaok.

Dengan demikian, maka tugas mereka pun menjadi semakin lancar.

Raden Sutawijaya meninggalkan setiap kelompok pekerja dengan memberikan pesan-pesan. Bagaimanapun juga mereka harus tetap berhati-hati, meskipun sekedar melawan binatang-binatang buas dan ular-ular berbisa yang berkeliaran di beberapa bagian dari hutan itu.

Akhirnya, beberapa lama kemudian, Raden Sutawijaya bersama para pengawalnya sampai pada ujung jalan yang sedang diselesaikan, sehingga mereka pun kemudian harus melintasi jalan setapak di dalam hutan yang masih lebat.

Dengan demikian maka penjalanan mereka pun menjadi agak sendat. Namun kuda-kuda mereka dapat maju betapa pun lambatnya.

Baru setelah mereka melampaui hutan yang lebat dan sampai pada sebuah padang perdu dan ilalang, kuda-kuda mereka pun dapat bergerak lebih leluasa sehingga perjalanan mereka menjadi semakin cepat.

Tetapi ternyata bahwa rencana Raden Sutawijaya untuk mencapai pedukuhan induk Menoreh menjelang tengah hari, sama sekali tidak dapat dilaksanakannya. Rombongan kecil itu terlampau banyak berhenti di setiap kelompok kerja. Berbicara untuk beberapa waktu. Memberikan pesan-pesan den kadang-kadang melihat-lihat hasil pekerjaan mereka.

Karena itulah maka pada saat matahari sampai di puncak langit kuda-kuda mereka pun sedang dituntun naik ke atas rakit untuk menyeberangi Sungai Praga yang arusnya agak besar karena hujan di bagian ujung sungai itu agaknya sudah mulai deras.

Baru ketika mereka sudah ada di seberang Sungai Praga, kuda-kuda itu dapat berlari lebih cepat lagi. Namun Raden Sutawijaya tidak memacu kudanya terlampau cepat, agar tidak menimbulkan kesan yang mengejutkan di tlatah Tanah Perdikan Menoreh.

Namun demikian, ternyata tiga ekor kuda yang tegar telah berpacu mengejar mereka. Kaki-kaki kuda itu berderap sambil melemparkan debu yang putih.

“Siapakah mereka?” bertanya Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu. Namun bagaimana pun juga yang mengejar itu hanya tiga orang di atas punggung, tiga ekor kuda. Ketiganya tentu bukan orang-orang yang pantas menimbulkan bencana atas mereka. Jika mereka orang-orang Menoreh, maka mereka tentu tidak akan berbuat apa-apa, sebab mereka sudah mengetahui siapakah Raden Sutawijaya. Apalagi para pengawal Tanah Perdikan yang telah ikut memburu orang-orang di padepokan Panembahan Agung. Sedangkan apabila mereka adalah orang-orang jahat, maka jumlah mereka terlampau sedikit untuk dapat berhasil merampas apa pun dari Raden Sutawijaya dan pengawal-pengawalnya.

Meskipun demikian, hati Raden Sutawijaya menjadi berdebar. Semakin dekat tiga orang berkuda itu, jantung Raden Mas Sutawijaya menjadi semakin cepat berdetak. Bukan karena ia takut menghadapi bahaya apa pun juga, tetapi jika timbul salah paham maka ia akan berada dalam kedudukan yang sulit.

“Tetapi jika mereka justru orang-orang berniat jahat, dan sama sekali bukan orang Menoreh, maka aku tidak terlalu banyak harus mengendalikan perasaan. Aku akan segera dapat mengambil sikap yang tegas terhadap mereka,” berkata Raden Sutawijaya di dalam hatinya.

Ketika ketiga orang berkuda itu menjadi semakin dekat, maka Raden Sutawijaya pun kemudian menghentikan kudanya. Dan para pengawalnya pun berbuat serupa.

Sejenak kemudian ketiga orang berkuda itu sudah berhenti beberapa langkah dari mereka. Namun seperti yang di duga oleh Ki Lurah Branjangan, ternyata mereka adalah para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang sudah mengenal Raden Sutawijaya dengan baik.

“Selamat datang di Tanah Perdikan Menoreh,” salah seorang dari mereka itu pun segera menyapa.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ia berharap bahwa sikap itu mencerminkan pengertian orang-orang Menoreh atas kedatangannya. Karena itu maka dengan tersenyum ia menjawab, “Terima kasih, Ki Sanak. Kami tiba-tiba saja merasa rindu kepada Tanah Perdikan ini, sehingga kami memerlukan datang untuk menengoknya dan menengok Ki Gede Menoreh beserta keluarganya.”

“Silahkan, Raden. Ki Gede tentu akan menerima dengan senang hati,” jawab salah seorang dari pengawal pengawal itu. “Selebihnya tamu-tamu Ki Gede pun tentu akan senang sekali jika Raden datang mengunjungi mereka pula”

“Siapa?”

“Masih yang dahulu, Raden. Kiai Gringsing dan Ki Demang Sangkal Putung serta kawan-kawannya.”

“Apakah Kiai Gringsing masih belum sembuh? Dan bagaimana dengan Ki Sumangkar?”

“Keduanya sudah baik, Ki Sumangkar sudah hampir sembuh sama sekali, sedang Kiai Gringsing masih harus memulihkan tubuhnya Tetapi luka-lukanya agaknya juga sudah baik.”

“Kebetulan sekali,” desis Raden Sutawijaya hampir di luar sadarnya.

“Kenapa kebetulan?” bertanya pengawal itu.

“O,” Raden Sutawijaya tergagap, “maksudku, aku masih sempat bertemu dengan mereka nanti.”

“Tentu, marilah. Aku akan mengantar Raden beserta Ki Lurah sampai ke padukuhan induk di Tanah Perdikan Menoreh.”

Demikianlah maka iring-iringan itu pun melanjutkan perjalanan mereka langsung menuju ke padukuhan Induk. Di perjalanan para pengawal yang dijumpainya masih selalu ingat kepada anak muda yang berani itu. Sambil tersenyum mereka menunduk hormat. Apalagi mereka mengetahui bahwa Raden Sutawijaya mempunyai pengaruh yang kuat di Mataram dan Pajang. Senang atau tidak senang, orang-orang Pajang harus memperhitungkannya, sehingga ada di antara mereka yang terpaksa bekerja bersama dengan Panembahan Agung untuk membatasi perkembangan Mataram, dan jika mungkin memadamkan sama sekali daerah yang sedang tumbuh itu.

Dan Daksina adalah salah seorang dari mereka yang telah terjerumus ke dalam bencana karena pokal mereka sendiri.

Ketika iring-iringan itu kemudian memasuki padukuhan induk di Tanah Perdikan Menoreh, maka memang terasa kerinduan yang sebenarnya bergejolak di hati Raden Sutawijaya. Rasa-rasanya ia memang ingin bertemu dengan anak-anak muda, murid Kiai Gringsing yang hampir sebaya dengan umurnya. Bahkan rasa-rasanya ia ingin juga bertemu dengan Rudita yang di saat terakhir nampak memiliki kelainan dari saat-saat sebelumnya.

Tetapi Raden Sutawijaya yang tergesa-gesa meninggalkan Menoreh saat itu tidak dapat melihat perkembangan jiwa anak muda itu.

Ketika iring-iringan itu menjadi semakin dekat, maka seorang pengawal dari Menoreh itu pun segera mendahului untuk memberitahukan bahwa akan datang beberapa orang tamu dari Tanah Mataram.

Kedatangan Raden Sutawijaya pun kemudian telah mendapat sambutan yang ramah, namun dibayangi oleh berbagai macam pertanyaan. Meskipun demikian Ki Gede Menoreh menahan diri untuk tidak bertanya sesuatu lebih dahulu sebelum Raden Sutawijaya mengatakannya. Ia hanya sekedar mempersilahkan tamu-tamunya naik ke pendapa, menyapanya dengan adat kebiasaan mereka tentang keadaan dan kesehatan masing-masing.

Sesaat kemudian maka tamu-tamu Ki Gede pun segera ikut duduk melingkar di atas tikar yang terbentang di pendapa. Ki Demang Sangkal Putung, Kiai Gringsing yang sudah berangsur baik dan kedua muridnya, serta Ki Sumangkar. Sementara Prastawa dan Pandan Wangi kemudian sibuk menyiapkan jamuan bagi tamu-tamunya.

Tetapi Raden Sutawijaya tidak melihat Rudita di antara mereka. Juga ayahnya sama sekali tidak menyertai Ki Gede Menoreh menemuinya di pendapa.

Demikian besar keinginannya untuk mengetahui tentang keadaan anak yang manja itu sehingga ia tidak dapat menahan diri untuk bertanya, “Apakah Ki Waskita masih berada di sini?”

Ki Argapati tersenyum. Jawabnya, “Mereka sudah kembali, Raden. Agaknya kedua orang tua Rudita belum sependapat melihat perkembangan jiwa anaknya.”

“Apa yang terjadi?”

“Rudita menjadi bertambah dewasa.”

“Mengagumkan. Ia akan menjadi seorang yang disegani.

“Tidak dalam hal olah kanuragan, Raden,” jawab Ki Argapati. “Ayahnya berniat untuk tidak mewariskan ilmunya kepada anaknya. Menurut pertimbangan Ki Waskita, jiwa Rudita kurang mantap untuk memiliki ilmu yang dahsyat itu. Jika jiwa itu kemudian goyah oleh pengaruh kemanjaan di masa kanak-kanak yang terangkat lagi, maka akibatnya akan menjadi kurang baik.” Ki Argapati berhenti sejenak, “Apalagi perkembangan jiwa Rudita agaknya mengarah kepada kebesaran yang sejati. Kedamaian dan kasih. Ayahnya sedang berusaha memantapkan pilihan itu. Sebenarnyalah menurut Ki Waskita, kedamaian dalam kasih adalah kebesaran jiwa yang sebenarnya. Bagi orang yang berhasil maka olah kanuragan tidak lebih dari kekuasaan yang semu semata-mata, seperti bentuk-bentuk yang dapat diujudkan dalam angan-angan itu.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti maksud Ki Waskita seperti yang dikatakan oleh Ki Argapati itu. Meskipun demikian ia masih berkata, “Tetapi Ki Gede, dalam saat terakhir Ki Waskita masih juga mempergunakan ilmunya. Dapat dibayangkan, apakah yang akan terjadi jika Ki Waskita tetap pada pendiriannya untuk tidak berbuat apa pun dengan kemampuannya yang tinggi itu.”

 

 

“Ki Waskita mengetahui betapa dahsyat ilmunya itu, Raden. Sehingga ia pun dapat membayangkan, jika ilmu serupa itu jatuh ke tangan yang sesat seperti Panembahan Agung, apakah akibatnya. Jika ia kemudian terpaksa mempergunakan ilmunya, maka hal itu adalah karena pertimbangan yang tidak dapat dielakkannya lagi. Seperti yang Raden katakan, berapa korban yang akan jatuh karenanya.”

“Jika Ki Waskita tidak memiliki ilmu itu karena pendiriannya, maka akibatnya pun akan seperti itu pula.”

“Tetapi itu masih lebih baik daripada ada dua orang Panembahan Agung.”

“Maksud Ki Gede?”

“Masih lebih baik Ki Waskita tidak memiliki ilmu apa pun daripada jika orang yang memiliki kemampuan seperti Ki Waskita itu namun karena kelemahan jiwanya justru berpihak kepada Panembahan Agung.”

Raden Sutawijaya pun mengangguk-angguk pula. Kini ia mengerti sepenuhnya. Dan ia pun menyadari betapa seseorang selalu dibayangi oleh prasangka-prasangka buruk terhadap sesama, sehingga seseorang merasa perlu membentengi dirinya dengan berbagai macam ilmu.

Namun hal itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Adalah merupakan pengalaman, bahwa sepanjang masa yang panjang, ternyata telah dibayangi oleh pertentangan-pertentangan dan sifat kekerasan antara sesama.

Dan hal itu terjadi sejak manusia dijauhkan dari Penciptanya oleh dosa. Dan sejak itu pula manusia hanya dapat merenungi ketenangan dan kedamaian dengan penuh kerinduan. Namun yang selalu mempersiapkan dirinya untuk melakukan kekerasan dan pertengkaran.

Untuk beberapa saat Raden Sutawijaya berdiam diri merenungi kata-kata Ki Gede Menoreh. Bahkan bukan saja Sutawijaya, tetapi juga Agung Sedayu dan Swandaru.

Tetapi mereka tidak memperbincangkannya lagi. Ketika kemudian Pandan Wangi menghidangkan jamuan, maka Ki Argapati pun mempersilahkan tamunya untuk meneguk air panas dan menikmati beberapa potong makanan.

Baru setelah itu, Sutawijaya menyampaikan keinginannya, kenapa ia datang ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Ayahanda dalam keadaan sakit,” katanya kemudian, “karena itu, kami sekeluarga, dan bahkan seluruh Tanah Mataram mengharap kesediaan Kiai Gringsing untuk singgah barang sejenak.”

Kiai Gringsing memandang Ki Argapati sekilas. Agaknya Ki Argapati pun sedang memandanginya, seolah-olah berkata, “Silahkan mengambil keputusan Kiai.”

Kiai Gringsing menarik nafas. Kemudian katanya, “Apakah yang dapat diharapkan oleh Ki Gede Pemanahan dan apalagi oleh seluruh Tanah Mataram dari padaku, Raden?”

“Kiai adalah seorang dukun yang baik. Mudah-mudahan Kiai dapat menyembuhkan Ayahanda sehingga Ayahanda dapat memerintah Tanah yang sedang tumbuh ini sebaik-baiknya.”

“Raden,” berkata Kiai Gringsing, “yang aku lakukan adalah sekedar berusaha. Tetapi kesembuhan yang sebenarnya berasal dari Yang Maha Pengasih pula adanya. Karena itu, aku selalu mengingat keterbatasan kemampuan seseorang, sehingga aku tidak akan dapat mengatakan, bahwa aku akan dapat menyembuhkan penyakit Ki Gede Pemanahan itu.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Kiai benar. Tetapi sampai saat ini Kiai adalah lantaran yang baik bagi kesembuhan itu. Seperti Ki Waskita merupakan lantaran yang baik untuk menyebut isyarat bagi masa mendatang. Dan yang seperti Kiai katakan, juga Ki Waskita pernah mengatakan, itu adalah kurnia. Dan kurnia itu tidak setiap orang menerimanya langsung. Karena itu Kiai, selagi Kiai masih menjadi lantaran kesembuhan, perkenankanlah Ayahanda mengharap Kiai Gringsing bersedia singgah barang sekejap, mungkin dalam perjalanan kembali ke Sangkal Putung, apabila persoalan Kiai di sini sudah selesai.”

Kiai Gringsing kemudian berpaling kepada Ki Demang Sangkal Putung. Katanya, “Aku hanya sekedar mengantarkan Ki Demang. Aku tidak tahu pasti, apakah persoalannya sudah selesai atau belum.”

Ki Demang Sangkal Putung tersenyum. Katanya kemudian sambil berpaling kepada Ki Gede Menoreh, “Sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi agaknya untuk sementara persoalanku memang sudah selesai. Bukankah kita tinggal menunggu kesehatan Kiai Gringsing pulih kembali?”

Kiai Gringsing pun tersenyum pula, desahnya, “Inilah kelemahan seseorang. Jika aku kadang-kadang mengobati orang lain, maka aku tidak dapat memaksa diriku sendiri cepat-cepat menjadi sembuh sama sekali. Tetapi rasa-rasanya, aku sudah pulih kembali. Jika masih ada sedikit goresan luka, sebenarnya sudah tidak berpengaruh lagi.”

“Apalagi Kiai datang ke Mataram tidak untuk bertempur,” sahut Ki Lurah Branjangan, “bukankah begitu, Kiai?”

Yang mendengar kata-kata Ki Lurah itu pun tertawa. Kiai Gringsing yang juga tertawa mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, bukankah Ki Gede sependapat, bahwa sebaiknya Kiai Gringsing akan singgah sejenak di Mataram?” bertanya Sutawijaya kemudian.

“Tetapi bagaimana jika Kiai Gringsing kerasan di sini dan tidak akan kembali ke Sangkal Putung?”

Raden Sutawijaya tertawa. Yang lain pun tertawa pula. Namun dengan demikian Raden Sutawijaya menduga bahwa Kiai Gringsing tentu tidak akan berkeberatan untuk singgah, meskipun selama ini rasa-rasanya Kiai Gringsing selalu menghindarkan diri untuk bertemu dengan Ki Gede Pemanahan.

Tetapi tiba-tiba saja tanpa diduga-duga Kiai Gringsing bertanya, “Raden Sutawijaya, siapakah sekarang yang menunggui Ayahanda Raden itu?”

“Pamanda Ki Juru Martani, Kiai,” jawab Raden Sutawijaya.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Kemudian mengulangnya perlahan-lahan, “Ki Juru Martani.”

“Apakah Kiai sudah mengenalnya?”

Kiai Gringsing termangu-mangu. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Aku belum mengenalnya. Aku belum pernah mengenal pemimpin-pemimpin pemerintahan. Baik pada masa Demak, Pajang, mau pun kemudian Mataram selain Raden Sutawijaya dan Ki Lurah Branjangan.”

Raden Sutawijaya memandanginya sejenak. Tetapi ia tidak menyahut.

Yang ternyata tertarik akan kata-kata itu adalah Ki Argapati. Sebagai seorang yang cukup berpengalaman, ia tidak dapat menerima kenyataan Kiai Gringsing sebagai seorang dukun padesan yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan pemimpin-pemimpin pemerintahan pada masa mana pun juga. Bagi Ki Argapati, dukun itu tentu bukan seseorang yang benar-benar berasal dari Dukuh Pakuwon yang terletak antara Jati Anom dan Sangkal Putung.

Ki Argapati justru merenung ketika teringat olehnya tanda-tanda sandi yang pernah dilihatnya saat Kiai Gringsing mengobatinya. Tanda-tanda itu mengingatkannya kepada seseorang yang pernah dikagumi. Dan sudah barang tentu bahwa kekagumannya atas Kiai Gringsing akan dapat dihubungkannya dengan tanda-tanda yang pernah dilihatnya itu.

Dalam pada itu, maka tiba-tiba saja Ki Argapati berpendapat, bahwa sebaiknya Kiai Gringsing dapat bertemu dengan Ki Gede Pemanahan. Jika kemudian ternyata bahwa Ki Gede Pemanahan pernah mengenalnya, maka teka-teki yang selama ini gelap baginya, akan dapat diketahuinya.

Namun Ki Argapati kemudian masih meragukannya. Pada masa mudanya, justru Ki Gede Pemanahan-lah yang lebih banyak tinggal di padukuhannya, Sela. Sebelum Pajang, Ki Gede Pemanahan tidak banyak disebut orang.

“Tetapi mungkin dalam petualangan dan dalam mesu diri keduanya memang pernah bertemu.”

Karena itu, maka Ki Argapati pun kemudian berkata Raden Sutawijaya, “Sebenarnyalah bahwa persoalan yang sesungguhnya di Tanah Perdikan Menoreh ini memang sudah selesai. Pembicaraan kami sudah sampai pada keputusan yang mantap. Namun demikian, agaknya Kiai Gringsing masih memerlukan waktu sejenak untuk beristirahat. Setelah itu, maka Kiai Gringsing tentu tidak akan berkeberatan untuk singgah di Mataram barang sehari dua hari.”

Raden Sutawijaya menganggukkan kepalanya. Namun sebelum ia menyahut, tiba-tiba saja Ki Demang Sangkal Putung berkata, “Raden. Sebenarnya aku pun ingin singgah di Mataram dan bertemu dengan Ki Gede Pemanahan yang pernah memerlukan datang ke Sangkal Putung pada saat pasukan Jipang yang tersisa menyerah. Tetapi sebaiknya Raden mengetahui, bahwa kepergianku ke Menoreh telah jauh melampaui waktu yang ditentukan. Dengan demikian maka keluarga yang kami tinggalkan di Sangkal Putung tentu sudah menunggu. Benar, Ki Argapati telah mengutus empat orang pengawal untuk menyampaikan berita keselamatan kami ke Sangkal Putung. Tetapi jika kami terlampau lama di perjalanan, maka mereka tentu akan menjadi gelisah.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya Ki Demang Sangkal Putung. Kemudian Kiai Gringsing dan Ki Argapati.

Sebenarnya bagi Raden Sutawijaya, yang penting adalah semata-mata Kiai Gringsing, sehingga apabila Ki Demang Sangkal Putung ingin mendahului, agaknya ia tidak berkeberatan setelah singgah barang sejenak di Mataram. Sedangkan apabila perlu Raden Sutawijaya tentu akan dapat menyediakan pengawalan yang cukup karena Kiai Gringsing tidak dapat berjalan seiring.

Tetapi Raden Sutawijaya ragu-ragu untuk mengucapkannya, ia tidak ingin menyinggung perasaan Ki Demang Sangkal Putung.

Karena itu maka katanya, “Ki Demang. Kami hanya mengharap Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang singgah sebentar saja. Dalam waktu singkat itu tentu Kiai Gringsing sudah dapat memberikan petunjuk-petunjuk secukupnya. Kemudian terserahlah kepada Kiai Gringsing sekelompok kecil ini termasuk Agung Sedayu dan Swandaru. Apakah akan singgah lebih lama lagi, atau terpaksa meneruskan perjalanan.”

Ki Demang merenung sejenak. Tetapi ia pun kemudian menyerahkan persoalannya kepada Kiai Gringsing sendiri

Kiai Gringsing tidak dapat segera memutuskan. Bukan karena keadaan dirinya yang masih agak lemah. Tetapi ada sesuatu yang rasa-rasanya menghalanginya. Rasa-rasanya ia tidak ingin bertemu dengan Ki Gede Pemanahan. Yang karena itulah maka ia sampai saat terakhir masih berusaha menghindari.

Tetapi Ki Gede Pemanahan itu kini sedang terluka. Menurut keterangan Raden Sutawijaya, luka Ki Gede itu tidak begitu berbahaya. Tetapi nampaknya Ki Gede mengalami persoalan yang mengguncangkan perasaannya, sehingga sakitnya menjadi terpengaruh olehnya. Tentu bukan hanya karena luka itu saja maka Ki Gede masih saja harus berbaring di pembaringan. Yang kadang-kadang badannya menjadi panas, dan kadang-kadang sama sekali tidak mau berbicara dengan siapa pun juga.

Dalam kebimbangan itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Raden. Tentu Raden akan bermalam di Menoreh meskipun hanya semalam. Nah, besok aku akan memberikan keputusanku.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Sebenarnya ia ingin segera kembali dan menunggui ayahandanya yang sedang sakit. Tetapi karena Kiai Gringsing itu pun diperlukannya untuk kepentingan ayahandanya itu pula, maka akhirnya Raden Sutawijaya itu pun berkata, “Baiklah, Kiai. Aku akan bermalam di Menoreh jika Ki Gede Menoreh tidak berkeberatan.”

“Ah,” desah Ki Gede Menoreh, “kami merasa senang sekali bahwa Raden sudi bermalam di Menoreh dalam keadaan yang tenang seperti ini.”

Wajah Raden Sutawijaya menjadi merah, katanya, “Aku menjadi sangat malu. Biasanya aku bermalam hanya apabila aku memerlukan pertolongan.”

“O,” cepat-cepat Ki Gede Menoreh menyahut, “bukan maksudku. Tetapi dalam keadaan tenang seperti sekarang, kita dapat berbincang tentang apa saja. Kita tidak tergesa-gesa harus pergi dengan senjata telanjang di tangan.”

“Ya, Ki Gede,” Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Demikianlah maka Raden Sutawijaya yang memutuskan untuk bermalam itu pun kemudian ditempatkan di gandok bersama para pengawalnya. Namun sebagian besar waktunya dipergunakannya untuk duduk bersama Agung Sedayu dan Swandaru. Mereka membicarakan berbagai masalah. Dari peperangan yang baru saja mereka lakukan, sampai hari-hari perkawinan Swandaru yang masih harus diperhitungkan.

“Manakah yang lebih baik,” berkata Swandaru, “aku lebih dahulu atau Kakang Agung Sedayu lebih dahulu?

“Tentu kakaknya lebih dahulu,” sahut Raden Sutawijaya, “maksudku, yang tua lebih dahulu.”

“Nah, apa kataku,” desis Swandaru, “tentu Kakang Agung Sedayu lebih dahulu.”

“Bukan itu maksudku,” potong Sutawijaya.

“Jadi?”

“Yang tua lebih dahulu. Bukankah kau kakak kandung Sekar Mirah.”

“Ah,” Swandaru mengerutkan keningnya, “tentu bukan begitu. Aku adalah saudara muda seperguruan Kakang Agung Sedayu. Adalah salahnya sendiri, kenapa aku harus memanggilnya Kakang.”

“Tetapi dalam hubungan keluarga, kaulah yang lebih tua.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Tetapi Raden-lah yang harus lebih dahulu dari kami. Siapa pun yang dahulu di antara kami.”

Wajah Sutawijaya berkerut. Namun ia pun tersenyum sambil berkata, “Itu sudah meloncat ke luar pematang. Yang kita bicarakan adalah kau dan Agung Sedayu.”

“Aku menambah satu bahan lagi. Raden Sutawijaya.”

Sutawijaya tertawa. Ia sudah mengenal sifat Swandaru. Sehingga tidak tersirat sama sekali niat lain kecuali bergurau semata-mata. Meskipun demikian, sesuatu terasa bergetar di dalam hatinya. Persoalannya dengan gadis Kalinyamat itu setiap kali masih saja membuatnya gelisah.

Pada malam hari, Raden Sutawijaya tidak terlalu lama duduk di pendapa bersama orang-orang tua. Tetapi ia pun kemudian berjalan-jalan dengan Agung Sedayu dan Swandaru melihat-lihat Tanah Perdikan Menoreh di waktu malam hari. Mereka berhenti sejenak di tikungan ketika mereka mendengar tembang yang terlontar dari sebuah rumah beratap ilalang. Dari celah-celah dinding rumah itu sinar pelita memercik keluar.

“Padukuhan ini terasa hidup di malam hari,” berkata Raden Sutawijaya.

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “suara tembang itu memberikan kesan tersendiri.”

“Dan itulah, nafas malam hari di Tanah Perdikan ini.”

Ketiganya pun kemudian meneruskan langkah mereka menyusuri gelapnya malam. Kadang-kadang mereka melihat sebuah obor yang dipasang di simpang empat yang gelap. Dan di kejauhan mereka melihat sinar lampu di gardu perondan.

Di malam-malam itu Pandan Wangi hampir tidak pernah keluar dari biliknya. Ia sadar, bahwa perhatian setiap orang di rumahnya setelah persoalan Panembahan Agung selesai, tertuju semata-mata kepadanya. Setiap orang sudah mengetahui bahwa kedatangan Ki Demang Sangkal Putung di Menoreh adalah untuk membicarakan hubungannya dengan Swandaru. Karena itu, maka Pandan Wangi telah dikungkung oleh perasaan kegadisannya meskipun pada saat Panembahan Agung masih mengganggu Tanah Perdikan Menoreh dan Tanah Mataram yang sedang tumbuh itu, ia ikut mengenakan sepasang pedang di lambungnya.

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar masih juga berbicara di dalam biliknya. Ki Demang yang tidak begitu mengerti persoalan pemerintahan di Pajang maupun sebelumnya, tidak begitu banyak dapat ikut berbicara di antara mereka.

“Kiai,” berkata Ki Sumangkar, “sebenarnya sudah cukup lama Kiai menunggu saat-saat seperti ini.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

“Tentu setiap orang yang mengenal Kiai dari dekat, dibebani oleh teka-teki tentang Kiai. Selama ini aku pun selalu meraba-raba.”

“Ah, barangkali kalian dibayangi oleh angan-angan kalian sendiri. Sebenarnya tidak ada yang aneh padaku.”

“Baiklah. Jika demikian, Ki Gede Pemanahan benar-benar memerlukan Kiai. Sebaiknya Kiai memenuhinya dan mencoba mengobatinya. Tentu saja semuanya tergantung kepada belas kasihan Tuhan Yang Maha Pengasih. Namun Kiai dapat berusaha.”

“Dan kau akan ikut?”

“Aku berhutang budi kepada Ki Gede Pemanahan selagi ia masih menjadi panglima. Ia tidak menghukum aku bersama pasukan Jipang yang lain.”

Kiai Gringsing merenung sejenak. Ia pun tahu betapa Ki Gede Pemanahan memberikan pengampunan pada pasukan Jipang yang menyerah. Di antara mereka yang mendapat pengampunan, bahkan sama sekali tidak dikenakan tuntutan apa pun adalah Sumangkar, karena Sumangkar sebenarnya memang tidak banyak terlibat di dalam perlawanan, apalagi setelah Arya Penangsang gugur.

“Kiai,” berkata Sumangkar kemudian, “jika Kiai bertemu dengan Ki Gede Pemanahan, kecuali Kiai dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang mungkin dapat memperingan sakitnya, Kiai tentu akan dapat berbicara serba sedikit tentang pertumbuhan Mataram. Suramnya Pajang dan jalur yang kini sedang mekar dari kekuasaan atas tanah ini”

Kiai Gringsing memandang Sumangkar sejenak. Bagaimana pun juga Sumangkar adalah seorang yang pernah tinggal di Kepatihan Jipang, sehingga masalah-masalah yang pernah dibicarakan oleh Patih Mantahun tentu menimbulkan kesan pula baginya.

“Apakah tidak ada orang lain yang dapat mengobati Ki Gede Pemanahan?” tiba-tiba saja Kiai Gringsing berdesis.

“Ada atau tidak ada, tetapi sebaiknya Kiai singgah barang sebentar,” sahut Sumangkar.

Kiai Gringsing memandang Ki Demang Sangkal Putung sejenak. Lalu katanya, “Tetapi tentu Ki Demang Sangkal Putung harus segera kembali. Keluarganya akan menunggunya.”

Ki Demang yang hampir selalu berdiam diri itu pun tiba-tiba menyahut, “Silahkan, Kiai. Aku akan dapat mendahului. Aku kira jalan ke Sangkal Putung sudah aman. Mungkin aku memerlukan beberapa orang kawan. Jika tidak berkeberatan, para pengawal dari Mataram akan bersedia mengawani aku di perjalanan.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya memang tidak ada keberatan apa pun lagi selain perasaannya sendiri. Ia tinggal bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah ia sudah bersedia bertemu dengan Ki Gede Pemanahan.

“Tetapi Ki Gede Pemanahan sedang sakit,” katanya di dalam hati. Sebagai seorang dukun, ia tidak akan dapat membiarkan seorang yang sakit yang menunggu pertolongannya dibiarkannya begitu saja.

Karena itu, maka tidak ada pilihan lain. Agaknya besok Kiai Gringsing memang harus pergi ke Mataram.

Demikianlah maka orang-orang tua yang berada di gandok itu pun akhirnya terdiam. Masing-masing membiarkan angan-angannya melambung tinggi menerawang di dunia lain.

Sementara itu, Agung Sedayu dan Swandaru pun telah kembali pula. Raden Sutawijaya langsung pergi ke gandok sebelah bersama-sama para pengawalnya.

Tidak banyak yang dibicarakan oleh orang-orang yang berada di gandok sebelah menyebelah. Sejenak kemudian malam terasa menjadi semakin sepi. Yang terdengar hanyalah desah angin malam yang lembut. Tetapi di gardu perondan, di sebelah regol halaman, kadang-kadang masih terdengar suara tertawa. Tetapi, suara yang semakin lama terdengar semakin dalam karena kantuk yang mencengkam. Namun demikian, para peronda itu tidak mau tidur bersama-sama. Mereka harus bergantian berjaga-jaga sampai matahari membayang di waktu fajar besok.

Ketika ayam jantan kemudian berkokok untuk yang terakhir kalinya, maka hampir seisi rumah sudah terbangun. Agung Sedayu yang sudah bangun pula segera pergi ke belakang. Seperti yang selalu dilakukannya maka ia pun segera membantu mengisi jambangan bersama Swandaru.

Kiai Gringsing yang masih saja disentuh oleh kebimbangan, akhirnya mencoba untuk menentukan sikap, mengatasi gejolak perasaan sendiri.

Dengan demikian, maka ketika para tamu di Menoreh itu, baik yang datang dari Sangkal Putung, maupun dari Mataram duduk bersama di pendapa, maka tidak banyak lagi yang harus mereka perbincangkan. Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Baiklah, Raden. Aku akan singgah di Mataram. Aku akan melihat luka dan sakit Ki Gede Pemanahan.”

“Nah, jika demikian kita akan pergi bersama-sama.”

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, katanya, “Sebaiknya Raden pergi saja dahulu. Ayahanda tentu sangat menunggu. Aku akan segera menyusul besok. Hari ini aku akan mencoba memulihkan kekuatanku dan berkemas barangkali ada jenis obat-obatan yang dapat aku bawa.”

“Aku akan menunggu sampai Kiai selesai.”

Tetapi Kiai Gringsing menolaknya. Katanya, “Jangan, Raden. Aku minta Raden pergi saja lebih dahulu. Kami besok akan datang bersama-sama dengan Ki Demang Sangkal Putung dan kedua anak-anak muda itu. Di antara kami akan ikut pula Ki Sumangkar. Karena itu, maka kami harus mengatur segala sesuatunya. Kami sudah beberapa lama tinggal di sini, sehingga kami harus minta diri sebaik-baiknya kepada Ki Gede Menoreh.”

Ki Gede Menoreh hanya tersenyum saja. Namun baginya semakin cepat Ki Demang Sangkal Putung kembali ke kademangannya, agaknya memang semakin baik. Persoalan Pandan Wangi dan Swandaru akan semakin cepat terselesaikan. Bagi Ki Argapati, orang tua dari seorang gadis, tentu berharap bahwa selekasnya masalah anaknya akan diselesaikan.

Namun selain hal itu, ia pun ingin ikut mendengar, apakah ada akibat dari pertemuan Ki Gede Pemanahan dengan Kiai Gringsing.

Agaknya hari itu Raden Sutawijaya tidak dapat memaksa Kiai Gringsing untuk pergi bersamanya. Tetapi ia percaya bahwa di hari berikutnya, orang tua itu akan singgah di Mataram. Tentu Kiai Gringsing tidak akan ingkar janji, kecuali ada perkembangan keadaan dengan tiba-tiba.

Karena itulah, maka Raden Sutawijaya pun kemudian minta diri untuk mendahului kembali ke Tanah Mataram. Ia tidak dapat terlalu lama meninggalkan ayahandanya yang sering sakit meskipun ketika ia pergi, ayahnya tinggal bersama dengan Ki Juru Martani.

“Kami sangat mengharap kedatangan Kiai besok,” berkata Raden Sutawijaya ketika ia sudah berada di regol halaman.

Kiai Gringsing mengangguk, jawabnya, “Baik, Raden. Aku tentu akan datang.”

Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Terima kasih, Kiai. Mudah-mudahan kedatangan Kiai dapat mempercepat kesembuhan Ayahanda Pemanahan.”

Kiai Gringsing mengangguk kecil sambil berdesis, “Aku hanya sekedar berusaha, Raden.”

Demikianlah, Raden Sutawijaya pun kemudian sekali lagi minta diri kepada Ki Gede Menoreh dan tamu-tamunya, kepada Pandan Wangi dan Prastawa yang ada di regol pula.

Sepeninggal Raden Sutawijaya, maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang Sangkal Putung pun mulai berkemas. Demikian pula Agung Sedayu dan Swandaru, Mereka sudah cukup lama berada di Tanah Perdikan Menoreh, sehingga kerinduan mereka terhadap Sangkal Putung, terlebih-lebih Ki Demang, mulai terasa. Bahkan Ki Demang pun mulai cemas, bahwa yang ditinggalkan akan menjadi kebingungan karena ia terlampau lama berada di Menoreh. Tetapi persoalan Panembahan Agung adalah persoalan yang tidak diketahui dan diperhitungkan lebih dahulu sehingga seakan-akan telah mengikat mereka untuk tinggal agak lama di Tanah Perdikan Menoreh.

Di malam hari menjelang keberangkatan Kiai Gringsing, sekali lagi Ki Demang dan Ki Argapati menegaskan pembicaraan mereka. Persoalan satu-satunya yang masih akan dibicarakan meskipun cukup dengan saling mengirimkan utusan, adalah masalah hari. Ki Demang dan Ki Argapati akan membicarakannya dengan orang-orang tua, hari apakah yang paling baik dipergunakan bagi perkawinan Swandaru dan Pandan Wangi.

“Aku akan menghubungi Ki Waskita,” berkata Ki Argapati, “mungkin ia dapat memberikan petunjuk mengenai perkawinan ini. Pada saat ia ada di sini, aku tidak sampai hati mengganggunya. Kecuali perasaannya tentu masih diselubungi oleh kejutan atas hilangnya Rudita, juga agaknya ada perbedaan pendapat antara Ki dan Nyi Waskita menghadapi perkembangan jiwa anaknya yang kemudian diketemukannya setelah mendapat pengalaman baru.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu aku akan sependapat sekali. Ki Waskita adalah orang yang memiliki ketajaman indra. Tetapi barangkali Kiai Gringsing pun akan dapat membantu.”

“Ah,” Kiai Gringsing tertawa, “aku hanya dapat membantu. Jika Ki Waskita telah menemukan hari yang paling baik maka aku akan membantu memilih hari itu.”

“Tetapi Kiai adalah seorang dukun.”

Yang mendengarnya tertawa. Dan Kiai Gringsing menjawab, “Aku memang seorang dukun. Tetapi yang aku ketahui tidak lebih dari dedaunan. Akar ketela grandel dan empon-empon. Serta barangkali sedikit mengenai getah pepohonan, binatang melata dan serangga. Selebihnya yang aku ketahui adalah jodang berisi makanan.”

Semuanya tertawa semakin keras.

Namun dalam pada itu, baik Ki Argapati, Ki Sumangkar, dan Ki Demang mau pun anak-anak muda yang ikut berada di pendapa itu, menganggap bahwa Kiai Gringsing hanya sekedar berkelakar saja. Menilik pertempuran yang terjadi antara Kiai Gringsing dan Panembahan Alit, maka Kiai Gringsing pun tentu bukan sekedar hanya mengenal dedaunan dan getah pepohonan. Ia memiliki ilmu yang agaknya masih harus ditekuni oleh kedua muridnya. Ilmu yang baru dikenal dalam tata gerak dan segala unsur-unsurnya. Tetapi masih belum dikenal kekuatan yang masih tersimpan di balik bentuk-bentuk lahiriahnya. Pada saat Kiai Gringsing menghadapi Panembahan Alit, maka nampaklah bahwa dalam puncak usahanya mempertahankan dirinya, Kiai Gringsing telah mempergunakan yang agaknya selama ini sudah disimpannya, karena ternyata lawannya, Panembahan Alit, memiliki ilmu kebal yang mengagumkan pula.

Setelah tidak ada yang harus dibicarakannya lagi, maka Kiai Gringsing pun kemudian dipersilahkan beristirahat di gandok, karena besok mereka akan menempuh perjalanan, yang meskipun tidak terlampau berat, namun dalam keadaan yang masih belum pulih sama sekali, Kiai Gringsing perlu menyegarkan tubuhnya.

Ketika orang-orang lain sudah berbaring di pembaringan dan bahkan sudah tertidur nyenyak, Swandaru masih digelitik oleh kegelisahan. Ia memang ingin segera kembali ke Sangkal Putung, bertemu dengan ibu dan adiknya. Tetapi rasa-rasanya terlampau berat meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Rasa-rasanya ia akan berpisah untuk waktu yang lama dengan Pandan Wangi. Segala sifat, watak, dan tingkah laku gadis itu tidak terlepas dari rongga matanya. Bahkan sudah mulai terbayang-bayang betapa ia akan duduk bersanding, dihadap para tamu di bawah cahaya lampu yang terang benderang. Meskipun tidak akan sebesar perkawinan Untara yang didampingi oleh para senapati, namun masa-masa yang demikian adalah masa-masa yang paling menyenangkan.

Tetapi wajahnya tiba-tiba menjadi suram. Terbayang perselisihan yang nampaknya semakin memuncak antara Pajang dan Mataram. Jika persoalan itu berlarut-larut, maka hari-hari yang ditunggunya itu tentu akan ikut tergeser pula karenanya, karena Sangkal Putung berada di jalur lurus antara Pajang dan Mataram.

Oleh kegelisahan hati, maka rasa-rasanya gandok itu menjadi semakin lama semakin panas. Karena itulah maka Swandaru yang tidak dapat tertidur itu pun kemudian dengan hati-hati bangkit agar tidak mengejutkan orang lain. Perlahan-lahan ia bergeser dan membuka pintu.

Sepercik udara yang segar memercik di wajahnya sehingga Swandaru itu pun justru melangkah keluar dan setelah menutup pintu gandok, ia pun melangkah ke serambi. Sambil mengibaskan bajunya ia berdiri memandangi lampu yang suram di tengah-tengah pendapa yang sepi. Namun ia masih mendengar suara orang-orang yang sedang meronda berbicara perlahan-lahan di regol halaman.

Tetapi Swandaru tidak tertarik untuk pergi ke gardu. Hampir di luar sadarnya ia melangkah menyusuri longkangan dan justru memasuki halaman samping.

Tiba-tiba saja ia terkejut, ketika ia melihat sekilas cahaya lampu yang meloncat keluar. Namun kemudian cahaya itu lenyap lagi.

Baru sejenak kemudian hatinya berdesir. Dilihatnya seseorang berdiri di luar pintu butulan yang sudah tertutup lagi.

“Pandan Wangi,” ia berdesis. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya.

Seperti Swandaru, Pandan Wangi pun terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Swandaru berada di halaman samping, beberapa langkah saja di depan pintu butulan.

Sejenak keduanya berdiam diri. Namun dari sorot mata mereka yang saling memandang, memancar perasaan yang tersimpan di dalam hati.

Beberapa saat keduanya berdiri mematung. Yang terasa adalah debar yang semakin keras di dalam dada masing-masing.

 

 

Namun tiba-tiba saja Pandan Wangi membuka pintu butulan itu kembali dan sekejap kemudian ia telah hilang di balik pintu.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ada sesuatu yang rasa-rasanya terlepas. Tetapi ia tidak mendekati pintu butulan itu. Bahkan ia pun kemudian meninggalkan halaman samping dan kembali ke serambi gandok.

Dalam pada itu, Pandan Wangi yang dengan tergesa-gesa masuk kembali, masih berdiri bersandar pintu. Nafasnya tiba-tiba terasa terengah-engah, seolah-olah ia baru saja saling bekejaran dengan lawan yang sangat tangguh.

Sebenarnyalah Pandan Wangi sedang berjuang mengatasi gejolak hatinya sendiri. Ketika ia melihat Swandaru, rasa-rasanya ia ingin lari kepadanya, dan melepaskan perasaannya yang tersimpan. Meskipun untuk beberapa lama Swandaru berada di Tanah Perdikan Menoreh, tetapi ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk berbicara berdua, melepaskan angan-angan dan bayangan tentang masa datang.

Hampir saja Pandan Wangi kehilangan pengekangan diri dan berlari kepada Swandaru. Untunglah bahwa ia menyadari dirinya, bahwa di dalam keadaannya, maka ia masih harus membatasi diri sejauh-jauhnya. Setiap kali terngiang kembali cerita ayahnya tentang ibunya yang terperosok ke dalam lumpur kehidupan, sehingga akhirnya telah menimbulkan pertentangan di dalam diri sendiri yang tumbuh dan berkembang menjadi belukar bagi keluarganya dan bahkan bagi Menoreh.

Pandan Wangi tidak mau terjerumus ke dalam keadaan yang sama. Ia sadar, dalam gejolak jiwa kedewasaannya, kadang-kadang nalarnya dapat dikalahkan oleh perasaaan. Jika ia bersama dengan laki-laki yang dicintainya, di dalam gelapnya malam yang sepi, maka kesulitan itu dapat saja terjadi. Dan dengan demikian, apabila saat-saat itu telah lewat, maka laki-laki itu tentu akan mulai menilai dirinya.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan tangannya bergerak mengangkat selarak pintu.

Ketika ia sudah berada di pembaringannya kembali, maka ia pun menarik nafas lega, seakan-akan ia sudah terlepas dari bahaya. Seperti saat-saat pasukan Mataram terlepas dari timbunan batu-batu di mulut lembah ketika mereka merayap mendekati sarang Panembahan Agung.

“Meskipun tidak selalu terjadi sesuatu, tetapi syukurlah bahwa aku telah berada di dalam bilik ini,” desisnya.

Pandan Wangi yang berbaring di pembaringannya itu pun masih saja berbicara dengan dirinya sendiri, “Mungkin keadaan kini sudah jauh berubah dari masa ibu menjelajahi masa remajanya. Mungkin kungkungan yang ketat justru membuatnya seperti burung yang terlepas dari sangkar di saat-saat tertentu. Sedang kini Ayah mempercayakan semuanya kepadaku. Aku diperkenankan berburu bersama para pengawal. Dan aku adalah seorang gadis. Namun bagaimana pun juga, buah yang paling manis adalah buah yang sudah masak. Dan itulah yang harus ditunggu. Semakin lama kita menunggu, maka pada saatnya, terasa betapa indahnya buah yang masak itu, dan betapa manisnya.”

Pandan Wangi merasa telah memenangkannya. Ia merasa bersukur bahwa ia tidak menyia-nyiakan kepercayaan ayahnya kepadanya, justru setelah ayahnya mendapat pengalaman yang sangat pahit yang telah terjadi atas ibunya.

Ketika terdengar angin malam berdesir lembut, Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Terasa matanya menjadi berat. Meskipun kepergian Swandaru besok memberati hatinya pula, namun ia mengharap bahwa yang akan datang segeralah datang.

Dalam angan-angan yang semakin kabur, Pandan Wangi mulai diselimuti oleh bayangan-bayangan yang indah di masa mendatang, seperti pada umumnya gadis yang menjelang hari-hari yang paling indah. Meskipun Pandan Wangi sering menjelajahi Tanah Perdikan Menoreh di atas punggung kuda dengan sepasang pedang di lambung, namun ia tetap seorang gadis yang dikuasai oleh angan-angan menjelang masa keibuannya.

Tetapi bayangan itu pun akhirnya lenyap di dalam kelelapan tidur. Namun bibir Pandan Wangi nampak tersenyum karena mimpinya terasa indah sekali.

Pagi-pagi benar, sebelum bayangan matahari nampak di langit, Kiai Gririgsing sudah bangun. Dengan hati-hati agar tidak mengejutkan orang lain, ia membuka pintu dan menghirup udara yang sejuk. Namun betapa pun ia berusaha, namun ia tidak dapat meniadakan suara gelak gardu perondan, sehingga Ki Sumangkar pun terbangun pula karenanya.

“Anak-anak muda yang berjaga-jaga di gardu itu agaknya sudah diganggu oleh kantuk yang sangat,” desis Kiai Gringsing ketika ia mengetahui bahwa Ki Sumangkar pun telah terbangun, “sehingga mereka berusaha mengusir kantuknya dengan berkelakar sepagi ini.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut.

Dalam pada itu Kiai Gringsing pun segera pergi ke perigi. Alangkah segarnya mandi di gelapnya malam menjelang pagi hari. Ternyata semuanya yang ada di gandok itu telah terbangun ketika Kiai Gringsing selesai mandi. Satu-persatu mereka pun segera membersihkan diri dan membenahi barang masing-masing. Jika nanti matahari terbit, mereka akan mulai dengan perjalanan mereka kembali ke Sangkal Putung dan singgah barang sehari di Tanah Mataram.

Demikianlah, maka mereka yang untuk beberapa lamanya berada di Tanah Perdikan Menoreh itu pun segera akan minta diri. Tetapi bukan untuk yang terakhir kalinya mereka berada di Menoreh. Pada suatu saat mereka tentu akan kembali dalam upacara yang lebih besar.

Menjelang matahari terbit, ternyata Pandan Wangi yang hanya dapat tidur sejenak itu telah menyiapkan makan dan minuman panas. Sebelum Kiai Gringsing bersama kelompok kecilnya berangkat, mereka dipersilahkan untuk makan pagi lebih dahulu.

Dalam kesempatan itu, sekali lagi Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Demang, dan kedua anak-anak muda yang bersama mereka itu minta diri. Sebagai kelengkapannya, maka Ki Demang di Sangkal Putung berkata, “Dalam waktu dekat, aku akan mengirimkan beberapa orang untuk menghadap Ki Gede membicarakan secara khusus mengenai hari perkawinan anak kita.”

Ki Argapati tersenyum. Jawabnya, “Aku akan menerimanya setiap saat.”

Dengan demikian, maka Kiai Gringsing bersama kedua muridnya, Ki Sumangkar dan Ki Demang Sangkal Putung pun dengan hati yang berat, meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Sekilas mereka melihat mata Pandan Wangi berkilat oleh setitik air di pelupuk. Namun Pandan Wangi mencoba untuk tersenyum dan mengucapkan selamat jalan kepada tamu-tamunya yang meninggalkan regol halaman rumahnya. Sedang Prastawa melepas mereka dengan pesan jenaka, “Swandaru, kau harus berpuasa sejak sekarang. Jika kau datang kemari sekali lagi, kau harus sudah menjadi agak langsing, agar pakaian pengantinmu kelak tidak terlampau kecil.”

Swandaru tersenyum, sedang Pandan Wangi menjadi tersipu-sipu.

Sejenak kemudian maka kelompok kecil itu pun telah meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Mereka berkuda beriringan melalui bulak yang panjang, yang di sebelah menyebelah terbentang sawah yang luas.

Sepercik air yang bening mengalir di parit yang menyilang jalan, menyusup di bawah jembatan kayu yang kuat, membelah bulak yang panjang

“Seperti bulak-bulak di Sangkal Pulung,” berkata Ki Demang Sangkal Putung, “di sini pun air sudah mendapat perhatian yang baik.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk kecil. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya matahari yang ternyata telah memanjat langit semakin tinggi. Cahayanya yang gatal memantul pada daun padi yang basah, berkilat-kilat oleh angin pagi yang lembut.

Berbeda dengan Ki Demang Sangkal Putung yang tertarik pada bulak yang luas, air yang mengalir di parit dan batang-batang padi yang subur, maka Kiai Gringsing mulai dibayangi oleh pertemuan yang bakal terjadi dengan Ki Gede Pemanahan. Memang ada sesuatu yang mengganggu hatinya. Tetapi ia berusaha untuk menyimpan persoalan itu di dalam hati. Ia tidak ingin melibatkan orang lain dalam persoalan dirinya. Persoalan pribadinya.

Sementara itu Ki Sumangkar pun mulai mereka-reka, apakah yang kira-kira bakal terjadi kelak. Pajang dan Mataram agaknya bagaikan dua buah kapal yang berbeda haluan. Semakin lama jaraknya menjadi semakin jauh.

Orang tua itu mengeluh di dalam hati. Ia melihat Demak pernah tegak berdiri dengan megahnya. Ia melihat sepeninggal Sultan terakhir di Demak, maka seakan-akan keturunannya berebut tahta. Bahkan Aria Penangsang-lah yang bagaikan api, telah membakar ketenangan. Akhirnya berdirilah Pajang. Seperti yang pernah terjadi, kini rasa-rasanya Pajang pun telah surut.

“Apakah yang akan terjadi kelak?” ia bertanya kepada diri sendiri. Dan hampir di luar sadarnya ia menyebut di dalam hati, “Majapahit yang berpindah ke Demak. Demak telah dipindahkan pula ke Pajang. Dan kini, bagaikan tumbuh dengan suburnya Mataram di sisi Pajang.”

Dengan demikian, maka seolah-olah mereka yang ada di dalam iring-iringan kecil itu telah dicengkam, oleh angan-angan sendiri, sehingga dengan demikian mereka tidak begitu banyak berbicara yang satu dengan yang lain. Apalagi Swandaru yang berkuda di sisi Agung Sedayu.

Meskipun demikian, iring-iringan itu justru semakin lama menjadi semakin cepat. Hampir tanpa disadari oleh setiap orang di dalam iring-iringan itu, bahwa mereka telah melintasi bulak-bulak yang panjang dan di atas jalan yang baik, sehingga kuda-kuda mereka pun rasa-rasanya ingin berjalan lebih cepat.

Tidak banyak yang mereka jumpai di perjalanan. Sekali-sekali mereka bertemu dengan pengawal yang sedang meronda. Mereka harus menganggukkan kepala jika para pengawal itu mengangguk pula dan bahkan mereka selalu bertanya, kapan iring-iringan itu akan kembali lagi ke Menoreh. Terutama Agung Sedayu dan Swandaru yang mereka kenal dengan baik.

“Tentu tidak akan terlalu lama lagi,” Agung Sedayu-lah yang selalu menjawab.

“Dengan upacara yang lain,” desis salah seorang pengawal muda yang mengetahui hubungan antara Swandaru dan Pandan Wangi.

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “kalian harus bersiap-siap menyambut.”

Para pengawal itu tertawa. Tetapi Swandaru menjadi tersipu-sipu.

Demikianlah maka perjalanan mereka pun menjadi semakin jauh dari padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Semakin lama mereka menjadi semakin dekat dengan Kali Praga.

Untunglah bahwa Kali Praga yang lebar itu tidak sedang banjir. Karena itu, maka mereka tidak banyak menemui kesulitan. Dengan getek mereka menyeberangi sungai itu bersama-sama dengan kuda-kuda mereka.

Sejenak setelah mereka menyeberangi sungai yang lebar itu, maka mereka pun segera memasuki padang ilalang dan tanah yang berawa-rawa. Namun mereka segera sampai ke tepi hutan perdu yang tidak begitu luas. Dan di seberang hutan perdu itu adalah, sebuah hutan yang meskipun tidak selebat Alas Mentaok, namun cukup mendebarkan.

Tetapi ketika kemudian mereka memasuki hutan itu, perasaan mereka sudah lain sama sekali dengan beberapa waktu yang lampau. Rasa-rasanya hutan itu menjadi sejuk dan tenang. Jalan yang sempit di tengah-tengah hutan itu bagaikan jalan raya yang ramai dan aman. Apalagi menilik jejak yang banyak terdapat pada jalan itu, menunjukkan bahwa jalan sempit itu memang menjadi bertambah ramai.

Semakin lama mereka pun menjadi semakin jauh memasuki hutan. Namun kemudian mereka membelok menyusur jalan itu. Ternyata bahwa mereka akan segera sampai ke ujung jalan hutan dan melintasi padang ilalang yang tidak begitu luas.

Tetapi jalan di hadapan mereka adalah jalan yang nampak sudah dijamah oleh tangan. Jalan itu adalah jalan yang sudah diperlebar dan diperbaiki.

Sekali-sekali iring-iringan itu melintasi padukuhan-padukuhan kecil yang nampaknya sedang berkembang dengan cepat. Padukuhan-padukuhan yang dihuni oleh perintis-perintis yang dengan bekerja keras telah membangun tempat tinggal, daerah persawahan dan membentuk suatu masyarakat yang tumbuh dan hidup.

Dengan demikian maka Alas Mentaok yang mereka lalui kemudian, bukan lagi merupakan hutan yang lebat dan tidak dapat disentuh. Bukan lagi daerah yang menakutkan yang digelari jalma mara jalma mati, sato mara sato mati.

Kini Mentaok telah berubah. Sebagian terbesar telah menjadi daerah yang ramai dan subur.

Namun di sana-sini masih nampak orang-orang yang bekerja dengan keras membuka dan memperluas daerah tempat tinggal dan persawahan. Yang mereka tinggalkan adalah bagian-bagian yang mereka perlukan untuk melindungi tanah yang sangat lunak dan daerah arus sungai-sungai kecil yang kadang-kadang banjir. Namun juga merupakan perisai-perisai terhadap angin yang kadang-kadang bertiup kencang dari Lautan Selatan.

Selain daripada itu, hutan-hutan yang tinggal akan tetap menjadi daerah perburuan yang subur.

Dalam pada itu, ternyata Mataram telah siap menyambut kedatangan tamu-tamunya, karena Sutawijaya yakin bahwa Kiai Gringsing tidak akan ingkar janjinya. Jika ia berhalangan maka ia tentu akan menyuruh seorang dua orang memberitahukan hal itu.

Karena itu, maka diperintahkannya Ki Lurah Branjangan sendiri bersama beberapa orang pengawal menjemput Kiai Gringsing di luar regol kota yang sedang mereka bangun, agar tamu-tamu itu tidak perlu lagi mencari-cari dan bertanya-tanya kemana mereka harus pergi untuk menemui Ki Gede Pemanahan.

Dan ternyata seperti yang diperhitungkan oleh Sutawijaya, Kiai Gringsing dan iring-iringannya pun benar-benar telah datang ke Mataram. Di luar regol mereka telah disambut oleh Ki Lurah Branjangan yang kemudian membawa mereka langsung ke rumah Ki Gede Pemanahan.

Terasa debar jantung Kiai Gringsing menjadi semakin cepat. Ia tidak akan menjadi sedemikian gelisah, jika ia berada di peperangan. Bahkan menghadapi Panembahan Agung yang memiliki kemampuan yang aneh itu pun, rasa-rasanya Kiai Gringsing tidak menjadi sedemikian gelisahnya.

Tetapi ia sudah ada di Tanah Mataram. Dan ia tidak akan dapat mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Ki Gede Pemanahan dan bahkan di Mataram ada pula Ki Juru Martani.

“Aku adalah seorang dukun tua dari Dukuh Pakuwon. Seorang yang bernama Ki Tanu Metir yang juga disebut Kiai Gringsing. Tidak lebih dan tidak kurang,” gumamnya di dalam hati.

Demikianlah dengan diantar oleh Ki Lurah Branjangan maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Demang Sangkal Putung, dan kedua anak-anak muda murid Kiai Gringsing itu pun memasuki alun-alun, kemudian pintu gerbang halaman samping rumah Ki Gede Pemanahan.

Meskipun terasa di dada Kiai Gringsing debar jantungnya yang semakin cepat, tetapi ia berjalan terus mengikuti Ki Lurah Branjangan.

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian, “marilah, silahkan masuk. Inilah rumah Ki Gede Pemanahan.”

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya termangu-mangu sejenak. Mereka pun kemudian melihat Raden Sutawijaya dengan tergesa-gesa turun dari tangga dan menyongsongnya.

“Marilah, Kiai,” berkata Raden Sutawijaya, “aku yakin, bahwa Kiai tentu akan datang seperti yang Kiai janjikan. Aku sudah mengatakannya kepada Ayahanda dan Pamanda Ki Juru Martani. Nah, silahkanlah Kiai naik.”

Kiai Gringsing termangu-mangu. Dipandanginya pendapa rumah Ki Gede Pemanahan yang besar. Rumah yang rasa-rasanya memang memiliki perbawa yang agung.

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya pun kemudian dibawa langsung naik ke pringgitan oleh Raden Sutawijaya dan yang kemudian dipersilahkannya duduk di atas sehelai tikar pandan yang dianyam halus dan diwarnai dengan manisnya dengan garis-garis yang bersilang.

“Silahkanlah semuanya duduk sejenak. Aku akan menyampaikannya kepada Pamanda Ki Juru Martani yang menunggui ayah di dalam biliknya,” berkata Sutawijaya kemudian.

Ketika Sutawijaya masuk, maka yang ada di antara mereka adalah Ki Lurah Branjangan. Agaknya Ki Lurah Branjangan mengerti sikap tamunya yang agak gelisah karena barang-barang yang mereka bawa dari Tanah Perdikan Menoreh masih teronggok di sisi mereka masing-masing.

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan, “kami sudah menyediakan bilik bagi Kiai semuanya dan kedua anak-anak muda itu. Karena itu, biarlah barang-barang yang ada dibawa masuk ke dalam bilik itu oleh para pelayan.”

Kiai Gringsing mengangguk sambil tersenyum. Katanya, “Baiklah, Ki Lurah. Tetapi barang-barang kami adalah barang-barang yang tidak berharga sama sekali. Hanya beberapa lembar pakaian tua.”

Dengan demikian, ketika Raden Sutawijaya kemudian keluar lagi dari ruangan dalam, di antara mereka tidak terdapat lagi onggokan barang-barang yang mereka bawa selama perjalanan.

Ternyata bahwa Ki Juru Martani pun menerima kehadiran tamu-tamunya dengan berdebar-debar. Ia mengikuti Sutawijaya yang memberitahukan kepadanya dan kepada Ki Gede Pemanahan bahwa orang yang mereka tunggu telah datang.

Ketika Ki Juru Martani muncul di pintu pringgitan, sejenak ia berdiri tegak. Ia segera mengenal Ki Sumangkar. Tetapi yang lain ia rasa-rasanya masih belum pernah melihat.

Meskipun demikian, ketajaman penglihatannya segera dapat membedakannya. Bahkan yang seorang adalah orang yang dimaksud bernama Kiai Gringsing, sedang yang lain adalah Ki Demang Sangkal Putung. Sedang kedua anak muda itu mempunyai ciri yang jelas dan mudah dapat dibedakan. Yang gemuk itulah yang bernama Swandaru, sedang yang lain adalah Agung Sedayu, adik Untara, seorang senapati yang terkenal dan bertanggung jawab atas daerah sebelah Selatan ini, yang justru menguasai jalur lurus antara Pajang dan Mataram.

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya yang duduk di atas tikar pandan, ketika melihat seseorang keluar dari dalam mengikuti Raden Sutawijaya segera memberi hormat dalam-dalam. Mereka pun segera mengetahui bahwa orang itu adalah Ki Juru Martani. Apalagi Sumangkar, yang memang sudah mengenal sebelumnya.

Ki Juru Martani pun membalas hormat pula dan kemudian bersama Raden Sutawijaya duduk pula di antara tamu-tamunya.

Sejenak kemudian, Ki Juru Martani pun mulai menyapa tamu-tamunya dan bertanya tentang keselamatan mereka yang dijawab oleh tamu-tamunya dengan hormatnya.

“Akhirnya Kiai bersama-sama, benar-benar telah sudi singgah di rumah ini,” berkata Ki Juru Martani, yang kemudian memperkenalkan dirinya sendiri meskipun mereka sudah dapat saling menduga.

“Sebenarnya Adi Pemanahan sudah lama mengharap kehadiran kalian. Tetapi agaknya kesibukan Kiai Gringsing dan kedua muridnya belum memungkinkannya untuk singgah barang sejenak,” berkata Ki Juru Martani kemudian.

“Maaf, Ki Juru Martani,” sahut Kiai Gringsing, “sebenarnyalah kami ingin sekali memenuhinya dan datang menghadap. Tetapi agaknya memang baru sekarang kami mendapat kesempatan yang sangat baik untuk datang.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Ditatapnya tamu-tamunya seorang demi seorang. Lalu katanya, “Aku sudah mendengar acara kepergian Kiai ke Tanah Perdikan Menoreh. Agaknya Ki Demang akan mempunyai kesibukan dengan putra laki-lakinya yang gemuk ini.”

Ki Demang Sangkal Putung tersenyum. Jawabnya, “Ya, Ki Juru Martani, sudah sewajarnyalah jika anak polah, maka ayahnyalah yang harus pradah.”

Ki Juru Martani pun tersenyum. Dipandanginya Swandaru yang kemudian menundukkan kepalanya.

Namun dalam setiap kesempatan, Ki Juru Martani selalu menyambar wajah Kiai Gringsing dengan tatapan mata yang tajam. Seolah-olah ada sesuatu yang dicarinya pada wajah itu. Namun agaknya Kiai Gringsing sama sekali tidak menimbulkan kesan apa pun. Wajah itu nampaknya benar-benar belum pernah dikenalnya.

Meskipun Ki Juru Martani mencoba mengingat-ingat wajah-wajah yang pernah dikenalnya pada masa-masa yang lampau, dan bahkan masa-masa yang panjang sekali, namun ia tidak dapat mengingatnya lagi, bahwa ia pernah mengenal orang yang kemudian menyebut dirinya bernama Kiai Gringsing itu.

Di luar sadarnya maka Ki Juru Martani itu menarik nafas dalam-dalam. Seandainya Kiai Gringsing telah melakukan penyamaran maka penyamaran itu adalah penyamaran yang sempurna.

“Tidak akan dapat dikenal dalam waktu yang pendek,” berkata Ki Juru Martani kepada diri sendiri. “Mungkin setelah ia berada di sini dua atau tiga hari. Mungkin di dalam pembicaraan atau mungkin di dalam ciri-ciri yang tersembunyi.”

Karena itu, Ki Juru Martani yang dikenal sebagai seorang yang memiliki ketajaman mata hati itu tidak memaksa diri untuk segera mengetahui, siapakah Kiai Gringsing itu. Apalagi sikap, tingkah laku dan sorot mata orang tua itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun juga.

Dengan demikian maka mereka pun kemudian terlibat dalam pembicaraan yang wajar. Tidak ada usaha untuk mengorek keterangan tentang pribadi yang dianggap tersembunyi itu.

Setelah beristirahat sejenak dan setelah minum beberapa teguk dan makan beberapa potong makanan, maka Ki Juru Martani pun kemudian berkata, “Kiai, tentu Kiai sudah mendengar dari Angger Sutawijaya, bahwa Ki Gede Pemanahan kini sedang dalam keadaan sakit. Itulah sebabnya maka kami minta Kiai singgah barang sehari dua hari jika Kiai pergi ke Sangkal Putung.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk, katanya, “Ya, Ki Juru. Menurut Raden Sutawijaya, Ki Gede sekarang sedang menderita sakit. Sejak Ki Gede mengalami cidera dalam pertempuran di pinggir Kali Opak, maka Ki Gede menjadi sakit seolah-olah sekian lamanya tanpa ada tanda-tanda bahwa sakitnya akan sembuh.”

“Demikianlah, Kiai. Karena itu, terserahlah kepada Kiai apakah yang baik bagi Adi Pemanahan. Setelah Kiai hari ini beristirahat, maka Kiai dapat menengoknya.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Nampaknya ada sesuatu yang dipikirkannya. Tetapi ia tidak berbuat lain kecuali mengangguk-angguk kecil.

“Tentu tidak usah tergesa-gesa, Kiai,” berkata Ki Juru lebih lanjut. “Kiai dapat melakukannya sore nanti, atau malam nanti. Bahkan apabila Kiai masih perlu beristirahat, dan Kiai menganggap saatnya baik, besok pun tidak ada keberatan apa-apa.”

Kiai Gringsing tersenyum. Jawabnya, “Ki Juru. Aku akan melakukan secepat-cepatnya. Mungkin malam ini kami dapat bermalam di sini, tetapi tidak lebih dari semalam. Kami masih harus berbuat sesuatu bagi anak yang gemuk ini sesuai dengan pembicaraan Ki Demang Sangkal Putung dengan Ki Argapati dari Tanah Perdikan Menoreh.”

“O,” Ki Juru Martani mengangguk-angguk, “aku mengerti, Kiai. Tetapi yang sehari dua hari tidak akan banyak berpengaruh terhadap persoalan yang sedang dalam pembicaraan itu. Bukankah begitu, Swandaru? Seperti juga hambatan yang timbul karena sebab-sebab lain, sehingga kau harus berada di Tanah Perdikan Menoreh lebih lama lagi.”

Swandaru tidak menyahut. Tetapi kepalanya semakin tunduk.

Yang ternyata kemudian menjawab adalah Kiai Gringsing, “Tentu ada bedanya, Ki Juru. Apalagi bagi Swandaru. Meskipun ia terhambat beberapa bulan di Tanah Perdikan Menoreh, ia tidak akan mengeluh seperti apabila perjalanannya tertunda satu hari di tempat lain.”

Ki Juru pun tersenyum. Katanya, “Ya, Aku mengerti. Itulah agaknya maka Kiai akan menjadi tergesa-gesa.” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bukankah Ki Demang Sangkal Putung dapat mengirimkan utusan terlebih dahulu dengan segala macam pesan ke Sangkal Putung?”

“Tidak, Ki Juru,” berkata Ki Demang. “Jika Kiai Gringsing masih akan berada di sini untuk beberapa hari, maka sebaiknya aku pergi mendahului. Mungkin Swandaru akan pergi bersama aku, tetapi mungkin juga ia akan menunggu gurunya. Tetapi jika aku sudah nampak kembali ke Sangkal Putung, maka keluarga yang sudah aku tinggalkan sekian lamanya itu tidak menjadi gelisah.”

“Dan itulah bedanya,” berkata Ki Juru Martani, “Ki Demang adalah seorang Demang yang tentu jarang sekali meninggalkan kademangan seperti juga Ki Argapati. Tugas-tugasnya menuntut agar ia selalu berada di rumah. Dengan demikian maka perpisahan dengan keluarganya merupakan suatu beban perasaan yang berat.”

Ki Demang mengangguk. Jawabnya, “Agaknya memang demikian Ki Juru. Keluarga dan Kademangan Sangkal Putung rasa-rasanya tidak dapat terpisah dari padaku untuk waktu yang terlaju lama.”

Sekilas Ki Juru memandang Kiai Gringsing. Lalu katanya, “Agak berbeda dengan Kiai Gringsing. Sudah berapa tahun Kiai Gringsing mengembara.” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Maaf, Kiai, agaknya tidak ada seorang pun yang menunggu kedatangan Kiai dengan tergesa-gesa, karena sudah menjadi kebiasaan Kiai melakukan perjalanan yang panjang. Meskipun demikian, tentu pada suatu saat Kiai berpikir pula untuk kembali ke suatu tempat seperti juga bangau akan hinggap di pelimbahan.”

Sejenak nampak wajah Kiai Gringsing menegang. Namun kemudian bibirnya tersenyum. Senyum seorang tua yang nampaknya sudah meletakkan dirinya pada keadaannya dengan penuh keikhlasan.

“Ki Juru,” berkata Kiai Gringsing, “aku adalah seorang yang hanya sebatang kara. Aku tidak akan pernah berpikir ke mana aku akan kembali sampai pada saat-saat yang paling akhir sekalipun, karena atap rumahku adalah langit yang luas dan alasnya adalah bumi. Itulah sebabnya aku menganggap di mana pun juga di atas dunia ini sama saja bagiku. Jika sampai saatnya, maka di dalam dekapan bumi di mana pun tidak akan ada bedanya.”

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Tetapi dengan demikian ia merasakan betapa rapatnya Kiai Gringsing menyelubungi dirinya. Bahkan, kadang-kadang ia tidak dapat mengingkari penglihatannya, bahwa Kiai Gringsing adalah Kiai Gringsing seperti yang dilihatnya saat itu.

Namun ketajaman penglihatan Ki Juru agaknya memang menangkap sesuatu. Tetapi ia sendiri masih belum tahu pasti, apakah yang sedang dilihatnya itu.

Karena itulah maka Ki Juru Martani pun kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Katanya, “Kiai benar. Seperti juga Kiai, aku pun seorang perantau yang jarang sekali memikirkan, ke mana aku akan kembali. Karena seperti juga Kiai, dunia adalah hamparan lantai yang luas bagi sebuah rumah yang tanpa batas besarnya.”

“Ah, tentu berbeda bagi Ki Juru,” sahut Kiai Gringsing.

Namun secepat itu pula Ki Juru menjawab, “Demikianlah yang sebenarnya, Kiai. Memang berbeda dengan Adi Pemanahan yang kini sedang sakit.”

Kiai Gringsing tidak menyahut lagi. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Nah, barangkali memang sudah sampai pada saatnya,” berkata Ki Juru Martani kemudian, “Kiai mencoba melihat Adi Pemanahan yang sedang sakit. Lihatlah, apakah yang sebenarnya sedang dideritanya.”

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: