Buku 082 (Seri I Jilid 82)

 

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Tetapi terasa sebuah getaran yang aneh telah mengguncangkan dinding jantungnya.

Ki Waskita-lah yang kemudian berkata, “Tetapi semuanya itu masih harus dijelaskan. Dan agaknya Kiai Gringsing akan dapat menjelaskannya.”

Kiai Gringsing memandang Ki Waskita sejenak. Kemudian ia pun justru bertanya, “Ki Waskita, apakah aku harus mulai dengan Empu Windujati sebelum sampai kepada murid-muridnya?”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu suatu cerita yang menarik. Banyak orang yang telah menceritakan suatu perguruan yang dipimpin oleh seseorang yang bernama Empu Windujati. Tetapi tidak banyak orang yang dapat bercerita tentang orang itu yang sebenarnya. Sekarang agaknya Kiai Gringsing akan mulai dengan cerita tentang Empu Windujati sebagai orang yang langsung mengenalnya.”

“Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing, “sebenarnyalah bahwa aku tidak mengenal Empu Windujati dengan baik.”

“Ah,” desis Ki Juru Martani, “Kiai seperti seorang gadis yang sedang dilamar seorang anak muda.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun ia pun tersenyum. Katanya, “Aku menyadari, bahwa karena selama ini aku sering mengatakan yang tidak sebenarnya tentang diriku, maka setiap ceritaku tentu akan dicurigai kebenarannya.”

Ki Gede Pemanahan yang pucat pun masih tertawa pula meskipun terasa suara tertawanya bagaikan melayang di udara.

“Kiai benar,” desis Ki Gede Pemanahan.

“Nah, baiklah aku mencoba berkata sebenarnya tentang diriku, tentang perguruan Windujati dan tentang orang yang bernama Windujati itu sendiri.”

“Baiklah, Kiai, silahkan. Kami tidak akan terlampau banyak memotong,” sahut Ki Waskita.

“Kecuali jika perlu,” desis Ki Sumangkar sambil tersenyum.

Kiai Gringsing pun tersenyum pula. Lalu katanya, “Aku akan mencoba mengingat apakah yang telah terjadi sebenarnya. Meskipun saat itu aku masih terlampau kecil untuk dapat mengenal orang yang sebenarnya bernama Empu Windujati itu.”

“He,” orang-orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut.

“Kiai masih terlampau kecil untuk mengenal Empu Windujati?” bertanya Ki Juru Martani.

“Ya. Aku memang dibawa menghadap. Aku belum genap lima belas tahun waktu itu.”

“Dan berapa usia Empu Windujati saat itu? Dua puluh?” bertanya Ki Waskita.

“Ah tentu tidak,” sahut Ki Juru Martani, “jika Kiai Gringsing kemudian berguru kepadanya, maka pada saat itu umur Empu Windujati tentu sudah lebih dari tiga puluh tahun.”

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia memandang Kiai Gringsing seakan-akan mendesaknya untuk segera menjawab pertanyaannya.

“Ki Juru,” berkata Kiat Gringsing, “usia Empu Windujati saat itu adalah kira-kira tujuh puluh tahun.”

“Tujuh puluh tahun?” semua orang mengulang.

“Ya,” jawab Kiai Gringsing, “tujuh puluh tahun. Pada saat itu Demak masih belum berdiri tegak. Sisa-sisa pemerintahan Majapahit masih terasa. Sepeninggal Raden Patah, maka Adipati Unus harus bertempur melawan Prabu Udara yang telah merebut kekuasaan Majapahit dari kekuasaan lain yang juga mendapat kekuasaan atas Majapahit setelah mengalahkan Brawijaya ke lima.”

“Ya,” Ki Juru mengangguk-angguk, “Prabu Brawijaya harus mengakui keunggulan Kediri. Tetapi pemimpin-pemimpin Kediri sendiri pada waktu itu agaknya tidak bersesuaian pendapat sehingga Prabu Udara tampil ke atas tahta Majapahit. Namun akhirnya Majapahit dapat dikuasai oleh keturunan Majapahit yang berkedudukan di Demak.”

“Begitulah kira-kira,” berkata Kiai Gringsing, “saat itulah aku bertemu untuk pertama kali dengan seorang tua berjanggut putih dan berambut putih bernama Empu Windujati.”

“Aneh,” desis Sumangkar, “menurut dugaanku, Empu Windujati belum setua itu. Jika demikian, siapakah sebenarnya Empu Windujati yang kita kenal pada saat permulaan Pajang berkuasa? Apakah juga Empu Windujati yang sudah menjadi semakin tua itu?”

“Tentu tidak mungkin. Empu Windujati saat itu masih menjelajahi daerah utara dari ujung sampai ke ujung. Bahkan bukan saja daerah utara, tetapi kadang-kadang orang-orang menjumpainya pula di daerah Pajang. Di kota Pajang itu sendiri,” berkata Ki Waskita.

“Kita sekarang memang sudah cukup tua,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi masih terlampau muda untuk mengetahui siapakah Empu Windujati yang sebenarnya. Tetapi dalam suatu kesempatan aku dapat melihat ciri perguruan Windujati itu pada sebuah rontal. Dan rontal itu ternyata ditulis menurut nama yang tercantum di dalam rontal yang terbentuk surat itu oleh seseorang bernama Wirawardana. Seorang putra dari Majapahit yang kecewa melihat perebutan kekuasaan yang selalu terjadi. Kemudian mengasingkan diri dan menyebut dirinya dengan nama yang lain.”

“Apakah Empu Windujati itu juga Pangeran Wirawardana itu?” bertanya Ki Juru Martani.

Kiai Gringsing merenung sejenak. Tetapi kali ini nampak bahwa wajahnya menjadi bersungguh-sungguh. Karena itu, maka orang-orang yang ada di sekitarnya menganggapnya bahwa Kiai Gringsmg memang tidak sedang bergurau seperti biasanya.

Sesaat kemudian Kiai Gringsing itu pun berkata, “Memang sulit untuk mengatakan siapakah sebenarnya Empu Windujati. Tetapi demikianlah agaknya. Surat itu ditulis oleh Empu Windujati bagi murid-murid yang pada suatu saat akan ditinggalkannya.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Ki Waskita yang tertarik sekali kepada cerita itu bergeser mendekat sambil bertanya, “Jadi ketika Kiai berguru kepada Empu Windujati, Empu itu sudah berusia tujuh puluh tahun?”

“Aku bukan murid perguruan Windujati seutuhnya,” berkata Kiai Gringsing.

“Aku menjadi bingung,” desis Ki Sumangkar.

“Empu Windujati sudah terlampau tua untuk langsung memberikan tuntunan olah kanuragan. Memang dalam kesempatan-kesempatan tertentu Empu Windujati turun sendiri ke sanggar. Melatih murid-muridnya yang hanya ada dua orang. Tetapi aku adalah seorang penonton waktu itu.”

Ki Gede Pemanahan yang berbaring dengan lemahnya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Teruskan cerita itu, Kiai. Aku kira Kiai memang bukan murid langsung Empu Windujati. Tetapi Kiai adalah murid dari perguruan itu.”

“Ketika aku menjadi semakin besar, Empu Windujati pun menjadi semakin tua. Tetapi kedua muridnya itu pun menjadi semakin sempurna.”

Namun dalam pada itu Ki Sumangkar memotong, “Aku tetap tidak dapat mengerti bahwa saat mulainya kekuasaan Demak, Empu Windujati sudah berusia tujuh puluh tahun. Rasa-rasanya tidak sesuai dengan nalar.”

“Ki Sumangkar, waktu itu aku hanya mengira-ira. Tetapi mungkin usianya justru lebih tua. Sebagai seorang yang memiliki kelebihan di dalam olah kanuragan, tentu dalam usia yang tua itu nampaknya ujud jasmaniahnya masih lebih muda dari usia yang sebenarnya.”

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut lagi.

“Bagaimana dengan kedua murid itu, Kiai?” bertanya Ki Gede Pemanahan perlahan-lahan.

“Pada saatnya keduanya pun kemudian berpencar. Keduanya membawa pesan guru mereka untuk melakukan pengabdian kepada sesama. Dan keduanya pun telah melakukannya.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Tetapi keduanya adalah manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan kesalahan lahiriah dan tingkah laku.”

“Tetapi kapankah cerita ini sampai kepada cerita tentang Kiai Gringsing atau yang juga disebut Ki Tanu Metir dari Dukuh Pakuwon?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan bercerita panjang. Apakah cerita ini menjemukan?”

“Tetapi jangan sampai malam nanti Kiai,” desis Ki Gede Pemanahan, “aku ingin mendengar akhir dari cerita tentang Kiai Gringsing dan tentang perguruan Windujati. Jika cerita Kiai berkepanjangan, aku cemas bahwa aku tidak akan dapat mendengar akhir dari cerita itu.”

“Ah, jangan begitu, Ki Gede.”

“Aku bukan mendahului kehendak Yang Maha Kuasa. Tetapi rasa-rasanya, Yang Maha Kuasa sudah memberitahukannya kepadaku.”

Kiai Gringsing memandang wajah yang pucat itu. Lalu katanya, “Baiklah, Ki Gede, barangkali aku dapat mengatakannya bahwa cerita ini akan aku persingkat.”

“Kiai,” berkata Ki Gede Pemanahan, “aku tidak berkeberatan mendengarkan seluruh cerita tentang Empu Windujati yang memang sangat menarik justru karena orang yang bernama Empu Windujati dan yang kemudian menurut dugaan Kiai adalah Pangeran dari Majapahit terakhir yang bernama Wirawardana itu. Tetapi bagiku, yang lebih menarik adalah cerita tentang Kiai sendiri. Ternyata cerita yang sudah Kiai ungkapkan itu belum nampak hubungan langsung dengan Kiai Gringsing sendiri.”

Kiai Gringsing memandang wajah yang pucat itu. Sambil menarik nafas ia berkata, “Baiklah, Ki Gede. Tetapi …” kata-kata Kiai Gringsing terputus.

“Kiai masih berkeberatan?”

“Tidak. Tidak, Ki Gede. Aku sudah bertekad untuk menyatakan diri di hadapan Ki Gede sekarang ini. Tetapi aku minta dengan sangat, bahwa tidak seorang pun dari antara kita sekarang ini yang mengatakan kepada siapa pun juga tentang diriku, tentang asal-usulku dan tentang perguruanku.”

“Aku tidak akan sempat mengatakan kepada siapa pun juga, Kiai,” sahut Ki Gede Pemanahan. “Jika nanti Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan, dan pemimpin-pemimpin Mataram yang lain mendekatiku pada saat-saat yang gawat, aku tidak akan mengatakannya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Kemudian hampir di luar sadarnya ia berpaling kepada Ki Demang Sangkal Putung.

“Aku menyadari Kiai,” berkata Ki Demang, sebelum Kiai Gringsing mengucapkan pesan, “murid Kiai adalah anakku. Tetapi aku pun tidak akan menyampaikannya kepadanya. Bukankah saat ini Swandaru belum waktunya untuk mengetahui? Apalagi aku sendiri tidak begitu banyak mengerti tentang cerita yang sudah Kiai katakan itu.”

“Terima kasih,” desis Kiai Gringsing, “jika demikian, baiklah aku menyebut diriku sendiri lebih dahulu sebelum aku bercerita lebih banyak tentang perguruan Windujati.”

Semua orang yang ada diruangan itu menjadi tegang. Rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menunggu. Mereka ingin lekas mengetahui hubungan apakah yang ada di antara Kiai Gringsing yang membuat lukisan di tangannya dengan memahatkan ciri khusus dari perguruan Windujati, dengan perguruan itu sendiri.

“Ki Gede,” suara Kiai Gringsing merendah, “sebenarnyalah bahwa ada hubungan langsung antara aku dan Empu Windujati. Bukan hubungan antara guru dan murid, tetapi hubungan keluarga dalam garis lurus.”

Semua orang menjadi semakin tegang.

“Aku adalah cucu Empu Windujati.”

“O,” Ki Gede Pemanahan menahan nafas sejenak. Kemudian terasa nafasnya yang panjang mengalir lewat lubang hidungnya. Rasa-rasanya nafasnya yang sesak tiba-tiba menjadi lancar dan mengalir dengan wajar.

 

 

Pengakuan itu benar-benar telah menggetarkan setiap hati. Ki Juru Martani, yang duduk sambil menyilangkan tangan di dadanya, seakan-akan diam mematung. Sedang Ki Waskita mengangguk-angguk perlahan.

“Meskipun ada dugaan yang mendekati pengakuan itu,” berkata Ki Sumangkar, “tetapi kami tentu tidak mengira bahwa Kiai adalah keturunan langsung dari Empu Windujati yang tentu tidak lagi diragukan bahwa Empu Windujati adalah Pangeran Wirawardana. Dan itulah agaknya Kiai berada dalam peranan yang hidup pada saat-saat Pajang masih diganggu oleh sisa-sisa pasukan Arya Penangsang.”

Kiai Gringsing sendiri kemudian menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak berniat sebelumnya, untuk mengatakan kepada siapa pun tentang dirinya. Tetapi di saat Ki Gede Pemanahan menghadapi saat akhir, ia tidak sampai hati menolaknya. Meskipun dengan demikian beberapa orang mendengar pengakuannya, tetapi yang beberapa orang itu dapat dipercayanya untuk tidak menambah jumlah orang-orang yang akan dapat mengenal dirinya.

“Itulah kenyataan tentang diriku,” berkata Kiai Gringsing, “karena itulah maka aku dapat mempergunakan ciri khusus dari perguruan Windujati.”

“Ternyata Kiai lebih dari seorang murid dari perguruan Windujati. Sebagai seorang cucu dari Empu Windujati, maka Kiai tentu mewarisi kedahsyatan segala macam ilmunya. Ilmu yang sekarang hampir tidak lagi dapat dikenal.”

“Itulah agaknya yang pernah aku lihat. Meskipun orang yang menyebut dirinya bernama Panembahan Alit itu mempunyai ilmu yang sangat dahsyat, ilmu kebal, tetapi ia tidak mampu menahan ilmu perguruan Windujati yang dilontarkan bukan saja oleh murid-muridnya, tetapi oleh cucu Empu Windujati itu sendiri,” desis Ki Waskita.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

“Dan itulah agaknya maka ilmuku dan ilmu Panembahan Agung yang dibanggakan itu sama sekali tidak berhasil mengelabuinya.” Ki Waskita melanjutkan seolah-olah berbicara kepada diri sendiri, “Bagi Kiai Gringsing, maka ilmu semacam itu agaknya tidak ada artinya sama sekali.”

“Sudahlah. Tidak ada bedanya antara Kiai Gringsing yang kalian kenal dengan Kiai Gringsing yang sekarang.”

“Kiai,” berkata Ki Gede Pemanahan, “apakah pilihan atas jalan kehidupan Kiai terpengaruh oleh jalan hidup Empu Windujati yang mengasingkan diri dari lingkungannya? Apakah persoalan yang sebenarnya telah menyingkirkan Empu Windujati sehingga menghilang dari pergaulan para bangsawan?”

“Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing, “Empu Windujati yang sangat kecewa melihat pertentangan demi pertentangan yang telah terjadi itu, telah menjauhkannya dari pemerintahan. Ia lari selagi umurnya belum sampai pada masa remajanya dari Istana Majapahit, saat istana itu diduduki oleh kekuatan yang datang dari Kediri. Kemudian dari pengasingannya ia melihat perebutan kekuasaan yang terjadi atas Majapahit itu oleh Prabu Udara. Kecuali kekuatan itu, Demak telah bangkit pula dan yang akhirnya berhasil merebut kembali kekuasaan Majapahit meskipun kemudian dipindahkannya ke Demak. Tetapi itu belum merupakan suatu kenyataan dari sebuah perdamaian.”

“Dan kekecewaan itu telah diwariskan pula kepada Kiai Gringsing sehingga Kiai pun tidak lagi bangkit seorang cucu dari Pangeran Wirawardana. Jika Kiai bersedia menyebut diri cucunda Pangeran Wirawardana, maka Sultan di Pajang akan menerima kehadiran Kiai di istana dengan senang hati. Seperti yang Kiai lihat sekarang. Pajang tidak ada lagi sesepuh yang dapat diandalkan di antara banyak persoalan. Apalagi yang memang sebenarnya hak disebut sesepuh,” berkata Ki Juru Martani.

“Tidak, Ki Juru. Di Pajang sekarang ada seorang sesepuh yang karena kebijaksanaannya memungkinkan Pajang masih tetap tenang. Bukankah saat ini Ki Juru Martani diakui baik oleh Pajang maupun oleh Mataram sebagai satu-satunya orang yang bijaksana? Kanjeng Sultan di Pajang lebih banyak mendengarkan pendapat Ki Juru daripada patih, atau para adipati yang lain.”

“Tetapi aku tidak lebih dari seorang padesan. Seorang yang datang dari Padukuhan Sada. Dan setiap orang Sada mengenal aku sejak kanak-kanak, bahwa aku memang anak dari Sada. Tidak seperti kehadiran Kiai Gringsing atau Ki Tanu Metir di Dukuh Pakuwon.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dan dalam pada itu Ki Gede Pemanahan bertanya, “Nah, seterusnya apakah Kiai masih sempat menceritakan perkembangan perguruan Windujati kepada kami?”

Kiai Gringsing memandang wajah Ki Gede yang pucat. Kemudian katanya, “Cerita itu mungkin akan menjemukan. Tetapi jika dikehendaki, maka aku tidak akan berkeberatan untuk menceritakannya menurut ingatanku.”

“Ceritakanlah, Kiai. Mungkin dapat sekedar melupakan kegelisahanku di saat terakhir.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Baiklah. Menurut ingatanku, Empu Windujati memang masih sempat melihat Pajang tegak sepeninggal Arya Penangsang. Empu Windujati juga melihat tahta yang tidak terisi beberapa saat lamanya sepeninggal Sultan Trenggana. Dalam pada itu putra-putra dan menantu-menantu Demak saling bertengkar untuk memperebutkan tahta. Selain mereka, adalah kemenakannya, Arya Penangsang. Bahkan agaknya Arya Penangsang-lah yang dengan tanpa pengekangan diri telah melakukan banyak pembunuhan di antara keluarga sendiri, sehingga akhirnya ia sendiri terbunuh oleh Raden Sutawijaya yang waktu itu masih terlampau muda, dengan petunjuk Ki Juru Martani.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Tetapi Empu Windujati telah terlampau tua. Bahkan beberapa saat kemudian Empu Windujati meninggal setelah usianya melampaui satu abad.”

“Melampaui satu abad,” desis Ki Juru Martani.

“Ya. Dan di saat terakhir Empu Windujati masih selalu berjalan-jalan mengelilingi padepokan. Pada hari yang terakhir, Empu Windujati membawa aku melihat-lihat kebun padepokannya. Masih seperti di hari-hari yang lampau. Namun agaknya Empu Windujati tidak akan pernah melihat kebun itu lagi. Ketika kami berhenti di ujung jalan setapak di kebun itu, Empu Windujati nampak menjadi pucat. Katanya, ‘Bawalah aku ke dalam sanggar.’

Aku membantunya berjalan ke sanggar. Tetapi Empü Windujati menjadi semakin lemah. Di saat itulah Empu Windujati sampai pada saat terakhir dari hidupnya. Murid-muridnya tidak sempat dipanggilnya. Yang ada saat itu hanyalah aku saja. Tetapi aku adalah cucunya. Karena itu, maka aku pun berhak menerima warisan yang sangat berharga dari padanya. Rontal yang pernah aku lihat sebelumnya itulah yang diberikannya kepadaku. Rontal berisi kidung yang memberikan banyak petunjuk tentang jalan kehidupan ini.”

“Dan barangkali ilmu dari perguruan Windujati?”

Kiai Gringsing merenung sejenak. Lalu, “Tetapi yang ada hanyalah sekedar isyarat. Watak, sifat perbuatan, dan sikap. Uraian dari bentuk-bentuk yang terlukis di dalam rontal itu harus dicari sendiri.”

“Dan Kiai mencarinya sendiri?”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk lemah. Namun kemudian katanya, “Tetapi sebelumnya Empu Windujati pernah memberikan beberapa unsur gerak yang dapat menghubungkan watak dan sifat dari perbuatan dan sikap yang terdapat pada lukisan dalam rontal itu.”

“Kiai sebenarnyalah adalah murid sepenuhnya dari perguruan Windujati, dan apalagi Kiai adalah cucunya.”

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Memang aku menyadap ilmu dari perguruan Windujati. Tetapi aku bukan hanya menghisap ilmu dan perguruan itu saja. Di masa aku kecil, sebelum aku pernah menghadap kakekku yang menamakan dirinya Empu Windujati di sebuah pedukuhan terpencil, aku adalah murid dari orang lain. Aku memang pernah menghadap pada umur sebelum lima belas tahun, tetapi aku hanya sekedar datang untuk mengenal kakekku. Setelah itu, aku tetap berguru kepada orang lain. Hanya kemudian, setelah aku meningkat dewasa sepenuhnya, aku sering datang berkunjung kepada kakekku dan dengan sendirinya aku ikut serta mempelajari bagian-bagian dari ilmu perguruan Windujati atas ijin guruku.”

“Siapakah guru Kiai sebenarnya?”

“Bukan orang lain. Meskipun perkembangannya agak berbeda, tetapi guruku adalah adik seperguruan kakekku sendiri.”

Ki Juru Martani mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mulai membayangkan jalan kehidupan yang ditempuh oleh seseorang yang menamakan dirinya Empu Windujati. Tetapi cerita Kiai Gringsing masih belum mencakup segi-segi yang mewarnai kehidupan sebenarnya dari Empu Windujati.

“Siapakah guru Kiai?” Ki Gede Pemanahan-lah yang mengulang pertanyaan itu.

“Sudah aku katakan, adik seperguruan kakekku. Tetapi guruku seperti yang aku katakan memiliki sedikit kelainan di dalam perkembangan ilmunya dengan kakekku. Guruku adalah sahabat yang dekat dengan seorang yang menyebut dirinya Kebo Kanigara, putera dan sekaligus murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh, kakak dari Ki Ageng Pengging yang juga bernama Kebo Kenanga. Yang menyingkir pula dari lingkungannya dengan alasan yang berbeda.”

Ki Juru Martani mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku pernah mendengar. Di masa terakhir Demak, nama itu tidak terdengar lagi.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jiwanya yang dewasa, seperti juga jiwa adiknya, Ki Ageng Pengging, maka keduanya berpisah dengan dada lapang tanpa goresan perasaan sama sekali. Keduanya bersepakat untuk berpisah karena perbedaan yang sulit dipertemukan. Tetapi keduanya menyadari, bahwa perbedaan itu adalah hakekat dari sikap manusia, sehingga karena itu, maka perpisahan itu pun sama sekali tidak menumbuhkan persoalan. Tetapi di dalam ilmu kanuragan, keduanya bersumber pada guru yang sama. Ayah mereka sendiri, Ki Ageng Pengging Sepuh.”

Ki Juru Martani masih mengangguk-angguk. Sekilas ia melihat wajah Ki Gede Pemanahan yang pucat. Namun kini nampak sesuatu pada sorot matanya, justru karena ia telah tidak lagi dibebani oleh teka-teki tentang orang yang telah banyak memberikan jasa kepada Mataram.

“Ternyata orang yang selama ini seolah-olah melindungi Mataram itu adalah salah seorang yang langsung berada di bawah garis keturunan Majapahit,” berkata Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya. Dengan demikian, timbullah kepercayaan pada dirinya, bahwa Mataram akan mampu menegakkan dirinya sendiri. Jika Kiai Gringsing yang dicengkam oleh kekecewaan seperti juga penglihatan kakeknya atas pertentangan yang selalu tumbuh di atas tanah ini, maka sikap Kiai Gringsing atas Mataram tentu bukan sekedar hanya kebetulan saja.

Dalam pada itu, Ki Juru Martani pun berkata, “Kiai, pada jamannya, orang yang bernama Kebo Kanigara itu adalah orang yang memiliki kelebihan dalam olah kanuragan. Ia memiliki ilmu gurunya dengan lengkap. Bahkan pengembaraannya telah membuatnya semakin masak. Sultan Pajang adalah salah seorang yang mengenalnya dengan baik.”

“Kebo Kanigara adalah pamannya,” desis Kiai Gringsing.

“Ya. Ia adalah pamannya. Tetapi meskipun jarak mereka dilihat dari waktu, tempat dan kepercayaan, antara Kebo Kanigara dan Sultan Pajang yang juga pernah menjelajahi pulau ini selagi ia masih seorang anak muda yang disebut Jaka Tingkir adalah jauh, namun keduanya seakan-akan tidak pernah merasa dibatasi oleh apa pun juga.”

“Ternyata guru Kiai Gringsing adalah sahabat dari orang yang hampir tidak ada duanya itu,” potong Ki Waskita, “karena itulah agaknya ilmu Kiai Gringsing memiliki unsur ilmu dari perguruan Pengging itu.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, lalu, “Memang mungkin sekali. Guruku memang sahabat Ki Kebo Kanigara. Meskipun umurnya terpaut sedikit. Dengan demikian, maka tidak mustahil jika ilmu keduanya saling mempengaruhi.”

“Unsur itu nampak jelas sekali.”

“Menurut penglihatan Ki Waskita, karena Ki Waskita kenal dengan baik ilmu dari perguruan Pengging dan sekaligus ilmu perguruan Windujati. Bahkan ciri-ciri isyarat dari perguruan Windujati pun telah dikenalnya pula.”

“Agaknya ada hubungannya antara keduanya,” desis Ki Sumangkar.

Kiai Gringsing tersenyum. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, Ki Waskita mendahului, “Kiai Gringsing telah melihatnya. Aku dipaksa untuk meskipun hanya sedikit, melepaskan unsur-unsur gerak itu. Memang aku mengenal dengan baik salah seorang murid dari perguruan Windujati. Murid Empu Windujati langsung. Dengan demikian, kami tidak dapat menghindari pengaruh timbai balik di antara kami.”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Dan Ki Waskita pun tertawa, “Ya. Agaknya memang bukan begitu.”

Ki Juru Martani dan Ki Sumangkar pun tertawa pula. Bahkan Ki Gede Pemanahan masih juga sempat tersenyum, sementara Ki Demang Sangkal Pulung mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun merasakan sesuatu yang agak janggal dari ceritera Ki Waskita.

“Aku salah,” desis Ki Waskita, “maksudku, agaknya Kiai Gringsing pun telah mengenal saluran ilmuku. Bukan ilmu yang dapat melepaskan bentuk-bentuk semu yang ternyata tidak ada artinya sama sekali bagi Kiai Gringsing, tetapi ilmu kanuraganku.”

“Nah,” desis Ki Juru, “begitulah agaknya. Jika aku sempat melihat tata gerak yang tersembunyi itu, barangkali aku juga dapat menyebutnya.”

“Ah, tidak banyak artinya. Perguruanku adalah perguruan kecil yang tidak berarti.”

“Tetapi sempat melahirkan orang-orang seperti Ki Waskita dan Panembahan Agung.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam.

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsing pun berkata, “Nah, barangkali tidak ada lagi yang harus aku ceritakan. Itulah kenyataan yang selama ini aku sembunyikan. Sebenarnya aku benar-benar ingin memisahkan diri dari kesibukan pemerintahan yang mana pun juga. Mungkin aku terpengaruh oleh sikap Empu Windujati yang kecewa. Hanya kadang-kadang didorong oleh perasaan yang tersimpan di lubuk hati yang paling dalam, maka tanpa disadari aku sudah terlibat pula. Seperti pada saat-saat pasukan Tohpati berada di Sangkal Putung. Saat Mataram mulai tumbuh dan saat-saat yang lain. Aku memang selalu menghindari Ki Gede Pemanahan, Ki Juru Martani, dan pemimpin-pemimpin Pajang yang lain, yang apabila dapat melihat pergelanganku, akan timbul banyak persoalan tentang diriku. Tetapi ternyata selain pemimpin-pemimpin di Pajang, Ki Argapati pun pernah mempersoalkannya.”

“Hampir setiap orang mengenal Empu Windujati,” berkata Ki Gede Pemanahan, lalu, “tetapi kemanakah murid-murid perguruan Windujati itu?”

“Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “mereka telah berpisah dengan tugas di pundak masing-masing. Untuk mengatakan di mana mereka sekarang, maka aku kira aku harus menyusun suatu cerita tersendiri. Panjang dan barangkali tidak menarik karena tidak ada hubungan langsung dengan persoalan yang kini kita hadapi.”

“Dan guru Kiai yang bersahabat dengan Ki Kebo Kanigara itu?”

Kiai Gringsing termenung sejenak. Sebenarnya ia masih ingin menghindari cerita yang berkepanjangan. Tetapi rasa-rasanya orang-orang yang ada di dalam bilik itu selalu mendesaknya.

“Aku sudah terlanjur mengucapkan nama-nama Kebo Kanigara, Kebo Kenanga, dan Ki Ageng Pengging Sepuh,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “nama-nama yang tidak terpisahkan dari nama Sultan di Pajang yang kini masih bertakhta.”

Setelah termenung sejenak, maka Kiai Gringsing itu pun berkata, “Guruku pun pernah memutari pegunungan Merapi dan Merbabu, kemudian menyusur pantai utara sampai ke daerah timur. Kemudian menyeberang ke sebuah pulau yang manis, pulau Bali. Ke daerah barat guruku pernah menjelajahi tempat demi tempat dan sempat tinggal di rumah Respati yang juga disebut Menak Ujung.”

Yang mendengar cerita itu mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil mendengar kelanjutannya, “Aku berkesempatan mengikutinya meskipun tidak seluruh perjalanannya.”

“Dan Kiai terpisah dari Kakek Kiai, Empu Windujati yang juga bernama Pangeran Wirawardana?”

“Aku memang sering terpisah dari Kakek. Tetapi kadang-kadang aku berada di padepokannya. Atas ijin guruku, aku belajar juga kepada kakek. Justru kemampuanku mempergunakan cambuk aku dapatkan dari Empu Windujati.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya, “Tetapi ada sesuatu yang tidak nampak oleh mata wadag, tetapi nampak oleh mata hati. Ilmu yang tidak kasat mata itu dapat Kiai salurkan lewat kemampuan Kiai mempergunakan cambuk.”

Kiai Gringsing termenung sejenak, lalu, “Ya. Ilmu itu aku dapatkan dari guruku.”

“Apakah ada persamaannya dengan ilmu yang dimiliki oleh seorang pemimpin tanah perdikan yang disegani di daerah utara Gunung Merbabu?”

“Siapa?”

“Ki Gede Banyu Biru yang sekarang?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Gede Banyu Biru memiliki saluran ilmu yang serupa dengan ilmu Ki Kebo Kanigara. Jika ada persamaan dari ilmunya dengan ilmu yang pernah Ki Waskita lihat padaku, itu bukan hal yang mustahil. Tetapi tentu tidak sama sepenuhnya. Terutama di dalam sifat dan ungkapannya.”

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ki Gede Banyu Biru yang sekarang mengakui kekuasaan Pajang sepenuhnya. Ilmunya benar-benar mengagumkan.”

Kiai Gringsing termenung sejenak. Kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil, “Memang ada persamaannya. Aku menyadap ilmu itu sepenuhnya. Tetapi kemudian luluh menjadi satu dengan ilmu yang diberikan oleh Guru. Apalagi Guru dan Ki Kebo Kanigara sudah saling bersetuju untuk saling menyadap unsur-unsur gerak dari ilmu masing-masing. Tetapi jiwanya masih tetap berbeda meskipun tidak begitu jauh.”

Ki Gede Pemanahan yang berbaring di pembaringaninya itu tiba-tiba berdesis, “Ki Gede Banyu Biru yang sekarang mempunyai ikatan yang rapat dengan Sultan di Pajang. Mereka pernah berada di satu padepokan. Pernah hidup dalam satu lingkungan. Dan ilmu mereka pun tidak terlampau jauh pula, meskipun Sultan Pajang memiliki seribu macam ilmu dari seribu macam perguruan.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Katanya, “Aku pernah bertemu dengan Ki Gede di Banyu Biru. Ia lebih muda sedikit dari aku. Hanya sedikit di bawah Kanjeng Sultan Pajang.”

“Apa yang dikatakannya tentang Pajang?”

“Ia merasa dirinya bagian dari Pajang. Tetapi ada juga sepercik kekecewaan, justru karena Pajang seakan-akan telah berhenti.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pada masa itu, banyak perguruan bertebaran. Tetapi kadang-kadang ada yang hanya mengenal namanya saja, tetapi tidak pernah bersentuhan di dalam satu persoalan. Atau masing-masing mengenal ciri perguruan yang lain dengan baik. Tetapi mereka tidak saling mengganggu.”

“Pada saat keris Kiai Nagasasra hilang dari gedung perbendaharaan pusaka di Demak, maka gemparlah seluruh perguruan di seluruh daerah Demak,” desis Ki Waskita.

“Ya, juga Kiai Sabuk Inten,” sambung Ki Sumangkar.

“Apakah Kiai mengetahui persoalan itu?” bertanya Ki Juru Martani.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Kebo Kanigara banyak mengetahui tentang kedua keris itu, karena seorang murid dari perguruan Pengging langsung melibatkan diri dalam pencarian kedua pusaka itu.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Dari golongan lain pun bagaikan sarang semut disentuh air. Perguruan yang lebih banyak mementingkan kepentingan lahiriah semata-mata, tanpa diimbangi oleh pertimbangan rohaniah, berebut pula untuk mendapatkan kedua pusaka itu. Tetapi semata-mata karena pamrih pribadi. Sedang murid dari perguruan Pengging yang langsung mencari kedua pusaka itu, adalah semata-mata karena pengabdian. Pengabdiannya kepada kesejahteraan Demak, apalagi ia memang seorang perwira Demak yang merasa bertanggung jawab pada saat kedua pusaka itu diketahui hilang dari perbendaharaan pusaka.”

Orang-orang yang ada di dalam ruang itu terdiam sejenak. Di luar sadar mereka, maka terbayanglah masa lampau yang pernah menyaput kerajaan Demak, dekat saatnya Pajang berdiri.

“Lebih dari tiga puluh tahun yang lampau,” desis Ki Sumangkar.

“Tentu lebih,” desis Ki Waskita, “aku masih seorang yang meningkat dewasa waktu itu.”

Ki Gede Pemanahan yang berbaring itu pun menarik nafas. Rasa-rasanya dadanya menjadi lapang setelah teka-teki yang satu itu, tentang seorang tua yang banyak berbuat untuk Mataram bahkan Pajang, tetapi tidak pernah memperkenalkan dirinya.

Sejenak ruangan itu menjadi hening. Seakan-akan terbayang di dalam angan-angan masing-masing peristiwa yang pernah terjadi di Demak. Hilangnya pusaka yang sangat penting dari gedung pusaka, telah mengguncang seluruh kekuatan yang ada di Demak. Selain petugas-petugas sandi yang disebar ke segala penjuru, juga orang-orang yang didorong oleh nafsu pribadi, ketamakan dan pamrih yang berlebih-lebihan, telah berusaha untuk menemukannya.

Pada saat itu, Sultan Pajang masih seorang anak muda yang mempunyai kegemaran menjelajahi sudut-sudut Kerajaan Demak, sehingga akhirnya ia berhasil masuk ke dalam lingkungan istana karena ia memiliki kelebihan dari anak-anak muda kebanyakan. Dengan demikian, maka anak muda yang bernama Mas Karebet dan yang juga disebut Jaka Tingkir itu berkesempatan untuk menempatkan diri ke dalam suatu kemungkinan, bahwa akhirnya ialah yang memegang pimpinan pemerintahan yang dipindahkannya ke Pajang.

Selagi suasana di ruang itu dicengkam oleh kenangan masa lampau, maka di luar Raden Sutawijaya menjadi sangat gelisah. Sekali-sekali ia berdiri dan berjalan hilir-mudik. Tetapi jika ia berdiri di muka pintu, dan mendengar salah seorang yang berada di dalam ruangan itu tertawa pendek, maka ia menarik nafas dalam-dalam. Tentu tidak terjadi sesuatu dengan ayahandanya.

“Mungkin Kiai Gringsing dapat mengobatinya,” berkata Raden Sutawijaya di dalam hati.

Agung Sedayu dan Swandaru pun duduk dengan gelisah pula. Tetapi keduanya tidak berbuat apa-apa.

“Aku mendengar Paman Juru Martani tertawa,” berkata Raden Sutawijaya kepada Agung Sedayu dan Swandaru.

Kedua anak-anak muda itu mengerutkan keningnya.

“Mungkin keadaan Ki Gede sudah menjadi baik,” desis Agung Sedayu.

“Apakah Raden akan mencoba masuk pula ke dalam bilik itu?” bertanya Swandaru.

Raden Sutawijaya termangu-mangu. Tetapi Agung Sedayu berkata, “Jika keadaan memerlukan maka Raden tentu akan dipanggilnya.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, aku akan menunggu saja.”

Raden Sutawijaya pun kemudian duduk pula dengan jantung yang berdebar-debar.

Sementara itu matahari mulai memanjat langit. Para penjaga di regol sudah meninggalkan tempatnya, diganti oleh kelompok yang baru.

Akhirnya anak-anak muda itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi duduk dalam ketegangan. Karena itu, maka ketika Raden Sutawijaya mengajak mereka turun ke halaman, maka Agung Sedayu segera menyahut, “Marilah. Rasa-rasanya tubuhku menjadi beku duduk dalam ketegangan.”

“Kita dapat berjalan-jalan keluar,” desis Swandaru.

“Jangan terlampau jauh. Setiap saat aku dapat dipanggil ke dalam bilik itu,” sahut Raden Sutawijaya.

Dengan demikian maka ketiganya pun hanya berjalan di halaman saja. Mereka berhenti sejenak di regol. Tetapi mereka pun berjalan lagi ke regol butulan di samping.

Dua orang penjaga butulan itu mengangguk hormat, ketika Raden Suawijaya lewat di sebelah mereka.

Selagi Raden Sutawijaya berjalan sambil merenungi keadaan ayahandanya, dan merenungi dirinya sendiri yang sudah terlanjur melanggar pagar hubungannya dengan gadis Kalinyamat, sehingga ayahandanya menjadi sangat berprihatin karenanya, maka di dalam bilik Ki Juru Martani berkata, “Agaknya Sutawijaya mempunyai sifat yang sama dengan ayahanda angkatnya.”

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya.

“Karena itu, aku percaya bahwa Kanjeng Sultan benar-benar tidak marah kepada Sutawijaya karena peristiwa itu.”

“Ya, Kakang,” sahut Ki Gede, “seharusnya Kanjeng Sultan menjadi marah dan menghukum aku.”

“Berterima kasihlah bahwa Kanjeng Sultan tidak marah. Gadis dari Kalinyamat itu tentu akan melahirkan seorang yang pilih tanding, karena ia keturunan Ki Gede Pemanahan dan keturunan Sunan Prawata. Bukankah dengan demikian tetesan darah Majapahit yang ada di dalam diri putri Sunan Prawata itu akan luluh dengan tetesan darah dari Kiai Ageng Sela yang mampu menguasai api bahkan petir?”

“Ah,” Ki Gede Pemanahan berdesah.

“Kita tentu masih ingat, bagaimana Jaka Tingkir itu diusir dari istana Sultan Demak,” berkata Ki Juru Martani pula.

“Itu lebih baik,” desis Ki Gede Pemanahan.

“Tetapi itu sikap pura-pura. Kanjeng Sultan Demak tentu tidak sebenarnya ingin menghukum Jaka Tingkir. Kanjeng Sultan Trenggana adalah seorang yang berhati keras. Jika ia benar-benar marah, Mas Karebet itu tentu akan diremas sampai lumat dengan aji Narantaka yang dimilikinya. Bahkan Sultan Trenggana mempunyai seribu macam ilmu.”

“Juga Mas Karebet,” desis Ki Sumangkar.

“Tetapi waktu itu ilmunya masih belum mapan, meskipun sudah mengagumkan, sehingga Sultan Trenggana tertarik karenanya.” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Dan sekarang Raden Sutawijaya berbuat hampir serupa.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Meskipun orang-orang yang berada di dalam bilik itu tidak saling berjanji, namun mereka bersama-sama telah membayangkan apa yang terjadi pada saat Sultan Trenggana berada di halaman Masjid Demak.

Seorang anak muda yang sedang berjongkok di pinggir kolam tidak mendapat kesempatan untuk bergeser dari tempatnya. Tetapi Sultan Trenggana sudah begitu dekat. Untuk meninggalkan tempat itu, ia tidak berani berdiri lagi, karena Sultan telah berada di depan hidungnya. Sedangkan untuk tetap berada di tempatnya, ia pun takut kepada para pengawal. Untuk mundur, di belakangnya adalah kolam berair cukup dalam. Karena itu, maka anak muda itu pun kemudian meloncati kolam di belakangnya. Ia meloncat mundur sambil tetap jongkok, seakan-akan tidak bergerak sama sekali.

 

 

Ternyata hal itu sangat menarik perhatian Sultan Demak. Tanpa kekuatan yang tidak kasat mata, tidak seorangpun yang dapat melakukannya. Meloncat mundur sambil berjongkok melampaui sebuah kolam yang cukup lebar.

Namun kemudian ketika Mas Karebet itu mendapat kesempatan untuk mengabdi di istana Demak, maka terjadilah hubungan yang tidak diharapkan itu. Hubungan diam-diam dengan putri Sultan Trenggana.

Yang bersalah harus dihukum. Demikian juga Mas Karebet. Namun Sultan Trenggana tahu pasti, bahwa kedua anak muda itu sudah saling mencintai. Karena itu, maka dengan berat hati, Mas Karebet itu diusirnya dari istana, meskipun ia tahu, bahwa hati putrinya pun akan menjadi hancur karenanya.

Tetapi kesempatan untuk menerima Karebet kembali pun ternyata terbuka. Ketika Kebo Danu dari Banyu Biru mengamuk di daerah perburuan, maka Mas Karebet mendapat kesempatan untuk menjinakkannya. Dan Kebo Danu itu adalah kekuatan yang hampir tidak terlawan dari Banyu Biru.

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang wajah Ki Demang Sangkal Putung, agaknya Ki Demang pun sedang merenungkan peristiwa yang pernah terjadi pada masa menjelang kekuasaan Pajang.

“Dan sekarang,” berkata Ki Juru Martani di dalam hatinya, “Sultan Pajang harus dengan ikhlas menyerahkan gadis Kalinyamat itu kepada Raden Sutawijaya yang dengan diam-diam pula telah mencuri hatinya.”

Ki Gede Pemanahan yang terbaring diam itu pun menarik nafas dalam-dalam. Semua yang terjadi itu rasa-rasanya masih jelas di dalam ingatannya. Umurnya yang sebaya dengan Mas Karebet yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya itu, agaknya menganggap peristiwa yang terjadi di istana Demak itu sebagai suatu peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan. Betapa rapatnya pihak istana menutup rahasia tentang putri Sultan Trenggana, namun akhirnya setiap telinga mendengar pula.

Tetapi dalam pada itu setiap mulut mengatakan bahwa Jaka Tingkir telah diusir dari istana karena ia telah membunuh seorang yang mengalami pendadaran, ketika memasuki lingkungan keprajuritan. Anak muda yang bernama Dadungawuk telah mati terbunuh oleh Jaka Tingkir yang menjadi marah mendengar kesombongannya dan kemudian menusuk Dadungawuk itu hanya dengan sadak kinang.

Orang-orang yang berada di ruangan itu tiba-tiba berpaling serentak ketika mereka mendengar Ki Sumangkar hampir di luar sadarnya berdesis, “Sebuah kenangan yang manis.”

Ki Waskita menggamitnya dan bertanya, “Kenangan tentang Ki Sumangkar agaknya tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh Jaka Tingkir.”

Ki Sumangkar tersenyum. Jawabnya, “Tidak. Aku mengenang masa muda Sultan Hadiwijaya, dan kemudian Raden Sutawijaya yang mengalami masa-masa yang serupa.”

“Tetapi tentu kenangan manis buat Ki Sumangkar sendiri,” potong Ki Juru Martani.

Orang-orang tua di dalam bilik itu ternyata sedang tenggelam dalam alam angan-angan. Memang kadang-kadang terasa kerinduan yang mencengkam. Tetapi masa lampau itu sudah berlalu. Tidak seorang pun yang akan dapat mengulanginya. Yang dapat dilakukannya hanyalah mengenang kembali. Mengenang masa muda yang penuh dengan gelora dan gemuruhnya perjuangan untuk merebut masa depan masing-masing.

Juga kenangan masa-masa mereka mengagumi nama orang-orang sakti yang pernah mereka kenal. Yang kadang-kadang menumbuhkan bayangan dan angan-angan untuk dapat berbuat seperti itu.

Tetapi ketika kemudian mereka sampai pada pencapaian keinginan itu, terasa bahwa kemampuan yang mereka capai itu bukannya sekedar sebagai kebanggaan. Tetapi justru disertai dengan perasaan tanggung jawab terhadap lingkungannya. Dan pada keadaan yang demikian itulah, seseorang akan dapat menilai diri sendiri, apakah ia telah memberikan pengabdian kepada sesama dan tidak terlepas dari kebaktian kepada Penciptanya, atau sekedar dicengkam oleh ketamakan dan nafsu semata-mata.

Meskipun pada masa itu, orang-orang tua yang ada di dalam bilik itu masih termasuk anak-anak muda, namun mereka dapat melihat benturan kekuatan yang berlawanan pada saat-saat keris Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten hilang dari gedung pusaka istana Demak.

“Dan kini,” tiba-tiba Ki Juru Martani berdesis, “tentu tidak sedikit orang yang menginginkan memiliki Kangjeng Kiai Pleret, karena Kanjeng Kiai Pleret pun kini merupakan lambang wahyu kerajaan di atas tanah ini.”

Tiba-tiba saja Ki Juru menjadi gelisah. Seakan-akan ia ingin segera melihat, apakah Kiai Pleret masih ada di tempatnya.

Tetapi Ki Gede Pemanahan sendiri tidak memberikan kesan kegelisahan itu. Ialah yang menyimpan Kiai Pleret di dalam ruang pusaka yang rapat. Dan tempat menyimpan pusaka itu tidak jauh dari tempatnya berbaring sekarang, yang hanya disekat oleh sebuah dinding.

Dalam pada itu, tanpa mengerti kegelisahan yang menyentuh hati Ki Juru Martani, maka Ki Gede Pemanahan pun bertanya dengan suara yang lambat dan lamban, “Kiai. Kiai belum mengatakan, siapakah sebenarnya yang dikenal sebagai Empu Windujati pada masa permulaan Pajang. Jika Empu Windujati itu Pangeran Wirawardana seperti yang Kiai katakan, maka pada permulaan kekuasaan Pajang, ia sudah terlampau tua untuk berkelana di seluruh wilayah Pajang. Bahkan belum begitu lama menurut ingatanku, Empu Windujati masih terdengar namanya dan nampak ciri-cirinya. Di saat orang yang menyebut dirinya Kiai Pager Wesi dari goa Susuhing Angin di daerah sebelah utara Gunung Merbabu menampakkan dirinya di daerah Pajang, dan mengancam akan menghancurkan Pajang jika Pajang berkeras menentang kekuasaan Arya Penangsang, muncullah ciri-ciri perguruan Windujati itu. Tentu kita masih ingat, dan terutama Ki Sumangkar yang berada di Kepatihan Jipang, seorang pendukung Arya Penangsang yang sangat ditakuti saat itu. Ia datang ke Jipang beberapa hari setelah Arya Penangsang gagal memerintahkan dua orang untuk membunuh Adipati Pajang, meskipun orang itu sudah dibekali dengan keris Brongot Setan Kober yang terkenal. Orang yang menyebut darinya Kiai Pager Wesi itu menyatakan kesanggupannya untuk membinasakan Adipati Pajang meskipun masih harus diuji kebenarannya, karena ia belum pernah melakukannya.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya sambil mengingat-ingat, “Ya. Orang itu bernama Kiai Pager Wesi. Tetapi orang-orang di kepatihan sendiri, maksudku Kepatihan Jipang, tidak yakin bahwa ia akan mampu melakukannya karena setiap orang mengetahui betapa tinggi dan dahsyatnya ilmu yang tersimpan di dalam diri Adipati Pajang waktu itu, yang kini telah bergelar Sultan Hadiwijaya. Yang paling mungkin melakukan hanyalah Arya Penangsang sendiri, atau Ki Patih Mantahun. Tetapi Ki Patih Mantahun telah terlalu tua. Sedangkan tidak seorang pun yang percaya kepadaku waktu itu. Juga kepada Macan Kepatihan yang masih terlalu muda.”

“Dan orang yang menyebut dirinya Kiai Pager Wesi hadir di dalam pergolakan itu. Namun sebelum ia bertindak, di Jipang telah diketemukan panji-panji kecil berciri perguruan Empu Windujati.”

“Ya,” sahut Ki Sumangkar, “bahkan di dalam bilik tempat Kiai Pager Wesi bermalam di istana Adipati Jipang Arya Penangsang, terdapat panji-panji kecil itu. Dan tidak seorang pun yang mengetahui siapakah yang meletakkan panji-panji itu di dalam bilik yang disediakan khusus bagi tamu-tamunya dari goa Susuhing Angin itu. Dan setiap orang di Jipang mengetahui bahwa panji-panji itu merupakan peringatan bagi Kiai Pager Wesi, bahwa jika ia ikut campur di dalam persoalan Jipang dan Pajang, maka perguruan Windujati akan turun pula di medan pertentangan itu.”

“Ya. Suatu tantangan bagi Kiai Pager Wesi. Dan agaknya Kiai Pager Wesi masih segan berhadapan dengan Empu Windujati,” berkata Ki Gede Pemanahan. “Ternyata Kiai Pager Wesi tidak pernah berbuat apa-apa atas Sultan Pajang yang memang sudah siap menghadapinya.”

“Terutama Lurah Wiratamtama saat itu di Pajang yang terkenal,” desis Ki Sumangkar, “yang bergelar Ki Gede Pemanahan.”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Katanya, “Aku sudah gemetar mendengar nama Kiai Pager Wesi.”

“Ah, setiap orang tahu, Ki Gede Pemanahan hampir tidak ada bedanya dengan Kanjeng Sultan di Pajang itu sendiri. Apalagi Ki Juru Martani dari Sada. Meskipun Ki Juru tidak dengan resmi menjadi prajurit di Pajang, tetapi pengaruhnya sampai saat ini melampaui pengaruh Ki Patih di Pajang sendiri.”

“Ah,” desis Ki Juru, “aku sudah berdiam diri. Tetapi jika kita berbicara tentang Empu Windujati, sebenarnyalah Empu Windujati hadir saat itu. Bukan saja Kiai Pager Wesi yang ingin mencampuri persoalan Pajang dan Jipang, tetapi saat-saat pertentangan itu memuncak dan segenap perhatian tertumpah pada persoalan Pajang dan Jipang, banyak orang yang mempergunakan kesempatan itu. Orang-orang yang merasa dirinya memiliki kemampuan cukup mulai memanfaatkan keadaan untuk kepentingan diri sendiri. Perampokan, pembunuhan dan kejahatan-kejahatan yang lain mulai mereda, ketika tersebar panji-panji kecil seperti yang terpahat di pergelangan tangan Kiai Gringsing itu. Dan yang tentu ingin kami ketahui, apakah Empu Windajati yang saat itu dengan gigih melawan kejahatan dan bahkan memberikan tantangan atas Kiai Pager Wesi itu juga Empu Windujati yang bergelar Pangeran Wirawardana?”

Semua orang memandang Kiai Gringsing dengan tajamnya, seakan-akan langsung ingin mengetahui apakah yang ada di dalam pusat jantungnya.

Sejenak Kiai Gringsing merenung. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Apakah pernah ada orang yang merasa bertemu dengan Empu Windujati saat itu?”

“Tidak,” sahut Ki Gede Pemanahan, “tetapi, nama Windujati saat itu kami kenal.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk lemah. Sekilas ia memandang wajah Ki Gede Pemanahan yang pucat, namun nampak membayang keinginan untuk sebanyak-banyaknya mengetahui masalah-masalah yang baginya merupakan teka-teki selama ini.

Kiai Gringsing bergeser sejengkal. Kemudian setelah merenung sejenak, maka ia pun menjawab, “Yang kita kenal dengan nama Empu Windujati pada masa permulaan Pajang itu bukannya Empu Windujati yang juga bergelar Pangeran Wirawardana.”

“Jadi siapakah Empu Windujati yang saat itu berani menempatkan diri berhadapan dengan Kiai Pager Wesi yang merasa dirinya mempunyai ilmu yang dahsyat sehingga sanggup melawan Adipati Pajang?” bertanya Ki Juru Martani.

Kiai Gringsing merenungi Ki Juru sejenak, lalu ia pun bertanya, “Jadi perlukah aku menerangkan siapakah orang yang saat itu menyebut dirinya Empu Windujati dengan ciri perguruan Windujati?”

“Agaknya memang demikian, Kiai,” Ki Waskita memotong. “Rasa-rasanya memang menarik untuk mengetahui serba sedikit tentang orang sakti pada masa-masa lampau.”

“Memang menarik,” sahut Kiai Gringsing. “Juga menarik untuk mengenal perguruan Banyu Biru sampai saatnya Ki Gede Banyu Biru menyerahkan kekuasaan Tanah Perdikannya kepada putranya yang memimpin Tanah Perdikan itu sampai sekarang.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Tidak ada apa-apa di Banyu Biru.”

“Justru putra Ki Gede Banyu Biru itu mendapatkan ilmunya sebagian terbesar bukan dari ayahnya sendiri. Sedang ayahnya ternyata kemudian mempunyai murid-murid tersendiri.”

“Anak padesan yang tidak berarti,” potong Ki Waskita.

Kiai Gringsing tersenyum. Dan Ki Waskita pun berkata, “Kiai belum menjawab. Siapakah Empu Windujati itu?”

“Apakah Ki Waskita dapat menjawab? Bukankah Ki Waskita mengenal isyarat perguruan Windujati? Dengan demikian tentu ada sangkut paut antara perguruan Ki Waskita dan perguruan Windujati.”

“Ah,” desah Ki Waskita , “sudahlah, sebaiknya Kiai Gringsing menyebutnya.”

“Ki Juru,” berkata kiai Gringsing kemudian, “pada saat yang gawat, kadang-kadang seseorang perlu bertindak tepat. Aku kira, seseorang tahu dengan pasti, bahwa Kiai Pager Wesi mempunyai pertimbangan tersendiri terhadap perguruan Windujati, sehingga orang itu telah mnempergunakan nama perguruan Windujati untuk mencegah niatnya. Karena menurut perhitungan nalar, jika seandainya Kiai Pager Wesi berhasil membunuh Adipati Pajang pada waktu itu, maka yang akan terjadi justru kekeruhan. Tidak akan mungkin Kiai Pager Wesi bersedia membantu Arya Penangsang tanpa pamrih.”

“Semata-mata karena dendam,” berkata Ki Sumangkar, “Kiai Pagar Wesi mendendam Adipati Pajang, karena Adipati Pajang di dalam petualangannya di masa mudanya pernah membunuh seorang penghuni Goa Sarang Angin yang disebut Goa Susuhing Angin itu.”

“Itu adalah alasan yang dikemukakan dan memang masuk akal,” jawab Kiai Gringsing. “Tetapi setiap orang yang pernah mendengar tentang goa itu, maka mereka tentu akan berpendapat lain.”

“Ya,” sahut Ki Waskita, “aku pernah mendengar tentang goa yang disebut Sarang Angin itu. Goa yang berada di bawah bukit karang dan mempunyai lubang lurus ke atas menembus kulit pegunungan. Jika angin kencang bertiup maka lubang-lubang goa itu bagaikan lubang-lubang seruling raksasa yang menimbulkan bunyi yang mendebarkan jantung.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Dan tentulah bersarang sebuah kelompok yang tidak dapat disebut orang-orang baik. Termasuk Kiai Pager Wesi yang sampai sekarang masih tetap berada di tempatnya dan sekitarnya. Tetapi perkembangan di Pajang telah mendesaknya untuk tidak pernah menampakkan dirinya lagi, apalagi Kiai Pager Wesi harus mengakui kemampuan Sultan Pajang dan pimpinan Wira Tamtamanya Ki Pemanahan dan Ki Penjawi. Terhitung pula saudara tua mereka, Ki Juru Martani.”

Mereka yang mendengarnya tersenyum karenanya. Ki Demang Sangkal Putung yang selama itu berwajah tegang pun tersenyum pula.

“Tetapi masih belum terjawab,” Ki Sumangkar menyela, “siapakah yang pada saat-saat itu melepaskan ciri-ciri khusus perguruan Windujati?”

“Sudah aku katakan. Seseorang yang ingin menolong keadaan.”

“Tetapi tidak seorang pun yang akan berani berbuat demikian jika memang ia tidak berhak,” potong Ki Juru Martani. “Sedangkan yang berhak atas ciri itu adalah murid-muridnya turun-temurun, atau keturunan langsung dari Empu Windujati.”

Kiai Gringsing tidak menyahut.

“Ada seorang dukun di Dukuh Pakuwon,” Ki Sumangkar bergumam, “yang ternyata adalah keturunan langsung dari Empu Windujati.”

“Ah, kau.”

“Coba, Kiai,” sahut Ki Sumangkar, “selama ini Kiai berdiri di tepi arena. Kiai yang kecewa seperti kekecewaan yang mencengkam hati Empu Windujati atas segala macam pertentangan sampai saat Sultan Pajang bertakhta, tetapi tidak sampai hati melepaskannya sama sekali. Yang nampak, Kiai sekarang berada di tempat ini. Tentu karena Kiai tidak dapat melepaskan sama sekali kebanggaan Kiai sebagai keturunan dalam garis lurus dari Majapahit, bahwa kekuasaan di atas Tanah ini akan menjadi semakin surut. Tetapi Kiai masih tetap pantang untuk terjun langsung di dalam arena yang kacau ini.”

Kiai Gringsing memandang Ki Sumangkar sejenak, kemudian tatapan matanya merambat kepada orang lain yang ada di dalam ruangan itu. Yang terakhir Kiai Gringsing memandang Ki Gede Pemanahan yang pucat berbaring di pembaringannya.

Sekilas Kiai Gringsing melihat, seolah-olah isyarat baginya bahwa sebenarnya Ki Gede Pemanahan sudah tidak akan dapat bertahan lagi untuk waktu yang panjang. Mungkin sehari mungkin dua hari. Tetapi tidak lebih dari itu.

Karena itu, maka ia tidak akan dapat selalu ingkar akan kenyataan tentang dirinya. Apalagi beberapa orang tua-tua yang memiliki pengalaman yang luas berada di ruang itu, dan seakan-akan mereka semuanya memandanginya dengan tajamnya.

“Ki Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing, “aku tahu bahwa Ki Sumangkar telah menganggap akulah yang telah melepaskan ciri-ciri itu untuk menentang Kiai Pager Wesi agar tidak ikut melibatkan diri ke dalam pertentangan itu.”

“Demikianlah agaknya,” Ki Waskita-lah yang menyahut.

“Baiklah,” berkata Kiai Gringsing, “tentu waktu itu kita semuanya masih lebih muda dari sekarang. Aku memang tidak akan dapat ingkar bahwa aku terlibat pada saat itu. Aku tidak sampai hati melihat Pajang dan Jipang yang sebenarnya masih bersangkut paut dalam lingkungan keluarga besar itu dapat menumbuhkan persoalan yang akan menjadi sangat gawat bagi kelangsungan hidup Demak. Jika ada orang lain yang ikut campur, dan apalagi terjun ke dalam arena pertentangan itu, maka persoalannya akan dapat bergeser dari persoalannya yang semula.”

Semua orang menarik nafas lega. Ternyata dugaan mereka sebagian terbesar sesuai dengan pengakuan Kiai Gringsing itu.

“Tetapi apakah dengan demikian bukan berarti bahwa Kiai Gringsing telah berpihak kepada Pajang?” bertanya Ki Sumangkar.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ia tahu pasti bahwa saat itu Sumangkar berada di Jipang. Bagamana pun juga, pada waktu itu Ki Sumangkar tentu mengharap Jipang akan menang.

“Ki Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing, “mungkin karena sikapku waktu itu, memang dapat ditarik kesimpulan, bahwa aku berpihak kepada Pajang. Tetapi yang penting bagiku adalah menolak campur tangan pihak lain yang hanya akan mencari keuntungan bagi diri mereka sendiri. Apalagi orang yang menyebut dirinya Kiai Pager Wesi itu. Selagi ia berada di Jipang dan selagi ia ikut mengobarkan pertentangan antara Jipang dan Pajang, maka anak buahnya akan dengan leluasa bertindak untuk kepentingan mereka sendiri. Masih pula Kiai Pager Wesi akan menuntut banyak hal yang dapat terjadi kemudian karena jasa-jasa yang telah ia berikan kepada Jipang meskipun jasa-jasa itu sebenarnya tidak akan berarti apa-apa. Menurut penilaianku, Kiai Pager Wesi bukannya orang yang pantas ditakuti, karena ia tidak akan lebih baik dari Ki Patih Mantahun, atau adik seperguruannya yang juga memiliki tongkat berkepala tengkorak yang berwarna kuning, yang sekarang berada di antara kita.”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam.

“Itulah sebabnya maka aku memberanikan diri untuk mencoba mencegah terlibatnya Kiai Pager Wesi di dalam persoalan Pajang dan Jipang.”

Ki Gede Pemanahan yang berbaring itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Pada saat itu, kita yang berada di Pajang harus memperhitungkan dengan saksama kehadiran orang yang menyebut dirinya Kiai Pager Wesi. Dan kita pun harus mengikuti perkembangan keadaan dengan munculnya ciri-ciri khusus perguruan Windujati. Agaknya Kiai Gringsing-lah yang waktu itu telah menempatkan tantangan dengan ciri-ciri itu di hadapan Kiai Pager Wesi.”

“Aku tidak berdiri sendiri,” berkata Kiai Gringsing, “jika sesuatu benar-benar terjadi, maka aku berada bersama murid-murid yang sebenarnya dari perguruan Windujati.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mendapat gambaran serba sedikit tentang apa yang pernah terjadi beberapa saat yang lampau atas Pajang dan Jipang. Ternyata baru sekarang hal itu dimengerti meskipun tidak terlalu gamblang.

“Nah,” berkata Kiai Gringsing, “tidak ada lagi yang dapat aku katakan tentang diriku, tentang perguruan Windujati dan tentang orang-orang lain yang bersangkut paut. Aku juga tidak dapat menceritakan lebih banyak lagi tentang hubungan antara guruku dengan Kebo Kanigara. Pengaruh ilmu yang dahsyat dari Ki Kebo Kanigara yang nampak pada ilmuku sekarang, dan yang senafas meskipun wataknya agak berbeda dengan ilmu yang tentu kalian kenal pada Ki Gede Banyu Biru yang sekarang, yang pernah berguru kepada seorang yang memiliki pengabdian yang luar biasa kepada Demak pada saat-saat keris Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten hilang dari gedung pusaka.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya.

“Tentang perguruan Banyu Biru, bertanyalah kepada Ki Waskita. Ia tidak akan dapat menyembunyikan ilmu dari perguruan itu meskipun juga sedikit ada garis pemisah dari Ki Gede Banyu Biru yang sekarang, karena pengaruh yang terkuat yang ada di dalam diri mereka juga berlainan.”

“Ah,” desis Ki Waskita, “tidak ada apa-apa di Banyu Biru. Dahulu mau pun sekarang selain pegunungan-pegunungan kecil di kaki gunung Merbabu di lereng Utara menghadap pada tanah yang berawa-rawa.”

Kiai Gringsing tersenyum. Dipandanginya Ki Waskita sejenak. Namun sebelum ia berkata sesuatu, justru Ki Waskita-lah yang mendahului, “Tanah berawa-rawa itu bukannya sesuatu yang penting, selain sebagai sarang uling. Sebenarnya uling dan pada masa sebelum Ki Gede Banyu Biru yang sekarang, terdapat sepasang uling yang bertubuh manusia.”

“Uling Putih dan Uling Kuning maksudmu?” bertanya Ki Juru Martani.

“Ya.”

“Bukankah mereka terbunuh oleh Ki Gede Banyu Biru yang sekarang, tetapi yang saat itu masih cukup muda.”

Ki Waskita menganggukkan kepalanya. Katanya, “Begitulah. Tetapi bekasnya tidak hilang sama sekali. Orang yang menyebut dirinya Kiai Pager Wesi di pegunungan Sarang Angin itu pun merupakan jalur perguruan yang sama dengan kedua uling itu.”

“Jika demikian,” berkata Kiai Gringsing, “seharusnya Ki Waskita-lah yang paling berkepentingan dengan orang itu.”

Ki Waskita tersenyum. Tetapi sebelum Kiai Gringsing berkata lebih lanjut, Ki Waskita mendahului pula, “Tetapi Kiai, barangkali pertanyaanku menjadi terlampau jauh. Jika Kiai bersedia memberikan jawabnya karena aku yakin bahwa Kiai mengetahuinya, apakah hubungannya antara Empu Windujati yang juga bergelar Pangeran Wirawardana dengan seorang yang pada saat yang mungkin hampir bersamaan meskipun pada umur yang terpaut, bergelar Pangeran Buntara dan yang kemudian menamakan dirinya Panembahan Ismaya. Jelasnya, apakah hubungan antara Empu Windujati dengan Panembahan Ismaya dari Karang Tumaritis?”

Nampak wajah Kiai Gringsing menegang. Namun kemudian wajah itu telah berubah dalam sekejap, seolah-olah tidak ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dengan nada datar ia menjawab, “Aku tidak tahu. Aku memang sudah mengenal seseorang yang menyebut dirinya Panembahan Ismaya.”

“Hanya sekedar mengenal?”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya.

Tetapi Ki Waskita justru tertawa. Bahkan Ki Juru Martani pun mendehem sambil berkata, “Pertanyaan itu wajar sekali.”

“Ya. Dan jawabanku pun wajar pula.”

Yang mendengar jawaban Kiai Gringsing itu tertawa. Bahkan Ki Gede Pemanahan pun masih tertawa pula sambil berkata, “Kita telah menemukan satu jawaban dari teka-teki yang selama ini tersimpan. Tetapi pada suatu saat kalian tentu akan mendengar jawaban dari teka-teki yang lain, yaitu hubungan antara perguruan Karang Tumaritis dan perguruan Windujati.”

“Seharusnya bukan sesuatu yang asing bagi perguruan Sela, Ki Gede.”

Ki Gede tersenyum pula. Tetapi sebelum ia menjawab Ki Juru berkata, “Baiklah kita menyimpan teka-teki yang satu ini. Mungkin Kiai Gringsing masih ingin mempunyai simpanan, yang pada suatu saat dapat kita pakai sebagai bahan pembicaraan.”

“Tidak. Aku tidak tahu-menahu hubungan yang ada itu.”

Ki Gede Pemanahan pun kemudian berkata, “Jangan dikeringkan sampai tuntas. Biarlah tinggal beberapa hal yang tersangkut dalam rahasia pribadi Kiai Gringsing. Tetapi yang penting kita sudah mengetahui, siapakah sebenarnya Kiai Gringsing. Cucunda Pangeran Wirawardana yang juga disebut Empu Windujati. Namun masih ada satu pertanyaan lagi Kiai. Siapakah nama Kiai yang sebenarnya. Tentu bukan Ki Tanu Metir dan tentu bukan Kiai Gringsing.”

“Apa pentingnya nama-nama itu bagi Ki Gede?”

“Tidak apa-apa. Tetapi bukankah nama itu merupakan suatu kelengkapan pengenalan kita.”

Ketika Kiai Gringsing memandang berkeliling, nampaklah sorot-sorot mata yang tegang memandanginya. Dengan demikian Kiai Gringsing sadar, bahwa mereka benar-benar ingin mengetahui nama Kiai Gringsing yang sebenarnya.

“Tidak banyak yang menganggap namaku penting untuk diketahui. Tetapi baiklah, jika memang kalian ingin mendengar.”

“Ya,” desis Ki Demang Sangkal Putung tiba-tiba.

“Namaku bukannya nama yang baik. Sekedar tanda atau sebutan untuk memanggil aku.”

“Sebutlah,” desis Ki Sumangkar.

“Namaku sama jeleknya dengan aku sendiri, dan tidak lebih baik dari sebutan Kiai Gringsing atau Ki Tanu Metir.”

“Hem,” Ki juru menarik nafas dalam-dalam, “rasa-rasanya kita sedang menggali cengkerik di dalam tanah berpasir. Rasa-rasanya kita sudah hampir mendapatkannya, namun ternyata lubang itu masih terlampau dalam.”

Semuanya tertawa. Ki Gede Pemanahan pun masih juga tertawa.

“Baiklah,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “namaku yang sebenarnya, yang diberikan oleh orang tuaku adalah Pamungkas.”

“Pamungkas,” hampir bersamaan terdengar beberapa orang bergumam.

“Apakah kalian pernah mendengar nama itu?” bertanya Kiai Gringsing.

Ki Sumangkar menggeleng, “Belum. Nama itu masih asing bagiku.”

“Kalian bergumam seperti kalian sudah mengenal nama itu dengan baik,” Kiai Gringsing tersenyum.

“Bukan mengenal dengan baik,” sahut Ki Waskita, “tetapi nama itu sendirilah yang sangat baik.”

Kiai Gringsing memandang wajah Ki Waskita sejenak. Ketika terpandang olehnya senyum di bibir Ki Waskita, maka mau tidak mau Kiai Gringsing harus tersenyum pula sambil bertanya, “Apakah Ki Waskita tidak percaya?”

“Tidak. Bukan tidak percaya, Kiai. Agaknya kali ini Kiai berbicara dengan sungguh-sungguh. Tetapi selama ini memang sulit dibedakan antara yang sebenarnya dan yang sekedar cerita seperti cerita tentang nama seorang dukun di dukuh Pakuwon.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Katanya dengan senyum yang masih nampak di bibirnya, “Agaknya memang sulit bagiku untuk berkata dengan sesungguhnya.”

“Biarlah kali ini aku percaya. Nama Kiai adalah Pamungkas. Raden Pamungkas, cucu Pangeran Wirawardana. Agaknya Kiai memang anak wuragil. Apakah benar Kiai anak bungsu?”

“Kenapa?”’

“Pamungkas menyimpan arti mengakhiri.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi Ki Juru menyahut, “Mungkin maksudnya agar Kiai Gringsing tidak lagi disusul oleh seorang adik. Tetapi mungkin pula nama itu mengandung harapan agar Kiai Gringsing dapat memecahkan setiap persoalan yang dihadapi.” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Dan agaknya yang kedua itulah yang nampak sekarang. Ternyata Kiai Gringsing dapat memecahkan dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh orang lain.”

 

 

“Agaknya semuanya adalah harapan baik,” sahut Kiai Gringsing. “Nama adalah tanda, sekaligus harapan yang di berikan oleh orang tua kita. Karena itu pada umumnya nama seseorang dapat saja mempunyai arti yang kadang-kadang terlampau tinggi dibandingkan dengan keadaannya. Tetapi tentu itu bukan suatu kesalahan.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Yang lain pun mengangguk-angguk pula. Agaknya mereka dapat mengerti dan menerima keterangan Kiai Gringsing itu. Meskipun sebelumnya mereka selalu melihat banyak masalah yang tersamar padanya, tetapi agaknya saat itu Kiai Gringsing berkata bersungguh-sungguh.

Demikianlah, maka Ki Gede Pemanahan yang terbaring dengan wajah pucat itu pun kemudian berkata, “Terima kasih atas segala keterangan Kiai. Aku sekarang mengerti bahwa Kiai memang memiliki alasan yang kuat untuk selalu membayangi setiap daerah yang mulai bangkit. Kekecewaan yang ada pada Kiai sejak Pangeran Wirawardana meninggalkan Majapahit, kadang-kadang mendorong Kiai untuk menemukan harapan-harapan di saat-saat seperti saat lahirnya Mataram sekarang, seperti juga saat lahirnya Pajang. Kiai sudah mulai membayangi kekuatan yang saat itu ingin mengganggu perkembangan Pajang ketika Pajang mulai bangkit. Tetapi agaknya Kiai pun menjadi kecewa meskipun Kiai tidak sampai hati melepaskannya sama sekali. Ternyata dengan usaha Kiai membatasi gerak Macan Kepatihan yang saat itu masih di tunggui oleh Ki Sumangkar dengan tongkat baja berkepala tengkoraknya.”

Kiai Gringsing tersenyum. Dipandanginya Sumangkar sambil berkata, “Memang menarik sekali untuk berkenalan langsung dengan Ki Sumangkar saat itu. Sebelumnya, aku hanya mengenal namanya dan ilmunya, serta kepercayaan banyak orang bahwa pemegang tongkat berkepala tengkorak itu mempunyai simpanan nyawa rangkap.”

Ki Sumangkar pun tertawa katanya, “Jika aku mempunyai dua nyawa, maka yang satu akan aku jual kepada Kiai Gringsing dengan harga yang sangat tinggi.”

Yang mendengarnya pun tertawa. Sementara itu Ki Gede Pemanahan masih bertanya, “Tetapi apakah sebenarnya yang membuat Kiai kecewa atas Pajang?”

“Ah, tidak apa-apa, Ki Gede. Aku tidak kecewa.”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Katanya, “Baiklah. Kiai memang tidak kecewa. Mudah-mudahan Kiai juga tidak kecewa terhadap Mataram.”

Kiai Gringsing memandangi Ki Gede Pemanahan dengan tajamnya. Tetapi sorot matanya mengandung kesungguhan dari sikap batinnya, sekaligus harapan, sehingga Ki Gede Pemanahan berkata di dalam hatinya, “Agaknya Kiai Gringsing sendiri mengharap, agar ia tidak selalu kecewa sepanjang hidupnya. Tergantung kepada Sutawijaya, apakah ia dapat mengemudikan Mataram dengan baik dalam bimbingan Ki Juru Martani.”

Dalam pada itu, maka tiba-tiba saja Ki Juru Martani berkata, “Kita sudah terlampau banyak memaksa Kiai Gringsing bercerita. Nah, sekarang apakah ada yang akan Kiai lakukan atas Ki Gede Pemanahan?”

Tetapi sebelum Kiai Gringsing menyahut, Ki Gede Pemanahan telah mendahuluinya, “Tidak ada yang akan dilakukannya, Kakang Juru. Yang paling tepat dilakukan adalah ceritanya tentang dirinya.”

“Mungkin Kiai Gringsing mempunyai obat yang dapat melancarkan jalan pernafasanmu atau untuk kepentingan lain agar kesehatanmu bertambah baik.”

Ki Gede menggeleng, “Bukan aku menolak setiap usaha, karena sebenarnyalah bahwa usaha itu merupakan permohonan kepada Yang Maha Kasih. Tetapi rasa-rasanya aku sudah mendapat isyarat, bahwa hari-hariku tinggal terlampau pendek. Sehari, mungkin dua. Tetapi sama sekali bukan bermaksud mendahului batas yang digariskan oleh-Nya, namun rasa-rasanya garis itu memang sudah diperlihatkan kepadaku.”

Kiai Gringsing menggeleng lemah. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Seperti juga orang lain, rasa-rasanya isyarat itu benar-benar memang telah nampak.

Namun demikian Ki Juru Martani yang bijaksana masih juga berkata, “Adi Pemanahan. Selagi yang nampak itu belum terwujud, sebaiknya Adi jangan menolak suatu usaha. Mungkin pernafasan Adi sekarang dapat menjadi lancar. Mungkin terasa tubuh menjadi segar.”

Ki Gede Pemanahan memandang Kiai Gringsing sejenak lalu, “Baiklah, Kiai. Ibarat orang berada di ujung jalan, biarlah badan ini merasa segar dan pikiran menjadi tetap bening.”

Kiai Gringsing menarik nafas. Tetapi ia pun kemudian menyahut, “Aku memang sudah menyediakan obat buat Ki Gede. Mungkin akan dapat memperlancar jalan pernafasannya.”

“Tetapi tidak akan memulihkannya,” sahut Ki Gede Pemanahan.

“Sebaiknya kita tidak memikirkannya,” berkata Kiai Gringsing. “Jika pernafasan Ki Gede menjadi semakin baik adalah pertanda bahwa usaha kita berhasil. Selebihnya, kita serahkan kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Apa pun yang akan terjadi, terjadilah. Jika usaha kita mencapai hasil seperti yang kita harapkan, maka yakinlah kita betapa terbatasnya kemampuan manusia. Dan kita adalah manusia yang sangat terbatas itu.”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Katanya, “Demikianlah agaknya Kiai. Kita memang tidak dapat memohon yang bukan hak kita.”

Kiai Gringsing tidak menyahut lagi. Tetapi ia pun kemudian berdiri dan berkata, “Aku akan mencari air panas sejenak. Aku memerlukannya untuk meramu obat.”

“O,” Ki Juru Martani berdiri, “biarlah anak-anak melayani Kiai.”

“Terima kasih. Aku harus meramunya sendiri,” Kiai Gringsing pun kemudian melangkah ke luar pintu dan langsung pergi ke dapur untuk mencari air panas dan mangkuk untuk meramu obat.

Dalam pada itu, maka Ki Demang Sangkal Putung, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar pun minta diri kembali ke gandok karena agaknya Ki Gede Pemanahan nampak menjadi lebih baik. Nafasnya tidak lagi tersumbat dan bahkan sekali-sekali ia masih tersenyum. Yang tinggal menunggui kemudian adalah Ki Juru Martani. Namun Ki Juru itu pun berpesan, “Ki Sumangkar. Persilahkan Raden Sutawijaya masuk ke dalam bilik ini.”

“Baik, Ki Juru,” jawab Ki Sumangkar sambil meninggalkan bilik itu.

Ketika kemudian Ki Sumangkar menemukan Raden Sutawijaya di regol depan bersama Agung Sedayu dan Swandaru, maka ia pun menyampaikan pesan Ki Juru kepadanya.

Dengan tergesa-gesa Raden Sutawijaya pergi ke bilik ayahandanya, diikuti oleh Agung Sedayu dan Swandaru. Namua hatinya tidak terlampau gelisah karena Ki Sumangkar sudah mengatakan bahwa keadaan Ki Gede Pemanahan justru berangsur baik.

Meskipun demikian, ketika Raden Sutawijaya memasuki bilik ayahandanya, hatinya masih juga berdebar-debar. Dilihatnya Ki Juru Martani duduk di bibir pembaringan, merenungi Ki Gede yang terbaring diam.

“Masuklah,” desis Ki Juru Martani.

Dengan ragu-ragu ketiga anak-anak muda itu memasuki bilik Ki Gede Pemanahan dan duduk di sisi pembaringan.

Ki Gede Pemanahan tersenyum melihat anak-anak muda itu. Katanya, “Dari mana kalian sepagi ini?”

“Kami tidak pergi ke mana-mana, Ayahanda. Kami berada di halaman saja.”

“O,” Ki Gede Pemanahan menyahut, “bukankah tidak ada persoalan yang penting di hari-hari terakhir?”

“Tidak, Ayahanda. Tidak ada persoalan yang perlu mendapat perhatian khusus. Jalan-jalan masih terus dikerjakan. Parit-parit di ujung selatan sudah mulai mengalir.”

“Bagaimanakah dengan keadaan para pekerja?”

“Baik, Ayah. Semuanya baik.”

“Ya. Kau kemarin juga sudah mengatakan, semuanya baik,” sahut Ki Gede Pemanahan. “Mudah-mudahan untuk selanjutnya semuanya berjalan dengan baik.”

“Mudah-mudahan, Ayahanda. Jika Ayahanda nanti sudah sembuh, aku akan menunjukkan kemajuan yang telah kita capai di daerah selatan seperti yang sudah aku laporkan setiap kali.”

“Tetapi kau harus selalu ingat pesanku Sutawijaya, jangan menyentuh sama sekali daerah wewenang Tanah Perdikan Mangir.”

“Aku selalu mengingatnya, Ayahanda. Tetapi aku tidak tahu pasti, yang manakah batas antara Mangir dan Alas Mentaok yang sudah diserahkan dengan resmi kepada kita. Hutan Mentaok masih meluas sampai ke daerah selatan di sisi barat. Sedang di bagian timur, beberapa bagian tanah yang sudah menjadi padesan, masih juga harus diteliti, apakah benar daerah itu dibuka atas perlindungan dan memang berada di atas Tanah Mangir.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sementara kau dapat menghindarkan diri dari setiap persoalan. Kau dapat membuka daerah baru sejauh dapat kau kerjakan. Untuk beberapa lamanya, kau masih belum akan bersentuhan dengan perbatasan, karena tanah yang masih sangat luas. Bagian dari Hutan Mentaok bagian selatan di sisi barat tidak akan habis dibuka sampai waktu yang bertahun-tahun.”

“Tetapi bagaimanakah sikap kita jika Mangir menganggap Alas Mentaok bagian selatan itu miliknya?”

“Itu akan bertentangan dengan keputusan Sultan Pajang. Yang disebut Alas Mentaok itu adalah daerah yang diberikan kepada kita. Termasuk bagian-bagiannya yang mempunyai nama-nama tersendiri.”

Raden Sutawijaya tidak menjawab. Meskipun ia sadar, bahwa nama-nama yang tersendiri dari bagian sebelah selatan Alas Mentaok akan dapat menimbulkan tafsiran yang berbeda. Tetapi karena ayahandanya sedang dalam keadaan yang lemah, maka Raden Sutawijaya tidak mendesaknya lagi.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “kau kini sudah benar-benar menjadi seorang yang dewasa. Yang sudah melampaui masa mudamu. Karena itu kau harus mencoba berpikir dan bertindak dewasa. Terlebih-lebih menghadapi Mataram yang sedang dibuka ini, yang berbatasan dengan daerah-daerah yang sudah dibuka lebih dahulu. Namun agaknya kau akan menempatkan Mataram menjadi Tanah yang lebih terkemuka dari daerah yang sudah lebih dahulu terbuka itu.” Ki Gede Pemanahan berhenti sejenak, lalu, “Untuk mencapai tujuan itu kau tidak boleh mengorbankan hubungan baik dengan daerah di sekitar Alas Mentaok ini.”

Raden Sutawijaya mengangguk lemah. Sebenarnya ia ingin bertanya, kenapa ayahandanya berpesan terlampau jauh kepadanya. Bukankah selama ini ia masih tunduk kepada segala keputusan yang diambil oleh ayahandanya sehingga ia tidak akan dapat berbuat lebih banyak dari menjalankan perintah dan pantangan-pantangan.

Tetapi sebelum Sutawijaya mengucapkan pertanyaannya terdengar Ki Gede berkata, “Sutawijaya. Tidak sepantasnya lagi ayah selalu menuntun kau. Memberikan perintah dan petunjuk. Mulailah sekarang untuk menunjukkan bahwa kau adalah putra terkasih dari Sultan Hadiwijaya di Pajang yang mampu memimpin pemerintahan. Tentu mula-mula di daerah yang kecil. Namun suatu saat daerah yang kecil itu akan menjadi besar.”

Sutawijaya memandang ayahandanya dengan tajamnya. Kemudian ditatapnya wajah Ki Juru Martani. Tetapi ia tidak mengerti apa yang tergores pada dinding hati orang tua itu.

“Sutawijaya,” berkata ayahandanya pula, “di sini aku melihat Agung Sedayu dan Swandaru, murid-murid Kiai Grhigsing yang juga disebut Ki Tanu Metir. Mereka adalah orang-orang yang akan dapat membantumu. Di saat-saat Mataram menghadapi kesulitan dalam tingkat permulaan ini, mereka telah menunjukkan jasanya kepadamu. Karena itu, bawalah mereka untuk seterusnya.”

Sutawijaya menjadi semakin berdebar-debar. Nampaknya keadaan Ki Gede menjadi semakin baik. Tetapi pesan-pesannya membuatnya sangat gelisah.

Agaknya Ki Gede melihat kegelisahan yang terpercik di tatapan mata anaknya. Karena itu maka katanya, “Baiklah. Aku tidak akan banyak memberikan pesan-pesan kepadamu sekarang. Mungkin besok atau jika aku sudah sembuh sama sekali. Tetapi sementara itu baiklah aku masih akan memberikan satu pesan. Selagi aku tidak dapat menjalankan kewajibanku, kau tidak boleh berbuat sekehendakmu sendiri. Di Mataram ada uwakmu Ki Juru Martani. Ialah yang akan menggantikan aku dan akan memberikan banyak petunjuk dan nasehat kepadamu. Kau tidak boleh menolak. Dan kau harus menganggapnya seperti kau berhadapan dengan aku sendiri, sampai saatnya aku sembuh kembali dan dapat menjalankan tugasku sebagai seorang tetua Tanah Mataram dan sebagai orang tuamu.”

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Dan Ki Gede masih melanjutkan, “Selain Ki Juru Martani, maka kau dapat minta bantuan, dan perlindungan kepada orang-orang tua yang selama ini selalu membantumu. Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Waskita, dan Ki Demang Sangkal Putung. Bagimu Sangkal Putung adalah penting sekali. Kademangan itu terletak di sebelah timur Prambanan, di sebelah selatan Jati Anom. Pada suatu saat kau akan memerlukan bantuan dari daerah itu.”

Sutawijaya menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baiklah, Ayahanda.”

“Kecuali semuanya itu, sampai saat ini kau masih putra angkat yang sangat dikasihi dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Karena itu, kau mempunyai kewajiban ganda untuk mentaati perintahnya, Kanjeng Sultan Hadiwijaya bagimu adalah orang tua, raja dan justru sekaligus gurumu. Bukankah kau pernah mendapat tuntunan ilmu kanuragan daripadanya? Bahkan Sultan Hadiwijaya pernah membuka jalur ilmu yang sangat mengagumkan. Ilmu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Semula, semasa mudanya, Mas Karebet mengenal ilmu itu pada Sultan Trenggana. Dengan sedikit petunjuk, Mas Karebet berhasil menguasai ilmu itu, meskipun menjadi agak lain sifatnya, karena terbentuk oleh kemampuan Mas Karebet sendiri. Ilmu itu semula disebut Tameng Waja. Dan bukankah Sultan Hadiwijaya menamakannya juga Tameng Waja? Dan bukankah kau sudah mendapat petunjuk tentang ilmu itu. Jauh lebih banyak dari yang didapat oleh Mas Karebet waktu itu dari Sultan Trenggana. Nah, cobalah kembangkan ilmu itu di dalam dirimu. Dan kau adalah sebenarnya murid yang baik dari Mas Karebet. Selain aji Tameng Waja, kau juga dapat mempelajari ilmu-ilmu yang lain yang pernah terbuka bagimu. Terserahlah kepadamu. Jika Mas Karebet yang mendapat kesempatan itu, ia berhasil menguasainya dengan baik. Lembu Sekilan, Sapu Angin dan yang lain. Dan bagaimana dengan kau?” Ki Gede Pemanahan berhenti sejenak, lalu, “Semuanya itu dapat kau padu dengan ilmu yang kau pelajari daripadaku. Jika ilmu itu nanti dapat berkembang dan sempurna bersama-sama, maka kau akan menjadi gambaran dari Mas Karebet. Dan itu tidak cukup. Murid yang baik, adalah mereka yang dapat melampaui gurunya yang mana pun juga.”

Sutawijaya hanya menundukkan kepalanya saja. Ia memang tidak dapat ingkar, bahwa ayahandanya Sultan Pajang telah banyak memberikan ilmu kepadanya, meskipun hanya sekedar jalan yang masih harus dikembangkannya sendiri.

“Jika Ayahanda Sultan mampu melakukannya, kenapa aku tidak?” gumam Raden Sutawijaya di dalam dadanya.

Namun sementara itu, Agung Sedayu dan Swandaru yang berada di dalam bilik itu pun menjadi kagum. Raden Sutawijaya yang masih muda itu ternyata telah memiliki dasar-dasar ilmu yang lengkap untuk membekali dirinya. Meskipun ilmu itu belum matang, tetapi pada saatnya, maka Raden Sutawijaya akan menjadi seorang yang tidak ada duanya.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan pun berkata, “Nah, Sutawijaya, hadapilah masa depanmu dengan penuh gairah. Kau tentu akan berhasil.”

“Restu Ayahanda bagi masa depanku,” jawab Raden Sutawijaya.

Ki Gede Pemanahan, tersenyum. Lalu, “Kau harus selalu mendengarkan nasehat Ki Juru Martani. Sebagai pemimpin di Tanah Mataram yang sedang berkembang ini, atau di dalam usahamu mencari bentuk ilmu kanuragan.”

Sutawijaya merasa aneh dengan segala pesan ayahandanya. Seolah-olah ayahandanya tidak akan dapat melakukannya sendiri.

Sekilas Raden Sutawijaya mencoba mengamati keadaan ayahandanya. Nafasnya justru menjadi semakin baik. Dan sekali-sekali ayahandanya masih tersenyun cerah. Namun demikian bentuk lahiriah itu rasa-rasanya mempunyai kesan yang berlawanan dengan pesan-pesan yang telah diterimanya.

Agaknya Ki Gede Pemananan melihat kebimbangan di hati anaknya. Maka katanya kemudian, “Kau jangan ragu-ragu, Sutawijaya. Atau barangkali cemas dan terlebih-lebih lagi bingung. Kau adalah seorang laki-laki. Jika kau melihat sesuatu, kau tidak usah mencoba mengingkarinya. Lihatlah dengan saksama. Meskipun penglihatan seseorang dapat keliru, tetapi seorang laki-laki tidak perlu takut menghadapi segala macam kenyataan. Yang pahit maupun yang manis. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak berusaha berbuat apa pun juga.”

Terasa dada Sutawijaya berdesir. Namun ayahandanya pun kemudian berkata seterusnya, “Nah, sekarang kau dapat meninggalkan bilik ini. Biarlah pamanmu Ki Juru Martani saja yang menunggui aku. Sebentar lagi Kiai Gringsing tentu akan datang pula membawa obat bagiku.”

Sutawijaya ragu-ragu sejenak. Namun dengan isyarat Ki Juru Martani maka ia pun kemudian minta diri bersama Agung Sedayu dan Swandaru.

“Jangan pergi ke mana pun,” berkata Ki Gede Pemanahan, “mungkin aku memerlukan kau setiap saat.”

“Aku akan selalu berada di halaman, Ayahanda.”

“Baiklah. Ajaklah tamu-tamumu melihat-lihat kebun buah-buahanmu di halaman belakang.”

“Ya, Ayahanda.”

Ki Gede memandang anaknya sejenak. Tatapan matanya yang tiba-tiba menjadi buram membayangkan hatinya yang buram pula memikirkan anak laki-laki satu-satunya itu.

Ketiga anak-anak muda itu pun kemudian pergi ke luar bilik Ki Gede Pemanahan. Seperti yang dipesankan Ki Gede, mereka pun kemudian pergi ke kebun buah-buahan di halaman belakang. Tetapi mereka tidak meninggalkan halaman. Bagaimana pun juga, rasa-rasanya anak-anak muda itu pun menangkap isyarat yang mendebarkan jantung mengenai Ki Gede Pemanahan yang sedang sakit itu.

Sejenak kemudian maka Kiai Gringsing pun masuk pula ke dalam bilik dengan membawa obat-obat. Ki Gede Pemanahan tidak menolak obat itu dan diminumnya sampai habis.

Ternyata bahwa obat itu membuat tubuhnya menjadi lebih segar. Tetapi kesegaran tubuh Ki Gede itu sama sekali tidak dapat menahan perjalanan Ki Gede Pemanahan yang memang sudah hampir sampai ke batas.

Karena itulah, maka Ki Juru Martani sama sekali tidak meninggalkannya. Jika terpaksa ia pergi sejenak ke pakiwan, maka dimintanya orang lain menggantinya barang sejenak. Sedangkan Kiai Gringsing masih tetap berusaha dengan pengetahuan yang ada padanya untuk memperingan sakit Ki Gede Pemanahan. Justru menurut pengamatan Kiai Gringsing sekedar memperingan beban jasmaniahnya di saat terakhir.

Tetapi orang-orang tua yang melihat perkembangan keadaan Ki Gede Pemanahan serasa sudah dapat melihat apa yang bakal terjadi. Namun demikian, tidak seorang pun di antara mereka yang berani mendahului garis ketentuan Yang Maha Kuasa.

Kiai Gringsing, seorang dukun yang memiliki kemampuan yang kadang-kadang di luar nalar dalam usahanya menyembuhkan penderitaan dan sakit sesamanya, harus mengakui kenyataan, betapa kecilnya arti manusia. Betapa dangkalnya pengetahuan yang ada padanya untuk menjajagi ketentuan dari Maha Kuasanya.

Karena itu, tidak ada yang dapat dilakukan selain berusaha. Usaha yang nampaknya tidak akan berarti. Tetapi tanpa memutuskan kesempatan yang diberikan oleh-Nya.

Ketika matahari menjadi semakin rendah di barat, nafas Ki Gede Pemanahan mulai terganggu lagi. Tetapi hanya sebentar, karena Ki Gede sendiri berusaha untuk mengatasinya.

Namun demikian tubuhnya sudah menjadi semakin lemah. Wajahnya menjadi semakin pucat, meskipun masih nampak di bibirnya senyum yang jernih.

Ki Juru Martani menjadi semakin tekun menungguinya. Ia sama sekali sudah tidak meninggalkan Ki Gede dalam keadaannya. Bahkan kemudian Kiai Gringsing pun selalu berada di dalam bilik itu pula.

Di pendapa Ki Sumangkar, Ki Waskita, Ki Demang Sangkal Putung, dan beberapa orang tua di Mataram, para pemimpin serta Raden Sutawijaya beserta Agung Sedayu dan Swandaru duduk melingkar. Wajah-wajah mereka menjadi tegang. Rasa-rasanya mereka sedang menunggu sesuatu yang sangat mendebarkan.

Sejenak kemudian Ki Gede masih memanggil beberapa orang pemimpin Tanah Mataram yang baru dibuka itu. Diberikannya beberapa pesan tentang tugas-tugas mereka. Dengan demikian maka para pemimpin itu pun seolah-olah telah mendapat isyarat, bahwa sebenarnyalah Ki Gede Pemanahan tidak dapat ditahan-tahan lagi.

Malam yang kemudian turun menyelimuti Tanah Mataram, rasa-rasanya membuat setiap hati menjadi suram pula. Lampu minyak yang dinyalakan di pendapa dan di sudut-sudut rumah dan regol nampak berkeredipan ngelangut.

Mereka yang duduk di pendapa hampir tidak beringsut sama sekali dari tempatnya. Jika ada yang harus pergi, maka dengan tergesa-gesa ia kembali lagi ke tempatnya.

Semakin dalam malam menukik ke pusatnya, maka nampaknya Ki Gede Pemanahan menjadi semakin lemah. Sekali-sekali nampak wajahnya menjadi tegang. Namun hanya sejenak. Ketika terpandang olehnya Ki Juru Martani dan Kiai Gringsing, maka agaknya dadanya menjadi lapang.

Sebagai orang yang memiliki tangkapan pengalaman atas perasaan seseorang, maka Ki Juru Martani dan Kiai Gringsing pun mengerti, bahwa kadang-kadang masih juga terasa sesuatu menyentuh perjalanan Ki Gede Pemanahan. Agaknya Mataram yang baru dibuka ini, masih juga merupakan hambatan betapa pun kecilnya. Tetapi jika kemudian disadarinya, bahwa ia dapat mempercayakannya kepada Ki Juru Martani dan Kiai Gringsing, maka jalannya pun menjadi lapang kembali.

Menjelang tengah malam, maka Ki Gede Pemanahan pun berkata, “Kakang Juru. Apakah Sutawijaya belum tidur?”

“Belum, Adi. Ia berada di pendapa bersama Agung Sedayu dan Swandaru.”

“Hanya bertiga?”

“Tidak. Di pendapa ada banyak orang berjaga-jaga.”

Ki Gede tersenyum. Katanya lemah, “Apakah mereka menunggui aku?”

Ki Juru ragu-ragu sejenak. Namun kemudian, “Begitulah.”

“Agaknya mereka pun sudah melihat, bahwa aku tidak akan bertahan lebih lama lagi.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun Ki Gede berkata, “Jangan tersinggung Ki Pamungkas. Bukan karena Kiai Gringsing tidak mampu mengobati orang sakit. Tetapi sakitkulah yang sudah menjadi parah.”

Kiai Gringsing memandang Ki Gede dengan seksama. Kemudian perlahan-lahan ia menjawab, “Tidak seorang pun yang dapat melawan keharusan Yang Maha Kuasa, Ki Gede. Semua yang harus terjadi akan terjadi.”

Ki Gede tersenyum, katanya kemudian, “Kakang, apakah Kakang dapat memerintahkan memanggil Danang?”

“O, baiklah, Adi,” sahut Ki Juru. Namun dengan demikian hatinya menjadi cemas. Agaknya waktu yang terakhir bagi Ki Gede itu memang sudah hampir datang.

Sejenak kemudian, Sutawijaya sudah ada di dalam bilik itu. Dengan wajah yang tegang dipandanginya ayahandanya yang pucat.

“Sutawijaya,” desis Ki Gede.

“Ya, Ayahanda,” sahut Sutawijaya.

“Malam ini rasa-rasanya terlampau panjang bagiku, sehingga aku tidak dapat mengharap melihat matahari terbit esok pagi.”

“Ayah,” Sutawijaya bergeser mendekat.

“Kau seorang anak muda yang perkasa. Yang menjadi pusat dari segala gerak dan putaran di atas Tanah Mataram ini. Sadari itu.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya.

“Kau harus bersikap seperti yang seharusnya bagi seorang pemimpin. Kau bukan kanak-kanak lagi yang hanya dapat merengek sambil kehilangan akal.”

Sutawijaya masih terdiam.

“Bersikaplah sebagai seorang ksatria. Juga jika pada saatnya kau hadapi aku dalam keadaan yang lain.”

Terasa sesuatu menyumbat di kerongkongan. Tetapi setiap kali terngiang kata-kata ayahandanya, “Kau bukan anak-anak lagi yang hanya dapat merengek sambil kehilangan akal.”

Karena itu Sutawijaya berusaha untuk menahan hatinya.

“Itulah pesanku terakhir kepadamu, Sutawijaya. Pesanku yang lain sudah cukup banyak. Sekarang panggillah orang-orang tua itu kemari. Lebih dahulu tamu-tamu kita yang perkasa.”

Sutawijaya hampir tidak dapat beringsut dari tempatnya. Namun tatapan mata ayahandanya yang sayu seolah-olah menusuk jantungnya dengan tajam dan selalu melihat apakah pesan-pesannya diperhatikan.

“Aku seorang laki-laki,” geram Sutawijaya di dalam hati.

Sejenak kemudian maka Ki Sumangkar, Ki Waskita, Ki Demang Sangkal Putung telah berada di dalam bilik itu bersama Ki Juru dan Kiai Gringsing. Dengan dada yang berdebar-debar mereka melihat nafas Ki Gede yang sudah menjadi semakin lambat.

“Aku mohon diri,” desisnya

“Ki Gede,” Kiai Gringsing meraba tangannya.

Ki Gede Pemanahan masih tersenyum. Lalu, “Aku titipkan Mataram kepada kalian. Ki Juru yang bijaksana, Kiai Gringsing yang selalu berahasia, dan yang lain-lain.”

Ki Juru Martani bergeser semakin dekat. Terasa tubuh Ki Gede Pemanahan bergetar sejenak. Namun kemudian tubuh itu berangsur-angsur menjadi sejuk dan dingin.

“Biarlah para pemimpin Tanah Mataram melihat aku di saat terakhir,” suara Ki Gede menjadi semakin lemah.

Beberapa orang tua-tua dan pemimpin-pemimpin Tanah Mataram yang baru dibuka itu pun kemudian berdesakan di dalam bilik itu pula. Mereka masih sempat melihat wajah yang sayu dan pucat, namun masih selalu tersenyum itu.

 

 

“Tanah Mataram ada di tangan kalian,” desis Ki Gede Pemanahan.

Orang-orang itu pun kemudian menunduk. Sesaat mereka masih melihat Ki Gede memandang mereka. Namun mata itu pun kemudian perlahan-lahan terpejam.

Ki Juru Martani dan Kiai Gringsing mendekat semakin rapat. Bahkan Ki Juru masih mendengar Ki Gede berdesis dan mengucapkan beberapa kata pamitan.

Sesaat kemudian semua orang yang ada di dalam bilik itu melihat Ki Gede Pemanahan seolah-olah memperbaiki letak tubuhnya. Menyilangkan tangannya di dada dan memejamkan matanya rapat-rapat. Seakan-akan sesuatu telah bergerak merambat dari ujung kakinya perlahan-lahan naik ke lututnya dan bahkan seperti nampak di bawah pakaiannya sesuatu itu merayap terus. Akhirnya, seakan-akan setiap orang melihat sesuatu yang merayap itu sampai ke ujung ubun-ubun Ki Gede Pemanahan.

Yang nampak kemudian adalah sebuah senyuman kecil di bibir yang pucat itu. Namun senyum itu tidak berubah lagi untuk selama-lamanya.

Ki Gede Pemanahan telah meninggalkan Tanah Mataram yang baru dibukanya. Meninggalkan anak laki-lakinya yang berlutut di sampingnya. Dan meninggalkan semuanya yang pernah dikenalnya di muka bumi ini.

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Sutawijaya, dilihatnya mata anak muda itu menjadi basah. Tetapi Sutawijaya tidak menangis. Ia memenuhi pesan ayahnya. Ia adalah seorang ksatria. Ia bukan lagi anak-anak yang hanya dapat merengek dan kehilangan akal.

Sesaat bilik itu dicengkam oleh ketegangan. Tidak seorang pun yang bergerak. Mereka menatap tubuh Ki Gede Pemanahan yang terbujur diam di atas pembaringannya.

Namun kemudian terdengar suara Ki Juru Martani menyobek sepi, “Angger Sutawijaya. Ayahmu telah menghadap Tuhannya kembali.”

Sutawijaya mengangguk lemah. Sekilas ia memandang wajah ayahandanya yang pucat. Tetapi Sutawijaya memang tidak menangis.

“Ki Sanak semuanya,” berkata Ki Juru Martani, “baiklah kalian meninggalkan bilik ini. Siapkan segala sesuatunya untuk menyelenggarakan tubuh yang ditinggalkan oleh Ki Gede Pemanahan yang telah menghadap kembali kepada Penciptanya.”

Demikianlah maka orang-orang yang ada di dalam bilik itu bagaikan terbangun dari mimpi. Mereka baru menyadari sepenuhnya apa yang telah mereka saksikan. Ki Gede Pemanahan telah mendahului mereka kembali ke asalnya.

Sejenak kemudian maka di rumah itu pun segera menjadi sibuk. Setiap orang berdesis tentang Ki Gede Pemanahan yang telah meninggal.

“Seperti sedang tidur saja,” desis seseorang yang sempat melihat Ki Gede Pemanahan di saat terakhir.

“Ki Gede memang seorang yang besar,” sahut yang lain, “yang seakan-akan telah mengatur segalanya menjelang saat terakhirnya.”

Dan setiap orang pun berbicara di antara mereka dengan cara masing-masing.

Malam itu juga tubuh Ki Gede Pemanahan itu pun dibersihkan. Kemudian diperlakukan seperti seharusnya menurut adat dan kepercayaannya.

Sutawijaya benar-benar berusaha untuk tetap memenuhi pesan ayahandanya. Ia sama sekali tidak kehilangan akal dan kemudian justru menjadi beban beberapa orang tua-tua. Tetapi Sutawijaya sadar sepenuhnya, bahwa semuanya harus diselenggarakan sebaik-baiknya.

Dalam saat itulah nampak, bahwa Sutawijaya memang seorang pemimpin. Pada saat ayahandanya yang sangat dicintainya meninggal, bahkan sepercik penyesalan dan kecewa atas dirinya sendiri telah melonjak di dalam hatinya, namun ia masih tetap melakukan semua tugas yang dapat dikerjakannya. Bahkan ia seakan-akan telah memimpin semua pekerjaan untuk menyelenggarakan jenazah ayahandanya, meskipun ia tidak meninggalkan orang-orang tua yang mengerti segala macam tata cara dan adat kepercayaan.

Berita tentang meninggalnya Ki Gede Pemanahan itu pun segera menjalar ke seluruh Tanah Mataram, sehingga Tanah Mataram itu pun telah diliputi oleh suasana berkabung.

Dalam pada itu, Ki Juru Martani yang menjadi pusat dari penyelenggaraan jenazah Ki Gede itu pun memanggil beberapa orang tua-tua dan para pemimpin Tanah Mataram beserta Raden Sutawijaya. Dengan hati-hati ia berkata, “Apakah sebaiknya menurut pertimbangan kalian, kita akan memberitahukan kepada Kanjeng Sultan di Pajang?”

“Adalah sebaiknya demikian,” sahut Ki Lurah Branjangan, “disaat terakhir, Ki Gede masih tetap merasa dirinya dekat dengan Kanjeng Sultan. Meskipun seandainya Kanjeng Sultan di Pajang tidak dapat menengok jenazah Gede karena sesuatu hal.”

Yang lain pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak seorang pun di antara mereka yang menolak.

Namun ketika tatapan mata Ki Juru Martani menyentuh wajah Sutawijaya nampaklah bahwa ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Meskipun demikian, Sutawijaya sama sekali tidak mengatakan apa pun juga.

Ki Juru Martani yang melihat sekilas wajah itu, segera dapat mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak berkenan di hati anak muda itu. Tetapi karena Sutawijaya tidak mengatakan apa pun juga, maka Ki Juru pun tidak menanggapinya.

Bahkan Ki Juru Martani pun kemudian bertanya, “Siapakah di antara kita yang paling pantas menghadap Kanjeng Sultan di Pajang?”

Beberapa orang tanpa menyadarinya berpaling kepada Kiai Gringsing. Namun sebelum salah seorang dari mereka menyebut namanya, Ki Juru yang tahu pasti bahwa Kiai Gringsing tidak akan bersedia memenuhinya berkata, “Sebaiknya salah seorang pemimpin Tanah Mataram yang sedang berkembang.”

Wajah-wajah yang memandang Kiai Gringsing pun segera berpaling. Mereka kini memandang Ki Lurah Branjangan. Namun Ki Lurah telah mendahului, “Aku adalah seorang pelarian dari Pajang. Mungkin bukan akulah orang yang paling tepat untuk menghadap Kanjeng Sultan Hadiwijaya.”

Ki Juru pun dapat mengerti alasan Ki Lurah Branjangan, sehingga karena itu, maka akhirnya ia pun menunjuk seorang setengah baya yang datang ke Mataram bukan sebagai seorang pelarian dari Pajang. Tetapi ia benar-benar seorang yang datang untuk ikut serta membuka Alas Mentaok.

“Aku belum pernah menghadap Sultan di Pajang,” berkata orang itu, “unggah-ungguh dan adat tata cara aku sama sekali tidak mengenal. Karena itu mungkin kedatanganku justru akan membuat Kanjeng Sultan menjadi murka.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Akhirnya tidak ada pilihan lain kecuali Ki Juru Martani sendirilah yang akan pergi ke Pajang.

“Baiklah jika demikian. Aku sendirilah yang akan pergi ke Pajang. Aku serahkan jenazah Ki Gede Mataram di dalam penjagaan kalian. Tunggulah sampai aku kembali. Aku akan berpacu tanpa berhenti ke Pajang dan demikian aku menghadap Sultan aku akan segera kembali.”

“Apakah, jenazah ini harus bermalam semalam di rumah ini, Ki Juru?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Ya. Jenazah ini akan bermalam satu malam. Besok pagi-pagi jenazah ini akan dikebumikan.”

“Jadi Pamanda akan pergi sendiri?” bertanya Sutawijaya lalu. “Apakah Pamanda memerlukan pengawal?”

Ki Juru memandang Sutawijaya sejenak.Tetapi ia menggelengkan kepalanya, “Aku tidak memerlukan pengawal, Angger. Yang aku perlukan adalah seekor kuda yang tegar. Suruhlah seseorang menyiapkan kuda. Aku tidak akan menunggu sampai pagi. Aku akan segera berangkat. Mudah-mudahan malam nanti aku sudah berada di sini kembali.”

“Pamanda,” berkata Sutawijaya, “sebaiknya Pamanda membawa pengawal secukupnya. Pamanda harus ingat, apa yang telah terjadi atas ayahanda. Meskipun, ayahanda meninggal bukan semata-mata karena lukanya ketika ia dicegat oleh orang-orang yang tidak dikenal itu, namun kemungkinan serupa akan dapat terjadi atas Pamanda. Setelah Pamanda menghadap Ayahanda Sultan Pajang. Kemudian di perjalanan kembali peristiwa itu dapat terulang. Orang-orang yang tidak senang melihat Mataram berkembang menganggap bahwa Pamanda telah menggantikan kedudukan ayahanda di sini dan mereka pun akan menyergap Pamanda seperti yang pernah mereka lakukan atas ayahanda.”

Ki Juru Martani memandang Sutawijaya sejenak. Namun kemudian ia tersenyum. Katanya, “Semua orang mengetahui bahwa aku tidak akan dapat menggantikan kedudukan Adi Pemanahan. Aku hanya orang yang kebetulan dekat dengan ayahandamu. Tetapi bukan semestinya aku menggantikan kedudukannya di dalam lingkungan apa pun.”

“Tetapi orang-orang itu tidak akan mau mengerti Pamanda,” jawab Sutawijaya. “Karena itu, apakah salahnya jika Pamanda menjadi berhati-hati setelah terjadi kecurangan atas ayahanda. Para pemimpin di Pajang sudah tidak lagi mengenal sopan santun dan sifat-sifat jantan seorang kesatria.”

Ki Juru mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menjawab Kiai Gringsing berkata, “Ki Juru. Ada juga kebenarannya pendapat Raden Sutawijaya. Tetapi tentu juga tidak sepantasnya jika Ki Juru membawa pengawal yang lengkap memasuki kota Pajang dalam keadaan serupa ini.”

“Pengawal-pengawal itu dapat menunggu di luar kota,” potong Sutawijaya.

“Memang akan dapat timbul salah paham dengan pengawal kota.”

“Lalu?”

“Menurut pendapatku, sebaiknya Ki Juru Martani menghadap Kanjeng Sultan Pajang dengan seorang kawan yang bukan berasal dari Pajang. Orang itu adalah Ki Waskita. Jika terjadi sesuatu, maka Ki Waskita akan dapat membantu Ki Juru Martani di dalam beberapa hal.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya terangguk-angguk kecil. Kemudian katanya, “Biaklah, Kiai. Aku tidak berkeberatan jika Ki Waskita bersedia.”

“Aku mohon,” desis Raden Sutawijaya.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan pergi menemani Ki Juru Martani. Tetapi di dalam perjalanan itu, aku adalah seorang pengawal Tanah Mataram. Tidak lebih. Sehingga aku tidak akan berbuat lain kecuali mengawal Ki Juru Martani.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mengenal Ki Waskita dengan baik, sehingga karena itu, maka ia tidak akan selalu dikejar oleh kecemasan akan kepergian Ki Juru Martani.

Sebenarnya Raden Sutawijaya lebih senang apabila selain Ki Waskita berangkat juga Ki Sumangkar atau Kiai Gringsing. Tetapi Raden Sutawijaya itu pun kemudian menyadari bahwa keduanya pun agaknya akan berkeberatan.

Dengan demikian, maka Ki Juru Martani pun kemudian memerintahkan menyiapkan dua ekor kuda. Kemudian katanya, “Maaf, Ki Waskita. Ki Waskita adalah tamu yang seharusnya mendapat penghormatan dan hidangan. Namun di sini Ki Waskita harus ikut disibukkan dengan tugas ini.”

“Ah. Tidak apa-apa, Ki Juru. Kiai Gringsing berada di Tanah Perdikan Menoreh sebagai tamu. Tetapi setiap kali ia turut pula di dalam keadaan yang sulit.”

Demikianlah maka kedua orang itu pun minta diri kepada para tetua dan pemimpin Tanah Mataram. Mereka menitipkan jenazah Ki Gede agar dijaga baik-baik. Kepada Raden Sutawijaya Ki Juru memberikan banyak pesan. Sebagai seorang pemimpin yang masih muda ia harus banyak belajar dan mendengar dari orang-orang tua. Terutama Kiai Gringsing dan kawan-kawannya.

Sebelum matahari naik, kedua orang itu sudah berpacu meninggalkan Mataram menuju ke Pajang. Mereka tidak menghiraukan apa pun juga di perjalanan itu selain secepat-cepatnya sampai ke Pajang menghadap Kanjeng Sultan Hadiwijaya menyampaikan berita kematian Ki Gede Pemanahan. Seorang yang pernah menjadi Panglima Prajurit Wira Tamtama di Pajang dan yang pernah mendapat kepercayaan Kanjeng Sultan sepenuhnya.

Lebih dari itu, Ki Gede Pemanahan adalah ayah Raden Sutawijaya, putra angkat Kanjeng Sultan yang sangat dikasihinya.

Angin pagi yang dingin mengusap wajah kedua orang tua yang sedang berpacu itu. Langit yang menjadi semakin merah membayang di atas cakrawala. Dan kedua ekor kuda itu berderap semakin cepat.

Ki Waskita sempat juga memandangi tanah persawahan yang subur di sepanjang perjalanan. Tanah yang kini sudah menjadi tanah garapan.

“Beberapa saat yang lewat, tanah ini adalah bagian dari hutan yang lebat. Tetapi kini tanah ini sudah menjadi tanah persawahan yang hijau subur,” desis Ki Waskita. “Benar-benar suatu kerja raksasa yang sebelumnya sulit dibayangkan.”

“Hampir setiap orang semula meragukan hasil yang akan dapat dicapai oleh Adi Pemanahan serta puteranya yang keras hati itu. Apalagi dengan berbagai macam rintangan yang dialami oleh mereka. Namun akhirnya Mataram telah terwujud, dan semakin lama menjadi semakin ramai,” sahut Ki Juru Martani. “Tetapi agaknya iri hati justru menjadi semakin membakar hati orang-orang yang tamak di Pajang”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Ketika ia memandang ke depan, di hadapannya terhampar sebuah bulak yang sangat panjang, yang seakan-akan tidak berbatas sampai ke ujung cakrawala.

Dalam pada itu kedua ekor kuda itu berpacu semakin cepat. Jalan-jalan nampaknya sudah menjadi semakin baik, dan keamanan pun menjadi semakin maju.

Menjelang matahari terbit, beberapa orang sudah nampak berjalan menuju ke pusat pemerintahan Tanah Mataram dengan membawa berbagai macam barang dagangan. Barang-barang anyaman, hasil kebun, dan gula kelapa. Bahkan nampak beberapa buah pedati kayu berjalan terguncang-guncang di atas jalan yang panjang.

Padukuham demi padukuhan telah mereka lalui. Namun akhirnya mereka melihat seleret pepohonan bagaikan pebukitan yang terbaring melintang perjalanan mereka.

“Alas Tambak Baya,” desis Ki Juru.

“Alas yang masih belum terbuka,” sahut Ki Waskita.

“Alas itu cukup lebat, meskipun tidak selebat Alas Mentaok. Tetapi sekarang, jalur jalan yang membelah hutan itu telah cukup baik dilalui. Kelompok-kelompok pedagang tidak lagi ketakutan melintasi hutan itu meskipun kadang-kadang masih ada penjahat yang berani menyamun. Namun pada umumnya perjalanan di hutan itu sudah aman.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Justru di tempat yang sudah ramai Ki Gede Pemanahan menemui kesulitan di perjalanannya kembali ke Mataram.”

“Ya. Di Prambanan, di pinggir Kali Opak.”

“Bukankah daerah itu sudah ramai sejak lama?”

“Tetapi kesulitan itu adalah suatu keadaan yang khusus. Yang sengaja dipasang untuk mencegat perjalanan Adi Pemanahan. Bukan merupakan keadaan yang umum dialami oleh pejalan yang lewat.”

Ki Waskita mengangguk-angguk pula. Wajahnya yang dibayangi oleh cahaya pagi yang kemerah-merahan nampak bersungguh-sungguh.

Ki Juru tidak berbicara lebih banyak lagi. Kuda-kuda mereka pun kemudian menyusup Hutan Tambak Baya yang masih nampak buram.

Demikianlah keduanya berpacu terus. Hampir tidak ada sesuatu yang mereka alami di perjalanan. Mereka melintasi daerah Prambanan tanpa persoalan. Ketika mereka lewat di daerah Telaga, daerah-daerah hutan kecil yang menjadi daerah perburuan, kemudian memasuki Sangkal Putung dan selanjutnya terasa bahwa perjalanan mereka benar-benar tidak lagi dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.

Di daerah Sangkal Putung Ki Waskita sempat melihat kesibukan orang-orangnya. Di pagi-pagi benar agaknya orang sudah mulai sibuk bekerja dengan rajinnya.

Beberapa orang sudah nampak berada di sawah masing-masing. Sedang beberapa buah pedati berjalan lambat membawa hasil sawah untuk diperdagangkan.

Ki Juru Martani pun agaknya tertarik pada dataran yang hijau, seakan-akan terbentang sampai ke kaki Gunung Merapi.

“Mataram akan dapat menjadi sesubur ini,” desis Ki Juru Martani. “Apabila orang-orang yang membuka hutan itu tetap rajin seperti sekarang, maka dapat diharapkan dalam waktu yang singkat, Mataram akan menjadi negeri yang ramai. Meskipun bukan semata-mata karena tanahnya yang subur serta luas, tetapi juga karena yang memimpin Tanah yang baru tumbuh itu adalah Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya.”

“Ki Gede Pemanahan mempunyai pengaruh yang luas sekali,” gumam Ki Waskita.

“Ya. Seluruh daerah Pajang mengakuinya. Ia adalah seorang perwira yang pilih tanding.”

Ki Waskita mengangguk.

“Tetapi bukan karena kemampuan dan ilmunya saja Ki Gede Pemanahan disegani, tetapi lebih-lebih lagi karena ia seorang yang baik. Baik dalam melakukan tugasnya, dan baik sebagai seseorang yang hidup di dalam suatu lingkungan yang luas.”

“Pajang tentu merasa kehilangan,” desis Ki Waskita.

“Sebagian besar akan merasa kehilangan. Tetapi yang lain merasa lapang. Mereka sudah lama menginginkan Ki Gede dilenyapkan. Ternyata dengan peristiwa yang terjadi di pinggir Kali Opak itu. Jika Untara dan kemudian Raden Sutawijaya tidak datang tepat pada waktunya, maka Ki Gede tentu sudah gugur di perkelahian melawan penjahat-penjahat yang memiliki kemampuan yang tinggi itu.”

“Siapakah kira-kira yang telah mengupah mereka?” bertanya Ki Waskita.

“Tentu tidak mudah untuk segera mengetahui. Orang-orang yang tertangkap di antara mereka benar-benar tidak mengerti. Yang mereka ketahui semata-mata adalah pemimpin-pemimpin mereka itu saja.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya.

Dan tiba-tiba Ki Juru Martani bertanya, “Apakah dalam persoalan yang demikian, Ki Waskita dapat melihat dengan ilmu yang Ki Waskita miliki itu?”

KI Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sayang, Ki Juru. Aku tidak dapat melihat jawaban dalam persoalan serupa itu. Tidak ada isyarat yang dapat aku baca yang kemudian dapat dihubungkan dengan nama-nama orang.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa yang dapat dilihat oleh Ki Waskita adalah sekedar isyarat-isyarat. Tentu tidak akan dapat nampak wajah-wajah orang yang telah melakukan kejahatan dengan mengupah orang untuk membunuh Ki Gede Pemanahan.

Sejenak kemudian mereka pun saling berdiam diri. Kuda-kuda mereka masih berlari kencang menyusuri jalan yang sudah menjadi semakin baik.

Tidak ada persoalan yang mereka jumpai di perjalanan. Mereka berpacu terus dengan kencangnya. Hanya sekali-sekali mereka berhenti sejenak untuk melepaskan penat dan memberi kesempatan kuda mereka beristirahat dan sedikit meneguk air parit yang jernih.

Beberapa orang yang sedang bekerja di sawah kadang-kadang ada pula yang mengangkat kepalanya memandang kedua orang yang sedang berpacu itu. Namun mereka tidak memperhatikannya lagi karena mereka sudah terlampau sering melihat orang-orang berkuda lewat di bulak itu.

Demikianlah akhirnya, keduanya pun memasuki kota Pajang dengan selamat. Mereka melampaui gerbang kota sambil menyeka keringat yang membasahi wajah mereka yang berdebu.

“Kita sudah sampai,” berkata Ki Juru Martani, “kita akan langsung pergi ke istana, untuk mohon langsung menghadap Kanjeng Sultan.”

Demikianlah keduanya segera menemui petugas yang berwenang mengatur hubungan dengan Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Seorang lurah prajurit yang sedang bertugas menerima kedatangan Ki Juru dengan heran.

“Bukankah aku berhadapan dengan Ki Juru Martani?”

“Ya, kenapa? Aku mohon ijin untuk menghadap langsung Kanjeng Sultan.”

“Kenapa?” bertanya lurah prajurit itu. “Apakah ada sesuatu yang sangat penting?”

“Ya, Ki Lurah.”

“Tetapi aku tidak tahu, apakah Kanjeng Sultan bersedia menerima kehadiran Ki Juru.”

“Beritahukan abdi yang akan menyampaikan pesanku, bahwa Ki Juru membawa berita penting mengenai Ki Gede Pemanahan di Mataram.”

“Tetapi ini bukan waktunya untuk menghadap.”

“Persoalan yang akan aku sampaikan hanya berlaku hari ini. Jika aku hari ini tidak berhasil menghadap, maka persoalannya sudah tidak perlu lagi aku bawa ke Pajang.”

Lurah prajurit itu termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Aku tidak kuasa mengatur. Biarlah disampaikan kepada narpacundaka.”

“Jangan lupa. Pesanku harus disampaikan lengkap, agar Kanjeng Sultan sudi mempertimbangkan kemungkinan untuk mengizinkan permohonanku untuk menghadap.”

Ki Lurah itu pun segera menyampaikan pesan itu lewat seorang abdi yang sedang bertugas kepada petugas-petugas di dalam istana. Merekalah yang dapat langsung berhubungan dengan Kanjeng Sultan Hadiwijaya.

Ketika seorang hamba datang menghadap Kanjeng Sultan yang sedang beristirahat di bangsal, sudah nampak seolah-olah ada firasat yang menyentuh hati Kanjeng Sultan itu.

Sejenak dipandanginya hamba yang duduk tepekur menunggu pertanyaan Kanjeng Sultan yang telah melihatnya.

“Mendekatlah,” panggil Kanjeng Sultan.

Hamba itu pun kemudian beringsut mendekati beberapa jengkal.

“Apakah keperluanmu menghadap?”

“Ampun, Tuanku,” jawab hamba itu, “hamba menyampaikan permohonan seseorang untuk menghadap Tuanku.”

“Kapan?”

“Jika Tuanku berkenan, orang itu ingin menghadap sekarang.”

“Apakah ada persoalan yang amat penting?”

“Demikianlah menurut pengakuan orang itu. Lurah prajurit yang menerimanya mengatakan, bahwa orang itu adalah Ki Juru Martani yang datang dari Mataram.”

“Kakang Juru Martani?” Kanjeng Sultan mengulang.

“Hamba, Tuanku.”

Terasa debar jantung Kanjeng Sultan menjadi semakin keras. Tentu ada sesuatu yang penting, bahwa Ki Juru Martani sendirilah yang datang menghadap dari Mataram.

“Baiklah,” berkata Kanjeng Sultan kemudian, “aku akan menerimanya sekarang.”

Hamba itu menjadi heran. Biasanya orang yang datang menghadap tidak akan dapat segera diterima pada saat itu juga. Secepat-cepatnya malam nanti. Tetapi kali ini, Kanjeng Sultan yang sedang beristirahat itu memerlukan menerima tamunya segera.

Demikianlah maka Ki Juru Martani pun mendapat kesempatan untuk segera dapat menghadap Kanjeng Sultan yang seolah-olah telah mendapat firasat kurang baik dengan kehadirannya.

Karena itu, demikian Ki Juru itu berjalan sambil berjongkok mendekatinya, segera Kanjeng Sultan bertanya, “Apakah ada berita yang sangat penting, Kakang?”

Ki Juru Martani menyembah sambil membungkuk dalam-dalam diikuti oleh Ki Waskita. Kemudian katanya, “Ampun, Kanjeng Sultan. Sebenarnyalah hamba datang membawa berita yang sangat penting bagi Tuanku.”

“Katakanlah, Kakang.”

“Tuanku,” berkata Ki Juru, “hamba mohon maaf bahwa sebelumnya hamba tidak pernah menyampaikan berita apa pun tentang Adi Pemanahan.”

“Ya. Aku sudah mendengar bahwa Kakang Pemanahan menderita sakit. Sejak ia mengalami bencana di pinggir Kali Opak maka ia menderita sakit, bukan saja karena lukanya, tetapi seakan-akan ada sesuatu yang menekan perasaannya.”

“Demikianlah, Tuanku. Tetapi lebih daripada itu, Ki Gede seakan-akan sudah melihat, bahwa ia sudah sampai di perbatasan sehingga usaha yang mana pun tidak akan banyak memberikan pertolongan, karena tidak ada seorang pun dapat menembus kuasa Yang Maha Pencipta.”

“Jadi maksudmu?” wajah Kanjeng Sultan menjadi tegang.

“Ampun, Tuanku,” berkata Ki Juru Martani ragu-ragu. Namun ia meneruskannya, “Adi Pemanahan tidak lagi dapat menembus batas umur yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.”

“Kakang Juru Martani,” Kanjeng Sultan tiba-tiba berdiri dan melangkah mendekat, “maksudmu bahwa Kakang Pemanahan telah menyelesaikan perjalanan hidupnya sampai ke batas?”

“Ampun, Tuanku. Adi Pemanahan telah dipanggil kembali oleh Yang Menciptakannya.”

Sejenak Kanjeng Sultan berdiri mematung. Seolah-olah ia menjadi beku oleh berita yang didengarnya. Namun sejenak kemudian ia pun melangkah kembali ke tempat duduknya. Dengan lemahnya ia terkulai duduk seolah-olah telah kehilangan seluruh tulang belulangnya.

Ketika Ki Juru Martani menatap wajahnya, dan hampir di luar sadarnya Ki Waskita pun memandanginya, nampaklah mata Kanjeng Sultan itu menjadi berkilat-kilat oleh setitik air pelupuknya.

“Kakang Juru Martani,” berkata Kanjeng Sultan dengan nada yang parau, “kenapa baru sekarang Kakang memberitahukan hal itu kepadaku.”

“Ampun, Tuanku,” jawab Ki Juru, “semula hamba berharap bahwa Ki Gede Pemanahan akan dapat sembuh kembali. Apalagi ketika seorang dukun yang pandai datang mengobatinya. Tetapi ternyata bahwa tidak seorang pun yang mampu memperpanjang garis perjalanan hidup walau hanya selangkah.”

“Siapakah dukun yang pandai itu?”

“Kiai Gringsing.”

“Kiai Gringsing,” ulang Kanjeng Sultan, “aku pernah mendengar namanya. Namun ternyata bahwa kepandaiannya adalah kepandaian manusia semata-mata.”

“Hamba, Tuanku. Kepandaian manusia yang sangat picik.”

Kanjeng Sultan terdiam sejenak. Dipandanginya cahaya matahari yang serasa membakar longkangan di depan bangsal, dari sela-sela pintu yang sedikit renggang. Di luar beberapa orang prajurit pengawal berjalan hilir-mudik dengan memandi tombak di bahunya.

“Ternyata Kakang Pemanahan pergi lebih dahulu dari padaku.”

Ki Juru mengangkat wajahnya. Lalu, “Kanjeng Sultan. Itu adalah wajar sekali. Agaknya usia Adi Pemanahan pun terpaut meskipun hanya sedikit dari Kanjeng Sultan.”

“Tetapi ia masih lebih muda dari Kakang Juru Martani.”

Ki Juru tidak menyahut.

Kanjeng Sultan pun kemudian terdiam pula sesaat. Direnunginya hubungannya dengan Ki Gede Pemanahan sejak puluhan tahun yaug lampau, pada saat mereka bertiga bersama Ki Penjawi menyusuri lembah dan lereng-lereng pebukitan. Pada saat mereka bertiga menuntut ilmu. Dan terngiang sebuah pesan dari seorang yang seakan-akan melihat masa depan mereka, “Jangan terpisah-pisahkan.”

Kanjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Ki Gede Pemanahan seolah-olah adalah saudaranya sendiri. Ketika Ki Gede Pemanahan meninggalkan Pajang karena ia terlambat memberikan Tanah Mataram, maka hatinya menjadi sangat sedih.

“Kenapa Kakang Pemanahan sampai hati melepaskan kedudukannya dan meninggalkan Pajang? Apakah ia sudah lupa sama sekali akan pesan yang pernah kami dengar bertiga dari seorang yang seolah-olah mengetahui apa yang akan terjadi?”

Ketika itu, Kanjeng Sultan yang masih muda, yang masih bernama Mas Karebet dan yang juga disebut Jaka Tingkir, pergi berguru bertiga dengan Pemanahan dan Penjawi. Mas Karebet yang baru pertama kali menghadap seorang yang memiliki ketajaman penglihatan itu, duduk agak jauh di belakang Pemanahan dan Penjawi. Tetapi orang yang memiliki ketajaman penglihatan itu melambaikan tangannya dan memanggilnya, “Karebet, kemarilah. Duduklah di paling depan, karena engkaulah kelak yang akan memimpin di antara kalian bertiga. Tetapi aku harap bahwa kalian bertiga akan tetap merupakan satu kesatuan. Jangan terpisah-pisahkan lagi.”

 

 

Ternyata kemudian bahwa Mas Karebet-lah yang paling berhasil di antara mereka bertiga. Ketika ketiganya merasa telah cukup berguru, maka mereka bertiga ingin mendapatkan pengalaman masing-masing. Meskipun mereka untuk sementara akan berpisah, tetapi mereka berjanji, bahwa kelak mereka akan bersatu dan tidak akan terpisah-pisahkan lagi setelah mereka memiliki pengalaman sebanyak-banyaknya sebagai bekal hidup mereka. Dalam pada itu Mas Karebet masih sempat tinggal di padepokan Karang Tumaritis, menjadi seorang Putut pada Panembahan yang menyebut dirinya Panembahan Ismaya. Kemudian lewat Banyu Biru dan kembali ke istana sebagai menantu Kanjeng Sultan Trenggana.

Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang pernah disebut Mas Karebet itu menundukkan kepalanya. Ia masih saja dikuasai oleh ingatannya. Sekilas terbayang sikap Ki Gede Pemanahan yang keras dan meninggalkannya sendiri, setelah Ki Penjawi berada di Pati.

“Kenapa Kakang Pemanahan mempunyai tuntutan sekeras itu. Apakah ia sudah tidak percaya lagi kepadaku, dan melupakan pesan bahwa kami tidak akan berpisah lagi?” Namun kemudian Kanjeng Sultan itu mengusap dadanya sendiri dan berkata pula di dalam hatinya, “Akulah yang bersalah. Kakang Penjawi yang seharusnya juga tidak terpisahkan itu sudah aku beri hadiah Tanah Pati yang sudah terbuka.”

Kepala Kanjeng Sultan Hadiwijaya menjadi semakin tunduk dan ia masih berkata kepada dirinya sendiri di dalam hati, “Akulah yang khilaf. Kenapa aku berbuat seperti itu? Aku merasa bahwa kelak Sutawijaya-lah yang akan menerima hadiah terbesar sehingga Ki Gede Pemanahan tidak memerlukannya lagi. Tetapi tanggapan Kakang Pemanahan agaknya berbeda, dan aku adalah raja yang tidak menepati janjinya.”

Dan kini akibatnya, ia seakan-akan telah terpisah dari Ki Gede Pemanahan dan terlebih-lebih lagi dengan anak angkatnya yang sangat dikasihinya.

“Hati Sutawijaya agaknya sekeras hati ayahandanya,” berkata Kanjeng Sultan Hadiwijaya di dalam hatinya.

Kembali angan-angannya menerawang ke masa silam. Ketika Raden Sutawijaya akan lahir terjadilah sesuatu yang aneh. Bayi itu tidak segera lahir, sehingga ibunya mengalami penderitaan yang lama.

Kanjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam sekali lagi. Dipandanginya wajah Ki Juru yang tertunduk.

“Orang itu pula yang memanggil aku,” berkata Kanjeng Sultan di dalam hatinya sambil memandang Ki Juru Martani.

Sebenarnyalah bahwa Ki Juru Martani telah memanggil Kanjeng Adipati saat itu. Dan sebenarnyalah setelah Adipati Pajang itu datang, Raden Sutawijaya pun segera lahir. Ternyata bahwa kedatangan Hadiwijaya memberikan pengaruh atas kelahiran anak itu, karena restunya.

Karena itulah, maka Raden Sutawijaya pun pada saat itu juga dinyatakan menjadi anak angkatnya yang dipersamakan dengan anak-anaknya sendiri.

Dalam pada itu, Ki Juru Martani pun menjadi tegang. Ia mengerti, bahwa hati Kanjeng Sultan pasti tergores karena kematian Ki Gede Pemanahan. Karena itu, ia tidak berani mengganggu angan-angan yang agaknya sedang mencengkam Kanjeng Sultan Hadiwijaya.

Baru sesaat kemudian terdengar Kanjeng Sultan berbicara dengan suara parau, “Kakang Juru Martani. Jika itu sudah menjadi garis hidup Kakang Pemanahan, maka apa yang dapat kita lakukan. Tetapi aku merasa menyesal bahwa Kakang Pemanahan meninggalkan aku dengan kesan yang kurang baik.”

“Maksud Kanjeng Sultan?”

“Ketika Kakang Pemanahan datang kemari, maka di jalan kembali ke Mataram ia mengalami cidera. Langsung atau tidak langsung, hal itu tentu berpengaruh pula atas badannya. Kemudian yang lebih besar dari itu, ia belum berhasil melihat Mataram berkembang dengan baik. Bukankah dengan demikian kesan yang buruk terhadap diriku masih belum terhapus.”

“Ah tidak, Tuanku. Adi Pemanahan telah melupakan semuanya. Bahkan Adi Pemanahan merasa menyesal bahwa ia dengan tergesa-gesa meninggalkan Pajang sekedar menuruti perasaannya yang sedang bergejolak tidak terkendalikan. Apalagi ketika kemudian Sutawijaya berkeras hati untuk tidak mau datang menghadap Tuanku sebelum Mataram menjadi sebuah negeri. Bukan karena Sutawijaya tidak tahu diri akan kasih Tuanku. Tetapi gejolak darah mudanya benar-benar merasa terhina karena para senapati telah menyangkal tekadnya untuk menjadikan Mataram sebuah negeri.”

Kanjeng Sultan Hadiwijaya mengangguk-angguk. Tetapi bagaimana pun juga ada sepercik penyesalan yang tidak dapat disingkirkan dari hatinya. Ia merasa bahwa Ki Gede Pemanahan pernah di dalam suatu saat di dalam hidupnya merasa hatinya dilukainya. Dan hal itu ternyata pada sikap Ki Gede yang dengan serta-merta meninggalkan Pajang.

Tetapi yang terjadi itu adalah suatu kenyataan. Kanjeng Sultan tidak dapat berbuat lain dari mengakui kenyataan yang sudah berlaku. Ki Gede Pemanahan telah meninggalkan Mataram dan semua yang dikasihinya.

Meskipun demikian, namun Kanjeng Sultan akhirnya berkata, “Aku merasa sangat kehilangan dengan perginya Kakang Pemanahan, Kakang Juru. Tetapi karena tugas-tugasku yang tidak dapat aku tinggalkan, maka aku tidak dapat melihat saat-saat terakhir dari Kakang Pemanahan. Tetapi percayalah bahwa sebenarnyalah aku merasa prihatin atas kepergiannya, dan atas Sutawijaya yang ditinggalkannya. Demikian juga atas saudara-saudara Sutawijaya.” Kanjeng Sultan berhenti sejenak, lalu, “Apakah adik-adik Sutawijaya ada di Mataram?”

“Kebetulan sekali mereka tidak ada di Mataram Kanjeng Sultan karena mereka berada di Sela dan di Pajang. Tetapi seorang utusan telah menyampaikan kabar ini kepada mereka.”

“Baru sekarang?”

“Kami hampir-hampir tidak percaya bahwa Adi Pemanahan benar-benar akan meninggalkan kita semuanya, sehingga kami terlambat memanggil keluarganya yang lain. Namun agaknya Ki Gede Pemanahan sendiri tidak berusaha untuk bertemu dengan mereka di saat terakhir. Mungkin ia tidak akan sampai hati melihat mereka bersedih hati menjelang saat terakhirnya.”

Kanjeng Sultan mengangguk-angguk. Katanya, “Bukan hanya Ki Gede Pemanahan sajalah yang berbuat demikian. Bahkan ada di antara mereka, yang merasa hampir sampai saatnya meninggal, keluarga yang ada di dekatnya dimintanya untuk meninggalkannya pergi, agar jalan yang akan dilaluinya menjadi lapang, tanpa sentuhan sama sekali.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk.

“Nah, Kakang Juru Martani,” berkata Kanjeng Sultan, “sebaiknya Kakang beristirahat barang sejenak. Aku akan mempersiapkan apa saja yang dapat Kakang bawa ke Mataram.”

“Ampun, Tuanku. Hamba akan segera kembali ke Mataram. Di sana tidak ada orang tua yang cukup berpengaruh bagi Sutawijaya.”

Kanjeng Sultan merenung sejenak, lalu, “Baiklah, jika demikian, aku akan memerintahkan seseorang membawamu dan memberikan sesuatu kepadamu untuk jenazah Kakang Pemanahan.”

Demikianlah maka Ki Juru Martani pun kemudian menyembah sambil mohon diri untuk meninggalkan ruang itu dan selanjutnya kembali ke Mataram.

Kanjeng Sultan Hadiwijaya tidak sempat bertanya siapakah kawan Ki Juru Martani itu. Ia menyangka bahwa ia adalah seorang di antara para pemimpin Tanah Mataram.

Ketika Ki Juru Martani kemudian meninggalkannya, maka diperintahkannya seseorang untuk ikut bersama Ki Juru dan memberikan seperti yang dipesankannya.

“Bawalah songsong yang memang sudah aku siapkan untuk waktu yang agak lama itu ke Mataram,” berkata Kanjeng Sultan itu kepada Ki Juru Martani sesaat Ki Juru akan pergi, “dan berikanlah kepada Sutawijaya. Aku memberikan wisuda kepadanya untuk menjadi senapati di Mataram yang baru dibukanya itu.”

Dada Ki Juru menjadi berdebar-debar. Raden Sutawijaya telah dengan resmi diangkat oleh Kanjeng Sultan di Pajang menjadi Senapati Ing Ngalaga. Dan lebih dari itu, telah di serahkan pula sebuah songsong yang berwarna kuning.

“Songsong kebesaran seorang yang memiliki kedudukan tertinggi,” berkata Ki Juru di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat lagi bertanya.

Diterimanya songsong itu dari seorang abdi yang mendapat perintah untuk mengambilkan dan menyerahkan kepada Ki Juru Martani. Sudah barang tentu abdi itu tidak tahu sama sekali apakah maksud Kanjeng Sultan dengan menyerahkan songsong tersebut kepada Raden Sutawijaya.

“Apakah kau tidak keliru?” hanya itu yang dapat ditanyakan kepada abdi itu.

“Tidak, Ki Juru. Songsong inilah yang dimaksudkan. Aku tahu pasti, karena akulah yang menjaganya, membersihkannya dan memasang dan membuka selongsongnya setiap kali.”

Ki Juru Martani menarik nafas. Katanya, “Terima kasih. Jika kau yakin bahwa kau tidak keliru, maka baiklah aku menerimanya.”

Kemudian setelah ditutup dengan selongsong berwarna putih. maka Ki Juru Martani pun segera membawa payung itu ke luar istana.

Seperti pada saat Ki Gede Pemanahan datang menghadap, maka kehadiran Ki Juru pun sangat menarik perhatian. Beberapa orang kemudian mendapatkannya dan bertanya, kenapa dengan tergesa-gesa ia pergi menghadap Kanjeng Sultan. Karena Ki Juru sudah mengatakannya kepada Kanjeng Sultan, maka ia tidak berkeberatan untuk mengatakan kepada orang-orang itu, bahwa Ki Gede Pemanahan telah meninggal dunia.

Berita itu memang mengejutkan. Ki Gede Pemanahan memang belum terlampau tua. Bahkan agak lebih muda dari Ki Juru Martani dan hanya sedikit lebih tua dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya sendiri.

Namun di antara mereka ada pula yang menerima berita itu dengan hati yang lega. Seolah-olah usahanyalah yang telah berhasil menyingkirkan Ki Gede Pemanahan dari Mataram.

Dengan demikian maka berita tentang wafatnya Ki Gede Pemanahan itu pun segera tersebar. Baik yang menyesali mau pun yang memang mengharapkannya, segera memperbincangkannya.

Namun dalam pada itu, sekelompok senapati dengan sungguh-sungguh telah menilai wafatnya Ki Gede Pemanahan itu dari segala segi.

“Agaknya Ki Juru Martani akan menggantikan kedudukan Ki Gede Pemanahan di Mataram. Meskipun ia tidak akan dapat memegang pimpinan sebagaimana dengan Ki Gede Pemanahan sendiri, namun ia dengan cerdik dapat mengendalikan Raden Sutawijaya,” berkata salah seorang di antara mereka.

“Sebenarnyalah bahwa Ki Juru Martani adalah orang yang sangat berbahaya. Ia seorang bijaksana, tetapi kadang-kadang ia menjadi agak licik. Bagiku Ki Juru Martani jauh lebih berbahaya dari Ki Gede Pemanahan. Meskipun barangkali di dalam olah kanuragan, Ki Juru Martani sendiri tidak melampaui Ki Gede Pemanahan, namun akalnya tidak ada habis-habisnya. Ialah yang dahulu mengatur siasat untuk menjebak Arya Penangsang dari Jipang, sehingga Arya Penangsang yang tidak terkalahkan itu mati oleh goresan kerisnya sendiri pada ususnya,” sahut yang lain.

“Kini ia menghadap Kanjeng Sultan,” berkata yang lain lagi, “dan ia membawa sebuah songsong di dalam selongsong putih. Tidak seorang pun yang tahu payung di dalam selongsong itu berwarna apa. Tetapi itu pertanda kehormatan yang besar bagi Raden Sutawijaya. Meskipun seandainya payung itu berwarna hijau sekali pun tanpa geleng kuning.”

Para Senapati itu mengangguk-angguk. Mereka memang melihat pertanda, bahwa Kanjeng Sultan agaknya sama sekali tidak berusaha menghambat perkembangan Mataram, meskipun jelas bagi Kanjeng Sultan bahwa Sutawijaya sama sekali tidak mau menghadap ke Pajang.

Tetapi lebih daripada itu, puncak dari segala niat untuk menghentikan kegiatan Raden Sutawijaya adalah pamrih yang lebih besar lagi.

“Pajang memang sudah tidak dapat diharapkan lagi,” berkata seorang senapati di dalam hatinya, “tetapi merebut kedudukan Hadiwijaya tidak akan berarti tanpa melenyapkan Sutawijaya terlebih dahulu.”

Dan alasan itulah sebenarnya, maka seorang senapati yang memiliki kemampuan olah kanuragan, tetapi juga kemampuan berpikir yang cerdas, telah berhasil membuat jarak yang nampak semakin jauh antara Pajang dan Mataram. Meskipun ia belum berhasil membenturkan dengan langsung Pajang dan Mataram.

Tetapi senapati itu berhasil mendapat dukungan dari beberapa orang kawannya dengan alasan yang lain. Hanya satu dua orang sajalah yang telah bersepakat untuk menjatuhkan Sultan Hadiwijaya sebagai alasan yang sesungguhnya. Sedang yang disebarkannya adalah perasaan benci kepada Raden Sutawijaya seolah-olah Raden Sutawijaya telah bersiap untuk memberontak melawan Pajang.

Jika ia berhasil menghasut Pajang untuk melenyapkan Mataram selagi Mataram belum terlalu kuat, maka kemudian tinggallah merebut kedudukan Pajang dari tangan Sultan Hadiwijaya yang rasa-rasanya menjadi semakin lemah. Ia dapat menghasut rakyat dan para prajurit kemudian para adipati di pesisir dan Bang Wetan.

Pangeran Benawa, putra Sultan Pajang, agaknya memang seorang yang lemah hati. Meskipun agaknya kemampuan ilmu ayahandanya sebagian temurun juga kepadanya, tetapi rasa-rasanya Pangeran Benawa bukannya seorang yang kuat untuk memegang pemerintahan. Bahkan seakan-akan Pangeran Benawa sendiri sama sekali tidak mempunyai hasrat untuk mewarisi kedudukan ayahandanya. Ia lebih senang menyelusuri kedamaian hati di pegunungan dan padepokan-padepokan kecil. Bukan untuk berguru dan mendapatkan ilmu yang berlebihan agar ia kelak menjadi seorang yang pilih tanding. Tetapi benar-benar untuk menikmati ketenteraman dan menjauhi kesibukan yang tiada henti-hentinya.

“Tetapi Sutawijaya harus dilenyapkan dahulu,” berkata senapati itu.

“Bagaimana jika kami langsung menghancurkan Mataram,” bertanya seorang kawannya yang dipercayainya.

“Justru kita akan berhadapan dengan Sultan Hadiwijaya.”

Senapati-senapati itu berdiam. Mereka masih selalu melangkah dengan sangat hati-hati karena setiap kekeliruan akan membawa mereka ke tiang gantungan.

Karena itu, mereka masih harus tetap merahasiakan diri. Meskipun orang-orang yang di bawah pengaruhnya sudah bertindak jauh, bahkan Daksina telah terbunuh di sarang Panembahan Agung, namun tidak seorang pun di antara mereka yang diumpankan itu tahu dengan pasti, siapakah sebenarnya yang berada di ujung segala macam rencana itu. Hantu-hantuan di Alas Mentaok, penjahat yang mengganggu lalu lintas, usaha membunuh orang-orang Mataram di Jati Anom dengan cara yang sebaliknya membunuh senapati-senapati Pajang sendiri, dan usaha-usaha lain yang sudah terlampau banyak dilakukan, dan yang terakhir adalah kerja sama dengan Panembahan Agung. Kerja sama yang sebenarnya mengandung bahaya yang cukup besar bagi para senapati itu sendiri, karena Panembahan Agung adalah seorang yang pilih tanding dan mempunyai pengaruh serta kekuatan yang cukup. Tetapi Senapati yang menggerakkan semuanya itu, dan yang seakan-akan tidak dikenal oleh orang lain, adalah seorang yang merasa dirinya dapat mengimbangi kemampuan Panembahan Agung.

Dan kini, selagi usaha mereka belum ada tanda-tandanya dapat berhasil, bahkan kegagalan mereka membunuh Ki Gede Pemanahan, maka mereka mendengar berita itu. Ki Gede Pemanahan telah wafat.

Dengan demikian, maka beberapa orang yang pernah ikut merencanakan pembunuhan atas Ki Gede Pemanahan di pinggir Kali Opak, merasa berbangga. Mereka menganggap bahwa wafat Ki Gede disebabkan oleh luka yang dideritanya dalam pencegatan itu dan tidak berhasil lagi disembuhkan.

Tetapi orang-orang yang berbangga karena mereka telah menghubungi orang-orang yang berhasil melukai Ki Gede Pemanahan itu tidak dapat mengetahui, kepada siapa mereka harus berbangga, karena mereka tidak mengetahui dengan pasti, siapakah sebenarnya yang telah menggerakkan mereka. Namun orang-orang yang menghubungi mereka adalah orang-orang yang memberikan janji dan harapan, bahwa jika terjadi perubahan, apalagi apabila usaha Ki Gede di Mataram gagal, mereka akan mendapat kedudukan yang sangat baik. Apalagi sebelum harapan itu dapat mereka hayati, mereka sudah lebih dahulu menerima hadiah-hadiah berharga dari orang yang tidak mereka ketahui dengan pasti.

Dalam pada itu, berita tentang kehadiran Ki Juru Martani di Pajang, dan yang kemudian keluar dari istana justru membawa sebuah payung berselongsong putih, telah terdengar oleh sepasang telinga seorang yang merasa sangat berkepentingan.

Karena itulah, maka orang itu pun segera memanggil pembantu-pembantunya yang paling dapat dipercaya untuk berbicara mengenai Ki Juru Martani.

“Aku memerlukan suatu tindakan yang cepat,” berkata senapati yang selalu dibayangi oleh penyamaran di hadapan anak buahnya kecuali orang-orang yang paling dekat, yang jumlahnya tidak lebih dari tiga orang.

“Apakah yang Kakang kehendaki?” bertanya salah seorang senapati pengikutnya.

Senapati yang memimpin usaha menggagalkan berdirinya Mataram itu merenung sejenak. Wajahnya yang keras dan matanya yang dalam, seakan-akan tersembunyi di sela-sela keningnya itu menjadi tegang.

“Sepeninggal Pemanahan, agaknya Juru Martani akan mengambil alih pimpinan.”

“Tentu tidak,” jawab yang lain, “ia hanya dapat menjadi penasehat Sutawijaya karena ia tidak mempunyai hak apa pun atas Mataram.”

“Tidak ada bedanya. Sutawijaya akan tunduk atas segala petunjuk dan nasehat-nasehatnya. Dan Juru Martani adalah orang yang licik. Ia mempunyai banyak akal.”

“Kami memang sudah membicarakannya,” desis seorang senapati, “dan hampir setiap orang menilai demikian.”

“Karena itu, Ki Juru Martani tidak boleh dibiarkan kembali ke Mataram dengan songsong yang didapatkannya dari Kanjeng Sultan itu.”

“Kita akan mencegatnya seperti Ki Gede Pemanahan?”

“Ya. Usahakan bahwa Ki Juru dan kawannya yang mengawalnya itu benar-benar mati. Kebodohan kalian di masa kalian mencegat Ki Gede Pemanahan tidak boleh berulang. Untunglah waktu itu tidak ada orang-orang penting yang dapat ditangkap oleh Sutawijaya maupun Untara, sehingga dengan demikian kalian tidak perlu melakukan pembunuhan untuk memutuskan jalur penyelidikan orang-orang Pajang dan Mataram.”

Senapati yang lain mengangguk-angguk.

“Nah, sekarang lakukanlah. Tetapi ingat, jika terpaksa kalian gagal dan ada di antara orang-orang penting yang tertangkap, kalian harus bertindak cepat. Kalian harus membunuh senapati penghubung itu, agar tidak ada seorang pun yang dapat menarik garis sampai kepada kita di sini.”

“Baik, Kakang Panji,” jawab Senapati yang lain hampir bersamaan.

“Tidak ada orang yang mengenal aku kecuali kalian. Itu harus kau sadari. Salah seorang dari kita memang dapat dipercaya. Maksudku, salah seorang dari kita akan memilih mati daripada membuka rahasia. Tetapi kita tidak dapat beranggapan demikian terhadap senapati-senapati yang lain. Jika mereka tertangkap maka mereka tentu akan berbicara. Mereka akan menganggap lebih baik menyebut salah seorang dari kita yang menghubunginya daripada harus mengalami hukuman yang paling berat.”

Senapati yang lain mengangguk-angguk.

“Nah, berbuatlah dengan cepat. Ki Juru Martani tentu akan segera meninggalkan Pajang, karena ia masih harus menyelenggarakan pemakaman Ki Gede Pemanahan.” Senapati yang disebut sebagai pemimpin mereka itu terdiam sejenak, lalu, “Ingat, jika terjadi kesalahan, bunuhlah jalur perantara itu. Dengan demikian kita akan tetap tidak dikenal.”

Demikianlah maka para senapati itu segera bertindak. Mereka tidak mau terlambat. Segera mereka menghubungi kawan-kawan mereka. Juga beberapa orang perwira. Tetapi merekalah yang disebut jalur-jalur yang harus segera diputuskan apabila usaha mereka gagal. Dan senapati yang langsung berhubungan dengan orang yang mereka sebut Kakang Panji itulah yang harus mengakhiri hidup mereka.

Senapati-senapati itu merasa beruntung bahwa mereka belum terlambat. Ki Juru Martani dan seorang pengawalnya masih berada di Pajang. Mereka masih berbicara dengan beberapa orang sahabat-sahabatnya terdekat sebelum mereka kembali ke Mataram.

“Kita pergi bersama,” berkata seorang perwira yang akan pergi ke Mataram untuk memberikan penghormatan yang terakhir kepada Ki Gede Pemanahan.

“Tentu kami akan sangat berterima kasih atas kehadiran kalian. Tetapi maaf, kami akan pergi lebih dahulu, masih banyak yang harus dikerjakan.”

Sahabat-sahabatnya dapat mengerti kesibukan Ki Juru Martani sehingga mereka pun kemudian berkata, “Baiklah, Ki Juru. Kami akan segera menyusul.”

Kesediaan beberapa orang pemimpin Pajang untuk menghadiri pemakaman Ki Gede Pemanahan membuat hati Ki Juru menjadi sejuk. Tetapi mereka tentu memerlukan waktu untuk mempersiapkan diri, sedang Ki Juru Martani tidak dapat menunggu mereka karena masih banyak yang harus dikerjakan, sehingga dengan demikian maka mereka pun tidak dapat pergi bersama.

“Ki Juru,” berkata seorang senapati, “hati-hatilah di perjalanan. Rasa-rasanya aku teringat perjalanan Ki Gede Pemanahan beberapa saat yang lampau. Meskipun barangkali Ki Juru bukan orang yang dianggap menjadi ujung dari usaha untuk membuka Alas Mentaok, tetapi rasa-rasanya perjalanan Ki Juru juga merupakan perjalanan yang berbahaya. Apalagi Ki Juru hanya membawa seorang pengawal.”

Ki Juru tersenyum. Sambil berpaling kepada Ki Waskita, ia berkata, “Apalagi pengawalku bukan pengawal yang mumpuni dalam olah keprajuritan. Tetapi aku memang tidak mempunyai niat untuk berkelahi dengan siapa pun.”

“Itu pulalah sebabnya Ki Gede beberapa waktu yang lalu tidak membawa pengawal. Ia pun sama sekali tidak berniat untuk berkelahi. Tetapi adalah haknya untuk mempertahankan diri dari usaha pembunuhan orang lain.”

“Aku tidak sepenting Ki Gede Pemanahan.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berdesis, “Kenapa Ki Juru tidak mau menunda barang sedikit dan kemudian kita bersama-sama pergi ke Mataram?”

“Maaf,” Ki Juru menjawab, “sekali lagi aku mengucapkan diperbanyak terima kasih. Aku harus segera berada di antara keluarga Ki Gede yang tentu sudah dijemput pula dari Sela.”

Para pemimpin Pajang itu tidak dapat menahan Ki Juru lagi. Karena itu maka dilepaskannya Ki Juru yang kemudian mendahului. Namun demikian Ki Juru masih sempat singgah barang sekejap untuk memberitahukan wafatnya Ki Gede Pemanahan kepada putri dan menantunya yang tidak dapat menunggui saat Ki Gede Pemanahan sedang sakit.

Tetapi Ki Juru pun tidak dapat pergi bersama mereka, karena mereka pun harus berbenah dahulu. Sehingga dengan demikian Ki Juru pun kemudian kembali ke Mataram hanya berdua saja dengan Ki Waskita.

“Kita harus segera sampai di Mataram, Ki Waskita,” berkata Ki Juru sambil berpacu. “Agaknya semua orang menanti kita dengan gelisah.”

“Ya, Ki Juru. Mungkin mereka juga mencemaskan nasib kita di perjalanan.”

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Bukankah aku sudah membawa seorang pengawal. Aku sudah mengatakan kepada para pemimpin di Pajang seperti yang Ki Waskita kehendaki. Sekedar seorang pengawal. Tidak lebih dan tidak kurang.”

Ki Waskita pun tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih. Ternyata Ki Juru telah memenuhi pernintaanku.”

Keduanya tertawa. Namun dalam pada itu keduanya berpacu semakin cepat.

Tetapi dalam pada itu, ternyata orang-orang yang mendapat tugas dari orang yang disebut Kakang Panji oleh senapati-senapati kepercayaannya itu pun dapat bekerja dengan cepat pula. Mereka tidak lagi sempat menghubungi orang-orang lain yang dipercaya untuk memotong perjalanan Ki Juru Martani, namun mereka telah menunjuk beberapa orang untuk melaksanakan tugas itu langsung.

“Ki Legawa,” berkata seorang senapati kepercayaan orang yang menghendaki kematian Ki Juru itu, “perintahkan kepada sepuluh orang pengikutmu. Hati-hati. Ki Juru adalah orang yang tidak kalah saktinya dari Ki Gede pemanahan. Dan hati-hati pula jika ia mulai berbicara. Karena itu, jangan beri kesempatan kepadanya untuk mengatakan apa saja yang dapat membuat hati orang-orangmu menjadi luluh.”

Ki Legawa mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya, “Apakah sepuluh orang itu sudah cukup? Bukankah ia membawa seorang pengawal?”

“Dua orang itu agaknya membuat kau ragu-ragu. Baiklah. Bawalah lima belas orang. Cepat. Kalian dapat memilih tempat sebaik-baiknya. Di tengah bulak atau di pinggir kali. Tidak usah terlalu jauh dari batas kota, agar kau tidak terlambat. Kalau kau yakin usahamu berhasil, kau tidak usah memerintahkan orang-orangmu memakai penyamaran apa pun. Tetapi ingat, kau sendiri tidak perlu ikut di dalamnya, karena kau sudah terlalu banyak dikenal. Jika ada orang di sawah yang melihatmu, maka persoalannya akan menjadi sangat gawat.”

Ki Legawa mengetahui dengan pasti maksud perintah itu. Karena itu, maka ia pun segera pergi. Ia tidak perlu mencari orang ke mana-mana, karena memang tidak ada waktu lagi. Karena itu diperintahkannya saja lima belas orang untuk melakukan tugas itu.

“Jangan pergi bersama-sama.”

Demikianlah maka lima belas orang itu pun segera pergi keluar kota dalam kelompok-kelompok kecil agar tidak menumbuhkan kecurigaan. Mereka sama sekali tidak mengenakan pakaian keprajuritan mereka, meskipun mereka tidak perlu memakai penyamaran wajah, karena mereka yakin bahwa Ki Juru dan pengawalnya itu akan binasa.

“Ingat peristiwa yang terjadi saat kita berusaha membunuh Ki Gede Pemanahan. Meskipun akhirnya ia mati terbunuh juga, tetapi jika saat itu ada orang-orang penting yang tertangkap, maka persoalannya akan dapat diungkap. Dan kita tidak akan dapat berusaha untuk berbuat apa-apa lagi.”

Mereka yang ditugaskan untuk melakukan pekerjaan itu pun menyadari sepenuhnya, bahwa yang mereka lakukan adalah suatu tindakan yang sangat gawat. Tetapi mereka menyadari bahwa tindakan mereka adalah dalam rangka menggagalkan usaha untuk mendirikan Mataram sebagai tandingan Pajang.

Demikianlah sekelompok prajurit pengikut Ki Legawa telah mulai bertindak. Mereka merasa bahwa yang mereka lakukan adalah semata-mata karena kesetiaan mereka terhadap Pajang. Tetapi mereka pun sadar, bahwa yang mereka lakukan itu bukan atas perintah Panglima Pasukan Wira Tamtama.

“Pimpinan prajurit Pajang terlampau lemah menghadapi Mataram, seperti juga Kanjeng Sultan sendiri,” berkata seorang senapati kepada mereka pada suatu saat. “Karena itu, maka kita harus menunjukkan pengabdian kita. Tidak usah menunggu perintah. Kita harus menggagalkan berdirinya Mataram. Karena kita sadar, jika Mataram menjadi besar maka Pajang akan menjadi semakin kecil. Dan kita akan kehilangan segala-galanya. Karena itu, berjuanglah untuk kebesaran Pajang. Ada beberapa orang hartawan yang menyediakan dana bagi kita, sehingga kita akan mendapatkan imbalan atas kesetiaan kita terhadap Pajang saat ini juga.”

Para prajurit itu tidak menaruh keberatan apa pun. Mereka memang ingin Pajang tetap besar sehingga kedudukan mereka tidak akan goyah. Selain itu mereka pun langsung menerima upah khusus jika mereka melakukan tugas-tugas khusus seperti itu.

Kelompok-kelompok kecil itu pun kemudian memintas lewat pematang-pematang dan tanggul-tanggul parit langsung ke tengah bulak panjang. Di sebuah tikungan yang masih dibayangi oleh gerumbul-gerumbul liar mereka menunggu. Sekelompok-sekelompok kecil mereka datang berkumpul, siap melakukan tugas itu.

Ki Juru Martani yang merasa tugasnya sudah selesai memacu kudanya semakin cepat. Ia ingin segera sampai di Mataram dan mempersiapkan lebih jauh lagi pemakaman Ki Gede Pemanahan besok.

Tetapi selagi kudanya berpacu di bulak panjang, maka Ki Juru Martani itu memperlambat lari kudanya ketika ia mendengar Ki Waskita berkata, “Ki Juru. Rasa-rasanya ada sesuatu di hadapan kita.”

“Apakah Ki Waskita melihat sesuatu?”

“Belum Ki Juru. Tetapi aku merasakan isyarat meskipun terlampau lemah. Apakah Ki Juru bersedia berhenti sejenak?”

Mereka berdua pun segera berhenti. Dengan ketajaman penglihatan mata hatinya, maka Ki Waskita mencoba untuk melihat sesuatu di depannya pada jarak yang terlampau pendek.

“Memang ada sesuatu, Ki Juru,” berkata Ki Waskita.

“Apa?”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi tentu rintangan yang harus di atasi.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah dalam keadaan seperti ini ada juga orang yang sampai hati mengganggu perjalanan kita?”

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: