Buku 087 (Seri I Jilid 87)

 

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing pun sadar, bahwa ia dan kedua kawannya itu pun telah terlibat terlampau jauh seperti saat ia terlibat dalam perang yang terjadi di Sangkal Putung.

“Saat itu aku memang memilih Pajang,” bertata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “tetapi Pajang tidak memberikan harapan apa pun juga kepada bumi ini di kemudian hari.”

Demikianlah, ketiga orang itu pun kemudian berpacu dengan angan-angan masing-masing. Di sepanjang jalan menuju ke pusat pemerintahan di Tanah Mataram mereka hampir tidak pernah berbicara selain sepatah-sepatah.

Namun ketika mereka mendekati pintu gerbang kota. Kiai Gringsing berkata, “Kita akan singgah semalam. Besok pagi-pagi kita akan melanjutkan perjalanan ke Sangkal Putung.”

Di luar sadar kedua kawannya menengadahkan wajah ke langit. Matahari sudah hampir hilang di balik cakrawala.

“Kita memasuki regol halaman rumah Raden Sutawijaya setelah malam hari,” sahut Ki Waskita.

“Belum terlampau malam,” desis Ki Sumangkar.

Ketiganya pun terdiam pula. Mereka berpacu semakin cepat. Jalan-jalan yang mereka lalui tidak lagi jalan-jalan sepi seperti jalan kecil menuju ke tempat penyeberangan. Jika mereka kemudian melalui celah-celah padukuhan, nampak bahwa padukahan-padukuhan itu mulai berkembang semakin maju. Jalan-jalan menjadi semakin baik dan terawat. Menjelang senja, nampak beberapa orang memasang obor di sudut jalan dan di regol padukuhan.

“Padukuhan-padukuhan kecil nampak semakin hidup,” berkata Kiai Gringsing.

“Mereka menyadari bahwa mereka harus berbuat sesuatu buat masa depan. Buat anak cucu,” sahut Ki Sumangkar.

“Apalagi ternyata bahwa Raden Sutawijaya adalah seorang anak muda yang lincah. Sejak daerah-daerah kecil semacam ini masih menjadi hutan yang mulai digarap, anak muda itu tidak henti-hentinya mendorong dengan segala cara. Kini pohon buah-buahan yang sengaja di tanam, bukan pepohonan yang memang ditinggalkan saat menebang, sudah nampak semakin subur. Jika pohon-pohon itu kelak menjadi besar dan berbuah, maka pohon-pohon pelindung yang sengaja ditinggalkan saat membuka hutan, akan segera ditebang pula.”

“Suatu perencanaan yang masak. Ternyata Ki Gede Pamanahan tidak bekerja sekedar menuruti perasaan, seperti saat ia dengan diam-diam meninggalkan Pajang. Tetapi benar-benar suatu kerja yang besar seperti kebesaran Mataram yang mulai nampak sekarang ini,” berkata Kiai Gringsing pula.

Kedua kawannya mengangguk-angguk. Mereka dapat merasakan bekas tangan Ki Gede Pemanahan itu, yang kemudian dilanjutkan dengan baik oleh putranya, Raden Sutawijaya.

Semakin dekat dengan pintu kota, padukuhan-padukuhan semakin nampak ramai. Ketika gelap mulai turun, di sana-sini nampak obor di sudut-sudut padukuhan dan di tikungan jalan.

Beberapa gardu pun sudah mulai menjadi terang oleh lampu-lampu minyak. Anak-anak muda yang sudah selesai dengan kerja mereka sehari dan mempunyai waktu, mulai berdatangan dan duduk bersama di gardu-gardu sekedar berkelakar sebelum para peronda menempatinya.

Namun mereka yang berada di gardu-gardu itu, meskipun mereka bukan orang-orang yang bertugas ronda, agaknya mereka pun merasa bertanggung jawab atas keamanan padukuhan mereka. Ternyata sekali-sekali Kiai Gringsing dan kedua kawannya pernah dihentikan pula oleh sekelompok pemuda yang sedang berada di gardu meskipun mereka tidak sedang meronda.

“Kami akan pergi ke Mataram,” berkata Kiai Gringsing ketika anak-anak muda itu bertanya kepadanya.

“Ki Sanak datang dari mana?”

“Kami datang dari tlatah Menoreh.”

“Apakah kepentingan Ki Sanak?”

“Kami dalam perjalanan kembali ke Sangkal Putung. Kami akan singgah dan bermalam di Mataram karena agaknya kami tidak dapat melanjutkan perjalanan. Hari sudah gelap dan perjalanan kami masih agak jauh.”

Anak-anak muda itu memandang ketiga orang-orang tua itu berganti-ganti. Salah seorang dari anak-anak muda itu mendesak maju dan berkata, “Kami belum mengenal kalian. Apakah keperluan kalian yang sebenarnya?”

“Keperluan pribadi anak muda. Kami mengunjungi saudara kami di Menoreh. Kami orang-orang Sangkal Putung.”

“Apakah kalian mempunyai keluarga atau sanak kadang di Mataram?”

“Bukan keluarga, tetapi orang yang sangat baik terhadap kami.”

“Siapa?”

“Raden Sutawijaya.”

“He? Maksudmu putra Ki Gede Pemanahan?”

“Ya. Kami akan bermalam di rumahnya. Kami pun kemarin berangkat dari rumahnya setelah semalam kami bermalam.”

“O,” anak muda itu mengerutkan keningnya, “benar begitu?”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Kenapa aku harus borbohong?”

“Jika demikian,” anak muda itu tergagap, “silahkan. Silahkan Ki Sanak meneruskan perjalanan. Kami minta maaf bahwa kami telah menghentikan perjalanan Ki Sanak.”

“Aku akan mengatakannya kepada Raden Sutawijaya.”

“Jangan, jangan, Ki Sanak. Kami tidak mengetahui.”

“Maksudku mengatakan bahwa anak-anak muda di padukuhan-padukuhan cukup mempunyai tanggung jawab. Kami berbangga dengan kalian.”

“Ah,” anak muda itu menarik nafas. Yang lain pun tidak lagi dicengkam olah ketegangan.

Demikianlah maka ketiga orang itu pun segera melanjutkan perjalanan mereka. Semakin kelam hitamnya malam, mereka pun menjadi semakin dekat dengan rumah Raden Sutawijaya.

Namun dengan melihat sikap dan kesiagaan anak-anak muda yang tidak berubah dari kebiasaan, maka Kiai Gringsing dan kawan-kawannya menganggap bahwa rahasia hilangnya dua buah pusaka dari rumah Raden Sutawijaya benar-benar masih merupakan sebuah rahasia yang tertutup. Jika rahasia itu merembes ke luar lingkungan yang dapat dipercaya untuk menyimpannya, maka kesiagaan tentu akan meningkat dan barangkali akan nampak penjagaan yang berlebih-lebihan.

Namun itu bukan berarti bahwa orang-orang Mataram yang terpercaya itu tidak berusaha mencari kedua pusaka itu. Agaknya sudah ada beberapa orang petugas sandi yang mendapat tugas untuk mencoba menelusuri jejak kedua pusaka itu.

“Tetapi amat sulit untuk menemukannya,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Sejenak kemudian ketika malam sudah menjadi semakin gelap, ketiga orang itu pun mendekati regol halaman rumah Raden Sutawijaya. Mereka berhenti ketika mereka melihat dua orang penjaga di ujung halaman menundukkan tombak mereka.

“Siapa?” bertanya kedua penjaga itu.

“Kiai Gringsing,” jawab Kiai Gringsing.

“O, silahkan, Kiai,” berkata salah seorang dari kedua penjaga itu.

Penjaga yang bertugas di regol pun tanpa banyak pertanyaan mempersilahkan mereka memasuki halaman. Berbeda dengan di tempat-tempat lain, maka di halaman rumah ini nampak penjagaan yang agak lebih kuat dari saat-saat yang lain, meskipun tidak begitu menarik perhatian. Namun orang-orang yang sebenarnya sudah mengetahui bahwa kedua pusaka di Mataram itu hilang, hampir setiap saat mengadakan hubungan dengan Raden Sutawijaya atau Ki Juru Martani. Tetapi sampai begitu jauh, mereka sama sekali belum mendapat gambaran apa pun juga.

Kedatangan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita disambut dengan gairah oleh Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani.

Sejenak mereka saling bertanya tentang keselamatan masing-masing, serta keselamatan Ki Argapati di Tanah Perdikan Menoreh sambil sedikit menyinggung hasil perjalanan mereka untuk menyampaikan pesan dari Ki Demang di Sangkal Putung.

“Semua berjalan dengan lancar,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “tidak ada kesulitan sama sekali.”

“Syukurlah. Dengan demikian kita yang berada di Mataram hanya tinggal menunggu, kapan kita harus menghadiri hari perkawinan itu,” desis Ki Juru Martani.

Percakapan mereka pun terhenti ketika kemudian hidangan mulai disuguhkan. Minuman panas dan beberapa potong makanan.

Meskipun sudah terlalu malam, namun beberapa orang telah menyalakan api di dapur dan mulai menanak nasi, sementara Kiai Gringsing dan kawan-kawannya pergi ke pakiwan.

Baru menjelang tengah malam, Raden Sutawijaya mempersilahkan tamu-tamunya untuk makan malam meskipun sudah agak terlambat.

Dalam kesempatan itulah, mereka mulai mengarahkan pembicaraan mereka tentang masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh Mataram.

“Aku sudah mendapatkan tiruan dari benda yang ditinggalkan oleh orang-orang yang mengambil pusaka itu,” berkata Ki Juru Martani, “hampir tidak dapat dibedakan. Dan aku percaya bahwa pembuatnya tidak akan membuat lebih dari yang aku pesankan.”

“Kami akan membawa masing-masing sebuah,” berkata Kiai Gringsing.

“Silahkan. Jika waktunya Kiai kembali ke Sangkal Putung tiruan itu akan kami berikan,” jawab Ki Juru. Setelah terdiam sejenak, lalu, “Selebihnya kami mendapat keterangan yang sangat menarik.”

“Apa Ki Juru?” bertanya Kiai Gringsing.

“Jalan menyeberang ke tlatah Menoreh di bagian selatan menjadi sepi.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi berita itu sudah sampai di telinga Ki Juru pula.”

“Petugas-petugas kami mendengar beberapa macam keterangan yang belum dapat dipastikan, karena kebanyakan orang-orang di sekitar sungai itu dicengkam oleh ketakutan, sehingga tidak banyak yang berani memberikan keterangan.” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Beberapa orang tukang satang telah terbunuh oleh orang-orang yang tidak di kenal. Mereka minta menumpang sebuah perahu. Namun, kemudian mereka membunuh tukang-tukang satangnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ketika ia memandang Ki Sumangkar dan Ki Waskita berganti-ganti, mereka pun mengangguk pula.

“Petugas-petugas sandi dari Mataram cukup cekatan,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “tetapi agaknya mereka tidak tahu bahwa orang-orang yang telah membunuh tukang-tukang satang itu membawa salah sebuah pusaka yang hilang.”

“Apakah yang disampaikan kepada Ki Juru selain pembunuhan itu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Hanya itu. Tetapi pembunuhan itu sangat menarik perhatian. Daerah penyeberangan itu menjadi sepi,” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Nah, apakah berita itu benar, Kiai. Bukankah Kiai lewat daerah itu juga?”

Kiai Gringsig mengangguk-angguk pula. Katanya, “Ya, Ki Juru. Memang demikianlah yang sebenarnya. Kami telah melihat mendiri. Tidak ada seorang pun yang bersedia turun ke sungai karena tukang-tukang satang itu menjadi ketakutan.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Agaknya keterangan yang ditangkap oleh petugas-petugas sandinya tidak salah. Karena itu maka katanya, “Tentu hal itu sangat menarik perhatian. Justru setelah Mataram kehilangan dua buah pusakanya.”

“Ya, Ki Juru,” sahut Kiai Gringsing, “dan apakah ada keterangan lain yang Ki Juru dengar dari petugas-petugas sandi?”

“Tidak, hanya itu. Dan sudah barang tentu kami ingin bertanya pula kepada Kiai. Apakah Kiai mempunyai keterangan lain tentang jalan yang sepi itu?”

Kiai Gringsing pun kemudian menceritakan apa yang diketahuinya. Songsong yang dibawa menyeberang, dan orang-orang yang berusaha melenyapkan jejak kepergian mereka. Tetapi dengan terpaksa sekali maka ketiga orang itu sudah terbunuh.

Ki Juru menjadi tegang sejenak. Katanya, “Kematian ketiga orang yang barangkali cukup penting itu sangat menarik perhatian. Mereka tentu tidak akan tinggal diam. Pada suatu saat mereka tentu akan tahu, bahwa ketiga kawannya yang bertugas di pinggir Kali Praga itu hilang dan terbunuh.”

“Kami juga menyangka demikian. Jika akhirnya mereka mengetahui bahwa salah seorang pembunuh dari ketiga kawan-kawannya itu adalah seorang yang bersenjata cambuk, maka mereka akan dengan mudah menemukan aku.”

Ki Juru mengangguk-angguk pula. Katanya, “Agaknya Kiai memang harus terlibat secara langsung.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Ki Sumangkar dan Ki Waskita, maka keduanya pun mengangguk-angguk.

“Kita tidak akan dapat ingkar,” berkata Ki Waskita, “namun agaknya Kiai Gringsing-lah yang mudah mereka kenal karena di daerah ini orang yang bersenjata cambuk telah banyak dikenal orang.”

“Agaknya memang begitu,” berkata Ki Juru. “Barangkali memang tidak ada pilihan lain.”

“Dalam keadaan seperti sekarang,” berkata Ki Sumangkar, “sebaiknya Kiai Gringsing memang harus berada di antara kekuatan Mataram. Jika tidak, maka Kiai Gringsing akan menjadi sasaran tunggal sebelum mereka berbuat banyak terhadap orang-orang Mataram.”

“Tunggal?” bertanya Kiai Gringsing. “Bagaimana dengan kalian berdua?”

“Maksudku, yang nampak jelas adalah Kiai Gringsing. Mereka akan mudah melihat sasaran mereka. Apalagi jika Kiai Gringsing terpisah dari kekuatan Mataram atau pihak-pihak yang berdiri di pihak Mataram.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Aku mengerti. Aku harus berada di dalam kekuatan yang besar dari seluruh Mataram dan tidak berdiri pada pihak yang terpisah. Agaknya di dalam hal ini aku memang tidak mempunyai pilihan. Demikian pula agaknya dengan murid-muridku. Tidak banyak orang yang sempat membedakan antara aku sendiri dan murid-muridku di dalam mempergunakan senjata.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Ia pun menyadari, bahwa murid-murid Kiai Gringsing pun akan dapat menjadi sasaran pembalasan. Apabila orang-orang yang telah mencuri pusaka-pusaka dari Mataram itu sekedar mengenal bahwa yang telah membunuh ketiga kawannya yang bertugas di pinggir Kali Praga adalah orang bercambuk itu.

Demikianlah maka pembicaraan itu pun menjadi berkepanjangan. Mereka mulai menjajagi tanggapan masing-masing atas persoalan yang sedang dihadapi oleh Mataram itu.

“Kiai,” berkata Ki Juru kemudian, “kami sudah menyebarkan petugas-petugas sandi. Tetapi tidak seorang pun yang mendapat keterangan tentang pusaka-pusaka yang hilang. Malahan kini kami mendapat keterangan dari Kiai, bahwa salah satu dari kedua pusaka yang hilang itu telah dibawa menyeberangi Kali Praga. Karena itu, maka sudah barang tentu kita tidak akan dapat menunggu dan menunggu sampai pada suatu saat kita mendengar berita, bahwa pusaka-pusaka itu berada di suatu tempat.”

“Dengan menyebarkan petugas-petugas sandi, maka Mataram tidak berarti menunggu.”

“Tetapi kita tahu, bahwa kekuatan yang kita hadapi adalah kekuatan yang tidak ada taranya, sehingga kita tidak akan dapat menyerahkan hal itu semata-mata kepada petugas-petugas sandi.”

“Jadi maksud Ki Juru?”

“Aku dan Angger Sutawijaya sudah berkeputusan, bahwa kami berdua akan mencari pusaka-pusaka itu.”

“Dan meninggalkan Mataram?”

“Ya. Kami akan meninggalkan Mataram.”

“Ki Juru,” Ki Sumangkar memotong, “dalam keadaan seperti sekarang, Mataram memerlukan pimpinan yang teguh. Apalagi jika rahasia hilangnya pusaka-pusaka itu sampai bocor.”

“Angger Sutawijaya tidak akan melepaskan kepemimpinannya atas Mataram. Justru karena tanggung jawabnya maka ia harus menemukan pusaka-pusaka itu kembali,” Ki Juru menjawab, lalu, “Kiai. Kedua pusaka itu sudah tidak ada di Mataram. Dengan demikian Mataram tidak akan kehilangan lagi barang-barang yang berarti selama kami pergi. Ada pun pemerintahan di Mataram, untuk sementara dapat kami serahkan kepada beberapa orang yang akan melakukan tugas sehari-hari. Tidak ada hubungan keluar yang penting dan segera harus dilakukan. Kita akan mempertahankan hubungan seperti sekarang ini dengan Pajang, dengan Mangir, dengan Menoreh dan dengan daerah-daerah lain.”

“Dan apakah alasan kepergian Angger Sutawijaya selama ia meninggalkan Mataram?”

“Raden Sutawijaya akan mesu sarira. Ia harus menambah ilmu dan olah kanuragan. Bertapa dan nenepi di tempat-tempat yang dianggap mempunyai pengaruh atas pribadinya.”

Kiai Gringsing dan kedua kawannya termenung sejenak. Mereka memandang Raden Sutawijaya yang menundukkan kepalanya. Terkenang oleh orang-orang tua itu, betapa pada masa mudanya Sultan Pajang yang juga disebut Jaka Tingkir itu bertualang dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu padepokan ke padepokan yang lain.

“Kiai,” berkata Ki Juru Martani kemudian karena Kiai Gringsing tidak menyahut, “sebenarnyalah bahwa Raden Sutawijaya akan pergi ke tempat-tempat yang sepi dan terasing. Bukan saja untuk mencari pusaka-pusaka yang hilang, tetapi benar-benar untuk mesu diri.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Di tempat-tempat yang sepi, jauh dari kesibukan sehari-hari, maka Raden Sutawijaya akan dapat merapatkan diri dengan Sesembahannya.”

“Maksud Ki Juru?”

“Raden Sutawijaya akan dapat dengan tanpa memikirkan persoalan-persoalan yang lain, mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Kepada-Nya-lah Raden Sutawijaya akan memohon. Memohon bagi Mataram dan memohon bagi dirinya sendiri.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Demikian juga kedua kawannya. Ki Sumangkar dan Ki Waskita. Karena mereka pun beranggapan bahwa semua permohonan, seharusnyalah ditujukan kepada kekuasaan tertinggi, kepada Yang Maha Kuasa

“Apakah ada yang tidak sesuai dengan pendapat Kiai,” bertanya Ki Juru.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak. Tidak ada yang tidak sesuai. Mula-mula aku bertanya-tanya untuk apakah sebenarnya Raden Sutawijaya pergi ke tempat-tempat sepi.”

“Seperti yang dilakukan oleh ayahanda angkatnya. Di sembarang tempat, yang kadang-kadang berbahaya bagi dirinya. Tetapi di tempat-tempat semacam itu, Mas Karebet merasa dirinya dekat dengan Yang Maha Kuasa. Dengan tuntunan-tuntunan para pertapa dan guru-gurunya, ia memohon kepada Yang Maha Kasih, keterbukaan hati dan kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya. Dan Tuhan mengabulkan permohonannya. Hatinya yang bersih pada saat ia memanjat ke tangga tahta Pajang karena sebelumnya ia sama sekali tidak bermimpi untuk memegang kekuasaan itu. Bahkan kemudian ia pun mendapat anugrah untuk dapat mempergunakan kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalam diri seseorang tetapi yang tidak banyak dikenal oleh orang itu sendiri. Namun bahwa hati manusia adalah hati yang lemah dan dungu, sehingga kadang-kadang kurnia yang paling berharga pun, tidak dapat kita junjung untuk selama-lamanya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Waskita berkata, “Kadang-kadang kita memang senang bermain-main dengan kekuatan asing yang sebenarnya tidak kita kenal. Tetapi yang tidak akan keliru adalah apabila kita memohon kepada Yang Maha Kuasa itu, sehingga kita akan terhindar dari sentuhan kekuatan hitam yang dapat menjerumuskan kita ke tempat yang paling terkutuk.”

“Tetapi batas itu memang kabur,” sahut Ki Sumangkar, “jika kita tenggelam kepada pemujaan kekuatan tanpa menghiraukan sumbernya, kita memang akan mudah terjerumus, karena menurut bentuk lahiriahnya, sangat sulit dibedakan. Kadang-kadang kita melihat kekuasaan yang melampaui kekuasaan jasmaniah manusia kebanyakan yang tidak diketahui asalnya. Apakah itu kurnia keterbukaan kemampuan yang memang sudah ada pada diri kita, atau kita menyadapnya dari sumber yang hitam. Sebab dari keduanya kita dapat melihat, bahwa telah terjadi sesuatu yang mencuat dari permukaan, tanpa kita mengerti alasnya.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Angger Sutawijaya tidak salah pilih. Jika ia ingin memiliki sesuatu hendaknya ia memperhatikan sumbernya pula. Karena sebenarnyalah sumber dari segalanya yang bening tidak akan teratasi oleh kekuatan yang mana pun juga dari yang buram dan hitam.”

Tetapi tiba-tiba Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Kita telah terlibat dalam pembicaraan yang khusus. Tetapi sebenarnya semuanya itu tidak perlu kita ucapkan, karena Raden Sutawijaya akan pergi bersama Ki Juru Martani, yang tentu sudah dapat melihat jauh lebih jernih dari penglihatan kita.”

“Ah,” Ki Juru pun tertawa, “bukan begitu. Tetapi kami memperbincangkan perjalanan yang akan ditempuh oleh Raden Sutiawijaya. Ia perlu banyak pengetahuan dan pengalaman sebelum ia akan memegang kekuasaan yang lebih besar sejalan dengan perkembangan Tanah Mataram.”

“Baiklah, Ki Juru,” berkati Kiai Gringsing, “kami mengharap besok akan mendapat tiruan dari tanda yang aneh itu. Kami akan membawanya ke Sangkal Putung. Mungkin selama kami menunggu saat perelatan perkawinan Swandaru, kita akan dapat menemukan sesuatu.”

“Mudah-mudahan, Kiai,” sahut Ki Juru, “usaha menemukan pusaka-pusaka itu memang sulit. Tetapi adalah kewajiban kita untuk berusaha. Dan sudah barang tentu, kami akan mengucapkan beribu-ribu terima kasih bahwa Kiai sudah terlibat di dalam usaha pencaharian itu. Bahkan keterlibatan yang sungguh-sungguh.”

“Itu sudah menjadi kewajibanku, Ki Juru.”

“O,” Ki Juru mengangguk-angguk, “hampir aku lupa bahwa sebenarnyalah Kiai Gringsing sangat berkepentingan. Apa lagi bahwa orang yang mengambil pusaka itu menyebut dirinya pewaris Kerajaan Majapahit.”

Kiai Gringsing tersenyum. Ia masih sempat berkelakar, katanya, “Tetapi Ki Juru jangan sekali-kali menuduh aku.”

Orang-orang yang mendengarnya tertawa. Tetapi betapa pun juga masih tersirat kesan, betapa berat beban yang harus mereka pikul di hari-hari mendatang.

Apalagi bagi Kiai Gringsing dan kedua kawannya yang sudah bersedia membantunya. Mereka tidak dapat mengabaikan hari-hari perkawinan Swandaru dan bagi Ki Waskita, hilangnya Rudita yang kemudian menjadi bahan pembicaraan pula dengan Ki Juru Martani.

Hilangnya Rudita ternyata merupakan peristiwa yang cukup menegangkan pula. Bagi Ki Waskita, Rudita tentu memiliki arti yang tidak kalah pentingnya dengan pusaka-pusaka yang hilang itu bagi Mataram.

“Kita memang sedang dihadapkan pada ujian yang berat sekarang ini,” berkata Ki Juru Martani sambil menarik nafas dalam-dalam, “dengan demikian, kita akan saling membantu. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan Ki Waskita membantu kami. Tetapi di dalam perjalanan kami, kami tentu akan berusaha untuk mendapatkan keterangan, apabila mungkin jejak kepergian Angger Rudita itu.”

“Terima kasih, Ki Juru,” sahut Ki Waskita, “mudah-mudahan usaha kita bersama dapat berhasil. Mungkin sekaligus semuanya, tetapi mungkin satu demi satu. Tetapi kita sudah berusaha sejauh-jauhnya yang dapat dilakukan oleh manusia yang lemah.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Sedang Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya oleh bayangan yang beraneka warna tentang Rudita. Ia melihat Rudita dalam keadaan yang kurang wajar bagi seorang laki-laki muda. Meskipun kemudian ia melihat sedikit perubahan pada anak muda itu, tetapi apakah kepergiannya seorang diri itu bukannya suatu tindakan yang sama sekali kurang bijaksana, dan dapat membahayakan dirinya.

“Ki Waskita,” bertanya Raden Sutawijaya kemudian, “apakah Rudita marah atau merajuk pada saat ia pergi? Kemudian seolah-olah ia dengan sengaja membuang diri karena merasa dirinya tidak berarti?”

Waskita menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Ia pergi dengan penuh kesadaran. Perubahan yang terjadi di dalam dirinya telah mendorongnya untuk mengenal dunia ini seluruhnya. Dunia yang besar yang terbentang di sudut langit ini dan dunia kecil dari dirinya sendiri. Ternyata menilik keterangan ibunya dan tanda-tanda yang aku dapatkan, Rudita sedang berusaha menekuni dunia kecilnya jauh lebih banyak dari dunia yang besar ini. Karena sebenarnyalah bahwa rahasia di dunia kecil itu baginya jauh lebih rumit dari rahasia dunia besar yang kasat mata.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Namun kemudian, “Tetapi pakah perjalanan itu tidak membahayakan dirinya?”

“Tentu, Raden. Itulah yang mencemaskan. Tetapi aku mengharap bahwa Rudita akan dapat diselamatkan justru oleh kelemahannya. Tidak banyak orang yang akan menghiraukannya dan apalagi tertarik kepadanya dalam suatu sikap tertentu. Rudita tidak lebih seorang anak muda yang berada di jalan tanpa arti sama sekali bagi orang-orang yang memiliki ilmu dan kemampuan.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Keterangan Ki Waskita memang menarik sekali. Rudita akan diselamatkan oleh kelemahannya sendiri.

“Mungkin sekali,” desis Raden Sutawijaya di dalam hatinya. Yang terbayang adalah permainan yang sering di lakukan di masa kanak-kanak. Mereka yang menjadi pupuk bawang justru tidak pernah diperhatikan dan berada di luar hitungan meskipun ia boleh ikut bermain-main. Di dalam permainan dunia besar yang kasar ini, Rudita adalah pupuk bawang. Dan agaknya itu memang jauh lebih baik baginya.

Demikianlah malam menjadi semakin larut. Mereka berbincang terus sehingga mereka baru sadar justru ketika terdengar kentongan dara muluk menjelang dini hari.

“Kiai,” berkata Ki Juru kemudian, “begitu asyik kita berbicara sehingga aku lupa mempersilahkan Kiai, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita untuk beristirahat. Silahkan. Besok kita akan melanjutkan pembicaraan ini.”

“Ki Juru, besok kami akan mohon diri,” berkata Kiai Gringsing, “kami ingin segera sampai ke Sangkal Putung. Aku seolah-olah meninggalkan anak yang baru dapat merangkak di pinggir sumur terbuka. Justru karena telah terjadi perkelahian di Kali Praga itu. Apalagi menjelang saat-saat Swandaru akan menghadapi hari perkawinannya.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Juga Ki Waskita agaknya masih saja gelisah, karena Rudita masih belum dapat diketahui dengan pasti.”

“Apakah Ki Waskita tidak dapat mengetahui di mana anak itu sekarang?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ia selalu bergerak sekarang ini,” jawab Ki Waskita, “tetapi menurut tangkapan isyarat yang samar-samar anak itu sedang menuju ke Sangkal Putung meskipun ia belum pernah pergi ke tempat itu.”

Raden Sutawijaya mengagguk-angguk. Katanya, “Syukurlah jika ia benar-benar pergi ke Sangkal Putung. Meskipun seandainya ia tersesat, tetapi ia dapat bertanya kepada seseorang tentang arah yang pasti. Mungkin ia memerlukan waktu perjalanan dua kali lipat dari yang sebenarnya diperlukan. Tetapi itu lebih baik daripada ia pergi tanpa tujuan.”

“Tetapi itu pun belum pasti Raden,” sahut Ki Waskita, “namun mudah-mudahan ia benar-benar pergi ke sana. Jika apabila kami nanti sampai ke Sangkal Putung dan Rudita masih belum ada di sana, maka kami terpaksa mencarinya.”

Ki Juru Martani pun menyadari bahwa banyak yang masih harus mereka lakukan. Karena itu, maka ia pun berkata, “Baiklah. Kita akan bersama-sama melaksanakan tugas kita masing-masing. Mungkin kalian akan lebih banyak bergerak di sebelah utara. Sedang kami akan mencoba menyelusuri daerah selatan. Dari barat menuju ke timur. Mungkin kami akan sampai ke Pegunungan Sewu dan daerah di sekitarnya. Mudah-mudahan kita akan berhasil.”

“Mudah-mudahan, Ki Juru,” desis Kiai Gringsing.

“Nah, sekarang kami persilahkan kalian beristirahat di gandok. Besok pagi-pagi sajalah aku menyerahkan tanda tiruan itu. Tanda yang sampai sekarang tidak aku mengerti artinya.”

Masih ada waktu beberapa lamanya untuk beristirahat. Meskipun sebentar kemudian ayam jantan mulai berkokok untuk yang terakhir kalinya di malam itu. Namun waktu yang pendek itu sudah cukup bagi Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita untuk melepaskan lelahnya.

Pagi-pagi benar, mereka sudah mempersiapkan diri. Ketika matahari mulai memanjat langit, mereka telah selesai berkemas dan siap untuk berangkat kembali ke Sangkal Putung.

“Kalian terlalu tergesa-gesa,” berkata Ki Juru.

“Masih banyak yang harus kami kerjakan Ki Juru,” sahut Kiai Gringsing.

Namun demikian Ki Juru masih sempat mempersilahkan mereka untuk makan pagi sebelum berangkat, bersama dengan Sutawijaya dan Ki Lurah Branjangan.

Baru setelah mereka selesai makan pagi, maka Ki Juru Martani pun menyerahkan kepingan perak bakar yang berwarna kehitam-hitaman dengan pahatan ciri sebuah kelompok yang masih belum dikenal dengan pasti. Namun yang jelas telah menyebut dirinya sebagai pewaris Kerajaan Majapahit.

 

 

“Terima kasih, Ki Juru,” berkata Kiai Gringsing, “kami akan mencoba memecahkan rahasia yang terkandung di dalam tanda ini. Mungkin kami tidak akan berhasil. Tetapi jika kemudian kami menemukan tanda-tanda yang serupa, maka kami akan segera dapat mencari hubungannya.”

“Baiklah, Kiai,” sahut Ki Juru yang kemudian katanya, “kami pun tidak akan menunggu terlampau lama. Jika kami kemudian menemukan jejak kedua pusaka itu, mungkin kami akan menelusurinya, sehingga mungkin kami akan menjelajahi daerah yang luas.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Kiai. Selama aku dan Angger Sutawijaya pergi, aku mohon agar Kiai, Ki Sumangkar, atau Ki Waskita sekali-sekali singgah di rumah ini. Ki Lurah Branjangan dengan beberapa orang pilihan, akan mencoba menggantikan tugas-tugas kami. Namun mereka akan sangat berterima kasih jika kalian sudi menengok barang sehari dua hari. Aku kira bahwa kalian tidak akan meninggalkan Sangkal Putung sebelum hari-hari perkawinan itu.”

Kiai Gringsing mengangguk. Jawabnya, “Ya, Ki Juru. Kami akan berada di Sangkal Putung sampai secepat-cepatnya empat puluh hari lagi. Namun selama itu, kami sudah barang tentu akan dapat sekali-sekali mengunjungi Mataram dan mencari Angger Rudita. Tetapi kami tidak akan meninggalkan Sangkal Putung untuk sebuah pelualangan. Baru setelah perkawinan itu selesai, mungkin kami akan meneruskan usaha kami dengan sungguh-sungguh mencari pusaka-pusaka yang hilang itu apabila belum dapat diketemukan.”

“Tetapi akan segera menyusul saat perkawinan yang kemudian,” tiba-tiba saja Raden Sutawijaya menyela.

“Maksud Raden?”

“Bukankah Agung sedayu dan Sekar Mirah juga sudah bersepakat untuk kawin?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya mereka memang mempunyai ikatan batin. Tetapi agaknya saat-saat itu masih agak panjang.”

“Setidak-tidaknya setelah berganti tahun. Bukankah menjadi pantangan untuk mengadakan perelatan dua kali pada tahun yang sama?”

Kiai Grisngsing mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Memang jarang sekali orang yang berani mengadakan perelatan dua kali dalam tahun yang sama. Jika bukan karena pantangan, mungkin karena mereka harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dua kali dalam setahun.”

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Atau karena kedua-duanya.”

“Tetapi,” berkata Kiai Gringsing, “aku kira, setelah perkawinan Swandaru, aku, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita akan sempat menyisihkan waktu. Apalagi jika Angger Rudita benar-benar sudah dapat kami ketemukan.”

“Terima kasih. Kami pun akan mencoba mencari jejak Angger Rudita pula. Mudah-mudahan semuanya dapat kita selesaikan dengan baik dan selamat. Mudah-mudahan tidak harus mempertaruhkan korban yang terlalu banyask.” Ki Juru berhenti sejenak. Kemudian sambil memandang Ki Lurah Branjangan ia berkata, “Tetapi bukan berarti bahwa kau dapat meninggalkan segala persiapan. Mungkin harus ditempuh jalan kekerasan seperti saat Angger Sutawijaya memecahkan pertahanan Panembahan Agung. Tidak mustahil, bahwa orang-orang yang menyebut dirinya pewaris Kerajaan Majapahit itu telah menyusun kekuatan yang besar, atau bahkan mendapat dukungan dari satu dua adipati.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mencoba menjalankan semua perintah dengan baik. Kita semuanya menyadari, bahwa kekuatan yang kita hadapi bukannya kekuatan yang kecil. Kita mengenal orang-orang sakti sejak Mataram baru mulai dibuka. Pada masa daerah ini di bayangi oleh kekuatan hantu-hantuan. Ternyata ada dua tiga orang sakti di antara mereka. Kemudian orang-orang yang mengganggu jalan menuju ke daerah yang sudah mulai terbuka, dan orang-orang yang dengan sengaja ingin membenturkan kekuatan Pajang dan Mataram saat perkawinan Untara. Disusul oleh pameran kekuatan yang mencapai puncaknya dengan pecahnya padepokan Panembahan Agung. Namun ternyata dugaan kita salah. Setelah Panembahan Agung dapat disingkirkan, masih saja kita jumpai orang-orang yang memiliki kelebihan seperti tiga orang yang mengaku tukang satang itu, yang justru mampu menerobos bentuk semu Ki Waskita dengan penglihatan batinnya, setelah penglihatan wadagnya terganggu.”

Ki Juru mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang berat sekali tugas yang dihadapinya. Adalah kebetulan sekali orang-orang itu datang seorang demi seorang, jika mereka menghimpun kekuatan dan bersama-sama menyerang Mataram, akibatnya akan berlainan.

Demikianlah sejenak kemudian kuda-kuda yang dipergunakan oleh Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun telah disiapkan. Sementara itu, Ki Juru berkata, “Kita akan menunaikan tugas kita masing-masing. Tetapi sebenarnyalah bahwa pokok dari tugas itu sebenarnya bersamaan.”

“Ya, Ki Juru,” sahut Kiai Gringsing.

“Jika ternyata kemudian Kiai memerlukan kekuatan pasukan dalam keadaan yang bagaimana pun juga, Kiai dapat segera menghubungi Ki Lurah Branjangan.”

“Terima kasih. Kemungkinan itu memang ada.”

“Dan yang tidak lupa pula ingin kami pesankan, kami mohon maaf kepada Ki Demang di Sangkal Putung. Mungkin saat-saat perkawinan Swandaru, kami masih dalam perjalanan. Jika kami tidak dapat hadir, kami mohon maaf. Tetapi kami sudah menyiapkan beberapa orang yang akan mewakili Mataram.”

“Ah. Perelatan itu hanyalah perelatan kecil. Perelatan yang diselenggarakan oleh seorang padesan.”

Ki Juru tersenyum. Lalu, “Tetapi jika kami dapat mengingat hari yang ditentukan dan kami mempunyai kesempatan, kami akan memerlukan datang dari mana pun juga kami berada pada saat itu.”

“Tidak perlu terlampau menyusahkan.”

“Sebuah petualangan kadang-kadang memerlukan saat-saat untuk mengurangi ketegangan. Di dalam perelatan yang demikian itulah agaknya kami dapat melakukannya.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Mungkin. Tetapi mungkin justru akan mengganggu. Namun demikian, terserahlah kepada Ki Juru dan Raden Sutawijaya. Jika kesempatan itu ada, maka sudah barang tentu kedatangan Ki Juru dan Raden Sutawijaya akan sangat membesarkan hati Ki Demang Sangkal Putung, ia akan dapat mengangkat dadanya sambil berkata kepada sesama Demang yang hadir, “He, siapakah yang pernah mengadakan perelatan dan dihadiri oleh Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya, putra angkat Kanjeng Sultan di Pajang yang kini bergelar Senapati Ing Ngalaga di Martaram.”

“Ah,” Sutawijaya menundukkan wajahnya yang menjadi kemerah-merahan. Tetapi ia sudah mengenal sifat Kiai Gringsing dengan baik, sehingga ia pun akhirnya tersenyum pula.

Demikianlah maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun segera melanjutkan perjalanan, kembali ke Sangkal Putung. Masing-masing di antara mereka telah membawa tiruan tanda-tanda yang masih belum dapat mereka pecahkan.

Sementara itu, mereka pun telah mendengar rencana kepergian Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya dari Mataram. Perjalanan yang berat bagi kedua orang pemimpin tertinggi itu, dengan akibat-akibat dan kemungkinan-kemungkinan yang paling berbahaya. Tetapi sudah menjadi ketetapan hati, bahwa keduanya harus menyelusuri hilangnya pusaka-pusaka yang menjadi tanggung jawab mereka dengan mempertaruhkan apa saja yang ada pada mereka.

Di perjalanan, kembali Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita tidak habis-habisnya berbicara tentang tanda-tanda yang aneh itu. Hilangnya kedua pusaka dari Mataram dan hilangnya anak laki-laki Ki Waskita.

Tetapi dengan demikian perjalanan mereka rasa-rasanya menjadi semakin cepat. Hampir di luar sadar, mereka sudah berada di ujung Alas Mentaok. Jalan yang mereka lalui sudah menjadi semakin rata dan ramai, dibandingkan dengan beberapa saat yang lampau.

“Jika persoalan-persoalan yang menyangkut Mataram itu segera dapat diselesaikan, maka Mataram akan mendapat kesempatan cukup untuk membangun diri. Kini Mataram harus membangun sambil mempertahankan kehadirannya, sehingga tenaga yang ada di dalamnya dan terhitung masih belum cukup banyak itu harus terbagi,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

“Tetapi mengherankan sekali,” sahut Ki Sumangkar, “Mataram bagaikan mempunyai kekuatan gaib yang dapat menghisap penghuni dari tempat-tempat lain untuk bekerja keras membangun setelah menebas hutan yang lebat. Biasanya di antara kita terlampau malas untuk meninggalkan tempat tinggal. Bahkan yang tinggal di lereng Gunung Merapi, yang setiap kali harus bersentuhan dengan lelehan api dan batu-batu panas, tidak juga mau meninggalkan kampung halamannya.”

“Dari satu segi kecintaan terhadap kampung halaman memang dapat dibanggakan,” potong Ki Waskita, “tetapi dari segi yang lain, mereka masih terkungkung oleh pandangan yang sempit. Jika mereka meninggalkan kampung halamannya dan berpindah di tempat yang baru, yang memberikan harapan, mereka merasa seolah-olah mereka sudah berpindah dari satu daerah kesatuan ke tempat yang lain di luar lingkungannya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia tiba-tiba saja mengenang jalan setapak yang pernah dilaluinya. Bahkan pada saat Sutawijaya bertiga dengan Agung Sedayu dan Swandaru pergi tanpa pamit dari Sangkal Putung menuju ke tlatah yang masih diselubungi oleh padatnya hutan yang sangat lebat, Alas Mentaok. Pada masa perampok dan penjahat-penjahat yang lain masih berkeliaran hampir di setiap sudut.

Tetapi kini daerah itu sudah menjadi daerah padesan. Daerah yang sudah didiami oleh penghuni yang bersedia bekerja keras bagi daerahnya untuk mempersiapkan hari-hari yang lebih baik bagi masa mendatang.

Namun selagi mereka melanjutkan pembicaraan mereka di sepanjang perjalanan, tiba-tiba saja mereka tertarik kepada dua orang penunggang kuda yang memacu kudanya melampaui ketiga orang itu. Meskipun orang-orang itu tidak berpaling, tetapi rasa-rasanya kedua orang itu memperhatikannya.

Tetapi ternyata kedua orang itu berpacu terus. Mereka semakin lama menjadi semakin kecil dan hilang ditelan oleh padukuhan di hadapan mereka.

Demikian mereka hilang dari tatapan mata, maka Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Apakah kalian memperhatikan kedua orang penunggang kuda itu?”

“Ya,” sahut kedua kawannya hampir bersamaan. Dan Ki Sumangkar pun meneruskannya, “Agaknya memang ada yang menarik perhatian pada keduanya.”

“Agaknya memang demikian. Tetapi aku tidak tahu pasti, apanya yang telah menarik perhatian.”

“Barangkali karena mereka agaknya tertarik juga kepada kita. Mereka nampaknya memperhatikan kita bertiga meskipun mereka tidak ingin memberikan kesan yang demikian,” sahut Ki Waskita

“Atau barangkali kitalah yang sudah terganggu syaraf kita. Banyak persoalan yang telah terjadi, sehingga rasa-rasanya kita mencurigai setiap orang,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

Kedua kawannya tertawa. Ki Sumangkar pun menyahut, “Mungkin juga demikian. Kita tidak dapat berpikir wajar lagi dalam keadaan serupa ini.”

“Bukan salah kita,” potong Ki Waskita, “keadaanlah yang telah membuat kita menjadi demikian. Curiga, cemas, ragu-ragu, dan kadang-kadang bahkan tidak percaya kepada diri sendiri.”

Sekali lagi mereka bertiga tertawa.

Demikianlah kemudian tanpa disadari sambil berbicara tentang bermacam-macam persoalan, langkah kuda-kuda mereka pun menjadi semakin cepat, meskipun mereka tidak sengaja mengikuti kedua orang yang telah melampaui mereka. Mereka mencoba untuk tidak terlampau dikuasai oleh perasaan mereka yang memang sedang terombang-ambing oleh keadaan yang tidak menentu. Perelatan, tetapi juga hilangnya kedua pusaka dari Mataram dan hilangnya Rudita.

Namun, selagi mereka berpacu di jalan lurus ke Sangkal Putung, tiba-tiba Ki Waskita berdesis, “Nanti dulu Kiai. Ada sesuatu terasa di hati.”

Ketiganya memperlambat kuda mereka. Bahkan kemudian mereka pun berhenti sejenak di bawah sebatang pohon yang rindang.

Sebelum Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar bertanya sesuatu, mereka melihat Ki Waskita menundukkan kepalanya. Agaknya ada sesuatu yang sedang direnunginya dengan mata batinnya.

Sejenak kemudian tiba-tiba saja ia mengangkat wajahnya dan berkata, “Rudita agaknya memang mendekati Sangkal Putung. Ia kini berada di perjalanan sepanjang lereng Merapi.”

“Maksud Ki Waskita, apakah kita akan singgah sejenak?” bertanya Kiai Gringsing.

Ki Waskita menjadi termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “Kita teruskan perjalaran ini sebentar, Kiai. Kita akan menyampaikan hasil tugas kita kepada Ki Demang dahulu. Kemudian barulah aku akan mencari Rudita di sepanjang lereng Merapi.”

Tiba-tiba saja Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Ki Waskita. Apakah kita tidak lebih baik mencari Rudita lebih dahulu. Jika benar ia menyelusup lereng Merapi maka ia akan sampai ke tempat yang tidak diharapkan. Mungkin ia ingin melihat Kembang Manca Warna yang menurut kata orang mempunyai tujuh macam bunga pada sebatang pohon. Mungkin ia ingin menemukan bunga melati pada pohon itu, yang katanya menjadi lambang keberuntungan, karena tidak banyak orang yang dapat melihat bunga melati pada batang Kembang Manca Warna itu.”

Ki Waskita mengangguk-angguk.

“Ji’ka ia berada di sekitar daerah itu, maka ia akan dapat menjadi sasaran orang-orang jahat yang kadang-kadang memang mencari mangsanya pada mereka yang berkunjung untuk melihat Kembang Manca Warna itu. Apalagi apabila kemudian ia berjalan menyusuri jalan setapak di lereng itu dan sampai ke Padukuhan Karang Watu.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku pernah mendengar bahwa Padukuhan Karang Watu dikuasai oleh sekelompok penjahat.”

“Bukan dikuasai oleh sekelompok penjahat. Padukuhan itu memang merupakan sarang dari penjahat-penjahat dari yang kecil, yang senang menangkap ayam tetangga sendiri, sampai ke penjahat besar yang berani membongkar rumah seorang Senapati di Demak saat itu. Agaknya keturunannya pun tentu memiliki kelebihan seperti itu pula dan menurut pendengaranku, penduduk padukuhan itu masih juga melakukan berbagai macam kejahatan.”

Ki Waskita ragu-ragu sejenak. Namun ia berkata, “Rudita tidak membawa bekal cukup banyak sehingga menarik perhatian mereka. Apalagi aku tidak mau mengganggu ketenangan hati Ki Demang. Baiklah kita sampaikan hasil perjalanan kita. Malam nanti kita mencoba mencari Rudita.”

“Malam nanti?” bertanya Ki Sumangkar.

“Ya. Maksudku, menjelang pagi kita berangkat.”

Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Katanya, “Semakin cepat memang semakin baik. Daerah itu memang merupakan daerah yang kadang-kadang dapat membahayakan. Apalagi bagi Angger Rudita. Kita yang tua-tua pun harus cukup berhati-hati jika kita berjalan melalui daerah itu, meskipun menurut pendengaranku, mereka tidak biasa melakukan hal itu di halaman rumah sendiri.”

“Tetapi cukup mencemaskan,” desis Kiai Gringsing.

Demikianlah, mereka pun kemudian berpacu semakin cepat. Mereka ingin segera sampai ke Sangkal Putumg. Beristirahat sejenak, kemudian menjelang pagi, mereka harus sudah meninggalkan kademangan itu untuk mencari Rudita. Karena rasa-rasanya Ki Waskita sudah menangkap isyarat yang agak jelas dari anaknya yang hilang itu.

Dengan demikian maka perjalanan Kiai Gringsing dan kedua kawannya pun menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya mereka ingin segera sampai. Namun, sudah barang tentu mereka tidak akan dapat begitu saja turun dari kudanya, makan, minum, dan pergi lagi. Mereka harus menunggu kesempatan yang biasanya diakukan di malam hari, menyampaikan hasil perjalanan mereka kepada Ki Demang dan para tetua di Sangkal Putung.

Setelah mereka memasuki daerah Kademangan Sangkal Putung, rasa-rasanya kuda-kuda mereka justru menjadi semakin malas sehingga mereka pun justru berpacu lebih cepat. Dada mereka menjadi semakin mendesak untuk segera sampai.

“Apakah kita dapat segera menyampaikan hasil perjalanan kita?” bertanya Ki Waskita.

Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “Ki Demang masih harus mengundang orang-orang tua itu.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Memang secepatnya menjelang pagi kita baru dapat berangkat.”

Mereka tidak banyak berbicara lagi. Apalagi karena mereka telah sampai ke padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.

Kedatangan Kiai Gringsing disongsong oleh Ki Demang dan keluarganya dengan wajah yang bertanya-tanya. Namun mereka sebenarnya tidak lagi mencemaskan hasil perjalanan itu, karena persoalannya sebagian terbesar hanyalah terletak pada waktu dan pelaksanaan saja.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam ketika mereka melihat Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah ikut menyambut kedatangannya. Apalagi karena wajah-wajah mereka yang nampak bening. Tentu tidak terjadi apa pun dengan mereka.

Ki Demang Sangkal Putung pun kemudan mempersilahkan mereka naik ke pendapa, setelah mereka membersihkan kaki di jambangan yang tersedia di sisi halaman.

Ki Waskita tanpa menanyakan kepada siapa pun juga, menyadari bahwa Rudita memang belum ada di Sangkal Putung. Dengan demikian, maka ia pun yakin, bahwa tangkapan isyarat yang memberikan petunjuk tentang anaknya, agaknya dapat dipegangnya sebagai sasaran yang pasti.

Tetapi Ki Waskita dengan sengaja telah menahan perasaannya tanpa mengatakan apa pun tentang Rudita, agar ia tidak segera merusak suasana, karena Agung Sedayu dan Swandaru pasti akan segera tertarik dan mempersoalkannya lebih banyak dari hasil perjalanan mereka ke Tanah Perdikan Menoreh.

Setelah Ki Demang kemudian menanyakan keselamatan ketiga orang utusannya di perjalanan, dan setelah mereka dipersilahkan minum dan makan beberapa potong makanan, maka berkatalah Ki Demang, “Aku akan mengumpulkan orang-orang tua di Sangkal Putung untuk mendengar langsung hasil perjalanan Kiai bertiga. Aku kira besok atau lusa sajalah kita berbincang. Malam nanti aku harap Kiai memberikan sedikit gambaran tentang hasil perjalanan itu kepada kami, karena sekarang kalian tentu masih lelah.”

Ketiga orang itu berpandangan sejenak lalu Kiai Gringsing-lah yang berbicara, “Ki Demang. Sebaiknya nanti malam sajalah kita bertemu dengan orang-orang tua di Sangkal Putung. Kita dapat berbincang cukup panjang. Jika ditunda sampai besok atau lusa, barangkali sebagian besar persoalannya, aku sudah menjadi lupa.”

“Ah,” Ki Demang tertawa. Namun kemudian dengan bersungguh-sungguh ia bertanya, “apakah ada sesuatu yang penting dengan Mataram?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Ada persoalan kecil yang harus kami lakukan.”

Agaknya Ki Demang pun dapat mengerti tentang ketiga orang itu. Mereka bukan seorang Demang, bebahu sesuatu daerah, atau Kepala Tanah Perdikan seperti Ki Argapati, sehingga mereka rasa-rasanya dapat berbuat bebas seperti burung yang terbang di langit yang jernih. Kapan mereka ingin hinggap, dan kapan mereka ingin terbang.

Ki Demang kemudian sambil mengangguk-angguk berkata, “Baiklah. Aku akan mengundang malam nanti untuk berbicara panjang lebar dengan Kiai bertiga.”

“Terima kasih, Ki Demang.”

“Tetapi, apakah Kiai ada keperluan yang harus Kiai lakukan di luar kademangan ini?”

Kiai Gringsing tersenyum. Ketika ia memandang Ki Waskita maka Ki Waskita pun menjawab, “Sebenarnya hanya suatu keinginan untuk mengetahui sesuatu. Seperti umumnya orang-orang tua, kita kadang-kadang sudah digoda oleh keinginan yang kurang masuk akal.”

“Apakah kami dapat mengetahui?” bertanya Ki Demang.

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Bukan apa-apa, Ki Demang. Ada sesuatu yang menarik perhatian. Tetapi sekaligus kami ingin melihat pohon Kembang Manca Warna.”

“Ah,” Ki Demang tertawa, “Ki Waskita tertarik juga kepada cerita tentang Kembang Melati yang akan dapat mendatangkan keberuntungan itu?”

“Setidak-tidaknya aku dapat bercerita, apakah pohon itu mempunyai tujuh macam daun serta tujuh macam bunganya.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Ketika seseorang akan mengatakan tentang pohon Kembang Manca Warna itu, Ki Demang memotongnya, “Jangan kau katakan sesuatu tentang pohon itu. Nanti Ki Waskita menjadi kecewa karenanya.”

Ki Waskita tersenyum. Tetapi matanya yang tajam menangkap pertanda bahwa sebenarnya Ki Demang pun sudah menduga bahwa ada sesuatu yang penting bagi ketiga orang-orang tua itu. Bukan sekedar diganggu oleh sifat ingin tahu. Tetapi tentu tidak bijaksana untuk mengatakannya kepada setiap orang termasuk orang-orang yang tidak berkepentingan, meskipun itu keluarganya sendiri.

Karena itulah, maka Ki Demang pun memenuhi permintaan Kiai Gringsing untuk mengundang orang-orang tua pada malam itu juga. Mereka diminta untuk mendengarkan keterangan Kiai Gringsing dan kedua kawan-kawannya, apakah hasil dari pembicaraan-pembicaraan terakhir dengan Ki Argapati.

Ketika kemudian malam turun menyelubungi Kademangan Sangkal Putung, beberapa orang telah berkumpul di pendapa kademangan, duduk dalam sebuah lingkaran kecil, mengelilingi lampu minyak yang diletakkan di atas ajug-ajug di tengah-tengah.

Ketika mereka sudah minum seteguk dan makan sepotong makanan yang dihidangkan, maka mulailah Kiai Gringsing menyampaikan hasil kunjungannya di Tanah Perdikan Menoreh.

“Tidak ada yang harus dirubah. Acara yang kita sampaikan kepada Ki Argapati dapat diterimanya. Semuanya akan berjalan sebaik-baiknya seperti yang kita kehendaki.”

Orang-orang tua di Sangkal Putung itu pun mengangguk-angguk. Mereka mendengarkan dengan saksama cerita yang kemudian disampaikan oleh Kiai Gringsing tentang sikap Ki Argapati yang lapang dan penuh pengertian.

“Syukurlah,” desis seorang yang sudah berambut putih, “jika demikian kita tidak usah membuat perhitungan baru. Semuanya sudah mapan dan pada saat-saat yang tepat. Jika Ki Argapati minta perubahan-perubahan, meskipun hanya saat dipertemukannya pengantin, maka kita harus memperhitungkan kembali semuanya. Jika saat itu merupakan saat pantangan, kita harus mencari syarat untuk mengangkat pantangan itu.”

Tetapi tidak ada persoalan apa pun. Sehingga dengan demikian maka pembicaraan itu pun segera selesai. Semuanya menganggap bahwa segala-galanya memang akan berjalan lancar seperti pembicaraan-pembicaraan yang mereka lakukan sebelum saat perkawanan itu tiba. Tidak ada rintangan, tidak ada perbedaan pendapat dan tidak ada kesulitan apa pun juga.

Hanya Ki Waskita-lah yang setiap kali tersentuh oleh semacam isyarat yang buram tentang perkawinan Swandaru, sehingga hatinya menjadi kuncup. Ia tidak tahu pasti, saat-saat yang manakah yang akan diliputi oleh kabut yang gelap dari masa yang panjang, setelah perkawinan itu berlangsung.

Namun adalah kelemahan hati manusia, bahwa Ki Waskita itu setiap kali mencoba ingkar dari penglihatannya. Bahkan di dalam hati ia berkata, “Tidak akan ada apa-apa yang terjadi.”

Demikianlah, ketika pembicaraan itu sudah selesai, orang-orang tua itu pun masih juga berbicara untuk beberapa saat lamanya. Seperti halnya orang-orang tua, mereka berbicara tentang keharusan dan pantangan-pantangan yang wajib dilakukan oleh Swandaru.

“Sampai saat perkawinan ini berlangsung, Swandaru tidak boleh pergi sama sekali. Swandaru tidak boleh meninggalkan halaman rumahmu,” berkata seorang yang giginya tinggal dua buah di bagian depan.

Swandaru tidak menyahut. Tetapi sekilas dipandanginya wajah gurunya, seolah-olah ia minta pertimbangannya. Kemudian karena ia tidak mendapat kesan apapun, ia pun kemudian memandang wajah Agung Sedayu yang ikut hadir pula di pendapa. Tetapi kebetulan Agung Sedayu tidak sedang memandanginya.

Bagi Swandaru, untuk tetap berada di halaman rumahnya selama kira-kira empat puluh hari, rasa-rasanya seperti sedang menjalani hukuman. Tidak seperti ayahnya, Swandaru sudah mulai dijalari kebiasaan bertualang. Karena itu, untuk tinggal di rumah selama waktu yang panjang, alangkah menjemukan sekali.

Tetapi Swandaru hanya menundukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa tidak baik membantah pendapat orang tua di dalam pertemuan serupa tu.

Setelah mereka berbincang beberapa lama, dan setelah para tamu itu dipersilahkan makan malam, maka pertemuan itu pun kemudian diakhiri. Orang-orang tua itu pun minta diri dengan pesan, bahwa setiap saat diperlukan, mereka akan dengan senang hati melakukan apa saja bagi Ki Demang.

Barulah sepeninggal orang-orang tua itu, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita yang masih duduk di pendapa dengan Ki Demang dan anaknya serta Agung Sedayu, mencoba untuk menjelaskan persoalan yang sedang dihadapi.

“Tetapi semuanya ini jangan mempengaruhi rencana yang sudah disusun sebaik-baiknya bagi Swandaru,” berkata Kiai Gringsing.

Ki Demang tidak menyahut.

“Biarlah Ki Waskita menjelaskan persoalannya,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi ia masih tetap diam. Ki Waskita-lah yang kemudian menceritakan serba sedikit tentang anaknya yang pergi dari rumahnya dengan tujuan yang tidak menentu.

Seperti yang diduga, Agung Sedayu dan Swandaru-lah yang menanggapinya dengan serta-merta. Bahkan terloncat dari bibir Agung Sedayu, “Kita harus mencarinya. Perjalanan yang demikian akan berbahaya sekali bagi Rudita.”

 

 

Ki Waskita mencoba menenangkan dirinya sendiri, sehingga katanya kemudian tidak menunjukkan kegelisahan sama sekali, “Terima kasih, Agung Sedayu. Tetapi kau harus ingat bahwa Angger Swandaru tidak boleh pergi ke mana pun. Ia tentu akan merasa sangat sepi dan jemu jika ia tidak mempunyai kawan yang sesuai di rumah ini.”

“Jadi, aku pun tidak boleh beranjak selama empat puluh hari?” bertanya Agung Sedayu.

“Tentu bukan begitu. Tetapi sebaiknya kau tidak pergi terlampau jauh. Ke sawah, ke pategalan. Tetapi hanya untuk sepanjang pagi atau sore. Kemudian kau dapat mengawani Swandaru di rumah. Tetapi jika kau pergi mencari Rudita, kau akan pergi untuk dua atau tiga hari. Bahkan lebih.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya Swandaru yang menundukkan kepalanya. Rasa-rasanya ada sesuatu yang memanggilnya dari saudara seperguruannya itu, sehingga akhirnya Agung sedayu tidak dapat memaksakan diri untuk meninggalkan halaman selama Swandaru berada dalam masa persiapan hari perkawinannya.

Apalagi ketika kemudian Ki Demang berkata, “Angger Agung Sedayu. Aku minta dengan hormat, agar Angger Agung Sedayu sudi mengawani Swandaru dalam masa-masa ia tidak dibenarkan untuk meninggalkan halaman. Menurut pertimbangan orang tua-tua selama selapan hari, Swandaru memang harus berada di dalam lingkungan pagar halaman. Dan selapan hari itu akan mulai dua hari lagi.”

Tiba-tiba, di luar dugaan Swandaru menyela, “Jadi selama dua hari ini aku masih dapat pergi ke mana pun?”

“Ah,” sahut ayahnya, “yang dua hari ini pun sebaiknya tidak usah kau pergunakan untuk pekerjaan yang berbahaya.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa ayahnya tentu akan melarang jika ia ingin ikut mencari Rudita meskipun hanya selama dua hari. Ketemu atau tidak ketemu. Selebihnya ia akan mematuhi semua pantangan. Namun mencari Rudita bagi ayahnya adalah pekerjaan yang sangat berbahaya karena terbayang saat-saat hilangnya Rudita yang disimpan di sarang Panembahan Agung.

Tetapi Agung Sedayu dan Swandaru tentu tidak akan dapat menjelaskan perbedaan keadaan antara Rudita yang pergi atas kehendak sendiri dan Rudita yang hilang diambil oleh orang-orang Panembahan Agung.

Dengan demikian, maka niat Agung Sedayu dan Swandaru meskipun masih disimpannya di dalam hati untuk ikut mencari Rudita di sekitar lereng Merapi tidak akan dapat dikemukakannya lagi.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Ki Demang, usaha kami untuk mencari Rudita menurut Ki Waskita, akan kami sesuaikan dengan setiap rencana Ki Demang menyangkut saat-saat perkawinan Swandaru. Kami akan pergi mencari anak itu, tetapi setiap kali kami akan datang kembali dalam tiga atau empat hari seandainya anak itu masih belum segera dapat diketemukan. Kecuali jika keadaan memaksa dan mendesak untuk melindungi jiwanya, mungkin kami akan sedikt menyimpang dari rencana kami itu.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih, Kiai. Aku pun dapat mengerti, bahwa perjalanan Angger Rudita adalah persoalan keselamatan jiwa seseorang. Karena itu, aku tidak akan dapat mencegahnya. Bahkan apabila mungkin seharusnya kami ikut membantunya.”

“Ki Demang mempunyai tugas pula di saat-saat terakhir ini.”

Ki Demang mengangguk-angguk pula. Katanya, “Kiai. Meskipun aku tidak mempunyai pasukan sekuat pasukan Tanah Pendikan Menoreh, tetapi jika di dalam usaha Kiai mencari Angger Rudita diperlukan sepasukan pengawal, mungkin di daerah lereng Gunung Merapi terdapat sarang penjahat yang kuat, kami akan memyediakannya. Anak-anak muda Sangkal Putung akan dengan senang hati membantu menyelamatkan jiwa seseorang.”

“Terima kasih, Ki Demang,” Ki Waskita-lah yang menyahut, “agaknya di mana-mana aku hanya akan membuat kesulitan. Di Tanah Perdikan Menoreh dan kini di Kademangan Sangkal Putung.”

“Ah, tentu tidak,” berkata Ki Demang, “sudah banyak yang Ki Waskita taburkan. Dan yang Ki Waskita taburkan itu adalan benih-benih kebaikan. Sudah waktunya Ki Waskita memetik hasilnya apabila diperlukan. Apalagi sampai kini pun Ki Waskita masih saja menaburkan benih-benih kebaikan itu.”

Ki Waskita tersenyum. Betapapun asamnya. Katanya, “Ki Demang selalu memuji. Tetapi memang mungkin sekali kami memerlukan bantuan itu. Namun sejauh dapat kami lakukan, kami akan membatasi persoalan ini sehingga suasana di Sangkal Putung tidak akan terpengaruh oleh peristiwa ini. Juga Angger Swandaru. Sebaiknya Angger Swandaru melupakan saja persoalan ini, setidak-tidaknya menjelang saat-saat perkawinan.”

“Aku mengharap bahwa Rudita dapat hadir pada hari perkawinan itu,” sahut Swandaru. “Mudah-mudahan usaha pencarian itu tidak banyak menemui kesulitan.”

“Mudah-mudahan,” desis Kiai Gringsing, “kami masih percaya kepada tangkapan isyarat Ki Waskita. Mudah-mudahan kami akan sampai pada sasarannya secepatnya.”

Demikianlah maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun menyatakan rencananya pula untuk meninggalkan Kademangan Sangkal Putung menjelang dini hari.

“Begitu tergesa-gesa?” bertanya Ki Demang.

“Rudita adalah anak yang kurang pengalaman,” sahut Ki Waskita, “….. tidak terlampau jauh dari lereng Merapi, meskipun agaknya Rudita selalu bergerak. Namun justru karena ia selalu bergerak itulah yang sedikit memberikan ketenangan di hatiku.”

“Kenapa?”

“Itu berarti bahwa ia bebas. Ia berjalan ke mana saja yang disukainya, meskipun agaknya ia telah tersesat.”

Ki Demang tidak dapat menahan Ki Waskita yang digelisahkan oleh kepergian anaknya yang hampir tidak mempunyai pengalaman petualangan sama sekali. Namun yang tiba-tiba saja telah pergi meninggalkan kampung halamannya oleh desakan perubahan yang bergejolak di dalam jiwanya.

Karena itu, maka Ki Demang pun segera mempersilahkan tamu-tamunya itu beristirahat, karena besok menjelang pagi mereka sudah harus pergi meninggalkan Sangkal Putung.

Tetapi perjalanan yang akan dilakukan bukan perjalanan yang panjang. Setiap kali Ki Demang akan dapat berhubungan dengan mereka, karena setiap kali mereka akan selalu kembali ke Sangkal Putung sebelum meneruskan usahanya apabila Rudita masih belum dapat diketemukan. Sehingga dengan demikian Sangkal Putung akan tetap menjadi pangkalan mereka selama mereka mencari Rudita yang menurut penilaian Ki Waskita berdasarkan penglihatan batinnya berada di sekitar daerah lereng Merapi di bagian selatan.

Demikianlah maka pagi-pagi benar, sebelum matahari terbit, ketiga orang-orang tua itu pun telah siap untuk berangkat. Mereka masih memerlukan memberikan berbagai macam pesan kepada Agung Sedayu sehubungan dengan perstiwa yang dialami oleh ketiga orang-orang tua itu di Kali Praga.

“Sebaiknya kau pun tidak terlalu banyak berada di luar halaman rumah ini Agung Sedayu,” desis Kiai Gringsing, “dan untuk sementara berhati-hatilah dengan cambukmu. Jika kau mencurigai seseorang, jangan terlampau mudah menyebut dirimu orang bercambuk, karena mungkin akan mempunyai akibat yang gawat, jika kau bertemu dengan orang-orang yang mencari aku akibat kematian kawan-kawannya di penyeberangan Kali Praga itu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Di dalam hati ia bertanya, “Sejak kapan Guru mengajarkan sifat yang demikian kepadaku. Apakah sikap yang demikian itu hanya sekedar sikap berhati-hati karena keadaannya memang gawat, atau dengan sengaja mengekang aku agar aku tidak terlampau liar?”

Tetapi Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Ia menyadari saat yang penting sekali bagi Swandaru itu harus banyak mendapat perhatian. Sesuatu yang terjadi atas Swandaru, sekaligus akan menimpa pula bagi bakal istrinya yang menunggu di Tanah Perdikan Menoreh.

Menjelang matahari terbit, maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun berangkat meninggalkan Sangkal Putung tanpa menunggang kuda. Kepada muridnya satu-satunya Sumangkar berpesan agar ia menjaga dirinya sebaik-baiknya. Mungkin keadaan akan memaksa muridnya itu melakukan sesuatu untuk mempertahankan dirinya.

Tidak banyak orang Sangkal Putung yang melihat kepergian Kiai Gringsing. Ketika di ujung lorong, para peronda yang masih berada di gardu menyapanya, maka Kiai Gringsing pun menjawab, “Kami akan sekedar berjalan-jalan. Bukankah kata orang, orang-orang tua harus banyak berjalan-jalan? Terlebih-lebih lagi di waktu menjelang pagi. Badannya akan menjadi sehat dan akan menghambat masa ketuaannya sehari setiap tonggak.”

“Ah, jika demikian, apakah jika Kiai berjalan-jalan lima tonggak pagi ini, berarti umur Kiai terhambat lima hari.”

“Ya.”

“Jika hal itu Kiai lakukan setiap pagi, maka Kiai justru akan menjadi bertambah muda lima hari. Pada suatu saat Kiai akan sampai pada suatu masa seperti saat Kiai dilahirkan.”

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Memang mungkin sekali. Tetapi sudah barang tentu sesudah itu, aku tidak akan dapat berjalan-jalan lagi.”

Para peronda itu tertawa. Demikian pula Ki Sumangkar dan Ki Waskita.

Sejenak kemudian mereka pun meneruskan perjalanan mereka di dalam gelapnya ujung pagi yang sudah dibayangi oleh warna-warna merah di langit.

Ketiga orang itu dengan sengaja melanjutkan perjalanan hanya dengan berjalan kaki, karena dengan demikian, maka mereka akan dapat melalui setiap lorong dan mungkin tempat-tempat yang terpencil dan tersembunyi. Apalagi perjalanan mereka bukannya perjalanan yang terlampau jauh dan panjang.

Dari Sangkal Putung mereka berjalan menuju ke lereng Gunung Merapi. Menjelang pagi, nampak Gunung Merapi bagaikan bayangan kerucut raksasa yang menyangga langit yang mulai cerah. Semakin lama bayangan yang biru kehitam-hitaman itu menjadi semakin jelas. Ujungnya menjadi kemerah-merahan seperti bara.

Ketiga orang itu berjalan terus menyusuri bulak-bulak panjang. Perjalanan mereka memang tidak terlampau cepat. Tetapi tanpa mereka sadari setelah mereka melalui jalan sempit di pinggir hutan rindang, mereka telah menyelusuri jalan ke Macanan.

Tiba-tiba saja Ki Sumangkar berkata, “Kita akan lewat sebuah padukuhan yang dikenal dengan baik oleh Kiai Gringsing. Dukuh Pakuwon.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Orang-orang Dukuh Pakuwon telah melupakan orang yang bernama Ki Tanu Metir itu.”

“Tentu tidak, Kiai. Cobalah bertanya, apakah mereka mengenal Ki Tanu Metir. Mereka tentu akan mengatakan, mereka mengenal orang tua itu dengan baik. Sudah barang tentu mereka tidak akan mengenal Kiai dalam sikap dan pakaian seperti sekarang ini. Coba Kiai mengenakan pakaian, sikap, dan tata gerak seperti Ki Tanu Metir yang tua, hampir pikun, dan gemetar kebongkok-bongkokan itu, maka mereka akan segera berkata, “Ya, itulah Ki Tanu Metir.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Teringat saat-saat ia didera oleh orang-orang Jipang, karena ia menyembunyikan Untara di rumahnya. Dan yang ternyata kemudian telah memaksanya meninggalkan gubugnya seperti cengkerik disiram air pada lubang persembunyiannya.

Tetapi Kiai Gringsing itu pun kemudian tersenyum. Katanya, “Senang juga rasa-rasanya untuk singgah barang satu dua hari di padukuhan kecil itu. Tetapi dengan demikian, maka akan dapat menghambat usaha kita mencari Angger Rudita.”

“Tetapi jika Kiai ingin singgah?” sahut Ki Waskita.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ah, tidak. Aku tidak akan singgah. Aku hanya ingin lewat saja padukuhan itu, seperti orang yang tidak pernah mengenalnya dengan baik.”

Ki Sumangkar dan Ki Waskita hanya tersenyum saja. Mereka dapat mengerti, sepercik kerinduan telah menyentuh hati Kiai Gringsing. Bagaimana pun juga, Kiai Gringsing pernah mengasingkan dirinya di padukuhan itu untuk waktu yang lama. Hanya kadang-kadang saja ia pergi untuk beberapa hari apabila darah petualangannya mulai mendidih di dalam tubuhnya. Tetapi ia pun kemudian kembali menetap di padukuhan itu lagi.

Tetapi kepergiannya yang terakhir, saat-saat Sangkal Putung dibakar oleh api pertentangan antara Jipang dan Pajang, serta kehadiran Agung Sedayu dan Untara, dua orang anak sahabatnya yang telah meninggal lebih dahulu daripadanya, telah memisahkan orang tua itu dengan padukuhan kecilnya karena ia pun kemudian menetap di Sangkal Putung. Namun yang setiap kali ditingggalkannya juga bertualang bersama dua orang muridnya.

Kerinduan itu agaknya telah membawa Kiai Gringsing berjalan menyusuri jalan kecil yang melintasi padukuhan yang pernah ditinggalinya itu.

Ki Sumangkar dan Ki Waskita hanya mengikutinya saja. Mereka pun merasakan, bahwa orang-orang tua kadang-kadang mempunyai kerinduan akan masa-masa lampaunya.

Ketika mereka memasuki jalan padukuhan, Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Halaman dan rumah yang pernah dihuninya terletak tidak jauh dari mulut jalan padukuhan.

“O,” desisnya, “padukuhan ini masih seperti saat aku tinggalkan.”

“Belum ada perubahan, Kiai?” bertanya Ki Waskita.

“Perubahan yang sangat kecil terdapat di sana-sini. Tetapi agaknya gairah kerja di padukuhan ini sudah meningkat. Meskipun perubahan-perubahan yang berarti belum nampak, namun padukuhan ini nampaknya menjadi semakin bersih.”

Kedua kawannya hanya mengangguk-angguk saja.

Ketika kemudian mereka melalui sebuah halaman rumah yang tidak begitu luas dan gersang, terasa dada Kiai Gringsing berdebaran. Halaman rumah yang kotor itu adalah halaman rumahnya yang sudah lama sekali ditinggalkannya.

“Kasihan,” desisnya.

“Inikah halaman rumah Kiai,” bertanya Ki Waskita.

“Ya. Inilah halaman rumah Ki Tamu Metir itu.”

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang nampaknya seperti halaman rumah yang ditelantarkan begitu saja.

Ketika seseorang berpapasan di jalan sempit itu, tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya, “Ki Sanak. Rumah siapakah yang nampaknya kosong itu?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya, “Rumah itu sudah tidak berpenghuni lagi.”

“Kemanakah penghuninya?” bertanya Ki Sumangkar.

“Tidak seorang pun yang mengetahui.”

“Namanya?” sambung Ki Waskita.

“Ki Tanu Metir. Seorang dukun yang pandai dan baik.”

“Seorang dukun yang dapat meramal nasib?” tiba-tiba saja Ki Sumangkar menyela.

“Ah,” Kiai Gringsing berdesah. Tetapi orang yang ditanya itu menjawab, “Bukan, Ki Sanak. Bukan dukun yang sering meramal nasib. Ia adalah seorang dukun yang hanya mengkhususkan diri pada ilmu pengobatan. Ia adalah seorang yang pandai mengobati segala macam penyakit.”

“O,” Ki Sumangkar mengangguk-angguk, lalu, “apakah tidak seorang pun yang mengetahui kemana dukun tua itu pergi?”

“Ia memang sudah tua. Apakah Ki Sanak sudah mengenalnya?”

Ki Sumangkar terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Aku belum pernah mengenalnya. Tetapi biasanya dukun-dukun adalah orang tua, setua kami.”

“Ya. Ia adalah orang tua yang baik. Suka menolong dan tidak mempunyai pamrih.”

“Ah, tentu,” sahut Ki Waskita, “biasanya dukun yang demikian adalah dukun yang baik. Yang tidak berpura-pura dapat berbuat lebih banyak dari yang dapat dilakukan. Ki Tanu Metir tentu seorang yang baik seperti yang kau katakan. Berjiwa besar, pemurah terhadap sesama dan barangkali juga seorang yang kaya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika ia melihat sebuah senyum kecil di bibir Ki Waskita dan Ki Sumangkar.

“Ya,” jawab orang itu, “tetapi ia bukan orang yang kaya. Satu-satunya miliknya adalah seekor kuda.”

“Dimanakah kuda itu?”

“Hilang seperti Ki Tanu Metir sendiri. Ketika beberapa orang laskar Tohpati mencari dua orang buruan yang bersembunyi di rumahnya, maka saat itu merupakan kiamat bagi dukun tua yang baik itu. Ia hilang tanpa bekas. Demikian juga kudanya.”

“Apakah tidak seorang pun yang pernah bertemu lagi dengan orang itu?” bertanya Kiai Gringsing.

Orang itu memandang Kiai Gringsing dengan saksama, sehingga Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar. Tetapi orang itu pun kemudian mengangkat bahunya sambil berkata, “Tidak seorang pun yang mengetahuinya. Tetapi banyak cerita tentang orang tua itu yang kemudian tersebar.”

“Apa ceritanya?” tiba-tiba Ki Sumangkar memotong.

Sekali lagi Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih, Ki Sanak. Kami bertanya karena kami melihat halaman rumah itu nampak gersang dan kotor.”

“Tetangga-tetanggalah yang kadang-kadang membersihkannya.”

“Dan cerita itu,” desak Ki Sumangkar.

Kiai Gringsing menggigit bibirnya. Tetapi ia tidak dapat mencegah ketika Ki Waskita juga bertanya, “Apakah cerita itu sangat menarik?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya ketiga orang yang belum dikenalnya itu. Namun kemudian ia pun berkata, “Cerita itu memang sangat menarik. Tetapi tidak seorang pun dapat mengatakan, yang manakah yang sebenarnya terjadi.”

“Ada berapa macam cerita?” bertanya Ki Sumangkar.

“Bermacam-macam.”

“Di antaranya?”

“Ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Ki Tanu Metir sudah meninggal. Tetapi karena ia seorang dukun yang sakti, maka ia masih sering menampakkan dirinya di daerah bekas pertempuran antara pasukan Pajang dan Jipang di daerah Sangkal Putung. Orang itu mendendam prajurit-prajurit Jipang, karena prajurit-prajurit Jipang itulah yang membunuhnya tanpa kesalahan apa pun.”

“O, mengerikan sekali,” desis Ki Waskita sambil menahan tertawanya.

“Tetapi ada cerita lain lagi,” berkata orang itu.

“Bagaimana dengan cerita itu?”

“Bahwa Ki Tanu Metir adalah seorang dukun yang sakti. Yang ditangkap dan dibunuh oleh orang-orang Jipang saat ia menyembunyikan Untara dan adiknya itu bukanlah wadagnya yang sebenarnya. Seseorang yang dipaksa menunjukkan arah persembunyian Untara itu tidak dapat melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.”

“Jadi apa yang sudah dibunuh oleh orang-orang Jipang itu?”

“Ternyata di simpang empat bulak panjang sebelah selatan padukuhan ini, pada pagi harinya ditemukan sebatang pohon pisang yang penuh dengan tusukan senjata tajam. Agaknya pohon pisang itulah yang disangkanya dukun tua itu. Dan sebenarnya dukun tua itu masih hidup.”

“Yang manakah yang mendekati kebenarannya?” bertanya Ki Sumangkar.

“Aku tidak tahu. Tetapi ada cerita yang lain lagi.”

“Cerita apa lagi,” Kiai Gringsing berdesah.

“Sebenarnya Ki Tanu Metir memang sudah terbunuh. Tetapi bukan karena kesaktian prajurit-prajurit Jipang. Ki Tanu Metir memang mati atas kehendak sendiri pada saat orang Jipang marah tetapi tidak mampu membunuhnya. Ia hilang dengan seluruh badan wadagnya.”

“Bukan main, ia mrayang seperti Kiai Dandang Wesi.”

“Aku belum pernlah mendengar cerita tentang Kiai Dandang Wesi,” desis orang itu.

“Cerita-cerita yang mengerikan bulu roma,” desis Kiai Gringsing.

Tetapi Ki Waskita bertanya, “Apakah Ki Tanu Metir memang sakti? Kenapa ia tidak bertempur saja melawan orang-orang Jipang dan menghancurkannya sama sekali?”

“Tentu ia tidak mau. Selamanya ia tidak pernah berkelahi, bertengkar, dan apalagi bertempur. Ia adalah seorang dukun. Justru ia mengobati orang sakit. Bukan menyakiti orang sehat.”

Ki Waskita dan Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis, “Itu adalah seorang dukun yang sempurna. Ia tidak akan menyakiti seseorang apa pun alasannya.”

“Ya. Itulah yang dilakukan oleh Ki Tanu Metir,” desis orang itu.

“Baiklah, Ki Sanak,” Kiai Gringsing menyahut sebelum orang itu bercerita lebih banyak lagi, “kami minta diri. Kami hanya sekedar lewat daerah ini.”

“Tetapi siapakah Ki Sanak bertiga?”

“Kami orang-orang Sangkal Putung. Kami akan pergi ke Jati Anom,” sahut Kiai Gringsing.

“He, orang Sangkal Putung? Banyak orang Sangkal Putung yang sudah aku kenal. Apakah mereka tidak pernah berceritera tentang dukun tua yang bernama Ki Tanu Metir?”

“Tidak. Orang-orang Sangkal Putung tidak bercerita tentang dukun tua itu.”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Ki Sanak. Cerita yang paling aku percaya adalah cerita yang lain lagi.”

“Terima kasih. Ceritamu sudah cukup panjang,” jawab Kiai Gringsing, “kami akan meneruskan perjalanan.”

“Cerita yang aku percaya adalah cerita yang paling pendek.”

“Sebutkan dengan sebuah kalimat,” berkata Ki Sumangkar.

“Ki Tanu Metir masih hidup, ia berada di Sangkal Putung sekarang. Apakah kalian tidak percaya? Itulah cerita yang menurut pendapatku paling masuk akal. Ia tidak dibunuh oleh pasukan Jipang waktu itu. Ia dapat lolos bersama Senapati Untara yang ternyata juga tidak mati.”

 

 

Ketiga orang itu menarik nafas. Ki Sumangkar kemudian bertanya, “Jadi, apakah arti ceritamu yang berkepanjangan itu?”

“Aku tidak mengerti. Tetapi sebenarnyalah cerita itu hidup di antara kami di sini. Namun yang aku percaya, ada orang lain yang sebenarnya adalah Ki Tanu Metir. Ada orang yang mengetahui bahwa Ki Tanu Metir memang tidak mati meskipun hanya namanya saja yang disebut orang.”

“Apakah kau sendiri sudah mengenal orang yang bernama Ki Tanu Metir?”

“Aku bukan berasal dari padukuhan ini,” jawab orang itu, “tetapi aku sekarang sudah menetap di tempat ini, mengikuti anak dan menantuku. Karena itu, aku tahu benar cerita tentang dukun tua itu. Dan aku memang pernah melihatnya meskipun baru sekali dua.”

Kiai Gringsing tersenyum. Ia memang belum mengenal orang itu dengan baik, meskipun rasa-rasanya ia memang pernah melihat. Untunglah bahwa orang itu tidak dapat mengenalinya karena perubahan sedikit pada wajah dan sikapnya.

Tetapi agaknya bukan orang itu saja yang tidak dapat mengenalnya lagi, karena orang-orang yang lain pun sama sekali tidak menghiraukannya.

Ternyata bahwa beberapa orang yang kemudian lewat jalan itu pun hanya sekedar memalingkan wajahnya. Kemudian mereka meneruskan langkah mereka tanpa memperhatikan ketiga orang itu lagi.

Sebenarnyalah orang-orang Dukuh Pakuwon sudah terlalu lama tidak berbicara lagi tentang Ki Tanu Metir. Bagi mereka Ki Tanu Metir telah tidak pernah lagi menarik perhatian. Jika mereka lewat halaman kosong itu pun mereka merasa bahwa halaman itu memang sudah lama kosong. Bukan lagi merupakan persoalan. Satu dua orang tetangga memang kadang-kadang masih membersihkan halaman itu jika mereka mencari kayu bakar di kebun belakang. Memungut batangan-batangan kayu kering yang berserakan. Selebihnya tidak ada persoalan apa pun lagi.

Demikianlah Kiai Gringsing dan kedua kawannya pun segera meninggalkan padukuhan itu. Mereka sama sekali tidak menarik perhatian orang-orang yang berpapasan di sepanjang jalan. Seperti orang-orang lain yang berjalan melalui jalan itu, maka ketiga orang itu pun melangkahkan kakinya tanpa gangguan apa pun juga.

Namun percakapan kecil di dekat halaman rumah Ki Tanu Metir yang kosong itu telah menumbuhkan bahan pembicaraan yang panjang.

Cerita-cerita tentang Ki Tanu Metir sempat menumbuhkan senyum di bibir Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar.

“Jangan-jangan berita itu benar,” berkata Ki Waskita, “yang berjalan bersama kita sekarang adalah arwah Ki Tanu Metir yang sudah meninggal.”

Ki Sumangkar tertawa. Katanya, “Bukan, tetapi hanya sebatang pohon pisang. Sedang orangnya yang sebenarnya tidak berada di sini sehingga apabila terjadi sesuatu, maka yang mengalami itu sama sekali bukan tubuh Ki Tanu Metir yang sebenarnya, tetapi batang pisang itulah.”

“Tetapi ternyata yang dipercaya oleh orang itu adalah cerita yang sebenarnya,” sahut Kiai Gringsing. “Sebenarnyalah orang-orang sudah mengetahuinya, bahwa Ki Tanu Metir memang berada di Sangkal Putung itu memang bukan rahasia. Agaknya secara kebetulan orang itu bukan orang Dukuh Pakuwon sejak kanak-kanak, sehingga ia tidak dapat bercerita tentang Ki Tanu Metir dengan tepat.”

“Tetapi ceritanya cukup menarik. Itu pertanda bahwa Ki Tanu Metir memiliki akar yang kuat di hati rakyat Dukuh Pakuwon.”

“Namun ternyata bahwa pendapat mereka tentang Ki Tanu Metir adalah jauh lebih baik dari jalan hidup yang di tempuh oleh orangnya. Mereka menganggap bahwa Ki Tanu Metir adalah seorang dukun yang biasa mengobati orang sakit, bukan seorang yang menyakiti orang sehat dengan alasan apa pun. Sedang yang dilakukan sebenarnya oleh orang yang bernama Ki Tanu Metir itu adalah jauh lebih buruk daripada itu. Bukan saja menyakiti tetapi Ki Tanu Metir adalah seorang pembunuh. Yang terakhir dibunuhnya adalah orang-orang yang menyebut dirinya tukang satang di Kali Praga.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Bahkan mungkin masih ada lagi orang-orang yang akan dibunuhnya. Jika orang-orang Dukuh Pakuwon mengetahui, maka nilai Ki Tanu Metir di mata mereka akan merosot turun sejauh-jauhnya.”

“Tidak, Kiai,” sahut Ki Waskita, “tentu tidak demikian. Seorang senapati di peperangan yang membunuh berpuluh-puluh orang justru disebut seorang pahlawan, meskipun ia akan disebut seorang pembunuh jika ia melakukannya di luar medan perang terhadap seseorang. Dengan demikian maka ada penilaian tersendiri terhadap bermacam-macam cara, keadaan, dan tempat pembunuhan itu terjadi. Terlebih-lebih adalah alasan pembunuhan itu sendiri.”

Kiai Gringsing menarik nafas.

“Kiai tidak pernah melakukah pembunuhan tanpa arti,” sahut Ki Sumangkar, “karena itu Kiai tidak perlu menyesali. Yang terakhir misalnya, kematian orang-orang yang menyebut dirinya tukang satang merupakan penyelamatan bagi jumlah orang yang lebih banyak. Jika Kiai dan kita bersama tidak melakukan pembunuhan itu, maka jumlah kematian akan berlipat. Bukankah dengan demikian berarti bahwa yang kita lakukan adalah justru penyelamatan? Apalagi jika kita hanya sekedar menghitung jumlah jiwa?”

Kiai Gringsing tidak menyahut, meskipun kepalanya terangguk-angguk.

Demikianlah mereka bertiga berjalan terus. Mereka sepakat untuk singgah barang sejenak di Jati Anom. Kiai Gringsing ingin bertemu dengan Untara beberapa saat. Ia ingin menanyakan apakah satu dua orang anak buah Untara pernah melaporkan, melihat, menemukan, atau berhubungan dengan seorang anak muda yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Jika benar seseorang pernah melihat, berhubungan, atau mendengar adanya anak muda itu, maka mereka akan segera dapat menemukan Rudita.

Dalam pada itu, perjalanan mereka menyusur bulak persawahan sama sekali tidak menemui hambatan apa pun juga. Demikian pula ketika mereka menyusuri jalan di sebelah hutan yang tidak terlampau lebat. Bahkan terasa udara menjadi sejuk oleh angin yang mengguncang dedaunan perlahan-lahan.

“Daerah ini pun termasuk daerah yang subur,” berkata Kiai Gringsing, “meskipun tidak merupakan daerah lumbung yang besar seperti Sangkal Putung. Karena itu, daerah ini pun pada saat pasukan Jipang yang dipimpin oleh Tohpati masih cukup kuat, sebagian dari mereka berada di sekitar daerah ini agar mereka tidak kekurangan makan, sementara mereka berusaha merebut daerah Sangkal Putung.”

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Baginya persoalan yang menyinggung nama Tohpati adalah kenangan yang sangat pahit, yang sudah ingin dilupakannya. Namun setiap kali persoalan itu masih saja disebut-sebut.

Dalam pada itu, terasa udara menjadi semakin panas di siang yang terik. Selembar awan mengapung di langit, hanyut perlahan-lahan dibawa angin ke utara.

Di Sangkal Putung, Swandaru yang sudah mulai dengan masa yang khusus bagi mereka yang akan melangsungkan perkawinannya, duduk termenung di tangga pendapa. Rasa-rasanya hari-hari yang akan dialaminya selama kira-kira selapan, akan sangat menjemukan sekali. Yang selapan itu tentu akan terasa lama sekali. Kecuali karena ia tidak boleh meninggalkan halaman rumahnya jika tidak ada keperluan yang penting sekali, maka saat-saat menunggu memang merupakan saat-saat yang paling menjemukan. Rasa-rasanya waktu berjalan dengan lambannya.

Ketika ia menengadahkan wajahnya, matahari masih belum sampai ke puncak langit.

“Rasa-rasanya sudah sehari penuh aku duduk di sini,” gumamnya, “agaknya baru menjelang tengah hari.”

Swandaru berdiri dengan malasnya dan berjalan ke regol. Tetapi gardu di regol halamannya itu nampak kosong.

“Tidak ada seorang pun di gardu itu,” ia berdesis sambil bersungut-sungut.

Dengan langkah yang berat ia berjalan kembali ke pendapa. Sekali-sekali ia berhenti memandang langit yang cerah.

Langkahnya tertegun ketika ia melihat Sekar Mirah melintas di sisi pendapa. Dan tiba-tiba saja ia telah memanggilnya.

Sekar Mirah berpaling. Dilihatnya Swandaru berdiri di halaman seorang diri.

“Nah. Sekarang baru kau merasakan,” berkata Sekar Mirah, “selama ini kau memang terlampau banyak pergi. Besok akulah yang akan pergi untuk beberapa hari. Kau tinggal di rumah menunggui ibu dan ayah. Kau harus membantu ibu di dapur.”

Swandaru tidak menyahut. Tetapi perlahan-lahan ia mendekati adiknya.

“Kau mau apa sekarang?” ia bertanya ketika ia sudah berdiri beberapa langkah dari adiknya.

“Tidak apa-apa. Tetapi aku akan pergi ke sudut desa. Bermain-main dengan kawan-kawan, kemudian pergi ke sawah membawa makanan bagi orang-orang yang bekerja di sawah.”

“Di mana Agung Sedayu?”

“Aku tidak tahu. Bukankah tadi bersama kau di sini?”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agung Sedayu tidak pernah berada di rumah. Ia selalu saja pergi. Ke sawah, ke kali memandikan kuda, ke gardu, ke mana saja. He apakah ia pergi ke sawah sekarang?”

“Aku tidak tahu.”

Tiba-tiba suara Swandaru menjadi bersungguh-sungguh, “Sekar Mirah. Kau pun harus segera kawin.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian mencibirkan bibirnya sambil berkata, “Kau ingin agar aku juga mengalami seperti kau sekarang. Selapan hari tidak boleh pergi ke mana-mana.”

“Bukan, bukan itu.” Swandaru berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kau harus segera kawin sebelum keadaan menjadi semakin kalut.”

“Keadaan yang manakah yang menjadi semakin kalut itu?”

“Hubungan antara Mataram dan Pajang.”

“Ah. Itu bukan urusanku.” Sekar Mirah berhenti sejenak, lalu tiba-tiba saja ia tertawa, “Kau sangka aku tidak mengerti.”

“Apa?”

“Kau membohongi aku lagi. He, kau sangka aku akan merengek agar ayah mempercepat hari-hari perkawinanku? Semuanya masih harus dipikirkan.”

“Jadi, kau masih ragu-ragu. Kau masih akan memperbandingkan pilihanmu?”

“Bukan itu. Tetapi apakah aku harus kawin dengan seorang petualang yang tidak mempunyai pegangan menentu? He, ibu sudah pernah mengatakan meskipun tidak berterus terang bahwa sebaiknya setiap anak muda yang akan kawin, mempunyai pegangan hidup yang mapan.”

“Aku juga belum mempunyai pegangan hidup.”

“Tetapi kedudukanmu jelas.”

“Jadi kau kecewa terhadap Agung Sedayu.”

“Tidak. Tidak,” Sekar Mirah melangkah maju sambil mencubit lengan kakaknya. “Kau selalu mengganggu.”

“Mirah, Mirah,” Swandaru melangkah mundur, “aku berkata sesungguhnya kali ini.” Sambil mengusap lengannya yang menjadi merah ia berkata, “Maksudku, bukankah kau sudah mengetahui keadaan Agung Sedayu sejak kau berkenalan?”

“Tetapi ia harus berusaha menempatkan dirinya pada tempat yang mapan. Kakaknya dapat menjadi seorang senapati. Kenapa Kakang Agung Sedayu tidak? Seharusnya ia memang menjadi seorang senapati terkenal seperti kakaknya.”

“Jika ia tidak tertarik pada lapangan keprajuritan seperti yang sering dikatakannya? Ia kadang-kadang menjadi gemetar melihat darah meskipun ia memiliki ilmu yang cukup.”

“Jadi, apakah ia akan bekerja di dapur? Jika demikian, biarlah aku yang menjadi senapati dan Kakang Agung Sedayu tinggal di rumah, masak dan memelihara anak-anak kelak.”

“Ah, jangan begitu. Bukankah ada lapangan kerja yang lain. Seorang petani misalnya.”

“Huh. Aku sudah jemu duduk di pematang membawa kiriman nasi dan minuman.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah adiknya beberapa lamanya. Lalu katanya, “Bukankah kita dilahirkan dari lingkungan keluarga petani? Aku juga akan menjadi petani meskipun kelak aku akan menggantikan kedudukan ayah. Bukankah seorang demang juga seorang petani?”

“Petani besar. Tetapi seorang demang tidak perlu pergi ke sawah, mencangkul atau menelusuri air.”

Swandaru tidak menjawab. Ia dapat mengerti pikiran Sekar Mirah. Agung Sedayu tidak boleh sekedar menjadi seorang petani yang mengerjakan sawahnya di Jati Anom. Secuil tanah yang masih akan dibagi dengan Untara. Apalagi agaknya Untara sudah tidak menghiraukan lagi persoalan sawah, rumah dan kekayaan yang masih harus dibagi itu karena baginya yang penting adalah tugas-tugas keprajuritannya. Jika perlu, sawahnya, rumahnya, halaman, dan pategalannya disediakannya untuk keperluan keprajuritan.

“Memang aneh sekali,” desis Swandaru di dalam hati, “Ki Sumangkar kadang-kadang bercerita tentang beberapa orang pimpinan prajurit yang justru memanfaatkan kedudukannya untuk memperkaya diri sendiri. Untuk mengumpulkan kekayaan pribadi dan bahkan kadang-kadang dengan kekayaan itu beberapa orang telah mengumpulkan beberapa orang istri,” Swandaru menarik nafas. Namun kemudian dilanjutkannya, “Tetapi itu adalah prajurit-prajurit Jipang. Agaknya karena itulah Jipang tidak tumbuh menjadi besar. Dan ternyata jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Untara. Ia tidak lagi menghiraukan adiknya, bahkan dirinya sendiri.”

Karena untuk beberapa lamanya Swandaru tidak menyahut oleh angan-angan yang sedang bergejolak, maka Sekar Mirah pun kemudian berkata, “Aku akan pergi ke rumah sebelah.”

“Untuk apa?”

“Ibu menyuruhnya membuat minyak kelapa. Di belakang ada setumpuk kelapa yang sudah kering.”

Swandaru tidak menahannya lagi. Dibiarkannya Sekar Mirah melangkah meninggalkannya. Namun ketika Sekar Mirah hampir hilang di sudut, anak yang gemuk itu berkata, “Jika nanti kalian membuat minyak kelapa, jangan lupa, aku ingin belondonya.”

“Huh,” Sekar Mirah yang berpaling mencibirkan bibirnya. Tetapi ia tidak menjawab.

Swandaru yang kemudian berdiri seorang diri, melangkah perlahan-lahan kembali ke pendapa. Namun ia ternyata dipengaruhi pula oleh cara berpikir adiknya, yang pada dasarnya keduanya memiliki pola pemikiran yang serupa.

“Memang menjemukan tinggal di padesan yang sepi. Agaknya memang lebih senang untuk menjadi seorang senapati,” katanya kepada diri sendiri. Namun kemudian, “Tetapi Untara, senapati yang terkenal itu, diletakkan juga di padesan kecil. Jati Anom.”

Namun terbayang saat-saat Untara melangsungkan perkawinannya. Menurut keterangan orang-orang yang menyelenggarakan perelatan itu, bahkan Widura sendiri, perkawinan itu dilakukan dengan sederhana karena keadaan yang masih diliputi oleh suasana yang suram.

“Bagaimanakah kiranya perelatan perkawinan seorang senapati dalam keadaan yang tenang dan damai?” berkata Swandaru di dalam hatinya pula.

Agaknya Swandaru kemudaan mulai diganggu oleh gambaran yang cerah bagi kehidupannya. Katanya kepada diri sendiri, “Menurut Guru, seseorang harus mempunyai gegayuhan. Jika tidak maka ia akan berhenti dan kehilangan kemungkinan bagi masa depannya, jika aku anak seorang demang, apakah aku harus berhenti sampai di sini? Meskipun Kakang Agung Sedayu sekarang masih belum mempunyai pegangan hidup tertentu, pada suatu saat justru ia akan melonjak ke jenjang pangkat yang jauh lebih tinggi. Lebih tinggi dari seorang demang. Sedang aku sama sekali tidak berusaha untuk menjangkau tempat yang lebih baik dari tempat yang disediakan bagiku. Demang Sangkal Putung.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian duduk lagi di tangga pendapa sambil memandang ke kejauhan. Memandang dedaunan yang bergetar di sentuh angin. Seekor burung podang yang berbulu kuning terbang hinggap di pelepah pisang.

Swandaru menggigit bibirnya. Ia terkenang masa-masa kecilnya, jika ibunya mendendangkan kidung bagi adiknya, Sekar Mirah yang masih di dalam dukungan, tentang burung kepodang yang hinggap di pelepah pisang.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan kedua kawannya sudah menjadi semakin dekat dengan Kademangan Jati Anom. Jalan yang dilaluinya terasa menjadi semakin naik. Sekali-sekali terasa bahwa mereka telah mendaki kaki Gunung Merapi.

“Kita akan segera sampai ke Jati Anom,” berkata Kiai Gringsing, “mudah-mudahan kita masih tetap dikenal oleh prajurit-prajurit yang bertugas selain Untara sendiri.”

“Mungkin masih ada satu dua orang yang mengenal kita,” sahut Ki Sumangkar, “tetapi ada di antara mereka yang tentu sudah ditarik dari Jati Anom. Biasanya kelompok-kelompok prajurit bertugas untuk waktu yang tertentu di suatu tempat.”

“Apakah jika kita tidak dikenal oleh prajurit-prajurit itu, kita akan mengalami kesulitan?” bertanya Ki Waskita.

“Aku kira tidak. Suasananya kini adalah cukup tenang meskipun kadang-kadang ada juga persoalan-persoalan kecil yang mengganggu. Apalagi jalan yang melintasi Kademangan Jati Anom adalah jalan yang cukup ramai, sehingga banyak orang yang tidak dikenal lewat dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun sebagai pusat pengawasan daerah selatan, sudah barang tentu ada beberapa kesiagaan khusus di daerah ini.”

Ketika mereka memasuki padukuhan induk Jati Anom, maka hal itu memang ternyata. Di beberapa tempat mereka melihat penjagaan. Prajurit-prajurit bersenjata berdiri di ujung padukuhan mengawasi orang-orang yang lewat melalui gerbang.

Namun ketajaman mata ketiga orang-orang tua itu dapat menangkap, bahwa sebenarnya di antara prajurit-prajurit yang bersenjata lengkap itu masih terdapat beberapa orang petugas sandi yang hilir-mudik di jalan-jalan yang melintasi padukuhan induk.

“Kesiagaan yang tinggi memang terasa,” berkata Ki Waskita, “meskipun tidak nampak semata-mata.”

Kiai Gringsing mengangguk. Kemudian katanya, “Kita hampir sampai ke rumah Untara. Rumah itu sebagian memang dipergunakan bagi kepentingan para prajurit.”

“Angger Untara memang seorang prajurit seutuhnya,” desis Sumangkar.

Demikianlah maka akhirnya mereka pun sampai ke rumah Untara. Di muka regol halaman, nampak dua orang prajurit yang berjaga-jaga. Namun nampaknya halaman rumah itu sepi dan tenang.

Ketiganya pun kemudian berhenti di muka regol. Kiai Gringsing-lah yang kemudian berbicara dengan dua orang prajurit yang ternyata belum dikenalnya.

“Kami akan menghadap Angger Untara,” berkata Kiai Gringsing.

“Siapakah kalian?”

“Kami adalah orang-orang Sangkal Putung.”

“Sangkal Putung? Apakah keperluan kalian?”

“Keperluan pribadi. Kami masih mempunyai gegayutan kadang dengan Angger Untara.”

Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Kemudian yang seorang bekata, “Silahkan menunggu sejenak.”

Prajurit itu pun segera masuk. Tidak terlampau lama. Ia pun segera kembali ke regol halaman. Katanya kemudian, “Marilah ke gardu penjagaan itu. Kalian dapat berbicara dengan pemimpin penjagaan.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dari celah-celah pintu gerbang mereka memang melihat sebuah gardu. Beberapa orang prajurit duduk di dalam gardu itu.

Ketiga orang itu pun kemudian mengikuti prajurit itu ke gardu penjagaan di dalam halaman. Mereka diterima oleh pemimpin penjagaan itu dengan baik.

“Jadi kalian bertiga masih ada hubungan keluarga?” bertanya prajurit itu.

“Ya.”

“Siapakah nama kalian. Aku akan menyampaikannya kepada Senapati Untara.”

Kiai Gringsing ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku adalah Kiai Gringsing.”

“Kiai Gringsing,” pimpinan penjagaan itu mengerutkan keningnya, “aku pernah mendengar nama itu.”

“Mungkin Angger Untara pernah menyebutnya.”

Pemimpin penjagaan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Silahkan duduk sebentar. Biarlah aku menyampaikannya kepada Senapati.”

Pemimpin penjagaan itu pun segera masuk ke dalam menyampaikan permintaan Kiai Gringsing untuk menghadap.

Selagi mereka menunggu di gardu itu, Ki Sumangkar berbisik, “Apakah Angger Agung Sedayu dapat menjalani tata cara hidup seperti itu? Maksudku, seperti Angger Untara yang sebenarnya telah dikungkung oleh jabatannya yang tinggi.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Aku kira Agung Sedayu memang bukan seorang prajurit. Ia tidak akan dapat hidup di dalam lingkungan seperti ini. Seakan-akan setiap gerak geriknya diatur dalam ketentuan yang sangat mengikat. Rasa-rasanya Agung Sedayu akan merasa sebagian dari kebebasannya telah dirampas.”

Sumangkar tersenyum. Ia pun pernah tinggal di Kepatihan Jipang. Alangkah menjemukan. Semua persoalan harus diakukan dengan ketentuan-ketentuan yang seakan-akan tidak dapat lagi menyimpang meskipun banyak sekali hal-hal yang tidak ada gunanya dilaksanakan.

“Aku pun tidak akan dapat hidup dalam suasana seperti ini,” berkata Ki Waskita.

“Angger Untara sudah termasuk salah seorang senapati yang paling longgar,” berkata Ki Sumangkar. “Jika kita memperhatikan beberapa orang senapati yang lain, maka mereka dengan sengaja membuat tingkatan-tingkatan hubungannya dengan orang lain menjadi berlapis-lapis. Mereka merasa, semakin sulit orang dapat menjumpainya, maka ia adalah orang yang semakin penting kedudukannya.”

Kiai Gringsing dan Ki Waskita tersenyum. Tetapi Kiai Gringsing menjawab, “Tentu bukan begitu. Memang ada gunanya untuk mengatur hubungan dengan tertib. Jika tidak, maka setiap orang akan mencarinya setiap saat. Bahkan mungkin dua tiga orang bersamaan waktunya berdesak-desak berebut dahulu.”

Ki Waskita mengangguk-angguk, kemudian katanya, “Memang ada juga baik dan buruknya. Tetapi tentu Angger Untara sudah mempertimbangkannya masak-masak.”

Mereka tidak dapat meneruskan pembicaraan itu, karena mereka kemudian melihat Untara sendiri turun dari tangga pendapa menyongsong mereka bertiga.

“Marilah, Kiai. Marilah,” dengan tergopoh-gopoh Untara mempersilahkan.

Ketiganya pun kemudian berdiri dan berjalan bersama Untara naik ke pendapa.

Para prajurit yarg bertugas pun menjadi termangu-mangu. Pemimpin penjagaan itu pun mengerutkan keningnya melihat sikap Untara itu.

Para prajurit yang belum mengenal Kiai Gringsing dan kawan-kawannya itu mulai mencari-cari jawab. Mungkin mereka adalah keluarga Untara. Atau barangkali orang-orang yang memang mempunyai kepentingan di dalam persoalan pribadi. Tetapi yang lain menyangka, bahwa sebenarnya orang-orang tua itu pun prajurit-prajurit Pajang dalam tugas sandi. Mereka adalah justru perwira-perwira yang lebih tua dari Untara sendiri.

Namun mereka pun kemudian hanya dapat menunggu barangkali Untara akan memperkenalkan mereka kepada para senapati bawahannya.

Tetapi lebih heran lagi ketika para prajurit itu melihat satu dua orang senapati yang muncul dari gandok, nampaknya mereka pun sudah kenal pula dengan orang-orang yang baru datang itu.

“Siapakah mereka itu?” yang seorang berdesis.

“Bukankah yang seorang itu menyebut dirinya Kiai Gringsing?”

Kawannya tidak menjawab lagi. Agaknya mereka sama-sama tidak mengetahui, siapakah tamu Untara itu.

 

 

Dalam pada itu, Untara telah mempersilahkan tamu-tamunya duduk di pendapa. Beberapa orang yang memang sudah mengenal Kiai Gringsing pun segera ikut menemuinya.

“Ternyata rumah ini masih juga dipergunakan oleh para prajurit,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “meskipun Untara sudah berumah tangga.”

Namun, agaknya Untara dapat membaca suara hati Kiai Gringsing itu, sehingga katanya menjelaskan, “Kiai, rumah ini masih merupakan tempat tinggal untuk beberapa orang kawan-kawan terdekat. Yang lain sudah kami tempatkan di rumah sebelah dan atas kesediaan Ki Demang di Jati Anom, sebagian dari bagian belakang banjar desa pun telah kami pergunakan pula.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang lebih baik. Bukankah Angger Untara baru berdua saja? Rumah yang besar ini akan menjadi sangat sepi jika tidak ada kawan lain yang tinggal di dalamnya.”

“Hampir bertambah, Kiai,” sahut Untara.

“He?” Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. “Jadi, Angger Untara hampir mempunyai momongan?”

Untara tersenyum. Namun kemudian ia pun mengalihkan pembicaraannya dan sebagai kelengkapan penerimaannya, ia pun menanyakan keselamatan tamu-tamunya di perjalanan dan keluarga yang ditinggalkan di Sangkal Putung.

Baru setelah di hadapan tamu-tamunya dihidangkan minuman hangat dan beberapa potong makanan, Untara bertanya, “Sebenarnya aku agak terkejut melihat kehadiran Kiai bertiga dengan Ki Sumangkar dan Ki Waskita. Syukurlah jika Kiai hanya sekedar singgah tanpa ada keperluan yang penting.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baiklah aku menceritakan berita gembira saja lebih dahulu.”

Untara termangu-mangu sejenak. Tersirat di dalam kata-kata itu, bahwa Kiai Gringsing datang dengan membawa beberapa persoalan.

“Angger Untara,” berkata Kiai Gringsing, “mungkin memang sudah sampai waktunya, Ki Demang Sangkal Putung akan menyelenggarakan perelatan perkawinan anaknya.”

“He,” Untara terkejut. Tetap sebelum ia melanjutkan, Kiai Gringsing segera memotongnya, “Angger Swandaru-lah yang akan kawin dengan putri dari Menoreh. Anak Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jadi Adi Swandaru yang akan kawin?”

“Ya.”

Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Memang agaknya memang sudah saatnya.”

“Sudah barang tentu, pada saatnya Angger Untara akan mendapat pemberitahuan dan undangan.”

“Kapankah kira-kira perkawinan itu akan berlangsung?”

“Selapan hari lagi.”

“O. Begitu pendek. Selapan hari lagi.” Untara mengangguk-angguk, “Itukah sebabnya Adi Swandaru tidak ikut dengan Kiai sekarang ini?”

“Ya. Swandaru sudah tidak dibenarkan untuk bertualang menjelang hari perkawinannya.”

“Sesudah itu?”

“Tentu ada perubahan dalam tata hidupnya. Ia akan menjadi seorang suami. Ia tidak lagi bebas seperti seekor burung di udara.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Kecuali jika ia bertualang bersama istrinya.”

“He?”

“Bukankah bakal istri Swandaru juga seorang yang memiliki ilmu yang seimbang dengan Swandaru sendiri?”

“Ya. Tetapi apakah ia juga seorang petualang? Meskipun ia memiliki ilmu yang tangguh, tetapi agaknya ia seorang gadis yang terikat kepada keluarganya, seperti kebanyakan gadis. Aku kira keluarga mereka akan berusaha menyesuaikan diri. Ki Demang pada dasarnya juga bukan seorang petualang. Ia tentu menghargai tata cara hidup sewajarnya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sadar bahwa bukan maksud Untara untuk menyindirnya, karena Untara mengucapkannya tanpa sadar. Tetapi arah pembicaraannya memang sudah diduga.

“Kiai,” Untara meneruskan seperti yang diperkirakan oleh Kiai Gringsing, “Agung Sedayu pun pada suatu saat harus merubah cara hidupnya. Ia harus menghadapi hari depannya dengan perencanaan yang matang. Bukan sekedar seperti selembar daun ditiup angin.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Meskipun ada segores sentuhan pada dinding batinnya, namun ia mengakui bahwa seharusnya memang demikian.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Untara bertanya, “He, di manakah Agung Sedayu? Kenapa ia tidak ikut bersama Kiai?”

Kiai Gringsing menggeleng, “Ia berada di Sangkal Putung, Anakmas.”

“Kenapa ia tidak ikut bersama Kiai, dan sekaligus menengok kampung halamannya?”

“Ia mengawani Swandaru di rumahnya.”

“Ah, kenapa Swandaru harus memerlukan kawan? Bukankah ia berada di rumahnya sendiri. Besok aku akan menyuruh seseorang memanggil Agung Sedayu. Aku memerlukannya untuk berbicara serba sedikit.”

“Anakmas Untara, Swandaru yang tidak biasa tinggal di rumah memerlukan seorang kawan yang sesuai. Karena itulah maka kami tinggalkan Agung Sedayu di Sangkal Putung.”

“O, jadi Swandaru yang akan kawin selapan hari lagi, Agung Sedayu pun harus dipingit pula seperti perempuan di Sangkal Putung? Itu tidak perlu, Kiai. Biarlah Swandaru mengambil kawan sepuluh orang atau lebih dari kademangannya sendiri. Tetapi Agung Sedayu tidak perlu berbuat demikian.”

“Bukankah ia saudara seperguruannya?” bertanya Kiai Gringsing.

“Tetapi sepengetahuanku, di dalam perguruannya ia adalah saudara tua. Jadi ia tidak terikat pada keharusan bagi saudara mudanya. Apalagi Agung Sedayu memerlukan sikap yang lain dari sikapnya selama ini.” Untara berhenti sejenak, lalu, “Cobalah Kiai memikirkannya. Selama ini Agung Sedayu berada di Sangkal Putung. Apakah artinya ini? Apakah ia ngenger kepada Ki Demang, atau nyantrik agar ia mendapat hadiah anak gadisnya? Tidak, Kiai. Agung Sedayu memiliki tempat tinggal. Memiliki rumah dan halaman. Meskipun tidak luas, juga memiliki sawah ladang. Apa lagi aku ingin Agung Sedayu kelak menjadi seorang senapati yang dalam tingkat martabat kepangkatannya lebih tinggi dari seorang demang.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Angger Untara. Wawasan Angger terhadap Agung Sedayu benar. Tetapi tidak semuanya tepat seperti itu. Sebenarnya Agung Sedayu juga jarang berada di Sangkal Putung. Apalagi Agung Sedayu, bahkan Swandaru sendiri jarang-jarang berada di rumahnya. Adalah salahku jika kedua anak-anak itu kemudian mempunyai kegemaran bertualang. Tetapi maksudku, aku hanya ingin mengatakan, bahwa kami tidak terikat oleh Sangkal Putung. Kami bersama-sama baru saja pulang dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.”

“Tetapi perjalanan itu pun adalah perjalanan bagi kepentingan Ki Demang di Sangkal Putung.”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling kepada Ki Waskita dan Ki Sumangkar, keduanya hanya menundukkan kepalanya saja.

Dalam pada itu Kiai Gringsing mulai menjadi ragu-ragu. Mungkin ia dapat membela sikapnya selagi menempuh perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh. Jika ia mengatakan bahwa Mataram kehilangan kedua pusakanya, dan perjalanannya itu dalam hubungannya dengan kehilangan itu, maka kesan Untara akan menjadi lain.

Tetapi Kiai Gringsing mengurungkan niatnya. Hilangnya kedua pusaka itu tidak akan dapat dipergunakannya sebagai alasan karena ia berharap bahwa hilangnya kedua pusaka dari Mataram itu akan merupakan beban yang tetap hanya boleh diketahui oleh orang-orang yang terbatas.

Namun tiba-tiba saja ia menemukan alasan yang lain. Karena itu maka katanya, “Angger Untara. Mungkin kami memang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh dan perjalanan-perjalanan yang lain karena Ki Demang minta pertolongan kepada kami. Tetapi yang juga tidak kalah pentingnya bagi kami, adalah karena kami telah kehilangan. Itulah yang mendorong kami untuk menempuh perjalanan yang barangkali akan menjadi sangat panjang.”

“Apakah yang hilang?” bertanya Untara. “Apakah Ki Demang kehilangan anaknya lagi?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukan, Anakmas. Kali ini yang memerlukan bantuan kami bukan Ki Demang Sangkal Putung.”

Untara mengerutkan keningnya.

“Tetapi Ki Waskita.”

Untara memandang Ki Waskita sejenak. Kemudian ia pun bertanya, “Apakah yang hilang?”

“Kedatangan kami kemari, sebenarnya juga ada hubungannya dengan kehilangan itu. Karena Angger Untara memiliki wewenang di daerah ini, kami ingin bertanya, apakah selama ini ada laporan tentang seorang anak muda yang bernama Rudita.”

“Rudita?”

“Ya. Anak laki-laki Ki Waskita yang meninggalkan rumahnya tanpa diketahui tujuannya. Dan kini, Ki Waskita minta bantuan kami untuk mencari anaknya, karena menurut dugaannya, anaknya itu berada di sekitar lereng selatan Gunung Merapi dan bergeser ke timur.”

“O,” Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jadi, Kiai bertiga sedang mencari anak muda yang bernama Rudia?”

“Ya, Anakmas,” jawab Ki Waskita, “ia adalah satu-satunya anakku. Anak yang dungu. Ia sama sekali tidak memiliki bekal apa pun di perjalanannya. Bekal uang, pakaian dan juga tanpa bekal perlindungan terhadap diri sendiri.”

Untara mengerutkan keningnya. Sejenak ia termangu-mangu. Agaknya ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Namun rasa-rasanya masih saja tersangkut di kerongkongan.

“Aku menjadi sangat gelisah karena anak itu, Anakmas,” berkata Ki Waskita kemudian.

Akhirnya Untara mengatakannya juga apa yang terpercik di hatinya, “Ki Waskita. Memang menggelisahkan sekali. Di daerah selatan ini nampaknya tidak ada lagi pergolakan yang dapat mengganggu keseimbangam. Agaknya yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh, berpengaruh juga sampai ke daerah ini. Menurut pendengaran kami, lenyapnya Panembahan Agung, mempunyai akibat yang sangat luas.” Untara berhenti sejenak, lalu, “Tetapi masih ada kejahatan-kejahatan yang memiliki latar belakang yang berbeda. Jika orang-orang Panembahan Agung yang tersebar sampai ke Mataram dan Pajang mengganggu ketertiban karena tujuan yang dalam, menyangkut pemerintahan, maka yang ada sekarang sekedar berlandaskan pada kebutuhan hidup dan nafsu memiliki harta benda yang berlebihan. Meskipun daerah petualangan penjahat itu sangat terbatas, tetapi mereka merupakan kelompok yang harus diperhatikan. Justru karena sasaran mereka tidak berdasar. Siapa saja yang mereka anggap memiliki kekayaan yang dapat mereka rampas, mereka datangi. Dan penjahat-penjahat yang demikian itulah yang kini merisaukan hati kami, para prajurit. Apalagi setelah kami mendengar bahwa anak satu-satunya Ki Waskita berada di daerah itu.”

Ki Waskita menegang sejenak. Namun kemudian ia berkata sareh, “Kami juga sudah mendengar berita tentang kejahatan-kejahatan kecil yang justru sangat mengganggu.”

“Kami sudah mencoba untuk mengambil jalan yang paling baik. Karena jumlah prajurit yang tidak mencukupi untuk berada di segala tempat pada saat yang sama, maka kami telah membangunkan anak-anak muda di setiap padukuhan. Kami harap bahwa mereka dapat membantu menjaga keamanan di daerah mereka sendiri.”

Ki Waskita, Ki Sumangkar, dan Kiai Gringsing mengangguk-angguk.

“Kiai,” berkata Untara kemudian, “jika sekiranya diperlukan, kami akan menyiapkan sekelompok prajurit untuk membantu mencari anak muda itu. Meskipun kami belum mengenalnya dengan baik, tetapi ciri-cirinya dapat kita beritahukan kepada mereka yang akan segera aku siapkan.”

“Terima kasih, Anakmas” jawab Waskita, “sebenarnya kami tidak ingin mengganggu Anakmas.”

“Itu termasuk salah satu tugas kami. Apalagi Kiai Grinigsing sudah terlampau banyak berbuat sesuatu yang bahkan melampaui kemampuan kesatuan kami yang ada di daerah selatan ini.”

“Ah, Anakmas memuji. Apa yang aku lakukan bukanlah hal yang pantas mendapat pujian,” sahut Kiai Gringsing, kemudian, “yang penting Anakmas. Kami datang untuk menyatakan diri bahwa kami akan berada di sekitar Jati Anom. Tetapi jika Anakmas akan memberikan bantuan, kami mengucapkan diperbanyak terima kasih.”

“Baiklah, Kiai,” berkata Untara, “kami akan segera menyiapkan sekelompok prajurit. Apakah sekelompok prajurit itu akan pergi bersama-sama dengan Kiai bertiga, atau sebaiknya daerah pencarian kami berbeda dengan tempat-tempat yang akan Kiai kunjungi?”

Kiai Gringsing memandang Ki Waskita sejenak. Tetapi sebelum Kiai Gringsing berbicara, Untara-lah yang mendahuluinya, “Sebaiknya Kiai memberikan ciri-ciri tentang anak muda itu. Kami akan berusaha mencarinya di daerah yang luas. Kami akan berpencar. Mudah-mudahan dengan demikian usaha kami akan cepat berhasil. Sedangkan Kiai bertiga, agaknya tidak memerlukan seorang pengawal pun. Karena pengawal-pengawal bagi Kiai bertiga justru akan menjadi tanggungan Kiai.”

Kiai Gringsing tersenyum. Demikian juga Ki Sumangkar dan Ki Waskita.

“Jika demikian, kami mengucapkan terima kasih sekali lagi,” berkata Ki Waskita yang kemudian memberikan beberapa macam ciri-ciri yang dapat dipergunakan untuk mengenal anak muda yang bernama Rudita.

“Rudita,” berkata Untara, “jadi namanya Rudita. Tidak ada ciri-ciri khusus yang menonjol. Tetapi sikapnya lamban dan apalagi?”

“Anak itu kurang yakin akan dirinya sendiri,” berkata Ki Waskita.

“Baiklah. Aku akan segera memerintahkan tiga atau empat kelompok kecil untuk menjelajahi lereng Gunung Merapi bagian selatan. Kami sudah mempunyai sasaran tertentu. Beberapa tempat yang paling berbahaya akan kami datangi untuk pertama kali.”

“Terima kasih, Ngger,” sahut Kiai Gringsing.

“Tetapi,” berkata Untara kemudian, “aku pun mempunyai suatu pengharapan Kiai.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.

“Agung Sedayu.”

Kiai Gringsing menganggguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku mengerti, Anakmas. Akan aku usahakan setelah aku selesai dengan tugasku kali ini. Tetapi aku mohon, biarlah anak itu untuk sementara berada di Sangkal Putung. Ada pertimbangan-pertimbangan khusus yang kelak dapat aku sampaikan kepada Angger Untara.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kiai memang aneh. Aku mengenal beberapa orang guru dalam olah kanuragan, kajiwan, dan kesusastraan. Tetapi tidak seperti Kiai.”

Kiai Gringsing menjadi heran mendengar kata-kata Untara itu. Untuk beberapa saat ia berdiam diri sambil memandang kedua kawannya berganti-ganti. Tetapi kedua kawannya pun agaknya tidak segera mengerti maksud Untara.

“Aku tidak mengerti, kenapa Kiai terikat sekali dengan Sangkal Putung. Kenapa Kiai tidak kembali ke Dukuh Pakuwon atau ke Jati Anom atau bahkan membuat suatu padepokan tersendiri. Aku mengenal beberapa orang guru dengan padepokannya masing-masing. Bahkan kadang-kadang seseorang dikenal justru karena nama padepokannya. Murid-muridnyalah yang datang kepadanya dan tinggal bersamanya. Tetapi Kiai tidak. Justru Kiai-lah yang tinggal bersama murid Kiai.”

“Sudahlah, Anakmas,” berkata Kiai Gringsing, “terima kasih atas perhatian Anakmas. Aku tahu, Anakmas bermaksud baik.”

“Aku memang bermaksud baik, Kiai. Jika Kiai memerlukan, aku dapat menyediakan sebuah padukuhah kecil. Atau barangkali sebuah pategalan yang sudah ditumbuhi oleh pohon buah-buahan tetapi belum ada penghuninya. Kiai dapat membuat sebuah padepokan dan murid-murid Kiai berada di padepokan itu. Padepokan yang asri dihiasi dengan pohon-pohon bunga, kolam ikan yarg bening, sehingga nampak batu-batu kerikil di dasarnya, dikelilingi oleh halaman yang luas, yang ditebari dengan ternak yang beraneka. Ayam, itik, angsa, dan sebagainya. Di belakang, sebuah kandang yang besar dihuni oleh beberapa ekor lembu, sedang di sebelah yang lain sebuah kandang kuda dengan beberapa ekor kuda di dalamnya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang aku bermimpikan padepokan yang demikian, Angger. Tetapi agaknya saatnya memang belum tiba.”

“Jika Kiai memang menghendaki,” sahut Untara.

“Mungkin pada saat yang lain.”

“Tetapi akibat dari keadaan Kiai sekarang ini, adikku ikut tersangkut di Sangkal Putung.”

“Mungkin keadaan akan segera berubah, Anakmas.”

“Baiklah, Kiai,” berkata Untara, “aku tidak akan mengganggu Kiai selama Kiai masih mencari anak muda yang bernama Rudita itu. Seperti aku janjikan, aku akan segera mempersiapkan orang-orangku.”

“Terima kasih, Anakmas,” jawab Kiai Gringsing yang kemudian berkata, “Aku akan segera mohon diri. Selebihnya bantuan Anakmas memang akan sangat bermanfaat bagi kami.”

“Apakah Kiai akan segera meninggalkan Jati Anom?”

“Ya, Anakmas. Agaknya dalam keadaan ini, waktu akan sangat berarti bagi kami.”

“Baiklah, Kiai. Namun jika sekiranya Kiai memerlukan bantuan apa pun yang dapat aku berikan, aku harap Kiai memberitahukan kepadaku. Aku akan segera mengusahakannya.”

“Terima kasih, Anakmas. Aku tentu akan segera datang jika aku memang memerlukan. Tetapi bantuan yang akan Angger berikan dengan mengirimkan beberapa kelompok prajurit adalah bantuan yang besar sekali.”

Demikianlah maka Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar pun segera meninggalkan Jati Anom. Mereka menelusur jalan ke selatan. Menurut isyarat yang disentuh oleh getaran yang telah dikenal oleh Ki Waskita, ia menduga bahwa anaknya masih berada di lereng selatan Gunung Merapi. Justru di daerah yang dicemaskannya.

Dalam pada itu, Untara pun telah menyiapkan tiga kelompok pasukan berkuda yang masing-masing terdiri dari enam orang. Mereka bertugas untuk mencari Rudita di tempat-tempat yang berbahaya bagi anak muda itu. Selebihnya mereka, harus mengamati setiap anak-anak muda yang mereka jumpai di sepanjang jalan. Anak muda yang agaknya sudah menempuh perjalanan yang panjang dan tidak menuju ke arah yang pasti.

Sejenak kemudian, maka ketiga kelompok prajurit yang bersenjata lengkap itu pun segera berderap menanggalkan Jati Anom dengan arah yang berbeda-beda. Mereka mendapat pesan untuk langsung menyusup ke tempat yang sangat berbahaya bagi orang asing yang lewat di daerah itu.

Yang sekelompok langsung menuju ke barat. Yang sekelompok berbelok ke selatan setelah beberapa lama menyusur jalan ke barat, sedang yang lain menuju ke selatan.

Di bulak panjang kelompok yang menuju ke selatan itu mendahului Kiai Gringsing dan kawan-kawannya. Tetapi di jalan yang sempit, Kiai Gringsing dan kedua kawannya segera berbelok ke barat. Mereka dapat mengambil jalan-jalan sempit karena mereka hanya sekedar berjalan kaki. Bahkan mereka sempat melalui tebing-tebing sungai yang terjal dan melintasi daerah yang berawa-rawa.

Sekelompok yang menuju lurus ke barat, mendapat perintah untuk langsung menuju ke sarang penjahat yang dikenal dengan kelicikannya, dan dipimpin oleh Kiai Raga Tunggal. Seorang penjahat yang disegani oleh kawan dan lawan.

Kedatangan keenam prajurit itu mengejutkan Kiai Raga Tunggal. Karena itu, maka dengan tergopoh-gopoh ia mempersilah kan prajurit-prajurit itu masuk ke pendapa.

“Terima kasih,” jawab pemimpin prajurit itu yang sudah turun dari kudanya, “aku hanya sebentar.”

“Apakah maksud Ki Lurah datang ke pondokku? Apakah ada sesuatu yang mengganggu tugas prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom dan sekitarnya? Aku sudah berjanji, bahwa aku tidak akan mengganggu Ki Untara dan anak buahnya. Dan aku serta anak buahku memang tidak pernah mengganggu.”

“Kami tidak pernah percaya akan janjimu. Tetapi kali ini kami memang mempunyai keperluan lain,” jawab pimpinan prajurit itu.

Pemimpin sekelompok penjahat yang licik itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah keperluanmu sekarang?”

Pemimpin prajurit itu memandang berkeliling. Ia melihat keadaan yang tenang di sekitar rumah itu.

“Kau mencari seseorang?” bertanya Kiai Raga Tunggal.

“Ya.”

“Apakah ada seorang prajurit yang melarikan diri dan kau sangka bersembunyi di sini?”

“Tidak. Tidak ada seorang prajurit pun yang pernah melarikan diri dari Jati Anom.”

“Jadi siapakah yang kau cari?”

“Aku mencari seorang anak muda yang bernama Rudita. Ia berjalan dari seberang Kali Praga menuju ke Sangkal Putung.”

Tiba-tiba saja Kiai Raga Tunggal tertawa. Katanya, “Jika ia pergi ke Sangkal Putung, kenapa kau mencarinya kemari?”

“Anak itu belum pernah melihat arah yang ditujunya. Ia berjalan tanpa petunjuk apa pun juga. Mungkin ia tersesat. Terakhir orang melihatnya di lereng sebelah selatan Gunung Merapi. Mungkin ia berjalan melingkari lereng dan sampai ke tempatmu, atau orang-orangmu yang berkeliaran menemukan seseorang yang telah kau jadikan korbanmu.”

“Ah. Jangan menuduh begitu. Jika kami menemukan seseorang yang pantas kami tolong, kami akan menolongnya.”

“Jangan mengigau. Aku tahu bahwa kau sama sekali tidak mengenal perikemanusiaan. Tetapi jika kau atau anak buahmu melihatnya, katakanlah. Hidup atau mati.”

Kiai Raga Tunggal menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku belum pernah mendengar anak buahku menyebut nama itu. Dan akhir-akhir ini anak buahku tidak banyak melakukan kegiatan di lereng gunung ini. Rasa-rasanya sumber di daerah ini telah menjadi kering. Karena seperti kau ketahui, bukan saja orang-orangku yang berkeliaran, tetapi juga orang-orang Ki Serat Wulung, Ki Jambe Abang, dan belum terhitung pencuri-pencuri ayam yang lain.”

Pemimpin prajurit itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kalian harus membantu mencari dan menemukannya. Jika dalam waktu sepuluh hari ini anak yang bernama Rudita itu tidak dapat kami ketemukan, maka kami akan datang dengan pasukan untuk membakar padukuhanmu ini.”

“Ah, jangan begitu. Kami sudah membatasi sekali gerakan kami. Kami akan membantu mencarinya.” Kiai Raga Tunggal berhenti sejenak, lalu, “Tetapi daerah kami rasa-rasanya memang menjadi sempit. Setelah Senapati Untara mengirimkan beberapa orang prajurit untuk melatih anak-anak muda di setiap padukuhan, kami seolah-olah telah kehilangan sawah ladang kami, sehingga seperti semut disiram air, anak buahku harus mencari makan ke tempat yang agak jauh atau di sepanjang jalan.”

“Nah, perintahkan mereka yang ada di sepanjang jalan itu untuk mencari anak yang bernama Rudita. Seorang anak muda yang sama sekali tidak memiliki kemampuan jasmaniah apa pun juga. Anak yang seperti sebuah bumbung yang kosong itu sedang dalam perjalanan yang diperkirakan menuju ke Sangkal Putung.”

Kiai Raga Tunggal mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi jika anak buah kami tidak menemukannya, kalian jangan menyalahkan kami.”

“Usahakanlah.”

Kiai Raga Tunggal memandang pemimpin prajurit itu dengan wajah yang tegang. Namun kemudian katanya, “Kenapa kalian tidak minta bantuan orang-orang lain?”

“Semua akan kami datangi.”

“Kau akan pergi ke Tambak Wedi juga?”

“Siapa yang ada di sana sekarang?”

“Huh. Kau tentu tidak tahu. Di Tambak Wedi sekarang tinggal seorang yang pasti akan menjadi lawan yang tangguh bagi prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom.”

“Sebut namanya.”

“Kiai Kelasa Sawit.”

“O. Jadi orang itu.”

“Apakah kau sudah mengenalnya?”

“ Prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom sudah mengenalnya.”

“Ia sangat berbahaya.”

“Tidak. Tidak lebih dari kau. Kau jangan mengharap kami bertindak atasnya justru karena kau sedang bersaing saat ini untuk memperebutkan sawah dan ladangmu di sepanjang jalan.”

Kiai Raga Tunggal mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa, “Kalian memang cerdik. Tetapi jangan di sangka bahwa kami menjadi ketakutan karena hadirnya Kiai Kelasa Sawit, yang barangkali akan menggantikan kedudukan Ki Tambak Wedi yang sudah terbunuh itu.”

“Jauh dari kemungkinan itu. Perbandingan antara Kelasa Sawit dan Ki Tambak Wedi adalah satu berbanding sepuluh. Bahkan Kiai Kelasa Sawit belum dapat mengimbangi murid-murid Ki Tambak Wedi.”

Kiai Raga Tunggal masih tertawa. Lalu katanya, “Baiklah. Aku akan berusaha membantu kalian. Tetapi aku hanya sekedar membantu sehingga usahaku bukanlah menentukan.”

“Tetapi ingat. Jika dalam sepuluh hari anak muda itu belum kami ketemukan maka Senapati Untara akan mengadakan gerakan seperti tiga bulan yang lalu. Kalian akan disapu sampai habis dari daerah ini.”

“Ah, jangan begitu. Senopati Untara pun tahu bahwa kami tidak akan dapat dibersihkan dengan cara itu.”

“Tetapi juga tidak dengan sekedar perasaan iba dan sikap yang lunak serta kebaikan hati.”

Kiai Raga Tunggal mengangguk-angguk. Meskipun wajahnya nampak tidak memberikan kesan apa pun juga, tetapi ia mengumpat-umpat di dalam hati. Apalagi prajurit-prajurit itu agaknya tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap orang yang menyebut dirinya Kelasa Sawit itu.

“Persetan,” ia bergumam di dalam hatinya. Dan yang terloncat dari bibirnya, “Aku sudah berjanji akan bekerja keras membantu menemukan anak itu. Tetapi jangan bersikap begitu keras terhadap kami. Kami merasa kedudukan kami yang lemah.”

“Omong kosong,” jawab prajurit itu, “kau tentu merasa kuat dengan keadaanmu. Ternyata kau tidak mau menghentikan kerjamu itu.”

“Kami sedang berusaha. Dengan perlahan-lahan dan lambat laun kami telah mengarahkan jalan hidup kami ke jalan yang wajar. Tetapi itu memerlukan waktu.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Baiklah, baiklah. Aku akan bekerja keras. Tetapi aku harap yang lain pun demikian pula.”

“Semuanya. Tidak hanya kau, Serat Wulung, dan Jambe Abang saja yang akan dikerahkan. Tetapi juga para prajurit dan anak-anak muda di sepanjamg lereng Gunung Merapi, terutama bagian selatan dan timur.”

“Kami akan melakukannya.” Namun kemudian, “tetapi prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom, kami minta memperhatikan kehadiran Kiai Kelasa Sawit.”

“Kami sudah memperhatikannya.”

“Belum seluruhnya. Ada sesuatu yang kalian belum tahu tentang Kelasa Sawit.”

“Apa?”

“Kesibukan di padepokan itu meningkat. Anak buahku melihat, ada orang-orang baru di tempat itu. Bahkan melampaui kesiagan yang biasa dilakukan oleh kelompok yang mana pun juga.”

“Jangan, memperbodoh kami.”

“Cobalah melihat. Kalian tidak usah berbuat apa-apa. Datangilah seperti kalian datang kemari.”

“Itu tidak perlu. Daerah Tambak Wedi terlampau tinggi bagi perjalanan Rudita.”

“Bagaimana jika anak muda itu diketemukan oleh anak buah Kelasa Sawit di perjalanan.”

Para prajurit itu termangu-mangu. Namun pemimpinnya tersenyum sambil berkata, “Kau berhasil meyakinkan aku untuk datang ke padepokan itu. Baiklah. Kami akan pergi kepada Kiai Kelasa Sawit.”

Kiai Raga Tunggal termangu-mangu. Namun kemudian ia pun tersenyum. “Bukan maksudku untuk mengatasi persaingan ini dengan berlindung di belakang punggung prajurit-prajurit Pajang. Tetapi sebenanyalah aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang lain di padepokan itu.”

“Sudah barang tentu kau mempunyai pamrih dengan keteranganmu itu.”

Kiai Raga Tunggal tertawa. Katanya, “Tentu. Aku tidak dapat ingkar, karena kau pun tentu mengetahui bahwa aku ingin mendapat sedikit pujian. Jika kalian menemukan anak itu di sana, atau persoalan-persoalan lain yang penting, maka kalian tidak akan melupakan kami. Dengan demikian, maka sikap kalian terhadap kami akan menjadi sedikit lunak.”

“Jangan mengharap bahwa sikap kami akan menjadi lunak. Tetapi kau memang sangat licik. Pada suatu saat yang tepat, kalian tentu akan dimusnahkan dengan cara yang sesuai dengan cara yang kalian tempuh selama ini. Kekerasan.”

“Dan selama itu, kami sudah menjadi orang-orang baik.”

“Gila,” desis pemimpin kelompok itu. Lalu katanya, “Kau berhasil membujuk kami kali ini. Kami akan pergi kepada Kiai Kelasa Sawit di Padepokan Tambak Wedi.”

Prajurit-prajurit itu tidak menunggu lebih lama lagi. Sejenak kemudian kuda-kuda mereka pun berderap, mendaki lereng Gunung Merapi lebih tinggi lagi. Beberapa kali mereka melintasi tikungan menuju ke Padepokan Tambak Wedi. Padepokan yang pernah menjadi pusat perguruan yang menggetarkan Pajang. Tempat yang telah dipilih oleh Sidanti untuk menempa diri.

Dan kini, padepokan itu sudah dihuni lagi oleh beberapa orang yang belum dikenal dengan baik. Meskipun kepada Kiai Raga Tunggal, pemimpin kelompok perajurit itu mengatakan bahwa mereka sudah mengenal dengan baik, penghuni baru di padepokan yang menjadi kosong untuk beberapa lama itu, namun sebenarnya Kiai Kelasa Sawit masih merupakan sebuah teka-teki bagi prajurit Pajang di Jati Anom.

“Kita menempuh jalan yang berbahaya,” berkata pemimpin kelompok itu, “tetapi kita datang dengan resmi atas perintah Ki Untara meskipun tidak terperinci harus mendatangi padepokan itu.”

Prajurit-prajurit di dalam kelompok itu tidak menjawab. Mereka merasa berkewajiban untuk melakukannya. Meskipun demikian, terasa dada mereka pun menjadi berdebar-debar.

Beberapa lamanya mereka berkuda menempuh jalan yang semakin lama menjadi semakin buruk. Mereka sudah mulai melintasi hutan-hutan rindang, yang semakin lama menjadi semakin padat. Namun mereka masih tetap dapat menyelusuri jalan betapapun sempitnya.

Ketika mereka sampai di ujung lorong yang menerobos hutan rindang, maka nampaklah daerah yang terbentang di hadapan mereka. Daerah yang semula adalah tanah garapan orang-orang di Padepokan Tambak Wedi yang telah lama mati. Daerah yang sudah agak lama menjadi sepi. Namun di sebelah padepokan itu masih juga nampak beberapa padukuhan yang masih tetap terpelihara. Seolah-olah padukuhan yang dengan sengaja mengasingkan diri.

Dada para prajurit itu menjadi berdebar-debar. Seolah-olah mereka sedang menuju ke tempat yang asing. Ke tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya.

Kuda-kuda mereka masih berlari terus. Jalan-jalan yang kotor nampaknya memang jarang sekali dilalui orang.

Sejenak kemudian, pemimpin kelompok prajurit yang berkuda di paling depan itu pun memperlambat derap kaki kudanya. Dengan tatapan mata yang tajam ia memandang lereng bukit yang semakin lama menjadi semakin terjal, sehingga akhirnya di kejauhan menjadi miring bagaikan dinding raksasa.

“Kau lihat batu-batu padas itu?” bertanya pemimpin kelompok prajurit.

“Yang berserakan di sebelah-menyebelah jalan?” salah seorang prajurit di belakang ganti bertanya.

“Ya. Di belakang batu-batu padas itu terletak Padepokan Tambak Wedi.”

“Tidak ada tanda-tanda bahwa padepokan itu sudah berpenghuni.

“Memang sudah berpenghuni. Ki Untara sudah mendapat laporan tentang hal itu. Tetapi kita belum sempat mengetahui lebih jauh tentang padepokan itu.”

“Sekarang kita akan melihat, apa yang ada di balik batu-batu karang itu.”

Sekelompok prajurit itu pun merayap terus, semakin lama semakin dekat dengan gundukan batu-batu karang yang merupakan pintu gerbang memasuki Padepokan Tambak Wedi.

“Ada sesuatu yang sangat menarik pada Padepokan Tambak Wedi,” berkata pemimpin kelompok itu.

“Apa?” bertanya salah seorang prajuritnya.

“Pusat dari padepokan itu dikelilingi oleh dinding batu yang tinggi, sehingga jika pintu gerbang ditutup, maka orang tidak akan dapat memasukinya jika tidak meloncati dinding batu itu.”

Prajurit-prajuritnya mengangguk-angguk.

“Di tengah-tengah daerah yang dikelilingi dinding batu itu terdapat sebuah sungai yang arusnya menyusup lewat di bawah dinding.”

Yang lain masih mengangguk-angguk.

“Kita akan melihat, bagaimanakah rupa dari padepokan itu sekarang.”

Demikianlah mereka pun kemudian menjadi semakin dekat dengan batu-batu yang berserakan itu, sehingga derap kuda mereka pun menjadi semakin diperlambat.

Dalam pada itu, tiba-tiba pemimpin prajurit itu berdesis, “Kau lihat seseorang?”

“Tidak.”

“O, tidak hanya satu dua orang. Di balik batu-batu padas itu ada beberapa orang yang berjaga-jaga dengan senjata telanjang. Mereka bersembunyi dan menunggu kita semakin dekat.”

“Apakah kita berjalan terus?”

“Ya. Kita berjalan terus. Tegakkan tombak itu dan pasanglah panji-panji kesatuan. Kita datang atas nama Senopati Pajang di daerah selatan, Ki Untara.”

Prajurit yang berada tepat di belakang pimpinan kelompok itu pun kemudian memasang sebuah panji-panji kecil berwarna putih bergaris hitam di tepinya. Panji-panji kesatuan yang memberi pertanda bahwa mereka datang dalam kedudukan mereka sebagai prajurit.

Meskipun demikian, mereka masih juga menahan nafas ketika mereka mulai melintasi sela-sela batu-batu karang. Ternyata seperti yang dikatakan oleh pemimpin kelompok, para prajurit itu melihat beberapa orang berlari di atas batu-batu karang dengan anak panah di tangan.

“Jangan diganggu,” berkata pemimpin mereka, “prajurit-prajurit itu datang dengan panji-panji kesatuan mereka. Kita masih belum merasa siap menghadapi Untara di daerah selatan ini.”

“Jadi?”

“Aku akan menemuinya.”

Pemimpin penjaga padepokan itu pun kemudian meloncat turun beberapa langkah di hadapan kuda-kuda yang berlari semakin lambat, sehingga akhirnya berhenti sama sekali.

“Siapakah kalian?” bertanya pemimpin penjaga itu

“Kami adalah prajurit-prajurit Pajang yang bertugas di Jati Anom. Kami datang atas perintah senapati.”

 

 

“Ya, kami mengenal panji-panji kecil itu. Tetapi apakah tugas yang harus kau lakukan?”

“Kami akan menemui pimpinan padepokan ini. Kiai Kelasa Sawit.”

“Apakah keperluanmu?”

“Kami akan menemuinya. Itulah keperluanku.”

“Kami dapat mencegah jika kau tidak mengatakannya.”

“Jangan mencoba menghalangi tugas seorang prajurit. Jika kau tidak mau membawa aku kepada Kiai Kelasa Sawit, kalian di sini akan segera menemui kesulitan seperti Tambak Wedi pada masa jaya-jayanya dahulu. Tetapi sebagaimana kau ketahui, Tambak Wedi hancur menjadi debu.”

Pemimpin penjaga itu menjadi tegang. Katanya, “Kalian jangan mencoba menakut-nakuti kami. Tambak Wedi pada masa lalu dikuasai oleh tikus-tikus parit yang mencoba mengatur barisannya di tempat yang tidak mereka ketahui keadaannya. Tetapi sekarang, Tambak Wedi adalah kandang serigala. Jika kau memaksa masuk, kau tidak akan dapat keluar lagi.”

“Aku tidak peduli. Aku tidak akan berbicara tentang tikus dan serigala, karena kalian tahu serba sedikit tentang Ki Untara. Aku pun tidak peduli apakah aku akan dapat keluar lagi atau tidak. Jika padepokan ini disapu untuk kedua kalinya, maka kalian akan kehilangan dada untuk menyebutnya sebagai sarang serigala.”

Pemimpin penjaga itu menjadi ragu-ragu. Ia sudah berada di berbagai tempat dalam lapangan kehidupan yang dipilihnya. Namun ternyata sikap prajurit Pajang yang berada di Jati Anom itu menggetarkan dadanya.

“Ternyata ia benar-benar seorang prajurit,” berkata pemimpin penjaga itu di dalam hatinya. “Jarang sekali aku menjumpai orang-orang seperti ini.”

Dalam kebimbangan itu, tiba-tiba saja terdengar dari atas sebuah batu padas yang lebih tinggi suara seseorang berteriak, “Berilah jalan. Biarlah mereka masuk.”

Ketika orang-orang yang sedang termangu-mangu itu berpaling, mereka melihat seorang yang bertubuh tinggi besar dan kuat berdiri sambil bertolak pinggang.

“Kiai Kelasa Sawit,” desis pemimpin prajurit itu.

“Kau sudah mengenalnya?” bertanya pemimpin penjaga.

“Kami sudah pernah berhubungan dengan Kiai Kelasa Sawit beberapa saat yang lalu.”

Pemimpin penjaga itu mengerutkan keningnya. Agaknya ia kurang mempercayainya. Tetapi ia tidak menjawab.

Pemimpin prajurit itu pun tidak menghiraukannya lagi. Ia pun kemudian menyentuh kudanya dan perlahan-lahan berjalan mendaki lereng Gunung Merapi itu semakin tinggi, melintasi penjagaan orang-orang yang kemudian tinggal di Padepokan Tambak Wedi.

Ketika mereka sampai di depan sebuah pintu gerbang yang sudah nampak agak rusak karena tidak terpelihara, seorang prajurit bertanya kepada pemimpinnya, “Apakah orang itu benar-benar Kiai Kelasa Sawit?”

“Ya.”

“Ki Lurah pernah mengenalnya?”

Pemimpinnya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggeleng, “Mengenal secara pribadi belum. Tetapi aku sudah mendengar namanya, ciri-cirinya dan sifat-sifatnya serba sedikit.”

“Apakah ciri-cirinya?”

“Kau lihat orang yang berdiri di atas batu padas itu tadi?”

“Ya.”

“Bertubuh tinggi, besar, kekar, dan kuat. Itu adalah Kiai Kelasa Sawit. Selebihnya, ia memakai pakaian yang aneh pula. Kau lihat?”

“Ya. Selembar kulit harimau yang disangkutkan di bahunya.”

“Ya. Itu adalah ciri-cirinya. Dan Ki Untara pernah mengatakannya kepadaku.”

Prajurit itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak sempat bertanya lebih lanjut, karena mereka melihat gerbang yang sudah agak rusak itu bergerak dan menganga semakin lebar dengan melontarkan bunyi gerit ancer besi di sebelah-menyebelah.

“Masuklah,” berkata seorang penjaga pintu gerbang itu, “gerbang ini terbuka siang dan malam. Tetapi karena hari ini kami mendapat kehormatan dari prajurit-prajurit Pajang, maka gerbang ini akan dibuka semakin lebar.”

Pemimpin prajurit itu sama sekali tidak mengacuhkannya. Kelompok itu memasuki pintu gerbang Padepokan Tambak Wedi dengan dada yang berdebar-debar.

Seorang anak buah Kiai Kelasa Sawit pun kemudian menunjukkan arah, ke mana prajurit-prajurit Pajang itu harus pergi.

Sejenak kemudian, sekelompok prajurit itu memasuki sebuah halaman yang luas di muka sebuah rumah yang cukup besar pula meskipun tidak terpelihara sama sekali. Di pendapa berdiri seseorang yang sudah dikenal oleh pemimpin prajurit itu. Kiai Kelasa Sawit.

“Silahkan, Tuan,” berkata Kiai Kelasa Sawit dengan suaranya yang berat mantap.

Tetapi pemimpin prajurit itu menggeleng, “Aku tidak akan lama. Aku hanya ingin bertemu sejenak.”

“Meskipun demikian, silahkan naik ke pendapa.”

“Terima kasih. Aku di sini saja.”

“Kami tahu, prajurit-prajurit dari Pajang telah dibekali dengan prasangka dan kecurigaan terhadapku. Sebaiknya kita berbicara dengan tenang dan baik. Dengan demikian kesalah-pahaman di antara kita akan hilang.”

“Waktuku hanya sedikit. Yang dapat menghilangkan salah paham kemudian bukannya sebuah pembicaraan resmi. Tetapi lebih dari itu adalah tingkah lakumu berserta anak buahmu. Jika selama kau berada di sini, kau bersikap baik, maka tidak akan ada salah paham.”

Kiai Kelasa Sawit mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia tertawa. Katanya, “Tuan benar. Baiklah. Jika Tuan tidak mau naik ke pendapa.”

Orang bertubuh tinggi, tegap, dan kuat itu pun kemudian turun ke halaman. Demikian ia melangkahkan kakinya di tangga terakhir, pemimpin prajurit Pajang itu pun meloncat turun dari kudanya pula.

Seperti yang dilihat oleh para prajurit Pajang, sebenarnyalah orang yang bernama Kiai Kelasa Sawit itu menyangkutkan selembar kulit harimau di bahunya.

“Apakah keperluan tuan-tuan datang ke padepokan ini.”

“Aku mencari sesuatu.”

Wajah Kiai Kelasa Sawit menjadi merah. Namun kemudian ia pun mencoba tersenyum sambil bertanya, “Apakah yang Tuan cari di sini?”

Pemimpin prajurit itu termenung sejenak, seolah-olah ingin melihat tanggapan yang membayang di wajah Kiai Kelasa Sawit. Tetapi Kiai Kelasa Sawit sudah berhasil menguasai perasaannya.

“Apakah prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom kehilangan sesuatu?”

Pimpinan kelompok prajurit Pajang di Jati Anom itu tidak segera menjawab. Namun sekali lagi ia memandang berkeliling, mengamat-amati halaman yang kotor dan tidak terpelihara itu.

“Apa yang hendak kalian cari di sini?” desak Kiai Kelasa Sawit.

Pemimpin prajurit itu mengangguk-angguk sejenak, lalu, “Kami mencari seseorang.”

“Seseorang? Siapa? Seorang senapati atau seorang buruan yang kalian sangka bersembunyi di sini?”

“Kami mencari seorang anak muda yang hilang dari rumahnya.”

“O,” Kiai Kelasa Sawit menarik nafas dalam-dalam, lalu, “jika itu yang kau cari, aku tidak menahan nafas dengan tegang, siapakah anak muda itu? Kau tentu menyangka bahwa kami sudah menculiknya.”

“Tidak. Kami tidak menyangka demikian.”

“Jadi, kenapa kalian datang kemari?”

“Kami ingin bertanya, apakah kalian menemukan seorang anak muda yang bernama Rudita di dalam petualangan kalian?”

“Rudita?” Kiai Kelasa Sawit mengerutkan keningnya, lalu, “Kami belum pernah mendengar nama itu.”

“Anak itu pergi dari rumahnya. Ia seorang anak muda yang dungu. Tetapi ia satu-satunya anak sahabat Ki Untara. Karena itu, kami sedang membantu mencarinya. Apakah kau pernah melihat, mendengar, atau berjumpa dengan anak muda yang demikian?”

Kiai Kelasa Sawit menggeleng, “Tidak. Kami tidak pernah bertemu.”

“Jika demikian, maka aku akan menyampaikan perintah Ki Untara kepada semua kelompok yang ada di daerah kekuasaannya. Kalian harus membantu mencari anak itu.”

“Di mana kami akan mencari?”

“Aku tahu, bahwa anak buahmu sering mengembara di daerah selatan ini. Karena itu, kau harus memerintahkan anak buahmu untuk mencari Rudita. Dalam sepuluh hari anak itu harus diketemukan.”

“Kau aneh sekali. Bagaimana jika anak itu tidak berada di daerah ini. Mungkin ia pergi ke Pantai Selatan atau justru ke kaki Gunung Merbabu.”

“Dalam sepuluh hari anak itu harus ketemu. Itu adalah perintah Ki Untara.”

Kiai Kelasa Sawit tertawa. Katanya, “Prajurit Pajang memang sering melakukan perbuatan yang aneh-aneh. Dalam sepuluh hari anak yang tidak diketahui tempatnya itu harus ketemu. Baiklah, kami akan mencoba membantu mencarinya.”

Jawaban itu agaknya tidak menyenangkan bagi anak buah Kiai Kelasa Sawit. Tetapi mereka tidak berani memotong kata-kata pimpinannya, sehingga karena itu, mereka hanya menghentak-hentakkan tangannya pada hulu senjatanya.

Tetapi sikap itu dapat ditangkap oleh prajurit-prajurit Pajang yang berada di halaman itu. Namun demikian, mereka sama sekali tidak menghiraukannya.

“Kami akan menunggu,” berkata pimpinan prajurit itu, “Bukan saja kelompok yang ada di padepokan ini yang harus mencari anak muda itu, tetapi semua kelompok yang ada di lereng Gunung Merapi. Besar dan kecil.”

“Sebenarnya kami termasuk orang baru di sini,” berkata Kiai Kelasa Sawit, “tetapi kami tidak mau disebut menolak kerja sama dengan prajurit-prajurit Pajang.”

“Tidak. Ini bukan kerja sama. Kami menyampaikan perintah Senapati Untara.”

Kiai Kelasa Sawit mengerutkan dahinya. Namun ia pun berkata, “Baiklah, apa pun istilahnya.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi dari manakah prajurit-prajurit Pajang mengetahui bahwa aku sekarang berada di sini? Dan apakah prajurit-prajurit Pajang sudah mengenal aku?”

“Prajurit-prajurit Pajang mengenal semua orang yang pantas mendapat pengawasan. Jika tidak mengenal secara pribadi maka kami sudah mengetahui ciri-ciri dari setiap orang. Ciri-ciri yang nampak pada ujudnya dan ciri-ciri perbuatannya.”

Kiai Kelasa Sawit menarik nafas dalam-dalam. Ia sebenarnya sedang berbicara dengan prajurit yang sesungguhnya.

“Nah, kau harus menyampaikan laporan dalam sepuluh hari ini. Jika anak muda itu belum dapat diketemukan, maka Senapati Untara akan mengambil sikap.”

“Baiklah. Kami mengerti.”

“Lakukan tugas ini sebaik-baiknya. Kami akan segera kembali ke Jati Anom.”

“Terima kasih atas kepercayaan ini,” berkata Kiai Kelasa Sawit sambil tertawa.

Pemimpin prajurit itu tidak menjawab lagi. Ia pun segera meloncat ke punggung kudanya.

Namun ia tertegun ketika ia mendengar Kiai Kelasa Sawit berkata, “Sebenarnya kami ingin mempersilahkan Tuan naik sejenak ke pendapa. Kami mempunyai hidangan yang barangkali pantas untuk tuan-tuan.”

Prajurit-prajurit itu tidak menghiraukannya. Mereka pun segera menarik kendali kudanya yang segera mulai bergerak.

Tetapi dalam pada itu, pimpinan prajurit itu sempat melihat lukisan di dada Kiai Kelasa Sawit yang bidang itu. Lukisan seekor kelelawar yang dipahatkan dengan duri dan diwarnai dengan lemak dan langes, sehingga lukisan yang berwarna hitam itu tidak hilang ketika luka-lukanya sembuh.

Namun lukisan itu pun tidak menarik perhatian. Banyak orang yang membuat gambar beraneka warna pada tubuhnya.

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: