Buku 089 (Seri I Jilid 89)

 

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, ya Ki Sanak. Aku menyadari kekeliruan itu. Aku akan sangat memperhatikannya dan akan aku sampaikan kelak kepada prajurit Pajang yang masih sering datang untuk memberi bimbingan olah kanuragan.”

“Mudah-mudahan tidak menimbulkan salah paham,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

“Aku akan berusaha,” jawab Ki Demang bersungguh-sungguh.

Demikianlah, maka setelah Ki Demang menghidangkan sekedar minuman dan makanan, Ki Waskita dan kawan-kawannya pun segera mohon diri. Tetapi ternyata Ki Demang masih menahannya sambil berkata, “Tunggulah Ki Sanak. Mungkin aku menjadi deksura. Tetapi maksudku adalah baik. Jika sekiranya Ki Sanak tidak berkeberatan, apakah aku boleh memberikan sepasang pakaian bagi Angger Rudita. Agaknya pakaiannya sudah terlampau tidak pantas karena perlakuan yang kasar dari orang-orang Cangkring, sehingga pakaiannya menjadi seakan-akan tersayat-sayat.”

Ki Waskita tersenyum. Dipandanginya Rudita yang tersipu-sipu.

“Terserahlah kepadanya, Ki Demang,” jawab Ki Waskita.

“Bagaimana pendapat Angger?” bertanya Ki Demang.

Rudita pun tersenyum pula. Katanya, “Baiklah, Ki Demang. Tidak selayaknya menolak pemberian yang ikhlas. Aku tahu, bahwa Ki Demang benar-benar ingin memberikan sepengadeg pakaian bagiku. Tetapi ketahuilah, bahwa bukan salah anak-anak Cangkring sajalah yang membuat pakaianku jadi begini. Pakaianku memang sudah terlampau kumal, sehingga setiap sentuhan yang betapa pun perlahan-lahannya, namun sudah akan dapat menyayatnya lebar-lebar.”

“Kau memang seorang anak muda yang rendah hati,” berkata Ki Demang, “marilah. Masuklah ke dalam.”

Rudita pun kemudian mengikuti Ki Demang masuk ke dalam. Ketika ia keluar, ia sudah mengenakan pakaian yang masih baru sama sekali.

“Terima kasih, Ki Demang,” berkata Rudita.

“Dengan demikian siapa pun tidak akan salah lagi, bahwa Angger Rudita memang bukan seorang anak muda dari lingkungan yang suram.”

“Ah,” desis Rudita, “tentu tidak, Ki Demang. Apakah dengan demikian nilai seseorang dapat ditentukan dengan pakaiannya?”

“Tentu bukan begitu maksudnya, Rudita,” sahut Kiai Gringsing, “maksud Ki Demang, bahwa seseorang akan dapat salah duga karena bentuk lahiriahnya, karena tidak semua orang dapat menangkap gelombang kajiwan yang memang susah untuk dijajagi itu.”

Rudita tersenyum sekali lagi. Katanya, “Maaf, Ki Demang, maksudku bahwa sebaiknya anak-anak muda Cangkring lebih berhati-hati menilik sifat seseorang yang hanya dilihat sepintas dari bentuk lahiriahnya saja.”

“Kau benar, Angger. Aku akan memperhatikannya. Mudah-mudahan semuanya akan dapat menjadi pelajaran yang sangat berguna bagi Cangkring.”

Demikianlah maka Ki Waskita, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Rudita pun segera mohon diri untuk pergi ke Jati Anom.

“Kami harus melaporkan diri kepada Ki Untara,” berkata Ki Waskita, “karena pada saat kami datang, kami telah mengajukan permohonan dan bantuan kepadanya.”

“Baiklah, Ki Sanak. Aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan.”

Dengan kesan tersendiri, maka keempat orang itu pun kemudian meninggalkan Kademangan Cangkring. Di sepanjang jalan mereka sama sekali tidak menjumpai seorang anak muda pun. Agaknya mereka menjadi segan bertemu lagi dengan Rudita, setelah mereka melakukan kesalahan.

Namun dalam pada itu, pada saat kesalah-pahaman di antara anak-anak muda Cangkring dan Rudita teratasi, maka timbullah kesulitan di antara kelompok-kelompok yang sedang memenuhi perintah Untara untuk mencari Rudita. Terutama kelompok yang termasuk baru yang tinggal di Padepokan Tambak Wedi.

Dalam waktu yang bersamaan, mereka harus berkeliaran dalam kelompok-kelompok kecil di daerah yang sangat berdekatan. Dengan demikian, maka akan dapat timbul sentuhan-sentuhan yang dapat memercikkan bunga-bunga api di antara mereka.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan ketiga orang kawannya berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke Jati Anom. Mereka berniat untuk berjalan terus, meskipun tengah malam mereka baru akan sampai.

“Besok pagi-pagi, kita akan melanjutkan perjalanan ke Sangkal Putung,” berkata Kiai Gringsing. “Ketelanjuranku bermain-main dengan cambuk membuat aku berdebar-debar. Mudah-mudahan tidak banyak menarik perhatian. Tetapi bagaimana pun juga, aku ingin segera kembali kepada murid-muridku.”

Karena itulah, maka keempat orang itu pun berjalan terus. Ketika matahari turun ke bawah bayangan Gunung Merapi, mereka hanya memandanginya saja. Seolah-olah mereka hanya sekedar mengucapkan selamat berpisah. Tanpa berhenti. Dan mereka pun berjalan terus ke Jati Anom. Bahkan semakin lama semakin cepat.

Ketika gelap malam mulai turun, dan lereng Gunung Merapi menjadi kehitam-hitaman, maka mereka mulai menyusuri jalan-jalan di tengah bulak persawahan.

“Apakah kau lelah?” tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya kepada Rudita.

Rudita memandang Kiai Gringsing sejenak. Kemudian sambil menggeleng ia berkata, “Tidak, Kiai.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil mendekati Ki Waskita ia bertanya, “Apakah Angger Rudita memang tidak pernah merasa letih sejak kanak-kanak?”

Ki Waskita tersenyum. Ia mengerti, bahwa Kiai Gringsing mulai melihat kelebihan yang ada pada anaknya. Tetapi Ki Waskita tidak mengatakan apa yang sebenarnya diketahuinya pula, justru karena mereka berada di dekat Rudita.

“Ia memang betah berjalan,” berkata Ki Waskita. Namun ia memperlambat langkahnya, sehingga jaraknya dengan Rudita menjadi semakin jauh di belakang.

Baru kemudian ia berbisik, “Ia mempelajarinya. Selain dapat mengesampingkan perasaan sakit, ia pun dapat mengesampingkan perasaan lelah dan letih. Meskipun baru saja ia mengalami peristiwa yang akan sangat mengerikan jika terjadi atas orang lain, tetapi ia tetap nampak segar.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk pula. Sedang Ki Sumangkar yang berjalan bersamanya berdesis, “Bukan main. Aku kira orang lain tidak akan dapat menguasai ilmu itu dalam waktu yang sangat singkat. Agaknya darah yang mengalir pada ayahnya menitik juga di tubuh anaknya.”

“Ah,” desis Ki Waskita. Tetapi ia tidak berkata lebih lanjut ketika ia melihat Rudita berpaling dan berkata, “Kenapa Ayah dan Kiai berdua berjalan semakin lambat?”

“Tidak. Kami sedang membicarakan anak-anak muda Cangkring yang memerlukan penyaluran itu,” jawab Kiai Gringsing.

Rudita tidak bercuriga lagi. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa ketiga orang-orang tua itu sedang membicarakannya. Karena itu, maka ia pun melangkah terus, menembus gelapnya malam di tengah-tengah bulak. Terasa angin malam yang sejuk bertiup mengusap kening.

Rudita menengadahkan wajahnya. Di langit bergayutan bintang-bintang yang gemerlapan. Namun di ujung utara nampak segumpal mendung yang tergantung di langit.

“Jika angin bertiup ke selatan, maka mendung itu akan mengalir dan di dalam dinginnya malam, mungkin akan turun hujan,” berkata Rudita di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka ia pun berjalan semakin cepat. Rasa-rasanya ia pun didorong oleh suatu keinginan untuk segera sampai ke Jati Anom, dan pada keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Sangkal Putung.

Setiap kali Rudita menengadahkan kepalanya, setiap kali ia melihat mendung yang semakin merata di langit.

“Hujan agaknya akan turun,” berkata Rudita di dalam hati.

Karena itulah maka ia mempercepat langkahnya. Jika ia kehujanan maka pakaian barunya akan menjadi basah kuyup.

Agaknya Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar pun melihat pula mendung yang tebal merambat dari utara. Karena itulah maka mereka pun mempercepat langkah pula. Sejenak kemudian mereka sudah berjalan dekat di belakang Rudita.

“Mudah-mudahan hujan tidak segera turun,” berkata Rudita kepada ketiga orang tua itu.

Ki Sumangkar tertawa. Jawabnya, “Itu lebih baik. Jika kau menjadi basah kuyup dan Angger Untara memberimu sepengadeg pakaian baru, maka kau akan beruntung. Kau mendapat sekaligus dua pengadeg pakaian pada hari ini.”

Yang mendengar gurau Ki Sumangkar itu tertawa. Tetapi suara tertawa mereka pun terputus oleh guntur yang meledak di langit.

Dengan demikian, maka mereka berempat pun berjalan semakin cepat lagi. Jati Anom masih agak jauh. Namun mereka masih berharap bahwa hujan tidak akan turun dengan segera, karena mendung masih berada di satu sisi langit yang luas itu.

Namun, ketika mereka dengan cepat berjalan menyusuri bulak, tiba-tiba saja langkah mereka terhenti. Dalam keremangan malam, mata mereka yang tajam melihat beberapa sosok tubuh tergolek di tengah jalan.

“He, siapakah itu kira-kira?” bertanya Rudita.

Mereka tertegun sejenak. Dengan ragu-ragu Kiai Gringsing berkata, “Apakah kita harus terlibat dalam persoalan yang lain lagi sehingga kita akan terlambat kembali ke Sangkal Pulung? Bahkan mungkin akan dapat mengganggu perkawinan Angger Swandaru?”

Ki Waskita dan Ki Sumangkar menjadi termangu-mangu. Namun kemudian mereka berkata, “Kita akan melihatnya.”

Keempat orang itu pun berjalan dengan hati-hati mendekati beberapa sosok yang berserakan itu. Bahkan meskipun mereka tidak saling membicarakan, namun ada semacam kecurigaan di hati mereka, bahwa yang ada di hadapannya adalah suatu jebakan.

 

 

“Justru setelah mereka mengetahui, bahwa aku adalah orang yang sering disebut Orang Bercambuk itu,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Kiai Gringsing yang kemudian ada di paling depan, dengan penuh kewaspadaan mendekat selangkah demi selangkah. Sehingga akhirnya ia pun berada hanya selangkah dari sesosok mayat yang paling dekat. Sedangkan di beberapa langkah di hadapannya, masih ada beberapa sosok lagi yang tergolek diam.

Kiai Gringsing pun kemudian berjongkok di sisi tubuh yang paling dekat daripadanya itu. Perlahan-lahan ia meraba tubuh itu untuk meyakinkan, apakah yang dihadapi itu benar-benar sesosok mayat.

Ternyata tangannya menyentuh tubuh yang sudah benar-benar membeku. Tidak ada lagi gerak dan getar jalur-jalur darah dan jantungnya.

“Mayat,” desisnya sambil memutar dan menengadahkan wajah mayat itu.

Yang lain pun kemudian berjongkok mengitari mayat itu. Mereka sependapat bahwa agaknya telah terjadi pertempuran yang sengit di tempat itu antara dua kelompok orang-orang yang bermusuhan.

“Apakah yang akan kita lakukan sekarang?” bertanya Kiai Gringsing. Lalu, “Kita tidak mengenal siapakah yang terbunuh ini. Jika kita mengambil tindakan sendiri, mungkin kita akan benar-benar terlibat semakin jauh. Tetapi sudah barang tentu kita tidak akan dapat membiarkan mereka terbaring di tengah-tengah jalan. Adalah menjadi kewajiban setiap orang untuk menyelenggarakan mayat yang tidak mendapatkan perawatan semestinya seperti beberapa sosok mayat ini.”

Yang lain tidak segera menjawab. Ada semacam kebimbangan di hati mereka. Jika mereka terhenti di tempat itu, maka mereka akan menjadi semakin lambat sampai ke Jati Anom dan sudah barang tentu mereka tidak akan dapat berangkat langsung di pagi harinya ke Sangkal Putung, karena mereka tentu masih harus berbicara dan mungkin memberikan beberapa keterangan yang diperlukan oleh Untara, bukan saja mengenai Rudita, tetapi juga mengenai semua peristiwa yang dijumpainya. Juga mengenai mayat-mayat ini.

“Mungkin kita harus mengantarkan mereka dan menggali mayat-mayat ini lagi,” gumam Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka setelah termangu-mangu sejenak, ia pun berkata, “Menurut pendapatku, apakah bukan sebaiknya kita melaporkannya saja kepada Angger Untara?”

Ternyata Ki Waskita dan Ki Sumangkar pun sependapat. Mereka mempunyai perhitungan seperti yang dipertimbangkan Kiai Gringsing pula. Maka Ki Waskita pun berkata, “Agaknya tidak ada jalan lain, Kiai. Secepatnya kita akan melaporkannya kepada Ki Untara.”

“Ya,” sambung Ki Sumangkar, “menilik keadaan yang dapat kita lihat di sini, yang menjadi korban adalah orang-orang dari beberapa pihak. Setidak-tidaknya dari kedua belah pihak. Dengan demikian kita dapat mengambil kesimpulan, agaknya telah terjadi pertempuran sengit di sini.”

Demikianlah maka mereka pun kemudian memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Jati Anom. Mungkin mereka juga akan disuruh ikut dan menunjukkan tempat itu, tetapi mereka tidak perlu untuk menggali mayat-mayat itu lagi jika diperlukan.

Ternyata Jati Anom masih cukup jauh. Namun akhirnya jarak itu pun dapat mereka lalui dengan selamat dan sebelum tengah malam mereka telah memasuki induk kademangan.

Beberapa gardu peronda dapat mereka lewati tanpa kesulitan apa pun, karena keempat orang itu dapat menunjukkan dan memberikan keterangan selengkapnya atas setiap pertanyaan. Apalagi hampir setiap prajurit sudah mendengar tentang ketiga orang yang sedang mencari anak yang hilang atas ijin Untara, bahkan Untara telah mengerahkan beberapa kelompok prajurit untuk membantunya.

“Jadi anak itulah yang hilang,” desis seorang prajurit yang sedang bertugas di gardu peronda ketika Kiai Gringsing dan kelompok kecilnya telah lewat.

Untara yang sedang tidur nyenyak pun terkejut mendengar seorang pengawal mengetuk pintu rumahnya. Dengan tergesa-gesa ia keluar dan bertanya, apakah yang telah terjadi.

“Tamu-tamu senapati telah datang dan anak itu sudah diketemukan,” lapor prajurit itu.

“He, di manakah mereka?”

“Di pendapa.”

Setelah berbenah sedikit, Untara pun kemudian keluar ke pendapa dengan tergesa-gesa pula. Ketika ia sudah berada di antara keempat tamunya, maka ia pun segera mengucapkan selamat atas usaha mereka yang telah berhasil itu.

“Jadi inilah anak muda itu,” desis Untara.

Rudita termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu selain mengangguk kecil.

Sementara itu, Untara pun segera bertanya, di manakah anak muda itu dapat diketemukan.

Dengari singkat Ki Waskita pun menceriterakan usahanya untuk menemukan anak itu, tetapi ia tidak melaporkan secara terperinci apa yang telah dialami Rudita di Cangkring pada saat itu, karena yang lebih menarik agaknya beberapa sosok mayat yang telah mereka ketemukan itu.

Untara mendengarkan laporan itu dengan dada yang berdebar-debar. Sudah beberapa lama di daerah itu tidak pernah terjadi perampokan atau tindak kekerasan yang dapat membawa akibat yang demikian parah.

“Berapa orang yang Kiai ketemukan?” bertanya Untara.

Ki Waskita mengerutkan keningnya, mengingat-ingat jumlah korban yang diketemukannya di tengah-tengah jalan itu. Namun kemudian ia pun menggeleng sambil berkata, “Aku tidak tahu pasti. Tetapi antara lima atau enam. Saat itu kami tergesa-gesa untuk segera melaporkan saja peristiwa itu.”

Seperti yang sudah diduganya semula, maka Untara pun kemudian berkata, “Kiai bertiga. Aku mohon maaf, bahwa aku telah mengganggu perjalanan Kiai. Tetapi aku ingin mohon agar Kiai bertiga, mungkin dengan Rudita untuk menunjukkan di manakah letak mayat-mayat yang berserakan di tengah jalan itu.”

Karena itu, maka Ki Waskita tidak berpikir terlalu lama untuk menjawabnya. Setelah memandang wajah Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sejenak, maka ia pun kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah, Angger Untara. Kami akan dengan senang hati untuk melakukannya. Namun aku mohon agar Rudita dapat tinggal saja di sini untuk beristirahat.”

Untara mengerutkan keningnya. Namun ia pun tersenyum sambil menjawab, “Baiklah, Kiai. Biarlah ia di sini dikawani oleh prajurit-prajurit yang mengawal rumah ini.”

Sejenak kemudian maka Untara pun menyuruh mempersiapkan beberapa ekor kuda untuk dirinya sendiri, ketiga orang tua yang telah menemukan mayat itu dan beberapa orang pengawal pilihan.

“Apakah Kiai bertiga sudah tidak terlalu lelah?” bertanya Untara.

“Marilah kita berangkat,” ajak Kiai Gringsing. Ia pun sadar bahwa sebenarnya Untara hanya ingin bertanya, apakah mereka sudah siap untuk berangkat.

Sekelompok orang berkuda kemudian memecahkan sepinya malam menyusuri bulak-bulak panjang di daerah Jati Anom. Kemudian mereka mulai mendaki lereng dan sekali-sekali berbelok ke selatan, dan kembali ke arah barat.

Beberapa saat kemudian, dalam waktu yang jauh lebih pendek daripada saat mereka berjalan kaki kembali ke Jati Anom, mereka telah sampai ke bulak yang mereka tuju. Kuda-kuda mereka pun kemudian berlari semakin lambat, agar mereka tidak harus berhenti dengan mendadak, apabila tiba-tiba saja kaki-kaki kuda mereka menginjak mayat-mayat yang berserakan itu.

Ternyata mereka tidak terlambat. Mereka masih menjumpai beberapa sosok mayat itu berserakan seperti saat mereka tinggalkan.

“Nyalakan obor,” perintah Untara.

Beberapa orang pun kemudian mencari ranting-ranting kering di sekitar mereka. Dengan batu titikan emput dan dimik-dimik belerang, mereka menyalakan ranting dan rerumputan kering itu.

Sejenak kemudian, di tengah-tengah bulak itu terdapat sebuah perapian kecil. Pada nyala api kemerah-merahan itulah kemudian Untara mencoba mengenal siapa saja yang telah terbaring di tengah-tengah bulak itu.

Seperti yang diduga oleh Kiai Gringsing dan kedua kawan-kawannya, bahwa yang terbunuh itu bukannya terdiri dari satu pihak saja. Menilik bekas-bekasnya, maka telah terjadi perkelahian yang sengit di tengah-tengah bulak itu. Demikian sengitnya, sehingga kawan-kawannya yang masih hidup, tidak sempat lagi untuk mengambil dan membawa kawan-kawan mereka yang telah mati.

“Atau barangkali mereka terbunuh sampai orang yang terakhir,” desis Untara.

“Ternyata jumlahnya lebih dari enam sosok mayat,” desis Ki Waskita. “Kita tidak melihat dua sosok yang lain yang terbaring di parit di pinggir jalan itu.”

“Delapan,” gumam Ki Sumangkar. “Apakah mungkin dua kelompok yang masing-masing berjumlah empat orang bertemu dan sampyuh di sini.”

“Mungkin yang sekelompok jumlahnya lebih dari empat,” sahut Untara.

“Apakah Angger Untara mengenal mereka?” bertanya Kiai Gringsing.

Untara pun kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mencoba mencari tanda-tanda yang dapat dipergunakan untuk mengenali mayat-mayat yang berserakan itu.

“Tidak ada tanda-tanda khusus,” berkata prajuritnya, “tetapi aku yakin, mereka memang tidak terdiri dari satu kelompok yang dicegat dan dibunuh sampai tumpas. Menilik jenis ikat pinggangnya, ada beberapa orang yang dapat dibedakan yang satu dengan yang lain. Tetapi seandainya itu suatu kebetulan, maka yang dapat dipergunakan sebagai alasan adalah arena yang luas di sekitar tempat ini. Kita dapat menemukan senjata yang berserakan sehingga menguatkan dugaan kita, bahwa telah terjadi pertempuran dan saling membunuh yang dahsyat.”

“Ya,” desis Untara, “meskipun tidak ada ciri-ciri yang menentukan, tetapi kita mempunyai dugaan yang kuat, bahkan hampir pasti bahwa telah terjadi perselisihan antara kelompok-kelompok penjahat yang ada di lereng Merapi. Dan itu sangat buruk sekali akibatnya. Baik bagi kelompok-kelompok dan gerombolan-gerombolan itu sendiri, maupun bagi penduduk di sekitarnya. Juga bagi prajurit-prajurit Pajang yang harus berusaha dengan sekuat-kuatnya menghentikan perselisihan yang mengerikan itu.”

“Tentu mengerikan sekali,” desis Kiai Gringsing.

“Ya. Mereka adalah penjahat-penjahat yang biasa melakukan kejahatan, kekejaman, dan kebengisan, sehingga setiap kematian di antara mereka akan ditandai oleh tindak kekejaman.”

Mereka yang mendengarkan pembicaraan itu menjadi termangu-mangu. Dalam perselisihan itu, tentu mereka akan kehilangan kesempatan untuk mempertimbangkan tindakan mereka. Mereka tidak akan lagi menghiraukan ketentuan-ketentuan apa pun juga. Demikian pula sikap mereka terhadap penduduk di sekitar mereka. Bahkan penduduk akan dapat menjadi sasaran pelepasan ketidak puasan mereka terhadap keadaan.

Untara memandang mayat-mayat yang berserakan itu dengan dada yang berdebaran. Terbayang di angan-angannya, ia harus mengerahkan pasukannya, melerai setiap perkelahian dan bahkan mungkin prajuritnya sendiri akan terlibat dalam pertempuran melawan banyak pihak.

Namun dalam pada itu, Untara pun kemudian berkata, “Kita harus menguburkannya, siapa pun mereka itu.”

Demikianlah maka prajurit-prajurit itu pun kemudian mengumpulkan mayat-mayat yang berserakan. Untuk sejenak mereka masih berunding, di mana mayat-mayat itu akan dikuburkan.

“Kita kuburkan di kuburan yang paling dekat,” berkata salah seorang prajurit

“Jangan membangunkan penduduk. Mereka akan menjadi cemas dan ketakutan. Kita kerjakan saja semuanya itu tanpa setahu mereka. Di tengah-tengah bulak pendek di sebelah padukuhan ini ada sebuah kuburan tua. Kuburkan saja mereka di situ,” perintah Untara.

Para prajurit itu pun kemudian melaksanakan saja perintah Untara setelah mereka mengumpulkan berbagai jenis senjata dari mereka yang bertempur ditempat itu.

“Kita akan mencoba mengenal lebih banyak lagi dari jenis-jenis senjata mereka,” berkata Untara, “mungkin kita akan dapat mengenal, kelompok yang manakah yang sedang berselisih itu. Tetapi agaknya yang perlu sekali mendapat perhatian adalah hadirnya sebuah kelompok yang baru, yang tinggal di bekas Padepokan Tambak Wedi yang sudah hampir rusak itu. Menurut beberapa laporan, agaknya kelompok-kelompok yang lama merasa mendapat saingan dari kelompok yang baru, yang nampaknya lebih kuat dari setiap kelompok yang ada.”

“Mungkin sekali terjadi,” desis Ki Sumangkar, “agaknya selama ini Angger Untara hampir saja dapat mencapai keseimbangan di daerah ini.”

“Ya. Akhir-akhir ini keadaan sudah berangsur tenang. Tiba-tiba saja kini telah menjadi goncang. Mungkin juga karena kesalahanku, bahwa setiap gerombolan harus berusaha untuk ikut mencari Rudita, sehingga mereka berpapasan dan bahkan berkelahi di tengah jalan.”

“Sayang sekali,” desis Ki Waskita, “akibat dari kepergian Rudita menjadi jauh sekali.”

“Bukan maksudku,” Untara dengan cepat menyahut, “itu hanyalah salah satu sebab saja. Tetapi sudah barang tentu ada latar belakang yang lain yang lebih mendasar daripada sebuah sentuhan karena mereka berpapasan di tengah jalan.”

Ki Waskita mengangguk-angguk.

“Marilah, Kiai,” berkata Ki Untara kemudian, “biarlah para prajurit menyelesaikannya. Kita akan mendahului kembali ke Jati Anom dengan membawa senjata-senjata dan ciri-ciri yang mungkin dapat aku pergunakan untuk mengenali, siapakah yang telah terlibat dalam pertempuran ini.”

Demikianlah maka Untara diiringi oleh dua orang pengawal yang membawa berbagai jenis senjata, mendahului kembali ke Jati Anom diikuti oleh ketiga orang tua itu.

Namun peristiwa itu agaknya telah mengingatkan Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar, bahwa orang-orang baru di Padepokan Tambak Wedi itu sangat menarik perhatian mereka. Tetapi untuk sementara agaknya mereka masih belum akan membicarakannya dengan Untara.

Sepeninggal Untara, beberapa orang prajurit pun mulai membawa mayat-mayat itu dan menguburkannya di sebuah kuburan yang terletak di tengah-tengah bulak kecil, di atas sebuah gundukan tanah yang ditumbuhi sejenis pohon preh yang besar.

Di dalam gelapnya malam, agaknya prajurit-prajurit itu pun merasa bahwa kulit mereka telah meremang. Prajurit-prajurit yang tidak mengenal takut di medan perang itu, merasa tergetar pula melihat sebatang pohon raksasa yang daunnya bagaikan sebuah payung yang sangat besar menaungi seluruh gundukan kecil itu. Beberapa jenis pohon perdu yang lain tumbuh di antara batu-batu nisan yang berserakan.

Ketika seekor burung hantu merintih di atas dahan, rasa-rasanya prajurit-prajurit itu telah digelitik oleh angan-angan yang tiada dapat mereka lihat.

Tiba-tiba seorang prajurit muda mengeluh, “Aku lebih senang bertempur di medan daripada mengubur mayat di kuburan ini.”

“Sst,” desis seorang yang lebih tua.

“Kenapa? Kenapa, he?” yang muda itu tiba-tiba telah bergeser mendekat.

Yang tua tertawa lirih. Katanya hampir berbisik, “Kau masih juga dapat dipengaruhi perasaan takut? Kau adalah serigala di medan perang. Tetapi kau tidak lebih dari seekor kucing gering di sini.”

Anak muda itu menengadahkan kepalanya. Yang nampak adalah onggokan hitam di ujung pohon raksasa itu. Dan sekali lagi burung hantu itu merintih.

“Ia kehilangan anaknya,” desis yang tua, “ketika ia melahirkan, anaknya dicuri kuntilanak. Karena itu ia mencarinya ke setiap kuburan dengan perasaan sedih dan dendam. Sampai sekarang burung hantu adalah musuh bebuyutan dari kuntilanak.”

“Ah, kau.”

“Jangan takut. Di sini ada burung hantu, sehingga tidak akan ada kuntilanak.”

Tetapi prajurit muda itu justru bergeser semakin dekat. Sambil menengadahkan kepalanya pula ia berkata, “Jangan sebut-sebut lagi ceritamu itu.”

Kawannya yang tua tertawa. Tetapi ternyata suara tertawanya yang ditahan-tahan itu justru terdengar seperti suara hantu.

“Diamlah,” desis yang muda.

“Kenapa?”

“Apakah kau tidak yakin?”

“Tidak yakin apa?”

“Tidak yakin bahwa aku bukan hantu.”

“Hus.”

“Hitunglah jumlah kawan-kawanmu. Jika lebih satu dari jumlah yang seharusnya, maka kau akan menjumpai dua orang yang ujudnya seperti aku. Dan kau tentu tidak akan dapat membedakan, yang manakah aku sebenarnya.”

“Ah,” prajurit yang muda itu tiba-tiba melangkah setapak surut. Wajahnya menjadi pucat. Dicobanya untuk mengamati kawannya itu. Namun di dalam gelapnya malam, wajah itu nampaknya menjadi aneh. Sementara kawannya yang lebih tua itu masih tetap menggali lubang kubur bagi mayat-mayat yang masih berserakan.

“Kenapa kau memandang aku begitu?” bertanya yang tua. “Aku bukan salah satu dari mayat yang akan kalian kuburkan dan terbangun karena hiruk pikuk ini. Jika aku hantu, aku hantu dari kuburan ini.”

Yang muda tidak menjawab. Tetapi ia bergeser semakin jauh.

Namun ketika ia berada di puncak ketakutannya, tiba-tiba semua prajurit yang ada di kuburan itu terkejut. Mereka mendengar derap kaki kuda di sepanjang jalan raya.

“Siapakah mereka itu?” bertanya prajurit yang memimpin kawan-kawannya di kuburan itu.

Semuanya termangu-mangu. Namun dalam keheningan itu, prajurit muda yang ketakutan mendengar suara rintih burung hantu itu pun berkata, “Aku akan melihatnya”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan mengintai mereka di pinggir jalan.”

“Hanya itu yang boleh kau lakukan. Mengintai saja. Kadang-kadang kau kehilangan nalar dan bertindak di luar perhitungan. Mungkin keberanianmu itu menguntungkan. Tetapi dapat juga merugikan.”

Prajurit muda itu mengangguk sambil menjawab, “Aku akan menjalankan tugas ini sebaik-baiknya.”

“Diam sajalah,” berkata kawannya yang tua, “jika orang-orang berkuda itu lewat, jangan berbuat sesuatu. Mungkin mereka serombongan hantu-hantu.”

Beberapa orang kawannya berpaling kepadanya. Tetapi prajurit muda itu menjawab, “Aku tidak takut kepada hantu-hantu.”

Demikian ia selesai berbicara, terdengar kelepak seekor burung yang besar di atas dahan yang rimbun itu. Sejenak kemudian burung itu pun menerobos dedaunan dan terbang di dalam gelapnya malam.

Tiba-tiba prajurit yang muda itu menjadi pucat. Namun dengan lantang ia menyembunyikan perasaannya, “Aku akan mencegat rombongan orang-orang berkuda itu.”

“Jangan gila. Kau tidak aku perintahkan untuk mencegatnya. Hanya mengetahui saja, siapakah mereka itu.” Ia berhenti sejenak, lalu sambil menunjuk kepada prajurit yang tua ia berkata, “Kau pergi bersamanya.”

Tetapi prajurit yang muda itu segera memotong, “Jangan orang itu. Atau lebih baik aku pergi sendiri.”

Tidak ada kesempatan untuk berbantah. Suara derap kaki kuda itu menjadi semakin dekat.

Prajurit muda itu pun segera meloncat dan berlari menyusup gerumbul-gerumbul perdu mendekati jalan yang tidak jauh dari kuburan itu. Ia tidak melalui jalan kecil yang memang dibuat untuk pergi ke kuburan, karena dengan demikian, ada kemungkinan seseorang dari antara mereka yang berkuda itu melihatnya jika ia kebetulan berpaling.

Sejenak kemudian, prajurit muda itu sudah berada di tepi jalan. Ia melihat di kejauhan remang-remang sekelompok orang-orang berkuda lewat. Tidak terlampau cepat sehingga karena itu, maka ia masih sempat mendengar salah seorang dari mereka berkata, “Mungkin orang-orang padukuhan itulah yang telah menyingkirkan mayat-mayat itu.”

“Apakah mereka berani melakukannya?” jawab yang lain

“Tetapi tentu bukan dilakukan oleh orang-orang di Padepokan Tambak Wedi itu. Mereka tidak akan sempat atau tidak mempedulikannya sama sekali.”

“Jadi siapa menurut dugaanmu. Seandainya binatang buas, tentu tidak sekaligus semuanya dibawanya. Dan sudah tentu tidak dengan senjata-senjata mereka.”

“Mungkin prajurit-prajurit Pajang.”

“Hanya satu kemungkinan. Serombongan prajurit yang meronda.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ada juga baiknya. Dengan demikian, orang-orang di padepokan itu akan mendapat pengawasan yang lebih ketat.”

“Jika prajurit-prajurit itu mengetahui bahwa yang bertempur itu salah satu pihak adalah orang-orang dari Padepokan Tambak Wedi.”

Kawannya tidak segera menjawab. Percakapan itu masih berlangsung lagi beberapa langkah kemudian. Tetapi prajurit yang muda itu sudah tidak mendengarnya lagi, apa saja yang sedang mereka percakapkan.

Ketika derap kaki kuda itu sama sekali sudah tidak didengarnya, maka prajurit muda itu pun segera bersiap untuk kembali kepada kawan-kawannya. Namun rasa-rasanya bulu tengkuknya mulai meremang.

Ternyata ia benar-benar lebih berani di pertempuran meskipun harus mempertaruhkan nyawa daripada harus pergi ke kuburan.

Tetapi bagaimana pun juga, ia harus kembali. Ia harus melaporkan apa yang telah dilihat dan didengarnya.

Karena itu, maka berlawanan dengan saat ia meninggalkan kuburan dan pergi ke pinggir jalan, maka ia seolah-olah merangkak mendekati kuburan yang baginya merupakan kandang hantu itu.

Namun ia memaksa dirinya untuk memasuki regol kuburan dan mencari kawan-kawannya yang ditinggalkannya, untuk melaporkan hasil pengintaiannya.

Tetapi rasa-rasanya tubuhnya menjadi beku. Ketika ia sampai ke tempat kawan-kawannya menggali lubang untuk mengubur mayat yang berserakan itu, ia tidak menjumpai seorang pun lagi. Kuburan itu menjadi sepi. Yang nampak hanyalah batu-batu nisan yang berserakan.

Rasa-rasanya jantungnya berhenti berdetak. Sekilas terpandang olehnya lubang yang menganga. Di sebelah lubang itu terbujur mayat yang masih belum dikuburkannya.

“Kemanakah kawan-kawanku?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi ia sama sekali tidak menemukan jawaban. Karena itu, maka tiba-tiba saja jantungnya yang membeku oleh perasaan takut yang luar biasa itu, tidak dapat ditahankannya lagi.

Satu-satunya yang dapat dilakukannya adalah lari. Lebih baik ia bertemu dengan sekelompok penjahat dan bertempur melawan mereka, daripada ia harus berada di kuburan itu seorang diri.

Tetapi rasa-rasanya darahnya berhenti pula mengalir. Hampir saja ia pingsan ketika sebuah tangan yang dingin telah menggamit lengannya.

 

 

“Apakah yang kau lihat?” terdengar sebuah pertanyaan. Dengan tubuh yang menggigil ia mencoba berbaring. Di dalam keremangan malam nampak sesosok bayangan yang hitam. Namun kemudian dikenalinya bayangan itu adalah pemimpin kelompoknya sendiri.

“Apakah kau berhasil melihat mereka?” sekali lagi ia mendengar pertanyaan pemimpinnya.

Sejenak ia masih terengah-engah.

“Kenapa kau? Apakah kau tidak menuruti perintahku dan menyerang mereka?”

“O, tidak. Tidak,” jawab prajurit muda itu sambil memandang beberapa orang yang mulai bermunculan.

“Kenapa kalian menakut-nakuti aku?” bertanya prajurit muda itu.

Pemimpinnya menjadi heran mendengar pertanyaan itu, sehingga ia pun bertanya, “Kenapa aku menakut-nakutimu?”

“Kenapa kalian bersembunyi ketika aku kembali ke kuburan ini?”

Pemimpinnya mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia tersenyum dan berkata, “Sekarang baru aku tahu. Jadi kau menjadi terengah-engah bukan karena bertempur dan menyerang orang-orang itu tanpa perintah seperti yang sering kau lakukan, Serigala Muda. Tetapi kali ini kau menjadi terengah-engah dan menggigil karena ketakutan.”

“Coba katakan,” prajurit muda itu memotong, “apa gunanya kalian bersembunyi?”

“Dengarlah,” jawab pemimpinnya, “kami mempunyai dugaan, bahwa sekelompok orang-orang berkuda itu akan memasuki kuburan ini sebagai kuburan yang terdekat. Mungkin mereka akan mencari kawan-kawannya yang mati di kuburan ini. Karena kami tidak mengetahui kekuatan mereka, maka lebih baik kami bersembunyi saja lebih dahulu.”

“Ah, tentu tidak. Apakah sudah menjadi kebiasaan baru bagi prajurit-prajurit Pajang untuk bersembunyi menghadapi kelompok-kelompok perampok? Lima atau empat orang saja aku berani memasuki sarang mereka atas nama pimpinan prajurit Pajang. Apalagi dalam jumlah yang lebih banyak.”

“Dengar aku baik-baik. Baru saja terjadi perkelahian yang membawa korban yang cukup banyak di kedua belah pihak, dengan demikian maka darah mereka pun tentu masih panas. Dalam keadaan serupa itu dapat saja terjadi benturan yang sama sekali tidak diinginkan. Sedangkan jumlah mereka tentu merupakan jumlah yang lebih kuat dari kelompok-kelompok kecil mereka yang sering berkeliaran karena baru saja terjadi benturan di antara mereka.”

Prajurit muda itu termangu-mangu. Dipandanginya beberapa orang kawannya yang bagaikan patung-patung hitam kelam berdiri mengelilinginya.

“Sudahlah,” berkata pemimpinnya, “agaknya kau anak yang aneh. Kau seorang pemberani di peperangan. Tetapi kau adalah cecurut yang paling ketakutan di kuburan. Sudahlah. Sekarang ceritakan apakah yang telah kau lihat.”

Prajurit muda itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menceritakan apa yang telah dilihat dan didengarnya.

“O,” pemimpinnya mengerutkan keningnya. “Jadi menurut pendengaranmu, salah satu pihak yang terlibat adalah orang-orang Padepokan Tambak Wedi.”

“Ya, begitulah.”

“Memang sudah aku duga. Orang-orang di padepokan itu agaknya telah mengganggu keseimbangan di dalam daerah ini, sehingga seakan-akan mereka telah mulai menumbuhkan persoalan-persoalan baru di antara golongan-golongan penjahat di daerah ini.”

“Mungkin demikian.”

Pemimpin prajurit itu pun mengangguk-angguk. Orang-orang yang baru saja menetap di padepokan tua itu, memang memiliki sikap yang lain. Agaknya mereka belum begitu banyak mengenal Untara sebagai panglima di daerah ini.

Tetapi pemimpin prajurit itu tidak memperpanjang pembicaraan mengenai kelompok-kelompok yang agaknya sedang saling bercuriga itu. Bahkan katanya kemudian, “Sekarang, selesaikan tugas kalian. Kemudian kita akan segera kembali ke Jati Anom dan melaporkan segala-galanya.”

Prajurit-prajurit itu pun segera bekerja kembali. Mereka mulai memasukkan mayat-mayat ke dalam lubang dan kemudian menimbuninya. Sementara prajurit muda yang berani di peperangan itu, menjadi gemetar karenanya. Bahkan ia pun kemudian tidak dapat lagi membantu ketika mereka sudah tidak memerlukan lubang-lubang lagi, karena ia tidak mau ikut mengangkat mayat-mayat itu dan memasukkannya ke dalam lubang.

Setelah semua tugas yang dibebankan kepada kelompok itu selesai, maka prajurit-prajurit itu pun segera membenahi diri. Sejenak mereka beristirahat, mengatur nafas mereka yang terengah-engah setelah mereka menimbuni mayat-mayat itu.

“Marilah,” berkata pemimpinnya, “mungkin ada sesuatu yang segera harus dilakukan.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka telah meninggalkan tanah kuburan itu dengan beberapa gundukan baru. Gundukan dari kuburan orang-orang yang tidak mereka kenal sama sekali nama dan kedudukannya.

Namun ketika kuda mereka mulai berpacu, pemimpin mereka pun memperingatkannya, “Kita berjalan di daerah yang berbahaya. Jangan lengah, mungkin kita akan mengalami benturan serupa. Dan mungkin kitalah yang kemudian akan dibawa oleh orang lain ke kuburan itu.”

Karena itulah maka prajurit-prajurit itu pun kemudian mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan di perjalanan kembali ke Jati Anom itu. Seperti yang dikatakan oleh pemimpinnya, sesuatu memang dapat terjadi di sepanjang perjalanan kembali yang sebenarnya tidak begitu jauh itu.

Sementara para prajurit berpacu di sepanjang jalan, maka di Jati Anom, Untara dan beberapa perwira beserta Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita sedang mengamat-amati beberapa jenis senjata yang mereka bawa dari pertempuran yang meninggalkan beberapa sosok mayat itu. Namun agaknya pada senjata-senjata itu sama sekali tidak diketemukan ciri-ciri yang dapat dipergunakannya untuk mengenal salah satu pihak yang terlibat dalam pertempuran yaug seru itu.

“Kita tidak dapat mengetahui siapakah mereka,” berkata Untara, “tetapi kita dapat menduga, bahwa dua kelompok penjahat telah bertempur.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Agaknya memang tidak mudah untuk mengenal hanya dengan melihat senjata-senjata mereka yang berbeda-beda itu. Dari senjata yang paling banyak dipergunakan, yaitu pedang, sampai jenis-jenis senjata yang jarang adanya.

Namun dalam pada itu, selagi Untara mengamat-amati sebuah pedang bergerigi seperti duri pandan, maka tiba-tiba saja seorang perwira berdesis, “Ki Untara. Apakah Ki Untara pernah melihat ciri seperti ini?”

Untara mengerutkan keningnya. Kemudian diterimanya sebuah bindi dari tangan perwira itu. Bindi kayu yang bersalut baja putih pada sudut-sudutnya yang delapan jumlahnya.

“Ciri apakah itu?” bertanya Untara.

“Seekor kelelawar,” berkata perwira itu.

Jawaban itu sangat menarik perhatian Kiai Gringsing dan kedua kawannya. Tetapi mereka tidak mengatakan sesuatu tentang ciri-ciri itu.

Dengan saksama Untara mengamat-amati lukisan seekor kelelawar pada bindi itu. Tetapi ia pun kemudian menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Belum. Aku belum pernah melihat ciri-ciri serupa ini.”

“Ki Untara,” berkata perwira itu, “salah seorang kawan kita pernah melihat. Di dada salah seorang penghuni Padepokan Tambak Wedi nampak terlukis gambar serupa ini. Mungkin orang itulah yang memiliki senjata itu, atau setidak-tidaknya seorang kawannya yang datang dari tempat yang sama.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba mengamat-amati gambar itu dengan lebih saksama. Tetapi ia tidak melihat sesuatu yang dapat menarik perhatiannya lebih jauh lagi.

Namun ia mulai mempertimbangkan kemungkinan itu, setelah sebilah senjata jenis yang lain dapat diketahui pula mempunyai ciri gambar serupa itu. Sebuah golok yang besar dan bertangkai gading. Pada tangkai golok itulah terdapat sebuah lukisan kelelawar meskipun hanya kecil sekali.

Untara mengangguk-angguk. Katanya, “Jika salah seorang perwira pernah melihat lukisan kelelawar yang serupa pada tubuh seseorang, maka memang dapat diduga, bahwa senjata itu adalah senjata dari kelompok yang sama.”

“Jadi menurut dugaan Angger Untara, kelompok yang satu adalah kelompok dari Padepokan Tambak Wedi?” bertanya Ki Sumangkar.

“Untuk sementara kita berpendapat demikian. Mungkin kita akan mendapatkan keterangan-keterangan baru besok. Tetapi kemungkinan itu memang dapat terjadi, karena orang-orang di Tambak Wedi itu masih perlu dijinakkan.”

Dalam pada itu, selagi Untara mempersoalkan orang-orang dari Padepokan Tambak Wedi, di padepokan itu sendiri sedang berlangsung pertemuan dari antara pemimpin-pemimpinnya. Dengan wajah yang merah karena kemarahan, mereka membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi.

Seorang yang bertubuh tegap dan pada tubuhnya tersangkut sehelai kulit harimau, berjalan hilir-mudik di antara anak buahnya. Wajahnya yang membara membayangkan hatinya yang sedang terbakar oleh kemarahan yang hampir tidak tertahankan.

“Siapakah yang telah berani mengganggu anak buahku?” tiba-tiba saja ia membentak.

Tidak seorang pun yang menjawab. Beberapa orang saling berpandangan, sedang yang lain memandangi tiga orang yang duduk di paling depan dengan tubuh yang terluka.

“He,” Kiai Kelasa Sawit, orang yang menyangkutkan sehelai kulit harimau dibahunya itu berteriak, “kenapa kau diam saja?”

“Ki Lurah,” jawab salah seorang dari mereka bertiga, “kami benar-benar tidak mengenalnya. Kami bertemu di tengah-tengah bulak. Karena kami dan orang-orang itu tidak mau mengalah untuk menepi, maka kami pun berbenturan di tengah-tengah bulak tanpa mengenal satu sama lain.”

“Tiga orang mati di antara kita,” geram Kelasa Sawit, “itu suatu pengorbanan yang terlampau banyak. Setiap anggota kita berharga sepuluh kepala lawan. Kita harus dapat membunuh paling sedikit tiga puluh orang jika kita kelak mengenal siapakah yang telah berani melawan anak buah Kiai Kelasa Sawit.”

Anak buah Kiai Kelasa Sawit yang lain pun tidak menyahut. Sementara Kiai Kelasa Sawit berteriak pula, “Sejak sekarang kita harus menyiapkan pasukan. Setiap saat kita akan bergerak menuntut kematian tiga orang kawan kita.”

Dalam pada itu, tiba-tiba saja salah seorang bertanya, “Bagaimanakah dengan prajurit Pajang di Jati Anom?”

“Dalam keadaan ini, mereka tidak berhak mencampuri. Kita sudah kehilangan. Kita harus menuntut.”

“Kita telah berhasil membunuh empat atau lima orang lawan,” berkata salah seorang dari ketiga orang yang terluka.

“Gila. Apa artinya empat atau lima orang. Aku menuntut tiga puluh orang. Tidak boleh kurang.”

“Tetapi prajurit-prajurit Pajang agaknya tidak akan membiarkan perselisihan itu terjadi.”

“Kita tidak peduli. Jika perlu, prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom itu pun harus ditumpas. Mereka menganggap bahwa mereka terlampau kuat dan harus ditaati segala perintahnya. Aku tidak mau diperbudak oleh Untara. Jika sampai saat ini aku masih bersikap baik dan lunak, semata-mata karena kebaikan hatiku. Tetapi jika perlu, aku akan memanggil anak buah Kakang Wira Papat. Selain Kakang Jalawaja. Prajurit Pajang itu akan kami sapu seperti sampah kering. Pajang tidak akan dapat berbuat apa-apa, karena kami akan segera menghilang dari daerah ini.”

Anak buahnya tidak menyahut lagi. Namun rasa-rasanya mereka pun telah menyimpan dendam di dalam hati karena kematian beberapa orang kawannya.

Sementara itu Kelasa Sawit berkata seterusnya, “Besok pagi kita harus sudah mengetahui, siapakah yang telah membunuh anak buah kita. Kemudian kita akan segera bergerak tanpa menghiraukan prajurit-prajurit Pajang. Semakin cepat semakin baik sebelum prajurit Pajang di Jati Anom mengambil sikap apa pun. Kita hanya memerlukan tiga puluh buah kepala. Katakanlah dikurangi lima orang yang sudah terbunuh di perkelahian itu. Tetapi jika mereka tidak memberikan yang tiga puluh itu, kami justru akan menuntut lebih banyak. Apalagi jika mereka melawan. Setiap korban dari pihak kami, akan berarti sepuluh orang lagi dari mereka harus terbunuh.”

Anak buahnya masih tetap berdiam diri. Tetapi mereka pun kemudian tersentak karena Kelasa Sawit berteriak, “Sekarang, siapkan semua senjata dan semua orang. Kita akan bergerak secepatnya demikian kita mengetahui, siapakah yang sudah membunuh anak buah kita. Tetapi yang pasti, tentu bukan prajurit-prajutir Pajang di Jati Anom.”

Anak buah Ki Kelasa Sawit pun segera meninggalkan ruangan pertemuan itu. Mereka segera mempersiapkan diri dan senjata masing-masing.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan kawan-kawannya masih duduk bersama Untara di Jati Anom. Ada beberapa pertimbangan atas tanda-tanda yang dilihatnya. Seekor kelelawar.

“Jika mereka benar-benar termasuk satu golongan dengan orang-orang yang mengambil pusaka-pusaka itu dari Mataram, apakah mereka dengan tanpa curiga, telah memasang tanda itu ditangkai senjata-senjata mereka?” bertanya Kiai Gringsing kepada diri sendiri. “Jika demikian, itu adalah pertanda bahwa mereka kurang berhati-hati, atau karena mereka terlampau percaya kepada diri sendiri.”

Namun agaknya pertanyaan yang demikian tidak saja tumbuh di hati Kiai Gringsing. Tetapi juga pada Ki Waskita dan Ki Sumangkar.

“Kiai,” berkata Untara kemudian, “kita masih menunggu beberapa orang pajurit yang menguburkan mayat itu. Mungkin ada beberapa keterangan yang akan kami dapatkan dari mereka. Tetapi jika Kiai merasa letih, kami harap Kiai beristirahat di gandok. Rudita juga sudah berada di sana. Agaknya ia pun terlampau letih dan kini tidur dengan nyenyaknya.”

Kiai Gringsing mengangguk. Tetapi belum lagi ia beranjak, terdengar derap beberapa ekor kuda memasuki halaman. Ternyata mereka adalah prajurit-prajurit yang baru saja menguburkan mayat-mayat yang berserakan di jalan.

Setelah menambatkan kuda masing-masing, mereka pun segera pergi ke pakiwan membersihkan diri, dan baru kemudian mereka naik ke pendapa menemui Untara.

Dengan singkat mereka menceritakan apa yang telah mereka lihat dan mereka dengar. Agaknya mereka adalah sekelompok orang-orang berkuda dari salah satu gerombolan yang terlibat dalam pertikaian di tengah-tengah jalan itu. Sedang kelompok yang lain adalah kelompok dari Padepokan Tambak Wedi.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar yang tidak jadi meninggalkan Untara di pendapa itu pun mengangguk-angguk. Kini menjadi semakin pasti, bahwa salah satu pihak dari kelompok yang terlibat di dalam pertempuran itu adalah kelompok dari Tambak Wedi.

“Kita harus berhati-hati,” berkata Untara, “kelompok yang satu ini agaknya lain dengan kelompok-kelompok kecil yang bertebaran di lereng Gunung Merapi ini. Kelompok yang terdapat di Padepokan Tambak Wedi itu nampaknya sebuah kelompok yang lengkap yang tentu bukan sekedar kelompok penjahat kecil.”

“Kelompok yang berani berbenturan dengan kelompok di Padepokan Tambak Wedi adalah kelompok yang benar-benar kurang perhitungan,” desis salah seorang perwira.

“Setiap kelompok agaknya memang mengiri terhadap kekuatan baru yang ada di Padepokan Tambak Wedi,” sahut perwira yang lain.

“Kita harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang gawat,” berkata Untara. “Kita tidak dapat menunggu sampai besok atau lebih-lebih lagi lusa.”

“Maksud Ki Untara?” bertanya seorang perwira.

“Meskipun kita tidak akan bergerak sekarang, tetapi kita harus bersiaga sepenuhnya. Mungkin orang-orang itu akan bergerak lebih cepat dari kita. Karena itu, kita di sini jangan menjadi kakek-kakek yang bergerak dengan lamban mengatasi persoalan yang dapat tumbuh dengan tiba-tiba.”

Perwira itu mengangguk. Lalu katanya, “Jika perintah itu jatuh, kami akan melaksanakan. Semua prajurit di Jati Anom akan bersiaga.”

“Baiklah. Lakukanlah. Agaknya keadaan menjadi gawat. Kita tidak akan begitu berkeberatan jika sekiranya terjadi benturan antara para penjahat dan jatuh korban di antara mereka. Tetapi jika karena keadaan yang panas itu, maka penduduk yang sama sekati tidak bersalah dan tidak terlibat akan tersentuh getahnya pula, adalah kewajiban kita untuk melindungi mereka itu.”

Demikianlah perwira itu pun kemudian meninggalkan pendapa. Sejenak kemudian perintah Untara itu pun telah tersebar. Beberapa penghubung berkuda segera mencapai barak-barak prajurit yang terpencar. Di rumah Ki Demang Jati Anom, di banjar dan di beberapa tempat yang lain. Sedangkan pasukan berkuda mendapat tugas khusus untuk mencapai setiap daerah yang dapat tiba-tiba meledak dengan segera.

Para prajurit di Jati Anom pun menjadi sibuk. Mereka yang sedang tidur nyenyak pun segera terbangun. Dengan mata yang masih setengah terpenjam, mereka mengenakan pakaian keprajuritan mereka. Dan yang terpenting bagi mereka adalah mengenakan senjata mereka masing-masing.

“Apa yang akan terjadi?” bertanya salah seorang prajurit kepada temannya. “Apakah kita harus pergi ke Tambak Wedi dan menahan setiap gerakan yang akan mereka lakukan?”

“Sementara ini kita hanyalah menunggu dalam kesiagaan sepenuhnya.”

Namun demikian, prajurit-prajurit itu merasa bahwa agaknya keadaan memang sudah meningkat semakin gawat.

Dalam pada itu, ternyata Untara tidak tinggal diam sambil menunggu. Ia memerintahkan pula untuk meningkatkan pula gelombang pasukan rondanya yang berkeliling, bukan saja di daerah Jati Anom, tetapi juga di padukuhan-padukuhan sekitarnya.

Ada pun kelompok-kelompok peronda itu pun jumlahnya tidak seperti yang mereka lakukan sehari-hari. Tetapi mereka harus menggabungkan dua kelompok peronda menjadi satu kelompok, karena mereka akan dapat menjumpai persoalan-persoalan yang rumit di sepanjang perjalanan mereka.

Sementara itu, agaknya kelompok-kelompok penjahat yang bertebaran di lereng Gunung Merapi itu pun telah mendengar. Beberapa orang berkuda berpacu dengan kecepatan penuh untuk mencapai kelompok demi kelompok untuk mengabarkan apa yang telah terjadi.

Ketika tiga orang berkuda datang ke Padukuhan Bodehan dan langsung menuju ke sebuah rumah yang terpencil di ujung pategalan, maka dengan wajah kesal ketiga orang itu diterima oleh penghuni rumah itu.

“Apa maksudmu datang di saat yang tidak sewajarnya ini,” bertanya penghuni rumah itu, seorang yang bertubuh agak pendek, tetapi berdada bidang dan berbulu lebat.

“Kiai Serat Wulung,” berkata salah seorang dari tiga orang berkuda yang datang itu, “ada suatu peristiwa yang gawat telah terjadi.”

“Untara mulai membuktikan ancamannya karena anak itu tidak diketemukan? Bukankah ia memberi waktu sepuluh hari?”

“Bukan, bukan karena senapati muda itu.”

“Jadi apa?”

“Telah terjadi benturan senjata antara orang-orang kami dengan orang-orang di Padukuhan Tambak Wedi.”

“He?”

“Sekelompok orang-orang kami dengan tiba-tiba saja telah berpapasan dengan orang-orang Tambak Wedi. Perselisihan tidak dapat dielakkan lagi, sehingga kami harus bertempur melawan mereka.”

“Lalu?”

“Beberapa orang dari masing-masing pihak terbunuh.”

Orang yang bernama Serat Wulung itu menggeram. Dipandanginya ketiga orang yang baru datang itu berganti.

“Kenapa kalian berbuat demikian bodoh?” bertanya Serat Wulung.

“Tidak ada yang dapat disalahkan. Sekelompok orang-orang kami bertemu dengan orang-orang dari Tambak Wedi di tengah jalan. Dan tiba-tiba saja perkelahian itu sudah terjadi.”

“Kau sangka Ki Kelasa Sawit dapat membiarkan hal itu tanpa berbuat apa-apa.”

“Tentu tidak. Karena itulah, aku datang kemari bukan waktunya untuk berkunjung.”

Ki Serat Wulung pun kemudian berjalan hilir-mudik dengan wajah yang tegang. Lalu katanya, “Sebenarnya kita belum siap untuk menghadapi persoalan yang begitu cepatnya meledak. Kita memang sudah menduga, jika Kelasa Sawit berada di Tambak Wedi untuk waktu yang agak lama, benturan semacam ini memang tidak dapat dihindarkan. Tetapi tidak sekarang.”

“Kita sudah terlanjur terlibat.”

“Kaulah yang menyebabkannya.”

“Bukan maksud kami.”

Serat Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Apa boleh buat. Tetapi siapa saja yang sudah kau beritahukan akan hal ini.”

“Ki Jambe Abang, Ki Wadas Malang, dan Ki Sampar Angin.”

“Kau telah berkeliling lereng Merapi?”

“Bukan semuanya kamilah yang mendatangi. Tetapi ada kelompok-kelompok lain yang pergi ke tempat-tempat tersebut.”

Kiai Serat Wulung mengangguk-angguk. Kemudian ia pun berdesis, “Agaknya memang sudah lengkap. Lalu, apakah yang akan segera kita lakukan?”

“Kami masih harus mendengar beberapa pendapat. Tetapi setidak-tidaknya kami masing-masing sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.”

“Kemungkinan yang sangat pahit. Jumlah orang-orang di Padepokan Tambak Wedi itu terlampau banyak. Dan pada umumnya mereka masing-masing memiliki ilmu yang memadai. Agak berbeda dengan kita semuanya. Satu-dua orang saja di antara kita yang benar-benar mampu membawa senjata. Tetapi yang lain hanyalah sekedar bermodalkan keberanian dan sedikit kegilaan.”

“Itu sudah cukup,” jawab salah seorang dari ketiga orang yang baru datang itu, “yang kita perlukan memang orang-orang gila untuk menghadapi orang-orang dari Padepokan Tambak Wedi.”

“Itu pendapat yang bodoh sekali,” jawab Kiai Serat Wulung. “Dengan demikian kita hanya akan sekedar menyerahkan nyawa kita, karena pada umumnya orang-orang di Tambak Wedi dapat mempergunakan otaknya.”

Orang yang baru datang itu mengangguk-angguk saja.

“Baiklah,” berkata Ki Serat Wulung kemudian, “sampaikan kepada Kakang Raga Tunggal bahwa kami di sini akan menyiapkan diri sejauh-jauh dapat kami lakukan. Kami akan menarik semua orang yang masih berpencaran. Jika mereka datang dalam kelompok-kelompok kecil, kami akan menahan mereka, agar mereka tidak meninggalkan rumah ini dan tempat tinggal masing-masing. Kami akan mengadakan pengawasan lebih saksama.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi apakah yang akan kita lakukan jika orang-orang Tambak Wedi itu mendatangi kita sekelompok demi sekelompok?”

“Jika tanda-tanda itu ada, maka kita akan menyatukan diri. Setidak-tidaknya kita akan dapat saling berhubungan dengan penghubung-penghubung berkuda.”

“Apakah masih ada waktu untuk bebuat demikian?”

“Itu jalan satu-satunya. Memang mungkin sebagian dari kita harus menjadi korban. Tetapi kita tidak akan dapat berbuat lain.”

Ki Serat Wulung mengangguk-angguk. Katanya, kemudian, “Baiklah. Mudah-mudahan masih ada waktu untuk menunggu sebagian dari orang-orangku kembali. Jika sebelum itu pasukan Tambak Wedi datang dengan kekuatan penuh, maka aku kira, kita akan melarikan diri untuk bergabung dengan salah satu kelompok yang dapat kami capai.”

“Bagaimana dengan keluarga orang-orangmu?”

“Tidak banyak diketahui tempat tinggal mereka. Mereka berada di antara penduduk.”

“Bagaimana dengan penduduk itu sendiri?”

“Jika orang-orang Tambak Wedi mulai mengganggu penduduk, itu lebih baik.”

“Kenapa lebih baik?”

“Itu berarti Untara akan segera terlibat ke dalam pertikaian itu.”

Orang-orang yang datang itu pun mengangguk-angguk. Jika Untara mulai terlibat, maka mereka akan sekedar mendapat perlindungan. Karena mereka mengetahui bahwa Untara tidak akan membiarkan siapa pun juga mengganggu penduduk di daerah lereng Gunung Merapi itu. Bahkan di saat-saat terakhir, kelompok-kelompok penjahat itu benar-benar telah kehilangan daerah perburuan sehingga mereka mulai memikirkan kemungkinan yang lain untuk menyambung hidup mereka.

Tetapi di saat-saat yang demikian, benturan di antara mereka ternyata tidak dapat dihindarkan lagi.

Dengan demikian, maka sepeninggal ketiga orang penghubung yang dikirim oleh Ki Raga Tunggal itu, Ki Serat Wulung langsung memanggil beberapa orang kepercayaannya. Mereka harus dengan segera menghubungi siapa pun juga yang ada untuk berkumpul dipategalan itu.”

“Tidak ada waktu untuk menunda sampai besok. Memang mungkin tidak ada apa-apa, tetapi mungkin kita akan ditumpas habis.”

Dengan demikian, maka di malam buta bahkan menjelang dini hari itu, beberapa orang kepercayaan Kiai Serat Wulung sudah berkeliling padukuhan. Mereka memanggil orang-orang yang akan dapat memperkuat kedudukannya jika keadaan memaksa.

Ternyata selain orang-orang tertentu, beberapa orang di padukuhan itu pun telah ikut pula di dalam gerombolan Serat Wulung. Sehingga dengan demikian, agak sulitlah untuk memisahkan antara beberapa orang Kiai Serat Wulung dengan penduduk padukuhan itu yang lain.

Ternyata yang melakukan hal yang demikian, bukannya sekedar Ki Serat Wulung. Beberapa pemimpin kelompok penjahat yang tersebar di lereng Merapi itu pun berbuat hal yang serupa. Mereka telah mengumpulkan orang-orang mereka sebanyak-banyak dapat mereka hubungi, karena pada umumnya mereka dapat membayangkan, bahwa di Tambak Wedi telah datang sekelompok orang-orang yang tidak banyak dikenal, tetapi yang dengan pasti dapat dianggap bahwa kekuatan mereka jauh melampaui setiap kelompok yang pernah ada terdahulu di lereng Merapi itu.

Sebelum fajar, ternyata orang-orang Ki Serat Wulung telah berkumpul di pategalan kering yang berada beberapa patok dari padukuhan. Dengan saksama mereka mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Ki Serat Wulung mengenai berita yang didengarnya semalam.

“Memang terlampau cepat terjadi,” berkata Ki Serat Wulung, “agaknya kita belum siap benar menghadapi peristiwa itu. Tetapi apa boleh buat. Kita harus mempertahankan hidup kita, meskipun untuk itu kita harus mati. Tetapi mati sambil bertempur akan jauh lebih baik akibatnya dari mati diseret di belakang kaki kuda, atau didera dengan cambuk berujung besi-besi runcing.”

 

 

“Kenapa kita harus terlibat di dalam persoalan ini?” bertanya salah seorang anak buahnya.

“Kenapa tidak?”

“Bukankah orang-orang Ki Raga Tunggal yang telah berkelahi di tengah jalan itu? Biarlah orang-orang Kiai Raga Tunggal sajalah yang akan mengalami bencana seandainya orang-orang Tambak Wedi itu marah.”

“Ah, jangan berpikiran kerdil.”

“Tidak. Justru ini adalah sikap yang paling baik. Semakin sedikit gerombolan yang ada di lereng Merapi, agaknya akan menjadi semakin baik. Daerah perburuan kita menjadi semakin sempit sekarang. Sedang jumlah kelompok-kelompok yang ada justru semakin banyak dengan hadirnya orang-orang di Tambak Wedi itu. Jika orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Ki Raga Tunggal itu bertempur dan saling membinasakan, bukankah dengan demikian akan dapat sedikit memperlonggar daerah jelajah kita masing-masing yang masih tersisa?”

“Jalan pikiran itu pun benar,” berkata Ki Serat Wulung, “tetapi dalam keadaan seperti sekarang, aku condong pada sikap yang lain. Bagaimanakah kiranya jika yang lenyap lebih dahulu dan memberi kesempatan bagi yang lain itu adalah gerombolan kita?”

“Kenapa harus kita? Bukankah yang telah berselisih dengan orang-orang Tambak Wedi itu adalah orang-orang Ki Raga Tunggal atau orang-orang dari mana pun juga, tetapi bukan kita?”

“Tidak ada bedanya. Jika kita masing-masing harus berhadapan dengan orang-orang Tambak Wedi, maka kita akan lenyap sekelompok demi sekelompok. Tidak ada pertimbangan lain. Tetapi jika kita bekerja bersama, khususnya untuk menghadapi orang-orang Tambak Wedi, mungkin akibatnya akan lain.”

“Apakah bedanya?”

“Mungkin kita akan dapat mengalahkan orang-orang Tambak Wedi. Perhitungan ini adalah di luar pertimbangan kemungkinan Untara ikut camput.”

“Hancurnya Tambak Wedi, apakah akan berarti bahwa kita akan dapat bekerja bersama seterusnya dengan orang-orang Ki Raga Tunggal, Ki Jambe Abang, Sampar Angin, dan yang lain?”

“Memang tidak menjamin demikian. Tetapi jika terjadi perselisihan antara kita dengan mereka, maka kedudukan kita tidak jauh berbeda. Kita masih dapat mengharap untuk menang. Tetapi apakah demikian halnya jika kita behadapan dengan orang-orang Tambak Wedi? Aku sadar, bahwa setiap kelompok mempunyai perhitungan yang serupa. Tetapi itu tidak apa.”

Jawaban itu agaknya dapat dimengerti, sehingga kemudian tidak ada lagi di antara orang-orangnya yang bertanya lebih banyak lagi.

“Nah, menjelang pagi, bersiagalah. Kalian tidak usah berkumpul di sini untuk waktu yang tidak terbatas. Kalian dapat kembali ke tempat kalian masing-masing. Juga yang berada di Goa Angke. Tetapi jika kalian mendengar isyarat, maka kalian harus menyambung isyarat kentongan itu, sehingga setiap orang akan dapat mendengarnya dan segera berkumpul. Demikian juga jika ada dari antara kalian yang melihat gelagat yang mencurigakan, kalian harus memberikan laporan. Aku sendiri tidak akan berada di rumah ini. Aku berada di ujung Alas Wetan. Beberapa orang pengawal akan berada bersama aku di sana. Hanya orang-orang yang sudah kita kenal baik akan dapat bertemu dengan aku.”

“Apakah rumah ini akan dikosongkan?”

“Ada beberapa orang yang akan mengawasinya dan yang akan menerima hubungan dengan Ki Raga Tunggal selanjutnya, atau dengan kelompok-keloompok yang lain.”

Demikianlah, sejenak kemudian maka orang-orang itu pun meninggalkan rumah Kiai Serat Wulung. Namun mereka mengerti, bahwa setiap saat mereka harus berkumpul dengan senjata di tangan.

Dengan demikian, maka semua pihak yang berada di lereng Gunung Merapi itu pun telah mempersiapkan diri. Di padepokan tua yang telah mulai rusak, orang-orang yang dipimpin oleh Kiai Kelasa Sawit, telah siap untuk melakukan gerakan kekerasan untuk melepaskan dendam atas kematian tiga orang kawan-kawannya.

Tetapi karena mereka masih belum mengetahui, siapakah yang telah membunuh mereka itu, maka mereka masih belum dapat bergerak.

Dalam pada itu, Kiai Kelasa Sawit pun telah menyiapkan beberapa orang dalam tugas sandi. Mereka harus berada di tempat orang banyak berkumpul. Di pasar, atau di warung-warung untuk mencoba mendengar, siapakah yang telah kehilangan beberapa orangnya pula seperti Tambak Wedi. Dengan demikian, maka akan dapat mereka ketahui dengan kelompok manakah orang-orang Tambak Wedi itu sudah berbenturan. Bahkan dengan cara-cara apa pun juga.

Ketika kemudian matahari mulai menyingsing, beberapa orang yang menyamar sebagai orang-orang kebanyakan, telah meninggalkan Padepokan Tambak Wedi. Mereka membawa uang secukupnya untuk berbelanja ke pasar-pasar dan warung-warung yang ada di sekitar daerah pertempuran semalam dan di padukuhan-padukuhan yang tersebar di lereng Merapi, terutama bagian timur dan selatan.

Sementara itu, kelompok-kelompok yang lain pun telah menyebar orang-orangnya pula untuk mengawasi, apakah ada gerakan pasukan yang terutama datang dari daerah Tambak Wedi dan sekitarnya. Namun di samping itu, setiap pemimpin gerombolan itu pun telah memerintahkan kepada setiap orang di dalam lingkungannya untuk tidak mempercakapkan peristiwa yang dapat menimbulkan benturan di antara mereka itu.

“Jagalah agar tidak ada orang lain yang mendengar bahwa peristiwa itu telah terjadi. Dan bahwa mayat-mayat di jalan itu seakan-akan telah hilang begitu saja tanpa diketahui ke mana perginya, atau telah diambil oleh siapa pun.”

Untunglah, bahwa keterangan yang mencengkam setiap orang di dalam setiap gerombolan itu tidak merambat kepada mereka yang tidak terlibat di dalamnya. Penduduk padukuhan di sekitar lereng Merapi, bahkan di sekitar peristiwa yang telah menimbulkan ketegangan itu pun tidak mengetahui, apakah sebenarnya yang telah terjadi di sekitarnya. Mereka tidak merasakan ketegangan dan kesiagaan orang-orang yang terlibat dalam kelompok-kelompok dan gerombolan-gerombolan penjahat. Sehingga karena itu maka mereka pun bekerja seperti biasa dalam pekerjaan masing-masing. Yang bekerja di sawah, tetap bekerja di sawah. Sedang yang pergi dan berdagang di pasar pun tetap menunaikan tugasnya masing-masing. Bahkan yang jarang sekali nampak di antara pepohonan hutan di lereng Gunung Merapi, beberapa orang blandong telah bersiap-siap menebang kayu-kayu yang agaknya diperlukan oleh prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom, karena hutan di lereng Gunung itu berada di bawah pengawasan prajurit-prajurit Pajang pula.

Namun agaknya, kehadiran mereka di hutan-hutan di lereng Merapi itu memang telah menarik perhatian beberapa orang. Tiga orang yang sedang lewat di jalan yang melintasi hutan yang tidak begitu lebat itu, tertarik kepada beberapa orang blandong kayu yang sedang duduk di pinggir jalan dengan kapak di tangan mereka.

“Ki Sanak,” bertanya orang-orang yang baru lewat itu, “apakah kalian akan menebang hutan?”

Salah seorang blandong itu berdiri sambil menjawab, “Tentu tidak. Tetapi kami memang akan menebang satu dua batang pohon yang kami perlukan.”

“Agaknya kalian sedang memilih kayu tertentu?”

“Ya. Kami memang sedang bersiap-siap untuk menebang dua tiga batang pohon Sanakeling.”

“Sanakeling?” bertanya salah seorang dari orang-orang yang lewat itu.

“Ya. Sanakeling dan yang belum kami ketemukan adalah pohon Pucang Putih.”

“Untuk apa?”

“Kami sedang memperlengkapi senjata prajurit-prajurit Pajang yang ada di Jati Anom.”

“Jadi kalian ini prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom.”

Orang itu menggeleng sambil tersenyum, “Kami bukan prajurit. Kami adalah blandong-blandong yang mendapat pesanan dari para prajurit untuk mencari kayu yang diperlukan.”

Ketiga orang itu termangu-mangu. Salah seorang bertanya, “Kayu-kayu itu apakah akan dibuat bindi, atau bentuk-bentuk senjata yang lain?”

“Semacamnya. Tetapi sebagian akan dipergunakan sebagai hulu-hulu pedang, dan tangkai tombak panjang dan tombak pendek, canggah, trisula dan semacamnya.” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Agaknya kami memang bukan sekedar blandong. Karena di antara keluarga kami ada yang dapat membuat jenis-jenis senjata atau tangkai-tangkai senjata dari kayu-kayu yang keras dan lentur, seperti kayu Pucang Putih yang belum kami ketemukan. Karena itu maka pesanan yang kami terima bukannya sekedar menebang kayu, tetapi juga membuat sesuai dengan pesanan.”

Orang-orang itu mengangguk-angguk. Bahkan salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah kau khusus melayani prajurit-prajurit Pajang?”

“Tentu tidak. Tetapi pengambilan kayu di daerah ini memang harus ada ijin khusus dari prajurit Pajang.”

Orang-orang yang lewat itu pun mengangguk-angguk pula. Lalu salah seorang berkata, “Baiklah. Kami akan meneruskan perjalanan kami. Kami akan berbelanja di pasar untuk keperluan peralatan di rumah saudara kami.”

Blandong yang sedang bercakap-cakap itu mengangguk hormat, sambil menyahut, “Silahkan, Ki Sanak. Jika Ki Sanak lewat lagi di jalan ini, Ki Sanak tentu akan memberikan oleh-oleh.”

Ketiga orang yang lewat itu tertawa pendek. Sambil mengangguk-angguk salah seorang dari mereka menyahut, “Apakah kira-kira kalian masih ada di sini?”

“Kami akan berada di sini sampai kira-kira tiga hari. Hari ini kami baru akan dapat menebang dan memotong-motong sebatang pohon Sanakeling itu. Dan besok kami akan menebang satu lagi. Bahkan mungkin masih kurang,” jawab blandong itu.

“Baiklah. Oleh-oleh apakah yang harus aku bawa bagi kalian?”

Blandong itu tertawa. Katanya, “Terima kasih. Kami tidak memerlukan apa-apa.”

Sambil tertawa pula ketiga orang itu pun kemudian meninggalkan tempat itu. Sekali-sekali mereka masih berpaling dan memperhatikan blandong yang kemudian duduk kembali di antara kawan-kawannya.

“Kau lihat blandong itu dengan saksama?” bertanya salah seorang dari ketiga orang yang lewat itu.

“Ya. Aku tidak yakin bahwa mereka adalah blandong-blandong biasa. Mungkin ada juga di antara mereka benar-benar blandong. Tetapi yang berbicara itu agaknya sama sekali bukan seorang blandong kayu.”

“Ya. Tubuhnya menunjukkan, bahwa ia bukan seorang blandong. Biasanya seorang blandong tubuhnya tidak seimbang seperti orang itu. Tangannya tentu menunjukkan kerja keras yang mereka lakukan. Tetapi tubuh orang itu sama sekali tidak membayangkan kerja seorang blandong, Badannya yang seimbang dan serasi, membuat aku curiga, bahwa ia adalah seorang prajurit. Kau lihat, bagaimana caranya berdiri dan berbicara?”

“Ya. Aku yakin, ia memang seorang prajurit. Setidak-tidaknya ia adalah salah seorang dari mereka yang mempelajari olah kanuragan.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi mereka pun berjalan terus.

Sementara itu, blandong yang sedang duduk itu pun masih saja memandang ketiga orang yang lewat itu sampai mereka hilang di tikungan.

“Langkahnya sudah mengatakah, bahwa mereka bukan sekedar petani yang akan pergi berbelanja ke pasar,” desis blandong yang berbicara dengan ketiga orang itu.

“Jadi benar, bahwa ada beberapa orang yang telah turun dari Padepokan Tambak Wedi seperti yang diduga oleh Senapati Untara.”

“Tetapi belum merupakan sebuah gerakan. Mungkin mereka masih ragu-ragu karena mereka tidak tahu pasti, siapakah lawannya dalam perkelahian di tengah bulak itu.”

“Tetapi lawannya segera mengetahui, bahwa yang mereka hadapi adalah orang-orang Tambak Wedi.”

“Tentu lebih mudah. Hampir setiap orang dari gerombolan yang ada sudah saling mengenal. Jika mereka tidak mengenal sekelompok orang yang berkeliaran di sini, tentu mereka langsung mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah orang-orang dari Tambak Wedi.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka bertanya, “Tetapi, apakah ketiga orang itu benar-benar akan pergi ke pasar?”

“Ya. Mereka tentu benar-benar akan pergi ke pasar untuk mendengar beberapa hal tentang peristiwa terakhir yang terjadi di lereng Gunung Merapi ini. Mungkin mereka akan mendapat keterangan, dengan siapakah pasukannya telah berbenturan malam tadi.”

Sekali lagi kawan-kawannya mengangguk-angguk.

“Sekarang,” berkata blandong yang semula berbicara dengan ketiga orang yang lewat itu, yang agaknya adalah pemimpinnya, “salah seorang dari kalian harus pergi ke pasar terdekat. Kalian harus menghubungi prajurit sandi yang ada di pasar itu untuk mengawasi ketiga orang yang baru saja lewat. Bukankah kalian tidak akan melupakan tampang mereka.”

“Siapakah di antara kami yang harus berangkat?” bertanya seorang yang lain. “Aku sudah siap jika akulah yang harus pergi.”

Kawannya yang berdiri di sampingnya tersenyum. Katanya, “Tentu kau lebih senang pergi ke pasar daripada menebang pohon di sini. Di sini kami hanya akan berpapasan dengan ular atau serigala. Di pasar kau dapat melihat perempuan-perempuan cantik dan duduk di sebelah penjual dawet legen.”

Yang lain pun tertawa. Tetapi tidak ada yang menolak permintaan itu, sehingga akhirnya pemimpinnya berkata, “Baiklah. Pergilah. Tetapi hati-hati. Jangan sampai kau terhenti di jalan sebelum kau mencapai pasar itu. Kau tahu artinya?”

Orang yang mendapat tugas itu menarik nafas panjang. Ia mengerti, bahwa mungkin sekali ia dihentikan oleh orang-orang yang mencurigainya. Dan itu berarti kekerasan.

“Nah,” berkata pemimpinnya, “jadi bukan sekedar duduk di sebelah penjual dawet legen yang terkenal itu saja yang harus kau lakukan. Karena itu, aku kira sebaiknya dua orang di antara kalian pergi ke pasar. Bukan hanya seorang.”

Demikianlah maka sejenak kemudian, dua orang di antara mereka pun meninggalkan hutan itu setelah mereka mengenakan pakaian seorang petani biasa. Tetapi di balik baju mereka terdapat sepasang pisau belati yang dapat mereka pergunakan setiap saat mereka menjumpai bahaya.

Sepeninggal kedua orang itu, maka yang lain pun mulai dengan tugas mereka menebang sebatang kayu Sanakeling yang tumbuh tidak jauh dari jalan yang membelah hutan rindang itu. Dengan demikian maka mereka tetap dapat bekerja sambil mengawasi jalan yang menuju antara lain ke Tambak Wedi.

Namun karena mereka sebagian tidak biasa menebang pohon-pohon kayu, maka mereka lebih banyak berdiri sambil bertelekan pinggang.

Seorang di antara mereka yang berada di atas dan sedang memotong beberapa dahan sebelum batang kayu itu dirobohkan, duduk sambil mengusap tangannya. Katanya, “Tanganku sudah mulai pedih.”

“Turunlah,” berkata yang lain, “biarlah aku yang naik. Agaknya kau lebih pandai memotong jenang alot daripada sebatang dahan kayu Sanakeling.”

Dalam pada itu, kedua orang di antara mereka yang pergi ke pasar, berjalan dengan tergesa-gesa. Tetapi mereka tidak berusaha untuk menyusul ketiga orang yang telah mendahuluinya agar tidak tumbuh salah paham dan pertikaian sebelum mereka sampai ke pasar.

“Apakah ketiga orang itu tidak akan dapat mengenali kita?” bedanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Tentu tidak. Mereka tidak melihat kita waktu kita duduk-duduk di pinggir hutan itu. Setidak-tidaknya mereka tidak menghiraukan kita, karena mereka asyik berbicara dengan Lurah.”

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan. Tetapi kita berhati-hati.”

Demikianlah, kedua orang itu pun akhirnya sampai ke pasar tanpa terjadi sesuatu di perjalanan. Di antara orang-orang yang sedang berjual beli, mereka berjalan perlahan-lahan sambil mengawasi hampir setiap orang yang ada dipasar itu untuk mencari ketiga orang yang telah mendahuluinya.

Namun akhirnya, mereka berhasil menemukannya. Ketiga orang itu sedang duduk di dalam sebuah warung di pinggir pasar sambil menghadapi masing semangkuk minuman panas.

“Kau mengawasi di sini,” berkata salah seorang dari kedua orang yang mengikuti mereka, “aku akan menemui petugas yang dikirim langsung dari Jati Anom.”

“Di manakah mereka itu?”

“Menurut keterangan yang kita terima, mereka berada di sisi gerbang yang menghadap ke utara.”

“Baiklah. Tetapi jangan terlampau lama.”

Yang seorang dari keduanya pun kemudian meninggalkan tempat itu. Yang lain pun segera berjongkok dan menawarkan sebulat mata cangkul agar tidak seorang pun yang memperhatikannya berdiri termangu-mangu di tempat itu.

Ternyata beberapa petugas yang dikirim langsung dari Jati Anom untuk mengawasi tempat-tempat yang ramai memang berada di sisi pintu gerbang. Dengan singkat, petugas yang mengikuti ketiga orang itu pun kemudian menyerahkan persoalannya kepada petugas yang langsung datang dari Jati Anom.

“Kenapa tidak kau saja yang menemani mereka duduk di warung itu? Kau dapat memesan makanan apa saja yang kau sukai.”

“Tetapi ada kemungkinan mereka mengenal aku. Karena aku berada di pinggir jalan ketika mereka lewat, meskipun aku sudah siap untuk menebang pohon Sanakeling.”

“Tetapi dengan pakaianmu itu, mereka tidak akan dapat segera mengenalimu.”

“Sebaiknya kau sajalah. Tetapi ingat, kau harus membawa sebungkus ubi kukus dan talam jagung yang manis. Aku menunggumu di sini dan akan membawanya ke hutan rindang.”

“Berapa orang kalian di sana?”

“Sepuluh orang.”

“Seharusnya kau membawa gerobag untuk mengangkut ubi kukus dan talam jagung manis untuk sepuluh orang tukang blandong.”

“Cepatlah,” berkata orang itu kemudian, “sebelum mereka pergi.”

Petugas yang datang dari Jati Anom itu pun kemudian menunjuk salah seorang di antara mereka untuk pergi ke warung itu pula dan mendengarkan setiap percakapan di antara mereka yang sedang diawasi itu.

Tetapi di warung yang pertama, mereka tidak menemukan keterangan apa pun. Ketiganya agaknya memang mencoba menangkap berita tentang perkelahian yang telah terjadi. Tetapi meskipun mereka memancing pembicaraan, namun agaknya orang-orang yang ada di warung itu tidak ada yang mengetahuinya.

Dengan demikian maka ketiganya pun berpindah pula ke warung yang lain atau di tempat orang-orang lain berkerumun. Setiap kali petugas-petugas dari Jati Anom selalu mengikutinya meskipun setiap kali pula mereka harus berganti orang agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Dengan wajah yang suram, para petugas sandi baik yang langsung dikirim dari Jati Anom maupun kedua orang yang mengikuti ketiga orang yang dicurigai itu, belum dapat mengambil kesimpulan apa pun juga sampai saatnya pasar itu mulai menjadi semakin sepi.

“Namun setidak-tidaknya kita mengetahui bahwa ketiganya tentu berkepentingan dengan pertempuran itu,” berkata petugas yang langsung datang dari Jati Anom. “Ternyata mereka selalu mencoba mengarahkan setiap pembicaraan pada kemungkinan terjadi benturan antara gerombolan-gerombolan yang ada di lereng Gunung Merapi. Untunglah bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang berada di warung-warung itu menanggapinya, karena agaknya mereka juga tidak mengetahui bahwa baru saja terjadi benturan serupa itu, atau karena mereka memang tidak mengacuhkannya dan mempercayakannya kepada prajurit Pajang.”

Yang lain mengangguk-angguk. Salah seorang berkata, “Kita tunggu seorang kawan kita yang masih mengikutinya. Mungkin ia mendapat keterangan baru. Mudah-mudahan kita menemukan sedikit keterangan mengenai kemungkinan yang dapat terjadi.”

Dalam pada itu, selagi para petugas sandi itu mengawasi tiga orang yang mereka curigai di antara orang banyak, maka Kiai Gringsing dan kawan-kawannya duduk di pendapa rumah Untara di Jati Anom. Meskipun mereka berniat untuk segera kembali ke Sangkal Putung, namun dalam keadaan seperti itu, mereka merasa tidak pada tempatnya untuk meninggalkan Jati Anom begitu saja meskipun mereka percaya akan kemampuan Untara dan pasukannya jika sekedar mengalami kelompok-kelompok orang-orang yang sesat di lereng Merapi.

Namun ternyata bahwa tanda-tanda yang mereka dapatkan pada kelompok baru yang tinggal di Tambak Wedi sangat menarik perhatian.

“Masih ada waktu,” berkata Kiai Gringsing kepada Ki Sumangkar dan Ki Waskita. “Perkawinan itu belum begitu dekat. Yang kita cemaskan adalah justru jika ada pihak-pihak yang merasa berkepentingan dengan orang-orang bercambuk.”

Sumangkar mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Jarak ini sebenarnya tidak begitu jauh, Kiai. Apakah kita dapat menengok Sangkal Putung sebentar. Kemudian jika perlu kita akan kembali lagi kemari?”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Rasa-rasanya pendapat itu ada juga baiknya. Ia tidak membiarkan kedua murid-muridnya selalu dalam ketegangan menunggu, dan ia sendiri tidak selalu dibayangi oleh angan-angan yang mencemaskannya.

Ki Waskita pun kemudian berkata pula, “Jika demikian, apakah aku dapat membawa Rudita serta dan meninggalkannya di Sangkal Putung?”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk.

“Jika Kiai sependapat, mumpung masih belum terlampau siang. Kita dapat pergi ke Sangkal Putung dan sebelum senja kita sudah berada di tempat ini pula, jika kita tidak terlalu lama berada di kademangan itu.”

Kiai Gringsing masih mengangguk-angguk.

“Apakah pendapat Kiai?” desak Ki Sumangkar.

“Aku sependapat,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi dengan demikian kita harus segera berangkat.”

“Kita akan minta diri kepada Angger Untara,” berkata Ki Sumangkar, “tetapi apakah kita perlu mengatakan bahwa lukisan kelelawar itu sangat menarik perhatian kita sehingga kita akan kembali lagi kemari?”

“Aku kira masih belum perlu,” jawab Kiai Gringsing. “Kita tidak perlu mengatakan bahwa pusaka-pusaka itu kini sedang jengkar dari Mataram. Dengan demikian, maka kita pun tidak perlu menyebut ciri-ciri itu sebagai ciri-ciri yang ada hubungannya dengan peristiwa itu. Biarlah kita sekedar mengetahui bahwa orang-orang di Tambak Wedi mempunyai ciri-ciri yang demikian.”

Ki Sumangkar dan Ki Waskita mengangguk-angguk. Namun kemudian Ki Sumangkar berkata, “Kita harus menunggu Ki Untara sejenak.”

“Ia akan segera kembali,” sahut Ki Waskita. “Bukankah ia hanya pergi ke banjar untuk memberikan beberapa perintah kepada prajurit-prajurit yang ada di sana?”

“Ya. Dan singgah sebentar di Kademangan Jati Anom,” desis Kiai Gringsing.

Namun dalam pada itu, selagi mereka berbincang, terdengar derap beberapa ekor kuda memasuki halaman. Yang paling depan adalah Untara dan kedua pengawalnya. Kemudian beberapa orang dalam pakaian orang-orang kebanyakan.

 

 

“Petugas-petugas sandi itu,” gumam Kiai Gringsing.

Demikianlah sejenak kemudian mereka telah duduk di pendapa bersama Kiai Gringsing dan kedua kawannya.

“Katakanlah,” berkata Untara dengan wajah yang tegang. Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita melihat, bahwa ada semacam kegelisahan di hati Untara.

“Ki Untara,” berkata salah seorang petugas sandi itu, “kami berhasil mengikuti tiga orang yang kami curigai di dalam pasar atas petunjuk kawan-kawan kami yang menebang pohon Sanakeling di hutan rindang di pinggir jalan yang menuju ke Tambak Wedi.”

“Ya.”

“Hasil penelitian kami menunjukkan, bahwa mereka agaknya dengan sungguh-sungguh sedang mencari siapakah yang telah membunuh tiga orang anak buahnya di bulak semalam.”

“Tidak membunuh. Tetapi saling berbunuhan.”

“Ya demikianlah,” prajurit sandi itu meneruskan. “Tidak banyak yang mereka dapatkan di dalam pasar itu, karena hampir setiap orang tidak tahu tentang peristiwa yang baru saja terjadi.”

“Ya.”

“Tetapi ternyata bahwa mereka telah mengirimkan pula beberapa orang untuk mengamati tempat bekas pertempuran itu terjadi. Agaknya mereka menemukan beberapa macam benda yang dapat membuka rahasia yang sedang mereka cari.”

“Darimana kau tahu?”

“Ketika mereka sedang berada di salah sebuah warung, datang dua orang yang mengatakan hal itu kepada ketiga orang yang terdahulu. Meskipun mereka berbisik tetapi salah seorang kawan kami yang mengawasi mereka dapat mendengar. Mereka menemukan sebilah pisau belati.”

“Belum meyakinkan,” berkata Untara.

“Tetapi selain pisau itu, mereka menemukan sehelai ikat kepala berwarna biru kelengan di pematang.”

“Juga belum meyakinkan.”

“Tetapi mereka memperhitungkan bahwa mayat-mayat itu telah dikuburkan di kuburan terdekat. Ternyata mereka mengirimkan beberapa orang untuk membongkar kuburan baru di tempat itu.”

Yang mendengarkan laporan itu menjadi tegang. Agaknya orang-orang di bekas padepokan Tambak Wedi itu tidak mau bekerja tanggung-tanggung. Mereka benar-benar berusaha untuk menemukan orang-orang yang telah berbenturan dengan beberapa dari antara mereka dan menumbuhkan korban di kedua belah pihak.

“Apakah yang didapatkannya dari kuburan itu? Dan kapan mereka melakukannya?”

“Pagi tadi. Mereka mengirimkan beberapa orang ke kuburan itu tanpa menghiraukan petani-petani yang bekerja di sawah di sekitar kuburan itu. Namun agaknya para petani tidak begitu mengerti, apa yang telah mereka lakukan di kuburan itu karena mereka menjadi ketakutan dan bahkan pergi menjauh.”

“Dari mana kau tahu tentang petani-petani itu? Apakah orang-orang Tambak Wedi itu juga sempat menceritakannya?”

“Tidak, Ki Untara. Kami segera mengirimkan orang-orang kami untuk mengetahui kebenaran berita itu.”

“Jadi?”

“Kuburan itu benar-benar telah dibongkar. Kami yakin melihat bekasnya. Bukan bekas yang telah dibuat oleh prajurit-prajurit Pajang semalam. Tetapi kuburan itu sebagian tidak dikembalikan sebagaimana seharusnya.”

Ki Untara menjadi semakin tegang. Sedang Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Mereka melihat betapa cekatannya gerak pasukan sandi dari Pajang itu. Mereka dengan cepat berusaha meyakinkan semua pendengaran mereka.

Dalam pada itu prajurit sandi itu pun melanjutkan, “Agaknya pada mayat-mayat itulah mereka menemukan ciri-ciri yang mereka cari meskipun masih meragukan.”

“Apakah yang mereka ketemukan?”

“Selain ikat kepala kelengan seperti yang mereka ketemukan di pematang, juga ikat pinggang yang khusus.”

“Bagaimanakah bentuk ikat pinggang itu?”

“Kami tidak tahu dengan jelas, karena kami selama ini tidak menghiraukannya. Tetapi orang-orang yang saling berbicara di warung itu menyebut-nyebut bahwa mereka pernah melihat sekelompok orang yang mempergunakan ikat pinggang semacam itu.”

“Kelompok yang manakah yang mereka sebutkan?”

“Orang-orang Kiai Raga Tunggal.”

Ki Untara termangu-mangu sejenak. Kemudian ia pun memerintahkan untuk mengambil senjata-senjata yang dapat diketemukannya di daerah pertempuran semalam.

Dengan lebih teliti lagi mereka mengamat-amati senjata-senjata itu. Namun mereka sama sekali tidak menemukan ciri-ciri khusus yang dapat menunjukkan bahwa senjata-senjata itu adalah senjata-senjata dari para pengikut Kiai Raga Tunggal.

“Ikat pinggang itu perlu kami ketahui bentuknya,” berkata Ki Untara. Lalu ia pun berkata, “Aku harus berbuat sesuatu. Aku tidak boleh menunggu hingga terlambat.”

“Apakah yang harus kita lakukan?” bertanya prajurit-prajurit sandi itu.

Untara termenung sejenak. Kemudian katanya, “Aku akan mengirimkan orang ke Padepokan Tambak Wedi dan kepada Ki Raga Tunggal. Atas namaku, orang-orang Tambak Wedi supaya diperintahkan untuk tidak melakukan tindakan apa pun juga. Kemudian yang pergi kepada Ki Raga Tunggal harus mengetahui ciri yang mereka pergunakan terutama pada ikat pinggangnya. Adalah kebodohan kita semuanya, bahwa kita tidak mengenal ciri itu, sedangkan orang-orang Padepokan Tambak Wedi dapat mengenalnya.”

“Justru karena kita mengenal sebagian dari pemimpin-pemimpinnya maka kita tidak merasa perlu untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang mereka,” jawab prajurit sandi itu.

“Tetapi apakah artinya pengenalan kita semua terhadap beberapa orang pemimpin mereka dalam keadaan seperti sekarang ini? Korban-korban yang berjatuhan biasanya memang bukan para pemimpinnya. Tetapi pengikut-pengikutnya.”

Prajurit sandi itu tidak berani menjawab lagi.

Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita sama sekali tidak dapat mencampuri persoalan itu. Namun mereka dapat mengerti, betapa teliti dan cermatnya seseorang bekerja, namun pada suatu saat, ada juga persoalan-persoalan yang terlampaui, seperti prajurit-prajurit sandi Pajang di Jati Anom yang kurang mengenali ciri-ciri dari kelompok yang yang dipimpin oleh Kiai Raga Tunggal itu.

Untara pun kemudian memanggil dua orang perwira muda untuk memimpin dua buah kelompok dengan tugasnya masing-masing. Yang sekelompok harus pergi ke Tambak Wedi, dan yang lain akan pergi ke tempat Kiai Raga Tunggal untuk meyakinkan apakah mereka benar-benar telah mempergunakan ciri-ciri khusus pada ikat pinggang mereka.

Sejenak kemudian kedua kelompok prajurit itu sudah berderap di atas punggung kuda meninggalkan Jati Anom. Dengan tanda keprajuritan mereka pergi ke tempat-tempat yang sebenarnya cukup berbahaya bagi mereka. Namun tanda-tanda keprajuritan mereka merupakan tanda bahwa mereka adalah pengemban tugas keprajuritan, yang berarti bahwa yang mereka lakukan adalah atas nama kekuasaan tertinggi Pajang.

Baru ketika kedua kelompok itu sudah berangkat Kiai Gringsing dan kedua kawan-kawannya sempat berbicara dengan Untara yang gelisah.

“Maaf, Kiai. Aku menjadi gelisah sehingga aku harus bertindak cepat.”

“Itu adalah tugas Angger. Dan agaknya Angger telah melakukan dengan penuh tanggung jawab,” sahut Kiai Gringsing.

Untara tersenyum. Katanya, “Aku adalah sekedar pengemban tugas, Kiai.”

Kiai Gringsing dan kedua kawannya mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa keadaan yang gawat sedang dihadapi oleh lereng Gunung Merapi, sehingga Untara harus segera bertindak untuk mencegah sejauh dapat dilakukan, benturan-benturan bersenjata yang akan dapat mengganggu ketenangan rakyat yang perlahan-lahan sedang dipulihkannya.

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita agaknya masih tetap pada rencana mereka untuk pergi ke Sangkal Putung meskipun hanya sekejap. Selain untuk membawa Rudita kepada anak-anak muda yang sebaya dan yang sudah dikenalnya, juga agar Ki Demang dan kedua murid Kiai Gringsing tidak menjadi gelisah karenanya. Sebaliknya, Kiai Gringsing harus memberitahukan kepada murid-muridnya, bahwa ada kemungkinan sekelompok orang-orang yang asing bagi kedua muridnya mencari orang bercambuk.

“Jika keadaan gawat, kami akan menentukan sikap kemudian,” berkata Kiai Gringsing kemudian setelah ia minta diri kepada Untara.

Ki Untara mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang tidak dapat menahan Kiai di sini lebih lama. Tetapi aku harap bahwa Kiai benar-benar dapat kembali ke Jati Anom. Hari ini mungkin belum akan terjadi sesuatu. Tetapi dendam di hati orang-orang Tambak Wedi itu tidak terkendali, maka mungkin malam nanti atau besok, atau kapan saja akan dapat meletus pertempuran di antara orang-orang yang sedang berada di dalam pengawasanku. Yang lebih mencemaskan lagi, adalah bahwa pertempuran yang demikian akan berakibat sangat buruk bagi rakyat di lereng Merapi yang belum lama menikmati ketenangan yang mulai mantap.”

“Baiklah, Ngger. Jika tidak ada persoalan yang sangat mendesak di Sangkal Putung aku akan kembali lagi kemari. Tetapi aku sudah barang tentu tidak akan dapat membawa Agung Sedayu serta dan apalagi Swandaru. Mungkin hal ini agak mencemaskan Angger. Tetapi sebaiknya biarlah untuk sementara mereka berada di Sangkal Putung bersama Rudita.”

Wajah Untara menjadi gelap. Sejak kedatangan Kiai Gringsing di Jati Anom tanpa Agung Sedayu, Untara sudah menyatakan kekecewaannya.

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing pun berkata, “Sebaiknya Angger Untara jangan memikirkan Agung Sedayu pada saat seperti ini. Bukankah persoalan yang Angger hadapi sekarang adalah persoalan yang sangat gawat bagi rakyat di lereng Gunung Merapi.”

Untara menarik napas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah, Kiai. Aku untuk sementara tidak akan mempersoalkan Agung Sedayu. Biarlah untuk satu dua hari ia berada di Sangkal Putung.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Satu dua hari adalah ungkapan perasaan kecewa di dalam hati Untara. Namun Kiai Gringsing tidak membantahnya bahwa tidak mungkin setelah satu dua hari itu Agung Sedayu akan segera dapat datang ke Jati Anom.

Demikianlah maka Kiai Gringsing dan kedua kawannya pun kemudian mempersiapkan diri untuk membawa Rudita ke Sangkal Pulung. Agaknya Rudita sendiri pun merasa senang, bahwa ia akan segera sampai ke tempat orang-orang yang sudah dikenalnya dengan baik.

“Jika aku bersikap baik, maka tidak akan ada persoalan yang dapat tumbuh di antara kami,” berkata Rudita di dalam hatinya.

Untara yang mengantarkan mereka sampai ke regol berkata, “Kiai, aku mengharap kedatangan Kiai malam nanti, justru karena aku kenal dengan Kiai sebaik-baiknya. Banyak yang dapat aku harapkan dari Kiai bertiga untuk mengatasi kesulitan yang barangkali timbul di daerah ini.”

“Aku akan berusaha, Anakmas,” jawab Kiai Gringsing. “Aku kira, tidak ada hal yang penting di Sangkal Putung saat ini, kecuali jika ada sikap tertentu terhadap orang-orang bercambuk. Dengan demikian maka kedua murid-muridku memerlukan perlindungan.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Sudah hampir terucapkan agar Kiai Gringsnig membawa murid-muridnya itu ke Jati Anom, tetapi ketika teringat olehnya bahwa Swandaru akan segera melangsungkan perkawinannya dan Agung Sedayu perlu menemaninya selama Swandaru harus tetap tinggal di rumah, maka niatnya pun diundurkannya.

Sejenak kemudian, maka empat ekor kuda yang dipinjam dari Untara telah berlari meninggalkan Jati Anom menuju Sangkal Putung. Jarak yang memang tidak begitu jauh dan pada saat terakhir telah merupakan jalan yang aman dan hampir tidak pernah terjadi sesuatu.

Di bulak di luar padukuhan induk Jati Anom, Kiai Gringsing dan ketiga orang yang berpacu bersamanya, melihat petani yang sibuk bekerja di sawahnya yang sudah mulai menjadi hijau oleh batang-batang padi yang tumbuh subur. Air yang melimpah tergenang di antara kotak-kotak sawah yang luas, yang terbentang dari padukuhan yang satu sampai ke padukuhan yang lain.

Namun akhirnya mereka pun harus meninggalkan bulak persawahan serta padukuhan dan mendekati jalur jalan di sebelah hutan yang rindang. Mereka memilih jalan itu, karena jalan itu adalah jalan yang paling dekat menuju ke Sangkal Putung.

Mereka sama sekali tidak menghiraukan, seandainya tiba-tiba saja seekor harimau tua yang tidak lagi mampu berburu di tengah hutan dan muncul di jalan itu untuk mencari mangsa yang lebih mudah ditangkap. Bahkan seandainya ada dua atau tiga ekor sekaligus.

Namun demikian, rasa-rasanya orang-orang tua itu mempunyai firasat yang agak lain dan mencemaskan.

Ki Waskita yang ada didepan bersama dengan Rudita, tanpa disadarinya telah memperlambat derap kudanya, sehingga Rudita mendahuluinya beberapa langkah. Tetapi Rudita pun kemudian mengekang kudanya sambil bertanya, “Kenapa Ayah memperlambat perjalanan?”

Ki Waskita berpaling. Dilihatnya Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar seolah-olah tidak mengalami sentuhan perasaan apa pun. Namun karena Ki Waskita memperlambat kudanya, kedua orang tua itu pun menarik kekang kudanya pula. Namun demikian sejenak kemudian keduanya sudah berada di sisi Ki Waskita, sedang Rudita berada di paling depan.

“Ada firasat yang kurang baik,” desis Ki Waskita.

“Apakah Ki Waskita melihat isyarat tentang sesuatu?”

“Bukan isyarat. Tetapi kali ini sekedar firasat. Mudah-mudahan firasat ini tidak benar.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Rasa-rasanya memang ada sesuatu. Tetapi kita tidak dapat kembali.”

Mereka tidak berbicara lagi. Ki Waskita kemudian kembali mendampingi anaknya di depan. Sedang Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar di belakang.

“Memang ada apa-apa di perjalanan ini,” desis Ki Sumangkar. Kemudian, “Tetapi agaknya aku hanya terpengaruh oleh pembicaraan Kiai dan Ki Waskita. Jika aku tidak mendengar kalian berbicara tentang firasat mungkin aku pun tidak merasakan sesuatu.”

“Jangan mengingkari perasaan sendiri, Adi,” jawab Kiai Gringsing. “Tentu Adi Sumangkar bukan anak-anak yang mudah dipengaruhi oleh orang lain.”

“Agaknya memang demikian jika yang memberikan pengaruh atas perasaan ini bukan Kiai Gringsing dan Ki Waskita.”

Kiai Gringsing hanya tersenyum saja. Ia tidak berbicara lagi. Namun tatapan matanya menembus jauh ke depan, ke jalan yang berbatu-batu di bawah kaki kudanya, yang menjelujur menyusuri pinggir hutan itu.

Namun demikian rasa-rasanya firasat di dalam dirinya, bukan sekedar karena pengaruh kata-kata Ki Waskita. Kiai Gringsing pun yakin bahwa pada Ki Sumangkar firasat itu pun telah tumbuh pula seperti pada dirinya dan Ki Waskita.

Tetapi mereka berempat berpacu terus, seolah-olah tidak ada perasaan apa pun yang mengganggu.

Meskipun demikian, Ki Waskita tidak kehilangan kewaspadaannya. Ia tahu, bahwa Rudita tidak mempunyai prasangka buruk terhadap siapa pun dan apa pun, sehingga dengan demikian maka ia tidak akan berbuat apa-apa seandainya mereka benar-benar menghadapi bahaya. Yang akan dilakukan oleh Rudita paling jauh adalah menyelamatkan dirinya sendiri tanpa berusaha untuk menghentikan tindakan apa pun dari orang lain terhadap dirinya.

Dalam pada itu, selagi keempat orang berkuda itu mendekati ujung hutan, maka yang mereka khawatirkan itu ternyata telah terjadi. Tiba-tiba saja dari dalam hutan, beberapa langkah di hadapan derap kuda-kuda itu, seseorang telah meloncat ke tengah-tengah jalan sambil mengacukan senjata telanjang. Sebilah pedang berujung runcing dengan gerigi duri pandan di punggungnya.

Ki Waskita dan ketiga orang yang lain pun segera menarik kekang kuda mereka, sehingga karena demikian tiba-tiba, maka kuda-kuda itu pun seakan-akan telah melonjak berdiri pada kaki belakangnya.

Orang bersenjata pedang itu masih berdiri tegak. Bahkan kemudian beberapa orang yang lain telah muncul pula dari balik pepohonan hutan.

Seorang di antara mereka maju beberapa langkah mendekati Ki Waskita sambil membentak, “Turun dari kudamu!”

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Tetapi ia masih tetap berada di punggung kudanya. Demikian juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Sedang Rudita sudah mulai gelisah sambil memandangi ayahnya.

“Turun!” sekali lagi orang itu membentak. Ki Waskita masih saja tidak bergerak. Tetapi Rudita-lah yang segera meloncat turun. Sambil tersenyum ia maju mendekati orang yang membentak itu sambil bertanya, “Apakah ada kepentingan Ki Sanak menghentikan kami?”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Itulah Rudita kini. Namun demikian, di wajahnya sama sekali tidak membayangkan kecemasan apa pun, selain kegelisahannya justru karena ayahnya tidak mau turun dari kudanya.

Tetapi Ki Waskita tidak dapat bertahan. Karena Rudita sudah meloncat turun, maka ia pun merasa perlu untuk turun pula dari kudanya. Jika dengan tiba-tiba terjadi sesuatu atas anaknya, maka ia akan dapat segera membantunya.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun kemudian turun pula dari kuda masing-masing. Mereka pun kemudian menuntun kuda masing-masing maju mendekati orang-orang yang telah menghentikan itu.

Orang yang menyuruh mereka turun itu pun kemudian maju semakin dekat. Dengan wajah yang tegang ia memandang keempat orang itu berganti-ganti.

“Siapakah kalian?” bertanya orang itu.

Rudita-lah yang menjawab, “Kami adalah orang-orang yang sedang dalam perjalanan pergi ke Sangkal Putung. Kami baru saja datang dari Jati Anom.”

“Jati Anom?” orang itu mengulang. “Apakah kepentingan kalian di Jati Anom, atau memang kalian orang-orang Jati Anom.”

Rudita masih akan menjawab. Tetapi Kiai Gringsing telah mendahului, “Kami adalah orang-orang Sangkal Putung, Ki Sanak. Kami akan kembali pulang setelah beberapa hari bepergian.”

Orang itu memandang Kiai Gringsing dengan wajah yang tegang. Sejenak ia berdiam diri, seolah-olah ingin meyakinkan, siapakah sebenarnya orang-orang yang dihadapinya itu.

Baru kemudian orang itu bertanya lebih lanjut, “Apakah keperluan kalian ke Jati Anom?”

Kiai Gringsing maju selangkah. Jawabnya, “Keperluan keluarga, Ki Sanak.”

“Ya,” tiba-tiba orang itu membentak, “keperluan keluarga atau keperluan apa pun, tetapi bukankah kau dapat menyebutnya?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja Rudita menyela, “Benar-benar keperluan keluarga. Tidak ada persoalan yang penting. Kami pergi menengok keluarga yang ada di Jati Anom. Itu saja.”

“Siapakah keluargamu yang berada di Jati Anom?”

Ternyata Rudita pulalah yang lebih dahulu menjawab, “Untara. Kakang Untara. Kami baru saja menemui Kakang Untara di Jati Anom.”

Orang itu menjadi tegang. Lalu, “Benar kau datang dari kunjunganmu kepada Untara?”

“Kenapa kami harus berbohong? Bukankah tidak ada untungnya jika kami berbohong?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba ia tertawa meskipun bukan karena kelucuan, “Kau mau menggertak aku. Jangan mencoba-coba berbohong. Kau ingin berdiri dengan perisai nama Untara.”

Rudita menjadi heran. Lalu katanya pula, “Sebenarnyalah kami berkunjung kepadanya. Bertanyalah kepada Ayah dan kepada kedua kawannya.”

“Kau sangka bahwa jika kau berlindung di belakang nama senapati cengeng itu kami menjadi ketakutan dan melepaskan kau begitu saja.”

Rudita yang kebingungan kemudian berpaling kepada Kiai Gringsing. Namun ayahnyalah yang bergumam, “Nah, sudah puas kau memberikan keterangan?”

“O,” Rudita surut selangkah, “maaf. Seharusnya Ayahlah yang menjawab.”

Ki Waskita memandang orang itu dengan bimbang. Namun ia pun kemudian berkata, “Yang dikatakan anakku itu benar, Ki Sanak. Kami baru saja berkunjung kapada Angger Untara. Jika kau bertanya keperluan kami, maka kami sedang membicarakan salah seorang keluarga kami yang segera akan kawin.”

“Maksudmu kau membicarakan masalah perkawinan?”

“Demikianlah, Ki Sanak. Ada dua pasang pengantin yang bakal dipertemukan. Satu di antaranya adalah adik Untara.”

Orang itu berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Kau tentu akan membohongi aku pula. Seperti ayahnya, anaknya pun pandai mengelabui orang. Tetapi aku tidak dapat kau kelabui dan kau bohongi.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia pun kemudian bertanya, “Ki Sanak. Siapakah sebenarnya Ki Sanak ini? Dan apakah maksud Ki Sanak menghentikan kami.”

“Jangan pura-pura bodoh. Kalian akan mencari bantuan ke mana? Apakah kalian akan mencoba mencari bantuan ke daerah selatan? Atau barangkali ke daerah Gunung Baka di dekat Prambanan yang barangkali bersarang segerombolan tikus kawan-kawanmu.”

“Aku tidak mengerti, Ki Sanak.”

“Jangan berpura-pura. Katakan, dari kelompok yang manakah kalian.”

“Aku semakin tidak mengerti. Kelompok apakah yang kalian maksud?”

“Tunjukkan ikat pinggangmu,” geram orang itu.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, mereka pun agaknya telah mengetahui pula, bahwa orang-orang itu tentu orang-orang dari Tambak Wedi.

Mereka mencurigai bahwa orang-orang yang sedang dianggapnya sebagai musuh utamanya akan mencari bantuan ke luar daerah Jati Anom, Bodehan, Macanan, Lemah Cengkar, dan sekitarnya. Mereka akan menghubungi kawan-kawan mereka di tempat yang jauh. Daerah pegunungan Baka di dekat Kali Opak, atau barangkali di daerah Rawa-Rawa Jejemberan, di daerah Gunung Gamping jauh ke selatan.

Karena itu, agar tidak menimbulkan persoalan yang berlarut-larut, maka Ki Waskita pun kemudian membuka kancing bajunya dan menunjukkan ikat pinggangnya. Ikat pinggang yang selalu dipakainya.

Orang yang menghentikan perjalanan Ki Waskita dan ketiga orang yang bersamanya itu mengerutkan keningnya. Ikat pinggang Ki Waskita sama sekali bukan ikat pinggang dengan ciri-ciri yang mereka kenal sebagai orang yang telah membunuh kawan-kawannya. Ikat pinggang Ki Waskita adalah ikat pinggang yang lain sekali baik bentuknya maupun bahan yang dibuatnya. Meskipun ikat pinggang Ki Waskita juga lebar dan terbuat dari kulit, tetapi sebagai orang yang berada maka ikat pinggang Ki Waskita dilengkapi dengan timang yang terbuat dari perak dan beberapa butir permata yang cukup menarik perhatian.

Karena itulah, maka berhatian orang itu tiba-tiba saja telah berubah. Bukan lagi pada ciri-ciri ikat pinggang itu, tetapi pada timang perak dan beberapa butir permata itu.

“Ki Sanak,” berkata orang itu kemudian dengan nada merendah, “baiklah. Kalian, memang tidak menunjukkan tanda-tanda yang dapat membuat kami curiga. Ciri-ciri yang ada pada kalian pun berbeda dengan ciri-ciri dari orang-orang yang sedang kami cari. Tetapi agaknya kau memiliki sesuatu yang dapat kau pergunakan untuk membantu kami.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Ia menjadi heran mendengar kata-kata orang-orang yang menghentikannya itu. Namun seperti Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, maka Ki Waskita pun segera dapat menangkap maksud orang itu.

Dan orang itu pun kemudian meneruskan kata-katanya, “Ki Sanak. Kami adalah petugas-petugas yang memiliki kekuasaan untuk bertindak apa saja yang kami anggap penting. Termasuk pengumpulan dana bagi perjuangan kami. Karena itu, barangkali Ki Sanak tertarik kepada perjuangan kami, kami mengharap Ki Sanak bersedia membantu kami.”

Ki Waskita termangu-mangu. Namun kemudian ia bertanya, “Ki Sanak. Sudah barang tentu aku akan bersedia membantu semua usaha yang baik. Tetapi aku belum mengetahui, apakah sebenarnya yang kalian perjuangkan itu?”

“Kebesaran dan kewibawaan negeri ini,” jawab orang itu sambil membusungkan dada. Lalu, “Nah, bukankah perjuangan kami merupakan perjuangan yang pantas mendapat dukungan dari setiap orang.”

“Aku tidak mengerti, Ki Sanak. Jika demikian, apakah kalian termasuk prajurit-prajurit Pajang?”

“Persetan dengan prajurit Pajang. Mereka sama sekali tidak mampu mendukung Pajang untuk menjadi suatu negara yang besar dan berwibawa.”

“Aku tidak mengerti. Jika demikian siapakah Ki Sanak ini?

“Kau tidak usah bertanya terlampau jauh tentang diri kami. Kami adalah orang-orang yang mempunyai cita-cita lebih tinggi dari para prajurit Pajang.”

“Apakah kalian orang-orang Mataram?” bertanya Ki Waskita tiba-tiba.

Orang itu mengerutkan keningnya, lalu, “Aku bukan orang gila yang berpihak kepada Mataram. Apa yang akan dapat dilakukan oleh Juru Martani? Ia tidak jebih dari seorang undagi atau seorang petani yang malas.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Sudahlah. Jangan banyak bertanya. Aku minta kau menyumbangkan ikat pinggangmu itu kepada perjuangan kami.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Dugaannya ternyata benar, bahwa sebenarnya orang itu hanya menginginkan timang peraknya.

“Maaf, Ki Sanak,” berkata Ki Waskita, “aku tidak mempunyai timang yang lain kecuali yang aku pakai ini.”

“Ayah,” tiba-tiba saja Rudita memotong, “apakah keberatan Ayah memberikan timang itu? Ayah akan dapat membeli lagi kelak jika kita sudah pulang.”

“Ah,” desah Ki Waskita, lalu, “mungkin kita akan dapat membeli lagi, tetapi sudah tentu sebelum itu, aku tidak memakai ikat pinggang di perjalanan.”

“Ayah dapat memakai ikat pinggangku yang aku terima dari Senapati Untara.”

“Sudahlah. Biarlah aku menjelaskan kepada mereka, bahwa aku masih memerlukan ikat pinggangku.”

Rudita termangu-mangu. Namun ia tidak dapat memaksa ayahnya untuk mengikuti jalan pikirannya.

“Ternyata anakmu mempunyai pikiran yang lebih jernih dari kau, Ki Sanak,” berkata orang itu. “Ia lebih cerdas dan mampu membuat perhitungan. Apa pun yang kau lakukan, maka ikat pinggangmu dengan timangnya akan jatuh ke tanganku.”

“Jangan memaksa, Ki Sanak. Sudah aku katakan bahwa aku adalah orang Sangkal Putung yang masih mempunyai sangkut paut dengan Ki Untara.”

“Untara tidak akan berani bertindak terhadap kami, orang-orang yang terkenal sebagai anak buah Kiai Raga Tunggal.”

Ki Waskita, Kiai Gringsing, dan Ki Sumangkar terkejut mendengar nama itu. Tetapi mereka pun dengan cepat dapat mengerti maksudnya. Orang-orang yang sudah tentu datang dari Tambak Wedi itu dengan sengaja ingin membenturkan Kiai Raga Tunggal, yang mereka duga telah melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Tambak Wedi itu dengan pasukan Pajang di Jati Anom, sebelum mereka sendiri akan melepaskan dendam terhadap orang-orang Kiai Raga Tunggal itu.

“Ki Sanak,” berkata Ki Waskita kemudian, “sangat menyesal bahwa kami terpaksa mempertahankan hak milik kami. Tetapi barangkali kalian mempunyai tanggapan yang salah terhadap senapati muda di Jati Anom itu. Untara sama sekali tidak gentar menghadapi kelompok-kelompok kecil, apalagi sekecil kelompok Kiai Raga Tunggal, sedangkan kelompok yang besar yang baru saja datang dan untuk sementara menetap di Tambak Wedi itu pun ia tidak segan untuk mengambil tindakan jika perlu.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun ketika ia akan mengatakan sesuatu, Rudita maju mendekatinya sambil berkata, “Maaf, Ki Sanak. Agaknya ayahku tidak ikhlas memberikan miliknya. Karena itu, sebaiknya jangan dipaksa. Sebab pemberian yang tidak didasari dengan keikhlasan akan dapat membawa akibat yang kurang baik.”

“Diam kau!” tiba-tiba saja orang itu membentak.

Tetapi Rudita sama sekali tidak mau diam. Katanya, “Sudahlah. Jangan memaksa. Tentu kau akan mendapat ganti yang jauh lebih banyak untuk dana perjuanganmu daripada sekedar timang perak itu. Ki Sanak, timang itu hanyalah timang perak. Mungkin kelak ada orang lain yang dengan ikhlas memberikan timang emas bermata berlian dan jamrut.”

“Tutup mulutmu!”

Rudita termangu-mangu. Tetapi ia masih berkata, “Cobalah mengerti kata-kataku. Aku pun tidak pernah memaksakan untuk menerima pemberian yang tidak ikhlas seperti itu.”

Orang itu agaknya telah kehilangan semua kesabarannya.

Tetapi Rudita seolah-olah tidak dapat menanggapi keadaan itu. Ia bahkan tersenyum sambil melangkah mendekat. Katanya, “Kami terpaksa minta maaf, Ki Sanak. Ayahku bukannya seorang yang murah hati. Tetapi aku masih berjanji untuk pada suatu saat dapat memberikan sumbangan apa pun kepada kalian.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia kurang mengerti cara berpikir Rudita, tetapi ia yakin bahwa Rudita tidak bergurau. Ia agaknya memang benar-benar ingin memberikan sesuatu. Tetapi timang yang dipakainya sendiri adalah timang yang kurang berharga untuk diberikan kepada orang itu.

Tetapi ternyata bahwa orang itu telah salah mengerti. Ia mengganggap bahwa Rudita telah dengan sengaja mengejeknya. Dengan demikian kemarahan yang telah memuncak itu bagaikan meledak tidak terkendali lagi. Dengan serta-merta, maka ia pun mengayunkan tangannya memukul kening Rudita sekuat-kuat tenaganya.

 

 

Semua yang menyaksikan pukulan yang tiba-tiba itu terkejut. Tetapi yang terjadi itu berlangsung demikian cepatnya, sehingga tidak seorang pun yang dapat mencegah. Apalagi Rudita memang berdiri terlampau dekat dengan orang yang sedang marah itu.

Pukulan itu adalah pukulan yang dilandasi oleh kemarahan yang meluap-luap. Karena itu, pukulan itu telah dilontarkan dengan segenap kekuatan.

Namun, Ki Waskita, Kiai Gringsing, dan Ki Sumangkar, yang dengan gerak naluriah telah menyiapkan diri menghadapi kemungkinan yang lebih buruk lagi, menjadi termangu-mangu. Mereka melihat Rudita masih tetap berdiri di tempatnya. Bahkan senyumnya masih saja nampak di bibirnya.

Yang justru menyeringai adalah orang yang memukulnya. Tangannya bagaikan telah menyentuh besi baja, sehingga rasa-rasanya jari-jarinya telah berpatahan.

“Kau terlampau cepat marah, Ki Sanak,” berkata Rudita kemudian, “cobalah kau pikir dengan hati yang bening.”

Orang yang menghentikan perjalanan sekelompok kecil orang-orang yang akan pergi ke Sangkal Putung itu melangkah surut. Bukan saja orang yang telah memukul Rudita, tetapi kawan-kawannya pun menjadi heran dan berdebar-debar. Mereka mengira bahwa orang yang tidak bersiap-siap menerima pukulan yang dahsyat itu akan terpelanting dan pingsan, bahkan mati. Tetapi ia masih tetap berdiri tegak di tempatnya.

“Pukulannya tidak pernah diulang,” berkata kawan-kawannya di dalam hati, “tetapi agaknya yang berdiri di hadapannya itu adalah anak iblis, sehingga pukulan mautnya sama sekali tidak berakibat apa pun padanya.”

Ketika Rudita melangkah selangkah maju, orang yang memukulnya itu surut selangkah.

“Aku tidak marah,” berkata Rudita, “tetapi aku minta kau memaafkan ayahku kali ini. Agaknya ayahku tidak rela memberikan timangnya yang selalu dipakainya. Tetapi itu pun wajar. Barang-barang yang sudah cukup lama dimiliki dan dipakai, kadang-kadang mempunyai arti tersendiri. Bukan sekedar harga barang itu. Tetapi rasa-rasanya sudah merupakan bagian dari dirinya, sehingga agak enggan rasanya untuk berpisah.”

Orang yang menghentikan Ki Waskita, Rudita, dan kedua orang kawannya itu benar-benar menjadi bingung. Mereka tidak mengerti sikap dan kata-kata Rudita. Sikap dan kata-katanya bukanlah sikap orang kebanyakan.

Bukan orang itu dan kawan-kawannya sajalah yang menjadi heran. Ki Waskita, Kiai Gringsing, dan Ki Sumangkar pun menjadi heran pula. Perkembangan Rudita setelah mempelajari ilmu ayahnya dan setelah ia menyadari keadaan dirinya, agaknya berbeda dengan perkembangan kebanyakan orang. Apalagi Agung Sedayu yang pernah mengalami keadaan hampir serupa di masa kecilnya.

Tetapi Ki Waskita, Kiai Gringsing, dan Ki Sumangkar membiarkan saja Rudita berbuat menurut kehendaknya. Ketiga orang itu memang tidak ingin terjadi benturan di antara mereka dengan orang-orang yang menghentikannya. Jika demikian, maka perkelahian akan segera mulai di Jati Anom, jika sepercik api telah membakarnya, entah apa sebab dan alasannya. Jika terjadi kematian-kematian berikutnya, maka orang-orang yang menurut dugaan Ki Waskita dan kedua orang kawannya itu datang dari Tambak Wedi, akan menjadi semakin marah, karena tuntutan dendamnya atas kematian kawan-kawannya di bulak itu masih belum terpenuhi. Korban berikutnya akan membuat mereka menjadi semakin buas dan liar sehingga prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom akan sangat sulit untuk mengendalikan.

Karena itu, ketika orang-orang yang mencegat perjalanan mereka itu menjadi bingung menghadapi Rudita dan bergeser surut, Ki Waskita dan kedua kawannya hanyalah menunggu, apakah yang akan terjadi selanjutnya meskipun mereka tidak kehilangan kewaspadaan.

“Jika orang-orang itu mempergunakan senjata, maka Rudita harus diselamatkan,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya, karena ia tahu pasti, bahwa Rudita masih belum kebal sama sekali dari senjata tajam. Ia baru berhasil menguasai perasaan sakit dan meningkatkan daya tahan tubuhnya, belum merapatkan jaringan kulit tubuhnya itu, karena untuk itu diperlukan waktu yang bertahun-tahun. Bukan sepekan dua pekan atau sebulan dua bulan. Dan bahkan Ki Waskita sendiri pun masih belum mencapai tingkatan itu pula.

Tetapi agaknya benturan kekerasan yang lebih seru tidak terjadi. Orang-orang itu merasa bahwa mereka tidak akan dapat berbuat banyak terhadap keempat orang yang lewat itu. Yang paling muda di antara mereka, memiliki daya tahan tubuh yang mengagumkan, dan apalagi sifat aneh. Terlebih-lebih ayahnya dan kawan-kawannya itu.

Orang yang telah memukul Rudita itu ternyata semakin lama menjadi semakin menjauhinya. Bahkan kemudian ia berkata kepada Ki Waskita, “Baiklah, Ki Sanak. Aku dapat mengerti pendapat anakmu. Kau memang orang yang paling kikir yang pernah aku temui. Tetapi seperti yang dikatakan oleh anakmu, bahwa pemberian yang tidak ikhlas akan tidak memberikan manfaat yang baik, bahkan justru sebaliknya. Karena itu, jika memang kau tidak ikhlas memberikan sumbangan bagi perjuanganku untuk membuat negeri ini sejahtera, berjalanlah terus. Aku akan menunggu orang-orang lain yang mengerti, bahwa perjuangan kami harus dibantu dengan dana secukupnya, karena perjuangan kami adalah perjuangan yang mulia bagi Demak dan yang kini di bawah pemerintahan Pajang.”

“Kenapa kau sebut-sebut Demak yang sudah tidak ada lagi, Ki Sanak,” bertanya Kiai Gringsing tiba-tiba.

“Kami merindukan kebesaran masa lampau. Bukan saja Demak, tetapi kejayaan Majapahit harus dipulihkan.”

“Majapahit?”

“Ya. Majapahit yang memiliki daerah yang luas dan memiliki kekuatan yang tiada taranya di belahan bumi ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Mudah-mudahan, Ki Sanak. Tetapi sayang, bahwa kami tidak dapat membantu lebih banyak daripada sekedar berdoa bagi kalian.”

“Persetan,” potong orang itu menggeram, “pergilah. Aku tidak memerlukan doa orang-orang kikir.”

Kiai Gringsing tidak menjawab lagi. Mereka pun segera meloncat ke punggung kuda, dan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu.

Beberapa pasang mata memperhatikan keempat orang itu dengan saksama. Belum lagi mereka hilang di tikungan ujung hutan yang rindang itu, orang yang telah memukul Rudita berdesis, “Gila. Aku tidak mengerti, bahwa anak itu tubuhnya sekeras baja. Jari-jariku seakan-akan telah berpatahan dan tidak berarti sama sekali.”

“Mereka adalah keluarga panglima prajurit Pajang di Jati Anom.”

“Ya. Senapati Untara. Agaknya mereka pun memiliki kelebihan seperti Untara.”

“Jika mereka kembali lagi ke Jati Anom, mereka tentu akan menceritakan bahwa kami berada di daerah ini.”

“Tidak apa-apa. Aku menyebut kelompok ini sebagai kelompok orang-orang yang berada di bawah pengaruh Ki Raga Tunggal. Jika Untara marah, ia akan marah kepada Ki Raga Tunggal.”

“Apakah orang-orang itu percaya?”

“Tentu. Mereka belum mengenal kita.”

Kawan-kawannya tidak menyahut. Sejenak mereka memandang debu yang terhambur oleh kaki-kaki kuda yang berlari semakin kencang, dan yang sejenak kemudian hilang di ujung hutan rindang itu.

“Kita harus bersembunyi lagi. Kita akan menghentikan orang-orang berikutnya yang kita curigai,” berkata orang yang telah memukul Rudita.

Demikian beberapa orang itu pun memasuki hutan rindang itu kembali. Mereka menunggu orang-orang berikutnya. Mereka ingin menemukan satu atau dua orang yang mereka anggap dapat memberikan banyak petunjuk tentang keadaan kelompok-kelompok penjahat yang ada di lereng Gunung Merapi, serta mengawasi kemungkinan mereka mencari bantuan ke luar daerah Jati Anom dan sekitarnya.

Dalam pada itu, Ki Waskita, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Rudita berpacu semakin cepat. Mereka ingin segera sampai ke Sangkal Putung. Agaknya menghadapi keadaan yang berkembang di Jati Anom, Sangkal Putung pun perlu mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Bahkan kademangan-kademangan lain wajib pula mengetahui dan mempersiapkan diri, meskipun mereka tidak seharusnya membuat penduduknya menjadi cemas dan ketakutan.

“Tetapi kesiagaan yang demikian perlu sekali,” berkata Ki Waskita.

“Apakah Angger Untara juga berbuat demikian bagi kademangan di sekitar Jati Anom dan di daerah selatan lereng Gunung Merapi?” bertanya Ki Sumangkar.

“Mungkin pertimbangannya agak berbeda. Untara ingin melepaskan penghuni lereng Merapi dari keterlibatan yang jauh, agar tidak terjadi benturan langsung antara kelompok-kelompok penjahat itu, terlebih-lebih lagi yang baru menetap di Tambak Wedi dengan anak-anak muda yang belum siap benar menghadapi mereka,” jawab Kiai Gringsing.

“Dan di daerah itu, prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom tentu dapat bergerak cepat,” desis Ki Waskita.

Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Ia pun sependapat dengan kedua orang kawannya. Bahkan kemudian ia pun berkata, “Memang mungkin sekali benturan kekuatan di lereng Merapi itu akan mengalir ke bawah. Sebaiknya daerah yang tidak terlampau jauh seperti Sangkal Pulung, perlu mempersiapkan dirinya, bahkan mungkin Sangkal Putung dapat mengirimkan beberapa orang untuk memberitahukan kemungkinan serupa itu kepada daerah tetangganya. Beranting dari satu kademangan hingga kademangan yang lain.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Seperti lahar yang meluap dari perut Gunung Merapi, maka benturan yang terjadi di lereng itu pun dapat meleleh turun. Jika Untara kemudian bertindak tegas terhadap semua kekuatan tanpa memilih, maka seperti lebah yang disentuh api, akan bertebaranlah kekuatan yang sudah terpecah itu ke daerah di sekitarnya dengan liar dan bahkan menjadi sangat buas.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa selain kelompok yang ditugaskannya pergi ke tempat yang masih diselubungi oleh rahasia, Tambak Wedi, dan sarang kelompok yang dipimpin oleh Kiai Raga Tunggal, maka Untara pun telah mengirimkan beberapa orangnya untuk memberitahukan perkembangan keadaan kepada kelompok-kelompok prajurit yang bertugas di beberapa daerah yang terpencar.

Dua orang prajurit berkuda berpacu di atas punggung kuda mengawal seorang perwira muda pergi ke Prambanan. Kademangan yang berada di pinggir Kali Opak, dan yang mempunyai beberapa persoalannya sendiri. Prajurit-prajurit di daerah ini mempunyai daerah pengawasan yang luas, sehingga dalam keadaan tertentu harus mengelilingi beberapa kademangan di sekitar Prambanan.

Mereka harus mengawasi daerah yang langsung memasuki hutan Tambak Baya, yang nampaknya semakin lama menjadi semakin ramai dan aman. Namun mereka pun harus mengawasi daerah Sambirata, Cupu Watu, Temu Agal, dan sekitarnya.

Perwira muda yang dikawal oleh dua orang prajurit itu, mengambil jalan memintas melalui lereng Gunung Merapi, lewat di padakuhan yang menjadi agak ramai karena sebatang pohon Mancawarna, kemudian turun ke selatan.

“Kita akan berada di Prambanan untuk beberapa waktu,” berkata perwira muda itu sambil berpacu.

“Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu,” sahut salah seorang pengawalnya.

“Mudah-mudahan. Tetapi prajurit-prajurit Pajang di Prambanan harus bersiaga meskipun tidak perlu membuat penduduknya menjadi gelisah. Daerah pegunungan di sebelah selatan kademangan itu akan mendapat pengawasan khusus, karena kadang-kadang masih ada satu dua kelompok kecil penjahat yang berkeliaran. Dan selama itu, kita akan berada di antara mereka.”

Prajurit-prajurit pengawalnya tidak bertanya lagi. Mereka berpacu semakin cepat. Rasa-rasanya mereka memang sedang melalui daerah yang cukup gawat, sebelum mereka menuruni lereng Gunung Merapi di sisi selatan, menembus hutan yang tidak terlampau lebat.

Sementara itu, kelompok prajurit Pajang di Jati Anom yang mendaki lereng Merapi menuju ke Tambak Wedi, semakin lama telah menjadi semakin dekat. Untuk mencegah timbulnya persoalan di antara para prajurit itu dengan orang-orang dari Tambak Wedi karena salah paham, maka para prajurit Pajang telah mengenakan semua tanda-tanda keprajuritan mereka. Panji-panji dan tunggul, serta kelengkapan yang lain.

Dengan demikian maka iring-iringan itu merupakan sebuah iring-iringan prajurit yang mengemban tugas dari panglima pasukan Pajang di Jati Anom. Semua perlawanan dan pengingkaran atas prajurit-prajurit yang bertugas itu, berarti perlawanan dan pengingkaran terhadap kekuasaan Pajang.

Akibat dari tindakan yang demikian, tentu akan menjadi sangat berat, karena Untara adalah seorang panglima yang memegang teguh tugas-tugas keprajuritannya.

Sedangkan kelompok lain yang dipimpin oleh seorang perwira pula, telah datang ke sarang kelompok yang dipimpin oleh Kiai Raga Tunggal.

Demikian mereka mendekati regol halaman, terasa bahwa ada suasana yang berbeda di tempat itu. Perwira itu melihat penjagaan yang jauh lebih ketat dari biasanya. Bahkan pada jarak yang masih cukup jauh, sudah terasa bahwa mereka sedang diawasi oleh orang-orang Kiai Raga Tunggal.

Di muka regol sekelompok prajurit itu berhenti. Mereka melihat seorang penjaga mendekatinya dengan hormat. Sambil membungkukkan kepalanya ia bertanya, “Apakah yang Tuan kehendaki dari kami?”

“Aku akan bertemu dengan Kiai Raga Tunggal,” berkata perwira itu.

“O,” ia mengangguk-angguk, lalu, “Kiai Raga Tunggal tidak ada di sini.”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Dan ia pun kemudian bertanya, “Di mana?”

“Ia berada di bulak sebelah.”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Jadi ia merasa perlu untuk mengungsi? Baiklah. Bawa ia kemari. Katakan bahwa seorang perwira dari Pajang ingin bertemu.”

Orang itu termangu-mangu. Lalu katanya, “Silahkan Tuan pergi ke bulak sebelah.”

“Aku perintahkan, panggil orang itu kemari.”

Penjaga itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan menyuruh seseorang menyampaikannya. Tetapi aku tidak tahu, apakah ia dapat datang kemari.”

“Aku mengulangi perintahku sekali lagi. Bawa orang itu kemari. Aku akan bertemu dengannya di sini. Tidak di tempat lain.”

Penjaga regol itu tidak menjawab. Ia pun kemudian berkata, “Baiklah, silahkan masuk ke halaman.”

Perwira itu pun kemudian memasuki halaman bersama pengawalnya. Mereka pun kemudian berloncatan turun dari punggung kudanya dan bertebaran di halaman itu.

Beberapa orang pengawal sarang gerombolan yang dipimpin oleh Kiai Raga Tunggal itu memandangi saja tingkah laku para prajurit Pajang. Mereka sama sekali tidak menegurnya atau bahkan menyapa mereka, selain orang-orang tertentu yang memang memimpin pengawalan itu.

Namun kehadiran mereka memberi ketenangan sedikit kepada orang-orang yang ada di halaman itu, karena dengan demikian, maka untuk sesaat mereka tidak akan diganggu oleh pihak lain yang sebenarnya mereka segani, yaitu orang-orang yang berada di Tambak Wedi.

Prajurit-prajurit itu menunggu beberapa saat di halaman. Baru kemudian terdengar derap beberapa ekor kuda memasuki regol.

Yang di paling depan dari mereka adalah Kiai Raga Tunggal. Ketika ia melihat seorang perwira di halaman rumah itu, maka dengan tergesa-gesa ia pun segera meloncat turun diikuti oleh beberapa orang pengawalnya.

“Silahkan naik, Tuan,” katanya dengan nafas terengah.

Perwira-perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian naik ke pendapa bersama Kiai Raga Tunggal, sedang beberapa orang prajurit pengawal, segera mendekati meskipun mereka berdiri saja di bawah tangga pendapa.

“Kedatangan Tuan membuat aku terkejut,” berkata Kiai Raga Tunggal.

“Kau mengungsi?” bertanya perwira itu.

“Bukan maksudku, Tuan. Tetapi aku memang berada di tempat yang terbuka, yang lebih memberikan keleluasaan bagiku untuk bergerak jika perlu.”

“Kau bersembunyi di mana?”

“Aku tidak bersembunyi. Tetapi seperti yang aku katakan, aku sengaja berada di tempat terbuka. Aku berada di gubugku di tengah sawah.”

Perwira itu tersenyum. Senyumnya terasa menusuk jantung Kiai Raga Tunggal. Tetapi Kiai Raga Tunggal pun mencoba untuk tersenyum pula. Meskipun senyum yang sangat masam.

“Tetapi, apakah sebenarnya maksud Tuan?” bertanya Kiai Raga Tunggal kemudian.

“Kiai,” berkata perwira itu, “aku mengemban tugas Ki Untara untuk mengetahui, apakah ciri-ciri khusus yang kau lekatkan pada ikat pinggangmu dan anak buahmu?”

“He,” Kiai Raga Tunggal termangu-mangu.

“Ciri gerombolanmu,” perwira itu menegaskan.

“Apakah maksud Ki Untara dengan mengetahui tanda-tanda yang biasa terdapat pada ikat pinggang kami?”

“Kami bermaksud baik. Bukankah kau sudah mengetahui, bahwa anak buahmu telah berbenturan di bulak dengan beberapa orang dari Tambak Wedi?”

“Siapakah yang mengatakannya?”

“Apakah aku harus menyebutkan, siapa yang mengatakannya.”

“Ya.”

“Itu tidak penting. Tetapi apakah kalian mengakui bahwa hal itu sudah terjadi?”

Kiai Raga Tunggal termangu-mangu. Namun bagi perwira itu, keragu-raguan Kiai Raga Tunggal sudah merupakan jawaban, sehingga karena itu, maka katanya, “Kau tidak dapat ingkar. Karena itu, kau merasa bertanggung jawab atas peristiwa yang dapat terjadi kemudian. Kau memperkuat penjagaan di sarangmu ini, dan sekaligus kau berada di tempat lain.”

Kiai Raga Tunggal tidak menjawab.

“Kiai Raga Tunggal,” berkata perwira itu selanjutnya, “berikan aku sebuah ikat pinggangmu. Atau sebaiknya ikat pinggang yang kau pakai. Jika aku harus membelinya, aku akan membayarnya berapa harga yang kau kehendaki.”

“Apakah artinya dengan ikat pinggangku?”

“Tidak apa-apa. Sekedar meyakinkan panglima bahwa sebenarnya kalian berada dalam bahaya.”

“Ah.”

“Jangan ingkar. Kau sendiri sudah ketakutan.”

“Tuan,” berkata Kiai Raga Tunggal, “aku memang tidak dapat ingkar lagi. Agaknya Tuan banyak mengetahui tentang peristiwa ini. Tetapi apakah Tuan yakin bahwa orang-orang Tambak Wedi itu mengetahui bahwa kamilah yang telah berbenturan dengan mereka?”

“Ikat pinggangmu memberikan petunjuk. Maksudku, ikat pinggang orang-orangmu yang terbunuh di bulak itu.”

“Mereka telah hilang.”

“Mereka dikuburkan di kuburan terdekat. Tetapi kuburan itu telan dibongkar untuk mengetahui apakah mayat-mayat itu mempergunakan ciri-ciri khusus. Dan ciri itu terdapat pada ikat pinggangnya.”

Kiai Raga Tunggal mengangguk-angguk. Kemudian hampir di luar sadarnya ia melepas ikat pinggangnya dan menunjukkan sebuah ciri yang memang khusus. Sebuah lukisan kepala serigala yang dipahatkan pada ikat pinggang dekat dengan timangnya.

Perwira itu mengangguk-angguk. Katanya, “Tanda itu memang ada. He, sejak kapan kau mempergunakan tanda-tanda serupa ini.”

“Sudah lama.”

“Adalah kelengahan kami, bahwa kami tidak mengetahui ciri-ciri ini, justru orang-orang Tambak Wedi sudah mengetahuinya terlebih dahulu.”

“Kami juga mengetahui, bahwa orang-orang Tambak Wedi mempergunakan ciri kelelawar bagi kelompoknya.”

“Itu kami sudah tahu,” potong perwira itu. Lalu, “Aku akan membawa ikat pinggangmu ini. Bukankah kau mempunyai ikat pinggang semacam ini yang lain.”

“Ya,” ia berhenti sejenak, kemudian dengan suara yang merendah, “sebenarnyalah kami menjadi gelisah.”

“Kiai Raga Tunggal,” berkata perwira itu, “kau jangan menunjukkan kegiatan yang meningkat. Kecuali kau dapat membuat orang-orang yang tidak tahu-menahu persoalan ini menjadi gelisah, juga memancing keributan dengan orang-orang Tambak Wedi.”

“Lalu, apakah yang akan kami lakukan jika orang-orang Tambak Wedi itu datang?”

“Aku tahu, kau tentu sudah menyebar kabar ini kepada kawan-kawanmu. Maksudku kelompok-kelompok lain yang juga bersaing dengan orang-orang Tambak Wedi untuk bekerja bersama, meskipun di kesempatan lain akan saling berbenturan pula.”

Kiai Raga Tunggal menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat membantah kata-kata perwira itu.

“Kiai,” berkata perwira itu pula, “kami akan mencoba mengatasinya. Tetapi kau harus membantu. Jika kau mempercayakan persoalan ini kepada prajurit Pajang, maka semuanya akan dapat teratasi tanpa menimbulkan banyak korban. Apakah kau dapat mengerti?”

“Ya. Kami mengerti,” ia berhenti sejenak, namun, “tetapi apakah kami tidak boleh bersiap jika sesuatu terjadi di luar pengetahuan prajurit Pajang di Jati Anom.”

“Tetapi sekali lagi aku pesankan, bahwa kalian tidak boleh membuat rakyat di lereng Gunung Merapi menjadi gelisah dan ketakutan. Apalagi jika terjadi benturan di antara kalian, mereka sama sekali tidak boleh menjadi korban. Aku tahu, bahwa ada di antara orang-orangmu yang tinggal di antara penduduk padukuhan ini, karena mereka memang berasal dari penduduk yang dapat kau pengaruhi. Namun orang-orang lain yang tidak bersalah, harus dapat terhindar dari kemungkinan yang paling buruk.”

“Sudah jelas, bahwa kami tidak akan berani melakukannya. Tetapi bagaimanakah halnya jika yang melakukan itu adalah orang-orang Tambak Wedi?”

“Aku tidak peduli. Tetapi jika terjadi benturan dan jatuh korban di antara rakyat yang tidak bersalah, kalian semuanyalah yang bertanggung jawab.”

Kiai Raga Tunggal tidak menjawab lagi. Hanya kepalanya sajalah yang terangguk-angguk kecil.

Namun dalam pada itu perwira yang sedang mengamat-amati ikat pinggang Kiai Raga Tunggal itu pun bertanya, “Kiai Raga Tunggal. Ternyata ada beberapa tanda-tanda di ikat pinggangmu selain gambar serigala. Bahkan di bagian belakang terdapat gambar seekor garuda. Dan di ujungnya terdapat gambar seekor harimau. Apakah kalian memang mempergunakan ciri-ciri serupa ini?”

“Tuan. Yang kini kami pergunakan adalah gambar serigala di dekat timang itu. Tetapi aku memang senang memahatkan gambar-gambar binatang pada ikat pinggang dan barang-barang lain dari kulit. Di pelana kudaku pun terdapat gambar binatang seperti itu. Ada burung merak, harimau, anjing, bahkan tikus.”

“Apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa. Itu hanyalah sekedar kesenangan. Banyak orang-orangku senang membuat gambaran-gambaran semacam itu.”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika demikian ciri dari gerombolanmu adalah gambar-gambar binatang yang bermacam-macam. Jika pada ikat pinggang seseorang terdapat banyak dan bermacam-macam gambar binatang, maka ia adalah gerombolanmu.” Prajurit itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi lebih dari itu, Kiai. Menggambari dan memahat gambar-gambar serupa ini merupakan suatu keahlian tersendiri. Jika kau dan orang-orangmu mau memanfaatkannya, maka akan ada kemungkinan yang lain bagimu dan orang-orangmu.”

“Menjadi pemahat kulit?” desis Kiai Raga Tunggal.

“Ya.”

“Tidak telaten, Tuan. Dan berapa penghasilan yang akan aku dapatkan dengan usaha semacam itu?”

“Nah,” tiba-tiba saja perwira itu berdiri, “aku minta diri. Jawaban inilah yang aku tunggu. Sebenarnya aku mengharap kau mengucapkan jawaban lain. Tetapi dengan jawabanmu itu, maka harapan para prajurit Pajang untuk merubah cara hidupmu adalah sulit sekali. Kau sudah terbiasa hidup tanpa perhitungan. Kau sudah biasa merampas dan merampok milik orang lain, yang sekaligus menghasilkan banyak uang dan barang-barang.”

Orang-orang itu menjadi bingung. Sambil berdiri ia pun bertanya, “Maksud Tuan, bahwa kami sudah tidak akan dapat mengubah cara hidup kami?”

“Tidak ada tanda-tanda. Jalan pikiranmu agaknya sudah membeku pada cara yang kau tempuh sekarang. Ternyata bahwa kau sama sekali tidak mau melihat kemungkinan lain.”

“Bukan begitu, Tuan. Bukan begitu.”

“Sudahlah. Aku sudah menjalankan tugasku untuk mengenal ciri-ciri yang ada pada ikat pinggangmu. Hati-hatilah menghadapi keadaan yang memang gawat bagimu. Tetapi jangan menyangkut orang yang tidak bersalah, agar kau tidak akan menjadi korban ganda. Dari orang-orang Tambak Wedi, dan tindakan prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom atas kalian.”

“Tuan, Tuan.”

Perwira itu pun kemudian melangkah turun dari pendapa. Di halaman ia masih berkata, “Kami tetap akan mencoba mencegah apa pun yang dapat mengeruhkan daerah ini.”

Kiai Raga Tunggal tidak sempat menjawab. Perwira itu pun kemudian menerima kudanya dari seorang prajuritnya, dan dengan sigapnya meloncat naik. Di atas punggung kuda ia berkata, “Sekelompok prajurit Pajang kini berada di Tambak Wedi.”

“O,” Kiai Raga Tunggal mengangguk-angguk.

Demikianlah maka perwira itu pun bersama pengiringnya meninggalkan rumah Kiai Raga Tunggal kembali ke Jati Anom. Mereka bukan saja dapat mengenal ciri-ciri gerombolan yang dipimpin Kiai Raga Tunggal, tetapi perwira itu sudah mencoba menggelitik hatinya, agar ia sekali-sekali memikirkan kemungkinan yang lain dari cara hidup yang dipilihnya itu.

Dalam pada itu, sekelompok yang lain dari prajurit-prajurit itu, sudah berada pula di Tambak Wedi. Dengan tanda-tanda keprajuritan, mereka memasuki padepokan yang sudah rusak dan kotor itu di bawah pengawasan yang sangat ketat. Hampir di setiap sudut jalan, halaman, dan pendapa padepokan itu, terdapat pengawal-pengawal bersenjata telanjang sehingga suasana di padepokan itu memang diselubungi oleh kesiagaan dan dendam.

Namun bagaimana pun juga, orang-orang di padepokan Tambak wedi itu masih tetap menghormati prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom. Karena itu, mereka membiarkan saja prajurit-prajurit itu memasuki regol padepokan yang dikelilingi oleh dinding batu yang tinggi.

Kiai Kelasa Sawit telah mendapat kabar lebih dahulu bahwa prajurit-prajurit Pajang telah mendekati padepokannya. Dan ia pulalah yang memerintahkan agar prajurit-prajurit itu dibiarkan saja memasuki regol padepokan.

Di dalam padepokan itulah, maka beberapa orang pengawal menyongsong prajurit-prajurit itu dan membawanya ke rumah yang dipergunakan sebagai pusat pimpinan kelompok yang dipimpin oleh Kiai Kelasa Sawit itu.

Ketika prajurit-prajurit itu memasuki halaman, maka Kiai Kelasa Sawit telah siap menunggunya di depan pendapa. Sambil mengangguk dalam-dalam ia berkata, “Selamat datang, Tuan. Kami merasa sangat gembira atas kunjungan Tuan kali ini. Dalam waktu dekat, kami telah dua kali mendapat kunjungan prajurit-prajurit Pajang.”

“Ya,” sahut perwira itu, “dalam keadaan yang lain, mungkin tiga atau empat kali dalam sehari.”

Kiai Kelasa Sawit mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mencoba tersenyum sambil menjawab, “Aku mencoba mengerti maksud Tuan. Tetapi silahkan Tuan naik ke pendapa.”

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian meloncat turun dari kudanya diikuti oleh prajurit-prajuritnya yang lain.

Setelah menyerahkan kudanya kepada seorang prajurit, maka ia pun segera naik ke pendapa, sedang pengawalnya tetap berada di halaman, meskipun dua orang di antara mereka setelah mengikat kudanya pada sebatang pohon perdu, segera berdiri di tangga pendapa, beberapa langkah saja dari tempat duduk perwiranya.

“Kedatangan Tuan memang agak mengejutkan,” berkata Kiai Kelasa Sawit kemudian, “meskipun demikian, kami di sini ingin mengucapkan selamat datang.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Kemudian, kami ingin segera tahu, perintah apa lagi yang harus kami jalankan. Jika soalnya menyangkut anak yang hilang itu, kami masih belum dapat menemukannya. Kami memang sudah mengirimkan beberapa kelompok untuk mengitari daerah ini. Namun setiap orang di dalam kelompok itu masih belum menjumpai seorang anak muda yang bernama Rudita.”

“Dan apakah yang telah terjadi dengan kelompok-kelompokmu itu?”

Kiai Kelasa Sawit mengerutkan keningnya. Katanya, “Tidak ada apa-apa.”

“Apakah anak buahmu sama sekali tidak berkurang?”

Kiai Kelasa Sawit menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa prajurit Pajang di Jati Anom tentu sudah mengetahui apa yang telah terjadi, sehingga karena itu, maka sambil menarik nafas dalam-dalam ia menjawab, “Baiklah, Tuan. Tidak ada gunanya aku berbohong, karena aku yakin, bahwa Tuan sebenarnya sudah mengetahui apa yang terjadi.”

“Ya. Aku hanya ingin mendengar langsung dari kalian, apakah berita yang sampai pada kami itu benar.”

“Pertempuran kecil-kecilan di tengah bulak itukah yang Tuan maksud?”

“Ya.”

“Benar, Tuan. Memang telah terjadi bentrokan di tengah-tengah bulak. Kami tidak tahu, apakah sebabnya sehingga tiba-tiba saja sekelompok orang telah menyerang orang-orang kami yang sama sekali tidak bersiaga untuk bertempur, karena tugas mereka adalah mencari anak muda yang bernama Rudita seperti yang Tuan perintahkan.”

“Ya, yang lain?”

“Tidak ada yang lain, Tuan.”

“Kuburan itu?”

Kiai Kelasa Sawit menggigit bibirnya. Katanya kemudian, “Itu pun benar, Tuan. Kami memang telah membongkar kuburan itu untuk mencari ciri-ciri, siapakah yang telah membunuh orang-orangku itu.”

“Mereka tidak sekedar membunuh, karena ada di antara mereka yang terbunuh,” sahut perwira itu. “Bukankah mereka sudah saling berbunuhan?”

“Ya Tuan.”

“Dan kau menemukan tanda-tanda, siapakah yang telah membunuh dan terbunuh di dalam bentrokan itu?”

Kiai Kelasa Sawit ragu-ragu. Karena itu ia tidak segera menjawab.

“Kiai,” bertanya perwira itu lebih jauh, “apakah yang sudah kau temukan di dalam kuburan itu? Ciri-ciri sebuah kelompok di kaki Gunung Merapi ini? Mungkin ikat kepala wulung, atau senjata-senjata kecil, atau yang lain?”

“Ah,” Kiai Kelasa Sawit pun kemudian berdesah, “Tuan tentu sudah mengetahui segala-galanya. Menilik kata-kata Tuan, maka Tuan sama sekali tidak ingin menanyakan apa-apa di sini. Yang ingin Tuan lakukan adalah sekedar memberitakan kepada kami, bahwa persoalan yang telah terjadi itu benar-benar mendapat perhatian Tuan.”

“Ya. Karena itu dengarlah. Perintah Panglima pasukan Pajang di daerah selatan kepadamu, dan kepada semua kelompok-kelompok yang bertebaran di sekitar Gunung ini. Mereka, termasuk kalian di sini, tidak boleh mengadakan gerakan apa pun juga dengan alasan apa pun.”

“Ah,” tiba-tiba Kiai Kelasa Sawit menjadi gelisah, “Tuan. Apakah aku harus berdiam diri tanpa berbuat apa-apa, jika beberapa orang-orangku terbunuh.”

Perwira prajurit Pajang itu memandang Kiai Kelasa Sawit dengan tajamnya. Ia melihat kekecewaan yang membayang di wajah orang yang mengenakan kulit harimau di tubuhnya itu.

“Kiai Kelasa Sawit,” berkata perwira itu kemudian, “Kami adalah prajurit-prajurit yang bertugas di daerah ini. Kami akan mencoba mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya tanpa kekerasan. Kami akan mencari siapakah yang bersalah sehingga telah terjadi benturan dan bahkan beberapa orang telah menjadi korban.”

Namun tiba-tiba Kiai Kelasa Sawit tertawa. Katanya, “Tuan. Mungkin hal itu dapat Tuan lakukan apabila benturan semacam ini terjadi di dalam kota Pajang. Tetapi tentu tidak di lereng Gunung Merapi ini. Kadang-kadang kita di sini dihadapkan pada keharusan untuk saling membunuh. Dan kita sama sekali tidak dapat mengingkari dengan menyandarkan diri pada pengusutan-pengusutan semacam itu.”

“Tergantung pada kita masing-masing,” berkata perwira itu. “Lereng Gunung Merapi ini bukan rimba belantara yang bebas dari batasan-batasan hidup sesama manusia. Kita bukan sebangsa harimau yang hanya tahu kekerasan dan kekuatan untuk menyatakan kediriannya di antara penghuni hutan lainnya.”

Kiai Kelasa Sawit masih tertawa. Katanya, “Tuan adalah seorang prajurit. Tetapi kami bukan prajurit-prajurit Pajang.”

Dan perwira itu memotong, “Sehingga menurut pendapatmu, kalian tidak berada di bawah perintah kami?”

Kiai Kelasa Sawit yang masih tertawa itu menjawab, “Tuan memang dapat mengambil kesimpulan demikian.”

“Kiai,” berkata perwira itu, “jangan mengedepankan kekerasan. Sebab kami adalah manusia-manusia biasa seperti Kiai yang kadang-kadang menjadi cemas dan khawatir. Jika perasaan yang demikian tumbuh di hati kami, maka kami akan segera kembali kepada naluri kami untuk mempertahankan diri dari segala macam malapetaka.”

“Sebaiknya Tuan tidak usah mengancam. Tuan, kami akan patuh terhadap ketentuan yang diberikan oleh prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom. Tetapi peristiwa yang telah menyinggung harga diri kami itu tidak seharusnya kami biarkan saja tanpa ada tindakan apa pun dari kelompok kami, seolah-olah kami sama sekali tidak mempunyai perasaan setia kawan terhadap kawan-kawan kami yang telah lama berada di dalam lingkungan kami. Dan dengan demikian berarti kami akan kehilangan ikatan kesatuan yang sudah lama kami jalin. Mereka yang masih hidup akan ragu-ragu melakukan tugas-tugas penting yang dapat mengancam hidup mereka, karena kematian tidak menggerakkan kawan-kawannya untuk berbuat sesuatu.”

“Apakah yang kau maksud dengan tugas-tugas penting yang dapat mengancam hidup mereka?” bertanya prajurit itu. “Dalam perjuangan hidup kadang-kadang kita memang harus mempertaruhkan nyawa. Tetapi tidak untuk tujuan yang dapat mencemarkan martabat kemanusiaan kita. Seandainya korban itu terjadi tanpa dapat dihindari lagi, maka kita akan menempuh cara yang paling baik sesuai dengan peradaban. Bukan sekedar melepaskan dendam yang memang dengan mudah dapat diungkat dan dibumbui oleh sikap yang brangasan.”

“Tuan,” berkata Kiai Kelasa Sawit kemudian, “sudah aku katakan, bahwa aku akan patuh kepada perintah prajurit Pajang di Jati Anom, karena kami merasa bahwa kami memang berada dalam lingkaran kekuasaan Panglima di daerah selatan ini. Namun demikian, kami mohon agar sikap kami dapat dimengerti.”

“Tidak ada sikap yang lain kecuali sikap yang sudah aku katakan. Jangan mengambil tindakan sendiri-sendiri dengan alasan apa pun, karena hal itu, akan berakibat sangat buruk. Bukan saja bagi gerombolanmu dan gerombolan-gerombolan yang lain yang saling bermusuhan. Tetapi juga bagi tata kehidupan masyarakat. Seandainya kami dapat menyediakan tempat yang terasing, di tengah-tengah hutan misalnya, kami tidak akan terlampau berkeberatan jika kalian akan saling bertempur dan berbunuhan. Kematian di antara kalian akan mengurangi kesibukan tugas kami. Tetapi karena di antara benturan yang dapat terjadi itu menyangkut padukuhan-padukuhan, maka atas nama Panglima Untara, aku melarang semua bentuk pelepasan dendam.”

Kiai Kelasa Sawit menarik nafas dalam-dalam. Nampak wajahnya menjadi kemerah-merahan, dan sorot matanya mulai membara.

“Tuan. Sudah aku katakan, bahwa aku bukan prajurit Pajang yang memiliki kepatuhan seperti Tuan terhadap Panglima Untara. Namun bagaimana pun juga kami akan mencoba menjalankan perintah itu.”

Perwira itu melihat, bahwa kata-kata Kiai Kelasa Sawit itu hanya sekedar terucapkan di bibirnya. Ia dapat membaca betapa dendam menyala di hatinya dan betapa ia mengumpat-umpat terhadap perintah Untara itu. Tetapi lebih daripada itu, Kiai Kelasa Sawit nampaknya telah bertekad untuk tidak mundur setapak.

Karena itu, maka perwira itu pun merasa bahwa tugasnya tidak akan banyak memberikan harapan untuk mencegah benturan yang akan dapat terjadi. Namun demikian, ia masih tetap mencoba memaksakan perintah itu kepada Kiai Kelasa Sawit meskipun dengan ancaman kekerasan pula.

“Kiai,” berkata perwira itu, “aku tahu bahwa Kiai sama sekali tidak puas dangan pesan-pesan yang aku berikan atas nama Senapati Untara. Tetapi itu adalah perintah yang harus kau taati. Sebenarnya prajurit-prajurit Pajang pun memiliki darah yang panas seperti kalian. Karena kepatuhan mereka terhadap pimpinannya sajalah, maka mereka tidak bertindak liar dan menurut selera masing-masing. Tetapi jika kalian memilih jalan kekerasan, maka kami dapat memanfaatkan sikap itu sebaik-baiknya.”

Wajah Kiai Kelasa Sawit justru menjadi merah membara. Namun ia masih mencoba untuk menahan perasaannya menghadapi prajurit-prajurit Pajang yang datang dengan tanda-tanda keprajuritannya. Agaknya Kiai Kelasa Sawit masih segan untuk langsung berbenturan dengan kekuatan Pajang di Jati Anom sebelum ia berhasil melepaskan dendamnya.

Karena itu, betapa darahnya serasa mendidih sampai di kepala, namun ia menjawab, “Aku akan memikirkannya, Tuan.”

“Tidak ada yang harus kau pikirkan,” prajurit itu menjawab dengan tegas. “Patuhi perintah itu, atau kami bertempur dengan segenap kemampuan kami. Tambak Wedi yang sudah rusak karena telah beberapa lama ditinggal penghuninya ini memang harus disapu rata dengan tanah.”

“Sebenarnya sikap Tuan telah melampaui tugas yang Tuan bawa,” berkata Kiai Kelasa Sawit. “Tuan telah dibakar oleh perasaan Tuan sendiri. Akibatnya Tuan telah memanaskan hatiku. Apakah memang Tuan dangan sengaja berbuat demikian?”

“Terserah atas tanggapanmu. Tetapi perintah yang aku bawa sudah tegas. Kau tidak boleh mengadakan gerakan apa pun juga. Apalagi membalas dendam. Karena kau bersikap miring, maka aku pun menyampaikan perintah panglima dengan tegas, jika kau tidak mematuhi, maka akan ada tindakan kekerasan dari Prajurit Pajang atas kalian tanpa ampun lagi.”

Kiai Kelasa Sawit menahan gejolak perasaan yang hampir memecahkan dadanya. Sementara perwira prajurit Pajang itu pun berdiri sambil berkata, “Tugasku sudah selesai untuk kali ini. Aku akan segera kembali dan melaporkannya kepada Panglima Untara. Aku akan mengatakan apa yang aku lakukan, apa yang aku lihat, dan apa yang aku dengar di sini.”

Kiai Kelasa Sawit menggeram. Katanya, “Silahkan. Silahkan Tuan. Itu adalah hak Tuan, dan kami pun tidak akan ingkar.”

Wajah perwira itu memerah sesaat. Namun ia pun kemudian melangkah turun ke halaman. Pengawal-pengawalnya pun kemudian mendekatinya dan salah seorang dari mereka menyerahkan kendali kuda kepadanya. Di halaman itu nampak bertebaran anak buah Kiai Kelasa Sawit yang nampaknya telah bersiaga pula menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

“Aku minta diri, Kiai,” berkata perwira itu sambil meloncat ke atas punggung kudanya, “aku kira Kiai sudah dapat mengerti. Namun aku masih perlu memperingatkan, bahwa tujuan prajurit-prajurit Pajang adalah penyelesaian dengan baik tanpa pertumpahan darah.”

Kiai Kelasa Sawit mengangguk-angguk. Dipaksakannya bibirnya bergerak, “Baik, Tuan. Terima kasih atas kunjungan Tuan.”

Sejenak kemudian kuda-kuda itu pun mulai bergerak. Kiai Kelasa Sawit mengikutinya sampai ke luar regol halaman. Ia berhenti di tikungan, di sebelah sebongkah batu padas di ujung padukuhan. Ketika kuda itu pun kemudian berlari, maka ia pun berhenti memandangi debu yang mengepul di belakang kaki kuda yang berderap dengan lajunya, menuruni lereng, menyusup di antara batuan di sebelah menyebelah jalan.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: