Buku 090 (Seri I Jilid 90)

 

Tiba-tiba saja Kiai Kelasa Sawit menggeram. Kemarahan yang ditekannya di dalam dadanya, rasa-rasanya tidak tertahankan lagi, sehingga ia tidak dapat mengekang ledakan yang dahsyat.

Semua orang Tambak Wedi terkejut, ketika mereka kemudian mendengar Kiai Kelasa Sawit berteriak nyaring. Seperti teriakan seekor orang hutan di tengah-tengah rimba setelah berhasil membunuh lawannya.

Dengan serta-merta Kiai Kelasa Sawit meloncat dan menghantam batu padas yang ada di ujung padepokan itu.

Akibatnya dahsyat sekali. Batu padas itu pun menjadi pecah berhamburan.

 

 

Pengawal-pengawalnya termangu-mangu menyaksikan ledakan kemarahan Kiai Kelasa Sawit. Mereka mengerti, betapa dahsyatnya tangan pimpinannya itu. Namun setiap kali mereka masih juga mengaguminya. Batu padas itu telah pecah dihantam oleh tangan yang digerakkan oleh kemarahan yang menyala di hatinya.

“Gila!” ia pun kemudian berteriak sehingga orang-orangnya pun mendengarnya. Bahkan yang bertugas di ujung jalan di bawah, dapat juga mendengarnya. “Ternyata orang-orang Pajang telah ikut campur dalam persoalan ini. Tetapi kita tidak gentar. Kita tetap menuntut kematian sepuluh orang bagi setiap orang kita yang mati. Karena prajurit-prajurit Pajang melarang kita bergerak, maka kita pun justru akan mengumpulkan segala kekuatan yang ada. Mungkin kita harus melawan kedua pihak sekaligus. Orang-orang yang telah membunuh kawan-kawan kita dan prajurit-prajurit Pajang. Tetapi jangan takut. Sebentar lagi, Kakang Jalawaja akan datang. Ia membawa beberapa orang pengawalnya. Dan kita akan menjadi semakin kuat. Jika rencananya tepat, hari ini ia datang seperti yang dijanjikan, maka malam nanti kita akan melepaskan dendam kita. Kita akan beruntung jika malam nanti kita dapat menghindari campur tangan orang-orang Pajang, karena besok kita sudah dapat meninggalkan tempat ini, sehingga tindakan berikutnya dari prajurit Pajang tidak akan berakibat apa pun bagi kita. Tetapi jika Untara ikut campur juga, maka aku tidak akan segan membunuhnya. Betapa pun juga tinggi ilmu anak ingusan itu, namun ia tidak akan dapat mengimbangi ilmuku.”

Semua yang mendengar suara Kiai Kelasa Sawit itu rasa-rasanya telah tergetar jantungnya. Suaranya yang mengumandang itu rasa-rasanya langsung menyusup ke dalam pusat jantung. Bahkan mereka yang berada jauh sekali pun rasa-rasanya dapat mendengarnya tidak saja lewat telinganya, tetapi lewat getaran di dalam dada masing-masing.

Dan itu adalah salah satu kemampuan Kiai Kelasa Sawit yang juga dikagumi oleh orang-orangnya.

Dengan demikian maka setiap orang yang ada di Padepokan Tambak Wedi itu pun mengetahui bahwa Kiai Kelasa Sawit telah kehabisan kesabaran. Prajurit Pajang terlampau bersikap tinggi hati dan memerintah. Menurut orang-orang di Padepokan Tambak Wedi, sebaiknya mereka tidak terlalu mengalah terhadap prajurit Pajang di Jati Anom yang jumlahnya tidak terlalu banyak.

“Seharusnya Kiai Kelasa Sawit menunjukkan sikapnya seperti sebelumnya. Ternyata terhadap prajurit-prajurit Pajang ia terlampau sabar, sehingga prajurit-prajurit Pajang itu menjadi semakin besar kepala,” berkata seorang yang bertubuh pendek, kekar, dan berkumis melintang sampai ke pipinya.

“Tetapi akhirnya Kiai Kelasa Sawit tidak dapat mengendalikan diri,” desis yang lain.

“Tidak. Ia masih tetap bersabar. Ia melepaskan himpitan perasaannya setelah prajurit Pajang itu berlalu. Dan itu tidak pernah terjadi sebelumnya.”

Tiba-tiba saja seorang yang bertubuh tinggi, berkulit kuning dan berwajah tampan mendekatinya sambil berbisik, “He, kau tahu bahwa nanti malam akan datang sekelompok kawan kita yang dipimpin oleh Kiai Jalawaja?”

“Ya. Tadi Kiai Kelasa Sawit juga mengatakan. Kemarin pun hal itu sudah disinggungnya sebelum terjadi peristiwa di tengah bulak itu.”

“Jika saja kita semua tidak mengemban tugas yang sangat penting maka aku kira Kiai Kelasa Sawit tidak akan mengekang diri lagi.”

Kawannya yang berwajah tampan itu berhenti sejenak. Mereka masih sempat menyaksikan Kiai Kelasa Sawit meninggalkan tempatnya dan kembali ke dalam rumah induk dari padepokan yang sudah menjadi semakin rusak itu.

“Kenapa Kiai Jalawaja singgah di sini?” bertanya orang berkumis melintang tiba-tiba.

“Tidak seorang pun yang mengetahuinya dengan pasti. Tetapi ia akan datang dan kemudian kita bersama-sama akan pergi meninggalkan tempat ini.”

“Bagaimana dengan dendam kita?”

“Tentu saja kita melepaskan dendam itu lebih dahulu sebelum kita meninggalkan tempat ini.”

“Baru kita merasa puas. Jika kematian yang demikian itu tidak dituntut taruhannya, maka kita akan kehilangan kesetia-kawanan kita. Dan itu akan melemahkan gairah perjuangan kita.”

“Tentu,” sahut kawannya, “dan kita tidak mau membiarkan dendam tetap menyala di hati.”

“Kita akan menunggu perintah. Tetapi pasti setelah Kiai Jalawaja ada di sini.”

“Kekuatan kita akan berlipat. Kiai Jalawaja adalah orang yang luar biasa seperti Kiai Kelasa Sawit.”

“Bahkan mungkin melampauinya meskipun hanya selapis tipis.”

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka merasa bangga akan pemimpin-pemimpin mereka yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Dan bahkan sebagian dari mereka, benar-benar ingin mencoba membenturkan diri dengan prajurit-prajurit Pajang yang ada di Jati Anom. Mereka merasa bahwa mereka memiliki kemampuan yang akan dapat menandingi kekuatan prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom jika benar-benar terjadi benturan kekuatan itu.

“Sekali-sekali prajurit Pajang itu harus dihadapi dengan kekerasan agar mereka mengerti, bahwa mereka bukan orang-orang yang memiliki kemampuan luar biasa sehingga setiap hidung harus menundukkan kepalanya di hadapan mereka,” geram seorang pengawal yang gemuk dan berkepala botak.

Dalam pada itu, Kiai Kelasa Sawit justru menjadi semakin bernafsu untuk melepaskan dendamnya. Sekali lagi ia memperingatkan agar orang-orangnya mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Bahkan kemudian ia pun berpesan, agar orang-orangnya yang masih tersebar di sekitar Jati Anom, di jalan yang memintas di sebelah selatan Gunung Merapi yang menuju ke Prambanan dan jalan-jalan lain yang mungkin dilalui oleh orang-orang yang mencari bantuan ke daerah selatan, segera ditarik dan dipersiapkan untuk melakukan gerakan di malam nanti setelah Kiai Jalawaja datang di Padepokan Tambak Wedi.

Sementara orang-orang yang berada di Padepokan Tambak Wedi itu bersiap-siap dan membenahi semua senjatanya, maka prajurit-prajurit yang meninggalkan padepokan itu berpacu menuruni kaki Gunung Merapi, meluncur dengan kencang ke Jati Anom. Di sepanjang jalan, mereka tidak henti-hentinya membicarakan sikap dan gerak hati Kiai Kelasa Sawit menghadapi perintah Panglima Untara. “Agaknya Kiai Kelasa Sawit sudah tidak dapat mengekang diri lagi,” berkata perwira yang memimpin sekelompok prajurit itu. “Agaknya ia benar-benar akan melepaskan dendamnya.”

“Tetapi mereka masih berusaha untuk menghormati kita,” desis salah seorang prajurit.

“Ya. Tetapi menilik kesan yang tersirat di wajahnya, aku menganggap bahwa yang dikatakannya itu hanyalah sekedar sikap yang pura-pura, atau katakanlah karena ia masih menganggap kita wakil resmi dari Untara, dan yang berarti kepanjangan limpahan tugas dari Kanjeng Sultan di Pajang.”

“Mungkin. Atau mungkin juga ia masih berusaha untuk mengurangi jumlah lawan. Jika mereka berterus terang membangkang, maka Senopati Untara, sebagai panglima yang mendapat wewenang penuh di daerah ini pun tentu akan segera bertindak sebelum mereka sempat berbuat sesuatu.”

“Memang dapat diambil banyak sekali kemungkinan. Tetapi yang pasti, Kiai Kelasa Sawit akan mencoba membinasakan kelompok Kiai Raga Tunggal.”

“Lalu bagaimanakah sebaiknya dengan kelompok Kiai Raga Tunggal? Agaknya mereka pun telah bersiaga.”

“Aku kira kekuatan Kiai Raga Tunggal tidak banyak berarti melawan kekuatan dari Tambak Wedi itu.”

Untuk beberapa saat prajurit yang berpacu kembali ke Jati Anom itu saling berdiam diri. Mereka mencoba membayangkan dua kekuatan yang akan saling berbenturan.

Prajurit-prajurit Pajang itu sudah banyak mengenal Kiai Raga Tunggal dengan anak buahnya. Menilik kekuatan yang nampak di Tambak Wedi, maka sulitlah bagi Kiai Raga Tunggal untuk bertahan meskipun Kiai Raga Tunggal sendiri adalah orang yang pilih tanding. Namun bagaimana pun juga, jumlah orang di masing-masing pihak akan menentukan juga, apakah yang bakal terjadi. Apalagi menurut pendengaran prajurit-prajurit Pajang, Kiai Kelasa Sawit adalah juga seorang yang memiliki banyak kelebihan dari orang kebanyakan.

“Ki Lurah,” tiba-tiba seorang prajurit berdesis kepada perwira yang memimpin kelompok itu, “apakah tidak sebaiknya Kiai Raga Tunggal diberitahu saja bahwa persiapan di Tambak Wedi itu tidak akan terlawan olehnya, dan untuk sementara mengamankannya di dalam barak prajurit-prajurit di Jati Anom.”

“Mungkin dapat menyelamatkan Kiai Raga Tunggal. Tetapi kita harus menggantikan kedudukannya agar rakyat yang tidak bersalah tidak menjadi sasaran kemarahan orang-orang Tambak Wedi.”

Prajurit itu menarik nafas dalam. Tiba-tiba saja menggeloralah jiwa keprajuritannya dan terlebih-lebih karena usianya yang masih cukup muda, “Itu barangkali lebih baik, Ki Lurah. Kita memang harus bertindak tegas menghadapi Kiai Kelasa Sawit yang nampaknya agak berbeda dengan kelompok-kelompok yang lain yang sudah dapat kita awasi sebaik-baiknya.”

“Kita hanya dapat melaporkan apa yang kita lihat. Ki Untara-lah yang akan mengambil keputusan menurut penilaiannya atas pengamatannya. Ia tentu mendapat gambaran yang lebih luas tentang keadaan di lereng Merapi dalam keseluruhan.”

Prajurit itu pun kemudian berdiam diri. Memang segala sesuatunya tergantung sekali kepada keterangan-keterangan yang didengarnya dari segenap petugas sandinya.

Sejenak kemudian, ketika kelompok yang pergi ke Tambak Wedi itu sudah berada di Jati Anom, maka Untara telah memanggil beberapa orang perwira yang terpercaya untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapinya.

“Memang sulit,” berkata seorang perwira yang sudah lebih tua dari Untara, “jika kita tidak bertindak cepat, maka persoalannya akan menjadi semakin berkepanjangan.”

“Ya,” sahut Untara, “agaknya Tambak Wedi sudah siap bukan saja melawan kelompok-kelompok kecil yang ada di lereng Merapi, tetapi juga melawan prajurit Pajang.”

“Karena itu, maka sebaiknya kita pun bersiap untuk bertempur. Aku kira memang tidak ada jalan lain,” potong seorang perwira muda.

Untara mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita tidak tahu pasti kekuatan yarg ada di Tambak Wedi. Sebenarnya kekuatan yang sedang berada di tempat itu patut dicurigai. Kekuatan itu menurut laporan yang sampai kepadaku, bukan sekedar kekuatan kelompok penjahat yang betapa pun besarnya. Tetapi laporan terakhir menggambarkan seolah-olah di Tambak Wedi ada pasukan segelar sepapan.”

Perwira-perwira yang sedang berbincang itu nampak merenung. Gerombolan yang ada di Tambak Wedi memang merupakan gerombolan yang lain. Gerombolan yang agaknya mempunyai niat tertentu, bukan sekedar sekelompok penjahat yang memburu korbannya di sepanjang jalan.

“Karena itu,” berkata Untara kemudian, “bukan maksud kita memberikan pengakuan terhadap kehadiran gerombolan-gerombolan yang lain. Tetapi menghadapi kekuatan yang tidak kita ketahui ini, kita dapat memanfaatkannya.”

“Maksud Ki Untara?” bertanya seorang perwira yang lain.

“Kita akan mempergunakan mereka untuk ikut melawan kekuatan di Tambak Wedi.”

Seorang perwira yang sudah lebih tua dari Untara bergeser setapak. Setelah menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Ki Untara. Apakah hal ini tidak perlu kita pikirkan masak-masak terlebih dahulu. Jika kita mempergunakan mereka, maka rasa-rasanya kita pernah berhutang budi. Selanjutnya kita akan mendapatkan kesulitan untuk bertindak tegas terhadap mereka. Bantuan mereka yang tidak seberapa besarnya itu, akan selalu mereka ungkat dalam setiap persoalan.”

“Kau salah memperhitungkan keadaan,” jawab Untara, “merekalah yang mempunyai persoalan dengan Tambak Wedi. Kita akan datang melindungi mereka pada saatnya. Bukankah dengan demikian kita akan dapat mengatakan kepada mereka, bahwa tanpa kita mereka sudah binasa?”

Perwira itu termenung sejenak. Namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya, “Ya. Demikianlah agaknya. Tetapi apakah hal itu tidak akan membuat penduduk di sekitar sarang-sarang gerombolan itu menjadi kacau?”

“Mereka harus memancing pertempuran di luar padukuhan. Tetapi jika mereka menghindar sama sekali, itu pun akan berakibat buruk bagi penduduk yang sama sekali tidak tahu-menahu. Orang-orang Tambak Wedi tentu akan melepaskan kemarahan mereka kepada penduduk di sekitar sarang-sarang Kiai Raga Tunggal, dan bahkan mungkin mengira bahwa mereka memang bersembunyi di rumah-rumah itu.”

Perwira-perwira yang sedang berbincang itu mengangguk-angguk. Agaknya jalan itu adalah jalan yang sebaik-baiknya. Bersama-sama dengan kekuatan gerombolan yang sebenarnya memang mempunyai persoalan dengan orang-orang Tambak Wedi melawan kekuatan Kiai Kelasa Sawit. Dengan demikian agaknya dua hal yang dapat dicapai oleh prajurit Pajang di Jati Anom. Mereka akan mempunyai pengaruh yang semakin mencengkam atas gerombolan-gerombolan yang mereka lindungi, dan kemungkinan yang lebih buruk lagi bagi prajurit-prajurit Pajang menghadapi rahasia di Tambak Wedi dapat dikurangi.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba seseorang bertanya, “Ki Untara. Apakah Kiai Gringsing tidak akan datang lagi kemari?”

Ki Untara mengerutkan keningnya. Sejenak ia ragu-ragu untuk menjawab dengan tegas. Namun kemudian katanya, “Mungkin ia akan datang menjelang senja setelah menitipkan anak muda yang bernama Rudita itu di Sangkal Putung. Biasanya Kiai Gringsing tidak mengingkari janji jika tidak ada sesuatu yang gawat telah terjadi.”

Yang bertanya tentang Kiai Gringsing itu mengangguk-angguk. Meskipun ia seorang perwira yang mempunyai pengalaman yang luas, tetapi pengenalannya atas Kiai Gringsing menumbuhkan harapan baginya, bahwa kehadiran Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar akan dapat membantu mengatasi kesulitan.

Akhirnya Untara berkata, “Meskipun demikian, kita jangan terlalu mengharapkannya. Kita memperhitungkan kekuatan yang ada pada kita. Meskipun kita tidak mengetahui dengan pasti kekuatan yang ada di Tambak Wedi, namun sikap hati-hati adalah sikap yang paling baik. Kita harus menyiapkan semua kekuatan yang ada. Kita tidak mau terperosok ke dalam kesulitan hanya karena kita menganggap bahwa lawan kita hanya sekedar sebuah gerombolan pencuri ayam.”

Perwira yang ada di dalam pertemuan itu mengangguk-angguk. Laporan yang mereka dengar tentang Tambak Wedi memang mengharuskan mereka mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Sementara itu, telah menyusul pula laporan dari beberapa orang petugas sandi, yang melihat hubungan yang tergesa-gesa antara Kiai Raga Tunggal dengan gerombolan-gerombolan yang lain. Mereka melihat orang-orang berkuda yang hilir-mudik membawa pesan. Meskipun petugas-petugas sandi itu tidak tahu pasti apa yang mereka lakukan, namun agaknya mereka telah membuat kesepakatan untuk bersama-sama menghadapi kekuatan yang ada di Tambak Wedi.

Namun petugas sandi yang lain, yang bekerja di sawah di bulak antara padukuhan-padukuhan yang berpencaran di lereng Gunung Merapi, telah melaporkan melihat sekelompok orang-orang berkuda yang menyusuri hutan di sebelah selatan dan hilang ke dalamnya.

“Siapakah mereka itu?” bertanya seorang perwira.

“Kami belum mengenal mereka. Tetapi menilik pakaian dan sikapnya kami menduga bahwa mereka adalah kelompok yang kini berada di Tambak Wedi.”

“Apakah yang mereka lakukan di sana?”

“Aku tidak dapat mendekat.”

Ki Untara menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kekuatan gerombolan di Tambak Wedi memang tidak dapat diabaikan.

“Baiklah,” berkata Untara, “kita harus menghadapinya dengan seluruh kekuatan. Kita tidak dapat mendahului menyerang Tambak Wedi yang dikelilingi dengan dinding batu yang kuat. Agaknya akan sangat berbahaya. Pertahanan yang dibangun di balik batu-batu padas, memberi kesempatan lebih banyak kepada mereka. Juga jika kemudian mereka memasuki regol dinding batunya.”

“Jadi apakah yang akan kita lakukan?”

“Kita tidak akan membiarkan mereka memusnakan dengan kejam gerombolan-gerombolan kecil yang masih ada di lereng Gunung Merapi. Jika kita berhasil menghalau orang-orang Tambak Wedi dan apalagi menghancurkan mereka, mudah-mudahan dapat menggugah hati gerombolan-gerombolan kecil itu untuk menyadari bahwa yang mereka lakukan selama ini tidak ada artinya sama sekali, sehingga mereka mau mencari jalan lain yang lebih baik.”

“Jika demikian, apakah yang segera dapat kita perbuat?”

“Masih ada waktu. Temui Kiai Raga Tunggal dan beberapa orang yang lain.”

“Maksud Ki Untara?”

“Kita akan memberitahukan, apakah yang mungkin terjadi dan apakah yang harus mereka lakukan.”

Beberapa orang perwira menjadi ragu-ragu. Salah seorang dari mereka berkata, “Bagaimanakah jika sekarang Kiai Kelasa Sawit telah mulai dengan gerakannya tanpa menunggu senja?”

Ki Untara termenung sejenak, lalu, “Jika demikian, kalian sajalah segera pergi kepada mereka. Agaknya memang berbahaya bagi anak buah mereka, jika pada suatu saat dengan tiba-tiba pasukan Kiai Kelasa Sawit telah datang.”

Untara pun kemudian memberikan beberapa petunjuk yang harus disampaikan kepada gerombolan-gerombolan kecil. Jika mereka sudah berniat untuk menghadapi Kiai Kelasa Sawit bersama-sama, itu agaknya memang lebih baik. Tetapi jangan membuka garis pertempuran di padesan meskipun agak memberikan keleluasaan dan perlindungan. Mereka harus memancing lawan ke luar padukuhan dan bertempur di tempat terbuka.

“Katakan kepada mereka,” berkata Untara, “prajurit Pajang akan melindungi mereka jika ternyata Kiai Kelasa Sawit benar-benar mengadakan gerakan. Tetapi ingat, segala persiapan harus dilakukan tanpa membuat kegelisahan. Mereka harus dengan perlahan-lahan menghimpun orang-orangnya dan dalam kelompok-kelompok kecil memerintahkan mereka berkumpul di tempat terbuka. Dengan demikian maka Kiai Kelasa Sawit tidak akan melakukan pertempuran di antara rumah-rumah penduduk yang tidak tahu menahu persoalannya.”

Beberapa orang perwira yang mendapat tugas itu pun mengangguk-angguk. Sementara itu Untara berkata selanjutnya, “Prajurit Pajang akan datang dalam gelar, dan mencoba mencegah jatuhnya korban lebih banyak. Semua usaha dengan pembicaraan telah dilakukan. Tetapi jika terpaksa harus dipergunakan senjata, apa boleh buat.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi gerombolan-gerombolan kecil itu harus diperingatkan. Jika mereka ingin memanfaatkan keadaan ini, dan justru memancing perselisihan lebih dahulu, maka mereka pun akan dibinasakan sama sekali.”

Dengan pesan-pesan itulah, maka beberapa orang perwira itu pun kemudian berpencar ke sarang-sarang penjahat yang bertebaran.

Namun agaknya setiap orang dari mereka telah lebih dahulu mendengar dari Kiai Raga Tunggal, dan telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

“Lakukan pesan Ki Untara,” perintah perwira-perwira itu.

Para pemimpin gerombolan yang tersebar di lereng Gunung Merapi itu termangu-mangu. Dari para perwira mereka mendapat penjelasan, bahwa Kiai Kelasa Sawit memang mempunyai kekuatan yang cukup besar.

Ada beberapa orang di antara mereka yang menjadi ragu-ragu. Namun jika kemudian Kiai Kelasa Sawit pada suatu saat berbuat sesuatu atas mereka, maka mereka akan menjadi semakin sulit tanpa kerja sama dengan gerombolan-gerombolan lain yang di dalam saat-saat yang lain justru paling bersaing.

Karena itu, maka akhirnya mereka pun tidak dapat memilih jalan lain kecuali bersama-sama menghadapi kekuatan Kiai Kelasa Sawit. Apalagi pasukan Pajang di Jati Anom telah bersedia ikut campur untuk melerai dan mengatasi keadaan.

Ternyata bahwa sikap Untara itu menimbulkan kesan tersendiri pada gerombolan-gerombolan yang tersebar itu. Rasa-rasanya mereka mulai melihat, sesuatu yang lain dari yang nampak selama ini, seolah-olah prajurit Pajang hanya selalu merintangi dan mengancam tidak ada habis-habisnya.

Kini ketika bahaya yang sebenarnya mengancam golongan mereka, perwira Pajang datang kepada mereka memberitahukan hal itu dan menyediakan diri untuk mencegah korban yang lebih banyak lagi.

Meskipun mereka menyadari, bahwa tindakan prajurit Pajang itu tentu bukannya tanpa maksud, tetapi bahwa mereka tidak membiarkan saja gerombolan-gerombolan itu saling menghancurkan, dan baru kemudian mengambil tindakan, adalah sikap yang dapat menumbuhkan pendekatan di hati mereka.

Dengan demikian ternyata bahwa prajurit Pajang di Jati Anom tidak sekedar menghendaki kehancuran mereka. Tetapi prajurit Pajang masih tetap mencari jalan agar mereka menyadari kesesatannya dan berusaha untuk menunjukkan jalan yang lurus.

Karena itulah, setelah mereka mempertimbangkan persoalannya dari segala segi penglihatan, mereka pun kemudian dengan sepenuh hati mempersiapkan diri. Mereka semakin mantap menyusun kekuatan untuk menghadapi kekuatan Kiai Kelasa Sawit dari Tambak Wedi. Betapa pun orang-orang yang berada di Tambak Wedi itu dibayangi oleh rahasia yang gelap, namun mereka merasa lebih baik menghadapi dengan persiapan sepenuhnya daripada membiarkan diri mereka dihancurkan tanpa perlawanan sama sekali.

Demikianlah, menjelang matahari bersembunyi di balik gunung terasa bahwa lereng Merapi menjadi semakin panas. Betapa pun setiap kelompok berusaha uutuk tidak menimbulkan ketegangan di antara penghuni lereng Merapi, namun timbul pula beberapa pertanyaan di hati mereka. Mereka tidak dapat dikelabui seluruhnya mengenai persiapan yang dilakukan oleh setiap gerombolan dari lingkungan masing-masing, sehingga beberapa orang yang melihat kelompok-kelompok kecil yang meninggalkan daerah tempat tinggal dan sarang-sarang gerombolan itu menjadi cemas. Apalagi mereka yang melihat, bahwa tidak hanya satu kelompok kecil sajalah yang keluar dari sarang. Tetapi beberapa kelompok, dan bahkan hampir semua orang yang ada di dalam setiap kelompok. Anggota mereka yang tinggal di dalam padukuhan pun dengan diam-diam telah meninggalkan rumah mereka dan berhimpun dengan kawan-kawan mereka, lengkap dengan senjata masing-masing.

“Apakah yang akan terjadi?” bertanya orang-orang yang melihat itu di dalam hati.

Tetapi ketika kelompok-kelompok itu pergi menjauhi padukuhan mereka, maka mereka pun menjadi agak tenang.

“Jika harus terjadi sesuatu, maka yang terjadi itu tidak akan terlampau banyak melibat padukuhan ini,” berkata orang-orang itu di dalam hati.

Demikianlah maka menjelang senja, kelompok-kelompok kecil yang berkumpul dari beberapa padukuhan dan sarang-sarang gerombolan yang berpencar itu pun telah mendekati pategalan sarang gerombolan yang dipimpin oleh Kiai Raga Tunggal. Seperti yang di pasangan lawan pasukan Kiai Kelasa Sawit di pategalan terbuka yang tidak dihuni orang. Dengan demikian, maka pertempuran yang akan terjadi di antara gerombolannya bersama-sama dengan gerombolan-gerombolan yang berpencaran di lereng Gunung Merapi itu tidak akan menimbulkan banyak korban di antara penduduk yang tidak tahu-menahu persoalannya.

Ketika hari mulai gelap, maka berkumpullah kelompok-kelompok itu bersama pemimpin-pemimpin mereka. Sejenak kemudian Kiai Raga Tunggal pun segera berunding dengan para pemimpin gerombolan-gerombolan yang datang itu untuk menentukan cara perlawanan mereka.

“Kiai Kelasa Sawit bukan orang kebanyakan,” berkata Kiai Serat Wulung, “kita harus menghadapinya dengan hati-hati.”

“Sudah tentu,” sahut Kiai Raga Tunggal, “jika perlu tidak hanya seorang dari kita yang akan menghadapinya.”

“Ya. Dua atau tiga orang.”

Pembicaraan yang berlangsung dengan tergesa-gesa itu pun telah menentukan, kelompok-kelompok yang akan berada di kiblat yang memungkinkan datangnya kekuatan terbesar dari Tambak Wedi, sedang yang lain harus menebar di segala arah, karena kemungkinan yang lain, bahwa pasukan dari Tambak Wedi itu akan mengepung pategalan itu dari segala jurusan.

Sementara itu, bukan saja sarang Kiai Raga Tunggal yang menjadi sibuk. Tetapi juga di kademangan-kademangan di sebelah-menyebelah Jati Anom. Meskipun para demang dan jagabaya di padukuhan itu juga berusaha untuk tidak membuat hati penduduknya menjadi cemas, namun mau tidak mau kesiagaan anak-anak muda dan pengawal-pengawal kademangan itu pun telah menumbuhkan berbagai pertanyaan. Namun setiap kali seseorang bertanya kepada anak-anak muda dan pengawal yang sedang berjaga jaga itu, maka jawab mereka selalu sama.

“Ah, tidak apa-apa. Kami sekedar berhati-hati saja.”

Pada saat yang bersamaan, prajurit Pajang pun telah siap pula untuk mengatasi segala kemungkinan yang akan timbul di daerah kaki Gunung Merapi itu.

Jika orang-orang yang berada di Tambak Wedi, benar-benar tidak mau mengindahkan diri, maka lereng Gunung Merapi akan segera menjadi ajang pertempuran yang seru. Karena menurut perhitungan para petugas sandi dari Pajang, kekuatan di Tambak Wedi memang cukup besar.

Meskipun demikian, Untara masih sempat mengirimkan beberapa kelompok kecil prajuritnya untuk membantu memberikan ketenangan pada pudukuhan-padukuhan dan kademangan-kademangan yang paling dekat dengan daerah yang akan menjadi sasaran. Selain anak-anak muda dan pengawal-pengawal yang memang dipersiapkan dengan diam-diam atas perintah Untara, maka para prajurit itu pun akan bertugas membantu mereka, jika terjadi sesuatu.

Ternyata bukan di lereng Gunung Merapi dan di sekitarnya sajalah yang nampak persiapan-persiapan yang meningkat. Terutama di dataran di sebelah selatan. Prajurit-prajurit Pajang yang berada di Kademangan Prambanan pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan jika terjadi arus yang mengalir ke selatan dari benturan-benturan yang terjadi.

Selain Prambanan, maka di Sangkal Putung pun nampak ada perubahan di dalam penjagaan di gardu-gardu perondan. Kedatangan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita yang mengantarkan Rudita telah menggerakkan Ki Demang di Sangkal Putung untuk menyusun pengawalan yang lebih baik dari pengawalan sehari-hari. Apalagi karena perjalanan Kiai Gringsing dan kawan-kawannya dari Jati Anom telah mengalami gangguan di perjalanan, sehingga agaknya arah yang mereka lalui itu mendapat perhatian yang cukup dari orang-orang yang berada di Tambak Wedi.

Namun dalam pada itu, yang paling kecewa adalah Swandaru dan Agung Sedayu. Mereka tidak dapat ikut berbuat apa pun juga di luar halaman kademangan. Agung Sedayu masih mendapat kesempatan untuk mengelilingi Kademangan Sangkal Putung melihat-lihat kesiagaan anak-anak muda. Tetapi Swandaru sama sekali tidak boleh keluar dari halaman, justru karena saat-saat perkawinannya menjadi lebih dekat.

“Sekarang kau mempunyai kawan baru,” berkata Agung Sedayu yang menjadi gembira karena kehadiran Rudita di antara mereka, “karena itu, aku mendapat kesempatan untuk keluar dari halaman ini.”

“Kenapa kau menjadi sibuk Agung Sedayu?” bertanya Rudita.

“Kau mengetahui, apakah yang sedang terjadi di Jati Anom.”

“Sebenarnya kita tidak perlu berbuat apa-apa. Seandainya mereka datang kemari, asal kita tidak melakukan perlawanan sama sekali, mereka tidak akan berbuat apa pun di sini. Mungkin mereka hanya sekedar lewat atau singgah beberapa saat. Tetapi jika mereka melihat kita mempersiapkan diri, maka memang kemungkinan benturan akan terjadi.”

Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Swandaru-lah yang menjawab, “Rudita. Kita tentu tidak tahu, apakah mereka hanya sekedar lewat atau bermaksud buruk di kademangan ini. Seandainya segerombolan penjahat yang terdesak dari utara atau dari barat, lewat di padukuhan ini, namun karena mereka memang segerombolan perampok, dan mereka merampok barang-barang berharga di padukuhan ini, tenlu kita tidak akan tinggal diam.”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Selama masih ada kecurigaan dan sikap bermusuhan, maka ketenangan dan kedamaian tentu tidak akan terwujud. Seseorang yang sebenarnya sudah ingin bertobat, tetapi dengan penuh curiga orang-orang di sekitarnya tidak mau menerimanya, maka ia akan melonjak kembali dan akan mengulangi segala macam kesalahan yang pernah dilakukannya.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Namun Agung Sedayu-lah yang menjawab, “Kau benar, Rudita. Kita memang harus bersikap damai untuk dapat membantu menciptakan kedamaian. Kecurigaan di antara sesama adalah sumber keributan.”

Rudita memandang Agung Sedayu dengan heran. Tetapi Agung Sedayu menjelaskan seterusnya, “Tetapi kadang-kadang seseorang dengan maksud yang tidak baik memanfaatkan sikap damai dari sesama. Mereka justru mengambil keuntungan yang tidak sewajarnya tanpa menghiraukan korban yang dapat jatuh karenanya. Itulah sebabnya, kami mengambil jalan tengah sekarang ini. Kami mempersiapkan diri dengan diam-diam tanpa memancing perhatian orang lain.”

Rudita menggeleng lemah. Katanya, “Soalnya bukan pada dengan terang-terangan atau dengan diam-diam. Persoalan yang sebenarnya adalah di dalam hati kita masing-masing. Tidak ada kedamaian yang pura-pura seperti itu.”

“Aku mengerti, Rudita,” berkata Agung Sedayu, “tetapi kami masih terlibat dalam kenyataan hidup lahiriah di samping yang rohaniah. Berbahagialah mereka yang telah berhasil menempatkan dirinya di atas kepentingan lahiriah sejauh-jauh dapat dilakukan tanpa memisahkan diri dari kehidupan yang wajar. Tetapi kami belum dapat melepaskan sama sekali kenyataan hidup wadag ini, Rudita. Dan itu adalah kelemahan kami, kelemahan manusia pada umumnya. Sebab adalah sifat manusiawi pula untuk tetap mempertahankan hidup serta kehadiran bangsa dan jenisnya.”

“Sifat manusiawi yang dilandasi oleh keangkuhan dan kesombongan yang tidak berarti. Manusia merasa dirinya sendiri dapat mempertahankan nilai-nilai kehidupan mereka dan terlebih-lebih lagi bangsa dan jenisnya. Kenapa kita tidak dengan ikhlas menyerahkan semuanya kepada Sumber Hidup kita.” Rudita berhenti sejenak, lalu, “Dan inilah keanehan dari manusia wadag. Mereka berjuang mempertahankan jenis mereka, tetapi mereka juga berjuang untuk memusnahkan jenis mereka sendiri dengan peperangan dan kekerasan. Jika manusia sudah bersentuhan kepentingan maka yang tumbuh adalah sifat-sifat manusiawi yang diwarnai oleh ketamakannya saja. Bukan kedamaiannya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti sepenuhnya jawaban Rudita itu. Demikian pula Swandaru. Namun mereka ternyata lebih dekat bersentuhan dengan masalah lahiriahnya di samping yang rohaniah. Meskipun di dalam hati mereka mengakui, betapa lemahnya ketahanan kepercayaan mereka terhadap Kekuasaan Tertinggi, namun kadang-kadang mereka merasa bahwa mempertahankan diri adalah suatu yang tak terhindarkan.

“Alangkah bersihnya hati Rudita,” berkata Agung Sedayu di dalam hati, “setelah mengalami goncangan-goncangan di dalam dirinya ia telah menemukan sikap dan masak. Sayang, ia berdiri seorang diri di tengah-tengah arus gejolak manusia yang masih saja dicengkam oleh ketamakan dan keangkuhan seperti yang dikatakannya. Jika kebanyakan orang bersikap seperti Rudita sebenarnyalah kedamaian yang diimpikan setiap manusia akan segera lahir di dalam lingkungannya. Tetapi sayang, Rudita benar-benar seorang diri. Namun agaknya ia adalah batu karang yang tidak goyah lagi oleh benturan ombak ketika laut menjadi pasang dan angin bertiup dengan kencang.”

Dari Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, Agung Sedayu dan Swandaru dapat mendengar, cacat satu-satunya yang ada pada Rudita sebagai ciri kelemahan manusiawinya adalah usahanya untuk membuat dirinya kebal. Dan usaha itu telah memberikan hasil meskipun baru sebagian kecil.

“Menang tidak ada kesempurnaan di seluruh isi bumi ini. Semuanya mempunyai cacat celanya,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya pula.

Namun demikian Agung Sedayu tidak dapat mengatakan kepada Rudita, bahwa yang dilakukan oleh Sangkal Putung itu, hampir sejalan dengan usaha Rudita membuat dirinya kebal. Tetapi bahwa Rudita tidak akan pernah membalas setiap serangan terhadap dirinya, itulah yang agak berbeda. Sangkal Putung akan berusaha mengusir setiap orang yang mengganggu ketenangannya.

Bagaimana pun juga Rudita harus menyaksikan kesiagaan di Kademangan Sangkal Putung dengan hati yang risau. Tetapi ia sama sekali tidak kuasa untuk mencegahnya.

“Aku tidak turut campur,” desisnya kepada diri sendiri.

Karena itulah, maka dengan bertopang dagu ia duduk saja di gandok Kademangan Sangkal Putung menyaksikan beberapa kesibukan di halaman. Bahkan anak gadis Ki Demang yang bernama Sekar Mirah itu pun turut pula mengatur kesiagaan, meskipun gadis itu masih tetap berpakaian seperti seorang gadis pada umumnya.

Ada pun Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita, setelah menyerahkan Rudita agar tinggal untuk sementara di Sangkal Putung, segera mempersiapkan diri untuk kembali ke Jati Anom. Meskipun semula mereka agak ragu, dan menganggap bahwa Jati Anom mempunyai kekuatan yang cukup untuk melakukan perlawanan dan langsung menghancurkan.

Tetapi akhirnya mereka menyadari, bahwa persoalan yang menjadi sebab dari benturan yang mungkin terjadi itu adalah karena perintah Untara kepada setiap kelompok yang ada di lereng Gunung Merapi itu untuk mencari Rudita. Kesimpang-siuran di jalan-jalan dan di bulak-bulak panjang, ternyata telah menumbuhkan benturan yang mungkin akan berakibat panjang.

Benturan itu tidak akan terjadi, jika yang berpapasan adalah kelompok-kelompok yang memang sudah lama saling mengenal meskipun ada juga perasaan bersaing di antara mereka, namun mereka tentu akan dapat menjaga dan mengendalikan diri masing-masing. Tetapi adalah malang bagi orang-orang Kiai Raga Tunggal yang telah bertemu di tengah-tengan bulak dengan orang-orang Tambak Wedi.

Karena itulah, maka ketiga orang tua itu, terutama Ki Waskita, merasa wajib untuk kembali ke Jati Anom. Sejauh-jauh tenaga yang dapat disumbangkan, mereka harus ikut mengatasi kesulitan yang dapat timbul.

“Ki Untara tidak akan dihadapkan pada keadaan yang mungkin akan sulit di atasi jika kita tidak minta bantuannya mencari Rudita,” berkata Ki Waskita. “Karena itu, maka adalah kewajibanku terutama untuk kembali ke Jati Anom.”

“Kita akan kembali bersama-sama,” sahut Kiai Gringsing.

“Yang lebih menarik lagi adalah pertanda kelelawar di dada dan di sebagian dari alat-alat dan senjata-senjata mereka,” berkata Ki Sumangkar pula.

Karena itulah maka mereka pun segera minta diri kepada Ki Demang sebelum matahari menjadi sangat rendah dan hilang di balik Gunung.

Semula Ki Demang berusaha menahan mereka, tetapi setelah Ki Demang itu mendapat penjelasan dan alasan-alasan dari ketiga orang tua itu, maka ia pun tidak dapat menahannya lagi.

Demikianlah, setelah minta diri kepada Agung Sedayu, Swandaru, Rudita, dan Sekar Mirah serta seluruh keluarga di Sangkal Putung, maka ketiga orang tua itu pun mempersiapkan diri serta kuda yang mereka bawa dari Jati Anom.

“Apakah Kiai bertiga tidak memerlukan sekelompok pengawal yang barangkali dapat membantu Kiai di perjalanan?” bertanya Ki Demang.

“Terima kasih, Ki Demang,” jawab Kiai Gringsing, “aku kira kami bertiga akan dapat bergabung dengan prajurit Pajang di Jati Anom. Sedang di perjalanan, agaknya tidak akan banyak persoalan, karena kami akan memilih jalan lain dari yang kami lalui ketika kami datang kemari.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Ia tahu bahwa pengawal tidak akan banyak artinya bagi ketiganya. Tetapi jika diperlukan, maka Sangkal Putung akan dapat menyediakannya.

Namun agaknya Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita merasa lebih lincah untuk pergi bertiga. Karena itu, maka mereka tidak memerlukan orang lain yang mungkin justru akan memperlambat perjalanan mereka.

Sebelum mereka meninggalkan Sangkal Putung, maka Kiai Gringsing telah memberikan pesan-pesan khusus kepada anak-anak muda yang tinggal di Kademangan. Terutama Agung Sedayu, Swandaru, Rudita, dan bahkan Sekar Mirah. Mereka harus berhati-hati menghadapi setiap perkembangan keadaan.

“Jangan tergesa-gesa mengambil tindakan,” berkata Kiai Gringsing, “pertimbangkan semua perbuatan kalian sebaik-baiknya menghadapi keadaan yang mungkin cukup membingungkan. Tetapi kita berharap bahwa tidak ada seorang pun yang akan menjamah Sangkal Putung, karena jarak antara Tambak Wedi dan Sangkal Putung adalah cukup jauh. Prambanan adalah daerah ngarai yang paling mungkin disentuh oleh pergolakan yang terjadi, jika karena tekanan Prajurit Pajang orang-orang Tambak Wedi itu pergi ke selatan. Tetapi juga mungkin mereka akan melingkar lambung Gunung Merapi dan hilang di celah-celah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Meskipun demikian, kalian di sini jangan kehilangan kewaspadaan.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari, meskipun bahaya yang langsung tidak ada bagi Sangkal Putung, tetapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diduga-duga memang dapat saja terjadi.

Demikianlah, maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun segera berpacu meninggalkan Sangkal Putung. Mereka tidak ingin terlampau malam sampai di Jati Anom. Bahkan kemudian mereka menjadi tergesa-gesa, karena menurut perhitungan mereka, orang-orang Tambak Wedi yang didera oleh dendam dan kebencian, agaknya terlampau sulit untuk dikendalikan.

Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, maka ketiga orang itu telah memilih jalan yang lain dari jalan yang dilaluinya ketika mereka kembali ke Sangkal Putung. Mereka kini memilih jalan yang meskipun jaraknya bertambah beberapa puluh tonggak, namun mereka menganggap bahwa jalan yang menyusuri bulak persawahan dan tidak melalui daerah yang berhutan dan berbelukar tentu lebih kecil kemungkinannya untuk bertemu dengan kelompok-kelompok dari mana pun juga yang dapat menghambat perjalanan mereka.

Untuk tidak terganggu sama sekali, maka mereka bertiga berusaha menghindari pedukuhan-pedukuhan yang tentu telah bersiap-siap menghadapi setiap kemungkinan seperti Sangkal Putung. Apalagi padukuhan-padukuhan yang lebih dekat. Para pengawal tentu akan menghentikan mereka dan bertanya tentang para peronda itu dengan perbuatan yang nyata.

Namun betapa cepatnya kuda mereka berpacu, tetapi ketika malam mulai membayangi kaki Gunung Merapi, mereka masih belum sampai ke Jati Anom meskipun jaraknya sudah menjadi semakin dekat. Mereka masih harus melalui bulak-bulak pendek dan sudah tidak mungkin lagi untuk menghindari sama sekali satu dua pedukuhan, karena tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh.

Karena itu, maka perjalanan mereka pun mulai terganggu. Ketika mereka memasuki sebuah padukuhan, mereka tidak dapat berjalan terus, karena beberapa pengawal bersenjata telah menghentikan mereka di mulut jalan padukuhan itu.

“Siapakah kalian?” bertanya pengawal-pengawal itu.

Kiai Gringsing memandang mereka dengan ragu-ragu. Namun ia pun kemudian berkata, “Aku akan pergi ke Jati Anom.”

“Siapakah kalian?” desak pengawal itu.

“Aku adalah paman Angger Untara. Hari ini aku harus menghadapnya karena persoalan yang penting.”

Pengawal-pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apakah kalian dapat membuktikan hubungan yang ada antara kalian dan Untara?”

Kiai Gringsing menjadi bingung. Ia tidak mempunyai bukti apa pun yang dapat dipergunakannya untuk meyakinkan para pengawal itu. Karena itu, ia hanya, berusaha untuk meyakinkan dengan keterangan, “Ki Sanak. Aku benar-benar mempunyai kepentingan dengan Angger Untara. Aku memang tidak dapat membuktikan dengan cara apa pun.”

“Kalian harus turun dari-kuda dan pergi ke banjar. Kalian harus dapat menjawab keberapa pertanyaan sebelum kalian melanjutkan perjalanan, karena perjalanan khususnya ke daerah di sekitar Jati Anom sedang di dalam pengawasan yang rapat.”

“Maaf, Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, “kami sangat tergesa-gesa. Lihatlah, kami tidak bersenjata. Aku tahu bahwa kalian sebenarnya mencurigai kami.”

“Semua orang harus dicurigai sekarang ini.”

Ki Waskita menggamit Kiai Gringsing sambil berdesis, “Kita berjalan terus. Aku akan bermain-main dengan anak-anak ini.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Kita berjalan terus.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar segera mengetahui maksud Ki Waskita yang mampu membuat bentuk-bentuk semu dan dapat mengelabui orang lain.

Dan ternyata sejenak kemudian, malam menjadi semakin gelap. Segumpal awan yang hitam telah menyelubungi ujung padukuhan itu. Sejenak kemudian anak-anak muda yang sedang mengawal regol padukuhannya melihat tiga ekor kuda berlari meninggalkan regol itu kembali ke arah semula.

“Kejar, tangkap,” desis pemimpin pengawal itu.

 

 

Namun sementara mereka kebingungan. Kiai Gringsing dan kedua kawannya telah berpacu terus meninggalkan para pengawal yang masih belum menyadari keadaan sepenuhnya. Baru sejenak kemudian para pengawal itu merasa seperti bermimpi. Mereka merasa seakan-akan melihat tiga ekor kuda dan tiga ekor yang lain berlari berlawanan arah. Namun yang semuanya segera hilang di dalam kelamnya malam yang rasa-rasanya menjadi semakin pekat.

Demikianlah, untuk menghindari hambatan-hambatan yang dapat memperpanjang perjalanan, Ki Waskita setiap kali telah membuat permainan yang membingungkan, sehingga karena itu, perjalanan mereka tidak terganggu.

Namun demikian, rasa-rasanya lari kudanya menjadi sangat lambat. Jati Anom masih ada di depan mereka, di seberang beberapa bulak pendek lagi.

“Akhirnya kita sampai juga,” desis Kiai Gringsing ketika mereka hampir sampai di ujung induk padukuhan Jati Anom. “Nampaknya masih tetap tenang dan tidak terjadi sesuatu.”

Ki Sumangkar mengangguk. Katanya, “Tetapi ketenangan kali ini rasa-rasanya cukup menegangkan.”

Belum lagi Kiai Gringsing menjawab, dalam kegelapan mereka melihat bayangan sebuah barisan. Karena itu, Kiai Gringsing dan kedua kawannya segera memperlambat derap kudanya.

“Barisan. Agaknya prajurit Pajang telah siap dalam gelar,” desis Kiai Gringsing.

“Belum dalam gelar,” sahut Ki Waskita.

“Ya. Tetapi sudah siap membuat gelar,” gumam Ki Sumangkar.

Perlahan-lahan Kiai Gringsing dan kedua kawannya mendekati barisan di luar padukuhan induk Jati Anom. Agaknya benturan sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Apalagi ketika ketiganya melihat bahwa prajurit Pajang benar-benar berada dalam puncak kesiagaannya dengan segala ciri keprajuritannya. Tunggul, rontek, dan umbul-umbul di ujung barisan.

Kiai Gringsing dan kedua kawannya itu pun berhenti ketika dua orang prajurit menyongsongnya dengan tombak yang tunduk. Ketiganya pun kemudian meloncat turun sambil berkata, “Aku, Ki Sanak.”

“Siapa?”

Kiai Gringsing-lah yang menyahut, “Kiai Gringsing dan kedua kawan-kawanku.”

“O,” prajurit itu agaknya memang sudah mengenalnya. Katanya, “Marilah, Kiai. Silahkan. Ki Untara masih ada di banjar. Sebentar lagi ia akan segera datang dan memimpin langsung pasukan Pajang yang lengkap segelar sepapan.”

Kiai Gringsing termangu-mangu. Ki Sumangkar-lah yang berbisik, “Sebaiknya kita pergi ke banjar.”

“Ya. Kita akan pergi bersama pasukan ini tanpa membawa kuda,” berkata Ki Waskita.

Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk. Sejenak kemudian, setelah minta ijin kepada prajurit-prajurit yang menyongsongnya, maka Kiai Gringsing pun melanjutkan perjalanannya ke banjar Kademangan Jati Anom.

Ketika mereka sampai ke tempat itu, ternyata Untara telah siap untuk berangkat. Tetapi ia pun sejenak berhenti dan mempersilahkan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita untuk naik ke pendapa banjar kademangam dan duduk sejenak.

“Kami sudah siap untuk berangkat, Kiai,” berkata Untara.

“Hampir saja kami datang terlambat,” sahut Kiai Gringsing.

“Kami jadi ragu-ragu apakah Kiai benar-benar akan kembali.”

“Ki Waskita merasa, bahwa meskipun bukan persoalan yang mutlak, tetapi setidak-tidaknya menjadi sebab langsung dari benturan yang terjadi di lereng Gunung Merapi. Jika kelompok-kelompok gerombolan itu tidak sedang mencari Rudita, maka mereka tidak akan bertempur di bulak itu dan yang kemudian menjadi percikan api yang dapat membakar seluruh daerah kaki Gunung ini.”

“Saatnya memang sudah tiba, prajurit Pajang menunjukkan tindakan yang tegas,” berkata Untara. “Kami tidak akan membiarkan persoalan gerombolan itu akan berlarut-larut. Persoalan ini justru akan dapat aku pergunakan sebagai alasan untuk menghapus kehadiran mereka semuanya dari wilayah ini.”

Kiai Gringsing dan kedua kawannya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Tetapi jika saatnya sudah tiba, silahkan Angger memberikan aba-aba. Kami akan ikut serta bersama pasukan ini dan mencoba menyesuaikan diri.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ke manakah Angger akan membawa prajurit segelar sepapan ini? Langsung ke Tambak Wedi?”

“Tidak, Kiai,” jawab Untara, “kami akan bergerak ke barat dan menunggu di ujung hutan kecil di sebelah simpang tiga ke Bodehan. Petugas-petugas sandi kami akan melihat-lihat keadaan seluruhnya. Jika pasukan Tambak Wedi turun, maka kami tahu sasaran yang akan mereka tuju. Mereka tentu akan menghancurkan gerombolan yang dipimpin oleh Kiai Raga Tunggal, yang kini telah berhimpun dengan gerombolan-gerombolan yang lain.”

“Kemudian Angger akan datang melerai mereka atau menghancurkan mereka semuanya?”

“Kami akan mencoba untuk membatasi arena sehingga tidak merembet ke padukuhan. Dan menurut pertimbangan kami, pasukan dari Tambak Wedilah yang tidak mematuhi perintah kami. Maka gerombolan itulah yang harus dihancurkan. Kemudian dengan perlindungan yang telah kami berikan kepada gerombolan-gerombolan kecil yang lain, kami menuntut imbalan agar mereka menjadi sadar dan meninggalkan cara hidup yang salah itu. Jika mereka berkeberatan, maka mereka pun akan mengalami nasib seperti orang-orang Tambak Wedi.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, Untara sudah mendahuluinya, “Namun agaknya tugas kami kali ini cukup berat. Petugas sandi kami melihat, sepasukan yang lain telah datang bergabung di Tambak Wedi.”

“Sepasukan yang lain? Maksud Angger?”

“Kami belum tahu. Tetapi lewat senja, sepasukan yang datang dari selatan telah mendekati Tambak Wedi. Semula para petugas sandi meragukan, dan bahkan menduga akan timbul benturan. Tetapi ternyata pasukan itu adalah bagian dari yang sudah ada.”

Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita terkejut mendengar keterangan itu. Menurut penilaian Untara, pasukan yang sudah ada di Tambak Wedi itu adalah pasukan yang cukup kuat, apalagi jika masih ada pasukan yang lain yang datang untuk menambah jumlah dari pasukan yang sudah ada.

Dalam pada itu Untara pun berkata, “Kiai, agaknya orang-orang yang berada di Tambak Wedi dan dipimpin oleh Kiai Kelasa Sawit itu benar-benar akan melawan pasukan Pajang di Jati Anom. Dengan demikian maka sudah berarti bahwa itu adalah suatu pemberontakan yang harus ditumpas.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa Untara pasti akan bersikap demikian, sikap seorang prajurit sejati yang tidak mengenal penyimpangan selain tindakan tegas bagi mereka yang dengan sengaja melawan kekuasaannya. Jika Untara masih dapat bersabar menghadapi kelompok-kelompok dan gerombolan kecil, karena ia melihat, bahwa alasan utama dari kegiatan mereka adalah benar-benar karena mereka memerlukan makan dan pakaian bagi keluarganya meskipun akan berlebih-lebihan. Tetapi mereka sama sekali tidak mempunyai niat, atau bahkan bermimpi pun tidak, untuk menyentuh kekuasaan Pajang secara keseluruhan.

Tetapi agaknya gerombolan besar yang ada di Tambak Wedi itu mempunyai latar belakang yang agak berbeda. Karena itulah maka tidak ada jalan lain bagi Untara kecuali menghancurkannya. Mutlak.

Demikianlah, maka saat untuk berangkat pun segera tiba. Untara masih mengumpulkan perwira-perwira yang akan memimpin kelompok-kelompok di dalam pasukannya. Mereka mendapat petunjuk-petunjuk untuk menghadapi setiap kemungkinan. Dan kepada mereka pun diberitahukan, bahwa di dalam pasukan mereka akan ikut serta tiga orang tua yang bukan prajurit Pajang.

Perwira-perwira yang sudah mengenal ketiga orang tua itu tersenyum menyambut pemberitahuan itu. Mereka merasa mendapat kawan yang dapat dipercaya, sepenuhnya untuk ikut menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi. Tetapi perwira-perwira muda yang baru, yang belum lama bertugas di Jati Anom, dan masih belum mengenal mereka, mengerutkan keningnya dan saling bertanya, “Buat apa kita membawa tiga orang-orang tua itu?”

“Mungkin mereka dapat dipergunakan sebagai penunjuk jalan, atau orang yang banyak mengenal seluk-beluk Padepokan Tambak Wedi. Sehingga mereka dapat memberikan beberapa petunjuk mengenai daerah itu,” sahut yang lain.

Ketika seorang perwira yang lain mendengarnya, menyahut, “Kalian belum mengetahuinya. Orang-orang itu adalah orang-orang aneh yang memiliki kemampuan yang mengagumkan. Kau akan melihat nanti. Bagaimana orang tua itu bermain-main dengan cambuk. Yang seorang lagi, memiliki sebuah tongkat yang mempunyai kepala kuning berujud tengkorak. Tetapi tongkat itu kini tidak pernah nampak dibawanya lagi, setelah ia tidak berada di dalam pasukan Jipang.”

“Apakah ia bekas seorang prajurit Jipang?”

“Bukan seorang prajurit. Tetapi ia adalah saudara seperguruan dari Patih Mantahun.”

“Patih Mantahun yang mempunyai nyawa rangkap?”

“Ya. Paman seorang senapati muda yang namanya menggetarkan seluruh daerah Demak lama. Macan Kepatihan. Macan Kepatihan adalah lawan Ki Untara yang seimbang.”

Perwira muda itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih belum dapat membayangkan, sampai di manakah sebenarnya kemampuan ketiga orang tua-tua itu.

Demikianlah ketika sudah sampai waktunya, maka iring-iringan pasukan Pajang itu pun mulai bergerak. Langit yang gelap menjadi semakin gelap, dan udara pun kian lama kian bertambah dingin. Angin di lereng pegunungan rasa-rasanya menyusup jauh sampai ke pusat tulang sungsum.

Di ujung barisan Untara berjalan bersama dua orang senapati pengapitnya yang akan berada di sayap gelar pasukannya jika pada saatnya mereka menghadapi lawan. Seorang yang bertubuh tinggi kekar, berkumis lebat akan menjadi penjawat kiri, sedang seorang yang agak gemuk, berwajah rapi dengan kumis sebesar lidi melintang di bawah hidungnya, adalah penjawat kanannya.

Di belakang ketiga orang itu, berjajar tiga orang membawa panji-panji. Kemudian beberapa orang membawa rontek dan tanda-tanda keprajuritan yang lain. Sedangkan di belakang mereka itu adalah pasukan khusus pengawal panji-panji, dengan senjata yang sudah ditarik dari sarungnya.

Barulah di belakang pasukan pengawal itu, berjalan dalam iring-iringan yang teratur, prajurit Pajang yang lengkap segelar sepapan. Di belakang pasukan itu, sekelompok kecil prajurit berkuda. Mereka adalah penghubung-penghubung yang akan dapat bergerak cepat, tetapi mereka juga prajurit-prajurit terlatih yang dapat mempengaruhi medan dengan kuda-kuda mereka yang dapat mereka kuasai sebaik-baiknya, bahkan kuda-kuda mereka itu seolah-olah telah menjadi bagian dari tubuh mereka yang langsung digerakkan oleh kehendak di pusat syaraf.

Di paling belakang berjalan tiga orang tua yang sebenarnya terpisah dari keseluruhan pasukan. Tetapi ternyata bahwa mereka merupakan orang-orang yang penting yang memang diperlukan oleh Untara untuk menghadapi persoalan yang mungkin akan menjadi sangat gawat.

Dalam pada itu, dalam kelamnya malam, sebenarnyalah lereng Merapi itu seakan-akan telah bergetar. Di beberapa bagian nampak beberapa orang bersenjata sedang mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Demikian juga orang-orang yang berada di Padepokan Tambak Wedi. Setiap dada yang seolah-olah telah dibakar oleh dendam itu pun sampai pula saatnya untuk meledak.

Apalagi di Padepokan Tambak Wedi itu telah hadir pula seseorang seperti yang telah direncanakan. Jalawaja, diikuti oleh tiga orang pengawal yang memiliki kemampuan yang mumpuni beserta sepasukan pengikut yang terpercaya.

Ketika Kiai Kelasa Sawit mendengar laporan tentang kedatangan kelompok yang dipimpin oleh Kiai Jalawaja itu, maka rasa-rasanya hatinya bagaikan tidak tertahankan lagi. Ia ingin segera mengerahkan pasukannya turun lereng Gunung Merapi dan langsung menumpas gerombolan cecurut yang dipimpin oleh orang yang menyebut dirinya Kiai Raga Tunggal.

Namun ia masih mencoba menahan diri. Ia menunggu sampai Kiai Jalawaja beristirahat sejenak, meneguk minuman yang dituang ke dalam bumbung, makanan di atas tampah bambu dan sedikit percakapan mengenai keselamatan masing-masing.

Baru sejenak kemudian, Kiai Kelasa Sawit melaporkan apa yang telah terjadi di Tambak Wedi dan persoalan yang telah menyinggung harga dirinya, karena beberapa orang kawannya telah terbunuh.

Kiai Jalawaja mengerutkan keningnya. Sejenak ia terdiam, agaknya ada sesuatu yang dipikirkannya.

“Kakang,” desak Kiai Kelasa Sawit, “aku sudah berjanji untuk menuntut setiap nyawa dengan sepuluh nyawa lawan. Tiga orangku terbunuh. Maka aku harus dapat membunuh sedikitiya tiga puluh orang dari lingkungan mereka. Jika usaha pembalasanku menambah korban di pihakku, maka korban itu pun akan aku perhitungkan pula. Karena itu, tidak ada pertimbangan lain kecuali menumpas lawan sampai orang terakhir.

“Apakah pembalasan semacam itu kau anggap penting?” bertanya Jalawaja.

“Tentu. Itu adalah harga diri kita. Agar untuk selanjutnya tidak ada orang yang akan berani menghina kita serupa itu.”

“Apakah orang-orang yang telah bertempur dan membunuh tiga orang kita itu mengetahui siapa kita sebenarnya?”

Kiai Kelasa Sawit mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Bahkan orang-orang kita sendiri pun sebagian besar, selain yang terpercaya, tidak mengetahui siapakah sebenarnya kita ini. Tetapi apabila pada hulu senjata dan pada ikat pinggang atau sarung pedang terdapat gambar serupa dengan yang terlukis di dadaku ini, maka setidak-tidaknya orang akan mengetahuinya, bahwa ada hubungan antara orang-orang yang mati itu dengan tanda-tanda serupa ini.”

Kiai Jalawaja mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Itu sebenarnya suatu kesalahan yang besar. Tanda-tanda serupa itu seharusnya tidak terdapat di sembarang tempat dan keadaan. Sejak semula aku sudah memperingatkan agar tanda-tanda serupa itu dihapuskan.”

“Tetapi tanda-tanda itu adalah kebanggaan kami,” jawab Kiai Kelasa Sawit.

Kiai Jalawaja termenung sejenak sambil mengangguk-angguk kecil. Nampaknya ia sedang membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu. Baginya, selain membalas dendam masih ada masalah yang harus dipersoalkan.

Namun kemudian Kiai Jalawaja itu pun berkata, “Baiklah. Jika sudah terlanjur terjadi, bahwa tanda-tanda serupa itu jatuh ke tangan tikus-tikus kecil. Jika kita sudah memusnahkan mereka, dan besok meninggalkan Jati Anom, maka yang akan tinggal di daerah ini adalah kengerian dan ketakutan atas tanda-tanda yang pernah mereka lihat. Siapa pun yang melihat tanda-tanda serupa itu, akan selalu terkenang akan kehancuran mutlak yang pernah terjadi di daerah ini.”

“Aku sudah memperhitungkan, seandainya prajurit Pajang di Jati Anom ikut campur.”

“Aku tahu. Yang ada di Jati Anom adalah Untara. Ia tidak lebih baik dari anak-anak yang sedang belajar sodoran dengan tombak panjang dan berpacu di atas punggung kuda. Tetapi jika ia bertemu dengan lawan yang tangguh, maka ia akan kehilangan arti sama sekali.” Kiai Jalawaja berhenti sejenak, lalu, “Biarlah jika orang-orang Pajang di Jati Anom ingin ikut mencampuri persoalan yang sebenarnya bukan persoalan mereka. Mereka akan menyesal. Sultan Pajang pun akan menyesal. Dan ia akan memperhitungkan kehadiran kita dengan ciri-ciri yang sudah terlanjur di ketahui oleh banyak orang itu.”

“Para Senapati Pajang akan tercengang melihat kekalahan Untara,” desis Kiai Kelasa Sawit.

“Untara tidak lebih baik dari salah seorang di antara ketiga pengawalku itu. Karena itu, aku tidak akan perlu ikut dalam pertempuran itu.”

“Tetapi apakah kita akan melepaskan mereka tanpa pengawasan kita?”

Kiai Jalawaja nampaknya memang segan sekali. Tetapi kemudian katanya, “Baiklah. Aku hanya ingin nonton perkelahian yang tentu akan terjadi dengan sengitnya. Tetapi jika perlu, untuk mempercepat akhir dari perkelahian itu, aku pun dapat ikut menebang ilalang di antara pengawal-pengawalku.”

“Aku ingin melihat mayat sebanyak-banyaknya berhamburan di lereng Gunung Merapi ini,” desis Kiai Kelasa Sawit.

“Keinginan yang sebenarnya cukup gila. Aku sama sekali tidak melihat gunanya. Aku setuju untuk mempertahankan harga diri dan nama kita, tetapi tidak dengan kerja yang sia-sia serupa itu. Karena dengan demikian, kita pun tentu akan kehilangan.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi apabila peristiwa ini kita anggap saja sebagai pernyataan diri, bahwa kekuatan kami tidak terkalahkan, maka akan ada juga sedikit gunanya bagi perjuangan kita yang lebih besar lagi kelak.”

Kiai Kelasa Sawit mengangguk-angguk. Ia berlega hati karena Kiai Jalawaja tidak berusaha untuk mengurungkan niatnya melakukan pembalasan dan bahkan telah menyatakan kesediaannya untuk mempercepat penyelesaian jika pertempuran akan berkepanjangan.

“Betapa pun besarnya jumlah orang-orang yang berada di bawah pengaruh Kiai Raga Tunggal, dan bahkan seandainya bergabung dengan prajurit-prajurit Pajang sekalipun, mereka akan tumpas malam ini. Penghubung-penghubung dari Jati Anom tidak akan sempat memberikan laporan kepada Kanjeng Sultan Pajang, dan seandainya demikian, maka Pajang tidak akan sempat mempersiapkan bantuannya kepada Jati Anom, yang jaraknya cukup jauh,” berkata Kiai Kelasa Sawit di dalam hatinya.

“Kakang,” berkata Kiai Kelasa Sawit kemudian, “jika Kakang sudah merasa cukup beristirahat, maka kita akan segera mempersiapkan diri dan berangkat menuruni lereng. Kita akan menumpas orang-orang yang telah berani menyentuh harga diri kita itu secepat-cepatnya. Besok pagi-pagi benar, kita sudah dapat meninggalkan padepokan tua ini dengan hati yang lapang. Biarlah besok seisi lereng Merapi sibuk dengan kerja yang mengerikan. Mengubur mayat yang bertebaran tanpa dapat dihitung lagi.”

“Bagaimanakah jika mereka malam ini sudah melarikan diri,” bertanya Jalawaja.

“Persetan. Keluarganya akan kami tumpas sampai cindil abangnya.”

Jalawaja tertawa. Katanya, “Kau benar-benar sudah gila. Kau memang seorang pemarah yang mudah kehilangan akal. Bagaimana mungkin kau dapat menemukan keluarganya?”

“Kakang Jalawaja belum mengetahui, bahwa gerombolan-gerombolan kecil di lereng Gunung ini sebagian justru terdiri dari orang-orang padukuhan yang kesrakat. Mereka bergabung dan melakukan perbuatan-perbuatan yang dianggapnya dapat memberikan makan dan pakaian bagi keluarganya, meskipun ada di antara mereka yang memang sebenarnya perampok-perampok yang berpengalaman.

“Jadi kau akan memasuki padukuhan dan membunuh isinya? Apakah kau dengan mudah dapat membedakan yang manakah keluarga gerombolan Raga Tunggal dan yang manakah yang bukan?”

“Aku tidak sempat berpikir. Tetapi siapa yang berada di sekitar sarang gerombolan itu, mereka akan aku hancur-lumatkan.”

Jalawaja mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepadamu. Aku hanya akan ikut campur jika aku merasa perlu. Jika pertempuran itu berlangsung terlalu lambat, atau jika aku sudah mulai mengantuk dan ingin tidur, aku akan mempercepatnya. Jika kau ingin ikut langsung ke dalam pertempuran itu, terserahlah.”

“Ketiga pengawalmu itu?”

“Biarlah mereka membantumu, Seorang dari mereka akan membunuh Untata jika ia ikut campur.”

Kiai Kelasa Sawit mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Aku sendiri akan membunuh anak yang sombong itu.”

“Kenapa harus kau tangani sendiri? Jika anak-anak dapat melakukan, biarlah mereka melakukan. Jika semuanya masih harus kau lakukan sendiri, kapan anak-anak itu menjadi dewasa?”

“Tetapi biarlah Untara mengerti, bahwa selama ini aku hanya menahan hati saja. Sikapnya terlalu menyakitkan hati, seolah-olah ia adalah manusia yang paling berkuasa di permukaan bumi. Di sini ia merasa dirinya lebih berkuasa dari Sultan Pajang sendiri.”

“Terserah kepadamu. Jika kau ingin ikut dalam permainan anak-anak itu, lakukanlah.”

“Sebaiknya kita lihat apa yang akan kita hadapi,” berkata Kiai Kelasa Sawit kemudian. “Kita memang dapat menganggap lawan kita terlampau kecil, tetapi kita tidak boleh lengah. Karena itu, aku akan mengerahkan semua kekuatan yang ada.”

“Biarlah orang-orangku beristirahat, kecuali ketiga orang itu.”

“Tetapi ada baiknya mereka ikut menonton. Itu tentu akan merupakan hiburan yang menyenangkan setelah mereka menempuh perjalanan yang tegang. Cobalah Kakang bertanya kepada mereka, aku menduga bahwa mereka lebih senang ikut daripada tidur di sore hari.”

Kiai Jalawaja menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Baiklah. Biarlah mereka ikut. Tetapi aku ingin meninggalkan sekelompok pengawal yang tangguh untuk menjaga padepokan ini.”

“Aku mengerti. Dan Kakang dapat menunjuk mereka. Juga orang-orangku yang bertugas malam ini tetap di tempatnya masing-masing.”

Kiai Jalawaja mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Jika kau menganggap waktunya sudah tiba, lakukanlah rencanamu. Kami sudah cukup lama beristirahat.”

Demikianlah maka Kiai Kelasa Sawit pun segera menyiapkan orang-orangnya. Ternyata jumlahnya melampaui dugaan prajurit-prajurit sandi yang mengawasi mereka dari kejauhan. Kelompok-kelompok orang-orangnya pun yang berpencaran di sekitar padepokan tua itu segera berkumpul ketika mereka mendengar isyarat.

Dengan singkat Kiai Kelasa Sawit memberitahukan kepada pemimpin-pemimpin kelompok, apa yang harus mereka lakukan. Mereka harus bertindak tanpa ragu-ragu demi nama baik dan harga diri kelompok yang selama ini masih diliputi oleh kabut rahasia bagi Pajang.

“Kedudukan kita berbeda dengan kelompok-kelompok pencuri ternak itu,” berkata Kiai Kelasa Sawit, “karena itu, kita jangan membiarkan diri kita dihina oleh mereka.”

Sejenak kemudian maka mereka pun telah bersiaga. Kiai Kelasa Sawit yang sudah mendapat laporan bahwa beberapa gerombolan kecil bergabung dengan Kiai Raga Tunggal agaknya tidak begitu menghiraukannya.

Yang diperhitungkan oleh Kiai Kelasa Sawit adalah justru prajurit Pajang. Tidak mustahil bahwa prajurit Pajang tiba-tiba saja akan ikut campur dalam peperangan itu, karena Untara telah pernah memerintahkan perwiranya untuk datang di Tambak Wedi dan mencoba mencegah gerakan apa pun yang akan dilakukan.

“Persetan dengan Untara,” berkata Kiai Kelasa Sawit yang telah mendapat gambaran tentang kekuatan prajurit Pajang di Jati Anom.

“Apakah kau yakin bahwa prajurit Pajang itu tidak lebih banyak dari orang-orangmu?” bertanya Kiai Jalawaja pada suatu saat ketika ia melihat seorang petugas sandinya yang melaporkan bahwa tampak tanda-tanda kesiagaan tertinggi pada prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom menjelang senja.

“Tidak, Kiai,” jawab petugas sandi itu, “jumlah mereka tidak menyamai jumlah kita di sini.”

“Dan tidak ada seorang pun yang perlu kita segani,” sambung Kiai Kelasa Sawit.

Kiai Jalawaja mengangguk-angguk. Tetapi meskipun demikian ia berpesan, “Hati-hatilah dengan kelicikan prajurit-prajurit Pajang yang mempunyai seribu macam akal. Aku akan melihat pertempuran itu.”

 

 

Kiai Kelasa Sawit tidak begitu senang mendengarnya. Berkali-kali Kiai Jalawaja mengatakan bahwa ia hanya akan melihat, meskipun ia berjanji untuk ikut mempercepat penyelesaian jika pertempuran itu berlangsung terlalu lamban, atau apabila ia sudah mulai mengantuk dan ingin segera tidur.

Demikianlah, maka Kiai Kelasa Sawit pun segera memerintahkan pasukannya untuk bergerak menuruni lereng Gunung Merapi, di bawah pimpinan Kiai Kelasa Sawit. Dengan segenap kekuatan yang ada di padepokan itu. Kiai Kelasa Sawit ingin membuktikan bahwa pasukannya, gerombolannya, bukan sekedar sekelompok pencuri kecil yang bergabung menjadi satu seperti kelompok-kelompok yang ada di lereng Gunung Merapi.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah Kiai Kelasa Sawit mempunyai tujuan yang lebih besar. Meskipun tidak jelas terucapkan, agaknya Kiai Jalawaja pun sependapat, bahwa pada suatu saat Pajang harus mengakui, bahwa ada kekuatan yang pada suatu saat akan mengimbangi kekuatan Pajang, di daerah selatan.

“Kekuatan kita yang berada di Istana Pajang sudah bergerak jauh ke depan,” berkata Kiai Jalawaja di dalam hatinya, “meskipun mereka masih banyak menemui kegagalan. Maka gerakan itu harus diimbangi dengan gerakan di luar istana, agar Pajang mengetahui, bahwa cahaya pulung kraton sudah mulai pudar.”

Namun tiba-tiba saja Kiai Jalawaja mengerutkan keningnya. Lalu, “Tetapi Mataram memang harus mulai mendapat perhatian. Jika Mataram menjadi semakin besar, maka bahayanya akan menjadi lebih besar dari kekuatan Pajang yang tersisa.”

Namun Kiai Jalawaja itu pun kemudian menggeram, “Tetapi pada suatu saat, Mataram pun harus mengakui, betapa kecilnya pengaruh Danang Sutawijaya sepeninggal Ki Gede Pemanahan.”

Angan-angan Kiai Jalawaja itu terputus, ketika iring-iringan itu tiba-tiba saja berhenti.

Sejenak ia mengamati keadaan. Di dalam keremangan malam ia melihat seseorang yang sedang berbicara dengan Kiai Kelasa Sawit. Karena itu, maka ia pun segera mendekatinya.

“Kakang,” berkata Kiai Kelasa Sawit, “pasukan Pajang behar-benar sudah bergerak. Tetapi seperti yang sudah kita duga, jumlah mereka tidak sebanyak jumlah kita. Terlebih-lebih lagi, pasukan itu dipimpin sendiri oleh Untara. Tidak lebih. Meskipun Untara berusaha menakut-nakuti kita dengan semua tanda-tanda dan ciri-ciri keprajuritannya, panji-panji, rontek, umbul-umbul dengan tunggul lambang kesatuannya.”

“Jadi dibawanya pula permainan kanak-kanak itu di daerah terpencil seperti ini?” bertanya Kiai Jalawaja. “Untara memang bodoh sekali. Kami tidak terikat sopan-santun perang gelar keprajuritan. Kami mempunyai cara sendiri dan tata kesopanan sendiri.”

“Tentu, Kakang. Tetapi jelasnya, bahwa agaknya kita memang akan berhadapan dengan prajurit Pajang.”

“Betapa bodohnya Untara,” desis Kiai Jalawaja. “Jika ia melihat kita menumpas penjahat-penjahat kecil di lereng Gunung Merapi ini, maka seharusnya ia mengucapkan terima kasih. Penjahat-penjahat kecil itu tentu sudah membuatnya pening untuk waktu yang lama. Tetapi agaknya ia masih ingin dibingungkan oleh cecurut-cecurut itu dan bahkan sekarang berusaha untuk ikut campur dalam persoalan yang dapat merugikan, bukan saja pasukannya tetapi juga nama dan bahkan nyawanya.”

“Ya, Untara akan mati, pasukannya akan musnah. Dan nama Pajang akan menjadi semakin buram. Beberapa orang pimpinan akan menjadi semakin ragu-ragu, dan para adipati di pesisir akan semakin kehilangan kepercayaan. Satu-satu mereka akan melepaskan diri, sehingga Pajang akan menjadi semakin lemah. Yang terakhir, adipati-adipati itu pun akan bertekuk lutut kepada kekuasaan tertinggi yang akan kembali memerintah tanah ini. Apalagi setelah Mataram kehilangan sarana hadirnya pulung kraton yang pasti akan jengkar dari Istana Pajang,” desis Kiai Kelasa Sawit.

“Marilah,” berkata Kiai Jalawaja, “kita akan tertempur satu kali saja. Kita tidak akan mengulanginya kapan pun untuk melawan Untara, sehingga karena itu, Untara dan pasukannya harus musnah. Besok kita harus sudah meninggalkan padepokan tua itu dan bergabung dengan pasukan induk di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Mudah-mudahan semua kekuatan, atau pemimpin-pemimpinnya dapat hadir pada pertemuan itu.”

Kiai Kelasa Sawit mengangguk-angguk. Ia sudah mendapat kepastian, bahwa bersama dengan Kiai Jalawaja, ditambah dengan tiga pengawalnya yang terkuat, ia akan dapat memusnahkan kelompok-kelompok kecil yang sudah menyinggung harga dirinya. Bahkan seandainya Untara turut campur pun, maka pasukan Kiai Kelasa Sawit yang kemudian ternyata diperkuat oleh sepasukan yang datang bersama Kiai Jalawaja, sudah siap untuk menghancurkannya.

Demikianlah pasukan itu menyelusuri jalan sempit dilereng Gunung Merapi. Berliku-liku seperti sepasukan semut yang menuruni dinding.

Berbagai macam senjata nampak di tangan orang-orang yang berada di dalam iring-iringan itu. Kiai Kelasa Sawit yang kemudian berjalan di paling depan membawa senjata yang dianggapnya paling dipercaya untuk membinasakan Untara jika di medan ia dapat menjumpainya. Di tangannya tergenggam sebuah tombak bermata dua, dengan ujungnya yang runcing berduri pandan.

“Untara menurut keterangan yang pernah aku dengar, terlampau percaya kepada pedangnya,” berkata Kiai Kelasa Sawit di dalam hatinya, “tetapi pedangnya tidak akan banyak berdaya melawan tombakku yang bermata kembar.”

Di belakang Kiai Kelasa Sawit berjalan Kiai Jalawaja dengan segannya. Ia hampir tidak menghiraukan senjata apa yang akan dipergunakannya di peperangan. Ia terlampau yakin akan kemampuannya. Namun demikian, di lambungnya masih juga tergantung sebuah wedung yang berhulu kayu berlian, diukir mirip kepala seekor naga yang sedang menjulurkan lidahnya.

Di belakangnya lagi, tiga orang pengawalnya yang dapat dipercaya, yang memiliki kemampuan tidak terlampau jauh dari dirinya sendiri. Masing-masing membawa senjata yang hampir serupa. Pedang panjang dengan sebuah perisai baja kecil persegi panjang yang dipergunakannya untuk melindungi lengan kirinya, sampai ke pergelangan tangan. Dengan perisai kecilnya, mereka sanggup menangkis serangan senjata macam apa pun juga, bahkan bindi bergerigi pun tidak akan dapat merusakkannya.

Demikianlah maka pasukan yang dibekali dengan dendam itu pun telah siap untuk membunuh siapa pun juga. Setiap senjata sudah siap untuk diayunkan.

Dalam pada itu, petugas-petugas sandi yang mengawasi gerakan itu, baik yang dikirim oleh prajurit-prajurit Pajang, maupun pengikut-pengikut Kiai Raga Tunggal dan kelompok-kelompok kecil yang lain, telah melihat, seolah-olah serangkaian iring-iringan yang menjajakan kematian di sepanjang lereng Gunung Merapi.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang berpihak kepada Kiai Raga Tunggal pun telah melihat pula gerakan pasukan Pajang yang ada di Jati Anom, sehingga untuk sementara mereka masih akan dapat bermanja-manja. Meskipun demikian Kiai Raga Tunggal pun sebenarnya cukup cemas menghadapi kenyataan, bahwa pasukan dari Tambak Wedi yang sudah bertambah itu, menjadi semakin besar dan kuat.

“Apakah prajurit Pajang benar-benar akan melindungi kami, atau membiarkan kami musnah lebih dahulu, baru mereka akan mulai menghancurkan orang-orang Tambak Wedi?” pertanyaan itu selalu membayangi Kiai Raga Tunggal dan kawan-kawannya.

Dengan cemas, Kiai Raga Tunggal pun kemudian membicarakan apa yang harus mereka lakukan. Yang penting bagi mereka, seperti yang harus dikehendaki oleh prajurit Pajang, memancing pertempuran agak jauh dari padukuhan yang berpenghuni, agar tidak jatuh korban yang tidak tahu-menahu persoalannya.

“Kita akan memancingnya,” berkata Kiai Raga Tunggal, “kita letakkan sepasukan kecil di ujung bulak. Merekalah yang akan menarik perhatian pasukan dari Tambak Wedi itu. Mereka akan mengikutinya sampai ke tengah-tengah bulak. Sepasukan kecil lainnya akan menghadapi mereka di tengah-tengah bulak itu. Sementara induk pasukan kami akan menyerang dari lambung.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seperti yang sudah mereka sepakati bersama, maka mereka telah membagi tugas. Kiai Raga Tunggal-lah yang akan berada di tengah bulak itu dengan kelompoknya. Sedang yang lain akan segera menyerang lambung.

“Tetapi jika kalian terlambat,” berkata Kiai Raga Tunggal kemudian, “kami tentu akan musnah. Tetapi jika kalian bertindak tepat pada waktunya, mungkin kita akan dapat memperpanjang umur. Kami berharap bahwa prajurit Pajang akan melakukan gerakan sebelum kami dibantai oleh orang-orang Tambak Wedi itu.”

“Apakah kita percaya kepada Untara?”

“Aku percaya kepadanya. Tetapi aku tidak tahu, apakah yang terpikir olehnya sekarang. Jika keadaan memaksa, maka gerakan kita yang terakhir adalah menyelamatkan diri. Jika dengan demikian kita harus masuk padukuhan dan orang-orang Tambak Wedi yang mengejar kami melakukan pembunuhan tanpa semena-mena, maka barulah Untara akan menyesal jika ia tidak bertindak sebelum hal itu terjadi. Tetapi sudah pasti. Untara tidak mau melihat penduduk menjadi korban kebiadaban orang-orang Tambak Wedi.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk.

“Kita bersiap sekarang. Karena jumlah kita jauh di bawah jumlah orang-orang Tambak Wedi, maka kita harus mengurangi jumlah mereka pada benturan yang pertama terjadi di bulak itu. Pasukan panah itu harus berhasil, sebelum terjadi benturan pedang dan senjata jarak pendek.”

Demikian, maka Kiai Raga Tunggal pun menyiapkan pasukannya. Ia akan menjadi umpan untuk memancing pasukan lawan memasuki daerah tebaran anak panah dari kelompok-kelompok yang sudah menyatukan diri itu.

Dalam pada itu maka Kiai Raga Tunggal pun sadar, bahwa ia akan dapat mengalami keadaan yang paling buruk apabila kawan-kawannya mengkhianatinya. Jika kawan-kawannya dengan sengaja memperlambat serangannya beberapa saat saja, maka pasukannya akan benar-benar menjadi musna sama sekali.

Tetapi itu adalah akibat yang harus ditanggungkannya. Tentu tidak ada orang lain yang bersedia menjadi umpan, karena gerombolannyalah yang pertama-tama telah berbenturan dengan gerombolan dari Tambak Wedi itu, sehingga dengan demikian maka seolah-olah gerombolannyalah yang mempunyai tanggung jawab terbesar di dalam benturan yang bakal datang.

Sejenak kemudian, maka pasukan dari Tambak Wedi pun telah menjadi semakin dekat. Beberapa pengawas telah melaporkan bahwa iring-iringan yang mengerikan itu tengah merayap turun dan mendekati kubu mereka.

“Baiklah,” berkata Kiai Raga Tunggal, “benturan semacam ini sudah dapat kita duga sejak mereka berada di Tambak Wedi untuk pertama kali, bahwa pada suatu saat kita akan bersentuhan dan saling menyakiti hati. Bahkan kemudian saling berbunuhan. Kini semuanya itu akan segera menjadi kenyataan. Selama ini kita adalah perampok-perampok kecil yang masih mempertimbangkan untuk tidak membunuh korban-korban kami. Tetapi tentu tidak saat kita melawan gerombolan dari Tambak Wedi. Kita akan membunuh seperti mereka juga membunuh.”

Anak buah Kiai Raga Tunggal pun menjadi berdebar-debar.

“Jika kalian mulai ngeri melihat tandang dan cara orang-orang Tambak Wedi bertempur, itu adalah pertanda bahwa kalian masih ragu-ragu. Bahwa kalian masih terlampau berbaik hati. Sejak saat kalian mulai menjadi ngeri itulah, maka kalian harus membunuh sebanyak-banyaknya agar kalian tidak justru ditelan oleh kengerian di hati kalian sendiri.”

Anak buahnya pun kemudian mengangguk-angguk. Tetapi dada mereka belum pernah dihinggapi kecemasan seperti pada saat itu.

Tetapi tidak ada waktu lagi untuk membuat pertimbangan-pertimbangan lain. Laporan terakhir mengatakan, bahwa pasukan dari Tambak Wedi itu sudah semakin dekat, sehingga kelompok terdepan dari pertahanan Kiai Raga Tunggal telah hampir dilandanya.

“Sebentar lagi kita harus memilih. Membunuh atau dibunuh,” berkata Kiai Raga Tunggal lantang. “Tetapi jika kalian bertanya kepadaku, maka jawabku, aku lebih baik membunuh di peperangan ini.”

Kata-kata Kiai Raga Tunggal itu berhasil menyentuh jantung anak buahnya sehingga mereka pun tiba-tiba saja menggeram sambil menarik senjata masing-masing. Senjata yang memiliki jenis dan cirinya tersendiri. Seorang yang berkumis lebat menggenggam sebuah tombak pendek. Sedang seorang yang bertubuh gemuk membawa sebuah bindi yang seolah-olah berduri seperti sepotong batang enthong-enthongan. Sedang seorang yang bertubuh tinggi kurus, berwajah garang seperti harimau, membawa sebatang canggah bertangkai pendek. Yang lain lagi membawa parang, pedang, dan tongkat besi berujung runcing.

Tetapi mereka yang berada di bagian terdepan, selain senjata yang masih tetap di lambung, mereka telah menyiapkan busur dan memasang anak panah yang siap dilontarkan.

Sejenak kemudian, maka mereka yang bertugas di paling depan untuk menyeret pasukan dari Tambak Wedi itu ke bulak panjang dan pategalan telah mulai mempersiapkan diri dengan hati yang berdebar-debar. Sebab mereka akan dapat menjadi umpan pertama, dan mayatnya akan dicincang oleh orang-orang Tambak Wedi yang penuh dendam.

Ketika ujung pasukan Tambak Wedi itu sampai ke simpang tiga dan siap untuk langsung menuju ke sarang gerombolan Kiai Raga Tunggal di pategalan di luar sebuah padukuhan, maka kelompok yang telah disiapkan itu pun dengan serta-merta muncul dari balik pematang dan batang-batang jagung muda. Sebelum orang-orang dari Tambak Wedi itu menyadari, maka beberapa puluh anak panah pun telah meluncur menghujani mereka.

“Gila,” Kiai Kelasa Sawit menggeram. Ia pun kemudian memutar tombak bermata kembarnya. Beberapa anak panah telah dipatahkannya. Namun anak panah masih saja meluncur seperti hujan.

Usaha orang-orang Kiai Raga Tunggal untuk mengurangi lawannya ternyata berhasil. Beberapa orang yang lengah telah terluka. Dan bahkan ada yang menjadi parah dan tidak akan mungkin mampu bertempur untuk seterusnya.

Tetapi jatuhnya korban itu membuat Kiai Kelasa Sawit semakin marah. Maka ia pun berteriak, “Setiap jiwa harus ditebus dengan sepuluh jiwa lawan.”

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu pun telah menebar. Dengan kemarahan yang membakar setiap dada, mereka pun segera menyerang dengan garangnya, seperti ombak di lautan yang sedang diputar oleh angin pusaran.

Melihat lawannya maju dalam gelar yang menebar, meskipun belum berbentuk, maka sekelompok yang dengan sengaja memancing lawan itu pun menarik diri, langsung masuk ke dalam daerah yang sudah dipersiapkan.

“Tetapi satu hal yang tidak kita bicarakan sebelumnya,” berkata pemimpin kelompok kecil itu, “kita tidak menduga bahwa orang-orang Tambak Wedi itu maju dalam tebaran yang panjang.”

“Tidak banyak bedanya,” jawab seorang pembantunya. Lalu, “Mereka akan dihentikan oleh Kiai Raga Tunggal sebelum kelompok-kelompok yang lain menyerang mereka dari lambung.”

Demikianlah, maka kelompok kecil itu mundur sesuai dengan rencana sambil menghujani lawannya dengan anak panah. Tetapi lawannya pun telah berhasil menyusun diri dengan menempatkan mereka yang berperisai di paling depan.

Demikianlah maka pasukan yang dipimpin oleh Kiai Kelasa Sawit itu mendesak terus. Mereka seolah-olah tidak menghiraukan anak panah yang menghujani pasukan mereka. Dengan perisai di tangan kiri, maka mereka yang berdiri di paling depan maju semakin lama makin cepat.

“Kita tidak menuju ke sarangnya lagi,” desis Kiai Kelasa Sawit. “Kita tidak menuju ke padukuhan di sebelah itu. Agaknya mereka telah menunggu kita di bulak panjang.”

“Dan kau dengan dungu mengikuti kelompok kecil yang menyerang dengan anak panah itu?” bertanya Kiai Jalawaja.

“Tentu tidak. Aku yakin bahwa kita telah dipancing masuk ke dalam sebuah perangkap. Kita akan membentur sekelompok pasukan lawan. Kemudian mereka akan menghimpit kita dari sisi. Cara-cara itulah yang biasa dipakai oleh penjahat-penjahat kerdil yang merasa dirinya pandai menyusun gelar.”

“Jadi kau sadari bahwa lambung pasukanmu akan mendapat serangan?”

“Setiap pimpinan di dalam pasukan ini tentu sudah menyadarinya.”

“Meskipun demikian, berikan perintah kepada pengapitmu. Yang di kiri dan yang di kanan.”

Kiai Kelasa Sawit tidak membantah. Ia pun kemudian mengirimkan dua orang penghubung ke sayap pasukannya sebelah-menyebelah.

Seperti yang diduga oleh Kiai Kelasa Sawit, maka sayap pasukannya itu pun memang sudah siap. Mereka tidak mau melepaskan korban lagi dengan mengumpankan orang-orangnya dipatuk oleh anak panah lawan. Karena itu, pasukan yang berperisai telah lebih dahulu menempatkan diri di tepi barisan.

Dalam pada itu, pasukan yang telah bersiap menyerang dari lambung melihat kesiagaan lawannya. Sejenak mereka menjadi ragu-ragu.

Tetapi mereka sudah bertekad untuk melawan orang-orang dari Tambak Wedi itu bersama-sama. Kemungkinan satu-satunya itu adalah yang terbaik yang dapat mereka tempuh. Sehingga karena itu, maka beberapa orang di antara mereka telah mencari akal.

“Kita tidak menyerang dari lambung,” berkata salah seorang dari mereka, lalu, “tidak akan banyak gunanya.”

“Lalu?”

“Kita menunggu pasukan itu berhenti membentur pasukan Kiai Raga Tunggal. Mungkin sayap yang lain, masih akan menyerang lambung kiri. Tetapi kita akan melingkari pasukan itu.”

“Aku kurang mengerti.”

“Sekelompok kecil akan tetap melontarkan anak panah dari lambung. Tetapi kita melingkar pasukan Tambak Wedi itu. Menilik gelarnya, maka mereka tidak berada dalam bentuk yang lengkap, sehingga kita akan dapat menyerang mereka dengan tiba-tiba dari arah ekor pasukan.”

Kawannya merenung sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Kau benar. Ekor pasukan Tambak Wedi agaknya bagian yang paling lemah dari seluruh pasukannya.”

Yang lain pun mengangguk-angguk pula. Agaknya mereka sependapat dengan cara yang tiba-tiba saja telah mereka rencanakan.

Pasukan yang akan menyerang dari lambung kanan itu pun segera menyusun diri, disesuaikan dengan rencana mereka. Karena rencana itu tidak banyak berpengaruh pada induk pasukannya, maka mereka tidak merasa perlu untuk memperbincangkannya.

“Kita hanya akan memberitahukan saja kepada Kiai Raga Tunggal.”

Dengan demikian, maka pasukan di lambung kiri itu justru memecah diri. Sebagian kecil masih tetap di tempatnya, menunggu saat yang sudah ditentukan, yang akan diisyaratkan oleh induk pasukannya dengan panah api. Sedangkan yang lain dengan diam-diam merayap melingkar dan justru siap menyerang ekor pasukan lawan.

Sejenak kemudian, maka pasukan yang mengejar sekelompok orang yang dengan sengaja memancing lawan itu menjadi semakin dekat dengan pasukan Kiai Raga Tunggal. Akhirnya mereka yang melemparkan anak panah itu pun segera luruh dengan induk pasukan. Mereka harus menghentikan gerak maju pasukan dari Tambak Wedi itu, sementara itu pasukan dari lambung akan menyerang mereka. Mula-mula dengan anak panah. Kemudian mereka akan bertempur dalam jarak pendek.

Tetapi naluri Kiai Kelasa Sawit dan Kiai Jalawaja agaknya cukup tajam menangkap rencana itu. Karena itu, maka sambil memandang jauh ke depan. Kiai Jalawaja bertanya, “Apakah kau dapat menduga, apakah yang tersembunyi di dalam kegelapan itu?”

Kiai Kelasa Sawit menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun menjawab, “Sepasukan yang akan menghentikan pasukan kita. Di sebelah-menyebelah pasukan lawan mulai merangkak maju.”

Dan tiba-tiba saja, Kiat Kelasa Sawit meneriakkan sebuah aba yang seolah-olah telah mengguncang seluruh bulak yang panjang itu. Sejenak kemudian maka barisannya yang menebar itu pun bergeser dan menyusun kelompok-kelompok. Yang tengah menghadap ke depan, yang sebelah-menyebelah siap menghadapi serangan dari lambung seperti yang mereka perhitungkan.

Kiai Raga Tunggal terkejut mendengar teriakan yang nyaring itu. Seolah-olah teriakan itu melonjak di dalam dadanya sendiri.

Namun ia pun tidak menjadi bingung. Segera ia memerintahkan orang yang telah ditugaskannya untuk melontarkan anak panah api sebagai pertanda bahwa pertempuran yang sebenarnya akan segera dimulai. Pertempuran antara hidup dan mati di antara mereka yang selama itu bergerak di dalam bayangan yang hitam dan samar.

Sejenak kemudian, maka sebuah anak panah api pun telah meluncur. Sekilas cahaya yang kemerah-merahan melonjak ke udara, seperti sepercik bintang yang meloncat menggapai wajah langit, tetapi gagal dan jatuh kembali ke permukaan bumi.

Semua orang yang berada di sekitar bulak yang akan menjadi arena perang itu telah melihatnya. Orang-orang Tambak Wedi pun melihat pula. Terasa jantung mereka berdegup semakin keras. Pertanda itu seolah-olah merupakan jawaban atas aba-aba yang baru saja diteriakkan oleh Kiai Kelasa Sawit.

“Ternyata mereka telah menjadi gila,” geram Kiai Kelasa Sawit. “Mereka merasa dirinya kuat untuk menjawab tantangan kami. Dengan sombong mereka berani melontarkan pertanda ke udara.”

Kiai Jalawaja dengan tidak acuh menyahut, “Kau yang gila. Itu adalah jawaban yang wajar dari aba-aba yang kau teriakkan. Tidak seorang pun di antara mereka yang memiliki ilmu Tapak Angin seperti kau, yang dapat melontarkan bunyi sampai ke ujung cakrawala. Mereka memerlukan alat yang dapat dipergunakannya untuk memberikan isyarat seperti itu.”

Kiai Kelasa Sawit tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia berteriak keras sekali, sehingga seolah-olah Gunung Merapi itu pun tergetar karenanya, “Bunuh setiap orang di dalam barisan lawan.”

Kiai Raga Tunggal tergetar pula hatinya. Ia sadar bahwa lawannya mempunyai cara untuk melontarkan suara tidak dengan wajar.

Namun ia tidak ingin melihat anak buahnya menjadi berkecil hati. Karena itu ia pun berteriak pula meskipun hanya di dengar oleh anak buahnya yang ada di dalam kelompoknya, “Jangan takut. Orang-orang Tambak Wedi dapat juga mati. Kalian telah berhasil membunuh di antara mereka di bulak sebelah. Karena itu, maka yang berdatangan itu pun dapat pula dibunuh seperti yaug telah kalian lakukan.”

Kata-kata itu ternyata mempunyai pengaruh pula. Mereka pun segera teringat, bahwa beberapa orang anak buah Kiai Kelasa Sawit telah terbunuh. Dengan demikian, maka mereka pun segera sadar, bahwa yang datang itu bukan pasukan jin atau hantu yang bebas dari kematian.

Sejenak kemudian, maka sekali lagi terdengar aba-aba yang terloncat dari mulut Kiai Kelasa Sawit tepat pada saat lawan mereka mulai bergerak.

Sejenak kemudian, ketika anak buah Kiai Kelasa Sawit mulai meloncat untuk menyerang, bertaburanlah anak panah yang dilontarkan oleh anak buah Kiai Raga Tunggal dan kawan-kawannya. Tidak saja dari depan, tetapi ternyata juga datang dari lambung sebelah-menyebelah.

Pada saat yang bersamaan Kiai Raga Tunggal mendapat pemberitahuan dari seorang penghubung, bahwa sayap kanan telah merubah rencananya. Meskipun masih ada sekelompok kecil yang menyerang dari lambung, tetapi pusat serangan mereka akan diarahkan pada ekor barisan lawan.

“Siapakah yang berada di sana?”

“Seperti yang direncanakan.”

“Baiklah.”

Penghubung itu pun kemudian meninggalkan Kiai Raga Tunggal dan kembali ke tempatnya di sayap kanan.

Demikianlah sejenak kemudian, pertempuran tidak dapat dihindarkan lagi. Serangan anak panah dari pasukan Kiai Raga Tunggal dan sayap-sayapnya benar-benar telah menghambat kemajuan barisan Kiai Kelasa Sawit. Kiai Kelasa Sawit sendiri tidak banyak terpengaruh oleh serangan itu, karena senjatanya yang berputar seperti baling-baling merupakan perisai yang tidak tertembus. Tetapi anak buahnya kecuali yang membawa perisai, memang agak terganggu juga oleh serangan itu.

Tetapi ternyata bahwa anak panah itu tidak dapat menghentikan sama sekali serangan pasukan dari Tambak Wedi itu. Mereka maju terus betapa pun lambatnya. Pasukan yang ada di paling depan adalah mereka yang membawa perisai di tangan kirinya.

Demikian juga pasukan yang ada di lambung. Dari lambung kiri, serangan terasa semakin lama semakin berat. Mereka ternyata tidak menunggu lawan. Justru merekalah yang bergerak maju dengan cepat sambil melontarkan anak panah.

Tetapi serangan dari lambung kiri terasa sangat lemahnya. Hanya beberapa anak panah saja yang terbang menyambar pasukan lawan. Meskipun tidak henti-hentinya, tetapi jarang-jarang sekali dibandingkan dengan serangan dari induk pasukan dan lambung kiri.

Karena itu, pasukan lawan pun dengan cepat berhasil menebar dan mendekati lambung kanan. Kelompok yang telah mereka persiapkan untuk melawan serangan lambung pun segera bergerak menyerang ke arah anak-anak panah yang terlontar.

Namun dalam pada itu, pasukan yang sebenarnya dari sayap kanan itu telah siap menyergap dari belakang. Mereka sedang merayap ke samping. Kemudian melingkar dan mulai bergerak maju menyusul gerakan pasukan Kiai Kelasa Sawit.

Dengan berdebar-debar pasukan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Dan dengan hati-hati pimpinan pasukan itu memberikan isyarat untuk bersiaga.

Demikianlah maka setiap orang pun telah menggenggam senjata di tangan masing-masing. Tidak ada lagi pertimbangan lain kecuali bertempur mati-matian, mempertaruhkan nyawa mereka untuk menentukan akhir dari peperangan yang tentu akan menjadi sangat seru dan mengerikan, karena masing-masing telah bertekad untuk membunuh lawan sebanyak-banyaknya.

Sejenak kemudian, maka anak panah dari anak buah Kiai Raga Tunggal tidak lagi dapat menahan jarak yang ada di antara kedua pasukan itu. Setelah menjadi semakin dekat, maka anak buah Kiai Kelasa Sawit, didahului oleh mereka yang mempergunakan perisai, berlari secepat-cepatnya untuk membenturkan diri pada pasukan lawan.

Sesaat kemudian, maka kedua pasukan itu pun telah berbenturan. Anak panah tidak lagi dapat dipergunakan. Karena itu pulalah maka mereka yang bersenjata busur dan anak panah, segera melemparkan busur mereka dan menarik pedang yang terselip di lambung.

Sementara itu, pasukan yang dipersiapkan untuk melawan serangan lambung pun telah bertempur pula dalam jarak yang pendek. Pada lambung kanan, terasa pasukan Kiai Kelasa Sawit segera menguasai keadaan. Mereka dengan pesatnya mendesak maju.

Tetapi tiba-tiba pasukan Kiai Kelasa Sawit itu dikejutkan oleh serangan yang tidak terduga-duga. Selagi mereka bertempur melawan pasukan Kiai Raga Tunggal, dan pasukan yang datang dari lambung, meluncurkan bagaikan hujan anak panah dari arah belakang, menghantam ekor pasukan.

Serangan yang tidak terduga-duga itu benar-benar mengejutkan. Beberapa orang tidak sempat berpaling ketika tiba-tiba saja sebuah anak panah menghunjam di punggung. Meskipun mereka tidak segara terbunuh, namun luka anak panah itu membuat mereka bagaikan lumpuh dan tidak berdaya untuk meneruskan peperangan.

Korban yang berjatuhan itu, membuat anak buah Kiai Kelasa Sawit menjadi semakin marah. Mereka segera memberikan laporan bahwa telah terjadi serangan yang sangat licik, sementara sekelompok dari pasukan itu harus memutar haluan, menghadap kepada serangan yang datang dari belakang itu.

Kesempatan untuk mengurangi jumlah lawan dari belakang itu ternyata lebih banyak dari serangan-serangan anak panah sebelumnya. Beberapa orang terluka karenanya, dan oleh kawan-kawannya telah dilindungi dan disisihkan dari medan. Namun dengan demikian rasa-rasanya pasukan Kiai Kelasa Sawit itu berada di dalam satu kepungan.

“Gila,” teriak Kiai Kelasa Sawit setelah mendengar laporan itu.

Sementara Kiai Jalawaja segera berkata, “Itulah hasilnya. Kau memastikan, bahwa perhitunganmu tepat. Kau yakin bahwa lawan-lawanmu adalah orang-orang bodoh yang mempergunakan perangkap dengan cara yang itu-itu juga. Memancing pasukanmu masuk ke dalam lingkungan jarak lontar anak panah, menyerang dari lambung dan dari depan. Ternyata tiba-tiba kau mendapat serangan pada ekor pasukanmu.”

“Kita tidak mempergunakan gelar yang sempurna,” berkata Kiai Kelasa Sawit. “Itu adalah kelemahanku. Tetapi kau tidak pernah memberiku peringatan atau saran.”

Kiai Jalawaja mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Kau adalah pemimpin pasukan. Jika aku memberimu saran, tetapi ternyata salah, maka kau akan mengumpatiku sepanjang umurmu.”

“Jika demikian, baiklah. Tetapi kelicikan itu harus mereka tebus dengan mahal sekali.”

Kiai Kelasa Sawit pun kemudian berkata kepada penghubung itu, “Kembalilah ke kelompokmu. Perintahku kepada kalian, bunuh semua orang yang kalian jumpai.”

Penghubung itu pun segera kembali ke kelompoknya dan menyampaikan perintah yang memang sudah diduga oleh setiap orang di dalam kelompok itu.

Demikianlah maka pertempuran pun berlangsung semakin sengit. Kedua belah pihak berusaha untuk membunuh sebelum mereka terbunuh.

Namun meskipun Kiai Raga Tunggal sudah menggabungkan kekuatannya dengan beberapa kelompok pasukan-pasukan kecil yang tersebar di lereng Gunung Merapi itu. tetapi ternyata bahwa segera dapat dilihat, pasukan dari Tambak Wedi itu mempunyai banyak sekali kelebihan.

Apalagi ketika kemudian Kiai Kelasa Sawit sendiri turun ke arena, maka senjatanya benar-benar bagaikan mulut ular yang berbisa tajam sekali. Setiap saat ujung senjatanya itu pun telah mematuk lawannya. Demikian senjata itu kemudian dihentakkannya, maka luka itu pun akan tersayat semakin lebar.

Kiai Raga Tunggal segera melihat kesulitan pada anak buahnya. Namun agaknya ia menjadi ragu-ragu untuk langsung melawan Kiai Kelasa Sawit, karena menurut pendengarannya Kiai Kelasa Sawit adalah orang yang tidak terkalahkan.

Tetapi yang ada di dalam pasukan lawan, bukan hanya Kiai Kelasa Sawit. Dengan acuh tidak acuh, Kiai Jalawaja dan ketiga pengawalnya pun ternyata telah melakukan pembunuhan yang tidak tanggung-tanggung.

“Aku jemu melibat peperangan yang gila ini,” berkata Kiar Jalawaja, “aku ingin segera beristirahat di padepokan tua itu.”

Namun dengan demikian, seperti yang dikatakannya. Jika ia mulai mengantuk, atau ingin beristirahat, maka ia akan mempercepat penyelesaian pertempuran itu.

Namun dalam pada itu, peperangan itu tidak terlepas dari pengawasan petugas-petugas sandi dari Pajang. Ketika kedua pasukan itu mulai berbenturan, laporan pun telah sampai kepada Untara. Disusul dengan laporan-laporan berikutnya, bahwa kematian telah menjadi semakin banyak.

“Memang di luar dugaan,” desis Untara, “dengan demikian kita dapat membayangkan, bahwa pasukan Kiai Kelasa Sawit benar-benar pasukan yang kuat.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Nah, kita akan segera hadir ke dalam arena itu dalam gelar yang sempurna. Gelar Cakra Byuha.”

 

 

Beberapa orang perwira dalam pasukan Untara mengangguk-angguk. Namun ada di antara mereka yang bertanya-tanya di dalam hati, kenapa Untara memilih gelar yang sempit. Bukan gelar yang menebar seperti Gelar Sapit Urang atau Garuda Nglayang.

Agaknya Untara melihat bahwa di antara beberapa orang perwiranya menjadi ragu-ragu. Karena itu maka ia pun menjelaskannya, “Bukankah kita harus menyusup ke tengah-tengah medan? Kita harus berada di garis pertempuran itu. Lingkaran gelar Cakra Byuha kita akan langsung masuk ke tengah-tengah peperangan, kemudian mengembang sebagai gelar lingkaran yang semakin besar. Kita akan mencakup pasukan Kiai Raga Tunggal masuk ke dalam lingkaran pasukan Pajang sebelum mereka ditumpas. Kita akan mencoba berbicara dengan Kiai Kelasa Sawit. Jika mereka menolak, maka kita akan menghancurkannya sama sekali.”

Beberapa orang perwira pembantunya itu pun mengangguk-angguk. Mereka mempunyai gambaran yang jelas dari peperangan yang bakal mereka lakukan.

“Marilah kita lakukan tugas kita dengan penuh tanggung jawab,” berkata Untara kemudian. “Kita tahu, bahwa yang berlangsung itu adalah sebuah pembantaian besar-besaran. Aku berharap bahwa kita semuanya tidak akan terseret dalam suasana itu. Kita adalah prajurit Pajang yang mempunyai unggah-ungguh keprajuritan. Kita bukan sekelompok pasukan liar yang mudah tenggelam akan menghancurkannya sama sekali.”

Demikianlah, maka Untara pun segera memerintahkan pasukannya yang sudah tersusun dalam gelar Cakra Byuha itu untuk bergerak. Gelar yang berbentuk lingkaran bergerigi, yang menempatkan para senapatinya di sepanjang ujung geriginya. Gelar itu akan dapat menghadap ke segala arah sesuai dengan keadaan yang berkembang di medan yang sengit, yang mengarah kepada perang brubuh.

Namun berbeda dengan gelar Gedung Minep, yang juga merupakan lingkaran yang rapat, maka gelar Cakra Byuha menempatkan senapati utamanya di depan, di luar lingkaran. Senapati utamanya dapat bergeser menurut keadaan. Tetapi tidak demikian dengan gelar Gedong Minep. Panglima dari gelar Gedong Minep berada di dalam lingkaran yang tertutup rapat.

Sejenak kemudian maka pasukan itu pun mulai bergerak mendekati arena. Semakin dekat, maka gelar itu pun menjadi semakin mapan. Mereka tidak lagi berusaha mencari celah-celah tanaman yang dilanda oleh gelarnya, di sawah yang terbentang dari padukuhan yang satu ke padukuhan yang lain.

Seperti sepasukan prajurit yang datang dalam kebesarannya, maka prajurit Pajang yang dipimpin Untara itu pun mendekati arena dengan isyarat keprajuritannya. Di dalam malam yang basah oleh darah, maka terdengarlah suara sasangkala yang meraung-raung.

Suara pertanda itu terdengar dari medan yang riuh. Sejenak, mereka yang sedang berkelahi mempertaruhkan nyawanya terpengaruh oleh suara itu. Namun kemudian terdengar suara Kiai Kelasa Sawit menggema di seluruh bulak, “Kita sambut kedatangan mereka. Mereka akan mengalami nasib serupa dengan kelinci-kelinci gila ini.”

Dalam pada itu, Kiai Raga Tunggal yang cemas melihat keadaan medan yang benar-benar berat sebelah, tiba-tiba merasa jantungnya bergetar mendengar suara sasangkala itu. Ternyata Untara adalah seorang prajurit yang nampak pada setiap kata dan perbuatan. Ia benar-benar hadir dalam pertempuran itu seperti yang dikatakannya.

Ketika Untara mendekati arena, korban telah berserakan. Tetapi ia tidak terlambat. Arena itu masih sibuk dengan pembantaian yang mengerikan. Meskipun pasukan Kiai Kelasa Sawit jauh lebih kuat dari lawannya, namun perlawanan yang bagaikan gila dari orang-orang lereng Gunung Merapi, membuat korban yang semakin banyak.

Tetapi meningkatnya korban itulah yang membuat darah Kiai Kelasa Sawit menjadi bagaikan mendidih. Dendamnya sama sekali tidak dapat dikendalikannya lagi. Apalagi karena Kiai Jalawaja yang semakin lama tidak saja menjadi jemu, tetapi juga menjadi marah melihat orang-orangnya menjadi korban.

Demikian ketika pasukan Untara mendekati dalam gelar yang sempurna, maka Kiai Kelasa Sawit pun segera meneriakkan perintah, “Pecahkan gelar Cakra Byuha itu. Aku sendiri akan mencari Untara.”

Kiai Jalawaja mengerutkan keningnya. Lalu, “Apa tugasku dalam pertempuran yang sungguh-sungguh ini?”

Kiai Kelasa Sawiti termangu-mangu sejenak, lalu, “Di dalam kelompok-kelompok kecil itu terdapat beberapa orang pemimpin. Raga Tunggal, Serat Wulung, dan beberapa nama lagi yang tidak aku ingat. Pengawal-pengawal Kakang akan dapat membunuh mereka dalam sekejap jika Kakang tidak ingin bersusah payah mencarinya. Selebihnya terserah kepada Kakang.”

“Baiklah. Aku akan masuk ke dalam gelar orang-orang Pajang. Aku ingin melihat, betapa kuatnya dinding gelar yang mereka banggakan. Baru mereka tahu, bahwa Pajang bukan sebuah negara yang masih pantas tegak untuk seterusnya, karena senapati muda kebanggaannya di daerah selatan akan mengalami kehancuran mutlak di sini.”

Kiai Jalawaja pun kemudian berkata kepada pengawalnya, “Salah seorang dari kalian ikuti aku. Yang lain, carilah pimpinan kelompok tikus yang mencoba mengganggu kita.”

Mereka yang mendapatkan perintah itu pun segera bergerak. Kiai Kelasa Sawit segera menyusup di antara orang-orangnya menyongsong gelar Cakra Byuha yang mendekat. Sedang Kiai Jalawaja mengambil arah yang lain. Ia ingin memecahkan dinding gelar itu, dan menghancurkannya dari dalam.

Bukan saja Kiai Jalawaja yang kemudian berusaha memecahkan dinding gelar itu, tetapi juga sekelompok orang Tambak Wedi yang kuat telah menyusun diri untuk mematahkan lingkaran bergerigi itu dan menghancurkannya dari dalam bersama Kiai Jalawaja.

Di dalam kelompok itu terdapat sebagian dari pasukan yang datang bersama Kiai Jalawaja. Bagian dari pasukan yang memang memiliki kekuatan yang dapat dibanggakan.

Untara yang berada di depan dari gelarnya itu pun membawa pasukannya langsung memasuki arena. Dari benturan yang terjadi, petugas yang mengamati pertempuran itu dapat memperhitungkan, di manakah pasukan Pajang itu harus menyusup.

Sejenak kemudian, maka benturan antara pasukan Pajang dalam gelar Cakra Byuha dengan pasukan Kiai Kelasa Sawit pun segera terjadi dalam batas pertempuran antara pasukan Kiai Kelasa Sawit dengan pasukan Kiai Raga Tunggal. Namun demikian lingkaran pasukan Pajang itu tidak berhasil memisahkan pertempuran antara kedua pasukan itu. Bahkan sepasukan yang sudah tersusun telah bersiap menyongsong gelar Cakra Byuha yang utuh itu.

Untara menggeram mengalami perlawanan itu. Ia sadar, bahwa dengan demikian Kiai Kelasa Sawit telah dengan sengaja menentangnya.

Namun dalam pada itu, ia pun menjadi berdebar-debar pula. Ternyata pasukan Kiai Kelasa Sawit adalah benar-benar sebuah pasukan yang kuat yang memiliki jumlah dan kemampuan yang benar-benar memadai untuk melawan pasukan Pajang di Jati Anom.

“Jika kami tidak memasuki arena, maka dalam waktu yang dekat, Kiai Raga Tunggal benar-benar akan ditumpas oleh orang-orang yang singgah di Tambak Wedi itu,” berkata Untara di dalam hati.

Tetapi ia bukan saja mengagumi kekuatan pasukan lawan. Untara tidak mau mengalami akibat yang parah dari peperangan itu, sehingga karena itulah maka ia pun segera memerintahkan dua orang penghubungnya untuk kembali ke Jati Anom dan mengerahkan pasukan cadangannya. Khususnya pasukan berkuda.

“Ternyata lawan kami terlampau kuat. Melampaui perhitungan yang pernah kami buat. Karena itu, perintahkan pasukan cadangan dan pasukan berkuda untuk segera menyusul kami,” perintahnya kepada penghubung itu.

Sejenak kemudian, dua orang penghubung berkuda itu pun segera meninggalkan arena dan dengan kecepatan yang tinggi meluncur turun lereng Merapi menuju ke Jati Anom.

Kedatangan kedua penghubung itu memang mengejutkan. Karena itulah maka seorang perwira yang memimpin pasukan cadangan dan perwira yang memimpin pasukan berkuda itu pun terkejut, “Bagaimana dengan pasukan berkuda yang ada di dalam gelar itu?”

“Tidak banyak yang dapat mereka lakukan, justru karena mereka telah berada di dalam arena yang padat,” jawab penghubung itu.

“Baiklah. Kita akan berada di luar pergulatan pertempuran itu.”

“Bawalah pasukanmu lebih dahulu,” berkata perwira-perwira pasukan cadangan kepada perwira yang memimpin pasukan cadangan berkuda, “agaknya pasukan Pajang memerlukan bantuan secepatnya. Dalam waktu dekat, pasukan kami akan menyusul.”

Demikianlah, dalam waktu yang pendek, pasukan cadangan dari pasukan berkuda pun sudah siap. Sejenak kemudian telah terdengar pasukan itu berderap di sepanjang jalan Jati Anom. Meskipun di malam hari, namun debu pun telah mengepul ketika pasukan meluncur dengan cepat menyusul pasukan Untara yang telah terlibat dalam pertempuran.

Pasukan yang lain pun segera menyusul pula. Sepasukan kecil prajurit cadangan berbaris dengan tergesa-gesa menuju ke arena.

“Agaknya telah terjadi peperangan yang seru,” berkata seorang prajurit kepada kawannya yang dengan tegang berjalan di sisinya.

“Ya,” jawab kawannya, “jika tidak, Ki Untara tidak akan mengerahkan pasukan cadangan ini.”

“Lawan kita sekarang tentu bukan lawan yang baik dan ramah-tamah,” desis orang di sebelah.

Prajurit yang berbicara mula-mula itu pun tersenyum. Katanya, “Ya. Tetapi aku yakin, mereka akan menyambut kedatangan kita dengan mesra pula.”

Dalam pada itu di arena pertempuran, terasa sekelompok pasukan yang kuat berusaha memecahkan satu sisi dari gelar Cakra Byuha itu. Benturan-benturan yang keras telah terjadi. Kelompok itu bagaikan ombak yang dengan kerasnya bergulung-gulung menghantam tebing.

Tetapi dinding gelar pasukan Pajang itu pun cukup kuat, sehingga untuk beberapa saat lamanya usaha itu sia-sia. Senapati yang berada di ujung gerigi pada sisi yang mendapat serangan beruntun itu telah bertempur dengan gagah berani bersama seluruh kekuatan yang ada di bawah pimpinannya.

Sementara pada satu sisi terjadi pertempuran yang sengit maka di bagian depan pasukan Pajang itu pun mengalami perlawanan yang kuat pula. Untara tidak dapat membawa pasukannya maju terus. Untara tidak dapat memerintahkan gelarnya, seperti yang direncanakan untuk mengembang dan menguasai seluruh arena, mencakup pasukan kelompok-kelompok kecil dari lereng Merapi masuk ke dalam perlindungannya. Ternyata bahwa gelarnya itu justru mengalami tekanan yang kuat pada dinding-dindingnya, terutama pada sisi yang akan dipecahkan oleh pasukan lawan.

Namun dalam pada itu, seorang yang bermata setajam mata burung hantu, diiringi oleh seorang pengawal berjalan perlahan-lahan mendekati dinding gelar itu pula. Ia memperhatikan pertempuran yang terjadi. Ia memperhatikan pasukan Kiai Kelasa Sawit yang berusaha memecahkan dinding gelar Cakra Byuha yang kuat itu.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Prajurit Pajang memang luar biasa.”

“Tetapi mereka juga manusia biasa, Kiai,” berkata pengawalnya. “Jika Kiai Jalawaja memerintahkan, aku akan membunuh senapati itu. Prajurit-prajuritnya tentu akan kehilangan pimpinan dan dinding itu pun akan segera pecah.”

Kiai Jalawaja tersenyum. Katanya, “Kau akan salah hitung. Setiap orang di dalam pasukan Pajang memiliki kemampuan kepemimpinan. Jika senapati itu terbunuh, maka akan segera tampil orang kedua untuk memimpin pasukannya.”

“Tetapi sementara itu pasukan kita pun telah mendesak.”

“Dan kau harus membunuh pengganti senapati itu lagi.”

“Ya.”

Kiai Jalawaja mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Marilah, kita mencari tempat lain untuk memecahkan dinding gelar itu. Kita bergabung pada sepasukan yang sedang bertempur melawan dinding gelar, dan berlomba dengan kelompok lain yang sedang berusaha memecahkan dinding gelar itu pula. Siapakah yang terlebih dahulu ada di dalam.”

Pengawal yang hanya seorang itu mengangguk-angguk. Katanya sambil tertawa, “Suatu permainan yang bagus sekali.”

“Marilah. Sementara kedua kawanmu akan membunuh pemimpin-pemimpin gerombolan-gerombolan kecil di lereng Gunung Merapi.”

Demikianlah Kiai Jalawaja meninggalkan tempat itu dan bergeser ke bagian yang lain. Sejenak ia tertegun melihat pertempuran di bagian belakang dari pasukan Pajang melawan pasukan Kiai Kelasa Sawit yang dibantu oleh sekelompok pasukan yang datang bersama Kiai Jalawaja.

“Itu anak-anak kita,” desis Kiai Jalawaja.

“Ya.”

“Kita bertempur di sini.”

“Aku senang sekali bertempur dengan mereka pada bagian yang sangat menarik.”

Kiai Jalawaja pun kemudian mendesak maju, masuk ke dalam barisan yang sedang bertempur mati-matian itu.

Kehadiran Kiai Jalawaja tiba-tiba saja telah menggetarkan hati anak buahnya. Beberapa kali mereka membentur dinding gelar yang bagaikan gerigi baja yang tajam. Sentuhan ujung gerigi itu akan segera menyobek kulit daging dan mematahkan tulang, sehingga setiap usaha mereka pasti gagal. Pasukan dari Tambak Wedi itu sama sekali tidak mampu berbuat apa pun selain menahan setiap usaha gelar itu untuk mengembangkan lebih luas.

Ternyata usaha gelar itu pun tidak segera dapat berhasil. Pasukan dari Tambak Wedi itu benar-benar telah menghimpit mereka dari segala jurusan.

Kehadiran Kiai Jalawaja di antara anak buahnya telah membuat mereka berbesar hati. Apalagi bersamanya adalah salah seorang pengawalnya yang kuat. Karena itulah, maka mereka pun segera memastikan bahwa dinding itu akan segera dapat dipecahkannya.

“Kalian memang bodoh,” berkata Kiai Jalawaja, “minggirlah! Aku akan memecahkan dinding itu. Ganggulah prajurit-prajurit Pajang dari sebelah-menyebelah. Biarlah aku bertempur dengan senapati yang gagah berani itu.”

Demikianlah pasukan Tambak Wedi itu bagaikan menyibak. Mereka memberi jalan kepada Kiai Jalawaja untuk maju ke depan.

“Jangan nonton. Kalian mempunyai tugas.”

Demikianlah pertempuran itu rasa-rasanya menjadi semakin sengit. Pengawal Kiai Jalawaja sudah mulai melakukan tugasnya. Ayunan senjatanya sudah mulai menghembuskan udara maut di medan itu.

Sementara itu Kiai Jalawaja maju terus. Ketika nampak olehnya Senapati Pajang yang bertempur bagaikan banteng yang terluka, maka ia pun tertawa sambil berkata, “Senapati yang gagah perkasa. Jangan berbuat berlebih-lebihan. Lawanmu adalah prajurit kecil yang tidak mempunyai kemampuan apa pun juga, sehingga tampaknya kau adalah raksasa di antara mereka.”

Senapati itu terkejut. Rasa-rasanya suara orang itu sudah meruntuhkan isi dadanya. Dengan demikian ia dapat menebak, bahwa nampaknya lawannya itu adalah lawan yang luar biasa.

Tetapi bukan saja senapati itulah yang mengalami sentuhan getaran suara Kiai Jalawaja, tetapi juga prajurit-prajurinya dan orang-orang di sekitar arena itu.

Sementara itu, maka anak buah Kiai Jalawaja itu dengan penuh gairah telah mendesak lawannya. Mereka dengan tanpa menghiraukan pertimbangan apa pun, menyerang dengan garangnya. Yang ada di dalam hati mereka adalah nafsu membunuh semata-mata.

Karena itulah, terasa tekanan itu menjadi semakin berat. Pengawal Kiai Jalawaja bertempur seperti seekor harimau yang lapar. Apalagi ketika Kiai Jalawaja maju semakin dekat dengan garis pertempuran yang menjadi semakin basah oleh darah.

Senapati yang memimpin pertempuran di ujung gerigi itu pun menjadi termangu-mangu. Kehadiran dua orang baru di dalam pertempuran itu terasa mempunyai pengaruh yang luar biasa. Suaranya sudah mampu menggetarkan dada, apalagi senjatanya.

Sementara senapati itu termangu-mangu, maka tiba-tiba saja ia mendengar seseorang berbisik di telinganya, “Pasanglah bagian dari gelarmu itu gelar Padas Gempal. Biarlah orang yang aneh itu masuk ke dalam gelarmu bersama beberapa pengawalnya.”

Senapati itu terkejut mendengar bisikan itu. Yang berhak memberikan perintah pada pertempuran itu adalah panglima yang memimpin pasukan Pajang segelar sepapan itu, Untara.

Tetapi senapati itu berpaling juga. Dan dadanya menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seseorang yang sudah dikenalnya berdiri di belakangnya, Kiai Gringsing.

“Apakah aku dapat melaksanakannya, Kiai,” desis Senapati itu.

“Orang itu sangat berbahaya.”

Senapati itu mengangguk. Dan ia melihat bahwa korban telah jatuh lagi.

“Aku harus menghentikan kedua orang itu.”

Kiai Gringsing menggeleng, “Kau tidak akan mampu. Bukan maksudku untuk mengurangi tanggung jawabmu.”

“Aku mengerti, Kiai.”

“Nah, lakukan nasehatku. Aku akan mempertanggungjawabkannya kepada Angger Untara jika cara ini dianggap salah. Kau tidak akan banyak mempengaruhi gerak dari gelar keseluruhan. Kau hanya membuka dinding gerigimu sedikit saja. Aku akan memancingnya masuk. Dengan demikian aku dapat mengetahui, kekuatan orang itu yang sebenarnya tanpa pertempuran yang ribut di sekitarku. Mudah-mudahan dengan demikian, korban akan berkurang jumlahnya. Dan aku pun berdoa agar aku juga tidak menjadi korban berikutnya pula.”

Senapati itu masih termangu-mangu. Tetapi ternyata kedua orang itu menjadi semakin mendesak. Dalam keragu-raguan senapati itu berpaling sekali lagi. Dilihatnya Kiai Gringsing sudah siap, bahkan di belakangnya nampak dua orang tua yang lain. Ki Waskita dan Ki Sumangkar.

Keragu-raguan senapati itu berkurang. Ia mengerti, bahwa Sumangkar adalah seorang yang pilih tanding sejak kekuasaan Kadipaten Jipang masih berada di tangan Arya Penangsang. Ia adalah orang kedua di Kepatihan Jipang sesudah Patih Mentahun yang disebut bernyawa rangkap, seperti juga Sumangkar.

Meskipun senapati itu belum mengenal Ki Waskita, tetapi nampaknya wajahnya juga memberikan keyakinan, bahwa ia pun akan dapat membantu mengatasi kesulitan jika timbul karena perubahan gelarnya meskipun hanya sementara.

Ketika senapati itu melihat darah yang memancar dari luka yang menjadi korban berikutnya, maka ia tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Ia pun kemudian maju ke ujung geriginya dan memberikan isyarat kepada prajurit-prajuritnya untuk membuka dinding gelarnya.

Beberapa orang prajurit menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika mereka melihat Kiai Gringsing berada di sisi senapati itu, maka mereka pun segera mematuhi perintah itu. Meskipun mereka tidak mengetahui maksudnya.

Sejenak kemudian, maka dinding gelar Cakra Byuha itu pun menyibak. Seorang tua yang berdiri di dekat senapati, dan mengenakan kain gringsing itu pun kemudian menyongsong orang yang memiliki kemampuan tidak terlawan oleh para prajurit Pajang itu.

Kiai Jalawaja melihat seseorang dengan sengaja menyongsongnya menjadi marah. Ia merasa dihina oleh keberanian orang itu. Apalagi seorang yang sudah tua.

Dengan serta-merta ia pun mendesak maju. Bersama beberapa orang ia masuk ke dalam gelar seperti yang mereka kehendaki. Meskipun demikian Kiai Jalawaja dan seorang pengawal kepercayaannya menjadi ragu-ragu. Agaknya dinding gelar Cakra Byuha itu tidak pecah karena desakan kekuatan pasukannya. Tetapi dengan sengaja telah dibuka untuk memberinya kesempatan masuk.

“Persetan,” ia menggeram, “tidak ada orang yang dapat mengimbangi kekuatan dan kemampuan Kiai Jalawaja meskipun semua senapati terkuat di Pajang dikerahkan. Asal bukan Sultan Pajang sendiri yang datang, maka aku seorang diri akan dapat memusnahkannya. Bahkan seandainya Sultan Pajang ada di dalam gelar ini pula, dalam ujudnya sebagai gelar Cakra Byuha, tetapi menyembunyikan seorang senapati agung di dalamnya seperti gelar Gedong Minep, maka aku bersama seorang pengawalku tentu akan dapat mengalahkannya, sementara pengawal Sultan yang lain akan dimusnahkan oleh beberapa orang pengikutku.”

Namun getar di dalam dada Kiai Jalawaja menjadi semakin cepat ketika ia melihat dinding gelar yang terbuka itu pun, segera menutup kembali menelan mereka yang sudah terlanjur masuk ke dalamnya. Beberapa orang prajurit Pajang pun ikut masuk pula ke dalam gelar untuk melawan pengikut-pengikut Kiai Jalawaja dan Kiai Kelasa Sawit yang sudah ada di dalam gelar itu. Sementara Kiai Jalawaja masih saja termangu-mangu untuk beberapa saat.

Dalam pada itu, agar hal itu tidak mengejutkan Untara jika ia mendengar laporan bahwa ada beberapa orang musuh berhasil menyusup masuk, maka Ki Sumangkar masih sempat berbisik kepada senapati di dinding gelar, “Berikan laporan kepada Angger Untara.”

Dalam pada itu senapati itu pun menjadi termangu-mangu. Pertempuran menjadi semakin sengit. Pasukan lawan yang ingin ikut masuk ke dalam dinding gelar telah membentur pasukan Pajang yang merapat kembali. Dengan demikian maka untuk beberapa saat arena menjadi agak kacau.

“Biarlah aku yang memberikan laporan itu,” berkata Ki Sumangkar, “semua tenaga diperlukan di sini.”

“Terima kasih, Kiai,” jawab senapati itu yang sejenak kemudian telah terjun langsung memimpin anak buahnya bertempur mati-matian.

Kiai Jalawaja yang ada di dalam gelar Cakra Byuha itu pun masih termangu-mangu. Seorang pengawalnya yang mengikutinya pun tidak segera dapat menyesuaikan tanggapannya.

Untuk beberapa saat mereka masih sempat menyaksikan anak buahnya yang ikut serta terdorong masuk ke dalam gelar itu, mulai bertempur melawan prajurit-prajurit Pajang, sementara ia melihat dua orang tua berdiri dengan tenang menghadapinya.

Belum lagi Kiai Jalawaja mengambil sikap, ia melihat seorang lagi mendekati salah seorang dari kedua orang tua itu sambil berkata tanpa ragu-ragu, “Kiai, aku akan pergi ke pusat gelar ini sejenak. Aku ingin memberikan laporan kepada Angger Untara bahwa ada beberapa orang yang berhasil menyusup masuk ke dalam gelar ini.”

Orang tua itu, Kiai Gringsing, mengangguk-angguk sambil menjawab, “Silahkan, Adi. Tetapi jika keadaan tidak memaksa, segeralah kembali. Bukankah kami sedang menerima seorang tamu di dalam lingkaran ini.”

Kiai Jalawaja sadar, bahwa ialah yang dimaksudkannya. Karena itu maka ia pun menggeram sambil berkata, “Persetan dengan orang-orang gila macam kalian. He, siapakah kalian?”

Sumangkar nampaknya acuh tidak acuh saja. Bahkan ia pun berkata, “Terserahlah kepada Kiai. Aku akan pergi sekarang sebelum Angger Untara mendapat laporan yang salah tentang tamu-tamu kita.”

“Gila,” teriak Kiai Jalawaja yang merasa dirinya mumpuni. Sikap Sumangkar benar-benar menyakitkan hatinya, “Sebentar lagi gelar yang kalian bangga-banggakan ini akan pecah. Aku akan menghancurkannya dari dalam. Kalian telah salah hitung. Seandainya kalian memang berniat menjebakku masuk, namun akibatnya kalian akan menyesal. Tidak ada seorang pun yang akan dapat menghentikan niatku.”

Ki Sumangkar memandang Kiai Jalawaja sejenak. Namun ia pun tidak menghiraukannya lagi. Meskipun ia tahu bahwa orang itu tentu orang yang pilih tanding, namun sebagai seorang yang memiliki pengalaman dan pengamatan yang tajam, ia masih memperhitungkan seorang lagi. Seorang yang mempunyai ciri-ciri tertentu seperti yang pernah didengarnya. Memakai sehelai kulit harimau yang disangkutkan pada pundaknya.

“Orang itu pun harus mendapat perhatian,” katanya di dalam hati, “mudah-mudahan Angger Untara dapat menahannya.”

Namun yang dikatakannya adalah, “Selesaikan persoalanmu dengan kedua saudaraku itu, Ki Sanak. He, siapakah namamu agar aku dapat melengkapi laporanku?”

“Persetan. Aku ingin membunuh kau paling dahulu.”

“Tunggulah. Aku akan menjumpai Angger Untara lebih dahulu.”

Kiai Jalawaja hampir saja menerkamnya. Namun Sumangkar sudah melangkah menjauh sambil berkata, “Baiklah. Kau belum bersedia menyebut namamu. Tetapi tentu Angger Untara sedang melayani seseorang yang namanya sudah dikenalnya dengan baik. Kiai Kelasa Sawit.”

“Bayi itu akan dibunuhnya. Kiai Kelasa Sawit akan menerkamnya seperti seekor harimau.”

Sumangkar tertegun sejenak, lalu, “Aku akan melihatnya. Apakah benar Kiai Kelasa Sawit itu merupakan seekor harimau bagi bayi yang memimpin gelar ini.”

Ki Sumangkar pun tidak berbicara lagi. Ia benar-benar menjadi berdebar-debar. Agaknya yang dikatakan oleh orang yang menyusup masuk ke dalam lingkungan gelar Cakra Byuha itu bukan sekedar untuk menakut-nakutinya.

“Angger Untara harus segera mendapat bantuan,” katanya di dalam hati.

Ki Sumangkar pun kemudian melangkah dengan tergesa-gesa melintasi bagian dalam gelar Cakra Byuha yang kosong dan yang sekedar mendapat pengawasan khusus dari beberapa orang prajurit Pajang saja.

Ketika ia sampai ke pusat gelar, maka ia pun melihat pertempuran yang berlangsung dengan sengitnya. Rasa-rasanya pertempuran itu bagaikan gejolaknya wajah lautan yang diserang oleh badai.

Sejenak Sumangkar termangu-mangu. Namun kemudian terasa olehnya bahwa pasukan Pajang itu terdesak surut meskipun perlahan-lahan.

Di bawah nyala obor yang dinyalakan oleh kedua belah pihak, akhirnya Sumangkar melihat, tekanan di pusat gelar itu benar-benar membahayakan.

“Gila,” desis Sumangkar, “ternyata kekuatan orang-orang yang berada di padepokan Tambak Wedi pada saat ini jauh melampaui perhitungan. Bahkan melampaui kekuatan Tambak Wedi pada saat padepokan ini masih hidup.”

Ki Sumangkar menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat di antara pasukannya, Untara bertempur bersama seorang senapati pengapit melawan seseorang yang agaknya benar-benar memiliki kemampuan yang mengagumkan. Seseorang yang mempergunakan ciri-ciri yang sudah dikenal dengan baik oleh Ki Sumangkar.

“Jadi Kiai Kelasa Sawit telah berada di sini,” desis Sumangkar.

Sejenak ia berdiri tegak memperhatikan arena. Kemudian ia pun malah bergeser maju, justru pada saat prajurit Pajang terdesak oleh kekuatan pasukan Kiai Kelasa Sawit yang dipimpinnya langsung.

“Ada beberapa tekanan yang kuat pada dinding gelar ini,” berkata Ki Sumangkar di dalam hatinya. “Ternyata Untara tidak segera berhasil melakukan rencananya, mengembangkan lingkaran gelarnya. Yang terjadi justru sebaliknya.”

Sebenarnyalah yang terjadi adalah seperti yang dikatakan oleh Sumangkar. Beberapa orang yang memiliki kelebihan di dalam pasukan Kiai Kelasa Sawit membuat pasukan Pajang agak mengalami kesulitan.

Tetapi sementara kekuatan Kiai Kelasa Sawit dipusatkan pada dinding gelar, maka kelompok-kelompok kecil di lereng Gunung Merapi yang justru telah menyalakan api pertempuran itu, mendapat kesempatan untuk bernafas. Semula mereka menyangka, bahwa mereka akan dimusnahkan pada malam itu juga oleh kekuatan yang ada di Tambak Wedi. Namun kehadiran pasukan Pajang yang dipimpin langsung oleh Untara itu berhasil memperpanjang umur mereka.

Kelompok kelompok kecil itu rasa-rasanya sempat mengatur perlawanan sebaik-baiknya. Bahkan mereka dapat memperbaiki kedudukan mereka yang hampir saja tercerai-berai.

Tetapi selagi mereka mulai mendesak maju ke dalam pasukan lawan, tiba-tiba telah muncul beberapa orang yang terpencar di beberapa titik pertempuran. Beberapa orang itu ternyata telah menggelisahkan kelompok-kelompok kecil itu. Mereka adalah para pengawal Ki Jalawaja dan pengiring-pengiringnya yang terpercaya.

Seperti orang yang wuru mereka mengamuk di antara pasukannya. Senjata mereka terayun-ayun mengerikan, sehingga beberapa orang lawan telah jatuh menjadi korban.

Beberapa orang pemimpin dari kelompok-kelompok kecil itu pun segera menyadari, bahwa orang-orang itu memerlukan lawan yang mampu mengimbangi mereka, sebelum mereka semakin merusakkan pasukannya. Karena itulah maka beberapa orang pemimpin segera menempatkan dirinya untuk menghentikan pembunuhan yang berlarut-larut. Mereka yang merasa dirinya kurang mampu melawan, segera menyusun kekuatan bersama dua atau tiga orang kawannya.

Dalam pada itu, tekanan pada gelar Cakra Byuha yang dipimpin oleh Untara pun terasa makin berat, terutama pada pusat gelar itu sendiri. Untara yang harus bertempur melawan Kiai Kelasa Sawit, meskipun ia dibantu oleh senapatinya, harus mengerahkan segenap kemampuannya. Namun demikian, ternyata Kiai Kelasa Sawit masih berhasil mendesaknya terus, sehingga karena itu, maka prajurit-prajurit Pajang yang bertempur di sekitar Untara pun rasa-rasanya terdesak pula mundur.

Ki Sumangkar yang menyaksikan pertempuran di pusat gelar itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa kekuatan lawan benar-benar tidak dapat diabaikan. Di bagian belakang dari gelar yang melingkar itu, telah dijumpainya seseorang yang memiliki ilmu yang luar biasa, sehingga hampir saja ia berhasil memecahkan dinding gelar. Untunglah bahwa Kiai Gringsing dapat mengambil sikap yang cepat dan agaknya berhasil menyelamatkan gelar itu dengan membuka dindingnya beberapa saat yang justru memberi kesampatan kepada Kiai Jalawaja untuk menerobos masuk, namun yang kemudian segera tertutup kembali.

“Orang yang memiliki ilmu yang tinggi itu tentu sadar, bahwa ia terjebak. Namun agaknya ia sama sekali tidak gentar karenanya,” berkata Sumangkar di dalam hatinya.

Dan kini ia melihat Untara telah bertempur dengan Kiai Kelasa Sawit, yang ternyata memiliki ilmu yang lebih tinggi dari Untara, Senapati Pajang di daerah selatan.

“Aku tidak dapat tinggal diam,” berkata Ki Sumangkar di dalam hatinya. Apalagi karena Ki Sumangkar menyadari, bahwa ciri yang ada pada tubuh Kiai Kelasa Sawit itu sangat menarik perhatiannya. Lukisan kelelawar itu memberikan kesan tersendiri padanya, dan terutama tentu bagi Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram apabila ia mengetahuinya.

Demikianlah maka Sumangkar pun segera mendesak maju di antara para prajurit. Mereka yang melihat kehadiran Sumangkar pun segera menyibak. Beberapa di antara para prajurit telah mengenal orang tua itu. Bahkan di antara mereka tiba-tiba saja telah tumbuh semacam ketenangan karena kehadirannya. Mereka mengenal Ki Sumangkar sebagai seorang yang memiliki ilmu yang sejajar dengan Patih Mantahun dari Jipang yang seolah-olah dianggap mempunyai nyawa rangkap di dalam tubuhnya.

Dengan hati-hati Ki Sumangkar mendekati titik pertempuran antara Untara yang dibantu oleh senapati pengapitnya melawan Kiai Kelasa Sawit. Ketika seorang lawan menyerangnya, dengan tanpa berkisar dari tempatnya ia menggeliat. Ketika ujung tombak lawan itu meluncur di sisi lambungnya, maka ia pun segera menangkapnya dan menghentakkannya sehingga tombak itu terlepas dari tangan lawannya. Selagi orang itu termangu-mangu, maka Sumangkar pun telah mematahkan pangkal tombak itu pada lututnya, sehingga orang itu pun segera terjatuh dan kakinya serasa menjadi lumpuh.

Beberapa saat lamanya Ki Sumangkar termangu-mangu di dekat Untara. Ia harus menyampaikan laporan tentang sisipan gelar di bagin belakang dari lingkaran cakra itu.

Tetapi ia tidak segera mendapat kesempatan. Agaknya Untara benar-benar telah terikat dalam pertempuran yang sangat sengit, sehingga sekejap pun ia tidak dapat berpaling.

Ki Sumangkar-lah yang kemudian mendekatinya. Hampir tersentuh oleh langkah-langkah pertempuran yang seru itu. “Maaf, Anakmas,” desis Ki Sumangkar, “aku mengganggu pertempuran ini.”

Untara terkejut mendengar kata-kata itu. Selagi ia memusatkan perhatiannya, ia sama sekali tidak segera mengenal, suara siapakah yang didengarnya itu. Karena itu maka pemusatan perlawanannya agak terganggu karenanya.

Dan agaknya lawannya telah memanfaatkannya sebaik-baiknya.

Selagi Untara berpaling sejenak, melihat siapakah yang telah datang kepadanya itu, Kiai Kelasa Sawit dengan cepat menyiapkan segenap kemampuannya. Yang sekejap itu ternyata telah cukup baginya. Kali ini Kiai Kelasa Sawit tidak meloncat menghantam batu padas, tetapi serangannya telah dilontarkan ke dada Untara.

“Betapa keras tulang-tulangmu, maka dadamu akan remuk menjadi debu, dan isi tubuhmu akan rontok bersama lepasnya nyawamu.”

Untara terkejut mendengar suara itu. Tetapi ternyata ia sudah terlambat. Ketika ia kembali memusatkan perhatiannya kepada lawannya, Kiai Kelasa Sawit telah meloncat untuk membenturkan segenap kekuatan yang ada padanya.

Untara tidak mendapat kesempatan untuk menghindar. Karena itu, maka ia pun segera merendahkan dirinya pada lututnya sambil menyilangkan senjatanya di muka dadanya, meskipun ia sendiri kurang yakin, apakah ia mampu bertahan pada benturan yang tentu akan segera terjadi.

“Jika aku gagal, masa sampai di sinilah aku melakukan tugasku sebagai Senapati Pajang,” desisnya di dalam hati.

Sejenak kemudian ia melihat Kiai Kelasa Sawit telah melayang sambil mengayunkan senjatanya untuk membelah tubuh Untara dan mematahkan tulang-tulang iganya, tangannya dan senjatanya sekaligus.

Yang terjadi kemudian adalah suatu benturan yang ternyata dahsyat sekali. Setiap orang yang melihat serangan Kiai Kelasa Sawit telah tergetar hatinya dan di luar sadarnya telah menjadi cemas akan nasib Untara. Namun ketika benturan itu terjadi, ternyata Kiai Kelasa Sawit justru terdorong dua langkah surut.

Namun Untara sendiri terkejut melihat benturan yang sangat dahsyat itu. Sejenak ia menggerakkan tangannya yang bersilang di dadanya. Ternyata semuanya masih utuh. Ia tidak menjadi luluh dan sekedar berangan-angan bahwa ia masih hidup.

Barulah ia sadar. Dihadapannya berdiri seorang tua yang agaknya telah berkata kepadanya sehingga ia kehilangan pemusatan perlawanannya terhadap Kiai Kelasa Sawit. Tetapi ketika Kiai Kelasa Sawit meloncat menyerangnya dengan kekuatannya yang tiada taranya, maka orang tua itu telah meloncat pula membenturkan dirinya.

Orang itu adalah adik seperguruan Mantahun, yang ditakuti bukan saja oleh seluruh Jipang, tetapi juga Pajang.

 

 

Kiai Kelasa Sawit yang serasa membentur dinding baja itu membelalakkan matanya. Di hadapannya, di dalam cahaya obor melihat seseorang yang berwajah merah membara karena pengerahan kekuatan dan kemarahan bercampur baur.

“Setan alas!” Kiai Kelasa Sawit menggeram. “Siapakah kau, Hantu Tua?”

Orang yang telah membenturkan kekuatannya pada kekuatan Kiai Kelasa Sawit lewat senjatanya tanpa bergeser dari tempatnya itu menjawab, “Aku Sumangkar, Kiai. Aku tidak dapat membiarkan kau berbuat licik. Selagi Angger Untara sekedar melepaskan perhatiannya atas pertempuran ini, kau mempergunakan kesempatan dan langsung akan menghancurkannya.”

“Hem,” Kiai Kelasa Sawit menggeram, “Sumangkar. Jadi namamu Sumangkar. Aku pernah mendengar nama itu. Nama yang pernah dikenal oleh setiap orang Jipang pada masa kejayaannya. Bukankah kau adik seperguruan Ki Patih Mantahun?”

“Kau pernah mendengar namaku?” bertanya Sumangkar.

“Semua orang Jipang dan Pajang,” desis Kiai Kelasa Sawit. Lalu, “Pantas kau berhasil membentur kekuatan puncakku. Tanpa kau Untara tentu sudah menjadi reruntuhan tulang dan daging yang basah oleh darahnya sendiri.”

“Mungkin justru karena kelicikanmu. Tetapi beradu dada belum tentu kau berhasil.”

“Gila. Coba minggirlah. Aku akan melihat kemampuan Untara mempertahankan dirinya atas kekuatan puncakku.”

“Itu tidak perlu. Sekarang marilah kita berhadapan. Akulah yang mengambil alih arena itu.”

Kiai Kelasa Sawit menggeram. Dipandanginya wajah Sumangkar di dalam cahaya obor yang kemerah-merahan.

“Anakmas Untara,” berkata Sumangkar kemudian. Namun ia sama sekali tidak berpaling dari Kiai Kelasa Sawit, “sebenarnya aku datang kemari untuk menyampaikan laporan.”

Untara bergeser selangkah maju. Sejenak ia memandang pertempuran yang masih berlangsung di sekitarnya. Prajurit-prajurit Pajang sedang sibuk mencoba bertahan atas tekanan yang diberikan oleh anak buah Kiai Kelasa Sawit dalam jumlah yang lebih besar.

Tetapi sebelum Ki Sumangkar menyampaikan laporannya, maka mereka telah dikejutkan oleh ledakan cambuk di tengah-tengah gelar Cakra Byuha itu.

“Apakah yang terjadi, Ki Sumangkar?” Untara menjadi cemas. “Agaknya telah terjadi pertempuran di dalam gelar ini.”

Tiba-tiba saja Kiai Kelasa Sawit tertawa. Lalu, “Nah, akan terbukti bahwa pasukan Pajang yang teratur dan memiliki kemampuan berperang tiada taranya tidak mampu lagi melawan kekuatan Kiai Kelasa Sawit. Dengarlah Senapati Muda, di belakang gelarmu ini telah terjadi tekanan yang tidak kalah dahsyatnya dari tekanan yang telah aku berikan. Seorang yang memiliki kemampuan yang tidak ada bandingnya, bahkan dengan beberapa kelebihan daripadaku, telah berhasil memecahkan dinding gelarmu yang ditandai dengan panji-panji, umbul-umbul dan tunggul kebesaran sebagai pertanda keunggulan Pajang. Orang itu bernama Kiai Jalawaja. Ialah yang berada di dalam lingkaran gelarmu sekarang ini.”

Untara mengerutkan keningnya. Namun untuk sesaat ia masih menunggu penjelasan Ki Sumangkar, yang sejenak kemudian berkata, “Benar, Angger Untara. Seseorang telah memasuki gelar Cakra Byuha ini. Tetapi bukan karena dinding gelar ini dipecahkan. Kiai Gringsing mendahului keputusan Angger untuk membuka dinding gelar itu sementara, dan memberi kesempatan seseorang yang barangkali yang bernama Jalawaja itu untuk masuk.”

“Jadi?” desis Untara.

“Gelar itu telah menutup kembali.”

“Itu tidak ada artinya,” teriak Kiai Kelasa Sawit. “Kiai Jalawaja akan menghancurkan gelarmu dari dalam.”

Ki Sumangkar masih akan menjawab. Tetapi sekali lagi terdengar suara cambuk bergeletar, sehingga Ki Untara berpaling sejenak memandang ke dalam gelarnya yang diterangi oleh cahaya obor. Tetapi ia tidak segera melihat sesuatu selain beberapa orang prajuritnya yang mengawasi bagian dalam gelar itu di antara tanaman-tanaman yang tumbuh di bulak, meskipun sebagian sudah berserakan.

Namun dalam pada itu, Ki Sumangkar-lah yang berkata, “Kiai Kelasa Sawit, apakah kau pernah mendengar cerita tentang orang bercambuk? Bukankah kau sudah mendengar suara cambuknya?”

Kiai Kelasa Sawit mengerutkan keningnya.

“Barangkali kau tidak menghiraukannya. Tetapi orang bercambuk dan seorang kawannya yang ada di dalam gelar Cakra Byuha ini, dan yang kini bermain bersama orang yang kau sebut bernama Jalawaja itu adalah orang yang disebut orang bercambuk itu, yang bersama dengan seorang kawannya yang kini juga berada di dalam gelar ini, telah menghancurkan padepokan yang dipimpin oleh seorang yang bernama Panembahan Agung dan Panembahan Alit.”

Wajah Kiai Kelasa Sawit menegang. Sesaat ia termangu-mangu, sehingga dengan demikian, maka Ki Sumangkar yang dengan sengaja menyebut nama Panembahan Agung telah menemukan jalur hubungan antara Kiai Jalawaja dengan Panembahan Agung yang sudah tidak ada lagi.

“Atau malahan orang-orang inilah yang telah melanjutkan perjuangan Panembahan Agung itu meskipun masing-masing mempunyai sikap dan pendirian yang berbeda?” Sumangkar masih bertanya kepada diri sendiri, karena ia pun mengetahui, bahwa di antara pimpinan-pimpinan gerakan yang melawan Pajang maupun Mataram itu yang nampaknya dapat bekerja bersama, namun yang sebenarnya terdapat banyak pertentangan pendapat dan sikap di antara mereka sendiri.

Dan yang lebih menarik perhatian Sumangkar pada orang itu adalah lukisan kelelawar yang ada di dadanya.

“Tetapi hampir tidak mungkin menangkapnya hidup-hidup,” berkata Sumangkar di dalam hatinya, “meskipun aku bekerja bersama Kiai Gringsing dan Ki Waskita sekaligus. Karena orang ini tentu akan memilih mati. Bahkan jika ia tidak terbunuh, tentu ia akan membunuh dirinya sendiri.”

Dalam pada itu, Kiai Kelasa Sawit yang termangu-mangu mendengar kata-kata Sumangkar itu pun kemudian menggeram, “Sumangkar, jangan kau sangka bahwa orang yang bersenjata cambuk itu dapat menggetarkan kulit Kiai Jalawaja, seperti kau tidak mampu menakut-nakuti aku dengan ilmu nyawa rangkapmu. Mantahun pun akhirnya mati. Juga kau akan mati.”

Sumangkar mengangguk-angguk. Katanya kemudian justru kepada Untara, “Anakmas, aku mohon maaf, bahwa aku akan mengambil alih lawan Anakmas ini. Aku persilahkan Anakmas memimpin seluruh gelar ini tanpa terikat kepada siapa pun juga. Apalagi seseorang yang hanya sekedar berhasil berteriak-teriak menakut-nakuti burung di sawah ini tidak pantas menjadi lawan Anakmas. Biarlah ia melawan aku, yang barangkali sama-sama tidak mempunyai arti.”

“Persetan,” teriak Kiai Kelasa Sawit, “pergilah pengecut! Jika kau tidak berani melawan aku, he Untara, memang seyogyanya kau mencari bantuan tikus-tikus tua yang merasa dirinya bernyawa rangkap seperti ini.”

Untara menjadi ragu-ragu. Tetapi Ki Sumangkar berkata, “Jangan dijebak oleh perasaan. Ingatlah bahwa Angger Untara sekarang berada di dalam pertempuran gelar. Bukan perang tanding yang mempunyai sifat yang berbeda.”

Kiai Kelasa Sawit masih akan menyahut. Tetapi ia tidak sempat berteriak lagi, karena tiba-tiba saja Ki Sumangkar telah meloncat menyerangnya.

Kiai Kelasa Sawit terkejut. Tetapi ia masih sempat menghindar, bahkan kemudian mengayunkan senjatanya, sehingga Sumangkar-lah yang harus meloncat surut. Namun dengan demikian ia pun telah menggenggam pasangan senjatanya pula. Sepasang trisula kecil di kedua tangannya, dan bahkan yang di tangan kanannya berjuntai pada seujung rantai.

Kiai Kelasa Sawit berdebar-debar melihat senjata itu. Tetapi ia masih sempat berteriak, “He, di manakah tongkat bajamu yang berkepala tengkorak itu?”

Ki Sumangkar masih saja menjawab sambil memutar senjatanya, “Tengkorak yang kekuning-kuningan itu ternyata terbuat dari emas. Nah, kau tahu aku memerlukan uang untuk membiayai hidupku selama ini.”

Tetapi jawaban itu membuat Kiai Kelasa Sawit semakin marah. Dengan sepenuh kekuatan ia menyerang lawannya bagaikan angin prahara. Namun Ki Sumangkar pun telah benar-benar bersiap menghadapi kemungkinan itu. Dan ia pun tidak berani lengah sekejap pun juga, karena ia sadar bahwa ia harus melawan kekuatan yang tiada taranya.

Demikianlah maka keduanya pun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Masing-masing adalah seseorang yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

Dalam pada itu Untara termangu-mangu berdiri di tempatnya. Ia melihat Ki Sumangkar mengambil alih lawannya yang sangat berbahaya itu. Memang ada sedikit singgungan pada harga dirinya sebagai senapati. Tetapi ia pun tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa bagaimana pun juga, ia tidak akan dapat melawan orang yang bernama Kiai Kelasa Sawit. Jika ia berbicara tentang sifat ksatria, maka ia pun telah bertempur bersama senapati pengapitnya melawan yang seorang itu.

“Yang penting dari sifat ksatria adalah membinasakan kejahatan,” berkata Untara di dalam hatinya. Dan seperti yang dikatakan oleh Ki Sumangkar, ia kini berada di dalam pertempuran. Bukan perang tanding.

Karena itulah maka ia pun melepaskan lawannya kepada Sumangkar, dan langsung memimpin seluruh pertempuran. Ia tidak lagi terikat dengan seorang lawan. Apalagi lawan setangguh Kiai Kelasa Sawit.

Karena itulah maka Untara pun berusaha untuk mendesak lawan-lawannya di pusat gelarnya. Setidak-tidaknya ia berusaha agar dinding gelarnya di pusat gelar itu tidak semakin terdesak surut.

Sementara Ki Sumangkar bertempur di pusat gelar, maka Kiai Gringsing pun ternyata telah bertempur melawan Kiai Jalawaja yang berada di tengah-tengah gelar Cakra Byuha.

Meskipun Kiai Jalawaja masih belum pernah secara pribadi bertemu dengan Kiai Gringsing, namun ternyata bahwa cambuk Kiai Gringsing telah membuatnya berdebar-debar.

“Jadi kaukah orang yang selama ini dibicarakan orang?” bertanya Kiai Jalawaja.

“Kenapa?” Kiai Gringsing ganti bertanya.

“Suara cambukmu bagaikan ledakan petir di langit. Seluruh Pajang telah mendengarnya. Dan aku pun telah mendengarnya pula. Kini agaknya aku mendapat kehormatan untuk berhadapan dengan orang yang namanya bagaikan nama terpenting dalam dongeng yang mengasyikkan itu.”

“Aku memang senang mendengar dongeng-dongeng yang menarik.”

“Dan tentang dirimu sendiri?”

“Ya.”

Kiai Jalawaja menggeram. Serangannya menjadi semakin dahsyat, sehingga setiap kali suara cambuk Kiai Gringsing pun harus meledak memekakkan telinga.

Sementara itu Ki Waskita masih sempat menyaksikan perkelahian yang semakin seru pula antara para pengawal dari Tambak Wedi melawan prajurit-prajurit Pajang di dalam lingkaran gelar itu pula. Mereka adalah orang-orang Tambak Wedi yang berhasil menyusup bersama Kiai Jalawaja, selagi dinding gelar itu dibuka, tetapi yang kemudian mengatup kembali.

Tetapi kekuatan dari Tambak Wedi yang berada di dalam gelar itu hanyalah terbatas sekali, sehingga dalam waktu yang singkat segera dapat dibatasi geraknya meskipun masih belum dapat dilumpuhkan, karena prajurit Pajang yang bertugas menguasai mereka pun terbatas pula.

Dengan demikian maka pusat perhatian setiap orang di dalam gelar itu tertuju kepada pertempuran antara Kiai Gringsing melawan Kiai Jalawaja yang tidak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan lawan yang mendebarkan jantung.

Selagi Kiai Gringsing bertempur melawan Kiai Jalawaja, maka Ki Waskita pun masih saja berdiri termangu-mangu. Sekilas terbersit niatnya untuk membuat bayang-bayang di dalam pertempuran itu. Tetapi niatnya diurungkan, karena dengan demikian Prajurit Pajang sendiri akan dapat menjadi bingung.

Karena itulah maka ia masih saja berdiri termangu-mangu memandangi arena yang semakin mengerikan. Terutama di dinding gelar yang mendapat serangan bagaikan mengalirnya ombak dari tengah lautan. Beruntun.

Tetapi dinding gelar itu bagaikan batu-batu karang yang kokoh dan tidak tergoyahkan, sehingga benturan ombak itu sama sekali tidak berhasil memecahkannya. Bahkan terlempar kembali ke dalam arusnya sendiri.

Tetapi selagi berdiri termangu-mangu, Ki Waskita mengerutkan keningnya melihat seseorang yang dengan garangnya bertempur di antara orang-orang Tampak Wedi. Agaknya ia memiliki kelebihan dari prajurit-prajurit Pajang, sehingga beberapa orang harus menghadapinya bersama-sama.

“Tentu seorang pemimpin,” desis Ki Waskita. Tetapi agaknya ia keliru. Orang itu adalah pengawal Ki Jalawaja yang memang memiliki banyak kelebihan dari pengawal-pengawal yang lain.

Perlahan-lahan Ki Waskita mendekatinya. Ternyata bahwa orang itu memang sudah berhasil menjatuhkan beberapa orang korban.

“Keganasan itu harus dihentikan,” desis Ki Waskita. Karena itu maka ia pun kemudian mendekatinya sambil berkata, “Sudahlah, Ki Sanak. Jangan terlampau diburu nafsu.”

Orang itu berpaling. Dilihatnya seorang yang sudah berumur di sekitar setengah abad berdiri termangu-mangu.

“Siapa kau, he?”

“Namaku tidak penting,” jawab Ki Waskita. “Seandainya aku menyebutnya, kau tentu belum pernah mendengarnya juga.”

“Ya, siapa kau.”

“Namaku Waskita.”

Orang itu mengerutkan keningnya, lalu, “Sombong. Kau kira kau mempunyai kebijaksanaan untuk melihat? Apalagi yang tidak kasat mata sehingga kau memakai nama Waskita?”

Ki Waskita masih sempat tersenyum. Dipandanginya orang itu sejenak, lalu, “Orang tuakulah yang memberikan nama itu kepadaku. Sudah tentu dengan harapan, bahwa aku akan menjadi bijaksana di hari-hari mendatang dari saat aku dilahirkan. Karena itu aku tidak mempergunakan nama lain selain nama yang diberikan orang tuaku kepadaku itu.”

“Dan kau benar-benar menjadi waskita?”

“Tidak. Apalagi di peperangan seperti ini. Aku masih mudah terpancing oleh kebencian, dendam dan barangkali juga kesombongan, sehingga kadang-kadang aku menjadi kehilangan sifat-sifat waskita yang sebenarnya. Apalagi melihat sesuatu yang tidak kasat mata.”

“Cukup,” desis pengawal terpercaya Kiai Jalawaja itu, “kau terlalu banyak bicara. Aku segera ingin membunuhmu dengan semua sifat-sifatmu. Kau justru orang yang paling sombong yang pernah aku temui selama ini.”

Ki Waskita pun segera mempersiapkan diri. Ia pernah bertempur melawan Panembahan Agung dan berhasil membunuhnya. Namun demikian ia sama sekali tidak menjadi lengah dan tidak menganggap lawannya terlampau mudah dikalahkannya. Ia sadar, bahwa jika demikian maka ialah yang sebenarnya berada di ambang pintu kekalahan.

Sekilas Ki Waskita masih melihat Kiai Gringsing yang bertempur dengan sengitnya melawan Kiai Jalawaja. Ternyata bahwa Kiai Jalawaja pun memiliki kemampuan yang luar biasa. Bahkan agak di luar dugaan Ki Waskita. Ia mengenal kemampuan dan ilmu cambuk yang luar biasa pada Kiai Gringsing. Namun menghadapi orang tidak dikenalnya itu, Kiai Gringsing harus mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya.

Sejenak kemudian Ki Waskita pun sudah harus bertempur melawan pengawal Kiai Jalawaja. Namun segera dalam benturan-benturan yang pertama, Ki Waskita dapat menjajagi kemampuan lawannya. Karena itulah maka ia ingin segera menyelesaikan perkelahian itu dan mempersiapkan dirinya jika ternyata bahwa orang yang bertempur melawan Kiai Gringsing itu tidak segera dapat dikalahkan.

“Apakah kami orang-orang tua harus berkelahi berpasangan seperti anak-anak muda yang hanya mampu menyombongkan dirinya?” pertanyaan itu tumbuh juga di hatinya. Tetapi seperti yang pernah diucapkan Ki Sumangkar kepada Untara. Ki Waskita menganggap bahwa di dalam peperangan gelar, maka setiap orang tidak terikat dalam perang tanding.

“Sudah tentu hanya kalau Kiai Gringsing menghadapi seseorang yang tak terlawan,” desis Ki Waskita di dalam hatinya. “Tetapi barangkali bagi Kiai Gringsing tidak ada orang yang tidak terlawan itu.”

Namun apa pun yang terjadi, Ki Waskita segera ingin menyelesaikan perkelahiannya. Mungkin di bagian lain dari gelar itu terdapat beberapa kelemahan yang dapat dibantunya, atau di suatu tempat dalam arena pertempuran itu terdapat orang-orang lain seperti lawan Kiai Gringsing itu.

Ternyata Ki Waskita tidak banyak mengalami kesulitan menghadapi pengawal Kiai Jalawaja. Bagi prajurit-prajurit tamtama Pajang, orang itu memang memiliki kelebihan. Namun bagi Ki Waskita, pengawal itu masih harus banyak menyadap ilmu untuk turun ke gelanggang pertempuran bersama orang-orang tua seperti dirinya, Kiai Gringsing, dan Ki Sumangkar.

Tetapi berbeda dengan pengawal itu, ternyata lawan Kiai Gringsing benar-benar seorang yang tangguh. Ia memiliki kemampuan bergerak yang mengagumkan. Dengan cepat ia dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain hampir di luar tangkapan mata wadag.

Namun demikian, Kiai Gringsing mempunyai tangkapan pandangan melampaui kemampuan mata wadag. Di dalam pertempuran yang betapa pun rumitnya. Kiai Gringsing selalu berhasil menguasai keadaan yang dihadapinya.

Demikian pula berhadapan dengan Kiai Jalawaja yang memang memiliki ilmu yang dahsyat. Setiap kali serangannya bagaikan halilintar yang menyambar di langit. Ia menyerang dengan loncatan-loncatan panjang di sekitar lawannya. Bahkan kadang-kadang ia berlari berputar sebelum meloncat menyerang dengan dahsyatnya.

Kiai Gringsing mencoba untuk menyesuaikan dirinya. Tetapi ia tidak mempergunakan langkah-langkah panjang seperti lawannya. Ia sekedar bergeser di tempatnya untuk setiap kali memperbaiki arah. Namun demikian, Kiai Jalawaja sama sekali tidak mampu menyentuhnya, apalagi melukainya. Setiap kali justru ujung cambuk Kiai Gringsing-lah yang menyongsongnya dan meledak di sekitarnya. Bahkan dalam keadaan yang tidak di sangka-sangka, justru dalam kemarahan yang memuncak, terasa ujung cambuk Kiai Gringsing telah mulai menyentuh pakaiannya.

“Benar-benar gila,” geram Kiai Jalawaja di dalam hatinya. “Orang bercambuk ini bagaikan siluman yang berada di segala tempat. Seolah-olah ia berada di semua sudut tanah ini di saat yang sama.” Namun tiba-tiba ia berdesis, “Apakah ada lebih dari seorang yang bersenjata cambuk seperti ini?”

Tiba-tiba saja Kiai Jalawaja mengharap pengawalnya yang terpercaya itu pun datang kepadanya, dan bersama-sama melawan orang bercambuk itu.

“Aku tidak akan segera dapat menyelesaikannya,” berkata Kiai Jalawaja di dalam hatinya, “ternyata di sini aku menghadapi lawan yang tidak aku perhitungkan sebelumnya.”

Namun dalam cahaya obor ia melihat pengawalnya justru sedang mempertahankan dirinya melawan Ki Waskita. Setiap kali pengawal Kiai Jalawaja itu meloncat mundur. Serangan Ki Waskita terasa semakin lama menjadi semakin membingungkannya.

Dalam pada itu, pertempuran itu pun telah berkembang ke arah yang berbeda. Jika semula dinding-dinding gelar prajurit Pajang itu mengalami tekanan yang berat di beberapa tempat karena hadirnya pimpinan-pimpinan dari Tambak Wedi yang memiliki ilmu yang khusus, maka kemudian pemimpin-pemimpin itu telah terikat pada lawan-lawannya yang seimbang.

Apalagi dalam pada itu, orang-orang Tambak Wedi yang harus bertempur melawan kelompok-kelompok kecil di lereng Gunung Merapi itu pun merasakan, bahwa jumlah mereka yang telah jauh berkurang karena kehadiran prajurit Pajang, mendapatkan kesulitan pula. Kelompok-kelompok kecil di lereng Gunung Merapi yang telah bergabung, ditambah pula karena kehadiran prajurit Pajang, merasa menjadi lebih kuat dari lawan-lawan mereka, sehingga dengan demikian mereka menjadi semakin bergairah untuk segera memenangkan pertempuran itu, meskipun korban masih saja berjatuhan.

Beberapa orang di antara mereka pun telah menyusun kelompok-kelompok kecil yang khusus harus bertempur melawan para pengawal Kiai Jalawaja yang seolah-olah dihamburkan begitu saja di dalam pertempuran itu.

Namun dalam pada itu, Kiai Kelasa Sawit menjadi semakin marah bukan kepalang. Ia ingin menuntut setiap kematian dengan sepuluh nyawa. Tetapi ternyata bahwa korban pun semakin banyak berjatuhan. Apalagi sebelum ia puas melepaskan dendamnya dengan membunuh Untara, tiba-tiba saja telah hadir seseorang yang namanya pernah didengarnya sebagai adik seperguruan Patih Mantahun yang pernah dianggap mempunyai nyawa rangkap karena kelebihannya.

“Gila!” teriak Kiai Kelasa Sawit tiba-tiba karena desakan kemarahan yang tidak tertahankan.

Sumangkar mengerutkan keningnya. Tetapi ia bertempur terus. Dengan senjatanya ia mencoba untuk menghentikan desakan Kiai Kelasa Sawit, sehingga dengan demikian berpengaruh pula bagi seluruh pasukan Tambak Wedi yang ada di hadapan pusat gelar Cakra Byuha itu.

Sementara orang-orang Tambak Wedi yang harus bertempur melawan kelompok-kelompok kecil yang sudah bergabung itu mulai terdesak, maka ternyata Untara mulai berhasil menggerakkan gelarnya menurut rencananya. Agaknya karena Kiai Kelasa Sawit yang sudah diikat dalam perkelahian melawan Ki Sumangkar dan Kiai Jalawaja dan seorang pengawalnya disertai beberapa orang yang bersamanya, telah berada justru di dalam gelar, maka usaha Untara perlahan-lahan dapat dilakukannya.

Ketika saatnya dianggap tepat, nampaklah sebuah isyarat yang meloncat di udara. Sebuah panah sendaren yang mengaum di gelapnya malam, namun dalam hiruk-pikuknya pertempuran.

Setiap Senapati Pajang menyadari, bahwa mereka harus bekerja lebih keras untuk dapat bergerak memperluas lingkaran gelarnya. Menurut rencana, semakin lama akan menjadi semakin luas dan mencakup seluruh arena pertempuran, termasuk arena pertempuran di luar gelar antara orang-orang Tambak Wedi melawan kelompok-kelompok kecil yang sudah bergabung itu.

Tetapi meskipun gelar itu dapat bergerak dan berkembang, namun hanya perlahan-lahan sekali, karena tekanan yang masih saja terasa pada dinding gelar itu di setiap gerigi.

Untara yang telah bebas memimpin pasukannya itu pun telah mencoba melihat pada bagian-bagian lain dari prajurit-prajuritnya. Bahkan ia pun telah mendekati arena pertempuran di dalam lingkaran gelarnya antara Kiai Gringsing dan Kiai Jalawaja.

Sejenak Untara menjadi tegang. Ternyata bahwa di dalam pasukan lawan terdapat orang-orang seperti Kiai jalawaja dan Kiai Kelasa Sawit.

“Apakah jadinya, jika tidak secara kebetulan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita tidak berada di Jati Anom pada saat ini?” terbersit pula pertanyaan di dalam hatinya. Namun di sudut lain ia menjawab sebagai seorang prajurit, “Aku akan membinasakannya. Meskipun barangkali dengan cara yang lain dan korban akan jatuh lebih banyak.”

Meskipun demikian Untara masih juga merenungi pertempuran ini sesaat. Ia bahkan dicengkam oleh keheranan, bahwa di dalam lingkungan yang tidak banyak dikenal itu, terdapat orang yang pilih tanding seperti Kiai Kelasa Sawit dan Kiai Jalawaja.

“Tidak hanya mereka,” desis Untara, “sejak persoalan Mataram berkembang, diikuti oleh hubungan yang kurang serasi antara Ki Gede Pemanahan dengan Sultan, maka timbullah golongan-golongan yang menghendaki perubahan dengan cara yang sangat tidak terpuji, dan mengarah kepada kekerasan.”

Sekilas terkenang oleh Untara, usaha yang gagal pada saat ia melakukan upacara perkawinannya. Kemudian kelompok-kelompok yang berada di jalan-jalan raya yang sedang di bangun oleh Mataram. Bahkan kemudian seorang yang menyebut dirinya Panembahan Agung dan Panembahan Alit. Dan kini orang-orang yang singgah di padepokan tua, Tambak Wedi.

“Tentu masih banyak lagi,” desis Untara.

Sebagai seorang prajurit, ia pun dapat menduga, bahwa sebenarnya ada kekuatan yang besar harus dihadapi, baik oleh Pajang maupun oleh Mataram.

Sejenak ia masih memperhatikan pertempuran di tengah-tengah gelar yang perlahan-lahan sudah mulai mekar. Dan sesaat kemudian ia meninggalkan arena itu, dan sekali lagi mengelilingi seluruh gelar yang semakin luas.

Sekali-sekali Untara masih harus juga turun membantu jika terasa seorang senapati yang memimpin sekelompok prajurit dalam gerigi gelarnya menemui kesulitan. Namun kemudian dilepaskannya kembali untuk melihat daerah pertempuran di sudut yang lain.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: