Buku 093 (Seri I Jilid 93)

Ki Waskita tidak dapat berbuat lain kecuali menarik kekang kudanya dan berhenti beberapa langkah di hadapan orang berkuda yang telah lebih dahulu berhenti itu.

“Apakah ada sesuatu yang terjadi, Ki Sanak?” bertanya Ki Waskita kepada orang yang belum dikenalnya itu.

Orang itu memandang Ki Waskita dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Tentu, Ki Sanak. Mungkin kita memang belum pernah bertemu. Tetapi perjuangan kami memerlukan bantuan siapa pun juga. Juga orang-orang yang belum aku kenal.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Namun, dadanya serasa menjadi semakin bedebaran ketika ia mendengar langkah kaki kuda di belakangnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya tiga orang berkuda yang baru saja berpapasan itu ternyata berpacu kembali menuju ke arahnya.

Ki Waskita mencoba menahan gejolak jantungnya. Dengan lirih ia bertanya, “Apakah mereka kawan-kawanmu, Ki Sanak.”

“Ya.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian aku mengerti. Kalian ingin menjebak aku.”

“Tepat. Tetapi bukan maksud kami untuk berbuat jahat.”

“Katakanlah, apa maksudmu sebenarnya.”

Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi ia menunggu sejenak sehingga kuda yang datang dari arah yang lain itu menjadi semakin dekat dan berhenti pula beberapa langkah di belakang Ki Waskita.

“Ki Sanak,” berkata orang yang berkuda seorang diri, “sudah aku katakan. Aku memerlukan bantuan siapa pun juga dalam perjuangan kami menegakkan kejayaan tanah kita yang tercinta ini.”

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Sekilas teringat olehnya beberapa orang yang telah menghentikannya di jalan antara Jati Anom dan Sangkal Putung. Orang-orang itu juga mengatakan, bahwa mereka memerlukan bantuan untuk perjuangan mereka.

“Apakah kau mengerti?” desak orang berkuda itu.

“Aku tidak mengerti, Ki Sanak,” berkata Ki Waskita, “apakah yang kau maksud dengan perjuangan untuk menegakkan kejayaan tanah kita ini?”

“Pajang tidak dapat lagi melakukan tugasnya sebagai sebuah kerajaan yang memiliki kekuasaan yang bulat di atas tanah ini.”

“Kenapa?”

“Karebet anak Tingkir itu sama sekali tidak memikirkan kepentingan pemerintahannya. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi apa yang terjadi di daerah kekuasaan Pajang. Tetapi ia lebih suka mengumpulkan perempuan-perempuan cantik untuk kesenangannya sendiri meskipun umurnya bertambah tua.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Lalu, “Bagaimana dengan puteranya, Pangeran Benawa?”

“Uh. Ia lebih lemah dari seorang perempuan. Meskipun ia sakti dan memiliki ilmu yang hampir setingkat dengan ayahnya, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia lebih senang mengurung dirinya di dalam bilik dan barangkali bercermin di wajah air jambangan yang bening dan dengan asyiknya menghias wajahnya yang lebih mirip dengan wajah seorang perempuan yang cantik. Tetapi lebih condong dapat dikatakan, ia sangat malu dengan kelakuan ayahnya yang rakus terhadap perempuan.”

Ki Waskita termangu-mangu. Tetapi ia masih bertanya, “Tetapi aku mendengar bahwa puteranya yang lain, maksudku putera angkatnya, adalah seorang prajurit yang linuwih. Ia telah diwisuda menjadi Senopati Ing Ngalaga dan berkedudukan di Mataram. Bahkan ia telah menerima sepasang pusaka yang menjadi pertanda jabatannya.”

“Persetan,” geram orang itu, “bukankah yang kau maksudkan adalah Sutawijaya?”

“Mungkin. Maksudku adalah Senapati Ing Ngalaga di Mataram itu.”

“Ia adalah orang yang paling berbahaya bagi pulihnya kekuasaan yang sejati di atas Tanah ini. Karena itu Mataram harus dimusnahkan. Sesudah atau sebelum Pajang.”

“Jika demikian, apakah kalian akan memberontak terhadap kekuasaan Kanjeng Sultan, dan kekuasaan limpahannya kepada Senapati Ing Ngalaga di Mataram?”

“Tepat. Dan kami memerlukan bantuan bagi perjuangan kami. Karena perjuangan kami memerlukan apa saja.”

Dada Ki Waskita menjadi berdebar-debar. Bukan saja karena dengan demikian akan berarti kekerasan. Tetapi juga karena ia menduga, bahwa perbuatan semacam itu tidak hanya dilakukan atasnya saja dan tidak akan terjadi lagi. Tetapi perubahan semacam yang terjadi itu akan terjadi lagi atas siapa pun juga.

“Tanah Perdikan Menoreh ternyata telah mulai dijamah oleh kegelisahan lagi,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya.

“Kenapa kau termenung saja, Ki Sanak?”

Ki Waskita terkejut mendengar pertanyaan itu.

“Aku sedang memikirkan,” jawab Ki Waskita.

“O, aku akan menunggu sejenak. Mungkin kau baru menghitung, berapa banyak kau akan membantu kami.”

Ki Waskita tidak segera menjawab. Kembali ia membayangkan perbuatan semacam itu yang mungkin terjadi di mana-mana. Bukan saja di daerah yang dekat dengan Mataram atau daerah yang akan menjadi ajang persiapan untuk mempertemukan kedua pusaka yang hilang dari Mataram, tetapi jaring-jaring yang mereka pasang tentu sudah menebar sampai ke tempat yang jauh. Bahkan mungkin ke daerah Pesisir Lor dan Bang Wetan sudah terjadi pula kerusuhan-kerusuhan semacam ini.

“Tetapi yang lebih gawat lagi, bahwa kali ini telah mulai terjadi di pinggir tlatah Menoreh, justru selagi Menoreh akan sibuk dengan perelatan perkawinan Pandan Wangi,” katanya di dalam hati pula.

“Ki Sanak,” berkata Ki Waskita kemudian, “aku masih belum begitu jelas, apakah yang sebenarnya kalian perjuangkan sehingga kalian telah berani mengangkat senjata dan memberontak terhadap Pajang? Jika sekiranya perjuangan kalian berlandaskan kebenaran, apakah kalian merasa cukup kuat untuk melawan Sultan Hadiwijaya yang tidak ada duanya di muka bumi ini?”

Orang itu tertawa. Katanya, “Kau ternyata terlalu banyak bicara dan terlalu banyak yang ingin kau ketahui. Tetapi baiklah. Kau pantas untuk mengetahui bahwa kekuatan kami adalah kekuatan yang tidak akan terlawan oleh Pajang. Kami beralaskan kekuatan beberapa kadipaten yang segan menundukkan kepalanya di bawah kaki Sultan Hadiwijaya yang hanya mengagungkan kamuktennya sendiri. Dan kami pun tidak akan mau menyembah Sutawijaya yang tidak lebih dari anak Ki Gede Pemanahan, sedang kami sendiri mempunyai sesembahan yang langsung keturunan Majapahit.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah dengan demikian bukan berarti bahwa kalian akan menggetarkan sendi-sendi kehidupan yang tenang di atas Pajang dan Mataram sekarang ini dengan pemberontakan itu?”

Orang itu tertawa pula. Katanya, “Sebenarnya tidak seorang pun yang dapat menuduh kami melakukan pemberontakan. Tetapi pada suatu saat nanti, akan ternyata bahwa kamilah yang sebenarnya memang berhak atas kekuasaan di Tanah ini. Jika dalam masa-masa peralihan itu terjadi kegoncangan tata kehidupan, adalah wajar sekali. Goncangan yang demikian memang diperlukan sebagai suatu masa penyaringan. Siapakah yang tegak di belakang kami akan tetap berdiri, tetapi siapa yang menentang kami akan terbabat seperti batang ilalang.”

Namun, Ki Waskita kemudian menggelengkan kepalanya, “Aku tidak sependapat dengan kalian, Ki Sanak. Meskipun aku juga kecewa bahwa Sultan Hadiwijaya tidak lagi meneruskan naluri keperwiraan dan sifat-sifat kasatria yang sejati, namun itu bukan berarti bahwa Pajang tidak berhak lagi untuk tetap berdiri tegak. Memang mungkin perlu ada beberapa perbaikan. Tetapi itu akan dapat dilakukan dengan cara yang lebih baik dari cara-cara yang akan kalian tempuh.”

Orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku sudah menduga, bahwa kau akan sampai pada kesimpulan itu. Tetapi baiklah aku memperingatkan, bahwa aku tidak mempunyai pilihan lain pada saat-saat semacam ini. Menilik pakaianmu, maka kau tentu dapat memberikan banyak kepada kami. Pendok kerismu agaknya terbuat dari emas. Timang yang kau pakai bertatahkan permata dan cincin di jarimu itu tentu terbuat dari batu permata yang berharga pula.”

Ki Waskita ragu-ragu sejenak. Setiap kali membayang kericuhan yaug mulai menjalari Tanah yang sedang sibuk dengan persiapan hari perelatan perkawinan.

“Ki Sanak,” Ki Waskita pun bertanya, “aku adalah orang yang hampir setiap hari melalui jalur jalan ini. Tetapi baru kali ini aku bertemu dengan kalian di pinggir tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Apakah kalian sudah lama melakukan hal semacam ini di sini?”

“Untuk pertama kalinya kami mencari sumber dana perjuangan kami di tanah ini. Agaknya sebelumnya Tanah Perdikan Menoreh adalah tanah yang tenang dan tenteram. Tetapi sekarang menyesal sekali, bahwa aku telah menggoyahkan ketenteraman itu. Ketahuilah, bahwa aku tidak akan tetap berada di satu tempat. Tetapi aku dan beberapa kelompok kawan-kawanku yang lain, akan menyusuri semua daerah Pajang yang terbentang dari sisi Barat sampai ke sisi Timur.” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Agaknya sudah cukup sesorahku. Sekarang, aku minta maaf, bahwa kami akan meninggalkan kau setelah kau menyerahkan dana yang kami perlukan.”

“Apakah kau akan melakukan dengan kekerasan jika aku tidak memberikannya?” bertanya Ki Waskita.

Orang itu menjadi heran. Katanya, “Apakah mungkin kau tidak dapat memperhitungkan keadaan? Kami berempat dan kau hanyalah seorang diri meskipun nampaknya kau adalah orang tua yang berani.”

Ki Waskita memandang orang yang berada di hadapannya. Kemudian tiga orang berkuda yang semula berpapasan, tetapi kemudian telah menyusulnya kembali.

Agaknya mereka adalah orang-orang yang mendapat kepercayaan dari pimpinannya untuk melakukan tugasnya. Tiga di antara empat orang itu ternyata memelihara kumis, sedang yang seorang lagi berwajah bersih dan bermata tajam. Umurnya adalah yang paling muda dari keempat orang itu.

“Cepat,” berkata orang yang menghentikannya, “jika kami kehilangan kesabaran, maka kami akan mengambil sendiri dari padamu, Ki Sanak.”

Ki Waskita termangu-mangu. Menilik keadaan lahiriahnya, maka ia tidak dapat digetarkan oleh keempat orang itu. Jika ia mempergunakan segenap ilmunya, maka ia akan dapat membunuh keempatnya.

Tetapi dalam pada itu, sekilas terbayang wajah anaknya, Rudita. Setiap percakapan dengan anak itu, rasa-rasanya ia dihadapkan pada sebuah cermin yang menunjukkan kelemahan-kelemahannya sebagai seorang manusia yang berbakti kepada Yang Menciptakannya.

“Kekerasan memang bukan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan persoalan,” katanya di dalam hati, “tetapi bagaimana jika kekerasan itu justru terarah kepadaku?”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Jika pertanyaan itu tumbuh di hati anaknya, maka ia akan menjawab, “Biarlah orang lain melakukannya.”

Tetapi seperti yang diakuinya sendiri, bahwa tidak ada orang yang sempurna. Rudita pun memiliki kelemahan meskipun kadarnya lebih rendah dari ayahnya. Rudita berusaha untuk memahami ilmu yang dapat melindungi dirinya dari tindak kekerasan. Sedangkan Ki Waskita berbuat demikian pula. Tetapi Ki Waskira melindungi dirinya dari kekerasan dengan kekerasan pula. Itulah yang tidak diakukan oleh Rudita.

“He, kenapa kau membeku,” bentak orang yang berkuda di hadapannya.

Ki Waskita sekali lagi menarik nafas. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “Baiklah, Ki Sanak. Aku akan menyerahkan apa yang aku punyai.”

Orang itu tertawa.

“Ternyata kau cukup bijaksana. Nah, turunlah dari kudamu dan serahkanlah kepada kawan-kawanku. Aku akan tetap berada di atas kudaku.”

“Kenapa aku harus turun?”

“Kau dengar perintahku. Turunlah dan serahkan semuanya yang kau punyai kepada orang-orangku.”

“Semuanya?”

“Ya.”

“Kau sudah berubah. Bukankah kau minta menurut keikhlasan dariku. Sekarang kau menuntut semuanya.”

“Yang berlaku adalah perintahku yang terakhir. Dan itu menyebutkan, bahwa semuanya akan kami ambil daripadamu.”

Ki Waskita tidak dapat membantah lagi. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia pun meloncat turun dari kudanya, diikuti oleh ketiga orang berkuda yang semula berpapasan di tengah bulak panjang itu.

“Ambillah kerismu, ikat pinggangmu lengkap dengan timangnya, dan kampil di pelana kudamu.”

Ki Waskita tidak menjawab. Namun sejenak ia menebalkan tatapan matanya ke sekitarnya. Ternyata bulak itu sepi. Tidak banyak orang yang berada di sawahnya. Jika ada satu dua orang, mereka berada jauh dari jalan yang lengang itu.

Dengan ragu-ragu Ki Waskita memberikan apa yang diminta oleh orang-orang yang mencegatnya itu. Ikat pinggang, keris dan wrangkanya, kampil berisi uang, dan bahkan cincinya sekali.

Orang yang masih tetap berada di punggung kudanya itu tertawa. Katanya, “Terima kasih. Kau adalah orang yang paling banyak memberikan sumbangan sampai hari ini. Di hari-hari yang lalu, aku hanya menerima sumbangan yang kurang berarti. Sekarang kau memberikan cukup banyak. Kami tidak akan melupakan kebaikan hatimu. Jika kelak kerajaan Majapahit telah berdiri seperti seharusnya, kau akan menerima bagianmu sesuai dengan sumbangan yang kau berikan.” Ia berhenti sejenak, lalu, “He, siapakah namamu dan dimana rumahmu?”

“Apakah itu perlu?”

“Tentu. Aku akan mencarimu kelak. Aku sendirilah yang akan menyerahkan bagianmu kelak. Bahkan mungkin kau akan diangkat menjadi demang, atau kepala Tanah Perdikan di Menoreh ini menggantikan Argapati yang tentu harus disingkirkan.”

“Namaku Ki Jalawaja.”

“He,” wajah orang itu menjadi merah padam, dengan nada yang bergetar ia berkata, “Kau bergurau.”

“Aku tidak bergurau.”

“Ki Jalawaja telah meninggal di lereng sebelah Timur Gunung Merapi.”

Dada Ki Waskita-lah yang kemudian berdesir. Ternyata berita kematian Ki Jalawaja telah tersebar di antara mereka. Bahkan mungkin telah diketahui oleh setiap orang di dalam lingkungan mereka.

“Apakah orang-orang yang berada di Padepokan Tambak Wedi itu sudah bertemu dan menyatukan diri dengan orang-orang yang membawa songsong menyeberangi Kali Praga?” bertanya Ki Waskita di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak sempat memikirkannya karena sekali lagi ia mendengar orang berkuda itu membentak, “Jawab. Dari mana kau mengenal nama Ki Jalawaja?”

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah orang-orang berkuda yang garang itu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Kenapa kau bertanya dari mana aku mengenal nama itu? Namaku memang Jalawaja. Apakah aneh? Atau barangkali ada orang lain yang bernama sama tetapi sudah lama meninggal?”

Orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian menarik nafas panjang, “Apakah mungkin nama itu serupa?”

“Memang mungkin sekali,” sahut Ki Waskita, “aku sudah mengenal seorang yang namanya mirip namaku.”

“Sebutkan orang itu.”

“Tetapi masih selisih sedikit, karena namanya bukannya Jalawaja, tetapi Sisikwaja.”

Orang berkuda itu memandang Ki Waskita dengan tajamnya. Lalu katanya, “Baiklah. Untuk sementara aku percaya bahwa namamu Jalawaja. Nama yang sama dengan seorang pimpinanku yang memang sudah meninggal.”

“Kenapa ia menjnggal?” bertanya Ki Waskita.

“Jangan banyak cakap. Setiap orang akan meninggal. Juga Kiai Jalawaja itu meninggal. Kau pun akan meninggal pula pada suatu saat apa pun sebabnya.”

Ki Waskita mengangguk. Gumamnya, “Ya. Setiap orang akan kembali ke asalnya. Itulah sebabnya, maka selama hidup yang pendek ini kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian itu. Sebab jika kematian itu tiba, dan kita belum siap, maka semuanya akan terlambat. Padahal waktu mempersiapkan diri itu rasa-rasanya begitu pendeknya.”

“Diam,” tiba-tiba orang berkuda itu membentak, “kau mau berkhotbah tentang kematian?”

“Tidak. Tidak, Ki Sanak,” desis Ki Waskita, “aku hanya menirukan saja nasehat orang tuaku dahulu.”

“Tetapi kau tidak perlu mengucapkannya di sini. Aku muak mendengarnya.”

“Baik, baik, Ki Sanak. Nasehat semacam itu memang kadang-kadang seperti cermin yang dapat menunjukkan cacad di wajah kita.”

“Diam,” orang itu berteriak, “jika kau mengulanginya sekali lagi aku bunuh kau, meskipun kau sudah memberikan dana yang cukup kepada kami.”

Ki Waskita mengangguk dalam-dalam. Katanya tergagap, “Baik. Baik, Ki Sanak. Aku tidak akan mengatakannya lagi.”

“Sekarang pergilah. Kelak aku akan mencari seseorang yang bernama Ki Jalawaja. Mungkin kau beruntung mendapatkan imbalan dari dana yang kau berikan sekarang. Tetapi mungkin kau akan aku gantung kelak karena khotbahmu itu.”

Ki Waskita tidak menjawab lagi. Dengan ragu-ragu ia pun meloncat ke punggung kudanya. Dengan suara tertahan-tahan ia berkata, “Apakah aku boleh lewat?”

“Pergilah,” orang berkuda itu tiba-tiba saja tertawa, “ketika mula-mula kau bersikap seperti seorang kesatria, aku mengira kau adalah seorang tua yang berani. Tetapi ternyata kau tidak lebih dari seorang yang sangat sombong dan pengecut. Pergilah. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi.”

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menggerakkan kendali kudanya. Perlahan-lahan kudanya mulai bergerak dan meninggalkan tempat itu.

Demikian Ki Waskita melampaui orang berkuda di hadapannya, maka ia pun segera melecut kudanya dan berpacu secepat-cepatnya menyelusuri jalan di tengah bulak panjang itu.

Tiba-tiba saja orang-orang itu tertawa meledak. Mereka memandang debu yang berhamburan di belakang kuda Ki Waskita yang berlari kencang.

“Kita belum pernah mendapat hasil sebanyak ini dalam satu kali tepuk,” berkata orang berkuda yang agaknya pemimpin dari keempat orang itu.

“Ya, Ki Lurah,” sahut salah seorang yang masih belum berada di punggung kudanya, “menyenangkan sekali jika dalam usaha berikutnya kita akan bertemu dengan orang-orang kaya seperti Kiai Jalawaja ini.”

“Daerah ini memang memiliki banyak orang-orang yang cukup kaya, sehingga kita akan segera dapat mengumpulkan banyak sekali dana untuk perjuangan kita yang panjang.” Orang berkuda itu berhenti sejenak, lalu, “Marilah, kita kembali.”

Ketiga orang yang lain pun segera berloncatan ke atas punggung kuda masing-masing sambil membawa barang-barang rampasannya. Dengan wajah yang cerah, mereka pun segera melarikan kuda mereka ke arah yang berlawanan dengan Ki Waskita.

Sementara itu Ki Waskita sudah menjadi semakin jauh. Di luar sadarnya ia berpaling. Tetapi ia sudah tidak melihat lagi orang-orang yang telah menghentikannya.

“Aku memang tidak seikhlas Rudita,” ia berdesis, “dan ini adalah kekuranganku. Tetapi aku kira, aku belum siap untuk dapat berlaku seperti Rudita.”

Bersamaan dengan itu, maka orang-orang yang telah merampas barang-barang Ki Waskita itu pun telah memasuki hutan perdu di ujung daerah persawahan. Mereka mulai memperlambat derap kudanya, karena jalan menjadi agak sulit.

Dalam pada itu, Ki Waskita masih dicengkam oleh keragu-raguan atas sikapnya sendiri. Katanya di dalam hati, “Apakah sudah benar jika aku melepaskan keempat orang itu? Apakah itu bukan berarti benih persoalan di kesempatan lain?”

Sementara itu keempat orang yang memasuki hutan perdu itu mulai merasa terganggu. Rasa-rasanya barang-barang yang diperolehnya dari orang yang mengaku bernama Kiai Jalawaja itu tidak sewajarnya. Bahkan rasa-rasanya perlahan-lahan barang-barang itu menjadi kabur dan berubah menjadi asap. Hilang.

“Ki Lurah,” salah seorang dari mereka yang membawa kampil uang itu berteriak.

Hampir bersamaan meskipun tidak ada perintah, keempat orang itu menarik kekang kuda mereka, sehingga keempat ekor kuda itu berhenti dengan serta-merta. Bahkan ada di antaranya yang melonjak dan tegak di kedua kaki belakangnya.

“Apakah kita bermimpi,” pemimpin kelompok itu pun berteriak pula.

“Kampil uang itu lenyap begitu saja.”

“Ya. Keris itu pun hilang dengan sendirinya.”

“Kita sudah ditenungnya,” geram pemimpin kelompok itu dengan kemarahan yang bagaikan menyekat dada.

Wajah keempat orang itu menjadi tegang. Sejenak mereka bagaikan terpukau oleh peristiwa yang telah menggoncangkan hati itu.

“Orang itu tentu belum terlampau jauh,” tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak.

“Ya. Kita sudah ditipunya. Hanya kematiannyalah yang dapat menebus hinaan ini. Orang itu menyangka bahwa kami adalah orang-orang yang sangat dungu sehingga dengan mudah dapat ditipunya.”

“Ternyata ia tidak berhasil. Karena kita bukan orang kebanyakan itulah, maka barang-barang tipuan itu lenyap di tangan kita. Untunglah bahwa kita belum sampai ke induk pasukan dan menyerahkan barang-barang tipuan itu. Jika demikian kita tentu akan menjadi malu sekali, seolah-olah kita adalah orang-orang yang sangat dungu menghadapi tukang tenung yang licik itu.”

“Kita akan mengejarnya,” geram pemimpin kelompok itu, “orang itu harus merasakan akibat kebodohannya.”

Pemimpin kelompok itu tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun kemudian memutar kudanya dan memacunya seperti dikejar hantu.

Ketiga orang anak buahnya pun mengikutinya pula dengan kemarahan yang menyentak dada. Rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi meremas wajah orang yang telah menipunya.

Sejenak kemudian empat ekor kuda itu pun telah berpacu dengan kecepatan yang sangat tinggi. Debu yang putih berhamburan disentuh angin yang tidak begitu kencang.

Sementara itu Ki Waskita masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Apakah ia akan tetap membiarkan keempat orang itu bertebaran dan membuat keonaran di saat-saat mendatang.

“Mudah-mudahan mereka tidak kembali lagi ke tlatah Menoreh,” gumamnya kemudian. Karena itulah maka ia tidak lagi menghiraukan keempat orang itu. Dipercepatnyalah derap lari kudanya agar ia segera sampai ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Namun demikian, terbersit juga keragu-raguan di hati Ki Waskita. Benda-benda semu yang dibuatnya tidak dapat bertahan terlalu lama, sehingga ia pun sadar, bahwa benda-benda itu akan segera lenyap apabila dilepaskan dari hubungan getaran ujud semu yang berpangkal pada ilmunya, yang menyentuh dan membuat getaran senada pada pusat syaraf orang lain yang tidak mampu menggeser rentangan getar di pusat syarafnya.

“Jika mereka menyadari bahwa barang-barang yang mereka bawa itu sebenarnya tidak ada, maka mereka tentu akan marah. Mungkin mereka akan berbalik dan mengejarku,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya.

Ada sepercik niat untuk membinasakan saja keempatnya. Tetapi tiba-tiba saja melonjak sikapnya yang lain, “Biar sajalah mereka menjadi marah. Jika mereka tidak menemukan aku, maka mereka tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

Karena itulah, maka ketika di hadapannya nampak sebuah padukuhan kecil, Ki Waskita pun mempercepat lari kudanya agar ia sempat bersembunyi di padukuhan itu.

Seperti yang diduganya, demikian ia hilang di mulut lorong memasuki regol padukuhan kecil itu, empat ekor kuda berderap di tengah-tengah bulak, membelok di tikungan yang berpagar pohon-pohon jarak, sehingga membatasi pengamatan mereka. Ketika mereka memasuki jalan lurus yang panjang, mereka sudah tidak melihat lagi orang yang menyebut dirinya Kiai Jalawaja.

Namun dalam pada itu, dari dalam regol padukuhan kecil itu Ki Waskita masih melihat debu yang mengepul di tengah-tengah bulak yang panjang itu.

“Tentu mereka berusaha mengejar aku.”

Karena itulah maka Ki Waskita pun dengan tergesa-gesa memasuki sebuah halaman di pinggir padukuhan itu. Kepada penghuninya ia berterus terang, minta berlindung beberapa saat karena empat orang penjahat sedang mengejarnya.

“Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Ki Sanak memasuki padukuhan ini?”

“Mereka tentu menyangka bahwa aku berpacu terus.”

“Baiklah. Tetapi jika mereka menemukan Ki Sanak di sini, aku tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

“Mereka tidak akan berhenti di sini.”

Ki Waskita pun kemudian menyembunyikan kudanya di belakang rumah itu, sedangkan ia sendiri berada pula di samping kandang.

Sejenak terasa pergolakan yang semakin melonjak di hatinya. Ia tidak pernah berbuat demikian. Bersembunyi seperti orang yang ketakutan. Dalam keadaan demikian, ia selalu tampil dengan dada tengadah. Jika ia merasa lawannya cukup kuat, maka ia melepaskan ikat kepalanya dan membelitkanya di lengannya dan dipergunakannya sebagai perisai yang melampaui kekuatan perisai baja.

Tetapi pengaruh hubungannya dengan sikap anaknya telah membuatnya bersikap lain. Seperti orang yang ketakutan ia bersembunyi di samping kandang yang baunya menusuk hidung untuk menghindari empat orang penyamun yang sedang mengejarnya.

Sejenak kemudian Ki Waskita menjadi berdebar-debar. Ia mendengar derap kuda yang menjadi semakin dekat.

Sejalan dengan itu, hatinya pun menjadi semakin bergejolak. Ada keinginannya untuk meloncat menghentikan orang-orang berkuda itu. Tetapi kemudian seolah-olah terdengar suara di hatinya, “Apa lagi gunanya berkelahi jika persoalannya dapat diselesaikan dengan cara lain?” Bahkan kemudian timbul pula pertimbangannya, “Bentrokan di saat seperti ini tidak menguntungkan Tanah Perdikan Menoreh yang sedang mempersiapkan diri menjelang hari perkawinan Angger Swandaru dengan Pandan Wangi. Lebih baik aku tetap di sini. Keempat orang itu tentu akan segera pergi.”

Namun terasa jantungnya berhenti berdenyut ketika suara derap kaki kuda itu tiba-tiba berhenti di muka rumah itu.

“Apakah mereka berhenti?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Sejenak Ki Waskita memperhatikan keadaan dengan saksama. Tetapi yang didengarnya adalah suara seseorang yang membentak, “He, di mana orang berkuda itu?”

Ki Waskita menjadi semakin berdebar-debar. Hampir di luar sadarnya ia justru bergeser dari tempatnya dan berlari ke sudut rumah itu.

“Tetaplah bersembunyi,” desis seorang laki-laki tua yang agaknya salah seorang anggauta keluarga di rumah itu.

Ki Waskita menjadi ragu-ragu. Dan sebelum ia bergeser dari tempatnya, ia sudah mendengar suara seseorang membentak, “Cepat, tunjukkan di mana orang itu.”

“Ia tidak singgah kemari,” jawab pemilik rumah itu.

“Jangan membohongi kami. Jejak kaki kuda itu terputus di sini, dan lihat, jejak itu memasuki halaman rumahmu.”

Pemilik rumah itu tidak dapat menjawab. Ia sendiri kemudian menyadari bahwa ia tidak akan dapat berbohong lagi karena jejak itu benar-benar dapat dilihat dengan jelas, memasuki halaman rumah itu.

“Nah. sekarang katakan, di manakah orang itu. Tentu orang yang sedang kami cari.”

“Ki Sanak,” pemilik rumah itu masih mencoba mengelak, “akulah yang baru saja berkuda pulang dari bepergian. Jejak kuda itu adalah kudaku.”

Ki Waskita tidak mendengar jawaban. Tetapi dadanya bergetar ketika ia mendengar keluhan tertahan, disusul oleh jerit seorang perempuan.

“Kubunuh kau, jika kau masih ingkar,” terdengar suara kasar.

Ki Waskita menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak dapat tetap berada di tempatnya. Di luar sadarnya pula ia bergeser sepanjang dinding rumah itu.

“Tidak ada orang lain di sini, Ki Sanak.”

Suaranya terputus oleh hentakan sebuah pukulan yang keras disusul oleh jerit itu lagi. Semakin keras.

Ki Waskita sadar, bahwa pemilik rumah itu ada di dalam bahaya. Jika ia tidak mau mengatakan tentang dirinya, maka agaknya keempat orang itu tidak sekedar bermain-main. Tetapi mereka benar-benar akan membunuhnya dan bahkan mungkin isterinya.

Sekilas terbersit di angan-angan Ki Waskita, kematian yang sangat mengerikan tanpa melakukan kesalahan apa pun juga. Bahkan orang itu sedang berusaha untuk melindungi orang lain.

Ki Waskita temangu-mangu sejenak. Ia merasa tidak sepantasnya bersembunyi untuk menghindari benturan kekerasan, dan mungkin kematian, tetapi dapat berakibat kematian orang lain. Dengan demikian kematian itu tetap terjadi. Bahkan atas orang yang tidak bersalah sama sekali.

Karena itulah, ketika ia mendengar sebuah pukulan lagi dan keluhan yang panjang, serta pekik seorang perempuan yang semakin menyayat, ia tidak dapat tetap di tempatnya. Dengan wajah yang kemerah-merahan ia meloncat ke halaman dari samping rumah itu sambil menggeram, “Jangan gila. Aku di sini.”

Keempat orang itu serentak berpaling. Mereka melihat Ki Waskita berdiri tegak di tempatnya dengan sorot mata yang bagaikan menyala.

“Nah, tukang tenung gila itu benar-benar bersembunyi di sini.” Kemudian dengan kemarahan yang meluap-luap ia memandang pemilik rumah yang ternyata sudah terbaring di tanah dengan darah di mulutnya itu sambil berkata, “Kau benar-benar telah menipu kami. Karena itu, kau pun harus mati bersama tukang tenung gila itu.”

Perempuan yang ternyata isterinya, yang berjongkok di sisinya itu kemudian memeluk suaminya sambil berkata, “Jangan kau bunuh suamiku, ia tidak bersalah.”

“Mereka tidak akan membunuhnya, Nyai,” berkata Ki Waskita, “kecuali jika mereka adalah cucurut-cucurut kerdil yang tidak tahu diri. Akulah yang mereka cari. Karena itu, akulah yang akan menanggung segala akibatnya.”

“Orang ini berusaha menyelamatkan kau,” teriak salah seorang dari perampok itu.

“Tidak seorang pun yang perlu menyelamatkan aku. Tetapi sebaliknya, jika ia menahan kalian menemukan aku, karena semata-mata orang itu mencoba melindungi kalian berempat dari kematian.”

“Setan, anak tetekan. Kau sangka aku ini apa, he?”

“Nah, sekarang aku sudah kalian ketemukan. Apakah yang akan kalian lakukan?” geram Ki Waskita yang hatinya ternyata menjadi terbakar pula setelah ia melihat keadaan pemilik rumah yang tidak bersalah itu.

“Bunuhlah tukang tenung itu,” berkata pemimpin kelompok itu, “aku akan membunuh orang ini.”

Tiga orang di antara mereka pun kemudian berdiri tegak memandang Ki Waskita, sedangkan pemimpin mereka masih tetap berdiri di samping pemilik rumah yang masih terbaring di tanah.

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Ternyata pemilik rumah itu berada dalam keadaan yang gawat. Jika pemimpin kelompok yang marah itu benar-benar membunuh pemilik rumah itu, maka akan jatuh korban jiwa karena keragu-raguannya, sehingga ia justru bersembunyi.

Sesaat kemudian Ki Waskita melihat tiga orang di antara mereka mendekatinya, sedang pemimpinnya justru telah meraba hulu senjatanya.

“Perutmu akan sobek dari lambung sampai ke lambung,” geramnya.

“Jangan, jangan,” teriak isterinya.

“Aku tidak peduli. Ia sudah menipu aku.”

Ki Waskita menjadi bingung sejenak. Jaraknya dengan pemilik rumah yang terbaring itu tidak terlampau dekat, sehingga sulit baginya untuk langsung menolongnya jika pemimpin kelompok yang menjadi sangat marah itu benar-benar mengayunkan senjatanya.

“Kaulah yang harus mati lebih dahulu dari tukang tenung yang kau sembunyikan itu.”

“Jangan, jangan,” pemilik rumah itu pun meminta, bersamaan dengan isterinya yang memeluk kaki penjahat yang, sudah menarik senjatanya.

Ki Waskita tidak mempunyai jalan lain. Tiba-iba saja ia mengerutkan keningnya. Sepercik getaran dari ilmunya tiba-tiba saja telah menyentuh rentang getar di pusat syaraf para penyamun itu.

Karena itulah, ketika pemimpin kelompok itu mengibaskan isteri pemilik rumah yang memeluk kakinya sehingga terlempar selangkah dan jatuh terlentang, terdengar suara tertawa nyaring di regol halaman.

Yang berada di halaman itu pun serentak berpaling. Mereka melihat seorang anak kecil tertawa terbahak-bahak sehingga perutnya terguncang-guncang.

Pemimpin kelompok yang marah itu menjadi semakin marah sehingga ia pun berteriak, “Tutup mulutmu, he?”

Tetapi anak kecil itu tertawa terus. Kedua tangannya sibuk mengusap air matanya yang meleleh di pipinya karena ia tidak mampu menahan tertawanya yang meledak-ledak itu.

“He, kenapa kau tertawa, Anak Gila?”

Anak itu masih tertawa terus. Di sela-sela suara tertawanya ia menjawab, “Lucu sekali.”

“Apa yang lucu, he?”

“Kau membuat orang-orang sepadukuhan ini ketakutan. He, apakah kau tidak tahu, orang-orang itu berlari-larian menengok halaman ini karena mereka mendengar hiruk-pikuk. Tetapi kemudian mereka berlari-larian kembali ke rumahnya dan menutup pintu rapat-rapat.”

“Diam, diam!” teriak salah seorang yang lain.

“Kenapa aku harus diam melihat kelucuan itu? Apalagi salah seorang dari penyamun yang garang itu sudah siap membunuh orang yang tidak bersalah dan tidak melawan sama sekali.”

Pemimpin kelompok penyamun itu benar-benar tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Tiba-tiba saja ia berteriak, “Kau pun akan aku bunuh, Anak Gila. Kaulah yang justru yang pertama-tama.”

“Aku?” anak itu terkejut. Tetapi ia pun tertawa pula, “Jika kau mampu mengejar aku, kau akan dapat membunuhku.”

“Setan alas. Kau sangka aku hanya bergurau?”

Anak itu tertawa semakin keras. Tetapi suara tertawanya tiba-tiba saja terputus karena pemimpin kelompok itu benar-benar tidak dapat menahan dirinya. Dengan serta-merta ia meloncat langsung menikam anak yang berdiri di regol itu. Tetapi agaknya anak itu benar-benar mampu berlari cepat. Demikian ia melihat pemimpin kelompok itu meloncat, ia pun telah berlari meninggalkan regol dan hilang di balik dinding batu.

Pemimpin kelompok yang marah itu tidak membiarkannya lari. Karena itu, ia pun kemudian mengejarnya sampai ke regol halaman.

Tetapi ketika ia melangkahi tlundak regol, langkahnya terhenti. Ia tidak melihat seorang pun di sepanjang jalan. Jalan yang menjelujur lurus ke kedua arah.

“Gila, di mana anak itu?” geram pemimpin kelompok itu. Tetapi ia sama sekali tidak melihat seorang pun. Padahal menurut penilaiannya, anak kecil itu tidak akan dapat meloncati dinding batu di sebelah-menyebelah jalan.

Namun adalah suatu kenyataan, anak itu hilang seperti asap.

Tiba-tiba saja pemimpin kelompok itu teringat kepada orang yang sedang dikejarnya. Orang yang telah memberikan beberapa macam barang yang sekedar ada karena tenungnya, bukan karena sebenarnya barang-barang itu ada.

Pemimpin kelompok itu menggeram. Dengan wajah yang merah membara ia berpaling. Dadanya rasa-rasanya menjadi retak ketika ia melihat pemilik rumah yang terlentang di halaman itu kini sudah berdiri bersandar pintu rumahnya, dilayani oleh isterinya. Sedang Ki Waskita yang menyebut dirinya bernama Kiai Jalawaja itu berdiri tegak di depannya dengan keris terhunus.

“He, gila. Apakah kerja kalian!” teriak pemimpin kelompok itu kepada ketiga orang kawannya. “Kau biarkan tukang tenung itu menolong orang yang mencoba melindunginya?”

Serentak mereka bertiga berpaling. Seperti bermimpi rasanya. Mereka seakan-akan terpukau oleh anak kecil yang tertawa di regol itu, sehingga mereka tidak melihat, apa yang telah terjadi di sampingnya.

“Anak itu pun adalah iblis yang dibuat oleh tukang tenung itu. Ia hilang di luar regol seperti barang-barang yang kalian bawa.”

Kemarahan telah membakar setiap dada keempat orang penyamun yang mengejar Ki Waskita itu. Mereka merasa, bahwa mereka telah menjadi korban permainan tenung dan sihir.

“Tukang sihir gila,” geram salah seorang dari mereka, “tetapi bagaimana pun juga kau harus menebus dengan nyawamu. Kau tidak akan sempat membuat ujud-ujud apa pun lagi di hadapan kami, karena kami sudah yakin, bahwa kami berhadapan dengan tukang sihir.”

Ki Waskita tidak beranjak dari tempatnya. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

“Baiklah,” berkata pemimpin kelompok itu, “agaknya orang gila yang berusaha menyembunyikan tukang tenung atau tukang sihir atau apa pun namanya itu, sempat memperpanjang umurnya dengan beberapa saat. Tetapi kematian yang akan dialaminya adalah kematian yang lebih parah, karena akan terjadi perlahan-lahan seperti tukang sihir itu sendiri.”

Ki Waskita memandang keempat orang itu berganti-ganti. Sekali-sekali ia berpaling. Pemilik rumah itu masih berdiri bersandar pintu dengan wajah yang pucat oleh ketakutan. Sedang darah yang meleleh di pipinya telah diusapnya dengan lengan bajunya.

“Menyerahlah, supaya kami mempunyai sedikit belas kasihan,” geram pemimpin kelompok itu.

“Apakah belas kasihanmu itu berarti bahwa pemilik rumah yang tidak bersalah ini akan tetap hidup?” bertanya Ki Waskita.

“Gila. Kalian semuanya akan mati. Tetapi jalan kematian itulah yang berbeda-beda. Bagi kalian semakin cepat tentu akan menjadi semakin baik. Tetapi jika kalian melawan, maka kalian akan mengalami masa yang berkepanjangan menjelang saat kematian itu.”

“Jika demikian,” jawab Ki Waskita yang menjadi marah pula, “aku pun menawarkan hal yang serupa. Jika kalian menyerah dan pasrah, maka aku akan menikam kalian seorang demi seorang dengan keris langsung ke jantung. Tetapi jika tidak, maka kalian masing-masing dan kuda itu akan aku lecut sepanjang bulak panjang.”

“Setan alas,” teriak pemimpin kelompok itu, “kau masih dapat mengigau, he, tukang sihir.”

“Namaku Kiai Jalawaja.”

“Tentu itu hanya leluconmu yang gila. Kau mungkin memang pernah mendengar nama Jalawaja. Tetapi tentu kau tidak bernama Jalawaja.”

Yang bertubuh kekar tidak sabar lagi. Dengan nada yang dalam, seolah-olah suaranya berputar di dalam perutnya ia menggeram, “Aku akan membunuhnya sekarang dengan tanganku. Aku akan mematahkan tangannya, kemudian kakinya, sebelum yang terakhir tulang punggungnya. Kemudian akan aku biarkan ia mati berlama-lama. Kita tinggalkan saja ia di sini. Dalam dua hari ia tentu akan mati.”

“Ia akan sempat menenung kita.”

“Menjelang ajal, ia tidak mempunyai kemampuan melakukannya,” jawab orang bertubuh kekar itu sambil melangkah mendekati Ki Waskita.

Tetapi Ki Waskita pun sudah bersiaga. Ia berdiri tegak dengan kaki renggang. Kedua tangannya bersilang di muka dadanya.

Sejenak kemudian ketiga orang penyamun yang lain pun segera mengambil tempatnya masing-masing. Pemimpinnya, yang jantungnya bagaikan terbakar oleh bara api tempurung itu mengambil tempat di tengah-tengah.

Ki Waskita tetap di tempatnya. Ia tidak bergeser maju, agar ia tetap dapat melindungi pemilik rumah yang masih bersandar pintu berpegangan isterinya yang menggigil ketakutan. Namun keduanya kemudian terduduk dengan lemahnya karena kaki mereka rasa-rasanya tidak mampu lagi membawa berat tubuhnya yang gemetar.

“Agaknya itu akan lebih baik,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya.

Sejenak kemudian, maka Ki Waskita pun harus sudah menempatkan diri di dalam lingkaran pertempuran. Ia sama sekali tidak ingin lagi membuat bentuk-bentuk semu, karena agaknya keempat orang itu tidak akan lagi dapat dikelabui. Mereka tentu tidak akan menghiraukan ujud apa pun lagi yang nampak di halaman itu, meskipun seandainya ada orang yang sebenarnya hadir.

Ki Waskita memandang keempat ujung senjata yang telah terarah kepadanya. Untuk melawan keempat ujung senjata itu ia tidak dapat mempergunakan tubuhnya yang masih belum dibalut oleh perisai ilmu kebal yang matang. Itulah sebabnya, maka ia pun kemudian membuka ikat kepalanya dan dibelitkannya di tangan kirinya.

Namun dengan demikian juga berarti bahwa kesabaran Ki Waskita sudah sampai ke batasnya melihat tingkah laku keempat penyamun yang memuakkan itu.

Sejenak kemudian, perkelahian sudah tidak dapat dicegah lagi. Ketika orang yang bertubuh tinggi itu meloncat menyerang maka Ki Waskita telah siap menangkis serangan ujung senjatanya dengan ikat kepalanya yang membelit lengannya.

Benturan itu benar-benar telah mengejutkan. Apalagi ketika Ki Waskita masih sempat berkata, “Aku sudah tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali membunuh kalian. Bukan karena aku ingin membunuh seperti kalian tetapi dengan demikian muka kalian tidak akan menjadi bibit keonaran di tlatah ini dan bahkan mungkin menimbulkan korban yang tidak terhitung jumlahnya.”

Rasa-rasanya jantung keempat orang itu tergetar. Namun kemudian pemimpin kelompok penyamun itu berteriak, “Kau jangan mencoba menakuti kami seperti anak-anak.”

“Jangan berteriak,” geram Ki Waskita, “kaulah yang menakut-nakuti tetangga di sebelah-menyebelah. Kini mereka tentu sudah membeku di dalam rumah mereka. Apalagi jika mereka mendengar suaramu yang menyakitkan hati itu.”

“Persetan,” jawab pemimpin kelompok itu.

“Tetapi jika suaramu didengar oleh para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, maka kalian akan mengalami nasib lebih buruk lagi.”

“Aku akan membunuh siapa saja,” pemimpin kelompok itu masih berteriak. Namun suaranya seolah-olah terputus di kerongkongan karena serangan Ki Waskita yang tidak terduga-duga, seakan-akan menyusup di antara keempat ujung senjata mereka.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Ujung senjata yang terayun-ayun itu seolah-olah semakin lama menjadi semakin banyak. Tetapi Ki Waskita pun mampu bergerak semakin cepat.

Namun demikian, Ki Waskita tidak dapat bertempur dengan tata gerak yang leluasa. Ia tidak dapat berloncatan di halaman itu sesuai dengan keinginannya menghadapi keempat orang lawannya, karena ia masih harus melindungi dua orang suami-isteri yang ketakutan. Ki Waskita merasa wajib untuk melakukannya, karena ia merasa, bahwa ialah yang menyebabkan bahaya maut itu hampir saja menyentuh kedua suami-isteri itu. Bahkan apabila ia gagal, maka bahaya itu masih mungkin sekali menerkam mereka berdua bersama-sama.

Dalam pada itu, keempat orang penyamun yang merasa tidak segera dapat mengalahkan lawannya pun menjadi semakin marah. Mereka menyerang dari berbagai penjuru untuk membagi perhatian Ki Waskita.

Tetapi Ki Waskita agaknya memiliki kecepatan bergerak yang cukup. Ketika ujung-ujung senjata itu mematukinya, ia selalu saja sempat mengelak. Sekali ia menggeliat sambil berputar. Sementara ujung senjata yang lain hampir menusuk lambungnya, ia membungkukkan badannya sambil menangkis ujung senjata yang lain yang menyambar mendatar mengarah ke lehernya.

Bahkan, ketika keringat telah mulai membasahi punggungnya, tandang Ki Waskita rasa-rasanya menjadi semakin mantap, serangannya justru menjadi semakin ganas. Bukan saja tangannya yang menyambar-nyambar, tetapi juga kakinya.

Tetapi lawannya pun agaknya cukup berpengalaman. Mereka selalu berusaha menarik Ki Waskita semakin maju. Mereka menyerang dari samping namun kemudian menarik diri menjauh di depan Ki Waskita berseberangan arah dengan kedua orang suami isteri yang ketakutan.

Ki Waskita menyadari, bahwa ia tidak dapat menyerang terlalu bernafsu tanpa dikuasai oleh perhitungan yang baik. Jika ia meloncat terlalu jauh, maka yang akan mengalami kesulitan adalah suami-isteri itu.

Namun dalam peperangan yang semakin sengit, kadang-kadang perhatian Ki Waskita lebih tertuju kepada keempat lawannya. Kadang-kadang ia sejenak kehilangan pengamatan diri dan melupakan suami isteri yang ketakutan itu. Namun demikian ia menyadari keadaan, maka ia pun segera menempatkan diri di hadapan kedua orang itu.

Pemimpin kelompok penyamun itu seolah-olah telah kehilangan nalar. Ia didera oleh kemarahan yang tiada taranya. Berempat mereka sama sekali tidak segera dapat memenangkan perkelahian, bahkan kadang-kadang terasa mereka benar-benar terdesak surut.

Tetapi pemimpin kelompok itu masih mempunyai pertimbangan lain. Ketahanan tubuh dan nafas orang tua itu tentu tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Jika ia terpaksa mengerahkan segenap tenaganya, maka ia pun akan segera menjadi lelah.

Demikianlah serangan dari keempat orang itu semakin lama menjadi semakin sengit. Mereka mempertinggi kecepatan gerak mereka dengan memeras segenap kemampuan. Senjata mereka terayun-ayun susul-menyusul, seperti ombak di lautan yang beruntun menghantam pantai.

Orang yang paling liar di antara mereka berempat ternyata benar-benar telah kehilangan akal. Karena itu, maka ia pun kemudian bagaikan orang kesurupan menyerang Ki Waskita dengan garangnya, meskipun dengan demikian, mula-mula ia menyulitkan kawan-kawannya sendiri. Namun kemudian kawan-kawannya pun berusaha untuk menyesuaikan diri, dan bahkan mereka pun mendesak semakin dahsyat.

Orang yang paling liar itu dengan membabi buta mengayunkan pedangnya mendatar ke kedua arah. Seolah-olah ia tidak menghiraukan lagi ketiga kawannya yang lain yang ada di sebelah-menyebelahnya.

Namun ketika dengan demikian Ki Waskita melangkah surut, seorang yang bertubuh agak pendek, dengan serta-merta meloncat menghunjamkan pedangnya ke arah lambung.

Ki Waskita harus secepatnya bergeser. Tetapi ia melihat sekilas gerak pemimpin kelompok itu, yang siap memotong geraknya menghindar.

Karena itu, Ki Waskita mengurungkannya dan segera merubah sikap. Ia sama sekali tidak menghindari tusukan pedang yang mengarah ke lambung itu. Tetapi dengan ikat kepalanya yang membelit di tangannya ia menebas pedang itu, sehingga arahnya segera berubah.

Tetapi orang itu tidak sempat menarik pedangnya. Sejenak kemudian yang terdengar adalah keluhan tertahan. Ternyata pergelangan tangannya bagaikan terasa patah, dan senjatanya hampir terlepas dari tangannya.

Namun kawannya yang paling ganas berhasil bertindak cepat. Ki Waskita tidak sempat mengulangi pukulan tangannya atas pergelangan lawannya. Orang yang paling ganas di antara sekelompok penyamun itu sempat menyerangnya, sehingga Ki Waskita harus bergeser setapak.

Dengan demikian perkelahian itu menjadi semakin seru. Namun betapa kemarahan membakar dada Ki Waskita, namun ia tidak kehilangan pertimbangan nalarnya. Ia masih dapat melihat kepada dirinya sendiri. Bahkan sepercik keraguan masih menahannya untuk dengan serta-merta membunuh lawannya.

Karena itulah maka Ki Waskita masih bertempur terus tanpa menjatuhkan seorang korban pun di antara keempat lawannya. Bahkan lawannya yang hampir kehilangan pedangnya itu pun masih sempat mengurut tangannya dan mempergunakan senjata lagi meskipun tidak selincah seperti di saat ia mulai perkelahian itu.

Namun bagaimana pun juga Ki Waskita berusaha melindungi kedua suami isteri, pada suatu saat ia berhasil dipancing oleh lawannya. Segenap perhatiannya tercurah kepada ketiga lawannya yang bersama-sama menyerangnya. Beruntun dari arah yang berbeda-beda. Tetapi kerja sama yang mereka lalukan adalah sedemikian baiknya sehingga Ki Waskita benar-benar harus memperhitungkan setiap geraknya menghadapi senjata-senjata itu.

Pada saat itulah, maka pemimpin kelompok penyamun itu berusaha untuk mempengaruhi gairah perlawanan Ki Waskita. Pemimpin penyamun itu menyadari, bahwa Ki Waskita memang sedang berusaha melindungi kedua orang suami isteri itu. Karena itulah, maka dengan sengaja ia mengambil peluang itu untuk menyerang kedua orang yang ketakutan duduk bersandar pintu itu.

“Jika perhatian iblis ini terampas oleh kematian kedua orang sekarat yang bersandar pintu itu, maka ia pun akan mengalami nasib serupa,” berkata pemimpin kelompok itu di dalam hatinya.

Berdasarkan atas perhitungan itulah maka ia pun segera bertindak. Dengan tangkasnya ia meloncat berlari ke arah kedua orang yang ketakutan itu.

Ki Waskita yang memang sudah curiga akan sikap licik itu, masih juga terkejut melihat serangan yang tiba-tiba dari pemimpin kelompok itu. Namun dengan demikian, maka kemarahan di hatinya bagaikan meledak dan tidak terkendali lagi.

Ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat menyusul orang itu, betapa pun ia mampu meloncat jauh lebih panjang dari pemimpin kelompok itu. Apalagi ia masih harus menghindari tiga serangan beruntun yang datang seperti arus gelombang tanpa henti.

Tetapi sudah barang tentu bahwa ia tidak akan dapat membiarkan pembunuhan itu terjadi.

Dalam keadaan yang demikian itulah, Ki Waskita harus memilih tindakan yang paling tepat dapat dilakukan. Ketika ia bergeser selangkah, maka salah seorang dari ketiga penyamun itu berhasil memotong arah sambil mengacungkan senjatanya, sehingga Ki Waskita tertegun karenanya.

Tetapi Ki Waskita tidak dapat membiarkan dirinya tertegun-tegun tanpa berbuat sesuatu. Karena itulah maka tiba-tiba saja ia meloncat, justru menjauhi arah kedua orang suami isteri yang bersandar pintu itu.

Namun, pada saat ia meloncat, tangannya telah bergerak dengan cepatnya. Ia tidak mau terlambat. Kelambatan beberapa kejap saja, ia sudah gagal menolong kedua suami isteri yang mengalami bencana karena tingkahnya.

Sejenak kemudian, pada saat pemimpin kelompok itu meloncat sambil mengulurkan senjatanya, terdengarlah keluhan tertahan. Tetapi sekejap kemudian disusul oleh jerit seorang perempuan yang menggelepar memecah ketegangan di halaman itu.

Semua yang mendengar jeritan itu tertegun. Mereka tanpa sadar, telah berpaling memandang kearah perempuan yang masih mencoba bersandar pintu menjaga suaminya yang gemetar. Namun kemudian mereka telah terduduk semakin lemah.

Dari pundak perempuan itu ternyata telah menitik darah. Ujung pedang pemimpin kelompok itu sempat melukainya, meskipun tidak begitu dalam. Namun dengan demikian, pemimpin kelompok itu harus menebus dengan nyawanya. Ia terjatuh menggelepar di tanah dengan darah yang membasah di punggungnya. Sedang sebilah keris masih menancap dalam-dalam di punggung yang telah menjadi merah itu.

Ternyata Ki Waskita tidak dapat mempergunakan cara lain. Dengan kecepatan yang hampir tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, ia mempergunakan kerisnya dan melemparkan langsung ke punggung pemimpn kelompok penyamun itu, sehingga ia terbunuh seketika.

Tetapi luka di pundak perempuan itu membuat Ki Waskita bagaikan wuru. Karena jarak yang memisahkannya dari perempuan itu, maka ia sama sekali tidak dapat melihat dengan pasti, apakah luka di pundak perempuan itu membahayakan jiwanya. Karena itulah, maka kemarahan yang membakar dadanya itu, seolah-olah telah tertumpah tanpa tertahankan lagi.

Itulah sebabnya, maka sebelum ketiga lawannya menyadari sepenuhnya apakah yang telah terjadi, Ki Waskita telah meloncat menyerang. Ia tidak lagi mengekang segenap kekuatan yang tersalur di tangannya. Karena itu maka ketika tangannya itu terayun menghantam salah seorang dari lawannya yang tidak sempat mengelak, maka tubuh itu bagaikan gemeretak, tulangnya berpatahan meskipun ada usahanya menggerakkan pedangnya, tetapi yang terjadi adalah kematian yang mendebarkan. Tubuh yang bagaikan tidak bertulang itu terlempar beberapa langkah dan jatuh membeku di tanah tanpa sempat mengeluh lagi.

Kematian kedua orang kawannya, ternyata telah menggoncangkan keberanian dan kekasaran kedua orang penyamun yang masih hidup. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa kali ini mereka telah menjumpai seseorang yang memiliki kemampuan tiada taranya.

Sekilas mereka teringat, bahwa orang itu telah menyebut dirinya Kiai Jalawaja. Karena itu maka, tiba-tiba saja mereka mempunyai pertimbangan lain atas nama itu. Orang yang sedang dihadapinya agaknya benar-benar telah bertemu dengan Kiai Jalawaja dan bahkan mungkin yang telah membunuhnya.

Tetapi bagaimana pun juga kedua orang itu harus mencoba mempertahankan hidupnya. Dengan demikian, betapa hatinya dicengkam oleh kecemasan, mereka masih bertahan terus. Bahkan mereka telah mencoba untuk mencari jalan keluar dari halaman itu.

“Jika kami mengetahuinya, maka kami tidak akan mengejarnya,” berkata salah seorang dari mereka di dalam hatinya.

Dalam pada itu, Ki Waskita masih saja dibakar oleh kemarahannya. Justru setelah ia melihat perempuan yang terluka itu menjadi lemah dan bahkan kemudian suaminyalah yang memeganginya agar tidak jatuh. Namun demikian, perempuan itu bersandar dengan mata tertutup di bahu suaminya yang duduk bersandar pintu.

Kemarahan Ki Waskita telah menghentakkannya sekali lagi. Ketika salah seorang dari kedua penyamun yang masih hidup itu berusaha melarikan diri, maka dengan serta-merta Ki Waskita meloncat menangkap lengannya. Dengan satu hentakkan orang itu terputar. Tetapi ternyata bahwa ia tidak menyerah begitu saja. Ketika tubuhnya berputar, maka tangannya pun telah mengayunkan pedangnya mendatar.

Ki Waskita bertindak cepat. Dengan kakinya ia menghantam siku orang itu. Demikian kerasnya, sehingga bukan saja senjata itu terlepas dan terdengar teriakan nyaring, tetapi siku orang itu pun telah terlepas pula sendinya.

Sebelum orang itu sempat berbuat apa pun juga, maka tangan Ki Waskita langsung melayang menghantam dagunya, sehingga kepala orang itu terangkat, namun kemudian tubuhnya bagaikan terlipat ketika tangan Ki Waskita yang lain menghantam perutnya.

Tak ada yang dapat menahannya lagi. Terhuyung-huyung ia jatuh tertelungkup. Namun belum lagi tubuhnya terbanting di tanah, sisi telapak tangan Ki Waskita telah menghantam tengkuknya. Hanya sekali orang itu sempat menggeliat. Kemudian ia pun mati menyusul kedua kawannya yang lain.

Tinggallah yang seorang dari antara keempat penyamun itu. Meskipun ia masih belum terluka dan bahkan seolah-olah sama sekali belum tersentuh tangan Ki Waskita, namun rasa-rasanya tulang-belulangnya telah remuk pula seperti kawan-kawannya yang terbaring mati.

Itulah sebabnya, ketika kemudian Ki Waskita mendekatinya, maka ia justru bagaikan telah lumpuh. Wajahnya yang garang menjadi pucat pasi.

Sebagai seorang penyamun yang justru telah berada di dalam lingkungan orang-orang yang merasa dirinya sedang memperjuangkan kejayaan masa Majapahit itu, ia sebenarnya bukanlah seorang pengecut. Ia pernah mengalami persoalan-persoalan yang menggetarkan jantung. Sentuhan maut telah sering terasa di tubuhnya.

Tetapi sekali ini ia benar-benar merasa gentar melihat orang yang menyebut dirinya Kiai Jalawaja itu. Meskipun kemudian ia tahu pasti bahwa nama itu tentu bukan yang sebenarnya.

Kematian sebenarnya bukanlah akhir yang menakutkan. Tetapi ada sesuatu yang tiba-tiba saja telah melumpuhkan keberaniannya untuk melawan. Orang yang mengaku bernama Kiai Jalawaja itu mula-mula telah menghindari perkelahian meskipun ia memiliki kemampuan yang ternyata tidak terlawan oleh keempat orang kawan-kawannya. Itulah yang sebenarnya mulai mempengaruhi pikiran orang itu. Bahwa sebenarnya orang yang mengaku bernama Kiai Jalawaja itu memiliki lebih banyak ketahanan rohaniah di samping ketahanan jasmaniah.

Meskipun tidak dengan sadar, tetapi penyamun yang masih hidup itu merasakan tanpa dapat menyebut bentuk dan ujud di dalam hatinya, bahwa tidak pantas baginya untuk melanjutkan perlawanan terhadap orang yang sebenarnya telah menghindari benturan kekerasan itu.

Karena itu, jika ia kemudian melemparkan senjatanya, bukanlah semata-mata karena ia dicengkam oleh ketakutan untuk mengalami kematian, tetapi juga karena pengaruh sikap dan tingkah laku Ki Waskita yang kurang dipahaminya, tetapi dapat menyentuh perasaannya itu.

Ki Waskita pun tertegun melihat lawannya melontarkan senjatanya, sehingga karena itu sejenak ia termangu-mangu.

“Kau menyerah?” bertanya Ki Waskita.

“Aku menyerah, Kiai,” suara orang itu gemetar.

“Kau tidak mau mati seperti kawan-kawanmu?”

Orang itu termangu-mangu sejenak, seolah-olah ia sedang berbincang dengan dirinya sendiri. Baru sejenak kemudian ia menjawab sambil menggelengkan kepalanya, “Tidak, Kiai. Aku tidak takut mati seperti kawan-kawanku. Tetapi ada ketakutan yang lain yang aku tidak mengerti. Karena itu, jika Kiai ingin membunuhku, bunuhlah aku. Tetapi tanpa aku mengerti maknanya, aku memang ingin mati tanpa melakukan perlawanan, karena aku menyadari bahwa sejak semula Kiai sudah menghindari perkelahian.”

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Ia memandang wajah orang itu dengan tajamnya. Ia melihat kejujuran memancar di sorot matanya yang buram di wajahnya yang pucat.

Namun karena itu, rasa-rasanya memang ada yang menahan hatinya. Ia tidak dapat mengabaikan perasaan iba yang tiba-tiba telah melonjak di sela-sela kemarahan yang meluap-luap di dadanya.

Sejenak Ki Waskita termangu-mangu. Namun ia bagaikan terbangun dari tidurnya, ketika ia mendengar suara merintih.

Ketika ia berpaling, dilihatnya perempuan yang luka di pundaknya itu telah menjadi semakin lemah bersandar pada suaminya.

Sekilas Ki Waskita justru bagaikan membeku. Namun kemudian ia pun segera meloncat mendekati, karena ia sadar, bahwa suami perempuan itu pun telah menjadi lemah pula, karena agaknya para penjahat itu telah menyakitinya.

“Ki Sanak,” berkata Ki Waskita kepada laki-laki yang gemetar itu, “marilah kita bawa saja isterimu ini masuk.”

Laki-laki itu tidak menjawab. Tertatih-tatih ia berdiri. Namun ia tidak dapat berbuat lain kecuali membiarkan saja Ki Waskita mengangkat tubuh isterinya yang terluka.

Perlahan-lahan Ki Waskita meletakkan perempuan itu di pembaringannya. Kemudian ia pun berusaha dengan kemampuan yang ada padanya untuk mengobati lukanya yang untung tidak terlampau parah. Namun bagi perempuan itu, agaknya telah cukup mencengkam seluruh syarafnya.

Dengan dedaunan yang dikenalnya, Ki Waskita mengobati luka itu, sehingga perasaan pedih yang menyengat kulit, rasa-rasanya berangsur-angsur berkurang meskipun tidak lenyap sama sekali.

“Apakah di padukuhan ini ada dukun yang cukup baik?” bertanya Ki Waskita.

Laki-laki yang tubuhnya lemah dan gemetar itu menganggukkan kepalanya. Jawabnya terbata-bata, “Ya, ya, Ki Sanak.”

“Apakah kau dapat menyuruh salah seorang pembantumu untuk memanggilnya.”

Orang itu mengangguk. Namun keragu-raguan nampak di wajahnya.

“Cepatlah, agar ia segera dapat mengobati luka isterimu dan engkau sendiri. Sementara itu, biarlah anak-anak muda padukuhan ini membantuku menyelenggarakan mayat para penyamun yang terbunuh itu.”

Laki-laki itu pun kemudian tertatih-tatih memanggil seorang pembantunya yang juga ketakutan di belakang. Kemudaan disuruhnya pembantunya itu memanggil dukun yang pandai.

“Panggil juga anak-anak muda. Kau dapat mengatakan apa yang telah terjadi. Penjahat-penjahat itu telah terbunuh di halaman rumah ini,” sambung Ki Waskita.

Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia pun meninggalkan rumah itu. Ketika ia lewat di halaman, maka ia telah memalingkan wajahnya dan berlari melintas.

Ki Waskita yang kemudian teringat kepada seorang penyamun yang masih hidup, segera melangkah ke halaman pula. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat penyamun itu masih tetap berdiri di tempatnya.

Sejenak Ki Waskita termangu-mangu. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kau tidak lari? Kudamu masih tertambat di tempatnya.”

Orang itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tahu bahwa itu tidak akan berguna.”

“Kenapa?”

“Aku akan berputaran saja di bulak karena kekuatan tenungmu. Kemudian akan terdampar kembali di halaman ini.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku tidak menenungmu demikian. Kau dapat lari ke mana pun juga kau kehendaki. Tetapi jika demikian, mungkin aku memang akan mengejarmu dan membunuhmu di mana pun aku dapat menyusulmu.”

“Sudah aku katakan. Kematian tidak menakutkan lagi bagiku. Aku memang sudah kehilangan kesempatan itu tanpa belas kasihanmu.”

Ki Waskita tidak menjawab lagi. Namun ia masih termangu-mangu sejenak di tempatnya.

Baru beberapa saat kemudian ia berkata, “Minggirlah. Jangan menakut-nakuti orang yang akan datang ke halaman ini. Duduklah di pojok rumah itu dan jangan berbuat apa-apa.”

Orang itu bagaikan telah kehilangan kepribadiannya. Ia melangkah ke sudut rumah dan duduk di atas tangga tanpa menjawab sepatah kata pun.

Dalam pada itu, maka pembantu yang harus memanggil seorang dukun dan sekaligus anak-anak muda untuk membantu Ki Waskita menyelenggarakan tiga sosok mayat di halaman itu, dengan suara yang gagap mulai berbicara kepada beberapa orang anak muda yang berkerumun di kejauhan. Mula-mula anak-anak muda itu merasa segan untuk mendekat, karena mereka tidak tahu pasti apa yang telah terjadi. Tetapi pembantu itu meskipun kurang meyakinkan, namun memberikan sedikit gambaran dari peristiwa yang sebenarnya.

“Jadi orang itu benar-benar berhasil membunuh tiga orang sekaligus?” bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.

“Ya. Tidak ada lagi yang dapat kalian cemaskan. Orang yang telah berhasil membunuh ketiga orang itu masih berada di sana. Jika timbul kesulitan, maka ia akan dapat menyelesaikannya.”

Anak-anak muda itu masih tetap ragu-ragu. Tetapi pembantu itu berkata, “Baiklah jika kalian ragu-ragu. Tunggulah aku di sini. Aku akan memanggil dukun di sudut padukuhan itu, untuk mengobati luka-luka. Kita nanti akan bersama-sama memasuki halaman itu.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun ke-udian salah seorang dari mereka berkata, “Baiklah. Aku menunggumu.”

Dengan tergesa-gesa orang itu pun kemudian pergi ke sudut padukuhan memanggil seorang dukun tua yang memiliki pengetahuan tentang berbagai macam obat-obatan. Ketika orang itu kembali bersama dukun tua itu, maka anak-anak muda itu pun mengikutinya pula.

Betapa pun keragu-raguan masih mencengkam hati tetangga-tetangga di sekeliling rumah yang menjadi ajang perkelahian itu, namun mereka pun kemudian berdatangan pula. Apalagi setelah mereka mengetahui bahwa orang yang telah berhasil membinasakan ketiga orang penjahat itu masih ada di halaman itu pula.

Beberapa orang di antara para tetangga itu sempat bertanya tentang beberapa hal kepada pemilik rumah yang masih lemah itu. Namun setelah minum beberapa teguk air dingin dan telur mentah bercampur madu lebah yang diberikan oleh dukun di padukuhan itu, rasa-rasanya badannya menjadi segar.

Ketika dukun itu sedang berusaha mengobati isteri pemilik rumah yang terluka dengan obat-obatan yang lebih baik, maka beberapa orang laki-laki telah membantu Ki Waskita membersihkan halaman dan menyingkirkan tiga sosok mayat yang sudah membeku.

“Ketiganya harus segera dikuburkan,” berkata Ki Waskita.

“Apakah kawan-kawan mereka akan datang di kesempatan lain?”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi tidak ada di antara mereka yang dapat melaporkan kepada pimpinannya, bahwa ketiga orang kawannya terbunuh di sini. Seandainya mereka mendengar pula berita kematian itu, maka kalian dapat menyebut bahwa akulah yang telah membunuh mereka, dan aku adalah seorang prajurit dari Mataram.”

“O,” beberapa orang saling berpandangan.

“Kalian jangan cemas. Aku akan memberitahukan hal ini kepada Ki Gede Menoreh. Ki Gede tentu akan menaruh perhatian terhadap peristiwa ini. Bukankah Menoreh mempunyai pengawal yang kuat pada saat-saat lampau. Aku yakin, bahwa dari padukuhan ini, meskipun terletak di ujung Tanah Perdikan, tentu mempunyai beberapa orang anak-anak muda yang ikut menjadi pasukan pengawal.”

“Tetapi mereka berada di padukuhan induk,” jawab salah seorang dari mereka.

“Tentu masih ada anak-anak muda yang lain. Tetapi jika perlu aku dapat mengusulkan agar para pengawal, setidak-tidaknya yang berasal dari padukuhan ini, untuk beberapa hari diperkenankan pulang umuk menjaga kampung halamannya.”

Orang-orang yang mendengar keterangan Ki Waskita itu mengangguk-angguk. Jika benar-benar demikian, maka mereka akan menjadi lebih tenang, sementara anak-anak muda di padukuhan itu sendiri sempat mempersiapkan diri.

Dengan bantuan para tetangga dan anak-anak muda, maka semuanya pun segera dapat diselesaikan. Ketiga sosok mayat itu telah dibawa ke kuburan untuk dikubur sewajarnya. Sementara Ki Waskita telah mengambil dan menyarungkan kerisnya di wrangkanya.

“Jika Rudita melihat bekas darah di kerisku,” katanya di dalam hati. Namun dalam keadaan yang demikian, ia tidak dapat mengambil langkah yang lain. Ia sudah mencoba menghindari kekerasan. Tetapi dalam keadaan yang masih serba kalut di dalam pergeseran peradaban manusia, maka ternyata bahwa ia masih harus membasahi senjatanya dengan darah sesama. Sesama manusia.

Meskipun demikian, persoalan itu masih tetap bergejolak di dalam hati Ki Waskita, bahkan untuk waktu yang lama.

Dengan hati yang buram Ki Waskita pun kemudian merasa wajib untuk minta maaf kepada penghuni rumah itu suami isteri. Ia telah menimbulkan persoalan dan bahkan telah meneteskan darah.

“Aku sama sekali tidak menduga, bahwa orang-orang itu adalah orang yang buas dan sama sekali tidak mengenal perikemanasiaan,” berkata Ki Waskita.

“Sudahlah, Ki Sanak,” berkata penghuni rumah itu, “jangan menyalahkan diri sendiri. Tidak ada orang yang menduga, bahwa akan terjadi malapetaka seperti ini. Kita tentu tidak menduga pula, bahwa ada orang yang berkelakuan seperti itu.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan menyampaikan semuanya ini kepada Ki Gede Menoreh.”

“Apakah Ki Sanak akan pergi ke padukuhan induk dan singgah di rumah Ki Gede?”

“Ya. Aku memang akan pergi ke sana.”

Penghuni rumah itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Ki Gede benar-benar akan mengijinkan beberapa orang anak muda dari padukuhan ini yang menjadi pengawal Tanah Perdikan Menoreh untuk pulang beberapa hari. Meskipun seperti yang Ki Sanak katakan, bahwa mungkin tidak akan ada seorang pun yang akan datang untuk menuntut balas, namun kehadiran mereka akan dapat memberikan ketenangan di hati kami.”

“Aku akan menyampaikannya kepada Ki Gede,” jawab Ki Waskita, “dan agaknya Ki Gede tidak akan berkeberatan.”

Penghuni rumah itu mengangguk-angguk. Namun wajahnya yang pucat sudah mulai dijalari warna merah. Dan bahkan ia pun sudah dapat membantu merawat isterinya yang luka.

Sejenak kemudian Ki Waskita pun segera minta diri untuk meneruskan perjalanan. Ia akan berjalan dengan seorang kawan. Tidak lagi seorang diri.

Seorang dari keempat penyamun yang masih hidup itu, telah menumbuhkan kebencian yang tidak ada taranya. Tetapi anak-anak muda di padukuhan itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa, karena orang itu seolah-olah justru mendapat perlindungan dari Ki Waskita.

Namun sebelum Ki Waskita meninggalkan padukuhan itu, Ia pun berpesan, “Masih ada tiga ekor kuda di sini. Tiga ekor kuda itu akan dapat menumbuhkan persoalan jika ada seseorang yang mengenalinya. Karena itu, hadapkan tiga ekor kuda itu ke hutan rindang di kaki bukit. Kemudian lecutlah mereka, agar mereka berlari meninggalkan tempat ini. Mungkin mereka akan tersesat dan diketemukan oleh orang lain, tetapi di tempat yang jauh, sehingga tidak menjadi daerah jelajah orang-orang semacam keempat orang penyamun ini.”

Orang-orang padukuhan itu ternyata dapat mengerti maksud Ki Waskita. Mereka tidak mau terlibat persoalan di luar kemampuan mereka justru karena ketiga ekor kuda itu.

Karena itulah, maka ketiga ekor kuda itu pun kemudian dilepaskannya sambil mengejutkannya, agar mereka berlari ke arah yang tidak diketahui. Seperti yang dikatakan Ki Waskita, meskipun seandainya ketiga ekor kuda itu kemudian diketemukan oleh seseorang, namun jaraknya di tempat itu tidak akan disentuh oleh kawanan penyamun yang sedang mencari perbekalan untuk sebuah gerombolan yang besar, yang mempunyai cita-cita yang jauh lebih besar dari sekedar mengumpulkan harta benda itu saja.

Dalam pada itu Ki Waskita sendiri melanjutkan perjalanannya ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh bersama seorang di antara keempat penyamun itu.

Tetapi seperti yang telah diduga oleh Ki Waskita, orang itu pun tidak banyak mengetahui tentang usaha para pemimpinnya.

“Kami memang mengetahui bahwa Kiai Kalasa Sawit ada di lereng sebelah Timur Gunung Merapi. Bahkan kami pun sudah mendengar berita apa yang telah terjadi. Kiai Kalasa Sawit telah terdesak dari Tambak Wedi dan hilang di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Sedangkan Kiai Jalawaja telah terbunuh pula di pertempuran itu.”

“Menurut pendengaranmu, siapakah yang lebih penting. Kiai Kalasa Sawit atau Kiai Jalawaja?”

“Aku tidak dapat mengatakannya,” jawab penyamun itu, “tetapi keduanya mempunyai kedudukan tersendiri di dalam gerombolan masing-masing.”

“Dan kau? Siapa namamu dan siapa nama pemimpinmu? Maksudku, pemimpin gerombolanmu yang setingkat dengan Kiai Kalasa Sawit dan Kiai Jalawaja?”

Orang itu termangu-mangu.

“Siapa namamu?” desak Ki Waskita.

“Marta Beluk,” jawab orang itu.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia mengulangi, “Marta Beluk. Kenapa kau disebut Beluk? Mungkin hidungmu yang bengkok seperti burung Gagabeluk itu.”

Orang itu mengangguk kecil. Jawabnya, “Mungkin begitu.”

“Tetapi kau belum menjawab. Siapakah nama pemimpinmu yang setingkat dengan Kiai Kalasa Sawit?”

Orang itu tidak segera menjawab.

“Ki Sanak,” berkata Ki Waskita, “kau sudah berada di tanganku. Kau tentu tidak akan dapat ingkar lagi. Lebih baik berterus terang daripada kau harus mengalami perlakuan yang kurang baik. Mungkin di Tanah Perdikan Menoreh, mungkin di Mataram.”

“Apakah aku akan kau bawa ke Mataram?”

Ki Waskita memandang orang itu sejenak, lalu dengan nada yang dalam ia bertanya, “Apakah kau berkeberatan?”

Orang itu menundukkan kepalanya.

“Orang-orang Mataram bukannya orang yang buas seperti yang barangkali kau bayangkan. Mungkin mereka memerlukan keteranganmu. Mungkin juga satu dua orang pemimpin pengawal akan mencoba memaksamu berbicara. Karena itu, berbicaralah terus terang. Mereka akan memperlakukan kau dengan baik.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.

“Apalagi jika kau mau mengatakan, siapakah pemimpinmu, dengan siapa pemimpinmu itu berhubungan.”

“Aku adalah pengikut yang paling rendah tingkatnya,” jawab orang itu, “yang paling aku kenal adalah pemimpinku yang tadi terbunuh. Pemimpin kelompokku yang setingkat dengan Kiai Kalasa Sawit adalah orang yang tidak banyak diketahui oleh orang-orang terendah seperti aku ini.”

“Tetapi kau mengetahui namanya.”

“Ya.”

“Siapa?”

“Ki Sanak. Apakah nama itu mempunyai arti yang penting bagimu dan bagi Mataram? Aku adalah orang yang paling bodoh. Tetapi aku menganggap bahwa nama seseorang dapat berganti sepuluh kali dalam satu hari. Atau seseorang dapat mempergunakan lima enam nama sekaligus. Di satu tempat ia mempergunakan nama yang satu, di lain tempat nama yang lain lagi.”

“Aku mengerti. Tetapi kau dapat menyebut sebuah nama. Siapa pun. Bahkan seandainya kau berbohong sekalipun, dengan menyebut nama siapa saja yang barangkali tidak ada hubungan sama sekali dengan gerombolanmu, aku pun tidak akan mengetahui kebenarannya”

Orang itu mengerutkan keningnya.

“Seperti juga nama yang kau sebut sebagai namamu.”

Orang itu masih tetap berdiam diri.

“Aku tahu, sebenarnya kau bukan seorang pengecut. Aku tahu, bahwa sebenarnya lebih baik mati itu menerkammu daripada kau menyerah dan dibawa ke Mataram atau Pajang, karena dengan demikian rahasia yang kau simpan akan mungkin dengan cara apa pun juga harus mengalir keluar dari mulutmu.”

“Ya, Ki Sanak,” ia berhenti sejenak, lalu, “eh, barangkali aku dapat menyebut sebuah nama bagimu?”

“Kiai Jalawaja. Aku sudah memakai nama itu. Bukankah seseorang dapat merubah namanya sepuluh kali dalam satu hari?”

“O, ya, ya Kiai,” jawab orang itu, “aku memang tidak pernah bermimpi untuk menyerah. Menyerah bagi seseorang seperti aku ini, berarti siksaan yangt tidak tertanggungkan. Tetapi aku melihat kelainan padamu, sehingga karena itu, aku pun melakukan yang tidak mungkin pernah aku lakukan kepada orang lain.”

Ki Waskita merenung sejenak. Tetapi agaknya memang sulit baginya untuk mengetahui, apakah sebenarnya orang yang dibawa itu seperti yang dikatakannya, tidak tahu-menahu terhadap atasannya.

Sejenak mereka pun kemudian saling berdiam diri untuk beberapa saat. Ki Waskita pun mencoba untuk mempertimbangkan, apakah yang sebaiknya dilakukan atas orang itu. Jika ia membawa ke Menoreh, dan menahan orang itu di rumah Ki Argapati, maka mungkin akan dapat menimbulkan beberapa kesulitan. Dalam kesibukan perelatan, ia akan dapat melupakan orang itu dan jika ada sebuah kesempatan ia akan dapat lari.

“Jika ia akan lari, tentu ia sudah melakukannya,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya. “Ternyata ia tetap berada di tempatnya selagi aku sibuk membantu mengurus isteri pemilik rumah itu.”

Namun kemudian dijawabnya sendiri, “Saat itu ia tidak mempunyai kesempatan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan. Tetapi setelah ia sempat memandang ke dirinya sendiri dan kemungkinan yang dapat terjadi jika ia berada di Menoreh atau di Mataram, ia akan dapat mengambil sikap yang lain. Bahkan mungkin watak yang sebenarnya akan tumbuh kembali, dan sentuhan sesaat atas nuraninya itu pun akan segera larut. Ia dapat lari dan justru memberikan banyak keterangan kepada kawan-kawannya dan pemimpinnya tentang tanah perdikan Menoreh.”

Akhirnya Ki Waskita tidak melihat kemungkinan lain kecuali menyerahkan orang itu ke Mataram.

“Terserahlah orang-orang Mataram. Tentu Ki Gede Menoreh tidak akan berkeberatan. Tentu ia pun tidak akan sempat mengurus orang itu di saat-saat ia sibuk dengan perelatannya.”

Dalam pada itu, orang yang dibawa oleh Ki Waskita itu memang sebenarnya sedang mencoba menilai keadaannya. Ia merasa bahwa ia memang tidak akan dapat melepaskan diri dari tangan Ki Waskita. Ia menyangka bahwa Ki Waskita benar-benar seorang tukang tenung yang akan dapat menenungnya. Seandainya ia lari, maka tukang tenung itu akan dapat membuatnya bingung dan setelah berputar-putar maka ia akan kembali lagi kepadanya. Atau lebih dari itu, tukang tenung itu akan dapat menenungnya menjadi seekor binatang.

“Ia dapat mengadakan yang tidak ada. Apalagi sekedar berubah bentuk. Aku mungkin dapat dijadikannya kera, atau bahkan anjing, atau kerbau. Alangkah mengerikan jika setiap hari aku harus menarik bajak di sawah berlumpur,” katanya di dalam hati.

Semakin dekat mereka dengan induk tanah Perdikan Menoreh, maka orang itu pun menjadi semakin berdebar-debar. Ada penyesalan di dalam hatinya, bahwa ia telah menyerah. Tetapi ia memang tidak mempunyai pilihan lain.

“Kenapa aku tidak mati saja seperti kawan-kawanku itu,” tiba-tiba saja ia berdesah di dalam hatinya.

Tetapi semuanya sudah lewat. Tentu tidak akan mungkin baginya untuk menuntut agar dirinya dibunuh saja oleh orang yang membawanya itu.

“Nampaknya ia tidak senang melakukan kekerasan jika tidak terpaksa,” katanya di dalam hati.

Namun dalam pada itu, Ki Waskita pun mulai menilai dirinya sendiri. Apakah yang dilakukannya itu sudah tepat? Namun yang ditemukan adalah suatu sikap yang goyah pada dirinya. Sikap yang kadang-kadang masih dibumbui oleh kepura-puraan yang seolah-olah dilandasi oleh alasan yang kuat. Yang disusunnya baik-baik untuk mendukung langkahnya.

Tetapi Ki Waskita bukannya orang yang takut melihat ke dalam dirinya. Betapapun pahitnya, ia dengan tengadah melihat hatinya yang penuh cacat.

Sebuah desah yang panjang lewat di kedua lubang hidungnya. Katanya, “Aku masih akan tetap terombang-ambing oleh kelemahanku sendiri. Mudah-mudahan aku segera mendapat keseimbangan. Pengaruh sikap Rudita tidak dapat aku abaikan. Namun aku masih merasa tetap berdiri di atas kenyataan hidup seperti ini.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Di hadapannya telah nampak padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

“Kita akan sampai setelah kita melalui bulak panjang ini,” berkata Ki Waskita kepada orang yang dibawanya itu.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah yang akan terjadi atasku di ujung bulak itu?”

“Kau sebaiknya dibawa ke Mataram. Mataram akan dapat menentukan, apakah yang sebaiknya dilakukan atasmu. Mungkin kau dapat memberikan keterangan, meskipun hanya sepotong kecil. Tetapi mungkin keteranganmu itu bermanfaat bagi mereka.”

“Kenapa aku harus dibawa ke Mataram?” jawabnya. “Ki Sanak. Jika kau masih tetap ragu-ragu, apakah tidak sebaiknya aku kau bunuh saja di sini daripada aku harus menjadi pangewan-ewan di Mataram.”

“Seorang prajurit yang mana pun juga, tidak akan membunuh lawannya yang sudah menyerah. Selebihnya, mayatmu akan membuat aku menjadi bingung, bagaimana aku harus menyelenggarakannya di tengah-tengah bulak ini.”

“Jika kau memang menghendaki, biarlah aku membuat kuburku sendiri. Aku akan menggali lubang yang dalam di tempat yang sepi. Bunuhlah aku dan kau tinggal menimbuni mayatku saja.”

“Kau memang aneh. Rasa-rasanya aku tidak dapat mengerti sifat-sifatmu.”

“Aku menyesal bahwa kau tidak membunuhku seperti ketiga kawan-kawanku. Dan aku menyesal bahwa aku telah menyerah. Jika aku tidak menyerah, mungkin kau sudah membunuhku. Itu agaknya lebih baik daripada menjadi tawanan di Mataram.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia dapat mengerti, betapa seorang yang sudah menempatkan diri dalam lingkungan seperti orang itu, harus menyerah dan menjadi tawanan.

Tetapi dalam pada itu Ki Waskita berkata, “Ki Sanak. Sebenarnya kau tidak sendiri. Nasib yang serupa banyak menimpa anak buah Kiai Kalasa Sawit, Tetapi mereka tidak berada di Mataram karena yang menangkap mereka adalah prajurit-prajurit Pajang. Sedangkan kau akan berada di tangan para pengawal di Mataram.”

Orang itu memandang Ki Waskita sejenak. Lalu, “Memang antara Pajang dan Mataram tidak akan banyak bedanya. Setiap tawanan akan mengalami perlakuan yang tidak diinginkannya. Karena itu, aku sama sekali tidak ingin menjadi tawanan.”

“Tetapi kau sudah menjadi tawanan.”

“Masih ada satu cara. Mati. Dan kematian itu akan menghapus bukan saja penderitaan tetapi juga penyesalan.”

“Kau mempunyai kesempatan untuk melarikan diri di perjalanan. Apakah kau tidak ingin mencobanya.”

“Sudah aku katakan, tidak ada gunanya. Kau dapat menenungku. Membuat diriku menjadi apa saja.”

Ki Waskita terdiam. Orang itu sangat terpengaruh oleh bentuk-bentuk semu yang sudah dibuatnya. Bahkan agak berlebih-lebihan.

Sejenak kemudian, mereka pun telah berada di mulut lorong di induk padukuhan Tanah Perdikan Menoreh. Ketika mereka melintasi dua orang anak-anak muda yang berada di luar regol, Ki Waskita mengangguk sambil bertanya, “Apakah kalian sudah mengenal aku?”

“Sudah, Kiai. Kami sudah mengenalnya. Silahkan Kiai berjalan terus.”

Ki Waskita dan tawanannya yang sama sekali tidak menunjukkan ciri-cirinya sebagai tawanan itu pun berjalan terus menuju ke rumah kepala Tanah Perdikan Menoreh.

“Aku akan menjadi gila,” desis tawanan itu, “apakah aku akan disimpan di Menoreh dahulu, sebelumnya aku dibawa ke Pajang?”

“Ya. Kau akan berada di Tanah Perdikan Menoreh untuk satu dua hari. Akulah tentu yang akan membawamu ke Mataram.”

“Persetan,” ia menggeram, “Kiai, bunuhlah aku sekarang jika kau memang laki-laki.”

“Aku tidak mau.”

“Ternyata kau tidak berbeda dengan orang lain. Kau sudah membunuh tiga orang kawanku. Tetapi kau merasa berdosa untuk melakukan yang ke empat. Apakah itu adil? Kenapa kau bunuh juga ketiga anak-anak itu jika sebenarnya kau tidak ingin membunuh.”

“Kelakuan mereka sudah terlampau melangkahi batas. Jika saja mereka berkelakuan sedikit terkendali, mungkin aku tidak akan membunuh mereka. Tingkah laku mereka dan luka di badan isteri pemilik rumah itu membuat aku kehilangan pengamatan diri.”

“Apa bedanya dengan kelakuanku?”

“Penyerahan yang kau lakukan adalah pertaubatan yang telah menyelamatkan nyawamu. Itulah sebabnya aku merasa bersalah jika aku masih juga membunuhmu.”

“Aku sekarang akan melawanmu.”

“Itu justru karena ketakutanmu menghadapi kenyataan yang akan terjadi menurut angan-anganmu.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.

Demikianlah mereka tidak banyak berbicara lagi. Mereka menjadi semakin dekat dengan regol rumah Ki Gede Menoreh yang nampak semakin ramai menjelang hari perkawinan Pandan Wangi.

“Kita akan mengunjungi sebuah rumah yang siap mengadakan perelatan,” desis Ki Waskita.

“Aku akan lari jika ada kesempatan. Atau kau membunuh aku sebelum aku melakukannya.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Pertentangan di dalam dirimu adalah suatu pertanda yang baik. Jangan cemas menatap hati sendiri. Keragu-raguanmu dapat kau manfaatkan untuk memperbaiki semua tingkah lakumu. He, bukankah kau tidak takut mati? Kenapa kau takut melihat perubahan yang terjadi di dalam dirimu sendiri? Jika pada suatu saat kau berada di Mataram, kau tidak akan lagi merahasiakan sesuatu. Kau akan menjadi terbuka karena penyesalan dan niatmu menebus semua kesalahan yang pernah kau lakukan.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi semakin tunduk. Apalagi ketika mereka sudah sampai di muka pendapa.

“Di sini kau bukannya tawananku. Kau adalah seorang pembantuku yang ikut bersamaku mengunjungi dan membantu perelatan ini.”

Orang itu menarik nafas. Tetapi ia tidak sempat berpikir. Namun demikian ia masih bertanya, “Tetapi siapakah namamu?”

Ki Waskita tertawa. Katanya, “Panggil aku Waskita. Ki Waskita.”

Keduanya tidak sempat berbicara lagi. Beberapa orang telah menyongsong mereka dan mempersilahkan mereka masuk.

“Aku tidak seorang diri,” berkata Ki Waskita, “aku datang bersama seorang pembantuku.”

Beberapa orang mengerutkan keningnya. Mereka sejenak termangu-mangu melihat orang yang disebut pembantu Ki Waskita itu. Meskipun tatap matanya tidak lagi nampak liar, tetapi masih ada kesan, betapa orang itu berwajah sekeras batu padas di pegunungan.

Ki Waskita menyadari pula. Cara berpakaian orang itu pun agak berbeda. Tetapi sekali lagi ia tekankan, “Ia adalah pembantuku yang paling dungu. Tetapi ia mempunyai kecakapan untuk membuat tarub dan hiasan-hiasan janur yang lain.”

Orang itu hanya menarik nafas saja. Dipandanginya setiap orang di regol itu dengan sudut matanya. Rasa-rasanya ia tidak berani menatap wajah-wajah yang memandanginya dengan penuh pertanyaan di dalam dada.

Kedatangan mereka berdua segera disambut dengan wajah-wajah yang cerah dari keluarga Ki Gede Menoreh yang kecil, seperti kehadiran keluarga-keluarganya yang lain. Bahkan lebih dari itu karena Ki Waskita mempunyai beberapa kelebihan dari saudara-saudara yang lain itu.

“Aku membawa seorang kawan,” berkata Ki Waskita, “biarlah ia berada di belakang. Ia dapat membantu membuat tarub atau kerja kasar yang lain.”

“O,” Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk, “di sini sudah banyak tenaga yang dapat membantu sanak kadang yang menyiapkan tarub dan uba rampe. Biarlah kawan Ki Waskita itu beristirahat lebih dahulu. Mungkin ada kerja yang sesuai dengannya nanti.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Tetapi ia masih berkata, “Mungkin mengambil air, mengisi jambangan didapur atau pakiwan.”

“Biarlah ia beristirahat dahulu, Ki Waskita,” sahut Ki Gede. Namun demikian, Ki Gede tidak dapat menyembunyikan pertanyaan yang membersit di hatinya tentang orang itu.

Tatapan mata yang aneh itu rasa-rasanya semakin menyiksa orang yang datang bersama Ki Waskita itu. Rasa-rasanya bukan saja di Mataram ia akan dijadikan pengewan-ewan. Tetapi di Tanah Perdikan Menoreh, ia sudah mulai menjadi tontonan yang aneh.

“Gila,” ia menggeram, “kenapa aku tidak dibunuhnya saja?”

Tetapi ia sadar, bahwa Ki Waskita memang bukan seorang pembunuh.

Setelah duduk sejenak dan saling menceriterakan keadaan masing-masing dan keluarganya, maka Ki Waskita pun kemudian dipersilahkan beristirahat di gandok bersama orang yang dibawanya itu.

“Kau dapat beristirahat di sini. Nanti kau akan mendapat kerja yang sesuai dengan kemampuanmu,” berkata Ki Waskita.

“Aku tidak dapat membuat tarub,” sahut orang itu.

“He, lalu apa yang dapat kau lakukan?”

“Aku tidak pernah berbuat apa-apa. Aku juga tidak pernah mengambil air dan apalagi kerja kasar yang lain.”

Ki Waskita menarik nafas. Katanya, “Kau terlalu biasa mendapatkan nafkah dengan cara yang paling buruk, meskipun dengan dalih apa pun juga. Dengan dalih perjuangan untuk menempatkan trah Majapahit kembali atau alasan apa pun. Tetapi cara itu harus berubah. Kau tidak akan dapat melakukannya sepanjang umurmu. Karena itu, belajarlah hidup sewajarnya seperti kebanyakan orang. Bekerja keras dan bahkan mungkin bekerja keras tanpa mengenal lelah. Dengan demikian maka kau akan menemukan kehidupan yang wajar, meskipun melelahkan, tetapi kau akan mendapat ketenangan, dan ketenteraman hati.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.

“Sekarang beristirahatlah. Aku akan membersihkan diri dan barangkali aku masih akan membicarakan masalan perkawinan anak Ki Gede sejenak di pendapa. Tinggal sajalah di sini. Jika aku atau Ki Gede memerlukanmu, kau akan aku panggil.”

Orang itu tidak menjawab. Dipandanginya wajah Ki Waskita sejenak. Namun wajah itu pun segera tertunduk.

Namun ketika Ki Waskita melangkah ke luar dari bilik itu, orang itu pun berdesis, “Kenapa kau bersikap aneh?”

“Apakah yang aneh?”

“Kau biarkan aku sendiri di sini. Padahal kau tahu bahwa aku akan segera melarikan diri.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Aku menyerahkannya kepadamu. Jika kau ingin lari, larilah. Mungkin kau akan kembali ke dalam kehidupan yang telah kau hayati beberapa lamanya. Tetapi jika kau ingin mengenyam hidup baru, kau dapat melakukannya. Karena hidup yang lama tidak akan memberikan apa-apa lagi kepadamu, selain kebencian, dendam, dan kemaksiatan yang akan menyeretmu ke dalam kebinasaan yang kekal.”

Orang itu memandang Ki Waskita sekilas. Namun kepalanya pun segera tertunduk kembali.

Ki Waskita tidak menghiraukannya lagi. Ia pun segera pergi ke pendapa untuk menjumpai Ki Gede Menoreh setelah berganti pakaian yang kotor oleh debu dan noda-noda darah yang untungnya sudah mengering, sehingga tidak banyak menarik perhatian. Agaknya perempuan yang luka itulah yang telah menodai pakaiannya dengan percikan darahnya, ketika ia membantu menolongnya.

Ternyata bahwa Ki Waskita tidak berbohong kepada Ki Gede Menoreh. Dalam satu kesempatan, tanpa didengar oleh orang lain, juga Pandan Wangi, Ki Waskita pun segera menceriterakan apa yang sudah terjadi atas dirinya di perjalanan, dan siapakah sebenarnya orang yang dibawanya itu.

Ki Gede mengerutkan keningnya. Dengan wajah yang tegang ia bertanya, “Dan apakah Ki Waskita membiarkannya tanpa pengawasan?”

“Ia tidak akan lari,” jawab Ki Waskita.

Di luar sadarnya Ki Gede pun memandang ke pintu gandok sebelah. Ia melihat orang itu berdiri termangu-mangu di sisi pintu sambil memandang Ki Waskita, seolah-olah ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.

Agaknya Ki Waskita pun menyadari bahwa Ki Gede masih tetap ragu-ragu. Namun demikian Ki Waskita juga melihat, bahwa agaknya ada sesuatu yang akan dikatakan oleh orang itu kepadanya.

“Ki Gede,” berkata Ki Waskita, “aku akan bertanya kepadanya. Mungkin ia ingin mengatakan sesuatu.”

“Aku juga melihat kegelisahan itu,” sahut Ki Gede.

“Ia memang gelisah sejak ia mengikuti aku. Ia ingin mati saja daripada menjadi tawanan orang Mataram.”

“Dan ia minta Ki Waskita membunuhnya?”

“Ya. Tetapi aku berkeberatan. Dan karena sentuhan perasaan itulah maka aku yakin ia tidak akan lari. Ia merasa berhutang sesuatu kepadaku. Betapa pun jahatnya, orang ini agaknya masih mempunyai perasaan juga. Tetapi mungkin juga karena hatinya memang terlalu lemah sehingga ia tidak dapat menolak ketika ia terdorong ke dalam lingkungan yang hitam.”

Ki Gede menangguk-angguk. Rasa-rasanya ia pun sependapat, bahwa kadang-kadang seseorang tidak memiliki ketetapan hati. Bahkan tidak dapat berdiri teguh pada sikapnya meskipun ia mengerti, bahwa ia sedang menuju ke dalam kesakitan.

Ki Waskita pun kemudian meninggalkan tempatnya mendekati tawanannya yang berdiri termangu-mangu di depan pintu gandok.

“Apakah ada sesuatu yang akan kau katakan?” bertanya Ki Waskita.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku merasa diriku seperti berada di dalam tungku api.”

“Kenapa?”

“Setiap orang memandangku seperti memandang hantu. Rasa-rasanya setiap bibir mencibir kepadaku dan jika aku melihat dua orang atau lebih bercakap-cakap, rasa-rasanya mereka sedang mempercakapkan aku.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam.

“Kiai,” berkata orang itu kemudian, “apakah tidak ada cara yang lebih baik untuk menghukumku daripada cara yang Kiai tempuh ini?”

“Aku tidak menghukummu,” jawab Ki Waskita.

“Tetapi rasa-rasanya aku tersiksa lebih parah dari dilecut dengan penjalin.”

“Lalu, apakah pendapatmu?”

“Jika Kiai mengijinkan, apakah aku dapat Kiai serahkan saja kepada seseorang untuk melakukan kerja apa saja yang diperintahkannya seperti yang Kiai katakan kepada Ki Gede, tetapi yang terpisah dari orang-orang lain?”

“Ah,” desis Ki Waskita, “coba katakan, kerja apakah yang kau maksud.”

Orang itu termenung sejenak. Lalu, “Misalnya membuat tali tutus. Bukankah dalam kerja ini diperlukan banyak tali tutus bambu apus. Aku dapat ditempatkan di sudut belakang kebun ini. Aku akan membuat tali sebanyak-banyaknya. Meskipun aku tidak biasa melakukannya, tetapi aku dapat.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Lucu sekali. Kau datang sebagai pembantuku ke rumah ini, hanya untuk membuat tutus.”

“Itu di hari pertama. Bukankah kita akan berada di sini lebih dari satu hari?”

Ki Waskita termangu-mangu.

“Apakah Kiai takut bahwa aku akan lari?”

“Aku tidak peduli, apakah kau akan lari atau tidak. Jika kau memang akan lari, aku banyak memberi kesempatan itu. Tetapi aku tidak menghendaki kau lari, karena aku akan membawamu ke Mataram.”

“Itu adalah siksaan yang tidak ada taranya. Sudah aku katakan bahwa lebih baik aku kau bunuh saja.”

“Kau selalu mengulang-ulang. Aku menjadi jemu karenanya. Lebih baik kau berkata sesuatu yang bermanfaat.”

“Beri aku pekerjaan itu, yang tidak selalu menjadi tontonan orang.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku akan mengatakan kepada Ki Gede.”

Seperti yang dikatakannya, maka Ki Waskita pun kemudian menyampaikannya pula kepada Ki Gede yang masih berada di pendapa.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian katanya, “Baiklah, Ki Waskita. Biarlah aku membawanya ke kebun belakang. Tetapi sebenarnyalah nanti jika kita mulai memasang tarub dan tratag, kita memerlukan banyak tali tutus. Tetapi sebenarnya tidak perlu seseorang yang khusus membuatnya.”

“Ia dalam kebingungan.”

“Baiklah. Aku akan menyetujui jika Ki Waskita sendiri tidak berkeberatan atas permintaan itu.”

Demikianlah maka Ki Gede pun membawa orang itu bersama Ki Waskita ke kebun agak jauh di belakang, ke dekat serumpun bambu apus yang nampak subur dan rimbun.

“Terima kasih,” berkata orang itu, “di sini aku akan merasa tenang. Tidak banyak orang yang memperhatikan aku.”

“Di sana ada sumur,” berkata Ki Waskita.

“Hanya satu dua orang saja yang pergi ke sumur. Namun agaknya mereka tidak akan memperhatikan aku.”

“Terserahlah kepadamu,” sahut Ki Waskita kemudian, “membuatlah tutus sebanyak-banyaknya. Kau dapat menebang batang bambu apus itu dan membuatnya. Memang saatnya nanti, tutus akan banyak diperlukan.”

Namun dalam pada itu, ketika orang itu ditinggalkan di kebun belakang seorang diri, tanpa disangka-sangka telah hadir pula orang yang sama sekali tidak dikehendaki, baik oleh Ki Waskita mau pun oleh orang itu sendiri.

Di luar dugaan orang yang sedang sibuk menebang batang-batang bambu apus itu, dua orang telah mengamatinya dari kejauhan.

“Apakah kita akan mendekat?” bertanya salah seorang dari keduanya.

Yang lain ragu-ragu. Tetapi kemudian berdesis, “Bagaimana mungkin ia ditinggalkan seorang diri di kebun itu?”

“Memang aneh. Tetapi baiklah kita mencoba mendapat keterangan daripadanya.”

Kedua orang itu pun kemudian melangkah mendekat. Mereka menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya orang yang sedang menebang batang-batang bambu itu. Kemudian diedarkan tatapan mata kedua orang itu berkeliling.

“Apakah ini sekedar pancingan, sehingga apabila seseorang mendekatinya, akan ditangkap pula?”

“Pintu butulan dinding penyekat halaman itu tertutup,” desis yang lain.

Keduanya memandang pintu butulan pada dinding penyekat yang tinggi, yang membatasi kebun belakang itu dengan bagian belakang halaman rumah Ki Gede Menoreh. Sedangkan kebun yang luas, hanyalah dikelilingi oleh dinding batu yang tidak melampaui pundak. Karena itulah, maka dari balik rimbunnya pohon-pohon perdu di kebun yang lain, kedua orang itu dapat melihat tawanan yang sedang menebang batang bambu itu.

“Jika ini sebuah jebakan, apa boleh buat.”

Keduanya pun segera berusaha mendekat. Dengan hati-hati mereka menjenguk dinding batu yang tidak begitu tinggi itu.

“Sst, sst,” desis salah seorang dari keduanya.

Orang yang sedang menebang batang bambu itu berpaling. Namun ia pun menjadi terkejut melihat dua orang yang menjenguk dinding batu itu.

“Kau,” desisnya.

“Kemarilah. Apakah kau dalam pengawasan.”

“Tidak,” jawab orang itu. Tetapi ia melangkah mendekati dua orang di luar dinding itu.

“Bagaimana kau dapat mengetahui bahwa aku ada di sini?”

“Kami hanya mendapat petunjuk ke arah mana kau pergi.”

“Dan kau menemukan aku di sini?”

“Ketika aku melalui jalan di depan rumah Ki Gede Menoreh, secara kebetulan aku melihatmu. Aku tidak tahu, apakah yang kau lakukan di sana. Kami kemudian menyingkirkan kuda kami di luar padukuhan dan kembali ke mari. Dari jalan sebelah aku melihat kau berada di sini, sehingga aku berusaha untuk mendekat.”

“Dari siapa kau mengetahui tentang aku?”

“Kami menyelusuri jalan yang kau tempuh sampai ke padukuhan yang menjadi ajang pembantaian ketiga kawan-kawan kita. Setiap orang mengetahuinya apa yang telah terjadi di sana. Di sebuah warung aku mendengar peristiwa itu. Sebelum jejak kudamu hilang, aku telah mencoba mengikutinya sampai ke padukuhan induk ini.”

“Dan kau yakin bahwa ceritera yang kau dengar di warung itu benar-benar telah terjadi atas kami berempat?”

“Meyakinkan sekali. Dan aku benar-benar menemukan kau seorang diri di sini.”

Orang yang sedang menebang batang-batang bambu itu termangu-mangu. Demikian cepatnya peristiwa itu dapat didengar oleh kawan-kawannya. Meskipun orang-orang padukuhan itu berusaha menyembunyikan jejak dengan melepaskan kuda-kuda kawannya yang terbunuh, namun ceritera dari mulut ke mulut yang menjalar, telah memungkinkan kawan-kawannya yang lain mengetahui apa yang telah terjadi. Dan kini dua orang dari mereka telah rnenyusulnya.

Sejenak terkilas di dalam ingatannya, bahwa sudah menjadi kebiasaan di dalam lingkungannya untuk saling mencurigai dan saling mengawasi. Pemimpinnya, yang telah memerintahkannya menyamun sepanjang jalan, agaknya telah mengirimkan dua orang untuk meyakinkan apa yang telah dilakukannya. Dan agaknya dua orang itu dengan segera dapat mengetahui bahwa tiga dari antara mereka yang diperintahkan untuk mencari apa yang mereka sebut dana bagi perjuangan yang agung itu telah mati terbunuh. Sedang yang seorang telah ditawan.

“He,” desis kawannya yang berada di luar dinding, “jangan termangu-mangu saja. Marilah kita pergi. Kau mendapat banyak kesempatan sekarang.”

Orang yang sedang menebang batang-batang bambu itu ragu-ragu. Tiba-tiba saja terbersit suatu keinginan untuk menempuh suatu cara hidup yang baru meskipun ia belum mengetahui bentuknya.

“Cepat. Kenapa kau menjadi linglung?”

“Aku sedang berpikir,” jawab orang yang berada di dalam dinding itu.

“Apa yang kau pikirkan? Kau mendapat kesempatan untuk lari. Marilah. Marilah. Di luar padukuhan ini ada seekor kuda. Seekor dari keduanya dapat kita pergunakan berdua.”

Orang itu masih saja ragu-ragu. Katanya kemudian, “Ada sesuatu yang telah menyentuh hatiku. Aku memang mendapat banyak kesempatan untuk lari sejak semula. Tetapi aku tidak berani melakukannya. Orang yang menangkapku adalah seorang tukang tenung.”

“Tukang tenung?”

“Ya. Atau mungkin tukang sihir. Ia dapat membuat apa saja yang dikehendaki. Ketiga orang kawan kita yang mati itu tentu ditenungnya pula.”

“Dan kau?”

“Aku terpaksa menyerah. Bukan karena takut mati. Tetapi aku takut ditenungnya atau disihirnya menjadi kerbau atau lembu, atau bahkan kuda.”

“Kita lari di luar pengetahuannya.”

“Aku tidak yakin bahwa aku dapat melakukannya. Mungkin di luar sadarku aku akan kembali lagi kepadanya dan disihir menjadi binatang melata, atau apa pun juga.”

Kedua kawannya yang berada di luar dinding mengerutkan keningnya. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari keduanya berkata, “Kau dipengaruhi oleh kecemasanmu sendiri. Tidak mungkin seseorang dapat melakukannya.”

“Kami melihat dan mengalami bagaimana barang-barang yang sebenarnya tidak ada, rasa-rasanya ada di tangan kami. Kemudian hadir seorang anak-anak yang aneh yang ternyata tidak ada sama sekali.”

Kawannya yang lain pun berkata, “Orang itu mungkin dapat menimbulkan bentuk-bentuk yang nampaknya ada tetapi sebenarnya tidak ada. Tetapi sudah tentu tidak akan dapat merubah bentuk yang memang sudah ada, karena sebenarnya ujud yang nampak, yang sebenarnya tidak ada itu hanyalah sekedar pengaruh kemampuan ilmu yang langsung mempengaruhi syaraf kita.”

“Kau mungkin tidak percaya.”

“Barangkali demikian. Tetapi marilah. Selagi orang itu tidak ada. Seandainya ia dapat menenung, maka itu hanya dapat dilakukan di bawah matanya.”

Orang yang berada di dalam dinding batu ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Tetapi sebenarnya bukan hanya sekedar sentuhan ketakutan, tetapi ada sentuhan yang lain.”

“Apa?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Orang itu adalah orang yang luar biasa. Ia dapat membunuh tiga orang kawanku dalam perkelahian yang dahsyat, tetapi ia sama sekali tidak berpijak kepada kemampuan ilmu yang luar biasa itu. Ilmu olah kanuragan dan sekaligus ilmu tenung entah sihir atau jenis ilmu apa pun.”

“Apa maksudmu?”

“Ketika kami mula-mula merampoknya, ia menyerahkan barang-barang yang sebenarnya tidak ada. Bukan karena ketakutan, tetapi kemudian aku tahu, bahwa sebenarnya ia menghindari perselisihan. Hal ini semakin aku yakini, ketika kami menyusulnya. Ia mencoba bersembunyi di dalam sebuah rumah. Juga sekedar untuk menghindari perkelahian, bukan karena ketakutan. Tetapi ketika perasaan keadilannya tersinggung, karena pemimpin kami menyakiti orang yang telah menyembunyikannya, maka tiba-tiba ia kehilangan kesabaran dan mulai mempergunakan kekerasan yang sebenarnya sudah dihindarinya.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang seorang kemudian bertanya, “Lalu apa maumu sebenarnya?”

“Sikapnya sangat menarik perhatian. Sebenarnya aku ingin mempelajari tata kehidupan yang lain dari tata kehidupan yang pernah aku tempuh. Aku jadi teringat kepada kehidupan di kampung halaman sebelum aku ikut dalam pengembaraan.”

Kedua kawannya menjadi tegang.

“Jadi kau mencoba untuk memisahkan diri?”

“Aku tidak tahu apakah yang sebaiknya aku lakukan?”

“Marilah, jangan terpengaruh oleh hal-hal yang tidak masuk akal seperti itu.”

“Tiba-tiba saja aku telah dicengkam oleh kerinduan kepada hidup yang sewajarnya, tidak selalu diburu oleh sikap kekerasan dan kebencian. Orang yang memiliki kemampuan jauh di atas kemampuanku masih mencoba menghindarkan diri dan perkelahian yang pasti akan dapat dimenangkannya. Bukankah dengan demikian kekerasan memang harus dihindari.”

“Hatimu miyur seperti daun ilalang.”

“Mungkin.”

“Tetapi kau tidak dapat berkhianat kepada pimpinan kita yang telah bertekad untuk memenangkan perjuangan ini. Kau harus menyadari, bahwa perjuangan memang memerlukan pengorbanan.”

Orang itu termenung sejenak. Lalu tiba-tiba saja ia bertanya, “Sebenarnya apakah yang harus kita perjuangkan?”

“Gila,” geram yang lain, “kau memang ingin berkhianat.”

“Tidak. Aku tidak akan berkhianat. Aku akan tetap diam. Bahkan aku sedang berpikir, jika aku benar-benar akan diserahkan kepada prajurit-prajurit Mataram, aku akan membunuh diri. Tetapi jika aku dibiarkannya hidup seperti sekarang ini mungkin aku akan tertahan untuk hidup terus tanpa mengkhianati kalian.”

Kedua orang itu tiba-tiba saja saling berpandangan dengan sorot mata yang aneh. Bahkan yang seorang dari mereka pun kemudian berkata, “Aku memperingatkan kau sekali lagi. Tinggalkan tempat ini. Kau dapat dikirim ke Mataram atau Pajang. Di tangan orang-orang Mataram dan Pajang, kau tidak akan dapat mengelak lagi. Kau akan diperas sampai darahmu kering jika kau tidak mau mengatakan apa pun juga yang kau ketahui tentang kami.”

“Aku akan dapat bertahan. Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa sama sekali.”

“Karena kau belum mengalami tekanan badaniah yang keras. Nah, sekarang aku minta untuk yang terakhir kalinya. Selagi belum ada orang lain yang mengetahuinya, marilah kita pergi.”

Keragu-raguan yang sangat, nampak pada wajah orang itu. Dipandanginya dua orang kawannya itu berganti-gartti. Namun, di luar dugaan kedua orang kawannya itu, ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Sudahlah. Tinggalkan aku di sini. Aku ingin mencari jalan yang barangkali tepat bagiku. Mungkin aku akan kembali, tetapi mungkin aku akan memilih jalan lain. Tetapi aku sama sekali tidak akan berkhianat, karena masih ada jalan yang mungkin aku tempuh. Membunuh diri.”

“Kau benar-benar sudah gila. Jika kau memang ingin membunuh diri, lakukanlah sekarang, supaya aku yakin bahwa kau sudah mati. Dengan demikian maka tidak ada kemungkinan bagimu untuk berkhianat lagi.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Keragu-raguan yang makin tajam telah menghunjam ke pusat jantung.

Dalam pada itu, kedua kawannya yang masih ada di luar dinding yang tidak terlalu tinggi itu nampak menjadi semakin gelisah. Satu dua orang yang lewat memperhatikan mereka sejenak, namun mereka tidak menghiraukannya lagi.

“Cepatlah mengambil keputusan. Ikut bersama kami atau membunuh diri.”

“Bagaimana jika kedua-duanya tidak dapat aku lakukan sekarang?”

Kedua kawannya saling berpandangan sejenak. Yang seorang kemudian berkata, “Jangan memaksa kami mengambil jalan ketiga.”

“Jika itu kau anggap baik?”

“Cara itu sebenarnya membuat hatiku sedih. Kau tahu, bahwa aku mendapat tugas mengamati tugas yang kau lakukan. Aku memang mendapat wewenang penuh untuk mengambil keputusan. Ternyata bahwa hal ini sudah terjadi.”

“Ambillah keputusan.”

“Apakah aku harus membunuhmu? Itu sama sekali tidak menyenangkan. Kau adalah kawanku. Kau dan aku pernah mengalami pahit getir di medan yang beraneka. Sekarang apakah aku akan sampai hati membunuhmu?”

“Aku pernah melakukannya juga. Ketika aku harus mengamati tugas sekelompok kawan kita di daerah Utara. Tiba-tiba saja mereka telah disergap oleh beberapa orang pengawal. Dua orang di antara kawan kita tertangkap hidup-hidup meskipun mereka luka parah. Akulah yang membunuh mereka di malam hari dengan paser beracun. Nah, sekarang lakukanlah tugasmu sebaik-baiknya.”

“Gila. Kau memang sudah gila. Tukang sihir itu sudah menyihir otakmu.”

“Mungkin kau benar. Aku merasa kehilangan sebagian dari kesadaranku. Aku tidak tahu pasti, apa yang sebaiknya aku lakukan. Kadang-kadang aku merasa muak berada di sini. Tetapi kadang-kadang aku merindukan hidup yang sewajarnya seperti orang-orang yang tinggal di padukuhan ini. Mereka rasa-rasanya hidup tenang dengan keluarga mereka seperti yang pernah aku alami sebelum aku berada di antara kalian.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi mungkin juga tukang tenung itu sudah membuat aku menjadi linglung seperti sekarang ini.”

“Marilah. Kau akan sembuh setelah tiga hari tiga malam kau tidak berada di bawah sorot matanya. Kau akan menyadari sepenuhnya keadaanmu.”

Orang itu menjadi semakin ragu-ragu. Namun kemudian kepalanya digelengkannya, “Aku tidak dapat.”

“Gila. Kau jangan memaksa aku untuk bertindak lebih jauh dari sikapku ini.”

Tetapi sekali lagi ia menggeleng. Katanya, “Lakukanlah yang harus kau lakukan. Aku tidak tahu, apakah aku masih akan dapat menguasai diriku sendiri dan dapat menguasai kehendakku. Aku merasa seolah-olah aku telah kehilangan diri sendiri.”

Karena orang itu saling berpandangan sejenak. Yang seorang berkata, “Tidak ada harapan lagi. Apa boleh buat.”

Yang lain menarik natas dalam-dalam. Katanya, “Sungguh suatu saat perpisahan yang tidak akan dapat aku lupakan.”

“Aku sudah siap,” berkata orang yang berada di dalam dinding.

“Baiklah. Barangkali kau benar-benar telah berputus asa. Kau agaknya telah diracun oleh sikap dan perbuatan yang selama ini tidak kau mengerti. Atau barangkali benar katamu, bahwa kau sudah disihirnya.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Aku akan membunuhmu dengan cara yang selalu kita lakukan.”

“Kau membawa paser beracun?”

“Ya. Tetapi aku minta kau membelakangi aku, agar aku tidak ragu-ragu.”

Orang yang berada di dalam halaman itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi seperti yang dikatakannya sendiri, nalarnya bagaikan mengambang. Ia tidak lagi dapat meyakini apa yang sedang dilakukannya.

Namun dalam pada itu, selagi orang-orang itu dicengkam oleh keragu-raguan, tiba-tiba saja pintu butulan pada dinding penyekat yang agak tinggi terbuka. Seorang gadis yang muncul dengan tergesa-gesa tertegun melihat tiga orang yang berada di bawah rumpun bambu, meskipun yang dua orang dari mereka berada di luar dinding.

Sejenak gadis itu termangu-mangu. Dipandanginya ketiga orang itu dengan saksama.

“Siapa gadis itu?” desis salah seorang yang berada di luar dinding.

“Gadis itulah yang akan kawin beberapa hari mendatang,” jawab orang yang berada di dalam, “namanya Pandan Wangi.”

“O,” desis orang yang diluar, “kenapa tiba-tiba saja ia kemari?”

“Aku tidak tahu.”

Ternyata Pandan Wangi yang heran melihat ketiga orang itu justru mendekatinya. Ia mengenal yang seorang dari antara mereka. Orang yang datang bersma Ki Waskita. Namun sikapnya yang aneh telah menarik perhatiannya.

Melihat kehadirannya, ketiga orang itu menjadi semakin gelisah. Bahkan diluar sadarnya orang yang datang bersama Ki Waskita itu bertanya, “Apa yang kau cari di sini?”

“Sebenarnya aku akan mengambil daun sirih yang tumbuh di seputar sumur itu. Tetapi, apakah ada persoalan pada kalian bertiga.”

“Tidak. Tidak ada persoalan apa pun juga.”

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Yang nampak olehnya hanyalah bagian atas dari kedua orang yang berada di luar dinding. Tetapi ia belum mengenal sama sekali keduanya.

Namun ternyata kedatangan Pandan Wangi telah sangat menggelisahkan kedua orang yang berada di luar kebun yang dibatasi oleh dinding batu yang tidak terlalu tinggi itu. Bahkan salah seorang dari mereka bertanya, “Kenapa kau mendekat ke mari?”

Pandan Wangi bukanlah gadis kebanyakan. Ia mempunyai ketajaman perasaan yang mengagumkan. Itulah sebabnya, maka pertanyaan orang itu terasa aneh baginya.

“Ki Sanak,” berkata Pandan Wangi kemudian, “jika kau mempunyai kepentingan dengan kami atau salah seorang keluarga kami, marilah, silahkan masuk.”

“O, tidak. Aku hanya ingin berbicara sedikit dengan seorang kawanku yang ternyata berada di sini.”

“Jika kalian ingin juga bertemu dengan Ki Waskita, tentu kalian dapat melakukannya. Atau barangkali aku harus memanggilnya?”

“Siapakah Ki Waskita itu?”

“O,” orang yang berada di dalam lingkaran dinding batu itu menyahut dengan tergesa-gesa, “kawan-kawanku ini tentu tidak mengenal Ki Waskita, karena mereka tidak mempunyai hubungan apa pun dengannya.”

Pandan Wangi mengangguk-angguk, “Aku kira kalian berasal dari satu padukuhan, juga dengan pamanku itu.”

“Tidak. Tidak,” salah seorang yang di luar menyahut.

Tetapi dengan demikian, Pandan Wangi melihat gelagat yang aneh pada mereka. Karena itulah maka ia pun justru mendekat sambil berkata, “Aku mengharap kalian masuk. Kalian tentu bukan orang dari padukuhan induk ini, ternyata aku belum pernah mengenal kalian. Karena itu, kedatangan kalian ke tempat ini tentu bukannya hanya kebetulan saja.”

Kedua orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Salah seorang dari keduanya berbisik, “Gadis ini akan mengganggu tugas kita.”

“Jangan hiraukan,” desis yang berada di dalam halaman.

“Ia pun harus dibungkam. Ia akan dapat menjerit dan merusakkan rencana kita.”

“Jangan,” sahut yang di dalam, “ia akan kawin beberapa hari lagi. Biarlah ia menikmati hari-hari bahagianya.”

“Itu bukan urusanku.”

“Kau dapat menunda rencanamu barang beberapa saat. Ia tidak akan lama berada di kebun ini.”

Meskipun mereka seakan-akan hanya saling berbisik, namun ketajaman perasaan Pandan Wangi dapat menangkap, bahwa sesuatu yang gawat akan terjadi. Karena itulah maka justru ia melangkah semakin dekat.

“Jangan mendekat,” tiba-tiba orang yang telah datang bersama Ki Waskita itu mencegah.

“Kenapa?” bertanya Pandan Wangi.

“Aku sedang menebangi batang-batang bambu. Kau akan terkena lugutnya, yang akan membuatmu menjadi gatal.”

Pandan Wangi tidak menghiraukannya. Ia melangkah semakin dekat sambil berkata, “Masuklah. Ayah dan Ki Waskita akan menerima kehadiran kalian dengan senang hati. Adalah lebih baik bagi kalian untuk berbicara sambil duduk di pendapa, daripada kalian harus berdiri di sudut kebun di bawah rumpun bambu.”

“Jangan mendekat,” kedua orang yang berada di luar kebun itu pun mencegah.

Pandan Wangi tertegun sejenak. Ia melihat wajah-wajah yang rasa-rasanya sangat asing. Bukan saja karena ia belum mengenalnya, tetapi iuga karena pancaran tatapan mata mereka yang tidak wajar.

“Apakah sebenarnya yang kalian lakukan di sini?” tiba-tiba saja suara Pandan Wangi menjadi berat. “Aku sudah mempersilahkan kalian masuk. Tetapi nampaknya ada sesuatu yang tersembunyi.”

“Gila,” geram salah seorang yang berada di luar halaman, “marilah kita pergi. Aku akan membunuhmu di tempat lain.”

Yang berada di dalam kebun masih ragu-ragu, sementara Pandan Wangi sudah melangkah selangkah lagi semakin dekat.

“Aku akan membungkamnya dengan paser itu pula.”

“Jangan,” desis yang ada di dalam halaman.

Tetapi Pandan Wangi segera memotong, “Aku tahu, ada keragu-raguan pada kalian. Meskipun aku tidak tahu pasti, apakah yang kalian maksud, namun kalian telah berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan pertanyaan. Hal ini harus diketahui oleh Paman. Karena Paman Waskita-lah yang telah membawa salah seorang dari kalian kemari.”

“Jangan, jangan panggil Ki Waskita.”

“Apakah keberatanmu?”

Sejenak mereka termangu-mangu. Dan Pandan Wangi berkata selanjutnya, “Aku dapat memanggil seorang pelayan dari tempatku ini. Dan ia akan dapat memanggil Ki Waskita untuk memecahkan teka-teki yang sedang kalian lakukan sekarang ini.”

“Tetapi, tetapi ..,” orang yang berada di dalam kebun itu menjadi bingung.

“Persetan,” tiba-tiba yang di luar halaman menggeram, “tidak ada pilihan lain. Jika yang disebutnya Ki Waskita itu adalah orang yang kau sebut tukang sihir itu, maka aku tidak akan mengambil langkah yang bodoh untuk menunggunya. Tetapi juga tidak membiarkan kau hidup.”

“Perempuan itu dapat menjerit-jerit,” desis yang lain.

“Kita bungkam perempuan itu lebih dahulu. Jika ia mendapatkan obat dari racun kita, itu adalah pertanda bahwa calon suaminya tidak akan menangisi mayatnya. Tetapi jika ia mati, itu adalah nasib buruk yang tidak terelakkan.”

“Kau gila,” geram yang ada di dalam halaman.

Tetapi kawannya tidak menghiraukannya lagi. Tiba-tiba saja tangannya telah menggenggam sebuah paser yang ujungnya mengadung racun yang tajam. Oleh kebingungan yang tidak terpecahkan, maka ia telah menentukan langkah yang dianggapnya paling aman tanpa menghiraukan akibat yang dapat timbul, meskipun ia sudah mengetahuinya bahwa perempuan yang berdiri termangu-mangu itu adalah gadis yang beberapa hari kemudian akan menginjak hari perkawinannya.

Dengan tanpa memikirkan akibat apa pun yang dapat timbul, maka orang yang kehilangan nalarnya itu pun dengan sekuat tenaganya telah melemparkan pasernya ke dada Pandan Wangi yang berdiri termangu-mangu.

Kawannya yang ada di dalam dinding batu terkejut. Ia tidak menduga, bahwa hal itu dapat dilakukan oleh kawannya. Ia sudah memberitahukan, bahwa gadis itu akan kawin beberapa hari lagi. Namun kawannya itu masih juga sampai hati melemparkan pasernya yang beracun ke arah gadis itu.

Dengan demikian, ia pun seolah-olah telah kehilangan nalar pula. Tiba-tiba saja parang di tangannya, yang dipergunakannya untuk menebang batang-batang bambu telah terayun dengan derasnya menghantam leher kawannya yang melemparkan paser itu.

Terdengar jerit ngeri mengumandang di kebun yang ditumbuhi runpun-rumpun bambu itu. Sepercik darah memancar dari leher orang yang semula bersandar dengan bertelekan pada kedua sikunya di dinding batu itu. Ternyata parang penebang batang bambu itu cukup tajam untuk melukai leher orang yang melemparkan paser itu.

Seorang yang lain, yang sejenak kebingungan, harus segera mengambil sikap. Seolah-olah di luar sadarnya ia pun, segera mengambil pasernya pula dan dengan serta-merta melemparkannya kepada kawannya yang memegang parang yang merah oleh darah itu.

Terasa ujung paser itu mematuk dadanya, sehingga ia pun tertegun diam. Ia hanya dapat melihat kawannya itu kemudian berlari sekencang-kencangnya menyusuri jalan padukuhan.

Racun yang ada di ujung paser itu memang sangat kuat. Sejenak kemudian ia mulai merasa tubuhnya menjadi lemas. Namun dalam pada itu, ia masih tetap teringat kepada Pandan Wangi.

Dengan sisa tenaganya ia memutar diri dan memandang gadis yang masih berdiri termangu-mangu.

“Racun,” desisnya, “paser itu beracun.”

Pandan Wangi mengangguk. Jawabnya, “Ya. Aku sudah menduga.”

“Usahakanlah agar lukamu diobati secepatnya. Kau akan kawin beberapa hari lagi.”

Pandan Wangi melangkah maju. Wajah orang itu menjadi samakin pucat.

“Bukankah kau terkena paser itu?” suaranya menjadi gemetar.

“Tidak,” Pandan Wangi menggeleng.

Nampak keheranan hinggap di wajah yang pucat itu.

“Aku sempat mengelak,” berkata Pandan Wangi kemudian, “tetapi aku tidak dapat mengejar orang itu. Aku berkain panjang dan tidak mengenakan pakaian khususku, sehingga jika aku mengejarnya, aku harus menyingsingkan kainku tinggi-tinggi. Dan itu tidak dapat aku lakukan sekarang ini justru menjelang hari perkawinanku.”

“O,” wajah orang itu menjadi merah sesaat, “jadi kau tidak terluka oleh paser itu.”

Pandan Wangi menggeleng.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, tubuhnya yang lemah itu pun tidak lagi dapat dipergunakannya untuk berdiri, sehingga ia pun terhuyung-huyung duduk.

Namun ternyata bahwa jerit orang yang terluka oleh ayunan parang itu terdengar oleh beberapa orang. Semula mereka ragu-ragu. Namun kemudian seorang yang berada di kebun belakang, di dalam dinding penyekat, berkata, “Pandan Wangi pergi ke luar lewat pintu butulan. Apakah ada hubungannya dengan suara itu?”

Seorang yang lain mengerutkan keningnya. Dalam kesibukan, jerit itu memang tidak begitu terdengar. Tetapi ia pun kemudian melangkah sambil berkata, “Kita akan melihatnya.”

Dua orang itu pun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke pintu butulan. Semula mereka menjadi agak ragu-ragu. Namun kemudian mereka telah memaksa diri untuk keluar dari pintu butulan itu.

Keduanya terkejut melihat Pandan Wangi berdiri termangu-mangu. Bahkan ketika gadis itu melihat kedua orang itu mendekat sambil berlari-lari, ia berkata, “Sampaikan kepada Ayah. Mohon obat untuk menawarkan racun.”

Ketika orang itu masih tetap termangu-mangu. Pandan Wangi membentaknya, “Cepat!”

Orang itu pun segera berlari kembali memasuki kebun yang berada di dalam dinding penyekat dan langsung berlari ke rumah Ki Gede di bagian depan.

Ki Gede dan Ki Waskita duduk di pendapa rumah itu sambil bercakap-cakap. Pendapa yang jauh menjorok ke depan, apalagi dalam suasana yang mulai sibuk dengan berbagai macam kerja menjelang hari perkawinan Pandan Wangi itu, ternyata telah menyekat suara nyaring jauh di kebun belakang di bawah rumpun bambu.

Ki Gede terkejut melihat seseorang dengan berlari-lari naik ke pendapa. Karena itu dengan serta-merta ia bertanya, “Ada apa kau berlari-lari?”

“Ki Gede,” orang itu terengah-engah, “Pandan Wangi mohon obat penawar racun dan bisa, agaknya sangat tergesa-gesa.”

“Kenapa dengan Pandan Wangi?” Ki Gede menjadi semakin tegang.

“Obat itu segera diperlukan.”

Ki Gede tidak bertanya lagi. Ia pun langsung berlari masuk ke dalam rumahnya. Meskipun kakinya agak mengganggunya, tetapi desakan ketegangan di hatinya mendorongnya untuk berlari cepat sekali. Dalam pada itu, Ki Waskita tidak menunggu Ki Gede lagi. Ia pun memiliki obat penawar bisa, betapa pun tajamnya bisa itu. Tetapi ia tidak sempat mengatakannya.

Karena itulah, maka ia pun segera berlari pula turun ke halaman sambil bertanya, “Di manakah Pandan Wangi sekarang?”

“Di bawah rumpun bambu di belakang.”

Ki Waskita tidak menunggu lagi. Ia pun segera mendahului berlari ke kebun belakang.

Hatinya tergetar ketika ia melihat Pandan Wangi berjongkok di samping tubuh yang sudah terbaring diam.

Belum lagi Ki Waskita berbuat sesuatu, Ki Gede pun telah dengan tergesa-gesa mendekati gadis itu.

“Apa yang terjadi, Pandan Wangi?” bertanya ayahnya. “Apakah kau terkena racun?”

“Bukan aku, Ayah. Tetapi orang itu.”

“Kenapa dengan orang itu?” Ki Waskita memotong dengan serta-merta. “Apakah ia menyerangmu?”

“Jika Ayah membawa obat itu, obatilah dahulu. Nanti aku akan menceriterakan apa yang telah terjadi.”

Ternyata Ki Waskita tidak mendahuluinya. Karena Ki Gede pun ternyata telah membawa pula, maka dibiarkannya Ki Gede mencoba mengobati orang yang terbaring itu.

“Paser,” desis Ki Gede.

“Ya, Ayah.”

Ki Gede membuka baju orang itu dan mengamati lukanya setelah paser beracun itu dicabutnya.

Tampaklah wajah Ki Gede berkerut-merut. Sejenak dipandanginya wajah Ki Waskita yang tegang, agaknya keduanya mempunyai pendapat yang sama, bahwa racun yang terdapat di ujung paser itu sudah bekerja dengan cepatnya. Di sekitar luka yang sangat kecil itu nampak warna merah kehitam-hitaman. Sementara beberapa bintik merah telah tumbuh di bagian perut dan lehernya.

Tetapi keduanya tidak mau membiarkan korban ini mati tanpa berusaha apa pun juga. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Ki Gede pun menaburkan obatnya pada luka itu.

Orang itu menyeringai menahan sengatan rasa panas pada luka itu. Namun kemudian ia pun menggeleng lemah, “Tidak ada gunanya, Ki Gede.”

“Obatku mulai bekerja. Kau merasakan panas itu?”

“Ya. Tetapi racun itu telah melumpuhkan segenap tubuhku. Aku tidak akan mampu disembuhkan lagi. Karena itu, biarlah aku minta diri. Kematian bukan lagi dapat menghantui aku.”

“Tenanglah. Dan cobalah membantu peredaran obatku menyusuri urat nadimu yang telah dijamah oleh bisa itu.”

Orang itu menggeleng lemah.

Ki Gede pun menarik nafas pula. Agaknya orang itu sendiri sudah tidak mempunyai minat untuk sembuh. Barangkali akhir yang demikian baginya adalah jauh lebih baik daripada menjadi seoran tawanan. Bukan karena dirinya dikurung dalam ruang yang gelap dan sempit, tetapi justru sikap Ki Waskita-lah yang seolah-olah telah menjeratnya sehingga ia tidak sempat untuk bergerak sama sekali. Apalagi kematian yang menerkamnya pun rasa-rasanya jauh lebih baik daripada harus membunuh diri sendiri.

Tetapi ternyata obat Ki Gede bekerja juga pada tubuhnya. Perlahan-lahan. Namun agaknya baik Ki Gede Menoreh maupun Ki Waskita menyadari bahwa obat itu hanyalah sekedar menunda kematian saja.

“Apakah kau tidak dapat mengatur pernafasanmu lebih baik?” bertanya Ki Waskita. “Cobalah bernafas dengan teratur. Tekanlah urat-urat darahmu, agar obat penawar racun ini dapat bekerja sebaik-baiknya.”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak ada gunanya.”

Ki Gede memandang Ki Waskita sejenak. Rasa-rasanya memang sulit untuk mengobati seseorang yang sudah tidak berkeinginan untuk hidup terus.

“Ki Sanak,” berkata Ki Gede, “kau masih mempunyai kesempatan.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya dengan suara gemetar tertahan-tahan, “Aku sudah tidak kuat lagi. Aku akan mati. Dan dengarlah Ki Waskita.”

Ki Waskita bergeser mendekat.

“Aku tidak tahu pasti, apa yang kau kehendaki. Tetapi aku mengetahui sesuatu yang barangkali penting.”

“Sebutlah,” desis Ki Waskita.

“Beberapa orang terpenting akan mengadakan pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu.”

“He? Sebutlah. Siapakah mereka itu dan apakah tujuannya.”

Orang itu mencoba untuk bertahan agar ia tidak kehilangan segenap kekuatannya. Sejenak ia memandang wajah Ki Waskita, tetapi mata itu pun kemudian terpejam.

“Apakah kau dapat menyebut sesuatu yang lain?” desis Ki Waskita ditelinga orang itu.

Orang itu membuka matanya. Tetapi kepalanya tergeleng lemah sekali. Nampaknya ada sesuatu yang hendak dikatakannya, tetapi mulutnya yang bergerak-gerak itu sama sekali tidak melontarkan bunyi apa pun.

“Apakah kau dapat menyebutkan waktunya,” bisik Ki Waskita.

Kepala itu tergeleng lagi. Lemah sekali.

Ketika Ki Waskita akan membisikkan sesuatu lagi ditelinga orang itu, maka terdengar sebuah desah yang panjang. Desah napasnya yang penghabisan.

Ki Waskita pun menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia bergumam, “Ia meninggal setelah ia mencoba melepaskan himpitan yang memepatkan dadanya. Tetapi memang tidak banyak yang diketahuinya. Ia adalah orang yang berada di jenjang yang paling bawah. Namun yang disebutnya agaknya sesuatu yang sangat penting.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu ada hubungannya dengan kedua pusaka yang terpisah itu.”

Ki Waskita pun mengangguk pula.

Namun kemudian Ki Gede pun berkata, “Marilah. Aku akan memanggil beberapa orang untuk menyelenggarakan mayat ini.”

“Di luar juga ada sesosok mayat,”desis Pandan Wangi.

Ki Gede mengerutkan keningnya, sementara Pandan Wangi menceriterakan dengan singkat apa yang telah dilihatnya.

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling, dilihatnya beberapa orang telah berdiri berkerumun beberapa langkah agak jauh karena mereka takut mendekat sebelum mendapat ijin dari Ki Gede Menoreh.

Ki Gede pun kemudian melambaikan tangannya memanggil orang-orang yang termangu-mangu. Katanya dengan samar-samar setelah orang-orang itu mendekat, “Selenggarakan mayat ini baik-baik. Demikian juga mayat di luar dinding itu. Mereka ternyata telah membawa dendam di dalam hati masing-masing. Ketika mereka bertemu di sini, maka pertengkaran tidak dapat dihindarkan lagi.”

Orang-orang itu mengangguk-angguk.

“Semua kebutuhan bagi penguburan kedua mayat itu akan aku cukupi,” berkata Ki Gede, “nah, lakukan secepatnya.”

Ki Gede dan Ki Waskita pun kemudian meninggalkan kebun itu kembali ke pendapa, sementara orang-orangnya sibuk menyelenggarakan kedua sosok mayat itu.

Pandan Wangi telah memusnakan paser beracun dengan membakarnya di sudut kebunnya dan menaburinya dengan penawarnya. Namun dalam pada itu terasa betapa tatapan mata orang-orang seisi rumahnya seakan-akan tertuju kepadanya.

Bahkan seolah-olah Pandan Wangi mendengar seseorang berbisik di telinganya, “Sayang Pandan Wangi. Menjelang hari-hari perkawinanmu, halaman rumah ini ditandai dengan kematian dan tetesan darah.”

Pandan Wangi tiba-tiba telah diraba oleh kecemasan. Meskipun demikian ia mencoba menghentakkan perasaannya sambil menggeram, “Tidak. Sama sekali tidak ada hubungan apa pun antara kematian itu dengan hari perkawinanku.”

Namun demikian, kadang-kadang terasa bulu-bulunya meremang. Bahkan kemudian Pandan Wangi telah memasuki biliknya dengan hati yang dibebani oleh beribu pertanyaan dan teka-teki.

Di pendapa Ki Waskita berdesis, “Maaf, Ki Gede. Bukan maksudku untuk membuat keributan di sini. Maksudku membawa orang itu semata-mata karena ada harapan bagiku untuk mengetahui serba sedikit tentang gerombolan yang menarik hati itu. Aku telah mencoba mengikatnya dengan sikap yang baik, bukan dengan kekerasan dan ancaman. Agaknya usahaku berhasil. Tetapi ternyata bahwa kawan-kawannya telah menyusulnya dan membunuhnya. Bahkan hampir saja Pandan Wangi menjadi korbannya pula. Seandainya Pandan Wangi adalah gadis biasa, maka aku kira persoalannya akan menjadi berkepanjangan karena ia tentu tidak akan berhasil mengelakkan diri dari patukan paser itu.”

“Sudahlah, Ki Waskita,” berkata Ki Gede, “tentu bukan maksud Ki Waskita untuk membuat kesan yang agak kurang baik menjelang hari-hari perkawinan.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi meskipun demikian, Ki Waskita, aku adalah orang tua yang terombang-ambing oleh sikap yang ragu-ragu. Ternyata aku masih harus bertanya kepada Ki Waskita, apakah peristiwa ini dapat menjadi suatu isyarat bagi masa depan Pandan Wangi?”

“O, tidak. Tentu tidak ada hubungannya sama sekali,” jawab Ki Waskita tegas. “Peristiwa ini sama sekali tidak akan berpengaruh buruk maupun baik atas masa depan Pandan Wangi. Tetapi yang jelas peristiwa ini berpengaruh buruk sekarang, karena menumbuhkan kengerian dan barangkali juga ketakutan di antara isi rumah dan bahkan padukuhan induk ini.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Katanya, “Bagiku Ki Waskita adalah orang yang memiliki kelebihan. Bukan saja olah kanuragan, tetapi juga penglihatan bagi masa depan. Karena itulah aku mengharapkan sedikit bayangan bagi masa depan itu.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Jika ia melihat sesuatu yang buram pada hubungan yang sudah akan terikat oleh suatu perkawinan antara Pandan Wangi dan Swandaru, bukanlah karena peristiwa yang baru saja terjadi. Tetapi sejak beberapa saat yang lewat, ia sudah dipengaruhi oleh kecemasan itu. Namun ketika Ki Gede Menoreh bertanya kepadanya, maka ia tidak mempunyai keberanian untuk mengatakannya.

“Aku telah membohongi diriku sendiri dan menanam harapan yang salah,” berkata Ki Waskita. Namun ia tetap tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk berterus terang.

“Ki Gede,” berkata Ki Waskita, “tentu segala sesuatu mengalami pasang dan surut. Demikian juga masa-masa depan Pandan Wangi dan Swandaru. Nampaknya ada kalanya pasang, tetapi ada kalanya surut. Karena itu, hendaknya Ki Gede melengkapi bekal Pandan Wangi dengan mempersiapkan dirinya, bahwa kadang-kadang ia akan diselubungi oleh kabut yang suram, tetapi juga kadang-kadang oleh cerahnya sinar bulan. Dengan demikian Pandan Wangi tidak akan terkejut apabila ia pada suatu saat mengalami kesulitan di dalam rumah tangganya, seperti kesulitan yang ada di setiap rumah tangga yang lain. Karena bagiku, setiap orang tentu mempunyai persoalannya masing-masing. Tetapi juga dengan kemampuan masing-masing untuk mengatasinya, apalagi bagi mereka yang mempunyai tuntunan hidup dalam hubunganya dengan Yang Maha Pencipta.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia terdiam sejenak, justru sekilas terkenang kesulitan-kesulitan yang pernah dialaminya di dalam perjalanan hidup berumah tangga. Ia pun pernah mengalami sesuatu yang hampir membuatnya gila. Apalagi setelah Sidanti lahir.

Gelombang yang melanda keluarganya benar-benar akan menelan dan menenggelamkannya ke dasar lautan putus asa. Tetapi untunglah, bahwa permohonanya yang tidak henti-hentinya kepada Yang Maha Agung untuk mendapatkan petunjuk dan ketenangan, akhirnya dikabulkan-Nya.

Ki Waskita melihat kilasan kenangan di wajah Ki Gede. Terasa sesuatu berdesir di hatinya. Sebagai kadang yang meskipun bukan lagi kadang dekat, Ki Waskita pernah juga mengetahui apakah yang telah terjadi. Apalagi setelah Sidanti terbunuh dan hubungannya yang kemudian menjadi akrab dengan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Maka pengetahuannya tentang Ki Gede menjadi semakin terang.

“Di usia dewasanya. Sidanti benar-benar telah membuat Ki Gede terancam bukan saja kedudukannya, tetapi juga nyawanya. Bahkan Ki Argajaya pun telah melibatkan dirinya pula,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya. Lalu, “Apakah kepahitan hidup itu masih harus diwariskannya pula kepada Pandan Wangi?”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berusaha mematahkan kenangan Ki Gede Menoreh yang terasa betapa pahitnya.

Untuk beberapa saat lamanya, Ki Gede benar-benar tenggelam dalam kenangan yang suram tentang dirinya sendiri, isterinya, dan laki-laki yang pernah hadir di dalam hati isterinya dan meninggalkan bekas yang kemudian justru merupakan api yang telah membakar Bukit Menoreh.

Namun akhirnya Ki Gede pun menyadari keadaannya. Ia tidak duduk seorang diri, sehingga seperti orang terbangun dari mimpi yang buruk ia tergagap sambil berkata, “Oh, maaf Ki Waskita. Agaknya aku telah hanyut di dalam arus kenangan yang keruh di masa lampau.”

Ki Waskita mengangguk. Katanya, “Aku mengerti, Ki Gede. Dan sudah barang tentu yang telah lampau pada Ki Gede itu tidak akan kembali pada anak keturunan Ki Gede. Apalagi anak-anak muda masa kini hatinya lebih terbuka. Mereka akan berkata terus-terang tentang diri mereka, juga dalam hubungan dengan rencana berkeluarga mereka.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan tidak ada kesulitan seperti yang pernah terjadi padaku meskipun dalam bentuk yang lain sama sekali. Aku ingin anakku menemukan kebahagiaan di hari-hari mendatang.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku percaya, Ki Waskita, bahwa yang terjadi memang tidak ada hubungan apa pun dengan masa depan anakku yang menjelang hari perkawinannya beberapa hari mendatang.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam Ternyata di sela-sela nada kata-kata Ki Gede terselip juga kekhawatiran itu meskipun ditekannya dalam-dalam.

Demikianlah pada hari itu, keluarga Ki Gede yang sedang sibuk mempersiapkan hari-hari perkawinan Pandan Wangi itu telah diselingi dengan kesibukan yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka. Wajah-wajah yang sehari-hari nampak gembira meskipun mereka kelelahan, kini nampak menjadi tegang dan penuh dengan keragu-raguan. Bahkan wajah Pandan Wangi sendiri telah menjadi asing.

Kedua mayat itu tidak ditempatkan di pendapa, tetapi di gandok sebelah kiri. Pada saatnya maka kedua sosok mayat itu pun telah diusung ke tanah pekuburan, diiringi oleh beberapa orang keluarga Ki Gede dan tetangga dekat.

Namun demikian agaknya kematian dua orang itu benar-benar telah menggemparkan Tanah Perdikan Menoreh, karena sebagian dari penghuninya menjadi sangat terpengaruh karenanya, seolah-olah perkawinan Pandan Wangi telah didahului oleh sebuah pertanda yang buram.

Lebih dari itu, maka kematian itu adalah suatu pertanda bahwa keamanan di Tanah Perdikan Menoreh masih belum dapat dianggap jernih sepenuhnya. Masih ada debu yang kadang-kadang mengepul, mengotori udara seperti yang baru saja terjadi itu.

Namun agaknya Ki Gede pun telah bertindak dengan tangkas. Apalagi Ki Gede tahu dengan pasti, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Bahwa kedua orang yang mati itu adalah dua orang dari lingkungan kelompok yang mempunyai kekuatan yang harus diperhitungkan. Selain kedua orang itu, tiga orang yang lain telah terbunuh pula oleh Ki Waskita di ujung Tanah Perdikan Menoreh itu pula.

Demikian upacara penguburan itu selesai, maka di pendapa rumah itu telah berkumpul beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan Menoreh.

Kepada beberapa orang penting itu, Ki Gede tidak dapat menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Bahkan ternyata di antara mereka terdapat Pandan Wangi.

“Bagimu, Pandan Wangi,” berkata Ki Gede, “adalah lebih baik mengetahui keadaan yang sebenarnya daripada kau harus mereka-reka hubungan antara peristiwa itu dengan hari-hari perkawinanmu. Bagi ketenangan hatimu menjelang hari-hari perkawinanmu, lebih baik kau mengerti bahwa Tanah Perdikan Menoreh telah dijamah oleh beberapa orang penjahat yang mempunyai lingkungan yang agak kuat daripada kau harus membayangkan, seolah-olah yang terjadi adalah pertanda buruk dari perkawinanmu.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Ternyata keterangan ayahnya itu dapat dimengertinya. Dan ia tidak perlu lagi berteka-teki atas peristiwa yang telah terjadi itu, yang sebenarnyalah telah dihubungkannya dengan hari-hari perkawinannya.

“Yang harus kita lakukan sekarang adalah meningkatkan pengawasan di seluruh Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Ki Gede, “bukan merenung dan membayangkan isyarat apakah yang telah terjadi itu.”

Yang mendengar keterangan Ki Gede itu mengangguk-angguk. Juga Pandan Wangi mengangguk-angguk. Namun justru Ki Waskita melihat, bahwa tatapan mata Ki Gede Menoreh sendiri tidak meyakinkan kata-katanya. Bahwa keragu-raguan serupa itu ternyata masih juga membayang di dalam hatinya. Namun bagaimana pun juga, keterangannya itu telah memberikan ketenangan bagi Pandan Wangi. Bagi gadis itu, maka yang nampak betapa pun berbahayanya, tidak terlampau mempengaruhi unsur kejiwaannya. Ia masih juga tetap menggantungkan pedang di biliknya, meskipun biliknya sudah mulai diwangikan dengan berbagai macam bunga menjelang hari perkawinannya. Apalagi Pandan Wangi masih tetap percaya kepada kemampuan para pengawal yang cukup berpengalaman.

“Apalagi selain ayah, di sini ada Ki Waskita,” desis Pandan Wangi di dalam hatinya.

Terhadap penganten laki-laki yang akan datang beberapa hari mendatang, Pandan Wangi pun tidak cemas sama sekali. Selain Swandaru sendiri yang tentu juga menyandang pedang, maka di dalam iring-iringan itu tentu ada Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan sudah tentu Agung Sedayu dan beberapa orang pengawal.

Tiba-tiba saja Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa kekeruhan yang terjadi di Mataram itu telah melanda Tanah Perdikan Menoreh justru di saat menjelang hari perkawinannya.

Ki Gede pun kemudian mulai membicarakan kesiagaan yang lebih mantap di atas Tanah Perdikan Menoreh. Diperlihatkannya kepada para pemimnpin pengawal, untuk mengatur pengawasan yang terus-menerus.

“Terutama di padukuhan yang telah menjadi ajang perkelahian dan yang telah menumbangkan beberapa orang korban itu,” berkata Ki Gede.

“Mereka mengharap bahwa anak-anak padukuhan mereka yang bertugas sebagai pengawal dapat bertugas di kampung halaman,” sambung Ki Waskita.

Ki Gede mengangguk-angguk. Memang ada beberapa orang anak muda dari padukuhan itu yang termasuk dalam kesatuan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang dapat dipercaya untuk mengawal padukuhan mereka sendiri.

Karena itulah maka Ki Gede pun kemudian menjawab, “Baiklah. Kita akan menempatkan pengawal khusus pada padukuhan itu. Terutama anak-anak dari padukuhan itu sendiri.”

Demikianlah, maka sejak saat itu pengawalan di Tanah Perdikan Menoreh nampak menjadi semakin meningkat meskipun tidak mengejutkan. Gelombang pengawasan keliling menjadi semakin sering dilakukan, dan gardu-gardu peronda menjadi semakin banyak ditunggui oleh anak-anak muda. Alat-alat yang dapat memberikan tanda-tanda bahaya disempurnakan. Setiap gardu tidak saja disediakan sebuah kentongan, tetapi juga panah-panah sendaren dan panah api di malam hari.

Selain kesiagaan para pengawal, maka anak-anak muda di setiap padukuhan seolah-olah telah dipersiapkan pula untuk menghadapi segala macam kemungkinan. Bahkan bukan saja yang bertugas ronda yang hadir di gardu perondan di malam hari, tetapi gardu-gardu itu seolah-olah telah menjadi tempat untuk saling bertemu, bergurau, dan kadang-kadang berbantah. Namun dengan demikian, padukuhan-padukuhan serasa menjadi semakin hidup di malam hari.

Di setiap mulut lorong yang memasuki setiap padukuhan, terdapat gardu-gardu di dalam regol. Gardu-gardu yang rusak telah diperbaharui, sedangkan yang memang belum ada gardunya, segera dibuat oleh anak-anak muda di sekilar regol padukuhan itu.

Para pengawal yang meronda di malam hari, tidak lagi merasa kesepian. Jika semula mereka menemui gardu-gardu yang sepi, karena tiga atau empat perondanya sedang nganglang atau bahkan tertidur, maka kini mereka mendapatkan setiap gardu hampir penuh dengan anak-anak muda. Tidak hanya empat atau lima. Tetapi kadang-kadang sepuluh dan bahkan lebih. Sebagian dari mereka tidak pulang semalam suntuk, dan tidur berdesakan di dalam gardu. Sedangkan mereka yang bertugas ronda, tidak mendapat tempat lagi di gardu mereka, sehingga mereka terpaksa duduk bersandar regol sambil memegangi senjata masing-masing,

Tetapi para peronda itu sama sekali tidak mengeluh. Mereka membiarkan saja gardu-gardu itu dipenuhi oleh anak-anak muda yang tidur silang-melintang. Meskipun mereka tertidur, tetapi jika ada persoalan yang tiba-tiba harus diselesaikan, maka mereka merupakan kawan yang tentu akan dapat meringankan segala macam tugas di malam hari.

Dalam pada itu, Ki Argapati dan Ki Waskita pun tidak hanya tinggal diam di padukuhan induk. Sekali-sekali mereka pun ingin melihat langsung kesiagaan rakyat Tanah Perdikan Menoreh menanggapi peristiwa yyang telah mengejutkan mereka, justru pada saat Pandan Wangi, satu-satunya anak Ki Argapati menjelang hari perkawinannya.

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: