Buku 095 (Seri I Jilid 95)

Gandu Demung mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya. Ya. Maksudku memang demikian. Hubunganku dengan Ki Bajang Garing seperti yang sudah aku katakan, hendaknya menjadi pertimbangan. Selain itu, barangkali Ayah dapat menunjuk kelompok yang lain yang memadai, sebagai kelompok ketiga.”

“Kau belum melihat kekuatan yang sebenarnya dari kelompok kita, kelompok Ki Bajang Garing, dan kelompok-kelompok yang lain,” berkata saudaranya yang paling tua, “sehingga dengan demikian sebenarnya kau belum dapat mengatakan, bahwa tiga, empat atau satu kelompok sudah cukup untuk melakukan tugas itu.”

“Aku sudah mempunyai gambaran,” jawab Gandu Demung, “bukankah sejak kecil aku berada dalam lingkungan ini?”

“Tetapi perubahan telah banyak terjadi di daerah ini. Yang kecil sudah menjadi besar, tetapi yang besar justru menjadi kecil.”

“Baiklah. Baiklah besok aku akan melihat, sudah barang tentu yang pertama-tama adalah kelompok kita sendiri.”

“Kau akan melihat yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya.”

Gandu Demung mengerutkan keningnya. Namun ia menjawab, “Tetapi ingat, pengantin itu akan dipertemukan dalam waktu yang singkat. Tidak ada sebulan lagi. Bahkan tinggal setengah bulan lebih sedikit.”

“Kau harus mendapatkan kepastian waktu.”

“Tentu. Seperti yang aku katakan, kita perlu melihat dan mengamati langsung Tanah Perdikan Menoreh, menyusuri jalan menuju ke Sangkal Putung.”

Demikianlah untuk sementara pembicaraan itu berakhir. Gandu Demung memang tidak memaksakan agar saudara-saudaranya segera mengambil keputusan. Tetapi tanggapan saudara-saudaranya agaknya dapat diharapkan, bahwa mereka tidak akan menolaknya.

Adalah sudah menjadi kebiasaan Gandu Demung, berada di segala tempat dan di segala cuaca. Itulah sebabnya, maka ia sama sekali tidak mengeluh, bahwa ia harus berada di tempat yang sempit dan pengap di sarang keluarganya. Meskipun letak rumahnya tidak berubah, tetapi ternyata di malam hari, mereka tidak berada di rumah itu. Untuk sementara mereka menyingkir di sebuah gubug kecil di pategalan. Hanya perempuan dan anak-anak sajalah yang berada di rumahnya.

“Sebenarnya malam ini tidak perlu,” berkata Gandu Demung, “jika yang kalian cemaskan adalah tindakan dari Empu Pinang Aring, tentu tidak akan berbahaya justru aku berada di sini.”

Kakaknya yang tertua menyahut, “Biarlah kita membiasakan diri berada di tempat yang terpisah dari padukuhan, agar semua persoalan tidak akan menyangkut keluarga kita. Bukan saja sentuhan dengan Empu Pinang Aring, tetapi juga dengan gerombolan-gerombolan lain yang menjadi hampir kelaparan sekarang ini.”

Gandu Demung mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa kelompok-kelompok penjahat itu harus menjadi sangat berhati-hati dalam keadaan yang bagi mereka merupakan masa yang sulit. Karena dalam keadaan yang memaksa mereka tidak segan-segan untuk melakukan kekerasan atas kelompok-kelompok yang lain, yang menurut perhitungan mereka akan dapat dikalahkan.

Karena itulah, maka kelompok-kelompok yang merasa dirinya terlampau kecil, akan segera lenyap, meskipun mungkin hanya untuk beberapa saat dan yang kelak apabila keadaan telah memungkinkan akan segera muncul kembali. Atau bahkan telah meninggalkan daerah itu untuk bergabung dengan kelompok-kelompok serupa ditempat yang jauh.

Dalam pada itu, ternyata kehadiran Gandu Demung di tempatnya telah menimbulkan suatu gelombang yang menggerakkan kelompok-kelompok yang ada di sekitar Gunung Tidar. Di malam pertama, Gandu Demung tidak banyak berbicara lagi tentang rencananya. Ia merasa bahwa apa yang dikatakannya sudah cukup banyak.

Baru di keesokan harinya, Gandu Demung bersama saudara-saudaranya melihat-lihat apakah yang sebenarnya ada di dalam kelompok mereka.

“Mungkin kau belum mengenal beberapa orang yang kini justru menjadi kekuatan kelompok kita,” berkata kakaknya yang tertua.

Gandu Demung mengangguk-angguk. Ia memang melihat beberapa orang baru di dalam lingkungannya.

“Mereka telah kami panggil untuk kami perkenalkan dengan kau,” berkata kakaknya yang tertua.

Gandu Demung menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kakaknya telah membawanya ke tempat yang jarang sekali disentuh kaki manusia. Di pinggir hutan, di tepian sungai berpasir.

“Di manakah mereka tinggal selama ini?” bertanya Gandu Demung.

“Mereka berada di dalam lingkungan keluarga masing-masing. Aku kira seperti juga orang-orang Ki Bajang Garing. Hanya dalam saat-saat tertentu kita berkumpul dan berbicara tentang keadaan kita dalam keseluruhan.”

Gandu Demung mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata susunan kelompok ini justru menjadi semakin baik dan rapi. Tetapi sayang, bahwa aku sudah tidak dapat berada di antara kalian semuanya, karena aku merasa terpanggil ke dalam tugas yang lebih besar.”

Beberapa orang yang ada di tempat itu untuk diperkenalkan dengan Gandu Demung mengangguk-angguk. Namun ternyata seorang yang bertubuh besar, tegap berkumis melintang tetapi berkepala botak tertawa pendek sambil berkata, “Mungkin suatu kesempatan yang baik sajalah yang telah memperkenalkan kau dengan Empu Pinang Aring, Anak Muda.”

Gandu Demung mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya wajah kakaknya yang menjadi tegang pula.

“Maaf Gandu Demung. Aku memang orang baru di sini. Tetapi jangan dikira bahwa aku adalah orang kelaparan yang minta perlindungan. Orang di dalam kelompok ini tentu sudah mengenal siapakah aku. Kakakmu itu pun mengenal aku pula. Bertanyalah kepadanya, siapakah sebenarnya orang terkuat di kelompok ini.”

Gandu Demung termangu-mangu. Sekilas dipandanginya kakaknya berganti-ganti. Dari yang paling tua, sampai adiknya yang paling muda, yang berjumlah empat orang itu selain dua saudara perempuannya.

Kakaknya yang paling tua pun kemudian bertanya kepada orang yang berkepala botak itu, “Apa sebenarnya maksudmu?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa adikmu itu jangan menganggap kami, orang-orang yang belum dikenalnya, sebagai orang yang menumpang hidup di sini. Jika aku di sini, bukan menjadi pimpinan, karena sejak aku datang, sudah ada seorang yang disegani. Tetapi bahwa pimpinan tertinggi di kelompok ini bukanlah orang terkuat tentu sudah diketahui.”

Tiba-tiba kakak tertua Gandu Demung itu meloncat berdiri sambil membelalakkan matanya. Katanya, “Aku tidak mengira bahwa kau bersikap seperti itu. Tetapi kau harus menyadari, tidak seorang pun yang mengetahui dengan pasti, bahwa kau adalah orang terkuat di sini, karena kita belum pernah menentukan ukuran yang dapat kita terima bersama-sama. Apalagi jika yang kau anggap pimpinan tertinggi adalah Ayah.”

Orang itu masih tertawa. Katanya, “Kadang-kadang kita memang perlu meyakinkan, siapakah yang memegang peran tertinggi di dalam suatu kelompok tertentu. Mungkin seseorang dianggap sebagai pemimpin tertinggi karena pengaruhnya, karena kecakapannya memimpin dan membuat rencana yang masak, tetapi mungkin juga karena memang tidak ada orang lain di dalam kelompok itu yang dapat mengalahkannya.”

Kakak tertua Gandu Demung mengangguk-angguk. Katanya, “Baik. Baik. Justru saat adikku ada di sini kau ingin menunjukkan bahwa kau adalah orang yang tidak terkalahkan di sini. Marilah. Aku akan mewakili ayahku yang tidak akan mempedulikan kau dengan kesombonganmu, meskipun aku belum dapat menyamai kemampuan ayahku.”

Orang berkepala botak itu masih tertawa. Katanya, “Jangan mencari kesulitan. Sebenarnya kata-kataku sama sekali tidak aku tujukan kepadamu, karena selama ini kau telah berhasil memimpin kelompok ini dengan baik. Aku hanya ingin menunjukkan kepada adikmu bahwa ia tidak boleh bersikap seperti sikapmu, karena ia sama sekali bukan pemimpin di sini. Lebih-lebih lagi, jika ia menganggap bahwa orang-orang yang ada di sini sekarang ini, adalah orang-orang yang menggantungkan hidupnya kepada mereka yang telah lama berada di dalam kelompok ini.”

“Itu pikiran gila,” bentak kakak tertua Gandu Demung.

Namun dalam pada itu, Gandu Demung pun tersenyum sambil berkata, “Baiklah. Aku mengerti. Tentu yang dimaksud adalah apakah aku pantas menyebut diriku adik dari pemimpin kelompok ini. Baiklah. Jika itu yang kau kehendaki, maka aku pun akan menerima dengan senang hati. Bukankah jelasnya kau menantang aku untuk berkelahi sehingga dengan demikian kau akan mendapat ukuran mengenai diriku di antara saudara-saudaraku dan orang-orangnya di sini.”

Orang berkepala botak itu menjadi tegang, justru karena ia tidak menyangka bahwa Gandu Demung akan mempergunakan istilah yang terus-terang.

Namun kemudian ia berkata, “Ternyata kau cukup jantan, sehingga pantas kau berada di lingkungan kelompok Empu Pinang Aring.”

Gandu Demung mengangguk-angguk. Sejenak dipandanginya orang berkepala botak itu. Ujudnya memang meyakinkan. Badannya yang tegap besar dan dadanya yang bidang ditumbuhi bulu-bulu yang lebat.

Dalam pada itu, Gandu Demung pun kemudian berkata kepada kakaknya, “Biarlah aku memenuhi keinginannya.”

“Gandu Demung. Akulah yang mewakili Ayah di sini. Karena itu biarlah aku menertibkan orang-orangku. Jika kau memang ingin mengukur kekuatannya, lakukanlah. Tetapi aku harus mendapat kepastian, bahwa aku akan dapat mengalahkannya. Jika tidak, maka kewibawaanku sebagai pemimpin di sini akan selalu direndahkannya. Karena itu biarlah ia yakin, bahwa aku adalah pemimpinnya di sini.”

Tetapi adiknya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kakang, aku wajib menerima tantangannya agar aku dapat membuktikan bahwa orang itu bagiku tidak berarti apa-apa.”

“Anak Setan,” geram orang berkepala botak itu, “ayo, cepat. Lakukanlah. Tetapi jika kau hanya dapat bersembunyi di punggung kakakmu, apa boleh buat.”

“Nah, kau dengar, Kakang? Akulah yang memang ditantangnya. Dan aku sama sekali tidak berkeberatan. Aku adalah salah seorang pemimpin yang dipercaya di dalam lingkungan kelompok besar yang dipimpin oleh Empu Pinang Aring. Jika orang berkepala botak itu dapat mengalahkan aku, maka ia adalah orang yang pantas duduk di sebelah Empu Pinang Aring seperti aku. Bahkan mungkin melampauinya.”

Kakaknya yang paling tua menggeretakkan giginya. Lalu kata-nya, “Baiklah. Lakukanlah. Sebenarnya tidak perlu kau sendiri yang melawannya. Semua saudara-saudaramu akan mampu mengalahkannya. Bahkan kalau perlu mematahkan lehernya.”

Orang berkepala botak itu tertawa. Katanya, “Memang sulit untuk mendapatkan gambaran kekuatan seseorang. Di dalam tugas kita masing-masing, kita tidak akan dapat langsung saling mengukur. Jumlah orang yang sudah dibunuh bukan ukuran kemampuan seseorang.” Orang berkepala botak itu berhenti sejenak, lalu, “Jika kau dapat mengalahkan aku, Gandu Demung, maka baru kau pantas memimpin kami melakukan perampokan atas sepasang pengantin dari Tanah Perdikan Menoreh, karena menurut pendengaranku, Menoreh adalah lumbung orang yang berilmu tinggi.”

Gandu Demung tidak berbicara lagi. Ia pun kemudian berdiri dan membenahi pakaiannya, menyingsingkan kain panjangnya, dan bahkan kemudian melepaskan senjatanya dan menyerahkannya kepada kakaknya.

“’Dalam permainan ini aku tidak memerlukannya.”

Kakaknya menerima senjata itu sambil berkata, “Hati-hatilah.”

Gandu Demung tersenyum. Lalu dipandanginya orang berkepala botak itu sambil berkata, “Tepian ini berpasir. Kita dapat bermain-main di sini dengan sejumlah saksi. Kita dapat bermain-main sampai tengah hari, sampai senja, atau tiga hari tiga malam. Aku akan melayanimu saja sesuai dengan seleramu.”

Orang berkepala botak itu menggeram. Ternyata Gandu Demung sama sekali tidak mengacuhkan ujudnya yang di dalam banyak hal sangat berpengaruh. Ketika ia mula-mula datang ke tempat itu, maka semua orang dapat digertaknya dengan ujudnya yang meyakinkan dan sekali-sekali ia memang dengan sengaja menunjukkan kemampuan tangannya yang melampaui kekuatan seekor kerbau.

Namun menghadapi Gandu Demung yang menganggapnya tidak berarti itu, hatinya benar-benar tergetar.

Sementara itu Gandu Demung sudah berjalan menjauhi kerumunan anggauta kelompok yang diperkenalkan kepadanya. Bahkan di antara mereka pun terdapat orang-orang lama yang sudah mengenalnya dengan baik. Meskipun demikian, apalagi orang-orang baru menjadi sangat berdebar-debar. Karena sikap orang berkepala botak itu nampaknya begitu garang.

Orang berkepala botak itu pun kemudian mengikuti Gandu Demung. Sementara orang-orang yang lain pun kemudian berkerumun mengelilingi keduanya yang siap untuk bertempur.

“Tentukan peraturan permainannya,” geram kakaknya.

Orang berkepala botak itu menyahut dengan serta-merta, “Serahkan kepada kami berdua.”

“Maksudmu?”

“Apa saja yang akan dilakukan oleh yang menang. Jika ia menaruh belas kasihan, biarlah ia mengasihani sejauh dikehendaki. Jika tidak maka kemungkinan terpahit akan kita alami.”

“Itu tidak mungkin.”

“Sikapnya sangat menghina aku,” jawab orang berkepala botak, “sehingga tantanganku telah berubah bentuk. Bukan sekedar mengetahui siapakah yang terkuat, tetapi juga sebagai sikap ingin pertahankan harga diri. Dan harga diriku sama nilainya dengan nyawaku. Tetapi jangan takut bahwa aku akan membunuhnya. Aku masih mempunyai rasa perikemanusiaan. Sejauh yang dapat aku lakukan adalah membuatnya cacat sehingga ia akan kehilangan kesombongannya.”

Gandu Demung mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka bahwa orang berkepala botak itu benar-benar telah terbakar hatinya. Namun demikian ia berkata, “Baiklah. Terserah kepadamu. Sudah aku katakan, aku hanya melayani menurut seleramu.”

“Persetan,” geramnya.

Gandu Demung pun kemudian mempersiapkan diri. Raksasa berkepala botak itu tentu memiliki kekuatan jasmaniah yang besar. Namun ia tidak yakin bahwa ia memiliki kecepatan bergerak yang sesuai dengan kekuatannya itu.

Sejenak kemudian raksasa itu telah melangkah mendekat. Nampaknya ia terlampau yakin akan dirinya. Akan kekuatannya dan ketahanan tubuhnya, seolah-olah ia membiarkan serangan lawannya mengenainya tanpa akan menghindar atau menangkisnya.

Gandu Demuing memang agak heran melihat kesombongan orang bertubuh raksasa itu. Namun dengan demikian ia menjadi semakin berhati-hati. Mungkin memang ada sesuatu yang pantas diandalkannya, sehingga ia berani berbuat demikian. Padahal orang itu tahu, bahwa Gandu Demung adalah orang yang mendapat kepercayaan dari Empu Pinang Aring.

Dalam pada itu, suasana menjadi semakin tegang. Setiap orang yang melihat kemarahan yang telah membakar jantung orang berkepala botak itu menjadi berdebar-debar. Mereka menyadari bahwa orang berkepala botak itu memang memiliki kemampuan yang tidak terlawan oleh mereka. Bahkan beberapa orang menjadi heran ketika mereka mengetahui, bahwa orang berkepala botak itu akan bergabung dengan kelompok mereka.

“Apakah ia tidak mendapat kesempatan yang lebih baik daripada berada di sini,” pernah seseorang bertanya kepada kawan-kawannya.

Namun kemudian ternyata bahwa orang berkepala botak itu benar-benar telah menjemukan bagi kawan-kawannya. Ia selalu memaksakan kehendaknya. Bahkan kadang-kadang merampas milik kawan-kawanrya yang disukainya.

Meskipun demikian, ia masih tetap tunduk kepada pimpinan kelompok, meskipun setiap kali ia mengatakan, bahwa ia memiliki beberapa kelebihan dari saudara-saudara Gandu Demung.

Kedatangan Gandu Demung bagi orang berkepala botak itu adalah kesempatan untuk menunjukkan, bahwa ia memiliki sesuatu yang pantas dikagumi, dan bahkan ditakuti oleh setiap orang di dalam kelompok itu.

Sejenak kemudian Gandu Demung telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dengan hati-hati ia pun maju beberapa langkah. Ia tidak mau menganggap bahwa lawannya adalah seseorang yang hanya pantas berada di dalam lingkungan kecil dari sekelompok penjahat di sekitar Gunung Tidar.

“Hari ini adalah hari yang terakhir bagiku di sini. Sebagai seorang yang hanya menggantungkan diri kepada seseorang yang semula tidak aku ketahui tingkatan ilmunya,” berkata orang berkepala botak itu tiba-tiba. “Karena hari ini aku akan membuktikan bahwa akulah orang terkuat di dalam kelompok ini, sehingga sepantasnya akulah yang harus menjadi pemimpin kalian. Mula-mula aku tidak berniat demikian. Tetapi penghinaan yang berlebih-lebihan, justru telah menumbuhkan dendam di dalam hatiku. Siapa yang tidak tunduk kepada keputusanku ini, akan aku bunuh di tepian ini juga.”

“Gila,” teriak kakak Gandu Demung.

Namun sebelum ia meneruskan, Gandu Demung telah mendahului, “Biarkan ia berkicau seperti seekor burung. Suaranya akan segera terhenti jika ia mengerti, berapa luasnya langit, dan betapa dalamnya lautan.”

Kemarahan orang berkepala botak itu benar-benar tidak tertahankan lagi. Dengan serta-merta ia melangkah maju sambil mengayunkan tangannya mendatar, menghantam wajah Gandu Demung.

Gandu Demung mejadi heran melihat tata gerak itu. Sangat sederhana. Namun justru karena itu, maka ia pun menjadi sangat berhati-hati.

Demikianlah, ketika ayunan tangan itu hampir mengenai pelipisnya, maka ia pun menarik kepalanya sambil bergeser melangkah ke samping.

Tangan orang berkepala botak itu berdesing di sebelah telinga Gandu Demung. Dan dengan demikian Gandu Demung dapat meraba, betapa kuatnya tenaga yang terlontar pada ayunan tangan itu.

“Gerak yang sederhana itu sangat mencurigakan,” berkata Gandu Demung di dalam hatinya.

Namun, dalam pada itu, Gandu Demung telah didorong oleh suatu keinginan untuk mengetahui kekuatan daya tahan lawannya. Karena itulah, maka sebelum orang berkepala botak itu menyadari kegagalannya. Gandu Demung telah menyerangnya. Kakinya terjulur mendatar mengarah ke lambung lawannya. Meskipun Gandu Demung tidak mempergunakan segenap kekuatannya, namun serangan kaki itu sangat berbahaya bagi lawannya.

Ternyata orang berkepala botak itu sama sekali tidak mengelak. Dibiarkannya saja kaki Gandu Demung menghantam lambungnya

Benturan itu telah mengejutkan kedua belah pihak. Gandu Demung terkejut bahwa lawannya benar-benar memiliki kekuatan raksasa sesuai dengan ujud badannya. Sedangkan orang berkepala botak itu tidak mengira bahwa Gandu Demung yang tidak sebesar dirinya itu telah berhasil menyakiti lambungnya.

Orang berkepala botak itu menggeram. Di antara mereka yang berada di dalam kelompoknya tidak seorang pun yang mampu menyakitinya dengan serangan yang betapa pun kuatnya.

Sejenak kemudian kembali keduanya menyiapkan diri untuk suatu perkelahian yang tentu akan menegangkan. Orang-orang yang mengelilingi keduanya seolah-olah telah menahan nafas mereka. Apalagi ketika mereka melihat orang bertubuh raksasa itu melangkah mendekati lawannya dengan kedua tangannya mengembang.

Gandu Demung termangu-mangu melihat sikap lawannya. Apakah ia dengan demikian telah menjebaknya, atau justru karena ia benar-benar meyakini ketahanan tubuhnya.

Dalam keragu-raguan itu justru Gandu Demung melangkah surut di luar sadarnya.

Tetapi langkah Gandu Demung itu agaknya telah mempengaruhi setiap orang yang menyaksikannya. Mereka menganggap bahwa agaknya Gandu Demung merasa segan menghadapi lawannya yang mempunyai ujud dan kekuatan raksasa itu.

Agaknya orang berkepala botak itu pun menganggapnya demikian. Karena itulah maka ia pun kemudian tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “O, anak malang. Mimpi apakah gerangan yang telah membawamu kemari mengunjungi sanak dan saudara-saudaramu. Ternyata di sini kau hanya akan mengalami nasib yang menyedihkan. Kau harus menebus kesombonganmu dengan cacat seumur hidupmu.”

Kakak Gandu Demung menjadi tegang. Ia pun menjadi cemas melihat sikap adiknya yang disangkanya memiliki kelebihan dari saudara-saudaranya yang ditinggalkan di daerah yang buram itu.

Namun tiba-tiba saja semua orang telah dikejutkan oleh sebuah tata gerak yang tidak terduga-duga. Belum lagi suara tertawa orang berkepala botak itu menurun di antara kata-katanya, tiba-tiba saja suara itu terputus. Ternyata Gandu Demung menjadi muak mendengar suara tertawa itu, dari segera meloncat menyerang langsung memukul mulut lawannya yang sedang tertawa itu.

Serangan Gandu Demung itu benar-benar telah mengejutkan orang berkepala botak itu. Tiba-tiba saja ia merasa mulutnya disengat oleh sentuhan tangan yang membuatnya menyeringai kesakitan meskipun tidak mematahkan giginya, tetapi serangan Gandu Demung yang tiba-tiba itu telah menyakitinya.

Selain perasaan sakit, orang berkepala botak dan mereka yang menyaksikannya pun menjadi heran. Betapa cepatnya Gandu Demung bergerak, sehingga tidak ada yang dapat mencegahnya, memukul mulut orang berkepala botak itu.

Sementara orang berkepala botak itu termangu-mangu kebingungan, Gandu Demung berkata dengan lantang, “Orang bertubuh raksasa. Aku ternyata tidak mengetahui, mimpi apakah gerangan aku semalam. Apalagi, makna dari mimpiku itu. Mungkin perlambang dari nasib yang malang, tetapi mungkin pula perlambang dari sebuah permainan yang mengasyikkan. Dan aku pun menjadi bingung melihat perlawananmu yang menggelikan itu.”

Orang berkepala botak itu marah bukan buatan. Seperti yang dilakukan oleh Gandu Demung, maka orang itu ingin menyerang dengan tiba-tiba, tetapi ternyata bahwa tubuh raksasanya itu tidak mampu bergerak secepat Gandu Demung,

Namun ternyata bahwa tenaganya memang terlampau kuat. Tangannya terayun menyambar kepala Gandu Demung. Terlalu keras, sehingga jika tangan itu berhasil menyentuh wajah lawannya, maka rahang Gandu Demung tentu akan patah karenanya.

Tetapi gerak itu terlalu sederhana seperti tata gerak yang terdahulu. Betapa lambannya bagi Gandu Demung meskipun cukup keras.

Gandu Demung memang memiliki kemampuan bergerak secepat burung sikatan. Karena itulah, maka ia mampu mengimbangi kekuatan lawannya dengan kecepatan geraknya.

Sekali lagi tangan orang berkepala botak itu terayun beberapa jari dari rahangnya. Sekali lagi terasa desir angin yang menyambar oleh dorongan ayunan tangan itu. Dan sekali lagi Gandu Demung berdesah karena ia menyadari betapa kuatnya tenaga orang berkepala botak itu yang terlampau percaya kepada kekuatannya sehingga ia tidak begitu menghiraukan tata geraknya. Meskipun demikian, itu bukan berarti bahwa sebenarnya orang itu tidak mampu melakukan tata gerak berlandaskan ilmu kanuragan.

Namun Gandu Demung masih saia melihat serangan lawannya yang lamban betapa pun kuatnya. Ketika ayunan tangan orang berkepala botak itu tidak mengenai sasarannya, maka ia pun melangkah maju dengan sebuah loncatan. Tangannya terjulur lurus meraih tubuh Gandu Demung.

Gandu Demung sadar, jika tubuhnya tersentuh tangan lawannya, apalagi tertangkap, ia harus dapat segera melepaskan diri sebelum tulangnya diremukkannnya.

Tetapi agaknya terlampau sulit bagi orang berkepala botak itu untuk menangkap anggota badan Gandu Demung.

Namun dengan demikian, maka kemarahan semakin membakar hati orang berkepala botak itu. Kegagalan-kegagalannya telah membuatnya semakin garang. Bahkan orang berkepala botak itu pun kemudian menyerang dengan membabi buta tanpa memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh lawannya.

Tetapi agaknya ia memang terlalu percaya kepada kekuatannya. Setiap kali ia melangkah maju menerkam lawannya, sebelum tangannya berhasil menyentuh tubuhnya, justru serangan Gandu Demung telah mengenainya. Meskipun demikian, seolah-olah ia tidak merasakan sesuatu meskipun sekilas nampak bibirnya menyeringai. Namun ia melangkah maju terus mengejar lawannya.

Gandu Demung menjadi berdebar-debar. Tetapi ia memiliki kecepatan bergerak yang jauh melampaui kemampuan lawannya. Karena itu, ketika sekali lagi orang berkepala botak itu melangkah maju, maka ia pun mendahuluinya menyerang dengan kakinya mendatar mengenai lambung.

Langkah orang berkepala botak itu terhenti. Sekali lagi ia menyeringai, namun kemudian ia melangkah maju lagi dengan tangan terjulur lurus ke depan.

“Gila,” desis Gandu Demung, “apakah badannya terbuat dari besi baja?”

Tetapi ia tidak sempat berpikir terlalu lama. Kedua tangan lawannya hampir saja berhasil mencengkam bajunya. Tetapi Gandu Demung segera memiringkan tubuhnya. Ketika kedua tangan itu terjulur tepat di muka dadanya, maka ia pun segera melangkah justru mendekat. Dengan tangannya ia menghantam perut orang itu dengan kekuatan yang menghentak.

Sebuah keluhan tertahan di mulut orang berkepala botak itu. Sesaat kedua tangannya dengan gerak naluriah memegang perutnya yang terasa mual. Sedangkan Gandu Demung mempergunakan kesempatan itu untuk menghantam tengkuk orang itu dengan sisi telapak tangannya. Orang itu tertunduk sejenak. Terasa tengkuknya disengat oleh perasaan sakit yang amat sangat.

Gandu Demung ingin mempergunakan kesempatan selanjutnya. Namun ia tidak mengira, bahwa orang yang sedang terbungkuk karena serangan di tengkuknya itu tiba-tiba saja telah menangkap kaki Gandu Demung.

Gandu Demung terkejut ketika tiba-tiba saja tubuhnya seperti terseret oleh arus yang kuat. Tulang-tulangnya bagaikan patah karena genggaman tangan yang sangat kuat itu.

Tetapi Gandu Demung telah memiliki ilmu olah kanuragan. Itulah sebabnya, maka ia pun seolah-olah digerakkan oleh nalurinya, menjatuhkan dirinya di atas pasir tepian. Kaki yang ditangkap itu pun dihentakkannya, sedangkan kakinya yang lain telah menghantam dada orang itu.

Sekali lagi sebuah keluhan tertahan di kerongkongan orang berkepala botak itu. Namun tangannya ternyata tidak melepaskan kaki Gandu Demung. Bahkan dengan kekuatan yang luar biasa, orang itu mencoba memutar tubuh Gandu Demung.

Gandu Demung menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa ia berada dalam bahaya. Jika orang itu berhasil memutar tubuhnya dan menghantam batu sebesar kerbau di sungai itu, maka kepalanya tentu akan pecah karenanya.

Namun dalam pada itu, Gandu Demung telah merasakan tubuhnya terangkat dan berputar perlahan-lahan, semakin lama menjadi semakin cepat.

Orang-orang yang menyaksikan hal itu menjadi cemas. Mereka tidak menduga, bahwa pada suatu saat Gandu Demung akan lengah, dan kakinya berhasil ditangkap oleh lawannya yang mempunyai kekuatan raksasa itu.

Kakaknya yang paling tua adalah orang yang paling cemas melihat perkembangan perkelahian itu. Baginya, adiknya adalah kebanggaan keluarganya. Terutama di dalam olah kanuragan. Dan kini ia melihat kaki adiknya itu dapat ditangkap oleh lawannya dan mulai diputarnya. Jika orang berkepala botak itu berhasil membenturkan kepala adiknya itu dengan batu-batu padas di pereng, maka kepala itu tentu akan sumyur.

Dengan demikian, maka orang berkepala botak itu tentu akan semakin sombong dan berbangga diri. Meskipun kemenangan itu tidak akan berarti mengecutkan hatinya, karena menurut perhitungannya adalah kebetulan saja Gandu Demung lengah sehingga kakinya dapat ditangkap lawannya, namun kebanggaannya terhadap adiknya selama ini di hadapan orang-orangnya akan merupakan suatu cerita khayal yang barangkali akan ditertawakan kelak.

Demikian pula orang-orangnya yang lain. Kecemasan telah mencengkam setiap jantung, sehingga semua orang yang menyaksikannya telah menahan nafasnya.

Ketika putaran itu menjadi semakin cepat, dan Gandu Demung merasakan himpitan tangan lawannya menjadi semakin kuat, maka sadarlah Gandu Demung, bahwa lawannya benar-benar akan membunuhnya. Kesadaran itulah yang kemudian telah menggelapkan pertimbangannya.

Gandu Demung bukanlah orang yang murah hati, pemaaf, dan penuh dengan kerelaan berkorban untuk sesamanya. Ia adalah orang yang berada di dalam lingkungan Empu Pinang Aring yang mempunyai kebiasaan seperti kawan-kawannya yang lain.

Karena itulah, maka Gandu Demung tidak mempunyai pilihan laki kecuali bukan saja mempertahankan hidupnya, tetapi juga membunuh lawannya dengan caranya.

Ternyata seperti yang diduga, orang berkepala botak itu memutar lawannya sambil mendekati batu-batu padas di pereng. Ia sudah bertekad untuk membenturkan kepala Gandu Demung sehingga pecah.

Darah yang mengalir di tubuh saudara-saudara Gandu Demung rasa-rasanya sudah berhenti mengalir. Bahkan kakaknya yang paling muda sudah tidak dapat menahan hatinya lagi. Sambil menggeram ia melangkah maju, karena ia merasa bahwa ia tidak akan dapat melihat salah seorang saudaranya hancur berkeping tanpa berbuat apa pun juga.

Namun dalam pada itu, selagi semua orang sedang dicengkam oleh kecemasan dan kebingungan, Gandu Demang ternyata tidak tinggal diam dan menyerahkan kepalanya untuk diledakkan pada batu-batu padas yang bergerigi runcing.

Pada saat orang berkepala botak itu merasa, bahwa kemenangan sudah berada di telapak tangannya, dan tinggal beberapa langkah saja lagi kepala Gandu Demung akan membentur batu padas yang terjal dan bergerigi tajam, Gandu Demung telah mengentakkan kekuatannya.

Bertumpu pada kekuatan tangan lawannya. Gandu Demung menghentakkan dirinya, membungkuk pada punggungnya. Suatu kekuatan yang luar biasa telah terhimpun pada kedua belah tangannya. Dengan tidak terduga-duga, maka badannya yang kemudian menjadi lengkung itu, telah mengayunkan kedua tangannya menggapai wajah orang berkepala botak itu.

Dengan serta-merta, kedua tangan Gandu Demung telah mencengkam kepala orang berkepala botak itu. Betapa kuatnya tangan Gandu Demung, sehingga dalam waktu yang hampir tidak dapat diketahui oleh lawannya, Gandu Demung telah dapat mengguncangnya sehingga kehilangan keseimbangan.

Dengan demikian, maka putaran itu pun bagaikan baling-baling yang terlepas dari porosnya. Untuk beberapa saat keduanya berputaran tidak menentu. Namun agaknya Gandu Demung masih tetap sadar agar kepalanya tidak membentur tebing batu padas yang keras itu.

Sejenak kemudian keduanya pun terlempar jatuh di atas pasir basah yang kehitam-hitaman.

Dengan susah payah keduanya berusaha untuk menguasai diri. Gandu Demung dengan sigapnya meloncat berdiri, sementara lawannya pun telah berusaha berdiri pula.

Tetapi sebenarnyalah, bahwa Gandu Demung yang merasa bahwa lawannya benar-benar akan membunuhnya itu telah kehilangan kesabaran. Sehingga dengan demikian, nampaklah warna hatinya yang sebenarnya. Seperti seekor harimau yang lapar, maka ia pun kemudian menjadi liar dan buas.

Demikian orang berkepala botak itu mencoba untuk tegak berdiri, maka tiba-tiba sebuah hantaman yang keras telah mengenai tengkuknya. Gandu Demung tidak saja memukul lawannya dengan tangannya, tetapi sebuah loncatan mendatar, dengan kaki terjulur lurus telah mengenai tengkuk lawannya itu, sehingga sekali lagi ia terhuyung-huyung dan kehilangan keseimbangan. Betapa pun kuatnya ketahanan tubuhnya, namun ia pun terjatuh pula menelungkup.

Tetapi orang berkepala botak itu segera berhasil menyadari keadaan dirinya. Karena itu, dengan serta-merta ia pun berusaha untuk tegak berdiri. Dengan didorong oleh kekuatan kedua tangannya, maka ia pun segera bangkit.

Namun ternyata bahwa Gandu Demung yang marah itu, bagaikan telah menjadi gila. Ia pun segera meloncat mendekat. Dengan kemarahan yang memuncak ia langsung menggenggam rambut yang tinggal beberapa helai di kepala orang bertubuh raksasa yang botak itu. Ketika kepalanya dihentakkan oleh tarikan pada rambut yang tersisa itu, sebuah pukulan yang keras menghantam bagian belakang kepalanya.

Yang terdengar adalah sebuah keluhan tertahan. Tetapi kemudian keluhan itu terputus karena lutut Gandu Demung menghantam wajahnya.

Beberapa orang yang menyaksikan perkelahian itu bagaikan menjadi beku. Mereka melihat bagaimana Gandu Demung membenturkan kepala lawannya pada lututnya yang diangkat ke depan. Beberapa kali, sehingga lututnya menjadi merah oleh darah yang mengalir dari mulut lawannya yang berkepala botak itu.

Namun agaknya Gandu Demung masih belum puas. Ia mulai nampak betapa ia dilahirkan dan dibesarkan di antara sekelompok penjahat yang buas. Karena itulah, maka ia pun dapat berbuat sebuas para penjahat itu pula.

Tetapi orang berkepala botak itu tidak menyerah. Ia memang mempunyai ketahanan tubuh yang tidak terduga-duga. Meskipun wajahnya telah merah oleh darah. Namun tiba-tiba ia masih mengerahkan sisa kekuatannya. Dengan serta-merta ia merenggut kepalanya meskipun lembaran-lembaran rambutnya seolah-olah telah tercabut dari kepalanya yang sedang berbenturan berkali-kali dengan lutut lawannya itu.

Dengan serta-merta ia pun kemudian, mendekap lambung Gandu Demung sedemikian kuatnya sehingga keduanya terdorong beberapa langkah dan jatuh di atas pasir.

Sejenak mereka berguling-guling sekali lagi. Kemarahan Gandu Demung benar-benar tidak terkekang. Dengan garangnya ia berusaha untuk memukuli lawannya yang mendekapnya erat-erat. Semakin lama semakin erat, sehingga seakan-akan Gandu Demung tidak dapat bernafas lagi.

Beberapa saat Gandu Demung tertegun, bagaimana mengatasi lawannya yang bagaikan melekat pada tubuhnya yang berguling-guling di pasir tepian itu, bahkan telah menyesakkan nafasnya.

Namun kemudian dengan kekuatan yang ada padanya, ia mendorong kepala botak yang melekat di tubuhnya itu. Sesaat kemudian, seperti anak-anak yang bermain-main di tepian, maka Gandu Demung pun mengangkat kakinya di sisi tubuh lawan dan menjepit lehernya. Demikian kuatnya sehingga orang yang berkepala botak itu merasa seakan-akan lehernya telah terjepit oleh sepasang besi yang berhimpitan.

Raksasa yang berkepala botak itu menggeliat. Kepalanya terangkat sejenak, namun kemudian sebuah putaran telah membenamkan kepalanya ke dalam pasir.

Gandu Demung menyadari, bahwa kekuatan lawannya tidak akan dapat diimbanginya dengan kekuatan. Karena itu, ia tidak ingin melanjutkan perkelahian ini pada jarak genggaman tangan. Karena itu, tiba-tiba saja Gandu Demung melepaskan lawannya dan melenting berdiri.

Raksasa botak itu merasa himpitan di lehernya terlepas. Dengan serta-merta pula ia berusaha untuk berdiri sambil mengusap wajahnya yang penuh dengan pasir.

Saat itulah yang ditunggu oleh Gandu Demung. Demikian lawannya tertatih-tatih berdiri, sebuah serangan dengan kekuatan kakinya telah menghantam kening lawannya itu. Tumit Gandu Demung yang bagaikan bola besi telah membuat orang berkepala botak itu menjadi pening dan terhuyung-huyung.

Betapa buasnya Gandu Demung dalam kemarahan. Tidak kurang dari kebengisan Panganti dengan senyumnya, dan tidak kalah dari kegarangan Rimbag Wara yang kejam. Dan Gandu Demung adalah seekor harimau hitam yang buas dan liar.

Tetapi kali ini Gandu Demung ingin memperlihatkan kemenangannya yang sempurna. Ia sama sekali tidak mempergunakan pedangnya. Namun ketika keempat jari-jarinya telah mengembang sambil menekuk ibu jarinya, maka kakaknya yang tertua, yang pernah melihat bagaimana adiknya membunuh dengan cara itu, menjadi berdebar-debar. Dengan serta-merta ia melangkah maju.

Dalam ketegangan itu, ia masih sempat memikirkan kemungkinan yang bakal datang. Orang berkepala botak itu, akan masih dapat dipergunakan. Kekalahannya akan meyakinkan, bahwa ia bukan orang terkuat di muka bumi ini.

Karena itu, sebelum jari-jari Gandu Demung itu mencengkam kepala lawannya dan membenam bagaikan ujung pedang, kakaknya sempat berteriak, “Gandu Demung, hentikan.”

Gandu Demung mendengar suara kakaknya. Betapa pun kemarahan mencengkam jantung, namun ia masih tetap menyadari, bahwa kedatangannya adalah dalam rangka untuk mengumpulkan kekuatan. Teriakan kakaknya telah memperingatkan pula kepadanya, bahwa raksasa berkepala botak itu akan berguna dalam usahanya di Tanah Perdikan Menoreh, atau justru di hadapan Kademangan Sangkal Putung sendiri.

Karena itulah maka perlahan-lahan Gandu Demung mengendorkan ketegangan di jantungnya. Perlahan-lahan pula ia melangkah surut menjauhi lawannya.

Ternyata bahwa raksasa berkepala botak itu telah kehabisan tenaganya. Meskipun ia berusaha, namun ia tidak lagi mampu berdiri tegak. Sentuhan pada ujung rambutnya, telah dapat melemparkannya terjerembab di atas pasir basah.

Gandu Demung berdiri tegak seperti patung. Ia memandang kakaknya yang perlahan-lahan mendekatinya.

“Lihatlah orang dungu,” berkata kakaknya kepada orahg berkepala botak itu, “apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika aku tidak mencegahnya, maka jari-jari adikku telah menghunjam di kepalamu dan memecahkan botakmu itu.”

Orang itu terengah-engah.

“Tetapi ternyata bahwa hatinya, betapa pun gelapnya karena ia memang dilahirkan di antara kami, namun ia masih bersedia memaafkanmu meskipun tentu saja dengan pamrih. Kau akan dapat menjadi salah seorang pembantu yang baik dalam tugas yang bakal datang.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sesaat ia memandang mata Gandu Demung yang bagaikan menyala. Bagaikan mata seekor harimau hitam yang bertengger di dahan-dahan pepohonan. Mengerikan sekali.

“Aku menyerah,” suara raksasa itu dalam sekali, seolah-olah berputar di dalam perutnya.

Gandu Demung menggigit bibirnya. Ia bukannya seorang pemaaf. Jika sekiranya ia tidak memerlukan tenaganya, maka orang itu tentu sudah diremasnya, dan kepalanya sudah dilubanginya dengan kuku-kukunya yang setajam pedang.

Orang berkepala botak itu menundukkan kepalanya. Ternyata ia baru mengenal Gandu Demung yang sebenarnya. Ganas, liar, dan bahkan buas seperti binatang hutan.

Sejenak Gandu Demung masih termenung. Namun kemudian tiba-tiba saja kakinya terayun ke kepala orang berkepala botak itu sambil menggeram, “Kau aku hidupi kali ini. Tetapi jika sekali lagi kau menyakiti hatiku, aku akan mencincangmu dan melemparkan kepalamu yang botak itu kepada anjing kelaparan di sepanjang-jalan.”

Betapa sakitnya hati orang berkepala botak itu seperti sakitnya sentuhan kaki Gandu Demung di wajahnya yang sudah bernoda darah. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena ia yakin, bahwa Gandu Demung tidak sedang tergurau.

Gandu Demung kemudian melangkah meninggalkan orang berkepala tolak itu. Sejenak ia memandang ke sekelilingnya dan berkata dengan nada yang berat, “Ayo, siapa lagi orang-orang baru di sini yang merasa dirinya tidak terkalahkan. Siapa yang tidak percaya bahwa Gandu Demung adalah salah seorang dari kepercayaan Empu Pinang Aring.”

Semua orang menundukkan kepalanya. Bahkan untuk bernafas pun rasanya mereka tidak sanggup lagi karena ketakutan yang mencengkam hati.

Sejenak suasana menjadi sepi tegang. Namum kemudian terdengar kakak Gandu Demung yang tertua berkata, “Pertemuan kita sudah cukup hari ini. Pergilah kalian. Bawalah raksasa botak ini.”

Beberapa orang pun kemudian melangkah meninggalkan tempat itu. Dua orang di antara mereka memapah orang berkepala botak yang ternyata sudah kehilangan kekuatannya sama sekali sehingga tidak lagi mampu berdiri.

“Gila,” desis orang berkepala botak itu ketika mereka sudah menjadi semakin jauh, “benar-benar tidak aku duga, bahwa ada orang yang memiliki kemampuan seperti anak gila itu. Aku adalah orang yang menganggap diriku kebal bukan karena ilmu, tetapi karena kekuatan alamiah yang aku miliki. Namun sentuhan tangannya bagaikan api bara besi baja. Aku tidak tahan menahan pukulannya.”

“Bukan saja pukulannya. O, jika kau melihat bagaimana jari-jarinya mengembang. Hampir saja kepalamu diterkamnya.”

“Ya. Aku sadar sekarang. Jari-jarinya memang seperti ujung pedang. Jika saudaranya yang paling tua tidak menahannya, kepalaku tentu sudah berlubang.” Namun kemudian ia masih sempat berkata, “Tetapi ternyata bahwa aku adalah orang terpenting di sini. Jika tidak, saudara tertua Gandu Demung itu tidak akan menahannya. Bahkan mungkin ia membiarkan jari-jarinya itu mencengkam sampai ke otak.”

“Mungkin kau orang terpenting. Tetapi kau tidak dapat lagi menyebut dirimu orang terkuat. Kau tentu dapat menduga, bahwa saudaranya itu pun memiliki ilmu serupa meskipun tidak sekuat Gandu Demung.”

Orang berkepala botak itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang tidak menyangka, bahwa ada kekuatan yang tidak ada taranya. Tetapi dengan demikian kita menjadi mantap. Apa pun yang akan kita lakukan, kita tidak akan gentar karena pemimpin yang akan membawa kita ke medan tugas, bukannya hanya sekedar menggantungkan nasibnya kepada kita semuanya.”

“Ya. Dan sudah barang tentu Gandu Demung tidak akan berbuat demikian pula.”

Raksasa berkepala botak itu mengangguk-angguk. Ia mengucap terima kasih di dalam hatinya, bahwa ia masih sempat hidup dan melakukan pekerjaan yang memang disukainya itu.

Setiap kali, hatinya masih saja disentuh kengerian jika teringat olehnya kemungkinan bahwa kepalanya akan berlubang sejumlah jari tangan.

Dalam pada itu, Gandu Demung masih berada di tepian bersama saudara-saudaranya. Mereka masih berbicara tentang beberapa hal, juga tentang raksasa berkepala botak itu.

“Apakah ia tidak akan membuat kesulitan di kemudian hari?” bertanya salah seorang saudara Gandu Demung.

“Tidak. Ia telah benar-benar menjadi jera,” desis saudaranya yang tertua. “Melihat sorot matanya dan wajahnya yang pucat, aku berpendapat, ia tidak akan berani menyombongkan dirinya lagi.”

Saudara-saudaranya yang lain mengangguk-anggukan kepalanya.

“Marilah, kita akan kembali ke gubug kita. Kita dapat berbicara selanjutnya mengenai rencana kita,” ajak saudaranya yang tertua.

Demikianlah maka mereka pun kemudian meninggalkan tempat itu, kembali ke sebuah gubug yang khusus dibuat di pategalan yang jauh dari padukuhan, bahkan sudah dekat di pinggir sebuah hutan kecil yang panjang.

Dengan sungguh-sungguh mereka mulai merencanakan apa yang sebaiknya mereka lakukan.

“Kita dapat menghubungi salah satu kelompok lain yang pantas,” berkata Gandu Demung kemudian. “Aku masih ragu-ragu, apakah dua kekuatan saja dapat berhasil menguasai sepasang pengantin itu bersama para pengiringnya.”

“Kekuatan Ki Bajang Garing tidak terpaut banyak dengan kekuatan kita di sini,” berkata saudara Gandu Demung yang tertua. “Karena itu kau tentu sudah dapat mempertimbangkannya.”

“Masih kurang. Agaknya kita masih perlu mencari kekuatan yang dapat membantu. Meskipun agaknya Ki Bajang Garing dan kelompok kita tidak sejalan sebelumnya, namun di dalam hal ini, kita akan dapat menemukan cara untuk bekerja bersama,” sahut Gandu Demung. “Aku menemukan keyakinan, bahwa hal itu dapat dilakukan setelah aku bertemu sendiri dengan Ki Bajang Garing.”

Saudara-saudara Gandu Demung mengangguk-angguk. Yang tertua kemudian berkata, “Aku akan menemui Kiai Wedung Kalang dari daerah Hutan Pengarang. Mudah-mudahan kita dapat menemukan sikap yang sama menghadapi persoalan ini.”

“Tetapi jika harus didahului dengan kekerasan seperti yang terjadi pada kelompok Ki Bajang Garing, bahkan di kelompok kita sendiri, maka aku akan meyakinkan mereka,” desis Gandu Demung.

Saudara-saudaranya mengangguk-angguk pula. Yang tertua bergumam, “Memang mungkin.”

Gandu Demung mengangkat alisnya. Sekilas terbayang kelebatan hutan Pengarang. Dan ia yakin, bahwa penghuni Hutan Pengarang tentu bukannya kelinci-kelinci kecil, tetapi tentu sebangsa serigala atau bahkan harimau belang.

“Baiklah. Sebenarnya hubungan Ayah dengan Kiai Wedung Kalang cukup baik. Jika terjadi sesuatu, agaknya persoalannya tentu mirip dengan keragu-raguan orang berkepala botak itu.”

“Justru keragu-raguan yang demikian itulah yang perlu diyakinkan.”

Saudara-saudara Gandu Demung mengangguk-angguk. Dan mereka pun kemudian sepakat untuk pergi ke Hutan Pengarang di keesokan harinya.

Ketika matahari terbit, maka tiga orang bersaudara telah pergi ke Hutan Pengarang. Gandu Demung hanya disertai dua orang saudaranya saja membawa pesan ayahnya untuk Kiai Wedung Kalang. Agaknya rencana yang disusun Gandu Demung itu tidak akan terlampau sulit untuk diterima oleh orang-orang dari Hutan Pengarang.

Meskipun demikian tidak mustahil bahwa orang-orang di Hutan Pengarang yang merasa mempunyai beberapa orang yang berilmu tinggi, tidak akan bersedia berada di bawah perintah orang-orang lain.

“Jangan kau sebutkan seluruh rencanamu,” berkata saudara Gandu Demung yang tertua, “jika tidak ada kesepakatan itu antara kita, maka berarti dari Hutan Pengarang akan dapat mendahului rencana kita.”

“Mereka tidak akan kuat untuk melakukannya sendiri,” jawab Gandu Demung.

“Mungkin mereka akan mencari kawan-kawan lain.”

“Itu berarti bahwa kita akan bertempur.”

“Ya. Dan kemungkinan yang demikian itu memang ada.”

Gandu Demung mengangguk-angguk. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan yang memang dapat terjadi, karena lingkungan mereka tidak ubahnya dengan lingkungan Hutan Pengarang itu sendiri. Lambang dari kekuasaan adalah kekuatan.

Dalam pada itu, selagi orang-orang di sekitar Gunung Tidar sibuk dengan rencananya, maka di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu pun telah mulai sibuk pula. Mereka yang berada di daerah itu, harus menyiapkan suatu pertemuan rahasia pasukan yang seolah-olah berimbang kekuatannya. Di dalam satu hal mereka dapat berjalan seiring. Namun di dalam persoalan yang lain, benturan mungkin sekali terjadi, juga di dalam persoalan mereka, berlaku pertimbangan, bahwa kekuatan akan menentukan kekuasaan.

Ternyata bahwa Kiai Kalasa Sawit telah datang lebih cepat dari rencana. Namun ia telah membawa berita yang mengejutkan. Kematian Kiai Jalawaja. Dan kematian Kiai Jalawaja itu ternyata telah mengharuskan para pemimpin itu mengadakan pembicaraan pendahuluan.

Namun mereka tidak menemukan sikap yang dapat memberikan arah yang jelas pada pertemuan yang lebih besar antara beberapa orang pemimpin, bukan saja kelompok-kelompok yang berada di tempat persembunyian yang tersebar, tetapi di antara mereka juga terdapat beberapa orang pemimpin prajurit di Pajang.

Akhirnya mereka sependapat bahwa persoalan yang akan mereka bicarakan akan ditentukan pada suatu saat. Di saat mereka akan berkumpul di lembah yang seolah-olah tertutup dari dunia di luar lingkungan mereka itu.

Namun bagaimana pun juga, pengaruh terbesar berada di tangan seorang Senapati Agung dari Pajang yang tidak banyak diketahui, siapakah sebenarnya orang itu. Jarang sekali yang pernah mengenal wajahnya dari dekat, dan apalagi mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Hanya beberapa orang kepercayaannya sajalah yang dapat bertemu muka dan berbicara berterus-terang. Orang-orang itulah yang mewakilinya mengadakan hubungan dengan para pemimpin kelompok-kelompok yang menyatakan diri bergabung dengan perjuangan untuk menegakkan lagi kekuasaan Majapahit.

Tetapi pada pertemuan yang menentukan, maka telah ada kesanggupan dari orang yang tidak banyak dikenal itu untuk hadir langsung memimpinnya.

Namun dalam pada itu, suatu kegiatan yang terpisah telah pula terjadi di Sangkal Putung dan di Tanah Perdikan Menoreh. Hari-hari yang dilalui, bagaikan terbang dihembus oleh angin yang kencang bagi Ki Demang Sangkal Putung dan Ki Gede Menoreh. Rasa-rasanya mereka menjadi sangat tegesa-gesa. Persiapan yang telah mereka lakukan sejak selapan hari yang lalu, rasa-rasanya masih jauh dari mencukupi.

Tetapi bagi Swandaru dan Pandan Wangi, hari-hari rasa-rasanya berjalan terlalu lambat. Matahari berkisar dengan malasnya. Rasa-rasanya sejak terbit sampai saat terbenamnya, perjalanannya telah memerlukan waktu dua kali lebih lama dari hari-hari biasa. Apalagi jika malam tiba. Suara burung hantu yang ngelangut, seolah-olah telah menghentikan putaran waktu. Dan malam pun menjadi jauh lebih panjang.

Bahkan ternyata bukan keluarga terdekat dari Ki Demang Sangkal Putung dan Ki Gede Menoreh sajalah yang terpengaruh oleh persiapan itu. Bahkan anak-anak muda di kedua tempat itu pun menganggap bahwa waktu menjadi sangat lamban. Mereka pun ingin segera melihat Swandaru dan Pandan Wangi duduk bersanding dalam pakaian kebesaran sepasang mempelai. Baik di Tanah Perdikan Menoreh, maupun di Kademangan Sangkal Putung.

Untuk mengisi waktu, maka mereka yang telah ditunjuk oleh Ki Demang Sangkal Putung untuk pergi bersamanya mengawal Swandaru ke Tanah Perdikan Menoreh, mencoba menenggelamkan diri ke dalam latihan-latihan yang sungguh-sungguh. Mereka telah mendengar berita, bahwa ada sesuatu yang telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh, sehingga tidak mustahil bahwa di sepanjang jalan mereka harus mempergunakan senjata mereka.

Agar tidak membuat orang-orang lain cemas, maka mereka telah mengambil tempat yang terpencil untuk melakukan latihan-latihan yang sungguh-sungguh. Di tengah pategalan bersama Agung Sedayu.

Agung Sedayu yang juga menyadari bahwa kemungkinan yang sulit memang dapat terjadi, maka ia pun telah berusaha sejauh mungkin mempersiapkan anak-anak muda di Sangkal Putung yang akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Dengan sungguh-sungguh ia telah mencoba meningkatkan kemampuan anak-anak muda yang pada dasarnya memang pernah berlatih olah kanuragan. Pada saat Tohpati mengancam Sangkal Putung yang kaya dengan bahan makanan untuk merampasnya dan menguasainya sebagai lumbung yang tidak akan kering, anak-anak muda itu sudah ikut serta di dalam setiap pertempuran yang terjadi. Dari para prajurit Pajang yang berada di Sangkal Putung mereka mendapat dasar-dasar olah kanuragan. Namun kemudian mereka telah meningkatkan ilmu mereka sedikit demi sedikit. Sedangkan yang terakhir, Agung Sedayu telah membimbing mereka dengan sepenuh hati.

Anak-anak muda itu pun dengan sepenuh hati pula melatih diri. Tidak saja dalam kelompok yang terdiri dari beberapa orang, tetapi Agung Sedayu menilik mereka seorang demi seorang.

“Waktunya menjadi semakin pendek,” berkata Agung Sedayu, “tidak ada sepuluh hari lagi.”

“Tujuh hari,” desis seorang yang bertubuh tinggi.

“Nah, tujuh hari lagi kita akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh sebagai pengiring Swandaru. Tentu akan merupakan sebuah iring-iringan yang cukup menarik perhatian. Tetapi tentu akan menarik perhatian pula bagi orang-orang yang berniat buruk. Sudah kalian dengar apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Dan sudah kalian dengar pula apa yang telah terjadi di sebelah barat Jati Anom, di lereng Merapi, pada sebuah padukuhan yang bernama Tambak Wedi. Mungkin kita akan menjumpai orang-orang Tambak Wedi yang berkeliaran sampai ke Tanah Perdikan Menoreh, tetapi mungkin pula kita akan bertemu dengan kelompok lain yang mempunyai tujuan dan cara yang sama dengan kelompok Kiai Kelasa Sawit.”

Anak-anak muda Sangkal Putung itu mengangguk-angguk.

“Kita harus menyadari, bahwa setiap orang dalam gerombolan itu memiliki kecakapan bertempur seperti seorang prajurit, sehingga kalian pun harus membuat diri kalian mempunyai kecakapan bertempur seperti seorang prajurit.”

Anak-anak muda Sangkal Putung itu mengangguk-angguk. Namun mereka pun sadar, bahwa kemampuan mereka sudah mulai meningkat pula. Dan bahkan mungkin sudah berhasil menyamai kemampuan sebagai seorang prajurit. Baik dalam perkelahian seorang lawan seorang, maupun dalam kelompok dan bahkan gelar.

Untuk meyakinkan diri sendiri, salah seorang dari anak-anak muda itu telah mencoba bertanya kepada Agung Sedayu, “Apakah kemampuan kami masih jauh berada di bawah kemampuan orang Tambak Wedi itu?”

“Tentu tidak,” jawab Agung Sedayu, “bukan sekedar membuat kalian berbesar hati, tetapi menurut penilaianku, kalian sudah memiliki kemampuan seorang prajurit. Tetapi jika kebanggaan itu membuat kalian menjadi sombong, maka itu adalah permulaan dari kehancuran. Serupa dengan itu adalah kehilangan pengamatan diri. Memang tidak akan dapat menghindarkan diri dari kemarahan yang menyentuh perasaan. Tetapi kita jangan lupa diri dan kehilangan perhitungan,” Agung Sedayu berhenti sejenak. “Tetapi yang lebih utama dari semuanya itu adalah, bahwa kita tidak perlu berkelahi dengan siapa pun juga dengan alasan apa pun juga.”

Anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun salah seorang dari mereka bertanya, “Aku tidak mengerti. Kenapa kita tidak perlu berkelahi. Untuk apa kita belajar mempertahankan diri dalam ujud olah kanuragan seperti ini?”

“Hanya dalam keadaan yang memaksa. Jika kita tidak dapat menemukan jalan lain, maka baru jalan yang paling buruk inilah yang kita tempuh untuk menyelamatkan diri atau menyelamatkan sikap yang kita yakini kebenarannya.”

Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala, mereka memang sudah mengerti sifat dan watak Agung Sedayu. Namun sebagian besar dari mereka menganggap sikap itu sebagai sikap yang ragu-ragu. Bahkan beberapa orang dari mereka pernah berkata, “Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang pilih tanding. Sayang, ia adalah seorang yang lemah, sehingga nampaknya ia bukan sebagai seorang yang berhati jantan. Agak berbeda dengan Swandaru. Ia adalah seorang laki-laki jantan yang lengkap. Memiliki ilmu yang tinggi, keputusan yang tegas dan tidak ragu-ragu menentukan sikap menghadapi apa pun juga.”

Agaknya Agung Sedayu pun menyadari akan sifat dan wataknya itu dibanding dengan saudara seperguruannya. Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak merubah sikapnya. Bahkan kehadiran Rudita di dalam sentuhan-sentuhan yang tajam di hatinya, membuatnya justru semakin ragu-ragu.

Dengan sadar ia pun memahami dirinya sendiri, seperti yang dikatakan oleh gurunya, bahwa ia masih berdiri di atas dua alas. Bahkan kadang-kadang ia kurang jujur terhadap dirinya sendiri.

“Tetapi itu adalah sifat kebanyakan orang, Agung Sedayu,” berkata gurunya, “kau tidak usah berkecil hati. Cobalah mencari bentuk yang paling mantap bagimu sendiri. Jangankan kau. Sedangkan aku, dan bahkan Ki Waskita, ayah Rudita, belum menemukan kemantapan sikap seperti Rudita.”

Setiap kali Agung Sedayu hanya dapat merenungi dirinya sendiri. Dan bahkan sekali gurunya pun berkata, “Rudita sendiri bukannya orang yang telah menemukan sikap murni. Kau tahu, bahwa ia masih melindungi dirinya dalam sifat pasrahnya dengan ilmu kebal yang justru lebih baik dari ayahnya sendiri. Bukankah itu juga suatu sifat yang sama seperti yang terdapat di dalam hatimu, namun dalam ujud yang lebih lemah. Jauh lebih lemah.”

Dan sekarang, Agung Sedayu berhadapan dengan anak-anak muda Sangkal Putung. Bukan dengan Rudita. Karena itulah maka ia harus menyesuaikan dirinya dan sikapnya, agar mereka tidak kehilangan pegangan, justru karena dasar penilaian yang berbeda pada sikap dan pandangan hidupnya.

Anak-anak muda Sangkal Putung itu tentu tidak akan dapat diajak berbicara tentang sikap dan pandangan hidup Rudita. Sehingga jika dipaksakannya, maka akibatnya akan kurang baik bagi anak-anak muda itu dan hubungannya dengan Agung Sedayu sendiri. Untuk memperkenalkan sifat dan watak Rudita kepada anak muda itu, perlu keadaan dan waktu yang khusus.

Karena itulah maka di hadapan anak-anak muda itu, Agung Sedayu sama sekali tidak memperbincangkan tentang sikap dan watak. Dengan sungguh-sungguh ia membimbing mereka dalam olah kanuragan, sehingga kemampuan anak-anak muda itu memang meningkat di hari-hari terakhir. Semakin dekat mereka dengan hari-hari perkawinan Swandaru, maka mereka pun semakin bersungguh-sungguh melatih diri.

Sementara itu menjelang hari-hari keberangkatan Swandaru ke Tanah Perdikan Menoreh, Kademangan Sangkal Putung menjadi semakin sibuk. Tidak ada yang dapat dibawa dari Sangkal Putung, selain barang-barang bagi upacara pengantin. Kelengkapan lain yang berupa makanan dan buah-buahan akan dicari setelah mereka berada di Tanah Perdikan Menoreh, karena tidak mungkin membawanya langsung dari Kademangan Sangkal Putung.

“Pengawalan yang kuat telah disiapkan oleh Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kepada Ki Demang Sangkal Putung.

“Terima kasih, Kiai,” jawab Ki Demang, “kami percaya, bahwa Anakmas Agung Sedayu mempunyai gambaran yang cukup bagi perjalanan kita nanti.”

“Aku sendiri juga sering melihat. bagaimana anak-anak muda itu berlatih. Mereka telah memiliki kemampuan seorang prajurit. Baik dalam perkelahian seorang lawan seorang, maupun di dalam kelompok yang barangkali harus menghadapi kelompok yang mapan seperti pasukan Kiai Kalasa Sawit di Padepokan Tambak Wedi.”

“Tetapi apakah jumlahnya mencukupi, Kiai.”

“Aku kira sudah cukup. Seandainya ada sekelompok orang yang mencegatnya, tentu tidak akan segelar sepapan seperti kekuatan yang ada di Tambak Wedi. Mungkin kekuatan yang cukup besar, namun masih dapat diperhitungkan, bahwa kekuatan para pengiring Swandaru pun cukup besar pula.”

Namun bagaimana pun juga Ki Demang Sangkal Putung masih saja selalu dibayangi oleh kecemasan. Seolah-olah daerah selatan, yang membujur panjang dari Sangkal Putung sampai ke Tanah Perdikan Menoreh itu merupakan daerah yang paling gawat dari seluruh wilayah Pajang.

“Justru pada saat Swandaru akan kawin, daerah ini telah menjadi panas kembali,” gumamnya.

“Itu hanya suatu kebetulan Ki Demang,” berkata Ki Sumangkar, “tetapi mudah-mudahan iring-iringan pengantin Swandaru tidak akan menemui kesulitan apa pun juga.”

“Kita akan selalu berdoa,” desis Kiai Gringsing kemudian.

Namun yang juga menjadi persoalan kemudian adalah Sekar Mirah. Dengan sangat ia minta untuk ikut serta bersama iring-iringan itu ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Mirah,” berkata ayahnya, “kau sudah mendengar, jalan yang akan kita lalui tidak selicin jalan untuk tamasya.”

“Aku tahu, Ayah. Justru karena itu, aku ingin ikut serta bersama Kakang Swandaru dan Kakang Agung Sedayu.”

“Kau adalah seorang gadis. Dalam keadaan yang gawat ini, sebaiknya kau tinggal di rumah saja.”

“Ayah sangka bahwa aku tidak dapat menjaga diriku sendiri?”

“Aku tahu, Mirah. Tetapi kesulitan seorang gadis akan jauh lebih besar dari kesulitan seorang laki-laki.”

Tetapi seperti biasanya, hati Sekar Mirah menjadi sekeras batu. Katanya, “Tidak ada bedanya, Ayah. Batas terakhir bagi seorang laki-laki dan seorang perempuan adalah mati. Apakah ada yang lebih buruk dari itu?”

“Ada, Mirah,” jawab ayahnya, “jika kau jatuh ke tangan penjahat-penjahat itu?”

“Mereka hanya dapat menangkap aku jika tubuhku telah terbaring tanpa bernafas lagi.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, dalam keadaan seperti itu Sekar Mirah sudah tidak dapat diajak berbicara lagi. Kemungkinan satu-satunya adalah mengijinkan ia ikut serta bersama iring-iringan pengantin yang akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh itu. Sebab jika tidak, maka justru ia akan dapat menyusul seorang diri.

Dengan demikian maka sambil menarik nafas dalam-dalam Ki Demang berkata, “Baiklah aku berbicara dengan Ki Sumangkar.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah gurunya yang berkerut-merut, seolah-olah ia ingin minta kepadanya agar ia tidak berkeberatan.

Tetapi Ki Sumangkar sama sekali tidak memandang wajah Sekar Mirah. Bahkan ia memandang ke kejauhan, seolah-olah tidak mendengar pembicaraan itu.

Sekar Mirah menjadi ragu-ragu. Dan ayahnya pun kemudian berkata, “Sudahlah. Pergilah ke belakang, barangkali ibumu memerlukan bantuanmu. Aku akan berbicara dengan Ki Sumangkar.”

Sekar Mirah masih saja ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian bergeser surut meninggalkan ayahnya yang masih saja duduk dipendapa bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.

Sepeninggal Sekar Mirah, Ki Demang bertanya kepada Ki Sumangkar, “Bagaimana pendapat Kiai dengan perkembangan terakhir dari Tanah Perdikan Menoreh?”

Ki Sumangkar tersenyum. Katanya, “Sekar Mirah adalah seorang gadis yang cukup untuk melakukan perjalanan bersama dengan para pengawal. Selebihnya ia akan dapat menjadi kawan Pandan Wangi nanti dalam perjalanan kembali ke Kademangan Sangkal Putung. Karena satu-satunya perempuan yang pantas untuk ikut dalam iring-iringan ini hanyalah Sekar Mirah. Jika kita mengajak perempuan lain yang akan menjadi kawan Pandan Wangi, maka akibatnya akan dapat menyulitkan.”

Ki Demang dapat mengerti pendapat Ki Sumangkar. Tetapi Sekar Mirah adalah anaknya. Sedangkan anaknya hanya dua. Swandaru dan Sekar Mirah. Jika terjadi sesuatu di perjalanan, maka kedua-duanya ada di dalam iring-iringan itu pula.

Tetapi Ki Demang memang tidak akan dapat memilih orang lain. Satu-satunya perempuan yang pantas untuk menjadi kawan Pandan Wangi dalam perjalanan yang gawat itu adalah Sekar Mirah.

Karena itulah maka Ki Demang Sangkal Putung pun kemudian mengangguk sambil berkata, “Memang tidak ada pilihan lain, Ki Sumangkar.”

Ki Sumangkar pun dapat mengerti, kecemasan yang mencengkam hati Ki Demang Sangkal Putung. Karena itu, maka katanya kemudian, “Kami semuanya akan berusaha untuk membebaskan diri dari kesulitan. Dan kami akan selalu berdoa, mudah-mudahan kami dilindungi oleh Yang Maha Murah, sehingga perjalanan kami sama sekali tidak akan mendapat gangguan apa pun juga.”

Karena itu, maka Ki Sumangkar dan Kiai Gringsing pun kemudian meninggalkan Ki Demang yang masih saja merenung. Dengan suara yang datar Ki Demang berkata, “Semuanya aku serahkan kepada Kiai berdua.”

“Mudah-mudahan kami dapat melakukan tugas kami sebaik-baiknya,” jawab Kiai Gringsing.

Sepeninggal Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang kemudian turun ke halaman. Ki Demang masih duduk untuk beberapa saat di pendapa. Kemudian ia pun menerima beberapa orang bebahu kademangannya dan orang-orang tua di Sangkal Putung. Dengan hati-hati Ki Demang masih mencoba menyaring di antara mereka, siapakah yang akan turut ke Tanah Perdikan Menoreh bersama iring-iringan pengantin.

“Empat orang yang memiliki kemampuan dan ketahanan berkuda,” berkata Ki Demang, “tetapi yang cukup pantas mewakili orang-orang tua di Sangkal Putung.”

Ki Jagabaya yang hadir juga di pendapa itu mengerutkan keningnya. Dengan menyesal ia bergumam, “Kalau saja aku boleh ikut serta.”

“Kau harus berada di kademangan ini Ki Jagabaya,” sahut Ki Demang.

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun memandang kepada seorang yang umurnya sudah setua Ki Demang Sangkal Putung, namun yang badannya masih nampak jauh lebih segar meskipun kumisnya sudah memutih.

“Ia adalah bekas seorang prajurit,” berkata Ki Jagabaya.

Ki Demang pun memandang orang berkumis putih itu. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Ya. Aku lupa, bahwa ia adalah bekas seorang prajurit.”

“Bukan hanya aku,” jawab orang berkumis putih itu, “lihatlah orang yang duduk di sisi kanan Ki Demang itu.”

Semua orang berpaling kepada orang yang duduk di sebelah kanan Ki Demang. Seorang yang nampaknya lebih tua dari orang berkumis putih serta Ki Demang sendiri. Orang itu meskipun masih kuat, tetapi giginya sama sekali sudah habis. Ketika ia kemudian tersenyum nampaklah bahwa ia memang sudah tidak bergigi lagi.

“O,” Ki Demang mengangguk-angguk, “kau benar, ia juga bekas seorang prajurit. Tetapi apakah kau masih kuat naik kuda dalam perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh?”

“Jangankan naik kuda,” jawab orang itu, “aku masih sanggup pergi ke Menoreh dengan naik kerbau tanpa pelana.”

Orang-orang yang mendengarnya tertawa. Sedangkan Ki Demang pun mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Demikianlah akhirnya beberapa orang yang bersedia ikut serta ke Tanah Perdikan Menoreh di antara orang-orang tua di Sangkal Putung, Ki Demang telah memilih empat orang. Dua di antaranya adalah bekas prajurit Pajang yang sudah terlalu tua bagi jabatannya. Namun demikian mereka masih cukup kuat untuk berkuda mengiringkan pengantin dari Sangkal Putung ke Tanah Perdikan Menoreh. Sedangkan dua orang lagi adalah orang-orang tua yang pernah menjadi pengawal Kademangan Sangkal Putung di masa mudanya. Namun pada saat Sangkal Putung menjadi sasaran pasukan yang dipimpin Tohpati mereka pun masih sanggup menggenggam pedang di samping anak-anak muda yang masih segar.

Dengan demikian, maka Kademangan Sangkal Putung telah mempunyai susunan yang lengkap dan pasti, siapakah yang akan berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh mengiringkan Swandaru. Karena seperti yang diperhitungkan, Swandaru dan para pengiringnya, memang akan membawa barang-barang dan perhiasan. Selain yang akan mereka serahkan kepada pihak pengantin perempuan, maka mereka pun telah membawa perhiasan bagi diri mereka masing-masing. Bagaimana pun juga ada suatu kebanggaan di dalam hati apabila di saat perelatan itu tiba, mereka dapat memakai perhiasan yang tidak kalah dengan orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh sendiri. Karena itu, maka mereka pun harus bertanggung jawab atas barang-barang dan perhiasan yang mereka bawa, selain perjalanan Swandaru itu sendiri.

“Lima belas orang anak-anak muda terlatih baik,” berkata Ki Demang kemudian kepada para bebahu itu, “selebihnya empat orang tua-tua, aku sendiri, Kiai Gringsing dengan Agung Sedayu dan Ki Sumangkar, selain Swandaru sendiri. Selain semua itu, aku masih akan disertai seorang perempuan. Sekar Mirah.”

“Ah,” desis Ki Jagabaya, “Sekar Mirah memang mempunyai kelebihan dari seorang gadis biasa. Tetapi apakah perjalanan ini tidak terlampau berbahaya baginya?”

“Perjalanan kembali dari Tanah Perdikan Menoreh pengantin perempuan memerlukan sekurang-kurangnya seorang kawan. Tidak ada perempuan lain yang paling pantas untuk perjalanan ini kecuali Sekar Mirah. Jika aku membawa orang lain, maka dalam suatu keadaan yang gawat, ia akan menjadi pingsan karenanya.”

Ki Jagabaya kemudian mengangguk-angguk. Memang tidak ada orang lain kecuali Sekar Mirah.

Dalam pada itu, hari-hari pun merambat semakin maju. Yang sebulan menjadi sepuluh hari. Kemudian tinggal sepekan dan akhirnya saat-saat yang dinantikan dengan tegang itu pun sampai pula di ujung hidung.

Dua hari lagi, Swandaru akan berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh bersama pengiringnya. Seperti yang sudah direncanakan, maka setiap orang dalam iring-iringan itu tidak dibenarkan mempergunakan perhiasan di perjalanan. Dan sesuai dengan pendapat Ki Demang sendiri, maka iring-iringan itu tidak akan berjalan bersama-sama. Tetapi mereka akan membagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terpisah, meskipun jaraknya tidak akan terlalu jauh.

“Ada juga baiknya,” berkata Ki Sumangkar, “jika kita terperosok pada sebuah perangkap, maka tidak seluruhnya berada di dalamnya.”

“Ya. Itulah yang aku pikirkan,” berkata Ki Demang, “aku harus memisahkan Swandaru dan Sekar Mirah.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia mengerti, kecemasan yang sangat selalu membayangi Ki Demang Sangkal Putung tentang kedua anak-anaknya yang akan ikut bersamanya ke Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, selagi Sangkal Putung mempersiapkan diri, maka di Tanah Perdikan Menoreh, nampak kegiatan yang meningkat pula dari para petani. Pagi-pagi benar, sudah ada beberapa orang yang berada di sawah, meskipun baru duduk-duduk di pematang. Ada di antara mereka yang duduk di gardu-gardu di ujung bulak.

Namun dalam pada itu, salah teorang dari dua orang yang berjalan melintasi sebuah bulak panjang tertawa sambil berkata, “Lihatlah, betapa orang-orang Tanah Perdikan Menoreh telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan.”

Yang lain pun menyahut, “Mereka menganggap bahwa kita adalah anak-anak dungu yang tidak dapat melihat, bahwa meskipun yang nampak di pundak para petani itu adalah cangkul, tetapi pada mereka pasti terdapat senjata. Karena aku yakin, mereka bukannya petani-petani sewajarnya.”

“Kita akan menyesuaikan pengamatan kita dengan Ki Bajang Garing,” berkata yang seorang lagi.

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi pengamatanmu benar, Gandu Demung. Mereka tentu pengawal-pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang mengadakan baris pendem menyongsong kedatangan Swandaru besok lusa.”

Keduanya pun kemudian tertawa tertahan. Sambil berjalan terus mereka sempat mengamati keadaan Tanah Perdikan Menoreh yang bersiaga sepenuhnya.

“Keamanan yang mantap di hari-hari terakhir tentu membuat mereka agak lengah,” berkata Gandu Demung.

Yang lain tidak menjawab. Keduanya pun berjalan terus sebagai dua orang petani yang sekedar melintas di daerah Tanah Perdikan Menoreh.

Di tempat yang sudah ditentukan, di pinggir sebuah hutan perdu yang sepi, mereka ternyata telah ditunggu oleh tiga orang yang bersama-sama melihat-lihat daerah Tanah Perdikan Menoreh dari dekat. Seorang yang bertubuh pendek segera berkata, “Kita tidak melihat sesuatu yang pantas mendapat perhatian. Tetapi daerah ini merupakan daerah yang tidak dapat kita jadikan medan.”

“Kenapa?” bertanya Gandu Demung.

“Kau juga melihat-lihat daerah ini?”

“Ya.”

“Tentu kita sama-sama melihat. Aku telah melihat-lihat di daerah penyeberangan. Aku melihat kesibukan yang berlebih- lebihan di sawah di sebelah penyeberangan itu.”

Gandu Demung tertawa. Katanya, “Kita melihat hal yang sama. Itu adalah kecerobohan yang tidak boleh diulangi oleh Ki Gede Menoreh. Dengan demikian, maka kita dapat melihat, bahwa jika kita bertindak dengan tergesa-gesa, maka kita akan masuk ke dalam perangkap.”

Dalam pada itu, seorang yang bertubuh tinggi kekar, berdada bidang dan berkumis melintang menyambung, “Sebenarnya kita tidak perlu berlaku seperti pengecut sekarang ini. Seolah-olah dengan ketakutan kita melihat-lihat, apakah ada lawan yang berbahaya bagi kita atau tidak. Jika kita memang berniat, kita dapat berbuat apa pun dan di mana pun.”

“Kiai Kalang Wedung memang orang yang paling dungu yang aku kenal,” sahut Ki Bajang Garing. “Aku sudah ragu-ragu, kenapa Carangsoka memilih Kalang Wedung untuk bersama-sama melakukan tugas yang rumit tetapi tidak banyak manfaatnya ini.”

“Bajang yang malang. Kau jangan mengigau sekarang ini.”

“Tidak ada kesempatan untuk saling membanggakan diri dengan sombong sekarang,” potong Gandu Demung, “kita melihat tugas kita yang sulit. Kita tidak boleh menjadi pengecut. Tetapi kita bukan orang dungu yang tidak berperhitungan. Karena itu, maka kita akan mengambil sikap. Sikap sebagai seorang yang mempunyai nalar yang utuh, tetapi bukan sikap seorang pengecut.”

Kiai Kalang Wedung mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa. Katanya, “Kau mempunyai sifat watak seperti ayahmu. Ternyata kau memiliki kelebihan dari saudaramu. Tetapi kau agaknya keras kepala dan kurang menghargai orang lain. Itulah yang lain dari ayahmu, karena ayahmu justru terlalu memperhatikan pendapat orang lain, sehingga dalam banyak hal tidak berani mengambil keputusan.”

“Sekarang kita berbicara tentang tugas kita,” potong Gandu Demung.

Kiai Kalang Wedung dari Hutan Pengarang masih saja tertawa.

Sejenak Gandu Demung termangu-mangu. Namun ia masih tetap pasti, bahwa Kiai Kalang Wedung akan tetap membantunya dengan baik. Ketika ia datang menemuinya di Hutan Pengarang, ternyata ia tidak mengalami kesulitan apa pun juga. Ia tidak perlu menunjukkan kemampuannya untuk mengatasi orang-orang yang merasa dirinya berilmu tinggi, karena demikian ia memperkenalkan diri, langsung Kiai Kalang Wedung berkata, “O, jadi kau anak yang luar biasa itu? Apalagi kau sekarang berada di dalam lingkungan Empu Pinang Aring.”

Sehingga dengan demikian, maka semuanya berlangsung tanpa kesulitan. Kiai Kalang Wedung langsung menyatakan kesanggupannya bekerja tersama untuk tugas yang rumit itu bersama Ki Bajang Garing.

Seperti yang diduga oleh Gandu Demung, Kiai Kalang Wedung memang tidak merubah niatnya untuk membantunya menyelesaikan tugas itu. Meskipun kepada Gandu Demung ia berkata, “Mumpung aku mempunyai kawan yang berani mempertanggung-jawabkan tindakan yang berat dan agak kasar ini, karena dengan demikian kami berarti menantang Tanah Perdikan Menoreh dan sekaligus Kademangan Sangkal Putung. Dua daerah yang mempunyai pertimbangan nilai tersendiri di samping Pajang dan Mataram yang tumbuh menjadi semakin kuat.”

Demikianlah maka beberapa orang yang datang mendahului ke Tanah Perdikan Menoreh untuk melihat keadaan dan justru turut mengawasi keamanannya, telah sependapat, bahwa Tanah Perdikan Menoreh benar-benar sudah diliputi oleh kesiagaan yang penuh, meskipun tidak jelas nampak pada pasukan pengawal yang berkeliaran. Namun menurut pertimbangan mereka, maka untuk melakukan sesuau di atas Tanah Perdikan Menoreh, akibatnya akan dapat menyulitkan.

“Kita tidak akan melakukan di sini,” berkata Gandu Demung setelah mendengarkan beberapa pendapat, “kita akan menyusur ke timur dan melihat keadaan di sepanjang jalan ke Sangkal Putung.”

“Ya. Kita akan melihat-lihat, di mana kita dapat melakukan tugas ini sebaik-baiknya,” jawab Ki Bajang Garing.

“Kita akan berangkat besok. Menurut pendengaran kami iring-iringan pengantin akan berangkat besok pula dari Sangkal Putung,” berkata Kiai Kalang Wedung.

“Kita akan kehilangan kesempatan untuk berpapasan dengan mereka. Mungkin di saat kita melintasi Mataram, mereka justru sedang beristirahat di Mataram apabila mereka akan singgah.”

“Jadi?”

“Kita akan berangkat sekarang. Kita akan bertemu dengan mereka di hutan Tambak Baya. Hanya ada satu jalur jalan. Dan kita tidak akan meleset lagi. Kita tentu akan berpapasan dengan mereka. Jika kita ternyata terlampau cepat, kita akan bermalam di Hutan Tambak Baya satu malam.”

Ternyata semuanya pun sependapat. Mereka segera berkemas. Mereka akan mengambil kuda-kuda mereka yang tersembunyi, dan secara terpisah mereka akan pergi ke Hutan Tambak Baya.

Menjelang sore hari, beberapa orang berpacu melintasi bulak-bulak panjang tanpa menimbulkan kecurigaan, karena mereka hanya masing-masing berdua atau bertiga. Mereka berharap untuk dapat bertemu dengan iring-iringan pengantin dari Sangkal Putung, sehingga mereka akan dapat memperhitungka kekuatannya.

Namun ternyata bahwa orang-orang dari sekitar Gunung Tidar itu terlampau cepat sehari, sehingga mereka harus bermalam lagi di hutan Tambak Baya, karena mereka tidak mau melepaskan iring-iringan itu lewat tanpa pengamatan.

Di pagi hari berikutnya, orang-orang Sangkal Putung telah sibuk mempersiapkan sebuah iring-iringan yang akan membawa Swandaru ke Tanah Perdikan Menoreh menjelang hari perkawinannya. Mereka dengan hati-hati mempersiapkan diri sehingga apabila terjadi sesuatu di perjalanan, tidak akan mengecewakan dan akan membuat mereka menyesal untuk seterusnya.

Lima belas orang anak-anak muda telah siap dengan kelengkapan masing-masing. Mereka sama sekali tidak menunjukkan perhiasan apa pun yang mereka persiapkan apabila saat perelatan itu tiba kelak di Tanah Perdikan Menoreh. Yang nampak di lambung mereka bukan sebilah keris dengan pendok emas dan ukiran bermata berlian. Tetapi di lambung mereka tergantung sebilah pedang yang berat sebagai kelengkapan yang wajar dari seseorang yang menempuh perjalanan jauh. Bahkan ada di antara mereka yang membawa di samping sehelai pedang, sebuah trisula yang mereka sangkutkan pada pelana kudanya.

Di halaman kademangan mereka membagi kelompok-kelompok kecil yang akan berjalan terpisah. Lima belas orang pengawal itu akan terbagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari lima orang. Sementara itu, sebuah kelompok yang lain akan berada di antara ketiga kelompok itu di dalam urutan perjalanan mereka. Sebuah kelompok tersendiri yang terdiri dari Ki Demang, Swandaru, dan Kiai Gringsing beserta dua orang tua-tua yang ikut bersama mereka ke Menoreh. Sedangkan sebuah kelompok tersendiri pula terdiri dari dua orang tua-tua, Sekar Mirah dan gurunya, Ki Sumangkar. Sedangkan Agung Sedayu berada di kelompok para pengawal di paling depan.

Setelah kelompok-kelompok itu terbagi sebaik-baiknya, maka mereka pun segera mempersiapkan diri. Swandaru masih sempat mencium tangan ibunya yang melepaskannya dengan setitik air mata.

“Kenapa Ibu menangis,” bertanya Swandaru, “aku akan pergi menjemput menantu Ibu. Seharusnya Ibu bergembira karenanya. Bukan menangis.”

Ibunya mencoba tersenyum. Namun senyumnya nampak lesu di bibirnya yang bergetar.

“Jangan Ibu hiraukan berita yang membuat hati Ibu berdebar-debar. Iring-iringan ini adalah iring-iringan yang kuat, sehingga Mataram pun tidak akan berhasil mencegah perjalanan kami seandainya mereka berniat demikian. Padahal, Ki Lurah Branjangan telah menyatakan kesanggupannya untuk memberikan bantuan secukupnya apabila kita perlukan.”

Ibunya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab sepatah kata pun.

Demikianlah, iring-iringan itu pun kemudian meninggalkan Sangkal Putung, diiringi oleh para tetangga yang ingin melihat keberangkatan Swandaru menjelang hari perkawinannya di tempat yang cukup jauh. Di Tanah Perdikan Menoreh, yang letaknya di seberang Kali Praga.

“Ada dua buah sungai yang besar yang harus diseberangi,” berkata seseorang yang sudah lanjut usia,” yang satu Sungai Opak, sedang yang lain, yang lebih besar adalah Sungai Praga.”

Yang mendengar keterangan itu mengangguk-angguk. Seseorang kemudian bergumam, “Dengan demikian, mereka harus melemparkan sebutir telur di kedua sungai besar itu.”

“O, kelak jika mereka sudah melintas berdua dengan pengantin perempuannya.”

Yang lain mengangguk-angguk. Namun mereka pun telah dicengkam oleh suatu keinginan, agar Swandaru segera kembali membawa istrinya yang belum pernah mereka lihat. Tetapi mereka sudah mengetahui nama dan kedudukannya di Tanah Perdikan Menoreh. Karena Ki Gede Menoreh tidak mempunyai anak yang lain kecuali calon istri Swandaru itu, maka sudah tentu bahwa pada suatu saat akan timbul persoalan bagi Swandaru. Karena Swandaru adalah satu-satunya anak laki-laki Ki Demang Sangkal Putung.

Orang-orang Sangkal Putung itu memandang iring-iringan yang meninggalkan kademangan mereka sampai kelompok yang terakhir hilang di tikungan. Ketika debu yang dilontarkan oleh kaki-kaki kuda itu lenyap ditiup angin maka barulah mereka kembali ke rumah masing-masing.

Ki Jagabaya-lah yang kemudian bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan Sangkal Putung bersama para bebahu yang lain. Justru karena orang-orang terpercaya sedang meninggalkan kademangan, maka Ki Jagabaya telah mempertinggi kewaspadaan. Para pengawal diwajibkan berkumpul di kademangan, di banjar dan tempat-tempat yang telah ditentukan di beberapa bagian dari Kademangan Sangkal Putung. Di setiap gardu terdapat beberapa orang yang berjaga-jaga. Siang dan malam. Di padukuhan-padukuhan yang terpisah-pisah, disediakan alat-alat yang dapat melontarkan isyarat. Selain kentongan, juga disediakan panah sendaren dan panah api. Selain itu, kuda-kuda pun telah siap dipergunakan setiap saat.

Dalam pada itu, beberapa orang pengawal selalu mengadakan pengawasan di sekeliling Kademangan. Dari padukuhan yang paling ujung sampai ke ujung yang lain.

Selain tugas pengamatan Kademangan Sangkal Putung, Ki Jagabaya masih dibebani tugas untuk pergi ke Jati Anom sebagai wakil Ki Demang. Ki Jagabaya akan menjumpai Untara dan menyampaikan undangan untuk senapati muda itu pada saatnya Swandaru nanti diterima dengan perayaan yang meriah di Sangkal Putung.

“Mudah-mudahan di perjalanan ke Jati Anom tidak ada kesulitan apa pun,” berkata Ki Jagabaya kepada para pengawal. “Jika aku sudah bertemu dengan Anakmas Untara, aku akan segera kembali.”

Dengan dikawal oleh empat orang pengawalnya, Ki Jagabaya pun pergi memenuhi pesan itu untuk menjumpai Untara.

“Jadi saat ini Sangkal Putung sedang kosong?” bertanya Untara kepada Ki Jagabaya ketika Ki Jagabaya telah menyampaikan pesan Ki Demang dan menceritakan saat keberangkatannya ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Ya, Anakmas. Akulah yang diserahi tugas untuk menjaga keamanan Kademangan Sangkal Putung.”

Untara mengangguk-angguk. Katanya, “Aku kira keadaan sekarang sudah bertambah baik di daerah ini setelah Tambak Wedi berhasil dibersihkan. Mudah-mudahan tidak ada sesuatu yang terjadi di Sangkal Putung, selama Ki Demang tidak ada di tempat. Namun demikian, aku akan mengirimkan beberapa orang prajurit untuk meronda di daerah selatan.”

“Terima kasih,” jawab Ki Jagabaya, “nampaknya memang tidak ada gejala-gejala yang dapat mencemaskan hati. Ketika aku melintasi bulak-bulak panjang ke Jati Anom, nampaknya sawah-sawah pun tetap digarap dengan baik dan teratur.”

“Aku juga tidak pernah lagi mendapat laporan tentang kejahatan yang terjadi setelah aku membersihkan Tambak Wedi dan sekaligus penjahat-penjahat yang berkelompok di lereng Gunung Merapi ini. Mereka telah berusaha menemukan cara untuk mendapatkan bekal hidup dengan cara yang wajar. Memang mungkin ada satu dua orang yang memang sulit menyesuaikan diri. Tetapi pada umumnya mereka telah meninggalkan daerah ini dan pergi ke tempat yang jauh.”

“Ya Anakmas. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu. Tetapi selama lima hari, kami harus menahan nafas.”

“Lima hari ditambah dengan perjalanan kembali dari Tanah Perdikan Menoreh.”

“Ya. Lengkapnya delapan hari.”

Untara mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan hadir. Jika tidak ada sesuatu yang penting sekali, aku tentu akan datang di saat pengantin itu dirayakan di Sangkal Putung. Sangkal Putung bagiku merupakan kademangan yang banyak berjasa bagi Pajang.”

“Tidak banyak yang telah dilakukan oleh Sangkal Putung,” jawab Ki Jagabaya, “kesanggupan Angger Untara sangat membesarkan hati kami.”

“Aku mengucapkan terima kasih atas pemberitahuan ini.”

Demikianlah Ki Jagabaya tidak terlalu lama berada di Jati Anom. Setelah minum beberapa teguk dan makan jamuan beberapa potong, maka ia pun segera minta diri. Ia tidak dapat terlalu lama meninggalkan kademangannya yang sedang kosong.

Ternyata perjalanan Ki Jagabaya sama sekali tidak terganggu oleh apa pun juga. Bahkan daerah Jati Anom, Lemah Cengkar, Pakuwon, Macanan dan sekitarnya, nampak tenang dan tenteram. Sawah-sawah nampak hijau terpelihara. Air yang bening mengalir di parit-parit yang menjelujur di antara kotak-kotak sawah yang nampak subur.

Sementara itu, iring-iringan dari Sangkal Putung yang menuju ke Tanah Perdikan Menoreh telah mendekati Mataram. Mataram yang telah mengetahui akan kehadiran orang-orang Sangkal Putung yang mengantarkan Swandaru yang menjelang hari-hari perkawinan di Tanah Perdikan Menoreh telah bersedia menerima mereka. Sebagaimana diminta oleh Ki Demang Sangkal Putung, iring-iringan itu akan bermalam semalam di Mataram. Pada pagi harinya mereka akan melanjutkan perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh, sehingga mereka tidak terlampau sore sampai ke tujuan yang menurut berita terakhir agak kurang tenang.

Selain persediaan tempat dan jamuan secukupnya, Mataram ternyata juga meningkatkan penjagaannya meskipun sama sekali tidak nampak menyolok. Apalagi Mataram tidak menerima laporan apa pun juga tentang kemungkinan yang gawat di Tanah Perdikan Menoreh di saat-saat terakhir.

Karena itu, jika ada penjagaan di beberapa tempat adalah sekedar suatu sikap berhati-hati. Apabila ada sesuatu yang terjadi, Mataram tidak akan dapat disebut lengah.

Namun dalam pada itu, ketika orang-orang Sangkal Putung beristirahat sambil melepaskan ketegangan, karena mereka merasa bahwa penjagaan di Mataram cukup kuat. Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sempat berbicara tentang beberapa persoalan dengan Ki Lurah Branjangan.

Agar Mataram mendapat gambaran tetang perkembangan keadaan terakhir di Tanah Perdikan Menoreh, maka mereka pun telah menyampaikan berita tentang peristiwa yang terjadi menjelang perkawinan Swandaru.

Ki Lurah Branjang pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika demikian, keadaan memang cukup gawat. Tetapi nampaknya peristiwa itu tidak berkelanjutan. Jika peristiwa itu diikuti dengan peristiwa-peristiwa serupa, atau bahkan yang lebih besar, maka kami tentu mendapat laporan dari para pengawal di perbatasan.”

“Nampaknya memang demikian, Ki Lurah,” sahut Kiai Gringsing, “ternyata Tanah Perdikan Menoreh juga tidak memberikan keterangan yang lebih jauh dari yang pernah di sampaikan kepada Sangkal Putung. Namun agaknya kita memang tidak boleh lengah.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Ia sudah mendengar pula keterangan selengkapnya tentang peristiwa di Tambak Wedi dan kemudian menyusul di Tanah Perdikan Menoreh yang tentu ada sangkut pautnya. Ciri-ciri yang terdapat pada beberapa orang di Tambak Wedi beserta senjata-senjatanya yang mirip dengan ciri-ciri yang terdapat pada keping perak yang agaknya sengaja mereka tinggalkan pada saat pusaka-pusaka yang penting itu hilang dari Mataram.

“Semuanya memberikan tanda-tanda tentang sebuah kekuatan yang besar yang harus dihadapi oleh Mataram jika Mataram ingin mendapatkan kembali pusaka-pusaka yang hilang itu,” berkata Ki Sumangkar.

“Ya. Dan Mataram sudah mulai membenahri dirinya sambil menunggu kehadiran Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga,” jawab Ki Lurah Branjangan.

Sementara Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berbicara tentang berbagai macam kemungkinan, maka Ki Demang masih saja selalu dihinggapi oleh kegelisahan. Ia berjalan mondar-mandir di dalam biliknya. Sementara Swandaru dan Agung Sedayu sempat berbicara tentang Mataram di serambi belakang.

Di pendapa, para pengawal duduk sambil menikmati hidangan yang disediakan. Sedangkan beberapa orang yang lain tidur mendekur di gandok sebelah-menyebelah. Ketegangan di sepanjang jalan agaknya membuat mereka menjadi lelah, meskipun perjalanan sampai ke Mataram adalah sebuah perjalanan yang tidak begitu jauh.

Yang duduk seorang diri adalah Sekar Mirah. Ia tidak mempunyai kawan seorang perempuan pun dari Sangkal Putung. Untuk menghilangkan kesepian ia mencoba memperkenalkan dirinya kepada beberapa orang pembantu di di rumah Raden Sutawijaya yang telah ditinggalkan beberapa lamanya itu dan dipergunakan sebagai tempat yang menjadi pusat pimpinan pemerintahan di Mataram, bahkan beberapa orang sudah menyebutnya sebagai Istana Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram.

Tetapi karena mereka sedang sibuk, akhirnya Sekar Mirah pun telah terlempar ke dalam kesendiriannya lagi. Jika ia mencoba ikut membantu para pelayan itu agar ia mempunyai suatu kesibukan, mereka selalu mempersilahkannya duduk saja di dalam biliknya.

“Menjemukan,” desisnya sambil melangkah keluar. Dari longkangan ia melihat beberapa orang pengiring yang duduk senaknya di tangga pendapa. Tetapi Sekar Mirah tidak mendekati mereka, apalagi karena Agung Sedayu dan Swandaru tidak ada pula di pendapa itu.

Bagi para pengawal, Mataram benar-benar merupakan tempat yang menyenangkan untuk beristirahat. Mereka yakin bahwa tentu tidak akan ada peristiwa apa pun yang akan terjadi di dalam lingkungan pengawalan yang dapat dipercaya itu. Karena itu, ketika malam kemudian menyelubungi Mataram, para pengawal pun segera tidur dengan nyenyaknya. Namun demikian, seperti yang dipesankan oleh Agung Sedayu kepada mereka, bahwa di setiap bilik harus ada sekurang-kurangnya seorang yang berjaga-jaga bergantian. Bagaimana pun juga, mereka tidak boleh menjadi lengah sama sekali.

Karena itulah, maka di gandok sebelah kiri yang berisi oleh enam orang yang tidur berjajar di sebuah amben besar di bagian dalam gandok itu, nampak seorang dari mereka duduk bersandar dinding sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Sedangkan di gandok sebelah kanan agaknya dipergunakan oleh jumlah yang lebih besar. Sedangkan Sekar Mirah berada sendiri di ruang samping, di sebelah bilik ayahnya bersama orang-orang tua dari Sangkal Putung. Sedangkan Agung Sedayu dan Swandaru bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berada di ruang belakang.

Malam itu merupakan malam yang sangat panjang bagi Swandaru. Semalam suntuk ia merasa gelisah, sehingga seolah-olah tidak memejamkan matanya sama sekali, seperti juga Ki Demang Sangkal Putung. Berbeda dengan Swandaru, para pengawal yang berada di gandok, merasa seolah-olah malam terlampau pendek. Seolah-olah mereka baru saja tertidur, ketika mereka mendengar kokok ayam jantan untuk yang penghabisan kali di malam itu.

Pagi-pagi benar iring-iringan itu sudah menyiapkan diri. Beberapa pesan Ki Demang telah diberikan, karena mereka akan segera memasuki tlatah Tanah Perdikan Menoreh yang mereka anggap gawat. Mereka membagi iring-iringan itu menjadi bagian-bagian kecil seperti saat mereka berangkat dari Sangkal Putung.

“Kami akan mengantar Ki Demang sampai ke gerbang kota,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Terima kasih.”

“Beberapa orang pengawal akan mengikuti Ki Demang sampai ke pinggir Kali Praga.”

“Terima kasih,” jawab Ki Demang.

Demikianlah, maka setelah minta diri kepada para pemimpin di Mataram, maka iring-iringan itu pun meneruskan perjalanan. Empat orang pengawal dari Mataram mengikuti mereka untuk meyakinkan bahwa mereka tidak mengalami sesuatu di tlatah Mataram yang sedang tumbuh itu.

Dalam pada itu, selagi iring-iringan dari Sangkal Putung itu dengan penuh kewaspadaan melaju di jalan-jalan yang semakin baik di daerah Mataram, maka sekelompok orang-orang dari sekitar Gunung Tidar sedang melarikan kudanya dengan kencang pula. Mereka menuju ke Hutan Pengarang. Tempat yang sudah mereka tentukan, menjadi ajang persiapan orang-orang yang akan menunaikan tugas mereka sehubungan dengan pengantin yang akan dirayakan di Tanah Perdikan Menoreh itu.

“Jumlah itu tidak terlampau banyak,” berkata salah seorang dari mereka.

“Aku menghitung jumlahnya dengan tepat,” sahut yang lain, “dua puluh lima orang, satu di antaranya agaknya seorang perempuan.”

“Jika kelak orang-orang Tanah Perdikan Menoreh ada yang mengantar sepasang pengantin ke Sangkal Putung, maka mungkin jumlahnya akan bertambah banyak.”

“Katakanlah menjadi lipat dua sebanyak-banyaknya.”

“Ya. Lima puluh orang.”

“Kita akan menyiapkan jumlah yang sama. Sebab aku yakin bahwa dari Tanah Perdikan Menoreh tidak akan ada pengiring sebanyak itu pula. Bukan karena tidak ada pengawal yang dipercaya sejumlah dua puluh lima orang, tetapi Tanah Perdikan Menoreh tentu menganggap bahwa pengawalan dari Sangkal Putung itu sudah cukup kuat. Jika bertambah dengan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh, maka mereka hanyalah orang-orang tua yang akan mewakili Ki Gede menyerahkan anaknya kepada Ki Demang di Sangkal Putung.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka sependapat, bahwa yang akan mengiringi pengantin itu dari Tanah Perdikan Menoreh tentu tidak akan sebanyak pengawal yang membawa Swandaru dari Sangkal Putung.

Namun demikian, akhirnya mereka bersepakat, bahwa setiap kelompok harus membawa kekuatan terpercaya dua puluh orang, sehingga jumlahnya menjadi enam puluh orang.

“Terlalu besar,” gumam Ki Bajang Garing, “tetapi tidak ada salahnya untuk berhati-hati.”

Gandu Demung memandang orang yang bertubuh pendek, lebih pendek dari dirinya sendiri yang sudah disebut pendek itu. Agaknya untuk mencari orang-orang sejumlah itu bagi kelompok yang dipimpin oleh Ki Bajang Garing memang agak sulit. Tetapi Ki Bajang Garing dapat memanggil orang-orangnya yang kebetulan berada di tempat yang agak jauh karena desakan keadaan yang tidak menguntungkan di sekitar Gunung Tidar. Bahkan mereka adalah justru orang-orang yang terbaik.

Sambil membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, orang-orang dari sekitar Gunung Tidar itu berpacu terus. Mereka akan mempersiapkan orangnya justru di daerah Jati Anom.

Mereka mengetahui bahwa masih ada beberapa daerah yang memungkinkan pemusatan kekuatan itu. Di hutan yang tidak begitu lebat di sebelah barat Sangkal Putung, dapat mereka pergunakan sebagai arena yang menguntungkan. Mereka dapat bersembunyi di hutan itu, yang kemudian dengan tiba-tiba menyergap iring-iringan yang lewat di jalan sebelah.

“Di perjalanan kembali ke Sangkal Putung maka iring-iringan dari Sangkal Putung dan Menoreh itu tentu masih akan mempergunakan cara yang sama. Mereka akan menebarkan orang-orangnya dalam kelompok-kelompok kecil. Karena itulah, maka kita pun harus menebarkan orang-orang kita. Di hutan kecil itu, dua puluh orang kali tiga akan memencar dari ujung hutan sampai jarak yang diperlukan, menurut perkiraan kita sesuai dengan saat mereka berangkat,” berkata Gandu Demung.

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka sependapat dengan Gandu Demung, bahkan mereka sudah mulai membayangkan bahwa sergapan yang tiba-tiba tanpa diduga oleh yang berkepentingan itu, tentu akan membingungkan mereka.

“Kila langsung akan menawan sepasang pengantin itu. Terutama pengantin perempuannya, agar perlawanan pengiringnya segera dapat kita patahkan. Dengan tidak banyak korban, mereka kita paksa memberikan semua perhiasan. Jika mereka menolak, kita dapat mengancam untuk membinasakan pengantin perempuan itu,” berkata Ki Bajang Garing.

“Tetapi menangkap pengantin perempuan dari Tanah Perdikan Menoreh itu bukan kerja yang mudah. Jika pengantin perempuan itu bukan anak perempuan Ki Gede Menoreh, maka rencana itu akan berjalan dengan lancar. Tetapi jika mencoba melakukannya atas anak perempuan pemimpin Tanah Perdikan Menoreh itu, kita harus memperhitungkan kemungkinan sebaik-baiknya,” desis Gandu Demung,

Yang lain mengerutkan keningnya. Tetapi mereka pun mengangguk-angguk ketika mereka menyadari, bahwa pengantin perempuannya adalah Pandan Wangi. Telah tersebar kabar sampai ke tempat yang jauh, bahwa anak perempuan Ki Gede Menoreh adalah seorang yang terbiasa membawa sepasang pedang di kedua lambungnya.

Namun demikian Gandu Demung berkata seterusnya, “Tetapi kita dapat mencobanya. Sudah tentu orang-orang yang paling kuat di antara kita akan melakukannya. Sebab sepasang pengantin itu adalah sepasang pengawal yang kuat bagi diri mereka sendiri.”

Dengan demikian, maka orang-orang itu pun menyadari, bahwa tugas yang akan mereka lakukan bukan tugas yang ringan. Tetapi menilik pengamatan mereka atas iring-iringan yang berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh, maka setidak-tidaknya mereka akan dapat merampas dua puluh lima pendok keris yang terbuat dari emas. Dua puluh lima pasang ikat pinggang dengan timang tretes permata.

“Bukan pekerjaan yang sia-sia. Sepasang pengantin itu tentu akan membawa perhiasan yang paling mahal. Meskipun harus dibagi-bagi, namun agaknya sisanya masih dapat memberikan sejumlah simpanan bagi setiap kelompok,” berkata Ki Bajang Garang di dalam hatinya. Namun di samping harapan-harapan itu, ia pun mulai menilai kekuatan yang ada padanya. Sudah tentu ia tidak akan dapat membawa dua puluh orang dari tataran tertinggi di dalam kelompoknya, karena jumlah itu tidak akan dapat dicapainya. Separo dari mereka adalah orang-orang dari tataran kedua. Namun menurut pertimbangan Ki Bajang Garing, tentu cukup memadai.

Ternyata bukan saja Ki Bajang Garing yang diganggu oleh keadaan yang serupa. Saudara-saudara Gandu Demung pun sedang menghitung-hitung di dalam hati, siapa sajakah yang akan dapat dibawanya untuk memenuhi jumlah yang dua puluh itu. Seperti Ki Bajang Garing, maka hampir separo dari yang dua puluh itu adalah orang-orang dari tataran kedua pula. Demikian pula kelompok dari Hutan Pengarang.

Namun demikian, jumlah orang-orang yang paling baik dari ketiga kelompok itu sudah melampaui jumlah mereka yang mengawal pengantin itu dari Sangkal Putung. Selebihnya, orang-orang yang paling kuat dari ketiga kelompok itu jumlahnya lebih dari sepuluh orang. Di dalam kelompok Gandu Demung ada dua orang saudara Gandu Demung yang memiliki kelebihan di samping Gandu Demung sendiri. Agaknya raksasa yang berkepala botak itu pun dapat diandalkan. Sedangkan di dalam lingkungan Ki Bajang Garing ada sepasang kakak-beradik yang memiliki ilmu yang sulit dicari bandingnya, selain Ki Bajang Garing sendiri. Kakak-beradik yang sering disebut sepasang Srigunting dari Pesisir Utara itu memiliki kemampuan berkelahi seperti seekor Srigunting. Mereka dapat bergerak dengan kecepatan yang tidak terduga sebelumnya. Sedangkan seorang yang lain lagi, seorang yang bertubuh sekasar batu padas. Berwajah penuh dengan cacat badaniah karena goresan-goresan semata dan bekas luka api, karena pada suatu saat ia pernah jatuh ke tangan sekelompok orang yang mendendamnya. Tetapi dalam keadaan luka parah ia berhasil melarikan diri dari tangan lawan-lawannya itu. Namun seperti wajahnya yang cacat karena siksaan yang berat, maka hatinya pun menjadi cacat pula oleh dendam dan kebencian. Dengan hati yang membara ia akhirnya menguasai ilmu yang dapat dipergunakannya untuk melepaskan dendam yang membara di hatinya itu. Bukan saja kepada orang-orang yang telah membuatnya cacat, tetapi kepada siapa pun juga yang dikehendakinya.

Sedangkan orang-orang dari Alas Pengarang, adalah orang-orang yang kadang-kadang disebut berilmu iblis. Mereka terbiasa melawan kerasnya alam di hutan yang meskipun tidak terlampau luas tetapi cukup buas dan liar. Bahkan beberapa orang berpendapat bahwa di dalam hutan itu masih dihuni berbagai macam jenis jin, peri, dan hantu-hantu yang lain, yang tersusun dalam satu jalur pemerintahan yang rapi. Namun ternyata bahwa kelompok yang ada di Hutan Pengarang itu mampu menguasai mereka dan bahkan menjadikan mereka sebagai sumber kekuatan. Bahkan Kiai Kalang Wedung sendiri kadang-kadang dikenal sebagai seorang yang memiliki kekebalan. Sedang seorang pengawalnya yang paling dipercaya, seolah-olah mampu melenyapkan diri dari tangkapan mata wadag. Orang ketiga dari Alas Pengarang itu adalah seorang yang sudah berambut putih. Namun ia masih mampu bertempur seganas serigala lapar.

Demikianlah maka mereka pun dengan hati-hati, agar tidak mengganggu pasukan Empu Pinang Aring yang berada di kaki Gunung Tidar, telah mempersiapkan dirinya. Ketiga kelompok itu masih mempunyai waktu lebih dari lima hari untuk berkumpul dan membawa mereka ke ujung hutan di tlatah Jati Anom. Pada suatu malam, menjelang saat iring-iringan pengantin dari Sangkal Putung itu lewat, mereka akan bergeser ke hutan di sebelah barat kademangan itu.

Tetapi mereka pun menyadari, bahwa mereka tidak dapat bermain-main dengan Untara dari Jati Anom. Itulah sebabnya, maka mereka telah bersepakat, bahwa enam puluh orang itu harus datang ke tempat yang sudah ditentukan dalam waktu dua hari berturut-turut. Mereka harus melalui jalan-jalan yang penuh dengan pengawasan di segala daerah itu tidak lebih dari tiga orang di dalam setiap kelompok. Itu pun mereka harus mengatur jarak yang cukup panjang dari setiap kelompok. Bahkan mereka harus menempuh jalan yang berbeda-beda sehingga dengan demikian mereka akan memperkecil kecurigaan orang yang melihatnya.

Sementara orang-orang dari sekitar Gunung Tidar itu berpacu sambil membicarakan rencana mereka, maka iring-iringan yang menuju ke Tanah Perdikan Menoreh pun bergerak pula mendekati Kali Praga. Nampaknya mereka memang tidak terlalu tergesa-gesa. Mereka tidak berpacu secepat orang-orang yang sedang menuju ke daerah sekitar Gunung Tidar, dan yang akan segera berkumpul lagi bersama orang-orang mereka di Alas Pengarang untuk memberikan pesan dan petunjuk-petunjuk kepada setiap orang dari mereka yang akan ikut serta pergi ke Sangkal Putung.

Ternyata bahwa iring-iringan yang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh itu sama sekali tidak mendapat gangguan apa pun di sepanjang jalan di tlatah Mataram, sehingga mereka pun kemudian berhenti di tepian Kali Praga yang luas.

“Kami akan kembali,” berkata salah seorang dari empat orang pengawal yang mengikuti mereka dari Mataram. “Agaknya iring-iringan ini tidak akan mendapat gangguan di sepanjang jalan. Tidak di daerah Mataram dan tentu tidak pula di tlatah Tanah Perdikan Menoreh.”

“Mudah-mudahan,” jawab Ki Demang. “Kami mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan hati. Sekali lagi aku pesan agar disampaikan kepada Ki Lurah Branjangan, ucapan terima kasih kami. Pada saat kami kembali ke Sangkal Putung, kami juga akan lewat jalan ini. Seperti yang kami lakukan saat kami berangkat, kami akan mohon kesempatan untuk bermalam.”

“Tentu, bukankah Ki Lurah sudah mengetahuinya.”

“Ya. Aku sudah mohon agar kami kelak diijinkan singgah.”

“Tentu kami tidak akan berkeberatan.”

Sejenak kemudian mereka pun berpisah. Iring-iringan itu melanjutkan perjalanan mereka ke Tanah Perdikan Menoreh, sementara keempat pengawal dari Mataram itu kembali setelah mereka yakin, bahwa iring-iringan itu tidak mengalami gangguan apa pun sampai mereka mencapai tepian Kali Praga.

Iring-iringan itu ternyata telah mempergunakan beberapa getek untuk menyeberang dengan kuda-kuda mereka. Untunglah bahwa Kali Praga tidak sedang banjir, sehingga mereka tidak perlu cemas dalam penyeberangan itu.

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang pernah mengalami kesulitan karena tingkah laku beberapa orang yang mengaku tukang satang, menjadi sangat berhati-hati. Mungkin ada sesuatu yang dapat membuat perjalanan mereka mengalami hambatan yang dapat membahayakan.

Ternyata bahwa di dalam penyeberangan Kali Praga itu pun tidak terdapat gangguan apa pun juga. Tukang-tukang satang yang membawa mereka pun menyeberang bersama kuda-kuda mereka dengan beberapa buah getek, adalah benar-benar tukang satang, yang mengharapkan dapat upah dari pekerjaannya.

Namun demikian karena Kiai Gringsing tidak secara kebetulan berada pada getek yang penyatangnya pernah dikenal, maka ia justru mendapat kesempatan untuk berbicara dengan mereka.

“Jadi peristiwa itu tidak pernah terjadi lagi?” bertanya Kiai Gringsing.

“Tidak, Ki Sanak. Sejak ada beberapa orang penumpang yang mampu melawan dan membunuh orang-orang yang ganas itu, tidak pernah terjadi gangguan lagi di penyeberangan ini. Sebenarnyalah gangguan semacam itu membuat beberapa keluarga menjadi pahit. Bukan saja beberapa orang karena setiap orang di antara kami mempunyai anak istri di rumah. Jika kami tidak berani turun ke sungai apa pun alasannya, itu berarti kami tidak mendapat nafkah.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi agar tidak menumbuhkan kecurigaan ia pun bertanya, “Apakah kalian tidak membuka daerah persawahan?”

“Kami sudah mempunyai sebidang tanah bagi kami masing-masing. Tetapi sebagaimana kau ketahui, letak tanah persawahan di sini agak lebih tinggi dari permukaan air Kali Praga, sehingga kami masih belum dapat mengairi sawah kami di musim kering. Di musim basah, apabila hujan turun, kami sempat menyelenggarakan sawah kami. Kami mendapatkan hasil panenan sekali saja dalam setahun.”

Kiai Gringsing masih saja mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi tentang orang-orang yang pernah mengacaukan daerah penyeberangan ini. Namun agaknya hal seperti itu tidak terulang lagi.

Demikian iring-iringan itu berada di tepian di sebelah Barat sungai, maka mereka pun segera mengatur diri dalam kelompok masing-masing dan meneruskan perjalanan menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Namun, penglihatan yang tajam dari orang-orang Sangkal Putung segera menangkap, bahwa sebenarnyalah Tanah Perdikan Menoreh berada pada puncak kesiagaan.

Sambil tersenyum Kiai Gringsing bergumam kepada orang yang berada di sampingnya, “Perjalanan kita sampai saat ini ternyata tidak mengalami gangguan apa pun juga, sementara itu kita merasa semakin tenang jika kita melihat kesiagaan Tanah Perdikan Menoreh.”

Orang tua bekas prajurit yang di samping Kiai Gringsing itu tersenyum. Jawabnya, “Tanah Perdikan ini adalah tanah yang subur. Tetapi agaknya sudah terlampau padat.”

“Kenapa?” kawannya bertanya.

“Kau lihat, berapa banyaknya orang yang berada di sawah menurut ukuran kami, menurut ukuran cara kerja orang-orang Sangkal Putung. Kita melihat mereka yang sedang membersihkan rerumputan liar, yang tumbuh tidak dikehendaki di antara batang padi. Yang lain sedang namping pematang meskipun padi sudah tumbuh cukup tinggi. Sementara itu, di gubug-gubug pun satu dua orang laki-laki duduk seolah-olah sedang menunggui burung meskipun padi belum berbuah.”

Yang mendengarnya tersenyum pula. Bahkan Kiai Gringsing tertawa sambil menyahut, “Alangkah suburnya tanah ini. Tetapi juga merupakan daerah yang tenteram karena kesiagaannya yang tinggi.”

Demikianlah iring-iringan itu berjalan terus memasuki Tanah Perdikan Menoreh. Beberapa orang yang berada di sawah bukan saja karena mereka sedang mengerjakan sawah itu, tetapi semata-mata karena tugas mereka sebagai pengawal yang bertugas mengamati dengan sandi perjalanan iring-iringan itu agar tidak menimbulkan kegelisahan dan juga mungkin sekali akan dapat menjebak orang-orang yang berniat buruk, mengawasi iring-iringan itu sambil tersenyum-senyum pula.

Namun sama sekali tidak terkilas dugaan para pengawal yang siap melakukan tugasnya meskipun mereka sedang berada di dalam lumpur yang basah itu, bahwa persiapan yang matang sedang dilakukan oleh tiga buah kelompok yang termasuk paling kuat di sekitar Gunung Tidar. Kelompok-kelompok yang kadang-kadang menjangkau daerah yang cukup jauh untuk merampas dan menyamun.

Apalagi perhitungan bahwa orang-orang itu justru akan merampok iring-iringan pengantin pada saat mereka telah memasuki Kademangan Sangkal Putung itu sendiri.

Sementara itu, selagi iring-iringan itu berjalan menuju ke Tanah Perdikan Menoreh, maka di padukuhan induk Tanah Perdikan itu, orang telah sibuk menyediakan segala sesuatu bagi para tamu yang menurut pembicaraan di antara mereka, akan datang pada hari itu. Pendapa rumah Ki Gede Menoreh telah siap dibentangi tikar pandan sepenuh pendapa itu sendiri. Tiga buah rumah yang cukup besar dan memadai telah dipinjam oleh Ki Gede Menoreh untuk tempat menginap para pengiring dan bakal pengantin laki-laki dari Sangkal Putung itu.

Sementara itu Ki Waskita yang telah menjemput istri dan anaknya sudah berada di Tanah Perdikan Menoreh pula. Ia pun ikut sibuk mengatur segala persiapan yang diperlukan bagi iring-iringan yang akan datang dari Sangkal Putung itu.

Namun dalam pada itu, ketika ada waktu senggang baginya, Ki Waskita menyisih sendiri dalam gandok. Sejenak ia mencoba melihat ke dalam dunia isyaratnya, karena ia merasa selalu gelisah menghadapi hari-hari perkawinan Swandaru justru karena penglihatan yang pernah menyentuh mata batinnya.

Tetapi yang dilihatnya sama sekali tidak berubah. Warna-warna buram di seberang hari-hari perkawinan Swandaru.

“O,” desahnya, “apakah benar-benar akan terjadi sesuatu atas keluarga yang besok lusa akan mulai dengan sebuah perjalanan hidup bersama itu?”

Dari kecemasan itu ternyata telah mencengkam demikian dalamnya, sehingga Ki Waskita itu menggigil karenanya. Badannya terasa seperti seseorang yang sedang sakit berhari-hari.

Bahkan Ki Waskita yang seakan-akan telah kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri itu, mencoba melihatnya sampai dua tiga kali. Tetapi yang dilihatnya sama sekali tidak berubah. Yang dilihatnya tidak mau menyesuaikan diri dengan keinginannya.

Ki Waskita menggeleng-gelengkan kepalanya. Bahkan kemudian hampir diluar kehendaknya sendiri, ia pun telah mencoba melihat apa yang akan ditemui Agung Sedayu di dalam perjalanan hidupnya pula.

Namun, yang dilihatnya telah menambah kegelisahannya. Juga pada Agung Sedayu ia melihat warna-warna yang buram.

“Apakah yang sebenarnya akan terjadi?” Ki Waskita bertanya kepada diri sediri. Sejenak ia merasa dirinya terlampau bodoh, bahwa yang dapat dilihatnya hanyalah sekedar isyarat. Ia pernah mendengar orang lain dapat melihat pada bagian-bagian yang lebih kecil, bahkan pada peristiwa dan kejadian.

“Alangkah bodohnya aku,” desisnya. Namun kemudian ia menyesal atas kekecewaannya itu. Yang dapat dilakukannya adalah suatu kurnia yang melampaui kurnia Yang Maha Tahu kepada orang lain. Orang lain sama sekali tidak dapat melihat apa pun juga di hari mendatang.

“Betapa tamaknya aku,” desisnya.

Namun dalam pada itu, hatinya masih saja dicengkam oleh kegelisahan, meskipun kemudian ia berusaha dengan sepenuh. hati untuk melenyapkan segala macam kesan dari kekecewaan, kecemasan dan bahkan ketakutannya memahami penglihatannya atas isyarat itu.

Dalam pada itu, Tanah Perdikan Menoreh menjadi semakin sibuk. Halaman rumah Ki Gede telah dihiasi dengan janur kuning, di semua sudutnya. Pintu gerbangnya nampak seakan-akan menjadi cerah, secerah wajah-wajah yang sedang sibuk di halaman rumah itu, selain beberapa orang yang justru menjadi sangat berhati-hati menanggapi keadaan.

Tetapi sama sekali tidak ada laporan, bahwa nampak kegiatan yang mencurigakan di tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Sedangkan, pengawasan pada jalan-jalan masuk di perbatasan ditingkatkan pula.

Karena itu, maka para pengawal di Tanah Perdikan Menoreh menganggap, bahwa memang tidak akan ada kesulitan apa pun juga pada saat perkawinan itu berlangsung nanti.

Meskipun demikian, seperti pesan Ki Gede, para pengawal sama sekali tidak boleh lengah karenanya. Mungkin orang-orang yang berniat jahat, sengaja menunggu sampai orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh itu menjadi lengah. Mereka dapat dengan tiba-tiba saja muncul dan dengan tiba-tiba pula menghilang.

Dalam pada itu, iring-iringan dari Sangkal Putung menjadi semakin dekat dengan padukuhan induk. Bahkan ketika iring-iringan itu nampak di ujung bulak panjang, para pengawal melaporkannya kepada Ki Gede, bahwa iring-iringan dari Sangkal Putung telah datang.

“Syukurlah,” desis Ki Gede, “mereka datang tepat seperti yang mereka katakan. Agaknya memang tidak ada gangguan suatu apa di perjalanan.”

Mereka yang bertugas menerima para tamu dari Sangkal Putung pun segera bersiap. Sampai masalah yang kecil pun telah dipersiapkan pula. Para penerima tamu itu sudah menyediakan tempat-tempat khusus untuk menempatkan kuda para tamu yang bakal datang.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu sudah berada di mulut lorong, yang memasuki padukuhan induk. Seperti yang sudah ditentukan, bahwa mereka akan bergabung menjadi satu iring-iringan yang besar jika mereka memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh itu. Karena itu maka Agung Sedayu pun telah berhenti sejenak, menunggu kelompok-kelompok berikutnya di dalam iring-iringan mereka.

Baru setelah semuanya berkumpul. Agung Sedayu membawa seluruh iring-iringan memasuki lorong yang langsung menuju ke rumah Ki Gede Menoreh.

Para pengawal yang berada di gardu di ujung lorong pun menyambut kehadiran iring-iringan itu bersama-sama dengan orang-orang di sebelah-menyebelah jalan. Mereka meninggalkan pekerjaan mereka dan berlari-lari melihat bakal pengantin yang besok akan diselenggarakan di rumah Ki Gede Menoreh. Anak laki-laki Demang Sangkal Putung yang akan kawin dengan satu-satunya anak perempuan Ki Gede Menoreh.

Karena itulah maka sambutan dari orang-orang Tanah. Perdikan Menoreh pun ternyata sangat membesarkan hati setiap orang di dalam iring-iringan itu.

Bahkan ketika iring-iringan itu mendekati pintu gerbang halaman rumah Ki Gede Menoreh, rasa-rasanya kaki Swandaru menjadi bergetar. Ternyata bahwa hari-hari yang ditunggunya itu akhirnya sampai pula di ambang pintu. Jika ia selamat sampai ke Tanah Perdikan Menoreh, dan memasuki halaman rumah Ki Argapati, maka itu akan berarti bahwa tidak akan ada lagi kekuatan yang dapat mencegah berlangsungnya perkawinannya dengan Pandan Wangi, anak perempuan Ki Gede Menoreh.

Demikianlah maka akhirnya iring-iringan itu pun kemudian memasuki halaman rumah Ki Gede Menoreh yang luas, yang nampak menjadi cerah dengan hiasan janur kuning dan dedaunan yang beraneka warna.

Dengan hati yang berdebar-debar, Ki Gede Menoreh menyambut tamu-tamunya disertai orang-orang tua dari Tanah Perdikan Menoreh dan Ki Waskita. Betapa pun suramnya hati Ki Waskita, namun di wajahnya nampak senyum yang cerah, seperti cerahnya wajah-wajah yang lain, yang sama sekali tidak melihat isyarat apa pun juga bagi saat-saat mendatang.

Ki Demang yang berada di paling depan setelah mereka turun dari punggung kuda, menerima salam Ki Gede Menoreh dan langsung dipersilahkan naik ke pendapa, sementara orang-orang yang telah ditentukan menerima kendali kuda setiap orang dalam iring-iringan itu dan membawanya ke tempat yang sudah disediakan.

Tidak semua orang di dalam iring-iringan dari Sangkal Putung itu naik ke pendapa. Para pengawal-pengawal muda, segera dibawa ke tempat peristirahatan yang sudah disediakan, di rumah seorang tetangga yang cukup luas dan tidak begitu jauh dari rumah Ki Gede, sementara Ki Demang dan orang-orang tua yang lain, dipersilahkan naik ke pendapa, sedangkan Swandaru dan Agung Sedayu, diiringi oleh beberapa orang pengawal ditempatkan di rumah yang telah tersedia pula.

Tidak banyak yang dibicarakan di pendapa. Ki Gede Menoreh, Ki Waskita dan orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh hanya sekedar mengucapkan selamat datang. Mereka sama sekali tidak membicarakan tentang perelatan yang sedang diselenggarakan di Tanah Perdikan Menoreh karena agaknya mereka masih lelah.

Karena itu, maka sejenak kemudian mereka pun segera diantar ke tempat peristirahatan yang sudah disediakan bagi mereka. Ki Demang dan Kiai Gringsing berada di dalam satu rumah dengan Swandaru. Sedangkan Agung Sedayu yang seharusnya berada di antara para pengawal telah diminta oleh Swandaru untuk mengawaninya. Ki Sumangkar-lah yang kemudian menggantikan kedudukan Agung Sedayu, berada dan mengawasi para pengawal-pengawal muda dari Sangkal Putung.

Karena Sekar Mirah adalah satu-satunya perempuan dalam iring-iringan dari Sangkal Putung itu, maka ia mendapat tempat tersendiri pula. Atas permintaan Pandan Wangi, ia berada di rumah Ki Gede Menoreh.

Orang-orang dari Sangkal Putung itu ternyata sempat beristirahat dengan tenang. Seperti di Mataram, mereka tidak cemas, bahwa tiba-tiba saja mereka telah disergap. Meskipun mereka sadar, bahwa dengan demikian bukan berarti bahwa mereka boleh lengah. Bahkan mereka pun kadang-kadang diganggu pula oleh dugaan, bahwa setelah mereka berkumpul di Tanah Perdikan Menoreh, pada saat perelatan berlangsung, maka segerombolan orang yang menyebut dirinya sedang mengumpulkan dana bagi sebuah perjuangan yang besar akan datang memeras mereka dan merampok semua harta dan benda yang ada.

Karena itu, maka dalam bilik-bilik peristirahatan, para pengawal itu telah menggantungkan senjata-senjata mereka dekat pada tempat pembaringan masing-masing, yang jika setiap saat diperlukan, mereka akan dengan mudah menjangkaunya.

Dalam pada itu, Ki Waskita yang tidak dapat menahan gejolak perasaannya, seakan-akan di luar sadarnya telah pergi menemui Ki Sumangkar yang berada di tempat yang terpisah dari Kiai Gringsing. Untuk mengurangi beban yang seakan-akan terlampau berat membebani hatinya, maka sekali lagi ia menyatakan betapa perasaannya terganggu oleh isyarat yang berbeda dengan keinginannya atas Swandaru dan bahkan Agung Sedayu.

“Bukankah aku pernah mengatakannya, Kiai,” desis Ki Waskita, “dan kini agaknya aku masih selalu diganggu oleh perasaan itu.”

“Ki Waskita,” berkata Ki Sumangkar, “memang kita kadang-kadang dicemaskan oleh peristiwa dan kejadian yang terjadi di luar kemauan dan keinginan kita. Tetapi kita harus mengembalikan semuanya itu kepada Sumber dari segala-galanya ini.”

“Aku kira itu satu-satunya jalan yang dapat kita lalui. Namun aku masih ingin mengetahui, apakah ada jalan yang paling baik bagi Angger Swandaru dan Angger Agung Sedayu, yang dapat mengurangi warna-warna buram di masa depannya itu.”

Ki Sumangkar hanya menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa ia pun menjadi gelisah. Memang ia pernah mendengar hal itu dari Ki Waskita, dan hal itu memang sangat menggelisahkan. Tetapi agaknya kini Ki Waskita telah mengulangi penglihatannya itu, dan kegelisahan yang lebih besar telah mencengkam hatinya, justru semakin dekat saat-saat perkawinan Swandaru dengan Pandan Wangi.

Tetapi keduanya tidak memperbincangkannya lebih panjang. Bahkan mereka seolah-olah tidak sedang berada di dalam kegelisahan apa pun juga. Sebab jika hal itu diketahui oleh orang lain, maka tentu akan menimbulkan persoalan yang jauh lebih besar dari kegelisahan orang-orang tua yang sudah dapat mengendapkan perasaannya itu.

Demikianlah maka Ki Waskita pun kemudian telah mencoba menceritakan hal yang lain yang tidak menambah beban di dalam hatinya. Sambil menikmati hidangan yang disuguhkan kepada mereka yang baru datang dari Sangkal Putung, maka pembicaraan pun berlangsung dengan asyiknya, setelah beberapa orang pengawal ikut pula dalam pembicaraan itu. Namun yang mereka bicarakan adalah, persoalan-persoalan sehari-hari yang kadang-kadang justru meledakkan tertawa yang riuh.

Dalam pada itu, para pelayan menjadi sibuk mengantarkan hidangan ke rumah-rumah yang dipergunakan untuk beristirahat orang-orang yang datang dari Sangkal Putung. Mereka menyediakan makan dan minum secukupnya. Hanya orang-orang tua sajalah yang dipersilahkan hadir di pendapa untuk makan bersama orang-orang tua dari Tanah Perdikan Menoreh.

Sekali-kali, selagi mereka makan, tersinggung pula persoalan yang akan menyangkut perelatan pengantin yang akan diselenggarakan. Namun Ki Gede Menoreh dengan sengaja tidak membicarakan dengan sungguh-sungguh, karena ia telah meminta Ki Demang dan orang-orang tua dari Sangkal Putung untuk membicarakan malam nanti, setelah mereka beristirahat dan sudah bersiap-siap seperlunya.

Karena itulah, maka masalah-masalah yang disinggung di saat mereka makan, tidak berkembang selanjutnya.

Sementara itu, Pandan Wangi merasa mendapat seorang teman yang sepadan dengan kehadiran Sekar Mirah. Meskipun di antara mereka terdapat beberapa perbedaan sikap dan pandangan hidup, namun dalam saat-saat seperti itu, keduanya segera saling menyesuaikan diri.

“Aku selama ini rasa-rasanya justru menjadi kesepian,” desis Pandan Wangi. “Aku sama sekali tidak boleh meninggalkan halaman rumah ini. Bahkan setiap kali aku keluar rumah dan turun ke halaman, ayah selalu memanggilku dan menyuruhku masuk. Aku hampir menjadi jemu karenanya.”

“Kakang Swandaru juga selalu mengeluh,” sahut Sekar Mirah, “meskipun Kakang Swandaru seorang laki-laki, tetapi menurut orang-orang tua, ia pun tidak boleh meninggalkan halaman rumah. Dengan kesal setiap hari ia hanya mondar-mandir mengelilingi rumah kami.”

Pandan Wangi tersenyum.

“Tetapi yang paling mengesalkan,” berkata Sekar Mirah kemudian, “adalah hari-hari yang tersisa menjadi semakin panjang. Aku pun merasa pula, seolah-olah matahari menjadi semakin lamban dan bahkan berhenti untuk beberapa lamanya di tengah hari.”

Pandan Wangi mengangguk-angguk. Ternyata bahwa di Sangkal Putung pun, hari seakan-akan menjadi bertambah panjang. Bahkan bukan saja yang dirasakan oleh Swandaru. Tetapi juga Sekar Mirah.

Dalam pada itu, di rumah Ki Gede Menoreh itu pun kesibukan menjadi semakin meningkat. Dapur yang sudah diperluas dengan serambi yang dibangun hanya untuk sementara perelatan itu berlangsung, ternyata masih juga terasa terlampau sempit. Beberapa orang perempuan hilir-mudik dengan tergesa-gesa, seakan-akan dikejar oleh waktu yang menjadi semakin sempit pula, sedangkan kerja yang harus mereka kerjakan masih terlampau banyak.

Ketika kemudian malam tiba di atas Tanah Perdikan Menoreh, maka mulailah orang-orang tua dari Tanah Perdikan Menoreh berkumpul untuk menemui orang-orang tua dari Sangkal Putung.

Setelah mereka minum beberapa teguk, maka mulailah mereka mengulangi semua pembicaraan yang pernah mereka sepakati bersama. Baik dalam pembicaraan langsung, maupun dalam pembicaraan melalui pesan-pesan yang dibawa oleh utusan dari Sangkal Putung dan sebaliknya.

“Tidak ada yang perlu dipersoalkan lagi,” berkata Ki Gede kemudian. “Ternyata semuanya tetap seperti yang pernah direncanakan. Setelah malam ini Angger Swandaru beristirahat, maka besok malam, upacara pendahuluan dari perkawinan itu akan dilakukan. Pengantin perempuan akan dimandikan, dan upacara midadareni akan berlangsung. Malam lusa maka kedua pengantin akan dipersandingkan.”

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-angguk. Ia tidak dapat ikut menentukan acara yang akan berlangsung di tempat pengantin perempuan itu. Tetapi memang demikianlah kebiasaan yang berlaku. Di malam menjelang pengantin dipertemukan, telah berlangsung upacara khusus di rumah pengantin perempuan. Tetapi dalam pada itu, di Sangkal Putung pun diadakan juga sekedar upacara. Orang-orang tua berjaga-jaga sampai hampir pagi sambil memanjatkan doa, agar di hari berikutnya, perelatan perkawinan dapat berlangsung dengan selamat.

Selagi di pendapa berlangsung pembicaraan yang asyik tentang perelatan yang sedang berlangsung itu, di ruang dalam Pandan Wangi duduk berdua saja dengan Sekar Mirah. Agaknya mereka pun sedang asyik berbincang, sehingga mereka tidak menghiraukan orang-orang yang berjalan kian-kemari dalam kewajiban masing-masing. Bahkan di ruang itu pula, beberapa orang perempuan sedang sibuk membuat kelengkapan perelatan dari daun-daun pisang, sedang di bagian lain, beberapa orang sibuk mengisi ancak dengan sesajian.

Seorang perempuan tua agaknya masih terlampau yakin, bahwa dengan sesajian yang memadai, maka perelatan itu akan berlangsung dengan selamat. Namun para pengawal di Tanah Perdikan Menoreh menganggap bahwa dengan meningkatkan kewaspadaan, maka keselamatan perelatan itu akan dapat dijaga.

“Mereka menempuh cara pada jalur mereka masing-masing,” berkata Pandan Wangi ketika ia melihat Sekar Mirah memperhatikan beberapa ancak yang sudah terisi.

“O,” Sekar Mirah mengangguk, “mereka telah melakukan apa yang dapat mereka lakukan. Tentu saja dengan maksud, agar perkawinanmu selamat.”

Pandan Wangi tersenyum. Sambil mengangguk-angguk kecil ia memperhatikan orang-orang yang sedang sibuk pada kerja masing-masing.

Dalam pada itu, di lembah Gunung Tidar, Empu Pinang Aring pun sedang mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan wajah yang berkerut-merut ia berkata, “Jadi menurut laporan itu, Gandu Demung akan melakukan pengambilan dana perjuangan itu justru di Sangkal Putung ketika sepasang pengantin itu dalam perjalanan pulang.”

Panganti menarik nafas. Sambil tersenyum seperti yang selalu membayang di bibirnya, ia berkata, “Pandai juga anak itu mengatur cara penyergapan. Semula aku tidak yakin bahwa ia akan dapat berhasil. Namun agaknya yang akan dilakukan itu sama sekali tidak diduga oleh orang-orang Sangkal Putung sendiri.”

“Ia berhasil membawa enam puluh orang,” sahut Empu Pinang Aring.

“Jumlah yang cukup besar. Mudah-mudahan ia berhasil.”

Empu Pinang Aring mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kirimlah dua atau tiga orang untuk mengawasi apa yang terjadi. Jika Gandu Demung gagal, kalian harus yakin, bahwa ia lolos dari tangan orang-orang Sangkal Putung. Tetapi jika ia tertangkap, maka ia harus tertangkap mati. Kau tahu maksudku.”

Panganti mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika ia tertangkap hidup, itu berarti bahwa ia harus dibunuh.”

Empu Pinang Aring tidak menjawab. Bahkan ia berkata tentang persoalan yang sama sekali tidak ada hubungannya, “Baiklah, kita segera mempersiapkan diri. Pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu menjadi semakin dekat. Kita akan segera menerima keputusan terakhir dari Pajang. Sesuai dengan perkembangan keadaan di Pajang itu sendiri, dipertimbangkan dengan kematian Jalawaja dan peristiwa-peristiwa lain. Tetapi utusanku yang berhasil menemui Ki Kalasa Sawit yang sudah berada di lembah itu, setelah ia terusir dari Tambak Wedi mengatakan, bahwa waktunya sudah dekat. Dan kita memang harus segera bersiap-siap.”

Panganti dan beberapa orang yang hadir di ruang itu mengangguk-angguk. Namun masih juga terbersit persoalan di hati Panganti. Jika pertemuan itu segera akan berlangsung, itu berarti bahwa yang harus pergi mengawasi Gandu Demung adalah orang lain.

“Tetapi tugas untuk menyelesaikan Gandu Demung jika ia tertangkap hidup di Sangkal Putung adalah tugas yang sangat sulit. Jika kurang hati-hati, maka orang-orang yang menyusul itu pun akan tertangkap pula dan mungkin terbunuh sebelum mereka berhasil membunuh Gandu Demung,” gumam Panganti di dalam hatinya. Namun ia masih mempercayai dua pengawalnya yang mempunyai kemampuan melepaskan paser lewat lubang supit dari jarak yang cukup jauh. Ketepatannya membidik menyebabkan keduanya tidak perlu diragukan lagi. Meskipun demikian Panganti masih bertanya kepada diri sendiri, “Tetapi apakah kedua pengawalnya itu akan sempat mendekat, jika halangan itu benar menimpa Gandu Demung.”

Meskipun demikian, Panganti harus melakukan tugas yang dibebankan oleh Empu Pinang Aring kepadanya, meskipun ia dapat menunjuk orang lain yang dipercayanya, sehingga tidak harus dirinya sendiri. Apalagi menjelang pembicaraan yang setiap saat dapat terjadi di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Empu Pinang Aring telah menunjuknya untuk ikut di dalam pembicaraan itu jika saatnya telah tiba.

Karena itu, maka Panganti pun kemudian memanggil dua orang kepercayaannya. Dengan jelas ia memberitahukan kepada keduanya apa yang harus mereka lakukan.

“Kalian harus berada di Sangkal Putung pada saat peristiwa itu terjadi. Kalian harus tahu pasti, akhir dari peristiwa itu. Jika Gandu Demung berhasil, kalian harus segera melaporkannya. Tetapi jika Gandu Demung gagal, kau harus tahu akibat dari kegagalan itu. Apakah Gandu Demung itu mati, tertangkap hidup atau berhasil melarikan diri. Jika ia tertangkap hidup, maka adalah tugas kalian untuk menyelesaikan.”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Tugas yang demikian itu adalah tugas yang paling mereka benci. Membunuh kawan sendiri. Tetapi mereka tidak akan dapat ingkar apabila salah seorang pemimpin mereka, termasuk Gandu Demung sendiri memerintahkannya. Dan perintah yang demikian bukannya perintah yang pertama kali mereka dengar. Hampir setiap petugas selalu diikuti oleh petugas bayangan yang harus membinasakan jika petugas itu gagal dan apalagi tertangkap hidup-hidup oleh pihak lain. Dengan demikian maka rahasia mereka akan tetap tidak terpecahkan.

“Kau harus mempunyai bahan yang cukup tentang peristiwa yang bakal kau hadapi. Perkawinan itu akan berlangsung di Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi Gandu Demung berada di tlatah Sangkal Putung. Kau dapat langsung pergi ke Sangkal Putung dan mendengarkan dari siapa pun juga, kapan pengantin itu akan dibawa kembali. Kau harus menunggu saat itu terjadi dan kemudian mencari keterangan, apakah Gandu Demung berhasil atau tidak. Kau akan mendapat keterangan tentang Gandu Demung sebagai bahan untuk menentukan sikap apakah yang harus kau lakukan. Jika kau harus melakukan tugas yang paling buruk, yaitu membinasakan kawan sendiri, maka tugas itu pun harus kau lakukan dengan tabah.”

Keduanya mengangguk-angguk. Tetapi keduanya pun sadar, bahwa mereka tidak akan dapat menyatakan keluhannya kepada Panganti. Mereka tahu benar sifat dan watak Panganti. Ia dapat menyatakan kesedihannya sambil tersenyum. Ia dapat membunuh sambil minta maaf kepada orang terdekat dari korbannya, tanpa memberikan kesan apa pun di wajahnya. Tetapi ia juga dapat menyesal atas kematian seseorang yang dibunuhnya sambil tertawa terbahak-bahak. Bahkan ketika ia menyadari bahwa orang yang dibunuhnya adalah yang sama sekali bukan yang dikehendaki, ia dapat menganggap itu sebagai suatu lelucon yang tidak menimbulkan penyesalan apa pun juga.

Karena itu, perintahnya tentang pembunuhan itu harus diterima tanpa keberatan apa pun. Bagi Panganti, maka setiap orang wajib melakukan tugas seperti dirinya sendiri. Tanpa kesan apa pun melihat darah dan nyawa yang terlepas.

“Berangkatlah agar kalian tidak terlambat. Orang-orang Sangkal Putung mungkin termasuk orang-orang yang kasar dan biadab. Jika mereka menangkap seseorang, maka mungkin sekali mereka akan menyiksa tanpa perikemanusiaan. Karena itu adalah kewajiban kalian untuk menolong Gandu Demung. Melepaskannya dari malapelaka semacam itu. Kematian adalah kurnia yang tidak ada taranya di saat seseorang jatuh ke tangan lawan yang buas dan liar seperti orang-orang Sangkal Putung menurut pendengaranku. Mereka tidak lebih dari petani-petani yang dungu. Kemenangan kecil semacam itu, jika terjadi mereka anggap sebagai kebanggaan sehingga mereka akan menikmatinya sepuas-puasnya. Menyiksa tanpa mengenal batas,” berkata Panganti sambil tersenyum.

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Bahkan keduanya juga mencoba tersenyum seperti Panganti.

“Jangan menunggu sampai terlambat. Lebih baik kalian menunggu di sekitar Sangkal Putung. Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan.”

“Baik, Ki Panganti,” jawab salah seorang dari keduanya, “kami akan melakukan tugas kami sebaik-baiknya.”

Panganti menepuk bahu kedua orang itu berganti-ganti. Kemudian tanpa memberikan pesan lagi ia meninggalkan kedua kepercayaannya yang termangu-mangu itu.

Keduanya pun kemudian dengan kesal mempersiapkan diri. Mereka memang pernah melakukan tugas seperti itu. Namun untuk waktu yang lama mereka tidak dapat melupakan wajah kawannya yang membeku karena paser yang mereka lontarkan dari supit yang tepat mengenai urat di leher. Karena paser itu beracun, maka sulit bagi seseorang untuk tetap hidup jika paser itu menyentuh tubuhnya, kecuali jika orang itu dengan cepat mendapatkan obat yang tepat dan tajam.

“Kita akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh,” berkata yang seorang.

“Untuk apa?” bertanya yang lain. “Bukankah sudah jelas bahwa Gandu Demung ada di tlatah Sangkal Putung, atau sekitarnya menjelang iring-iringan itu kembali ke Sangkal Putung.”

“Kita dapat singgah melihat perelatan itu di Tanah Perdikan Menoreh. Bukankah baru pada hari kelima mereka akan berangkat ke Sangkal Putung? Seperti saat mereka berangkat, yang menurut keterangan yang kita terima, mereka berhenti di Mataram, maka saat kembali pun mereka akan berhenti pula di Mataram untuk bermalam. Dengan demikian, perjalanan mereka bukannya perjalanan yang tergesa-gesa karena mereka tidak usah memikirkan waktu di perjalanan, bahwa mereka akan kemalaman.”

Kawannya mengangguk-angguk. Agaknya menarik juga untuk melihat perelatan itu. Melihat saat pengantin bersanding sebelum melakukan pekerjaan yang menggelisahkan itu.

Demikianlah maka keduanya pun kemudian meninggalkan Gunung Tidar. Langsung menuju ke Tanah Perdikan Menoreh.

Ketika mereka berada di tlatah Tanah Perdikan Menoreh, maka Menoreh telah menghias dirinya. Ternyata bahwa kegembiraan tidak saja terjadi dirumah Ki Gede. Tetapi rakyat Tanah Perdikan Menoreh menyambut perkawinan Pandan Wangi dengan kegembiraan yang meluap.

Karena itulah, maka hampir setiap pedukuhan telah menghias pintu gerbang mereka, meskipun hanya sekedar menyangkutkan beberapa pelepah janur kuning dan obor yang melampaui jumlah obor yang biasa mereka pasang. Bahkan ada padukuhan yang menyambut perkawinan itu dengan mengadakan semacam pertunjukkan yang mereka selenggarakan dari antara mereka sendiri.

Terlebih-lebih lagi kegembiraan nampak di rumah Ki Gede Menoreh. Seperti yang direncanakan, maka di malam midadareni, beberapa orang laki-laki dan perempuan berjaga-jaga di rumah Ki Gede Menoreh semalam suntuk. Pandan Wangi telah dimandikan dengan air bunga dan digosok dengan mangir pada seluruh tubuhnya, sehingga kulitnya menjadi semakin kuning. Wajahnya menjadi bagaikan bercahaya memancarkan kecantikan yang hampir tidak nampak dalam keadaannya sehari-hari.

Sekar Mirah yang menunggui gadis yang sedang dirawat sebaik-baiknya oleh orang-orang tua itu tersenyum. Bahkan terbayang di dalam angan-angannya, bahwa pada suatu saat, ia pun akan mengalami perawatan seperti itu.

“Pada suatu saat,” tiba-tiba saja wajahnya menjadi suram, “kapankah saat itu tiba?” pertanyaan itu telah mengganggu perasaannya.

Sementara itu, beberapa orang perempuan yang telah selesai meronce bunga bagi Pandan Wangi, kemudian memasuki biliknya dan menyerahkan untaian bunga melati itu kepada mereka yang sedang merawat dan kemudian akan mengenakan pakaian calon pengantin itu.

“Untaian ini akan dipakai malam ini,” berkata seorang yang sudah berambut putih, “untuk besok, saat pengantin dipertemukan, akan dironce bunga yang lain. Lebih banyak jenisnya dari untaian yang sekarang akan dipakai.”

Pandan Wangi menundukkan kepalanya, sedang Sekar Mirah mengangguk-angguk sambil mencoba tersenyum kembali.

“Untaian ini akan dipakai oleh pengantin laki-laki,” berkata orang tua itu sambil menyisihkan beberapa untai bunga, “yang ini akan dipakai pada hulu kerisnya, yang ini adalah kalungnya.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk.

Dan perempuan itu meneruskan, “Seperti pengantin perempuan, maka bagi pengantin laki-laki pun besok akan dibuat reroncen yang lebih baik. Selain bagi hulu kerisnya dan kalung, juga akan dibuatkan hiasan baju dan disediakan dua buah melati untuk cunduk di bawah ikat kepala, di atas daun telinga.”

Sekar Mirah masih saja mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba perempuan itu berkata, “Tetapi siapakah yang akan menyerahka untaian ini kepada pengantin laki-laki.”

Tidak ada yang menjawab. Sekar Mirah pun ragu-ragu.

Karena tidak ada yang menjawab, maka orang tua itu kemudian menyuruh seorang pembantunya untuk memanggil siapa yang dapat membawa untaian bunga itu kepada pengantin laki-laki.

“Siapa?” bertanya pembantu perempuan berambut putih itu.

“Siapa saja. Suruhlah seorang dari mereka yang ada di pendapa untuk memanggil siapa pun dari antara para pengiring pengantin laki-laki itu. Pengantin lagi-laki itu malam ini harus juga mengenakan pakaian yang sudah disediakan meskipun bukan pakaian yang akan dipakai besok malam. Tetapi jika ada orang-orang tua yang menengoknya, pengantin itu sudah kelihatan seperti seorang pengantin.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tetapi ia mengerti maksud perempuan tua itu. Tetapi karena perempuan yang disuruhnya memanggil seorang dari antara para pengiring pengantin laki-laki itu masih nampak bingung, maka hampir di luar sadarnya ia berkata, “Suruhlah seseorang memanggil Kakang Agung Sedayu. Ia adalah orang terdekat dari Kakang Swandaru.”

Pembantu perempuan tua itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian bergeser keluar dari bilik Pandan Wangi yang benar-benar dipenuhi oleh bau wewangian. Kepada seorang anak muda yang dijumpainya berdiri di depan pintu butulan pembantu itu berkata, “Panggillah anak muda yang bernama Agung Sedayu dari antara para pengiring pengantin laki-laki.”

“Untuk apa?” bertanya anak muda itu.

“Ia harus mengambil beberapa untai bunga yang akan dikenakan oleh calon pengantin laki-laki malam ini.”

“Biarlah bunga itu aku bawa saja ke sana.”

“Tidak. Yang mengambil bunga itu di bilik pengantin perempuan adalah salah seorang pengiring pengantin laki-laki.”

“Ah, kau ini rewel sekali. Apakah kau sangka bahwa untaian bunga itu akan aku pakai sendiri?”

“Meskipun tidak, tetapi kau tidak boleh melanggar ketentuan tentang bunga itu.”

Anak muda itu tidak menjawab. Ia pun kemudian melangkah pergi ke tempat Swandaru beristirahat bersama beberapa orang pengiringnya.

Ternyata bahwa Swandara pun telah mengenakan pakaian yang memang sudah disediakan baginya. Meskipun ia masih nampak gemuk, tetapi wajahnya yang bulat itu menjadi nampak lain dari wajahnya sehari-hari.

Anak muda itu pun kemudian menyampaikan pesan perempuan pembantu orang yang sedang merawat Pandan Wangi, bahwa Agung Sedayu dipanggil ke dalam bilik pengantin perempuan untuk mengambil beberapa untai bunga.

Tanpa berpikir panjang, Agung Sedayu yang sudah berpakaian rapi pun segera melangkah ke rumah Ki Gede dan langsung lewat pintu butulan menuju ke bilik Pandan Wangi. Di ruang tengah ia menjadi ragu-ragu melihat perempuan-perempuan yang sedang sibuk hilir-mudik, sehingga langkahnya terhenti beberapa saat.

Tiba-tiba saja ia melihat Sekar Mirah muncul dari pintu bilik Pandan Wangi. Dengan ragu-ragu pula ia memanggilnya.

Sekar Mirah berpaling. Dilihatnya Agung Sedayu berdiri termangu-mangu. Karena itu, maka ia pun mendekatinya sambil berkata, “Masuklah. Orang tua itu menunggumu. Aku akan pergi ke pakiwan sebentar.”

“Di ruangan itu banyak perempuan,” desis Agung Sedayu.

“Tidak apa-apa. Mereka tidak akan menangkapmu.”

Agung Sedayu tersenyum, tetapi ia masih tetap ragu-ragu. Sehingga Sekar Mirah kemudian mendorongnya sambil berkata, “Cepatlah, kau ditunggu. Jika kau lambat, maka Kakang Swandaru pun akan lambat berpakaian.”

“Tetapi bukankah Swandaru tidak akan dibawa kemari malam ini?”

“Memang tidak. Tetapi jika ada orang-orang tua yang datang menjenguknya di pondokan, maka akan lebih sopan jika ia pun sudah berpakaian lengkap, meskipun bukan pakaian yang akan dipakainya besok.”

“Ambillah, aku menunggu di sini,” desis Agung Sedayu.

“Ah kau ini. Ambillah sendiri. Aku akan ke pakiwan.”

Sekar Mirah tidak menunggu lagi. Ia pun segera meninggalkan Agung Sedayu yang termangu-mangu.

Karena itulah maka Agung Sedayu tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus masuk ke dalam bilik pengantin untuk mengambil untaian melati yang akan dikenakan pada keris Swandaru dan selingkar kalung yang berjuntai sampai ke dadanya.

Sejenak Agung Sedayu membenahi pakaiannya. Ia jarang sekali mengenakan pakaian yang lengkap dan mapan seperti saat itu. Karena itu, maka justru ia merasa seolah-olah terkungkung dalam pakaiannya.

Dengan ragu-ragu Agung Sedayu mendekati pintu bilik Pandan Wangi yang terbuka sedikit. Ketika ada seorang perempuan keluar dari bilik itu maka ia pun berkata, “Aku akan mengambil untaian bunga melati bagi pengantin laki-laki.”

“O, silahkan. Masuklah,” perempuan itu pun segera membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan Agung Sedayu masuk.

Setapak demi setapak Agung Sedayu mendekati pintu. Ketika ia kemudian berdiri di pintu itu, terasa dadanya berdesir. Di sudut bilik itu ia melihat Pandan Wangi yang sudah hampir selesai berpakaian. Wajahnya nampak bagaikan bercahaya. Sekilas ia melihat mata gadis itu menyambarnya. Namun Agung Sedayu dengan cepat menundukkan kepalanya.

Dalam pada itu, jantung Pandan Wangi pun telah disengat oleh perasaan aneh ketika ia melihat Agung Sedayu muncul di pintu biliknya. Anak muda yang berpakaian rapi itu ternyata mempunyai pengaruh tersendiri di dalam hatinya. Sejak pertama kali ia melihat dua orang saudara seperguruan itu, maka perhatiannya yang pertama-tama adalah melekat pada Agung Sedayu. Namun akhirnya, ia telah menggiring dirinya sendiri untuk melihat kenyataan, bahwa sebenarnyalah Agung Sedayu telah terikat pada seorang gadis. Gadis itu adalah Sekar Mirah adik Swandaru sendiri.

Pandan Wangi pun kemudian menundukkan kepalanya pula. Ia tidak berani lagi memandang wajah Agung Sedayu. Bahkan dengan demikian, seolah-olah keduanya sama sekali tidak saling mengenal.

“Apakah Angger yang bernama Agung Sedayu,” seorang perempuan tua tiba-tiba saja bertanya, sehingga Agung Sedayu terkejut karenanya. Dengan tergagap ia menjawab, “Ya, ya Bibi. Aku Agung Sedayu, dari pondok pengantin laki-laki.”

“O,” perempuan itu mengangguk-angguk, “kemarilah. Inilah untaian bunga melati bagi pengantin laki-laki malam ini. Besok akan disediakan untaian yang lain, yang lebih lengkap.”

Agung Sedayu menjadi lebih gelisah ketika ia harus beringsut sambil berjongkok mendekati perempuan berambut putih yang sedang menyelesaikan pekerjaannya, mematut rias Pandan Wangi, yang duduk pada sehelai tikar yang dibentangkan di lantai.

Karena tidak dapat menahan desakan perasaannya, maka sekali lagi Agung Sedayu memandang wajah Pandan Wangi. Tetapi hatinya bergetar ketika saat yang sama Pandan Wangi pun sedang memandanginya.

“Gila,” Agung Sedayu menggeram di dalam hati, “apakah yang sedang terjadi atasku sekarang ini?”

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat berpikir lebih lama lagi, karena perempuan berambut putih itu sudah menjulurkan sebuah nampan berisi untaian bunga melati bagi pengantin laki-laki.

Dengan tanpa mengangkat wajahnya lagi, Agung Sedayu pun kemudian minta diri. Ia beringsut sambil berjongkok sampai dimuka pintu, kemudian dengan tergesa-gesa ia pun melangkah ke luar dan meninggalkan bilik itu.

Di muka pintu butulan ia bertemu dengan Sekar Mirah yang baru saja ke pakiwan. Sambil tersenyum Sekar Mirah berkata, “Nah, bukankah kau masih utuh.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Hampir di luar sadarnya ia memandang wajah Sekar Mirah. Dan di luar sadarnya pula, telah tumbuh perbandingan antara kedua gadis yang dikenalnya sebagai gadis-gadis yang tangannya cekatan bermain pedang.

“Kau nampak gelisah sekali,” desis Sekar Mirah.

“Tidak. Aku tidak apa-apa.”

Sekar Mirah tertawa tertahan. Katanya, “Sekarang pergilah kepada Kakang Swandaru. Ternyata kau dengan selamat telah keluar dari bilik itu.”

Agung Sedayu pun mencoba tersenyum pula, meskipun baginya sendiri senyum itu adalah senyum yang sangat hambar.

Di perjalanan ke pondok yang diperuntukkan bagi pengantin laki-laki itu, Agung Sedayu sempat berangan-angan tentang kedua gadis itu.

“Sekar Mirah memang cantik,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya. Namun ternyata baginya, kedua gadis itu mempunyai perbedaan sifat yang sangat jauh. Sekar Mirah adalah gadis yang keras hati dan terlampau menghargai dirinya sendiri. Keinginannya untuk menampakkan diri dalam kedudukan yang terpandang terasa sekali mempengaruhi cara hidup dan jalan berpikir.

“Sifat yang sama dengan sifat Swandaru,” gumam Agung Sedayu di luar sadarnya.

Baginya sifat-sifat Pandan Wangi yang meskipun juga keras hati, tetapi mengandung kelembutan. Jika tangannya tidak sedang menggenggam pedang rangkapnya. Pandan Wangi adalah seorang perempuan yang pantas menjadi seorang ibu yang penuh dengan kasih sayang, meskipun pada saat-saat tertentu ia adalah seekor macan betina yang berbahaya bagi lawan-lawannya.

“Uh,” tiba-tiba Agung Sedayu menggeleng, “benar-benar aku telah keracunan dengan sifat-sifat burukku.”

Tiba-tiba saja Agung Sedayu mempercepat langkahnya menuju ke pondok yang disediakan bagi Swandaru sambil membawa sebuah nampan berisi untaian bunga melati yang akan dikenakan di malam midadareni itu.

Namun dalam pada itu, ternyata kehadiran Agung Sedayu di dalam bilik Pandan Wangi telah mempengaruhi perasaannya. Sentuhan pandangan Agung Sedayu seolah-olah telah menyengat jantung. Rasa-rasanya ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya.

Namun seperti Agung Sedayu, Pandan Wangi berusaha untuk menindas perasaan yang meledak di dalam hatinya itu. Bahkan dengan sadar ia merasa sedih, bahwa ia tidak dapat luput dari cobaan serupa itu.

“Bukan kemampuan untuk menindas perasaan yang tumbuh,” desis Pandan Wangi di dalam hatinya, “tetapi bahwa perasaan itu telah sempat tumbuh meskipun seandainya aku berhasil mendesaknya ke bawah himpitan pertimbangan, namun bahwa perasaan itu pernah ada telah merupakan gejala keburaman hati ini.”

Tiba-tiba terasa tubuh Pandan Wangi menjadi gemetar. Keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya, sehingga usapan mangir tumbuhnya yang menjadi semakin kuning itu, menjadi basah.

“O, keringatmu banyak sekali,” desis orang tua yang sedang meriasnya.

Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak menjawab.

Perempuan yang meriasnya itu pun meneruskan kata-katanya, “Tapi itu adalah wajar. Setiap pengantin perempuan akan mengalami perasaan seperti yang kau alami sekarang. Gelisah, tetapi juga penuh harap.”

Yang mendengarnya tertawa bersahutan. Beberapa orang mencoba menyambung dengan kelakar yang segar seperti kebiasaan mereka di bilik pengantin di tempat-tempat yang lain.

Pandan Wangi pun mengerti. Ia sering ikut pula bergurau seperti itu apabila ia sempat menghadiri malam midadareni. Bergurau hampir semalam suntuk.

Karena itu, betapa pun hatinya terasa kemelut, namun ia tersenyum juga. Dibiarkannya orang tua yang meriasnya mengusap tubuhnya beberapa kali.

“O, tetapi keringat ini terlalu banyak, sehingga mangir di tubuhnya akan dapat larut karenanya.”

“Udara terasa panas sekali,” Pandan Wangi mencoba menjawab.

“Aku merasa dingin sekali,” tiba-tiba seorang gadis sebayanya menyahut.

Suara tertawa telah meledak. Pandan Wangi pun ikut tersenyum pula.

Karena gurau dan kelakar yang kemudian memenuhi ruangan itu, maka Pandan Wangi agak terlupa sedikit akan gejolak di dalam hatinya. Tetapi setiap saat masih juga terasa jantungnya bergetar.

Baru ketika ia selesai berpakaian, dan beberapa orang perempuan meninggalkan biliknya, kembali perasaan itu rasa-rasanya mulai bergetar lagi di hatinya.

“O, alangkah nistanya gadis yang bernama Pandan Wangi ini,” berkata Pandan Wangi di dalam hatinya.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: