Buku 096 (Seri I Jilid 96)

Ketika pada suatu saat perempuan yang menungguinya keluar juga sesaat, terasa kesepian telah mencengkam hatinya di dalam keributan persiapan perelatan perkawinannya besok di luar biliknya.

Bahkan dalam kilasan angan-angannya, terbayang wajah ibunya yang cantik, tetapi muram. Sepercik noda telah melekat pada wajah itu, dengan hadirnya dua orang laki laki di dalam hatinya. Laki-laki yang menurunkan seorang anak laki-laki, dan laki-laki yang lain yang telah melahirkan dirinya.

“O,” Pandan Wangi tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, “alangkah hinanya. Agaknya hukuman dari Yang Maha Kuasa tidak saja mencengkamnya di saat ia memasuki kehidupan langgeng, tetapi di kehidupan yang wadag ini pun sudah mulai terasa, betapa hatinya tersiksa. Bahkan kedua anak yang lahir dari kedua laki-laki itu pun telah ditakdirkan saling membunuh.”

Terasa pelupuk mata Pandan Wangi menjadi semakin panas. Ia mencoba menghindarkan diri dari pengakuan, bahwa ada dua orang laki-laki pula yang sudah hadir di dalam hatinya.

“Tidak,” ia mencoba mengelak.

Seorang perempuan yang memasuki bilik Pandan Wangi terkejut melihat sikap gadis itu. Namun perempuan itu pun tersenyum sambil berkata, “Jangan cemas, Pandan Wangi. Jika sesuatu bergejolak di dalam hatimu, itu adalah wajar sekali.”

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Ia merasa bersyukur bahwa orang lain tidak menangkap perasaan yang sebenarnya bergejolak di dalam hatinya. Apalagi ketika perempuan berambut putih yang meriasnya masuk pula ke dalam bilik itu, maka hati Pandan Wangi mulai terhibur lagi dengan kelakarnya yang riang.

Di dalam pondoknya. Swandaru pun telah mengenakan pakaian yang khusus. Bahkan ia telah mengenakan perhiasan yang meskipun belum selengkap yang akan dipakainya di saat ia akan dipersandingkan. Untaian bunga melati yang dibawa oleh Agung Sedayu telah dikenakannya pula. Seuntai di hulu keris, seuntai yang panjang dikenakan di lehernya. Kemudian dua kuntum di atas telinganya sebelah-menyebelah.

Kawan-kawannya, para pengawal dari Sangkal Putung pun sempat pula mengganggunya, seperti gadis-gadis dan perempuan mengganggu Pandan Wangi. Namun Swandaru hanya sempat tertawa saja. Apalagi Swandaru sama sekali tidak diganggu oleh perasaan-perasaan lain seperti yang terjadi pada Pandan Wangi.

Selagi Swandaru dan para pengiringnya bergurau dengan riuhnya, Agung Sedayu yang gelisah berjalan sambil menundukkan kepalanya ke pakiwan. Ternyata berbagai macam perasaan telah bergejolak di dalam hatinya. Bukan saja usahanya menindas gambaran wajah Pandan Wangi yang bagaikan bercahaya, tetapi juga kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada dirinya jika kelak pada suatu saat ia kawin dengan Sekar Mirah.

“Apa yang dapat aku lakukan jika saat perkawinan itu tiba. Tentu aku tidak akan mampu mematut diri seperti Swandaru, bahkan dengan segala macam persiapan perelatan di Sangkal Putung.”

Terbayang di angan-angan Agung Sedayu, kemampuan yang ada pada dirinya dan keluarganya. Saat kakaknya kawin, tidak ada perelatan sebesar yang diselenggarakan oleh Ki Gede Menoreh. Juga sudah tentu tidak sebesar nanti yang akan diselenggarakan di Sangkal Putung. Untara lebih senang hari-hari perkawinannya berlangsung dengan sederhana. Tetapi karena ia adalah seorang senapati besar, maka kesederhanaannya itu justru memberikan kewibawaan padanya. Bukan saja di dalam sorotan para prajurit dan rakyat di sekitarnya, namun sebenarnyalah bahwa Untara adalah seorang senapati yang persaja.

Meskipun demikian, dalam kesederhanaan itu nampak juga keagungan karena jabatannya. Para prajurit bersiaga dengan sepenuhnya. Di sepanjang perjalanan, maupun di rumah kedua pengantin itu. Di rumah pengantin perempuan dan di rumah Untara sendiri.

Sekarang Swandaru kawin dengan segala macam kebesaran karena kedua orang tua sepasang pengantin itu cukup mempunyai biaya untuk menjadikan hari-hari perkawinan itu menjadi sangat meriah. Selain biaya yang memang sudah tersedia, keduanya adalah anak orang-orang terpenting di kedua tempat asal mereka. Swandaru anak seorang demang yang cukup di Sangkal Putung, sedang Pandan Wangi adalah anak kepala Tanah Perdikan di Menoreh.

“Jika kelak aku kawin,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, “tentu Kakang Untara tidak akan berniat sama sekali menyelenggarakan perelatan sebesar perelatan yang kini disiapkan di Sangkal Putung saat ngunduh pengantin. Tentu tidak akan diselenggarakan melampaui saat Kakang Untara sendiri kawin. Apalagi aku sudah tidak mempunyai orang tua, sehingga kemampuan yang dapat diberikan oleh Paman dan Bibi adalah kemampuan yang terbatas sekali.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun persoalan itu mengejarnya lagi. Katanya di dalam hati, “Aku sendiri sebenarnya tidak mempunyai keberatan apa pun juga, seandainya perkawinanku itu sama sekali tidak diramaikan dengan perelatan apa pun juga, apalagi bermacam-macam pertunjukan, aku pun sama sekali tidak menyesal. Tetapi apakah demikian pula Sekar Mirah?”

Kegelisahan itu justru semakin mencengkamnya sehingga jantung Agung Sedayu rasa-rasanya berdentang semakin cepat.

Namun tidak ada yang dapat memberinya petunjuk apa pun juga, karena Agung Sedayu menyimpan kegelisahan itu di dalam hatinya. Ia tidak dapat mengatakannya kepada siapa pun juga. Satu-satunya, keluarganya adalah kakaknya, Untara. Tetapi sudah tentu Untara tidak akan dapat mengerti perasaannya. Dengan tegas Untara akan berkata kepadanya, “Itu tergantung kepadamu. Jika kau memang menghendaki, jadilah. Jika calon istrimu itu berkeberatan, jangan kau hiraukan. Sejak saat perkawinanmu, kau dan istrimu harus saling memaklumi keadaan masing-masing. Jika Sekar Mirah seorang gadis yang baik, ia tidak akan terlampau banyak menuntut apa pun juga yang sulit kau laksanakan.”

Tetapi sekilas terbayang di angan-angan Agung Sedayu, sikap Sekar Mirah yang keras dan tinggi hati. Seperti Untara ia pun akan berkata dengan lantang, “Perkawinan kita harus diselenggarakan dengan meriah. Setidak-tidaknya seperti Kakang Swandaru. Baik saat perelatan di Tanah Perdikan Menoreh, maupun di Sangkal Putung. Kita pun harus merayakan hari-hari perkawinan kita di Sangkal Putung dan di Jati Anom. Bukankah kakakmu seorang perwira muda yang terpandang? Seorang senapati besar yang mempunyai pengaruh yang luas?”

“O,” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Angan-angan itu ternyata membuatnya menjadi sangat gelisah dan cemas.

Dalam pada itu, ketika ia sudah kembali dari pakiwan, dilihatnya Swandaru sedang mengenakan untaian bunga yang dibawanya dari bilik pengantin perempuan. Anak muda yang gemuk itu nampak cukup tampan pula. Sekali-sekali terdengar suara tertawanya jika kawan-kawannya yang mengiringinya mengganggunya.

“Kau pantas mendapat kehormatan yang tinggi Swandaru,” berkata seorang kawannya yang ikut serta mengawalnya, “kau pantas disebut seorang tumenggung dengan pakaianmu itu. Untaian bunga melati itu membuatmu semakin nampak berwibawa. Tidak seorang pun yang akan menduga, bahwa kau adalah anak Kademangan Sangkal Putung.”

Swandaru tertawa.

“Aku kira perkawinanmu melampaui perelatan perkawinan para pemimpin di Demak dan Mataram. Kau lihat, perkawinan Sutawijaya dengan gadis dari Kalinyamat itu? Tidak seorang pun melihat upacara semeriah ini.”

“Perkawinan itu berlangsung begitu saja. Bahkan dengan diam-diam,” sahut yang lain.

“Tidak. Kanjeng Sultan telah memberikan restunya. Seandainya perkawinan itu diselenggarakan dengan meriah, tidak akan ada kesulitan apa pun lagi,” sahut yang mula-mula.

“Kesulitan perasaan,” jawab yang lain.

Mereka masih saja berkelakar terus. Kawan-kawan ternyata mengagumi Swandaru dalam pakaian midadareni. Dalam gurau itu, Swandaru bahkan berkata, “Jika sekarang aku seperti seorang tumenggung, maka besok aku tentu seperti seorang pangeran.”

Suara tertawa telah meledak. Tetapi suara tertawa itu terputus ketika seorang tua memasuki biliknya sambil berkata, “Angger Swandaru. Jika kau sudah selesai berpakaian, marilah, duduklah di pendapa. Beberapa orang-orang tua dari Tanah Perdikan Menoreh yang belum pernah melihatmu, ingin bertemu barang sebentar. Sedangkan mereka yang telah mengenalmu saat api berkobar membakar, ingin melihatmu dalam pakaian yang lain dari pakaian seorang yang hidup dalam asap api peperangan yang menyala di Menoreh ini.”

Swandaru mengangguk sambil menjawab, “Baik, Paman. Aku akan segera pergi ke pendapa.”

Ketika orang tua itu pergi, maka orang-orang tua dari Sangkal Putung yang melayaninya pun segera mempersiapkan Swandaru dan kemudian membawanya ke pendapa.

Ternyata di pendapa rumah yang disediakan bagi pengantin laki-laki itu sudah ada beberapa orang tua dari Menoreh yang duduk menunggu. Ketika mereka melihat Swandaru, maka mereka pun segera bergeser sambil memandanginya dengan penuh kekaguman.

“Inilah calon menantu Ki Gede,” berkata seorang tua yang pernah mengenal Swandaru sebelumnya. Kemudian dengan senyum di bibirnya ia mempersilahkan Swandaru duduk di sebelahnya.

“Hampir setiap orang dari Tanah Perdikan ini telah mengenalnya,” berkata orang tua itu, “meskipun ia seorang anak muda dari Sangkal Putung dan saat ini ia baru merupakan calon menantu Ki Gede, namun sebenarnyalah ia memiliki jasa yang barangkali lebih banyak dari anak-anak muda daerah ini sendiri atas Tanah Perdikan Menoreh.”

Setiap orang di pendapa itu mengangguk-angguk. Apalagi yang memang sudah mengenal Swandaru dalam peperangan yang pernah menyala di atas Tanah Perdikan ini. Sedangkan mereka yang belum mengenal dari dekat pun mengangguk-angguk sambil bergumam, “Jadi, inilah anak muda yang dikagumi oleh setiap orang dari Tanah Perdikan Menoreh.”

Di sudut lain dari pendapa itu, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar duduk berdekatan. Di belakangnya Agung Sedayu rasa-rasanya menjadi sangat gelisah oleh perasaan sendiri.

Tetapi ternyata bukan saja Agung Sedayu yang menjadi gelsah karena persoalannya sendiri, tetapi rasa-rasanya di hati Kiai Gringsing pun telah membayang sesuatu yang menggelisahkannya pula. Ia melihat sikap Swandaru yang mulai dibayangi oleh sifat dan wataknya yang sebenarnya. Di dalam asuhannya, Kiai Gringsing masih sempat mengendalikan sifat dan watak anak muda yang gemuk itu. Namun dalam saat-saat tertentu sifat itu masih juga muncul di luar sadar.

Dan kini Swandaru duduk dengan dada tengadah. Sambil mengangguk-angguk kecil ia tersenyum mendengarkan pujian orang-orang Menoreh atasnya. Bahkan seorang tua berkata, “Angger Swandaru tidak perlu merasa berada di tempat lain. Tanah Perdikan Menoreh adalah rumahmu sendiri. Pandan Wangi adalah satu-satunya anak Ki Gede. Jadi siapa lagi yang kelak akan mengendalikan Tanah Perdikan ini selain Angger Swandaru.”

Rasa-rasanya dada Swandaru menjadi penuh dengan kebanggaan. Tiba-tiba saja ia melihat orang-orang yang ada di sekitarnya itu pada suatu ketika akan tunduk di bawah perintahnya. Orang-orang tua dari Sangkal Putung tentu akan menghormatinya sebagai pewaris satu-satunya dari kademangan yang besar dan subur itu, sedangkan orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh menganggapnya sebagai orang yang paling berjasa dan bahkan yang kelak akan menggantikan kedudukan Ki Gede Menoreh. Sehingga dengan demikian, ketika terpandang olehnya dalam cahaya obor dedaunan yang hijau kehitam-hitaman di halaman, maka rasa-rasanya ia melihat Tanah Perdikan Menoreh yang terbentang di bawah bukit Menoreh yang membujur ke utara itu sebagai tlatah yang sudah berada di bawah kekuasaannya.

Sanjungan orang-orang Menoreh terhadapnya, membuat dada Swandaru rasa-rasarya menjadi bertambah sesak oleh kebanggaan tentang dirinya, sehingga dalam saat yang demikian, ia tidak ingat lagi untuk memanggil Agung Sedayu agar duduk di sebelahnya mengawaninya seperti ketika ia kesepian di saat-saat menjelang hari perkawinannya di Sangkal Putung. Meskipun Swandaru melihat juga Agung Sedayu yang duduk di belakang gurunya dan Ki Sumangkar, namun ia sama sekali tidak memanggilnya, bahkan menegurnya.

Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak memperhatikan sikap Swandaru. Ia sedang digelisahkan oleh perasaannya sendiri. Karena itulah, maka meskipun ia duduk di pendapa, di antara beberapa orang lain yang sibuk membicarakan Swandaru, namun angan-angannya telah menerawang ke dunia angan-angan yang sangat jauh.

Berbeda dengan Agung Sedayu, maka Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mulai memperhatikan Swandaru pada saat-saat yang agak terlepas dari kebiasaan yang ditempakan oleh Kiai Gringsing terhadapnya. Di medan perang, di padang pengembaraan, dan di pematang yang berlumpur, Swandaru sempat mengendalikan diri. Tetapi di tengah-tengah orang-orang tua yang seolah-olah mengerumuninya untuk menyatakan kekaguman mereka, di antara puji dan sanjung, maka yang telah terdesak jauh ke bawah pengendalian diri, di luar sadar telah melonjak kembali. Sebagaimana sifat dan watak anak muda yang bertubuh gemuk itu, yang sejak masa kanak-kanaknya hidup dengan manja dan terpenuhi segala keinginannya.

Sementara itu, di rumah Ki Gede Menoreh, Pandan Wangi pun telah mulai dikerumuni oleh orang-orang perempuan yang ingin melihat wajahnya yang tentu menjadi berbeda dengan wajahnya sehari-hari. Hampir setiap orang menjadi kagum akan kecantikan gadis itu. Setiap orang yang sehari-hari mengenalnya sebagai seorang gadis yang lembut tetapi di saat-saat tertentu dapat berubah menjadi harimau betina itu, menjadi terheran-heran melihat wajah yang seakan memancarkan cahaya yang menyilaukan.

Namun perempuan-perempuan itu pun ikut serta menahan hati ketika mereka melihat, di mata gadis yang cantik itu telah mengembang air mata. Mereka menyadari, bahwa tentu ada sesuatu yang bergejolak di hati gadis itu. Adalah wajar sekali bahwa di saat menjelang hari perkawinan, tetapi tidak ditunggui oleh ibunya yang sudah mendahului menghadap Tuhannya, rasa-rasanya hati menjadi pedih.

Tetapi tidak seorang pun yang mengetahui, bahwa perasaan Pandan Wangi bukannya sekedar berhenti pada kesepian yang mencengkamnya di dalam keramaian itu. Bukan saja bahwa ia tidak ditunggui oleh ibunya. Namun gambaran ibunya itu telah dirangkapi oleh peristiwa-peristiwa yang telah melibatkan keluarganya ke dalam bencana.

Tiba-tiba saja terbayang saat-saat ibunya dikerumuni oleh perempuan-perempuan tua seperti dirinya saat itu. Namun ibunya sudah bukan seorang gadis lagi, karena kehadiran seorang laki-laki lain di samping ayahnya yang kemudian menjadi kepala Tanah Perdikan ini.

“O,” sebuah keluhan telah menggetarkan bibirnya. Tetapi Pandan Wangi kemudian sempat bersyukur. Meskipun di hatinya juga terukir dua wajah laki-laki, namun ia telah memasuki jenjang perkawinan dengan kegadisannya yang utuh.

“Tetapi hatiku tidak utuh,” Pandan Wangi berteriak di dalam hati, “ini berarti aku sudah mulai berkhianat di hari permulaan.”

Rasa-rasanya hati Pandan Wangi menjadi semakin pedih. Bagaimana pun juga ia berusaha, namun air yang mengalir dari matanya menjadi semakin deras. Bahkan Pandan Wangi pun kemudian terisak-isak. Setiap kali lengannya mengusap air di matanya, maka rias di wajahnya pun menjadi tergores oleh usapan itu pula.

Perempuan tua yang meriasnya melihat Pandan Wangi menangis. Dengan sabar ia pun kemudian membisikinya, “Sudahlah, Pandan Wangi. Kau tidak perlu menangis di masa yang berbahagia ini. Apa pun yang menyebabkan kau menangis, sebaiknya kau sisihkan dari hatimu. Setiap orang yang datang di malam ini ingin melihat wajahmu yang cantik dan cerah. Jika wajahmu kau hiasi dengan air mata, maka pertemuan di malam midadareni ini akan menjadi suram.”

Pandan Wangi mengangguk.

“Marilah, aku perbaiki rias di wajahmu.”

Pandan Wangi tidak menyanggah. Dibiarkannya perempuan tua itu memperbaiki rias di wajahnya yang basah oleh air matanya. Dengan sekuat hati ia kemudian melawan tangis yang masih saja terasa menyekat lehernya.

Dalam pada itu, Sekar Mirah yang ikut menunggui Pandan Wangi telah tersentuh pula oleh perasaan iba. Gadis itu tidak beribu lagi. Itu sajalah yang berkesan di hatinya. Tidak lebih.

Untuk mengurangi perasaan pepat di hatinya, Sekar Mirah justru telah meninggalkan ruang itu dan turun ke halaman. Terasa angin malam yang sejuk telah menyentuh tubuhnya. Tubuhnya yang langsing sesuai dengan kemampuannya memegang pedang. Tetapi tubuh itu juga penuh berisi.

Dalam saat-saat seperti itu, seperti juga para pengiring yang lain, Sekar Mirah pun telah berpakaian dengan rapi. Ia pun mencoba merias dirinya sendiri, agar di dalam suasana yang cerah itu, ia tidak nampak terlampau suram jika pada suatu saat ia harus berada di samping Pandan Wangi.

Sejenak Sekar Mirah termangu-mangu. Dipandanginya beberapa orang yang nampak selalu sibuk kian kemari. Cahaya obor yang terang benderang di seluruh halaman dan rasa-rasanya Tanah Perdikan malam itu tidak akan tidur sama sekali. Di sudut padukuhan induk sekelompok anak-anak muda yang berjaga-jaga telah membuat suasana menjadi semakin ramai. Sedangkan di banjar, terdengar suara gamelan yang riuh. Di banjar itu ternyata sekelompok anak-anak muda sedang berlatih menari. Besok mereka akan meramaikan hari perkawinan Pandan Wangi yang meriah.

Pada saat Sekar Mirah termenung di bawah cahaya obor di halaman, seorang anak muda lewat dengan tergesa-gesa, melintas di hadapannya. Semula anak muda itu tidak menghiraukan Sekar Mirah yang juga tidak memperhatikannya. Namun tiba-tiba saja anak muda itu berhenti sejenak. Dipandangnya wajah gadis itu sesaat.

“Sekar Mirah,” sapa anak muda itu.

Sekar Mirah berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia mencoba mengamati wajah itu. Namun Sekar Mirah pun kemudian tersenyum sambil menyahut, “Kau nampak sibuk sekali, Prastawa.”

Prastawa pun tertawa. Jawabnya, “Tidak. Aku sekedar membantu. Apa saja yang dapat aku lakukan. Aku tidak dapat berbuat lebih banyak dari menyerahkan tenagaku. Apalagi aku agak terlambat datang.”

“Kenapa kau baru datang hari ini?”

“Aku berada di rumah ini. Tetapi tiga hari yang lalu, aku pulang untuk menunggui rumah, karena ayah dan ibuku ada di sini.”

“Ya. Aku sudah melihat ayah dan ibumu sore tadi. Tetapi bukankah sekarang rumahmu juga kau tinggalkan.”

“Terpaksa. Tetapi sudah aku serahkan kepada para penjaga.”

“Kau sudah bertemu dengan Kakang Swandaru dan Kakang Agung Sedayu?”

Prastawa menggeleng, “Belum. Aku terlalu sibuk. Aku harus pergi ke sana ke mari mencari perlengkapan yang kurang. Meskipun Paman Argapati sudah menyiapkan lama sebelumnya, tetapi ternyata masih ada juga yang kurang.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya, “Itu wajar sekali. Di mana-mana pun terjadi serupa itu. Hal-hal di luar perhitungan kadang-kadang tumbuh di saat yang sudah terlalu dekat seperti sekarang ini.”

“Maaf, Sekar Mirah,” berkata anak muda itu, “aku harus menemui ibuku, karena aku sedang melakukan sesuatu untuknya.”

Sekar Mirah tersenyum. Jawabnya, “Silahkan.”

Prastawa pun tersenyum pula. Di luar sadarnya ia memandang wajah Sekar Mirah yang meskipun sederhana telah merias dirinya.

Terasa sesuatu tergerak di hati anak yang masih sangat muda itu. Sekar Mirah yang pernah dikenalnya sebagai seorang gadis bersenjata seperti Pandan Wangi itu, kini nampak benar-benar sebagai seorang gadis yang cantik. Wajahnya yang agak tengadah, dan dagunya yang terangkat, di mata Prastawa membuat Sekar Mirah nampak sebagai seorang gadis yang berwibawa dan penuh dengan gairah hidup yang menyala di dadanya.

Sekar Mirah mengangguk kecil. Namun hampir di luar sadarnya sesuatu merambat di wajahnya yang cantik. Namun kemudian terasa wajah itu menjadi panas.

Ketika Sekar Mirah kemudian menundukkah wajahnya itu, dengan tergagap Prastawa berkata, “E, sudahlah. Aku minta maaf Sekar Mirah. Aku akan ke belakang.”

Sekar Mirah mengangguk kecil. Namun hampir di luar sadarnya, bibirnya terbersit sepercik senyum.

Dengan tergesa-gesa Prastawa meninggalkan gadis itu berdiri temangu-mangu. Namun tanpa dikehendakinya, Prastawa itu berpaling setelah beberapa langkah ia meninggalkan Sekar Mirah. Untunglah bahwa Sekar Mirah saat itu tidak sedang memperhatikannya karena seorang perempuan yang lewat sedang menyapanya.

“Sekar Mirah nampak cantik sekali,” desis Prastawa yang masih sangat muda itu. Namun kemudian ia berdesis, “Apa peduliku. Ia datang bersama Agung Sedayu. Sudah tentu setelah Swandaru, maka Sekar Mirah pun tentu akan kawin pula.”

Prastawa pun kemudian mengeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah ingin mengibaskan angan-angan itu dari kepalanya. Namun rasa-rasanya bayangan itu justru melekat di pelupuk matanya. Dan setiap kali ia bergumam di dalam hati, “Sekar Mirah memang cantik. Cantik sekali.”

Sementara itu. Sekar Mirah pun kemudian melangkahkan kakinya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu di halaman. Namun kemudian ia pun pergi ke regol yang terang benderang.

Sekali lagi ia tertegun ketika ia bertemu dengan seorang anak muda yang menyapanya. Ketika Sekar Mirah memperhatikan wajah yang kemerah-merahan oleh cahaya obor itu, maka ia pun berdesis, “Rudita.”

Rudita tersenyum. Jawabnya, “Ya, Sekar Mirah. Kau masih ingat aku?”

Sekar Mirah tersenyum pula sambil bertanya, “Kau sudah bertemu dengan Kakang Swandaru dan Agung Sedayu?”

“Sudah. Aku juga baru saja dari pondok Swandaru. Ia sudah selesai berpakaian. Wajahnya nampak cerah sekali. Di sana ada Agung Sedayu dan orang-orang tua.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Rasa-rasanya ia ingin sekali pergi melihat Swandaru. Tetapi ia merasa segan pula, karena di sana tentu banyak anak-anak muda bukan saja para pengiring dari Sangkal Putung, tetapi juga anak-anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh.

“Apakah kau akan pergi ke sana Sekar Mirah?” bertanya Rudita.

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Namun ia pun menggeleng sambil menjawab, “Tidak sekarang.”

“Dan kau akan pergi ke mana?”

“Aku hanya kepanasan di dalam.”

Rudita mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Aku akan pergi ke belakang sebentar.”

“Silahkan,” jawab Sekar Mirah.

Rudita pun kemudian melangkah meninggalkannya. Langkahnya lamban dan seolah-olah sama sekali tidak mempunyai kepentingan apa pun dengan kesibukan di seluruh halaman itu, bahkan di seluruh Tanah Perdikan Menoreh. Berbeda sekali dengan langkah Prastawa yang cepat dan nampak sibuk sekali.

“Anak malas,” desis Sekar Mirah, “seharusnya ia bersikap sebagai anak laki-laki yang cekatan dan tangkas. Prastawa adalah gambaran dari seorang anak muda yang mempunyai gairah hidup yang besar.”

Untuk beberapa saat Sekar Mirah masih memandangi langkah Rudita yang lambat menuju ke gandok.

Sejenak kemudian barulah Sekar Mirah melangkah. Tetapi ia pun tidak dapat berdiri berlama-lama di regol halaman itu, karena di gardu sebelah beberapa anak muda duduk sambil berbicara dan berkelakar. Beberapa orang pengawal yang bertugas justru tidak mendapat tempat untuk duduk di dalam gardu sehingga mereka berdiri saja di sisi regol yang terang benderang di bawah lampu obor yang berlipat dari jumlah lampu obor yang biasa terpasang.

Dengan mereka-reka tentang hari depannya sendiri Sekar Mirah melangkah kembali ke ruang dalam.

“Untunglah, bahwa Kakang Swandaru-lah yang mendahului kawin,” berkata Sekar Mirah di dalam hatinya, “dengan demikian Kakang Agung Sedayu dapat mengukur, saat kita kawin nanti, perelatannya harus lebih meriah dari yang diselenggarakan sekarang.”

“Aku akan minta Ayah untuk menyelenggarakan perelatan di Sangkal Putung lebih baik dari yang diselenggarakan di Tanah Perdikan Menoreh ini. Sedang Kakang Agung Sedayu akan dapat penghormatan yang meriah di Jati Anom karena ia adalah seorang adik dari Senapati Besar, Untara.” Namun kemudian wajah Sekar Mirah menjadi berkerut ketika teringat olehnya, bahwa saat Untara kawin, Jati Anom tidak menyelenggarakan sesuatu yang mengejutkan. Perkawinan itu berlangsung sederhana di Banyu Asri.

“Tetapi,” katanya kemudian, “kehadiran utusan dari Mataram dan Pajang membuat perelatan itu mempunyai wibawa yang agung meskipun tidak meriah.”

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Namun ia berniat untuk membicarakannya dengan Agung Sedayu. Perkawinan mereka harus diselenggarakan dengan meriah sekali. Lebih meriah dari perkawinan kakaknya, Swandaru.

Hampir di luar sadarnya, maka Sekar Mirah pun masuk kembali ke dalam bilik Pandan Wangi. Ia melihat orang perempuan berambut putih itu sudah memperbaiki rias Pandan Wangi yang dirusakkannya karena air matanya yang meleleh di pipinya. Meskipun demikian, wajah Pandan Wangi masih dibayangi oleh kepedihan hatinya, meskipun tidak ada orang yang dapat menebak dengan tepat, apakah sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.

Di luar kesibukan yang sedang berlangsung di Tanah Perdikan Menoreh, dua orang melintas perlahan-lahan. Keduanya telah menitipkan kuda mereka kepada seseorang yang belum mereka kenal sama sekali. Tetapi dengan berbagai macam alasan, mereka berusaha untuk dapat meyakinkan kepada orang yang dititipinya, bahwa kehadirannya semata-mata didorong oleh keinginannya untuk melihat perkawinan putri Kepala Tanah Perdikan Menoreh.

“Tetapi aku belum mengenal kalian,” desis orang itu.

Sejenak keduanya berpandangan. Salah seorang dari mereka pun kemudian mengambil sesuatu dari kantong ikat pinggang kulitnya.

“Aku mempunyai uang sedikit. Barangkali dapat kau pergunakan untuk mengupah anak-anak agar besok dapat mencari rumput buat kudaku.”

“Selama hari-hari perelatan sampai hari kelima. Kami akan ikut mengiringi pengantin itu ke Sangkal Putung.”

“Tetapi kenapa kau titipkan kudaku di sini?”

“Itu lebih baik daripada aku membawanya kian kemari.”

Orang itu masih bingung. Namun tiba-tiba saja ia mengangguk-angguk ketika salah seorang dari kedua orang itu melemparkan uang kepadanya. Terlalu banyak dari dugaan yang tumbuh di hatinya.

“Aku kira kau memerlukan uang itu,” desis orang itu.

Sejenak orang yang semula ragu-ragu itu memandangi kedua orang yang terlalu baik kepadanya itu, yang melemparkan uang terlalu banyak jika dinilai dengan sekedar menitipkan dua ekor kuda meskipun ia harus mencari rumput untuk memberi makan kuda-kuda itu.

“Apakah masih kurang?” bertanya salah seorang dari kedua penunggang kuda itu.

“Apakah kau akan menambah lagi?”

“Gila,” geram yang lain, “kau terlalu tamak.”

Namun sikap itu justru menumbuhkan sesuatu di dalam hati pemilik rumah yang terhitung seorang yang miskin itu. Ketamakan benar-benar telah mencengkamnya, sehingga ia pun kemudian berkata, “Sebaiknya kalian menambah sedikit lagi, agar aku dapat mencarikan rumput segar bagi kudamu selama lima hari.”

“Itu terlalu banyak.”

“Ki Sanak. Sebenarnya kalian berdua menimbulkan kecurigaan padaku. Karena itu, kuda kalian di halamanku ini akan dapat menimbulkan banyak kesulitan. Karena itu, berilah sedikit uang tambahan. Aku akan mempertanggung-jawabkan semuanya.”

“Gila. Itu sudah cukup.”

“Mungkin ada tetangga yang melihat kedua kudamu ini. Mereka pun menjadi curiga seperti aku, lalu mereka pergi melaporkannya kepada para pengawal. Nah, sebelum mereka melaporkan kuda-kudamu, aku dapat mencegahnya dengan memberikan sebagian dari pemberianmu itu.”

“Itu adalah kegilaan yang tidak pantas,” tiba-tiba salah seorang dari kedua orang berkuda itu menarik pisau belati dari bawah bajunya. Sambil melekatkan ujung pisau itu di leher pemilik rumah itu ia berkata, “Kau mencoba memeras kami. Tetapi kami bukan orang yang terlalu baik hati. Jika terjadi sesuatu dengan kami di sini, maka sumbernya pasti kau. Ketahuilah, kami berdua mempunyai seribu kawan yang berkeliaran di Tanah Perdikan Menoreh. Masing-masing mengetahui keadaan dan kemungkinan yang terjadi dengan kawan-kawannya. Jika aku tidak berkumpul pada saatnya, maka mereka mengetahuinya, siapakah yang harus ditangkap, diseret di belakang kaki kuda, dan kemudian dilemparkan ke dalam kedung di pusaran Kali Praga untuk dijadikan makanan buaya. Bukan hanya kau, tetapi aku tahu, kau mempunyai anak yang masih kecil-kecil. Nah, tulangnya tentu masih lunak, dan tentu menyenangkan sekali bagi buaya-buaya kerdil di kedung itu.”

Wajah orang itu tiba-tiba menjadi pucat. Ketika ujung pisau itu menyentuh kulitnya, ia mundur selangkah.

“Jangan, jangan.”

“Kau orang yang sangat tamak. Nah, katakan sekali lagi bahwa kau minta uang tambahan.”

“Tidak. Tidak. Itu sudah cukup.”

“Jangan mencoba melaporkan kehadiranku di sini, jika kau masih sayang kepada nyawamu, anak-anakmu yang masih kecil-kecil dan istrimu.”

“Tidak. Aku tidak akan melaporkannya.”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak, lalu, “Kami akan pergi. Setiap saat kami akan datang untuk mengambil kuda kami. Tetapi selama itu, orang-orang kami akan selalu mengawasimu. Ingat. Nyawamu, nyawa anak-anak dan istrimu. Aku masih baik karena aku tidak minta uang itu kembali.”

Kedua orang itu pun kemudian pergi. Tetapi sorot matanya penuh dengan ancaman, sehingga pemilik rumah itu menjadi semakin pucat. Namun ia benar-benar telah dicengkam oleh ketakutan, sehingga ia tidak berani berbuat apa pun juga. Meskipun sebenarnya memang ada kecurigaan di hatinya, tetapi ia tidak mempunyai keberanian untuk menyampaikan hal itu kepada para pengawal. Bahkan kemudian ia telah berusaha menyembunyikan kedua ekor kuda itu di longkangan belakang sehingga tidak seorang pun yang akan dapat melihat.

Kepada istrinya ia berpesan, agar tidak mengatakan apa pun juga tentang kedua ekor kuda itu kepada tetangga-tetangganya, dan bahkan anaknya yang masih kecil pun dipesannya juga, agar ia tidak bercerita kepada kawan-kawannya tentang kuda-kuda itu.

“Jika anak-anak menyebut tentang kuda-kuda hantu itu, maka lidahnya akan berkerut. Semakin lama menjadi semakin pendek, sehingga akhirnya lidah itu akan habis. Nah, jika lidahmu habis, kau tidak akan dapat berbicara lagi,” ayahnya mencoba menakut-nakuti anak-anaknya.

Anak-anak kecil itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka memang benar-benar menjadi ketakutan sehingga mereka sama sekali tidak berani menyebut tentang kedua ekor kuda yang berada di longkangan itu.

Dalam pada itu, kedua penunggang kuda itu pun dengan leluasa berada di Tanah Perdikan Menoreh. Di siang hari mereka akan bersembunyi di hutan-hutan kecil, sedang di malam hari mereka akan muncul untuk melihat perelatan yang meriah di Tanah Perdikan Menoreh.

“Kenapa kita harus berada di sini selama lima hari?” bertanya yang seorang.

“Kita akan mengikuti mereka ke Sangkal Putung. Bukankah tugas kita mengawasi hasil dari usaha Gandu Demung untuk merampas harta kekayaan yang ada pada sepasang pengantin itu bersama pengiringnya?”

“Tetapi menurut keterangan yang kami terima, hal itu akan dilakukannya di daerah Sangkal Putung.”

“Kita tidak tahu, tempat yang mereka pilih dengan tepat. Jika kehadiran kita terlihat oleh Gandu Demung, karena tiba-tiba saja kita telah terjerumus di tempat persembunyiannya, maka tugas kita akan gagal. Gandu Demung mengetahui bahwa tingkah lakunya selalu diawasi. Mungkin ia akan mengambil sikap yang tidak terduga-duga untuk melepaskan dirinya dari pengawasan yang tentu tidak akan disukainya.”

“Jadi, apakah kita akan berada di dalam iring-iringan pengantin?”’

“Kau memang bodoh. Kita akan mengikutinya dari kejauhan. Tetapi jika benturan itu memang benar-benar terjadi, kita akan melibatkan diri.”

“Aku mengerti. Tetapi kenapa kita harus mengikutinya dari tempat ini, itulah yang semula aku bingung. Tetapi keteranganmu memberikan sedikit gambaran yang jelas padaku.”

Kawannya mengangguk-angguk. Sambil menepuk bahunya ia berkata, “Jadi kau sudah mengerti alasannya kenapa kita lebih baik mengikuti pengantin itu daripada mendahuluinya dan mencari tempat Gandu Demung menghadang mereka?”

“Ya.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi di sini rasa-rasanya aku tersiksa. Semua orang bersuka ria dengan hidangan yang cukup bahkan berlebihan, kita sama sekali tidak mendapatkan apa-apa.”

“Kita dapat mencari jauh lebih banyak, jika hanya sekedar untuk makan.”

“Tidak dapat. Itu menyalahi pesan Gandu Demung. Ia mengharap Tanah Perdikan Menoreh menjadi tenang dan tidak terganggu apa pun juga untuk melupakan kesiagaan orang-orang Menoreh.”

“Kau benar-benar bodoh. Kita dapat berpacu sejenak keluar dari Tanah Perdikan ini. Di kademangan-kademangan kecil kita akan mendapatkan sesuatu jika sekedar ingin makan sampai perutmu pecah. Daging ayam, telur, daging lembu, dan apa lagi yang lebah enak dari semuanya itu?”

Kawannya tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Dengan demikian, maka keduanya dengan leluasa dapat menjelajahi padukuhan-padukuhan di sekitar padukuhan induk tanpa dicurigai. Di siang hari mereka lewat seperti kebanyakan orang lewat di jalan-jalan raya. Di malam hari, dalam kelamnya malam mereka merayap mendekati padukuhan induk, dan hilang bercampur baur dengan orang-orang yang ingin melihat latihan di banjar, dan bahkan kemeriahan di tempat lain karena di padukuhan induk dan sekitarnya, beberapa anak-anak muda dengan sengaja berjalan-jalan dari padukuhan yang satu ke padukuhan yang lain. Selain sekedar untuk mengisi kemeriahan yang bergejolak di dalam hati, di antara mereka terdapat anak-anak muda yang termasuk para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang sedang mengamati keadaan.

Tetapi seperti yang dikehendaki oleh Gandu Demung, Tanah Perdikan Menoreh benar-benar tidak terganggu oleh apa pun juga.

Karena itulah maka semua acara di Tanah Perdikan Menoreh itu dapat berjalan lancar tanpa gangguan suatu apa. Bahkan di antara beberapa orang pengawal Tanah Perdikan Menoreh sendiri, maka Gandu Demung memang sengaja menyebarkan beberapa orang yang ikut serta mengawasi keadaan dan mencegah segala macam kejahatan.

Ketenangan di Tanah Perdikan Menoreh itu benar-benar telah mempengaruhi kesiagaan para pengawal. Justru karena mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, maka semakin lama, mereka pun seakan-akan semakin tenggelam ke dalam kelengahan. Para pengawal yang berada di gardu-gardu, maupun yang bertugas melakukan pengawasan keliling, terseret oleh kegembiraan anak-anak muda, sehingga mereka tidak lagi bersikap sebagai pengawal dalam tugas sandi, namun mereka benar-benar telah berada dalam arus kemudaan mereka.

Meskipun demikian, memang tidak ada suatu pun yang terjadi. Tidak ada kerusuhan, dan tidak ada gangguan apa pun juga. Malam midadareni itu berlangsung dengan tenang. Setiap wajah nampak cerah dan gembira. Apalagi keluarga terdekat Pandan Wangi. Lewat tengah malam mereka beramai-ramai sesaji. Ingkung ayam jantan dengan segala macam kelengkapannya.

Tetapi di antara kemeriahan itu, terdapat beberapa kegelisahan yang tersembunyi. Pandan Wangi sendiri telah digelisahkan oleh kesadarannya tentang dirinya yang bernoda suram atas kesetiaannya kepada suaminya di saat permulaan, meskipun tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Tetapi ia tidak dapat berkata demikian kepada dirinya sendiri.

Yang lain, yang juga dicengkam oleh kegelisahan adalah Agung Sedayu. Bukan saja karena ia memandang wajah Pandan Wangi meskipun hanya sekilas, tetapi ia sudah mulai membayangkan, apa yang akan terjadi di saat perkawinannya nanti dengan Sekar Mirah.

“Ada sesuatu yang lain pada gadis itu dengan keinginanku,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa gadis itu telah menarik hatinya. Ia tidak dapat melupakan Sekar Mirah pada saat-saat ia berkenalan dengan gadis itu. Tetapi sifat dan tabiatnya ternyata menyimpang dari sifat dan watak seorang gadis yang diidamkan.

“Malam yang gelisah,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya ketika dadanya terasa menjadi pepat.

Yang tidak kalah gelisah dari mereka adalah Ki Waskita. Ia selalu dihantui oleh isyarat yang selalu dilihatnya. Bahkan rasa-rasanya terlampau sering, karena Ki Waskita sendiri setiap kali tanpa dapat menghindarkan diri, selalu ingin melihatnya. Ia tahu, bahwa tidak dapat diharapkan perubahan yang tiba-tiba. Tetapi kadang-kadang ia kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.

“Apakah yang akan terjadi?” ia bertanya kepada diri sendiri. Setiap kali tidak henti-hentinya. Dan warna-warna buram itu membayang di wajah Swandaru dan Agung Sedayu.

Karena itulah, maka Ki Waskita tidak terlepas dari kesiagaan. Meskipun Tanah Perdikan nampaknya tenang dan damai, namun setiap saat dapat terjadi ledakan.

“Ledakan apa?” pertanyaan itu tiba-tiba melonjak di dalam hati Ki Waskita. “Ledakan wadag atau ledakan batin. Jika yang terjadi adalah kesulitan wadag, maka persoalannya tidak akan begitu sulit untuk diatasi meskipun bekasnya tentu akan nampak pada Swandaru karena warna-warna buram pada isyarat itu. Tetapi jika ledakan jiwani, persoalannya akan menjadi terlalu sulit.”

Namun Ki Waskita tidak ingin merusak ketenangan dan kemeriahan perelatan itu. Jika ia muncul di antara orang-orang tua yang ada di pendapa, maka wajahnya pun nampak cerah dan gembira. Bahkan kepada isteri dan anak laki-lakinya, Ki Waskita tidak mengatakannya.

Tetapi Ki Waskita terkejut, ketika upacara di malam midadareni itu lampau, Rudita mendekatinya sambil berbisik, “Ayah. Apakah aku masih dipengaruhi oleh perasaan kanak-kanakku itu terhadap Pandan Wangi?”

Ki Waskita menahan nafasnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa kau bertanya begitu, Rudita?”

Rudita menarik nafas. Tetapi sikapnya kini benar-benar telah menunjukkan sikap seorang anak muda yang dewasa.

“Ayah,” berkata Rudita, “aku pernah merasakan sesuatu yang asing di dalam diriku terhadap gadis itu. Agaknya itulah yang disebut sentuhan perasaan cinta. Tetapi aku merasa bahwa aku telah berhasil melepaskan diri dengan dasar pertimbangan nalar. Dan inilah yang meragukan. Apakah perasaanku itu dapat aku sembunyikan di balik pertimbangan nalar, ataukah hanya sekedar tersamar oleh sikap pura-pura.”

Ki Waskita memandang wajah anaknya sejenak. Tetapi pada wajah itu sama sekali tidak nampak kedalaman perasaan. Seolah-olah Rudita benar-benar berbicara atas pertimbangan nalar.

“Ayah,” berkata Rudita, “tetapi masih ada kemungkinan lain. Jika aku benar-benar telah berhasil membebaskan diri dari perasaan cinta itu, meskipun dengan pertimbangan nalar, aku tentu kini dicengkam oleh perasaan cemas. Bahkan ketakutan.”

“Kenapa, Rudita? Apakah sebenarnya yang kau rasakan?”

“Aku tidak tahu pasti, Ayah. Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu yang kurang cerah di hari-hari mendatang.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah anaknya itu dengan tajamnya. Hampir saja terucapkan lewat mulutnya, bahwa yang ditangkap oleh perasaannya itu benar. Untunglah, Ki Waskita berhasil menahan diri, sehingga yang terucapkan hanyalah di dalam hatinya, “Agaknya Rudita pun mendapatkan kurnia tentang penglihatan itu. Jika kurnia ini benar-benar menurun kepada anakku, aku mengucapkan syukur kepada kasih-Nya yang tiada taranya. Namun hendaknya anakku dapat mempergunakannya sebaik-sebaiknya tanpa menimbulkan akibat yang buruk.”

Namun yang kemudian dikatakannya kepada anaknya itu ada-lah, “Rudita, mungkin kau masih dipengaruhi oleh perasaanmu itu. Tetapi sebaiknya kau pun dapat mempergunakan nalarmu dengan terang, agar kau dapat menguasai perasaanmu dan tidak menimbulkan akibat apa pun juga pada dirimu sendiri dan pada kegembiraan ini.”

Rudita mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mencoba, Ayah. Dan aku tentu akan berusaha untuk ikut bergembira. Mungkin aku memang masih dipengaruhi oleh perasaan itu. Tetapi mudah-mudahan aku benar-benar akan dapat menghapuskannya.”

Ki Waskita menepuk bahu anaknya. Katanya kemudian, “Bergembiralah bersama orang orang dari Tanah Perdikan Menoreh. Di pintu gerbang halaman anak-anak muda bukan saja berjaga-jaga, tetapi juga berkelakar. Di banjar ada beberapa kelompok anak-anak muda yang sedang berlatih untuk memeriahkan perkawinan Swandaru besok. Sedang di rumah sebelah, Swandaru tentu sudah mengenakan pakaian khusus untuk malam ini dan dikerumuni oleh orang-orang tua yang berjaga-jaga semalam suntuk. Sedang di ruang dalam rumah ini agaknya sesaji telah dibagikan. Apakah kau tidak mencari ibumu untuk mendapatkan bagian itu.”

Rudita tertawa. Katanya, “Agaknya aku sudah tidak mendapat bagian lagi. Dalam sekejap sesaji itu sudah habis. Gadis-gadis ingin mendapatkan meskipun hanya sepincuk kecil, agar kebahagiaan ini segera menular kepada mereka.”

“Kalau begitu kau dapat mencari kegembiraan di tempat lain.”

“Latihan di banjar tentu sudah selesai.”

“Lalu, kau akan pergi ke mana?”

“Aku akan pergi ke pondok Swandaru. Di sana tentu banyak anak-anak muda.”

“Pergilah. Nanti menjelang pagi aku juga akan pergi ke sana.”

Rudita pun kemudian meninggalkan ayahnya. Di halaman masih nampak beberapa orang yang hilir-mudik meskipun dedaunan telah basah oleh embun lewat tengah malam. Tetapi rasa-rasanya Tanah Perdikan semalam suntuk tidak akan tidur.

Seorang diri Rudita pergi ke rumah yang diperuntukkan bagi Swandaru. Dari luar regol halaman, sudah nampak cahaya lampu yang terang benderang.

Ketika ia memasuki halaman, maka terdengar suara gelak tertawa yang meledak-ledak. Agaknya mereka sedang bergurau dengan riuhnya. Barangkali beberapa orang sedang mengganggu Swandaru.

Rudita sudah mulai tersenyum-senyum. Rasa-rasanya ia pun hampir tertawa pula. Tetapi ia sadar bahwa ia seorang diri, sehingga ia pun menahan senyumnya yang hampir menghiasi bibirnya.

Ketika ia naik ke pendapa, semua orang berpaling kepadanya sehingga Rudita menjadi segan karenanya. Namun ia masih memerlukan menyapa Swandaru, “Kau nampak tampan sekali, Swandaru.”

Swandaru berpaling kepadanya. Hanya sekilas. Dianggukkan kepalanya sambil menjawab pendek, “Terima kasih.”

Selebihnya Swandaru mulai berbicara lagi dengan beberapa pemimpin Tanah Perdikan Menoreh yang sedang mengganggunya.

Rudita mengerutkan keningnya. Sikap itu agak terasa janggal baginya. Swandaru adalah anak muda yang ramah dan gembira. Tetapi rasanya ia sama sekali tidak menghiraukan kehadirannya.

Rudita masih ingin meyakinkannya sehingga ia pun bertanya, “Swandaru, berapa hari kau menghias diri untuk malam ini dan besok.”

Swandaru berpaling sekali lagi. Sambil mengangguk kecil ia menjawab pendek, “Sehari. Ya, sehari.”

Dan sekali lagi Swandaru melepaskan perhatiannya dari Rudita. Ia agaknya lebih senang menanggapi gurau orang-orang Tanah Perdikan itu selain Pandan Wangi. Dan itu berarti bahwa Swandaru-lah yang kelak akan memegang kendali pemerintahan itu.

Karena itulah, di dalam kelakar itu, Swandaru merasa bahwa dirinya mulai melangkah ke tingkat yang lebih tinggi di Tanah Perdikan Menoreh. Bahwa pada suatu saat ia akan berdiri di atas semua orang yang sekarang sedang mengerumuninya.

Itulah sebabnya, maka ia tidak begitu tertarik melihat kehadiran Rudita. Rudita bukanlah orang Tanah Perdikan Menoreh yang akan menundukkan kepalanya kelak jika saatnya tiba.

Rudita yang termangu-mangu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sama sekali tidak menjadi sakit hati. Bahkan ia pun ikut tertawa ketika orang-orang di pendapa itu kemudian tertawa oleh kelakar yang segar.

Rudita adalah orang yang dalam ujudnya yang mapan tidak mencari kesalahan pada orang lain. Karena itu, maka ia pun tidak menganggap bahwa sikap Swandaru itu kurang pada tempatnya. Ia menganggap bahwa Swandaru sedang diselubungi oleh suatu keadaan yang lain dari keadaannya sehari-hari, sehingga karena itulah maka sikapnya pun terpengaruh oleh keadaan itu.

Meskipun demikian, tetapi ia memang merasakan suatu perbedaan sikap itu. Namun perubahan sikap itu bukannya sesuatu yang perlu disesali, karena hal itu kemudian dianggapnya sebagai hal yang sangat wajar.

Tetapi dalam pada itu, justru orang-orang lainlah yang terkejut melihat sikap Swandaru itu. Agung Sedayu mengerutkan keningnya, seolah-olah perasaannya sedang digelitik oleh sesuatu yang tidak seharusnya terjadi menurut anggapannya. Bahkan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun merasakan sesuatu tergetar di hatinya, meskipun orang-orang tua itu berusaha untuk mencari alasan, kenapa sikap Swandaru menjadi agak berubah terhadap Rudita.

“Swandaru mengetahui, bahwa Rudita pernah merasa tergetar hatinya melihat kecantikan Pandan Wangi. Agaknya itulah sebabnya, kenapa sikapnya terhadap Rudita agak lain dengan sikapnya kepada orang lain,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, selagi Rudita termangu-mangu, ia merasa seseorang menggamit lengannya. Ketika ia berpaling, dilihatnya Agung Sedayu berdiri di belakangnya sambil tersenyum.

“O,” Rudita pun tertawa pula.

“Marilah. Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar ada di sudut itu.”

“O,” Rudita mengangguk-angguk, “baiklah. Aku ikut ke tempat mereka.”

Rudita pun kemudian mengikuti Agung Sedayu berjalan di halaman ke tempat Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar duduk. Sambil mengangguk dalam-dalam anak muda itu pun kemudian ikut duduk bersama mereka.

Tetapi baik Agung Sedayu maupun Rudita, sama sekali tidak berniat untuk menyinggung sikap Swandaru yang agak lain dengan sikapnya sehari-hari.

Demikianlah, maka baik di rumah Ki Gede Menoreh, maupun di rumah yang disediakan bagi Swandaru, beberapa orang telah berjaga-jaga sambil berkelakar semalam suntuk. Menjelang pagi, Pandan Wangi dan Swandaru telah dipersilahkan meninggalkan pertemuan itu untuk tidur, agar mereka tidak menjadi terlalu lelah. Sementara orang-orang di pendapa masih tetap duduk berjaga-jaga sampai matahari terbit di timur.

“Ayah akan datang kemari,” berkata Rudita menjelang pagi, “tetapi sampai pagi Ayah belum juga datang.”

“O, tentu kami akan menunggu. Mungkin masih terlalu sibuk.”

“Ayah tidak berbuat apa-apa di sana, selain duduk berbincang-bincang dengan Paman Argapati.”

“Justru berbincang-bincang dalam keadaan seperti sekarang ini akan menjadi penting karena mereka tentu membicarakan sesuatu menjelang hari perkawinan itu.”

Rudita mengangguk-angguk. Tetapi belum lagi ia menjawab, maka dilihatnya Ki Waskita benar-benar memasuki halaman. Sambil tersenyum, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar menyambutnya.

“O, maaf, Kiai,” desis Ki Waskita, “baru sekarang aku sempat datang. Justru setelah matahari hampir terbit.”

“O, tidak apa, Ki Waskita. Tentu Ki Waskita sibuk sekali.”

“Tidak. Sebenarnya aku tidak berbuat apa-apa. Tetapi sebenarnyalah bahwa rasa-rasanya ada sesuatu yang membawaku berjalan-jalan mengelilingi padukuhan induk ini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Desisnya, “Tentu bukan tidak beralasan jika Ki Waskita mengelilingi padukuhan induk.”

“Kali ini benar-benar tidak beralasan. Meskipun jika dicari memang ada pula alasannya. Aku ingin melihat sambutan rakyat Tanah Perdikan Menoreh terhadap perkawinan Pandan Wangi ini.”

“Bukan karena aku mendapat firasat buruk,” sambung Ki Waskita, “dan aku pun telah melihat, bahwa hampir tidak ada orang yang tidur malam ini kecuali anak-anak.”

“Apa lagi malam nanti.”

“Ya. Malam nanti tentu lebih meriah lagi.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian naik dan duduk di pendapa yang sudah mulai sepi. Satu-satu orang-orang yang semula mengerumuni Swandaru telah meninggalkan pendapa itu untuk beristirahat, karena malam nanti mereka pun harus berjaga semalam suntuk pula.

Di siang hari yang kemudian seolah-olah tumbuh di Tanah Perdikan Menoreh, kesibukan justru meningkat. Persiapan-persiapan untuk perelatan malam nanti harus diselesaikan pada waktunya. Sementara itu, orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya datang berurut. Satu dua orang, tetapi mengalir tanpa henti-hentinya untuk menyampaikan tanda ikut bergembira kepada Ki Gede Menoreh.

Kedatangan mereka membuat hati Pandan Wangi justru menjadi semakin pedih. Dalam perelatan yang lazim, setiap orang yang datang untuk menyampaikan tanda ikut bergembira dengan sekedar menyerahkan sumbangan berupa apa pun juga, diterima oleh ibu dari pengantinnya. Tetapi kedatangan mereka di rumah itu, tidak lagi menjumpai ibunya yang sudah lama tidak ada lagi. Yang menerima mereka adalah perempuan tua yang diminta oleh Ki Argapati untuk melakukannya atas namanya.

Karena itulah, maka Pandan Wangi merasa hari-hari menjelang saat perkawinannya itu menjadi semakin sepi dan ngelangut. Noda yang tumbuh di hatinya meskipun tidak ada orang lain yang mengetahuinya, peristiwa yang mungkin masih akan terjadi.

“Tetapi aku harus berdiri di atas kenyataan ini,” berkata Pandan Wangi kepada diri sendiri, “aku harus melangkah terus. Dan sekarang aku berada di sini dalam keadaan ini. Aku tidak boleh tenggelam ke dalam masa lalu, karena aku menghadapi masa depanku yang panjang.”

Dengan demikian di saat-saat terakhir, Pandan Wangi berhasil menguasai perasaannya. Ia mulai mengendapkan semua persoalan yang bergejolak di dalam hatinya, sehingga kemudian dari bibirnya mulai nampak senyumnya yang jernih.

Orang-orang perempuan yang dengan diam-diam memperhatikan keadaan Pandan Wangi menjadi tersenyum pula. Agaknya kegelisahan gadis itu sudah dapat diatasinya. Apalagi ketika Pandan Wangi sudah mulai mengajukan beberapa permintaan. Agaknya ia mulai merasa haus dan lapar.

Ketika matahari mulai memanjat langit semakin tinggi, di rumah yang diperuntukkan bagi para tamu dari Sangkal Putung, beberapa orang perempuan mulai sibuk pula. Mereka diminta oleh Ki Demang untuk mempersiapkan upacara iringan bagi pengantin laki-laki. Selain bahan pakaian, juga mereka harus membawa makanan beberapa jodang sebagai kelengkapan upacara.

Demikianlah kesibukan di Tanah Perdikan Menoreh semakin meningkat. Lewat tengah hari ketika matahari mulai turun, di dalam biliknya Pandan Wangi sudah mulai dipersiapkan pula. Beberapa perempuan tua telah berkumpul di dalam bilik itu. Namun beberapa orang gadis, berusaha untuk ikut mengintip dari luar pintu.

Sekar Mirah, yang datang bersama iring-iringan bakal pengantin dari Sangkal Patung, ikut pula berada di dalam bilik itu. Ia seolah-olah sedang mempelajari, apakah yang seharusnya dilakukan oleh seorang calon pengantin perempuan.

Hari itu Pandan Wangi mengalami rias yang lebih berat dari sehari sebelumnya menjelang malam midadareni, karena saat itu Pandan Wangi benar-benar menghadapi saat-saat perkawinannya.

Sementara itu, semakin banyak tamu-tamu yang mengalir ke rumah Ki Gede Menoreh yang menjadi ramai. Hiasan telah terpasang di mana-mana. Pendapa rumah Ki Gede nampaknya menjadi berwarna cerah oleh janur yang seolah-olah tersangkut di segala bagian.

Akhirnya, saat yang ditentukan itu pun tiba. Di pringgitan telah terbentang tikar pandan yang putih besih. Sementara pendapa rumah itu telah disiapkan seperangkat gamelan. Setelah saat-saat perkawinan selesai, maka di pendapa itu akan dipertunjukkan berbagai macam tari yang dilakukan oleh anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh. Sedangkan di banjar, juga akan diselenggarakan keramaian bagi para pengawal yang bertugas. Bergantian mereka berkumpul di banjar, setelah bergantian mereka meronda berkeliling Tanah Perdikan, karena justru pada malam perkawinan itu, para pengawal harus bersiaga semakin waspada.

Swandaru yang sudah lengkap dengan pakaian pengantinnya menjadi berdebar-debar, ketika orang-orang tua mempersilahkannya bersiap, karena sebentar lagi pengantin laki-laki itu akan dipersilahkan pergi ke rumah pengantin perempuan untuk dipertemukan dengan upacara lengkap. Di bawah tangga pendapa rumah Ki Gede telah disediakan jambangan air dan sebuah pasangan lembu serta perlengkapan-perlengkapan upacara yang lain.

“Kita menunggu seseorang dari rumah pengantin perempuan,” berkata salah seorang dari orang-orang tua yang ikut dari Sangkal Putung. “Salah seorang akan memberitahukan, kapan kita akan berangkat.”

Swandaru tersenyum sambil mengangguk-angguk. Setiap kali ia memperhatikan pakaiannya yang serba gemerlap. Perhiasan yang dibawanya dari Sangkal Putung kini telah dipakainya semuanya. Pendok emas dengan teretes permata. Timang yang juga terbuat dari emas bertabur berlian. Cincin bermata jamrut yang kehijau-hijauan. Dan kelengkapan perhiasan yang lain.

Apalagi Swandaru telah dilengkapi pula dengan suatu kesadaran bahwa pada saatnya, ia akan menjadi orang yang memerintah Tanah Perdikan Menoreh itu, karena calon istrinya adalah satu-satunya anak Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Dan itulah agaknya yang membuat Swandaru seolah-olah menengadahkan kepalanya di saat-saat ia menunggu.

“Kenapa Ayah tidak pergi?” bertanya Swandaru kepada ayahnya.

“Tidak. Tentu tidak. Tidak seharusnya ayah pengantin laki-laki ikut hadir pada upacara perkawinan itu. Aku akan pergi menyusul jika upacara yang sebenarnya sudah selesai.”

Swandaru mengangguk-angguk. Namun hatinya rasa-rasanya menjadi semakin gelisah. Setiap kejap, terasa seolah-olah hampir sehari penuh.

Kegelisahan Swandaru memuncak ketika ia melihat beberapa orang datang dari rumah Ki Gede membawa pesan, bahwa pengantin laki-laki diharap segera datang. Upacara sudah dapat dimulai, karena saatnya memang sudah tiba.

Ki Demang mengangguk-angguk. Dengan gagap ia menyahut, “Kami akan segera datang, Ki Sanak. E maksudku, pengantin laki-laki.”

“Kami menunggu di regol, Ki Demang.”

“Terima kasih. Tetapi bukankah ada satu atau dua orang yang akan pergi bersama kami.”

“Ya,” jawab salah seorang dari mereka, “biarlah dua orang dari kami menunggu di sini.”

Ketika yang lain meninggalkan tempat itu, maka Swandaru pun segera disiapkan. Diiringi oleh orang-orang tua dari Sangkal Putung, Swandaru turun ke halaman. Beberapa orang anak muda yang mengiringinya dari Sangkal Putung, langsung menjadi pengiringnya pula. Sedang yang lain akan menyusul bersama Ki Demang jika upacara telah selesai.

“Apakah kau akan pergi sekarang juga?” bertanya Swandaru kepada Agung Sedayu.

Agung Sedayu memandang Ki Demang sejenak, kemudian Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berganti-ganti, seolah-olah ingin bertanya, apakah ia akan pergi atau menunggu bersama-sama Ki Demang Sangkal Putung,

Kiai Gringsing yang pergi mendahului bersama Ki Sumangkar mengiringi pangantin laki-laki itu pun berkata, “Baiklah kau pergi sekarang juga, Agung Sedayu.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Baiklah, Guru.” Namun ia masih juga berpaling kepada Ki Demang yang mengangguk pula.

Ki Demang pun mengangguk sambil berkata, “Ya, pergilah sekarang.”

Agung Sedayu masih termangu-mangu sejenak. Namun ketika iring-iringan itu mulai bergerak, maka ia pun mengikutinya pula. Dengan kepala tunduk ia berjalan di sebelah gurunya dan Ki Sumangkar. Sekali-sekali Agung Sedayu mencoba memandang Swandaru dalam pakaian pengantinnya dengan perhiasan yang mahal. Perhiasan itu bukannya perhiasan yang dipinjamnya dari orang lain. Tetapi perhiasan yang dikenakannya adalah perhiasannya sendiri yaag dibeli oleh Ki Demang Sangkal Putung dan diberikan kepadanya sebagai hadiah perkawinannya.

Agung Sedayu setiap kali hanya menarik nafas. Bayangan-bayangan yang suram semakin nampak membayang di wajahnya. Bayangan tentang dirinya sendiri.

“Aku sama sekali tidak menginginkan semua itu,” desisnya di dalam hati, “tetapi jika kelak aku kawin, maka aku tidak akan kawin seorang diri. Dan aku cemas mengenai Sekar Mirah. Apakah ia tidak menginginkan seorang suami yang memiliki perhiasan, kehormatan, dan wibawa seperti kakaknya itu.”

Agaknya Kiai Gringsing yang sudah mengenal watak dan tabiatnya dapat meraba perasaannya serba sedikit. Karena itu, maka untuk mengalihkan angan-angan Agung Sedayu, Kiai Gringsing pun kemudian mengajaknya berbicara tentang apa saja. Namun demikian setiap Agung Sedayu melihat gemerlapnya pakaian Swandaru atau mendengar suara tertawanya, ia menjadi berdebar-debar.

Sementara itu, iring-iringan itu perlahan-lahan berjalan menuju ke halaman rumah Ki Argapati. Seperti lazimnya, maka di sepanjang jalan anak-anak kecil yang sudah lama menunggu, berteriak-teriak sepuas-puasnya. Mereka mengelu-elukan kehadiran pengantin itu. Rasa-rasanya mereka sudah terlalu lama berdiri di pinggir jalan yang pendek antara rumah yang dipergunakan untuk tinggal pengantin laki-laki menjelang hari perkawinannya, sampai ke halaman rumah Ki Gede Menoreh.

Ketika iring-iringan itu memasuki halaman, maka debar jantung Swandaru rasa-rasanya menjadi semakin keras bergetar di dalam dadanya. Sekali-sekali ia memandang orang-orang yang mengiringinya. Kemudian dicarinya Kiai Gringsing yang berjalan bersama Agung Sedayu dan Ki Sumangkar.

Kiai Gringsing tersenyum melihat kegelisahan Swandaru. Sambil menepuk bahu Agung Sedayu, ia berdesis, “Aku akan mengawasinya.”

“Silahkan Guru,” jawab Agung Sedayu tersendat.

Kiai Gringsing memandang wajah Agung Sedayu yang nampak suram, betapa pun anak muda itu mencoba tersenyum. Lalu sambil melangkah ia berpesan kepada Ki Sumangkar di telinganya, “Kawani Agung Sedayu.”

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Namun sebagai orang tua ia pun segera mengerti. Ketika ia berpaling memandang wajah Agung Sedayu, dilihatnya anak muda itu tersipu-sipu. Agaknya ia juga mendengar pesan gurunya kepada Ki Sumangkar, sehingga dengan demikian ia menduga, bahwa gurunya dapat mengetahui, apakah yang sebenarnya menggelepar di dalam hatinya.

Kiai Gringsing pun kemudian mempercepat langkahnya, dan kemudian berjalan bersama-sama orang-orang tua di sisi Swandaru. Sementara Ki Sumangkar masih berada di belakangnya bersama Agung Sedayu.

Saat yang paling mendebarkan itu pun akhirnya tiba. Pandan Wangi yang kemudian digandeng oleh orang-orang tua melintasi pendapa, turun di tangga depan menyongsong kehadiran Swandaru. Sejenak ia menunggu. Di hadapannya terletak beberapa macam benda upacara yang sebentar lagi akan dipergunakan. Seorang perempuan tua berdiri dengan segenggam sadak di tangan.

Beberapa orang yang membawa jodang berisi bahan pakaian dan buah-buahan sebagai kelengkapan upacara telah dibawa naik ke pendapa. Kemudian menyusul Swandaru yang melangkah mendekati Pandan Wangi yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Orang-orang yang menonton upacara itu berdesak-desakkan maju. Anak-anak yang akan berebut kembar mayang sudah bersiap-siap. Demikian pengantin nanti melangkah meninggalkan tempatnya, mereka akan berdesak-desakan memperebutkan kembar mayang dan buah-buahan beserta rangkaiannya yang tersangkut di kaki tarub janur kuning.

Satu-satu upacara berjalan dengan rancak. Setelah kedua pengantin itu saling melempar sadak kinang, maka pengantin laki-laki pun digandeng mendekati pengatin perempuan yang berjongkok untuk mencuci kaki pengantin laki-laki. Kemudian keduanya berdiri berjajar di atas pasangan lembu, sebagai perlambang bahwa keduanya akan bekerja sama seperti dua ekor lembu dalam pasangan. Yang satu terikat oleh yang lain tanpa dapat berbuat menurut kesukaan sendiri. Keduanya harus berjalan searah dan seimbang. Seorang perempuan tua menyentuh dahi kedua pengantin itu dengan telur, dan kemudian membantingnya sampai pecah.

Sepasang pengantin itu pun kemudian perlahan-lahan dibawa melangkah naik pendapa.

Seperti kebiasaan yang berlaku, maka anak-anak pun segera berloncatan memperebutkan sepasang kembar mayang yang terdiri dari sepasang kelapa muda dengan beberapa macam buah-buahan dan hiasan janur kuning. Sementara yang lain telah memperebutkan pisang dua tandan di sebelah-menyebalah, dengan rangkaiannya, batang jagung, untaian pada tebu wulung, dan lain-lainnya.

Orang-orang tua pun agaknya senang melihat anak berebutan. Hanya kadang-kadang satu dua di antara mereka berteriak mencegah jika anak-anak itu mulai bertengkar karena mereka berebut buah yang sama dan saling mempertahankannya.

Dalam kesibukan itu, dua orang yang asing memandang upacara itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka tersenyum sambil berkata, “Upacara yang meriah.”

Yang lain mengangguk-angguk. Suara gamelan terdengar agung mengiringi langkah sapasang pengantin yang diapit oleh sepasang patah dan didahului olah gadis-gadis kecil. Di paling depan seorang yang sudah agak lanjut berjalan setengah menari membawa pengantin itu menuju ke tengah-tengah pringgitan.

“Ki Gede akan menerima keduanya,” desis salah seorang dari kedua orang itu.

“Ya. Keduanya akan dipangkunya.”

“Di pangkuan? Apakah tidak terlalu berat?”

Yang lain tertawa, “Kau memang dungu.”

Kawannya termangu-mangu. Dipandanginya pengantin yang berjalan perlahan-lahan melintasi pendapa itu sejenak. Kemudian berpaling lagi kepada kawannya.

“Kenapa kau tertawa?” ia bertanya.

Kawannya masih tertawa, meskipun ia mencoba menahannya agar tidak menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

“Jika Ki Argapati harus membiarkan anak yang gemuk itu duduk di pangkuannya, aku kira untuk beberapa kejap saja ia sudah menjadi pingsan.”

“Jadi bagaimana?”

“Lihat, mereka sudah mendekati tempat duduk Ki Argapati.”

Keduanya terdiam. Mereka mengikuti langkah yang lamban. Beberapa langkah dari Ki Gede, mereka berhenti. Kemudian mereka berjalan sambil berjongkok mendekat dan langsung mencium lutut Ki Argapati yang duduk bersila. Berganti-ganti mereka sungkem sambil menyembah sebagai pertanda bakti seorang anak kepada orang tuanya.

Namun sekali lagi, perasaan Pandan Wangi bagaikan disengat oleh kepedihan. Seharusnya ia mencium bukan saja lutut ayahnya dan menyembahnya, tetapi juga ibunya yang duduk di samping ayahnya itu.

Dengan sekuat-kuat hati, Pandan Wangi bertahan. Ia berhasil menyelesaikan acara itu menjelang upacara berikutnya.

Setelah sungkem, keduanya pun kemudian duduk di sebelah-menyebelah Ki Argapati. Lutut-lutut mereka sajalah yang diletakkan pada lutut ayahnya. Sambil tersenyum Ki Argapati berkata, “Sudah timbang.”

Orang tua mengangguk-angguk. Ki Argapati-lah yang kemudian diminta untuk bergeser. Kedua pengantin itu masih meneruskan upacara-upacara berikutnya. Keduanya masih makan bersama dan saling menyuap. Pengantin perempuan akan menerima pemberian nafkah dari suaminya dan upacara-upacara yang lain.

Ki Argapati tersenyum-senyum melihat upacara yang berlangsung dengan lancar itu. Bahkan sekali-kali ia, tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia melihat sekali-sekali kepedihan berkilat di mata anak perempuannya.

Sebenarnyalah, bahwa dada Ki Argapati sendiri bagaikan rontok ketika ia melihat mata Pandan Wangi yang basah meskipun air mata itu tidak menitik. Ia sadar, ada kekurangan yang pokok pada saat upacara itu berlangsung. Namun sekaligus semuanya itu mengingatkan saat-saat Ki Argapati sendiri duduk bersanding dengan istrinya. Ibu Pandan Wangi. Ia sadar sepenuhnya, bahwa, yang terjadi itu adalah suatu mimpi yang paling pahit. Saat itu, ternyata bahwa istrinya yang duduk di sampingnya di saat perelatan perkawinan berlangsung, bukannya seorang gadis lagi. Di dalam dirinya telah terkandung seorang anak yang bukan anaknya, yang ketika kemudian lahir seorang laki-laki, akhirnya telah menyalakan api yang membakar Tanah Perdikan Menoreh ini.

Tetapi Ki Argapati berhasil menindas perasaan yang sesaat-sesaat melonjak di hatinya itu, karena ia sadar, bahwa kesan yang setitik pada wajahnya bahwa ada gejolak perasaan di hatinya, itu akan berarti pecahnya bendungan terakhir di pelupuk mata anak gadisnya, yang nampaknya bertumpu kepadanya. Satu-satunya orang tua yang masih ada.

Karena Ki Argapati nampaknya menjadi gembira oleh perkawinan itu, maka Pandan Wangi pun terpengaruh pula olehnya. Ia mencoba untuk mengusir segala kepahitan yang pernah dialaminya dan yang pernah terjadi atas keluarganya.

Karena itulah, maka lambat laun Pandan Wangi mulai mengangkat wajahnya sedikit demi sedikit. Ia sudah berani memandang meskipun sekilas, gadis-gadis kecil yang masih merubunginya bersama dua orang patah yang duduk di sebelah-menyebelah.

Dengan demikian upacara itu pun berlangsung semakin meriah. Sekali-kali nampak senyum yang betapa pun juga hambarnya di bibir Pandan Wangi.

Ketika upacara pokok dari perkawinan itu sudah selesai, maka kedua pengantin itu pun kemudian duduk bersanding di depan pintu pringgitan. Di sebelahnya duduk Ki Argapati yang masih saja tersenyum-senyum pula.

Dalam pada itu, Pandan Wangi mulai mencoba melihat, siapa sajakah yang hadir pada upacara itu. Ia melihat orang-orang tua yang sudah dikenalnya dangan baik, termasuk pemomongnya di masa kanak-kanak. Yang selama masa remajanya selalu mengawani dan mengawasinya. Kemudian dilihatnya orang-orang tua dari Sangkal Putung yang belum dikenalnya selain Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.

Tetapi denyut jantung Pandan Wangi serasa melonjak ketika ia melihat seorang anak muda yang duduk di sebelah Kiai Gringsing. Anak muda yang luruh dan rendah hati. Saudara seperguruan Swandaru.

Pandan Wangi segera memalingkan wajahnya ketika tatapan mata mereka bertemu. Dengan gelisah, Pandan Wangi segera melepaskan kesan itu dari wajahnya. Namun yang nampak adalah justru kegelisahannya yang lain karena orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak melihat warna hatinya yang sebenarnya.

“Alangkah kotornya warna hatiku,” desis Pandan Wangi di dalam hatinya yang mulai dirayapi kembali oleh kepedihan karena ia memulai membayangkan lagi kaadaan ibunya di saat perkawinan berlangsung. Ibunya yang tentu pada mulanya disentuh oleh perasaan seperti yang kini dirasakannya.

“Tidak,” tiba-tiba ia memhentakkan perasaannya sehingga ia bergeser setapak, “aku tidak mau mengalami peristiwa terkutuk semacam itu.”

Swandaru merasakan sesuatu yang lain. Tetapi ketika ia berpaling, dilihatnya Pandan Wangi duduk tepekur. Kepalanya tertunduk kembali memandangi helai-helai pandan pada tikar yang terbentang di pendapa itu.

Agung Sedayu yang duduk di sebelah gurunya, bagaikan mematung. Sebenarnyalah bahwa ia pun dilanda oleh perasaan yang gelisah. Satu-satu ia memandang perempuan yang berada di deretan di belakang pengatin. Sekilas ia melihat Sekar Mirah. Tanpa disadarinya ia mulai membandingkan kedua parempuan yang dikenalnya dengan baik itu. Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Keduanya adalah perempuan yang memiliki kemampuan bermain pedang. Bahkan karena salah paham keduanya pernah bertempur justru saat Tanah Perdikan Menoreh masih membara oleh api yang membakar Tanah Perdikan ini.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat wajah Pandan Wangi yang tunduk. Dan ia memperhatikan pula Sekar Mirah yang menengadahkan dadanya dan mengangkat dagunya, seperti kebiasaannya menghadapi setiap peristiwa yang langsung atau tidak langsung akan menyangkut dirinya.

Demikianlah upacara pokok dari parkawinan Swandaru dan Pandan Wangi sebenarnya sudah selesai. Yang akan berlangsung kemudian semata-mata adalah kelengkapanya saja. Pertunjukan, makan bersama, dan segala macam kegembiraan yang lain.

Karena itulah, maka ketegangan yang rasa-rasanya tertahan bebeberapa lamanya, bagaikan terlepas dari rongga dada.

Ketika saatnya tiba, dan makanan bagaikan mengalir dari ruang dalam, maka para tamu pun dengan riuhnya saling berbicara dengan orang-orang, termasuk Ki Sumangkar yang duduk di sebelah Agung Sedayu.

“Di manakah Rudita?” bertanya Agung Sedayu.

Ki Waskita mengedarkan tatapan matanya sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Tadi ia berada di halaman. Tetapi entahlah. Mungkin ia bersama Prastawa di longkangan. Mereka sibuk membantu anak-anak muda yang menghidangkan minuman dan makanan.”

Dengan demikian maka pendapa itu pun menjadi semakin cerah. Apalagi ketika kemudian, beberapa orang telah menyiapkan tempat bagi sebuah pertunjukan di pendapa untuk meramaikan perkawinan itu. Para tamu pun kemudian dipersilahkan bergeser, sementara para pradangga telah bersiap di tempatnya.

“Beberapa orang dalang akan mengadakan pertunjukan tari topeng,” desis seorang tua dari Tanah Perdikan Menoreh kepada seorang tua yang datang bersama Swandaru dari Sangkal Putung.

“O, menarik sekali,” desis orang tua dari Sangkal Putung itu, “tentu bagus sekali.”

“Semalam suntuk dengan ceritera Panji.”

“O,” tamunya mengangguk-angguk.

Dengan demikian, maka para tamu pun kemudian duduk sambil minum dan makan makanan yang dihidangkan sambil menikmati sebuah pertunjukan yang menarik.

Dalam pada itu, Swandaru dan Pandan Wangi masih duduk di tempatnya, meskipun sudah tidak lagi terikat oleh upacara. Tetapi mereka masih belum dipersilahkan berganti pakaian, sebelum pertunjukan itu berlangsung beberapa lama.

Namun agaknya upacara itu ternyata telah menumbuhkan benih baru di dalam hatinya yang memang merupakan ladang yang subur. Tanpa disiram pun benih itu akam segera tumbuh dan berdaun rimbun.

Meskipun Ki Argapati, kepala Tanah Perdikan Menoreh masih duduk di sampingnya, rasa-rasanya Swandaru telah mendapatkan limpahan kekuasaan atas Tanah Perdikan itu. Ketika terpandang orang-orang tua, para pembantu Ki Gede Menoreh, sanak kadang, rasa-rasanya mereka itu semuanya telah menundukkan kepalanya menghormatinya. Bukan saja sebagai pengantin yang sedang dipertemukan, tetapi juga karena mereka mengerti, bahwa kekuasaan Tanah Perdikan Menoreh itu pada suatu saat akan berada di bawah perintah Swandaru, suami anak perempuan satu-satunya dari Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang sekarang sedang memegang kekuasaan.

Karena itu, maka sikap Swandaru pun dipengaruhi pula oleh perasaan yang berkembang di hatinya itu. Wajahnya yang bulat menjadi semakin tengadah.

Sekilas Agung Sedayu sempat melihat sikap Swandaru. Tetapi ia tidak segera dapat menangkap apa yang sebenarnya tergerak di hatinya. Karena itu ia tidak dapat segera menyebutnya, selain menghubungkannya dengan sikap saudara seperguruannya itu, ketika ia berada di pondok menanggapi kehadiran Rudita.

Sementara itu, di halaman orang-orang Tanah Perdikan Menoreh telah berjejal-jejal. Mereka ingin melihat sepasang pengantin yang sangat menarik perhatian itu. Namun mereka juga ingin melihat pertunjukan yang akan dipertunjukkan di pendapa. Malam ini mereka akan melihat tari topeng yang akan ditarikan oleh beberapa orang dalang yang sebagian adalah orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh sendiri. Besok malam mereka akan melihat anak-anak muda Menoreh yang sudah belajar menari berbulan-bulan sebelumnya. Sedang di malam ketiga mereka akan menonton pergelaran wayang kulit semalam suntuk.

Ketika pertunjukan di pendapa itu dimulai, dua orang yang berada di halaman bergeser surut. Keduanya kemudian berdiri di bagian belakang sambil bersandar pepohonan. Di sebelah-menyebelah mereka, terdapat beberapa orang yang berjualan bermacam-macam makanan.

“Perkawinan yang meriah,” desis salah seorang dari keduanya.

“Sayang, mereka tidak akan sempat merayakannya di Sangkal Putung.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Namun ia pun mengangguk.

“Di ujung kademangan mereka sendiri, di jalan yang melalui pinggir hutan kecil itu, mereka akan disergap oleh Gandu Demung yang lengkap dengan pasukan yang besar.”

“Tetapi nampaknya pasukan yang besar itu tidak akan menyesal. Nampaknya perhiasan yang akan mereka dapatkan cukup banyak. Lihatlah, bagaimana sepasang pengantin itu bagaikan mengenakan berpuluh-puluh bintang di tubuhnya. Pengantin perempuan mengenakan gelang, kalung, subang cincin, tusuk konde, dam perlengkapan yang lain. Tentu dari permata yang sebenarnaya intan dan berlian. Bukan sekedar barang-barang tiruan. Sedangkan pengantin laki-laki memakai timang emas dengan tretes berlian, pendok emas dan keris dengan ukiran bermata berlian pula. Cincin di jarinya dan berbagai perhiasan di bajunya. Sementara itu tentu pengiringnya juga memakai perhiasan yang mereka punyai untuk menunjukkan kelebihan masing-masing agar mereka sempat menarik perhatian gadis-gadis di Tanah Perdikan Menoreh.”

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Gandu Demung berhasil, sehingga barangkali aku akan mendapatkan meskipun hanya sebutir berlian.”

“Tetapi jika ia gagal dan tertangkap?”

“Tentu tidak. Ia membawa enam puluh orang. Aku ulangi, enam puluh orang. Kau sadari, berapa besarnya pasukannya kali ini?”

“Gandu Demung memang tidak bekerja separo jalan. Agaknya ia akan berhasil.”

“Dan kita, di hari berikutnya akan mencari satu dua butir permata yang rontok ketika perkelahian terjadi.”

Kawannya tertawa. Jawabnya, “Itu sudah cukup.”

Yang lain pun tertawa pula. Mereka membayangkan, bagaimana diri mereka masing-masing terbungkuk-bungkuk di antara titik-titik darah yang membeku mencari perhiasan yang terjatuh ketika perkelahian yang dahsyat terjadi di ujung Kademangan Sangkal Putung.

Namun yang seorang tiba-tiba saja berkata, “Tetapi tugas kita akan menjadi berat dan menegangkan jika kita kemudian mengetahui bahwa ternyata pasukan yang terdiri dari enam puluh orang itu gagal, dan Gandu Demung dapat ditangkap oleh orang-orang Sangkal Putung.”

Wajah kawannya pun tiba-tiba berkerut. Katanya, “Tidak. Hanya jika ada keajaiban yang terjadi, maka orang-orang Sangkal Putung itu akan selamat.”

Kawannya berpaling. Dengan wajah yang bersungguh-sungguh ia berkata, “Aku belum mengenal seorang demi seorang, siapa sajakah yang menjadi pengiring pengantin dari Sangkal Putung itu. Namun nampaknya cukup meyakinkan.”

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi enam puluh orang adalah jumlah yang terlalu besar. Sedang dari orang-orang Tanah Perdikan Menoreh yang melihat iring-iringan itu datang, kita mendengar jumlahnya benar-benar tidak lebih dari dua puluh lima orang.”

“Ya. Betapa pun juga kuatnya yang dua puluh lima orang itu,” desis kawannya.

Demikianlah di pendapa acara yang sudah ditentukan berlangsung terus dengan lancar. Sama sekali tidak ada gangguan yang berarti.

Seorang demi seorang peran dari lakon yang berlangsung di pendapa naik dan kemudian turun disusul oleh penari-penari yang lain. Bahkan kadang-kadang beberapa orang berdiri bersama-sama di pendapa dalam adegan-adegan yang mengalir dari awal menjelang akhir.

Para penonton kadang-kadang hanyut dalam arus cerita yang menawan. Meskipun cerita itu sudah beberapa kali mereka lihat, namun kadang-kadang mereka masih juga disentuh rasa haru di saat-saat Candrakirana terusir dari istana dan mengembara di hutan-hutan. Dan kebencian pun tidak dapat lagi disembunyikan, sehingga beberapa orang menggeram ketika mereka mendengar Sarah menfitnah putri yang jelita itu.

Seorang yang tidak tahan lagi hatinya, mencoba menghibur dirinya dengan bercerita kepada diri sendiri, “Tetapi nanti semuanya akan menemukan kebahagiaannya. Putri yang seolah-olah terbuang itu, akan menemukan suaminya dan mereka akan hidup berbahagia. Tentu cerita itu akan berakhir seperti itu, karena aku pernah melihat tontonan semacam ini sebelumnya.”

Ketika cerita itu sudah berlangsung beberapa lama, barulah Swandaru dan Pandan Wangi dipersilahkan meninggalkan tempatnya untuk melepaskan lelah dan berganti pakaian.

Acara pada malam perkawinan itu ternyata berlangsung sebagaimana direncanakan. Tidak ada persoalan yang dapat mengganggu. Semuanya berjalan lancar. Menjelang pagi, maka pertunjukan itu baru selesai.

Seperti bendungan yang dibuka, maka orang-orang yang memenuhi halaman itu pun kemudian larut lewat gerbang. Mereka meninggalkan halaman dengan hati yang puas. Bukan saja karena pertunjukan yang menarik, tetapi juga karena sepasang pengantin itu nampaknya akan dapat mempengaruhi keadaan seterusnya. Tanah Perdikan Menoreh telah mempunyai seorang yang mantap untuk pada saatnya menerima kekuasaan dari Ki Gede Menoreh.

Ternyata bahwa bukan hanya pada hari yang pertama sajalah acara-acara hari perkawinan itu dapat berlangsung seperti yang direncanakan. Di hari-hari berikutnya pun acara-acaranya dapat berlangsung berurutan tanpa ada yang terlampau.

Dengan demikian maka seolah-olah kegembiraan di Tanah Perdikan Menoreh itu pun dapat berlangsung sempurna. Setiap anak muda rasa-rasanya menemukan suguhan menurut selera masing-masing. Baik mengenai jenis-jenis makanan yang bermacam-macam, maupun jenis pertunjukan yang berlangsung beberapa malam di pendapa rumah Ki Gede Menoreh dan bahkan juga di tempat-tempat lain.

Namun dalam pada itu, rasa-rasanya Agung Sedayu menjadi semakin gelisah. Di hari-hari terakhir, ia benar-benar dipengaruhi oleh sikap dan sifat Swandaru. Namun Agung Sedayu masih mencoba mencari sebab dari perubahan itu. Bahkan di dalam hatinya ia berkata, “Mungkin setelah hari-hari perkawinan ini lewat, ia akan menemukan dirinya kembali.”

Karena kemudian Swandaru berada di ruang dalam di rumah Ki Gede Menoreh, dan hampir-hampir tidak pernah turun ke halaman, maka Agung Sedayu pun kemudian mengisi waktunya dengan Rudita. Meskipun pada keduanya terdapat perbedaan sikap dan pandangan hidup, namun ada beberapa sentuhan yang dapat membuat mereka banyak berbicara tentang diri mereka masing-masing, tentang orang-orang di sekitarnya dan tentang kehidupan yang luas.

Tetapi nampaknya masing-masing telah menjaga diri untuk tidak mempercakapkan Swandaru yang sedang berada di hari-hari yang paling menarik di sepanjang hidupnya.

Yang kemudian juga kehilangan kawan adalah Sekar Mirah. Pandan Wangi nampaknya terkurung juga di ruang dalam bersama suaminya dan orang-orang tua, sehingga tidak sempat lagi berbincang, bermain dan kadang-kadang berjalan-jalan di halaman di belakang.

Apalagi jika Agung Sedayu dan para pengiring dari Sangkal Putung tidak sedang berada di pendapa, karena mereka berada di rumah yang disediakan bagi mereka, maka Sekar Mirah benar-benar merasa kesepian. Meskipun satu dua orang-orang perempuan Tanah Perdikan Menoreh termasuk gadis-gadisnya sudah dikenalnya, tetapi ternyata mereka terlampau sibuk dengan kerja masing-masing.

Ketika Sekar Mirah sedang digelisahkan oleh kejemuannya, dan berada seorang diri di halaman belakang, di antara batang suruh di dekat pakiwan, seorang anak muda datang dan mendekatinya dengan ragu-ragu.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum pula sambil menyapanya, “Prastawa. Apakah kau akan mengambil air di sumur?”

Prastawa yang ragu-ragu itu termangu-mangu. Ia pun tersenyum pula sambil menjawab, “Tidak, Sekar Mirah. Aku hanya ingin bertanya, kenapa kau berada di sini.”

Sekar Mirah tertawa. Katanya, “Maksudmu, kenapa aku berada di Tanah Perdikan Menoreh?”

“Bukan. Aku tahu, bahwa yang sedang dirayakan perkawinannya itu adalah kakakmu. Tetapi kenapa kau sendiri berada di halaman belakang ini?”

“Kenapa?”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Hampir di luar sadarnya ia memandang wajah Sekar Mirah sejenak. Rasa-rasanya tidak jemu-jemunya ia memandanginya, jika saja ia tidak merasa malu ketika ia menyadari bahwa Sekar Mirah pun memandanginya pula sambil tersenyum.

Prastawa yang masih sangat muda itu menundukkan kepalanya. Ketika Sekar Mirah kemudian mendekatinya, rasa-rasanya ia menjadi berdebar-debar.

“Prastawa,” bertanya Sekar Mirah, “apakah salahnya jika aku berada di sini? Aku senang sekali melihat batang sirih yang tumbuh subur merambat pada batang-batang kelor ini.”

Prastawa tergagap. Namun katanya kemudian, “Tetapi, tetapi sebaiknya kau tidak berada di sini.”

“Ya, kenapa?”

Prastawa berpaling memandang rumpun bambu di sudut halaman belakang itu. Katanya, “Di sudut, di bawah rumpun bambu, pernah terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak dikenal. Mereka melemparkan paser beracun.”

“O,” Sekar Mirah mengerutkan keningnya, “kenapa mereka membunuh?”

“Aku tidak tahu. Pandan Wangi mengetahui serba sedikit. Tetapi persoalan seluruhnya memang tidak begitu jelas baginya. Bahkan Pandan Wangi pun telah dilempar pula dengan paser beracun. Untunglah ia sempat menghindar.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Sebagai seorang gadis yang memiliki kemampuan untuk membela diri ia tidak menjadi takut. Tetapi ia menjadi heran, bahwa hal itu telah terjadi di halaman. Ia pernah juga mendengar bahwa telah terjadi peristiwa yang mengejutkan di Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi hal itu sudah hampir dilupakannya. Dan kini ia telah mengenangkannya kembali.

“Masuklah ke longkangan,” desak Prastawa kemudian.

Sekar Mirah memandang Prastawa sejenak. Namun kemudian ia pun tersenyum, “Baiklah. Tetapi aku akan mengambil beberapa lembar daun sirih yang masih muda. Nampaknya segar sekali.”

Prastawa termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah, aku akan mengambil beberapa lembar buatmu.”

Sekar Mirah termangu-mangu. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Kau sangat baik.”

Dada Prastawa menjadi kian berdebar-debar. Tetapi ia pun kemudian melangkah ke tengah-tengah tanaman sirih yang tumbuh subur di dekat sumur di halaman belakang.

Sejenak kemudian, Prastawa pun sibuk mengambil daun-daun sirih muda yang menjulur rendah, sehingga ia tidak perlu memanjat. Hanya kadang-kadang ia berdiri beralaskan batu-batu yang agak besar di pinggir sumur itu.

Sekar Mirah memandang anak yang masih sangat muda itu. Anak muda yang lincah dan cekatan. Namun bagi Sekar Mirah, Prastawa akan dapat menjadi seorang adik yang baik, apalagi ia tahu, bahwa ia memang adik sepupu Pandan Wangi.

“Tidak usah terlalu banyak,” berkata Sekar Mirah kemudian, “terima kasih. Itu bagiku sudah terlampau banyak. Aku tidak banyak makan sirih.”

“Tetapi mungkin perempuan-perempuan tua di ruang dalam,” jawab Prastawa.

Sekar Mirah mengangguk. Jawabnya, “Baiklah. Aku akan membawanya kepada mereka. Tetapi itu sudah terlalu banyak.”

Prastawa pun kemudian berhenti memetik daun sirih. Rasa-rasanya ia berbangga hati dapat menyerahkan daun sirih itu kepada Sekar Mirah.

“Jangan terlalu lama di sini,” berkata Prastawa kemudian, “masuklah. Meskipun sudah lama tidak terjadi sesuatu lagi di Tanah ini, tetapi siapa tahu, bahwa mereka sebenarnya hanya sekedar menunggu saat-saat kita lengah.”

“Baiklah,” jawab Sekar Mirah.

Sambil membawa daun sirih itu, Sekar Mirah pun kemudian masuk ke longkangan, langsung menuju ke ruang dalam. Tetapi ia tidak lagi masuk ke dalam bilik Pandan Wangi, karena bilik itu kemudian menjadi bilik pengantin.

Namun, ketika Sekar Mirah melintas di ruang dalam, ia berpaling oleh sebuah suara yang memanggil namanya. Dilihatnya Pandan Wangi berdiri termangu-mangu di sudut ruangan.

“O,” dengan serta-merta Sekar Mirah mendekatinya sambil tertawa, “kau nampak pucat.”

“Ah, kau,” desis Pandan Wangi sambil menjulurkan tangannya.

Sekar Mirah bergeser surut. Sambil tertawa ia berkata, “Jangan. Jangan kau cubit aku. Jika kulitku terkelupas, maka kecantikanku akan berkurang.”

Pandan Wangi pun kemudian tertawa pula.

“Apakah kau tidak sempat tidur?” bertanya Sekar Mirah. “Seharusnya kau tidak usah ikut sibuk lagi. Biarlah orang-orang lain menemui tamu dan mengatur ruangan.”

“Tetapi tamu-tamu itu adalah kawan-kawanku bermain. Mereka datang tidak bersama-sama, tetapi berurutan. Sebaiknya kau ikut memenemuinya. Kemana saja kau sehari ini, seolah-olah hilang di rumah ini.”

“Aku tidak mau mengganggumu. Aku kadang-kadang berada di dapur. Tetapi kadang-kadang mencari daun sirih seperti sekarang ini.”

Pandan Wangi memandang daun sirih itu sambil termangu-mangu. Lalu, “Jangan terlalu sering pergi ke kebun itu.”

“Ya. Aku sudah mendengar. Ketika aku memetik daun sirih, Prastawa menyusulku dan mengatakannya bahwa sebaiknya aku masuk ke longkangan.”

“Ia benar. Dan kau pun harus mengikuti petunjuknya.” Pandan Wangi berhenti sejenak lalu, “Marilah. Kawani aku.”

“Ah. Tidak mau. Bukankah kau sudah mempunyai kawan?”

“Tidak. Aku sendiri jika aku tidak sedang menemui kawan-kawanku yang kadang-kadang langsung saja masuk ke ruang dalam. Marilah, kau pun seharusnya di ruang dalam bagian depan. Di belakang pintu pringgitan terbentang tikar bagi kawan-kawanku yang kadang-kadang sangat nakal.”

“Aku juga sering melihat pula dan mendengar mereka bergurau mengganggumu. Tetapi tidak pantas aku berada di antara mereka bersamamu, karena yang mereka kunjungi adalah kau dan suamimu itu.”

“Ah. Kau memang nakal sekali. Aku memang ingin mencubit kulitmu sampai terkelupas. Tetapi marilah. Kawani aku. Aku terlalu sering sendiri karena Kakang Swandaru kadang-kadang berbincang saja dengan Ayah dan orang-orang tua di pringgitan.”

“Ah, kau pura-pura saja. Aku tentu lebih senang berada di dapur.”

Pandan Wangi memandang Sekar Mirah dengan tajamnya. Apalagi ketika ia melihat Sekar Mirah tersenyum-senyum sambil surut selangkah.

“Kawani aku. Meskipun barangkali tidak terus-menerus. Sekarang aku pun sendiri. Kakang Swandaru sedang duduk di pringgitan.”

“Baiklah. Nanti aku akan mengawanimu menerima kawan-kawanmu. Tetapi sekarang, kau mau apa?” bertanya Sekah Mirah.

“Mandi. Aku akan mandi.”

“Mandilah. Aku akan membawa daun sirih ini.”

Pandan Wangi pun kemudian melangkah ke pintu butulan dan langsung ke pakiwan, sedang Sekar Mirah pergi ke tempat orang-orang tua sedang sibuk di ruang dalam bagian belakang.

Dan hari-hari yang gembira di atas Tanah Perdikan Menoreh itu, bagi Ki Gede terasa berlalu terlampau cepat. Di malam terakhir upacara pengantin pada hari kelima, terasa bahwa kesepian telah mulai mencengkam.

Malam itu adalah malam sepasaran. Besok pagi-pagi sepasang pengantin akan meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh ke Sangkal Putung.

Sekar Mirah yang di hari-hari terakhir juga merasa kesepian di Tanah Perdikan Menoreh, mengharap hari berjalan lebih cepat, agar ia segera dapat ikut bersama iring-iringan pengantin itu kembali ke Sangkal Putung. Bahkan, rasa-rasanya ia sudah terlalu lama terpisah dari ibunya, sehingga perasaan rindunya telah mulai mengganggunya.

Malam itu, Ki Gede Menoreh telah mempersiapkan segala-galanya. Di pendapa, orang-orang tua sibuk membicarakan segala sesuatu tentang keberangkatan pengantin besok.

“Maaf, Ki Demang,” berkata Ki Argapati, “aku tidak dapat ikut mengantarkan anakku. Baru beberapa hari kemudian aku akan menyusul.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa memang tidak biasa, bahwa orang tua pengantin perempuan pergi bersama iring-iringan pengantin ke rumah keluarga pengantin laki-laki.

“Tetapi aku sudah datang,” berkata Ki Demang, “apa salahnya jika Ki Gede juga datang di Sangkal Putung, tetapi tidak langsung menuju ke kademangan.”

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Aku mohon maaf, Ki Demang. Mungkin lebih baik jika aku menyusul kemudian. Mungkin aku masih harus mengemasi Tanah Perdikan ini untuk satu dua hari.”

Ki Demang pun tersenyum pula. Jawabnya, “Aku mengerti. Dan aku menunggu kedatangan Ki Gede. Mungkin kedatangan Ki Gede akan berpengaruh bagi ketenangan Pandan Wangi.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Terasa sesuatu berdesir di hatinya. Rasa-rasanya ia segan melepaskan anaknya pergi meninggalkan rumahnya, karena dengan demikian rumahnya akan menjadi semakin sepi dan kering. Namun, bahwa hal itu harus terjadi, ternyata tidak akan dapat diingkarinya. Pada suatu saat, anaknya tentu akan meninggalkannya dan mengikuti suaminya, meskipun ia masih dapat mengharapkan bahwa suami anaknya itu akan tetap berada di Tanah Perdikan Menoreh, karena menantunya itulah yang kelak diharapkan akan menjadi penggantinya, melanjutkan pelayanan terhadap rakyat Tanah Perdikan Menoreh.

Namun dalam pada itu, Ki Gede tidak melepaskan anaknya begitu saja pergi ke Sangkal Putung. Ia telah menunjuk beberapa orang tua yang akan mengikuti Pandan Wangi sampai ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Ki Waskita kami minta untuk pergi bersama Ki Demang, mewakili aku,” berkata Ki Gede.

Ki Demang memang sudah menduga bahwa Ki Waskita akan ikut serta bersama dengan iring-iringan pengantin itu. Bukan saja karena Ki Waskita mempunyai hubungan yang khusus, tetapi ia pun akan dapat ikut serta menjaga keselamatan Pandan Wangi di perjalanan.

Selain Ki Waskita akan ikut pula Kerti, seorang yang meskipun sudah tua, tetapi ia mempunyai hubungan tersendiri pula dengan Pandan Wangi. Ia adalah pemomong yang seolah-olah tidak terpisahkan pada saat Pandan Wangi masih kanak-kanak sampai saat ia dewasa. Bahkan saat-saat Pandan Wangi sering berburu di hutan-hutan perburuan, Kerti masih ikut bersamanya. Ketika Tanah Perdikan Menoreh dibakar oleh pertentangan antara keluarga, Kerti pun selalu berada di dekat Pandan Wangi.

Hanya di saat-saat terakhir, ketika terasa tenaganya semakin lemah, dan anak-anaknya sendiri telah meninggalkan ibunya karena mereka sudah berumah tangga sendiri, Kerti terpaksa tinggal di rumahnya sendiri meskipun setiap kali ia masih mengunjungi Pandan Wangi dan sebaliknya. Selain hubungannya yang khusus, maka di masa mudanya Kerti adalah seorang yang memiliki kemampuan yang cukup dalam olah kanuragan. Meskipun ia sudah termasuk seorang yang tua, tetapi ia masih akan sanggup menunggang kuda sampai ke Sangkal Putung. Bahkan seandainya ada sesuatu yang terjadi, ia masih sanggup mempergunakan senjata.

Selain Ki Waskita dan Kerti, masih ada dua orang tua lagi yang akan pergi bersamanya mengantarkan Pandan Wangi. Sehingga jumlah mereka yang ikut serta dalam iring-iringan itu dari Tanah Perdikan Menoreh berjumlah lima orang termasuk Pandan Wangi, ditambah dengan lima orang anak-anak muda pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang kelak akan mengawani orang-orang tua yang kembali dari Sangkal Putung.

“Kita akan berjumlah sepuluh orang,” berkata Ki Waskita.

“Dengan demikian jumlah iring-iringan ini akan menjadi semakin besar,” desis Ki Sumangkar.

“Tiga puluh lima orang. Suatu iring-iringan yang lengkap sepasukan kecil yang menuju ke medan perang,” desis Swandaru sambil tertawa.

Yang lain pun tertawa pula. Bahkan Agung Sedayu masih sempat bertanya kepada Rudita, “Apakah kau akan ikut?”

Rudita berpaling. Jawabnya sambil tersenyum pula, “Tidak Agung Sedayu. Aku tidak akan pergi. Aku akan cepat menjadi pening berada di antara sekelompok orang-orang bersenjata.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Ia mengerti kenapa Rudita lebih senang tinggal di Tanah Perdikan Menoreh daripada ikut dalam iring-iringan yang semuanya telah menyiapkan senjata yang setiap saat dapat dipergunakan.

Apalagi karena Ki Waskita telah ikut pula dalam iring-iringan yang panjang itu, sehingga Rudita itu pun kemudian berkata pula, “Sebaiknya aku mengawani ibu pulang.”

Agung Sedayu tersenyum. Bahkan ia pun kemudian berdesis, “Bukankah kau akan tinggal di sini sampai Ki Waskita dan orang-orang tua kembali dari Sangkal Putung?”

Rudita mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Terserah kepada ibu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia pun kemudian mencoba mendengarkan pembicaraan orang-orang tua di pendapa itu.

Ketika terpandang olehnya seorang tua yang duduk membeku di belakang Ki Gede Menoreh, dada Agung Sedayu berdesir. Ia adalah orang kedua di Tanah Perdikan Menoreh setelah Ki Argapati. Tetapi karena ia pernah melakukan kesalahan, maka ia seolah-olah merasa dirinya tidak berharga lagi meskipun kakaknya, Ki Argapati telah berusaha melupakannya. Di dalam pertemuan-pertemuan orang-orang tua ia jarang sekali hadir. Ia lebih suka bekerja di belakang, menyiapkan keperluan-keperluan yang mendesak dan memimpin pelayanan terhadap para tamu di longkangan yang terlindung daripada berada di antara para tamu.

Namun malam ini ia ikut duduk di pendapa. Ikut bersama-sama dengan orang-orang tua yang lain berbincang-bincang tentang pengantin yang pada pagi harinya akan berangkat ke Sangkal Putung.

Tetapi Ki Argajaya masih tetap seperti patung. Ia duduk saja tanpa menyatakan pendapatnya sama sekali. Hanya kadang-kadang saja ia tersenyum dan bahkan tertawa. Tetapi ia sendiri tidak mengucapkan kata-kata apa pun juga di dalam setiap persoalan.

“Perasaan bersalah itu telah melemparkannya ke dalam keasingan di kampung halamannya sendiri,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, sekilas ia melihat anak Ki Argajaya itu pada suatu saat asyik berbicara dengan Sekar Mirah,

Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukannya. Ia pun kemudian dicengkam oleh pembicaraan yang menarik dari orang-orang tua di pendapa itu tentang keberangkatan Swandaru dan Pandan Wangi ke Sangkal Putung.

“Kita tidak boleh lengah,” berkata Ki Gede. “Memang selama ini tidak lagi terjadi sesuatu setelah hal yang mengejutkan di halaman belakang itu menggoncangkan ketenangan kami. Namun yang sebenarnya terjadi di padukuhan di dekat perbatasan, jauh lebih penting, karena ternyata Tanah Perdikan ini telah dijamah oleh segerombolan orang-orang yang tentu mempunyai jalur yang jauh, karena mereka menyatakan sesuatu yang sama dengan yang pernah dialami oleh orang-orang tua di Sangkal Putung. Ketika Kiai Gringsing menempuh perjalanan dari Jati Anom ke Sangkal Putung, maka di perjalanan dijumpainya orang-orang yang mempergunakan istilah yang sama dengan mereka yang terbunuh oleh Ki Waskita.”

“Ki Waskita mengetahuinya pula,” berkata Kiai Gringsing.

“Ya. Karena itulah, maka dapat diperhitungkan, bahwa jaringan itu meluas dari Jati Anom, Sangkal Putung, sampai ke tlatah Tanah Perdikan ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dipandanginya wajah Ki Demang yang menjadi tegang. Tetapi Ki Demang itu pun segera berhasil menguasai dirinya. Bahkan kemudian katanya, “Itulah sebabnya, kita berada dalam iring-iringan yang barangkali terlalu panjang bagi sepasang pengantin dalam keadaan yang lain dari keadaan sekarang ini.”

“Segelar sepapan,” desis Swandaru sambil tersenyum.

Sekali lagi mereka yang mendengarnya tertawa. Namun Agung Sedayu melihat sekilas sorot yang lain memancar dari mata Swandaru. Rasa-rasanya iring-iringan itu telah memberikan suatu kebanggaan padanya, seolah-olah bahwa perkawinannya adalah suatu peristiwa yang sangat penting sehingga memerlukan pengawalan yang sangat kuat, dan bahkan meskipun Agung Sedayu tidak tahu tepat, rasa-rasanya Swandaru merasa berbangga juga karena para pemimpin di Mataram telah menaruh perhatian yang khusus atas perkawinannya meskipun mereka baru akan datang nanti dalam perelatan di Sangkal Putung, sedangkan di Tanah Perdikan Menoreh mereka hanya mengirimkan dua orang utusan sebagai tamu Ki Gede.

Demikianlah maka ternyata Ki Gede Menoreh pun memberikan pesan seperti yang pernah diberikan oleh Ki Demang di Sangkal Putung. Para pengiring dan sepasang pengantin itu sama sekali tidak dibenarkan untuk memakai barang-barang perhiasan di sepanjang jalan. Mereka harus menyimpannya dan berusaha menghindari setiap kemungkinan yang dapat menarik perhatian.

“Aku sependapat dengan cara yang ditempuh oleh iring-iringan ini pada saat kalian datang. Dan agaknya cara itu pula yang akan kalian pergunakan di saat kalian kembali.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi ia memandang Ki Demang Sangkal Putung, seolah-olah mempersilahkannya untuk menjawab, karena Ki Demang adalah orang yang paling berkepentingan.

Ki Demang mengangguk kecil. Ia pun rasa-rasanya mengerti arti pandangan mata Kiai Gringsing. Maka jawabnya, “Ya, Ki Gede. Kami akan mempergunakan cara itu. Meskipun kami mengharap bahwa tidak akan terjadi sesuatu di perjalanan.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Katanya, “Tidak ada salahnya kita berhati-hati.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bukankah iring-iringan ini masih akan singgah di Mataram seperti saat kalian datang kemari dari Sangkal Putung.”

“Ya. Dengan demikian perjalanan kami tidak didesak oleh waktu. Kami besok tidak perlu berangkat terlampau pagi, karena agaknya masih diperlukan persiapan, minta diri kepada orang-orang tua dan keperluan-keperluan yang lain sebelum berangkat. Juga di hari berikutnya kami tidak pula dikejar oleh matahari yang segera akan terbenam.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Katanya, “Pada saatnya aku pun akan menghadap di Mataram untuk menyampaikan terima kasih atas kemurahan ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya ketika ia melihat Swandaru mengangkat wajahnya dan berkata, “Mataram tidak dapat berbuat lain.”

“Kenapa?” bertanya Ki Gede.

“Mataram ingin tetap bersahabat dengan dua daerah di sebelah-menyebelah. Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh. Apalagi dalam pertumbuhannya sekarang ini.”

Ki Gede mengangguk-anggukan kepala. Ia tidak memikirkan latar belakang yang lebih dalam dari ucapan Swandaru itu, karena Ki Gede menyangka bahwa kata-kata itu terlontar begitu saja sebelum dipikirkan masak-masak.

Tetapi Kiai Gringsing dan Agung Sedayu menangkap kata-kata itu agak lain. Rasa-rasanya memang terbersit suatu pendapat di hati Swandaru yang bukannya sekedar suatu kebetulan, bahwa Mataram memang memerlukan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh, sehingga Mataram harus berbuat sebaik-baiknya bukan atas dasar kebaikan hati, tetapi justru karena Mataram memerlukan.

Namun Kiai Gringsing dan Agung Sedayu tidak menunjukkan perasaannya meskipun barangkali nampak terbersit pula sesaat.

Ketika Kiai Gringsing memandang wajah Ki Sumangkar, wajah itu pun berkerut sesaat. Ki Sumangkar adalah seseorang yang telah cukup masak mengikuti cara berpikir orang-orang yang berada di tangan pemerintahan ketika ia berada di Jipang. Agaknya ia pun dapat menangkap sepercik kelainan pada kata-kata Swandaru.

Yang nampak lebih berkesan adalah justru Ki Waskita. Tetapi ia pun kemudian berpaling, seolah-olah ia tidak mendengar kata-kata Swandaru itu.

Demikianlah pembicaraan malam itu pun masih berkelanjutan. Namun kemudian Ki Demang pun minta diri untuk mempersiapkan keberangkatannya besok bersama dengan sepasang pengantin yang akan diterima dengan upacara yang meriah pula di Sangkal Putung.

“Silahkan, Ki Demang,” berkata Ki Gede kemudian, “kedua pengantin itu pun harus beristirahat pula.”

Dengan demikian pertemuan itu pun segera diakhiri. Semua persoalan agaknya telah selesai dan matang dibicarakan. Bahkan sampai persoalan yang sekecil-kecilnya telah ikut dibicarakan pula.

Tetapi sepeninggal orang-orang tua di pendapa, maka Ki Gede tidak segera pergi ke biliknya. Ia masih berkesempatan memanggil Pandan Wangi seorang diri. Sebagai orang tua, maka ia pun memberikan beberapa pesan yang penting bagi bekal hidupnya.

Pandan Wangi mendengarkan pesan ayahnya sebaik baiknya. Apalagi ayahnya berbicara kepadanya dengan sikap dan cara yang dewasa. Dengan hati-hati Ki Gede mengatakan betapa hidupnya sendiri pernah mengalami kepahitan saat-saat ia mulai menginjakkan kakinya di jenjang perkawinan karena persoalan yang menyangkut orang ketiga. Namun lambat-laun, meskipun hambar, ia dapat berusaha memperbaiki keadaannya. Tetapi itu pun tidak berlangsung lama, ketika ibu Pandan Wangi kemudian meninggal.

“Kau harus dapat mengendalikan dirimu. Perkawinan adalah suatu peristiwa yang agung dan suci.”

Pandan Wangi hanya dapat menundukkan kepalanya. Dengan sekuat tenaga ia bertahan, agar air matanya tidak meleleh dipipinya.

“Aku mohon doa restu, Ayah,” berkata Pandan Wangi kemudian.

“Tentu, Wangi. Tetapi kau pun harus tetap sadar, bahwa meskipun sebelumnya kau memiliki kemampuan untuk menjaga diri dengan olah kanuragan, tetapi ilmu itu sama sekali jangan sampai menyusup ke dalam hubungan keluargamu. Bagaimana pun juga kau tetap seorang perempuan yang sudah mempunyai kedudukan tersendiri di dalam hubungan keluargamu dengan suamimu seperti kedudukan perempuan-perempuan yang lain.”

Pandan Wangi mengangguk kecil. Dan ia pun berjanji di dalam hatinya, bahwa ia akan tetap menjadi seorang perempuan, meskipun ia memiliki kemampuan dalam olah kanuragan.

Dalam pada itu, maka di rumah yang telah disediakan bagi para pengiring dari Sangkal Putung, Ki Demang sibuk mengemasi barang-barangnya. Demikian juga para pengiring, telah menyiapkan beberapa lembar pakaian yang mereka bawa. Besok mereka tidak perlu lagi sibuk dengan barang-barangnya. Apabila saat mereka berangkat, semuanya sudah siap dan tidak akan ada yang ketinggalan lagi.

Tetapi Agung Sedayu masih sempat berbicara dengan Rudita beberapa saat. Namun yang mereka bicarakan sama sekali tidak ada hubungannya dengan keberangkatan pengantin besok ke Sangkal Putung.

Pembicaraan mereka terganggu ketika tiba-tiba Prastawa datang pula dengan tergesa-gesa, seolah-olah ada sesuatu yang ingin dikatakannya.

“Duduklah,” Agung Sedayu mempersilahkan.

Tetapi Prastawa tidak duduk. Bahkan ia pun mulai berbicara, “Agung Sedayu. Aku sudah minta kepada Paman Argapati, bahwa aku akan berada di antara kelima orang pengiring yang akan pergi ke Sangkal Putung.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Lalu, “Tetapi rasa-rasanya Ki Gede sama sekali tidak menyebut namamu.”

“Aku sudah menghadap. Seorang dari mereka bersedia mengundurkan diri. Dan aku diperkenankan ikut serta.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Kau akan ikut serta dalam tamasya yang menyenangkan ini.” Agung Sedayu pun kemudian berpaling kepada Rudita, “Apakah kau juga ingin ikut serta?”

Rudita tertawa. Jawabnya, “Seperti yang sudah aku katakan. Aku mengawani ibu pulang, karena Ayah sudah pergi ke Sangkal Putung. Agaknya tugas-tugas semacam ini lebih sesuai dilakukan oleh Ayah daripada aku.”

“Maksudmu?” bertanya Prastawa.

“Adalah kegemaran Ayah bermain-main dengan senjata dan sudah menjadi kebiasaannya melihat kematian. Tetapi aku tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk melakukannya. Bahkan aku sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk membayangkan, bahwa aku akan melakukannya.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau memang seorang yang asing bagi olah kanuragan sejak kanak-kanak.”

Rudita hanya tersenyum mendengar kata-kata Prastawa itu.

“Jadi,” berkata Prastawa kemudian, “aku besok akan pergi bersama kalian ke Sangkal Putung. Aku sudah menyiapkan senjata yang paling baik, jika di perjalanan iring-iringan kita akan mendapat gangguan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia memandang wajah Rudita. Yang nampak bukannya suatu kebanggaan, tetapi wajah itu terbersit perasaan yang pedih.

“Rudita tersinggung sekali jika ada seseorang membicarakan senjata,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Tetapi Rudita sendiri tidak mengatakan apa pun juga. Ia sadar, bahwa ia tidak seharusnya mengatakan begitu saja kepada setiap orang jika yang terjadi tidak sesuai dengan kata hatinya. Ia harus mencari kesempatan yang sebaik-baiknya agar peringatan yang diberikan dapat menyentuh perasaan orang lain. Bukan sebaliknya yang akan dapat menimbulkan perasaan yang bertentangan.

Karena itu, Rudita hanya dapat memandang Prastawa dengan cemas, bahwa anak yang masih muda itu akan terseret pula ke dalam arus kerasnya benturan olah kanuragan.

Tetapi ternyata bahwa Prastawa sendiri merasa bangga akan kesempatan yang didapatnya itu. Seolah-olah ia telah benar-benar dianggap sebagai seorang anak muda yang matang. Ia ternyata diperkenankan oleh pamannya untuk ikut di dalam kelompok pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

“Jadi besok kita akan pergi bersama-sama,” berkata Prastawa kemudian.

Agung Sedayu mengangguk, “Baiklah. Besok kita akan pergi bersama.”

Prastawa yang gembira itu pun kemudian meninggalkan Agung Sedayu dan Rudita. Sejenak keduanya masih termangu-mangu. Namun Rudita pun kemudian minta diri untuk kembali ke rumah Ki Gede Menoreh, karena bersama keluarganya ia bermalam di rumah itu.

Demikianlah, maka pada malam itu, kesibukan di rumah Ki Argapati telah berubah. Bukan lagi kesibukan perempuan menyediakan hidangan atau para penari yang sibuk menghias diri, tetapi kesibukan telah beralih pada bilik Pandan Wangi dan suaminya, Swandaru. Beberapa orang telah membantunya mengatur barang-barang yang akan dibawanya besok ke Sangkal Putung.

Namun sejenak kemudian rumah itu pun telah menjadi sepi. Semua orang telah mulai beristirahat. Mereka melepaskan lelah di ruang belakang, di gandok, dan di dapur. Bahkan seorang perempuan separo baya telah tertidur kelelahan di serambi bersandar tiang. Tangannya masih menggenggam pisau karena ia baru saja sibuk membungkus beberapa potong jadah dan jenang alot yang akan dibawa sebagai bekal di perjalanan bagi para pengawal yang akan pergi ke Sangkal Putung besok.

Seorang perempuan yang melihatnya, dengan hati-hati membangunkannya dengan menyentuh pundaknya.

“Jangan tidur di situ,” berkata perempuan yang membangunkannya, “kau nanti masuk angin.”

Perempuan yang tertidur itu pun terbangun. Sambil mengusap matanya ia bertanya, “Apakah aku tertidur?”

“Ya. Marilah. Semuanya sudah pergi beristirahat. Besok kita akan bangun menjelang dini hari menyiapkan makan pagi bagi mereka yang akan berangkat ke Sangkal Putung.”

“Apakah pendapa sudah sepi?”

“Tamu-tamu sudah pulang. Dan mereka yang akan pergi besok pun sudah beristirahat. Kita pun mendapat kesempatan beristirahat meskipun hanya sebentar. Dua tiga orang masih tetap berada di dapur merebus air.”

“Untuk apa lagi?”

“Para peronda di gardu depan, dan mungkin beberapa orang yang masih tetap berjaga-jaga di pringgitan.”

Perempuan yang masih menggenggam pisau itu pun kemudian bangkit berdiri dan pergi tertatih-tatih ke dapur. Rasa-rasanya matanya tidak mau dibuka lagi. Sehingga karena itu, maka ketika ia sampai di dapur, ia pun langsung menjatuhkan dirinya di amben.

“Pisau itu,” minta seorang kawannya.

Tetapi perempuan itu sudah tidak menjawab. Ia tidak mengetahui lagi ketika seseorang memungut pisau itu dari tangannya, karena ia sudah tenggelam lagi ke dalam mimpinya yang kabur.

Ternyata bukan saja perempuan itu yang tidak sempat lagi membuka matanya setelah mereka bekerja beberapa hari, hampir siang dan malam tanpa berhenti. Satu dua di antara mereka hanya sempat tidur sesaat-saat dengan cara yang serupa dengan perempuan yang tertidur itu.

Meskipun demikian, masih ada satu dua orang di dapur yang harus menahan diri untuk mempersiapkan minum dan makan mereka yang bertugas meronda dan berjaga-jaga di gardu di depan regol halaman.

Tetapi ternyata yang berjaga-jaga bukan saja para peronda di regol halaman rumah Ki Gede. Hampir di setiap padukuan yang tersebar beberapa orang pengawal dan anak-anak muda tidak meninggalkan kesiagaan. Mereka berada di dalam gardu-gardu yang terpencar. Namun di antara mereka ada juga yang meronda berkeliling di sekitar padukuhan.

Ternyata bahwa malam itu rasa-rasanya tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Jalan-jalan yang sepi, dan padukuhan yang lengang, tidak menunjukkan gejala yang berbahaya bagi ketenangan Tanah Perdikan Menoreh.

Demikianlah, malam itu terasa menjadi sepi setelah malam-malam yang ramai karena perkawinan Pandan Wangi dengan Swandaru. Beberapa orang yang meskipun berada di rumah masing-masing nampak lelah dan tertidur dengan nyenyaknya, karena mereka pun berturut-turut untuk beberapa malam telah menyaksikan berbagai macam pertunjukan yang meriah.

Menjelang dini hari, rumah Ki Gede telah menjadi sibuk lagi. Beberapa orang perempuan yang sempat tidur untuk beberapa saat telah terbangun dan mulai menanak nasi. Sebelum pengantin berangkat ke Sangkal Putung lewat Mataram, mereka tentu akan dijamu untuk yang terakhir kalinya selama mereka berada di Tanah Perdikan Menoreh.

Rumah Ki Gede itu menjadi semakin ramai ketika beberapa orang mulai terbangun pula. Pandan Wangi telah pula mandi, dan kemudian Swandaru dan mereka yang berada di gandok. Ki Waskita pun telah bersiap pula, sementara orang-orang tua yang akan pergi ke Sangkal Putung bersamanya dan Kerti, telah berada di pendapa pula ketika matahari mulai melontarkan cahaya yang kemerah-merahan.

Tetapi iring-iringan itu tidak akan berangkat pagi-pagi benar. Mereka masih akan makan pagi, minta diri kepada orang-orang tua dan baru kemudian mereka akan dilepas dari rumah Ki Gede Menoreh itu.

Suasana di Tanah Perdikan Menoreh seakan-akan telah berubah dengan tiba-tiba. Sebelum Pandan Wangi meninggalkan rumahnya, rasa-rasanya rumah itu sudah menjadi semakin sepi. Apalagi bagi Ki Gede. Ia sadar, sepeninggal Pandan Wangi rumahnya akan kehilangan kesegaran. Orang-orang yang sibuk di dapur itu pun akan segera pulang, dan sanak kadangnya satu demi satu akan meninggalkan rumah itu, sehingga akhirnya ia akan menjadi sendiri.

Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat sekedar mementingkan dirinya sendiri. Adalah menjadi hak Pandan Wangi untuk kawin dan meninggalkannya mengikuti suaminya.

“Tetapi ia akan kembali,” berkata Ki Gede Menoreh di dalam hatinya, “ia akan memerintah Tanah Perdikan ini sebaik-baiknya. Aku akan menjadi semakin tua, dan aku akan meninggalkan jabatanku. Aku sudah terlampau lelah. Sejak aku masih terlalu muda, aku sudah dilibat oleh ketegangan yang seolah-olah tidak ada henti-hentinya. Aku telah diguncang oleh persoalan pribadiku, persoalan Tanah Perdikan Menoreh, adikku yang kehilangan keseimbangan, dan ikut membakar Tanah Perdikan Menoreh, dan bermacam-macam peristiwa yang membuat dada ini menjadi pepat. Jika semuanya telah mapan kelak, mudah-mudahan aku mendapat kesempatan untuk menyepi dan beristirahat sebaik-baiknya. Bahkan mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa di sebuah padepokan kecil yang terpencil, tanpa diganggu oleh siapa pun juga.”

Perasaan Ki Gede menjadi bertambah sepi ketika ia melihat semua persiapan telah selesai. Beberapa orang sedang berbincang di pendapa, sedang beberapa orang yang lain tengah berjalan hilir-mudik di halaman.

“Ki Gede,” berkata Ki Waskita kepada Ki Gede Menoreh kemudian, “agaknya waktunya telah dekat, bahwa sepasang pengantin akan berangkat ke Kademangan Sangkal Putung.”

Ki Gede menganggukkan kepalanya. Dipandanginya beberapa orang yang duduk di pendapa. Kemudian dipandanginya dengan mata yang buram sepasang pengantin yang duduk di antara orang-orang tua.

Namun ketika terpandang olehnya Pandan Wangi tersenyum, hatinya menjadi agak terhibur pula. Katanya di dalam hati, “Mudah-mudahan ia senang berada di Sangkal Putung sampai saatnya mereka akan kembali ke Tanah Perdikan ini untuk memimpin dan membina. Agaknya memang sudah waktunya anak-anak muda itu bangkit untuk memegang pimpinan. Di tangannya Tanah Perdikan ini tentu akan bertambah maju oleh gejolak perjuangan yang dihangati oleh darah mudanya.”

Sejenak kemudian, maka para tamu yang berada di pendapa, orang-orang tua dan para pengiring, telah menghadapi hidangan makan pagi. Sejenak mereka menyempatkan diri untuk makan dan minum, dan sekedar membicarakan tugas yang akan dipikul oleh mereka yang akan mengantarkan sepasang pengantin ke Sangkal Putung.

“Meskipun Ki Demang ada di sini,” berkata seorang tua yang tidak akan pergi ke Sangkal Putung, “tetapi pada suatu upacara yang tentu akan diadakan, wakil Ki Gede akan menyerahkan dengan resmi kepada keluarga Ki Demang di Sangkal Putung, bahwa Pandan Wangi untuk seterusnya akan menjadi momongan Ki Demang sebagai menantu.”

Ki Demang tersenyum. Katanya, “Seseorang akan mewakili aku untuk menerimanya.”

Ki Gede pun tersenyum pula betapapun kesepian sudah menjamah perasaannya.

Demikianlah pada saatnya, maka iring-iringan yang akan mengantar sepasang pengantin ke Sangkal Putung itu pun telah bersiap. Baik para pengawal dari Sangkal Putung, maupun para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh, sementara orang-orang tua mulai mohon diri dan menerima pesan-pesan terakhir.

Swandaru dan Pandan Wangi pun kemudian minta diri pula kepada Ki Gede Menoreh. Meskipun gadis itu mencoba tersenyum, namun nampak bahwa pelapuknya menjadi basah.

Ki Gede masih memberikan pesan-pesan terakhir. Demikian juga orang-orang tua laki-laki dan perempuan yang tidak ikut bersama mereka yang akan berangkat ke Sangkal Putung.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu pun telah siap. Ada dua orang perempuan di dalam iring-iringan itu. Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Karena perjalanan yang berat, maka Pandan Wangi sama sekali tidak nampak sebagai seorang pengantin perempuan yang sedang diiringi oleh sekelompok orang-orang tua dan para pengawal. Tetapi ia telah mengenakan pakaian seorang pemburu, karena setiap saat, pakaiannya akan dapat mengganggunya apabila terjadi sesuatu di perjalanan. Demikian pula dengan Sekar Mirah. Pakaiannya pun disesuaikan pula dengan perjalanan berkuda yang akan makan waktu yang cukup lama.

Ketika semuanya telah selesai, maka iring-iringan itu mulai bergerak. Titik air di mata Pandan Wangi tidak dapat dibendung lagi. Ketika pipinya nampak menjadi basah, ia pun menundukkan kepalanya dalam dalam.

Ki Gede mencoba tersenyum. Katanya, “Pergilah. Sangkal Putung bukan jarak yang jauh. Aku akan segera menyusul.”

Perlahan-lahan iring-iringan itu pun mulai bergerak. Yang di ujung adalah sekelompok pengawal dari Sangkal Putung yang dipimpin langsung oleh Agung Sedayu. Di belakangnya sekelompok pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh. Anak-anak muda yang dipimpin oleh Prastawa, putra Ki Argajaya. Tidak seperti ayahnya yang merasa kehilangan kesempatan untuk tampil ke depan, maka anak muda ini masih tetap nampak lincah dan gembira.

Baru di belakangnya, sepasang pengantin yang dikawani oleh Sekar Mirah dan beberapa orang tua. Kerti, pemomong yang setia sejak Pandan Wangi masih terlampau muda, berada di dalam kelompok itu pula. Demikian pula Ki Demang yang meskipun menyadari bahwa kemampuannya tidak melampai Swandaru, namun rasa-rasanya kehadirannya di dalam kelompok itu akan dapat memberikan ketenangan pada anaknya.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar kini berada di kelompok berikutnya bersama Ki Waskita. Nampaknya mereka merasa perlu untuk berada tidak jauh dari sepasang pengantin itu.

Karena itulah maka kelompok orang-orang tua itu seolah-olah tidak terpisah dari kelompok sepasang pengantin serta orang-orang tua yang mengiringinya dari Tanah Perdikan Menoreh beserta Ki Demang Sangkal Putung

Baru di belakang mereka adalah orang-orang tua yang lain dan para pengiring yang masih tetap terpisah dalam kelompok-kelompok kecil, agar mereka tidak terjebak jika orang-orang yang berniat jahat benar-benar ingin merampok iring-iringan itu.

Dengan demikian, maka iring-iringan itu benar-benar menjadi sebuah iring-iringan yang panjang. Selagi mereka masih ada di jalan-jalan di tlatah Tanah Perdikan Menoreh, maka kelompok-kelompok itu tidak terpisah jauh. Bahkan seolah-olah iring-iringan itu adalah iring-iringan yang utuh, karena mereka merasa bahwa pengawasan di sepanjang jalan cukup ketat oleh petugas-petugas sandi yang berada di sawah-sawah dan di gardu-gardu.

Ternyata bahwa perjalanan mereka di sepanjang jalan di Tanah Perdikan Menoreh tidak mengalami gangguan apa pun juga. Jalan nampaknya lapang dan tenang. Apalagi ketika mereka melihat orang-orang yang berada di sawah dan di gubug-gubug. Rasa-rasanya mereka berjalan di dalam daerah yang diberi pagar dinding yang tinggi.

Ketika iring-iringan itu mendekati Kali Praga, maka kesiagaan pun mulai ditingkatkan. Dengan hati-hati, iring-iringan itu memilih beberapa perahu getek yang akan mereka pergunakan untuk menyeberang.

Mula-mula para tukang satanglah yang justru menjadi curiga bahwa sebuah iring-iringan berkuda ingin menyeberangi Kali Praga. Namun ketika mereka melihat seorang tua yang menyerahkan sebutir telur kepada Pandan Wangi dan melemparkannya ke dalam sungai, maka tukang-tukang satang itu pun mengetahui, bahwa yang lewat adalah sepasang pengantin dengan para pengiringnya.

“Tentu sepasang pengantin yang kaya,” desis salah seorang tukang satang.

“Dari mana kau tahu. Aku tidak melihat pakaian yang bagus dan perhiasan yang mahal mereka pakai.”

“Tentu perhiasan yang mahal itu disembunyikan di dalam kampil,” sahut kawannya. “Tentu mereka tidak akan mau mengalami kesulitan di perjalanan jika mereka dengan sengaja memamerkan perhiasan mereka. Betapa pun jalan sudah tenang, namun kadang-kadang perhiasan yang gemerlapan akan dapat merangsang para penjahat yang semula telah ingin meletakkan senjata mereka.”

Kawannya mengangguk-angguk, dan tukang satang itu pun melanjutkan, “Jika ia bukannya sepasang pengantin yang kaya, tentu seorang pemimpin, karena ternyata pengiringnya seolah-olah sepasukan prajurit segelar sepapan.”

“Mereka tentu kawan-kawan pengantin itu. Lihatlah, mereka adalah anak-anak muda yang kira-kira sebaya dengan sepasang pengantin itu.”

“Yang manakah menurut dugaamnu sepasang pengantinnya?”

“Tentu yang melemparkan telur itu.”

Pembicaraan itu terputus ketika seorang mendekatinya sambil berkata, “Apakah kalian tidak mendengar kabar, bahwa Tanah Perdikan Menoreh baru saja mengadakan perelatan perkawinan?”

“O,” tukang satang itu bagaikan teringat sesuatu, “ya. Tentu sepasang pengantin dari Tanah Perdikan itu.”

Demikianlah maka iring-iringan itu pun akhirnya telah naik ke atas perahu-perahu getek. Beberapa getek terpaksa menyeberang dua kali karena jumlahnya yang tidak mencukupi untuk menyeberangkan tiga puluh lima orang beserta kudanya dalam kesibukan lalu lintas, sehingga beberapa orang lain yang harus menyeberang terpaksa menunggu beberapa saat.

Di sebelah sungai mereka pun segera mengatur diri pula dan meneruskan perjalanan ke Mataram.

Ternyata Mataram pun telah siap menerima mereka. Mereka sudah tahu pasti, kapan iring-iringan itu akan datang dari Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun Mataram tidak sedang mengadakan perelatan, namun karena pengantin itu singgah untuk satu malam, maka rasa-rasanya di Mataram itu pun sedang berlangsung suatu perelatan pula

Namun dalam pada itu, di luar kota Mataram yang sedang tumbuh, dua orang berkuda yang dengan tidak menimbulkan kecurigaan mengikuti iring-iringan itu dari Tanah Perdikan Menoreh, sedang berhenti di pinggir sebuah pategalan yang sepi. Sambil menggerutu salah seorang berkata, “Kita menjadi makanan nyamuk di sini. Gila! Iring-iringan itu mendapat kehormatan di Mataram, sementara kita kedinginan di sini. Saat ini, mereka tentu sedang dijamu makan dan minum.”

“Aku juga lapar,” berkata yang seorang, “marilah, kita tinggalkan kuda kita di sini, kita mencari tempat yang baik untuk membeli makan dan minum.”

“Berbahaya,” sahut kawannya, “jika kuda kami hilang, maka kita akan gagal. Kau tahu akibatnya jika kita benar-benar gagal. Apalagi jika Gandu Demung benar-benar tertangkap, dan kita kehilangan jejak, maka kita tentu akan digantung oleh Empu Pinang Aring atau pemimpin-pemimpin yang lain.”

“Jadi kita akan tetap menahan lapar?”

“Bukankah di pelana kudamu masih tersimpan beberapa potong jadah yang kau beli di Tanah Perdikan Menoreh?”

Kawannya menelan ludahnya. Katanya, “Kau ternyata telah membuat aku menderita karena kau membayangkan bahwa orang-orang yang berada di Mataram itu kini sedang menikmati hidangan yang nikmat.”

Kawannya tidak menyahut. Namun ia pun kemudian justru membaringkan dirinya di atas rerumputan kering.

Dalam pada itu di Mataram, Agung Sedayu tetap berada di antara anak-anak muda pengiring pengantin. Rasa-rasanya memang ada sesuatu yang kurang wajar pada Swandaru. Di sepanjang jalan yang menyusuri Tanah Perdikan Menoreh, ia melihat sikap saudara seperguruannya itu seolah-olah ia sudah menjadi Kepala Tanah Perdikan.

“Gila,” tiba-tiba Agung Sedayu menggeram di dalam hati, “tentu tidak. Pikiran ini adalah pikiran iblis yang menggelitikku karena akulah sebenarnya yang dengki dan iri hati.”

Namun dalam pada itu, di dalam bilik-bilik yang khusus disediakan oleh para pemimpin Mataram bagi sepasang pengantin itu, Swandaru duduk di bibir pembaringan di sisi Pandan Wangi. Nampak sesuatu sedang menarik perhatian Swandaru untuk dibicarakannya dengan Pandan Wangi.

“Ayah belum pernah membicarakannya, Kakang,” desis Pandan Wangi perlahan-lahan.

Swandaru mengangguk-angguk. Lalu, “Tetapi Ki Gede tidak akan dapat tinggal diam. Mataram tentu akan berkembang. Aku adalah salah seorang pendukung yang nyata dari berdirinya Mataram sejak Raden Sutawijaya mulai menebangi hutan sehingga kini sudah nampak menjadi sangat padat. Penebangan berjalan terus sampai saat ini untuk perluasan kota dan daerah Mataram, meskipun Raden Sutawijaya tidak ada di tempat. Dengan demikian maka harus ada batas yang jelas antara Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.”

“Mungkin batas yang jelas itu memang perlu Kakang. Tetapi sampai saat ini Ayah masih menunggu. Di sekitar Mataram masih ada beberapa kademangan dan tanah perdikan yang langsung berhadapan. Mangir di sebelah selatan, Cupu Watu di sebelah timur dan mungkin juga daerah sebelah utara dan yang lain-lain. Perkembangan Mataram sampai saat ini masih belum jelas. Hubungannya dengan Pajang pun belum jelas pula. Bahkan seolah-olah terputus, meskipun Kanjeng Sultan Pajang telah mengangkat Raden Sutawijaya menjadi Senapati Ing Ngalaga dan berkedudukan di Mataram yang dibukanya. Namun Mataram belum menemukan bentuk tata pemerintahan yang jelas. Berbeda dengan Pati yang diserahkan kepada Ki Penjawi.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia ber-tanya, “Dari mana kau mengetahuinya?”

“Ayah sering mengatakannya kepadaku.”

Swandaru mengangguk-angguk. Lalu, “Itu adalah pertanda bahwa Ki Gede sudah mulai membicarakannya. Kau tahu bahwa aku akan berada di kedua sisi dari Tanah Mataram ini. Meskipun di bagian timur akan tidak langsung beradu batas, tetapi jalan antara Pajang dan Mataram melintas di daerah Sangkal Putung. Sikap dan tingkah laku Untara pun harus mendapat banyak perhatianku. Karena anak muda itu sering merasa dirinya lebih berkuasa dari Kanjeng Sultan di Pajang.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Sebelumnya ia belum pernah mendapat kesempatan berbicara cukup banyak dengan Swandaru justru karena kesibukan perelatan. Di Mataram mereka tidak mempunyai kewajiban yang mengikat, sehingga mereka sempat berbicara berkepanjangan. Namun Pandan Wangi sendiri kurang dapat melihat dengan jelas arah pembicaraan itu. Karena itu, maka Pandan Wangi pun tidak terlalu banyak menanggapinya, selain sekedar mendengarkan dan mengangguk-angguk. Namun ia merasa bahwa ternyata Swandaru bukannya seorang yang acuh tidak acuh terhadap keadaan sekitarnya. Bahkan ia adalah seorang anak muda yang berpikir dengan sungguh-sungguh mengenai keadaan lingkungan dan masa depannya.

Pandan Wangi masih mengangguk-angguk ketika Swandaru membicarakan hubungan yang harus jelas antara daerah di sekitar Mataram dan di sepanjang jalan antara Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh tanpa prasangka apa pun juga.

Di rumah yang lain, Prastawa dengan gembira bercakap-cakap dengan kawan-kawannya. Ia memang merasa bahwa ia mendapat kepercayaan penuh dari Ki Gede Menoreh untuk mengawasi para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh agar mereka dapat menyesuaikan dirinya dengan para pengawal dari Sangkal Putung.

“Udara ternyata panas sekali di sini,” desis Prastawa tiba-tiba, “aku akan berjalan-jalan sebentar di halaman. Jangan tinggalkan bilik ini. Aku akan berada di pintu gerbang. Aku tahu, selain para pengawal dari Mataram, para pengawal dari Sangkal Putung pun ada di antaranya.”

Prastawa pun kemudian meninggalkan kawan-kawannya. Dengan ragu-ragu ia berjalan ke regol halaman. Masih ada beberapa orang anak muda dari Sangkal Putung yang sedang berbincang dengan para pengawal dari Mataram.

Ternyata bahwa semalam di Mataram itu rasa-rasanya terlalu lama bagi mereka yang sedang mengiringi pengantin itu. Terutama sepasang pengantin itu sendiri. Langit yang gelap dan bintang yang berhamburan, terasa seolah-olah telah menghentikan waktu sama sekali. Diam.

Namun dalam pada itu, di longkangan di depan gandok rumah Raden Sutawijaya, di depan bilik yang disediakan buat Ki Demang dan orang-orang tua, serta satu lagi buat Sekar Mirah, Prastawa duduk dengan gelisah. Ketika ia melihat Sekar Mirah menjengukkan kepalanya, ia pun dengan serta-merta mendekatinya sambil tertawa, “Kau belum tidur, Mirah.”

“Aku mendengar derit seseorang duduk di amben itu,” berkata Sekar Mirah.

“Bilikku terasa panas sekali, sehingga aku tidak dapat segera tidur.”

“Tetapi kenapa kau sampai ke longkangan ini? Apakah kau akan bertemu dengan Ayah di bilik sebelah?”

“O, tidak. Tidak, Sekar Mirah. Aku sendiri tidak tahu, kenapa aku sampai ke tempat ini.”

Sekar Mirah tertawa. Tetapi ia masih tetap berdiri di pintu.

“Apakah kau tidak merasa bahwa udara terlampau panas di dalam bilikmu?”

“Tidak. Udara di sini terasa sejuk sekali.” Sekar Mirah berhenti sejenak lalu, “Jika kau ingin bertemu dengan Ayah atau mungkin orang-orang tua yang lain, ketuklah pintunya. Mereka tentu belum juga tidur.”

“Tidak. Aku tidak memerlukan mereka. Tetapi….” kata-katanya terputus oleh keragu-raguan.

Sekar Mirah tertawa. Namun katanya, “Tidurlah, Prastawa. Hari sudah menjadi semakin malam. Besok kita akan menempuh perjalanan meskipun tidak terlalu jauh.”

Prastawa masih termangu-mangu. Namun ia terkejut ketika ternyata pintu di sebelahnya pun telah terbuka pula.

Ketika Prastawa berpaling, dilihatnya Ki Demang Sangkal Putung telah berdiri di ambang pintu. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Apakah ada yang penting, Anakmas?”

“O,” Pratawa tergagap, “tidak. Tidak, Ki Demang.”

“Jadi?”

“Tidak apa-apa, Ki Demang. Aku hanya sekedar melepaskan diri dari udara yang panas di dalam bilikku.”

“Tetapi bukankah Anakmas berada di rumah sebelah? Maksudku tidak di rumah ini dan disertai para pengawal?”

“Ya, ya, Ki Demang,” Prastawa kebingungan. “Baiklah aku kembali saja kepada mereka.”

Ki Demang tidak bertanya lagi. Namun Sekar Mirah yang melihat kegelisahan anak yang masih sangat muda itu tertawa sambil berkata, “Tidurlah, anak muda, besok kita akan bangun pagi-pagi benar.”

Prastawa pun meninggalkan serambi gandok itu. Ketika ia berada di halaman, ia berpapasan dengan dua orang pengawal. Tetapi kedua pengawal itu telah mengenalnya sebagai salah seorang pengawal pengantin. Karena itu keduanya justru menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Prastawa sempat melihat senyum itu di bawah cahaya obor di pendapa. Betapapun hambarnya, Prastawa itu pun tersenyum pula sambil mengangguk.

Dengan gelisah Prastawa kembali kepada kawan-kawannya. Seorang pengawal mendekatinya sambil mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu pengawal itu bertanya, “Kau lama sekali pergi, Prastawa?”

“Aku hanya di luar.”

“Tidak. Aku melihat kau keluar halaman ini.”

“Dari mana kau tahu? Kau tentu tidak mematuhi pesanku.”

“Aku patuh. Tetapi aku hanya keluar sejenak untuk melihatmu yang nampak gelisah. Ternyata kau pergi ke luar halaman dan hilang dari pandangan mataku.”

“Aku berjalan-jalan.”

“Sampai larut?”

“Sekarang masih sore. Lihat, masih banyak orang berada di pendapa.”

“Mereka sudah kembali ke pondokan masing-masing.”

Prastawa menjadi ragu-ragu. Rasa-rasanya ia hanya sebentar berada di serambi gandok.

“Tetapi agaknya aku berjalan lambat sekali di sepanjang halaman di depan regol itu. Atau barangkali aku telah berhenti di bawah pohon nyamplung itu? Atau aku tidak ingat lagi apa yang sudah aku lakukan?” Prastawa menjadi termangu-mangu.

“Kau nampak bingung,” desis kawannya.

“Tidak. Aku sama sekali tidak bingung. Tetapi aku merasa panas sekali. Entahlah. Jika kau tidak merasakan panasnya udara, mungkin aku memang sedang kurang sehat.”

Kawannya memandang Prastawa yang gelisah. Lalu katanya, “Mungkin kau memang tidak sehat. Keringatmu mengalir terlampau banyak, dan bibirmu nampak gemetar.”

“Apakah memang begitu?” bertanya Prastawa yang menjadi semakin gelisah.

“Beristirahatlah. Mungkin kau terlalu lelah setelah menempuh perjalanan dari Tanah Perdikan Menoreh sampai ke Mataram.”

“O, jarak yang terlalu pendek,” jawab Prastawa.

Kawannya tidak menyahut lagi. Ketika ia bergeser maka Prastawa pun segera melangkah ke bilik yang disediakan baginya dan kawan-kawannya. Tanpa mengatakan apa pun juga, Prastawa pun segera membaringkan dirinya di atas sehelai tikar yang dibentangkan di atas sebuah amben yang besar.

Kawan-kawannya melihatnya dengan heran. Juga kawannya yang bertemu di luar bilik itu. Tetapi mereka tidak bertanya apa pun juga.

Prastawa mencoba untuk menyembunyikan kegelisahannya. Tetapi setiap kali terdengar ia mengeluh. Dan bahkan kegelisahannya telah menganggu kawan-kawannya pula yang sebenarnya telah mulai diganggu oleh perasaan kantuk.

Namun lambat laun kawan-kawannya dapat melepaskan perhatiannya terhadap Prastawa yang mencoba berdiam diri di pembaringannya. Ia pun sadar, bahwa tidak sepantasnya ia mengganggu kawan-kawannya yang mungkin merasa lelah dan kantuk.

Malam itu, seperti saat mereka berangkat, para pengawal benar-benar sempat beristirahat. Justru setelah beberapa malam mereka kurang tidur dan kurang beristirahat karena perelatan yang meriah.

Namun demikian, di pondokan yang disediakan bagi Kiai Gringsing bersama-sama dengan Ki Sumangkar dan Ki Waskita, orang-orang tua itu masih juga duduk sambil berbincang meskipun perlahan-lahan, karena yang lain pun nampaknya telah tidur dengan nyenyaknya. Yang masih tetap berjaga-jaga adalah para pengawal dari Mataram dan satu dua orang di setiap pondok yang dipergunakan oleh para pengawal dari Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.

Seperti saat mereka berangkat, maka di perjalanan pulang itu pun tidak terdapat gangguan apa pun semalaman. Mereka bangun dini hari dengan kesegaran baru.

Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun masih sempat pula tidur barang sekejap. Namun seperti yang lain, mereka pun bangun menjelang dini hari dan segera pergi ke pakiwan untuk sesuci diri.

Ketika matahari mulai memanjat langit, maka iring-iringan itu pun telah siap pula untuk berangkat meninggalkan Mataram. Namun atas permintaan Ki Lurah Branjangan, mereka pun masih sempat singgah di pendapa untuk makan bersama. Tetapi karena jumlah para pengawal itu terlalu banyak, maka hanya orang-orang tua sajalah yang sempat naik ke pendapa, sedangkan orang lain dipersilahkan duduk di gandok sebelah-menyebelah.

“Kami telah membuat Ki Lurah dan sanak-sanak di Mataram menjadi sibuk,” berkata Ki Demang.

“Ah, kami senang sekali menerima kehadiran kalian. Tempat yang disinggahi sepasang pengantin biasanya akan menjadi baik.”

Ki Demang tertawa. Mereka yang mendengarnya pun tertawa pula. Sambil berkelakar Swandaru pun menyahut, “Memang agaknya kami membawa pengaruh baik, Ki Lurah.”

Ki Lurah Branjangan tertawa berkepanjangan. Ia sudah mengenal Swandaru sebelumnya. Dan anak ini memang sedang bergurau. Bahkan saat-saat ia sedang menjadi pusat segenap perhatian, ia pun sempat pula berkelakar.

“Ki Demang,” berkata Ki Lurah Branjangan, “kami sudah berhasil menghubungi Raden Sutawijaya. Sayang, bahwa Raden Sutawijaya masih belum dapat menampakkan diri di antara kita semuanya. Karena itu, maka aku akan menyampaikan permohonan maafnya, bahwa Raden Sutawijaya yang sedang melakukan perjalanan mesu rasa, tidak dapat hadir di Sangkal Putung. Demikian pula dengan Ki Juru Martani.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Jawabnya, “Apa yang dilakukan oleh Raden Sutawijaya sekarang tentu lebih penting dari sekedar hadir di Sangkal Putulag. Jauh lebih penting, Ki Lurah. Kami pun dapai mengerti, sehingga karena itu, maka kami pun tidak merasa kecewa karena Raden Sutawijaya tidak dapat hadir. Tetapi aku percaya bahwa doa dan restunya telah diberikannya kepada anak kami berdua.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk pula. Katanya, “Besok akulah yang akan menyusul. Bukankah upacara ngunduh pengantin akan diadakan besok malam?”

“Ya, ya, Ki Lurah,” jawab Ki Demang. “Sebelumnya kami mengucapkan diperbanyak terima kasih. Mudah-mudahan Angger Untara yang kami undang itu pun dapat hadir pula meskipun kami tidak mengundang pemimpin-pemimpin atau Senapati Pajang yang lain.”

“O, bagus sekali,” Ki Lurah mengangguk-angguk, “aku juga sudah rindu dengan senapati muda itu.”

“Kami mengharap sekali kedatangan para tamu dari Mataram dan restunya.”

Ki Lurah memandang Swandaru sejenak. Namun ia melihat ada perubahan di wajah anak muda itu. Tertawa dan senyumnya tidak nampak lagi di wajahnya.

“Anak itu kecewa bahwa Raden Sutawijaya tidak dapat hadir,” berkata Ki Lurah di dalam hatinya.

Dalam pada itu, setelah para pengiring dari Sangkal Putung dan Mataram itu selesai makan, maka mereka pun segera berkemas. Mereka masih berbicara serba sedikit untuk mengisi sekedar waktu setelah makan kenyang-kenyang. Apalagi mereka memang tidak terlampau jauh.

Selebihnya, setelah mereka melintas dari Sangkal Putung sampai ke Tanah Perdikan Menoreh dan kembali sampai ke Tanah Mataram tanpa kesulitan apa pun, maka mereka telah diganggu oleh perasaan, bahwa memang tidak akan ada gangguan apa pun juga di perjalanan. Apalagi mereka telah menjadi semakin dekat dengan kampung halaman.

Yang masih harus mereka perhatikan adalah jalan yang melintasi Alas Mentaok di ujung yang masih belum ditebang, dan kemudian Alas Tambak Baya. Bagian-bagian dari hutan itu masih lebat dan pepat. Namun jalur jalan yang melintas, nampaknya sudah menjadi semakin ramai dilalui orang. Orang-orang yang mencari kayu pun tidak lagi takut memasuki daerah di pinggir jalan yang dengan sengaja memang dibuka untuk mengurangi kepepatan bagian dari hutan itu.

“Jika kedua bagian dari hutan itu sudah lampau,” berkata salah seorang pengiring dari Sangkal Putung, “maka kami menjadi pasti, bahwa perjalanan kami tidak akan terganggu sama sekali. Swandaru dan istrinya akan pulang dengan selamat sampai ke pangkuan ibunya yang tentu menunggu dengan gelisah.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Ia pun sama sekali tidak mempunyai pertimbangan bahwa bencana dapat terjadi di mana-mana. Bahkan di ujung Kademangan Sangkal Putung sendiri.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Demang, sepasang pengantin, dan para pengiringnya telah bersiap-siap. Mereka pun segera minta diri dan turun ke halaman.

“Pada suatu saat, aku akan kembali,” bisik Kiai Gringsing. “Aku ingin mendengar cerita tentang Senapati Ing Ngalaga yang sedang lelana di daerah selatan. Tetapi sebaiknya Ki Lurah memberikan gambaran tentang pusaka-pusaka itu. Agaknya arahnya sudah dapat kami ikuti jejaknya meskipun belum pasti. Lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu akan menjadi daerah yang penting bagi mereka yang telah menyimpan kedua pusaka itu.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku akan datang besok ke Sangkal Putung.”

Tetapi Kiai Gringsing menggeleng, “Tentu tidak ada kesempatan untuk membicarakannya. Setelah perkawinan selesai, dan semuanya sudah baik, aku akan datang.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Ketika ia menebarkan pandangannya di halaman, beberapa orang sedang menuntun kuda dari kandang dan menyerahkan kepada pemiliknya masing-masing. Bukan saja dari kandang di belakang rumah Raden Sutawijaya itu, tetapi sebagian terpaksa dititipkan pada tetangga-tetangga terdekat.

Namun dalam pada itu, rumah Raden Sutawijaya itu memang sudah berkembang. Sebuah lapangan yang luas sudah mulai dipelihara rapi di depan gerbang halaman rumah itu. Dinding batu yang agak tinggi dan bertambah luas mengelilingi halaman dan kebun belakang.

Sambil menunggu kudanya Swandaru sempat menilai keadaan di sekelilingnya. Dalam penglihatannya, Mataram memang sedang tumbuh dengan pesatnya meskipun Raden Sutawijaya sedang tidak berada di tempatnya.

“Sebentar lagi, rumah ini akan disebut Istana Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram,” desis Swandaru di dalam hatinya. “Dan Senapati Ing Ngalaga akan dengan pilihannya sendiri menentukan daerah yang manakah yang langsung menjadi wilayah kekuasaan Mataram. Mungkin dengan persetujuan Pajang, tetapi mungkin tidak sama sekali. Bahkan mungkin pada suatu saat Pajang pun akan dimasukkan ke dalam daerah kekuasaannya.”

Angan-angan Swandaru terputus ketika beberapa orang pengiringnya mulai menerima kuda masing-masing. Beberapa orang masih harus memilih, karena mereka yang mengambil kuda-kuda itu dari rumah sebelah-menyebelah, kadang-kadang tidak dapat mengenal kuda-kuda itu.

Sejenak kemudian mereka pun telah siap dengan kuda masing-masing. Yang menarik perhatian adalah Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Seperti saat mereka datang ke Mataram, mereka sama sekali tidak segera dapat dikenal di antara para penunggang kuda. Apalagi Pandan Wangi sebagai pengantin perempuan.

Keduanya terpaksa menyesuaikan diri dengan perjalanan yang mereka lakukan. Pandan Wangi pun mengenakan pakaian yang pantas untuk melakukan perjalanan dengan berkuda.

“Sepantasnya pengantin perempuan naik tandu,” desis seseorang yang belum mengenal Pandan Wangi.

“Perjalanan dengan tandu akan memerlukan waktu yang panjang sekali,” sahut yang lain.

“Tetapi lihat. Apakah sepantasnya bahwa seorang perempuan, dalam perjalanan pengantin lagi, mengenakan pakaian seperti itu?”

“Tidak apa-apa. Pakaian yang nampak tidak banyak mempengaruhi keadaan.”

Kawannya tertawa. Tetapi ia tetap menganggap aneh, bahwa pengantin perempuan sama sekali tidak nampak sebagai seorang pengantin, kecuali jika dipandang dengan saksama pada bagian atas dahinya yang masih nampak bekas-bekas rias pengantin di Tanah Perdikan Menoreh, karena beberapa helai rambut di atas dahi itu telah dipotong.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu pun telah siap. Sepasang pengantin, Sekar Mirah, Ki Demang, dan orang-orang tua dari Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh serta para pengiring telah bersiap dengan kuda masing-masing. Mereka telah menyangkutkan bekal yang mereka bawa di pelana kudanya, dan siap untuk meloncat naik.

Sekali lagi Ki Demang minta diri dan mengucapkan terima kasih. Dan sekali lagi ia mengulangi undangannya kepada para pemimpin Mataram, agar besok datang ke Sangkal Putung dalam upacara ngunduh pengantin.

“Kami mohon maaf, bahwa pengantin perempuan kali ini sama sekali dalam pakaian yang kurang pantas,” berkata Ki Demang, “tetapi hal itu sekedar bermaksud untuk pengamanannya di perjalanan.”

Ki Lurah Branjangan tertawa. Jawabnya, “Jika aku belum mengenal Angger Pandan Wangi, tentu aku akan berpikir demikian. Juga Angger Sekar Mirah. Tetapi karena aku sudah mengenal sebelumnya, maka aku sama sekali tidak heran melihat keduanya dalam pakaian yang agak lain dari pakaian seorang pengantin perempuan dan pengiringnya. Bahkan lebih mirip dengan pakaian seorang pemburu. Itu pun masih jarang sekali terdapat pemburu-pemburu seperti Angger Pandan Wangi dan Sekar Mirah.”

Ki Demang tersenyum. Pandan Wangi dan Sekar Mirah yang mendengar pembicaraan itu pun tersenyum pula sambil menunduk dalam-dalam.

Sementara itu, semuanya pun kemudian telah bersiap untuk berangkat. Beberapa orang yang masih sempat mendekati Ki Lurah Branjangan dan beberapa orang pemimpin yang lain mengangguk sambil minta diri, sedangkan mereka yang berjajar di pinggir jalan mencoba pula untuk mengangguk meskipun mereka ragu-ragu, apakah Ki Lurah Branjangan dan para pemimpin di Mataram itu sedang memandanginya.

Sejenak kemudian iring-iringan itu pun mulai bergerak. Seperti ketika mereka mendekati Mataram, maka di paling depan adalah para pengawal dari Sangkal Putung, kemudian para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh. Baru di belakang mereka adalah sepasang pengantin dengan orang-orang tua. Sekar Mirah dan Ki Demang Sangkal Putung berkuda di belakang Swandaru dan Pandan Wangi. Sementara Kerti yang tua itu berada di depannya.

Di paling depan dari para pengawal Sangkal Putung adalah Agung Sedayu. Meskipun ia berkuda sambil menatap jalur jalan di hadapannya, tetapi rasa-rasanya ia tidak melihat sesuatu di hadapan kaki kudanya. Tatapan angan-angannya menerawang ke tempat yang sangat jauh, yang bahkan Agung Sedayu sendiri merasa ragu-ragu untuk dapat menjangkaunya.

Tetapi, pada suatu saat Agung Sedayu rasa-rasanya seperti tersadar dari mimpi. Ketika jalan menjadi semakin sepi, dan padukuhan-padukuhan kecil menjadi semakin jarang, maka ia pun mencoba memusatkan perhatiannya kepada perjalanan yang sedang ditempuhnya.

“Sebentar lagi, iring-iringan ini akan memasuki bagian Alas Mentaok yang masih belum terbuka seperti daerah Mataram lainnya yang sudah menjadi ramai. Apalagi kami akan memasuki daerah Tambak Baya yang masih merupakan hutan yahg pepat, meskipun biasanya jalan itu sudah tidak lagi banyak mendapat gangguan. Tetapi iring-iringan ini adalah iring-iringan yang khusus,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Bahkan kemudian, “Tidaklah sekelompak penjahat pun yang akan mampu mengumpulkan sejumlah orang sebanyak iring-iringan ini. Karena itu, seandainya ada juga sekelompok perampok yang melihat iring-iringan ini, mereka tentu akan mengurungkan niatnya, seandainya mereka sudah merencanakan.”

Karena itulah, maka hampir di luar sadarnya, angan-angannya mulai menerawang lagi. Hanya sekali-sekali ia, mengibaskan kepalanya, seakan-akan mencoba mengusir angan-angannya yang menyusup jauh ke dunia yang lain.

Tetapi para pengawal di dalam kelompok terdepan yang dipimpin langsung oleh Agung Sedayu itu bersikap lain. Mereka tidak setenang Agung Sedayu menghadapi ujung Alas Mentaok dan Alas Tambak Baya. Karena itu justru mereka tetap berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

Ketika mereka sudah berada di antara pepohonan yang besar, tetapi yang sudah disusupi oleh jalur jalan yang baik dan rata yang menghubungkan Mataram dengan kademangan-kademangan di sebelah Alas Tambak Baya, dan yang bahkan telah menjadi semakin ramai.

Beberapa orang yang bertemu dengan iring-iringan itu nampak menjadi cemas. Tetapi karena orang-orang yang berada di dalam kelompok-kelompok yang sedang beriring-iringan itu sama sekali tidak menunjukkan kesan yang mencurigakan, maka mereka pun menjadi bertanya-tanya tentang iring-iringan itu.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: