Buku 099 (Seri I Jilid 99)

Para prajurit dari Pajang itu masih tetap tegang. Namun pemimpinnya kemudian berkata, “Marilah, kami akan mengawasi perjalanan kalian karena kalian berada di dalam wilayah kekuasaan Pajang.”

Terdengar seorang pengawal menggeretakkan giginya. Tetapi tidak seorang pun yang menjawab.

Para pengawal itu pun kemudian meneruskan perjalanan mereka. Di belakang mereka sekelompok prajurit Pajang mengikutinya pada jarak yang tidak terlalu jauh. Namun ketika para pengawal itu sudah memasuki Sangkal Putung, maka para prajurit itu pun segera meninggalkan mereka.

“Sebentar lagi iring-iringan Lurah Branjangan dari Mataram itu pun akan datang pula,” desis pemimpin prajurit Pajang.

“Apakah kita akan menghentikannya?” bertanya salah seorang prajurit.

Tetapi pemimpinnya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kita tidak mendapat perintah untuk melakukannya. Sampai sekarang hubungan antara Pajang dan Mataram masih belum jelas. Karena itu, jika yang lewat itu benar-benar orang Mataram, biar sajalah mereka datang Ke Sangkal Putung untuk menghadiri perayaan perkawinan itu.”

“Orang-orang Mataram menjadi semakin sombong. Apalagi setelah Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar itu mendapatkan gelarnya yang baru, Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram. Ia merasa seolah-olah Sultan sudah melimpahkan kekuasaan Pajang atasnya, sehingga Mataram telah berbuat apa saja menurut seleranya sendiri.”

“Mungkin tidak seburuk itu. Selama ini Senapati Untara tidak mengambil sikap yang jelas.”

“Ki Untara terlalu baik hati. Seharusnya kekuasaan Pajang di jalur lurus di bagian selatan ini harus sudah bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Ketidak-sediaan Sutawijaya untuk menghadap ke Pajang merupakan pertanda pasti, bahwa Mataram merasa dirinya sejajar dengan Pajang.”

“Tentang ketidak-sediaannya menghadap ada alasannya tersendiri yang justru dapat dimengerti oleh Sultan.”

“Ah, omong kosong.”

“Jangan membantah keteranganku,” berkata pemimpin prajurit itu kemudian, “aku hanya mendengar dari Ki Untara. Dan kita semuanya di sini menjalankan perintahnya. Kita memang tidak boleh bertindak tergesa-gesa. Saat perkawinan Senapati Untara itu sendiri, hampir saja kita sama terpancing dalam benturan kekuatan antara Pajang dan Mataram. Untunglah semuanya itu dapat dicegah, dan justru Ki Lurah Branjangan sendiri ada di Jati Anom saat itu.”

Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat menyingkirkan sikapnya yang buram terhadap Mataram.

Namun dalam pada itu, para pengawal dari Mataram itu pun mempunyai sikap serupa. Seorang yang bertubuh tinggi berdesis, “Jika kami tidak menghadapi saat-saat khusus di Sangkal Putung.”

“Apa yang akan kau lakukan,” bertanya orang tertua di antara mereka.

“Aku gilas orang-orang Pajang yang sombong itu.”

“Mereka prajurit-prajurit yang menjalankan tugas. Jika terjadi pertengkaran antara para pengawal dan prajurit Pajang, maka masalahnya akan dapat merayap semakin luas. Masing-masing akan mendapat dukungan dari kawan-kawannya dan barangkali juga para pemimpinnya. Nah bayangkan, jika terjadi perselisihan antara Untara dan Ki Lurah Branjangan pada saat seperti ini. Apalagi kemudian perselisihan itu menjalar semakin luas dan didengar oleh Raden Sutawijaya yang sedang mesu raga di sepanjang Pegunungan Sewu.”

Pengawal yang bertubuh tinggi itu tidak menjawab.

Bahkan orang tertua itu melanjutkan, “Jika seandainya harus terjadi sesuatu, janganlah kita yang menjadi sebabnya.”

Kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka berjalan terus dengan angan-angan yang terasa selalu menggelitik hati tentang hubungan antara Pajang dan Mataram. Bukan saja dalam tata pemerintahan, tetapi para petugas di bidang keprajuritan pun rasa-rasanya seolah-olah telah bersaing dan saling mencurigai.

Beberapa orang pengawal yang telah memasuki daerah Sangkal Putung itu pun kemudian diterima dengan baik oleh para pengawal kademangan. Mereka sama sekali tidak mencurigai setelah mereka mendengar alasan kedatangan mereka. Bahkan para pengawal itu merasa Kademangan Sangkal Putung menjadi semakin aman dengan hadirnya beberapa orang pengawal dari Mataram.

Malam itu pendapa Kademangan Sangkal Putung menjadi sangat ramai. Sama sekali tidak ada kesan, bahwa kecemasan sedang mencengkam. Orang-orang yang ada di pendapa dan di halaman menyaksikan upacara ngunduh pengantin yang melalui upacara sepenuhnya seperti saat kedua pengantin itu dipertemukan di Tanah Perdikan Menoreh sebelum kemudian memasuki keramaian yang meriah.

Beberapa orang tamu yang mendapat penghormatan khusus menyaksikan urut-urutan upacara itu dengan saksama. Ki Lurah Branjangan telah duduk pula di pendapa itu disamping Untara. Sekali-sekali keduanya berbicara sambil tersenyum mengenai upacara yang sedang berlangsung itu. Namun kadang-kadang keduanya nampak merenung dalam-dalam.

Sebenarnyalah bahwa Ki Lurah Branjangan hatinya digelitik oleh upacara yang menarik itu. Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga itu tidak sempat merayakan hari-hari perkawinannya karena keadaan yang tidak dapat terbatasi. Perkawinannya dengan Semangkin berlangsung begitu saja tanpa banyak orang yang mengetahui.

“Raden Sutawijaya adalah putra Sultan Hadiwijaya meskipun bukan putra kandung. Tetapi kedudukan Raden Sutawijaya tidak ubahnya dengan putranya sendiri,” berkata Ki Lurah di dalam hatinya. “Seandainya semuanya itu berlangsung dengan wajar, maka keramaian perkawinan Raden Sutawijaya tentu akan melampaui keramaian perkawinan Swandaru dan juga perkawinan anak-anak muda yang lain.”

Dalam pada itu, Untara menganggap keramaian perkawinan Swandaru itu agak berlebih-lebihan. Meskipun Swandaru adalah seorang anak laki-laki satu-satunya dari seorang Demang di tanah yang subur seperti Sangkal Putung itu, namun keramaian yang direncanakan berlangsung beberapa hari itu sama sekali tidak menguntungkan suasana. Apalagi dalam keadaan terakhir.

“Anak itu memang terlalu manja,” berkata Untara di dalam hatinya.

Namun ketika terpandang olehnya Agung Sedayu, maka di luar sadarnya Untara mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

“Gadis yang telah mengikat Agung Sedayu untuk menghambakan diri di kademangan ini pun tentu seorang gadis yang manja. Yang tidak tahu sama sekali segi-segi kehidupan selain di seputar dirinya sendiri,” geram Untara di dalam hatinya.

Dengan kening yang berkerut-merut Untara memandang adiknya yang berdiri di halaman. Kadang-kadang nampak bahwa Agung Sedayu ikut sibuk melayani sesuatu dalam upacara itu. Karena ia seolah-olah merupakan keluarga sendiri di Kademangan Sangkal Putung, maka ia pun ikut serta melakukan beberapa macam pekerjaan yang kadang-kadang dengan tergesa-gesa.

“Gila,” geram Untara di dalam hatinya ketika ia melihat Sekar Mirah sendiri justru berdiri di serambi gandok tanpa berbuat apa-apa. Dengan asyiknya ia berbicara dengan seorang anak muda dalam pakaian yang lengkap dengan perhiasan yang mahal.

Hampir di luar sadarnya Untara bertanya kepada Ki Lurah Branjangan, “Apakah anak muda itu salah seorang pengawal dari Mataram?”

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Anak muda yang mana?”

Unttara tidak mau menunjuk dengan jarinya. Tetapi katanya, “Yang berdiri di serambi gandok, berbicara dengan Sekar Mirah.”

Ki Lurah mengedarkan pandangan matanya. Ketika terpandang olehnya Sekar Mirah, maka ia pun menggeleng, “Bukan. Bukan anak muda dari Mataram.”

Adalah di luar dugaaan Untara ketika orang tua yang duduk di sampingnya yang ternyata datang dari Tanah Perdikan Menoreh menjawab, “Anak muda itu bernama Prastawa. Ia adalah anak Ki Argajaya.”

Untara mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang tua itu. Kemudian dengan ragu-ragu pula ia bertanya, “Ki Argajaya adik Ki Argapati?”

“Ya. Jadi anak itu adalah kemanakan Ki Argapati.”

Untara mengangguk-angguk. Namun sekali lagi keningnya berkerut ketika ia melihat Agung Sedayu melintas di hadapan Sekar Mirah dengan tergesa-gesa sambil menjinjing nampan.

“Hem,” Untara menggeram di dalam hati, “ia sudah mengorbankan martabatnya. Di sini ia tidak lebih dari seorang pelayan. Meskipun Ayah bukan seorang Demang, tetapi Ki Sadewa adalah orang yang dihormati di Jati Anom. Dan aku adalah seorang senapati di daerah ini. Sementara itu Agung Sedayu telah merendahkan dirinya karena ia harus mencium telapak kaki seorang perempuan padukuhan yang sombong dan manja.”

Tetapi Untara tidak dapat berbuat apa-apa. Setiap kali ia melihat Agung Sedayu yang sibuk, terasa giginya seolah-olah gemeretak.

Upacara pengantin itu telah berlangsung semakin jauh. Ketika upacara yang pokok telah selesai, maka mulailah para tamu berkisar di seputar pendapa. Bahkan ada di antara anak-anak muda yang turun dan berdiri di halaman.

Sejenak kemudian, maka gamelan pun mulai berbunyi. Keramaian yang diselenggarakan di malam pertama itu justru adalah tayub. Keramaian yang merupakan kebiasaan bagi kademangan bukan saja di Sangkal Putung, tetapi juga di sekitarnya.

Semakin malam suasana menjadi semakin meriah. Satu-satu para tamu yang mendapatkan giliran, yang diisyaratkan dengan selendang, berdiri dan menari bersama penari-penari perempuan di pendapa.

Hampir semua bebahu kademangan hadir di pendapa bersama orang-orang tua dan para tamu yang bukan saja dari Kademangan Sangkal Putung. Wajah-wajah nampak menjadi gembira dan setiap bibir dihiasi dengan senyum yang cerah.

Untara dan Ki Lurah Branjangan pun mulai tersenyum-senyum ketika mereka melihat orang-orang tua yang menerima selendang harus berdiri, dan menari bersama penari-penari perempuan di tengah-tengah pendapa. Apalagi ketika terdengar oleh mereka suara tertawa yang tertahan-tahan dari ruang dalam. Ternyata perempuan-perempuan yang duduk, di ruang dalam pun sedang memperhatikan tari tayub itu lewat pintu pringgitan.

Dalam pada itu, Agung Sedayu yang tidak ikut duduk di pendapa melihat tari tayub itu dari kejauhan. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya jika ia melihat orang-orang di pendapa itu mulai mencicipi tuak yang dihidangkan.

“Keramaian semacam ini tidak dilakukan di Tanah Perdikan Menoreh,” desis Agung Sedayu.

Namun agaknya orang-orang Sangkal Putung masih tetap menyadari, bahwa tuak itu dapat membuat mereka menjadi mabuk dan kehilangan kesadaran, sehingga karena itu maka tuak yang dihidangkan di pendapa pun tidak terlalu banyak.

Sekilas Agung Sedayu melihat Sekar Mirah masih saja berdiri di serambi gandok. Dengan tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya ia masih saja dengan asyiknya berbicara dengan Prastawa. Bahkan sekali-sekali mereka berdua tertawa dengan cerahnya. Tetapi sekali-sekali pembicaraan mereka nampak bersungguh-sungguh.

Agung Sedayu tidak mendekatinya. Ia pun kemudian berjalan lewat samping gandok di dalam gelapnya bayangan, sehingga Untara yang sedang tersenyum-senyum melihat orang-orang yang sedang menari tayub tidak melihatnya.

“Silahkan duduk di pendapa, Ngger,” seorang yang sudah separo baya mempersilahkan, “nanti kau menjadi sakit di sini.”

Agung Sedayu tersenyum. Orang itu adalah orang yang diserahi membuat dan menyediakan segala macam minuman bagi para tamu yang ada di pendapa. Minuman panas juga dari tuak legen kelapa.

“Kau tidak ikut menari tayub?”

“Hampir semuanya orang-orang tua.”

“Nanti, setelah hampir pagi. Jika orang-orang tua sudah lelah dan mulai kantuk, maka anak-anak muda akan naik ke pendapa. Lewat tengah malam para tamu tentu akan meninggalkan pendapa. Yang bermalam akan segera pergi ke pondokan, sedang yang akan pulang akan mencari kudanya. Nah, bersedialah di pendapa supaya kau mendapat sampur untuk yang pertama kali. dan mendapat kesempatan menari sepuas-puasnya. Sementara wedak pupur para penarinya masih utuh setelah mereka merias dirinya kembali untuk menari di babak berikutnya.”

Agung Sedayu tertawa. Beberapa orang yang mendengar kata-kata orang separo baya itu pun tertawa pula.

“Aku lebih senang di sini,” jawab Agung Sedayu.

Namun pembicaraan mereka itu pun terputus ketika mereka melihat Ki Jagabaya mendekati mereka. Hampir berbisik ia berkata kepada Agung Sedayu, “Aku akan mendahului.”

Agung Sedayu berdiri sambil bertanya, “Kenapa?”

“Aku akan pergi ke banjar. Mungkin anak-anak yang berada di banjar menjumpai persoalan yang perlu dipecahkan. Nanti aku akan segera kembali.”

“Kenapa lewat pintu butulan?” orang separo baya itu bertanya pula.

“Supaya kepergianku tidak mempengaruhi para tamu. Jika mereka melihat aku pergi, maka mereka yang sudah merasa lelah akan segera pamit pula meninggalkan pertemuan yang meriah ini.”

“Aku ikut Ki Jagabaya,” tiba-tiba saja Agung Sedayu berdesis.

Ki Jagabaya berpikir sejenak. Namun kemudian ia menggeleng, “Kau di sini saja, Ngger. Mungkin Anakmas Untara memerlukan kau atau saat ia pulang, ia akan minta diri kepadamu.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Namun sekilas terbersit kegelisahan di wajahnya. Seolah-olah ia melihat wajah kakaknya yang suram memandanginya dengan tajamnya.

Agung Sedayu terkejut ketika Ki Jagabaya menepuk bahunya sambil berkata, “Sudahlah, aku akan pergi. Pergilah ke pendapa. Gending-gendingnya mulai menjadi hangat.”

“Ya, ya, Ki Jagabaya,” Agung Sedayu tergagap.

Ia melihat Ki Jagabaya tersenyum. Namun hanya sekilas, karena Ki Jagabaya pun kemudian meninggalkan halaman kademangan lewat pintu butulan. Ia tidak dapat menenggelamkan diri dalam kegembiraan sepenuhnya sementara para pengawal tengah berjaga-jaga di banjar dan di gardu-gardu.

“Mudah-mudahan mereka tidak terlupakan oleh para petugas di dapur,” gumam Ki Jagabaya di dalam hatinya.

Dalam pada itu, Agung Sedayu telah mulai merenungi dirinya sendiri kembali meskipun di sekitarnya beberapa orang sedang sibuk menyediakan minuman. Setiap kali satu dua orang telah membawa minuman ke pendapa untuk menambah mangkuk-mangkuk yang mulai menjadi kosong.

Gamelan di pendapa terdengar semakin lama menjadi semakin hangat. Iramanya menjadi semakin cepat membawakan gending yang memang mulai menggelitik hati. Satu-satu orang yang duduk di pendapa bergantian menari. Tidak henti-hentinya.

Pandan Wangi, setelah upacara yang pokok selesai, telah berada di ruang dalam bersama perempuan-perempuan. Ia merasa letih sekali duduk bersila tanpa bergerak sama sekali. Ia lebih senang berloncatan dengan sepasang pedang di tangan. Untuk waktu yang sama, ia tentu tidak akan merasa seletih saat itu. Duduk dengan kaku dan dicengkam oleh perasaan segan.

Namun akhirnya suara gamelan di pendapa pun mulai menurun. Ketika tengah malam telah lewat, mulailah para tamu menjadi letih. Apalagi para tamu yang datang dari tempat yang jauh.

“Kami tidak dapat menunggu sampai fajar,” desis Ki Lurah Branjangan di telinga Untara, “karena itu, kami terpaksa minta diri. Di pagi hari kami baru sampai di Mataram.”

Untara pun menegakkan punggungnya yang terasa mulai pegal. Ia pun kemudian menjawab, “Aku juga harus minta diri.”

Karena itulah, maka ketika orang-orang terpenting yang ada di pendapa itu minta diri, maka gamelan pun kemudian terdiam.

“Masih sore,” berkata Ki Demang ketika Untara dan Ki Lurah Branjangan minta diri.

“Kami tidak dapat meninggalkan tugas kami,” jawab Untara, “terima kasih atas kesempatan ini. Kami terpaksa minta diri.”

“Kami, keluarga di Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Anakmas Untara dan Ki Lurah Branjangan.”

Keduanya tersenyum. Jawab Ki Lurah, “Lain kali kami di Mataram mengharap kunjungan sepasang pengantin itu.”

Ki Demang tersenyum. Swandaru dan Pandan Wangi yang kemudian dipanggil itu pun tersenyum pula.

Namun dalam pada itu, wajah Untara segera berubah ketika ia melihat Agung Sedayu mendekatinya dan berdiri di bawah tangga pendapa. Ia pun kemudian beringsut pula, dan bersama-sama dengan Ki Lurah Branjangan, diikuti oleh Ki Demang, sepasang pengantin dan orang-orang tua, maka mereka pun turun pula ke halaman.

Ketika ia berdiri di hadapan Agung Sedayu, maka ia pun berdesis perlahan-lahan, “Apakah kau masih tetap akan menghambakan diri di sini.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Dan Untara pun tidak bertanya lebih lanjut ketika ia melihat Sekar Mirah dan Prastawa datang pula mendekat.

Sekali lagi Untara dan Ki Lurah Branjangan minta diri. Para pengawal segera menyiapkan kuda mereka dan kemudian mengiringi para pemimpin dari Mataram dan Pajang itu meninggalkan halaman.

Di regol halaman Untara sekali lagi sempat berbisik di telinga Apung Sedayu, “Sedayu, aku tidak mengira bahwa akhirnya kau hanyalah seorang budak yang tidak mempunyai gairah hidup sama sekali selain menghambakan diri karena cengkaman kecantikan wajah seorang perempuan.”

Dada Agung Sedayu berdesir. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan terasa lehernya bagaikan tersumbat.

Ia masih melihat Untara tersenyum sambil mengangguk sekali lagi. Kemudian senapati muda itu pun dengan sigapnya meloncat ke punggung kudanya diiringi oleh para pengawalnya.

Ki Lurah Branjangan pun berkuda di sampingnya. Para pengawal dari Mataram segera menempatkan diri di belakang beberapa orang pengawal yang mengiringi Untara.

Terasa ada batas yang melintang antara para pengawal dari Mataram dan para prajurit Pajang. Mereka sama sekali tidak menegur sapa. Bahkan antara kedua kelompok itu telah tanpa sengaja dibatasi jarak beberapa langkah.

Meskipun demikian, untuk beberapa lama Ki Lurah Bianjangan dan Untara bercakap-cakap dengan asyiknya. Bahkan sekali-kali terdengar keduanya tertawa. Agaknya keduanya membicarakan keramaian yang baru saja dikunjunginya di Sangkal Putung.

Namun dalam pada itu, gejolak perasaan Untara yang muda tidak dapat ditenangkannya ketika kemudian Ki Lurah Branjangan menyebut nama Agung Sedayu.

“Anak yang tidak tahu diri,” geram Untara.

Ki Lurah Branjangan menjadi heran. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya, “Kenapa?”

“Apakah yang ditungguinya di Sangkal Putung. Ia mempunyai rumah meskipun barangkali tidak begitu baik di Jati Anom. Ia mempunyai saudara tua, mempunyai paman di Banyu Asri yang dapat menjadi tempat menumpang. Bukan saja lahirnya, tetapi juga untuk mendapatkan tuntunan batin.” Ia terhenti sejenak, lalu, “Tetapi ia memilih berada di Sangkal Putung. Di tempat orang lain yang sama sekali tidak mempunyai sangkut paut. Jika ia terikat oleh seorang gadis yang bernama Sekar Mirah, seharusnya ia dengan dada tengadah melamarnya. Mungkin aku, mungkin Paman Widura, mungkin pula gurunya Kiai Gringsing. Tetapi dari Jati Anom. Sekelompok orang-orang tua datang ke Sangkal Putung dengan membawa kelengkapan upacara.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas. Katanya kemudian, “Mungkin karena gurunya juga berada di Sangkal Putung.”

“Gurunya memang orang aneh. Aku sudah menawarkan untuk membangun sebuah padepokan. Jika Swandaru ingin berguru kepadanya, biarlah ia datang dan menghambakan diri di padepokan itu.”

“Memang aneh,” tiba-tiba saja Ki Lurah bergumam.

“Agung Sedayu seharusnya mulai memikirkan hari depannya. Ia seorang laki-laki yang pantas untuk menjadi seorang senapati, karena ia mempunyai ilmu yang cukup, meskipun sudah barang tentu ia harus mulai dari tataran yang memungkinkan. Sudah barang tentu ia tidak akan langsung menjadi seorang panglima di suatu daerah yang luas atau menjadi seorang perwira yang berkedudukan tinggi. Namun ia harus mulai. Jika ia tidak mulai sekarang, maka ia akan terlambat. Dan ia akan tetap menjadi budak istrinya kelak.”

Ki Lurah Branjangan masih saja mengangguk-angguk. Namun baginya, Agung Sedayu memang agak aneh.

Tetapi Ki Lurah mengerutkan keningnya ketika ia mendengar Untara berkata, “Agung Sedayu harus menjadi seorang prajurit. Aku akan membawanya ke Pajang yang mungkin akan mengirimkannya ke tlatah yang agak jauh. Mungkin ke Pesisir Utara, mungkin ke Bang Wetan.”

Ada sesuatu yang terasa menyentuh perasaan Ki Lurah Branjangan. Mula-mula ia berusaha untuk menekan perasaan itu. Agaknya ia merasa segan untuk melepaskan anak muda yang bernama Agung Sedayu itu pergi ke daerah yang jauh dan sulit untuk dapat bertemu lagi.

Tetapi ternyata bahwa Ki Lurah pun kemudian menyadari, bahwa yang telah bergejolak di hatinya bukan sekedar perasaan segan untuk berpisah. Sebenarnyalah telah timbul suatu harapan di hatinya, bahwa Agung Sedayu, Swandaru, dan terutama gurunya akan dapat mengerti perjuangan yang sedang ditempuh oleh Mataram, sehingga mereka akan tetap berada di dalam lingkungan perjuangan tegaknya Mataram.

Namun Ki Lurah tidak dapat mengucapkannya selain kepada dirinya sendiri, sehingga karena itu maka ia pun hanya sekedar mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

Tetapi agaknya Untara masih berbicara berkepanjangan tentang Agung Sedayu. Rasa-rasanya pepat di dadanya ingin ditumpahkannya.

Sebagian dari kegelisahan Untara sebagai seorang kakak yang melihat adiknya meningkat dewasa dapat dimengerti sepenuhnya oleh Ki Lurah Branjangan. Namun ternyata bahwa Ki Lurah Branjangan tidak dapat mengelakkan kepentingan Mataram di dalam persoalan Agung Sedayu yang pasti akan menyangkut juga Swandaru dan gurunya.

“Swandaru akan memerintah di dua tlatah yang letaknya berseberangan di sebelah-menyebelah Mataram. Kedudukannya akan mempunyai arti yang penting kelak. Sangkal Putung yang subur dan termasuk kademangan yang besar di sebelah timur Mataram, dan Tanah Perdikan Menoreh yang kuat di sebelah barat,” katanya di dalam hati.

Namun pembicaraan mereka tidak dapat berlangsung lebih lama lagi ketika kemudian Untara berkata, “Maaf, Ki Lurah. Aku tidak dapat berjalan terus. Aku harus berbelok ke kanan.”

“O,” Ki Lurah tersenyum, “kenapa tidak sekali-sekali menempuh jalan lurus.”

“Ke Mentaok?” Untara tertawa.

Ki Lurah pun tertawa.

“Seharusnya Ki Lurah-lah yang singgah barang sejenak ke Jati Anom. Aku akan menjamu Ki Lurah dengan tuak legen batang aren.”

Ki Lurah mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Terima kasih. Terima kasih, Anakmas. Lain kali aku akan singgah di Jati Anom.”

Akhirnya keduanya berpisah. Ketika Untara berbelok ke kanan, maka pengawal-pengawalnya pun mengikutinya pula. Sementara itu para pengawal Ki Lurah segera mengambil alih tempat para pengawal dan mendekat beberapa langkah di belakang Ki Lurah Branjangan.

Ki Lurah Branjangan cukup bijaksana menanggapi keadaan, sehingga karena itu maka ia tidak menanyakan apa pun juga tentang sikap para pengawal. Apalagi di Sangkal Putung ia sudah mendengar laporan meskipun serba singkat tentang para peronda dari Jati Anom yang telah menghentikan beberapa orang pengawal Mataram yang diperintahnya mendahului.

Yang menjadi pikiran Ki Lurah Branjangan adalah justru tentang Agung Sedayu. Namun Ki Lurah pun menyadari sepenuhnya, bahwa Untara memang berhak untuk berusaha menarik adiknya ke luar dari lingkungan Sangkal Putung. Apalagi Ki Lurah tahu bahwa alasan Untara sama sekali bukanlah karena Agung Sedayu akan berkaitan dengan Swandaru yang akan memerintah Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh, juga tidak karena kebetulan guru Agung Sedayu adalah Kiai Gringsing yang disebut orang bercambuk. Alasan Untara untuk menarik adiknya dari Sangkal Putung semata-mata adalah karena alasan keluarga.

Perjalanan Ki Lurah di gelapnya malam sama sekali tidak menjumpai rintangan apa pun juga. Hutan Tambak Baya dan Hutan Mentaok yang masih tersisa ternyata tidak lagi dihuni oleh para penjahat. Juga tidak menjadi tempat bersembunyi sisa-sisa penjahat yang dihancurkan oleh para pengawal dari Sangkal Putung.

Ketika pagi mulai cerah, iring-iringan yang berjalan tidak terlalu cepat, bahkan sekali mereka harus berhenti memberikan kesempatan kepada kuda-kuda mereka untuk beristirahat, barulah memasuki kota Mataram yang semakin ramai. Tetapi para pengawal pintu gerbang kota dan juga para pegawai regol halaman rumah Sutawijaya sama sekali tidak terkejut, karena Ki Lurah Branjangan memang sudah mengatakan, bahwa mereka akan pulang dan akan sampai di Mataram pada pagi hari.

“Kami tidak akan bermalam karena keadaan yang gawat, apalagi karena Raden Sutawijaya tidak ada di tempat,” berkata Ki Lurah ketika ia berangkat.

Dalam pada itu, ternyata bahwa Untara yang tidak terlampau jauh berkuda di malam itu, lebih dahulu telah berada di Jati Anom. Namun kejengkelannya terhadap Agung Sedayu agaknya benar-benar telah mencengkam hatinya. Pagi-pagi, ketika matahari mulai naik dan di Mataram saat Ki Lurah Branjangan memasuki biliknya setelah mencuci tangan dan kakinya, serta seorang pengawal belum lagi selesai menyelarak pintu kandang kuda di belakang gandok kanan, Untara telah berkuda ke Banyu Asri. Rasa-rasanya ia tidak tahan lagi menyimpan gejolak perasaannya tentang Agung Sedayu.

“Paman,” berkata Untara kepada Widura, “kita harus berbuat sesuatu.”

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Kita harus memanggilnya dan bertanya, apakah ia sudah ingin segera kawin. Jika ia ingin kawin, ia harus memenuhi syarat-syarat sebagai seorang laki-laki yang akan kawin.”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Untara. Tetapi terhadap Agung Sedayu kita tidak boleh tergesa-gesa. Aku akan mencoba menghubunginya dan bertanya kepadanya apakah sebenarnya yang dikehendakinya.”

“Ia tidak boleh membiarkan dirinya diperbudak oleh perempuan itu, betapa pun cantik wajahnya.”

Widura mengangguk-angguk. Ia mengenal kedua kemanakannya itu dengan baik. Ia mengenal Untara, selain sebagai kemanakannya, juga sebagai seorang perwira atasannya sebelum ia mengundurkan diri dari keprajuritan. Dan ia pun mengenal Agung Sedayu sejak anak itu belum mengalami perubahan badani dan jiwani.

“Untara,” berkata Widura, “baiklah aku akan menemuinya di Sangkal Putung, sekaligus aku akan bertemu dengan Ki Demang. Aku tidak datang di hari perkawinan anaknya. Karena itu aku akan maaf. Dengan demikian maka kedatanganku ke Sangkal Putung bukanlah semata-mata untuk menemui Agung Sedayu.”

“Jika seandainya Paman pergi semata-mata untuk menemui Agung Sedayu, apa salahnya?” sahut Untara. “Paman adalah paman Agung Sedayu. Paman adalah pengganti orang tuanya seperti juga aku.”

“Tentu tidak ada salahnya. Tetapi jika aku datang dengan tidak semata-mata menemui Agung Sedayu pun tidak ada salahnya. Jika aku harus memilih di antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak ada salahnya, maka aku akan memilih yang kedua.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Terserahlah kepada Paman. Tetapi bagiku, Agung Sedayu harus menyatakan dirinya dengan tegas, karena ia adalah seorang laki-laki.”

Widura mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku mengerti, Untara. Dan aku akan mencoba berbuat sesuatu bagi Agung Sedayu.”

“Ia sudah berhasil memecahkan dinding ketakutan yang selalu mengungkungnya. Tetapi kini ia jatuh dalam suatu kungkungan yang lebih buruk dari ketakutan. Lebih baik ia menjadi seorang penakut seperti dahulu dan tinggal di rumah atau di rumah Paman dengan ketakutan tanpa berani beranjak sama sekali, daripada ia menjadi seorang yang memiliki ilmu kanuragan, bahkan disebut sebagai murid orang bercambuk yang mempunyai kekuatan tiada taranya, tetapi terikat dalam perbudakan di bawah kuasa seorang gadis Sangkal Putung.”

“Ya, ya aku mengerti, Untara,” Widura mengangguk-angguk, “berilah aku waktu. Aku akan mencobanya. Pada dasarnya Agung Sedayu adalah seorang laki-laki. Mungkin belum terbuka jalan baginya sehingga ia masih saja seperti sekarang ini.”

Untara menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ingin mengendapkan isi dadanya yang bergejolak.

Beberapa saat lamanya Untara berada di rumah pamannya karena ia ingin menumpahkan pepat hatinya memikirkan adiknya. Agaknya bagi Untara, Agung Sedayu merupakah masalah yang lebih rumit daripada tugas-tugas keprajuritannya.

Setelah tuntas, barulah Untara minta diri kembali ke rumahnya yang masih saja dipergunakan untuk kepentingan keprajuritan Pajang yang berada di Jati Anom.

Sepeninggal Untara, Widura-lah yang kemudian merasa dibebani oleh suatu kewajiban yang cukup rumit. Jika ia mempersoalkan Agung Sedayu itu berarti bahwa ia akan berhubungan dengan Swandaru, saudara seperguruannya, dan Sekar Mirah, gadis yang telah mengikat hati Agung Sedayu. Tetapi dengan demikian berarti juga ia harus berhubungan dengan Ki Demang Sangkal Putung. Dan terlebih-lebih lagi adalah Kiai Gringsing yang telah mengolah Agung Sedayu sampai tingkatnya yang sekarang.

Tetapi Widura tidak boleh ingkar. Ia adalah paman Agung Sedayu yang memang mempunyai kewajiban untuk berbuat sesuatu bagi Agung Sedayu.

Demikianlah, maka Widura pun telah menentukan sikapnya. Ia harus pergi ke Sangkal Putung. Berbicara langsung dengan Agung Sedayu tanpa ada yang disembunyikannya. Ia harus mendapatkan kesempatan itu.

Tetapi Widura masih harus menunggu satu dua hari setelah keramaian di Sangkal Putung menjelang hari-hari terakhir. Dengan demikian ia tidak akan menumbuhkan gangguan, setidak-tidaknya gangguan perasaan bagi Agung Sedayu dan mungkin beberapa orang lain di Sangkal Putung.

Sementara itu keramaian di Sangkal Putung berjalan terus. Di malam berikutnya, beberapa jenis pertunjukan akan dipergelarkan. Tetapi Sangkal Putung tidak juga lengah. Para pengawal tetap meronda setiap saat. Jalan-jalan kecil tidak terlampaui oleh para pengawal berkuda yang mengelilingi Sangkal Putung benar-benar nampak hidup. Anak-anak muda merasa mendapat kegembiraan yang meriah. Bahkan bukan saja pertunjukan yang ramai dan menggembirakan, tetapi juga makanan yang melimpah ruah.

Agung Sedayu sendiri rasa-rasanya benar-benar telah tenggelam dalam upacara perkawinan dengan segala keramaiannya itu. Ia merasa dirinya berkewajiban untuk membantu sejauh dapat dilakukan. Apalagi karena ia merasa bahwa dirinya akan menjadi bagian dari keluarga Kademangan Sangkal Putung itu.

Sementara itu, Sekar Mirah sendiri sibuk berangan-angan. Bahkan kadang-kadang ia tenggelam di dalam dunia khayalannya menjelang hari-hari perkawinannya sendiri.

Tetapi bagi Sekar Mirah, Agung Sedayu rasa-rasanya sangat menjengkelkan. Pada anak muda itu tidak terasa adanya api kegairahan yang dapat membakar ikatan cinta mereka. Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang diam dan banyak melakukan kerja yang sama sekali tidak berarti. Jika Agung Sedayu merasa dirinya telah melakukan sesuatu sebagai seorang anggauta keluarga di Sangkal Putung, dan kadang-kadang terdengar gemeremang orang-orang yang memuji kerajinannya dalam kerja itu, maka setiap kali Sekar Mirah selalu memalingkan wajahnya jika ia melihat anak muda itu ikut membawa nampan berisi makanan dan minuman.

“Ia lebih senang dengan kerja seorang bukan pemimpin di dalam lingkungan ini,” desah Sekar Mirah di dalam hatinya.

Dan agaknya sifat yang tidak ada pada Agung Sedayu itu ditemuinya pada Prastawa. Dengan dada tengadah maka setiap kali Prastawa memanggil seorang pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh dan memberikan beberapa perintah kepadanya. Bahkan, kadang-kadang dengan lantang ia berkata kepada pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu, “Aku haus. Pergilah ke belakang. Ambil semangkuk minum buatku.”

Diam-diam Sekar Mirah memuji sikap itu. Bahkan di dalam hatinya ia berkata, “Agaknya anak muda ini mempunyai sifat seorang pemimpin. Agak berbeda dengan Kakang Agung Sedayu yang lebih senang merendahkan dirinya dan bertingkah laku sebagai seorang pelayan.”

Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak menyadarinya. Ia adalah seorang anak muda yang rendah hati, yang tidak menolak kerja apa saja yang harus dilakukannya. Namun justru karena itu, maka Sekar Mirah menjadi kecewa karenanya.

Dalam pada itu, setelah keramaian di Sangkal Putung mulai mereda meskipun masih juga terdapat beberapa pertunjukan di pendapa kademangan, Widura dengan hati yang berdebar-debar pergi ke Sangkal Putung. Atas permintaan Untara, maka Widura membawa dua orang pengawal yang akan dapat membantunya jika di perjalanan mereka menjumpai sesuatu yang tidak dikehendaki.

Tetapi jalan ke Sangkal Putung dari Jati Anom nampaknya memang sudah benar-benar aman. Mereka tidak menjumpai gangguan apa pun juga. Bahkan mereka melihat orang-orang yang sibuk bekerja di sawah yang digenangi air.

Kedatangan Widura di Kademangan Sangkal Putung ternyata diterima Ki Demang yang memang mengharapkan, bahwa masih akan hadir seorang tamu dari Jati Anom.

Sejenak mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing karena sudah agak lama mereka tidak bertemu.

“Maaf Ki Demang,” berkata Widura kemudian, “aku berhalangan datang saat kedua pengantin dipertemukan dalam upacara ngunduh beberapa hari yang lalu.”

Ki Demang tersenyum. Jawabnya, “Doa keluarga di Banyu Asri telah melimpah bagi keluarga di Sangkal Putung. Semuanya sudah berjalan dengan selamat sesuai dengan rencana.”

Widura mengangguk-angguk. Untuk beberapa saat mereka masih berbicara tentang sepasang pengantin yang nampaknya dapat saling menyesuaikan diri.

“Pandan Wangi agaknya menjadi kerasan di sini,” berkata Ki Demang.

“Syukurlah. Mudah-mudahan untuk seterusnya kedua pengantin itu akan menemukan kebahagiaan.”

Dalam saat-saat mereka berbicara dengan asyiknya, Sekar Mirah telah menghidangkan minuman panas dan makanan bagi tamunya. Sementara Ki Demang pun segera mempersilahkannya.

Sekilas Widura memandang Sekar Mirah yang beringsut surut setelah meletakkan hidangan. Sambil tersenyum Widura berkata, “Berapa lama aku tidak melihat Sekar Mirah. Kini kau sudah benar-benar seorang gadis dewasa.”

Sekar Mirah menjadi tersipu-sipu. Kepalanya tunduk dalam-dalam. Sepercik warna merah telah mewarnai pipinya yang terasa panas.

“Ya,” Ki Demang-lah yang menjawab, “ia memang sudah merasa seorang gadis dewasa.”

“Ah,” Sekar Mirah berdesah sambil dengan tergesa-gesa meninggalkan pendapa.

Ki Widura tertawa. Sekilas dipandanginya wajah kemanakannya yang ikut duduk di pendapa itu bersama Swandaru, Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar.

Sejenak kemudian pembicaraan pun menjadi semakin ramai. Sekali-sekali pembicaraan itu menyentuh keadaan di Kademangan Sangkal Putung pada saat terakhir. Namun kemudian pembicaraan itu pun kembali lagi kepada pengantin yang masih dalam suasana keramaian itu.

Meskipun nampaknya sekali-sekali ikut pula tertawa, namun terasa keringat dingin mengalir di punggung Agung Sedayu. Agaknya ia mempunyai tanggapan yang tepat tentang kehadiran pamannya. Justru beberapa hari setelah kakaknya menunjukkan sikap yang kurang senang terhadapnya.

Karena itulah, maka di antara senyum dan tertawa di bibirnya. Agung Sedayu pun merasa dadanya semakin lama menjadi semakin pepat.

Sekar Mirah yang kemudian berlari ke ruang dalam sempat berhenti sejenak mencubit lengan Pandan Wangi yang duduk di antara beberapa orang perempuan yang masih sibuk. Namun, ia tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu langsung turun ke halaman belakang dan pergi ke longkangan.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya ketika ia melihat Prastawa yang memasuki longkangan itu pula dari halaman samping.

“Siapakah tamu itu?” bertanya Prastawa.

“Paman Widura,” jawab Sekar Mirah.

“Ya, tetapi siapa? Seorang senapati? Seorang demang?”

“Jelas bukan seorang senapati. Ia tidak berpakaian seorang prajurit.”

“Mungkin ia seorang perwira prajurit. Tetapi karena ia datang ke tempat keramaian pengantin, maka ia tidak mengenakan pakaian seorang perwira.”

Tetapi Sekar Mirah menggeleng. Katanya, “Ia memang bekas seorang perwira. Tetapi sekarang ia bukan lagi seorang prajurit.”

Prastawa mengangguk-angguk. Lalu, “Apakah keperluannya datang kemari? Apakah sekedar menengok Swandaru atau ada keperluan lain?”

“Ia paman Kakang Agung Sedayu,” jawab Sekar Mirah.

Prastawa mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta ia bertanya, “Kenapa ia kemari?”

Sekar Mirah heran mendengar pertanyaan itu. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ialah yang bertanya, “Kenapa kau bertanya begitu? Bukankah Kakang Swandaru masih dalam suasana upacara ngunduh pengantin.”

Prastawa termangu-mangu. Lalu katanya, “Tetapi kenapa ia baru datang sekarang, setelah keramaian hampir selesai seluruhnya.”

“Tentu aku tidak tahu sebabnya. Mungkin Paman Widura berhalangan hadir sampai saat ini. Mungkin ada persoalan-persoalan lain yang aku tidak mengetahui.”

Prastawa memandang wajah Sekar Mirah dengan tajamnya. Namun ia pun kemudian berkata, “Aku akan ikut menemuinya di pendapa.”

“He? Kenapa kau akan ikut menemuinya? Kau belum pernah mengenalnya.”

“Apa salahnya? Aku akan memperkenalkan diriku.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Sejenak ia terkenang apa yang pernah terjadi di daerah yang luas di sekitar Gunung Merapi. Pertempuran yang pernah membakar daerah di sekitar Sangkal Putung, namun yang kemudian menjalar sampai ke Tambak Wedi. Saat Sidanti masih dengan garangnya menggenggam senjata bersama gurunya sebelum ia terdesak dan bergeser keseberang Kali Praga, mencari kekuatan di kampung halamannya. Di antara pendukungnya adalah pamannya, Ki Argajaya, ayah Prastawa.

“Apakah Prastawa akan menyebut dirinya anak Ki Argajaya?” bertanya Sekar Mirah di dalam hatinya. “Lalu bagaimanakah tanggapan mereka tentang anak Ki Argajaya.”

Justru karena Sekar Mirah nampak merenung, Prastawa masih tetap berada di tempatnya. Dengan heran ia kemudian bertanya, “Apakah yang sedang kau pikirkan?”

Sekar Mirah termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Apakah kau merasa perlu untuk menemui mereka yang berada di pendapa itu?”

Prastawa tiba-tiba saja mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Agaknya kau berpikir tentang aku. Tentang ayahku yang pernah berada di daerah ini, terutama di Padepokan Tambak Wedi. Apa salahnya aku menyebut kenyataan tentang diriku. Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Waskita, dan bahkan Ki Demang sudah mengetahui siapa aku.”

“Tetapi Ki Widura dan Untara belum.”

“Aku tidak peduli, apakah mereka akan menganggap aku seperti juga ayahnya. Tetapi aku tidak dapat ingkar, bahwa aku adalah anak Argajaya.”

Sekar Mirah terdiam sejenak. Baginya sikap itu menunjukkan sikap yang jantan. Namun ia masih memikirkan akibatnya jika ada orang yang tidak dapat mengendalikan perasaannya.

Karena Sekar Mirah masih tetap ragu-ragu, maka Prastawa pun kemudian berkata, “Baiklah, Mirah. Aku tidak akan ikut menemui Ki Widura itu di pendapa. Mudah-mudahan benar yang kau katakan, bahwa kedatangannya adalah sekedar menengok Swandaru dan Pandan Wangi karena ia tidak sempat datang pada hari yang pertama.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Lalu tiba-tiba saja ia tertawa sambil bertanya, “He, kau kira ia mau apa?”

Prastawa memandang Sekar Mirah dengan tatapan mata yang aneh. Namun kemudian wajahnya tertunduk dalam-dalam. Perlahan-lahan ia bergeser sambil bergumam seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “Aku akan ke gandok.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Dipandanginya saja Prastawa yang melangkah meninggalkannya. Anak muda itu menundukkan kepalanya dan tanpa berpaling ia hilang di balik pintu longkangan.

Sekar Mirah masih berdiri termangu-mangu. Sesuatu terasa bergejolak di dalam hatinya. Tetapi Sekar Mirah tidak mau memikirkannya lebih panjang. Karena itulah maka ia pun segera masuk kembali ke dapur dan menenggelamkan diri dengan kerja bersama perempuan-perempuan yang sibuk membantu ibunya.

Di pendapa, orang-orang tua itu masih saja berbincang tentang berbagai macam persoalan. Namun nampaknya pembicaraan mereka benar-benar pembicaraan orang-orang tua sehingga persoalan yang mereka percakapkan pun adalah persoalan yang banyak menyangkut masalah orang-orang tua.

Namun demikian setiap kali Widura memandang Agung Sedayu yang menjadi semakin gelisah. Keringatnya semakin banyak mengalir membasahi pakaiannya.

Apalagi ketika Widura kemudian berkata kepadanya, “Agung Sedayu. Nampaknya kau ikut sibuk pula selama hari-hari perkawinan saudara seperguruanmu.”

Agung Sedayu mencoba tersenyum. Tetapi terasa suaranya tersangkut di kerongkongan.

“Saudaramu di Jati Anom sudah merasa rindu kepadamu. Apakah kau tidak ingin sekali-kali menengok Jati Anom? Jalan-jalan yang di sebelah-menyebelah ditumbuhi pohon turi itu kini sedang kembang. Setiap hari banyak sekali anak-anak yang mencari bunganya yang lebat.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“He, Agung Sedayu. Bukankah kau sekali-sekali ingin juga melihat kampung halamanmu itu?”

Agung Sedayu mengangguk. Ketika sekilas ia memandang wajah gurunya, dilihatnya gurunya itu tersenyum.

“Jika kau ingin pergi juga barang satu dua hari ke Jati Anom atau ke Banyu Asri, marilah, nanti kita pergi bersama-sama,” sambung Widura.

Nampak keragu-raguan yang sangat membayang di wajah Agung Sedayu. Namun sebelum ia menjawab, Ki Demang sudah mendahuluinya, “Tetapi keramaian hari perkawinan Swandaru belum selesai. Kita masih akan merayakannya malam nanti.”

Ki Widura tertawa. Katanya, “Bukankah Agung Sedayu sudah cukup mengikuti keramaian di Tanah Perdikan Menoreh dan di Kademangan Sangkal Putung? Meskipun demikian terserah kepada Agung Sedayu sendiri. Aku hanya menyampaikan pesan kawan-kawan bermain, saudara-saudaranya dan keluargaku sendiri di Banyu Asri.”

Ki Demang memandang Agung Sedayu sejenak. Nampak kegelisahan yang sangat sedang mencengkam perasaan Agung Sedayu. Berbagai macam persoalan telah menggelepar di dalam dadanya.

“Tentu kau tidak akan tergesar-gesa,” berkata Ki Demang.

Agung Sedayu tidak segera dapat menjawab. Setiap kali ia memandang wajah pamannya dan berpindah ke wajah Ki Demang, hatinya serasa terguncang.

Dalam kegelisahan itu, seolah-olah Agung Sedayu ingin melarikan dirinya. Itulah sebabnya maka kemudian dipandanginya wajah gurunya, wajah Ki Sumangkar, dan Ki Waskita.

Namun dalam pada itu, yang terdengar adalah suara Swandaru, “Paman, agaknya Agung Sedayu masih tetap ingin tinggal beberapa lama lagi di Sangkal Putung.”

Ki Widura mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil bertanya kepada Agung Sedayu, “Apakah demikian Agung Sedayu?”

Ternyata Agung Sedayu menjadi semakin bingung. Tetapi sekali lagi Swandaru berkata, “Kau tetap di sini, Kakang. Aku memerlukanmu.”

Jawaban itu benar-benar telah menggetarkan hati Ki Widura. Hanya karena umurnya yang sudah cukup masak seperti juga sikapnya, maka di wajahnya sama sekali tidak nampak perubahan kesan perasaannya.

Rasa-rasanya Agung Sedayu seperti duduk di atas bara. Sekali lagi ia memandang wajah gurunya, seolah-olah minta agar gurunya memberikan jawaban yang dapat sekedar memberinya kesempatan untuk bernafas.

“Ki Widura,” berkata Kiai Gringsing kemudian yang agaknya mengerti perasaan muridnya, “sebenarnyalah bahwa keluarga di Jati Anom tentu sudah rindu kepada Agung Sedayu. Namun apakah Ki Widura sendiri tidak akan tinggal satu atau dua malam di Kademangan ini?”

“O,” Widura tertawa, “tentu tidak, Kiai. Aku harus segera kembali.”

“Sebenarnya Agung Sedayu juga sudah sering berkata kepadaku, bahwa ia sekali-sekali ingin menengok kampung halamannya. Tetapi rupa-rupanya ia selalu disibukkan oleh persoalan-persoalan yang setiap saat timbul di kademangan ini. Apalagi kini. Karena itu, apakah Ki Widura berkeberatan jika Agung Sedayu menunggu sampai keramaian ini selesai?”

Widura mengangguk-angguk. Tetapi sekali lagi ia mengembalikan persoalannya kepada Agung Sedayu, “Terserahlah kepadamu, Agung Sedayu.”

Namun ketegangan di hati Widura terasa semakin memuncak ketika Swandaru menjawab, “Paman. Sebaiknya Paman tidak usah memaksa atau menyudutkan Kakang Agung Sedayu ke dalam kesulitan. Seandainya Kakang Agung Sedayu ingin pergi sekalipun, aku akan berkeberatan, karena aku justru saat ini sangat memerlukannya.”

“Apakah yang dapat dilakukan Agung Sedayu di sini?” bertanya Widura. Nada suaranya sama sekali tidak berubah dan senyumnya masih juga menghiasi bibirnya.

“Banyak sekali yang dapat dilakukannya. Agaknya jika Kakang Agung Sedayu tidak ada di Kademangan Sangkal Putung saat keramaian ini, banyak pekerjaan yang terbengkelai.”

“Apakah begitu?” bertanya Widura.

“Ya, Paman. Kakang Agung Sedayu ternyata mampu membagi kerja di antara anak-anak muda Sangkal Putung.”

Ki Widura mengangguk-angguk. Sambil memandang Agung Sedayu ia bertanya, “Apakah benar begitu, Agung Sedayu? Jika benar, maka aku ternyata beruntung sekali. Jika kelak aku mempunyai keperluan apa pun juga, aku sudah mempunyai seorang tenaga yang akan mampu mengendalikan perelatan itu.”

“Ah,” desis Agung Sedayu.

“Maksudku, Kakang Agung Sedayu mempunyai kesigapan berpikir,” potong Swandaru, “bukan berarti Kakang Agung Sedayu harus melaksanakannya sendiri.”

“Tetapi agaknya Agung Sedayu juga mampu melakukannya,” sahut Widura.

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun Ki Demang-lah yang kemudian menjawab, “Bagi Swandaru, Agung Sedayu adalah orang yang paling akrab karena ia adalah seperguruan.”

Widura mengangguk-angguk pula. Katanya, “Aku mengerti. Tetapi bagiku semuanya tergantung sekali kepada Agung Sedayu. Meskipun Anakmas Swandaru memerlukannya, tetapi Agung Sedayu ingin kembali ke Jati Anom, mungkin sehari dua hari, atau bahkan seterusnya pun tentu tidak akan dapat menahannya.”

Wajah Swandaru tiba-tiba saja menjadi merah. Ia merasa tersinggung oleh jawaban Widura. Tetapi ia pun mengakui bahwa yang dikatakan oleh Widura itu adalah benar.

Kiai Gringsing-lah yang kemudian dengan tergesa-gesa menjawab, “Agaknya memang demikian. Semuanya terserah kepada Agung Sedayu. Tetapi aku dan orang-orang tua yang selalu berhubungan dengan Agung Sedayu bukan saja lahiriah, tetapi juga batin, tentu saja dapat ikut memberikan pendapat barang sedikit kepadanya.”

“Tentu, Kiai,” jawab Widura, “semua pendapat dan barang kali permintaan akan menjadi bahan pertimbangan Agung Sedayu. Tetapi tidak seorang pun yang dapat menahannya jika ia memang menghendaki. Kecuali jika Kiai Gringsing ingin mempergunakan wewenang Kiai sebagai seorang guru yang harus dipatuhi oleh muridnya. Jika demikian maka Kiai memang dapat memaksakan kehendak Kiai kepada anak muridnya.”

“Ah,” desah Kiai Gringsing, “tentu bukan maksudku. Sebenarnyalah bagi aku semuanya kembalikan saja kepada Agung Sedayu. Sebenarnya aku juga menganjurkannya untuk barang sehari dua hari menengok kampung halaman meskipun tidak terlalu sering.”

“Nah, itulah Kiai.”

“Tetapi jika kunjungan itu ditunda barang sehari dua hari dari kini, apakah ada keberatannya?”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahkan pembicaraan itu sudah merambat semakin jauh. Ia tidak sekedar datang mencari kesempatan untuk berbicara dengan Agung Sedayu sendiri. Tetapi ia telah terdorong dalam suatu pembicaraan yang terbuka tentang Agung Sedayu, seolah-olah Agung Sedayu merupakan seseorang yang sedang dalam kedudukan yang harus ditentukan oleh orang lain.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah Agung Sedayu menjadi bingung. Ia kini merasa, betapa kecilnya dirinya di antara orang-orang yang sedang berbicara tentang dirinya. Mereka adalah orang-orang yang dapat menentukan sikap setidak-tidaknya tentang diri mereka sendiri.

“Tetapi aku?” pertanyaan itu melonjak di hati Agung Sedayu.

Dalam keadaan seperti yang sedang mencengkamnya Agung Sedayu merasa, bahwa sifat-sifatnya tidak menentu ternyata telah membuatnya bagaikan kapuk yang pecah dari kulitnya ditiup angin yang kencang.

Jantungnya terasa bagaikan disengat ketika ia mendengar pamannya berkata, “Semuanya tergantung kepada keputusanmu, Agung Sedayu, tidak kepada orang lain. Gurumu, satu-satunya orang yang berhak menentukan sesuatu tentang dirimu, karena kau adalah muridnya, sudah berkata kepadaku, bahwa segala sesuatunya tergantung kepadamu.”

Terasa beban di hatinya menjadi semakin berat, sehingga seolah-olah Agung Sedayu tidak kuat lagi membawanya. Keringat dingin bagaikan terperas di punggungnya.

“Katakanlah.”

Agung Sedayu beringsut setapak. Baru kemudian dengan suara yang sendat ia berkata, “Maaf, Paman. Aku memang akan kembali ke Jati Anom. Tetapi mungkin aku terpaksa menunggu sampai keramaian di kademangan ini selesai.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Demikian juga Ki Demang dan beberapa orang lain. Namun Ki Sumangkar dan Ki Waskita, bahkan Kiai Gringsing sendiri harus melihat, bahwa sebenarnyalah Agung Sedayu masih juga dicengkam oleh sifat-sifatnya semasa kanak-kanak, seperti juga Swandaru dalam ujudnya yang lain.

Ternyata bahwa Agung Sedayu merasa sangat sulit untuk menentukan sikap. Ia merasa sangat berat menjatuhkan pilihan karena pertimbangan yang berbelit-belit. Ia tidak dapat dengan tegas mengatakan “ya” atau sambil menggeleng menjawab “maaf, Paman. Aku tidak dapat.”

Tetapi ternyata jawaban Agung Sedayu penuh keragu-raguan yang tidak menentu.

Widura sendiri juga menarik nafas. Ia menyadari kesulitan perasaan yang dialami Agung Sedayu. Namun seperti orang-orang lain, ia melihat kelemahan yang ada di dalam pribadi kemanakannya itu.

Ternyata Widura adalah seorang yang berhati lapang. Ia mencoba untuk memahami keadaan, sehingga karena itu, maka sambil tersenyum ia berkata, “Kau sudah mengambil keputusan, Agung Sedayu. Terserahlah kepadamu. Sudah tentu aku tidak akan dapat memaksamu, seperti orang-orang lain tidak akan dapat memaksamu pula seandainya akan mengambil keputusan lain, karena kau adalah orang yang paling menentukan bagi dirimu sendiri.”

Nampak wajah Agung Sedayu menegang sejenak. Namun kemudian wajah itu pun segera menunduk dalam-dalam.

Sekilas terbayang wajah Rudita yang jernih seperti air di sumbernya yang bening. Tetapi ia sudah mengambil keputusan yang bulat. Tidak seorang pun yang dapat menggoyahkannya lagi

Dalam pada itu, orang-orang tua yang ada di pendapa menilai betapa lapang hati Widura. Ia sama sekali tidak menunjukkan kekecewaannya atas keputusan Agung Sedayu. Bahkan ia masih saja tersenyum dan menanggapinya dengan sikap yang tidak berubah.

Sejenak orang-orang tua di pendapa itu masih berbincang, tetapi bagi Agnng Sedayu, rasa-rasanya ia telah duduk berhari-hari sehingga tubuhnya menjadi sangat penat, meskipun ia sadar, bahwa hatinyalah yang sebenarnya merasa sangat letih.

Ternyata bahwa Widura tidak terlalu lama berada di Sangkal Putung. Beberapa saat kemudian ia pun minta diri. Ia masih sempat berkata kepada Agung Sedayu, “Kami menunggu kedatanganmu, Sedayu.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Ia mencoba untuk menjawab, tetapi rasa-rasanya suaranya tersumbat di kerongkongan.

Namun demikian ketika Widura turun ke halaman, diikuti oleh beberapa orang, Agung Sedayu sempat mendekati pamannya dan berkata perlahan-lahan, “Maafkan aku, Paman.”

Widura melangkah lebih cepat menuju ke kudanya untuk mengambil jarak dari orang-orang yang mengikutinya meskipun ia berusaha untuk tidak menimbulkan kesan yang kurang pada tempatnya sambil berkata, “Tetapi kakakmu benar-benar memerlukan kau.”

Agung Sedayu mengangguk. Ketika pamannya berhenti, ia pun berhenti pula.

“Pikirkan, Agung Sedayu. Kau adalah seorang anak muda yang meningkat dewasa. Sebentar lagi kau akan menjadi lanjaran sebuah keluarga baru. Apakah yang dapat kau berikan kepada keluargamu jika kau masih tetap seorang anak muda yang hanya dapat bertualang meskipun dengan tujuan yang baik?”

Agung Sedayu tidak menjawab, sedangkan pamannya pun tidak melanjutkannya, karena beberapa orang telah menyusulnya.

“Ah,” desis Widura, “aku memberikan sedikit pesan kepada Agung Sedayu agar ia segera menengok kami sekeluarga.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku akan memperingatkannya agar ia melakukannya segera setelah semuanya selesai di sini.”

Widura mengangguk-angguk. Hampir saja ia berdesis, kenapa semuanya masih harus tergantung keadaan di Sangkal Putung. Tetapi niat itu pun diurungkannya. Bahkan sambil tersenyum ia pun kemudian sekali lagi minta diri.

Sejenak kemudian Widura telah berada di perjalanan kembali ke Jati Anom. Wajahnya nampak tegang oleh angan-angan yang bergelut di dalam hati. Bahkan ia pun menjadi sangat cemas seperti Untara, bahwa Agung Sedayu akan menjumpai kesulitan dalam perjalanan hidupnya. Bukan saja karena Agung Sedayu masih belum mempunyai tempat untuk hinggap, tetapi juga karena Widura menyadari bahwa Sekar Mirah adalah seorang gadis yang tinggi hati dan digeluti oleh angan-angan yang membubung tinggi, setinggi awan yang berserakan di langit.

“Tetapi tidak sebaiknya Untara bertindak dengan kemarahan yang tidak terkendali menghadapi adiknya yang mempunyai sifat dan cita-cita yang lain dari dirinya itu,” berkata Widura di dalam hati.

Dengan para pengawalnya Widura tidak banyak berbicara. Hanya sepatah-sepatah saja apabila Widura menjumpai sesuatu yang sangat menarik perhatiannya.

Ketika Widura kemudian sampai di Jati Anom, maka dengan hati-hati sekali ia menyampaikan segala sesuatu mengenai perjalanannya ke Sangkal Putung.

Nampak kekecewaan yang sangat membayang di wajah Untara. Namun ternyata bahwa Widura masih berhasil meredakan hati senapati muda itu dan berkata, “Kita menunggu barang satu dua hari. Sebagai umumnya anak muda, ia tentu masih terikat kepada keramaian yang diadakan di Sangkal Putung. Bukan semata-mata karena Agung Sedayu merasa dirinya terikat oleh Sekar Mirah atau Swandaru. Tetapi keramaian dan segala macam rangkaiannya itulah yang agaknya telah menahannya barang satu dua hari.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia merasa bahwa lebih baik Agung Sedayu tertahan, karena keinginannya melihat keramaian di Sangkal Putung daripada karena ia harus melakukan banyak pekerjaan selama keramaian itu berlangsung.

“Aku akan menunggu barang satu dua hari, Paman,” berkata Untara, “namun setelah satu dua hari itu lewat, kita tidak akan dapat terus-menerus menunggu saja. Kita tidak dapat menyerahkan segala sesuatunya kepada Agung Sedayu sendiri meskipun ia sudah dewasa. Pada suatu saat kita harus meyakinkannya, bahwa dengan menghambakan diri di Kademangan Sangkal Putung ia tidak akan mendapatkah apa pun juga di masa depannya.”

Widura mengangguk-angguk. Tetapi ia benar-benar menjadi cemas, bahwa pada suatu saat kedua kakak beradik itu akan saling mempertahankan sikap dan pendirian masing-masing sehingga akan timbul keretakan pada keduanya. Pada kedua anak laki-laki Ki Sadewa.

“Mudah-mudahan tidak terjadi,” desis Ki Widura. “Jika terjadi demikian, maka nama Ki Sadewa akan pudar pada keturunannya yang pertama. Bukan karena kedua anak laki-lakinya tidak memiliki ilmu yang memadai seperti ayahnya, tetapi justru karena kedua anak laki-lakinya telah saling bertengkar sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk menjunjung nama baik ayahnya.”

Dalam pada itu, sepeninggal Widura, Agung Sedayu benar-benar menjadi bingung. Tetapi ia berusaha untuk menutupi segala macam kerisauannya agar tidak menimbulkan kesan yang semakin meragukan tentang dirinya.

Namun demikian, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita tidak dapat dikelabuinya, sehingga orang-orang tua itu seolah-olah ikut serta dalam kegelisahan hati anak muda itu.

Dalam kegelisahan yang mencengkam, di luar sadarnya, Agung Sedayu telah melangkahkan kakinya seorang diri menyusuri jalan kademangan. Tidak seorang pun yang mengetahui, bahwa ia telah meninggalkan halaman karena hampir setiap orang di kademangan itu pun kemudian mempunyai kesibukannya masing-masing, sedang orang-orang tua pun telah dipersilahkan beristirahat di gandok.

Setiap kali seorang anak muda menegurnya, Agung Sedayu terkejut dan sambil tergagap ia menjawab apa saja yang terlontar dari mulutnya.

“Aku hanya ingin berjalan-jalan,” jawabnya ketika seorang pengawal bertanya kepadanya.

Tetapi di saat lain, ketika seorang laki-laki bertanya, kemana ia akan pergi, maka jawabnya, “Aku akan pergi ke sawah, Paman.”

“He? Untuk apa?”

Barulah Agung Sedayu menyadari bahwa jawabnya memang agak mengherankan. Namun sambil tersenyum Agung Sedayu berusaha memperbaiki kesalahannya, “Maksudku aku akan berjalan-jalan ke bulak sebelah, Paman. Aku merasa sangat letih oleh keramaian yang masih belum selesai.”

Laki-laki itu mengangguk-angguk. Meskipun ada sedikit keragu-raguan atas jawaban itu, namun ia tidak bertanya lebih banyak lagi.

Sementara ketika orang lain lagi bertanya, Agung Sedayu menjawab, “Aku akan menengok para pengawal dan mereka yang terluka di banjar kademangan.”

Yang bertanya pun menjadi heran. Apalagi langkah Agung Sedayu nampaknya memang tidak menentu. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Namun sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu pun kemudian sampai ke bulak di sebelah padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung. Ia melangkah perlahan-lahan sambil memandangi tanah yang basah dengan tanaman yang hijau segar. Ketika angin bertiup perlahan-lahan, maka seolah-olah seluruh bulak itu bergerak-gerak bagaikan ombak lautan yang lembut mengalir dari ujung sampai ke ujung.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Terasa udara yang sejuk mengusap tubuhnya. Namun udara yang sejuk itu tidak mampu mempengaruhi hatinya yang gelisah. Ia masih saja merasa dikejar oleh persoalan yang tidak berkeputusan.

“Aku tidak mau menjadi prajurit Pajang,” katanya di dalam hati. Namun sementara itu ia pun tidak tahu apa yang harus dikerjakannya, karena ia harus menyadari sepenuhnya, jika saat perkawinannya tiba, ia harus bukan lagi anak muda yang hanya bertualang tanpa ujung dan pangkal.

Kegelisahan yang sangat telah mencengkam jantungnya. Seolah-olah ia dihadapkan pada suatu jalan simpang yang tidak dikenalnya, sehingga amat sulitlah baginya untuk memilih arah.

Agung Sedayu masih berjalan terus. Sekali-sekali ia terkejut jika ada satu dua orang yang menegurnya. Seperti yang sudah dilakukannya, maka seolah-olah ia menjawab apa saja yang terlontar dari mulutnya.

Agung Sedayu terhenti ketika seseorang memanggilnya dari sebelah pematang. Ketika ia berpaling dilihatnya dua orang duduk di atas sebuah batu padas.

“Ke mana Agung Sedayu?” salah seorang dari kedua orang itu bertanya.

Seperti yang sudah dilakukannya maka ia menjawab sambil mengangguk kecil, “Ke banjar.”

“Ke banjar yang mana? Ke banjar padukuhan induk atau ke banjar padukuhan sebelah.”

Seperti tanpa berpikir lagi Agung Sedayu menjawab, “Ke banjar padukuhan sebelah. Aku ingin melihat para tawanan yang sedang disiapkan untuk diserahkan kepada prajurit Pajang.”

Salah seorang dari kedua orang itu bertanya pula, “Sendiri?”

“Ya sendiri,” Agung Sedayu berjalan terus. Ia tidak begitu tertarik kepada setiap orang yang bertanya kepadanya.

Namun satu dua langkah kemudian ia berhenti. Ada sesuatu yang seakan-akan telah mengejutkannya sehingga tiba-tiba saja ia berhenti dan sekali lagi berpaling kepada kedua orang itu.

Jantung Agung Sedayu bagaikan berhenti berdegup. Sejenak ia memandang kedua orang itu berganti-ganti. Seorang dari kedua orang itu masih muda, sedang yang lain sudah setua gurunya.

“Tuan,” desisnya.

Agung Sedayu pun dengan tergesa-gesa melangkah kembali. Dengan serta-merta ia menyambut tangan anak muda yang diulurkannya itu kepadanya. Kemudian tangan orang tua yang duduk di sebelahnya itu.

“Tuan. Jadi Tuan berada di sini?”

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Duduklah. Aku tidak mengira bahwa aku dapat bertemu denganmu sekarang.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian duduk di hadapan anak muda itu.

“Bagaimana keadaanmu anak muda?” bertanya orang tua itu.

“Baik, baik Kiai. Aku selamat. Bagaimana dengan Kiai?”

“Sebagaimana kau lihat. Kami berdua dalam keadaan baik. Dan bagaimana dengan gurumu dan saudaramu seperguruan?”

“Semuanya baik, Kiai. Swandaru baru dalam suasana keramaian hari perkawinannya.”

“Aku melihat,” jawab anak muda itu, “semalam aku melihat keramaian di pendapa kademangan.”

“O.”

“Sangat menarik. Perelatan perkawinan Swandaru diselenggarakan dengan segala macam keramaian dan kegembiraan meskipun harus jatuh beberapa korban.”

“Ya,” jawab Agung Sedayu, “kedatangan Swandaru ke kademangannya telah disambut dengan ujung senjata.”

“Lalu bagaimana dengan kau?” bertanya anak muda itu.

Agung Sedayu menarik nafas. Namun kemudian ia pun menghindar sambil berkata, “Marilah. Marilah Raden aku persilahkan pergi ke kademangan bersama Kiai. Ki Demang, Guru, dan orang-orang tua tentu akan senang sekali menerima kedatangan Raden dan Kiai berdua.”

Tetapi anak muda itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Maaf, Agung Sedayu. Bukannya aku menolak undangan ini, aku masih dalam perjalanan pengembaraanku. Aku masih merasa bahwa belum saatnya bagiku untuk menerima undangan seperti ini. Tetapi pada saatnya nanti aku tentu akan berkunjung ke Sangkal Putung.”

“Tetapi Raden hanya singgah. Bukan menghentikan pengembaraan yang memang sedang Raden lakukan sebagai suatu cara yang barangkali akan membajakan kemampuan Raden lahir dan batin.”

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Terima kasih. Tetapi belum sekarang. Aku harap kau dapat mengerti.” Ia berhenti sejenak lalu, “Untuk menghindarkan salah paham, maka sebaiknya kau tidak usah mengatakan kepada Swandaru dan Ki Demang bahwa aku berada di sini sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak akan singgah.”

“Jadi?”

“Kau tidak usah mengatakan apa-apa tentang aku.”

“Kepada Guru?”

“Jika kau anggap perlu, katakanlah kepada gurumu. Tetapi hanya kepada gurumu. Dan kau pun harus berpesan kepadanya, bahwa sebaiknya ia tidak mengatakan kepada siapa pun juga.”

“Tetapi di manakah Raden bermalam di daerah ini?”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Kau aneh, Agung Sedayu, langit begitu luas. Kenapa aku bingung menempatkan diriku yang kecil ini? Aku dan Paman dapat tinggal di mana saja. Sudah terbiasa bagi kami untuk tidur berselimutkan mega beratapkan langit.”

“Ah,” Agung Sedayu berdesah.

Tetapi anak muda itu masih tertawa. Katanya, “Aku berkata sebenarnya. Dalam pengembaraan ini, aku memang tidak boleh berada di bawah atap kandang sekalipun. Dan aku sudah berhasil melakukan untuk waktu yang lama, sehingga yang tersisa harus aku selesaikan. Mudah-mudahan pengembaraan ini merupakan tempaan bagiku lahir dan batin, sehingga akan merupakan bekal yang berharga buat masa depanku.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun sekali lagi ia terlempar pada keburaman masa depannya sendiri meskipun ia berusaha untuk menyembunyikannya.

Untuk beberapa saat Agung Sedayu diam tertunduk karena kilasan angan-angan tentang masa depannya. Ia menengadahkan kepalanya ketika ia mendengar anak muda yang duduk di pematang itu berkata, “Agung Sedayu. Sekarang Sangkal Putung sedang meramaikan hari perkawinan Swandaru. Bukankah begitu?”

“Ya,” jawab Agung Sedayu kosong.

“Bukankah itu berarti bahwa sebentar lagi Sangkal Putung akan mengadakan keramaian lagi dalam hari-hari perkawinanmu?”

“Ah,” desah Agung Sedayu, “aku belum memikirkannya, tetapi secepat-cepatnya tentu setelah hari perkawinan ini lewat setahun.”

“Kenapa lewat setahun?” bertanya anak muda itu.

“Pantang bagi seseorang yang mengadakan perelatan perkawinan anaknya setahun sampai dua kali.”

Anak muda itu tertawa. Jawabnya, “Bukan pantang mengadakan perelatan perkawinan setahun dua kali. Tetapi jika demikian akan berarti kesulitan untuk mengumpulkan biayanya. Kecuali orang yang memang kaya sekali. Itu pun merupakan pekerjaan yang berat jika perelatan itu diselenggarakan seperti yang diselenggarakan di Sangkal Putung sekarang ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Katakanlah, dengan demikian setahun lagi kau akan mengalami masa seperti yang ditempuh Swandaru sekarang.”

Tetapi Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Masih banyak sekali yang harus aku pertimbangkan. Aku adalah seorang petualang yang belum mempunyai pegangan bagi masa depanku. Jika aku kawin, itu berarti aku akan merendahkan diriku karena aku akan menjadi beban bagi istriku atau mertuaku.”

Anak muda itu tertawa, sedang yang tua menyahut, “Ternyata kau bijaksana. Itu adalah pikiran seorang laki-laki. Dan kau harus berusaha agar kau tidak jatuh ke dalam keadaan seperti itu.”

“Itulah yang membuat aku kadang-kadang kebingungan, Kiai,” jawab Agung Sedayu.

“Kakakmu seorang Senapati Agung.”

Agung Sedayu menarik nafas. Namun jawabnya kemudian, “Aku tidak ingin menjadi seorang prajurit di Pajang.”

“Kenapa?”

Agung Sedayu termenung sejenak. Ia sendiri tidak begitu mengerti kenapa ia tdak ingin menjadi seorang prajurit. Apalagi di Pajang. Agaknya setiap kali gurunya berbicara tentang Pajang dan kekurangannya, hatinya sudah terpengaruh meskipun ia tidak mutlak menolak kehadiran Pajang untuk selanjutnya.

Namun ternyata ada juga terselip keragu-raguannya bahwa jika kelak ia berhasil mendapatkan tempat yang baik di dalam lingkungan keprajuritan, maka setiap orang akan mengatakan, bahwa ia berhasil bukan karena kemampuan dirinya sendiri, tetapi semata-mata karena pertolongan dan pengaruh kekuasaan Untara yang besar dalam susunan keprajuritan Pajang.

Tetapi Agung Sedayu terkejut ketika justru anak muda yang duduk di hadapannya itulah yang menjelaskannya, “Agung Sedayu. Kau memang bukan seorang prajurit. Kau tidak akan dapat menjadi prajurit yang baik. Keragu-raguanmu mengambil keputusan, pertimbangan-pertimbangan yang berkepanjangan, dan sikapmu yang terlalu rendah hati, bukanlah sifat yang baik bagi seorang prajurit, meskipun bukan berarti bahwa setiap prajurit harus meninggalkan perhitungan. Kau tahu, contoh seorang prajurit yang baik adalah Untara. Aku juga seorang prajurit, bahkan sekarang aku mempunyai kedudukan yang khusus. Karena itu aku dapat menilai keadaanmu.”

Agung Sedayu memandang anak muda itu sesaat. Sebuah senyum yang mengandung seribu macam arti tersirat dibibir anak muda itu, yang berkata seterusnya, “Agung Sedayu. Kau tidak dapat memaksa diri merubah sifat-sifatmu. Karena itu, kau memang tidak tepat untuk menjadi seorang prajurit di mana pun juga.”

Hampir di luar sadarnya Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Tetapi itu bukan berarti bahwa kau tidak dapat berbuat apa-apa bagi kebesaran Pajang. Aku juga sedang bekerja keras untuk kebesaran Pajang yang telah memberikan kedudukan yang khusus bagiku.” Anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “Memang sebaiknya kau mempertimbangkannya. Tetapi jika ada sedikit niatmu untuk berbuat sesuatu, maka dengan senang hati aku akan menerimamu di Mataram dalam satu lingkungan dengan aku. Kita akan bersama-sama mencari bentuk yang paling baik buat hari depan Pajang, agar kemuraman yang ada sekarang tidak akan semakin berlarut-larut. Sultan Pajang yang dikitari oleh orang-orang yang terlampau mementingkan diri sendiri agaknya perlu mendapat perhatian.”

“Ah,” terdengar orang tua yang duduk di sebelah anak muda itu berdesah, “Kau terlalu dipengaruhi oleh perasaanmu. Agung Sedayu masih mempunyai kesempatan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan dengan gurunya.”

“O, begitulah Paman,” sahut anak muda itu. Lalu katanya kepada Agung Sedayu, “Pertimbangkan, Agung Sedayu.”

Agung Sedayu tidak menjawab.

“Baiklah. Kau sudah terlalu lama duduk di sini. Jika kau akan pergi ke banjar padukuhan sebelah melihat tawanan yang akan diserahkan kepada prajurit Pajang itu, silahkan.”

Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak ingin pergi ke padukuhan sebelah.”

“Jadi?”

Agung Sedayu menjadi bingung.

“Jika demikian, mungkin orang-orang di kademangan sedang mencarimu. Aku juga akan meneruskan perjalanan. Jika aku sudah sampai ke ujung, maka aku harus kembali lagi ke punggung Pegunungan Sewu. Ada sesuatu yang mengikat aku di sana, selain tirakatku yang panjang ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah anak muda itu sesaat.

Tetapi ketika hampir saja bibirnya bergerak menanyakan sesuatu, anak muda itu sudah mendahuluinya, “Jangan bertanya tentang diriku. Mungkin kau sudah mendengar bahwa aku singgah di rumah Kiai Ageng Giring.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu.

“Sudahlah, Agung Sedayu,” berkata anak muda itu. “Jangan kau katakan kepada siapa pun juga kecuali gurumu, bahwa kau telah bertemu dengan aku di sini. Kini aku sedang melengkapi pengembaraanku sekaligus mencari kemungkinan untuk mengetahui serba sedikit tentang pusaka-pusaka yang hilang itu.”

“Guru mempunyai beberapa keterangan tentang pusaka yang hilang itu.”

“Pada suatu saat aku akan menemuinya. Tetapi dalam beberapa hal aku sudah mendengar apa yarg kalian ketahui. Aku juga sudah mendengar rencana beberapa kelompok gerombolan untuk mengadakan pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk meskipun ada juga sepercik keheranan di hatinya.

“Ki Lurah Branjangan setiap kali pergi menghadap,” katanya di dalam hati, “tentu ia sudah menceritakan beberapa hal tentang pusaka-pusaka yang hilang itu.”

Dalam pada itu, maka anak muda itu pun segera minta diri diiringi oleh orang yang sudah menginjak masa tuanya. Mereka melangkah perlahan-lahan melalui bulak di antara padukuhan-padukuhan di Kademangan Sangkal Putung.

Tidak seorang pun yang mengetahui bahkan menduga, bahwa yang berjalan berdua sebagai dua orang perantau itu adalah orang-orang terpenting di Mataram. Seorang anak muda yang telah mendapat anugerah gelar Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram, beserta penasehatnya terpercaya, Ki Juru Martani.

Agung Sedayu memandang kedua orang itu dengan hati yang berdebar-debar. Anak muda itu mempunyai kemungkinan yang besar di masa mendatang. Ia adalah seseorang yang telah mendapat anugrah tertinggi dari Sultan Pajang di dalam tingkat dan hubungan keprajuritan, karena ia adalah anak angkat yang disayangi seperti anak sendiri.

“Aku,” sekali lagi Agung Sedayu terlempar kepada diri sendiri, “bagaimana dengan aku dan hari depanku?”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya, seolah-olah ia sedang menghindarkan diri dari tatapan mata batinnya sendiri, bahwa ia adalah seorang anak muda yang hanya dapat bertualang tanpa pegangan.

“Aku tidak pantas menjadi seorang prajurit. Juga tidak menjadi seorang bebahu kademangan. Bukan pula petani atau pedagang,” Agung Sedayu menggeretakkan giginya. “Lalu apa? Apa?”

Setiap kali Agung Sedayu hanya dapat mengusap dadanya. Tetapi persoalan itu bagi dirinya semakin lama terasa semakin menekan jantung, karena sudah barang tentu bahwa hari-hari perkawinannya pun akan menjadi semakin dekat.

Ketika Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani sudah tidak kelihatan lagi di balik tikungan jalan, maka Agung Sedayu pun melangkah kembali ke padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung. Rasa-rasanya kakinya menjadi bertambah berat. Setiap kali terngiang di telinganya kata-kata pamannya, bahwa kakaknya dan keluarga di Jati Anom menunggunya. Namun kemudian wajahnya menjadi merah ketika teringat olehnya bagaimana Swandaru berkata dengan lantang “Aku memerlukannya.”

“Apakah artinya diriku bagi Swandaru dan keluarga di Kademangan Sangkal Putung?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Dan jawabnya adalah perasaan kecil dan rendah diri.

“Persetan,” Agung Sedayu mencoba untuk menekan perasaannya, “aku dapat berbuat lebih banyak dari sekarang. Bukan hanya membawa nampan berisi makanan dan menghidangkannya kepada para tamu. Tetapi aku sudah bertempur melawan para perampok yang mencegat perjalanan sepasang pengantin dari Tanah Perdikan Menoreh itu.”

Tiba-tiba saja Agung Sedayu menengadahkan dadanya. Langkahnya menjadi semakin cepat. Seolah-olah ia ingin memasuki adukuhan induk Kademangan Sangkal Putung dengan dada tengadah.

Namun kepalanya tertunduk kembali ketika ia menyadari, bahwa ia tidak dapat ingkar dari kenyataan. Adalah memang aneh sekali bahwa selama itu ia berada di Kademangan Sangkal Putung. Di tempat Ki Demang yang bukan sanak bukan kadangnya. Jika ada sehelai pengikat, maka itu adalah karena hampir setiap orang sudah mengetahui, bahwa ada hubungan yang lebih akrab dari hubungan sesama antara dirinya dengan Sekar Mirah. Namun hal itu pun belum dikuatkan dengan ikatan yang resmi. Belum ada salah seorang keluarganya yang datang dan dengan resmi minta agar Sekar Mirah kelak menjadi isterinya.

Tiba-tiba saja Agung Sedayu mulai membayangkan gadis yang bernama Sekar Mirah. Gadis cantik dan memiliki gairah hidup yang besar. Tetapi yang bagi Agung Sedayu justru akan dapat menimbulkan kesulitan.

Perasaan yang tidak sejalan antara gadis itu dengan dirinya. Sikapnya yang tinggi hati agak tidak disukainya, karena bertentangan dengan sifat Agung Sedayu yang sebenarnya.

Terkilas pula di angan-angannya perempuan yang kemudian menjadi istri Swandaru. Perempuan dari Tanah Perdikan Menoreh itu adalah perempuan yang juga cantik, luruh dan rendah hati. Perempuan itu tidak selalu dibakar oleh kegairahan yang menyala-nyala dan penilaian yang berlebihan terhadap dirinya sendiri.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Langkahnya justru menjadi semakin perlahah-lahan karena angan-angannya yang semakin membubung ke langit yang biru.

Agung Sedayu terkejut ketika dua orang pengawal menegurnya. Dengan tergagap Agung Sedayu menjawab, “O, aku pergi ke sawah.”

Kedua pengawal itu heran. Salah seorang bertanya, “Sawah yang mana?”

“O, maksudku, aku ke sawah sekedar berjalan-jalan untuk melepaskan lelah.”

Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka bertanya, “Sendirian?”

“Ya, sendirian.”

Keduanya mengerutkan keningnya. Tetapi keduanya tidak bertanya lebih lanjut. Mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Sedangkan Agung Sedayu melangkah terus menuju ke kademangan. Namun setiap kali angan-angannya selalu kembali kepada anak-anak muda yang mempunyai masa depan yang jelas seperti Raden Sutawijaya dan dalam kedudukan yang lebih kecil, Swandaru Geni.

Ketika ia sampai ke halaman kademangan, ia masih melihat orang-orang yang sedang sibuk mempersiapkan keramaian yang akan diselenggarakan menjelang malam. Sedangkan perempuan-perempuan hilir-mudik di halaman belakang dan di longkangan.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya ketika ia melihat Sekar Mirah sedang tertawa berkepanjangan. Di sampingnya duduk Prastawa yang agaknya sedang bercerita dengan jenaka.

“He,” panggil Prastawa, “kemarilah. Barangkali kau ingin juga mendengar cerita jenaka tentang kancil dan siput.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian melangkah mendekati keduanya.

“Duduklah,” Prastawa mempersilahkan, “dengarlah. Aku masih banyak mempunyai cerita yang menarik.”

Agung Sedayu masih ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian duduk dan mendengarkan Prastawa bercerita.

Dalam pada itu di Jati Anom, Untara masih selalu dicengkam oleh kejengkelan memikirkan adiknya yang mempunyai sifat yang baginya sangat aneh. Bahkan Untara condong menganggap Agung Sedayu terlalu malas untuk memikirkan hari depannya.

“Pemalas itu lebih senang bekerja apa saja di rumah Demang Sangkal Putung tanpa memikirkan pertanggungan jawab, daripada bekerja sebagai seorang prajurit atau pekerja-pekerja lain yang menuntut kesungguhan.”

Namun dalam pada itu, ia masih menyabarkan diri. Widura menasehatkan kepadanya, agar ia masih bersedia menunggu. Untuk mendorong Agung Sedayu ke dalam suatu tugas tertentu, diperlukan waktu dan kesabaran.

“Ia bukan anak-anak lagi,” berkata Untara ketika pamannya memberikan beberapa nasehat kepadanya tentang Agung Sedayu.

“Memang ia bukan anak-anak lagi,” jawab Widura, “tetapi itu bukan berarti bahwa kita dapat berbuat menurut selera kita sendiri.”

Untara masih mencoba bersabar tentang adiknya yang menurut pendapatnya mempunyai sifat dan tabiat yang aneh.

“Gurunya juga orang aneh. Tetapi ia sudah tua. Ia tidak lagi mempunyai kepentingan duniawi. Tidak lagi mempunyai kepentingan keluarganya dan sanak kadang,” berkata Untara. Namun kemudian, “Tetapi apakah Kiai Gringsing tidak mempunyai anak atau saudara.”

Widura tidak dapat mengatakan sesuatu tentang orang tua yang dikenalnya dengan baik, tetapi tidak diketahuinya lebih banyak tentang diri orang tua itu sendiri.

Dalam pada itu, Untara masih juga sibuk dengan orang-orang yang ditangkap oleh prajurit-prajurit Pajang setelah mereka gagal menyamun sepasang pengantin dari Tanah Perdikan Menoreh. Untara berusaha untuk mengetahui sebanyak-banyaknya tentang mereka.

Tetapi sebagian dari mereka hanya dapat mengatakan tentang diri mereka sendiri dan gerombolan masing-masing.

Ketika Untara berhadapan dengan Kiai Bajang Garing, Untara yakin bahwa sebenarnyalah orang-orang yang ditangkapnya itu tidak banyak mengetahui kelompok-kelompok lain yang ada di dalam pasukan mereka sendiri.

“Kami sebenarnya lebih banyak bersaing dan bermusuhan,” berkata Kiai Bajang Garing.

“Tetapi kenapa kau bersedia bekerja bersama dengan kelompok-kelompok yang lain?” bertanya Untara.

“Gandu Demung memberikan harapan yang seakan-akan pasti dapat digapai dengan mudah dan menghasilkan harta yang banyak sekali.”

“Apakah hubunganmu dengan Gandu Demung?” bertanya Untara.

Ki Bajang Garing sama sekali tidak bernafsu untuk berbohong lagi. Ia mengatakan apa saja yang diketahuinya tentang Gandu Demung. Dan ia pun menduga bahwa Gandu Demung terbunuh di peperangan.

“Apakah kau mengetahui serba sedikit tentang gerombolan di Gunung Tidar yang dipimpin oleh Empu Pinang Aring itu?”

Tetapi seperti orang-orang lain yang dipanggil seorang demi seorang oleh Untara dan bahkan berulang kali dilakukan dengan cara yang bermacam-macam, ternyata bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui apa pun juga tentang Empu Pinang Aring. Mereka hanya dapat menyebut namanya dalam hubungannya dengan Gandu Demung. Namun selebihnya mereka tidak mengerti apa-apa.

“Yang kami ketahui,” berkata Kiai Bajang Garing, “kelompok yang dipimpin oleh Empu Pinang Aring itu adalah kelompok yang sangat kuat dibandingkan dengan kelompok-kelompok yang sudah ada di sekitar Gunung Tidar sebelum orang yang disebut Empu Pinang Aring itu hadir di daerah kami.”

“Apakah kau pernah bertemu dengan orang yang disebut Empu Pinang Aring?”

Kiai Bajang Garing menggeleng, “Belum. Aku belum mengenalnya.”

Untara mengerutkan keningnya. Sejenak ia merenungi wajah Kiai Bajang Garing. Ia sadar bahwa ia berhadapan orang licik dan tidak dapat dipercaya. Tetapi yang dikatakannya tentang Empu Pinang Aring agaknya benar, bahwa ia sama sekali tidak tahu menahu.

Dari beberapa pihak Untara sudah mendengar keterangan yang hampir sama, bahwa mereka diminta oleh Gandu Demung untuk bersama-sama menyamun iring-iringan pengantin dari Tanah Perdikan Menoreh.

Karena itulah maka Untara tidak berhasil mendapat keterangan apa pun juga tentang Empu Pinang Aring dan gerombolannya yang berada di Gunung Tidar. Tidak seorang pun yang dapat mengatakan bahwa mereka akan mengadakan pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Bahkan keterangan yang didapatkannya adalah jauh lebih tidak berarti daripada keterangan yang didengarnya dari orang-orang yang berhasil ditangkap saat prajurit Pajang menyerang padepokan Tambak Wedi.

“Mereka tidak banyak berarti di sini,” berkata Untara, “biarlah mereka dibawa ke Pajang dan mendapat penyelesaian semestinya. Mungkin mereka akan menerima hukuman yang segera dapat membebaskan mereka. Tetapi mungkin mereka harus berada di dalam hukuman untuk waktu yang lama dan di tempat yang jauh, karena menurut keterangan mereka sendiri, mereka adalah orang-orang yang berbahaya di daerah mereka, di sekitar Gunung Tidar. Bahkan mereka dapat melakukan kejahatan jauh dari tempat mereka tinggal.”

Namun dalam pada itu, prajurit Pajang di Jati Anom tidak kehilangan kewaspadaan. Mereka tetap menganggap bahwa keadaan bukan menjadi semakin baik. Dengan ketajaman pengamatan seorang senapati, Untara mulai menghubungkan orang-orang yang berada di Tambak Wedi dan orang-orang yang dipimpin oleh Empu Pinang Aring.

“Adalah suatu perhitungan yang teliti, bahwa orang yang disebut-sebut bernama Gandu Demung tidak membawa orang-orang Empu Pinang Aring sendiri. Ia lebih senang membawa kekuatan di luar gerombolan yang tentu mempunyai pertimbangan-pertimbangan tersendiri selain sekedar merampok dan menyamun,” berkata Untara kemudian kepada para perwira. Selanjutnya, “Laporan tentang orang-orang yang menyamun dengan dalih perjuangan bagi tegaknya kembali Majapahit bukan isapan jempol yang dapat diabaikan,” senapati muda itu memperingatkan.

Para perwira yang memang pernah mendengar laporan tentang beberapa orang yang menyebut keturunan Majapahit itu memang sangat menarik perhatian.

Namun dalam pada itu, hati Untara masih saja selalu digelisahkan oleh keadaan Agung Sedayu. Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu kehadiran adiknya itu di Jati Anom. Sudah dua tiga kali ia datang ke rumah pamannya untuk menanyakan apakah Agung Sedayu sudah datang.

“Bersabarlah sedikit Untara. Aku sudah mendapat kesanggupan dari Kiai Gringsing bahwa ia akan membantu mendorong Agung Sedayu untuk datang ke Jati Anom.”

“Orang tua itulah yang mengajari Agung Sedayu berbuat aneh. Aku tidak tahu, kenapa Kiai Gringsing tidak lebih senang membuka sebuah padepokan kecil. Aku lebih senang melihat Agung Sedayu bekerja keras di padepokan kecil itu, bertani, membelah kayu atau pekerjaan laki-laki yang lain daripada sibuk di dapur Kademangan Sangkal Putung dalam penghambaannya.”

Widura menarik nafas. Namun katanya kemudian, “Untara, jika ia tidak segera datang, biarlah aku akan menyusulnya sekali lagi. Biarlah aku yang sudah tidak lagi memiliki sesuatu kedudukan. Sebab jika terjadi salah paham, biarlah antara Widura dan barangkali Ki Demang sekeluarga. Tetapi jika terjadi salah paham dengan kau, maka kau adalah seorang senapati besar yang membawahi prajurit dalam tebaran daerah yang luas, sedangkan Sangkal Putung pun mempunyai sepasukan pengawal yang kuat.”

“Maksud Paman, jika Sangkal Putung ingin melawan kekuasaanku di sini?”

“Bukan maksudku. Tetapi seandainya terjadi salah paham.”

“Paman, Sangkal Putung tidak mempunyai kedudukan khusus di daerah selatan. Bagiku Sangkal Putung tidak ada bedanya dengan kademangan-kademangan lain. Memang aku pernah mendapatkan dukungan yang kuat saat Tohpati masih berkeliaran di daerah selatan ini. Tetapi itu adalah bentuk suatu kerja sama yang juga menguntungkan Sangkal Putung. Justru saat itu Pajang melindungi kademangan itu meskipun juga dengan pertimbangan keuntungan Pajang.”

“Aku mengerti Untara. Tetapi bagiku lebih baik akulah yang datang tanpa menyangkut-pautkan kedudukan apa pun.”

Untara mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti keterangan pamanya. Hanya karena pengaruh nalarnya yang kuat sajalah maka Untara dapat menahan perasaannya.

“Aku percayakan persoalan Agung Sedayu kepada Paman. Tetapi aku harap Paman dapat segera menanganinya. Jika kita menunggu dan menunggu, maka aku cemas, bahwa otak Agung Sedayu sudah terlanjur membeku. Jika sekiranya ia benar-benar ingin menjadi petualang, biarlah ia bertualang di sepanjang tlatah Demak dari ujung sampai ke ujung seperti masa muda Sultan Hadiwijaya yang bernama Mas Karebet dan disebut Jaka Tingkir. Tetapi tidak mendekam dalam lingkungan dinding rumah Kademangan Sangkal Putung.”

Widura mengangguk-angguk. Terbayang saat-saat Agung Sedayu untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di kademangan itu. Dengan ketakutan yang amat sangat ia menempuh perjalanan dari Dukuh Pakuwon ke Kademangan Sangkal Putung di malam hari.

Ternyata bahwa kemudian seolah-olah ia telah terikat oleh kademangan itu. Kademangan yang memiliki seorang gadis yang keras hati.

Namun bagi Widura, sikap Untara itu merupakan beban baginya. Meskipun demikian, ia merasa berkewajiban untuk melakukannya karena Agung Sedayu adalah kemenakannya.

Dalam pada itu di Sangkal Putung, Agung Sedayu pun selalu dicengkam oleh kegelisahan. Seolah-olah ia selalu dikejar-kejar oleh Untara yang akan memaksanya memasuki lingkungan keprajuritan Pajang.

Ketika perayaan di malam terakhir selesai, kegelisahan di hati Agung Sedayu itu rasa-rasanya menjadi semakin menghentak-hentak di dadanya. Ia tidak mempunyai alasan lagi untuk menghindarkan diri dari keharusan menghadap kakaknya di Jati Anom.

Tetapi kesibukan di Sangkal Putung itu sudah lampau. Orang-orang mulai melepas segala macam tarub dan hiasan di pendapa kademangan. Bahkan dihari berikutnya semua teratak pun dilepaskannya pula.

Dalam pada itu, orang-orang yang mengantar pengantin dari Tanah Perdikan Menoreh pun mulai bersiap-siap untuk kembali. Untunglah bahwa tidak seorang pun dari mereka yang menjadi korban saat iring-iringan pengantin itu memasuki Sangkal Putung. Ada dua orang yang terluka cukup parah. Tetapi mereka sudah terobati oleh Kiai Gringsing dan meskipun belum sembuh sama sekali, tetapi keduanya sudah dapat berkuda bersama-sama dengan kawan-kawannya kembali ke Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan jika terjadi sesuatu di perjalanan, mereka sudah sanggup memutar pedangnya menghadapi lawan.

Apalagi mereka yang terluka hanya segores-segores di dada dan di lengan. Luka-luka itu sudah sembuh sama sekali, sehingga tidak berbekas lagi.

Yang paling gelisah di antara mereka yang datang dari Tanah Perdikan Menoreh adalah Prastawa. Rasa-rasanya ada sesuatu yang menahannya di Sangkal Putung, sehingga ketika saatnya kembali tiba, maka hatinya serasa menjadi sangat kecewa.

“Sebenarnya aku ingin tinggal lebih lama lagi di sini,” desisnya kepada Sekar Mirah.

“Kenapa?” bertanya Sekar Mirah.

Prastawa menjadi bingung. Dipandanginya wajah Sekar Mirah sejenak. Seolah-olah ia ingin menikmati wajah itu sepuas-puasnya untuk yang terakhir kalinya.

“Kami mengharap bahwa pada suatu saat kau akan datang lagi kemari,” berkata Sekar Mirah sambil tersenyum.

“Kapan?”

Sekar Mirah menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu. Mungkin setelah lewat setahun lagi. Bukankah pada suatu saat akan datang waktunya aku harus mengalami peristiwa seperti Kakang Swandaru?”

Rasa-rasanya isi dada Prastawa terguncang oleh suatu kesadaran bahwa Sekar Mirah pada suatu saat akan kawin dengan Agung Sedayu.

Sejenak Prastawa termangu-mangu. Namun kemudian terdengar giginya terkatup rapat-rapat.

Dengan nada datar ia pun kemudian berkata, “Sekarang, aku minta diri, Sekar Mirah.”

Sekar Mirah tersenyum. Sebagai seorang gadis yang dewasa Sekar Mirah dapat mengerti perasaan apakah sebenarnya yang mulai tumbuh di hati Prastawa. Sebenarnya bagi Sekar Mirah, jika ia sekedar mengikuti perasaannya, ada beberapa hal yang lebih menarik pada anak yang masih sangat muda ini daripada Agung Sedayu.

Tetapi sudah barang tentu bahwa Sekar Mirah pun memiliki pertimbangan nalar yang dapat menahannya untuk sekedar memanjakan perasaannya tanpa menghiraukan tata kehidupan dan unggah-ungguh.

“Hanya sekedar karena aku ingin disebut seorang gadis yang setia,” pertanyaan itu melonjak di hati Sekar Mirah.

Namun ia pun menggeretakkan giginya sambil berkata kepada diri sendiri, “Aku bukan gadis yang tidak mengenal ikatan kesetiaan yang murni. Sejak semula aku mencintai Agung Sedayu. Aku tidak boleh goyah sekedar diguncang oleh persesuaian semu. Aku belum mengenal anak muda ini sejauh-jauhnya.”

Itulah sebabnya, maka Sekar Mirah pun kemudian seolah-olah tidak dibebani perasaan apa pun ketika Prastawa minta diri kepadanya.

“Datanglah lain kali,” Sekar Mirah justru mengundangnya. “Sangkal Putung masih akan mengadakan perelatan perkawinan yang akan lebih meriah.”

Wajah Prastawa menjadi semburat merah. Tetapi kenyataan itu tidak akan dapat dihindarnya. Justru ia sudah tahu sebelumnya bahwa Sekar Mirah akan kawin dengan Agung Sedayu.

Agung Sedayu nampaknya tidak banyak memperhatikan sikap Prastawa yang kadang-kadang memang telah menyinggungnya. Namun Agung Sedayu tidak ingin disebut anak muda yang pendek akalnya, sehingga pergaulan yang tidak menyangkut sentuhan pada hubungannya dengan Sekar Mirah itu telah dipersoalkannya.

Karena itu, Agung Sedayu sama sekali tidak menghiraukan apa saja yang telah dilakukan oleh anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh itu.

Demikianlah, maka ketika semua rencana keramaian telah dilaksanakan, maka para pengantar dari Tanah Perdikan Menoreh itu pun segera minta diri. Mereka akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, dan melaporkan kepada Ki Gede, bahwa semua upacara pengantin telah berlangsung seperti yang direncanakan meskipun ada sedikit gangguan di perjalanan.

Ketika kuda-kuda mereka mulai berderap, terasa hati Prastawa bagaikan dibebani oleh kegelisahan. Namun ia pun bukannya tidak dapat mempertimbangkan keadaan dengan nalarnya. Itulah sebabnya maka semua sikap dan perasaannya pun telah dicoba untuk dikendalikan dengan nalarnya agar ia tidak terlepas dari sikap dan perbuatan seorang yang memiliki tata kesopanan dalam lingkungan peradaban.

Dengan hati yang berat Prastawa meninggalkan Sangkal Putung. Dicobanya untuk menghilangkan semua kesan kekecewaannya dengan menenggelamkan diri ke dalam suasana perjalanannya kembali ke Tanah Perdikannya.

Sekar Mirah memandang iring-iringan yang kemudian hilang di tikungan itu pun dengan perasaan yang aneh. Perasaan yang terasa asing.

Dalam pada itu, terasa Kademangan Sangkal Putung menjadi semakin sepi. Bukan saja tamu-tamu dari Tanah Perdikan Menoreh yang telah meninggalkan Sangkal Putung, tetapi satu-satu sanak kadang Ki Demang pun minta diri dan kembali ke rumah masing-masing yang sudah beberapa hari mereka tinggalkan untuk membantu kesibukan di Sangkal Putung.

“Kalian akan segera mempunyai momongan,” desis seorang perempuan tua sambil menepuk bahu Pandan Wangi.

Pandan Wangi menundukkan kepalanya.

“Jagalah suamimu baik-baik,” pesan seorang kakek tua, “jangan biarkan ia terlepas ke dalam kebengalannya lagi.”

Laki-laki tua itu tersenyum. Pandan Wangi dan Swandaru pun tersenyum pula.

Namun dalam pada itu, terngiang kembali di telinga Pandan Wangi pesan pemomongnya yang tua dari Tanah Perdikan Menoreh saat ia akan meninggalkan Sangkal Putung, “Jagalah suamimu baik-baik. Nampaknya ia seorang laki-laki yang memiliki gairah hidup yang menyala-nyala di dalam dadanya. Sifat yang memang harus dimiliki oleh seorang laki-laki.” Ia berhenti sejenak, namun, “Tetapi Pandan Wangi, kau harus selalu memperingatkan, bahwa tidak ada seekor burungpun yang akan mampu terbang sampai ke Matahari. Burung Garuda yang paling besar pun tidak.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang kakek tua.

Sepeninggal para tamu dan sanak kadang, rasa-rasanya Sangkal Putung telah kehilangan kegembiraan. Masing-masing mulai sibuk memperbaiki rumah yang dibongkar saat keramaian diselenggarakan. Memperbaiki pagar di dalam lingkungan dinding halaman yang rusak terinjak-injak.

Seperti kebiasaannya, dalam hal yang demikian Agung Sedayu tidak dapat tinggal diam. Dengan rajin ia membantu anak-anak muda yang sibuk dengan kerja masing-masing di halaman Kademangan Sangkal Putung. Bahkan bukan saja Agung Sedayu tetapi juga orang-orang tua pun ikut pula membantu meskipun tidak seperti yang dilakukan oleh anak-anak muda.

Ki Waskita yang tidak ikut kembali ke Tanah Perdikan Menoreh bersama para pengiring, ikut pula membuka janur-janur kuning yang sudah mulai mengering tersangkut di serambi pendapa. Meskipun setiap kali Ki Demang melarangnya, namun orang-orang tua itu pun bukannya orang-orang yang senang duduk bertopang dagu.

“Sudahlah, Kiai,” Swandaru pun mencoba mencegahnya, “silahkan Kiai duduk di pendapa. Guru, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita tidak perlu membantu kerja anak-anak itu. Biarlah mereka menyelesaikannya.”

Tetapi sambil tersenyum Ki Waskitalah yang menjawab, “Kadang-kadang tangan dan kaki ini rasanya menjadi pegal. Biarlah kami mencari keringat barang sejenak. Nanti jika kami merasa lelah, kami akan berhenti.”

“Kiai tidak akan merasa lelah meskipun melakukannya tujuh hari tujuh malam.”

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Sudahlah, Swandaru, kau tidak usah merasa segan. Biarlah kami berbuat sesuatu agar kami tidak merasa jemu duduk bertopang dagu.”

“Tetapi Kiai dapat melakukan apa saja.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Baik. Nanti kami akan duduk dan melakukan pekerjaan yang lain. Sekarang, biarlah kami sedikit bergerak untuk mengobati tubuh kami yang merasa kaku dan tegang karena keramaian yang berlangsung berturut-turut itu.”

Swandaru tidak dapat mencegahnya lagi. Namun dengan demikian ia terpaksa ikut pula berbuat sesuatu, karena rasa-rasanya segan juga untuk berdiam diri, sementara orang-orang tua termasuk gurunya berbuat sesuatu untuk mengatur kembali rumahnya yang untuk beberapa hari mengalami banyak perubahan.

Agung Sedayu yang dengan gelisah masih tetap berada di Sangkal Putung mencoba melupakan kegelisahannya dalam kerja. Namun rasa-rasanya hatinya selalu dikejar oleh kakaknya yang keras dan marah.

Akhirnya Agung Sedayu tidak tahan lagi. Ia merasa dirinya selalu gelisah dan bingung. Bukan saja saat-saat ia duduk termenung, namun di dalam tidur pun ia selalu bermimpi seolah-olah Untara mengejarnya dengan pedang terhunus. Bahkan pamannya Widura pun seakan-akan ikut pula mengacu-acukan tombak yang runcing.

Dalam kesempatan yang terulang, selagi mereka beristirahat dan duduk di serambi gandok, Agung Sedayu mengatakan niatnya untuk pergi ke Jati Anom.

“Kau akan pergi ke Jati Anom?” bertanya gurunya.

“Ya, Guru. Aku tidak dapat selalu digelisahkan oleh angan-angan bahwa Kakang Untara menungguku dengan marah dan geram. Aku merasa bahwa sebaiknya aku datang menemuinya, apa pun yang akan dikatakannya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Sekilas terbayang sebuah senyum yang lembut di bibirnya. Katanya. “Kau memang sudah waktunya pergi ke Jati Anom.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Pergilah. Mintalah ijin kepada Ki Demang dan Sekar Mirah.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk pula. Ada niatnya pula untuk mengatakan sesuatu tentang Raden Sutawijaya. Tetapi karena Raden Sutawijaya berpesan agar tidak ada orang lain yang mendengarnya, maka niatnya pun diurungkannya, meskipun yang ada hanyalah Ki Waskita dan Ki Sumangkar. Namun, dengan demikian ia sudah melanggar pesan Raden Sutawijaya apabila ia menyampaikannya saat itu.

“Nanti, jika aku bertemu sendiri dengan Guru,” katanya di dalam hati.

Seperti yang dikehendaki Kiai Gringsing, maka Agung Sedayu pun mendapatkan Sekar Mirah dan mengatakan maksudnya untuk pergi ke Jati Anom barang satu dua hari.

“Kenapa kau akan pergi ke Jati Anom?” bertanya Sekar Mirah.

Pertanyaan itu terdengar aneh bagi Agung Sedayu. Di luar sadarnya ia bertanya kepada diri sendiri apakah ia sudah seharusnya berada di Sangkal Putung.

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Sekar Mirah. Aku memang berasal dari Jati Anom. Kakakku sekarang secara kebetulan juga ditempatkan di Jati Anom. Pamanku, dan keluargaku yang lain banyak yang sampai saat ini masih berada di Jati Anom. Aku pada suatu saat merasa dipanggil pulang. Bukan saja karena Kakang Untara dan Paman Widura telah datang dan mengharap kedatanganku, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam menyentuh perasaanku sehingga aku merasa ingin sekali pergi.”

Swandaru yang mendengar percakapan itu pun kemudian mendekatinya sambil berkata, “Kau masih selalu dibayangi oleh masa kanak-kanakmu. Kau sekarang sudah dewasa sepenuhnya. Kau dapat menentukan jalan hidupmu sendiri.”

“Aku mengerti, Swandaru. Tetapi apakah salahnya jika aku menengok barang sehari dua hari.”

“Tentu tidak ada keberatannya, Kakang Agung Sedayu. Tetapi cara Untara dan Ki Widura memanggilmu, seolah-olah kau masih seorang anak-anak yang bermain di pinggir jurang. Dengan cemas mereka memaksamu pulang. Apakah Untara atau Paman Widura menganggap bahwa tempat ini berbahaya bagimu?”

“Tentu tidak, Swandaru. Tetapi kerinduan seorang tua memang kadang-kadang mempunyai bentuk yang tersendiri.”

“Terserahlah kepada Kakang Agung Sedayu,” berkata Sekar Mirah, “seperti yang dikatakan oleh Paman Widura. Kau berhak menentukan sikapmu sendiri. Kenapa aku mencegahmu? Aku hanya bermaksud memperingatkanmu agar kau tidak lagi diperlakukan seperti kanak-kanak. Kakang Swandaru benar, bahwa kau sudah berhak menentukan jalan hidupmu sendiri. Apakah kau ingin berada di sini, di Jati Anom atau bertualang sepanjang jalan.”

Agung Sedayu mengangguk. Ia dapat mengerti sikap Sekar Mirah yang sudah sewajarnya mengharap agar ia selalu berada di Sangkal Putung. Tetapi itu bukan berarti bahwa ia tidak akan dapat meninggalkannya barang satu dua hari.

“Aku akan segera kembali,” berkata Agung Sedayu.

“Mudah-mudahan kau cepat kembali. Tetapi sekali lagi aku memperingatkanmu, seandainya kau merasa tidak perlu pergi ke Jati Anom, atau katakanlah kau ingin menunda kepergianmu itu barang tiga empat hari tidak seorang pun yang menegurmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun yang terdengar adalah jawaban dari arah pintu yang terbuka, “Biarlah ia pergi segera, Sekar Mirah.”

Ketika orang-orang yang berada di dalam bilik itu berpaling, maka mereka melihat Ki Sumangkar berdiri memandangi mereka bertiga berganti-ganti.

“Apakah maksud Guru?” bertanya Sekar Mirah.

“Sudah waktunya ia pergi ke Jati Anom. Kakaknya, pamannya yang pernah datang kemari telah menyatakan kerinduan keluarga di Jati Anom kepadanya. Sudah sepantasnya ia pergi.”

Sekar Mirah memandang Agung Sedayu sejenak. Lalu katanya, “Kerinduan yang memang pantas diperhatikan. Tetapi kerinduan bukannya dalih yang dapat dipergunakan untuk memancingnya datang ke Jati Anom yang apalagi dengan maksud-maksud tertentu.”

Ki Sumangkar tertawa. Katanya, “Kita tidak berhadapan dengan sebuah gerombolan yang licik, yang mempunyai niat buruk terhadap seseorang. Orang-orang Jati Anom adalah sanak dan kadang Agung Sedayu. Kenapa mereka sekedar mempergunakan kerinduan mereka sebagai dalih yang lain yang tidak dikatakannya kepada Agung Sedayu?”

Sekar Mirah tidak menjawab. Kepalanya tertunduk dalam-dalam.

Sejenak ruangan itu menjadi senyap. Masing-masing tenggelam dalam angan-angan-angannya sendiri.

Baru sejenak kemudian kesepian itu pecah ketika Ki Sumangkar berkata, “Nah, jangan dipersoalkan lagi. Kiai Gringsing juga sudah setuju bahwa Agung Sedayu akan pergi ke Jati Anom segera.”

Sekar Mirah masih tetap berdiam diri, sementara Swandaru memandang Ki Sumangkar dan Sekar Mirah berganti-ganti. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

“Kau masih harus minta ijin kepada Ki Demang,” berkata Ki Sumangkar kemudian.

“Ya, ya, Kiai. Aku akan menghadap Ki Demang.”

Meskipun agak keberatan, tetapi Ki Demang tidak dapat menahan keinginan Agung Sedayu untuk pergi ke Jati Anom. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Hati-hatilah di perjalanan Agung Sedayu. Segeralah kembali.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi setiap kali timbul pertanyaan di dalam dirinya, “Apakah sudah sewajarnya bahwa ia harus kembali. Dan justru kembali ke Sangkal Putung?”

Namun demikian Agung Sedayu menjawab, “Baiklah, Ki Demang. Aku akan segera kembali.”

“Jika kau memerlukan beberapa orang kawan di perjalanan, biarlah beberapa orang pengawal ikut bersamamu ke Jati Anom. Siapa tahu, bahwa kau akan bertemu dengan orang-orang yang tidak kau kehendaki di perjalanan.”

“Tidak, Ki Demang. Aku kira aku tidak memerlukan kawan. Aku kira keadaan sudah berangsur baik. Bukankah sisa-sisa dari para perampok di ujung kademangan yang hampir saja mencelakakan Swandaru dan Pandan Wangi itu dapat dijaring oleh para prajurit Pajang?”

“Tetapi siapa tahu, bahwa masih ada satu dua orang di antara mereka yang tersisa.”

“Mereka tentu sudah ketakutan dan meninggalkan daerah ini.”

Ki Demang mengangguk-angguk, Namun pesannya, “Tetapi kau harus berhati-hati. Kemungkinan buruk masih dapat terjadi.”

“Ya, Ki. Tetapi perjalanan ke Jati Anom bukannya perjalanan yang terlalu jauh.”

Sejenak Ki Demang mengangguk-angguk. Memang perjalanan ke Jati Anom bukan perjalanan yang terlalu jauh. Tetapi pada jarak yang terbentang antara Sangkal Putung dan Jati Anom dapat saja terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Mungkin di pinggir hutan, mungkin di tikungan yang pernah dikenal Agung Sedayu sebagai tempat yang paling menakutkan dekat Macanan. Mungkin di bawah randu Alas yang pernah disangka ada genderuwo bermata satu atau harimau putih, di Lemah Cengkar. Tetapi yang jelas, bahwa segerombolan perampok yang kuat baru saja mencegat dengan beraninya iring-iringan pengantin dari Tanah Perdikan Menoreh.

Tetapi menurut pertimbangan Agung Sedayu, justru perampokan yang baru saja terjadi dan usaha prajurit Pajang untuk menangkap mereka yang berusaha melarikan diri, maka daerah antara kedua kademangan itu tentu sudah bersih dari kejahatan.

Itulah sebabnya Agung Sedayu memutuskan untuk pergi seorang diri. Bahkan ia sama sekali tidak menginginkan gurunya ikut pergi bersamanya.

“Jika Guru pergi juga ke Jati Anom,” berkata Agung Sedayu kepada gurunya ketika gurunya menawarkan kesediaannya untuk pergi bersamanya, “mungkin Kakang Untara tidak akan dapat mengatakan maksudnya yang sebenarnya karena segan. Biarlah aku menemui Kakang Untara seorang diri. Biarlah Kakang Untara mengatakan seluruh isi hatinya kepadaku. Demikian juga agaknya Paman Widura dan sanak kadang lainnya.”

Kiai Gringsing pun tidak dapat memaksanya. Ia tahu, kegelisahan yang luar biasa telah mencengkam Agung Sedayu sehingga ia ingin terlepas sama sekali daripadanya. Itulah sebabnya ia ingin mendengar pendapat kakaknya sampai tuntas.

Di pagi harinya, Agung Sedayu pun bersiap-siap meninggalkan Sangkal Putung. Dengan hati yang berdebar-debar ia mengemasi beberapa lembar pakaian sambil menganyam jawaban yang mungkin harus diucapkan atas pertanyaan sanak kadangnya di Jati Anom.

“Hati-hatilah Agung Sedayu,” berkata gurunya ketika Agung Sedayu minta diri kepada orang-orang tua di Sangkal Putung.

“Sekarang kau harus pergi sendiri, Kakang,” berkata Swandaru, “aku tidak dapat lagi mengawasimu seperti saat-saat sebelumnya.”

Agung Sedayu tersenyum. Tetapi terasa betapa pahit perasaanya.

“Itu sudah sewajarnya, Swandaru,” jawab Agung Sedayu.

“Pada suatu saat, kau pun akan terikat oleh hubungan keluarga seperti yang aku alami sekarang,” sambung Swandaru.

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Ya. Aku menyadari.”

Sekar Mirah yang berada pula di dekatnya tidak mengatakan sesuatu. Namun wajahnya yang suram telah mengucapkan rangkaian kalimat yang cukup panjang, menyatakan ketidak-setujuannya membiarkan Agtrng Sedayu pergi. Namun, ia tidak dapat mencegahnya.

Dalam pada itu, Ki Waskita yang berada di antara mereka yang melepas Agung Sedayu pergi, nampak menjadi tegang oleh penglihatan batinnya seperti yang setiap kali dilihatnya. Namun seperti biasanya ia selalu mencoba mengingkarinya dengan menempatkan bayangan keinginannya pada isyarat yang dilihatnya atas anak-anak muda murid Kiai Gringsing itu.

“Mereka masih terlalu muda,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya, “mereka tentu akan menemukan kebahagiaannya kelak.”

Namun penglihatannya selalu saja tidak berubah. Tidak seperti yang dikehendakinya sendiri.

Akhirnya Agung Sedayu pun meninggalkan Sangkal Putung. Seleret ia melihat tatapan mata Pandan Wangi yang redup.

“Ia tentu lelah sekali,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. “Beberapa hari di Tanah Perdikan Menoreh dan beberapa hari di Sangkal Putung. Jika ia bukan Pandan Wangi yang memiliki ketahanan jasmaniah yang kuat, tentu ia sudah tidak dapat bangkit lagi dari pembaringannya.”

Sejenak kemudian Agung Sedayu pun telah memacu kudanya menyusur jalan Kademangan Sangkal Putung ke luar dari padukuhan induk. Ketika ia keluar dari mulut lorong, dan berada di bulak yang panjang, ia pun menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ingin menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah terhimpit oleh kepepatan dan kegelisahan.

Tetapi tiba-tiba saja keningnya berkerut ketika ia mulai membayangkan kembali pertempuran yang telah terjadi saat iring-iringan pengantin memasuki ujung Kademangan Sangkal Putung.

“Bukan main,” desisnya, “hampir saja kedua orang itu tidak dapat menikmati hari-hari perkawinannya.”

Tiba-tiba saja di luar sadarnya Agung Sedayu telah membiarkan kudanya berjalan terus. Ia tidak segera berbelok ke kanan menuju ke Jati Anom. Tetapi ia menempuh jalan lurus. Baru setelah ia meninggalkan kademangan ia akan berbelok menyusur hutan menuju ke Jati Anom.

Namun dalam pada itu, di luar pengetahuan Agung Sedayu, seseorang yang hampir gila berada di hutan itu. Dengan tekun orang-orang itu mencari keterangan tentang Gandu Demung. Ketika kemudian ia mendengar berita bahwa Gandu Demung telah terbunuh, maka kemarahan yang luar biasa telah mencengkam dadanya. Seperti orang yang kehilangan akal ia kembali ke arena pertempuran. Tetapi ia tidak menemukan apa-apa lagi kecuali beberapa potong senjata yang tidak terpungut.

“Gila,” geramnya, “orang-orang Sangkal Putung memang harus mengalami kehancuran mutlak karena mereka berani membunuh Gandu Demung dan beberapa orang kawanku.”

Ia menjadi seperti gila ketika ia pun mendengar bahwa sisa-sisa pasukannya telah tertangkap oleh prajurit Pajang dan dibawa ke Jati Anom.

“Aku harus berbuat sesuatu,” katanya dengan geram.

Sementara itu, saudara Gandu Demung itu pun menunggu kesempatan di dalam hutan sampai saat ia dapat melepaskan dendamnya.

Tetapi saudara laki-laki Gandu Demung itu seakan-akan tidak berani melihat kesibukan di luar hutan. Ada niatnya untuk membunuh siapa saja. Tetapi seolah-olah ia selalu dibayangi oleh kecemasan, bahwa prajurit Pajang masih juga berada di sekitar hutan itu dan menangkapnya sama sekali.

Selama di dalam persembunyiannya, maka saudara laki-laki Gandu Demung yang memisahkan diri dari gerombolannya, dan yang justru karena itu terlepas dari jaring prajurit Pajang itu, hidup dengan hasil buruan. Apa pun yang dapat ditangkapnya, dipanggangnya di atas perapian yang redup di tengah hutan agar tidak dilihat oleh siapa pun.

Kadang-kadang ia tidak dapat menahan desakan dendam yang membara di hatinya sehingga dengan hati-hati ia merayap minggir. Tetapi setiap kali ia telah didera oleh ketakutan yang amat sangat jika ia mendengar derap kaki kuda.

Dengan demikian, maka syarafnya yang terombang-ambing antara dendam dan ketakutan itu, benar-benar telah terganggu.

Agung Sedayu yang berkuda tidak terlalu cepat, semakin lama menjadi semakin dekat dengan hutan itu. Di luar sadarnya pandangan matanya menyapu ke sekitarnya. Ujung bulak yang tidak terlampau lebat itu.

Sekilas terbayang pertempuran yang telah terjadi di ujung hutan yang terletak di mulut Kademangan Sangkal Putung itu. Pertempuran yang cukup sengit sehingga telah menelan beberapa korban di kedua belah pihak.

“Hampir saja malapetaka yang tidak terhingga telah terjadi di tempat ini,” desisnya, “untunglah bahwa semuanya telah teratasi.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia bersyukur bahwa ia melihat sebatang pohon yang bergetar di ujung hutan. Jika saja ia tidak mendapatkan petunjuk itu, maka keadaan iring-iringan pengantin itu tentu akan lebih parah. Jika iring-iringan itu terjebak di sisi hutan di antara batang-batang yang dirobohkan, diikuti oleh serangan yang tiba-tiba, maka iring-iringan pengantin itu tentu akan menjadi semakin menyedihkan.

Sejenak Agung Sedayu memandang pepohonan yang menjulang di antara pohon-pohon yang lain. Daunnya yang ditiup oleh angin yang lembut, nampak mengangguk-angguk seperti menghormati kehadiran Agung Sedayu mendekati hutan itu.

Namun tiba-tiba saja Agung Sedayu menarik kekang kudanya. Ia melihat sesuatu yang asing di hutan itu. Asap yang mengepul meskipun tidak terlalu banyak.

“Siapakah yang. membuat api di dalam hutan itu di siang hari,” Agung Sedayu bertanya kepada diri sendiri.

Asap yang mengepul dari hutan itu jarang sekali dilihatnya. Jika seseorang sedang berburu, maka ia tidak akan membuat api karena hasil buruan itu akan mereka bawa kembali ke rumah. Dan adalah jarang sekali seseorang, terutama dari Sangkal Putung untuk melakukan perburuan tanpa alasan. Mungkin karena sekelompok anak-anak muda sedang melatih diri untuk meningkatkan ketangkasan mereka sebelum mengikuti pendadaran saat mereka menyatakan keinginan mereka memasuki kelompok pengawal Kademangan Sangkal Putung. Mungkin karena tiba-tiba saja sekelompok anak muda ingin mengadakan semacam makan bersama dengan menangkap seekor rusa atau binatang buruan yang lain. Atau mungkin karena salah seorang istri mereka nyidam seekor binatang buruan.

Tetapi adalah pasti bahwa mereka tidak akan membuat perapian di dalam hutan itu.

Jika sebelumnya pernah juga ada orang yang melihat asap yang mengepul, agaknya mereka sama sekali tidak menghiraukannya dan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang kurang baik. Apalagi asap itu hanya nampak sesaat, kemudian hilang dihembus angin.

Namun agaknya asap itu mempunyai arti yang lain bagi Agung Sedayu. Juga karena hatinya yang bagaikan terombang-ambing oleh kegelisahan, maka asap itu agaknya merupakan sesuatu untuk mengurangi kejemuan dan kegelisahan di hatinya.

Agung Sedayu tiba-tiba saja telah tertarik untuk memasuki hutan yang tidak begitu lebat itu untuk melihat, siapakah yang telah bermain-main dengan api di dalam hutan itu. Jika api itu kurang mendapat pengawalan, maka api itu akan dapat menjilat dedaunan kering dan bahkan dapat menimbulkan kebakaran.

Perlahan-lahan Agung Sedayu mendekati hutan itu. Diseberanginya lapangan perdu yang jarang, kemudian dimasukinya hutan itu dengan hati-hati.

Tetapi firasatnya yang tajam, tiba-tiba saja telah memperingatkannya bahwa di hadapannya terdapat bahaya yang dapat mengancam keselamatannya.

“Siapakah yang membuat perapian itu?” pertanyaan itu selalu bergetar di dalam hatinya. Namun ia tidak mau lengah dan mengalami kesulitan sehingga ia pun mencoba untuk memperhatikan firasat yang seakan-akan telah menggamitnya.

Ketika Agung Sedayu sudah berada di dalam hutan itu, maka ia pun segera turun dari kudanya. Justru kudanyalah yang kemudian dituntunnya menyusup di antara pepohonan.

Semakin dekat dengan sumber asap yang mengepul itu, Agung Sedayu menjadi semakin berhati-hati. Apalagi ketika kemudian hidungnya mulai mencium bau perapian dan daging yang dipanggang di atasnya

“Sangat mencurigakan,” desisnya, “apakah ada sekelompok orang asing yang berada di sekitar Sangkal Putung?”

Namun dengan demikian Agung Sedayu menjadi bertambah hati-hati. Diikatnya kudanya pada sebatang pohon, dan ia pun kemudian merayap mendekatinya dengan penuh kewaspadaan.

Selangkah demi selangkah ia maju. Ia sudah mulai mendengar suara seseorang yang mendehem.

Namun justru karena itu, maka Agung Sedayu telah terhenti. Ia mulai dijalari oleh perasaan ragu-ragu.

“Apakah untungnya aku mengintai orang yang sedang berburu dan menikmati hasil buruannya,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Sejenak ia termangu-mangu. Bahkan kemudian timbul niatnya untuk mengurungkan usahanya melihat siapakah yang sedang duduk di perapian di dalam hutan itu.

Namun tiba-tiba saja ia melihat dedaunan kering yang berhamburan disentuh oleh angin. Di luar sadarnya Agung Sedayu menengadahkan wajahnya ke langit yang bersih.

“Jika api itu dihembus oleh angin dan menyentuh dedaunan kering, maka pasti akan merupakan bahaya yang akan dapat membakar hutan ini seluruhnya,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Karena itu, maka ia pun memutuskan untuk meneruskan maksudnya melihat orang yang sedang membuat perapian di dalam hutan itu, setidak-tidaknya untuk memperingatkan bahwa apinya dapat berbahaya bagi hutan itu seluruhnya, sehingga ia harus berhati-hati dan segera memadamkannya apabila sudah tidak diperlukan lagi. Jika api itu ditinggal begitu saja, tentu akan dapat menjadi sumber bencana, disadari atau tidak disadari.

Selangkah lagi Agung Sedayu maju dengan ragu-ragu. Ia mendengar lagi orang itu mendeham. Kemudian sebuah hentakan yang keras pada batang kayu. Agaknya orang itu telah melemparkan sepotong tulang yang besar mengenai pepohonan.

Ketika Agung Sedayu maju lagi, maka langkahnya segera tertegun, Betapa ia terkejut ketika ia melihat orang yang sedang duduk di dekat perapian itu. Orang yang dengan pakaian yang kusut dan kotor. Rambut yang terurai dan sama sekali tidak terpelihara.

“Siapakah orang itu?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Sejenak ia termangu-mangu. Ujud orang itu telah menimbulkan teka-teki padanya. Namun justru karena itu, maka ia pun semakin terdorong untuk menemuinya, meskipun ia sadar bahwa ia harus berhati-hati.

Ketika selangkah lagi Agung Sedayu maju, ternyata telinga orang itu cukup tajam menangkap desir kaki di dedaunan kering. Dengan serta-merta orang itu meloncat bangkit dan memutar diri menghadap kepada Agung Sedayu yang berdiri tegak memandanginya.

Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat wajah orang itu dan terlebih-lebih lagi sorot matanya yang liar penuh dendam dan kebencian. Dengan serta-merta Agung Sedayu surut selangkah ketika orang itu melangkah maju sambil menarik senjatanya dan menggeram, dengan kasar, “He, siapakah kau? Iblis, genderuwo atau prajurit Pajang?”

Agung Sedayu termangu-mangu. Sejenak ia terdiam memandang orang yang nampak buas dan liar itu.

“Siapa kau, he?” orang itu berteriak. “Sebut dirirnu sebelum kau menjadi bangkai.”

Agung Sedayu termangu-mangu.

“Siapa, siapa?” orang itu berteriak semakin keras.

Agung Sedayu termenung sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Namaku Agung Sedayu.”

“Agung Sedayu,” orang itu berguman, “kenapa kau berada di sini?”

“Aku sedang dalam perjalanan ke Jati Anom ketika aku melihat asap perapianmu,” jawab Agung Sedayu.

“Kau datang dari mana.”

“Dari Sangkal Putung.”

“Sangkal Putung,” tiba-tiba wajah orang itu menjadi semakin liar. Selangkah ia maju dan bertanya, “Kau orang Sangkal Putung, he?”

Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Jawabnya, “Aku bukan orang Sangkal Putung, tetapi aku memang tinggal di Sangkal Putung.”

“Kau kenal dengan Ki Demang Sangkal Putung dan anaknya yang baru saja kawin dengan gadis Menoreh?”

“Ya, aku kenal,” jawab Agung Sedayu dengan jujur.

“Kau ikut menjadi pengiring ketika pengantin pulang dari Menoreh?” bertanya orang itu di luar sadarnya.

Namun jawabnya telah membuatnya menjadi buas. Dengan wajah yang tegang ia mendengar Agung Sedayu menjawab, “Ya. Aku ikut dalam iring-iringan itu. Kenapa, Ki Sanak?”

Sejenak orang tu justru terdiam. Tetapi giginya gemeretak dan sorot matanya bagaikan memancarkan api dendam yang menyala di hatinya.

Selangkah orang itu maju sambil mengacungkan senjatanya. Dengan suara gemetar ia berkata, “Jadi kau ikut serta membunuh saudaraku, he. Bahkan mungkin kaulah pembunuhnya.”

“Siapakah saudaramu itu, Ki Sanak. Aku belum mengenalmu dan barangkali aku juga belum mengenal saudaramu itu.”

“Setiap orang mengenal saudaraku. Ia adalah orang yang paling tangguh di seluruh daerah Pajang.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Tetapi kenapa ia terbunuh?”

“Orang-orang Sangkal Putung yang licik. Mereka telah mengeroyok saudaraku dengan licik.”

“Siapakah saudaramu itu?”

“Gandu Demung.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dari beberapa orang yang tertawan ia mendengar bahwa pimpinan segerombolan orang-orang yang mencegat pengantin dari Menoreh itu bernama Gandu Demung. Di antara para pemimpin yang lain terdapat saudara-saudaranya yang tangguh pula seperti Gandu Demung.

“Para tawanan itu tidak tahu lebih banyak lagi tentang Gandu Demung,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

“He, kenapa kau diam?” orang itu berteriak pula lebih keras.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia pun bertanya, “Jadi kau adalah salah seorang saudara Gandu Demung itu?”

Orang itu memandang Agung Sedayu dengan tajamnya, seolah-olah ingin menelannya bulat-bulat. Dengan wajah yang liar ia maju selangkah sambil mengacungkan senjatanya, “Jangan menyesal bahwa kau tersesat sampai di sini.” Namun tiba-tiba, “He, kenapa kau sampai ke tempat ini, he? Apakah kau petugas sandi prajurit Pajang?”

Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “Bukan. Sudah aku katakan bahwa aku adalah orang Sangkal Putung.”

Dengan tatapan mata yang aneh orang itu mencoba memandang ke sekitarnya, seakan-akan ingin mengetahui apakah di balik pepohonan ada orang lain yang sedang mengintainya.

Agung Sedayu yang dapat mengerti perasaan orang itu pun ber-kata, “Sudah aku katakan, aku bukan petugas sandi. Dan aku dalang ke tempat ini benar-benar seorang diri.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja terdengar suara tertawanya yang buas, “Nasibmu memang buruk. Tetapi katakan, apakah maksudmu datang kemari?”

“Aku melihat asap mengepul dari luar hutan ini. Dan aku ingin tahu siapakah yang membuat perapian di siang hari karena hal itu jarang sekali terjadi. Api yang tidak dipadamkan dengan baik di dalam hutan yang kering dapat menimbulkan kebakaran yalrg berakibat sangat buruk.”

Suara tertawa orang itu justru semakin meninggi, “Kau memang orang yang cerdas. Tetapi ternyata kecerdasanmu itu telah menjerumuskan kau ke dalam kesulitan. Nah, sekarang ternyata bahwa kau telah terperosok ke dalam lingkungan yang tidak kau kehendaki dan yang tidak akan membiarkan kesempatan kepadamu untuk keluar lagi.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun ia merasa bahwa ia harus mempersiapkan diri menghadapi bahaya yang dapat mencelakainya.

“Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu, “jika benar kau saudara Gandu Demung yang telah terbunuh dalam pertempuran itu, serta sisa-sisa pasukannya yang sudah terjaring oleh prajurit Pajang, kenapa kau tidak mengambil sikap yang bijaksana. Seharusnya kau menghentikan kegiatanmu yang dapat menimbulkan benturan kekerasan ini. Mungkin kau memilih jalan untuk menyerah saja kepada prajurit Pajang atau kembali ke padepokanmu.”

“Tidak. Kedua-duanya tidak. Aku tidak akan menyerah. Tetapi aku pun tidak mau kembali selama prajurit Pajang masih berkeliaran di luar hutan ini.”

Sejenak Agung Sedayu merenungi wajah yang buas dan liar itu. Namun baginya wajah itu dibayangi oleh kecemasan, kekecewaan, dan ketakutan. Tetapi dengan demikian, maka dalam keputusasaan, orang itu akan menjadi orang liar yang berbahaya.

“Nah,” berkata orang itu sambil mengacukan senjatanya ia berkata selanjutnya, “Kau adalah sasaran melepaskan dendam yang paling menyenangkan. Setidak-tidaknya aku sudah berhasil membunuh seorang yang ikut bertanggung jawab atas kematian Gandu Demung.”

“Kau salah, Ki Sanak. Di dalam peperangan, apalagi karena Gandu Demung sengaja mulai dengan tindak kekerasan, tanggung jawab adalah pada kesatuan masing-masing. Tidak pada seorang demi seorang.”

“Ya, aku tahu. Dan di dalam kesatuan para pengawal dari Sangkal Putung itu terdapat kau. Karena itu, maka kau tentu ikut mendukung tanggung jawab itu.”

Agung Sedayu masih akan menjawab, tetapi orang itu mendahuluinya, “Jangan ingkar. Dalam keadaan seperti sekarang, tidak ada pilihan lain kecuali mati.”

Sejenak suasana menjadi sepi tegang. Agung Sedayu tidak melihat kemungkinan lain kecuali harus mempertahankan diri.

“Orang ini adalah saudara Gandu Demung,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Dan ia pun sudah mengetahui, bahwa Gandu Demung adalah orang yang bertempur melawan Swandaru dan yang kemudian terbunuh oleh ujung cambuknya dengan luka yang silang melintang di seluruh tubuhnya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Baginya saudara Gandu Demung tentu orang yang cukup berbahaya juga seperti Gandu Demung sendiri.

Dalam pada itu, agaknya saudara Gandu Demung sudah tidak dapat menahan diri lagi. Dendam dan kebencian yang menyala di dadanya telah mendorongnya untuk segera melakukan kekerasan. Tidak ada pertimbangan lain baginya kecuali membunuh Agung Sedayu.

Agung Sedayu melangkah surut ketika ia melihat orang itu memutar senjata sambil melangkah maju setapak. Dengan nada yang datar orang itu berkata, “Bersiaplah untuk mati.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun terasa bulu-bulunya bergetar ketika orang itu tertawa berkepanjangan. Seakan-akan sebuah kidung yang diteriakkan dari dunia kelam, mendambakan maut yang sudah siap untuk mencekam.

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat membiarkan dirinya dibelah oleh pedang lawannya. Itulah sebabnya maka ketika orang itu meloncat menyerang. Agung Sedayu telah meloncat pula untuk menghindar.

“Kau sudah gila,” geram Agung Sedayu.

Tetapi suaranya seolah-olah tidak terdengar sama sekali. Orang itu menyerang sekali lagi dengan sengitnya. Ujung senjatanya menyambar mendatar mengarah ke lambung lawan.

Agung Sedayu harus meloncat mundur. Namun demikian kakinya menjejak tanah, serangan berikutnya telah mengejarnya. Dengan tangan yang terjulur lurus, ujung pedang itu mengarah ke dadanya mematuk arah jantung.

Sekali lagi Agung Sedayu harus menghindar. Dan ia pun telah memperhitungkan bahwa serangan berikutnya tentu akan mengejarnya pula. Sehingga karena itulah, maka tatapan matanya tidak terlepas dari ujung pedang lawannya.

Tetapi perhitungan Agung Sedayu itu ternyata salah. Orang itu tidak mengejarnya dan menyerang membabi buta. Ketika serangannya gagal, maka ia pun segera mempersiapkan diri untuk bertempur bukan saja karena didorong oleh kegilaannya.

“Ternyata ia tetap sadar,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Namun justru karena itu, maka Agung Sedayu pun harus menjadi semakin berhati-hati. Lawannya yang nampaknya hanya dipengaruhi oleh dendam dan kebencian itu, masih mempunyai pertimbangan yang utuh menghadapi perkelahian yang bakal terjadi.

“Ia masih mampu menguasai akalnya meskipun di dalam tingkah laku nampaknya sudah mulai kabur,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri. “Dengan demikian terbukti bahwa ia memang seorang yang memiliki kemampuan olah kanuragan yang harus diperhitungkan.”

Agung Sedayu segera mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang lebih berat. Ia mundur selangkah dan memandangi lawannya dengan saksama, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, seakan-akan ingin menilai kemampuannya dari bentuk dan sikapnya.

Ketika orang itu menyerang lagi, maka Agung Sedayu pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan perhitungan yang lebih baik dari sekedar menganggap lawannya seorang yang kurang utuh nalarnya.

Ternyata dalam pertempuran yang kemudian terjadi, Agung Sedayu merasakan bahwa kemampuan orang itu bukannya sekedar didorong oleh keberanian tanpa perhitungan.

Sejenak kemudian, perkelahian yang semakin seru telah terjadi. Agung Sedayu tidak berhasil menguasai lawannya hanya dengan tangannya karena ternyata pedang lawannya itu pun kemudian berputaran seperti baling-baling.

Serangan pedang itu semakin lama rasa-rasanya semakin merapat ke tubuhnya. Setiap kali sudah terasa desing yang terbang hanya sejengkal dari tubuhnya.

“Aku harus menghentikan kegilaan itu,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Ketika senjata lawannya semakin menekan maka Agung Sedayu pun segera mengurai senjatanya yang khusus, meskipun ia sama sekali tidak berniat membunuh lawannya, karena ia beranggapan, dengan menangkap orang ini hidup-hidup, maka akan didapatnya keterangan tentang Gandu Demung yang lebih banyak daripada sekedar dari orang-orangnya.

“Jika ia benar saudara Gandu Demung, maka ia akan dapat mengatakan, hubungan apakah yang pernah dilakukan oleh saudaranya itu dengan orang yang disebut-sebut bernama Empu Pinang Aring,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Itulah sebabnya, maka dalam perkelahian berikutnya Agung Sedayu dengan sungguh-sungguh telah berusaha merampas pedang orang itu dari tangannya.

Namun orang itu bukannya dengan mudah dapat dikuasainya. Ia mempunyai kemampuan yang cukup untuk menghindari serangan cambuk Agung Sedayu yang mengarah ke tangannya.

Dalam pada itu, seorang yang asing bagi Sangkal Putung sedang duduk dengan gelisah di ujung itu. Menurut beberapa petunjuk ia dapat memastikan bahwa tempat itu adalah tempat yang telah digunakan sebagai arena pertempuran antara orang-orang Sangkal Putung dan para penyamun dari daerah di sekitar Gunung Tidar.

“Kedua orang itu mengatakan bahwa Gandu Demung terbunuh di sini,” geramnya sambil menggerakkan giginya, “kegagalan itu merupakan malapetaka yang pantas disesali.”

Tetapi yang kemudian dilihatnya adalah bentangan lapangan perdu yang lebat di pinggir hutan yang memanjang.

Selagi ia merenungi keadaan yang sepi di sekitarnya, tiba-tiba saja telinganya yang tajam mendengar suara ledakan cambuk lamat-lamat dari dalam hutan. Sekali, dua kali, dan suara itu meledak-ledak beberapa kali berturut-turut.

“Orang bercambuk,” ia berdesis.

Namun kemudian terdengar ia menggeram. Dengan serta-merta ia pun kemudian membawa kudanya langsung menusup di antara pepohonan menuju ke arah suara itu

Beberapa puluh langkah dari suara cambuk yang meledak-ledak itu, ia pun mengikat kudanya. Kemudian perlahan-lahan ia melangkah maju mendekat

Dari sela-sela pepohonan ia pun segara melihat perkelahian itu. Setiap kali ia melihat ujung cambuk yang bergetar disusul oleh ledakan yang memekakkan telinga.

Sementara itu Agung Sedayu masih bertempur terus. Namun kemudian segera ternyata bahwa ia akan segera berhasil menguasai lawannya. Cambuknya yang meledak-ledak telah mendesak saudara Gandu Demung itu ke dalam kesulitan. Semakin lama ruang gerak saudara Gandu Demung itu seolah-olah menjadi semakin sempit dibatasi oleh ledakan-ledakan cambuk Agung Sedayu yang semakin lama menjadi semakin sering.

“Gila, gila!” teriak saudara Gandu Demung yang menjadi semakin liar. Namun bagaimana pun juga terasa seolah-olah ujung cambuk Agung Sedayu telah melingkarinya dengan ledakan-ledakan yang memekakkan ke tulang.

Semakin lama keadaan saudara Gandu Demung itu menjadi semakin sulit. Bahkan kemudian seakan-akan ia sudah tidak mendapat kesempatan lagi untuk bergerak, dikurung oleh ujung cambuk Agung Sedayu yang menjadi semakin mapan.

“Menyerahlah,” berkata Agung Sedayu, “kau kami perlukan, sehingga kerena itu, maka kedudukanmu tidak akan membahayakanmu.”

Orang itu tidak menyahut. Tetapi ia pun menggeretakkan giginya sambil memutar pedangnya semakin cepat.

“Menyerahlah,” sekali lagi Agung Sedayu mengulang. Namun orang itu justru menjadi semakin liar.

Sementara itu, seseorang telah berada beberapa langkah dari arena perkelahian itu. Dengan wajah yang tegang ia melihat dari kejauhan, pertempuran yang semakin berat sebelah.

Setiap kali terdengar suara cambuk meledak, maka lawan Agung Sedayu itu seolah-olah menjadi semakin terdesak, sehingga akhirnya ia telah tersudut sehingga kesempatannya pun menjadi semakin sempit.

“Nah,” berkata Agung Sedayu, “apakah kau masih akan melawan?”

Orang itu memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Pedangnya masih bergetar di tangannya.

“Menyerahlah. Letakkan senjatamu dan ikutlah aku ke Jati Anom.”

Orang itu masih berdiri termangu-mangu.

“Cepat. Letakkan senjatamu,” desak Agung Sedayu.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar desir langkah seseorang mendekati arena itu, sehingga telinga Agung Sedayu yang tajam dapat menangkapnya.

Dengan hati-hati ia bergeser dan berpaling memandang orang yang mendekati arena perkelahian itu.

“Jangan menyerah,” berkata orang yang datang itu.

Dada Agung Sedayu berdesir. Dilihatnya seseorang yang sudah memegang senjata di tangannya maju selangkah demi selangkah.

“Ayah,” tiba-tiba saja terdengar lawan Agung Sedayu itu berdesis.

“Ya. Aku datang tepat pada waktunya.”

“Siapa kau?” bertanya Agung Sedayu dengan nada datar.

“Aku adalah ayahnya. Ayah Gandu Demung yang mati di daerah Sangkal Putung.”

“Dari mana kau mendengar, Ayah?” bertanya saudara Gandu Demung itu.

“Dua orang kawannya ternyata telah mengikuti seluruh perjalanan sepasang pengantin itu. Ia ditugaskan oleh Empu Pinang Aring untuk mengetahui apa yang terjadi di perjalanannya. Ternyata ia terbunuh oleh orang-orang Sangkal Putung.”

“Ayah benar. Gandu Demung telah terbunuh. Dan orang ini adalah salah satu daripada pembunuh-pembunuh itu.”

Ayah Gandu Demung memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Lalu ia pun bertanya, “Apakah kau akan membunuh anakku yang satu itu pula?”

“Tidak, Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu, “aku berusaha untuk memaksanya menyerah dan membawanya ke Sangkal Putung.”

“Itu tidak mungkin. Aku tidak mau kehilangan lagi. Karena itu maka aku akan membantunya melepaskannya dari tanganmu.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Bahkan sebaiknya aku menuntut kematian anakku itu dengan kematian pula.”

“Kita harus membunuhnya, Ayah,” berkata saudara Gandu Demung itu.

“Ya. membunuhnya dan meletakkannya di pintu gerbang Kademangan Sangkal Putung.”

Agung Sedayu memandang ayah Gandu Demung itu dengan hati yang berdebar-debar. Orang itu pun tentu memiliki kemampuan olah kanuragan seperti anak-anaknya.

“Jangan menyesal,” geram ayah Gandu Demung itu, “aku sudah kehilangan anak-anakku. Gandu Demung terbunuh dan menurut pendengaranku saudaranya yang masih hidup telah tertangkap oleh prajurit Pajang bersama dengan kawan-kawannya. Sekarang, datang gilirannya, bahwa kaulah yang akan mati dan mayatmu akan aku cincang sebelum aku lemparkan ke padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.”

“Kalian rupa-rupanya telah menjadi gila dan kehilangan nalar. Apakah kalian sangka bahwa kalian akan berhasil?” bertanya Agung Sedayu.

“Bukan hanya kau seorang diri. Setelah kau, maka akan datang giliran anak-anak muda yang lain akan menjadi sasaran dendam. Satu demi satu anak-anak muda Sangkal Putung akan mati tercincang dan mayatnya akan tergolek di mulut pintu gerbang.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Pada sorot matanya nampak betapa dendam dan kebencian menyala di hati orang tua itu. Sehingga dengan demikian Agung Sedayu menyadari bahwa ia harus benar-benar mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi. Dua orang itu tentu akan menjadi buas dan liar sehingga untuk melawan keduanya diperlukan segenap kemampuan yang ada padanya.

Agung Sedayu bergeser setapak ketika ia melihat orang itu melangkah maju. Senjatanya mulai teracu ke arah anak muda itu. Sementara anaknya pun telah mulai mempersiapkan dirinya pula untuk kemudian bersama-sama dengan ayahnya melawan Agung Sedayu.

“Kaulah yang harus meletakkan senjatamu,” geram orang tua itu. Senjatanya, sebuah parang yang besar mulai bergerak-gerak. Katanya kemudian, “Senjataku pernah aku basahi dengan darah berpuluh-puluh korban. Tetapi tentu tidak akan sepuas sekarang, karena sekedar untuk merampas harta benda korbanku. Darahmu akan membuat senjataku semakin garang dan mantap.”

“Sebenarnya kalian tidak perlu menjadi kehilangan akal. Jika kalian mau menyadari kedudukan kalian, maka keadaan kalian akan semakin baik,” berkata Agung Sedayu kemudian.

“Kau mulai ketakutan sekarang,” berkata orang tua itu, “jika kau menyerah, maka aku berjanji akan membunuhmu tanpa menyakitimu. Aku akan mencincang tubuhmu tanpa kau ketahui setelah kematianmu. Tetapi jika kau melawan yang terjadi adalah sebaliknya. Kau akan aku cincang sebelum kau mati, sehingga kau dapat merasakan akibat dari dendam kami yang tidak ada taranya selama petualangan kami.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang berat ia berkata, “Jangan berangan-angan, Ki Sanak, mungkin kalian dapat membunuhku, tetapi tentu tidak akan semudah seperti yang kau katakan, karena aku akan mengadakan perlawanan sejauh dapat aku lakukan.”

“Sia-sia. Tetapi terserahlah. Membunuhmu setelah kau kehilangan kesempatan agaknya memang lebih menyenangkan daripada membunuhmu saat kau menguncupkan tangan dan membungkukkan kepalamu dalam-dalam,” geram ayah Gandu Demung itu.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia melihat dendam yang menyala di sorot mata kedua orang itu, sehingga agaknya mereka tidak akan dapat diajaknya berbicara lagi

“Tidak ada jalan lain,” desis Agung Sedayu sambil menggerakkan cambuknya, “aku harus menundukkan keduanya dengan kekerasan.”

Namun kemudian terbersit pula pertimbangan-pertimbangannya yang lain. Untuk melawan keduanya, tentu bukanlah tugas yang ringan. Bahkan mungkin ia akan terlibat dalam kesulitan, karena keduanya tentu akan dapat bertempur berpasangan dengan serasi.

Tetapi Agung Sedayu tidak mendapat kesempatan untuk menimbang-nimbang lebih lama lagi. Sejenak kemudian terdengar orang tua itu berteriak nyaring. Sebuah loncatan panjang dibarengi uluran parang yang besar itu langsung mengarah ke dada Agung Sedayu telah memaksanya untuk meloncat menghindar. Namun demikian kakinya menjejak tanah, serangan berikutnya dari lawannya yang lain telah datang pula dengan cepatnya. Pedang saudara Gandu Demung itu menebas mendatar setinggi lambung.

Agung Sedayu harus meloncat sekali lagi untuk menghindari tajam pedang itu. Namun sekali lagi serangan itu datang. Ayahnya tidak melepaskan kesempatan itu. Parangnya yang besar segera terayun menusuk dada. Bahkan sekilas Agung Sedayu pun telah melihat perubahan gerak pedang lawannya yang muda, sehingga akan terjadi serangan rangkap yang sangat berbahaya baginya.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Tetapi ia harus cepat mengambil sikap. Ia tidak dapat membiarkan kedua serangan itu memotong setiap usahanya untuk menghindarkan diri.

Karena itu, maka ketika ujung-ujung senjata itu mematuknya, Agung Sedayu segera menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali. Kemudian dengan cepatnya ia melenting berdiri sebelum kedua lawannya meloncat mendekatinya.

Yang diperhitungkan Agung Sedayu pun kemudian ternyata dilakukan oleh lawannya. Keduanya serentak memburu dari arah yang berbeda. Dan berusaha untuk menyerang bersama-sama.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: