Buku 101 (Seri II Jilid 1)

 

Sebuah padepokan kecil akan lahir di sebelah Kademangan Jati Anom. Di atas sebuah pategalan yang sudah ditumbuhi dengan berbagai macam pohon buah-buahan, akan dibangun kelengkapan dari sebuah padepokan betapapun kecilnya. Sebuah rumah induk dengan pendapa dan bagian-bagian yang lain, sebuah tempat ibadah, kolam dan sebuah kandang kuda. Di bagian belakang akan terdapat beberapa buah rumah kecil yang akan dihuni oleh beberapa orang yang bersedia tinggal di padepokan kecil itu untuk bersama-sama bekerja keras. Sebuah lumbung, dan halaman untuk menjemur padi dan hasil sawah yang lain akan dipersiapkan pula di longkangan.

Di hari-hari pertama, Untara dan Widura sudah mulai menentukan letak dan urutan bangunan yang akan dibuat. Meskipun kecil dan sederhana namun agaknya padepokan itu akan sangat menyenangkan.

Sebuah gubug kecil telah dahulu di bangun untuk menyimpan bahan-bahan yang diperlukan bagi bangunan yang akan dibuat itu. Kayu yang sudah siap digarap. Bambu dan atap ijuk segera dipersiapkan pula.

Ketika dua buah sumur sudah siap digali sesuai dengan tempat yang sudah direncanakan dalam keseluruhan halaman padepokan itu, maka mulailah kerja yang sebenarnya. Setiap hari beberapa buah pedati hilir mudik mengangkut batu dan keperluan-keperluan yang lain. Sementara itu beberapa orangpun mulai bekerja dengan keras untuk menyelesaikan pekerjaan yang cukup besar itu.

Agung Sedayu dan Kiai Gringsing tidak ketinggalan pula. Mereka ikut bekerja keras di antara para pekerja yang lain. Bahkan Ki Waskita pun tidak mau tinggal berpangku tangan.

Demikianlah hari-hari berikutnya. pategalan Karang itu telah sibuk dengan kerja. Mulai saat matahari naik, sampai saat matahari turun di balik gunung, orang-orang yang bekerja di padepokan itu telah melakukan tugas mereka sebaik-baiknya. Bahkan di antara derit roda pedati, derak bambu dibelah dan bebatuan yang gemelutuk, kadang-kadang masih juga terdengar suara dendang dari seseorang yang sedang duduk di bawah sebatang pohon memintal tali ijuk.

Dalam pada itu, sekali-sekali Untara sendiri datang untuk melihat-lihat kemajuan kerja orang orangnya yang membuat dinding batu mengelilingi pategalan itu. Semakin lama menjadi semakin tinggi. Di empat penjuru terdapat empat buah regol meskipun tidak sama. Regol induk dibuat lebih besar dari ketiga regol butulan. Meskipun demikian, Untara telah mempersiapkan papan-papan kayu yang tebal, sehingga keempat pintu gerbang itu akan menjadi pintu gerbang yang kuat.

Kiai Gringsing yang melihat papan-papan yang dipersiapkan untuk membuat pintu gerbang itu tersenyum di dalam hati. Rencana itu dibuat oleh seorang prajurit, sehingga segi pengamanan dari padepokan itu benar benar dapat dibanggakan. Pintu gerbang itu akan menjadi pintu gerbang yang sangat sulit untuk dipecahkan meskipun dengan mempergunakan alat apapun juga.

Dari hari kehari dengan berdebar-debar Agung Sedayu melihat perkembangan dari padepokannya. Dinding halaman yang menjadi semakin tinggi dan beberapa bagian rumah yang sudah berdiri.

Kesibukan kerja itu ternyata telah berpengaruh pula pada kepribadian Agung Sedayu. Dalam kerja itu ia merasa telah berbuat sesuatu bagi dirinya sendiri, di atas tanahnya sendiri. Meskipun kerja itu masih diangkat oleh kakak dan pamannya, namun seolah-olah iapun ikut serta menentukan, bahwa padepokan itu benar benar akan berdiri.

Ternyata bahwa Widura cukup bijaksana menanggapi perkembangan jiwa Agung Sedayu. Meskipun bentuk setiap bangunan dan letaknya sudah direncanakan, tetapi Widura memberi banyak kesempatan kepada Agung Sedayu untuk mengutarakan pendapatnya. Bahkan Widura sama sekali tidak berkeberatan, jika pada suatu saat Agung Sedayu sama sekali merubah bentuk dan letak sebuah bangunan.

“Terserah kepadamu dan kepada gurumu. Agung Sedayu,“ berkata Widura, “kaulah yang akan menjadi penghuni dari padepokan ini. Kaulah yang harus menentukannya. Jika aku menyerahkan beberapa bagian dari bahan dan tenaga yang dapat aku kerahkan dari Banyu Asri dan Jati Anom, itu adalah sekedar pelaksanaannya saja. Sedang dari ujud keseluruhannya terletak kepadamu dan kepada gurumu.”

Agung Sedayu kadang-kadang merasa bangga jika ia dapat menentukan sesuatu yang penting, yang kurang pada perencanaan sebelumnya. Ia benar-benar merasa telah berbuat sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri. Sehingga dengan demikian, Agung Sedayu mulai merasa, bahwa ia sedang bekerja keras bagi masa depannya dan kematangan kepribadiannya.

Berbeda dengan Widura, agaknya Untara berpegang teguh pada rencananya. Tetapi agaknya Agung Sedayu memang tidak banyak mempunyai persoalan dengan dinding itu yang dibuat kakaknya melingkari padepokan itu. Meskipun demikian, kadang-kadang Untarapun ikut pula menentukan beberapa bagian dari isi padepokan itu.

“Berilah kesempatan Agung Sedayu melakukan sesuatu,” berkata Widura kepada Untara.

“Ia masih terlalu muda. Seleranya adalah selera yang cengeng,“ jawab Untara.

“Biar sajalah. Nanti jika ia sudah masak akan melihat kekurangan itu dan akan merubahnya. Gurunyapun agaknya tidak banyak berbuat sesuatu karena sebagian besar persoalannya diserahkan kepada Agung Sedayu.”

Untara tidak menjawab. Tetapi baginya. Agung Sedayu masih terlalu kanak-kanak dan kurang pengalaman. Meskipun demikian kadang-kadang Untarapun mendengarkan nasehat-nasehat pamannya dan membiarkan Agung Sedayu menentukan sesuai dengan keinginannya meskipun terbatas pada persoalan yang tidak terlampau besar dari keseluruhan rencana.

Dari hari ke hari, padepokan itu menjadi semakin jelas. Bangunan-bangunannya mulai berdiri, sedang dindingnyapun telah cukup tinggi, sehingga pategalan itu benar-benar telah berubah menjadi sebuah padepokan kecil yang cantik.

Tetapi setiap kali Untara masih berdesis, “Selera Agung Sedayu adalah selera yang cengeng.”

Namun Untarapun akhirnya menuruti nasehat pamannya meskipun hatinya masih terasa belum puas. Tetapi bahwa padepokan itu semakin lama menjadi semakin berbentuk, iapun mulai agak lega pula. Dengan demikian ia telah berhasil merenggut adiknya dari Sangkal Putung.

Karena dengan hadirnya Agung Sedayu di Sangkal Putung, rasa-rasanya Untara ikut direndahkan pula martabatnya sebagai seorang laki-laki.

Pada saatnya, maka padepokan itupun telah dapat disiapkan. Dinding batu yang cukup tinggi telah siap mengelilingi padepokan yang ditumbuhi dengan beberapa batang pohon buah-buahan. Beberapa buah bangunan telah siap pula. Kandang kudapun telah terisi oleh dua ekor kuda yang tegar.

Di hari yang telah dipilih oleh Kiai Gringsing, saat padepokan itupun resmi akan dipergunakan, beberapa orang telah diundang untuk ikut menyaksikan. Di antara mereka hadir beberapa orang dari Sangkal Putung.

Ki Demang dan Swandaru dan istrinya bersama beberapa orang telah hadir pada upacara peresmian itu. Tetapi yang terasa mengganggu perasaan Agung Sedayu, bahwa justru Sekar Mirah tidak bersedia datang, meskipun Ki Demang mengemukakan beberapa alasan yang masuk akal.

“Badannya tidak sehat,“ berkata Ki Demang.

Tetapi Agung Sedayu tidak mempercayainya. Meskipun demikian ia hanya dapat menganggukkan kepala sambil menjawab, “Mudah-mudahan ia menjadi lekas sembuh.”

Sementara itu, Swandarupun yang sudah melihat-lihat berkeliling berkata kepada Agung Sedayu, “Padepokan yang sederhana. Mudah-mudahan kau kerasan tinggal di sini Kakang.”

“Aku akan mencobanya.“

Swandaru mengangguk-angguk. Tetapi beberapa kali ia menunjukkan kekecewaannya atas padepokan yang dilihatnya itu.

“Kau masih harus banyak bekerja untuk melengkapi padepokanmu ini Kakang,“ berkata Swandaru kemudian.

“Aku menyadari,“ jawab Agung Sedayu.

“Dan selanjutnya duniamu akan terbatas oleh dinding batu itu sampai hari tuamu. Kau akan menjadi orang yang alim, yang kerjanya setiap hari menghitung amal dan dosa yang pernah kau lakukan. Mengajari para cantrik untuk bercocok tanam dan memelihara ternak. Mengumpulkan telur ayam dan itik.”

“Mungkin aku harus harus berbuat demikian.”

“Lalu kau akan kehilangan semua kesempatan di hari-hari yang masih terlampau pagi. Masa-masa mudamu akan hilang di balik dinding batu yang mengurungmu disini.”

“Mungkin ada usaha lain yang berguna bagi orang orang disekelilingku,” jawab Agung Sedayu.

“Kakang,“ berkata Swandaru kemudian, “aku tidak menolak untuk mempelajari ilmu kejiwan, kesusasteraan dan pendekatan diri kepada Yang Maha Pencipta. Tetapi di umur yang masih muda ini tentu masih banyak yang dapat dikerjakan daripada bertapa di dalam halaman padepokan kecil yang menurut pendapatku justru setengah-setengah ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam.

“Tetapi semuanya terserah kepadamu Kakang. Kaulah yang akan menjalaninya. Meskipun demikian, jika pada suatu saat kau jemu tinggal di padepokan ini, maka Ayah tentu akan bersedia menerimamu kembali tinggal di Sangkal Putung.”

“Terima kasih,“ jawab Agung Sedayu, “aku akan memikirkannya kelak.”

Demikianlah hari yang pertama itu telah hadir beberapa orang yang mengucapkan selamat atas lahirnya sebuah padepokan kecil itu. Adalah peristiwa yang jarang sekali dapat disaksikan, bahwa sebuah padepokan telah lahir di atas tanah pategalan seperti padepokan yang akan dihuni oleh Kiai Gringsing dan Agung Sedayu.

Tetapi ternyata di samping mereka, orang pertama yang bersedia tinggal di padepokan itu adalah Glagah Putih. Atas ijin orang tua serta kakek dan neneknya, maka ia telah menyatakan keinginannya untuk tinggal di padepokan itu bersama Agung Sedayu.

“Tetapi kita harus bekerja keras,“ berkata Agung Sedayu.

“Itu menarik sekali Kakang,“ jawab Glagah Putih.

“Bagus. Jika kau sudah menyadari, maka kau dapat tinggal dengan senang justru karena kerja.”

Sepeninggal orang-orang yang menghadiri saat-saat padepokan itu mulai dihuni, adalah pertanda bahwa kerja keras harus dimulai. Pategalan di sekitar padepokan itu harus digarap. Dan sebidang tanah yang sudah disediakan adalah sawah yang akan menghasilkan persediaan makan bagi mereka.

“Di ujung pategalan itu adalah sebuah lapangan perdu. Di seberang lapangan perdu terdapat sebuah hutan kecil,“ berkata Untara kepada Agung Sedayu, “kau tahu bahwa hutan itu adalah hutan terbuka meskipun terletak di dalam tlatah Kademangan Jati Anom. Jika kau memerlukan maka kau dapat menghubungi Ki Demang. Mintalah izin untuk membuka tanah sesuai dengan perkembangan kebutuhanmu dan kebutuhan padepokanmu. Hutan itu tidak terlalu jauh dari pategalan yang kau buat menjadi padepokan itu, sehingga hasil dari kerja membuka hutan itu akan dapat langsung kau rasakan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia tahu, bahwa sawah peninggalan ayahnya tidak terlampau luas. Agaknya Untara masih belum ingin membicarakan pembagian warisan yang diterima dari ayahnya.

“Bukan begitu,“ berkata Kiai Gringsing ketika Agung Sedayu menyampaikannya persoalan itu kepadanya, “bukan karena Untara merasa segan membagi warisan, tetapi ia tentu mempunyai maksud lain yang jauh lebih baik dari sekedar pamrih.”

Agung Sedayu tidak menjawab.

“Ia ingin melihat kau bekerja sebagai seorang laki-laki. Itulah sebabnya ia menunjukkan hutan yang masih harus dibuka itu. Kau dapat memahaminya?”

Agung Sedayu mengangguk lemah.

“Nah, bukankah dengan demikian, kerja berat benar-benar harus kita lakukan meskipun belum se-kuku ireng dibanding dengan kerja membuka Alas Mentaok?”

Agung Sedayu mengangguk angguk, iapun dapat mengerti keterangan gurunya. Agaknya kakaknya benar-benar ingin melihat ia bekerja seperti orang-orang lain bagi kepentingan dirinya di kemudian hari.

Dalam kerja itu. Agung Sedayu justru dapat memahami. Apakah jadinya kelak jika ia masih saja berada di Sangkal Patung.

“Aku tidak tahu apakah dengan demikian aku masih akan dapat mempertahankan martabat orang tuaku,“ berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Tetapi dengan kerja keras, ia masih dapat berharap bahwa namanya akan dianggap sebagai keturunan Ki Sadewa.

“Pangkat dan kedudukan bukanlah ukuran martabat seseorang,” berkata pamannya pada suatu saat. Sehingga Agung Sedayu menjadi semakin yakin, bahwa dengan kerja ia akan menemukan dirinya sebagai anak Ki Sadewa.

Demikianlah dari hari ke hari, padepokan kecil itu mulai nampak hidup dan berkembang. Halaman depan rumah induknya selalu nampak bersih dan terpelihara. Beberapa batang pohon bunga yang ditanam oleh Agung Sedayu mulai tumbuh dan berdaun hijau. Setiap pagi dan sore Glagah Putih tidak lupa menyiramnya, sehingga pepohonan itu menjadi tumbuh dengan subur.

Bahkan Glagah Putih telah dengan susah payah membendung parit dan atas ijin para petani di Kademangan, ia mengalirkan sebagian kecil air parit itu untuk mengisi sebuah belumbang, yang kemudian dipergunakannya untuk memelihara ikan.

Di pagi hari, jika matahari mulai memancar, cahayanya yang kuning memantul dari air belumbang yang bening membayang di dedaunan yang hijau. Beberapa ekor angsa yang dibeli oleh Widura berenang dengan segarnya kian kemari tanpa lelah.

Ternyata bahwa Glagah Putih adalah seorang yang rajin bekerja.

Ketika Agung Sedayu dan Kiai Gringsing memutuskan untuk mulai membuka hutan bagi tanah persawahan, maka Glagah Putihpun tidak mau ketinggalan, membawa sebuah kapak pembelah kayu.

“Kau merebus air saja di pinggir hutan,“ berkata Agung Sedayu, “jika air mendidih, kau mulai menanak nasi. Kita tidak usah pulang ke padepokan. Kita makan disini.”

“Ah, itu kerja perempuan,” jawab Glagah Putih.

“Tidak. Di peperangan yang berlangsung lama, maka laki-lakilah yang merebus air dan menanak nasi. Juga di perjalanan yang panjang menghampiri daerah lawan.”

Glagah Putih mulai berpikir. Tetapi katanya kemudian, “Aku mau merebus air dan menanak nasi, tetapi sesudah itu, aku boleh ikut bekerja.”

Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Baiklah. Tetapi tugas utamamu, menyediakan makan kami. Tanpa makan, maka semua kerja akan terbengkelai. Karena itu, jangan kau anggap kerja itu kerja yang tidak berarti.”

Glagah Putih tidak membantah. Di hari berikutnya ia membawa alat-alat untuk merebus air dan menanak nasi.

Dengan sungguh-sungguh Agung Sedayu dan Kiai Gringsing, dibantu oleh Glagah Putih dan Ki Waskita, telah bekerja untuk membuka hutan. Ternyata bahwa kerja mereka tidak sia-sia. Pada saatnya, maka telah terbentang tanah yang sudah siap untuk ditanami, meskipun tidak begitu luas.

 

 

Atas persetujuan Ki Demang Jati Anom, maka tanah itupun kemudian menjadi milik penghuni padepokan kecil itu. Bahkan jika mereka kelak memerlukan, Ki Demang rnasih akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk membuka hutan lebih luas lagi.

“Untuk sementara sudah cukup,“ berkata Agung Sedayu.

“Tetapi bagaimana dengan kalian sebelum tanah itu menghasilkan?“ bertanya Ki Demang.

“Kami masih menjadi tanggungan Kakang Untara dan Paman Widura,“ jawab Agung Sedayu.

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi iapun kagum melihat kesungguhan kerja Agung Sedayu dan penghuni padepokan itu yang lain.

Namun dalam pada itu, ketika sawah mereka sudah mulai mendapat air dan dapat ditanami untuk pertama kali, mulailah mereka sempat memikirkan kerja yang lain. Agung Sedayu mulai memperhatikan Glagah Putih yang dalam saat-saat yang memungkinkan selalu melatih diri dengan bekal yang baru sedikit terbatas pada tata gerak dasar dari ilmu keturunan kakeknya yang disadap dari sumber yang sama dengan ilmu ayahnya

“Kiai,“ berkata Agung Sedayu kepada Kiai Gringsing dan Ki Waskita ketika mereka sudah mulai sempat beristirahat, “ilmu Glagah putih itulah yang aku katakan. Akupun sebenarnya merasa sayang, bahwa ilmu itu akan menjadi semakin susut dan bahkan kemudian hilang sama sekali.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam dalam Katanya, “Agung Sedayu. Aku termasuk salah seorang yang mengenal ayahmu dengan baik. Meskipun waktu itu aku adalah Ki Tanu Metir dari Dukuh Pakuwon. Tetapi ayahmu mengenal aku sebenarnya meskipun Untara dan kau belum mengenalku pada waktu itu. Karena itulah, akupun sebenarnya merasa sayang, jika ilmu Ki Sadewa yang disegani itu akan lenyap. Meskipun dalam beberapa hal, ilmu Ki Sadewa memiliki kelemahan karena bentuknya yang kurang tegas bersandar pada ciri-cirinya. Tetapi itu adalah karena Ki Sadewa bukan seseorang yang terbiasa menyombongkan diri dan ingin memperlihatkan kelebihannya kepada orang lain. Ia lebih senang menenggelamkan ilmu pada ciri-ciri yang umum dan banyak terdapat pada ilmu-ilmu yang lain. Tetapi disela-sela bentuknya yang kurang dapat dilihat ciri-ciri khususnya itu, sebenarnya tersembunyi unsur-unsur yang sangat dahsyat.”

Agung Sedayu hanya mengangguk anggukkan kepalanya saja.

“Di antaranya Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “kau mewarisi, sadar atau tidak sadar, kemampuan bidik yang luar biasa, yang bahkan kurang mendapat perhatian dari Untara. Tetapi pada tingkat tertentu, maka kemampuan itu akan menjadi bekal ilmu yang sangat tinggi tingkatnya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia akan berhadapan dengan usaha yang cukup besar.

Ternyata bahwa kemudian gurunya dan bahkan Ki Waskita telah menyatakan kesediaannya untuk mencoba melihat-lihat unsur-unsur gerak dasar dari ilmu yang menjadi semakin lemah itu. Mungkin dengan demikian mereka akan dapat membantu, mengangkat kembali ilmu itu ketingkat yang sewajarnya.

“Apakah aku harus mengatakannya kepada Kakang Untara ?“ bertanya Agung Sedayu.

“Jangan dahulu,“ jawab Kiai Gringsing, “Bukannya aku hendak mengkesampingkan Untara. Tetapi harus kau akui Agung Sedayu, bahwa bagi Untara apa yang kau lakukan, tentu akan mendapat penilaian yang khusus, karena agaknya kau belum masuk ke dalam batas rencana yang dianggapnya baik bagimu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi itu bukan berarti bahwa kita harus meninggalkannya untuk seterusnya. Jika pada suatu saat, keadaan sudah berkembang semakin baik, maka kita akan mengatakannya kepadanya.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu. “Tetapi sementara ini biarlah pamanmu Widura sajalah yang jika perlu menyampaikan persoalannya.”

Agung Sedayu mengangguk. Katanya, “Aku sangat berterima kasih kepada paman Widura. Agaknya paman Widura berusaha untuk menengahi pendirian kami yang sampai saat ini masih belum sesuai.”

“Ya. Pamanmu merasa bahwa ia adalah orang tuamu sekarang ini. Persoalan antara kau dan Untara adalah persoalannya.”

Dengan demikian, maka Agung Sedayu dan gurunya pun mulai mempersiapkan diri, di samping memperkembangkan padepokannya, juga berusaha untuk melihat kembali ilmu yang ditinggalkan oleh cabang perguruan yang telah mulai susut itu.

Namun dalam pada itu, di Sangkal Putung, Sekar Mirah mulai menjadi gelisah. Betapapun juga ia mencoba untuk mempertahankan harga dirinya, tetapi ada dorongan di hatinya untuk pada suatu kali pergi ke padepokan kecil itu. Rasa-rasanya sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan Agung Sedayu yang meskipun menurut penilaiannya anak muda itu mempunyai banyak kelemahan sikap dan pandangan hidup, namun Sekar Mirah tidak dapat ingkar, bahwa ada ikatan yang tidak dapat diurai yang membelit di hati.

Karena itulah, maka ketika ia tidak dapat menahan gejolak hatinya, ia menyatakan keinginannya itu pertama-tama justru kepada gurunya. Tidak kepada ayahnya.

Ki Sumangkar menarik nafas dalam dalam. Katanya, “Sekar Mirah. Sebenarnya aku sudah menunggu, kapan kau menyatakan keinginanmu untuk pergi ke padepokan itu. Tetapi kau tidak mau mendahului keinginan yang akan kau nyatakan, karena aku mengenal tabiat dan sifat-sifatmu. Tetapi apakah salahnya jika pada suatu saat kita berbicara dengan hati nurani. Tidak dengan sikap yang sudah diwarnai oleh nafsu yang betapapun bentuknya.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam dalam. Tetapi ia-pun menganggukan kepadanya meskipun ada beberapa bagian yang tidak segera dapat diserap untuk disesuaikan dengan sifat-sifatnya yang tinggi hati.

“Sekar Mirah,“ berkata Ki Sumangkar kemudian, “sebaiknya kau segera menentukan, kapan kita akan pergi, dan sebaiknya kau minta ijin dahulu kepada ayah dan barangkali juga sebaiknya memberitahukan kepada kakakmu Swandaru, yang barangkali akan memberikan beberapa pesan bagi Agung Sedayu.”

Ternyata Sekar Mirah sudah benar-benar didesak oleh keinginannya untuk pergi, sehingga iapun segera menemui ayahnya dan menyampaikan keinginannya itu.

“Bukan saja karena aku ingin bertemu dengan kakang Agung Sedayu,“ berkata Sekar Mirah, “tetapi aku juga ingin melihat, apakah padepokan yang dibangunnya itu melampaui padepokan-padepokan yang pernah aku lihat sebelumnya.”

Sumangkar yang ada pula pada saat itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Ternyata Ki Demangpun tidak berkeberatan. Hanya Swandaru sajalah yang agaknya mempunyai penilaian lain. Katanya, “Kau harus menjaga dirimu Mirah. Kau adalah seorang gadis. Dan kau bukan anak orang kebanyakan yang dapat diperlakukan sekehendak hati. Jika kau ingin juga melihat padepokan itu, kau harus bersikap sewajarnya bagi seorang gadis yang berkedudukkan.”

“Tentu Kakang,” jawab Sekar Mirah, “aku tidak akan pergi ngunggah-unggahi. Tetapi aku ingin melihat, apakah padepokan itu ada nilainya bagi kami.”

“Ah,“ Ki Sumangkar berdesis, “nilai sesuatu ujud memang mempunyai ukuran yang dapat dihayati secara umum oleh kebanyakan orang. Tetapi jika kita menilainya dengan bekal dan keinginan yang lain, maka nilai itupun akan dapat berubah-ubah menurut dasar penilaian masing-masing. Mungkin padepokan itu sangat berarti bagi Agung Sedayu, tetapi sama sekali tidak bernilai bagi orang lain. Itulah sebabnya, maka kewajaran sikap yang sesuai dengan pesan Angger Swandaru adalah meragukan sekali, karena yang wajar itupun kadang-kadang sama sekali tidak wajar.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kiai, apakah Sekar Mirah tidak berhak ikut berbicara tentang masa depannya sendiri? Jika kita mengakui hubungan apakah yang ada antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah, maka adalah wajar menurut penilaian yang wajar pula, bahwa Sekar Mirah ingin ikut menentukan apakah jalan yang akan dilaluinya bersama Agung Sedayu sudah menemukan arah yang tepat? Kitapun tidak dapat mengingkari, bahwa Sekar Mirah tentu ingin melihat kedudukan Agung Sedayu seimbang dengan kedudukanku kelak. Aku adalah Demang di Sangkal Putung dan Kepala Tanah Perdikan di Menoreh atas nama istriku. Sudah barang tentu aku tidak akan sampai hati melihat adikku satu-satunya hidup terpencil di padepokan kecil yang tidak mempunyai arti sama sekali dalam perkembangan keseluruhan bagi Pajang atau Mataram.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan. Jawabnya, “Itulah yang aku maksud. Yang wajar itupun kadang kadang menjadi tidak wajar. Juga tingkat dan taraf kehidupan seseorang. Bagiku, tingkat kehidupan yang layak terletak kepada diri kita sendiri. Jika hati kita menemukan persesuaian, maka akan tenanglah hidup kita selanjutnya.”

Swandaru memandang Ki Sumangkar dengan tajamnya. Sejenak iapun termangu-mangu. Namun kemudian ia tidak dapat menahan gejolak di hatinya dan berkata, “Kiai sudah membelakangi hidup keduniawian, karena barangkali umur Kiai yang menjadi semakin tua. Mungkin Kiai merasa sudah waktunya untuk menemukan ketenangan hidup. Baik yang bersifat lahir apalagi batin. Tetapi bagi kami yang muda, maka ketenangan hidup masih harus dinilai dengan sikap kemudaan kami. Justru kamilah yang seharusnya memberikan bentuk dan warna kepada keadaan di sekitarnya. Bukan sekedar menyesuaikan diri menurut apa adanya. Dengan demikian maka semua usaha akan terhenti, dan kita akan tetap dalam keadaan kita seperti sekarang tanpa kemajuan apapun juga.”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam dalam, Katanya, “Sikap dan pendirian itu benar. Tetapi tidak berlebih-lebihan. Jika kita ingin berbuat sesuatu, maka kita tidak dapat mengingkari kenyataan yang ada sebagai landasan. Justru sikap itulah yang akan banyak merubah keadaan. Tetapi jika kita tidak mau melihat yang ada, maka kita akan melakukan beberapa kesalahan berturut turut, karena kita tidak beralaskan kepada kenyataan itu.“ Ki Sumangkar berhenti sejenak. Lalu, “Misalnya tentang Agung Sedayu. Ia harus berjuang sekuat-kuatnya. Tetapi ia harus berlandaskan kenyataannya sekarang. Ia harus mulai dari sebuah padepokan kecil, karena memang hanya itulah yang dapat dijangkaunya. Di atas alas yang ada itulah maka ia harus berjuang untuk mencapai perubahan demi perubahan sehingga sampai pada suatu tataran yang lebih baik. Dengan menerima kenyataan yang ada, maka semuanya akan berlangsung tanpa banyak mengeluh dan menyesali keadaan.”

Swandaru menegang sesaat. Tetapi meskipun demikian ia dapat melihat sepercik kebenaran pada kata-kata Ki Sumangkar. Namun, bagaimanapun juga ia menganggap bahwa sikap itu adalah sikap yang terlampau lemah dan ketua-tuaan, seolah-olah seseorang harus berbuat sesuatu menurut keadaan yang mungkin saja dilakukan seadanya agar hidupnya menjadi tenang dan tenteram.

“Itu bukan perjuangan,“ berkata Swandaru di dalam hatinya. Tetapi ia masih menghormati Ki Sumangkar sehingga ia tidak membantahnya lagi.

Demikianlah, maka Sekar Mirahpun segera berkemas untuk pergi. Sebenarnya keinginan yang sama telah mendesak jantung Pandan Wangi. Tetapi ada sesuatu yang menahannya. Ia merasa tidak pantas sama sekali untuk menyatakan keinginannya itu kepada suaminya atau kepada siapapun juga.

Karena itu, maka iapun menahan keinginannya itu di dalam hatinya, betapapun beratnya. Apalagi jika ia sadar, bahwa keinginannya untuk pergi ke padepokan kecil itu bukannya sekedar ingin menilai kelemahan Agung Sedayu dan kekerdilan usaha yang sedang dilakukan itu. Tetapi justru dengan kekaguman akan kebesaran jiwa anak muda itu.

“Kakaknya adalah seorang senapati besar yang disegani lawan dan dihormati kawan. Tetapi ia tidak segan-segan bekerja keras untuk membuka sebuah padepokan kecil yang tidak berarti. Tetapi yang dengan kemauan yang keras dibangun dengan harapan-harapan bagi masa depannya,“ berkata Pandan Wangi di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya kepada siapapun juga. Karena ia sadar, bahwa dengan demikian akan dapat menimbulkan salah paham.

Ketika Pandan Wangi kemudian harus melepas Sekar Mirah pergi bersama gurunya dan dua orang pengawal, terasa sesuatu bergejolak di dalam hatinya. Namun iapun segera sadar, bahwa ia telah diganggu oleh perasaan iri. Dan iapun sadar, bahwa nalarnya harus bekerja keras untuk menekan perasaan itu dalam-dalam.

Sejenak kemudian maka Sekar Mirah diiringi oleh gurunya dan dua orang pengawal telah berpacu di sepanjang bulak yang panjang. Merekapun kemudian menyusuri jalan di tepi hutan. Meskipun menurut pertimbangan mereka keadaan sudah berangsur baik, tetapi mereka tidak kehilangan kewaspadaan, karena meskipun hutan itu tidak terlampau lebat, tetapi didalamnya masih mungkin tersimpan bahaya yang dapat menerkam mereka setiap saat.

Tetapi ternyata bahwa mereka sama sekali tidak mendapat gangguan apapun di sepanjang jalan. Karena itulah maka merekapun tidak terhenti di perjalanan dan sampai ke padepokan kecil itu seperti yang direncanakan.

Beberapa puluh langkah dari regol padepokan, Sekar Mirah berhenti. Dengan wajah yang tegang dipandanginya padepokan kecil itu dari jarak yang tidak begitu jauh.

“Marilah Mirah,“ ajak gurunya, “kenapa kau berhenti ?”

Sekar Mirah memandang gurunya sejenak. Tetapi gurunya yang sudah berusia agak lanjut itu segera dapat menangkap perasaannya. Kecewa.

Tetapi Sekar Mirah melanjutkan juga perjalanannya menuju ke regol padepokan yang terbuka itu.

Agaknya Glagah Putih yang berada di halaman depan, melihat iring-iringan yang mendekat itu. Karena itulah maka iapun segera berlari-lari memberitahukan kehadiran beberapa orang tamu kepada kakak sepupunya yang kebetulan ada di padepokan.

Agung Sedayu bersama Kiai Gringsing dan Ki Waskita pun kemudian dengan tergesa-gesa menyongsong tamunya yang datang dari Sangkal Putung itu.

“Marilah Kiai,“ Agung Sedayu mempersilahkan, “marilah Mirah. Aku percaya bahwa pada suatu saat, kau akan melihat padepokanku.”

Sekar Mirah mencoba untuk tersenyum betapapun kecutnya. Di muka regol merekapun meloncat turun dan menuntun kudanya memasuki halaman. Di belakang regol Kiai Gringsing menyambut mereka sambil tertawa, “Selamat datang di padepokan kecil ini.”

Merekapun kemudian menyerahkan kuda mereka kepada para pengawalnya yang kemudian mengikatnya pada pohon-pohon perdu di halaman.

“Ternyata di halaman itu perlu beberapa patok untuk mengikat kendali kuda,“ berkata Glagah Putih di dalam hatinya. Dan iapun sudah merencanakan untuk menyiapkan beberapa potong bambu untuk membuat patok penambat kendali kuda.

Sejenak kemudian merekapun telah duduk di pendapa. Sejenak mereka saling mengucapkan selamat sebelum mereka kemudian mulai membicarakan tentang padepokan yang baru itu.

Dalam pada itu di belakang, Glagah Putih telah sibuk merebus air untuk menyediakan hidangan bagi tamu-tamunya.

Di pendapa, pembicaraan Sekar Mirah mulai merambat pada padepokan kecil yang baru selesai dibangun itu. Beberapa kali ia mengeluh, bahwa kerja semacam ini tidak akan banyak mempunyai arti, selain membuang-buang waktu saja.

“Betapa kecilnya padepokan ini, tetapi untuk membangun rumah dan dinding batu itu tentu diperlukan biaya,“ berkata Sekar Mirah.

“Ya, tentu.” jawab Agung Sedayu, “Paman Widura dan Kakang Untara telah menyediakan bagiku.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukankah itu juga berati bahwa kau tidak berdiri atas hasil kerjamu sendiri? Bukankah dengan demikian berarti bahwa kau juga memerlukan pertolongan orang lain ?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab. Ki Sumangkar telah mendahului, “Tetapi itu adalah haknya Sekar Mirah. Ki Widura adalah pamannya, sedang Untara adalah kakaknya. Agung Sedayu berhak menerima apapun dari mereka. Agak berbeda dengan pemberian orang lain, meskipun dengan ikhlas. Apalagi tanah ini memang tanah Agung Sedayu sendiri.”

Sekar Mirah memandang gurunya sekilas. Jika saja bukan Ki Sumangkar, maka ia masih akan membantah. Tetapi terhadap gurunya, Sekar Mirah merasa segan untuk berbantah.

Sejenak kemudian, setelah mereka minum minuman panas yang dihidangkan oleh Glagah Putih, merekapun memerlukan mengitari padepokan kecil itu untuk melihat-lihat apakah yang sudah dapat dibangun dalam waktu yang terhitung singkat itu.

Tetapi tidak ada satupun yang memberikan kepuasan bagi Sekar Mirah. Semuanya serba kurang dan mengecewakan.

Namun agaknya Agung Sedayu sudah mengenal sifat dan watak Sekar Mirah, sehingga iapun dapat mengerti apakah sebenarnya yang terkandung di dalam hatinya.

Karena itulah maka Agung Sedayu dan apalagi Kiai Gringsing, sama sekali tidak menangkis celaan-celaan itu. Bahkan Agung Sedayu mencoba untuk mengangguk-angguk sambil menjawab, “Semuanya masih mungkin diperbaiki Sekar Mirah. Padepokan mi memang belum mapan.”

Sekar Mirah memandang Agung Sedayu sejenak. Katanya kemudian, “Memang masih mungkin diperbaiki. Tetapi ada sesuatu yang memang sudah tidak mungkin ditingkatkan. Yang sudah sampai pada tataran puncaknya. Itulah yang harus mendapat perhatian. Tanah yang kering, tandus dan berbatu-batu. Tidak akan dapat menjadi subur dalam waktu yang singkat. Keterasingan dan tersisih seperti padepokan inipun memerlukan waktu yang lama sekali untuk mendapatkan arti bagi kehidupan luas. Kecuali sekedar bagi satu dua orang yang langsung berkepentingan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika ia akan memberikan keterangan yang lebih panjang, Kiai Gringsing menggamitnya, sehingga Agung Sedayupun terdiam karenanya.

Baru kemudian Kiai Gringsing berbisik, “Tidak ada gunanya. Kau hanya akan berbantah.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Dan ia memang tidak ingin berbantah dengan Sekar Mirah. Karena itulah maka iapun hanya sekedar mendengarkan, dan sekali-sekali mengiakannya.

Ki Sumangkar menjadi gelisah justru karena sikap Agung Sedayu. Tetapi ia sadar, bahwa memang Agung Sedayu bukannya seseorang yang senang membantah, meskipun Sumangkar tahu, bahwa ada sesuatu yang terasa bergejolak di dalam hati anak muda itu.

“Seperti endapan yang semakin lama semakin tebal di dasar hati Agung Sedayu,“ berkata Ki Sumangkar di dalam hatinya, “mungkin endapan itu akan tetap tertimbun baik-baik, tetapi apabila timbunan itu menjadi banyak, maka akan mungkin sekali menjadi penuh dan meluap seperti air yang tertahan di bendungan.”

Tetapi Ki Sumangkarpun tidak mengatakan sesuatu. Ia justru ingin mencoba mengubah sikap dan tingkah laku Sekar Mirah apabila masih mungkin, khusus menghadapi Agung Sedayu, karena agaknya keduanya memang telah berniat menuju ke dalam satu ikatan hidup meskipun perbedaan sifat dan watak semakin lama justru menjadi semakin jelas.

Meskipun demikian, rasanya masih ada yang mengikat keduanya untuk tetap berdiri di tempat masing-masing dalam hubungan antara seorang anak muda dan seorang gadis.

Demikianlah ternyata Sekar Mirah tidak betah terlalu lama tinggal di padepokan itu. Ia benar-benar tidak menemukan apapun juga yang dapat memberinya kepuasan, apalagi kebanggaan.

Meskipun demikian Sekar Mirah masih dapat menahan hati untuk menunggu sampai Glagah Putih menghidangkan makan dan lauk pauk sejauh dapat dilakukan.

“Ia adalah putra paman Widura,” berkata Agung Sedayu kepada tamu-tamunya.

“Paman Widura?“ Sekar Mirah menjadi heran.

“Ya, kenapa ?”

Sekar Mirah tidak menyahut. Tetapi ia benar-benar tidak mengerti, cara hidup yang ditempuh oleh keluarga Agung Sedayu. Widura adalah seorang perwira yang termasuk berpengaruh di Pajang meskipun ia sudah meletakkan jabatan keprajuritannya. Ia mampu membantu Agung Sedayu membuat padepokan itu. Tetapi kemudian anaknya dibiarkannya berada di padepokan itu sebagai seorang cantrik kecil yang paling rendah tingkatnya. Ia harus merebus air, menanak nasi dan menghidangkan jamuan untuk tamu padepokan itu.

“Cara yang paling aneh,“ gumamnya, “agaknya keluarga Agung Sedayu memang mempunyai kebiasaan hidup dalam kesulitan.”

Berbeda dengan Sekar Mirah. Ki Sumangkar justru menjadi kagum melihat kesediaan Glagah Putih untuk melakukan pekerjaan itu. Bahkan di dalam hati Ki Sumangkar berkata, “Dengan cara itu, mereka akan menjadi orang-orang besar yang tidak akan terpisah dari rakyatnya, karena mereka mengalami kehidupan yang pahit di masa mudanya. Tetapi mereka dengan tekun mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pemimpin yang baik.”

Selelah beristirahat sejenak, maka Sekar Mirahpun kemudian minta diri kepada Agung Sedayu dengan kesan yang buram atas pedepokan yang kecil itu.

Agung Sedayu tidak dapat menahan Sekar Mirah untuk lebih lama lagi di padepokan itu. Ia dapat mengerti, perasaan apakah yang sedang bergejolak di dalam hatinya.

Karena itu, maka Agung Sedayupun hanya dapat mengucapkan selamat jalan dan berpesan untuk Sekar Mirah berhati-hati di perjalanan.

 

 

“Aku bersama Guru,“ berkata Sekar Mirah, “tidak ada yang dapat menahan kami di perjalanan.”

Ki Sumangkar hanya dapat menarik napas dalam dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun tentang perjalanan itu. Bahkan iapun kemudian segera minta diri pula.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya ketika ia melihat gurunya berbicara perlahan-lahan dengan Kiai Gringsing dan Ki Waskita yang lebih banyak melihat perkembangan keadaan daripada ikut mencampuri persoalan mereka. Bahkan Ki Waskita sejenak seolah-olah menjadi orang asing yang tidak banyak bekepentingan dengan kehadiran Sekar Mirah dan gurunya.

Sejenak kemudian maka Sekar Mirah, gurunya dan pengawalnya meninggalkan padepokan kecil yang lengang itu. Sekali Sekar Mirah masih berpaling untuk mencoba melihat padepokan itu dari kejauhan. Benar-benar sebuah padepokan kecil yang tidak berarti apa-apa.

Di padepokan itu, Agung Sedayu melangkah menuju ke pendapa sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa bahwa Sekar Mirah sama sekali tidak sependapat, bahwa ia akan tetap tinggal dipadepokan itu, karena sifat dan wataknya Sekar Mirah lebih senang tinggal di Kademangan yang besar dan dikelilingi oleh pelayan dan kawan-kawan yang menghormatinya. Setiap keinginannya seakan-akan dapat dipenuhi tanpa melakukan kerja yang berat. Jika sekali-kali bekerja di dapur atau di halamanan, bahkan juga di sawah, itu adalah karena ia ingin. Bukan karena terpaksa melakukannya.

“Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kemudian kepada muridnya, “kau tentu sedang menghadapi salah satu ujian di dalam penempaan kepribadianmu. Kita semua tahu, bahwa Sekar Mirah tidak tertarik sama sekali dengan padepokanmu. Tetapi hal ini tentu sudah kau mengerti, bahwa lebih banyak berbuat, sehingga pada suatu saat orang lain, termasuk Sekar Mirah mengakui, bahwa kau telah melakukan sesuatu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia memandang Ki Waskita yang lebih banyak diam. Namun ia tidak menemukan kesan apapun juga di dalam wajah orang itu.

Tetapi dalam pada itu, tatapan Agung Sedayu yang sekilas itu melontarkan isyarat kepada Ki Waskita. Isyarat seperti yang dilihatnya pada Swandaru. Agaknya setelah masa perkawinannya dengan Sekar Mirah, Agung Sedayu pun masih harus menempuh jalan yang sulit dan berbatu-batu tajam.

“Kenapa harus terjadi seperti itu, justru yang tidak dikehendaki oleh semua pihak? “ pertanyaan itu selalu membelit dihati Ki Waskita. Namun ia masih berusaha untuk menyembunyikan perasaannya itu. Agar tidak menambah bahan perasaan Agung Sedayu, gurunya dan mungkin juga Widura dan Untara. Meskipun agaknya Untara tentu mempunyai tanggapan yang berbeda. Bagi Untara, kerja keras, tekad dan ketekunan adalah unsur-unsur yang ikut serta menentukan masa depan seseorang. Bagi Untara, maka jika Sekar Mirah dapat menjadi penghambat, maka ia tentu akan menganjurkan untuk melepaskannya.

Ki Waskita hanya dapat manarik nafas. Ia melihat perbedaan sikap yang jauh antara kedua kakak beradik itu.

Glagah Putih yang tidak tahu persoalan tentang hubungan antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah, sama sekali tidak melihat gejolak perasaan yang bagaikan mengguncang dada Agung Sedayu. Itulah sebabnya, maka ketika ia menjumpai Agung Sedayu di samping pendapa ia bertanya. “Apakah hidanganku cukup pantas?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menepuk bahu Glagah Putih sambil tersenyum. Katanya, “Cukup. Terlalu cukup.”

“Kakang tentu sekedar memuji.“

“Tidak. Kau memang pandai memasak.”

Glagah Putih tidak bertanya lagi. Iapun kemudian mengambil sisa hidangan dan membawanya ke belakang.

Kunjungan Sekar Mirah, rasa-rasanya telah melecut Agung Sedayu untuk bekerja keras. Bukan saja di tanah pekerangannya yang baru, selelah ia membuka hutan, tetapi juga dalam bidang yang lain.

Di malam-malam yang sepi, ia mulai melihat-lihat tata gerak yang dikuasai oleh Glagah Putih bersama gurunya dan Ki Waskita. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing, Ki Sadewa memang tidak berusaha untuk menunjukkan kekhususan yang menarik perhatian, agar seolah-olah dengan sombong mengatakan, “Inilah Ilmuku yang tidak ada duanya.”

Tata gerak yang dilihat pada gerak-gerak dasar ilmu itu cukup sederhana dan kadang-kadang kurang menyakinkan.

“Sulit untuk menangkap ciri-cirinya. Hampir tidak dapat disebut bahwa ilmu ini adalah ilmu khusus dari perguruan Ki Sadewa,“ berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Tetapi ia belum mengatakannya. Yang dilihatnya adalah tata gerak dasar yang sangat dangkal yang dikuasai oleh Glagah Putih.

“Mungkin kita memerlukan pertolongan Ki Widura,” berkata Kiai Gringsing.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin memang demikianlah ajaran ilmu itu. Pada tingkat pertama, yang diajarkannya adalah ilmu yang sangat umum seperti yang dikuasai oleh Glagah Putih. Tetapi mungkin pada tingkat berikutnya ada ciri-ciri khusus yang dapat disadap.

“Tentu ada ciri-ciri khusus itu. Aku melihat ciri-ciri itu pada Ki Widura dan anakmas Untara,“ berkata Kiai Gringsing, “tetapi terlalu samar dan mungkin justru sengaja disamarkan.”

Keduanya mengangguk-angguk. Dan merekapun bersepakat untuk melakukan penelitian berikutnya bersama Ki Widura untuk menemukan kembali ilmu yang sudah menjadi sangat menurun kemampuannya itu.

Dalam pada itu, ternyata usaha Agung Sedayu membuka hutan telah menumbuhkan rangsangan pada orang lain. Ternyata beberapa orang telah mengajukan permohonan untuk diperkenankan ikut serta membuka hutan itu.

Tetapi persoalan yang dihadapi oleh orang-orang Jati Anom agak berbeda dengan orang-orang yang sedang membuka hutan di Mataram. Alas Mentaok yang lebat dan garang itu dapat dibuka oleh setiap orang yang ingin menggabungkan diri ke dalam lingkungan kehidupan Mataram. Mereka dapat membuka hutan di bagian manapun yang mereka pilih. Baru kemudian mereka menyatakan diri dan menyusun lingkungan masyarakat dalam hubungan yang utuh bersama lingkungan-lingkungan kecil yang lain.

Sedangkan di Jati Anom, hutan yang tersisa merupakan hutan yang seolah-olah tetap dipelihara karena berbagai macam kepentingan. Meskipun kadang-kadang hutan itu mendatangkan bahaya karena binatang buas yang tersembunyi didalamnya. Namun hutan itu juga memberikan banyak kegunaan. Kadang-kadang Kademangan Jati Anom memerlukan kayu yang cukup banyak untuk membangun beberapa buah rumah, atau memerlukan hasil hutan yang lain. Tetapi hutan di lereng Gunung Merapi itu agaknya memang masih akan diperlukan untuk waktu yang lama. Bahkan Kademangan yang terletak lebih tinggi lagi dari Jati Anom masih melindungi hutan yang lebat dan pepat seperti Alas Mentaok dalam hubungannya dengan penyimpanan air dan menahan runtuhnya tanah dan banjir.

Karena itulah, maka pembukaan hutan di Jati Anom hanya dapat dilakukan dengan terbatas sekali.

Meskipun demikian, Ki Demang di Jati Anom masih memberikan kesempatan bagi beberapa orang yang dengan sunguh-sungguh ingin membuka hutan dan bekerja bersama dengan Agung Sedayu.

“Tetapi kalian harus bersungguh-sunguh,“ berkata Ki Demang, “kalian tidak boleh sekedar ingin setelah melihat tanah persawahan yang telah berhasil dibuka oleh Agung Sedayu meskipun tidak begitu luas.”

“Kami bersungguh sungguh Ki Demang.”

“Tetapi kalian harus bekerja di bawah bimbingan Agung Sedayu, karena membuka tanah baru bukannya sekedar menebang pohon-pohon liar dan membuat pematang di seputarnya. Membuka tanah baru harus diperhitungkan apakah kemungkinan mendapatkan air selain air hujan. Kemungkinan-kemungkinan yang mungkin masih harus dipertimbangkan.”

“Kami akan berada di bawah petunjuk-petunjuknya.”

“Hubungilah Agung Sedayu. Kau boleh menyampaikan kepadanya, bahwa aku telah mengijinkan. Tetapi terbatas sekali. Hanya kalian yang menyatakan keinginannya sampai hari ini. Beritahukan kapada orang- orang lain yang ingin ikut serta, bahwa aku tidak akan mengijinkan orang-orang baru untuk ikut pula. Tanah persawahan di Jati Anom aku anggap sudah cukup sampai sekarang. Sedang hutan itu masih sangat kita perlukan.”

Tetapi yang sedikit itu telah menggembirakan hati Agung Sedayu. Rasa-rasanya ia mendapatkan kawan yang mulai memperjuangkan hari depan mereka meskipun hanya dalam lingkungan kecil. Apalagi ketika pada beberapa anak muda di antara mereka yang ikut membuka hutan itu menyatakan keinginan mereka untuk tinggal di padepokan kecil yang masih sunyi itu.

“Belum sekarang,“ jawab Agung Sedayu, “pada saatnya, jika padepokan itu telah siap benar, kalian dapat tinggal bersama kami. Sekarang, kami sedang bekerja keras untuk mempersiapkannya.”

“Kami akan membantu,“ berkata salah seorang dari mereka.

Agung Sedayu selalu saja tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih. Pada saatnya saja nanti aku akan memanggilmu.”

Namu dalam saat itu, Agung Sedayu sedang mempersiapkan sebuah rencana yang cukup rumit bersama gurunya dan Ki Waskita untuk mengetahui dasar-dasar ilmu yang mulai kabur. Satu satunya orang yang akan dapat memberikan banyak bahan adalah Widura sendiri, karena Untara yang sibuk dengan tugasnya tentu tidak akan sempat melakukannya meskipun ilmu itu terdapat lebih lengkap padanya daripada pada Widura.

Untuk kepentingan itu. Agung Sedayu telah menyiapkan sebuah ruang khusus yang akan menjadi sanggar dalam penelaahan ilmu kanuragan. Terutama dalam hubungan dengan ilmu yang masih sangat tipis pada Glagah Putih.

“Kita akan mempergunakan sebagian dari waktu kita untuk berada di dalam sanggar,” berkata Agung Sedayu kepada Glagah Putih.

“Apa salahnya? Aku sudah terbiasa berlatih dalam waktu yang tidak terbatas. Hampir setiap saat kakek memberi kesempatan kepadaku untuk meningkatkan ilmu,” berkata Glagah Putih.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun dengan demikian ia mengerti, bahwa tuntunan yang diberikan kepada Glagah Putihpun kurang memenuhi syarat dan urutan yang tersusun. Seakan-akan dasar ilmu itu diberikan kapan saja dan bagaimana saja yang sedang teringat oleh kakeknya.

Setelah semua persiapan selesai, maka Agung Sedayu, Kiai Gringsing dan Ki Waskita benar-benar mulai dengan penyelidikannya. Mereka dengan bersungguh-sungguh telah mempersiapkan semuanya yang mungkin diperlukan. Rontal dengan penggoresnya siap pula untuk menangkap tata gerak yang menarik perhatian mereka.

Widura yang pada saat-saat tertentu datang ke padepokan itu dan menyetujui semua rencana itupun telah mempersiapkan diri pula. Bahkan ketika rencana itu siap untuk dimulai, Widura menyerahkan beberapa helai rontal kepada Kiai Gringsing.

“Apakah isinya?“ bertanya Kiai Gringsing.

“Cobalah lihat Kiai. Mungkin akan berguna untuk melihat tata gerak dasar dari ilmu yang sedang menyusut ini.”

Kiai Gringsing mulai membuka rontal itu. Ia melihat susunan tata gerak dari limu yang sedang mereka tekuni. Meskipun kurang tersusun, namun nampaknya gambar-gambar yang tergores pada rontal itu menunjukkan usaha untuk meningkatkan ilmu yang ada pada orang yang melukiskannya di atas rontal yang masih tersimpan baik itu.

“Rontal ini masih terhitung baru,“ berkata Kiai Gringsing, ”aku kira tentu bukan peninggalan Ki Sadewa.”

Ki Widura menggelengkan kepalanya. Katanya, “Perlihatkan kepada Agung Sedayu, apakah ia dapat mengenalnya?”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun rontal itupun kemudian diserahkannya kepada Agung Sedayu.

Wajah Agung Sedayu menegang sejanak. Ia mencoba mengingat-ingat, dimanakah ia mengenal rontal itu. Rontal yang dilukisi oleh tata gerak yang mungkin dan bahkan yang sangat sulit dilakukan meskipun pada dasarnya ilmu itu adalah ilmu yang termurun sampai kepada Ki Widura dan Untara.

Dalam ketegangan itu, Agung Sedayu melihat Ki Widura tersenyum. Bahkan kemudian katanya, “Kau tentu ingat. Darimanakah aku mendapatkannya.”

Tiba-tiba saja wajah Agung Sedayu menjadi merah sesaat. Iapun kemudian teringat, bahwa ketika ia berada di Sangkal Putung, dalam cengkaman tata hidupnya yang lama, ia telah mencoba untuk memahami ilmu kanuragan. Tetapi ia tidak dapat melakukannya sesuai dengan keinginannya karena keadaan yang membatasinya saat itu. Karena itulah ia telah mempergunakan cara tersendiri. Ia mulai menghayalkan tata gerak yang dituangkannya dalam goresan-goresan di atas rontal.

Sambil mengangguk-angguk kecil Agung Sedayu berkata, “Aku ingat Paman.”

Widura tertawa. Katanya, “Kau tentu ingat, karena kaulah yang membuatnya. Kau yang waktu itu masih dikungkung oleh perasaan takut dan tanpa kepercayaan kepada diri sendiri, telah menuangkan khayal tata gerak dari perkembangan ilmumu pada rontal itu. Karena kemungkinan untuk berlatih waktu itu memang sangat sempit, maka kau pergunakan sebagian waktumu untuk berlatih di dalam angan-angan. Dan agaknya kau telah berhasil. Ilmumu berkembang seperti yang kau khayalkan meskipun tidak tepat benar, karena ada unsur-unsur gerak yang tidak mungkin dilakukan dalam kenyataan gerak, tetapi dapat kau bayangkan di dalam angan-angan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia ingin memberikan beberapa penjelasan, tetapi Ki Widura sudah mendahuluinya, “Tetapi pada suatu saat kau menjadi murid Kiai Gringsing yang memiliki ilmu dasar yang berbeda, meskipun agaknya beberapa bagian dapat kau trapkan setelah kau menguasai gerak dasar dari ilmumu yang sekarang.”

Kiai Gringsing tersenyum sambil memandang rontal ditangan Agung Sedayu itu. Katanya, “Kau memang cerdas. Memang lapangan untuk berlatih bukannya selalu halaman yang sunyi, atau sanggar yang luas. Tetapi angan-anganmu jauh lebih luas dari tlatah Pajang. Perhitungan dan pertimbanganmu dalam latihan khusus ini pasti jauh lebih masak daripada kau langsung dihadapkan pada tata gerak.”

“Karena itu, maka latihan-latihan seperti yang kau lakukan di samping latihan-latihan yang sebenarnya adalah sangat berguna.”

Agung Sedayu kemudian tesenyum pula. Katanya, “Darimana Paman mendapatkannya?”

“Aku mendapatkannya di Sangkal Putung. Selagi kau menjadi gemetar setiap kali Sidanti menantangmu, maka kau dengan rajin membuat lukisan-lukisan seperti ini.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

Kiai Gringsing dan Ki Waskitapun kemudian tertawa. Terbayang di dalam angan-angan mereka, seorang anak muda yang selalu ketakutan menghadapi kedaan di sekitarnya yang saat itu justru sedang dibakar oleh api perselisihan antara sanak kadang di Pajang dan Jipang.

“Tetapi semuanya itu kini tinggal kenangan,“ berkata Ki Waskita, “meskipun aku tidak melihat bagaimana pucatnya wajah anakmas Agung Sedayu, namun aku dapat membanyangkan, bahwa semuanya itu menjadi gambaran perkembangan jasmani dan jiwanya Angger Agung Sedayu.”

“Ya,“ sahut Widura, “tetapi bekas-bekasnya tentu tidak akan lenyap sama sekali.”

Agung Sedayu sama sekali tidak menyahut. Dibiarkannya orang-orang itu menilai tentang dirinya. Dan iapun tidak ingkar, bahwa sifat-sifat yang dimilikinya di masa kanak-kanak itu masih tetap membekas di hatinya, meskipun di dalam pertumbuhannya mengalami perubahan-perubahan yang penting.

“Nah,“ berkata Ki Widura kemudian, “maksudku dengan rontal itu adalah merupakan salah satu bahan dari usaha kita untuk mencari bentuk dan ciri-ciri dari ilmu yang sudah semakin susut itu. Aku dan Untara adalah prajurit. Dalam pada itu, tentu banyak unsur-unsur gerak yang langsung atau tidak langsung telah terbiasa dalam ilmu yang kini aku miliki, karena tempaan yang aku alami setelah aku menjadi prajurit. Di dalam lingkungan keprajuritan, telah tersusun ilmu-ilmu pokok yang harus dikuasai oleh setiap prajurit, meskipun masing-masing telah memiliki bekalnya sendiri.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ternyata bahwa lukisan-lukisan di dalam rontal itu akan sangat berarti meskipun lukisan-lukisannya bukannya lukisan yang baik.

Pada hari-hari berikutnya maka padepokan kecil itu mulai dengan kerja yang memerlukan ketekunan. Selain memelihara padepokan itu sendiri, menggarap sawah dan pategalan bagi persediaan makan mereka, maka merekapun mulai memasuki sanggar dengan sungguh-sungguh.

Yang akan menjadi bahan pengamatan mereka adalah Glagah Putih dan Ki Widura sendiri di samping rontal yang berisi goresan-goresan tangan Agung Sedayu.

Pada hari-hari pertama, beberapa kali Glagah Putih harus mengulangi latihan-latihan yang pernah didapatkannya dari kakeknya. Unsur-unsur gerak yang sederhana yang justru merupakan dasar dari ilmunya. Kemudian beberapa unsur yang lain sudah merupakan perkembangan meskipun sama sekali masih kosong.

Agung Sedayu, Kiai Gringsing dan Ki Waskita memperhatikannya dengan saksama. Setiap kali mereka menghentikan latihan itu, dan minta agar Glagah Putih mengulanginya.

“Kau tidak perlu mengerahkan tenaga,” berkata Kiai Gringsing, “lakukanlah unsur geraknya saja. Aku hanya ingin melihat bentuk dan sikap. Bukan kekuatannya.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Sebenarnyalah ia sudah mulai lelah. Jika ia harus mengulangi beberapa kali dengan segenap tenaganya, maka ia akan kelelahan.

Tetapi Glagah Putihpun kemudian tidak perlu mengulang lebih banyak lagi. Agung Sedayu kemudian berdiri dan melakukan tata gerak seperti yang dilakukan oleh Glagah Putih.

“Kau masih dapat melakukannya Agung Sedayu,“ berkata Ki Widura, “tetapi tata gerak yang kau perlihatkan sudah mempunyai isi yang berbeda, karena nafas ilmu yang kau dapatkan dari Kiai Gringsing masih tetap menjiwainya,“ berkata Ki Widura.

“Kosongkanlah dirimu,“ berkata Kiai Gringsing, “Ki Widura benar. Sehingga sulit untuk mengurai batasnya karena kau memang memiliki keduanya. Jika kau mengosongkan diri, maka yang kau lakukan hanyalah menirukan. Jika yang kau lakukan bergetar pula di dalam dirimu, lakukanlah terus.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya gurunya dan Ki Widura berganti-ganti. Kemudian Katanya, “Baiklah guru. Aku akan mencoba mengosongkan diri meskipun aku sadar, bahwa pekerjaan itu bukannya pekerjaan yang mudah.”

Kiai Gringsing mengangguk. Lalu, “Mulailah. Seperti Glagah Putih. Yang ingin kami ketahui adalah tata gerak dan bentuknya, bukan kekuatannya. Karena itu, kau tidak perlu melepaskan tenaga sedikitpun juga, selain bagi gerak itu sendiri.”

Agung Sedayu mengangguk. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian iapun memusatkan nalar dan perasaannya pada dirinya, pada ujud wadagnya, sehingga yang ada padanya kemudian hanyalah tulang dan daging yang kosong terlepas dari penguasaan gerak naluriah, dan sepenuhnya diserahkan kepada bayangan yang tersisa dalam dirinya pada pengamatannya atas tata gerak yang dilakukan oleh Glagah Putih.

Sebelumnya Agung Sedayu belum pernah melakukannya. Itulah sebabnya ia mengalami beberapa kesulitan. Setiap kali bayangan itu menjadi jelas setelah mengalami pemisahan dari bagian-bagian yang tidak dikehendaki. Namun setiap kali, unsur gerak naluriahnya seolah-olah telah mengaburkannya kembali. Sangat sulit baginya untuk mengendapkan ilmu yang telah dikuasainya sampai pada batas penguasaan urat dan syarafnya sehingga terlepas dari unsur-unsur yang menyentuh simpul-simpul penggerak, sehingga seakan-akan hilang dari perbendaharaan batinnya.

Namun dengan tekun Agung Sedayu berusaha. Jika ia berhasil, maka itu justru merupakan suatu hal yang baru baginya, yang akan merupakan suatu kemajuan atas kekuasaannya terhadap dirinya sendiri, yang wadag maupun yang halus.

Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Widura justru menjadi tegang.

Mereka melihat betapa wajah Agung Sedayu menjadi pucat dan berkeringat. Namun Kiai Gringsing telah membiarkannya. Justru kesempatan itu merupakan kesempatan yang sangat berarti bagi Agung Sedayu. Ilmu yang ada pada Glagah Putih sekedar merupakan pendorong dan peraga dalam usaha pengosongan diri dan menyatukan daya pikirnya pada bayangan yang dikehendakinya, yang tersisa dalam dirinya.

Glagah Putih yang ada di dalam sanggar itu pula menjadi heran. Ia sama sekali tidak mengerti, apakah yang sedang dikerjakan oleh Agung Sedayu. Bahkan ia menjadi heran, bahwa Agung Sedayu mengalami kesulitan untuk menirukan tata geraknya yang menurut ayahnya, barulah tata gerak dasar yang sederhana.

Dalam puncak pencapaiannya, wajah Agung Sedayu benar-benar menjadi pucat. Ternyata ia berhasil menyingkirkan semua simpanan di dalam dirinya ke sudut sampai pada batas penguasaan urat dan syarafnya, yang dikuasai oleh kehendak, sehingga seolah-olah ia tidak pernah memilikinya dan sama sekali tidak mempengaruhinya lagi.

Mulai saat itulah, yang nampak pada penglihatan mata hati Agung Sedayu adalah bayangan tata gerak yang dilakukan oleh Glagah Putih. Seolah-olah sekali lagi Glagah Putih melakukan dasar tata gerak ilmunya yang masih sangat sederhana itu.

Dari unsur gerak yang sama Agung Sedayu mengikuti penglihatan mata hatinya, dan melakukan tata gerak berikutnya, tepat seperti yang pernah dilihatnya.

Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Widura menarik nafas dalam-dalam. Mereka melihat keberhasilan Agung Sedayu. Bahkan kemudian Ki Waskita berkata, “Ia akan memiliki ingatan yang tajam sekali dengan keberhasilannya itu. Jika ia selanjutnya melatih diri dan menyempurnakannya, maka itu akan sangat berguna baginya. Ia akan mengenal segala ilmu yang pernah dilihatnya dan mempelajarinya, sehingga akhirnya ilmu Agung Sedayu akan menjadi ilmu yang paling lengkap.”

“Tentu belum sejauh itu,“ jawab Kiai Gringsing, “tetapi bahwa yang dicapainya itu akan sangat berguna, agaknya memang demikian.”

“Tetapi, tentu Agung Sedayu tidak akan dapat melakukannya, sebelum ia mendapatkan inti dari kemampuannya itu,“ berkata Ki Waskita. Lalu, “Apakah Kiai juga pernah memberikan inti dasar dari ilmu itu kepada Swandaru?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sambil memperhatikan tata gerak Agung Sedayu yang sederhana dan merupakan unsur-unsur gerak dasar itu, ia menjawab, “Jika Swandaru memiliki ketajaman batin seperti Agung Sedayu, maka iapun tentu dapat melakukannya. Tetapi aku tidak tahu, apakah ia berhasil mengurai semua bahan yang ada padanya, untuk menemukan hubungannya sehingga terbentuklah suatu ujud.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Kiai sangat bijaksana.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Diperhatikannya tata gerak Agung Sedayu yang melakukan tata gerak dasar itu berulang kali tanpa dipengaruhi oleh ilmu yang telah dimilikinya. Sama sekali bersih.

Perlahan-lahan tetapi meyakinkan, maka orang-orang yang memperhatikan tata gerak Agung Sedayu itu melihat kebiasaan yang nampak pada tata gerak dasar. Baru kebiasaan. Dan kebiasaan itu mungkin memang terdapat pada tata gerak itu sendiri, atau lahir setelah ilmu itu menurun. Baik pada kakek Glagah Putih atau pada Glagah Putih sendiri, sehingga kebiasaan itu belum dapat dijadikan ciri bagi ilmu itu.

“Setelah aku melihat, bagaimanakah tata gerak dasar Ki Widura, maka barulah akan mendapat perbandingan dibantu oleh gambar yang telah dibuat oleh Agung Sedayu tentang tata gerak yang sudah disempurnakan baru di dalam angan-angan,“ berkata Kiai Gringsing didalam hatinya.

Sebenarnya, bahwa dengan mengulang-ulang tata gerak dasar itu. banyak yang dapat dicapai oleh Agung Sedayu bagi dirinya sendiri dan bagi ilmu itu. Ia sudah dapat memberikan gambaran yang berulangkali dengan gerak yang tepat sama dan unsur-unsur dasar. Sepuluh kali ia mengulang, maka sepuluh kali pula setiap bagian dari gerak itu diulang.

Ketika Kiai Gringsing menganggap sudah cukup, maka iapun kemudian berkata, “Sudahlah Agung Sedayu. Untuk kali ini kita sudah cukup.”

Agung Sedayu mendengar suara itu bergetar di dalam hatinya. Karena itu maka iapun kemudian perlahan-lahan berusaha untuk menyalurkan kehendaknya pada wadagnya, sehingga akhirnya, iapun berhenti.

Namun demikian ia berhenti, dan melepaskan diri dari ketegangan saat-saat ia mengosongkan diri, terasa tubuhnya bagaikan menjadi gemetar karena getar pada urat dan syarafnya, seolah-olah menjalar sampai ke pusat syarafnya, sehingga akhirnya seolah-olah yang kosong itupun telah terisi kembali.

Maka sejenak kemudian. Agung Sedayu itupun serasa telah pulih kembali menjadi Agung Sedayu sewajarnya. Karena itulah, maka jika ia masih ingin meneruskan usahanya mengulangi tata gerak Glagah Putih, maka ia tidak akan dapat melakukannya tanpa pengaruh ilmunya sendiri.

Di hari itu, Kiai Gringsing rasa-rasanya telah menemukan sesuatu yang baru. Bukan saja pengenalan atas dasar-dasar pokok ilmu yang sedang mereka pelajari, tetapi ia menyaksikan, bagaimana Agung Sedayu berusaha mengosongkan dirinya, dan membuat wadagnya bagaikan terlepas dari segala ilmu yang dimilikinya.

Demikianlah, setelah mereka selesai dengan ungkapan tata gerak itu, mulailah mereka duduk pada sebuah lingkaran dan sekedar berbincang. Widura yang paling banyak mengenal ilmunya dari orang-orang lain yang ada mencoba untuk menjelaskan, apa yang telah mereka saksikan bersama

“Memang belum ada ciri-ciri pokok yang nampak. Tetapi ada sesuatu yang dapat diingat. Gerak kaki itu terulang sampai beberapa kali pada unsur-unsur dasar yang berbeda. Langkah yang melintang siku dari garis lurus pandangan mata dan susunan telapak tangan yang tegak di muka dada, dapat merupakan pengenalan,“ berkata Widura.

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Baru merupakan bentuk-bentuk pada tata gerak. Tetapi belum langsung menyangkut watak. Karena ciri sebenarnyalah dapat dikenali sebagian terbesar pada watak ilmu itu.”

“Satu hal yang dapat Kiai ingat, meskipun tidak dilakukan oleh Glagah Putih. Ketajaman bidik itu bukan sekedar bentuk. Tetapi sudah mengandung watak dari suatu ilmu.“ sahut Widura.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Ya Ketajaman bidik memang merupakan ciri dari ilmu itu. Tetapi sudah barang tentu tidak hanya ciri yang satu itulah yang kita lihat. Menilik sikap dan tata gerak dasarnya, maka akan ada kemampuan-kemampuan yang akan nampak dalam tata gerak itu.”

“Aku kira ada watak yang sudah terungkap meskipun hanya permukaannya saja,” berkata Ki Waskita.

“Pertahanan yang kuat dan rapat. Hampir tidak tertembus oleh ujung jarum.“ potong Kiai Gringsing.

“Ya. Dan itu tentu dapat dihubungkan dengan watak.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Waskita benar. Tetapi watak yang kita lihat adalah watak yang samar-samar. Ilmu yang banyak dijiwai oleh unsur-unsur gerak pertahanan yang kuat dan rapat, menunjukkan bahwa ilmu itu lebih mementingkan keselamatan sendiri daripada mencelakai orang lain. Aku kira sesuai benar dengan Ki Sadewa. Tetapi yang akan kita cari adalah watak dalan keutuhannya. Kekasarannya, kekerasannya, bentuk dan jenis pukulan yang mematikan, yang sekedar melukai dan sebagai sarana untuk melepaskan diri dari kesulitan.”

“Kita memerlukan waktu,“ berkata Widura, “namun aku sudah mulai membayangkan, jika kita dapat menemukan sebagian yang hilang, maka dengan bekal yang ada itu akan tersusunlah kembali ilmu yang dahsyat yang pernah dimiliki oleh Ki Sadewa. Lebih dahsyat dari ilmu yang pernah kita kenal pada orang-orang yang sekarang masih mempergunakannya, karena tidak ada seorangpun yang berhasil mempelajarinya sampai tuntas setelah Ki Sadewa.”

“Mudah-mudahan kita berhasil. Jika tidak seluruhnya, maka jika kita mencapai sebagian besar, maka nama Ki Sadewa akan tidak terlupakan,“ berkata Kiai Gringsing.

Ki Widura mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Mudah-mudahan demikian.”

Demikianlah, penyelidikan dengan tekun dan bersungguh-sungguh atas ilmu Ki Sadewa itu sudah dimulai. Tetapi mereka semuanya tidak tergesa-gesa. Mereka tidak membatasi waktu penyelidikannya dengan dua atau tiga pekan. Tidak pula dua atau tiga bulan. Bahkan mereka tidak akan memaksa untuk segera menyelesaikannya setelah dua atau tiga tahun.

Karena itulah, maka penyelidikan itu berjalan terus meskipun lambat. Namun demikian, mareka menyediakan waktu betapapun sempitnya setiap hari untuk menelaah, membicarakan atau mencari unsur-unsur gerak yang masih harus diketemukan.

Dengan demikian maka kerja mereka yang lain sama sekali tidak terbengkelai. Sawah mereka yang mulai menghijau, pategalan dan kebun padepokan mendapat pemeliharaan yang teliti.

Namun di samping mengenali ilmu yang sudah hampir dilupakan itu, ternyata bahwa Agung Sedayu juga tidak melupakan dirinya sendiri. Setelah ia berhasil mencoba mengosongkan dirinya, justru seolah-olah demikian saja harus dilakukan, meskipun sebenarnya bekalnya memang sudah dipersiapkan oleh gurunya di dalam dirinya, maka iapun menjadi semakin tertarik kepada ilmunya sendiri. Bahkan kadang-kadang ia pergi menyendiri di dalam sanggar dan menylaraknya dari dalam. Sekali-sekali ia mencoba untuk melakukannya seperti yang pernah dilakukan. Mengosongkan diri untuk memberikan kesempatan kepada wadagnya melakukan sesuatu yang dikehendaki. Bahkan pengenalannya yang sedikit terhadap keadaan di sekitarnya akan dapat terungkapkan kembali dalam gerak.

“Tetapi apakah gunanya?“ tiba-tiba saja ia bertanya kepada diri sendiri, “aku hanya dapat menirukan. Sedang aku sendiri tidak melihat apa yang aku lakukan. Dengan demikian aku akan selalu memerlukan orang lain untuk membantuku, jika aku ingin menguasai ilmu ataupun tata gerak yang pernah aku lihat dari siapapun juga.”

Namun demikian, Agung Sedayu tidak mengatakan kepada gurunya. Mungkin pada suatu saat gurunya akan memberikan beberapa petunjuk lain. Jika ia memaksa bertanya sekarang, maka seolah-olah ia telah mencoba untuk mendahului rencana yang mungkin telah disusun oleh gurunya.

Meskipun demikian. Agung Sedayu tidak berhenti berlatih. Kadang-kadang sendiri, kadang-kadang dengan gurunya. Tetapi untuk kepentingan itu, Glagah Putih selalu dipisahkannya dengan alasan apapun juga, agar ia tidak terganggu karenanya. Jika anak yang masih terlalu muda itu melihat, dan ingin mencobanya, maka akibatnya akan kurang baik bagi anak muda itu sendiri. Apalagi mereka yang masih belum cukup mempunyai bekal dalam kedewasaan ilmunya.

Dengan demikian, maka sebenarnyalah padepokan kecil itu sudah menjadi sibuk dalam kerjanya sendiri, meskipun tidak nampak oleh siapapun karena Agung Sedayu dan penghuni lainnya selalu nampak sibuk pula di sawah.

Namun demikian, tiba-tiba saja, Agung Sedayu menjadi sangat gelisah. Ia merasa sesuatu yang mendesaknya, justru karena ia menginginkan sesuatu pencapaian.

Gurunya dan Ki Waskita adalah orang yang bijaksana. Karena itu merekapun melihat kegelisahan itu. Meskipun mereka tidak mengetahuinya dengan tepat, namun mereka dapat menduga, apa yang diinginkan oleh anak muda itu.

Meskipun demikian Kiai Gringsing tidak bertanya. Ia membiarkan Agung Sedayu sampai pada suatu saat mengatakannya kepadanya. Dan yang ditunggunya itupun kemudian ternyata pula.

“Guru,“ berkata Agung Sedayu, “keinginanku itu tidak dapat aku tahankan lagi.”

Kiai Gringsing tersenyum. Ia memang menghendaki Agung Sedayu mengatakannya kepadanya. Jawabnya, “Agung Sedayu. Muridku bukannya kau seorang diri. Aku sudah menganggap bahwa kau dan Swandaru adalah anak-anakku. sehingga dengan demikian aku tidak dapat membedakan kalian berdua sama sekali. Juga dalam hal penyerahan ilmu. Karena itu anakku, kalian berdua yang telah dewasa, dan telah menerima bahan-bahan yang cukup sebagai bekal, aku persilahkan untuk mencarinya sendiri. Jika kemudian kalian mengalami perbedaan pertumbuhan, itu bukannya aku yang tidak adil. Tetapi kalianlah yang menentukan. Apakah kalian berhasil mengembangkan yang telah kalian capai, atau tidak.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

 

 

“Karena itulah, maka aku tidak akan dapat mencegah keinginanmu untuk mencari kesempurnaan dengan bekal yang ada. Pergilah. Tetapi aku memberikan batasan waktu. Padepokan kecil ini tidak boleh terbengkalai. Karena itu, yang kau tuntut sebagai suatu cita-cita dan kenyataan hidupmu sehari-hari harus seimbang. Jika kau akan pergi menyendiri, pergilah. Tetapi tidak lebih dari satu bulan. Dari saat purnama naik, sampai ke purnama berikutnya. Biarlah selama itu, aku, Ki Waskita dan Glagah Putih menunggui padepokan ini. Sementara itu, Glagah Putih juga akan meningkatkan ilmunya, sesuai dengan dasar-dasar tata gerak yang dikuasainya. Karena aku kira Ki Widura untuk sementara dapat melakukannya.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya, “Terima kasih Guru. Aku mohon maaf bahwa akhirnya aku mementingkan diriku sendiri. Tetapi aku tidak akan melupakan Glagah Putih dan usaha paman Widura untuk mengenal ilmunya lebih dalam.”

“Lakukanlah yang ingin kau lakukan. Tentang ilmu yang sedang kita kenali itu, kita tidak akan terikat dan terbatas waktu.”

“Tetapi kasihan dengan Glagah Putih. Sebelum ilmu itu dapat dikenal seluruhnya, maka yang dapat dicapai adalah sekedar pangkalnya saja. Kecuali jika Glagah Putih bersedia menerima ilmu yang lain. Namun agaknya Paman Widura ingin agar Glagah Putih menguasai ilmu yang sedang kita cari bentuknya itu secara utuh, dalam tingkatnya yang tinggi.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya kau benar. Tetapi ia masih sangat muda. Waktu masih cukup panjang baginya, sehingga menurut gelar lahiriah, ia masih mempunyai kesempatan meskipun masa persiapannya agak panjang.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Agung Sedayu, pergilah. Tetapi sebaiknya kau minta ijin juga kepada kakakmu Untara. Dalam hal seperti ini kakakmu tentu akan mengijinkanmu.”

“Baik Guru. Aku akan menemui Kakang Untara segera.”

Keinginan yang mendesak itu telah mengantarkan Agung Sedayu menemui kakaknya. Seolah-olah ia tengah dikejar oleh waktu yang tidak dapat ditunda lagi.

“Kakang,“ berkata Agung Sedayu setelah ia bertemu dengan Untara, “perkenankanlah aku pergi yang menurut Guru diberi batasan waktu satu bulan. Aku ingin menemukan yang selama ini rasa-rasanya selalu mengganggu dalam tata gerak ilmuku. Rasa-rasanya ada yang belum tersalur dalam arus tata gerak di dalam setiap saat aku berlatih atau justru dalam penggunaan ilmu yang sebenarnya.”

Untara tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah adiknya dengan tegang sehingga Agung Sedayupun menjadi berdebar-debar. Sesaat Agung Sedayu memandang wajah kakaknya, namun kemudian wajahnya sendirilah yang menunduk dalam-dalam.

“Agung Sedayu,“ berkata Untara dengan nada datar, “apakah kau sudah memikirkannya?”

“Sudah Kakang.”

“Bukankah itu berarti bahwa kau akan meninggalkan padepokanmu? Padepokan yang baru saja selesai dibangun dan memerlukan pemeliharaan yang tekun, tiba-tiba saja akan kau tinggalkan untuk waktu vang lama.”

“Guru. Ki Waskita dan Glagah Putih ada di sana. Mereka akan memelihara padepokan itu sebaik-baiknya.”

“Apakah gurumu mengijinkan kau melakukan pengenalan tentang ilmumu sendiri dan kemudian menyempurnakan? Bukankah itu maksud kepergianmu?”

“Ya kakang. Guru mengijinkan.”

“Dan kau sudah merasa dirimu cukup matang untuk melakukannya?”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian ia menjawab, “Aku mohon guruku untuk memberikan penilaiannya karena aku sendiri tidak akan mampu melakukannya.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Dalam hal ini gurumulah yang lebih banyak menentukan. Jika gurumu mengijinkan, terserah kepadamu.”

Agung Sedayu menarik nafas. Ternyata kakaknya tidak melarangnya, meskipun sikapnya masih tetap dingin.

“Baiklah Kakang. Aku mohon diri. Mudah-mudahan aku berhasil melakukannya dan menemukan sesuatu yang berharga, meskipun nilainya yang berharga itu kecil sekali.”

Untara mengangguk. Jawabnya, “Pergilah. Tetapi tepati batasan waktu yang diberikan oleh gurumu. Jika gurumu memberimu waktu sebulan itu tentu bukannya tidak beralasan.“

Agung Sedayu termenung sejenak. Ia mencoba menangkap, bagaimanakah sebenarnya tanggapan Untara atas rencananya itu. Tetapi Agung Sedayu tidak menemukan selain sikap yang dingin.

“Berhati-hatilah,“ berkata Untara kemudian, “kau masih terlalu kanak-anak. Bukan saja umurmu, tetapi juga sikap dan pandangan hidupmu, karena selama ini kau selalu di bawah asuhan gurumu dan mengikutinya kemana ia pergi. Dengan demikian maka kau sudah terbiasa menyerahkan segala kesulitan kepada gurumu.”

Agung Sedayu mengangguk lemah. Jawabnya, “Aku akan berhati-hati Kakang.”

“Mudah-mudahan kau selalu mendapat perlindungan.“

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia-pun minta diri untuk kembali ke padepokannya dan seterusnya untuk sebulan ia akan melakukan rencananya. Sendiri, tanpa gurunya dan tanpa saudara seperguruannya.

“Kakang Untara bersikap dingin,“ berkata Agung Sedayu kepada Kiai Gringsing.

“Tetapi bukankah ia tidak melarang?“ bertanya Kiai Gringsing.

“Ya. Kakang tidak melarang.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Dalam pada itu. Agung Sedayupun segera mengadakan persiapan lahir dan batin. Selain ia berusaha untuk mematangkan ilmunya di bagian-bagian terpenting sebagai bekal perjalanannya, maka iapun telah mempersiapkan tekadnya, apapun yang akan dijumpainya.

Menjelang purnama naik, maka Agung Sedayupun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ia membawa beberapa pakaian sebagai bekal dan beberapa genggam beras, selain senjatanya yang melilit di pinggangnya.

“Ingat,“ berkata gurunya ketika Agung Sedayu minta diri untuk berangkat, “beras itu tidak akan cukup satu bulan jika kau mempergunakannya sebagaimana sewajarnya. Karena itu kau harus mampu mengatasi kesulitan dengan caramu sendiri. Bankan bukan hanya sekedar mengenai beras, tetapi mungkin ada kesulitan-kesulitan lain yang perlu kau atasi dengan bijaksana. Bukan asal kau dapat memperlakukannya dengan kekerasan dan ilmu kanuragan.”

Agung Sedayu menyimpan semua pesan. Baik dari gurunya, maupun dari Ki Waskita.

“Jangan lebih dari satu bulan,“ berkata Ki Waskita, “karena pada saatnya aku harus kembali.”

“Ya Kiai. Aku akan memperhitungkan waktu. Mudah-mudahan langit bersih sehingga aku dapat melihat bulan yang berkembang di langit sampai saatnya purnama yang akan datang.”

“Kau tidak usah menghiraukan apakah bulan itu nampak di langit atau tidak. Kau dapat menghitung hari-hari yang berjumlah sekitar tiga puluh.”

Agung Sedayu mengangguk. Sekali lagi ia minta diri kepada Glagah Putih untuk pergi beberapa saat.

“Kakang aneh. Aku sudah meninggalkan Kakek dan tinggal di sini, tetapi Kakang malahan pergi untuk waktu yang lama.”

“Kau akan berada dalam asuhan ayahmu dan kedua orang-orang tua itu Glagah Putih. Dan aku hanya pergi sebentar untuk suatu keperluan. Tidak lebih dari satu bulan. Aku harap tanaman di halaman depan akan menjadi bertambah subur, dan pohon-pohon itu akan mulai berbuah.”

“Tetapi jangan lebih dari satu bulan. Jika Kakang tidak segera kembali, aku akan asing di sini. Karena kawanku hanyalah orang-orang tua saja meskipun ada Ayah vang selalu datang kemari.”

Demikianlah maka Agung Sedayupun meninggalkan padepokan kecilnya dengan tekad yang bulat. Ia ingin mengetahui, apakah sebenarnya yang telah terjadi pada dirinya saat-saat ia mengosongkan diri dan melihat bayangan-angan yang dikehendaki. Ia ingin melihat ilmunya sendiri dari mula sampai akhir. Dan ia ingin melihat ke dirinya sendiri, apakah sebenarnya yang pernah dilakukan dan apakah yang sebaiknya dilakukan.

Ketika Agung Sedayu meninggalkan padepokannya, ia sama sekali tidak usah memikirkan, kemana ia harus pergi. Sebenarnyalah ia sudah mempunyai rencana di dalam hatinya. Hanya jika renacananya itu tidak memenuhi keinginannya, maka ia akan menentukan cara lain.

Dengan langkah yang tetap Agung Sedayu menyusuri jalan sempit menuju ke sebuah hutan kecil. Di balik hutan itu terdapat sebuah sungai yang curam. Di tebing sungai itu terdapat sebuah goa yang dalam.

Letak goa itu memang tidak terlalu jauh dari Jati Anom. Pada masa kanak-anak ia pernah bermain-main ke goa itu bersama kakaknya. Hampir saja ia hilang ditelan tikungan yang bersimpang siur di dalam goa itu, sehingga ia menangis tersengal-sengal.

“Sekarang aku akan melihat apakah jalan-jalan yang bersimpang siur di dalam goa itu masih membingungkan,“ berkata Agung Sedayu.

Perjalanan Agung Sedayu memang bukan perjalanan yang amat jauh. Karena itu, maka perjalanan itupun tidak memerlukan waktu yang sangat lama.

Hutan kecil itupun tidak terlampau lebat, meskipun masih banyak terdapat berbagai macam binatang. Bahkan binatang buas. Apalagi hutan itu menjorok sampai ke tepi sebuah sungai, yang merupakan syarat bagi hadirnya berbagai macam binatang, karena binatang-binatang itu bisa mendapatkan air dengan mudah.

Hutan itu masih sama seperti saat Agung Sedayu sering bermain-main di sekitarnya, apabila ia mengikuti kakaknya. Meskipun kadang-kadang ia merengek minta pulang, tetapi sekali dua kali ia pernah sampai ke seberang hutan itu.

Masih teringat olehnya, kakaknya selalu marah-marah kepadanya, sehingga akhirnya ia tidak mendapat kesempatan lagi untuk ikut bersama jika kakaknya bermain-main di hutan itu atau ke goa seberang.

Dalam pada itu, sepeninggal Agung Sedayu, ternyata Untara telah menemui Kiai Gringsing. Semula Kiai Gringsing menjadi cemas, bahwa Untara menganggap tindakannya itu salah. Tetapi ternyata Untara berkata, “Kiai, aku senang melihat perkembangan jiwa Agung Sedayu. Kini ia mencoba untuk mencari dengan kemampuannya sendiri. Bukankah dengan demikian berarti bahwa kepribadiannya menjadi semakin mantap, bukan sekedar menghambakan diri di Sangkal Putung?”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ternyata Untara bukannya sekedar acuh tidak acuh saja terhadap niat adiknya. Adalah sifat Untara bahwa ia sama sekali tidak ingin memuji seseorang di hadapan orang itu sendiri. Meskipun ia sebenarnya merasa bangga akan keputusan Agung Sedayu untuk membentuk dirinya sendiri, tetapi di hadapan Agung Sedayu, Untara tetap bersikap acuh tidak acuh seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu.

“Anakmas,” kata Kiai Gringsing, “aku sebenarnya merasa cemas, apakah Anakmas dapat menyetujui keinginan Agung Sedayu untuk pergi mencari sesuatu yang belum dapat ditentukannya sendiri.”

“Aku tentu setuju. Itu lebih baik dari pada ia menunggu. Dengan kepergiannya itu, maka ia telah melakukan sesuatu usaha bagi dirinya, bukan sekedar menerima pemberian. Apakah itu petunjuk, apakah itu kesempatan yang manapun juga.”

“Syukurlah. Seperti angger, akupun melihat, bahwa Agung Sedayu sebenarnya memiliki pandangan yang hidup terhadap dirinya sendiri dan terhadap ilmunya. Itulah sebabnya maka ia akan mencari sesuatu yang dianggapnya belum lengkap pada dirinya. Aku sengaja membiarkannya mencari sendiri, agar seperti yang Anakmas katakan, ia tidak akan sekedar menerima. Selebihnya, aku adalah seorang guru yang mempunyai lebih dari seorang murid. Aku harus adil terhadap keduanya.”

Untara mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah yang Kiai maksud dengan adil ?”

Pertanyaan itu agak aneh bagi Kiai Gringsing. Sejenak ia merenung. Namun ia kemudian menjawab, “Anakmas. Ilmu seseorang adalah sangat terbatas. Apa yang aku punyaipun sangat terbatas. Yang terbatas itu dasar-dasarnya telah aku berikan kepada Agung Sedayu dan Swandaru. Lengkap dan sama karena memang hanya itulah yang aku punya. Jika kemudian ada sesuatu yang lebih dari yang lengkap dan sama itu, maka aku harus memberikan kepada kedua-duanya pula.”

“Kiai,“ bertanya Untara, “apakah ada yang lebih dari yang sudah lengkap itu?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Angger adalah seorang senapati yang memiliki ilmu yang mumpuni. Aku kira Angger dapat mengerti apa yang lebih dari yang lengkap bagi sebuah ilmu itu. Ilmu kanuragan bukannya sekedar mengenal tata gerak dasar dari yang pertama sampai yang terakhir. Yang lengkap adalah pengenalan semua unsur tata gerak dan hubungannya yang satu dengan yang lain. Penguasaan semua kekuatan yang ada pada diri seseorang dan pengenalan kepada kekuatan-kekuatan cadangan. Baik yang ada di dalam dirinya, maupun yang tersedia di dalam alam disekitarnya. Bukankah begitu? Dan aku sudah memberikannya semuanya itu kepada Agung Sedayu dan kepada Swandaru.”

Untara mengangguk-angguk. Sebelum ia bertanya. Kiai Gringsing melanjutkannya. “Tetapi apakah Angger Untara puas dengan ilmu yang lengkap itu? Setelah ilmu itu lengkap, masih ada yang perlu diketahui. Masih banyak sekali. Pengenalan atas hubungan ilmu satu dengan yang lain dalam pancaran penggunaannya. Angger seorang prajurit. Tentu Angger tidak sekedar memiliki ilmu yang Angger terima secara utuh itu. Tentu ada yang lebih dari ilmu yang pernah Angger terima, karena didalam ilmu Angger telah terjadi hubungan yang luluh dan mantap antara ilmu yang Angger terima dari Ki Sadewa dan ilmu yang harus dikuasai setiap prajurit.”

Untara mengangguk-angguk pula. Katanya, “Aku mengerti yang Kiai maksud. Kiai bermaksud agar Agung Sedayu menyempurnakan ilmunya dalam bentuk apapun di luar petunjuk Kiai, karena Kiai merasa bahwa dengan demikian Kiai sudah tidak bertindak adil terhadap kedua murid Kiai.“ Ia berhenti sejenak, lalu. “Kiai, apakah yang disebut adil bagi seorang ibu terhadap kedua anaknya kakak beradik. Seorang kakak yang berumur sepuluh tahun, apakah harus menerima bagian makan yang sama dengan anaknya yang baru berumur tiga tahun? Jika Kiai berpegangan kepada pendapat bahwa yang adil itu adalah yang sama, maka malanglah anak yang tua, karena ia harus makan segenggam nasi seperti adiknya yang masih bayi.”

Kiai Gringsing tersenyum. Ia senang mendengar Untara yang menyatakan pendapatnya tanpa disebunyikan. Hatinya sebagai seorang Senapati cukup terbuka dan mantap sesuai dengan sikap dan pendapatnya.

“Angger benar,“ berkata Kiai Gringsing, “sedangkan saat ini, aku masih merasa mempunyai dua orang anak kembar. Itulah sebabnya aku memperlakukan keduanya sama. Memang mungkin pada suatu saat aku harus melihat, bahwa pertumbuhan keduanya mengalami perbedaan. Mungkin aku harus memberi garam kepada yang seorang dan memberikan gula kepada yang lain. Nah, dalam keadaan yang demikian, yang adil memang bukannya yang sama. Yang adil bagi kedua anak-anakku itu adalah memberikan apa yang dibutuhkan oleh masing-masing sesuai dengan garis ajaranku lahiriah dan rohaniah.”

Untara memandang Kiai Gringsing sejenak. Dengan kerut merut di dahi ia bertanya, “Jadi menurut Kiai, Agung Sedayu dan Swandaru itu kali ini masih berada dalam tataran yang sama.”

“Aku berpendapat demikian. Tetapi yang sama itupun memiliki tingkatannya yang dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing, kemampuan berpikir dan menanggapi sesuatu peristiwa dan keadaan.”

“Baiklah Kiai,“ berkata Untara, “Kiai ingin bertindak bijaksana, Sayang, bahwa Agung Sedayu mempunyai hubungan yang dekat dengan aku, karena aku kakaknya. Jika aku menyatakan pendapatku dengan jujur sesuai dengan kata hatiku, maka Kiai akan menganggap bahwa aku ingin berbuat sesuatu yang menguntungkan adikku.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi iapun tersenyum. Untara memang mengatakan apa saja yang tersirat. Dan iapun telah mengatakan bahwa ia menyembunyikan sesuatu. Dan itu sangat menarik bagi Kiai Gringsing.

“Angger tidak ingin disebut seorang kakak kandung yang ingin mendesakkan pendapatnya bagi keuntungan adiknya. Karena itu Angger tidak mau mengatakan, bahwa sebenarnya Agung Sedayu memiliki kematangan ilmu yang lebih tinggi dari Swandaru berdasarkan bahan yang mereka terima dari aku. Begitu? Sehingga ia pantas menerima bukan hanya segenggam seperti adiknya, tetapi semangkuk.”

Untara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Aku berpendapat demikian. Tetapi pendapat yang menentukan adalah pendapat Kiai sebagai gurunya, karena Kiai mempunyai hubungan yang lebih rapat dengan keduanya.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Segala sesuatunya akan berjalan sewajarnya. Mudah-mudahan aku selalu mendapat petunjuk dari Yang Maha Kasih, agar aku dapat berada di antara murid-muridku dengan bijaksana.”

Untara mengangguk-angguk. Iapun mengerti, bahwa Kiai Gringsing akan selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan kedua muridnya yang pasti akan mempunyai beberapa perbedaan.

Setelah itu ia memberikan beberapa pesan pula kepada Glagah Putih yang ada di padepokan kecil itu pula.

“Kiai,“ berkata Glagah Putih sepeninggal Untara, “Kakang Untara dan Kakang Agung Sedayu adalah saudara sepupuku. Tetapi keduanya berbeda bagiku. Aku lebih berani menyatakan pendapat dan sikapku kepada Kakang Agung Sedayu. Sebenarnya bahwa aku agak segan terhadap Kakang Untara yang nampaknya selalu bersungguh-sungguh.”

Kiai Gringsing tertawa. Jawabnya, “Pembawaan keduanya memang lain. Tetapi sebenarnya kau tidak usah segan terhadap kakakmu Untara. Ia orang baik. Tetapi ia lebih berterus terang dari adiknya, Agung Sedayu. Untara akan mengatakan tidak senang bagi yang tidak disenangi dan mengatakan baik bagi yang menurut pendapatnya baik. Tetapi kakakmu Agung Sedayu mungkin akan mempergunakan istilah-istilah lain yang lebih rumit, yang kadang-kadang justru tidak dimengerti oleh orang lain.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk.

Dalam pada itu, Glagah Putih yang berada di padepokan itu justru karena ajakan Agung Sedayu, merasa sepi juga. Tetapi ternyata bahwa Kiai Gringsing dan Ki Waskita banyak mengisi waktu Glagah Putih itu dengan kerja di sawah atau memberikan kesempatan kepadanya untuk berlatih diri. Selebihnya, waktunya dipergunakan oleh Widura untuk memperlengkap tata gerak dasar anak muda itu sekaligus dalam usaha mereka untuk menelusuri kembali ilmu yang sudah mulai kabur itu.

Sementara itu, Agung Sedayu sendiri telah berada di mulut sebuah goa di tebing sungai yang curam di seberang hutan kecil yang membujur sepanjang tepian. Jarang sekali seseorang memerlukan pergi ke tempat itu, selain mereka yang sengaja ingin melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya atau anak-anak nakal yang tersesat atau sengaja ingin mengetahui sesuatu yang pernah didengarnya sebagai cerita dari orang lain.

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Goa itu adalah goa yang mempunyai dongengnya tersendiri. Beberapa orang pernah mengatakan bahwa goa itu adalah goa yang terpanjang. Jika seseorang menelusuri goa itu dan menemukan jalan yang menurut jalur yang benar, maka ia akan sampai ke dasar samudra.

Tetapi belum ada seorangpun yang dapat mengatakan, bahwa cerita itu memang benar. Belum ada seorangpun yang memasuki goa itu dan menyelusuri jalan sampai ke dasar samudra.

Untuk beberapa lamanya Agung Sedayu termangu-mangu Bahkan pada hari yang pertama ia tidak langsung memasuki jantung goa itu. Ia masih berada di mulut goa sekedar berteduh dari panas terik yang membakar jika matahari ada di puncak langit.

Ketika malam kemudian tiba, maka goa itupun menjadi sangat gelap. Dari tempatnya yang tidak terlalu dalam, Agung Sedayu dapat melihat, bahwa kegelapan malam di luar goa itu masih jauh lebih terang dari hitam kelamnya warna setiap sudut di dalam goa itu.

Mula-mula kulit Agung Sedayu memang meremang. Tetapi lambat laun, karena ia memang sudah dengan sengaja memasuki goa itu, hatinyapun menjadi tenang.

“Apapun yang akan aku hadapi, aku tidak akan ingkar,” katanya di dalam hati.

Namun Agung Sedayu tidak memasuki goa itu lebih dalam lagi di malam hari. Selain udara yang lembab dan seolah-olah pepat karena kegelapan, maka Agung Sedayupun belum mempunyai gambaran sama sekali tentang jalur-jalur jalan di dalam goa itu.

Ketika matahari terbit di timur, di pagi hari berikutnya. Agung Sedayu melangkah keluar mulut goa. Sejenak ia memandang langit yang cerah. Namun kemudian iapun memasuki goa itu kembali dan mulailah ia mengenali dinding goa itu semakin lama semakin dalam.

Agung Sedayu memang sedang memerlukan suatu tempat yang terasing, ia ingin lebih banyak melihat ke dalam dirinya sendiri. Jika ia minta diri kepada gurunya, memang sejak semula sama sekali tidak terlintas di dalam pikirannya untuk mengadakan sebuah perjalanan, atau sebuah petualangan yang khusus. Hal itu ternyata diketahui oleh gurunya pula, meskipun tidak dikatakannya. Dan gurunya memberinya waktu sebulan.

Selangkah demi selangkah Agung Sedayu memasuki goa itu semakin dalam. Ia memperhitungkan, bahwa di dalam goa itu tentu ada ruangan-ruangan yang cukup luas yang belum diketahuinya di masa kanak-anak untuk melakukan sesuatu. Tidak perlu terlalu dalam. Karena menurut perhitungannya, tidak akan ada orang yang sampai ke tempat itu tanpa maksud seperti dirinya sendiri. Dan agaknya menilik tempat di sekitar mulut goa itu, maka daerah itu sudah menjadi semakin terasing tidak tidak terjemah

Langkah Agung Sedayu terhenti ketika ia melihat di dalam keremangan sebuah lubang di langit-langit goa itu. Sejenak ia ragu-ragu. Namun kemudian ia mencoba mengamati lubang itu dengan saksama. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika terasa olehnya hembusan angin yang bertiup dari dalam lubang itu.

“Lubang itu tentu mempunyai hubungan langsung dengan udara di luar goa,“ berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Sejenak Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian iapun mencoba meraba lubang di langit-langit goa itu.

Keinginannya tiba-tiba sangat mendesaknya untuk mengetahui isi dari lubang itu, dan hubungan yang langsung dengan udara di luar goa. Mungkin lubang itu akan muncul di permukaan di tempat yang tidak diduganya.

Setelah menimbang-nimbang sejenak, maka Agung Sedayupun kemudian menetapkan hati untuk memasuki lubang itu. Ia tidak dapat menduga, apakah yang akan dijumpainya di dalam goa yang agaknya lebih sempit dari jalur goa yang dimasukinya.

Sejenak kemudian, maka iapun segera meloncat, meraih bibir lubang itu dan kemudian dengan agak sulit ia mengangkat dirinya memasuki lubang kecil itu.

Ketika ia sudah berada di dalam, maka ia melihat sebuah batu yang cukup besar, tergolek di samping lubang itu.

“Batu ini seolah-olah dipersiapkan untuk menutup lubang kecil itu,“ katanya di dalam hati.

Tetapi Agung Sedayu tidak berani mencobanya. Jika ia mencoba mengguncang batu itu dan kemudian berguling menyumbat lubang kecil itu, maka ia tidak tahu. apakah ada lubang lain yang dapat dipergunakannya untuk keluar, dan apakah ia kemudian mampu menyingkirkan batu itu.

Karena itu. Agung Sedayu sama sekali tidak menyentuh batu itu. Iapun kemudian merangkak menyusur lubang yang sempit dengan sangat hati-hati. Tetapi pengenalannya atas keadaan di sekitarnya telah memberikan kepadanya harapan, karena nalurinya seolah-olah mengenal sesuatu yang diarahkan di ujung lubang kecil itu.

Untuk beberapa lamanya ia merangkak. Namun terasa bahwa lubang itu menjadi semakin lama semakin lebar.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar ketika terasa angin yang silir menghembus dari arah yang berlawanan, sehingga dengan demikian ia menduga, bahwa memang ada lubang tembus di ujung jalur yang sedang dilaluinya itu.

Beberapa lama ia merangkak dalam kegelapan. Meskipun demikian, dalam keremangan itu, ia berhasil memperhatikan bentuk dinding goa itu. Di beberapa tempat ia menjadi curiga. Bahkan ia terhenti di sebuah tikungan, karena ia melihat beberapa bagian dari dinding itu seolah-olah telah disentuh oleh tangan.

“Agaknya tikungan ini semula terlalu sempit,“ berkata Agung Sedayu di dalam hati, “sehingga dengan demikian, seseorang telah memperlebar lubangnya sesuai dengan lubang yang semakin lebar ini.”

Agung Sedayu justru menjadi yakin, bahwa tikungan itu memang sudah mendapat perubahan dari bentuk aslinya.

Ketika ia melalui tikungan itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Di ujung jalur kecil itu ia melihat bayangan yang semakin terang. Seolah-olah di ujung itu terdapat cahaya yang lebih banyak.

“Apakah ujung jalur ini benar-benar berhubungan dengan udara di luar? “ ia bertanya kepada diri sendiri.

Agung Sedayu tidak merasakan pedih di lututnya oleh sentuhan batu-batu karang. Perlahan-lahan ia maju terus, sehingga dengan dada yang berdebar-debar akhirnya ia sampai ke mulut lubang itu.

Tetapi yang dilihatnya ternyata bukannya udara yang terang di luar goa. Lubang itu masih belum langsung berhubungan dengan alam yang terbuka. Yang dilihatnya adalah sebuah ruang yang cukup luas dan tidak terlalu gelap.

Perlahan-lahan Agung Sedayu memasuki lubang yang merupakan pintu masuk ke dalam ruang itu. Dengan hati-hati iapun kemudian berdiri tegak dan memandang ke segenap sudut. Ruang itu ternyata cukup luas. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya dua buah lubang yang sempit. Namun Agung Sedayupun menjadi yakin, bahwa kedua lubang yang sempit itu tentu menghubungkan ruang itu dengan udara terbuka, sehingga ruang itu terasa tidak terlalu pengab dan cahaya matahari dapat menerobos masuk meskipun tidak terlalu banyak.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia baru merasa lututnya menjadi pedih. Ketika ia mengamat-amatinya, maka lututnya itu menjadi luka dan berdarah.

Ternyata Agung Sedayu cukup lama merangkak di dalam lubang sempit yang berbelok-belok dengan tikungan-tikungan tajam, sehingga akhirnya ia sampai ke sebuah ruang yang cukup luas.

Agung Sedayu itupun kemudian duduk untuk beristirahat sejenak di atas sebuah batu padas. Sementara itu tatapan matanya yang tajam merambat di sekeliling dinding ruangan itu. Dinding yang kotor dan penuh dengan jaring-jaring laba-laba yang kehitam-hitaman.

 

 

Sesekali Agung Sedayu mengusap lukanya. Semakin lama terasa luka itu menjadi semakin pedih. Sehingga Agung Sedayupun kemudian menganggap perlu untuk menaburkan sedikit obat luka agar lukanya tidak menjadi semakin besar karena kotoran yang melekat dan bahkan mungkin ada sejenis racun di sepanjang lubang goa yang panjang itu.

“Tempat ini cukup memadai,“ desis Agung Sedayu, “aku ingin mendapat tempat yang terasing seperti ini, agar aku sempat berbuat lebih banyak lagi bagi diriku sendiri, sebelum aku berbuat sesuatu bagi padepokan kecil itu, agar apa yang aku lakukan bukannya sekedar mainan kanak-kanak yang tidak berarti.”

Sejenak Agung Sedayu membayangkan tentang dirinya sendiri. Dengan serta merta, atas perintah gurunya ia telah berhasil mengosongkan dirinya sendiri dari segala unsur yang ada. Karena itulah, maka ia berharap, bahwa ia akan dapat mengembangkannya dengan cara yang lebih baik. teratur dan terlatih, sehingga saat-saat yang diperlukan untuk melakukannya menjadi lebih cepat dan berhasil. Kemudian dengan demikian ia akan dapat menempatkan semua pengenalannya kembali dalam gambaran yang jelas dan bersih.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Diam-diam ia berdoa agar Tuhan memberikan bimbingan atas usahanya itu. Jika Tuhan berkenan, maka ia akan mempunyai ingatan yang sangat tajam terhadap segala sesuatu yang pernah dialaminya. Bahkan ia akan dapat mengenangnya seperti ia melihatnya lagi.

Tetapi yang dicari Agung Sedayu bukannya sekedar ketajaman ingatan. Ia ingin membentuk dirinya. Agaknya hidup di padepokan bagi Agung Sedayu adalah hidup yang akan dipenuhi dengan arus hubungan timbal balik. Memberi dan menerima. Meskipun bukan dalam hubungan pemerintahan dan hubungan resmi lainnya, namun padepokan akan tetap menjadi kiblat hidup jasmaniah dan rohaniah bagi orang-orang di sekitarnya. Sehingga dengan demikian, maka diperlukan bekal yang cukup memadai.

Demikianlah maka Agung Sedayu merasa bahwa ia telah menemukan tempat yang dicarinya. Ia tidak perlu mengembara ke tempat yang jauh dan tidak dikenal. Menyusuri lembah dan ngarai, mengitari bukit dan menembus hutan-hutan yang lebat. Ternyata tidak terlalu jauh dari padepokannya ia telah menemukan tempat yang memadai untuk melakukan rencananya. Mesu diri dalam batas yang memungkinkan sesuai dengan kodrat hidup manusia, jasmani dan rohani.

Tetapi Agung Sedayu tidak akan mulai saat itu juga. Ia harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Bagaimanapun juga, ia tetap seorang manusia yang memerlukan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari bagi ujud wadagnya. Ia harus makan, minum dan pemenuhan kebutuhan yang lain, meskipun dalam saat-saat tertentu dapat bergerak menurut ketentuan yang harus dibuatnya sendiri, dilakukannya sendiri dengan tertib dan penuh ketaatan. Karena ketaatan kepada diri sendiri adalah kewajiban yang paling sulit bagi seseorang.

Demikianlah Agung Sedayu tidak dapat melepaskan diri dari kodrat manusiawinya. Itulah sebabnya, maka ia-pun kemudian memperhitungkan segala kerja yang harus dilakukan.

Setiap hari ia harus merangkak keluar dari ruang itu, menyusuri lubang menuju ke jalur goa yang lebih lebar. Ia harus menyiapkan makan dan minum, meskipun jauh dikurangi dari kebiasaannya makan dan minum. Kemudian setelah ia selesai dengan menyediakan makan dan minum bagi dirinya sendiri, ia harus merangkak kembali ke dalam biliknya dan mulai dengan latihan-latihan yang berat.

Pada saat ia sedang mulai, terasa betapa menjemukannya merangkak keluar dan masuk lubang kecil itu. Ada niatnya untuk membawa mangkuk yang dibawanya dari padepokan, dengan beberapa potong kayu yang dicarinya di sekitar mulut goa itu ke dalam biliknya. Tetapi niat itupun kemudian dibatalkannya. Merangkak jarak yang cukup panjang setiap hari menyusuri lubang sempit ke kedua arah itu ternyata merupakan latihan tersendiri.

Dengan merangkak ia menemukan keseimbangan yang khusus bagi tubuhnya, sehingga ia akan dapat memanfaatkan bukan saja kekuatan kaki dan tangannya, tetapi juga otot-otot perutnya yang akan berpengaruh langsung kepada ketahanan gerak kedua kakinya.

Itulah sebabnya, maka Agung Sedayu justru memaksa diri untuk tetap hilir mudik setiap pagi keluar lubang kecil itu.

Dari hari ke hari, terasa kemajuan sedikit demi sedikit dapat dicapai oleh Agung Sedayu yang berlatih tanpa petunjuk langsung dari gurunya. Dengan unsur-unsur gerak yang telah dikuasainya, maka iapun mencoba untuk menguasai dengan pasti, penguasaan diri dan segala unsurnya. Dari hari ke hari, Agung Sedayu mendapat kemajuan yang pesat dalam latihan-latihan pengosongan diri. Bahkan beberapa saat yang terhitung pendek, Agung Sedayu sudah dapat melakukannya dengan batas waktu yang jauh lebih pendek, kemudian membangkitkan bayangan pengenalannya untuk satu pengenalan di masa lampaunya.

Tetapi Agung Sedayu tidak hanya berlatih dalam ketajaman ingatan dan pengenalan masa lampaunya. Dengan sungguh-sungguh ia berusaha menyempurnakan semua unsur penguasaan diri dari dalam dirinya. Bukan latihan-latihan jasmaniah untuk meningkatkan kecepatan bergerak, atau untuk memperkuat ayunan tangan dan kaki semata-mata. Tetapi juga pengenalan yang lebih dalam terhadap tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya dan hubungannya dengan tenaga yang ada di alam sekitarnya.

Setiap hari Agung Sedayu mencoba untuk melihat kembali semua tataran yang pernah dilaluinya. Setelah mengosongkan diri dari segala unsur yang dimilikinya sebagai kebulatan kecil dalam tata alam yang besar, maka ia mencoba untuk menilai semua tataran dan tingkat yang pernah dijalani.

Dengan demikian maka Agung Sedayu menjadi semakin memahami dirinya, ilmunya dalam hubungannya dengan perkembangan wadagnya dan halusnya, sesuai dengan pengaruh lingkungan berdasarkan kepada landasan masa-masa sebelumnya.

Agung Sedayu dapat merasakan tepat seperti yang pernah dirasakannya. Betapa ketakutan mencengkam dirinya. Takut kepada setiap persoalan yang dihadapinya, apakah itu wadag, wajar, maupun halus dan yang tidak terungkapkan oleh akal.

Ia dapat mengenal, betapa ketakutan mencengkam dirinya saat-saat ia melalui jalan yang gelap di malam hari. tepat di bawah sebatang randu alas dan di sarang Hantu Bermata Satu. Tetapi iapun dapat merasakan kembali betapa hatinya bagaikan mekar, saat-saat ia berhadapan dengan Sindanti justru setelah ia menitikkan darah dari lukanya.

Dengan mengulangi setiap unsur yang pernah dipelajarinya, maka rasa-rasanya pintu baginya semakin terbuka lebar. Seolah-olah ia mendapat petunjuk yang pasti, bahwa ia sudah berjalan menuju kesempurnaan ilmu yang sudah dikuasainya.

Bahkan Agung Sedayu dapat mengenal unsur-unsur gerak ilmu orang-orang yang pernah dijumpainya, terlibat dalam perkelahian dengannya atau pernah dilihat dalam pengemukaan ilmu dimanapun juga. Agung Sedayu dapat mengingat tata gerak dari ilmu yang samar-samar sampai ilmu yang mantap dari beberapa orang yang tidak dikenalnya secara pribadi.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu telah memperkembangkan ilmunya dari luar dan dari dalam dirinya. Latihan-latihan jasmaniah dan penguasaan unsur rohaniah. Pemusatan diri dalam penggunaan tenaga cadangan merupakan unsur yang bukan saja bersifat jasmaniah, tetapi lebih condong pada kekuatan pemusatan ilmu itu sendiri dalam getaran kehendak dan penguasaannya.

Namun sementara ia mesu diri, ia sama sekali tidak melepaskan hubungannya dengan Sumber segala kekuatan, segala ilmu dan segala yang ada di muka bumi. Yang kasat mata maupun yang tidak. Bahkan Sumber dari hubungan alam yang besar dan alam yang kecil, kebulatan tata surya dan kebulatan dalam dirinya sendiri.

Demikianlah, Agung Sedayu telah menenggelamkan diri ke dalam pendalaman ilmunya berlandaskan pengetahuan yang pernah dimilikinya dengan penuh kesadaran, bahwa ia merupakan satu dari butiran debu yang tidak terhitung dalam lingkungannya, sehingga ia adalah bagian yang sangat kecil dari seluruh ciptaan Tuhan.

Dalam pada itu, sementara Agung Sedayu tenggelam di dalam biliknya, di Sangkal Putung, Swandarupun merasa perlu untuk memperkuat diri.

Dalam keadaannya, yang terpisah dari gurunya, Swandaru telah didorong oleh suatu keinginan untuk membuat Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh menjadi daerah yang memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri.

Tetapi untuk sementara, karena ia berada di Sangkal Putung, maka Kademangan itulah yang akan ditempanya, sebelum pada suatu saat Tanah Perdikan Menorehpun akan digarapnya pula berdasarkan pola yang akan dicobanya bagi Sangkal Putung.

Namun demikian, sebelum ia mulai dengan segala-galanya, maka ia sendiri, harus mampu meningkatkan ilmu yang telah dimilikinya.

“Semuanya telah aku mengerti,“ berkata Swandaru kepada diri sendiri, “menurut guru, dasar-dasar ilmunya telah aku kuasai seluruhnya. Yang harus aku lakukan adalah mengembangkannya sebaik-baiknya. Di Karang kakang Agung Sedayu dapat selalu berhubungan dengan guru dalam peningkatan ilmunya. Tetapi aku harus melakukannya sendiri.”

Karena itulah, maka Swandarupun kemudian berusaha untuk melakukannya. Dibangunkannya sebuah sanggar di bagian belakang kebunnya. Di dalam sanggar itulah ia melatih diri. Dimintanya istrinya untuk berlatih bersamanya, atau memberikan beberapa penilaian, karena Swandarupun sadar, bahwa Pandan Wangi memiliki kemampuan yang tinggi pula.

Tetapi nampaknya Pandan Wangi tidak begitu memiliki gairah untuk berjuang meningkatkan ilmunya. Sekali-kali nampak wajahnya bagaikan kosong sama sekali. Namun demikian Pandan Wangi sendiri berusaha agar suaminya tidak menjadi kecewa, sehingga bagaimanapun juga, ia selalu berusaha untuk memenuhi keinginannya itu.

Selain Pandan Wangi, maka Sekar Mirahpun tidak mau ketinggalan. Ia sadar, bahwa pada suatu saat kakaknya akan memerlukannya pula. Tetapi berbeda dengan Swandaru, Sekar Mirah masih selalu mendapat bimbingan dari gurunya, karena sebenarnyalah bahwa Sekar Mirah masih memerlukannya.

Dalam saat-saat latihan yang dilakukannya dengan tekun itulah Ki Sumangkar selalu berusaha memberikan beberapa petunjuk kepada Sekar Mirah agar ia memiliki keseimbangan antara keinginan, cita-cita dan tempatnya berpijak.

Namun sementara itu, Swandarulah yang ternyata memiliki gairah yang paling besar untuk meningkatkan ilmunya. Setiap hari ia berada di dalam sanggarnya bersama-sama dengan beberapa orang pengawal yang diajaknya menjadi imbangan berlatih, selain kadang-kadang Pandan Wangi sendiri. Latihan yang berat yang dilakukan oleh Swandaru itu dititik beratkan kepada kemampuan jasmaninya. Sebagaimana pandangan hidup Swandaru yang lebih banyak diarahkan kepada pertumbuhan lingkungannya dari segi wadagnya, maka demikian pulalah cara yang ditempuhnya untuk meningkatkan ilmunya. Cita-citanya untuk menjadikan Sangkal Putung Kademangan yang kuat, yang unggul dalam ujud lahiriahnya dengan segala kelengkapannya, membuat Swandaru lebih terikat kepada pembinaan lahir.

Demikianlah Swandaru melatih diri dengan berbagai macam alat. Setiap hari ia berusaha memperkuat kedua belah tangannya dengan mengangkat dua buah batu di kedua tangannya di atas kepalanya turun naik sampai puluhan kali. Demikian pula dengan usahanya untuk memperkuat kakinya dan bagian-bagian tubuhnya yang lain. Swandaru berlatih dengan sepenuh hati untuk meningkatkan kecepatannya bergerak. Ia merasa bahwa tubuhnya yang gemuk itu merupakan sedikit hambatan bagi tata gerak dan kecepatannya. sehingga karena itulah maka ia memerlukan mengadakan latihan khusus untuk mempercepat tata geraknya.

Pandan Wangi yang semula sekedar mengimbangi usaha suaminya, itupun ternyata mau tidak mau harus ikut serta dalam arus memperdalam ilmunya pula agar ia tidak ketinggalan jika ia harus memberikan imbangan sebagai kawan berlatih. Tetapi seperti Swandaru, maka Pandan Wangipun lebih banyak dipengaruhi oleh tata gerak lahiriah. Ia pada dasarnya memang memiliki ketangkasan dan kecepatan mempermainkan senjata rangkapnya. Kakinya lincah seperti burung sikatan, dan nafasnyapun benar-benar telah terlatih hampir sempurna.

Meskipun kedua suami istri itu pada dasarnya bersumber pada ilmu yang berbeda, tetapi dengan sungguh-sungguh keduanya berusaha saling mengisi dan saling meningkatkan ilmu masing-masing. Keduanya bahkan lambat laun menemukan persesuaikan untuk menjadikan kedua ilmu dari dua sumber itu menjadi dua aliran ilmu yang dapat saling berpasangan.

Sementara itu. Sekar Mirahpun mempergunakan sanggar itu untuk menempa diri bergantian waktunya dengan kakaknya suami istri. Di bawah bimbingan dan pengawasan gurunya, Sekar Mirah ingin mengikuti jalan pikiran Swandaru, membuat Sangkal Putung menjadi Kademangan terkuat dan mampu menjaga diri sendiri.

Gejolak hati Swandaru itu ternyata berpengaruh pula pada anak-anak muda di Sangkal Putung. Sebelum Swandaru terjun ke dalam lingkungan para pengawal untuk membentuk mereka, maka anak-anak muda sudah mulai dengan latihan atas kehendak mereka sendiri dengan cara yang pernah mereka dapatkan sebelumnya.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing yang berada dipadepokan kecilnya, pada suatu saat merasa didesak oleh kerinduannya kepada muridnya yang seorang. Itulah sebabnya maka pada suatu saat, ia minta diri kepada Ki Waskita dan Glagah Putih untuk pergi ke Sangkal Putung.

“Kiai akan pergi seorang diri?“ bertanya Ki Waskita.

“Demikianlah Ki Waskita. Aku justru ingin menitipkan padepokan kecil dan Glagah Putih kepada Ki Waskita. Aku hanya pergi untuk sehari. Meskipun malam hari, aku tentu akan kembali karena aku tidak akan bermalam di Sangkal Putung.”

Kedatangan Kiai Gringsing di Sangkal Putung, terasa memberikan kegembiraan dan gairah yang lebih mantap bagi Swandaru. Bagaimanapun juga kehadiran gurunya menunjukkan kepadanya, bahwa gurunya tidak melupakannya.

“Usahamu memberikan kebanggaan padaku Swandaru,“ berkata Kiai Gringsing, “Karena dengan demikian ternyata bahwa kau tidak terhenti pada suatu tempat. Kau akan tetap maju dengan caramu. Seperti juga aku memberikan kesempatan bagi Agung Sedayu yang kini sedang berusaha untuk menemukan dirinya sendiri dalam ungkapan ilmunya, karena sebenarnyalah yang aku berikan hanyalah dasarnya semata-mata, yang masih harus dibentuk sesuai dengan kepribadianmu masing-masing.“

Swandaru merasa bangga atas pujian itu. Dengan demikian maka gurunya tentu merestui semua rencananya.

“Guru,“ berkata Swandaru kemudian, “anak-anak muda di Sangkal Putung ternyata bertekad untuk membuat Kademangan ini menjadi Kademangan yang kuat, yang dapat melindungi dirinya sendiri. Itulah sebabnya maka aku merasa perlu untuk menempa diri lebih dahulu, sebelum aku kemudian memberikan tuntunan sekedarnya kepada para pengawal.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Itu namanya ilmumu adalah ilmu yang hidup. Mudah-mudahan kau berhasil.”

“Aku berharap guru merestuinya.”

“Tentu Swandaru. Aku berharap bahwa kau akan mendapatkan kemantangan ilmu yang dijiwai oleh kepribadianmu. Yang akan memancar kemudian dari ilmumu itu justru kepribadianmu. Jika kau orang yang rendah hati, maka akan nampak jelas, bahwa setiap unsur gerak dari ilmumu akan kau lambari dengan dasar kepribadianmu itu. Kau akan berhati-hati dan tidak mempergunakan kapan saja kau ingin. Kau akan menghindari perbuatan yang dilandasi oleh kekerasan. Kau akan menganggap dirimu kurang penting untuk menunjukkan ilmumu di setiap saat. Dan kau tidak akan sakit hati jika orang lain menganggap ilmumu adalah ilmu yang rendah sepanjang orang itu tidak merugikanmu.“ Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu. “tetapi jika ilmu yang semakin masak itu dilambari dengan sifat tinggi hati, maka akan nampak jelas pula padamu. Setiap saat kau akan menunjukkan kelebihanmu dari orang lain. Kau akan mempunyai perasaan harga diri yang berlebih-lebihan, dan menganggap orang lain kurang berharga. Kau akan memaksakan kehendakmu dengan kekerasan, dan kau akan mempelihatkan betapa tinggi ilmu yang kau miliki.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Sekilas ia memang mencoba mengamati dirinya sendiri. Tetapi karena ia masih belum berkesempatan, maka Swandaru itupun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja tanpa menjawab.

Dalam kesempatan itu. Kiai Gringsing masih memberikan banyak pesan. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka tanggung jawabnyapun menjadi semakin berat pula. Juga perjuangan untuk mengekang diripun menjadi semakin rumit, karena kecenderungan sifat manusia untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain.

Swandaru mencoba mendengarkan dan mengerti arti dari segala pesan gurunya. Meskipun demikian ia masih belum sempat meneliti ke dalam dirinya, apakah yang dikatakan gurunya itu sekedar pesan atau sudah merupakan suatu peringatan, karena gejala-gejala seperti yang dikatakan gurunya itu sudah mulai nampak.

Waktu yang sehari itu ternyata dipergunakan oleh Kiai Gringsing dengan sebaik-baiknya. Ia sempat melihat muridnya berlatih. Ia mempergunakan sedikit waktunya untuk berbincang dengan Ki Sumangkar, untuk berbicara tentang banyak hal dengan Pandan Wangi dan Sekar Mirah, dan untuk membicarakan perkembangan Swandaru dengan Ki Demang Sangkal Putung.

“Ada yang aneh dalam pengamatanku Kiai,“ berkata Ki Demang, “nampaknya Swandaru selalu dikejar oleh ketidak puasan terhadap suasana disekelilingnya.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Itu adalah gejala yang wajar dari anak-anak muda Ki Demang. Yang penting, kita yang tua-tua, wajib memberikan arah yang sepatutnya.”

“Itulah yang sulit Kiai. Anak-anak muda sekarang merasa dirinya lebih pandai dari yang tua-tua. Dan memang di dalam kenyataannya, Swandaru memiliki kelebihan daripadaku. Tetapi kelebihan dalam olah kanuragan dan mungkin juga kecerdasan berpikir, bukannya merupakan kepastian ujud dari kelebihan pengabdian yang wajar dan benar.”

“Kiai,“ Ki Demang melanjutkan, “aku merasa, bahwa anak-anak muda cenderung untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh orang-orang tua. Mereka juga mencoba melonggarkan ikatan-ikatan yang ada. Aku tidak berkeberatan Kiai. Tetapi hendaknya anak-anak muda jangan menyimpang dari dasar tatanan hidup yang pokok. Dan dalam setiap perbedaan pandangan, maka anak-anak muda tentu menganggap orang-orang tua bersalah tanpa meneliti sebab dan akibatnya.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan pada suatu saat jarak antara yang tua dan yang muda itu dapat dipersempit. Jika masing-masing pihak bersedia untuk melihat kepada diri sendiri, maka akan diketemukan pendekatan-pendekatan yang mantap bagi masa depan.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Mereka masih berbicara beberapa lama lagi, sehingga kemudian datang saatnya Kiai Gringsing minta diri.

“Guru tidak bermalam disini?“ bertanya Swandaru ketika Kiai Gringsing minta diri kepadanya di dalam sanggarnya.

“Aku akan datang setiap kali. Padepokan Karang di Jati Anom itu sama sekali tidak jauh. Aku akan datang kapan saja aku ingin. Apalagi nampaknya sekarang keadaan menjadi semakin tenang.”

Kekecewaan nampak membayang di wajah Swandaru. Bagaimanapun juga ada perasaan yang kurang mantap terhadap sikap gurunya. Bahkan kemudian terdengar ia berdesis, “Kakang Agung Sedayu mempunyai kesempatan yang lebih baik daripadaku.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Tidak Swandaru. Agung Sedayu mempunyai kesempatan yang sama. Ia membawa bekal yang sama denganmu. Dan berdasarkan bekal itu ia telah mencari sendiri ujud dari ilmunya berdasarkan kepribadiannya. Kepribadian inilah yang mungkin akan memberikan ciri yang berbeda antara kau dan Agung Sedayu dalam perkembangan selanjutnya. Tetapi ciri-ciri tata gerak dasar kalian berdua akan tetap sama dan sejalan.”

Swandaru tidak menyahut lagi. Namun justru karena itu, telah tumbuh dorongan di dalam hatinya, bahwa meskipun ia tidak ditunggui oleh gurunya, namun perkembangan ilmunya tidak boleh kalah dengan ilmu yang akan dicapai oleh Agung Sedayu.

Itulah sebabnya, sepeninggal gurunya, Swandaru justru menjadi semakin tekun berlatih. Pandan Wangi tidak dapat ingkar lagi, bahwa iapun harus ikut serta dalam arus penyempurnaan ilmunya. Meskipun mula-mula ia hanya sekedar mengimbangi dan memancing pengerahan tenaga Swandaru, namun ternyata kemudian, bahwa Pandan Wangipun telah melakukannya peningkatan pula dengan caranya. Dalam waktu-waktu senggang, justru saat-saat sanggar itu belum dipergunakan, Pandan Wangi kadang-kadang telah mendahului. Dengan langkah-langkah yang sederhana ia mencoba mencari kesempurnaan pada ilmunya.

Berbeda dengan mereka yang berlatih dengan bekal yang ada pada dirinya. Sekar Mirah masih tetap berada dalam bimbingan gurunya. Karena itulah maka ia tidak mengalami kesulitan apapun juga. Namun agaknya bahwa tingkat ilmunya memang masih belum sejajar dengan kakaknya Swandaru dan kakak iparnya Pandan Wangi.

Dengan demikian, maka Sangkal Putungpun kemudian telah diliputi oleh suasana peningkatan ilmu. Sesuai dengan perhatian Swandaru yang lebih banyak tertuju pada yang lahir, maka tekanan peningkatan ilmunyapun lebih banyak nampak pada yang lahiriah. Kecepatan bergerak, kekuatan tangan dan kaki, serta ketahanan tubuh. Namun karena ketekunannya, maka ternyata Swandaru yang pada dasarnya mempunyai kekuatan yang besar, telah berkembang menjadi seorang raksasa yang mengagumkan.

Namun justru karena itulah, ternyata Pandan Wangi mengalami kesulitan. Menurut kodrat lahiriahnya, ia tidak akan dapat mengimbangi kekuatan jasmani Swandaru. Karena itulah, maka ia harus mencari imbangan kekuatan dari dalam dirinya. Dari kekuatan cadangan yang tersedia. Sehingga dengan demikian, ia memerlukan latihan-latihan khusus yang terpisah.

Tetapi untuk menghindari salah paham, agar Swandaru tidak menyangkanya menyembunyikan suatu rahasia pada ilmunya, maka ia membiarkan Swandaru menungguinya jika ia kehendaki.

“Kau hanya membuang-buang waktu saja Pandan Wangi,“ kadang-kadang Swandaru memperingatkan.

“Aku tidak dapat berlatih seperti kau kakang. Tenagaku tidak sekuat tenagamu, sehingga aku memerlukan kekuatan yang lain dari kekuatan wadag.”

Swandaru hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia melihat sesuatu yang lain pada Pandan Wangi. Kekuatannya yang bagaikan berlipat meskipun hanya pada saat-saat tertentu.

Tetapi Swandaru agaknya kurang tertarik. Ia menganggap bahwa dengan demikian, ia mulai kehilangan kepercayaannya kepada kekuatan wadagnya, meskipun ia sadar, bahwa dengan demikian, maka ia yang pada dasarnya memiliki kekuatan raksasa itu, akan menjadi semakin mengerikan.

Meskipun demikian, bukannya berarti bahwa Swandaru mengabaikan kekuatan yang memang ada pada dirinya itu. Tetapi ia menganggap bahwa apabila ia mempunyai banyak waktu dan tidak dalam keadaan yang mendesak, maka ia baru akan mulai mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.

Sementara itu, di dalam sebuah goa diseberang hutan tidak terlalu jauh dari Jati Anom, Agung Sedayupun sedang menekuni ilmunya dengan segenap hati. Perbedaan pribadi antara Swandaru dan Agung Sedayu memang melahirkan banyak perbedaan pada ungkapan ilmunya meskipun bersumber dari orang yang sama.

Setiap pagi Agung Sedayu masih saja merangkak melalui lubang kecil yang melingkar-melingkar berbelok-belok turun ke jalur goa. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Agung Sedayu melakukan pekerjaan sewajarnya. Mencuci beras kemudian menjerangnya sampai masak. Merebus air untuk minum dan kebutuhan-kebutuhan yang lain sebagaimana kebutuhannya sehari-hari di padepokan.

Namun lutut Agung Sedayu tidak terluka lagi jika ia merangkak sepanjang lubang yang berbelok-belok itu. Bahkan dengan demikian seolah-olah ia mendapatkan kekuatan baru pada urat-urat kaki dan tangannya.

Tetapi semakin tekun ia berlatih di dalam bilik yang dialiri udara dari dua buah lubang sempit di bagian atasnya itu, tanpa dikehendakinya sendiri, maka iapun menjadi semakin jarang merangkak sepanjang lubang itu. Jika mula-mula ia setiap pagi sudah turun dari biliknya, maka di hari hari berikutnya Agung Sedayu sudah tidak tentu lagi waktunya keluar dari dalam ruangannya. Kadang-kadang siang, dan kadang-kadang sore. Dan bahkan kemudian, seolah-olah ia mengatur jarak yang semakin panjang. Sehari, dua hari dan akhirnya tiga hari.

Dari segi kepentingan wadagnya, maka Agung Sedayu mengalami kekurangan makan dan minum, sehingga ia menjadi semakin kurus karenanya. Tetapi dari segi lain, Agung Sedayu banyak menemukan rahasia yang sebelumnya belum pernah dikenalnya. Rahasia tentang kekuatan di dalam dirinya sendiri. Bukan sekedar kekuatan yang nampak dalam ungkapan wadag meskipun dari saluran kekuatan cadangan di dalam dirinya, tetapi juga kekuatan yang tersalur lewat indranya yang lain.

Di hari-hari berikutnya, Agung Sedayu melatih ketajaman penglihatannya dan kekuatan yang tersirat dari sorot matanya. Ketajaman pandangan matanya seakan-akan dapat melontarkan kekuatan tersendiri yang tidak dapat diukur dengan kewadagan.

Di samping penglihatannya, Agung Sedayu melatih pendengarannya. Bermalam-malam ia duduk sambil memejamkan matanya, setelah di siang hari ia menekuni latihan-latihan yang lain. Ia berusaha untuk dapat mempergunakan segenap indra yang lain jika matanya tertutup atau jika ia berada di dalam gelap yang pekat.

Pendengaran Agung Sedayupun menjadi semakin tajam. Di sepinya malam telinganya sempat berlatih untuk membedakan setiap suara. Desir angin yang lembut dan sentuhan kaki bilalang di batu karang di atas biliknya, atau seekor cengkering yang terperosok masuk.

Bahkan sambil memejamkan matanya ia mempertajam syaraf peraba di jari-jarinya. Ia dapat membedakan benda apakah yang telah disentuhnya dengan jari-jarinya. Halusnya batu karang yang diasah oleh titik air dan halusnya batu hitam yang tergolek di dalam bilik itu.

Ketajaman penciumannyapun menjadi berlipat ganda. Seolah-olah ia memiliki naluri pada indra penciumannya untuk membedakan setiap benda meskipun ia tidak melihatnya.

Demikianlah Agung Sedayu berlatih terus. Mengosongkan diri sudah bukan persoalan yang sulit baginya. Dan dalam beberapa hari di dalam biliknya ia sudah mampu menyadap semua tata gerak yang pernah dikenalnya dan dikaji buruk baiknya bagi kemantapan ilmunya.

Agung Sedayu sama sekali tidak merasa menyalahi perguruannya, karena Kiai Gringsing selalu memberikan kesempatan kepadanya untuk memperkaya ilmunya. Namun, meskipun demikian, Kiai Gringsing juga memberikan batasan, bahwa Agung Sedayu harus menyisihkan ilmu yang bersumber pada kekuatan hitam. Dan Kiai Gringsingpun telah memberikan ciri-cirinya kepadanya.

Sehingga dengan demikian Agung Sedayu dapat menyingkirkan semua tata gerak yang sama sekali tidak menguntungkan bagi ilmunya dan bagi dirinya sendiri.

Meskipun kedua saudara seperguruan murid Kiai Gringsing itu tidak bersepakat terlebih dahulu, namun keduanya telah bersama-sama tenggelam dalam peningkatan diri sesuai dengan kepribadian masing-masing. Di Sangkal Putung, Swandaru dengan tekad yang bergelora tengah menempa diri. Kekuatan jasmaniahnya kian hari menjadi kian mapan dan bagaikan bertambah-tambah. Kadang-kadang ia tidak lagi mempergunakan senjata pedangnya untuk meyakinkan kekuatannya. Tetapi Swandarupun telah membuat sebuah bindi yang berat.

Dengan senjata bindi, maka perisai sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi lawan-lawannya. Dengan kekuatannya yang sangat besar, maka perisai dari besipun dapat dirusakkannya dengan bindinya. Apalagi perisai yang dibuat dari kayu.

Sesuai dengan cara masing-masing meningkatkan ilmunya, maka sarananyapun menjadi berbeda pula. Bahkan untuk memelihara agar tenaganya tetap utuh, Swandaru justru makan berlipat dari biasanya. Di malam hari setelah ia berlatih mati-matian, maka iapun selalu mencari nasi dan lauk pauknya, sehingga Pandan Wangi yang kemudian menjadi terbiasa, tidak saja sekedar melayaninya berlatih, tetapi juga harus menyiapkan makan dan minumnya secukupnya.

Di dalam goa. Agung Sedayu mengalami keadaan yang agak berbeda. Ia justru telah terlibat dalam pemusatan pikiran dan indra, sehingga kadang-kadang ia lupa untuk keluar dari biliknya dan menanak nasi. Itulah sebabnya, maka makan dan minumpun justru menjadi terlantar.

Tetapi Agung Sedayu tidak begitu memerlukannya. Ia tidak terlalu banyak mempergunakan tenaga wadagnya seperti Swandaru. Ia mempelajari langsung inti dari tata gerak yang akan berarti dalam pelontaran tenaga cadangannya. Dengan gerak yang sedikit, ia akan mampu melepaskan tenaga yang cukup besar.

Bahkan kadang-kadang Agung Sedayu lebih banyak duduk bersila di atas sebuah batu dengan tangan bersilang. Sambil memejamkan matanya, ia mulai membayangkan dalam angan-angannya, latihan yang penuh dengan pelontaran tenaga. Semakin dalam ia tenggelam dalam pemusatan pikiran dan indra, maka latihan yang demikian menjadi semakin hidup di dalam dirinya. Meskipun wadagnya tidak bergerak sama sekali, tetapi rasa-rasanya Agung Sedayu telah mematangkan setiap tata gerak dalam hubungan yang serasi dan meyakinkan.

Namun demikian, meskipun Agung Sedayu hanya duduk di atas sebuah batu, namun dalam keadaan yang demikian, keringatnya mengalir di seluruh tubuhnya bagaikan sedang mandi.

Dalam kesempatan yang lain. Agung Sedayu dengan sungguh-sungguh melatih ketajaman penglihatannya. Bahkan Agung Sedayu telah disentuh oleh perasaan yang lain dengan tatapan matanya. Itulah sebabnya, maka ia-pun telah mempergunakan waktu yang khusus bagi latihan matanya.

Kadang-kadang ia duduk untuk waktu yang sangat lama sambil memandang sesuatu yang telah ditentukannya sendiri pada dinding bilik itu. Dalam remang-remang cahaya matahari yang masuk lewat lubang di langit-langit bilik dalam goa itu, ia dapat melihat benda apapun juga. Bahkan di malam hari matanya sudah mulai dapat menembus gelap pekat meskipun untuk jarak tertentu.

Namun agaknya sesuatu telah terasa dalam getar sorot mata Agung Sedayu. Ia tidak saja melihat benda yang dipandanginya tanpa berkedip. Tetapi ia merasa seakan-akan ada sentuhan antara tatapan matanya dengan benda itu secara wadag.

Dengan tekun Agung Sedayu memperhatikan gejala itu. Kemudian dengan tekun pula, berdasarkan ilmu yang ada padanya, ia mencari perkembangan dari gejala yang diketemukan.

Sentuhan yang bersifat wadag dari tatapan matanya itu semakin lama semakin terasa meskipun dalam hubungan yang tidak bersifat wadag. Itulah yang senantiasa dicari Agung Sedayu dalam latihan-latihannya yang semakin lama menjadi semakin berat.

Namun ketika terasa sesuatu telah meyakinkannya, maka iapun kemudian meletakkan sebuah batu kecil di atas sebuah batu padas. Iapun kemudian duduk bersila sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Dengan tajam ia memandangi batu kecil itu. Semakin lama semakin tajam dan seolah-olah kemudian di dunia tidak ada benda lain kecuali batu kecil itu.

Agung Sedayu memusatkan segala pikiran dan indranya kepada penglihatannya. Sentuhan yang bersifat wadag dari kekuatan yang tidak bersifat wadag itu semakin lama menjadi semakin terasa. Agung Sedayu dengan sepenuh hati mempelajari watak dari peristiwa yang dialaminya itu. Perlahan-lahan tetap yakin ia mencoba mempergunakan sentuhan yang bersifat wadag itu meskipun dengan sangat hati-hati.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ternyata batu kecil itu mulai beringsut.

Agung Sedayu menghentikan pengenalannya pada gejala baru dari ilmunya itu. Tetapi dengan demikian ia merasa, bahwa ia telah berhasil meningkatkan dasar-dasar yang pernah diterimanya dari gurunya dengan perkembangan yang agak jauh, meskipun mungkin gurunya sudah mengenalnya lebih dahulu, namun dengan sengaja tidak menunjukkanya kepadanya, agar ia mampu mencarinya sendiri.

Demikianlah latihan-latihan itupun diulang-ulanginya. Batu yang digerakkannyapun semakin lama menjadi semakin besar. Bahkan kemudian Agung Sedayu menemukan gejala yang agak berbeda dalam perkembangannya. Dengan kekuatan matanya ia mampu memecahkan sebutir batu padas yang mula-mula kecil saja. Tetapi semakin lama semakin besar.

 

 

Karena itulah, maka Agung Sedayupun kemudian membagi waktunya sebaik-baiknya. Ia tidak melupakan latihan ketrampilan wadagnya. tetapi juga kekuatan-kekuatan yang ada di dalam dirinya. Bahkan kekuatan matanya yang tidak bersifat hubungan wadag tetapi mempunyai sentuhan langsung yang bersifat wadag.

Hari-hari menjadi terlalu pendek bagi Agung Sedayu. Namun sekali-sekali ia masih juga merangkak turun dan menyalakan api. Menjerang nasi dan air untuk sekedar memelihara tenaga jasmaniahnya agar tidak kehilangan keseimbangan, karena ia dalam ujudnya tidak akan dapat ingkar dari kodratnya. Bahwa untuk keutuhan jasmaninya ia harus makan dan minum.

Jika di dalam mengembangkan ilmunya, Agung Sedayu memilih tempat yang sepi dan tersendiri, agar pemusatan pikiran dan indranya tidak terganggu, maka Swandaru berbuat sebaliknya. Semakin lama sanggarnya menjadi semakin ramai. Beberapa orang yang harus membantunya menjadi bertambah-tambah sejalan dengan perkembangan tenaga Swandaru yang semakin besar.

Namun dalam saat-saat tertentu, Swandaru juga memerlukan keterasingan. Kadang-kadang Swandaru tidak mau diganggu oleh orang lain di dalam sanggarnya kecuali kehadiran Pandan Wangi, dan kadang-kadang Sekar Mirah bersama gurunya.

Dengan demikian, maka perkembangan ilmu Swandarupun telah maju dengan pesat pula, sejajar dengan kemajuan ilmu Pandan Wangi sendiri, yang seolah-olah sekedar terdorong kewajibannya.

Tetapi dalam pada itu, Sekar Mirahpun telah berubah menjadi seorang yang semakin perkasa. Tongkatnya yang mengerikan itu, benar-benar akan mengumandangkan lagu maut ditangannya, jika ia berhadapan dengan lawan.

Ternyata bahwa Ki Sumangkarpun telah menuntun satu-satunya muridnya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak ingin cabang perguruannya menjadi pudar dan apalagi punah. Karena itu, maka muridnya, serendah-rendahnya harus memiliki kematangan ilmu seperti dirinya sendiri dalam perkembangannya nanti, sehingga bekal yang diberikannyapun haruslah mencukupi.

Namun di samping tuntutan olah kanuragan, Ki Sumangkarpun selalu berusaha untuk memberikan warna yang lain pada watak dan sifat Sekar Mirah. Sedikit demi sedikit, ia berusaha untuk memberikan kesadaran kepada muridnya, bahwa yang penting di dalam hidup ini, bukannya sekedar warna-warna meriah pada segi lahiriahnya saja. Itulah sebabnya seseorang kadang-kadang lebih condong mementingkan kehidupan rohaniahnya saja.

“Kau tidak usah berbuat demikian,“ berkata Ki Sumangkar, “kau tidak usah mengasingkan diri untuk memusatkan segala perhatian kepada yang rohaniah. Bagimu, jika yang rohaniah dan jasmaniah itu mempunyai keseimbangan, maka agaknya sudah cukup memadai. Kau tetap hidup seperti yang kau hayati sekarang di dalam ujud lahiriahnya, tetapi kau juga memelihara pendekatan diri kepada Yang Maha Kuasa, sehingga apa yang sudah kau miliki itu, kau sadari sepenuhnya, adalah kurnianya. Dengan demikian kau akan selalu mengucapkan terima kaisah dan tidak perlu didesak oleh keinginan yang tamak untuk memiliki yang bersifat lahiriah semata-mata.”

Jika gurunya memberikan petunjuk kepadanya, Sekar Mirah selalu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Sehari dua hari nasehat-nasehat itu selalu diingatnya. Tetapi di hari berikutnya, semuanya itu mulai kabur. Meskipun pada kesempatan lain, jika gurunya menasehatinya lagi, yang kabur itu menjadi jelas kembali.

Namun ternyata bahwa watak dan sifat Sekar Mirah telah mencengkam jiwanya dengan kuat. Semua nasehat dan petunjuk, merupakan penghambat yang lemah. Meskipun ada juga pengaruhnya serba sedikit.

Tetapi Sumangkar tidak jemu-jemunya. Betapa tipisnya pengaruh kata-katanya, namun jika yang tipis itu setiap kali dipulaskannya, maka warna itu semakin lama akan menjadi semakin tebal juga.

Dalam kesibukan itu, waktu terasa berjalan sangat cepat. Di dalam ruang yang tertutup, di dalam gelapnya malam, Agung Sedayu melihat bayangan bulan yang menyusup lewat lubang di langit-langit. Dengan berdebar-debar Agung Sedayu mencoba melihat bulan itu, yang ternyata bahwa bulan hampir menjadi bulat.

“Waktu itu terlalu cepat mendesakku,“ desisnya, “aku masih memerlukan lebih banyak lagi. Tetapi Guru berpesan, agar aku kembali ke padepokan kecil itu saat purnama naik.”

Bagaimanapun juga. Agung Sedayu tidak akan melanggar pesan gurunya. Meskipun jika perlu, ia akan mengulangi lagi memasuki mulut goa di tebing sungai yang curam itu.

Namun, yang dilakukannya kemudian adalah memanfaatkan waktu yang sempit itu sebaik-baiknya. Dengan ketekunan yang semakin tinggi, ia berlatih terus. Kakinya menjadi semakin cepat, dan tanganyapun mampu bergerak sehingga seolah olah Agung Sedayu mempunyai sepuluh pasang tangan yang bergerak bersama-sama. Jika sepasang tangannya memegang senjata, maka yang sepasang itupun seolah-olah telah berubah menjadi sepuluh pasang senjata.

Pada saat-saat terakhir. Agung Sedayu mulai dengan mempergunakan senjata ciri perguruannya. Setelah ia mampu mempergunakan apa saja yang ada sebagai senjatanya, maka latihan-latihan yang terakhir dan terberat adalah mempergunakan cambuknya.

Agung Sedayu mengenal senjatanya seperti ia mengenal anggota badannya sendiri. Ia tahu pasti, berapakah jumlah karah-karah besi baja yang melingkar pada juntai cambuknya, sehingga seolah-olah dapat menghitung, berapakah karah besi bajanya yang menyentuh tubuh lawan jika ujung cambuknya mengenai sasarannya.

Dengan latihan yang hampir sempurna. Agung Sedayu mulai mencoba mempergunakan tenaga cadangannya yang tersalur lewat anggota badannya dan bahkan lewat senjatanya, sehingga tenaga yang terlontar menjadi berlipat ganda. Bahkan dengan menyalurkan tenaga cadangannya senjatanyapun seolah-olah telah berubah pula menjadi senjata yang luar biasa kuatnya. Cambuknya yang terbuat dari janget tinatelon rangkap dengan karah-karah besi baja itu seolah-olah dapat berubah menjadi serat baja yang dianyam kuat sekali, sehingga dengan sepenuh tenaga yang tersalur, mampu membelah batu hitam.

Dengan demikian, maka cambuk Agung Sedayu itupun telah mempunyai arti tersendiri. Cambuk itu bagaikan mempunyai kekuatan yang tidak dapat dijajagi.

Namun dengan penuh kesabaran Agung Sedayu mengerti, bahwa bukannya cambuknya itulah yang telah berubah dan memiliki kekuatan-kekuatan tertentu yang dapat membantunya, namun kekuatan yang ada di dalam cambuknya itu justru datang daripadanya. Tanpa kekuatan di dalam dirinya, cambuknya adalah sekedar janget dengan karah-karah besi baja. Seperti cambuk yang sejak lama dimilikinya. Tidak ada bedanya sama sekali.

Ketika waktu semakin mendesaknya lagi. maka Agung Sedayu merasa bahwa latihan jasmaniahnya telah cukup. Yang akan dilakukannya kemudian adalah memperkuat kekuatan di dalam dirinya. Juga kekuatan matanya yang mempunyai sentuhan bersifat wadag dengan kekuatan yang tidak bersifat wadag.

Sejalan dengan usaha terakhir pada waktu yang sempit bagi Agung Sedayu itu. maka Swandaru yang meskipun tidak merasa dibatasi oleh waktu dan ruang, telah meningkatkan pula latihan-latihannya. Kekuatannyapun bagaikan telah berlipat.

Seperti Agung Sedayu. maka setelah Swandaru mengalami mempergunakan berbagai macam senjata disaat-saat latihan, iapun akhirnya kembali kepada senjatanya sendiri. Cambuk bercincin besi baja pada juntainya.

Dengan tenaga raksasa Swandaru merupakan orang yang sangat berbahaya dengan senjatanya. Rasa-rasanya ujung cambuknya akan merupakan buaian maut yang sulit dihindari.

Namun agak berbeda dari Agung Sedayu, bahwa sentuhan ujung cambuk Swandaru adalah ayunan kekuatan tangan yang berpangkal pada tangkai cambuknya. Semakin kuat ayunan tangan Swandaru, maka semakin dahsyatlah ledakan ujung cambuk itu.

Tetapi ternyata bahwa Swandaru tidak puas dengan karah-karah besi baja yang melingkar pada juntai cambuknya. Ia menganggap bahwa jarak cincin itu masih terlalu jarang. Karena itulah, maka ia telah memesan kepada seorang pandai besi yang terbaik untuk membuat karah-karah besi baja yang terbaik pula.

“Sulit sekali,“ pandai besi itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “memasang gelang-gelang kecil pada juntai cambuk itu harus bersama-sama saat membuatnya.”

“Kau tentu mempunyai akal.”

“Aku dapat memasang lempeng-lempeng baja yang kemudian ditempa melingkar pada juntai cambukmu,“ berkata pandai besi itu, “tetapi tentu tidak akan sekuat karah-karah baja yang merupakan cincin yang bulat.”

“Terserahlah. Mungkin memang tidak sekuat karah-karah yang sudah ada. Tetapi dengan lempeng-lempeng baja yang kau lingkarkan pada juntai cambuk itu diantara karah-karah yang terlalu jarang, maka ujung cambukku akan menjadi semakin berbahaya. Sentuhnya akan membelah kulit dan meremukkan tulang. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang akan dapat melawan aku.”

Pandai besi itu mengangguk-angguk. Dan iapun melakukannya seperti yang dikatakannya. Dibuatnya kepingan baja selebar jari. Kemudian kepingan baja itupun dilingkarkan seperti sebentuk cincin pada juntai cambuk Swandaru meskipun tidak dapat melingkar seperti cincin karena ujung dan pangkalnya hanya sekedar berpaut dan tidak menyatu seperti karah-karah yang sudah ada yang memang berbentuk cincin. Tetapi seperti yang dikatakan oleh pandai besi itu, bahwa memasang karah-karah baja seperti itu, memang harus dilakukan pada saat cambuk itu dibuat.

Demikianlah maka cambuk Swandaru menjadi lebih dahsyat lagi dengan kepingan-kepingan baja yang melingkari juntainya di beberapa bagian di antara cincin-cincinnya. Ketika kepingan-kepingan itu telah terpasang, maka dengan serta merta Swandaru telah mencobanya.

Ketika sebuah ledakan yang tidak terlalu keras terdengar di belakang halaman pandai besi itu, maka robohlah tiga batang pisang sekaligus.

Swandaru tersenyum. Katanya, “Aku hanya mengayunkan dengan sebagian kecil tanganku. Tetapi kepingan-kepingan baja itu telah membuat cambukku seakan-akan menjadi semakin tajam.”

Pandai besi itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia tersenyum ketika Swandaru melemparkan beberapa keping uang kepadanya.

Di sanggarnya Swandaru ingin mencoba mempergunakan cambuknya. Ia tidak dapat mempergunakan seorang lawan untuk meyakinkan kekuatan senjatanya, karena hal itu akan dapat membahayakan jiwanya. Karena itulah ia ingin mencoba betapa dahsyat ledakan cambuknya pada seekor binatang.

“Tangkaplah seekor harimau,“ perintah Swandaru kepada para pengawal. “Bukanlah kalian dapat melakukannya dengan pasangan seperti yang sering kalian lakukan?”

Para pengawalpun melakukan seperti yang diperintahkan oleh Swandaru. Dengan umpan seekor kambing, mereka menggali sebuah lubang di dalam hutan.

Di malam hari, mereka mendengar aum kemarahan yang menggapai-gapai dari dalam lubang yang dalam itu, sehingga merekapun yakin, bahwa mereka telah berhasil menangkap seekor harimau.

“Biarlah ia tetap di dalam lubang itu,” berkata Swandaru, “kita akan mengepungnya dan membiarkan ia meloncat naik.”

“Maksudmu?”

“Aku akan mencoba juntai cambukmu pada kulitnya yang liat itu.”

Di pagi harinya, sekelompok pengawal dari Sangkal Putung telah berada di dalam hutan. Atas perintah Swandaru mereka mengepung lubang perangkap itu dalam lingkaran yang agak besar. Di tangan mereka telah tergenggam senjata telanjang.

Di antara para pengawal itu terdapat Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Sumangkar.

“Taruhlah sebatang kayu, agar harimau itu sempat naik,“ perintah Swandaru.

Beberapa orang pengawalpun kemudian memasukkan sebatang kayu yang sengaja dapat dipergunakan oleh harimau itu untuk memanjat naik.

Seperti yang diharapkan, harimau itupun perlahan-lahan memanjat kayu yang tersandar pada lubang yang lelah mengurungnya semalam suntuk. Namun demikian kepalanya tersembul, maka terdengarlah aum kemarahannya karena ia melihat beberapa orang yang berdiri dalam sebuah lingkaran dengan senjata telanjang.

Swandaru tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia-pun maju selangkah mendekati lubang itu. Dengan ujung cambuknya ia mengganggu harimau itu agar segera meloncat keluar dan menyerangnya.

Sejenak harimau itu masih termangu-mangu. Namun gangguan juntai cambuk Swandaru membuatnya benar-benar semakin marah. Karena itulah, maka harimau itupun kemudian meloncat dengan liarnya sambil mengaum semakin keras.

Swandaru meloncat surut. Iapun kemudian menyiapkan dirinya untuk melawan harimau itu dengan sungguh-sungguh. Ia ingin melihat, apakah juntai cambuknya akan mampu membelah kulit harimau itu.

Harimau itu tidak menunggu lebih lama lagi. Ketika kemarahannya telah memuncak, maka iapun segera meloncat sambil menjulurkan kedua kaki depannya menerkam Swandaru yang berada di paling dekat dihadapannya.

Pada saat yang diperhitungkan itulah Swandaru meloncat ke samping. Kemudian dengan segenap kekuatannya ia mengayunkan cambuknya ke arah punggung harimau yang menerkamnya itu.

Terdengarlah sebuah ledakan yang dahsyat, disusul oleh aum harimau yang bagaikan membelah hutan itu.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: