Buku 109 (Seri II Jilid 9)

 

Ki Gede Menoreh benar-benar berada dalam kesulitan. Seakan-akan ia hanya berkesempatan menahan dan menangkis serangan lawannya. Tetapi ia sendiri tidak sempat menyerang, karena dengan licik Ki Tumenggung Wanakerti selalu menjahuinya.

Ki Gede Menoreh tidak mau memaksa diri untuk meloncat menyerang. Ia tidak mau menanggung akibat yang parah karena kakinya. Sehingga dengan demikian maka ia lebih baik mempergunakan nalarnya sebaik-baiknya untuk mengatasi kesulitannya.

Ternyata Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar ingin menghabisi perlawanan Ki Gede Menoreh. Serangannya semakin lama menjadi semakin dahsyat. Sebelum malam turun, Ki Tumenggung Wanakerti ingin menyelesaikan pertempuran itu, kemudian berusaha untuk menguasai kedua pusaka yang masih berada di tangan pengikut Ki Gede Telengan.

Tetapi tidak mudah bagi Ki Tumenggung Wanakerti untuk melumpuhkan Ki Gede Menoreh yang cacat kaki itu. Meskipun Ki Gede Menoreh hanya sekedar mempertahankan diri, namun kadang-kadang senjatanya masih juga berbahaya bagi Ki Tumenggung.

Namun Ki Tumenggung masih mempunyai banyak akal. Ia dapat mempergunakan ilmunya yang tinggi. Kakinyapun kemudian bagaikan kaki kijang di rerumputan. Meloncat-loncat seolah-olah tidak menyentuh tanah berputaran disekeliling Ki Gede Menoreh. Sekali-sekali ia meloncat menjauh, kemudian tiba-tiba ia melingkar sambil menyambar lambung.

Ki Gede Menoreh menjadi semakin sulit menghadapi cara yang cepat dan berjarak panjang itu. Setiap kali Ki Gede Menoreh selalu merasa terganggu karena kakinya. Meskipun tangannya masih cukup cepat, tetapi ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama untuk melayani cara yang menyulitkan itu, karena ia harus berputaran menurut arah serangan lawannya.

“Umurmu tidak akan lama lagi Ki Gede Menoreh yang perkasa. Aku akan menghabisimu dalam aji Langen Pati. Kau akan menikmati tarian mautku di sekitarmu sebelum kau akan menemui nasib yang sangat buruk.”

Ki Gede Menoreh tidak menjawab. Tetapi pada saat-saat terakhir ia harus benar-benar memeras segala macam ilmu yang ada padanya.

Sebenarnya Ki Gede Menoreh tidak akan terpengaruh oleh kekuatan aji yang betapapun macamnya, karena ia mempunyai kemampuan untuk melawannya. Bahkan Ki Gede Menoreh akan sanggup menembus aji Lembu Sekilan seandainya Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar memilikinya, atau akan dapat bertahan terhadap aji Guntur Geni yang dapat membakar jantung lawan.

Namun ia tidak dapat ingkar akan keadaan jasmaniahnya. Segala macam ilmu dan kekuatan aji yang ada pada dirinya, ternyata tidak mampu mengatasi kesulitan yang timbul dari dirinya sendiri. Dan Ki Gede Menorehpun menyadari, akhirnya manusia harus pasrah akan kelemahan dan kekecilan diri, betapapun ia dapat menangkap ilmu yang sangat tinggi.

Tetapi Ki Gede Menoreh tidak berputus asa. Ia masih mampu bertempur melawan Ki Tumenggung Wanakerti itu.

Dalam keadaan yang semakin sulit, Ki Gede Menoreh masih dapat merasa bangga setiap ia mendengar ledakan cambuk Agung Sedayu. Rasa-rasanya suara itu telah menyejukkan hatinya. Anak muda yang selalu ragu-ragu dan kadang-kadang nampak kurang yakin akan sikapnya sendiri itu, agaknya telah bertempur dengan sepenuh kemampuannya untuk merebut pusaka-pusaka yang hilang dari Mataram, justru pusaka-pusaka yang terpenting.

Tetapi ternyata bukan saja Ki Gede Menoreh yang perhatiannya tersentuh oleh ledakan cambuk Agung Sedayu. Ternyata bahwa Ki Tumenggung Wanakertipun selalu digelisahkan oleh suara cambuk itu. Sebagai orang yang memiliki ilmu yang tinggi, Ki Tumenggung mengerti, bahwa ledakan itu adalah merupakan berita betapa dahsyatnya ilmu orang yang menggenggam tangkai cambuk itu.

“Ia akan segera berhasil menguasai kedua pusaka itu,” berkata Ki Tumenggung Wanakerti di dalam hatinya, ”jika demikian, maka akan sangat sulit bagiku untuk merebutnya.”

Karena itu, untuk beberapa saat lamanya, ia menjadi ragu-ragu. Ki Gede Menoreh yang telah diganggu oleh kakinya sendiri itu tidak segera dapat ditundukkan, sementara anak muda bercambuk itu sangat berbahaya bagi kedua pusaka yang sedang dikejarnya, karena telah dilarikan oleh Ki Gede Telengan.

Sejenak Ki Tumenggung Wanakerti membuat pertimbangan-pertimbangan. Sementara langit menjadi semakin suram.

Namun akhirnya Ki Tumenggung memutuskan untuk meninggalkan Ki Gede Menoreh dan menghadapi Agung Sedayu.

“Beberapa orang bekas prajurit Pajang akan mengepung Ki Gede Menoreh agar ia kehilangan kesempatan untuk berputar-putar oleh cacat kakinya,” berkata Ki Tumenggung di dalam hatinya, sementara ia ingin membinasakan Agung Sedayu dan merebut kedua pusaka itu dari tangan para pengikut Ki Gede Telengan.

Karena itulah, maka iapun kemudian berteriak memanggil tiga orang pengawal kepercayaannya. Kemudian diserahkannya Ki Gede Menoreh kepada mereka, karena Ki Tumenggung Wanakerti bertekad untuk melawan Agung Sedayu.

Ki Gede tidak sempat menahannya. Ki Tumenggung masih cukup cepat bergerak sementara kaki Ki Gede menjadi semakin mengganggunya.

Namun sepeninggal Ki Tumenggung, tugas Ki Gede menjadi lebih ringan. Meskipun ia harus menghadapi beberapa orang, namun para pengawalnya masih sempat membantunya. Kadang-kadang di antara lawan yang dihadapi, satu dua orang pengawalnya sempat membantunya, mengurangi tekanan ketiga orang lawannya. Ketiganya bukanlah orang-orang yang memiliki kelebihan ilmu yang jauh dari kebanyakan para pengawal terpilih Tanah Perdikan Menoreh, namun mereka cukup kuat untuk mengurungnya dalam pertempuran.

Sementara itu, Ki Tumenggung Wanakerti dengan tergesa-gesa menyibak arena untuk mendekati Agung Sedayu. Ia tidak ingin memberikan kesempatan kepadanya untuk mencapai pusaka yang kurang beberapa langkah saja daripadanya. Dengan tangkasnya Agung Sedayu bertempur melawan para pengikut Ki Gede Telengan yang mempertahankan pusaka itu dan para pengikut Ki Tumenggung Wanakerti yang berusaha mendahului mendapatkannya.

Ternyata bahwa ujung cambuknya benar-benar telah menghantui medan yang menjadi semakin gelap. Agung Sedayu sendiri berusaha untuk dapat menguasai pusaka-pusaka itu sebelum malam menjadi semakin kelam.

Namun tiba-tiba langkahnya tertegun ketika tiba-tiba saja seseorang telah hadir di hadapannya sambil berteriak, ”Minggir. Biarlah aku yang menyelesaikan anak ini.”

Agung Sedayu memandang orang itu dengan tegangnya. Ia sadar, bahwa orang itu adalah orang yang telah bertempur melawan Ki Gede Menoreh dan yang telah meninggalkannya untuk menahan gerak majunya mendekati pusaka itu.

“Anak muda,” berkata Tumenggung Wanakerti, “aku kagum akan kemampuanmu. Menurut ceritanya, kau jugalah yang telah membunuh Ki Gede Telengan dengan ilmu yang serupa dengan ilmu kerling yang tidak ada artinya itu. Sekarang kau berhadapan dengan aku. Tumenggung Wanakerti. Aku bukannya orang yang suka pada semacam ilmu kerlingan mata. Tetapi cobalah kau bertahan dengan kemampuan ilmumu yang manapun juga.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Dipandanginya saja Ki Tumenggung Wanakerti dengan tajamnya.

“Kau harus mati, dan pusaka-pusaka itu harus kembali kepadaku,” geram Ki Tumenggung Wanakerti.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Orang ini tentu orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia telah berhasil bertahan melawan Ki Gede Menoreh, dan kini ia sengaja melawannya tanpa menghiraukan kematian Ki Gede Telengan.

Karena itu, maka Agung Sedayu tidak mau kehilangan kesempatan. Demikian ia bersiap menghadapi Ki Tumenggung Wanakerti, maka iapun berteriak, ”Jagalah baik-baik agar orang-orang yang membawa pusaka itu tidak melarikan diri bersama pusakanya.”

Perintah itu sudah pernah didengar oleh para pengawal. Namun ketika Agung Sedayu mengulanginya, maka merekapun menjadi semakin gigih. Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah berusaha untuk mengepung orang-orang yang masih mempertahankan pusaka-pusaka itu dengan mempertaruhkan nyawa mereka.

Sesaat kemudian, maka Ki Tumenggung Wanakerti yang hatinya telah terbakar oleh sikap Ki Gede Telengan, dan kemudian melihat kemungkinan yang semakin dekat bagi Agung Sedayu untuk memiliki pusaka itu, hatinya menjadi semakin menyala.

Dengan segenap kemampuannya ia langsung menyerang Agung Sedayu. Sementara Agung Sedayupun telah siap menghadapinya.

Ketika serangan Ki Tumenggung Wanakerti lewat, maka meledaklah cambuk Agung Sedayu mengenai lawannya. Tepat pada lambungnya yang terbuka, karena tangan Ki Tumenggung mengayunkan senjatanya lurus ke depan mematuk lawan.

Namun terasa pada tangan Agung Sedayu, bahwa ujung cambuknya telah menyentuh sesuatu yang seakan-akan memagari tubuh Ki Tumenggung Wanakerti. Apalagi ketika Agung Sedayu melihat, Ki Tumenggung seolah-olah tidak terpengaruh oleh sentuhan cambuknya. Ia hanya menyeringai. Namun kemudian seolah-olah sudah tidak terasa lagi.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Ternyata bahwa orang yang menyebut dirinya Ki Tumenggung Wanakerti itu benar-benar seorang yang luar biasa. Ia agaknya memiliki sejenis ilmu yang dapat menjadi perisai bagi dirinya. Apakah aji Lembu Sekilan, apakah aji Tameng Waja, atau jenis-jenis yang lain, namun ternyata bahwa sentuhan ujung cambuknya tidak memberikan akibat yang menentukan pada lawannya, meskipun Agung Sedayu yakin bahwa cambuknya dapat mengenainya tepat pada lambung.

Tetapi bahwa Ki Tumenggung Wanakerti masih nampak menyeringai menahan sakit meskipun hanya sesaat, Agung Sedayu dapat mengetahui, bahwa Ki Tumenggung Wanakerti tidak mutlak mempunyai sejenis ilmu kebal.

Karena itu, maka Agung Sedayupun segera mempersiapkan diri menghadapi pertempuran yang tentu tidak kalah sengitnya dengan melawan Ki Gede Telengan. Apalagi Agung Sedayu masih diganggu oleh perasaan lelah badani dan jiwani, setelah ia mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya.

Namun ternyata Ki Tumenggung Wanakertipun tidak sesegar saat ia mulai turun di medan pertempuran melawan Raden Sutawijaya. Ia sudah memeras tenaganya di medan pertempuran dalam induk pasukannya melawan Senapati Ing Ngalaga. Kemudian melawan Ki Gede Menoreh yang cacat kaki. Baru ia berhadapan dengan anak muda yang bersenjatakan cambuk itu.

Kesadaran akan lawannya, telah membuat Agung Sedayu menjadi semakin membenamkan diri pada ilmunya. Keragu-raguan dan kebimbangan yang sering menghambat segala tingkah lakunya, perlahan-lahan menjadi kabur. Ada semacam dorongan di dalam dirinya untuk mengatasi keragu-raguannya. Kedua pusaka itu harus direbutnya. Yang penting baginya, bukannya arti dari pusaka itu bagi Mataram saja. Tetapi ia juga menjadi ngeri membayangkan, jika kedua pusaka itu tetap berada di tangan orang-orang yang tamak dan dikuasai oleh nafsu. Meskipun pusaka-pusaka itu tidak sesuai dan tidak memberikan pengaruh apapun juga kepada orang orang tamak, namun kesadaran mereka memiliki pusaka-pusaka itu. akan mendorong mereka untuk bertindak lebih jauh dan berbahaya bagi Pajang dan Mataram.

Karena itulah maka sejenak kemudian. Agung Sedayu dan K i Tumenggung Wanakerti telah terlibat dalam pertempuran yang dahsyat. Ki Tumenggung yang menyadari bahwa anak muda itu telah berhasil membunuh Ki Gede Telengan, tidak mau mengalami kesulitan karena kelengahannya. Meskipun lawannya masih sangat muda, namun Ki Tumenggung Wanakerti harus mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada dirinya. Sejak semula ia sudah mengetrapkan kekuatan cadangan yang ada pada dirinya untuk memagari tubuhnya menurut pengetrapan ilmunya, agar senjata lawannya tidak berhasil melukainya dan apalagi melumpuhkannya.

Wanakerti yang bagaikan gila itu, telah melibat Agung Sedayu bagaikan prahara. Serangannya datang beruntun dan berputaran tanpa menghiraukan dirinya sendiri. Ia terlalu yakin, bahwa senjata Agung Sedayu tidak akan banyak berarti bagi tubuhnya, sehingga dengan demikian Ki Tumenggung Wanakerti tidak pernah menghindarkan diri dari beturan-benturan ilmu yang terjadi.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ia merasa bahwa tenaga Ki Tumenggung Wanakerti memang luar biasa. Bukan saja karena ilmu kebalnya meskipun tidak mutlak, tetapi kekuatannyapun benar-benar merupakan kekuatan raksasa, sementara ia mampu berloncatan secepat burung sikatan.

“Ilmunya lengkap,“ desis Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Namun itu bukan berarti bahwa Agung Sedayu harus menyingkir dari medan dan melepaskan pusaka-pusaka itu.

Agung Sedayu yang telah berhasil meningkatkan ilmunya dalam keadaan yang seakan-akan tidak dapat diperhitungkan dengan nalar hanya dalam waktu yang terhitung sangat singkat, meskipun ia sudah menguasai dasar-dasarnya sebelumnya, benar-benar telah diuji kemampuannya. Setelah ia berhasil membenturkan ilmunya dan membinasakan Ki Gede Telengan, maka ia harus membenturkan pula ilmunya dengan kekuatan raksasa.

Dalam benturan-benturan berikutnya, Agung Sedayu merasa dirinya harus bergeser surut. Serangan-serangan yang datang dari Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar bagaikan badai.

Dengan cambuknya Agung Sedayu kadang-kadang menahan. Tetapi setiap kali Ki Tumenggung yang menyeringai menahan sakit untuk sekejap itu telah meloncat kembali dan menyerang dengan garangnya.

Senjatanya kadang-kadang terjulur lurus mengarah dada, namun kemudian ditebaskannya mendatar setinggi lambung.

Agung Sedayu harus berloncatan menghindarkan diri. Dengan dahsyatnya ia meledakkan cambuknya untuk memperlambat serangan-serangan lawannya.

Dalam keadaan yang gawat, maka perlahan-lahan ilmu Agung Sedayu telah tersalur seluruhnya ke dalam jalur kekuatan tangannya yang merambat pada cambuknya. Sehingga karena itulah, maka kemudian suara cambuknya semakin terdengar berbeda.

Meskipun suaranya tidak lebih keras dalam tangkapan telinga wadag, namun Ki Tumenggung Wanakerti telah dikejutkan oleh getaran yang menyentuh telinga batinnya. Getaran ilmu yang dilontarkan dari ujung cambuk Agung Sedayu dalam tataran yang lebih tinggi.

“Gila,“ geram Ki Tumenggung Wanakerti sambil meloncat surut.

Dengan mata yang bagaikan menyala ia memandang Agung Sedayu sejenak. Sekali lagi Ki Tumenggung Wanakerti terkejut. Dalam kesuraman ujung malam, ia melihat bayangan wajah Agung Sedayu bagaikan cermin yang menunjukkan kepadanya, terkaman maut yang mulai mendekat.

Gerak Agung Sedayu nampaknya menjadi semakin lamban. Ia tidak ingin mempergunakan tatapan matanya, karena ia tidak yakin akan dapat menembus perisai di seputar tubuh Ki Tumenggung Wanakerti. Namun ia lebih yakin akan kekuatan ilmunya yang tersalur lewat wadagnya.

Hati Ki Tumenggung Wanakerti tergetar ketika lewat wadagnya Agung Sedayu tiba-tiba meledakkan cambuknya di sisi tubuhnya sendiri. Adalah di luar jangkauan nalarnya, bahwa akibatnya benar-benar mengerikan.

Yang sempat melihat, jantungnya bagaikan berhenti berdenyut. Demikian ledakan cambuk menghentak, maka tiba-tiba saja di sisi Agung Sedayu telah tergali sebuah lubang memanjang. Ujung cambuknya seakan-akan telah memecahkan bumi sehingga menganga.

Ki Tumenggung Wanakerti menahan nafasnya sejenak. Ia benar-benar bertemu dengan seorang anak muda yang ajaib. Ki Tumenggung tidak akan gentar seandainya ia harus bertempur melawan Ki Gede Telengan yang bagaikan hantu bagi orang-orang yang telah mengenal ilmunya. Namun ketika ia harus berhadapan dengan anak yang masih sangat muda itu, rasa-rasanya ia sudah mulai berjanji dengan maut.

Tetapi Ki Tumenggung Wanakerti segera menghentakkan giginya. Ia tidak mau dipengaruhi oleh kelemahan hati seorang pengecut. Karena itu maka tiba-tiba terdengar suaranya lantang, “Anak muda. Kau jangan berusaha mempengaruhi hatiku dengan permainan cambukmu seperti kebanyakan anak gembala di padang penggembalaan. Kau kini berhadapan dengan seorang prajurit linuwih, yang tidak akan dapat terluka oleh segala macam jenis senjata.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa K i Tumenggung Wanakerti berusaha mengimbangi kekuatannya dengan ilmunya yang dahsyat lewat lontaran suaranya. Gemanya bagaikan menggelegar seratus kali lebih keras di dalam rongga dadanya, sehingga rasa-rasanya tulang-tulang iganya menjadi rontok karenanya.

Tetapi Agung Sedayu memiliki daya tahan yang luar biasa. Ia sadar bahwa suara Ki Tumenggung Wanakerti telah menghentikan pertempuran di sekitarnya. karena kedua belah pihak sedang berusaha menahan agar dadanya tidak retak karenanya.

Namun demikian mereka menguasai diri, maka pertempuranpun telah meledak lagi dengan dahsyatnya. Juga antara Ki Tumenggung Wanakerti dengan Agung Sedayu.

Selangkah demi selangkah Ki Tumenggung Wanakerti mendekati Agung Sedayu. Wajahnya yang tegang penuh dendam membuatnya menjadi semakin garang.

Gelap malam mulai meraba lembah yang dibatasi Gunung Merbabu dan Gunung Merapi itu. Namun pertempuran yang terjadi masih berkobar dengan dahsyatnya di segala medan.

Juga Agung Sedayu yang bertempur melawan Ki Tumenggung Wanakerti. Meskipun keduanya telah dipengaruhi oleh kewajaran badani, sehingga kemampuan mereka susut, namun mereka masih tetap merupakan dua kekuatan raksasa yang bertempur dengan dahsyatnya.

Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar seorang yang memiliki kecepatan bergerak yang luar biasa. Serangannya bagaikan petir yang menyambar di langit.

Tetapi Agung Sedayu bukan sebatang pohon raksasa, atau seonggok batu karang yang beku. Secepat petir menyambar, maka secepat itu pula Agung Sedayu mampu menghindari serangan Ki Tumenggung Wanakerti, sehingga serangan itu tidak mengenai sasarannya.

Betapa besar kekuatan serangan itu terasa oleh Agung Sedayu pada desir angin yang menyapu tubuhnya. Meskipun senjata lawannya sama sekali tidak menyentuhnya, tetapi hati Agung Sedayu berdesir oleh kesadarannya, bahwa jika senjata itu mengenainya, maka tubuhnya akan sobek dan tidak akan perlu mengulangi, maut akan segera memeluknya.

Namun dalam pada itu, ujung cambuk Agung Sedayu masih mampu menyusul kecepatan gerak Ki Tumenggung Wanakerti. Meskipun hanya sebuah sentuhan, namun ternyata bahwa lontaran ilmu tertinggi yang sudah tersalur lewat wadag dan senjatanya. Agung Sedayu telah mampu menunjukkan bahwa ilmunya benar-benar merupakan hantu yang garang bagi Ki Tumenggung Wanakerti.

Ternyata demikian ia meluncur dengan serangannya yang berhasil di hindari oleh Agung Sedayu, ujung cambuk Agung Sedayu telah menyentuh betis kakinya.

Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar telah terkejut. Sentuhan ujung cambuk Agung Sedayu benar-benar lelah meremas kulitnya dan bagaikan meretakkan tulang-tulangnya.

Ki Tumenggung Wanakerti mengeluh pendek. Sentuhan itu tidak hanya menumbuhkan rasa pedih sesaat yang segera lenyap karena kekebalannya. Tetapi ilmu anak muda itu dalam hentakan segenap kekuatannya tidak hanya sekedar menembus perisai yang menyelubunginya dalam pewadagan kekuatan batiniah, yang terpancar oleh kekuatan ilmunya, namun ilmu Agung Sedayu yang muda itu benar-benar telah berhasil menyakitinya.

Karena itulah, maka Ki Tumenggung Wanakerti tidak lagi dapat bersembunyi di balik perisai yang tidak kasat mata, tetapi terasa dalam sentuhan wadag. Ternyata bahwa ujung cambuk dalam landasan ilmu Agung Sedayu telah berhasil melampuinya.

Ki Tumenggung menjadi semakin berhati-hati. Namun dengan demikian ia tidak lagi dapat bergerak terlalu cepat, karena ia harus membuat pertimbangan-pertimbangan dan perhitungan atas tata geraknya.

Dengan demikian, maka pertempuran itupun segera mempunyai bentuknya yang lain. Ki Tumenggung Wanakerti yang berhati-hati dan menghitung semua gerak dan sikap, telah dilibat oleh serangan Agung Sedayu yang bagaikan badai. Cambuknya meledak-ledak di seputar lawannya tanpa dapat ditahan, sehingga setiap kali sentuhan-sentuhan kecil menjadi semakin sering meraba tubuhnya.

“Gila. Anak ini benar-benar mempunya ilmu iblis,” geramnya di dalam dadanya yang hampir retak.

Tetapi ia benar-benar tidak dapat bersembunyi lagi di balik ilmu kebalnya yang ternyata masih teratasi oleh kemampuan ilmu Agung Sedayu lewat ujung cambuknya meskipun ujung cambuk itu tidak berhasil merobek kulitnya seperti jika terjadi pada orang lain. Namun perasaan sakit dan pedih tidak lagi dapat diingkarinya.

Sementara itu Agung Sedayupun menjadi heran. Sentuhan-sentuhan senjatanya dapat membuat lawannya merasa sakit. Tetapi ujung senjatanya dalam lontaran ilmunya masih belum mampu melukai kulit Ki Tumenggung Wanakerti.

Dengan demikian, maka pertempuran itupun menjadi semakin dahsyat. Keduanya benar-benar memiliki kekuatan raksasa yang luar biasa.

Namun, akhirnya Ki Tumenggung Wanakerti harus mengakui, bahwa wajarlah jika Agung Sedayu dapat mengimbangi ilmu Ki Gede Telengan sehingga orang yang disegani itu telah terbunuh.

Pengakuan itu benar-benar telah menggoncangkan ketahanan batinnya. Ia merasa bahwa usahanya akan sia-sia. Ketika ujung cambuk lawannya menyengat kulitnya dan terasa sakitnya meskipun hanya sesaat, ia sudah curiga, bahwa perisai ilmu kebalnya tidak akan dapat menyelamatkannya melawan anak ini. Apalagi kemudian, peningkatan ilmu Agung Sedayu menjadikannya semakin bimbang, apakah ia akan dapat bertahan.

Ternyata semakin lama, tubuhnya yang setiap kali tersentuh ujung senjata Agung Sedayu menjadi semakin lemah. Meskipun ia tidak terluka, namun rasa-rasanya tulang-tulangnya telah berpatahan dan tidak mampu menjadi lanjaran tubuhnya lagi.

Meskipun demikian, Ki Tumenggung Wanakerti adalah seorang prajurit linuwih. Ia tidak menyerah karena pengakuan di dalam hati. Ia merasa wajib untuk bertempur sampai kemungkinan terakhir.

Itulah sebabnya, maka betapapun perasaan sakit mencengkamnya, tetapi ia justru bagaikan menjadi gila. Dengan hati yang bagaikan menyala ia menyerang seperti seekor harimau yang terluka.

Pada saat-saat terakhir, terasa oleh Agung Sedayu, lawannya telah kehilangan pegangan. Tetapi dengan demikian ia menjadi semakin ganas dan liar. Senjatanya berputaran dan menyambar nyambar seperti seekor lebah yang terbang mengitari lawannya.

Meskipun Ki Tumenggung Wanakerti sudah mulai kebingungan, tetapi nalurinya sebagai seorang yang berilmu tinggi, masih juga sempat membingungkan Agung Sedayu. Iapun harus menyesuaikan diri dengan serangan-serangan yang datang beruntun dan kadang-kadang benar-benar liar dan buas. Dengan kasar pula Agung Sedayu harus menghindarinya. Kadang-kadang juga berloncatan panjang, dan bahkan kadang-kadang harus merunduk dan berguling.

Pada saat-saat Ki Tumenggung Wanakerti sudah berputus asa, lontaran dendam dan kebenciannya masih sangat berbahaya bagi Agung Sedayu. Sambaran senjatanya melontarkan angin yang menyapu di seputarnya. Namun ketika Agung Sedayu terlambat meloncat oleh serangan yang kasar, maka senjata lawannya benar-benar telah menyentuh tubuhnya.

Agung Sedayulah yang kemudian menyeringai menahan sakit. Kulitnya benar-benar telah tergores oleh senjata lawannya, meskipun tidak begitu dalam.

Namun darah yang menitik seakan-akan telah mencuci segala keragu-raguan dan kebimbangan. Agung Sedayu yang menjadi sadar akan keadaannya, telah bangun kembali dari keragu-raguan yang mulai tumbuh lagi sejak ia melihat lawannya berputus asa.

Tetapi ternyata bahwa dalam keadaannya itu, Tumenggung Wanakerti justru menjadi lebih berbahaya. Bukan saja bagi dirinya, tetapi juga bagi keselamatannya. Cambuk Agung Sedayu menjadi semakin cepat bergerak dan semakin dahsyat mematuk tubuh lawannya.

Dengan demikian, maka terasa tubuh Ki Tumenggung Wanakerti menjadi semakin lemah. Tulang-tulangnya terasa bagaikan remuk sama sekali, sehingga dengan demikian, ia sudah tidak mempunyai harapan untuk dapat menguasai kedua pusaka itu lagi.

Ki Tumenggung benar-benar telah berputus asa. Hilangnya kedua pusaka itu dari lingkungannya karena pengkhianatan Ki Gede Telengan memang harus ditebus dengan segala yang paling berharga dari dirinya. Tubuh dan nyawanya.

Bekas perwira prajurit Pajang yang memiliki kelebihan dari prajurit kebanyakan itu, merasa bahwa ia telah gagal. Ia tidak lagi menghiraukan apakah induk pasukannya akan menang. Karena betapapun juga hilangnya dua pusaka itu dari lingkungannya, berarti maut baginya. Justru mungkin dengan cara yang lebih mengerikan, jika ia harus mempertanggung jawabkan kepada Kakang Panji dan sidang orang-orang terpenting di antara mereka.

Itulah sebabnya, maka Ki Tumenggung Wanakerti sama sekali tidak berniat untuk menyelamatkan dirinya lagi. Tenaganya yang tersisa diperasnya sama sekali dengan serangan-serangan yang tidak berperhitungan lagi.

Namun justru karena itu, terasa dada Agung Sedayu bergetar. Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar seperti orang gila. Ia menyerang dengan dahsyatnya meskipun ia sadar, bahwa Agung Sedayu sudah siap meledakkan cambuknya saat ia meloncat.

Tetapi Ki Tumenggung Wanakerti tidak mengurungkan serangannya. Justru ia meloncat sambil mengulurkan senjatanya lurus-lurus langsung menyerang dada.

Agung Sedayu yang berdebar-debar merasa seolah-olah telah berhadapan dengan hantu yang bangkit dari kuburnya. Ada semacam kengerian yang merambat di dalam hatinya melihat sikap lawannya yang tidak wajar itu.

Justru karena kengerian itulah, maka hampir di luar sadarnya. Agung Sedayu telah bergeser setapak. Kemudian mengangkat tangkai cambuknya sambil memusatkan segenap kemampuan ilmu yang ada padanya.

Tepat pada saat Ki Tumenggung Wanakerti menerkamnya dengan ujung senjata, Agung Sedayu telah menyongsongnya dengan hentakan cambuk yang dilambari dengan puncak ilmunya yang dihentakkannya sampai tuntas.

 

 

Ledakan yang terdengar tidak melampaui suara ledakan yang pernah di dengar oleh telinga wadag. Namun terasa sesuatu telah bergetar di antara suara ledakan itu, sehingga ujung cambuknya telah menampar tubuh Ki Tumenggung Wanakerti, seperti petir yang menampar ujung sebatang nyiur.

Terdengar pekik tertahan. Ketika Agung Sedayu bergeser, maka tubuh Ki Tumenggung terbang di hadapannya seakan-akan justru menjadi semakin cepat oleh hentakan cambuk Agung Sedayu yang sendal pancing.

Namun ketika tubuh itu menjejak tanah, seakan-akan tidak ada kekuatan lagi yang tersisa. Tubuh itu langsung terlempar menelungkup. Sekali lagi ia menggeliat dan berusaha menengadah betapapun lemahnya.

Agung Sedayu berdiri beberapa langkah dari tubuh itu. Seakan-akan Agung Sedayu telah membeku di tempatnya. Dipandanginya Ki Tumenggung Wanakerti yang perlahan-lahan menengadah sambil menahan sakit.

Sejenak kemudian, Agung Sedayupun menyadari dirinya. Tubuhnyapun merasa sakit disegala sendi-sendinya. Kekuatannya sekali lagi telah terkuras habis. Di hentakan yang terakhir, ia benar-benar telah mehempaskan segenap sisa kekuatannya, sehingga seperti yang telah terjadi pada saat ia membunuh Ki Gede Telengan, maka iapun tidak lagi mampu berbuat sesuatu.

Selangkah Agung Sedayu mendekati Ki Tumenggung Wanakerti yang terbaring. Hampir saja Agung Sedayupun tertelungkup. Namun ia masih sempat dengan perlahan-lahan berjongkok di samping tubuh Ki Tumenggung Wanakerti.

“Anak muda,“ Agung Sedayu mendengar Ki Tumenggung masih berdesis, “kau memang anak yang luar biasa. Aku akan merasa bangga jika aku mempunyai anak seperti kau. Mumpuni dan mengenal jalan yang harus kau lalui.”

Agung Sedayu masih tetap berdiam diri.

“Siapakah kau sebenarnya anak muda?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi terdengar suara seseorang di belakangnya, “Ia adalah Agung Sedayu. Adik Untara.”

“O,“ Ki Tumenggung Wanakerti menarik nafas dalam, “jadi kau adik Untara, senapati di bagian selatan itu?”

Di luar sadarnya Agung Sedayu mengangguk.

“Jadi, apakah pasukan Untara ada di antara pasukan Mataram sekarang ini?”

Agung Sedayu menggeleng. Ki Tumenggung Wanakerti sudah sangat lemah, sehingga yang terloncat dari bibirnya tentu tidak akan diselimuti oleh berbagai macam niat yang lain. Nampaknya, keadaannya sudah sangat parah di bagian dalam tubuhnya, meskipun kulitnya tidak terluka.

“Aku minta maaf anak muda,“ berkata Ki Tumenggung Wanakerti kemudian, “mungkin aku sudah melukaimu. Tetapi luka itu tentu tidak seberapa.”

Seolah-olah Agung Sedayu berbuat di luar sadar, ketika ia mengangguk kecil.

“Tidak ada gunanya lagi pengikut-pengikutku bertempur sepeninggalku. Mereka tentu akan binasa. Karena itu, kuasailah kedua pusaka itu, meskipun aku tidak tahu apakah yang akan kau lakukan seterusnya dengan pusaka-pusaka itu.”

Dengan tanpa prasangka apapun Agung Sedayu menjawab, “Aku akan menyerahkannya kembali ke Mataram.”

Ki Tumenggung menarik nafas panjang sekali.

Namun kemudian nampak senyumnya membayang di bibirnya. Dalam keremangan malam wajah itu nampak semakin beku, sehingga akhirnya hempasan nafas terakhir telah meluncur dari lubang hidungnya.

Agung Sedayu menarik nafas panjang. Ketika ia berpaling, dilihatnya Ki Gede Menoreh berdiri di belakangnya dengan senjatanya masih di tangan.

“Beristirahatlah Agung Sedayu,“ suaranya datar dan berat, “keadaan sudah dapat dikuasai. Pusaka-pusaka itu tidak akan dapat lepas jika tidak hadir orang-orang lain seperti Ki Tumenggung Wanakerti atau Ki Gede Telengan. Karena itu, biarlah para pengawal mengepungnya dengan rapat. Kau dapat memulihkan kekuatanmu kembali. Jika benar hadir orang-orang baru yang memiliki kemampuan tinggi, kau akan dapat mengimbanginya.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Iapun kemudian duduk di samping tubuh Ki Tumenggung Wanakerti yang terkapar. Sementara itu Ki Gede Menoreh yang sudah beristirahat beberapa saat setelah melepaskan diri dari ketiga lawannya, melangkah mendekati arena pertempuran yang menjadi semakin sempit.

Dua orang pengawal tetap berada di dekat Agung Sedayu untuk mengawasinya, jika akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya selama ia berusaha memulihkan kekuatannya.

Para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh telah berhasil menguasai medan seluruhnya. Kematian Ki Tumenggung Wanakerti sesudah Ki Gede Telengan, membuat para pengikutnya menjadi semakin kecut. Mereka tidak lagi dapat berbuat sesuatu meskipun mereka masih berusaha untuk bertahan. Satu-satunya harapan mereka adalah, jika sekelompok pasukan datang lagi menyusul dari pasukan induk.

Tetapi pasukan itu tidak kunjung datang, sehingga merekapun menjadi berputus asa.

Ki Gede yang kemudian hadir lagi di antara para pengawalnya, dengan lantang berkata, “Ki Tumenggung Wanakerti telah terbunuh. Siapa lagi di antara kalian yang akan nnampu menahan kemarahan anak muda itu. Pusaka itu adalah barang yang sangat berharga bagi pemimpin kalian. Tetapi bagi kalian tidak akan banyak mempunyai arti. karena kalian akan tetap menjadi pengawal yang diumpankan di baris terdepan dalam peperangan, namun tidak mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan pengaruhnya jika kalian menang. Karena itu. maka harga pusaka itu. tentu tidak akan lebih besar dari nilai jiwamu masing-masing. Sudah banyak korban yang jatuh karena pusaka-pusaka itu. Apapun alasannya, tetapi mengorbankan terlalu banyak jiwa untuk kedua pusaka itu. rasa-rasanya memang kurang seimbang.”

Kata-kata Ki Gede Menoreh ternyata telah menyentuh hati pada pengikut orang-orang mumpuni yang telah terbunuh oleh Agung Sedayu. Tetapi mereka masih belum berani mengambil keputusan.

Dalam pada itu. Agung Sedayu yang sedang sibuk mengatur diri. perlahan-lahan telah melepaskan tarikan nafas panjangnya dalam pengaturan nafas dan peredaran darahnya. Tubuhnya perlahan-lahan telah menjadi segar kembali. Angin malam yang sejuk membantu mempercepat pulihnya kekuatannya, meskipun perasaan letih dan pedih di lukanya masih tetap mencengkamnya.

Perlahan lahan Agung Sedayu berdiri. Ketika ia mengedarkan pandangan matanya dalam keremangan malam, ia masih melihat pertempuran yang tidak bergelora lagi. Nampaknya para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang ditunggui oleh Ki Gede telah menguasai keadaan sepenuhnya.

Sejenak Agung Sedayu masih termangu-mangu. Ia tidak digelisahkan lagi oleh pusaka-pusaka itu. karena hampir pasti pusaka-pusaka itu akan dapat dikuasai kembali oleh para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, dan yang akan segera kembali ke Mataram.

Selangkah demi selangkah Agung Sedayu mendekati lingkaran pertempuran yang sudah menyempit. Orang-orang Ki Gede Telengan dan orang-orang Ki Tumenggung Wanakerti, seakan-akan telah menyatu dalam kepungan yang tidak tertembus.

“Menyerahlah,“ terdengar suara Ki Gede Menoreh.

Ketika terdengar suara lain menyusul suara Ki Gede Menoreh, maka para pengikui Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti menjadi semakin kecut hatinya. Suara Agung Sedayu.

“Kalian sudah tidak mempunyai kesempatan lagi,“ berkata Agung Sedayu, “bagi kami lebih baik menerima kalian menyerah daripada harus menjatuhkan korban semakin banyak. Jika kalian berkeras untuk bertempur terus, apapun alasannya, itu hanya berarti kematian-kematian yang sia-sia. Mungkin kalian adalah seorang laki-laki jantan, yang pantang menyerah karena kalian memilih mati sambil memeluk senjata. Tetapi kesia-siaan itu benar-benar tidak berarti, juga bukan lambang kejantanan karena sekedar didorong oleh kedunguan dan pengingkaran atas kenyataan yang dihadapi.”

Kata-kata Agung Sedayu telah menyentuh hati orang-orang yang mempertahankan senjata itu. Tetapi rasa-rasanya pusaka-pusaka itu bagi mereka jauh lebih berharga dari jiwa mereka sendiri.

“Ki Sanak,“ berkata Agung Sedayu, “jika dengan pengorbanan kalian pusaka-pusaka itu dapat kalian selamatkan dari tangan kami. maka kalian adalah pahlawan. Tetapi jika kalian sudah mengetahui dengan pasti bahwa pusaka-pusaka itu akan jatuh ke tangan kami, maka yang kalian lakukan adalah sekedar sikap keras kepala, sehingga kematian kalian adalah semakin jauh dari pengertian kepahlawanan itu.”

Tetapi nampaknya pertempuran masih berlangsung terus. Namun demikian sudah nampak, keragu-raguan mulai membayang di hati para pengikut Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti.

Agung Sedayu melangkah semakin dekat. Kemudian ia masih mencoba lagi, “Kenapa kalian tidak meletakkan senjata kalian dan menghentikan pertempuran? Apakah kalian benar-benar ingin bertempur sampai mati? Jika kematian yang dapat menghentikan kalian, maka kami akan memenuhinya. Tetapi jika masih ada akal sehat di kepala kalian, maka berhentilah dan menyerahlah.”

Para pengikut Ki Gede Telenganlah yang pertama-tama mulai merasa bahwa tidak ada gunanya lagi mereka bertempur. Seorang yang memegang pusaka yang terselubung kain putih itupun berdesis di antara kawan-kawannya, “Apakah kita akan bertahan terus?”

Tiba-tiba seorang yang berkumis lebat membentaknya, “Pengkhianat. Serahkan pusaka itu kepadaku. Aku akan menyelamatkannya.”

Tetapi yang lain berdesis, “Sudah terlambat. Kita sudah terkepung rapat. Tidak ada gunanya.”

Orang berkumis lebat itu menggeram. Namun kemudian kepalanya mengangguk-angguk lemah.

“Kita tidak akan dapat bertahan terus,“ berkata orang yang memegang pusaka itu. “Karena itu, kita akan menyerah. Kedua pemimpin kita tidak dapat bertahan terhadap anak muda itu. Apalagi kita.”

Tidak ada jawaban. Tetapi nampaknya kawan-kawannya sependapat bahwa sebaiknya mereka menyerahkan diri kepada para pengawal Tanah Perdikan menoreh itu. sehingga mereka hanya memerlukan seorang dari mereka yang berani memulai.

Namun akhirnya mereka tidak tahan lagi. Orang yang memegang pusaka itulah yang kemudian berteriak, “Kami menyerah.”

Ada semacam hentakan di dalam setiap hati. Menyerah adalah suatu perbuatan yang hina. Tetapi mereka tidak dapat ingkar atas kenyataan yang mereka hadapi.

Ki Gede Menorehpun kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk menghentikan pertempuran dan melangkah surut, sehingga kepungan itu menjadi semakin longgar.

“Letakkan senjata kalian,“ perintah Ki Gede ketika sudah ada jarak antara kedua pasukan yang bertempur itu.

Para pengikut Ki Gede Telengan dan para pengikut Ki Tumenggung Wanakerti tidak dapat berbual lain. Mereka segera meletakkan senjata mereka, dan benar-benar menghentikan perlawanan.

Ki Gede Menoreh menunggu sejenak. Ketika ia yakin bahwa tidak ada lagi kemungkinan yang licik dari para pengikut Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti. maka bersama Agung Sedayu keduanyapun memasuki lingkaran kepungan.

Beberapa langkah dari orang-orang yang menyerah itu keduanya berhenti. Dengan nada berat Ki Gede Menoreh berkata, “Kemarilah. Serahkan kedua pusaka itu.”

Dua orang yang membawa pusaka itupun kemudian melangkah mendekati Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu. Betapapun keragu-raguan menghentak didalam dada mereka, namun merekapun kemudian menyerahkan kedua pusaka itu masing-masing kepada Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu.

“Terima kasih,” berkata Agung Sedayu, “kalian sudah ikut membantu mempercepat penyelesaian dari pertempuran ini. Sementara kalian akan dibawa oleh pengawal menghindar dari peperangan ini.”

Tidak seorangpun yang menjawab. Mereka sama sekali tidak menolak ketika kemudian di giring oleh para pengawal menuju ke tempat yang lapang untuk mendapatkan pengawasan yang lebih baik.

Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu yang menerima kedua pusaka itu menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya mereka telah mendapatkan anugrah yang tidak ternilai harganya. Kedua pusaka yang dapat mendorong orang-orang yang tamak dan sombong itu untuk melangkah semakin jauh, telah tidak ada lagi di tangan mereka, sehingga mereka tentu akan menghentikan usaha mereka yang dapat mengguncang ketenangan Pajang dan Mataram.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu dan Ki Gede Menorehpun segera teringat arena pertempuran yang lebih besar di sebelah timur. Pertempuran itu tentu jauh lebih dahsyat dan pertempuran sekelompok yang telah terjadi di sisi sebelah barat ini.

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Ketika dalam keremangan malam dan kemudian cahaya obor yang dinyalakan oleh beberapa orang pengawal, ia melihat mayat yang bergelimpangan, maka hatinya serasa semakin pedih. Jauh lebih pedih dari lukanya yang tidak terlalu dalam.

Tetapi ia tidak dapat menghindari kemungkinan itu. Betapapun pertentangan di dalam dirinya bagaikan benturan ombak di lautan, namun ia sudah melakukannya. Membunuh. Bahkan di antaranya adalah dua orang terpenting. Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti.

Sekilas terbayang wajah Rudita yang tersenyum pahit. Bahkan kemudian seakan-akan ia melihat anak muda itu menangis. Menangisi mayat yang berserakan di sela-sela ilalang dan pepohonan di hutan yang cukup padat itu.

Agung Sedayu terkejut ketika ia merasa seseorang menggamitnya. Agaknya Ki Gede Menoreh dapat mengenali perasaannya, karena sudah cukup lama ia bergaul dengan anak muda itu.

“Agung Sedayu,” berkata Ki Gede Menoreh, ”aku tahu bahwa kau menyesali peristiwa yang telah terjadi. Bahwa kau harus membunuh dengan tanganmu dan dengan ilmumu yang dahsyat itu. Tetapi ada peristiwa yang terjadi karena keadaan. Memang ada peristiwa-peristiwa pahit yang terjadi akibat perbuatan sendiri. Seperti orang yang memetik buah dari tanamannya. Tetapi ada yang demikian saja berada di mulutnya dan harus ditelannya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Kau telah terperosok ke dalam keadaan yang tidak dapat kau ingkari meskipun kau masih mempunyai pilihan. Menghindari diri dari perbuatan yang sudah kau lakukan tetapi kau sendiri terbunuh, atau kau mempertahankan hidupmu tetapi orang lainlah yang terbunuh.”

Agung Sedayu memandang Ki Gede Sejenak. Ia mengangguk kecil meskipun ada sesuatu yang terasa belum mapan.

“Agung Sedayu,” berkata Ki Gede kemudian, ”kita masih belum selesai. Meskipun pusaka-pusaka ini sudah ada di tangan kita, tetapi aku masih membayangkan bahwa pertempuran yang sengit masih terjadi. Agaknya para pengikut orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit itu tidak menghentikan peperangan, sehingga pasukan pengawal Mataram dan Sangkal Putung harus menyesuaikan diri.”

“Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan Ki Gede?”

“Kita menyusul ke medan membawa pusaka-pusaka ini. Kita akan menunjukkan bahwa pusaka-pusaka ini sudah ada di tangan kita, sehingga pengaruhnya tentu akan besar sekali terhadap pengikut-pengikut orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Agung Majapahit itu.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Tetapi jika para pengawal itu gagal bertahan, maka pusaka ini akan berada dalam bahaya.”

Ki Gede mengerutkan keningnya, namun kemudian katanya, ”Aku tidak tahu pasti Ngger. Tetapi firasatku memberikan harapan baik pada pertempuran ini. Apalagi setelah sayap yang tertinggal ini ikut serta memperkuat pasukan Tanah Perdikan Menoreh.”

Agung Sedayu berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, ”Baiklah Ki Gede. Kita akan membawa pusaka ini ke medan. Kita akan mengangkatnya tinggi dan meneriaakkan bahwa Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti sudah terbunuh.”

“Bagus,“ sahut Ki Gede.

Namun tiba-tiba saja Ki Gede melihat mata Agung Sedayu yang redup. Jika harus diteriakkan bahwa Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti terbunuh, maka seterusnya tidak dapat diingkari, bahwa yang membunuh adalah Agung Sedayu. Orang yang ingin menunjukkan kemampuan ilmunya. Orang yang tidak terlawan. Bahkan yang sudah dapat menyamai kemampuan orang-orang dari angkatan jauh sebelumnya.

“Tidak,” terdengar gumam lirih. Kemudian Agung Sedayu berdesis di dalam hatinya, ”bukan maksudku.”

Sekali lagi Ki Gede melihat perasaan Agung Sedayu yang membayang pada tatapan matanya. Sambil menarik nafas dalam-dalam, ia menepuk bahunya sambil berkata, ”Marilah. Kita akan membagi pasukan kita. Sebagian akan mengawasi para tawanan, yang lain ikut serta menuju ke medan yang tentu lebih garang.”

 

 

Agung Sedayu mengangguk lemah. Tetapi tidak membantah.

Sejenak kemudian pasukan itupun telah terbagi. Sebagian mengawasi para tawanan yang sudah tidak bersenjata lagi yang dibawa ke tempat yang lebih lapang, sementara yang lain mengikuti Agung Sedayu dan Ki Gede Menoreh menuju ke medan sambil membawa kedua pusaka yang telah berhasil direbut itu.

Para pengawal yang ikut bersama Agung Sedayu dan Ki Gede Menoreh sadar, bahwa mereka telah menggantikan kedudukan para pengikut Ki Gede Telengan. Mereka harus mempertahankan pusaka-pusaka itu mati-matian jika ada pihak yang ingin merampasnya. Apapun yang akan terjadi atas mereka sama sekali tidak akan mereka perhitungkan.

“Aku tidak akan menyerah seperti para pengikut Ki Gede Telengan jika keadaanku terdorong sampai kepada keadaan yang mereka alami.” berkata seorang pengawal muda.

“Mereka tidak mempunyai pilihan lain. Keadaan sudah memaksa harus berlaku demikian.” sahut kawannya.

“Itu namanya pengecut.”

“Keadaan kita berbeda dengan keadaan mereka,” sahut kawannya yang lain, ”mereka hampir tidak menyadari apa yang telah mereka lakukan kecuali harapan-harapan kosong yang pernah mereka dengar dari pemimpin-pemimpin mereka. Sedangkan kita adalah orang-orang yang berdiri dan berjejak di atas tanah. Jika kita bertempur, kita berada di pihak Tanah Perdikan Menoreh, atau pihak-pihak lain yang sejalan. Kita tidak mengharapkan apa-apa, selain kita tetap seorang pengawal dari Tanah Perdikan kita sendiri.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian mengangguk sambil bergumam, ”Kau benar. Ada perbedaan landasan. Yang kita tempuh berbeda dengan yang mereka lakukan. Dan perbedaan itu adalah perbedaan yang hakiki.”

Dalam gelapnya malam, di bawah cahaya beberapa buah obor yang kecil, pasukan Tanah Perdikan Menoreh mencoba menembus hutan menuju ke arena pertempuran di bagian lain dari lembah itu.

Meskipun medan agak sulit, tetapi perlahan-lahan mereka dapat maju di sela-sela pepohonan. Sekali-sekali mereka terhenti oleh batang-batang yang melintang, dan kadang-kadang sulut yang bergayutan. Namun mereka meneruskan langkah mereka betapapun lambatnya.

Dalam kelamnya malam, sekali-sekali terdengar binatang buas mengaum di kejauhan. Disusul oleh raung anjing hutan yang berkejaran.

Beberapa orang prajurit menjadi berdebar-debar. Anjing hutan adalah lawan yang paling berbahaya. Seekor harimau akan dengan mudah dibinasakan; apalagi mereka berada dalam kelompok yang cukup besar. Tetapi anjing hutan kadang-kadang datang dalam kawanan yang tidak terhitung.

“Kau ngeri mendengar suara anjing hutan itu?” tiba-tiba seseorang bertanya kepada kawan di sampingnya.

Kawannya termangu-mangu. Namun kemudian ia mengangguk. Bahkan kemudian menjawab, ”Tentu kau juga.”

“Ya. Aku tidak dapat memanjat. Padahal memanjat adalah satu-satunya cara yang paling baik untuk menghindarkan diri dari sekelompok anjing hutan.”

Kawannya tersenyum. Jawabnya, “Ternyata aku masih lebih aman jika sekiranya kita bertemu dengan sekelompok anjing hutan yang jumlahnya sekitar lima ratus ekor.”

“Ah. Itu berlebih-lebihan. Meskipun mereka berkelompok, tetapi tidak akan lebih dari dua puluh lima.”

“Jangan mencoba menghibur diri. Kau harus berani melihat kenyataan.”

“Ah,” kawannya itu menggeser mendekat, ”jika benar-benar kita bertemu dengan sekelompok anjing hutan, tolong aku memanjat.”

“Aku tentu mengurusi diriku sendiri.”

“Tetapi kau dapat membantu aku.”

“Dan itu membahayakan diriku.”

Kawannya menjadi tegang, namun kemudian. “Baiklah. Kita hidup dalam dunia kita masing-masing. Kita akan mencari keberuntungan nasib kita tanpa menghiraukan orang lain. Syukurlah, bahwa aku masih membawa sebatang tombak yang dapat membantu aku memanjat. Jika di dahan-dahan pepohonan terdapat ular hijau yang banyak terdapat di sini. akupun masih mempunyai serbuk penawarnya.”

“He?”

“Ular gadung adalah ular yang sangat berbahaya. Jauh lebih berbahaya dari anjing liar. Seekor ular gadung sebesar lidi yang melekat di tengkukmu, akan dapat membunuhmu dalam sekejap jika kau tidak mempunyai obat penawarnya.”

“Ah, bohong. Kau tahu. aku takut sekali kepada ular.”

“Bertanyalah kepada setiap orang, di sini adalah sarang ular gadung dan ular kayu hitam berleher merah.”

“Bohong. Bohong. Bohong.”

Kawannya tidak menjawab. Bahkan berpalingpun tidak. Ia berjalan sambil sekali-sekali menengadahkan kepalanya.

“He,” kawannyalah yang kemudian mendekatinya, ”kau membawa serbuk penawar itu?”

“Aku membawa. Tetapi tinggal sedikit sekali.”

“Tetapi, tetapi….” kawannya mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil mendorongnya berkata, “Kau hanya ingin membalas kegelisahanmu oleh suara anjing itu.”

Kawannya tetap tidak menjawab. Sehingga akhirnya keduanya saling berdiam diri.

Dalam pada itu. pasukan kecil itu kemudian menyusup semakin dalam. Di malam yang gelap, dalam cahaya beberapa obor kecil, pasukan itu sama sekali tidak menebar karena dengan demikian mereka akan mengalami kesulitan perjalanan. Karena itu. maka merekapun kemudian berjalan berurutan dan menempatkan obor yang hanya beberapa buah itu pada tempat yang terpisah-pisah.

Mereka terhenti ketika mereka melihat cahaya api di kejauhan agak di bagian yang lebih rendah, sehingga orang yang berdiri di paling depan segera memberi isyarat dan berusaha menyembunyikan cahaya obor mereka yang memang tidak begitu besar itu di balik gerumbul-gerumbul atau di balik puntuk-puntuk kecil atau batu-batu besar.

“Apa yang kalian lihat,” bertanya Ki Gede Menoreh sambil maju ke bagian depan dari iring-iringannya.

“Api Ki Gede. Perapian di sebuah perkemahan.”

Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam dalam. Perkemahan itu adalah perkemahan yang dibangun oleh orang-orang yang tinggi di lembah untuk berbicara tentang warisan kerajaan Majapahit itu.

“Pertempuran itu tentu terjadi di luar perkemahan mereka,” berkata Agung Sedayu.

“Apakah pertempuran itu terhenti di malam kelam ini sehingga mereka kembali ke perkemahan?” bertanya seorang pengawal.

Tetapi Ki Gede menggeleng. Jawabnya, ”Mungkin tidak. Pertempuran itu berlangsung terus. Tetapi sebagian dari mereka kembali ke perkemahan untuk menyediakan dukungan makanan bagi mereka yang sedang bertempur. Tanpa makan, mereka akan menjadi sangat lemah dan tidak berdaya untuk melanjutkan pertempuran.”

Agung Sedayu mengangguk angguk. Sementara seseorang yang lain berbisik di telinga kawannya, “Kitalah yang tidak akan mendapat makanan dari siapapun juga, karena tidak ada di antara kita yang menyediakannya.”

“Sst. Para tawanan akan diperintahkan untuk menyediakan makanan kita.”

“Dan mereka memasukkan racun ke dalamnya.” desis yang lain.

Agung Sedayu mengangguk-angguk, ia bahkan menyatakan keinginannya untuk melakukannya, tetapi Ki Gede sudah menunjuk dua orang pengawalnya untuk melihat, siapakah yang ada di perkemahan itu.

Beberapa saat pasukan kecil itu menunggu. Mereka masih tetap berusaha menyembunyikan diri dan melindungi cahaya obor-obor kecil mereka.

Beberapa saat kemudian, kedua pengawal itu telah kembali. Sebelum mereka mengatakan sesuatu, menilik sikap dan ketegangan wajahnya, Ki Gede sudah dapat menduga, siapakah yang berada di barak-barak perkemahan itu.

“Kita tidak mengenal mereka,“ lapor salah seorang pengawal itu, “menilik ciri-ciri yang dapat kita lihat, mereka tentu bukan orang-orang Mataram atau Sangkal Pulung.”

“Mereka tentu para pengikut Tumenggung Wanakerti,“ desis Ki Gede Menoreh, “karena itu. kita harus menyimpang. Kita tidak akan bertempur di sini. Tetapi kita akan mencapai medan dan melihat perkembangan keadaan.”

“Ki Gede,“ berkala Agung Sedayu kemudian, “sebaiknya, sebelum kita mendekati medan, kita harus mencari hubungan lebih dahulu. Agaknya di malam hari. keadaan menjadi agak kacau. Menilik perkembangan keadaan, maka orang-orang di lembah ini agaknya telah dapat menerobos para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang datang dari arah barat.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar Ngger. Kita tidak dapat membayangkan keadaan pertempuran itu sekarang, sebelum kita memperoleh hubungan. Tetapi mungkin kita masih dapat bergerak lagi beberapa puluh langkah sebelum kita akan sampai di medan. Aku kira dalam kelamnya malam yang pekat di daerah berhutan ini, akan terdapat banyak obor di medan pertempuran itu.”

Agung Sedayu mengangguk. Tetapi ia menjadi ngeri membayangkan kemungkinan lain yang dapat terjadi di luar pertempuran itu sendiri.

“Ki Gede,“ berkata Agung Sedayu, “hutan ini sangat pepat. Jika api obor itu tidak terkendali karena pertempuran yang dahsyat, maka bahaya lain akan dapat timbul. Hutan ini dapat terbakar, sehingga api tidak akan terkuasai lagi.”

“Memang hal itu mungkin sekali terjadi Ngger. Tetapi marilah kita berdoa, agar hutan ini tidak terbakar Agaknya tidak terlalu mudah membakar hutan yang hijau seperti hutan di lembah ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kecemasan itu masih tetap ada di dalam hatinya.

Sejenak kemudian, maka Ki Gedepun segera mengatur para pengawalnya untuk mencari jalan yang tidak terlalu dekat dengan perkemahan lawan yang sedang sibuk menyiapkan makan. Ada juga kadang-kadang tersembul niat untuk mengganggu mereka dan apabila perlu mematahkan hubungan antara perkemahan itu dengan medan. Tetapi karena masih belum terdapat gambaran yang jelas tentang medan, maka niat itupun diurungkannya.

Dengan hati-hati maka pasukan kecil itupun semakin lama menjadi semakin dekat dengan medan. Mereka tidak terlalu sulit untuk merenungkannya, karena arahnya sudah pasti. Mereka tinggal menyusuri lembah itu. dan mereka tidak akan salah arah.

Beberapa puluh langkah lagi ke depan, maka seperti yang mereka duga, nampak obor yang menebar di pertempuran.

“Kita sudah sampai,” berkata Ki Gede Menoreh, “kita akan mencari hubungan dengan pasukan Mataram atau dengan Prastawa dan Ki Waskita.”

“Kita akan memastikan diri, apa yang akan kita lakukan Ki Gede,“ sahut Agung Sedayu.

“Ya. Dan kita tidak boleh salah hitung, karena pada kita terletak pertanggungan jawab terbesar atas pusaka-pusaka ini.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Tetapi wajahnya nampak berkerut oleh ketegangan di dalam hatinya.

Sementara itu, dua orang penghubung telah diperintahkan oleh Ki Gede Menoreh untuk mencari hubungan. Mereka harus mendapatkan gambaran dari seluruh medan di bagian barat.

Sepercik kecemasan telah tumbuh di hati Ki Gede Menoreh. Jika di bagian barat ini dengan mudah dapat ditembus oleh lawan, maka apakah pasukan Tanah Perdikan Menoreh sudah tidak berdaya sama sekali. Sementara itu, dengan berdebar-debar pula Ki Gede mulai menilai seluruh pertempuran meskipun hanya sekedar dari tebaran dan jumlah obor.

Pertempuran itu agaknya benar-benar merupakan pertempuran yang besar.

“Seharusnya pertempuran itu berhenti ketika gelap turun,“ tiba-tiba saja Ki Gede bergumam.

Agung Sedayu berpaling kearahnya. Dengan suara datar ia berkata, “Seharusnya Ki Gede. Tetapi orang-orang di lembah ini tentu tidak akan memaksa diri untuk mengetrapkan unggah-ungguh peperangan. Jika mereka merasa malam justru menguntungkan, maka mereka akan mempergunakan malam itu untuk kepentingan mereka.”

Ki Gede mengangguk. Namun kemudian katanya, “Kita akan beristirahat sejenak. Kau tentu masih lelah, dan kakiku masih terasa sedikit mengganggu.”

Ki Gedepun kemudian duduk di atas sebuah batu. Pusaka yang di tangannya sama sekali tidak dilepaskannya. Digerakkannya kakinya yang setiap kali kambuh, justru pada saat-saat yang gawat. Sementara Agung Sedayupun telah duduk pula di sebuah batu yang lain untuk melepaskan lelahnya pula. Dalam pada itu, para pengawal menebar di sekitar kedua orang yang sedang memegang pusaka yang telah berhasil dirampas itu. Meskipun mereka ikut beristirahat pula. tetapi mereka tidak meninggalkan kewaspadaan. Karena itulah maka mereka telah berada di segala arah untuk mengawasi keadaan, karena mereka berada di daerah yang gawat dan kurang mereka kuasai keadaannya. Apalagi dalam gelapnya malam, sementara obor mereka yang kecil menjadi semakin kecil dan tidak berdaya lagi mencapai jarak yang cukup, selain sekedar untuk melihat selangkah di depan kakinya sendiri.

Dalam pada itu, dua orang merayap mendekati medan. Mereka mencoba mengenal pertempuran itu dari jarak yang semakin dekat. Dari cahaya obor. mereka mulai dapat membedakan siapakah yang ada di medan.

Dengan hati-hati kedua orang itu mencari seseorang yang mereka kenal, terutama pengawal Tanah Perdikan Menoreh, meskipun dengan demikian berarti bahwa merekapun harus berada di medan.

“Kau tinggal di sini,“ berkata salah seorang dari kedua pengawal itu, “aku akan berada di pertempuran itu.”

“Kenapa aku harus tinggal di sini? “ bertanya kawannya.

“Jika setelah aku memasuki medan dan aku tidak sempat keluar, maka kau harus memberitahukannya kepada Ki Gede.”

“Ah. Jika kemungkinan tidak ada, kenapa kau harus mendekat. Yang kita saksikan sudah cukup meyakinkan, bahwa pertempuran itu sampai saat ini masih belum dapat menentukan, siapakah yang akan menguasai medan. Kita sudah dapat melihat, bahwa pertempuran itu bagaikan bercampur baurnya kawan dan lawan.”

“Jadi, apakah kau sangka dengan demikian sudah cukup? Kita bukan sekedar melihat pertempuran itu. Tetapi kita akan mencari hubungan.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam.

“Tinggallah disini. Tunggulah beberapa saat. Jika aku tidak kembali, tinggalkan aku di medan.”

Kawannya tidak menyahut. Tetapi kecemasan nampak membayang diwajahnya.

Yang seorang tidak menunggu lebih lama. Nampaknya ia tidak menghiraukan lagi kawannya, meskipun sebenarnya ia menyadari, bahwa kawannya yang masih belum berpengalaman benar-benar menjadi cemas.

“Apa boleh buat,“ desisnya, ”tugas ini harus dilakukan.”

Sepeninggal kawannya, pengawas yang seorang menjadi semakin cemas. Bukan saja tentang nasib kawannya, tetapi juga tentang dirinya sendiri. Rasa-rasanya di dalam gelapnya malam, berpuluh-puluh pasang mata sedang mengintipnya dari balik kegelapan.

Dengan memaksa diri pengawal itu mengatasi kengerian di hatinya. Ia berkewajiban untuk tinggal ditempatnya menunggu kawannya yang mencari hubungan ke medan. Ia sadar, bahwa ia tidak dapat ikut serta, karena jika demikian, apabila kedua-duanya mengalami kesulitan, tidak ada orang yang akan dapat melaporkan lagi kepada Ki Gede Menoreh.

Sementara itu, kawannya telah mendekati medan dengan senjata di tangan. Ketika ia sekilas melihat seorang pengawal Tanah Perdikan Menoreh sedang bertempur, maka iapun segera mendekatinya dan ikut melibatkan diri ke dalam pertempuran itu.

“He, kau.” desisnya sambil bertempur bersama.

Namun ia tidak banyak mendapat kesempatan. Ketika pertempuran itu bergeser seperti geseran air tersentuh batang yang tergelincir ke dalamnya. maka kawannya telah tergeser pula, dan ia harus bertempur menghadapi orang lain.

Tetapi segera ia mendapat kesimpulan, bahwa jumlah dan kekuatan kedua belah pihak agaknya memang berimbang.

“Pertempuran itu dapat berlangsung tujuh hari tujuh malam,“ katanya di dalam hati, “jika tidak ada perubahan keseimbangan, maka sampai pada batas terakhir, akan tinggal dua orang saja yang masih hidup dan bertempur sampai yang seorang terbunuh.”

Tetapi ia tidak dapat membiarkan dirinya terseret oleh angan-angannya karena senjata lawannya hampir saja mengenai hidungnya.

Namun tiba-titia geseran berikutnya, telah menempatkannya pada lingkungan yang lebih menguntungkan. Beberapa pengawal Tanah Perdikan Menoreh sedang berusaha mempertahankan kedudukan masing-masing dalam kerja sama yang rapi.

“Bagus,“ desis penghubung itu, “orang tua itu tentu berhasil mempertahankan kedudukannya.”

Penghubung itupun kemudian berusaha untuk bergeser pula meskipun bagaikan menentang arus. Namun perlahan-lahan ia berhasil mencapai kawan-kawannya yang sebagian besar sudah dikenalnya dengan baik.

“Dimana Prastawa?“ pertanyaan itulah yang pertama-tama dilontarkan.

Seorang dari pengawal itu berpaling sejenak. Kemudian jawabnya, “Ia berada di induk daerah pertempuran ini.”

“Aku ingin menemuinya. Tetapi apakah kau dapat memberikan beberapa keterangan?”

Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian ia meninggalkan lawannya yang segera mendapat lawan yang lain, bersama pengawal yang bertugas sebagai penghubung itu keluar dari arena.

“Pertempuran sudah tidak terlalu keras. Tetapi masing-masing memang berusaha untuk menjaga harga diri. Tidak ada di antara kedua pihak untuk mau mendahului memberikan tawaran untuk menghentikan pertempuran meskipun kami sudah sangat letih. Perut kami menjadi sangat lapar, dan leher kami bagaikan kering.”

“Di perkemahan orang-orang yang berada di lembah ini sedang sibuk menyiapkan makanan.”

“Tidak ada di antara kami yang melakukan hal itu.”

“Kenapa?”

“Prastawa tidak memerintahkan.”

“Ia masih terlalu muda. Apakah ia sendiri tidak lapar dan haus.”

“Tetapi biarlah. Kita akan berusaha merampasnya jika lawan memberikan kesempatan kepada kawan-kawan mereka.”

“Sulit. Mungkin mereka mempunyai cara yang khusus. Jika perlu, biarlah kami melakukannya.”

“Tetapi apakah yang akan kau katakan?”

“Ki Gede mendekati medan ini bersama Agung Sedayu. Aku ingin mengatakannya kepada Prastawa.”

“Apakah persoalanmu sudah selesai?”

“Sudah. Tetapi yang masih kami perlukan adalah keterangan tentang medan. Aku melihat pihak lain di arena ini. Atau aku sudah tidak dapat melihat lagi dalam keremangan malam yang hanya diterangi dengan obor-obor kecil itu?”

Penghubung itu mengerutkan keningnya. Kemudian dengan nada datar ia berkata, “Pasukan Mataram sudah berada di medan ini pula agaknya. Jika demikidan, pertempuran ini benar-benar merupakan pertempuran yang kacau. Bukan saja perang brubuh, tetapi campur baur yang kisruh.”

“Tidak. Masih ada batas. Prastawa memang memilih gelar Glatik Neba,” jawab pengawal itu, “tetapi agaknya di sebelah timur masih terdapat gelar.”

Penghubung itu mengangguk-angguk. Kemudidan katanya sambil melapaskan lawannya, “Aku akan mencari Prastawa.”

“Ia berada di induk pasukan.”

Tetapi tidak mudah untuk mendapatkan Prastawa di dalam perang yang kacau itu. Namun demikian, akhirnya ia menemukannya juga di antara beberapa orang pengawal. Sementara tidak terlalu jauh dari padanya, terdapat seorang anak muda yang sedang mengamuk seperti seekor banteng.

“Raden Sutawijaya,“desisnya, “ia berada di medan ini juga.”

Pengawal itu termangu-mangu. Namun iapun kemudian berusaha untuk mendekati Pratawa. Beberapa lama baru ia berhasil. Sambil mengikuti gerak pertempuran di induk pasukan, maka iapun kemudian melaporkan kepada Prastawa, apa yang sudah terjadi.

“He,“ Prastawa terkejut, “orang yang bernama Ki Gede Telengan dan Tumenggung Wanakerti sudah mati?”

“Ya. Keduanya dibunuh oleh Agung Sedayu.”

“Kau gila, katakan yang sebenarnya.”

“Ya. Dibunuh oleh Agung Sedayu.”

“Tutup mulutmu, atau aku sumbat dengan ujung pedang. Aku tidak tahu siapakah keduanya. Tetapi karena keduanya memiliki tugas-tugas khusus tentu kedua orang-orang yang berilmu.”

“Ya. Keduanya memang orang yang pilih tanding. Tetapi keduanya telah dibunuh oleh anak muda dari Sangkal Putung itu.”

“Kalau kau sebut sekali lagi, aku bunuh kau.“

Pengawal itu menjadi heran. Tetapi ia benar-benar tidak berani mengatakannya lagi.

“Bagaimana dengan Paman Argapati.”

“Aku diperintahkannya mencari hubungan. Pasukannya sudah dekat di belakang medan ini. Kami akan segera menggabungkan diri.”

“Bagus. Kita akan segera menyelesaikan pertempuran ini dan menghancurkan orang-orang tamak yang menyebut dirinya pendukung Kerajaan Agung Majapahit.”

“Baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada Ki Gede. Sebentar lagi pasukan kami akan datang.”

“Pergilah. Aku akan menyampaikannya kepada Raden Sutawijaya.”

Penghubung itu mengangguk. Iapun kemudian menarik diri dari peperangan dan kembali untuk menemukan kawannya di persembunyiannya yang gelap dan sepi.

Ketika ia menemukannya, maka kawannya itu hampir tidak tahan lagi menunggu. Tubuhnya menjadi gemetar dan peluh dingin mengalir di seluruh tubuhnya.

“Uh. kau lama sekali. Aku hampir beku di sini.”

“Aku hampir luluh di medan yang panas.”

“Di sini dingin sekali.”

“Marilah. Kita melaporkannya kepada Ki Gede. Medan itu merupakan medan yang kacau balau.”

Dengan tergesa-gesa keduanya pergi menghadap Ki Gede Menoreh yang telah menunggu dengan gelisah. Dengan jelas, penghubung itu melaporkan apa yang telah dilihatnya.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. “Gelar Glatik Neba agak terlalu berbahaya bagi para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Gelar itu merupakan hantu bagi lawan, jika jumlahnya cukup dan secara pribadi para pengawal memiliki kemampuan yang tinggi.”

“Prastawa menilai pasukannya seperti ia menilai dirinya sendiri. Mungkin ia sendiri dapat membuat kejutan-kejutan di medan perang brubuh. Tetapi para pengawal muda akan menjadi gelisah. Apalagi dalam pertempuran yang sangat panjang,“ berkata Ki Gede Menoreh.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia membayangkan kesulitan yang dialami oleh para pengawal, terutama yang masih sangat muda. Muda umurnya dan muda pengalamannya.

“Marilah,“ Ki Gede tiba-tiba saja menjatuhkan perintah, “kita akan segera berangkat.”

Pasukan kecil itupun segera mempersiapkan diri. Mereka menyalakan kembali obor-obor yang sebagian telah dipadamkan. Kemudian dengan hati-hati mereka menyusuri jalan di antara pepohonan hutan mendekati medan.

“Angger Agung Sedayu,” berkata Ki Gede, “mungkin tenaga kita akan diperlukan di medan. Karena itu. biarlah kedua pusaka ini dibawa oleh dua orang pengawal yang dapat dipercaya. Salah seorang dari kita akan mengawal pusaka ini bersama beberapa orang pilihan, sedang salah seorang lagi langsung memasuki medan.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak.

“Aku akan mengawal pusaka ini,” berkata Ki Gede Menoreh, “jika aku cukup beristirahat, kakiku tidak akan mengganggu aku lagi.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Baiklah Ki Gede. Aku akan memasuki medan. Tetapi baiklah kita berjanji. Jika Ki Gede mengalami kesulitan, berilah tanda khusus, sehingga aku akan segera datang membantu.”

“Panah sendaren. Aku akan memerintahkan melepaskan tiga buah panah sendaren berturut-turut. Panah itu akan melintasi medan, sehingga kau akan dapat mendengarnya.”

Agung-Sedayu mengangguk.

Sejenak kemudian Ki Gede telah membagi pengawalnya. Sepuluh orang bersama dirinya sendiri, telah mengawal dua orang yang membawa pusaka itu. sementara yang lain mengikuti Agung Sedayu di belakang penghubung yang telah menjumpai Prastawa sebagai penunjuk jalan. Sementara seorang yang tinggal telah selalu siap dengan busur dan anak panah sendaren jika setiap saat diperlukan.

Sepeninggal Agung Sedayu, Ki Gedepun selalu bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan, justru karena kedua pusaka itu berada di bawah tanggung jawabnya. Karena itu, maka iapun telah mengatur pengawasan dengan sepuluh orang yang ada. Seluruhnya harus bersiaga.

Sementara itu, ia mulai berpikir juga tentang persediaan makan bagi orang-orangnya yang terlibat di dalam perang. Ia sama sekali tidak membawa persediaan. Jika satu dua orang sempat kembali ke mulut lembah maka mereka akan dapat mengambil beberapa macam alat dan persediaan makanan.

“Tetapi itu akan memerlukan waktu yang lama sekali,” katanya di dalam hati.

Karena itu, maka yang dapat dilakukannya hanyalah menunggu perkembangan keadaan. Ia masih ingin melihat, bagaimana cara orang-orang di lembah itu memberikan persediaan makan dan minum kepada orang-orangnya yang masih bertempur di medan.

“Mudah-mudahan para pengawal Mataram dan Sangkal Putung membuat persediaan itu, sehingga pasukan yang mengurung lembah ini tidak akan lumpuh karena kelaparan.”

Dalam pada itu, Agung Sedayu sudah mendekati lembah. Ia sudah melihat semakin jelas cahaya obor yang menerangi medan. Bahkan ia sudah dapat melihat, pertempuran yang seru antara kedua belah pihak. Iapun sudah dapat membedakan, yang manakah pengawal Tanah Perdikan Menoreh, yang mana pasukan pengawal dari Mataram dan yang manakah orang-orang yang berada di lembah itu.

“Kita akan segera memasuki medan,“ berkata Agung Sedayu kepada para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

“Kita akan bergabung dengan kawan-kawan yang terdahulu,“ desis seseorang.

“Ya, bukankah kau lihat, mereka masih sedang bertempur dengan sengitnya? Tetapi sudah nampak tenaga mereka mulai susut. Baik dari pihak kita, maupun dari pihak lawan. Agaknya orang-orang di lembah ini tidak mau menghentikan perang menjelang malam. Mereka akan menyelesaikan sampai tuntas,” jawab Agung Sedayu.

Para pengawal itu tidak menjawab. Namun nampak tenaga mereka pun sudah mulai susut pula. Mereka telah bertempur hampir sehari penuh. Sementara mereka sama sekali tidak mendapatkan makan apapun juga.

Tetapi Agung Sedayu tidak sempat memikirkan, Ia menyerahkan kemungkinan untuk mendapatkan makanan kepada pimpinan pasukan. Mungkin ia sudah melakukan sesuatu bagi anak buahnya.

Sejenak kemudian, maka Agung Sedayupun telah memasuki medan. Oleh penghubung yang membawanya ia tidak langsung diserahkan kepada Prastawa, karena ternyata Ki Gede tidak ikut bersama pasukan itu. Apalagi sikap Prastawa agak mengherankan penghubung itu, bahwa agaknya Prastawa tidak senang mendengar berita kemenangan Agung Sedayu yang sudah berhasil membunuh dua orang pimpinan utama dari pasukan lawan.

Karena itu, maka Agung Sedayu ternyata telah berada di sayap pasukan. Di luar sadarnya, ia telah berada di medan yang bertentangan dengan medan para pengawal Mataram dipimpin oleh Ki Lurah Dipajaya bersama Ki Sumangkar.

Agaknya Ki Sumangkar yang baru sembuh dari luka-lukanya, tenaganya masih belum pulih sama sekali. Ia tidak segera berhasil mengalahkan lawannya, Kiai Kelasa Sawit, meskipun ia berhasil mendesaknya. Ia masih selalu harus memperhitungkan tenaganya sebaik-baiknya, karena ia sadar, bahwa pertempuran itu akan berlangsung lama. Bahkan mungkin dua hari dua malam, atau tiga hari tiga malam.

Sementara itu, Ki Lurah Dipajaya semakin lama menjadi semakin sulit untuk mengatasi ilmu Kiai Samparsada, meskipun ia dibantu oleh beberapa orang pengawalnya. Setiap kali pengawal-pengawal Mataram itu terdesak, dan bahkan satu dua di antara mereka, harus segera diganti karena luka-luka yang menggores tubuh mereka.

Kehadiran Agung Sedayu di bagian lain dari medan itu, telah menimbulkan pengaruh yang terasa sampai ke seberang. Dengan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang sempat beristirahat meskipun hanya sejenak itu, Agung Sedayu memasuki medan dengan garangnya.

Dalam perang brubuh, maka keragu-raguan Agung Sedayu ternyata lebih cepat tersisih. Ia tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan, karena lawannya seolah-olah berada di segala arah. Bahkan kawan-kawannya, para pengawal yang datang bersamanyapun seolah-olah telah tenggelam dalam arena dan hilang ditelan gelombang pertempuran.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tangannya sudah mulai mengayunkan cambuknya dan menyibakkan lawan-lawannya.

Suara cambuk Agung Sedayu telah mengejutkan arena di ujung sayap itu. Beberapa orang sudah mendengar tentang orang-orang bercambuk. Merekapun dapat mendengar lamat-lamat, suara cambuk Swandaru yang berada di induk pasukan. Apalagi kemudian suara cambuk itu terdengar begitu dekat, sementara suara cambuk yang lain. meskipun lirih, masih juga mereka dengar disela-sela sorak sorai yang kadang-kadang masih meledak.

Ternyata suara cambuk Agung Sedayu telah menarik perhatian. Ki Sumangkar yang mulai susut tenaganya, berhadapan dengan Kiai Kelasa Sawit, mendengar pula ledakan cambuk itu. Dengan serta merta ia berdesis, “Tentu Agung Sedayu. Ia datang dengan pasukan Tanah Perdikan Menoreh.“ Namun sebuah pertanyaan telah menyelinap, “Tetapi kenapa begitu lambat? Kenapa baru sekarang ia datang?”

Ki Sumangkar sadar, bahwa di sekitarnya tentu tidak ada orang yang akan dapat menjawab. Namun kehadirannya telah memberikan gairah baru dalam perjuangannya di sayap pasukan pengawal Mataram itu.

Kiai Samparsada yang bertempur melawan beberapa orangpun mendengar suara cambuk itu seperti juga Kiai Kelasa Sawit. Agaknya Kiai Samparsada juga pernah mendengar, bahwa orang-orang bercambuk itu mempunyai kemampuan yang melampaui kemampuan prajurit-prajurit kebanyakan.

Karena itulah, maka timbul keinginannya untuk melihat, siapakah yang telah membunyikan cambuk itu. sementara suara cambuk di induk pasukan masih tetap terdengar menggelegar berurutan.

Dengan wajah yang tegang. Kiai Samparsada menyibak medan. Ia tidak terlalu sulit mencari arah Agung Sedayu karena ledakan-ledakan cambuknya. Namun dengan dada berdebar-debar, Kiai Samparsada sempat membedakan suara cambuk dekat di medan yang menghadap ke barat, dan ledakan cambuk di induk pasukan.

“Ada perbedaan yang tajam antara kedua orang bercambuk itu,“ berkata Samparsada di dalam hatinya, “yang seorang memiliki tenaga raksasa. Tangannya akan mampu memecahkan perisai baja sekalipun. Tetapi kekuatan yang lain ini justru tidak pada tenaga wadagnya, meskipun akibatnya justru akan lebih dahsyat.”

Namun demikian, Kiai Samparsada justru telah berusaha semakin cepat mencapai orang bercambuk yang berada di sayap itu meskipun datang dari arah barat.

Sejenak kemudian, maka Kiai Samparsada melihat, arena yang bagaikan disibakkan oleh putaran maut. Beberapa orang berdiri beberapa langkah dari seorang anak muda yang menggenggam cambuk di tangan. Mereka mengacu-acukan senjata, tetapi seolah-olah mereka tidak berani mendekat.

“Anak itu masih sangat muda,“ desis Kiai Samparsada.

Perlahan-lahan ia mendekati Agung Sedayu. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya dengan suara lantang di antara hiruk pikuk perternpuran, “He, kaukah yang disebut orang bercambuk?”

Agung Sedayu berpaling. Ia sadar, bahwa pertanyaan itu ditujukan kepadanya. Karena itu. maka iapun menjawab, “Ya. Aku adalah orang bercambuk, karena kebetulan aku memang bersenjata cambuk.”

Kiai Samparsada melangkah semakin dekat, Dengan ragu-ragu ia memandang Agung Sedayu yang muda itu. Lalu sekali lagi ia bertanya, “Kaukah yang bermain-main dengan cambuk di sayap ini?”

“Aku memang bermain-main dengan cambuk. Tetapi aku tidak tahu, apakah kau maksud memang aku.”

“Aku mendengar suara cambuk lain di induk pasukan. Suaranya menggelegar seperti guruh.”

 

 

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya ragu, “Aku kira ia adalah adik seperguruanku. Tetapi aku tidak tahu pasti, apakah benar ia yang kau maksud.”

“Adik seperguruanmu?“

“Ya.”

Kiai Samparsada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kau memang menarik sekali. Pada umurmu yang masih sangat muda, kau sudah pandai bermain-main dengan cambuk beralaskan tenaga cadangan, yang sulit untuk dikuasai. Sedangkan agaknya kau meskipun serba sedikit, sudah dapat mengenalnya dan mempergunakannya.”

Agung Sedayu tidak menjawab.

“Anak muda. Sayang jika pada saat yang gawat ini kau berada di arena. Lebih baik kau menyerah. Aku ingin menjadikanmu seorang murid yang baik. Aku akan membersihkan dirimu dari pengaruh ilmu cambuk yang tidak banyak berarti itu. Aku ingin memberimu pengetahuan tentang tenaga wantah dan tenaga rangkap. Aku yakin bahwa kau akan menjadi seorang murid yang baik,“ berkata Kiai Samparsada.

Tetapi di luar dugaan, seorang pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang mendengar kata-kata itu menjadi marah dan menjawab, justru bukan Agung Sedayu sendiri, “Kaulah yang pantas berguru kepada anak muda itu.“

Kiai Samparsada berpaling kepada pengawal itu.

Namun pengawal itu masih berteriak, “Ia telah membunuh Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti. Bagaimana mungkin ia harus berguru kepadamu?”

Jawaban itu benar-benar mengejutkan. Sejenak wajah Ki Samparsada, dan bahkan orang-orang lain yang mendengarnya menjadi tegang. Berita kematian itu benar-benar telah mengejutkan mereka.

Pengawal itu ternyata cerdik. Ia melihat akibat dari berita yang dibawanya. Karena itu, justru ia mengulangi lebih keras, “Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti telah terbunuh.”

“Bohong,“ teriak Ki Samparsada.

Tetapi jawaban itu telah mengundang jawaban lagi yang justru semakin banyak. Hampir bersamaan beberapa orang pengawal yang datang bersama Agung Sedayu, dan yang mendengar jawaban Kiai Samparsada itu berteriak, “Sebenarnyalah Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti sudah terbunuh.”

Teriakan-teriakan itu telah mencengkam arena di sekitar Agung Sedayu dan Kiai Samparsada. Berita itu benar-benar telah menghentak setiap dada meskipun masih ada juga keragu-raguan.

Seorang yang bertubuh tinggi kekar berteriak, “Bohong. Tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan Ki Gede Telengan.”

Para pengawai Tanah Perdikan Menoreh berteriak semakin keras, “Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti telah mati.”

Orang itu benar-benar telah menjadi tegang oleh kebimbangan. Namun dalam pada itu, Agung Sedayu dapat mengambil kesimpulan, bahwa rencana Ki Gede Telengan untuk melarikan pusaka itu dari lingkungannya, masih belum diketahui oleh banyak orang di antara pasukan yang berada di lembah. Agaknya berita itu langsung diterima oleh Ki Tumenggung Wanakerti dan diperintahkannya untuk merahasiakan agar tidak timbul kegelisahan di medan yang luas ini.

Tetapi ternyata para pengawal tidak lagi dapat dicegah. Mereka berteriak sesuka hati. Apalagi ketika mereka yakin, bahwa teriakan-teriakan mereka telah benar-benar mempengaruhi perasaan lawan.

“Ki Tumenggung Wanakerti dan Ki Gede Telengan telah mati. Kedua pusaka yang diperebutkan telah berada di tangan kami.”

Agung Sedayu sendiri menjadi tegang. Apakah berita itu mengutungkan bagi seluruh perjuangan Raden Sutawijaya. Mungkin pengaruhnya besar sekali bagi pertempuran di lembah itu. Tetapi bagaimana langkah selanjutnya, apakah dapat dibenarkan oleh pemimpin Mataram yang masih muda itu.

Tetapi semuanya sudah terlanjur. Bahkan teriakan itu bagaikan menjalar dari sayap merambat perlahan-lahan ke induk pasukan.

Ketika para pengawal di induk pasukan berteriak tentang kematian Ki Tumenggung Wanakerti dan Ki Gede Telengan, Sutawijaya baru menerima seorang penghubung yang melaporkannya agak jelas setelah ia sempat menghubungi beberapa pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Tetapi ada beberapa keragu-raguan di hati Raden Sutawijaya. Ketika Prastawa mendekatinya, ia hanya mengatakan bahwa pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang lain akan bergabung di medan ini. Pasukan yang dipimpin oleh Ki Gede Menoreh sendiri. Tetapi dari penghubungnya ia mendapat laporan, bahwa Agung Sedayulah yang kini berada di sayap pasukan Tanah Perdikan Menoreh dengan pengawal yang tidak terlalu banyak. Tetapi cukup mempengaruhi keseimbangan, sementara para pengawal telah menceriterakan apa yang terjadi atas Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti.

“Jadi Agung Sedayu dan Ki Gede sudah berhasil menguasai pusaka itu?“ bertanya Sutawijaya hampir berbisik kepada pengawal yang melaporkan.

“Benar Raden. Kini Ki Gede sedang menjaganya, sementara Agung Sedayu berada di medan.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Sementara itu, para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh masih saja berteriak-teriak tentang kematian Ki Tumenggung Wanakerti dan Ki Gede Telengan. Juga tentang pusaka-pusaka yang telah dirampas.

Raden Sutawijayapun hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sadar, bahwa prajurit-prajurit Pajang, baik yang ada di dalam pasukannya, maupun yang berpihak pada Ki Tumenggung Wanakerti akan mendengarnya. Dan Raden Sutawijayapun sadar, bahwa persoalannya tentu akan dimanfaatkan sebaik-baiknya.

“Istana Pajang telah menjadi sarang ketamakan dan kebencian,“ berkata Raden Sutawijaya kepada dirinya.

Tetapi di dasar hatinya terbersit juga suatu tuntutan hati nuraninya kepada diri sendiri, “Dan kau tidak mau memasuki arena langsung di dalam istana itu sendiri.”

Sutawijaya menggeretakkan giginya. Di luar sadarnya ia tidak lagi bertempur melawan beberapa orang yang bersama-sama melawannya, sehingga pengawal-pengawalnya harus melindunginya. Sebuah angan-angan tentang Istana Pajang telah bermain dengan gelisah seperti kegelisahan hatinya sendiri.

Tetapi harga dirinya ternyata telah menahannya untuk tidak menginjak lantai paseban di Pajang, sebelum Mataram menjadi sebuah kota yang besar dan ramai.

“Tetapi seberapakah sebenarnya ukuran kota yang besar dan ramai bagi Mataram itu?“ sebuah pertanyaan telah menyelinap di dalam hatinya.

“Pati,” Sutawijaya hampir berteriak sehingga pengawalnya terkejut dan bertanya kepadanya, “Apakah yang Raden maksud dengan Pati?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa,“ geram Sutawijaya, “sekarang, kita harus menghancurkan musuh. Kita akan berterima kasih kepada Agung Sedayu dan Ki Gede Menoreh.”

Namun dalam pada itu, Prastawa yang telah kembali ke arena setelah bertemu sejenak dengan Sutawijaya, telah mendengar teriakan-teriakan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh. Semakin lama semakin jelas terdengar bahwa Tumenggung Wanakerti dan Ki Gede Telengan sudah mati. Sedangkan pusaka yang hilang itu telah diketemukan kembali.

Wajah Prastawa yang tegang oleh pertempuran, menjadi semakin tegang. Ketika tiba-tiba saja seorang pengawal tidak jauh dari padanya berteriak tentang kematian kedua orang pemimpin lawan itu, ia berteriak pula, ”Diam. Diam kau.”

Tetapi pengawal itu tidak begitu mengerti maksudnya, bahkan ia berteriak semakin keras.

“Tutup mulutmu anak dungu,“ Prastawa membentak.

Pengawal itu terdiam. Tetapi ia menjadi heran.

Sementara itu, Prastawa tidak tahan lagi hatinya mendengar teriakan yang bahkan menjalar semakin jauh. Seolah-olah telinganya menjadi panas seperti tersentuh bara api.

Dengan tergesa-gesa tiba-tiba saja meninggalkan medan, sehingga menimbulkan goncangan. Untunglah para pengawal segera dapat mengatasinya. Beberapa orang telah mengambil alih pertempuran sementara tenaga mereka benar-benar telah menjadi semakin susut. Namun kemenangan-kemenangan yang mengejutkan itu, seolah-olah telah memulihkan tenaga mereka.

Prastawa yang tidak mau mendengar kemenangan-kemenangan yang dicapai oleh Agung Sedayu itupun telah menelusuri berita kematian Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti. Bahkan berlari-lari kecil ia menuju ke sayap untuk mendengar dan meyakinkan, apakah yang telah terjadi.

Tetapi Prastawa sengaja tidak mau menemui Agung Sedayu. Ia mendengar apa yang telah terjadi dari beberapa orang pengawal.

“Kalian telah berbohong. He, siapakah yang telah mempergunakan akal yang cerdik. Aku tidak menyalahkan cara yang kalian pergunakan. Dengan demikian lawan kita akan gelisah dan bahkan mungkin mereka benar-benar akan kehilangan gairah perjuangannya. Tetapi apakah yang sebenarnya terjadi itulah yang ingin aku ketahui. Dan siapakah yang telah menemukan akal yang bagus untuk melahirkan cerita bohong tentang kematian kedua orang itu dan bahwa pusaka-pusaka itu telah dapat kita ketemukan.”

“Itu bukan cerita bohong,“ jawab pengawal itu, “keduanya telah mati dibunuh Agung Sedayu.”

“Cukup,“ Prastawa membentak, “aku ingin mendengar langsung dari Paman Argapati. Dimana Paman Argapati sekarang?”

Pengawal itupun kemudian menunjukkan dimana Ki Gede Menoreh beristirahat sambil menunggui pusaka yang telah berhasil dikuasainya itu.

“Tetapi jika cerita itu bohong, aku akan memenggal lehermu,“ geram Prastawa.

Pengawal itupun terheran-heran. Ia sama sekali tidak mengerti, persoalan apakah yang sebenarnya bergejolak di hati anak muda itu. Seharusnya ia ikut bergembira dan berbangga. bahwa tugas besar itu sebagian, bahkan yang pokok, sudah terselesaikan.

Sementara itu, dengan tergesa-gesa Prastawa berlari-lari kecil mencari Ki Argapati seperti yang ditunjukkan oleh pengawal itu. Meskipun jalannya cukup gelap, akhirnya Prastawa berhasil menemukannya juga. Ia membentak ketika seorang pengawal tiba-tiba saja berada di hadapannya sambil mengacukan tombak pendek ke dadanya.

“Apakah matamu sudah buta,“ bentak Prastawa kasar.

Pengawal itu terkejut. Namun kemudian iapun menundukkan kepalanya sambil menyahut, “Gelap sekali, sehingga aku tidak segera mengenalmu.”

“Kau memang sudah rabun. Minggir, jangan berdiri di situ,“ Prastawa masih saja membentaknya.

Namun rasa-rasanya hatinya kuncup ketika ia mendengar seseorang berkata, “Ia tidak bersalah. Adalah seharusnya bahwa ia berhati-hati dalam keadaan seperti ini.”

Prastawa memandang ke dalam gelap. Iapun kemudian melihat sesosok tubuh dalam keremangan malam. Ki Argapati.

“Apakah ada sesuatu yang penting sekali Prastawa?”

“Paman,“ Prastawapun kemudian mendekati pamannya, “ada teriakan-teriakan kacau di medan. Apakah benar pusaka-pusaka itu sudah berada di tangan kita?”

“Benar Prastawa. Kedua pusaka itu memang sudah berada di tangan kita,” jawab Ki Gede.

“Dan dua orang pemimpin musuh sudah terbunuh?”

“Ya. Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti.”

“Pamankah yang sudah membunuh keduanya?”

“Bukan aku. Tetapi Agung Sedayu.”

Wajah Prastawa menjadi panas. Sejenak ia mematung. Yang mengatakan itu adalah pamannya sendiri.

Namun dengan ragu-ragu ia masih bertanya, “Tetapi apakah benar yang membunuhnya Agung Sedayu? Atau barangkali Agung Sedayu bersama sepuluh atau duapuluh orang pengawal Tanah Perdikan Menoreh beramai-ramai melawannya?”

Ki Gede Menoreh memandang Prastawa dengan tajamnya. Meskipun di dalam kegelapan, tetapi Ki Gede seakan-akan dapat melihat, bukan saja kegelisahan di wajah Prastawa, tetapi gejolak di dalam dadanya. Anak muda itu tentu mempunyai perasaan lain dari yang diharapkan, bahwa lawan-lawannya telah berkurang.

“Prastawa,“ suara Ki Gede merendah, “Agung Seiayu seorang diri telah melakukan perang tanding berturut-turut. Mula-mula ia telah membunuh Ki Gede Telengan dengan cara yang sangat mengagumkan. Kemudian dengan mengejutkan pula ia berhasil membunuh Ki Tumenggung Wanakerti.”

Tiba-tiba saja tubuh Prastawa menjadi gemetar. Ia tidak mengerti, perasaan apakah yang bergejolak di dalam dirinya. Namun ia merasa tidak senang bahwa semuanya itu telah terjadi. Bahkan ia masih tetap tidak percaya, bahwa Agung Sedayu seorang diri berhasil membunuh kedua orang pemimpin lawan itu.

Namun akhirnya ia berkata, “Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti bukan orang-orang penting di antara lawan, Paman. Mereka bukan orang yang memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan, sehingga sudah sepantasnya jika mereka terbunuh oleh Agung Sedayu. Itu bukan karena kelebihan yang ada pada Agung Sedayu, tetapi lawannya itulah yang terlalu lemah, meskipun keduanya mempunyai nama yang mengerikan. Karena itu, apa yang terjadi adalah sewajarnya.”

Ki Argapati memandang kemanakannya dengan heran. Tetapi lambat laun ia dapat menangkap, perasaan apakah yang sebenarnya tersirat di hati anak muda itu. Tentu ia merasa iri, bahwa Agung Sedayu adalah dapat melakukan sesuatu yang luar biasa pada umurnya yang masih sangat muda.

“Atau justru ada persoalan lain yang lebih menggelisahkan lagi?” bertanya Ki Gede Menoreh kepada diri sendiri.

Sementara itu, Prastawa yang masih berdiri tegak itupun berkata, “Aku akan kembali ke medan, Paman. Aku hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi.”

“Prastawa,“ berkata Ki Gede Menoreh, “sebenarnya aku merasa heran bahwa kau dengan serta merta datang untuk bertanya, apakah benar Agung Sedayu telah melakukannya. Pertanyaanmu pun bukannya pertanyaan yang ingin meyakinkan kebenaran berita itu, tetapi justru kau sudah memperkecil arti dari peristiwa itu. Ketahuilah Prastawa, dengan jujur aku mengatakan, bahwa aku telah hampir mengalami kesulitan yang gawat, saat aku bertempur melawan Ki Tumenggung Wanakerti. Kakiku terasa mulai mengganggu. Namun akhirnya Ki Tumenggung itu mati oleh Agung Sedayu setelah ia lebih dahulu membunuh Ki Gede Telengan. Aku tidak akan memberikan kesimpulan atas peristiwa itu. Tetapi itulah yang terjadi.”

Dada Prastawa bagaikan retak mendengar penjelasan itu, seolah-olah pamannyapun telah terbius oleh kehadiran anak muda itu. Namun Prastawa tidak membantah, ia hanya menundukkan kepalanya saja.

“Prastawa, kembalilah ke medan. Kau sudah mendengar apa yang sebenarnya telah terjadi atas kedua orang itu.”

“Baiklah Paman,“ suara Prastawa rendah, “aku mohon diri.”

Prastawapun kemudian berlari-lari kecil meninggalkan pamannya, seolah-olah ia ingin menjauhi berita yang diucapkan oleh pamannya yang mengagumi Agung Sedayu itu.

“Semuanya telah berbohong,“ geramnya seorang diri, “jika Tumenggung Wanakerti telah bertempur lebih dahulu melawan Paman, maka sebenarnya ia sudah tidak mampu lagi bernafas karena kelelahan. Tentu saja Agung Sedayu dapat merunduknya dan melecut punggungnya sehingga lawannya lumpuh. Kemudian dengan mudahnya ia mengulangi serangan-.serangannya sehingga Tumenggung itu mati.”

Namun sekali-sekali terdengar ia menggeretakkan giginya. Ia tidak mau menerima kenyataan itu, bahwa Agung Sedayu telah mengalahkan orang-orang yang mumpuni.

“Tidak,“ sekali lagi ia menggeram, “keduanya bukan orang yang penting. Akupun membunuh mereka jika aku mendapat kesempatan seperti Agung Sedayu.”

Tetapi kegelisahan itu bagaikan bersarang di dadanya. Betapapun ia berusaha untuk mengusirnya, namun ia selalu dibayangi oleh pendengarannya bahwa Agung Sedayu telah melakukan sesuatu yang luar biasa pada usianya yang muda.

Sementara itu, Agung Sedayu telah menghadapi lawan yang lain di medan pertempuran yang kacau.

Namun terasa bahwa masing-masing pihak telah semakin diganggu oleh kelelahan. Sementara itu, beberapa orang yang telah menjauh dari medan sedang sibuk mempersiapkan makan dan minum. Tetapi tidak seorangpun dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang melakukannya.

Prastawa sama sekali tidak ingat lagi, apakah yang harus dilakukan untuk mengatasi persoalan yang sebenarnya gawat itu. Jika lawan sempat memberikan makan dan minum pada pasukannya, sementara orang-orang Tanah Perdikan Menoreh dibiarkannya lapar, maka akibatnya akan sangat pahit bagi pasukan itu. Penyesalan akan berkepanjangan dari waktu ke waktu oleh kekhilafan yang mungkin dianggap hanya sekedar makan dan minum.

Namun dalam pada itu, para petugas dari Mataram dan Sangkal Putung tengah sibuk menyediakannya. Seorang penghubung telah memberitahukan bahwa di arena pertempuran sebelah barat, tidak ada seorangpun yang mendapat tugas untuk menyiapkan makan dan minum, sehingga hal itu perlu mendapat perhatian para petugas di arena pertempuran sebelah timur.

Sebenarnyalah bahwa arena pertempuran itu semakin lama menjadi semakin tipis. Jarak antara arena yang berlawanan arah itu sudah tidak terlalu jauh lagi. Pasukan Mataram yang berhasil menembus lawan dan kemudian berada di induk pasukan bagian barat dan dipimpin langsung oleh Raden Sutawijaya, benar-benar telah menekan lawannya. Sementara Swandaru bersama istri dan adiknya merupakan hantu yang menakutkan di arena yang berhadapan dengan pasukan yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya.

Betapapun lambatnya, ternyata pasukan Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan di induk pasukan nampak mencapai kemajuan-kemajuan kecil. Sementara ketika Prastawa hadir lagi dipertempuran. maka iapun telah mengamuk dengan dahsyatnya.

“Setiap orang mempercakapkan Agung Sedayu,“ katanya di dalam hati, “namun mereka harus menyadari bahwa aku dapat berbuat lebih banyak daripadanya.”

Prastawa benar-benar telah menjadi gila. Tiba-tiba saja ia menyadari bahwa sesuatu telah mendorongnya untuk melakukan perjuangan yang lebih sengit.

Dari pengawal Mataram yang sudah berada di induk pasukannya, ia mendengar bahwa Sekar Mirah bertempur pula di induk pasukan dari gelar para pengawal Sangkal Putung yang bertempur bersama pengawal dari Mataram.

Sutawijaya yang berada tidak terlalu jauh dari anak muda itu, sekali-kali telah memperhatikannya. Setiap kali Raden Sutawijaya bertanya kepada diri sendiri, kenapa tiba-tiba saja Prastawa telah mengamuk tanpa memperhitungkan daya tahan tubuhnya yang tentu sudah lelah. Jika ia telah terbenam dalam, suatu saat ia akan mengalami kesulitan.

Tetapi Sutawijaya masih membiarkannya. Ia masih ingin melihat apa sebenarnya yang telah mendorong anak muda itu untuk mengerahkan kemampuannya setelah ia menghilang beberapa saat dari medan.

Ternyata bukan saja tekanan yang berat dirasakan di medan oleh orang-orang yang bertahan di lembah itu. Berita tentang kematian Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar telah mempengaruhi hati mereka. Bahkan senapati yang kemudian mengenakan tanda Panglima ternyata menjadi gelisah bahwa keseimbangan pertempuran itu akan berubah dengan pasti, menuju ke akhir yang pahit.

Pengaruh berita kematian Ki Tumenggung Wanakerti dan Ki Gede Telengan benar-benar telah memukul jantungnya, sehingga kecemasan telah mulai mencengkam hatinya.

Apalagi tekanan Raden Sutawijaya dan Prastawa di bagian barat, serta ledakan-ledakan cambuk Swandaru di medan sebelah timur, agaknya sulit untuk diatasi lagi. Bahkan kedua perempuan itupun bagaikan iblis betina yang mengamuk di antara lawan-lawannya yang lemah.

 

 

“Apakah perempuan-perempuan itu akan dapat bertahan lebih lama lagi? “ pertanyaan itu agaknya telah melonjak di hati mereka.

Tetapi agaknya kedua perempuan itu benar benar telah terlatih untuk menghadapi keadaan yang sangat berat. Bahkan agaknya keduanya telah berhasil mengatasi sifat-sifat keperempuanan mereka sehari-hari. Bertempur tanpa makan tanpa minum sampai saatnya mereka akan mendapatkannya. Tetapi tentu sudah terlalu lambat menurut kebiasaan hidup sehari-hari.

Ternyata kemudian, bahwa tekanan yang semakin berat tidak saja terjadi di induk pasukan. Di sayap-sayap pasukanpun perubahan itu timbul dengan perlahan-lahan tetapi tanpa dapat dibendung lagi.

Ki Waskita adalah orang yang memiliki kemampuan melampaui orang kebanyakan seperti juga Kiai Gringsing. Ternyata keduanya memiliki daya tahan melampaui lawan-lawannya. Meskipun mereka masih belum dapat memastikan akhir dari perjuangannya, tetapi Empu Pinang Aring dan Kiai Jagaraga agaknya mulai digelisahkan oleh kelelahan. Apalagi ketika mereka mendengar teriakan-teriakan yang menjalar sampai ke ujung-ujung sayap bahwa Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti telah mati.

Kiai Gringsing yang memiliki pengalaman yang matang itupun berusaha untuk tetap menguasai dirinya. Ia bertempur dengan perhitungan yang teliti. Ia sadar, bahwa pertempuran akan berlangsung berkepanjangan, sehingga karena itu, pada saat-saat tertentu ia tidak memaksa diri untuk dengan cepat memenangkan pertempuran, karena hal itu tentu akan sia-sia.

Perhitungan yang serupa sebenarnya dimiliki pula oleh Empu Pinang Aring. Tetapi peristiwa-peristiwa yang terjadi benar-benar tidak dapat diabaikannya. Jika benar Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti mati, pusaka-pusaka itu akan kehilangan arti.

Namun dari penghubungnya, Empu Pinang Aring mendengar, bahwa pusaka itu masih ada di lembah. Seorang pengawas berhasil melihat pusaka-pusaka itu dijaga oleh sekelompok pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Harapan-harapan yang kabur itu mulai tumbuh lagi.

Bahkan terbersit niatnya untuk berjuang lepas dari ikatan gelar untuk mendapatkan pusaka itu.

Tetapi untuk melakukannya bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Di hadapannya ada orang bercambuk yang memiliki kemampuan luar biasa, sehingga seandainya ia bergeser dari medan, maka orang bercambuk itu tentu akan mengikutinya.

“Aku harus membunuhnya lebih dahulu,“ geram Empu Pinang Aring.

Namun niatnya itu telah membentur pengakuan di dalam dirinya, bahwa jika ia mampu membunuhnya, maka itu tentu sudah dilakukannya sejak pertempuran itu baru dimulai.

Dengan demikian maka perubahan-perubahan yang terjadi dalam keseimbangan pertempuran telah terjadi dengan lambat sekali. Bahkan kadang-kadang masih juga terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak terduga.

Namun dalam pada itu, di sayap yang lain, perubahan itu nampak lebih jelas ketika Agung Sedayu dan sekelompok pasukan Tanah Perdikan Menoreh sudah mulai memasuki arena. Kedatangan orang-orang baru itu sudah menumbuhkan geseran-geseran yang menggelisahkan bagi lawan.

Kiai Samparsada yang kemudian berhadapan dengan Agung Sedayu mulai dirayapi pengakuan, bahwa anak muda ini memang memiliki ilmu yang luar biasa.

“Tetapi apakah benar ilmunya melampaui ilmu Ki Gede Telengan,“ ia bertanya kepada diri sendiri. Namun sebuah jawaban telah membuatnya agak tenang, “Namun mungkin sekali Ki Gede Telengan telah melakukan suatu kesalahan yang menjerumuskannya ke dalam maut. Karena itu aku tidak boleh membuat kesalahan. Aku tidak boleh menganggap anak ini kawan bermain-main, karena cambuknya benar-benar dapat mematahkan tulang. Jika benar Ki Tumenggung Wanakerti mati pula olehnya, maka ia telah berhasil menembus perisai yang tidak kasat mata di sekitar tubuh Ki Tumenggung Wanakerti.”

Dengan demikian Kiai Samparsada harus bertempur dengan sangat hati-hati. Ia tidak boleh lengah dan mengalami nasib seperti Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti di tangan anak muda yang aneh itu.

Namun dalam pada itu, para pengawal yang baru datang itupun telah membuat kejutan-kejutan yang menggelisahkan. Mereka mulai menyusup di medan yang seolah-olah dalam keadaan seimbang itu, sehingga pengaruh yang kecil itupun akan segera nampak merubah keseimbangan.

Kegelisahan telah timbul di sayap itu. Beberapa orang mulai melihat, bahwa pasukan Tanah Perdikan Menoreh di medan sebelah barat berhasil menghimpit lawannya yang membentur pasukan pengawal Mataram di arah timur.

Namun dalam pada itu, Ki Sumangkar yang baru sembuh dari luka-lukanya mulai merasa terganggu. Ketahanan tubuhnya memang sudah pulih. Tetapi luka-lukanya yang masih nampak tergores di tubuhnya, masih terlalu lemah, sehingga geseran-geseran kecil telah mengelupas kulitnya dan darah mulai memerah di pakaiannya.

Lawannya menjadi heran. Orang tua itu sangat lincah sehingga senjatanya sama sekali belum berhasil menyentuh meskipun mereka sudah bertempur sehari penuh. Namun tiba-tiba di dalam cahaya obor ia melihat noda-noda yang semakin jelas pada pakaian Ki Sumangkar.

Ki Sumangkar sendiri menjadi cemas. Ia merasa tenaganya mulai susut. Jika pertempuran itu berjalan terlalu lama, maka ia akan kehilangan sebagian dari tenaganya. Apalagi jika darah dari lukanya itu mengalir semakin banyak.

Tetapi ternyata bahwa perubahan keseimbangan di medan sebelah barat itu mempengaruhi pula medan di sebelah timur, Karena tekanan pasukan Tanah Perdikan Menoreh, maka beberapa orang telah berpaling dan memperkuat perlawanan terhadap mereka.

Dengan demikian, maka perubahan yang paling laju ternyata telah terjadi di arena yang paling ujung. Agung Sedayu yang menyadari bahwa pertempuran telah berlangsung terlalu lama, merasakan betapa kelelahan mulai mencengkam. Apalagi Agung Sedayu menyadari, bahwa Prastawa tidak berusaha untuk berbuat sesuatu untuk mempertahankan ketahanan kekuatan wadag orang-orangnya.

Itulah sebabnya, maka ia berpendapat, bahwa pertempuran harus segera diselesaikan. Kesempatan yang mulai nampak pada sayap itu telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Agung Sedayu. Dengan para pengawal yang baru datang, rasa-rasanya pasukan di sayap itu telah bertempur dengan tenaga baru.

Kiai Samparsada menjadi semakin cemas menghadapi kenyataan itu. Seperti Agung Sedayu maka iapun berpendapat, bahwa pertempuran harus segera diakhiri.

“Anak ini harus segera dilumpuhkan,“ geramnya di dalam hati.

Namun cambuk Agung Sedayu justru bergetar lebih dahsyat menurut pendengaran telinga hati Kiai Samparsada, sehingga justru ia menjadi semakin geli.sah. Ia menjadi semakin yakin akan kebenaran cerita tentang kematian Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti, karena semakin lama ia samakin menyadari, bahwa perlawanannya menjadi bertambah berat.

Dengan demikian, maka baik pasukan Tanah Perdikan Menoreh, maupun pasukan pengawal dari Mataram telah berhasil mendesak lawan mereka, sehingga medan pertempuran di sayap itupun benar-benar telah berubah menjadi perang brubuh yang kacau. Bukan saja dari arah barat yang sejak semula pasukan Tanah Perdikan Menoreh sudah berbaur dalam gelar Glatik Neba, meskipun jumlah pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh tidak terlalu banyak yang sampai ke sayap itu, ditambah dengan kehadiran pasukan pengawal Mataram yang menyesuaikan diri dalam gelar yang sama, namun gelar di medan sebelah timurpun sudah menjadi semakin kabur. Pasukan pengawal Mataram telah menerobos semakin dalam sementara yang lain menekan semakin berat.

Jika di induk pasukan, terutama di arah timur, masih jelas nampak batas antara kedua pasukan yang sedang bertempur, maka di sayap gelar itu, batas antara pasukan yang berada di lembah itu dengan pasukan yang datang dari Mataram, dari Sangkal Putung dan dari Tanah Perdikan Menoreh menjadi semakin kacau. Namun karena masing-masing seolah-olah telah mempunyai ciri dan tanda masing masing, maka mereka masih dapat mengenal, yang manakah lawan dan yang manakah kawan.

Kekaburan itu bukan saja terjadi pada para pengawal. Tetapi Agung Sedayu yang mendesak lawannya, seakan-akan tenggelam semakin dalam di antara hiruk pikuknya pertempuran. Beberapa orang pengawal berusaha untuk mendampinginya dan berjaga-jaga sambil memagari pertempuran antara Agung Sedayu dan lawannya, karena kecurangan mungkin saja teriadi di dalam perang brubuh.

Dalam pada itu, Sumangkar yang bertempur melawan Kiai Kelasa Sawit setiap kali merasa seakan-akan mendengar ledakan kebanggaan jika ia mendengar suara cambuk Agung Sedayu. Ki Sumangkar ikut merasa berbesar hati atas kemajuan yang telah dicapai anak muda itu. Dari pendengaran yang agak kurang pasti ia mengetahui bahwa Agung Sedayu telah berhasil membunuh Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti.

Ki Sumangkar belum mengetahui, betapa tinggi ilmu Ki Gede Telengan. Yang diketahuinya adalah Ki Tumenggung Wanakerti. Sebagai seorang yang berpengaruh di Pajang ia pernah mengenal Ki Tumenggung Wanakerti, sehingga di dalam hatinya ia berkata, “Jika benar Agung Sedayu berhasil mengalahkan Ki Tumenggung Wanakerti, maka ilmu Agung Sedayu tentu sudah menyamai, atau tidak-tidaknya mendekati tataran ilmu gurunya.”

Namun dalam pada itu, Ki Sumangkar sendiri merasa bahwa kedudukannya benar-benar menjadi semakin sulit. Keadaan luka-lukanya terasa semakin mengganggu.

Apalagi luka-lukanya yang dalam, yang nampaknya sudah sembuh benar, ternyata masih berdarah.

Dalam kesulitan itu, maka yang dapat dilakukannya kemudian adalah sekedar bertahan sambil berusaha memelihara ketahanan tubuhnya agar tidak semakin cepat susut dan akhirnya lumpuh sama sekali.

Sementara itu. tenyata Agung Sedayu berhasil mendesak lawannya semakin dalam. Cambuknya meledak-ledak semakin cepat dan gemuruh bagi telinga hati lawannya. Seolah-olah cambuk itu meledak-ledak di dalam dadanya.

“Anak iblis ini benar-benar berbahaya,“ guman Kiai Samparsada di dalam hatinya.

Namun betapapun juga ia berusaha, ia sama sekali tidak mampu untuk mendesak anak muda bersenjata cambuk itu.

Dalam pada itu, di dalam cahaya obor maka Agung Sedayu terkejut ketika sekilas ia melihat senjata yang berputar pada seutas rantai. Ternyata bahwa senjata itu adalah sebuah trisula, sedangkan trisula yang lain berada di dalam genggaman

“Ki Sumangkar,“ desis Agung Sedayu. “Ternyata aku dapat bertemu dengan Ki Sumangkar di sini.”

Agaknya Ki Sumangkarpun telah melihat Agung Sedayu. Karena itu, maka iapun melambaikan trisulanya yang berada dalam genggaman, sementara trisulanya yang lain masih saja berputar seperti baling-baling.

Namun dalam tataran pertempuran berikutnya, Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan ketajaman penglihatannya dan penilaiannya atas kedua orang itu, maka segera ia mengetahui bahwa Ki Sumangkar berada dalam kesulitan.

“Kenapa?” pertanyaan itu tiba-tiba saja tumbuh di dalam hatinya.

Ki Sumangkar menurut pengenalan Agung Sedayu adalah seorang yang pilih tanding. Tetapi kenapa ia nampak terdesak, dan bahwa semakin lama semakin berbahaya bagi keselamatannya.

“Luka-lukanya,” tiba-tiba saja Agung Sedayu berdesis, “luka itu tentu belum sembuh benar. Luka-lukaku yang tidak sebanding dengan luka-lukanya memang sudah sembuh. Tetapi luka-luka Ki Sumangkar jauh lebih parah dan tentu masih terasa sangat mengganggunya.”

Dalam pada itu, selagi Agung Sedayu sedang bertempur melawan Kiai Samparsada, setiap kali ia justru merasa terganggu oleh keadaan Ki Sumangkar. Sehingga dengan demikian ia berusaha memancing lawannya untuk mendekati Ki Sumangkar.

Ketika ia menjadi semakin dekat, maka Agung Sedayupun melihat, bahwa pakaian Ki Sumangkar tidak saja basah oleh keringat, tetapi basah oleh darah.

“Itu berbahaya sekali,“ desis Agung Sedayu, “ia akan dapat kehabisan darah. Dengan demikidan lawannya akan dapat membunuhnya pada saat ia sudah kehilangan kekuatannya sama sekali.”

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat berbuat apapun juga, karena ia masih harus bertempur melawan Kiai Samparsada. Apalagi Kiai Samparsada termasuk salah seorang yang dianggap sebagai pemimpin dari pasukan yang ada di lembah, karena kehadirannya juga membawa pasukan yang kuat untuk mengimbangi pasukan yang dibawa oleh Ki Tumenggung Wanakerti, Kiai Kalasa Sawit. Empu Pinang Aring. dan Kiai Jagaraga.

Namun keadaan Ki Sumangkar benar-benar telah menggelisahkannya. Semakin lama semakin nampak, bahwa Ki Sumangkar telah kehilangan sebagian dari tenaganya.

Dalam pada itu, tidak ada cara lain bagi Agung Sedayu untuk membebaskan Ki Sumangkar dari malapetaka selain membantunya atau mengambil alih tugasnya, bertempur malawan Kiai Kalasa Sawit.

Tetapi dengan demikian maka Agung Sedayu harus segera menyelesaikan lawannya.

“Apa boleh buat,“ geramnya.

Itulah sebabnya, maka sejenak kemudian Agung Sedayu benar-benar telah mengerahkan segenap ilmunya. Keadaan Ki Sumangkar telah mendorongnya untuk berbuat jauh lebih banyak dari keinginannya sendiri.

Agung Sedayu telah terlempar dari keragu-raguannya justru karena ia tidak sampai hati melihat keadaan Ki Sumangkar. Dengan dahsyatnya ia segera melibat lawannya. Cambuknya tidak lagi hanya sekali-kali saja meledak. Namun kemudian suara cambuknya benar-benar telah memenuhi arena pertempuran di sayap yang kacau itu.

Kiai Samparsada terkejut melihat perubahan sikap anak muda itu. Justru menjadi semakin garang. Bahkan sekali-kali cambuknya telah mulai menyentuh tubuhnya.

“Anak gila. Anak iblis,“ Kiai Samparsada mengumpat.

Agung Sedayu menjadi semakin bernafsu ketika ia melihat Ki Sumangkar meloncat menjauhi lawannya dengan nafas terengah-engah. Tetapi lawannya segera memburunya dan justru ingin mempergunakan setiap kesempatan untuk menghancurkan lawannya.

Dengan sepenuh kemampuannya, yang tersalur pada setiap bagian dari tubuhnya dan menjalar pada cambuknya. Agung Sedayu menyerang Kiai Samparsada dengan segenap tenaganya. Itulah sebabnya maka cambuknya telah meledak dan bukan saja bagaikan memecahkan dinding jantungnya, tetapi juga selaput telinganya. Kekuatan wantah dan kekuatan rangkapnya telah bersama-sama menggetarkan juntai cambuknya dan meledakkannya bagaikan sepuluh guruh meledak bersama di langit.

Sikap Agung Sedayu benar-benar mengejutkan. Jika semula setiap orang yang memiliki pengamatan yang mendalam pada ilmu kanuragan menjadi heran, karena kekuatan yang tersalur lewat hentakkan cambuk yang menggetarkan dinding jantung, ternyata telah dibarengi oleh kekuatan wadag yang luar biasa. Dari ledakan-ledakan cambuknya dapat dikenal, bahwa Agung Sedayu memang memiliki kekuatan ilmu yang mumpuni dan kekuatan wadag yang sangat besar.

Kiai Samparsadapun tergetar hatinya. Ia sadar, bahwa lawannya adalah seorang anak muda yang memiliki kemampuan melampui kebanyakan orang. Sehingga karena itulah, maka Kiai Samparsada telah memberikan isyarat kepada dua orang pengawalnya yang terpercaya untuk bersama-sama melawan Agung Sedayu.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Melawan tiga orang tentu akan lebih berat dari melawan seorang, betapapun jauhnya imbangan kekuatan di antara mereka.

Karena itulah maka kehadiran kedua orang lawan yang baru itu telah semakin menggelisahkan Agung Sedayu. Beberapa orang pengawal yang ingin mencegahnya telah mendapatkan lawan ma.sing-masing, sehingga kedua orang pengawal Samparsada itu berhasil mendekati dan membantunya melawan Agung Sedayu yang semakin garang.

Dalam pada itu, keadaan Ki Sumangkar menjadi semakin sulit. Tubuhnya semakin lama menjadi semakin lemah. Meskipun lawannya juga sudah mulai susut kemampuannya oleh pertempuran yang keras dan panjang, namun luka-luka Ki Sumangkarlah yang telah menentukan, apa yang akan terjadi atasnya.

Hal itulah yang kemudian mempengaruhi perasaan Agung Sedayu sepenuhnya, sehingga ia menjadi semakin lama semakin garang.

Ujung cambuknya yang meledak-ledak itu benar-benar telah menggetarkan hati lawannya. Kedua orang pengawal Kiai Samparsada yang hadir di arena pertempuran itu, benar-benar telah kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu. Ujung cambuk itu bagaikan mengejar mereka, kemanapun mereka pergi.

Kiai Samparsada yang merasa dirinya memiliki ilmu yang jauh lebih baik dari kedua pengawalnya, telah mengambil sikap untuk memancing perhatian terbesar dari Agung Sedayu, sementara kedua pengawalnya akan dapat menyerangnya dari arah yang berbeda.

Tetapi agaknya Agung Sedayu tidak dapat dijebaknya. Bahkan tiba-tiba saja ketika cambuk itu berputar beberapa kali, maka di luar pengamatan Samparsada, tiba-tiba saja kedua kawannya telah terlempar beberapa langkah.

Ketika keduanya berusaha untuk bangkit, maka keduanya telah terjatuh kembali. Kaki mereka seolah-olah menjadi lumpuh.

Barulah kemudian mereka melihat, darah telah mengalir dari luka di kaki mereka. Serta tulang-tulang mereka rasa-rasanya bagaikan remuk oleh sentuhan ujung cambuk Agung Sedayu.

Kiai Samparsada menggeram. Kedua pengawalnya itu ternyata sama sekali tidak berarti bagi Agung Sedayu. Sehingga dengan demikian maka kembali Kiai Samparsada harus menghadapinya seorang diri.

Pertempuran berikutnya, benar-benar telah menggetarkan jantung Kiai Samparsada. Cambuk Agung Sedayu berputaran, mematuk dan menebas dengan dahsyatnya.

Tetapi Samparsada yang merasa dirinya memiliki kelebihan dan menjadi sandaran bagi anak buahnya, tidak dapat mengingkari tugasnya Ia harus menghadapi Agung Sedayu, apapun yang terjadi.

Sebenarnyalah, bahwa serangan-serangan Agung Sedayu yang didorong oleh kegelisahannya melihat keadaan Ki Sumangkar, tidak lagi dapat dihindari. Ujung cambuk yang semakin lama semakin dekat di seputar tubuhnya, akhirnya mulai menyengat kulitnya.

Betapa kuat daya tahan Kiai Samparsada, namun terasa ujung cambuk itu telah membuat kulitnya menjadi pedih.

Satu-satu luka mulai menyobek kulit Kiai Samparsada. Pedih dan nyeri telah menjalari seluruh tubuhnya. Bahkan ketika darah semakin banyak mengalir dari luka-lukanya, maka benar-benar telah merasa kehilangan kesempatan untuk melawan.

Agung Sedayu yang gelisah, seakan-akan tidak lagi dapat mengamati keadaan lawannya. Ia menyerang dengan sepenuh kemampuannya, agar ia dapat segera menyelesaikan pertempuran itu dan melepaskan Ki Sumangkar dari malapetaka yang semakin dekat.

Betapapun Kiai Samparsada berusaha mengelak, tetapi cambuk Agung Sedayu selalu mengejarnya. Ketika ujung cambuk itu menyambar mendatar. Kiai Samparsada telah menjatuhkan dirinya, kemudian dengan serta merta ia meloncat menyerang Agung Sedayu yang menurut perhitungannya masih harus menguasai cambuknya yang tidak mengenai sasaran.

Tetapi demikian ia meloncat, maka cambuk Agung Sedayu telah meledak dengan hentakan sendai pancing menyambar lambung.

Terdengar keluhan tertahan. Serangan Agung Sedayu yang tergesa-gesa itu tidak terlontar dengan sepenuh kekuatan. Namun demikian, ketika Agung Sedayu menarik cambuknya, Kiai Samparsada telah terputar dan kehilangan keseimbangan.

Orang yang disegani itu telah terlempar jatuh. Dengan serta merta ia berusaha untuk bangkit. Namun Agung Sedayu yang gelisah itu telah memburunya. Sekali lagi cambuknya meledak pada punggung Kiai Samparsada, sehingga orang itu menggeliat. Namun kemudian tubuhnya bagaikan kehilangan tulang-tulangnya.

 

 

Agung Sedayu menyadari keadaan lawannya, ketika tiba-tiba saja kepala lawannya itu terkulai di atas tanah. Kedua tangannya terentang dan masih terdengar ia mengerang.

Agung Sedayu berdiri termangu-mangu. Cambuknya yang sudah terangkat, perlahan-lahan turun diluar sadarnya.

Namun dalam pada itu, ia melihat Ki Sumangkar telah terdorong beberapa langkah dan kehilangan keseimbangan pula. Kekuatannya yang benar-benar telah susut, tidak mampu lagi menahan tubuhnya sehingga iapun kemudian terjatuh di tanah.

Kiai Kelasa Sawit melihat lawannya sudah tidak berdaya. Sejenak ia memandang dengan penuh kebanggaan. Ia ingin menikmati kemenangannya dan membunuh lawannya dengan dada tengadah.

Tetapi Ki Sumangkar tidak menyerah pada keadaan yang nampaknya sangat gawat. Ia masih menggenggam trisulanya yang akan dapat menangkis serangan Kiai Kelasa Sawit, meskipun ia masih harus tetap terbaring di tanah.

Kiai Kelasa Sawit tertawa melihat keadaan Sumangkar. Dengan nada tinggi ia berkata, “Bersiaplah untuk mati Sumangkar. Perguruanmu terkenal sebagai perguruan yang tidak ada duanya, karena setiap orang di dalam perguruanmu telah dirangkap dengan nyawa cadangan. Tetapi ternyata Mantahun dan Macan Kepatihan yang perkasa itupun telah mati. Dan sekarang kau akan mati juga.”

Ki Sumangkar tidak menyahut. Ia mengerahkan segenap sisa tenaganya pada senjatanya yang masih dalam genggaman.

Namun dalam pada itu. Agung Sedayu tidak dapat membiarkan malapetaka itu terjadi pada Ki Sumangkar. Meskipun jarak antara dirinya dan Ki Sumangkar tidak terlalu dekat, namun ia harus berusaha untuk menolongnya.

Pada saat yang gawat itu. Kiai Kelasa Sawit telah berdiri tegak menghadapi Sumangkar yang bagaikan telah kehilangan segenap kekuatannya. Perlahan-lahan ia mengangkat senjatanya dan siap membunuh tanpa ampun.

Tetapi Kiai Kelasa Sawit terkejut bukan buatan. Ia merasa sebuah tenaga yang kuat telah menyambar ujung senjatanya, sehingga tangannya telah terdorong ke samping.

Kiai Kelasa Sawit terpaksa memperbaiki kedudukannya. Namun dengan demikian ia sadar, bahwa ada kekuatan lain yang siap membantu Sumangkar yang sudah tidak berdaya itu.

Sebenarnyalah Agung Sedayu yang tidak dapat menjangkau Kiai Kelasa Sawit telah memungut sebuah batu. Ketika senjata Kiai Kelasa Sawit siap menghabisi nyawa Ki Sumangkar, ia telah mempergunakan kemampuan bidiknya untuk melempar senjata itu, sehingga terayun.

Dengan demikian maka saat-saat pembunuhan itu telah tertunda.

Yang sejenak itu ternyata dapat dipergunakan oleh Agung Sedayu sebaik-baiknya. Dengan tangkasnya ia meloncat sambil mengayunkan cambuknya mendekati Kiai Kelasa Sawit.

“Curang,” teriak Kiai Kelasa Sawit.

“Tidak. Aku tidak menyerangmu. Aku hanya menyentuh senjatamu.“ jawab Agung Sedayu.

Kiai Kelasa Sawit termangu-mangu sejenak. Hampir ia tidak percaya, bahwa seseorang dapat membidik senjatanya dari jarak yang tidak terlampau pendek.

Tetapi ia tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa itu sudah terjadi.

Agung Sedayu berdiri beberapa langkah dari Ki Sumangkar yang lemah. Sekilas ia menatap mata orang tua itu. Mata yang sudah redup meskipun nampaknya Ki Sumangkar tidak berputus asa.

“Kau Sedayu,” terdengar orang itu berdesis.

“Persetan,“ Kiai Kelasa Sawit berteriak sebelum Agung Sedayu menjawab.

Agung Sedayu tidak menjawab. Ia berdiri tegak sambil menggenggam pangkal cambuknya, sementara Kiai Kelasa Sawit menjadi termangu-mangu.

Sementara itu, beberapa orang pengawal dari Mataram yang melihat keadaan Ki Sumangkar telah dengan tergesa-gesa mendekatinya, justru pada saat-saat kekuatan dari Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh semakin menguasai keadaan di medan.

“Gila,“ teriak Kiai Kelasa Sawit.

Tetapi ketika ia akan meloncat ke arah Sumangkar yang lemah, terdengar cambuk Agung Sedayu meledak dengan dahsyatnya. Yang didengar bukan saja oleh telinga wadag Kiai Kelasa Sawit, tetapi juga oleh telinga batinnya yang tajam.

“Kau ingin menakut-nakuti aku anak muda,“ geram Kiai Kelasa Sawit.

“Tidak. Tetapi biarlah aku mencoba menahanmu agar kau tidak merasa bahwa medan ini adalah sebuah lapangan permainan yang mengasikkan bagimu,“ jawab Agung Sedayu.

“Sumangkar, orang terpenting di Jipang sesudah Patih Mantahun kini sudah aku lumpuhkan. Apalagi kau.”

Seperti yang telah terjadi, maka orang lain sempat menjawabnya, “Ia telah membunuh Ki Gede Telengan, Ki Tumenggung Wanakerti dan Kiai Samparsada.”

“He,“ wajah Kiai Kelasa Sawit menjadi merah.

“Kiai Samparsada tidak mati,” desis Agung Sedayu, “ia masih mungkin hidup jika Kiai Gringsing nanti sempat mengobatinya setelah pertempuran selesai.”

“Persetan. Kau masih sempat mengigau.“ bentak Kiai Kelasa Sawit. Lalu. “Seandainya kau berhasil membunuh setan iblis sekalipun, tetapi kau tidak akan dapat berbuat apa-apa terhadapku.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Ia melihat beberapa orang pengawal Mataram yang sedang bertempur sementara beberapa orang yang lain melindungi Ki Sumangkar.

“Bawalah menepi,“ berkata Agung Sedayu.

“Tidak,“ Kiai Kelasa Sawit berteriak, “aku akan membunuhnya.”

“Kiai,“ Agung Sedayu menyahut, “biarlah ia dibawa menepi. Ki Sumangkar yang sebelumnya telah terluka saat ia memasuki arena ini, ternyata telah diganggu oleh luka-lukanya.”

“Omong kosong. Jangan memperkecil arti Kelasa Sawit. Akulah yang telah melumpuhkannya. Dan sekarang, apakah kau muridnya ?”

Agung Sedayu memandang Kiai Kelasa Sawit dengan tajamnya. Namun katanya sebelum Agung Sedayu menjawab, “Tentu bukan. Kau adalah murid orang bercambuk itu.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan segera terjadi. Mungkin Kiai Kelasa Sawit akan menyerangnya. Tetapi mungkin dengan serta merta akan meloncat menyerang Ki Sumangkar yang masih tetap dilindungi oleh beberapa orang pengawal.

Namun agaknya Kiai Kelasa Sawit masih menimbang-nimbang. Sekilas dipandanginya Ki Sumangkar yang telah diangkat oleh beberapa orang di bawah pengawalan beberapa orang yang lain. Kemudian dipandanginya Agung Sedayu yang berdiri dengan teguhnya sambil menggenggam cambuk.

Kemarahan Kiai Kelasa Sawit rasa-rasanya telah membakar isi dadanya, Anak muda bercambuk itu sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan apalagi kecemasan meskipun ia melihat, bahwa Kiai Kelasa Sawit telah berhasil melumpuhkan saudara seperguruan Patih Mantahun dari Jipang itu.

“Kiai,“ berkata Agung Sedayu, “apakah kau tidak menyadari, bahwa akhirnya pertempuran ini akan menjadi ajang pembantaian yang semakin mengerikan. Aku yakin, bahwa kau mempunyai pengaruh yang besar atas pasukan di lembah ini dalam keseluruhan. Karena itu, apakah tidak ada jalan lain dari pembunuhan-pembunuhan yang semakin liar.”

“Persetan. Jangan banyak bicara. Tetapi kau harus lebih banyak memperhatikan kenyataan, siapakah yang sedang kau hadapi. Jika kau sudah dijalari oleh ketakutan, minggirlah. Aku akan tetap membunuh Ki Sumangkar. Jika kau tidak mau pergi, maka kaulah yang pertama-tama harus dibunuh. Dan akhirnya Sumangkarpun akan mati pula.”

Agung Sedayu memandang wajah Kiai Kelasa Sawit yang buas bagaikan hantu lapar melihat mayat bergelimpangan. Namun dengan demikian Agung Sedayu sadar, bahwa ia tidak akan dapat berbuat lain daripada mempergunakan kekerasan seperti yang seharusnya berlaku di medan perang.

Kiai Kelasa Sawit yang melihat Agung Sedayu masih tetap berdiri di tempatnya, tiba-tiba saja telah meloncat menyerangnya. Dengan garangnya ia mengayunkan senjatanya langsung mengarah ke leher lawannya.

Tetapi Agung Sedayu telah bersiap menghadapi kemungkinan itu, sehingga karena itu. ia masih sempat mengelakkan serangan itu. Bahkan sekejap kemudian, terdengar cambuknya meledak dengan dahsyatnya.

Kiai Kelasa Sawit mengumpat dengan kasarnya. Anak muda itu sempat mengelak dan sekaligus menyerang.

“Anak setan ini benar-benar berbahaya,“ berkata Kiai Kelasa Sawit kepada diri sendiri.

Apalagi ketika keduanya kemudian terlibat dalam pertempuran yang semakin sengit. Kiai Kelasa Sawit yang memiliki ilmu yang tinggi itu segera menyadari bahwa anak yang masih muda itu ternyata memiliki ilmu dan kemampuan olah kanuragan yang dapat disejajarkan dengan orang yang bernama Sumangkar, adik seperguruan Patih Mantahun yang pernah disebut bernyawa rangkap.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru meskipun keduanya mulai terganggu oleh keterbatasan ketahanan tubuh mereka, setelah mereka memeras segenap kemampuan untuk waktu yang panjang.

Sementara itu, di induk pasukan. Swandaru telah mengamuk dengan dahsyatnya, di ujung-ujung dari induk pasukan itu. Pandan Wangi dan Sekar Mirahpun telah bertempur dengan sengitnya. Meskipun nampak tenaga merekapun telah susut, tetapi lawan-lawan merekapun telah menjadi letih pula.

Apalagi tekanan Raden Sutawijaya dan Prastawa dari arah lain di induk pasukan itu, maka rasa-rasanya kekuatan lawanpun mulai terhimpit dari kedua arah.

Namun sebagian terbesar dari bekas prajurit Pajang berada di induk pasukan itu sehingga mereka masih bertahan dengan gigihnya.

Di sayap yang lain. Kiai Gringsing ternyata memiliki daya tahan yang lebih besar dari Empu Pinang Aring. Meskipun kedua orang tua itu memiliki ilmu yang seimbang, namun Empu Pinang Aring mulai nampak menjadi semakin susut karena kemampuannya yang bagaikan terperas.

Tubuhnya bagaikan tercelup ke dalam air oleh keringat yang mengalir dari segenap lubang-lubang di permukaan kulitnya. Bahkan sentuhan-sentuhan kecil dari ujung cambuk Kiai Gringsing telah membuat noda-noda merah di tubuhnya.

Semakin lama Empu Pinang Aring merasakan, bahwa ia akan mengalami kesulitan dalam saat-saat selanjutnya. Kiai Gringsing masih nampak sigap dan tangkas. Bahkan sekali-sekali ujung cambuk telah menggetarkannya. Orang tua itu masih tetap menyimpan tenaga cukup untuk melanjutkan pertempuran sampai pagi sekalipun.

“Gila,“ Empu Pinang Aring menggeram di dalam hati, “apakah ia menyimpan tenaga iblis di dalam dirinya?”

Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa Kiai Gringsing justru masih mampu melepaskan kekuatan yang menggetarkan jantung lewat ujung cambuknya, sementara Empu Pinang Aring sendiri merasa tenaganya semakin menipis.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: