Buku 110 (Seri II Jilid 10)

 

Di bagian lain dari sayap itu, Ki Waskita telah berhasil mengatasi kusulitan yang paling gawat. Iapun telah berhasil menekan lawannya yang mulai lelah. Lawannya yang bertubuh dan berkekuatan raksasa itu, ternyata sulit untuk mengimbangi Ki Waskita. Bukan saja ketangkasan dan kecepatan bergerak, tetapi ternyata Ki Waskita memiliki kelebihan daya tahan seperti halnya Kiai Gringsing.

Dengan demikian, maka bindi Kiai Jagaraga yang besar dan bergerigi itu tidak lagi banyak mempunyai arti. Ayunan yang semakin lamban tidak akan dapat menyentuh tubuh lawannya yang masih tetap tangkas dan trampil.

“Kau akan kehilangan segenap kekuatanmu,“ berkata Ki Waskita kepada raksasa bersenjata bindi itu.

Tetapi lawannya yang lelah itu menggeram. Bagaimanapun juga ia harus menyelesaikan pertempuran itu. Meskipun ia sadar bahwa tenaganya mulai lelah, tetapi ia masih mengharap bahwa tenaga raksasanya masih tetap melampaui kekuatan lawannya.

Namun Ki Waskita benar-benar memiliki kelebihan. Ia masih dapat bergerak cepat, sehingga setiap kali lawannya menjadi bingung dan kehilangan arah.

Sekali-sekali senjata Ki Waskita berhasil menyentuh lawannya, sehingga lawannya menjadi semakin bingung oleh kelelahan dan sakit. Namun demikian, ia masih tetap seorang raksasa yang berbahaya.

Demikianlah maka pertempuran yang lama itu dalam keseluruhan menjadi lamban. Tetapi nafsu membunuh masih tetap membayang di wajah-wajah mereka yang menggenggam senjata di medan itu, apalagi jika mereka melihat kawan-kawan mereka yang telah terbunuh maupun terluka parah. Maka kemarahan dan kebencian telah medorong mereka untuk membunuh semakin banyak meskipun kadang-kadang yang terjadi justru sebaliknya.

Sementara itu. orang-orang yang berada dibelakang medan, sedang berusaha untuk mempercepat agar masakan mereka lekas masak dan dapat dikirimkan ke medan perang. Beberapa orang petugas sudah dengan tidak sabar memperingatkan, bahwa para prajurit dan pengawal di medan sudah hampir kelaparan.

“Mereka tidak akan mempu bertempur,“ berkata seorang petugas yang mengurus makan mereka yang bertempur.

“Kami sudah bekerja keras,“ jawab juru masak, “kami tidak dapat berbuat lebih cepat.”

“Tetapi kelambatanmu akibatnya dapat menghancurkan seluruh pasukan.”

“He. kenapa?“ juru masak yang didesak-desak itu agak jengkel juga.

“Lapar dan haus menyebabkan mereka kehilangan keseimbangan. Mereka akan dengan mudah dapat dikalahkan. Bukan hanya satu dua orang, tetapi beberapa puluh dan bahkan beberapa ratus orang, sehingga keseimbangan pertempuran segera menentukan akhir dari perjuangan yang akan menjadi sia-sia.”

“Aku sudah tahu. Tetapi aku tidak dapat berbuat lebih cepat. Nasi harus ditanak. Kecuali jika aku harus mengirimkan beras saja ke medan.”

Petugas yang mengurus makanan itupun marah. Dengan garang ia berkata, “Jangan banyak mulut. Lakukan perintahku. Aku dapat memenggal kepalamu.”

Pemimpin juru masak yang merasa sudah bekerja sekuat tenaga itupun marah pula. Jawabnya, “Jangan keras kepala. Meskipun disini aku juru masak, tetapi aku juga prajurit. Kau kira aku tidak dapat mempertahankan diri.”

Beberapa orang yang melihat perbantahan itupun segera melerai. Seorang yang berambut putih berkata, “Apakah kalian sangka dengan pertengkaran itu tugas-tugas kalian dapat kalian selesaikan?”

Kedua orang yang bertengkar itupun masih saling berpandangan dengan tegang. Namun pemimpin juru masak itupun kemudian beringsut pergi kembali ke tugasnya meskipun wajahnya masih nampak tegang.

“Ayo cepat,“ iapun berteriak membentak-bentak pembantu-pembantunya.

Namun akhirnya nasipun masak. Tetapi untuk mempermudah cara para prajurit dan pengawal makan, maka juru masak dari Mataram dan Kademangan Sangkal Putung telah menggilas nasi itu dengan penumbuk padi dalam bakul, dicampur dengan kelapa dan garam, sehingga kemudian nasi itu dapat dipotong dan digenggam dengan sebelah tangan.

Ternyata para pengikut orang-orang yang berkumpul di lembah itupun telah menyelesaikan masakan mereka, sehingga beberapa orang dari mereka telah mengirimkan makanan ke medan dengan cara yang hampir sama, seperti kebiasaan setiap kelompok yang bertempur melalui jarak waktu sewajarnya.

Meskipun pertempuran masih berlangsung, tetapi di luar pembicaraan antara kedua belah pihak, seakan-akan keduanya memberi kesempatan kepada petugas-petugas masing-masing untuk menyampaikan makan dan minum kepada mereka yang sedang bertempur. Berganti-ganti mereka minum dari kendi dan menerima sepotong nasi yang sudah digilas dan kemudian dipotong-potong.

Namun dengan demikian berarti bahwa pertempuran masih akan berlangsung panjang. Mereka yang bertempur itu tidak lagi memikirkan apakah mereka akan menunda pertempuran untuk waktu waktu yang pendek.

Para pengawal dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh yang berada di sebelah baratpun ternyata telah mendapatkan bagian mereka, sehingga rasa-rasanya tubuh mereka menjadi segar oleh air kendi dan segumpal makanan.

Namun ada juga para pengawal yang teringat kepada Ki Gede dan beberapa orang pengawalnya. Karena itu, maka dibawanya para petugas untuk menyampaikan makan dan minum itu juga kepada mereka.

Dalam pada itu. Agung Sedayu yang bertempur melawan Kiai Kelasa Sawit ternyata semakin menjadi bertambah seru. Kiai Kelasa Sawit yang marah telah kehilangan semua perhitungan dan pertimbangan selain nafsu untuk membunuh anak muda bercambuk itu.

Tetapi betapapun ia berusaha. Agung Sedayupun telah berusaha pula menghindarkan dirinya dari terkaman maut. Bahkan sekali-kali jika cambuknya meledak, maka lawannya bagaikan dihentak oleh kekuatan yang tidak terlawan.

Di induk pasukanpun keseimbangan perlahan-lahan menjadi semakin jelas. Swandaru benar-benar merupakan kekuatan yang menggetarkan. Cambuknya yang meledak-ledak bagaikan mengguncang seluruh medan. Sementara di seberan,g Raden Sutawijaya tidak lagi dapat dibendung. Senjatanya merupakan penyebar maut yang sangat menggetarkan, sehingga lawan-lawannya menjadi semakin ngeri menghadapinya.

Yang terjadi di sayap yang lainpun tidak banyak berbeda. Ternyata bahwa orang yang berada di lembah itu salah hitung atas kemampuan para pengawal. Mereka menganggap bahwa para pengawal dari Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh, meskipun memiliki kemampuan bertempur yang cukup, tetapi mereka tidak terlatih untuk bertempur dalam waktu yang panjang. Namun ternyata bahwa mereka masih tetap mampu mengimbanginya.

Di sayap yang telah kehilangan seorang pemimpinnya, yang dilumpuhkan oleh Agung Sedayu, maka kekuatan lawan benar-benar sudah teratasi. Ketika Kiai Samparsada dibawa menyingkir, maka pengawal-pengawalnya menjadi semakin gelisah. Apalagi mereka sudah mendengar bahwa Agung Sedayu jugalah yang telah membunuh Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti. Kemudian Kiai Samparsada dilumpuhkannya pula. Kini yang dihadapinya adalah Kiai Kelasa Sawit, sehingga para pengikutnya telah mencemaskan keselamatannya.

Namun mereka tidak dapat berbuat banyak. Para pengawal Tanah Perdikan Menorehpun memiliki ketajaman perhitungan, sehingga hampir tidak ada kesempatan untuk membantu Kiai Kelasa Sawit yang garang itu.

Sebenarnyalah bahwa Kiai Kelasa Sawit telah mengerahkan segenap kemampuan. Ilmunya yang melampaui orang-orang kebanyakan ternyata mempunyai pengaruh yang kuat. Senjatanya bagaikan memiliki dorongan kekuatan yang berlipat, sementara kakinya bagaikan kaki kijang yang kuat dan cepat.

Namun Agung Sedayupun telah menguasai ilmunya dengan masak. Dengan demikian, maka ia merupakan benteng yang tidak tertembus oleh lawan.

Bahkan semakin lama serangan Agung Sedayu menjadi semakin banyak menyentuh tubuh lawannya. Kecepatan bergerak Kiai Kelasa Sawit ternyata masih belum melampaui kecepatan bergerak ujung cambuk Agung Sedayu yang digetarkan oleh ilmu yang hampir sempurna.

Setiap sentuhan di tubuh Kiai Kelasa Sawit telah menimbulkan noda merah kebiru-biruan. Namun jika kekuatan Agung Sedayu tersalur sepenuhnya pada hentakan kekuatannya, maka tubuh Kiai Kelasa Sawit yang mengeras bagaikan tembaga itu masih juga berhasil dilukai, sehingga darah menitik dari kulit yang sobek di tubuhnya.

Meskipun Kiai Kelasa Sawit setiap kali menyeringai menahan pedih, serta kekuatannya yang semakin susut, tetapi luka-luka itu nampaknya tidak terlalu banyak berpengaruh. Ia masih tetap bertempur dengan garangnya, seakan-akan senjata lawannya sama sekali tidak berarti lagi baginya.

Agung Sedayu menjadi heran bahwa lawannya seakan akan tidak merasakan akibat dari sentuhan ujung cambuknya. Bahkan Kiai Kelasa Sawit yang marah itu menyerang semakin sengit.

Karena itulah maka Agung Sedayu terdorong kepada keharusan untuk mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Kekuatan daya tahan Kiai Kelasa Sawit benar-benar telah menumbuhkan kengerian pada dirinya. Apalagi karena Agung Sedayupun telah merasa dijalari oleh kelelahan yang semakin menghisap tenaganya.

“Aku tidak boleh kehilangan tenagaku lebih dahulu dari orang ini,” berkata Agung Sedayu..

Karena itulah maka Agung Sedayupun kemudian telah membuat perhitungan yang cermat. Apakah lebih baik baginya untuk bertahan mengimbangi kemampuan lawannya dengan sekali-sekali saja menyerang atau mengerahkan segenap kemampuannya dan segera melumpuhkan lawannya.

Agung Sedayu tidak dapat mencari pilihan. Kiai Kelasa Sawitlah yang kemudian melibatnya dalam pertempuran bagaikan dalam badai yang dahsyat. Agaknya orang itu memilih dengan cepat menyelesaikan pertempuran, menang atau kalah.

Hentakan-hentakan senjata semakin dahsyat telah saling berbenturan dan saling melukai. Bukan saja Kiai Kelasa Sawit, tetapi sentuhan senjatanya telah melukai Agung Sedayu pula.

Oleh luka dan kelelahan, maka Agung Sedayupun menjadi semakin garang. Bagaikan mengamuk ia menyerang lawannya, langsung pada tempat-tempat yang paling berbahaya.

 

 

Akhirnya Kiai Kelasa Sawit tidak dapat mengingkari keadaannya. Ia masih tetap sadar, bahwa kekuatannya memang menjadi jauh susut, apalagi badannya bagaikan dipenuhi oleh luka-luka karena sentuhan ujung cambuk Agung Sedayu.

Tetapi Kiai Kelasa Sawit tidak membiarkan dirinya terbunuh oleh anak muda itu seperti Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti. Dan iapun tidak mau dilumpuhkan seperti Kiai Samparsada yang belum diketahui nasibnya, apakah ia benar benar mati atau terluka parah.

Karena itulah, maka Kiai Kelasa Sawit yang sudah terluka silang melintang itu mulai memikirkan jalan keluar dari kesulitannya. Tubuhnya yang menjadi semakin lemah oleh kelelahan dan darah, hampir tidak sempat lagi melakukan perlawanan.

Karena itulah, maka tiba-tiba saja terdengar suitan nyaring dari mulutnya. Kiai Kelasa Sawit telah memberikan isyarat bagi keselamatannya.

Agung Sedayu sadar, bahwa lawannya telah memberikan suatu isyarat. Tetapi ia tidak mengetahui, apakah yang akan terjadi kemudian. Yang dapat dilakukannya hanyalah mempersiapkan dirinya menghadapi kemungkinan yang bakal terjadi. Bahkan beberapa orang pengawal yang mendengar isyarat itupun telah bersiap-siap pula. Mungkin akan terjadi perubahan yang tiba-tiba di arena pertempuran itu.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar ketika ia melihat geseran yang serentak pada pasukan lawan. Beberapa orang telah menyibak dan dengan cepat mereka telah berkerumun seolah-olah membuat sebuah lingkaran kecil yang bersusun.

Barulah Agung Sedayu kemudian sadar. Kiai Kelasa Sawit yang sudah tidak berdaya lagi itu berusaha untuk melindungi dirinya. Ia tentu akan menyingkir dari arena untuk mempersiapkan diri atau justru untuk tidak menampakkan dirinya lagi.

Sejenak Agung Sedayu diguncang oleh keragu-raguan. Jika ia melihat luka-luka di tubuh lawannya. maka dua hal yang saling bertentangan telah berdesakan di dalam hati.

Dengan mudah Agung Sedayu akan dapat membinasakan lawannya yang sudah kehilangan kemampuannya untuk melawan itu. Ia dapat memerintah pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh untuk memecahkan lingkaran perlindungan itu dan ia sendiri memasuki sampai ke pusarnya dan membunuh Kiai Kelasa Sawit.

Namun, terasa sesuatu telah menahannya. Orang itu sudah tidak berdaya lagi seperti Kiai Samparsada. Apakah sudah wajar jika ia masih saja memburunya dan membunuhnya sama sekali?

Keragu-raguannya itulah agaknya yang memberikan kesempatan kepada lawannya untuk menyembunyikan Kiai Kelasa Sawit di tengah-tengah medan. Sementara Agung Sedayu diam mematung, maka para pengawal Tanah Perdikan Menoreh memandanginya dengan tegang. Mereka menunggu apakah yang akan dilakukan oleh Agung Sedayu. Tepai agaknya Agung Sedayu itu bagaikan membeku di tempatnya.

Para pengawal itu menyadari keadaan mereka, dan tanpa menunggu lagi menghantam lingkaran itu. Namun ternyata bahwa Kiai Kelasa Sawit sudah dilarikan oleh pengawal-pengawalnya yang setia.

“Ia melarikan diri,” geram seorang pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

“Agung Sedayu terlalu lamban,” desis yang lain, “sebenarnya ia mempunyai kesempatan untuk melakukannya jika ia mau.”

“Ia mulai kambuh. Keragu-raguannya sudah mencengkam jantungnya lagi,“ desis yang lain.

“Sikapnya tidak menguntungkan sama sekali. He. bagaimana hal itu dapat terjadi atasnya?“ bertanya yang lain, “bukankah ia sudah membunuh Ki Gede Telengan. Ki Tumenggung Wanakerti dan Kiai Samparsada?”

Medan di pertempuran itu menjadi gempar. Hilangnya Kiai Kelasa Sawit membuat para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan para pengawal Mataram yang sudah melingkari medan dari arah timur ke arah barat menjadi ribut. Berbagai tanggapan telah mereka lontarkan terhadap Agung Sedayu. Namun adalah sudah menjadi suatu kenyataan bahwa Kiai Kelasa Sawit sudah melarikan diri.

Tiba-tiba saja salah seorang pengawal yang tidak dapat menahan diri telah berteriak, “Kelasa Sawit melarikan diri.”

Teriakan itu di luar dugaan lelah disambut oleh yang lain. “Kelasa Sawit melarikan diri.”

Ternyata bahwa para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan para pengawal dari Mataram yang lainpun telah berteriak pula sambung bersambung, “Kiai Kelasa Sawit melarikan diri dari sayap.”

Dalam pada itu, Kiai Kelasa Sawit memang telah melarikan diri dari sayap. Dalam perlindungan anak buahnya ia berusaha untuk lepas dari medan. Namun tidak di sayap, karena para pengawal semuanya seakan-akan telah memperhatikannya.

Dalam waktu yang singkat, Kiai Kelasa Sawit dibimbing oleh pengawalnya yang setia telah meninggalkan sayap pasukan lembah itu dan memasuki induk pasukan. Selanjutnya ia berusaha untuk menemukan lubang yang dapat dilaluinya untuk meninggalkan arena pertempuran karena luka-lukanya yang parah.

Tetapi teriakan para pengawal itu menjalar terlampau cepat. Bahkan beberapa orang pengawal di induk pasukannya telah mendengarnya dan mereka yang berada di batas sayap dan induk pasukanpun ikut berteriak, “Kiai Kelasa Sawit melarikan diri.”

Kiai Kelasa Sawit menjadi berdebar-debar. Tetapi ia merasa dirinya telah terlepas dari Agung Sedayu. Agaknya Agung Sedayu tidak akan mengejarnya sampai ke induk pasukan.

“Kita harus segera meloloskan diri,“ desis Kiai Kelasa Sawit, “aku memerlukan beberapa saat beristirahat sebelum aku kembali menghadapi anak itu.”

“Malam ini Kiai?” bertanya seorang pengawalnya.

“Kau dungu. Tentu aku harus beristirahat tidak hanya malam ini. Agaknya keadaanku belum menjadi baik.”

“Sehari semalam?”

“Bodoh. Aku akan beristirahat sebulan lamanya.“

“Sebulan?“ pengawalnyalah yang kemudian menjadi heran.

Tetapi Kiai Kelasa Sawit tidak menjawab. Ia merasa dadanya menjadi sesak dan luka-lukanya bertambah pedih. Darah semakin banyak mengalir dari tubuhnya meskipun daya tahannya telah berhasil memperkecil kemungkinan cambuk lawannya merobek kulitnya.

Namun dalam pada itu, teriakan-teriakan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan para pengawal dari Mataram menjadi semakin keras, dan yang bahkan disambut pula oleh para pengawal dari Sangkal Putung, “Kiai Kelasa Sawit melarikan diri.”

Dengan tergesa-gesa Kiai Kelasa Sawitpun mencari jalan keluar. Pengawalnya tidak dapat mencegahnya lagi meskipun ia sadar, bahwa pasukan di sayap itu akan segera bercerai-berai tanpa pimpinannya. Namun iapun sadar, bahwa jika Kiai Kelasa Sawit tidak meninggalkan medan, maka ia akan dibunuh oleh Agung Sedayu.

Sementara itu. Agung Sedayu yang berada di sayap itupun termangu-mangu. Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan Mataram di bagian barat, serta para pengawal Mataram dan Sangkal Putung di bagian timur ternyata telah mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Hilangnya Kiai Kelasa Sawit, benar-benar telah melumpuhkan kekuatan lawan. Terutama karena goncangan perasaan. Sebenarnya jika mereka tidak mudah disentuh oleh keputus-asaan, maka mereka masih akan dapat bertahan dan mencari jalan keluar. Tetapi hilangnya dua orang pemimpin di sayap itu membuat hati para pengikutnya menjadi kecut.

Meskipun ternyata kemudian Agung Sedayu tidak berbuat seperti yang mereka duga, namun agaknya mereka menyangka bahwa yang demikian itu hanyalah menunggu saat yang akan segera datang.

Sebenarnyalah Agung Sedayu mulai lagi dicengkam oleh keragu-raguan setelah ia membunuh Ki Gede Telengan, Ki Tumenggung Wanakerti dan melukai Kiai Samparsada sehingga parah, kemudian Kiai Kelasa Sawit, maka rasa-rasanya goncangan-goncangan di dalam dirinya tidak terelakkan lagi. Apalagi waktu mereka melihat di dalam cahaya obor, tubuh yang silang melintang di pertempuran. Orang kesakitan dan bahkan kadang-kadang terdengar tangis tertahan.

Rasa-rasanya getar hati anak muda itu tidak tertahankan lagi. Bukan kemenangan yang terasa memberi kebanggaan di hati, tetapi justru penyesalan dan kengerian.

Itulah sebabnya untuk beberapa saat lamanya ia berdiri tegak di tempatnya. Para pengawal Tanah Perdikan dan para pengawal dari Mataram menjadi heran melihat sikapnya. Mereka menduga bahwa Agung Sedayu akan segera mengamuk dan menghalau setiap lawan yang ada di sayap itu, bahkan membunuhnya. Tetapi yang terjadi adalah di luar dugaan itu. Agung Sedayu berdiri termangu-mangu tanpa berbuat apa-apa.

Meskipun demikian, maka para pengawal itu tidak ikut termangu-mangu. Sebagian dari mereka mengerti, bahwa penyakit Agung Sedayu telah kambuh lagi. Keragu-raguan dan kebimbangan.

Karena itulah, maka para pengawal Tanah Perdikan Menorehlah yang kemudian bersama-sama dengan para pengawal dari Mataram seakan akan telah mengamuk mengusai medan. Orang-orang yang bertahan di lembah itu semakin lama menjadi semakin terdesak dan tidak berdaya.

Pertempuran itu masih berlangsung beberapa lama, sementara Agung Sedayu bagaikan orang bingung berdiri di tempatnya Namun agaknya goncangan-goncangan di dalam hatinya tidak tertahankan lagi. Di luar dugaan para pengawal, Agung Sedayu justru meninggalkan medan dengan langkah yang gontai.

“Kemana,“ terdengar seseorang bertanya kepada kawannya.

“Agaknya ia akan kembali kepada Ki Gede yang menjaga pusaka itu,” jawab yang lain.

Mereka menjadi semakin heran. Namun kemudian mereka tidak menghiraukannya lagi dan bertempur semakin sengit.

Agung Sedayu berjalan di dalam gelapnya malam. Seakan-akan ia menuruti kemana kakinya melangkah. Adalah karena nalurinya saja iapun berjalan menuju ke tempat Ki Gede Menoreh menunggu dengan hati yang berdebar-debar.

Kedatangan Agung Sedayu mengejutkan para pengawas. Ketika seorang pengawas melihat sesosok bayangan yang berjalan mendekat, maka sambil mengacukan tombaknya ia berdesis, “Siapa?”

Agung Sedayu berhenti. Tetapi ia tidak menjawab. Namun demikian pengawas itu segera mengenalnya. Bahkan ia menjadi cemas melihat keadaan Agung Sedayu yang seakan-akan kehilangan sesuatu.

“He. kenapa kau?“ bertanya pengawas itu. Agung Sedayu memandang pengawas itu sejenak.

Namun kemudian Jawabnya, “Aku tidak apa-apa.”

Pengawas itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi suaramu gemetar. Apakah yang sudah terjadi?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia berjalan terus.

“Ki Gede ada di balik batu padas,“ desis pengawas itu.

Agung Sedayu barjalan terus menuju ke batu padas yang nampak hitam pekat di malam hari. Cahaya obor kecil yang sengaja ditempatkan agak jauh, memberikan sedikit ancar-ancar tempat Ki Gede Menoreh beristirahat.

Ki Gede berpaling ketika ia mendengar desir perlahan. Sebuah bayang nampak mendekatinya dengan ragu-ragu.

“Agung Sedayu,“ desis Ki Gede.

Agung Sedayu menjadi semakin dekat. Kemudian dengan lemahnya ia menjatuhkan diri dan duduk beberapa langkah di hadapan Ki Gede Menoreh.

Ki Gede Menoreh terkejut melihat keadaan anak muda itu. Dengan tergesa-gesa ia mendekatinya sambil bertanya, “Kau kenapa?”

Agung Sedayu mencoba menenangkan hatinya. Perlahan-lahan ia menarik nafas panjang sekali, seakan-akan udara malam di seluruh hutan itu akan dihisapnya.

“Kau terluka? “ bertanya Ki Gede.

“Tidak seberapa Ki Gede,“ jawab Agung Sedayu, “hanya goresan-goresan kecil.”

“Tetapi kau nampak letih sekali.”

“Aku memang letih sekali.”

Ki Gedepun kemudian duduk disamping Agung Sedayu. Terasa tubuh anak muda itu gemetar. Nafasnya kadang-kadang memburu, namun kadang-kadang bagaikan terhenti.

“Aneh,“ berkata Ki Gede di dalam hatinya, “pernafasannya hampir sempurna. Tetapi terasa kini seakan-akan ia tidak memiliki kemampuan untuk menguasai diri dan mengatur pernafasannya sendiri.”

“Agung Sedayu,“ desis Ki Gede, “agaknya kau memang terlalu letih. Tetapi seharusnya kau dapat mengatasi kesulitan pernafasanmu, sehingga tubuhmu akan menjadi agak segar. Apalagi sejuknya embun malam akan dapat membantu menyegarkan kelelahanmu.”

Agung Sedayu mengangguk. Tetapi keadaannya tidak bertambah baik.

Agung Sedayu masih saja gelisah, sementara nafasnya sama sekali masih belum teratur.

Ki Gede Menoreh yang sudah semakin tua itupun ternyata memiliki penglihatan batin yang tajam. Meskipun yang nampak pada wadag Agung Sedayu tidak membahayakannya, namun ternyata kelelahan batinnya membuatnya seolah-olah kehilangan nalar dan pertimbangan.

Ki Gede kemudian semakin menyadari ketika meraba tubuh Agung Sedayu yang gemetar.

“Apa yang sudah terjadi Agung Sedayu?” bertanya Ki Gede Menoreh.

Agung Sedayu memandang Ki Gede dengan tatapan mata yang suram.

“Apakah kau menjumpai peristiwa yang tidak kau kehendaki?“ desak Ki Gede.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian desisnya gemetar, “Bukan maksudku Ki Gede. Benar-benar bukan maksudku.”

“Memang bukan maksudmu Agung Sedayu. Tetapi apakah yang sudah terjadi?”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja seakan-akan nampak di hadapannya Kiai Samparsada yang terbaring dengan luka-lukanya, sementara Kiai Kalasa Sawit yang terhuyung-huyung karena ujung cambuknya. Dengan susah payah orang itu bersuit memanggil pengawalnya untuk membuat lingkaran pelindung di seputarnya. Apalagi kemudian seolah-olah berdiri di kegelapan sambil memandanginya dengan mata merah menyala Ki Gede Telengan yang bersilang tangan dan Ki Tumenggung Wanakerti yang seakan-akan tidak dapat disentuh oleh senjata. Namun keduanya telah berhasil dibunuhnya.

“O,“ Agung Sedayu tiba-tiba saja mengeluh, dipandanginya kedua telapak tangannya dan tangkai cambuknya. Tiba-tiba saja tangannya menjadi semakin gemetar.

Ki Gede Menoreh mengerti, apa yang tersirat di hati anak muda itu. Anak muda yang selalu diganggu oleh sifat-sifatnya yang berdasar lubuk hati sejak ia masih kanak-kanak. Keragu-raguan, kebimbangan dan tidak berketentuan.

Betapapun Agung Sedayu berhasil menguasai berbagai ilmu yang menggetarkan, yang dapat mengatasi dan bahkan melampaui ilmu Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti, namun ia tidak dapat mengatasi gemuruhnya jantung di dalam dadanya sendiri.

Karena itu, maka Ki Gedepun kemudian menyuruh seorang pengawalnya mengambil kendi yang diberikan kepada kelompok itu dan memberikannya kepada Agung Sedayu, “Minumlah Agung Sedayu. Kau benar-benar harus beristirahat.”

Agung Sedayu tidak menolak. Iapun kemudian menghirup air dari dalam gendi itu. Seteguk demi seteguk.

Segarnya air kendi dan segarnya malam dapat sedikit memberi ketenangan kepada Agung Sedayu. Beberapa kali ia menarik nafas, seolah-olah ia sedang mengingat apa yang telah dilakukannya di medan perang yang mengerikan itu.

Ki Gede Menoreh masih menunggui dengan sabar. Sekali-sekali Agung Sedayu berdesah. Kemudian tatapan matanya kembali terlempar ke dalam gelapnya malam.

Namun kemudian dengan nafas yang tersendat-sendat, Agung Sedayu menceritakan bahwa ia telah melukai Kiai Samparsada dan Kiai Kelasa Sawit.

“Keduanya terluka parah,“ desis Agung Sedayu, “bukan maksudku untuk menjadi pembunuh yang tidak berjantung meskipun di peperangan. Aku sudah membunuh Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti. Apakah aku harus membunuh dan membunuh apapun alasannya?”

Ki Gede Menoreh sudah menduga. Ternyata bahwa ilmu dan kemampuan Agung Sedayu yang melampaui tataran itu justru telah membuat hatinya kadang-kadang terluka.

“Agung Sedayu,“ berkata Ki Gede Menoreh, “setiap kali kau hadir di peperangan, maka kau selalu dicengkam oleh kegelisahan semacam itu. Tetapi itupun bukan salahmu. Semua yang terjadi adalah urutan peristiwa yang tidak terpisahkan. Suatu rangkaian peristiwa yang saling berkait. Juga tentang dirimu sendiri.”

 

 

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

“Sebenarnya kau tidak dapat menyesali perbuatanmu di peperangan. Membunuh memang pekerjaan yang terkutuk. Tetapi peperangan merupakan usaha terakhir untuk mempertahankan sikap seseorang dan sekelompok orang yang mempunyai keyakinan dan landasan yang sejalan.”

Agung Sedayu masih tetap menundukkan kepalanya.

“Kau dapat mengerti Agung Sedayu? “ bertanya Ki Gede.

“Pengertian yang dapat ditangkap oleh nalarku tidak sejalan dengan perasaanku Ki Gede,“ desis Agung Sedayu.

“Kau sadari itu? “ bertanya Ki Gede.

“Tanpa kesadaran ini barangkali aku sudah menjadi gila. Aku berusaha untuk menemukan keseimbangan antara nalar dan perasaan. Tetapi kadang-kadang pertanyaan di dalam hatiku terlampau banyak yang tidak dapat aku jawab,“ berkata Agung Sedayu seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “di antaranya, apakah aku memang harus menjadi pembunuh yang tidak berperikemanusiaan? Aku sadar Ki Gede, apakah artinya perikemanusiaan di dalam peperangan. Tanpa melenyapkan kebatilan maka akupun telah berkhianat terhadap perikemanusiaan itu sendiri, karena akibat dari kelestarian kebatilan adalah perkosaan terhadap perikemanusiaan. Tetapi kenapa aku harus melakukannya dengan cara yang tidak dapat aku pilih sesuai dengan cara yang paling baik menurut pendapatku?”

“Agung Sedayu. Jika cara itu harus kau lakukan, karena kau tidak mendapat kesempatan untuk memilih, justru kau berada di dalam keadaan tanpa pilihan, maka kau harus menerima kenyataan itu. Bukan kau yang telah memaksakannya terjadi. Tetapi kau hanyalah menerima keadaan tanpa pilihan itu. sehingga kau telah berdiri pada satu kesempatan, membunuh. Karena jika kau ingkari kesempatan itu, maka kau telah melakukan kesalahan yang sama nilainya, memberi kesempatan orang lain membunuhmu, padahal kau mempunyai kemampuan untuk menyelematkan dirimu meskipun yang terjadi harus sebaliknya.”

Agung Sedayu mengangkat wajahnya. Dipandanginya langit yang hitam ditaburi oleh bintang-bintang yang berkeredipan. Malam telah semakin dalam, sementara di lembah itu pertempuran masih berlangsung meskipun telah menjadi semakin kendor.

“Sudahlah Agung Sedayu,“ berkata Ki Gede, “beristirahatlah. Kau adalah seorang anak muda yang memiliki sesuatu yang merupakan kurnia dari Yang Maha Kuasa. Tergantung kepadamu, apakah kau dapat mengamalkannya, atau sekedar akan kau rendam dalam pelukan perasaanmu yang gelisah. Bukan saja saat ini, tetapi saat-saat mendatangpun persoalan semacam ini akan selalu kau jumpai di dalam hidupmu. Karena persoalan baik dan buruk itu merupakan persoalan yang lahir bersama kelahiran manusia itu sendiri.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Namun terasa sesuatu bergetar di dalam dirinya, meskipun masih samar-samar.

Semantara itu, Ki Gede Menorehpun kemudian meninggalkannya kembali ke tempatnya. Ia tidak boleh lengah. Kedua pusaka itu seolah-olah di dalam tanggung jawabnya.

Ketika seorang pengawal mendekatinya, maka iapun berkata, “Awasi Agung Sedayu yang kecewa terhadap dirinya sendiri. Dalam keadaan yang demikian, ia seakan-akan telah berubah. Karena itu. jika ada orang yang bermaksud jahat, maka ia tidak akan mempedulikannya.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Ki Gede, apakah artinya aku bagi Agung Sedayu.”

“Kau bukan seorang yang ragu-ragu seperti Agung Sedayu. Itulah kelebihanmu. Karena itu, awasilah anak muda yang sedang diamuk oleh kebimbangan itu.”

Pengawal itu tidak membantah. Iapun kemudian mendekati Agung Sedayu yang bersandar pada sebatang pohon. Sambil duduk di sampingnya pengawal itu bertanya, “Kau lelah?”

“Ya. aku lelah.”

Pengawal itu tidak bertanya lagi. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Ki Gede, Agung Sedayu itupun kemudian duduk bersandar sebatang pohon sambil meletakkan kepalanya pada kedua telapak tangannya yang diangkatnya di belakang. Ia seakan-akan telah tenggelam ke dalam suatu dunia yang lain dari dunia wadagnya, sehingga seperti yang dikatakan orang, namun ia sama sekali tidak memperhatikannya lagi.

“Anak muda yang aneh,“ desis pengawal itu. Tetapi ia tetap berdiam diri sambil mengawasi kegelapan yang terhampar di sekitarnya.

“Aku tidak boleh lengah seperti Agung Sedayu,“ berkata pengawal itu kepada diri sendiri, sehingga karena itulah, maka ia menggenggam tombaknya erat-erat meskipun iapun kemudian bersandar pula pada sebatang pohon di sebelah Agung Sedayu. Sementara para pengawal yang lainpun tetap bersiaga sepenuhnya karena mereka menyadari, bahwa kedua pusaka yang tidak ternilai harganya itu ada di antara mereka yang berada di tempat terpisah dari peperangan itu.

Sementara itu, pertempuran di lembah memang sudah menjadi semakin lamban. Kedua belah pihak sudah kehilangan puncak kemampuan mereka karena kelelahan.

Orang-orang yang merasa dirinya keturunan Kerajaan Agung Majapahit semakin lama semakin merasa, betapa tekanan para pengawal Mataram, Kademangan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh tidak lagi dapat dilawan.

Di sayap yang telah ditinggalkan Agung Sedayu, para pengikut orang-orang yang menyatakan dirinya pewaris kerajaan Majapahit itu menjadi semakin gelisah. Pemimpin-pemimpin mereka telah tidak ada lagi di antara mereka. Kiai Kelasa Sawit seakan-akan telah hilang di dalam gulungan pengawalnya.

Karena itulah, maka mereka seakan-akan sudah kehilangan segala kesempatan. Tekanan yang semakin dahsyat dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh serta para pengawal dari Mataram yang menghimpit mereka pada kekuatan pengawal dari Kademangan Sangkal Putung dan sebagian yang lain dari para pengawal dari Mataram, membuat mereka kehilangan semua harapan untuk dapat melepaskan diri dari bencana.

Dalam pada itu. Raden Sutawijaya yang berada di induk pasukan, dengan cerdik telah memotong sayap yang kehilangan pimpinannya itu dengan pasukanny,. sehingga sayap itu seakan-akan telah terpisah dari induk pasukannya.

Tidak ada yang dapat dilakukan lagi oleh mereka yang berada di sayap pasukan yang terkepung itu. Ketika seorang pemimpin pengawal dari Mataram meneriakkan ancaman-ancaman yang mengerikan, maka mereka menjadi semakin ragu-ragu untuk meneruskan pertempuran.

Namun akhirnya pemimpin pengawal dari Mataram itu berkata, “Tetapi kami masih mempunyai perhitungan. Jika kalian menyerah sebelum saat-saat yang mengerikan itu tiba, maka nasib kalian akan menjadi bertambah baik. Kemarahan dan dendam di hati kami akan berkurang, karena penyerahan kalian berarti mengurangi jumlah korban di pihak kami.”

Tawaran itu benar-benar mempengaruhi perasaan para pengikut orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit. Dalam keadaan putus asa, maka kesempatan untuk menyerah itu adalah satu-satunya kesempatan terbaik yang akan menghindarkan mereka dari kematian, meskipun mungkin mereka akan jatuh ke dalam suatu keadaan yang tidak kalah buruknya daripada mati.

“Kami masih memberi kesempatan,“ berkata pemimpin dari Mataram itu, “jika kalian ingin menyerah, maka lepaskanlah senjata kalian dari tangan.”

Tetapi orang-orang yang putus asa itu masih ragu-ragu. Jika mereka melepaskan senjata mereka, sementara lawan mereka masih belum menemukan keseimbangan, sehingga dendamnya masih menyala, maka nasib mereka justru akan menjadi bertambah buruk.

Namun pemimpin pengawal dari Mataram itupun kemudian meneriakkan aba-aba kepada para pengawal agar mereka memberi kesempatan lawan untuk menyerah.

Para pemimpin pengawal dari Kademangan Sangkal Putung dan dari Tanah Perdikan Menoreh yang berseberanganpun mendengar perintah itu. Sementara mereka masih tetap mengakui, bahwa mereka berada di bawah perintah dari pimpinan pasukan dari Mataram, sehingga perintah yang mengalir dari pimpinan pasukan Mataram, merupakan perintah bagi seluruh pasukan.

“Nah,“ teriak pemimpin pengawal dari Mataram, ”ulangi perintahku, beri kesempatan kepada mereka untuk menyerah.”

Para pemimpin kelompok, baik dari Mataram, dari Sangkal Putung maupun dari Tanah Perdikan Menorehpun kemudian mengulangi perintah itu sambung bersambung sampai ke ujung sayap.

Tidak ada kesempatan lain. Kelelahan, putus asa dan hilangnya harapan telah menyudutkan para pengikut mereka yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit itu untuk menerima tawaran itu, betapapun buruknya.

Seorang pemimpin kelompok yang sudah kehilangan ikatan induknya itupun tiba-tiba saja sudah meneriakkan perintah bagi kelompoknya, “Pisahkan diri dari lawan. Kalian mendapat kesempatan untuk menyerah. Tetapi tidak untuk membunuh diri.”

Ternyata bahwa perintah itu mendapat sambutan dari beberapa orang pemimpin kelompok yang lain meskipun hal itu bukannya merupakan jalur perintah. Mereka merasa bahwa setiap kelompok harus menentukan sikap mereka sendiri, setelah Kiai Samparsada dan Kiai Kelasa Sawit hilang dari sayap itu.

Para pengikut yang berada di lembah itupun tidak mempunyai kesempatan lain. Itulah sebabnya, merekapun kemudian seolah-olah berusaha untuk menjauhi lawan masing-masing sambil mengangkat senjata mereka meskipun senjata itu masih belum dilontarkan.

Para pengawal dari Mataram, dari Sangkal Putung dan dari Tanah Perdikan Menorehpun termangu-mangu sejenak. Perintah untuk memberi kesempatan lawan mereka menyerah tidak dapat mereka abaikan, sehingga karena itu. maka merekapun membiarkan lawan mereka melangkah surut dan seakan-akan berkumpul di dalam sebuah lingkaran yang besar.

“Letakkan senjata kalian,“ perintah itu terdengar lagi.

Betapapun juga, keragu-raguan masih nampak di wajah mereka. Sejenak mereka masih berdiri termangu-mangu. Namun pertempuran memang telah terhenti, meskipun keadaan masih tetap tegang.

Dalam keragu-raguan itu, tiba-tiba pertempuran itu telah digetarkan pula oleh teriakan-teriakan kemenangan dari induk pasukan. Raden Sutawijaya di sebelah Barat dan Swandaru di sebelah timur bersama Pandan Wangi dan Sekar Mirah telah berhasil memaksa lawan mereka untuk menyerah pula.

“Mereka sudah menyerah,“ teriakan-teriakan itu terdengar sampai ke sayap.

Para pengikut orang-orang yang menganggap dirinya pewaris kerajaan Majapahit itupun kemudian seorang demi seorang telah melemparkan senjata mereka. Betapapun beratnya, tetapi senjata yang merupakan lambang kehadiran mereka di peperangan itu, harus diletakkan.

Dengan demikian, maka hampir berbareng kedua bagian dari pasukan lawan itu sudah menyerah. Di induk pasukan. Raden Sutawijaya masih merenungi tubuh seorang bekas senapati Pajang yang mendapat tanda kepercayaan untuk menjadi Panglima di lembah itu yang terbujur tidak bernyawa lagi.

Tetapi ternyata bahwa sayap yang lainpun telah digoncangkan oleh peristiwa yang menggetarkan. Ki Waskita yang menjadi semakin lelah, justru menjadi semakin garang, sehingga akhirnya lawannya tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Raksasa yang memiliki kekuatan berlipat dari kekuatan kebanyakan itu, akhirnya tidak lagi mampu menyelamatkan hidupnya dalam hiruk pikuknya pertempuran.

Kiai Gringsing yang melihat kematian Kiai Jagaraga itu mengerutkan keningnya. Kemudian dengan nada datar ia berkata, “Apakah kau masih akan tetap bertahan? Kawanmu sudah terbunuh.”

Empu Pinang Aring yang bertempur melawan Kiai Gringsing itu meloncat surut, seolah-olah ia ingin mendapat kesempatan untuk menyaksikan kebenaran kata-kata Kiai Gringsing, bahwa kawannya telah terbunuh oleh seorang pengawal yang datang dari arah pasukan Tanah Perdikan Menoreh.

Kiai Gringsing sengaja memberinya kesempatan, sehingga Empu Pinang Aringpuri melihat betapa kawannya itu tergolek di bawah cahaya obor yang sengaja dipasang untuk menerangi mayat itu oleh para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Empu Pinang Aring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau benar Kiai. Raksasa itu telah mati.”

“Dan kau?“ bertanya Kiai Gringsing.

Empu Pinang Aring termangu-mangu. Sejenak ia mengedarkan tatapan matanya ke seluruh medan, seolah-olah ia ingin melihat pertempuran yang panjang itu dari ujung sampai ke ujung.

Namun dari induk pasukan, iapun telah mendengar bahwa pasukan yang sedang berhimpun di lembah itu ternyata tidak mampu melawan kekuatan yang berhasil dihimpun oleh Mataram. Kekuatan dari timur dan dari barat.

“Mataram memang luar biasa,“ desis Empu Pinang Aring tiba-tiba.

“Kau tidak mempunyai kesempatan lagi,“ berkata Kiai Gringsing.

Empu Pinang Aring memandang Kiai Gringsing dengan tajamnya. Sekali lagi ia menebarkan tatapan matanya. Kemudian desisnya, “Tidak ada yang dapat menghalangi tekad keturunan kerajaan Agung Majapahit untuk membangun kembali kejayaannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jangan bermimpi. Kita bukan orang-orang yang takut melihat kenyataan.”

“Apa yang kau tahu tentang kami?”

Kiai Gringsing memandang Empu Pinang Aring sejenak, lalu. “Apa pula yang kau tahu tentang warisan atau keturunan Kerajaan Agung Majapahit?”

“Aku adalah keturunan langsung dari Majapahit yang berhak mewarisi kerajaan.”

“Ada beratus-ratus orang yang dapat mengatakan demikian. Keturunan Majapahit telah tersebar kemana-mana. Sampai ke ujung timur dari tanah ini. Bahkan sampai ke seberang selat Bali. Tetapi apakah artinya keturunan itu jika Sultan Pajang juga dapat menelusuri keturunannya yang bersumber dari Majapahit? Jika setiap orang berhak mewarisi kerajaan. apakah itu berarti akan ada beratus-ratus kerajaan Majapahit yang akan lahir?”

“Jangan berbicara seperti kepada kanak-kanak Kiai,“ sahut Empu Pinang Aring, “sudah tentu kita akan berbicara tentang hal itu di antara kita.”

“Bukan maksudku memperbodoh kau Ki Sanak. Tetapi bayangkan. Semua orang yang merasa dirinya memiliki hak untuk mewarisi kerajaan itu, pada suatu saat akan berkumpul dan berbicara tentang diri mereka masing-masing. Nah, apakah Ki Sanak dapat membayangkan, siapakah di antara mereka yang akan menjadi Raja, menjadi Mahapatih, menjadi Mahamenteri dan jabatan-jabatan yang lebih rendah? Siapakah yang akan menentukan dan mengesahkan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kau sudah tahu jawabnya. Kita mempunyai otak, mempunyai mulut dan kesetiakawanan.”

“Semuanya akan lenyap dihembus oleh nafsu dan ketamakan. Jika kalian sempat mempergunakan otak kalian, kenapa kalian sanggup berkumpul di lembah ini kemudian bersama-sama memusuhi Pajang dan Mataram? Kenapa kalian tidak dapat mempergunakan otak, mulut dan kesetiakawanan kalian, apalagi kalian sudah jelas mengetahui bahwa Sultan Hadiwijaya masih resmi menjadi raja di Pajang dalam jalur langsung atau tidak langsung dari keturunan Majapahit?”

“Omong kosong.”

“Ingat Ki Sanak. Setiap orang akan dapat mengucapkannya. Omong kosong. Akupun dapat mengatakan, apa yang kau ucapkan adalah omong kosong. Juga semua sikap dan pendirian tentang pewaris-pewaris kerajaan Agung Majapahit itu.”

Terdenger Empu Pinang Aring menggeram. Tetapi kata-kata Kiai Gringsing berhasil menyentuh perasaannya. Sejak semula iapun telah meragukan pembagian kedudukan di antara mereka yang memperebutkan warisan Majapahit itu. Seandainya mereka bersepakat untuk menunjuk seorang Raja, bagaimana dengan kedudukan-kedudukan tinggi yang lain. Apalagi jika mereka ingin mengembalikan tata pemerintahan seperti pada masa Majapahit, karena di dalam pertumbuhannya melalui Demak dan Pajang, susunan pemerintahan sudah banyak berubah.

“Baiklah,“ berkata Kiai Gringsing, “jika kau masih tetap pada sikap dan pendirianmu, namun sebagai seorang yang mumpuni, kau tentu mempunyai perhitungan yang matang. Lihatlah, apakah kau masih mempunyai nafsu untuk bertempur terus?”

Empu Pinang Aring menarik nafas dalam-dalam.

“Renungkan Empu. Mungkin kau memang sudah merenunginya tidak hanya sehari dua hari, tetapi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tetapi ulangilah sekali lagi merenung dalam kenyataan yang kau hadapi sekarang ini.”

Empu Pinang Aring benar-benar tidak dapat mengingkari kenyataan. Pasukannya sudah tidak mampu lagi mempertahankan diri. Tanpa perintah banyak diantara mereka telah melepaskan senjatanya dan berkumpul di lingkari oleh pengawal Mataram, Sangkal Putung atau Tanah Perdikan Menoreh yang mengacungkan senjata mereka.

Tetapi sudah tentu bahwa Empu Pinang Aring mempunyai perhitungan dan pertimbangan tersendiri. Ia tidak begitu saja hanyut pada arus kesulitan yang dialami oleh para pengikutnya.

Namun demikian. Empu Pinang Aring tetap seorang yang memiliki pengamatan yang matang terhadap keadaan disekitarnya.

“Kiai,“ berkata Empu Pinang Aring kemudian, “kau bagiku adalah seorang yang aneh. Aku sudah lama mendengar tentang orang-orang bercambuk. Tidak hanya seorang, tetapi beberapa. Namun demikian, agaknya kaulah induk dari segala macam orang bercambuk itu.”

Kiai Gringsing mengerutkan dahinya.

“Kiai,“ Empu Pinang Aring meneruskan, “aku, Empu Pinang Aring, sudah bertahun-tahun hidup dalam dunianya yang penuh dengan tantangan maut. Karena itu, aku tidak pernah gentar melihat betapa buruknya peperangan. Aku sudah banyak mengalami kesulitan-kesulitan, tetapi juga kemenangan-kemenangan di segala macam medan. Tetapi aku tidak pernah melangkah mundur, biar kematian menjadi taruhannya.”

“Dan sekarang kau juga akan mempertaruhkan kematian?“ bertanya Kiai Gringsing, lalu, “kematianmu memang tidak berarti. Baik bagimu sendiri, maupun bagi keseluruhan perimbangan dari peperangan ini. Bagi kami, akhir dari peperangan ini sudah jelas. Kami akan menguasai keadaan sepenuhnya. Sehingga karena itu maka kematianmu benar-benar sia-sia. Tidak berarti sama sekali, karena kematianmu tidak akan menentukan apapun juga.”

Jawaban Empu Pinang Aring benar-benar di luar dugaan, “Kau benar Kiai. Kematianku tidak akan berarti apa-apa.”

Kiai Gringsing terkejut mendengar jawaban itu. Karena itu justru ia terdiam sejenak memandang wajah Empu Pinang Aring yang tidak lagi nampak garang.

“Aku yang merasa diriku seorang yang penting di dalam pergolakan masa sekarang ini. ternyata harus menghadapi maut tanpa arti,“ Empu Pinang Aring berdesis, lalu, “Kiai, seandainya aku mampu melakukan, mengamuk di medan ini sehingga memberi kesempatan kepada pengikut-pengikutku untuk melarikan diri, aku akan melakukannya. Jika aku harus mati, maka kematianku akan berarti, setidak-tidaknya bagi beberapa jiwa pengikutku. Tetapi rasa-rasanya sekarang tidak mungkin lagi aku lakukan.”

“Ya,“ sahut Kiai Gringsing, “ternyata hatimu masih bening.”

“Jika keputusanku menguntungkanmu, kau tentu memujiku. Tetapi biarlah. Harga diriku selama ini akan lenyap oleh suatu kesadaran ketiadaan arti bagi semua tingkah lakuku,“ Empu Pinang Aring berhenti sejenak, lalu, “Kiai, aku menyerah.”

Kata-kata itu benar-benar mengejutkan. Kiai Gringsing tidak mengira bahwa tiba-tiba saja orang seperti Empu Pinang Aring begitu cepat menyerah.

Tetapi orang itu berkata selanjutnya, “Itu bukan berarti bahwa aku ingin mendapat pengampunan sehingga leherku tidak akan dipenggal. Aku tidak berkeberatan jika aku dibunuh dengan cara apapun juga. Aku akan menghadapinya dengan tabah. Jika aku menyerah, dan bersedia untuk melakukan hukuman apa saja, itu aku maksudkan agar hidupku di saat terakhir masih mempunyai arti betapapun kecilnya. Karena penyerahan ini, dan kemudian hukuman mati yang akan aku lakukan, aku dapat memberikan sedikit kepuasan sepada orang-orang Mataram. Dengan demikian, masih mungkin diharapkan pengampunan atau keringanan hukuman bagi orang-orangku yang kau tangkap sekarang ini.”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun Empu Pinang Aring benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Sambil mengulurkan senjatanya ia berkata, “Kiai, bukankah Kiai pernah mengatakan, bahwa Kiai ingin melihat barang sejenak senjataku ini.”

Kiai Gringsing masih ragu-ragu. Namun ia melihat kesungguhan di wajah Empu Pinang Aring, sehingga iapun kemudian menerima senjata itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih bersiap dengan cambuknya menghadapi segala kemungkinan.

Namun ternyata Empu Pinang Aring benar-benar telah menyerahkan senjatanya. Iapun kemudian berjalan perlahan-lahan diiringi oleh Kiai Gringsing, bergabung dengan pengikut-pengikutnya yang sudah menyerah.

Dengan tatapan mata keheranan pengikut-pengikutnya memandang Empu Pinang Aring yang mereka anggap sebagai orang yang tidak ada duanya. Namun adalah suatu kenyataan bahwa akhirnya Empu Pinang Aring itupun telah menyerah.

Empu Pinang Aring memandang pengikut-pengikutya sejenak. Kemudian Katanya, “Aku memang ingin menyerah bersama kalian. Sebenarnya aku mempunyai banyak peluang untuk melarikan diri. Tetapi jika aku berhasil, maka aku telah mengkhianati kalian yang tidak mempunyai kesempatan itu. Karena itu aku menyerah. Aku mohon bahwa semua hukuman akan dapat aku jalani dengan memperingan hukuman kalian. Mungkin aku akan dihukum gantung. Tetapi itu bukan soal kalian. Bahkan mungkin aku harus menjalani hukuman picis, dan kalian seorang demi seorang harus mengerat tubuhku dan membubuhkan air asam. Tetapi lakukanlah dengan tabah, karena dengan demikian aku tidak sekedar mengorbankan kalian untuk kepentinganku.”

Beberapa orang pengikutnya tiba-tiba saja menundukkan kepalanya. Namun beberapa orang yang lain telah menggeretakkan giginya. Bahkan salah seorang dari mereka berteriak, “Kita bertempur sampai mati.”

Empu Pinang Aring tertawa. Katanya, “Kau sudah meletakkan senjatamu. Jangan membunuh diri dengan cara yang paling bodoh. Aku tidak ingin mengusik perasaan kalian, agar kita bersama-sama masuk ke lubang kubur. Biarlah aku berbangga dengan sikapku sekarang ini. Jangan memperkecil arti kepahlawanku meskipun kebanggaan itu hanyalah sekedar bagi diriku sendiri.”

Pengikutnya tidak ada yang menyahut. Mereka memandang pemimpinnya dengan dada yang berdebar-debar.

Sementara itu, pengikut-pengikut Empu Pinang Aringpun telah menyerah pula kepada para pengawal dari Mataram, Sangkal Putung atau Tanah Perdikan Menoreh.

Seperti para pengikutnya, Empu Pinang Aringpun melakukan semua yang harus dilakukan oleh para tawanan, seolah-olah ia benar-benar merasa satu dengan para pengikutnya dalam segala keadaan. Juga dalam keadaan yang paling parah itu.

Dengan demikian, maka pertempuran di lembah itu akhirnya telah terhenti juga. Para pengikut mereka yang menamakan diri pewaris kerajaan Majapahit itu telah kehilangan kesempatan sama sekali untuk mempertahankan diri. Meskipun pada mulanya, nampak mereka memiliki kelebihan, terutama dalam jumlah, tetapi sikap Ki Gede Telengan agaknya telah merubah segala-galanya.

Saat-saat pertempuran yang panjang itu berakhir, maka Raden Sutawijayapun segera memanggil semua pemimpin untuk berkumpul. Baik dari Mataram sendiri, dari Sangkal Putung dan dari Tanah Perdikan Menoreh.

Namun sementara itu, Raden Sutawijaya telah dikejutkan oleh kebanggaan Swandaru yang dengan lantang berkata, “Aku telah berhasil membunuhnya.”

“Siapa?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ternyata ia adalah Kiai Kelasa Sawit,“ jawab Swandaru sambil menengadahkan dadanya.

“O,” Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Beberapa pengawal Kiai Kelasa Sawit yang tertawan, memandang mayat yang terbujur itu dengan mata yang buram. Kiai Kelasa Sawit telah berhasil melarikan diri dari cengkaman maut ketika ia bertempur menghadapi Agung Sedayu. Tetapi karena ia justru berada di induk pasukan, maka di luar sadarnya, ia telah bertemu dengan Swandaru.

Tanpa ampun lagi, maka Kiai Kelasa Sawit telah dibinasakannya.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia mendekati mayat itu. Di belakangnya Prastawa mengikutinya dengan hati yang berdebar-debar.

“Ternyata Kakang Swandaru berhasil membunuh Kiai Kelasa Sawit,“ desis Prastawa dengan kagum.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Dalam cahaya obor nampak jalur-jalur cambuk Swandaru yang menyobek kulit.

 

 

“Luar biasa,“ desis Raden Sutawijaya, “kau memang seorang anak muda yang perkasa. Kau ternyata sudah berada pada tataran Kiai Kelasa Sawit yang mendebarkan itu.”

Swandaru memandang Raden Sutawijaya sejanak. Ia pernah menjajagi ilmu anak muda itu. Namun kini ia dengan bangga dapat membuktikan kepada Sutawijaya, bahwa ia bukan seorang anak muda yang terlalu lemah. Bahkan dari bibir Raden Sutawijaya telah terlontar pengakuan bahwa ia memiliki tataran setingkat dengan Kiai Kelasa Sawit yang telah berhasil dibunuhnya.

Namun dalam pada itu, setiap pengawal Kiai Kelasa Sawit menyadari, bahwa saat-saat yang mengerikan itu terjadi justru saat Kiai Kelasa Sawit sudah tidak berdaya. Ia hanya dapat mempergunakan sisa-sisa tenaganya yang sudah sangat lemah karena luka-lukanya.

Tetapi mereka tidak dapat mengucapkannya, karena mereka merasa tidak berhak untuk mencampuri pembicaraan Raden Sutawijaya dan Swandaru yang gemuk itu.

Sementara itu, maka para pemimpinpun sudah mulai berkumpul. Mereka mengambil tempat di luar medan, sementara para pengawal masih sibuk menyelesaikan persoalan-persoalan kecil yang masih timbul. Satu dua orang lawan benar-benar tidak mau menyerah, sehingga mereka telah memilih mati. Yang lain berusaha melarikan diri. Namun di antara mereka memang berhasil menyusup di dalam rimbunnya pepohonan dan hilang di hutan yang lebat.

Pada saat satu dua orang masih harus bertempur, yang lain telah mengumpulkan para tawanan yang telah meletakkan senjata. Sedangkan sebagian yang lain. harus mengumpulkan orang-orang yang terutama masih diketahui hidup dan terbaring di antara mayat-mayat yang silang melintang.

Kiai Gringsing yang berjalan melintasi medan bersama Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata di lembah itu telah terjadi pembunuhan antara manusia yang tidak dapat dicegah lagi.

Pada saat-saat para pemimpin itu sudah berkumpul, maka yang pertama-tama dilakukan oleh Kiai Gringsing adalah mengobati Sumangkar yang parah. Luka-lukanya merambah di seluruh tubuhnya. Namun Kiai Gringsing masih berpengharapan, bahwa luka-luka itu akan dapat disembuhkan.

“Kita tidak melihat Agung Sedayu,“ desis Ki Sumangkar.

“Ia berada di lereng bersama Ki Gede Menoreh,“ jawab seorang pemimpin kelompok.

“Ia bersamaku dan telah menyelamatkan aku,“ desis Ki Sumangkar yang lemah.

“Ya. Tetapi ia telah kehilangan keseimbangannya sebagai seorang laki-laki jantan meskipun ia berhasil mengalahkan lawan-lawannya.”

“Jangan berkata begitu,” potong Raden Sutawijaya, “kau harus menghargai sifat-sifatnya.”

Namun Swandarulah yang sudah menyahut, “Aku sudah menduga. Kakang Agung Sedayu tidak akan tahan berada di medan yang besar. Apalagi jika terjadi benturan antara dua kekuatan yang benar-benar besar seperti Pajang.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Ia tidak boleh memaksa diri. Tetapi ia sudah berbuat banyak di dalam pertempuran ini.”

“Ya,” Jawab Raden Sutawijaya, “aku sudah mendengar semua laporan tentang Agung Sedayu.”

Swandaru memalingkan wajahnya. Ketika terpandang olehnya Prastawa yang berada beberapa langkah di sebelahnya, Swandaru tersenyum. Dan Prastawapun tersenyum pula.

“Sekarang,” berkata Raden Sutawijaya, “panggillah Ki Gede Menoleh dan Agung Sedayu bersama para pengawal dan pusaka-pusaka yang telah diketemukan itu.”

Dua orang penghubungpun kemudian pergi menemui Ki Gede Menoreh untuk menyampaikan pesan Raden Sutawijaya, agar bersama para pengawal Ki Gede turun ke medan.

Agung Sedayu masih tetap ragu-ragu. Berbagai bayangan telah bermain di angan-angannya. Kematian demi kematian telah terjadi. Dan iapun telah membunuh justru orang-orang penting dari lingkungan lawannya.

Ki Gede Menoreh dapat mengerti sepenuhnya perasaan anak muda itu karena Ki Gede telah mengenal sifat-sifatnya pula. Karena itu, maka dengan hati-hati ia berkata, “Marilah Agung Sedayu. Kita akan bertemu dengan saudara-saudara kita yang berhasil menyelamatkan diri dari benturan kekuatan ini. Apapun yang telah terjadi, jangan kau sesali lagi, karena yang terjadi itu memang sudah terjadi.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sering mendengar orang-orang tua memberi nasehat jika seseorang sedang menyesali sesuatu. Tetapi untuk mengusir penyesalan yang menyesak, adalah suatu pekerjaan yang sulit.

Namun Agung Sedayupun kemudian mengikuti Ki Gede Menoreh menuju ke medan yang bagi Agung Sedayu merupakan lingkaran yang sangat menggelisahkan.

Kehadiran Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu telah disambut oleh Raden Sutawijaya dengan penuh gairah, sementara Pandan Wangi langsung berjongkok di hadapan ayahnya sambil mengusap matanya yang basah.

“He,“ desis Ki Gede Menoreh, “kau sedang mengenakan pedang rangkap.”

Pandan Wangi menengadahkan wajahnya. Kemudian ia mencoba tersenyum.

“Duduklah di tempatmu,“ berkata Ki Gede kepada putrinya.

Pandan Wangipun kemudian duduk kembali di samping Sekar Mirah yang tersenyum melihat sikapnya. Bagaimanapun juga, Pandan Wangi adalah seorang perempuan. Sudah cukup lama ia tidak berjumpa dengan ayahnya. Sedangkan perjumpaan yang terjadi di medan yang menegangkan itu rasa-rasanya telah menggetarkan hatinya.

Sejenak kemudian, setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing setelah mereka menghadapi tantangan maut di medan yang resah itu, maka merekapun segera membicarakan masalah-masalah yang harus segera mereka lakukan. Terutama dengan pusaka-pusaka itu.

“Pusaka-pusaka itu harus segera kembali ke Mataram,“ berkata Kiai Gringsing sambil memandang Ki Juru Martani yang nampak tidak begitu gembira meski pun kedua pusaka telah kembali ke tangan Raden Sutawijaya.

Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kelengahan beberapa pengawal pusaka itu di Mataram, termasuk Raden Sutawijaya sendiri, telah menumbuhkan korban yang tidak terhitung jumlahnya sekarang ini.”

Raden Sutawijaya menarik nafas. Namun iapun kemudian menundukkan kepalanya ketika Ki Juru meneruskan, “Dan kesalahan itupun telah menyangkut aku pula.”

Tanpa mengangkat wajahnya Raden Sutawijaya berkata, “Mataram dalam keseluruhan telah berbuat kesalahan Paman. Ternyata bahwa korban yang jatuh telah meliputi bukan saja laki-laki terbaik di Mataram, tetapi juga dari Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.”

Kiai Gringsing memandang wajah Agung Sedayu yang buram, sementara Ki Waskita duduk termangu-mangu.

Namun dalam pada itu Swandaru berkata sambil mengangkat wajahnya, “Aku tidak tahu, apa yang sedang kita bicarakan sekarang.”

Semua orang yang mendengarnya berpaling ke arahnya. Sejenak Swandaru masih berdiam diri seolah-olah sedang mengumpulkan berbagai masalah yang berceceran di dalam angan-angannya.

Namun kemudian ia berkata, “Kita sudah menunjukkan kejantanan. Kita menuntut yang menjadi hak kita. Maksudku, Mataram. Jika jatuh korban, maka mereka adalah pahlawan yang memperjuangkan hak. Mereka tidak mati sia-sia.”

Kiai Gringsing menarik nafas panjang, sementara Swandaru meneruskan, “Jangan disesali perjuangan yang sudah terjadi ini. Jika demikian, perjuangan ini sendiri telah diperkecil artinya. Kita justru akan berbelas kasihan kepada mereka yang telah gugur. Sedangkan seharusnya kita harus berterima kasih dan berbangga akan pengorbanan jantan yang telah mereka berikan.”

“Ya, Swandaru,“ berkata Kiai Gringsing, “perjuangan ini telah menuntut pengorbanan. Mereka adalah pahlawan yang gugur karena mereka memperjuangkan hak kita. Kita jangan memperkecil arti dari perjuangan mereka,“ ia berhenti sejanak, lalu, “tetapi yang kita bicarakan bukanlah mereka yang telah gugur. Mereka yang terluka parah dan mereka semuanya yang sudah bertempur. Yang kita sesali adalah kelengahan Mataram sehingga semuanya ini harus terjadi. Pertempuran, kematian dan korban-korban lainnya, tanpa memperkecil arti pengorbanan mereka.”

Swandaru termangu-mangu sejenak. Masih ada keseganan di hatinya untuk berbantah dengan gurunya. Namun seakan-akan kepada diri sendiri ia berkata, “Kita sudah mulai kejangkitan penyakit cengeng pula. Penyakit yang agaknya dapat menular dari sumbernya.”

Di luar sadarnya Agung Sedayu berpaling. Tetapi hanya sekilas, karena kembali kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Baiklah,“ berkata Raden Sutawijaya, “apapun yang sudah terjadi, perjuangan kita sekarang sudah berhasil. Korban telah jatuh. Dan kita akan selalu mengenangnya.”

Swandaru tidak menyahut lagi. Namun sekali lagi ia memandang Prastawa dengan tatapan mata yang aneh.

Sementara itu, maka Sutawijayapun mulai mempersiapkan diri untuk membawa pusaka yang telah diketemukan itu.

“Besok kita harus menyelesaikan semua persoalan di sini,” berkata Raden Sutawijaya, “kita akan segera kembali ke Mataram dengan pusaka-pusaka itu.”

Beberapa orang pemimpin pengawal Mataram mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Juru berkata, “Besok kita akan kembali ke Mataram menjelang senja.”

“Sore hari Paman? “ bertanya Raden Sutawijaya.

“Di siang hari kedua pusaka itu akan dapat menumbuhkan berita yang beraneka macam,” sahut Ki Juru.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Jawabnya, “Benar Paman. Kita besok akan berangkat menjelang senja. Mudah-mudahan semuanya sudah dapat kita selesaikan.”

Dengan demikian, maka semua persiapanpun telah disesuaikan dengan keputusan Raden Sutawijaya untuk kembali ke Mataram menjelang senja, agar perjalanan pasukannya tidak banyak menimbulkan cerita yang akan dapat menjalar sampai ke Pajang. Sampai ke telinga senapati Pajang di daerah selatan.

Dalam pada itu, meskipun pertempuran sudah selesai, namun bukan berarti bahwa pasukan Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh telah selesai. Mereka dengan badan yang letih telah mengumpulkan kawan-kawannya yang terluka. Beberapa orang mencoba mengobati yang dapat mereka obati, sementara yang terluka parah, para petugas khusus telah berusaha menolong mereka.

Kiai Gringsing telah ikut sibuk pula mengobati mereka yang terluka. Di antaranya adalah Ki Sumangkar.

Menjelang pagi hari, maka perasaan letih agaknya tidak tertanggungkan lagi. Hampir semua orang, tanpa berjanji telah membaringkan dirinya dimanapun juga. Sekejap kemudian, mereka telah mendengkur dengan nyenyaknya di bawah batang-batang pohon, di batu-batu besar atau di atas rerumputan kering.

Hanya beberapa orang sajalah yang telah berjuang untuk tetap terjaga. Mereka adalah petugas-petugas yang bergiliran mengawasi keadaan. Meskipun pertempuran telah selesai, tetapi kesiagaan masih harus tetap dipertahankan. Apalagi mengawasi para tawanan.

Tetapi para tawananpun agaknya telah mengalami kelelahan yang sangat, setelah mereka diharuskan ikut menyingkirkan mayat-mayat dan menguburkannya di lembah itu. Sebagian terbesar dari merekapun telah tertidur pula, betapapun mereka dalam kegelisahan.

Para pemimpinpun tidak luput pula dari cengkeraman kelelahan jasmaniah dan rohaniah. Beberapa dari mereka telah mencoba tidur sambil bersandar batang-batang pepohonan.

Swandaru yang bersandar sebuah batu besar segera tertidur dengan nyenyaknya. Di sebelahnya Prastawapun telah mendengkur pula. Sementara Pandan Wangi dan Sekar Mirah terbaring di balik sebuah batu besar itu.

Orang-orang tua diantara merekapun harus beristirahat pula meskipun tidak semuanya bersama-sama. Kiai Gringsing masih duduk menunggui Ki Sumangkar yang terluka parah. Sementara Ki Juru dan Ki Waskita mencoba untuk dapat beristirahat barang sejenak.

Dalam pada itu, betapapun letihnya, namun Agung Sedayu sama sekali tidak berhasil memejamkan matanya. Kegelisahannya terasa semakin tajam menghunjam di jantungnya.

Adalah diluar sadarnya ketika Agung Sedayu yang duduk bersandar sebatang pohon itu telah berdiri dan melangkah perlahan-lahan meninggalkan kawan-kawannya yang sedang beristirahat itu.

Seorang petugas yang terkantuk-kantuk melihatnya berjalan menelusuri jalan setapak. Tetapi petugas itu tidak menyapanya.

Selangkah demi selangkah Agung Sedayu berjalan menjauhi kawan-kawannya dan justru turun ke lembah tempat pertempuran yang dahsyat telah terjadi. Meskipun sebagian dari mayat telah dikuburkan, namun yang lain masih tercecer-cecer berserakan. Para pengawal dari Mataram tidak dapat memaksa para tawanan yang sudah menjadi sangat letih untuk bekerja terus, sehingga merekapun telah memberikan kesempatan untuk beristirahat. Mereka baru akan dibangunkan dan meneruskan kerja mereka bersama-sama para pengawal setelah matahari terbit di timur.

Agung Sedayu yang gelisah itu berjalan terus di antara pepohonan. Hatinya bagaikan tersayat ketika ia melangkah di antara mayat-mayat yang belum terkuburkan. Apalagi ketika ia sampai pada gundukan tanah yang memanjang, tempat mayat lawan dikuburkan dalam lubang yang memanjang.

Agung Sedayu berhenti termangu-mangu di sebelah kuburan yang panjang itu. Ia membayangkan, bahwa di dalam gundukan tanah yang panjang itu terbaring beberapa sosok mayat yang terbujur beku dalam timbunan yang menghimpit.

Namun itu adalah akibat yang pasti terjadi di dalam setiap peperangan. Kematian adalah kelengkapan dari peristiwa perang. Dan kematian hampir tidak dapat dihindarkan lagi di samping kebanggaan dan keresahan hati.

Hati Agung Sedayu yang sudah gelisah itu menjadi semakin gelisah. Di luar sadarnya ia telah mengamat-amati kedua telapak tangannya. Terbayang kembali Ki Gede Telengan yang menggeliat di saat terakhir, Ki Tumenggung Wanakerti yang disayat oleh ujung cambuknya, Kiai Samparsada yang hilang di peperangan dan Kiai Kelasa Sawit yang ternyata jatuh ke tangan Swandaru dan terbunuh olehnya selelah ia gagal melarikan diri.

Terasa tubuh Agung Sedayu meremang. Mereka adalah orang-orang penting di antara lawan yang telah dikenal ilmunya meskipun akibatnya berbeda-beda.

Sementara itu, maka yang lain yang terbaring dalam kebekuan itu telah mengalami nasib yang serupa. Merekapun telah terbunuh oleh tusukan senjata.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ketika kakinya bergerak, maka tubuhnyapun telah terbawa berjalan di seputar medan yang sudah menjadi sepi.

Dada Agung Sedayu tergetar ketika ia mendengar lolong anjing liar di tengah-tengah lebatnya hutan. Anjing liar adalah jenis binatang yang ditakuti di samping binatang buas yang lain, karena kadang-kadang mereka datang berkawan. Tetapi agaknya anjing-anjing liar itu tidak akan lebih menakutkan dari sepasukan pengawal yang nampaknya tenang dan damai di dalam tidurnya.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu terkejut ketika matanya yang tajam menangkap bayangan sesosok tubuh di dalam gelap. Hampir di luar sadarnya, nalurinya telah membawanya mengikuti bayangan itu. Bahkan kemudian semakin dekat.

Namun bayangan itu kemudian terhenti dan berdiri termangu-mangu melihat kuburan yang memanjang dan mayat-mayat yang belum sempat dikuburkan. Dalam kegelapan Agung Sedayu melihat sesosok tubuh itu berdiri tegak. Kemudian dengan kaki yang terseret-seret melangkah lagi beberapa langkah.

Agung Sedayu menegang sejenak. Namun kemudian ia melangkah di luar sadarnya mendekat, ia terhenti ketika ia melihat bayangan itu kemudian duduk di atas sebuah batu yang besar.

Tetapi Agung Sedayu terkejut ketika ia mendengar langkah yang lain. Ketika ia berusaha melihat dari sela-sela pepohonan, ia melihat dua orang bersenjata langsung menyergap bayangan yang duduk di atas batu besar itu.

Dengan gerak naluriah Agung Sedayupun meloncat mendekat. Ia ingin mengetahui apakah yang akan terjadi.

Ketika dua orang yang menyergap itu mengacukan senjatanya, maka orang yang duduk di atas batu itu seolah-olah tidak menghiraukannya. Ia berpaling sejenak kepada keduanya. Namun kemudian terdengar orang itu bertanya, ”Kenapa kalian gugup melihat kedatanganku.”

Agung Sedayu terkejut mendengar suaranya. Ia langsung dapat mengenalnya, siapakah orang yang duduk di atas batu tanpa gelisah sedikitpun juga meskipun ujung-ujung senjata mengarah ke dadanya.

“Siapa kau?” bertanya kedua orang bersenjata itu.

“Aku Rudita,” jawab orang yang duduk di atas batu itu. Kedua orang yang ternyata adalah para pengawal itu masih belum mengenal Rudita. Karena itu, maka yang seorang segera menekankan senjatanya sambil menggeram, ”Sebut, siapakah kau sebenarnya.”

“Rudita. Namaku Rudita.”

“Ya. Tetapi kau dari mana? Apakah kau pengikut Ki Tumenggung Wanakerti, atau pengikut Ki Gede Telengan atau siapa ?”

“Aku tidak kenal mereka.”

Para pengawal itu menjadi semakin curiga. Sikap Rudita membuat keduanya bertambah berhati-hati. sehingga senjata mereka telah benar-benar melekat di tubuh Rudita. Setiap gerakan yang kecil sekalipun, sudah cukup untuk menghunjamkan senjata itu di dadanya.

Rudita masih tetap berdiam diri. Sikapnya memang dapat menumbuhkan salah paham. Ketenangannya seolah-olah menunjukkan keyakinannya pada kemampuan diri sebagai seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

“Ki Sanak,” berkata Rudita kemudian, ”kenapa kalian begitu curiga kepadaku? Kenapa kalian tidak menyarungkan senjatamu, kemudian kita berbicara sebaik-baiknya.”

“Persetan. Katakan, dari manakah kau datang, atau aku akan menyobek dadamu dengan ujung pedang.”

Rudita menarik nafas dalam dalam. Katanya, ”Sudah begini parahkah kecurigaan seseorang kepada sesama? Aku tidak bersenjata dan aku sama sekali tidak akan dapat berbuat apa-apa atas kalian.”

“Kau sedang mengelabuhi kami. Kau tentu seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, yang akan dapat mempermainkan kami berdua jika kami tidak bersiap menghadapimu.”

Rudita memandang keduanya berganti-ganti. Tetapi sama sekali tidak membayangkan kecemasan di wajahnya meski ujung senjata lawannya telah terasa di kulitnya.

Tetapi justru sikapnya itulah yang membuat kedua pengawal itu menjadi semakin curiga.

Agung Sedayu yang menyaksikannya menjadi cemas. Jika salah paham itu menjadi berkepanjangan, maka mungkin akan dapat menimbulkan kesulitan bagi Rudita, meskipun ia pasti bahwa Rudita tidak akan melawan, apapun yang akan dilakukan atasnya.

Karena itu. maka Agung Sedayupun kemudian melangkah dari lindungan pepohonan mendekati ketiga orang itu.

Para pengawal yang mendengar langkahnya terkejut. Salah seorang dari mereka segera meloncat surut dan bersiap menghadapi segala kemungkinan, sedangkan yang lain masih tetap mengacukan senjatanya kepada Rudita.

Tetapi para pengawal itu menarik nafas panjang ketika mereka mendengar Agung Sedayu menyabut dirinya, ”Jangan terkejut. Aku Agung Sedayu.”

“Agung Sedayu,” Rudita mengulangi. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya karena ujung senjata pengawal itu masih melekat di tubuhnya.

“Lepaskan ia,” berkata Agung Sedayu, “ia adalah putra Ki Waskita.”

“O,” para pengawal itu terkejut. Namun merekapun kemudian melangkah surut sambil menyarungkan senjatanya. Dengan suara tertahan salah seorang dari mereka berkata, ”Pantas. Ia memiliki ketenangan seperti ayahnya.”

Rudita tersenyum. Jawabnya, ”Aku sama sekali tidak memiliki sesuatu seperti yang dimiliki oleh Ayah. Aku bukan seorang yang mengagumkan seperti Agung Sedayu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam. Tetapi ia tidak menanggapi kata-kata Rudita itu. Sambil melangkah mendekat bahkan ia bertanya, ”Kau tahu bahwa kami berada di lembah ini ?”

Rudita mengangguk. Jawabnya, ”Ayah singgah ke rumah sebentar ketika ia berada di Tanah Perdikan Menoreh. Bukankah ia datang bersamamu?”

Agung Sedayu heran mendengar pertanyaan itu. Justru karena itu sejenak ia termangu-mangu.

Namun kemudian ia bertanya, “Jadi. kenapa kau datang kemari jika kau tidak ingin menjumpai Ki Waskita?”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia memandang kedua pengawal yang masih berdiri dengan penuh kebimbangan.

“Aku datang untuk melihat, betapa manusia merupakan mahluk yang paling berbahaya bagi sesamanya. Di sini aku dapat melihat tabiat dari mahluk yang tertinggi di antara segala titah itu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia sudah menduga bahwa Rudita akan mengatakannya. Meskipun demikian hatinya masih juga berdesir mendengarnya.

Dalam pada itu kedua pengawal yang mendengar kata-kata itupun terkejut pula. Tetapi mereka masih belum menangkap makna kata-kata Rudita itu.

Dalam keragu-raguan itu, maka Agung Sedayupun kemudian berkata kepada kedua penjaga itu, “Kembalilah ke tempat peristirahatan orang-orang tua itu. Katakan kepada Ki Waskita, bahwa putranya berada di sini. Sebentar lagi ia akan datang menghadap.”

“Apakah ada gunanya?“ justru Ruditalah yang bertanya.

Agung Sedayu seolah-olah tidak mendengar pertanyaan itu. Ia berkata selanjutnya kepada para pengawal, “Pergilah sekarang.”

Kedua pengawal itu tidak mengerti persoalan apakah yang sebenarnya yang dihadapinya dengan kedua anak-anak muda itu. Tetapi mereka tidak membantah.

Sepeninggal kedua orang itu Agung Sedayu berkata, “Jalan pikiranmu yang agak berbeda dengan cara berpikir mereka, akan dapat menimbulkan ketegangan jiwa.”

“Tidak hanya dengan mereka. Jalan pikirankupun berbeda dengan jalan pikiranmu,“ sahut Rudita.

“Tetapi aku dapat mengerti alasan-alasan dari tingkah lakumu. Bahkan sikapmu telah membuat aku menjadi semakin bimbang menghadapi kenyataan-kenyataan di sekitarku. Terhadap diri sendiri dan terhadap segala keputusan yang aku ambil, aku adalah seorang yang selalu ragu-ragu, cemas dan takut. Aku sadar sepenuhnya akan hal itu. Sementara itu kehadiran sikapmu membuat aku semakin bimbang.”

Rudita termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Bukan maksudku Agung Sedayu,”

“Kita berdiri pada alas yang hampir sama di masa kanak-kanak. Manja, penakut, dan tidak tahu bagaimana berbuat bagi diri sendiri. Tetapi perkembangan yang terjadi kemudianlah yang berbeda. Kau telah menemukan dirimu yang sebenarnya dengan sepenuh keyakinan. Tetapi aku tidak.”

“Kau adalah seorang pahlawan menurut ukuran orang-orang yang mendambakan olah kanuragan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak seorangpun yang akan menyebut aku sebagai pahlawan. Aku telah berdiri diantara dua sikap yang berlawanan. Satu kakiku ada di sebuah biduk, sedang yang satu lagi ada di dalam biduk yang lain. Dengan demikian aku tidak akan pernah melakukan sesuatu dengan baik apalagi sempurna menurut penilaian pihak yang manapun juga.”

Rudita tersenyum. Ia melangkah beberapa langkah. Kemudian duduk di sebelah gundukan tanah yang masih basah.

“Di sini beberapa orang telah dikuburkan. Mereka telah mati terbunuh di medan ini. Mungkin tidak seorangpun yang akan mengharap kedatangannya. sehingga kematiannya tidak menumbuhkan kepedihan bagi orang lain. Tetapi ada di antaranya yang telah menyiksa seseorang di sepanjang hidupnya. Mungkin seorang ibu sedang menunggu anak laki-lakinya yang sedang tumbuh dewasa. Mungkin kekasihnya. Tetapi anak muda itu mati disini. Mungkin pula seorang istri yang mendukung bayinya menangis meratapi kepergian suaminya. Tetapi suaminya tidak akan pernah kembali.”

“Cukup,“ tiba-tiba Agung Sedayu memotong. Hatinya benar-benar bagaikan tergores tajamnya pedang.

Sesaat Rudita memandanginya. Lalu Katanya, “Tetapi itu merupakan tugas seorang prajurit, atau seseorang yang bertugas seperti seorang prajurit.”

“Mereka tidak sekedar bertugas untuk membunuh, Rudita,“ bantah Agung Sedayu, “tetapi ada sesuatu yang melatar belakangi sikap itu. Barangkali sudah pernah aku katakan bahwa dengan membunuh seseorang akan dapat berarti menyelamatkan sepuluh orang.”

“Ya. Kau pernah mengatakannya. Tetapi aku masih tetap bersikap sama Agung Sedayu. Kau benar-benar sudah dicengkam oleh prasangka dan curiga.”

“Tidak. Bukan prasangka dan curiga. Tetapi aku mendasarkan sikap itu pada pengalaman hidupku yang penuh kemunafikan ini. Aku tidak dapat ingkar bahwa dalam sikap yang tanpa berprasangka justru kitalah yang akan terjebak dalam kesulitan.”

Tetapi ternyata Rudita justru tersenyum. Katanya, “Kuasa kegelapanlah yang telah mengaburkan penglihatanmu Agung Sedayu, kau tidak akan pernah mempunyai pengalaman yang cukup untuk menilai jiwa seseorang. Setiap orang mempunyai sudut pandangan dan sikap yang berbeda. Bahkan pada yang seorang itupun sikap jiwanya mungkin akan berkembang. Seorang yang kau anggap akan membahayakan jiwa sepuluh orang, pada suatu saat mungkin justru akan menyelamatkan jiwamu sendiri.”

“Tidak. Tidak,“ potong Agung Sedayu, “kau tidak pernah melihat segi-segi kehidupan yang penuh dengan persoalan ini. Kau mencoba melihat dunia hanya dari satu segi.”

Rudita menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Kasih adalah rangkuman segenap segi kehidupan. Tetapi aku tidak mengatakan, bahwa akulah yang sudah atau pernah mendasarkan hidupku seutuhnya pada kasih. Tidak. Aku juga tidak seperti kau dan orang-orang lain yang saling berbunuhan. Tetapi aku sedang berusaha dengan keyakinan yang bulat, bahwa aku akan mencobanya. Tetapi di langkah pertama akupun sudah menjadi munafik. Aku dengan penuh curiga mempelajari bagian dari ilmu yang tertulis di kitab Ayah itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah merasa tersiksa jika ia mengenang apa yang telah dilakukannya di peperangan itu. Dan kini Rudita justru datang membawa cermin dari sikap dan hidupnya yang penuh dengan cacat dan noda.

Betapa pedihnya melihat segala macam cacat dan noda yang melekat di dalam hidupnya.

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat ingkar lagi. Betapapun pahitnya ia harus melihat di dalam cermin yang dihadapkan Rudita kepadanya.

Beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Rudita seakan-akan masih saja merenungi kuburan yang memanjang dan mayat-mayat yang masih belum dikuburkan. Seperti yang dikatakannya, ia ingin melihat dengan tuntas tabiat manusia yang merupakan makhluk tertinggi dari segala titah. Tetapi juga makhluk yang paling berbahaya bagi sesamanya.

Betapa sakitnya hati anak muda itu. Bukan karena menyesali dirinya seperti Agung Sedayu. Tetapi ia melihat, bahwa betapa masih jauhnya, bahkan hampir-hampir merupakan mimpi yang tidak dapat dijamah setelah terbangun dari tidur yang pulas, untuk dapat mencapai kedamaian yang sejati di antara sesama.

Sementara itu Agung Sedayupun masih tenggelam dalam penyesalan. Tetapi ia masih tetap seorang yang tidak berani mengambil sikap untuk menghadapi arus di dalam kehidupan di dunia ini.

Ternyata keduanya telah tenggelam dalam arus angan-angannya masing-masing, sehingga mereka tidak menyadari, berapa lamanya mereka merenung sambil berdiam diri.

Keduanya tersadar ketika mereka mendengar langkah mendekat. Ketika mereka berpaling. maka mereka melihat Ki Waskita sudah berada beberapa langkah di belakang mereka.

“Rudita,” sapa ayahnya.

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada datar. “Aku sudah melihat, Ayah.”

“Aku mengerti, apakah yang kau maksud. Tetapi ini adalah kenyataan hidup yang harus aku hadapi. Aku tidak dapat lari dan menghindar. Karena aku masih ingin mempertahankan peradaban yang sudah berpuluh dan bahkan beratus tahun dibina oleh manusia.”

“Tetapi di dalam pengenalanku, sepanjang sejarah kehidupan manusia yang mengaku peradabannya semakin tinggi, maka peperangan justru menjadi semakin dahsyat. Korban semakin banyak jatuh dan nyawapun menjadi semakin tidak berharga,“ gumam Rudita.

 

 

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengerti Rudita. Tetapi aku tidak tahu bahwa ada cara lain yang dapat aku tempuh untuk mencegah kejahatan yang semakin berkembang.”

“Pendekatan yang akrab dan saling mengerti. Itu adalah ujud dari sikap yang sebenarnya akan membawa penyelesaian.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Tetapi Katanya, “Kau benar. Tetapi akupun tidak tahu, apa yang sebaiknya aku lakukan, jika aku datang dengan satu keinginan untuk mengadakan pendekatan hati dan mencoba untuk saling mengerti, tetapi tiba-tiba saja di leherku sudah dikalungkan jerat untuk mencekikku.”

Rudita berdesah, “Ah, seperti Agung Sedayu, Ayah selalu dihinggapi kecurigaan. Apakah Ayah pernah mencobanya?”

“Apa yang harus aku coba Rudita? Orang-orang yang berkumpul di lembah ini adalah mereka yang telah mencuri pusaka-pusaka dari Mataram. Mereka di sini sedang mengadakan pembicaraan untuk melakukan pembunuhan besar-besaran di Pajang dan di Mataram.”

“Ayah belum pernah mencoba datang kepada mereka dengan sikap damai yang sebenarnya. Ketika pusaka-pusaka itu hilang dari Mataram, orang-orang Mataram telah melakukan pengejaran seperti orang berburu babi liar di hutan. Sudah tentu mereka akan menjadi semakin jauh dan bahkan memberikan perlawanan.”

“Jadi, apa yang harus dilakukan?”

“Menjelaskan kepada mereka. Sebaiknya Raden Sutawijaya datang dengan sikap damai, tanpa senjata dan tanpa prasangka. Memberitahu kepada mereka, bahwa pusaka-pusaka itu masih diperlukan di Mataram. Tetapi yang terpenting bukan pusaka-pusaka itu. Adalah karena suatu maksud yang lebih dalam maka pusaka-pusaka itu telah diambil dari Mataram. Nah, Raden Sutawijaya harus membicarakan bukan saja pusaka-pusaka itu sendiri, tetapi juga kemungkinan-kemungkinan yang dapat diberikan kepada orang-orang yang telah mengambilnya.”

“Mereka akan menolak. Dan mungkin Raden Sutawijaya akan mereka tangkap dan mereka bunuh, karena Raden Sutawijaya adalah seseorang yang dianggap merintangi berdirinya kembali Kerajaan Majapahit.”

“Sebelumnya Raden Sutawijaya harus membuktikan bahwa ia tidak ingin melakukan kekerasan. Tentu ia tidak akan dibunuh. Prasangkalah yang telah menjauhkan manusia yang satu dengan yang lain.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat mengatasi jalan pikiran anaknya. Tapi iapun tidak akan dapat menerimanya sebagai suatu sikap hidup.

Meskipun demikian Ki Waskita berkata, “Baiklah Rudita. Aku akan memikirkannya. Marilah, kita pergi ke tempat sanak kita beristirahat setelah kelelahan.”

Tetapi Rudita menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak Ayah. Aku sadar, bahwa aku tentu akan mengganggu mereka. Biarlah mereka menikmati kemenangan mereka dengan kebanggaan seorang pahlawan. Aku sudah puas jika Agung Sedayu dan Ayah mendengar sikapku. Aku berterima kasih jika Agung Sedayu dan Ayah dapat menyampaikannya kepada siapapun juga yang mau mendengarnya, setelah mereka puas mengagumi diri sendiri sebagai pehlawan-pahlawan perang.”

“Jadi apakah maksudmu sebenarnya datang kemari?“ bertanya Ki Waskita, “jika kau tidak ingin berada di antara kami, maka sebenarnya lebih baik bagimu untuk mengawani ibumu di rumah. Kepergianmu tentu akan menggelisahkannya.”

“Aku sudah minta ijin kepada Ibu. Dan Ibu telah mengijinkannya asal aku segera kembali. Dan akupun akan segera kembali setelah aku melihat apa yang aku cemaskan itu telah terjadi.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah tidak akan dapat merubah sikap jiwani dari anak laki-lakinya yang hanya seorang itu, meskipun di dalam relung hatinya yang tersembunyi, Ki Waskitapun melihat kebenaran, meskipun tidak utuh.

“Betapa sulitnya orang berpijak pada keyakinan,“ berkata Ki Waskita kepada dirinya sendiri.

“Ayah,” berkata Rudita kemudian, “silahkan Ayah dan Agung Sedayu untuk beristirahat. Biarlah aku berada di tempat yang aku pilih. Aku memang ingin tinggal untuk beberapa saat lagi di sini. Tetapi tidak di antara kalian.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun justru Ki Waskitalah yang mengajak Agung Sedayu, “Marilah. Kita kembali. Biarlah pengawal itu kembali kepada tugasnya.”

“Pengawal yang mana?“ bertanya Agung Sedayu.

“Aku mengetahui kehadiran Rudita dari seorang pengawal.”

“O,“ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu meninggalkan Rudita.

“Tinggalkan aku seorang diri Agung Sedayu,“ berkata Rudita kemudian.

“Kau akan merenungi mayat-mayat itu?“ berkata Agung Sedayu, “dan kau akan berusaha memeras segala bibit belas kasihan di dalam hatimu untuk mendapatkan keterharuan yang paling dalam?”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Apakah itu perlu dilakukan? Agung Sedayu, yang paling mengharukan bukannya mayat-mayat yang berserakan atau anak istrinya yang menunggu di rumah. Tetapi yang harus diratapi adalah sikap manusia yang meningkatkan peradabannya dengan tingkah lakunya yang sulit dimengerti ini.”

Terasa sesuatu bergetar di dalam dada Agung Sedayu. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan kepalanya telah tertunduk dalam-dalam, seolah-olah ia sedang merenungi dirinya sendiri.

Tetapi Agung Sedayu itu terhenyak ketika Ki Waskita menggamitnya sambil berkata, “Marilah Agung Sedayu.”

Agung Sedayu masih termangu-mangu.

“Rudita,“ berkata ayahnya, “sebenarnya aku ingin kau singgah di tempat peristirahatan kami sebentar. Kau akan bertemu dengan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar yang terluka sangat parah, pamanmu Ki Argapati, Ki Juru Martani dan anak-anak muda seperti Raden Sutawijaya, Swandaru dan Prastawa.”

“Terima kasih Ayah. Biarlah aku berada disini. Jika aku menganggap perlu aku akan singgah. Jika tidak, aku akan segera kembali agar Ibu tidak terlalu gelisah.”

Ki Waskita hanya dapat menggeleng-geleng kecil. Namun katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan meneruskan istirahatku.”

Rudita hanya memandang saja ketika ayahnya dan Agung Sedayu meninggalkannya dengan ragu-ragu. Ia berdiri tegak diatas kuburan yang memanjang sampai kedua orang itu hilang di dalam bayangan kegelapan.

Sepeninggal Ki Waskita dan Agung Sedayu, Rudita untuk beberapa saat masih merenungi keadaan. Di tempat itu ia ingin melihat, betapa manusia dicengkam oleh kedengkian, ketamakan dan harga diri. Rudita tidak ingkar, bahwa keinginan untuk mempertahankan diri adalah juga sifat manusiawi. Tidak ada kehidupan yang tanpa berusaha mengelakkan diri dari kematian.

Namun yang dilakukan manusia kemudian bukannya sekedar mempertahankan hidupnya. Tetapi manusia dengan tamak ingin memanjakan hidup dan kecenderungan untuk menguasai lingkungannya.

Dalam pada itu. Ki Waskita dan Agung Sedayupun telah sampai di tempat peristirahatan mereka. Dengan heran Kiai Gringsing bertanya, “Dimana Rudita?”

Ki Waskita menggeleng. Jawabnya, “Ia tidak bersedia singgah di tempat ini. Ia sekedar lewat dan merenungi peristiwa yang terjadi di lembah ini menurut sudut pandangannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Swandaru bergumam, “Hidupnya mengambang di alam mimpi. Ia sama sekali tidak berani melihat kenyataan bahwa dunia ini berisi segala macam warna. Tidak semuanya putih dan tidak semuanya kuning,“ ia berhenti sejenak, lalu, “sebaiknya Kakang Agung Sedayu tidak banyak berbincang dengan Rudita.”

“Kenapa?“ bertanya Kiai Gringsing.

“Pada Kakang Agung Sedayu terdapat sifat-sifat yang hampir sama. Hanya kadarnya sajalah yang berbeda. Karena itu jika ia terlalu sering bertemu dan berbincang dengan anak itu, maka iapun akan segera menjadi kehilangan gairah hidupnya dan kehilangan kenyataan hidup yang memang sudah kabur.”

“Ah,“ desah Kiai Gringsing, “kau terlalu berprasangka.”

“Tidak Guru. Aku berkata sebenarnya atas penglihatanku pada Kakang Agung Sedayu.”

Kiai Gringsing masih akan menjawab. Tetapi Agung Sedayu telah mendahului, “Swandaru benar Guru. Aku tidak perlu ingkar akan sifat-sifatku yang bimbang dan ragu-ragu. Mungkin benar, bahwa pada dasarnya aku mempunyai sifat-sifat yang sama dengan Rudita. Tetapi Rudita jauh lebih berani untuk mengambil sikap dari aku yang pengecut.”

“Sudahlah,“ berkata Kiai Gringsing, “bukan saatnya untuk membicarakan pandangan hidup dan sikap jiwani di dalam keadaan seperti sekarang ini. Duduklah Agung Sedayu, beristirahatlah secukupnya. Sebentar lagi langit akan menjadi merah. Dan kita semua akan segera terlibat lagi dalam kerja, menyelesaikan mayat yang terbujur lintang dan masih belum sempat dimakamkan. Sementara kita masih harus memelihara agar yang terluka agak menjadi berkurang penderitaannya.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Iapun kemudian duduk di sebelah Ki Juru Martani yang nampaknya sedang merenungi keadaan.

Raden Sutawijaya tidak berbicara sepatah katapun. Agaknya ia sedang memikirkan sikap kedua murid Kiai Gringsing yang berbeda itu. Namun iapun sedang melihat kepada dirinya sendiri. Apakah ia condong kepada sikap Agung Sedayu atau sikap Swandaru.

Tetapi akhirnya Raden Sutawijaya menggeleng lemah sambil berkata di dalam hati, “Bukan saatnya untuk memikirkan pandangan hidup dan sikap jiwani di dalam keadaan seperti ini.”

Namun dalam pada itu, ternyata Sekar Mirahpun telah menangkap percakapan itu. Ia merasa semakin kecewa atas sikap Agung Sedayu. Jika semula ia merasa bangga mendengar, bahwa Agung Sedayulah yang telah berhasil membunuh Ki Gede Telengan, Ki Tumenggung Wanakerti, dan melukai orang-orang penting lainnya, namun pada saat ia mendengar pembicaraan itu. maka kebanggaannya itu mulai mengabur.

Meskipun demikian. Sekar Mirah masih tetap ingin melihat Agung Sedayu mempunyai kelebihan dari anak-anak muda yang lain. Tidak merajuk dan penuh kebimbangan.

Namun percakapan itupun telah terhenti. Agung Sedayu kemudian bersandar sebatang pohon sambil memandang langit yang menjadi kemerah-merahan di sela-sela dedaunan.

Dalam pada itu, lembah itu rasa-rasanya telah menjadi senyap. Sebagian terbesar dari para pengawal masih tertidur nyenyak. Hanya mereka yang bertugas sajalah yang masih berjaga-jaga dengan senjata tetap di tangan.

Untuk mengatasi kantuknya, mereka berjalan hilir mudik di sela-sela pepohonan. Atau saling berbincang tentang pertempuran yang baru saja terjadi.

Salah seorang dari mereka berkata, “Agung Sedayu adalah orang yang aneh.”

Kawannya mengangguk. Jawabnya, “Sifatnya tidak dapat dimengerti. Sebenarnya ia adalah orang yang luar biasa. Ia telah berhasil membunuh beberapa orang terpenting.”

“Ya. Dan saudara seperguruannya membunuh pula seorang.”

“Itupun karena ia sudah tidak berdaya.“

Kawannya tidak menjawab. Tetapi sebagian terbesar dari para pengawal memang mengetahui, bahwa Kiai Kelasa Sawit sudah tidak berdaya pada saat ia bertemu dengan Swandaru. Adalah karena nasib yang buruk telah membawa Kiai Kelasa Sawit kepada anak muda dari Sangkal Putung itu, setelah Agung Sedayu tidak berhasil mengatasi kesulitan batin untuk membunuhnya.

Namun dalam pada itu, para pengawal Sangkal Putung mempunyai sikap yang berbeda. Mereka merasa bangga bahwa Swandarulah yang telah membunuh Kiai Kelasa Sawit.

“Ternyata Swandaru telah mencapai tataran yang sangat tinggi di dalam olah kanuragan. Ia telah berhasil membunuh Kiai Kelasa Sawit. Padahal Ki Sumangkar hampir saja dibinasakan olehnya jika tidak ditolong oleh Agung Sedayu.”

“Tetapi Ki Sumangkar masih diganggu oleh luka-lukanya yang terdahulu,” sahut yang lain.

“Ya. Meskipun demikian dapat dipakai sebagai bahan imbangan. Betapa tingginya ilmu Kiai Kelasa Sawit.”

Kawannya tidak membantah. Kebanggaan itu memang hinggap di setiap hati para pengawal di Sangkal Putung dan di hati Swandaru sendiri.

Karena itulah, maka ketika Prastawa kemudian bergeser di samping Swandaru, mereka berdua itupun mulai saling berbisik tentang kematian Kiai Kelasa Sawit.

Kiai Gringsinglah yang menjadi gelisah melihat sikap Swandaru. Ia seolah-olah tidak mau mengerti apa yang telah terjadi. Swandaru telah memperkecil arti keberhasilan Agung Sedayu. Agaknya ia menganggap bahwa Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti adalah orang-orang yang tidak banyak berarti.

“Tidak seorangpun yang pernah menjajagi ilmunya,“ berkata Swandaru, “mungkin ia tidak lebih dari seorang pemimpin kelompok dari Sangkal Putung.”

“Ki Gede Menoreh tidak dapat mengalahkan Ki Tumenggung,“ sahut Prastawa.

“Tetapi kaki Ki Gede sudah cacat. Itulah sebabnya,“ jawab Swandaru.

Prastawa mengangguk angguk.

Kiai Gringsing meskipun tidak mendengar pembicaraan itu dengan jelas, namun ketajaman perasaannya, seolah-olah telah berhasil menangkap kata demi kata.

Sebenarnya ia tidak berkeberatan seandainya Swandaru sekedar menganggap bahwa Agung Sedayu tidak memiliki kelebihan apapun dari padanya. Tetapi yang mencemaskan adalah, bahwa pada suatu saat telah terjadi ledakan keinginan untuk menjajagi seperti yang pernah terjadi atas Raden Sutawijaya.

“Mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi,“ berkata Kiai Gringsing, “jika aku ada. aku akan mencegahnya dengan pengaruhku sebagai seorang Guru. Tetapi jika pada saat mereka terpisah dari aku?”

Terasa kegelisahan itu bagaikan meronta di dadanya.

Dalam pada itu, Rudita yang tidak mau singgah di tempat peristirahatan para pemimpin dari Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh itupun telah berjalan menyusuri lembah. Ia sadar, bahwa kematian yang mengerikan telah membuat udara lembah itu menjadi pengab. Dengan hati yang pedih, ia melangkah menjauhi tempat itu meskipun ia tidak segera kembali. Dengan kepedihannya itu iapun kemudian memanjat tebing semakin tinggi dan kemudian duduk di atas sebuah batu padas merenungi lembah yang berbau kematian itu.

Dalam penglihatan batinnya ia melihat ayahnya, Agung Sedayu, Kiai Gringsing, Ki Juru dan para pemimpin yangi lain telah mengamuk membunuh sesama tanpa pertimbangan apapun juga, seperti mereka sedang menebas batang ilalang liar yang tumbuh di halaman rumahnya.

Sementara itu, ternyata Ki Juru Martani telah mendapat beban perasaannya sendiri. Seperti Kiai Gringsing, iapun digelisahkan oleh sifat-sifat Swandaru dan Agung Sedayu. Namun ia telah menghubungkannya dengan lingkungan yang lebih luas. Sikap kedua saudara seperguruan itu dapat tumbuh dimanapun juga. Seperti yang pernah terjadi, bahkan beberapa kali. Perantau-perantau yang berdiri di jalan simpang, kadang-kadang telah saling bertengkar untuk memilih jalan.

Dan yang masih nampak di pelupuk matanya adalah peristiwa yang baru saja terjadi. Pajang telah merobek-robek dirinya sendiri. Prajurit dan para senapatinya telah memilih jalan yang terpisah-pisah. Namun yang kemudian telah membenturkan mereka sebagai lawan yang harus saling membunuh yang satu dengan yang lain.

Bahkan yang kemudian nampak telah menjalar ke saat-saat yang mendatang. Mungkin Pajang akan mengalami masa-masa yang lebih parah. Jika sebagian dari para pemimpin perajurit Pajang masih saja dicengkam oleh ketamakan dan pamrih pribadi, maka Pajang tentu akan terjerumus ke dalam keadaan yang tidak akan tertolong lagi.

“Sultan Hadiwijaya harus berbuat sesuatu,“ berkata Ki Juru kepada diri sendiri. Dan sekali lagi penyesalannya atas sikap Raden Sutawijaya melonjak di dalam hati.

Tetapi agaknya Raden Sutawijaya sudah benar-benar berkeras hati untuk tidak mau datang ke Pajang. Sumpahnya telah membuatnya bagaikan membeku. Mataram harus menjadi sebuah negeri yang ramai. Baru ia akan datang ke Pajang dan berkata lantang kepada beberapa orang senapati. “Aku mampu membuat hutan belantara itu menjadi sebuah negeri seperti yang aku katakan.”

Namun, Ki Juru ingin membawa beban itu sendiri betapapun beratnya. Ia tidak mau menambah persoalan di hati Raden Sutawijaya yang masih muda itu.

Ketika kemudian matahari terbit, maka para pengawal segera bangkit meskipun terasa tubuh mereka masih sangat lelah. Berebutan mereka mencuci muka di belik yang terdapat di lembah itu. Kemudian merekapun mulai dengan kerja mereka yang masih belum selesai, sementara yang lain mulai menyalakan api untuk merebus air dan menanak nasi.

Dalam pada itu, maka para tawananpun dikerahkan pula untuk membantu para pengawal menyelesaikan penguburan mayat yang masih tersisa.

Namun pekerjaan itu tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Para pengawal masih harus memilih dan memisahkan para pengikut orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit dan para pengawal dari Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.

Raden Sutawijaya yang menunggui penguburan itu setiap kali menarik nafas dalam-dalam Ternyata pengorbanan yang diberikan oleh Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh terlampau besar. Beberapa orang pengawal telah terbunuh di peperangan itu, sementara yang lain terluka parah. Meskipun korban terbesar adalah pihak Mataram sendiri, namun korban yang diberikan oleh Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh seakan-akan merupakan hutang yang sulit untuk dapat dikembalikan.

Ternyata para pemimpin dari Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh itupun telah menyaksikan akhir dari peperangan di lembah itu dengan sikapnya masing-masing. Di antara mereka yang menyesali peristiwa itu, kecewa dan kecemasan menjelang masa depan Pajang dan Mataram, ada juga yang merasa dadanya penuh dengan gelora kebanggaan.

Swandaru yang berdiri di atas gundukan tanah yang merah bersama Prastawa memandang kesibukan para pengawal dan para tawanan dengan gejolak perasaan masing-masing. Bagaimanapun juga ada perasaan getir di hati Swandaru. Beberapa orang pengawal Kademangannya telah menjadi banten. Mereka bersama-sama dengan para pengawal yang lain berangkat dari Sangkal Putung dengan dada tengadah. Mereka berpacu di atas punggung kuda bersama kawan-kawannya. Namun mereka tidak akan kembali bersama-sama seperti saat berangkat. Apalagi mereka tidak akan pernah bertemu lagi dengan keluarga dan sanak kadang.

Agaknya berbeda dengan gelora perasaan Prastawa yang masih terlalu muda. Ia merasa bangga atas kehadirannya di peperangan mengemban tugas yang dibebankan oleh Ki Gede Menoreh kepadanya. Ia merasa berdiri di permulaan dari hari-hari yang akan dapat mengangkat namanya di antara para pengawal di Tanah Perdikan Menoreh.

“Jika pada kesempatan berikutnya aku dapat melakukan tugasku lebih baik, maka aku akan menjadi seorang kepercayaan Paman Argapati,” berkata Prastawa di dalam hatinya, “mudah-mudahan para pengawal yang menyaksikan sikap dan kemenangan-kemenanganku di peperangan akan menceritakan kepada kawan-kawan yang lain. Apalagi aku mempunyai kelebihan dari para pemimpin pengawal yang lain, karena aku adalah kemenakan Ki Gede Menoreh dan kemampuan ilmu yang lebih tinggi.”

Tetapi berbeda dengan gejolak perasaan Prastawa, Ki Gede Menoreh merasa menyesal bahwa ia tidak berpesan kepada Prastawa untuk tidak mempergunakan gelar-gelar yang berbahaya. Pada dasarnya gelar Glatik Neba atau Pacar Wutah tidak sesuai dengan dasar kemampuan sebagian dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, sehingga sebenarnya dapat dipilih cara lain untuk dapat mengurangi korban.

Namun semuanya sudah terjadi. Dan Ki Gede tidak dapat membebankan kesalahan seluruhnya kepada Prastawa yang masih muda itu.

Sementara itu, selagi para pengawal dan para tawanan sibuk menyelesaikan tugasnya, Rudita dengan hati yang luka melangkah meninggalkan lembah itu. Namun ia telah melihat betapa kelamnya dunia manusia yang sebenarnya.

Pengalaman itu agaknya telah mengukuhkan sikap Rudita pada keyakinannya. Manusia harus mendapatkan pegangan hidup yang lebih baik daripada berjuang untuk mendapatkan kepuasan dan pemenuhan kebutuhan duniawi semata-mata, sehingga rela mengorbankan sesamanya, dengan penuh kesadaran bahwa ia harus berbiduk menempuh arus banjir bandang yang deras sekali.

Dalam pada itu, maka pekerjaan para pengawal dan para tawannanpun berangsur menipis, sementara beberapa orang mulai mempersiapkan segala sesuatu yang harus mereka bawa kembali. Para pengawal Mataram dan Sangkal Putung akan menempuh perjalanan kembali ke Mataram, sementara para pengawal Tanah Perdikan Menoreh akan kembali ke Tanah Perdikan.

Dengan pedih, para pengawal telah memberikan tanda-tanda khusus bagi kawan-kawannya yang terpaksa mereka kuburkan di lembah itu. Mungkin pada suatu saat merska mendapat kesempatan untuk datang kembali bersama keluarga para korban. Karena betapapun juga, maka keluarga para korban tentu ingin sekali-sekali melihat, bujur lintang dari sanak kadangnya yang gugur di peperangan.

Beberapa orang dari mereka mencoba mengenali satu demi satu dengan isyarat tertentu.

Akhirnya pekerjaan para pengawal di lembah itupun dapat diselesaikan. Para pengawal dan para tawanan kemudian duduk beristirahat sambil menunggu saatnya mereka meninggalkan lembah itu.

Dalam pada itu, Ki Waskita dan Agung Sedayu telah membicarakan apakah mereka akan kembah ke Tanah Perdikan Menoreh, atau langsung bergabung dengan pasukan Mataram dan Sangkal Putung.

“Kita berangkat dari Tanah Perdikan Menoreh Ngger,“ berkata Ki Waskita, “karena itu kita akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Agung Sedayu memandang Ki Waskita sejenak. Namun Ki Waskitapun tertawa sambil meneruskan kata-Katanya, “Tetapi itu hanya akan menguntungkan bagiku. Aku memang akan minta diri untuk pulang kembali ke kampung halaman. Aku sudah terlalu lama pergi. Adapun Angger Agung Sedayu, terserahlah. Jika Angger Agung Sedayu ingin langsung bergabung dengan Kiai Gringsing dan kembali ke padepokan kecil itu, aku kira tidak ada salahnya.”

Sejenak Agung Sedayu berpikir. Namun tiba-tiba, katanya, “Agaknya akupun ingin mengantar para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Kita berangkat bersama-sama. Dan sekarang aku akan bersama mereka kembali, meskipun kemudian aku akan minta diri.”

“Bagus Ngger. Tetapi dengan demikian kau akan kembali seorang diri ke Sangkal Putung. Karena aku akan kembali ke padukuhanku dan melihat apakah Rudita sudah berada di rumah.”

“Silahkan Ki Waskita. Ki Waskita sudah terlalu lama meninggalkan keluarga yang tentu memerlukan kehadiran Ki Waskita pula.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan minta diri kepada semuanya. Dan jika Angger Agung Sedayu akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, maka sebaiknya Angger juga minta ijin lebih dahulu dari Kiai Gringsing.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Mudah-mudahan Guru tidak melarang.”

Keduanyapun kemudian menyampaikan maksudnya kepada para pemimpin dari Mataram dan Sangkal Putung, bahwa mereka akan berada di pasukan Tanah Perdikan Menoreh dan mengantarkan mereka kembali.

“Terima kasih,“ Ki Gede Menoreh menjadi gembira.

Tetapi Prastawa tiba-tiba saja menjadi gelisah, ia merasa tidak senang akan keputusan Agung Sedayu untuk pergi bersama pasukan Tanah Perdikan Menoreh, meskipun ia tahu bahwa Agung Sedayu tidak akan terlalu lama berada di Tanah Perdikan itu.

 

 

“Orang-orang Tanah Perdikan Menoreh akan lebih banyak memperhatikannya daripada memperhatikan aku, meskipun yang dilakukan sebenarnya tidak terlalu penting. Tetapi berita kematian Ki Gede Telengan, Ki Tumenggung Wanakerti dan luka parah yang ditimbulkannya atas beberapa orang akan membuatnya menjadi sangat berbangga, seolah-olah ia telah melakukan pekerjaan besar yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Tidak seorangpun yang dapat menjajagi ilmu yang sebenarnya dari Ki Gede Telengan. Mungkin ia hanya sekedar mampu bermain kelewang. Hanya karena ia mempunyai beberapa pengikut, maka seolah-olah ia adalah seorang pemimpin yang mempunyai ilmu yang tinggi.”

Tetapi Prastawa tidak berani mengatakan sesuatu kepada pamannya. Apalagi karena Ki Gede nampaknya gembira menyambut keinginan Agung Sedayu untuk datang ke Tanah Perdikan Menoreh.

Kiai Gringsinglah yang kemudian menjadi ragu-ragu. Sejenak dipandanginya Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya, seolah-olah ingin mendapatkan pertimbangan dari mereka.

Tetapi nampaknya keduanya menyerahkan persoalannya kepada Kiai Gringsing sendiri.

Sementara Kiai Gringsing masih tetap ragu-ragu. maka Ki Waskitapun melengkapi keterangannya dengan niatnya untuk bukan saja singgah di Tanah Perdikan Menoreh, tetapi ia minta diri untuk kembali ke kampung halaman.

“Aku tidak akan mengasingkan diri. Jika tenaga yang tidak berarti ini diperlukan, aku akan dengan senang hati dalang memenuhinya.” berkata Ki Waskita kemudian.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Teringat olehnya tanggapan Ki Waskita atas sikap Raden Sutawijaya. Agaknya Ki Waskita kurang sesuai dengan beberapa segi persoalan yang dihadapi Mataram meskipun tidak disebutkannya dengan jelas.

Namun sebagai seseorang yang memiliki penglihatan bagi masa datang, Ki Waskita melihat cahaya terang di atas bumi Mataram dan awan yang gelap di atas Pajang. Tetapi itu bukan berarti bahwa Raden Sutawijaya tidak dapat menempuh jalan yang baik sesuai dengan kedudukannya di hadapan Sultan Pajang, ia adalah seorang anak, seorang murid dan seorang prajurit. Seperti yang dikatakan oleh Ki Juru Martani, bahwa sikap Raden Sutawijaya untuk tidak mau datang ke Pajang, telah membuatnya berbuat tiga kesalahan sekaligus. Menentang orang tua, melawan gurunya dan tidak taat menjalankan perintah Panglima tertingginya.

Tetapi Ki Waskita tidak berhak untuk memaksa Raden Sutawijaya melakukannya. Bahkan nasehat Ki Juru Martanipun tidak mempengaruhi sikapnya hanya karena harga dirinya. Sebenarnyalah bahwa Raden Sutawijaya tidak ingin memutus Panglimanya. Tetapi ia akan membuktikan, bahwa ia tidak hanya sekedar membual tentang Alas Mentaok. Jika ayahnya sendiri. Ki Gede Pemanahan sanggup meninggalkan Istana dan membuka hutan yang lebat dan liar itu, maka Alas Mentaok memang harus menjadi sebuah negeri yang besar, sebesar Kota Raja Pajang.

Sejenak para pemimpin yarig berkumpul di lembah itu merenungi saat-saat perpisahan itu. Namun akhirnya mereka tidak dapat mencegah keinginan Ki Waskita untuk singgah ke Tanah Perdikan Menoreh dan kemudian pulang kembali ke kampung halamannya, karena itu adalah haknya.

Sedangkan merekapun tidak dapat melarang Agung Sedayu yang ingin mengantar kembali para pengawal ke Tanah Perdikan Menoreh, karena iapun telah berangkat bersama mereka menuju ke lembah itu.

“Kita akan berpisah,“ berkata Kiai Gringsing, “tetapi kau tidak akan terlalu lama meninggalkan Glagah Putih seorang diri di padepokan kecil itu.”

Kata-kata Kiai Gringsing dapat menyentuh hati Agung Sedayu. Terbayang wajah Glagah Putih yang bersih, yang gelisah menunggu kedatangannya. Meskipun di padepokan itu ada Widura, ayah Glagah Pulih sendiri, tetapi agaknya Widura tidak akan dapat bermain dengan Glagah Putih seperti Agung Sedayu. Sementara anak-anak muda yang berada di padepokan itupun tentu agak kurang gairah bekerja di sawah tanpa Agung Sedayu dan Kiai Gringsing.

“Tetapi kedatanganku di padepokan itu tanpa Ki Waskita,“ berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Namun kemudian, “Meskipun demikian itu akan lebih baik bagi Glagah Putih daripada tidak ada kawannya sama sekali.”

Ketika matahari turun semakin rendah, maka mereka yang berada di lembah itupun segera bersiap-siap meninggalkan bekas arena pertempuran yang mengerikan. Rasa-rasanya mereka tidak ingin untuk kembali ke neraka itu. Beberapa orang kawan harus mereka tinggalkan di dalam hutan yang tentu akan segera kembali menjadi hutan yang sepi senyap melampaui kuburan biasa di tepi-tepi padukuhan.

Tetapi mereka tidak akan dapat dengan cengeng menunggui kuburan yang sepi di hutan itu, karena kewajiban lain yang lebih besar sedang menunggu.

Demikianlah, ketika bayangan senja sudah mulai nampak di langit, maka pasukan yang ada di lembah itupun telah meninggalkan tempatnya kembali ke arah yang berlawanan. Pasukan Mataram dan Sangkal Putung menuju ke timur, sedangkan pasukan Tanah Perdikan Menoreh menuju ke barat.

Betapa berat hati Pandan Wangi. Rasa-rasanya ia masih ingin menangis melihat ayahnya berjalan ke arah yang lain. Tetapi ia bukan anak-anak lagi. Ia sekarang sudah menjadi seorang istri yang berada di dekat suaminya, sehingga ia tidak pantas lagi untuk menangis meronta karena ingin ikut ayah bepergian.

Sejenak kemudian, maka kedua pasukan itupun berjalan ke arah yang berlawanan. Pasukan Sangkal Putung di bawah pimpinan Swandaru berada di belakang pasukan Mataram yang dipimpin langsung oleh Raden Sutawijaya.

Dalam perjalanan, Swandaru tidak dapat melepaskan diri dari pertanyaan yang terasa menggelitik perasaannya tentang Agung Sedayu. Apakah secara kebetulan ia mendapat lawan yang hanya besar namanya saja seperti Ki Gede Telengan dan Tumenggung Wanakerti, atau memang Agung Sedayu benar-benar memiliki ilmu yang sangat tinggi.

“Mereka bukan orang-orang yang pantas dikagumi,“ berkata Swandaru di dalam hatinya, “Ki Gede Telengan bukan orang berilmu tinggi, sedang Ki Tumenggung Wanakerti sudah kehabisan tenaga melawan Ki Gede Menoreh ketika ia harus bertempur melawan Agung Sedayu. Demikian orang-orang lain yang dapat dikalahkan. Semuanya sudah harus bertempur lebih dahulu, sehingga sisa tenaga mereka tidak lagi mampu untuk melawan ilmu Agung Sedayu.”

“Ternyata Kakang Agung Sedayu tidak mampu membunuh Kiai Kelasa Sawit yang masih mempunyai sedikit tenaga untuk menghindar,“ berkata Swandaru di dalam hatinya.

Kebanggaan Swandaru karena ia telah berhasil membunuh Kiai Kelasa Sawit agaknya melampaui kekagumannya kepada Agung Sedayu yang sudah berhasil membunuh beberapa orang terpenting di antara lawan. Bahkan meskipun Swandaru sendiri tidak mengakui, ada semacam perasaan iri bahwa Agung Sedayu telah mendapat kesempatan-kesempatan yang dapat mengangkat namanya di antara beberapa orang yang dianggapnya tidak mengerti persoalan yang sesungguhnya.

“Mereka mengira bahwa ilmu Kakang Agung Sedayu sudah mencapai langit lapis tujuh,“ berkata Swandaru di dalam hatinya, “padahal semuanya itu terjadi karena kebetulan. Jika benar ia dapat membunuh Ki Tumenggung Wanakerti dalam keadaan wajar, maka ilmunya sudah menyamai Raden Sutawijaya dan juga Ki Gede Menoreh sendiri. Sementara semuanya itu terjadi karena kesalahan Ki Tumenggung Wanakerti. Ia sudah lelah saat ia harus bertempur melawan Raden Sutawijaya, kemudian kehilangan seluruh tenaganya dirampas oleh pertempurannya melawan Ki Gede Menoreh. Di saat ia kehabisan tenaga itulah, ia berhadapan dengan Kakang Agung Sedayu.”

Tetapi Swandaru tidak mengatakannya kepada Kiai Gringsing. Ia merasa bahwa gurunya tidak akan senang mendengar pertimbangan itu, karena Agung Sedayu adalah murid yang sangat dekat dengan gurunya itu.

Di perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh, Prastawa mempunyai dugaan serupa. Meskipun kadang-kadang ia ragu-ragu, bahwa Agung Sedayu mungkin memang mempunyai kelebihan dari dirinya sendiri dan saudara seperguruannya, Swandaru, namun ia condong untuk menganggap bahwa yang terjadi di peperangan adalah kebetulan.

“Nasibnya memang baik. Terjadi beberapa kali kebetulan, bahwa lawan-lawan Agung Sedayu adalah orang-orang yang memang sudah akan mati. Ia tinggal mendorong saja ke dalam lubang kuburnya masing-masing,“ berkata Prastawa di dalam hatinya.

Berbeda dengan kedua anak-anak muda itu, diam-diam Sekar Mirah mengagumi apa yang telah dilakukan oleh Agung Sedayu. Ia menganggap bahwa Agung Sedayu memang seorang laki-laki yang memiliki kelebihan dari anak-anak muda sebayanya. Namun Sekar Mirahpun masih juga kecewa, bahwa Agung Sedayu mempunyai penyakit cengeng. Setiap kali ia selalu dicengkam oleh keragu-raguannya untuk bertindak lebih jauh. Di medan perang itu ia telah kehilangan kesempatan untuk membunuh dua orang, yang adalah orang terpenting di medan perang yang sebenarnya bukan merupakan kepentingannya mutlak, ia hanya sekedar membantu saja. Tetapi jika benar ia telah membunuh pemimpin-pemimpin itu, maka ia telah berhasil berbuat jauh lebih baik dari Raden Sutawijaya sendiri.

Tanggapan yang berbeda-beda telah bergejolak di dada mereka yang telah mengenalnya. Ada yang mengaguminya. tetapi banyak pula yang menjadi kecewa. Justru di saat-saat yang menentukan Agung Sedayu bagaikan telah kehilangan pegangan.

Sementara itu, kedua pasukan yang berpisah itu berjalan semakin jauh. Matahari menjadi semakin rendah. Dan senjapun menjadi semakin suram.

Pasukan Mataram dan Sangkal Putung betapapun letihnya, namun mereka merasa bangga dengan pusaka-pusaka yang telah mereka dapatkan kembali. Dengan demikian, maka mereka tidak sia-sia setelah berjuang dan memberikan pengorbanan yang cukup besar.

Namun Raden Sutawijaya tidak dapat melupakan jasa pasukan pengawal dari Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh. Bantuan yang besar yang diberikan bukannya yang pertama kali. Beberapa kali Ki Argapati telah memberikan bantuan untuk perjuangan yang cukup besar.

Dengan kembalinya pusaka-pusaka terpenting itu, maka Raden Sutawijaya tidak lagi selalu dicengkam oleh kecemasan, jika setiap saat ayahandanya Sultan Pajang bertanya tentang pusaka-pusaka itu. Dengan demikian, maka tidak banyak orang yang mengetahui, bahwa kedua pusaka itu pernah hilang dari Mataram.

Mungkin ada beberapa orang perwira prajurit Pajang yang oleh jalur sikapnya berpihak kepada orang-orang yang berada di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, yang mengetahui bahwa pusaka-pusaka itu telah hilang dari Mataram. Tetapi mereka tidak akan berani mengatakannya karena mereka tidak mendapat keterangan resmi mengenai hal tersebut.

Namun demikian, nampaknya usaha orang-orang yang memusuhi Mataram tidak terhenti karena kegagalannya. Beberapa orang yang berhasil lolos dari pertempuran maut di lembah itu, dengan cepat berusaha untuk memberikan laporan kepada pemimpin mereka yang tersembunyi di antara prajurit-prajurit Pajang.

Ternyata bahwa merekapun telah bekerja dengan cepat. Mereka telah mengambil suatu cara baru untuk melakukan perjuangan lebih jauh tanpa orang-orang lain yang ternyata telah dihancurkan oleh Mataram di lembah yang tersembunyi itu.

Orang yang disebut Kakang Panji itupun merasa kehilangan banyak kawan dalam perjuangannya. Tetapi ia sama sekali tidak mau melangkah surut.

Tanpa menunggu saat-saat pasowanan, maka merekapun telah menyampaikan berita yang sangat mengganggu perasaan Sultan Hadiwijaya, justru saat kesehatan Sultan Hadiwijaya sangat mundur.

Kehadiran seorang perwira ke dalam biliknya pada saat yang khusus itu telah mengejutkan. Apalagi ketika perwira yang menjadi alat Kakang Panji itu menyampaikan berita yang menggoncangkan hati.

“Apakah kau sudah mendapat keterangan yang pasti?”

“Hamba, Tuanku. Meskipun masih perlu dicari kebenarannya. Tetapi jika Tuanku berkenan mengirimkan satu dua petugas sandi pada saat-saat sekarang ini, maka Tuanku akan mengetahui, bahwa Mataram benar-benar telah menyiapkan sepasukan prajurit yang kuat.”

Sultan Hadiwijaya sebenarnya tetap tidak percaya bahwa Mataram benar-benar ingin menyusun kekuatan untuk melawannya. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah senapati. Besok atau lusa aku akan memberikan perintah itu.”

“Ampun Tuanku. Jangan besok atau lusa. Sebaiknya Tuanku dapat memberikan perintah sekarang. Malam ini lebih baik. Selambat-lambatnya besok pagi, petugas itu harus sudah berada di Mataram.”

Sultan Hadiwijaya menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa sangat sedih mendengar laporan itu. Bukan saja jika laporan itu benar. Tetapi bahwa seorang senapati telah dengan bernafsu melaporkan kepadanya pada saat yang khusus itu, tentu bukannya tanpa maksud. Apalagi Sultan sebenarnya telah mempunyai dugaan bahwa ada beberapa orang yang tidak senang melihat perkembangan Mataram.

Namun dalam pada itu, Sultanpun ragu-ragu, bahwa memang mungkin sekali Mataram mempersiapkan diri dengan pasukan yang kuat. Tentu bukan maksudnya untuk melawan dirinya. Tetapi sejak Ki Gede Pemanahan meninggalkan Istana, telah membayang di dalam batinnya, tekad Ki Gede yang diteruskan oleh putranya Danang Sutawijaya untuk membangun sebuah negeri yang ramai. Negeri yang dipersiapkan bagi masa depan setelah pemerintahan Pajang ditinggalkannya.

Sultan Hadiwijayapun seolah-oleh telah melihat masa-masa yang tidak terlalu panjang lagi baginya. Ia sudah mulai sakit-sakitan dan kesehatannya justru semakin menurun. Usaha yang bermacam-macam sudah dilakukan. Namun seakan-akan garis batas itupun sudah banyak membayang di hadapan perjalanan hidupnya.

Dan sekarang, malam itu datang seorang senapati yang melaporkan bahwa Mataram telah siap dengan pasukan yang kuat.

Sultan tidak akan mengecewakan perwiranya. Dalam ketidak pastian, Sultan juga mempertimbangkan, bahwa mungkin maksud perwira itu justru baik.

Karena itu, kepada pengawal yang bertugas. Sultan memerintahkan memanggil beberapa orang senapati menghadap di dalam bilik pembaringannya, karena kesehatannya benar-benar terganggu.

Beberapa orang pemimpin pemerintahan dan senapatipun segera menghadap, termasuk perwira yang memberikan laporan tentang kegiatan yang meningkat di Mataram.

“Aku akan mengirimkan petugas sandi untuk membuktikan keadaan ini,“ berkata Sultan kepada para pemimpin yang menghadap.

Sebenarnya perwira yang memberikan laporan itu menjadi kecewa, bahwa Sultan telah memberikan perintah terbuka. Namun itu akan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Pada malam itu juga Sultan telah menentukan dua orang yang besok pagi-pagi harus pergi ke Mataram, dengan perintah, hari itu juga mereka harus sudah berada di Mataram dan melihat perkembangan keadaan.

“Besok pagi-pagi aku akan memberikan pesan. Karena itu, sebelum mereka berangkat, mereka berdua harus langsung datang menghadap aku,” perintah Sultan kemudian.

Para Senapati dan pemimpin pemerintahanpun kemudian mohon diri dengan kegelisahan di dalam hati.

Namun sebenarnyalah bahwa tindakan Sultan itu bukannya tanpa maksud. Ia sadar, bahwa Mataram tentu benar-benar telah mengadakan suatu kegiatan keprajuritan, meskipun ia tetap tidak merasa cemas sama sekali bahwa kegiatan itu ditujukan kepada Pajang.

Meskipun demikian, kesan yang akan timbul tentu kurang menyenangkan bagi para pemimpin Pajang.

Sepeninggal para senapati dan para pemimpin pemerintahan dari biliknya. Sultan Hadiwijaya yang sakit itupun kemudian memanggil seorang abdi yang paling dekat. Ia bukan seorang prajurit, bukan pula seorang yang mengerti tentang seluk beluk pemerintahan. Tetapi ia adalah seorang yang setia, yang mengerti perasaan momongannya.

Orang tua itupun menghadap dengan ragu-ragu. Beberapa kali ia mengusap matanya yang masih mengantuk, karena demikian ia terbangun, dengan tergesa-gesa ia menghadap ke dalam bilik Sultan Hadiwijaya.

“Mendekatlah Paman,“ desis Sultan Hadiwijaya yang duduk di bibir pembaringannya.

Abdi yang sudah tua itupun bergeser mendekat sambil menyembah. “Hamba, Tuanku,“ sahutnya, “hamba terkejut mendapat perintah untuk menghadap di malam begini. Apakah ada sesuatu yang penting Tuanku?”

“Kendil Wesi,” desis Sultan Hadiwijaya, “mendekatlah. Mendekatlah. Aku ingin berbicara perlahan-lahan sekali, sehingga tidak seorangpun akan dapat mendengar.”

Kendil Wesi yang tua itu menjadi semakin berdebar-debar. Selangkah ia bergeser maju, sehingga tangannya sudah menyentuh kain panjang Sultan Hadiwijaya.

“Dengarlah baik-baik Kendil Wesi. Apakah kau ingat Danang Sutawijaya?”

“O, ampun Tuanku. Hamba tidak akan melupakan momongan hamba itu. Meskipun Raden Sutawijaya pergi tanpa memberikan pesan apapun juga kepada hamba, meskipun Raden Sutawijaya seolah-olah telah melupakan hamba pula, tetapi hamba adalah pemomongnya pada masa kecilnya.”

Sultan Hadiwijaya mengangguk-angguk. Kemudian. Katanya, “Baiklah Kendil Wesi. Jika kau masih setia kepada momonganmu, apakah kau mau melakukan suatu tugas yang mungkin sangat berbahaya bagimu.”

“O, maksud Tuanku?”

“Kau tentu mengerti, dimanakah letak Mataram.”

“Mengerti tuanku. Hamba mengerti, meskipun hamba belum pernah pergi ke Mataram. Tetapi di masa muda hamba, hamba pernah bertualang di Alas Mentaok. Dari beberapa orang hamba pernah mendengar cerita tentang Mataram dan arahnya.”

“Kau akan aku perintahkan pergi ke Mataram.”

“O,“ orang tua itu mengerutkan keningnya.

“Kau akan berangkat malam ini.”

“Malam ini Tuanku?”

“Ya. Kau harus bertemu dengan momonganmu.“

Orang tua itu masih termangu-mangu.

“Kendil Wesi,“ berkata Sultan kemudian, “ada segolongan orang-orang Pajang yang tidak senang melihat perkembangan Mataram. Mereka berusaha menemukan kelemahan-kelemahan Sutawijaya yang dapat dipergunakan sebagai alasan untuk menyebut bahwa Sutawijaya akan memberontak.”

“O,” wajah Kendil Wesi menjadi tegang, “tetapi apakah memang demikian Tuanku?”

Sultan Hadiwijaya mengerutkan keningnya. Kemudian sambil menepuk bahu Kendil Wesi ia berkata, “Tentu tidak Kendil Wesi. Itulah sebabnya aku ingin memerintahkan kau pergi malam ini juga. Besok pagi-pagi aku akan memerintahkan dua orang petugas sandi untuk pergi ke Mataram. Mereka harus melihat, apakah di Mataram benar-benar telah disiapkan pasukan yang kuat, meskipun seandainya benar ada sepasukan yang kuat di Mataram, aku yakin, tentu tidak akan diarahkan kepadaku. Meskipun demikian, jika petugas sandi itu benar-benar melihat kegiatan pasukan yang kuat, maka laporannya dihadapan para senapati dan terlebih-lebih lagi dalam pasowanan, yang dihadiri para Adipati, akan dapat memberikan kesan yang semakin buruk tentang Mataram. Dalam keadaan yang demikian, aku akan mengalami kesulitan untuk mencegah para pemimpin keprajuritan Pajang dan para Adipati untuk mengambil sikap yang keras.”

Kendil Wesi mengerutkan keningnya. Dengan tatapan mata yang aneh ia memandang wajah Sultan Hadiwijaya. Namun ketika Sultanpun memandanginya pula, cepat-cepat Kendil Wesi menundukkan kepalanya.

Namun Sultan Hadiwijaya seolah-olah telah menangkap makna yang tersirat pada pandangan mata Kendil Wesi. Karena itu. sekali lagi ia menepuk bahu orang tua itu sambil berkata, “Kau benar Kendil Wesi. Bukankah kau ingin mengatakan, bahwa aku sekarang tidak lagi mempunyai kemampuan untuk menentukan sikap? Kau tentu akan mengatakan bahwa aku memang sudah berubah. Dan aku memang sudah berubah. Aku sekarang bukan lagi Karebet yang bertualang dengan wajah gembira, melintasi lembah dan mendaki gunung. Berkelahi melawan bahaya yang menghambat perjalanan, dan berjuang melawan alam dalam masa penempaan diri. Bukan pula Adipati Pajang yang bergelora mempersatukan bekas wilayah Demak, dan bahkan yang bercita-cita untuk mewujudkan kebesaran Majapahit. Bukan Kendil Wesi. Aku adalah orang yang lemah seperti yang kau bayangkan di dalam angan-anganmu.”

“Ampun Tuanku,“ Kendil Wesi membungkuk dalam-dalam seolah olah ingin mencium kaki Sultan Hadiwijaya, “bukan maksud hamba mengatakan demikian.”

Sultan Hadiwijaya menarik pundak Kendil Wesi sambil tersenyum. “Kau benar Kendil Wesi. Aku tidak mempunyai wibawa lagi sekarang.”

“Ampun Tuanku. Sebenarnya Tuankulah yang telah melepaskan kewibawaan itu atas kehendak Tuanku sendiri.”

“Aku mengerti. Tetapi apakah yang dapat aku perbuat sekarang ini. Putraku laki-laki satu-satunya, Benawa, tidak mencerminkan sikap seorang kesatria yang pantas memegang kekuasaan di Pajang. Meskipun ia seorang anak muda yang luar biasa dalam penguasaan ilmu kanuragan, tetapi ia sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti dan mempelajari ilmu pemerintahan.”

Sekali lagi tatapan mata Kendil Wesi yang aneh menyambar wajah Sultan Hadiwijaya. Dan sekali lagi Sultan berkata, “Aku merasa, bahwa aku telah membuatnya kecewa. Aku kurang menghargai ibunya, karena aku telah terlibat dalam pemanjaan nafsu, sehingga di samping ibu Benawa, aku mempunyai hubungan dengan banyak sekali perempuan lain. Dan aku tentu tidak akan dapat ingkar, bahwa itu adalah salahku.”

Kendil Wesi tidak menyahut. Kembali kepalanya menunduk memandang ujung kaki Sultan Hadiwijaya yang duduk di bibir pembaringannya.

“Kendil Wesi,“ berkata Sultan Hadiwijaya kemudian, “sebenarnyalah bahwa aku masih mempunyai harapan. Jika Benawa memang tidak tertarik sama sekali kepada pemerintahan, dan seperti yang beberapa kali dikatakan meskipun tidak berterus terang, namun rasa-rasanya ia lebih senang menyerahkan pimpinan pemerintahan kepada kakak angkatnya, Senapati Ing Ngalaga di Mataram.”

Kendil Wesi menarik nafas panjang. Ia bergeser maju setapak sambil meraba kaki Sultan Pajang. Katanya, “Ampun Tuanku. Apakah kata orang tentang Tuanku, jika Tuanku menyerahkan kekuasaan kepada putra angkat Tuanku, sedangkan Tuanku masih mempunyai seorang putra laki-laki.”

Sultan menepuk pundak orang tua itu lagi sambil berkata, “Tentu aku akan menawarkannya kepada Benawa. Dan aku akan minta jika ia menolak, biarlah ia menolak di paseban, sehingga para pemimpin pemerintahan, para Panglima dan senapati, para Adipati dan setiap orang mengetahui, bahwa Benawa memang sudah menolak atas kehendak sendiri.”

Kendil Wesi tidak menjawab. Ia dapat mengerti jalan pikiran Sultan Hadiwijaya. Tetapi jika benar demikian, maka akan banyak persoalan yang masih harus dibenahi. Sultan Hadiwijaya adalah menantu Sultan Demak terakhir. Sementara itu, masih ada menantu-menantu yang lain yang mungkin akan mempersoalkannya, jika tahta itu jatuh ke tangan anak Pemanahan.

Tetapi Kendil Wesi tidak mengucapkannya. Ia adalah abdi yang setia. Dan ia adalah pemomong Danang Sutawijaya. Meskipun nalarnya agak cemas jika Sutawijaya itu menerima uluran tangan ayahanda angkatnya, namun perasaannya ikut bergembira. Jika ia harus dan wenang memilih, ia memang memilih Sutawijaya dari Benawa yang seakan-akan sama sekali tidak mempedulikan pemerintahan. Justru karena ia kecewa atas sikap ayahandanya.

“Karena itu Kendil Wesi,” berkata Sultan kemudian, “sekarang aku minta kepadamu. Pergilah ke Mataram.”

Kendil Wesi mengangguk lemah. Tetapi kesetiaannya telah mendorongnya untuk menjawab, “Ampu Tuanku. Hamba akan menjalankan segala perintah Tuanku.”

“Terima kasih. Pergilah dan katakan kepada Senapati Ing Ngalaga, bahwa ia harus menghapuskan kesan kegiatan keprajuritan yang berlebih-lebihan itu. Agaknya orang-orang Pajang selalu mencari kelemahan-kelemahan yang ada padanya, sehingga ada juga yang telah mendengar apa yang telah dilakukannya. Katakan kepada Sutawijaya bahwa besok petugas sandi itu sudah akan berada di Mataram.”

“Hamba Tuanku. Hamba akan pergi malam ini.“

“Hati-hatilah Kendil Wesi. Kau sudah tua. Jangan terlalu kencang berpacu. Angin malam kadang-kadang dapat membuat seseorang terganggu pernafasannya.”

“Hampa akan berhati-hati Tuanku.”

“Hanya kau yang mengetahui perintahku kepadamu ini.”

Kendil Wesi membungkuk dalam-dalam sambil menyembah. Katanya, “Rahasia ini akan hamba bawa sampai batas hidup hamba. Hamba akan pergi seorang diri ke Mataram.”

Kendil Wesipun kemudian mohon diri. Sambil mencium kaki Sultan Pajang ia berkata, “Hamba akan berusaha bertemu dengan putra Tuanku di Mataram, apapun yang harus hamba lakukan.”

“Peigilah, tetapi ketahuilah, bahwa jalan yang akan kau tempuh adalah jalan yang panjang dan berbahaya. Apalagi jika para prajurit di pintu-pintu gerbang mengetahui, atau mencurigai kepergianmu.”

“Hamba akan mencari akal melepaskan diri dari para petugas di pintu gerbang. Hanya di pintu gerbang utama sajalah para prajurit berjaga-jaga sepenuhnya. Sedangkan di pintu butulan, hanya sekali-kali saja satu dua orang peronda melaluinya.”

Sejenak kemudian maka Kendil Wesi itupun telah meninggalkan bilik pembaringan Sultan Hadiwijaya. Ketika prajurit yang bertugas berjaga-jaga di longkangan bertanya kepadanya, apa saja yang dilakukan di dalam bilik Sultan sehingga sedemikian lamanya, maka sambil tersenyum Kendil Wesi yang tua itu berkata, “Sultan marah-marah. Aku tidak dapat lagi memijit kakinya seperti saat aku masih kuat beberapa tahun yang lampau.”

“Kau memijit kakinya?“ bertanya prajurit yang lain.

“Ya. Tetapi nampaknya tidak banyak berarti lagi.”

Prajurit itu tidak bertanya lagi. Mereka mengetahui bahwa Kendil Wesi termasuk abdi yang terdekat. Adalah wajar sekali bahwa Sultan memerintahkan orang tua itu untuk memijit kakinya.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: