Buku 111 (Seri II Jilid 11)

 

Kendil Wesi pun kemudian kembali ke dalam rumahnya yang juga berada di halaman bagian belakang Istana Pajang. Sejenak ia merenung, bagaimana caranya ia dapat keluar dengan seekor kuda.

“Tetapi aku harus melakukannya,“ gumamnya.

Dengan sangat hati-hati, iapun kemudian pergi ke kandang di belakang rumahnya. Gelapnya malam ternyata banyak imembantunya. Apalagi para prajurit yang tidak lagi bekerja dengan sungguh-sungguh di Pajang, hampir tidak pernah nieronda sampai ke tempatnya yang gelap dan tersembunyi di sudut.

Tidak ada seorangpun yang mengetahui, apa yang dilakukan oleh orang tua itu. Keluarganyapun tidak mengetahui perintah yang diterima dari Sultan. Bahkan ia sempat menipu anaknya dengan mengatakan bahwa sahabat baiknya ternyata sakit keras, sehingga ia harus menengoknya malam itu.

“Kenapa Ayah harus datang malam ini?“ bertanya anak laki-lakinya.

“Mudah-mudahan Ayah masih sempat bertemu dengan orang itu dalam keadaan hidup. Hati-hatilah di rumah. Ayah tidak akan pergi terlalu lama. Tetapi ingat, karena aku tidak mohon diri kepada Sultan, jangan katakan kepada siapapun bahwa aku pergi. Katakan aku sakit di pembaringan. Sebab jika terdengar Sultan aku pergi tanpa pamit, leherku menjadi taruhan. Kau tahu?”

Anaknya mengangguk meskipun ia tidak mengerti, kenapa ayahnya mempertaruhkan lehernya untuk sahabatnya itu.

Namun. karena itulah maka anaknyapun akan tidak banyak pergi keluar rumah, agar ia tidak mendapat pertanyaan, kemana ayahnya pergi.

Dengan hati-hati Kendil Wesi menuntun kudanya menuju ke gerbang butulan, Di saat sepi ia dengan tergesa-gesa keluar dari regol butulan itu dan hilang di dalam kegelapan. Baru setelah agak jauh dari gerbang, iapun meloncat ke punggung kudanya dan berpacu dengan kencangnya.

Terasa angin malam yang menampar wajahnya bagaikan dinginnya air embun. Sambil berpacu orang tua itu merapatkan bajunya.

Ketika ia menengadahkan wajahnya, nampak bintang bertaburan dari cakrawala sampai ke cakrawala. Awan yang tipis selembar hanyut dibawa angin yang lemah.

Kendil Wesi menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menjadi semakin tua. Tetapi ia sadar, bahwa tugas yang dilakukan itu adalah tugas yang sangat penting, terutama bagi keselamatan momongannya, Raden Sutawijaya.

Meskipun Raden Sutawijaya telah lama pergi meninggalkan Pajang, dan seolah-olah telah melupakannya, tetapi ia adalah pemomong yang setia, yang mengasuh Senapati Ing Ngalaga sejak kanak-kanaknya.

Sementara itu, pasukan Mataram sedang menuruni kaki Gunung Merapi menuju ke Mataram bersama pasukan Sangkal Putung, Pasukan yang memang merupakan pengawal segelar sepapan yang kuat, seperti dilaporkan oleh perwira Pajang kepada Sultan.

Jika di esok harinya, petugas sandi itu pergi ke Mataram, maka mereka akan menjumpai pasukan yang kuat itu masih berada di dalam satu kesatuan. Apalagi pasukan Sangkal Putung. Sehingga pasukan itu memang akan dapat memancing pendapat, bahwa Mataram sedang bersiap-siap menghadapi perang yang besar, dengan menyiapkan pasukan yang sangat kuat.

Tanpa berprasangka, pasukan Mataram dan Sangkal Putung itupun turun dengan cepat. Mereka memang ingin segera sampai ke Mataram. Di pagi hari mereka akan berkumpul, menerima segala macam pesan, perintah dan menghitung diri, sebelum mereka mendapat kesempatan untuk meninggalkan barak dan beristirahat di antara keluarga mereka masing-masing.

Jika pada saat-saat yang demikian itu, petugas sandi dari Pajang menyaksikannya, maka laporannya akan dapat berbahaya bagi Mataram. Para Senapati dan Adipati di Pajang tentu akan segera menjatuhkan prasangka buruk jika petugas sandi itu melaporkan, bahwa mereka memang melihat persiapan pasukan yang besar dan kuat di Mataram. Beberapa orang Adipati yang memang sudah tidak sabar, akan dapat mendorong Pajang dengan bukti-bukti yang disaksikan oleh petugas sandi itu untuk memerangi Mataram dan menghancurkannya.

Raden Sutawijaya sama sekali tidak mengira, bahwa pasukannya akan dapat menjebaknya dalam kesulitan. Menurut perhitungannya, prajurit-prajurit Pajang yang ada di lembah itu tentu tidak akan berani memberikan laporan dengan cara apapun juga kepada Pajang, karena justru dapat menimbulkan kecurigaan kepada mereka.

Namun ternyata bahwa mereka masih mempunyai cara yang cerdik untuk membenturkan Pajang dan Mataram, sehingga kedua kekuatan itu akan hancur bersama-sama, sebelum kekuatan ketiga akan bangkit di atas timbunan mayat dari kedua pasukan yang berbenturan itu.

Dalam pada itu, Kendil Wesi berpacu sekencang-kencangnya menuju ke Mataram. Ia belum pernah pergi ke Mataram sebelumnya, tetapi ia sudah sering mendengar beberapa petunjuk, jalan yang manakah yang harus ditempuh untuk mencapai Mataram. Jalan yang tidak banyak terdapat di antara kedua tempat itu, sehingga Kendil Wesi yang sering bertualang di masa mudanya, akan dapat dengan mudah menemukannya.

Tetapi Mataram tidak terlalu dekat. Meskipun demikian, Kendil Wesi merasa, bahwa ia akan mencapai Mataram lebih dahulu dari petugas sandi yang baru akan berangkat di keesokan harinya, sehingga petugas sandi itu baru akan mencapai Mataram menjelang sore hari.

“Jika aku segera dapat menghadap Raden Sutawijaya, maka ia tentu akan sempat menghapus kesan itu,“ berkata Kendil Wesi kepada diri sendiri, “perwira yang melaporkan kepada Sultan Pajang itu tentu tidak sekedar mengadu. Ia tentu mempunyai alasan dan bukti-bukti bahwa Mataram memang benar-benar telah bersiap.”

Namun kemudian telah tumbuh pertanyaan di dalam dada Kendil Wesi itu, “Tetapi jika benar demikian, apakah sebenarnya alasan Raden Sutawijaya untuk menyiapkan pasukan itu? Apakah iapun mendapat keterangan yang salah, seolah-olah Pajang akan menyerangnya? Atau karena Raden Sutawijaya memang akan memberontak?”

Tetapi Kendil Wesi itu menggelengkan kepalanya, “Tidak. Momonganku tentu tidak akan memberontak melawan ayahandanya. Ia adalah anak yang baik, meskipun hatinya sekeras batu padas. Ia dapat membedakan, manakah yang baik dan manakah yang buruk dilakukannya.”

Namun karena itu, maka Kendil Wesi menjadi semakin ingin cepat sampai ke Mataram. Ia ingin segera menyampaikan persoalannya kepada Sutawijaya, agar Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram itu segera dapat mengambil sikap.

Dalam pada itu, bintang-bintangpun telah berjalan di garis edarnya. Semakin lama semakin condong ke barat. Kendil Wesi yang tua itu merasa lelah juga ketika ia sampai ke daerah Prambanan, sehingga untuk beberapa saat lamanya ia beristirahat di pinggir Kali Opak, memberi kesempatan kudanya untuk minum dan makan rerumputan segar.

“Menjelang fajar, aku harus meneruskan perjalanan. Mungkin pada saat matahari terbit, petugas sandi itu sudah berangkat dari Pajang. Tetapi meskipun demikian, aku tentu datang lebih dahulu dan memberi kesempatan Raden Sutawijaya mengambil sikap, sehingga para petugas sandi itu tidak mendapat kesan bahwa Mataram sedang mempersiapkan diri untuk bertempur melawan kekuasaan Sultan Hadiwijaya,“ berkata Kendil Wesi kepada diri sendiri.

Setelah penat-penat di tubuhnya berkurang, serta setelah mencuci muka dengan air Kali Opak yang bening, maka sebelum fajar, Kendil Wesi telah meneruskan perjalanannya. Ia tidak menghiraukan lagi dinginnya malam. Bahkan setelah kudanya berpacu, maka keringatnyapun mulai menghangatkan tubuhnya kembali.

Tidak banyak yang dijumpai Kendil Wesi diperjalanan. Satu dua ia melihat orang-orang yang pergi ke sawah untuk menunggui air yang mengalir di parit yang akan dialirkan ke sawah secara bergilir.

Namun dengan demikian Kendil Wesi merasa bahwa perjalanannya ternyata cukup aman.

Ketika matahari mulai membayang, maka Kendil Wesi telah berpacu di jalur jalan yang menembus Alas Tambak Baya. Namun nampaknya jalan itupun cukup aman. Beberapa orang nampak berjalan dengan menjinjing hasil pategalan untuk dijual ke pasar. Bahkan sekali-sekali ia telah mendahului iring-iringan pedati yang menuju ke tempat yang lebih ramai untuk menjual hasil sawah.

Kendil Wesi tidak berpacu terlalu cepat agar perjalanannya tidak menarik perhatian. Tidak mustahil bahwa memang sudah ada petugas sandi yang memang di pasang di Mataram. Sehingga karena itu, maka orang tua itu berusaha untuk tidak menarik perhatian siapapun juga yang melihatnya.

Saat burung-burung liar berkicau di pepohonan, maka Kiai Kendil Wesi telah mendekati pintu gerbang Mataram yang sudah bangun dari tidurnya yang nyenyak.

Kedatangan Kendil Wesi memang tidak menarik perhatian. Iapun tidak bertanya kepada siapapun, dimanakah letak tempat tinggal Senapati Ing Ngalaga karena ia sudah mendapat gambaran.

Karena itu, maka berdasarkan pengenalannya atas petunjuk-petunjuk yang pernah didengarnya, maka iapun berusaha mencari rumah Raden Sutawijaya.

Dalam perjalanan di jalan-jalan kota, Kendil Wesi menjadi heran. Tidak nampak persiapan-persiapan yang melampaui kewajaran. Di gerbang, di tikungan dan di gardu-gardu, ia melihat jumlah pengawal yang justru nampak terlalu lengang.

“Apakah laporan itu keliru,“ pertanyaan itu telah tumbuh di dalam hatinya.

Namun justru karena itu, Kendil Wesi ingin melihat banyak. Rumah-rumah besar yang nampaknya sebagai barak-barak pengawal didekatinya. Ia kadang-kadang memang melihat satu dua orang pengawal di pintu gerbang, tetapi selebihnya sepi.

“O,“ ia menarik nafas dalam-dalam, “syukurlah, kalau Mataram sepi seperti ini. Jika petugas sandi itu datang, ia hanya akan melihat ketenangan yang damai. Tidak ada kesibukan pasukan dan apalagi persiapan perang yang mengancam Pajang.”

Dengan tanpa prasangka apapun, maka Kendil Wesipun kemudian mendekati regol yang menurut dugaannya, tentulah rumah Raden Sutawijaya. Rumah yang nampak sepi dan lengang, selain dua orang penjaga di pintu gerbang dan sekelompok kecil di gardu di luar halaman.

Ketika Kendil Wesi mendekati gerbang, maka kedua orang pengawal yang bertugas itupun melangkah maju dan menyapanya.

Kendil Wesi turun dari kudanya sambil membungkuk hormat. Dengan sareh iapun kemudian bertanya, “Apakah benar aku berada di gerbang istana Senapati Ing Ngalaga?”

Penjaga itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “Siapakah kau?”

“Ki Sanak. Aku adalah pemomongnya saat Raden Sutawijaya masih sangat muda. Aku datang dari padusunan yang jauh.”

“Siapa namamu?”

Kendil Wesi ragu-ragu. Dalam keadaan yang tidak menentu dalam hubungan Pajang dan Mataram, rasa-rasanya ia harus mencurigai setiap orang. Namun jika ia tidak berterus terang, maka Senapati tentu tidak akan mengenalnya.

“Siapa?“ desak pengawal itu.

“Aku adalah Jaladara. Namaku Jaladara. Dan aku mohon diperkenankan menghadap.”

Pengawal itu masih ragu-ragu. Karena itu, maka dibawanya Kendil Wesi menghadap pimpinan pengawal yang lebih tua daripadanya di serambi gandok. Apalagi pengawal yang lebih tua itu adalah bekas prajurit Pajang.

Tiba-tiba saja ketika Kendil Wesi menghampirinya, pengawal itu terkejut. Hampir di luar sadarnya ia berdesis, “Kiai Kendil Wesi.”

“O,“ Kendil Wesi terkejut. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk. Katanya, “Kau Ki Lurah. Aku tidak menyangka bahwa aku akan dapat bertemu dengan Ki Parta disini.”

“Marilah.”

Ki Partapun kemudian mempersilahkan Kiai Kendil Wesi duduk di gardu di antara beberapa orang pengawal yang lain.

“Ki Lurah,“ berkata Kendil Wesi, “aku memang datang dengan maksud yang khusus. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan momonganku, sehingga aku menjadi sangat rindu. Ki Lurah, apakah aku yang jauh datang dari Pajang dapat menghadap momonganku?”

Ki Parta mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Minumlah dahulu Kiai. Para pengawal baru saja minum minuman hangat di pagi yang masih terasa dingin. Marilah. Silahkan.”

Kiai Kendil Wesi termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja timbullah kegelisahan di hatinya, karena ia masih belum menunaikan tugasnya sebaik-baiknya. Meskipun nampaknya Mataram belum benar-benar menunjukkan gejala seperti yang dicemaskan, tetapi sebaiknya ia menyampaikan semua pesan dan menyelesaikan segala tugasnya lebih dahulu.

Karena itu, maka katanya, “Terima kasih Ki Lurah, tetapi apakah aku dapat menghadap Raden Sutawijaya?”

Ki Parta tersenyum. Katanya, “Raden Sutawijaya masih dalam perjalanan.”

“Perjalanan?”

Ki Parta termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Kiai Kendil Wesi, karena aku tahu, siapakah Kiai itu sebenarnya, maka baiklah aku memberitahukan apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Raden Sutawijaya. Baru saja utusannya telah datang menyampaikan pesan-pesannya.”

Kiai Kendil Wesi termangu-mangu. Ki Partapun kemudian menceritakan apa yang baru saja didengarnya dari utusan Raden Sutawijaya yang telah mendahuluinya.

“Sekarang Raden Sutawijaya dan pasukannya baru beristirahat. Sebentar lagi mereka akan melanjutkan perjalanan memasuki Kota.”

Wajah Kiai Kendil Wesi menjadi tegang. Iapun kemudian sadar, bahwa tentu ada hubungannya antara kedatangan pasukan Raden Sutawijaya dengan laporan yang diterima oleh Sultan Pajang. Adalah tidak mustahil bahwa laporan itu sengaja diberikan untuk memancing kekeruhan. Pada saat pasukan Raden Sutawijaya dan Sangkal Putung memasuki kota, atau saat-saat mereka membenahi diri, maka petugas sandi dari Pajang akan melihatnya sebagai suatu persiapan pasukan yang besar yang diarahkan kepada Pajang.

“Tentu ada orang yang dengan licik sengaja memfitnah Raden Sutawijaya,“ berkata Kiai Kendil Wesi di dalam hatinya.

Dalam pada itu Ki Parta menjadi heran. Tiba-tiba saja Kiai Kendil Wesi itu bagaikan merenungi persoalan yang sangat rumit.

“Ki Lurah,“ berkata Kendil Wesi kemudian, “sebenarnya memang ada pesan yang harus aku sampaikan kepada salah seorang pimpinan prajurit atau pengawal di Mataram. Tetapi pesan itu sangat khusus.”

Ki Parta tersenyum. Katanya, “Baiklah. Biarlah kawan-kawanku meninggalkan aku barang sejenak. Barangkali Kiai Kendil Wesi akan menyampaikan pesan itu kepadaku.”

Para pengawal yang sudah terbiasa dalam tugasnya, dapat menangkap sikap yang mengandung rahasia dari Kiai Kendil Wesi. Karena itu maka merekapun segera meninggalkan Ki Lurah Parta seorang diri bersama Kiai Kendil Wesi.

Dengan hati-hati Kiai Kendil Wesi mengatakan tugas kedatangannya meskipun tidak dalam keseluruhan. Ada yang masih disembunyikan. Tetapi keterangannya cukup meyakinkan Ki Parta, bahwa sebaiknya Kiai Kendil Wesi segera menyongsong kedatangan Raden Sutawijaya justru sebelum memasuki kota.

Ki Parta yang memang sudah mengenal Kiai Kendil Wesi itupun sama sekali tidak berprasangka. Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “Baiklah Kiai. Barangkali memang sebaiknya Kiai pergi menghadap Raden Sutawijaya.”

“Jika demikian, maka aku mohon diri Ki Lurah. Aku akan langsung melanjutkan perjalanan menghadap Raden Sutawijaya.”

Tetapi Ki Partapun tidak luput dari sikap hati-hati. Karena itu, maka katanya, “Biarlah dua orang pengawal mengantarkan Kiai, agar Kiai tidak sesat jalan.”

Kiai Kendil Wesi tidak menolak. Iapun menyadari keadaan yang serba suram dan tidak menentu. Karena itu, maka sikap hati-hati Ki Lurah itupun dapat dimengertinya.

Sejenak kemudian maka Ki Lurahpun telah memerintahkan dua orang pengawal untuk mengantarkan Kiai Kendil Wesi menghadap Raden Sutawijaya di peristirahatannya, justru sebelum pasukannya memasuki kota.

Kiai Kendil Wesi yang tua itupun segera berpacu bersama dua orang pengawal. Sementara itu, Kiai Kendil Wesi sudah mulai memperhitungkan para petugas sandi yang tentu sudah di perjalanan menuju ke Mataram.

Dalam pada itu, dua orang petugas sandi masih berada di dalam bilik Sultan Hadiwijaya. Dengan gelisah mereka menunggu Sultan yang sedang mandi.

Terlebih-lebih gelisah lagi adalah perwira yang memberikan laporan tentang kegiatan pasukan di Mataram. Sebenarnya ia ingin agar kedua petugas sandi itu segera berangkat. Menurut laporan yang diterimanya dari prajurit Pajang yang sempat melarikan diri, maka diperkirakan hari itu pasukan Mataram dan Sangkal Putung akan kembali memasuki kota. Jika petugas sandi itu sudah mendekati kota Mataram maka mereka tentu akan melihat kesibukan para pengawal yang memasuki baraknya. Para penjaga yang masih dalam keadaan siaga dan kesibukan-kesibukan lain yang dapat memberikan kesan, bahwa Mataram memang sudah bersiap. Pasukan yang kuat sudah tersusun. Bahkan jika petugas sandi itu melihat kedatangan pasukan Mataram dan Sangkal Putung memasuki kota, maka itu akan dapat diartikan, bahwa pasukan yang kuat itu baru saja pulang dari penempaan diri di gunung-gunung dalam rangka latihan jasmaniah menghadapi tugas-tugas yang sangat berat.

Tetapi agaknya Sultan terlalu lamban. Kedua petugas yang sudah menghadap itu masih harus menunggu Sultan mandi dengan air panas yang masih sedang dijerang.

“Kenapa tergesa-gesa,“ berkata Sultan ketika para petugas itu menyembah sambil memohon pesan-pesan yang akan diberikannya.

Petugas-petugas itu tidak berani memaksa. Mereka hanya dapat menundukkan kepalanya dan seperti yang diperintahkannya, mereka harus menunggu.

Baru setelah Sultan selesai berpakaian, kedua petugas itupun dipangggilnya mendekat.

“Kalian sudah siap untuk berangkat?“ bertanya Sultan Hadiwijaya.

“Hamba, Tuanku,“ sahut keduanya hampir berbareng.

“Baiklah. Kalian harus pergi ke Mataram. Mungkin kalian sudah mendengar tugas apakah yang harus kalian lakukan.”

“Hamba, Tuanku. Hamba memang sudah mendengar,“ jawab salah seorang dari keduanya.

“Baiklah. Lakukanlah tugas kalian baik-baik. Tetapi kalian harus dapat menilai keadaan sebaik-baiknya. Jika kalian bertemu dengan satu dua orang pengawal di pintu gerbang, atau di barak-barak pengawal, itu bukan berarti bahwa Mataram sudah siap untuk berperang.”

“Hamba, Tuanku.”

“Lakukanlah penelitian sebaik-baiknya. Jika kalian menemukan pertanda bahwa Mataram memang sudah siap untuk berperang, apalagi ada pertanda kebencian terhadap Pajang, maka kalian jangan ragu-ragu untuk memberikan laporan.”

 

 

“Hamba, Tuanku.”

“Nah, sekarang pergilah. Kau akan sampai di Mataram sebelum matahari turun dan hilang di balik gunung.”

Kedua petugas itupun segera mohon diri. Dengan tergesa-gesa ia keluar dari istana, menghadap perwira yang telah lebih dahulu memberikan laporan tentang keadaan di Mataram.”

“Kau tidur di dalam bilik Sultan?“ bentak perwira itu.

Kedua petugas itu menjadi berdebar-debar. Kegelisahannya di saat ia berada di bilik Sultan kini bertambah lagi dengan kecemasan.

Dengan suara bergetar salah seorang dari keduanya menjawab, “Aku harus menunggu Sultan mandi.”

“Kau dapat memohon petunjuk dan pesan-pesannya sebelum Sultan mandi,“ bentak perwira itu.

“Apakah aku dapat melakukannya jika Sultan memerintahkan aku menunggu,“ sahut yang lain.

Perwira itu hanya dapat menggeretakkan giginya. Kemudian dengan geram ia berkata, “Cepat. Berangkatlah sekarang. Kau harus sampai di Mataram hari ini juga.”

Kedua petugas sandi itupun segera mempersiapkan diri. Dengan bekal uang cukup merekapun kemudian mulai dengan perjalanannya yang mendebarkan.

Tanpa mempergunakan tanda-tanda pengenal bahwa keduanya adalah prajurit Pajang, maka keduanyapun berpacu menuju ke Mataram.

Selagi kedua petugas sandi itu di perjalanan, maka Kiai Kendil Wesi telah mendekati pasukan Mataram dan Sangkal Putung yang sedang beristirahat. Di saat-saat pasukan itu sudah mengemasi diri untuk melanjutkan perjalanan, maka Kiai Kendil Wesi dengan kedua pengawalnyapun memasuki padukuhan.

Kedatangan Kiai Kendil Wesi benar-benar telah mengejutkan Raden Sutawijaya. Pemomong tua itu telah lama tidak dijumpainya. Meskipun Sutawijaya tidak melupakannya, tetapi orang tua itu hampir-hampir tidak lagi mempunyai arti di dalam hidupnya.

Namun kehadirannya, telah mengingatkan Sutawijaya pada masa-masa kecil dan saat-saat ia tumbuh menjadi dewasa.

Karena itu, maka kedatangan Kiai Kendil Wesi itupun disambutnya dengan gembira.

“Kemarilah Kiai,“ berkata Raden Sutawijaya mempersilahkan Kiai Kendil Wesi duduk di serambi rumah yang dipergunakan untuk beristirahat.

Kiai Kendil Wesipun kemudian mendekatinya. Dengan serta merta ia berjongkok memeluk kaki anak muda itu. Namun dengan tergesa-gesa Sutawijaya mengangkatnya untuk berdiri sambil berkata, “Duduklah di amben ini Kiai. Marilah. Aku masih momonganmu yang dahulu.”

Nampak mata orang tua itu menjadi basah. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Raden Sutawijaya. Bahkan ia merasa bahwa ia sudah dilupakannya.

Setelah masing-masing menyatakan keselamatannya, maka Raden Sutawijayapun kemudian bertanya, “Darimana kau tahu bahwa aku ada disini?”

Kiai Kendil Wesi berpaling kepada kedua pengawal yang mengantarkannya sambil menjawab, “Aku sudah singgah di Mataram.”

“O. dan kedua pengawal itu membawa kau kemari.”

“Ya ngger. Aku mohon kepada Ki Lurah yang bertugas di Mataram untuk segera dapat bertemu dengan Anakmas sekarang juga.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Kemudian dengan sunguh sungguh ia bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting kau kabarkan kepadaku, atau hanya kau sudah sangat mendesak ingin bertemu dengan aku setelah sekian lama berpisah?”

“Keduanya Raden. Aku sudah begitu ingin bertemu dengan Raden. Saat itu Raden pergi begitu saja tanpa memberi pesan apapun juga kepadaku. Sebenarnya aku takut berjumpa Raden seperti sekarang ini. Mungkin Raden sudah tidak memerlukan aku sama sekali.”

“Ah,“ sahut Sutawijaya, “bukan maksudku begitu Kiai. Kiai sudah terlalu tua untuk menempuh petualangan, membuka Alas Mentaok.”

“Tetapi akhirnya aku datang juga ke Alas Mentaok, namun setelah menjadi sebuah negeri yang ramai,“ Kiai Kendil Wesi berhenti sejenak, lalu. “tetapi lebih penting dari itu, sebenarnyalah aku telah diutus oleh Tuanku Sultan Hadiwijaya.”

“Oleh Ayahanda Sultan?“ wajah Raden Sutawijaya nampak menegang.

“Sedemikian besar kasihnya kepada Raden, sehingga Sultan telah mengambil kebijaksanaan yang khusus, mengutus aku datang menghadap Angger kemari.”

Raden Sutawijaya mengerutkan dahinya, “Apakah yang dipesankan oleh Ayahanda Sultan?”

Kiai Kendil Wesipun kemudian menceritakan tugas yang dibebankan kepadanya oleh Sultan Hadiwijaya. Dari awal sampai akhir. Tidak ada satu kalimat pesanpun yang dilampauinya.

Terasa dada Raden Sutawijaya menjadi berdebar-debar. Dengan serta merta iapun memerintahkan memanggil orang-orang tua yang sedang bersiap-siap untuk berangkat meneruskan perjalanan.

“Dimohon semuanya hadir sekarang di sini,“ berkata Raden Sutawijaya kepada pengawalnya.

Sejenak kemudian, maka Ki Juru Martani dan orang-orang tua yang lain telah, berkumpul. Ki Lurah Branjangan dan Ki Lurah Dipayana pun telah menghadap pula.

Dengan jelas, Raden Sutawijaya mengulangi pesan Ayahanda Sultan yang disampaikan lewat Kiai Kendil Wesi.

Ki Juru Martani mengangguk-anggukkan kepalanya. Di luar sadarnya ia berguman, “Alangkah besarnya kasih Sultan kepada putra angkatnya.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya wajah Kiai Gringsing yang tertunduk, Ki Lurah Branjangan yang gelisah.

“Raden,“ berkata Ki Juru Martani kemudian, “kita harus memperhatikan pesan itu. Sultan menjadi cemas, bahwa akan ada tuduhan palsu yang gawat kepada Mataram.”

“Ya Paman. Tentu ada satu dua orang prajurit Pajang yang lolos dari lembah itu dan memberikan laporan yang diputarbalikkan kepada Ayahanda Sultan.”

“Dapat dipastikan,” sahut Ki Juru Martani, “karena itu, berbuatlah sesuatu. Peringatan Ayahanda Sultan adalah suatu tindakan yang sangat bijaksana. Bukan saja menghindarkan Anakmas dari tuduhan-tuduhan yang buruk, tetapi juga menghindarkan ketegangan yang semakin tajam antara Pajang dan Mataram. Sedangkan ketegangan itu memang dikehendaki oleh pihak yang justru menginginkannya.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu. Ia dapat membayangkan, apa yang telah terjadi di Istana Pajang. Pun Ki Juru menganggap para perwira yang memancing di dalam kekeruhan suasana untuk kepentingan pribadi, tanpa menghiraukan akibat yang dapat timbul bagi keselamatan Tanah Pajang.

“Raden,” berkata Ki Juru Martani, “pasukan ini harus memasuki Mataram dalam keadaan yang lain. Mungkin para pengawal menjadi kecewa bahwa mereka tidak mendapat sambutan yang sewajarnya. Tetapi para pemimpin kelompok harus menyadari, bahwa keadaan tidak memungkinkannya.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan memecah pasukan ini, sehingga mereka memasuki kota dalam kelompok-kelompok kecil.”

“Itupun tidak menguntungkan,“ berkata Ki Juru, “biarlah mereka memasuki kota dalam keadaan yang sama sekali tidak menunjukkan ikatan, dalam hari ini sebagian. Besok sebagian, dan dua tiga hari lagi.”

“Jadi, sebagian dari mereka akan tetap berada di luar kota?“ bertanya Sutawijaya.

“Apa boleh buat,“ jawab Ki Juru.

“Jadi bagaimanakah pertanggungan jawab kita kepada mereka yang kehilangan keluarganya? Jika yang lain hadir bersama-sama, maka dengan segera kita akan dapat memberikan pertanggungan jawab kepada keluarga yang kehilangan salah seorang anggotanya di peperangan yang terjadi di lembah itu.”

“Tetapi kita berada di dalam keadaan yang tidak sewajarnya. Kita menghadapi kemungkinan yang dapat mengeruhkan keadaan dan sulit dikendalikan lagi.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Memang tidak ada pilihan lain. Namun tiba-tiba dengan dahi yang berkerut ia bergumam, “Bagaimana dengan pasukan pengawal dari Sangkal Putung? Mereka tidak akan dapat dibiarkan begitu saja memasuki kota Mataram, karena mereka belum mengenal kota itu sebaik-baiknya.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Sesaat kemudian iapun berpaling kepada Kiai Gringsing, untuk mendapatkan pertimbangannya.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Pasukan Sangkal Putung memang harus mendapat jalan keluar dari pengamatan yang mungkin benar-benar dilakukan oleh pasukan-pasukan sandi dari Pajang.”

“Jadi, apakah mereka akan memasuki kota dalam kelompok-kelompok kecil bersama seorang penunjuk jalan dari Mataram, yang akan membawa mereka langsung ke dalam barak-barak?“ bertanya Raden Sutawijaya.

“Tetapi barak yang berpenghuni sepasukan pengawal itupun tentu akan menarik perhatian,” berkata Kiai Gringsing.

“Jadi apakah yang sebaiknya kita lakukan?“ bertanya Raden Sutawijaya.

“Aku akan menjumpai Swandaru dan mencoba membuatnya mengerti. Meskipun aku kira ia akan bersikap lain, tetapi mudah-mudahan ia dapat menerima pendapatku, bahwa pasukan Sangkal Putung akan langsung kembali ke Kademangan Sangkal Putung tanpa singgah di Mataram.”

“Ah,“ potong Raden Sutawijaya, “Mataram harus mengucapkan terima kasih.”

“Terima kasih itu dapat diucapkan dengan cara yang lain,“ berkata Kiai Gringsing, “seperti juga pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang langsung kembali ke Tanah Perdikannya,“ sahut Kiai Gringsing.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Ki Juru Martani untuk mendapatkan pertimbangannya.

“Apa boleh buat,” berkata Ki Juru, “kita benar-benar menghadapi keadaan yang tidak kita inginkan.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu. Sejenak dipandanginya wajah Kiai Kendil Wesi yang tunduk. Kemudian katanya, “Kiai, kita akan mengambil jalan yang meskipun tidak kita sukai, tetapi akan dapat menghindarkan diri dari tuduhan-tuduhan yang kurang sewajarnya. Sebenarnya aku segan menghindari tanggung jawab atas keadaan Mataram sekarang, meskipun aku akan mendapat tuduhan yang tidak sepatutnya. Tetapi nasehat dan pesan orang-orang tua, juga Ayahanda Sultan tetap aku junjung tinggi, sehingga aku telah mengambil jalan yang melingkar-lingkar untuk sekedar pulang ke rumah kami masing-masing.”

“Terima kasih Raden,“ berkata Kiai Kendil Wesi, “dengan demikian Ayahanda Sultan merasa, bahwa Raden masih tetap putranya. Apapun yang Raden lakukan sekarang, tidak akan dapat menggoyahkan kecintaan Ayahanda kepada Raden.”

Raden Sutawijaya menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu telah menyentuh hatinya. Sepercik penyesalan telah meloncat dari dasar hatinya bahwa ia seakan-akan telah memisahkan diri dari ayahanda angkatnya karena harga dirinya tersinggung oleh beberapa orang perwira Pajang tentang Alas Mentaok.

Tetapi meskipun demikian, masih belum ada niat di hati Raden Sutawijaya untuk menghadap ke Pajang. Ia masih tetap berdiri di antara kesetiaan seorang putra dan harga dirinya sebagai seorang kesatria yang memegang janji.

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsing yang tidak melihat kemungkinan lain itupun berkata, “Baiklah Raden. Aku akan menemui Swandaru dan mengatakan apa yang sedang kita hadapi sekarang.”

“Silahkan Kiai. Sudah tentu, bahwa aku akan menyatakan terima kasihku dengan cara yang khusus yang belum dapat aku ketemukan sekarang,“ sahut Raden Sutawijaya.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Itu bukannya masalah yang pokok Raden. Kita sedang mencari jalan, yang sebaik-baiknya untuk menghindari salah paham. Salah paham dengan Sultan Hadiwijaya di Pajang.”

“Baiklah Kiai. Tetapi ternyata bahwa perjuangan kita di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu bukannnya perjuangan yang terakhir melawan orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit yang Agung. Ternyata di Pajang, masih banyak para perwira yang akan bangkit untuk melanjutkan perjuangan mereka dengan cara yang barangkali akan lebih berbahaya bagi Mataram, karena mereka berada di dalam Istana Pajang,“ berkata Raden Sutawijaya.

Orang -orang yang mendengar keluhan Raden Sutawijaya itu dapat mengerti sepenuhnya. Tetapi merekapun tidak dapat melepaskan Raden Sutawijaya sekedar menuruti perasaannya yang dipanasi oleh darah mudanya.

Namun agaknya Raden Sutawijayapun sempat berpikir panjang, sehingga ia dapat mengerti semua nasehat dan apalagi pesan ayahanda angkatnya, Sultan Hadiwijaya.

Pada saat Kiai Gringsing berbicara dengan Swandaru tentang kemungkinan yang paling baik yang dapat ditempuh pasukan pengawal Sangkal Putung, nampaknya Swandaru memang agak tersinggung. Bahkan dengan suara lantang ia berkata, “Apa salahnya jika Pajang mengetahui kesiagaan Mataram dan Sangkal Putung? Apakah Pajang merasa akan dapat dengan mudah menghancurkan Mataram dan Sangkal Putung?”

“Memang tidak Swandaru. Mungkin untuk menghancurkan Mataram dan apalagi dengan Sangkal Putung, Pajang harus mengerahkan kekuatannya, sehingga meskipun Mataram dan Sangkal Putung akhirnya dapat dihancurkan, tetapi Pajang sendiri akan menjadi reruntuhan kekuatan yang tidak berarti.”

“Nah, apakah Pajang akan mempertaruhkan kemungkinan yang lebih buruk lagi, justru Pajanglah yang akan hancur?“ bertanya Swandaru,

“Yang manapun yang akan hancur, tetapi bahwa keduanya akan menjadi lumpuh itulah yang dikehendaki oleh orang-orang yang bersembunyi di balik pergolakan ini. Karena di atas reruntuhan itulah mereka akan membangun apa yang mereka impikan dengan nama pewaris kerajaan Majapahit. Meskipun sebenarnya mereka tidak lebih dari sekelompok orang yang bermimpi untuk mendapatkan kedudukan dan kekuasaan,” sahut Kiai Gringsing.

Swandaru mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia keberatan untuk seolah-olah dengan bersembunyi-sembunyi kembali ke Sangkal Putung tanpa singgah lebih dahulu di Mataram, karena di Mataram iapun tentu akan disambut pula sebagai seorang pahlawan.

Tetapi Swandaru tidak dapat selalu membantah nasehat gurunya. Apalagi gurunya dengan sungguh-sungguh mengharap agar ia mengerti perkembangan keadaan yang sedang dihadapi oleh Mataran. Bahkan Raden Sutawijaya sendiri telah bersedia untuk beringsut surut dari ketetapan hatinya bersikap terhadap Pajang.

“Baiklah Guru,“ berkata Swandaru kemudian, “tetapi ini bukan karena kekhawatiranku menghadapi Pajang. Yang aku lakukan adalah semata-mata karena aku ingin memenuhi permintaan Guru.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Swandaru. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya. Tetapi aku melihat, bahwa pandanganmu terhadap Pajang agak sisip. Betapapun kuatnya Mataram. Katakanlah termasuk Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh, tetapi sebenarnyalah bahwa kekuatan itu masih jauh di bawah kekuatan Pajang yang sebenarnya. Kau jangan mengabaikan kekuatan yang tersebar di daerah para Adipati di Pesisir Lor dan Bang Wetan. Kau harus membayangkan Pajang dalam keseluruhan. Bukan Kota Raja yang sempit, yang dilingkari oleh dinding batu dengan beberapa pintu gerbang.”

Wajah Swandaru menegang. Namun kemudian tumbuhlah pengakuan di dalam hati, bahwa ia jarang sekali membayangkan kekuatan-kekuatan di luar Kota Raja Pajang. Karena perubahan-perubahan yang cepat dapat timbul sekedar mengadakan kejutan pada pusat pemerintahan.

Dengan demikian, maka Swandarupun tidak membantah lagi. Seperti Sutawijaya, maka iapun akan mempersiapkan pasukannya dan membawa langsung kembali ke Sangkal Putung melalui jalan melintas dalam kelompok-kelompok kecil. Lebih kecil dari saat mereka berangkat ke Mataram.

Dalam pada itu. Pandan Wangi dan Sekar Mirah tidak banyak memberikan pendapat. Meskipun sebenarnya Sekar Mirah juga menjadi kecewa seperti Swandaru. Namun iapun dapat mengerti pula, keadaan yang memaksa mereka mengambil jalan lain.

Namun perjalanan pengawal Sangkal Putung agak lebih mudah dari para pengawal dari Mataram. Mereka harus memikirkan para tawanan. Jika para tawanan itu masih belum dapat dibawa masuk kota, maka mereka harus ditempatkan, bukan saja yang dapat menampung jumlah mereka, tetapi juga tempat yang mudah mendapat pengawasan.

Demikianlah, maka baik pasukan Mataram maupun pasukan Sangkal Putung, segera membenahi diri. Membagi pasukan mereka menjadi kelompok-kelompok yang terbagi lagi. Orang-orang Mataram diberi kesempatan berurutan memasuki kota langsung ke rumah masing-masing. Sementara sebagian dari mereka masih harus tinggal di luar untuk menunggu giliran, sekaligus menjaga para tawanan.

Keadaan itu akan dipertahankan sampai keadaan memungkinkan membawa para tawanan memasuki kota.

“Dari mana kita mengetahui bahwa para petugas sandi itu sudah kembali ke Pajang?“ bertanya Raden Sutawijaya kepada Ki Juru Martani.

Ki Juru mengerutkan keningnya. Namun kemudian dipandanginya Kiai Kendil Wesi yang masih ada di antara mereka.

Kiai Kendil Wesi menangkap pertanyaan yang tersirat dari mata Ki Juru Martani, seperti pertanyaan yang diucapkan Raden Sutawijaya namun ditujukan kepadanya.

“Mudah-mudahan Ayahanda Raden Sutawijaya di Pajang memberitahukan hal itu kepadaku. Jika aku tidak dapat datang sendiri ke Mataram karena berbagai persoalan, maka aku akan menyuruh salah seorang pembantuku untuk menghadap.” sahut Kendil Wesi.

“Itu berbahaya sekali,“ desis Raden Sutawijaya, “tidak semua orang sekarang dapat dipercaya.”

“Aku tidak akan mempersoalkan kesiapsiagaan ataupun petugas-petugas sandi. Pembantuku akan menghadap Ki Juru untuk menyampaikan pertanyaan tentang hari-hari yang baik untuk mulai dengan pembuatan sebuah rumah baru.”

“O,“ Ki Juru mengangguk, “maksudmu, jika orang itu datang, apapun yang dikatakan, maka itu berarti bahwa petugas sandi itu sudah kembali ke Pajang?”

 

 

Kiai Kendil Wesi, mengangguk-angguk. Ia menyadari, bahwa tugas yang akan dilakukan oleh pesuruhnya itupun merupakan tugas yang gawat. Karena itu, maka katanya kemudian, “Orang yang akan aku suruh datang ke Mataram itupun tidak akan mengetahui persoalan yang sebenarnya. Ia akan datang ke Mataram dengan pesan yang sama sekali tidak menyangkut isyarat yang harus dibawa, dan iapun tidak akan menyadari akan arti isyarat tentang kehadirannya itu.”

Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa Kiai Kendil Wesi akan berusaha sejauh dapat dilakukan untuk menghindarkan kecurigaan yang lebih tajam lagi antara Pajang dan Mataram.

Dalam pada itu, maka justru pasukan Mataram tidak lagi tergesa-gesa. Mereka dengan cermat memperhitungkan kemungkinan yang sebaik-baiknya untuk memasuki kota. Mereka tidak tahu, berapa lama para petugas sandi itu berada di Mataram, sehingga mereka masih belum dapat mengetahui berapa lama para tawanan masih harus disembunyikan.

Dalam pada itu , maka Kiai Kendil Wesipun kemudian berkata kepada Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya, “Raden. Tugas yang harus aku lakukan agaknya sudah selesai. Aku tidak akan terlalu lama berada di Mataram. Aku harus segera pulang, sehingga tidak seorangpun yang mengetahui bahwa aku telah meninggalkan Pajang dan berada di Mataram.”

“Tetapi Kiai harus beristirahat dulu barang sejenak,“ minta Raden Sutawijaya.

Kiai Kendil Wesi termangu-mangu. Namun Ki Juru berkata, “Tunggulah. Kau harus makan dahulu. Beristirahat barang sejenak. Baru kemudian kau kembali ke Pajang. Menempuh jalan memintas dan berusaha memasuki Kota Raja setelah gelap. Bukankah begitu?”

Kiai Kendil Wesi tertawa. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Tepat Ki Juru.”

“Jika begitu, beristirahatlah dahulu.”

Namun waktu berjalan terlalu cepat. Selagi para pengawal Mataram dan Sangkal Putung mengatur diri, maka Kiai Kendil Wesi telah merasa terlalu lama berada di tlatah Mataram. Iapun kemudian mohon diri kepada pimpinan pasukan pengawal Mataram dan Sangkal Putung untuk segera kembali ke Pajang.

“Aku harap bahwa aku akan memasuki Pajang setelah malam menjadi kelam. Aku akan kembali memasuki rumahku dengan diam-diam, seperti saat aku pergi, karena aku berpesan kepada keluargaku di rumah, bahwa aku tidak pergi kemanapun hari ini, karena aku sakit,“ berkata Kiai Kendil Wesi.

Para pemimpin dari Mataram dan Sangkal Putung tidak dapat mencegahnya lagi. Bahkan Swandaru yang berada di antara mereka pada saat Kiai Kendil Wesi akan kembali ke Pajang, sempat berbincang tentang jalan yang akan dilaluinya.

“Aku tidak akan melalui jalan yang menjadi jalan induk yang menghubungkan Pajang dan Mataram. Aku akan memintas sehingga aku tidak akan berjumpa dengan petugas-petugas yang akan dikirim dari Pajang, yang barangkali sekarang sudah ada di perjalanan, atau bahkan sudah hampir sampai ke tujuan. Mungkin malahan sudah berada di Mataram. Tetapi aku harus berhati-hati.”

“Baiklah Kiai. Kita yang akan kembali ke Sangkal Putungpun tidak akan mengikuti jalan induk. Sebagian dari kami akan memintas sepanjang jalan yang akan Kiai lalui. Jika Kiai tidak berkeberatan, maka sebaiknya kita berbicara tentang jalan manakah yang akan Kiai pilih,“ berkata Swandaru.

Kiai Kendil Wesi mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku justru ingin bertanya, jalan manakah yang sebaiknya aku lalui, karena aku belum banyak mengenal jalan-jalan di daerah Alas Mentaok sekarang ini.”

Swandaru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan memberikan dua orang kawan di perjalanan Kiai Kendil Wesi. Jika ada sesuau yang menganggu di perjalanan, atau kira-kira memberikan kesan yang kurang baik bagi pasukan pengawalku, biarlah salah seorang dari pengawal itu kembali memberikan laporan kepada induk pasukan yang akan melalui jalan itu pula, meskipun dalam kelompok-kelompok kecil. Kami bahkan tidak hanya akan melalui satu jalur jalan. Tetapi beberapa jalur jalan yang mungkin tidak sama jaraknya. Sebagian di sebelah utara jalan induk, dan sebagian di sebelah selatan jalan induk.

“Tentu aku tidak akan berkeberatan. Justru aku akan berterima kasih,“ jawab Kiai Kendil Wesi.

Demikianlah maka Kiai Kendil Wesipun segera minta diri. Swandaru telah menyiapkan dua orang yang akan menempuh perjalanan bersama Kiai Kendil Wesi sambil mengamati keadaan, sementara beberapa orang yang lain telah siap untuk berangkat pula menempuh jalan yang berbeda-beda yang akan dilalui oleh kelompok-kelompok pasukan Sangkal Putung.

Tetapi Swandarupun cukup cermat. Ia sadar, bahwa ada prajurit-prajurit Pajang yang akan mendendam pasukan pengawal Sangkal Putung. Itulah sebabnya, maka iapun telah memperhitungkan setiap kemungkinan. Ia telah memperhitungkan waktu bagi setiap kelompok pengawal yang akan terpisah. Pada saat-saat tertentu, mereka harus berada di tempat yang sudah diperhitungkan. Mereka tidak boleh melampaui tempat pada waktu yang telah ditentukan. Jika terjadi sesuatu dengan setiap kelompok karena dendam prajurit-prajurit Pajang, maka mereka akan dapat menentukan, dengan kelompok-kelompok manakah para pengawal yang berkepentingan itu harus berhubungan.

“Kalian harus memberikan tanda-tanda di tempat tertentu,“ berkata Swandaru, “sehingga jika salah satu pihak dari kelompok-kelompok kita membutuhkan kelompok lain, mereka akan mengetahui, apakah kelompok-kelompok itu telah lewat atau masih belum sampai ke tempat itu.”

Karena itulah, maka Swandarupun telah membicarakan jalan yang akan dilalui oleh pasukan Sangkal Putung dengan cermat. Bahkan sekali-kali ia mengumpat, bahwa ia harus berpusing-pusing memperhitungkan jarak.

“Kenapa kita tidak lewat saja sambil menengadahkan dada meskipun kita akan bertemu dengan petugas sandi,“ katanya di dalam hati.

Namun Swandaru tidak dapat mengabaikan pesan gurunya dan keputusan yang telah diambil bersama. Itulah sebabnya, bagaimanapun juga beratnya, maka ia telah mengatur pasukannya dalam kelompok-kelompok kecil yang akan kembali ke Sangkal Putung dalam keadaan bercerai-berai.

Kiai Gringsing yang akan kembali bersama pasukan Sangkal Putungpun telah ikut serta membicarakan jalan yang akan dilalui dan ketentuan-ketentuan lain yang harus dilaksanakan oleh pasukan Sangkal Putung.

Sementara itu, Raden Sutawijayapun telah mengatur diri. Yang paling penting adalah menyelamatkan pusaka-pusaka yang telah diperebutkan dengan mengorbankan terlalu banyak jiwa itu.

“Malam nanti pusaka-pusaka itu harus dibawa masuk ke Mataram,“ berkata Raden Sutawijaya.

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kaupun harus berada di Mataram. Kau harus menampakkan diri seperti biasa di hadapan para pemimpin pemerintahan. Kau dapat berjalan di sepanjang jalan induk dengan seorang atau dua orang pengawal, agar petugas sandi itu melihatmu.”

“Jika demikian, malam nanti aku akan membawa pusaka itu masuk ke dalam kota. Aku dapat berpakaian seperti pengawal kebanyakan yang sedang meronda. Sementara aku membawa Kangjeng Kiai Pleret, maka Kangjeng Kiai Mendung harus kita sembunyikan terlebih dahulu.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Adalah jalan yang sebaik-baiknya bagi Sutawijaya untuk memasuki Kota dalam pakaian pengawal kebanyakan. Kangjeng Kiai Pleret akan dibawanya tanpa tanda-tanda kebesarannya, demi keselamatan pusaka itu.

Agaknya para pemimpin menyetujuinya. Karena itulah, maka pasukan Matarampun mulai mengatur diri, siapakah yang lebih dahulu akan memasuki Kota tanpa menimbulkan kesan, bahwa Mataram sedang bersiap-siap menghadapi perang yang besar.

Karena itulah, maka kelompok-kelompok kecil telah dilepaskan. Mereka mencari jalan menurut kehendak mereka sendiri. Mereka tidak berbaris dengan upacara kebesaran memasuki pintu gerbang induk disambut oleh rakyat dengan sorak kemenangan. Tetapi mereka memasuki kota yang sepi lengang, karena tidak ada berita kepastian tentang kedatangan para pengawal.

Bahkan utusan yang datang mengatakan, bahwa pasukan pengawal dari Mataram tidak akan memasuki kota. Mereka harus beristirahat lebih lama lagi, sampai saat yang akan diberitahukan.

Rakyat yang sudah siap menyambut kedatangan pasukan itupun menjadi hambar lagi, sehingga merekapun kemudian lebih senang menunggu kepastian yang tentu akan diumumkan di jalan-jalan raya daripada gelisah menanti-nanti.

Namun dengan demikian, yang berdebar-debar masih saja harus menahan pertanyaan, apakah keluarga mereka yang berangkat ke medan akan dapat pulang kembali.

Raden Sutawijaya tidak membiarkan mereka tersiksa oleh pertanyaan yang tidak terjawab. Karena itulah, maka iapun kemudian menentukan bahwa setiap kelompok harus diwakili oleh seseorang atau dua untuk segera memasuki kota dan menyampaikan berita keselamatan dan korban dari setiap kelompok kepada keluarga mereka, sebelum seluruh kelompok mendapat kesempatan untuk memasuki kota dan pulang ke rumah masing-masing.

Demikianlah, maka pasukan Matarampun mulai dengan rencana perjalanan gelombang demi gelombang. Tetapi gelombang-gelombang kecil yang tidak akan menarik perhatian.

Demikian juga pasukan Sangkal Putung. Mereka telah menempuh jalan yang telah ditentukan. Di antara mereka adalah Kiai Kendil Wesi yang kembali ke Pajang.

Dengan cara yang demikian, maka arus pasukan ke Mataram dan Sangkal Putung menjadi sangat lamban. Mungkin mereka memerlukan waktu tiga atau empat hari. Bahkan mungkin lebih. Apalagi dengan adanya para tawanan di antara pasukan Mataram.

Namun seorang pengawal Mataram yang telah mendapat kesempatan memasuki kota, telah menemukan cara yang baik untuk mempercepat arus pasukannya. Saat yang baik akan dapat dipergunakan. Salah seorang pamannya akan mengadakan peralatan, sehingga kehadiran banyak orang tidak akan menimbulkan kecurigaan.

“Mereka akan aku persilahkan datang ke tempat peralatan sebagai tamu. Kemudian mereka akan kembali ke rumah masing-masing tanpa menarik perhatian, seandainya petugas sandi itu memang ada di Mataram. Bahkan seandainya ada sepuluh atau dua puluh petugas sandi sekalipun,“ katanya kepada kawan-kawannya.

“Jika demikian, maka peralatan itu dapat dibuat. Meskipun sebenarnya tidak ada niat untuk mengadakan peralatan, tetapi untuk kepentingan para pengawal, peralatan itu dapat saja diadakan.” berkata seorang kawannya.

“Kita akan menghadap Raden Sutawijaya,“ desis yang lain.

Demikianlah, maka orang-orang itupun setelah beristirahat sejenak di antara keluarganya yang gembira, maka merekapun segera minta diri untuk menghadap kembali Raden Sutawijaya yang sedang beristirahat bersama pasukannya di luar kota.

Ketika malam turun, maka Raden Sutawijaya telah bersiap-siap untuk memasuki kota Mataram, sementara Swandaru bersama Pandan Wangi dan beberapa orang pengawal yang lain telah siap pula untuk berangkat ke Sangkal Putung.

Namun dalam pada itu, Sekar Mirah telah minta ijin kepada kakaknya untuk berangkat pada giliran yang lain bersama Kiai Gringsing yang akan membawa Ki Sumangkar yang terluka parah.

“Kita akan berangkat besok,“ berkata Kiai Gringsing, “mudah-mudahan keadaan Ki Sumangka menjadi berangsur baik.”

Swandaru tidak berkebaratan. Ia tahu, bahwa Sekar Mirah adalah satu-satunya murid Ki Sumangkar. Sedangkan Kiai Gringsing sangat diperlukan untuk merawatnya.

Dengan demikidan maka pada saat yang hampir bersamaan, maka Raden Sutawijaya dan Swandaru telah menempuh perjalanan masing-masing setelah keduannya saling bermohon diri.

Pada saat Sutawijaya dan Swandaru meninggalkan padukuhan tempat mereka beristirahat, sebenarnyalah petugas sandi yang mendapat tugas dari Pajang telah berada di Mataram. Mereka memasuki Mataram sebagai orang kebanyakan yang datang ke kota. Meskipun tidak ada tanda-tanda yang dapat menarik perhatian pada kedua petugas sandi itu. namun mereka tetap berhati-hati, karena tentu ada satu dua orang bekas prajurit Pajang yang berada di Mataram, sehingga mungkin mereka akan dapat mengenalnya.

“Kemungkinan itu kecil sekali,“ berkata salah seorang dari keduanya, “aku kira wajahku sudah berubah sama sekali dengan kumis palsu ini.”

“Ya. Kau dengan kumis palsu dan pakaianmu yang sederhana itu memang sudah berubah. Tetapi aku tidak tahan memakai kumis palsu. Hidungku merasa gatal dan barangkali justru akan mengganggu,“ sahut yang lain.

“Tetapi wajahmupun sudah berubah. Dengan merubah cara berpakaian dan tingkah laku, kau sudah berubah. Kepalamu yang menjadi agak miring, dan sekali-sekali kau gerakkan dagumu, membuat kau menjadi orang lain. Apalagi dengan mata yang sipit itu.”

Kawannya mengangguk-angguk. Mereka berdua memang berusaha untuk membuat dirinya menjadi orang lain, karena justru mereka menyadari bahwa di Mataram ada orang-orang yang barangkali sudah mengenalnya.

Tetapi agaknya mereka benar-benar telah berhasil merubah diri mereka sehingga sulit untuk dapat dikenal tanpa memperhatikan keduanya dengan seksama dan mengenah ciri-ciri yang lebih dalam.

Ketika mereka memasuki Mataram, maka keduanyapun berusaha untuk mendapatkan penginapan, tetapi sebelumnya mereka masih mempunyai kesempatan untuk berkeliling kota melihat-lihat keadaan dalam sepintas.

”Tidak ada tanda-tanda apapun juga yang dapat dilihat,“ berkata salah seorang dari mereka.

“Tentu tidak hanya dalam sekejap. Kita akan berada di tempat ini barang satu dua hari. Barulah kita akan mendapatkan kesimpulan, apakah Mataram telah bersiap-siap untuk bertempur melawan Pajang atau tidak.”

“Tetapi untuk melihat hal itu, agaknya merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Mungkin Mataram sama sekali tidak menampakkan kegiatan apapun juga. Tetapi dengan bunyi tanda-tanda yang sudah disetujui sebelumnya, maka dalam sekejap di alun-alun di muka rumah Raden Sutawijaya itu berkumpul-kumpul beribu-ribu orang yang siap untuk bertempur.”

Kawannya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tentu tidak. Mataram dapat saja memanggil rakyatnya dengan isyarat bunyi dan dalam waktu sekejap alun-alun itu telah penuh dengan laki-laki bersenjata. Tetapi kekuatan yang demikian hanyalah merupakan kekuatan untuk mempertahankan diri. Tetapi kekuatan untuk menyerang tentu harus dipersiapkan lebih dalam dan teliti, karena mereka harus menempuh perjalanan dan ketentuan-ketentuan untuk menyerang dengan gelar-gelar perang yang sudah ditentukan.”

Kawannya mengangguk-angguk. Agaknya yang dikatakan kawannya itu memang benar. Setiap laki-laki dapat saja mengangkat senjata dalam keadaan yang gawat. Tetapi jika mereka akan dikerahkan untuk menyerang, maka tentu diperlukan persiapan.

Dan persiapan itulah yang akan mereka lihat di Mataram.

Namun dalam sekilas para petugas sandi itu sama sekali tidak melihat kesibukan apapun juga. Bahkan rasa-rasanya Mataram terlalu sepi.

Menjelang malam, maka keduanyapun kemudian masuk ke dalam halaman seorang demang di padukuhan kecil di luar pintu gerbang. Dengan alasan yang dapat mereka susun sesuai dengan keadaan mereka, maka merekapun bermalam di rumah Ki Demang itu.

“Aku mencari saudara perempuan istriku,“ berkata salah seorang dari mereka, “tetapi aku tidak dapat menemukannya setelah aku berkeliling kota menjelang senja.”

“Mengelilingi kota Mataram memerlukan waktu yang lebih lama,“ berkata Ki Demang yang baik hati, “karenanya silahkan Angger berdua beristirahat disini. Kami senang sekali menerima Angger berdua. Jangankan satu malam. Dua tiga malampun kami tidak akan berkeberatan, sampai saudara perempuan istri Angger itu dapat diketemukan.”

“Terima kasih Ki Demang,“ jawab salah seorang dari petugas sandi itu. “Kami senang sekali dengan kesempatan ini. Mudah-mudahan kami akan dapat membalas budi di kesempatan lain.”

“O, kenapa harus membalas budi. Ini bukan apa-apa. tetapi adalah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong.”

Kedua petugas sandi itu mendapat kesempatan yang sebenarnya memang mereka harapkan. Mereka berdua dapat berada di Mataram dalam waktu yang dikehendaki.

Malam itu, kedua petugas sandi itu sama sekali tidak keluar dari rumah Ki Demang. Mereka sama sekali tidak mengira, bahwa pada malam itu Raden Sutawijaya telah memasuki Kota dan dengan diam-diam kembali ke rumahnya.

Tetapi kedua petugas sandi itu telah mendengar cerita yang mendebarkan jantung dari Ki Demang. Dari Ki Demang kedua petugas sandi itu mendengar bahwa Raden Sutawijaya tidak berada di rumahnya.

“Apakah yang mereka lakukan?“ bertanya kedua petugas sandi itu.

“Tidak banyak yang mengetahui. Tetapi hari ini seharusnya Raden Sutawijaya dan pasukannya akan memasuki kota dengan membawa kemenangan.”

“Kemenangan apa?“ kedua petugas sandi itu semakin tertarik kepada cerita itu.

“Tidak jelas. Tetapi agaknya ada sekelompok penjahat yang mengganggu Mataram.”

Kedua petugas sandi itu termangu-mangu. tetapi mereka mulai diganggu oleh pertanyaan yang bermacam-macam. Mungkin penjahat itu sekelompok penjahat yang kuat, tetapi mungkin penjahat kecil yang terdiri tidak lebih dari sepuluh orang.

“Atau, sekedar alasan untuk meninggalkan kota dan mengadakan latihan di daerah yang terpisah dari Mataram?“ pertanyaan itu timbul di dalam hati.

Beberapa saat lamanya kedua petugas sandi itu mencoba untuk mengurai persoalan yang mereka hadapi. Karena itu, maka merekapun berusaha untuk memancing cerita Ki Demang lebih banyak lagi.

Tetapi tidak ada keterangan Ki Demang yang dapat memberikan kepastian. Ki Demang hanya mengetahui bahwa pasukan Mataram sedang bertugas di luar kota yang sedang tumbuh itu, dan akan segera kembali membawa kemenangan.

Malam itu, setelah kedua petugas sandi itu masuk ke dalam bilik yang disediakan di gandok sebelah timur, keduanya mulai membicarakan langkah-langkah yang akan mereka lakukan.

“Kita akan mendapat kesempatan untuk melihat pasukan Mataram memasuki kota dengan kemenangan seperti yang dikatakan oleh Ki Demang,“ berkata salah seorang dari mereka.

Yang lain mengangguk-angguk. Namun kemudian Katanya, “Agaknya berita inilah yang telah sampai ke Pajang, sehingga Sultan memerintahkan kita untuk membuktikan, apakah yang sebenarnya terjadi di Mataram. Mungkin Mataram sedang mengejar sepuluh orang penjahat, mungkin lebih. Atau bahkan hanya satu dua orang, tetapi memiliki ilmu yang tinggi sehingga Mataram harus mengerahkan segenap kekuatannya untuk menangkapnya. Dan berita tentang usaha penangkapan itulah yang sampai di Pajang, seolah-olah Mataram sudah siap untuk bertempur.”

Kawannya mengangguk-angguk pula. Tetapi ia berkata, “Masih harus dilihat. Dan kita akan terperanjat jika kita melihat pasukan segelar sepapan memasuki kota disambut oleh rakyat dengan sangat meriah.”

Keduanya akhirnya bersepakat untuk berada di kota sehari penuh. Mereka harus melihat kedatangan pasukan itu, agar mereka dapat menilai, apakah Mataram benar-benar telah mempersiapkan pasukannya untuk bertempur, atau sekedar untuk mengejar panjahat-penjahat kecil yang berkeliaran.

Pada saat kedua petugas sandi itu kemudian membaringkan dirinya di pembaringan, maka Raden Sutawijaya telah memasuki rumahnya dengan diam-diam. Tidak banyak orang yang mengetahui kehadirannya kembali, karena Raden Sutawijaya tidak mempergunakan tanda-tanda dan ciri-cirinya sebagai Senapati Ing Ngalaga.

Demikian pula, kedatangan pasukannya yang terpisah-pisah. Sebagian telah datang berurutan menghadiri peralatan, tetapi mereka kemudian kembali ke rumah masing-masing sambil menyembunyikan senjata-senjata mereka di bawah pelana kuda atau di tempat-tempat yang tidak mudah terlihat. Sedang beberapa orang yang lain telah meninggalkan senjata-senjata panjang mereka di tempat peristirahatan pasukan Mataram.

Malam itu dengan diam-diam telah mengalir para pengawal dengan caranya masing-masing, tanpa diketahui oleh kedua orang petugas sandi yang sama sekali tidak menyangka, bahwa pasukan Mataram akan memasuki kota dengan diam-diam.

Perjalanan yang menuju ke Sangkal Putung sama sekali tidak mendapat gangguan apapun juga. Tidak ada petugas sandi yang mengamat-amati perjalanan mereka, dan tidak ada penjahat yang mengganggu.

Karena itu. maka kelompok-kelompok yang berjalan mendahului Swandaru sama sekali tidak memberikan isyarat-isyarat yang dapat mengganggu perjalanan kelompok-kelompok berikutnya.

Hampir semalam suntuk, pasukan Mataram mengalir memasuki kota dengan cara masing-masing. Namun demikian, baru sebagian kecil sajalah dari seluruh pasukan yang telah kembali kepada keluarga mereka, sehingga untuk seluruh pasukan yang ada, diperlukan waktu tiga atau empat hari.

Ketika Matahari terbit di timur, kelompok-kelompok berikutnya harus memilih cara yang lebih cermat. Mereka tidak boleh menarik perhatian, bukan saja petugas sandi yang sudah berada di Mataram menurut perhitungan waktu, tetapi juga rakyat Mataram sendiri.

Dalam pada itu, kedua petugas sandi yang berada di rumah Ki Demang itupun minta diri untuk meneruskan usaha mereka mencari salah seorang saudara yang berada di Mataram.

“Jika kami belum dapat menemukannya hari ini, kami masih akan mohon untuk diperkenankan bermalam di padukuhan ini. Jika kami dianggap sangat mengganggu di rumah ini, maka biarlah kami berada di banjar saja,“ berkata salah seorang petugas sandi itu.

“Ah tidak. Sama sekali tidak. Kami tidak berkeberatan, seandainya kalian berdua berada di rumah kami lebih lama lagi.” jawab Ki Demang.

Memang jawaban itulah yang mereka tunggu, sehingga mereka akan dapat meneruskan usaha mereka mengamat-amati Mataram dengan lebih saksama.

Namun ketika mereka berdua memasuki kota, mereka sama sekali tidak melihat perubahan apapun dari yang mereka lihat sebelumnya. Mataram tetap dalam kehidupan wajarnya sehari-hari. Pasar-pasar menjadi kian ramai dan jalan-jalan menjadi semakin banyak orang lewat hilir mudik dengan keperluan masing-masing.

“Tidak ada kegiatan keprajuritan yang nampak meningkat,“ desis salah seorang dari kedua petugas sandi itu.

Kawannya mengangguk. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Kita memang harus menunggu. Pasukan yang akan memasuki kota dengan kemenangan itu akan menunjukkan kepada kita, apakah yang sebenarnya telah terjadi di Mataram,“ sahut yang lain.

“Raden Sutawijaya agaknya akan segera membawa pasukannya memasuki kota setelah tertunda-tunda seperti yang dikatakan oleh Ki Demang. Ternyata kemarin pasukan itu masih belum datang. Mungkin hari ini,“ berkata kawannya.

Keduanya berjalan menyusuri jalan-jalan besar di kota Mataram. Dengan sengaja mereka melalui tempat-tempat yang dapat menjadi pusat kegiatan prajurit Mataram. Namun yang mereka lihat hanyalah beberapa orang petugas yang berjaga-jaga di regol seperti biasanya. Tidak ada kesan apapun yang nampak seperti berita yang tersiar di Pajang, seolah-olah Mataram telah siap berperang.

Tetapi keduanya masih menunggu. Mereka berharap akan dapat melihat pasukan yang membawa kemenangan itu memasuki kota.

Tetapi hampir sehari penuh mereka memutari kota, mereka sama sekali tidak melihat tanda-tanda apapun juga. Bahkan berita kedatangan pasukan yang membawa kemenangan itupun tidak kunjung mereka dengar kelanjutannya.

Ketika kedua orang petugas sandi itu berada di dalam sebuah warung, mereka mendengar beberapa orang yang berbicara tentang pasukan yang belum datang itu.

“Berita itu kemarin rasa-rasanya sudah pasti,“ berkata salah seorang dari mereka.

“Aku kira sekedar desas-desus. Tetapi-seakan-akan menjadi pasti,“ jawab yang lain.

Kedua petugas itu mencoba menangkap pembicaraan orang-orang itu. Tetapi mereka sama sekali tidak menemukan tanda-tanda yang dapat mereka jadikan sebagai pegangan.

Dengan penuh kebimbangan kedua petugas itu meninggalkan warung itu, dan dengan langkah pendek dan perlahan-lahan mereka berjalan menyusuri jalan menjelang senja, seperti dua orang sahabat yang sedang berjalan-jalan menghabiskan waktunya.

Namun kedua orang itu terkejut, ketika mereka melihat beberapa orang berkuda. Hanya beberapa saja. Tidak lebih dari enam orang.

“Itukah Senapati?,“ desis yang seorang.

“Ya. Ia baru datang,“ sahut yang lain.

“Kau gila. Tentu tidak. Mereka hanya berenam.”

Yang lain mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Nampaknya Sutawijaya sedang meronda daerahnya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ia baru datang dari daerah pertempuran.”

 

 

“Ya. Pengawal-pengawalnya hanya bersenjata sederhana. Tanpa tanda kebesaran apapun juga.”

Kedua orang itupun melangkah menepi. Sejenak mereka berdiri termangu-mangu melihat Raden Sutawijaya berkuda dengan pengawal yang sedikit itu. Kelengkapan pakaian dan senjatanya benar-benar tidak menunjukkan bahwa ia baru datang dari daerah peperangan.

“Orang-orang Mataram memang gila,” geram salah seorang dari kedua petugas sandi itu setelah iring-iringan kecil itu lewat.

“Kenapa?”

“Tentu Sutawijaya tidak pergi berperang. Jika dalam beberapa lama ia tidak nampak di Mataram, itu bukan berarti ia pergi berperang dan kembali membawa kemenangan.”

“Lalu, bagaimana menurut dugaanmu?”

“Seperti biasa. Ia suka bertualang untuk waktu yang cukup lama. Nanti, pada saatnya ia akan pulang membawa dua atau tiga orang istri. Jika tidak, maka setahun kemudian akan berdatangan bayi-bayi yang menanyakan siapakah ayahnya,“ berkata salah seorang dari kedua petugas itu dengan geramnya, “sementara itu ia membuat desas-desus bahwa ia pergi berperang menumpas kejahatan, dan akan kembali membawa kemenangan.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Kau dipengaruhi oleh kejengkelan perasaan, ia bukan saja bertualang mencari selir-selir baru di sepanjang padesan. Tetapi iapun singgah di tempat-tempat yang sepi dan keramat. Ia suka mesu diri untuk menyempurnakan segala macam ilmu yang telah dimilikinya. Ilmu kanuragan dan ilmu kajiwan.”

Kawannya mengerutkan keningnya, sementara yang lain berbicara terus, “Dan kini ia benar-benar telah menjadi orang yang pilih tanding dalam usianya yang masih sangat muda itu.”

“Ya. Ia memang seorang yang punjul ing apapak. Bukan saja dalam olah kanuragan. Tetapi juga di dalam mengembangkan keluarganya. Dalam usianya yang masih muda ia sudah mempunyai beberapa orang putra dari ibu yang berbeda.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Sambil melanjutkan perjalanan kembali ke rumah Ki Demang yang tidak begitu jauh dari gerbang kota mereka masih memperbincangkan Senapati Ing Ngalaga sebagai pribadi.

Malam itu, kedua petugas sandi itupun telah menemukan kesimpulan dari kunjungannya ke Mataram. Mataram tidak ada apa-apa, selain sifat sombong dan berbangga diri. Selebihnya mereka menjunjung Raden Sutawijaya terlalu tinggi di dalam tanggapan mereka atas pribadinya, sehingga mereka menganggap seolah-olah Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga itu sebagai seorang penakluk yang menakjubkan.

Meskipun demikian, para petugas sandi itu akan tinggal sehari lagi di Mataram untuk meyakinkan diri, bahwa di Mataram memang tidak ada apa-apa, selain pembicaraan orang-orang di sepanjang jalan dan di balik pintu-pintu rumah, seolah-olah Senapati junjungan mereka itu adalah manusia yang memiliki kelebihan dari manusia sewajarnya.

Ketika kedua petugas sandi itu sempat berbicara pula dengan Ki Demang, maka merekapun tidak lagi menaruh banyak perhatian. Mereka hanya sekedar mengiakan keterangan-keterangannya karena mereka ingin menghormati Ki Demang yang telah memberikan penginapan kepada mereka dengan pelayanan yang justru berlebih-lebihan.

Seperti yang mereka rencanakan, maka di hari berikutnya mereka masih berada di Mataram. Tetapi seperti hari-hari sebelumnya, mereka tidak melihat apapun juga yang dapat menimbulkan kecurigaan, bahwa Mataram telah mempersiapkan diri untuk memberontak terhadap Pajang seperti yang dicemaskan oleh orang-orang Pajang.

“Itulah cerdiknya Raden Sutawijaya,“ desis salah seorang petugas itu, “ia telah berhasil membuat orang-orang Pajang, justru para perwira dan pimpinan pemerintahan, bahkan Sultan Hadiwijaya sendiri menjadi cemas dan mengirimkan kami kemari. Jika mereka melihat sendiri apa yang ada di Mataram sekarang, maka mereka tentu akan menjadi malu terhadap kecurigaan mereka.”

Yang lain mengangguk-angguk kecil. Sahutnya, “Kita akan segera kembali dan melaporkan, bahwa yang ada hanyalah orang-orang yang sibuk memperluas tanah gerapan. Para petani yang pergi ke pasar menjual hasil buminya, dan satu dua orang pengawal yang meronda bersama Raden Sutawijaya sendiri.”

“Besok pagi-pagi kita akan kembali ke Pajang dengan berita yang tentu aneh bagi mereka yang hatinya sekecil serbuk.”

Dalam pada itu, selagi para petugas sandi sibuk dengan penyelidikannya di Mataram, Agung Sedayu yang berada di Tanah Perdikan Menoreh mulai bersiap-siap untuk minta diri. Apalagi setelah Ki Waskitapun merasa sudah terlalu lama berada di Tanah Perdikan Menoreh sebelum ia kembali kepada keluarganya.

“Aku sudah terlalu lama meninggalkan rumah,“ berkata Ki Waskita, “aku harap Ruditapun telah berada di rumah pula. Tentu ia bercerita kepada ibunya, apa yang dilihatnya di lembah itu. Suatu peristiwa yang sangat tidak disukainya.”

“Apakah bibi Waskita akan terkejut, atau ngeri atau perasaan-perasaan lain tentang peperangan? “ bertanya Agung Sedayu.

“Sebenarnya bibimu sudah banyak mendengar cerita tentang peperangan. Ketika aku masih muda, dengan bangga aku sengaja menceritakan peristiwa-peristiwa yang mendebarkan. Bahkan kadang-kadang aku telah menambahnya dengan berbagai macam khayalan untuk memberikan kesan yang lebih dahsyat tentang diriku.”

“Dan agaknya saat itu, iapun ikut berbangga,” Ki Waskita berhenti sejenak, lalu. “tetapi agaknya sekarang keadaannya jadi lain. Ia tidak tertarik lagi kepada cerita-cerita tentang peperangan, tentang pembunuhan dan tentang peristiwa-peristiwa yang mengerikan lainnya, sejalan dengan umurnya yang semakin tua. Apalagi jika Ruditalah yang menceritakannya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sekilas ia terkenang kepada Sekar Mirah. Gadis itu bukan hanya berbangga mendengar cerita tentang peperangan. Tetapi ia sendiri merupakan seorang yang berbangga justru karena dirinya ada di dalam peperangan.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Pandan Wangi juga termasuk salah seorang perempuan yang bersenjata di lambungnya. Seorang perempuan yang pernah berada di medan perang, dan bahkan pernah membunuh seseorang. Tetapi Agung Sedayu melihat perbedaan di antara keduanya. Pandan Wangi melakukannya dengan wajar atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya tanpa membusungkan dadanya. Tetapi Sekar Mirah masih memerlukan pujian dan kekaguman orang lain atas kemenangan-kemenangan yang dicapainya.

Agung sedayu seakan-akan sadar dari angan-angannya ketika Ki Waskita berkata, “Karena itu Ngger. Aku merasa sudah cukup lama berada di Tanah Perdikan Menoreh. Aku sudah bermalam tiga malam di sini. Agaknya sudah sampai saatnya aku mohon diri.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berguman, “Aku pun sudah terlalu lama meninggalkan adikku di padepokan.”

Ki Waskita termenung sejenak. Lalu. “Salamku buat anak yang baik itu. Aku kira pada suatu saat Glagah Putih akan menjadi seorang yang mumpuni. Apalagi menilik sikap dan tingkah lakunya, ia akan dapat menerima petunjuk-petunjuk yang baik bagi dirinya di masa depannya sebagai seorang yang hidup dalam satu lingkungan peradaban.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja kerinduannya kepada Glagah Putih telah melonjak di hatinya. Karena itu maka katanya, “Akupun akan mohon diri.”

“Tetapi jangan bersama-sama,“ berkata Ki Waskita, “Ki Gede akan merasa dengan tiba-tiba Tanah Perdikan ini terlalu sepi.”

”Tetapi bukankah Prastawa ada?“ desis Agung Sedayu.

“Ya. Tetapi ia tidak sepenuhnya berada di sisi Ki Gede. Sekali-kali ibu bapaknya merindukannya. Dan ia harus kembali kepada Ki Argajaya yang seolah-olah telah mengasingkan diri itu. Kesalahannya di masa lampau selalu membayanginya, sehingga ia sama sekali tidak ingin berbuat sesuatu lagi.”

Agung Sedayu berpikir sejenak. Lalu. “Baiklah Ki Waskita. Sebaiknya kita memang tidak bersama-sama meninggalkan Ki Gede. Karena itu, aku yang jarak perjalanannya lebih banyak, akan mohon diri lebih dahulu. Baru kemudian, satu dua hari lagi, Ki Waskita akan pulang pula ke rumah.”

“Ah,“ Ki Waskita tersenyum. Jawabnya, “Tentu bukan begitu. Akulah yang akan mohon diri lebih dahulu. Aku telah ditunggu anak istriku. Nah. jika Angger Agung Sedayu mempunyai anak istri, aku akan mengalah. Karena itu cepat-cepatlah sedikit.”

Agung Sedayupun tersenyum pula. Tetapi ia kemudian berdesah dan berkata, “Sebenarnya aku ingin juga tergesa-gesa. Tetapi masih ada syarat yang harus aku penuhi. Aku sekarang bukan apa-apa. Aku sekedar seorang penunggu padepokan kecil itu.”

“Ah, apa bedanya. Padepokan itu ternyata telah berkembang. Hasilnya akan mencukupi untuk hidup sederhana.”

“Itulah yang sulit dilaksanakan Paman. Hidup sederhana memang memberikan kepuasan tersendiri. Tetapi bagi aku dan barangkali Paman. Namun agaknya lain dengan Sekar Mirah.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Sekilas terbayang keburaman pada penglihatannya atas masa mendatang bagi Agung Sedayu dan Swandaru. Namun Ki Waskita berkata, “Jika demikian, kalian harus membangun suasana saling mengerti lebih dahulu. Meskipun demikian, kaupun harus berusaha untuk membuat dirimu berarti di dalam kehidupan ini. Berarti bukannya harus menjadi seorang yang besar. Jika arti dari hidupmu dihayati oleh Sekar Mirah, maka aku kira ia akan dapat menikmati kepuasanmu dalam lingkungan kehidupan.”

“Itulah sulitnya Paman. Hidup yang berarti bagi Sekar Mirah menurut pengenalanku adalah kekuatan dan kedudukan. Bahkan dengan cemas aku melihat perhatian Sekar Mirah pada hartapun nampaknya mempengaruhi sikap hidupnya.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat mengingkari pengenalannya, seperti yang dilihatnya pada Swandaru. Namun demikian ia masih berkata, “Semuanya akan dapat berubah dan berkembang meskipun perlahan-lahan. Itulah sebabnya kau harus telaten dan cobalah dengan sungguh-sungguh.”

“Itulah yang sulit Paman, sementara Kakang Untara selalu berusaha mendorongku memasuki lingkungan keprajuritan Pajang.”

“Itu sudah wajar. Tetapi apakah kau tidak pernah memikirkan kemungkinan untuk memenuhi keinginan Untara dan sekaligus Sekar Mirah?”

“Menjadi seorang senapati? Seorang yang berkuasa, berderajat?” bertanya Agung Sedayu.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Agung Sedayu memang tidak tepat menjadi seorang prajurit. Apalagi seorang senapati. Ia lambat mengambil sikap dan bahkan ragu-ragu. Ia masih terlampau banyak dipengaruhi oleh perasaan daripada pertimbangan-pertimbangan nalarnya bagi seorang prajurit.

Karena itu. maka sambil tersenyum ia berkata, “Memang setiap orang mempunyai arena yang dapat dipilihnya sendiri sesuai dengan kemantapan pikir dan rasa. Dan agaknya Angger Agung Sedayu memang bukan seorang prajurit.”

“Aku kira memang demikian Paman,“ sahut Agung Sedayu, “jika aku memaksa diri untuk menjadi seorang prajurit, maka yang mungkin dapat aku lakukan hanyalah berkelahi sekedarnya untuk membela diri. Tetapi selebihnya aku tidak mempunyai kemampuan apapun juga.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam, lalu katanya, “Sebaiknya kau memang harus mempertimbangkan semuanya dengan baik. Tetapi kaupun harus mencoba mencari jalan untuk dapat memenuhi keinginan Sekar Mirah.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi semuanya masih tetap gelap baginya. Jika ia ingin memenuhi keinginan Sekar Mirah untuk menjadi seseorang yang berpangkat dan berkuasa, maka ia sama sekali belum tahu, apa yang harus dilakukannya. Pekerjaan apakah yang harus dipilihnya.

Dalam pada itu, Ki Waskita masih sempat memberikan beberapa pesan yang lain sebelum ia memutuskan untuk meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh.

“Aku tidak mempersilahkan Angger singgah,” berkata Ki Waskita, “aku tahu bahwa Angger tentu tidak akan bersedia.”

Agung Sedayu tertawa. Jawabnya, “Belum tentu Paman. Jika Paman berkenan, aku sebenarnya memang akan singgah.”

Ki Waskita tertawa. Katanya, “Tentu senang sekali menerima. Tetapi Angger Agung Sedayu agaknya ingin benar kembali dengan segera ke Sangkal Putung.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Ia sadar, bahwa Ki Waskita tentu dapat membaca hatinya dari sikapnya. Karena itu, iapun justru mengangguk-angguk sambil berkata, “Agaknya memang demikian. Dan keinginan ini seakan-akan tidak dapat ditunda lagi.”

Dengan demikian, maka keduanyapun telah mengambil keputusan untuk meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi mereka berjanji untuk mengambil saat yang berbeda. Ki Waskita akan minta diri lebih dulu. Baru kemudian Agung Sedayu.

Seperti yang diduga, ketika Ki Waskita minta diri, rasa-rasanya Ki Gede sangat berat untuk melepaskannya. Namun Ki Gedepun sadar, bahwa Ki Waskita memang berhak untuk segera meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh kembali kepada keluarganya.

Meskipun demikian, Ki Gede masih berpesan, “Sering-seringlah datang kemari Ki Waskita. Bawalah Rudita serta. Dengan demikian aku tidak akan merasa sangat kesepian di Tanah Perdikan yang rasa-rasanya telah menjadi kosong ini.”

“Baiklah Ki Gede. Aku berjanji, bahwa aku sekali-sekali akan membawa keluargaku datang kemari,“ sahut Ki Waskita.

Demikianlah, dengan berat Ki Gede Menoreh telah melapaskan Ki Waskita pergi meninggalkan rumahnya. Prastawapun mengantarkan Ki Waskita sampai di luar halaman saat Ki Waskita berangkat, bersama Ki Gede dan Agung Sedayu.

“Ia pulang kepada keluarganya,“ desis Ki Gede Menoreh, “sudah terlalu lama ia meninggalkan mereka.”

“Baru saja ia kembali kepada bibi,“ berkata Prastawa.

“Tetapi hanya sekedar menengok saat kita akan berangkat menuju ke lembah itu. Namun sebelumnya ia sudah cukup lama meninggalkan rumahnya.”

Prastawa mengangguk-angguk. Di luar sadarnya ia berdesis, “Rudita hadir juga di pertempuran itu.”

“Dengan sikapnya sendiri,“ sahut Agung Sedayu.

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Iapun mengerti, bahwa Rudita mempunyai sikap yang berbeda. Bahkan menurut Prastawa, Rudita bukanlah seorang laki-laki yang utuh.

“Ia lebih senang berada di dapur,“ berkata Prastawa.

“Ia adalah seorang laki-laki yang sebenarnya,“ berkata Agung Sedayu di luar sadarnya.

“He?“ Prastawa memandang Agung Sedayu dengan heran, “Apakah yang sudah dilakukannya sebagai seorang laki-laki?”

“Ia yakin akan sikapnya. Sikap jiwani yang mantap.”

“O, jadi seorang pengecut yang menyadari dirinya sebagai seorang pengecut itupun dapat kau anggap sebagai seorang laki-laki sejati.”

“Ia bukan seorang pengecut. Kitalah yang pengecut, karena kita tidak berani mengambil sikap dengan yakin seperti yang dilakukan oleh Rudita.”

“Kaupun agaknya sudah gila. Jadi menurut penilaianmu, siapakah yang pengecut?”

“Aku. Aku tidak berani mengambil sikap yang mantap seperti Rudita dan seperti kau.”

“Aku sependapat,“ sahut Prastawa, “kau memang seorang pengecut. Sebenarnya kau memiliki kemampuan yang cukup. Tetapi kau tidak yakin sama sekali.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat marah, karena Prastawa hanya sekedar mengulangi pendapatnya sendiri.

Karena itu Agung Sedayu tidak menyahut lagi. Jika ia bertengkar dengan Prastawa dan terdengar oleh Ki Gede Menoreh, maka ia tentu akan menjadi malu sekali.

Agung Sedayupun kemudian meninggalkan Prastawa, mendekati Ki Gede yang di regol dan bahkan telah melangkah masuk. Sambil merenungi dirinya sendiri, Agung Sedayu mengikutinya di belakang. Namun ketika Ki Gede naik ke pendapa, Agung Sedayupun telah menyimpang pergi ke gandok. Ke dalam bilik yang diperuntukkan baginya selama berada di Tanah Perdikan Menoreh.

Untuk beberapa saat lamanya, Agung Sedayu sempat merenungi dirinya. Kemudian dengan gehsah ia mulai menilai adik seperguruannya Swandaru yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan Sekar Mirah. Bahkan di Tanah Perdikan Menorehpun ia telah menjumpai seorang anak muda yang mempunyai sifat serupa.

Kegelisahannya itulah yang kemudian membuatnya semakin rindu kepada padepokan kecilnya. Kepada Glagah Putih. Kepada pamannya Widura dan kepada gurunya. Seakan-akan ia tidak tahan lagi untuk tinggal di Tanah Perdikan Menoreh meskipun hanya untuk dua tiga hari.

Meskipun demikian, Agung Sedayu harus memaksa diri. Ia tidak sampai hati meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh bersamaan waktunya dengan Ki Waskita, sehingga dengan demikian, Ki Argapati akan merasa rumahnya itu sangat sunyi.

Namun dengan demikian, justru Agung Sedayulah yang merasa kesepian. Ia seakan-akan tinggal sendiri di antara orang-orang asing di Tanah Perdikan Menoreh, meskipun ia sudah mengenal hampir setiap orang pengawal yang bergantian berada di gardu di depan regol rumah Ki Argapati.

“Agaknya Ki Gedepun merasa asing di antara orang-orangnya sendiri,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Tetapi Agung Sedayu akhirnya merasa tidak betah tinggal di dalam biliknya. Dengan langkah yang kosong ia berjalan keluar. Hampir tanpa disadarinya, ia sudah berjalan menuju ke gardu di depan regol halaman, menjumpai beberapa orang pengawal yang sedang bergurau dengan riangnya.

Sejenak kemudian Agung Sedayupun telah berusaha menyesuaikan dirinya dengan suasana yang riang. Iapun ikut bergurau dan tertawa pula. Bahkan rasa-rasanya ialah yang paling keras tertawa.

Kawan-kawannya ikut bergembira pula karena kegembiraannya. Namun tidak seorangpun yang mengetahui bahwa Agung Sedayu tertawa keras-keras untuk menghalau kegelisahan yang mencengkan hatinya.

Bahkan para pengawal yang sedang bertugas itu, telah melupakannya, bahwa sebenarnya Agung Sedayu bukanlah anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh.

Prastawa yang mendengar gelak yang gembira mendekati gardu itu pula. Langkahnya tertegun ketika ia melihat Agung Sedayu telah berada di dalam gardu itu pula.

“Marilah Prastawa,“ para pengawal mempersilahkan, “duduklah.”

Prastawa maju selangkah sambil bergumam, “Kalian nampak sangat gembira hari ini.”

“Kita semuanya bergembira,“ berkata pengawal itu. “Kita masih sempat melihat kampung halaman setelah kita mengalami pertempuran yang sangat dahsyat, yang sepanjang hidupku belum pernah aku alami.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia menyahut, “Ya. Kita bergembira karena kita dapat pulang kepada keluarga kita masing-masing.”

Namun ketika terpandang olehnya Agung Sedayu, maka iapun melanjutkan. “Tetapi tidak sepantasnya kita bergurau sambil berteriak-teriak. Meskipun kita tetap hidup, tetapi kita banyak kehilangan. Mungkin orang-orang yang lewat, dan mendengar kalian berkelakar, anak-anak itu telah kehilangan anaknya atau suaminya atau saudaranya di peperangan. Biarlah orang lain tidak mau mengerti dan tidak menyatakan ikut bersedih. Tetapi kita, anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh jangan berbuat demikian.”

Wajah Agung Sedayu menegang sejenak. Namun iapun kemudian menundukkan kepalanya. Tusukan kata-kata Prastawa telah melukai hatinya. Seakan-akan ia sama sekali tidak mempedulikan peperangan yang baru saja selesai di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Meskipun demikian Agung Sedayu sama sekali tidak menyahut. Bahkan ia sama sekali tidak menatap wajah Prastawa yang terangkat sambil bertolak pinggang.

“Masa berkabung masih belum kita lampaui,” berkata Prastawa kemudian, “karena itu, jangan berteriak-teriak seperti orang kehilangan akal. Kalian adalah anak-anak muda Tanah Perdikan yang baik.”

Para pengawal itupun mengangguk-angguk. Mereka merasa menyesal bahwa mereka telah bergurau dengan gembira sekali tanpa menghiraukan kepahitan perasaan mereka yang telah kehilangan di peperangan.

“Jika kalian bergurau, berguraulah. Tetapi tahanlah sedikit tertawamu,“ berkata Prastawa sambil meninggalkan gardu itu.

Sepeninggal Prastawa suasana di gardu itu menjadi lain. Agung Sedayu yang duduk sambil menundukkan kepalanya bergumam, “Aku menyesal. Tetapi itu bukan berarti bahwa aku tidak dapat mengerti suasana duka di Tanah Perdikan ini. Jika aku terseret ke dalam arus kegembiraan, karena aku justru ingin melupakan yang menggelisahkan hati itu. Mungkin aku memang orang lain di sini. Tetapi aku sudah berusaha untuk berbuat sesuatu bagi Tanah ini seperti bagi kampung halamanku sendiri.”

Seorang yang lebih tua dari para pengawal yang berada di gardu itu menyahut, “Kita semuanya telah bersalah. Tetapi tidak ada alasan untuk menuduhmu acuh tidak acuh terhadap Tanah Perdikan Menoreh. Apa yang kau lakukan di peperangan telah meyakinkan kami, bahwa kau telah berbuat terlalu banyak. Jauh lebih banyak dari anak-anak muda di Tanah Perdikan ini sendiri.”

“Terima kasih atas pujian itu. Kita bersama-sama telah melakukannya. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Prastawa, agaknya aku tidak ikut berprihatin bagi kedukaan yang ada di Tanah Perdikan ini.”

Anak-anak muda di gardu itu memandang Agung Sedayu dengan tatapan mata yang aneh. Di peperangan Agung Sedayu adalah raksasa yang menakutkan bagi lawan-lawannya. Ia telah membunuh dan melumpuhkan orang-orang yang paling kuat, yang tidak dapat dilakukan oleh Ki Gede Menoreh.

 

 

Tetapi tiba-tiba saja anak muda itu telah berubah menjadi seperti seorang gadis pemalu yang ditegur oleh orang tuanya karena kesalahan kecil.

Namun dalam pada itu, anak-anak muda di Tanah Perdikan Menorehpun menjadi cemas melihat sikap Prastawa. Jika pada suatu saat Agung Sedayu menjadi marah, maka akibatnya akan buruk sekali baginya.

Tetapi saat itu, agaknya Agung Sedayu tidak akan marah. Ia lebih banyak menyalahkan diri sendiri. Bahkan mendekati perasaan malu karena ia seakan-akan tidak ikut berduka bersama rakyat Tanah Perdikan Menoreh yang telah kenilangan anak-anak muda terbaik dalam pertempuran di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Karena itu, maka pembicaraan di gardu itupun telah berubah menjadi pembicaraan yang bersungguh-sungguh. Namun justru karena itu, maka mereka mulai berbicara tentang ilmu kanuragan dan kemungkinan-kemungkinan di masa depan Tanah Perdikan Menoreh.

“Agung Sedayu,“ tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “kenapa kau tidak tinggal di Tanah ini saja? Kau dapat memindahkan padepokan kecilmu di Tanah Perdikan Menoreh. Di sini tanah masih cukup luas.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tersenyum. Ia menganggap bahwa pertanyaan itu adalah sekedar pertanyaan yang begitu saja diucapkan dalam ketegangan suasana.

“Di Jati Anom, aku berada di bumi kelahiranku,“ berkata Agung Sedayu, “padepokan kecil itu aku dirikan bersama guru di atas tanah pemberian Kakakku. Karena itu, padepokan itu mempunyai arti tersendiri bagiku.”

Anak-anak muda itu tidak mendesaknya. Tetapi adalah di luar dugaan Agung Sedayu ketika salah seorang dari mereka berkata, “Agung Sedayu. Meskipun umurmu tidak lebih dari umur kami, tetapi setiap orang mengakui, banwa kau telah mermliki ilmu yang luar biasa. Sebenarnya kami tidak pantas berkumpul dan bergaul dengan orang-orang berilmu seperti kau. Tetapi karena sikapmu dan keinginanmu sendiri untuk berada di antara kami, maka agaknya telah timbul keberanian pada kami untuk meminta kau mempergunakan waktumu yang ada selama kau berada di Tanah Perdikan ini untuk sekedar menambah pengetahuan kami tentang olah kanuragan.”

Permintaan itu telah mendebarkan jantung Agung Sedayu. Sebenarnya ia tidak berkeberatan untuk melakukannya. Tetapi ia menjadi ragu-ragu karena sikap Prastawa.

Seperti kebiasaannya, maka Agung Sedayu telah membuat seribu macam pertimbangan. Jika ia menerima permintaan itu, mungkin ia akan menyinggung perasaan Prastawa. Tetapi jika tidak, maka seolah-olah ia tidak mau membantu perkembangan kemampuan para pengawal di Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam kebimbangan itu, akhirnya Agung Sedayu berkata, “Sebenarnya aku tidak mempunyai keberatan. Tetapi kalian adalah pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, semuanya terserah kepada Ki Gede. Jika Ki Gede sependapat, maka aku akan tinggal beberapa hari di sini untuk berlatih bersama-sama. Tentu saja tidak semua pengawal, tetapi beberapa orang pimpinannya dan orang-orang terpenting saja di antara kalian. Dengan demikian maka latihan bersama itu akan dapat memberikan hasil. Kita akan dapat saling mengisi kekurangan kita masing-masing.”

Anak-anak muda itu menarik nafas. Mereka senang akan kesanggupan Agung Sedayu untuk memberikan beberapa petunjuk. Tetapi mereka juga kagum akan kerendahan hati Agung Sedayu. Adalah mendebarkan jantung, jika Agung Sedayu masih juga ingin berlatih bersama dan akan saling mengisi kekurangan.

Tetapi anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh sudah mengenal Agung Sedayu seperti mereka mengenal kawan sejak masa kanak-kanak.

Diam-diam anak-anak muda itu mulai menilai, perbedaan yang tajam antara Agung Sedayu dan Prastawa. Bahkan anak-anak muda itu tidak saja terhenti pada sifat kedua anak muda itu. Namun di luar keinginan mereka sendiri, anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh itu mulai mengenang sikap dan tingkah laku Ki Argajaya.

“Pada saat-saat yang gawat itu Agung Sedayu dan adik seperguruannya yang gemuk itu sudah ikut serta menentukan keadaan,” kenangan itulah yang telah bergejolak di dalam hati anak-anak muda itu.

Namun seperti pimpinan mereka, Ki Gede Menoreh, maka anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh itu telah menerima kawan-kawan mereka yang terlibat ke dalam kesalahan masa lalu. Bahkan Ki Gede Menoreh telah memberikan kepercayaan kepada Prastawa sebagai kemenakannya untuk mulai tampil pada pucuk pimpinan Tanah Perdikan Menoreh karena Ki Gede tidak mempunyai orang lain dari lingkungan keluarganya.

Beberapa orang pemimpin kepercayaannya yang lain memang merupakan dukungan kekuatan yang besar bagi Tanah Perdikan Menoreh. Namun pada suatu saat, jika Ki Gede harus meninggalkan kedudukannya dengan alasan apapun, maka harus ada seseorang yang dapat mewakili Pandan Wangi dan suaminya, memerintah Tanah Perdikan Menoreh dengan sebaik-baiknya.

Hal itu disadari oleh setiap orang yang dengan sadar mengikuti perkembangan Tanah Perdikan Menoreh. Para pemimpin pengawal dan bahkan para pemimpin padukuhan-padukuhan sampai yang sekecil-kecilnya.

Karena itulah, maka kehadiran Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh itu mendapat perhatian yang khusus dari anak-anak muda. Bukan saja karena ia memiliki kemampuan raksasa yang tidak dapat mereka jangkau dengan nalar mereka, tetapi juga sikapnya yang rasa-rasanya telah menyatu dengan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh. Apalagi meskipun sangkut paut keguruan, ia adalah saudara Swandaru, suami Pandan Wangi yang berhak mewarisi pimpinan Tanah Perdikan Menoreh.

“Jika aku harus memilih,“ tiba-tiba salah seorang dari mereka berbisik di telinga kawannya yang duduk di sudut, “aku memilih Agung Sedayu dari Prastawa.”

Di luar sadarnya kawannya menjawab. “Tentu.“ Kawan-kawannya yang mendengar jawaban itu tanpa mengetahui persoalannya berpaling kepadanya. Salah seorang telah bertanya, “Apa yang kau katakan?”

Anak muda itu menggeleng sambil menjawab, “Tidak. Aku tidak berkata apa-apa.”

“Aku dengar kau bergumam,“ desis yang lain.

Kawannya termangu-mangu. Namun ia kemudian tetap menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak. Aku tidak berkata apa-apa.”

Karena itu, maka kawan-kawannya, tidak menghiraukannya lagi. Perhatian mereka kembali tertuju kepada Agung Sedayu. Salah seorang dan mereka kemudian berkata, “Apakah maksudmu kami harus berbicara dengan Ki Gede, dan mohon ijinnya untuk menyadap ilmu kanuragan darimu?”

“Bukan begitu. Tetapi jika Ki Gede memerintahkan kepadaku, maka aku akan melakukannya. Jangan keliru.”

Anak-anak muda itu mengerti maksud Agung Sedayu. Ia tidak akan berbuat sesuatu mendahului pimpinan tertinggi Tanah Perdikan Menoreh.

Karena itu, maka salah seorang dari merekapun berkata, “Sebaiknya kita menghadap Ki Gede Menoreh, dan mohon agar Ki Gede berkenan minta agar Agung Sedayu bersedia tinggal beberapa lama di sini.”

“Tidak terlalu lama,“ potong Agung Sedayu, “hanya beberapa hari. Aku sudah sangat rindu kepada padepokan kecilku dan kepada adikku yang aku tinggalkan di sana.”

“Ah, tentu bukan padepokan kecil dan adik di padepokan itu,“ potong salah seorang dari para pengawal.

“Jadi?“ bertanya Agung Sedayu.

“Tentu gadis Sangkal Putung itu.”

“Ah,“ Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Beberapa orang mulai tertawa lagi. Tetapi ketika salah seorang meletakkan jari-jarinya di bibirnya, yang lainpun segera terdiam pula.

Demikianlah, maka anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh berusaha untuk dapat menghadap Ki Gede. Sebelumnya mereka sempat berbicara satu dengan yang lain untuk menentukan sikap lebih jauh lagi.

Tidak seorangpun yang menolak. Mereka justru berbesar hati atas kesediaan Agung Sedayu untuk memberikan latihan-latihan olah kanuragan seperti saat-saat mereka akan pergi ke lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Meskipun hanya dalam waktu singkat, tetapi petunjuk-petunjuk Agung Sedayu telah berhasil mereka kembangkan di dalam diri masing-masing, sehingga sangat berguna untuk menghadapi persoalan yang paling gawat di medan yang mengerikan itu.

“Tanpa petunjuk-petunjuk pendahuluan dari Agung Sedayu, maka kami akan ditelan oleh pasukan lawan dalam gelar Glatik Neba itu,“ berkata salah seorang dari mereka.

“Kita akan memilih beberapa orang di antara kita. Tentu yang terbaik. Mereka harus dengan sungguh-sungguh menyadap ilmu dari anak muda itu. Kemudian mereka harus mengembangkannya di antara kita semuanya,“ berkata kawannya yang lain.

Ternyata Ki Gede yang kesepian itu, dengan senang hati menerima kedatangan anak-anak muda yang menyatakan keinginannya untuk mendapatkan ilmu kanuragan dari Agung Sedayu.

Dengan hati-hati salah seorang yang tertua di antara anak-anak muda itu menyampaikan maksudnya kepada Ki Gede, agar Ki Gede berkenan minta kepada Agung Sedayu untuk memberikan tuntunan kepada anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh.

Ki Gede Menoreh mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil tersenyum. Jawabnya, “Kalian memberikan kebanggaan kepadaku. Usaha itu berarti kesadaran bahwa kalian merasa masih jauh dari sempurna. Kesadaran itu akan banyak memberikan arti bagi perkembangan kalian dan Tanah Perdikan Menoreh. Aku lebih senang melihat kahan merasa masih jauh dari sempurna daripada jika kalian atau sebagian dari kalian merasa bahwa kalian adalah anak-anak muda yang paling dahsyat dari lingkungan kalian.”

Dengan demikian maka Ki Gede Menorehpun sama sekali tidak berkeberatan dengan permintaan anak-anak muda itu. Dengan senang hati iapun kemudian menyampaikannya kepada Agung Sedayu.

Agung Sedayu yang sudah mengetahui persoalannya itupun menerima dengan senang hati. Tetapi ia hanya dapat memberikan waktunya beberapa hari saja, karena iapun ingin segera kembali ke Sangkal Putung.

Di hari berikutnya, para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah memilih beberapa orang anak muda yang dianggap dapat mewakili para pengawal yang lain. Mereka datang dari berbagai padukuhan yang tersebar di Tanah Perdikan Menoreh.

“Dua puluh lima orang,“ berkata salah seorang dari mereka yang ditunjuk menjadi pemimpin dari para pengawal yang terpilih untuk mengikuti latihan khusus dari Agung Sedayu.

“Cukup banyak,“ jawab Agung Sedayu, “tetapi baiklah. Kita akan segera mulai. Waktuku tidak terlalu banyak.”

Bersama dengan keduapuluh lima anak-anak muda itu, Agung Sedayu telah memilih tempat di bawah kaki pegunungan. Berbekal pengetahuannya tentang ilmu kanuragan, dan pengetahuannya tentang ilmu perang maka iapun mulai memberikan latihan-latihan kanuragan kepada keduapuluh lima orang itu.

Ternyata bahwa hasilnya jauh lebih baik daripada yang telah mereka lakukan menjelang perjalanan mereka ke lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu. Justru dalam keadaan tenang, mereka dapat menyadap ilmu yang diberikan oleh Agung Sedayu sebaik-baiknya.

Namun demikian, yang mengalir kepada anak-anak muda itu adalah sekedar ilmu ketrampilan wadag saja. Agung Sedayu tidak dapat memberikan lebih daripada itu, tanpa hubungan yang khusus dengan seseorang.

Tetapi yang sekedar ketrampilan wadag itupun sudah banyak memberikan arti bagi para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Mereka mengenal lebih dalam arti dari gelar-gelar perang. Mereka lebih banyak mengenal gelar dari maksud dan tujuannya. Bukan sekedar mengenal bentuk dan bagaimana mereka harus menempatkan diri. Tetapi arti dari setiap gerak dan susunan, sehingga gelar itu akan memberikan hasil yang setinggi-tingginya.

“Setiap bentuk dari gelar memberikan arti tersendiri. Itulah sebabnya kita mengenal beberapa macam gelar,“ berkata Agung Sedayu meyakinkan.

Dengan patuh anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh itu memperhatikan semua petunjuk-petunjuknya. Dari gerak yang paling sulit di dalam gelar, sampai gerak yang paling rumit di dalam oleh kektrampilan secara pribadi.

Dalam keadaan-keadaan tertentu, maka Agung Sedayu memberikan latihan-latihan seolah-olah mereka benar-benar sedang menghadapi lawan dalam gelar. Namun di saat lain, Agung Sedayu membiarkan anak-anak muda itu melakukan latihan perang tanding.

Karena ketekunan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh, maka Agung Sedayupun tidak pernah merasa jemu. Bahkan kadang-kadang ia melupakan kemampuan jasmaniah anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh itu. sehingga ada di antara mereka yang tidak dapat lagi berbuat apa-apa oleh kelelahan.

“Baiklah,“ berkata Agung Sedayu, “kita akan meneruskannya besok. Tetapi hari-hariku menjadi semakin pendek. Mudah-mudahan yang sedikit ini akan dapat memberikan manfaat.”

Jika kaki dan tangan anak-anak muda itu tidak serasa patah, maka mereka masih ingin meneruskan latihan-latihan itu. Seakan-akan mereka tidak mau berhenti dan beristirahat.

Tetapi mereka harus menyadari, bahwa kemampuan jasmaniah mereka itu sangat terbatas.

Selagi kawan-kawannya berkemas untuk kembali ke Tanah Perdikan, Agung Sedayu terkejut ketika ia melihat seseorang berdiri di atas sebuah batu padas. Dengan hati yang berdebar-debar ia memandang sosok tubuh di kejauhan itu dengan saksama.

Oleh ketajaman matanya, maka Agung Sedayupun kemudian mengenal, bahwa orang itu adalah Rudita.

Agung Sedayu menarik nafas panjang. Ketika kawan-kawannya mulai meninggalkan tempat itu, ia berkata, “Tinggalkan aku. Aku akan segera menyusul.”

Tidak ada seorangpun yang berprasangka. Karena itu, merekapun segera meninggalkan tempat itu. Satu dua orang berjalan dengan kaki timpang oleh kelelahan. Bahkan ada yang terpaksa bergantung kepada kawannya.

Tetapi mereka sama sekali tidak menjadi jemu dan jera. Mereka berjanji, besok mereka akan datang lagi meskipun kaki mereka masih terasa sakit.

Demikian anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh itu hilang di balik perdu, maka Rudita yang ada di atas batu-batu padas itupun berloncatan mendekati Agung Sedayu. Dengan mulut ternganga Agung Sedayu menyaksikan bagaimana kaki Rudita seolah-olah demikian ringannya dan sama sekali tidak meruntuhkan sebutir debupun dari padas-padas yang disetuhnya.

Tetapi demikian Rudita berdiri di atas batu padas di hadapan Agung Sedayu, iapun berhenti. Berbeda dengan gerak kakinya, maka wajahnya nampak suram. Matanya yang redup memandang Agung Sedayu yang masih berdiri termangu-mangu.

“Marilah. Marilah Rudita,“ Agung Sedayu mempersilahkan.

Rudita masih berdiri tegak di tempatnya. Ia seolah-olah ingin melihat langsung ke dasar hati Agung Sedayu yang berdiri termangu-mangu.

Rasa-rasanya tatapan mata Rudita itu benar-benar telah menembus dinding dadanya menggores jantung. Alangkah tajamnya.

“Agung Sedayu,“ suara Rudita datar, “apakah kau berhasil memperluas pengaruh ilmumu?”

Pertanyaan itu terasa menyobek perasaannya. Tiba-tiba saja Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

 

 

“Jika setiap kesatria yang memiliki ilmu yang tinggi berhasil memperluas pengaruh ilmunya, maka pada suatu saat dunia ini akan penuh dengan kesatria-kesatria dan pahlawan-pahlawan.” Rudita meneruskan.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan suara datar ia berkata, “Rudita. Aku kagum dengan sikap dan keyakinanmu. Tetapi ternyata bahwa dunia ini masih sangat buruknya, sehingga aku membiarkan ilmuku berkembang semakin luas, meskipun aku sadar, bahwa pengaruhnya justru akan menambah dunia ini menjadi semakin buruk. Tetapi setidak-tidaknya ada keyakinanku bahwa yang buruk itu akan dapat dipergunakan bagi yang baik, apabila hal itu disadari sepenuhnya.”

Rudita menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Kau mengharapkan yang buruk itu secara kebetulan akan berguna bagi yang baik. Seandainya hal itu dapat juga terjadi, maka alangkah lebih baik jika yang baik itulah yang akan dipergunakan bagi yang baik.”

“Rudita,“ jawab Agung Sedayu, “dunia yang telah kau hayati, adalah dunia mimpi bagi kami. Itulah bedanya. Perbedaan tingkat berpikir dan menilai hidup itulah yang membuat perbedaan di antara kita. Aku mengerti, bahwa nilai yang kau capai adalah nilai yang jauh lebih tinggi dari nilai-nilai kejantanan, kepahlawanan dan kekesatriaan. Tetapi bagi orang lain, duniamupun justru merupakan dunia yang paling kabur. Seperti kekaburanmu memandang dunia kesatriaan dan dunia kepahlawanan.”

Rudita yang masih berdiri di atas batu padas itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang ada seribu alasan untuk mempertahankan kebanggaan duniawi. Alangkah nikmatnya menghayati kemenangan dengan mengorbankan sesama. Tetapi jika sekali saja kau mencoba menghayati kedamaian yang sejati, maka kau akan memandang duniamu dengan sudut pandangan yang lebih mulia.”

“Aku adalah orang yang paling menderita karena dua dunia yang terpisah itu Rudita. Satu kakiku berdiri di dunia wadag, dan satu kakiku berada di dunia yang masih dalam pendambaan. Itulah sebabnya aku adalah orang yang paling kebingungan menghadapi kenyataan dan kenyataan yang bertolak dari segi penglihatan yang berbeda.”

Rudita tersenyum. Katanya, “Alangkah pahitnya memandang dua sasaran dengan kedua biji mata. Tetapi apakah kau akan tetap berdiri dalam duniamu yang terbelah itu Agung Sedayu. Jika kau mau, kau hanya tinggal melangkah sebelah kaki untuk meninggalkan kebanggaan yang hanya akan kau miliki sejauh jangkauan umurmu. Tetapi segera lenyap bersama lenyapnya wadagmu.”

“Aku mengerti Rudita. Tetapi itulah kelemahanku. Dan aku adalah jenis seseorang yang akan tetap berjuang sepanjang umurku untuk melangkah, tetapi selalu tidak berhasil.”

Rudita mengerutkan keningnya. Dipandanginya Agung Sedayu dengan tatapan mata yang semakin suram. Sementara Agung Sedayu berkata selanjutnya, “Rudita. Meskipun demikian, barangkali selain ayahmu, aku termasuk orang-orang yang dapat mengerti tentang dirimu. Dan hal itu telah memberikan kebanggaan bagiku, bahwa aku telah melihat jalan yang menuju ke suatu sikap yang damai, yang dapat aku lewati kapan saja jika aku telah berhasil mengendapkan diri dan menemukan keputusan yang mapan. Namun agaknya kini aku masih terlampau liar untuk menempuh jalan itu.”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya, “Baiklah Agung Sedayu. Kau masih memandang dirimu dengan tetapan mata wadagmu. Tetapi sudah barang tentu, akupun akan mencoba mengerti, seperti kau termasuk salah seorang yang mengerti tentang aku.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Ditatapnya mata Rudita yang suram. Kemudian dengan nada rendah ia menjawab, “Aku adalah masih dilekati dengan debu yang belum dapat aku kibaskan. Percayalah Rudita, bahwa aku tetap sadar akan kekuranganku.”

“Keadaan tentang dirimu telah merupakan kelebihanmu dari orang lain. Mudah-mudahan kau akan tetap mengikuti jalanmu yang menurut pengakuanmu telah dapat melihat jalanku, sehingga pada suatu saat kau akan menarik kakimu melangkah memasuki jalan itu,“ berkata Rudita.

Agung Sedayu tidak menjawab. Dengan tegang ia memandang Rudita yang sudah bersiap untuk meninggalkannya.

Namun kemudian tiba-tiba saja ia bertanya, “Rudita, apakah Ki Waskita sudah kembali?”

“Ayah sudah pulang. Ia berada di rumah sekarang.”

“Dan kau telah meninggalkan rumah?”

“Aku telah terbiasa dengan perjalanan-perjalanan kecil untuk satu dua hari. Ayah dan ibu tidak berkeberatan dengan perjalanan-perjalanan pendek itu. Apalagi ketika aku mengatakan bahwa aku akan menjumpaimu.”

“O,“ Agung Sedayu mengerutkan keningnya, “jika demikian, marilah. Singgahlah di rumah Paman Argapati.”

Tetapi Rudita menggeleng. Katanya, “Lain kali Agung Sedayu. Aku akan meneruskan perjalanan melihat-lihat keadaan. Satu dua orang yang dianggap dungu oleh orang lain, nampaknya dapat mendengarkan pendapatku Dan aku merasa senang berada di antara mereka. Seperti aku, kadang-kadang mereka dihadapkan pada kebingungan dan kebimbangan yang seakan-akan tidak teratasi. Itulah sebabnya, maka kami sering saling bertemu untuk memperkuat keyakinan diri, karena bagaimanapun kami adalah orang-orang yang lemah hati.”

Agung Sedayu terkejut. Ternyata ada satu dua orang yang lebih jauh melangkah daripadanya, mendekati diri pada sikap Rudita.

Namun demikian. Agung Sedayu pun masih harus mengakui tentang dirinya sendiri, bahwa jalan yang dilalui Rudita adalah jalan yang rumpil dan berkerikil tajam, sehingga hanya orang-yang terlatih sajalah yang akan dapat mengikutinya. Sehingga dengan bernada rendah ia berguman perlahan,“ Aku masih belum terpanggil untuk mengikutinya.”

Dalam pada itu Rudita benar-benar tidak ingin singgah di rumah Ki Gede Menoreh. Betapa Agung Sedayu mencoba mengajaknya. Bahkan kemudian katanya, “Sudahlah Agung Sedayu. Aku minta diri. Mungkin hati kita masih dibatasi oleh selapis kabut, sehingga kita masih harus berdiri pada jarak tertentu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahan jarak itu akan dapat segera aku seberangi.”

Rudita tersenyum. Namun iapun kemudian meninggalkan Agung Sedayu yang masih berdiri tegak di tempatnya.

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Ia memandang Rudita yang berloncatan dari batu ke batu yang berserakan di tebing, seolah-olah dengan sengaja ingin menunjukkan kepada Agung Sedayu, bahwa iapun memiliki ketrampilan yang jarang dikuasai oleh orang lain. Namun demikian, ia tetap pada sikapnya yang mendekatkan diri pada nafas damai betapapun masih dalam ukuran kelemahan seseorang.

Ketika Rudita hilang dari tangkapan matanya, maka Agung Sedayu pun menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Rudita sangat kecewa terhadapnya. Dan iapun mengerti, bahwa Rudita mempunyai penilaian yang berbeda kepadanya. Justru kesadaran dimana ia berdiri, maka Agung Sedayu akan mengalami banyak kesulitan-kesulitan untuk melangkah masuk ke dalam sikap yang diharapkan oleh Rudita. Berbeda dengan orang lain yang tidak mengerti sama sekali tentang dirinya. Maka sikap Rudita tidak lagi menjadi persoalan yang diperhitungkan dengan nalar, seperti orang menghitung kekuatan gelar lawan di medan perang.

Denga kepala tunduk Agung Sedayu kemudian melangkah menyusul kawan-kawannya yang telah mendahuluinya. Di sepanjang jalan ia tidak henti-hentinya menilai dirinya sendiri. Seorang yang lemah hati dan membiarkan jiwanya terombang -ambing.

Dalam perjalanan kembali ke induk pedukuhan di Tanah Perdikan Menoreh itu, Agung Sedayu merasa bahwa sepasang mata selalu mengamatinya. Semula ia menduga bahwa Rudita justru mengikutinya dari jarak tertentu. Tetapi ternyata kemudian bahwa yang mengikutinya bukan Rudita.

Dengan cerdik Agung Sedayu melintasi jalan padukuhan. Namun di sudut desa ia tidak berjalan terus. Ia justru berdiri bersandar dinding batu sambil menunggu seseorang.

Tetapi agaknya orang yang ditunggunyapun menyadari, bahwa ia tidak akan dapat mengikuti Agung Sedayu terus. Karena itulah, maka Agung Sedayu tidak dapat menjumpai orang itu di tikungan.

Meskipun demikian Agung Sedayu sudah dapat memperhitungkan. Ada semacam sentuhan-sentuhan lembut pada perasaannya. Dengan mata hatinya seolah-olah ia dapat melihat orang yang mengamatinya dari kejauhan itu.

“Tentu Prastawa,“ katanya di dalam hati. “Rudita tidak akan berbuat demikian. Ia akan datang dari depan dan pergi setelah minta diri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun hal itulah yang agaknya telah mendorongnya untuk segera meninggalkan Tanah Perdikan itu.

Meskipun Agung Sedayu mengerti, bahwa Ki Gede Menoreh sama sekali tidak berkeberatan atas kehadirannya, namun agaknya Prastawa mempunyai penilaian tersendiri atas dirinya. Penilaian yang tidak dapat ditafsirkannya dengan tepat, sehingga ia hanya menduga-duga saja.

Namun demikian, rasa-rasanya ada juga pendekatan dengan tanggapan Prastawa yang sebenarnya terhadap Agung Sedayu betapapun samarnya.

Itulah sebabnya, maka dalam pertemuan yang berikutnya di pendapa rumah Ki Gede Menoreh, Agung Sedayu mulai menyebut-nyebut rencana perjalanannya kembali ke Jati Anom, ke padepokan kecilnya yang sebenarnya memang mulai dirindukannya. Terutama kehadiran adik sepupunya di padepokan itu justru atas permintaannya.

“Glagah Putih tentu sudah menunggu-nunggu. Jika ia menjadi jemu, maka ia tentu akan meninggalkan padepokan itu,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Tetapi agaknya ia masih terikat pada latihan-latihan yang diberikannya kepada anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh. Ia masih harus menutup latihan-latihan yang diadakannya, sehingga dengan demikian, maka ia secepat-cepatnya masih harus berada di Tanah Perdikan itu selama tiga atau empat hari lagi.

Dan yang tiga atau empat hari lagi itu rasa-rasanya menjadi berbulan-bulan.

“Selesaikanlah,” berkata Ki Argapati, “yang kau berikan kepada anak-anak muda akan sangat bermanfaat bagi mereka.”

“Tetapi bukankah Prastawa akan dapat melanjutkan pembinaan anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh? “ bertanya Agung Sedayu.

“Ia memang mempunyai kelebihan. Tetapi ia masih terlalu muda untuk memberikannya kepada orang lain. Ia masih terlalu dipengaruhi oleh kemudaannya dan sifat-sifatnya untuk berdiri lebih tinggi dari kawan-kawannya.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh begitu saja, sehingga betapapun beratnya, ia terpaksa tinggal di Tanah Perdikan itu lebih lama lagi.

“Tiga hari lagi latihan-latihan ini akan berakhir,“ berkata Agung Sedayu kepada kawan-kawannya di Tanah Perdikan Menoreh saat ia berada di tempat latihan.

“Kenapa kau tidak memberikan latihan-latihan pada tingkat yang lebih tinggi,“ bertanya seseorang di antara anak-anak muda itu.

“Sayang,” berkata Agung Sedayu, “bukan aku berkeberatan. Tetapi aku harus kembali ke padepokanku yang sudah terlalu lama aku tinggalkan.”

Anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh tidak dapat memaksa. Karena itulah, maka merekapun telah memanfaatkan hari-hari terkhir itu dengan sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, ketika latihan-latihan sedang berlangsung di daerah terbuka di kaki pegunungan itu, maka Agung Sedayu merasa bahwa seseorang kembali telah mengamatinya.

Tetapi ia yakin, bahwa orang itu tentu bukan Rudita.

Dan itupun ternyata kemudian, bahwa yang datang ke tempat latihan itu adalah Prastawa.

Sambil tersenyum ia berjalan mendekati Agung Sedayu yang termenung memandanginya.

Tetapi Agung Sedayupun mengerti, bahwa senyum Prastawa bukannya senyum yang menyenangkan hatinya, karena Agung Sedayu dapat membaca perasaan yang tersirat di balik senyum Prastawa itu.

“Luar biasa,” katanya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Aku minta maaf kepadamu Agung Sedayu. bahwa setelah latihan-latihanmu berjalan beberapa hari, baru sekarang aku dapat hadir di kaki perbukitan ini.”

Agung Sedayupun mencoba untuk tersenyum. Katanya, “Aku hanya sekedar mengisi waktu selagi aku berada di sini dengan berlatih bersama anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh.”

“O, bagus sekali,“ sahut Prastawa, “seharusnya sejak hari pertama akupun ikut pula dalam latihan-latihan ini.”

“Aku kira kau tidak memerlukannya lagi Prastawa,“ berkata Agung Sedayu.

“Kenapa tidak?“ potong Prastawa, “bukankah menurut berita yang sama-sama kita dengar, kau adalah orang yang paling berhasil di dalam peperangan itu? Kau berhasil membunuh orang-orang terpenting, dan kemudian mengusir dan melukai yang lain.”

“Ah,“ desis Agung Sedayu, “sudah berapa kali kau mengatakannya. Tetapi seperti yang selalu aku katakan, semuanya itu terjadi bukan karena kemampuanku sendiri. Aku bertempur bersama para pengawal. Dan sudah tentu bahwa merekalah yang telah ikut serta menentukan akhir dari pertempuran itu.”

Prastawa tertawa. Katanya, “Kau memang seorang yang rendah hati. Tetapi kerendahan hatimu itu tentu mengandung maksud-maksud tertentu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Prastawa dengan penuh kebimbangan.

“Agung Sedayu,“ berkata Prastawa kemudian, “meskipun aku sudah ketinggalan, namun sebenarnyalah aku ingin ikut serta dalam latihan-latihan ini. Barangkali kau yang sudah memiliki kemampuan setingkat dengan orang-orang tua itu bersedia memberikan sedikit kemampuan itu kepadaku.”

“Ah,“ desis Agung Sedayu, “tentu tidak mungkin. Aku berlatih bersama dengan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh dalam ilmu kanuragan yang bersifat sangat umum. Tata gerak dasar dan peningkatannya dalam olah senjata. Kemudian sedikit tentang ilmu gelar dan tata cara serta beberapa segi pemanfaatan dari sifat-sifat gelar itu. Sedangkan kau sudah barang tentu telah menyadap ilmu kanuragan yang khusus dari salah satu cabang perguruan, sehingga caramu berlatihpun tentu mempunyai kekhususan.”

“Meskipun demikian, apakah salahnya, jika kau memberikan petunjuk-petunjuk yang dapat memberikan kesempurnaan pada ilmuku.”

Agung Sedayu memandang Prastawa dengan tatapan mata yang mengandung kecemasan. Ia memang sudah menduga, bahwa pada suatu saat Prastawa akan datang kepadanya. Tetapi yang sebenarnya terkandung di dalam hati anak muda itu tentu bukan sekedar berlatih bersama, tetapi Prastawa tentu ingin menjajagi ilmunya yang diragukan oleh anak muda itu.

Karena itu, kegelisahan yang sangat justru telah mencengkam hati Agung Sedayu.

“Kenapa kau termenung? “ bertanya Prastawa.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Tentu tidak mungkin Prastawa. Kau adalah seseorang yang memiliki ilmu kanuragan dari cabang perguruan yang berdiri tegak dengan ciri-ciri dan pertandanya sendiri. Apalagi kau adalah seorang anak muda yang sudah berilmu tinggi. Belum tentu dalam tataran ilmu kanuragan sesuai dengan cabang ilmu kita masing-masing, aku memiliki kelebihan darimu, sehingga sudah tentu bahwa aku tidak akan dapat memberikan apapun juga kepadamu.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Ia tidak menduga bahwa Agung Sedayu akan menghindari permintaannya. Ia menyangka bahwa Agung Sedayu akan menerima permintaannya dan mereka berdua akan berlatih bersama. Namun bagi Prastawa, yang akan dilakukannya bukan sekedar berlatih bersama, tetapi untuk menjajagi apakah benar bahwa Agung Sedayu mampu membunuh Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti.

“Agung Sedayu,“ berkata Prastawa kemudian, “betapapun juga, kita akan dapat berlatih bersama. Bahkan barangkali kau akan dapat memberikan banyak petunjuk kepadaku, seperti kepada kawan-kawanku disini.”

Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “Tidak Prastawa. Itu tidak mungkin. Belum tentu ilmuku lebih baik dari ilmumu. Karena itu, biarlah kita meningkatkan ilmu kita masing-masing pada saluran yang seharusnya.”

Wajah Prastawa menegang. Tetapi ia masih mencoba menahan diri, Katanya, “Jangan mengelak Agung Sedayu. Kita hanya berlatih bersama.”

Agung Sedayu menjadi semakin tegang. Teringat olehnya apa yang pernah dilakukan oleh Swandaru atas Raden Sutawijaya. Kemudian Raden Sutawijayapun pernah memaksanya untuk menjajagi kemampuannya. Tetapi saat itu ia dapat mengelak.

“Bagaimana jika Prastawa memaksa?“ bertanya Agung Sedayu didalam hati.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka Prastawa mendesaknya, “Kenapa kau diam saja? Marilah. Biarlah kawan kawan yang ada di sini menyaksikan apa yang sedang kita lakukan.”

Namun Agung Sedayu masih tetap menggeleng. Jawabnya, “Tidak Prastawa. Aku tidak sanggup. Aku akan berlatih saja bersama kawan-kawan yang lain.”

Prastawa mengatupkan giginya rapat-rapat. Agaknya ia sedang menahan gejolak perasaannya.

Sebenarnyalah bahwa Prastawa sudah menunggu kesempatan seperti itu. Ia ingin menunjukkan kepada kawan-kawannya, bahwa Agung Sedayu bukan seorang yang memiliki ilmu setinggi dataran langit yang tidak terjangkau.

Tetapi bahwa Agung Sedayu selalu mengelak, telah sangat mengecewakannya. Dengan demikian, maka anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh akan tetap mengira bahwa Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang luar biasa. Yang telah berhasil membinasakan Ki Gede Telengan, Ki Tumenggung Wanakerti dan orang-orang lain yang namanya sangat ditakuti.

“Tentu ada sebab-sebabnya yang menguntungkannya,“ berkata Prastawa di dalam hatinya.

Dalam pada itu, anak-anak muda di Tanah Perdikan Menorehpun menjadi termangu-mangu. Sebagian dari mereka, justru ingin melihat kedua anak muda itu saling menjajagi kemampuatmya. Prastawa yang masih sangat muda itu adalah kemenakan Ki Argapati yang perkasa, yang mewarisi dasar-dasar ilmu dari Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu. Sedangkan Agung Sedayu bagi mereka bahkan nampak lebih jelas memiliki kemampuan yang luar biasa.

“Sekali-sekali Prastawa harus mendapat pelajaran,“ berkata salah seorang dari anak-anak itu di dalam hati.

Bahkan beberapa orang yang lainpun menjadi kurang senang melihat sikap Prastawa, sehingga merekapun berharap, bahwa Agung Sedayu akan melayaninya berlatih bersama, dan menundukkan anak muda yang sombong itu.

Tetapi ternyata Agung Sedayu bersikap lain. Seperti pada saat-saat Raden Sutawijaya bersikap kasar terhadapnya, ketika Senapati Ing Ngalaga itu mengunjungi padepokan kecilnya, maka Agung Sedayu masih tetap berhasil menguasai perasaannya.

“Agung Sedayu,“ Prastawa mendesaknya, “seharusnya kau tidak mengelak. Setiap orang menyebut namamu sebagai seorang anak muda yang luar biasa. Yang berhasil menarik perhatian hampir seluruh pasukan, seolah-olah kaulah orang yang paling berhasil di dalam peperangan itu.”

“Apakah yang telah aku lakukan?“ justru Agung Sedayulah yang bertanya, “aku bertempur bersama para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh. Aku tidak berbuat sendiri. Karena itu, maka yang telah terjadi adalah karena perjuangan kita bersama.”

“Persetan,“ Prastawa telah kehilangan kesabarannya, “apapun yang terjadi, dan apapun yang kau katakan, sekarang kau harus membuktikan, bahwa kau benar-benar seorang laki-laki jantan. Aku ingin menjajagi apakah benar kau berhak menerima sanjungan yang berlebih-lebihan itu.”

Dada Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Iapun memang sudah mencemaskan, bahwa pada suatu saat sikap Prastawa akan menyudutkannya.

Namun Agung Sedayupun kemudian justru bertekad untuk tidak melayaninya, apapun yang akan dilakukan oleh Prastawa yang sudah kehilangan kesabaran itu.

Dalam pada itu, dada Prastawa menjadi semakin panas. Rasa-rasanya ia sudah ingin meloncat menghantam dada Agung Sedayu.

Namun nampaknya sikap Agung Sedayu masih tetap tidak menanggapinya. Agung Sedayu sama sekali tidak bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi jika Prastawa benar-benar hendak menyerangnya.

“Aku pernah menghindari peristiwa seperti ini saat Raden Sutawijaya menginjakkan kakinya untuk pertama kali di padepokanku,“ berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Setengah mengeluh ia berdesah bagi dirinya sendiri, “Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini sampai berulang.”

Karena Agung Sedayu masih tetap berdiam diri, maka Prastawapun kemudian membentaknya, “He, Agung Sedayu. Kenapa kau diam saja? Apakah kau merasa dirimu sedemikian agung sehingga kau merasa tidak pantas mendengarkan kata-kataku?”

“Prastawa,“ jawab Agung Sedayu, “jangan salah mengerti. Aku benar-benar menjadi bingung menanggapi sikapmu. Aku kira aku tidak akan dapat memenuhi keinginanmu, bukan karena aku merasa diriku sangat berharga. Tetapi karena semata-mata aku mempunyai pertimbangan yang mapan dalam menilai diriku sendiri. Kita sama-sama anak muda. Dan aku kira, apa yang ada padaku, tidak jauh berselisih dari yang ada padamu. Karena itu, aku kira, kita tidak perlu saling menjajagi.”

“Aku tidak peduli,“ teriak Prastawa, “aku akan mulai.”

Agung Sedayu berdiri termangu-mangu. Ia benar-benar menjadi bimbang. Terhadap Sutawijaya ia dapat dengan tekad bulat tidak berbuat sesuatu meskipun anak muda yang bergelar Senapati Ing Ngalaga itu menantangnya, bahkan hampir menyerangnya, karena ia percaya bahwa Raden Sutawijaya tidak akan kehilangan nalarnya. Tetapi mungkin agak berbeda dengan Prastawa. Anak muda ini masih terlalu dipengaruhi oleh perasaannya.

Namun demikian, tidak terlintas niatnya untuk melawan seandainya Prastawa itu menyerangnya.

Dalam kebimbangan itu terdengar sekali lagi Prastawa membentak, “Agung Sedayu. Aku tidak peduli, apakah kau tetap menganggap aku tidak cukup bernilai untuk menjajagi kemampuanmu. Tetapi aku akan menyerang, dan jika bagian-bagian tubuhmu yang paling lemah tersentuh oleh seranganku, dan akibatnya membuatmu menyesal, itu bukan salahku.”

Agung Sedayu masih termangu-mangu. Namun dalam pada itu, kegelisahan yang sangat telah mencengkam anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh. Sikap Prastawa telah menumbuhkan tanggapan yang aneh di dalam hati anak-anak muda itu.

Jika semula mereka tertarik untuk menyaksikan latihan yang tentu akan sangat mendebarkan, namun kemudian perasaan mereka telah terbanting ke dalam keadaan yang tidak mereka duga. Ternyata bahwa Agung Sedayu telah mengelak.

Semula anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh memang menjadi kecewa, karena mereka tidak dapat menyaksikan latihan yang sangat menarik dari kedua anak-anak muda yang memiliki kelebihan dari sesamanya. Namun kemudian mereka melihat perbedaan sikap antara Agung Sedayu dan Prastawa. Agung Sedayu yang selalu menghindar itu justru menimbulkan kesan yang lebih baik dari Prastawa yang selalu mendesak dan bahkan mengancam.

Dalam keadaan yang menjadi semakin panas, tiba-tiba saja salah seorang dari anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh yang sudah lebih tua dari kawan-kawannya memberanikan diri untuk bertanya, ”Prastawa. Apakah kau tidak dapat menunda niatmu untuk berlatih bersama Agung Sedayu sekarang ini ?”

Wajah Prastawa menjadi semakin tegang. Dipandanginya anak muda Tanah Perdikan Menoreh itu dengan tatapan mata yang tajam.

“Aku minta maaf, bahwa barangkali pertanyaanku telah mengganggu perasaanmu,” anak muda yang sudah berumur lebih banyak dari kawan-kawannya itu melanjutkan, ”tetapi aku melihat sesuatu yang tidak bertemu saat ini antara kau dan Agung Sedayu. Agaknya kau benar-benar berminat untuk berlatih bersama Agung Sedayu. Tetapi nampaknya Agung Sedayu masih belum siap untuk melakukannya.”

Sorot mata Prastawa justru semakin membara. Dengan kasar ia menjawab, ”Itu adalah karena sikap gila anak Sangkal Putung itu. Ia merasa dirinya terlampau besar, sehingga ia menganggap aku seperti debu yang tidak pantas untuk dilayani.”

“Kau salah paham Prastawa,” desis anak muda itu, ”menurut pendapatku, ada keseganan pada Agung Sedayu untuk melakukan latihan khusus denganmu sekarang. Mungkin kamilah yang telah mengganggu, atau barangkali karena sebab-sebab lain.”

“Persetan,” geram Prastawa, ”kau tidak usah ikut campur. Justru kau dan kawan-kawanmulah yang aku harapkan akan dapat menjadi saksi sekarang ini. Apakah benar bahwa Agung Sedayu memiliki ilmu seperti yang disangka orang, yang mampu melampaui kemampuan orang-orang terpenting dalam pasukan orang-orang yang mengaku dirinya pewaris kerajaan Majapahit itu.”

Anak muda itupun menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh itupun menyadari, bahwa ternyata Prastawa merasa kurang yakin bahwa Agung Sedayu benar-benar telah berhasil mengejutkan para pengawal bahkan para pemimpin dari Tanah Perdikan Menoreh, dari Mataram dan dari Sangkal Putung.

Namun dalam pada itu. Agung Sedayu mengeluh di dalam hati. Bahkan ia berdesah di dalam dadanya, ”Apakah jika aku sampai di Sangkal Putung, Swandarupun akan memperlakukan aku seperti ini ?”

Namun dengan suara yang berat mendatar ia berkata kepada anak anak muda Tanah Perdikan Menoreh, “Prastawa telah salah paham. Aku sudah mengatakan, bahwa aku bukan apa-apa. Jika ada orang-orang yang terbunuh di peperangan, tentu bukan aku sendirilah yang membunuhnya, karena aku bertempur di dalam kelompok-kelompok yang padat. Selebihnya, aku telah bertekad untuk tidak berbuat apa-apa, meskipun akan mengalami perlakuan yang bagaimanapun juga.”

“Pengecut,” teriak Prastawa. Sedangkan jawab Agung Sedayu benar-benar di luar dugaannya, ”Benar Prastawa. Mungkin aku memang seorang pengecut.”

Rasa-rasanya dada Prastawa akan meledak. Tetapi dalam keadaan yang demikian, di hadapan saksi-saksi, ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia tidak dapat menyerang dan apalagi menyakiti Agung Sedayu yang sudah mengatakan, tidak akan melawan. Bahkan iapun tidak menolak ketika Prastawa berusaha membuatnya marah dan mengatakannya sebagai seorang pengecut.

Karena itu, yang dapat dilakukan Prastawa hanyalah mengumpat tidak habis-habisnya. Sekali-sekali ia masih melontarkan hinaan untuk membakar hati Agung Sedayu. Tetapi Agung Sedayu tetap tabah. Ia selalu berusaha untuk menguasai dirinya seperti saat-saat ia mengalami perlakuan yang hampir sama dari Raden Sutawijaya.

Dalam pada itu, Prastawa yang merasa tidak berhasil memaksa Agung Sedayu untuk bertempur, menggeram, “Mudah-mudahan tidak kau ajarkan kepada anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh sifat-sifat pengecutmu itu.”

Agung Sedayu tidak menjawab.

“Tetapi pada suatu saat, aku akan membuktikan, bahwa kau bukan orang yang pantas disanjung-sanjung. Sekarang kau masih dapat mempertahankan namamu dengan menghindarkan diri dari pembuktian bahwa sebenarnya kau tidak lebih dari aku dan anak-anak Tanah Perdikan Menoreh yang lain. Bahkan kau berhasil memberikan kesan yang lebih tinggi lagi pada dirimu sendiri, seolah-olah kau adalah orang yang mumpuni tetapi rendah hati. Sebenarnyalah bahwa kau memang sedang menyembunyikan kekurangan-kekuranganmu,“ geram Prastawa.

Agung Sedayu tetap tidak menjawab. Ia benar-benar berusaha menghindarkan diri dari kemungkinan yang sama sekali tidak diingininya itu.

Karena Agung Sedayu tetap tidak menanggapinya, maka akhirnya Prastawa itu berkata dengan nada kasar, “Jika demikian, sebaiknya kau tidak terlalu lama berada di sini Agung Sedayu. Kau hanya akan mengotori Tanah Perdikan Menoreh dengan sifat-sifat licik dan pengecut. Jika kau masih saja berada d isini, mungkin pada suatu saat aku benar-benar kehilangan kesabaran dan memaksamu untuk bukan saja sekedar berlatih, tetapi benar-benar berkelahi, karena jangan kau kira bahwa dengan sikap besarmu yang pura-pura itu aku menjadi segan kepadamu.”

Rasa-rasanya jantung Agung Sedayu berdentang lebih keras. Betapapun juga, darahnya adalah darah muda. Namun ia masih tetap bertekad untuk tidak melayani Prastawa, apapun yang akan diperbuatnya.

Dalam kepepatan, Prastawapun kemudian menghentakkan tinjunya. Namun iapun kemudian melangkah cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Dipandanginya anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh yang masih tetap tinggal bersamanya.

Meskipun demikian, rasa-rasanya memang ada jarak antara dirinya dengan anak-anak muda itu justru karena sikap Prastawa. Anak-anak muda itu pada saat-saat selanjutnya akan tetap berada di bawah pimpinan Prastawa. Jika kehadirannya akan dapat memberikan kesan yang lain terhadap Prastawa, atau jika pada suatu saat Prastawa berhasil meyakinkan sikapnya kepada anak-anak muda itu, maka ia memang akan menjadi orang lain bagi Tanah Perdikan Menoreh.

Karena itu, maka selagi masih ada kesempatan, ia ingin meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh dengan baik dan tanpa kesan yang dapat menodai hubungannya dengan Tanah Perdikan Menoreh untuk seterusnya.

Ketika Prastawa telah tidak nampak lagi. maka Agung Sedayupun kemudian berkata, “Aku minta maaf, bahwa barangkali sikapku memang tidak menyenangkan.”

Tetapi anak muda yang umurnya paling tua itupun berkata, “Tidak Agung Sedayu. Kau tidak bersalah.”

Meskipun demikian, Agung Sedayu tidak berani menanggapinya. Jika ia menyebut kekurangan Prastawa, maka mungkin ia akan justru terjebak dalam keadaan yang sulit. Jika anak itu pada suatu saat menemukan kecocokan dengan Prastawa, maka semuanya tentu akan disampaikannya kepada anak muda yang tinggi hati itu.

Itulah sebabnya, maka Agung Sedayu tetap berhati-hati. Bahkan kemudian dengan hati yang berdebar-debar ia berkata, “Kawan-kawan, agaknya aku memang harus meninggalkan Tanah Perdikan ini dengan segera.”

“Tetapi kau berjanji untuk tinggal di sini tiga hari lagi,“ sahut anak muda yang lain.

“Tiga hari itu saja. Tetapi agaknya keadaanku tidak sebaik yang aku sangka. Pada suatu saat mungkin akan dapat timbul persoalan-persoalan yang tidak kita kehendaki bersama.“ Agung Sedayu termangu-magu sejenak. Namun kemudian ia melanjutkan, “Karena itu, apa yang sudah aku sampaikan kepada kalian akan dapat kalian kembangkan sendiri. Besok pagi-pagi benar, aku akan meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, kembali ke Sangkal Putung, untuk seterusnya ke padepokan kecilku. Adikku tentu sudah lama menunggu. Apalagi jika ia mengetahui bahwa Guru sudah lebih dahulu kembali.”

Anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh sebenarnya masih ingin menahannya. Tetapi merekapun menyadari, bahwa hubungan antara Agung Sedayu dan Prastawa yang masih sangat muda itu agaknya kurang baik. Meskipun mereka tidak tahu sebabnya dengan pasti. Ada di antara mereka yang meraba-raba. bahwa hubungan itu sudah terlalu buruk sejak ayah Prastawa masih bersikap menentang kekuasaan Ki Gede Menoreh. Tetapi ada pula yang berpendapat, bahwa Prastawa menjadi iri hati atas keberhasilan Agung Sedayu.

Karena itulah, maka anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh tidak berusaha lagi untuk menahan Agung Sedayu. Betapapun keinginan mereka untuk mendapat sekedar tambahan petunjuk-petunjuk tentang kanuragan dan gelar perang, namun mereka tidak dapat mengesampingkan sikap Prastawa, sehingga Agung Sedayu harus menahan hati.

Meskipun demikian ada juga di antara mereka yang justru menjadi cemas, apakah Prastawa justru tidak mempergunakan kesempatan perjalanan Agung Sedayu yang seorang diri kembali ke padepokan kecilnya. Jika hati Prastawa masih tetap panas, maka ia akan dapat berbuat di luar sadarnya di saat Agung Sedayu di perjalanan.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: