Buku 112 (Seri II Jilid 12)

 

Demikianlah maka Agung Sedayupun kemudian menghadap Ki Gede Menoreh ketika ia berada kembali di rumah Ki Gede itu. Rasa-rasanya ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi, meskipun hanya semalam.

Hatinya menjadi berdebar-debar ketika Prastawapun kemudian hadir pula menemuinya di pendapa. Sekaligus Agung Sedayu sempat memandang wajah anak muda yang buram itu.

Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak ingin mengatakan kepada Ki Gede Menoreh, bahwa sikap Prastawalah yang telah memaksanya mempercepat meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh.

Semula Ki Gede Menoreh berusaha untuk menahannya. Seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu sendiri, ia masih akan tinggal untuk dua tiga hari lagi. Namun tiba-tiba saja ia telah merubah keputusannya dan kembali ke Kademangan Sangkal Putung.

Tetapi Agung Sedayu tidak lagi merubah niatnya. Dengan nada datar ia berkata, ”Guru tentu sudah menunggu aku. Bahkan mungkin Guru menjadi gelisah. Sedangkan di padepokan kecil yang akan bangun bersama Guru, adikku telah menunggu aku pula. Akulah yang membawanya ke padepokan kecil itu, sehingga jika aku terlalu lama pergi, mungkin ia akan merasa jemu tinggal di padepokan itu.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, ”Kerinduan memang kadang-kadang bagaikan memanggil kita untuk segera datang. Apalagi kerinduan rangkap seperti Angger Agung Sedayu. Adiknya memang sudah lama menunggu. Tetapi selain adiknya, tentu masih ada lagi yang menunggunya.”

Anak-anak muda yang ada di pendapa itupun tersenyum. Namun berbeda dengan mereka, wajah Prastawa menjadi merah. Terasa sesuatu bagaikan melonjak di dalam dadanya.

Tiba-tiba saja wajah Sekar Mirah telah membayang di dalam angan-angannya. Ia sadar sepenuhnya, bahwa antara Sekar Mirah dan Agung Sedayu telah terjalin suatu ikatan batin. Namun rasa-rasanya ia tidak ikhlas mendengar kedua-duanya itu dihubung-hubungkan dalam keadaan yang bagaimanapun juga.

Tetapi Prastawa masih dapat menahan hatinya, ia berusaha untuk melenyapkan kesan itu dari wajahnya. Bagaimanapun juga ia masih tetap sadar bahwa ia tidak akan dapat berdiri di antara kedua nama yang sudah bertaut itu.

Demikianlah, maka Ki Gede tidak dapat menahan lagi agar Agung Sedayu tetap tinggal di Tanah Perdikan Menoreh meskipun hanya untuk dua tiga hari lagi. Karena itulah maka iapun kemudian hanya dapat mengucapkan terima kasih atas kehadirannya di Tanah Perdikan menoreh dan berada di dalam pasukan para pengawal Tanah Perdikan itu saat-saat mereka berada di lembah yang gawat antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Selebihnya Agung sedayu telah memberikan banyak petunjuk bagi para pengawal baik secara pribadi maupun sebagai kelompok dalam gelar perang.

Malam menjelang keberangkatan Agung Sedayu, anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh berkumpul di pendapa rumah Kepala Tanah Perdikannya. Mereka ingin mengucapkan terima kasih kepada Agung Sedayu atas segalanya yang pernah ia berikan bagi Tanah Perdikan itu.

Hampir semalam suntuk Agung Sedayu justru tidak dapat tidur. Sampai menjelang fajar, masih ada anak-anak muda yang duduk di pendapa. Namun Ki Gedelah yang kemudian mempersilahkan Agung Sedayu untuk beristirahat, meskipun hanya sebentar.

Prastawa yang melihat sambutan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh kepada Agung Sedayu merasa jantungnya semakin bergejolak. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa, Ki Gede Menoreh seakan-akan memberikan tempat yang amat baik bagi Agung Sedayu di Tanah Perdikan itu, sehingga hampir-hampir melupakannya.

Meskipun Ki Gede sudah nampak memberikan kepercayaan kepadanya terutama saat pasukan Tanah Perdikan Menoreh berada di lemhah antara Gunung Merapi dan Merbabu, namun Ki Gede menjadi sangat berbangga kepada Agung Sedayu.

“Secara kebetulan Agung Sedayulah yang telah menjumpai orang-orang tua yang tidak memiliki kelebihan apapun juga itu, sehingga karena itulah maka orang-orang Tanah Perdikan Menoreh menganggap bahwa Agung Sedayu adalah anak muda yang perkasa,“ geram Prastawa di dalam hatinya.

Ketika matahari kemudian terbit di timur, maka Agung Sedayupun telah berkemas. Ia masih sempat tidur meskipun hanya sejenak, sehingga tubuhnya terasa menjadi segar.

“Aku akan singgah barang sejenak di Mataram,“ berkata Agung Sedayu kepada Ki Gede ketika ia sudah siap untuk berangkat.

“Salamku buat Senapati Ing Ngalaga, serta Ki Juru Martani dan para pemimpin di Mataram,“ berkata Ki Gede Menoreh.

“Baiklah Ki Gede. Aku akan menyampaikannya,“ Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu sekali lagi minta diri kepada Ki Gede dan para bebahu di Tanah Perdikan Menoreh. Anak-anak mudapun banyak pula yang hadir di halaman rumah Ki Gede untuk melepas Agung Sedayu meninggalkan Tanah Perdikan itu.

Betapapun geramnya hati Prastawa, namun ia berada juga di antara anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh dan melepas Agung Sedayu sampai ke regol halaman.

“Dua orang pengawal akan mengawaninya sampai ke tepi sungai Praga,“ berkata Ki Gede.

“Ah. terima kasih Ki Gede, agaknya hanya akan merepotkan mereka saja. Biarlah aku berjalan sendiri.”

“Bukan untuk mengawal,“ berkata Ki Gede, “mereka tidak ada gunanya bagimu. Tetapi sekedar menjadi kawan berbincang di sepanjang jalan sampai ke tepi sungai.”

 

 

Agung Sedayu tidak dapat menolak. Karena itu, maka diperjalanannya ia disertai dua orang pengawal yang dapat menjadi kawan bercakap-cakap di sepanjang jalan sampai ke tepi Kali Praga.

Sebenarnya terasa berat juga hati Agung Sedayu meninggalkan Tanah Perdikan itu. Ada sesuatu yang rasa-rasanya mengikatnya di atas Tanah Perdikan itu, meskipun sebenarnya ia tidak mempunyai banyak sangkut paut dengan Tanah itu. Ia orang lain bagi Tanah Perdikan Menoreh meskipun ia sudah mengenalnya dengan baik seperti ia mengenal tempat tinggalnya sendiri.

Telah menjadi keputusan Agung Sedayu, bahwa ia akan singgah di Mataram meskipun hanya sejenak. Ia ingin bertemu dengan Raden Sutawijaya dan melihat perkembangan keadaan setelah beberapa hari mereka menyelesaikan tugas mereka di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Dalam pada itu, di sepanjang jalan, para pengawal yang mengantarkan Agung Sedayu masih memanfaatkan pertemuan mereka yang hanya tinggal sejenak itu. Mereka bertanya tentang berbagai hal mengenai bentuk-bentuk gelar di medan dan mengenai jenis-jenis senjata dan penggunaannya.

Agung Sedayu mencoba untuk menjawab semua pertanyaan mereka, meskipun kadang-kadang ia sendiri terpaksa menggelengkan kepalanya sambil berkata, ”Maaf, aku tidak mengerti. Aku belum pernah melihat jenis senjata yang kau tanyakan.”

Perjalanan Agung Sedayu ternyata tidak terlampau panjang ketika kemudian ia mencapai tepi Kali Praga. Dengan hati yang berat maka iapun kemudian minta diri kepada kedua pengawalnya untuk turun ke getek yang akan membawanya menyeberang.

“Selamat jalan Agung Sedayu. Mudah-mudahan kau tidak lama lagi sudah berada di Tanah Perdikan Menoreh pula,” berkata salah seorang pengawal yang menemuinya.

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, ”Mudah-mudahan. Aku memang ingin kembali ke Tanah Perdikan Menoreh. Aku ingin membawa adik sepupuku berjalan-jalan menyusur jalan yang agak panjang agar ia dapat mengenal lingkungannya.”

“Benar? Bawalah adikmu ke Tanah Perdikan Menoreh. Ki Gede tentu akan senang sekali menerimanya.”

Agung Sedayu tersenyum. Namun katanya kemudian, ”Sudahlah. Selamat tinggal.”

Kedua pengawal itupun melepaskan Agung Sedayu menyeberang di atas sebuah rakit bambu. Sejenak keduanya masih berdiri di tepian sambil melambaikan tangan.

Agung Sedayupun melambaikan tangannya pula. Anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh itu seolah olah sudah menjadi saudara-saudaranya yang dekat.

Namun akhirnya kedua pengawal itupun meninggalkan tepian dan berkuda kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Aku tidak dapat mengerti sikap Prastawa,” desis salah seorang dari mereka.

“Mungkin ia meragukan keunggulan Agung Sedayu,” jawab yang lain.

“Jika ia hanya meragukan, itu masih lebih baik daripada jika sebenarnya ia merasa iri atas keberhasilan Agung Sedayu,” desis kawannya.

Yang lain tidak menjawab. Namun pada umumnya memang ada kesan yang kurang baik terhadap anak muda itu. Anak muda yang sebenarnya mempunyai beberapa kelebihan dari kawan-kawannya.

Tetapi sikapnya dan tingkah lakunya telah menumbuhkan kegelisahan di antara anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh.

Bahkan bukan saja anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh, karena akhirnya yang terjadi itu sampai juga ke telinga Ki Gede. Beberapa orang anak muda tidak dapat menahan hatinya, dan di saat Prastawa tidak menghadap Ki Gede, anak-anak muda itu telah menanyakan apakah sebabnya Prastawa bersikap demikian.

Tetapi seperti anak-anak muda itu, Ki Gede Menorehpun hanya dapat meraba-raba, karena iapun tidak tahu pasti apa yang terkandung di dalam hati anak muda itu.

Namun demikian Ki Gede Menoreh sama sekali tidak ingin bertanya kepada Prastawa, karena ia tidak ingin melihat pertentangan itu meluas di antara anak-anak muda di Tanah Perdikan itu sendiri. Jika Prastawa mengetahui bahwa ada satu dua orang yang menyampaikan persoalannya itu kepada Ki Gede, maka Prastawa tentu akan marah dan dengan curiga akan mencari siapakah yang telah mengatakannya kepada Ki Gede Menoreh.

Tetapi Ki Gede sudah bertekad untuk menjajagi hati anak muda itu dengan hati-hati dan tidak menimbulkan goncangan perasaan padanya.

Sementara itu. Agung Sedayu yang telah menyeberangi Kali Praga telah melanjutkan perjalanannya ke Mataram. Di perjalanan ia sama sekali tidak mengalami gangguan apapun. Agaknya jalan ke Mataram benar-benar merupakan jalan yang tenang.

Demikian pula saat Agung Sedayu mendekati Kota Mataram. Kota yang sedang tumbuh itu nampak tenang dan hidup. Sawah yang luas nampak hijau dan basah, sedangkan di jalan-jalan dan bulak-bulak panjang nampak beberapa buah pedati berjalan perlahan-lahan memuat hasil-hasil sawah yang melimpah pulang ke rumah masing-masing.

“Mataram memang suatu negeri yang sedang tumbuh dan akan menjadi besar,” gumam Agung Sedayu. Lalu, ”Agaknya wahyu keraton memang mungkin sekali berpindah dari Pajang ke Mataram. Pajang yang semakin suram akan menjadi silau melihat perkembangan Mataram. Apalagi di Pajang sendiri terdapat benih-benih yang akan dapat melumpuhkan kekuasaan Pajang itu sendiri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam jika ia mengenangkan sikap Raden Sutawijaya yang berkeras tidak mau menghadap ke Pajang. Bahkan kemudian timbul pula suatu pertanyaan, ”Apakah Raden Sutawijaya justru telah membuat perhitungan-perhitungan tertentu yang dapat melampaui perjalanan waktu, sehingga Raden Sutawijaya telah berani mengambil sikap terhadap Pajang sejak sekarang ?”

Tetapi pengamatan atas perkembangan Pajang memang tidak menggembirakan. Memang beberapa Adipati di pesisir dan di bagian timur dari daerah Pajang masih tetap merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan. Tetapi rasa-rasanya ikatan di antara mereka sudah menjadi semakin kendor. Apalagi Pajang tidak lagi berusaha meneruskan langkah Sultan Trenggana di Demak yang terbunuh di medan saat ia berjuang untuk mempererat ikatan kesatuan Demak di tataran terakhir.

Dan kini, Pajang justru menjadi semakin suram.

Angan-angan Agung Sedayu terputus ketika ia mendekati gerbang kota Mataram. Dilihatnya seorang pengawal berdiri bersandar dinding batu tanpa menghiraukan orang-orang yang melewati pintu gerbang.

Namun hal itu bagi Agung Sedayu merupakan pertanda, bahwa Mataram benar-benar dalam keadaan tenang.

Meskipun demikian, Agung Sedayu berdesis di dalam hatinya, ”Baru saja pertempuran di lembah itu berakhir. Tidak semua orang di pasukan lawan dapat ditangkap. Bahkan mungkin mereka dapat berhubungan dengan pihak-pihak tertentu untuk melepaskan dendamnya, mengacaukan Mataram meskipun mereka yakin tidak akan dapat berbuat lebih dari pada itu.”

Tetapi Agung Sedayu tidak berbuat sesuatu. Ia lewat melalui pintu gerbang, seperti orang-orang lain lewat.

Namun ternyata Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Nalurinya yang tajam telah menangkap isyarat, bahwa ternyata beberapa orang yang berada di sepanjang jalan, yang seolah-olah sekedar berjalan-jalan tanpa tujuan, adalah petugas-petugas sandi dari Mataram.

Apalagi ketika tiba-tiba saja ia melihat seseorang yang duduk di bawah sebatang pohon sambil terkantuk-kantuk. Ditangannya tergenggam sebatang tongkat yang panjang.

Agung Sedayu tidak dapat dikelabui oleh pakaian yang sederhana dan sikap yang malas. Karena itu, maka iapun kemudian menghentikan kudanya, dan menuntun mendekati orang itu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, maka Agung Sedayu langsung duduk di sebelah orang itu sambil memegangi kendali kudanya.

Orang itu memandang Agung Sedayu dengan heran. Bahkan kemudian ia bergeser sambil bertanya, ”Siapa kau Anak Muda?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil menjawab, ”Namaku Ki Banaran.”

Orang yang berpakaian sederhana dan bermalas-malas di pinggir jalan itu menatap Agung Sedayu dengan tajamnya. Namun kemudian desisnya, ”Pandangmu tajam sekali anak muda. Aku kira kau tidak mengenal aku lagi.”

Agung Sedayu tertawa. Katanya, ”Meskipun kau memakai samaran apapun juga, aku tidak akan dapat kau kelabui. Hidungmu mempunyai ciri tersendiri. Tatapan matamu seperti tatapan mata burung hantu. Sedangkan gelang sulur waringin tunggul di kakimu semakin meyakinkan aku, bahwa aku berhadapan dengan Ki Banaran.”

Orang yang disebut Ki Banaran itu akhirnya tersenyum. Katanya, ”Luar biasa. Hanya anak muda yang luar biasa sajalah yang dapat mengenalku. Baiklah. Aku tidak dapat ingkar lagi.”

“He. apakah masih ada niatmu untuk ingkar?” bertanya Agung Sedayu.

“Jangan terlalu keras. Bukankah kau tahu, bahwa aku sedang bertugas?”

“Ya. Tetapi apakah yang sedang kau cari disini?”

Ki Banaran mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian, ”Kau akan menghadap Senapati Ing Ngalaga?”

“Ya. Aku baru datang dari Tanah Perdikan Menoreh.”

“Sejak pertempuran di lembah?“ bertanya Ki Banaran.

“Ya. Bukankah baru beberapa hari?”

Ki Banaran mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk.

“Apa kerjamu disini?“ bertanya Agung Sedayu kemudian.

Ki Banaran menjadi ragu-ragu. Sejenak ia memandang Agung Sedayu, seakan-akan ia sedang meyakinkan apakah ia dibenarkan untuk mengatakan sesuatu kepada anak muda itu.

“Kau curiga kepadaku? Atau barangkali kau benar-benar tidak yakin bahwa aku Agung Sedayu?”

Ki Banaran menarik nafas panjang. Katanya kemudian, “Aku mengerti. Tetapi rasa-rasanya ragu-ragu juga untuk mengatakan.”

Agung Sedayu tersenyum, dan Ki Banaran berkata, “Sebenarnya tugasku sekarang sudah tidak berarti. Tetapi sekedar sikap hati-hati. Ada petugas sandi dari Pajang yang berada di Mataram. Tetapi petugas itu sudah kembali ke Pajang. Meskipun demikian, mungkin ada petugas-petugas lain yang datang kemudian di luar pengetahuan kita.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Itulah sebabnya ada beberapa petugas sandi yang tersebar.”

“Tidak diseluruh kota. Hanya di pintu-pintu gerbang. Di sini ada tiga orang petugas sandi untuk mengawasi orang-orang yang keluar masuk pintu gerbang. Mungkin ada yang mencurigakan seperti kau.”

Agung Sedayu tersenyum pula. Katanya, “Ada tiga orang di setiap pintu gerbang. Agaknya sudah cukup. Tetapi apakah kau pernah melihat orang-orang yang pantas dianggap sebagai petugas sandi dari Pajang atau dari manapun juga?”

“Pernah. Kau.”

Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Kau tidak pantas menjadi petugas sandi. Tetapi baiklah aku melanjutkan perjalanan. Apakah ada keterangan lain?”

“Bertanyalah kepada Senapati Ing Ngalaga. Pajang menganggap kita sudah bersiap untuk bertempur dan memberontak. Itulah sebabnya maka mereka mengirimkan petugas sandinya kemari untuk melihat persiapan itu.”

Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Dengan sungguh-sungguh ia bertanya, “Dan petugas sandi itu melihat pasukan yang datang dari lembah? Pasukan Mataram dan Sangkal Putung?”

Ki Banaran menggeleng. Katanya, “Pergilah menghadap Senapati. Kau akan mendapat banyak keterangan. Tetapi tidak di sini. Batang-batang kayu itu mungkin bertelinga.”

“Sementara kau sendiri tidak,” desis Agung Sedayu.

Ki Banaran mengerutkan keningnya. Namun sambil tersenyum iapun kemudian berkata, “Sudahlah. Pergilah. Jika kau ingin singgah di warung-warung, mungkin masih ada satu dua yang dapat melayanimu.”

Agung Sedayu kemudian bangkit berdiri sambil berkata, “Selamat tinggal. Duduklah di situ sampai matahari terbenam. Itu adalah tugasmu.”

Ki Banaran mengerutkan keningnya. Namun Agung Sedayu tersenyum. Ia senang melihat Agung Sedayu. Anak muda yang ramah namun memiliki kemampuan yang luar biasa, meskipun pada saat-saat tertentu anak muda itu dapat kehilangan kemampuan untuk mengambil sikap yang menentukan.

Ki Banaran melambaikan tangannya ketika Agung Sedayu meloncat ke punggung kudanya dan berderap meninggalkannya.

Sepeninggal Agung Sedayu, Ki Banaran kembali duduk pada sikapnya. Malas dan seolah-olah tidak acuh terhadap orang-orang yang lewat. Ternyata selain Agung Sedayu. tidak seorangpun yang dapat mengenalnya karena penyamarannya, karena orang-orang Mataram tidak mengira, bahwa Ki Banaran seorang dari para pemimpin pasukan pengawal Mataram berpakaian sangat sederhana dan duduk bermalas-malas di pinggir jalan, seperti tingkah laku orang-orang malas yang menghabiskan waktunya tanpa arti.

Sementara itu Agung Sedayu telah memacu kudanya meskipun tidak terlalu cenat, karena ia sudah berada di dalam kota. Ia ingin segera menghadap Raden Sutawijaya untuk mendengarkan keterangannya tentang petugas-petugas sandi dari Pajang dan sikap Pajang terhadap Mataram pada saat-saat terakhir.

Kedatangan Agung Sedayu di rumah Raden Sutawijaya ternyata telah mendapat sambutan yang baik sekali. Raden Sutawijaya menjadi sangat gembira karena kedatangannya. Bahkan orang-orang tua di Matarampun telah memerlukan menerima kedatangannya. Ki Juru Martani, Ki Lurah Branjangan, Ki Lurah Dipayana dan beberapa orang pemimpin lainnya telah berkumpul untuk menyambut kedatangan Agung Sedayu.

Sejenak mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing seperti yang selalu dilakukan oleh mereka yang bertemu kembali setelah terpisah beberapa saat.

Setelah Agung Sedayu disuguhi sekedar minum dan beberapa potong makanan, maka mulailah mereka berbicara tentang berbagai macam persoalan yang merambat kepada persoalan yang dihadapi di saat terakhir oleh Mataram.

“Aku bertemu dengan Ki Banaran,“ berkata Agung Sedayu.

Ki Juru Martani mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Dimana Angger menjumpainya?”

“Di pintu gerbang,“ jawab Agung Sedayu.

“Apakah yang dilakukannya?“ bertanya Ki Juru kemudian.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya dengan tersenyum, “Ia sedang bertugas.”

Ki Lurah Branjangan memotong, “Dan kau dengan mudah dapat mengenalnya sebagai Ki Banaran, atau Ki Banaran yang telah menegurmu?”

Agung Sedayu termangu-mangu. Tetapi ia sudah terlanjur berbicara tentang Ki Banaran. Baru kemudian ia sadar, bahwa seharusnya tidak semudah itu untuk dapat mengenalnya, akan dengan mudah dapat mengetahui bahwa Mataram mengadakan pengawasan yang ketat.

Tetapi sebelum Agung Sedayu menjawab Ki Juru Martani telah mendahului, “Jangan heran jika Angger Agung Sedayu mampu mengenalnya. Ia mempunyai ketajaman pengenalan lebih dari orang kebanyakan.”

“Ah,“ desah Agung Sedayu, “bukan karena itu Ki Juru. Tetapi ada ciri yang aku kenal baik, karena sebelumnya aku pernah mempercakapkan dengan Ki Banaran sendiri.”

“Apa?“ bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Gelang sulur waringin tunggul di kakinya. Bukankah jarang orang yang bergelang di kakinya bagi seorang laki-laki?“ jawab Agung Sedayu.

Orang-orang yang mendengarnya mengangguk-angguk. Jawaban Agung Sedayu memang masuk akal. Tetapi bahwa seseorang langsung dapat melihat gelang di kaki orang lain adalah sesuatu yang sangat kebetulan.

Meskipun demikian, orang-orang yang berkumpul menemui Agung Sedayu itu tidak bertanya lebih jauh.

Yang kemudian mereka bicarakan adalah sikap Pajang yang penuh curiga, meskipun pada umumnya para pemimpin di Mataram menyadari, bahwa ada orang-orang tertentu yang telah menghasut dan memanaskan keadaan.

Agaknya pembicaraan mereka jadi berkepanjangan. Agung Sedayu memang berminat untuk bermalam di Mataram, agar ia dapat mendengar banyak keterangan yang barangkali sangat diperlukan.

Dari Raden Sutawijaya sendiri. Agung Sedayu mendengar usaha para petugas sandi dari Pajang yang telah datang ke Mataram tepat pada saat pasukan Mataram dan Sangkal Putung datang dari medan perang.

Agung Sedayu mendengarkan keterangan Raden Sutawijaya itu dengan saksama. Ketajaman nalarnya segera dapat menangkap peristiwa yang terjadi sebagai latar belakang dari usaha para petugas sandi untuk melihat Mataram dalam kesiagaan perang.

Untunglah bahwa kesalahpahaman yang semakin jauh masih dapat dihindari. Pasukan Mataram dan Sangkal Putung masih dapat disamarkan sehingga petugas sandi dari Pajang tidak sempat melihat mereka. Dan beruntunglah bahwa di Pajang masih ada seorang tua yang bernama Kiai Kendil Wesi.

Tetapi lebih dari itu, maka kesempatan yang memang telah diberikan oleh Sultan sendiri kepada Mataram, merupakan sikap yang sangat menguntungkan. Bukan saja bagi Mataram, tetapi juga bagi Pajang sendiri. Bagi pihak yang tidak ingin melihat benturan antara Pajang dan Mataram terjadi.

“Selanjutnya kita masih harus berhadi-hati,“ berkata Raden Sutawijaya, “kami di Mataram selalu berusaha memelihara hubungan dengan Kiai Kendil Wesi. Tetapi Kiai Kendil Wesi sudah terlalu tua.”

“Apakah tidak ada orang lain yang dapat dipercaya?“ bertanya Acung Sedayu.

“Kita masih sedang menjajagi keadaan. Tetapi bahwa orang tua itu sangat dekat dengan Ayahanda Sultan, adalah suatu kesempatan yang jarang didapat oleh orang lain. Apalagi dengan sadar Ayahanda Sultan telah mempergunakan orang itu untuk memberikan keterangan yang kami perlukan di Mataram.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat keadaan yang aneh dalam hubungan antara Pajang dan Mataram. Sultan Hadiwijaya sendiri seolah-olah telah berpihak kepada Mataram yang sedang berkembang itu.

Namun dengan demikian, nampak jelas, bahwa kekuasaan Sultan Hadiwijaya di Pajang benar-benar telah dibatasi oleh orang-orang yang ada di sekitamya, sehingga wibawanyapun telah jauh berkurang. Ia tidak dapat menentukan sikap seperti yang diinginkannya. Bahkan ia harus melakukan hubungan yang dirahasiakan dengan Mataram.

Tetapi tidak kalah anehnya adalah sikap Raden Sutawijaya sendiri. Ayahanda angkatnya ternyata sangat memperhatikannya. Ia lebih percaya kepada anak angkatnya yang telah memisahkan diri daripadanya itu daripada kepada setiap orang di sekitamya.

“Sultan Hadiwijaya telah hidup dalam keterasingan yang mewah di Istana Pajang,“ berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Ki Juru Martani melihat gejolak di dalam hati Agung Sedayu. Tetapi ia tidak mengerti, apa yang sedang dipikirkan oleh anak muda itu. Namun Ki Juru tidak menanyakannya, karena Agung Sedayu tentu tidak akan mengatakannya.

Sementara itu, pembicaraan diantara mereka masih berlangsung beberapa lama Namun kemudian, Ki Juru Martani mempersilahkan Agung Sedayu untuk beristirahat.

Agung Sedayu yang memang berniat bermalam di Mataram itupun kemudian dipersilahkan ke dalam bilik yang telah disediakan kepadanya. Setelah membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya, maka iapun beristirahat sejenak di dalam biliknya sambil berangan-angan.

Setiap kali perasaannya selalu diganggu oleh hubungan yang aneh antara Pajang dan Mataram. Seharusnya Raden Sutawijaya dapat mengambil sikap lain sehingga kekalutan yang diam-diam di Pajang tidak berkepanjangan.

Namun agaknya Raden Sutawijaya memang sudah tidak berminat lagi untuk mempertahankan kehadiran Pajang, sehingga ia telah mengambil suatu sikap yang telah diyakini kebenarannya.

Bahkan Agung Sedayu kemudian sampai pada suatu kesimpulan, bahwa Raden Sutawijaya telah tidak dapat lagi mempercayai siapapun di dalam lingkungan Istana Pajang, sehingga ia lebih baik mulai dari yang baru sama sekali, meskipun ada juga terbersit keinginannya untuk berdiri pada namanya sendiri. Bahkan Raden Sutawijayalah yang telah mendirikan Mataram.

Dalam kekalutan itu, terbayang di dalam angan-angannya, kakaknya Untara. Seorang senapati yang berpegang teguh pada dasar-dasar keprajuritannya. Namun karena ia berada di luar Istana Pajang, maka ia agaknya tidak banyak mengikuti persoalan-persoalan yang berkembang di dalam istana. Bahkan mungkin beberapa orang perwira yang lebih tua, baik umurnya maupun kedudukannya, dengan sengaja memisahkan Untara dari peristiwa-peristiwa yang sebenarnya bergejolak di dalam Istana Pajang.

Sesaat terbersit di dalam hati Agung Sedayu pertanyaan, apakah tidak ada baiknya jika Untara dapat langsung berhubungan dengan Sultan Hadiwijaya. Mungkin Untara mempunyai kemampuan untuk bertindak sesuatu. Sudah barang tentu ia memerlukan beberapa orang kawan.

Namun Agung Sedayu tidak dapat membayangkan, apakah jadinya jika hal itu dapat diketahui oleh pihak-pihak yang berbeda pendapat. Maka dengan demikian, pertengkaran di dalam istana itu akan semakin cepat meledak. Masing-masing pihak dengan pengikutnya akan segera terlibat dalam pertempuran yang akan dapat menghancurkan Pajang sama sekali, sebelum seseorang bangkit untuk mengambil alih kedudukan Sultan Hadiwijaya.

“Ya. Orang itu memang harus ada,“ tiba-tiba saja terbersit di dalam hati AgungSedayu.

Dan Agung Sedayu tidak melihat orang lain kecuali Raden Sutawijaya, meskipun Sultan Hadiwijaya sendiri mempunyai seorang putra. Tetapi Pangeran Benawa seperti yang pernah dianggap oleh Agung Sedayu, sama sekali tak tertarik pada tata pemerintahan meskipun sebagai seorang anak muda ia memiliki ilmu yang tidak kalah dari Sutawijaya.

Selagi Agung Sedayu merenungi angan-angannya, ia terperanjat ketika seseorang berdiri di muka pintu. Ketika ia mengangkat wajahnya, maka dilihatnya Ki Juru Martani memandanginya sambil tersenyum.

“Apakah yang sedang kau renungkan Ngger?,“ bertanya Ki Juru.

Agung Sedayupun mencoba untuk tersenyum.

“Apakah kau tidak ingin berjalan-jalan di halaman?“ bertanya Ki Juru Martani.

.Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk sambil berdiri. “Baiklah Ki Juru. Aku memang ingin menghirup udara sejuk di luar.”

Keduanyapun kemudian meninggalkan bilik itu. Beberapa orang telah menyalakan lampu minyak di ruang-ruang dalam dan kemudian lampu-lampu minyak di dalam bilik-bilik.

Ketika Agung Sedayu dan Ki Juru Martani melintas di halaman dan berdiri di regol, beberapa orang pengawal mengangguk hormat.

“Kami akan berjalan-jalan,“ desis Ki Juru, “Angger Agung Sedayu ingin melihat kota ini menjelang malam.”

Pemimpin pengawal di regol itu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia bertanya sesuatu, Ki Juru sudah mendahuluinya, “Kami akan berjalan-jalan berdua saja. Kami tidak usah mendapat pengawalan, karena kami tidak akan berjalan jauh. Apalagi Angger Agung Sedayu telah menempuh perjalanan dari Tanah Perdikan Menoreh juga tanpa pengawalan.”

Pemimpin pengawal di regol itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian tersenyum. Sambil mengangguk hormat ia berkata, “Silahkan Ki Juru.”

Ki Jurupun tersenyum pula. Sambil menggamit Agung Sedayu ia berkata, “Marilah. Kita berjalan-jalan.”

Agung Sedayupun kemudian mengikuti Ki Juru melangkah di jalur jalan induk Kota Mataram.

Dari pintu-pintu rumah yang masih terbuka, cahaya lampu meloncat keluar menerangi daun-daun pepohonan. Di beberapa buah regol. lampu-lampu obor menerangi jalan dengan sinarnya yang samar.

Ki Juru Martani. dan Agung Sedayu berjalan perlahan-lahan. Di saat matahari baru saja terbenam, masih nampak beberapa orang berjalan tergesa-gesa. Tetapi ada juga yang berjalan-jalan lambat membimbing anaknya untuk mengunjungi sanak kadang atau tetangga.

Dalam samarnya ujung malam, orang-orang yang lewat dan berpapasan berseberangan jalan tidak segera dapat mengenal yang satu dengan yang lain, kecuali mereka yang hampir setiap saat bergaul. Itulah sebabnya, maka tidak seorangpun yang mengenal, bahwa dua orang yang berjalan-jalan perlahan-lahan disepanjang jalan kota itu adalah Ki Juru Martani dan Agung Sedayu.

Meskipun Kota Mataram sudah menjadi semakin ramai, tetapi di malam hari. jalan-jalan menjadi lengang. Tidak banyak orang yang berkepentingan dan turun ke jalan dalam gelap.

“Jalan-jalan di Mataram masih sunyi di malam hari,“ berkata Ki Juru Martani, “tidak ada kesibukan apapun juga di malam hari. Mungkin ada juga satu dua banjar yang ramai oleh anak-anak muda. Tetapi tidak terlalu banyak. Meskipun demikian, sebentar lagi sebelum tengah malam, gardu-gardu akan menjadi penuh.”

“Penuh dengan pengawal?“ bertanya Agung Sedayu.

“Bukan. Tetapi anak-anak muda mulai turun. Ada di antara mereka yang memang selalu tidur di gardu-gardu sekaligus ikut serta mengamati keamanan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ada juga keinginannya untuk melihat banjar-banjar padukuhan yang ramai, karena kebetulan ada kegiatan tertentu di padukuhan itu.

Ketika lamat-lamat terdengar bunyi gamelan, maka Ki Jurupun berkata, “Suara itu tentu berasal dari salah satu banjar. Mungkin anak-anak muda sedang berlatih menari untuk kepentingan tertentu bagi padukuhan itu.”

“Menarik sekali,“ desis Agung Sedayu.

“Kau akan menyaksikan?“ bertanya Ki Juru.

“Jika Ki Juru tidak berkeberatan?“ jawab Agung Sedayu.

Keduanyapun kemudian berjalan menuju ke arah bunyi gamelan yang semakin lama terdengar menjadi semakin nyaring.

Meskipun kaki Agung Sedayu melangkah terus, namun ia sudah merasa, bahwa Ki Juru Martani tentu bukannya tanpa maksud dengan membawanya berjalan-jalan. Namun Agung Sedayu tidak ingin menanyakannya. Biarlah pada saatnya Ki Jurulah yang akan mulai dengan sebuah pembicaraan yang tentu dianggapnya penting.

Perasaan Agung Sedayu tersentuh ketika ia melihat langit yang semakin cerah. Ternyata bahwa bulan mulai tersembul dari cakrawala dengan cahayanya yang kuning.

Padukuhan-padukuhan yang semula terasa lengang itupun mulai berubah. Beberapa orang anak-anak mulai menyembulkan kepalanya di sela-sela pintu rumahnya. Kemudian satu-satu mereka turun ke halaman.

Dengan isyarat-isyarat yang khusus dibuat oleh anak-anak kecil, maka mulailah mereka berlari-lari menuju ke halaman-halaman yang luas, setelah mereka mendapat ijin dari orang tua mereka.

Terang bulan adalah saat-saat yang sangat menyenangkan. Anak-anak itu dapat bermain sembunyi-sembunyian atau berkejar-kejaran sepuas-puasnya. Saat-saat mereka bermain, maka anak-anak kecil itu seolah-olah tidak mengenal perasaan takut meskipun kadang-kadang mereka harus bersembunyi di bawah pohon-pohon yang biasanya dianggap pohon-pohon yang keramat, atau di semak-semak yang mungkin dihuni oleh berjenis-jenis ular.

Jika anak-anak laki-laki bermain kejar-kejaran. maka anak-anak perempuan mempunyai jenis permainannya sendiri. Mereka bermain dakon atau gateng degan kerikil. Tetapi ada pula di antara mereka yang bermain jirak kemiri.

Mataram yang lengang itu tiba-tiba menjadi ramai oleh suara anak-anak yang sedang bermain-main. Yang bermain nini towong, kadang-kadang berteriak sambil berlari-lari menghindari kejaran nini towong yang dianggapnya telah kerasukan.

Agung Sedayu tiba-tiba saja menjadi semakin dalam dicengkam oleh kerinduannya kepada adik sepupunya. Glagah Putih tentu tertarik juga oleh sinar bulan yang kekuning-kuningan. Tetapi sudah barang tentu ia tidak dapat bermain seriang anak-anak di padukuhan, karena di padepokan itu tidak terdapat anak-anak muda yang dapat diajaknya bermain. Karena yang ada di padepokan hanyalah anak-anak muda yang lebih terikat kepada air di parit yang mengaliri sawah daripada bermain di bawah cahaya bulan yang cerah.

Oleh angan-angannya, maka seolah-olah Agung Sedayu tidak ingat lagi bahwa ia berjalan bersama Ki Juru Martani sehingga Ki Juru itupun kemudian bertanya, “Apa yang kau pikirkan Agung Sedayu?”

Agung Sedayu tergagap. Di luar sadarnya ia berkata, “Alangkah riangnya anak-anak itu bermain Ki Juru.”

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Aku sudah menduga. Mungkin kau sedang memikirkan masa kecilmu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia tersenyum.

“Kita sudah semakin dekat dengan suara gamelan itu. Agaknya banjar itu salah satu dari banjar di pinggir kota. sehingga kita memang harus berjalan agak panjang,“ berkata Ki Juru.

“Ya. Ki Juru.,“ jawab Agung Sedayu pendek.

Ki Juru menarik nafas panjang. Namun kemudian katanya, “Sambil berjalan, mungkin ada baiknya kita berbicara serba sedikit tentang perkembangan Mataram, Agung Sedayu.”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ia sudah menyangka bahwa pada suatu saat, Ki Juru akan mengemukakan hal yang dapat dianggapnya penting.

Karena itu, maka Agung Sedayupun berkata, “Apakah ada yang ingin Ki Juru pesankan kepadaku, atau kepada orang lain lewat aku?”

Ki Juru mengangguk-angguk sambil menjawab, “Tidak terlalu penting Agung Sedayu. Aku kira daripada masalahnya tidak aku sampaikan maka ada baiknya jika kau mendengarnya. Hanya sekedar mendengar suatu keinginan saja.”

Agung Sedayu memandang Ki Juru sejenak. Namun kemudian iapun melontarkan pandangan matanya ke kuningnya sinar bulan di dedaunan.

Untuk beberapa saat keduanya justru saling berdiam diri. Mereka melangkah dengan langkah-langkah lamban di sepanjang jalan. Di simpang-simpang jalan mereka melihat satu dua orang yang berjalan memasuki jalan itu pula, kemudian melangkah seiring di hadapan mereka.

“Mereka akan melihat kesibukan di banjar itu pula,” berkata Ki Juru.

Agung Sedayu tergagap. Sambil mengangguk kecil ia menyahut, “Banyak juga perhatian orang terhadap latihan-latihan seperti yang diselenggarakan itu.”

“Cukup banyak,“ berkata Ki Juru, “aku sendiri sering melihat kesibukan-kesibukan di banjar dengan diam-diam. Bahkan Angger Sutawijayapun sering melakukannya tanpa diketahui orang lain.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Kita sudah tidak jauh lagi,” berkata Ki Juru, ”namun aku masih ingin menyampaikan pesan itu. Barangkali dapat kau pertimbangkan.”

Langkah Agung Sedayu tiba-tiba saja menjadi semakin lambat. Ia mencoba memperhatikan dengan saksama ketika Ki Juru kemudian berkata, “Angger Agung Sedayu. Seperti yang Angger ketahui, Pajang justru tidak menghendaki hubungan baik antara Sultan Hadiwijaya dengan putra angkatnya Raden Sutawijaya.”

Dada Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Meskipun ia sudah menduga bahwa persoalannya tentu akan merembet sampai persoalan itu pula.

“Sebenarnya, Raden Sutawijaya sendiri juga bersalah dalam hal ini. Tetapi aku sudah tidak dapat lagi memaksanya untuk memasuki kembali Istana Pajang, ia termasuk anak muda yang keras kepala.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Karena itu Agung Sedayu,” berkata Ki Juru lebih lanjut, ”kita harus menghadapi perkembangan keadaan dengan keadaan dan kedudukan kita sekarang ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dan Ki Juru meneruskan, “Kita harus menyesuaikan diri dengan sikap beberapa orang perwira di Pajang, yang seperti sudah kita lihat sendiri, bahwa mereka telah menggerakkan pasukan yang kuat untuk menghancurkan Pajang dan sudah barang tentu Mataram. Berkumpulnya kekuatan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu tentu bukannya persoalan yang berdiri sendiri. Dan apakah kau kira bahwa dengan hancurnya pasukan di lembah itu, kekuatan mereka benar-benar sudah punah?”

Agung Sedayu berpaling. Ia merasakan pertanyaan itu bukannya sekedar pertanyaan. Dan sebenarnyalah Ki Juru meneruskan, ”Bahwa masih adanya seseorang di antara para pemimpin mereka yang hidup, berarti bahwa kekuatan mereka akan segera tersusun kembali.”

Terasa jantung Agung Sedayu berdentang semakin cepat. Ia sadar, bahwa memang ada salah seorang dari para pemimpin mereka yang tetap hidup. Dan itu adalah karena sikapnya yang ragu-ragu. Ia tidak bersikap sebagai seorang prajurit di peperangan. Seandainya ia tidak membunuh, maka orang itu harus dapat ditangkapnya hidup-hidup.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat ingkar bahwa hal itu memang sudah terjadi. Dan orang yang terluka parah di peperangan itu berhasil diselamatkan oleh anak buahnya. Berbeda dengan Kiai Kelasa Sawit yang ternyata kemudian terbunuh oleh Swandaru.

Dalam cengkaman debar jantungnya, Agung Sedayu mendengar Ki Juru melanjutkan, “Tetapi jangan kau sesali dirimu. Kau sudah berbuat terlalu banyak. Justru lebih banyak dari yang dilakukan oleh Danang Sutawijaya sendiri.”

“Ah,“ Agung Sedayu berdesah, “Ki Juru terlalu memuji.”

 

 

“Tidak Agung Sedayu. Aku berkata sebenarnya. Kau dapat mempertimbangkan sendiri, apa yang telah kau lakukan, dan apa yang dilakukan oleh Raden Sutawijaya.”

“Seperti yang sedang terjadi Ki Juru. Bukan saja di peperangan. Tetapi juga di dalam banyak hal, maka kesempatan merupakan sesuatu yang kadang-kadang ikut menentukan. Dan kesempatan itu datang dengan tidak dapat diperhitungkan lebih dahulu.”

Ki Juru tertawa. Katanya, “Kau tidak sedang menghadapi hitungan-hitungan di perjudian. Kesempatan memang menentukan. Tetapi di peperangan keadaannya agak berbeda, meskipun yang kau maksud dengan kesempatan itu memang kadang-kadang terjadi. Namun seandainya kau tidak memiliki ilmu yang matang, apakah kau dapat mempergunakan yang kau sebut kesempatan itu sebaik-baiknya?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi baiklah. Kita bicara soal lain. Bukan soal apa yang telah terjadi di peperangan. Meskipun masih juga akan selalu menyangkut hal itu,“ Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Agung Sedayu. Aku berkata sebenarnya, bahwa kemampuanmu di dalam olah kanuragan sekarang tentu sudah tidak kalah dibandingkan dengan Untara.”

Dada Agung Sedayu tiba-tiba saja bergetar. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Bukan maksudku untuk membuat perbandingan yang menyimpan arti yang kurang baik. Tetapi aku ingin mengatakan kepadamu, bahwa jika kau mau memenuhi nasehat kakakmu, maka kau akan dapat menjadi seorang prajurit yang mumpuni.”

Wajah Agung Sedayu menegang sejenak. Tetapi ia masih tetap berdiam diri.

“Maksudku Agung Sedayu, jika kau dapat memantapkan suatu sikap yang barangkali dapat kau mengerti, kau akan dapat ikut menentukan hubungan antara Pajang dan Mataram untuk selanjutnya.”

“Apakah yang dapat aku lakukan Ki Juru?“ bertanya Agung Sedayu.

“Aku juga tidak tahu, apakah usaha ini akan dapat berhasil. Tetapi menurut perhitunganku, dengan kemampuanmu yang sukar ada bandingnya itu kau akan dapat dengan cepat meningkat ke jenjang yang tinggi di dalam tata keprajuritan Pajang di bawah pengaruh nama Untara.”

Agung Sedayu menarik nafas. Sejenak ia merenung. Namun kemudian katanya, “Jalan yang jauh sekali Ki Juru. Tetapi yang harus Ki Juru ketahui, namaku sudah dikenal di Pajang.”

Jawaban Agung Sedayu itu membuat Ki Juru menjadi termangu-mangu. Bahkan sejenak ia berdiam diri. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah begitu? Bukankah kau tidak pernah berada di Pajang?”

Agung Sedayu termangu-mangu pula. Namun kemudian katanya, “Beberapa orang perwira kawan Kakang Untara telah mengenal aku. Jika ada satu saja di antara mereka berpihak kepada orang-orang yang mengaku dirinya pewaris kerajaan Maiapahit, maka mereka akan segera berhati-hati terhadap diriku, seperti mereka berhati-hati terhadap Kakang Untara. Apalagi jika salah seorang dari mereka yang berada di lembah itu berhasil menyusup kembali ke dalam lingkungan keprajuritan di Pajang. Maka kedudukanku akan segera mereka ketahui, karena yang seorang itu tentu akan segera menyebarkan cerita tentang diriku.”

Ki Juru menarik nafas panjang sekali. Katanya, “Memang kita dapat melihat setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi jika kau dapat menempatkan dirimu, maka kau akan dapat mereka anggap seperti juga Untara, seorang prajurit yang berdiri di atas kedudukan dan kewajibannya.”

“Jika demikian, lalu apakah yang dapat aku lakukan?“ bertanya Agung Sedayu.

Ki Juru tidak segera menjawab. Ia sadar, bahwa yang dikatakan oleh Agung Sedayu itu memang dapat terjadi. Kedudukan Agung Sedayu akan segera di potong oleh orang-orang yang mencurigainya dan bahkan berusaha meayingkirkannya. karena ada di antara para perwira yang pernah melihatnya berpihak kepada Mataram.

Tetapi jika ia dapat menembus segala kecurigaan itu dengan pengaruh nama Untara, mungkin ia akan mendapatkan tempat yang dapat dipakainya sebagai alas untuk ikut serta menentukan sikap prajurit-prajurit Pajang yang memang sudah terpecah itu.

“Agung Sedayu,“ berkata Ki Juru kemudian, “mungkin akan ada perebutan pengaruh antara beberapa pihak yang berada di lingkungan keprajuritan di Pajang. Tetapi jika kau dapat menunjukkan sesuatu yang melampaui tataran para perwira, maka kau tentu akan mendapat tempat yang baik. Dan kau bukan seorang yang bodoh dan tidak dapat mempergunakan akal dan nalarmu untuk ikut serta menentukan sikap di antara para prajurit itu. Dengan melihat kenyataan, kau tentu akan mempunyai sikap yang lain dari kakakmu Untara yang benar-benar berdiri di atas satu sikap.”

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Ia dapat mengerti, bahwa dengan demikian, ia telah turun ke dalam satu usaha yang gawat, tetapi mungkin akan banyak gunanya. Jika ia berhasil, maka ia akan dapat menjadi salah seorang perwira yang mempunyai sikap tertentu terhadap Mataram. Dan iapun sadar, bahwa jika demikian, ia tidak akan dapat berbuat lain. kecuali berpihak pada salah satu sisi di antara pihak-pihak yang berseberangan.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Seandainya ia dapat mencapai satu kedudukan di Pajang yang dapat dijadikannya pancadan untuk melakukan pesan Ki Juru, tetapi tidak sesuai dengan jalan pikiran kakaknya Untara, maka persoalannya tentu akan menjadi semakin berat baginya.

Dan Agung Sedayu yang sadar akan dirinya itu tahu benar, bahwa ia akan menjadi semakin bimbang dan tidak tahu apakah yang akan dilakukannya.

Ki Jurupun melihat, bahwa kebimbangan itu sudah mulai sejak saat itu. Karena itu. maka Ki Jurupun kemudian berkata, “Agung Sedayu. Persoalannya bukan persoalan yang harus diputuskan dengan tergesa-gesa. Karena itu pikirkanlah sebaik-baiknya. Akupun tahu seperti kau juga menyadari, bahwa kau memerlukan waktu yang cukup untuk mengambil sesuatu keputusan. Karena itu, baiklah. Aku sudah menyampaikan pesan itu, yang sudah disepakati sepenuhnya oleh Raden Sutawijaya. Keputusanmu dapat saja kau ambil satu atau dua pekan kemudian. Karena jalan yang kau tempuhpun akan merupakan jalan yang panjang. Sementara itu, permulaan yang betapapun lambatnya akan lebih baik daripada tidak dimulai sama sekali.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan kepala tunduk ia berkata, “Baiklah Ki Juru. Aku akan memikirkanmya, meskipun hal itu akan merupakan persoalan yang sangat berat bagiku.”

“Sudah barang tentu kau harus berbicara dengan gurumu. Kemudian kau sampaikan niatmu itu kepada kakakmu jika Kiai Gringsing menyetujui. Untuk sementara kau masih harus menyembunyikan latar belakang sikapmu itu kepada kakakmu Untara, karena kita tahu sikap dan pendirian Untara sebagai seorang prajurit.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, ”Aku akan mencoba memikirkannya dengan sunguh-sungguh Ki Juru, meskipun sebenarnyalah bahwa aku sama sekali tidak dapat membayangkan, keputusan apakah yang dapat aku ambil kemudian.”

“Baiklah. Nah, marilah kita sekarang mengisarkan perhatian kita. Padukuhan yang nampak samar-samar itulah yang sedang mempersiapkan sebuah pertunjukkan. Suara gamelan itu sudah dekat sekali,“ berkata Ki Juru Martani.

Agung Sedayu tidak menjawab. Dipandanginya padukuhan dalam samarnya sinar bulan. Dan suara gamelan itu terdengar dekat sekali di hadapan mereka. Sementara itu beberapa orang nampak berjalan dengan tergesa-gesa, karena mereka merasa sudah jauh terlambat untuk melihat latihan pertunjukan di banjar padukuhan di hadapan mereka.

Ki Juru dan Agung Sedayu tidak berbicara lagi tentang kemungkinan yang membingungkan itu. Mereka mulai berbicara tentang latihan pertunjukkan yang dapat mereka lihat di banjar padukuhan itu.

Tetapi ketika mereka mendekati banjar, Ki Juru berkata, “Kita mencari tempat yang terlindung saja.”

Agung Sedayu mengerti, bahwa tentu Ki Juru tidak ingin diketahui oleh orang-orang padukuhan itu, karena dengan demikian kehadirannya akan sangat menarik perhatian, sehingga bahkan akan melampaui perhatian para penonton terhadap latihan yang sedang diadakan itu.

Beberapa saat lamanya kedua orang itu berdiri di bawah bayangan dedaunan sehingga mereka terlindung dari cahaya bulan. Dari dalam kegelapan mereka dapat menyaksikan latihan yang berlangsung di pendapa banjar. Bahkan dari kegelapan mereka dapat melihat beberapa orang yang dengan asyik menyaksikan latihan itu pula.

Sejenak keduanya saling berdiam diri, seakan-akan mereka benar-benar tertarik kepada latihan yang sedang berlangsung. Latihan adegan perang dari cerita Raden Panji Asmarabangun yang ditarikan dengan mempergunakan topeng bagi setiap pelakunya.

Agung Sedayu berpaling ketika ia mendengar Ki Juru berkata, “Ternyata mereka pandai juga menari.”

“Ya,“ desis Agung Sedayu.

“Kau dapat juga menari?“ bertanya Ki Juru.

Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, “Hanya sedikit. Aku tidak sempat mempelajarinya dengan baik. Apalagi sejak ayahku meninggal.”

“Tetapi kau mengenal dasar-dasar tari?”

“Ya.”

Ki Juru bergeser mendekat. Kemudian sambil menunjuk salah seorang penari ia berkata, “Kau melihat penari yang bertubuh kekar itu?”

“Ya,“ sahut Agung Sedayu.

“Apakah kau dapat menilai tata gerak tarinya?”

“Ya. Mungkin ia adalah penari yang paling baik.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ia terlalu baik bagi seorang penari dari padukuhan ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia sempat menjawab, Ki Juru telah bergeser mendekati dua orang yang berdiri tidak jauh dari padanya.

“Apakah Ki Sanak dari padukuhan ini?“ bertanya Ki Juru.

Orang itu megerutkan keningnya. Namun ketika ia berpaling. ia sama sekali tidak dapat mengenali Ki Juru yang mempergunakan ikat kepalanya terlalu rendah dan dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bajunya agak terbuka dan kainnya tersingsing agak tinggi, seperti kebanyakan para petani yang pergi ke sawah.

“Aku memang orang padukuhan ini,“ jawab orang itu, “siapakah Ki Sanak?”

“Aku dari padukuhan sebelah bulak. Mula-mula aku berjalan-jalan saja menyeberangi bulak. Tetapi ketika aku mendengar suara gamelan, akupun telah tertarik.”

“Aku mengenal setiap orang di padukuhan sebelah bulak,” sahut orang itu.

“Maksudku, aku tamu di padukuhan sebelah bulak. Aku mengunjungi saudaraku yang tinggal di sana. Aku sendiri datang dari luar kota Mataram.”

Orang yang ditanya itu masih akan berbicara. Tetapi Ki Juru mendahuluinya, “Maksudku, aku ingin bertanya, apakah penari yang bertubuh kekar itu tinggal di padukuhan ini pula ?”

Orang itu mengerutkan keningnya, Ia lupa bahwa ia masih akan bertanya kepada Ki Juru, siapakah saudara yang disebutkannya, karena justru ia harus menjawab pertanyaan Ki Juru.

“Ki Sanak,“ berkata orang itu, “penari yang seorang itu memang bukan orang padukuhan ini. Sebenarnya ia tidak termasuk dalam susunan pemain. Tetapi ketika ia mengetahui latihan itu di banjar ini, maka iapun segera tampil. Ternyata ia justru menjadi penari yang paling baik. Dan ialah sebenarnya pengatur laku dari cerita itu untuk seterusnya. Ialah yang memberikan petunjuk-petunjuk dan perbaikan-perbaikan pada latihan-latihan berikutnya sampai saat ini.”

 

 

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku sudah menduga. Ia memiliki banyak kelebihan dari kawan-kawannya. Tetapi siapakah orang itu sebenarnya?”

“Aku kurang jelas. Semula ia datang untuk berjual beli benda-benda berharga. Wesi aji dan juga permata. Tetapi oleh latihan-latihan yang sangat menarik perhatiannya, ia justru berada di padukuhan ini. Ia telah menyatakan kesediaannya tinggal di sini barang dua pekan, sampai saatnya pertunjukan yang sebenarnya diselenggarakan.”

“Apakah kau tahu, dari manakah asalnya?“ bertanya Ki Juru.

Orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak jelas. Mungkin dari Jipang atau justru dari Demak. Entahlah.”

Ki Juru tidak bertanya lagi. Sambil mengucapkan terima kasih ia minta diri.

Ketika Ki Juru meninggalkan tempat itu. Agung Sedayupun mengikutinya. Belum lagi mereka berada jauh di luar banjar, K i Juru sudah bertanya, “Bagaimanakah tanggapanmu tentang yang seorang itu?”

Agung Sedayu menarik nafas panjang. Sekilas teringat olehnya Rudita, jika pertanyaan itu ditujukan kepada anak muda itu, maka ia tentu akan menjawab, “Kita adalah mahluk yang selalu dibayangi oleh kecurigaan terhadap sesama.”

Namun Agung Sedayu menyadari, bahwa Ki Juru telah mencurigai orang yang berada di dalam lingkungan penari di padukuhan itu. Orang itu memang perlu mendapat perhatian lebih banyak lagi.

“Apakah kau tidak melihat sesuatu padanya?“ bertanya Ki Juru kemudian, karena Agung Sedayu tidak segera menjawab.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Pendatang itu memang menyimpan kemungkinan-kemungkinan yang pantas dicurigai. Karena itu maka jawabnya, ”Ki Juru. Aku tidak dapat menyebut dengan pasti. Tetapi kita memang dapat mencurigai setiap orang. Juga orang itu. Mungkin ia dengan sengaja datang untuk mengamati Mataram dengan saksama. Dan ia mendapat kesempatan untuk tinggal lebih lama lagi di padukuhan itu.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Namun Agung Sedayu meneruskan, “Tetapi apakah perlu kita mencurigai setiap orang?”

Ki Juru tersenyum. Wajah Agung Sedayu menjadi panas ketika Ki Juru menjawab dengan sebuah pertanyaan, ”Apakah pengaruh Rudita sudah mencengkam perasaanmu?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kepalanya ditundukkan dalam-dalam.

“Agung Sedayu,“ berkata Ki Juru, “kadang-kadang ada juga gunanya kita mencurigai seseorang. Meskipun itu sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh sikap berhati-hati. Bukannya sikap memusuhi.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Iapun dapat mengerti, bahwa mencurigai seseorang itu dapat juga berarti sekedar sikap hati-hati. karena kadang-kadang seseorang memang dapat melakukan sesuatu yang dapat merugikan pihak lain.

“Aku tidak dapat ingkar akan kenyataan itu,“ berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Namun lebih dari itu, Agung Sedayu mulai menilai keadaan dalam keseluruhan. Ki Juru telah menyampaikan pesannya kepadanya, yang tentu sudah sependapat dengan Senapati Ing Ngalaga.

Dengan ketajaman uraian perasaannya. Agung Sedayu mulai melihat kepentingan-kepentingan yang bergulat di dalam peristiwa yang sangkut menyangkut. Pesan Ki Juru yang tentu sudah disepakati oleh Sutawijaya itu adalah suatu dorongan bagi kepentingan Mataram.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga, setiap orang akan terpancang kepada kepentingan diri. Dan Mataram menganggap, bahwa sebaiknya Agung Sedayu berada di dalam lingkungan keprajuritan. Sebab dengan demikian, maka Agung Sedayu akan dapat memberikan keuntungan kepada Mataram.

“Ah,“ desah Agung Sedayu di dalam hatinya, “akupun sudah mulai berprasangka terlalu jauh. Seharusnya aku menganggap bahwa usaha Ki Juru adalah sekedar usaha untuk mencegah timbulnya benturan antara Pajang dan Mataram.”

Namun pertimbangan-pertimbangan yang bertolak dari kepentingan yang berbeda selalu saja berputaran di dalam hati Agung Sedayu.

Dalam pada itu, keduanya berjalan semakin jauh dari banjar padukuhan. Suara gamelan yang mengiringi latihan-latihan di banjar itupun menjadi semakin samar.

“Menyenangkan sekali, berjalan-jalan di terang bulan,“ berkata Ki Juru, “apakah kau sudah lelah?”

“Belum Ki Juru,“ sahut Agung Sedayu.

“Jika demikian, kita berjalan-jalan mengelilingi kota.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Baiklah Ki Juru. Rasa-rasanya senang juga mendengar bocah berdendang sambil bermain di terangnya bulan.”

Ki Juru tersenyum. Mereka masih berjalan menyusuri jalan-jalan kota. Tanpa tujuan mereka berjalan, sekedar ingin melihat-lihat dan mengisi waktu di ujung malam.

Namun pembicaraan kemudian tidak banyak menarik lagi. Setiap kali angan-angan Agung Sedayu selalu jatuh kepada bayangan-bayangan yang buram tentang pesan Ki Juru Martani.

“Mana mungkin aku dapat menjadi seorang prajurit,“ pikiran itulah yang selalu mengganggunya, “aku tidak mempunyai dasar sifat yang cukup.”

Tetapi Agung Sedayu tidak mengatakannya.

Ki Jurupun agaknya merasakan perasaan Agung Sedayu yang tidak lagi dapat menangkap kesegaran di sepanjang jalan. Meskipun kadang-kadang Agung Sedayu memperhatikan juga suara anak-anak yang menjerit-jerit melagukan kidung dolanan. Namun Agung Sedayu lebih banyak berbicara kepada dirinya sendiri.

Karena itu. maka Ki Jurupun kemudian mengajak Agung Sedayu kembali ke rumah Raden Sutawijaya menjelang tengah malam, setelah keduanya berjalan berputar-putar di dalam kota.

Ketika mereka naik ke pendapa setelah mencuci kaki, maka Raden Sutawijaya sama sekali tidak menampakkan diri. Ki Jurupun kemudian mempersilahkan Agung Sedayu memasuki biliknya di gandok.

Namun sebelum Ki Juru meninggalkan gandok, terdengar ia berkata, “Orang itu memang menarik perhatian Ngger. Siapapun orang itu, namun ia bukan orang Mataram.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Mungkin Ki Juru perlu mengetahui siapakah orang itu. Tetapi sayang, bahwa waktuku di Mataram sangat pendek, sehingga aku tidak dapat ikut serta mengetahui latar belakang kehadirannya.”

Ki Juru mengerutkan keningnya. Namun iapun mengangguk-angguk sambil berkata, “Beristirahatlah. Bukankah kau akan melanjutkan perjalanan besok?”

“Ya Ki Juru.”

“Baiklah. Tetapi coba renungkan. Mungkin yang aku katakan kepadamu agak bertentangan dengan sikapmu selama ini. Meskipun demikian kau dapat mengingat kembali apa yang pernah dikatakan Untara kepadamu tentang sifat-sifat seorang prajurit. Dan jika kau berada di dalam lingkungan keprajuritan, maka tugas yang kau pikul akan menjadi rangkap. Sebagai prajurit yang baik dan sekaligus berusaha untuk tetap memelihara ketenangan, khususnya hubungan antara Pajang dan Mataram yang kini banyak diracuni oleh perwira-perwira Pajang sendiri yang terlampau mementingkan kepentingan diri sendiri. Sementara Senapati Ing Ngalaga selalu terikat kepada harga dirinya yang berlebih-lebihan tanpa menghiraukan keadaan yang lebih luas dari kelangsungan hidup Pajang.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Keterangan Ki Juru tentang Raden Sutawijaya terasa menyentuh hatinya. Agaknya ada kepentingan-kepentingan yang lebih jujur dari dugaannya yang lebih banyak dipengaruhi oleh prasangka.

“Baiklah Ki Juru,“ berkata Agung Sedayu kemudian, ”aku akan memikirkannya. Tetapi aku sama sekali tidak dapat menyebutkan sekarang, apakah yang akan aku lakukan.”

“Tentu. Dan kau masih mempunyai kesempatan yang panjang. Tetapi sekali-sekali bertemulah dengan Untara. Namun demikian, segalanya terserah kepadamu. Kiai Gringsing akan banyak memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat berguna bagimu, karena sebenarnyalah ia adalah salah seorang yang justru merupakan keturunan langsung dari para penguasa di Majapahit. Ia termasuk salah seorang yang sebenarnya berhak atas warisan-warisan dari kerajaan itu. Tetapi Kiai Gringsing agaknya berpandangan jauh lebih luas dari orang-orang yang hanya mengaku-aku saja sebagai pewaris dan keturunan dari Majapahit.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Sementara Ki Juru melangkah meninggalkan sambil berkata, “Tidurlah. Sebentar lagi tengah malam akan tiba.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Dipandanginya saja Ki Juru yang menyeberangi pendapa dan hilang di longkangan menuju ke gandok yang lain.

Agung Sedayu menarik nafas. Iapun kemudian membaringkan dirinya di pembaringan. Namun matanya tidak segera dapat terpejam. Pesan Ki Juru Martani seolah-olah berputar-putar saja di telinganya.

“Sekali-kali bertemulah dengan Untara,” kata-kata Ki Juru itu bagaikan selalu terngiang. Ia mengerti, bahwa hal itu tentu akan mendekatkannya dengan kemungkinan untuk menjadi seorang prajurit.

“Tetapi kepentingan Kakang Untara dan Ki Juru tentu berlainan. Kakang Untara ingin melihat aku sebagai seorang prajurit yang teguh timbul dan disegani, sementara Ki Juru mempunyai kepentingan lain apapun yang disebutkannya. Untuk kepentingan Pajang dan Mataram, atau kepentingan-kepentingan lain yang pada dasarnya menengahi sikap para perwira yang sudah ada.”

Agung Sedayupun membayangkan, untuk dapat mencapai tujuan sesuai dengan keinginan Ki Juru Martani. ia harus sedikit menyombongkan diri dengan memamerkan kelebihan-kelebihannya. sehingga ia akan segera mendapat tempat yang baik di dalam lingkungan keprajuritan. Mungkin ia akan dapat menjadi seorang perwira atau senapati yang memiliki kekuasaan yang khusus, yang dengan pengaruh yang ada dapat membantu menjernihkan hubungan antara Pajang dan Mataram, menyudutkan pengaruh para perwira yang dikuasai oleh nafsu pribadi dengan pamrih yang berlebih-lebihan untuk membangun kembali suatu kekuasaan yang disebut sebagai warisan kekuasaan Majapahit.

Namun akhirnya angan-angan Agung Sedayu itupun menjadi semakin samar. Akhirnya, matanyapun terpejam sesaat setelah ayam jantan berkokok di tengah malam.

Namun ternyata Agung Sedayu tidak dapat tidur nyenyak. Ia terbangun ketika di kejauhan terdengar suara kentongan yang bersahut-sahutan. Bahkan iapun segera bangkit ketika ia sadar, bahkan isyarat kentongan itu mempergunakan irama titir.

“Apakah yang sudah terjadi?” bertanya Agung Sedayu kepada diri sendiri. Namun Agung Sedayu tidak bergeser dari tempatnya. Ia masih menunggu perkembangan keadaan.

Dadanya menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar beberapa orang telah berada di pendapa. Langkah mereka yang terdengar sibuk menanggapi suara titir di kejauhan.

Akhirnya Agung Sedayu tidak dapat berdiam diri di dalam biliknya. Iapun kemudian melangkah ke pintu. Perlahan-lahan ia mendorong pintu biliknya di gandok.

Dari sela-sela daun pintu ia melihat beberapa orang sudah berada di pendapa. Mereka tidak sempat duduk di atas tikar. Namun mereka hanya berdiri dan berbincang dengan sungguh-sungguh.

Dengan ragu-ragu Agung Sedayu melangkah keluar. Ia masih bimbang, apakah ia diperkenankan naik ke pendapa dan ikut dalam pembicaraan itu, karena ia bukan termasuk salah seorang pemimpin di Mataram.

Namun ternyata Ki Juru Martani yang melihatnya segera memanggilnya, katanya, ”Kemarilah Ngger. Kita sedang membicarakan suara titir itu.”

Agung Sedayupun kemudian mendekat. Ia melihat Raden Sutawijaya sudah berada di antara mereka.

“Menurut pendengaranku, isyarat itu bersumber dari arah suara gamelan di banjar yang kita lihat bersama,“ berkata Ki Juru kepada Agung Sedayu.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ketika suara titir itu mulai terdengar, agaknya ia masih tertidur. Tetapi ketika ia terbangun rasa-rasanya suara titir itu masih belum merata seperti saat-saat ia keluar dari dalam gandok. Dan arah dari suara itu memang seperti yang disebut oleh Ki Juru meskipun barangkali tidak tepat benar.

Karena itu. dengan ragu-ragu Agung Sedayupun mengangguk. Katanya, “Mungkin pendengaran Ki Juru sesuai. Tetapi aku tertidur saat-saat suara titir itu mulai terdengar.”

“Paman,“ berkata Raden Sutawijaya, “betapapun juga kita harus bersiaga. Kita tidak dapat menunggu di sini tanpa berbuat apa-apa.”

“Tetapi sebaiknya kau menunggu laporan untuk menentukan apakah yang sebaiknya akan kita lakukan,” sahut Ki Juru.

Belum lagi Raden Sutawijaya menjawab, seekor kuda berlari mendekati regol. Karena penunggangnya telah dikenal oleh para penjaga regol, maka kuda itupun mereka biarkan masuk.

Dengan tangkasnya penunggangnyapun kemudian meloncat dari punggung kudanya dan mengikat kuda itu pada sebuah patok yang sudah disediakan di pinggir halaman.

Berlari-lari kecil penunggang kuda itu menuju ke tangga dan kemudian naik ke pendapa.

“Katakan,“ desis Raden Sutawijaya, “aku tahu, kau membawa laporan tentang suara titir itu.”

“Ya Raden,“ jawab orang itu, “ternyata yang dikatakan oleh Ki Juru benar.”

Ki Juru menarik nafas panjang. Sekilas dipandangnya wajah Agung Sedayu yang tegang. Namun anak muda itupun segera mengerti apa yang telah terjadi. Agaknya Ki Juru yang meninggalkan biliknya, telah memerintahkan petugas-petugas sandi untuk membayangi orang yang dicurigainya di banjar itu.

“Apa yang sudah kau lihat?“ bertanya Ki Juru kemudian.

“Ketika orang itu kembali dari banjar tempat latihan itu, ada tiga orang yang telah menunggunya. Mereka berbicara di tempat yang sepi dan tersendiri.”

“Kau tidak berusaha mendengar pembicaraan itu?”

“Itulah yang terjadi. Aku mencoba untuk mendekat. Aku hanya mendengar salah seorang dari ketiga orang itu memberikan perintah, agar orang itu tetap berada di Mataram untuk waktu yang tidak ditentukan. Agung Sedayu telah meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Menurut perhitungan mereka, Agung Sedayu akan berada di Mataram meskipun hanya satu dua hari.”

Dada Agung Sedayu bergetar mendengar keterangan orang itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia masih tetap menjadi sorotan orang-orang yang merasa sakit hati kepadanya.

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat ingkar. Ia telah melakukan beberapa pembunuhan di medan perang di lemhah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, sehingga masih ada di antara mereka yang mendendam. Mungkin orang-orang yang kehilangan sahabatnya. Mungkin orang-orang yang kehilangan pemimpinnya.

Sekilas terbayang orang-orang yang telah dibunuhnya itu memandanginya dengan sorot mata yang membara, memancarkan dendam yang tidak ada habisnya.

Dalam pada itu. petugas sandi itupun meneruskan, ”Tetapi agaknya orang-orang itu benar-benar orang yang memiliki ilmu yang tinggi, ternyata kehadiranku dapat diketahuinya, sehingga mereka segera mengejarku.”

“Kau tidak berbuat sesuatu untuk menangkap mereka?” bertanya Ki Juru.

“Kemudian kita bertempur untuk beberapa lamanya. Kedua kawanku sama sekali tidak dapat mengimbangi mereka. Untunglah bahwa para peronda di gardu segera datang membantu.”

“Tetapi orang-orang itu tidak dapat kalian tangkap?” potong Raden Sutawijaya yang tidak telaten.

“Ya Raden. Kami yang kemudian berjumlah lebih dari sepuluh orang, dibantu oleh beberapa orang anak muda sama sekali tidak berdaya. Bahkan mula-mula akan terjadi salah paham. Penari itulah yang meneriakkan kami seolah-olah kami adalah orang-orang jahat yang harus ditangkap. Untunglah, beberapa orang telah kami kenal, dan kami dapat mengatasi kesalahpahaman itu. Namun demikian, keempat orang itu tidak berhasil kami tangkap.”

Raden Sutawijaya menjadi tegang. Tiba-tiba saja ia berteriak, ”Cepat, siapkan kudaku. Aku akan mencarinya di seluruh kota.”

Raden Sutawijaya tidak mau mendengar keterangan-keterangan lebih panjang lagi. Ketika kudanya telah siap, maka iapun dengan tergesa-gesa meloncat naik diikuti oleh beberapa orang pengawal yang telah menyiapkan diri.

“Tunggu,” minta Agung Sedayu, ”mereka mencari aku. Biarlah aku ikut bersama Raden.”

“Tinggallah di rumah ini Agung Sedayu. Aku akan mencarinya. Ia telah mengacaukan daerah kekuasaanku. Apalagi mereka berani mengganggu ketenangan kota yang tidak seberapa luas ini.”

“Jika aku telah mereka jumpai, maka ia tidak akan mengganggu kota ini.”

“Kau tamuku sekarang. Aku bertanggung jawab atas semua tamu-tamuku, meskipun aku tahu, bahwa kau akan mampu mempertanggungjawabkan dirimu sendiri,” jawab Raden Sutawijaya.

Agung Sedayu tidak sempat berbicara lagi. Kuda Raden Sutawijaya itupun segera berderap dan hilang di regol halaman. Yang nampak kemudian hanyalah debu yang mengepul di cahaya bulan yang kekuning-kuningan.

Sejanak Agung Sedayu termangu-mangu. Ia masih melihat beberapa orang meninggalkan halaman. Mereka adalah para pengawal yang akan ikut meronda di sekeliling kota.

“Tinggal sajalah di sini bersama aku,“ berkata Ki Juru, “biarlah Danang Sutawijaya mengurusi kotanya.”

“Tetapi persoalannya justru berkisar padaku,“ sahut Agung Sedayu.

“Persoalan apapun juga, tetapi mereka berada di wilayah kekuasaan Raden Sutawijaya,” jawab Ki Juru.

Agung Sedayu terdiam. Ia tidak dapat menolak sikap itu, karena sebenarnyalah Mataram adalah daerah kekuasaan Raden Sutawijaya. Namun demikian, iapun kemudian berkata, “Ki Juru. Menurut pertimbanganku, agaknya orang-orang itu tidak ingin membuat persoalan dan kegaduhan di kota ini. Apalagi mereka hanya berempat. Yang mereka lakukan tentu hanya sekedar pengawasan. Jika mereka melihat aku lewat, maka mereka tentu akan melakukan sesuatu justru saat aku berada di perjalanan. Agaknya di Tanah Perdikan Menoreh mereka berhasil mendapatkan keterangan, dengan cara apapun, bahwa aku dalam perjalanan menuju ke Sangkal Putung seorang diri.”

“Mungkin sekali Agung Sedayu. Karena itu, sudahlah. Sekarang beristirahatlah, meskipun sudah tentu sebaiknya kau menunda perjalanmu kembali ke Sangkal Putung.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia masih mendengar suara titir hampir di seluruh kota. Dan Agung Sedayupun membayangkan, bahwa semua pintu gerbang tentu sudah ditutup dan dijaga dengan kuat, sehingga tidak seorangpun akan dapat lolos lewat pintu gerbang.

“Tetapi orang-orang berilmu akan dapat meloncati dinding kota,“ berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, meskipun ia membayangkan juga bahwa para peronda tentu sudah mengawasi setiap jengkal dinding yang membatasi kota Mataram yang sedang tumbuh.

Sementara itu. Kuda Raden Sutawijaya berderap di jalan-jalan kota menuju ke tempat yang menjadi sumber isyarat. Namun yang dijumpainya hanyalah beberapa orang yang berjaga-jaga. dan bahkan terdapat tiga orang pengawal dan dua orang anak muda yang terluka.

“Yang seorang agak parah,“ lapor pemimpin pengawal yang ada di tempat itu.

“Kalian tidak berusaha mengejarnya?“ bertanya Raden Sutawijaya.

“Beberapa orang pengawal mengejarnya. Mereka tiba-tiba saja berpencar dan seakan-akan telah hilang. Tetapi di setiap sudut jalan terdapat para pengawal dan anak-anak muda dari setiap padukuhan. Kita sedang mencari keempat orang yang pantas dicurigai itu,“ jawab pemimpin pengawal itu.

Raden Sutawijaya termangu-mangu. Sudah tentu ia tidak akan dapat mencari sambil berpacu melingkari kota. Karena itu. maka iapun justru menyusuri jalan dengan lambat dan sekali-kali berhenti di muka gardu-gardu yang ditunggui oleh para pengawal.

Seperti yang diduga oleh Agung Sedayu, maka ketika Raden Sutawijaya melewati pintu gerbang, maka pintu gerbang itu tertutup rapat.

Raden Sutawijaya berhenti sejenak di hadapan para penjaga yang meyongsongnya. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah kalian tidak melihat orang-orang yang mencurigakan melalui pintu gerbangmu sebelum kau tutup?”

“Tidak Raden,“ jawab pemimpin pengawal itu, “tidak seorangpun yang pantas aku curigai memasuki pintu gerbang ini.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Di antara para pengawal ia melihat beberapa orang petugas sandi. Namun agaknya mereka benar-benar tidak melihat orang-orang yang pantas dicurigai sebelum orang-orang itu melakukan sesuatu yang menarik perhatian.

“Baiklah,“ pesan Raden Sutawijaya, “berhati-hatilah. Jangan ada seorangpun yang dapat lolos dari dalam kota.”

“Ya Raden. Para perondapun selalu mengelilingi dinding kota. sehingga kemungkinan bagi seseorang untuk meloncatpun agaknya sangat tipis. Di gardu-gardu di simpang tiga dan tikungan-tikungan yang menghadap dinding, anak-anak mudapun selalu berjaga-jaga.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk pula. Iapun kemudian meneruskan perjalanannya menyusuri jalan-jalan kota. Namun ia tidak menjumpai orang-orang yang dicarinya.

Sementara itu para pengawal, para bebahu padukuhan dan anak-anak mudapun masih sibuk mencari orang-orang yang mereka curigai itu. Apalagi anak-anak muda yang bersama-sama berlatih menari. Mereka semula sama sekali tidak mencurigai pedagang wesi aji dan batu-batu permata itu. Bahkan orang itu mendapat kehormatan selayaknya sebagai seorang yang memberikan tuntunan tari dan lagu bagi pertunjukan yang sedang mereka siapkan.

Namun ternyata orang itu adalah petugas sandi dari pihak yang tidak senang melihat perkembangan Mataram.

Tetapi agaknya ke empat orang itu bagaikan hilang ditelan gelap. Sementara dari para pengawal menyangka, bahwa orang-orang itu telah berhasil meloncat dan hilang dari kota.

“Betapapun ketatnya pengawasan, namun kemungkinan itu besar sekali dapat terjadi. Di saat-saat kita sibuk membunyikan isyarat dan berlari-larian kian kemari, maka keempat orang itu telah meloncat keluar dan hilang di dalam gelap,“ berkata salah seorang pengawal.

“Tetapi orang yang tinggal di padukuhan dan memberikan tuntunan tari itu membawa seekor kuda,” sahut yang lain.

“Kau memang dungu. Apakah artinya seekor kuda bagi keselamatan jiwanya?”

Kawannya tidak menyahut lagi. Tetapi kepalanya sajalah yang terangguk-angguk.

Meskipun demikian, namun para pengawal masih tetap berjaga-jaga. Raden Sutawijaya masih berkeliling untuk melihat-lihat kemungkinan bahwa keempat orang atau satu diantaranya masih berada di dalam kota.

Dalam pada itu, rumah Raden Sutawijaya telah menjadi sepi. Yang tinggal hanya dua orang pengawal di gardu yang menghadap regol halaman, sedang dua orang yang lain berkeliling di halaman dan memasuki longkangan sampai ke kebun belakang. Sementara dua orang yang lain berada di pendapa.

Namun selain mereka, di dalam rumah itu masih ada Ki Juru Martani yang merupakan tumpuan kekuatan bagi para pengawal rumah yang menjadi pusat pemerintahan Mataram.

Tetapi selain mereka, masih ada satu lagi orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Seorang tamu yang singgah di Mataram dalam perjalanan dari Tanah Perdikan Menoreh menuju ke Sangkal Putung.

Di dalam biliknya Agung Sedayu mencoba untuk berbaring dan melepaskan angan-angannya dari keadaan yang sedang terjadi di Mataram. Ia mencoba menyerahkan segala sesuatunya kepada Raden Sutawijaya yang bertanggung jawab tentang segalanya di Mataram.

Tetapi setiap kali ia selalu disentuh oleh perasaan gelisah, karena justru ialah yang menjadi pusat perhatian orang-orang yang mencurigakan itu.

Sejenak Agung Sedayu mencoba untuk menilai keadaan yang sedang terjadi itu dengan keterangan yang didengarnya, bahwa Pajang telah mengirimkan pengawas sandinya untuk menilai kekuatan Mataram yang dianggap siap untuk melawan Pajang.

“Agaknya orang ini berbeda tujuan dengan petugas-petugas sandi itu meskipun mungkin ia berasal dari kesatuan prajurit Pajang pula,“ berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Dalam pada itu, selagi ia sedang digelisahkan oleh keadaan yang terjadi, di luar halaman, dua orang sedang berjalan-jalan tersuruk-suruk mendekati regol. Sejenak mereka tertegun ketika mereka melihat orang-orang yang berada di dalam gardu.

“Sst,“ desis yang seorang sambil menunjuk orang-orang di gardu itu.

Yang lain tidak menyahut. Namun digamitnya kawannya untuk melangkah dengan hati-hati mendekati gardu itu.

Dengan jari-jarinya ia memberikan isyarat bahwa yang ada di gardu itu hanyalah dua orang saja. Yang seorang justru telah bangkit dan kemudian berdiri di sisi regol dengan tombak di tangan, sementara yang lain masih tetap duduk sambil membelai hulu pedangnya

Kedua orang yang sedang merunduk itu saling berpandangan. Namun yang seorangpun kemudian memberikan isyarat ketika ia melihat dua orang pengawal yang lain berjalan dari halaman menuju ke regol itu pula.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian merekapun surut beberapa langkah dan menghilang di balik gerumbul-gerumbul liar di halaman sebelah.

Ternyata keduanya telah memberikan laporan tentang para pengawal yang ada di regol yang hanya berjumlah empat orang.

“Aku sudah menduga, bahwa justru rumah ini akan menjadi kosong,“ desis salah seorang dari mereka.

“Tetapi kita tidak akan dapat berbuat apa-apa.“ sahut yang lain.

“Kita akan memasuki rumah ini. Meskipun tidak termasuk dalam rencana, tetapi kita akan mengambil semua pusaka yang ada. Aku yakin bahwa Sutawijayapun tentu sedang keluar oleh suara titir.”

Sejenak empat orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang dari mereka kemudian berkata, “Kita harus meyakinkan bahwa Raden Sutawijaya tidak berada di rumahnya. Dan penjagaan di rumah ini justru menjadi susut karena suara titir itu.”

“Apakah yang dapat kita perbuat?“ bertanya salah seorang dari mereka.

“Aku akan bertanya kepada para pengawal. Lindungi aku jika caraku gagal,“ berkata yang lain.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Lihat sajalah.”

Keempat orang itupun segera bersiap-siap. Yang seorang dari mereka tiba-tiba saja telah membuka bajunya dan mengurai ikat kepalanya, sehingga nampaknya ia benar-benar seperti orang yang sedang dalam keadaan yang sulit. Rambutnya nampak kusut dan langkahnya tiba-tiba menjadi gontai.

Kawan-kawannya memperhatikan dari balik persembunyiannya. Mereka melihat di bawah cahaya bulan yang samar, kawannya yang seorang itu berlari-lari dengan tertatih-tatih mendekati para pengawal.

“He. siapa kau?“ tiba-tiba salah seorang pengawal menyapanya sambil mengacukan tombaknya.

“O, ampun Tuan. Aku telah dikejar seseorang. Mula-mula akulah yang mengejarnya, karena orang itu pantas dicurigai. Tetapi ternyata ia melawan. Kami berempat, dan orang itu hanya sendiri. Tetapi tiga kawan kami agaknya terluka, entah terbunuh,” ia berhenti sejenak, lalu, “aku akan menghadap Raden Sutawijaya. Raden Senapati Ing Ngalaga harus memburunya. Orang itu luar biasa. Sebentar lagi ia tentu akan sampai kemari.”

Keempat penjaga regol itu menjadi tegang. Hampir di luar sadar, salah seorang dari mereka menyahut, “Raden Sutawijaya sedang nganglang. Tetapi biarlah. Jika ia datang kemari, aku akan membunuhnya.”

“Jika tidak? Apakah tidak sebaiknya kalian mengejarnya?“ berkata orang yang gontai itu.

“Kami bertugas di sini. Kami tidak dapat meninggalkan tugas kami.”

“Tetapi di sini tentu banyak petugas yang lain,” orang yang berpura-pura itu tertegun sejenak. Hanya enam orang. Jika demikian, maka pengamanan rumah itu benar benar sangat ringkih.

Karena itu, tiba-tiba saja di luar dugaan, orang itu meloncat menyerang pengawal yang memegang tombak itu. Sambil menyambar tangkai tombak itu dan menariknya sekuat tenaganya, kakinya telah menghantam lambung pengawal itu, sehingga pengawal itu terpelanting jatuh.

 

 

Para pengawal yang lainpun terkejut bukan buatan. Tetapi mereka tidak sempat berbuat banyak. Demikian mereka menyadari keadaan, maka tiga orang lain telah berloncatan dari dalam gerumbul.

Serangan yang tiba-tiba itu telah melumpuhkan keempat orang itu sekaligus. Mereka sama sekali tidak sempat memberikan isyarat kepada siapapun juga.

Yang terjadi itu hanyalah beberapa saat yang pendek. Dua orang pengawal yang berada di pendapa sama sekali tidak mengetahui, bahwa di luar regol keempat kawannya telah dilumpuhkan.

Karena itulah, keduanya yang berada di pendapa masih saja duduk sambil bercakap-cakap untuk menghalau perasaan kantuk.

“Agaknya orang-orang yang dicari itu sudah berhasil melarikan diri,“ desis yang seorang.

“Mereka tentu sudah meloncat dinding,” sahut yang lain.

“Tetapi, kenapa Raden Sutawijaya masih belum kembali? Atau pengawal-pengawal yang lain yang sebenarnya tidak perlu ikut berkejar-kejaran di sudut-sudut kota?”

Kawannya tidak menyahut. Dipandanginya regol halaman dalam keremangan sinar bulan. Tetapi ia tidak melihat apapun juga.

“Mungkin masih dilakukan pencarian terus sampai pagi,“ desis yang seorang pula.

Kawannya tetap tidak menjawab, ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat seseorang melintasi regol. Kemudian berjalan kembali. Hilir mudik seperti yang dilakukan oleh para pengawal.

Namun sejenak kemudian, dua orang di antara mereka memasuki halaman dan berjalan melintas.

Kedua orang yang berpura-pura sebagai para pengawal itu telah memberanikan diri melihat-lihat keadaan di dalam. Seperti dua orang yang mereka lihat melintas dan mendatangi gardu di regol itu, maka kedua orang itupun melakukan yang sebaliknya.

Dua orang pengawal yang berada di pendapa memandang kedua orang yang melintas itu. Mereka masih menyangka bahwa keduanya adalah para pengawal yang bertugas di gardu.

Tetapi sejenak kemudian, mereka melihat kedua orang lainnya memasuki regol pula menyusul kedua onang yang terdahulu.

“Kenapa mereka semuanya memasuki halaman?“ salah seorang dari kedua penjaga di pendapa itu bertanya.

Yang lain termangu-mangu. Namun kemudian tanpa menjawab pertanyaan kawannya ia berdiri dan berjalan ke tangga pendapa sambil bertanya, “He, kenapa regol itu kalian tinggalkan?”

Keempat orang itu tertegun. Dalam samarnya cahaya obor mereka melihat dua orang berada di pendapa.

“Empat orang sudah tidak berdaya,“ desis yang seorang, “di sini ada dua orang penjaga. Jika yang dua ini kita selesaikan, maka rumah ini tentu sudah kosong.”

“Tetapi apakah tidak ada orang di dalam?,“ bertanya yang lain

“Hanya pelayan-nelayan. Bukan prajurit-prajurit.”

“Jika pelayan-pelayan di rumah ini juga prajurit?”

“Kita bertempur.”

Karena orang-orang itu tidak segera menjawab, bahkan saling berbisik, maka kedua pengawal di pendapa itu bertanya pula, “He, kenapa kalian tinggalkan regol itu?”

Tiba-tiba terdengar jawaban, ”Keadaan sudah aman.”

Jawaban itu benar-benar mengejutkan. Seorang pengawal tidak akan berpendapat demikian. Betapapun keadaan aman. namun mereka tidak boleh meninggalkan tugas mereka. Apalagi baru saja terdengar suara titir di seluruh kota. bahkan Raden Sutawijaya sendiri masih belum kembali.

Kecurigaan timbul pada kedua orang pengawal itu. Karena itulah maka merekapun mencoba mengenali keempat orang itu dengan saksama.

Namun agaknya keempat orang itu telah merasa bahwa kedua orang itu tentu akan segera mengenalnya. Karena itulah, maka tiba-tiba saja keempat orang itupun telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Namun karena kecurigaannya, maka kedua orang itupun ternyata telah bersiap-siap. Maka demikian mereka melihat keempat orang itu meloncat menyerang, maka keduanyapun segera menarik pedangnya sambil berkata satu sama lain hampir bersamaan, ”Berhati-hatilah”

Kedua pengawal itu dalam saat yang pendek, segera dapat menduga bahwa para penjaga regol tentu sudah tidak berdaya, sehingga keempat orang itu dapat masuk dengan leluasa.

Sejenak kemudian telah timbul pertempuran di antara keempat orang pendatang itu melawan kedua pengawal. Ternyata bahwa kedua pengawal itu sama sekali tidak mampu berbuat banyak. Selain jumlah keempat orang itu lebih banyak, bahkan berlipat, namun ternyata bahwa seorang saja di antara keempat orang itu akan dengan mudah mengalahkan kedua orang lawannya.

Itulah sebabnya, maka sejenak kemudian kedua pengawal itu sudah tidak berdaya. Mereka terkapar di pendapa dengan senjata masih ditangan.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang?“ bertanya salah seorang.

“Mengambil pusaka-pusaka itu,” sahut salah seorang yang paling berpengaruh di antara keempat orang itu.

“Mungkin kita dapat mengambilnya. Tetapi bagaimana kita akan membawa keluar. Seluruh kota sudah dijaga. Setiap tikungan, simpang tiga dan simpang empat.”

Orang itu termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Kau memang bodoh. Dengan pusaka-pusaka itu di tangan, tidak akan ada seorangpun yang berani menghalangi perjalanan kita.”

“Kenapa? Apakah pusaka itu mampu melawan orang seluruh tanah Mataram?”

“Kau memang dungu. Kita akan membawa Kanjeng Kiai Pleret yang sudah kembali ke perbendaharaan pusaka di rumah ini. Juga Kiai Mendung dan pusaka-pusaka yang lain. Jika para pengawal Mataram mencoba menghalangi kita, atau bahkan menangkap kita, maka kita harus siap menghancurkan pusaka-pusaka itu.”

Kawan-kawannya terkejut. Dengan tegang salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah kita mampu? Kita akan kena kutuknya. Bahkan sebelum kita dapat menghancurkan pusaka itu, kita sudah membeku karenanya.”

Tetapi kawannya justru tertawa. Katanya, “Kau benar-benar seorang yang tidak berakal. Kita tidak akan benar-benar menghancurkan pusaka itu. Kita hanya menakut-nakuti orang Mataram. Mereka tentu akan mundur dan memberi jalan kepada kita. karena mereka tidak akan dapat melihat pusaka-pusaka itu kita rusakkan. Kita harus berbuat seolah-olah benar-benar kita akan mematahkan ujung tombak Kiai Pleret. atau menghancurkan songsong Kiai Mendung. Seolah-olah benar-benar akan kita lakukan.”

Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Namun merekapun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Kau memang cerdik.”

“Marilah. Kita harus cepat memasuki perbendaharaan pusaka. Kita akan mencarinya. Mungkin ada satu dua abdi yang ada di dalam. Kita tidak mempunyai pilihan lain daripada melumpuhkan mereka.”

Keempat orang itupun kemudian bergegas naik ke pandapa. Mereka langsung menuju ke pintu. Jika pintu itu diselarak dari dalam. maka tidak ada jalan lain kecuali memecahkannya.

Tetapi keempat orang itu tertegun, ketika pintu itu justru terbuka. Dengan dada yang berdebar-debar mereka melihat seorang tua melangkah keluar dan berdiri tegak di muka pintu.

Wajah orang itu menegang sejenak. Namun kemudian terdengar suaranya lirih, ”Siapakah kalian?”

Salah seorang dari keempat orang itu terhenyak di tempatnya. Sambil menggamit kawannya yang terdekat ia berbisik, ”Ki Juru Martani.”

Tetapi kawannya yang berdiri di sebelahnya tiba-tiba saja menggeram, “Ki Juru. Mungkin kau tidak mengenal kami. Kawanku yang seorang tiba-tiba saja menjadi ketakutan melihat wajahmu. Tetapi maaf, aku datang dengan sengaja untuk menjumpaimu. Mungkin kau dapat menahan aku untuk beberapa saat, sementara kawan-kawanku mengambil pusaka-pusaka dari gudang penyimpanannya.”

Ki Juru termangu-mangu. Ia benar-benar menjadi cemas melihat keempat orang itu. Apalagi menilik salah seorang di antara mereka tentu termasuk orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Jika benar-benar orang itu mampu menahannya untuk bertempur, maka yang lain tentu akan berhasil mengambil pusaka-pusaka di tempat penyimpanannya.

“Nah Ki Juru,” berkata orang itu, “daripada perlawanan Ki Juru sia-sia. maka lebih baik Ki Juru menyerahkan saja pusaka-pusaka itu.”

Tetapi Ki Juru menggeleng. Jawabnya, “Aku akan bertempur. Aku tahu bahwa pengawal yang sedikit, justru karena terpancing keluar rumah dan halaman ini, telah kalian pergunakan sebaik-baiknya. Tetapi disini masih ada aku. Masih ada beberapa orang pelayan yang memiliki kemampuan sebagai seorang pengawal, meskipun tidak setingkat dengan kalian. Tetapi jumlah mereka yang lebih dari empat orang. akan dapat mengganggu kalian sampai saatnya Raden Sutawijaya kembali.”

“Persetan. Kami akan membunuh semua orang, termasuk kau Ki Juru.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak mudah membunuh sesama. Meskipun kemampuanmu berlipat, namun hidup dan mati seseorang berada di bawah kuasa Yang Maha Esa.”

“Persetan. Jangan biarkan ia mengulur waktu menunggu Sutawijaya kembali. Kita bunuh saja orang tua itu. Kemudian yang lain.”

Ki Juru masih akan menjawab, tetapi keempat orang itu. sudah siap menyerangnya dengan senjata teracu.

Ki Juru yang tua itu tidak dapat berbuat lain. Ia surut selangkah sehingga ia berdiri di pintu. Dengan demikian, ia berusaha mengurangi kemungkinan serangan dari arah yang berlawanan.

Keempat orang itupun kemudian maju mendekatinya. Salah seorang dari mereka tiba-tiba saja berkata, “Serahkan orang tua itu kepadaku. Aku tahu. seberapa tinggi tingkat ilmunya. Ia adalah saudara tua seperguruan dengan Ki Gede Pemanahan. Namun karena Ki Gede Pemanahan adalah seorang Panglima, maka tingkat kemampuannya tentu lebih tinggi dari Ki Juru Martani. justru karena Ki Gede ditempa oleh pengalaman.”

Ki Juru Matani termangu-mangu. Orang itu ternyata dapat menjajagi ilmunya dan memperbandingkannya dengan Ki Gede Pemanahan dengan tepat. Karena itu, maka iapun menjadi berdebar-debar. Jika orang itu berhasil mengikatnya dalam perkelahian, maka ketiga kawannya akan dapat berbuat seperti yang dikatakannya. Merampas pusaka-pusaka yang tersimpan di bilik penyimpanan pasaka, karena para pelayan rumah itu tentu tidak akan mampu melawannya.

“Tinggalkan orang tua itu,“ berkata orang yang agaknya pemimpin dari keempat orang itu, ”carilah pusaka-pusaka itu.”

Ki Juru memandang orang itu sejejak. Namun ia menjadi semakin gelisah ketika ketiga orang lainnya ternyata surut selangkah.

“Persetan,” geram orang yang berhadapan dengan Ki Juru Martani, “seandainya kau dapat menangkap angin, namun jika kau tidak lenyap dari tatapan mataku, maka kau akan binasa.”

Ki Juru tidak menjawab. Tetapi iapun telah menggenggam pedang. Meskipun ia sudah tua, tetapi ia masih memiliki kemampuannya sebagai seorang yang berilmu tinggi.

Namun dalam pada itu. selagi ketiga orang yang datang itu beringsut surut, terdengarlah suara dari gandok, ”Biarlah ketiga orang itu akulah yang menemani.”

Semua orang berpaling kepada suara itu. Ki Juru mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia memang mengharap Agung Sedayu keluar dari biliknya. Tetapi ia tidak dapat mempersilahkannya. Ia adalah seorang tamu, apalagi ia mendengar, bahwa orang-orang itu memang mencari Agung Sedayu.

“Siapa kau?“ salah seorang dari keempat orang itu bertanya.

“Aku kira kalian memang mencari aku,“ jawab Agung Sedayu, “ternyata kalian memang cerdik. Kalian memancing para pengawal keluar. Dan kini kalian benar-benar dapat bertemu dengan aku.”

“Persetan,“ geram orang yang sudah berhadapan dengan Ki Juru, “jadi kau Agung Sedayu?”

“Apakah kau belum mengenal aku? Jika demikian, apakah kau dapat menjalankan tugasmu jika kalian bertemu aku di perjalanan ke Sangkal Putung? Aku kira kalian memang mengikuti jejakku dan akan menjebabku di sepanjang jalan menuju ke Kademangan Sangkal Putung itu.”

Keempat orang itu termangu-mangu. Mereka memandang Agung Sedayu seperti memandang hantu. Debar dadanya terasa semakin keras ketika mereka melihat Agung Sedayu melangkah mendekat.

“Aku harus menjebaknya dan bersama-sama membunuhnya,“ berkata orang yang memimpin keempat orang itu didalam hatinya, “tetapi jika di sini hadir juga Ki Juru, maka keadaannya akan menjadi gawat.”

Sementara itu Agung Sedayu yang menjadi semakin dekat kemudian berkata, “Ki Sanak. Agaknya kalian memang tidak perlu mencari aku yang kalian sangka akan tinggal dan bermalam di Mataram satu atau dua hari. Setelah menurut pengamatan kalian aku telah meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Kita sudah bertemu sekarang. Dan marilah, silahkan duduk. Mungkin kalian membawa pesan untuk aku.”

Keempat orang itu menjadi tegang. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka, yang justru sudah siap bertempur melawan Ki Juru itupun berkata, ”Gila. Kau berada d iluar perhitungan kami saat kami memasuki rumah ini. Tetapi sekarang kita sudah bertemu. Apa boleh buat. Kau pun harus mati seperti Ki Juru Martani.”

“Jangan berbicara tentang mati, seolah-olah tidak ada persoalan lain yang dapat kita perbincangkan. Bukankah kita dapat berbicara sebaik-baiknya tentang parit yang mengalir deras, tentang padi yang mulai menguning, tentang pedati yang berjalan lamban di bulak panjang, atau tentang hubungan yang akrab antara sesama manusia tanpa permusuhan.”

“Cukup,“ bentak orang yang siap melawan Ki Juru, “kau jangan mencoba mempengaruhi kami dengan kata-kata yang tidak bernilai bagi kami, orang jantan.” Ia berhenti sejenak, lalu katanya kepada ketiga orang kawannya, “Bunuh anak itu lebih dahulu. Setelah itu, ambillah pusaka-pusaka yang ada di perbendaharaan pusaka.”

“Tunggulah,” potong Agung Sedayu, ”jangan tergesa-gesa. Aku akan memberikan sedikit keterangan. Jika sekiranya kau memaksakan pertempuran, maka kita akan bertempur. Aku dan Ki Juru akan memperpanjang waktu perlawanan kami. Jika ada satu dua orang pelayan terbangun, mereka akan memukul isyarat dan sepuluh atau duapuluh orang akan memasuki halaman itu. Mereka akan melihat korban yang telah kau lumpuhkan, sebelum mereka melakukan apapun juga. Nah, kau tahu apa yang akan terjadi atasmu.”

“Cukup. Cepat, bunuh anak itu. Jika ada seorang pelayan-pun yang terbangun dan berusaha membunyikan isyarat, ia akan mati paling cepat.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Agaknya keempat orang itu memang bukan orang kebanyakan. Mereka telah mendapat kepercayaan untuk melakukan tugas yang berat.

Sebenarnyalah keempat orang itupun telah siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka memang orang-orang terpilih. Mereka tahu pasti, apa yang telah dilakukan oleh Agung Sedayu di medan pertempuran di lembah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Karena itu, maka ketiga orang yang sudah siap untuk mengambil pusaka itupun segera mendekati Agung Sedayu, sementara pemimpinnya berkata, “Salah seorang dari kalian harus siap bertindak atas para pelayan yang menyaksikan peristiwa ini. Lumpuhkan mereka seperti para pengawal yang melawan, agar mereka tidak sempat membunyikan tanda atau isyarat.”

Ketiga orang itu tidak menjawab. Namun mereka melangkah semakin mendekati Agung Sedayu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia dihadapkan pada suatu keadaan yang tanpa pilihan. Ia harus mempertahankan dirinya. Dan ia tidak menpunyai cara lain kecuali dengan kekerasan.

“Aku tidak mungkin menghindarkan diri dengan melarikan diri pada saat seperti sekarang ini,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri. Dan bagaimanapun juga, ia masih belum sampai pada cara yang satu itu.

Karena itulah maka Agung Sedayupun kemudian mempersiapkan dirinya untuk menghadapi ketiga orang itu, sementara Ki Juru harus berhadapan dengan pemimpin mereka.

“Maaf Ngger,“ tiba-tiba saja terdengar suara Ki Juru, “jika Danang Sutawijaya mempersilahkan Angger tinggal, maksudnya agar Angger sempat beristirahat. Tetapi justru Anggerlah yang kini berkewajiban untuk melawan ketiga orang yang tidak tahu diri itu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Perhatiannya sudah terpusat kepada ketiga orang itu, karena anak muda itupun sadar, bahwa ketiga orang itu tentu memiliki bekal untuk melakukan tugasnya.

Sejenak kemudian, maka masing-masingpun telah bersiap-siap menghadapi setiap kemungkinan. Wajah Agung Sedayu nampak buram oleh kegelisahannya. Bukan karena ia cemas menghadapi lawan-lawannya. Tetapi bahwa ialah yang di luar kehendaknya sendiri, harus menghadapi orang-orang itu di dalam lingkungan kekuasaan Raden Sutawijaya di Mataram.

Ki Juru yang tinggal menghadapi seorang lawan, merasa tidak perlu lagi bertempur di pintu pringgitan. Iapun justru keluar maju dengan pedang teracu.

“Marilah kakek tua,“ berkata lawannya, “aku beri kesempatan kau bertempur di tempat yang luas. Mungkin pernafasanmu masih cukup baik, sehingga kau akan mampu mengimbangi tata gerakku.”

Ki Juru tidak menjawab. Ia sadar, bahwa lawannya akan mempergunakan cara yang sesuai dengan keadaannya. Lawannya tentu mengira bahwa nafasnya tidak lagi sepanjang nafas anak-anak muda.

Sejenak kemudian, lawan Ki Juru Martani itupun telah mulai menggerakkan tombaknya. Dengan lincahnya ujung tombak itu bergeser dari satu arah, kemudian berubah dari arah yang lain oleh loncatan kakinya yang cekatan.

Orang itu tertawa. Katanya, “Tombak ini adalah tombak para pengawal di regol. Aku tidak biasa mempergunakannya, karena akupun terbiasa bersenjatakan sebuah kelewang yang besar. Tetapi aku akan mencoba mempergunakan ujung tombak ini untuk menembus dada Ki Juru Martani yang namanya dikenal oleh setiap orang di seluruh wilayah Pajang dan bahkan wilayah Majapahit lama, karena sebenarnya ialah yang telah berbuat terlalu banyak lagi perkembangan Mataram.”

Ki Juru tidak menjawab. Ia memperhatikan tangan dan tombak yang bergerak-gerak itu. Namun Ki Juru masih belum berbuat sesuatu. Ia masih memegang senjatanya menyilang di dadanya. Hanya kakinya sajalah yang bergeser memutar tubuhnya menghadap lawannya yang dengan tangkas berloncatan.

“Kau cerdik Ki Juru,” berkata lawannya. “Kau mampu menahan perasaanmu yang bergejolak untuk mempertahankan pernafasanmu yang tentu sudah terlampau pendek bagi sebuah perang tanding. Tetapi jangan cemas. Perang tanding ini tidak akan berlangsung lama. Sebentar lagi Agung Sedayu akan mati. Dan kaupun segera tertelungkup di pendapa ini. Kau akan menyesal. karena kau tidak sempat melihat Mataram berkembang lebih besar. Kau tidak dapat melihat Sutawijaya berhasil membunuh ayahanda angkatnya dan merebut tahtanya.”

“Cukup,“ bentak Ki Juru, “sebenamya aku lebih baik diam. Tetapi kata-katamu benar-benar menyakitkan hati. Tidak seorangpun yang akan memberontak melawan Sultan Pajang selain kau dan orang-orang yang menyebut dirinya pewaris kerajaan Majapahit. Termasuk beberapa orang perwira yang berada di Istana Pajang sekarang ini. Mungkin kau datang dari pihak yang lain. yang digerakkan oleh dendam semata-mata. Mungkin kau termasuk salah seorang anak buah orang-orang yang terbunuh di medan oleh Agung Sedayu. Tetapi mungkin juga kau anak buah Ki Tumenggung Wanakerti. Adalah ciri orang-orang yang berpikiran licik, bahwa kematian di medan perang masih juga menimbulkan dendam yang berkepanjangan.”

“Kau pintar juga kakek tua. Baiklah. Aku tidak berkeberatan untuk mengaku sebelum aku dapat membunuhmu,” geram orang itu sambil menyerang.

Ki Juru berusaha menghindar. Dengan gerak yang sederhana ia berhasil menghindarkan dirinya dari pagutan ujung tombak lawannya. Ketika kemudian ujung tombak itu sekali lagi mematuk, maka dengan pedangnya Ki Juru menyentuhnya, sehingga ujungnya bergeser sejengkal dari tubuhnya.

Lawan Ki Juru itu masih sempat tertawa. Katanya, “Kau masih tangkas juga Ki Juru. Baiklah, kita akan segera melihat, apakah kau benar-benar masih tetap memiliki namamu yang besar itu.”

Ki Juru tidak menjawab. Tetapi ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat lawannya melemparkan tombak panjangnya dan kemudian menarik sebuah kelewang yang besar seperti yang dikatakannya.

“Tombak itu sama sekali tidak berarti bagiku,“ geramnya.

Ki Juru mempersiapkan dirinya. Ia sadar, bahwa ia harus mulai dengan pertempuran yang sebenarnya melawan orang yang kurang dikenalnya itu.

Dengan wajah yang tegang orang itu melangkah mendekati lawannya. Sorot matanya seolah-olah telah berubah menjadi buas dan liar. Ketika ia mengayunkan kelewangnya, maka terasa angin yang tergeser menyentuh tubuh Ki Juru.

“Hem,“ Ki Juru menarik nafas panjang, “orang ini agaknya memang orang luar biasa. Tenaganya melampaui tenaga orang kebanyakan. Dan sudah barang tentu, ia termasuk orang pilihan,” katanya di dalam hati.

Ternyata sejenak kemudian, Ki Juru benar-benar harus bertempur melawan orang bersenjata kelewang itu. Ternyata ia benar-benar seorang yang mampu bergerak di luar dugaan. Kakinya berloncatan seolah-olah tidak berjejak di atas tanah. Sementara kelewangnya berputar seperti baling-baling di sekitar tubuh lawannya.

Seperti yang diperhitungkan lawannya, Ki Juru berusaha membatasi geraknya, agar ia tidak kehabisan nafas.

Tetapi lawannyapun cukup cerdik. Ia selalu memancing, agar Ki Juru terpaksa meloncat dengan loncatan-loncatan panjang dan dengan cepat mengikuti arah serangan-serangannya.

Sementara itu. Agung Sedayupun telah terlibat dalam perkelahian. Agaknya Agung Sedayu masih ingin menyelesaikan persoalan itu tanpa mengganggu orang lain, sehingga ia masih belum bernafsu untuk mempergunakan cambuknya.

“Cambukku dapat mengundang sekelompok pengawal,“ katanya di dalam hati, “dengan demikian akan berarti keempat orang ini akan habis dicincang jika para pengawal mengetahui nasib kawan-kawannya meskipun mungkin mereka hanya pingsan dan tidak mati.”

Karena itulah, maka ketika orang yang bertempur melawan Ki Juru itu melemparkan tombaknya, Agung Sedayu meloncat dengan kecepatan yang tidak diduga, apalagi yang dilakukan itu sama sekali tidak diperhitungkan oleh lawannya, berhasil menggapai tangkai tombak itu, dan kemudian mempergunakannya.

“Agung Sedayu,“ salah seorang lawannya menggeram, “aku dengar kau adalah seorang kesatria yang bersenjatakan cambuk seperti gurumu. Dimana cambukmu he? Jika cambukmu ketinggalan di bilikmu, aku beri kesempatan kau untuk mengambilnya.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Namun tiba-tiba orang yang berbicara itu terkejut. Ujung tombak Agung Sedayu tiba-tiba saja telah menyambar mulutnya. Untunglah ia masih sempat mengelak, sehingga bibirnya tidak robek karenanya.

Tetapi yang dilakukan oleh Agung Sedayu itu telah memberikan kejutan bagi lawan-lawannya. Sebenarnyalah bahwa nama Agung Sedayu benar-benar bukan sekedar olok-olok kawan-kawannya yang pernah melihatnya di pertempuran.

Ketiga orang itupun segera berpencar. Namun agaknya Agung Sedayu yang bersenjata tombak panjang itu lebih senang bertempur di tempat yang lebih luas. Karena itulah, maka iapun tiba-tiba saja telah meloncat turun dari pendapa.

“Jangan lari,“ salah seorang dari ketiga orang lawannya membentuk.

“Jangan berteriak,“ desis Agung Sedayu, “jika suaramu didengar oleh para pengawal yang kebetulan lewat di luar dinding, maka mereka akan segera datang. Kau tentu akan dicincang menjadi lumat, karena kau telah memperlakukan kawan-kawannya yang mengawal rumah ini dengan semena-mena.”

“Persetan. Kami akan membunuh semua orang.”

“Seluruh kota?“

“Ya.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Hampir di luar sadarnya ia berkata, “Bertanyalah kepada dirimu sendiri apakah kau mampu melakukannya?”

Orang itu menjadi semakin marah. Itulah sebabnya, maka ketiga orang yang telah menyusul Agung Sedayu turun ke halaman itupun segera menyerangnya dengan dahsyatnya dari arah yang berbeda, seperti datangnya prahara di musim pancaroba.

Agung Sedayu segera merasakan tekanan yang berat dari ketiga orang itu. Sehingga dengan demikian ia dapat memperhitungkan, seandainya, ia benar-benar ditunggu oleh empat orang itu di perjalanan kembali ke Sangkal Putung, di bulak panjang tanpa bantuan seorangpun juga, maka tugasnya tentu akan terasa sangat berat. Apalagi ketika ia sempat melihat perkelahian yang terjadi di pendapa, antara Ki Juru dan salah seorang dari keempat orang yang mencarinya itu. Ternyata bahwa orang itupun memiliki kemampuan yang menggetarkan.

Dengan senjata sebuah tombak panjang, Agung Sedayu bertempur melawan ketiga orang lawannya. Meskipun ia tidak terbiasa mempergunakan senjata serupa itu, namun ternyata bahwa kemampuan Agung Sedayu benar-benar telah mengejutkan ketiga orang lawannya.

 

 

Tombak panjang di tangan Agung Sedayu itu ternyata menjadi sangat berbahaya. Tombak itu dapat berputar bagaikan perisai di sekitar tubuh Agung Sedayu, sementara dalam hentakan yang tiba-tiba, ujungnya dan bahkan tangkainya dapat mematuk lawannya

Tetapi ketiga orang lawan Agung Sedayu itupun cukup lincah. Mereka masih selalu berhasil menghindarkan diri dari serangan Agung Sedayu. Namun merekapun tidak juga segera berhasil mengalahkan lawannya yang hanya seorang itu.

Sementara itu, para pengawal yang berada di luar halaman rumah itupun masih dicengkam oleh kemarahan. Para penjaga regol dan pengawas di gardu-gardu yang berhadapan dengan dinding kota merasa yakin, bahwa belum ada seorangpun yang berhasil keluar, sehingga mereka menganggap bahwa keempat orang yang mereka cari itu masih tetap berada di dalam kota.

Tetapi tidak seorangpun di antara mereka yang mengira bahwa keempat orang itu justru bersembunyi di halaman rumah Raden Sutawijaya dan yang saat itu sedang bertempur melawan Agung Sedayu dan Ki Juru Martani.

Dalam pada itu. Raden Sutawijaya masih nganglang di atas punggung kudanya diikuti oleh beberapa orang pengawal. Setiap kali Raden Sutawijaya berhenti untuk menanyakan tentang hilangnya beberapa orang buruan. Namun jawabnya hampir sama saja. Mereka tidak melihatnya. Tetapi pada umumnya mereka yakin bahwa orang-orang itu masih belum keluar dari lingkungan dinding kota.

Kejengkelan dan kemarahan semakin mencengkam para pengawal karena bagaimanapun juga mereka mencari, namun mereka tidak dapat menemukannya. Beberapa orang telah mencarinya di tempat-tempat yang terlindung. Di kebun-kebun dan bahkan mereka memasuki rumah-rumah yang dicurigainya. Banjar-banjar padukuhan dan tempat-tempat yang diduga dapat dipergunakan untuk bersembunyi. Namun mereka tidak menemukannya.

“Kita akan berjaga-jaga sampai pagi,” geram Raden Sutawijaya, “jika matahari menyingsing, maka tempat persembunyian itu akan menjadi semakin sempit. Mudah-mudahan mereka akan keluar sendiri dari tempat-tempat mereka bersembunyi seperti cengkerik yang disiram dengan air.”

Para pengawalpun telah bertekad untuk mencarinya sampai keempat orang itu dapat diketemukan. Setidak-tidaknya salah satu dari antara mereka itu.

Jika salah seorang dari keempat orang itu dapat diketemukan, maka daripadanya akan didapat keterangan, siapakah yang telah menugaskan mereka memasuki wilayah Mataram untuk mencari Agung Sedayu.

Namun, menurut perhitungan, seperti juga pendapat para pemimpin Mataram yang lain, maka mereka menduga bahwa orang-orang itu tentu bukannya petugas yang telah dikirim oleh Pajang, seperti halnya petugas sandi yang diberitahukan oleh Kiai Kendil Wesi.

Akhirnya Sutawijaya mengambil keputusan untuk sekali lagi berputar dan memberikan pesan-pesan kepada para petugas, khususnya yang mengawasi pintu-pintu gerbang dan dinding kota, agar mereka benar-benar mencegah setiap orang yang akan keluar dari kota, siapapun mereka. Kemudian Sutawijaya akan kembali untuk menunggu perkembangan lebih lanjut.

Sementara itu pertempuran masih berlangsung di halaman dan di pendapa rumah Raden Sutawijaya. Ki Juru Martani harus berjuang untuk mempertahankan dirinya dari serangan yang beruntun dengan kasarnya. Ternyata bahwa lawan Ki Juru adalah benar-benar orang yang berilmu tinggi, sehingga ia telah disiapkan untuk memimpin tiga orang kawannya menyergap Agung Sedayu yang sudah mereka ketahui sebagai seorang yang memiliki kemampuan yang sulit dicari bandingnya.

Namun Ki Juru yang tua itupun adalah seorang yang mumpuni. Sebagai saudara seperguruan Ki Gede Pemanahan yang pernah menjadi Panglima prajurit Pajang, maka Ki Jurupun merupakan seorang yang matang dalam olah kanuragan. Meskipun ia sudah menjadi semakin tua, namun ia benar-benar menguasai dirinya sebaik-baiknya. Ia mengetahui dengan pasti tingkat kemampuannya, kekuatannya, daya tahan tubuhnya dan pernafasannya.

Dengan demikian, maka perkelahian yang terjadi di pendapa itu menjadi semakin lama semakin dahsyat. Tidak banyak kesempatan untuk menilai keadaan dan kemungkinan yang dapat terjadi. Yang mereka lakukan kemudian adalah memusatkan segala perhatian mereka kepada pertempuran yang menjadi semakin dahsyat itu.

Namun justru karena keduanya memiliki ilmu yang tinggi, maka pertempuran itu seakan-akan tidak menumbuhkan keributan apapun juga. Langkah kaki mereka bagaikan tidak menimbulkan suara apapun. Benturan senjata mereka hanya kadang-kadang berdentang. Namun kadang-kadang setiap patukan senjata seolah-olah hanyalah sekedar dihindari, sehingga suara benturan itupun menjadi sangat terbatas.

Karena itulah, maka para pelayan yang kebanyakan berada di ruang belakang, di seberang longkangan, tidak mendengar pertempuran itu. Mereka tidur dengan nyenyaknya, karena mereka menduga, bahwa di regol, di pendapa dan di halaman belakang, terdapat beberapa orang pengawal yang menjaga keamanan dan ketenteraman rumah itu sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, di halaman, Agung Sedayu masih bertempur dengan tombak panjangnya. Meskipun ia harus melawan tiga orang, namun agaknya dengan tombak panjangnya, ia akan dapat bertahan. Bahkan jika ia berhasil memperpanjang waktu perkelahian itu, pernafasannya tentu akan lebih baik dari lawan-lawannya yang mengerahkan dan memeras segenap kemampuan mereka.

Tetapi dugaan Agung Sedayu tidak sepenuhnya tepat. Ternyata bahwa ketiga orang lawannya benar-benar orang yang memiliki kemampuan yang tinggi pula. Ketiganya yang merasa gelisah karena kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi jika ada pihak lain yang mengetahui, telah mencoba untuk mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada mereka, untuk menguasai Agung Sedayu.

Mereka telah mengerahkan segala ilmu yang ada. Mereka menyerang dari segala arah dengan kecepatan yang sulit diikuti dengan pandangan mata wadag.

Perlahan-lahan Agung Sedayu mulai terdesak. Betapapun ia mempergunakan segenap kecepatan mempergunakan tombak panjang di tangannya, namun serangan ketiga orang lawannya terasa menjadi semakin gawat.

Bahkan desau angin telah mulai menyentuh tubuhnya, jika senjata lawannya berhasil menyusup kerapatan perisai putaran tombaknya, meskipun senjata lawannya masih belum berhasil mengenainya.

“Bukan main,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya. Ia menjadi semakin yakin, jika keempat orang termasuk yang bertempur melawan Ki Juru Martani itu berhasil mencegatnya di perjalanan seorang diri, maka ia tentu tidak akan mampu mempertahankan hidupnya lagi.

Meskipun ia telah berhasil membunuh Ki Gede Telengan dan kemudian Tumenggung Wanakerti, mengalahkan Kiai Samparsada dan Kiai Kelasa Sawit, namun untuk menghadapi empat orang berilmu tingggi itu, agaknya ia memang tidak akan sanggup.

Kini ia harus bertempur melawan tiga orang di antara mereka. Itupun ia sudah merasakan tekanan yang sangat berat. Apalagi dengan orang yang mampu mengimbangi ilmu Ki Juru Martani itu sekaligus.

Ketika tekanan ketiga lawannya terasa semakin berat, maka Agung Sedayupun merasa semakin dalam didera oleh kebimbangannya. Jika ia tidak lagi mampu bertahan melawan ketiga orang itu dengan bersenjata tombak panjang yang memang kurang biasa baginya, ia harus memilih dua kemungkinan. Pilihan yang selamanya merupakan bayangan hitam yang selalu menghantui perasaannya.

Jika ia tidak mau menyerahkan nyawanya, maka kemungkinan yang lain adalah membunuh lawan-lawannya.

“Jika aku mempergunakan cambukku, meskipun aku tidak langsung membunuh mereka, maka akibatnya akan sama saja,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

“Karena suara cambukku, tentu akan mengundang para pengawal memasuki halaman ini. Mereka tentu akan sangat marah jika mereka menemukan kawan-kawannya terbaring di gardu, di pendapa dan melihat Ki Juru Martani harus bertempur mempertahankan hidupnya.“

Namun Agung Sedayupun telah terdesak terus. Ketiga lawannya benar-benar merupakan tiga orang yang seakan-akan telah digerakkan oleh satu otak. Serangan mereka beruntun, kadang-kadang bersama-sama. Namun serangan-serangan itu semakin lama justru terasa semakin berbahaya. Mereka tidak segera menjadi lelah dan kehilangan tenaganya. Bahkan serangan-serangan mereka justru terasa seakan-akan menjadi semakin kuat.

Agung Sedayu masih dicengkam oleh kebimbangan. Sekilas ia melihat Ki Juru Martani mendesak lawannya. Namun sejenak kemudian, ialah yang harus meloncat surut.

Dengan demikian maka Agung Sedayu mendapat kesimpulan, bahwa lawan-lawannya benar-benar orang-orang yang terpilih. Karena itulah, maka perjuangannya itupun merupakan perjuangan yang sungguh-sungguh.

Dalam pada itu, orang yang bertempur melawan Ki Juru Martani itupun sudah mencoba mengerahkan segenap kemampuannya. Ia berusaha memancing orang tua itu, agar mengerahkan segenap kemampuannya. Jika orang itu berhasil, ia berharap bahwa Ki Juru akan segera kehabisan nafas.

Tetapi Ki Juru tetap dalam keseimbangan nalarnya. Ia tidak mudah terbakar hatinya, sehingga melupakan pertimbangan-pertimbangan akalnya.

Itulah sebabnya, maka bagaimanapun juga, Ki Juru tetap bertempur dengan langkah-langkah yang mantap dan tenang.

Dalam pertempuran itu, nampak bahwa keempat orang yang berusaha membunuh Agung Sedayu telah berusaha membagi kekuatannya sebaik-baiknya. Mereka ternyata masih menganggap Agung Sedayu merupakan orang yang lebih berbahaya dari Ki Juru. Ternyata bahwa tiga orang lawannya telah menempatkan diri melawannya sedang yang seorang, meskipun yang paling kuat, harus bertempur melawan Ki Juru Martani. Namun yang tiga orang itupun tentu memiliki kekuatan dan kesempatan yang lebih besar daripada yang seorang.

Itulah sebabnya, maka akhirnya Agung Sedayu benar-benar telah terdesak. Senjata tombak panjangnya tidak banyak memberikan arti kepadanya. Lawan-lawannya berhasil mempergunakan kelamahan-kelamahan yang terdapat pada penggunaan senjata bertangkai panjang itu sebaik-baiknya.

Betapapun kebimbangan mencengkam hatinya, tapi Agung Sedayu masih juga dengan dorongan naluriah ingin mempertahankan hidupnya. Setiap kali senjata lawannya berdesing di telinganya, maka terasa hatinya berdesir. Rasa-rasanya segenap sendi-sendinya telah bergerak dengan sendirinya sehingga tubuhnya menggeliat untuk mempertahankan diri.

Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin seru. Orang-orang yang memasuki halaman itupun sadar, bahwa mereka tidak dapat bertempur terlalu lama. Jika para pengawal mengetahui kehadiran mereka, maka seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, mereka akan dicincang sampai lumat. Betapapun tinggi ilmu mereka tetapi mereka tentu tidak akan dapat melawan pengawal di seluruh kota, apalagi dengan kehadiran Sutawijaya.

Itulah sebabnya, maka ketiga orang yang bertempur melawan Agung Sedayu itupun bertempur semakin dahsyat. Mereka berputar di sekeliling Agung Sedayu sambil menyerang dengan cepatnya. Langkah mereka bagaikan loncatan-loncatan kaki burung sikatan menyambar belalang.

Agung Sedayu berdesis ketika ujung senjata lawan benar-benar telah menyentuh tubuhnya. Segores luka melintang di lengan Agung Sedayu.

Luka itu sama sekali tidak berpengaruh pada tubuhnya. Luka itu benar-benar hanya segores tipis, seperti luka oleh sentuhan kuku seekor kucing kecil.

Namun segores kecil itu benar-benar telah mempengaruhi perasaannya.

Keragu-raguannya untuk mempergunakan cambuknya serasa telah terdesak semakin menepi. Justru karena ia mulai disentuh oleh kecemasannya tentang keselamatannya sendiri.

“Apakah aku harus memilih mengorbankan diriku sendiri?” pertanyaan itu mulai mengganggunya.

Bagi lawan-lawannya, luka itu telah memberikan pengharapan di hati mereka. Ketiganya menjadi semakin bergairah untuk segera menyelesaikan pertempuran itu. Darah yang meleleh dari luka itu, nampak semakin merah di cahaya obor yang samar-samar.

“Kau sudah kehilangan kesempatan,” desis salah seorang lawannya.

“Namamu yang besar hanya akan dapat dikenang.” sambung yang lain. Sementara yang seorang lagi berkata, ”Kami tidak usah bersusah payah menunggumu di pinggir jalan ke Sangkal Putung. Ternyata kau sudah dengan suka rela memasrahkan dirimu sendiri di sini.”

Agung Sedayu menggeram. Terasa hatinya lebih pedih dari luka di lengannya. Ia masih selalu dibayangi kecemasan, bahwa jika para pengawal mendengar pertempuran di halaman itu, mereka akan berlari-larian berdatangan untuk mencincang ketiga lawannya.

Namun kecemasan yang lain tentang dirinya sendiri, agaknya telah membayangi kecemasannya tentang keselamatan lawannya. Apalagi karena ternyata bahwa lawan-lawannya benar-benar ingin merampas hidupnya tanpa belas kasihan.

Dengan tangkas Agung Sedayu masih berusaha menghindari serangan-serangan lawannya dengan loncatan-loncatan cepat. Tetapi lawan-lawannya benar-benar tidak memberikan kesempatan kepadanya, sehingga tangkai tombak panjang yang tidak terbiasa dipergunakan itu menjadi semakin tidak berarti.

Akhirnya Agung Sedayu tidak dapat berbuat lain untuk melindungi dirinya. Ketika ia semakin terdesak ke dinding halaman, maka dengan serta merta iapun melontarkan tombak panjangnya.

Lawan-lawannya terkejut melihat sikap Agung Sedayu. Mula-mula mereka menyangka bahwa Agung Sedayu telah menjadi putus asa dan akan menyerah. Tetapi tiba-tiba saja dada mereka berdesir tajam ketika mereka melihat Agung Sedayu meloncat surut.

Punggung Agung Sedayu telah melekat dinding halaman. Jika ketiga lawannya mendesaknya lagi, ia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk mundur.

Namun demikian, ketika ketiga orang lawannya siap untuk meloncat menyerang, mereka benar-benar bagaikan dicengkam oleh kecemasan yang tajam. Dengan gerak yang hampir tidak mereka lihat dengan matanya, Agung Sedayu telah mengurai cambuk yang membelit lambung di bawah bajunya.

Ketiga lawannya menjadi berdebar-debar melihat cambuk di tangan Agung Sedayu itu. Mereka sadar, bahwa karena tingkah laku mereka, Agung Sedayu benar-benar telah kehilangan kesabaran. Bagaimanapun juga, sebagai makhluk yang hidup, ia tentu akan mempertahankan hidupnya dengan cara yang paling di kuasai dalam ilmu kanuragan.

Sejenak ketiga orang lawannya termangu-mangu. Mereka menatap senjata Agung Sedayu dengan hampir tidak berkedip.

Karena itu, justru untuk beberapa saat pertempuran di halaman itu bagaikan membeku. Ketiga orang lawan Agung Sedayu sekilas melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, jika cambuk Agung Sedayu itu meledak.

Tetapi sudah tentu bahwa mereka mempunyai pertimbangannya sendiri. Agung Sedayu harus dibunuh, dan pusaka yang ada di rumah itu harus mereka kuasai, agar mereka mempunyai perisai untuk meninggalkan kota yang tentu penuh dengan pengawal dan anak-anak muda yang meronda.

Dalam kebimbangan itu, mereka mendengar Agung Sedayu berkata, “Ki Sanak. Aku kagum akan kemampuan kalian. Tetapi sudah barang tentu bahwa aku tidak akan membiarkan diriku kalian bunuh. Karena itulah maka aku akan melawan jika niat kalian tidak kalian urungkan. Dan dengan terpaksa sekali aku akan mempergunakan cambukku, karena tombak itu tidak berhasil melindungi aku. Meskipun demikian, aku masih menawarkan suatu penyelesaian yang lebih baik bagi kalian daripada dicincang oleh para pengawal. Jika kalian menyerah, aku tidak akan meledakkan cambukku yang akan dapat mengundang bencana bagi kalian.”

Wajah ketiga orang lawannya menjadi semakin tegang. Namun salah seorang dari mereka menggeram, “Jangan menakut-nakuti aku. Aku dan kawan-kawanku telah menerima beban di pundak. Kau harus mati, apapun yang akan terjadi atas kami.”

“Yang akan terjadi atas kalian adalah peristiwa yang mengerikan. Aku telah melakukan banyak kesalahan, sehingga banyak orang yang terbunuh karenanya. Sengaja atau tidak. Karena itu, aku akan menghindari pembunuhan-pembunuhan yang akan dapat terjadi.”

Tiba-tiba saja salah seorang lawannya tertawa. Jawabnya, “Ternyata kau orang yang paling sombong yang pernah aku jumpai. Kau dapat membunuh lawanmu dengan sengaja atau tidak dengan sengaja. Tetapi kesombongan itu hanya dapat menggetarkan hati anak-anak.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ternyata kata-katanya dapat menumbuhkan arti yang sebaliknya dari yang dimaksudkannya.

Namun ternyata Agung Sedayu tidak mempunyai banyak kesempatan. Sejenak kemudian, maka ketiga orang lawannya telah siap untuk melanjutkan pertempuran. Mereka telah mengambil sikap dan arah yang paling mantap untuk menghancurkan pertahanan Agung Sedayu.

Tetapi watak dari senjata Agung Sedayu kini berbeda. Ia tidak memegang sebatang tombak bertangkai panjang. Tetapi ia menggenggam cambuk yang berjuntai lemas dan merupakan senjata yang sudah dikenalnya baik-baik seperti ia mengenal anggota badannya sendiri.

Betapapun keragu-raguannya masih saja membayangi perasaan Agung Sedayu, namun ketika ketiga orang lawannya mulai bergerak, maka iapun mulai menggerakkan ujung cambuknya. Untuk beberapa saat, ia sekedar mengguncang senjatanya, sehingga ujungnya bergetar. Namun cambuk Agung Sedayu masih belum meledak.

Gerakan-gerakan kecil Agung Sedayu membuat lawannya menjadi ragu-ragu. Ia sadar, bahwa setiap saat, cambuk itu dapat menggeliat dan meledak.

Melihat keragu-raguan itu Agung Sedayu mencoba untuk menekankan keinginannya, “Ki Sanak. Aku sama sekali tidak bermaksud menyombongkan diri. Yang aku katakan, bukannya aku akan dapat mengalahkan kalian bertiga. Tetapi suara cambukku akan dapat mengundang beberapa orang pengawal. Merekalah yang akan membunuh kalian, jika kalian tidak menyerah.”

Ketiga orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang dari mereka kemudian menggeram, “Kami bukan cucurut. Tengadahkan dadamu, dan siapkan dirimu untuk mati.”

Agung Sedayu tidak melihat kemungkinan lain daripada bertempur untuk melindungi nyawanya. Itulah sebabnya, maka iapun segera mempersiapkan diri untuk bertempur mempertaruhkan hidupnya.

Sejenak kemudian ketiga lawannya telah mulai bergerak. Tidak ada cara lain dari Agung Sedayu kecuali menggerakkan cambuknya. Masih perlahan-lahan. Hanya ujungnya sajalah yang bergerak seperti seekor ular yang sedang berenang.

Namun sekejap kemudian ujung cambuknya benar-benar telah meledak. Ketika ketiga lawannya meloncat menyerang untuk mempergunakan kesempatan saat Agung Sedayu masih melekat dinding.

Ledakan cambuk Agung Sedayu tidak terlalu keras. Tetapi ledakan di sepinya malam itu benar-benar telah mengejutkan lawannya. Itulah sebabnya maka merekapun segera meloncat surut.

Bukan saja ketiga lawan Agung Sedayulah yang terkejut. Orang yang sedang bertempur melawan Ki Jurupun terkejut pula. Suara cambuk itu tentu dapat di dengar oleh para pengawal yang nganglang lewat jalan-jalan raya di seputar istana itu.

“Nah,“ berkata Agung Sedayu kepada lawan lawannya, “bukankah cambukku benar-benar dapat mengundang para pengawal.”

“Pengecut,” geram salah seorang dari ketiga lawan Agung Sedayu, “jika benar namamu besar, kenapa kau memanggil orang lain untuk mempertaruhkan nyawa di arena ini.”

“Kau aneh. Kaupun tidak bertempur sendiri,” sahut Agung Sedayu, “kecuali itu, cambukku memang tidak dapat aku pergunakan tanpa melontarkan ledakan yang dapat di dengar oleh orang lain.”

Tetapi ketiga lawannya bukannya pengecut yang takut menghadapi akibat dari tugasnya. Apalagi mereka masih berharap untuk mengalahkan Agung Sedayu, kemudian mengambil pusaka-pusaka di rumah itu untuk mereka jadikan perisai. Jika orang-orang Mataram mencoba mencegah mereka meninggalkan kota. maka mereka siap untuk menghancurkan pusaka-pusaka itu, sehingga dengan demikian, mereka tentu akan diperkenankan untuk lolos.

Karena itulah, maka sejenak kemudian ketiganyapun segera menyerang Agung Sedayu dengan dahsyatnya. Mereka mencoba untuk mengepung Agung Sedayu, agar ia tidak mendapat arena yang luas untuk mempertahankan dirinya.

Tetapi ternyata bahwa ujung cambuk Agung Sedayu benar-benar merupakan kekuatan yang sangat dahsyat, Ujung cambuk itulah yang telah memaksa lawan-lawannya untuk bergeser surut, sehingga ternyata bahwa mereka tidak mampu untuk menahan Agung Sedayu tetap di tempatnya.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, pertempuranpun segera menyala kembali di halaman. Agung Sedayu tidak dapat lagi menghindari hentakan-hentakan cambuknya yang melontarkan ledakan yang memecah sepinya malam.

Namun suara cambuknya telah mendera lawan-lawannya untuk bertempur semakin sengit. Dengan sadar mereka mengetahui, apa yang dapat terjadi oleh suara cambuk itu. Sebentar lagi, beberapa orang pengawal akan berlari-larian memasuki halaman.

Tidak ada pertimbangan lain. Ketiga orang yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi itupun segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk mempercepat tugas mereka membinasakan Agung Sedayu. Tetapi dengan demikian, mereka telah mendorong Agung Sedayu untuk secara naluriah berjuang lebih sengit lagi untuk mempertahankan hidupnya.

Karena itulah, maka tidak dapat dicegah lagi, ledakan-ledakan cambuk Agung Sedayu bagaikan mengumandang lebih dahsyat lagi. Getarannya seolah-olah telah menggetarkan seluruh kota dan menggoyahkan dinding-dindingnya.

Kecemasan telah mencengkam keempat orang yang memasuki halaman rumah Raden Sutawijaya itu. Suara cambuk Agung Sedayu bagaikan kidung kematian yang mulai meraba dadanya.

Dengan demikian maka pertempuran di halaman itupun berlangsung semakin dahsyat. Masing-masing telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada. Ketiga orang lawan Agung Sedayu sama sekali tidak lagi mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang dapat menahan ilmu mereka. Yang mereka inginkan segera adalah kematian Agung Sedayu.

Sementara itu, lawan Ki Juru Martanipun telah berjuang dengan memeras ilmunya. Jika ketiga orang kawannya mengalami kesulitan untuk membunuh Agung Sedayu, maka ternyata bahwa Ki Jurupun merupakan orang yang memiliki kemampuan yang tidak dapat diatasinya. Meskipun ia sudah menjadi semakin tua, namun ia masih mampu mengatur pernafasannya sebaik-baiknya.

Lawannya sama sekali tidak berhasil memancing orang tua itu untuk bertempur dengan kasar agar nafasnya segera menjadi tersengal-sengal.

Dengan mapan Ki Juru menghadapi lawannya. Betapapun kasar dan liar sikap orang itu, namun Ki Juru yang tua selalu menyadari kelemahan jasmaniahnya. Karena itulah maka ia selalu menjaga, agar ia tidak terpancing oleh lawannya, sehingga nafasnya terputus ditengah-tengah perjuangannya

Lawannyapun semakin lama menjadi semakin gelisah. Setiap ledakan cambuk Agung Sedayu serasa merupakan segores luka di hatinya. Semakin lama semakin banyak, sehingga terasa hatinya menjadi sangat pedih.

“Gila. Gila,“ tiba-tiba ia berteriak nyaring.

“Kenapa?” bertanya Ki Juru.

“Suara cambuk itu membuat aku gila,“ geramnya.

Ki Juru memandang orang itu sejenak. Kemudian katanya, “Menyerah sajalah sebelum seorang pengawalpun yang memasuki halaman ini. Tetapi aku yakin, bahwa ada di antara mereka yang sudah mendengar ledakan cambuk Agung Sedayu.”

“Persetan,“ geram lawannya yang justru menjadi semakin liar.

Dalam pada itu, para pengawal yang berada di luar halaman rumah Raden Sutawijaya terkejut mendengar gema ledakan cambuk. Mereka bertanya-tanya yang satu dengan yang lain, apakah yang kira-kira sedang terjadi.

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya yang sedang nganglang, yang juga mendengar suara cambuk Agung Sedayu meledak-ledak, segara dapat mengurai keadaan. Ketajaman nalarnya segera mengatakan kepadanya, Agung Sedayu sedang bertempur melawan orang yang sedang dicarinya.

Karena itulah, maka sejenak ia mencoba menangkap, dari manakah sumber bunyi cambuk Agung Sedayu. Mungkin Agung Sedayu diam-diam telah meninggalkan rumahnya dan di luar kehendaknya ia telah bertemu dengan keempat orang yang dicarinya.

Dengan ketajaman pendengaran wadag dan hatinya, Sutawijaya dapat segera mengetahui, bahwa suara cambuk itu terlontar dari halaman rumahnya.

Ketika ia sudah menemukan keyakinan itu, maka kudanyapun segera berderap menyusur jalan-jalan kota bagaikan dikejar hantu. Para pengawalnya yang tidak sempat bertanya sesuatu, segera mengikutinya. Mereka bagaikan berpacu di malam buta menyusuri jalan-jalan yang suram.

Para pengawal yang bertugas di jalan-jalan dan di gardu-gardu terkejut mendengar derap kaki kuda yang berlari-larian. Tetapi mereka tidak sempat bertanya sesuatu. Mereka hanya melihat Raden Sutawijaya berpacu diikuti oleh para pengawalnya.

Namun para pengawal itupun segera mengetahui apa yang terjadi. Raden Sutawijaya tentu telah mendengar ledakan cambuk itu. Jika para pengawal masih bertanya-tanya, maka Raden Sutawijaya tentu sudah menemukan jawabnya.

Tetapi ternyata beberapa orang pengawal yang berada tidak jauh dari halaman rumah Raden Sutawijayapun segera mengetahui bahwa suara cambuk itu berasal dari halaman rumah itu. Namun menurut pengertian mereka, di rumah itu terdapat beberapa orang pengawal yang berjaga-jaga. Jika keadaan jadi gawat, maka mereka tentu akan segera membunyikan isyarat.

Namun ternyata bahwa yang terdengar hanyalah ledakan-ledakan cambuk saja. Tidak ada suara kentongan, tidak ada suara titir.

Meskipun demikian, suara cambuk itu juga menarik perhatian mereka. Meskipun ragu-ragu, merekapun kemudian membagi diri. Sebagian dari mereka akan melihat, apakah yang sudah terjadi, sementara sebagian yang lain harus tetap di tempatnya mengawasi keadaan.

Sementara itu, kuda Raden Sutawijaya meluncur seperti anak panah yang meloncat dari busurnya. Beberapa orang pengawal di simpang jalan berloncatan menepi. Sambil berdesah mereka berkata, “Hampir saja tubuhku lumat diinjak kaki kuda.”

Namun Raden Sutawijaya tidak menghiraukannya. Ia seolah-olah telah melihat apa yang telah terjadi.

Dalam pada itu, Agung Sedayu masih berusaha untuk menguasai lawannya agar mereka menyerah. Jika lawan-lawannya menyerah, maka jika ada beberapa orang pengawal memasuki halaman, mereka akan mempunyai pertimbangan lain.

Tetapi baik ketiga orang lawan Agung Sedayu, maupun lawan Ki Juru Martani lebih senang bertempur terus daripada menyerahkan diri.

Karena itulah, maka Agung Sedayupun telah berusaha dengan cara lain. Ia harus melumpuhkan lawannya, sehingga mereka tidak akan mampu lagi melawan.

Itulah sebabnya, maka cambuk Agung Sedayupun meledak semakin dahsyat. Tidak saja menyambar-nyambar, tetapi ujungnya mulai terasa menyengat kulit.

Ketiga lawannya menjadi semakin cemas. Mereka hampir tidak melihat kemungkinan untuk melepaskan diri. Agung Sedayu benar-benar seorang yang pilih tanding.

“Tetapi jika tidak ada Ki Juru Martani, maka berempat kami akan dapat membunuhnya,“ geram salah seorang dari mereka di dalam hati.

Luka-luka kecil mulai menggores kulit ketiga lawan Agung Sedayu. Terasa pedih-pedih telah menyengat di seluruh permukaan kulitnya. Bahkan kemudian warna merah telah menghangati tangan-tangan mereka ketika tangan-tangan mereka meraba luka-luka di lengan dan punggung.

“Gila,“ salah seorang dari mereka berteriak-teriak, “kita harus membunuhnya dengan cepat.”

Tetapi belum lagi mulutnya terkatup rapat, ledakan cambuk Agung Sedayu terasa hinggap di lambungnya.

Lawan Ki Jurupun tidak melihat kemungkinan untuk dapat mengalahkan orang tua itu. Ternyata bahwa Ki Juru memiliki perhitungan yang cermat dalam menghadapi keadaan. Ia tidak dapat dipancing dengan cara yang kasar.

Sementara itu, beberapa orang pengawal yang berdatangan dari sekitar rumah itu telah mendekati regol. Mereka masih saja ragu-ragu untuk menentukan apa yang telah terjadi.

Namun salah seorang dari mereka yang mendekati gardu tiba-tiba saja melihat, beberapa sosok tubuh yang terlentang diam.

Dengan ragu-ragu mereka mendekat. Mereka tiba-tiba saja menjadi gemetar melihat apa yang telah terjadi. Mereka melihat kawan-kawan mereka tergolek diam.

“Gila. He, kenapa mereka terbunuh?“ seseorang menggeram.

Para pengawal itu tidak bertanya tanya lagi. Ketika mereka mendengar cambuk meledak lagi, merekapun segera mengetahui apa yang telah terjadi di halaman.

Perlahan-lahan mereka kemudian mendekati regol. Dari luar mereka mencoba melihat, apa yang telah terjadi.

“Pertempuran,“ desis salah seorang.

Merekapun kemudian melihat, di pendapa telah terjadi perkelahian seorang melawan seorang, sementara merekapun melihat, di halaman seorang yang bersenjatakan cambuk harus bertempur melawan tiga orang.

Merekapun segera menyadari, bahwa orang yang mereka cari di seluruh kota ternyata justru berada di rumah Raden Sutawijaya. Bahkan mereka telah membunuh para pengawal dan kemudian bertempur melawan Ki Juru Martani dan Agung Sedayu.

Kemarahan para pengawal itu bagaikan telah membakar dada mereka. Mereka tidak lagi dapat membuat pertimbangan-pertimbangan. Bukan saja karena mereka tidak segera dapat menemukan keempat orang itu sehingga seluruh kota menjadi kebingungan, terlebih-lebih bahwa kawan-kawan mereka telah terbunuh justru di dalam gardu-gardu.

“Ini suatu kegilaan,” geram salah seorang dari mereka, “kecuali keempat orang itu memiliki ilmu yang tinggi, mereka juga orang-orang yang tidak berperikemanusiaan.”

Para pengawal itu tidak menunggu perintah lagi. Merekapun segera berloncatan memasuki halaman, sambil mengacukan senjata masing-masing.

Pada saat itulah, Agung Sedayu telah berhasil melukai ketiga orang lawannya. Ia mencoba untuk memaksakan kehendaknya agar lawan-lawannya menyerah saja. Dengan demikian, maka keadaan mereka tentu akan menjadi lebih baik daripada mereka harus bertempur sampai para pengawal memasuki halaman.

Tetapi lawan-lawannya ternyata adalah orang-orang yang keras hati. Mereka sama sekali tidak berniat untuk menyerah, apapun yang terjadi atas mereka.

Pada saat para pengawal menyerbu masuk, maka para pelayanpun telah terbangun dan dengan ragu-ragu melihat apa yang telah terjadi. Meskipun mereka bukan pengawal-pengawal yang mampu bertempur di medan, tetapi merekapun merasa wajib untuk ikut mempertahankan isi rumah itu. Sehingga karena itulah meskipun ragu-ragu dan saling menunggu merekapun kemudian turun ke halaman dengan senjata telanjang pula.

Agung Sedayu yang melihat para pengawal memasuki halaman dengan kemarahan yang menyala, menjadi sangat cemas. Tidak ada lagi jalan yang dapat ditempuh oleh keempat orang itu untuk melepaskan diri dari tangan para pengawal.

Pada saat itu pulalah terdengar derap kaki kuda mendekati regol halaman. Sejenak kemudian beberapa orang berkuda berpacu langsung memasuki regol.

“Senapati Ing Ngalaga,“ teriak para pengawal. Namun salah seorang pengawal telah berteriak, “mereka telah membunuh para pengawal di regol.”

Tetapi yang lain berteriak, “Lihat, masih ada dua orang lagi terbunuh di pendapa.”

Kemarahan tidak lagi dapat dikuasai. Raden Sutawijaya tidak memberikan perintah apapun juga. Tetapi para pengawal dengan darah yang mendidih telah menyerang orang-orang yang telah mereka buru di seluruh kota, namun yang ternyata ada di halaman rumah itu setelah mereka membunuh beberapa orang pengawal.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Tetapi yang terjadi tidak lagi dapat dikuasainya. Para pengawal telah mengepung lawannya yang sudah terluka oleh cambuknya.

“Menyerahlah,“ Agung Sedayu masih berdesis.

Ketiga orang lawannya masih mendengar kata-kata Agung Sedayu itu. Bahkan Agung Sedayu masih melanjutkan, “Aku akan menjamin keselamatanmu. Kalian akan diperlakukan sebagai seorang tawanan yang sudah menyerah.”

Kata-kata itu menyentuh hati ketiga orang lawannya. Tetapi ketika mereka melihat senjata yang teracu dan wajah-wajah yang tegang penuh dendam, maka salah seorang dari ketiga orang itu berkata, “Aku akan mati sebagai seorang laki-laki.”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Namun segalanya berlangsung di luar kehendaknya. Apalagi ketika Agung Sedayu sempat memandang ke pendapa. Lawan Ki Juru Martani seakan-akan sudah tak nampak. Para pengawal mengepungnya dengan rapat.

Seperti ketiga orang kawannya, maka lawan Ki Juru itupun tidak mau menyerah. Mereka sadar, akibat yang akan mereka alami jika mereka menjadi tawanan orang-orang Mataram.

Karena itulah, maka keempat orang yang berada di dua arena itu bagaikan berjanji. Mereka mengamuk sejadi-jadinya, seperti seekor harimau lapar yang telah terluka.

Agung Sedayu masih berada diarena beberapa saat lamanya. Dengan cemas ia melihat para pengawal menyerang ketiga orang lawannya itu bagaikan merajam seekor harimau di alun-alun pada upacara rampogan. Ketiga orang lawannya itu seolah-olah tiga ekor harimau yang dilepas dari kandangnya di antara para prajurit yang telah dipersiapkan mengepungnya dengan tombak telanjang.

Tetapi ternyata bahwa ketiga orang lawannya yang telah dilukainya itu benar-benar orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ternyata mereka dengan tangkas menyambut para pengawal yang menyerang mereka dari segala penjuru.

Dengan senjata yang berputar bagaikan baling-baling mereka menamengi diri masing-masing. Dengan garangnya mereka menyusun pertahanan yang sangat rapat. Bahkan ternyata bahwa ketiga orang itu mampu membalas dengan serangan-serangan yang berbahaya.

Agung Sedayu yang seakan akan justru membeku itu terkejut ketika ia mendengar seorang pengawal berdesah. Pergelangan tangannya bagaikan akan patah tergores senjata lawan. Bahkan kemudian disusul oleh erang seorang pengawal yang lain. Seleret garis merah telah menyilang di dadanya meskipun tidak terlampau dalam.

“Luar biasa,” geram Agung Sedayu, “apakah yang akan terjadi dengan mereka?”

Tetapi Agung Sedayu ternyata telah digelitik oleh kecemasannya ketika ternyata bahwa ketiga orang yang dikepung oleh para pengawal itu justru berhasil melukai beberapa orang.

“Hentikan,” geram Agung Sedayu, “untuk yang terakhir kalinya. Menyerahlah.”

“Persetan,“ sahut salah seorang dari mereka, “aku akan membunuh semuanya.”

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: