Buku 117 (Seri II Jilid 17)

 

Swandaru pun sejenak tercenung diam. Ia menghubungkan keadaan lawannya dengan benturan yang terjadi, sebelum keduanya terlibat pada pertempuran yang aneh itu. Menurut perhitungan Swandaru, benturan yang meskipun telah melemparkan Agung Sedayu itu, agaknya menumbuhkan luka-luka di bagian tubuh lawannya yang lengah, karena ia menganggap bahwa Agung Sedayu sudah tidak berdaya.

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing dan Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Sekilas mereka memandang Swandaru dan Ki Widura berganti-ganti. Agaknya keduanya kurang menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun, akhirnya Ki Widura pun mengangguk-angguk kecil.

Dalam pada itu. Agung Sedayu tidak mau melepaskan lawannya. Ia menekan semakin keras himpitan ilmunya, sehingga lawannya merasa seakan-akan dadanya telah hancur dan urat nadinya menjadi hangus.

Sejenak, orang yang dikagumi dari Pesisir Endut itu masih mencoba bertahan. Namun akhirnya ia terhuyung-huyung, ia sama sekali tidak mampu lagi mengatasi kesulitan pada tubuhnya yang dihantam oleh ilmu yang tidak terlawan.

Sejenak Agung Sedayu masih tetap menguasai lawannya dengan ilmunya. Namun ketika ia melihat lawanya mulai terhuyung-huyung dan bahkan kemudian jatuh pada lututnya, Agung Sedayu mulai dijalari oleh hambatan-hambatan di dalam hatinya sendiri.

 

 

Sementara itu, kawan-kawan orang yang terluka di dalam itu menjadi termangu-mangu. Mereka menyadari, bahwa saudara tua kakak beradik dari Pesisir Endut itu, di luar dugaan telah kehilangan kekuatan dan kemampuannya. Ia tidak lagi sempat mengguncangkan bumi tempat mereka berpijak dan meremas jantung di dalam setiap dada. Yang terjadi kemudian, bahwa orang itu telah menjadi sangat lemah dan berdiri di atas lututnya sambil bertelekan kedua tangannya.

Kecemasan yang sangat telah menjalari dada mereka. Keadaan yang tiba-tiba itu telah membuat mereka menjadi bingung, dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Tetapi sudah barang tentu, bahwa mereka tidak mau hanyut bersama kesalahan saudara tua kakak beradik dari Pesisir Endut itu. Apalagi mereka pun merasa, bahwa mereka memiliki ilmu yang tinggi pula, meskipun dalam bentuk yang berbeda dengan orang yang telah dilumpuhkan oleh Agung Sedayu itu.

Selagi mereka termangu-mangu, tiba-tiba mereka mendengar hiruk-pikuk yang semakin keras. Mereka mendengar dentang senjata beradu dan hentakan-hentakan beruntun.

Sebenarnyalah, bahwa mereka yang bertempur di belakang rumah Ki Demang itu telah bergeser selangkah demi selangkah, mereka memasuki halaman samping di luar sadar.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang datang ke Sangkal Putung itu pun mengerti, bahwa dua orang pengikut orang dari Pesisir Endut itu agaknya telah terlibat dalam perkelahian pula.

“Gila,” geram salah seorang dari mereka yang berada di halaman, “apakah masih ada orang Sangkal Putung lainnya, yang terlepas dari pengaruh sirep ini?”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi ia tidak melihat kemungkinan lain kecuali melibatkan diri ke dalam pertempuran. Saudara tua kakak beradik dari Pesisir Endut, yang mereka banggakan itu, ternyata di saat-saat terakhir bagaikan kehilangan segenap ilmunya dan jatuh di hadapan Agung Sedayu. Namun itu bukan berarti bahwa mereka pun harus menyerah, dan membiarkan diri mereka diikat sebagai tawanan, karena sebenarnyalah mereka pun memiliki kemampuan yang tinggi.

Jika mereka membiarkan salah seorang kawan mereka bertempur dalam perang tanding, itu adalah karena orang itu telah dipenuhi dendam yang tidak tertahankan, sehingga ia menuntut untuk mendapat kesempatan melepaskan dendamnya.

Seperti permintaannya, dan kepercayaannya kepada diri sendiri, maka saudara tua kakak beradik dari Pesisir Endut, yang telah mati terbunuh oleh Pangeran Benawa itu, menempatkan diri sebagai lawan tunggal Agung Sedayu. Meskipun ia mengetahui, bahwa Agung Sedayu telah mengalahkan beberapa orang lawannya di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, namun ia merasa bahwa dirinya tidak kalah perkasa dari Telengan, Wanakerti, Kelasa Sawit dan orang-orang lainnya.

Namun, akhirnya ia pun harus tunduk kepada kenyataan, bahwa Agung Sedayu memang seorang anak muda yang tidak dapat dikalahkannya.

Tetapi, kekalahan saudara tua kakak beradik yang mati oleh Pengeran Benawa itu, bukan berarti bahwa semua kawan-kawannya harus tunduk kepada orang-orang Sangkal Putung. Apalagi di antara mereka telah terlanjur terlibat ke dalam perkelahian yang menentukan.

Itulah sebabnya, maka saat yang gawat itu lelah dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tiba-tiba saja salah seorang dari kawan orang yang dilumpuhkan oleh Agung Sedayu itu meloncat, menyerang Swandaru yang termangu-mangu melihat kemenangan saudara seperguruannya.

Untunglah, bahwa Swandaru tidak lengah karenanya. Ia melihat gerak lawannya yang bagaikan bayangan menyambarnya. Karena itu, maka ia pun segera bersiaga dan dengan cepat menghindari serangan itu.

Demikianlah, maka Swandaru pun segera terlibat ke dalam pertempuran. Sementara yang lain pun telah menyerang Ki Waskita pula.

Dalam pada itu, dua orang yang memasuki halaman itu dari sebelah dinding batu itu pun termangu mangu. Salah seorang dari mereka berdesis, “Sudah aku nyatakan, bahwa aku tidak setuju dengan caranya.”

Tetapi yang lain menyahut, “Tidak ada waktu dan kesempatan lagi. Kita tidak akan membiarkan diri kita menjadi tawanan orang-orang Sangkal Putung.”

Tidak ada pembicaraan lagi. Ki Widura pun segera terlibat pula dalam pertempuran yang sengit, sementara Kiai Gringsing tidak dapat menghindar lagi. Seseorang telah menyerangnya dengan senjata, langsung mengarah ke dadanya.

Ternyata kemudian, bahwa orang-orang yang semula sekedar melihat pertempuran itu, masing-masing memiliki ilmu yang tinggi pula. Mereka sudah memperhitungkan, jika perang tanding itu berakhir dengan kekalahan kawan mereka, maka adalah menjadi kewajiban mereka untuk berbuat sesuatu bagi kepentingan diri mereka masing-masing dan untuk kepentingan kedatangan mereka ke Sangkal Putung, membinasakan Agung Sedayu.

Sejenak kemudian, di halaman Sangkal Putung itu pun telah terjadi pertempuran yang seru. Sementara itu, dua orang yang bertempur melawan Pandan Wangi, dan Sekar Mirah pun telah memasuki halaman depan pula di luar sadar mereka.

Yang masih tetap berada di dalam rumah adalah Ki Demang Sangkal Putung. Ia tidak berani meninggalkan pintu rumahnya yang pecah, karena setiap saat ada kemungkinan seseorang memasukinya. Karena itulah, maka ia tetap berjaga-jaga dengan senjata di tangan.

Agung Sedayu sendiri masih duduk dengan lemahnya. Seolah-olah ia sedang memulihkan kekuatannya yang tersisa. Dadanya terasa sakit di segala sendi-sendinya, sementara pengerahan tenaga dalam ilmunya yang aneh itu, telah menghisap tenaganya pula.

Itulah sebabnya, untuk sesaat ia mencoba memulihkan kekuatannya. Ia tidak melibatkan diri dalam pertempuran yang segera terjadi. Hanya sekilas ia melihat Swandaru bertempur dengan sengitnya, sementara yang lain pun telah melibatkan diri pula. Ternyata bahwa lawan-lawan mereka pun adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tidak terduga. Mereka bukannya sekedar orang-orang yang ikut serta untuk melihat dan jika perlu berlindung di belakang orang yang telah dikalahkan itu. Tetapi mereka masing-masing adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi.

Namun dalam pada itu, ternyata Agung Sedayu telah lengah. Ia tidak begitu menghiraukan lawannya yang jatuh di atas lututnya dan seolah-olah tidak berdaya lagi. Ia membiarkan lawannya yang dikiranya telah lumpuh itu. Apalagi, karena ia melihat orang itu tetap pada sikapnya, berdiri di atas lututnya sambil bertelekan dengan kedua tangannya.

“Ia memerlukan waktu untuk memulihkan tenaganya,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, “ia akan dengan mudah ditangkap dan menjadi tawanan yang tidak berdaya.”

Karena itulah, maka perhatiannya sebagian terbesar ditujukan kepada pertempuran yang tengah berkobar di halaman. Apalagi ketika ia melihat bahwa Sekar Mirah dan Pandan Wangi pun telah terlibat dalam perkelahian, melawan dua orang dari lawan-lawan mereka yang berdatangan di Sangkal Putung.

Dalam pada itu, selagi perhatian Agung Sedayu tertuju kepada kawan-kawannya dan terutama pada Sekar Mirah dan Pandan Wangi, maka perlahan-lahan orang yang telah dilumpuhkan itu berusaha memulihkan tubuhnya. Dengan cerdik ia berpura-pura tetap pada keadaannya tanpa berbuat sesuatu. Namun sambil berlutut dan bertelekan dengan kedua tangannya, perlahan-lahan kekuatannya telah tumbuh kembali di dalam dirinya.

Tetapi kekuatan yang kemudian perlahan-lahan mulai timbul itu, sama sekali tidak akan cukup kuat untuk berbuat dalam arena yang seru itu. Apalagi di halaman itu masih ada Agung Sedayu yang setiap saat masih akan siap melawannya.

Karena itulah, maka orang yang masih saja berdiri pada lututnya itu membuat perhitungan lain. Ia sama sekali tidak berniat untuk bertempur lagi, karena ia tidak dapat mengingkari kenyataan.

Sementara pertempuran di halaman itu menjadi semakin sengit, maka perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya memperhatikan keadaan. Ia melihat Agung Sedayu tidak sedang memperhatikannya. Ia masih duduk di tempatnya. “Ia pun kelelahan,” berkata orang yang dikalahkan itu di dalam hatinya, “tetapi keadaannya tentu jauh lebih baik dari keadaanku.”

Karena itu, maka orang itu pun harus segera mendapat keputusan.

Dalam ributnya pertempuran itu, tiba-tiba saja ia moloncat berdiri. Tanpa mengucap sepatah kata pun, maka ia mempergunakan tenaganya yang ada untuk dengan secepat-cepatnya melarikan diri.

Agung Sedayu terkejut melihat lawannya itu meloncat berlari. Karena itu, dengan serta merta ia pun bangkit untuk mengejarnya.

Namun pada saat itu, ia mendengar teriakan nyaring. Dadanya bagaikan bergetar dan tanah tempatnya berpijak bagaikan goncang.

Sejenak Agung Sedayu mempertahankan keseimbangannya. Bahkan ia pun kemudian bersiap untuk melepaskan ilmunya yang ternyata tidak terlawan oleh orang yang luar biasa tu.

Tetapi ternyata lawannya tidak menyerangnya lagi. Ia justru meloncat ke atas dinding halaman. Ketika ia kemudian menghilang di balik dinding, maka terdengar suaranya bergema, “Agung Sedayu. Kali ini aku gagal. Tetapi aku tidak akan pernah menyerah, sebelum aku berhasil memisahkan kepalamu dari tubuhmu.”

Agung Sedayu tertegun. Ia tidak mengejar lawannya lebih jauh lagi. Namun ia justru menjadi termangu-mangu. Ancaman lawannya itu benar-benar membuatnya berdebar-debar. Bukan karena ia menjadi ketakutan. Tetapi dengan demikian, maka dendam di hati orang yang mengaku kakak dari dua orang yang terbunuh Pangeran Benawa itu akan berkepanjangan.

Sejenak Agung Sedayu merenungi dinding halaman yang mengelilingi arena perkelahian itu. Seolah-olah ia melihat lawannya berlari cepat sekali bagaikan terbang dengan sayap rangkap. Namun seolah-olah Agung Sedayu pun melihat, bahwa api dendam di dada orang itu tentu akan berkembang semakin dahsyat. Di kesempatan lain, ia tentu masih akan datang kembali dan berusaha untuk membunuhnya.

Betapa kegelisahan terasa semakin menekan hati di dalam dada Agung Sedayu. Rasa-rasanya ia telah berdiri di atas perapian, yang semakin lama nyalanya menjadi semakin besar dan semakin panas.

Agung Sedayu tersadar dari angannya, ketika ia dikejutkan oleh suara cambuk yang meledak. Ketika ia berpaling, ia melihat Swandaru sekali lagi mengangkat cambuknya, disusul oleh ledakan yang menekan telinga.

Pertempuran di halaman itu pun menjadi semakin dahsyat. Bukan saja Swandaru yang harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan seorang yang bertubuh tinggi kekar, tetapi nampaknya yang lain pun harus bertempur dengan sengitnya.

Namun ternyata, bahwa ada beberapa orang di antara mereka yang menemukan lawan yang tidak seimbang. Adalah mengejutkan sekali bagi seseorang yang bersenjata sepasang trisula, bahkan orang tua yang diserangnya memiliki kemampuan yang tidak terduga. Agaknya ia telah salah memilih lawan, karena di luar pertimbangan yang masak, ia telah menyerang Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing bukannya seseorang yang haus akan darah. Karena itu, maka ia tidak dengan semena-mena bertempur dan menghancurkan lawannya. Meskipun ia memiliki kelebihan, tetapi ia berusaha untuk dapat menangkap lawannya dalam keadaan hidup.

Namun dalam pada itu, dua orang di antara mereka yang bertempur di halaman itu, adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Adalah kebetulan sekali bahwa mereka berdua telah memilih lawan yang paling dekat pada saat pertempuran itu meledak.

Keduanya adalah orang-orang yang diketemukan oleh Ki Waskita dan Ki Widura di halaman sebelah. Salah seorang dari keduanyalah yang telah mengatakan, bahwa mereka sebenarnya kurang setuju dengan sikap yang telah diambil oleh lawan Agung Sedayu.

Pada pertempuran itu, keduanya telah memilih lawan Swandaru dan Ki Waskita, sehingga karena itulah maka Swandaru harus bertempur dengan sekuat tenaganya untuk mempertahankan dirinya.

Sementara itu, Ki Waskita pun harus berhati-hati menghadapi lawannya. Meskipun agaknya ia tidak sekuat lawan yang dikalahkan oleh Agung Sedayu, namun orang itu pun memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan.

Tetapi, karena ia membenturkan diri pada lawan yang tangguh, maka agaknya ia tidak akan mampu mengalahkannya.

Lawan Ki Waskita-lah yang pertama-tama harus melihat kenyataan. Ia merasa, bahwa Ki Waskita tidak akan dapat dikalahkannya. Meskipun pada mulanya ia masih berpengharapan, namun ternyata kemudian bahwa orang yang disangkanya orang Sangkal Putung itu memiliki kemampuan luar biasa.

Yang terdengar kemudian adalah satu isyarat pendek. Semacam bunyi burung tuhu.

Tidak seorang pun yang mengetahui dengan pasti arti isyarat itu. Apalagi nampaknya tidak ada perubahan yang terjadi di arena. Orang-orang yang memasuki halaman itu masih saja bertempur dengan serunya.

Ternyata bahwa isyarat itu hanya diketahui oleh dua orang saja di antara mereka yang sedang bertempur. Dua orang yang semula berdiri di halaman sebelah, yang dengan tiba-tiba saja telah merubah sikapnya dalam saat tertentu setelah suara isyarat itu.

Dengan segera, mereka keduanya meloncat meninggalkan lawan-lawannya. Mereka mengerahkan segenap kemampuannya tidak untuk bertempur, tetapi keduanya berhasil melepaskan diri dan berlari meloncati dinding, dan hilang di kegelapan malam.

Swandaru masih berusaha mengejar lawannya. Tetapi lawannya benar-benar orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Langkahnya bagaikan tidak menyentuh tanah, dan tanpa dapat berbuat sesuatu, Swandaru melihat orang itu seakan-akan terbang meloncati dinding.

 

 

Swandaru juga berusaha meloncat ke atas dinding. Namun yang kemudian nampak di hadapannya hanyalah kegelapan yang senyap. Kedua orang yang melarikan diri itu bagaikan lenyap ditelan bumi.

Ki Waskita justru baru menyusul kemudian. Ia tidak segarang Swandaru. Meskipun ia masih mempunyai kesempatan, tetapi ternyata bahwa ia tidak mempergunakannya untuk mengejar lawannya. Ada keragu-raguan yang terselip di hatinya.

“Mereka lenyap di dalam kegelapan,” desis Swandaru.

Ki Waskita mengangguk. Jawabnya, “Ya, Ngger. Mereka lenyap. Ternyata bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Hanya karena mereka merasa tidak akan mampu menghadapi orang-orang di Sangkal Putung, yang jumlahnya tentu akan semakin bertambah-tambah, maka mereka meninggalkan arena.”

“Mereka ternyata licik, Paman.”

“Menurut satu sudut pandangan, memang mereka licik. Seorang laki-laki akan bersedia mati untuk mempertahankan harga dirinya,” Ki Waskita berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi agaknya mereka adalah seorang yang mempunyai nalar yang panjang. Mereka lebih senang tetap hidup, sehingga di kemudian hari masih ada kemungkinan baginya untuk mencapai tujuannya.”

Swandaru mengerutkan keningnya.

“Itu adalah dasar pikiran bagi mereka yang tidak merasa perlu membunuh dirinya dalam keadaan yang seharusnya masih dapat dihindarinya,” kata Ki Waskita.

Sambil mengangguk, Swandaru berdesis, “Mungkin, Paman. Tetapi dengan demikian, maka seorang laki-laki akhirnya tidak perlu lagi mempersoalkan harga dirinya.”

Ki Waskita termangu-mangu. Tetapi ia tidak menjawab. Ia kemudian menyadari, bahwa mungkin pendapat Swandaru akan berbeda.

Dalam pada itu, keduanya seolah-olah tersadar, ketika mereka mendengar teriakan nyaring. Ternyata bahwa lawan Pandan Wangi berusaha untuk menghentakkan segenap kemampuannya.

Tetapi ternyata, bahwa lawannya memiliki ilmu yang lebih tinggi daripadanya, sehingga hentakan kekuatannya itu sama sekali tidak berarti. Pandan Wangi dengan mudah mengelakkan serangan yang tiba-tiba itu. Bahkan kemudian, ia-lah yang justru meloncat menyerang, meskipun tidak dengan sepenuh tenaga.

Swandaru yang melihat Pandan Wangi masih bertempur, tiba-tiba saja bergeser setapak. Namun ketika ia sudah siap untuk meloncat, Ki Waskita telah menggamitnya.

“Kita harus mendapat keterangan tentang serangan ini, Ngger,” berkata Ki Waskita.

“Maksud, Paman?” Swandaru mengerutkan keningnya, “Apakah kita harus menangkap mereka hidup-hidup?”

“Aku kira demikian. Jika kita didorong oleh nafsu kemarahan, sehingga kita kehilangan perhitungan, maka kita akan kecewa. Kita tidak akan mendapatkan keterangan apa pun juga, sehingga banyak hal yang seharusnya dapat kita pecahkan, masih harus tetap merupakan teka-teki yang berkepanjangan.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, Paman. Tetapi aku tidak dapat membiarkan Pandan Wangi bertempur terus melawan laki-laki yang garang itu. Kakang Agung Sedayu pun seharusnya menolong Sekar Mirah jika ia telah dapat memulihkan kesegaran badannya.”

“Marilah. Kita akan berbuat sesuatu. Kita tidak akan membiarkan mereka lari meninggalkan halaman ini seperti yang lain.”

Swandaru dan Ki Waskita pun kemudian meloncat turun dari dinding halaman. Mereka bergegas mendekati arena pertempuran yang sengit.

Ternyata bahwa pertempuran di halaman itu semakin lama menjadi semakin pasti. Lawan Kiai Gringsing sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Meskipun Kiai Gringsing masih saja memberi kesempatan menyerangnya, tetapi serangan-serangan itu sama sekali tidak berarti. Kiai Gringsing semata-mata bermaksud untuk sekedar memeras tenaga lawannya, agar lawannya itu akan kelelahan.

Orang yang bertempur melawan Ki Widura pun tidak mempunyai harapan sama sekali untuk menang. Meskipun Ki Widura masih belum mampu menempatkan diri sejajar dengan Kiai Gringsing, namun ternyata ia berhasil untuk menguasai lawannya.

Sementara itu, lawan Sekar Mirah dan Pandan Wangi pun tidak melihat kesempatan sama sekali untuk menang. Apalagi ketika mereka melihat Swandaru dan Ki Waskita mendekati mereka.

“Gila!” berkata orang-orang itu di dalam hatinya. Mereka merasa telah diumpankan oleh lurahnya.

Namun betapapun juga, nampaknya sulit bagi mereka untuk dapat melarikan diri. Kecuali ilmu mereka memang masih belum setingkat dengan orang-orang yang telah menghilang dari halaman itu, mereka pun melihat orang-orang yang telah kehilangan lawannya seakan-akan datang mengurung.

Demikian juga orang-orang yang bertempur melawan Kiai Gringsing dan Ki Widura. Agung Sedayu yang tidak mau kehilangan lagi, telah berdiri di dekat arena itu. Agaknya ia pun telah bersiap untuk berbuat sesuatu, jika lawannya yang masih tinggal berusaha untuk melarikan diri.

Bahkan sejenak kemudian, Agung Sedayu-lah yang berkata nyaring, “Menyerahlah. Masih ada kesempatan. Sebentar lagi ilmu sirep ini akan terhapus dengan sendirinya. Para peronda akan terbangun, dan mereka akan berdatangan masuk ke halaman ini. Nah, kalian akan mengetahui akibatnya. Jika kalian mempunyai hubungan dengan mereka yang menyerang aku di Mataram, maka kalian tentu sudah mendengar, apakah yang telah terjadi dengan mereka. Para pengawal yang marah telah datang mencincang mereka beramai-ramai tanpa menghiraukan nilai-nilai kemanusiaan, karena terdorong oleh kemarahan yang tidak tertahankan.”

Kata-kata Agung Sedayu itu benar-benar berpengaruh. Sebenarnya Swandaru lebih senang untuk bertempur terus. Tetapi ia masih segan terhadap gurunya dan Ki Waskita.

Karena itu, ia tidak menyahut. Ia justru menunggu, apakah yang akan dilakukan oleh orang-orang yang sedang bertempur di halaman melawan orang-orang Sangkal Putung itu.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang berada di halaman rumah Ki Demang dan terlibat dalam pertempuran yang tidak seimbang itu, benar-benar telah menjadi berputus asa. Bahkan mereka tidak mendapat kesempatan lagi untuk berbuat sesuatu. Bahkan meninggalkan halaman itu pun agaknya tidak akan dapat mereka lakukan lagi.

Karena itu, maka tawaran Agung Sedayu itu adalah kesempatan yang sebaik-baiknya, yang dapat mereka lakukan.

Meskipun demikian, mereka masih juga ragu-ragu. Jika mereka menyerah, apakah tidak ada kemungkinan Agung Sedayu ingkar, dan membiarkan mereka dicincang di halaman itu.

Namun sekali lagi mereka mendengar Agung Sedayu berkata, “Ki Sanak. Kami, orang-orang Sangkal Putung tidak ingin lagi melihat kematian-kematian terjadi di kademangan ini. Karena itu, sekali lagi aku minta kalian untuk menyerah. Aku akan minta kepada Ki Demang di Sangkal Putung, agar kalian tidak mendapat hukuman yang terlalu berat.”

Kata-kata itu benar-benar telah menentukan bagi orang-orang yang sudah merasa diri mereka berdiri di ujung pedang. Karena itulah, maka mereka pun kemudian hampir bersamaan melemparkan pedangnya sambil berteriak, “Kami menyerah.”

Kiai Gringsing dan Ki Widura dengan cepat menguasai diri masing-masing. Pandan Wangi pun segera menghentikan serangannya. Sekar Mirah-lah yang agaknya masih didorong oleh kepedihan meninggalnya Ki Sumangkar, sehingga rasa-rasanya ia masih ingin melepaskan himpitan perasaan di dadanya.

Ketika lawannya menyatakan diri untuk menyerah sambil melepaskan senjatanya, Sekar Mirah masih mengalami kesulitan untuk menahan diri. Karena itulah, maka tangan kirinya masih menghantam dada orang itu, sehingga lawannya itu pun terlempar jatuh.

“Mirah,” desis Agung Sedayu.

Sekar Mirah berdiri tegak. Katanya dengan nada datar, “Aku sudah mencoba menguasai diri. Aku tidak menghantamkan dengan senjataku, sehingga kepalanya tidak hancur.”

Agung Sedayu memandang orang yang terbaring itu. Namun agaknya orang itu masih sempat bangkit sambil menyeringai menahan sakit.

“Bangunlah. Berkumpullah dengan kawan-kawanmu,” berkata Agung Sedayu.

Sejenak orang itu masih harus menahan dadanya dengan telapak tangannya. Sejenak ia berdesis sambil berdiri di atas lututnya.

“Jangan merajuk,” Sekar Mirah-lah yang membentak, “jika kau tidak lekas bangkit dan berkumpul dengan kawan-kawanmu, aku akan memecahkan kepalamu.”

“Jangan, jangan,” orang itu ketakutan. Namun justru karena itu, maka ia pun segera bangkit dan berjalan tertatih-tatih, berkumpul dengan kawan-kawannya yang juga menyerah.

Dalam pada itu, Ki Demang pun telah berada di halaman itu pula.

Namun Sekar Mirah masih juga bertanya, “Apakah pintu itu Ayah tinggalkan terbuka?”

“Ya. Pintu itu tidak dapat ditutup lagi,” jawab ayahnya.

“Tetapi bagaimana jika masih ada orang lain yang akan memasuki rumah itu?” desak Sekar Mirah.

Namun di luar dugaan, maka salah seorang dari mereka yang menyerah itu pun menyahut, “Tidak ada orang lain. Kami hanya berlima.”

Jawaban itu benar-benar menarik perhatian. Kiai Gringsing bahkan maju selangkah sambil bertanya, “Apakah benar yang kau katakan?”

“Ya. Kami berangkat dari Pesisir Endut hanya berlima.”

“Siapakah yang dua orang lagi?” bertanya Swandaru tidak sabar.

Orang-orang itu termangu-mangu. Mereka nampaknya menjadi ragu-ragu untuk menjawab.

“Sebut!” bentak Swandaru, sambil melangkah mendekati salah seorang dari mereka.

Orang itu mengerutkan lehernya. Tetapi ia masih tetap tidak mengucapkan jawaban.

Swandaru tidak sabar lagi melihat sikap orang itu. Apalagi kemarahan masih saja menyala di dadanya, sehingga tiba-tiba saja ia sudah memukul pelipis orang itu sambil membentak, “Jawab!”

Orang itu terdorong selangkah. Bahkan kemudian ia pun terjatuh di tanah, terdengar ia mengaduh tertahan.

“He, orang-orang Pesisir Endut!” bentak Swandaru, “Jika kalian mencoba untuk merahasiakan sesuatu yang sebenarnya kalian ketahui, maka jangan menyesal bahwa kami pun dapat bersikap seperti orang-orang Pesisir Endut, seperti dua bersaudara yang ingin membunuh anak-anak yang sama sekali tidak bersalah dan tidak bersangkut paut dengan persoalannya. Apalagi kalian bukan anak-anak lagi, dan kalian pun langsung bersangkut paut dengan persoalan ini.”

Wajah orang-orang Pesisir Endut itu menjadi pucat.

“Bangun!” teriak Swandaru.

Orang yang terjatuh itu pun kemudian bangkit perlahan. Namun rasa-rasanya kakinya menjadi gemetar. Sikap Swandaru yang garang itu membuatnya menjadi semakin ketakutan.

“Jawab pertanyaanku,” Swandaru semakin mendekat, “siapakah dua orang yang datang bersama kalian, tetapi yang kemudian melarikan diri, selain pemimpin yang sudah berperang tanding dengan kakang Agung Sedayu?”

Orang itu memandang Swandaru dengan wajah yang semakin pucat. Dengan bibir gemetar ia menjawab, “Bukan maksudku untuk merahasiakan sesuatu. Tetapi sebenarnyalah, bahwa kami berempat itu tidak banyak mengetahui tentang kedua orang itu. Meraka adalah orang-orang yang sudah siap menunggu kami di pinggir Kota Raja.”

“Pajang?” desak Swandaru.

“Ya.”

“Jadi kalian singgah di Pajang lebih dahulu, sebelum datang kemari?”

Orang itu termangu-mangu. Sejenak ia memandang kawan-kawannya. Tetapi kawan-kawannya menundukkan kepalanya. Sehingga dengan demikian, maka orang itu harus mencari jawabnya sendiri.

“Kenapa kau diam?” bentak Swandaru.

Orang itu tergegap. Kemudian jawabnya, “Ya, kami memang singgah dahulu di Pajang, untuk kemudian bersama-sama dengan dua orang itu melanjutkan perjalanan.”

Swandaru memandang orang itu dengan tajamnya. Dengan suara gemetar ia menggeram, “Jangan mengelabui kami. Sebut nama kedua orang itu. Kau tentu mendengarnya, lurahmu memanggilnya, atau justru kau sudah mengenal mereka dengan baik.”

“Aku tidak bohong,” orang itu menjadi semakin gemetar.

Swandaru menjadi tidak sabar lagi. Setapak ia maju dengan wajah yang membara.

Namun ketika tangannya hampir saja diangkatnya untuk memukul orang yang ketakutan itu. Ki Waskita berkata, “Aku percaya, Ngger, bahwa orang itu benar-benar tidak tahu siapakah kedua orang yang melarikan diri itu.”

Swandaru berpaling. Tetapi wajahnya yang tegang masih saja tetap tegang. Bahkan dengan nada dalam ia berdesis, “Kenapa Ki Waskita mengambil kesimpulan demikian?”

“Aku mendengar beberapa patah kata percakapan kedua orang itu. Mereka memang bukan berasal dari satu kelompok dengan orang-orang ini,” Ki Waskita berhenti sejenak. Lalu, “Seandainya demikian, maka mereka berdua tentu tidak akan meninggalkan kawan-kawannya begitu saja tanpa berusaha untuk membawa mereka atau menghilangkan kemungkinan seperti yang kita lakukan sekarang.”

Swandaru termenung sejenak. Namun Kiai Gringsing pun berkata, “Biarlah orang-orang itu disimpan saja lebih dahulu, Swandaru. Barangkali pada saatnya ada gunanya.”

Swandaru memandang ayahnya sesaat. Sebenarnya ia agak berkeberatan menyimpan orang di kademangannya, karena hal itu akan dapat mengundang persoalan, yang mungkin akan menimbulkan kegoncangan di kademangannya.

Tetapi Swandaru tidak dapat berbuat lain. Dalam keadaan yang demikian, ia tidak akan dapat menyelesaikan persoalan orang-orang itu menurut kehendaknya sendiri, atau memusnahkannya sama sekali.

Ki Demang pun berpikir sejenak. Bahkan kemudian ia berdesis, “Bagaimana jika orang ini kita serahkan saja kepada Pajang atau kepada Mataram?”

“Untuk sementara tidak, Ki Demang,” Kiai Gringsing-lah yang menjawab, “Aku tahu, bahwa orang-orang ini akan dapat mengundang keributan. Mungkin akan datang kawan-kawannya untuk membebaskannya. Memang akibatnya akan lebih gawat jika mereka tetap kita simpan, dibandingkan jika mereka telah terbunuh sama sekali.”

“Jangan, jangan,” terdengar orang-orang itu meminta.

“Kami tidak akan membunuh kalian,” sahut Agung Sedayu, “kami hanya membuat perbandingan. Dan kami pun minta agar kau mengerti.”

Orang-orang itu terdiam membeku. Ada semacam kebimbangan tentang keselamatan diri. Mungkin Agung Sedayu hanya bergurau atau sengaja mempermainkan perasaan mereka, namun yang pada suatu saat akan menusuk dada mereka dengan pedang, atau mengikat leher mereka dengan tampar serabut, kemudian menggantung tinggi di sudut padukuhan induk kademangan Sangkal Putung.

Namun agaknya Agung Sedayu dengan sungguh-sungguh berkata, “Cobalah menenangkan diri. Ingat-ingatlah apa yang kalian ketahui, selama kalian terpaksa kami simpan di tempat yang khusus. Beberapa orang pengawal akan menjaga kalian siang dan malam untuk beberapa hari.”

Orang-orang itu menjadi agak tenang. Namun mereka masih juga bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana sesudah beberapa hari itu?”

Dalam pada itu, setelah orang-orang itu dibawa untuk disimpan, Agung Sedayu pun teringat kepada para pengawal yang tertidur. Pengaruh sirep itu pun agaknya sudah menjadi semakin menipis, seperti kabut yang disentuh angin lembut. Meskipun peralahan-lahan, namun akhirnya hilang sama sekali.

Dengan ragu-ragu Agung Sedayu pun kemudian pergi ke gardu di regol halaman Kademangan. Dilihatnya beberapa orang masih tidur nyenyak. Ada yang bersandar pohon, ada yang terbaring di gardu.

Dengan hati-hati, agar tidak mengejutkan para pengawal, Agung Sedayu menyentuh mereka seorang demi seorang. Agaknya pengaruh sirep benar-benar telah terlepas dari mereka, sehingga perlahan-lahan mereka pun mulai terbangun.

“Kalian tertidur nyenyak sekali,” berkata Agung Sedayu.

Kata-kata itu ternyata telah mengejutkan mereka. Dengan serta-merta beberapa orang pun berloncatan bangkit dan bertanya, “Apa yang terjadi?”

Agung Sedayu menunjukkan ke halaman sambil berkata, “Lihatlah. Ada beberapa orang memasuki halaman kademangan.”

“Apa yang mereka lakukan?” beberapa orang bertanya bersamaan.

Agung Sedayu memandang mereka berganti-ganti. Lalu, “Mereka berusaha untuk menimbulkan huru-hara. Tetapi mereka segera dapat kami atasi, meskipun kalian tertidur nyenyak.”

“Siapa saja yang tertidur? Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi atas diriku. Tiba-tiba saja aku seperti pingsan dan tidak tahu apa-apa lagi.”

“Kami menahan beberapa orang. Carilah kawan-kawanmu yang sedang meronda. Jika mereka tertidur, bangunkan mereka. Kami memerlukan beberapa orang pengawal untuk menjaga empat orang tahanan yang berilmu tinggi. Karena itu, maka pengawasannya pun harus dilakukan sebaik-baiknya. Di sisa malam ini, biarlah aku tidak berjaga-jaga. Tetapi seterusnya penjagaan harus diatur sebaik-baiknya.”

Dua orang di antara mereka pun kemudian meninggalkan gardu, sambil menggosok mata mereka, seolah-olah mereka tidak yakin atas peristiwa yang baru saja terjadi. Namun salah seorang berkata, “Apakah kau percaya kepada ilmu sirep?”

Yang lain mengerutkan keningnya. dengan ragu-ragu ia berdesis, “Kau sangka, bahwa kita sudah terkena sirep?”

Kawannya termangu-mangu. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi atas dirinya dan kawan-kawannya. Dengan ragu-ragu ia pun kemudian berkata, “Ya. Aku kira kita sudah terkena sirep. Aku merasa seakan-akan mataku direkat dengan cairan pati pohung.”

Yang lain tertawa pendek. Dengan nada yang datar ia menyahut, “Gila. Ternyata ada sekelompok orang-orang sakti yang telah datang ke kademangan ini. Mereka telah menyebarkan sirep dan membuat kita semuanya tidak berdaya. Untunglah di kademangan ini masih tinggal beberapa orang yang dapat mengatasi mereka.”

“Di sini akan tetap tinggal orang-orang yang mumpuni. Swandaru dan Pandan Wangi tidak akan meninggalkan kademangan. Untuk sementara, Sekar Mirah pun masih tinggal.”

Kawannya mengangguk-angguk. Mereka memang berbangga atas anak-anak Ki Demang, beserta anak menantunya. Mereka merupakan pelindung kademangan mereka dari orang-orang sakti yang tidak dapat dilawan dengan cara yang wajar.

“Seandainya sekelompok penjahat datang ke kademangan ini, maka para pengawal akan mengusirnya. Kami tidak akan gentar melawan kekuatan yang betapapun besarnya. Tetapi melawan ilmu sirep, adalah di luar kemampuan kami,” geram salah seorang dari keduanya.

Kawannya tidak menjawab. Ketika mereka sampai di gardu di simpang empat, maka mereka melihat beberapa orang pengawal masih tertidur nyenyak. Di antaranya, terdapat anak-anak muda yang memang terbiasa berada di gardu-gardu, meskipun mereka tidak kebetulan sedang bertugas.

“Ilmu itu luar biasa kuatnya. Jarak dari tempat ini cukup panjang bagi ilmu sirep. Tetapi agaknya kekuatan ilmu itu masih mencengkam mereka,” desis yang seorang.

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka berdiri termangu-mangu di depan gardu. Mereka melihat dua orang di antara mereka tersandar dinding justru di luar gardu, dengan senjata telanjang di tangan.

“Mereka seperti sudah mati. Seandainya dalam keadaan yang demikian, seorang saja dari pihak lawan datang dengan pedang terhunus, maka dalam sekejap, kita sudah kehilangan beberapa orang pengawal.”

“Termasuk kita sendiri. Mungkin kita-lah yang paling dahulu.”

“Tidak. Kebetulan kita bertugas di depan rumah Ki Demang. Swandaru tentu akan menolong kita.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Kau selalu mengharap pertolongan orang lain.”

Yang lain tidak menghiraukannya. Perlahan-lahan ia mendekati kawan-kawannya yang masih tetap tidur dengan nyenyaknya.

“Aku akan menyembunyikan senjata-senjata mereka. Baru kita membangunkan.”

Sejenak kawannya ragu-ragu. Desisnya, “Kita tidak sedang bergurau. Di halaman kademangan ada beberapa yang memerlukan pengawasan.”

Tetapi kawannya tidak menghiraukannya. Dengan hati-hati ia memungut senjata dari mereka yang tertidur di gardu dan meletakkannya beberapa langkah dari mereka.

“Ah, kau masih sempat membuat onar,” desis kawannya.

Tetapi pengawal yang memang senang bergurau itu tidak menghiraukannya. Ketika senjata-senjata itu sudah dijauhkan dari kedua orang yang tertidur itu, tiba-tiba ia menarik kawannya untuk bersembunyi.

“Apa yang kau lakukan?”

“Sst,” desisnya sambil memaksa kawannya untuk berjongkok di belakang segerumbul perdu.

Dari tempat persembunyian itu, ia melempar pengawal yang tertidur itu dengan kerikil, beberapa kali.

Ternyata bahwa pengaruh sirep benar-benar sudah tidak mencengkam mereka lagi. Ternyata kerikil-kerikil itu telah membangunkan kedua pengawal itu.

Di luar sadar, tangan mereka pun telah menggapai mencari senjata masing-masing. Namun tiba-tiba saja salah seorang bangkit sambil bertanya. “He, kau lihat pedangku?”

“Pedangku juga tidak ada.”

Keduanya pun saling berpandangan. Hampir bersamaan keduanya bergeser ke depan gardu. Dan yang mereka lihat adalah kawan-kawannya yang tertidur nyenyak.

“He, kita semuanya tertidur. Aneh. Hal yang tidak pernah terjadi,” desis yang seorang.

“Bagaimana mungkin?” sahut yang lain. Namun kemudian, “Kita-lah yang sedang bertugas. Tetapi agaknya kita pun telah tertidur.”

“Dan senjataku telah hilang.”

“Senjataku juga.”

Keduanya termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba mereka menjadi tegang. Terdengar langkah kaki mendekat, sehingga hampir berbareng keduanya telah memungut senjata kawan-kawannya yang sedang tertidur.

Tetapi ternyata yang datang adalah dua orang pengawal. Meskipun demikian, keduanya tetap merasa cemas, justru karena semua orang telah tertidur dan senjata mereka lepas dari tangan.

“Apa yang terjadi?” bertanya salah seorang pengawal yang baru datang.

“Tidak apa-apa,” jawab salah seorang dari mereka, yang baru saja terbangun dari tidur.

“Kenapa semuanya tertidur?” bertanya yang lain, “Apakah memang sudah menjadi kebiasaan kalian di sini?”

“Kenapa semuanya?” jawab yang seorang dari mereka yang baru bangun, “Kami berdua tidak tertidur, kami-lah yang sedang bertugas. Sengaja yang lain kami biarkan tidur, agar kami dapat bergantian.”

Pengawal yang datang dari halaman kademangan itu termangu-mangu. Apalagi ketika mereka melihat kedua orang itu sudah membawa senjata di tangannya.

Tetapi yang seorang dari kedua pengawal yang datang itu masih sempat tersenyum, melihat senjata yang berada di tangan salah seorang dari mereka yang baru saja terbangun itu. Senjata itu adalah sebilah golok yang besar meskipun tidak panjang.

Pengawal yang baru saja terbangun melihat kawannya yang baru datang itu dengan heran. Bahkan kemudian ia bertanya, “Kenapa kau tersenyum? Apakah kau tidak percaya?”

Yang baru saja datang itu masih saja tersenyum. Dalam keremangan cahaya obor di gardu, ia melihat wajah-wajah yang tenang di dalam tidur yang nyenyak.

“Mereka nampaknya tidur nyenyak,” berkata salah seorang dari mereka. Lalu, “He, apakah yang kau genggam itu memang senjatamu?”

Orang yang memegang golok itu menyahut cepat, “Ya.. Kenapa?”

“Jika kau sedang beristirahat, apakah golok itu tidak pernah kau sarungkan?”

“Tentu. Kenapa?”

“Cobalah menyarungkan golokmu.”

Orang itu termangu-mangu. Tiba-tiba saja di luar sadarnya ia memandangi golok yang besar itu. Kemudian sarung pedang di lambungnya. Sarung pedang panjang, tetapi tidak sebesar golok itu.

“Ah,” desisnya. Mau tidak mau ia pun terpaksa tersenyum pula. Demikian pula kedua pengawal yang lain. Bahkan kawannya yang baru saja terbangun bersamanya itu pun mengamat-amati senjatanya pula sambil bergumam, “Aku salah mengambil senjataku. Senjata ini pun tidak cocok dengan sarung di lambung ini.”

Kedua pengawal yang baru datang itu pun tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Kalian kira kami tidak tahu, bahwa kalian sudah tertidur nyenyak sambil melepaskan senjata kalian. He, apakah kalian dengan sengaja menyembunyikan senjata kalian di sebelah gardu itu?”

“Dimana?” Kedua pengawal yang tertidur itu hampir berbareng bertanya.

“Aku melihat dua buah senjata seolah-olah sengaja disembunyikan atau disingkirkan. Aku kira kalian sudah tidur nyenyak, sehingga seseorang dengan mudah mengambil senjata kalian dari tangan. Untunglah bahwa senjata itu tidak menikam kalian sendiri.”

“Dimana?” pengawal itu mendesak.

“Marilah. Aku tunjukkan.”

Mereka pun kemudian pergi ke sebelah gardu itu. Dengan telunjuknya, pengawal yang memang menyembunyikan pedang itu berkata, “Lihat. Senjata siapakah yang diletakkan di sana.”

Keduanya bergegas mengambil senjata masing-masing. Sejenak mereka mengamat-amati. Sambil mengangguk, salah seorang dari keduanya bergumam, “Memang senjataku.”

“Dan kau ingkar, bahwa kau memang sudah tertidur nyenyak?”

Pengawal yang menemukan senjatanya itu tersenyum. Jawabnya, “Aku tahu sekarang. Kalian menemukan kami sedang tertidur. Kalian sengaja menyembunyikan senjata-senjata kami.”

“Jadi kalian memang tertidur?”

Kedua pengawal yang sedang tertidur itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka mencoba mengingat apa yang sudah terjadi. Ternyata yang mereka alami adalah peristiwa yang jarang sekali dapat terjadi.

Mereka masih ingat, betapa mereka bertahan terhadap perasaan kantuk yang luar biasa. Mereka masih melihat kawan-kawan mereka seorang demi seorang berbaring dan mendekur. Keduanya sudah berusaha melawan kantuk dengan berjalan-jalan di luar gardu. Namun akhirnya mereka terlena juga. Mereka tidak tahu, kapan mereka kehilangan kesadaran dan tidur sambil bersandar dinding.

“Sekarang,” berkata kedua pengawal yang datang dari kademangan, “bangunkan kawan-kawanmu. Kami memerlukan sebagian dari mereka.”

Sejenak kemudian, maka para pengawal yang ada di gardu itu pun telah terbangun. Dengan singkat, pengawal yang datang dari regol Kademangan itu menjelaskan apa yang sudah terjadi, dan membawa perintah agar sebagian dari mereka yang ada di gardu itu pergi ke Kademangan, untuk membantu mengawasi beberapa orang yang tertawan.

Kabar itu pun segera menjalar. Gardu-gardu yang terletak jauh dari rumah Ki Demang agaknya tidak tersentuh oleh kekuatan sirep itu. Namun, mereka pun ramai berbicara tentang peristiwa yang telah terjadi, bahkan mereka pun sadar, jika hal itu terulang, maka peristiwa yang mengerikan akan dapat menimpa Kademangan Sangkal Putung. Dalam keadaan tidak sadar itu, mereka yang ingin berbuat jahat dengan sebilah pedang di tangan mendekati gardu itu, maka ia akan dengan mudah sekali menghunjamkan senjatanya di setiap dada tanpa perlawanan sama sekali.

Hampir setiap orang di Sangkal Putung memang sudah pernah mendengar ceritera tentang sirep. Tetapi seorang penjahat yang melepaskan sirep dengan maksud yang sederhana, mengambil barang milik seseorang, pengaruhnya tidak akan lebih luas dari rumah yang menjadi sasaran itu.

Tetapi yang terjadi atas rumah Ki Demang Sangkal Putung, benar-benar telah menimbulkan kegemparan. Ternyata beberapa buah rumah dan gardu telah terkena pengaruhnya, hingga tidak seorang pun yang mengetahui apa yang sudah terjadi di rumah Ki Demang Sangkal Putung itu.

“Untunglah, bahwa di Sangkal Putung masih ada orang-orang yang dapat melawan sirep itu,” berkata setiap orang di dalam hatinya. Dan mereka pun menjadi semakin berbangga terhadap Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah, di samping beberapa orang tamu yang kebetulan berada di Kademangan Sangkal Putung.

“Tanpa mereka kita tidak berdaya sama sekali,” desis seorang pengawal.

Yang lain hanya mengangguk-angguk saja. Namun mereka pun telah dihadapkan pada tugas yang berat, mengawasi beberapa orang tawanan yang berilmu tinggi. Jika mereka lengah sedikit, maka yang terjadi tentu di luar dugaan sama sekali. Bahkan salah seorang pengawal bertanya kepada kawannya, “Apakah mereka juga mempunyai ilmu sirep?”

“Aku tidak tahu. Tetapi setiap saat tentu ada salah seorang yang memiliki keseimbangan ilmu dengan para tawanan itu, ikut mengawasi. Mungkin Agung Sedayu, mungkin pula Swandaru atau yang lain.”

Dengan demikian, sejak saat malam penyebaran sirep itu, Sangkal Putung mempunyai beberapa orang tawanan. Setiap kali, Swandaru mencoba untuk mendengar apakah mereka mengerti serba sedikit tentang usaha mereka yang merasa dirinya sebagai pewaris Kerajaan Majapahit itu.

“Kami benar-benar tidak tahu,” jawab salah seorang dari mereka.

Sehingga setiap kali, Swandaru harus menahan kecewa. Orang-orang itu selalu menjawab tidak tahu.

Bahkan karena kejengkelan yang meluap, Swandaru telah memanggil seorang demi seorang. Dengan kasar dan dengan lemah lembut ia mencoba untuk mengorek keterangan tentang para prajurit Pajang yang telah terseret ke dalam kelompok yang sangat berbahaya itu.

Tetapi usahanya selalu sia-sia. Kiai Gringsing pun sudah memberitahukan kepada Swandaru, bahwa mereka sebenarnyalah tidak tahu apa-apa. Mereka hanyalah pengikut saudara tua kakak beradik dari Pesisir Endut itu.

“Mungkin mereka mendapat perintah untuk menutup mulutnya,” berkata Swandaru pada suatu saat.

Kiai Gringsing menggeleng sambil menjawab, “Menurut pengamatanku mereka benar-benar tidak tahu. Mereka hanya tahu, bahwa mereka harus mengikuti orang Pesisir Endut itu membawakan dendamnya bagi Agung Sedayu dan Pangeran Benawa. Tapi mereka tidak mengetahui, bahwa dendam mereka telah diarahkan bagi keuntungan orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit, yang kini tersembunyi di Pajang dan di antara beberapa orang berilmu di sekitar Pajang.”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi masih nampak keragu-raguannya atas kebenaran pendapat gurunya itu. Menurut pendapat Swandaru, mereka akan dapat memberikan keterangan serba sedikit yang akan dapat dipergunakan untuk menelusuri jalur yang meskipun paling jauh, menuju ke arah yang dikehendakinya.

Namun akhirnya Swandaru menghentikan usahanya. Ia merasa, bahwa tidak seorang pun yang mendukung usahanya. Agung Sedayu juga tidak.

“Persetan dengan mereka!” berkata Swandaru di dalam hatinya, “jika dari mereka tidak akan dapat disadap keterangan apa pun, kenapa mereka tidak diserahkan saja kepada Mataram atau Pajang sebagai penjahat, apabila kami di sini tidak diwenangkan menjatuhkan hukuman yang sesuai dengan kejahatan mereka?”

Tetapi Swandaru tidak dapat memaksakan kehendaknya. Ki Demang Sangkal Putung sendiri nampaknya masih membiarkan orang-orang itu menjadi beban yang menjemukan.

Sementara itu, Ki Waskita menjadi semakin gelisah menanggapi keadaan. Nampaknya orang-orang yang menyebut dirinya pewaris Kerajaan Majapahit itu menjadi semakin garang. Mereka mempergunakan kesempatan dan pihak yang manapun juga untuk mencapai maksudnya. Yang menjadi sasaran pertamanya adalah Agung Sedayu, dan sudah barang tentu orang-orang lain pula kelak, yang dianggap membantu tegaknya Mataram.

“Kiai Gringsing nampaknya masih acuh tidak acuh saja,” berkata Ki Waskita kepada diri sendiri.

Akhirnya Ki Waskita tidak tahan lagi. Ia mencari kesempatan untuk dapat bertemu dengan Kiai Gringsing tanpa orang lain.

“Kiai,” berkata Ki Waskita, “rasa-rasanya keadaan menjadi semakin gawat. Apakah Kiai masih belum tertarik untuk berbuat sesuatu?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

“Atau barangkali Kiai masih ingin menyusun cerita yang lain lagi tentang diri Kiai? Aku sudah mendengar beberapa cerita tentang diri Kiai.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Waskita. Yang terakhir aku sengaja menghindari pembicaraan tentang diriku. Karena itu aku telah ingkar, justru karena kehadiran Ki Widura. Bukan karena aku tidak percaya kepada Ki Widura, tetapi aku cemas, bahwa pada suatu saat Ki Widura mengambil sikap sendiri sebagai bekas seorang prajurit yang tentu mempunyai wawasan dan perhitungan. Mungkin hal itu akan dibicarakan dengan Untara pada suatu saat, sehingga tindakan selanjutnya akan menyulitkan kedudukanku.”

“Jadi bagaimana menurut, Kiai?”

“Aku pernah mengatakan tentang diriku. Aku pernah mengatakan suatu kebenaran. Tetapi aku masih membatasi diri, agar hal itu tidak akan sampai ke Pajang, lewat siapapun juga, sehingga aku berusaha untuk menghindari orang-orang yang mungkin akan dapat menjadi saluran itu.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Kiai Gringsing memang terlalu lamban. Bahkan, mungkin Kiai Gringsing benar-benar berusaha menghindarkan diri dari sentuhan masa lampaunya. Tetapi Ki Waskita tidak dapat memaksanya.

Yang menjadi sasaran perhatiannya kemudian adalah Agung Sedayu. Anak itu justru mengalami keadaan yang menyulitkannya, di luar kehendaknya. Dendam dan kebencian seolah-olah tertumpuk kepadanya.

“Apakah aku dapat membantunya?” pertanyaan itu tiba-tiba saja tumbuh di hatinya, “Bukan sekedar dalam perkelahian-perkelahian. Tetapi memberikan bekal kepadanya. Namun masih juga tergantung kepada gurunya. Apakah gurunya mengijinkannya.”

Namun dalam pada itu, di sebuah padepokan kecil yang terpencil di sela-sela bukit, di tepi pantai Lautan Selatan, seseorang sedang dibakar dendam dan kebencian tiada taranya. Ia merasa terhina, bukan saja oleh kematian adik-adiknya selagi mereka berusaha membunuh Agung Sedayu, yang oleh karena nasibnya yang buruk telah bertemu dengan Pangeran Benawa, tetapi lebih daripada itu, karena ia sendiri ternyata dapat dikalahkan oleh Agung Sedayu.

“Kakang terlalu baik hati,” berkata saudara seperguruannya, “agaknya kakang menganggap anak muda yang bernama Agung Sedayu itu terlalu enteng, sehingga kelengahan itulah agaknya yang telah menjerumuskan Kakang Carang Waja ke dalam kekalahan yang menentukan itu.”

Orang yang bernama Carang Waja itu menggeram. Katanya, “Sikap itu adalah sikap yang sangat sombong. Dengan sikap itu, aku tidak akan dapat menang melawan Agung Sedayu.”

“Aku tidak tahu maksud Kakang.”

“Aku harus merasa bahwa ilmuku benar-benar masih belum menyamai ilmu Agung Sedayu. Bukan karena kelengahan atau sebab apa pun. Jika aku tidak mau mengakui kekalahan itu, maka kekalahan-kekalahan berikutnya tentu akan menyusul.”

 

 

“Jadi, maksud Kakang?”

“Ilmuku harus bertambah sempurna. Atau dengan cara lain. Aku harus melawan Agung Sedayu tidak seorang diri, tetapi dengan kekuatan lain di sisiku.”

“Maksud Kakang, dengan demikian bukannya dengan perang tanding. Tetapi, apakah Kakang sudah bersedia merendahkan diri sedemikian untuk menebus kematian kedua anak gila itu? Sementara orang lain telah memanfaatkan dendam yang menyala di hati Kakang?”

“Aku tahu,” jawab Carang Waja, “orang-orang Pajang yang gila dengan impian mereka tentang warisan Majapahit itu telah memanfaatkan aku. Tetapi aku tidak peduli. Aku hanya membalas dendam. Sementara itu aku masih akan menerima upah.”

“Kedua anak gila yang dibunuh oleh Raden Benawa itu, juga telah terjerat oleh ketamakannya. Mereka menjadi silau melihat upah yang telah ditawarkan kepada mereka oleh orang-orang Pajang, sehingga mereka justru telah mengorbankan nyawa mereka.”

“Aku tidak setamak mereka,” geram Carang Waja, “yang akan terjadi kemudian adalah permusuhan dari dua perguruan. Perguruan dari Sangkal Putung itu harus dibinasakan.”

Saudara seperguruannya memandang Carang Waja dengan ragu. Sebelum ia mengatakan sesuatu, Carang Waja sudah mendahului, “Aku tahu apa yang akan kau katakan. Dengan Agung Sedayu aku sudah dapat dikalahkan, apalagi dengan gurunya.”

Saudara seperguruannya tidak menyahut.

“Itu menjadi bahan pertimbanganku. Tetapi bukan mustahil, bahwa seorang murid yang sudah sempurna ilmunya, akan dapat melampaui gurunya, meskipun aku tidak berpendapat demikian terhadap Agung Sedayu. Agaknya kemampuan Agung Sedayu memang perlu mendapat penjajagan. Apakah ia sudah berhasil menyamai tingkat gurunya, atau masih berada di tataran yang lebih rendah. Aku memang memerlukan keterangan tentang anak muda itu. Juga tentang beberapa orang lain yang berada di Sangkal Putung. Jika sudah mendapatkan keterangan yang cukup tentang tataran ilmu mereka, maka aku akan dapat membuat perhitungan. Aku memang tidak boleh tergesa-gesa.”

Saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Lalu, “Tetapi, bagaimana dengan Pangeran Benawa?”

Untuk sesaat Carang Waja terdiam. Terbayang di matanya, seorang Pangeran yang masih muda, namun memiliki ilmu yang hampir sempurna. Meskipun demikian, Pangeran Benawa kadang-kadang melakukan pengembaraan dengan menyamar diri seperti orang kebanyaan, justru karena kejemuannya terhadap keadaan di istana dan kekecewaannya atas tingkah laku ayahandanya sendiri.

“Apakah menurut pertimbangan Kakang, Agung Sedayu mempunyai kelebihan dari Pangeran Benawa? Jika demikian, maka Agung Sedayu adalah orang yang tidak ada duanya di Pajang.”

Carang Waja menggeleng lemah. Jawabnya, “Aku tidak tahu pasti. Aku kira memang sulit untuk mengerti tentang keduanya.”

Saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Jadi apakah rencanamu untuk sementara, Kakang? Apakah Kakang ingin berusaha membebaskan orang-orang kita yang tertangkap?”

“Biar saja mereka tertangkap. Apakah peduliku? Biar mereka dibunuh atau dicincang atau dipicis sekalipun? Mereka tidak akan dapat mengatakan apa pun juga tentang aku dan hubunganku dengan orang-orang Pajang.”

“Kakang keliru. Orang-orang itu tentu akan dapat menunjukkan tempat kita sekarang ini. Agung Sedayu berusaha membalas dendam dengan dendam, mungkin ia dapat datang kemari dengan orang-orang pilihan di Sangkal Putung itu. Bahkan mungkin dengan sejumlah pengawal. Akan lebih celaka lagi jika Agung Sedayu berhasil menghubungi Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya.”

Carang Waja Mengerutkan keningnya. Wajahnya nampak menjadi tegang. Katanya kemudian, “Sebenarnya tidak sukar bagi mereka untuk menemukan tempat ini. Tetapi aku tidak akan tinggal di sini sepeninggal dua anak-anak gila itu. Biarlah Pesisir Endut tetap tinggal seperti saat ini, ditunggui oleh beberapa orang yang tidak berarti. Aku akan tinggal di perguruanku sendiri yang mulai tumbuh dan berkembang. Aku akan membentuk diri menjadi orang yang lebih kuat dari sekarang untuk menghadapi Agung Sedayu.”

“Apakah Kakang mengira Agung Sedayu sudah tidak berkembang lagi?”

“Aku kira ia sudah terlalu puas dengan ilmunya sekarang. Ia tidak sempat lagi menempatkan ilmunya lebih dalam, karena ia banyak terlibat dalam persoalan-persoalan di lingkungannya.”

“Dengan demikian, berapa tahun waktu yang akan Kakang perlukan untuk menyempurnakan diri? Dalam waktu yang panjang itu, perubahan yang pesat tentu telah terjadi di Pajang dan Mataram,” saudara seperguruan Carang Waja itu berhenti sejenak. Lalu, “Mungkin dalam waktu yang panjang itu, Agung Sedayu telah dibunuh oleh orang-orang Pajang. Oleh orang-orang yang merasa dirinya pewaris Kerajaan Majapahit, yang merasa dirintangi usahanya untuk menentukan sikap menghadapi Pajang dan Mataram.”

Carang Waja menarik nafas panjang. Ia memang dihadapkan kepada keadaan yang saling berkaitan. Tetapi dendam di hatinya benar-benar tidak akan dapat dikesampingkan.

Namun ia pun sadar, bahwa dendam itu tidak hanya menyala di hatinya dan membakar perguruannya. Tetapi ia pun sadar, bahwa kematian-kematian yang terjadi oleh bekas tangan Agung Sedayu di banyak tempat itu pun telah membakar dendam pula dimana-mana.

“Kakang,” berkata saudara seperguruan Carang Waja, “jika Kakang masih akan menunggu lagi, satu atau dua tahun, sementara masih menjadi pertanyaan apakah Agung Sedayu tidak pula meningkatkan ilmunya, maka Kakang tentu akan ketinggalan. Kecuali jika Kakang memang hanya menginginkan kematian Agung Sedayu oleh tangan siapapun, bukan oleh orang-orang perguruan kita sendiri.”

“Aku akan membunuhnya,” geram Carang Waja, “aku tidak memerlukan waktu yang lama. Tetapi jika perlu, kita akan pergi bersama-sama.”

Saudara seperguruannya mengerutkan keningnya. Lalu katanya dengan nada rendah, “Kita memang orang-orang tamak. Kita sadar, bahwa orang-orang Pajang telah memanfaatkan dendam di hati kita. Tetapi kita pun dengan sadar menerima segalanya dengan harapan untuk dapat menepuk dua ekor lalat sekaligus. Kematian Agung Sedayu sebagai pelepasan dendam yang membakar jantung, dan upah yang tidak sedikit, yang dijanjikan oleh para perwira Pajang itu, di samping pangkat dan jabatan yang akan kita terima jika mereka benar-benar mendapatkan kemenangan kelak.”

“Aku mengerti,” jawab Carang Waja, “tetapi jangan terlalu diharapkan. Orang-orang Pajang adalah orang-orang licik. Mungkin mereka masih akan datang menemui kita dan berusaha memanfaatkan dendam itu. Tetapi, kematian Agung Sedayu dan Benawa justru akan menyeret kita ke dalam kesulitan. Kita harus bersedia menghadapi lawan yang lebih besar lagi, karena bagi orang-orang Pajang itu akan lebih mudah membunuh kita, untuk menghilangkan jejak dan mengingkari kesanggupan.”

“Tetapi, kenapa mereka tidak melakukan sendiri atas Agung Sedayu?”

“Agung Sedayu adalah adik Untara, mereka tidak mau menerima akibat buruk, karena jika salah seorang dari mereka tertangkap, maka jalur itu akan membenturkan mereka pada kekuatan Pajang, menghancurkan diri sendiri. Pasukan Pajang akan sempat mengadakan pembersihan ke dalam dengan menangkap orang-orang yang namanya akan dapat ditelusur. Karena itu, perwira-perwira yang licik itu lebih senang mempergunakan orang-orang di luar mereka sendiri. Dengan demikian, jalur yang berbahaya itu akan mudah diputuskan.”

Saudara seperguruan Carang Waja itu mengangguk-angguk. Di matanya, nampak dua api yang menyala di dada Carang Waja. Dendam yang tiada taranya atas kematian kedua adiknya serta penghinaan atas kekalahannya, namun yang ternyata juga telah dibumbui oleh hubungan mereka dengan para perwira di Pajang yang menjanjikan upah dan pangkat yang tinggi.”

Dalam pada itu, dua orang yang lain, yang ikut serta mengalami kegagalan di Sangkal Putung, telah melaporkan pula kegagalan itu. Dengan nada tinggi ia berkata, “Sejak semula aku sudah tidak setuju dengan caranya.”

Seorang perwira yang lebih tua, yang menerima laporan itu dengan kening yang berkerut bertanya, “Jika kau sudah tidak setuju dengan caranya, kenapa masih dilakukan juga?”

“Carang Waja ingin mendapatkan kepuasan oleh dendamnya. Ia ingin membunuh Agung Sedayu langsung dengan tangannya, sehingga ia minta diselenggarakan perang tanding.”

“Dan perang tanding itu berlangsung?”

“Ya, perang tanding itu berlangsung. Ternyata Carang Waja tidak dapat mengalahkan Agung Sedayu. Meskipun ia berhasil melarikan diri, tetapi kami berdua hampir saja menjadi korban dan tertangkap di Sangkal Putung.”

“Apakah setelah kekalahan Carang Waja, kalian tidak mengambil sikap lain, misalnya bersama-sama membunuh anak muda tanpa menghiraukan kedudukan perang karena perang tanding itu dilakukan oleh Carang Waja, tidak oleh kalian?”

Kedua orang perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun sebelum mereka mengatakan sesuatu, perwira yang lebih tua itu pun mendahului, “Agaknya kalian telah mencoba.”

Salah seorang dari kedua orang yang ikut ke Sangkal Putung itu menjawab tersendat-sendat, “Ya. Kami sudah mencoba.”

“Tetapi kalian tidak berhasil,” perwira itu berhenti sejenak. Lalu, “Apakah Agung Sedayu benar-benar tidak dapat dikalahkan, meskipun oleh dua orang perwira pilihan dari Pajang?”

“Aku kira Agung Sedayu bukannya anak iblis,” sahut salah seorang perwira yang ikut serta ke Sangkal Putung, “tetapi ternyata bahwa selain Agung Sedayu, terdapat beberapa orang lain yang memiliki ilmu yang tinggi, termasuk guru Agung Sedayu.”

Perwira yang lebih tua itu mengangguk-angguk. Ia dapat menggambarkan seluruh peristiwa yang terjadi di Sangkal Putung. Seperti yang diceritakan oleh kedua perwira yang mengikuti Carang Waja ke Sangkal Putung, seolah-olah terbayang apa yang telah terjadi dalam perang tanding antara Agung Sedayu dan Carang Waja.

“Agaknya Agung Sedayu benar-benar mempunyai kekuatan iblis. Bagaimana mungkin ia dapat mengalahkan Carang Waja. Jika semula ia sudah hampir mati, dalam benturan terakhir, tiba-tiba saja Carang Waja bagaikan lumpuh dengan sendirinya,” gumam perwira itu. Namun kemudian, “Tetapi apakah kalian yakin, bahwa tidak ada kecurangan. Misalnya dengan diam-diam dan tersembunyi, gurunya menyerang Carang Waja selagi ia hampir mengakhiri perang tanding itu?”

Kedua perwira itu menggeleng. Salah seorang menjawab, “Aku yakin. Tidak ada yang membantu Agung Sedayu. Ia memang mempunyai kekuatan tersembunyi yang dapat melumpuhkan lawannya.”

Perwira yang lebih tua itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Ternyata tugas kita akan menjadi sangat berat. Agung Sedayu hanyalah salah seorang saja dari mereka yang harus dibinasakan. Tetapi yang seorang itu pun justru telah menelan banyak sekali korban. Kita sudah memanfaatkan dendam bukan saja dari Pesisir Endut, tetapi juga dari orang-orang yang bersangkut-paut dengan mereka yang telah dibunuh Agung Sedayu di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Tetapi kita tidak pernah berhasil.”

“Sebenarnya, kenapa kita bersusah payah memikirkan Agung Sedayu?” bertanya salah seorang perwira yang gagal di Sangkal Putung, “Apakah Agung Sedayu merupakan penghalang utama dari rencana yang agung itu?”

“Sebenarnya yang harus dibinasakan adalah Raden Sutawijaya dan para pemimpin Mataram lainnya. Tetapi kehadiran Kiai Gringsing dan kedua muridnya akan dapat menimbulkan persoalan-persoalan tersendiri. Terutama yang bernama Agung Sedayu itu. Apalagi jarang terjadi bahwa seorang senapati berhasil membunuh tiga orang senapati lawan yang setingkat dengan Telengan,” perwira itu berhenti sejenak, “Nah, apakah orang semacam itu tidak harus mendapat perhatian khusus? Kita masih mengharap, bahwa sanak kadang atau saudara seperguruan dari mereka yang terbunuh oleh Agung Sedayu itu akan menuntut balas. Kita akan memberikan dorongan dan memanfaatkan mereka seperti Carang Waja. Tetapi ternyata, Carang Waja yang dapat mengguncang bumi itu pun gagal.”

“Dan kita akan berhenti sampai di sini? Atau kita mempergunakan cara lain yang lebih baik?”

“Apakah cara itu?”

“Kita membawa pasukan segelar sepapan dengan diam-diam. Sangkal Putung kita hancurkan. Agung Sedayu kita bunuh, bersama gurunya dan saudara seperguruannya itu.”

“Cara yang kasar sekali.”

“Kita dapat mempergunakan ciri-ciri perguruan yang pernah mendendam anak muda itu. Kita dapat mempergunakan pertanda padepokan Pesisir Endut misalnya, atau padepokan-padepokan lain. Atau bahkan kita dapat merubah diri menjadi perampok-perampok yang garang tanpa mengenal peri kemanusiaan.”

“Cara yang berbahaya sekali. Tetapi biarlah kita menunggu. Persoalan ini akan segera sampai kepada Kakang Panji. Ia mempunyai wawasan yang luas. Bukan sekedar masalah Agung Sedayu. Sultan yang sakit-sakitan itu agaknya menjadi semakin lemah, sementara Sutawijaya menjadi semakin kuat. Bukan saja Mataram, tetapi juga pribadinya. Ia sering hilang dari rumahnya, mengembara untuk memperdalam dan menyempurnakan ilmunya, sehingga saat ini sulit untuk dapat mengambil perbandingan dari ilmunya seperti juga Pangeran Benawa dan Agung Sedayu. Tidak seorang pun yang mengetahui dengan pasti tataran ilmu ketiga orang itu. Sementara sikap mereka semakin mencemaskan kalangan kita di Pajang dan di tempat-tempat lain.”

Para perwira itu termangu-mangu. Ternyata anak pedepokan kecil itu telah menjadi perhatian kalangan Istana Pajang, dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Apalagi ia adalah adik Untara.

Namun dengan demikian, telah berkembang permusuhan di luar kehendak Agung Sedayu sendiri. Beberapa pihak telah memusuhinya dengan penuh kebencian. Bukan saja karena ia disangkutkan langsung dengan pertumbuhan Mataram yang menjadi semakin kuat, tetapi beberapa pihak ternyata mempunyai persoalan mereka tersendiri. Kematian yang pernah terjadi di antara salah satu anggota perguruan, nampaknya tidak dapat dengan mudah dilupakan oleh saudara-saudaranya seperguruan.

Dalam pada itu, di Sangkal Putung, Swandaru telah benar-benar menjadi jemu terhadap keempat orang yang menjadi tanggungan para pengawal di Sangkal Putung. Rasa-rasanya ingin ia membunuh saja orang itu, sehingga tidak lagi menjadi beban, yang menelan tenaga dan waktu yang cukup banyak.

Akhirnya, ketika Swandaru tidak tahan lagi, ia minta kepada ayahnya untuk menyerahkan saja orang itu ke Mataram.

“Kita titipkan mereka ke Mataram.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Sebenarnya ia agak segan melakukannya. Tetapi Swandaru mulai mengancam, “Jika Ayah keberatan menyerahkan mereka ke Mataram, aku akan membunuh saja atau melepaskan mereka. Aku tidak peduli apa akibatnya.”

Ki Demang tidak dapat berbuat lain. Demikian pula Agung Sedayu. Swandaru-lah yang bertanggung jawab atas pengamanan mereka. Apalagi orang itu sama sekali sudah tidak berarti lagi bagi Sangkal Putung. Mereka tidak dapat memberikan keterangan sama sekali tentang dua orang yang telah meninggalkan arena setelah pimpinan mereka.

Namun demikian, orang-orang Sangkal Putung telah dapat menyadap keterangan dari orang-orang itu tentang perguruan Pesisir Endut. Mereka dapat menyebutkan bahwa saudara tua dari kakak beradik yang terbunuh bernama Carang Waja. Ia mempunyai padepokan tersendiri dan telah membangun sebuah perguruan yang sedang berkembang.

“Ada tiga orang saudara seperguruannya,” berkata salah seorang dari keempat orang itu.

Namun bagi Swandaru setelah keterangan tentang Carang Waja itu dikuras habis, maka mereka tidak akan berarti apa-apa lagi, karena yang sebenarnya penting baginya adalah keterangan tentang keterlibatan orang-orang dalam dari keprajuritan Pajang.

Akhirnya, Ki Demang atas persetujuan para bebahu Kademangan Sangkal Putung, telah mengirimkan dua orang pengawal yang telah dikenal oleh orang-orang Mataram untuk menghadap Ki Lurah Branjangan. Mereka menyampaikan pesan dari Ki Demang untuk menitipkan empat orang tahanan, yang barangkali diperlukan oleh Mataram.

Namun Mataram tidak dapat ingkar. Keterlibatan Sangkal Putung dan apalagi Agung Sedayu ke dalam persoalan yang berkepanjangan, ada sangkut pautnya dengan perkembangan Mataram. Sehingga karena itu, maka Ki Lurah Branjangan pun tidak menolaknya. Bahkan setelah hal itu disampaikan kepada Raden Sutawijaya, maka ia pun ingin menerimanya pula.

Meskipun keempat orang itu kemudian telah tidak ada lagi di Sangkal Putung, namun keterangan dari mereka tentang Carang Waja telah menumbuhkan persoalan tersendiri bagi Agung Sedayu.

Demikianlah, maka Agung Sedayu telah mengemukakan persoalan yang selalu membayangi perasaannya itu kepada gurunya dan Ki Waskita. Kata-kata yang diucapkan oleh saudara tua kakak beradik dari Pesisir Endut, yang dibunuh oleh Pangeran Benawa itu, seolah-olah masih selalu terngiang. Pada satu saat orang itu tentu akan kembali untuk melepaskan dendamnya kepada Agung Sedayu.

“Suatu peringatan bagimu, Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing, “kau harus selalu berhati-hati. Setiap saat kau akan bertemu dengan lawan-lawan, yang mungkin sama sekali tidak kau kenal, karena ia sekedar terpercik oleh dendam karena kematian sanak kadangnya atau saudara seperguruannya.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Agaknya memang sudah menjadi keharusan baginya, bahwa ia telah menempuh jalan hidup yang gelisah. Bayangan dendam itu sama sekali tidak akan memberikan ketenangan di hatinya.

Namun dalam pada itu, Swandaru mempunyai tanggapan yang berbeda mengenai ancaman-ancaman yang setiap saat dapat mencengkam Sangkal Putung, terutama Agung Sedayu. Bahkan dengan wajah yang tegang ia berkata, “Guru. Apakah kita harus menunggu sampai bencana itu datang? Aku condong untuk memilih jalan lain. Kita sudah mendapat petunjuk dari keempat orang itu, dimanakah letaknya Pesisir Endut, atau padepokan kakak dua bersaudara yang terbunuh itu, yang menurut keterangan mereka bernama Carang Waja. Kita juga sudah mendapat gambaran kekuatan yang ada di padepokan itu. Karena itu, daripada kita harus menunggu dengan gelisah untuk waktu yang tidak menentu, sebaiknya kita pergi ke padepokan itu. Tiga bersaudara itu tentu tidak akan melampaui Carang Waja sendiri. Dua belas pengikutnya itu pun tentu tidak akan melampaui kemampuan para pengawal di Sangkal Putung. Dengan demikian, kita akan dapat datang dan menghancurkan padepokan itu. Kita mempunyai alasan yang kuat, karena mereka telah lebih dahulu menyerang kita di sini.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Swandaru, mungkin kita dapat melakukannya dan mungkin kita dapat memenangkan pertempuran itu. Tetapi kita harus membayangkan, bahwa korban akan berjatuhan di antara kita. Jika keterangan keempat orang itu tidak benar, atau mungkin terjadi perubahan di saat terakhir, misalnya Carang Waja telah memanggil orang-orang baru, atau perguruan-perguruan lain yang bergabung dengan mereka, atau perubahan-perubahan lain, akan dapat menumbuhkan persoalan yang pelik. Apalagi jika di antara mereka terdapat orang-orang dalam dari Pajang yang telah mengotori kedudukan mereka dengan ketamakan itu. Atau dalam keadaan yang berbeda, para prajurit Pajang yang setia akan tugasnya pun tentu akan merasa tersinggung, bahwa kita telah melakukan penyerangan itu di luar pengawasan Pajang, karena justru kita berada di bawah lingkup kekuasaan Pajang, seperti Untara yang tersinggung oleh peristiwa lembah di antara Gunung Merapi dan Merbabu itu, yang aku kira bagi Untara masalah itu masih belum dianggapnya selesai.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat menyangkal keterangan gurunya. Tetapi rasanya, hatinya bagaikan melonjak-lonjak. Kenapa Sangkal Putung tidak dapat melindungi dirinya dengan cara yang paling baik yang dapat dilakukan.

“Jika demikian, maka kedudukan sebuah perguruan jauh lebih baik dari sebuah kademangan?” berkata Swandaru seakan-akan kepada diri sendiri.

“Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

“Mereka dapat berbuat sesuai dengan keinginannya. Jika mereka merasa terganggu oleh pihak lain, maka perguruan itu akan dapat mengerahkan kekuatannya untuk melakukan perang antara perguruan. Tetapi tidak dengan kita di Kademangan Sangkal Putung,” geram Swandaru.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Swandaru. Sebenarnya bagi sebuah perguruan pun berlaku ketentuan-ketentuan yang sama. Mereka tidak dibenarkan melakukan tindakan sendiri-sendiri sesuai dengan keinginan mereka. Tetapi karena pada umumnya mereka terbatas pada persoalan di antara mereka, maka persoalan itu tidak diketahui oleh Pajang.”

“Atau, Pajang sudah dengan sengaja tidak mau atau bahkan tidak mampu mengawasi semua gejolak yang terjadi di dalam wilayah kekuasaannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya wajah Ki Demang yang tegang. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya tidak usah melihat kelemahan-kelemahan itu pada siapapun, Swandaru. Sebaiknya kita bersikap seperti yang seharusnya kita lakukan. Jika kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya, maka perguruan manapun tidak akan dapat menembus dinding pertahanan kita. Di Sangkal Putung secara terbuka terdapat pengawal-pengawal yang jumlahnya dapat berlipat sepuluh atau dua puluh kali dari sebuah perguruan.”

Swandaru tidak menjawab lagi. Betapapun juga hatinya digelitik oleh suatu keinginan untuk melakukan sergapan langsung ke pusat jantung lawan, tetapi ternyata gurunya tidak sependapat.

“Seberapa besar perguruan Pesisir Endut dan Perguruan Carang Waja,” geramnya di dalam hati, “tentu akan tidak berarti dibanding dengan kekuatan yang ada di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu.”

Sementara itu Agung Sedayu sendiri tidak menyatakan pendapatnya. Ia lebih banyak diam sambil melihat ke dalam dirinya sendiri. Bahkan kadang-kadang ia menyesal, bahwa ia telah terlibat terlalu jauh ke dalam persoalan yang tidak dikehendakinya sendiri. Tetapi nampaknya semuanya telah berjalan tanpa dapat dikendalikan.

Yang tidak banyak mengetahui persoalan yang berkembang di Sangkal Putung itu adalah Glagah Putih. Ki Widura dengan sengaja telah membatasinya agar ia tidak terlalu banyak terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan tentang masalah yang belum terjangkau oleh nalarnya. Ia lebih banyak berada di antara anak-anak muda Sangkal Putung, yang nampaknya senang bergaul dengan anak muda yang bertubuh tinggi itu.

Namun sudah barang tentu, bahwa mereka yang berada di Sangkal Putung tidak selamanya akan tetap tinggal di Kademangan itu. Ki Waskita, Ki Widura dan bahkan kemudian Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Glagah Putih, merasa sudah cukup lama tinggal, setelah pemakaman Ki Sumangkar selesai.

Ketika mereka menyampaikan hal itu kepada Ki Demang dan Swandaru beserta istri dan adiknya, maka terasa sesuatu yang bergetar di hati mereka.

“Aku berada di tempat yang tidak terlalu jauh,” berkata Kiai Gringsing, “Aku berharap, bahwa padepokan kecil di Jati Anom itu akan dapat berkembang.”

“Tetapi padepokan itu tidak akan dapat memberikan harapan bagi masa datang, Guru,” sahut Swandaru, “sejak semula sudah aku katakan, sebaiknya dipertimbangkan kemungkinan lain yang lebih baik, daripada berada di padepokan terpencil itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sadar, bahwa Swandaru bermaksud mengatakan kepadanya. Seperti Sekar Mirah yang pernah menyatakan hal yang sama.

Tetapi perpisahan itu tidak dapat ditunda lagi. Setelah Kiai Gringsing memberikan banyak pesan kepada Swandaru, istrinya dan Sekar Mirah, tentang segala kemungkinan yang dapat terjadi dalam hubungannya dengan perguruan Pesisir Endut itu, maka akhirnya ia berkata, “Kau harus bertumpu pada kekuatan seluruh kademangan. Jika kau merasakan kekuatan sirep seperti yang pernah terjadi itu sekali lagi mencengkam rumah ini, maka kau harus membunyikan isyarat. Kekuatan sirep itu tidak akan dapat menjangkau sejauh bunyi kentongan. Sehingga dalam keadaan yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan, akan datang para pengawal dari luar pengaruh sirep itu.”

“Kekuatan sirep pun terbatas pada kesempatan tertentu. Jika dengan serta merta pengawal itu menjelajahi seluruh sudut yang diperkirakan terpengaruh oleh kekuatan sirep itu, maka mereka yang melepaskannya akan kehilangan kesempatan pemusatan ilmunya, sehingga pengaruhnya akan pecah. Apalagi jika mereka segera terlibat dalam benturan kekuatan, maka mereka tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk melakukannya.”

Swandaru mengangguk-angguk. Tetapi di dalam hati terbersit kepercayaannya kepada diri sendiri, bahwa ia tentu akan dapat mengatasi setiap kesulitan yang akan terjadi. Apalagi Swandaru yakin, beserta istri dan adik perempuannya, ia akan dapat menyelesaikan setiap kemungkinan yang akan dapat melanda Sangkal Putung.

Betapa beratnya, namun akhirnya Sangkal Putung terpaksa melepaskannya, beberapa orang yang sangat penting bagi mereka. Bagi Sekar Mirah, kepergian Agung Sedayu adalah kesepian yang sekali lagi akan mencengkam jantungnya.

Tetapi sekali lagi Sekar Mirah bertahan. Seolah-olah ia tidak terpengaruh sama sekali dengan kepergian Agung Sedayu. Bahkan seolah-olah ia melepaskannya dengan hati yang lapang terbuka.

“Semuanya tergantung kepadamu, Kakang,” berkata Sekar Mirah, “aku sudah cukup memberikan pendapatku bagi hari depan kita.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar sepenuhnya, yang sebenarnya diharapkan oleh Sekar Mirah adalah jauh daripada apa yang dilakukannya.

Pandan Wangi tidak banyak memberikan tanggapan atas keberangkatan Kiai Gringsing, Agung Sedayu serta Ki Widura dan Glagah Putih bahkan Ki Waskita yang akan singgah pula di padepokan kecil Agung Sedayu itu. Meskipun sebenarnya ia masih mengharap, agar mereka lebih lama tinggal di Kademangan Sangkal Putung, namun yang terjadi itu adalah wajar sekali. Seharusnya sudah dapat diketahui, sejak mereka datang sudah harus diperhitungkan, bahwa pada suatu saat mereka akan pergi.

Yang paling gembira justru adalah Glagah Putih. Ia akan mendapat kesempatan lagi untuk mempelajari ilmu bukan saja dari ayahnya sendiri, tetapi dari Agung Sedayu. Meskipun Agung Sedayu lebih muda dari ayahnya, tetapi lebih senang baginya belajar pada saudara sepupunya, daripada belajar kepada ayahnya sendiri. Agung Sedayu lebih sabar dan karena umurnya yang tidak terpaut banyak, maka ia akan dapat lebih leluasa dan tanpa segan untuk menyatakan pendapatnya.

Demikianlah, maka akhirnya mereka itu pun meninggalkan Sangkal Putung. Ki Demang yang merasa agak keberatan namun terpaksa melepas mereka sampai ke regol halaman, diikuti oleh anak-anak dan menantunya, serta beberapa orang bebahu kademangannya.

“Setiap saat kita akan dapat bertemu lagi,” berkata Kiai Gringsing, “jarak ini dapat ditempuh dalam waktu yang sangat pendek.”

Sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan kecil telah meninggalkan Sangkal Putung. Sekali-kali Agung Sedayu masih berpaling. Dilihatnya Sekar Mirah berdiri di antara mereka yang melepaskannya di regol halaman.

Namun ketika mereka sudah lewat sebuah tikungan, maka perjalanan itu pun menjadi semakin cepat. Tidak ada lagi di antara mereka yang berpaling.

Ketika iring-iringan itu sudah tidak tampak lagi, Swandaru yang masih ada di regol halaman Kademangan Sangkal Putung berkata, “Kita percaya akan kemampuan kita sendiri. Kita tidak perlu cemas, meskipun sebagian dari kekuatan yang ada di Kademangan ini pada saat yang gawat itu kini telah pergi.”

“Ingat-ingatlah pesan gurumu,” sahut ayahnya, “kau harus bertumpu pada kekuatan seluruhnya yang ada di kademangan ini.”

Swandaru tersenyum. Jawabnya, “Aku mengerti, Ayah. Dengan demikian kita masing-masing harus selalu membawa kentongan kemana kita pergi.”

“Ah, tentu bukan begitu maksudnya. Kita masing-masing tidak boleh terlalu sombong untuk menhadapi setiap kesulitan tanpa memberikan isyarat kepada para pengawal. Misalnya, seperti yang terjadi di saat terakhir, ketika rumah ini dan sekitarnya dicengkam oleh kekuatan sirep. Jika saat itu tidak ada Kiai Gringsing, Ki Waskita, Ki Widura dan Agung Sedayu, maka kekuatan yang ada di rumah ini tidak akan dapat menghadapi orang-orang yang datang itu. Adalah wajar sekali bahwa dalam keadaan seperti itu, kita memanggil para pengawal seperti yang dipesankan oleh Kiai Gringsing.”

Swandaru mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Ia tidak mau berbantah dengan ayahnya, meskipun sebenarnya ia tidak sependapat. Sementara Pandan Wangi hanya dapat menundukkan kepalanya. Meskipun ia tidak dapat membenarkan sikap Swandaru di hadapan ayahnya, namun ia tidak berani menegurnya dengan langsung.

Namun Pandan Wangi itu menjadi berdebar-debar, ketika ia tidak melihat lagi Sekar Mirah di antara mereka. Karena itu, maka ia pun dengan tergesa-gesa naik ke pendapa langsung menuju ke ruang dalam.

Sejenak Pandan Wangi termangu-mangu. Namun ia pun kemudian dengan hati-hati membuka pintu bilik Sekar Mirah.

Seperti yang diduga, didapatkannya Sekar Mirah menelungkup di pembaringannya. Setelah ia bertahan sekuat tenaga di hadapan Agung Sedayu dan Kiai Gringsing untuk mempertahankan sikapnya, maka meledaklah bendungan itu sepeninggal mereka. Betapapun kuat hatinya, namun Sekar Mirah adalah tetap seorang gadis. Terasa betapa gersang hari depan yang akan dimasukinya. Gurunya telah meninggalkannya untuk selamanya, sementara Agung Sedayu yang akan menjadi tempatnya bersandar, adalah seorang anak muda yang seakan-akan hidupnya tanpa cita-cita sama sekali. Ia menjalani hidup seperti yang dijalani. Tenang, tetapi gersang dan tiada harapan. Seolah-olah apa yang ada itu adalah bagian yang tersedia, tanpa dapat menawar lebih banyak lagi.

Pandan Wangi perlahan-lahan duduk di sisi Sekar Mirah, di bibir pembaringannya. Sebagai seorang perempuan, Pandan Wangi dapat meraba perasaan Sekar Mirah, meskipun tidak samai dengan perasaannya. Bagi Pandan Wangi, hari depan tidak terletak pada jenjang dan pangkat. Tidak pada kedudukan dan ketenaran. Tetapi hidup akan lebih mantap jika beralaskan kedamaian hati.

“Tetapi perbedaan sikap antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah adalah sumbu yang setiap saat dapat menyala dan membakar kedamaian itu, sehingga menjadi debu,” berkata Pandan Wangi di dalam hatinya.

Tetapi yang diucapkan di telinga Sekar Mirah adalah justru kata-kata yang penuh dengan harapan, seolah-olah bahwa yang nampak pada saat itu di hati Sekar Mirah bukannya sebenarnya akan terjadi.

“Pada suatu saat hatinya akan terbuka, Sekar Mirah,” berkata Pandan Wangi, “agaknya Agung Sedayu sedang berusaha untuk mematangkan bekalnya buat masa depan. Ia sudah pandai menguasai sastra dan bahasa. Ia sudah memiliki ilmu kanuragan yang sulit dicari bandingnya. Ia sudah meletakkan dasar hubungan dengan Mataram yang bakal berkembang.”

 

 

Sekar Mirah tidak menjawab. Namun isaknya tiba-tiba saja menurun.

Pandan Wangi membelai rambutnya yang kusut. Namun di luar sadarnya ia berkata kepada diri sendiri, “Agaknya Agung Sedayu telah memilih landasan hidup pada kedamaian hati itu, meskipun dengan banyak persoalan yang melibat dirinya, ia justru terdorong ke dalam putaran dendam dan kebencian.”

Pandan Wangi menggeleng lemah, ia tidak mau memandang terlalu jauh ke dalam diri Agung Sedayu dan membandingkannya dengan Swandaru, untuk menerawang kelebihan dan kekurangannya.

Sekar Mirah sama sekali tidak menjawab. Tetapi isaknya semakin lama menjadi semakin menurun. Kata-kata Pandan Wangi sedikit dapat memberikan ketenangan di hatinya yang gelisah. Ia pun mencoba untuk melihat, bahwa Agung Sedayu sedang sibuk untuk mengumpulkan bekal bagi hidupnya di masa depan.

Dalam pada itu, iring-iringan yang meninggalkan Sangkal Putung itu pun semakin lama menjadi semakin jauh. Mereka sudah memasuki bulak-bulak di antara padukuhan-padukuhan yang tersebar dari Kademangan Sangkal Putung. Mereka melintasi tanaman-tanaman yang hijau di sawah, dan kadang-kadang harus menganggukkan kepala jika mereka bertemu dengan orang-orang Sangkal Putung yang telah mengenal mereka, apalagi Agung Sedayu dan Kiai Gringsing. Sementara yang lain masih juga dapat mengenal Ki Widura yang pernah menjadi senapati prajurit Pajang di Sangkal Putung, saat pasukan Tohpati berkeliaran di sekitar kademangan yang subur itu.

Glagah Putih yang masih belum mengenal kademangan itu dengan baik, sekali-sekali bertanya kepada Agung Sedayu tentang sawah yang subur, parit yang seakan-akan tidak pernah kering.

“Swandaru adalah seorang anak muda yang penuh dengan usaha peningkatan tata kehidupan bagi kademangannya,” jawab Agung Sedayu.

Glagah Putih mengangguk angguk. Ia memang melihat tata kehidupan yang lebih baik di Sangkal Putung daripada di kademangan-kademangan lainnya. Jati Anom, yang termasuk kademangan yang baik, masih harus mengakui kemajuan Sangkal Putung dalam beberapa hal dapat ditiru.

“Di Jati Anom, kakang Untara-lah yang banyak memegang peranan,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya. Dan Glagah Putih pun tahu, bahwa Untara bukan bebahu kademangan. Tetapi ia adalah senapati prajurit Pajang yang berada di kademangan itu.

Ketika mereka lewat jalan padukuhan yang melalui beberapa tempat pandai besi sedang bekerja. Glagah Putih semakin tertarik kepada kademangan itu. Sekilas ia melihat betapa sibuknya pandai besi itu menyiapkan alat-alat pertanian. Namun ada di antara mereka yang sedang menempa sebilah pedang panjang.

“Mereka juga membuat senjata,” hampir di luar sadarnya Glagah Putih bergumam.

“Ya,” Agung Sedayu menyahut, “Sangkal Putung adalah kademangan yang dapat memenuhi segala kebutuhan sendiri. Bahan makan di Sangkal Putung tersedia, bahkan bagaikan melimpah. Pakaian Sangkal Putung telah membuat sendiri. Beberapa puluh orang menenun di seluruh kademangan. Sedangkan dari segi lain, Sangkal Putung dapat menjaga dirinya sendiri.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Sebentar lagi Sangkal Putung tentu akan menjadi sebuah kademangan yang paling besar di daerah ini. Bukan karena luas wilayahnya, tetapi karena isinya yang berlimpah.”

Agung Sedayu memandang adik sepupunya yang nampaknya dengan sungguh-sungguh memperhatikan kademangan itu. Namun ia tidak mengusik angan-angan Glagah Putih yang nampaknya sedang terbang memutari daerah Sangkal Putung yang cukup luas itu.

Namun kemudian ternyata, bahwa Glagah Putih tidak saja sedang merenungi sawah yang hijau, parit yang mengalir dan jalan jalan yang lebar dan rata. Tetapi ternyata bahwa Glagah Putih juga merenungi peristiwa yang hampir saja menyeretnya ke lubang kubur di sisi Ki Sumangkar.

Glagah Putih memandang bulak panjang yang sepi, yang menjadi arena pertempuran antara anak muda yang nampaknya seperti seorang petani kebanyakan, namun yang ternyata adalah Pangeran Benawa, melawan dua orang kakak beradik dengan akibat yang gawat di rumah Ki Demang Sangkal Putung.

“Sayang, tidak ada seorang pun yang membangunkan aku,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya, “sehingga aku tidak melihat perkelahian, yang tentu sangat sengitnya, yang terjadi di halaman rumah Ki Demang.”

Sebenarnyalah Glagah Putih menyesal, bahwa ia tidak dapat melihat apa yang terjadi, ia harus mendengar dari orang lain, bahwa Agung Sedayu telah berhasil memenangkan perang tanding melawan saudara dari kedua kakak beradik yang garang, yang datang dari Pesisir Endut.

“Siapakah sebenarnya yang lebih tinggi ilmunya,” bertanya Glagah Putih di dalam hatinya, “kakang Agung Sedayu atau Pangeran Benawa? Pangeran Benawa berhasil membunuh dua orang kakak beradik itu. Tetapi kakang Agung Sedayu menang dari saudara tua kedua orang itu.”

Di luar sadarnya, Glagah Putih telah membuat perbandingan-perbandingan. Ia mencoba melihat di angan-angannya. beberapa orang anak muda yang memiliki kelebihan. Agung Sedayu, Swandaru, Untara, Prastawa dan dua orang saudara angkat putra Sultan di Pajang, Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya.

“Prastawa agaknya masih ketinggalan,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya, “tetapi yang sulit diduga adalah antara kakang Agung Sedayu, Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya. Agaknya mereka sudah meningkat, sejajar dengan orang-orang tua yang namanya telah menggetarkan sebelumnya.”

Tetapi Glagah Putih menggeleng kecil. Katanya di dalam hati, “Aku tidak tahu. Seandainya tiba-tiba saja Kakang Agung Sedayu dipaksa untuk berperang tanding dengan salah seorang dari kesatria itu.”

Sesaat kemudian Glagah Putih telah mulai berangan-angan tentang dirinya. Ia justru merasa dirinya semakin kecil di antara saudara sepupunya dan anak-anak muda yang lain. Perasaan itulah yang agaknya telah mendorong kesanggupan di dalam dirinya, ia bukan lagi menjadi anak-anak yang dibiarkan tidur nyenyak saat di halaman terjadi perang tanding yang menentukan hidup atau mati.

“Aku sudah menjelang anak muda yang dewasa. Umurku tidak terpaut banyak dengan Kakang Agung Sedayu. Tetapi rasa-rasanya semua orang masih menganggap aku seperti anak kecil, yang hanya pantas bermain bentik daripada memegang hulu pedang.”

Demikianlah, maka iring-iringan itu pun semakin lama menjadi semakin jauh meninggalkan Sangkal Putung. Padukuhan yang terakhir dari Kademangan Sangkal Putung sudah lampau, sementara mereka mulai memasuki kademangan tetangga dari Kademangan Sangkal Putung. Namun sejak mereka memasuki bulaknya, maka sudah terasa perbedaan antara kedua kademangan yang bertetangga itu.

Agung Sedayu dan Glagah Putih berkuda di paling depan. Beberapa langkah mereka terpisah dari orang-orang tua yang berkuda di belakang mereka. Agaknya mereka sedang asyik berbincang tentang berbagai masalah yang terjadi di saat terakhir.

Di perjalanan, Agung Sedayu sempat bercerita tentang peristiwa yang hampir saja merenggut nyawanya, saat ia bersama Untara pergi ke Sangkal Putung di malam hari dalam hujan yang turun dengan lebatnya. Saat mereka tiba-tiba saja bertemu dengan beberapa orang yang berilmu tinggi, pengikut Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan.

Glagah Putih mendengar cerita itu dengan asyiknya. Ia pernah mendengar cerita itu sebelumnya. Tetapi ia tidak pernah menjadi jemu. Pada cerita itu ia melihat, bahwa pada mulanya Agung Sedayu pun adalah seorang anak muda yang lemah, bahkan seorang penakut.

“Aku mulai pada keadaan yang lebih baik dari kakang Agung Sedayu,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya.

Di luar sadarnya, maka kuda Glagah Putih pun berlari semakin cepat. Agung Sedayu yang hanya mengimbanginya, berpacu pula di sisinya, menuju ke padepokan kecilnya di sebelah kademangan Jati Anom, di daerah pategalan yang semula merupakan daerah yang ditanami palawija.

Perjalanan itu memang bukannya perjalanan yang terlalu jauh. Mereka masih harus menelusuri jalan di tepi sebuah hutan yang tidak terlalu luas. Namun kemudian, mereka segera melintasi bulak-bulak panjang memasuki kademangan-kademangan yang lain, menuju ke Jati Anom.

Kedua anak muda itu memperlambat kuda mereka, ketika mereka melihat tiga orang berkuda dari arah yang berlawanan.

“Tiga orang prajurit,” berkata Glagah Putih.

Agung Sedayu mengangguk. Mereka adalah tiga orang prajurit dari Jati Anom yang sedang meronda. Kerena itu, maka Agung Sedayu pun membiarkan Glagah Putih berkuda di depannya, tidak lagi di sisinya, untuk memberi jalan kepada para prajurit yang berpapasan itu.

Tetapi ternyata kemudian, bahwa ketiga orang prajurit itu tidak berkuda terus. Salah seorang dari ketiganya telah berhenti di tengah jalan sambil mengangkat tangannya.

“Kita pun harus berhenti,” berkata Agung Sedayu kepada Glagah Putih.

“Kenapa?” berkata Glagah Putih.

“Kita tidak tahu. Tetapi barangkali hanya karena prajurit-prajurit itu ingin berhati-hati dalam keadaan seperti sekarang.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. ia pun kemudian menarik kekang kudanya, ketika ia sudah berada beberapa langkah di hadapan prajurit itu.

“Siapa kalian?” bertanya prajurit itu.

“Agung Sedayu, dari Jati Anom,” jawab Agung Sedayu.

“Kau berdua berjalan seiring dengan orang-orang berkuda di belakang kalian itu, atau kebetulan saja kalian bersama mereka?”

“Itu adalah orang tua kami,” jawab Agung Sedayu. Prajurit itu mengerutkan keningnya. Mereka melihat orang-orang tua yang berkuda semakin dekat.

Namun dalam pada itu, Glagah Putih berkata, “Apakah kalian tidak mengenal Kakang Agung Sedayu atau ayahku yang bernama Ki Widura?”

Ketiga orang prajurit itu menegang sejenak. Salah seorang dari mereka bertanya, “Siapakah Agung Sedayu dan siapakah Ki Widura?”

“Apakah kalian prajurit-prajurit yang belum lama dipindahkan ke Jati Anom?” bertanya Glagah Putih pula.

“Kenapa?” prajurit itu ganti bertanya.

“Jika kalian sudah lama di sini, kalian tentu mengenal Agung Sedayu dan Ki Widura.”

Yang tertua dari ketiga prajurit itu tiba-tiba saja tersenyum. Katanya. “Menarik sekali. Tetapi sayang, anak muda. Aku belum mengenalnya. Aku dan kedua kawanku ini memang orang-orang baru di Jati Anom.”

Glagah Putih memandang Agung Sedayu yang termangu-mangu. Tetapi ia kecewa, karena Agung Sedayu tidak segera menyatakan dirinya.

Akhirnya Glagah Putih tidak telaten. Ia-lah yang kemudian berkata, “Kakang Agung Sedayu ini adalah adik Kakang Untara. Dan ayahku, Ki Widura adalah bekas seorang perwira yang terakhir mendapat tugas di Sangkal Putung untuk menghadapi sisa-sisa laskar Tohpati.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa, “Maafkan kami anak-anak muda. Kami memang belum mengenal kalian, meskipun kami telah mendengar nama Agung Sedayu. Mula-mula kami tidak teringat akan nama itu, jika kau tidak mengatakan bahwa Agung Sedayu adalah adik Ki Untara. Dan kamipun hampir-hampir lupa nama Ki Widura yang sudah lama tidak lagi bertugas menjadi prajurit. Tapi secara pribadi aku memang belum mengenal Ki Widura itu.”

Agung Sedayu sendiri hanya menarik nafas saja. Sekilas ia berpaling memandangi wajah Glagah Putih. Tetapi nampak di sorot wajah itu, bahwa ia mengatakan semuanya dengan jujur tanpa maksud-maksud tertentu.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan Ki Waskita menjadi semakin dekat. Ketika mereka berhenti, maka Ki Widura-lah yang maju beberapa langkah mendekati para perwira itu.

“Aku, Widura,” katanya memperkenalkan diri.

Dan prajurit itu menjawab, “Ya, kami sudah mendengar dari anak muda itu, bahwa di antara kalian adalah Ki Widura,” prajurit itu berhenti sejenak. Lalu, “kami memang tidak bermaksud menghentikan perjalanan kalian. Kami hanya ingin tahu, siapakah kalian yang berkuda bersama-sama dalam kelompok kecil ini.”

“Kami akan kembali ke Jati Anom,” berkata Widura.

“Kami tahu sekarang,” sahut prajurit-prajurit itu, “Kalian tentu datang dari Sangkal Putung, dalam rangka pemakaman Ki Sumangkar. Agaknya kalian berada di kademangan itu beberapa hari.”

Ki Widura termangu-mangu sejenak. Kemudian sambil mengangguk-angguk menjawab, “Ya, Ki Sanak. Kami memang tinggal beberapa hari di Sangkal Putung agar keluarga Ki Demang tidak merasa terlalu sepi, sesaat setelah pemakaman selesai,”

Prajurit itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Baiklah. Silahkan melanjutkan perjalanan. Kami pun akan meneruskan tugas kami.”

“Kalian meronda?” bertanya Ki Widura.

“Ya. Kami meronda Kademangan Jati Anom dan kademangan-kademangan di sekitarnya.”

“Apakah dirasa perlu sekali untuk meningkatkan perondaan?”

Prajurit itu tersenyum. Katanya, “Tidak. Aku kira yang kami lakukan bukannya suatu peningkatan. Tetapi demikianlah agaknya yang memang harus kita lakukan.”

Ki Widura menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Sudahlah. Kami minta diri untuk melanjutkan perjalanan.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk dan memberikan jalan kepada kelompok kecil itu untuk meneruskan perjalanan, sementara mereka sendiri pun kemudian melanjutkan perjalanan pula ke arah yang berlawanan.

Peristiwa itu tidak banyak menimbulkan persoalan. Glagah Putih segera melupakannya. Apalagi ketika ia kemudian berpacu mendahului Agung Sedayu dan orang-orang tua yang mengiringi mereka.

Namun ternyata hal itu telah menimbulkan berbagai macam perhitungan bagi Agung Sedayu dan orang-orang tua yang menyertainya. Dengan demikian mereka mengetahui, bahwa di Jati Anom telah terjadi perubahan, di antara para prajurit yang bertugas di Jati Anom itu telah dianggap cukup lama, sehingga beberapa kelompok di antara mereka telah ditarik kembali ke Pajang dan diganti dengan orang-orang baru.

“Jika masalahnya hanya sekedar bertukar tugas, karena mereka telah terlalu lama tinggal di kademangan di lereng gunung, itu masih merupakan hal yang biasa,” berkata Ki Widura di dalam hatinya, “tetapi jika pergantian itu disertai dengan perhitungan-perhitungan tertentu, atau disertai dengan pesan-pesan tertentu dari beberapa orang yang telah mengotori sikap keprajuritan di Pajang, maka masalahnya akan menjadi cukup gawat. Mereka akan membawa pesan dalam tingkah laku dan sikap bagi kepentingan seseorang atau sekelompok orang, yang pada dasarnya mempunyai pamrih pribadi yang berlebih-lebihan.”

“Tapi Untara bukan anak-anak lagi,” Ki Widura mencoba menenangkan hatinya sendiri, “ia akan dapat melihat, apakah prajurit-prajurit yang diperbantukan kepadanya, sesuai dengan sikap dan pendiriannya.”

Ternyata bukan saja Ki Widura yang menjadi cemas melihat keadaan itu. Kiai Gringsing justru melihat kemungkinan yang lebih suram lagi. Orang-orang yang mempunyai wewenang di Pajang, sementara mereka berusaha dengan segala cara di luar jalur keprajuritan, telah menentukan langkah-langkah yang dapat mempersulitkan kedudukan Untara, justru karena ia berada di daerah yang berhadapan langsung dengan Mataram.

“Mungkin aku terlalu berprasangka,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Sementara itu, kuda-kuda mereka berlari tidak terlalu kencang di bulak-bulak yang memisahkan padukuhan-padukuhan besar dan kecil. Seperti semula mereka tidak berjalan beriringan. Tetapi Agung Sedayu mengikuti Glagah Putih yang berpacu di depan, sementara orang-orang tua berada agak jauh di belakang.

Dalam pada itu, di luar sadarnya, Agung Sedayu tiba-tiba saja berpaling. Ada sesuatu yang ingin dilihat pada prajurit-prajurit yang baru saja berpapasan.

Namun terasa hati Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Meskipun sudah agak jauh, namun matanya yang tajam masih sempat melihat, seorang di antara para prajurit itu memisahkan diri.

“Menarik sekali,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Ternyata bahwa sikap Agung Sedayu itu dilihat oleh orang-orang tua yang berkuda di belakang. Hampir serentak mereka pun berpaling. Seperti Agung Sedayu, mereka pun melihat seorang dari prajurit-prajurit itu telah melintasi jalan simpang, menempuh perjalanan yang terpisah dari kedua orang kawannya.

Agaknya karena keadaan mereka, maka setiap peristiwa yang agak menyimpang, telah menjadi perhatian mereka. Seorang di antara prajurit-prajurit yang memisahkan diri itu pun telah menarik perhatian mereka.

Betapapun Kiai Gringsing mencoba menenangkan hatinya, namun ia tidak dapat mengesampingkan peristiwa yang dilihatnya itu. Kecurigaannya mulai tumbuh.

Ketika ia memandang Ki Widura di luar sadarnya, ia melihat kesan yang sama di wajahnya. Bahkan Kiai Gringsing kemudian melihat pula kerut merut di kening Ki Waskita.

Sejenak Kiai Gringsing termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Agaknya ada sesuatu yang akan dilakukan oleh prajurit yang memisahkan diri itu.”

Ki Widura mengangguk kecil. Dengan nada datar ia menyahut, “Yang terjadi di saat-saat terakhir adalah ketidak-pastian, siapakah yang sebenarnya mempunyai maksud-maksud kurang baik, khususnya terhadap Angger Agung Sedayu. Itulah sebabnya kita mudah mencurigai seseorang. Nampaknya Angger Agung Sedayu melihat prajurit yang memisahkan diri itu, sehingga ia pun telah disentuh oleh perasaan curiga pula.”

Ki Waskita pun mengangguk-angguk pula. Sekali lagi ia berpaling. Tetapi prajurit yang memisahkan diri itu sudah hilang di balik padukuhan.

“Mudah-mudahan prajurit itu tidak bermaksud buruk,” desisnya.

Tiba-tiba saja Kiai Gringsing pun tersenyum. Desisnya, “Kita adalah orang-orang tua yang terlalu dihantui oleh bayangan buruk di hati kita sendiri.”

Ki Widura dan Ki Waskita pun tersenyum pula. Ketika mereka memandang ke depan, mereka melihat Agung Sedayu telah menjadi semakin jauh menyusul Glagah Putih.

“Hatikulah yang agaknya ditumbuhi bulu-bulu tikus,” berkata Kiai Gringsing, “namun tiba-tiba saja aku menjadi khawatir.”

Ki Widura dan Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Dipandanginya debu putih yang terlempar dari kaki kuda Agung Sedayu.

Sambil menarik nafas panjang. Ki Waskita berkata, “Adalah wajar sekali jika kita merasa khawatir. Yang telah terjadi di Mataram dan di Sangkal Putung, membuat kita seolah-olah selalu dikerumuni oleh orang-orang yang dengan rahasia bermaksud buruk, tanpa berani menunjukkan sikap yang jantan. Di Sangkal Putung, kakak dari dua bersaudara dari Pesisir Endut itu pun sebelumnya telah mencoba melumpuhkan daya tahan Agung Sedayu dengan ilmu sirepnya. Meskipun nampaknya ia dengan jantan menantang perang tanding, tetapi ia berharap bahwa Agung Sedayu telah terpengaruh oleh kekuatan ilmunya, sehingga ia tidak dapat mempergunakan segenap kemampuannya. Tetapi agaknya ia keliru.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Kecemasannya memang agak sulit untuk disingkirkan dari hatinya. Seperti yang dikatakan oleh Ki Waskita, seolah-olah setiap orang telah berusaha untuk menyingkirkan Agung Sedayu dengan cara masing-masing.

Dalam pada itu, Agung Sedayu memacu kudanya, menyusul Glagah Putih. Namun adik sepupunya itu tiba-tiba saja ingin bergurau. Ketika ia melihat Agung Sedayu menyusulnya, maka kudanya pun berpacu semakin cepat.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia tahu Glagah Putih bergurau. Tetapi kecurigaannya terhadap prajurit yang memisahkan diri itu telah mengekangnya. Ia tidak menyusul Glagah Putih semakin cepat, agar Glagah Putih tidak semakin cepat memacu kudanya.

Sebenarnyalah, bahwa prajurit yang memisahkan diri itu mempunyai niat yang khusus terhadap kehadiran Agung Sedayu. Seperti yang diduga, bahwa di antara orang-orang baru yang ada di Jati Anom terdapat beberapa orang yang termasuk jalur kekuatan orang yang disebut Kakang Panji di Pajang.

Dengan tergesa-gesa orang itu kembali ke baraknya. Ia tidak melaporkan kepada perwira yang sedang bertugas, tetapi ia langsung mencari seorang perwira yang menjadi salah satu jalur penghubung orang yang disebut Kakang Panji.

“Mereka telah kembali,” prajurit itu melaporkannya.

Perwira itu ragu-ragu sejenak. Kemudian katanya, “Pergilah. Jangan bodoh. Apakah kau sedang bertugas, sehingga kau dapat melihat Agung Sedayu datang kembali ke Jati Anom?”

“Ya. Kami sedang meronda.”

“Itulah kebodohanmu. Cepat, pergilah.”

“Tetapi, bukankah Ki Pringgajaya memerintahkan kami untuk mengawasi, jika Agung Sedayu kembali ke padepokan kecilnya?”

“Tetapi jangan bertindak bodoh. Kau sedang nganglang.”

“Dua orang kawan kami meneruskan tugas kami.”

Wajah perwira yang bernama Pringgajaya itu menjadi merah. Sekali lagi ia membentak, “Cepat pergi sebelum aku usir kau dengan kasar!”

Prajurit itu tidak menjawab. Tetapi ia pun segera pergi meninggalkan Ki Pringgajaya, menyusul kawan-kawannya yang sedang nganglang.

 

 

Sejenak, Ki Pringgajaya termangu-mangu. Tetapi ketika ia tidak melihat orang lain memperhatikannya, maka ia pun segera masuk kembali ke dalam biliknya.

Namun dalam pada itu, ketika prajurit yang melaporkannya keluar dari halaman baraknya, seorang kawannya bertanya, “Bukankah kau hari ini bertugas di rumah Ki Untara?”

“Ya. Aku mengambil sesuatu yang tertinggal. Aku sudah mendapat ijin.”

Kawannya tidak menghiraukannya lagi. Karena itu, maka prajurit itu pun meneruskan perjalanannya.

Tetapi ketika kudanya meloncat untuk berlari, tiba-tiba saja ia menarik kendalinya ketika mendengar namanya dipanggil. Dengan berdebar-debar ia berpaling. Dilihatnya seorang prajurit muda berlari-lari menyusulnya.

“Kenapa kau kembali?”

“Aku mengambil sesuatu yang tertinggal. Aku sudah mendapat ijin,” jawabnya.

“Dari Ki Untara?” bertanya prajurit muda yang berlari-lari itu.

“Bukan. Dari perwira yang bertugas.”

Tetapi prajurit muda itu tersenyum. Katanya, “Bukankah kau baru nganglang? Kau saat ini seharusnya meronda bersama dua orang prajurit.”

“Ya. Karena itu aku sempat singgah sebentar. Sekarang aku akan menyusul mereka. Dari pimpinan kelompok itulah aku mendapat ijin.”

“Kau mengabarkan tentang kehadiran Agung Sedayu?” tiba-tiba saja prajurit muda itu bertanya.

Pertanyaan itu telah menampar jantungnya, sehingga serasa darahnya terhenti mengalir.

“Kau tidak usah terkejut. Kau bertemu dengan iring-iringan kecil dari Sangkal Putung. Kemudian kau dengan tergesa-gesa melaporkannya kepada Ki Pringgajaya.”

“Bohong.”

“Jangan ingkar. Aku melihat dari kejauhan tanpa sengaja. Aku berada di rumah kawanku, di pinggir padukuhan. Aku berdiri di mulut jalan ketika kau bertemu Agung Sedayu di bulak. Kemudian kau memisahkan diri dari kawan-kawanmu. Kecurigaanku timbul saat itu, sehingga aku pun tergesa-gesa kembali.”

“Kenapa kau berada di padukuhan itu?”

“Aku libur hari ini, setelah kemarin aku bertugas. Nah, apakah kau masih ingkar?”

“Persetan. Aku dapat membunuhmu dengan tingkah lakumu yang gila itu tanpa meninggalkan jejak.”

“Jangan mengancam. Aku akan menutup mulut jika kau berbaik hati terhadapku.”

“Apa? Apa yang kau kehendaki?”

Prajurit muda itu tertawa. Katanya, “Aku tahu apa yang selama ini kalian lakukan. Meskipun mula-mula secara kebetulan, tetapi akhirnya aku dapat mengambil kesimpulan dari tingkah lakumu.”

Wajah prajurit yang baru saja melaporkan kehadiran Agung Sedayu itu menjadi tegang. Tetapi ia masih tetap menahan diri.

Namun tiba-tiba saja prajurit yang melaporkan kedatangan Agung Sedayu itu tertawa. Katanya, “Akhirnya aku tahu, bahwa kaulah yang selama ini mengintip tingkah lakuku. Baiklah, aku tidak akan marah. Seandainya kau mengetahui, bahwa aku telah memberitahukan kedatangan Agung Sedayu kepada Ki Pringgajaya aku tidak berkeberatan. Apakah salahnya?”

Prajurit muda yang menyusul itu pun mengerutkan keningnya. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Jangan berpura-pura. Aku tahu latar belakang dari kegiatanmu di sini selain karena tugasmu sebagai seorang prajurit.”

“Sebutkan?”

“Kau bertugas mengamat-amati Agung Sedayu karena Agung Sedayu adalah seorang yang menurut pihakmu merupakan penghalang yang besar bagi perjuangan mereka. He, apakah bukan begitu? Bukankah kau termasuk salah seorang pengikut dari mereka yang ingin menegakkan warisan dari kerajaan Majapahit lama?”

Wajah prajurit itu menegang. Sorot matanya menjadi merah, seolah-olah sedang menyala.

“Kau memang harus dibunuh,” berkata prajurit itu. Tanpa sesadarnya ia telah memandang berkeliling. Tetapi ia melihat satu dua orang lewat di ujung jalan.

“He, kau akan membunuh aku sekarang?” bertanya prajurit muda itu.

Prajurit yang berada di punggung kuda menggeram. Katanya, “Jika tidak sekarang, maka segera aku akan membunuhmu. Menyeretmu ke tempat yang sepi, kemudian menguburmu tanpa diketahui orang lain.”

Prajurit muda itu tertawa, sedang yang di punggung kuda, berkata terus, “Sebenarnya bagiku tidak terlalu sulit untuk mencari siapakah yang berkhianat jika terjadi sesuatu atasku. Aku dapat melaporkan kepada kawan-kawanku, jika terjadi sesuatu dengan aku atau salah seorang kawanku, maka kau akan menjadi sasaran pembalasan.”

“Kau masih mengancam terus. Ketahuilah, bahwa aku tidak akan pernah takut akan ancaman yang bagaimanapun juga. Seandainya terpaksa aku harus berkelahi melawanmu, aku juga tidak takut. Jika kau ingin memfitnah aku, aku pun mempunyai tangkisan yang kuat dari sudut pandangan yang manapun.”

Prajurit di atas punggung kuda itu pun kemudian menggeram, “Apakah sebenarnya yang kau kehendaki?”

“Nah, pertanyaan itulah yang seharusnya kita bicarakan.”

“Aku sudah bertanya seperti itu tadi.”

“Baiklah. Dengarlah. Kau adalah salah seorang pengikut dari mereka yang menyebut dirinya pewaris kerajaan Majapahit itu. Kau tentu ingin Agung Sedayu mati terbunuh,” ia berhenti sejenak. Lalu, “tetapi pesanku, jangan mendahului aku. Maksudku, serahkan saja kepadaku, aku-lah yang akan menentukan saat-saat kematian Agung Sedayu. Aku adalah orang yang paling mendendam kepada Agung Sedayu.”

“Kenapa?”

“Ia telah membunuh ayahku.”

Prajurit di atas punggung kuda itu terkejut. Di luar sadarnya ia telah meloncat turun. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapa ayahmu itu, dan kenapa ia dibunuh oleh Agung Sedayu?”

Prajurit muda itu tertawa. Katanya, “Umurku tentu hampir sebaya dengan Agung Sedayu. Mungkin aku lebih tua satu dua tahun.”

“Aku bertanya, siapa ayahmu?” potong prajurit itu.

“Ayahku adalah Kiai Sabungsanga, yang juga dikenal dengan gelar Candramawa. Tetapi banyak orang yang mengenalnya dengan nama Ki Gede Telengan.”

“Telengan?” prajurit itu pun berdesis, “Jadi, kau anak Telengan?”

“Ya. Aku adalah anak Telengan yang mewarisi segala ilmunya. Karena itu, jangan mengancam lagi agar kau tidak mati terbakar oleh api yang menyala dari mataku,” berkata prajurit muda itu.

Lawannya berbincang itu pun menjadi tegang. Ia termangu-mangu ketika prajurit muda itu tertawa. Namun tiba-tiba ia membentak, “Jangan menakut-nakuti aku.”

Tetapi suaranya terdengar hambar dan ragu-ragu.

“Baiklah. Aku tidak menakut-nakutimu. Aku hanya minta, berilah aku kesempatan melepaskan dendam ayahku. Aku harus membunuh Agung Sedayu. Itulah sebabnya, aku menjadi prajurit meskipun yang paling rendah, sengaja untuk mencari kesempatan berada di Jati Anom. Aku pun tahu segala persoalan tentang pewarisan Kerajaan Majapahit. Aku menyesal, bahwa aku tidak ikut berada di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu saat itu.”

“Siapa kau sebenarnya.”

“Sudah aku katakan.”

“Maksudku, siapa namamu sebenarnya.”

Prajurit muda itu tersenyum. Jawabnya, “Panggil aku seperti kau menyebut namaku sehari-hari. Sabungsari. Itu memang namaku. Tetapi orang-orang dari perguruan Telengan menyebutku Ontang-anting, karena aku adalah anak tunggal Ki Gede Sabungsanga.”

Prajurit yang telah turun dari kudanya itu menjadi berdebar-debar, namun ia masih ragu-ragu, apakah benar yang dihadapinya itu anak muda yang mempunyai kemampuan melampui prajurit kebanyakan.

Agaknya anak muda yang bernama Sabungsari itu menyadari, bahwa prajurit itu masih tetap ragu-ragu. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berkata, “He, kau lihat kambing terikat di pohon jarak itu.”

Prajurit itu ragu-ragu. Namun sebelum ia menyahut, maka ia melihat Sabungsari memusatkan indranya memandang kambing yang terikat itu. Yang terdengar kambing itu memekik, kemudian jatuh terguling di tanah. Mati.

“Aku hanya bermain-main,” berkata Sabungsari, “jika aku bersungguh-sungguh, maka kekuatanku melampaui kekuatan pandangan mata ayahku yang telah terbunuh oleh Agung Sedayu. Ada kekhilafan ayah pada waktu itu. Ayah melupakan landasan jasmaniahnya. Di lembah antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi, ternyata tidak banyak terdapat kunir yang menjadi makanan pokok Ayah dan aku sekarang ini.”

Prajurit yang sudah turun dari kuda itu termangu-mangu. Ia melihat suatu kenyataan yang di luar jangkauan nalarnya. Yang terjadi adalah suatu yang menggetarkan dadanya.

Namun demikian prajurit itu berkata, “Aku tidak yakin, bahwa yang aku lihat itu benar-benar seperti yang terjadi. Mungkin kau adalah seorang yang dapat mengelabui mataku, sehingga seolah-olah aku melihat kambing itu mati.”

“Memang mungkin. Tetapi jika kau ingin meyakinkan, maka kaulah yang akan menjadi sasaran. Kau akan percaya sebelum nyawamu lepas dari tubuhmu.”

Prajurit itu menjadi tegang. Wajahnya merah sekilas.

Namun ia tidak berani berbuat apa-apa. Nampaknya anak muda itu benar-benar meyakini kata-katanya.

“Sekarang, pergilah. Katakan kepada kawan-kawanmu, jangan mengganggu Agung Sedayu. Membunuh Agung Sedayu bagi kalian adalah tugas yang besar. Tetapi bagiku, selain tugas juga merupakan tanda bakti seorang anak laki-laki yang sudah diwarisi ilmu kanuragan oleh ayahnya. Aku yakin bahwa bagi kalian, siapapun yang membunuh tidak menjadi soal. Bahkan kalian telah minta tikus-tikus kecil dari Pesisir Endut itu untuk membunuhnya. Tetapi dua orang di antara mereka telah dibunuh oleh Pangeran Benawa yang lemah hati itu.”

“Kau tahu segala-galanya.”

“Aku berusaha untuk mengetahui dan aku mempunyai mata dan telinga yang berkeliaran, meskipun aku di sini.”

“Tetapi, aku sama sekali tidak yakin akan kata-katamu, bahwa kau mempunyai makanan pokok sebangsa empon-empon. Aku melihat setiap hari kau makan rangsum seperti kami. Nasi dengan segala lauk-pauknya.”

Sabungsari tertawa. Katanya, “Aku makan seperti kalian makan. Tetapi di samping itu aku makan sebangsa empon-empon, terutama jenis kunir. Aku juga makan jenis yang lain. Tetapi aku tidak pernah makan daun kangkung dan daun lumbu wungu.”

Prajurit yang baru saja melapor itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun tersentak ketika Sabungsari berkata, “Pergilah. Ingat-ingatlah kata-kataku. Anggaplah aku akan membantumu, daripada kau menunggu orang-orang Pasisir Endut atau orang-orang dari perguruan Carang Waja yang tidak berarti itu.”

“Aku akan menyampaikan kepada Ki Pringgajaya.”

Sabungsari tertawa. Katanya, “Pringgajaya memang harus diberi tahu. Hanya diberi tahu, bukan minta ijin daripadanya. Juga Untara akan dengan mudah dapat aku bunuh, karena sebenarnya Untara tidak akan dapat mengimbangi kemampuan adiknya. Mungkin dalam ilmu keprajuritan, Untara mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Tetapi secara pribadi dalam olah kanuragan, Agung Sedayu jelas lebih baik dari kakaknya.”

Lawannya berbicara tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian meloncat ke punggung kudanya.

“Aku akan melaporkannya.”

Sabungsari mundur selangkah. Kemudian sambil bertolak pinggang ia melihat prajurit yang sudah berada di punggung kuda itu siap untuk berpacu.

“Aku juga akan pergi,” berkata Sabungsari, “jika gembala yang mengikat kambing di pohon jarak itu datang dan melihat kambingnya mati, ia akan menangis meraung-raung. Aku tidak akan sampai hati melihatnya, karena aku adalah seseorang yang penuh dengan rasa iba dan belas kasihan.”

Prajurit di atas punggung kuda itu tidak menyahut. Tiba-tiba saja ujung kendali kuda itu telah bergetar menyentuh tengkuk, sehingga kuda itu meloncat dan berlari kencang.

Prajurit muda itu tertawa. Ia sadar, bahwa prajurit berkuda itu merasa cemas, bahwa tiba-tiba saja ia telah menyerang dengan ilmunya yang aneh itu.

“Bertahun-tahun aku mempelajarinya,” gumam Sabungsari, “sayang, aku harus melepas ayah pergi untuk selama-lamanya. Tetapi aku yakin, bahwa ilmuku tidak kalah lagi dari ilmunya.”

Prajurit berkuda itu menjadi semakin jauh. Sabungsari pun kemudian melangkah pergi. Ia pasti, bahwa prajurit itu dan kawan-kawannya, termasuk Pringgajaya tidak akan mengatakan kepada siapapun tentang dirinya.

Dan ia pun pasti, bahwa mereka akan bersenang hati jika ia berhasil membunuh Agung Sedayu.

“Dendam itu harus aku lepaskan,” akhirnya ia menggeram.

Dalam pada itu, prajurit berkuda itu pun telah memacu kudanya. Ia harus menemui kawan-kawannya di tempat yang sudah ditentukan. Di pinggir kali, di sebelah pategalan yang luas, di luar Kademangan Jati Anom.

“Aku bertemu dengan seseorang, yang sama sekali tidak kita duga memiliki kemampuan setan,” berkata prajurit itu.

Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Salah seorang dari mereka berkata, “Ceritakan, apakah kau telah bertemu dengan Ki Pringgajaya? Apa yang telah terjadi setelah kau bertemu dengan Ki Pringgajaya?”

“Ki Pringgajaya menganggap kita sangat bodoh dan telah melakukan kesalahan, justru karena aku datang ke barak, di saat aku sedang bertugas. Tetapi kawan-kawan yang lain agaknya tidak menghiraukan,. Ada saja yang pernah singgah sejenak di barak saat sedang meronda. Dan aku pun berbuat seperti mereka itu. Namun, prajurit baru yang masih muda yang bernama Sabungsari itulah yang gila.”

Prajurit itu menceritakan apa yang dikehendaki, dan bagaimana ia telah membunuh seekor kambing.

“Kau tidak disihirnya”

“Tidak. Kambing itu benar-benar mati. Aku kira ia dapat membunuh seseorang dengan cara yang sama. Dan Agung Sedayu akan mati jika ia pada suatu saat bertempur dengan Sabungsari, yang juga dipangil Ontang-anting.”

“Kita akan menyampaikannya kepada Ki Pringgajaya.”

“Ia tentu tidak akan berkeberatan,” desis yang seorang.

Tetapi yang lain menggeleng. Katanya, “Belum yakin.”

Sejenak ketiga orang itu termangu-mangu. Nampaknya mereka sedang merenungi peristiwa yang baru saja disaksikan oleh salah seorang dari mereka.

“Nanti malam, setelah tugas kita selesai dan digantikan oleh orang lain, kita akan berbicara dengan Ki Pringgajaya. Kita ingin tahu dengan pasti sikapnya, agar kita tidak salah langkah,” berkata salah seorang dari mereka.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Kemudian yang lain berkata, “Sekarang kita lanjutkan perjalanan kita. Kita masih harus memutari empat padukuhan lagi.”

Ketiga orang itu pun kemudian meneruskan tugas mereka meronda. Pada saatnya, mereka pun segera kembali ke induk pasukan peronda yang sedang bertugas, bertempat di bagian samping halaman rumah Ki Untara, di sebelah sebuah gardu yang agak besar di halaman itu, yang memang dibuat khusus setelah rumah itu dipergunakan oleh prajurit Pajang.

Tidak banyak yang mereka percakapkan selama mereka bertugas. Mereka tidak mengetahui dengan pasti, siapa sajakah yang mempunyai landasan berpijak sesuai dengan tugas mereka.

Menjelang malam, mereka mendapat kesempatan untuk beristirahat. Tetapi mereka masih harus kembali ke halaman rumah Ki Untara, karena mereka masih harus bertugas di malam hari.

Dengan ijin pimpinan mereka, maka ketiga orang itu pun meninggalkan halaman itu untuk menemui Ki Pringgajaya di baraknya, yang tidak terlalu jauh dari rumah Ki Untara.

“Jangan terlalu lama. Menjelang tengah malam satu kelompok di antara kita akan nganglang. Saat itu kalian harus sudah berada di halaman ini kembali.”

“Kami hanya sebentar, Ki Lurah. Mandi ke sungai, dan menghirup angin.”

Demikian mereka keluar halaman, maka langkah mereka menjadi cepat. Mereka tidak mau kehilangan waktu, agar mereka dapat berbicara agak panjang dengan Ki Pringgajaya.

“Masuklah ke dalam barak. Jika kita bertiga bersama-sama, maka tentu akan menarik perhatian, karena kita bertiga bersama-sama sedang bertugas,” berkata salah seorang dari mereka.

Karena itulah, maka yang kemudian masuk ke dalam barak hanyalah seorang saja di antara mereka, sehingga kawan-kawannya yang melihat tidak menghiraukannya.

“Kami bertiga,” berkata prajurit itu setelah ia bertemu dengan Ki Pringgajaya.

“Kalian memang gila, bodoh dan tidak mempunyai perhitungan.”

“Hanya akulah yang masuk ke dalam barak. Yang lain berada di luar. Kami sudah mendapat ijin dari Ki Lurah yang bertugas saat ini, untuk pergi ke sungai dan berjalan-jalan sebentar.”

Ki Pringgajaya merenung sejenak. Kemudian katanya, “Pergilah. Aku akan menyusul kalian.”

“Kami menunggu di pinggir kali, di bawah pohon sukun, di sudut pategalan itu,” berkata prajurit yang datang menemuinya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pringgajaya dan ketiga orang prajurit yang menunggunya, telah duduk melingkar di bawah sebatang pohon sukun yang besar. Malam yang semakin gelap telah menyelubungi mereka, sehingga seakan-akan mereka telah menyatu dengan hitamnya kekelaman.

“Katakan, apa yang kau lihat.”

Salah seorang dari ketiga prajurit itu pun segera menceritakan, bahwa mereka telah melihat Agung Sedayu bersama gurunya dan Ki Widura telah memasuki padepokannya kembali.

Pringgajaya mengangguk-angguk. Katanya, “Kita harus mengatur langkah-langkah selanjutnya.”

“Tetapi masih ada persoalan yang harus dipertimbangkan,” berkata prajurit itu pula.

“Semuanya harus dipertimbangkan sebaik-baiknya.”

“Maksudku, ada pihak ketiga yang ikut campur dengan persoalan Agung Sedayu.”

“Siapa?” Pringgajaya menggeram.

Prajurit yang telah bertemu dengan Sabungsari itu pun segera menceritakan tentang prajurit muda itu.

“Sabungsari, prajurit muda yang baru di angkat itu?” bertanya Pringgajaya.

“Ya. Ternyata bahwa ia berada di dalam lingkungan keprajuritan hanyalah sekedar dipakainya sebagai selubung. Ia mempunyai maksud tertentu dan tugas tersendiri.”

Ki Pringgajaya mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kita mempunyai masalah yang lebih luas dari sekedar membalas dendam. Sebenarnya yang penting bagi kita, tersingkirnya Agung Sedayu, siapapun yang melakukannya,” Pringgajaya berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi sudah barang tentu, Agung Sedayu bukannya tujuan dari perjuangan kita. Ia hanya salah satu unsur yang harus disingkirkan. Agung Sedayu, Kiai Gringsing dan sudah barang tentu orang-orang yang menurut perhitungan akan menguntungkan Mataram. Pada suatu saat, kita pun harus menyapu kekuatan Sangkal Putung.”

Ketiga orang prajurit yang mendengarkannya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia melihat perbedaan kepentingan antara Ki Pringgajaya dengan prajurit muda yang bernama Sabungsari itu.

“Karena itu,” berkata Pringgajaya selanjutnya, “jika memang Sabungsari ingin melakukan balas dendam itu, biarlah ia melakukan. Tugas kita adalah melanjutkan apa yang telah dilakukannya. Kiai Gringsing itu pun akan dapat membahayakan kedudukan kita. Bahkan jika perlu Widura pun harus kita singkirkan, jika kita mendapat bukti bahwa ia akan condong kepada Mataram. Untuk menghancurkan Sangkal Putung, kita harus membuat perhitungan tersendiri, karena Sangkal Putung pun mempunyai pengawal yang kuat, yang dapat digerakkan setiap saat, sementara Swandaru selalu berada di dalam lingkungan mereka.”

Prajurit itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Pringgajaya meneruskan, “Jika kita berhasil membunuh mereka dan melumpuhkan Sangkal Putung dengan alasan apa pun, maka kita sudah mengurangi kekuatan Mataram. Karena itu, jalan ke Mataram menjadi semakin luas.”

Ketiga prajurit itu hanya mengangguk-angguk saja. Ternyata bagi Pringgajaya, Sabungsari justru akan dapat memberikan sumbangan pada tugasnya, seperti yang dikatakan oleh Sabungsari sendiri.

Dalam pada itu, Pringgajaya pun meneruskan, “Karena itu, jangan berbuat apa-apa atas Sabungsari. Kau hanya perlu mengawasinya. Apa pun yang dilakukan, biarlah menjadi tanggung jawabnya. Kita masih harus mempersiapkan banyak tugas. Kita yakin, bahwa pada suatu saat Pajang dan Mataram tentu akan lenyap bersama. Kitalah yang akan segera berkuasa. Mungkin Kakang Panji masih harus mengadakan penertiban ke dalam. Orang-orang yang hanya bernafsu untuk mendapatkan upah dan kalenggahan, akan disapu bersih seperti Pajang dan Mataram itu sendiri. Oleh karena itu, siapkan diri kalian dalam pengabdian.”

Ketiga prajurit itu mengangguk-angguk.

“Sekarang, kembalilah. Kita akan segera mendengar berita, apakah Agung Sedayu atau justru Sabungsari yang terbunuh. Bagi kita tidak banyak bedanya. Isi padepokan kecil itu pada suatu hari harus bersih. Untara harus mendapat kesan bahwa kematian adiknya adalah karena kesalahan dan tanggung jawab Mataram yang telah melibatkan anak muda itu ke dalam suatu persoalan di luar kepentingannya.”

Ketiga prajurit itu pun kemudian minta diri untuk kembali ke halaman rumah Agung Sedayu. Mereka masih harus bertugas semalam lagi. Besok mereka mendapat istirahat sehari penuh.

Sementara itu, Agung Sedayu yang telah berada di padepokannya kembali, rasa-rasanya tidak sabar lagi menunggu besok atau lusa. Bersama anak muda yang menunggui padepokannya, ia pun pergi ke sawah untuk melihat tanamannya, yang sudah agak lama ditinggalkannya. Ada semacam kerinduan yang menggelitiknya untuk segera dapat berada di tengah-tengah sawah dan ladangnya kembali.

“Aku ikut,” minta Glagah Patih.

“Besok sajalah,” berkata Agung Sedayu, “aku hanya ingin melihatnya sejenak. Mungkin di malam hari, air parit itu akan mengalir lebih banyak dibandingkan dengan siang hari, karena di bagian lain tidak banyak dipergunakan orang.”

Tetapi Glagah Putih tetap memaksa untuk ikut serta. Karena itu maka Agung Sedayu tidak dapat menolaknya. Katanya, “Mintalah ijin kepada ayahmu.”

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: