Buku 122 (Seri II Jilid 22)

 

Sabungsari memandang dua buah batu yang memang hampir sama besar. Tetapi ia tidak tahu, bagaimanakah Agung Sedayu akan mengangkat batu yang besarnya sebesar kepala gajah itu.

Sabungsari menjadi semakin heran, ketika ia melihat Agung Sedayu kemudian duduk di atas sebuah batu yang lain. Menyilangkan tangannya sambil berkata, ”Berilah aku waktu. Aku yakin, bahwa kita tidak akan berbuat curang. Kita masing-masing adalah laki-laki jantan.”

Dengan heran Sabungsari melihat apa yang akan dilakukan oleh Agung Sedayu. Karena itu, maka ia pun kemudian berdiri saja mematung dengan hati yang berdebar-debar.

Dalam pada itu, maka Agung Sedayu pun kemudian memusatkan indranya pada getaran ilmunya. Tatapan matanya tidak saja mampu meremas dan menghancurkan. Tetapi ia dapat berbuat sesuatu yang lain.

Sejenak Agung Sedayu memandang batu yang tergolek di atas pasir, di antara beberapa batu yang lain. Dengan kekuatan tatapan matanya, maka ia pun kemudian mengangkat batu itu perlahan-lahan.

Sabungsari bagaikan mematung, terpukau oleh kenyataan yang dihadapinya. Agung Sedayu dapat mengatur kemampuannya dan mengangkat batu yang besar itu perlahan-lahan, kemudian meletakannya atas sebuah batu yang lebih besar lagi, sebesar seekor gajah yang sedang mendekam. Demikian pula dilakukannya atas batu yang sebuah lagi, sehingga kedua buah batu itu kemudian terletak berdampingan di atas sebuah batu yang besar sekali.

Setelah kedua batu itu terletak berdampingan, maka Agung Sedayu pun menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia ingin melepaskan ketegangan yang menyekat dadanya.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”marilah kita bermain-main. Daripada kita mempergunakan diri kita masing-masing sebagai sasaran, maka baiklah kita mempergunakan benda lain yang barangkali lebih baik dari diri kita. Dengan demikian, maka yang menang di antara kita akan dapat menunjukkan kemenangannya kepada yang kalah, karena yang kalah masih akan tetap hidup. Sedangkan yang kalah akan sempat melihat kekalahannya. Jika kita mempergunakan diri kita masing-masing sebagai sasaran, maka yang menang tidak akan mendapat kepuasan karena tidak dapat menunjukkan kemenangannya kepada lawannya, sementara yang kalahpun tidak akan sempat mengakui kekalahannya, karena ia harus mati dalam benturan ilmu yang dahsyat itu.”

“Persetan,” geram Sabungsari, ”aku ingin salah seorang dari kita akan mati.”

“Yang kalah akan menyerahkan nyawanya,” sahut Agung Sedayu dengan serta merta.

Namun jawaban Agung Sedayu itu mendebarkan hati Sabungsari. Seakan-akan Agung Sedayu yakin, bahwa ia akan memenangkan dengan pasti permainan ilmu yang dahsyat itu.

“Nah, terserahlah kepadamu. Jika kau tidak takut menghadapi kenyataan yang manapun juga, kita akan mengadu kemampuan kita masing-masing dengan dada terbuka. Baru kemudian, jika kau memang haus akan kematian, maka yang kalah akan dapat memenuhi nafsu membunuhmu itu.”

Sejenak Sabungsari termangu-mangu. Meskipun dalam keremangan malam, namun ia melihat wajah Agung Sedayu yang jernih. Seolah-olah ia tidak sedang berhadapan dengan lawan yang siap membunuhnya.

“Atau inilah ujud dari kesombongannya,” berkata Sabungsari di dalam hatinya, ”ia menganggap aku sama sekali tidak berdaya, sehingga demikian yakinnya bahwa ia akan memenangkan pertandingan ini.”

Terdorong oleh harga dirinya, tetapi juga sepeletik keragu-raguannya, maka Sabungsari berkata, ”Aku terima tantanganmu yang penuh kesombongan itu Agung Sedayu. Jika aku dapat meremas batu itu lebih lumat dari yang dapat kau lakukan, maka kau akan terpaksa menyerahkan lehermu kepadaku. Aku akan memotong kepalamu dan membawa kembali ke padepokanku, sehingga semua pengikut Ki Gede Telengan melihat wajah pembunuh pemimpinnya.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah ada niatmu untuk berbuat demikian? Apakah memang ada kekasaran itu di dalam jiwamu?”

Pertanyaan itu membuat Sabungsari berdebar-debar. Bahkan ia pun mulai bertanya kepada diri sendiri, ”Apakah memang aku berniat demikian?”

Namun sekali lagi, Sabungsari melihat goncangan perasaannya itu sebagai suatu kelemahan. Karena itu ia menghentak sambil menjawab, ”Ya. Aku memang sudah merencanakan demikian.”

“Baiklah,” jawab Agung Sedayu, ”apapun yang akan kau lakukan, terserahlah jika kau memang memenangkan permainan ini.”

Dada Sabungsari masih diguncang keragu-raguan. Namun ia menjawab lantang, ”Marilah kita mulai. Kita tidak hanya dapat berbicara tanpa arti.”

“Marilah,” sahut Agung Sedayu, ”kita akan duduk di sini. Kita akan berlomba, siapakah yang dapat melumatkan batu-batu itu lebih cepat. Karena dengan demikian, seandainya kita membenturkan ilmu itu, maka yang lebih cepat itulah yang lebih kuat dan akan menang.”

Sabungsari pun kemudian duduk di atas sebuah batu dua langkah dari Agung Sedayu. Dipandanginya dua buah batu yang terletak di atas batu yang sangat besar. Di luar sadarnya, ia pun kemudian memandangi batu-batu besar yang lain yang berserakan. Sentuhan matanya di saat-saat ia menyerang Agung Sedayu, berhasil memecahkan batu-batu itu meskipun hanya segumpal-segumpal. Namun jika ia berbuat demikian berulang-ulang dan tidak henti-hentinya, maka batu itu pun tentu akan lumat.

“Aku akan menghitung sampai tiga,” teriak Sabungsari, ”kita akan segera mulai. Semakin cepat semakin baik, karena aku akan segera memenuhi janjiku kepada ayahku yang sudah tidak ada lagi karena kau bunuh di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu.”

“Kau sangat tergesa-gesa,” desis Agung Sedayu.

“Kau menunggu kesempatan untuk lolos? Kau tentu menunggu gurumu mencarimu karena kau terlalu lama pergi. Dengan demikian, kau berharap bahwa gurumu akan dapat menolong dan menyelamatkanmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia melihat, bahwa keragu-raguan yang sangat telah mencengkam jantung anak muda itu.

“Baiklah,” jawab Agung Sedayu, ”aku menunggu kau mengucapkan aba-aba itu.”

Sejenak malam menjadi hening. Hanya terdengar gemericik air sungai di antara batu-batu yang berserakkan.

Dalam pada itu, terdengar suara Sabungsari meneriakkan hitungan, ”Satu. Dua. Tiga.”

Kedua anak muda itu terdiam. Masing-masing telah melontarkan kemampuan ilmunya yang sukar dicari bandingnya. Dengan tatapan matanya, mereka berlomba untuk memecah-lumatkan batu yang besar di hadapan mereka pada jarak beberapa langkah.

Sejenak kedua anak muda itu diam bagaikan patung. Namun dari sorot mata mereka, telah memancar kekuatan yang tidak ada bandingnya. Dengan kekuatan tatapan mata mereka, maka keduanya berusaha untuk menghancurkan batu yang telah diletakkan berjajar oleh Agung Sedayu.

Dalam pada itu, ketika tatapan mata Sabungsari yang memiliki sentuhan wadag itu menghantam batu di hadapannya. maka seperti yang telah terjadi sebelumnya, maka segumpal batu telah pecah dan berserakan di atas pasir. Tetapi Sabungsari tidak terhenti pada pecahan pertama. Sekali lagi ia mengulang, dan sekali lagi. Berbongkah-bongkah batu itu pecah dan runtuh di atas batu besar alas sasaran yang pecah itu, selebihnya jatuh di atas pasir.

Karena Sabungsari melakukan terus menerus, maka akhirnya batu yang menjadi sasaran kekuatan matanya itu pun telah pecah berbongkah-bongkah, sehingga akhirnya Sabungsari dengan hentakkan yang tersisa telah memecahkan bongkah yang terakhir.

Demikian bongkah yang terakhir dipecahkannya, maka ia pun segera menarik nafas dalam-dalam, mengatur jalan pernafasannya yang menjadi terengah-engah karena ia telah mengerahkan segenap kekuatan ilmu yang ada padanya.

Ketika kemudian ia berpaling memandang batu sasaran tatapan mata Agung Sedayu, maka tiba-tiba saja ia melonjak berdiri. Meskipun pernafasannya belum pulih kembali, namun dengan tanpa menghiraukan keadaan dirinya ia berdiri di atas batu tempat ia duduk sambil berteriak, ”Agung Sedayu. Apa yang dapat kau lakukan he? Batu sasaranmu masih tetap utuh.”

Yang terdengar kemudian adalah tarikan nafas Agung Sedayu. Tetapi ia masih tetap duduk diatas batu.

“Ternyata kau tidak mampu berbuat sesuatu. Kau hanya mampu mengangkat batu itu. Tetapi kau tidak mempunyai kekuatan untuk meremasnya dan memecahkan batu itu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Ia masih tetap duduk di tempatnya, sementara Sabungsaripun kemudian meloncat mendekati batu yang telah dipecahkannya.

Terdengar anak muda itu tertawa. Katanya disela-sela derai tertawanya, ”Agung Sedayu. Kini kau harus mengakui kenyataan, bahwa aku memiliki ilmu yang lebih dahsyat dari ilmumu. Kau yang telah menantang aku dalam perlombaan ini. Tetapi agaknya karena kesombonganmu, kau tidak dapat melihat batas kemampuanmu.”

Agung Sedayu masih tetap duduk diam.

“Sekarang, dendamku akan terpecahkan. Jika kau ingin ingkar dan masih ingin melawanku, aku masih memberimu kesempatan. Jika kau masih sayang melepaskan nyawamu tanpa perlawanan, maka marilah, kita akan duduk berhadapan dan kita akan membenturkan kekuatan mata kita. Tetapi jangan menyesal, bahwa jantungmu akan terbakar, dan kedua biji matamu akan hangus menjadi arang.”

Agung Sedayu sekali lagi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih tetap duduk di tempatnya.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”apakah batu sasaranku itu retakpun tidak?”

Suara tertawa Sabungsari menggelegar bagaikan guruh di langit. Dengan nada memelas ia berkata, ”Kasihan kau anak manis. Ternyata bahwa kau tidak mampu berbuat sesuatu selain merajuk. Tetapi sayang bahwa aku tidak lagi mempunyai belas kasihan.”

“Dan kau akan tetap membunuhku?”

Pertanyaan itu tiba-tiba saja telah mengguncang hati Sabungsari. Apakah benar ia akan membunuh Agung Sedayu?

Namun sekali lagi ia menghentakkan perasaannya sambil menggeretakkan giginya. Katanya lantang, ”Aku akan membunuhmu. Itu adalah tekadku sejak aku meninggalkan padepokanku. Itu adalah janjiku kepada diriku sendiri, karena aku adalah anak Ki Gede Telengan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Cobalah kau lihat ke dalam dirimu. Apakah benar kau masih tetap pada sikapmu seperti sejak kau berangkat?”

“Jangan merajuk. Jangan merengek dan minta dibelas kasihani,” Sabungsari berteriak. Suaranya menggelegar bagaikan menggetarkan udara malam di seluruh tepian.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu lemah, “aku tahu, bahwa kau menjadi ragu-ragu. Aku tahu bahwa sebenarnya kau bukan seorang anak muda yang jahat seperti yang kau sangka sendiri. Kau sebenarnya bukan ingin melakukan kejahatan. Tetapi justru karena kau telah dituntut oleh kesetiaanmu. Tetapi cobalah kau pertimbangkan sekali lagi, apakah kesetiaanmu sudah benar.”

“Jangan bicara lagi. Semakin banyak kau bicara, aku menjadi semakin muak kepadamu. Sekarang, kau boleh memilih. Menundukkan kepalamu di hadapanku agar aku dapat mematahkan lehermu, atau kau masih ingin membela diri dan membenturkan kekuatan tatapan mata kita.”

“Apakah kau yakin bahwa kau akan menang?” bertanya Agung Sedayu tiba-tiba.

Pertanyaan itu telah mengguncang dada Sabungsari. Sekilas dipandanginya batu sasaran Agung Sedayu yang masih utuh. Karena itu, maka katanya, ”He, apakah kau tidak melihat kenyataan ini? Aku sudah dapat memecahkan batu itu menjadi berkeping-keping. Tetapi kau sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Kulitnyapun sama sekali tidak terkelupas.”

Perlahan-lahan Agung Sedayu berdiri. Dengan tenang ia melangkah mendekat. Kemudian terdengar suaranya lirih, ”Kau masih harus meyakinkan, apakah kau memang menang kali ini.”

“Gila, kau memang gila Agung Sedayu,” teriak Sabungsari semakin keras, ”lihat, batu ini pecah berkeping-keping.”

Dengan sigapnya Sabungsari meloncat dan menggenggam pecahan batu yang berserakkan di atas pasir tepian.

“Kau lihat ini? Kau lihat ini he?”

Sabungsari bagaikan menjadi gila ketika ia melihat Agung Sedayu masih tetap tenang saja. Bahkan katanya, ”Kau memang luar biasa Sabungsari. Kau mampu memecahkan batu itu menjadi berkeping-keping. Tetapi itu belum merupakan pertanda kemenanganmu dan dengan demikian kau berhak untuk mendapat wewenang sebagaimana yang telah kita sepakati.”

“Kau gila. Kau gila. Kau sudah melihat bahwa batu ini pecah berkeping-keping. Apalagi yang akan kau tuntut he?” Sabungsari menghentakkan kakinya. Namun nampaknya dadanya telah bergelora demikian dahsyatnya, sehingga tiba-tiba saja ia telah meloncat ke atas batu besar, tempat batu sasarannya semula terletak.

Sentuhan kaki Sabungsari telah mengguncang batu itu. Apalagi ketika ia berteriak sambil menghentak, ”Aku memenangkan pertandingan ini.”

Namun tiba-tiba saja kata-katanya terputus. Oleh hentakan kakinya, maka batu besar itu telah bergetar. Getaran yang lemah sekali, karena Sabungsari tidak sengaja mengguncang batu itu. Tetapi getaran yang lemah itu ternyata telah mengguncang dada Sabungsari sehingga rasa-rasanya menjadi retak. Jantungnya rasa-rasanya berhenti berdetak, dan darahnya seolah-olah telah berhenti mengalir.

Dengan mata terbelalak ia melihat kenyataan yang sama sekali tidak diduganya.

Ternyata bahwa getaran lemah yang mengguncang batu besar itu telah mengguncang batu sasaran pandangan mata Agung Sedayu. Ternyata bahwa getaran yang lemah itu telah menggetarkan batu yang nampaknya masih utuh itu. Namun tiba-tiba saja batu itu telah pecah remuk menjadi butiran-butiran lembut yang menghambur di atas batu besar yang menjadi alasnya dan di atas pasir tepian.

Sejenak Sabungsari bagaikan dicengkam oleh hentakan perasaan yang meremas jantungnya. Ia berdiri mematung dengan mata yang terbelalak. Seolah-olah ia tidak percaya kepada penglihatannya, bahwa batu itu benar-benar telah remuk berhamburan.

Bahkan kemudian ia pun meloncat selangkah. Sambil berjongkok ia menggenggam butiran-butiran lembut yang berhamburan, seolah-olah ia ingin meyakinkan, apakah rabaan tangannya seperti juga penglihatan matanya, bahwa batu itu memang telah remuk bagaikan menjadi debu.

 

 

Tetapi agaknya memang suatu kenyataan. Batu itu benar-benar telah lumat. Bukan sekedar pecah berkeping-keping.

Ternyata bahwa sorot mata Agung Sedayu, seolah-olah memancarkan ruji-ruji lembut yang langsung menusuk menembus batu yang dijadikan sasaran kemampuan ilmunya. Ruji-ruji itu telah menghunjam di setiap lubang-lubang yang paling kecil sekalipun menusuk sampai tembus, dalam jumlah yang tidak terhitung oleh bilangan yang manapun juga. Demikian tajam dan kuatnya tusukan ilmunya, sehingga batu yang telah pecah remuk menjadi debu itu, masih tetap dalam ujudnya. Namun oleh sentuhan getaran dan goncangan yang betapapun lemahnya, maka yang masih tetap bergumpal itu pun segera terurai dan tersebar berhamburan.

Sabungsari masih berjongkok sambil meremas debu di tangannya. Untuk sejenak ia masih ingin meyakinkan, apakah ia tidak sedang bermimpi atau sedang dalam libatan ilmu yang langsung mempengaruhi perasaannya, sehingga seolah-olah ia melihat apa yang terjadi, tetapi yang hanya sekedar peristiwa semu saja.

Tetapi akhirnya Sabungsari mempercayai kenyataan itu. Perlahan-lahan ia bangkit dan meloncat turun dari atas batu yang besar itu. Dengan nada yang dalam dan datar ia berkata, ”Kau menang Agung Sedayu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sementara Sabungsari berkata seterusnya, “Terserah kepadamu, apa yang akan kau lakukan. Jika kau akan membunuh aku, lakukanlah. Aku pun akan mendapat kepuasan tersendiri, karena aku mati selagi aku mempertahankan harga diri padepokan dan perguruan Telengan.”

Agung Sedayu memandang Sabungsari yang menundukkan kepalanya. Nampaknya perasaan anak muda itu pun telah pecah berkeping-keping seperti batu yang telah dihancurkannya dengan tatapan matanya.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu, ”kau memang harus dibunuh.”

Sabungsari mengangkat wajahnya. Nampak kerut merut dikeningnya. Katanya, ”Lakukanlah. Aku sudah siap.”

“Kau memang harus mati,” berkata Agung Sedayu, ”tetapi tidak perlu wadagmu.”

Sabungsari terkejut. Dipandanginya Agung Sedayu dengan penuh pertanyaan yang membayang diwajahnya.

“Aku tidak tahu maksudmu,” desis Sabungsari.

“Kau memang harus mati. Seperti aku katakan, tidak perlu wadagmu. Tetapi Sabungsari yang lama harus dibunuh, dan kemudian akan lahir Sabungsari yang baru, dengan sifat-sifat dan watak yang baru pula,” sahut Agung Sedayu.

“Persetan,” geram anak muda itu, ”kau jangan sesorah. Itu adalah impian orang-orang yang tidak melihat kenyataan duniawi. Kau kira bahwa aku dapat membunuh masa lampauku dan memutuskan segala hubungan wadag dan jiwani dengan hari kemarin? Kau kira dengan peristiwa ini, aku bukan lagi anak laki-laki Ki Gede Telengan? Ia tetap ayahku bagaimanapun keadaanku.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Katanya, ”Bukan itulah yang dimaksud Sabungsari. Dalam hubungan dengan masa lampau, kau tidak dapat ingkar. Yang harus lahir dalam ujud manusia yang baru bukannya sesambunganmu dengan masa lampu, tetapi sikapmu menyongsong hari besok.”

Sabungsari termangu-mangu. Namun kemudian ia pun terhenyak duduk di atas sebuah batu sambil berdesah, ”Aku kurang mengerti maksudmu.”

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu, ”sudah tentu kau tidak akan dapat menghapus masa lampaumu. Tetapi kau wajib mengerti, bahwa sikap dan tingkah lakumu itu tidak benar menurut pertimbangan nalar yang bening. Karena itu, maka kau harus berani membunuh sikap dan tingkah lakumu, termasuk janji kesetiaanmu yang tidak mapan itu. Kau dapat menyesali segala kesalahan yang pernah kau lakukan dan berjanji kepada diri sendiri dan kepada Yang Maha Tahu, bahwa kau tidak akan pernah mengulangi lagi. Selanjutnya, kau akan mulai dengan lembaran-lembaran baru yang lebih baik dari masa lampau itu.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Apakah itu bukan hanya sekedar impian. Adakah orang yang tak pernah melakukan kesalahan di sepanjang hidup? Kau sendiri misalnya? Apakah benar bahwa kau selalu hidup dalam kebenaran?”

Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, ”Tentu tidak Sabungsari. Yang namanya manusia, pasti masih akan melakukan kesalahan-kesalahan yang kecil maupun yang besar. Tetapi manusia yang tidak mau mengetahui sikap dan tingkah lakunya sendiri dan tidak berani menilainya dengan jujur, ia akan tersesat semakin jauh. Sementara orang yang berani menilai diri sendiri dan mengakui dengan jujur, maka ia akan menuju ke jalan yang lebih baik.”

Sabungsari menundukkan kepalanya. Meskipun ia tidak dapat menelan seluruhnya setiap kata yang diucapkan oleh Agung Sedayu, namun sebagian dapat menyentuh hatinya pula. Apalagi ia memang tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa Agung Sedayu adalah seseorang yang seolah-olah mempunyai kemampuan tidak terbatas.

Bagaimanapun juga ia masih ragu-ragu akan setiap kata Agung Sedayu, namun satu kenyataan bahwa ia masih tetap hidup. Beberapa kali Agung Sedayu mempunyai kesempatan untuk membunuhnya. Jika ia memang seorang pembunuh, maka ia tentu sudah mati.

“Tanpa mempergunakan kemampuan ilmunya yang luar biasa itu, ia sudah dapat membunuhku saat aku pingsan,” berkata Sabungsari di dalam hatinya, ”tetapi ternyata Agung Sedayu tidak melakukannya. Aku masih tetap hidup, dan berkesempatan untuk bertanding ilmu dengan taruhan nyawa. Tetapi ia tidak juga mau membunuhku apapun alasannya.”

Sadar akan keadaannya, maka Sabungsari tidak dapat berbuat lain kecuali menerima segala kenyataan itu.

“Sabungsari,” terdengar Agung Sedayu berkata dengan nada dalam, ”apakah kau dapat mengerti yang aku maksudkan?”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Aku akan mencoba mengerti Agung Sedayu. Tetapi yang aku tidak mengerti, sikap jujur dalam menilai diri sendiri.”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Jika aku jujur kepada diri sendiri, maka aku tentu masih akan tetap dalam niatku. Jika aku kemudian mengurungkannya itu, adalah karena aku kalah darimu. Bukan karena hal-hal yang lain. Aku tidak dapat mengatakan, bahwa tidak membunuhmu itu adalah karena aku tidak lagi bermaksud demikian. Tetapi karena aku tidak dapat berbuat demikian.”

“Itulah yang aku maksudkan dengan membunuh masa lampau itu dan memandang masa depan dengan sikap yang baru. Sebenarnya kau sudah mulai mengerti bahwa yang kau lakukan itu tidak benar. Kau mulai ragu-ragu, tetapi kau tidak jujur menghadapi keragu-raguanmu itu. Kau telah didorong oleh harga dirimu sebagai seorang anak yang kau anggap harus berbakti terhadap orang tua dengan cara yang salah itu,” suara Agung Sedayu datar, ”kau bukannya seseorang yang tidak mengerti baik dan buruk. Tetapi kau tidak berani mengembangkannya di dalam hatimu.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam.

“Sudahlah Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”tentu kita tidak akan dapat berbicara dengan tuntas. Mungkin yang aku katakan itu pun mengandung pengertian yang tidak tepat. Tetapi kita masih mempunyai waktu untuk menelusurinya. Kita masih mempunyai waktu untuk berbicara tentang baik dan buruk dan tentang salah dan benar. Meskipun tidak ada kebenaran yang mutlak selain kebenaran Yang Maha Benar, namun kita dapat menekuninya sejauh kemampuan kita berpikir dan merasakan.”

“Kau membuat aku bingung. Tetapi aku ingin untuk mengertinya. Mungkin besok atau lusa aku dapat melihat lebih jauh dari keadaanku sekarang. Aku benar-benar tidak dapat berpikir, apakah yang sebaiknya aku lakukan,” jawab Sabungsari.

“Marilah, kita kembali ke padepokan,” ajak Agung Sedayu.

“Untuk apa aku harus kembali ke padepokanmu? Apakah kau ingin mengatakan kepada gurumu dan kepada adik sepupumu, bahwa kau telah memenangkan perang tanding dengan cara apapun juga?”

“Aku menganggap bahwa hal itu tidak perlu aku lakukan. Kesombongan yang kau lihat, bagaimana aku mengalahkanmu, menurut pertimbanganku adalah cara yang lebih baik aku tempuh daripada aku harus membunuh sekali lagi.”

“Itu pun sikap yang sangat sombong,” potong Sabungsari.

“Sudah aku katakan. Aku mencoba mengambil jalan yang paling baik,” sahut Agung Sedayu, ”karena itu, marilah. Kau menampakkan diri sebelum kita pergi. Kau pun wajib minta diri kepada Guru, agar tidak ada kesan yang kurang baik.”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Tetapi ia melihat dalam keremangan malam sorot mata Agung Sedayu yang tulus. Meskipun dari mata itu dapat memancarkan nafas maut, tetapi dari mata itu pula terasa betapa lembut hati anak muda itu.

Karena itu, maka Sabungsari pun berdesah sambil berkata, ”Baiklah. Aku akan ikut pergi ke padepokanmu. Sekarang aku adalah telukanmu. Kau dapat memerintah apa saja kepadaku.”

“Aku tidak bermaksud demikian. Hubunganku dengan kau masih tetap seperti beberapa saat yang lampau,” sahut Agung Sedayu.

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian bangkit sambil berkata, ”Marilah.”

Keduanyapun kemudian membenahi diri. Pakaian mereka yang kotor mereka kibaskan, meskipun mereka tidak dapat menghapus sama sekali bekas perkelahian yang telah terjadi.

“Gurumu akan tetap mencurigai keadaan kita,” berkata Sabungsari.

“Meskipun ia mengerti, tetapi ia tidak akan berbuat apa-apa,” sahut Agung Sedayu.

Sabungsari mengangguk-angguk. Katanya, ”Apakah gurumu juga bersikap seperti kau, atau kau bersikap seperti gurumu?”

“Ya,” jawab Agung Sedayu pendek.

Sabungsari tidak bertanya lagi, ia berjalan sambil menundukkan kepalanya. Seakan-akan yang baru saja terjadi telah nampak kembali di angan-angannya. Seolah-olah ia melihat dirinya sendiri pingsan, sementara Agung Sedayu berdiri di sisinya dengan kaki renggang dan tangan di pinggang.

“Tetapi ia tidak berbuat apa-apa. Dibiarkannya aku tetap hidup dan sadar kembali,” berkata Sabungsari di dalam hatinya.

Untuk beberapa saat ia mencoba menilai sikap Agung Sedayu. Apakah Agung Sedayu tidak berpura-pura, atau justru dengan sikap itu ia ingin menunjukkan kepadanya bahwa ia telah memenangkan perang tanding itu dengan mutlak.

Tetapi Sabungsari menggelengkan kepalanya. Didalam hati ia berkata, ”Tentu tidak. Ia juga tidak membunuh kelima pengikutku. Jika ia tidak berbuat dengan jujur, maka ia tentu telah membunuh kelima orang yang mencegatnya di pesisir itu. Tetapi ternyata mereka tetap hidup.”

Untuk beberapa saat. Sabungsari masih dicengkam oleh ketidakpastian sikapnya. Juga terhadap dirinya sendiri.

Agung Sedayu yang berjalan di sampingnya. juga tidak banyak berbicara. Ternyata ia pun sekali-sekali masih juga memikirkan apa yang telah terjadi di pinggir sungai itu.

Namun di dalam hati, ia sempat bersukur, bahwa ia mendapat kesempatan untuk menyelesaikan perselisihan itu tanpa pembunuhan. Dengan demikian, maka ia telah mengurangi dendam yang menyala di hati orang-orang yang telah disakiti hatinya, sengaja atau tidak sengaja.

Ketika keduanya mendekati regol padepokan, Sabungsari menjadi berdebar-debar. Bukan karena ia menjadi curiga bahwa ia akan diperlakukan dengan buruk di padepokan itu. Tetapi justru karena ia mendapat perlakuan yang tidak disangka-sangkanya.

“Jika akulah Agung Sedayu itu, maka lawanku tentu sudah aku cincang sampai lumat. Apalagi mereka yang datang dengan sengaja untuk melepaskan dendam,” berkata Sabungsari di dalam hatinya.

Namun akhirnya keduanya telah memasuki regol padepokan kecil itu, dan langsung naik ke pendapa.

“Duduklah,” berkata Agung Sedayu.

“Aku akan kembali ke barak jika kau mengijinkan,” berkata Sabungsari.

“Kenapa tidak?” sahut Agung Sedayu, ”tetapi sebaiknya kau minta diri kepada Guru.”

Sabungsari termangu-mangu. Sementara Agung Sedayu melangkah ke pintu sambil berkata, ”Duduklah. Jangan tergesa-gesa.”

Suatu pesona yang tidak dapat diingkari oleh Sabungsari, bahwa ia pun kemudian telah duduk di atas sehelai tikar yang terbentang di pendapa, di bawah sinar lampu minyak yang berkeredipan disentuh angin menjelang fajar.

Perlahan-lahan Agung Sedayu mengetuk pintu. Namun agaknya gurunya memang belum tidur. Meskipun sudah tidak terdengar suara apapun, namun Kiai Gringsing segera mendengar ketukan meskipun hanya perlahan-lahan.

Sejenak kemudian maka pintu itu pun telah berderit. Ketika pintu itu kemudian terbuka, Kiai Gringsing telah berdiri di muka pintu sambil tersenyum, ”Lama sekali kalian pergi.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Kami berjalan-jalan mengelilingi Jati Anom. Rasa-rasanya ingin melihat dan menunjukkan kepada Sabungsari masa-masa aku masih kecil dan ketakutan.”

Kiai Gringsing tertawa. Lalu katanya, ”Aku sudah lama menutup kitab yang aku baca. Glagah Putih pun sudah tidak tahan lagi duduk mendengarkan.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Sementara Kiai Gringsing pun kemudian melangkah mendekati Sabungsari yang duduk sambil menundukkan kepalanya.

Sambil duduk orang tua itu berkata, ”Darimana saja kalian Anakmas? Nampaknya kalian baru saja berjalan jauh sekali, sehingga pakaian kalian basah oleh keringat dan kotor oleh debu.”

Sabungsari kebingungan. Sekilas ditatapnya wajah Agung Sedayu, seolah-olah ia ingin mendapatkan bantuan, bagaimana ia harus menjawab.

Sebenarnya Agung Sedayu sendiri juga bingung. Namun ia berkata, ”Ya Guru. Kami berjalan tanpa berhenti.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi senyum yang nampak dibibirnya terasa mempunyai arti tersendiri. Karena itulah, maka Sabungsari menjadi berdebar-debar.

Dalam pada itu, Sabungsari pun segera minta diri.

Ketika ia diantar Agung Sedayu sampai ke regol halaman, maka ia pun berkata, ”Agung Sedayu. Agaknya gurumu curiga, bahwa sesuatu telah terjadi dengan kita.”

“Kenapa kau menyangka demikian?” bertanya Agung Sedayu.

Sabungsari hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, sementara Agung Sedayu berkata, “Sabungsari. Mungkin hati kita sudah dibayangi oleh suatu pengakuan bahwa sesuatu memang telah terjadi. Karena itu, maka seolah-olah kami melihat seseorang mengetahui apa yang telah terjadi itu, meskipun sebenarnya tidak sama sekali. Tetapi mungkin pula Guru hanya mendasarkan dugaannya setelah melihat keadaan kita, pakaian kita dan mungkin sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya, yang dalam tangkapan kita justru seolah-olah ia mengetahui apa yang telah terjadi,” Agung Sedayu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi seandainya Guru mengetahui, aku kira tidak ada keberatannya apapun juga, karena semuanya telah berakhir. Tentu Guru tidak akan membuat persoalan baru yang dapat memulai lagi dari apa yang sudah berakhir itu.”

Sabungsari hanya mengangguk-angguk saja. Betapapun juga, terbersit kekhawatiran di dalam hatinya, bahwa Kiai Gringsing akan mengambil sikap lain, jika ia mengetahui, siapakah ia sebenarnya.

Sepeninggal Sabungsari. maka Agung Sedayu pun segera masuk ke ruang dalam. Gurunya telah masuk ke dalam biliknya, sehingga karena itu, maka Agung Sedayu pun segera masuk ke dalam biliknya pula.

Ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Glagah Putih telah tertidur nyenyak. Tarikan nafasnya mengalir teratur di lubang hidungnya, sementara tubuhnya terbaring lurus terlentang di amben bambu.

Agung Sedayu pun kemudian membenahi pakaiannya. Ia masih keluar lagi lewat pintu butulan ke pakiwan di belakang untuk mencuci tangan dan kakinya.

Meskipun badannya telah terasa sedikit segar, tetapi ketika Agung Sedayu kembali ke biliknya, ia tidak segera dapat tidur. Ia berbaring saja di pembaringannya sambil menatap atap. Tetapi ia tidak bangkit betapapun ia digelisahkan oleh peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Ia memaksa dirinya untuk dapat tidur barang sekejap, karena sudah tidak mungkin lagi baginya malam itu menghadap gurunya, mengatakan sesuatu yang penting dan menyampaikan pesan Ki Waskita.

“Besok malam aku akan mempunyai waktu,” berkata kepada diri sendiri. ”Besok pagi-pagi aku akan mengatakan, bahwa aku mohon waktu untuk berbicara barang sejenak di malam hari.”

Dalam pada itu, menjelang dini hari, maka mata Agung Sedayupun mulai terpejam. Bagaimanapun juga, ia merasa tubuhnya lelah setelah ia berjuang untuk mengatasi kemampuan ilmu Sabungsari yang memang termasuk dalam tataran ilmu yang tinggi.

Saat matahari mulai menjenguk dari balik cakrawala, maka Agung Sedayu telah terbangun pula. Ia mendengar Glagah Putih turun dari pembaringan dan membuka selarak pintu biliknya.

Seperti biasa kedua anak-anak muda itu pun segera melakukan tugas sehari-harinya. Menyapu halaman dan mengisi jambangan pakiwan. Kemudian mereka pun melihat-lihat tanaman di kebun dan ikan yang berenang di kolam.

Glagah Putih sama sekali tidak menduga, bahwa semalam telah terjadi sesesuatu yang mendebarkan antara kakak sepupunya dengan Sabungsari. Yang ia ketahui, keduanya telah pergi keluar padepokan, karena Sabungsari ingin menyampaikan sesuatu yang tidak boleh didengar oleh orang lain.

Karena itu, di luar sadarnya, maka tiba-tiba saja bertanya, ”Apa yang dipersoalkan Sabungsari semalam Kakang?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil menjawab, ”Tidak apa-apa. Persoalan biasa yang dialami oleh anak-anak muda. Mungkin kau sekarang tidak akan dapat mengerti, tetapi beberapa tahun lagi, masalah itu adalah masalah yang biasa pula bagimu.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa kakaknya tidak akan mengatakan apa-apa tentang persoalan yang menurut pengertiannya telah disampaikan oleh Sabungsari kepada kakaknya itu.

Karena itu, maka Glagah Putih tidak bertanya lagi. Meskipun ada juga keinginannya untuk mengetahui, tetapi ia menyadari, bahwa kakak sepupunya tidak akan mau mengatakannya.

Dalam pada itu, Sabungsari pun telah berada di dalam lingkungannya pula. Di dalam lingkungan keprajuritan. Hari itu, ia tidak mendapat tugas khusus, sehingga karena itu, maka ia mempunyai banyak waktu terluang. Namun justru karena itu, maka ia pun banyak termenung sambil menyisihkan diri dari kawan-kawannya.

Setiap kali anak muda itu telah terlempar kembali kepada persoalannya dengan Agung Sedayu. Ia masih saja dibingungkan oleh sikap anak muda yang luar biasa. Jika ia selama itu dapat terbangga tentang dirinya, sebagai seorang anak muda yang jarang ada bandingnya, maka kini ia merasa dirinya masih terlalu kecil. Ternyata dengan kenyataan yang tidak dapat diingkarinya, ia masih belum dapat mengimbangi kemampuan Agung Sedayu.

“Ada berapa orang anak muda yang dapat menyamai atau melampaui Agung Sedayu di Pajang dan Mataram?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Namun Sabungsari sempat membayangkan betapa dahsyatnya kemampuan Raden Sutawijaya di Mataram dan Pangeran Benawa di Pajang.

Yang terpikir kemudian oleh Sabungari apakah yang akan dikatakannya kepada para pengikutnya tentang Agung Sedayu Apakah ia akan membohongi para pengikutnya, atau ia akan berkata terus terang, bahwa ia tidak dapat mengalahkan anak muda yang aneh itu.

Semakin lama ia merenungi dirinya, maka ia pun menjadi semakin gelisah. Terbayang pula wajah dan senyuman guru Agung Sedayu yang seolah-olah mempunyai arti yang khusus.

“Entahlah,” ia berdesah, ”aku tidak tahu, apakah yang sebaiknya aku lakukan. Juga sebagai anak Ki Gede Telengan.”

Dengan demikian, maka Sabungsari nampak lebih banyak merenung. Kawan-kawannya tidak banyak menegurnya, karena mereka melihat, di hari-hari terakhir, setelah Sabungsari minta ijin untuk kembali pulang, ia lebih banyak termenung dan gelisah. Kadang-kadang ia duduk menyendiri untuk waktu yang lama. Dan kadang-kadang ia berbaring saja di pembaringan.

Menjelang sore, Sabungsari nampak semakin gelisah. Ketika matahari menjadi semakin rendah di barat, maka anak muda itu keluar dari baraknya. Kepada penjaga regol ia berkata singkat, ”Aku akan pergi ke sungai.”

Penjaga itu tidak bertanya lagi. Dibiarkannya Sabungsari berjalan sambil menundukkan kepalanya.

“Anak itu nampaknya sangat bersedih,” desis salah seorang penjaga itu kepada kawannya yang kebetulan berdiri di sebelah regol.

“Ya. Tetapi agaknya hatinya sangat tertutup, sehingga kami tidak banyak mengetahui apakah yang sudah terjadi atasnya,” sahut yang lain.

Tanpa menghiraukan sesuatu, Sabungsari berjalan terus menuju ke tepian. Dipandanginya sungai yang airnya mengalir tidak begitu deras di antara bebatuan.

Sekilas terbayang apa yang telah terjadi semalam di tepi sungai itu juga, tetapi di bagian yang lain. Terbayang bagaimana Agung Sedayu telah memukul hancur sebuah batu besar dengan tatapan matanya.

“Ternyata tatapan mata itu mempunyai kekuatan yang tidak terduga,” ia berdesis.

Ketika nampak olehnya bebatuan yang berserakan, maka pengakuan di hatinyapun menjadi semakin dalam, bahwa ia memang tidak akan dapat mengalahkan Agung Sedayu dengan cara apapun juga, kecuali cara seorang pengecut. Membunuhnya dengan diam-diam dengan menusuk punggung.

“Aku tidak mau,” geramnya, ”bagiku lebih jantan mengakui kekalahan daripada berbuat curang seperti itu.”

Perlahan-lahan Sabungsari pun kemudian turun ke pasir tepian. Perlahan-lahan ia berjalan di sela-sela bebatuan. Kemudian, hampir di luar sadarnya ia pun duduk di atas sebuah batu besar. Bahkan kemudian ia membaringkan tubuhnya sambil memandang cahaya langit yang menjadi semakin merah.

Sabungsari terkejut ketika ia mendengar desir langkah orang mendekat. Ketika ia berpaling, dilihatnya di atas tebing, dua orang berdiri memandanginya.

“Gila,“ geram Sabungsari. Ternyata dua orang pengikutnya telah mencarinya.

Kedua orang itu pun segera turun mendekatinya. Salah seorang berkata, ”Kami sudah datang ke barak. Kami diberi tahu, bahwa kau baru pergi ke sungai.”

“Kenapa kalian mencari aku?” bertanya Sabungsari, ”apakah ada perkembangan keadaan yang baru?”

Kedua orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang dari kedua pengikut Sabungsari itu berkata, ”Tidak. Tidak ada perkembangan apapun yang kami lihat. Tetapi kami justru ingin mengetahui, apakah ada sesuatu yang harus kami lakukan.”

“Gila,” bentak Sabungsari yang sudah duduk di atas batu, ”jika aku memerlukan kalian, akulah yang akan memanggil atau datang kepada kalian.”

Keduanya mengangguk-angguk.

“Aku tidak mempunyai perintah apapun untuk hari ini,” berkata Sabungsari kemudian.

“Jika demikian,” berkata salah seorang dari kedua pengikutnya itu, ”apakah kami boleh kembali ke pondok kami?”

“Pergilah. Kalian tidak mempunyai tugas apapun sekarang sampai aku memberikan perintah-perintah baru,” berkata Sabungsari kemudian.

Namun tiba-tiba saja datanglah pertanyaan yang tidak disukainya. Salah seorang dari kedua pengikutnya itu tiba-tiba saja telah bertanya, ”Bagaimana dengan Agung Sedayu?”

“Persetan. Diam. Aku akan mengurusnya,” teriak Sabungsari, sehingga kedua orang pengikutnya itu terkejut.

Keduanya tidak berani bertanya lagi. Apalagi ketika mereka melihat Sabungsari itu meloncat berdiri sambil memandangi mereka berganti-ganti dengan sorot mata kemarahan.

“Jika demikian, perkenankan kami pergi,” seorang dari kedua pengikutnya itu berdesis.

“Pergilah,” geram Sabungsari.

Tetapi ketika keduanya melangkah menjauh, maka Sabungsari pun memanggil mereka. Katanya, ”Kemarilah. Duduklah. Aku ingin berbicara.”

Keduanya menjadi termangu-mangu. Namun keduanyapun harus mematuhi perintah itu. Keduanya duduk dengan hati yang berdebar-debar. Sekali-sekali mereka saling berpandangan. Namun kemudian keduanya menundukkan kepala mereka memandangi pasir tepian.

Sabungsari berjalan hilir mudik di antara bebatuan. Sekali-sekali ia menengadahkan kepalanya ke langit. Dilihatnya warna merah yang menjadi semakin suram. Sementara mataharipun telah bersembunyi di balik gunung.

“Aku tidak akan dapat berbohong untuk seterusnya,” berkata Sabungsari kemudian.

Kedua pengikutnya menjadi terheran-heran.

“Dengarlah,” suara Sabungsari menghentak, dari padepokan Ki Gede Telengan aku sudah berniat untuk membunuh Agung Sedayu.”

Kedua pengikutnya mengangguk-angguk.

Namun keragu-raguan yang sangat tiba-tiba telah melanda jantung Sabungan sehingga mululnyapun seolah-olah menjadi terkunci. Ia masih tetap bimbang, apakah ia akan mengatakan tentang kekalahannya, atau tidak.

Sesaat pengikutnya itu termangu-mangu. Mereka menunggu apakah yang akan dikatakan oleh Sabungsari. Namun yang nampak kemudian adalah justru kegelisahan yang sangat. Bahkan kemudian Sabungsari itu membentak, ”Pergi, pergi kalian.”

Pengikutnya menjadi bingung. Namun mereka melihat Sabungsari bersungguh-sungguh, ”Pergi. Pergi, cepat, sebelum aku mencincang kalian di pasir tepian ini.”

Betapapun kebingungan mencengkam jantungnya, namun kedua pengikutnya itu pun kemudian melangkah surut.

 

 

“Pergi, pergi. Apakah yang kalian tunggu?” bentak Sabungsari pula.

Keduanya tidak dapat bertanya sepatah katapun lagi. Melihat wajah Sabungsari yang bagaikan menyala, maka keduanyapun kemudian meninggalkannya seorang diri di tepian.

Sepeninggal kedua pengikutnya, kembali Sabungsari merenungi dirinya. Langit menjadi semakin kelam dan bintang-bintangpun mulai menghiasi hitamnya malam.

“Sepantasnya aku memang menjadi gila,” geram Sabungsari. Namun ia sadar sepenuhnya, apa yang telah terjadi atas dirinya.

Dalam pada itu, di padepokan kecil yang sepi, Agung Sedayu duduk berdua di serambi gandok dengan Glagah Putih. Mereka berbincang tentang keadaan padepokannya yang semakin berkembang.

“Aku besok akan menjemput Ayah,” berkata Glagah Putih, ”lebih baik aku datang sendiri daripada hanya sekedar memberitahukan bahwa aku telah kembali.

“Bukankah kau sudah menyuruh seseorang memberitahukan bahwa kau sudah datang?”

“Tetapi sampai sekarang, Ayah belum datang kemari,” jawab Glagah Putih.

“Tentu ayahmu sedang sibuk. Apalagi ayahmu mengetahui bahwa kita datang dengan selamat,” jawab Agung Sedayu.

Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi rasa-rasanya ia memang sudah sangat rindu kepada ayahnya.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu pun mulai gelisah karena ia masih belum menyampaikan pesan-pesan Ki Waskita yang tertulis pada sebuah rontal. Semalam ia telah kehilangan kesempatan. Karena itu, malam itu adalah malam yang tepat untuk melakukannya, sebelum Ki Widura benar-benar datang ke padepokan itu.

“Malam ini adalah malam ketiga aku berada di padepokan,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, ”nampaknya sudah cukup waktu untuk beristirahat.”

Agung Sedayu merencanakan, setelah Glagah Putih tertidur nyenyak.maka ia akan menghadap gurunya menyampaikan beberapa persoalan. Di antaranya adalah persoalan yang dibawa oleh Sabungsari yang sebenarnya.

Dalam pada itu, ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih berada di serambi gandok, maka di ruang dalam, Kiai Gringsing menghadapi kitab yang besar. Ia membaca kitab itu seperti semalam ia membaca, saat Agung Sedayu minta diri kepadanya bersama Sabungsari.

Kitab itu nampaknya sangat menarik perhatiannya. Sudah beberapa kali ia membaca isinya. Tetapi setiap kali ia telah membukanya dan membacanya kembali.

“Guru mulai membaca lagi,” desis Agung Sedayu yang lamat-lamat mendengar suara gurunya.

“Ia nampaknya tekun sekali membaca,” sahut Glagah Putih, ”meskipun Kiai Gringsing sudah tua, tetapi suaranya masih cukup baik. Jika suara tembang itu menggema di sepinya malam, aku justru menjadi sangat mengantuk.”

Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu menyahut, ”Aku juga. Aneh sekali. Tetapi mungkin karena kita agak letih juga bekerja di sawah.”

Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu. Agung Sedayu mulai merenungi dirinya sendiri pula. Jika Glagah Putih telah tertidur, maka ia akan mempergunakan waktunya sebaik-baiknya. Di malam pertama ia datang ke padepokan, ia sudah menceritakan segala yang dialaminya. Tetapi ia belum mulai menukik ke kedalaman masalah yang diceritakannya itu. Ia baru bercerita tentang pengalamannya sampai tuntas. Tentang rontal yang dibacanya, tentang pengaruh yang dialaminya setelah membaca rontal itu, dan tentang orang-orang yang mencegatnya, yang ternyata adalah pengikut-pengikut Ki Gede Telengan.

“Rontal Ki Waskita tentu berisi pesan-pesan penting,” berkata Agung Sedayu, ”aku tidak boleh menundanya lagi. Seharusnya semalam aku sudah menyerahkannya, jika saja Sabungsari tidak mengajak aku bermain-main ke tepian. Sedangkan malam ini adalah malam ketiga.”

Ternyata suara Kiai Gringsing itu benar-benar berpengaruh pada Glagah Putih. Lagu yang menyusup sampai ke serambi dinding, rasa-rasanya bagaikan silirnya angin lembut yang mengusap wajahnya. Sehingga Glagah Putih yang telah bekerja sehari-harian itu pun mulai mengantuk.

“Jika kau mengantuk, tidurlah,” berkata Agung Sedayu yang melihat mata Glagah Putih menjadi semakin berat.

Glagah Putih tersenyum. Jawabnya, ”Sebenarnya masih terlalu sore untuk tidur. He, Kakang Agung Sedayu. Kapan kita mulai dengan latihan-latihan yang lebih baik?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia pun bertanya, ”Kenapa tiba-tiba saja kau menyebut tentang latihan yang lebih baik?”

“Aku sudah menjadi semakin tua. Sementara orang-orang lain meningkatkan ilmunya, aku sama sekali tidak berbuat sesuatu.”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, ”Kau masih ingin bertahan dari kantukmu?“

“Bukan karena itu. Aku memang akan tidur sekarang. Tetapi aku bertanya tentang kemungkinan itu sebelum aku pergi tidur.”

“Kapan saja kau siap untuk mulai Glagah Putih. Besok atau lusa?”

Glagah Putib mengerutkan keningnya. Dipandanginya kakak sepupunya dengan tatapan mata yang tajam, seolah-olah ia masih meragukan keterangannya itu.

“Kenapa kau memandang aku seperti itu?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Glagah Putih, ”aku hanya akan meyakinkan diriku sendiri.”

Agung Sedayu tertawa. Katanya, ”Baiklah, besok kita benar-benar akan mulai dengan latihan-latihan yang lebih baik. Bukankah kita sudah cukup beristirahat selama dua hari?”

“Ya. Kita sudak cukup beristirahat,” sahut Glagah Putih.

“Nah, sekarang, jika kau sudah mengantuk, tidurlah.”

“Jika belum?” bertanya Glagah Putih.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun jawabnya, ”Jika belum, marilah kita bermain macanan.”

Tetapi Glagah Putih justru membaringkan dirinya di pembaringannya sambil berkata, ”Aku akan tidur meskipun masih sore.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Ia memang ingin Glagah Putih segera tertidur. Agar tidak menimbulkan kegelisahan anak itu, maka Agung Sedayu pun kemudian ikut berbaring pula. Namun Agung Sedayu sama sekali tidak memejamkan matanya.

Dalam pada itu, sejenak kemudian, ternyata Glagah Putih telah tertidur nyenyak. Nafasnya mengalir dengan teratur.

Perlahan-lahan Agung sedayu pun kemudian bangkit dan dengan hati-hati ia mengambil rontal dari geledeg bambunya. Sejenak ia ragu-ragu. Namun kemudian katanya dalam hati, ”Waktunya sudah baik. Agaknya aku pun sudah dapat mengatur perasaanku, mungkin Guru akan banyak bertanya tentang isi kitab Ki Waskita setelah membaca rontal itu.”

Dengan hati-hati pula ia membuka pintu biliknya dan kemudian melangkah keluar. Ia masih mendengar gurunya membaca meskipun hanya perlahan-lahan.

Ketika Agung Sedayu mendekat, Kiai Gringsing mengangkat wajahnya.

Ia tahu, bahwa ada yang penting yang akan dikatakan oleh anak itu kepadanya, melengkapi keterangan yang telah diberikannya.

“Duduklah Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing.

Agung Sedayu pun duduk bersila di amben yang besar menghadap gurunya. Terasa, dadanya berdebar-debar seolah-olah ia sedang menghadapi pengadilan yang akan dapat menjatuhkan hukuman atasnya.

“Kau akan menyampaikan sesuatu yang penting?” bertanya gurunya.

Agung Sedayu mengangguk. Katanya, ”Ya Guru. Ada sesuatu yang penting, melengkapi keteranganku yang pernah aku sampaikan kepada Guru.”

“Aku sudah menduga. Waktu itu keteranganmu memang sudah cukup panjang dan lengkap. Tetapi baru permukaannya saja. Bukankah ada yang lebih penting dari yang permulaan itu?”

“Ya Guru. Tetapi sebelum itu, aku ingin menceritakan sesuatu tentang anak muda yang bernama Sabungsari itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, ”Rasa-rasanya memang ada sesuatu yang menarik pada anak muda itu.”

“Menarik sekali Guru,” sahut Agung Sedayu, ”anak itu ternyata adalah anak Ki Gede Telengan.”

“He?” Kiai Gringsing memang agak terperanjat, ”bukankah dengan demikian ia cukup berbahaya bagimu?”

“Ya Guru. Ia memang sangat berbahaya. Tetapi untunglah bahwa ia selalu bersikap jantan. Ia tidak mau merendahkan diri dengan berbuat licik dan curang.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dengan nada yang dalam ia bergumam, ”Agung Sedayu. Sebenarnyalah semalam aku memang gelisah. Aku sama sekali tidak dapat tidur. Sekali-sekali aku keluar dan berjalan-jalan di halaman. Tetapi rasa-rasanya kau pergi terlalu lama, seolah-olah sudah lebih lama dari satu malam suntuk.”

Agung Sedayu pun kemudian menceritakan, apa yang telah terjadi dengan Sabungsari. Dari awal sampai akhir.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Syukurlah jika kau menemukan penyelesaian yang sebaik-baiknya. Nampaknya anak itu memang bukan seorang anak muda yang jahat. Jika ia berniat untuk membunuhmu, itu karena didorong oleh kesetiaannya kepada ayahnya. Dipandang dari satu segi, sikap itu tidak perlu dilakukannya. Ia harus lebih dahulu mengetahui dengan pasti, siapakah ayahnya, dan kenapa ia terbunuh.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku berharap, bahwa ia akan berubah. Mudah-mudahan ia menemukan jalan yang baik. Sebagai seorang prajurit, ia memiliki kelebihan yang melampaui kawan-kawan setatarannya. Jika ia mendapat kesempatan, maka ia akan cepat menanjak ke tingkat yang lebih tinggi.”

“Ya, Agung Sedayu. Aku kira, kesempatan itu terbuka baginya,” Kiai Gringsing mengangguk-angguk. ”Lalu, apakah yang akan dilakukannya kemudian?”

“Aku tidak tahu Guru. Tetapi aku melihat kesadaran membayang di matanya. Bahkan sejak semula, ia sudah dibayangi oleh keragu-raguan meskipun ia tidak berani mengembangkannya di dalam hatinya.”

Kiai Gringsing termenung sejenak. Terbayang wajah, sikap dan sifat anak muda itu, yang ternyata menurut Agung Sedayu memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Yang hanya selapis lebih rendah dari Agung Sedayu sendiri.

“Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kemudian, ”bagaimanapun juga, kau tidak boleh meninggalkan kewaspadaan. Mungkin anak itu menemukan kesadarannya. Tetapi mungkin sakit hati dan dendam itu menyala dengan tiba-tiba di dalam hatinya yang dapat menimbulkan ledakan yang tidak terduga-duga.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa hentakan perasaan sesaat akan dapat merubah pikiran seseorang, sehingga ia akan dapat melakukan sesuatu yang di sesalinya kemudian. Namun betapapun seseorang menyesal, yang sudah terjadi itu sudah terjadi.

Sejenak kedua orang itu terdiam. Kiai Gringsing mencoba membayangkan, apa yang dapat dilakukan oleh Sabungsari. Sementara Agung Sedayu pun mencoba untuk mengerti, maksud gurunya agar ia tetap berhati-hati.

“Jika ia benar-benar menemui kesadarannya,” berkata Kiai Gringsing kemudian, ”dan ia benar-benar mengamalkan ilmunya di dalam lingkungan keprajuritan, maka Pajang akan mempunyai seorang senapati muda yang pilih tanding, meskipun ia masih harus banyak menyadap pengalaman dalam perang gelar dan penguasaan medan yang luas. Bukan sekedar mengendalikan dirinya sendiri.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja hatinya tersentuh oleh kata-kata gurunya. Jika Sabungsari pada suatu saat dapat menjadi seorang senapati pinunjul karena pengamalan ilmunya, lalu bagaimana dengan dirinya sendiri.

Di luar sadarnya Agung Sedayu membayangkan, pada suatu saat, seorang senapati agung yang pilih tanding, di punggung kuda diiringi oleh beberapa orang pengawal, datang ke padepokan kecilnya. Sementara ia sendiri dengan pakaian yang kotor dan kaki berlumpur datang menyongsongnya di regol halaman.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba saja terngiang kata-kata Sabungsari, ”Aku merasa jemu berada di dalam barak dengan suasana yang ajeg.”

Meskipun yang dikatakan oleh Sabungsari itu ternyata hanyalah sikap pura-pura, tetapi ia menganggap bahwa baginya, sikap itu benar-benar akan dirasakannya apabila ia berada di dalam lingkungan keprajuritan.

Sejenak kemudian terdengar Kiai Gringsing berkata, ”Mudah-mudahan Agung Sedayu. Mudah-mudahan anak itu benar-benar menemukan jalan yang baik bagi hari depannya,” ia berhenti sejenak, lalu, ”Kemudian, apakah yang telah terjadi dengan dirimu sendiri. Kau sudah mengatakan tentang kitab yang kau baca sampai tuntas. Kau sudah mengatakan bahwa kau mendapatkan pengaruh dari padanya, meskipun kau belum dengan sengaja mempelajari maknanya. Apa yang terjadi pada dirimu adalah peningkatan dari kemampuan yang memang sudah ada padamu. Nah, barangkali kau sudah siap untuk membicarakan masalah yang lebih mendalam lagi tentang isi kitab itu?”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Terasa keragu-raguan masih saja merayapi jantungnya.

Namun ia pun kemudian berkata, ”Guru, pada suatu saat, aku memang harus menekuni bagian demi bagian dari isi kitab itu. Aku harus mempelajari dan menemukan maknanya. Karena di dalam diriku sudah tersimpan unsur dari ilmu yang berbeda, maka aku harus mempelajarinya dan mencari kemungkinannya agar yang sudah ada dan yang baru itu dapat luluh di dalam diriku.”

“Gejala dari luluhnya ilmu yang bersumber dari cabang-cabang perguruan itu sudah ada. Pengaruhnya sudah terasa pada ilmu yang sudah ada pada dirimu. Kini di dalam dirimu telah luluh dua ilmu sejenis yang berbeda sumbernya. Kau menguasai ilmu yang kau sadap dari aku. Tetapi kau pun memiliki pengetahuan yang mumpuni dari ilmu yang pernah mengalir pada saluran perguruan Ki Sadewa, karena kau pernah menemukan goa tanpa kau sengaja. Kini kau telah menguasai bunyi kitab Ki Waskita. Meskipun kau baru menguasai bunyi kalimat-kalimat yang tertulis di dalam kitab itu, belum makna dari bunyi itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu di dalam dirinya. Jika ia berhasil mengenal makna isi kitab Ki Waskita, maka seolah-olah ia menyandang trisula di dalam dirinya. Tiga ujung ilmu yang akan sangat penting artinya bagi masa depannya.

Sementara itu, ketika keduanya terdiam sejenak, maka dengan gelisah Agung Sedayu pun mulai menyentuh kantong yang berisi rontal dari Ki Waskita kepada Kiai Gringsing. Rontal yang tentu sangat penting, meskipun Agung Sedayu sudah dapat meraba perkembangan yang akan dihadapinya kemudian.

“Nah, Agung Sedayu. Jika kau memang sudah menghendaki, marilah kita berbicara tentang isi kitab itu. Atau barangkali masih ada masalah yang akan kau sampaikan?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, ”Guru. Ketika aku kembali dari rumah Ki Waskita, aku mendapat pesan untuk menyampaikan rontal ini kepada Guru. Sebenarnya kemarin malam aku ingin menyampaikannya. Tetapi kehadiran Sabungsari telah menunda rencanaku itu.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Katanya, ”Bagaimanakah jika pesan Ki Waskita itu menyangkut batasnya waktu?”

Wajah Agung Sedayu menegang sejenak. Namun kemudian ia hanya dapat menundukkan kepalanya. Jika benar seperti yang dikatakan gurunya, bahwa pesan itu menyangkut batasan waktu, maka ada kemungkinan bahwa gurunya telah terlambat.

Namun ketika kemudian Kiai Gringsing mengurai rontal itu dan membacanya, tidak ada kesan yang mendebarkan di wajahnya. Meskipun wajah itu nampak bersungguh-sungguh, tetapi agaknya tidak ada sesuatu yang membuatnya gelisah dan berdebar-debar.

Beberapa saat lamanya Kiai Gringsing membaca. Bahkan ada beberapa bagian yang nampaknya diulanginya untuk mendapatkan kejelasan arti.

Agung Sedayu kemudian hanya dapat menunggu sambil menundukkan kepalanya. Untuk beberapa saat, gurunya masih saja berdiam diri sambil berpikir.

Dalam pada itu, Agung Sedayu semakin lama menjadi semakin berdebar-debar. Sekilas dibayangkannya apa yang pernah dialaminya di rumah Ki Waskita. Terbayang juga sekilas wajah Rudita yang jernih bening. Kemudian nampak betapa buramnya wajah Prastawa yang berwajah tengadah itu.

Untuk beberapa saat Agung Sedayu harus menunggu. Ia sadar, bahwa gurunya tentu baru mencernakan isi rontal yang disampaikan kepadanya itu.

Ketegangan itu rasa-rasanya benar-benar mencengkam dada Agung Sedayu, sehingga pernafasannyapun rasa-rasanya menjadi sesak. Bahkan kepalanya terasa menjadi agak pening karenanya.

Namun ketegangan itu kemudian telah dipecahkan, ketika Kiai Gringsing menarik nafas sambil berkata, ”Agung Sedayu. Di dalam rontal ini tertulis beberapa pesan Ki Waskita kepadaku. Ada yang sangat menarik bagiku, karena Ki Waskita telah pernah menyebut sesuatu yang akan sangat berarti bagi perguruan ini.”

Agung Sedayu-lah yang menjadi tegang. Namun kemudian ia sadar, bahwa yang dimaksudkan tentu pesan Ki Waskita tentang kitab yang pernah dikatakan kepadanya. Kitab Kiai Gringsing.

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsing berkata, ”Agung Sedayu. Yang pertama dikatakan oleh Ki Waskita, bahwa kau telah menguasai setiap kata di dalam kitabnya. Seolah-olah isi dalam pengertian bunyinya telah kau pahatkan di dinding hatimu.”

Agung Sedayu mengangguk.

“Dan itu memang sudah kau katakan kepadaku,” berkata Kiai Gringsing kemudian, ”karena itu, kau kemudian memerlukan waktu khusus untuk mencari makna dari bunyi yang tertulis di dalam kitab itu.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

“Dalam hal ini Agung Sedayu, Ki Waskita berpesan, agar aku dapat membantumu, mengawasi kerja yang mungkin dapat membahayakan dirimu itu.”

Agung Sedayu mengangkat wajahnya. Kemudian katanya, ”Terima kasih jika Guru berkenan melakukannya. Masih banyak yang tidak aku pahami, bagaimana aku membuka pintu memasuki daerah penghayatan dan makna dari bunyi kalimat-kalimat di dalam kitab itu.”

“Tentu aku akan membantumu meskipun mungkin ada hal-hal yang aku juga tidak mengerti. Tetapi mudah-mudahan aku dapat membantu mencari jalan yang terbaik bagimu selama kau mencari arti dan makna dari isi kitab yang telah kau baca itu.”

Agung Sedayu telah menundukkan kepalanya kembali.

“Selebihnya Agung Sedayu. Apakah Ki Waskita pernah mengatakan kepadamu, bahwa aku juga memiliki sebuah kitab yang memuat pengertian dan ilmu kanuragan dan kajiwan?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya Guru. Ki Waskita pernah menyinggungnya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ada sesuatu yang terbuka, tetapi kadang-kadang ada juga sesuatu yang harus tertutup. Pada suatu saat aku memang pernah menyatakan tentang diriku sendiri. Tetapi pernyataan itu aku berikan kepada beberapa orang tertentu. Tidak kepada setiap orang, karena kepentingan yang berbeda-beda. Justru karena itulah, maka yang pernah aku katakan itu, pernah pula aku ingkari. Justru karena ada orang lain yang tidak aku harapkan. Bukan karena tidak percaya, tetapi karena kepentingan lain.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, ”karena itulah, maka sebenarnya pesan yang diberikan Ki Waskita kepadaku, terasa sangat berat untuk dilakukan, tetapi rasa-rasanya menuntut keharusan untuk dilakukan. Jika aku memberi kesempatan kepadamu, mempelajari isi kitab itu kelak pada suatu saat, maka aku harus memberikan kesempatan serupa kepada muridku yang lain.”

Agung Sedayu mengangkat wajahnya sejenak. Namun wajah itu pun segera tunduk kembali.

Dengan penuh kesadaran ia memahami keterangan gurunya. Murid Kiai Gringsing tidak hanya dirinya sendiri. Tetapi ada seorang yang lain, yaitu Swandaru, sehingga dengan demikian maka gurunya tidak akan dapat emban cinde emban silatan atas kedua muridnya itu.

Sejenak Kiai Gringsing berdiam diri. Seolah-olah ia sedang memikirkan kalimat-kalimat yang akan diucapkannya.

Baru sejenak kemudian ia berkata, ”Ki Waskita memang lebih dekat padamu daripada Swandaru. Itu bukan suatu kesalahan, karena ia dapat saja memilih apa yang sebaiknya dilakukan menurut pertimbangannya sendiri atas kau dan Swandaru. Barangkali ia dapat saja mengambil istilah, mengangkat kau menjadi muridnya, tetapi tidak demikian dengan Swandaru.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, ”tetapi tentu tidak akan dapat terjadi demikian dengan aku.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Meskipun demikian Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing, ”aku akan dapat memilih langkah yang paling adil. Aku pernah menjadi bimbang karena justru aku ingin berbuat adil. Misalnya aku mempunyai dua orang anak, maka yang seorang sudah berumur tujuh belas dan yang lain berumur tujuh tahun. Manakah yang lebih adil, apakah aku harus memberi makan masing-masing semangkuk nasi yang sama banyak dan macamnya, atau aku harus memberikan sesuatu dengan keperluan masing-masing. Bahwa anakku yang berumur tujuh belas memerlukan nasi yang lebih, banyak dari anakku yang berumur tujuh tahun.”

Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, ”Yang pertama aku bertindak adil karena aku memberikan sesuatu yang sama meskipun kebutuhan mereka tidak sama. Sedang yang kedua aku bertindak adil karena aku memberikan sesuai dengan yang diperlukan.”

Agung Sedayu masih saja menundukkan kepalanya. Tetapi ia mengerti, arah pembicaraan gurunya.

Tetapi ternyata gurunya kemudian berkata, ”Agung Sedayu. Kau dan Swandaru memiliki beberapa perbedaan tingkat dan wawasan. Itulah yang perlu aku pertimbangkan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang gurunya sekilas, maka dilihatnya Kiai Gringsing memandanginya dengan sorot mata yang memancarkan kesungguhan hatinya.

Untuk beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Pesan Ki Waskita itu telah menumbuhkan masalah di padepokan kecil dari Jati Anom itu. Namun Kiai Gringsing pun mengerti, bahwa Ki Waskita agaknya benar-benar mengagumi Agung Sedayu, sehingga ia tergesa-gesa ingin melihat Agung Sedayu menjadi seseorang yang mumpuni.

Jika pesan itu tidak diberikan oleh Ki Waskita yang diketahuinya bahwa pesan itu diberikan dengan jujur tanpa maksud-maksud buruk, maka Kiai Gringsing tentu sudah tersinggung. Adalah haknya untuk memberikan atau tidak apapun yang ada padanya kepada muridnya. Namun ia pun mengerti, bahwa Ki Waskita benar-benar didorong oleh maksud baiknya terhadap Agung Sedayu. Tetapi ia memang agak melupakan bahwa pada Kiai Gringsing, di samping Agung Sedayu ada juga Swandaru.

Namun bagaimanapun juga, Kiai Gringsing tidak dapat bertindak tergesa-gesa, meskipun hal itu dinilai sebagai suatu kelambanan. Kiai Gringsing tidak dapat berbuat sesuatu terhadap seorang muridnya tanpa menghiraukan muridnya yang lain, diketahui atau tidak diketahui.

Meskipun demikian, Kiai Gringsing tidak mau mengecewakan Agung Sedayu. Karena itu katanya, ”Agung Sedayu. Baiklah aku akan memikirkan, semua pesan Ki Waskita. Sudah tentu bahwa semua yang aku miliki akan aku wariskan kepada murid-muridku, karena jika ada satu hal saja yang tercecer, betapapun kecilnya, maka aku sudah mengurangi kemungkinan berkembangnya ilmuku sendiri. Jika demikian yang dilakukan setiap guru terhadap muridnya, maka ilmu itu akan menjadi semakin kerdil sehingga akhirnya akan kehilangan arti.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia sendiri tidak pernah merasa tergesa-gesa. Ia sudah merasa cukup banyak menerima dari gurunya. Dan ia pun mengerti, bahwa gurunya pasti akan berbuat sebaik-baiknya terhadapnya.

Karena itu, maka katanya, “Guru. Adalah mapan sekali jika aku mendapat tenggang waktu menghadapi susunan ilmu yang berbeda itu. Aku sudah menerima banyak sekali dari Guru, dan kemudian aku mendapat kesempatan untuk mengenali isi kitab Ki Waskita. Dengan demikian, maka aku memerlukan kesempatan untuk mencernakan isinya sebelum aku menyadap makna dari puncak ilmu yang dapat Guru berikan kepadaku.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kebijaksanaan pada muridnya yang masih muda itu. Ia mengerti bahwa Agung Sedayu mengerti perasaannya, bahwa ia harus menimbang semua segi kemungkinan karena Kiai Gringsing mempunyai dua orang murid.

Maka orang tua itu pun berkata, ”Itulah yang sangat menarik Agung Sedayu. Mudah-mudahan kau menyadari sikapmu, sehingga kau benar-benar memiliki kebijaksanaan menanggap sesuatu masalah.”

Agung Sedayu hanya dapat menundukkan kepalanya. Bahkan pujian gurunya telah membuat wajahnya menjadi kemerah-merahan.

“Agung Sedayu,” berkata gurunya kemudian, ”sementara aku memikirkan jalan yang terbaik yang dapat aku lakukan, maka kau mendapat kesempatan untuk mencari makna dari isi kitab Ki Waskita. Sudah barang tentu kau jangan menyiksa wadagmu dengan tergesa-gesa ingin menguasai semua masalah yang ada di dalam kitab itu. Kemampuanmu menyimpan isi kitab itu di dalam ingatanmu memang luar biasa. Tetapi kita semua adalah orang-orang yang memiliki keterbatasan. Demikian juga ketajaman ingatanmu, sehingga semakin lama, maka kemungkinan ada satu dua bab yang menjadi kabur. Tetapi keterbatasanmu untuk menyadap makna dari isi kitab harus kau perhitungkan sebaik-baiknya.”

Agung Sedayu mengangguk sambil menjawab, ”Seperti pesan Ki Waskita, aku memerlukan pengawasan dan tuntunan Guru.”

“Aku akan melakukannya. Aku akan membantumu mengurai masalahmu, seperti aku akan membantu mengurai masalah yang mungkin dihadapi oleh Swandaru. Tetapi sebaiknya kau sendiri akan memulainya, dan akan merasakan sentuhan-sentuhan yang paling sesuai dengan dasar pribadi dan ilmu yang telah ada padamu. Baru kemudian, aku akan mencoba membantumu.”

Agung Sedayu mengangguk sambil menjawab, ”Ya Guru. Aku akan mencoba melihat ke dalam diriku sendiri, yang manakah yang lebih dahulu dapat aku cari maknanya.”

“Kau dapat mulai kapan saja kau kehendaki. Tetapi sekali lagi aku berpesan, kau harus selalu memperhatikan wadagmu. Jangan kau paksa wadagmu melakukan melampaui kemampuan dan keterbatasannya, sehingga mungkin terjadi, kau memiliki ilmu yang tinggi, tetapi wadagmu akan menjadi gersang seperti sebatang pohon yang dipanggang di panasnya api.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi berdebar-debar jika ia teringat keadaan wadagnya selama ia berada di dalam goa yang tersembunyi di pinggir sungai yang terjal itu. Kemudian ia pun meremang jika ia teringat, bahwa ia menjadi pingsan setelah ia memaksa diri untuk menyelesaikan isi kitab Ki Waskita.

“Itu baru kulitnya,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, ”apalagi jika aku memaksa diri untuk memahami maknanya. Mungkin ada bagian wadagku yang kalah dan mengalami kesulitan.”

Agung Sedayu memang pernah mendengar, bahwa seseorang dapat menjadi lumpuh, atau buta atau tuli, atau cacat-cacat badaniah yang lain, bahkan seseorang dapat mengalami cacat rohaniah, menjadi gila atau kehilangan ingatan sama sekali, apabila tanpa keseimbangan mempelajari ilmu yang tinggi dan mendalam tentang apapun juga.

Karena itu, maka ia akan selalu ingat kepada pesan gurunya. Ia akan mendalami dan memahami makna isi kitab Ki Waskita, tanpa sikap tergesa-gesa dan didesak oleh perasaan. Keseimbangan perasaan dan nalar harus diperhitungkan seperti keseimbangan kemampuan wadag dan niat.

Disamping itu, Agung Sedayu pun wajib menyisihkan waktunya bagi Glagah Putih. Anak rnuda itu tentu ingin mempergunakan waktunya sebanyak-banyak dapat dipergunakannya untuk latihan kanuragan.

Karena itu, maka Agung Sedayu harus dapat membagi waktu sebaik-baiknya. Bagi Glagah Putih yang sudah diserahkan kepadanya oleh pamannya, dan bagi dirinya sendiri.

Namun betapapun juga, ia tidak dapat meninggalkan gurunya dalam segala langkahnya. Ia pun kemudian menyampaikan juga keinginan Glagah Putih untuk segera meningkatkan ilmunya, yang bahkan anak itu telah merasa sangat terlambat.

“Dengan siapa ia membandingkan dirinya?” bertanya Kiai Gringsing.

“Aku tidak tahu Guru. Tetapi ia bertemu dengan Prastawa di Tanah Perdikan Menoreh,” jawab Agung Sedayu.

“Apakah mungkin juga Sabungsari?” bertanya gurunya pula.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia kemudian berkata, ”Ia tidak melihat ketinggian ilmu Sabungsari.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, ”Kau memang harus membimbingnya Agung Sedayu. Menilik umurnya, sebenarnya ia masih sangat muda. Tetapi jika ia tidak segera berbenah diri, ia memang akan terlambat. Karena itu, kau harus benar-benar dapat membagi waktumu. Sebagian untukmu sendiri, sebagian lagi untuk adikmu. Sementara kaupun harus berada di dalam tiga daerah ilmu, yang harus dapat kau trapkan sesuai dengan pembagian waktu itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat, betapa sulitnya masa-masa yang akan datang itu, justru karena ia bertanggung jawab kepada kesanggupan dan kewajiban.

“Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kemudian, ”kau harus menyesuaikan diri dalam keseimbangan waktu dan kemampuan jasmaniahmu. Jangan memaksa diri, sehingga akan dapat menyulitkan dirimu sendiri.”

 

 

“Ya Guru,” jawab Agung Sedayu, ”aku mengerti. Dan aku pun harus selalu mengingat keadaan itu. Keadaan yang kadang-kadang memang terlupakan oleh dorongan perasaan yang bergelora.”

“Nah, ambillah ketentuan waktu. Mulailah dan aku akan selalu mengikuti perkembanganmu dan perkembangan adik sepupumu itu.”

Agung Sedayu pun kemudian minta diri dari hadapan gurunya. Rasa-rasanya hatinya memang menjadi lapang, bahwa ia sudah menyampaikan pokok-pokok masalahnya kepada gurunya. Tetapi dengan demikian, ia pun mulai terjun ke dalam suatu kewajiban yang sangat berat. Ia harus dapat menyesuaikan diri dengan waktu, kemampuan jasmaniah dan dorongan perasaannya. Bukan saja atas dirinya sendiri, tetapi juga atas adik sepupunya, Glagah Putih.

Sepeninggal Agung Sedayu, Kiai Gringsing duduk sambil merenung. Kitab yang dibacanya masih terbuka. Tetapi ia tidak lagi membaca isi kitab itu, karena pikirannya justru sedang dicengkam oleh isi surat Ki Waskita yang menyebut-nyebut kitabnya yang berisi tuntunan Kanuragan dan Kajiwan.

“Setelah ia menuangkan ilmunya, maka Ki Waskita ingin melihat aku berbuat serupa,” gumam Kiai Gringsing kepada dirinya sendiri.

Sebenarnya Kiai Gringsing agak menyesali sikap Ki Waskita itu, bahwa Ki Waskita sudah terlanjur memberitahukan kepada Agung Sedayu. Bukan karena ia mempertahankan rahasia itu untuk seterusnya, tetapi ia harus dengan bijaksana menurunkan segalanya kepada murid-muridnya.

Namun dalam pada itu Kiai Gringsing pun mulai menilai dirinya sendiri. Apakah seluruh isi kitab itu sudah dikuasainya. Baik unsur kanuragannya maupun unsur kajiwannya.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia harus mengakui kepada dirinya sendiri, bahwa seperti Ki Waskita, masih banyak makna isi kitabnya yang belum terungkapkan. Karena itu, maka ia memang harus berhati-hati dengan kitab itu.

“Tetapi Ki Waskita telah membuka kitabnya bagi Agung Sedayu, sehingga anak itu dapat mengetahui seluruh isinya dan membiarkannya mencari maknanya sendiri.”

Tetapi seperti yang terjadi pada dirinya, ketika ia menerima kitab itu, ia pun harus bekerja sendiri untuk menemukan maknanya. Namun yang sampai hari tuanya, ia masih belum menemukan seluruhnya. Tetapi pada bagian-bagian yang penting, ia telah menguasainya dengan baik.

Karena itulah, maka ia pun telah berpesan pula kepada Agung Sedayu, bahwa ia pun harus memilih yang paling sesuai tanpa didorong oleh ketamakan untuk menguasai seluruhnya. Karena jika demikian, maka ada kemungkinan bagian lain dari dirinya akan mengalami kemunduran sejalan dengan kemajuan yang kurang keseimbangan di bagian peningkatan ilmunya.

Dalam pada itu, Agung Sedayu pun telah kembali ke dalam biliknya. Perlahan-lahan ia membaringkan dirinya di samping Glagah Putih yang masih tidur nyenyak. Sambil menatap atap ia masih memikirkan kesibukan yang bakal dialaminya di saat-saat mendatang.

“Aku harus dapat membagi waktu sebaik-baiknya seperti yang dikatakan Guru,” katanya di dalam hati, ”siang aku pergi ke sawah. Malam aku berada di sanggar bersama Glagah Putih. Tetapi aku harus membatasi waktuku agar menjelang fajar aku dapat mempergunakan waktu untuk kepentingan diriku sendiri.”

Ia sadar, bahwa kemajuan ilmunya seterusnya tentu akan sangat lamban karena keterbatasan waktu. Tetapi itu lebih baik daripada sama sekali tidak.

Agung Sedayu tertarik ketika ia melihat seekor cicak yang merambat di dinding. Di luar sadarnya, maka ia telah menangkap cicak itu dengan sorot matanya. Dengan segi kemampuannya yang lain, maka ia tidak menghancurkan tubuh cicak itu. Tetapi ia telah mengangkatnya dan menempelkan di bagian dinding yang lain tanpa menyakitinya.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya ketika ia melihat seekor cicak yang berlari-larian mendekati seekor kupu-kupu kecil yang hinggap di dekat lampu minyak. Dengan tergesa-gesa Agung Sedayu telah menghentikan cicak itu ditempatnya untuk beberapa saat. Baru ketika kupu itu terbang, Agung Sedayu telah melepaskannya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian memalingkan wajahnya dengan memiringkan tubuhnya. Meskipun rasa-rasanya ia tidak mengantuk, tetapi dipejamkannya matanya. Namun ia masih sempat menilai kemampuannya sendiri. Ia dapat berbuat demikian, tidak hanya terhadap seekor cicak. Tetapi ia akan dapat melakukannya atas seseorang. Menguasainya dengan sorot matanya tanpa menyakitinya, tetapi seolah-olah merampas kesadarannya untuk sesaat dalam cengkaman ilmunya. Menguasai kesadaran itu dalam dua kemungkinan. Ia dapat menyalurkan perintah atas orang itu sehingga atas kehendaknya orang itu mempergunakan anggota badannya. Tetapi ia juga dapat menguasai seseorang, sehingga orang itu seolah-olah menjadi sebuah patung mati. Sehingga dengan demikian, maka ia dapat menguasainya tanpa menyakitinya, di samping kemampuannya meremas isi dada seseorang dan merontokkannya. Menghancurkan batu menjadi debu dan mengguncang dedaunan seperti badai.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar sepenuhnya, betapa besar kemampuan yang ada padanya. Meskipun ia meyakini kebenaran kata gurunya, bahwa tidak ada seseorang yang tidak terkalahkan betapapun juga ia menyimpan ilmu yang tidak ternilai. Dalam kekuatannya, maka seseorang tentu mempunyai kelemahan.

Namun dalam pada itu, perlahan-lahan kesadaran Agung Sedayu pun menjadi semakin kabur. Justru ia memang berusaha, agar dapat tidur barang sejenak. Dengan meletakkan segala macam persoalan di dalam hatinya, maka ia pun akhirnya dapat tertidur juga dengan nyenyaknya.

Seperti biasa, maka sebelum matahari membayang di timur, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah bangun. Demikian juga beberapa orang anak muda yang tinggal di padepokan itu pula. Mereka melakukan kerja mereka sehari-hari seperti biasanya. Membersihkan halaman, mengisi jambangan, dan kerja sehari-hari yang lain.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu mulai memperhatikan Glagah Putih. Ia telah siap pula untuk mulai dengan latihan-latihan yang dikehendaki oleh Glagah Putih. Karena itu, maka ketika Glagah Putih siap dengan sapu lidinya, Agung Sedayu berkata, ”Glagah Putih. Marilah kita mulai dengan latihan-latihan kanuragan. Kau harus mulai dengan menguasai diri dan kehendak. Cobalah kau berbuat seperti yang aku lakukan.”

“Apa yang kau lakukan Kakang?” bertanya Glagah Putih.

“Kau harus membersihkan halaman ini dengan tanpa meninggalkan bekas seperti yang aku lakukan,” jawab Agung Sedayu.

“Aku harus menyapu halaman sekian luasnya dengan mundur seperti undur-undur? Aku tidak telaten Kakang,” desah Glagah Putih.

“Kau harus mencobanya,” desak Agung Sedayu, ”bukan sekedar untuk membersihkan halaman. Tetapi kau mulai berlatih mengatur diri sendiri. Kau harus dapat memaksa dirimu untuk melakukan pekerjaan yang kau sebenarnya tidak telaten.”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Kau bergurau.”

“Aku bersungguh-sungguh Glagah Putih.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi agaknya Agung Sedayu memang bersungguh-sungguh. Karena itu, maka betapapun segannya, ia mulai dengan menyapu halaman sambil melangkah mundur.

Rasa-rasanya pekerjaan itu merupakan pekerjaan yang berlipat beratnya dari pekerjaan yang setiap hari dilakukannya. Rasa-rasanya halaman itu menjadi jauh bertambah luas, dan dedaunan yang runtuh bertebaran menjadi berlipat pula.

Tetapi akhirnya, pekerjaan itu pun selesai juga. Dengan keringat yang membasahi segenap tubuhnya, Glagah Putih melihat halaman padepokan yang gilar-gilar. Yang nampak hanya bekas sapu lidinya, tanpa bekas kaki sama sekali.

“Lihatlah,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”kau sudah berhasil.”

“Tentu,” jawab Glagah Putih, ”pekerjaan ini tidak sulit. Tetapi aku tidak telaten.”

“Itulah yang aku katakan, bahwa kau berhasil. Bukan karena kau dapat membersihkan halaman ini. Tetapi bahwa kau sudah mengatasi perasaan tidak telaten itu,” berkata Agung Sedayu selanjutnya, ”mudah-mudahan kau akan dapat berbuat seperti itu dalam tugas-tugasmu yang lain. Nah, aku akan melihat, apakah besok pagi, besok lusa, sepekan dan sebulan lagi, kau masih dapat melakukan seperti ini.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun bertanya, ”Jadi aku harus melakukannya setiap hari untuk seterusnya?”

“Ya,” jawab Agung Sedayu.

Glagah Putih menegang sejenak. Sementara Agung Sedayu yang melihatnya berkata sambil tersenyum, ”Hanya untuk satu pekerjaan yang sangat mudah kau lakukan. Apalagi jika kau harus menekuni ilmu kanuragan. Banyak hal-hal yang menjemukan harus kau lakukan berulang kali. Bahkan beratus kali. Kau harus telaten berlatih tidak hanya untuk satu dua hari, bahkan satu dua bulan. Tetapi kau harus melakukannya bertahun-tahun tanpa jemu-jemunya. Kau harus mengatasi perasaan tidak telaten dan jemu.”

Glagah Putih termangu-mangu. Sementara Agung Sedayu meneruskan, ”Kau harus melakukan latihan-latihan yang berat dan berulang-ulang. Memang menjemukan sekali. Mungkin seseorang akan lebih senang meloncat untuk langsung menguasai ilmu yang nampaknya lebih tinggi tingkat dan nilainya. Tetapi dengan demikian, maka yang didapatkannya tentulah hanya kulitnya. Sedangkan di dalam kulit itu sama sekali tidak terdapat daging dan apalagi tulang.”

Glagah Pulih menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia menjawab, ”Aku mengerti Kakang.”

“Nah, cobalah menguasai diri dengan sadar Mungkin kau akan melakukan pekerjaan yang menjemukan dan yang sebenarnya kau tidak telaten melakukannya di dalam menuntut ilmu kanuragan,” berkata Agung Sedayu kemudian.

“Ya Kakang. Aku mengerti.”

Agung Sedayu tersenyum. Ia benar-benar sudah mulai membentuk adik sepupunya. Seperti yang diinginkan oleh anak itu dan pamannya Ki Widura, maka Agung Sedayu diharap akan dapat menyalurkan ilmu yang mengalir melalui perguruan yang di masa hidupnya Ki Sadewa merupakan ilmu yang pilih tanding.

Namun dalam pada itu, yang masih belum dapat disingkirkan dari hati Agung Sedayu adalah kebimbangannya. Kadang-kadang ia masih dibayangi keragu-raguan. Bukan karena ia tidak rela memberikan segalanya yang diketahuinya dari setiap unsur ilmu ayahnya itu, tetapi kadang-kadang ia menjadi cemas melihat anak anak muda seperti Prastawa dan bahkan saudara seperguruannya sendiri Swandaru.

“Apakah aku akan tetap dapat menguasainya?” pertanyaan itulah yang selalu membayanginya. Bahkan kadang-kadang ia sudah mulai dibayangi, betapa prihatinnya, jika kelak Glagah Putih yang memiliki ilmu yang tinggi itu menjadi seorang anak muda yang sulit dikendalikan dan hanya menuruti kemauannya sendiri.

“Aku harus berhati-hati,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, seperti pekerjaan apa saja yang dilakukannya.

Namun Agung Sedayu pun kemudian menemukan pemecahan. Untuk mempunyai kemampuan ilmu yang tinggi. Glagah Putih masih memerlukan waktu yang panjang. Selama itu ia masih mempunyai waktu untuk terus-menerus mengawasinya.

Hari itu nampaknya Agung Sedayu pun telah mempersiapkan rencana bagi adik sepupunya. Menjelang malam, ia akan mulai lagi dengan latihan-latihan yang semakin lama tentu akan menjadi semakin berat di saat-saat mendatang.

Namun dalam pada itu, ketika Agung Sedayu siap untuk pergi ke sawah, melihat apakah air mengalir sewajarnya, Glagah Putih menemuinya sambil berkata, ”Kakang, aku akan pergi ke Banyu Asri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Glagah Putih tentu ingin sekali bertemu dengan orang tuanya. Karena itu, maka katanya, ”Baiklah Glagah Putih. Nanti aku akan mengantarmu pergi ke Banyu Asri.”

“Kenapa kau harus mengantar?” bertanya Glagah Putih, ”untuk jarak beberapa ratus tonggak, kenapa harus diantarkan?”

Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, ”Maksudku, aku pun sudah rindu kepada Paman dan keluarga di Banyu Asri. Apa salahnya aku juga pergi ke Banyu Asri?”

“Tetapi Kakang tidak perlu mengantar aku. Jika Kakang ingin bertemu dengan Ayah, biarlah aku mengajak Ayah datang ke padepokan ini,” berkata Glagah Putih kemudian.

Agung Sedayu justru tertawa. Ia mengerti getaran perasaan Glagah Putih. Karena itu maka ia pun tidak ingin memaksakan keinginannya.

Namun dalam pada itu, selagi mereka berbicara, seseorang memasuki regol halaman dengan ragu-ragu. Bahkan orang itu pun kemudian berhenti di ujung halaman dengan penuh kebimbangan.

“Sabungsari,” sapa Agung Sedayu yang melihat kedatangannya. Dengan tidak memberikan kesan apapun, ia menyongsongnya seperti saat-saat mereka baru berkenalan. Apalagi Glagah Putih yang tidak mengetahui apa yang telah terjadi antara Agung Sedayu dan Sabungsari. Sambil tertawa Glagah Putih berkata, ”He, kenapa ragu-ragu? Seolah-olah baru kali ini kau melihat padepokan ini.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengerutkan keningnya ia berdesis di dalam hati, “Aku tidak dapat mengerti, betapa jernihnya hati anak muda itu. Yang telah terjadi sama sekali tidak membekas. Agaknya Agung Sedayu dapat menahan perasaannya dan tidak menceritakannya kepada Glagah Putih. Nampaknya anak itu sama sekali tidak mengerti apa yang telah terjadi.”

Namun Sabungsari masih tetap termangu-mangu, sehingga Glagah Putih mengulangi, ”He, apakah kau bermimpi?”

Akhirnya Sabungsati menyadari keadaannya. Betapapun pahitnya ia mencoba untuk tersenyum sambil menjawab, ”Aku takut kalau kedatanganku akan mengganggu.”

“He, apakah kau pernah mengatakan demikian sebelumnya? Kau datang setiap saat. Pagi, siang, sore, bahkan waktu makan. Kau tidak pernah merasa mengganggu. Kenapa tiba-tiba saja kau berkata demikian?”

Sabungsari benar-benar bingung menjawab pertanyaan Glagah Putih. Namun Agung Sedayu-lah yang menolongnya, ”Pertanyaanmu sulit dijawab Glagah Putih. Karena itu, bertanyalah yang lain.”

Glagah Putih pun tertawa. Katanya, ”Baiklah. Aku tidak bertanya apa-apa lagi.”

Agung Sedayu pun kemudian mempersilahkan Sabungsari untuk naik ke pendapa. Tetapi ternyata Sabungsari menjawab, ”Biarlah aku di halaman saja. Lakukanlah apa yang masih harus kau lakukan.”

“Tidak ada yang akan aku lakukan sekarang,” berkata Glagah Putih, ”Kakang Agung Sedayu pun tidak. Kakang akan pergi ke sawah, sedang aku akan pergi ke Banyu Asri.”

“Jadi kalian akan pergi?” bertanya Sabungsari.

“Tidak sekarang,” jawab Agung Sedayu.

“Ya. Kakang Agung Sedayu memang tidak akan pergi sekarang. Akulah yang akan pergi ke Banyu Asri.”

Sabungsari memandang Agung Sedayu sekilas, sementara Agung Sedayu berkata, ”Benar. Aku memang tidak akan pergi. Silahkan. Duduklah di pendapa”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian melangkah naik ke pendapa bersama Agung Sedayu, sementara Glagah Pulih masih tetap berdiri di halaman.

“Jika kau akan pergi, mintalah ijin Kiai Gringsing,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Glagah Putih kemudian masuk ke ruang dalam mencari Kiai Gringsing dan minta ijin kepadanya untuk pergi ke Banyu Asri.

“Kau sudah minta ijin kakakmu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Sudah Kiai.”

“Berhati-hatilah. Apakah kau akan berjalan kaki atau berkuda saja meskipun tidak begitu jauh?”

“Aku akan berjalan kaki saja Kiai,” jawab Glagah Putih, ”nampaknya menyenangkan berjalan-jalan di daerah ini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Kemudian kalanya, ”Pergilah. Tetapi jangan singgah dimana-mana. Kau harus langsung menuju ke Banyu Asri.”

Glagah Pulih tersenyum. Ia mengerti, bahwa Kiai Gringsing, seperti juga kakak sepupunya, tentu mengkhawatirkannya. Tetapi jika kemana-mana ia harus selalu ditemani oleh Agung Sedayu, maka ia akan menjadi anak yang cengeng.

Tetapi Glagah Putih kurang mempertimbangkan, justru karena ia dekat dengan Agung Sedayu, maka ia telah terpercik juga oleh masalah-masalah yang sebenarnya tidak diketahuinya.

Ketika kemudian Glagah Putih keluar dari ruang dalam, maka sekali lagi ia minta diri kepada kakaknya, kemudian mempersilahkan Sabungsari untuk tinggal di padepokan itu.

Sabungsari memandang Glagah Putih sampai hilang di balik pintu regol. Kemudian di luar sadarnya ia memandang Agung Sedayu yang duduk di sampingnya. Tetapi agaknya Agung Sedayu itu pun sedang memperhatikan Glagah Putih yang melintasi pintu regol halaman.

Sepeninggal Glagah Putih, maka Agung Sedayu pun masih berbicara beberapa saat dengan Sabungsari. Di luar sadarnya, Sabungsari menceritakan pergolakkan perasaannya. Seolah-olah ia sedang terbanting-banting pada dua dunia yang kurang dipahaminya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Sabungsari berkata, ”Maaf Agung Sedayu. Aku akan kembali ke barak.”

Agung Sedayu terkejut. Dengan ragu-ragu ia bertanya, ”Kenapa sebenarnya? Kau tiba-tiba saja ingin kembali ke barakmu.”

“Aku ingat, bahwa sebentar lagi aku harus berada di rumah Ki Untara. Mungkin aku akan mendapat tugas untuk pergi keluar tlatah Jati Anom.”

“Ah, begitu tiba-tiba. Tinggallah di sini dahulu. Mungkin kau haus. Marilah kita mengambil beberapa buah jambu, atau beberapa butir kelapa muda,” ajak Agung Sedayu.

“Lain kali sajalah. Aku tergesa-gesa.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Katanya, ”Kau berbuat aneh. Tiba-tiba saja kau ingin meninggalkan padepokan ini.”

“Tadi aku lupa, bahwa aku harus bertugas. Ketika aku teringat, maka aku menjadi gelisah. Mungkin beberapa orang kawan sudah menunggu. Jika aku tidak datang tepat pada waktunya, Ki Untara tentu akan marah. Baru saja ia menunjukkan kebaikan hatinya memberi aku ijin meninggalkan Jati Anom, meskipun aku sekedar menipunya, Tetapi maksud yang ada di hatinya adalah maksud yang baik.”

“Tetapi nantilah sebentar,” jawab Agung Sedayu, “aku juga akan pergi ke sawah. Marilah kita pergi bersama-sama.”

Wajah Sabungsari menegang. Namun kemudian ia menundukkan kepalanya. Dengan nada yang dalam ia berkata, ”O, aku mengerti Agung Sedayu.”

“Apa?” bertanya Agung Sedayu.

“Agaknya kau masih mencurigai aku. Mungkin kau berpikir, begitu Glagah Putih meninggalkan padepokan ini, begitu aku minta diri”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat menjawab. Namun sebenarnyalah ia menjadi curiga, bahwa tiba-tiba saja Sabungsari ingin meninggalkan padepokannya sebelum Glagah Putih menjadi cukup jauh.

“Agung Sedayu,” berkata Sabungsari, ”meskipun aku tidak bertempur sampai mati melawanmu, tetapi aku masih tetap seorang laki-laki. Aku tidak akan berbuat licik, seandainya aku masih ingin melakukan sesuatu atasmu.” Sabungsari berhenti sejenak, lalu, ”Agung Sedayu. Lahir batin, aku sudah tidak ingin lagi membunuhmu, meskipun aku bukan berarti menjadi seorang yang baik. Jika aku tidak membunuhmu, seperti yang pernah aku katakan, bukan karena aku berhasil melihat buruk dan baik, tetapi karena aku memang sudah kau kalahkan. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa aku tidak berusha sejauh-jauh dapat aku lakukan untuk mengetahui buruk dan baik itu, sehingga aku dapat dengan ikhlas melupakan kekalahan ini.”

Dada Agung Sedayu berdesir. Ia melihat kejujuran seorang laki-laki jantan. Karena itu, maka katanya kemudian, ”Aku minta maaf Sabungsari. Mungkin aku masih dipengaruhi oleh kecurigaan yang tidak beralasan itu.”

“Tetapi aku dapat mengerti. Ketika kita bertemu pertama-tama, maka aku memang bersikap pura-pura. Sekali aku berbuat demikian, maka sulit bagi orang lain untuk melupakan dan kemudian mempercayai aku.”

“Aku percaya kepadamu,” desis Agung Sedayu.

“Tetapi tidak sekarang. Aku minta kau pergi bersamaku, sampai kau yakin, Glagah Pulih sampai ke Banyu Asri dan aku tidak dapat menyusulnya atau orang-orang yang aku perintahkan melakukan demikian.”

“Tidak perlu Sabungsari. Aku percaya kepadamu. Aku khilaf, bahwa aku mencurigaimu seperti aku mencurigai laki-laki yang licik.”

“Tetapi prasangka itu pernah ada di dalam angan-anganmu. Karena itu marilah. Kau harus yakin bahwa aku tidak berbuat apa apa.” Sabungsari memaksa, ”karena seandainya Glagah Putih mengalami sesuatu oleh pihak manapun juga, maka kecurigaanmu yang sudah kau timbuni dengan kepercayaan itu, seolah-olah akan menganga lagi. Dan kau tentu akan berkata ”Nah, bukankah Sabungsari benar-benar licik dan pengecut?””

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Marilah Agung Sedayu,” ajak Sabungsari, ”sekedar untuk menenangkan hatiku. Agar aku tidak dibebani oleh kegelisahan lagi. Dalam kebimbangan aku sudah cukup gelisah dan bingung. Karena itu, biarlah aku mendapat sedikit ketenangan dalam hal ini.”

Agung Sedayu tidak dapat mengelak lagi. Ia pun segera masuk dan membenahi pakaiannya. Kepada Kiai Gringsing ia minta diri dan mengatakan serba singkat, apa yang telah terjadi pada perasaan Sabungsari.

“Baiklah. Biarlah aku tidak menemuinya dulu. Biarlah hatinya mapan, sehingga ia tidak menjadi semakin baur,” berkata Kiai Gringsing.

Demikianlah maka Agung Sedayu dan Sabungsari meninggalkan padepokan itu. Agung Sedayu mengatakan, bahwa yang telah terjadi sudah diketahui oleh Kiai Gringsing.

“Dan gurumu marah kepadaku, sehingga ia tidak mau menampakkan diri?” bertanya Sabungsari.

“Kau selalu salah sangka.”

“Itu wajar. Perasaanku yang bingung membuat aku tidak mempunyai pegangan. Tetapi pada peristiwa yang telah terjadi sampai saat ini, aku ternyata telah mengagumimu, aku kehendaki atau tidak aku kehendaki.”

“Kau memuji,” desis Agung Sedayu.

“Aku berkata sebenarnya. Sementara hatiku masih saja bergejolak. Aku ingin melihat buruk dan baik. Tetapi keinginan membalas dendam itu pun masih saja menyala. Tidak lagi kepadamu, karena aku tidak mampu. Tetapi seperti banjir yang terbendung, maka dendam itu kini mengarah kepada Carang Waja dan orang-orang Pasisir Endut.”

Agung Sedayur menarik nafas dalam-dalam. Ia pernah mendengar bahwa salah seorang pengikut Sabungsari yang mencegatnya justru dibunuh oleh orang-orang Pesisir Endut. “Tetapi Sabungsari,” berkata Agung Sedayu, ”bukankah pengikut-pengikutmu juga sudah membunuh mereka? Bahkan berlipat?”

“Aku mengerti Agung Sedayu,” berkata Sabungsari kemudian, ”tetapi merekalah yang mulai dengan pertengkaran itu.”

“Itu hanyalah suatu ledakan dari peristiwa yang mungkin sekali terjadi dari dua gerombolan yang bertemu,” berkata Agung Sedayu.

“Memang mungkin sekali. Sekelompok penjahat akan merasa daerah serambahnya terganggu jika ada kelompok lain yang memasukinya,” desis Sabungsari, ”namun demikian, satu orang dari perguruan Telengan bernilai lima orang dari Pesisir Endut.”

“Itu menurut penilaianmu. Tetapi menurut penilaian orang Pesisir Endut akan berbeda pula. Jika penilaian itu masih saja ada pada salah satu pihak, maka dendam memang akan tetap menyala. Justru semakin lama akan menjadi semakin besar.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Itulah yang masih belum mengerti. Tetapi aku akan mencoba Agung Sedayu, meskipun dengan terus terang aku katakan, bahwa sampai saat ini aku masih tetap mendendam mereka.”

Agung Sedayu tidak menjawab, meskipun dadanya menjadi berdebar-debar juga. Ia seolah-olah melihat jantung Sabungsari yang membara. Ia gagal memenuhi janjinya kepada diri sendiri untuk membunuh seorang anak muda yang telah membunuh ayahnya. Bahkan tiba-tiba pihak yang semula tidak bersangkut paut itu telah membunuh pengikutnya pula.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Agung Sedayu menghentikan langkahnya sambil berkata, ”Bukankah kau akan kembali ke barakmu sebelum kau akan melakukan tugasmu?”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, ”Ya. Aku memang akan bertugas. Mungkin aku akan bertugas nganglang sampai keluar telatah Jati Anom. Sekarang Ki Untara sering memerintahkan sekelompok prajurit nganglang sampai ke tlatah Macanan bahkan sampai ke Benda dan Sangkal Putung.”

“Apakah ada gejala yang kurang baik di saat terakhir?”

“Aku kira tidak Agung Sedayu. Tetapi aku tahu, bahwa Ki Untara telah mendapat perintah dari Pajang, untuk mengawasi setiap perkembangan diaerah ini. Termasuk Sangkal Putung,” jawab Sabungsari.

Dada Agung Sedayu berdesir. Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan setiap kesan yang dapat menimbulkan kecurigaan pada Sabungsari.

“Baiklah,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”kita berpisah sampai di sini. Lupakan kekhilafanku. Aku benar-benar mempercayaimu. Lakukanlah tugasmu dengan baik sebagai seorang prajurit Pajang.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, ”Terima kasih atas kepercayaanmu Agung Sedayu. Saat ini Glagah Putih tentu sudah memasuki bulak Banyu Asri. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan orang tuanya.”

Agung Sedayu mengangguk sambil menjawab, ”Ya. Dan ia tidak mengerti apa yang telah terjadi. Ia juga tidak mengerti gejolak perasaanmu dan keragu-raguanku.”

Sabungsari memandang Agung Sedayu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Baiklah. Aku minta diri.”

Kedua anak muda itu pun segera berpisah. Agung Sedayu menuju ke bulak, sedang Sabungsari menuju ke baraknya. Seperti dikatakannya ia memang akan mendapat tugas dengan beberapa orang kawannya untuk mengelilingi daerah yang agak luas, seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang lain bergantian.

Ketika Sabungsari sampai di rumah Untara yang dipergunakan untuk kepentingan keprajuritan itu, maka ia masih harus menunggu sesaat. Untara sendiri akan memberikan beberapa pesan kepada mereka, seperti yang selalu dilakukannya pula.

Sejenak kemudian, maka lima orang yang akan bertugas itu pun segera dipanggil ke pendapa. Mereka mendapat penjelasan singkat tentang tugas mereka.

“Kalian adalah pelindung yang baik. Kepada kalian mereka berharap. Ada tanda-tanda kerusuhan di daerah selatan. Mungkin para pengawal kademangan sudah mempersiapkan diri. Tetapi kehadiran kalian akan dan seharusnya menumbuhkan ketenangan di hati para penghuni kademangan di daerah selatan itu.” Untara terdiam sejenak, namun kemudian, “Di samping tugas itu, kalian juga mengemban kewajiban untuk mengetahui, apakah yang berkembang di setiap wilayah yang kalian lalui. Mungkin kalian akan berhenti di gardu-gardu perondan. Berbicara dengan para pengawal kademangan. Dari mereka kalian akan menangkap, apakah yang sedang menjadi pusat perhatian kademangan-kademangan itu.”

Kelima prajurit yang akan berangkat nganglang itu mengangguk-angguk.

“Kalian akan melalui beberapa daerah kademangan. Dan kalian akan melihat perhatian yang berbeda-beda dari setiap kademangan itu.”

Setelah memberikan beberapa petunjuk Untara kemudian mempersilahkan para prajurit itu bersiap-siap. Mereka akan berangkai lewat jalan di tepi hutan di sebelah barat. Kemudian mereka akan berbelok dan melalui bulak-bulak panjang. Mereka akan berada di perjalanan di malam hari melalui beberapa kademangan sehingga mereka akan dapat bertemu dan berbicara dengan para pengawal yang sedang meronda di gardu-gardu. Di siang berikutnya, mereka akan beristirahat di sebuah kademangan yang akan mereka pilih, sampai menjelang senja. Mereka akan segera melanjutkan perjalanan, sehingga pagi berikutnya, mereka akan sudah berada kembali di Jati Anom.

Dalam perjalanan itu, mereka dibekali dengan beberapa jenis makanan yang tahan untuk dua hari. Mereka tidak dapat mengharapkan jamuan dari pihak lain, meskipun biasanya di setiap Kademangan mereka selalu disambut baik.

Dengan kelengkapan tempur, maka sekelompok prajurit telah meninggalkan Jati Anom, dipimpin oleh seorang perwira yang mulai menginjak di usia pertengahan. Namun wajahnya nampak cerah dan gembira seperti wajah anak-anak muda.

 

 

Perjalanan itu bukannya yang pertama kali dilakukan oleh perwira di usia pertengahan itu. Sebelumnya ia pernah melakukannya bersama kelompok lain. Baginya perjalanan demikian itu adalah perjalanan yang menyenangkan. Mereka akan dapat bertemu dengan anak-anak muda dan para pengawal dari beberapa kademangan. Biasanya mereka akan dapat mendengar banyak cerita, dan terutama mereka akan diterima dengan senang hati. Jika mereka singgah di kademangan manapun juga, mereka akan disambut dengan berbagai macam hidangan. Satu atau dua ekor ayam, biasanya akan dikorbankan.

“Kita akan bertamasya,” berkata perwira itu ketika mereka meninggalkan Jati Anom, ”kita akan bujana di beberapa kademangan. Dan kita akan bergurau dengan anak-anak muda yang gembira serta para pengawal yang setia kepada tugas mereka.”

Para prajurit yang menyertainya mengangguk-angguk. Sabungsari pun menjadi agak gembira pula. Dengan demikian, ia berharap untuk mendapatkan suasana yang baru setelah perasaannya dihancurkan oleh Agung Sedayu. Bukan saja kekalahannya, tetapi berita tentang buruk dan baik benar-benar telah menggelisahkan.

“Di perjalanan, aku akan mengalami kesegaran. Mudah-mudahan kemudian aku dapat memikirkan persoalan yang menyangkut aku dan Agung Sedayu dengan bening. Mungkin kabar tentang buruk dan baik yang dibawanya itu, akan dapat memberikan ketenteraman hidup bagiku di masa datang,” berkata Sabungsari kepada diri sendiri.

Sebenarnyalah, perjalanan mereka sangat menyenangkan. Matahari yang turun perlahan-lahan, dan untuk beberapa saat hinggap di punggung bukit, memberikan kesan tersendiri di hati para prajurit itu.

“He, kau lihat,” berkata perwira yang memimpin kelompok kecil itu, ”langit menjadi merah layung? Anak-anak kecil di padesan akan meneriakkan lagu layung, agar mereka tidak terkena penyakit mata yang disebarkan lewat warna merah jingga seperti ini.”

Dan sebenarnyalah, ketika mereka mendekati sebuah padukuhan kecil yang pertama setelah mereka melintasi bulak yang berbatasan dengan ujung hutan perdu, mereka mendengar anak-anak kecil berdendang bersama-sama.

“Alangkah damainya hati anak-anak itu,” berkata Sabungsari di dalam hatinya. Ia melihat gadis-gadis kecil bergandengan tangan membuat lingkaran sambil memandang langit berwarna merah jingga yang tajam. Mereka mohon, agar layung di langit tidak membuat mata mereka menjadi sakit. Tetapi biarlah orang lain sajalah yang menjadi sakit mata.

“Ah, lagu itu harus dirubah,” tiba-tiba Sabungsari mengerutkan keningnya, ”Agung Sedayu tentu tidak sependapat. Jika mereka memohon untuk tidak sakit mata itu tidak mengapa. Tetapi kenapa harus orang lain yang mengalami.”

Tetapi Sabungsari tersenyum ketika ia melihat gadis-gadis kecil itu kemudian berlari-lari dan berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan mereka dan berteriak-teriak menyambut para prajurit yang lewat.

Ternyata perwira yang memimpin kelompok kecil itu benar-benar seorang yang ramah. Ia menghentikan kudanya dan meloncat turun di hadapan gadis-gadis kecil itu.

“Sebentar lagi gelap akan turun,” katanya.

“Tetapi sekarang belum gelap,” jawab seorang gadis kecil.

Sambil tersenyum perwira itu berkata, ”Sebaiknya kalian pulang sebelum gelap. Nanti ayah ibumu mencarimu.”

“Rumah kami dekat,” sahut salah seorang dari mereka.

Perwira itu menepuk kepala gadis kecil itu sambil tertawa. Katanya, ”Meskipun dekat, tetapi lihat, setelah layung itu lenyap, maka hari akan gelap. He, kalian berani pulang sendiri?”

“Kenapa tidak?” gadis kecil yang lain menyahut. “Kami terbiasa pulang malam.”

“Kenapa yang bermain disini hanya anak-anak perempuan? Dimana anak-anak laki-laki bermain?” bertanya perwira itu.

“Mereka berada di sungai. Mereka menyiapkan pliridan,” jawab seorang gadis kecil berambut panjang.

“O, jadi di saat seperti ini mereka masih berada di sungai?”

“Ya. Sudah menjadi kebiasaan mereka. Kakakku juga pergi ke sungai. Mereka membuka pliridan. Malam nanti, mereka akan menutup pliridan itu dan memasang icir untuk menangkap ikan yang terperosok masuk ke dalam pliridan.”

“Hanya anak-anak? Dimana anak-anak remaja?”

“Mereka juga berada di sungai. Ayah juga berada di sungai,” anak yang lain menyahut.

Perwira itu mengangguk-angguk. Padukuhan yang terletak di pinggir sungai itu ternyata memberikan penghasilan sampingan bagi penghuninya meskipun terlalu sedikit untuk diperhitungkan. Tetapi perwira itu mengetahui bahwa ada tiga orang penghuni padukuhan itu yang selain petani juga seorang pencari ikan dengan jala. Di malam hari mereka turun ke sungai sampai menjelang pagi dengan jala mereka.

Sejenak kemudian maka perwira itu berkata, ”Sudahlah. Aku dan paman-paman yang lain akan melanjutkan perjalanan. Pulanglah segera. Ibumu tentu sudah menyalakan lampu di rumah. Mungkin ketela pohon yang tadi siang dicabut, sudah direbus. He, bahkan dengan legen. Manis sekali bukan?”

Tetapi seorang gadis kecil menyahut, ”Ayah tidak mencabut ketela pohon siang tadi.”

“O,” perwira itu mengerutkan keningnya.

“Kakakkulah yang menggali ubi ungu,” anak itu melanjutkan, ”dan aku mengumpulkan becicing sebakul penuh.”

“Bagus,” sahut perwira itu, ”pulanglah. Tentu ubi ungu itu masih hangat.”

Anak-anak itu mengguk-angguk. Sementara perwira itu telah meloncat ke punggung kudanya untuk melanjutkan perjalanan.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Di Jati Anom anak-anak kecil juga bermain-main. Tetapi seakan-akan ia tidak mempunyai waktu untuk memperhatikannya, sehingga hatinya benar-benar menjadi gersang dan tandus.

Sejenak kemudian, kelompok kecil para prajurit itu meneruskan perjalanan mereka dalam tugas. Kuda-kuda yang tegar itu berderap di jalan padukuhan. Rumah-rumah yang mulai buram telah diterangi lampu minyak yang berkeredip disentuh angin lembut.

Sabungsari mengerutkan keningnya sambil mengusap keringat yang membasahi kening. Yang dilihatnya seolah-olah merupakan masalah-masalah baru yang sangat menarik. Seolah-olah ia belum pernah melihat rumah-rumah berdinding bambu dan beratap ilalang terletak di tengah halaman yang berpagar batu rendah.

Yang dilalui oleh kelompok prajurit itu, bagi Sabungsari merupakan padukuhan yang tenang dan segar. Meskipun mereka hidup dalam kesederhanaan, tetapi anak-anak nampak gembira dan ramah.

Kesan itu telah mempengaruhi perasaan Sabungsari. Kesegaran dan sambutan yang jujur dari anak-anak padukuhan kecil itu bagaikan titik air hujan yang membasahi hatinya yang gersang, yang semula hanya dibayangi oleh perasaan dendam dan kebencian.

Di perjalanan, Sabungsari tidak banyak ikut bercakap-cakap dengan kawannya. Tetapi kawan-kawannyapun masih saja menyangka, bahwa Sabungsari belum dapat melepaskan diri dari suasana suram pada keluarganya, sehingga mereka pun tidak mengganggunya.

Ketika kuda-kuda itu kemudian berderap di bulak persawahan, maka Sabungsari berada di paling belakang. Angan-angannya sedang melambung menerawang masa-masa lampaunya. Ia mulai menilai, apakah yang telah di lakukannya sebelum dan di saat-saat ia mulai berkenalan dengan seorang anak muda yang bernama Agung Sedayu. Seorang anak muda yang menjadi sasaran kebenciannya dan yang akan dibunuhnya seperti janji yang pernah diucapkan saat ia berangkat dari padepokannya.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Dalam kegelapan yang mulai turun, ia seolah-olah melihat dirinya sendiri seperti kegelapan itu sendiri. Tetapi ia pun mulai melihat lampu-lampu minyak yang menyala di rumah-rumah kecil sebelah menyebelah lorong dan di regol-regol halaman.

Sabungsari mengerutkan keningnya ketika ia mendengar salah seorang kawannya mendendangkan kidung perlahan-lahan.

“Aku tidak pernah melihat segi-segi kehidupan yang sebenarnya di dalam lingkunganku sendiri,” berkata Sabungsari di dalam hatinya, ”selama ini ternyata hatikulah yang selalu dibayangi oleh kabut dendam dan kebencian, sehingga hidup ini rasa-rasanya sangat kering dan panas.”

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia masih mendengar kawannya berdendang. Suaranya lembut meskipun tidak terlalu merdu.

Ketika mereka kemudian memasuki padukuhan berikutnya, mereka sudah melihat lampu menyala di gardu di ujung lorong. Tetapi mereka belum melihat anak-anak muda dan para pengawal yang bertugas berada di gardu itu.

“Padukuhan kecil ini merupakan padukuhan yang hidup,” berkata perwira yang berkuda di paling depan sambil memperlambat derap kudanya, ”tetapi kegemaran beberapa orang di sini kurang aku sukai.”

“Kegemaran apa Ki Lurah?” bertanya salah seorang prajurit.

“Sabung ayam,” jawab perwira itu, ”di sini terdapat arena sabung ayam. Jika kita lewat padukuhan ini di siang hari, di saat-saat arena sabung ayam itu dipergunakan, maka padukuhan ini adalah pedukuhan yang ramai. Sementara laki-laku berkumpul di arena sabung ayam, perempuan-perempuan bekerja di sawah dan pategalan bersama anak-anak mereka.”

Para prajurit yang mengikutinya mengangguk-angguk. Sabungsari yang ikut mendengarkan keterangan itu pun mengangguk-angguk pula.

Perwira yang memimpin kelompok kecil itu pun menarik kekang kudanya ketika di tikungan, tiba-tiba saja ia melihat dua orang anak muda yang sedang berjalan. Dengan tiba-tiba kudanya berhenti, sehingga kuda-kuda yang lainpun terkejut dan berhenti dengan tiba-tiba pula.

Kedua anak muda itu berhenti pula. Tetapi seolah-olah keduanya sudah terlalu akrab berhubungan dengan para prajurit, sehingga karena itu maka salah seorang dari mereka segera bertanya, ”Apakah Paman bertugas malam ini?”

“Ya,” sahut perwira itu.

“Dari Jati Anom?” bertanya yang lain.

“Ya. Aku ingin ikut duduk dan berbincang-bincang di gardu itu. Tetapi gardu itu masih kosong,” jawab perwira itu.

“Kami akan berada di gardu menjelang tengah malam,” sahut anak muda itu.

“Kenapa tengah malam?”

Kedua anak muda itu saling berpandangan. Namun kemudian yang seorang menjawab, ”Di sore hari, kami sedang mencoba untuk meningkatkan kemampuan kami. Terutama para pengawal.”

“Bagus sekali. Dimana hal itu kalian lakukan?”

“Di rumah pemimpin pengawal padukuhan ini.”

“Menarik sekali. Apakah kami dapat melihat kegiatan itu?”

Keduanya termenung sejenak. Kemudian salah seorang dari mereka menjawab dengan ragu-ragu, ”Malu. Kami belum dapat berbuat apa-apa.”

“Tidak apa-apa. Marilah. Kami akan ikut serta bersama kalian. Bukankah kalian juga akan pergi ke rumah pemimpin pengawal padukuhan itu?”

Keduanya masih tetap ragu-ragu Tetapi akhirnya keduanya mengangguk.

Para prajurit itu pun kemudian meloncat turun dan mengikuti kedua anak muda yang berjalan itu. Dari percakapan singkat di sepanjang jalan, para prajurit itu mengetahui, bahwa perkembangan di saat-saat terakhir agak kurang menggembirakan. Di padukuhan yang tidak terlalu jauh, baru saja terjadi perampokan.

“Belum ada sepekan,” berkata anak muda itu, “sedang pada malam itu juga, di bulak panjang, di seberang padukuhan ini, telah terjadi pula penyamunan. Mungkin perampok-perampok itu pula yang telah menyamun. Kebetulan setelah mereka kembali dari merampok, mereka bertemu dengan beberapa orang pedagang yang kemalaman di jalan.”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Dengan sungguh-sungguh ia bertanya, ”Apakah pernah ada peristiwa lain?”

“Tidak,” jawab anak muda itu, ”peristiwa itu memang mengejutkan. Sudah lama sekali hal itu tidak terjadi. Karena itu, maka setiap padukuhan di sekitar peristiwa itu terjadi, telah mempersiapkan diri.”

Kedatangan sekelompok prajurit di tempat latihan para pengawal padukuhan itu memang mengejutkan. Bahkan beberapa orang pengawal justru menjadi curiga.

Tetapi ketika mereka telah mendengar penjelasan, kenapa para prajurit itu tiba-tiba saja hadir di tempat latihan itu, mereka pun menjadi tenang.

“Kami hanya akah melihat saja. Kami tidak akan mengganggu,” berkata perwira itu.

“Tetapi kami menjadi segan,” berkata pemimpin pengawal itu, ”yang dapat kami lakukan barulah berloncat-loncatan saja. Tentu tidak akan menarik sama sekali.”

“Kami ingin melihat apa adanya. Dengan demikian, kami akan dapat mengetahui, apakah yang sebaiknya kami lakukan,” jawab perwira itu. Seterusnya ia berkata, “Jika kami salah menilai yang sebenarnya itu, maka akibatnya akan dapat merugikan. Yang masih harus di bantu, kami anggap sudah terlalu cukup untuk menjaga diri sendiri.”

Para pengawal itu dapat mengerti, sehingga karena itu mereka tidak merasa perlu untuk malu. Apa yang ada, itulah yang seharusnya dilihat. Agar para prajurit itu dapat merencanakan, apakah yang akan mereka lakukan kemudian.

Sejenak kemudian, maka latihan-latihan itu pun segera dimulai. Di mata para prajurit, maka yang dapat dilakukan oleh para pengawal itu memang baru permulaan dari olah kanuragan. Tetapi mereka sama sekali tidak menunjukkan kesan, bahwa yang dilihat itu sama sekali belum berarti.

“Bagaimana menurut penilaian Paman,” bertanya pemimpin pengawal kepada perwira yang memimpin kelompok prajurit itu.

“Bagus. Bagus,” sahut perwira itu, ”tetapi kalian masih harus lebih giat lagi berlatih. Kalian sudah memiliki dasar dari tata gerak olah kanuragan. Kalian harus meningkat, sehingga dengan demikian kalian akan benar-benar menjadi pelindung bagi padukuhan ini.”

“Tetapi bagaimana dengan kemampuan yang sudah ada pada kami,” bertanya seorang anak muda bertubuh tinggi kekar, ”apakah dengan kemampuan kami, kami sudah cukup kuat menghadapi para perampok?”

Perwira itu harus berhati-hati. Ia tidak boleh mengecewakan anak-anak muda itu. Tetapi ia pun tidak boleh memberikan gambaran yang salah, seolah-olah apa yang telah mereka miliki itu sudah cukup kuat untuk dihadapkan pada kesulitan yang sebenarnya.

Karena itu, maka katanya, ”Seperti juga seorang prajurit, atau seorang pengawal, maka para penjahatpun mempunyai tingkatannya pula. Ada seorang penjahat yang memang baru mencoba-coba. Yang baru mulai dengan latihan-latihan dasar olah kanuragan. Tetapi ada seorang penjahat yang memiliki kemampuan seorang perwira besar. Karena itu, janganlah pernah merasa puas dengan kemampuan yang kalian miliki, betapapun tingginya ilmu kalian, karena kalian tidak tahu, penjahat yang manakah yang akan datang kepadukuhan ini,” perwira itu berhenti sejenak, lalu, ”maka latihan-latihan semacam ini sebenarnyalah akan banyak memberikan arti bagi kalian dan padukuhan kalian.”

Para pengawal itu mengangguk-angguk. Mereka menjadi berbesar hati mendengar pendapat perwira itu, sehingga mereka pun merasa lebih mantap lagi untuk berlatih di setiap hari menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi, karena mereka memang merasa tidak dapat menggantungkan diri kepada siapapun juga, kecuali kepada kemampuan para pengawalnya sendiri.

Meskipun waktunya sangat pendek, tetapi perwira itu ternyata telah menyisihkan waktu untuk memberikan beberapa petunjuk langsung kepada para pengawal. Ia memberikan beberapa petunjuk yang dapat dikembangkan oleh anak-anak muda itu di dalam ilmu pedang. Bagaimana cara yang benar menggenggam hulu pedang. Bagaimana menggerakkan sesuai dengan keadaan yang timbul di setiap saat. Bagaimana harus menyerang dengan ayunan, dengan tusukan dan dengan tebasan mendatar. Bagaimana menangkis dengan membenturkan senjata, merubah arah serangan lawan dan melibat senjata lawan pada suatu putaran sehingga memungkinkan senjata lawan terlepas. Dan beberapa petunjuk tata gerak pokok yang lain.

“Kembangkan,” berkata perwira itu, ”lain kali aku akan lewat padukuhan ini lagi, atau salah seorang dari kami. Kami akan menilai apakah petunjuk pendek ini dapat kalian kembangkan sebaik-baiknya. Di antara kami tentu akan memberikan petunjuk-petunjuk berikutnya. Mungkin dalam olah senjata yang lain. Tombak, bindi atau trisula bertangkai panjang dan pendek. Canggah atau senjata lentur.”

“Cambuk,” tiba-tiba seorang anak muda berdesis.

Perwira itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum. Katanya, ”Siapakah yang pernah mendengar, bahwa cambuk dapat dipergunakan sebagai senjata yang sangat berbahaya?”

“Orang-orang bercambuk dari Jati Anom itu?” yang lain berdesis.

Perwira itu tertawa. Katanya, ”Ilmu itu sangat sulit. Aku pun tidak mampu melakukannya. Tetapi jika orang itu lewat di padukuhan ini, ia tentu bersedia membantu kalian.”

Anak-anak muda itu pun mengangguk-angguk. Sementara perwira itu berkata, ”Nah, kami mohon diri. Kami akan melanjutkan perjalanan. Kami masih ingin melihat-lihat padukuhan yang lain. Kami akan melalui daerah yang baru saja mengalami bencana itu. Bencana itu terjadi, di saat prajurit yang meronda baru saja melalui padukuhan itu. Atau setelah memperhitungkan dengan saksama karena pengamatan yang tidak hanya sesaat, bahwa pada malam itu tidak ada prajurit yang meronda. Karena kami memang tidak setiap malam melalui daerah ini.”

“Ya. Nampaknya mereka pun mengetahuinya. Prajurit Pajang di Jati Anom hanya melalui daerah ini kira-kira sepekan sekali,” sahut seorang anak muda.

“Kami akan mempercepat gelombang perondaan itu,” jawab perwira itu, “tetapi selebihnya, perlindungan langsung ada di tangan kalian anak-anak muda padukuhan ini. Meskipun demikian kami berpesan, jika kalian menjumpai sekelompok penjahat yang tidak mungkin terlawan jangan memaksa diri. Mereka tentu orang-orang yang buas tanpa mengenal kasihan. Orang-orang yang demikian adalah urusan kami.”

Anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Seolah-olah ada sesuatu yang tertahan di tenggorokan.

Perwira itu seolah-olah mengetahui apa yang akan mereka katakan. Katanya mendahului, ”Mungkin mereka melakukan hal itu di luar pengetahuan kami. Tetapi jika benar-benar terjadi seperti itu, maka adalah kewajiban kami untuk mengejar, mencari dan menemukan mereka. Seperti yang telah terjadi di padukuhan seberang bulak panjang itu, maka kami pun berkewajiban mencari keterangan siapakah yang telah melakukannya. Selanjutnya kami pun bertanggungjawab untuk menemukan penjahatnya. Mungkin bukan sekelompok prajurit inilah yang harus mengejar dan mencari mereka, tetapi setelah hal ini kami laporkan kepada senapati di Pajang, maka ia akan membuat perintah-perintah tertentu.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk.

“Nah, selamat tinggal. Salam kalian akan kami sampaikan kepada orang-orang bercambuk di Jati Anom itu,” berkata perwira itu sambil tertawa.

Ketika para perajurit itu melanjutkan perjalanan, maka di Jati Anom, yang disebut orang bercambuk itu sedang sibuk di dalam sanggarnya. Dengan sungguh-sungguh Agung Sedayu sedang memberikan beberapa petunjuk kepada adik sepupunya di hadapan Kiai Gringsing dan Ki Widura yang ternyata telah ikut pergi ke padepokan kecil itu atas permintaan anaknya.

 

 

Dengan sungguh-sungguh pula Glagah Putih mengikuti petunjuk-petunjuk kakak sepupunya yang memberikan beberapa contoh tata gerak, kemudian memberikan arti dan sifat dari setiap gerak itu.

Glagah Putih pun kemudian harus mengulangi melakukan tata gerak itu beberapa kali. Bukan saja mengulangi gerak itu sendiri, tetapi ia harus mengerti arti dan sifatnya. Dengan beberapa contoh gerak imbangan, tata gerak tandingan dan bermacam-macam penjelasan kenapa dilakukannya demikian, Glagah Putih memahami gerak itu sampai ke maknanya.

Karena itu, dengan penuh pengertian ia melakukannya, karena ia pun menjadi sadar, bahwa hal itu memang harus dilakukannya dalam keadaan dan hubungan peristiwa tertentu pula.

Kiai Gringsing dan Ki Widura memperhatikan anak muda itu dengan saksama. Glagah Putih memang cukup tangkas. Ia meloncat dengan ringan, dan menggerakkan anggota badannya dengan mantap dan berisi. Sekali-sekali terdengar ia menggeram, menggerakkan gigi dan berdesis. Tetapi sekali-sekali terdengar suaranya menghentak sejalan dengan hentakan tangan dan kakinya.

Ki Widura mengangguk-angguk ketika ia melihat Glagah Putih kemudian menghentikan latihannya pada unsur gerak yang pertama dilakukannya malam itu. Ia mengerti, bahwa Agung Sedayu masih menitik beratkan latihannya kepada penguasaan gerak untuk meningkatkan kecepatan dan tanggapan atas suatu gerak.

Agung Sedayu memang membagi waktu Glagah Putih sebaik-baiknya. Di sore dan malam hari, Glagah Putih harus meningkatkan kemampuannya menguasai tata gerak, meningkatkan kecepatan gerak dan tanggapan atas gerak sampai ke maknanya. Tetapi di pagi hari, Glagah Putih harus meningkatkan kemampuan tenaganya dan kekuatannya sejalan dengan kemajuan kecepatan, penguasaan dan tanggapannya atas gerak dan maknanya.

Di siang hari Glagah Putih tidak akan mendapatkan latihan-latihan khusus. Menurut rencana Agung Sedayu, di siang hari Glagah Putih akan menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari. Di antara kerjanya sehari-hari itu memang mungkin baginya untuk meningkatkan kemampuannya pada segi yang manapun.

Mungkin Glagah Putih akan berjalan sejak matahari terbit menuruni tebing sungai yang curam, naik ke tebing di seberang sampai beberapa kali. Mungkin ia harus menyusuri kali itu dengan meloncat dari batu ke batu, atau berkali-kali di pematang yang sempit, menimba air bukan saja untuk mengisi jambangan, tetapi untuk menambah air di belumbang.

Banyak kerja yang dilakukan untuk menambah kemampuannya dan kecepatan gerak serta keseimbangan tubuhnya. Sehingga kemampuannyapun akan luluh dalam gerak-gerak naluriah sehingga dapat dilakukan pada setiap saat tanpa memikirkannya berlama-lama.

Sambil mengusap keringat yang membasahi keningnya, Glagah Putih memandang Agung Sedayu, seolah-olah ingin mendapatkan kesan, apakah yang dilakukan sudah benar.

Tetapi Agung Sedayu tidak memberikan tanggapan apapun. Ia segera memberikan beberapa petunjuk tata gerak yang lain dalam hubungan arti dan sifat dengan tata gerak yang pertama.

“Unsur yang ketiga,” berkata Agung Sedayu.

Glagah Putih sama sekali tidak berkata apapun juga. Ia hanya memandang dengan sungguh-sungguh agar tidak kehilangan gerak yang betapapun kecilnya, karena ia mengerti, bahwa tidak ada gerak yang tidak mempunyai arti dan kepentingan dalam hubungannya dengan keseluruhan gerak.

Karena itu, maka Glagah Putih pun kemudian mulai dengan tata gerak pada unsur ketiga. Ia mengerti, pada tataran kedua, ia akan mempelajari dua belas unsur tata gerak seperti yang diberitahukan oleh Agung Sedayu, setelah pada tataran pertama ia menguasai dua puluh satu unsur tata gerak dasar, yang dipelajarinya sebagian besar dari ayahnya. Tetapi yang kemudian dimatangkan pula oleh Agung Sedayu. Serta unsur yang pertama pada tataran kedua.

Seperti unsur tata gerak kedua, maka Glagah Putih pun kemudian menirukan, mengerti dan memahami arti dan sifat dari unsur tata gerak ketiga. Dengan sungguh-sungguh ia melakukan latihan, sehingga keringatnya bagaikan terperas dari tubuhnya.

Pada unsur tata gerak ketiga, Agung Sedayu sudah mulai dengan perbandingan gerak dan kemungkinan-kemungkinannya yang lebih luas, sehingga Glagah Putih menjadi semakin yakin akan arti dan sifatnya. Kenapa ia harus berbuat demikian menghadapi keadaan yang berbeda-beda tetapi dalam suasana yang serupa.

Demikianlah, Glagah Putih yang merasa dirinya telah jauh ketinggalan itu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempergunakan setiap saat yang tersedia untuk mengejar ketinggalannya. Namun setiap kali Agung Sedayu mengatakan, bahwa ia tidak ketinggalan sekejappun, karena masa mendatang yang panjang itu masih dapat dibentuknya dengan kerja yang. sungguh-sungguh.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing memperhatikan latihan-latihan itu dengan hati yang berdebar-debar. Ia tidak mencemaskan Glagah Putih yang menurut pengamatan Kiai Gringsing akan segera dapat menyesuaikan diri dan memahami ilmu yang akan diterimanya setingkat demi setingkat. Tetapi yang dipikirkan adalah justru Agung Sedayu sendiri.

Jika ia sudah bekerja keras membentuk Glagah Putih, maka waktunya tentu tinggal sedikit sekali yang dapat dipergunakan bagi dirinya sendiri. Meskipun Agung Sedayu akan dapat mempergunakan seluruh waktunya, namun hal itu akan dapat menimbulkan kesulitan bagi wadagnya.

Tetapi Kiai Gringsing masih belum dapat menilai keadaan yang sebenarnya, karena semuanya baru pada permulaannya.

“Mungkin setelah berjalan satu dua pekan, Agung Sedyu akan dapat menyesuaikan dirinya dengan waktu yang ada padanya,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Bagi Ki Widura, semakin banyak waktu yang diberikan kepada Glagah Putih akan semakin baik baginya. Ia tidak mengerti, apa yang telah terjadi pada Agung Sedayu. Yang diketahuinya, bahwa di perjalanan ia mengalami kesulitan yang gawat, yang untung masih dapat diatasinya.

Dalam pada itu di perjalanan rondanya, para prajurit Pajang telah menyusuri bulak panjang. Jika mereka memasuki sebuah padukuhan di seberang bulak itu, maka mereka akan sampai pada padukuhan yang belum lama berselang mengalami malapetaka. Seorang penghuni padukuhan itu telah dirampok oleh beberapa orang. Bahkan di bulak yang lain, di malam itu telah terjadi penyamunan pula.

“Kedatang kita mungkin akan mengejutkan, dan mungkin akan menimbulkan kecurigaan meskipun kita berpakaian prajurit selengkapnya, karena siapapun akan dapat memalsukan pakaian serupa ini,” berkata perwira itu, “karena itu, sikap kitalah yang akan meyakinkan kepada mereka, bahwa kita adalah prajurit yang sebenarnya, sehingga kehadiran kita akan dapat memberikan ketenangan kepada mereka. Bukan sebaliknya.”

Prajurit-prajurit pengiringnya mengangguk-angguk. Tetapi tidak seorangpun yang merasa perlu untuk menjawab.

Seperti yang mereka duga, derap kaki kuda mereka telah mengejutkan anak-anak muda yang berjaga-jaga di gardu. Serentak mereka berloncatan turun sambil mengacukan senjata mereka di sebelah-menyebelah jalan di dalam regol padukuhan.

Perwira prajurit Pajang yang telah memperhitungkan hal itu pun berhenti di luar regol. Bersama para prajuritnya mereka pun turun dari punggung kuda.

“Apakah kalian mengenal kami?” bertanya perwira itu.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: