Buku 123 (Seri II Jilid 23)

 

Seorang anak muda yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan, yang agaknya pemimpin pasukan pengawal padukuhan itu, maju ke depan regol. Di bawah cahaya lampu obor ia memperhatikan kelima orang prajurit yang berdiri termangu-mangu di luar regol padukuhan.

“Apakah aku berhadapan dengan prajurit Pajang di jati Anom?” bertanya anak muda yang bertubuh tinggi itu.

“Ya. Kami adalah petugas dari Jati Anom. Kami malam ini mendapat giliran meronda di daerah ini dan sekitarnya,” jawab perwira itu.

Nampak keragu-raguan membayang di wajah anak-anak muda itu. Namun kemudian anak muda bertubuh tinggi itu berkata, ”Silahkan, silahkan memasuki padukuhan kami.”

Prajurit-prajurit itu pun kemudian memasuki regol padukuhan. Atas perintah perwira itu, maka prajurit-prajurit itu pun singgah sejenak di gardu perondan.

“Kami sudah mendengar peristiwa yang terjadi di padukuhan ini,” berkata perwira itu.

“Apakah laporan kami sudah sampai ke Jati Anom?” bertanya pemimpin pengawal itu.

Perwira itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata berterus terang, ”Kami tidak mendengar atas laporan yang kalian sampaikan ke Jati Anom. Tetapi kami mendengar dari padukuhan sebelah.”

“O, bukan maksud kami, bahwa kami telah melaporkan ke Jati Anom. Kami telah melaporkan ke Kademangan Klebak. Seterusnya, aku tidak tahu, apakah laporan itu sudah diteruskan,” jawab anak muda itu.

Perwira prajurit Pajang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengusut laporan itu lebih jauh. Yang kemudian ditanyakannya adalah peristiwa yang telah terjadi itu sendiri.

Dari anak-anak muda padukuhan itu, para prajurit mendengar dengan jelas, apakah yang telah terjadi. Orang yang mengalami itu pun dapat menyebut, wajah-wajah yang keras dan mengerikan, serta ujung-ujung senjata yang mendebarkan jantung di tangan mereka.

Di luar sadarnya, tiba-tiba saja Sabungsari mengangguk-angguk. Seolah-olah ia menemukan hubungan antara cerita itu dengan cerita para pengikutnya yang tentu masih menunggu perintahnya di Jati Anom.

“Apakah yang telah melakukannya itu orang-orang dari Pesisir Endut atau orang-orangnya Carang Waja,” desis Sabungsari di dalam hatinya. Tetapi ia tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Namun bahwa hal itu sangat menarik perhatiannya, justru karena orang-orang Pesisir Endut telah membunuh salah seorang dari pengikutnya.

Dengan saksama para prajurit itu mendengarkan cerita tentang perampokan itu. Mereka pun dapat menyebut, beberapa orang korban yang mati terbunuh dalam usaha mereka mempertahankan milik mereka, ketika mereka disamun di tengah-tengah bulak yang sepi.

Perwira yang memimpin kelompok kecil prajurit Pajang itu pun menjadi tegang. Ia sadar, bahwa prajurit Pajang di Jati Anom tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya. Mereka tidak dapat mengatakan, bahwa hal itu adalah tanggung jawab para pengawal padukuhan. Apalagi bencana yang terjadi di bulak panjang itu.

Tetapi ia pun menyadari, bahwa Pajang tidak mempunyai cukup prajurit untuk setiap saat mengawasi segala bulak di daerah selatan. Dari Jati Anom, Tambak Wedi di lereng Gunung Merapi, daerah Wit Manca Warna, kemudian turun ke daerah Cangkring, Sembojan, Temu Agal dan Alas Tambak Baya. Kemudian menyusur ke timur, melewati daerah Prambanan, Tlaga, Kali Asat menyusur lebih ke timur. Benda, Sangkal Putung dan daerah di sepanjang Kali Opak ke selatan sampai ke pesisir.

Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, ”Tidak mungkin. Tetapi senapati prajurit Pajang di Jati Anom tidak dapat menjawab bahwa itu bukan tanggung jawabnya.”

Anak-anak muda yang berada di dalam gardu itu pun mengerti, bahwa perwira itu memperhatikan keadaan padukuhan mereka dengan sungguh-sungguh. Dan mereka pun menyadari, bahwa tugas para prajurit itu cukup banyak sehingga mereka tidak akan dapat menunggui padukuhan demi padukuhan.

“Ki Sanak,” berkata perwira itu kemudian, ”kami tidak akan ingkar akan kewajiban kami. Tetapi kalian harus mengetahui, bahwa tidak mungkin kami harus ada di segala tempat untuk menghadapi kemungkinan semacam ini. Karena itu, adalah sudah benar bahwa kalian, seperti padukuhan yang lain, berusaha meningkatkan kemampuan para pengawal. Apakah ada di antara kalian yang dapat memimpin peningkatan itu?”

“Di padukuhan ini ada seorang bekas prajurit. Meskipun usianya sudah lanjut, tetapi ia masih dapat membimbing kami dengan baik,” jawab salah seorang anak muda.

“Bagus. Lakukanlah sebaik-baiknya. Tetapi lebih daripada itu, jika hal itu terjadi lagi, usahakanlah untuk mengenal ciri-ciri mereka. Dengan demikian, kita akan mendapat petunjuk, kemana kita harus mencari orang-orang itu.”

“Masuk ke sarang mereka?” bertanya salah seorang anak muda.

“Ya,” jawab perwira itu.

“Untuk membunuh diri?” geram yang lain.

“Jika kalian merasa demikian, jangan pergi. Bukan karena kalian penakut. Tetapi sebenarnyalah bahwa kalian harus mawas diri. Dalam hal yang demikian, berikan petunjuk kepada kami, para prajurit. Kamilah yang akan memasuki sarang mereka,” jawab perwira itu.

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk.

Sementara itu Sabungsari pun menjadi berdebar-debar. Seolah-olah ia melihat jalan yang mulai terbuka. Jika ia pergi ke Pesisir Endut, maka ia akan datang sebagai seorang prajurit yang melakukan tugas keprajuritan.

“Mudah-mudahan pada suatu saat, ada satu dua orang yang mengenal ciri mereka, orang-orang Pesisir Endut. Atau bahkan mendengar mereka sesumbar dan menyebut diri mereka sendiri.”

Tetapi hal itu merupakan rahasia pribadinya. Ia tidak akan mengatakan kepada siapapun juga. Kepada pemimpinnya itu pun tidak.

Dalam pada itu, setelah berbicara beberapa lamanya, maka para prajurit itu pun meneruskan perjalanan mereka. Mereka memasuki padukuhan-padukuhan besar dan kecil yang mereka lalui. Pada umumnya para pengawal padukuhan itu sudah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan, karena gangguan yang pernah terjadi.

“Ada juga baiknya,” tiba-tiba salah seorang prajurit berdesis ketika mereka menyusuri bulak panjang perlahan-lahan.

“Kenapa,” pemimpinnya bertanya.

“Yang terjadi itu seolah-olah telah membangunkan anak-anak muda di setiap padukuhan. Selama ini mereka seakan-akan telah tertidur nyenyak. Kini mereka harus bangkit dan melihat kenyataan,” jawab prajurit itu.

“Dari satu segi,” sahut prajurit yang lain, ”tetapi hal itu telah menimbulkan kegelisahan dan kecemasan. Segi itulah yang tidak baik. Apalagi telah jatuh korban jiwa di bulak-bulak panjang itu, sehingga kegelisahan itu telah membendung arus barang dari satu tempat ke tempat lain. Biasanya mereka berjalan di malam hari. Sejuk dan tidak terlalu ribut di sepanjang jalan. Tetapi kini mereka harus membawa barang-barang mereka di siang hari.”

Yang lain tidak menjawab. Keduanya mempunyai alasan sesuai dengan sudut pandangan masing-masing.

Namun perwira itu akhirnya berkata, “Bagaimanapun juga, tetapi tentu lebih baik jika daerah ini tetap tenang dan tenteram. Persoalan yang menyangkut pemerintahan itu telah menimbulkan persoalan yang cukup gawat. Untunglah, bahwa tidak banyak berpengaruh terhadap orang kebanyakan. Tetapi sebagian dari mereka tentu pernah digelisahkan oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi akibat memburuknya hubungan antara Pajang dan Mataram. Apalagi dengan kejahatan-kejahatan yang langsung menikam jantung ketenteraman hidup orang kebanyakan.”

Para prajurit itu tidak menjawab. Mereka pun menyadari seperti yang dikatakan oleh perwira itu. Bahkan Sabungsari yang sebenarnya mempunyai kepentingan langsung dengan hubungan yang memburuk itu hanya menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar sepenuhnya apa yang telah dilakukan oleh ayahnya. Ia sadar sepenuhnya untuk apa ia menjadi seorang prajurit. Tentu bukan karena keinginannya mengabdikan diri kepada Pajang. Tentu bukan karena ia ingin mendapat gaji atau mengharap kelak akan dapat meningkat dan menjadi orang yang berpangkat. Sebagai anak Ki Gede Telengan, ia memiliki kemampuan melampaui perwira yang kini memimpinnya.

Tetapi dendam yang menuntunnya ke Jati Anom itu tiba-tiba saja telah pudar ketika ia melihat kenyataan tentang Agung Sedayu.

“Apakah dengan demikian, aku akan tetap menjadi seorang prajurit,” bertanya Sabungsari kepada diri sendiri.

Namun tiba-tiba saja, seakan-akan ada yang mengikatnya di dalam kalangan yang semula tidak disukainya itu. Samar-samar ia melihat, bahwa di dalam dunianya itu, ia akan dapat berbuat sesuatu dengan ilmu-nya, sehingga ilmunya itu tidak akan terpendam sia-sia.

Tetapi segalanya masih tetap samar-samar bagi Sabungsari. Ia masih belum menemukan kemantapan sikap. Meskipun demikian, ia mulai melihat satu arah yang dapat ditempuhnya.

“Aku memang harus memikirkannya baik-baik,” berkata Sabungsari di dalam hatinya, ”sikap Agung Sedayu rasa-rasanya menimbulkan persoalan khusus di dalam diriku. Aku tidak mati dalam perang tanding di pinggir sungai itu. Tetapi seperti yang diharapkan oleh Agung Sedayu, bahwa Sabungsari yang lama itu akan mati dan lahir Sabungsari yang baru, bukan jasmani, tetapi rohani.”

Dalam pada itu, sekelompok prajurit itu masih terus dalam perjalanan tugasnya. Dari padukuhan-padukuhan yang lain, mereka pun mendengar banyak persoalan yang akan dapat dijadikan laporan kepada pimpinan prajurit Pajang di Jati Anom.

“Rasa-rasanya, memang ada sekelompok orang yang mulai mengintai daerah ini,” berkata pemimpin kelompok kecil prajurit itu, ”hampir setiap padukuhan melaporkan, bahwa mereka pernah melihat orang-orang yang mencurigakan di malam hari. Bukan orang-orang yang lewat membawa barang-barang yang akan dijual di pasar, sehingga mereka berjalan di malam hari agar saat fajar menyingsing, mereka sudah dapat mulai menjual dagangannya. Tetapi orang-orang yang nampaknya akan dapat menumbuhkan ketidak-tenangan.”

Meskipun demikian, pemimpin prajurit itu masih belum dapat mengambil kesimpulan. Ia masih harus lebih banyak melihat dan mendengar dari anak-anak muda di padukuhan-padukuhan berikutnya.

Selain dari orang-orang yang mencurigakan itu, di perjalanan itu pula, para prajurit mendengarkan minat terbesar dari anak-anak muda di satu padukuhan. Ada yang berminat besar pada olah kanuragan, sehingga segenap kegiatan di padukuhan itu ditujukan untuk meningkatkan kemampuan olah kanuragan. Tetapi ada juga padukuhan yang banyak tertarik tentang peningkatan usaha pertanian. Mereka lebih banyak memikirkan peningkatan alat-alat pertanian, sehingga anak-anak muda di padukuhan itu telah mengusahakan agar beberapa pande besi dapat membuat alat-alat pertanian, meskipun mereka akhirnya juga didorong untuk membuat senjata-senjata yang dapat dipergunakan setiap saat untuk menjaga padukuhan mereka.

Malam itu, kelompok kecil prajurit Pajang itu mengakhiri perjalanan mereka sampai di Kademangan Cluntang. Mereka diterima bukan saja oleh para peronda di kademangan. Tetapi ternyata salah seorang dari para peronda itu telah menyampaikan kehadiran sekelompok kecil prajurit itu kepada Ki Demang di Cluntang.

“Kami senang sekali melihat kehadiran para prajurit di kademangan kami yang kecil,” berkata Ki Demang di Cluntang, ”kedatangan kalian mendatangkan ketenangan di hati kami.”

“Terima kasih,” jawab pemimpin prajurit itu, ”yang kami lakukan adalah tugas yang memang harus kami pikul.”

“Kami mempersilahkan kalian singgah tidak hanya sebentar di kademangan ini. Mungkin sehari, mungkin lebih.”

Pemimpin prajurit yang meronda itu tertawa. Jawabnya, ”Kami mengucap terima kasih. Tetapi kami terikat kepada tugas kami. Besok kami terus meneruskan perjalanan kami, mengelilingi beberapa kademangan lagi. Menjelang pagi kami sudah harus kembali ke Jati Anom.

“Perjalanan kalian dapat ditambah dengan semalam lagi,” berkata Ki Demang.

“Sayang Ki Demang,” jawab pemimpin prajurit itu, ”pada hari ketiga kami harus melaporkan diri kepada pimpinan prajurit Pajang di Jati Anom.”

Ki Demang mengangguk angguk. Katanya, ”Sayang sekali. Tetapi apa boleh buat. Kami tentu sudah merasa beruntung, bahwa besok kalian akan dapat melihat-lihat kademangan kami sehari penuh, sebelum kalian melanjutkan perjalanan.”

“Terima kasih Ki Demang. Kami akan meneruskan perjalanan menjelang senja. Kami sengaja ingin melihat kehidupan malam di daerah ini,” jawab pemimpin prajurit itu.

“Nah, jika demikian,” berkata Ki Demang, “silahkan kalian beristirahat di gandok. Kalian masih sempat tidur barang sekejap.”

“Tetapi langit sudah nampak cerah,” berkata pemimpin prajurit itu.

“Tidak mengapa. Kalian masih dapat tidur sekejap. Bukankah kalian tidak mempunyai tugas yang harus kalian lakukan pagi sekali,” bertanya Ki Demang.

Para prajurit itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka pun kemudian tidak berkeberatan ketika dipersilahkan untuk masuk ke gandok, ke sebuah bilik yang cukup besar dengan sebuah amben bambu yang besar, cukup untuk tempat berbaring kelima orang prajurit itu sekaligus.

Tetapi para prajurit itu tidak semuanya segera berbaring dan tidur mendekur. Dua di antara mereka harus tetap terjaga meskipun mereka rasa-rasanya berada di tempat yang aman.

Meskipun terasa betapa kantuk dan lelah setelah berkuda hampir semalam suntuk, namun dua di antara mereka, masih harus duduk bersandar dinding sambil bertahan. Sekali-sekali kepala mereka terangguk di luar sadar. Namun mereka pun segera tersadar kembali akan tugas mereka.

Tetapi ternyata kawan-kawan mereka pun tidak dengan sengaja menghukum keduanya. Demikian kedua orang prajurit yang lain, sempat memejamkan mata barang sejenak, maka mereka pun segera terbangun dan memberi kesempatan kepada kedua orang kawannya itu untuk berbaring.

“Tidak ada yang perlu dicemaskan,” berkata pemimpin kelompok kecil itu, ”tidurlah. Aku akan berjaga-jaga. Aku memang tidak terbiasa untuk tidur setelah langit menjadi terang. Tetapi bukan berarti bahwa kalian pun tidak boleh tidur pula.”

Agaknya prajurit-prajurit itu memang merasa lelah, apalagi mereka telah merasa aman. Sehingga karena itu, maka mereka pun segera telah tertidur dengan nyenyak, sementara pemimpin mereka duduk di pembaringan sambil bersandar dinding.

Pada saat yang sama, Agung Sedayu di padepokannya telah berada di halaman pula ketika langit menjadi merah. Sebelum ia mulai dengan kerjanya sehari-hari, Agung Sedayu memerlukan berjalan mengelilingi padepokannya, justru di luar dinding. Ia sengaja belum membangunkan Glagah Putih, karena pada saatnya anak itu biasanya akan terbangun sendiri.

Sambil berjalan berkeliling, Agung Sedayu mulai memikirkan dirinya sendiri. Ia masih belum ingin mulai dengan isi kitab Ki Waskita. Sambil berjalan-jalan, ia baru menganyam angan-angan, apakah yang sebaiknya akan dilakukannya. Ia sadar sepenuhnya, untuk mulai dengan mencari makna isi kitab itu, ia benar-benar harus bersiap lahir dan batin. Sedangkan yang dilakukannya itu barulah sekedar mempersiapkan dirinya.

Ia sadar, bahwa jika Glagah Putih berkeras untuk dengan cepat meningkatkan ilmunya, itu berarti bahwa setiap hari ia akan memberikan tuntunan kepada anak muda itu sampai jauh malam. Jika ia ingin mempergunakan waktu menjelang dini hari, maka waktunya untuk beristirahat di malam hari akan menjadi sangat pendek.

Dengan demikian, ia harus benar-benar memperhitungkan kemampuan jasmaniahnya menghadapi kerja yang sangat berat itu.

“Sebaiknya aku dapat menyisihkan waktu satu atau dua hari dalam seminggu,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, ”aku akan memberikan tuntunan kepada Glagah Putih empat kali dalam satu minggu sementara aku akan mempergunakan tiga kali. Sedangkan di siang hari, aku dapat memberikan kesempatan sepenuhnya kepada Glagah Putih dengan latihan-latihan ringan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Seolah-olah ia sudah menemukan ketentuan yang paling baik yang dapat dilakukan.

“Aku tidak akan memaksa diri untuk memeras tenaga tujuh hari penuh dalam seminggu. Aku dapat mengurangi waktu bagi diriku sendiri karena aku tidak perlu tergesa-gesa,” ia masih membuat pertimbangan-pertimbangan baru.

Namun yang penting bagi Agung Sedayu adalah melihat dirinya sendiri dengan segala yang ada padanya. Kemudian melihat ilmu yang tersirat dari kitab Ki Waskita. Ia harus melihat perpaduan yang luluh dari pada keduanya. Yang baru harus dapat mempertajam yang telah ada serta mengisi ruang-ruang kosong sehingga benar-benar menjadi mampat padat dalam perpaduan yang menyatu.

Ketika Agung Sedayu berjalan untuk ketiga kalinya melalui regol halaman padepokan kecilnya, maka ia sudah mendengar suara sapu lidi dihalaman. Karena itu, maka ia pun kemudian membelok memasuki regol halaman padepokannya.

Ia terhenti di pintu ketika ia melihat Glagah Putih sudah mulai membersihkan halaman dengan cara yang diajarkannya.

Sambil tersenyum, Agung Sedayu melangkah mendekatinya. Katanya, ”Bagus. Kau harus melakukannya setiap hari.”

Glagah Putih mengangkat wajahnya. Ketika ia melihat Agung Sedayu, ia bertanya, ”Kakang dari mana?”

“Berjalan-jalan,” jawab Agung Sedayu, ”aku berjalan mengelilingi padepokan. Ketika aku terbangun dini hari, aku tidak dapat memejamkan mata lagi. Karena itu, aku pun mulai berjalan-jalan.”

“Kakang tidak membangunkan aku,” desis Glagah Putih, ”aku ingin ikut berjalan-jalan.”

“Kau tentu letih. Semalam kau memeras keringat dalam latihanmu setelah beberapa lamanya kau beristirahat meskipun tidak mutlak,” jawab Agung Sedayu.

“Aku memang letih. Tetapi berjalan-jalan akan memberikan kesegaran tersendiri,” sahut Glagah Putih.

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, ”Baiklah, lain kali kau akan aku bangunkan.”

Glagah Putih tidak menyahut lagi. Ia melanjutkan kerjanya, menyapu halaman dengan cara yang khusus, sehingga bekas sapu lidinya nampak tanpa diselingi oleh bekas telapak kaki, karena ia menyapu sambil melangkah mundur.

Sementara itu, Agung Sedayu pun segera pergi ke pakiwan. Sebentar kemudian terdengar derit senggot timba.

Dalam pada itu, seisi padepokanpun telah terbangun pula. Di ujung hari yang baru itu, mulailah padepokan kecil itu dengan kesibukannya sehari-hari, sementara Agung Sedayu masih harus menyusun urutan waktu yang sebaik-baiknya di hari-hari mendatang.

Kiai Gringsing dan Ki Widura, telah sibuk pula dengan kerjanya masing-masing. Tetapi keduanya mempunyai tanggapan yang berbeda atas sikap Agung Sedayu, karena Kiai Gringsing mengetahui keadaan Agung Sedayu seluruhnya, sementara Ki Widura hanya dapat melihat sebagian yang menyangkut anaknya. Ia tidak mengerti, bahwa telah terpahat di dinding angan-angan Agung Sedayu seluruh isi kitab yang dimiliki oleh Ki Waskita, sehingga ia pun tidak membayangkan, bahwa Agung Sedayu akan memerlukan waktu khusus untuk memahami isi kitab itu.

Namun baik Kiai Gringsing maupun Agung Sedayu tidak terlalu memikirkan kehadiran Ki Widura. Ia tentu tidak akan terlalu lama berada di padepokan itu, karena ia harus kembali ke Banyu Asri dua atau tiga hari kemudian.

Di hari itu, tidak banyak yang harus dilakukan oleh Glagah Putih menurut petunjuk Agung Sedayu. Bahkan hampir tidak ada bedanya dengan hari-hari yang lain. Glagah Putih masih belum merasakan bahwa yang dilakukan dalam kerja sehari-hari itu pun merupakan latihan-latihan tersendiri bagi kemampuan tenaga jasmaniahnya.

Namun Agung Sedayu sudah memberikan pengantar bagi hari itu, ”Kau tidak perlu terlalu tergesa gesa. Jika kau belum melihat sesuatu yang dapat meningkatkan kemampuanmu itu bukan berarti tidak sama sekali.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Meskipun ia tidak mengatakan sesuatu, namun seolah-olah Agung Sedayu mendengar debar jantung Glagah Putih yang mengeluh “Lamban sekali. Sampai tua aku belum akan mencapai apapun juga.”

Meskipun sebenarnyalah bahwa Glagah Putih telah mengeluh di dalam hatinya, tetapi Agung Sedayu tidak mengatakan sesuatu. Dibiarkannya Glagah Putih merasa kecewa, karena Agung Sedayu yakin, bahwa pada saatnya perasaan kecewa itu akan hilang.

“Latihan dalam rangka pembinaan ilmu kanuragan bukan kerja sehari dua hari. Jika pada hari-hari yang pertama nampak terlalu bersungguh-sungguh maka semakin lama bukannya justru semakin meningkat, tetapi sebaliknya, semakin lama menjadi semakin kendor, dan akhirnya seperti lampu yang kehabisan minyak,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri. Dan sikap itulah yang dipegangnya untuk pedoman.

Pada hari itu, ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih pergi sawah, maka mereka telah singgah sejenak di tepian sungai berpasir dan berbatu-batu. Tidak ada yang mereka lakukan selain berjalan menyusuri sungai itu. Tetapi mereka tidak melalui tepian berpasir dan berjalan di sela-sela batu-batu yang berserakan. Yang mereka lakukan adalah berjalan di atas batu-batu besar itu. Mereka berloncatan dari batu ke batu.

Di permulaan latihan-latihannya, di Sangkal Putung, Agung Sedayu pun melakukan hal itu. Swandaru hampir tidak telaten dengan latihan-latihan yang demikian. Namun ternyata bahwa latihan-latihan serupa itu sangat berguna bagi keseimbangan dan keteguhan kakinya. Jika semula mereka memilih batu-batu yang kesat, pada saatnya mereka akan mencari batu-batu yang berlumut. Yang licin dan permukaannya tidak datar atau miring.

“Mudah-mudahan Glagah Putih tidak menjadi jemu,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Mula-mula Glagah Putih memang tidak mengerti maksud kakak sepupunya. Namun ketika terasa beberapa kesulitan, justru ia mulai tertarik pada permainan yang demikian. Sehingga karena itulah, maka ia pun kemudian melakukannya dengan bersungguh-sungguh.

Beberapa saat kemudian mereka menyusuri sungai itu, mereka telah sampai ke tempat yang hampir tidak pernah disentuh kaki seseorang karena tebingnya yang dalam dan terjal berpadas. Tetapi Agung Sedayu tidak berhenti. Ia berjalan terus meloncat dari batu ke batu diikuti oleh Glagah Putih.

“Di seberang tebing yang terjal ini kita akan meloncat naik,” berkata Agung Sedayu, ”kemudian kita akan menyusuri padang perdu sejenak. Jika kita sampai di ujung bulak, maka orang-orang akan bertanya, kenapa kita melalui jalan itu justru karena sawah kita terletak di ujung yang lain dari bulak itu.”

“Mereka tidak akan bertanya apa-apa,” jawab Glagah Putih.

“Belum tentu,” sahut Agung Sedayu sambil meloncat terus, ”mereka tentu heran. Jika kita sekedar pergi ke sungai, kita tidak akan sampai ke tempat ini.”

“Jadi?” bertanya Glagah Putih.

“Apakah tidak sebaiknya kita kembali dan naik ke tempat kita tadi turun ke sungai.”

Glagah Putih tiba-tiba berhenti. Kedua tangannya menekan punggungnya sambil menggeliat, ”Kita akan meloncat-loncat lagi?”

“Ya,” jawab Agung Sedayu.

“Aku lelah sekali,” desis Glagah Putih.

“Bagus,” sahut Agung Sedayu, ”kelelahan adalah pertanda bahwa kakimu mulai mengalami latihan-latihan betapapun sederhananya.”

Glagah Putih tidak menyahut. Tetapi dipandanginya batu-batu yang berserakan. Sungai yang berkelok-kelok dan pasir yang membentang di tepian.

“Jika kau lelah sekali, kita akan berjalan di atas pasir,” berkata Agung Sedayu.

Glagah Putih tidak menyahut. Tetapi ia pun kemudian turun di atas pasir dan berjalan menyusuri sungai itu ke arah yang berlawanan. Namun beberapa langkah kemudian, rasa-rasanya ada yang memaksanya untuk meloncat ke atas sebuah batu. Kemudian kembali ia berloncatan meskipun tidak secepat saat mereka mulai.

Memang tidak begitu menarik. Yang diinginkan oleh Glagah Putih adalah latihan-latihan yang langsung terasa meningkatkan ilmunya. Namun ia tidak bertanya kepada Agung Sedayu. Meskipun di dalam hati ia seolah-olah mengeluh, ”Jika yang aku lakukan hanyalah sekedar berloncatan dan berlari-lari sepanjang hari, ditambah dengan menyapu halaman dengan cara yang aneh itu, maka apakah aku akan segera dapat menguasai ilmu kanuragan.”

Glagah Putih masih tetap menganggap Agung Sedayu sangat lamban. Meskipun ia tidak mengatakannya.

Dalam pada itu, Agung Sedayu pun melihat kekecewaan itu. Namun setiap kali Agung Sedayu berkata kepada diri sendiri, ”Pada saatnya ia akan mengerti dan kekecewaan itu akan hilang dengan sendirinya.”

Agung Sedayu sadar, bahwa pada umumnya seseorang telah didorong oleh suatu keinginan yang melonjak-lonjak. Namun ilmu yang mendalam, bukannya yang dengan cepat dikuasainya. Bukan pula dengan paksa dan tiba-tiba merubah kemampuan jasmaniahnya.

“Malam nanti aku akan menjelaskan,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Dalam pada itu, para prajurit peronda yang sedang beristirahat, ternyata mempergunakan kesempatan di siang hari untuk berbicara dengan anak-anak muda. Melihat-lihat isi kademangan yang tidak begitu besar itu. Namun juga mendengarkan keluhan-keluhan mereka.

Kademangan Cluntang memang tidak sebesar Sangkal Putung. Tetapi mereka mencoba untuk menjaga keamanan kademangan mereka sebaik-baiknya. Namun mereka tidak dapat ingkar, bahwa kemampuan mereka memang sangat terbatas.

“Kita tidak mempunyai seorang seperti anak Demang Sangkal Putung,” berkata Ki Demang, ”anakku enam orang. Dua di antaranya laki-laki. Tetapi mereka tidak lebih dari anak-anak padesan di Kademangan ini. Meskipun mereka juga mencoba berlatih kanuragan, tetapi keduanya tidak lebih dari seorang pengawal di Kademangan Sangkal Putung. Itulah agaknya, maka justru kademangan-kademangan lainlah yang menjadi sasaran kejahatan di hari-hari terakhir ini.”

 

 

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan, bahwa para penjahat itu pun mempunyai perhitungan, lebih baik merampok di tempat-tempat yang lemah daripada harus memasuki sarang serigala di Sangkal Putung.

Orang-orang Kademangan Cluntang itu nampaknya mengerti pula, bahwa para prajurit itu sedang merenungi Kademangan Klebak yang baru saja di landa bencana kejahatan, sehingga daerah di sekitarnya terpaksa mempersiapkan diri pula.

Karena itu, maka Ki Demang di Cluntang itu pun berkata, ”Ki Sanak, rasa-rasanya kademangan ini pun sudah tersentuh pula oleh bayangan kejahatan itu. Dua orang peronda melihat empat lima orang berjalan di bulak panjang sambil menjinjing senjata yang mengerikan. Keduanya sama sekali tidak berani berbuat sesuatu. Bahkan mereka bagaikan membeku di tempatnya. Untunglah bahwa orang-orang itu tidak melihat kedua peronda yang bersembunyi sambil menggigil itu.”

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Mereka benar-benar melihat bayangan hitam di daerah selatan yang untuk beberapa saat lamanya menjadi tenang dari kejahatan. Jika terjadi sesuatu, latar belakang dari peristiwa itu bukanlah perampokan. Namun agaknya, di hari-hari terakhir, para penjahatlah yang mulai memasuki daerah yang menjadi sangat gelisah ini.

Dengan penuh perhatian para prajurit itu mendengarkan setiap keterangan tentang keadaan di setiap kademangan seperti yang dipesankan oleh Untara. Namun pada umumnya yang mereka dengar hanyalah keluhan dan kegelisahan.

Ketika matahari condong ke barat, maka para prajurit itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka akan segera melanjutkan perjalanan menuju ke kademangan-kademangan berikutnya. Mereka akan melihat dan mendengar segala sesuatu yang berkembang di setiap kademangan yang mereka lalui.

“Kami berharap, bahwa kehadiran prajurit Pajang di setiap kademangan dapat dipercepat jarak waktunya,” berkata Ki Demang di Cluntang, seperti juga permintaan-permintaan yang selalu mereka dengar dari daerah-daerah yang kecemasan itu.

Dengan diiringi oleh para bebahu kademangan. maka para prajurit itu pun kemudian melanjutkan perjalanan ketika matahari menjadi semakin rendah. Di panasnya sinar matahari sore hari mereka menyusuri bulak-bulak panjang dan lewat di padukuhan-padukuhan kecil dan besar. Sekali-sekali mereka berhenti di gubug-gubug yang terdapat di tengah-tengah sawah jika para prajurit itu masih melihat satu dua orang yang berada di dalamnya.

Seperti hari yang pertama, mereka pun menyusuri daerah yang luas di daerah selatan. Mereka singgah seperlunya saja di gardu-gardu. Menjelang malam prajurit-prajurit itu telah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sehingga sekali-sekali mereka pun memberi kesempatan kepada kudanya beristirahat, sementara mereka berkesempatan untuk berbicara agak panjang.

Tetapi adalah di luar dugaan dan perhitungan para prajurit itu, bahwa mereka telah berada dalam pengawasan sekelompok orang-orang yang justru sedang mereka perbincangkan. Ketika para prajurit itu mulai memasuki beberapa kademangan di malam pertama, maka telah sampai laporan kepada seorang yang dadanya dibakar oleh dendam yang tidak akan dapat dipadamkan.

“Kelompok prajurit itu terdiri dari lima orang, Ki Lurah,” lapor seseorang kepada pemimpinnya.

“Merekalah yang selama ini aku tunggu. Aku terlambat bertindak atas kelompok yang dua pekan yang lalu meronda di daerah ini. Maka sekarang aku tidak akan terlambat lagi,” geram pemimpinnya, ”kekalahanku dari Agung Sedayu beberapa saat yang lampau telah membuat darahku bagaikan mendidih, sehingga jantungku hampir meledak. Sementara aku menunggu kesempatan di saat lain, setelah aku meningkatkan diri, maka aku akan mendapatkan sasaran-sasaran yang lain yang dapat mengurangi sakit hatiku.”

“Jadi apakah yang akan kita lakukan?” bertanya pengikutnya.

“Aku yakin, tanpa Agung Sedayu. Sangkal Putung tidak akan berarti apa apa. Aku berpendapat bahwa Swandaru tidak memiliki kemampuan seperti Agung Sedayu. Karena itu, aku akan memasuki kademangan itu selagi Agung Sedayu tidak ada. Aku akan membunuh orang-orang di kademangan itu, untuk menunjukkan kepada para prajurit yang tentu akan melalui daerah itu pula, bahwa aku telah mampu berbuat sesuatu. Jika mereka sedang sibuk dengan mayat-mayat itu sambil mengumpat-umpat, maka aku akan hadir pula. Mereka adalah prajurit-prajurit Pajang. Mereka adalah prajurit-prajurit Pangeran Benawa. Jika aku menumpas prajurit-prajurit itu, maka berita kematiannya akan didengar oleh Pangeran Benawa. Satu dari mereka akan aku beri kesempatan hidup untuk mengenal siapakah yang telah melakukan pembunuhan itu sebagai pelepasan dendamku kepada Pangeran Benawa.”

Para pengikutnya hanya mengangguk-angguk saja. Mereka pun yakin bahwa pemimpinnya tentu akan dapat melakukannya.

“Aku akan berada di Sangkal Putung sebelum tengah malam. Aku memerlukan waktu beberapa saat untuk membunuh seisi Kademangan. Kemudian aku akan menunggu prajurit itu datang ke Kademamngan untuk melihat, betapa mereka terkejut menemukan mayat-mayat yang terserak di pendapa.”

“Bagaimana jika para prajurit itu datang lebih awal, sebelum tengah malam misalnya,” bertanya seorang pengikutnya.

“Kau tahu, berapa besarnya kemampuan seorang prajurit. Di antara mereka, mungkin akan terdapat seorang perwira yang memiliki kemampuan agak lebih baik dari prajurit-prajuritnya. Tetapi mereka tidak akan mampu mengalahkan aku,” jawab pemimpinnya, ”jika mereka hadir di Sangkal Putung sebelum aku berhasil membunuh Swandaru, maka kalian akan mempunyai pekerjaan pula. Menahan para prajurit itu beberapa saat. Kemudian, aku sendirilah yang akan membunuh mereka dengan caraku. Seperti aku katakan, seorang dari mereka akan tetap hidup untuk mendengarkan penjelasanku kepada Pangeran Benawa dan Agung Sedayu.”

Para pengikutnya masih mengangguk-angguk saja. Dengan bangga mereka membayangkan, Sangkal Putung akan segera digenangi dengan darah seisi Kademangan. Tanpa Agung Sedayu, mereka memang tidak banyak berarti bagi Ki Carang Waja yang mampu mengguncang bumi.

Dari para pengamatnya, Carang Waja menentukan waktu yang sebaik-baiknya yang dipilihnya. Menurut perhitungannya, di malam kedua setelah lewat tengah malam, berulah mereka yang meronda akan sampai ke Sangkal Putung.

“Sesudah aku membunuh seisi Kademangan, maka kita akan membunyikan isyarat untuk memanggil para prajurit itu jika perlu. Para pengawalku akan membunuh siapapun yang berani datang ke Kademangan, sebelum prajurit-prajurit itu yang akan terbunuh.”

Para pengikutnya saling berpandangan. Mereka tidak mengerti sikap Carang Waja. Kenapa ia harus membunyikan isyarat, sehingga dengan demikian akan mengundang kesulitan yang bahkan mungkin tidak akan teratasi.

Namun tiba-tiba terdengar tertawa Carang Waja meledak. Di sela-sela suara tertawanya yang mengguntur ia berkata, ”Kalian memang pengecut. Kalian menjadi ketakutan melihat pengawal-pengawal itu merayap mengepung kita.”

Para pengikutnya tidak menjawab.

“Jangan seperti cucurut. Seandainya benar hal itu aku lakukan, maka kalian akan memperoleh kebanggaan karena kalian akan dapat membunuh berapapun yang ingin kalian lakukan. Para pengawal dan prajurit yang memasuki daerah sirep yang tajam, akan kehilangan sebagian dari kesadarannya. Bahkan sebagian mereka akan tertidur nyenyak tanpa berbuat apapun juga.”

Para pengikutnya menarik nafas dalam-dalam. Mereka mengerti, bahwa Ki Carang Waja mampu menyebarkan sirep yang dapat mempengaruhi kesadaran seseorang seperti yang pernah dilakukan ketika mereka datang ke Sangkal Putung. Sayang, ternyata bahwa waktu itu Agung Sedayu berhasil mengalahkan Carang Waja, sehingga dendam justru semakin membara di dada Carang Waja itu.

Karena itu, maka mereka pun kemudian tidak menunjukkan sikap apapun. Mereka percaya sepenuhnya terhadap Carang Waja. Bukan saja karena kemampuannya yang melampaui kedua adiknya dari Pesisir Endut, tetapi juga perhitungannya yang tentu akan berhasil seperti yang diharapkannya. Jika beberapa saat yang lalu ia gagal, maka agaknya Agung Sedayulah yang menyebabkannya. Kini Agung Sedayu tidak ada di Sangkal Putung, sehingga karena itu, maka yang diinginkan oleh Carang Waja itu tentu akan dapat dilakukannya.

Demikianlah, maka mereka pun segera berangkat mendekati Sangkal Putung. Carang Waja tidak mau membicarakannya dengan orang-orang Pajang yang pernah datang bersamanya ke Sangkal Putung untuk membunuh Agung Sedayu tetapi gagal.

“Aku akan melalukan atas namaku sendiri. Yang dikehendaki oleh orang-orang Pajang itu terutama adalah Agung Sedayu. Karena itu, sekarang aku tidak akan berbicara dengan mereka. Aku justru akan membuat para prajurit Pajang terkejut karena tindakanku. Terutama Pangeran Benawa. Bahkan orang-orang yang merupakan api didalam lingkungan keprajuritan Pajang itu sendiri akan terkejut mendengar apa yang telah aku lakukan. Membunuh saudara seperguruan Agung Sedayu dan prajurit-prajurit yang sedang meronda di Sangkal Putung. Aku sadar, bahwa dengan demikian aku akan mengundang dendam para prajurit Pajang yang tidak berpihak kepada mereka yang menyebut dirinya pewaris Kerajaan Majapahit itu. Juga dendam itu akan membakar jantung Agung Sedayu dan gurunya. Tetapi aku tidak gentar.”

“Apakah kita tidak mempertimbangkan kemungkinan, bahwa Untara akan datang dengan prajurit segelar sepapan ke padepokan kita?” tiba-tiba saja salah seorang pengikutnya bertanya.

“Aku tidak peduli. Mungkin juga guru Agung Sedayu, Agung Sedayu dan orang-orang lain akan datang pula bersama mereka, atau sendiri-sendiri. Tetapi aku tidak akan menjadi dungu untuk menunggunya di padepokan. Padepokanku akan menjadi kosong dan mereka hanya akan menemukan gubug-gubug itu. Biarlah mereka membakar padepokan itu jika mereka memang sudah menjadi gila.”

Para pengikutnya hanya dapat mengangguk-angguk. Mereka tidak akan dapat memberikan kemungkinan lain kepada Carang Waja yang hatinya sudah menyala itu.

Demikianlah, maka pada waktu yang sudah diperhitungkan, Carang Waja telah mengambil tempat sesuai dengan rencananya. Sebelum tengah malam, mereka akan memasuki Sangkal Putung. Mereka akan menebarkan sirep yang tajam, kemudian memasuki Kademangan dan membunuh saudara seperguruan Agung Sedayu.

Pekerjaan itu bagi Carang Waja bukanlah pekerjaan yang dianggapnya terlalu berat. Yang dilakukan itu sekedar membuat lawan-lawannya sakit hati. Agung Sedayu dan Pangeran Benawa.

“Pada saatnya aku akan datang kepada keduanya. Seorang demi seorang akan aku tantang untuk berperang tanding,” berkata Carang Waja di dalam hatinya.

Baginya, lima orang prajurit Pajang yang sedang meronda itu sama sekali tidak diperhitungkannya. Prajurit Pajang tidak akan lebih dari para pengikutnya. Belum lagi saudara seperguruannya.

Sebelum tengah malam, maka Carang Waja dan para pengikutnya telah berada di Sangkal Putung. Mereka dengan diam-diam memasuki padukuhan induk dengan meloncati dinding padukuhan, sehingga para pengawal tidak melihat kehadiran mereka di padukuhan itu.

“Kita akan melepaskan sirep,” berkata Carang Waja. ”Tidak saja dengan sasaran rumah Ki Demang. Tetapi seisi padukuhan induk ini akan kita pengaruhi. Karena itu, yang dapat melakukan, bantulah aku melakukannya. Di halaman Ki Demang, aku akan melepaskan ilmu sirep yang paling tajam.”

Demikianlah, maka Carang Waja dan pengikutnya mulai menebarkan ilmu mereka. Bukan saja tertuju ke rumah Ki Demang Sangkal Putung, tetapi juga rumah-rumah yang lain di Kademangan itu, sampai penghuni padukuhan yang paling ujung.

Dalam pada itu, Sangkal Putung memang sudah menjadi sepi. Yang masih terjaga adalah anak-anak muda di gardu-gardu. Mereka adalah para pengawal kademangan serta anak-anak muda yang memang terbiasa berada di gardu-gardu perondan.

Anak-anak muda itu sama sekali tidak menyangka, bahwa bahaya telah mengintai padukuhan mereka.

Meskipun mereka juga mendengar peristiwa yang terjadi di Kademangan tetangga mereka, tentang orang-orang yang berbuat kejahatan, namun Sangkal Putung terlalu percaya kepada diri sendiri. Sikap Swandaru agaknya telah menulari para pengawal di Sangkal Putung, seolah-olah Sangkal Putung sudah merupakan kademangan yang paling kuat di daerah selatan. Bahkan seorang anak muda pernah berkata, ”Seandainya tidak ada para prajurit Pajang di Jati Anom, maka Sangkal Putung adalah kademangan yang jauh lebih kuat dari Jati Anom.”

Sebenarnyalah bahwa mereka terlalu berbangga terhadap Swandaru dan Sekar Mirah. Mereka sadar, tidak ada kademangan di sekitar Sangkal Putung yang memiliki anak muda sekuat Swandaru dan Sekar Mirah. Apalagi ternyata kemudian bahwa di Sangkal Putung ada Pandan Wangi, anak Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang menjadi istri Swandaru. Dengan demikian, maka Sangkal Putung adalah kademangan yang paling kuat.

Mereka menganggap bahwa para penjahat tentu merasa lebih aman melakukan kejahatan di luar Sangkal Putung daripada mereka memasuki kademangan yang wingit itu.

Meskipun demikian, Swandaru sudah memperingatkan, agar mereka yang bertugas menjadi berhati-hati. Bukanlah mustahil, bahwa pada suatu saat penjahat-penjahat itu akan meraba pula padukuhan-padukuhan di Kademangan Sangkal Putung.

Namun dalam pada itu, menjelang tengah malam, Sangkal Putung ternyata telah dicengkam oleh suasana yang berbeda dengan hari-hari yang pernah lewat. Udara yang panas dan langit yang hitam tidak terasa lagi di tubuh para pengawal. Rasa-rasanya angin malam menjadi sangat sejuk dan suara cengkerik bagaikan kidung biyung sambil mendukung anaknya yang sedang menyusu dengan mata yang mulai terpejam.

Padukuhan induk Sangkal Putung telah dicengkam oleh pengaruh sirep yang sangat kuat. Para pengawal tidak dapat bertahan lagi. Dimanapun mereka berada, maka mereka telah menjatuhkan diri bersandar apa saja yang dapat menahan tubuh mereka. Mata mereka pun segera terpejam, dan kesadaran mereka mulai mengabur.

Demikian pula mereka yang berada di rumah masing-masing. Mereka yang masih belum tidur karena kerja yang masih harus mereka lakukan, atau perempuan-perempuan yang sedang menganyam tikar pandan yang besok ingin mereka jual ke pasar untuk membeli garam, tiba-tiba saja telah terbaring diam.

Udara yang aneh itu telah meraba rumah Ki Demang Sangkal Putung pula. Swandaru yang sudah tidur nyenyak di pembaringannya, sama sekali tidak mengerti, bahwa di padukuhannya telah ditebarkan ilmu sirep yang tajam. Sementara Pandan Wangi yang memang sudah hampir tertidur pula, seolah-olah telah didorong ke dalam mimpi yang buram karena firasatnya.

Sekar Mirah-lah yang masih gelisah di pembaringan. Betapapun juga, kepergian Agung Sedayu yang sudah cukup lama tanpa pernah menjenguknya itu, telah mengusik perasaannya.

Beberapa malam telah dilewatinya dengan gelisah. Bahkan ia mulai menduga-duga, apakah Agung Sedayu menjadi marah kepadanya karena sikapnya. Mungkin anak muda itu telah tersinggung karena ketidak-acuhannya terhadap padepokan kecil yang sedang dibangunnya.

“Tetapi ia memang terlalu menuruti kata hatinya,” gumam Sekar Mirah kepada diri sendiri, ”ia tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Kakaknyapun telah beberapa kali menegurnya, agar ia memilih kewajiban yang sesuai dengan kemampuannya. Tetapi agaknya Agung Sedayu memang malas. Di padepokan itu ia dapat tidur nyenyak tanpa diganggu. Meskipun matahari telah hampir mencapai puncak langit, jika ia masih malas, ia dapat saja tidur tanpa menghiraukan hiruk pikuknya dunia di sekitarnya.”

Kadang-kadang jengkel yang sangat membuat Sekar Mirah hampir menangis. Namun kadang-kadang ia pun menyesali sikapnya yang mungkin telah menyakiti hati Agung Sedayu.

Kegelisahannya itulah yang masih menahannya duduk di pembaringannya sambil memeluk lutut. Bahkan sekali-sekali ia turun dan berjalan mondar-mandir di dalam biliknya.

Ketika ilmu sirep yang tajam mulai menyentuh biliknya, maka Sekar Mirah sedang memeluk lutut di bibir pembaringan. Di luar sadarnya matanya telah terpejam. Namun tiba-tiba saja ia bagaikan didorong dari belakang dan hampir jatuh tertelungkup dari ambennya.

Sekar Mirah terkejut. Untunglah ia sempat menahan tubuhnya dengan tangannya, sehingga hidungnya tidak mencium lantai.

Sesaat Sekar Mirah masih sempat mengumpat. Namun tiba-tiba saja ia mulai memperhatikan suasana yang asing. Ia mula-mula sama sekali tidak merasa mengantuk. Namun tiba-tiba saja ia telah terdorong jatuh dari pembaringannya.

“Ah, aku merasakan suasana yang aneh,” desisnya.

Justru karena itu, maka mulailah ia mempersiapkan dirinya menilai suasana yang dirasakannya asing. Dengan memperkuat daya tahannya, ia berdiri tegak di dalam biliknya.

“Tentu ada yang tidak wajar,” desisnya.

Karena itu, maka Sekar Mirah pun segera berganti pakaian. Ia tidak lagi memakai kain panjang seperti kebanyakan seorang gadis. Tetapi ia telah mengenakan pakaian khususnya. Bahkan dengan jantung yang berdebar-debar ia mengambil senjatanya. Bukan pedang atau senjatanya yang lain. Tetapi ia telah mengambil tongkat bajanya yang berkepala tengkorak kekuning-kuningan peninggalan Ki Sumangkar.

Baru kemudian ia keluar dari biliknya dengan hati-hati dan berjalan ke bilik kakaknya.

Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Nampaknya kakaknya suami istri sedang tidur dengan nyenyaknya.

Beberapa saat lamanya ia berdiri di muka pintu bilik kakaknya. Namun akhirnya ia beringsut meninggalkan pintu itu. Ia ingin minta pertimbangan ayahnya.

Pintu bilik ayahnyalah yang kemudian diketuknya perlahan-lahan. Tetapi ayahnya sama sekali tidak mendengarnya. Bahkan ketika ia mengetuk semakin keras, ayahnya sama sekali tidak terbangun.

Dengan demikian, maka iapun yakin, bahwa memang ada sesuatu yang tidak wajar di padukuhan induk. Karena itu, maka ia pun justru menjadi semakin bernafsu untuk membangunkan ayahnya.

Karena ayahnya tidak segera bangun, maka perlahan-lahan ia mencoba mendorong pintu biliknya. Ternyata pintu itu dapat dibukanya meskipun agak sulit. Suaranya yang berderak seakan-akan telah mengguncang dinding di seluruh rumah itu.

Yang terbangun lebih dahulu adalah justru Pandan Wangi. Mimpinya yang sangat buruk membuatnya terkejut. Seolah-olah rumah itu diguncang oleh gempa yang dahsyat, sehingga suaranya berderak semakin lama semakin keras.

Ternyata ketika matanya terbuka, ia masih mendengar suara berderak itu. Beberapa saat ia hampir jatuh kembali ke dalam tidur yang nyenyak. Namun suara derak yang keras, yang seolah-olah terjadi didalam mimpi itu terdengar pula.

Kesadarannya yang mulai terang, telah mendorongnya untuk mengerahkan daya kemauannya untuk bangkit dari pembaringannya.

Demikian ia bangkit, maka tiba-tiba saja ia telah meloncat turun. Suara berderak itu didengarnya jelas dari pintu bilik ayah mertuanya. Karena itulah, maka tiba-tiba saja ia telah menghentakkan perasaannya sehingga matanyapun terbuka selebar-lebarnya dan kesadarannyapun telah berkembang seutuhnya.

Dengan tergesa-gesa ia melangkah menuju ke pintu biliknya. Dengan hati-hati ia pun telah membuka pintunya sambil mengintip keadaan di luar biliknya.

Karena ia tidak melihat seorangpun dari sela-sela pintunya, maka ia pun telah menghentakkan pintunya selebar-lebarnya sambil meloncat keluar. Pandan Wangi telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi yang dilihatnya adalah Sekar Mirah yang berdiri di muka pintu bilik ayahnya yang dibukanya dengan paksa. Ketika ia mendengar pintu bilik kakaknya terbuka, maka ia pun segera berpaling. Dilihatnya Pandan Wangi telah berdiri tegak sambil memandanginya dengan heran.

“Ada apa, Sekar Mirah?” bertanya Pandan Wangi.

Sekar Mirah tidak masuk ke dalam bilik ayahnya. Ia pun dengan tergesa-gesa mendekati Pandan Wangi sambil berdesis, ”Kau merasakan sesuatu yang asing?”

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia memperhatikan dengan sungguh-sungguh keadaannya, maka ia pun mengangguk sambil berdesis, ”Ya. Aku merasakan. Tentu pengaruh sirep yang tajam.”

“Dimana Kakang Swandaru?”

“Dengkurnya masih terdengar.”

Sekar Mirah masih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Bangunkan dia.”

Pandan Wangi mengangguk. Dengan tergesa-gesa ia melangkah memasuki biliknya sambil berkata, ”Aku pun akan berganti pakaian.”

Sekar Mirah kemudian menunggu dengan gelisah diluar bilik. Sementara Pandan Wangi berganti pakaian sambil membangunkan suaminya.

Agaknya Swandaru yang tidak siap menghadapi pengaruh sirep itu, merasa sangat malas untuk bangun. Betapapun Pandan Wangi mengguncangkannya, Swandaru hanya beringsut dan berputar saja. Kemudian matanya kembali terpejam.

Pandan Wangi menjadi gelisah. Karena itu, maka ia pun kemudian mengguncang tubuh suaminya sambil berdesis di telinganya, ”Kakang, kita telah terkena pengaruh sirep.”

“He,” Swandaru membuka matanya. Sekali lagi ia mendengar Pandan Wangi dengan sengaja mengguncang kesadaran Swandaru yang mulai tumbuh, ”Kita terkena pengaruh sirep. Bangunlah, ada orang jahat di padukuhan ini.”

Perasaan Swandaru mulai tersentuh. Ia pun kemudian mulai mencoba mempertahankan diri dari pengaruh yang terasa mencengkam jantungnya.

Daya tahan Swandaru ternyata cukup besar. Ia pun segera dapat menguasai dirinya. Perlahan-lahan ia bangkit sambil mengusap matanya.

“Kau menyebut pengaruh sirep?” bertanya Swandaru.

“Ya. Perhatikan suasana di rumah ini,” desis Pandan Wangi.

Swandaru termangu-mangu. Namun ia pun segera dapat mengerti, apa yang telah terjadi di padukuhannya.

Sambil menggeram ia pun meloncat berdiri. Dengan kening yang berkerut ia bertanya, ”He, kau justru sudah siap? Bangunkan Sekar Mirah.”

“Ialah yang membangunkan aku. Ia ada di luar.”

Swandaru pun kemudian menjengukkan kepalanya di pintu yang dibukanya sedikit. Dilihatnya Sekar Mirah berjalan mondar mandir dengan senjatanya di tangan.

“Hati-hatilah, Mirah,” desis Swandaru.

“Cepatlah bersiap,” sahut Sekar Mirah.

Sejenak kemudian Swandaru pun telah bersiap pula. Ia pun telah menggenggam cambuk di tangannya, sementara Pandan Wangi telah mengenakan pedang rangkapnya di lambung sebelah menyebelah.

“Apakah kita akan keluar?” bertanya Sekar Mirah.

“Kita menunggu. Berbuatlah seolah-olah kita pun sedang tertidur nyenyak. Kita berkumpul di ruang dalam,” jawab Swandaru.

 

 

Ketiga orang itu pun kemudian berkumpul di ruang dalam. Mereka sama sekali tidak bercakap-cakap. Mereka menunggu perkembangan keadaan.

Sementara itu, Sekar Mirah memandangi kentongan yang tergantung di dalam ruang itu. Kiai Gringsing pernah berpesan, bahwa jiku perlu kentongan itu harus dibunyikannya. Namun agaknya Swandaru tidak sependapat. Karena itu, dengan isyarat ia menggelengkan kepalanya.

Untuk beberapa saat, ketiga orang itu termangu-mangu di dalam ketegangan. Mereka duduk di lantai bersandar tiang-tiang rumah yang tegak dan kukuh. Ketika Sekar Mirah melihat pintu bilik ayahnya yang terbuka, maka ia pun berdesis, ”Bagaimana dengan Ayah?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tetapi katanya kemudian, ”Biarlah Ayah tidur nyenyak. Tidak akan ada bahaya yang sebenarnya.”

Namun Pandan Wangi menyahut, ”Kakang, apakah kau ingat, bahwa beberapa saat yang lalu, Kademangan ini mengalami serangan yang sama seperti yang terjadi sekarang?”

“Ya. Saudara seperguruan dari orang-orang Pasisir Endut itu,” jawab Swandaru.

“Mereka adalah orang-orang yang berbahaya. Mungkin sekarang ia datang dengan kekuatan yang lebih besar,” berkata Pandan Wangi pula.

“Jadi maksudmu?” bertanya Swandaru.

“Kita ingat pesan Kiai Gringsing,” jawab Pandan Wangi.

Swandaru termangu-mangu sejenak. Ketika ia memandang wajah Sekar Mirah nampaknya gadis itu pun sependapat dengan Pandan Wangi. Namun Swandaru pun kemudian menggeleng sambil berkata, ”Apakah yang kita cemaskan.”

“Mungkin kau dapat melawan dalam perang tanding orang yang bernama Carang Waja itu Kakang,” Sekar Mirahlah yang menjawab, ”mungkin pula aku dan Pandan Wangi dapat melawan masing-masing seorang dari mereka. Tetapi jika mereka datang bersama sepuluh orang?”

Sejenak Swandaru termenung. Ia dapat mengerti kecemasan kedua perempuan itu. Kekuatan mereka hanyalah bertiga saja. Padahal mereka tahu, bahwa Carang Waja adalah salah seorang dari mereka yang berhubungan dengan orang-orang yang mengaku keturunan dari Kerajaan Majapahit yang berhak mewarisi kebesarannya.

“Kakang,” berkata Sekar Mirah pula, ”kita tidak tahu, siapa sajakah yang datang ke padukuhan ini. Apalagi jika mereka membawa pengikut yang cukup banyak. Masalahnya bukan karena aku menjadi ketakutan. Tetapi para pengawal yang tentu akan tertidur nyenyak itu, akan dapat menjadi sasaran balas dendam mereka. Terhadap orang yang sedang tidur nyenyak, mereka dapat berbuat apa saja. Tetapi jika mereka terbangun, maka akan terjadi peristiwa yang lain.”

Swandaru merenung sejenak. Ia mulai membayangkan, bahwa telah terjadi pembantaian yang semena-mena. Beberapa pengikut Carang Waja telah memasuki gardu-gardu, serta membunuh para pengawal yang tentu tidak akan dapat bertahan atas daya sirep yang kuat itu.

Karena itu, maka ia pun menjadi ragu-ragu. Bahkan ia pun kemudian bangkit dan berjalan mondar-mandir di dalam ruang itu. Ia lupa bahwa ialah yang telah berpesan, agar mereka berbuat seolah-olah di dalam rumah itu tidak seorangpun yang terbangun.

Dalam pada itu, selagi Swandaru dicengkam oleh keragu-raguan, tiba-tiba saja terdengar suara bagaikan guntur meledak dihalaman, ”He Ki Demang Sangkal Putung. Apakah kau mendengar? Aku datang untuk membunuhmu dan membunuh anakmu yang bernama Swandaru. Bagiku membunuh kalian tidak akan ada kesulitannya sama sekali.”

Darah Swandaru tiba-tiba saja telah mendidih. Hampir saja ia meloncat ke pintu jika Pandan Wangi tidak memeganginya.

“Jangan tergesa-gesa,” desis Pandan Wangi.

“Ada apa lagi. Lepaskan. Aku tidak tahan mendengar suaranya.”

“Tunggulah sebentar. Mungkin kita akan mendapatkan cara yang paling baik untuk mengatasi masalah ini,” jawab Pandan Wangi.

“He, sejak kapan kau menjadi penakut?” bertanya Swandaru.

“Bukan karena kami menjadi penakut,” Sekar Mirahlah yang menjawab, ”tetapi pertimbangkan keadaan ini sebaik-baiknya.”

Swandaru merenung sejenak. Namun tiba-tiba ia merasa, bahwa ia adalah orang yang bertanggungjawab. Dalam keadaan seperti itu, ia bukannya orang yang masih harus diperingatkan dan dijaga keselamatannya. Tetapi justru ia adalah orang yang menjadi sandaran seisi padukuhan induk dan bahkan seisi Kademangan Sangkal Putung.

Namun tiba-tiba saja dadanya bagaikan retak ketika ia mendengar suara di luar, ”Swandaru, menyerahlah. Kami akan meletakkan mayatmu di tempat yang paling terhormat di antara mayat para pengawal yang dengan mudah, semudah memijit biji ranti, telah kami cekik di tempat selagi mereka tidur nyenyak.”

“Persetan,” geram Swandaru.

“Jangan pikirkan harga dirimu semata-mata,” desis Pandan Wangi, ”tetapi bagaimana dengan para pengawal. Bangunkan mereka dengan cara apapun. Yang masih hidup, biarlah mencoba bertahan untuk hidup.”

“Pandan Wangi benar,” sahut Sekar Mirah. ”Kita tidak ingin melihat darah membanjiri jalan-jalan kademangan.”

Swandaru menjadi tegang. Ia berdiri di antara gejolak perasaannya dan pertimbangan nalarnya.

“Kakang, berilah kesempatan aku membunyikan tengara ini,” minta Pandan Wangi.

Swandaru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Bunyikan tengara itu, setelah aku berada di luar. Bukan akulah yang membunyikannya. Tetapi kau.”

“Biarlah aku yang dianggapnya penakut,” sahut Pandan Wangi.

“Bukan begitu. Tetapi aku tidak ingin dibayangi oleh anggapan yang buram terhadap diriku.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, ”Berhati-hatilah Kakang. Jika benar yang datang adalah Carang Waja, maka ia tentu akan datang bersama orang-orang yang telah dipilihnya dengan cermat.”

Swandaru tidak menjawab. Perlahan-lahan ia berjalan mendekati pintu. Ketika tangannya telah meraba selarak, maka di luar terdengar suara, ”He, cepat perempuan-perempuan cengeng. Keluarlah bersama anak yang gemuk itu, agar pekerjaanku cepat selesai. Atau kalian memaksa aku memasuki rumahmu.”

Tetapi belum lagi gema suara itu hilang, Swandaru telah mengangkat selarak pintu sambil menggeram. Kemudian menghentaknya sehingga pintu itu terbuka lebar-lebar.

Sejenak ketegangan telah mencengkam halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung. Sesosok bayangan yang berdiri di halaman, memandang dengan tajamnya, seorang yang meloncat dan kemudian berdiri di pendapa. Sejenak keduanya saling berpandangan. Namun kemudian terdengar orang yang berada di halaman itu tertawa.

Swandaru pernah mengenal suara tertawa itu. Karena itu, maka ia pun segera mengerahkan daya tahannya, agar jantungnya tidak rontok oleh suara tertawa itu.

Namun bagaimanapun juga, Swandaru masih merasakan hentakan-hentakan di dalam dadanya, meskipun ia masih tetap berdiri tegak bagaikan batu karang.

“Kaukah itu Swandaru?” terdengar orang itu bertanya.

“Ya, aku adalah Swandaru,” jawab Swandaru dengan nada dalam.

Terdengar orang di halaman itu tertawa lagi. Katanya, “Bagus. Kau memang seorang jantan, seperti saudara seperguruanmu yang sekarang sedang tidak ada di Sangkal Putung. Bukankah begitu?”

“Adanya tidak berbeda dengan adaku,” jawab Swandaru.

“Kau terlalu sombong,” sahut orang di halaman itu, “kau bukan Agung Sedayu. Dan kau tidak memiliki kemampuan setingkat dengan Agung Sedayu.”

“Omong kosong. Guruku tidak membedakan kedua muridnya.”

“Kau benar. Tetapi di samping ilmu yang diturunkan oleh seorang guru, namun murid itu sendiri akan ikut menentukan, apakah ia dapat mencapai lebih banyak dan menjangkau lebih jauh.”

“Persetan. Apa maumu sekarang? Perang tanding?”

Orang itu tertawa menghentak. Suaranya menggelegar bagaikan guntur yang meledak di langit. Bahkan berkepanjangan tidak henti-hentinya, susul menyusul seperti hentakan gelombang di lautan.

Terasa dada Swandaru menjadi sesak. Seolah-olah dadanya telah dihimpit oleh guguran gunung anakan. Semakin lama semakin keras.

Swandaru telah mengerahkan segenap kemampuannya. Mulutnya mulai terdengar gemeretak karena giginya yang beradu.

Sementara itu, Pandan Wangi dan Sekar Mirah pun telah berusaha menahan diri agar mereka tidak kehilangan kesadaran. Mereka tidak mau menjadi pingsan dan tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Dalam pada itu, rasa-rasanya dada Swandaru tidak lagi dapat bertahan oleh himpitan yang menekan semakin dahsyat. Iga-iganya bagaikan retak dan berpatahan.

Sejenak Swandaru termangu-mangu. Namun kemudian hampir di luar sadarnya, oleh kemarahan yang menghentak, maka diayunkannya cambuknya sekuat tenaganya, sehingga suaranya meledak seperti petir menyambar di atas halaman itu.

Ledakan cambuk itu ternyata berpengaruh. Suara tertawa itu terdengar menurun. Demikian pula himpitan pada dada Swandaru dan kedua perempuan yang berada di dalam rumah.

Swandaru merasakan pengaruh itu. Karena itu, maka ia telah mengulangi, mengayunkan cambuknya yang kemudian meledak dengan dahsyatnya, seolah-olah mengimbangi suara tertawa orang yang berdiri di halaman itu.

Orang itu pun merasakan, bahwa suara tertawanya telah terganggu oleh ledakan cambuk itu, meskipun lewat getaran yang berbeda. Namun pengaruh suara itu pada indra orang lain, akan dapat membentur pengaruh suara tertawa itu pada perasaan seseorang.

Sejenak orang di halaman itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, ”Kau memang anak iblis. Meskipun kau tidak sedahsyat Agung Sedayu, tetapi kau mampu juga meledakkan cambukmu seperti petir.”

“Katakan, apakah maumu sekarang,” geram Swandaru.

“Tetapi jangan cepat berbangga. Suara cambukmu tidak akan berpengaruh jika aku mulai mengguncang bumi,” geram orang itu.

“Lakukanlah jika kau ingin melakukan,” teriak Swandaru.

“Tetapi jangan menyesal. Mungkin kau akan mampu bertahan beberapa saat lamanya. Namun sementara itu, para pengawal di Sangkal Putung akan habis dibantai oleh orang-orangku dalam tidurnya. Mungkin mereka akan bermimpi buruk menjelang hanyutnya ke dalam lingkungan maut sebelum mereka sadar apa yang telah terjadi.”

“Licik dan pengecut,” geram Swandaru, ”kau hanya mampu menggertak saja. Atau kau ingin mempengaruhi pemusatan perlawananku atas permainanmu yang tidak berarti itu?”

“Mungkin aku kau anggap licik, Swandaru. Tetapi aku tidak peduli. Aku memang berniat untuk membunuh sebanyak-banyaknya. Atau barangkali kau mau membuat perhitungan sedikit. Aku tidak akan membunuh para pengawal, tetapi kau harus bersedia mati dengan tenang di halaman ini.”

“Persetan,” Swandaru berteriak.

Namun dalam pada itu, Pandan Wangi dan Sekar Mirah yang ada didalam rumah tidak sabar lagi. Mungkin orang itu tidak hanya sekedar mengancam. Orang yang licik akan berbuat apa saja untuk mempengaruhi lawannya. Sehingga dengan demikian akan terjadi pembantaian yang tidak ada batasnya.

Karena itulah, maka keduanya yang menjadi semakin tegang telah bersepakat untuk memukul kentongan yang ada di dalam rumah itu kuat-kuat. Apalagi pintu telah terbuka, sehingga suaranya akan dapat lepas mengumandang ke segenap penjuru.

Sejenak kemudian, maka Pandan Wangi telah siap dengan pemukul kentongan, sementara Sekar Mirah berlari ke pintu butulan sambil berkata, ”Aku akan membuka pintu itu pula, agar suaranya dapat semakin merata.”

“Jaga pintunya, agar tidak ada orang yang sempat memasukinya.”

“Aku akan membunuh siapapun yang berani melangkahi tlundak,” geram Sekar Mirah.

Pada saat Sekar Mirah mendorong pintu butulan itu, maka telah terdengar suara kentongan dalam nada titir. Demikian kerasnya, sehingga suaranya lepas mengumandang sampai ke sudut-sudut padukuhan.

Suara itu mengejutkan orang yang berada di halaman itu. Sejenak ia tertegun diam. Sementara suara kentongan itupun semakin lama menjadi semakin keras.

Swandaru sudah mengerti, bahwa Sekar Mirah atau Pandan Wangi pada suatu saat akan memukul kentongan itu. Namun demikian, perasaannya tergetar juga. Ia sudah menduga, bahwa orang yang berdiri di halaman itu akan berbicara tentang suara kentongan itu.

Seperti yang diduga oleh Swandaru, maka sejenak kemudian orang itu pun tertawa. Tetapi agaknya ia sengaja tidak melontarkan kekuatan ilmunya lewat suara tertawanya, sehingga karena itu Swandaru tidak merasakan bahwa suara tertawa itu telah menghentak-hentak isi dadanya.

“Swandaru,” berkata orang itu, ”sekian lama aku berusaha mengetahui serba sedikit tentang dirimu seperti aku ingin mengetahui tentang Agung Sedayu. Ternyata bahwa yang aku dengar jauh berbeda dengan kenyataan yang aku hadapi sekarang.”

Tetapi Swandaru pun sudah siap untuk menjawab, ”Aku pun telah salah duga terhadap orang yang datang dari Pesisir Endut atau saudara seperguruannya yang bernama Carang Waja. Ia sama sekali bukan seorang laki-laki jantan. Ia adalah laki-laki yang dengan licik mempergunakan ilmu seorang pengecut, mempengaruhi lawannya dengan ilmu sirep. Bukankah itu berarti, bahwa kau dan pengikut pengikutmu baru berani berhadapan setelah lawannya berada dalam pengaruh keadaan yang lemah, bahkan tidur sama sekali? Dan kau nampaknya telah berbuat demikian terhadap kami di Sangkal Putung. Terhadap pengawal-pengawal kademangan dan anak-anak muda kademangan ini.”

“O, jadi dalam perang ilmu semacam ini kau masih menganggap bahwa aku licik? Jika demikian, apa yang dapat aku katakan tentang suara kentongan itu?” bertanya orang di halaman itu.

“Adikku hanya sekedar ingin memperingatkan kepada para pengawal untuk bersiaga, agar mereka sempat mempertahankan diri dari serangan licikmu,” jawab Swandaru.

Orang dihalaman itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian suara tertawanya kembali terdengar, tanpa lontaran ilmu yang menghimpit dada, ”He, kau dengar? Suara kentongan adikmu dalam nada titir itu sama sekali tidak bersambut. Apakah kau tahu artinya? Semua orang di padukuhan induk ini telah tertidur nyenyak. Tidak seorangpun yang terbangun dan dapat menyambut suara kentonganmu. Sementara itu, suara kentonganmu tidak terdengar dari padukuhan-padukuhan lain di luar pedukuhan induk ini.”

Wajah Swandaru menegang sejenak. Ia pun mulai memperhatikan keadaan padukuhan induknya. Sepi dan mendebarkan jantung.

“Swandaru. Padukuhan induk ini akan menjadi kuburan raksasa. Di antaranya adalah mayatmu sendiri,” berkata orang yang berada di halaman itu.

Jatung Swandaru berdegup semakin keras. Ia mulai membayangkan kematian yang tersebar di padukuhan induknya. Karena itulah maka ia mulai menyesal, bahwa ia tidak pada permulaan sekali memperdengarkan peringatan itu bagi segenap anak muda di Sangkal Putung.

“Apakah benar ia telah melakukannya,” geramnya.

Dalam pada itu, orang di halaman itu pun bertanya, ”He, Swandaru. Kenapa kau tiba-tiba saja merenung? Apakah yang kau renungkan? Kematianmu sendiri?”

“Persetan,” Swandaru menggeretakkan giginya. Bahkan kemudian ia pun telah melangkah turun tangga pendapa mendekati orang yang berdiri di halaman itu.

“Bagus,” desis orang itu, ”kau memang jantan seperti kakak seperguruanmu. Kau tentu sudah siap untuk berperang tanding.”

“Jangan banyak bicara. Marilah. Aku sudah siap, meskipun kau mampu mengguncang bumi,” jawab Swandaru.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Bagus Swandaru. Aku memang ingin berperang tanding. Kemudian membunuhmu dengan tanganku. Sebentar lagi tentu akan ada sekelompok kecil prajurit Pajang dari Jati Anom yang akan meronda sampai ke tempat ini. Hal itu aku ketahui dengan pasti. Dan mereka pun akan mati pula. Dengan demikian sekaligus aku dapat memancing kemarahan Agung Sedayu dan gurumu, serta Pangeran Benawa dari Pajang yang telah kehilangan prajurit-prajuritnya di Sangkal Putung. Ia pun akan dapat menghubungkan kematian prajurit-prajuritnya dengan kelancangannya membunuh dua orang adik seperguruanku. Apalagi dengan sengaja aku akan membiarkan salah seorang dari mereka hidup dan melaporkan apa yang telah terjadi.”

“Cukup,” bentak Swandaru, ”jika kau sudah siap, aku akan mulai.”

Orang itu tertawa. Tertawa wajar. Katanya, ”Baiklah. Aku akan mulai dengan kemampuan wajarku. Jika aku berhasil membunuhmu dengan kemampuan wajarku, aku tidak akan mempersulit diri dengan segala macam ilmu itu.”

Swandaru benar-benar merasa terhina. Karena itu, maka ia pun segera menyerang lawannya dengan ledakan cambuknya. Tetapi agaknya Swandaru pun belum mempergunakan segenap kemampuannya untuk melayani lawannya.

Sejenak kemudian telah terjadi pertempuran di halaman rumah Ki Demang di Sangkal Putung. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu pinunjul. Namun yang seolah-olah seperti berjanji, mereka baru berusaha untuk saling menjajagi kemampuan lawannya.

Dalam pada itu, Pandan Wangi masih memukul kentongan di dalam rumah Ki Demang. Suaranya menyusup lewat pintu-pintu yang tebuka. Namun beberapa saat lamanya, mereka tidak mendengar suara kentongan mereka bersambut.

“Apakah para pengawal memang sudah mati,” teriak Sekar Mirah.

Pandan Wangi pun menjadi berdebar-debar. Ia memukul kentongannya semakin keras. Bahkan oleh perasaan gelisah, maka yang tersalur lewat tangannya kemudian adalah kemampuan ilmunya yang memang jarang ada bandingnya.

Karena itulah, maka suara kentongan itu rasa-rasanya menjadi agak berbeda. Semakin lama getarannya bagaikan telah mengguncang udara di seluruh Kademangan Sangkal Putung.

“Gila,” teriak lawan Swandaru, ”yang memukul kentongan itu pun tentu bukan orang kebanyakan. Tetapi jangan menyesal, bahwa kelakuannya itu akan mengundang bencana baginya.”

Swandaru yang marah itu pun menggeram. Ia pun merasakan getaran suara kentongan yang dipukul oleh Pandan Wangi itu bagaikan memecahkan langit. Namun ia menjadi semakin gelisah pula, bahwa suara kentongan itu sama sekali tidak bersambut. Tidak ada satupun suara kentongan di seluruh padukuhan induk itu yang berbunyi.

Tetapi kegelisahan lawan Swandaru itu pun dapat dimengerti. Suara kentongan yang berbeda dengan suara kentongan kebanyakan itu tentu akan dapat didengar dari padukuhan lain di seberang bulak-bulak panjang.

Karena itu, maka tiba-tiba saja orang itu berteriak, ”He, bungkam suara kentongan itu.”

Suara orang itu demikian kerasnya, sehingga terdengar dari balik pagar halaman rumah Kademangan Sangkal Putung. Tiga orang yang sedang bersembunyi itu pun kemudian saling berbisik.

“Kita bertiga, atau salah seorang dari kita,” bertanya yang seorang.

“Salah seorang dari kita. Aku atau kau,” jawab yang lain.

“Aku sajalah. Kalian berdua menunggu di sini. Mungkin akan datang perintah untuk benar-benar membunuh orang-orang di dalam gardu yang tersebar itu. Jika Ki Lurah benar benar jengkel, maka mungkin saja terjadi seperti yang dikatakan. Dan itu memang menyenangkan sekali. Membunuh orang sebanyak-banyaknya. Dua orang kita di mulut lorong inipun tentu sudah menunggu dengan gatal. Orang di gardu di mulut lorong itu pun tentu sudah tertidur nyenyak.”

“Mereka juga harus memelihara agar pengaruh sirep ini tidak cepat lenyap. Meskipun mereka tidak memiliki ilmu yang kuat, tetapi cukup untuk mempertahankan pengaruh sirep ini agar tetap mencengkam untuk waktu yang cukup lama,” jawab yang lain.

“Cepatlah,” berkata yang lain pula, ”kau lakukah perintah Ki Lurah. Atau aku sajalah.”

Seorang dari mereka tiba-tiba saja telah meloncat. Dengan tangkasnya ia langsung berlari menuju pintu pendapa yang terbuka. Tanpa mengatakan sepatah katapun maka ia langsung menyerang orang yang sedang memukul kentongan dengan pedang di tangan.

Pandan Wangi terkejut. Justru Sekar Mirah sedang menjaga pintu butulan. Karena itu, maka ia harus berpikir dan bertindak cepat.

Karena Pandan Wangi belum memegang senjata di tangan, sementara orang yang menyerangnya telah mengayunkan pedangnya, maka dengan serta merta Pandan Wangi telah menyerang orang itu pula dengan pemukul kentongan di tangannya. Dengan sekuat tenaganya. Pandan Wangi melemparkan pemukul kentongan mengarah ke kepala orang yang memasuki pintu rumahnya.

Tetapi orang itu melihat gerak Pandan Wangi, sehingga ia sempat meloncat mengelakkan diri, sehingga pemukul kentongan itu tidak mengenai kepalanya, tetapi menghantam uger-uger pintu. Demikian besar kekuatan tangan Pandan Wangi yang memang sedang dalam kekuatan sepenuhnya, maka uger-uger pintu Kademangan Sangkal Putung itu telah berderak retak.

Orang yang memasuki rumah Ki Demang dengan pedang di tangan itu terkejut. Ia tertegun sejenak melihat pintu yang retak. Dengan demikian ia dapat membayangkan, betapa besarnya kekuatan seorang perempuan yang sedang memukul kentongan itu.

“Pantas, suara kentongan itu sampai menjulang ke langit,” katanya di dalam hati.

Namun dalam pada itu, kesempatan yang sejenak itu dapat dipergunakan oleh Pandan Wangi untuk mempersiapkan diri. Ketika orang itu menyadari keadaannya, dan siap untuk menyerang perempuan yang membunyikan kentongan itu, Pandan Wangi telah bersiap dengan pedang rangkapnya.

Justru Pandan Wangilah yang kemudian menyerang orang itu bagaikan prahara, sehingga orang itu terdesak. Selangkah ia surut, sehingga karena itu, maka mereka berduapun kemudian telah berada di pendapa.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun segera berlangsung pula dengan sengitnya. Orang yang menyerang Pandan Wangi itu dengan segenap kemampuannya ingin segera melumpuhkan lawannya. Apalagi seorang perempuan.

Tetapi ternyata perempuan yang dihadapinya adalah perempuan yang lain dengan perempuan kebanyakan. Pandan Wangi dengan pedang rangkapnya berhasil mempertahankan dirinya pada serangan yang pertama. Bahkan pada serangan-serangan berikutnya, Pandan Wangi bukannya sekedar mampu mempertahankan diri. Meskipun ia tidak dengan cepat menguasai lawannya, namun ia tidak terlalu cemas menghadapi lawannya yang garang itu.

 

 

Karena suara kentongan itu berhenti dan bahkan suara pintu berderak, Sekar Mirah telah dicengkam oleh kecemasan. Ia pun segera berlari melihat keadaan. Ternyata bahwa Pandan Wangi telah bertempur dengan lawannya di pendapa.

Sejenak Sekar Mirah termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja ia tertarik kepada kentongan yang masih bergantungan. Karena itu, tiba-tiba saja ia meloncat mendekatinya. Dengan tongkat bajanya ia telah memukul kentongan itu dengan sekuat tenaganya pula.

Bunyi yang terlontar oleh suara kentongan yang dipukul dengan tongkat baja dilambari dengan kekuatan yang sangat besar itu pun berbeda pula. Suaranya melengking lebih tinggi, sehingga jarak jangkaunyapun menjadi lebih jauh. Dengan nada titir, maka suara kentongan itu bagaikan telah mengoyak senyapnya malam di muka bumi.

Tetapi demikian besar kekuatan Sekar Mirah dalam kegelisahannya serta pemukul kentongan yang memang bukan alat yang seharusnya dipergunakan, maka kekuatan Sekar Mirah dengan tongkat bajanya telah melampaui kemampuan kentongan yang terbuat dari kayu itu. Karena itu, semakin lama suara kentongan itu seolah-olah menjadi semakin serak, sehingga akhirnya kentongan itu telah pecah karenanya.

Sekar Mirah menghentakkan kentongan yang pecah itu dengan marah. Sekali pukul dengan kemarahan yang meluap, maka kentongan itu pun benar-benar telah pecah berserakan.

Orang yang bertempur melawan Swandaru di halaman, lewat pendengarannya, mengerti bahwa kentongan di dalam rumah Ki Demang itu telah pecah. Karena itu, maka sambil tertawa ia berkata, ”Benar-benar luai biasa. Pemukul kentongan yang terakhir itu pun mempunyai kekuatan raksasa. Ternyata bahwa di Sangkal Putung masih terdapat orang-orang yang pilih tanding.”

“Jangan mengigau,” geram Swandaru yang menyerang orang itu semakin dahsyat.

“Swandaru,” berkata orang itu, ”aku telah memberikan penawaran. Kau dan perempuan itu, atau berpuluh-puluh orang pengawal yang harus aku bunuh. Atau karena tingkahmu, maka semuanya akan mati.”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi kemarahannya telah menggelegak sampai ke ujung rambutnya.

“Kau tidak akan dapat mengharapkan bantuan dari siapapun juga. Suara kentonganmu tidak bersambut, berarti tidak seorangpun yang mendengarnya. Para pengawal semuanya telah tertidur. Bahkan ada kemungkinan mereka tidak akan sempat bangun kembali.”

Swandaru menggeretakkan giginya. Serangannya justru semakin garang dan cepat, sehingga suara cambuknya meledak semakin keras.

Dalam pada itu, suara kentongan yang dipukul oleh Pandan Wangi dan kemudian Sekar Mirah untuk beberapa saat, memang telah tertidur. Namun demikian kerasnya suara kentongan itu, sehingga beberapa orang di padukuhan lain telah mendengar. Tetapi mereka ragu-ragu bahwa suara kentongan itu tidak di sambut dengan suara kentongan yang lain, seolah-olah yang terdengar itu bukannya suara kentongan sewajarnya.

“Apakah suara itu berasal dari pohon benda di pinggir kali itu?” bertanya salah seorang.

“Apakah kita tidak memukul kentongan pula?” desis yang lain.

“Kau gila. Kau sangka itu suara kentongan sewajarnya. Kau dengar bunyinya yang terakhir, bagaikan melengking-lengking. Suara kentongan manakah yang bunyinya seperti itu?” sahut yang lain pula.

Orang-orang dipadukuhan sebelah, padukuhan yang terdekat dari padukuhan induk itu menjadi termangu-mangu. Namun mereka pun telah bersiaga sepenuhnya untuk menghadapi segala kemungkinan, meskipun sebagian dari mereka menjadi ngeri, bahwa suara itu berasal bukan dari dunia mereka.

Berbeda dengan orang-orang dari padukuhan itu, maka lima orang prajurit yang sedang berada di bulak panjangpun telah diganggu pula oleh suara itu. Salah seorang dari mereka, Sabungsari, mendengar suara kentongan itu seolah-olah lebih jelas dari kawan-kawannya.

“Arahnya dari Sangkal Putung,” desis Sabungsari.

“Ya,” sahut perwira yang memimpin kelima prajurit peronda itu, ”nadanya titir, nada yang paling gawat dari segala peristiwa yang menimpa padukuhan itu. Tetapi kenapa suara kentongan itu tidak bersambut.”

“Apakah yang terdengar itu benar-benar bunyi kentongan,” desis seorang prajurit yang lain.

“Kau kira bunyi apa?” bertanya pemimpinnya.

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, ”Bunyi saja. Tetapi bukan bunyi kentongan.”

“Menarik perhatian. Kita akan berbalik langsung menuju induk kademangan,” berkata pemimpin prajurit itu.

“Benar Ki Lurah,” sahut Sabungsari, ”apapun yang akan kita lihat di sana. Arah suara itu memang dari padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.”

Prajurit-prajurit yang lain tidak membantah. Mereka bukannya penakut menghadapi segala keadaan. Tetapi suara kentongan yang sendiri tidak bersambut dalam nada titir itu memang sangat mendebarkan jantung.

Tetapi mereka pun kemudian mengikuti pemimpinnya yang berpacu menuju ke padukuhan induk Sangkal Putung, yang semestinya akan mereka lalui di saat terakhir dari perjalanan mereka, setelah mereka melalui padukuhan-padukuhan kecil yang lain.

Sementara itu, pertempuran yang terjadi di Sangkal Putung itu pun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Lawan Swandaru semakin lama menjadi semakin garang pula. Sejalan dengan itu, ledakan cambuk Swandaru menjadi semakin dahsyat pula.

Di pendapa, Pandan Wangi bertempur dengan tangkasnya. Pedang rangkapnya yang berputaran, seolah-olah telah berubah menjadi perisai yang tidak tertembus. Namun yang kadang-kadang mematuk seperti berpuluh-puluh ujung pedang yang memutari lawannya.

Dalam pada itu, Sekar Mirah pun telah meloncat menutup pintu butulan yang telah dibukanya. Ia pun menyelarak pintu itu rapat-rapat. Seterusnya ia telah meloncat pula ke pendapa.

“Jika kau tidak berkeberatan Pandan Wangi, untuk kepentingan Sangkal Putung, biarlah aku ikut mempercepat penyelesaiannya,” berkata Sekar Mirah.

Belum lagi Pandan Wangi menjawab, maka telah meloncat sesosok bayangan yang berlari naik ke pendapa langsung menyerang Sekar Mirah.

“Iblis betina,” geramnya, “jangan menjadi pengecut.”

“Persetan. Seisi padukuhan induk menunggu perlindungan,” jawab Sekar Mirah, ”kau akan dengan licik membunuh orang-orang yang tidak berdaya karena ilmumu, ilmu seorang pengecut.”

“Itulah kelebihan kami,” jawab orang itu, ”tetapi sebenarnya sayang sekali, jika aku harus membunuh perempuan-perempuan cantik dari Sangkal Putung ini.”

Orang itu hampir tidak dapat menyelesaikan kata-katanya. Tongkat baja Sekar Mirah menyambar mulutnya yang sedang bergerak. Untunglah orang itu sempat mengelak dengan berpaling, meskipun ia pun kemudian mengumpat, “Setan alas. Hampir saja kau menyobek mulutku.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Pertempuran itu pun segera berlangsung dengan dahsyatnya. Swandaru melawan orang yang memiliki ilmu yang luar biasa, saudara kedua kakak beradik dari Pesisir Endut yang dibakar oleh dendam. Sementara Pandan Wangi dan Sekar Mirah pun telah mendapat lawannya masing-masing.

Dalam pada itu, maka orang yang bertempur melawan Swandaru itu pun menjadi semakin lama semakin garang. Ia mengerti, bahwa kedua perempuan yang bertempur di pendapa itu pun memiliki kemampuan yang luar biasa, sehingga karena itu, maka kedua orang kawannya yang melawan mereka akan dapat mengalami kesulitan.

Tetapi orang yang bertempur melawan Swandaru itu sama sekali tidak cemas. Ia masih mempunyai beberapa orang kawan yang cukup untuk melawan orang-orang Sangkal Putung. Dua orang di antara mereka berada di mulut lorong, sementara dua yang lain telah siap pula di belakang rumah Ki Demang. Jika keadaan memaksa, mereka akan dapat dipanggil dengan segera untuk ikut serta dalam pertempuran yang semakin seru di halaman. Sedangkan tiga orangnya yang lain mengawasi bulak di arah yang berbeda, di tiga tempat di pinggir padukuhan induk itu. Karena menurut perhitungan, maka akan datang lima orang prajurit dari Jati Anom yang sedang meronda.

Dengan demikian, maka Sangkal Putung benar-benar berada dalam bahaya. Dengan isyarat, maka orang-orang itu dapat berbuat apa saja yang dikehendaki oleh pemimpinnya. Mereka dapat dipanggil berkumpul di halaman. Tetapi mereka benar-benar dapat diperintahkan untuk membunuh sebanyak-banyaknya.

Sementara itu pemimpin kelompok yang datang menyerang Sangkal Putung itu pun mulai bersungguh-sungguh dengan ilmunya. Ia sadar, bahwa kedua orang kawannya di pendapa telah mulai terdesak. Jika ia masih membiarkan pertempuran itu berlangsung terus, maka akibatnya tidak akan menguntungkan bagi orang-orangnya.

Karena itu, maka dengan ilmunya, ia mulai mengganggu keseimbangan perasaan Swandaru. Sekali ia mulai menjejak bumi sambil tertawa berkepanjangan.

Ternyata Swandaru benar-benar terkejut. Seperti yahg pernah terjadi, maka rasa-rasanya bumi telah berguncang, sehingga Swandaru pun telah terguncang pula, seolah-olah kedua kakinya tidak dapat tegak dengan mantap.

Sejenak Swandaru terhuyung-huyung. Untunglah bahwa ia tidak terjatuh, sehingga ketika lawannya dengan garangnya menyerangnya, ia masih sempat mengelak. Bahkan dengan serta merta, ia telah sempat pula menyerang lawannya yang meluncur dengan cepat. Ledakan cambuk Swandaru benar-benar telah memekakkan telinganya. Demikian kerasnya, susul menyusul.

Carang Waja harus berloncatan menghindari serangan lawannya. Agaknya Swandaru tidak mau membiarkan lawannya bersiap dengan serangannya yang mengerikan dan membingungkan.

Namun ketika kemudian, lawannya sempat meloncat jauh-jauh dari ujung cambuk Swandaru, maka ia mulai berkesempatan untuk mengetrapkan ilmunya pula. Sekali lagi Swandaru merasa halaman rumahnya itu diguncang oleh gempa yang dahsyat.

Demikian dahsyatnya, sehingga Swandaru menjadi bingung. Ia sadar bahwa lawannya tentu akan segera menyerangnya. Tetapi ia harus mempertahankan keseimbangannya, agar ia tidak terlempar jatuh.

Kebingungan semacam itulah yang memang dikehendaki oleh lawannya. Selagi Swandaru mempertahankan keseimbangannya, maka tiba-tiba saja serangan orang itu telah meluncur menghantam seperti angin prahara.

Swandaru melihat serangan yang dahsyat itu. Tetapi ia masih dalam guncangan keseimbangan yang belum teratasi.

Karena itulah, maka tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan untuk menghindar, selain justru menjatuhkan diri.

Lawannya tidak menyangka bahwa Swandaru yang sedang dalam goncangan keseimbangan masih sempat menghindar. Dengan geram orang itu telah gagal lagi menghantam Swandaru dengan serangan kakinya yang dahsyat.

Bahkan demikian kakinya menjejak tanah, maka Swandaru yang masih terbaring di tanah, telah menyerangnya. Ia sempat mengayunkan cambuknya, sehingga memaksa orang itu berloncatan menghindari.

Kesempatan itu dapat dipergunakan oleh Swandaru untuk melenting berdiri. Bahkan ia masih berhasil meledakkan cambuknya pada serangan yang berikut. Setiap kali lawannya menghindar, maka Swandaru langsung memburunya dengan ledakan-ledakan yang dahsyat.

“Anak setan,” geram lawannya.

Tetapi dengan demikian, ia mengerti, bahwa perlawanan Swandaru tentu tidak akan sedahsyat perlawanan Agung Sedayu. Karena itu, maka orang itu pun akhirnya telah sampai pada suatu keputusan, bahwa ia akan segera mengakhiri perlawanan Swandaru. Apalagi ia masih mempunyai kewajiban menunggu para prajurit yang akan datang ke Sangkal Putung. Mereka akan melihat mayat Swandaru, kedua perempuan itu dan Ki Demang, terbaring di pendapa, sebelum mayat mereka sendiri akan segera terbaring pula di sisinya.

Karena itu, maka orang itu pun segera menarik senjatanya. Sebuah pisau yang panjang.

Dengan pisau itu di tangan, maka orang itu pun tertawa berkepanjangan sambil berkata, ”Swandaru. Aku sudah jemu bermain-main dengan cara yang tidak menyenangkan ini. Sebentar lagi kau akan mati. Aku tidak ingin meremukkan tulang-tulangmu dengan bindi, atau memecahkan keningmu dengan tongkat baja yang meskipun tidak sedahsyat tongkat baja Sumangkar, atau menyobek dadamu dengan trisula. Tetapi aku ingin menikam jantungmu dengan belati kecil ini, sehingga mayatmu tidak akan terlalu banyak cacat dan menakutkan bagi anak-anak muda Sangkal Putung.

Swandaru menjadi sangat marah. Sambil menggeram ia menyerang lawannya dengan dahsyatnya. Cambuknya meledak semakin keras. Namun lawannya masih sempat menghindar. Bahkan meloncat jauh-jauh untuk mendapat kesempatan melontarkan ilmunya yang dapat membingungkan lawannya.

Tetapi Swandaru bukanlah seorang yang dungu. Ia pun akhirnya mengerti, bahwa setiap kali lawannya memerlukan ancang-ancang untuk dapat mengguncang bumi dengan hentakan kakinya dan meremas jantung dengan suara tertawanya. Sehingga karena itulah, maka iapun tidak mau melepaskan lawannya untuk mendapatkan kesempatan itu.

Tetapi betapapun juga Swandaru berusaha melibat lawannya, namun pada suatu saat, lawannya masih juga berhasil melepaskan diri dan mengambil jarak daripadanya. Kesempatan yang demikian selalu dipergunakannya, sehingga guncangan-guncangan yang terasa oleh Swandaru sangat membingungkannya.

Jika tanah berguncang, maka Swandaru seolah-olah kehilangan keseimbangan, sehingga ia menjadi terhuyung-huyung. Serangan lawannya telah membingungkannya. Karena Swandaru tidak dapat melawannya dengan cermat karena kakinya yang seolah-olah bergetar.

Karena itulah, maka semakin lama Swandaru pun menjadi semakin sulit. Setiap kali ia masih dapat menyelamatkan diri dengan ledakan cambuknya. Dalam keadaan yang sulit, ia masih dapat menggerakkan tangannya sehingga ujung cambuknya berputar melindunginya. Namun kadang-kadang guncangan bumi itu terasa demikian kerasnya, sehingga Swandaru itu pun terlempar dan terjatuh berguling di tanah.

Pandan Wangi dan Sekar Mirah pun melihat kesulitan Swandaru. Mereka pun merasa, bahwa tanah tempat mereka berpijak itu bergetar. Tetapi getaran itu tidak banyak mengganggu keseimbangannya, karena agak jauh.

Karena itu, maka Pandan Wangi yang sempat berpikir berkata lantang, “Kakang, apakah kau terganggu oleh suaranya atau oleh getaran tanah tempat kita berpijak?”

Swandaru tidak menjawab. Ia sedang memusatkan perlawanannya pada putaran cambuknya. Sekali-sekali cambuknya masih juga meledak dengan dahsyatnya.

“Nampaknya kau telah terganggu keseimbanganmu,” teriak Sekar Mirah, ”apakah begitu?”

“Persetan,” lawan Swandaru-lah yang menggeram.

“Jika benar,” berkata Pandan Wangi sambil bertempur, ”pengaruh itu hanyalah terasa olehmu. Kami tidak merasakan sesuatu di sini. Atau jika ada, gangguan itu kecil sekali.”

“Kalian juga akan mati perempuan-perempuan cengeng,” lawan Swandaru-lah yang berteriak.

Sementara itu pertempuranpun berlangsung semakin sengit. Pandan Wangi sempat menekan lawannya, sehingga lawannya terdesak ke tangga pendapa, sementara Sekar Mirah berusaha untuk mendesak lawannya ke dinding pringgitan. Ternyata bahwa kedua perempuan itu memiliki kelebihan dari lawan-lawannya. Karena itu, maka mereka berusaha untuk secepatnya menyelesaikan pertempuran itu, untuk mendapat kesempatan mendekati arena pertempuran Swandaru di halaman.

Tetapi agaknya Swandaru pun mengalami banyak kesulitan. Ketika keseimbangannya terganggu oleh bumi yang bagaikan terguncang, dan dadanya dihentak oleh suara tertawa lawannya, maka serangan lawannya benar-benar sulit untuk dihindarinya. Dengan cambuknya ia berusaha melindungi dirinya. Namun ketika tubuhnya terdorong oleh guncangan tanah tempatnya berpijak, maka lawannya berhasil menyusup melampaui putaran cambuknya.

Swandaru menyeringai ketika terasa segores luka menyengat pundaknya.

“Gila,” ia menggeram. Dihentakkannya cambuknya keras-keras. Tetapi lawannya sempat meloncat surut. Dengan marah Swandaru mengejarnya. Ia tidak mau memberi kesempatan kepada lawannya untuk mengambil ancang-ancang menghentak bumi. Karena itu, ia pun mengejarnya dengan garang. Cambuknya meledak-ledak dengan kerasnya memekakkan telinga.

Tetapi lawannya masih saja sempat mengelak dan meloncat jauh-jauh. Ketika Swandaru meloncat mengejarnya, maka ia sudah sempat menghentakkan kakinya sambil tertawa.

Swandaru tertegun. Ia memusatkan kemampuannya untuk mempertahankan keseimbangan. Sementara lawannya telah bersiap untuk menyerangnya pula.

Seperti yang dilakukan sebelumnya, maka Swandaru pun kemudian memutar cambuknya. Ia tidak lagi bertahan untuk berdiri. Karena itu, maka ia pun telah menjatuhkan diri dan duduk di atas tanah yang berguncang itu. Namun dengan demikian, maka terasa goncangan tanah itu tidak lagi mengayunkannya dan membantingnya jatuh.

Meskipun demikian, namun putaran cambuknya tidak dapat serapat jika ia tidak diganggu oleh goncangan-goncangan tempat ia berpinjak. Karena itu, maka sekali lagi lawannya berhasil menyusup di antara ujung cambuknya, dan sekali lagi pisaunya menyentuh lengannya.

Swandaru benar-benar diamuk oleh kemarahan yang serasa meretakkan dadanya. Ia sama sekali tidak merasa pedih pada lukanya, tetapi lebih pedih lagi di hatinya. Sentuhan senjata lawannya membuat hatinya bagaikan menyala.

Namun ia tidak dapat melepaskan kenyataan, bahwa lawannya benar-benar memiliki ilmu iblis yang luar biasa. Ketika Swandaru menyaksikan orang itu bertempur melawan Agung Sedayu, maka ia tidak merasakan hentakan kakinya telah mengguncang bumi sedahsyat itu. Ia merasa bumi bergetar. Namun karena saat itu ia tidak berdiri rapat dengan orang itu, maka ia masih belum menganggap getaran itu mengacaukan keseimbangannya. Demikian juga suara tertawanya yang kini seakan-akan telah meremas isi dadanya.

Tetapi Swandaru tidak akan menyerah. Ia akan melawan orang itu dengan segenap kemampuan yang ada. Ia masih merasa mempunyai kesempatan yang sama dengan lawannya, karena ledakan cambuknyapun akan dapat membuat lawannya kehilangan kesempatan.

Dalam pada itu, ternyata bahwa lawan Pandan Wangi dan Sekar Mirah benar-benar telah terdesak. Mereka tidak berhasil mempertahankan keseimbangan pertempuran itu. Meskipun suara tertawa orang di halaman itu mempengaruhi juga Pandan Wangi dan Sekar Mirah, namun dengan mengerahkan segenap daya tahan dan kemampuannya, justru dengan memusatkan ilmunya pada perlawanan yang mantap, maka mereka dapat menghindari akibat yang dapat membahayakan. Sedangkan goncangan bumi karena hentakan kaki lawannya, tidak terlalu banyak mempengaruhi mereka yang bertempur di pendapa.

Agaknya yang terjadi itu telah mengganggu pemusatan ilmu lawan Swandaru. Ia terpaksa membuat perhitungan tersendiri karena kedua orangnya semakin terdesak oleh Pandan Wangi dan Sekar Mirah.

“Aku harus berbuat sesuatu,” geramnya.

Dalam pada itu, maka orang yang bertempur di halaman melawan Swandaru itu pun tiba-tiba saja telah membuat suatu isyarat bunyi. Dengan suitan nyaring, maka ia telah memanggil orang terakhir yang bersembunyi di samping halaman.

“Cepat, musnahkan saja kedua perempuan itu,” perintahnya.

Swandaru pun menjadi semakin berdebar-debar. Ia sendiri sulit untuk mengatasi serangan lawan yang aneh itu. Bahkan tubuhnya telah mulai terluka. Sementara ia mendengar perintah lawannya, untuk membinasakan adik dan isterinya.

Dalam pada itu, Swandaru pun mulai berpikir pula tentang para pengawal. Apakah di antara mereka tidak ada seorang yang dapat mendengar suara kentongan karena mereka telah dibunuh oleh para pengikut lawannya yang garang itu.

Seorang yang kemudian melibatkan diri melawan Pandan Wangi, segera mencoba untuk menekan lawannya. Tetapi Sekar Mirah tidak membiarkan Pandan Wangi seorang diri melawan dua orang laki laki yang garang. Karena itu, maka ia pun segera menempatkan diri dalam pertempuran itu sebagai pasangan Pandan Wangi yang bersama-sama melawan tiga orang lawan.

Ketiga orang laki-laki yang garang itu mengumpat. Ternyata kedua perempuan itu mampu bertempur berpasangan dengan baik. Keduanya saling mengisi dan saling membantu. Tongkat baja Sekar Mirah yang garang itu seolah-olah merupakan perisai yang tidak tertembus oleh ketiga lawannya yang menghadapi kedua perempuan itu bersama-sama. sementara sepasang pedang Pandan Wangi mematuk ke segenap arah, dimanapun ketiga lawannya berdiri.

Namun kadang-kadang keduanya berdiri merenggang dan serentak menyerang ketiga lawannya sambil berputaran.

Ternyata meskipun lawannya menjadi tiga orang tetapi Pandan Wangi dan Sekar Mirah masih mampi menekan lawannya. Ketiga laki-laki yang garang itu masih dilibat oleh kesulitan dan bahkan kadang mereka menjadi bingung, karena kedua perempuan itu berloncatan melenting seperti bilalang. Namun kadang-kadang mereka menyambar dengan garangnya seperti seekor elang.

Sementara itu, Swandaru masih bertempur dengan memeras kemampuannya. Ketika orang yang terakhir yang ada di halaman itu telah berlari dan melibatkan diri melawan Pandan Wangi dan Sekar Mirah, maka orang itu telah memusatkan perlawanannya kepada Swandaru.

“Aku harus segera membunuhnya,” geram orang itu di dalam hati, ”sebentar lagi, bila tengah malam telah jauh lewat, prajurit-prajurit itu akan menyelesaikan tugas mereka dan akan sampai di Kademangan ini.”

Namun orang itu tidak terlalu cemas atas lima orang prajurit Pajang yang akan datang, karena beberapa orangnya yang tersebar, akan dapat menahan kelima prajurit Pajang di Jati Anom dan bahkan membinasakan mereka.

“Orang-orangku tidak akan kalah dengan prajurit-prajurit Pajang sekalipun,” berkata orang itu di dalam hatinya.

Dalam pada itu, Swandaru benar-benar berada dalam kesulitan, ketika setiap kali rasa-rasanya keseimbangannya telah diguncang. Dalam kelemahan yang demikian, lawannya beberapa kali berhasil menembus putaran ujung cambuknya dan melukainya, sehingga pakaian Swandaru telah berlumuran dengan darahnya sendiri. Meskipun luka-luka yang timbul tidak membahayakan jiwanya, tetapi lambat laun, jika darahnya terlalu banyak mengalir, maka ia akan menjadi semakin lemah, sehingga kesempatan lawannyapun menjadi semakin banyak.

Pandan Wangi dan Sekar Mirah melihat kesulitan Swandaru. Mereka mengerti bahwa lawannya mempunyai ilmu yang aneh, yang dapat mengguncang bumi. Mereka sadar, bahwa semakin dekat dengan orang itu, maka guncangan bumi akan terasa semakin besar, dan suara tertawanya akan terasa semakin meremas jantung

Itulah sebabnya, maka kedua perempuan itu, berusaha untuk tetap bertempur pada jarak yang agak jauh. Mereka tidak pernah kehilangan kesadaran menghadapi ketiga laki-laki yang garang itu. Bahkan karena keduanya melihat kesulitan Swandaru di halaman, maka keduanya pun bertempur semakin cepat untuk menguasai ketiga lawannya.

“Gila,” teriak orang yang bertempur di halaman. Tetapi ia tidak ingin memberikan isyarat lagi kepada orang-orangnya yang bertugas di luar halaman itu.

“Jagalah laki-laki gemuk ini sejenak,” ia berteriak semakin keras, ”aku akan membunuh keduanya lebih dahulu. Kalian ternyata terlalu lamban dan bodoh.”

Teriakan itu benar-benar mendebarkan jantung Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Tetapi mereka tidak dapat ingkar akan kewajiban yang betapapun beratnya

“Pengecut,” teriak Swandaru, ”aku akan membunuhmu.”

Tetapi laki-laki itu tertawa. Katanya, “Memang tidak semudah yang aku sangka untuk membunuhmu. Agaknya aku akan lebih cepat membunuh perempuan itu seorang demi seorang. Kematian mereka akan mengakhiri perlawananmu pula. Meskipun kau sudah menjadi semakin lemah, tetapi kau masih mampu mempertahankan diri dengan ledakan-ledakan cambukmu. Tetapi agaknya aku tidak akan membutuhkan waktu lebih dari sekejap untuk membunuh setiap perempuan yang sombong di pendapa itu.”

Swandaru tidak dapat berbuat banyak. Ketika ia siap meloncat dan menyerang, maka lawannya telah menghentakkan kakinya, sehingga bumi seolah-olah menjadi berguncang. Dan Swandaru harus mempertahankan keseimbangannya, agar ia tidak jatuh terguling di tanah

Dalam pada itu. lawannya benar-benar telah meninggalkannya. Seorang lawan Pandan Wangi dan Sekar Mirah telah menggantikan orang itu. Namun ketika orang itu telah berhadapan dengan Pandan Wangi, maka seorang lagi dari mereka bertiga yang bertempur di pendapa telah turun pula dan berpasangan melawan Swandaru yang telah terluka

“Gila. Jangan bersikap pengecut,” geramnya.

Tetapi orang di pendapa itu masih sempat menjawab, ”Akan datang pula giliranmu. Tetapi perlawananmu agaknya masih jauh lebih panjang dari perempuan-perempuan ini.”

Dengan demikian, maka arena pertempuran di halaman dan di pendapa itu pun telah berkembang. Swandaru harus melawan dua orang pengikut orang yang kemudian naik ke pendapa melawan Pandan Wangi. Sedangkan Sekar Mirah masih harus melawan seorang yang sejak semula memang melawannya.

 

 

Karena itu, maka Sekar Mirah pun segera dapat mendesak lawannya. Tetapi agaknya lawannya tidak melawannya dengan tanggon. Setiap kali ia selalu bergeser menjauh, seolah-olah ia sekedar mengikat Sekar Mirah dalam satu arena pertempuran. Sehingga dengan demikian, gadis itu tidak akan dapat membantu Pandan Wangi atau Swandaru.

Swandaru mengumpat ketika ia melihat lawannya yang meninggalkannya itu mendekati Pandan Wangi. Sambil tertawa, orang itu berkata, ”Sayang, bahwa aku harus membunuh seorang perempuan yang cantik. Jika suamimu tidak keras kepala, maka mungkin nasibmu akan berbeda.”

Tetapi Pandan Wangi tidak menjawab. Ia langsung menyerang dengan pedang rangkapnya. Seperti juga Swandaru, maka Pandan Wangi pun sadar, bahwa lawannya tentu memerlukan waktu untuk ancang-ancang apabila ia melepaskan ilmunya.

Lawannya terkejut mengalami serangan yang tiba-tiba dan di luar dugaannya. Karena itu, maka ia pun segera meloncat menghindar.

Tetapi Pandan Wangi memburunya dengan serangan-serangannya yang cepat dan tiba-tiba, sehingga orang itu tidak mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri melepaskan ilmunya yang dahsyat.

Namun akhirnya ia berhasil menghindar dengan melingkari tiang-tiang pendapa. Ia berhasil mengambil jarak dari lawannya yang melibatnya dengan sepasang pedang.

Kesempatan itu, dipergunakannya sebaik-baiknya. Ia pun kemudian menghentakkan kakinya sehingga seolah-olah pendapa itu telah berguncang dan tiang-tiangnyapun bergetar dengan kerasnya, sehingga pendapa itu rasa-rasanya akan roboh menimpa kepalanya.

Pandan Wangi menjadi bingung. Ia tidak dapat berpegangan tiang pendapa, karena kedua tangannya yang menggenggam pedang itu harus dipergunakannya setiap saat.

Yang dapat dilakukan, untuk mengurangi goncangan-goncangan yang seolah-olah telah mengacaukan keseimbangannya itu, adalah merendahkan diri. Karena itulah, maka ia pun segera berlutut untuk memantapkan kakinya yang bagaikan diayun oleh gempa yang dahsyat.

Sekar Mirah yang hampir menguasai lawannya telah terpengaruh pula. Seperti Pandan Wangi, maka ia pun kemudian berdiri pada lututnya. Tangan kirinya terpaksa membantunya, agar ia tidak jatuh berguling di atas lantai pendapa.

“Sayang,” teriak lawannya, ”umur kalian tidak akan panjang, meskipun kalian adalah perempuan-perempuan cantik.”

Namun Pandan Wangi masih menyadari keadaaannya. Ketika serangan lawannya yang dahsyat datang, Pandan Wangi seolah-olah tidak merasa lagi bahwa tanah berguncang. Meskipun ia belum sempat berdiri, namun ia masih dapat mempergunakan pedangnya untuk menangkis serangan lawannya.

Yang terdengar adalah suara tertawa. Lawannya itu pun kemudian berkata, ”Kau memang tangkas. Tetapi kau tidak akan dapat melawan untuk selanjutnya dengan cara itu. Kau akan segera menjadi kehilangan keseimbanganmu dan jatuh tanpa dapat bangkit kembali.”

Pandan Wangi mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia segera mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Bagaimanapun juga, ia tidak akan menyerahkan lehernya dikoyak oleh pisau belati panjang lawannya.

“Bersiaplah,” berkata lawannya, ”kau akan menghadapi goncangan yang lebih dahsyat.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi ketika ia sempat melihat Sekar Mirah, agaknya Sekar Mirah telah berhasil menguasai lawannya kembali. Agaknya di saat ia kehilangan keseimbangan, ia masih sempat melawan serangan lawannya yang tentu juga terpengaruh meskipun mungkin ia mempunyai cara tersendiri untuk mengatasinya.

Dengan kedua pedangnya bersilang didada. Pandan Wangi berdiri dengan lutut merendah. Ia sadar, bahwa jika lawannya menghentakkan kakinya, maka pendapa itu akan berguncang. Pada saat itu, ia harus segera mengambil sikap, agar ia tidak terjatuh. Jika terjadi demikian, maka nasibnya akan segra ditentukan oleh lawannya yang bersenjata pisau belati panjang itu.

Seperti yang diperhitungkannya, maka sejenak kemudian, lawannya itu pun telah menghentakkan kakinya. Sekali lagi pendapa itu terasa berguncang. Dan sekali lagi rasa-rasanya atap akan runtuh menimpa orang-orang yang berada di pendapa itu.

Dalam guncangan-guncangan yang merampas keseimbangannya, Pandan Wangi segera berusaha untuk menyelamatkan diri. Sekali lagi ia berlutut. Namun pedangnya masih selalu siap menghadapi segala kemungkinan.

Demikianlah, ketika serangan lawannya datang membadai, maka Pandan Wangi masih sempat berusaha mengangkat pedangnya. Dengan tangan kanan ia menangkis serangan lawannya, sedangkan tangan kirinya dijulurkannya untuk menyerang lawannya yang meloncat mendekat, sementara keseimbangannya masih belum mantap kembali.

Karena itulah, maka ternyata Pandan Wangi telah berhasil menjatuhkan diri, berguling dengan cepat, lalu meloncat bangkit sebelum serangan berikutnya menyambarnya.

“Perempuan gila,” lawannya mengumpat.

Namun Pandan Wangi adalah anak Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang sudah mewarisi segala ilmunya.

Pada saat-saat ia harus mengimbangi suaminya yang berlatih tanpa ada jemu-jemunya, ternyata bahwa Pandan Wangi sendiri, seakan-seakan menemukan kematangan ilmunya. Karena itulah, maka orang yang mampu mengguncang bumi itu tidak dapat membunuhnya dengan mudah seperti yang disangkanya.

“Tetapi saat itu pasti akan segera datang,” geram lawan Pandan Wangi yang marah, ”sekali lagi aku akan membantingmu jatuh di lantai. Sementara itu, lehermu akan segera koyak oleh pisau belatiku tanpa dapat melawan sama sekali.”

Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa orang itu tentu tidak hanya sekedar mengancam. Orang itu akan berusaha untuk dengan cepat membunuhnya. Kemudian membunuh Sekar Mirah dan Swandaru. Bahkan mungkin Sekar Mirah pun akan segera menjalani kesulitan, karena pengaruh ilmu iblis yang seolah-olah mampu mengguncang bumi itu.

Namun dalam pada itu, hampir di luar sadarnya. Pandan Wangi telah melihat sesuatu yang sangat menarik perhatiannya. Di tengah pendapa itu terdapat sebuah lampu juplak gantung. Demikian dahsyatnya guncangan yang timbul oleh hentakkan kaki lawan, sehingga rasa-rasanya pendapa itu akan runtuh. Tetapi ia sama sekali tidak melihat juplak gantung itu bergoyang. Bahkan berayunpun tidak.

Pandan Wangi ternyata memiliki ketajaman perhitungan dalam waktu yang sangat pendek itu. Tiba-tiba saja ia berusaha membuat imbangan dari ancaman-ancaman yang dilontarkan oleh lawannya untuk mempengaruhi perasaannya.

“Sekar Mirah,” suara Pandan Wangi lantang, sehingga justru lawannya menjadi heran, ”kita yakin bahwa kita berhadapan dengan ilmu semu. Lihat, lampu itu sama sekali tidak berguncang.”

“Setan betina,” teriak lawan Pandan Wangi. Ia tidak memberi kesempatan Pandan Wangi berkata lebih panjang lagi. Dengan serta merta ia menghentakkan kakinya sambil berteriak nyaring.

Sekali lagi bumi terasa berguncang. Pendapa itu bagaikan terayun dan tiang-tiangnya berderak-derak menggetarkan jantung. Namun sekilas Pandan Wangi sempat melihat, lampu minyak yang tergantung di tengah pendapa itu sama sekali tidak berguncang.

Kesadarannya bahwa ilmu lawannya itu adalah ilmu semu, ternyata telah menolongnya. Meskipun ia masih juga terpengaruh, seolah-olah kakinya diayunkan oleh guncangan-guncangan bumi, namun oleh pengaruh pertimbangan nalarnya, maka goncangan itu terasa sudah jauh berkurang. Pandan Wangi mencoba untuk tidak menghiraukannya, meskipun ia masih harus berdiri pada lututnya. Tetapi ia sudah mempunyai keyakinan, bahwa guncangan keseimbangan yang dapat membantingnya jatuh itu adalah justru karena perasaannya sendiri yang mencari keseimbangan karena pengaruh ilmu lawannya.

Karena itulah, maka Pandan Wangi mengerti, setiap lawannya melontarkan serangan wadag atasnya, rasa-rasanya goncangan itu pun telah terhenti.

Dengan demikian, maka perlawanan Pandan Wangi justru menjadi semakin mapan. Ketika lawannya meloncat sambil mengayunkan pisau belati panjangnya, ia justru dapat menyongsongnya serangan itu, dengan serangan pula.

Namun lawannya sempat menggeliat dan meloncat menghindari.

Dengan serta merta Pandan Wangi pun melenting berdiri. Ia berusaha untuk memburu lawannya dengan serangan-serangan berikutnya. Namun lawannya telah sempat menghentakkan kakinya untuk mempengaruhi langkah Pandan Wangi yang sudah siap melontarkan serangannya.

Bagaimanapun juga, Pandan Wangi masih belum dapat membebaskan diri sama sekali dari pengaruh perasaannya. Karena itu, maka ia terpaksa mengurungkan serangannya dan memusatkan kemampuannya pada perlawanannya atas perasaannya sendiri yang terpengaruh oleh ilmu lawannya, sehingga ia merasa seolah-olah bumi telah berguncang.

Namun ia telah menemukan satu kepastian, bahwa yang terjadi itu bukannya yang sebenarnya. Sehingga dengan demikian, maka ia pun menjadi semakin mapan menghadapi lawannya yang garang itu.

Sementara itu, Sekar Mirah yang mendengar suara Pandan Wangi yang lantangpun berhasil mengurangi pengaruh guncangan bumi tempatnya berpijak. Jika semula ia tidak lagi berhasil menguasai lawannya karena pengaruh hentakan kaki yang telah seolah-olah menimbulkan gempa yang dahsyat itu, maka ia mulai berhasil sedikit demi sedikit mendesaknya lagi.

Dalam pada itu, Swandaru yang harus bertempur melawan dua orang di halaman menggeram marah. Luka-lukanya memang terasa pedih. Tetapi darah yang meleleh dari luka itulah yang mencemaskannya.

Namun demikian, ia masih dapat melawan kedua orang lawannya dengan tangkas dan cepat. Ujung cambuknya masih meledak-ledak mengerikan, sehingga kedua lawannya tidak dapat berbuat terlalu banyak terhadap murid Kiai Gringsing yang memiliki ilmu yang jarang ada tandingnya itu. Betapapun kedua lawannya mencoba menembus ujung cambuk Swandaru, namun Swandaru yang meskipun sudah terluka itu, masih mampu bertempur dengan kemampuannya yang menggetarkan.

Tetapi kedua orang lawan Swandaru itu sadar, bahwa tugas mereka adalah sekedar mengikat Swandaru agar ia tidak dapat meninggalkan halaman itu, sementara pemimpin mereka akan menyelesaikan lebih dahulu perempuan-perempuan yang memiliki ilmu yang luar biasa itu.

Namun agaknya pemimpin mereka telah salah memperhitungkan kemampuan lawan. Ia mengira bahwa membunuh Pandan Wangi dan Sekar Mirah hanya memerlukan waktu sekejap. Ternyata bahwa Pandan Wangi mampu melawannya untuk waktu yang lama.

Dengan demikian, maka orang yang tidak segera dapat membunuh Pandan Wangi itu menjadi semakin marah oleh perlawanan lawannya. Ternyata bahwa ia memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan salah satu dari kedua perempuan itu.

Tiba-tiba saja orang itu menggeram. Ia tidak dapat membuat pertimbangan lain daripada memanggil orang-orangnya yang berada di luar halaman itu. Mereka harus membunuh perempuan-perempuan yang garang itu. Sementara ia akan kembali dalam perang tanding melawan murid Kiai Gringsing. Ia tidak mau merendahkan dirinya, mempergunakan cara yang lain kecuali perang tanding, seperti yang pernah dilakukannya dengan Agung Sedayu. Sementara orang-orang lain, ia tidak perlu mempunyai banyak pertimbangan. Biarlah orang-orangnya beramai-ramai membunuh mereka. Tetapi adik seperguruan Agung Sedayu itu, harus mati olehnya dalam perang tanding yang jantan.

Karena itu, maka orang itu pun segera bersiap-siap untuk memberikan isyarat kepada orang-orangnya yang berada di belakang atau di sekitar halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung. Mereka akan dapat membunuh kedua perempuan yang garang itu bersama-sama, sementara ia akan bertempur seorang melawan seorang seperti seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki.

Tetapi, yang terjadi kemudian adalah di luar perhitungan orang yang berusaha membunuh Pandan Wangi secepatnya itu. Demikian ia meneriakkan isyarat, yang disambut dan diteruskan oleh orang-orangnya yang bertempur melawan Swandaru di halaman, maka terdengar panah sendaren berdesing di udara.

“Gila,” geram orang itu, ”demikian cepat mereka datang. Sementara aku belum selesai dengan tugas ini.”

Tetapi orang itu tidak terlalu mencemaskan perkembangan keadaan karena isyarat itu. Ia mempunyai sejumlah pengikut yang akan cukup untuk melawan lima orang prajurit Pajang di Jati Anom.

Isyarat panah sendaren itu adalah pertanda yang dilontarkan oleh para pengawas di pinggir padukuhan induk Sangkal Putung. Agaknya salah seorang dari mereka telah melihat prajurit peronda itu mendekati padukuhan. Seperti yang diperintahkan oleh orang yang belum berhasil membunuh Pandan Wangi dan apalagi Swandaru itu, bahwa para pengawas itu harus memberikan isyarat jika mereka melihat peronda itu datang.

Isyarat itu bukan saja dikirim ke halaman Kademangan yang menjadi ajang pertempuran. Tetapi isyarat itu ditujukan pula kepada para pengikut yang lain, yang tersebar di padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung itu.

Isyarat ganda yang dilontarkan oleh pemimpin mereka di halaman dan suara panah sendaren itu telah memanggil setiap pengikut orang yang mempunyai ilmu yang aneh itu. Mereka telah dengan tergesa-gesa berkumpul di depan regol halaman rumah Ki Demang untuk menunggu prajurit peronda itu.

“Selesaikan mereka sekaligus,” teriak pemimpin mereka,” tetapi sisakan seorang untuk tetap hidup. Orang itu harus menceritakan apa yang telah terjadi di halaman Kademangan ini.”

Di depan regol itu telah berkumpul tujuh orang pengikut dari orang yang garang itu. Mereka siap menunggu kedatangan lima orang prajurit peronda yang telah diketahui mendekati padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.

Sementara itu, pertempuran di halaman dan di pendapa Kademangan itu masih saja terjadi. Justru semakin lama semakin sengit. Betapapun Pandan Wangi menyadari, bahwa ilmu lawannya adalah sekedar menimbulkan peristiwa semum, namun ia pun kadang-kadang menjadi bingung dan kehilangan pengamatan karena keseimbangannya yang masih saja seolah-olah terganggu oleh guncangan-guncangan lantai tempat ia berpijak.

Dengan kemarahan yang menghentak-hentak maka lawannya berusaha dengan sekuat tenaganya untuk mempercepat tugasnya, menyelesaikan perempuan yang masih saja sempat menyelamatkan diri.

Swandaru yang bertempur melawan dua orang menggeram dengan marahnya. Tetapi darah yang masih saja mengalir dari lukanya telah mulai terasa akibatnya. Tenaganya seolah-olah mulai susut dan perlawanannyapun mulai terpengaruh pula.

Tetapi kemarahan Swandaru telah mendorongnya untuk berjuang semakin garang. Tanpa menghiraukan darahnya yang semakin deras mengalir dari luka-lukanya.

Meskipun kedua orang lawan Swandaru itu tidak mampu menguasainya, tetapi sulit juga bagi Swandaru untuk mengalahkan mereka, karena keduanya seolah-olah hanyalah sekedar bertahan, berkisar meloncat surut, kemudian memancing kemarahan Swandaru dengan serangan-serangan yang tidak banyak berarti. Sementara cambuk Swandaru meledak-ledak meneriakkan kemarahan yang tidak tertahankan.

Pada saat yang gawat itu, Sekar Mirah masih juga harus bertahan. Meskipun pengaruh guncangan yang menggetarkan pendapa itu masih saja merusak keseimbangannya, tetapi ia tidak banyak mengalami kesulitan karena lawannya tidak mempunyai tingkat ilmu setinggi Sekar Mirah.

Pada keadaan yang demikian itulah, terdengar derap beberapa ekor kuda mendekati regol halaman, sementara para pengikut orang yang seolah-olah mampu mengguncang bumi itu telah siap menunggu dengan senjata telanjang.

Swandaru yang mengetahui rencana pembunuhan yang licik itu pun menjadi sangat gelisah. Tetapi sulit baginya untuk berbuat sesuatu. Ia terikat melawan dua orang yang selalu mengikatnya dalam pertempuran dengan licik. Apalagi ketika Swandaru menyadari, bahwa Pandan Wangi telah menjadi semakin terdesak oleh lawannya yang garang dan memiliki ilmu yang aneh itu.

Dalam pada itu, ledakan cambuk Swandaru telah meyakinkan para prajurit yang sedang meronda itu, bahwa memang telah terjadi sesuatu di Sangkal Putung.

Namun demikian mereka memasuki mulut padukuhan induk itu, mulai terasa pengaruh yang aneh mencengkam mereka. Apalagi ketika mereka kemudian sampai ke gardu di pinggir lorong. Mereka melihat para pengawal dan anak-anak muda tertidur nyenyak tanpa menyadari apa yang telah terjadi.

“Sirep,” desis perwira yang memimpin kelompok peronda itu.

“Ya,” sahut Sabungsari, ”agaknya para pengawal tertidur nyenyak. Inilah sebabnya, bahwa suara kentongan itu tidak bersambut.”

“Jika demikian, maka telah terjadi sesuatu yang gawat di Kademangan ini. Tentu bukan sekedar seorang atau sekelompok penjahat yang ingin merampok emas dan berlian.”

“Marilah,” geram Sabungsari.

Perwira itu pun kemudian menghentak para prajuritnya yang mulai terpengaruh oleh ilmu sirep yang tajam. Namun dengan mengerahkan segenap daya tahannya, para prajurit itu meneruskan perjalanannya dengan tergesa-gesa menuju ke Kademangan.

Sabungsari, yang dalam kedudukannya sehari-hari adalah prajurit muda yang baru pada tataran terendah, tidak lagi sempat mengingat pangkat dan kedudukannya. Ia menyadari, bahwa Sangkal Putung ada dalam bahaya.

Karena itu, maka rasa-rasanya ia ingin meloncat langsung menuju ke Kademangan untuk melihat apa yang telah terjadi. Suara cambuk yang meledak-ledak itu telah mengingatkannya kepada seorang anak muda di padepokan kecil yang bernama Agung Sedayu.

Sabungsari sendiri tidak menyadari, hubungan apakah yang sudah terjalin di dalam hatinya dengan anak muda yang bernama Agung Sedayu, yang pernah diancamnya untuk dibunuh karena anak muda itu sudah membunuh ayahnya. Namun yang kemudian ternyata telah mempunyai pengaruh yang kuat pada dirinya.

Pada saat itu telah terjadi peristiwa yang gawat di halaman Sangkal Putung itu. Darah Swandaru yang meleleh semakin banyak benar-benar telah mempengaruhi perlawanannya. Meskipun kedua orang lawannya itu tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengalahkannya, tetapi karena ia menjadi semakin lemah, maka kemudian terasa bahwa ia mulai terdesak.

Sementara itu, Pandan Wangi pun telah mengalami kesulitan pula. Meskipun ia menyadari keadaannya, tetapi kadang-kadang ia telah kehilangan pengamatannya atas keseimbangannya. Pada saat-saat yang demikian itulah maka kedudukannya memang menjadi sangat lemah. Sehingga pertempuran itu benar-benar membahayakan jiwanya. Sementara Pandan Wangi sadar bahwa para pengawal Kademangan tentu tidak akan ada yang sempat berbuat sesuatu untuk menyelamatkan diri apabila mereka yang berada di Kademangan itu pun tidak dapat mem-pertahankan diri pula.

Hanya karena kecepatan dan ketenangannya sajalah, maka Pandan Wangi masih dapat melindungi dirinya dari maut.

Dalam pada itu, Sekar Mirah-lah yang berusaha mendesak lawannya secepatnya, agar ia dapat membantu salah seorang dari kedua suami istri yang terdesak itu. Dengan otaknya Sekar Mirah berusaha memenangkan pertempuran yang sengit. Ia dengan cerdik mendesak lawannya menjahui arena pertempuran Pandan Wangi dan lawannya, untuk mengurangi pengaruh hentakan kaki orang yang garang itu.

“Jika aku berhasil, maka aku akan dengan segera menolong Pandan Wangi. Kemudian tanpa orang gila itu, mereka tidak akan banyak berarti lagi,” berkata Sekar Mirah di dalam hatinya.

Pada saat yang demikian itulah, maka ke tujuh orang di muka regol halaman itu menunggu dengan tegang. Mereka adalah orang-orang di luar perhitungan Sekar Mirah, karena gadis itu tidak tahu pasti, berapakah jumlah pengikut orang yang sedang bertempur melawan Pandan Wangi itu.

Dalam pada itu, derap kaki kuda para prajurit Pajang menjadi semakin dekat. Sehingga suara itu pun terdengar semakin jelas oleh mereka yang berada di halaman. Sementara itu, ke tujuh orang yang menunggu mereka di luar halaman itu pun kemudian berpencar.

Demikian ke tujuh ekor kuda itu mendekat, maka berloncatanlah ke tujuh orang yang menunggu mereka dari tempat persembunyiannya, menyerang dengan senjata telanjang.

Para prajurit itu memang sudah bersiaga sepenuhnya. Demikian mereka melihat gerak yang mencurigakan, maka di tangan mereka telah tergenggam senjata mereka pula. Sementara mereka menarik kendali kuda masing-masing.

Seorang dari mereka yang langsung menyerang orang berkuda di paling depan, ternyata tidak berhasil mengenainya. Senjatanya telah membentur senjata prajurit itu sehingga tergetar. Untunglah bahwa ia sempat mempertahankan senjatanya, sehingga senjatanya tidak terlepas dari tangannya.

Narnun sementara itu, prajurit yang berkuda di paling depan itu sama sekali tidak berhenti. Ia langsung memasuki regol halaman untuk segera melihat, apa yang telah terjadi.

Tetapi empat orang prajurit yang lain, tidak sempat mengikutinya. Mereka terpaksa berhenti dan berputar melingkar, menempatkan diri untuk melawan para penyerangnya.

Untuk dapat melawan sebaik-baiknya, maka keempat prajurit itu pun segera berloncatan turun dan melepaskan kuda-kuda mereka, yang kemudian berlari-lari kecil menepi. Tetapi seolah-olah tanpa menghiraukan apa yang telah terjadi, maka kuda-kuda itu pun justru menikmati helai-helai rumput yang hijau di pinggir jalan Kademangan itu.

Dengan demikian, maka segera terjadi pertempuran antara tujuh orang yang telah menunggunya melawan keempat prajurit, termasuk seorang perwira yang memimpin mereka. Seorang dari para prajurit itu sudah berada di halaman, langsung melihat apa yang telah terjadi. Prajurit muda itu adalah Sabungsari.

Sejenak ia masih berada di punggung kudanya. Ia memperhatikan arena pertempuran yang terbagi. Dengan sekilas ia melihat, betapa dahsyatnya cambuk Swandaru yang meledak-ledak. Tetapi terasa bahwa ledakan cambuk itu tidak lagi melontarkan kedahsyatan kekuatan cadangannya.

Betapapun lampu obor dari regol halaman dan lampu gantung di pendapa hanya lamat-lamat saja sampai, tetapi ketajaman mata Sabungsari itu pun segera melihat darah yang meleleh pada tubuh anak muda bercambuk itu, yang tentu adalah saudara seperguruan Agung Sedayu.

Sementara itu, ia melihat pula dua orang perempuan yang bertempur di pendapa. Meskipun ia tidak mengenal keduanya, tetapi ia pun segera mengetahui, bahwa yang seorang tentu istri Swandaru dan yang lain adalah adiknya, seperti yang pernah didengarnya.

Dalam sekilas itu, ia pun melihat, betapa dahsyatnya lawan Pandan Wangi. Ia melihat, betapa orang itu menghentakkan kakinya dan kemudian berteriak nyaring, sehingga suaranya seolah-olah memecahkan isi dada.

Yang Sabungsari tidak mengetahui adalah, kenapa orang yang garang itu telah memilih perempuan itu sebagai lawannya. Bukan Swandaru. Apakah menurut penilaian orang itu, perempuan itu memiliki kelebihan dari saudara seperguruan Agung Sedayu.

Tetapi Sabungsari tidak sempat membuat penilaian lebih jauh. Ia sudah siap terjun ke arena melawan siapa pun juga. Karena itu maka ia pun segera berkata lantang, ”Aku adalah prajurit Pajang di Jati Anom yang sedang meronda. Aku siap membantu kalian. Siapakah yang harus aku lawan?”

Tidak seorangpun yang segera menjawab. Bagaimanapun juga, Swandaru masih merasa dirinya belum memerlukan bantuan. Ia masih ingin menyelesaikan masalah Sangkal Putung itu dengan kemampuan sendiri.

Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa para pengawal Kademangan Sangkal Putung telah kehilangan kemampuan mereka untuk melawan. Apakah mereka telah terbunuh atau sekedar tetidur karena pengaruh sirep, masih belum diketahui dengan pasti. Dan adalah suatu kenyataan pula, bahwa yang kemudian bertempur di muka regol Kademangan adalah para prajurit Pajang pula.

Dalam keadaan yang demikian, Swandaru menyadari kebenaran kata-kata istrinya. Bahwa dalam keadaan yang gawat itu, ia tidak dapat sekedar hanyut dalam arus perasaannya untuk mempertahankan harga diri semata-mata tanpa menghiraukan kepentingan Kademangan Sangkal Putung dalam keseluruhan.

Sementara itu, prajurit muda yang memasuki halaman itu masih berada di punggung kuda. Sekali lagi ia berkata lantang, ”Aku sudah siap. Apakah yang harus aku kerjakan?”

Sabungsari tidak menunggu jawaban. Ia pun segera meloncat turun dari kudanya dan melepaskan kudanya menepi.

Namun dalam pada itu, yang menjawab ternyata adalah lawan Pandan Wangi. Dengan suara lantang dan menggelegar ia berteriak, ”He, prajurit kerdil. Apa kerjamu disini. Pergilah sebelum kau mati. Aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk membunuh semua orang di halaman ini termasuk kalian. Tetapi aku ingin menyisakan seorang dari para prajurit yang dungu agar ia dapat bercerita kepada Pangeran Benawa, bahwa sebagian dendamku kepadanya sudah aku tebus.”

 

 

Sabungsari mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia bertanya, ”Apa hubunganmu dengan Pangeran Benawa?”

“Ia sudah membunuh kedua adik seperguruanku. Kakak beradik dari Pesisir Endut. Aku menuntut kematian Pangeran Benawa, Agung Sedayu dan Swandaru. Jika aku membunuh para prajurit, adalah sekedar memancing perhatian Pangeran Benawa untuk bertemu dalam perang tanding setelah aku hari ini membunuh Swandaru dan keluarganya. Aku akan membunuh siapa yang dapat aku ketemukan lebih dahulu. Agung Sedayu atau Pangeran Benawa.”

Sabungsari tidak segera menjawab. Tetapi getar di dadanya terasa semakin cepat. Ia sadar, bahwa yang dihadapinya adalah saudara seperguruan kedua kakak beradik dari Pesisir Endut.

“Jika kau mengerti maksudku, pergilah,” teriak lawan Pandan Wangi, “kau satu-satunya yang aku beri kesempatan untuk hidup.”

Tiba-tiba terdengar suara Sabungsari bergetar, “Jadi kau keluarga dari Pesisir Endut.”

“Ya. Akulah Carang Waja.”

Sabungsari menggeretakkan giginya. Darahnya yang mengalir di seluruh tubuhnya, tiba-tiba terasa bagaikan mendidih. Dengan suara lantang ia berkata, ”Adalah satu kurnia, bahwa aku dapat bertemu dengan keluarga dari Pesisir Endut.”

Kata-kata itu benar-benar mengejutkan. Bahkan Swandaru pun terkejut pula.

“Aku menunggu kesempatan ini,” Sabungsari melanjutkan, “keluarga Pesisir Endut adalah keluarga yang telah banyak menodai ketenangan hidup di wilayah Pajang. Sehingga karena itu, maka adalah kewajiban setiap prajurit untuk menghancurkannya. Dengan pertimbangan itu pula tentu Pangeran Benawa telah membunuh kedua kakak beradik dari Pesisir Endut itu.”

“Persetan,” orang itu berteriak, meskipun ia masih bertempur melawan Pandan Wangi.

Namun dalam pada itu Swandaru pun berkata lantang, ”Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Tetapi serahkan Carang Waja itu kepadaku. Setelah aku mengusir kedua orang tikus-tikus kecil ini.”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Ia mengerti keberatan Swandaru. Namun hatinya sendiri bagaikan sudah menyala. Kegagalannya membunuh Agung Sedayu, dan bahkan anak muda itu bagaikan telah membekukan darahnya, kini tiba-tiba darahnya itu telah bergejolak kembali. Ia telah kehilangan pengikutnya justru dibunuh oleh orang-orang Pesisir Endut. Apalagi kini ia bertemu dengan orang Pesisir Endut, yang justru adalah saudara tua kedua saudara Pesisr Endut yang telah terbunuh itu.

Karena itu, maka katanya, ”Swandaru. Aku mempunyai persoalan pribadi pula dengan orang ini. Jika aku sudah mati olehnya, maka lakukanlah perang tanding itu. Aku merasa mempunyai kewajiban untuk menagih kematian sahabatku. Tetapi jika aku tidak mampu mengalahkannya, maka aku relakan nyawaku.”

Swandaru masih akan menjawab. Tetapi Carang Waja telah berteriak, ”Prajurit gila. Kau sangka bahwa kemampuanmu sebagai prajurit rendahan itu akan dapat mengimbangi kemampuan Carang Waja? Datangkanlah semua perwira yang berada di Jati Anom. Bahkan bawalah Untara kemari. Ia akan mati di halaman ini.”

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: