Buku 124 (Seri II Jilid 24)

 

“Apapun yang akan kau lakukan terhadap Untara, Agung Sedayu maupun Swandaru bukanlah urusanku. Bunuhlah aku yang pertama-tama. Aku menuntut kematian sahabatku.”

“Siapakah sahabatmu?” bertanya Carang Waja.

“Aku tidak perlu menyebutnya. Sudah terlalu banyak orang yang kau bunuh. Karena itu, kau tentu tidak akan dapat mengingatnya lagi.”

Carang Waja menggeram. Sementara Sabungsari telah melangkah mendekatinya.

“Jika kau tidak keberatan, tinggalkan Carang Waja,” berkata Sabungsari kepada Pandan Wangi.

“Ia amat berbahaya,” sahut Pandan Wangi sambil bertempur. Namun karena lawannya belum mempergunakan ilmunya yang aneh, maka Pandan Wangi tidak terlalu terdesak karenanya.

“Aku telah bertekad untuk membalas dendam, atau akan mati karenanya.”

Pandan Wangi menjadi ragu-ragu. Tetapi, ia masih tetap bertempur terus. Ia sadar, bahwa jika ia melepaskan lawannya kepada orang lain, Swandaru akan dapat tersinggung. Sehingga karena itu, maka seolah-olah ia menunggu keputusan suaminya.

Swandaru yang sudah banyak kehilangan tenaga, masih sempat berpikir. Ia memang tidak dapat berpegangan sekedar pada harga diri tanpa menghiraukan keadaan yang sebenarnya.

Swandaru pada kedudukannya bukan sekedar dirinya. Di Sangkal Putung ia adalah pimpinan pasukan pengawal. Karena itu, yang harus dipertimbangkannya adalah Sangkal Putung dalam keseluruhannya.

Kehadiran prajurit Pajang, bukannya akan menyusutkan harga dirinya sebagai pimpinan pasukan pengawal Sangkal Putung, karena Kademangan itu memang termasuk ke dalam wilayah perlindungan Pajang.

Apalagi karena kenyataan yang terjadi atas dirinya. Darah yang sudah banyak mengalir dari luka-lukanya. Meskipun luka-luka itu sendiri tidak berbahaya, tetapi jika darah yang mengalir tidak dapat dipampatkan, maka akibatnya akan gawat, apalagi ia masih harus bertempur.

Karena itu, maka Swandaru tidak dapat tetap mengeraskan hatinya. Jika benar yang dikatakan prajurit itu, bahwa jika prajurit itu sudah mati, ia harus bertempur melawan orang yang bernama Carang Waja itu, maka ia harus mempunyai kesempatan untuk memampatkan darahnya. Baru kemudian ia akan mendapatkan kesempatan untuk berperang tanding.

Dalam pada itu, terdengar Carang Waja berkata, ”Prajurit yang malang. Kau benar-benar orang yang tidak tahu diri. Apa yang dapat dilakukan oleh seorang prajurit he? Sepantasnya kau mencari lawan yang seimbang. Tetapi jika kau hanya sekedar ingin membunuh diri, marilah, aku kira kau akan mendapat kesempatan itu. Dan aku akan mencari orang lain yang akan tetap hidup, mengabarkan peristiwa yang terjadi ini kepada senapati prajurit Pajang di Jati Anom, agar disampaikan kepada Pangeran Benawa. Aku akan menunggu kedatangannya dengan senang hati, karena aku memang ingin membunuhnya sebagaimana ia membunuh kedua saudara seperguruanku.”

“Apapun yang akan terjadi atas diriku, maka aku akan memuntahkan dendam pribadiku jika lawanmu memberi kesempatan kepadaku.”

Pandan Wangi masih belum melepaskan lawannya. Namun dalam pada itu terdengar Swandaru berkata, ”Berilah orang itu kesempatan. Meskipun ia tidak bermaksud membunuh diri, tetapi ia dapat melihat kemungkinan pahit itu terjadi. Namun mudah-mudahan ia dapat melindungi dirinya sendiri.”

Terdengar Carang Waja tertawa. Di antara suara tertawanya ia berkata, ”Baiklah. Aku beri kau kesempatan untuk mati. Tetapi aku tidak akan membiarkan perempuan itu membunuh siapapun juga dari orang-orangku. Karena itu, biarlah ia mendapatkan lawannya.”

Dalam pada itu, terdengar Carang Waja meneriakkan isyarat kepada orang-orangnya yang bertempur di luar regol halaman. Agaknya ia telah memanggil pengikutnya untuk menahan agar Pandan Wangi tidak sempat berbuat apapun juga.

“Apa artinya prajurit-prajurit di luar regol itu. Tahan sajalah agar mereka tidak sempat lari. Aku akan memilih, siapakah yang berhak hidup di antara mereka.”

Sejenak kemudian, maka dua dari tujuh orang yang berada di regol itu meloncat memasuki halaman. Mereka langsung menempatkan, diri untuk melawan orang yang akan terlepas dari arena pertempuran melawan Carang Waja.

Dalam pada itu, para prajurit yang berada di luar pintu regol halaman Kademangan Sangkal Putung, mendapat kesempatan untuk bernafas. Karena lawan mereka berkurang dua orang, maka keseimbangan pertempuran itu pun segera berubah. Jika semula para prajurit yang dipimpin oleh seorang perwira itu merasa terdesak dan bahkan seolah-olah tidak ada harapan lagi untuk melepaskan diri, maka setelah dua orang lawan mereka memasuki halaman, para prajurit itu pun telah mendapat kesempatan untuk bertempur seorang melawan seorang, kecuali pimpinan mereka yang masih harus bertempur melawan dua orang. Namun para prajurit yang lainpun tidak membiarkannya bertempur dalam kesulitan. Setiap kali para prajurit juga berusaha membantunya dengan melibatkan diri dalam pertempuran ganda.

Di halaman, Sabungsari segera melibatkan diri melawan Carang Waja yang telah ditinggalkan oleh Pandan Wangi. Demikian Carang Waja mendapatkan lawannya yang baru, maka dengan serta merta ia menghentakkan kakinya sambil berteriak nyaring.

Ilmunya itu ternyata telah mengejutkan Sabungsari. Rasa-rasanya lantai tempatnya berpijak itu pun telah berguncang. Pendapa itu rasa-rasanya bagaikan diayun oleh gempa yang dahsyat.

Sejenak Sabungsari tertegun. Namun ia pun harus berusaha mempertahankan keseimbangannya agar ia tidak terlempar jatuh.

Pada saat itulah Carang Waja menyerang dengan garangnya. Dengan pisau belati panjangnya ia menikam leher lawannya yang sedang berusaha memperbaiki keseimbangannya.

Tetapi Sabungsari tidak menyerah pada serangan yang pertama. Ia masih sempat menjatuhkan dirinya, sehingga serangan lawannya itu tidak menyentuhnya.

“Anak iblis,” teriak Carang Waja, “betapapun juga, kau akan segera mati. Prajurit Pajang bukanlah lawan yang patut aku perhitungkan.”

Carang Waja pun segera mempersiapkan dirinya pula. Namun ia menjadi heran, melihat betapa tangkasnya Sabungsari melenting berdiri. Demikian kakinya menjejak tanah, demikian anak muda itu sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Kecepatan bergerak Sabungsari telah menarik perhatian Carang Waja. Ternyata bahwa Sabungsari bukannya prajurit kebanyakan. Namun Carang Waja melihat, bahwa prajurit muda itu masih dapat diguncang dengan ilmunya. Karena itu, maka ia pun tentu akan segera dapat diselesaikannya.

Selagi Sabungsari mempersiapkan dirinya, maka sekali lagi Carang Waja berteriak sambil menghentakkan kakinya. Dan sekali lagi rasa-rasanya tanah tempatnya berpijak itu berguncang. Seperti yang telah dilakukannya, maka Sabungsari pun segera berusaha memantapkan keseimbangannya dengan merendahkan dirinya, sementara ia masih sempat melihat serangan lawannya meluncur dengan dahsyatnya.

Sekali lagi Sabungsari terpaksa merendahkan dirinya dan bahkan berguling di lantai untuk menghindari sambaran pisau belati lawannya yang hampir menyentuh kening.

Dengan demikian, maka Sabungsari pun segera menyadari, bahwa ia memang berhadapan dengan seseorang yang pilih tanding, yang memiliki ilmu yang sulit dicari tandingnya.

Tetapi Sabungsari ternyata bukannya orang yang cepat kehilangan akal dan putus asa. Ia sengaja mempergunakan benturan-benturan pertama untuk mempelajari ilmu lawannya.

Karena itu ia tidak tergesa-gesa mengambil sikap. Dengan penuh kewaspadaan ia meloncat bangkit. Ketika kakinya menjejak tanah, ia merasakan keseimbangannya tetap mantap.

Namun sesaat kemudian, sekali lagi ia melihat lawannya menghentakkan kakinya sambil berteriak. Seperti yang sudah terjadi, maka ia pun telah berguncang pula. Pendapa itu bagaikan akan runtuh karena gempa yang luar biasa.

Sekali lagi Sabungsari harus mempertahankan keseimbangannya. Tetapi ia tidak lagi berguling dilantai. Meskipun ia masih harus merendahkan dirinya, tetapi ia sudah mulai dapat mengatasai kebingungannya menghadapi ilmu yang aneh itu.

Karena itu, maka ia pun menyilangkan kakinya sambil menjatuhkan diri duduk di lantai. Namun tangannya sudah siap menghadapai segala kemungkinan yang bakal terjadi. Seperti lawannya, Sabungsari tidak mempergunakan senjata panjangnya. Tetapi ia mencabut kerisnya untuk melawan pisau belati Carang Waja.

Ketika Carang Waja meluncur menyerang, maka dengan tangkasnya Sabungsari bergeser. Demikian serangan lawannya meluncur tanpa menyentuhnya, maka dengan kecepatan yang luar biasa, Sabungsari telah mengayunkan kakinya mengejar lawannya, tanpa menghiraukan keseimbangannya.

Kecepatan yang tidak diperhitungkan itulah yang telah mengejutkan Carang Waja. Tiba-tiba saja terasa lambungnya dihantam oleh kaki lawannya. Demikian kerasnya, sehingga Carang Waja telah terlempar beberapa langkah. Hampir saja kepalanya membentur tiang pendapa. Untunglah, bahwa ia sempat menahan dirinya, sehingga benturan itu dapat dihindarkan.

Tetapi pada saat yang sama, Sabungsari pun telah terbanting jatuh. Rasa-rasanya ia telah kehilangan keseimbangannya di saat ia melontarkan serangannya. Meskipun serangan itu mengenai sasarannya, tetapi ia pun bagaikan terlempar pula dan jatuh di lantai.

Pada saat yang hampir bersamaan pula keduanya telah meloncat berdiri. Keduanyapun segera bersiap melancarkan serangan masing-masing.

Tetapi Carang Waja lebih cepat sekejap. Ia sempat menghentakkan kakinya dan sekali lagi mengguncang tanah tempat berpijak. Dan sekali lagi ia melihat lawannya menjatuhkan diri sambil menyilangkan kakinya, sementara kerisnya tegak di depan dadanya.

Carang Waja yang melihat ketangkasan lawannya tidak segera menyerangnya. Tetapi sekali lagi ia menghentakkan kakinya, sehingga guncangan bumi itu pun rasa-rasanya menjadi semakin dahsyat. Pendapa itu benar-benar bagaikan runtuh menimpa kepala Sabungsari.

Tetapi pendapa itu tidak runtuh. Pendapa itu tetap tegak seperti tidak bergetar sama sekali.

Tetapi Sabungsari tidak sempat berpikir lebih panjang. Carang Waja telah meluncur dengan pisau belatinya mengarah ke lehernya.

Dengan serta merta Sabungsari beringsut sambil merendahkan kepalanya hampir menyentuh lantai. Ia mulai menyadari, bahwa setelah serangan dilontarkan, maka guncangan tempatnya berpinjak menjadi susut.

Karena itu, maka sambil menjatuhkan diri hampir berbaring di lantai, Sabungsari telah siap melenting untuk mengejar lawannya dengan serangan.

Tetapi ternyata bahwa Carang Waja bergerak lebih cepat. Ujung pisau belatinya tidak seluruhnya dapat dihindari oleh lawannya. Ternyata bahwa Sabungsari telah berdesah menahan pedih yang telah menyengat pundaknya.

Seleret luka telah menyobek kulit di pundaknya, sehingga sejenak kemudian, maka darahpun mulai mengalir dari lukanya itu.

Terdengar Sabungsari menggeram. Ia sadar, bahwa lawannya memang orang yang luar biasa. Seorang yang sulit untuk diatasinya.

Ternyata bahwa luka itu telah memperlambat geraknya. Sebelum ia sempat bangkit dan bersiap sebaik-baiknya, Carang Waja telah menghentakkan kakinya sekali lagi, sehingga rasa-rasanya kepala Sabungsari menjadi pening karena gangguan keseimbangannya. Pendapa itu rasa-rasanya bukan saja berguncang, tetapi kemudian justru mulai berputar.

Tetapi justru karena itu, maka Sabungsari tidak berusaha bangkit berdiri. Ia masih tetap duduk bertelekan pada sikunya. Sementara tangannya yang lain telah siap dengan kerisnya untuk menghadapi kemungkinan yang lebih pahit, apabila Carang Waja menyerangnya dengan gerak pendek.

Tetapi perhitungan Carang Waja pun cukup cermat. Yang dilakukannya kemudian adalah meloncat sambil mengayunkan pisau belatinya mengarah ke dadanya.

Sabungsari tidak bergeser. Tetapi ia siap menghadapi serangan itu dan menyongsongnya dengan ujung kerisnya. Namun ternyata bahwa Carang Waja hanya sekedar meloncat mendekat. Ia tidak menusukkan pisau belatinya, karena ia pun tidak mau tergores oleh keris lawannya. Yang dilakukan kemudian adalah meloncat ke samping sambil menghentak sekali lagi dibarengi dengan teriakan yang nyaring.

Sabungsari benar-benar menjadi pening. Selagi ia bertahan agar isi dadanya tidak runtuh, ia melihat serangan lawannya menyambarnya sekali lagi. Dan sekali lagi ia terlambat. Ujung pisau belati itu telah mengenai punggungnya.

Sabungsari menjadi sangat marah. Ia sudah terluka di tubuhnya. Dan darah telah mulai mengalir. Namun ia tidak dapat ingkar akan kemampuan lawannya, sehingga ia tidak boleh membiarkan serangan-serangan demikian berlangsung terus atasnya.

Ketika kemudian Carang Waja menghentak bumi sekali lagi, maka Sabungsari pun meluncur turun dari tangga pendapa. Ia ingin bertempur di tempat yang lebih luas tanpa diganggu oleh tiang-tiang dan umpak-umpak batu. Namun, di saat ia meluncur turun ke halaman, Carang Waja masih sempat mengejarnya, dan melukainya sekali lagi di lambung meskipun hanya segores kecil.

Tetapi sebelum Sabungsari bersiap, maka tanah tempatnya berpijak telah terguncang lagi. Sekali lagi pisau lawannya telah melukai dadanya. Lebih parah dari luka-luka yang terdahulu.

Betapa kemarahan menghentak-hentak dada anak muda itu. Seolah-olah ia tidak mendapat kesempatan untuk mengadakan perlawanan. Sekilas ia melihat lawannya menyambar. Namun kemudian berdiri tegak di halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung.

Sementara itu, Sabungsari masih terkapar bersandar tangga pendapa. Luka-lukanya terasa pedih sepedih luka di hatinya.

Dalam pada itu, Swandaru yang masih bertempur melawan dua orang pengikut Carang Waja, sempat juga melihat keadaan Sabungsari. Seakan-akan tidak ada lagi kesempatan bagi Sabungsari untuk bangkit dan melindungi dirinya sendiri.

Karena itulah, maka ia harus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang bakal datang. Jika anak muda itu terbunuh, maka ia harus siap menggantikan tempatnya, apapun yang akan terjadi atasnya. Bahkan seakan-akan ia telah mengorbankan harga dirinya dengan memberikan kesempatan kepada anak muda itu untuk melawan Carang Waja, sehingga di luar niatnya, ia telah menjerumuskannya ke dalam maut.

Dengan demikian, maka Swandaru yang telah susut kekuatannya karena darahnya yang mengalir itu tidak lagi memperhitungkan dirinya yang sudah terluka. Tiba-tiba saja ia menghentakkan segenap kemampuannya, melampaui perhitungan nalarnya. Cambuknyapun tiba-tiba telah meledak dengan dahsyatnya, sehingga kedua lawannyapun terkejut karenanya. Dengan mengerahkan kekuatan yang ada, maka Swandaru berusaha untuk secepatnya mengalahkan lawannya dan mempersiapkan diri untuk melawan Carang Waja yang garang itu.

Ternyata bahwa kedua lawan Swandaru terkejut menghadapi perubahan yang tiba-tiba itu. Cambuk Swandaru yang berputar seperti angin pusaran tiba-tiba telah meledak seperti guntur, dan mematuk seperti ujung petir menyambar puncak pepohonan.

Ketika terdengar ledakkan yang dahsyat, maka seorang lawannya telah berdesah tertahan. Segores luka telah menyobek keningnya yang tersentuh ujung cambuk Swandaru yang berkarah rangkap.

Swandaru yang melihat darah meleleh di kening, berusaha untuk menekan lawannya lebih dahsyat lagi, sehingga ia melupakan keadaannya sendiri. Cambuknya meledak semakin dahsyat dan ujung cambuknya seolah-olah mempunyai mata yang tajam, sehingga kemana lawannya pergi, ujung cambuk itu telah mengejarnya.

Sekali lagi orang yang terluka di kening itu mengaduh. Pundaknyapun telah dikoyak oleh juntai cambuk Swandaru yang dahsyat itu.

Sementara itu, Pandan Wangi yang mendapat kedua lawan yang baru, telah dengan mantap menempatkan dirinya. Keduanya tidak banyak dapat berbuat sesuatu. Hentakan kaki Carang Waja tidak banyak mempengaruhi Pandan Wangi yang telah menjadi semakin jauh dari padanya.

Yang menjerit kemudian adalah lawan Sekar Mirah. Ketika Carang Waja memburu lawannya, turun dari pendapa, maka jarak dari padanyapun menjadi semakin jauh. Karena itulah, maka Sekar Mirah pun kemudian segera dapat mendesak lawannya.

Yang paling malang dari para pengikut Carang Waja adalah lawan Sekar Mirah. Ternyata bahwa tongkat baja Sekar Mirah mampu mematahkan senjata lawannya.

Dengan wajah yang pucat lawan Sekar Mirah itu pun kemudian harus menerima nasibnya yang buruk. Ayunan yang tidak terelakkan telah menghantam pelipisnya, sehingga seolah-olah kepalanya telah terlempar dari tubuhnya.

Namun, meskipun kepala itu masih tetap melekat dilehernya, tetapi retak di tulang kepalanya, telah menghempaskan orang itu ke dalam batas umurnya. Ketika ia menggeliat, maka terlepaslah nafasnya yang terakhir dari lubang hidungnya.

Sekar Mirah kemudian berdiri dengan garangnya. Dipandanginya tubuh yang terbaring diam itu dengan wajah yang tegang.

Sementara itu, Pandan Wangi masih bertempur melawan dua orang pengikut Carang Waja. Demikian juga Swandaru. Tetapi salah seorang lawan Swandaru telah menjadi semakin lemah, bahkan seolah-olah tidak lagi mampu berbuat sesuatu, meskipun ia masih tetap berdiri dengan senjata di tangan.

Sekar Mirah yang melihat kakaknya terluka, segera mendekatinya. Namun yang terdengar adalah Swandaru yang membentaknya, ”Jangan ganggu aku. Lihat, bagaimana dengan mbokayumu.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Baru kemudian ia berpaling. Dilihatnya Pandan Wangi masih bertempur melawan dua orang. Tetapi agaknya yang dua orang itu, tidak akan membahayakan keadaan Pandan Wangi.

Kehadiran lima orang prajurit Pajang itu benar-benar telah merubah keadaan. Perhitungan Carang Waja tentang kelima prajurit itu ternyata keliru. Lima orang prajurit itu tidak dapat dipatahkan seperti yang diperhitungkan. Apalagi salah seorang dari mereka, adalah anak muda yang siap melawannya, meskipun telah terluka parah.

Namun dalam pada itu, prajurit yang bertempur di luar regol halaman itu ternyata telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka. Ketahanan jasmaniah mereka semakin lama menjadi semakin susut. Jumlah lawan yang lebih banyak, memaksa mereka harus mengerahkan tenaga mereka berlebih-lebihan.

Carang Waja yang melihat lawannya terkapar bersandar tangga pendapa berdiri tegak dengan tangan bertolak pinggang. Pisau belatinya yang merah karena darah, digenggamnya erat-erat. Sesaat ia memandang lawannya. Kemudian dengan suara lantang ia berkata, ”Kau akan segera mati. Yang lainpun akan mati pula. Seorang pengikutku telah terbunuh. Itu berarti bahwa seisi Kademangan ini akan mati pula. Para pengawal di gardu-gardupun akan mati.”

Sabungsari masih bersandar tangga pendapa. Wajahnya yang merah karena marah menjadi bertambah tegang. Sementaraa matanya bagaikan menyala oleh gejolak hatinya. Namun, sikap Carang Waja itu adalah kesalahan yang besar yang telah dilakukannya di hadapan Sabungsari.

Beberapa saat lamanya Carang Waja masih berdiri tegak. Ia sudah siap menikmati kemenangannya yang pertama dengan membunuh anak muda yang mengenakan pakaian seorang prajurit dan telah berani menempatkan diri untuk melawannya.

Carang Waja masih berdiri tegak dengan bertolak pinggang. Terdengar kemudian suara tertawanya, ”Ayo anak muda yang mendendam. Bangkitlah. Kita masih akan bertempur satu dua langkah lagi sebelum kau mati.”

Tetapi Sabungsari sudah tidak berusaha untuk bangkit lagi. Ia masih terkapar bersandar tangga pendapa. Sementara Carang Waja tertawa berkepanjangan.

“Baiklah,” berkata Carang Waja kemudian, ”jika kau tidak lagi dapat bangkit karena putus asa, aku akan segera mengakhiri hidupmu. Pisauku akan menusuk dadamu langsung ke arah jantung, karena kau sudah pasrah sehingga menumbuhkan belas kasihanku kepadamu. Dengan demikian, aku akan menolongmu untuk cepat mati tanpa merasakan siksaan kesakitan.”

Carang Waja kemudian mempersiapkan diri untuk sekali lagi menghentakkan kakinya, membuat lawannya kehilangan keseimbangan. Kemudian meloncat membenamkan pisau belatinya.

Namun di luar sadarnya, pada saat itu Carang Waja seolah-olah telah memberikan kesempatan yang cukup kepada Sabungsari untuk mempersiapkan ilmunya. Tanpa bergeser sejengkalpun ia telah mempersiapkan diri, memusatkan kemampuan ilmunya yang dapat terpancar dari matanya.

Karena itu, maka pada saat yang bersamaan kedua orang itu telah bersiap untuk melepaskan ilmu puncak masing-masing. Carang Waja dengan ilmunya yang seolah-olah mampu mengguncang bumi, sedangkan Sabungsari telah siap melontarkan ilmunya lewat sorot matanya.

Tepat pada waktunya, ketika Carang Waja mulai menggerakkan kakinya untuk menghentak tanah tempat ia berpijak, Sabungsari yang seolah-olah tidak bergerak, dan masih terkapar bersandar tangga pendapa itu, telah melepaskan ilmunya lewat sorot matanya, yang menghantam tubuh lawannya.

Ketika Carang Waja berteriak sambil menghentak bumi, maka suara teriakannya tiba-tiba saja telah melengking tinggi. Sementara hentakan kakinya masih juga terasa oleh Sabungsari, dirinya bagaikan diguncang. Namun Sabungsari tidak melepaskan tatapan matanya yang seolah-olah mencengkam dada Carang Waja.

Terasa dada Carang Waja bagaikan tertimpa sebuah bukit batu. Jantungnya bagaikan diremas hancur, sementara pernafasannya bagaikan telah tersumbat.

Dengan gerak naluriah, Carang Waja telah meloncat dan membanting tubuhnya di tanah sambil melepaskan ilmunya menghentak tempat ia berpijak. Sekali lagi Sabungsari terguncang. Sehingga ia seolah-olah telah terlepas dari sandarannya.

Sabungsari yang berusaha untuk tetap mencengkam lawannya dengan ilmunya telah kehilangan sesaat. Pada saat Carang Waja menjatuhkan dirinya sambil mengguncang lawannya, maka Carang Waja telah terlepas beberapa kejap.

Namun yang beberapa kejap itu seolah-olah telah menunjukkan kepadanya,bahwa himpitan pada dadanya itu adalah karena lontaran ilmu lewat sorot mata lawannya.

Karena itu, maka dengan tenaga yang ada padanya, Carang Waja pun kemudian melenting berdiri. Ia sadar, bahwa lawannya akan mencengkamnya sekali lagi. Namun pada saat itu, ia masih sempat menghentakkan kakinya untuk mengelabui keseimbangan Sabungsari yang masih tetap saja di tempatnya.

Ketika terasa himpitan di dadanya mengendor, karena Sabungsari sedang berusaha mempertahankan keseimbangannya. Carang Waja dengan serta merta telah melontarkan pisau di tangannya.

Sabungsari terkejut. Di luar sadarnya ia telah memperhatikan pisau yang meluncur cepat. Namun ia tidak sempat mengelak, karena ia tidak menduga sama sekali, bahwa serangan itu akan datang meluncur seperti anak panah. Apalagi ia sedang berusaha untuk mempertahankan keseimbangannya.

Ketika ia berusaha bergeser setapak, maka pisau itu telah menancap di dadanya. Untunglah, bahwa ia sempat berkisar, sehingga pisau itu tidak menghunjam di jantungnya.

Sabungsari bagaikan dibakar oleh dendam dan kemarahan tiada taranya. Dengan sisa tenaga yang ada, maka ia pun kemudian menghempaskan segenap ilmunya menghantam lawannya. Diremasnya dada lawannya sehingga terdengar tulang-tulang iganya menjadi retak.

Carang Waja berteriak tertahan. Tetapi ia tidak dapat melepaskan diri lagi dari cengkaman sorot mata Sabungsari. Anak muda itu sama sekali tidak menghiraukan lagi, ketika dirinya seolah-olah berguncang. Tetapi karena kemampuan tenaga lawan yang jauh susut oleh cengkaman ilmu Sabungsari, maka goncangan itu tidak banyak lagi berarti.

Sabungsari benar-benar tidak mau melepaskan lawannya. Ketika Carang Waja kemudian menggeliat dan menjatuhkan dirinya di tanah sambil berguling-guling, Sabungsari berusaha dengan tenaga yang tersisa untuk tetap mencengkam lawannya dengan sorot matanya.

Akhirnya Carang Waja sulit untuk berhasil melepaskan diri dari ilmu lawannya. Meskipun ia mencoba mengerahkan ilmunya, ia tetap merasa bahwa dadanya bagaikan dihimpit oleh sebuah bukit batu.

Namun demikian, Carang Waja masih berusaha untuk melepaskan diri dengan berguling dan melenting. Sekali-sekali ia terlempar keluar dari cengkaman ilmu Sabungsari. Namun sejenak kemudian, ilmu itu telah mencengkamnya kembali.

Meskipun demikian, Sabungsari menjadi cemas juga. Ia sadar bahwa Carang Waja sedang berusaha menjauhinya, dan kemudian berlindung di balik arena pertempuran yang lain, atau di balik gerumbul dan pepohonan.

Sabungsari tidak mau kehilangan lawannya. Dengan sekuat tenaga yang tersisa, sambil mencengkam lawannya dengan ilmunya, maka ia pun bangkit perlahan-lahan dengan tubuh gemetar.

Luka Sabungsari di tubuhnya adalah luka yang parah. Tetapi didorong oleh kemarahan yang tiada taranya, ia masih dapat melangkah maju mendekati Carang Waja yang sedang berusaha melepaskan diri dari padanya.

Tetapi Carang Waja sudah tidak mempunyai harapan lagi. Rasa-rasanya isi dadanya telah diremukkan oleh kekuatan sorot mata Sabungsari yang mempunyai sentuhan wadag itu.

Beberapa langkah ia masih dapat beringsut. Namun ternyata bahwa prajurit muda itu melangkah terhuyung-huyung mendekatinya. Dengan demikian maka kekuatan sorot matanya terasa semakin keras menghimpit tubuhnya.

Tetapi tiba-tiba terasa sesuatu yang mengejutkan Carang Waja. Ketika langkah Sabungsari menjadi semakin dekat, maka cengkaman ilmu anak muda itu justru terasa semakin kendor.

Dengan demikian, maka tiba-tiba saja telah melonjak kembali harapan di hati Carang Waja. Meskipun ilmu itu masih terasa menggenggam dadanya, tetapi Carang Waja sempat melihat Sabungsari tidak lagi dapat berdiri dengan mantap. Bahkan kemudian ilmu itu perlahan-lahan seakan-akan telah melepaskannya.

Selangkah di hadapannya Sabungsari berdiri. Wajahnya nampak pucat pasi. Darahnya mengalir dari lukanya tanpa terkendali lagi. Karena itulah, maka Sabungsari menjadi semakin lemah. Ia tidak lagi mampu memusatkan ilmunya untuk tetap mencengkam lawannya. Bahkan kepalanya terasa semakin lama semakin pening, sementara matanya, pintu pancaran ilmunya yang khusus itu, menjadi semakin kabur.

Pada saat itu, melonjak harapan di hati Carang Waja. Ia sadar bahwa lawannya tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Ia tentu akan segera pingsan dan barangkali mati. Dengan demikian, betapa luka parah di dalam dadanya terasa pedih, namun ia akan dapat melepaskan diri dari himpitan yang tidak terlawan. Ia akan mendapat waktu untuk sekedar beristirahat, mengatur pernafasannya dan kemudian seperti yang pernah terjadi, melarikan diri.

Yang terjadi itu bagi Carang Waja, bagaikan sebuah peristiwa yang terulang kembali, saat ia melawan Agung Sedayu yang memiliki kemampuan tidak terlawan olehnya. Dan kini prajurit muda itu telah bertempur dengan ilmu yang mirip dengan ilmu yang dimiliki Agung Sedayu, meskipun sumbernya dapat berbeda.

Carang Waja tidak menghiraukan lagi kawan-kawannya yang sedang bertempur dengan sengitnya. Ia berharap bahwa mereka pun akan dapat menyelesaikan pertempuran itu sebaik-baiknya. Prajurit-prajurit di regol itu akan mati. Prajurit muda yang melawannya itu pun akan mati. Dan yang lain-lainpun akan terbunuh pula.

Pada saat itu, Carang Waja benar-benar merasa telah terlepas dari cengkaman ilmu lawannya. Betapapun dadanya terasa telah hancur, tetapi ia sempat melihat Sabungsari terhuyung-huyung selangkah di hadapannya.

Namun yang tidak diperhitungkannya adalah kesadaran terakhir yang mendorong gejolak perasaan Sabungsari. Dendamnya yang membara serta kemarahan yang tidak terkendali, telah memaksanya untuk selangkah lagi maju untuk menyelesaikan pertempuran itu.

Tetapi ia tidak lagi mampu memeras ilmunya dan menghimpit lawannya dengan sorot matanya. Ia tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk mendorong ilmunya yang dahsyat itu, seperti juga Carang Waja sudah tidak mampu lagi menghentak tanah tempatnya berpijak.

Namun Sabungsari tidak mau gagal di saat terakhir.

Itulah sebabnya, maka Sabungsari memaksa diri dengan kekuatannya yang terakhir untuk melangkah maju. Ia tidak lagi mempergunakan sorot matanya untuk menghadiri pertempuran. Tetapi dengan kekuatan yang tersisa, dihentakannya tangannya untuk menghunjamkan keris di tangannya.

Carang Waja melihat keris itu terayun. Bahkan kemudian tubuh Sabungsari itu roboh menimpanya. Tetapi ia tidak mampu beringsut sama sekali. Karena itu, maka ia hanya dapat berdesah perlahan ketika tubuh prajurit muda itu jatuh pada tubuhnya yang terkapar. Carang Waja masih sempat merasa sebuah tusukan keris menghunjam di dadanya. Oleh tekanan berat badan lawannya, maka keris yang tepat di arah jantungnya itu telah menembus tubuhnya dan merobek dinding jantungnya itu.

Carang Waja tidak sempat mengaduh. Tarikan nafasnya yang berat telah mengakhiri hidupnya di ujung keris Sabungsari, seorang prajurit muda yang hatinya telah dibakar oleh dendam. Yang ternyata dendam itu telah membakar Carang Waja.

 

 

Pada saat yang bersamaan, maka Swandaru pun telah menghentakkan kekuatannya yang terakhir. Ia pun telah memaksa diri, bertempur melampaui ketahanan tubuhnya, sehingga demikian lawannya yang terakhir dilumpuhkannya, ia pun telah terduduk dengan lemahnya di tangga pendapa.

Dalam pada itu, para pengikut Carang Waja tidak mempunyai pilihan lain kecuali menghindarkan diri. Mereka yang masih mempunyai kekuatan untuk melarikan diri, segera melarikan diri tanpa menghiraukan kawan-kawannya yang lain. Mereka telah berusaha mencari keselamatan masing-masing.

Demikianlah, maka pertempuran di halaman Kademangan Sangkal Putung itu pun berakhir. Beberapa sosok mayat tergolek di halaman, termasuk Carang Waja. Dua orang dari Pesisir Endut terluka parah. Sementara Swandaru sendiri menjadi lemas oleh darahnya yang terlalu banyak mengalir. Sementara Sabungsari masih terbujur diam di atas tubuh Carang Waja. Sedangkan yang lain masih sempat melarikan diri menghindari para prajurit dan orang-orang Sangkal Putung.

Pandan Wangi yang tidak mengejar lawannya, dengan tergesa-gesa berlari mendekati suaminya. Sekar Mirah pun telah mengikutinya dan bersama-sama berjongkok di sampingnya. Sementara para prajurit yang lain telah berlari-larian mendekati Sabungsari. Mengangkat tubuhnya dan membaringkannya menelentang.

”Pisau itu,” desis salah seorang prajurit.

Perwira yang memimpin para prajurit itu pun kemudian berdesis, ”Aku akan mencabutnya. Aku membawa obat yang dapat menolongnya untuk sementara jika ia memang masih mungkin hidup.”

Dalam pada itu, Swandaru yang menjadi sangat lemah masih sempat melihat para prajurit yang sibuk merawat Sabungsari, sementara itu Pandan Wangi dan Sekar Mirah mencemaskannya.

“Aku tidak apa-apa,” berkata Swandaru, “bagaimana dengan prajurit itu?”

Pandan Wangi yang mencemaskan keadaan Swandaru menyahut, ”Prajurit yang lain telah berusaha menolongnya. Tetapi bagaimana keadaanmu sendiri. Lukamu masih berdarah.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam.

“Marilah,” berkata Pandan Wangi, ”aku akan mengobati luka-lukamu lebih dahulu.”

Swandaru tidak membantah ketika kemudian Pandan Wangi dan Sekar Mirah menolongnya, memapahnya masuk ke ruang dalam, dan membaringkannya di sebuah amben yang besar.

Ketika Pandan Wangi dan Sekar Mirah merawatnya, Swandaru sempat menilai dirinya sendiri. Ketika perasaannya bergejolak karena Carang Waja terbunuh oleh prajurit Pajang yang datang itu, maka ia pun mencoba untuk menekannya. Meskipun ada juga singgungan pada perasaannya, bahwa orang lainlah yang telah membunuh orang itu, namun ternyata bahwa orang itu pun berada dalam keadaan yang parah.

Sementara itu, para prajurit telah mengangkat tubuh Sabungsari ke pendapa. Dengan hati-hati perwira yang memimpin kelima orang prajurit itu pun mencabut pisau yang masih tertancap di dada Sabungsari yang pingsan. Kemudian menaburkan obat yang dibawanya untuk menolong luka-luka itu sebelum mendapat perawatan yang lebih baik.

Ketika para prajurit masih dengan tegang menunggui Sabungsari yang pingsan, Swandaru dengan langkah yang belum mantap, telah keluar pula ke pendapa dengan dibantu oleh Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Oleh obat yang ditaburkan di luka-lukanya, maka darahnya telah menjadi hampir pampat. Sehingga karena itulah, maka ketika ia sudah berada di pendapa, maka ia pun segera duduk bersandar tiang dan membatasi geraknya, agar darahnya tidak menjadi deras lagi.

“Bagaimana keadaannya?” bertanya Swandaru dengan nada datar.

“Parah sekali,” jawab perwira yang memimpin kelompok prajurit peronda itu, ”darahnya terlalu banyak mengalir. Tetapi mudah-mudahan ia tertolong.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mengalami bertempur melawan Carang Waja, meskipun orang itu kemudian meninggalkannya. Ia harus mengakui bahwa Carang Waja adalah orang yang luar biasa.

Meskipun demikian, Swandaru itu berkata di dalam hatinya, ”Seandainya ia tetap melawanku, aku pun akan membunuhnya pula, meskipun mungkin aku akan menjadi lebih parah dari luka-lukaku ini.”

Sementara itu, para prajurit itu masih dicengkam oleh ketegangan. Obat yang ditaburkan oleh perwira itu memang dapat menolong serba sedikit. Darah yang mengalirpun menjadi jauh berkurang.

Tiba-tiba saja hampir di luar sadarnya, Swandaru berkata, ”Apakah kalian bersedia menyampaikan hal ini kepada Kiai Gringsing? Mudah-mudahan ia sempat menolong prajurit yang terluka itu.”

“Kiai Gringsing,” perwira itu bergumam.

“Ya. Kiai Gringsing di padepokan kecil itu,” desis Swandaru.

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, ”Apakah Kiai Gringsing mampu mengobatinya?”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi ia adalah seorang yang memiliki pengetahuan tentang obat-obatan. Kakang Untara mengetahui hal itu dengan pasti, karena ia pernah ditolong pula oleh Kiai Gringsing ketika ia terluka senjata.”

Perwira itu memandang ketiga prajuritnya yang lain. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian katanya, ”Marilah. Seorang dari kalian akan pergi bersamaku. Dua orang lainnya akan menjaga Sabungsari. Carilah air dan titikkan di bibirnya yang kering agar ia mendapat sekedar kesegaran.”

“Marilah,” berkata Sekar Mirah. Lalu, ”Aku akan mencari mangkuk di ruang belakang.”

Seorang dari prajurit itu pun mengikutinya, sementara perwira itu pun kemudian minta diri bersama seorang prajuritnya yang lain untuk pergi ke Jati Anom. Melaporkan keadaannya dan singgah di padepokan Kiai Gringsing.

Sepeninggal perwira itu, maka prajurit yang mengambil semangkuk air di belakang, telah menitikkan air di bibir Sabungsari. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia melihat bibir itu bergerak. Tetapi nampaknya Sabungsari masih tetap belum sadarkan diri.

Meskipun demikian, agaknya obat yang ditaburkan di luka-lukanya telah berhasil mengurangi arus darah yang mengalir. Bahkan semakin lama menjadi semakin pampat, sehingga prajurit-prajurit yang menungguinya itu telah berpengharapan, bahwa kawannya itu masih akan dapat ditolong jiwanya.

Dalam pada itu, Sekar Mirah telah mendekati pintu bilik ayahnya dan mengetuknya keras-keras. Agaknya pengaruh sirep telah lampau. Ketukan itu ternyata telah didengar oleh ayahnya dan bangun dengan gugup.

“Ada apa Sekar Mirah?” ia bertanya.

“Pergilah ke pendapa, Ayah,” desis Sekar Mirah.

Dengan mengusap matanya, Ki Demang pun berjalan tertatih-tatih ke pendapa oleh kantuk yang masih saja seolah-olah melekat di matanya.

Demikian ia keluar dari pintu ruang dalam, hatinya melonjak. Ia melihat seorang prajurit terbaring diam ditunggui oleh dua orang kawannya, sementara Swandaru duduk bersandar tiang tanpa bergerak.

“Apa yang telah terjadi?” ia bertanya.

“Silahkan Ayah,” berkata Sekar Mirah.

Ki Demang pun dengan wajah yang tegang, duduk di pendapa, di samping Swandaru yang lemah.

“Ceritakan peristiwa ini kepada Ayah, Sekar Mirah,” minta Swandaru.

Dengan singkat Sekar Mirah menceritakan apa yang telah terjadi. Sambil menunjuk ke halaman ia berkata, ”Ada beberapa sosok mayat di halaman. Dan mungkin di antara mereka masih ada yang hidup. Tetapi kami tidak sempat berbuat apa-apa, karena Kakang Swandaru terluka dan prajurit itu pun parah sekali.”

Ki Demang memandang berkeliling dengan tatapan mata yang tegang. Dilihatnya dua orang prajurit yang menunggui kawannya yang terbaring diam. Swandaru pun duduk bersandar dengan pakaian yang masih dikotori dengan darahnya sendiri.

“Aku akan memanggil para pengawal,” berkata Ki Demang, ”he, kenapa kalian tidak membunyikan kentongan?”

“Kentongan itu telah pecah,” sahut Sekar Mirah.

“Kenapa?” bertanya KiDemang.

“Aku memukulnya terlalu keras dengan tongkatku,” jawab Sekar Mirah.

“Jadi kau sudah membunyikan kentongan itu?” bertanya Ki Demang.

“Sampai pecah,” jawab Sekar Mirah pula.

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun bergumam, ”Agaknya ada pengaruh sirep seperti yang pernah terjadi.”

“Ya. Ada pengaruh sirep. Dan agaknya para pengawalpun sekarang masih belum bangun,” berkata Sekar Mirah pula.

Ki Demang mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Aku akan membangunkan mereka. Jika orang-orang yang terusir itu menjadi gila, maka mereka akan dapat membunuh orang-orang yang sedang tidur nyenyak itu.”

Dada Sekar Mirah tersirap. Hal itu memang mungkin sekali terjadi. Sehingga karena itu, maka ia pun dengan serta merta menyahut, ”Ayah benar. Marilah Ayah. Kita akan membangunkan mereka.”

Ki Demang pun kemudian berkemas. Sambil menjinjing pedang, ia pun kemudian turun diikuti oleh Sekar Mirah. Di tangga ia berhenti sambil berkata, ”Jaga suamimu baik-baik Pandan Wangi. Kita masih harus berhati-hati.”

“Ya Ayah. Kedua prajurit itu akan menemani kami.”

Ki Demang pun segera turun diikuti oleh Sekar Mirah. Mereka menjadi berdebar-debar ketika mereka berdiri di gardu di depan regol. Ternyata mereka melihat tubuh yang terbujur lintang di dalamnya.

“Apakah mereka sudah mati?” desis Sekar Mirah.

Namun Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia meraba dada salah seorang dari mereka, tangannya masih merasakan tarikan nafas orang itu.

“Mereka hanya tertidur,” desis Ki Demang, ”aku akan membangunkan mereka.”

Sekar Mirah berdiri beberapa langkah di belakang Ki Demang. Bagaimanapun juga ia masih harus tetap berhati-hati, karena mungkin masih ada di antara lawan yang bersembunyi di antara semak-semak.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Demang, ternyata para pengawal itu hanyalah tertidur demikian nyenyaknya karena pengaruh sirep, sehingga mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi.

Mereka terkejut ketika Ki Demang mengguncang tubuh mereka dan menyebut seorang demi seorang.

“Bangun. Lihat apa yang terjadi di halaman Kademangan,” berkata Ki Demang.

“Apa yang telah terjadi Ki Demang?”

“Lihatlah sendiri. Kau akan dapat membayangkan, apakah kira-kira yang telah terjadi di halaman Kademangan,” jawab Ki Demang.

Para pengawal itu menjadi termangu-mangu. Namun kemudian Sekar Mirah berkata, ”Jangan bingung. Bangunlah dan pergilah ke gardu-gardu. Bangunkan kawan-kawanmu yang sedang tidur. Kemudian sebagian dari kalian pergi ke halaman Kademangan, karena ada tugas yang harus kalian lakukan.”

“Jangan lupa singgah di rumah Ki Jagabaya. Katakan, bahwa telah terjadi sesuatu di Kademangan,” pesan Ki Demang kemudian.

Beberapa orang pengawal yang telah terbangun itu pun segera berpencar. Mereka dengan tergesa-gesa membangunkan kawan-kawan mereka yang tertidur di gardu-gardu dan mengajak sebagian dari mereka ke halaman Kademangan.

“Yang lain, berhati-hatilah menghadapi kemungkinan yang masih dapat terjadi,” pesan para pengawal yang akan pergi ke halaman Kademangan.

Sementara itu, yang pergi ke rumah Ki Jagabaya pun segera mengetuk pintu. Ketika pintu terbuka, mereka melihat Ki Jagabaya berdiri sambil menjinjing pedangnya.

“Ada apa?” ia bertanya, ”kalian membuat aku terkejut.”

“Ki Demang memanggil Ki Jagabaya. Sesuatu telah terjadi di halaman Kademangan.”

“Apa yang telah terjadi?”

“Kami tidak begitu jelas. Tetapi nampaknya cukup gawat.”

“Siapa yang menyuruh kau kemari?”

“Ki Demang sendiri.”

Ki Jagabaya menjadi termangu-mangu. Dengan kening yang berkerut merut ia bertanya, ”Apakah tidak ada tanda bahaya?”

“Tidak. Ki Demang tidak memerintahkannya.”

Ki Jagabaya pun kemudian minta diri kepada keluarganya. Dengan tergesa-gesa bersama beberapa orang pengawal, ia pun pergi ke halaman Kademangan.

Betapa terkejut Ki Jagabaya melihat peristiwa yang telah terjadi. Di pendapa, seorang prajurit terluka parah, sementara Swandaru yang terlukapun masih duduk bersandar tiang. Ia masih belum berani banyak bergerak dan berbicara. Ia masih berusaha untuk memampatkan luka-lukanya sama sekali.

“Sebaiknya kau tidur saja di pembaringan,” berkata Ki Jagabaya kepada Swandaru.

“Tidak mau, Paman,” jawab Pandan Wangi, ”aku, Sekar Mirah dan Ayah sudah menasehatkan agar Kakang Swandaru berbaring saja di pembaringan. Tetapi ia merasa wajib untuk berada di pendapa dalam keadaan yang gawat seperti ini.”

“Serahkan semuanya kepada ayahmu,” berkata Ki Jagabaya.

Swandaru menggeleng. Jawabnya, ”Lukaku tidak terlalu parah. Prajurit itulah yang sangat parah. Sementara biarlah para pengawal melihat tubuh yang terbaring di halaman. Apakah ada di antara mereka yang masih hidup.”

Dalam pada itu, para pengawalpun mulai melakukan tugasnya. Mereka mulai meneliti tubuh-tubuh yang terbujur diam di tanah.

Mereka kemudian menemukan dua orang di antara orang-orang Pasisir Endut yang masih hidup. Mereka mengangkat kedua orang itu ke pendapa dan membaringkannya terpisah dari Sabungsari.

“Mereka masih hidup,” berkata seorang pengawal.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali membiarkan kedua orang itu dibaringkan di pendapa. Ia tidak dapat mengingkari kewajiban, bahwa betapapun kemarahan membakar hati, tetapi adalah menjadi kewajiban untuk merawat orang-orang yang terluka di peperangan, meskipun mereka adalah musuh sekalipun.

Para prajuritpun agaknya berpegang juga pada keharusan itu, sehingga mereka justru mengangguk-angguk ketika Swandaru di luar sadarnya memandangi para prajurit yang menunggui Sabungsari yang terluka. Sementara para pengawal yang lainpun, telah memisahkan mereka yang terbunuh di peperangan untuk diselenggarakan sebagaimana seharusnya.

Dalam pada itu, maka perwira prajurit Pajang yang sedang meronda itu pun berpacu menuju ke Jati Anom. Jarak antara Jati Anom dan Sangkal Putung memang tidak terlalu jauh, tetapi juga tidak terlalu dekat. Mereka memerlukan waktu untuk mencapai Kademangan Jati Anom.

Kedua prajurit itu tidak peduli sama sekali ketika langit menjadi merah dan kemudian matahari mulai menjenguk dari balik batas pandangan. Mereka tidak menghiraukan orang-orang yang berpapasan di sepanjang jalan, memandang mereka dengan heran dan cemas. Orang-orang yang pergi ke pasar itu pun menjadi berdebar-debar pula melihat dua orang prajurit berpacu seperti angin.

Dua malam prajurit itu meronda. Namun jarak ke Jati Anom telah mereka tempuh kembali dalam waktu yang jauh lebih dekat. Mereka telah memilih jalan yang paling pendek. Dan mereka pun berpacu secepat dapat mereka lakukan.

Ketika mereka memasuki Kademangan Jati Anom, maka orang-orang Jati Anompun terkejut pula. Prajurit yang berjaga-jaga di regol rumah Untara terkejut pula. Apalagi karena kedua orang prajurit itu hanya mengangguk saja ketika mereka melintas.

Di halaman keduanya meloncat turun. Menyerahkan kudanya kepada seorang pekatik yang menyongsongnya.

Untara pun terkejut ketika seorang prajurit memberitahukan kehadiran perwira yang sedang bertugas itu bersama seorang prajuritnya. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia pun telah menerimanya.

“Laporkan,” perintah Untara dengan singkat.

Perwira itu pun kemudian melaporkan peristiwa yang telah terjadi di Kademangan Sangkal Putung. Melaporkan keadaan Sabungsari dan Swandaru yang terluka parah.

“Sabungsari masih hidup,” katanya kemudian, ”tetapi keadaannya sangat gawat. Aku sudah mengobatinya untuk sementara. Sedangkan Swandaru minta agar aku singgah di padepokan gurunya.”

“Di sini ada seorang yang ahli dalam pengobatan,” berkata Untara, ”bawa orang itu agar ia mengobati prajurit muda yang terluka itu.”

“Bagaimana dengan Kiai Gringsing?” bertanya perwira itu.

“Kenapa harus Kiai Gringsing?” Untara ganti bertanya.

Perwira itu menjadi bingung. Ia sadar, bahwa dalam lingkungan keprajuritan memang sudah ada seorang yang ahli di dalam soal obat-obatan. Tetapi ia pun menerima pesan Swandaru agar ia singgah di padepokan Kiai Gringsing untuk minta orang tua itu datang ke Sangkal Putung.

Karena itu, hampir di luar sadarnya, perwira itu pun menjawab, ”Menurut Swandaru, Ki Untara mengetahui dengan pasti, bahwa Kiai Gringsing memiliki ilmu pengobatan yang tinggi, karena Ki Untara sendiri pernah dirawatnya ketika Ki Untara terluka senjata.”

Untara mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat ingkar, bahwa Kiai Gringsing adalah seorang yang memiliki ilmu pengobatan yang lebih baik dari seorang perwiranya yang bertugas di bidang pengobatan. Ia mengerti Kiai Gringsing yang dahulu mempunyai hubungan khusus dengan ayahnya, adalah orang yang aneh, yang menyembunyikannya pada saat ia terluka, karena ia harus bertempur melawan Alap-alap Jalatunda dan sekaligus Pande Besi dari Sandang Gabus bersama beberapa orang kawannya.

Perwira yang menyampaikan hal itu, menjadi berdebar-debar. Ia melihat teka-teki di wajah Untara. Apakah ia dapat menerima pesan Swandaru, atau ia justru menjadi marah karenanya.

Namun akhirnya perwira itu menarik nafas dalam-dalam ketika Untara berkata, ”Baiklah. Pergilah secepatnya kepada Kiai Gringsing, dan beritahukan apa yang terjadi. Muridnya itu tentu merasa lebih baik diobati oleh gurunya sendiri.”

“Bagaimana dengan Sabungsari?” bertanya perwira itu.

“Percayakan juga ia kepada Kiai Gringsing,” jawab Untara.

Perwira itu mengangguk sambil berkata, “Baiklah. Aku mohon diri untuk melaksanakan tugas ini.”

“Makan sajalah dahulu,” seorang kawannya memperingatkan ketika ia siap untuk berangkat.

Tetapi perwira itu menggeleng. Jawabnya, “Mereka yang terluka memerlukan pertolongan secepatnya.”

“Tetapi kau tentu perlu beristirahat pula.”

“Nanti aku akan beristirahat sehari semalam setelah tugas ini selesai.”

Perwira itu pun kemudian melanjutkan perjalanan ke padepokan kecil di sebelah Jati Anom bersama seorang prajurit yang menyertainya dari Sangkal Putung.

Kedatangan prajurit itu di padepokan Kiai Gringsing, membuat seisi padepokan itu terkejut. Dengan tergesa-gesa mereka mempersilahkan mereka duduk di pendapa. Dengan wajah tegang, Kiai Gringsing pun segera bertanya, apakah yang telah terjadi.

Dengan singkat perwira itu menceritakan peristiwa yang telah terjadi di Sangkal Putung. Tentang Swandaru yang terluka dan Sabungsari yang parah.

Wajah-wajah yang mendengar peristiwa itu pun menjadi tegang. Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Glagah Putih menjadi berdebar-debar. Dengan nada dalam Kiai Gringsing bertanya, ”Bagaimana keadaan mereka saat Ki Sanak meninggalkan Sangkal Putung?”

“Sabungsari dalam keadaan gawat, Kiai. Sementara Swandaru atas usahanya, dapat memampatkan luka-lukanya dengan sejenis obat-obatan,” jawab perwira itu.

“Apakah obat itu tidak dipergunakan juga untuk Angger Sabungsari?” bertanya Kiai Gringsing.

“Sabungsari mempergunakan obat yang kami bawa sebagai bekal. Dan agaknya dapat juga sedikit menolong untuk sementara,” berkata perwira itu. Kemudian, ”Atas saran Swandaru dan atas persetujuan Ki Untara, kami mohon Kiai bersedia datang ke Sangkal Putung.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Jawabnya, ”Baik. Baik. Aku akan bersiap-siap.”

Ketika Kiai Gringsing dengan tergesa-gesa berdiri untuk bersiap, maka Agung Sedayu pun berkata, ”Aku ikut, Guru.”

Kiai Gringsing berpikir sejenak. Lalu, “Baiklah. Marilah kita pergi bersama-sama.”

Tetapi mereka tidak akan dapat meninggalkan Glagah Putih. Karena itu, sebelum Glagah Putih bertanya. Kiai Gringsing sudah mendahuluinya berkata, ”Bersiaplah. Kau akan ikut pula.”

“Tetapi, bukankah Paman akan datang kemari?” bertanya Agung Sedayu kepada Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya kepada Glagah Putih, ”Apa kata ayahmu? Kapan ia akan datang?”

“Ayah akan datang kapan saja,” jawab Glagah Putih.

“Biarlah salah seorang pergi ke Banyu Asri mengabarkan kepergian Glagah Putih. Adalah lebih baik bahwa pada saat-saat padepokan ini kosong ayahnya berada disini. Tetapi ia tidak kecewa karena ia sudah mengetahui bahwa Glagah Putih tidak ada di padepokan,” berkata Kiai Gringsing.

Agung Sedayu pun kemudian bangkit pula. Ia langsung pergi ke belakang untuk mempersiapkan kuda dan berpesan kepada salah seorang anak muda yang tinggal di padepokan itu untuk pergi ke Banyu Asri.

Sejenak kemudian maka semuanya telah siap. Dengan membawa kuda-kudanya ke halaman, Kiai Gringsing pun kemudian mempersilahkan kedua prajurit itu untuk pergi bersamanya ke Sangkal Putung.

“Maaf, aku mengusir Ki Sanak berdua dari padepokan ini,” berkata Kiai Gringsing.

“Justru itulah yang paling baik dalam keadaan seperti ini, Kiai,” jawab perwira itu.

Sejenak kemudian, maka kedua prajurit itu pun telah berpacu ke Sangkal Putung diikuti oleh Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Glagah Putih. Di sepanjang jalan mereka hampir tidak bercakap-cakap sama sekali, karena pikiran mereka sedang dicengkam oleh peristiwa yang telah terjadi di Sangkal Putung.

Dalam pada itu, dengan gelisah, para prajurit yang menunggui Sabungsari menunggu kawan-kawannya yang pergi ke Jati Anom. Sudah cukup lama mereka menunggu. Sekali-sekali mereka menitikkan air ke bibir Sabungsari. Namun Sabungsari masih saja pingsan meskipun bibirnya kadang-kadang sudah mulai bergerak.

Tetapi mereka sedikit tenang karena obat yang mereka taburkan pada luka-luka Sabungsari berhasil mengurangi, bahkan hampir memampatkan darah dari luka-lukanya.

Swandaru yang masih duduk bersandar tiang, menjadi gelisah pula. Ia sendiri mengalami luka-luka. Tetapi lukanya tidak separah Sabungsari. Prajurit yang telah berhasil membunuh Carang Waja itu.

Ketika Swandaru minum seteguk air hangat, maka terasa tubuhnya menjadi lebih segar, meskipun ia masih juga merasa sangat lemah. Namun demikian, ia selalu menolak jika seseorang mempersilakannya untuk berbaring saja di pembaringannya.

Para prajurit itu tersentak ketika mereka melihat Sabungsari membuka matanya perlahan-lahan. Dengan penuh harapan mereka beringsut mendekat. Namun mata itu pun kemudian tertutup kembali.

Kedua prajurit yang menungguinya menjadi semakin gelisah. Ketika mereka melihat bibir Sabungsari bergerak, mereka telah menitikkan air beberapa tetes ke bibir yang kering itu.

Sekar Mirah yang kemudian mendekatinya pula berdesis, ”Air itu akan memberinya kesegaran. Tetapi jangan terlalu banyak.”

Kedua prajurit itu mengangguk. Salah seorang dari mereka berdesis, ”Mudah-mudahan kedatangan Kiai Gringsing tidak terlambat.”

Sementara para prajurit dan mereka yang berada di pendapa itu menjadi gelisah, Ki Demang dan Ki Jagabaya telah mengatur penyelenggaraan beberapa sosok mayat orang-orang Pesisir Endut yang terbunuh termasuk Carang Waja sendiri. Sementara mereka yang terluka. telah pula ditolong dengan obat-obatan yang ada. Ketika mereka merintih kesakitan, maka beberapa orang pengawal telah mendekatinya.

“Air,” desis salah seorang dari orang-orang Pasisir Endut yang terluka itu.

Senang atau tidak senang, maka salah seorang pengawal telah mencari air dan kemudian menitikkan ke bibir orang-orang yang terluka itu.

“Terima kasih,” desis salah seorang dari mereka.

Pengawal itu tidak menyahut. Namun ketika ia sempat memandang tatapan mata orang itu, maka timbullah perasaan iba di hatinya. Nampaknya orang itu sudah berputus asa. Tetapi agaknya adalah di luar dugaannya bahwa masih ada orang yang bersedia mengambil air untuknya. Justru karena itu, matanya tidak lagi nampak menyala oleh dendam. Tetapi justru menjadi sayu dan basah.

Sejenak pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian ia berdesis, ”Tunggulah sejenak. Jika Kiai Gringsing itu datang, maka kau pun tentu akan diobatinya.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam sekali. Agaknya ada yang akan dikatakannya. Tetapi bibirnya tidak melontarkan sepatah katapun.

Dalam pada itu, Kademangan Sangkal Putung telah menjadi sibuk karena kematian beberapa orang di halaman rumah Ki Demang. Kedatangan orang-orang Sangkal Putung untuk melihat apa yang telah terjadi, tidak dapat dibendung lagi. Para pengawal terpaksa mendorong beberapa orang untuk menyingkir dari tangga pendapa, karena ada di antara mereka yang memaksa untuk naik. Kecuali karena mereka ingin melihat keadaan Swandaru, mereka pun ingin melihat keadaan prajurit Pajang yang terluka parah dan orang-orang Pesisir Endut yang terluka pula.

Dengan marah maka beberapa orang justru berteriak, “Bunuh saja mereka.”

Tetapi para pengawal yang sempat menjelaskan, mengataka, bahwa tidak seharusnya mereka yang tertawan itu dibunuh.

Ki Jagabaya yang juga mencemaskan keadaan Sabungsari dan Swandaru setiap kali mempersilahkan mereka dibawa masuk. Tetapi setiap kali Swandaru selalu menolak. Ia lebih senang berada di pendapa meskipun hanya sekedar duduk bersandar tiang, dari pada tidur di pembaringan.

Orang-orang Sangkal Putung ternyata tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka pun segera menyibak ketika beberapa orang yang berdiri di belakang berteriak, “Minggir, minggir. Kiai Gringsing.”

Bagi orang-orang Sangkal Putung, Kiai Gringsing jauh lebih banyak mereka kenal daripada para prajurit Pajang di Jati Anom. Karena itu, maka yang mereka sebut adalah dukun tua yang memang pernah tinggal di Sangkal Putung dengan nada penuh harapan, agar mereka yang terluka dapat segera disembuhkan. Terutama Swandaru.

Kedatangan sekelompok kecil orang-orang dari padepokan terpencil di Jati Anom itu telah menumbuhkan tanggapan yang cerah. Dengan serta merta maka Kiai Gringsing pun segera naik ke pendapa diikuti oleh Agung Sedayu dan Glagah Putih, serta kedua prajurit yang telah datang ke padepokannya.

Yang mula-mula mempersilahkannya adalah justru Ki Jagabaya, ”Silahkan Kiai. Itulah Swandaru Geni.”

Tetapi Swandaru-lah yang menyahut, ”Lukaku tidak seberapa. Guru, tolonglah dahulu prajurit itu.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun segera melihat, bahwa keadaan Sabungsari-lah yang benar-benar gawat. Karena itulah, maka ia pun segera mendekati Sabungsari yang masih ditunggui oleh kedua orang kawannya.

Dengan sungguh-sungguh Kiai Gringsing memperhatikan keadaan Sabungsari. Luka-lukanya yang parah dan pernafasannya yang tersendat-sendat. Beberapa kerut kecemasan nampak membayang di wajahnya. Bahkan kemudian orang tua itu menarik nafas panjang.

“Bagaimana keadaannya Kiai?” bertanya perwira yang menjemputnya ke Jati Anom.

“Marilah kita berdoa di dalam hati,” berkata Kiai Gringsing, ”aku akan mencoba memberikan obat yang paling baik yang ada padaku. Mudah-mudahan Yang Maha Kuasa berkenan mempergunakannya sebagai alat limpahan belas kasihan-Nya kepada Angger Sabungsari.”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah Kiai mengenalnya?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, ”Ya. Aku kenal Angger Sabungsari. Ia pernah datang ke padepokanku.”

”Untuk apa?” bertanya perwira itu.

“Di waktu senggang ia mengisinya dengan berbagai macam kerja di padepokan sekedar untuk mendapatkan suasana yang berbeda. Bahkan kadang-kadang, Angger Sabungsari ikut pula kerja di sawah dan ladang. Namun kadang-kadang ia hanya sekedar tinggal di padepokan dengan duduk-duduk dan bergurau bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengganggu lagi, ketika kemudian Kiai Gringsing dengan sungguh-sungguh mulai mengobatinya dengan obat-obat yang dibawanya dari padepokannya.

Sementara itu, para pengawal masih saja sibuk dengan orang-orang Sangkal Putung yang ingin melihat apa yang terjadi. Bahkan dengan demikian, maka hampir tidak ada orang yang sempat membantu membawa sosok-sosok mayat ke kuburan setelah perwira prajurit yang telah datang kembali ke Sangkal Putung itu mengijinkannya.

Namun akhirnya Ki Jagabaya pun mendapatkan beberapa orang yang bersedia membantunya membawa mayat-mayat itu ke kubur diantar oleh sekelompok pengawal. Bagaimanapun juga mereka harus tetap berhati-hati karena kemungkinan-kemungkinan yang tidak diharapkan masih saja dapat terjadi. Dendam tentu masih menyala di Pesisir Endut karena kematian beberapa orang kawannya. Bahkan Carang Waja yang tidak ada duanya bagi orang-orang Pasisir Endut itu pun telah terbunuh pula di Sangkal Putung.

Dalam pada itu, oleh sejenis obat-obatan yang paling baik dari Kiai Gringsing, serta doa yang sungguh-sungguh di hati orang tua itu serta mereka yang mengikuti pengobatan yang menegangkan itu, ternyata Sabungsari telah menggerakkan matanya. Perlahan-lahan ia berdesis. Namun agaknya ia telah mulai sadar akan keadaannya.

Tetapi justru karena itu, maka ia mulai merasa, betapa tubuhnya bagaikan remuk disayat-sayat oleh luka. Betapa perasaan pedih dan, nyeri menggigit sampai ke tulang-tulang.

Sabungsari mulai membuka matanya. Bukan saja sekedar membuka mata tanpa kesadaran. Ia mulai mengerti, betapa luka-lukanya sangat parah.

Namun kehadiran Kiai Gringsing yang mula-mula nampak kabur membuat prajurit muda itu menjadi heran. Semakin lama wajah orang tua itu nampak semakin jelas. Bahkan kemudian ia melihat sebuah senyum dibibir orang tua yang dikenalnya dengan baik itu.

“Kiai,” desisnya perlahan-lahan sambil menyeringai menahan sakit.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Jawabnya, ”Ya Ngger. Aku ada di sini bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih.”

 

 

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi dadanya terasa betapa sakitnya. Ia merasa sesuatu telah menitik di bibirnya dan kemudian hanyut di kerongkongannya.

Sabungsari mengerti, bahwa yang ditelannya itu adalah cairan yang dibubuhi obat oleh Kiai Gringsing selain obat yang ditaburkan pada lukanya.

Dengan demikian, maka harapan prajurit-prajurit dari Jati Anom itu telah menjadi semakin besar, bahwa Sabungsari akan dapat diobatinya. Dengan tegang mereka mengikuti perkembangan keadaannya. Meskipun kemudian Sabungsari justru terdengar menahan desah kesakitan, namun dengan demikian, maka para prajurit itu mengerti, bahwa kesadaran Sabungsari telah pulih kembali.

Baru setelah Sabungsari sadar sepenuhnya akan keadaannya, Kiai Gringsing beringsut mendekati Swandaru yang duduk bersandar tiang pendapa. Luka Swandaru pun bukan luka yang dapat diabaikan. Untunglah bahwa ia telah meninggalkan serbuk obat yang untuk sementara dapat menolongnya.

Seperti Sabungsari, maka Swandaru pun kemudian diberinya cairan obat yang dapat memperkuat daya tahan tubuhnya, yang terbuat dari jenis akar-akaran dan dedaunan.

“Swandaru,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “memang sebaiknya kau beristirahat di pembaringan untuk memulihkan keadaanmu.”

Swandaru menggeleng. Katanya, ”Aku tidak terlalu parah, Guru. Aku ingin melihat, apa yang dikerjakan oleh orang-orang Sangkal Putung dalam keadaan seperti ini. Para pengawal tentu akan menjadi semakin gelisah jika mereka melihat, seolah-olah aku terluka parah.”

“Mereka sudah mengetahui apa yang terjadi,” jawab Kiai Gringsing, ”adalah wajar jika kau beristirahat barang sehari dua hari. Sementara, biarlah Angger Sabungsari juga dibaringkan di pembaringan. Keadaannya akan lebih baik daripada dibiarkannya saja berada di pendapa. Kegelisahan orang-orang Sangkal Putung yang mengerumuni pendapa ini akan dapat mengganggu perasaannya.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Lalu katanya, ”Biarlah prajurit itu dibawa ke gandok.”

Kemudian atas persetujuan ayahnya, prajurit yang terluka itu pun diangkat oleh kawan-kawannya ke gandok sebelah kiri dan membaringkannya di sebuah amben yang besar. Sementara Swandaru masih tetap ingin duduk di pendapa bersama para bebahu Sangkal Putung yang telah berkumpul di Kademangan.

Dalam pada itu, Ki Demang dan Ki Jagabaya telah minta agar mereka yang berkerumun disekitar pendapa, meninggalkan halaman dan kembali kepada kerja masing-masing.

“Bukankah kalian harus pergi ke sawah?” bertanya Ki Jagabaya, ”kita akan menyelesaikan kerja di sini. Kerja yang memerlukan ketenangan. Karena itu, kami, para bebahu Kademangan minta tolong kepada kalian untuk membuat suasana di halaman ini menjadi tenang. Tiggalkan halaman ini, dan lakukanlah kerja kalian sehari-hari.”

Orang-orang Sangkal Putung itu termangu-mangu. Namun akhirnya mereka pun meninggalkan halaman Kademangan. Seorang demi seorang mereka melangkah keluar halaman sambil berbicara di antara mereka.

“Prajurit itu terluka parah,” desis yang seorang.

Yang lain menjawab, ”Ya. Swandaru pun terluka. Tetapi ia adalah seorang pemimpin sejati. Bagaimanapun juga keadaannya, ia tetap bertanggung jawab. Untuk mengawasi medan ia tetap duduk di pendapa meskipun setiap orang minta agar ia beristirahat di pembaringan.”

“Tetapi itu dapat membahayakan dirinya sendiri,” jawab yang lain pula,

“Seorang pemimpin tidak menghiraukan keadaan dirinya sendiri,” desis seorang pengawal yang mendengar pembicaraan itu.

Dalam pada itu, orang-orang Sangkal Putung yang kemudian melihat Kiai Gringsing mengobati orang-orang Pesisir Endut yang terluka, harus menahan perasaannya untuk tidak berteriak menentang sikap itu. Tetapi karena Swandaru, Ki Demang dan Ki Jagabaya tidak berkeberatan, bahkan nampaknya mereka justru sependapat, maka orang-orang Sangkal Putung itu tidak berteriak agar mereka dibunuh saja.

Tetapi seperti yang pernah terjadi, maka Swandaru sebenarnya menjadi kesal juga atas orang-orang itu. Jika Sangkal Putung terpaksa menahan mereka, maka hal itu akan merupakan beban waktu dan tenaga yang cukup menjemukan.

Namun ketika Swandaru memandang perwira prajurit Pajang yang nampaknya memperhatikan orang-orang Pasisir Endut yang terluka itu dengan saksama, maka timbullah niatnya untuk menyerahkan mereka kepada para prajurit Pajang di Jati Anom itu saja,

Ketika orang-orang Sangkal Putung yang berkerumun telah meninggalkan halaman, maka orang-orang yang berada di pendapa itu pun mulai duduk dengan tenang melingkar di tengah-tengah pendapa, sementara orang-orang Pesisir Endut yang terluka itu masih berbaring di sudut pringgitan.

Ketika Pandan Wangi menceritakan apa yang terjadi, maka Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Glagah Putih mulai dapat membayangkan, bahwa peristiwa ini pernah pula terjadi. Agung Sedayu seolah-olah melihat kembali, bagaimana ia harus bertempur melawan Carang Waja, yang untunglah, bahwa keadaannya lebih baik dari yang terjadi atas Sabungsari.

“Jika Ki Demang tidak berkeberatan,” berkata Kiai Gringsing kemudian, ”biarlah Sabungsari berada di sini barang dua tiga hari, sehingga luka-lukanya tidak berbahaya lagi. Baru kemudian ia akan dibawa kembali ke baraknya di Jati Anom.”

Ki Demang mengangguk-angguk sambil menjawab, ”Baiklah Kiai. Aku tidak berkeberatan sama sekali. Agaknya hal itu akan lebih baik bagi prajurit muda itu.”

“Tetapi bagaimana dengan Kiai Gringsing?” bertanya Ki Jagabaya.

“Aku akan merawatnya. Dan aku akan merawat Swandaru untuk beberapa saat,” jawab Kiai Gringsing.

Sekar Mirah menarik nafas di luar sadarnya. Tetapi wajahnya menjadi kemerah-merahan karena ia telah menjadi gembira atas keputusan Kiai Gringsing. Seolah-olah orang-orang yang berada di pendapa itu mengetahui perasaannya, bahwa sebenarnya ia memang berharap, bahwa Agung Sedayu akan tinggal beberapa hari di Sangkal Putung.

Demikianlah, maka untuk merawat orang-orang yang terluka di Sangkal Putung, termasuk kedua orang Pesisir Endut, Kiai Gringsing harus tinggal untuk beberapa hari. Demikian pula, Agung Sedayu dan Glagah Putihpun ikut pula tinggal untuk sementara di Sangkal Putung. Kecuali untuk membantu merawat orang-orang yang terluka, maka agaknya Kiai Gringsing pun mempunyai pertimbangan lain. Mungkin keluarga atau perguruan Carang Waja akan mengambil sikap karena kematiannya.

Dalam pada itu, maka perwira prajurit Pajang di Jati Anom yang berada di Sangkal Putung tidak dapat tinggal terlalu lama. Ia pun kemudian menyerahkan Sabungsari dalam perawatan Kiai Gringsing, sementara ia sendiri harus kembali ke Jati Anom. Tetapi ia meninggalkan seorang prajuritnya untuk mengawani Sabungsari dan membantunya jika ia memerlukan sesuatu agar tidak terlalu menyulitkan orang-orang Sangkal Putung yang merawatnya.

“Tiga atau empat hari lagi kami akan datang menjemput Sabungsari jika keadaannya sudah memungkinkan,” berkata perwira itu.

“Dan kami akan menyerahkan kedua orang Pesisir Endut itu,” sahut Swandaru.

Perwira itu mengerutkan keningnya. Namun ia tidak akan ingkar. Maka jawabnya, ”Aku akan membawanya bersama dengan Sabungsari.”

Setelah mengucapkan terima kasih, maka perwira itu pun kemudian meninggalkan Sangkal Putung bersama kedua orang prajuritnya kembali ke Jati Anom untuk melaporkan semuanya yang telah terjadi di Sangkal Putung. Agaknya masih ada harapan bagi Sabungsari untuk tetap hidup. Sementara kehadiran Kiai Gringsing di Sangkal Putung selain akan dapat memberikan pengobatan, juga akan dapat memberikan perlindungan bagi Sabungsari jika diperlukan.

Dengan sunggguh-sungguh, Kiai Gringsing telah merawat mereka yang terluka. Bukan saja Swandaru dan Sabungsari, tetapi juga kedua orang Pesisir Endut yang terluka.

Karena itulah, maka keadaan mereka pun menjadi semakin baik. Swandaru di hari berikutnya telah dapat berjalan-jalan di halaman. Ia sudah dapat berada di antara para pengawal yang masih saja digelisahkan oleh keadaan di halaman Kademangan. Dua kali peristiwa serupa itu telah terjadi. Jika saudara-saudara seperguruan Carang Waja masih juga mendendam, maka tidak mustahil bahwa peristiwa itu akan masih terulang kembali, meskipun yang melakukan orang lain.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Sekar Mirah terlihat dalam persoalan yang lama di antara mereka. Sekar Mirah sama sekali tidak menunjukkan keinginannya untuk tinggal di padepokan. Ia masih saja selalu berbicara tentang masa depan yang lebih baik. Meskipun Sekar Mirah tidak begitu senang terhadap pribadi Untara yang dianggapnya kurang ramah dan terlalu berpegangan pada pendapatnya sendiri, tetapi sempat juga ia berkata kepada Agung Sedayu, ”Kakang, bukankah setiap kali Kakang Untara juga mendorongmu, agar kau memilih jalan hidup yang lebih baik dari yang kau tempuh sekarang?”

Setiap kali Agung Sedayu hanya dapat menundukkan kepalanya. Kadang-kadang ia merasa terlalu bebal untuk mengambil sikap. Ia mengerti perasaan Sekar Mirah. Tetapi ia merasa berdiri di jalan yang bersimpang sembilan. Ia tidak tahu, jalan manakah yang paling baik untuk dipilihnya.

“Kakang Agung Sedayu,” berkata Sekar Mirah kemudian, ”kau lihat prajurit muda itu? Ia dapat membunuh Carang Waja, tetapi ia terluka parah, sehingga jiwanya hampir dikorbankannya. Aku mempunyai perhitungan, bahwa kau memiliki kelebihan daripadanya. Aku mendasarkan perhitunganku pada saat kau mengalahkan Carang Waja itu. Jika ia kembali setelah sembuh, maka perwira yang menyaksikan peristiwa ini akan membuat laporan tentang dirinya. Dengan demikian maka tatarannyapun akan meningkat dan harapan baginya menjadi semakin cerah.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya, maka ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kakang, jika kau berpijak pada harga dirimu, dan tidak mau menumpang kedudukan Kakang Untara, maka kau dapat memilih tugas di tempat lain, di tempat yang tidak berada di bawah kuasa Kakang Untara. Meskipun kau harus melalui tataran yang paling rendah, tetapi kau masih mempunyai harapan.”

Agung Sedayu masih berdiam diri.

“Atau, barangkali kau tidak ingin menjadi prajurit, Kakang. Jika demikian, berbuatlah sesuatu, agar kau mendapat tempat bagi hidup kita kelak. Padepokanmu yang kecil itu tidak akan dapat memberikan apa-apa kepada kita. Nama tidak, harta benda juga tidak. Jika kau puas dengan sekedar pengabdian, maka hidup ini akan menjadi kering dan tidak memberikan gairah sama sekali,” suara Sekar Mirah menjadi semakin dalam.

Tetapi seperti yang selalu dilakukan, maka Agung Sedayu hanyalah menunduk dan kebingungan. Ia tidak tahu, apakah yang harus diperbuatnya, apalagi jika mata Sekar Mirah kemudian menjadi basah. Dalam keadaan yang demikian. Sekar Mirah sama sekali menjadi lain dari Sekar Mirah yang garang, yang memegang tongkat baja putih berkepala tengkorak, peninggalan gurunya.

Jika sudah tidak mungkin lagi baginya untuk hanya berdiam diri, maka Agung Sedayu selalu mengatakan, ”Aku akan memikirkannya, Mirah.”

Sekar Mirah mengusap matanya. Kemudian dengan wajah yang buram ia meninggalkan Agung Sedayu yang termangu-mangu.

Persoalan itu seolah-olah merupakan persoalan yang selalu kembali setiap saat dalam pembicaraannya dengan Sekar Mirah. Tidak ada habisnya dan tidak ada jalan yang nampaknya dapat ditempuh selain melakukan seperti yang dikatakan oleh Sekar Mirah.

Tanpa disadarinya, Agung Sedayu pun kemudian bangkit dan melangkah ke gandok, ke dalam bilik Sabungsari yang masih terbaring di amben bambu.

Ketika prajurit muda itu melihat Agung Sedayu, maka ia pun tersenyum sambil berkata, ”Marilah Agung Sedayu.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia masih berdiri beberapa saat di muka pintu, sehingga prajurit yang berada bersama Sabungsari di dalam bilik itu pun mempersilahkannya, ”Marilah. Masuklah.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun melangkah masuk dan duduk di bibir amben tempat Sabungsari terbaring. Di luar sadarnya ia meraba leher Sabungsari sambil bertanya, ”Bagaimana keadaanmu sekarang?”

Sabungsari masih tersenyum. Jawabnya, ”Aku sudah menjadi jauh lebih baik sekarang.”

“Tetapi tubuhmu masih terasa agak panas.”

Sabungsari beringsut setapak. Katanya, ”Setiap kali aku minum obat yang diberikan oleh Kiai Gringsing, tubuhku memang terasa panas. Tetapi itu tidak lama. Jika keringat telah membasahi punggung, terasa tubuhku menjadi segar. Rasa-rasanya luka-lukaku telah sembuh.”

Agung Sedayu menggeleng sambil menjawab, ”Luka-lukamu masih sangat berbahaya. Kau harus mengikuti segala petunjuk Guru, agar kau benar-benar akan sembuh. Pada suatu saat keadaanmu menjadi seolah-olah telah baik sama sekali. Tetapi jika kau kurang berhati-hati dan terlalu banyak bergerak, maka mungkin sekali akan timbul akibat sampingan dari sakitmu sekarang ini sehingga akan dapat terjadi hal yang tidak terduga-duga.”

Sabungsari tertawa. Katanya, ”Yang kau katakan seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing. Agaknya kau pun mulai mempelajari ilmu yang satu ini.”

Agung Sedayu pun tersenyum. Jawabnya, ”Aku adalah muridnya. Meskipun aku belum mulai belajar dengan sungguh-sungguh ilmu pengobatan, tetapi aku sering melihat dan mendengar apa yang dilakukan dan apa yang dipesankan kepada orang-orang sakit.”

Suara tertawa Sabungsari meninggi. Tetapi ia pun kemudian menyeringai menahan sakit pada lukanya.

“Sudahlah,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”jika mungkin tidurlah sebanyak-banyaknya. Kesehatanmu akan segera menjadi bertambah baik. Jika kawan-kawanmu datang untuk menjemputmu, kau sudah dapat melakukan segala keperluanmu sendiri. Kau tidak perlu didukung memanjat sangga wedi kudamu. Atau jika mereka membawa pedati, kau tidak usah diangkat naik ke pedati.”

Sabungsari mengangguk. Tetapi ia masih tersenyum.

Sesaat Agung Sedayu masih duduk di amben itu. Prajurit yang menunggui Sabungsari seolah-olah mendapat kesempatan untuk meninggalkan kawannya yang sedang sakit itu untuk beberapa lamanya. Karena itu maka ia pun justru pergi keluar dan turun ke halaman menghirup udara yang segar di luar biliknya.

Prajurit itu berpaling ketika ia mendengar Glagah Putih bertanya, ”Paman, kau lihat Kakang Agung Sedayu?”

“Ia berada di dalam bilik Sabungsari,” jawab prajurit itu.

Glagah Putih mengangguk. Katanya, ”Terima kasih.”

Tetapi Glagah Putih tidak langsung menuju ke bilik itu. Ia justru pergi ke biliknya sendiri.

Sementara itu, Agung Sedayu masih duduk di dekat Sabungsari berbaring. Di luar sadarnya, ia justru merenungi kata-kata Sekar Mirah. Sabungsari yang terbaring karena luka-lukanya itu, telah melakukan sesuatu dalam penilaian atasannya. Mungkin ia akan mendapat pujian, atau mungkin kenaikan tataran kepangkatannya. Meskipun anak muda itu tidak benar-benar ingin menjadi seorang prajurit. Jika ia berada di dalam lingkungan keprajuritan, justru ia mempunyai maksud-maksud yang lain, yang bertentangan dengan tugas seorang prajurit.

Tetapi sesuatu telah terjadi atas Sabungsari. Ia mengalami suatu pengalaman jiwa yang akan dapat mempengaruhi sikap dan tingkah lakunya.

Dalam pada itu, Sabungsari yang berbaring di pembaringan itu pun tiba-tiba telah berdesis, ”Agung Sedayu. Aku sudah melakukan sesuatu yang memberikan warna tersendiri dalam perjalanan hidupku. Aku sudah melakukan sesuatu yang meskipun tidak dengan sengaja, tetapi langsung sampai ke sasaran.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi karena hanya mereka berdua saja yang berada di dalam bilik itu, maka ia pun menjawab, ”Kau melakukannya karena dendam?”

“Tidak. Mulanya aku melakukan karena tiba-tiba saja aku merasa berkewajiban. Aku tidak tahu, sejak kapan aku merasa diriku benar-benar seorang prajurit,” jawab Sabungsari, ”tetapi adalah kebetulan sekali bahwa orang yang berada di Sangkal Putung itu adalah orang-orang Pesisir Endut. Aku tidak menyangkal bahwa memang ada dorongan dari endapan perasaanku untuk menyalurkan dendam yang terbendung. Dan ternyata aku telah melakukannya. Tetapi seperti bendungan yang telah pecah, maka beban di hatikupun menjadi bertambah ringan. Rasa-rasanya, merasa berkewajiban ini akan aku pelihara. Dan aku akan tetap berada di dalam lingkungan keprajuritan dengan tujuan yang lain dari saat aku memasukinya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, ”Syukurlah. Kau sudah menemukan pribadimu dan lingkungan yang paling baik bagimu. Meskipun bukan tujuan, tetapi kemampuanmu tentu akan cepat membawamu ke jenjang yang lebih baik.”

“Ah,” desah Sabungsari, ”seperti yang kau katakan. Itu bukan tujuan. Aku masih muda. Aku belum mempunyai beban keluarga yang memerlukan sandaran hidup yang berat. Karena itu, maka kewajibanlah yang penting bagiku, meskipun harapan-harapan seperti yang kau katakan itu mungkin saja tumbuh di dalam hati ini.”

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu, ”jika kau berharap untuk mendapat jenjang yang lebih tinggi, bukanlah karena kepentingan pribadimulah yang berdiri di paling depan. Tetapi dengan jenjang yang lebih tinggi, kau mendapat kesempatan yang lebih banyak untuk menunjukkan pengabdianmu. Karena jenjang itu akan mempunyai akibat kewajiban dan tanggung jawab.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku mengerti. Mudah-mudahan perlahan-lahan aku dapat menyesuaikan diriku.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia telah berhasil meyakinkan Sabungsari bahwa ia telah berada di tempat yang paling baik dan tepat baginya.

Namun tiba-tiba saja Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Persoalan yang paling pelik baginya adalah dirinya sendiri. Ia sendirilah yang masih berdiri di atas jalan yang menuju ke simpang sembilan. Ialah yang seharusnya mendengarkan nasehat seperti yang dikatakannya kepada Sabungsari.

Sejenak Agung Sedayu merenungi dirinya sendiri. Jika ia berada di lingkungan keprajuritan, maka ia pun akan mendapat kesempatan seperti Sabungsari. Pada saat-saat ia dihadapkan pada kewajiban, maka ia akan menemukan kepuasan dan kebanggaan apabila ia dapat menyelesaikannya. Kemudian mendapat kesempatan untuk meningkat dari satu tataran ke tataran berikutnya.

Pada permulaannya, tentu ia akan mengorbankan harga dirinya, karena ia akan berada di bawah tataran orang-orang yang memiliki kemampuan jauh lebih rendah dari dirinya. Orang-orang yang barangkali karena sebab-sebab khusus berada di jenjang yang tinggi, namun yang tidak memiliki kemampuan. Baik di medan maupun lingkungannya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia sudah berada di dunia angan-angan yang mulai menyimpang. Karena itulah, maka ia pun kemudian mencoba untuk melihat dengan hati yang bening tentang dirinya sendiri.

“Apakah salahnya jika aku pun mulai menentukan pilihan seperti yang mulai diyakini kebenarannya oleh Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian di dalam hatinya, ”jika Guru sependapat, aku akan mencobanya.”

Rasa-rasanya Agung Sedayu telah menemukan alas tempat berpijak. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, ”Sabungsari. Cobalah meyakini bahwa kau telah berada di jalan yang benar.”

Sabungsari memandang Agung Sedayu sejenak. Namun di luar dugaan Agung Sedayu, anak muda itu bertanya, ”Agung Sedayu. Bagaimanakah dengan engkau sendiri? Apakah kau tidak mungkin memilih jalan seperti yang dilalui oleh kakakmu.”

Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Namun ia memaksa dirinya untuk tersenyum sambil berkata, ”Aku sedang memikirkannya.”

Sabungsaripun tersenyum pula. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh lagi.

Dalam pada itu, Agung Sedayu pun kemudian bangkit dan minta diri untuk keluar dari bilik itu. Dengan angan-angannya ia berjalan menyusuri serambi, kemudian turun ke longkangan. Tetapi ternyata bahwa Agung Sedayu kemudian justru turun ke halaman depan dan berjalan perlahan-lahan melintas menuju ke regol.

Satu pertanyaan telah tumbuh di hatinya yang memang sudah buram, ”Jika aku ingin menjadi seorang prajurit, apakah aku harus pergi ke Pajang atau ke Mataram?”

Kebimbangan demi kebimbangan masih saja selalu membayanginya, sehingga alas tempatnya berpinjak, yang rasa-rasanya mulai mapan itu telah berguncang lagi.

Keragu-raguan itu agaknya akan tetap membayanginya. Meskipun setiap kali ia bertemu dengan Sekar Mirah, rasa-rasanya ia sudah siap untuk berlari ke Pajang atau ke Mataram, menyatakan diri untuk menjadi prajurit atau pengawal.

Tetapi selalu diikuti dengan pertanyaan, ”Kemana? Ke Pajang atau ke Mataram?”

Bagaimanapun juga Agung Sedayu tidak akan dapat menutup mata melihat pertentangan yang sebenarnya telah membayangi kedua pusat pengaruh yang seharusnya tidak terpisahkan. Seandainya tidak pada Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga dengan Mas Karebet yang bergelar Sultan Hadiwijaya itu, namun pengaruh dalam lingkungannyalah yang agaknya telah menggali jurang yang semakin lama menjadi semakin dalam.

Di saat-saat berikutnya, Agung Sedayu justru terbenam lebih dalam lagi dalam kebimbangan. Rasa-rasanya ia sudah memutuskan. Namun kemudian ia kembali menjadi bimbang.

Sangkal Putung menjadi ramai di hari-hari berikutnya, ketika sepasukan kecil prajurit dari Jati Anom datang untuk menjemput Sabungsari yang mulai berangsur baik. Sebuah pedati yang khusus telah dibawa oleh sekelompok prajurit itu, untuk membawa Sabungsari yang belum memungkinkan untuk pergi berkuda. Bahkan ternyata bahwa selain Sabungsari, prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom itu juga akan membawa kedua orang Pesisir Edut yang terluka.

Kedatangan sekelompok prajurit dalam sikap yang resmi itu memang telah menumbuhkan kebanggaan di hati Sabungsari. Ketika ia sempat berbisik di telinga Agung Sedayu, ia berkata, ”Agung Sedayu. Jika kau ingin membuat perhitungan, maka hutangku kepadamu akan semakin bertimbun. Kau sudah mencegah aku untuk membunuh orang yang nampaknya tidak bersalah, meskipun sebenarnya justru karena aku telah kau kalahkan. Kemudian kau telah memantapkan kedudukanku sebagai seorang prajurit, meskipun di tataran yang paling rendah. Betapapun juga aku akan berbangga karena aku telah mendapat perhatian yang sangat besar dari senapati prajurit Pajang di Jati Anom. Kesempatan semacam ini sama sekali tidak pernah aku mimpikan ketika aku berangkat dari padepokan dengan membawa dendam di dalam hati.”

“Kau harus menanggapi kesempatan ini dengan hati yang jernih,” sahut Agung Sedayu.

“Terima kasih Agung Sedayu. Agaknya sudah waktunya aku untuk meninggalkan Sangkal Putung bersama dengan para prajurit yang menjemputku.”

Seperti yang dikatakan oleh Sabungsari, maka perwira yang memimpin kelompok peronda sehingga melibatkan Sabungsari ke dalam benturan melawan Carang Waja, yang telah mendapat tugas untuk memimpin sekelompok prajurit yang menjemput Sabungsari, tidak tinggal terlalu lama di Sangkal Putung. Ia pun segera menyampaikan maksudnya kepada Ki Demang Sangkal Putung, para bebahu dan para tamu mereka.

Ki Demang Sangkal Putung tidak dapat menahan prajurit yang terluka itu di Sangkal Putung. Ia pun menyerahkan Sabungsari yang meskipun masih nampak sangat lemah, namun luka-lukanya sudah berangsur baik.

“Atas nama pimpinan prajurit Pajang di Jati Anom, aku mengucapkan terima kasih, Kiai,” berkata perwira yang menjemput Sabungsari.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Aku hanya sekedar alat dari belas kasihan Yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan Angger Sabungsari menjadi semakin baik dan segera sembuh sama sekali. Ia adalah seorang prajurit kecil yang besar.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Jawabnya, ”Segalanya yang telah dilakukan telah diketahui oleh Ki Untara. Tentu ada perhatian khusus dari peristiwa yang telah terjadi di Sangkal Putung. Ia telah berbuat melampaui batas tatarannya, sehingga kesempatan untuk meningkat telah terbuka baginya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk sambil bergumam, ”Ia adalah satu kekuatan yang sulit dicari bandingnya.”

“Ya. Agaknya memang demikian,” jawab perwira itu. ”Mudah-mudahan ia akan merupakan kekuatan yang pilih tanding, tetapi juga yang baik sebagai seorang prajurit.”

Demikianlah, maka Sabungsari pun kemudian telah diangkat ke dalam pedati yang sudah disediakan bagi dirinya. Kepada Swandaru yang berdiri di sebelah pedatinya bersama Pandan Wangi dan Sekar Mirah ia berkata, ”Aku minta diri. Aku berhutang budi kepada Sangkal Putung dan segala penghuninya yang bersikap sangat baik kepadaku dan yang telah memberi aku tempat selama aku hampir saja kehilangan nyawaku.”

 

 

Swandaru tersenyum. Meskipun mula-mula ada perasaan yang terasa menggelitik hati, karena kehadiran anak muda itu di medan, namun akhirnya Swandaru berhasil untuk mengesampingkannya, karena justru Sabungsari adalah seorang prajurit. Yang dilakukan di halaman Sangkal Putung, bukannya sekedar memamerkan dan menyombongkan kekuatannya dan kemampuannya untuk membunuh Carang Waja. Tetapi anak muda itu agaknya telah dibebani oleh perasaan wajib karena ia memang seorang prajurit.

Sementara itu, di pedati yang lain, dua orang dari Pesisir Endut telah naik pula diawasi oleh beberapa orang prajurit.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu pun meninggalkan Sangkal Putung. Agung Sedayu yang melepas iring-iringan itu sampai ke regol padukuhan induk, untuk beberapa saat masih saja berdiri memandangi mereka sampai iring-iringan itu semakin jauh.

“Kakang ingin ikut serta bersama mereka?” tiba-tiba saja Glagah Putih yang mengikutinya bertanya.

Agung Sedayu berpaling. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, ”Sabungsari telah melakukan tugas seorang prajurit dengan hampir saja mempertaruhkan nyawanya. Ia adalah seorang anak muda yang luar biasa.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Di luar dugaan Agung Sedayu, Glagah Putih berkata, “Setiap kali aku melihat anak-anak muda yang memiliki kelebihan, aku selalu merasa diriku semakin kecil.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, ”Tentu tidak Glagah Putih. Kau masih jauh lebih muda dari Sabungsari. Umur anak muda itu tentu tidak kurang dari umurku. Dan kau masih mempunyai hitungan tahun untuk mematangkan ilmumu, setingkat dengan Sabungsari.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam, sementara Agung Sedayu melanjutkan, “Kau jangan merasa dirimu sangat kecil. Kau sudah menjadi jauh lebih baik dari saat kau berada di Pesisir.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi tatapan matanya masih membayangkan perasaan kecewa.

Agung Sedayu yang kemudian mengajak Glagah Putih kembali ke Kademangan Sangkal Putung. Beberapa orang yang pergi bersama mereka sampai ke regol mengikuti pula kembali ke Kademangan, sementara iring-iringan para prajurit yang membawa Sabungsari dan para tawanan itu menjadi semakin jauh.

Dalam pada itu, di perjalanan kembali ke Jati Anom, rasa-rasanya Sabungsari benar-benar telah menemukan dirinya. Ia menjadi semakin mantap sebagai seorang prajurit. Ia tidak lagi merasa bahwa dirinya berada di lingkungan keprajuritan, sekedar mencari tempat yang paling baik untuk menunggu kedatangan Agung Sedayu, kemudian menantangnya perang tanding dan membunuhnya. Ia gagal melakukan, karena ternyata ia telah dikalahkan oleh Agung Sedayu. Tetapi tidak dibunuhnya. Sehingga karena itulah, maka sisa hidupnya kemudian sudah sepantasnyalah jika dipergunakannya untuk mengikuti petunjuk Agung Sedayu, menyerahkan bagi kebajikan.

Namun dalam pada itu, ia teringat akan kawan-kawannya yang menunggunya di Jati Anom, ia pun menjadi berdebar-debar. Apakah yang sebaiknya dikatakan kepada mereka.

Tetapi akhirnya Sabungsari berkata di dalam hati, ”Aku akan mengatakan seperti yang terjadi. Aku tidak akan hidup dalam dunia yang gelap lagi. Aku sudah mendapat jalan keluar dari duniaku, dunia yang diwariskan oleh orang tuaku. Semua pengikut dan pengawal padepokanku harus mengetahuinya dan menyadari, bahwa jalan itu adalah jalan yang paling baik. Mereka yang berada di padepokan dapat menyiapkan diri menempuh jalan kehidupan yang baru. Sawah cukup luas, dan tempat tinggalpun mencukupi pula. Sehingga mereka tidak akan kekurangan makan, minum, pakaian dan rumah.”

Namun, agaknya ada yang dilupakan oleh Sabungsari. Ia pernah mengatakan kepada seorang prajurit, bahkan dengan menunjukkan kelebihannya membunuh dengan kekuatan pandangan matanya, seekor kambing yang terikat, bahwa ia akan membunuh Agung Sedayu. Ia tidak memberikan kesempatan kepada orang lain, kecuali dirinya sendiri.

Sepeninggal para prajurit Pajang di Jati Anom membawa Sabungsari dan kedua orang Pesisir Endut yang terluka, Kiai Gringsing masih tetap tinggal di Sangkal Putung bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih. Kiai Gringsing masih tetap merawat Swandaru yang meskipun sudah berangsur baik, tetapi masih belum sembuh sama sekali.

Dalam pada itu, Agung Sedayu yang setiap kali harus berpikir tentang masa depannya, justru karena Sekar Mirah selalu bertanya kepadanya apakah ia sudah mempunyai pilihan, seolah-olah telah berketetapan untuk memilih jalur kehidupan yang akan dapat menjadi arena pengabdian sesuai dengan kemampuannya.

“Aku akan berkata kepada Kakang Untara, bahwa aku pun akan terjun ke dalam lingkungan keprajuritan,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Anak muda itu melihat, bahwa di dalam lingkungan keprajuritan ia akan terhindar dari permusuhan pribadi. Tentu tidak akan ada orang yang mendendamnya secara pribadi, apabila ia telah berbuat sesuai dalam menjalankan tugasnya, karena yang dilakukan bukan atas namanya sendiri.

“Demikian aku sampai ke Jati Anom, aku akan menjumpai Kakang Untara. Aku tidak akan dapat selalu mengelak dari pertanyaan dan permintaan Sekar Mirah. Ia berhak berbuat demikian, karena hidupnya di masa datang, akan berkaitan dengan hidupku,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Tetapi Agung Sedayu tidak segera meninggalkan Sangkal Putung karena ia menunggu Kiai Gringsing yang masih merawat Swandaru yang belum sembuh sama sekali.

Bagi Swandaru, yang terjadi itu merupakan cambuk yang pedih bagi kademangannya. Kepada para pengawalnya ia mengatakan, seandainya tidak segera kebetulan para prajurit Pajang itu meronda sampai ke Sangkal Putung, apakah kademangan itu tidak akan mengalami bencana?

“Mungkin aku dapat menyelamatkan diri dan berhasil melumpuhkan Carang Waja yang ternyata terbunuh oleh Sabungsari. Tetapi bagaimana dengan para pengawal yang tertidur nyenyak? Orang-orang Carang Waja yang marah, tentu akan mencari sasaran siapapun juga. Kalian yang tidur nyenyak akan dibantai tanpa ampun,” berkata Swandaru pula.

Para pengawal hanya dapat menundukkan kepalanya. Yang terjadi memang berada di luar kemampuannya. Tidak seorangpun di antara mereka yang mampu melawan sirep yang demikian kuatnya.

“Kita harus menemukan cara,” berkata Swandaru, ”kita harus mencari satu atau dua orang dari isi Kademangan ini, yang dapat menolak sirep dari satu segi. Sementara kita akan dapat menghadapi lawan dari segi benturan kekuatan dan pertempuran. Mungkin ada satu dua orang-orang tua yang memiliki ilmu yang dapat melawan sirep. Kita akan minta kepada mereka untuk ikut serta melindungi kademangan ini dari kejahatan di saat yang lain. Karena sepeninggal Carang Waja bukan berarti bahwa perguruannya tidak lagi akan mengganggu kita.”

Para pengawalpun sependapat. Namun mereka yang tidak mungkin melalukan hal itu, bertekad untuk mempelajari ilmu pedang atau senjata-senjata lain lebih banyak lagi.

“Kita harus mempergunakan sebagian waktu kita untuk berlatih tanpa jemu,” berkata Swandaru kepada para pengawal, ”pada saatnya kita harus menunjukkan, bahwa Sangkal Putung adalah kademangan yang sudah dewasa. Yang dapat menjaga dirinya sendiri dari segala macam bencana.”

Ternyata seperti yang diharapkan oleh Swandaru, para pengawal memang bertekad untuk melakukannya. Mereka tidak menunggu sepekan dua pekan. Mereka langsung menyusun rencana untuk melaksanakannya.

“Selama aku belum sembuh benar, maka kalian dapat melakukannya. Sementara aku akan menyaksikan saja,” berkata Swandaru.

Selagi Agung Sedayu dan Glagah Putih berada di Sangkal Putung, maka mereka pun sempat menyaksikan, bagaimana para pengawal dengan gairah yang tinggi, melatih diri menyempurnakan bekal mereka.

Yang terjadi di Sangkal Putung itu telah merupakan pendorong bagi Agung Sedayu untuk terjun ke dalam lingkungan keprajuritan. Meskipun dorongan terbesar adalah karena keinginan Sekar Mirah, namun Agung Sedayu melihat, bahwa jalan itu adalah jalan yang paling baik untuk dilaluinya.

“Sekar Mirah akan dapat memuaskan dirinya, seandainya pada suatu saat aku telah dapat meningkat ke jenjang yang lebih tinggi,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, meskipun ia tahu, bahwa kesempatan untuk mencapai tataran berikutnya kadang-kadang tidak dinilai atas dasar kemampuan saja.

Demikian dari hari ke hari, keadaan Swandaru telah berangsur baik. Bahkan sudah tidak mengganggunya lagi. Pada saat-saat para pengawal berlatih, Swandaru telah dapat ikut serta untuk memberikan petunjuk dan bimbingan kepada mereka.

Karena itu, maka Kiai Gringsing yang sudah berada di Sangkal Putung untuk beberapa hari, merasa bahwa Swandaru tidak perlu ditungguinya lagi. Dalam beberapa hari, luka-luka itu sudah akan dapat sembuh sama sekali. Mungkin bekas-bekasnya sajalah yang masih memerlukan perawatan khusus agar kemudian tidak akan menjadi noda pada tubuhnya.

“Kita sudah dapat kembali ke Jati Anom,“ berkata Kiai Gringsing pada suatu saat kepada Agung Sedayu.

“Apakah Sangkal Putung sudah dapat kita tinggalkan?” berkata Agung Sedayu.

Kiai Gringsing merenungkan sejenak. Seolah-olah ia masih membuat pertimbangan-pertimbangan khusus tentang Sangkal Putung. Namun kemudian ia berkata, ”Menurut pertimbanganku, Sangkal Putung sudah tidak perlu dicemaskan lagi. Setidak-tidaknya untuk waktu yang dekat. Sementara itu, luka-luka Swandaru tentu sudah akan sembuh sama sekali.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun masih juga ada kecemasan di hati Agung Sedayu. Seolah-olah dalam saat-saat terakhir, Agung Sedayu tidak melihat usaha Swandaru untuk meningkatkan ilmunya sejak ia tidak lagi berada dekat dengan gurunya.

“Mudah-mudahan aku hanya tidak mengetahuinya saja,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, ”seperti Swandaru tentu juga tidak mengetahui, apakah ilmuku meningkat atau tidak. Tetapi pengaruh kehadiran Guru, tentu akan banyak memberikan dorongan untuk berusaha meningkatkan ilmu.”

Namun dalam pada itu, secara tidak langsung, Agung Sedayu mendengar dari Sekar Mirah, bahwa Swandaru pun telah berusaha terus menerus untuk meningkatkan ilmunya bersama dengan Pandan Wangi dan dirinya sendiri. Mereka bertiga bersumber dari tiga perguruan yang memiliki dasar ilmu yang berbeda. Namun dengan berlatih bersama, mereka berusaha untuk menemukan paduan tata gerak yang akan dapat meningkatkan ilmu mereka masing-masing.

“Tetapi yang dilakukan oleh Swandaru adalah peningkatan ketrampilan jasmaniah. Ia kurang bersungguh-sungguh untuk membina kemampuannya mempergunakan tenaga cadangan. Meskipun demikian, kecepatan bergerak Swandaru benar-benar mengagumkan, di samping kekuatannya yang jauh melampaui kekuatan orang kebanyakan,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Dan saat-saat untuk kembali ke padepokan kecil itu pun semakin dekat pula. Kiai Gringsing sudah tidak menganggap perlu lagi untuk berada di Sangkal Putung. Apalagi jarak antara Sangkal Putung dan Jati Anom memang tidak terlalu jauh.

Namun dalam pada itu, ketika Kiai Gringsing sudah berniat untuk minta diri kepada Ki Demang di satu sore, Sangkal Putung telah diguncangkan oleh kehadiran iring-iringan yang melintas dari arah timur menuju ke barat.

Seorang pengawal berkuda yang melihat iring-iringan itu, dengan tergesa-gesa telah berpacu ke padukuhan induk, sementara kawannya telah mempersiapkan dengan tergesa-gesa para pengawal di padukuhan di ujung kademangan itu.

“Apakah kita perlu memberikan isyarat?” bertanya salah seorang pengawal.

“Kita akan menunggu, siapakah mereka,” jawab pimpinan pengawal padukuhan itu.

“Tetapi jika mereka bermaksud buruk, kita akan terlambat,” sahut yang lain.

“Kita akan berpencar. Kita memperhatikan dari tempat yang tersembunyi. Jika mereka berbuat jahat, maka kita akan tampil sambil membunyikan tanda. Para pengawal-pengawal di padukuhan terdekat akan segera datang, sebelum para pengawal dari padukuhan induk beserta Swandaru datang pula.”

“Swandaru sedang sakit,” sahut yang lain pula.

“Ia sudah sembuh. Ia sudah mampu bertempur lagi. Apalagi gurunya masih berada di padukuhan induk pula.”

Kawan-kawannya menarik nafas dalam-dalam. Kehadiran Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Glagah Putih seolah-olah dapat menenangkan mereka, karena selain Swandaru, mereka akan mendapat perlindungan dari orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi.

Demikianlah, maka beberapa orang pengawal telah berpencar dan justru berlindung di antara tanaman-tanaman di sawah di pinggir padukuhan. Hanya beberapa orang saja yang berada di gardu, seolah-olah mereka tidak menaruh curiga sama sekali terhadap mereka yang datang mendekati padukuhan itu.

Sementara itu, maka pengawal berkuda yang berpacu ke padukuhan induk telah berhenti sejenak di setiap padukuhan yang dilaluinya. Pengawal itu telah memperingatkan, agar para pengawal yang mungkin dikumpulkan, segera berkumpul dan mempersiapkan diri.

“Kenapa?” bertanya anak-anak muda yang mendengar keterangan itu.

“Sebuah iring-iringan telah mendekati padukuhan di ujung kademangan. Kami belum tahu, siapakah mereka itu. Jika mereka bermaksud buruk, maka kita harus berbuat sesuatu.”

“Apakah tidak ada tanda-tanda yang nampak pada iring-iringan itu?”

Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeleng, ”Kami tidak melihatnya. Seorang pengawal yang sedang berada di sawah melihatnya dari kejauhan. Kemudian dengan tergesa-gesa ia berlari ke padukuhan, sambil berlindung di balik batang-batang jagung, sehingga iring-iringan itu tidak melihatnya.”

“Baiklah. Kami akan bersiap-siap. Kami akan mengumpulkan para pengawal yang ada.”

“Jika perlu, kalian harus membantu ke padukuhan di ujung,” berkata pengawal berkuda itu.

“Tetapi jika tidak ada tanda-tanda atau tengara, kami tidak akan mengetahuinya.”

“Tentu mereka akan memberikan isyarat. Mereka akan membunyikan kentongan jika perlu,” berkata pengawal itu, ”lebih baik kalian mempersiapkan empat atau lima ekor kuda yang dapat segera kalian pergunakan.”

Sepeninggal pengawal berkuda itu, maka anak-anak muda di padukuhan itu pun segera mempersiapkan diri dengan tergesa-gesa. Tiga orang di antara mereka siap dengan kuda-kuda mereka, sementara dua orang yang lain telah mendapatkan pinjaman dua ekor kuda yang siap pula dipergunakan. Sementara yang lain, telah berada di gardu dengan senjata masing-masing.

Kesibukan anak-anak muda di padukuhan itu telah membuat setiap penghuninya menjadi berdebar-debar. Mereka telah mendengar apa yang terjadi di halaman Kademangan, sehingga Swandaru dan seorang prajurit Pajang dari Jati Anom telah terluka parah. Dan bahkan telah jatuh beberapa korban yang terbunuh dari pihak yang bermaksud jahat.

“Apakah mereka datang dengan orang-orang mereka lebih banyak lagi?” pertanyaan itu hinggap hampir di setiap orang.

Sementara itu, iring-iringan itu pun menjadi semakin dekat dengan padukuhan di ujung Kademangan, sehingga para pengawal yang berada di gardu itu pun telah bersiap-siap.

Dalam pada itu, maka langitpun telah menjadi semakin buram, dan gelap mulai turun perlahan-lahan, maka senja sudah menjadi hitam.

Pemimpin pengawal yang berdiri di regol padukuhan itu mengangkat tangannya ketika iring-iringan menjadi semakin dekat. Dua orang kawannya berdiri di sebelah-menyebelah, sedangkan tiga orang yang lain berdiri di depan gardu di dalam regol. Jika keadaan memaksa, maka salah seorang dari ketiga orang itu harus memukul isyarat, sehingga dengan demikian kawan-kawan mereka yang terpencar akan berdatangan, sementara isyarat itu akan mengundang juga para pengawal dari padukuhan-padukuhan yang lain, karena isyarat itu tentu akan bersambut. Gardu-gardu di seluruh padukuhan itu tentu akan membunyikan isyarat pula.

Ternyata bahwa pemimpin dari iring-iringan itu melihat tanda yang diberikan oleh pemimpin pengawal di padukuhan di ujung Kademangan Sangkal Putung itu, sehingga ia pun memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk berhenti.

Pemimpin dari iring-iringan itu pun kemudian meloncat turun dari kudanya dan berjalan seorang diri mendekati pemimpin pengawal yang berdiri di luar regol.

“Siapakah kalian Ki Sanak?” bertanya pemimpin pengawal itu.

Pemimpin iring-iringan itu tersenyum. Katanya, ”Apakah kalian tidak mengenal aku? Itu mungkin sekali. Tetapi apakah kalian tidak mengenal kami semuanya dalam pasukan kecil ini? Setidak-tidaknya kesan yang kalian dapatkan dari kami semuanya?”

Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Namun dalam keremangan malam ia melihat sesuatu yang memberikan kesan seperti yang ditanyakan oleh pemimpin iring-iringan itu.

Meskipun demikian pemimpin pengawal itu berkata, ”Kami tidak mengetahui siapakah kalian semuanya. Tetapi agaknya kalian adalah orang-orang terpandang.”

“Bukan orang-orang terpandang. Tetapi kami adalah pengemban tugas. Kami adalah utusan dari Pajang. Kami akan singgah di kademangan ini untuk semalam,” pemimpin iring-iringan itu menjawab. Kemudian ia pun bertanya, ”Apakah kau bersedia menyampaikannya kepada Ki Demang di Sangkal Putung dan anak laki-lakinya yang bernama Swandaru?”

“Tetapi, siapakah Ki Sanak? Mungkin Ki Demang bertanya, siapa pemimpin dari pasukan kecil dari Pajang ini.”

Pemimpin iring-iringan itu tertawa. Katanya, ”Kau tetap ragu-ragu. Tetapi itu adalah sikap yang baik bagi setiap pengawal. Seorang pengawal memang harus teliti dan yakin, siapakah yang dihadapinya.”

“Aku mohon maaf jika sikapku deksura,” berkata pengawal itu.

“Tidak. Tidak apa-apa. Kau memang tidak segera mengenal kami. Kami adalah utusan dari Pajang. Dan kami memang bukan prajurit-prajurit atau katakanlah, dalam gelar keprajuritan,” orang itu berhenti sejenak, kemudian katanya, ”jika kau ingin mengetahui namaku, aku adalah Benawa.”

“Pangeran Benawa?” pemimpin pengawal itu terkejut.

“Ya. Sudah aku katakan, bahwa kami tidak dalam gelar keprajuritan, karena tugas yang kami emban sekarang, memang bukan tugas keprajuritan.”

Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Sementara Pangeran Benawa yang melihat keragu-raguan itu berkata, ”Tentu kau ragu-ragu, karena kau belum mengenal aku. Apakah ada prajurit Pajang di Jati Anom yang sedang berada di Sangkal Putung? Jika mereka ada, maka sebagian besar dari mereka dengan pasti telah mengenal aku.”

Pemimpin pengawal itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, ”Baru beberapa hari yang lalu mereka berada di Sangkal Putung.”

“Laporan itu telah sampai ke Pajang. Seorang prajurit muda bernama Sabungsari telah terluka parah. Nah, jika mereka telah kembali ke Jati Anom, apakah benar sesuai dengan laporan itu, Kiai Gringsing dan Agung Sedayu berada di Sangkal Putung sekarang, atau mereka pun sudah kembali ke Jati Anom?”

“Mereka masih berada di Kademangan.”

“Jika demikian, beritahukan mereka. Mereka telah mengenal aku pula. Dengan demikian, kalian tidak akan ragu-ragu lagi.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak.

“Lakukanlah. Aku akan menunggu di sini. Di kademangan lain aku tidak perlu berbuat demikian, karena kademangan lain tidak baru saja mengalami bencana seperti Sangkal Putung, sehingga kecurigaan di kademangan ini dapat kami mengerti.”

Pengawal itu mengangguk. Kemudian katanya, ”Salah seorang dari kami akan pergi ke Kademangan. Kami persilahkan Pangeran untuk singgah di banjar padukuhan kami.”

Pangeran Benawa mengangguk. Jawabnya, ”Baiklah. Aku akan menunggu di banjar padukuhan ini.”

Pemimpin pengawal itu pun kemudian menjadi sibuk. Ia memerintahkan salah seorang pengawal untuk pergi berkuda ke Kademangan dengan pesan khusus. Sementara ia sendiri bersama seorang kawannya mengantar iring-iringan kecil itu ke banjar padukuhan.

Namun demikian, pemimpin pengawal itu tidak meninggalkan kewaspadaan. Dua orang kawannya yang lain, harus mengikutinya dari jarak yang cukup. Apabila terjadi sesuatu, mereka harus mengambil sikap. Bagaimanapun juga, tidak seharusnya mereka demikian saja percaya kepada seseorang yang mengaku dirinya Pangeran Benawa.

Ketika iring-iringan itu masuk ke banjar, maka dua orang pengawal yang mengawasi mereka, berada di halaman rumah di sebelah banjar. Sementara kawan-kawan mereka yang berpencar telah satu-satu mendekati regol dan menerima keterangan dari seorang pengawal yang mengetahui pembicaraan pemimpin mereka dengan pemimpin iring-iringan yang menyebut dirinya Pangeran Benawa.

“O, jadi orang-orang itu adalah Pangeran Benawa?” desis salah seorang dengan wajah yang tegang.

“Ya,” jawab kawannya.

“Apakah Pangeran Benawa tidak marah? Jika ia marah, maka kita semua akan mengalami nasib buruk.”

“Nampaknya Pangeran Benawa tidak marah. Ia dengan senang hati menerima ketika ia dipersilahkan singgah di banjar.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun mereka tetap berdebar-debar. Jika orang itu benar-benar Pangeran Benawa, mudah-mudahan ia tidak marah karenanya. Seolah-olah para pengawal di Sangkal Putung telah mencurigainya. Sebaliknya, jika orang itu-bukan sebenarnya Pangeran Benawa, maka padukuhan itu pun tentu akan menjadi ajang pertentangan, bahkan peperangan.

“Tetapi jika mereka bukan sebenarnya Pangeran Benawa, maka mereka tidak akan menunggu sampai para bebahu Kademangan datang ke padukuhan ini. Apalagi di antara mereka akan terdapat Kiai Gringsing dan Agung Sedayu” berkata para pengawal itu di dalam hati.

Ternyata bahwa orang-orang dalam iring-iringan itu tidak berbuat apa-apa di banjar padukuhan. Mereka benar-benar telah menunggu dengan duduk tertib di pendapa banjar, sehingga dengan demikian, maka para pengawalpun menjadi semakin yakin, bahwa sebenarnya pemimpin iring-iringan itu memang Pangeran Benawa.

Namun dalam pada itu, pemimpin pengawal di padukuhan itu pun menjadi semakin berdebar-debar. Jika Pangeran Benawa merasa tidak senang akan tingkah lakunya, maka akan ada akibat lain yang tidak diharapkannya.

Sementara itu, pengawal yang berpacu ke Kademangan telah melampaui beberapa bulak dan padukuhan. Ia tidak sempat berhenti dan memberikan banyak keterangan kepada para pengawal yang bersiap-siap karena keterangan pengawal yang terdahulu. Tetapi pengawal yang berpacu itu sempat menyebut nama, siapakah yang lewat melalui Kademangan Sangkal Putung itu.

“Menurut pendengaranku, yang lewat adalah Pangeran Benawa dengan pengiringnya,” berkata salah seorang dari mereka.

“Aku pun mendengar demikian. Tetapi apakah kau percaya?” bertanya yang lain.

“Entahlah. Ia berpacu seperti dikejar hantu,” berkata yang lain pula, ”pokoknya, kita harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Apakah mereka dipimpin oleh Pangeran Benawa, apakah oleh orang lain, kita memang harus bersiap. Jika benar mereka dipimpin oleh Pangeran Benawa, kita harus menyiapkan penyambutan. Jika iring-iringan itu dipimpin oleh orang lain yang mengaku Pangeran Benawa, kita bersiap-siap untuk bertempur. Hanya orang-orang yang melampaui kemampuan orang kebanyakan yang berani dengan terang-terangan menantang Sangkal Putung dalam keadaan seperti ini,” berkata pemimpin pengawal di padukuhan yang dilalui pengawal berkuda itu.

Dalam pada itu, pengawal yang terdahulu, dengan tergesa-gesa telah memasuki halaman Kademangan. Kedatangannya benar-benar telah mengejutkan seisi Kademangan, termasuk Kiai Gringsing yang sedang duduk di pendapa, di bawah lampu minyak yang berkeredipan. Hampir saja ia menyatakan keinginannya untuk besok kembali ke padepokannya, karena keadaan Swandaru yang telah menjadi baik.

Tetapi sebelum ia mengatakannya, maka pengawal yang baru datang itu telah melaporkan apa yang diketahuinya tentang sebuah iring-iringan yang mendekati Kademangan Sangkal Putung.

Ki Demang Sangkal Putung menjadi tegang. Ia pun segera memerintahkan memanggil Ki Jagabaya dan bebahu kademangan, sementara Swandaru yang telah menjadi bertambah baik itu, telah memerintahkan menyiapkan para pengawal pilihan.

“Kita menghadapi segala kemungkinan dengan kesiagaan penuh,” berkata Swandaru, ”mungkin mereka adalah orang-orang yang telah dibakar oleh dendam, sehingga mereka dengan terang-terangan telah menyerang Sangkal Putung.”

Kiai Gringsingpun menjadi termangu-mangu. Jika benar demikian, maka akan terjadi pertempuran terbuka. Dan dengan demikian, maka akan jatuh korban yang lebih banyak lagi.

Namun selagi Swandaru menyiapkan beberapa orang pengawal berkuda yang akan mendahului pergi ke padukuhan di ujung Kademangan, maka telah datang pengawal berikutnya, yang berpacu secepat pengawal yang pertama.

“Apa yang terjadi?” Swandaru-lah yang bertanya dengan tergesa-gesa.

Dengan nafas yang terengah-engah pengawal itu menjawab, ”Yang datang adalah iring-iringan dari Pajang di bawah pimpinan Pangeran Benawa.”

“He?” Swandaru terkejut, ”jika demikian, apakah kalian tidak dapat mengenal bahwa mereka adalah prajurit-prajurit Pajang?”

“Mereka tidak dalam gelar keprajuritan. Tidak seorangpun di antara mereka yang mengenakan pakaian keprajuritan. Yang berada di dalam iring-iringan itu adalah beberapa orang pimpinan pemerintahan Pajang,” sahut pengawal itu.

Swandaru menjadi bingung. Katanya, ”Aneh. Apakah mungkin begitu. Aku tidak yakin.”

Kiai Gringsing yang kemudian datangpun menjadi heran. Namun katanya, ”Marilah. Kita akan membuktikannya.”

Swandaru pun kemudian bersiap bersama beberapa orang pengawal terpilih, diikuti oleh Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Glagah Putih. Sementara Ki Demang dipersilahkan mempersiapkan penyambutan, jika benar-benar yang datang adalah Pangeran Benawa.

Sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan kecil telah meninggalkan Kademangan menuju ke padukuhan di ujung Kademangan Sangkal Putung. Dengan ragu-ragu mereka pergi menyongsong kedatangan Pangeran Benawa dengan cara yang aneh.

Ketika mereka sampai ke banjar padukuhan di ujung Kademangan, maka Swandaru mempersilahkan Kiai Gringsing dan Agung Sedayu berada di depan. Di belakang mereka adalah Swandaru sendiri dan Glagah Putih. Sementara para pengiringnya berada di belakang.

Demikian mereka memasuki regol halaman banjar, maka mereka pun segera berloncatan turun. Setelah menyerahkan kuda mereka kepada para pengiring, maka Kiai Gringsing, Agung Sedayu, Swandaru dan Glagah Putihpun segera pergi ke pendapa.

Agung Sedayu dan Kiai Gringsing pun kemudian menjadi berdebar-debar. Yang berada di pendapa itu benar-benar adalah Pangeran Benawa dengan para pengiringnya.

Karena itulah, maka demikian Agung Sedayu dan Kiai Gringsing naik ke tangga pendapa, mereka pun segera berjongkok. Swandaru yang berada di belakangnya bersama Glagah Putih pun ikut pula berjongkok dan kemudian berjalan sambil berjongkok di pendapa, maju mendekati Pangeran Benawa dan pengiringnya.

“Marilah, Agung Sedayu,” Pangeran Benawa tertawa, ”marilah Kiai Gringsing, Swandaru dan Glagah Putih.”

 

 

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan heran, di luar sadarnya ia bertanya, ”Pangeran sudah mengenal kami semuanya?”

“Kita pernah bertemu,” jawab Pangeran Benawa.

“Ya Pangeran. Tetapi saudara-saudara kami?”

Pangeran Benawa tertawa. Katanya, ”Aku pernah berada di Sangkal Putung. Karena Glagah Putih itulah maka aku telah membunuh kedua saudara dari Pesisir Endut, yang dendamnya menyala sampai beberapa hari yang lalu. Agaknya seorang prajurit muda telah berhasil membunuh Carang Waja yang gila itu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Nampaknya Pangeran Benawa tahu segala-galanya.

Karena itu, maka yang dilakukan oleh Agung Sedayu kemudian adalah mempersilahkan Kiai Gringsing untuk maju dan menemui Pangeran Benawa, sementara ia sendiri duduk di sebelah Swandaru dan Glagah Putih.

Dengan hormatnya Kiai Gringsing pun kemudian sebagaimana kebiasaannya menerima tamu adalah bertanya tentang keselamatan mereka di perjalanan. Pangeran Benawa pun menjawab seperti kebiasaan yang berlaku pula.

Namun kemudian Kiai Gringsing berkata, ”Pangeran. Tentu Pangeran tidak seyogyanya diterima di banjar padukuhan kecil ini. Kami mohon maaf, bahwa sambutan kami tentu agak mengecewakan, karena sebenarnyalah kedatangan Pangeran sangat mengejutkan kami. Sebelumnya Pangeran tidak memerintahkan utusan untuk memberitahukan kedatangan Pangeran ini.”

Pangeran Benawa tertawa. Katanya, ”Kiai bersikap sangat bersungguh-sungguh menerima kedatangan kami. Aku mohon Sangkal Putung menerima kedatangan kami seperti kedatangan orang lain. Kami hanya lewat dan mungkin seperti orang-orang lain yang kemalaman di perjalanan. Kami mohon tempat untuk menginap barang satu malam.”

“Tentu, tentu Pangeran. Aku rasa Ki Demang Sangkal Putung akan menyediakan dengan sepenuh hati. Tentu kedatangan Pangeran ke Sangkal Putung, bukannya karena kemalaman.”

“Ya. Benar-benar karena kemalaman. Tentu Kiai menganggap aneh. Tetapi sebenarnyalah kami berangkat terlalu siang. Bahkan setelah matahari mulai condong. Karena itulah maka kami kemalaman di perjalanan. Dan kami memang memilih Sangkal Putung sebagai tempat untuk menumpang bermalam.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sadar, bahwa ia bukannya orang yang berwenang menerima tamu agung dari Pajang yang mengejutkan itu. Karena itu, maka kemudian katanya, ”Pangeran. Anak muda ini adalah putra Ki Demang Sangkal Putung. Ia akan mempersilahkan Pangeran untuk pergi ke Kademangan. Pangeran akan diterima oleh Ki Demang dan para bebahu Kademangan sebagaimana seharusnya.”

“Aku sudah mengenal Swandaru. Bukankah putra Ki Demang itu murid Kiai Gringsing pula seperti Agung Sedayu?” Pangeran Benawa berhenti sejenak, lalu, ”Jika Swandaru ingin menerima kami di Kademangan, maka kami pun akan mengucapkan terima kasih. Tetapi tempat inipun sebenarnya sudah cukup baik bagi kami.”

“Pangeran,” berkata Swandaru, ”tentu lebih baik kami mempersilahkan Pangeran dan para pengiring untuk datang ke Kademangan. Kami sudah mempersiapkan penyambutan yang barangkali lebih baik dari tempat yang kotor ini.”

Pangeran Benawa memandang beberapa orang pengiringnya berganti-ganti. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, ”Baiklah Swandaru. Sebenarnya kami tidak ingin membuat kalian menjadi sibuk.”

“Kedatangan Pangeran adalah suatu kehormatan bagi kami,” berkata Swandaru pula.

Dengan demikian, maka Pangeran Benawa dan pengiring-pengiringnyapun kemudian meninggalkan banjar padukuhan di ujung kademangan itu menuju ke padukuhan induk. Sementara itu orang-orang di Kademangan telah menjadi sibuk, apalagi ketika dua orang pengawal yang diperintahkan oleh Swandaru untuk mendahului iring-iringan Pangeran Benawa itu telah sampai di Kademangan.

“Jadi benar-benar Pangeran Benawa yang datang?” bertanya Ki Demang.

“Ya. Benar-benar Pangeran Benawa,” jawab pengawal itu.

Karena itulah, maka di pendapa, di ruang dalam, dan bahkan di dapur sekalipun, telah terjadi kesibukan yang gelisah. Apa yang dikerjakan oleh orang-orang Sangkal Putung itu rasa-rasanya menjadi sangat lamban. Api di perapian rasa-rasanya tidak cukup panas untuk merebus air, sehingga terlalu lama mendidih.

Dalam pada itu, Pangeran Benawa dan para pengiringnya diikuti oleh Swandaru dan pengiringnya pula, menjadi semakin dekat dengan Kademangan Sangkal Putung. Di sepanjang perjalanan, rasa-rasanya Pangeran Benawa menjadi gelisah. Setiap kali ia berpaling memandangi Agung Sedayu atau Swandaru, yang berkuda agak jauh daripadanya.

Kiai Gringsing seolah-olah dapat melihat kegelisahan itu. Karena itu maka ia pun berkata kepada Swandaru, ”Nampaknya Pangeran Benawa ingin bertanya sesuatu. Dekatilah.”

Swandaru menjadi agak ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian mendekatinya. Beberapa pengiring Pangeran Benawa memandanginya dengan kerut merut di kening. Namun Swandaru adalah anak Ki Demang Sangkal Putung yang memang sudah sewajarnya untuk berada di dekat tamunya yang paling terhormat.

Ternyata dugaan Kiai Gringsing benar. Pangeran Benawa pun kemudian bertanya tentang berbagai hal yang dilihatnya. Ketika mereka melalui beberapa tempat pande besi, maka Pangeran Benawa pun bertanya tentang penggunaannya, karena di malam hari tempat itu nampak sepi.

Namun sementara itu, tiba-tiba saja Pangeran Benawa berbisik, ”Swandaru, mendekatlah.”

Swandaru pun kemudian bergeser semakin dekat. Dan ia pun mendengar Pangeran Benawa berkata perlahan-lahan tanpa berpaling kepadanya, ”Jangan didengar oleh orang lain. Pengiringkupun tidak.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin dekat. Tetapi ia seakan-akan memandang ke alur jalan di depannya tanpa berpaling kepada Pangeran Benawa, ”Apakah ada perintah Pangeran?” anak muda itu bertanya.

“Dengarlah baik-baik,” berkata Pangeran Benawa perlahan-lahan sekali sehingga hanya didengar oleh Swandaru, ”biarlah Agung Sedayu pergi ke Mataram. Beritahukan kepada Kangmas Raden Sutawijaya, bahwa aku dan beberapa orang pengiring, termasuk seorang Adipati, akan menghadap. Atas usul beberapa orang yang mencurigai Kakang Senapati Ing Ngalaga, Ayahanda Sultan memerintahkan aku dan beberapa orang untuk meyakinkan, bahwa Mataram tidak sedang dalam persiapan perang.”

“O,” Swandaru mengangguk-angguk. Ia mengerti apa yang dimaksud oleh Pangeran Benawa. Namun ia mengulanginya, ”Pangeran memerintahkan Kakang Agung Sedayu untuk menyampaikan kepada Senapati Ing Ngalaga, bahwa Pangeran akan datang bersama beberapa orang pengiring untuk melihat keadaan Mataram, karena kecurigaan beberapa orang bahwa Mataram akan memberontak melawan Pajang.”

“Ya. Tetapi jangan kau sendiri yang pergi. Kau adalah anak Demang Sangkal Putung yang harus ikut serta menerima tamu. Karena itu, biarlah Agung Sedayu mencari satu atau dua orang kawan dalam perjalanan,” Pangeran Benawa berhenti sejenak, lalu, ”juga jangan Kiai Gringsing. Biarlah ia ikut menerima tamu.”

Swandaru mengangguk kecil. Tetapi ia sama sekali tidak berpaling memandang Pangeran Benawa yang berkuda di sampingnya.

Iring-iringan itu pun akhirnya memasuki padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung. Meskipun hari telah malam, namun beberapa orang yang mendengar kedatangan tamu dari Pajang itu memerlukan menjenguk keluar regol halaman rumah masing-masing. Beberapa orang pengawal di gardu-gardu, berdiri berjajar di pinggir jalan ketika iring-iringan itu lewat di depan gardu mereka.

Beberapa orang pengiring Pangeran Benawa mengerutkan keningnya. Mereka melihat Sangkal Putung sebagai suatu kademangan yang besar dan kuat. Anak-anak muda yang sigap dan agaknya cukup terlatih menanggapi keadaan. Dalam waktu singkat, di setiap padukuhan telah berkumpul anak-anak muda yang nampaknya adalah para pengawal kademangan.

Pangeran Benawa yang berkuda di paling depan bersama Swandaru berpaling kepada para pengiringnya sambil berkata, ”Apakah kalian melihat ketangkasan anak-anak muda Sangkal Putung?”

Para pengiringnya mengangguk. Seorang dari antara mereka berkata, ”Pangeran, anak-anak muda Sangkal Putung benar-benar bersikap seperti prajurit yang telah dipersiapkan dalam masa perang.”

Bukan saja dada Swandaru yang berdesir mendengar kata-kata itu, tetapi Kiai Gringsing dan Agung Sedayu yang juga mendengar, menjadi berdebar-debar pula.

Tetapi Pangeran Benawa-lah yang menjawab, ”Tepat Paman Adipati. Dan ini bukan saja terjadi sejak kemarin siang atau kemarin malam. Sikap anak-anak muda Sangkal Putung itu telah ditempa sejak Kakang Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan dari Jipang berada di sekitar daerah ini. Kakang Tohpati yang tidak menyerah sepeninggal Pamanda Arya Penangsang, berusaha untuk mencari landasan geraknya di daerah lumbung padi ini. He, bukankah demikian?”

Para pengiringnya mengangguk-angguk.

“Saat itu, Ki Widura berada di sini dengan pasukannya. Kemudian disusul oleh Ki Untara. Pasukan itu kini ditarik ke Jati Anom dan masih dipimpin oleh senapati muda yang perkasa itu. Untara-lah yang berhasil mengalahkan Kakang Macan Kepatihan dan kemudian menawan sisa pasukannya.”

“Dan membiarkan iblis tua yang bernama Sumangkar itu untuk tetap berkeliaran,” salah seorang dari para pengiring Pangeran Benawa itu memotong.

“Apakah itu keliru? Apakah di kemudian hari Paman Sumangkar berbuat sesuatu yang merugikan Pajang?” bertanya Pangeran Benawa. ”Jika Pamanda Ki Gede Pemanahan memberikan kesempatan kepada Ki Sumangkar untuk bebas, maka agaknya Ki Sumangkar telah menghabiskan waktunya untuk berada di Sangkal Putung tanpa berbuat sesuatu yang dapat merugikan Pajang. Bahkan di saat meninggalnya, ia masih mendapat kehormatan dari Ayahanda Sultan dengan pertanda pribadinya yang diserahkan kepada Untara.”

Para pengiring Pangeran Benawa itu pun terdiam. Mereka memang melihat, dan sebagian, yang tidak sempat hadir pada waktu itu, mendengar bahwa masih banyak orang yang datang di saat Sumangkar meninggal di Sangkal Putung.

Sejenak kemudian,maka mereka pun sampai ke rumah Ki Demang Sangkal Putung. Beberapa orang telah siap menyambut tamu agung itu di regol halaman, termasuk Ki Demang dan para bebahu.

Dengan sangat hormat Ki Demang dan para bebahu Kademangan Sangkal Putung itu pun kemudian mempersilahkan Pangeran Benawa dan para pengiringnya masuk ke halaman. Setelah menyerahkan kuda-kuda mereka kepada para pengawal yang berada di halaman, maka para tamu itu pun kemudian naik ke pendapa.

Dengan tiba-tiba saja rumah Ki Demang itu menjadi ramai seperti sedang mengadakan peralatan. Lampu menyala di mana-mana. Dan orang-orangpun sibuk hilir mudik. Perempuan di dapur mengusap keringat yang mengembun di kening, sementara beberapa orang gadis telah bersiap untuk menghidangkan jamuan yang mereka siapkan dengan tergesa-gesa.

“Hati-hatilah,” pesan orang-orang tua kepada beberapa orang gadis yang akan menyediakan jamuan, ”tamu-tamu itu adalah orang-orang besar dari Pajang. Kalian harus melakukannya dengan baik dan dengan tata unggah ungguh yang benar.”

“Bagaimana yang benar itu?” bertanya seorang gadis.

Orang-orang tua itu saling berpandangan. Salah seorang dari mereka menggeleng sambil berkata, ”Aku tidak tahu.”

Beberapa orang perempuan itupun tiba-tiba saja telah berpaling kepada Pandan Wangi yang berada di dapur pula, seolah-olah mereka membebankan kepada perempuan itu untuk memberikan jawaban.

Pandan Wangi sendiri belum mengetahui unggah ungguh yang sebenarnya. Namun ia pun menjawab, ”Asal kalian sudah berbuat sebaik-baiknya. Berjalan sambil berjongkok. Duduk beberapa langkah di hadapan para tamu. Kemudian menyembah,” tiba-tiba saja Pandan Wangi berhenti, “apakah kalian harus menyembah?”

Dalam kebimbangan itu, terdengar suara di belakang pintu, ”Tidak ada salahnya. Tetapi tidakpun tidak apa-apa.”

Ketika mereka berpaling, mereka melihat Agung Sedayu berdiri di muka pintu dapur. Lalu katanya pula, ”Memang menjadi kebiasaan untuk menyembah seorang Pangeran kecuali di dalam istana, karena hanya raja sajalah yang disembah di dalam lingkungan istana. Tetapi Pangeran Benawa adalah seorang Pangeran yang mempunyai sifat-sifat khusus. Ia tidak menghiraukan, apakah orang lain menyembahnya atau tidak. Karena itu, kalian dapat menyembah lebih dahulu sebelum meletakkan mangkuk minuman, atau tidak sama sekali.”

“Tetapi sebutlah, yang manakah yang baik kami lakukan?” bertanya gadis-gadis itu.

Agung Sedayu justru termangu-mangu. Namun katanya kemudian, ”Kalian sebaiknya menyembahnya, karena Pangeran Benawa tidak seorang diri. Jika ia seorang diri, maka kalian dapat berbuat lebih bebas, karena pada suatu saat Pangeran Benawa sendiri pernah duduk di regol pasar dengan pakaian seorang petani.”

“Tetapi itu dalam keadaan yang khusus,” Pandan Wangi-lah yang menyahut.

“Ya. Kau benar. Sekarang Pangeran Benawa dalam kedudukannya yang resmi,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Dengan demikian maka gadis-gadis Sangkal Putung itu pun menjadi berdebar-debar. Seolah-olah mereka harus melakukan pekerjaan yang sangat sulit. Jarang sekali terjadi, bahwa mereka harus melayankan jamuan kepada seorang Pangeran.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: