Buku 125 (Seri II Jilid 25)

 

“Bukankah kalian pernah melakukannya bagi Senapati Ing Ngalaga, yang mempunyai kedudukan yang hampir sama? Raden Sutawijaya itu pun putra Sultan di Pajang, meskipun putra angkatnya.”

“Tetapi ia sangat baik dan seolah-olah tidak ada jarak dengan kami,” berkata salah seorang gadis.

“Demikian pula Pangeran Benawa,” sahut Agung Sedayu, “tetapi kalian memang lebih dekat dan sudah pernah melayankan hidangan kepada Raden Sutawijaya.”

Gadis-gadis itu masih saja berdebar-debar. Tetapi keterangan Agung Sedayu itu agak membuat hati mereka menjadi tenang. Jika benar seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, maka Pangeran Benawa tidak akan terlalu memperhatikan sikap dan unggah-ungguh mereka.

Dalam pada itu, Agung Sedayulah yang kemudian menanyakan, apakah mereka melihat Sekar Mirah.

“Baru saja keluar,” jawab Pandan Wangi, “mungkin ia berada di patehan, melihat anak-anak muda yang menyiapkan minuman.”

Agung Sedayu pun kemudian menyusul Sekar Mirah ke patehan di longkangan. Ternyata gadis itu memang berada di sana, memberikan beberapa petunjuk kepada anak-anak muda yang sedang membuat minuman.

“Ada sedikit yang ingin aku katakan,” bisik Agung Sedayu.

Sekar Mirah pun kemudian mengikutinya. Di balik longkangan, di sudut gandok yang sepi Agung Sedayu berkata, “Aku akan pergi.”

“He?” Sekar Mirah mengerutkan keningnya. “Bagaimana mungkin? Di sini kami sedang sibuk.”

“Sst,” desis Agung Sedayu, “ada pesan dari Pangeran Benawa.”

 

 

Sekar Mirah menjadi tegang. Kemudian, ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh keterangan Agung Sedayu, tentang pesan Pangeran Benawa lewat Swandaru.

Barulah Sekar Mirah mengerti persoalannya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah yang akan pergi bersamamu, Kakang? Mungkin di perjalanan kau tidak akan menjumpai kesulitan apa pun. Tetapi di malam hari, kadang-kadang ada saja sesuatu yang harus kita perhitungkan.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Katanya, “Menurut Pangeran Benawa, Swandaru dan guru sebaiknya tidak meninggalkan rumah ini.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun bertanya, “Jadi dengan siapakah Kakang akan pergi?”

“Aku tidak dapat memilih siapakah yang paling baik pergi bersamaku. Mungkin seorang pengawal yang paling baik menurut petunjuk Swandaru, atau barangkali Glagah Putih saja.”

“Apakah itu sudah cukup?” bertanya Sekar Mirah.

“Mungkin sudah cukup. Atau kedua-duanya. Glagah Putih dan seorang pengawal terpilih.”

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Hampir di luar sadarnya ia berkata, “Bagaimana jika aku saja?”

“Ah,” Agung Sedayu berdesah, “kau diperlukan dalam kesibukan ini.”

Sekar Mirah mengangguk kecil. Ia sadar, bahwa ia harus membantu mempersiapkan jamuan yang dengan tergesa-gesa dilakukan oleh perempuan-perempuan di Kademangan Sangkal Putung untuk menjamu tamu-tamu mereka, termasuk seorang Pangeran dan seorang Adipati.

“Tetapi, Kakang harus berhati-hati,” berkata Sekar Mirah, “mudah-mudahan tidak ada apa-apa di perjalanan.”

“Doakan saja, Sekar Mirah. Aku sekarang akan segera pergi dengan diam-diam. Jangan berkata kepada siapapun, karena jika hal ini diketahui oleh satu orang saja, maka mungkin sekali akan segera tersebar sampai ke telinga salah seorang pengiring Pangeran Benawa.”

“Bagaimana dengan seorang pengawal? Ia pun tentu akan bercerita kepada kawan-kawannya.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Jika demikian, aku akan pergi dengan Glagah Putih saja.”

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Tetapi jika hal itu dikehendaki oleh Pangeran Benawa, ia tidak dapat mencegahnya. Ia pun mengerti, bahwa Pangeran Benawa sebenarnya sangat mengasihi kakak angkatnya di Mataram, seperti Raden Sutawijaya juga mengasihinya.

Dalam pada itu, dengan diam-diam Agung Sedayu dan Glagah Putih segera mempersiapkan kuda mereka. Melalui longkangan belakang, keduanya pergi dengan diam-diam. Jangankan para tamu, orang-orang Sangkal Putung sendiri tidak mengetahui bahwa keduanya telah meninggalkan halaman.

“Kita lewat jalan-jalan setapak,” berkata Agung Sedayu, yang mengenal Sangkal Putung seperti mengenal padukuhannya sendiri. Karena itu, maka ia pun dapat memilih jalan keluar tanpa melalui sebuah gardu penjagaan pun, meskipun kadang-kadang mereka justru harus menuntun kuda mereka.

Demikianlah, ketika mereka sudah berada di luar padukuhan, maka kuda mereka pun segera berpacu. Dengan cepat mereka melintasi bulak-bulak dan padukuhan-padukuhan. Sejauh mungkin Agung Sedayu menghindari gardu-gardu yang dapat menghambat perjalanannya. Apalagi selama mereka masih berada di tlatah Sangkal Putung.

Agung Sedayu harus dengan secepatnya mencapai Mataram. Kemudian dengan secepat-cepatnya pula kembali ke Sangkal Putung. Jarak antara Sangkal Putung dan Mataram memang cukup panjang, sehingga perjalanan itu merupakan perjalanan yang cukup berat, jika menjelang pagi mereka harus sudah berada di Sangkal Pulung kembali. Apalagi jika ada sesuatu yang dapat menghambat perjalanan mereka.

Namun, ternyata di perjalanan menuju ke Mataram, nampaknya mereka tidak menemui gangguan sesuatu. Meskipun jalan gelap dan kadang-kadang mereka masih harus melalui jalan di pinggir hutan, namun mereka tidak mendapat hambatan yang berarti.

Dalam pada itu, di Sangkal Putung yang seolah-olah dengan tiba-tiba saja telah menyelenggarakan sebuah perhelatan, telah menjadi sangat ramai. Kademangan Sangkal Putung menjadi terang benderang. Apalagi halaman rumah Ki Demang, yang penuh dengan obor di setiap sudut dan bagian dari kebun dan longkangan.

Dalam kesibukan itu, tidak seorang pun yang menyadari, bahwa Agung Sedayu tidak berada di halaman rumah Ki Demang itu, kecuali orang-orang tertentu yang memang berkepentingan. Anak-anak muda yang sibuk itu kadang-kadang memang ada yang bertanya, dimana Agung Sedayu. Tetapi Sekar Mirah selalu dapat mencari jawabnya. Jika ia berada di patehan, ia mengatakan Agung Sedayu ada di pendapa. Tetapi jika anak-anak yang dari pendapa bertanya dimana Agung Sedayu, ia menjawab bahwa Agung Sedayu berada di sumur atau di longkangan.

Namun bagaimanapun juga, Sekar Mirah menjadi berdebar-debar juga. Ia mengerti, betapa di malam hari, meskipun sebagian besar jalan telah lapang dan rata, tetapi hutan-hutan seperti Tambak Baya, kadang-kadang masih merupakan daerah yang sangat mendebarkan. Bulak yang panjang dan kemudian jalan yang menembus daerah yang masih berhutan lebat, bahkan masih merupakan daerah jelajah para perampok dan penyamun.

Terhadap satu dua orang perampok dan penyamun. Sekar Mirah tidak perlu mencemaskan nasib Agung Sedayu. Tetapi jika sekelompok dari mereka bersama-sama mencegatnya di hutan Tambak Baya, maka hal itu akan dapat merupakan peristiwa yang gawat.

Tetapi, Agung Sedayu tidak mengalami sesuatu di perjalanan. Glagah Putih ternyata merupakan anak muda yang memang mempunyai kemampuan yang besar dan kemungkinan yang baik di masa mendatang. Di dalam gelapnya malam, ia mampu berkuda dengan cepatnya mengikuti Agung Sedayu. Ketika sekali mereka berhenti di pinggir Kali Opak, tidak nampak kesan kelelahan atau perasaan cemas pada Glagah Putih. Ia pun dengan sigap kembali meloncat ke punggung kudanya yang telah sempat minum air sungai yang jernih, dan beristirahat barang sejenak.

Ketika mereka memasuki Mataram di gelapnya malam, maka para penjaga di regol telah menghentikannya. Tetapi karena keduanya tidak mencurigakan, maka mereka tidak mengalami banyak kesulitan.

Meskipun Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak menyatakan diri mereka dan kepada siapa ia akan menghadap, namun para penjaga tidak terlalu banyak bertanya tentang mereka. Adalah mungkin sekali seseorang yang datang dari jarak jauh yang kemalaman di perjalanan. Apalagi Agung Sedayu dapat menyebut beberapa nama, justru orang-orang yang sudah banyak dikenal di Mataram dan mengaku sebagai sanak kadangnya yang datang dari jauh, meskipun nama itu bukan Senapati Ing Ngalaga.

Tetapi, ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih sampai di regol rumah yang didiami oleh Raden Sutawijaya, maka ia harus mengatakan, bahwa mereka memang akan menghadap Raden Sutawijaya.

“Kenapa malam-malam begini?” bertanya pengawal yang menjaga regol halaman.

“Penting sekali. Kami tidak dapat menundanya sampai besok,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi, siapakah kalian?” pengawal itu mendesak.

Agung Sedayu termangu-mangu. Seperti di Pajang, maka sudah barang tentu bahwa tidak semua orang di Mataram dapat dipercaya. Mungkin sekali penjaga itu adalah orang yang dengan sengaja di tempatkan oleh orang-orang yang justru memusuhi Mataram.

Karena itu, maka Agung Sedayu berkata, “Apakah kalian dapat menyampaikan pesan kedatanganku kepada Ki Lurah Branjangan?”

Sejenak pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ki Lurah tidak bertugas malam ini.”

“Tetapi, bukankah rumahnya di belakang rumah ini dan setiap saat dapat dihubungi?”

“Kau aneh. Katakan, siapakah kalian dan apakah keperluan kalian?” bentak penjaga itu.

“Ki Lurah mengenal kami. Jika Ki Lurah ada, maka Ki Lurah akan dapat mengurus segalanya,” Agung Sedayu termangu-mangu. Lalu, “Atau, antarkan kami kepada Ki Lurah.”

Selagi kedua penjaga regol itu termangu-mangu, tiba-tiba saja seorang perwira pengawal datang sambil bertanya, “Ada apa dengan mereka?”

“Mereka ingin menghadap. Tetapi sikap mereka justru mencurigakan. Mereka mungkin sekali berniat buruk dengan merahasiakan diri mereka.”

“Aku tidak merahasiakan. Aku hanya mengatakan, bahwa Ki Lurah mengenal kami.”

Tiba-tiba perwira itu mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Bukankah kau…”

“Ya,” sahut Agung Sedayu sambil menjabat tangan perwira itu. Namun ia berbisik, “Aku datang dengan pesan rahasia.”

Perwira itu termangu-mangu. Ia tidak jadi menyebut nama Agung Sedayu. Apalagi Agung Sedayu seolah-olah justru telah mendesaknya semakin jauh dari para penjaga dan membiarkan kendali kudanya dipegang oleh Glagah Putih.

“Sebaiknya jangan ada orang lain yang mengetahui, apakah yang aku lakukan di sini,” desis Agung Sedayu pula.

Tetapi perwira itu tersenyum. Katanya lirih, “Orang-orangku dapat dipercaya. Petugas-petugas di rumah ini adalah petugas-petugas khusus yang dipilih melalui beberapa tataran.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah. Mudah-mudahan begitu.”

“Kau harus yakin. Jika tidak, kau pun wajib mencurigai aku,” sahut perwira itu sambil tertawa.

Agung Sedayu justru menjadi termangu-mangu. Tetapi ia pun kemudian tertawa pula. Desisnya, “Mudah-mudahan aku dapat yakin kemudian.”

Meskipun demikian, ternyata perwira itu tidak menyebut juga nama Agung Sedayu. Dengan termangu-mangu, penjaga regol itu melihat perwira yang kebetulan sudah mengenal Agung Sedayu itu membawanya masuk dan langsung ke longkangan, bersama Glagah Putih.

“Apakah kau akan bertemu dengan Senapati Ing Ngalaga malam ini juga?” bertanya perwira itu.

“Ya, penting sekali. Aku membawa pesan Pangeran Benawa.”

“He?” wajah orang itu menegang. Lalu, “Baiklah. Aku akan membangunkannya.”

Perwira itu telah membawa Agung Sedayu ke ruang pengawal dalam. Kemudian, bersama salah seorang dari mereka memasuki bagian tengah dari rumah yang besar itu.

“Tunggulah di sini,” berkata pengawal dalam itu.

“Cepatlah sedikit,” berkata perwira yang membawa Agung Sedayu dan Glagah Putih itu.

Pengawal dalam itu pun kemudian menuju ke pintu bilik Senapati Ing Ngalaga. Sejenak ia termangu-mangu.

Namun kemudian, ia pun mengetuk pintu bilik itu.

Sejenak kemudian, pintu itu terbuka. Seorang yang mempunyai perbawa yang sangat besar, telah berdiri di muka pintu, sementara pengawal dalam itu menganggukkan badannya penuh hormat.

“Kenapa kau bangunkan aku?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ampun, Senapati. Ada seseorang yang ingin menghadap, membawa berita yang sangat penting yang tidak dapat ditunda sampai besok,” jawab pengawal dalam itu.

Raden Sutawijaya pun kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Yang dilihatnya di ruang sebelah lewat pintu hanyalah bayangan yang melekat dinding.

Namun katanya kemudian, “Bawa mereka kemari.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian melangkah surut, untuk mempersilahkan perwira pengawal yang membawa Agung Sedayu dan Glagah Putih.

Demikian Sutawijaya melihat Agung Sedayu, sejenak ia menegang. Namun kemudian ia pun tertawa sambil berkata, “Kau, Agung Sedayu. Marilah. Duduklah di ruang dalam. Kedatanganmu tentu akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Tetapi tentu bukan kedatangan dan kematian Carang Waja.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk penuh hormat, karena bagaimanapun juga, ia berhadapan dengan Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram.

“Terima kasih,” jawab Agung Sedayu, “kami mohon maaf, bahwa kami datang di malam larut.”

Raden Sutawijaya tertawa. Jawabnya, “Aku justru berterima kasih. Tentu kau membawa persoalan yang sangat mendesak. Bukan hanya sekedar menginap karena kemalaman dalam perjalananmu.”

 

 

“Senapati benar. Aku memang membawa kabar penting,” sahut Agung Sedayu.

Sejenak kemudian, maka Raden Sutawijaya pun membawa Agung Sedayu dan Glagah Putih ke ruang tengah. Sementara perwira yang membawanya pun kemudian minta diri meninggalkan ruangan itu, bersama pengawal dalam yang telah membangunkan Raden Sutawijaya.

Setelah Raden Sutawijaya bertanya tentang keselamatan Agung Sedayu di perjalanan bersama Glagah Putih, maka ia pun berkata, “Nah, sekarang katakanlah. Apakah yang penting itu bagi kami di Mataram?”

Agung Sedayu pun kemudian mengatakan, bahwa Pangeran Benawa berada di Sangkal Putung dalam perjalanannya ke Mataram. Dan ia pun telah menyampaikan pesan Pangeran Benawa kepada Raden Sutawijaya tentang keperluannya dan mempersilahkan Raden Sutawijaya untuk menyesuaikan diri.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berdesis, “Itulah, Agung Sedayu. Ada orang-orang tertentu di Pajang yang selalu mencari-cari kesalahanku. Ketika kita berada di Gunung Merapi, di lembah antara gunung itu dan Gunung Merbabu, maka Pajang telah berbuat serupa. Tetapi agaknya mereka belum puas, karena mereka tidak menemukan yang mereka kehendaki. Seolah-olah Mataram sedang mempersiapkan diri untuk memberontak terhadap Pajang. Waktu itu aku sempat mengaburkan kedatangan pasukanku agar mereka memasuki kota dalam pecahan-pecahan kecil, sehingga petugas-petugas dari Pajang tidak melihat pasukan yang seolah-olah dipersiapkan untuk melawan Pajang. Kini Pajang justru mengutus Pangeran Benawa sendiri untuk datang ke Mataram.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Demikianlah yang harus aku sampaikan kepada Senapati Ing Ngalaga.”

“Aku mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Aku akan menyesuaikan diri. Namun sebenarnyalah di Mataram tidak ada kegiatan yang pantas disebut atau dianggap sebagai satu persiapan pemberontakan. Adalah wajar sekali jika pengawal-pengawalku mengadakan latihan-latihan perang di daerah Ganjur atau di pinggir hutan Kleringan. Dan bahkan kadang-kadang memasuki lebatnya hutan Tambak Baya dan sisa-sisa hutan Mentaok, untuk menambah ketangkasan dan ketrampilan mereka. Jika latihan-latihan yang demikian dianggap sebagai suatu persiapan pemberontakan, maka aku tidak mengerti, kegiatan apakah yang dapat aku lakukan sebagai seorang yang telah dianugrahi gelar Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Ia memang tidak banyak mengerti tentang tata pemrintahan. Ia juga tidak mengerti batas kewajiban dan wewenang Raden Sutawijaya. Dan ia pun tidak mengerti, apakah kedudukan Raden Sutawijaya itu adalah kedudukan yang memang sudah ada sejak masa pemerintahan sebelum Pajang, atau baru ada karena di Pajang ada seorang Raden Sutawijaya, yang mempunyai kedudukan dan sikap khusus.

Sementara itu Raden Sutawijaya meneruskan, “Baiklah, Agung Sedayu. Malam ini juga, aku akan memerintahkan menarik semua pasukan yang sedang mengadakan latihan-latihan perang-perangan di daerah yang terpencar. Biarlah mereka memasuki baraknya masing-masing, sementara para pengawal padukuhan yang setiap saat dapat aku siapkan sebagai pengawal-pengawal dan prajurit, akan aku perintahkan kembali ke padukuhan masing-masing. Sehingga besok saat Pangeran Benawa memasuki Mataram, sama sekali tidak ada kegiatan keprajuritan, kecuali pasar-pasar yang ramai dan kedai-kedai yang penuh dengan para pembeli. Mungkin aku juga akan menyiapkan penyambutan dengan berbagai macam pertunjukan, jika Pangeran Benawa berkenan bermalam di Mataram.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kekecewaan di wajah Raden Sutawijaya atas sikap orang-orang Pajang. Tetapi Raden Sutawijaya masih tetap hormat dan patuh kepada Sultan di Pajang, yang juga merupakan ayah angkatnya dan sekaligus salah seorang gurunya dalam olah kanuragan. Bahkan agaknya jiwa petualangannya dan juga jiwa menyepi dan pemusatan panca indra di tempat-tempat terasing untuk mematangkan dan mendewasakan diri dalam bentuknya yang beraneka, adalah karena pengaruh gurunya, yang juga rajanya dan yang juga orang tuanya itu.

Dalam pada itu, ketika Agung Sedayu menganggap bahwa ia sudah cukup jelas menyampaikan pesan Pangeran Benawa, maka katanya, “Tugas yang dibebankan kepadaku agaknya sudah cukup aku lakukan. Karena itu, maka kami akan segera mohon diri. Segala sesuatunya mudah-mudahan akan dapat berjalan dengan baik dan selamat.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Bermalam sajalah di sini.”

“Terima kasih, Senapati. Aku harus sudah berada di Sangkal Putung menjelang matahari naik, agar tidak menimbulkan beberapa kecurigaan. Karena itu, maka aku harus segera kembali dan secepatnya sampai ke Sangkal Putung.”

Senapati Ing Ngalaga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau mempunyai tanggung jawab yang besar. Kau, gurumu dan saudara seperguruanmu yang gemuk itu, ternyata terlalu banyak memberikan bantuan terhadap berdiri dan tegaknya Mataram. Karena itu, aku setiap kali akan selalu mengucapkan terima kasih kepada kalian.”

“Yang aku lakukan sama sekali tidak berarti,” sahut Agung Sedayu.

Namun Raden Sutawijaya itu pun bertanya, “Bagaimana dengan kudamu? Meskipun lelah dan barangkali punggungmu terasa sakit, tetapi kau tidak berlari dari Sangkal Putung ke Mataram dan sebaliknya. Karena itu, jika kudamu lelah dan barangkali dapat mengganggu perjalananmu, biarlah kau berdua memakai kuda dari Mataram, agar kudamu sempat beristirahat di sini.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Kudanya memang tentu lelah setelah menempuh perjalanan dari Sangkal Putung ke Mataram. Kuda itu hanya berhenti sebentar di pinggir Sungai Opak. Meskipun ia dapat memaksa kudanya untuk berlari kembali ke Sangkal Putung setelah berhenti pula sejenak di Mataram, tetapi seperti yang dikatakan oleh Raden Sutawijaya, kudanya tentu merasa lelah.

Tawaran Raden Sutawijaya itu memang menarik perhatiannya. Besok atau lusa atau kapan saja, ia dapat pergi ke Mataram dan kembali dengan kudanya sendiri bersama Glagah Putih.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun berkata, “Terima kasih. Jika demikian, aku akan menerimanya dengan senang hati. Biarlah kuda kami tinggal dan beristirahat di sini. Pada saatnya kami akan mengembalikan kuda yang kami bawa dan menukarkannya kembali dengan kuda kami.”

Raden Sutawijaya tersenyum. Ia pun kemudian bertepuk dua kali. Ketika seorang pengawal dalam datang mendekatinya, maka diperintahkannya agar seorang gamel menyiapkan dua ekor kuda dan membawa dua ekor kuda yang dipakai oleh Agung Sedayu dan Glagah Putih ke kandang.

Gamel yang mendapat perintah itu pun segera mengerti maksudnya. Betapapun malasnya, maka sambil menguap ia pun terpaksa menyiapkan dua ekor kuda. Meneliti segala sesuatunya sampai ke tapal kakinya. Karena jika tapal kaki kuda itu kendor, maka kuda itu akan mengalami kesulitan di perjalanan.

Setelah ternyata segalanya siap, maka kuda itu pun diserahkan kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih, yang telah mohon diri kepada Senapati Ing Ngalaga.

“Berhati-hatilah di perjalanan. Aku kira tidak akan ada gangguan apa pun juga. Meskipun demikian, kadang-kadang masih ada juga orang-orang yang tidak bertanggung jawab di sepanjang jalan,” berkata Senapati Ing Ngalaga.

“Kami mohon diri,” berkata Agung Sedayu, “mudah-mudahan tidak ada sesuatu yang dapat mengeruhkan ketenangan yang selama ini terbina sebaik-baiknya.”

Raden Sutawijaya tersenyum. Ia pun mengerti, bahwa Agung Sedayu menangkap ketegangan yang ada di antara Mataram dan Pajang. Karena itu, maka Agung Sedayu pun tentu mengerti, bahwa ketenangan yang dimaksudkan, adalah ketenangan yang tegang.

Sejenak kemudian, Agung Sedayu dan Glagah Putih pun segera meninggalkan Mataram. Mereka tidak melalui regol kota yang mereka lalui ketika mereka masuk. Tetapi mereka memilih regol yang lain, agar para penjaga tidak terlalu banyak bertanya dan bahkan mencurigai. Karena semakin banyak pertanyaan yang harus mereka jawab, maka mereka akan semakin banyak mengalami kesulitan untuk merahasiakan keperluan mereka datang ke Mataram.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih pun meninggalkan Mataram tanpa kesulitan. Mereka segera berpacu di sepanjang bulak. Kuda yang mereka pakai adalah kuda yang tegar dan kuat, seperti kuda yang mereka bawa dari Sangkal Putung. Apalagi kuda itu adalah kuda yang segar, yang belum merasa lelah karena perjalanan. Dengan demikian, maka perjalanan mereka kembali ke Sangkal Putung dapat mereka lakukan secepat perjalanan mereka berangkat dari Sangkal Putung ke Mataram.

Menjelang dini hari, keduanya telah mendekati Sangkal Putung. Seperti saat mereka berangkat, maka ketika mereka kembali, Agung Sedayu pun memilih jalan yang paling sepi dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat menyulitkannya.

Untunglah, bahwa menjelang dini hari, Sangkal Putung benar-benar masih sepi. Tanpa melalui gardu-gardu perondan, Agung Sedayu menyusup memasuki padukuhan induk. Mereka berdua justru menuntun kuda mereka melalui jalan-jalan sempit. Namun akhirnya mereka berhasil mendekati Kademangan. Dan bahkan kemudian keduanya memasuki Kademangan lewat pintu butulan.

Tetapi, ternyata bahwa ada juga seseorang yang melihat keduanya memasuki halaman di belakang sambil menuntun kuda masing-masing. Karena itu, maka orang itu pun bertanya, “He, dari manakah kalian berdua?”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Glagah Putih minta aku mengajarinya bermain dengan kuda.”

“Apakah ia belum terbiasa naik kuda?” bertanya orang itu.

“Bukan belum terbiasa naik kuda. Tetapi ia ingin menguasai kuda dan bermain-main dengan langkah-langkah yang menarik. Kuda kami memang kuda pilihan, yang dapat menari dengan langkah-langkah kakinya.”

Orang itu tidak bertanya lebih lanjut. Sekilas ia melihat dua ekor kuda yang besar dan tegar. Sambil mengerutkan keningnya ia mengamati kuda itu sejenak, seolah-olah ia baru melihat kuda itu untuk pertama kali. Namun orang itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia memang belum mengenal dengan baik kuda Agung Sedayu dan Glagah Putih yang mereka bawa dari Jati Anom. Karena itu, ia tidak dapat mengatakan sesuatu tentang kedua ekor kuda yang terasa asing baginya itu.

Setelah memasukkan kuda mereka ke kandang dan melepas pelananya, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih pun segera pergi ke longkangan. Namun Agung Sedayu berbisik, “Masuk sajalah ke bilikmu dan cobalah untuk berbaring.”

“Tetapi, tubuhku basah oleh keringat.”

“Sekali-sekali mencoba tidur dengan pakaian basah,” desis Agung Sedayu.

Tetapi Glagah Putih pun pergi juga mencuci kaki dan tangannya, mengusap wajahnya dan kemudian masuk ke dalam biliknya di gandok, tanpa menarik perhatian orang lain. Ia sama sekali tidak menyentuh anak-anak muda yang tidur di longkangan setelah tamu-tamu yang berada di Sangkal Putung pun tertidur pula. Sementara Agung Sedayu masih harus menemui Swandaru dan melaporkan hasil perjalanannya.

Ternyata Swandaru tidak tidur di dalam biliknya. Ia berbaring di serambi, pada sebuah lincak bambu. Beberapa orang yang ikut membantu menjamu para tamu Ki Demang pun tertidur pula dengan nyenyaknya, di atas amben bambu pula di serambi belakang, berdesakan.

Swandaru terkejut, ketika Agung Sedayu menyentuh kakinya. Dengan serta merta ia bangkit. Namun ia pun menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Agung Sedayu berdiri di sisinya

“Kau sudah datang?” bertanya Swandaru.

“Baru saja,” jawab Agung Sedayu.

Swandaru pun kemudian mempersilahkan Agung Sedayu duduk di sebelahnya. Dengan berdebar-debar ia pun bertanya, apakah Agung Sedayu berhasil menemui Raden Sutawijaya langsung.

“Ya,” jawab Agung Sedayu, “aku dapat bertemu dengan Raden Sutawijaya sendiri dan mengatakan kepadanya segala pesan Pangeran Benawa.”

“Apa katanya?”

“Ia akan menyesuaikan diri,” jawab Agung Sedayu.

Swandaru menarik nafas panjang. Desisnya, “Untunglah, bahwa Raden Sutawijaya bersedia menyesuaikan diri.”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Jika Raden Sutawijaya justru tersinggung karenanya, dan dengan sengaja pula menunjukkan kepada orang-orang Pajang, bahwa Mataram sudah siap menghadapi segala kemungkinan, maka akibatnya akan parah,” jawab Swandaru.

“Ah, apakah mungkin demikian?” Agung Sedayu termangu-mangu.

“Menurut Guru, mungkin saja. Raden Sutawijaya sama sekali tidak mau merubah sikapnya untuk tidak datang ke paseban Pajang. Seakan-akan ia memang sudah mengeraskan hatinya meskipun ia mengerti, bahwa hal itu dapat mengakibatkan kurang baik bagi dirinya sendiri, bagi Mataram dan bagi Pajang,” jawab Swandaru pula, “Karena itulah, maka mungkin pula ia justru dengan sengaja menunjukkan Mataram yang sebenarnya.”

Agung Sedayu menggeleng. Katanya, “Tidak. Untunglah bahwa kali ini Raden Sutawijaya tidak berbuat demikian. Seperti yang dilakukannya ketika ia kembali dari lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.”

Swandaru mengangguk-angguk. Nampaknya, bagaimanapun juga Raden Sutawijaya tidak dapat menantang ayahandanya, Sultan Pajang.

“Baiklah,” berkata Swandaru, “nanti, pada suatu kesempatan aku akan mengatakan kepada Pangeran Benawa. Ia sudah berusaha untuk mendapat kesempatan itu. Karena itu, ia sengaja berangkat menjelang sore hari dari Pajang, sehingga akan kemalaman di Sangkal Putung. Menurut Pangeran Benawa, ia memang ingin bermalam di kademangan ini.”

“Agaknya Raden Sutawijaya tetap menghormati Pangeran Benawa pula. Ia mengerti, betapa Pangeran Benawa berusaha berbuat sebaik-baiknya bagi Mataram.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Mudah-mudahan hubungan antara Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya tetap baik. Apa pun yang akan dilakukan orang, tetapi jika kedua orang itu tetap saling menghormati, maka hubungan antara Pajang dan Mataram tidak akan bertambah buruk.”

“Mudah-mudahan. Sementara beberapa orang masih tetap pada rencananya untuk menemukan kesempatan bagi kepentingan diri mereka sendiri,” berkata Agung Sedayu, yang tiba-tiba melanjutkan, “Mataram sudah mengetahui segalanya yang terjadi di sini. Kematian Carang Waja telah didengar oleh Raden Sutawijaya.”

“Demikian cepatnya,” desis Swandaru, “bagi Pajang tidak mengherankan, karena ada jalur laporan lewat senapati prajurit Pajang di Jati Anom. Apalagi beberapa orang prajurit telah terlibat pula.”

“Tetapi hampir setiap orang mendengarnya. Dan berita demikian akan segera menjalar.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah, Kakang Agung Sedayu. Aku akan mengatakannya pada kesempatan yang tepat. Tetapi, dimana Glagah Putih?”

“Ia berada di dalam biliknya. Biarlah ia beristirahat. Perjalanan ini baginya tentu sangat melelahkan.”

Swandaru mengangguk. Jawabnya, “Aku dapat membayangkan. Kuda-kuda itu tentu sangat lelah pula.”

“Aku membawa kuda dari Mataram. Kuda kami, kami tinggalkan di Mataram atas tawaran Raden Sutawijaya sendiri.”

“O,” Swandaru menarik nafas panjang. “Syukurlah. Itu merupakan pertanda, bahwa kedatanganmu berkenan di hati Raden Sutawijaya.”

“Ya,” desis Agung Sedayu, “kita berharap, bahwa kedatanganku ke Mataram di malam hari ini ada gunanya.”

Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan Swandaru, yang duduk di lincak bambunya. Namun sementara itu, di dapur telah mulai terdengar beberapa orang perempuan menyiapkan perapian untuk merebus air.

“Sudah pagi,” desis Swandaru. Tetapi karena masih sepi, ia pun telah berbaring lagi dan membiarkan orang-orang di dapur mulai menyiapkan air panas untuk minuman. Sementara jika air sudah mendidih, maka anak-anak muda itu akan dibangunkan dan mempersiapkan minuman di pendapa, apabila tamu-tamu dari Pajang itu telah terbangun.

Dalam pada itu, Agung Sedayu pun segera pergi ke biliknya dan berbaring di samping Glagah Putih, yang ternyata masih belum tidur juga.

“Tidurlah,” desis Agung Sedayu.

“Sebentar lagi hari akan pagi. Ayam sudah mulai berkokok untuk yang terakhir kalinya malam ini.”

“Kau masih mempunyai waktu barang sekejap. Biarlah kau tidak usah ikut membantu menyiapkan minuman dan jamuan pagi bagi para tamu. Aku pun merasa lelah dan akan beristirahat.”

Glagah Putih tidak menjawab. Tubuhnya memang terasa letih sekali. Semalaman ia berada di atas punggung kuda tanpa tidur sekejap pun. Karena itu, maka ketika ia merasa sejuknya dini hari mengusap tubuhnya, tanpa dikehendakinya, matanya pun telah terpejam.

Berbeda dengan Glagah Putih, Agung Sedayu tidak dapat dan memang tidak ingin untuk tidur. Daya tahan tubuhnya jauh lebih baik dari Glagah Putih. Karena itu, maka Agung Sedayu masih dapat mengatasi perasaan lelah dan kantuknya.

Bahkan kemudian, ia mendengar langkah mendekati pintu biliknya. Ketika pintu berderit, ia melihat Kiai Gringsing berdiri termangu-mangu.

Agung Sedayu pun kemudian bangkit dan duduk di bibir pembaringan. Sementara Kiai Gringsing melangkah masuk.

“Berbaringlah. Kau tentu lelah.”

“Terima kasih, Guru. Tetapi aku tidak lelah sekali.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Kau berhasil?”

Sekali lagi Agung Sedayu menceritakan hasil perjalanannya. Sambil mengangguk-angguk Kiai Gringsing berdesis, “Syukurlah. Sekarang, beristirahatlah. Kita berdoa, agar tidak terjadi sesuatu, justru di antara orang-orang Pajang itu terdapat orang yang meragukan.”

Ketika Kiai Gringsing melangkah meninggalkannya, Agung Sedayu pun membaringkan dirinya kembali. Tetapi ia memang tidak ingin tidur, karena tidur yang hanya sekejap justru akan dapat membuatnya menjadi pening.

“Jika tamu-tamu itu sudah berangkat ke Mataram, biarlah aku tidur sehari suntuk,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Sementara itu, langit pun menjadi semakin cerah. Demikian air mendidih, maka perempuan-perempuan di dapur membangunkan anak-anak muda yang tidur di serambi, untuk menyiapkan minuman bagi para tamu, yang sebentar lagi tentu akan bangun pula.

Swandaru yang berada di serambi itu pun kemudian bangkit pula. Ketika anak-anak muda mulai mempersiapkan minuman, Swandaru pun pergi ke pakiwan untuk mandi, mendahului para tamu yang sebentar lagi tentu akan terbangun pula.

Seperti yang diduganya, maka satu dua orang tamu itu pun mulai terbangun dan pergi ke pakiwan. Pangeran Benawa yang turun ke halaman, tidak segera pergi mandi, tetapi ia masih berjalan mengelilingi halaman, sambil melihat-lihat beberapa batang pohon bunga. Beberapa saat ia berhenti di dekat sebatang pohon bunga soka putih yang sedang berkembang.

Swandaru yang kemudian pergi ke longkangan, melihat Pangeran Benawa berjalan-jalan di halaman seorang diri, segera menghampirinya. Ia pun kemudian berdiri pula di sebelah pohon bunga soka putih itu.

“Bagus sekali bunga soka ini,” berkata Pangeran Benawa.

“Ya, Pangeran,” jawab Swandaru agak canggung.

Sekilas Swandaru melihat dua orang pengiring Pangeran Benawa berdiri di sudut gandok. Tetapi agaknya keduanya sedang berbicara di antara mereka.

“Di sudut halaman itu terdapat sebatang pohon ceplok piring,” berkata Pangeran Benawa pula, “agaknya istri dan adik perempuanmu sempat juga memelihara pohon bunga-bungaan di halaman.”

Swandaru memaksa diri untuk tertawa. Jawabnya, “Mereka tidak mempunyai kerja apa pun di sini, Pangeran. Itulah sebabnya mereka sempat memelihara pohon-pohon bunga. Hanya kadang-kadang saja mereka ikut pergi ke sawah bersama-sama perempuan yang lain di musim menanam dan menuai padi.”

Pangeran Benawa pun tertawa pula. Namun kemudian Pangeran itu bertanya, “Bagaimana dengan Agung Sedayu?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia menjawab, “Ia sudah kembali, Pangeran.”

“Apakah ia bertemu dengan kakangmas Senapati Ing Ngalaga?”

“Ya,” jawab Swandaru, yang kemudian melaporkan apa yang sudah dilakukan oleh Agung Sedayu bersama Glagah Putih di Mataram.

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah. Aku masih mengharap, bahwa jurang yang memisahkan Pajang dan Mataram akan dapat dipersempit. Tetapi, sementara itu ada juga orang lain yang dengan gigih berusaha untuk membenturkan Pajang dan Mataram. Dengan demikian, maka keduanya tentu akan hancur dan setidak-tidaknya menjadi lemah.”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling, dilihatnya dua orang yang berdiri di sudut gandok, masih berdiri di tempatnya. Keduanya nampaknya masih asyik berbicara tentang kademangan Sangkal Putung. Agaknya keduanya belum juga berminat untuk pergi ke pakiwan, meskipun Sangkal Putung sudah menjadi semakin terang.

Justru Pangeran Benawa-lah yang kemudian berkata, “Aku akan mandi. Aku akan pergi ke Mataram segera, setelah setiap orang di dalam kelompok kecil kami sudah bersiap.”

“Agaknya kami sedang menyiapkan makan pagi bagi Pangeran dan para pengiring,” jawab Swandaru.

Pangeran Benawa tersenyum. Jawabnya, “Terima kasih.”

Ketika Pangeran Benawa kemudian melangkah ke pakiwan, maka Swandaru pun menarik nafas dalam-dalam. Ia menganggap Pangeran Benawa itu orang yang aneh. Ia sudah mendengar, bahwa Pangeran Benawa sama sekali tidak berminat untuk mewarisi kerajaan. Bahkan ia seolah-olah tidak mau menghiraukan pemerintahan Pajang yang sedang surut. Ia lebih senang mengembara dan bertualang atau tinggal di dalam biliknya menekuni kitab-kitab yang berisi berbagai macam ilmu dan hasil kesusasteraan.

Swandaru mengerutkan keningnya, ketika ia melihat langkah Pangeran Benawa tertegun di longkangan. Ternyata Agung Sedayu telah berada di serambi gandok dan dengan serta merta berdiri menghormat.

“Selamat pagi, Agung Sedayu,” sapa Pangeran Benawa.

Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, “Selamat pagi, Pangeran. Apakah Pangeran akan mandi?”

Pangeran Benawa mengangguk. Jawabnya, “Hari sudah semakin terang. Matahari akan segera naik. He, apakah kau baru saja bangun?”

Pertanyaan itu membingungkan Agung Sedayu. Tetapi akhirnya ia menjawab, “Aku tidak baru saja bangun, Pangeran. Tetapi aku memang baru keluar dari bilik di gandok sebelah kiri.”

Pangeran Benawa tertawa. Ia tahu pasti, bahwa Agung Sedayu tentu merasa sangat lelah karena perjalanannya yang semalam suntuk. Karena itu katanya, “Aku sudah mendengar serba sedikit tentang kau. Kau memang seorang pemalas. Aku kira kau masih akan kembali ke dalam bilikmu dan tidur sampai matahari sepenggalah.”

“Ah tidak, Pangeran. Aku tidak akan tidur lagi. Entah nanti setelah Pangeran berangkat ke Mataram.”

Pangeran Benawa benar-benar tertawa mendengar gurau Agung Sedayu, sehingga beberapa orang telah berpaling kepadanya.

“Ah, sudahlah. Aku akan mandi,” berkata Pangeran Benawa, sambil melangkah meninggalkan Agung Sedayu yang berdiri di serambi gandoknya. Dipandanginya langkah Pangeran Benawa. Ketika tanpa sengaja ia berpaling ke halaman, dilihatnya Swandaru masih saja berdiri memandangnya. Sejenak keduanya berpandangan. Namun seperti berjanji keduanya pun tersenyum.

Tetapi Swandaru kemudian melangkah pergi. Melingkari gandok ia pergi ke belakang. Dilihatnya orang-orang di dapur sudah menjadi semakin sibuk menyiapkan makan pagi bagi para tamu. Ki Demang memperhitungkan, bahwa tamu-tamunya akan berangkat pagi-pagi, sehingga perjalanan mereka masih terasa cukup segar di saat mereka berangkat.

Sejenak kemudian, maka para tamu dari Pajang itu pun telah duduk berjajar di pendapa, ditemui oleh Ki Demang Sangkal Putung dan Kiai Gringsing. Mereka masih sempat berbincang tentang kemajuan yang dicapai oleh Sangkal Putung sejak tempat itu bebas dari kecemasan, sepeninggal Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan.

“Hadirnya Macan Kepatihan itu banyak memberikan pengalaman bagi kami,” berkata Ki Demang.

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Beruntunglah Ki Demang mempunyai anak seperti Swandaru. Ia adalah anak muda yang memiliki tanggung jawab yang besar bagi masa depan kademangan ini. Ia sudah melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat. Ia tidak hanya pandai mengeluh, mengumpat dan akhirnya berolok-olok tentang keadaan dan tentang dirinya sendiri. Tetapi ia sudah bekerja keras, merombak segala macam cela yang tidak disukainya.”

 

 

“Ah,” desah Ki Demang, “ia adalah anak yang malas. Ia hanya berbuat sesuatu yang disukainya.”

“Tetapi yang disukainya ternyata bermanfaat bagi Kademangan Sangkal Putung. Meskipun ketika kami lewat, pande besi itu tidak sedang bekerja, namun melihat beberapa perapian aku dapat membayangkan, apa yang dapat mereka lakukan di siang hari,” berkata Pangeran Benawa.

“Ya, ya, Pangeran,” Ki Demang mengangguk-angguk.

“Jalur-jalur air di persawahan pun memberikan gambaran yang sangat baik bagiku,” sambung Pangeran Benawa.

Sementara, Ki Demang mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya, ya, Pangeran.”

Pangeran Benawa masih berbicara tentang beberapa hal mengenai Sangkal Putung. Bukan saja memuji, tetapi ia dapat menyebut pula beberapa kekurangan yang dapat diperbaiki oleh anak-anak muda Sangkal Putung.

Sementara itu, Kiai Gringsing masih sempat memperhatikan para pengiring Pangeran Benawa yang ada di pendapa itu. Ia melihat beberapa macam tanggapan pada wajah-wajah itu. Dengan ragu-ragu ia mencoba untuk mencari makna dari kesan yang didapatkannya.

Sebagian dari para pengiring Pangeran Benawa membenarkan kata-kata Pangeran Benawa. Mereka pun melihat apa yang dilihat oleh Pangeran Benawa. Dan mereka pun ikut berbangga karenanya. Sangkal Putung, sebuah kademangan, telah berhasil membina dirinya sendiri dengan baik dan mapan.

Namun beberapa wajah yang lain menunjukkan kesan yang berbeda. Mereka menganggap kemajuan yang dapat dicapai oleh Kademangan Sangkal Putung justru sebagai satu masalah.

Tetapi Kiai Gringsing tidak berani memastikan dugaannya. Ia hanya membaca pada wajah-wajah yang memberikan kesan yang berbeda. Tetapi ia sadar, bahwa tangkapannya akan dapat salah dan bahkan mungkin berlawanan.

Untuk beberapa saat, Pangeran Benawa masih berbincang. Apalagi ketika para bebahu Sangkal Putung yang lain pun berdatangan. Maka Pangeran Benawa pun banyak memberikan pendapatnya bagi perkembangan Kademangan itu.

Kiai Gringsing yang hanya mengangguk-angguk saja mendengarkan pembicaraan itu, berusaha untuk menangkap arti sikap dan kata-kata Pangeran Benawa.

Agung Sedayu dan Swandaru, yang kemudian ikut pula duduk di pendapa sempat mendengarkan beberapa kesan yang dikatakan oleh Pangeran Benawa. Kesan yang bagi Swandaru dapat membesarkan hatinya.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu seolah-olah melihat Pangeran Benawa agak berbeda dengan Pangeran Benawa yang pernah dikenalnya. Yang duduk di pendapa itu, benar-benar menunjukkan sikap seorang Pangeran yang menyadari kedudukannya. Berbicara tentang salah satu kademangan yang berada di bawah pengaruh dan kuasanya. Sementara Pangeran Benawa yang pernah dikenalnya adalah seorang Pangeran yang acuh tidak acuh, kecewa dan menuruti kehendaknya sendiri.

“Apakah karena sekarang Pangeran Benawa itu berada di Sangkal Putung bersama pengiringnya dan dalam kedudukannya sebagai seorang Pangeran, atau memang terdapat perubahan sikap dari Pangeran Benawa itu?” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Lalu, “Tetapi bahwa ia telah memerintahkan aku untuk mendahuluinya, masih juga nampak, bahwa Pangeran Benawa sangat mengasihi kakak angkatnya yang berada di Mataram. Atau justru satu perhitungan yang masak tentang perkembangan hubungan antara Mataram dan Pajang. Termasuk salah satu usaha untuk mempersempit jarak yang digali oleh beberapa orang yang ingin melihat ayah dan anak angkat itu hancur bersama-sama.”

Dalam pada itu, orang-orang Sangkal Putung pun kemudian menghidangkan makan pagi bagi para tamu mereka, karena para tamu itu akan segera meninggalkan Kademangan Sangkal Putung.

Ketika matahari naik, maka Pangeran Benawa pun kemudian minta diri. Bersama para pengiringnya, ia pun melanjutkan perjalanannya ke Mataram untuk melaksanakan tugas yang dibebankan oleh ayahanda Sultan Pajang kepadanya, melihat dari dekat perkembangan yang ada di Mataram.

Dalam satu kesempatan, Pangeran Benawa berbisik di telinga Agung Sedayu, “Ikutilah perkembangan keadaan dengan saksama. Kau adalah seorang yang tidak mempunyai kedudukan apa pun juga. Tetapi kedudukan yang demikian justru memberikan banyak kemungkinan bagimu untuk menunjukkan pengabdianmu. Apakah itu bernama Pajang, apakah itu bernama Mataram, namun pada suatu saat akan nampak, manakah loyang dan manakah emas.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak sempat menjawab, karena beberapa orang pengiring Pangeran Benawa telah mendekatinya dan berjalan seiring.

Sejenak kemudian, maka Pangeran Benawa dan para pengiringnya pun telah menerima kuda masing-masing. Sebelum Pangeran itu meloncat ke punggung kudanya, ia masih berkata kepada Ki Demang, “Terima kasih atas segalanya dalam penerimaan ini. Doakan, agar perjalanan kami selamat sampai ke Mataram. Mudah-mudahan perjalanan kami tidak memberikan kesan sekelompok prajurit yang pergi berperang, meskipun kami sudah dengan sengaja tidak mempergunakan gelar keprajuritan sama sekali.”

Ki Demang hanya tersenyum saja sambil mengangguk dalam-dalam. Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing telah menangkap satu isyarat, bahwa yang dikatakan Pangeran Benawa itu lebih ditujukan kepada pengiringnya sendiri.

Demikianlah, maka iring-iringan para utusan dari Pajang itu meninggalkan Sangkal Putung. Di setiap regol, gardu-gardu, simpang tiga dan simpang empat, bahkan hampir di setiap jengkal tanah, orang-orang Sangkal Putung berdiri di pinggir jalan melihat para pemimpin dari Pajang itu lewat, menuju ke Mataram dengan tugas khusus mereka.

Namun dalam pada itu, tidak seorang pun dari para pengiring Pangeran Benawa yang mengetahui, bahwa sebelum mereka sampai ke Mataram, ternyata telah ada orang dari Sangkal Putung yang mendahului menghadap Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram.

Sementara itu, sepeninggal tamu mereka, Kademangan Sangkal Putung terasa menjadi sepi. Yang kemudian sibuk adalah beberapa orang anak muda yang sedang mencuci mangkuk, sementara beberapa orang perempuan sibuk mencuci alat-alat dapur.

“Sisa hidangan itu masih terlalu banyak,” berkata salah seorang perempuan yang membantu di dapur.

“Biarlah anak-anak muda itu makan lagi,” berkata Sekar Mirah, “mereka tentu senang untuk duduk di longkangan dan dihadapi beberapa tenong makanan dan lauk pauk.”

Ternyata seperti yang dikatakan oleh Sekar Mirah, maka anak-anak muda pun sejenak kemudian asyik dengan beberapa tenong makanan dan lauk-pauk. Mereka makan sambil berkelakar. Namun karena itu justru mereka tidak merasa, bahwa perut mereka menjadi terlalu kenyang.

“Tamu-tamu itu makan terlalu sedikit,” berkata seorang anak muda yang gemuk, lebih gemuk dari Swandaru.

“Mereka adalah piyayi agung. Memang berbeda dengan kita,” sahut seorang anak muda yang bertubuh kurus, tetapi justru makan terlalu banyak.

Glagah Putih yang ikut makan bersama anak-anak muda itu tersenyum-senyum. Tetapi ternyata bahwa Glagah Putih yang kekurus-kurusan itu makan cukup banyak pula.

Sementara anak-anak muda itu makan di longkangan, Swandaru nampak sedang berbicara dengan Agung Sedayu. Nampaknya ia sedang bersungguh-sungguh.

“Mudah-mudahan Raden Sutawijaya benar-benar menyesuaikan diri dalam arti yang baik,” berkata Swandaru sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Aku mempercayainya,” desis Agung Sedayu.

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya pula, “Agaknya memang demikian. Syukurlah. Aku masih selalu berdebar-debar. Jika permusuhan antara Pajang dan Mataram semakin memuncak, maka Sangkal Putung masih belum siap benar untuk menghadapinya.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Di luar sadarnya ia bertanya, “Jika benar demikian, bahkan seandainya terjadi perselisihan antara Pajang, yang dikendalikan oleh beberapa orang yang justru ingin melihat Pajang dan Mataram hancur, dengan Mataram, apakah yang sebaiknya kita lakukan?”

“Apalagi?” berkata Swandaru, “Seharusnya sudah jelas bagi kita. Di hadapan kita adalah sepasukan prajurit Pajang.”

“Kita harus bertempur melawan prajurit Pajang?”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada yang datar, “Kedudukanmu memang sulit, Kakang. Tetapi kau harus berpegangan pada suatu sikap. Siapapun yang harus kau hadapi.”

“Kau benar, Swandaru. Seandainya aku berpegangan kepada suatu sikap, maka sikap itu harus dapat dipertanggung-jawabkan. Harus mempunyai dasar berpijak dan tujuan yang jelas. Bukan tiba-tiba saja kita menentukan tempat, dimana kita akan berdiri,” sahut Agung Sedayu.

Swandaru memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Kakang, apakah masih kurang jelas? Justru kau-lah yang selalu menjadi sasaran utama dari orang-orang yang mengaku pewaris kerajaan Majapahit itu.”

“Aku sependapat. Tetapi kenapa kau sebut Pajang?”

“Sebagian dari mereka berada di Pajang.”

“Mereka memang berada di Pajang. Tetapi apakah dengan demikian, sikap itu adalah sikap Pajang? Ingat, Swandaru, justru Pajang adalah salah satu sasaran mereka pula.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia menjadi tegang. Meskipun suaranya tertahan, namun nampak gejolak perasaannya yang mulai memanasi perasaannya, “Kakang. Kau seharusnya dapat menilai sikap Pangeran Benawa. Kenapa Pangeran Benawa memerintahkan kau pergi ke Mataram? Bukankah itu suatu pertanda, bahwa Pangeran Benawa sendiri sudah berpihak kepada Mataram?”

“Kau salah tangkap, Swandaru. Yang dilakukan oleh Pangeran Benawa bukannya dimana ia akan berpihak. Tetapi ia berusaha untuk menimbuni jurang yang terbentang antara Pajang dan Mataram.”

“Itu adalah tangkapan yang tidak wajar. Yang seolah-olah dipengaruhi oleh perasaan ragu-ragu, dan bahkan takut melihat kenyataan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak ingin berbantah. Jika ia masih saja menjawab, maksudnya adalah untuk menjelaskan persoalannya. Tetapi agaknya Swandaru telah berdiri pada suatu sikap, yang menurut Agung Sedayu kurang tepat.

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat memaksakan pendapatnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata kepada diri sendiri, “Aku harus segera memberitahukan kepada Guru, bahwa Swandaru memandang persoalan antara Pajang dan Mataram dengan sudut pandangan yang menyebelah.”

Karena Agung Sedayu tidak menjawab, maka Swandaru berkata seterusnya, “Kakang. Mulailah melihat kenyataan. Apakah yang dilakukan oleh prajurit Pajang di Jati Anom. Mereka selalu mengawasi perkembangan setiap padukuhan di daerah ini. Bukan suatu kebetulan jika beberapa orang prajurit Pajang di Jati Anom melihat orang-orang Pasisir Endut ada di sini. Mereka tentu sedang melihat-lihat, apakah yang telah dilakukan oleh padukuhan-padukuhan di daerah ini, termasuk Sangkal Putung. Tetapi mereka sudah melihat suatu kenyataan, bahwa Sangkal Putung, meskipun hanya sebuah kademangan, tetapi Sangkal Putung memiliki kekuatan yang harus mereka perhitungkan. Prajurit yang bernama Sabungsari itu mungkin bukan seorang prajurit biasa. Ia dengan sengaja di tempatkan di daerah ini dengan pengenal, seorang prajurit. Tetapi sebenarnya ia adalah seorang yang paling baik di antara prajurit Pajang,” Swandaru berhenti sejenak, memandang wajah Agung Sedayu yang menegang pula.

Tetapi Agung Sedayu kemudian menarik nafas dalam-dalam. Jika ia masih saja membantah, maka akhirnya ia akan benar-benar terlibat ke dalam suatu perselisihan dengan Swandaru. Namun agaknya karena kediaman Agung Sedayu itu, Swandaru berkata lebih lanjut, “Tetapi, Kakang. Pajang sekarang sudah melihat, bahwa Sangkal Putung memiliki kekuatan yang tidak kalah dari Pajang. Apa yang dapat dilakukan oleh Sabungsari? Ia memang berhasil membunuh Carang Waja, tetapi ia sendiri terluka parah. Bahkan sudah dapat disebut mati pula, jika ia tidak segera mendapat pertolongan Guru. Tetapi, seandainya prajurit itu membiarkan Carang Waja bertempur melawan aku, mungkin akibatnya akan berbeda. Aku sudah dilukainya. Tetapi aku kira aku dapat membunuhnya dengan keadaanku yang masih lebih baik daripadanya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Sementara Swandaru berkata seterusnya, “Nah, pikirkanlah baik-baik. Tetapi, aku pun berharap, agar Raden Sutawijaya dapat mengekang diri, sehingga perselisihan yang tidak mungkin dielakkan lagi itu tidak terjadi sekarang. Tetapi beberapa saat mendatang, sehingga Sangkal Putung benar-benar sudah siap untuk menghadapinya.”

Namun di luar dugaan Swandaru, Agung Sedayu berkata, “Tetapi Sekar Mirah mengharap aku menjadi seorang prajurit. Justru prajurit Pajang.”

“Memang tidak ada salahnya,” sahut Swandaru kemudian setelah berpikir sejenak, “tetapi pada saatnya, kau harus menentukan sikap, jika kau tidak ingin berada dalam kedudukan yang semakin sulit. Di Pajang ada kakakmu, Untara. Tetapi di Mataram ada Guru dan Raden Sutawijaya yang baik terhadap kita. Yang mempunyai cita-cita yang utuh buat hari depan. Bukan sekedar membiarkan dirinya digumuli oleh kemukten tanpa menghiraukan keadaan yang sebenarnya. Kau memang harus memilih, Kakang Agung Sedayu. Tetapi kau harus menilai, apakah Untara sudah mendapatkan dirinya pada tempat yang benar.”

Bagaimanapun juga, terasa dada Agung Sedayu bergejolak. Tetapi ia benar-benar tidak ingin berbantah. Meskipun ia merasa tersinggung juga karena Swandaru sudah menyebut nama kakaknya, Untara, namun Agung Sedayu menganggap lebih baik untuk diam daripada berselisih paham. Apalagi masalahnya masih belum terlalu jelas dan pasti.

Karena itu, maka ia pun hanya mengangguk-angguk kecil. Namun ia menjadi prihatin karena sikap Swandaru. Anak muda itu juga telah salah menilai Sabungsari dan Carang Waja. Karena menurut penilaian Agung Sedayu, Swandaru masih harus membuat perhitungan yang lebih cermat untuk menempatkan dirinya sejajar dengan kedua orang yang hampir saja sampyuh itu.

“Tetapi mungkin Swandaru memiliki sesuatu yang belum aku mengerti,” Agung Sedayu mencoba untuk menenangkan hatinya sendiri.

Karena Agung Sedayu tidak menjawab, dan hanya mengangguk-angguk kecil, maka Swandaru menganggap bahwa Agung Sedayu dapat mengerti dan menyadari kekeliruannya. Karena itu, maka katanya, “Cobalah, Kakang, kau ulangi mempertimbangkan segala-galanya. Kau akan melihat kenyataan itu, dan kau tidak akan lagi terombang-ambing oleh keragu-raguan. Kau adalah saudara tuaku dalam perguruan kecil ini. Dan kau pun memiliki kemampuan yang tinggi. Meskipun setelah kita berpisah untuk beberapa saat lamanya, justru pada waktu kita mendapat kesempatan untuk mengembangkan ilmu kita masing-masing, aku tidak mengerti dengan pasti, sampai dimana kemampuan yang dapat kau capai dan kematangan ilmu kita masing-masing, namun kau mempunyai bekal yang cukup. Seandainya kau belum dapat mencapai tingkat yang sejajar dengan Sabungsari, maka selisih itu hanyalah selapis tipis. Kau dalam kesempatan yang luas, memang belum berhasil membunuh Carang Waja, karena keadaanmu sendiri agaknya sudah terlalu letih dan parah, namun Carang Waja pun ternyata tidak mampu membunuhmu.”

Sekali lagi Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia melihat, Swandaru telah salah menilai dirinya. Tetapi sudah barang tentu, bahwa Agung Sedayu tidak akan dapat menepuk dadanya sambil berkata, “Aku sudah mengalahkan Sabungsari.”

“Sudahlah, Kakang,” berkata Swandaru, “lebih baik kita membantu anak-anak itu. Jika Kakang lebih tekun sedikit dengan ilmu yang sudah ada, maka kita akan dapat mematangkan ilmu, yang pada dasarnya sulit dicari bandingnya.”

Hampir di luar sadarnya Agung Sedayu mengangguk kecil. Namun ketika ia melihat Swandaru melangkah pergi, hatinya menjadi berdebar-debar. Ia merasa, apa pun yang dilakukannya adalah salah. Jika ia berusaha meletakkan penilaian yang sewajarnya tentang Swandaru, tentang Sabungsari dan tentang dirinya, maka ia akan menyinggung perasaan anak muda yang gemuk itu. Tetapi jika ia tidak mengatakannya, berarti ia telah membiarkan Swandaru dalam kesesatan. Penilaian yang salah dalam perbandingan ilmu, akan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesulitan.

Tetapi sekali lagi Agung Sedayu berkata di dalam hatinya, “Mungkin ada yang belum aku ketahui tentang Swandaru. Mungkin selama ini ia sudah menemukan sesuatu yang dapat membuatnya menjadi seorang anak muda yang tidak ada duanya.”

Namun dengan dibebani oleh kebimbangan tentang adik seperguruannya, Agung Sedayu pun melangkah pergi. Tetapi kebimbangannyapun telah berkembang pula. Bukan saja tentang Swandaru, tetapi juga tentang dirinya sendiri. Mula-mula ia sudah berniat untuk benar-benar menjadi seorang prajurit Pajang. Tetapi kepergian Pangeran Benawa dalam tugas khusus ke Mataram membuatnya menjadi ragu-ragu. Jika benar terjadi perselisihan dan benturan kekerasan antara Pajang dan Mataram, dimanakah ia harus berdiri? Apakah ia akan berdiri di antara prajurit-prajurit Pajang, memusuhi Raden Sutawijaya? Tetapi jika tidak demikian, dan ia berdiri di antara para pengawal Mataram, apakah ia akan melawan kakak kandungnya, Untara?.

Terngiang di telinganya kata-kata Swandaru, “Kedudukanmu memang sulit, Kakang.”

Dada Agung Sedayu berdesir karenanya. Kata-kata itu telah berulang kali mengumandang di hatinya. Setiap kali, terasa jantungnya berdesir dan kegelisahan mencengkam perasaannya.

Untunglah Agung Sedayu segera menyadari keadaannya. Ia pun kemudian melangkah ke serambi dan memasuki biliknya di gandok dengan hati yang bergejolak.

Agung Sedayu dengan hati yang gelisah, kemudian duduk di bibir pembaringannya. Ada bermacam-macam persoalan yang bergejolak di dalam dadanya.

Ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat Glagah Putih memasuki bilik itu pula sambil berdesis. Sekali-sekali ia mengusap mulutnya dan keringat yang mengembun di dahi.

“Kenapa kau, Glagah Putih?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku terlalu banyak makan sambal, Kakang,” jawab Glagah Putih sambil berdesis.

Agung Sedayu memaksa bibirnya untuk tersenyum. Katanya, “Kau sudah makan?”

“Kakang belum?”

“Sudah. Aku mengantarkan para tamu makan di pendapa,” ia berhenti sejenak. Lalu “He, bukankah kau juga sudah makan?”

Glagah Putih tertawa. Katanya, “Aku makan lagi di belakang, bersama anak-anak muda. Mereka sudah makan. Tetapi ternyata kelebihan jamuan itu terlalu banyak. Sebagian dibagi untuk tetangga-tetangga dan sebagian diberikan kepada mereka yang telah membantu di dapur untuk mereka bawa pulang. Tetapi ternyata masih juga tersisa banyak sekali. Bahkan sekarang pun makanan dan hidangan yang lain masih banyak di dapur.”

“Apakah siang dan malam nanti kita tidak akan makan?”

“Sudah dingin. Tentu orang-orang di dapur sudah masak pula untuk makan siang dan malam nanti,” jawab Glagah Putih sambil duduk di pembaringan pula. Dibukanya bajunya sambil berdesis, “Udara panas sekali.”

“Tidak. Tetapi kau-lah yang kepanasan, karena kau terlalu banyak makan sambal,” sahut Agung Sedayu.

Glagah Putih tidak membantah, ia mengusap keringatnya yang mengalir di seluruh tubuhnya.

Keduanya berpaling, ketika mereka mendengar langkah memasuki pintu. Ternyata adalah Kiai Gringsing yang tertegun melihat Glagah Putih. Sambil tersenyum ia berkata, “Kau tentu tidak mengantuk lagi sekarang.”

Glagah Putih hanya tertawa saja. Tetapi ia tidak menjawab.

“Marilah, Guru,” Agung Sedayu mempersilahkan.

Kiai Gringsing pun kemudian duduk di sisi Agung Sedayu. Agaknya memang ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Namun sekali-sekali nampak Kiai Gringsing memandang Glagah Putih yang mengipasi dirinya dengan bajunya.

“Minumlah,” berkata Agung Sedayu kemudian, “dan duduklah di tempat terbuka, agar kau merasa agak sejuk.”

“Aku ingin tidur saja,” berkata Glagah Putih.

“Itu tidak baik. Baru saja kau makan,” jawab Agung Sedayu dengan serta merta, “berjalan-jalanlah dahulu barang beberapa lama. Tetapi pakai bajumu itu.”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun memakai bajunya dan melangkah keluar. Perlahan-lahan ia melangkah ke belakang untuk mencari minum dan segumpal gula kelapa.

Sementara itu, Kiai Gringsing mulai berkata dengan sungguh-sungguh, “Apakah Swandaru mengatakan sesuatu kepadamu tentang dirinya sendiri, tentang Sangkal Putung, Pajang dan tentang Mataram?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya, “Maksud Guru, tentang hubungan Pajang dan Mataram?”

“Ya, dan sangkut pautnya.”

“Dengan sungguh-sungguh tidak, Guru. Tetapi sepintas lalu saja.”

“Apa yang dikatakannya?”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun Kiai Gringsing kemudian berkata, “Ia datang kepadaku dan mengatakan, bahwa kau mempunyai penilaian yang kabur tentang keadaan yang sebenarnya sekarang ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Ia memang mengatakannya hal itu, Guru.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk, sementara Agung Sedayu mengatakan apa yang baru saja dibicarakan dengan Swandaru sepintas tentang keadaan dan tentang diri Agung Sedayu sendiri.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk, sementara Agung Sedayu berkata, “Guru. Sebenarnya aku memang akan mengatakan kepada Guru tentang keadaan dan sikap Swandaru. Tetapi aku tidak tahu, apakah Swandaru memang sudah memiliki bekal yang berhasil dicarinya di antara ilmu yang pernah dimiliki sebelumnya.”

Kiai Gringsing menggeleng sambil menjawab, “Aku belum yakin, Agung Sedayu. Tetapi aku kira aku perlu untuk mengetahuinya dengan pasti. Karena itu, maka aku akan tinggal untuk beberapa lamanya di Sangkal Putung. Mungkin aku dapat mengetahui apa yang telah dimiliki oleh Swandaru. Namun yang penting bagiku, aku ingin menempatkan Swandaru pada penilaian yang wajar tentang dirinya dan orang-orang lain di sekitarnya. Mungkin aku akan dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang berguna baginya dalam perkembangannya selanjutnya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dan gurunya berkata seterusnya, “Aku tidak meragukan kau lagi, Agung Sedayu. Dalam peningkatan dan pencapaian ilmu selanjutnya. Tetapi juga dalam sikap dan pandangan hidup. Meskipun tidak ada seorang pun yang sempurna di muka bumi ini. Namun kau sudah berusaha untuk menuju ke arahnya dengan sadar, bahwa kau tidak akan pernah sampai kepadanya, kecuali hanya mendekati saja.”

Agung Sedayu hanya menundukkan kepalanya saja.

“Dengan demikian,” berkata gurunya, “jika saatnya kau akan kembali, maka aku akan tinggal untuk sementara di Sangkal Putung. Justru karena aku menjadi cemas melihat sikap dan penilaian Swandaru terhadap orang lain dan dirinya sendiri. Keberhasilan yang dicapainya di kademangannya, agaknya membuatnya salah menangkap perkembangan keadaan tentang dirinya sendiri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya wajah gurunya. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Namun demikian, Kiai Gringsing seolah-olah melihat sesuatu melintas di sorot mata Agung Sedayu. Karena itu maka katanya, “Agung Sedayu. Aku tidak akan terlalu lama. Aku tidak melupakan pesan dan rontal yang kau bawa dari Ki Waskita. Tentang rontal yang disebut-sebutnya ada padaku, biarlah kita bicarakan pada kesempatan yang lain.”

Pesan Kiai Gringsing, pesan Ki Waskita dalam surat rontal, dan penyempurnaan ilmunya berdasarkan pengenalannya atas makna isi kitab Ki Waskita, merupakan persoalan yang masih membebani Agung Sedayu. Tetapi seperti pesan gurunya dan juga pesan Ki Waskita, bahwa yang sudah diketahui dan dipahatkannya dalam ingatannya itu, dapat dipelajarinya perlahan-lahan tanpa mengganggu keadaan jasmani dan rohaninya. Agung Sedayu sudah pernah mengalami gangguan jasmani pada saat ia menekuni ilmunya di dalam goa yang terasing, kemudian ketika ia memaksa diri menyelesaikan isi kitab Ki Waskita. Sehingga dengan demikian, maka ia pun akan dapat berhati-hati untuk selanjutnya.

“Nah, Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing, “jika kau kembali, tentu Sabungsari akan sering datang lagi kepadamu. Ia agaknya sudah berubah dan menemukan suatu sikap yang baru dalam hidupnya. Namun kau masih harus tetap berhati-hati, karena pada suatu saat, kemungkinan yang tidak terduga-duga tentu masih akan dapat tumbuh di dalam hatinya. Meskipun agaknya aku condong pada suatu pendapat, bahwa ia benar-benar telah dengan sadar menilai keadaannya.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya dengan nada datar, “Ya, Guru. Aku akan tetap berhati-hati menghadapi segala kemungkinan, yang kadang-kadang datang dengan tiba-tiba tanpa aku ketahui sangkan parannya. Meskipun demikian, aku mohon agar Guru tidak terlalu lama tinggal di Sangkal Putung. Namun masalah yang gawat pada diri adi Swandaru memang harus mendapat pengamatan khusus. Lahir dan batinnya.”

“Mudah-mudahan aku dapat berbuat sesuatu. Mudah-mudahan aku pun masih dapat menolongnya, mempersiapkan dirinya dengan meningkatkan ilmu kanuragannya, sehingga alangkah baiknya, apabila ia benar-benar berada pada tataran seperti yang di anggapnya.”

Agung Sedayu masih mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan gurunya. Jika Swandaru masih mungkin bersedia mesu diri meningkatkan ilmunya, maka ia akan dapat benar-benar pada tataran seperti yang dikatakannya.

 

 

“Syukurlah, jika ia memang sudah memiliki kemampuan itu tanpa setahuku dan di luar pengamatan guru, sehingga pada suatu saat nanti Guru akan berbangga melihat bekal Swandaru yang semakin tinggi,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Sementara itu, Glagah Putih telah memasuki biliknya sambil mengunyah gula kelapa.

“Kau makan apa lagi?” bertanya Agung Sedayu ketika anak itu duduk di sampingnya.

“Gula kelapa,” jawab Glagah Putih singkat.

“Dari mana kau dapat?”

“Mbokayu Sekar Mirah.”

“Kau makan saja tidak henti-hentinya. Tetapi justru karena itu tubuhmu akan selalu kecil, meskipun dengan cepat kau bertambah tinggi,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Glagah Pulih tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian berdiri dan mengambil kendi di atas gledeg bambu. Dengan serta merta maka ia pun meneguk air dingin dari dalam gendi itu. Alangkah segarnya.

Kiai Gringsing tersenyum melihat sikap Glagah Putih. Kadang-kadang masih nampak sifatnya yang kekanak-kanakan. Namun Glagah Putih yang sudah meningkat remaja itu bukannya seorang anak muda yang malas. Anak yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu sanggup bekerja keras seperti kakak sepupunya. Agung Sedayu.

“Sudahlah,” berkata Kiai Gringsing kemudian. Lalu, “Beritahukan kepada Glagah Putih, bahwa aku akan tinggal.”

Glagah Putih pun berpaling. Dengan kerut merut di kening ia bertanya, “Kiai akan tinggal?”

Kiai Gringsing tersenyum. Jawabnya, “Aku masih harus mengamati bekas-bekas luka Swandaru agar tidak kambuh lagi.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia bertanya lebih lanjut, Kiai Gringsing sudah melangkah keluar sambil berkata, “Jika kalian menganggap datang waktunya untuk kembali ke padepokan, kembalilah. Aku memang akan tinggal.”

“Baik, Guru,” jawab Agung Sedayu. Tetapi ia tidak mengikuti gurunya yang meninggalkan bilik itu.

Sepeninggal Kiai Gringsing, Glagah Putih pun bertanya, “Kenapa Kiai Gringsing akan tinggal? Bukankah ia sendiri sudah mengatakan, bahwa luka-luka kakang Swandaru sudah sembuh dan dapat ditinggalkannya? Apakah kedatangan Pangeran Benawa telah merubah niatnya untuk kembali ke Jati Anom?”

Dada Agung Sedayu berdesir. Glagah Putih memang bukan kanak-kanak lagi. Ia sudah dapat menghubungkan beberapa masalah yang berkaitan, meskipun belum dengan perhitungan yang mapan.

Namun Agung Sedayu kemudian menggeleng. Katanya, “Tidak ada persoalan apa pun, Glagah Putih. Apalagi berhubungan dengan kehadiran Pangeran Benawa. Nampaknya, Kiai Gringsing melihat sesuatu yang kurang baik pada luka-luka Swandaru, sehingga ia menganggap perlu untuk tinggal lebih lama. Sementara aku memang berniat untuk segera kembali ke padepokan, agar anak-anak yang kami tinggalkan tidak terlalu lama menunggu.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi tampak pada kerut keningnya, bahwa keterangan Agung Sedayu itu kurang memuaskannya. Namun demikian, Glagah Putih tidak bertanya lebih banyak lagi tentang maksud Kiai Gringsing untuk tinggal. Bahkan ia pun kemudian bertanya, “Kapan kita akan kembali ke Jati Anom, Kakang?”

“Secepatnya, Glagah Putih. Mungkin besok, jika diperkenankan oleh Kiai Gringsing dan Ki Demang Sangkal Putung.”

“Ah,” desis Glagah Putih, “tentu Kiai Gringsing mengijinkan, ia bahkan sudah menyuruh kita kembali. Ki Demang pun tidak akan berkeberatan. Demikian pula kakang Swandaru,” ia berhenti sejenak. Lalu, “tetapi apakah mungkin masih ada yang lain?”

Agung Sedayu tahu arah pertanyaan anak itu. Karena itu, maka ia pun bahkan bertanya, “Siapa menurut pendapatmu?”

Glagah Putih tertawa. Tetapi ia tidak mengatakan seseorang.

“Aku akan menghubungi Swandaru,” berkata Agung Sedayu kemudian, “sudah waktunya kita kembali ke Jati Anom segera.”

Glagah Putih hanya mengangguk-angguk saja. Namun di dalam hatinya ia dapat merasakan sesuatu yang tidak sewajarnya. Kiai Gringsing yang tiba-tiba saja ingin tinggal, yang sebelumnya sudah menyatakan bahwa luka-luka Swandaru sudah dapat disebut sembuh sama sekali, sangat menarik perhatiannya. Namun agaknya Agung Sedayu masih saja menganggapnya sebagai kanak-kanak yang tidak perlu mengetahui apa pun juga, selain mengikutnya saja apabila diperbolehkan, dan harus tinggal di rumah apabila tidak diperkenankan.

“Aku harus menunjukkan, bahwa aku benar-benar sudah dewasa,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya.

Dalam pada itu, maka Agung Sedayu pun segera mendapatkan gurunya untuk menyatakan niatnya. Ia akan segera kembali ke Sangkal Putung. Ia memerlukan pertimbangan, apakah ia akan menganggap dirinya mengetahui rencana Kiai Gringsing, atau Kiai Gringsing sendirilah yang akan mengatakannya kepada Swandaru.

“Biarlah aku saja yang mengatakannya. Panggillah Swandaru kemari,” berkata Kiai Gringsing.

Agung Sedayu kemudian menemui Swandaru di belakang, dan dibawanya menemui gurunya yang duduk di serambi, di sebelah gandok.

Kiai Gringsing-lah yang kemudian mengatakan kepada Swandaru, bahwa Agung Sedayu akan mendahului kembali ke padepokan kecilnya, sementara ia akan tetap tinggal.

“Selain sekali-sekali melihat lukamu, aku ingin melihat perkembangan keadaan sepeninggal Pangeran Benawa,” berkata Kiai Gringsing, “aku ingin juga mengetahui, apakah jika ia kembali ke Pajang, ia akan singgah pula di Sangkal Putung.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-angguk.

“Tetapi kenapa Kakang Agung Sedayu tergesa-gesa?” bertanya Swandaru kemudian.

“Aku sudah terlalu lama pergi,” jawab Agung Sedayu, “padepokan kecil itu terlalu lama aku tinggalkan. Sebenarnya aku juga ingin tetap tinggal bersama Guru. Tetapi anak-anak di padepokan itu tentu terlalu lama merasa kesepian.”

Swandaru mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian benar-benar di luar dugaan, “Apakah kau marah, Kakang, bahwa aku sudah mencoba memberimu sekedar pertimbangan tentang sikap dan hubungan kita dengan Pajang dan Mataram?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah hal yang demikian itu cukup membuat seseorang marah? Setiap pendapat wajib dihargai, Swandaru. Mungkin pada suatu saat, kita agak berbeda sikap dan pendapat mengenai sesuatu masalah. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita masing-masing harus mempertahankan pendapat kita dengan perasaan tidak terkendali, marah dan kemudian timbul pertentangan-pertentangan yang tidak perlu sama sekali?”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah jika Kakang dapat menerima pendapatku dan mengetrapkannya dalam sikap dan perbuatan Kakang pada saat-saat mendatang. Namun Kakang harus benar-benar memikirkan keadaan Kakang yang sulit itu. Adalah memang ada baiknya jika Guru menunggu sampai Pangeran Benawa kembali ke Pajang. Dengan demikian mungkin akan dapat diketahui perkembangan terakhir dari hubungan antara Pajang dan Mataram.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun mengangguk sambil menjawab, “Aku akan memikirkannya, Swandaru. Mudah-mudahan di padepokan kecil itu aku mendapatkan satu pemecahan yang paling baik buatku dalam hubungan keseluruhan.”

Kiai Gringsing yang mendengarkan pembicaraan itu hanya dapat menahan hati. Ia semakin melihat perbedaan sifat dan sikap kedua muridnya menghadapi perkembangan keadaan, dan hubungan antara Pajang dan Mataram yang terasa semakin panas.

Demikianlah, maka Agung Sedayu telah mempersiapkan dirinya untuk kembali ke padepokan kecilnya. Ia sudah mengatakannya kepada Sekar Mirah, bahwa ia akan mendahului gurunya untuk kembali ke Jati Anom.

Sekar Mirah tidak dapat menahannya. Apalagi Agung Sedayu menganggap, bahwa anak-anak muda yang ditinggalkannya di padepokan akan dapat berbuat kurang bertanggung jawab terhadap tanaman di sawah dan ladang.

“Aku akan kembali pada saat-saat tertentu. Apalagi Guru ada di sini. Jati Anom tidak terlalu jauh.”

“Meskipun tidak terlalu jauh, tetapi jika tidak dilintasi dengan perjalanan yang betapapun singkatnya, jarak itu tidak terlampaui,” berkata Sekar Mirah.

“Setiap kali aku akan menengok Guru sekaligus,” jawab Agung Sedayu.

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi, Kakang. Bukankah kau sudah memikirkan langkah yang menentukan dalam hidupmu. Apakah kau benar-benar ingin menjadi seorang prajurit?”

Pertanyaan itu telah mengguncangkan hati Agung Sedayu. Kehadiran Pangeran Benawa ke Sangkal Putung untuk selanjutnya pergi ke Mataram, telah menumbuhkan keragu-raguannya. Jika semula ia sudah mendekati keputusan untuk menyatakan dirinya memasuki lingkungan keprajuritan seperti Sabungsari, namun kemudian niat itu telah goyah. Apalagi jika ia teringat kata-kata Pangeran Benawa yang dibisikkan ke dalam telinganya, bahwa justru karena ia tidak mempunyai kedudukan apa pun itulah, maka ia akan dapat berbuat banyak.

“Sekali-sekali,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Kebimbangan dan keragu-raguan semakin membayangi sikapnya menghadapi perkembangan keadaan dalam kesatuannya dengan lingkungan dan keadaannya sendiri.

Tetapi semuanya itu tidak dikatakannya kepada siapapun. Juga tidak kepada Sekar Mirah. Ia ingin mencoba menyelesaikannya sendiri, atau sama sekali tidak memikirkannya.

Demikianlah, maka Agung Sedayu telah sampai kepada keputusannya untuk meninggalkan Sangkal Putung, kembali ke padepokan kecilnya bersama Glagah Putih. Meskipun mula-mula Ki Demang menahannya untuk tetap tinggal, Namun Agung Sedayu benar-benar berniat kembali ke Jati Anom, meskipun ia akan sering datang ke Sangkal Putung.

“Kau benar-benar harus sering datang,” berkata Swandaru, “dengan demikian kau tidak akan ketinggalan mengetahui semua masalah yang berkembang kemudian.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sekilas dipandanginya wajah gurunya yang tetap tidak menunjukkan perubahan kesan apa pun juga. Namun ia pun kemudian mengangguk dan menjawab, “Aku akan benar-benar selalu datang pada saat-saat tertentu. Aku juga ingin tahu, apakah ada perkembangan persoalan, apalagi apabila Pangeran Benawa telah kembali dari Mataram.”

Demikianlah, maka di hari berikutnya Agung Sedayu telah mempersiapkan diri untuk meninggalkan Sangkal Putung bersama Glagah Putih. Bukan saja Swandaru, tetapi Sekar Mirah pun berpesan, agar ia sering datang ke Sangkal Putung, agar ia mengetahui persoalan persoalan yang mungkin tumbuh kemudian.

“Berhati-hatilah,” pesan Kiai Gringsing, “persoalanmu dengan beberapa orang masih belum tuntas. Berdoalah setiap saat, agar kau selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Tahu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia menyahut, “Ya, Guru. Aku akan berhati-hati dan akan selalu berdoa.”

Menjelang siang, Agung Sedayu baru berangkat dari Sangkal Putung bersama Glagah Putih. Mereka menempuh perjalanan, yang tidak terlalu panjang itu, dengan tidak tergesa-gesa. Mereka sempat memperhatikan sawah yang terbentang luas dan pepohonan yang hijau di sepanjang perjalanan.

Tiba-tiba saja Glagah Putih bertanya, “Kakang, apakah kakang Swandaru benar-benar belum sembuh?”

Agung Sedayu memandang Glagah Putih sejenak. Kemudian sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Ya. Swandaru memang belum sembuh benar. Kau tahu Glagah Putih, bahwa luka-luka yang cukup parah, jika perawatannya kurang baik akan dapat kambuh kembali. Luka-luka itu tiba-tiba menjadi bengkak dan sakit sekali.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Sampai kapan Kiai Gringsing berada di Sangkal Putung?”

“Tidak terlalu lama. Sementara itu, seperti pesan orang-orang Sangkal Putung, kita akan sering datang mengunjungi mereka.”

“Berapa kali kita harus pergi ke Sangkal Putung? Jika Kiai Gringsing hanya sebentar berada di Sangkal Putung, bukankah berarti bahwa sekali kita berkunjung, Kiai Gringsing sudah berada kembali di Jati Anom?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil menjawab, “Menurut jalan pikiranmu, kita hanya datang ke Sangkal Putung selama Kiai Gringsing berada di sana?”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun ia pun tersenyum pula sambil berkata, “Ya. Aku keliru. Yang penting justru bukan Kiai Gringsing.”

“Apa?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak apa-apa,” jawab Glagah Putih.

Agung Sedayu tertawa pendek. Tetapi ia tidak berkata apa pun lagi.

Keduanya kemudian menyusuri jalan-jalan persawahan yang hijau. Ketika mereka keluar dari tlatah Sangkal Putung, maka matahari pun sudah menjadi semakin tinggi.

Beberapa orang masih nampak sibuk bekerja di sawah, sementara beberapa orang yang lain, telah mulai beristirahat di gubug-gubug sambil membuka kiriman makan dan minum dari rumah masing-masing.

“Kawan-kawan dari padepokan tentu sedang beristirahat pula,” desis Glagah Putih.

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “salah seorang dari mereka telah membawa makanan dan minuman ke sawah.”

“Yang masak juga di antara mereka,” desis Glagah Putih.

Agung Sedayu menjadi heran. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Bukankah setiap hari juga mereka lakukan demikian? Bahkan jika kita ada di padepokan? Sekali-sekali justru kau yang masak.”

“Itu kita lakukan karena terpaksa,” sahut Glagah Putih.

“Kenapa terpaksa?” bertanya Agung Sedayu.

“Sebaiknya perempuan-lah yang melakukan. Perempuan-lah yang masak dan menyediakan makan dan minum yang akan dibawa ke sawah.”

“Tetapi di padepokan kita, tidak ada seorang perempuan.”

“Itulah yang kurang. Kenapa Kakang Agung Sedayu tidak segera membawa mbokayu Sekar Mirah ke padepokan?”

“Ah,” tiba-tiba saja Agung Sedayu berdesah. Hampir saja ia mengatakan, bahwa Sekar Mirah tidak sesuai hidup di sebuah padepokan kecil, apalagi padepokan yang masih harus dibangun. Tetapi ia menyadari dengan siapa ia berbicara. Karena itu, maka ia pun memaksa diri untuk tersenyum sambil menjawab, “Untuk membawa Sekar Mirah ke padepokan itu, diperlukan banyak syarat Glagah Putih.”

“Apa?”

“Mula-mula upacara perkawinan yang memerlukan banyak biaya. Darimana aku mendapatkannya dalam keadaan seperti ini?”

“Bukankah Ki Demang Sangkal Putung cukup mempunyai uang untuk melakukan upacara itu? Dan bukankah upacara itu dapat dilakukan dengan baya yang banyak, tetapi dapat juga dengan biaya yang sedikit saja?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih juga tertawa. Katanya, “Coba katakan, apakah sudah sepantasnya jika aku pasrahkan semua keperluan untuk itu kepada Ki Demang di Sangkal Putung? Ingat, Glagah Putih. Aku adalah seorang laki-laki.”

“Tetapi, bukankah ada Kakang Untara? Kakang Untara juga bukan seorang yang terlalu miskin. Ia memiliki, meskipun sedikit, uang untuk membiayai perkawinan Kakang Agung Sedayu. Bukankah Kakang Untara menjadi pengganti ayah bunda Kakang Agung Sedayu? Selain Kakang Untara juga ada Ayah. Ayah juga mempunyai kewajiban itu. Dan aku kira Ayah pun akan bersedia berbuat sesuatu. Kecuali mereka, jika Kakang mau, Kakang akan dapat mengatakan kepada Raden Sutawijaya atau Pangeran Benawa. He, bukankah Kakang mengenal mereka secara pribadi?”

Agung Sedayu tertawa berkepanjangan. Namun, di luar pengamatan Glagah Putih, luka-luka di hati anak muda itu terasa menjadi semakin pedih. Glagah Putih yang belum mempunyai banyak pertimbangan itu, memandang kehidupannya dengan jujur dan berterus terang, bahwa sepantasnya ia harus menunggu belas kasihan orang-orang lain.

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun ia pun akhirnya ikut tertawa juga, tanpa menyadari pedih di hati kakak sepupunya.

Sementara itu, keduanya meneruskan perjalanan mereka. Kuda-kuda mereka kemudian tidak berlari terlalu cepat, tetapi juga tidak terlalu lambat. Mereka menyusuri bulak-bulak panjang. Kemudian mendekati hutan yang tidak terlalu lebat. Sejenak kemudian, keduanya telah menyusuri jalan di pinggir hutan itu.

Perjalanan ke Jati Anom memang tidak terlalu panjang. Karena itu, maka mereka pun segera mendekati kademangan dan padepokan kecil mereka di Jati Anom.

Agung Sedayu dan Glagah Putih sama sekali tidak berprasangka apa pun juga, ketika mereka memasuki kademangan yang dipergunakan oleh prajurit-prajurit Pajang itu. Apalagi Agung Sedayu seolah-olah sudah yakin, bahwa Sabungsari tidak lagi mendendamnya. Setelah ia terluka parah dalam menjalankan tugasnya, bahkan sekaligus berkesempatan untuk melepaskan dendamnya terhadap orang-orang Pasisir Endut, maka Sabungsari sudah menemukan dirinya sendiri. Ia tidak lagi dihantui oleh janjinya untuk membunuh Agung Sedayu. Ia sudah sadar, apa yang dihadapinya.

Karena itu, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih sama sekali tidak mencurigai siapapun juga. Ketika ia bertemu dengan dua orang prajurit yang sedang meronda, maka mereka pun memberi hormat dengan ramahnya.

Tetapi kedua orang prajurit itu mengerutkan keningnya. Salah seorang dari mereka bertanya, “Siapakah kalian?”

Agung Sedayu pun termangu-mangu. Ia memang belum mengenal kedua orang prajurit itu. Karena itu, maka Agung Sedayu pun menjawab, “Aku orang Jati Anom. Bukankah kalian prajurit Pajang di Jati Anom?”

“Ya. Aku prajurit Pajang di Jati Anom.”

“Tetapi kami belum pernah melihat kalian. Apakah kalian orang baru?”

“Ya. Kami orang baru. Kami mengganti beberapa bagian dari pasukan Ki Untara yang ditarik kembali ke Pajang beberapa pekan yang lalu,” jawab prajurit itu. “Siapakah kalian sebenarnya?”

“Kami penghuni padepokan kecil di ujung Kademangan Jati Anom itu.”

“O,” kedua prajurit itu mengangguk, “kau penghuni padepokan kecil itu?”

“Ya.”

“Menurut beberapa orang kawan yang telah lama berada di sini, penghuni padepokan itu adalah adik Ki Untara.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun Glagah Putih-lah yang menyahut, “Ya. Kakang Agung Sedayu ini adalah adik Kakang Untara.”

Kedua orang prajurit itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Kami akan meneruskan perjalanan. Kami sedang nganglang. Silahkan meneruskan perjalanan pula.”

Agung Sedayu pun mengangguk pula. Jawabnya, “Terima kasih.”

Agung Sedayu dan Glagah Putih pun segera meneruskan perjalanan menuju ke arah yang berlawanan dengan kedua orang prajurit itu. Sekali-sekali Glagah Putih masih berpaling. Namun akhirnya ia pun memacu kudanya di belakang Agung Sedayu.

Sejenak Glagah Putih terdiam di atas punggung kudanya. Namun kemudian hampir di luar sadarnya ia berkata, “Jika Kakang menjadi seorang prajurit, maka Kakang akan memakai kelengkapan pakaian dan tanda-tanda seperti kedua orang prajurit itu.”

Agung Sedayu berpaling. Sambil tersenyum ia berkata, “Apakah aku pantas mengenakan pakaian dan kelengkapan seperti prajurit itu?”

“Tentu,” jawab Glagah Putih, “tetapi sudah tentu ada beberapa perbedaan. Kakang Agung Sedayu tentu akan menjadi seorang prajurit yang pilih tanding. Senapati yang akan menjadi lurah Kakang Agung Sedayu tidak akan dapat menyamai kecakapan Kakang dalam ilmu perang dan olah kanuragan.”

“Ah,” desis Agung Sedayu, “tentu tidak. Prajurit Pajang adalah prajurit-prajurit yang baik. Kau lihat Sabungsari?”

Glagah Putih mengangguk. Tetapi jawabnya tidak terduga-duga oleh Agung Sedayu, “Itulah yang aneh. Apakah para perwira di atas Sabungsari memiliki kemampuan lebih baik dari Sabungsari? Jika demikian, maka Pajang benar-benar akan menjadi sangat kuat. Tetapi, agaknya tidak semua prajurit memiliki kemampuan seperti Sabungsari.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi katanya kemudian, “Baiklah kita tidak membuat penilaian apa-apa, karena yang kita ketahui tentang mereka hanyalah sedikit sekali. Yang aku kenal di antara mereka secara pribadi dan rapat, hanyalah satu dua orang prajurit, meskipun yang lain aku tahu pula sekedar dengan anggukan kepala.”

Glagah Putih mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Dalam pada itu, mereka telah menjadi semakin dekat dengan padepokan kecil mereka, di ujung Kademangan Jati Anom. Mereka tanpa sadar, telah memacu kuda mereka semakin cepat.

Namun dalam pada itu, di luar sadar mereka, dari kejauhan dua orang prajurit yang lain telah memandangi mereka dengan berdebar-debar. Salah seorang dari keduanya berkata, “Ternyata Agung Sedayu masih tetap hidup.”

“Aneh sekali,” berkata yang lain, “Sabungsari belum melakukan seperti yang pernah dikatakannya. Ia akan membunuh Agung Sedayu.”

“Mungkin tertunda karena peristiwa yang terjadi di Sangkal Putung itu. Memang luar biasa, bahwa seorang prajurit dari tataran terendah seperti Sabungsari mampu membunuh orang dari Pasisir Endut itu.”

“Bukankah aku sudah mengatakan, bahwa ia dapat membunuh seekor kambing dari jarak yang cukup jauh? Satu hal yang jarang sekali dapat dilakukan. Sorot matanya bagaikan meluncurkan anak panah. Dan matilah sasaran yang dipandanginya.”

“Ia hampir mati dalam perang tanding melawan Carang Waja yang seolah-olah dapat mengguncang bumi. Memang ilmu yang aneh-aneh. Seolah-olah di luar jangkauan nalar.”

“Tetapi kenapa Agung Sedayu masih tetap hidup? Itulah yang menjadi persoalan. Apakah Sabungsari mengurungkan niatnya, atau ia benar-benar sedang menunggu keadaannya menjadi pulih kembali?”

Kawannya tidak segera menjawab. Ia melihat Agung Sedayu memang dalam keadaan sehat tanpa cidera bersama adik sepupunya.

Baru kemudian ia berkata, “Kita akan menunggu beberapa saat. Mungkin keadaan Sabungsari memang belum mengijinkan. Jika Sabungsari telah sembuh sama sekali, dan ia tidak berbuat apa-apa terhadap Agung Sedayu, maka kita harus menilai kembali sikapnya. Agaknya ia justru ingin melindungi Agung Sedayu. Dalam hal yang demikian, apa pun yang dapat dilakukan, maka ia termasuk sasaran yang harus disingkirkan.”

“Ya,” desis kawannya, “Sabungsari memang seorang yang mempunyai ilmu yang luar biasa. Tetapi itu bukan berarti, bahwa ia tidak dapat dikalahkan seperti juga Agung Sedayu sendiri.”

“Marilah,” desis yang lain, “kita laporkan keadaannya. Agar kita sempat membuat pertimbangan dan perhitungan sebaik-baiknya.”

Keduanya pun kemudian menyingkir sebelum Agung Sedayu menyadari, bahwa dua orang telah mengintainya dari kejauhan. Karena itu, maka Agung Sedayu masih saja dengan tenangnya menuju ke padepokan kecilnya.

Ketika Agung Sedayu memasuki padepokannya, maka kawan-kawannya yang berada di padepokan menjadi heran, bahwa Agung Sedayu tidak datang bersama Kiai Gringsing.

“Guru masih harus menunggui Swandaru,” berkata Agung Sedayu kepada mereka, “jika keadaan Swandaru telah benar-benar menjadi pulih kembali, maka Guru akan segera kembali.”

Anak-anak muda yang tinggal bersamanya di padepokan itu mengangguk-angguk. Mereka yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya di Sangkal Putung itu hanya dapat mengangguk-angguk.

“Apakah Ayah tidak datang?” bertanya Glagah Putih tiba-tiba.

“Ki Widura telah datang kemari. Tetapi Ki Widura telah kembali ke Banyu Asri. Meskipun demikian, sekali-sekali Ki Widura datang juga menengok kami di sini, meskipun tidak terlalu lama,” jawab salah seorang dari anak-anak muda itu.

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Dan kau katakan kepada Ayah, bahwa kami pergi ke Sangkal Putung?”

“Ya. Kami katakan apa yang kami ketahui tentang Sangkal Putung,” jawab anak muda itu.

Agung Sedayu dan Glagah Putih pun kemudian menyerahkan kuda mereka kepada anak-anak muda yang menunggui padepokannya. Namun ketika mereka memasuki padepokan, terasa padepokan itu sangat sepi, meskipun hanya gurunya seorang sajalah yang tidak ada bersama mereka.

“Jika Ayah datang, aku akan minta Ayah tinggal di sini barang satu dua hari,” berkata Glagah Putih.

“Jika kebetulan Paman tidak sibuk, Paman tentu bersedia,” jawab Agung Sedayu.

Glagah Putih tidak menyahut lagi. Ia pun kemudian memasuki biliknya dan di luar sadarnya, ia telah berbaring di ambennya. Meskipun bilik itu beberapa hari lamanya tidak dipergunakan, tetapi penghuni padepokan yang tinggal, selalu membersihkannya pagi dan sore.

Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih tinggal di padepokan itu tanpa Kiai Gringsing untuk beberapa saat. Agung Sedayu-lah yang kemudian seakan-akan menjadi penanggung jawab dari padepokan kecil itu dan menentukan segala sesuatu yang mereka lakukan sehari-hari.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu pun telah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ia merasa dibebani tanggung jawab untuk membentuk Glagah Putih menjadi seorang anak muda yang memiliki bekal yang cukup bagi masa depannya.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian minta agar Glagah Putih mempersiapkan dirinya untuk memperdalam dan meningkatkan ilmunya.

Dalam pada itu, di antara tugas Glagah Putih sehari-hari, maka ia pun benar-benar telah mempergunakan segenap waktunya untuk menempa diri. Dengan tuntunan Agung Sedayu, maka Glagah Putih tenggelam di dalam sanggar dengan unsur-unsur gerak dan ketentuan-ketentuan ilmu pada saluran perguruan ayahnya.

Ternyata bahwa Agung Sedayu mampu melakukannya sebaik-baiknya. Ia sudah pernah melihat susunan ilmu itu dengan lengkap, meskipun pada puncak pahatan di dinding goa, ilmu itu terdapat cacat karena tingkahnya sendiri.

Tetapi Agung Sedayu sendiri yakin, bahwa pada saatnya puncak dari ilmu itu akan dapat diketemukannya dengan cara yang khusus. Ia harus mengurai tata gerak dan watak dari ilmu itu dengan saksama. Kemudian berdasarkan pada hasil penelitian itu, ia akan melangkah setapak demi setapak untuk mencapai kemampuan puncak dari ilmu itu sendiri.

Dalam pada itu, Glagah Putih ternyata benar-benar seorang anak muda yang luar biasa. Ingatannya sangat tajam. Karena itu, maka ia dengan cepat dapat menangkap setiap peningkatan dan pengenalan dari unsur-unsur yang baru.

Seperti Agung Sedayu, Glagah Putih sama sekali tidak mengenal lelah dalam latihan-latihan yang berat. Bahkan jika Agung Sedayu sedang sibuk dengan kerjanya sehari-hari, sementara Glagah Putih mempunyai waktu terluang, maka ia sendiri berada di dalam sanggarnya.

“Aku harus bekerja keras untuk mengejar ketinggalanku,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya. Bahkan hal itu selalu dikatakannya pula kepada Agung Sedayu.

“Kau ketinggalan dari siapa?” bertanya Agung Sedayu setiap kali, “Apakah kau pernah berjanji dengan seseorang untuk berpacu dengan ilmu masing-masing?”

“Meskipun tidak, tetapi aku harus dapat menilai diriku sendiri,” jawab Glagah Putih, “setiap anak muda yang aku temui, ternyata memiliki ilmu yang luar biasa. Sementara umurku merayap semakin tua, dan aku sama sekali belum mempunyai bekal apa pun juga.”

Agung Sedayu selalu membesarkan hatinya, dan berkata, “Sebesar kau, aku belum dapat berbuat apa-apa. Aku masih selalu ketakutan jika aku berada di rumah sendiri atau keluar setelah senja. Aku masih menggigil mendengar cerita tentang hantu bermata satu, di pohon randu alas di tikungan. Dan aku pun masih ketakutan mendengar orang mengucapkan kata-kata Harimau Putih dari Lemah Cengkar.”

“Tetapi perkembangan Kakang kemudian adalah di luar kebiasaasan. Kakang telah menjadi seorang yang aneh sekarang ini,” desis Glagah Putih.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil bertanya, “Apakah yang tidak biasa padaku? Aku tidak lebih dari kau. Perkembanganku pun tidak lebih cepat dari perkembanganmu sekarang. Bahkan mungkin jauh lebih lamban, karena aku memiliki bekal yang sangat kurang.”

“Kakang hanya ingin membesarkan hatiku,” desis Glagah Putih. Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Kau memang aneh. Tetapi seandainya demikian, bukankah itu lebih baik daripada aku selalu marah-marah dan menganggap kau terlalu dungu dan lamban?”

Glagah Putih pun akhirnya tertawa pula. Namun sementara itu, ia pun telah mengajak Agung Sedayu memasuki sanggarnya dan tenggelam dalam latihan yang berat.

Ketika di sore hari, di saat langit menjadi merah oleh cahaya senja, maka Glagah Putih telah selesai dengan membersihkan diri. Ia sudah berganti pakaian dan mandi, setelah mempergunakan waktu senggangnya dengan tekun di dalam sanggarnya.

Ia terkejut ketika ia melihat seseorang berdiri di muka regol padepokannya. Dalam kesuraman senja, Glagah Putih melihat orang itu seakan menjadi ragu-ragu.

Namun ia pun segera mengenalnya, bahwa orang itu adalah Sabungsari. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia pun berlari turun dari pendapa untuk menyongsongnya, “Kau, Sabungsari. He, apakah kau sudah sembuh sama sekali?”

Sabungsari tersenyum. Perlahan-lahan ia melangkah memasuki halaman sambil menjawab, “Keadaanku sudah berangsur baik.”

“Marilah,” Glagah Putih mempersilahkan.

Keduanya pun kemudian naik ke pendapa, sementara Agung Sedayu pun keluar dari ruang dalam dan menyambutnya.

“Tetapi, nampaknya kau belum sembuh sama sekali,” berkata Agung Sedayu.

Sabungsari yang kemudian duduk di pendapa menyahut, “Ada yang masih terasa mengganggu, Agung Sedayu. Luka-lukaku ternyata memang parah sekali. Tanpa obat-obat dari Kiai Gringsing, mungkin aku sudah mati.”

“Segalanya kita kembalikan kepada Yang Maha Kasih,” berkata Agung Sedayu.

“Ya. Aku pun bersukur kepada-Nya,” jawab Sabungsari, “Dan kini, luka-lukaku masih ada yang terasa sakit jika aku bergerak terlalu banyak.”

“Dan kau sudah berjalan sampai ke jarak yang terlalu jauh bagi seseorang yang sedang sakit,” berkata Glagah Putih.

Tetapi Sabungsari justru tertawa. Katanya, “Menurut juru pengobatan pada pasukanku, aku memang dianjurkan untuk mulai melatih diri, berjalan-jalan dan menggerakkan badanku sedikit-sedikit.”

“Juga menggerakkan mata?” bertanya Agung Sedayu.

Sabungsari tertawa, sementara Glagah Putih menjadi bingung dan bertanya, “Kenapa dengan mata?”

Agung Sedayu-lah yang menyahut, “Tidak apa-apa.”

Glagah Putih mengerutkan wajahnya. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu. Bahkan kemudian ia pun beringsut sambil berkata, “Aku siapkan minuman hangat.”

“Jangan terlalu repot dengan kedatanganku, Glagah Putih,” berkata Sabungsari.

“Sudah ada.”

“Jika belum, tolonglah, adakanlah.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa. Sabungsari dan Agung Sedayu pun tertawa pula.

Sementara Glagah Putih berada di dalam, maka Sabungsari pun bertanya tentang keadaan Swandaru dan orang-orang Sangkal Putung yang lain.

“Swandaru sudah sembuh,” jawab Agung Sedayu.

“Lukanya tidak separah lukaku,” berkata Sabungsari, “aku sudah dapat disebut mati. Apalagi Swandaru ditunggui oleh Kiai Gringsing, yang benar-benar ahli di dalam hal pengobatan.”

“Tetapi keadaanmu pun sudah baik.”

“Ya. Berangsur baik. Tetapi aku masih lemah. Karena itu, aku masih belum dapat berbuat apa-apa sekarang ini.”

“Beristirahatlah sebanyak-banyaknya. Bukankah para pemimpinmu mengetahui keadaanmu?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Pemimpin-pemimpinku mengetahui keadaanku. Dan aku pun mendapat ijin cukup untuk beristirahat,” jawab Sabungsari. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia berkata, “Tetapi aku tidak sekedar dalam kedudukanku sebagai seorang prajurit. Aku membawa beberapa orang yang penuh dendam kepadamu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Dengan perlahan-lahan aku telah mencoba meyakinkan mereka, bahwa dendam yang berkepanjangan itu tidak ada gunanya sama sekali. Lebih dari itu, aku sudah berterus terang, bahwa aku telah kau kalahkan.”

“Apakah mereka mengerti?” bertanya Agung Sedayu.

“Mereka cukup mengerti. Tetapi aku masih belum melepaskan mereka kembali ke padepokan. Aku masih menahan mereka tinggal di Jati Anom, di tempat yang tersembunyi. Aku masih memerlukan mereka selama aku sakit.”

“Untuk apa?” bertanya Agung Sedayu.

“Bukan begitu. Tetapi sekedar untuk menahan mereka,” Sabungsari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Tetapi di samping itu, masih juga ada sesuatu yang perlu kau ketahui.”

Agung Sedayu mengerutkan dahinya.

“Meskipun orang-orangku perlahan-lahan telah menyadari keadaan mereka dan keadaanku, namun di Jati Anom ini masih juga ada bahaya yang mengintaimu.”

“Kenapa?”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengatakannya, karena Glagah Putih telah datang sambil membawa minuman hangat dan beberapa potong ubi rebus.

 

 

“Nah, segar sekali,” gumam Sabungsari, “saat-saat begini tidak akan ada minuman panas lagi di barak. Apalagi ubi rebus. Ubi ungu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat memaksa Sabungsari untuk berkata lebih lanjut, justru karena kehadiran Glagah Putih.

Sejenak mereka masih bercakap-cakap sambil minum minuman panas dan makan ubi rebus yang masih hangat. Glagah Putih yang tidak mengetahui persoalan yang gawat bagi Agung Sedayu itu pun berbicara sesuka hatinya. Berkepanjangan tanpa henti-hentinya.

Sabungsari hanya kadang-kadang saja menanggapinya. Kadang-kadang tersenyum dan tertawa.

Namun ternyata, bahwa kegembiraan sikap Glagah Putih itu dapat membantu membuat tubuh Sabungsari semakin segar. Jika sebelum ia dikalahkan oleh Agung Sedayu, kejemuannya di dalam barak itu hanyalah sekedar alasan, maka kini, rasa-rasanya ia benar-benar malas kembali ke baraknya. Seperti yang pernah dikatakannya, bahwa di setiap sudut ia melihat tombak tersandar, dan pedang yang tersangkut di dinding, di atas setiap pembaringan.

Tetapi ia sudah berniat untuk benar-benar terjun ke dalam lingkungan keprajuritan. Bagaimanapun juga, ia harus menjunjung segenap ketentuan yang berlaku baginya.

Dalam pada itu, Glagah Putih bercerita tentang berbagai macam peristiwa sepeninggal Sabungsari dari Sangkal Putung. Bahkan kemudian Glagah Putih pun menceritakan kedatangan Pangeran Benawa ke Sangkal Putung.

“Pangeran Benawa? Apakah keperluannya datang ke Sangkal Putung?” bertanya Sabungsari.

“Ia tidak sengaja pergi ke Sangkal Putung. Ia hanya singgah sejenak dalam perjalanannya ke Mataram,” jawab Glagah Putih. Hampir saja Glagah Putih terloncat mengatakan kepergiannya ke Mataram bersama Agung Sedayu. Untunglah segera ia teringat, bahwa Agung Sedayu telah memesannya untuk tidak mengatakannya kepada siapapun juga.

“Apakah aku juga tidak boleh mengatakan kepada Sabungsari?” pertanyaan itu tumbuh di hatinya.

Namun ketika ia melihat kesan di wajah Agung Sedayu, maka ia pun yakin, bahwa Agung Sedayu tidak membenarkan jika ia mengatakannya, meskipun kepada Sabungsari, yang dianggapnya seorang anak muda yang sangat baik kepadanya.

Dalam pada itu, ternyata Senapati Ing Ngalaga telah mengambil sikap yang menimbulkan pertanyaan. Bukan saja bagi para pengikut Pangeran Benawa. Tetapi Pangeran Benawa sendiri justru menjadi berdebar-debar.

“Apakah maksud kakang Sutawijaya?” pertanyaan itu bergejolak di dalam hatinya.

Ketika Pangeran Benawa dan iring-iringannya datang ke Mataram, ternyata Raden Sutawijaya tidak berada di rumahnya. Beberapa orang tua yang ada di rumah Senapati Ing Ngalaga itu, dengan gugup mempersilahkan Pangeran Benawa naik ke pendapa.

“Kedatangan Pangeran tidak kami duga-duga,” berkata salah seorang dari orang-orang tua itu.

“Paman Juru Martani?”

“Ki Juru ada, Pangeran. Seorang pengawal sedang memanggilnya ke sanggar.”

Pangeran Benawa dan pengiringnya pun kemudian naik ke pendapa. Sejenak mereka duduk termangu-mangu.

Pangeran Benawa sendiri bertanya di dalam hatinya, apakah Agung Sedayu tidak menyampaikan pesan seperti yang dikehendakinya, sehingga timbul salah mengerti.

Dalam pada itu, selagi Pangeran Benawa termangu-mangu, maka Ki Juru Martani pun keluar dengan tergesa-gesa dari ruang dalam. Dengan tergesa-gesa pula ia berlari ke arah Pangeran Benawa.

Ternyata Pangeran Benawa pun bangkit dan berlari pula memeluk orang tua itu. Katanya, “Ki Juru Martani. Rasa-rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu.”

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian Pangeran Benawa melepaskannya, maka ia pun berkata, “Silahkan duduk, Anakmas Pangeran. Kedatangan Pangeran ke Mataram bagaikan embun yang menitik di teriknya musim kemarau yang panjang tanpa batas.”

Pangeran Benawa tersenyum. Ia pun kemudian duduk dihadap oleh beberapa orang tetua Mataram.

Setelah mereka saling bertanya tentang keselamatan masing-masing dan para pengiringnya, maka akhirnya Pangeran Benawa bertanya tentang Raden Sutawijaya.

“Pangeran,” Ki Juru menarik nafas dalam-dalam, “kedatangan Pangeran sama sekali tidak kita duga-duga. Karena itu, angger Sutawijaya hari ini tidak ada di Mataram.”

“O,” Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya, “Kemana perginya Kakang Sutawijaya? Aku dengar, Kakang Sutawijaya adalah seorang yang senang merantau, mesu sarira, mendaki bukit dan menuruni lembah-lembah yang dalam untuk memperdalam segala macam ilmu yang ada di muka bumi ini.”

Ki Juru Martani tersenyum. Katanya, “Ia mengikuti jejak gurunya, orangtuanya dan pepundennya.”

“Ayahanda Sultan selagi masih bergelar Mas Karebet,” potong Pangeran Benawa.

Ki Juru tersenyum. Namun ia pun mengerutkan keningnya, ketika Pangeran Benawa bertanya, “Tetapi pada usia tuanya, apakah Kakang Sutawijaya juga akan seperti Ayahanda Sultan?”

“Kenapa?” Ki Juru bertanya.

“Aku melihat beberapa persamaan antara Kakang Sutawijaya dan Ayahanda Sultan. Keduanya adalah orang-orang yang luar biasa di dalam mesu diri dalam olah kanuragan di masa mudanya. Tetapi kedua-duanya juga orang-orang yang senang melihat keindahan. Lebih-lebih lagi kecantikan.”

“Ah,” desah Ki Juru Martani. Tetapi ia pun tertawa. Katanya kemudian, “Tetapi kali ini Angger Sutawijaya tidak sedang mesu diri. Di saat-saat terakhir, kesehatan Angger Sutawijaya agak kurang baik. Karena itu, ia kini sedang tetirah di daerah Ganjur.”

“O,” Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai mengerti, apa yang dilakukan oleh Raden Sutawijaya. Karena itu ia yakin, bahwa Agung Sedayu benar-benar telah menemuinya dan menyampaikan pesannya, seperti yang dikehendakinya.

Meskipun demikian, namun ia masih juga bertanya kepada Ki Juru Martani, “Ki Juru, siapakah yang ikut bersama kakang Sutawijaya ke Ganjur?”

“Tidak banyak, Ngger. Hanya beberapa orang yang mengawalnya. Daerah Ganjur adalah daerah yang tenang, seperti daerah Mataram yang lain,” jawab Ki Juru Martani.

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Ketika ia memandang para pengiringnya, ia melihat beberapa kesan yang berbeda.

“Ki Juru. Kapan Kakang Sutawijaya akan kembali?” bertanya Pangeran Benawa.

Ki Juru mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu pasti, Angger Pangeran. Raden Sutawijaya tidak mengatakan berapa lama ia akan tinggal di daerah Ganjur.”

“Kapan Kakang Sutawijaya berangkat?”

Ki Juru termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya ragu, “Tetapi, Angger Sutawijaya baru berangkat pagi-pagi tadi, Ngger. Jika saja Angger Pangeran memberitahukan kedatangan Angger, maka sudah tentu ia tidak akan pergi tetirah, betapapun keadaannya. Apalagi keadaannya memang tidak terlalu memaksa. Mungkin ada juga keinginannya untuk melupakan kesibukannya sehari-hari dengan berburu, atau dengan menjinakkan kuda-kuda yang masih terlalu liar, itu pun termasuk kesenangannya. Karena itu, ia telah menyiapkan sebuah lapangan di daerah Ganjur untuk menjinakkan dan melatih dalam berbagai macam gerakan.”

“Ya, ya,” sahut Pangeran Benawa, “Kakang Sutawijaya memang senang sekali kepada kuda. Tetapi jika kami menunggu, apakah kami harus tinggal sepekan atau dua pekan di Mataram?”

“Terlalu lama,” desis Adipati yang ikut bersama Pangeran Benawa.

Ki Juru Martani mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Pangeran. Memang sebaiknya aku akan menyuruh beberapa orang untuk menyusulnya ke Ganjur. Tetapi sudah barang tentu tidak perlu sekarang. Tetapi besok pagi-pagi benar.”

“Ya, ya, Ki Juru,” sahut Pangeran Benawa, “aku memang tidak sangat tergesa-gesa. Besok pagi pun tidak terlalu lama. Mungkin aku akan bermalam barang dua tiga malam di Mataram.”

“Terlalu lama, Pangeran,” sahut Adipati yang mengiringinya.

Pangeran Benawa berpaling kepadanya. Katanya, “Kenapa terlalu lama? Aku ingin melihat-lihat keadaan Mataram yang telah berkembang dengan cepat. Apakah Paman Adipati tidak ingin berbuat demikian?”

Adipati itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil mengangguk ia menjawab, “Ya, Pangeran. Aku pun ingin melihat keadaan kota yang baru tumbuh ini.”

“Nah,” desis Ki Juru, “jika demikian, biarlah besok pagi-pagi para pengawal akan menyusul Raden Sutawijaya ke Ganjur.”

“Terima kasih, Paman,” sahut Pangeran Benawa, “sebenarnya bukan maksud kami mengganggu Paman dan apalagi Kakang Sutawijaya yang sedang tetirah dan beristirahat di daerah Ganjur.”

“Tetapi itu adalah wajar sekali, Angger Pangeran. Angger Sutawijaya memang harus dijemput.”

Pangeran Benawa tersenyum. Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu, seorang Adipati yang menyertainya itu mendahuluinya, “Tetapi kenapa menunggu sampai besok. Hari ini masih cukup panjang. Seandainya senja sekalipun, seharusnya pengawal itu berangkat sekarang dan minta agar Raden Sutawijaya segera kembali, meskipun kemalaman di perjalanan, karena Pangeran Benawa yang mengemban tugas Sultan datang ke Mataram.”

“O,” Ki Juru mengerutkan keningnya, “apakah Pangeran mengemban tugas?”

“Tidak, Paman,” Pangeran Benawa-lah yang menjawab, “seandainya aku memang ditugaskan ke Mataram, tugas itu sama sekali tidak penting. Aku hanya mengemban tugas untuk datang menengok keselamatan Kakang Sutawijaya. Tidak lebih dan tidak kurang.”

Wajah Adipati itu menegang. Tetapi ia tidak dapat membantah dan mengatakan yang berbeda.

“Karena itu,” Pangeran meneruskan, “biarlah besok pagi-pagi sajalah pengawal dari Mataram menjemput kakang Sutawijaya, meskipun hari ini agaknya masih cukup panjang. Dan Ganjur agaknya memang tidak terlalu jauh.”

“Memang tidak terlalu jauh, Pangeran. Tetapi jika sekarang pengawal itu berangkat, maka ia akan sampai di Ganjur menjelang senja. Raden Sutawijaya akan kemalaman di perjalanan, seandainya ia harus kembali segera.”

“Tidak. Tidak harus segera,” potong Pangeran Benawa.

Ki Juru pun menarik nafas panjang sambil menjawab, “Terima kasih, Angger Pangeran. Jika demikian, maka biarlah dipersiapkan bilik bagi Pangeran dan para pengiring di gandok kanan.”

“Terima kasih. Kami dapat beristirahat dimana saja.”

Ki Juru tersenyum. Ia mengenal Pangeran Benawa dengan baik. Ia tahu, bahwa Pangeran Benawa dapat saja tidur di gardu, di banjar, bahkan di kandang sekalipun. Tetapi tentu para pengiringnya yang tidak akan dapat berbuat demikian.

Karena itu, maka Ki Juru pun segera memerintahkan beberapa orang pelayan untuk membersihkan gandok kanan. Kemudian setelah menjamu sekedarnya, Ki Juru mempersilahkan para tamunya untuk beristirahat.

Namun dalam pada itu, Adipati yang mengikuti Pangeran Benawa ke Mataram itu selalu saja nampak gelisah. Sebenarnya ia tidak dapat menerima perlakuan yang sangat mengecewakan itu. Seharusnya, Ki Juru dengan tergesa-gesa memerintah beberapa orang pengawal untuk pergi ke Ganjur, minta agar Raden Sutawijaya pulang, malam itu juga. Yang datang di Mataram adalah Pangeran Benawa, yang membawa tugas ayahandanya Sultan Hadiwijaya. Karena itu, maka Raden Sutawijaya harus bersikap seperti ia bersikap kepada Sultan sendiri.

Dalam pada itu, karena ia tidak dapat menahan gejolak perasaannya, maka ia pun telah bersepakat dengan beberapa orang pengiring untuk langsung pergi ke Ganjur, memanggil Raden Sutawijaya untuk segera kembali.

“Kita tidak usah minta ijin Pangeran Benawa. Kita pergi begitu saja, jika Pangeran Benawa sedang beristirahat,” berkata Adipati itu kepada para pengiringnya.

Beberapa orang pengiringnya termangu-mangu.

Tetapi beberapa orang lain yang sependapat dengan Adipati itu pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Sutawijaya harus tahu diri.”

Demikianlah, ketika Pangeran Benawa beristirahat di dalam gandok, maka Adipati itu pun telah mempersiapkan diri. Tiga orang pengiringnya telah ditunjuk untuk mengikutinya, sementara yang lain agar tetap berada di gandok itu, sehingga kepergian Adipati itu tidak diketahui oleh Pangeran Benawa.

“Usahakan agar ia tidak mencari aku,” berkata Adipati itu.

“Tetapi Ki Adipati tentu akan pergi cukup lama. Mungkin tengah malam baru kembali. Apa jawabku jika Pangeran bertanya?”

“Katakanlah, bahwa kau tidak tahu, kemana aku pergi,” berkata Adipati itu.

Sejenak kemudian, maka dengan hati-hati, para pengiringnya telah mempersiapkan kuda mereka. Ketika para pengawal Mataram bertanya, maka para pengiring itu hanya mengatakan, bahwa mereka ingin melihat-lihat keadaan Mataram.

Tanpa setahu Pangeran Benawa, maka Adipati yang mengikutinya ke Mataram itu pun telah meninggalkan rumah Raden Sutawijaya. Demikian mereka sampai ke jarak yang cukup, kuda-kuda itu pun segera dipacu menuju ke daerah Ganjur.

“Siapa di antara kalian yang pernah melihat daerah Ganjur?” bertanya Adipati itu di sepanjang jalan.

“Aku,” jawab salah seorang pengiringnya, “Ada sebuah padukuhan yang cukup besar di daerah Ganjur. Padukuhan itu adalah padukuhan tempat Raden Sutawijaya membuat pesanggrahan.”

Adipati itu tidak menjawab. Kudanya justru berpacu semakin cepat. Seolah-olah ia sudah tidak sabar lagi untuk dapat segera bertemu dengan Raden Sutawijaya, dan memerintahkannya segera kembali ke Mataram, meskipun sampai larut malam mereka baru akan sampai.

“Ia harus mengerti, bahwa ia masih tetap harus tunduk kepada Sultan dan alat-alat pemerintahannya,” berkata Adipati itu di dalam hatinya, “kecuali jika ia memang benar-benar ingin memberontak. Jika itu yang dikehendakinya, maka biarlah lebih cepat dilakukan. Dengan demikian, maka rencana penghancuran Mataram akan lebih cepat selesai. Pajang pun menjadi sangat lemah karena benturan itu, sehingga menghancurkannya pun tidak diperlukan waktu setengah hari.”

Empat orang berkuda itu pun menyusuri bulak-bulak panjang dengan kecepatan yang tinggi. Beberapa orang petani yang berada di sawah, terkejut melihat kuda berpacu demikian cepatnya. Apalagi ketika keempat ekor kuda itu memasuki jalan-jalan yang sepi di pinggir hutan yang tidak terlalu lebat.

“Lewat hutan ini, kita akan mendapatkan beberapa padukuhan lagi,” berkata pengiringnya yang telah pernah mengetahui daerah Ganjur. “Setelah melalui beberapa padukuhan itulah, maka kita akan segera sampai ke padukuhan yang agak besar, dengan sebuah ara-ara yang luas. ara-ara yang dipersiapkan bagi Raden Sutawijaya untuk bermain-main dengan kuda-kudanya yang banyak.”

Adipati itu tidak menjawab. Ia mencoba berpacu semakin cepat. Dengan demikian, maka debu pun berhamburan di belakang kaki keempat ekor kuda itu.

Setelah melalui hutan yang tidak begitu lebat, mereka terpaksa memperlambat derap kuda mereka, meskipun mereka masih tetap berpacu. Di tengah-tengah bulak mereka harus menyesuaikan diri, agar para petani yang melihat tidak menjadi curiga karenanya.

Beberapa padukuhan telah dilaluinya. Akhirnya mereka pun sampai ke padukuhan yang agak besar di antara beberapa padukuhan yang lain.

“Itulah Ganjur,” berkata pengiring yang pernah melihat daerah Ganjur, “di sebelah padukuhan itu ada sebuah ara-ara yang cukup luas.”

“Apakah kita akan pergi ke ara-ara itu?” bertanya Adipati yang menjadi gelisah itu, “atau kita pergi ke pesanggrahannya?”

“Sudah tentu ke pesanggrahannya. Jika tidak ada di pesanggrahan, maka Raden Sutawijaya agaknya berada di ara-ara itu, atau bahkan berada di hutan untuk berburu kijang.”

“Persetan!” geram Adipati itu, “jika ia berada di hutan, kita akan mencarinya sampai ketemu. Baru pagi tadi ia berangkat. Seandainya ia memang ingin berburu, maka ia tentu masih berada di pesanggrahan.”

Dengan demikian, maka iring-iringan itu pun langsung menuju ke pesanggrahan. Tanpa turun dari kudanya, maka Adipati itu langsung masuk ke dalam regol sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas.

“Aku utusan Sultan Hadiwijaya,” geram Adipati itu ketika ia berhenti di muka pendapa, “dimana Senapati Ing Ngalaga?”

Seorang pengawal yang berada di halaman itu mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Ampun, Tuan. Senapati Ing Ngalaga tidak berada di pesanggrahan.”

“Tetapi ia berada di sini?”

“Ya, benar, Tuan. Tetapi sejak menjelang sore hari. Senopati Ing Ngalaga berada di ara-ara dengan beberapa ekor kudanya.”

Adipati itu menggeram, sedangkan pengiringnya berkata, “Kita pergi ke ara-ara.”

Adipati itu tidak berkata sepatah kata pun. Ia langsung menarik kendali kudanya dan menghentakkannya, sehingga kudanya bagaikan terkejut dan meloncat berlari, menuju ke ara-ara.

Dari kejauhan, Adipati itu sudah melihat beberapa orang berada di ara-ara. Meskipun ia belum tahu, yang manakah Senopati Ing Ngalaga, tetapi ia dapat menduga, bahwa yang berada di punggung kuda, yang sedang berlatih menari di tengah-tengah ara-ara, itulah Raden Sutawijaya.

Derap kaki kuda Adipati itu memang mengejutkan Raden Sutawijaya, yang tengah bermain-main dengan kudanya. Ketika ia memandang ke kejauhan, dilihatnya empat ekor kuda berlari seperti angin menuju ke ara-ara itu.

“Siapa mereka?” bertanya Raden Sutawijaya kepada seorang pengawalnya.

Pengawal itu menggelengkan kepalanya sambil menyahut, “Aku belum pernah mengenalnya, Raden.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Semakin dekat, maka ia pun semakin jelas melihat, siapakah yang datang berkuda itu.

Demikianlah, Raden Sutawijaya dapat melihat lekuk-lekuk wajah orang itu dengan jelas, maka ia pun berdesah, “Adipati Partaningrat.”

Pengawalnya mengerutkan keningnya. Hampir berbisik ia bertanya, “Apakah ia yang bernama Raden Ambar bergelar Adipati Partaningrat II?”

Raden Sutawijaya mengangguk sambil menjawab, “Ya. Ia adalah Raden Ambar yang bergelar Adipati Partaningrat II. Orang yang aneh menurut pandanganku. Baginya di dunia ini tidak ada orang yang baik dan benar. Semua yang dilakukan orang lain tentu salah dan kurang baik. Apalagi orang yang tidak disukai. Tetapi, kenapa ia datang kemari pada saat begini?”

“Tentu ada masalah yang penting.”

Raden Sutawijaya tidak menyahut. Ia menunggu Adipati itu menjadi semakin dekat. Tetapi ia sudah mengira, bahwa Pangeran Benawa telah berada di Mataram, dan Adipati Partaningrat itu mendapat perintah untuk memanggilnya.

Sejenak kemudian, maka Adipati yang bergelar Partaningrat II itu telah mendekat. Demikian ia memasuki ara-ara, maka kudanya pun diperlamban dan akhirnya berhenti beberapa langkah di hadapan Raden Sutawijaya, yang masih berada di punggung kudanya pula.

“Paman Adipati Partaningrat,” desis Raden Sutawijaya.

Adipati Partaningrat memandang Raden Sutawijaya dengan tajamnya. Tiba-tiba saja ia menggeram, “Aku, Adipati Partaningrat membawa titah Sultan di Pajang.”

“Ya,” sahut Raden Sutawijaya, “katakan. Apakah titah Sultan?”

Adipati Partaningrat termenung sejenak. Dipandanginya Raden Sutawijaya dengan tajamnya. Kemudian katanya sekali lagi, “Aku, Adipati Partaningrat datang atas kuasa Sultan.”

“Ya. Apa maksudmu?”

“Di hadapan Sultan, sebaiknya kau turun dari kudamu,” desis Adipati Partaningrat.

Wajah Raden Sutawijaya tiba-tiba saja telah membara. Hampir saja ia kehilangan pengamatan diri. Untunglah, bahwa ia masih berusaha untuk menahan hatinya yang bagaikan terbakar.

“Kau turun dulu dari kudamu. Aku adalah putra Sultan Pajang, Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga.”

“Ya. Kau putra angkat Sultan. Tetapi dalam tugasku sekarang, aku adalah Sultan itu sendiri.”

 

 

“Aku tidak percaya,” tiba-tiba saja Raden Sutawijaya menggeram, “apakah pertanda yang ada padamu, bahwa kau adalah utusan Sultan sehingga kau adalah Sultan itu sendiri?”

Wajah Adipati Partaningrat-lah yang kemudian menjadi merah. Apalagi ketika Raden Sutawijaya berkata selanjutnya, “Setiap orang yang berbuat sesuatu atas nama dan bagi Sultan Hadiwijaya di Pajang, maka ia tentu membawa pertanda. Tunggul, panji atau bawat itu sendiri. Bahkan seperti yang terjadi atas Untara, di saat meninggalnya Ki Sumangkar, justru pertanda pribadi Ayahanda Sultan, keris Kiai Crubuk yang hampir tidak pernah terpisah dari lambung Ayahanda.”

Sejenak Adipati Partaningrat bagaikan membeku. Namun gelora di dadanya terasa gemuruh, seolah-olah jantungnya akan meledak. Ketika kemudian mulutnya bergerak, terdengar suaranya gemetar, “Aku tidak memerlukan segala pertanda itu. Aku adalah kepercayaan Sultan. Perintah lisannya mempunyai nilai seperti tunggul, panji atau keris itu sendiri. Selebihnya, aku adalah pribadi yang memiliki pertanda itu sendiri.”

“Setiap orang dapat menyebut dirinya seperti yang kau katakan itu dengan kalimat-kalimat dan sikap kesombongan. Tetapi semuanya tidak berarti bagiku, karena aku adalah putra Sultan Hadiwijaya yang mengetahui dengan pasti semua adat dan tata cara yang diharuskan bagi Istana Pajang.”

“Aku tidak perduli penilaianmu. Tetapi dengar perintahku, agar kau turun dari kudamu. Kemudian baru aku akan memberikan perintah berikutnya.”

“Adipati Partaningrat yang perkasa,” geram Raden Sutawijaya, “jangan membuat aku marah. Turunlah dari kudamu. Beri hormat kepada putra Sultan Hadiwijaya, yang bernama Raden Sutawijaya dan bergelar Senapati Ing Ngalaga.”

Adipati Partaningrat menjadi gemetar menahan marah. Dengan geram ia berkata, “Jika kau melawan perintahku, maka berarti kau sudah melawan ayahanda angkatmu sendiri. Kau telah melawan rajamu dan karena itu kau telah memberontak. Mataram dengan pasti dapat dikatakan telah memberontak melawan Pajang.”

“Aku mengerti,” potong Raden Sutawijaya, “itulah yang aku kehendaki sebenarnya. Kau ingin menyebut Mataram memberontak. Kau telah mempergunakan cara yang kasar ini untuk memaksa aku melawan salah seorang Adipati kepercayaan Pajang. Tetapi, kau bagiku tidak berharga sama sekali. Meskipun bukan seorang Adipati, tetapi aku akan lebih menghormati Ki Untara di daerah Selatan ini, karena ia memang memegang kendali kekuasaan keprajuritan di daerah ini.”

“Aku tidak peduli. Sekarang, lakukanlah perintahku.”

“Kau-lah yang harus melakukan perintahku. Aku Senapati Ing Ngalaga yang berkuasa di Mataram.”

Hati dan jantung Adipati Partaningrat benar-benar telah membara. Karena itu, maka ia pun telah menyingsingkan lengan bajunya dan menarik wiron kain panjangnya. Dengan suara yang bergetar ia berkata, “Jadi aku harus memaksamu?”

“Jangan bodoh. Kematianmu tidak akan mendapat penghormatan apa-apa di sini,” jawab Senapati Ing Ngalaga.

Penghinaan itu benar-benar tidak dapat diterima oleh Adipati Partaningrat. Karena itu, maka ia pun telah bersiap untuk memaksa Raden Sutawijaya turun dari kudanya.

Sementara itu, para pengiringnya telah bersiap pula. Mereka tinggal menunggu perintah Adipati Partaningrat. Namun dalam pada itu, beberapa orang pengawal Raden Sutawijaya yang berada di ara-ara itu, untuk ikut bermain-main dengan kuda, telah mempersiapkan diri pula menghadapi segala kemungkinan.

Pada saat yang tegang itulah, mereka yang berada di ara-ara itu terkejut. Mereka mendengar derap kaki kuda yang berpacu semakin dekat. Ketika mereka berpaling ke arah suara derap kaki kuda itu, maka mereka menjadi berdebar-debar. Mereka melihat iring-iringan beberapa orang berkuda.

Yang di paling depan dari mereka itu adalah Pangeran Benawa.

Raden Sutawijaya dan Adipati Partaningrat menjadi tegang. Mereka masing-masing menduga-duga, apakah yang akan dilakukan oleh Pangeran Benawa.

Namun, demikian Pangeran Benawa memasuki ara-ara, ia pun langsung menuju ke tempat Raden Sutawijaya duduk tegang di punggung kudanya. Beberapa langkah dari Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa pun berhenti, dan langsung meloncat turun.

“Aku datang, Kakang Sutawijaya,” berkata Pangeran Benawa lantang, sambil tersenyum.

Sejenak Raden Sutawijaya tercenung di atas punggung kudanya. Terasa sesuatu menggelegak di dalam dadanya. Namun sejenak kemudian ia pun segera meloncat turun pula.

“Selamat datang, Adimas Pangeran,” desis Raden Sutawijaya, tanpa menghiraukan lagi Adipati Partaningrat yang menjadi berdebar-debar melihat sikap Pangeran Benawa.

Namun, karena Pangeran Benawa telah meloncat turun diikuti oleh beberapa orang pengiringnya, maka Adipati Partaningrat pun turun pula dari punggung kudanya, betapa hatinya terasa bagaikan akan meledak.

“Pangeran Benawa adalah orang yang aneh,” geram Adipati itu di dalam hatinya, “ia telah merendahkan dirinya di hadapan Senapati Ing Ngalaga. Jika saja ia tidak datang, maka bukan salahku jika aku membawanya terikat ke Pajang sebagai seorang pemberontak, atau membiarkannya melarikan diri dan mempersiapkan pasukannya dengan tergesa-gesa, sehingga alasan untuk menghancurkan Mataram akan dapat segera dilakukan. Sementara itu, pasukan Pajang sendiri akan menjadi lemah dan kehilangan kekuatan untuk melawan kehendak beberapa orang pemimpin, yang mempunyai cita-cita yang jauh lebih berharga dari apa yang dapat dicapai Pajang dalam keadaan yang parah sekarang ini.”

Sejenak, Adipati Partaningrat melihat kedua orang itu bersalaman. Kemudian mereka bercakap-cakap dengan akrabnya seperti benar-benar dua orang kakak beradik yang sudah lama tidak bertemu.

Tetapi agaknya Pangeran Benawa tidak bertanya sesuatu tentang Adipati Partaningrat. Bahkan ia kemudian berkata, “Tempat ini menyenangkan sekali, Kakang. Aku ingin bermalam di pesanggrahan Kakang Sutawijaya malam nanti. Tentu itu lebih baik daripada kita kembali ke Mataram. Langit sudah menjadi buram dan kemerah-merahan sekarang.”

Raden Sutawijaya mengangkat wajahnya. Dilihatnya bayangan senja mulai turun menyelubungi daerah Ganjur.

“Senang sekali jika Adimas menghendaki,” berkata Raden Sutawijaya kemudian, “tetapi, rumah yang ada di daerah ini adalah rumah padesan yang sederhana.”

Pangeran Benawa tertawa. Katanya, “Apakah kira-kira aku tidak dapat tidur di dalam rumah yang sederhana?”

Raden Sutawijaya pun tertawa pula. Ia mengerti, siapakah Pangeran Benawa itu. Ia mengerti, bahwa Pangeran Benawa adalah seseorang yang terbiasa bertualang, tidur di rerumputan beratapkan langit berselimut embun. Karena itu, maka pertanyaan Pangeran Benawa itu membuatnya tertawa pula.

Demikianlah, maka Raden Sutawijaya pun kemudian mempersilahkan Pangeran Benawa dan para pengiringnya untuk pergi ke pesanggrahan. Betapapun hatinya terluka oleh sikap Adipati Partaningrat, namun ia pun mempersilahkan Adipati itu pula untuk singgah.

“Pesanggrahan yang menyenangkan,” berkata Pangeran Benawa, ketika mereka sudah berada di pesanggrahan, “aku sudah singgah di pesanggrahan ini. Namun seorang abdi mengatakan, bahwa Kakang Sutawijaya berada di ara-ara, bermain-main dengan kuda.”

“Ya. Aku merasa sangat lelah di Mataram, sehingga aku memerlukan waktu beberapa hari untuk beristirahat. Tepat pada saat aku pergi, Adimas Pangeran datang berkunjung ke Mataram.”

Pangeran Benawa tertawa. Katanya, “Aku tidak mempunyai kepentingan yang khusus. Aku memang sekedar menengok keselamatan Kakang Sutawijaya sekeluarga,” berkata Pangeran Benawa kemudian.

Pada saat Pangeran Benawa berbincang dengan Raden Sutawijaya sebagai dua orang bersaudara yang lama tidak bertemu, maka Adipati Partaningrat telah menggamit pengawalnya sambil berbisik, “Siapa yang memberitahukan, bahwa aku menyusul Raden Sutawijaya?”

Pengawal menggeleng sambil menjawab, “Tidak ada, Adipati. Tidak ada.”

“Sst. Jangan keras-keras,” desis Adipati itu. “Tetapi jika tidak ada yang memberitahukannya, kenapa ia tahu bahwa aku berada di sini?”

“Pangeran Benawa mempunyai panggraita yang sangat tajam, sehingga menurut perhitungannya, Adipati berada di sini. Dan sebenarnyalah, Kanjeng Adipati berada di sini.”

“Gila!” geramnya, “Jika saja ia tidak segera datang, maka aku sudah mempunyai bukti, bahwa Senapati Ing Ngalaga telah memberontak melawan kekuasaan Pajang.”

Pengawalnya tidak menyahut. Tetapi sambil memandang Pangeran Benawa, yang sedang asyik berbincang dengan Raden Sutawijaya, ia berkata di dalam hati, “Apakah ada tanda-tanda pemberontakan itu? Keduanya sangat akrab. Nampaknya tidak mungkin ada selisih paham antara keduanya. Padahal Sultan Pajang, seolah-olah kini sudah tidak memerintah lagi karena keadaan kesehatannya.”

Tetapi pengawal itu tidak berkata sesuatu tentang kedua orang saudara angkat itu. Yang dilihatnya, keduanya adalah dua orang saudara yang baik dan akrab. Yang memiliki kemampuan melampaui kebanyakan prajurit, sehingga keduanya adalah anak muda yang jarang ada tandingnya.

“Jika keduanya berselisih, maka bumi akan berguncang. Gunung akan saling membentur dan danau-danau akan tumpah dan kering. Lautan bagaikan mendidih dan jurang-jurang pun akan merekah semakin lebar. Bintang-bintang di langit akan berloncatan berbaur dengan badai dan prahara yang akan memutar balik langit dan mega-mega yang kelabu,” desis pengawal itu di dalam hatinya.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: