Buku 127 (Seri II Jilid 27)

 

“Jangan memperkecil diri sendiri. Jika kau berusaha untuk meningkatkan ilmu adalah suatu usaha yang baik. Tetapi jika kau kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri, maka usahamu sebagian telah gagal,” berkata Agung Sedayu.

Glagah Putih mencoba mengerti keterangan kakaknya. Karena itu, ia tidak kehilangan gairah yang menyala di dalam hatinya untuk berlatih.

“Tetapi kau jangan merasa bahwa usahamu akan berhasil dengan menyandarkan kepada kemampuanmu sendiri,” berkata Agung Sedayu, “karena betapapun jauhnya kita berusaha, segalanya tergantung kepada belas kasihan Yang Maha Agung. Namun hanya orang yang berusaha sajalah yang akan mendapatkan belas kasihan-Nya, karena usaha adalah wujud dari permohonan yang bersungguh-sungguh.”

Glagah Putih berusaha untuk menempatkan diri pada kedudukan seperti yang dimaksud kakak sepupunya. Ia mohon kepada Yang Maha Tinggi. Untuk menunjukkan kesungguhan dari permohonannya, maka ia pun telah berusaha sejauh dapat dilakukan.

Namun dalam pada itu, pada saat tertentu, Agung Sedayu telah mulai berbuat sesuatu bagi dirinya sendiri. Meskipun masih sangat terbatas.

Sejak sore hari, ia biasanya menenggelamkan diri di sanggarnya bersama Glagah Putih. Ternyata Glagah Putih memiliki kemampuan yang luar biasa, yang dapat membuat ketahanan tubuhnya menjadi semakin meningkat. Seolah-olah ia tidak merasa lelah sama sekali, meskipun ia sudah berlatih untuk waktu yang lama.

Tetapi Agung Sedayu-lah yang membatasi waktunya. Jika Glagah Putih telah berlatih cukup lama, maka Agung Sedayu telah menghentikan latihan itu dan meneruskan di hari berikutnya. Ia masih tetap pada caranya, bahwa di siang hari, Glagah Putih harus meningkatkan tenaganya, menyesuaikan diri dengan kerjanya sehari-hari. Setiap pagi Glagah Putih masih harus menyapu halaman yang luas dengan tanpa tapak kaki. Glagah Putih harus membelah kayu bakar. Semakin lama, beban yang diberikan oleh Agung Sedayu kepadanya menjadi semakin berat, sementara jalannya menuju ke sawah pun menjadi semakin jauh dan sulit.

Untuk menghindari pertanyaan orang-orang lain, maka Glagah Putih memilih jalan yang paling sepi. Karena itu, maka ia selalu menyusuri sungai ketika ia berangkat dan kembali dari sawah. Dengan niat yang membara di hatinya, maka Glagah Putih selalu berloncatan dari batu ke batu. Meloncat naik tebing, kemudian menuruninya kembali. Berlari-lari, bahkan kadang-kadang ia mempergunakan sebagian waktunya untuk melatih kemampuan tangannya di pasir tepian.

Kadang-kadang di bawah petunjuk Agung Sedayu, Glagah Putih berusaha mengembangkan kemampuan bidiknya dengan mempergunakan batu-batu kerikil. Di sungai yang jarang diambah kaki manusia, Glagah Putih berlatih mempergunakan bandil. Dan bahkan lontaran tangan. Sambil berlari-lari dan meloncat-loncat antara bebatuan, Glagah Putih telah melempar satu sasaran dengan batu sebesar telur ayam. Di kesempatan lain, sasarannyalah yang bergerak. Bahkan kemudian Glagah Putih yang bergerak berusaha untuk mengenai sasaran yang bergerak pula.

“Lambat laun, kemampuan bidikmu akan meningkat,” berkata Agung Sedayu.

“Kakang Agung Sedayu termasuk orang aneh,” berkata Glagah Putih, “Sambil memejamkan mata, Kakang dapat mengenai sebuah batu yang dilontarkan di udara.”

“Ah, itu berlebih-lebihan. Jika aku memejamkan mata, mana mungkin aku dapat membidik sasaran. Jika memejamkan sebelah mata, barulah mungkin dilakukan.”

Namun bagi Glagah Putih, kemampuan bidik Agung Sedayu benar-benar di luar jangkauan nalarnya. Seolah-olah Agung Sedayu telah meletakkan matanya pada alat pelemparnya, sehingga lemparannya tidak pernah meleset dari sasaran.

Sebenarnyalah bahwa perlahan-lahan, dengan mempergunakan sisa waktu yang ada, Agung Sedayu telah meningkatkan kemampuannya. Dengan sangat berhati-hati, ia mulai mencoba melihat isi kitab yang pernah dibacanya atas kebaikan hati Ki Waskita.

Tetapi Agung Sedayu masih belum berbuat sesuatu. Ia baru sekedar melihat kembali pada ingatannya, apa saja yang pernah dibacanya pada kitab Ki Waskita.

Pada kesempatan yang tersisa, Agung Sedayu duduk menyendiri di dalam sanggar. Biasanya jika Glagah Putih telah tertidur setelah memeras tenaganya.

Sambil duduk di bawah lampu minyak, Agung Sedayu mencoba untuk mengingat bait demi bait tulisan yang pernah dibacanya. Kemudian dengan sedikit catatan pada helai-helai rontal, ia memisahkan jenis dan sasaran bagian demi bagian dari ilmu yang tertera di dalam kitab itu.

Agung Sedayu benar-benar harus berhati-hati dengan penelaahan ilmu itu. Karena itu, yang mula-mula dilihatnya barulah bagian pertama. Dengan teliti ia membagi hubungan antara isi kitab itu dengan kemampuan ilmu yang ada padanya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali. Ia harus mengenal sifat, watak dan segala kemungkinan yang dapat terjadi dalam hubungan antara ilmu yang ada di dalam dirinya. Bukan saja dengan ilmu yang dipelajarinya dari Kiai Gringsing, tetapi juga ilmu yang temurun dari ayahnya, lewat lukisan-lukisan yang terdapat di dinding goa yang pernah dipelajarinya.

Baru kemudian, ia akan melihat ke dalaman ilmu dari kitab yang dipinjamnya dari Ki Waskita sampai ke hakikatnya.

Demikian berhati-hati Agung Sedayu dengan penelaahannya, sehingga tidak seorang pun yang mengetahuinya. Glagah Putih juga tidak, seperti ia merahasiakan kitab yang pernah dibacanya. Tidak seorang pun yang boleh mengetahuinya, kecuali Kiai Gringsing.

Namun dalam beberapa hal, ketajaman nalar Agung Sedayu telah menyentuh hubungan antara ilmunya dengan ilmu yang pernah dibacanya dari kitab itu. Betapa ia berhati-hati, sehingga untuk mengenal setiap unsur dari ilmu yang dibacanya dari kitab Ki Waskita, Agung Sedayu harus mengujinya dua tiga kali. Baru ketika ia sudah yakin, barulah ia mencoba untuk mencari singgungan. Dalam tahap permulaan, ia baru merambah jalan untuk mencari kemungkinan agar ilmu itu dapat luluh, namun masih tetap memiliki wataknya masing-masing dalam ungkapan-ungkapan tertentu.

Yang dilakukan Agung Sedayu barulah penjelajahan di dalam angan-angan, dan kemudian di guratkannya beberapa bentuk dan wujud gerak pada rontal. Ia memang mencoba beberapa unsur gerak meskipun sambil duduk. Ia mencoba melihat sesuatu yang terjadi pada gerak jari-jarinya, gerak pergelangan tangannya dan kemudian gerak lengannya.

Tetapi Agung Sedayu baru sampai kepada bentuk dan wujud lahiriah, yang mungkin akan dapat menjadi landasan ke kedalaman gerak bukan saja wadagnya. Tetapi gerak wadag itu akan dapat di pergunakannya untuk melontarkan kekuatan cadangan yang bukan saja terdapat di dalam dirinya, tetapi yang dapat diserapnya dari kesatuan dirinya dengan lingkungannya. Dunia kecilnya dengan dunia besarnya.

Meskipun yang dilakukan oleh Agung Sedayu itu tidak lebih dari duduk bersilang kaki sambil menggerakkan jari-jarinya, pergelangan tangan, lengan dan pundaknya, namun ia merasa telah melakukan pekerjaan yang berat sekali. Jauh lebih berat dari yang dilakukannya bersama Glagah Putih untuk waktu yang lebih singkat.

Menyadari betapa sulit dan peliknya persoalan yang dihadapinya, maka Agung Sedayu pun menjadi sangat berhati-hati dan perlahan-lahan sekali. Yang dilakukannya adalah yang paling mudah dan paling tidak berbahaya, sementara ia masih menunggu kesempatan kedatangan gurunya di padepokan kecil itu.

Namun demikian, yang sangat perlahan-lahan itu, telah mulai nampak pengaruhnya. Meskipun pengaruh itu belum mendasar, sekedar tompangan pada alas yang memang sudah ada, namun terasa, bahwa pada bagian-bagian tertentu, kemampuan Agung Sedayu sudah meningkat.

Pernafasannya menjadi lebih baik dan urat-uratnya pun seolah-olah menjadi semakin liat. Penguasaan tubuhnya menjadi bertambah mapan, sehingga gerak-gerak naluriahnya tidak terlepas dari pengendalian akalnya. Bahkan saluran perintah dari pusat sarafnya ke segenap tubuhnya menjadi lebih cepat, seperti juga meningkatnya kecepatan gerak anggota badannya.

Perubahan-perubahan itu telah disadari oleh Agung Sedayu, meskipun perlahan-lahan sekali. Namun dengan tekun ia mempelajari setiap perkembangan. Tidak tergesa-gesa dan dengan penuh kesadaran Agung Sedayu memelihara keseimbangan yang ada di dalam dirinya.

Agung Sedayu sama sekali tidak berani merambah pengamatannya pada dasar-dasar ilmu yang dapat memberikan kekuatan pada sorot matanya, meskipun pada dasarnya ia sudah memiliki kemampuan itu. Dan pada bagian ilmu yang tidak bersifat wadag lainnya, yang telah dipahami atau belum oleh Ki Waskita sendiri.

Namun sementara itu, Sabungsari masih saja digelut oleh kegelisahannya. Ia masih belum menemukan jalan yang paling baik, untuk mengatasi kemungkinan yang buruk, yang dapat terjadi atas Agung Sedayu karena pokal Ki Pringgajaya.

Sekali-sekali, jika ia kehilangan kebeningan nalarnya, ia bertekad untuk menantang Ki Pringgajaya dalam perang tanding untuk menyelesaikan masalah itu tanpa diketahui oleh Agung Sedayu. Namun setiap kali, ia selalu mengurungkan niatnya. Jika hal itu diketahui oleh Untara dari para pengikut Pringgajaya, maka ia akan mendapat hukuman karena ia telah melawan seorang perwira. Sedangkan alasannya tidak akan dapat dikatakannya dengan disertai bukti-bukti yang dapat menguatkan keterangannya, sehingga ia justru dapat dituduh memfitnah.

Akhirnya, Sabungsari merasa tidak mempunyai jalan lain kecuali menyampaikannya kepada Agung Sedayu sendiri.

“Jika Agung Sedayu menyebut namaku, dan Ki Pringgajaya marah kepadaku, apaboleh buat. Aku akan sekedar membela diriku. Mungkin aku akan dapat mengelak dan mencari saksi apabila hal itu akan terjadi, sebelum aku menerima tantangannya untuk berperang tanding,” berkata Sabungsari di dalam hatinya. Karena itulah, maka ia pun kemudian mengambil keputusan untuk menyampaikan masalah itu kepada Agung Sedayu sendiri, sebelum waktu yang tersisa itu habis.

Namun ketika Sabungsari kemudian datang ke padepokan Agung Sedayu, keragu-raguannya telah membayang kembali. Ketika ia melihat Agung Sedayu sibuk berlatih bersama Glagah Putih, Sabungsari menjadi bimbang.

“Agung Sedayu akan menjadi gelisah,” berkata Sabungsari di dalam hatinya, “tetapi jika aku tidak menyampaikannya kepadanya, maka pada suatu saat ia akan diterkam oleh kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi atasnya. Anak muda itu mempunyai sikap yang agak lain dari anak-anak muda sebayanya. Ia banyak menghindari kemungkinan terjadinya kematian. Namun dengan demikian, kadang-kadang ia sendiri terperosok ke dalam kesulitan. Betapapun ia mempunyai ilmu yang tinggi, namun sikapnya kadang-kadang membuatnya menjadi orang yang paling lemah di daerah yang panas ini.”

Beberapa saat, Sabungsari bergulat dengan pertimbangan-pertimbangan yang kadang-kadang saling bertentangan, sehingga karena itu, maka ia lebih banyak duduk diam dengan kesibukan angan-angannya sendiri.

Untunglah bahwa ia berada di sanggar, ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih sedang berlatih, sehingga kedua orang itu tidak memperhatikan sikap Sabungsari yang gelisah.

“Tidak ada jalan lain,” geram Sabungsari kemudian.

Namun Sabungsari berniat untuk mengatakannya tanpa Glagah Putih. Jika anak itu mendengar, maka ia akan mempunyai tanggapan dan sikap tersendiri yang mungkin akan mempengaruhi segala macam pertimbangan dan perhitungan yang akan dibuat oleh Agung Sedayu, untuk mengatasi persoalan itu dengan cara yang paling baik.

Beberapa saat Sabungsari masih menunggu latihan itu selesai. Ia masih sempat memperhatikan, betapa Glagah Putih sudah menjadi semakin maju.

“Cepat sekali,” gumam Sabungsari di dalam dirinya.

Namun Sabungsari pun melihat tekad yang menyala di hati Glagah Putih, sementara Agung Sedayu pun memiliki cara yang tepat untuk menurunkan ilmu warisan Ki Sadewa itu, sehingga dengan demikian, maka kemampuan Glagah Putih pun meningkat dengan cepat.

Ketika mereka sudah cukup lama berlatih, maka Agung Sedayu pun menghentikan latihan itu. Meskipun Glagah Putih masih berminat, tetapi Agung Sedayu berkata, “Saat-saat latihanmu bukan hanya saat ini. Tetapi waktu yang akan kau pergunakan masih cukup lama, sehingga kau tidak boleh memaksa diri tanpa menghiraukan keadaan wadagmu.”

Glagah Putih tidak menjawab. Ia sudah mendengar kakaknya mengatakannya berpuluh-puluh kali jika ia menghentikan latihan.

Sabungsari yang melihat Glagah Putih kecewa, tersenyum sambil berkata, “Agaknya kau ingin menyelesaikan ilmumu sekarang juga?”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum.

“Beristirahatlah,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Glagah Putih pun kemudian keluar sanggar. Ia berjalan beberapa saat di luar untuk mengeringkan keringatnya. Baru kemudian ia pergi ke pakiwan untuk mandi.

“Luar biasa,” desis Sabungsari, “ternyata anak kurus itu memiliki tenaga dan kemauan yang luar biasa. Ilmunya cepat sekali maju dan bahkan telah mulai nampak kelebihannya yang akan dapat dikembangkan.”

“Kemauannya yang luar biasa itulah yang mendorongnya mempercepat peningkatan kemampuannya. Ia tidak mengenal lelah. Di siang hari ia mengembangkan kekuatan dan ketrampilan tubuhnya. Di malam hari ia mempelajari unsur-unsur gerak dari ilmu yang disadapnya. Semuanya dilakukan dengan tekun dan bersungguh-sungguh, tanpa melalaikan kerjanya sehari-hari di sawah dan pategalan.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Namun agaknya kegelisahan yang ada di dalam hatinya dapat dilihat oleh Agung Sedayu pada kerut di wajahnya, sehingga karena itu, maka Agung Sedayu pun bertanya, “Sabungsari, apakah kau mempunyai keperluan khusus, atau sekedar melihat-lihat Glagah Putih berlatih seperti biasanya?”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku mempunyai kepentingan sedikit, Agung Sedayu. Sebaiknya aku katakan kepadamu sebelum Glagah Putih hadir lagi di sanggar ini.”

Wajah Agung Sedayu menegang. Sabungsari pernah mengatakan seperti yang dikatakannya itu. Kemudian mengajaknya berjalan-jalan menyusur sungai. Namun akhirnya ia harus mengadu ilmu dengan anak muda itu.

Tetapi saat itu Sabungsari bertanya, “Apakah kau mempunyai waktu sedikit saja untuk mendengarkan?”

“Katakanlah,” sahut Agung Sedayu.

Sabungsari masih tetap ragu-ragu. Namun akhirnya ia berkata, “Agung Sedayu. Ternyata bahwa dendam yang kau hadapi, masih membara di Jati Anom ini.”

Wajah Agung Sedayu menjadi semburat merah.

Namun ia tidak bertanya. Dibiarkannya Sabungsari meneruskan kata-katanya setelah ia melihat ke pintu sekilas. “Agung Sedayu. Aku bukan satu-satunya orang yang menginginkan kematianmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Terasa pedih di hatinya bagaikan disiram garam.

“Maafkan aku. Bukan maksudku membuatmu gelisah dan barangkali bingung. Tetapi aku hanya ingin sekedar memperingatkan agar kau tetap berhati-hati.”

“Darimana kau mengetahui hal itu? Apakah kau datang membawa beberapa orang kawan selain para pengikutmu? Mungkin anak orang-orang yang terbunuh di peperangan itu, selain Ki Gede Telengan?”

Sabungsari menggeleng. Jawabnya, “Bukan mereka, Agung Sedayu, meskipun masih ada hubungannya juga dengan pertempuran di lembah itu. Tetapi hubungan lewat jalur yang sudah berbelit-belit, bahkan sudah kusut, sehingga sulit untuk menelusurinya. Namun jelas, bahwa yang sekarang mengancam keselamatanmu adalah juga orang-orang yang berada di dalam barisan orang-orang yang merindukan kembali masa-masa lampau, tanpa mengingat perkembangan dan peredaran waktu.”

“Darimana kau tahu? Apakah mereka berhubungan dengan kau sebagai anak Telengan?”

Sabungsari menggeleng. Katanya, “Meskipun ayahku berada di dalam barisan itu pula, tetapi aku datang karena dendamku pribadi.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Sabungsari dengan tajamnya, seolah-olah ia ingin melihat isi hati anak muda itu.

“Apakah kau mulai ragu-ragu lagi tentang aku, Agung Sedayu?” bertanya Sabungsari kemudian.

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak, Sabungsari. Tetapi aku benar-benar menjadi bingung. Apakah sebenarnya yang telah terjadi di Jati Anom, yang berhubungan dengan kehadiranku di sini?”

“Agung Sedayu. Kau harus menyadari, bahwa justru karena pengabdianmu bagi tegaknya kemanusiaan, kau telah berdiri di ujung dendam yang membara di hati beberapa orang yang merasa kehilangan seperti aku.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun dapat menepuk dada dengan mengatakan, bahwa yang dilakukan itu adalah pengabdian terhadap peri kemanusiaan. Ia telah berjuang melawan kelaliman, ketidak-adilan dan bahkan kesewenang-wenangan. Tetapi jika terbayang di dalam angan-angan Agung Sedayu sikap Rudita yang memancarkan kejernihan budi, maka rasa-rasanya Agung Sedayu dihadapkan pada suatu bayangan tentang dirinya sendiri yang berwajah gelap, meskipun di tangannya terdapat lampu yang menyala betapapun terangnya.

Beberapa saat lamanya Agung Sedayu berdiam diri. Yang mula-mula berbicara adalah Sabungsari menyambung kata-katanya, “Karena itu, Agung Sedayu, kau harus selalu menjaga diri.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Yang dikatakan oleh Sabungsari itu adalah suatu keadaan yang tidak dapat diingkarinya. Bahwa ia memang berada dalam ancaman dendam yang tidak ada taranya.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, “kau nampaknya ingin menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan dendam itu. Katakanlah.”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Ya. Aku akan mengatakan sesuatu tentang dendam atas dirimu.”

“Katakanlah,” desis Agung Sedayu dengan nada dalam.

Sabungsari beringsut setapak. Sejenak ia memandang wajah Agung Sedayu yang nampak bersungguh-sungguh.

“Agung Sedayu,” berkata Sabungsari, “sebenarnya sudah sejak lama seseorang menghendaki kematianmu selain aku pada waktu itu. Aku sudah hampir mengatakan hal ini kepadamu, tetapi aku selalu ragu-ragu.”

“Sekarang kau tidak perlu ragu-ragu lagi. Aku tetap mempercayaimu,” sahut Agung Sedayu.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Hampir tidak terdengar ia berdesis, “Terima kasih. Mudah-mudahan dengan demikian, kau akan dapat menjaga dirimu tanpa menimbulkan persoalan-persoalan baru yang dapat menggelisahkanmu.”

“Katakan,” Agung Sedayu menjadi tidak sabar lagi melihat keragu-raguan Sabungsari.

Sabungsari mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Agung Sedayu. Pada waktu itu, seorang perwira di dalam lingkungan keprajuritan Pajang telah mengancammu. Menurut perhitungannya, kau harus disingkirkan. Siapapun yang melakukannya. Pada waktu itu, aku yang juga sedang dibakar oleh dendam telah menyatakan diri untuk membunuhmu dengan tanganku. Tetapi ternyata, bahwa aku tidak dapat melakukannya.”

 

 

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Sementara Sabungsari melanjutkan, “Tetapi ternyata yang terjadi adalah seperti ini. Perwira itu agaknya tidak sabar lagi. Ia telah datang kepadaku dan bertanya tentang kematianmu.”

Wajah Agung Sedayu menjadi semakin tegang. Sementara itu Sabungsari berkata pula, “Ada alasan, kenapa aku tidak segera melakukannya. Aku mengatakan, bahwa aku telah terperosok ke dalam pertempuran yang membuat aku terluka parah, melawan Carang Waja. Karena itu, maka aku terpaksa menunda rencanaku untuk membunuhmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi kini ia menagih, apakah aku masih akan melakukannya.”

“Apa katamu?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku minta waktu dua pekan untuk memulihkan kesehatanku karena luka-lukaku melawan Carang Waja. Yang dua pekan itu kini sudah hampir habis. Sementara itu aku masih selalu ragu-ragu, apakah yang sebaiknya aku lakukan tanpa membuatmu gelisah.”

Agung Sedayu termenung sejenak. Agaknya ia sedang mempertimbangkan apakah yang sebaiknya dilakukan.

Tiba-tiba saja Sabungsari terhenyak karena seperti yang diduganya, Agung Sedayu berkata, “Sabungsari. Betapapun kerasnya hati seseorang, namun ia tentu masih dapat mempertimbangkan pendapat orang lain. Aku akan menemuinya dan membicarakan, apakah yang sebenarnya dikehendaki sehingga ia berniat untuk menyingkirkan aku.”

Sabungsari menggigit bibirnya. Sejenak ia bagaikan membeku. Namun kemudian ia berkata, “Agung Sedayu. Aku sudah memperhitungkan, bahwa kau akan berbuat demikian. Kau akan datang menjumpainya dan mempersoalkan niat itu. Kau tentu menganggap, bahwa orang itu akan dapat kau ajak berbicara, kemudian membuatnya menyadari kesalahan dan kekeliruannya.”

“Aku masih percaya akan hati nurani seseorang,” jawab Agung Sedayu.

“Kau keliru. Aku sendiri adalah orang yang keras hati. Yang tidak akan mungkin dapat menyelesaikan persoalanku denganmu hanya dengan berbicara. Mungkin kau berhasil membuat aku ragu-ragu. Tetapi aku masih akan tetap mencoba membunuhmu. Jika kemudian niat itu aku urungkan, seperti yang sudah aku katakan, karena aku mengakui kemenanganmu. Seandainya aku sekarang mencoba menantangmu lagi, aku pun tentu akan kau kalahkan pula.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Ragu-ragu yang timbul di hati seseorang, adalah pertanda bahwa ia membuat pertimbangan. Kau pun sudah membuat pertimbangan-pertimbangan yang bening waktu itu. Jika tidak, meskipun kau telah aku kalahkan, tentu kau tidak akan berhenti berusaha. Mungkin kau akan mengulangi perang tanding, tetapi mungkin kau akan mengorbankan kejantananmu dan berusaha membunuh aku dengan licik. Tetapi kau tidak melakukan hal itu, justru karena kau mulai mendengar kata hatimu. Nuranimu.”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Ia memang menjadi ragu-ragu. Dan ia pun sama sekali tidak berniat untuk mengulangi usahanya, membunuh Agung Sedayu. Namun demikian ia ingin meyakinkan, bahwa usaha Agung Sedayu untuk berbicara langsung dengan Ki Pringgajaya adalah sangat berbahaya. Apalagi Sabungsari masih belum mengetahui, betapa tingkat ilmu yang dimiliki oleh orang itu.

Menilik sikap dan kepercayaannya kepada diri sendiri, maka Ki Pringgajaya adalah termasuk orang-orang yang pilih tanding, seperti orang-orang yang memimpin pasukan di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu, termasuk ayahnya, Ki Gede Telengan.

Karena itu, maka katanya, “Agung Sedayu. Kau jangan menilai tingkah laku seseorang dengan tingkah lakumu sendiri. Jangan mengukur sikap seseorang dengan sikap dan pendangan hidupnya. Kau harus percaya, bahwa ada orang yang sama sekali tidak dapat mengerti dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Lebih buruk lagi, bahwa ada orang yang memanfaatkan sikap orang lain yang dianggapnya suatu kelemahan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya, sementara Sabungsari berbicara terus, “Tentu ada orang yang menganggap keragu-raguanmu, seribu macam pertimbangan-pertimbangan di dalam hatimu sebelum kau berbuat sesuatu, juga usaha damaimu itu, sebagai suatu kelemahan. Dan tentu ada orang yang justru ingin memanfaatkannya. Menjebakmu dan kemudian berbuat sesuatu yang sangat jahat dan licik,” ia berhenti sejenak. Lalu, “Ingat Agung Sedayu, aku pun pernah berbuat demikian.”

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian ia bertanya, “Jadi apa yang baik menurut pertimbanganmu, Sabungsari?”

“Aku belum tahu apa yang sebaiknya kau lakukan,” jawab Sabungsari, “jika bukan kau, Agung Sedayu, mungkin aku menyarankan, agar datang saja kepadanya bersama beberapa orang saksi. Tantang berperang tanding dengan alasan yang dapat saja dicari-cari tanpa menyebutkan persoalan yang sebenarnya.”

“Apakah dengan demikian persoalannya dapat selesai? Bukankah selain Pringgajaya masih ada orang-orang lain yang dapat berbuat seperti itu? Apakah dengan demikian, aku harus menantang perang tanding setiap orang yang berdiri di pihak Ki Pringgajaya? Jika demikian, maka umurku akan aku habiskan di arena perang tanding, tanpa dapat berbuat sesuatu yang berarti sepanjang hidupku bagi sesama.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Ada juga benarnya kata Agung Sedayu, bahwa dengan demikian persoalannya tentu masih belum selesai. Kematian Pringgajaya, seandainya Agung Sedayu dapat memenangkan perang tanding itu, akan mengundang dendam yang lebih parah lagi dari lingkungannya terhadap Agung Sedayu.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu, “apakah kau kira lebih baik aku melaporkannya kepada Kakang Untara?”

“Jalan itu pun dapat ditempuh. Tetapi ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Jika kau datang kepadanya, Ki Pringgajaya tentu akan menjadi curiga, bahwa kau telah melaporkan persoalannya kepada Untara. Dengan demikian, maka ia akan dapat menghilangkan segala jejaknya untuk mengingkarinya. Jika kemudian ternyata kau tidak dapat membuktikannya, maka kau akan dapat dituduh memfitnahnya.”

“Tetapi, bukankah kau akan dapat menjadi saksi?” bertanya Agung Sedayu, “bukankah kau mengetahui dan langsung berbicara dengan Ki Pringgajaya bahwa ia akan membunuhku?”

“Aku pun harus dapat membuktikannya. Ki Pringgajaya pun akan dapat mengatakan, bahwa aku telah memfitnahnya dan mengadu domba antara Ki Pringgajaya dan kau.”

Agung Sedayu menarik napas dalam-dalam. Katanya, “Ternyata bahwa kau pun kini telah dijalari oleh penyakit ragu-ragu. Kau pun kini mempunyai seribu pertimbangan sebelum berbuat sesuatu.”

“Ada bedanya dengan keragu-raguanmu,” jawab Sabungsari, “kau ingin menghindari sentuhan pada perasaan orang lain. Kau tidak ingin menyakiti hati dan apalagi sampai pada suatu perselisihan yang dapat membawa maut, kecuali jika sudah tidak ada jalan lain untuk menghindar. Tetapi pertimbanganku lain. Aku justru mengetahui betapa liciknya seseorang yang tidak mengenal harga diri. Karena itu, aku tidak dapat menutup mata atas kemungkinan yang paling buruk dapat terjadi atasmu. Di arena perang tanding, atau di arena perang fitnah.”

“Aku tidak akan merendahkan Ki Pringgajaya dengan anggapan, bahwa ia adalah seorang yang licik dan pengecut.”

“Ia mempunyai landasan berdiri yang berbeda dengan aku. Aku datang karena aku merasa anak Ki Gede Telengan. Aku ingin menunjukkan, bahwa aku adalah seorang yang memiliki kemampuan untuk mengalahkanmu. Karena itu aku tantang kau perang tanding. Sebenarnya perang tanding. Tetapi Ki Pringgajaya mempunyai landasan yang berbeda. Ia tidak perlu perang tanding dalam arti sebenarnya. Ia tidak perlu menunjukkan, apakah ia mampu membunuhmu dengan tangannya atau tidak. Yang penting baginya dan bagi orang-orangnya, kau harus mati. Itu saja. Siapapun yang melakukan. Bahkan meskipun aku yang melakukannya. Seorang yang sama sekali tidak mempunyai sangkut paut secara langsung dengan kelompoknya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan suara datar ia bertanya, “Manakah yang lebih baik aku lakukan?”

Sabungsari merenung sejenak. Katanya, “Itulah yang membingungkan. Tetapi kita harus menemukannya, meskipun mungkin kita akan bertempur melawan mereka.”

“Kenapa bertempur?”

“Justru untuk membuktikan, bahwa kita, maksudku kau, harus membela diri. Jika pertempuran itu dapat dilihat oleh saksi yang jujur, maka kau akan terlepas dari tuduhan yang dapat menjeratmu, meskipun kau adik Untara.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Memang sulit untuk melepaskan diri dari kemungkinan-kemungkinan yang paling buruk karena fitnah. Mungkin justru dengan tuduhan memfitnah.

Namun pembicaraan itu terhenti. Glagah Putih masuk ke dalam sanggar sambil berkata, “Aku telah menyiapkan minuman. Masih panas, karena air baru saja mendidih. Marilah, lebih baik kita duduk di serambi.”

Agung Sedayu dan Sabungsari saling berpandangan sejenak. Namun mereka pun kemudian berdiri dan melangkah ke serambi.

Beberapa saat lamanya mereka duduk sambil minum minuman hangat yang disiapkan oleh Glagah Putih. Mereka pun mengunyah beberapa potong makanan sambil berbincang. Tetapi yang mereka perbincangkan adalah keadaan yang mereka lihat dan mereka lakukan sehari-hari. Sementara Sabungsari juga sempat memberikan beberapa pendapatnya tentang latihan-latihan yang dilakukan oleh Glagah Putih.

Glagah Putih yang menganggap bahwa Sabungsari pun seorang anak muda yang mempunyai ilmu yang tinggi karena ia telah berhasil membunuh seorang yang mempunyai nama yang cukup besar dari Pesisir Endut, dengan senang hati mencoba memahaminya.

Ternyata bahwa yang dikatakan oleh Sabungsari itu pun sangat berguna baginya. Meskipun Sabungsari mempunyai sudut penglihatan dari arah yang agak berbeda dengan Agung Sedayu, namun justru dapat melengkapi pengertiannya tentang olah kanuragan.

Namun ternyata bahwa Sabungsari dan Agung Sedayu masih belum dapat menyelesaikan masalah mereka dengan tuntas. Ketika Sabungsari kemudian minta diri, ia sempat berbisik, “Jangan mengukur Ki Pringgajaya dengan sifat dan watakmu sendiri.”

Agung Sedayu hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

Sepeninggal Sabungsari, Agung Sedayu selalu dibayangi oleh niat Ki Pringgajaya. Ada maksudnya untuk menyampaikan hal itu kepada gurunya, agar ia mendapat petunjuk apa yang sebaiknya dilakukan. Namun dengan demikian, ia harus pergi ke Sangkal Putung.

“Jarak itu tidak terlalu jauh,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, “aku tidak perlu minta agar Guru kembali ke padepokan apabila ia masih mempunyai beberapa kepentingan di Sangkal Putung. Tetapi apa yang harus aku lakukan, aku perlu mendengar pendapat Guru.”

Karena itu, maka niat itu pun semakin lama mendesak di dalam hatinya. Meskipun demikian, ia masih harus mempertimbangkannya.

Sementara itu, Sabungsari pun menjadi semakin gelisah. Waktu yang diberikan oleh Ki Pringgajaya sudah hampir habis. Meskipun Ki Pringgajaya tidak akan menyalahkannya, atau bertindak terhadapnya karena ia tidak berbuat sesuatu atas Agung Sedayu, tetapi ancaman maut itu akan benar-benar tertuju kepada Agung Sedayu itu sendiri.

Sabungsari yang bukan sanak bukan kadang dari Agung Sedayu, karena ikatan jiwani yang terjalin dalam hubungannya yang dimulai dengan permusuhan itu, ternyata telah membebaninya dengan perasaan ikut bertanggung jawab atas keselamatan Agung Sedayu, karena Sabungsari merasa jiwanya telah diselamatkan oleh anak muda itu.

“Jika bukan Agung Sedayu, aku tentu sudah mati di pinggir sungai itu. Kawan-kawanku pun tentu telah tumpas di pesisir ketika mengikutinya,” berkata Sabungsari di dalam hatinya.

Karena itu, pada saat-saat menjelang batas waktu yang diberikan oleh Ki Priggajaya, ia menjadi semakin gelisah. Seolah-olah ia melihat Agung Sedayu telah berdiri di pinggir jurang kematian.

Sabungsari yang gelisah itu menjadi sangat kecewa ketika kemudian ia mendengar dari anak-anak muda yang tinggal di padepokan, bahwa Agung Sedayu telah pergi ke Sangkal Putung.

“Tetapi ia tidak akan bermalam,” berkata anak muda itu.

“Apa Agung Sedayu tidak berpesan apa pun bagiku?” bertanya Sabungsari.

“Tidak,” jawab anak muda itu, “Ia hanya mengatakan, bahwa ia akan pulang meskipun mungkin agak malam.”

Sabungsari kemudian minta diri. Tetapi kepergian Agung Sedayu diikuti oleh Glagah Putih membuatnya gelisah. Karena Sabungsari sadar, bahwa nyawa Agung Sedayu sedang terancam.

“Jika Ki Pringgajaya mendapat kesempatan, ia tidak akan menghiraukan waktu yang memang sudah hampir habis ini. Ia tidak akan memperhitungkan aku lagi, karena nampaknya kesabarannya benar-benar telah habis,” berkata Sabungsari kepada diri sendiri.

Dalam pada itu, Agung Sedayu ternyata benar-benar telah pergi ke Sangkal Putung. Kedatangannya memang agak mengejutkan. Tetapi kepada Swandaru ia tidak mengatakan alasan yang sebenarnya. Ia hanya mengatakan, bahwa tiba-tiba saja ia ingin pergi ke Sangkal Putung.

“Itu wajar sekali,” Pandan Wangi-lah yang menyahut, “tentu bukan karena Kiai Gringsing ada di sini.”

Pandan Wangi mengaduh ketika terasa lengannya pedih dicubit oleh Sekar Mirah yang duduk di sampingnya.

Tetapi ketika Agung Sedayu mengatakan, bahwa ia tidak akan bermalam di Sangkal Putung, Swandaru bertanya, “Kenapa tergesa-gesa?”

Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, “Setiap saat jarak antara Sangkal Putung dan Jati Anom dapat aku tempuh dalam waktu singkat karena jarak itu tidak begitu panjang. Mungkin besok atau lusa, aku tiba-tiba saja ingin pergi kemari lagi.”

Namun pada saat-saat ia berdua dengan gurunya, maka persoalannya itu pun disampaikannya dengan hati-hati.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ternyata hal itu membuatnya gelisah pula.

“Ki Pringgajaya adalah prajurit Pajang yang masih dalam kedudukannya. Ia seorang perwira yang mempunyai pengaruh di antara anak buahnya. Agaknya ia merasa memiliki kelebihan dari Untara, meskipun ia berada di bawah pimpinan kakakmu,” berkata Kiai Gringsing.

“Itulah yang menggelisahkan, Guru,” berkata Agung Sedayu, “Sabungsari yang juga berada di lingkungan keprajuritan mengetahui hal itu, sebelum aku mengalahkannya di pinggir sungai itu,” berkata Agung Sedayu.

Sejanak Kiai Gringsing termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Agung Sedayu. Kau harus berbicara dengan Untara. Pendapat Sabungsari ada juga benarnya. Tetapi kau dapat memberikan saran kepada Untara, agar ia tidak tergesa-gesa bertindak. Bahkan kau minta bantuan Untara, agar yang kau katakan itu dapat dibuktikan. Bukan sekedar tuduhan yang akan dapat disebut fitnah.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud gurunya. Justru Untara-lah yang harus memberikan jalan kepadanya, sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Ia tidak semata-mata melaporkan tanpa bukti, tetapi Untara harus membantunya, agar ia dapat membuktikan, bahwa Ki Pringgajaya benar-benar ingin membunuhnya.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu pun memutuskan untuk melakukan seperti yang dinasehatkan gurunya. Ia akan kembali ke Jati Anom untuk menemui kakaknya dan minta pendapatnya. Namun ia masih mempunyai sebuah pertanyaan kepada gurunya, “Guru, bagaimana jika Ki Pringgajaya sudah mencurigainya saat aku menjumpai Kakang Untara? Sehingga, ia telah mempersiapkan dirinya untuk menghilangkan segala jejak dan kesan bahwa ia benar-benar ingin melakukan hal itu?”

“Mungkin sekali, Agung Sedayu, tetapi aku kira kau tidak mempunyai jalan lain yang lebih baik dan tanpa menimbulkan persoalan yang gawat dengan prajurit Pajang,” berkata gurunya.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Agaknya memang tidak ada jalan yang lebih baik, selain datang kepada kakaknya untuk menyampaikan persoalannya.

Pembicaraan itu pun terputus, ketika Glagah Putih datang mendekat dan bahkan duduk bersamanya. Namun persoalan yang dikemukakan oleh Agung Sedayu sebagian besar telah terjawab.

Seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, maka berdua dengan Glagah Putih, mereka mohon diri menjelang senja. Ki Demang Sangkal Putung dan mereka yang berada di Sangkal Putung berusaha mencegahnya. Tetapi sambil tersenyum Agung Sedayu berkata, “Besok atau lusa aku sudah berada di sini kembali.”

Dengan demikian maka keberangkatannya kembali ke Jati Anom tidak dapat dicegah lagi. Sebelum gelap, maka keduanya pun meninggalkan Sangkal Putung menuju ke Jati Anom.

Di perjalanan Agung Sedayu sempat mengenang masa remajanya. Ketika ia harus menempuh perjalanan ke arah yang sebaliknya. Dari Dukuh Pakuwon ke Sangkal Putung di malam hari, justru pada saat yang gawat, ketika pasukan Tohpati masih berada di sekitar Sangkal Putung.

Kini ia menempuh jalan yang berlawanan. Namun dalam saat yang gawat pula, karena seseorang sedang mengancam jiwanya.

“Mudah-mudahan aku sempat menyampaikan hal ini kepada Kakang Untara,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, “meskipun Sabungsari tidak sependapat.”

Demikianlah, kedua orang itu berkuda menyelusuri ujung malam yang menjadi semakin gelap. Kunang-kunang di antara batang-batang padi nampak berkeredipan, seperti reruntuhan bintang-bintang kecil yang bertebaran.

Di perjalanan keduanya tidak banyak berbicara. Glagah Putih lebih banyak merenung tentang dirinya sendiri. Ia memang merasa ketinggalan. Namun ia sudah bekerja keras. Dalam waktu yang terhitung tidak terlalu panjang, ia sudah mendapat kemajuan yang cukup banyak. Karena itu, maka Glagah Putih bukan lagi seorang anak yang dapat dianggap pupuk bawang. Ia sudah mulai dapat diperhitungkan, meskipun baru dalam tataran permulaan.

Dalam pada itu, selagi Agung Sedayu dalam perjalanan, maka kegelisahan yang sangat telah mengguncangkan hati Sabungsari. Di luar sadarnya ia berjalan-jalan di depan baraknya oleh udara yang terasa panas. Namun, dengan jantung yang berdebar-debar ia melihat seorang prajurit, yang dikenalnya sebagai pengikut Ki Pringgajaya, keluar dari halaman barak di atas punggung kuda.

“He,” dengan serta merta Sabungsari menghentikannya, “kau akan kemana?”

Wajah prajurit itu menegang. Namun kemudian nampak sebuah senyum yang aneh di bibirnya. Dengan suara datar ia berkata, “Kami dipanggil Ki Pringgajaya.”

“Untuk apa?” bertanya Sabungsari.

“Kami tidak tahu,” jawab prajurit itu.

“Siapa yang kau maksud dengan kami?”

Orang itu tertegun. Namun kemudian nampak lagi senyumnya yang aneh bagi penglihatan Sabungsari.

Sepeninggal orang itu, Sabungsari termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja ia teringat, bahwa Agung Sedayu sedang pergi ke Sangkal Putung.

“Mungkin ia sedang dalam perjalanan kembali,” berkata Sabungsari di dalam hatinya, “jika demikian, mungkin sekali Agung Sedayu berada dalam bahaya.”

Karena itu, maka Sabungsari pun kemudian segera kembali ke baraknya. Membenahi diri dan menyambar senjatanya. Dengan tergesa-gesa ia pergi kepada prajurit yang sedang bertugas, untuk minta ijin menemui kenalannya di Jati Anom.

Tanpa curiga, maka dibiarkannya Sabungsari berkuda meninggalkan baraknya. Sabungsari sama sekali tidak menunjukkan kesan kegelisahan. Namun demikian kudanya berada di luar regol halaman baraknya, maka ia pun memacunya sekencang angin, menuju ke tempat tinggal para perwira termasuk Ki Pringgajaya, yang tinggal tidak di rumah Untara.

Dengan hati yang berdebar-debar, Sabungsari berusaha untuk dapat berbicara dengan Pringgajaya. Karena hubungan yang khusus, maka Ki Pringgajaya pun kemudian justru memanggilnya masuk ke ruang tidurnya.

Sabungsari menjadi berdebar-debar, ketika ia melihat dua orang prajurit telah berada di ruang itu. Namun ia menghilangkan segala kesan yang membayang di wajahnya. Menghadapi keadaan yang gawat itu, ia harus dapat mengendalikan perasaannya.

“Duduklah,” berkata Ki Pringgajaya. Sabungsari yang menahan perasaannya itu pun kemudian duduk di sebelah prajurit yang dilihatnya berkuda di depan baraknya.

Sebelum Sabungsari bertanya, Ki Pringgajaya telah berkata, “Sabungsari. Waktumu sudah habis.”

“Belum, Ki Pringgajaya. Aku masih mempunyai sisa satu malam dan satu hari besok.”

Ki Pringgajaya menggeleng. Jawabnya, “Sudah terlalu pendek untuk melaksanakannya. Saat ini kami berencana sangat baik. Kami akan melakukannya sendiri. Kau jangan mencoba mencegahnya, agar kau tidak menyesal. Mungkin kau akan menempuh banyak jalan untuk mencari kepuasan yang mungkin tidak akan pernah kau dapatkan, karena justru mungkin kau-lah yang akan mati jika kau berperang tanding melawan Agung Sedayu.”

“Tidak,” potong Sabungsari, “aku berhasil membunuh Carang Waja. Dalam kesempatan yang sama, yang pernah didapat oleh Agung Sedayu, ia memang dapat mengalahkannya, tetapi tidak membunuhnya.”

Ki Pringgajaya mengerutkan keningnya. Sekilas ditatapnya wajah Sabungsari yang bersungguh-sungguh. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Mungkin keadaanmu lain dengan Agung Sedayu. Jika Agung Sedayu tidak selalu dibayangi oleh keragu-raguan, maka ia tentu akan dapat membunuh Carang Waja. Tetapi agaknya ia tidak melakukannya.”

“Itu hanya alasan. Tetapi jika aku mendapat kesempatan, aku akan mencobanya. Jika aku yang harus mati, apaboleh buat.”

Tetapi Ki Pringgajaya menggeleng. Katanya, “Itu tidak perlu, Sabungsari. Aku tidak mempunyai waktu lagi untuk mencoba-coba.”

“Tetapi aku pun tidak mau kehilangan kesempatan,” bantah Sabungsari.

“Jangan memaksa aku untuk memaksamu. Aku tahu kau mempunyai kelebihan yang sukar dicari bandingnya. Tetapi aku bukan anak-anak yang dipasang di sini tanpa arti. Jika kau memaksa, aku pun harus berbuat sesuatu untuk mencegahmu. Bahkan seandainya kau berhasil mengalahkan aku, maka kau adalah buruan, karena kau adalah seorang prajurit dalam tataran yang paling rendah, meskipun kau sedang disoroti karena kau telah berhasil melakukan sesuatu yang akan dapat mengangkat derajatmu. Sedangkan aku adalah seorang perwira. Apa pun alasannya, jika seorang prajurit berani melawan seorang perwira, maka ia akan mendapatkan hukuman yang berat.”

Darah Sabungsari mulai menjadi panas. Tetapi ia harus menahan diri sejauh-jauh dapat dilakukan.

Namun ia menjadi heran, bahwa Ki Pringgajaya nampaknya tidak tergesa-gesa pergi. Jika benar ia ingin mencegat Agung Sedayu di perjalanan, seharusnya ia dengan tergesa-gesa membawa anak buahnya menyongsong perjalanan anak muda itu apabila ternyata ia belum kembali ke padepokannya.

Meskipun demikian, Sabungsari tidak bertanya. Bahkan ia masih berusaha untuk mencegah rencana Ki Pringgajaya, katanya, “Ki Pringgajaya. Aku dapat mencegah dengan cara lain. Aku dapat melaporkannya kepada Ki Untara.”

Tetapi Ki Pringgajaya justru tertawa. Katanya, “Kau akan melaporkan kepada Ki Untara, agar Ki Untara mencegah usaha pembunuhan ini, kemudian memberi kesempatan kepadamu untuk melakukannya?”

“Apakah Ki Untara tahu, bahwa aku akan membunuhnya?”

“Aku masih mempunyai mulut.”

“Tetapi malam ini Ki Pringgajaya akan ditangkap. Segala pembelaan dan tuduhanmu terhadapku, tidak akan didengar.”

Suara tertawa Ki Pringgajaya justru semakin keras. Katanya, “Kau memang seorang anak muda yang pilih tanding. Tetapi kau terlalu dungu. Aku sekarang akan menghadap Ki Untara dan berbicara tentang kesejahteraan pasukan Pajang di Jati Anom. Ki Untara senang sekali membicarakannya, sehingga lewat tengah malam aku baru selesai dengan pembicaraan yang tidak tentu ujung pangkalnya itu.”

“Tetapi Ki Pringgajaya akan melakukannya sekarang?”

“Membunuh Agung Sedayu?”

“Ya.”

Pringgajaya masih tertawa berkepanjangan. Katanya, “Apakah harus dengan tanganku sendiri? Aku bukan seorang yang cengeng seperti kau. Seolah-olah dengan demikian maka kau akan menjadi seorang pahlawan. Tetapi aku dapat berbuat dengan cara apa pun juga. Yang penting bagiku, maksudku dapat tercapai.”

Wajah Sabungsari menjadi semburat merah. Namun ia segera berusaha menghapus kesan itu. Bahkan kemudian kepalanya pun tertunduk. Perlahan-lahan terdengar ia bergumam, “Sia-sialah yang aku lakukan selama ini. Aku sudah berpura-pura mendekatinya, menjadi sahabatnya untuk menjajagi kemampuannya. Ketika aku sudah yakin dapat melakukannya, maka kesempatan itu direnggut dari tanganku.”

“Jangan merengek, karena kau bukan anak-anak lagi. Kau terlalu lamban dan tidak mempunyai gairah perjuangan yang tinggi. Mulailah sejak sekarang. Lakukan yang dapat segera kau lakukan, sehingga kau tidak akan kecewa.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku menyesal sekali. Tetapi aku masih ingin minta kesempatan sekali ini. Bawalah aku menemui Agung Sedayu untuk berperang tanding. Jika aku mati, lakukan rencanamu.”

Ki Pringgajaya mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu pasti, apakah Agung Sedayu sekarang belum mati. Aku memanggil beberapa orang pengikutku untuk menengok akhir dari rencana kami, sementara aku pergi menghadap Ki Untara.”

“Bawa aku serta. Jika belum terjadi, berilah kesempatan aku melakukannya. Bukankah tidak ada bedanya bagi Ki Pringgajaya?” berkata Sabungsari kepada prajurit yang ada di dalam ruang itu.

Ki Pringgajaya termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Tetapi jika kau mati, jangan menyesal dan jangan menyalahkan kami.”

“Itu tanggung jawabku sendiri. Aku tidak tahu akibat apakah yang akan menimpa diriku, seandainya Ki Untara tahu, bahwa aku telah membunuh Agung Sedayu. Mungkin aku akan lari dan kembali ke padepokanku.”

Ki Pringgajaya berpikir sejenak. Lalu katanya, “Aku beri kau kesempatan. Pergilah. Tetapi jika Agung Sedayu telah mati, kau jangan membunuh diri dengan melepaskan kemarahanmu kepada orang-orangku yang telah membunuhnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak ada duanya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan seperti Carang Waja, meskipun tidak dengan ilmu sulapan yang mengaburkan perhatian lawan. Tetapi orang-orangku bertempur dengan ilmu seorang jantan.”

Sabungsari tidak banyak berbicara lagi. ia pun kemudian berdiri sambil berkata, “Tunjukkan kepadaku, dimana Agung Sedayu dapat ditemui.”

“Orang-orangku mencegatnya. Tetapi jika Agung Sedayu telah lampau, maka harus dibuat pertimbangan dan rencana baru.”

Sabungsari tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun kemudian minta diri. Bersama dengan pengikut Pringgajaya yang seorang, ia menuju ke tempat orang-orang yang mencegat Agung Sedayu.

Di sepanjang jalan, Sabungsari menjadi berdebar-debar. Ia harus berbuat sesuatu. Menurut perhitungannya, kehadirannya tentu akan membuat keadaan Agung Sedayu lebih baik. Mungkin seperti yang pernah terjadi, Glagah Putih memerlukan perlindungan, karena kepergian Agung Sedayu disertai dengan Glagah Putih pula.

Dalam pada itu, dua orang dengan gelisah berdiri di pinggir jalan. Kadang-kadang mereka berjalan mondar-mandir, kadang-kadang mereka duduk bersandar batang kayu yang tumbuh di pinggir jalan. Setiap kali, mereka memperhatikan bunyi yang lamat-lamat mereka dengar.

“Anak itu sudah lewat,” berkata salah seorang dari keduanya.

“Tidak mungkin. Kita berada di sini sejak senja,” jawab yang lain.

“Bagaimana jika keduanya telah lewat sebelum senja?” bertanya yang seorang.

Kawannya terdiam sejenak. Dengan gelisah ia memandang ke dalam gelapnya malam. Katanya, “Tidak. Aku yakin, sebentar lagi mereka akan lewat.”

Kawannya tidak menyahut lagi. Keduanya pun kemudian duduk di atas tanggul parit. Sambil memandang air yang mengalir, yang seorang berkata, “Apa katamu tentang anak muda itu?”

Kawannya tersenyum. Jawabnya, “Ia adalah anak muda yang luar biasa. Anak itu tidak dapat dikalahkan oleh Carang Waja. Apakah kau cemas menghadapinya?”

Kawannya tertawa pendek. Desisnya, “Jika aku cemas, lebih baik aku tidak datang ke tempat ini. Aku sudah tahu, bahwa anak itu memiliki kelebihan. Tetapi aku pun mengenal diriku sendiri. Bahkan seandainya Carang Waja masih hidup, aku bersedia untuk diperbandingkan dengan cara apa pun juga.”

Kawannya tersenyum semakin lebar. Katanya, “Kita saling mengenal. Tetapi aku percaya, bahwa kita masing-masing tidak berada di bawah tataran Carang Waja. Perguruan daerah Pesisir Selatan itu semakin lama namanya memang semakin suram. Sepasang Iblis dari Pesisir Endut itu tidak lagi mampu mempertahankan hidupnya. Kemudian Carang Waja mati oleh prajurit ingusan dari Jati Anom itu.”

“Tetapi Pringgajaya sangat hati-hati. Kita berdua bersama-sama harus menyelesaikan Agung Sedayu. Ia tidak yakin bahwa salah seorang dari kita dapat melakukannya, meskipun guru pernah memastikan hal ini kepada Ki Pringgajaya.”

“Perwira yang bodoh itu memang terlalu berhati-hati. Tetapi ada juga baiknya bagi kita. Pekerjaan kita tidak terlalu berat,” desis yang lain, “sementara kita masing-masing akan menerima upah yang sama.”

“Kepala anak itu memang mahal. Tidak mudah melakukan seperti yang dikehendaki oleh Ki Pringgajaya. Ia tentu akan mengirimkan orangnya untuk meyakinkan, apakah kita sudah berhasil membunuh anak itu atau tidak.”

“Tetapi jika anak itu sudah lewat atau membatalkan niatnya untuk kembali ke Jati Anom atau karena apa pun juga, kita harus menunggu lagi di Jati Anom. Menjemukan sekali.”

“Jika ia tidak lewat hari ini, aku akan minta kepada Ki Pringgajaya, agar kita diwenangkan untuk mencari cara apa pun juga yang baik menurut kita. Tidak usah menunggu kesempatan seperti sekarang ini. Kita dapat datang ke padepokannya, justru gurunya tidak ada. Atau cara apa pun yang kita pilih sendiri.”

“Prajurit yang berjanji untuk membunuhnya itu tidak juga dapat melakukannya sampai batas waktunya berakhir.”

“Belum berakhir. Tetapi Ki Pringgajaya sudah tidak telaten lagi menunggunya.”

Pembicaraan untuk mengusir kejemuan itu terputus. Mereka serentak berdiri karena mereka mendengar derap kaki kuda.

“Mereka datang,” hampir berbareng keduanya berdesis.

Tetapi keduanya termangu-mangu. Ternyata derap kaki kuda itu datang dari arah yang berbeda.

“Dari Jati Anom. Bukan dari Sangkal Putung.”

“Tentu prajurit Pringgajaya yang ingin mengetahui, apakah kami sudah berhasil membunuh anak itu.”

“Gila!” geram kawannya, “Kenapa begitu tergesa-gesa. Ia justru akan dapat menggagalkan rencana kita.”

“Ia hanya akan melihat. Kemudian akan pergi meninggalkan kita di sini. Atau mungkin orang lain yang lewat, atau malahan prajurit yang sedang meronda.”

“Lebih baik kita bersembunyi. Aku tidak senang ada orang lain yang melihat kita dan bertanya tentang kita.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun tidak membantah.

Karena itu, maka kedua orang itu pun kemudian meloncati parit dan bersembunyi di balik rimbunnya belukar di pinggir jalan. Sementara suara derap kaki kuda itu semakin lama menjadi semakin dekat.

Dari balik rimbunnya perdu, keduanya dapat melihat dua ekor kuda mendekat. Dalam keremangan malam, mereka tidak segera dapat mengenal, siapakah penunggangnya.

Namun keduanya pun kemudian yakin, bahwa kedua orang itu tentu mempunyai hubungan dengan Ki Pringgajaya, karena keduanya pun kemudian berhenti tepat pada tanda-tanda yang telah disepakati.

Ketika keduanya telah meloncat turun, salah seorang berkata, “Di sini seharusnya mereka menunggu.”

Sebelum yang lain menyahut, maka kedua orang yang menunggu itu telah berloncatan dari balik gerumbul sambil mendekam. Salah seorang dari mereka berkata, “He, apakah kau diutus oleh Ki Pringgajaya?”

 

 

“Ya,” sahut prajurit itu, “aku datang dengan seorang prajurit yang bernama Sabungsari. Yang pernah dikatakan oleh Ki Pringgajaya.”

“He, anak inikah yang akan membunuh Agung Sedayu dalam perang tanding?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Ya.”

Keduanya tiba-tiba saja tertawa menyakitkan hati. Tetapi Sabungsari menahan diri sehingga giginya tidak gemeretak.

Namun prajurit yang mengantar Sabungsari itu berkata, “Anak inilah yang telah membunuh Carang Waja.”

“Ya. Ki Pringgajaya juga sudah mengatakan. Tetapi apakah artinya Carang Waja dalam liarnya rimba ilmu kanuragan. Ia termasuk orang yang disegani. Tetapi sebenarnya ia tidak memiliki kemampuan yang berarti. Ia hanya mampu menipu lawannya dengan ilmu gilanya itu. Tetapi jika lawannya memiliki sedikit kewaspadaan penglihatan batin, ia tidak akan terpengaruh.”

Sabungsari menjadi berdebar-debar mendengar pembicaraan orang itu. Ternyata orang itu mengetahui, bahwa Carang Waja memiliki ilmu yang dapat mempengaruhi perasaan lawannya. Yang merasa seolah-olah bumi telah berguncang, apabila ia menghentakkan kakinya pada tanah tempatnya berpijak. Dengan demikian Sabungsari dapat menilai, bahwa kedua orang itu tentu orang-orang yang memiliki kemampuan yang cukup.

Namun demikian Sabungsari pun berkata, “Ki Sanak. Berilah aku kesempatan. Aku berharap dapat membunuh Agung Sedayu. Seandainya tidak, maka kau akan mendapat kesempatan berikutnya. Setelah bertempur melawan aku, maka kekuatannya tentu sudah susut. Dengan mudah kalian berdua akan dapat membunuhnya.”

“Aku tidak perlu bantuanmu. Aku dan saudaraku ini tentu akan dengan mudah membunuhnya. Kami berdua tidak akan melepaskan kesempatan ini. Dengan membunuh Agung Sedayu, kami akan mendapat upah yang tinggi.”

“Upah itu tidak akan berubah,” berkata Sabungsari, “kalian akan tetap mendapat upah, siapapun yang telah membunuhnya.”

“Omong kosong. Jika kau yang membunuhnya, maka Pringgajaya akan ingkar. Agaknya perhitungan itu-lah yang membuat Pringgajaya menunggu. Seandainya kau tidak terlalu lamban dan berhasil membunuh Agung Sedayu, maka niat Ki Pringgajaya menyingkirkan Agung Sedayu terlaksana, sementara ia tidak kehilangan upah sekeping uang pun.”

“Aku akan menjamin,” berkata Sabungsari, “upah itu akan tetap kalian terima, siapapun yang akan membunuh Agung Sedayu.”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Jika itu yang kau kehendaki terserah. Agaknya Ki Pringgajaya pun sudah setuju karena pengikutnya telah mengirimkan kau kemari. Tetapi jika kau mati oleh Agung Sedayu, itu bukan salah kami berdua. Kami tidak akan menolongmu, sampai kau benar-benar mati. Baru kemudian kami berdua akan berbuat sesuatu.”

“Terserah kepadamu,” desis Sabungsari, “tetapi aku minta kesempatan yang pertama.”

Prajurit yang mengantar Sabungsari itu pun kemudian berkata, “Terserah apa yang akan kalian lakukan. Aku akan menunggu di tempat terpisah. Ki Pringgajaya sudah berpesan, agar yang terjadi ini tidak menyangkut masalah keprajuritan. Jika Sabungsari berbuat sesuatu, itu adalah tanggung jawab pribadinya.”

“Menyingkirlah,” berkata salah seorang dari kedua orang yang mencegat Agung Sedayu, “jika anak ini gagal dan justru mati, kami berdua akan menyelesaikan anak Jati Anom yang sombong itu.”

Prajurit yang mengantar Sabungsari itu pun kemudian meninggalkan ketiga orang yang menunggu Agung Sedayu dan Glagah Putih. Mereka yakin bahwa keduanya akan lewat, karena mereka telah mencari keterangan tentang hal itu ke padepokan kecil anak muda itu.

Ketika mereka kemudian duduk di tepi jalan, setelah Sabungsari menyembunyikan kudanya, maka kegelisahan yang tajam telah mencengkam hati anak muda itu. Sekali-sekali ia memandang kedua orang yang duduk di sebelahnya. Nampaknya keduanya adalah orang-orang yang memang dapat diandalkan.

Dengan demikian, maka dada Sabungsari pun menjadi semakin berdebar-debar. Ia mulai membayangkan, apa yang kira-kira terjadi.

Ketiga orang itu mengangkat kepalanya, ketika mereka mendengar derap kaki kuda lamat-lamat di kejauhan. Di sela-sela desir angin yang lembut, mereka mendengar derap kaki kuda yang semakin lama menjadi semakin jelas.

“Aku mendengar derap mereka datang,” desis salah seorang dari kedua orang yang mencegat Agung Sedayu itu.

“Ya,” sahut yang lain, “kita harus bersiap-siap.”

Lalu yang seorang berpaling kepada Sabungsari sambil bertanya, “Bagaimana? Apakah kau akan meneruskan niatmu, berperang tanding dengan adik Untara itu?”

“Ya,” jawab Sabungsari, “aku sudah membulatkan tekadku.”

“Terserahlah kepadamu. Yang penting bagi kami, upah itu sama sekali tidak kurang sekeping pun, siapapun yang melakukannya.”

“Aku bertanggung jawab.”

“Jika kau mati?”

“Itu lebih jelas lagi. Kalian berdualah yang benar-benar telah membunuhnya, sehingga perjanjian kalian dengan Ki Pringgajaya tidak berubah,” jawab Sabungsari.

Yang terdengar salah seorang dari kedua orang itu tertawa. Katanya, “Kau terlalu sombong anak muda. Sebaiknya kau tidak usah melakukan perang tanding. Jika kau ingin melihat Agung Sedayu mati, marilah kita bertiga menyelesaikannya. Aku mendengar dari Ki Pringgajaya, bahwa kau didorong oleh dendam yang tidak tertahankan, karena ayahmu terbunuh. Sedangkan aku bernafsu membunuhnya karena upah yang tinggi. Jika kita lakukan bersama, maka tugas kita akan menjadi ringan, dan kita yakin bahwa anak itu akan benar-benar mati malam ini.”

Sabungsari merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku minta ijin untuk melakukannya terlebih dahulu. Jika kalian melihat kemungkinan aku gagal, terserah.”

“Kami tidak akan menolong,” yang seorang menyahut dengan serta-merta, “jika perang tanding sudah dimulai, maka kami akan menunggu sampai salah seorang dari kalian mati. Kecuali jika sejak semula kita sudah sepakat untuk bersama-sama membunuhnya.”

Sabungsari memandang keduanya berganti-ganti, sementara derap kaki kuda itu menjadi semakin dekat.

Tiba-tiba saja Sabungsari berdiri sambil menggeram, “Aku akan membunuhnya. Aku akan membakarnya dengan sorot mataku sampai hangus.”

Kedua orang itu tertawa. Yang seorang berkata, “Aku sudah mendengar dari Ki Pringgajaya, bahwa sorot matamu telah berhasil membunuh seekor anak kambing. Tetapi Agung Sedayu bukan seekor anak kambing. Ia adalah seekor banteng yang garang.”

“Aku tidak peduli,” geram Sabungsari, “tunggulah. Lihatlah bagaimana aku membantainya di sini dengan penuh dendam dan kebencian. Aku tidak dapat berbuat lain. Jika aku dapat membunuhnya, aku adalah anak yang telah menjunjung harga diri keluarga. Tetapi jika aku mati, maka aku mati dalam pengabdian bagi nama baik keluargaku. Aku akan mati sebagai seorang anak laki-laki.”

Kedau orang itu termangu-mangu. Mereka melihat mata Sabungsari bagaikan memancarkan api dari jantungnya yang membara. Karena itu, maka mereka pun kemudian percaya, bahwa Sabungsari benar-benar ingin mengadu ilmu dengan anak muda yang namanya menggetarkan daerah selatan itu.

“Sabungsari,” berkata salah seorang dari kedua orang itu, “aku sudah mendengar betapa anak muda yang bernama Agung Sedayu itu memiliki kemampuan yang tidak terduga. Tetapi aku pun juga sudah mendengar, bahwa kau memiliki kelebihan dari kebanyakan prajurit. Jika kau memang berkeras, terserah kepadamu. Tetapi yang kau lakukan adalah tanggung jawabmu sendiri. Aku akan melakukan tugasku setelah perang tanding yang kau kehendaki itu berakhir. Jika Agung Sedayu tidak berhasil kau bunuh, maka kami berdualah yang akan membunuhnya.”

Sabungsari tidak menjawab. Tetapi ia berdiri tegang di pinggir jalan. Sementara derap kaki kuda itu semakin lama menjadi semakin jelas.

Dengan kaki renggang dan dada tengadah Sabungsari berdiri tegak. Dengan suara datar ia menggeram, “Tidak ada orang lain yang dapat membunuhnya, kecuali Sabungsari.”

Kedua orang itu justru menepi. Mereka berdiri termangu-mangu. Mereka ingin melihat, apakah yang akan dilakukan oleh Sabungsari atas Agung Sedayu. Anak muda yang bersenjata cambuk itu.

Sejenak kemudian, maka derap kaki kuda itu pun telah menjadi sangat dekat. Dua bayangan orang yang menunggang kuda telah nampak dalam keremangan malam.

Dalam pada itu, Sabungsari pun segera meloncat ke tengah jalan sambil berteriak garang, “Berhenti. Aku di sini, Agung Sedayu.”

Agung Sedayu yang datang berkuda itu terkejut. Karena itu, maka ia pun segera menarik kendali kudanya. Demikian pula Glagah Putih yang berkuda di sampingnya. Sementara mereka sedang berangan-angan, maka tiba-tiba saja mereka melihat bayangan seseorang meloncat ke tengah jalan. Meskipun mereka telah melihat dalam keremangan malam, orang yang berdiri di pinggir jalan, namun mereka tidak menyangka, bahwa tiba-tiba saja orang itu meloncat sambil berteriak menghentikannya.

Agung Sedayu dan Glagah Putih berhenti beberapa langkah di hadapan Sabungsari. Kuda mereka yang terkejut meringkik memecah sepinya malam. Namun sejenak kemudian malam telah menjadi hening kembali.

“Sabungsari,” desis Agung Sedayu.

“Ya. Aku, Sabungsari,” jawab anak muda yang berdiri sambil bertolak pinggang di tengah jalan.

“Kenapa kau di sini?” bertanya Glagah Putih.

Sejenak Sabungsari termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kami telah siap untuk membunuhmu.”

Agung Sedayu dan Glagah Putih terkejut. Agung Sedayu yang menganggap, bahwa Sabungsari benar-benar telah menyadari dirinya, tiba-tiba saja kini ia berdiri di tengah jalan sambil bertolak pinggang. Sementara Glagah Putih yang sama sekali belum mengetahui, bahwa Sabungsari pernah mengancam hidup Agung Sedayu itu pun terkejut pula. Nampaknya Sabungsari adalah seorang yang sangat baik bagi Agung Sedayu. Namun tiba-tiba anak muda itu kini berdiri di tengah jalan dengan tangan di pinggang.

Dalam pada itu, Agung Sedayu pun kemudian meloncat turun dari kudanya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Aku tidak mengerti, Sabungsari. Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Ya. Aku berkata sebenarnya. Aku telah datang ke tempat ini untuk menunggumu, karena aku mengerti, bahwa kau tidak akan bermalam di Sangkal Putung. Aku sudah menunda rencanaku beberapa hari. Kini aku sudah benar-benar sembuh dari luka-lukaku saat aku bertempur melawanmu dan kemudian membunuh Carang Waja. Kini datang giliranmu. Kaulah yang kini akan aku bunuh.”

“Sabungsari,” Glagah Putih pun kemudian turun pula dari kudanya, “kata-katamu membuat aku menjadi bingung.”

“Aku tidak mempunyai persoalan apa pun dengan kau. Pergilah sebelum kau ikut terbantai di sini,” sahut Sabungsari.

“Tetapi tingkah lakumu terlalu aneh bagiku,” desis Glagah Putih.

“Kau masih terlalu kanak-kanak untuk mengerti. Aku akan membunuh Agung Sedayu karena ia telah membunuh ayahku. Kau jangan turut campur. Kau bagiku adalah anak-anak ingusan yang tidak berarti,” bentak Sabungsari, “Setelah aku berhasil membunuh Carang Waja, maka aku pun yakin, bahwa aku akan dapat membunuhmu.”

Glagah Putih menjadi semakin tegang. Ketika ia berpaling memandang wajah Agung Sedayu, maka yang nampak adalah wajah yang membeku di dalam gelap.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, “kau membuat aku menjadi bingung.”

“Jangan kau ratapi nasibmu. Aku datang bersama dua orang yang tidak tanggung-tanggung. Mereka adalah orang-orang yang tidak ada duanya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan tidak kalah dari Carang Waja. Nah, apa katamu sekarang? Jika kau ingin menangis, menangislah. Jika kau ingin berpesan, berpesanlah kepada Glagah Putih.”

Agung Sedayu masih termangu-mangu. Seolah-olah ia tidak percaya kepada peristiwa yang dihadapinya. Seolah-olah ia bermimpi bertemu dengan Sabungsari dalam waktu surut beberapa pekan yang lewat. Pada saat Sabungsari masih dibakar oleh api dendam yang menyala di dadanya. Tetapi pada suatu saat, api itu sudah surut. Namun kini tiba-tiba api itu telah menyala kembali. Tiba-tiba saja Sabungsari telah berdiri bertolak pinggang, sambil menantangnya berperang tanding.

“Apakah karena ada dua orang itu, maka Sabungsari telah kambuh lagi dengan angan-angan hitamnya?” bertanya Agung Sedayu di dalam hatinya. Namun pertanyaan itu tidak segera dapat dijawabnya. Ia masih melihat Sabungsari berdiri tegak seperti tonggak.

Dalam pada itu, Glagah Putih yang terheran-heran melihat sikap itu, maju selangkah sambil bertanya, “Tetapi, bukankah kau Sabungsari yang aku kenal itu? Bukankah kau yang sering datang di padepokan?”

“Ya. Aku. Apakah kau sudah gila, sehingga kau tidak kenal aku lagi?”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Sabungsari pernah membunuh seseorang yang bernama Carang Waja yang memiliki kemampuan luar biasa.

Karena itu, Glagah Putih benar-benar menjadi cemas. Ketika ia memandang dua orang yang berdiri di pinggir jalan, maka detak jantungnya seakan-akan menjadi semakin cepat. Keduanya benar-benar nampak garang dan kasar.

Dalam pada itu, Agung Sedayu yang masih termangu-mangu itu pun kemudian berkata, “Sabungsari. Aku benar-benar tidak mengerti sikapmu. Tetapi kita sudah saling mengenal. Bukan saja kau mengenal namaku dan aku mengenal namamu. Tetapi kau mengetahui apa yang mampu aku lakukan dan aku mengetahui apa yang mampu kau lakukan.”

“Benar!” Sabungsari hampir berteriak, “Tetapi kau tidak mengenal keduanya. Kau tidak mengenal kemampuannya,” Sabungsari berhenti sejenak. Lalu, “Keduanya adalah orang-orang yang pilih tanding, yang telah menyediakan diri untuk membunuhmu. Keduanya adalah orang-orang yang telah di upah oleh Ki Pringgajaya.”

“Sabungsari!” kedua orang itu berteriak hampir berbareng.

“Kenapa?” bertanya Sabungsari, “Bukankah benar kalian diupah oleh Ki Pringgajaya untuk membunuh Agung Sedayu?”

“Itu tidak perlu kau katakan kepada siapapun.”

“Tetapi Agung Sedayu akan mati. Jika ia mengetahuinya, maka pengetahuannya akan dibawa mati. Ia tidak akan dapat menceritakan kepada siapapun, bahwa Ki Pringgajaya telah mengupahmu untuk membunuh anak muda yang bernama Agung Sedayu, karena Ki Pringgajaya mempunyai hubungan dengan orang-orang yang mengaku pewaris Kerajaan Majapahit itu.”

“Cukup!” potong salah seorang dari kedua orang itu, “Kau tidak usah mengigau tentang kami berdua. Jika kau ingin berperang tanding, segera lakukan. Kami menjadi saksi.”

Tetapi Sabungsari tertawa. Katanya, “Kalian tidak usah malu. Kalian memang diupah oleh Ki Pringgajaya. Dan aku akan bertindak atas namaku sendiri.”

“Cukup!” yang lain pun berteriak.

Namun Sabungsari tidak mau diam. Katanya kepada Agung Sedayu, “Agung Sedayu. Aku memang pernah minta kepada Ki Pringgajaya agar ia tidak tergesa-gesa bertindak. Aku ingin membunuhmu dalam perang tanding. Tetapi Ki Pringgajaya tidak tahu apakah yang pernah terjadi di antara kita, sehingga ia masih dengan sabar menunggu aku melakukannya. Tetapi akhirnya kesabaran itu ada batasnya. Malam ini adalah malam terakhir aku mendapat kesempatan berperang tanding. Sementara kedua orang itu telah dipersiapkan. Jika aku gagal, dan aku mati, maka keduanya akan membunuhmu.”

Agung Sedayu menjadi semakin bingung menanggapi sikap Sabungsari. Namun ia mulai mempunyai tanggapan lain, meskipun ia tidak jelas, apakah maksud anak muda itu sebenarnya.

Dalam pada itu, kedua orang yang berdiri di tepi jalan itu bergeser setapak maju. Salah seorang dari mereka berkata lantang, “Jangan berbicara saja, Sabungsari. Waktunya sudah menjadi terlalu sempit. Jika kau tidak ingin bertempur, kami akan segera menyelesaikannya. Kesempatan yang diberikan kepadamu dapat kau pergunakan atau tidak. Tetapi jangan menghambat tugas kami.”

Sabungsari justru tertawa. Katanya, “Tunggu. Jangan tergesa-gesa. Aku akan membuat Agung Sedayu marah. Sulit sekali memancing perselisihan dengan anak muda ini. Sebenarnya aku sudah pernah mencoba sebelumnya. Tetapi aku tidak berhasil.”

“Kau memang dungu. Jangan dipancing. Tantang ia berkelahi, kalau ia menolak, kau tinggal membantainya.”

“Itu licik. Aku harus membuatnya marah. Kemudian bertempur secara jantan, karena aku tidak mau merendahkan harga diriku sendiri.”

“Lakukanlah. Cepat, lakukanlah.”

Tetapi suara tertawa Sabungsari justru semakin keras. Katanya, “Kenapa justru kalian yang marah? Aku memancing Agung Sedayu agar marah. Tetapi Agung Sedayu belum juga marah.”

“Persetan!” teriak salah seorang dari kedua orang itu, “Jika kau takut menghadapi kematian. Minggirlah. Aku akan membunuhnya.”

“Jangan tergesa-gesa,” cegah Sabungsari, “tunggulah.”

Tetapi ternyata sikap Sabungsari telah membuat kedua orang itu benar-benar kehilangan kesabaran. Karena itu, maka berbareng mereka maju sambil menggeram.

“Pergilah. Kami berdua akan menyelesaikannya. Jika kau ingin menjadi saksi kematiannya, berdirilah menepi. Sebelum ada orang lain lewat, atau prajurit yang meronda di jalan ini, aku harus sudah membunuhnya.”

“Malam masih panjang. Aku memerlukan waktu tidak sampai tengah malam. Jika aku gagal, kau masih mempunyai setengah malam berikutnya.”

“Aku tidak mau menunggu sampai ada orang lain ikut campur. Ternyata kau anak gila. Pergilah. Meskipun kau berhasil membunuh Carang Waja, tetapi kau tidak berani berhadapan dengan Agung Sedayu.”

Suara tertawa Sabungsari justru menjadi semakin keras. Katanya, “Ternyata bahwa umpan yang aku berikan kepada Agung Sedayu telah kau sadap. Dengan demikian, kalian berdualah yang menjadi marah. Terserahlah. Jika kalian marah kepadaku, maaf, aku bukan sasaran yang baik, karena aku mempunyai harga diri. Kalian tidak berhak marah kepadaku. Kalian dapat berbuat apa saja, tetapi tidak atas aku.”

“Gila!” geram salah seorang dari kedua orang itu.

Sementara itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih justru berdiri membeku. Perlahan-lahan Agung Sedayu mulai memahami sikap Sabungsari, sementara Glagah Putih masih tetap berdiri termangu-mangu. Ia sama sekali tidak mengerti, apa yang telah terjadi. Ia menjadi bingung melihat sikap Sabungsari yang aneh itu.

“Ki Sanak,” berkata Sabungsari kemudian, “kalian jangan merampas hakku untuk membunuh Agung Sedayu. Aku sudah bertekad dan aku akan berjuang untuk dapat melakukannya.”

“Kau anak gila. Sudah aku katakan, kalau kau ingin melakukan, lakukanlah. Jika tidak, pergilah.”

“Aku akan melakukan. Tetapi terserah kepadaku, apakah sekarang, apakah menjelang tengah malam. Sabarlah menunggu. Jangan ganggu aku, agar aku tidak terpaksa bertahan atas hakku.”

“Anak setan!” geram salah seorang dari keduanya, “Katakan maksudmu yang sebenarnya. Aku mulai curiga kepadamu.”

Sabungsari memandang kedua orang itu berganti-ganti. Sejenak ia diam. Namun sejenak kemudian terdengar suara tertawanya yang makin lama menjadi makin keras. Katanya kemudian, “Ki Sanak. Baiklah aku berkata terus terang jika kau mulai mencurigaiku. Aku datang ke tempat ini untuk memperingatkan Agung Sedayu agar ia berhati-hati. Agar ia menyadari, bahwa ia akan berhadapan dengan dua orang yang pilih tanding.”

“Gila!” teriak kedua orang itu hampir berbareng. Salah seorang dari keduanya meneruskan, “Jadi, kau batalkan niatmu membunuh Agung Sedayu?”

“Aku sejak semula memang tidak akan membunuhnya. Aku tidak akan dapat melakukannya. Aku telah dikalahkan oleh Agung Sedayu,” jawab Sabungsari. Lalu, “Dengan demikian, aku adalah telukannya. Sebagai seorang laki-laki jantan, aku mengakui kekalahanku, dan aku akan menempatkan diriku sebagai seorang telukan yang tidak akan berkhianat.”

“Tetapi, kau mengkhianati Ki Pringgajaya!” teriak salah seorang dari kedua orang itu.

“Aku memang sengaja melakukannya,” jawab Sabungsari, “Ketahuilah, bahwa jika kalian berdua berhasil mencegat Agung Sedayu hanya berdua dengan Glagah Putih, maka kalian tentu akan berhasil membunuhnya. Ki Pringgajaya tentu sudah memperhitungkan dengan matang, siapakah yang akan dikirim untuk mencegat Agung Sedayu dan membunuhnya. Karena itu, agar aku tidak keliru kemana aku harus menemui kalian, maka aku minta seorang prajurit Ki Pringgajaya untuk mengantar aku, dengan alasan yang tentu saja memungkinkan.”

“Dengan demikian kau sudah menentang Ki Pringgajaya. Ia adalah seorang prajurit Pajang di Jati Anom,” geram salah seorang dari kedua orang itu.

“Aku juga seorang prajurit Pajang di Jati Anom.”

“Ki Pringgajaya adalah seorang perwira. Sedang kau hanyalah seorang prajurit pada tataran terendah.”

“Apakah artinya pangkat dan jabatan bagi kebenaran. Kau tidak akan dapat mengukur perjuanganku sekarang ini dengan pangkat dan jabatan. Yang aku hadapi di sini adalah kau berdua. Bukan Ki Pringgajaya. Seandainya Ki Pringgajaya datang pula, maka terpaksa aku akan berani melawannya karena aku berdiri di pihak yang benar,” jawab Sabungsari.

Dalam pada itu, maka Agung Sedayu pun menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Sabungsari ternyata benar-benar seorang laki-laki. Ia tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang licik dan pengecut. Jika ia berkata bahwa ia kalah, maka kata-katanya adalah kata-kata seorang laki-laki.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian berkata, “Terima kasih atas sikapmu, Sabungsari. Dengan demikian kau telah menolong aku, dan bahkan kau sudah melindungi aku dari sambaran maut. Karena sebenarnya-lah bahwa kedua orang itu tentu orang yang pilih tanding.”

“Bersiaplah menghadapi segala kemungkinan, Agung Sedayu,” berkata Sabungsari.

“Aku sudah siap, Sabungsari. Kecuali jika kedua orang itu bersedia mengurungkan niatnya. Aku ingin mempersilahkan keduanya untuk mempertimbangkan kemungkinan lain dari berusaha membunuhku.”

“Maksudmu?” bertanya Sabungsari.

“Aku ingin bertanya kepada mereka, apakah mereka benar-benar berniat melakukannya?” desis Agung Sedayu.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah mengenal Agung Sedayu. Karena itu, maka dibiarkannya Agung Sedayu kemudian bertanya kepada keduanya, “Ki Sanak. Apakah benar seperti yang dikatakan oleh Sabungsari, bahwa kalian adalah sraya Ki Pringgajaya untuk membunuh aku?”

“Ya,” keduanya tidak dapat ingkar lagi. Yang seorang menambahkan, “jangan mempersulit tugas kami. Menyerahlah. Aku akan membunuhmu. Jika kau tidak berusaha melawan, maka saudaramu itu akan selamat.”

“Apa pedulimu?” Sabungsari yang menyahut, “Kau tidak akan dapat mengganggu anak yang masih terlalu muda itu.”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun ia pun telah mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan oleh Sabungsari, justru bermaksud baik. Dengan cara itu, ia sudah berhasil berada di antara orang-orang yang telah mencegat Agung Sedayu, dan yang bahkan mungkin akan membunuhnya dengan licik.

Kedua orang itu menggeram. Yang seorang maju selangkah sambil berkata, “Tidak ada pilihan lain. Kami sudah terjebak oleh sikap Sabungsari. Tetapi kami pun mengerti akan kemampuan kami dan mengerti pula akan kemampuan kalian. Sabungsari berhasil membunuh Carang Waja, tetapi dengan luka arang keranjang. Agung Sedayu pun telah dapat mengalahkannya, meskipun tidak membunuhnya. Tetapi Agung Sedayu pun terluka pula.”

“Dengan demikian kami mengerti, bahwa kalian berdua adalah orang-orang yang pilih tanding. Tetapi kalian kini berhadapan tidak dengan orang-orang Pesisir Endut, yang hanya mampu mengguncang bumi dalam peristiwa semu. Kami adalah orang-orang yang datang dari Gunung Kendeng. Jika kau pernah mendengar dongeng dari siapapun, sepasang Elang yang ditakuti itu adalah kami berdua. Nama kami tentu sudah pernah kalian dengar pula. Rambitan dan Kumuda, dari perguruan Elang Hitam di lereng Gunung Kendeng.”

Yang pertama-tama menyahut adalah Sabungsari, “Jadi kalianlah yang digelari sepasang Elang dari Gunung Kendeng. Kalian pulalah yang bernama Rambitan dan Kumuda. Jika demikian, kalian tentu juga pernah mendengar nama perguruanku. Perguruan Telengan.”

“Persetan dengan Ki Gede Telengan,” geram yang seorang dari keduanya, “kau tidak dapat membanggakan apa pun juga dengan Ki Gede Telengan. Permainan sorot matamu tidak akan berarti bagi kami.”

 

 

Sabungsari menjadi tegang. Tetapi kemudian ia berkata, “Agung Sedayu. Beruntunglah kita, karena kita dapat bertemu dengan saudara-saudara kita dari Gunung Kendeng. Sayang mereka berdiri di pihak yang berlawanan dengan kita. Karena itu, kau tidak usah memikirkan, apakah mereka akan mengurungkan niatnya. Aku kenal, orang-orang dari perguruan Elang Hitam, pada dasarnya adalah orang-orang yang berhati keras. Karena itu, kau tidak usah mencoba mencegah benturan kekerasan di sini. Mereka membunuh kita, atau kita yang membunuh mereka.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Sabungsari yang berdiri tegak dengan kaki renggang. Tetapi Agung Sedayu tidak meragukan anak muda itu lagi. Ternyata Sabungsari benar-benar seorang laki-laki.

Karena itu, maka katanya, “Jika memang seharusnya demikian, apaboleh buat, Sabungsari. Tetapi kita belum terlanjur membenturkan kekuatan. Sehingga karena itu, kemungkinan yang lain masih dapat terjadi.”

“Gila!” teriak Rambitan, “Kau kira kami adalah anak-anak cengeng yang merengek karena kehilangan mainan. Tidak. Meskipun Sabungsari berkhianat, kami tidak akan surut selangkah. Kami akan membunuh kau, Sabungsari dan Glagah Putih sekaligus. Kemudian kami akan menghancurkan padepokan kecilnya. Membunuh gurumu, saudara seperguruanmu yang sombong itu. Istrinya dan adiknya.”

“Kau dengar, Agung Sedayu,” berkata Sabungsari, “tidak ada gunanya lagi untuk merajuk. Kau pun jangan merengek seperti anak cengeng kehilangan mainan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika tidak ada kesempatan lain, apaboleh buat. Tetapi segalanya belum terlanjur.”

Kedua orang dari Gunung Kendeng itu tiba-tiba telah meloncat maju sambil berteriak, “Aku akan membunuh kalian sekarang. Jangan mencoba untuk menghindari tangan-tangan maut yang sudah siap untuk menerkam. Karena hal itu akan sia-sia saja.”

Agung Sedayu memandang kedua orang itu sejenak. Namun kemudian ia berdesis, “Jadi, kalian tidak memberikan kesempatan lain daripada mempertahankan diri?”

“Tutup mulutmu!” geram Kumuda.

Agung Sedayu mengangguk. Katanya, “Baiklah. Aku memang masih ingin kembali ke padepokan, bertemu dengan Guru dan orang-orang lain yang aku kenal. Karena itu aku akan mempertahankan diri.” Lalu katanya kepada Glagah Putih, “Minggirlah, Glagah Putih. Ambillah jarak. Pegangilah kuda-kuda itu atau tambatkan pada pepohonan.”

Glagah Putih pun beringsut. Ia menyadari, bahwa keempat orang yang sudah siap untuk bertempur itu tentu orang-orang yang memiliki kelebihannya masing-masing. Karena itu, maka ia pun kemudian mengambil jarak dan menambatkan kudanya dan kuda Agung Sedayu. Baginya lebih baik kedua tangannya bebas dan siap untuk dipergunakan apabila perlu, karena ia tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi kemudian.

Sejenak kemudian, keempat orang itu sudah siap. Rambitan berdiri berhadapan dengan Agung Sedayu, sedang Kumuda beringsut mendekati Sabungsari.

“Anak itu dapat bermain-main dengan matanya,” berkata Rambitan kepada Kumuda.

“Ya. Sorot matanya tidak akan dapat menembus perisai yang melingkari diriku, meskipun tidak kasat mata,” berkata Kumuda.

Sabungsari mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa orang itu tentu bukan hanya sekedar menakut-nakuti. Tetapi orang itu tentu nemiliki kemampuan seperti yang dikatakannya.

Namun demikian, Sabungsari tidak gentar. Ia pun bukan sekedar dapat berteriak dan berbicara lantang. Tetapi ia pun memiliki bekal ilmu dari perguruannya.

Ia datang ke Jati Anom dengan niat untuk membunuh Agung Sedayu. Karena itu, maka ia pun memiliki kepercayaan kepada ilmunya, meskipun ternyata ia tidak dapat mengalahkan anak muda itu.

Kini ia justru berdiri di pihak Agung Sedayu, untuk bersama-sama bertempur melawan sepasang Elang dari Gunung Kendeng itu.

Sejenak keempat orang itu berdiri dengan tegang. Masing-masing telah bersiap dalam kemampuan puncaknya, karena masing-masing sudah dapat menduga tataran ilmu lawannya.

Ketika Rambitan bergeser, maka Agung Sedayu pun bergeser pula. Ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atasnya. Agung Sedayu memang masih merasa terlalu muda untuk mati. Betapapun juga ia harus bertahan untuk tetap hidup.

Namun dalam pada itu, seorang yang bersembunyi di balik semak-semak melihat segalanya yang terjadi. Ia tidak meninggalkan tempat itu, karena ia memang ingin mengawasi dua orang upahan itu.

Sikap Sabungsari ternyata benar-benar telah membakar jantungnya. Prajurit muda itu telah menipu Ki Pringgajaya, sehingga dengan demikian ia adalah orang yang paling berbahaya. Justru lebih berbahaya dari Agung Sedayu, karena ia merupakan saksi dari sikap Ki Pringgajaya terhadap adik Untara itu.

“Anak itu harus dibunuh,” geramnya. Tetapi prajurit itu merasa bahwa di antara keempat orang dengan ilmu raksasanya itu, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Namun sekilas dilihatnya Glagah Putih. Tiba-tiba saja ia mempunyai akal yang licik. Jika ia dapat menguasai Glagah Putih, maka ia tentu akan dapat memperlemah pertahanan Agung Sedayu dan Sabungsari.

Bahkan ia akan dapat mempergunakan Glagah Putih untuk memaksa Agung Sedayu dan Sabungsari menyerah, karena Glagah Putih adalah saudara sepupu dan di bawah tanggung jawab Agung Sedayu.

Prajurit itu tidak mengenal pengikut Sabungsari. Tetapi ia mendapat pikiran yang serupa dari apa yang pernah dilakukan oleh para pengikut Sabungsari di pantai selatan itu.

Karena itu, maka sebelum pertempuran itu berkobar, dan apa lagi membawa korban, maka ia akan merunduk anak itu, dan sekaligus menguasainya dan mempergunakannya sebagai alat untuk memaksa Agung Sedayu menyerah.

Dengan hati-hati, prajurit itu berkisar mendekati Glagah Putih. Semakin lama semakin dekat. Ia menyusup di antara gerumbul-gerumbul dan semak-semak.

Namun, mata Agung Sedayu ternyata memiliki ketajaman penglihatan yang melampaui ketajaman penglihatan orang kebanyakan. Ia melihat dalam kegelapan seperti itu, ia pun mampu melihat pada jarak yang sangat jauh. Jika ia memusatkan tatapan matanya dalam ketajaman penglihatan, maka seolah-olah yang jauh itu menjadi dekat, dan yang baur itu dapat menjadi jelas.

Karena itulah, maka di dalam gelapnya malam, ia melihat meskipun hanya lamat-lamat, semak-semak yang bergerak. Agung Sedayu melihat arah gerak pohon-pohon perdu yang rimbun itu, sehingga ia pun segera dapat mengambil kesimpulan, apa yang ada di balik semak-semak itu.

Tetapi Agung Sedayu tidak sempat berbuat sesuatu. Ketika ia siap untuk meloncat ke balik semak-semak, ternyata lawannya telah bergerak selangkah maju dan bersiap untuk menyerang. Agung Sedayu harus memperhatikannya. Seperti yang diduganya, maka sejenak kemudian orang itu sudah meloncat menyerang dengan cepatnya.

Agung Sedayu berkisar selangkah. Namun ia masih sempat melihat Glagah Putih sekilas. Pada saat yang gawat itu, ia melihat sesosok bayangan yang muncul dari balik semak-semak di belakang Glagah Putih.

“Glagah Putih!” teriak Agung Sedayu, “Berhati-hatilah. Lihat di belakangmu.”

Teriakan itu mengejutkan Glagah Putih dan Sabungsari. Bahkan kedua orang yang mencegat Agung Sedayu itu pun terkejut pula, karena mereka tidak menyangka, bahwa prajurit yang mengawasi mereka telah mengambil sikap tersendiri.

Namun kedua orang itu merasa, bahwa sikap itu akan sangat menguntungkannya. Jika prajurit itu berhasil menguasai Glagah Putih, maka perlawanan Agung Sedayu dan Sabungsari tentu akan terganggu pula.

Namun, pada saat itu Glagah Putih sempat berpaling. Ia melihat seseorang berdiri beberapa langkah di belakangnya dan siap untuk menyerangnya.

Sementara itu, baik Glagah Putih maupun Agung Sedayu dan Sabungsari tidak mengetahui, seberapa tingkat ilmu orang yang menyerang itu. Karena itu, maka mereka pun menjadi berdebar-debar. Jika orang yang menyerang Glagah Putih itu memiliki kemampuan seperti kedua orang yang lain, maka Glagah Putih benar-benar berada dalam bahaya.

Sambil mengelakkan serangan lawannya yang datang berikutnya, Agung Sedayu menyaksikan orang yang merunduk Glagah Putih itu mulai menyerang pula.

Dengan sepenuh tenaga prajurit itu menyerang, langsung mengarah ke dada Glagah Putih. Namun ternyata bahwa Glagah Putih mengelakkan serangan itu.

Pada serangan yang pertama, Agung Sedayu dan Sabungsari melihat, bahwa orang itu agak berbeda dengan iblis yang dua, yang berhadapan masing-masing dengan Agung Sedayu dan Sabungsari. Karena itu, maka Agung Sedayu dan Sabungsari pun menjadi agak tenang. Mereka dapat memusatkan perhatian mereka kepada lawan masing-masing.

Karena Agung Sedayu telah terlibat dalam pertempuran, maka lawan Sabungsari itu pun tidak menunggu lebih lama, ia pun segera menyerang dengan sepenuh kemampuannya.

Tetapi Sabungsari adalah seorang anak muda yang memiliki bekal ilmu yang cukup. Karena itu, maka serangan itu baginya, bukannya serangan yang berpengaruh, baik badannya, maupun bagi jiwanya.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian kedua anak-anak muda itu pun segera terlibat ke dalam pertempuran yang sengit. Kedua orang dari perguruan Elang Hitam itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawannya, karena mereka sadar, tatapan mata yang menyala pada anak-anak muda itu akan dapat membakar jantungnya.

Rambitan dan Kumuda berusaha untuk bertempur pada jarak yang pendek, sehingga tidak memberi kesempatan lawannya untuk membangunkan kekuatan lewat sorot matanya. Mereka melibat dalam benturan-benturan pendek, pada jarak jangkau serangan tangan dan kakinya.

Namun, sekali-sekali Sabungsari berusaha melepaskan diri dari libatan yang keras itu. Meskipun ia belum bermaksud mempergunakan kekuatan sorot matanya, namun seolah-olah ia sedang mencoba, apakah pada suatu saat ia akan dapat mengambil kesempatan untuk melakukannya.

“Jika aku dapat bertahan tanpa ilmu itu, aku akan melakukannya,” berkata Sabungsari di dalam hatinya. Karena ia sadar, bahwa ia memerlukan waktu. Jika dalam saat sekejap itu ia terjebak, maka ia akan mengalami kesulitan seterusnya.

Karena itu, maka ia justru tidak mempergunakan ilmu puncaknya apabila ia memang belum terpaksa.

Selagi kedua orang anak muda itu bertempur dengan serunya, maka prajurit yang merunduk Glagah Putih itu pun telah terlibat dalam perkelahian. Untunglah, bahwa Glagah Putih telah menempa diri dalam menekuni ilmunya, sehingga kemampuannya telah jauh meningkat.

Yang dihadapinya kemudian adalah seorang prajurit Pajang di Jati Anom yang tidak memiliki kelebihan seperti Sabungsari. Ia tidak lebih dari seorang prajurit kebanyakan, yang mempunyai ilmu dasar bagi seorang prajurit. Meskipun ia memiliki ilmu yang cukup dalam perang gelar, tetapi dalam ilmu kanuragan secara pribadi, ia tidak memiliki banyak kelebihan.

Karena itu, maka ketika kemudian Glagah Putih sempat mempertahankan dirinya, maka prajurit itu pun tidak terlalu banyak dapat memaksakan kehendaknya. Meskipun Glagah Putih masih belum memiliki pengalaman, namun ia masih sempat bertahan. Dengan ilmu yang ada padanya, ia berjuang untuk tidak segera mati atau dilumpuhkan oleh lawannya.

Ternyata Agung Sedayu melihatnya. Karena itu, maka Agung Sedayu pun berteriak, “Bertahanlah, Glagah Putih. Aku akan segera datang membantumu.”

“Kau akan mati,” teriak Rambitan.

Yang terdengar berteriak kemudian adalah Sabungsari, “Jika demikian, aku-lah yang akan membantumu.”

“Kau pun akan mati,” geram Kumuda. Sabungsari tertawa. Katanya, “Ternyata kau hanya dapat berkicau. Apa kelebihanmu dari Carang Waja?”

Kumuda benar-benar merasa terhina. Namun perasaannya tidak cepat terbakar. Ia masih sempat membuat pertimbangan-pertimbangan menghadapi anak muda yang ternyata benar-benar memiliki kemampuan.

Agaknya mereka yang bertempur itu masih belum sampai pada puncak ilmu masing-masing. Mereka masing-masing masih mencoba menjajagi kemampuan lawannya. Karena itulah maka masing-masing masih bertempur dengan kemampuan wadag mereka sewajarnya, meskipun semakin lama menjadi semakin cepat dan semakin sengit. Mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka dan mulai merambat pada kemampuan tenaga cadangan meskipun belum sepenuhnya.

Dalam pada itu, Agung Sedayu pun mulai menyadari sepenuhnya, bahwa lawannya benar-benar seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Lawannya semakin lama semakin menjadi kuat dan gerakannya menjadi semakin cepat.

Sementara itu, Glagah Putih pun telah bertempur dengan serunya. Agak berbeda dengan Agung Sedayu dan Sabungsari, ternyata Glagah Putih telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk mempertahankan diri, karena lawannya pun berusaha untuk segera menguasainya. Namun kemampuan Glagah Putih yang didapatnya dengan menempa diri hampir setiap saat itu pun telah melindunginya. Ia telah mampu bergerak dengan cepat dan tangkas, meskipun ia masih dibatasi oleh kekuatan dan kemampuan wadag sewajarnya. Tetapi karena latihan-latihan yang berat, maka ia adalah seorang anak muda yang kuat dan trampil.

Ternyata lawannya pun seorang prajurit yang kuat dan trampil. Tetapi seperti Glagah Putih, ia pun bertumpu pada kemampuan wadag sewajarnya.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Glagah Putih dan prajurit itu pun menjadi semakin seru. Masing-masing telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya.

Tetapi ternyata kemudian, bahwa prajurit itu memiliki pengalaman yang lebih luas. Glagah Putih kadang-kadang masih nampak gugup dan kehilangan kesempatan yang berarti. Namun setiap kali ia masih menyadari dirinya dan selalu meloncat mengambil jarak, sementara ia berusaha memperbaiki kedudukannya.

Agung Sedayu dan Sabungsari tidak mempunyai kesempatan terlalu banyak untuk mengamati Glagah Putih, karena ia harus memperhatikan lawan masing-masing dengan saksama. Meskipun mereka agaknya belum sampai pada puncak ilmu mereka, namun Agung Sedayu dan Sabungsari tidak ingin terjebak oleh kelengahannya. Sehingga dengan demikian, maka keduanya telah bertempur dengan hati-hati. Mereka mengerti, bahwa setiap saat lawan masing-masing akan dapat melontarkan ilmu pamungkas mereka.

Dalam pada itu, maka pertempuran di bulak panjang itu pun menjadi semakin seru. Adalah kebetulan sekali, bahwa tidak ada seorang petani pun yang menjenguk sawahnya, di bulak panjang yang gelap dan di malam yang dingin. Karena itu, maka tidak seorang pun yang telah melihat, apa yang telah terjadi di bulak panjang itu.

Sementara itu, Rambitan yang berhadapan dengan Agung Sedayu semakin lama menjadi semakin yakin, bahwa anak muda itu memang memiliki ilmu yang luar biasa. Yang didengarnya tentang Agung Sedayu bukannya sekedar dongeng yang tidak berarti. Tetapi setelah ia berhadapan langsung dengan anak muda itu, maka ia pun mulai mempercayainya.

Namun Rambitan yang merasa dirinya murid terbaik dari perguruan Elang Hitam di pegunungan Kendeng itu, justru semakin bergairah. Ia ingin menunjukkan, bahwa murid-murid dari Gunung Kendeng itu bukannya sekedar mampu berkicau dan berteriak-teriak, seperti yang dituduhkan oleh Sabungsari terhadap Kumuda. Namun dengan kemantapan ilmunya, perguruan Gunung Kendeng akan dapat menghancurkan lawan-lawannya.

Perlahan-lahan, Rambitan pun mulai meningkatkan ilmunya. Dengan demikian ia ingin melihat sampai batas tertinggi kemampuan lawannya. Jika pada suatu saat, Agung Sedayu tidak lagi mengimbanginya, maka ia akan mendapat ukuran, bahwa kemampuan anak muda yang menggetarkan Pajang itu hanya sampai pada tingkat tertentu di bawah ilmunya.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu ternyata menyadari, apa yang dilakukan oleh lawannya. Karena itu, maka ia pun selalu mengikutinya dengan saksama. Setiap kali lawannya meningkatkan ilmunya, maka Agung Sedayu pun melakukannya pula.

Setiap kali terasa oleh Agung Sedayu, tekanan lawannya yang menjadi semakin meningkat. Pertanda peningkatan ilmu ini ternyata sangat menarik bagi Agung Sedayu. Bukan saja Rambitan yang ingin mengetahui batas puncak kemampuan lawannya, namun Agung Sedayu pun telah melakukan yang serupa.

Dengan demikian, Agung Sedayu tidak dengan serta merta mengerahkan ilmunya seperti yang dilakukan oleh lawannya. Dengan cara itu ia akan mengetahui tingkat tertinggi dari murid terbaik yang datang dari perguruan Elang Hitam di Gunung Kendeng.

“Anak-anak murid dari Perguruan Wulung Ireng ini tentu sedang menjajagi kemampuanku pula,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Agak berbeda dengan Agung Sedayu adalah Sabungsari. Ia bukan anak muda yang ragu-ragu dan mempunyai banyak pertimbangan yang dapat menghambat tingkah lakunya. Ia tidak memikirkan, apa yang sedang dilakukan oleh lawannya. Karena itu, maka Sabungsari pun segera bertempur dengan segenap kemampuannya melawan Kumuda, yang dicengkam oleh nafsu yang membara di dadanya untuk membunuh anak muda yang dianggapnya berkhianat itu.

Karena itu, maka pertempuran antara Sabungsari dan Kumuda menjadi semakin sengit. Lebih seru dari arena pertempuran antara Agung Sedayu dan Rambitan.

 

 

Rambitan pun mengetahui sekilas, bahwa agaknya Kumuda dan Sabungsari telah sampai ke puncak ilmunya, sehingga mereka bagaikan prahara yang saling membentur.

Keduanya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Serangan yang membentur serangan itu seolah-olah telah menimbulkan angin pusaran. Desir yang berbaur dengan hentakan tenaga yang lepas dari sasaran, telah membuat arena pertempuran itu bagaikan di guncang oleh gempa yang mengerikan.

Sabungsari yang pernah bertempur melawan Carang Waja itu pun merasa, bahwa lawannya ternyata memiliki kemampuan yang berbeda. Kumuda tidak dapat mengguncang tanah bagaikan guncangan gempa yang ternyata hanya semu. Tetapi Kumuda benar-benar mampu bergerak cepat dan serangannya pun dilambari dengan kekuatan yang luar biasa. Ia mampu meloncat bagaikan petir yang menyambar di langit. Dan ia pun mampu menghantamkan hentakan kekuatan bagaikan gugurnya gunung Merapi dan Merbabu, menghimpit lawannya tanpa ampun.

Karena itu, maka Sabungsari pun harus berhati-hati. Ia harus berusaha mengimbangi kecepatan bergerak lawannya, dan sekaligus berusaha untuk mengerahkan tenaga cadangannya dalam daya tahannya. Karena setiap sentuhan serangan lawannya, akan dapat berarti hancurnya isi dadanya jika ia tidak mengerahkan daya tahannya sekuat-kuatnya.

Dengan demikian, maka kekuatan cadangan Sabungsari sebagian telah terhisap pada pertahanannya. Karena itu, maka serangan-serangannya pun menjadi lemah.

Namun dalam pada itu, bukan berarti bahwa Sabungsari tidak pernah menyerang lawannya. Dalam kesempatan tertentu, Sabungsari pun mampu menyerang. Tetapi yang diluncurkan bukanlah puncak dari kekuatannya.

Untuk beberapa saat, Sabungsari masih harus mengamati dengan sungguh-sungguh keadaan lawannya yang sesungguhnya. Ia harus melihat, dimana kelebihannya dan dimana kekurangannya.

Tetapi kesempatan terlalu sempit bagi Sabungsari. Lawannya melibatnya dalam pertempuran yang keras pada jarak yang pendek. Apalagi lawannya memiliki kecepatan bergerak yang mendebarkan, dan kekuatan mengagumkan.

Namun dalam pada itu, kekuatan dan kemampuan Sabungsari telah benar-benar pulih kembali sejak ia dilukai oleh Carang Waja. Segala luka-lukanya telah sembuh dan kemampuannya pun telah dimilikinya kembali.

Karena itu, betapapun juga, Sabungsari pun ternyata adalah seorang anak muda yang luar biasa. Ia pun telah menempa diri sebelum meninggalkan padepokannya. Meskipun ia mempersiapkan dirinya untuk melawan Agung Sedayu, namun yang dihadapinya kemudian dalam pertempuran antara hidup dan mati adalah justru orang-orang lain.

Menghadapi lawannya yang tangguh tanggon itu, Sabungsari pun harus mengerahkan segenap kemampuannya. Ia masih berusaha mengimbangi kemampuan lawannya dalam pertempuran yang semakin lama menjadi semakin keras dan kasar.

“Aku pun orang kasar sejak semula,” geram Sabungsari di dalam hatinya. Karena itu, maka ia pun mampu mengimbangi kekerasan dan kekasaran sikap lawannya.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Sabungsari dan Kumuda itu benar-benar merupakan pertempuran yang dahsyat. Benturan-benturan kekuatan dan lontaran-lontaran serangan dengan kecepatan petir di udara.

Namun dalam pada itu, Kumuda pun menjadi heran. Setiap kali serangannya menyentuh lawannya, prajurit muda itu seolah-olah tidak bergetar. Ia mampu menahan serangannya yang dilontarkan dengan kekuatan raksasa. Bahkan dalam pada itu, Sabungsari masih juga sempat membalas serangan dengan serangan. Meskipun kekuatan serangan Sabungsari tidak meruntuhkan isi dada lawannya, namun sentuhan-sentuhan yang semakin sering, terasa mulai mengganggu lawannya. Apalagi sentuhan-sentuhan di tempat yang paling gawat. Meskipun tidak terlalu keras, tetapi akan dapat mempunyai akibat yang menentukan.

Dengan kecepatan bergerak, Sabungsari beberapa kali hampir berhasil menyentuh tempat-tempat yang berbahaya. Ia sadar, bahwa sebagian besar kekuatannya dipergunakannya untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya, sehingga karena itu, ia harus mampu mempergunakan sebagian dari tenaganya pada sasaran yang menentukan.

Kumuda menggeram, ketika hampir saja jari-jari Sabungsari menyentuh matanya. Ia masih sempat menggeser kepalanya, sehingga jari-jari Sabungsari hanya mengenai keningnya. Tetapi sekejap kemudian disusul dengan serangan ibu jari anak muda itu menyentuh leher lawannya.

Kumuda terkejut. Ia sempat meloncat surut. Sentuhan di lehernya yang tidak terlalu kuat itu, rasa-rasanya telah menutup pernafasannya. Namun sejenak kemudian, ia telah berhasil membuka kembali jalur pernafasannya sehingga ia dapat bernafas lagi dengan wajar.

Kumuda pun kemudian menyadari, bahwa meskipun serangan Sabungsari tidak terlalu kuat, namun ia mampu memilih sasaran yang menentukan. Sehingga karena itu, maka Kumuda menjadi lebih berhati-hati. Jika semula ia berbangga, bahwa serangan-serangannya seolah-olah telah memaksa Sabungsari untuk sekedar bertahan, dan dengan demikian maka kesempatan menyerang anak muda itu menjadi sangat terbatas, namun ternyata kemudian, bahwa dalam kelemahan itu, terdapat kemampuan yang mengagumkan. Sabungsari ternyata menguasai benar-benar jalur-jalur otot bebayu dan garis-garis syaraf yang terpenting, di samping bagian-bagian tubuh yang lemah.

Dengan demikian, maka Kumuda tidak lagi menganggap bahwa kekalahan lawannya hanyalah tinggal soal waktu. Justru ia mulai menganggap lawannya adalah orang yang benar-benar berbahaya.

Apalagi Kumuda pernah mendengar, bahwa Sabungsari memiliki kemampuan pada tatapan matanya. Jika anak muda itu mendapat kesempatan untuk mengambil jarak waktu barang sekejap, maka ia akan menjadi orang yang sangat berbahaya.

Tetapi Kumuda pun mempunyai sipat kandel yang akan dapat dipergunakannya untuk melawan serangan yang tidak mempergunakan rabaan wadag dengan wantah itu, meskipun ia sendiri belum meyakini, seberapa jauh ia akan dapat bertahan terhadap serangan tatapan mata Sabungsari.

“Tetapi aku bukan sasaran mati yang menunggu jantungku terbakar oleh tatapan matanya,” berkata Kumuda di dalam hati, “adalah kebodohan yang sangat besar jika aku harus mati di bawah sorot matanya.”

Sebenarnyalah, bahwa Sabungsari terlalu sulit untuk dapat mengambil jarak dan waktu untuk mengungkapkan kemampuan puncaknya itu.

Namun dalam pada itu, Sabungsari pun belum merasa terdesak oleh lawannya dalam pertempuran yang keras itu. Ia masih tetap memusatkan sebagian terbesar kekuatan dan kemampuan cadangannya pada daya tahannya, sehingga seolah-olah ia menjadi seorang yang memiliki ilmu kebal, meskipun setiap kali ia masih harus menyeringai dan berdesis menahan sakit. Sementara itu, ia telah mempergunakan ketrampilan dan pengetahuannya tentang tubuh dan bagian-bagiannya untuk melemahkan pertahanan lawannya. Ia mengetahui tempat yang paling ringkih, meskipun hanya mendapat serangan yang tidak begitu kuat, tetapi telah menimbulkan akibat yang gawat.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Sabungsari dan Kumuda itu pun justru menjadi semakin sengit. Keduanya bergerak semakin cepat, dan serangan-serangannya pun datang silih berganti, meskipun dalam ungkapan yang berbeda.

Sementara itu, ternyata Rambitan mulai dipengaruhi oleh keadaan lawannya yang masih muda. Sementara ia perlahan-lahan meningkatkan ilmunya, namun ia tidak sampai pada batas yang dianggapnya sebagai tingkat puncak ilmu lawannya. Setiap ia meningkatkan kemampuan dan kekuatannya, maka Agung Sedayu selalu dapat mengimbanginya. Sehingga akhirnya, ketika Rambitan sudah mendekati puncak kemampuannya, maka ia pun menjadi gelisah.

“Dari mana iblis ini memiliki ilmu yang jarang ada bandingnya?” berkata Rambitan di dalam hatinya.

Tetapi Rambitan masih mempunyai harapan. Pada tahap terakhir dari tingkat ilmunya, ia akan membuktikan, bahwa ia memiliki kelebihan dari Agung Sedayu, yang dalam pertempuran melawan Carang Waja ternyata hanya mampu mengimbanginya tanpa dapat membunuhnya.

Namun ada yang tidak diketahui oleh Rambitan, kenapa Carang Waja tidak mati oleh Agung Sedayu. Rambitan sama sekali tidak membayangkan warna hati dalam dada anak muda itu.

Apalagi yang dilakukan Agung Sedayu saat itu, adalah saat-saat ia sama sekali belum tersentuh ilmu yang terdapat dalam kitab Ki Waskita. Sehingga ilmunya sama sekali masih belum terpengaruh sama sekali.

Dengan demikian, maka ukuran Rambitan atas ilmu Agung Sedayu ternyata tidak tepat. Bahkan agak jauh dari kebenaran.

Karena itu, ketika Rambitan akhirnya sampai pada puncak ilmunya, melampaui kemampuan ilmu Kumuda, ternyata bahwa ia tidak berhasil dengan serta merta menguasai Agung Sedayu. Betapapun keras dan kasarnya ia bertempur, namun seolah-olah Agung Sedayu mampu mengimbanginya.

Kekuatan Rambitan yang luar biasa, kecepatan bergerak yang jarang ada bandingnya, tidak mampu menguasai anak muda yang bernama Agung Sedayu itu. Bahkan jika Rambitan mencoba untuk membenturkan kekuatannya, maka hentakan tenaganya seolah-olah telah memukul isi dadanya sendiri. Agung Sedayu benar-benar bagaikan tonggak baja yang berdiri tegak menghunjam ke pusat bumi.

Kegelisahan Rambitan ternyata telah memaksanya untuk mulai mempertimbangkan jenis-jenis senjata yang dibawanya. Ketika ternyata bahwa kekuatannya yang menghantam Agung Sedayu, tidak mampu melumpuhkan anak muda itu, maka mulailah Rambitan meraba hulu pedangnya.

“Tidak ada pilihan lain,” katanya di dalam hati. Namun dengan demikian ia sadar, bahwa mungkin ia justru akan mengalami tekanan yang lebih berat, jika anak muda yang dihadapinya itu menarik cambuknya. Menurut pendengarannya, anak muda ini mempunyai cambuk yang mampu mendendangkan lagu maut.

Agung Sedayu melangkah surut, ketika ia melihat Rambitan menarik parangnya. Sejenak ia termangu-mangu. Wajahnya menjadi semakin tegang dan jantungnya berdegupan.

Rambitan melihat sikap Agung Sedayu. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia tertawa sambil berkata, “Jangan cemas, Agung Sedayu. Aku mampu menebas lehermu dengan sekali ayun. Karena itu, jika kau tidak banyak solah, maka kau akan mati dengan cepat. Tetapi jika kau mencoba melawan ilmu pedangku, maka kau akan menyesal.”

Agung Sedayu memandang Rambitan dengan tajamnya. Meskipun ia mengerti, bahwa ilmu Rambitan masih belum mencapai lapisan yang sama dengan ilmunya, tetapi senjata di tangannya akan dapat menjadi sangat berbahaya baginya.

“Marilah, Anak Muda,” suara Rambitan meninggi, “jangan mencoba untuk lari.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia memang menjadi gelisah. Tetapi bukan karena ia menjadi kecut melihat senjata itu. Tetapi perang bersenjata memang dapat menimbulkan akibat yang lebih buruk.

Tetapi Agung Sedayu tidak sempat merenung lebih lama lagi. Tiba-tiba saja lawannya sudah meloncat dengan parang terjulur, lurus mengarah ke dada Agung Sedayu.

Tidak ada kesulitan bagi Agung Sedayu untuk mengelakkan serangan pertama. Tetapi Agung Sedayu pun sadar, bahwa yang berbahaya tentu bukan serangan yang pertama itu.

Sebenarnyalah, demikian Agung Sedayu mengelakkan serangan yang pertama, maka lawannya pun tiba-tiba telah memutar parangnya, menebas leher lawannya. Sekali lagi Agung Sedayu harus meloncat. Namun lawannya telah memburunya.

Ternyata Rambitan benar-benar seorang yang memiliki ilmu pedang yang luar biasa. Ia mampu menggerakkan pedangnya dengan cepat dan deras. Setiap sentuhan tajam pedang itu, tentu akan mematahkan tulang. Bukan saja menyobek kulit daging.

Beberapa saat kemudian terasa, bahwa Agung Sedayu memang mulai terdesak. Ia tidak dapat menembus putaran parang lawannya yang bagaikan perisai memutari dirinya. Sekali-sekali ia harus meloncat, jika tiba-tiba seolah-olah dari balik perisai itu telah meluncur ujung parang yang mematuk dadanya. Kemudian menebas mendatar dan memutar dengan cepatnya.

“Menyerahlah,” geram orang berparang itu.

“Ki Sanak,” desis Agung Sedayu sambil meloncat mundur, “kau jangan memaksa aku untuk berbuat lebih banyak lagi. Apakah kau tidak mempunyai cara lain untuk mengakhiri pertempuran ini selain maut? Kau dapat meninggalkan arena ini. Atau jika kau keberatan karena kau seorang laki-laki jantan, biarlah aku yang meninggalkan arena ini tanpa kau ganggu. Atau mungkin ada cara lain yang lebih baik dari bayangan maut?”

“Persetan!” teriak lawannya, “Jika kau takut menghadapi putaran parangku, menyerahlah.”

“Jangan salah sangka. Aku tidak takut. Tetapi aku pun tidak ingin menyombongkan diriku. Karena itu, marilah kita mencari jalan lain. Jika kau benar diupah oleh Ki Pringgajaya, biarlah aku menemuinya dan berbicara dengan perwira prajurit Pajang itu.”

Tetapi Rambitan tidak menanggapi sama sekali. Justru serangan parangnya semakin lama menjadi semakin cepat, mengarah ke tempat yang paling berbahaya di tubuh Agung Sedayu.

“Orang ini sudah tidak dapat diajak berbicara lagi,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, ternyata ilmu pedang Rambitan benar-benar berbahaya bagi Agung Sedayu. Setiap kali Agung Sedayu harus meloncat surut menghindari serangan lawannya yang bagaikan prahara.

“Menyerahlah!” teriak Rambitan.

Akhirnya Agung Sedayu tidak mempunyai pilihan lain. Lawannya-lah yang telah mendesaknya untuk meloncat surut. Mengambil jarak dan dalam kesempatan yang pendek, ia telah mengurai cambuknya yang membelit lambung.

Rambitan menjadi semakin berdebar-debar. Ia memang sudah memperhitungkan, bahwa pada suatu saat cambuk itu akan diurainya juga.

Agung Sedayu yang sudah memegang pangkal cambuknya itu kemudian berdiri tegak. Sebelah tangannya menggenggam ujung cambuknya yang berjuntai.

“Apakah kita akan bertempur terus?” bertanya Agung Sedayu.

Rambitan tidak menjawab. Namun parangnya telah mematuk dengan cepatnya, seperti anak panah yang meloncat dari busurnya.

“Kau benar-benar tidak dapat diajak berbicara,” geram Agung Sedayu.

Rambitan sama sekali tidak menghiraukannya. Ujung pedangnya menyambar semakin cepat, sementara kakinya berloncatan dengan tangkasnya.

Agung Sedayu masih menghindar. Ia masih memegang ujung cambuknya. Namun ketika ia menjadi semakin terdesak, tiba-tiba cambuk itu telah meledak. Tetapi yang terdengar adalah ledakkan cambuk yang tidak terlalu keras.

Sabungsari mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian sadar, bahwa Agung Sedayu tentu masih mengekang dirinya. Jika ia benar-benar telah sampai ke puncak kemarahannya, maka ia dapat meledakkan cambuknya seperti ledakkan petir di udara.

Sebenarnyalah, Agung Sedayu tidak ingin membuat orang-orang padukuhan di sebelah menyebelah bulak itu menjadi gelisah. Jika ia meledakkan cambuknya dengan sepenuh tenaganya, maka cambuk itu akan memecah sepinya malam, menyentuh ujung-ujung padukuhan, sehingga jika anak-anak muda mulai berada di gardu di regol padukuhan, mereka akan menjadi gelisah.

“Sebagian dari mereka telah pernah mendengar arti suara cambukku,” berkata Agung Sedayu di dalam hati.

Namun, meskipun suara cambuk itu tidak meledak terlalu keras, tetapi getar udara di sekitarnya membuat Rambitan harus menilai dengan saksama. Ternyata di antara ledakan cambuk sawantah dan getar yang merobek udara, masih harus mendapat nilai banding yang cermat. Karena yang dapat dilakukan oleh Agung Sedayu, bukannya sekedar hentakan tenaga wadagnya dan senjata yang kasat mata.

Tetapi Rambitan adalah orang yang cukup mempunyai pengalaman. Ia pernah berada di medan melawan berbagai jenis ilmu. Karena itu, maka ia pun akan menghadapi ilmu yang menggetarkan jantungnya itu seperti ia pernah menghadapi ilmu yang lain, yang kadang-kadang memang dapat mengguncang kejantanannya.

“Beberapa kali aku menjumpai ilmu yang tidak masuk akal. Tetapi akhirnya aku berhasil keluar membawa kemenangan,” berkata Rambitan kepada diri sendiri. Karena itu ia masih berharap, bahwa pada saatnya ia akan dapat mematahkan ilmu Agung Sedayu.

Namun dalam pada itu, kemarahan Kumuda tertuju sepenuhnya kepada Sabungsari yang telah berkhianat. Ia telah menipu dan kemudian berusaha untuk menggagalkan maksud mereka.

“Anak inilah yang pertama-tama harus mati,” geram Kumuda di dalam hatinya.

Karena itu, maka ia pun bertempur semakin keras. Ilmunya diperasnya sampai tuntas. Dengan keras dan kasar ia berusaha untuk menekan Sabungsari sepenuh tenaganya.

Tetapi Sabungsari pun mengimbanginya, ia pun dapat bertempur dengan keras. Ia tidak segan membenturkan kekuatannya jika lawannya menyerangnya dengan kasar. Kemudian melenting menyerang mengarah ke bagian tubuh lawan yang paling lemah.

Kumuda akhirnya menyadari, bahwa ia tidak akan dapat menjatuhkan lawannya, meskipun tangannya seakan-akan telah berubah menjadi besi gligen. Jari-jarinya mampu meremas batu padas dan hentakan kakinya dapat menggulingkan batu-batu sebesar gardu di sudut-sudut padesan.

Namun ternyata, bahwa Sabungsari memiliki daya tahan yang luar biasa. Bahkan di sela-sela pertahanannya, ia masih mampu menyusup menyerang dengan cepatnya.

Sejenak kemudian, tidak ada pilihan lain dari lawannya selain mempergunakan senjatanya. Kumuda tidak membawa senjata panjang. Tetapi yang ada di lambungnya adalah sebilah pisau belati. Pisau yang jarang sekali dipergunakan, karena tangannya adalah senjatanya yang dapat diandalkan. Tangannya yang memiliki kekuatan seperti sepotong besi baja.

Namun Sabungsari tidak remuk oleh pukulan tangannya. Tubuhnya seolah-olah menjadi liat dan bahkan bagaikan kebal, meskipun setiap kali terdengar ia berdesis dan menyeringai menahan sakit. Namun hampir tidak berpengaruh sama sekali pada daya tahan dan kemampuannya bertempur.

“Ujung pisau ini akan dapat menyobek dagingnya,” berkata Kumuda di dalam hatinya.

Sabungsari mengerutkan keningnya, ketika ia melihat tangan lawannya menggapai senjatanya. Namun ia tidak menunggu. Ia justru meloncat surut beberapa langkah.

Kumuda terkejut. Ia merasa telah melakukan satu kesalahan. Sesaat ia menarik senjatanya, Sabungsari agaknya akan mempergunakan kesempatan itu.

Karena itu, maka Kumuda pun segera mengerahkan segenap ilmunya, kekuatannya dan kemampuannya melindungi dirinya dengan daya tahannya yang luar biasa, sehingga kekuatan lawannya, seakan-akan tidak dapat menyentuhnya sama sekali, karena tubuhnya seolah-olah telah dilingkari oleh selapis perisai yang tidak kasat mata.

Namun dalam pada itu, sejenak kemudian ia melihat Sabungsari berdiri tegak sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Sikap yang langsung memberitahukan kepada lawannya, bahwa anak muda itu telah sampai kepada puncak ilmunya.

Sejenak Kumuda masih mampu bertahan. Ia berdiri tegak seperti patung. Dengan memusatkan daya tahannya, ia mampu menahan diri tanpa mengalami sesuatu.

Namun ternyata bahwa ilmu Sabungsari benar-benar dahsyat. Perlahan-lahan tetapi pasti, tatapan matanya yang mempunyai sentuhan wadag itu bagai tajamnya ujung senjata, yang sedikit demi sedikit memecahkan perisai yang melindungi lawannya.

Kumuda menyadari akan hal itu. Ia merasa tatapan mata itu mulai menghunjam ilmunya yang dibanggakan.

Pertempuran ilmu yang dahsyat itu benar-benar mendebarkan. Keduanya berdiri tegak dalam pemusatan puncak kemampuan.

Namun Kumuda merasa, bahwa ia tidak dapat berbuat demikian. Perlahan-lahan ilmu lawannya itu akan menyusup semakin dalam. Jika ilmu itu kemudian berhasil menyentuh tubuhnya, menembus perisai ilmunya, maka ia akan mengalami bencana.

Karena itu, maka Kumuda harus berbuat sesuatu. Ia sadar, di tangannya tergenggam pisau belatinya. Sehingga dengan demikian ia tidak boleh menunggu lebih lama lagi, sehingga tubuhnya akan terbakar oleh ilmu lawannya yang berhasil mengoyak perisainya.

Sejenak Kumuda memusatkan perhatiannya kepada Sabungsari, yang berdiri tegak dengan tangan bersilang. Ia sadar, bahwa waktunya tidak terlalu banyak. Perisainya menjadi semakin tipis, dan sesaat lagi ilmu lawannya itu akan menembus dan menghimpit dadanya, membakar jantungnya.

Dengan mengerahkan kemampuannya, tiba-tiba saja Kumuda itu melenting menyerang Sabungsari dengan pisau belatinya.

Sabungsari yang berada dalam puncak kemampuannya itu pun merasa, bahwa perlahan-lahan ilmunya berhasil memecahkan perisai yang mengitari lawannya, meskipun tidak kasat mata. Sabungsari yakin, bahwa sekejap kemudian ia akan dapat menembus tirai yang bagaikan berlapis-lapis, yang menahan kemampuan ilmu lewat sorot matanya itu.

Namun, sesaat Sabungsari menjadi bimbang, ketika ia melihat lawannya meloncat dengan pisau terjulur ke dadanya. Ia merasa bahwa kulitnya bukannya kulit yang kebal dari sentuhan senjata. Namun ia pun yakin, bahwa sekejap kemudian ia akan dapat meremas lawannya dengan tatapan matanya, karena ia sudah berhasil mengoyak ilmu yang membatasi serangannya lewat sorot matanya.

Sabungsari tidak mempunyai waktu banyak. Senjata itu meluncur seperti anak panah, mengarah ke dadanya.

Namun akhirnya Sabungsari memutuskan untuk tidak bergerak. Tetapi ia pun tidak melepaskan lawannya dari genggaman sorot matanya. Dengan mengerahkan kemampuan ilmunya, Sabungsari berusaha menghantam lawannya yang sedang meluncur menyerangnya dengan pisau belatinya.

Pada saat yang gawat, telah terjadi benturan serangan yang dahsyat pada kedua belah pihak. Serangan pisau belati yang sama sekali tidak dihindari itu benar-benar telah mengenai dada Sabungsari. Pisau itu menghunjam di atas tangan Sabungsari yang menyilang di dada.

Namun, pada saat pisau itu menyentuh dada lawannya, ternyata bahwa Sabungsari telah berhasil memecahkan ilmu yang menahan sentuhan wadag sorot mata Sabungsari. Dengan demikian, maka pada saat pisau itu menyentuh dada lawannya, Kumuda berdesis menahan dadanya yang serasa retak.

Karena itu, maka kekuatan Kumuda tidak lagi mampu menekan pisau itu sampai ke pusat jantung lawannya. Demikian pisau itu menembus kulit, maka Kumuda pun harus segera mengelakkan diri dari remasan kekuatan sorot mata Sabungsari.

Sabungsari merasa dadanya terkoyak. Tetapi ia tidak mau melepaskan lawannya yang sudah mulai tersentuh oleh ilmunya. Karena itu, ketika Kumuda kemudian berusaha mengelak, Sabungsari bertahan pada sikapnya tanpa melepaskan lawannya dari tatapan matanya.

Ternyata bahwa cengkaman ilmu Sabungsari benar-benar dahsyat. Rasa-rasanya dada Kumuda menjadi sesak, dan nafasnya pun tersumbat di kerongkongan. Beberapa saat ia mencoba untuk berguling ke tanah, namun yang dapat dilakukannya hanya sekedar menggeliat. Tatapan mata Sabungsari benar-benar telah menguasainya, tanpa dapat dilawannya.

 

 

Rasa-rasanya langit pun kemudian runtuh menghimpit tubuhnya. Dan nafasnya telah tersumbat karenanya. Yang ada kemudian hanyalah kegelapan dan kepepatan.

Kumuda tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Sabungsari, dengan tatapan matanya berhasil menghancurkan lawannya seperti ia menghancurkan sebongkah batu, meskipun dalam bentuk yang lain.

Namun ketika Kumuda tidak bergerak lagi, maka Sabungsari pun tidak mampu bertahan pula. Darahnya mengalir dari lukanya. Pada hentakan ilmunya, maka darah itu bagaikan diperas lewat lukanya.

Karena itu, ketika ia merasa bahwa ia sudah menyelesaikan lawannya, luka di dadanya itu benar-benar telah mencemaskannya. Tubuhnya menjadi lemah sekali, sehingga ia tidak mampu bertahan untuk berdiri terlalu lama.

Dengan demikian, maka Sabungsari pun segera duduk di tanah. Dari kantung ikat pinggangnya, ia mengambil serbuk obat yang selalu dibawanya. Dengan sisa tenaga yang ada padanya, maka ia mulai menaburkan obat itu pada lukanya, sehingga terasa luka itu menjadi panas.

Namun dengan demikian Sabungsari mengerti, bahwa obat itu mulai bekerja pada lukanya dan perlahan-lahan menahan arus darahnya yang mengalir.

Tetapi agaknya darah sudah terlalu banyak keluar lewat lukanya. Karena itu, maka tubuh Sabungsari benar-benar menjadi sangat lemah. Bahkan kemudian matanya pun menjadi berkunang-kunang.

Ternyata Sabungsari tidak mampu bertahan duduk di tanah. Dengan lemahnya ia pun kemudian membaringkan dirinya di atas rumput yang basah oleh embun malam. Bahkan rasa-rasanya kesadarannya pun mulai melambung. Namun adalah suatu keuntungan, bahwa luka-lukanya telah dipampatkan oleh obat yang telah ditaburkannya.

Agung Sedayu melihat segalanya yang terjadi. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa pun juga, karena lawannya pun menyerangnya seperti badai yang didorong oleh angin prahara menghantam tebing.

Betapa hatinya menjadi gelisah melihat keadaan Sabungsari. Meskipun Agung Sedayu melihat Sabungsari berhasil mengalahkan lawannya, namun keadaannya agaknya sangat mencemaskan.

Sementara itu, Glagah Putih pun telah menambah kegelisahannya pula. Meskipun Glagah Putih telah menempa diri tanpa mengenal lelah, tetapi lawannya adalah seorang prajurit yang berpengalaman. Karena itu, maka ia pun mulai terdesak. Meskipun kadang-kadang Glagah Putih masih mampu menyerang lawannya, tetapi perlahan-lahan ia mulai dikuasai oleh kemampuan lawannya itu. Bahkan nampaknya lawannya benar-benar berusaha untuk menjatuhkannya, bahkan mungkin membunuhnya.

Sementara pertempuran masih berlangsung dengan dahsyatnya, Rambitan yang melihat Kumuda tidak bergerak lagi, benar-benar telah sampai ke puncak kemarahannya. Tetapi ia masih tetap menguasai dirinya dalam kesadaran sepenuhnya, bahwa lawannya adalah orang yang luar biasa.

“Nasibnyalah yang malang,” desis Rambitan di dalam hati. Tetapi jika ia melihat Sabungsari berbaring diam, maka ia masih mempunyai sepercik kebanggaan, “Jika anak itu pun mati, maka ternyata Kumuda benar-benar lebih dahsyat dari Carang Waja.”

Dengan demikian, maka Rambitan pun membuat perhitungan yang lebih cermat menghadapi Agung Sedayu. Ia pun mengerti bahwa Glagah Putih tidak akan dapat menang melawan prajurit pengikut Ki Pringgajaya itu, sementara Sabungsari sudah tidak berdaya lagi. Bahkan Rambitan berharap bahwa anak muda itu akan mati pula.

Karena itu, maka ia dapat memusatkan perlawanannya atas Agung Sedayu yang memiliki kemampuan raksasa.

Namun dalam pada itu, sekali-sekali Rambitan mengumpat pula di dalam hatinya. Pengkhianatan Sabungsari benar-benar telah mengacaukan rencananya. Kebodohan Ki Pringgajaya dan prajurit itu pun telah menjerumuskan Kumuda ke dalam pelukan maut.

“Jika segalanya berjalan seperti rencana, betapapun tinggi ilmu Agung Sedayu, ia tidak akan dapat melawan aku dan Kumuda bersama-sama,” berkata Rambitan di dalam hatinya.

Namun segalanya sudah terjadi. Kumuda telah tidak berdaya, sementara ia harus berhadapan dengan Agung Sedayu.

Karena itu, tidak ada lagi yang ditunggunya. Ia harus dapat membinasakan lawannya secepat-sepatnya.

Tetapi yang terjadi adalah di luar kehendaknya. Betapapun juga ia menyerang dengan kecepatan yang tidak ada taranya, Agung Sedayu masih sempat menghindari. Meskipun kadang-kadang parangnya seolah-olah dapat mengurung lawannya, namun parang itu sama sekali tidak berhasil menyentuh tubuh Agung Sedayu yang mampu bergerak secepat lintasan sinar. Bahkan setiap kali ujung cambuknya yang berputar itu bagaikan perisai yang tidak akan dapat ditembusnya.

Sementara itu, Agung Sedayu justru menjadi semakin gelisah melihat keadaan Sabungsari dan Glagah Putih. Sabungsari berbaring diam tanpa bergerak sama sekali. Sementara Glagah Putih menjadi semakin terdesak oleh lawannya yang jauh lebih berpengalaman.

“Apakah Sabungsari mati?” pertanyaan itu mulai mengusik dadanya.

Karena itulah, maka akhirnya Agung Sedayu harus mengambil sikap yang lebih mantap. Ia sadar, bahwa ia tidak dapat menunggu lebih lama lagi, karena lawannya adalah benar-benar seorang yang pilih tanding. Bahkan, jika ia pada suatu saat melakukan kesalahan, maka ia sendirilah yang akan mengalami bencana. Bahkan adik sepupunya dan Sabungsari yang sudah tidak berdaya.

Dengan demikian, maka akhirnya Agung Sedayu mengambil suatu sikap yang lebih keras. Ia harus menguasai lawannya dan mengalahkannya.

Sejenak kemudian, maka ujung cambuk Agung Sedayu itu pun bergetar semakin cepat. Meskipun ledakkannya tidak memecahkan selaput telinga, namun sentuhan ujung cambuk itu masih mampu menyobek kulit.

Sentuhan-sentuhan pertama dari ujung cambuk Agung Sedayu membuat Rambitan benar-benar terkejut. Ia melihat ujung cambuk itu bagaikan melenting. Namun ia merasa dirinya telah menghindar. Adalah di luar dugaannya bahwa ujung cambuk itu mampu mengejarnya dan mematuk kakinya.

Ujung cambuk itu benar-benar telah menggoreskan luka. Darah mulai mengalir dari tubuh Rambitan. Namun dengan demikian kemarahannya tidak lagi dapat dikendalikan.

Sejenak kemudian Rambitan justru menyarungkan parangnya. Beberapa langkah ia meloncat surut.

Sikapnya telah membuat Agung Sedayu termangu-mangu. Namun ia tidak meninggalkan kewaspadaan. Meskipun ia tidak memburu, namun ia telah mempersiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan.

“Apakah orang ini memiliki ilmu seperti Carang Waja?” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, “Atau sejenis ilmu yang lain, yang akan dapat mempengaruhi perasaan dan nalarku?”

Tetapi Agung Sedayu tidak perlu meraba-raba lebih lama lagi. Pandangan matanya yang tajam melihat, gerak tangan Rambitan yang mendebarkan.

Sekejap kemudian, Agung Sedayu melihat tangan itu bergerak. Seperti ujung petir yang menyambar, Agung Sedayu melihat sekilas putaran cakram bergerigi menyambar keningnya.

Namun Agung Sedayu cukup tangkas. Ia sempat memiringkan kepalanya, meskipun debar jantungnya bagaikan menjadi semakin cepat. Cakram bergerigi yang tidak begitu besar itu hampir saja memecahkan tulung keningnya dan sekaligus dapat membunuhnya.

Tetapi Agung Sedayu harus meloncat sekali lagi ketika cakram yang sama meluncur ke dadanya. Hanya karena kemampuannya bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal lawannya sajalah, Agung Sedayu sempat menghindarkan dirinya.

“Gila!” geram Rambitan, “Apakah anak ini kerasukan iblis yang mampu melenting seperti bilalang, atau apakah ia memang anak iblis itu sendiri?”

Rambitan menggeram ketika ia melihat Agung Sedayu kemudian berdiri tegak dengan cambuk di tangannya. Namun dalam pada itu, di tangan Rambitan telah tergenggam cakram bergerigi yang akan mampu membelah dadanya. Setiap saat cakram itu akan dapat dilontarkannya dan menghunjam jauh ke dalam dagingnya.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar menghadapi senjata lawannya. Dengan demikian, maka ia harus berbuat sesuatu agar ia tidak sekedar menjadi sasaran lontaran senjata lawannya, karena dengan demikian maka ia akan selalu berada di dalam keadaan yang gawat, sementara lawannya akan dapat mempergunakan waktu dan kesempatan yang ditentukannya sendiri.

“Tentu tidak menyenangkan,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Karena itu, maka ia harus segera mengambil sikap.

Selagi Agung Sedayu menimbang-nimbang, maka Rambitan telah bersiap untuk melontarkan cakramnya pula. Dengan penuh dendam dan kebencian, ia mengerahkan tenaga dan kemampuannya lewat lontaran cakramnya. Tangannya yang gemetar adalah pertanda kemarahannya yang tidak tertahankan.

Agung Sedayu tidak boleh lengah. Ia selalu memandang tangan lawannya. Dari tangan itu akan dapat meluncur maut yang dapat menjemputnya setiap saat.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: