Buku 128 (Seri II Jilid 28)

 

Dada Agung Sedayu berdebar, ketika ia melihat tangan itu bergerak.

Seperti yang diduganya, sebuah cakram telah meluncur mengarah ke keningnya. Karena itu, maka dengan tangkasnya pula, ia menggerakkan cambuknya tepat menghantam cakram yang meluncur ke arahnya, sehingga cakram itu terlempar ke samping.

Tetapi sekejap kemudian cakram berikutnya telah menyusul. Agung Sedayu masih sempat menghantam cakram itu dengan ujung cambuknya. Namun ketika cakram yang ketiga meluncur pula, maka yang dapat dilakukan oleh Agung Sedayu adalah meloncat menghindar.

“Gila!” akhirnya Agung Sedayu menggeram. Ia tidak mempunyai kesempatan meloncat mendekat sambil menghentakkan cambuknya. Cakram itu dapat mematuknya setiap saat. Semakin dekat, semakin berbahaya, karena kesempatan untuk menghindar dan menangkis menjadi semakin pendek.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ia melihat betapa Sabungsari telah membunuh lawannya dengan sorot matanya. Sejenak ia mulai digelitik oleh niatnya untuk merampungkan pertempuran itu dengan cara yang sama, seperti yang dilakukan oleh Sabungsari.

Namun Agung Sedayu masih ragu-ragu. Ia masih ingin menemukan cara yang lain, sehingga cara itu tidak perlu dipergunakan. Meskipun ia menjadi gelisah pula karena keadaan Glagah Putih, namun ia masih mencoba cara lain untuk melawan cakram yang setiap datang meluncur menyambarnya.

“Ia membawa cakram dalam jumlah tidak terbatas,” berkata Agung Sedayu di dalam hati. Namun kemudian, “tetapi di jalan ini pun berserakkan batu yang jumlahnya tidak terbatas pula.”

Karena itu, maka ketika sebuah cakram lagi meluncur menyambarnya, maka Agung Sedayu telah meloncat menghindar sambil merendahkan diri. Namun dalam pada itu, tangannya telah menggenggam sebutir batu pula, sebesar telur ayam.

Sejenak Agung Sedayu menunggu. Ketika ia melihat sebuah cakram lagi menyambarnya, maka ia pun segera meloncat menghindar. Cambuknya berada di tangan kirinya, sementara tiba-tiba saja dari tangan kanannya telah meluncur sebuah batu sebesar telur ayam.

Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang memiliki kemampuan bidik yang luar biasa. Ia mampu membidik sebuah batu yang meluncur di udara. Ia bahkan dapat mengenai anak panah dengan anak panah, selagi anak panah itu terbang melarang di udara.

Tetapi sasaran Agung Sedayu saat itu bukannya benda mati. Tetapi seorang yang memiliki ilmu dan kemampuan bergerak yang luar biasa. Sehingga dengan demikian, betapapun lawannya terkejut karena tiba-tiba saja mendapat serangan dengan sebuah lontaran seperti ia melontarkan cakramnya, namun ia masih juga mampu meloncat menghindarinya.

Namun dalam pada itu, serangan Agung Sedayu itu ternyata telah mempengaruhi serangan lawannya. Ia kemudian harus berhati-hati, karena Agung Sedayu berusaha mengimbanginya dengan serangan dari jarak yang jauh dengan lemparan-lemparan batu.

Dalam pada itu, selagi lawan Agung Sedayu meloncat menghindar, ternyata Agung Sedayu sempat memungut dua buah batu yang siap pula dilemparkannya. Bahkan meskipun dengan berdebar-debar, Agung Sedayu ingin mencoba, apakah senjata lawannya benar-benar senjata yang dahsyat seperti bentuknya.

Karena itu, ketika Agung Sedayu melihat dalam kilatan cahaya bintang-bintang di langit, cakram berikutnya meluncur menyerangnya, Agung Sedayu mencoba mengerahkan kemampuan bidiknya untuk menghantam cakram itu dengan sebuah batu yang dipungutnya.

Yang terjadi adalah sebuah benturan yang dahsyat. Ternyata keduanya memiliki kekuatan raksasa. Batu Agung Sedayu berhasil menghantam cakram lawannya yang meluncur bagaikan kilat. Hanya dengan kemampuan yang tidak ada taranya, Agung Sedayu dapat melakukannya. Ketajaman tatapan matanya, yang dapat menangkap kilatan cakram yang meluncur di malam hari, dan kemampuan bidiknya yang seolah-olah menjadi semakin meningkat, sejalan dengan meningkatnya segala ilmu yang ada padanya.

Tetapi ternyata, bahwa cakram itu benar-benar terbuat dari besi baja pilihan. Meskipun cakram itu hanya kecil saja, namun dalam benturan yang terjadi, telah terpercik bunga api di udara. Batu yang dilontarkan oleh Agung Sedayu ternyata menjadi pecah berhamburan menjadi debu.

Jantung Agung Sedayu berdetak semakin cepat. Jika cakram itu mengenai dadanya, maka segenap tulang belulangnya akan rontok dan cakram itu akan dapat menembus sampai ke punggung.

Karena itu, maka ia pun telah melawan lontaran dengan lontaran. Meskipun batu-batu yang dipungutnya di sepanjang jalan itu tidak memiliki kedahsyatan seperti gerigi cakram itu, namun jika ia berhasil mencapai lawannya, maka batu itu pun akan mampu menyakitinya.

Tetapi ternyata, bahwa yang terjadi adalah pertempuran yang seolah-olah tidak ada ujung pangkalnya. Keduanya mampu melemparkan serangan yang dahsyat, tetapi keduanya pun mampu meloncat menghindar. Sehingga dengan demikian, maka pertempuran itu seolah-olah tidak akan dapat berakhir. Sementara Glagah Putih telah menjadi semakin sulit menghadapi prajurit yang menyerangnya dengan semakin kasar. Pengalamannya yang cukup, telah membuat Glagah Putih semakin lama semakin mengalami kesulitan.

“Aku harus menemukan cara yang lebih baik,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, ia tidak dapat membiarkan dirinya terlibat dalam pertempuran tanpa akhir. Namun dengan demikian, Glagah Putih akan dapat mengalami bencana yang benar-benar gawat.

Agung Sedayu melihat akhir dari pertempuran antara Sabungsari dan lawannya. Ia melihat Sabungsari masih terbaring di atas rerumputan tanpa mengetahui dengan pasti, apakah anak muda itu masih hidup atau sudah mati. Dan Agung Sedayu pun mengerti, bahwa dalam tahap terakhir dari lontaran ilmunya lewat sorot matanya, Sabungsari telah dengan sengaja tidak menghindari serangan lawannya. Karena itu, meskipun ia berhasil melumpuhkan lawannya, tetapi ia sendiri mengalami keadaan yang gawat.

Luka-lukanya dalam pertempuran melawan Carang Waja baru saja sembuh. Kini ia sudah mengalaminya sekali lagi, yang mungkin tidak kalah gawatnya dengan luka-luka yang dideritanya ketika ia bertempur melawan Carang Waja, atau bahkan nyawanya telah meninggalkan tubuhnya.

Agaknya Agung Sedayu dapat mengambil arti dari peristiwa itu. Karena itu, maka ia pun telah mencari cara yang sebaik-baiknya untuk segera dapat mengalahkan lawannya.

Sementara pertempuran itu masih berlangsung pada jarak yang panjang, dengan saling melontarkan senjatanya, maka Agung Sedayu telah bertekad untuk melakukan sesuatu yang dapat merubah dan mempercepat akhir dari pertempuran itu.

Agung Sedayu mula-mula ingin membiarkan lawannya bertempur sampai senjatanya yang terakhir. Namun ternyata, bahwa senjata orang itu agaknya tidak akan habis-habisnya. Apalagi nampaknya lawannya memiliki perhitungan yang cermat, sehingga ia tidak menghambur-hamburkan senjatanya tanpa dasar pertimbangan sikap lawannya.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun segera melakukan rencananya. Ketika senjata lawannya menyambarnya, maka ia pun menjatuhkan dirinya. Namun dalam pada itu, Agung Sedayu telah mengambil tidak hanya dua butir batu. Tetapi lebih banyak lagi. Di tangan kirinya yang menggenggam cambuk, Agung Sedayu menggenggam pula dua butir batu. Di tangan kanannya dua butir.

Demikian ia melenting berdiri, maka ia pun telah melempar lawannya dengan empat butir batu berurutan.

Betapapun lawannya mampu meloncat dengan cepat, tetapi ternyata bahwa tidak semua batu yang dilontarkan oleh Agung Sedayu dapat dihindarinya. Apalagi dalam kesempatan yang pendek itu, lawannya tidak sempat pula melontarkan senjatanya.

Rambitan berhasil menghindari dua batu yang datang berurutan. Tetapi demikian kakinya menjejak tanah selagi ia menghindari batu yang kedua, maka batu yang ketiga telah menyambar pundaknya. Selagi orang itu menyeringai menahan sakit, maka batu berikutnya telah menyusul menyambar kening.

Orang itu menjadi sangat marah. Sambil menggeram ia meloncat tegak di atas kedua kakinya, menghadap Agung Sedayu. Tangannya sudah siap memungut senjatanya pada kampil kulit yang tergantung di lambung. Ternyata lontaran kekuatan Agung Sedayu telah berhasil menembus daya tahannya dan menyakitinya. Tulang pundaknya bagaikan retak, sementara keningnya rasa-rasanya telah membengkak. Namun perasaan sakit itu sama sekali tidak mempengaruhi kemampuannya bertempur, betapapun sengitnya.

Tetapi ternyata Agung Sedayu telah mempergunakan cara yang lain untuk menghadapi lawannya. Ia tidak lagi melemparkan batu-batu menghantam tubuh lawannya. Namun ia telah berdiri tegak dengan tatapan mata yang langsung dapat menghantam lawan.

Berdasarkan pengamatannya yang telah menjerat Sabungsari dalam kesulitan, maka lawan Agung Sedayu benar-benar telah memperhitungkan segalanya yang bakal terjadi. Demikian lawannya merasa sentuhan wadag dari tatapan mata Agung Sedayu, maka ia pun segera bersikap pula. Ia harus segera melontarkan cakramnya untuk memecahkan pemusatan ilmu Agung Sedayu yang mengerikan itu.

Namun yang dilakukan Agung Sedayu ternyata lebih cepat. Demikian tangan orang itu memungut cakram di dalam kampil kecil yang tergantung di lambung, maka serangan yang memancar dari tatapan mata Agung Sedayu itu telah langsung mencengkam dan meremas tangan lawannya.

Yang terdengar adalah keluh tertahan. Rambitan merasa tangannya bagaikan telah diremukkan oleh himpitan besi baja sebesar lesung. Rasa-rasanya tulang belulangnya menjadi lumat dan sama sekali tidak berdaya.

Rambitan mengumpat dengan kasarnya. Ia memiliki daya tahan yang luar biasa. Tetapi, ternyata tatapan mata Agung Sedayu dengan serta merta telah dapat langsung mengenainya, menembus perisai yang telah ditebarkan di seputarnya meskipun tidak kasat mata.

Ternyata, kemampuan ilmu Agung Sedayu telah jauh melampaui kemampuan ilmu Sabungsari. Meskipun yang ditekuni dari makna kitab Ki Waskita barulah pada tingkat permulaan, namun karena dasar yang memang sudah ada pada dirinya, ternyata sorot mata Agung Sedayu memiliki kemampuan yang sulit diimbangi.

Dalam pada itu, Rambitan pun mencoba untuk memusatkan segenap kemampuannya pada daya tahannya. Ia sadar, bahwa Agung Sedayu yang sesaat melepaskan serangannya itu, ingin melihat akibat yang terjadi pada dirinya. Namun dalam pada itu, yang tidak disangka oleh Agung Sedayu, bahwa Rambitan mampu juga mempergunakan tangan kirinya.

Bukan saja sebilah cakram kecil, tetapi Rambitan telah dengan cepat menarik dan dengan sekuat tenaganya melontarkan parangnya langsung mengarah ke dada anak muda itu.

Agung Sedayu benar-benar terkejut. Ia berusaha untuk bergeser sambil melecut parang itu dengan tangan kirinya. Namun ternyata parang itu meskipun telah bergeser arah, tetapi ujungnya masih menyentuh lengan Agung Sedayu.

Terdengar Agung Sedayu menyeringai menahan sakit. Namun ia pun segera menyadari kedudukannya. Kembali ia berdiri tegak tanpa menghiraukan tangannya. Kembali ia melontarkan ilmunya, tidak lagi pada tangan kanan lawannya, tetapi tangan kirinya yang sedang menggapai cakram di kampilnya.

Sekali lagi lawannya memekik tertahan. Lengannya yang sebelah pun rasa-rasanya telah remuk pula oleh cengkaman tanggem baja yang menghimpit tanpa dapat dihindari.

Dalam pada itu, jantung Rambitan rasa-rasanya akan pecah oleh dentang di dadanya. Kedua tangannya telah menjadi lumpuh.

Sementara itu, Agung Sedayu berdiri tegak beberapa langkah di hadapan Rambitan, yang seolah-olah sudah tidak berdaya lagi. Kedua tangannya tidak dapat dipergunakannya lagi untuk melepaskan cakramnya. Sementara Agung Sedayu dengan sekehendak hatinya akan dapat menyerang dan menghancurkannya. Agung Sedayu akan dapat melecutkan cambuknya tanpa dapat dilawan. Ia akan dapat melukainya berlipat sepuluh kali dari luka yang telah menggores tubuhnya. Agung Sedayu pun dapat memungut beberapa buah batu dan melemparkan ke tubuhnya tanpa dapat dihindarinya. Atau Agung Sedayu akan dapat meremas dadanya dengan tatapan matanya sampai lumat.

Dalam pada itu, Rambitan berdiri tegak dengan kedua tangannya yang tergantung dengan lemahnya tanpa dapat berbuat sesuatu. Ia hanya dapat pasrah, dengan cara apa Agung Sedayu akan membunuhnya.

Sementara itu, prajurit yang bertempur dengan Glagah Putih melihat, bahwa kedua orang yang bertempur melawan Agung Sedayu dan Sabungsari agaknya tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu. Bagaimanapun juga, maka ia mulai memikirkan nasibnya sendiri. Jika ia masih tetap berkelahi melawan Glagah Putih, sementara Agung Sedayu berhasil memenangkan perkelahian itu, maka Agung Sedayu akan menempatkan diri menjadi lawannya. Itu berarti satu bencana yang tidak akan dapat dihindarinya lagi.

Dengan demikian, maka tidak ada jalan lain yang dapat dipilihnya kecuali melarikan diri dari arena. Meskipun ia dapat menguasai lawannya yang masih sangat muda itu pada suatu saat, namun adalah mengerikan sekali jika ia harus melawan Agung Sedayu, yang seolah-olah memiliki seribu jenis ilmu bertimbun di dalam dirinya.

Karena itu, selagi ia masih sempat, maka dengan perhitungan yang cermat, ia pun mendesak lawannya. Namun dengan cepat ia telah meloncat berlari menghilang di antara gerumbul-gerumbul perdu.

Glagah Putih terkejut melihat sikap lawannya. Ia sudah merasa, bahwa ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama lagi. Namun tiba-tiba saja lawannya telah berlari meninggalkannya.

Agung Sedayu yang berdiri tegak di hadapan lawannya, yang sudah tidak berdaya itu pun sempat melihat lawan Glagah Putih yang melarikan diri. Ia pun melihat Glagah Putih yang termangu-mangu sejenak. Namun ketika Glagah Putih siap meloncat untuk mengejarnya, Agung Sedayu berkata, “Jangan, Glagah Putih.”

Glagah Putih tertegun. Dengan ragu-ragu ia memandang Agung Sedayu yang berdiri tegak di tempatnya.

“Kau tidak tahu, apakah yang ada di balik gerumbul-gerumbul perdu itu,” desis Agung Sedayu kemudian.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Baru ia menyadari, jika ada beberapa orang bersembunyi di balik pohon perdu itu, maka ia akan terjebak ke dalam kesulitan.

“Tetapi jika ada orang lain, kenapa mereka tidak menampakkan dirinya?” pertanyaan itu mulai mengganggu Glagah Putih. Tetapi ia tidak sempat bertanya, sementara Agung Sedayu telah melangkah mendekati lawannya yang sudah tidak berdaya.

Rambitan berdiri tegang memandang lawannya, yang selangkah demi selangkah mendekatinya. Di tangan Agung Sedayu masih tergenggam cambuknya yang dapat meledak. Sementara matanya yang dapat mencengkam tubuhnya melampaui cengkaman wadagnya, masih tetap memandanginya dengan tajamnya, meskipun dari sorot mata itu tidak lagi melontar ilmu anak muda yang dahsyat itu.

Yang dapat dilakukan oleh Rambitan adalah menunggu, ujung cambuk lawannya akan dapat menyobek kulitnya arang kranjang. Tubuhnya tentu tidak akan berbentuk lagi. Jika ia terkapar dan ditinggalkan di pinggir jalan itu, maka jika ada orang yang menemukan tubuhnya, maka tidak akan ada seorang pun yang dapat mengenalnya.

“Tetapi itu lebih baik,” berkata Rambitan di dalam hatinya, “adalah merupakan suatu hinaan bagi perguruan Elang Hitam, jika salah seorang muridnya yang terpercaya terkapar mati dengan luka arang kranjang.”

Namun Rambitan menjadi heran, ketika ia mendengar Agung Sedayu berkata, “Ki Sanak. Marilah kita mencari jalan lain daripada memilih cara yang tidak menyenangkan. Kau akan tetap hidup untuk menghadap Kakang Untara. Mungkin beberapa masalah yang kabur akan dapat dijelaskan.”

Rambitan tidak menjawab. Ketika ia berpaling memandang saudara seperguruannya, maka dilihatnya orang itu tidak bergerak lagi.

“Kita dapat melihat mereka,” berkata Agung Sedayu, “aku pun ingin mengetahui keadaan Sabungsari. Karena itu, ambillah keputusan, bahwa cara yang liar ini sebaiknya tidak kita pergunakan.”

Rambitan benar-benar tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab. Agung Sedayu itu tinggal meledakkan cambuknya, menyayat tubuhnya yang sudah tidak berdaya melawannya. Kedua tangannya telah lumpuh, karena tulang-tulangnya rasa-rasanya telah remuk. Sementara ia tidak akan sempat lagi melarikan diri, meskipun kakinya masih utuh, karena dengan sorot matanya Agung Sedayu tentu akan dapat menangkapnya dan meremukkan tulang-tulang belakangnya.

Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba Agung Sedayu telah menunjukkan sikap yang tidak dimengertinya. Ia tidak berusaha membunuhnya dengan penuh kemarahan dan kebencian.

Tetapi akhirnya Rambitan pun mengetahui, bahwa jika ia masih tetap hidup, maka ia akan menjadi sumber keterangan tentang usaha pembunuhan itu. Ia akan dapat diperas dengan berbagai macam cara, untuk mengungkap rencana yang keji itu.

Rambitan menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mempunyai pilihan lain. Katanya di dalam hati, “Apa boleh buat. Aku hanya sekedar diupah. Aku tidak tahu persoalan apa pun juga yang ada di antara mereka.”

“Bagaimana pendapatmu, Ki Sanak?” bertanya Agung Sedayu. “Sementara kita masing-masing akan dapat melihat, apakah saudara seperguruanmu atau sadaramu atau siapapun juga yang datang bersamamu itu masih mungkin ditolong. Aku pun akan melihat Sabungsari yang terbaring diam itu.”

Rambitan tidak menjawab. Ia masih berdiri tegak. Sementara kedua tangannya seolah-olah tidak dapat digerakkannya lagi.

Dalam pada itu, Glagah Putih tidak sabar lagi menunggu. Ketika ia sadar akan keadaan Sabungsari, maka ia pun berlari-lari mendekatinya. Ketika ia berjongkok di samping prajurit muda itu, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam, karena ia melihat Sabungsari tersenyum sambil berkata lirih, “Aku tidak apa-apa, Glagah Putih.”

“Tetapi kau terluka,” desis Glagah Putih.

“Ya,” jawab Sabungsari, “aku menjadi lemah sekali. Tetapi lukaku sudah pampat. Aku masih harus berdiam diri untuk beberapa saat, karena kepalaku menjadi pening, dan agar darahku benar-benar menjadi pampat. Tubuhku memang menjadi sangat lemah. Namun, mudah-mudahan tidak terlalu gawat.”

Glagah Putih termangu-mangu. Tetapi ia pun kemudian duduk di samping Sabungsari yang masih terbaring.

“Bagaimana dengan, Agung Sedayu?” bertanya Sabungsari. “Ia benar-benar seorang yang mampu berpikir dengan terang dalam keadaan apa pun juga. Terhadap lawannya itu pun ia agaknya masih dapat memaafkan.”

“Ya,” jawab Glagah Putih, “meskipun kakang Agung Sedayu juga terluka.”

Sabungsari terdiam. Ia mendengar segala percakapan Agung Sedayu dengan Rambitan. Tetapi ia masih belum berani mengangkat kepalanya atau bangkit berdiri mendekat, karena ia masih ingin memampatkan darahnya sama sekali.

Dalam pada itu, Agung Sedayu bertanya sekali lagi, “Jawablah. Kita harus segera dapat mengambil keputusan.”

Rambitan yang termangu-mangu itu pun kemudian menjawab, “Aku sudah tidak berdaya, Agung Sedayu. Terserah kepadamu. Apakah kau akan membunuh aku, atau kau akan berbuat lain.”

“Aku tidak ingin membunuhmu,” sahut Agung Sedayu.

“Tetapi itu sama sekali bukan satu keluhuran budi dan sikap,” tiba-tiba saja Rambitan menggeram, “jika kau tidak membunuhku, maka justru kau telah menyiksa aku. Aku tahu, bahwa kau dan Untara akan dapat memeras keterangan dari mulutku, dengan cara yang paling keji sekalipun. Tetapi aku sudah berniat, agar kau tidak perlu berbuat demikian. Aku akan berkata apa saja yang aku ketahui. Mungkin setelah itu, kau atau Untara akan membunuhku pula.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau terlalu berprasangka. Tetapi baiklah. Apa pun yang kau duga, kau akan melihat suatu kenyataan. Jika kau benar-benar sudah menyerah, kita akan pergi ke Jati Anom.”

Rambitan tidak menjawab. Ia sudah tidak berdaya sama sekali. Seandainya Glagah Putih yang kemudian memegang cambuk Agung Sedayu, maka anak itu pun akan mampu membunuhnya, karena ia hanya dapat meloncat-loncat dengan kakinya tanpa berbuat sesuatu dengan tangannya.

Namun dalam pada itu, dengan tatapan mata yang sangat tajam, Agung Sedayu melihat bayangan yang bergerak beberapa langkah di belakang Rambitan. Meskipun tidak begitu jelas, dalam keremangan malam Agung Sedayu sempat melihat orang itu menarik busurnya sambil membidiknya.

Sejenak Agung Sedayu menjadi tegang. Namun dengan demikian di luar sadarnya Agung Sedayu telah meningkatkan kemampuan penglihatannya. Seolah-olah ia melihat semakin jelas, seseorang yang melepaskan anak panah ke arahnya.

Ketika pendengarannya yang meningkat pula mendengar desing anak panah yang meluncur, maka Agung Sedayu pun telah meloncat ke samping, sehingga anak panah yang mengarah ke dadanya itu dapat dihindarinya.

Tetapi ternyata anak panah yang kedua pun telah meluncur pula. Hampir saja menyambar kening. Karena itu, maka Agung Sedayu harus meloncat pula dengan sigapnya. Ketika anak panah ketiga meluncur, maka ia pun harus berguling sekali untuk menghindarinya.

Dalam pada itu, ia masih sempat berkata, “Glagah Putih, hati-hati.”

Glagah Putih pun segera berbaring di antara rerumputan dan tanah yang tidak datar, sehingga kemungkinan untuk dikenainya menjadi semakin sempit.

Namun dalam pada itu, Sabungsari sama sekali tidak mampu bergerak. Seandainya orang berpanah itu membidiknya, maka ia hanya dapat pasrah kepada nasibnya. Jika orang itu benar-benar memiliki kemampuan bidik yang cukup, maka orang itu akan dapat membunuhnya dari jarak beberapa langkah.

Sementara itu, Agung Sedayu mulai berbuat sesuatu agar ia tidak sekedar menjadi sasaran. Ketika anak panah berikutnya meluncur ke arahnya, Agung Sedayu tidak berusaha untuk meloncat menghindar, tetapi ia telah menangkisnya dengan memukul anak panah itu dengan cambuknya.

Ledakkan cambuk yang tidak terlalu keras itu ternyata telah mengganggu orang yang menyerangnya dari jarak jauh itu. Bahkan, tiba-tiba saja orang itu telah mengambil satu sikap yang mengejutkan.

Rambitan yang memandang saja dengan sedikit harapan, bahwa akan ada orang yang membebaskannya, melihat betapa Agung Sedayu harus berloncatan menghindar. Namun agaknya Agung Sedayu telah siap untuk mendekati orang berpanah itu dengan perisai cambuknya.

Yang terjadi kemudian adalah di luar dugaan. Rambitan tiba-tiba saja berdesah tertahan. Perlahan-lahan ia bergeser dan terhuyung-huyung. Sementara itu, orang berpanah itu pun telah menghilang ke dalam gerumbul.

Agung Sedayu melihat dan mengerti apa yang telah terjadi. Rambitan telah sengaja dibunuh oleh orang itu untuk menghilangkan jejak, setelah orang itu gagal membebaskannya, karena ia tidak dapat mengenai Agung Sedayu. Namun dengan demikian, Agung Sedayu yang kehilangan itu menjadi marah. Betapapun juga keragu-raguan menghambat keputusannya, namun seolah-olah dengan gerak naluriah, ia telah menghentakkan kekuatan sorot matanya. Dengan cepat ia menyerang langsung menusuk ke dalam gerumbul yang masih bergoyang dengan sorot matanya.

 

 

Dedaunan perdu di dalam gerumbul itu bagaikan diremas. Namun sementara itu terdengar pekik meninggi. Pekik yang seakan-akan telah membangunkan Agung Sedayu sehingga ia menyadari, apa yang telah dilakukannya.

Sementara Agung Sedayu membeku di tempatnya. Glagah Putih yang melihat bahwa orang berpanah itu telah meninggalkan tempat itu, segera meloncat berdiri. Ia masih melihat Rambitan terhuyung-huyung. Dan ia pun masih mendengar orang memekik tinggi di balik gerumbul.

Ternyata bahwa kemampuan ilmu Agung Sedayu yang memancar lewat sorot matanya, telah menyusup di antara dedaunan dan ranting-ranting gerumbul perdu, sementara dedaunan dan ranting-ranting perdu itu sendiri yang langsung tersentuh sorot mata Agung Sedayu telah menjadi lumat.

Baru sejenak kemudian Agung Sedayu meloncat berlari ke balik gerumbul yang hancur lumat itu. Dengan jantung yang berdebaran, ia melihat sesosok tubuh terbaring diam. Di tangannya masih tergenggam sebuah busur dan di lambungnya tergantung sebuah endong tempat anak panah.

Dengan jantung berdebar-debar Agung Sedayu berjongkok di samping tubuh yang terbujur itu. Perlahan-lahan ia menempelkan telinganya ke dadanya. Namun ternyata dada itu sudah tidak berdetak lagi.

“Ia sudah mati,” desisnya.

Glagah Putih yang menyusulnya berdiri termangu-mangu di belakangnya. Ia mendengar Agung Sedayu berdesis. Karena itu, ia bertanya, “Kenapa orang itu mati?”

Agung Sedayu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Secercah penyesalan melonjak di hatinya. Tidak ada niatnya untuk membunuh. Bahkan seakan-akan tanpa disengaja ia telah melontarkan ilmunya lewat tatapan matanya. Yang terjadi demikian cepatnya, sehingga kesempatan untuk berpikir baginya terlalu sempit. Apalagi untuk mempertimbangkan akibat yang bakal terjadi. Bahkan Agung Sedayu pun masih harus menilai kemampuannya sendiri, yang seakan-akan telah meningkat di luar pengamatannya sendiri.

Baru beberapa bab dari isi kitab Ki Waskita yang mulai di dalami maknanya. Namun karena pilihan yang tepat dan kemampuannya untuk mengetrapkan pada landasan yang mapan, maka ternyata bahwa ilmu yang ada pada dirinya itu telah meningkat.

“Tetapi, agaknya orang ini hampir tidak mempunyai daya tahan yang dapat melindungi dirinya serba sedikit. Agaknya ia bukan seorang yang setingkat dengan kedua orang dari Gunung Kendeng itu,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Glagah Putih yang berjongkok pula di samping Agung Sedayu memandang orang itu dengan tegang. Orang itu mati tanpa luka yang nampak pada tubuhnya. Tiba-tiba saja seolah-olah gerumbul itu telah diremas oleh angin prahara yang tidak kasat mata. Dan orang itu telah menjadi korbannya pula.

“Apakah gerumbul ini disambar petir?” tiba-tiba saja Glagah Putih bertanya.

Agung Sedayu berpaling sejenak. Katanya, “Agaknya orang ini harus mengalaminya. Apa pun sebabnya, tetapi ia kami dapatkan telah mati di sini.”

“Bagaimana dengan lawan Kakang Agung Sedayu?” bertanya Glagah Putih.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun beringsut pula. Kemudian ia pun bangkit dan berjalan menuju ke tempat Rambitan yang terbaring menelungkup. Sebatang anak panah menghunjam dalam di tubuhnya. Agaknya ujung anak panah itu telah menyentuh bagian dalam tubuhnya yang menentukan, sehingga Rambitan ternyata telah tidak bernafas lagi.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ketika Glagah Putih berjongkok di sisinya, maka Agung Sedayu itu pun berkata, “Telah terjadi tiga kematian. Dua orang murid dari Gunung Kendeng, dan seorang yang tidak dikenal. Tetapi sudah pasti, bahwa orang ini adalah pengikut orang yang mengupah kedua murid Gunung Kendeng ini.”

“Kenapa mereka, Kakang?” bertanya Glagah Putih pula.

“Bukankah dengan demikian jalur hubungan antara orang yang mengupah dan orang yang diupah telah terputus?” berkata Agung Sedayu.

“Tetapi kita sudah mengetahui, bahwa yang memerintahkan kedua orang itu melakukan pencegatan ini adalah Ki Pringgajaya,” desis Glagah Putih.

“Siapakah yang dapat membuktikannya? Jika aku atau kau atau Sabungsari mengatakannya, bahwa kedua orang yang terbunuh ini adalah atas perintah Ki Pringgajaya, maka kita akan dapat dituduh memberikan kesaksian palsu.”

“Tetapi, bukankah kenyataannya demikian?” desak Glagah Putih.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat memberikan penjelasan, sehingga dapat memberikan kepuasan bagi Glagah Putih. Ia tidak dapat mengatakan, bahwa kita sering menjumpai kenyataan yang tidak dapat dibuktikan. Bahkan kita kadang-kadang tidak dapat meyakinkan orang lain bahwa satu kebenaran adalah kebenaran.

“Glagah Putih,” berkata Agung Sedayu kemudian, “kita akan mencoba mengatakan kenyataan ini kepada Kakang Untara. Tetapi, bagaimana dengan Sabungsari?”

“Ia masih tersenyum ketika aku mendekatinya. Ia terluka, tetapi aku tidak tahu, apakah luka itu berbahaya baginya.”

Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan Rambitan dan dengan tergesa-gesa mendekati Sabungsari yang masih saja tersenyum melihat kedatangan Agung Sedayu.

“Bagaimana dengan kau, Sabungsari?” bertanya Agung Sedayu.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya lukaku sudah mulai pampat. Aku sudah dapat bangkit dan duduk.”

“Tunggu,” desis Agung Sedayu, “jangan tergesa-gesa.”

“Aku sudah mengobatinya. Mudah-mudahan luka itu tidak akan berdarah lagi.”

“Jika kau terlalu banyak bergerak, maka luka itu akan berdarah lagi. Karena itu, berbaring sajalah beberapa saat. Sementara aku akan mengurus tiga sosok mayat yang berserakan.”

“Tiga?” bertanya Sabungsari, “Jadi, orang yang melepaskan anak panah itu kau bunuh juga?”

“Bukan maksudku. Aku hanya ingin menghentikannya. Tetapi ternyata ia telah mati,” desah Agung Sedayu.

“Kenapa ia mati?” sekali lagi Glagah Putih bertanya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pura-pura tidak mendengar pertanyaan itu. Katanya kepada Sabungsari, “Berbaringlah barang sejenak. Aku akan mengumpulkan mayat itu. Kita akan pergi ke Jati Anom, menghadap Kakang Untara. Ketiga sosok mayat itu akan menjadi salah satu bukti, bahwa telah terjadi sesuatu pada kita di sini.”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Ya. Mungkin Ki Untara meragukan keterangan kita. Tetapi kita harus mengatakannya.”

“Tetapi bagaimana dengan kedudukanmu, Sabungsari. Tentu ada persoalan di dalam tataran keprajuritan. Mungkin kau dianggap berbuat kesalahan. Atau mungkin kau akan mengalami kesulitan, karena Ki Pringgajaya yang memiliki pengaruh dan kedudukan itu menganggap, bahwa kau adalah salah seorang penghalang dari rencananya. Apalagi kau dengan sengaja telah menyilang dan memotong usahanya kali ini,” berkata Agung Sedayu.

“Aku mengerti, Agung Sedayu. Tetapi aku memang sudah menentukan sikap. Apa pun yang akan terjadi, aku tidak akan surut,” jawab Sabungsari.

“Tetapi mungkin sekali hal ini akan mengancam keselamatanmu,” sambung Agung Sedayu.

“Aku sadar. Tetapi aku akan menghadapi segala akibat dari sikapku ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kekerasan hati Sabungsari. Namun sejak ia mengenal Sabungsari, ia menganggap bahwa anak muda itu benar-benar seorang laki-laki yang bersikap jantan. Seperti saat ia menghadapi kekalahan, maka ia pun bertekad menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi atasnya, karena ia sudah menentukan sikap.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu bangkit sambil berkata, “Biarlah kau berbaring sejenak. Aku akan menyingkirkan mayat itu, agar tidak diketemukan oleh orang yang kebetulan lewat atau para petani yang pergi ke sawah. Sementara itu, keadaanmu akan menjadi semakin baik.”

Sabungsari tidak mencegahnya. Dibiarkannya Agung Sedayu pergi sambil berkata, “Tunggulah di sini, Glagah Putih.”

Glagah Putih tidak menyahut. Ia pun kemudian duduk di samping Sabungsari, sementara Agung Sedayu menyingkirkan mayat itu ke dalam gerumbul, sehingga tidak mudah diketemukan oleh seseorang.

Baru setelah semuanya selesai, Agung Sedayu mendekati Sabungsari yang masih terbaring sambil berkata, “Apakah keadaanmu sudah semakin baik?”

“Ya. Aku sudah merasa baik. Mungkin aku masih terlalu lemah. Tetapi aku sudah dapat berkuda sendiri kembali ke Jati Anom,” jawab Sabungsari.

Glagah Putih pun kemudian bangkit untuk mencari kuda-kuda mereka yang ternyata tidak berada di tempat yang terlalu jauh. Kuda-kuda itu masih sibuk mengunyah rerumputan segar di tepi jalan, beberapa puluh langkah dari tempat perkelahian itu. Sedangkan Sabungsari minta agar Glagah Putih juga mengambil kudanya di tempat yang terlindung.

“Aku tidak sempat mengikat kuda-kuda itu,” berkata Glagah Putih. Dan Agung Sedayu pun mengerti, bahwa Glagah Putih pun harus mempertahankan dirinya dari serangan yang tiba-tiba, dari seseorang yang merunduknya dari balik gerumbul-gerumbul perdu.

Sejenak kemudian, Agung Sedayu telah mencoba membantu Sabungsari naik ke atas punggung kudanya. Ternyata betapapun lemahnya, Sabungsari masih dapat menjaga keseimbangannya.

Perlahan-perlahan, mereka bertiga pun kemudian berkuda ke Jati Anom. Mereka akan langsung pergi ke rumah Ki Untara untuk menyampaikan peristiwa yang baru saja terjadi. Meskipun mereka tidak dapat membawa saksi yang lain, kecuali diri mereka sendiri, namun mereka menganggap bahwa hal itu perlu segera disampaikan kepada Untara.

Agung Sedayu yang berada di paling depan, menjadi gelisah, karena langit yang sebentar lagi akan dibayangi oleh warna fajar di timur. Jika kemudian datang pagi, sementara mayat-mayat itu masih di tempatnya, ada kemungkinan akan diketemukan oleh orang-orang yang pergi ke sawah atau oleh orang-orang yang tidak sengaja melintasi gerumbul-gerumbul itu.

Kedatangan Agung Sedayu, Sabungsari dan Glagah Putih di lewat tengah malam itu, ternyata telah mengejutkan para prajurit yang bertugas. Apalagi ketika mereka melihat keadaan Sabungsari yang lemah dan pakaiannya penuh bernoda darah.

“Kenapa anak itu?” bertanya seorang prajurit kepada Agung Sedayu.

“Aku akan menghadap Kakang Untara,” jawab Agung Sedayu, “aku akan melaporkan semua yang telah terjadi.”

Prajurit itu pun kemudian mempersilahkan Agung Sedayu, Sabungsari dan Glagah Putih naik ke pendapa. Dengan hati-hati, Agung Sedayu membantu Sabungsari turun dan memapahnya naik ke pendapa bersama Glagah Putih.

Ternyata keadaannya cukup parah. Seperti saat ia bertempur melawan Carang Waja, maka Sabungsari sekali lagi mengalami luka yang sangat parah.

Dengan lemahnya, Sabungsari duduk di pendapa bersandar tiang. Sekali-sekali masih nampak ia menyeringai menahan sakit di dadanya.

“Apakah kau akan berbaring saja?” bertanya prajurit yang bertugas, “Jika kau ingin berbaring, marilah, aku bawa kau ke gandok.”

Sabungsari menggeleng sambil menjawab, “Aku menunggu di sini, sampai Ki Untara mendengar semua keterangan kami.”

Prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya, “Seorang kawan telah mencoba menyampaikan hal ini kepada Ki Untara. Tetapi ia belum lama tidur. Ki Untara baru saja nganglang di sekitar Jati Anom bersama beberapa orang prajurit. Kemudian ia duduk di pendapa itu beberapa saat.”

Dengan demikian, maka Agung Sedayu, Sabungsari dan Glagah Putih itu masih harus menunggu. Glagah Putih yang lelah itu pun bersandar tiang pendapa pula. Sekali ia beringsut sambil berdesah. Ternyata kelelahan yang sangat telah membuatnya mulai merasa kantuk. Namun demikian, ia harus bertahan sambil menunggu Untara menemuinya dan mendengarkan segala keterangan tentang peristiwa yang baru saja terjadi.

“Mayat-mayat itu pun harus diambil,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya.

Beberapa lamanya mereka menunggu. Namun ternyata bahwa Untara tidak menolak kedatangan mereka dan tidak menyuruh mereka menunggu sampai keesokan harinya. Bukan saja karena yang datang adalah Agung Sedayu, tetapi Untara menyadari, bahwa yang akan mereka sampaikan tentu sesuatu yang sangat penting.

Ketika Untara selesai membenahi dirinya, maka ia pun bergegas pergi ke pendapa. Ia terkejut melihat keadaan Sabungsari yang sangat lemah. Dengan dahi yang berkerut ia berkata, “Biarlah prajurit itu beristirahat. Agaknya ia terluka parah.”

“Ya, Kakang. Sabungsari terluka parah,” sahut Agung Sedayu.

“Tetapi biarlah aku di sini. Aku ingin ikut mendengarkan laporanmu, Agung Sedayu. Mungkin ada beberapa hal yang perlu aku jelaskan, karena sebagian dari keterangan tentang peristiwa ini aku ketahui sebelum terjadi,” berkata Sabungsari dengan suara gemetar.

Untara mengerutkan keningnya. Sejak semula ia pun sudah menduga, bahwa soalnya tentu sangat penting.

“Baiklah,” berkata Untara, “tetapi biarlah lukamu diobati lebih dahulu.”

“Aku sudah mengobatinya, Ki Untara,” berkata Sabungsari, “tetapi hanya untuk sementara. Meskipun demikian, biarlah kita berbicara lebih dahulu. Baru kemudian aku mohon dapat diobati dengan cara dan obat yang lebih baik.”

Ki Untara mengangguk-angguk. Kemudian dipandanginya beberapa orang prajurit yang ada di sekitarnya. Dengan satu isyarat, maka mereka pun meninggalkan Ki Untara dengan ketiga orang tamunya.

Agung Sedayu kemudian menceritakan apa yang telah terjadi. Tetapi ia baru menceritakan kejadian di bulak panjang itu. Ia belum mengatakan, siapakah yang berada di belakang peristiwa itu.

Untara mendengarkan keterangan itu dengan saksama. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Agung Sedayu. Apakah sangkut pautnya orang-orang dari Gunung Kendeng dengan kau dan Sabungsari? Menurut pendengaranku, orang-orang Gunung Kendeng tidak pernah bersentuhan dengan kau dan Sabungsari. Tetapi mungkin ada peristiwa dan kejadian yang lepas dari pendengaranku.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, justru kepada Glagah Putih, “Glagah Putih, aku kira kau sangat lelah dan mengantuk. Tidurlah. Nanti aku akan membangunkanmu.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Terasa sentuhan mata kakak sepupunya itu bagaikan memberikan isyarat kepadanya, agar ia pun tidak perlu mendengarkan peristiwa yang membayangi kejadian di bulak panjang itu.

Agaknya Untara mengerti maksud adiknya. Karena itu, maka katanya, “Sebaiknya demikian, Glagah Putih. Marilah, aku akan membawamu kepada mbokayumu. Kau sebaiknya membersihkan diri, minum dan barangkali kau lapar, mbokayumu akan menyediakan makan buatmu.”

Glagah Putih tidak dapat mengelak lagi. Istri Untara pun sangat baik kepadanya. Karena itu, maka ia pun mengikuti Untara masuk ke ruang dalam, dan menyerahkan Glagah Putih kepada istrinya yang nampaknya masih mengantuk.

“Mbokayu masih mengantuk,” desis Glagah Putih.

“Tidak, Glagah Putih,” sahut Nyi Untara, “aku sudah tidur sejak sore. Marilah, kau pergi dahulu ke pakiwan. Kemudian kau minum minuman hangat. Kau akan aku persilahkan makan, meskipun nasi dingin.”

“Aku tidak ingin makan, Mbokayu. Tetapi jika minum, aku memang sangat haus.”

Istri Untara itu tersenyum. Ketika Glagah Putih pergi ke pakiwan dan Untara sudah kembali ke pendapa, istri Untara itu mengambil air panas di tempat para peronda, yang selalu menyediakan bagi mereka yang bertugas. Kemudian menyediakan tempat bagi Glagah Putih untuk beristirahat.

“Minumlah. Jika kau tidak ingin makan, baiklah kau beristirahat di amben itu,” berkata istri Untara.

“Terima kasih. Aku memang akan tidur. Agaknya Kakang Agung Sedayu dan Kakang Untara masih selalu menganggap aku kanak-kanak, yang tidak boleh mengetahui beberapa hal.”

Isteri Untara tersenyum. Katanya, “Bukan begitu, Glagah Putih. Seperti aku, kakangmu Untara sama sekali tidak menganggap kanak-kanak lagi. Tetapi dalam beberapa hal yang penting, aku juga tidak dibenarkan untuk mendengarkan pembicaraannya.”

“Tetapi Mbokayu seorang perempuan,” bantah Glagah Putih.

“Meskipun perempuan, mungkin akan berbeda dengan bakal Mbokayumu dari Sangkal Putung. Mungkin ia justru diperlukan hadir dalam pembicaraan-pembicaraan penting. Juga istri anak Ki Demang di Sangkal Putung itu,” jawab istri Untara sambil tersenyum.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia pun mengerti, masalahnya bukan laki-laki atau perempuan. Juga bukan karena ia masih dianggap kanak-kanak. Tetapi Glagah Putih tetap merasa tidak senang, karena ia masih belum berhak mendengarkan pembicaraan-pembicaraan penting.

“Aku harus segera menjadi seorang anak muda yang dewasa. Bukan dalam umur, tetapi dalam sikap dan olah kanuragan. Jika aku sudah memiliki ilmu yang cukup, maka aku tentu tidak akan tersisih seperti ini,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya, ketika ia sudah berbaring di pembaringannya.

Untuk beberapa saat, Glagah Putih masih belum berhasil memejamkan matanya. Namun kemudian, perlahan-lahan ia pun mulai kehilangan kesadarannya. Akhirnya anak muda itu pun jatuh tertidur.

Dalam pada itu, di pendapa, Agung Sedayu masih duduk bersama dengan Untara dan Sabungsari yang lemah. Namun agaknya obat yang telah ditaburkan ke atas luka anak muda itu sementara dapat menolongnya.

“Nah, sekarang katakanlah, apa yang sebenarnya telah terjadi atas kalian,” berkata Untara kemudian.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Tetapi sebelumnya aku minta maaf Kakang, bahwa aku akan menyangkutkan nama prajurit Pajang yang berada di Jati Anom. Aku tidak tahu, apakah Kakang Untara sudah menduga, atau setidak-tidaknya melihat sesuatu yang menarik perhatian, atau sama sekali tidak mengira bahwa hal ini dapat terjadi.”

Untara memandanginya dengan tajamnya. Seakan-akan ia tidak telaten menunggu. Namun ternyata, bahwa kata-kata Agung Sedayu tertunda lagi, ketika seorang menyuguhkan minuman hangat bagi mereka.

“Ada juga minuman hangat pada saat begini,” desis Agung Sedayu.

“Setiap saat ada minuman hangat di parondan,” sahut Untara, “lalu, bagaimana ceritamu itu?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sadar, bahwa ia berhadapan bukan saja dengan kakaknya, tetapi dengan seorang senapati prajurit Pajang.

Sejenak kemudian, Agung Sedayu pun segera menceritakan akan semua peristiwa, bukan hanya yang telah terjadi di bulak seperti yang sudah dikatakannya, tetapi ia mulai menyebut nama Ki Pringgajaya, salah seorang perwira pasukan Pajang di Sangkal Putung.

Untara mendengarkan keterangan itu dengan dahi yang berkerut. Meskipun ia terkejut, tetapi tidak ada kesan apa pun di wajahnya, selain ketegangan.

“Jadi menurut dugaanmu, orang-orang itu telah diupah oleh Ki Pringgajaya?” bertanya Untara.

“Mereka mengatakannya sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang upahan Ki Pringgajaya,” jawab Agung Sedayu.

“Mereka mengatakan sendiri, atau Sabungsari yang mengatakannya?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Kakang, Sabungsari mengetahui persoalannya. Sementara orang-orang itu pun tidak membantah. Mereka mengakui, bahwa mereka adalah orang-orang upahan. Sementara yang bertempur dengan Glagah Putih adalah seseorang yang dapat dikenal dalam pakaian seorang prajurit.”

“Apa artinya pakaian. Setiap orang dapat mengenakan pakaian prajurit. Penjahat dan pengkhianat dapat juga mengenakan pakaian seorang prajurit.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Jika keadaan Sabungsari memungkinkan, ia dapat membantu memberikan penjelasan.”

Untara memandang Sabungsari yang pucat. Lalu katanya, “Kau dapat mengatakannya jika itu tidak membuat kau semakin parah.”

Sepatah-sepatah Sabungsari mencoba menjelaskan apa yang telah dialaminya. Bahkan ia serba sedikit mengatakan pula rahasianya yang membawanya menjadi seorang prajurit, karena hal itu sudah diketahui pula oleh Ki Pringgajaya. Daripada orang lain yang mengatakannya, lebih baik Sabungsari sendiri-lah yang mengucapkan pengakuan itu.

Meskipun yang dikatakannya hanya pokok-pokoknya saja dari seluruh hubungan peristiwa, namun Untara sudah mendapat gambaran yang jelas tentang apa yang sudah terjadi.

“Baiklah aku akan mengusut persoalan ini. Tetapi aku tidak dapat mempercayaimu begitu saja tanpa bukti-bukti atau keterangan-keterangan lain yang lebih meyakinkan. Sekarang, aku ingin melihat mayat-mayat itu, sehingga mungkin akan dapat membuka jalan yang lebih lapang bagi penyelesaian masalah ini.”

“Marilah, Kakang. Aku pun sebenarnya menjadi cemas, jika para petani-lah yang menemukannya,” sahut Agung Sedayu.

Bersama beberapa orang prajurit, Untara pun segera berkemas. Kepada istrinya, ia menitipkan Glagah Putih yang sedang tidur nyenyak.

“Jika ia terbangun dan mencari Agung Sedayu, katakan bahwa Agung Sedayu aku bawa mengambil mayat-mayat yang ditinggalkannya di bulak panjang itu.”

Istri Untara itu mengerutkan dahinya. Meskipun ia seorang istri senapati prajurit Pajang di Jati Anom, namun setiap saat hatinya masih juga berdebar-debar, jika Untara pergi dalam keadaan yang gawat. Tetapi ia selalu menyembunyikan perasaannya. Bahkan sambil tersenyum ia berkata, “Agaknya Glagah Putih baru akan bangun setelah matahari tinggi.”

Sabungsari yang terluka itu pun telah dipapah oleh beberapa orang prajurit dan dibaringkannya di gandok. Seorang prajurit yang ahli dalam obat-obatan, telah dipanggil untuk memberikan obat yang lebih baik kepada Sabungsari yang terluka itu.

Prajurit yang kemudian datang itu pun dengan saksama telah memeriksa luka Sabungsari. Ia pun mendengar berita tentang sebab luka-luka itu, meskipun Sabungsari hanya menceritakan sebagian kecil dari seluruh peristiwanya.

“Jadi, orang-orang dari Gunung Kendeng itulah yang melukaimu?” bertanya orang itu.

“Ya. Lukaku memang agak parah.”

“Baiklah. Aku akan berusaha. Tetapi seperti yang kau katakan, lukamu memang cukup parah. Kau terlalu banyak mengeluarkan darah. Untunglah bahwa kau mempunyai obat yang dapat memampatkannya. Meskipun obat itu mempunyai akibat sampingan.”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Sambil menyeringai ia bertanya, “Apakah akibat itu?”

“Pernafasanmu tentu agak terganggu. Tetapi aku akan membersihkannya. Kemudian mengganti dengan obat yang lebih baik, yang selalu dipergunakan oleh para prajurit.”

Sabungsari mengangguk-angguk kecil. Dibiarkannya orang itu membersihkan lukanya dan kemudian menaburkan obat yang lain.

“Sabungsari,” berkata orang itu, “aku sudah mendengar apa yang pernah kau lakukan. Kau sudah pernah berhasil membunuh Carang Waja. Sekarang kau berhasil mengalahkan orang dari Gunung Kendeng. Yang terjadi itu tentu akan menjadi perhatian pula bagi Ki Untara. Mudah-mudahan kau akan cepat mendapat tingkat yang lebih baik.”

Sabungsari tidak menjawab. Terasa lukanya menjadi nyeri. Bukan saja karena tersentuh tangan orang yang mengobatinya itu. Tetapi obat itu sendiri membuat tubuhnya serasa mendidih.

“Obat itu tentu terasa panas di tubuhmu,” berkata prajurit yang mengobatinya itu, “tetapi obat itu akan bekerja sebaik-baiknya. Mudah-mudahan obat itu akan dapat mengatasi kesulitan yang terjadi pada tubuhmu karena kekurangan darah dan nafasmu yang tidak teratur. Kau tentu memerlukan obat lain, yang dapat kau minum besok pagi-pagi untuk menyegarkan tubuhmu.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bertanya, “Bagaimana sebenarnya dengan luka-lukaku?”

Prajurit yang mengobatinya itu mengerutkan keningnya. Sejenak keragu-raguan membayang di wajahnya. Baru kemudian ia berkata, “Sabungsari. Kau adalah seorang prajurit pinunjul. Seorang yang memiliki kelebihan dari prajurit-prajurit sebayamu. Bahkan mungkin dengan tataran di atasmu. Karena itu, aku harap kau mempunyai ketahanan jiwani yang besar pula, melampaui kawan-kawanmu.”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Tidak sabar ia mendesak, “Katakan. Aku bukan anak-anak yang masih suka merengek.”

Prajurit yang mengobatinya itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baiklah aku berterus terang, Sabungsari. Lukamu gawat sekali. Meskipun nampaknya tidak lebih parah dari saat kau bertempur dan membunuh Carang Waja, namun sebenarnya lukamu kali ini berbahaya bagi keselamatanmu.”

Sabungsari menegang sejenak. Namun kemudian terdengar suaranya datar, “Terima kasih. Aku mengerti keadaanku.”

“Tetapi jangan berkecil hati,” berkata prajurit yang mengobatinya, “kita wajib berusaha. Tetapi jika usaha kita gagal, itu adalah di luar kemampuan kita.”

“Ya,” sahut Sabungsari pendek.

“Betapa kecilnya, kita masih harus berpengharapan,” berkata prajurit itu.

Sabungsari tidak menjawab. Tetapi ia mengerti maksud prajurit yang mengobatinya itu. Lukanya adalah luka yang membahayakan jiwanya. Bahkan harapan untuk dapat sembuh adalah sangat kecil.

Sesaat Sabungsari menyeringai. Dadanya memang terasa sangat sakit. Bukan saja pedihnya luka pada dagingnya. Namun nafasnya terasa menjadi sesak. Jantungnya bagaikan berdetak semakin cepat.

“Aku terpengaruh sekali keterangan orang itu,” berkata Sabungsari di dalam hati, “rasa sakit dan nafas yang menyesak ini tentu datang justru karena kekerdilan jiwaku. Tetapi seandainya aku harus mati, maka aku sudah berbuat satu kebajikan terhadap Agung Sedayu. Sebenarnya aku sudah harus mati di pinggir kali, ketika aku menantangnya berperang tanding. Tetapi ia membebaskan aku dari kematian jasmaniah dengan harapan, bahwa aku dapat membunuh segala macam sifat dari sikapku waktu itu.”

Sabungsari menarik nafas panjang sekali. Namun justru karena ia pun kemudian pasrah kepada Yang Maha Kasih, maka hatinya menjadi tenang. Perlahan-lahan nafasnya terasa semakin lapang, meskipun perasaan sakit di dadanya masih terasa bagaikan meremas jantung.

Dalam pada itu, maka prajurit yang mengobatinya itu pun kemudian minta diri setelah ia berpesan, “Cobalah untuk tidur, Sabungsari. Coba pula menenangkan hati. Apa pun yang akan terjadi, jangan kau risaukan, karena garis hidup seseorang tidak berada di tangannya sendiri. Kau sudah berbuat sesuatu yang memberimu kebanggaan. Jika kemudian kau harus mengalami sesuatu karena perbuatan ksatria itu, kau justru dapat berbangga karenanya.”

Sabungsari menggeram. Tetapi ia tidak menjawab. Ia hanya memandang saja prajurit itu meninggalkan biliknya tanpa berpaling lagi.

Sepeninggal prajurit yang mengobatinya itu, Sabungsari berusaha menenangkan hatinya. Ia mencoba memejamkan matanya, namun rasa-rasanya dadanya bagaikan pecah. Sekali-sekali wajahnya nampak menegang kemerah-merahan. Namun kemudian wajah itu menjadi pucat seputih kapas.

Untuk beberapa lamanya Sabungsari harus bertahan. Namun akhirnya ia berusaha untuk tidak menghiraukan lagi perasaan sakit itu. Meskipun demikian, kadang-kadang ia merasa heran juga karena sikap prajurit yang mengobatinya itu. Seolah-olah ia dengan sengaja memberikan kesan yang mencemaskan.

“Tetapi ia menganggap, bahwa hatiku adalah hati yang tabah. Ia menganggap bahwa aku dapat melihat kenyataan dengan hati semeleh,” berkata Sabungsari kepada diri sendiri, “tetapi nyatanya hatiku adalah hati yang selalu dibayangi oleh kecemasan. Bukankah batas terakhir dari keadaan ini adalah kematian. Dan kematian itu tidak lagi menakutkan aku, karena aku telah menemukan diriku sendiri dalam wujud yang lebih baik dari saat lampau. Jika sekiranya aku harus mati saat ini, maka aku akan mendapat nilai jauh lebih baik daripada saat aku mati di pinggir kali dalam perang tanding melawan Agung Sedayu. Saat itu aku akan mati dalam kekelaman, sehingga aku akan terjun ke dalam kegelapan langgeng, di antara tangis dan gemeretak gigi tanpa akhir.”

Ketenangan hati Sabungsari ternyata banyak menolong dan memperingan penderitaannya, sehingga karena itu, betapa perasaan sakit masih terasa menghentak-hentak di dadanya, namun akhirnya ia berhasil tidur meskipun hanya beberapa saat.

Dalam pada itu, Untara diiringi oleh Agung Sedayu dan beberapa orang prajurit telah berpacu menyusur jalan menuju ke tempat Agung Sedayu menyembunyikan tiga sosok mayat. Dua orang dari Gunung Kendeng, sedang seorang yang lain masih belum diketahuinya. Tetapi kuat dugaan Agung Sedayu, bahwa yang seorang itu tentu pengikut Ki Pringgajaya pula.

“Tetapi nampaknya ia bukannya orang yang telah bertempur melawan Glagah Putih,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Dalam pada itu, maka kuda mereka pun berlari semakin kencang. Apalagi ketika bayangan warna fajar telah mengusap langit. Agung Sedayu menjadi semakin tergesa-gesa. Jika saatnya orang pergi ke pasar, atau saat para petani menengok air parit yang membelah bulak panjang itu, dan tanpa mereka sengaja menemukan tiga sosok mayat yang diletakkannya di balik gerumbul, maka kegemparan itu akan dapat menggelisahkan bukan saja satu dua orang.

Semakin dekat mereka dengan tempat yang baru saja menjadi arena pertempuran, hati Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Kuda-kuda mereka rasa-rasanya menjadi semakin lamban.

Namun akhirnya, Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Beberapa puluh langkah lagi ia sudah akan sampai di tempat yang ditujunya. Ia sudah melihat dalam keremangan sisa malam, gerumbul-gerumbul yang berserakan di pinggir jalan yang membujur panjang itu.

“Kita sudah sampai, Kakang,” desis Agung Sedayu kemudian.

Iring-iringan itu pun menjadi semakin lambat. Dan akhirnya mereka berhenti di bekas arena pertempuran. Untara dan para prajurit yang mengiringinya masih sempat melihat bekas-bekas dari pertempuran yang sengit. Gerumbul-gerumbul bagaikan terinjak-injak oleh segerombol binatang buas yang berlaga. Pohon-pohon perdu berpatahan dan daun-daunnya yang bagaikan diremas. Tanah yang seperti baru dibajak. Dan sesudut tanaman di sawah yang menjadi lumat.

Ki Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa adiknya memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, menurut pengamatannya, maka pertempuran itu pun tentu telah berlangsung dengan dahsyatnya. Menurut cerita adiknya, telah terjadi tiga arena pertempuran. Sabungsari dan Agung Sedayu masing-masing melawan seorang murid dari Gunung Kendeng, sedang Glagah Putih bertempur melawan seorang yang mempunyai ciri seorang prajurit.

“Tentu Sabungsari dan Agung Sedayu telah bertempur dengan sengitnya,” berkata Untara di dalam hatinya.

Ketika ia kemudian turun dari kudanya, maka para pengiringnya serta Agung Sedayu pun telah meloncat turun pula.

“Dimana kau sembunyikan mayat-mayat itu?” bertanya Untara kemudian.

Sekilas Agung Sedayu mengangkat wajahnya memandang langit. Cahaya kemerah-merahan mulai nampak di atas cakrawala. Karena itu, maka Agung Sedayu pun dengan tergesa-gesa mengajak kakaknya pergi ke balik sebuah gerumbul yang masih belum menjadi lumat.

“Di sini aku menyembunyikan mayat-mayat itu,” desis Agung Sedayu sambil menyibak dedaunan.

Namun alangkah terkejutnya, ketika ia tidak melihat ketiga sosok mayat itu terbaring di tempat semula. Sejenak Agung Sedayu menegang. Dengan sigapnya ia menyibak di bagian lain. Tetapi ia tidak menemukan mayat-mayat itu.

“Kenapa?” bertanya Untara yang melihat Agung Sedayu menjadi sibuk.

 

 

“Mayat itu hilang, Kakang,” jawab Agung Sedayu terbata-bata.

“He?” Untara pun terkejut pula. Dengan serta merta ia pun meloncat mendekati Agung Sedayu sambil bertanya, “Dimana kau letakkan tadi?”

“Di sini,” jawab Agung Sedayu sambil menunjuk tempat ia menyembunyikan mayat-mayat itu.

Untara terdiam sejenak. Dengan saksama ia merenungi gerumbul itu dan keadaan di sekitarnya. Sekali-sekali ia menyibak pula gerumbul-gerumbul di sebelah menyebelah. Mungkin Agung Sedayu keliru. Tetapi ternyata mereka tidak menemukan mayat-mayat itu sama sekali.

“Aneh,” desis Agung Sedayu, “aku meletakkannya di sini. Di dalam gerumbul ini.”

Untara termangu-mangu sejenak. Ia tentu tidak dapat mencurigai adiknya, bahwa anak muda itu menipunya. Ia pun yakin, bahwa Agung Sedayu tentu sudah berbuat seperti yang dikatakannya, karena menurut pengenalannya sejak anak muda itu masih kanak-kanak, Agung Sedayu tentu tak akan menipu atau pun mengatakan sesuatu yang tidak benar dengan maksud apa pun juga.

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat membuktikan seperti yang dikatakannya.

Untuk beberapa saat lamanya, Agung Sedayu masih mencoba mencari ketiga sosok mayat itu di antara gerumbul-gerumbul. Mungkin ada binatang liar yang telah menyeret ketiga sosok mayat itu. Atau barangkali ia keliru mengingat. Tetapi ternyata bahwa ketiga sosok mayat itu tidak dapat diketemukan.

“Seseorang tentu sudah mengambilnya,” geram Agung Sedayu kemudian.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat Sabungsari terluka. Tentu perkelahian itu benar-benar telah terjadi. Bekas-bekasnya pun cukup menyakinkan. Tetapi kenapa tiga sosok mayat yang dikatakan itu telah hilang.

“Apa pendapatmu, Agung Sedayu?” bertanya Untara.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku menjadi bingung, Kakang. Tetapi aku tidak berbohong, bahwa hal itu memang sudah terjadi.”

“Aku mempercayaimu, Agung Sedayu. Tetapi apa yang dapat aku lakukan kemudian? Yang kau sebut-sebut itu sama sekali tidak dapat kami lihat. Bukannya aku menuduh kau mengatakan apa yang tidak terjadi, tetapi yang kau sebut-sebut murid Gunung Kendeng dan sebagainya, sama sekali tidak dapat dikuatkan. Mungkin mereka mengaku orang-orang Gunung Kendeng dengan segala macam fitnahan terhadap seseorang yang sudah disebut namanya, tetapi mereka sama sekali bukan orang yang dikatakannya.”

“Tetapi aku yakin,” desis Agung Sedayu.

“Aku mengerti, kau tidak bermaksud mengatakan yang tidak sebenarnya kau dengar dari mulut mereka. Tetapi siapakah yang dapat membuktikan dalam keadaan seperti ini, bahwa kedua orang yang terbunuh itu adalah benar-benar murid dari Gunung Kendeng?”

“Aku kira mereka tidak berbohong pula,” jawab Agung Sedayu, “mereka menyebut diri mereka dengan bangga. Dan agaknya mereka sejak semula tidak bersiap untuk datang ke tempat ini, berbohong dan kemudian mati.”

“Tentu,” jawab Untara, “Mati atau tidak mati, mereka dapat saja berbohong. Mereka tentu berniat untuk menghapus jejak, karena mereka juga mempunyai perhitungan. Jika mereka mengaku orang-orang Gunung Kendeng dan sebenarnya mereka memang orang-orang dari Gunung Kendeng, apakah itu tidak berarti menantang prajurit Pajang? Apakah perguruan Gunung Kendeng itu akan mampu bertahan, jika prajurit segelar sepapan datang ke pedepokan mereka?”

“Tetapi, Kakang,” jawab Agung Sedayu, “perhitungan mereka adalah, bahwa tidak seorang pun yang akan dapat menyebut, bahwa mereka memang berasal dari Gunung Kendeng. Mereka memperhitungkan, bahwa aku akan mati di sini. Demikian pula Sabungsari. Tetapi ternyata yang terjadi adalah lain sama sekali, sehingga ada orang yang dapat menyebut mereka berasal dari Gunung Kendeng.”

Untara mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin perhitunganmu benar. Setelah terjadi sesuatu di luar perhitungan meraka, maka kawan-kawan mereka telah mengambil satu tindakan khusus dengan menyingkirkan mayat-mayat yang kau tinggalkan. Tetapi kenapa kawan-kawan mereka tidak muncul saat kedua orang itu mulai terdesak.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Untara. Namun demikian, ia kemudian berkata, “Kakang, semuanya nampak kabur bagiku. Tetapi orang yang membunuh lawanku dari Gunung Kendeng itu pun tidak berusaha bertempur bersamanya saat-saat ia terdesak. Justru ia berusaha membunuhku dari jarak jauh. Ketika ia gagal, maka ia malah membunuh orang Gunung Kendeng itu sendiri dengan anak panahnya.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Persoalan yang dihadapinya adalah persoalan yang rumit. Namun dengan demikian, ia yakin bahwa memang ada orang yang berdiri di balik segala peristiwa ini. Tetapi ia tidak dapat mempergunakan sekedar keterangan Agung Sedayu dan Sabungsari saja. Karena mereka berdua dapat saja bersepakat untuk menyebut seseorang yang mereka inginkan untuk dilibatkan dalam persoalan ini.

“Agung Sedayu,” berkata Untara kemudian, “aku sudah mendengar semua laporanmu. Aku sudah melihat Sabungsari yang terluka parah. Aku pun melihat arena pertempuran itu. Tetapi aku tidak melihat mayat yang kau katakan. Dan aku tidak mendapatkan petunjuk apa pun juga, dengan siapa kalian bertempur, selain keterangan yang kau berikan.”

“Kakang,” berkata Agung Sedayu, “demikianlah kenyataan yang aku hadapi sekarang. Sebagai seorang yang mengalami, aku melaporkan hal ini kepadamu, karena kau adalah senapati di daerah ini. Tetapi persoalan selanjutnya terserah kepada Kakang Untara. Apakah ada jalan untuk mengusutnya, atau Kakang menganggap bahwa hal ini adalah satu peristiwa yang dapat dilupakan begitu saja.”

Wajah Untara menegang. Katanya kemudian, “Agung Sedayu. Kau sudah cukup dewasa. Kau tidak dapat merengek lagi seperti saat kau masih kanak-kanak. Merajuk dan marah-marah. Adalah kebetulan bahwa senapati di daerah ini adalah kakakmu. Tetapi itu bukan berarti, bahwa aku dapat berbuat apa saja untuk kepentinganmu. Aku tetap seorang senapati dengan siapapun aku berhadapan.”

“Justru itu, Kakang,” sahut Agung Sedayu, “aku menyerahkan persoalan ini kepadamu. Bukan lagi sebagai kanak-kanak yang mengurungkan permintaannya karena harus menunggu. Tidak. Aku memang hanya dapat menyerahkan segalanya kepada Kakang Untara sebagai seorang senapati di daerah ini. Bukan sebagai seorang kakak.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun mengangguk-angguk kecil sambil berkata, “Aku akan menyelidiki persoalan ini. Tetapi sampai berapa jauh langkah yang dapat aku ambil, aku masih belum tahu. Karena kau sudah menyebut nama dari mereka yang tersangkut persoalan ini, maka aku akan memperhatikannya. Melihat tanda-tanda dan kemungkinan-kemungkinan padanya. Mudah-mudahan aku mendapat bukti yang cukup untuk berbuat sesuatu, sehingga aku bukannya orang yang bertindak hanya karena perasaan yang sedang bergejolak. Apalagi menyangkut seseorang yang kebetulan adalah keluargaku sendiri.”

Agung Sedayu termenung sejenak. Ia mengerti sikap kakaknya. Dalam keadaan yang bagaimanapun juga, di hadapan siapapun juga, kakaknya adalah seorang prajurit. Karena itu, ia memang tidak mengharap sikap kakaknya itu dapat digerakkan justru karena ia adalah adiknya. Sejenak semula Agung Sedayu memang ingin membawa persoalan itu karena persoalannya menyangkut nama beberapa orang prajurit Pajang di Jati Anom.

Ketika Untara menganggap bahwa ia sudah cukup bahan untuk meneliti persoalan itu, maka ia pun segera kembali ke Jati Anom, diikuti oleh para pengiringnya dan Agung Sedayu. Di sepanjang jalan tidak banyak yang mereka bicarakan, karena masing-masing sedang sibuk dengan angan-angan mereka sendiri.

Ketika mereka memasuki gerbang rumah Untara di Jati Anom, langit sudah menjadi semburat merah. Di pepohonan telah terdengar kicau burung-burung liar. Merdu dan riang. Seperti kanak-kanak yang bermain-main kejar-kejaran. Saling berteriak dengan lepas.

Agung Sedayu hanya sejenak duduk di pendapa. Ia melihat kakaknya menjadi murung dan merenung. Karena itu, ia pun kemudian minta ijin untuk pergi menengok Sabungsari yang terluka.

“Lihatlah. Tetapi jika ia masih tidur, jangan kau bangunkan,” pesan Untara.

Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan kakaknya yang duduk di pendapa dengan beberapa orang perwira terdekat. Agung Sedayu tidak tahu apa yang dibicarakannya kemudian. Namun agaknya menyangkut laporan yang telah diberikan kepada Untara.

Meskipun dugaan itu benar, tetapi ternyata Untara cukup berhati-hati. Ia tidak menyebut nama seseorang di dalam lingkungannya. Ia hanya mengatakan kepada para pembantunya, apa yang dilihatnya, bahwa adiknya bersama Sabungsari mengalami peristiwa yang menimbulkan perselisihan di bulak. Tetapi mereka tidak menemukan mayat yang ditinggalkan oleh Agung Sedayu di dekat arena pertempuran itu.

“Aku harus benar-benar memilih orang yang dapat dipercaya untuk mendengar, bahwa Ki Pringgajaya dianggap tersangkut dalam hal ini,” berkata Untara kepada diri sendiri.

Sementara itu, Agung Sedayu yang masuk ke dalam gandok, terkejut melihat keadaan Sabungsari. Ternyata anak muda itu menjadi sangat pucat. Sekali-sekali terdengar Sabungsari yang sudah terbangun meskipun matanya masih terpejam itu berdesis menahan sakit.

“Sabungsari,” suara Agung Sedayu lemah sekali, agar tidak mengejutkan Sabungsari yang sedang mengalami kesakitan.

Sabungsari membuka matanya. Dilihatnya Agung Sedayu berdiri di sebelah pembaringannya.

“Bagaimana keadaanmu?” bertanya Agung Sedayu yang kemudian duduk di sebelah Sabungsari.

“Dadaku serasa semakin sakit. Lukaku menjadi panas. Dan pernafasanku kian menjadi sesak,” jawab Sabungsari perlahan-lahan.

“Kau sudah diobati?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Ya. Tetapi nampaknya prajurit yang menjadi juru pengupakara itu tidak begitu banyak berpengharapan tentang kesehatanku.”

“Ah, apa benar begitu? Aku lihat lukamu saat kau bertempur dengan Carang Waja lebih parah lagi,” desis Agung Sedayu.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia kemudian berkata, “Aku kira semula juga begitu, Agung Sedayu. Tetapi prajurit itu agaknya sangat mengenal jenis-jenis luka. Ketika ia melihat lukaku, maka ia pun langsung dapat menilai, meskipun ia belum mengatakannya. Pada wajahnya aku melihat, bahwa ia sangat cemas melihat keadaanku, yang semula aku kira tidak separah lukaku saat aku telah bertempur melawan Carang Waja.”

Agung Sedayu menjadi tegang. Tetapi Sabungsari benar-benar nampak pucat. Nafasnya menjadi sendat dan luka itu nampaknya terasa sangat sakit.

“Apakah prajurit itu akan datang lagi mengobatimu?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Ia akan datang, dan memberikan obat yang akan aku minum. Mudah-mudahan dengan demikian sakitku akan berkurang,” berkata Sabungsari dengan menahan sakit.

Agung Sedayu menjadi gelisah. Tetapi jika prajurit itu datang lagi dan memberikan obat yang lain, mungkin sakit itu akan berkurang.

“Cobalah beristirahat sebanyak-banyaknya, Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, “hari telah pagi. Mungkin sebentar lagi prajurit itu akan datang.”

Sabungsari mengangguk. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Engkau pun harus beristirahat Agung Sedayu. Jika kau paksa dirimu untuk berbuat sesuatu di luar kemampuan tubuhmu, maka kau pun akan menjadi sakit.”

Agung Sedayu mengangguk sambil berdesis, “Aku tidak berbuat apa-apa, Sabungsari. Kau-lah yang harus beristirahat.”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Namun ia mencoba tersenyum sambil berkata, “Kau memang seorang yang luar biasa. Kau tentu mempunyai daya tahan yang luar biasa pula. Meskipun kau harus berbuat seperti yang kau lakukan ini tiga hari tiga malam, kau tidak akan merasa lelah.”

“Ah. Apakah kelebihanku?” gumam Agung Sedayu.

Sabungsari tidak menjawab. Tetapi ia kemudian mengatupkan giginya menahan perasaan sakit yang menyengat di lukanya. Namun ia tidak mengeluh. Dengan tabah ia menunggu prajurit yang memberinya obat, yang sanggup datang lagi dengan obat yang lain, yang harus diminumnya.

Agung Sedayu tidak meninggalkan bilik itu. Ia pun kemudian berkisar dan duduk di amben bambu yang lain. Rasa-rasanya ia melihat keadaan yang sangat gawat pada Sabungsari. Meskipun Sabungsari menahan diri untuk tidak mengaduh, tetapi pada wajahnya nampak, betapa ia menahan sakit.

“Apakah senjata orang Gunung Kendeng itu mengandung racun yang khusus?” pertanyaan itu mulai mengganggunya.

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat berbuat sesuatu. Ia hanya dapat menunggu, apa yang akan dilakukan oleh orang yang mengerti tentang keadaan Sabungsari itu.

Ketika matahari mulai naik ke kaki langit, maka orang yang dimaksud oleh Sabungsari itu pun benar-benar datang. Seorang prajurit yang memiliki pengetahuan tentang obat-obatan dan yang oleh Untara memang dibebani tugas memelihara dan mengobati prajurit-prajurit yang sakit dan yang terluka di peperangan.

Orang itu termangu-mangu sejenak melihat Agung Sedayu yang berada di dalam bilik itu pula. Namun kemudian ia berkata, “Apakah kau tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat?”

“Aku tidak mengganggunya,” sahut Agung Sedayu, “ketika aku masuk ke dalam bilik ini, Sabungsari sudah terbangun.”

“Beri kesempatan ia beristirahat sebanyak-banyaknya. Luka-lukanya sangat parah dan berbahaya baginya. Karena itu, kita semuanya harus membantu agar ia mendapatkan ketenangan dan beristirahat sebanyak-banyaknya. Aku harap bahwa dengan demikian, betapapun kecil artinya, akan dapat membuat keadaannya semakin baik, setidak-tidaknya tidak menambah keadaannya menjadi semakin parah.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia bertanya dengan berhati-hati, “Bagaimana keadaannya?”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun menggelengkan kepalanya tanpa menjawab sepatah kata pun.

Agung Sedayu benar-benar menjadi cemas. Menurut prajurit itu, keadaan Sabungsari benar-benar telah gawat. Padahal menurut pendapatnya, Sabungsari hanya terlalu banyak mengeluarkan darah, sehingga jika ia masih dapat bertahan dan mendapat kesempatan pengobatan yang baik, keadaannya akan berangsur baik. Meskipun membutuhkan waktu, namun keadaannya tidak akan membahayakan jiwanya.

Dengan ragu-ragu Agung Sedayu yang mendekati prajurit itu bertanya, “Apakah ada semacam racun di dalam tubuhnya karena senjata lawan?”

Orang itu menegang. Namun kemudian sambil menggeleng ia berkata, “Yang memberatkannya, bahwa ada beberapa jalur urat yang terpotong oleh senjata lawan. Meskipun tidak beracun, tetapi ternyata telah menumbuhkan keadaan yang sulit baginya. Tetapi sudahlah. Biarlah aku dapat mengobatinya dengan tenang. Tolong, jangan ganggu aku dengan pertanyaan-pertanyaan.”

Agung Sedayu menarik nafas panjang. Ia pun kemudian bergeser menjauh dan duduk di amben bambu yang lain di dalam bilik itu. Sementara prajurit itu mencoba memberikan obat yang baru pada luka itu. Kemudian mempersilahkan Sabungsari untuk minum obat yang berwarna hijau kental.

“Mudah-mudahan obat-obatan ini menolongmu,” berkata prajurit itu, “setidak-tidaknya akan memperingan penderitaan.”

Dengan dibantu oleh prajurit itu, Sabungsari mengangkat kepalanya. Kemudian meneguk obat yang berwarna hijau itu sampai habis.

“Beristirahatlah. Tidurlah sebanyak-banyaknya dapat kau lakukan,” berkata prajurit itu.

Sabungsari mengangguk kecil. Jawabnya lirih, “Aku akan mencobanya.”

Prajurit itu kemudian berdiri termangu-mangu. Sekali-sekali ia berpaling kepada Agung Sedayu yang masih duduk di tempatnya. Kemudian katanya, “Lebih baik Sabungsari kau tinggalkan seorang diri.”

Agung Sedayu menarik nafas panjang. Namun ia pun kemudian bangkit dan melangkah keluar dari dalam bilik itu.

Agung Sedayu tertegun ketika ia melihat Glagah Putih berdiri termangu-mangu. Namun anak itu pun kemudian berlari-lari menyongsongnya.

“Bagaimana keadaannya?” bertanya Glagah Putih.

Agung Sedayu menjawab dengan nada datar, “Keadaannya sangat sulit.”

Glagah Putih masih akan bertanya lagi. Tetapi suaranya terputus, ketika ia mendengar sendiri suara Sabungsari mengeluh pendek di balik dinding. Tetapi ketika ia melangkah mendekati pintu, Agung Sedayu menggamitnya sambil menggeleng, “Jangan masuk. Ia sedang diobati.”

Glagah Putih mengurungkan niatnya. Bahkan kedua anak muda itu pun justru turun ke halaman dan melangkah mendekati pendapa, meskipun mereka tidak naik.

Pendapa itu sudah sepi. Ternyata Untara sudah tidak duduk lagi bersama beberapa orang perwiranya. Agaknya ia pun merasa lelah dan beristirahat.

Untuk beberapa saat, Agung Sedayu dan Glagah Putih yang berjalan di halaman itu tidak berkata sepatah pun. Namun tiba-tiba saja Agung Sedayu berdesis, “Hatiku kurang mapan, Glagah Putih.”

“Kenapa, Kakang?” bertanya Glagah Putih.

“Bukan karena aku tidak percaya kepada prajurit yang mengobati luka Sabungsari. Ia pun tentu mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang cukup tentang obat-obatan. Tetapi karena aku bergaul dan berguru kepada Kiai Gringsing, aku sangat mengaguminya. Juga tentang obat-obatan.”

“Maksud, Kakang?”

“Kita ke Sangkal Putung lagi,” jawab Agung Sedayu.

“Sekarang?”

“Ya,” Agung Sedayu mengangguk.

Glagah Putih termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Jika Kakang menghendaki, marilah. Kita minta diri kepada kakang Untara.”

“Tidak. Jangan berkata kepada siapa pun. Juga tidak kepada Kakang Untara. Aku takut, kalau perasaan Kakang Untara tersinggung, karena seolah-olah aku tidak mempercayai orang yang ditugaskannya.”

“Jadi bagaimana?” bertanya Glagah Putih.

“Kita pergi dengan diam-diam. Atau kita minta diri kembali ke padepokan. Tetapi kita terus ke Sangkal Putung.”

Ternyata Glagah Putih pun dapat mengerti. Karena itu, maka ia pun selalu menjaga diri, agar ia tidak salah ucap ketika mereka berdua kemudian mencari Untara yang sudah berada di biliknya.

“Sekali-sekali kau harus datang menengok Sabungsari,” berkata Untara, “ia akan tetap berada di sini sampai ia sembuh. Baru kemudian ia akan kembali ke baraknya.”

“Ya, Kakang. Aku akan selalu datang. Aku pun akan minta diri dahulu kepadanya, sebelum aku berangkat.”

“Hati-hatilah di jalan,” berkata Untara kemudian, “meskipun jarak ke padepokan tidak begitu jauh, tetapi sesuatu akan dapat terjadi.”

“Ya, Kakang,” jawab Agung Sedayu, “aku akan selalu berhati-hati. Aku akan melalui jalan yang paling sibuk dilalui orang.”

“Mudah-mudahan kau tidak mengalami kesulitan lagi di jalan atau di rumahmu,” berkata Untara kemudian. Bahkan ia menambahkan, “Jika kau berada di dalam satu lingkungan, maka keadaanmu tentu akan berbeda. Kau yang tidak menjadi poros persoalan, justru selalu mengalami gangguan dan kesulitan. Berbeda dengan mereka yang berada dalam satu lingkungan tertentu. Maka setiap usaha mencelakaimu tentu akan dipikirkan jauh lebih masak dari yang kau alami sekarang.”

Agung Sedayu termangu-mangu, sementara kakaknya berkata terus, “Misalnya, kau seorang anak kepala Tanah Perdikan. Dengan pasukan pengawal Tanah Perdikan, maka orang lain tidak semudah mengambil tindakan terhadap seorang, yang seakan-akan hanya sebatang kara seperti kau. Atau kau mempunyai kedudukan seperti Swandaru dengan anak-anak muda pengawal Kademangan. Lingkungannya tentu lebih aman daripada lingkungan padepokanmu. Apalagi jika kau berada di lingkungan keprajuritan. Bahwa Sabungsari saat ini mengalami, justru ia dengan sengaja menyongsong bahaya, karena ia ingin membantumu.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

“Cobalah kau teliti setiap peristiwa yang telah terjadi di sekitarmu, dan orang-orang yang pernah kau kenal. Siapakah yang paling banyak menjadi sasaran tindakan seperti yang baru saja terjadi. Bukan Swandaru. Bukan Raden Sutawijaya, bukan Pangeran Benawa. Tetapi justru kau. Kau yang setiap kali sengaja atau tidak sengaja terlibat dalam benturan-benturan kekerasan, sementara kau seakan-akan tidak mempunyai latar belakang kekuatan tertentu selain dirimu sendiri dan sebanyak-banyaknya guru dan saudara seperguruanmu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Kepalanya masih tertunduk. Sementara ia tidak dapat ingkar, bahwa sebagian terbesar dari yang dikatakan oleh kakaknya itu benar.

Namun demikian, ia masih belum berhasil memantapkan sikapnya yang pecah kembali setelah beberapa saat lamanya, ia hampir-hampir mencapai kemantapan untuk menjadi seorang prajurit.

Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu pun meninggalkan kakaknya yang kembali masuk ke dalam biliknya untuk beristirahat, meskipun matahari sudah mulai menjenguk di balik garis cakrawala. Namun Agung Sedayu masih memerlukan singgah sejenak di bilik Sabungsari.

Kegelisahannya jadi bertambah-tambah melihat keadaan prajurit muda yang semakin gawat itu. Sekali-sekali terdengar Sabungsari berdesah menahan sakit.

 

 

“Kau tinggalkan sajalah,” berkata prajurit yang merawatnya.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian minta diri kepada Sabungsari untuk sesaat menengok padepokannya.

Sambil mengangguk kecil Sabungsari menjawab, “Kau nanti mau datang lagi menengokku?”

“Tentu, Sabungsari. Aku tidak terlalu lama. Aku akan datang setiap kali. Mudah-mudahan keadaanmu cepat berangsur baik.”

Sabungsari mencoba tersenyum. Tetapi keadaannya nampak semakin gawat.

Sebenarnya Agung Sedayu tidak sampai hati meninggalkan Sabungsari dalam keadaan seperti itu. Tetapi ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Ia tidak tahu, bagaimana sebaiknya memperlakukan Sabungsari. Di dalam bilik itu sudah ada seorang prajurit yang memang mendapat tugas karena pengetahuannya tentang obat-obatan, untuk mengobati kawan-kawannya yang terluka, atau menderita sakit. Di peperangan atau dimana pun juga.

“Ia lebih diperlukan daripada aku pada saat-saat seperti ini,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Namun kemudian, “Barangkali kehadiran Kiai Gringsing akan dapat membantunya. Mungkin prajurit itu dapat memperbincangkan keadaan Sabungsari dengan Kiai Gringsing, yang juga ahli di dalam hal pengobatan.”

Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih telah meninggalkan rumah Untara. Mereka berkuda menyusuri jalan-jalan padukuhan. Namun ketika mereka sudah berada di bulak, maka mereka pun segera memacu kuda mereka, menuju ke Sangkal Putung.

Mereka berharap agar tidak seorang pun yang melihat mereka dan mengetahui maksud kepergian mereka yang sebenarnya, karena mereka tidak ingin menyinggung perasaan prajurit yang mendapat tugas mengobati Sabungsari dan juga Untara yang telah memerintahkan prajurit itu melakukan kewajibannya.

Tetapi terdorong oleh kegelisahannya, maka ternyata Agung Sedayu telah mengambil sikap sendiri.

Kedua ekor kuda itu berpacu semakin lama semakin cepat. Ternyata Glagah Putih pun seorang anak muda yang trampil. Ia yang justru berada di depan, telah berpacu seperti angin.

Namun Glagah Putih pun memperlambat laju kudanya, ketika Agung Sedayu mencegahnya sambil berkata, “Jangan terlalu cepat, agar tidak menarik perhatian banyak orang.”

Meskipun mereka masih berpacu, tetapi tidak lagi seperti dikejar hantu. Glagah Putih yang berada di depan masih harus menguasai perasaannya. Bukan saja karena kegelisahannya, tetapi kemudaannya itu-lah yang mendorongnya untuk berpacu. Seolah-olah ia mendapat kesempatan untuk bermain-main dengan kudanya di sepanjang bulak panjang.

Sangkal Putung memang tidak terlalu jauh. Tetapi juga bukan jarak yang terlalu dekat. Karena itu, maka mereka pun memerlukan waktu untuk mencapai Kademangan itu.

Kedatangan Agung Sedayu di Sangkal Putung telah mengejutkan gurunya, Ki Demang dan penghuni-penghuni yang lain. Baru saja Agung Sedayu kembali ke padepokannya. Tiba-tiba saja ia telah berada kembali di Sangkal Putung dengan wajah yang gelisah.

Tetapi Agung Sedayu berusaha untuk menghilangkan kesan itu dari wajahnya. Kepada Glagah Putih pun ia sudah memberikan pesan, bagaimana seharusnya mengatakan persoalan yang terjadi itu kepada Kiai Gringsing dan kepada orang-orang lain yang bertanya kepadanya.

“Ada yang harus disembunyikan,” pesan Agung Sedayu. Dan agaknya Glagah Putih pun dapat mengertinya.

“Agaknya hal-hal semacam inilah yang kadang-kadang aku tidak boleh mendengarnya,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya.

Meskipun kemudian Agung Sedayu mengatakan keadaan Sabungsari, tetapi Agung Sedayu tidak dengan terbuka mengatakan sebab-sebabnya. Ia hanya mengatakan, bahwa Sabungsari telah bertengkar dengan orang yang tidak dikenal, yang agaknya telah mendendamnya sejak lama.

“Apakah tidak ada orang yang mengobatinya?” bertanya Ki Demang.

“Sudah, Ki Demang,” jawab Agung Sedayu, “ia kini berada di bawah perawatan seorang prajurit yang memang bertugas untuk mengobatinya di rumah Kakang Untara. Tetapi keadaannya nampaknya justru menjadi semakin gawat. Karena itu, aku ingin mengharap Guru dapat pergi ke Jati Anom. Mungkin Guru dapat memberikan beberapa pertimbangan kepada prajurit yang merawatnya itu.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Sabungsari termasuk seorang prajurit yang memiliki kelebihan. Ia berhasil membunuh Carang Waja. Karena itu, maka orang-orang yang mendendamnya itu tentu bukan kebanyakan orang, sehingga ia berhasil melukai Sabungsari, sehingga agaknya luka itu parah benar.”

“Dua orang murid dari Gunung Kendeng,” berkata Agung Sedayu.

“Gunung Kendeng?” Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.

“Ya, Guru. Dua orang yang datang dari Gunung Kendeng. Mereka telah berhasil melukai Sabungsari.”

Agung Sedayu kemudian mencoba meyakinkan, bahwa prajurit yang mengobati anak muda itu agaknya menemui kesulitan.

“Prajurit yang merawatnya itu nampak gelisah,” berkata Agung Sedayu kemudian, “agaknya ia melihat kegawatan pada luka itu.”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan pergi. Tetapi apakah dengan demikian, aku tidak menyinggung perasaannya?”

“Mungkin, Guru. Tetapi mungkin juga tidak. Bahkan mungkin ia akan berterima kasih. Aku pun tidak mengatakan kepada mereka, bahwa aku akan datang kemari menjemput Guru.”

Kiai gringsing mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Marilah. Aku akan pergi bersamamu.”

Kiai Gringsing pun kemudian minta diri kepada Ki Demang Sangkal Putung dan anak menantunya. Ia akan pergi ke Jati Anom untuk suatu kepentingan yang khusus. Jika keadaan Sabungsari menjadi segera baik, maka ia pun akan mempertimbangkan kemungkinan untuk kembali lagi ke Sangkal Putung.

Setelah Kiai Gringsing berkemas, maka mereka bertiga pun meninggalkan Sangkal Putung. Meskipun mereka akan kemalaman di jalan, tetapi mereka tidak akan membuang waktu terlalu banyak. Bahkan kedatangan mereka di malam hari, tidak akan banyak menarik perhatian orang lain.

Demikianlah, maka ketiga orang itu pun berpacu menyusur jalan menuju ke Jati Anom. Mereka berpacu melalui bulak-bulak panjang, lewat jalan yang menyusuri tepi hutan, menyusup beberapa padukuhan dan menyeberangi beberapa jalur sungai.

“Apakah kedatanganku tidak akan mengejutkan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Mungkin,” jawab Agung Sedayu, “tetapi aku mengharap, bahwa kehadiran Guru sangat diperlukan.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia menyadari kemungkinan yang dapat dilakukan, meskipun segala sesuatunya tergantung kepada Yang Maha Kuasa.

Perjalanan mereka bertiga pun tidak mengalami gangguan di perjalanan. Jalan-jalan yang sepi dan gelap, mereka lalui tanpa hambatan. Tidak seperti yang terjadi pada Agung Sedayu di hari sebelumnya.

Glagah Putih yang berkuda di paling depan memacu kudanya, meskipun tidak dalam kecepatan penuh. Ia pun mengerti, bahwa Sabungsari memerlukan pertolongan secepatnya. Mungkin kehadiran Kiai Gringsing akan dapat merubah keadaan Sabungsari, karena Kiai Gringsing akan dapat memberikan pertimbangan kepada prajurit yang merawat luka Sabungsari itu.

Demikianlah, ketika malam menjadi semakin dalam, maka mereka bertiga telah mendekati Jati Anom. Mereka tidak singgah lebih dahulu di padepokan kecil mereka, tetapi mereka bertiga langsung pergi ke rumah Untara.

Kedatangan mereka memang telah menarik perhatian. Para prajurit yang bertugas, melihat kedatangan Kiai Gringsing dengan sepercik harapan. Menurut pengamatan mereka, Sabungsari agaknya justru menjadi semakin gawat.

“Bagaimana keadaannya?” bertanya Agung Sedayu kepada seorang prajurit yang sudah dikenalnya.

Prajurit itu menggeleng lemah. Katanya, “Harapannya sangat tipis. Aku mendengar sendiri, prajurit yang mengobatinya itu melaporkan keadaannya kepada Ki Untara di muka gandok, ketika prajurit itu minta diri untuk beristirahat sebentar setelah sehari penuh ia berjuang untuk keselamatan Sabungsari.”

“Siapa yang menunggui Sabungsari sekarang?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak ada. Kami bergantian menengoknya. Mungkin ia memerlukan air atau mungkin ia ingin mengatakan sesuatu,” jawab prajurit itu.

“Bagaimana dengan Kakang Untara?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Ki Untara menunggui sampai senja. Tetapi ia sekarang masuk ke ruang dalam.”

“Katakan kepada Kakang Untara. Aku datang dengan Kiai Gringsing. Apakah Kiai Gringsing diperkenankan melihat keadaan Sabungsari?”

Prajurit itu pun mengangguk. Dipersilahkannya Agung Sedayu duduk di pendapa, sementara ia pun menyampaikan kedatangan Agung Sedayu kepada prajurit pengawal khusus bagi Untara, yang bertugas menjaga dan melayani keselamatan dan segala kepentingannya beserta keluarganya.

Prajurit itu pun segera berusaha menyampaikan kedatangan Agung Sedayu kepada Untara. Prajurit itu sama sekali tidak ragu-ragu, karena ia tahu, bahwa Agung Sedayu adalah adik Untara yang datang membawa Sabungsari yang terluka parah itu.

Untara yang sudah masuk ke dalam biliknya itu pun sebenarnya sudah mulai memejamkan matanya. Tetapi kedatangan adiknya itu pun telah menarik perhatiannya. Apalagi ketika prajurit itu mengatakan, bahwa Agung Sedayu tidak datang hanya dengan Glagah Putih.

“Dengan siapa lagi ia datang?” bertanya Untara.

“Dengan Kiai Gringsing,” jawab prajurit itu.

“Kiai Gringsing?” Untara mengerutkan keningnya. Lalu, “Jadi, Agung Sedayu menganggap bahwa perawatan yang aku berikan kurang memadai, sehingga ia telah memanggil gurunya. Aku kira ia tadi pagi tidak langsung kembali ke padepokan kecilnya, tetapi anak itu telah pergi ke Sangkal Putung.”

Prajurit yang menyampaikan kabar kedatangan Agung Sedayu itu tidak menjawab.

“Baiklah. Aku akan menemuinya,” geram Untara. Setelah membenahi pakaiannya sejenak, maka Untara pun telah pergi ke pendapa. Seperti yang dikatakan oleh prajurit yang melaporkan kedatangan Agung Sedayu kepadanya, ternyata bahwa Agung Sedayu tidak hanya datang berdua dengan Glagah Putih.

Setelah menyampaikan salam keselamatan seperti bagaimana kebiasaan yang berlaku, maka Untara pun segera bertanya kepada Agung Sedayu, “Agung Sedayu, apakah kau memanggil Kiai Gringsing ke Sangkal Putung, atau kebetulan saja Kiai Gringsing telah kembali ke padepokan? Menurut keteranganmu, Kiai Gringsing masih berada di Sangkal Putung.”

“Ya, Kakang. Kiai Gringsing mendengar berita tentang keadaan Sabungsari dari aku. Aku telah datang ke Sangkal Putung bersama Glagah Putih dan minta agar Kiai Gringsing sudi datang barang sejenak untuk menengok Sabungsari.”

“Sabungsari telah berada di bawah perawatan seorang yang mumpuni di dalam bidangnya. Apakah kau meragukannya?” bertanya Untara.

Pertanyaan itu telah mendebarkan jantung. Bukan saja Agung Sedayu dan Glagah Putih. Tetapi juga Kiai Gringsing.

Namun Agung Sedayu berusaha menjawab dengan hati-hati, “Kakang. Aku sama sekali tidak meragukan kemampuan prajurit itu. Tetapi apa salahnya kita berusaha. Aku melihat keadaan Sabungsari yang menjadi semakin gawat. Mungkin kedatangan Kiai Gringsing dapat diajak berbincang oleh prajurit yang merawatnya. Mungkin ada satu dua jenis obat yang semula tidak terpikir oleh prajurit itu, namun dalam pembicaraan dengan Kiai Gringsing, ia akan teringat karenanya. Atau kemungkinan-kemungkinan lain yang akan terdapat lebih banyak dari dua orang yang sama-sama mempunyai kemampuan di bidang yang sama, dari pada hanya seorang saja.”

“Tetapi jika mereka berselisih pendapat, dan masing-masing berkeras hati dengan satu keyakinan bahwa ia akan dapat menyembuhkannya?” bertanya Untara.

“Bukankah prajurit itu yang menerima tanggung jawab dari Kakang Untara sebagai seorang senapati di daerah ini? Jika Kiai Gringsing hadir di sini, maka ia tidak lebih dari seorang yang sekedar dapat memberikan pertimbangan yang tidak menentukan,” jawab Agung Sedayu.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian menyadari, bahwa setiap usaha wajib dilakukan. Keadaan Sabungsari memang bertambah gawat.

Karena itu, Untara pun akhirnya tidak menyatakan keberatannya, bahwa Kiai Gringsing memberikan pendapatnya bagi kebaikan Sabungsari. Namun Untara masih berpesan, “Tetapi segala sesuatunya di bawah tanggung jawab prajurit itu. Jika Kiai Gringsing melihat satu kemungkinan yang baik bagi Sabungsari, Kiai harus membicarakannya dengan prajurit itu. Dengan demikian, maka keadaan Sabungsari tetap berada dalam tanggung jawab dari satu tangan. Tidak akan ada saling tuduh menuduh dan saling menyalahkan apabila terjadi kegagalan. Karena setiap usaha itu mengandung kemungkinan untuk gagal.”

“Baik, Ngger,” berkata Kiai Gringsing, “aku mengerti, bahwa yang dapat aku lakukan tidak lebih baik dari yang dapat dilakukan oleh orang lain. Karena itu, maka aku akan mentaati segala perintah Angger, sebagai penanggung jawab keseluruhan di dalam lingkungan keprajuritan. Memang keadaan angger Sabungsari agak berbeda dengan keadaan Angger Untara dalam perjalanan ke Sangkal Putung dari Jati Anom, pada saat Tohpati masih berada di sekitar kademangan itu. Saat itu, tidak ada pilihan lain bagi Angger untuk menyerahkan pengobatan luka Angger kepadaku, karena tidak ada seorang petugas khusus seperti saat ini.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga ia harus mengakui, bahwa Kiai Gringsing pernah berusaha dengan segenap kemampuan untuk menyelamatkan nyawanya. Dan ternyata dukun tua itu berhasil mengobati lukanya yang sangat parah.

Karena itu, maka Untara pun kemudian berkata, “Jika Kiai ingin melihatnya, silahkan.”

Kiai Gringsing pun kemudian diikuti oleh Agung Sedayu turun ke halaman, melintasi longkangan dan naik ke gandok. Sementara Glagah Putih oleh Kiai Gringsing diminta untuk tinggal di serambi gandok, agar tidak membuat udara di dalam gandok itu terlalu panas.

“Nanti sajalah kau menengoknya, Ngger,” berkata Kiai Gringsing.

Glagah Putih tidak membantah. Ia sudah cukup mengerti, bahwa sebaiknya ia memang berada di luar saja.

Seorang prajurit yang kebetulan berada di sisi Sabungsari pun kemudian berdiri dan meninggalkannya.

“Bagaimana keadaannya?” bertanya Glagah Putih yang ada di luar.

“Baru saja ia minta seteguk air. Tetapi keadaannya memang semakin parah,” jawab prajurit itu.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun segera melihat keadaan Sabungsari yang lemah. Namun ketika anak muda itu melihat kehadiran Kiai Gringsing, wajahnya menjadi semburat merah. Terdengar ia berdesis, “Selamat datang, Kiai. Kedatangan Kiai memberikan harapan kepadaku.”

“Bukankah Angger telah mendapat perawatan sebaik-baiknya?” bertanya Kiai Gringsing.

Sabungsari menyeringai menahan sakit. Jawabnya lemah, “Tetapi baginya, keadaanku tidak dapat diharapkan lagi.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Namun kemudian dicobanya melihat luka Sabungsari. Sejenak nampak wajah Kiai Gringsing menegang. Menilik keadaannya, maka Sabungsari memang berada dalam keadaan yang dapat membahayakan jiwanya.

Sejenak Kiai Gringsing merenungi keadaan anak muda itu. Dengan hati-hati ia meraba keadaan di sekitar luka yang gawat itu. Kemudian dengan saksama ia melihat warna-warna merah yang terdapat di sekitar luka itu.

Kiai Gringsing pun kemudian mengagguk-angguk. Ada kesan yang meragukan jiwanya.

“Selain obat pada luka-lukanya, apakah kau juga mendapat obat yang harus kau minum, Ngger?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ya, Kiai. Aku minum obat yang berwarna hijau kental.”

“Rasanya? Asam, pahit atau rasa lain?” bertanya Kiai Gringsing.

“Agak asam, Kiai. Tetapi di samping rasa asam, terasa juga seperti terdapat serbuk lembut yang tidak luluh ke dalam cairan yang kental itu,” jawab Sabungsari perlahan-lahan. Lalu, “Dan serbuk itu rasanya agak pahit dan pedas.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi kerut di dahinya nampak semakin dalam. Sejenak ia masih termangu-mangu mengamati keadaan Sabungsari. Namun kemudian ia pun berdiri sambil mengangguk-angguk semakin dalam.

Agung Sedayu tidak bertanya sepatah kata pun. Ia melihat apa saja yang dilakukan oleh Kiai Gringsing. Ia pun melihat ketegangan di wajah orang tua itu.

Agung Sedayu memandang Kiai Gringsing dengan tegang, ketika Kiai Gringsing kemudian melangkah ke geledeg sudut bilik itu. Diambilnya sebuah mangkuk kosong. Tetapi di dasar mangkuk itu masih terdapat sisa cairan yang kental berwarna kehijau-hijauan.

Kiai Gringsing membawa mangkuk itu ke dekat Sabungsari. Kemudian ia pun bertanya, “Apakah obat semacam ini yang sudah kau minum, Ngger?”

“Ya, Kiai,” jawab Sabungsari lambat.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk pula. Dengan jarinya ia meraba cairan itu. Dengan dahi yang berkerut ia memperhatikan dengan saksama dengan rabaan jarinya. Namun kemudian, Kiai Gringsing itu pun mengambil sesuatu dari kantong ikat pinggangnya, dan menaburkan isinya berupa serbuk ke dalam sisa obat Sabungsari.

Beberapa saat Kiai Gringsing menunggu. Namun Agung Sedayu melihat wajah itu semakin menegang.

Dengan isyarat Kiai Gringsing memanggil Agung Sedayu mendekat dan melihat ke dalam mangkuk itu. Yang dilihat oleh Agung Sedayu, bahwa isi mangkuk itu pun kemudian menjadi berbusa.

 

 

“Apa artinya, Kiai?” bertanya Agung Sedayu.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berbisik di telinga Agung Sedayu, “Ada yang tidak wajar dengan obat ini, Ngger. Seperti juga keadaan luka itu sendiri.”

“Maksud, Kiai?” kata-kata Agung Sedayu terputus ketika ia melihat Kiai Gringsing berpaling ke arah Sabungsari. Tetapi Kiai Gringsing kemudian mengangguk kecil.

“Aku sudah menduga, bahwa ada yang tidak wajar. Karena itu aku berkeras untuk pergi ke Sangkal Putung, menjemput Guru,” desis Agung Sedayu.

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling memandang Sabungsari, dilihatnya prajurit muda itu memejamkan matanya. Namun kerut-merut di keningnya menunjukkan, betapa ia sedang menahan sakit di tubuhnya.

“Kasihan,” keluh Kiai Gringsing, “apakah dalam keadaan seperti ini aku masih harus menyampaikan persoalan ini kepada prajurit yang merawatnya? Padahal menurut pendapatku, prajurit itu kurang dapat dipercaya.”

Agung Sedayu menjadi tegang.

“Guru,” ia pun kemudian bertanya, “jika Guru berbuat sesuatu, apakah prajurit itu akan mengetahuinya?”

“Aku kira ia akan mengetahuinya. Nampaknya ia benar-benar ahli di dalam bidangnya. Tetapi sayang, bahwa ia telah menyalah artikan kemampuan yang dikuasainya itu,” desis Kiai Gringsing.

“Tetapi mungkin menurut perhitungannya, ia justru telah mempergunakan kemampuannya untuk satu perjuangan yang akan sangat berarti, sesuai dengan keyakinannya,” sahut Agung Sedayu.

“Memang mungkin sekali, Agung Sedayu. Tetapi jika kita berdiri berseberangan, aku tidak tahu, apakah yang sebaiknya aku lakukan, mengingat pesan Angger Untara. Bahkan segalanya harus dilakukan sepengetahuan prajurit itu.”

“Tetapi, Kakang Untara tidak mengetahui apa yang telah terjadi,” berkata Agung Sedayu.

“Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Guru, aku akan berterus terang kepada Kakang Untara. Barangkali jalan ini dapat pula dipakai untuk sandaran pengusutan orang yang disebut-sebut oleh dua orang yang terbunuh tetapi mayatnya tidak dapat kita ketemukan itu. Orang-orang yang menyatakan dirinya dari Gunung Kendeng.”

“Ki Pringgajaya?” bertanya Kiai Gringsing. Agung Sedayu mengangguk.

“Aku sependapat, Agung Sedayu. Katakan kepada kakakmu. Keadaannya memang harus segera teratasi, agar tidak terlambat. Jika keadaannya menjadi semakin parah, maka ia akan tidak lagi dapat diharapkan karena keterlambatan pengobatan.”

“Baiklah, Guru. Aku akan menghadap Kakang Untara sekali lagi. Ia harus meyakini keadaan,” Agung Sedayu berhenti sejenak. Lalu katanya, “Tetapi jika Kakang Untara sependapat, apakah Guru dapat membuktikan?”

“Aku akan mencoba. Tetapi hasilnya, kami mohon belas kasihan Yang Maha Agung,” jawab gurunya.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ketika terpandang olehnya wajah Sabungsari yang pucat dengan mata terpejam, maka ia pun segera melangkah keluar dari bilik itu. Di serambi, Glagah Putih bangkit dan menyongsong, “Bagaimana, Kakang?”

“Aku akan menghadap Kakang Untara lagi. Aku harus mengatakan sesuatu tentang keadaan Sabungsari,” jawab Agung Sedayu tanpa berhenti.

Glagah Putih tidak bertanya lagi. Ia tahu, Agung Sedayu tergesa-gesa dan gelisah. Karena itu, maka ia pun segera kembali duduk di sebuah lincak bambu. Namun ia pun kemudian berbaring dengan meletakkan kepalanya pada kedua tangannya yang dilipat di belakang.

Dalam pada itu, Agung Sedayu pun menemui prajurit yang sedang bertugas. Sekali lagi ia minta untuk dapat bertemu dengan kakaknya, yang baru saja meninggalkan pendapa.

Ketika prajurit itu menyampaikan permintaan Agung Sedayu, Untara baru saja menutup pintu biliknya. Betapapun kesalnya, namun ia pun melangkah ke pendapa, menemui Agung Sedayu.

“Apa lagi yang akan kau katakan?” bertanya kakaknya.

Agung Sedayu mengerti, bahwa kakaknya menjadi kesal. Tetapi ia tidak boleh menunda waktu lagi, karena keadaan Sabungsari yang menjadi semakin parah.

“Kakang,” berkata Agung Sedayu kemudian, “menurut penelitian guru, ada yang tidak wajar dengan pengobatan yang diberikan oleh prajurit itu.”

“He?” Untara mengerutkan keningnya, “Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi?”

“Menurut pengamatan Kiai Gringsing, maka sebenarnya keadaan Sabungsari akan dapat menjadi lebih baik jika ia bertindak jujur dalam bidang pengobatan yang dilakukannya.”

“Apa yang diketahui oleh Kiai Gringsing?” bertanya Untara pula.

“Kiai Gringsing sudah meneliti sisa obat yang diberikan oleh prajurit itu kepada Sabungsari. Kiai Gringsing pun telah meneliti luka-luka pada tubuh prajurit muda itu,” berkata Agung Sedayu.

“Begitu mudah untuk membuktikan bahwa obat itu tidak wajar? Jadi, apa menurut Kiai Gringsing sesuai dengan pengamatannya?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Marilah, Kakang. Kita dapat bertemu dengan Kiai Gringsing sejenak.”

“Tetapi pendapat Kiai Gringsing itu pun meragukan,” bantah Untara.

Agung Sedayu pun kemudian menceritakan apa yang sudah dilakukan oleh Kiai Gringsing pada mangkuk tempat sisa obat Sabungsari yang berwarna kehijau-hijauan itu.

“Busa itu sudah menunjukkan ketidak wajaran?”

“Ya, Kakang. Kiai Gringsing dapat melihatnya. Mungkin aku tidak.”

“Itu bukan pekerjaan yang mudah, Agung Sedayu. Mungkin Kiai Gringsing sudah berprasangka. Atau barangkali hanya karena keadaan Sabungsari yang menjadi semakin parah.”

“Mungkin, Kakang. Tetapi aku yakin, penglihatan Kiai Gringsing bukan sekedar dugaan dan prasangka. Tetapi yang terjadi sekarang ini mirip sekali apa yang pernah terjadi pada Kakang Untara sendiri dalam hubungan Kakang yang buruk dengan Sidanti. Ternyata Kiai Gringsing juga dapat mengenal, bahwa obat yang akan diberikan kepada Kakang oleh Kiai Tambak Wedi lewat Sidanti, adalah racun yang dapat membunuh. Dan racun itu dapat dibuat keras atau lunak. Membunuh dalam sekejap, atau perlahan-lahan,” desis Agung Sedayu.

Sekali lagi perasaan Untara tersentuh. Bagaimanapun juga ia tidak akan dapat ingkar. Kiai Gringsing memang bukan anak kecil yang mulai pandai mengunyah daun metir untuk mengobati luka-luka jari yang tergores pisau di dapur, atau sekedar mencari sarang labah-labah hitam di sudut-sudut rumah, untuk memampatkan darah tanpa perhitungan sebab dan akibatnya.

Tetapi Kiai Gringsing adalah seorang yang memiliki pengalaman yang cukup dalam bidang yang ditekuninya, di samping olah kanuragan.

Karena itu, maka sejenak Untara merenungi masa lampaunya. Dan ia pun akhirnya mengakui, bahwa setidak-tidaknya Kiai Gringsing tidak akan kalah pengetahuannya dalam bidang pengobatan oleh prajurit yang ditugaskannya merawat Sabungsari.

Dengan demikian, maka Untara pun kemudian berkata, “Marilah. Aku akan melihat anak muda itu.”

Untara pun kemudian bangkit dan melangkah ke bilik tempat Sabungsari terbaring, diikuti oleh Agung Sedayu. Glagah Putih yang duduk di serambi, hanya berdiri saja tanpa bertanya sesuatu ketika Untara dan Agung Sedayu lewat. Kemudian ia duduk kembali dengan wajah yang tegang.

Di dalam bilik itu, Kiai Gringsing duduk di sisi Sabungsari yang pucat. Keringat mulai mengembun di keningnya. Kiai Gringsing menyadari keadaan Sabungsari yang gawat. Namun ia tidak akan berani berbuat sesuatu sebelum Untara memberikan ijinnya.

Karena itu, maka ketika ia melihat Untara masuk, maka dengan tergopoh-gopoh ia menyongsongnya. Namun, ia menjadi ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu ketika ia melihat wajah Untara yang buram.

Tetapi ternyata Untara-lah yang bertanya lebih dahulu, “Bagaimana keadaannya, Kiai?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Keadaannya justru menjadi semakin gawat, Ngger. Tetapi seharusnya tidak sampai membahayakan jiwanya. Sabungsari telah dapat memampatkan arus darahnya dengan obat yang dibawanya, sehingga sebenarnya ia tidak mengalami kekurangan darah,” jawab Kiai Gringsing.

“Jadi apa yang terjadi sebenarnya? Katakan seperti yang Kiai ketahui,” minta Untara.

Kiai Gringsing menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak dapat membiarkan keadaan Sabungsari menjadi bertambah gawat. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata sesuai dengan tanggapannya atas keadaan Sabungsari, “Angger Untara. Biarlah aku berkata menurut pengetahuanku atas keadaan yang aku hadapi. Aku sudah bersumpah kepada diriku sendiri, bahwa aku akan berbuat sebaik-baiknya dengan kecakapanku yang tidak berarti di dalam bidang ini. Aku akan berlaku jujur, siapapun yang aku hadapi. Kali ini aku menghadapi Angger Sabungsari yang parah. Dan aku minta maaf, bahwa menurut tanggapanku, orang yang Angger tugaskan merawat Angger Sabungsari sudah berbuat satu kekeliruan.”

Wajah Untara menegang sejenak. Meskipun ia sudah menduga, bahwa hal itulah yang terjadi. Namun ia masih bertanya, “Apakah Kiai dapat membuktikan?”

“Aku sudah melihat hal itu pada sisa obat Angger Sabungsari, Ngger,” jawab Kiai Gringsing.

“Maksudku, jika Kiai aku persilahkan mengobati, apakah keadaan Sabungsari akan bertambah baik?” bertanya Untara pula.

“Aku hanya dapat berusaha. Tetapi aku mohon Angger mengetahui, bahwa sudah ada kesulitan pada tubuh Angger Sabungsari karena pengobatan yang salah. Disengaja atau tidak disengaja.”

“Kiai,” potong Untara, “apakah Kiai berani menuduh, bahwa ada kesengajaan dalam kesalahan ini? Tuduhan itu mempunyai akibat yang berat, karena Kiai harus membuktikannya.”

“Aku akan membuktikan menurut pengetahuan yang ada padaku, Ngger. Yang barangkali tidak dapat diterima dengan gamblang oleh orang lain.”

“Maksud, Kiai?”

“Ada racun di dalam obat yang diberikan oleh petugas yang Angger perintahkan merawatnya. Aku cenderung untuk mengatakan, bahwa hal itu telah disengaja. Bukan satu kesalahan, karena menurut pengamatanku, prajurit itu memang memiliki keahlian di bidang ini pula.”

Sabungsari yang mendengar pula percakapan itu menggeretakkan giginya. Namun ketika ia berusaha mengangkat kepalanya, Agung Sedayu menahannya sambil berkata, “Tenanglah. Supaya keadaanmu tidak semakin buruk.”

Terdengar Sabungsari mengerang. Ternyata ia memang sudah sangat lemah, sehingga seakan-akan ia sudah tidak mampu bergerak lagi.

“Angger Untara,” berkata Kiai Gringsing, “waktu akan sangat berharga bagi Angger Sabungsari. Jika Angger berkenan, aka akan mencoba memperbaiki keadaan yang parah itu. Mudah-mudahan Yang Maha Kuasa mengijinkan pula.”

Untara masih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Terserah kepada, Kiai. Tetapi apa yang Kiai lakukan akan menuntut akibat jika Kiai gagal, karena Kiai sudah melakukan sesuatu usaha yang dilandasi dengan satu tanggung jawab atas keselamatan jiwa seseorang.”

“Aku akan berusaha apa pun akibatnya, karena itu bagiku jauh lebih baik, daripada aku duduk menunggu menjalarnya racun yang lemah ke seluruh tubuh Angger Sabungsari.”

“Lakukanlah. Aku akan melihat akibatnya,” berkata Untara kemudian.

Kiai Gringsing tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera mempersiapkan segala macam obat yang diperlukan untuk mengatasi keadaan Sabungsari. Agung Sedayu-lah yang kemudian sibuk membantunya. Ia harus mengambil air dingin ke sumur. Dan bahkan ia harus minta air hangat ke gardu perondan.

Kecuali obat yang harus diminum, Kiai Gringsing pun menyiapkan pula obat yang akan ditaburkan pada luka Sabungsari yang menjadi kemerah-merahan, dan bahkan di sekitarnya mulai nampak bintik-bintik kebiru-biruan. Pada luka itu, Kiai Gringsing harus memusnahkan akibat racun, yang perlahan-lahan telah menjamah daging di sekitarnya, seperti juga obat yang telah diminum oleh Sabungsari, yang mempunyai akibat gawat meskipun perlahan-lahan.

Dengan demikian, Kiai Gringsing harus bekerja dengan hati-hati dan sangat cermat. Bukan saja karena ia harus mempertanggung jawabkan segala akibat yang dapat timbul karena usahanya, tetapi ia sudah berhadapan dengan keselamatan jiwa seseorang.

Sambil berdoa di dalam hati, Kiai Gringsing mulai dengan usahanya. Dibantu oleh Agung Sedayu, ia membersihkan luka Sabungsari yang nampak menjadi sangat parah. Ia tidak dapat menunda barang sekejap.

Ternyata yang dilakukan oleh Kiai Gringsing itu membuat Sabungsari menjadi sangat kesakitan. Sekali-sekali terdengar ia mengerang dan berdesis. Tetapi di tangan Kiai Gringsing, Sabungsari telah merasakan tumbuhnya harapan-harapan yang jernih di dalam hatinya. Betapapun ia merasakan kesakitan, tetapi ia berjuang untuk mengatasinya.

Perjuangan dan harapan Sabungsari itu ternyata banyak membantu Kiai Gringsing. Dengan demikian, Kiai Gringsing tidak banyak mengalami kesulitan. Ia harus mengorek luka itu, sehingga berdarah. Kemudian menaburkan obat yang sudah tersedia, dibantu oleh Agung Sedayu. Sehingga dengan demikian, maka luka-luka itu mengalami pengobatan baru, setelah obat yang lama dan racun yang ada, hanyut bersama darah yang keluar lagi dari luka itu, sedang sisanya telah ditawarkannya.

Namun Kiai Gringsing sangat berhati-hati, agar dengan demikian Sabungsari tidak justru kehabisan darah, dan mengalami malapetaka karena sebab yang lain, setelah racun di tubuhnya dapat disingkirkan, dan yang tersisa ditawarkan.

Setelah pengobatan pada luka itu selesai, maka Kiai Gringsing pun membantu Sabungsari untuk minum obat yang telah disediakan pula. Sedikit demi sedikit, namun akhirnya obat itu telah dapat ditelannya seluruhnya, sesuai dengan takaran yang diberikan oleh Kiai Gringsing.

Agung Sedayu yang membantu Kiai Gringsing itu, kemudian mengusap peluhnya yang meleleh di kening. Ternyata ia sudah mengalami ketegangan, selama Kiai Gringsing melakukan pengobatan.

Agung Sedayu menarik nafas, ketika semuanya telah selesai. Ia pun kemudian mengemasi alat-alat yang dipergunakan oleh Kiai Gringsing, yang kemudian duduk di amben lain bersama Untara yang menungguinya.

“Apakah Kiai yakin, bahwa keadaannya akan bertambah baik?” bertanya Untara yang ikut mengalami ketegangan pula.

“Demikian, Ngger,” jawab Kiai Gringsing, “tetapi semuanya tergantung kepada belas kasihan Yang Maha Agung.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia memandangi saja adiknya yang sibuk membersihkan ruang itu. Dan yang kemudian melangkah keluar sambil membawa mangkuk-mangkuk yang baru saja dipergunakan. Ia harus mencuci mangkuk-mangkuk itu dengan bersih, agar sisa-sisa obat dan keperluan-keperluan pengobatan yang lain tidak mengotori mangkuk-mangkuk itu apabila kemudian dipergunakan untuk kepentingan yang lain.

“Bantu aku,” berkata Agung Sedayu kepada Glagah Putih.

Glagah Putih tidak menyahut. Ia pun kemudian mengikuti Agung Sedayu ke sumur.

Beberapa saat lamanya, Agung Sedayu dan Glagah Putih berada di sumur untuk membersihkan alat-alat yang dipergunakan oleh Kiai Gringsing. Sementara itu, yang berada di dalam ruang bilik Sabungsari telah dikejutkan hadirnya prajurit yang ditugaskan oleh Untara untuk mengobati Sabungsari.

Dengan tergesa-gesa prajurit itu meloncat masuk. Dengan tegang ia memandang Kiai Gringsing dan Untara yang terlonjak karena kedatangannya yang tiba-tiba.

“Ki Untara,” bertanya prajurit itu, “apa yang sudah dikerjakan oleh orang tua itu? Aku mendapat laporan, bahwa orang yang disebut bernama Kiai Gringsing itu telah datang dan memasuki bilik ini. Bahkan ia telah mengganggu orang yang sedang dalam perawatanku.”

Untara memandang prajurit itu sejenak. Kemudian katanya, “Aku telah mengijinkannya. Ia mencoba untuk membantu penyembuhan Sabungsari.”

“Tetapi ia berbuat tanpa setahuku. Aku yang berharap Sabungsari besok pagi-pagi akan mengalami kemajuan pada kesehatannya, kini harus meragukannya, karena aku tidak yakin, bahwa orang tua itu benar-benar mengerti tentang obat-obatan.”

“Sabungsari berada di bawah tanggung jawabnya. Jika ia gagal, maka ia akan menanggung segala akibatnya,” jawab Untara.

“Tetapi, apakah ada gunanya? Seandainya orang itu harus digantung, Sabungsari yang sudah mati akan tetap mati.”

“Aku percaya kepada orang tua ini,” berkata Untara kemudian, “aku sudah memerintahkannya melakukan pengobatan. Aku mengenal orang tua itu dengan baik. Dan ia mempunyai beberapa persoalan dengan obat-obat yang kau berikan. Mungkin satu kekeliruan, tetapi mungkin pula karena kau terlalu tergesa-gesa waktu itu.”

“Tidak ada kesalahan apa pun dalam pengobatan yang sudah aku berikan,” berkata prajurit itu, “semuanya berjalan seperti yang aku kehendaki.”

“Kau meragukan kesembuhannya,” tiba-tiba saja Untara berkata, “dan sikap itu telah meragukan aku pula. Sekarang, biarlah Sabungsari berada di bawah pengobatan Kiai Gringsing. Besok kita akan melihat akibatnya. Dan aku perintahkan kau tetap berada di sini, menunggui prajurit muda itu bersama aku dan Kiai Gringsing.”

Wajah prajurit itu menjadi tegang. Ia memandang wajah Untara sejenak. Kemudian wajah Kiai Gringsing. Sekilas ia melihat bayangan yang kelam di mata itu. Namun kemudian seolah-olah mata itu menjadi menyala penuh kemarahan.

“Setan tua itu tentu mengetahui apa yang aku lakukan,” berkata prajurit itu di dalam hatinya, “ia tentu berhasil melakukan pengamatan atas racun yang aku berikan. Karena itulah agaknya Ki Untara memerintahkan aku tetap berada di sini.”

Tiba-tiba kegelisahan yang sangat telah mencengkam prajurit itu. Ia merasa bahwa yang dilakukan itu sudah diketahui. Dan ia tidak mempunyai jalan untuk menghindar. Yang berada di dalam bilik itu adalah Ki Untara, senapati yang besar dan Kiai Gringsing yang juga dikenal sebagai orang bercambuk.

Sejenak orang itu berpikir. Sikap yang manakah yang paling baik dilakukan, jika ternyata Kiai Gringsing yang juga ahli di dalam pengobatan itu mengetahui, bahwa ia telah membubuhkan racun yang lemah pada obat-obatnya atas Sabungsari.

Bagi Untara, sikap prajurit itu benar-benar telah membuatnya curiga. Sebagai seorang senapati, maka ia wajib berbuat sesuatu. Cepat Untara menghubungkan perbuatan prajurit itu dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Perbuatan orang-orang yang telah mencegat dan melukai Sabungsari, namun yang kemudian terbunuh oleh Sabungsari dan Agung Sedayu. Tetapi ternyata bahwa mayat yang ditinggalkan itu telah hilang.

“Prajurit ini tentu mempunyai hubungan dengan orang yang disebut sebagai penggerak dari peristiwa ini, Ki Pringgajaya,” berkata Untara di dalam hatinya. Lalu, “Dengan demikian, maka mungkin orang ini akan dapat menjadi pintu yang membuka segala persoalan yang rumit ini.”

Karena itu, maka Untara akan tetap pada perintahnya, prajurit itu tidak akan diperbolehkan meninggalkan tempat.

Namun agaknya prajurit itu pun telah membuat perhitungan-perhitungan tertentu. Ia harus dapat menyingkir, agar ia tidak akan tertangkap dan diperas untuk memberikan beberapa kesaksian.

Dalam ketegangan itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih melangkah memasuki bilik tanpa prasangka apa pun. Namun yang kemudian terjadi adalah peristiwa yang sangat mengejutkan.

Tiba-tiba saja prajurit yang gagal membunuh Sabungsari dengan perlahan-lahan itu telah meloncat ke belakang Glagah Putih. Secepat kilat ia telah mencabut kerisnya dan melekatkan ujungnya pada lambung anak muda itu.

Serentak semua orang yang ada di dalam bilik itu telah bergerak. Tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak. Untara jadi membeku, ketika orang yang menekankan ujung kerisnya itu berkata garang, “Untara. Jika kau berbuat sesuatu yang mencurigakan, maka anak ini akan mati. Meskipun aku sadar, bahwa aku pun akan mati.”

Untara menggeretakkan giginya. Katanya, “Kau licik. Kau sudah meracun Sabungsari dengan racun yang lemah, agar kau dapat melepaskan kesan, bahwa seolah-olah Sabungsari mati karena luka-lukanya. Sekarang kau berperisai anak yang tidak tahu apa-apa itu.”

“Persetan. Anak ini adalah saudara sepupumu. Aku tidak tahu, apakah nilainya lebih tinggi dari aku. Tetapi aku sudah puas, seandainya aku dapat membunuhnya sebelum aku mati.”

Untara menggeram. Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Orang itu kemudian menarik lengan Glagah Putih bergeser mendekati pintu. Sambil melangkahkan kakinya keluar pintu, ia berkata, “Untara. Kau harus memerintahkan semua prajurit yang ada di halaman untuk melepaskan aku pergi membawa anak ini. Jika tidak, maka ia akan mati di muka pintu bilik ini.”

Untara menjadi termangu-mangu, sementara Agung Sedayu menjadi tegang. Tidak seorang pun yang kemudian bergerak. Glagah Putih pun berdiri tegak sambil menggigit bibirnya. Ia merasa ujung keris menekan lambungnya. Sementara kedua orang kakak sepupunya hanya dapat memandanginya dengan tegak.

Ketika Agung Sedayu bergeser setapak, orang itu berteriak, “Jangan berbuat sesuatu yang dapat mempercepat kematian anak ini.”

Agung Sedayu pun harus menahan diri, betapapun jantungnya bergolak di dalam dadanya.

“Itu sama sekali perbuatan yang tidak terpuji,” berkata Untara kemudian, “apa yang sebenarnya kau kehendaki?”

“Aku tidak menghendaki apa-apa,” jawab prajurit itu, “aku hanya ingin kalian mematuhi perintahku.”

“Akulah yang wenang menjatuhkan perintah di sini,” geram Untara.

“Terserah kepadamu. Tetapi aku menguasai anak ini.”

Untara terdiam. Betapapun tegangnya wajah dan hatinya, namun ia tidak dapat berbuat banyak.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “apakah tidak ada cara lain yang lebih baik, yang dapat kita tempuh untuk memecahkan persoalan yang tidak jelas bagi kami? Jika Ki Sanak berkeberatan, bahwa aku telah melakukan sesuatu atas orang yang sedang kau rawat, bukanlah seharusnya kau menyekap anak yang tidak tahu menahu. Aku bersedia untuk membicarakan dan menunjukkan kepadamu, apa yang telah aku lakukan.”

“Jangan mencoba mempengaruhi aku dengan sikap iblismu,” berkata prajurit itu, “apa pun yang telah kau lakukan, namun aku sudah tersudut pada suatu tuduhan yang tidak akan dapat aku elakkan. Karena itu, maka daripada aku mati seorang diri, maka lebih baik aku mati bersama anak ini.”

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, “jika kau ingin melindungi dirimu, baiklah aku menyediakan diri, menggantikan anak itu, meskipun seandainya aku akan mati sekalipun.”

“Persetan!” berkata prajurit itu, “Aku tidak memerlukan kau. Aku memerlukan anak ini.”

Namun di luar dugaan, tiba-tiba saja Glagah Putih berkata, “Kakang Untara, lakukan apa yang harus kau lakukan. Jangan hiraukan aku.”

“Tutup mulutmu!” teriak prajurit yang mengancamnya dengan keris. Terasa keris itu semakin kuat menekan lambungnya. Tetapi ujungnya yang dilambari tebal baju Glagah Putih, masih belum melukai kulitnya. Terdengar orang itu berkata lantang, “Kau jangan membuat aku marah.”

“Aku tidak peduli!” geram Glagah Putih.

“Tidak,” berkata Agung Sedayu, “bukan salahmu, Glagah Putih. Berbuatlah seperti yang dikehendakinya.”

Untara menjadi tegang. Dengan suara yang berat ia berkata, “Kau sadari akibat perbuatanmu? Aku Senapati di sini. Aku menentukan segala-galanya.”

“Aku sudah bersedia untuk mati!” teriak orang itu. Lalu ditariknya Glagah Putih sambil berkata, “Ikut perintahku. Jangan memperpendek umurmu. Jika kau tidak banyak tingkah, aku akan melepaskanmu saat aku sudah sampai ke kudaku.”

Ketegangan menjadi semakin memuncak. Setiap Glagah Putih ditarik mundur selangkah, maka Untara, Kiai Gringsing dan Agung Sedayu maju selangkah. Sehingga ketika Glagah Putih dihentakkannya keluar pintu, maka Untara pun segera meloncat pula. Tetapi langkahnya terhenti karena prajurit itu berteriak, “Berhenti di tempatmu, Untara! Dan perintahkan setiap prajurit di halaman ini untuk tidak bergerak.”

Untara menjadi ragu-ragu. Demikian pula Agung Sedayu dan Kiai Gringsing, yang menyusulnya pula.

“Cepat!” teriak prajurit itu ketika ia melihat beberapa orang prajurit di halaman itu bergerak. Tetapi ternyata mereka masih belum mengetahui apa yang terjadi.

Mereka pun kemudian tertegun, ketika mereka melihat prajurit yang mendapat perintah untuk mengobati Sabungsari itu memegangi lengan Glagah Putih, sambil mengancamnya dengan ujung kerisnya.

“Untara!” teriak prajurit itu, “Perintahkan agar para prajurit menyingkir.”

Untara termangu-mangu.

“Cepat!” prajurit itu berteriak lagi, “Atau anak ini akan mati terkapar di halaman.”

Keringat mulai mengalir di kening Untara. Kemarahannya hampir meretakkan dadanya. Tetapi Glagah Putih tidak dapat dikorbankan. Kecuali ia adalah saudara sepupunya, maka anak itu tidak tahu menahu persoalannya.

Dalam keragu-raguan itu, ia melihat para prajurit yang berada di halaman itu bergeser surut. Mereka pun mengetahui, bahwa nasib anak muda itu benar-benar sedang berada di ujung duri.

Perlahan-lahan prajurit itu bergeser mendekati kudanya. Tidak seorang pun yang dapat menghalanginya. Agung Sedayu dan Untara yang bergeser maju di luar sadarnya, terpaksa berhenti ketika sekali lagi orang itu mengancam sambil meloncat naik ke punggung kudanya, “Setiap gerak yang mencurigakan, maka nyawa anak inilah tebusannya.”

“Pergilah!” teriak Agung Sedayu yang menahan luapan perasaannya, “Lepaskan anak itu.”

“Tidak,” sahut orang itu.

“Kau berjanji melepaskannya jika kau mencapai kudamu,” berkata Agung Sedayu lantang.

“Tetapi keselamatanku belum terjamin sepenuhnya. Aku akan membawanya sampai keluar padukuhan ini.”

Dada Agung Sedayu menjadi bergetar semakin cepat. Jantungnya bagaikan berdetak semakin keras dan semakin cepat, sementara darahnya rasa-rasanya menjadi semakin panas mengalir di tubuhnya.

Tidak seorang pun dapat mencegah orang itu menarik Glagah Putih dengan satu tangannya agar ia naik pula ke punggung kuda itu, sementara tangannya yang lain masih tetap mengancam dengan keris. Ketika Glagah Putih telah berada di punggung kuda, maka orang itu pun berkata, “Jangan salahkan aku, jika anak ini kalian dapati pingsan terlempar dari punggung kuda, atau bahkan mati terkapar di pinggir jalan.”

“Kami tidak mengusikmu,” jawab Agung Sedayu, “anak itu harus selamat.”

“Kalian telah menggagalkan usahaku. Kalian harus menerima akibatnya. Tetapi aku masih akan mempertimbangkan kemungkinan yang lebih baik bagi anak ini.”

Terdengar Untara menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Jika ia salah langkah, maka ia akan menjerumuskan Glagah Putih ke dalam kesulitan, dan bahkan mungkin kematian.

“Anak itu masih terlalu muda untuk mati,” katanya di dalam hati.

Sementara itu, prajurit yang sudah berada di punggung kuda bersama Glagah Putih itu berteriak, “Beri aku jalan!”

Tidak ada yang dapat dilakukan oleh para prajurit itu kecuali bergeser surut. Meskipun tangan mereka telah melekat di hulu pedang, namun tidak seorang pun yang dapat berbuat sesuatu. Mereka pun mengerti, bahwa anak yang berada di punggung kuda adalah adik sepupu Untara.

Senapati Pajang di Jati Anom itu menjadi gemetar menahan marah. Ia merasa wajib untuk menangkap prajurit itu, tetapi ia tidak dapat melakukannya. Karena itu, rupa-rupanya jantung Untara justru hampir meledak. Ia harus berdiri diam, sementara di hadapannya, seorang yang bersalah telah berada di punggung kuda dan siap untuk melarikan diri.

Sejenak ia mempertimbangkan kemungkinan untuk bertindak, jika Glagah Putih bernasib baik, ia tentu tidak akan mati.

Tetapi niat itu pun diurungkan. Sekali lagi ia menggeram di dalam hatinya, “Anak itu masih terlalu muda untuk mati.”

Karena itu, yang dapat dilakukan oleh Untara hanyalah menggeram dan menggeretakkan giginya.

Kiai Gringsing pun bagaikan orang kehabisan akal. Ia adalah seorang yang mengenal beribu peristiwa dan persoalan. Ia memiliki perbendaharaan pengalaman yang tiada taranya. Namun menghadapi peristiwa ini, ia benar-benar tidak mampu untuk berbuat sesuatu.

Seperti Untara, ia mempertimbangkan keselamatan Glagah Putih. Jika ia melakukan sesuatu yang dianggap oleh prajurit di punggung kuda itu mencurigakan, maka nasib Glagah Putih-lah yang menjadi taruhan.

Dalam pada itu, kegelisahan benar-benar telah mencengkam halaman itu. Keadaan Sabungsari memang menjadi berangsur baik. Tetapi mereka kini menghadapi persoalan lain yang cukup gawat pula.

Sabungsari sendiri, tidak mengetahui peristiwa itu dengan jelas. Meskipun ia tidak pingsan, tetapi ia sedang digelut oleh perasaan sakit yang sangat pada luka-lukanya yang mendapat pengobatan baru. Badannya terlalu lemah dan seakan-akan ia tidak sempat memikirkan apa yang terjadi di sekitarnya.

Namun demikian, sepercik kegelisahan telah mencengkamnya pula. Untunglah, bahwa kesadarannya tidak bekerja sepenuhnya, sehingga ia tidak diganggu oleh satu keinginan untuk meloncat dari pembaringannya karena keadaan Glagah Putih. Bahkan kadang-kadang ia mengerti arti pendengarannya, namun kadang-kadang seperti orang yang setengah tidur, ia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

Dalam pada itu ketegangan menjadi semakin memuncak ketika prajurit di punggung kuda itu berteriak, “Jangan berbuat sesuatu. Aku akan meninggalkan halaman ini dan seterusnya meninggalkan padukuhan ini.”

Untara berdiri tegak dengan tegangnya, sementara Kiai Gringsing dan Agung Sedayu menjadi sangat cemas.

Ketika prajurit itu mulai menggerakkan kendali kudanya, terdengar Untara berkata, “Apa yang kau kehendaki? Lepaskan anak itu. Aku akan memberi jaminan keselamatanmu.”

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: