Buku 134 (Seri II Jilid 34)

 

Tetapi Ki Tumenggung Prabadaru menggeleng sambil berkata, ”Kali ini tidak. Dendam Gembong Sangiran tidak akan dapat dibeli. Tetapi jika kita dapat memanfaatkannya, dengan dorongan janji beberapa keping emas, aku kira ia akan lebih garang lagi terhadap padepokan kecil itu. Tetapi tentu tidak sekarang, meskipun Agung Sedayu dan Sabungsari masih belum sembuh. Tetapi di padepokan kecil itu terdapat banyak prajurit Untara yang berjaga-jaga, karena mereka mendapat alasan yang tepat dengan hadirnya Gembong Sangiran yang gagal itu.”

Ki Pringgajaya hanya mengangguk-angguk. Tetapi nampak di wajahnya bahwa ia masih belum dapat meyakini pendapat Ki Tumenggung Prabadaru itu.

Dalam pada itu, maka baik Ki Pringgajaya sendiri, maupun Ki Tumenggung Prabadaru berpendapat, untuk sementara Ki Pringgajaya masih harus memencilkan diri. Mereka masih menunggu, sehingga tidak lagi ada orang yang meragukan kematiannya.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung yang sudah berada kembali di Pajang itu sama sekali tidak menyadari, bahwa Pangeran Benawa sendiri ternyata menaruh banyak perhatian terhadapnya. Meskipun Pangeran Benawa belum pernah berhasil mengikuti kepergian Ki Tumenggung sehingga ia tidak mengetahui, hubungan apa saja yang pernah dilakukan orang-orang lain, namun Pangeran Benawa dalam penyamarannya pernah melihat Ki Tumenggung itu meninggalkan gerbang kota sampai dua kali. Yang menarik perhatian adalah, bahwa Ki Tumenggung Prabadaru itu pergi tanpa seorang pengawalpun, justru menjelang gelap.

Pangeran Benawapun menyadari, bahwa Tumenggung Prabadaru bukan orang kebanyakan, sehingga untuk mengikutinya, diperlukan perhitungan yang lebih cermat. Apalagi dalam perjalanan berkuda, agaknya tidak mudah untuk melakukannya.

Namun demikian, Pangeran Benawa mempunyai perhitungan bahwa kepergian Ki Tumenggung Prabadaru itu ada hubungannya dengan tempat persembunyian Ki Pringgajaya.

Meskipun demikian, Pangeran Benawa tidak dapat bertindak dengan tergesa-gesa. Pada saat-saat tertentu ia masih ingin bertemu dengan Kiai Gringsing yang pernah diajaknya menempuh perjalanan yang khusus untuk menekuni sebuah kuburan.

”Aku harus menemuinya,” berkata Pangeran Benawa di dalam hatinya.

Tetapi Pangeran Benawa memang sangat berhati-hati. Perkembangan terakhir memang membuatnya berprihatin atas Pajang. Namun jika penyakitnya kambuh, maka ia menjadi acuh tidak acuh lagi terhadap keadaan di Pajang. Agaknya sikap ayahnya sebagai pribadi benar-benar telah mengecewakannya.

Tetapi Pangeran Benawa mempunyai sikap tersendiri untuk menyatakan kekecewaannya, sehingga karena itu, maka kadang-kadang orang menjadi sangat sulit untuk mengerti sikapnya.

Sementara itu, di padepokan kecil di Kademangan Jati Anom, Kiai Gringsing dengan tekun mengobati Agung Sedayu dan Sabungsari yang masih belum sembuh sama sekali. Meskipun demikian keadaannya setiap hari menjadi berangsur baik. Luka-luka mereka tidak terasa lagi. Namun tenaga mereka masih belum pulih kembali.

Sementara itu Padepokan Gunung Kendeng masih saja dibakar oleh dendam yang membara. Kematian orang-orangnya yang terbaik membuat Gembong Sangiran marah. Tetapi ia tidak dapat menolak kenyataan, bahwa padepokannya bagaikan telah menjadi lumpuh.

Dengan cermat ia mempelajari kekalahannya. Kekalahan yang pernah dialami oleh orang-orang lain, termasuk Carang Waja, keluarga dari Pesisir Endut.

”Jika aku berbuat sekali lagi, maka aku tidak boleh terperosok ke dalam kegagalan yang sangat memalukan dan memunahkan isi perguruanku,” berkata Gembong Sangiran di dalam hatinya.

Karena pertimbangan-pertimbangan tertentu, serta kekhawatirannya bahwa prajurit Pajang akan datang ke padepokannya untuk menumpas apa yang tersisa, maka Gembong Sangiran telah menggeser padepokannya. Tidak terlalu jauh, tetapi jarak yang pendek itu, memungkinkannya untuk mengambil sikap tertentu jika benar-benar ada tindakan dari prajurit Pajang karena ia telah melakukan serangan atas padepokan kecil di Jati Anom itu, meskipun ia gagal.

Tetapi Untara tidak mengambil tindakan demikian karena pertimbangan-pertimbangan tersendiri. Juga karena berita kematian Ki Pringgajaya serta atas dasar perhitungan-perhitungan lain. Untara ingin membiarkan Padepokan Gunung Kendeng yang telah diketahui letak dan kegiatannya dari orang-orang yang berhasil ditangkap. Namun Untara masih berharap, bahwa padepokan itu akan menyerap beberapa orang yang penting dari dunia hitam dan mungkin akan dapat dipergunakan untuk mengamati kegiatan Ki Pringgajaya.

Untara tidak menyadari, bahwa Ki Pringgajaya sendiri menaruh kecurigaan pula terhadap Padepokan Gunung Kendeng, sehingga untuk sementara Ki Pringgajaya yang telah diberitakan mati itu, tidak membuat hubungan dengan Padepokan Gunung Kendeng itu.

Karena itu, maka petugas sandi yang dikirim oleh Untara khusus untuk mengamati Padepokan Gunung Kendeng itu sama sekali tidak melihat hubungan itu, meskipun para petugas sandi itu berhasil mengetahui bahwa Padepokan Gembong Sangiran telah bergeser.

”Mereka telah membuka padepokan baru,” berkata petugas sandi itu, ”tidak terlalu jauh. Tetapi agaknya Gembong Sangiran cukup berhati-hati menghadapi perkembangan keadaan.”

Untara mendengarkan setiap laporan dengan saksama. Tetapi ia masih tetap menugaskan petugas sandinya untuk mengamati padepokan itu.

”Biarlah padepokan itu tetap dalam keadaannya. Jangan diganggu. Justru kau harus mengawasi, apakah Ki Pringgajaya pernah datang ke padepokan itu,” pesan Untara, lalu, ”tetapi ingat. Jika rahasia ini sampai merembes ke telinga orang lain, maka taruhannya adalah nyawamu.”

Petugas sandi itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka sudah menyadari, bahwa tugasnya memang memerlukan kesungguhan sikap dan pertanggungan jawab.

Tetapi yang dilihat oleh para petugas sandi itu adalah kegiatan Gembong Sangiran yang semakin meningkat tanpa hubungan sama sekali dengan petugas-petugas dari Pajang, atau orang-orang lain yang datang dari lingkungan keprajuritan. Pada saat-saat tertentu yang nampak oleh para petugas sandi itu adalah orang-orang yang memiliki nafas kehidupan seperti orang-orang Gunung Kendeng itu sendiri, yang menurut dugaan para petugas sandi itu, bahwa mereka telah mempersiapkan padepokan itu untuk menjadi padepokan yang besar seperti masa yang lewat, sebelum padepokan itu kehilangan beberapa orang terbaiknya.

Tetapi mengawasi Padepokan Gunung Kendeng bukanlah tugas yang mudah. Karena itu, maka petugas sandi dari Jati Anom itu tidak dapat melihat keadaan padepokan itu setiap saat. Berganti-ganti para petugas mengamati keadaan padepokan itu dari jarak yang cukup jauh, sementara yang lain berada di dalam hutan.

Namun setelah beberapa hari hal itu mereka lakukan, sehingga mereka menjadi letih dan jemu, dengan kesimpulan bahwa Ki Pringgajaya tidak nampak datang ke padepokan itu, maka Untarapun mengambil sikap lain. Ia tidak dapat memaksa petugas sandinya untuk tinggal di dalam hutan untuk waktu yang tidak terbatas. Karena itu, maka Untara mengambil cara lain untuk mengamati padepokan itu. Pada saat-saat tertentu sajalah petugas sandinya datang ke padepokan itu dan mengamatinya dari kejauhan.

Dalam pada itu, selagi perhatian Untara sebagian besar ditujukan kepada Ki Pringgajaya, maka suasana Pajang menjadi semakin buram. Beberapa orang berhasil meniupkan kecurigaan yang meningkat terhadap Mataram. Meskipun beberapa kali Pajang mengirimkan beberapa orang ke Mataram, untuk meyakinkan, bahwa tidak ada persiapan perang di Mataram, namun sikap Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga yang keras itu, dapat dipergunakan untuk memperkuat setiap kecurigaan Pajang terhadap Mataram.

Bahwa Senapati Ing Ngalaga tetap tidak mau datang menghadap ke Pajang, meskipun dengan alasan sentuhan atas harga dirinya, namun adalah satu kenyataan bahwa Mataram telah menggali jarak yang oleh pihak tertentu justru telah dengan sengaja memberikan gambaran bahwa jarak itu adalah jarak yang tidak dapat diseberangi.

”Senapati Ing Ngalaga tidak mau datang menghadap,” kenyataan itulah yang selalu disebut-sebut oleh beberapa orang dengan sengaja.

Suasana itu membuat Sultan Pajang menjadi semakin berprihatin. Sikap Sutawijaya memang sulit untuk dimengerti oleh ayahanda angkatnya. Sementara itu sikap Pangeran Benawapun membuat Sultan Pajang menjadi semakin cemas.

Dalam suasana yang demikian itulah Agung Sedayu dan Sabungsari berangsur menjadi pulih kembali kesehatannya. Mereka mulai membiasakan diri dengan gerak yang ringan. Setiap pagi mereka mulai jalan-jalan mengelilingi halaman dan kebun padepokan kecil itu. Namun semakin lama, mereka mulai dengan gerak yang semakin berat.

Sementara itu, betapapun juga terasa oleh Sekar Mirah kegelisahan yang semakin meningkat. Ia tidak segera mendengar berita tentang keadaan Agung Sedayu. Apakah keadaannya sudah menjadi berangsur baik atau tidak.

Akhirnya Sekar Mirah tidak dapat menahan hati lagi. Ketika desakan itu menjadi semakin kuat, maka ia mulai mengeluh kepada kakak iparnya.

”Aku ingin menengoknya,” berkata Sekar Mirah.

Pandan Wangi dapat mengerti perasaan gadis itu. Karena itu, maka iapun berkata, ”Aku akan menyampaikannya kepada Kakang Swandaru.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Hati-hatilah. Kadang-kadang Kakang Swandaru bersikap lain. Jika kau dapat menjelaskan perasaanku, agaknya ia tidak akan berkeberatan.”

Pandan Wangi tersenyum. Katanya, ”Aku akan mencobanya.”

Demikianlah pada saat yang dianggap tepat oleh Pandan Wangi, maka iapun menyampaikan maksud Sekar Mirah untuk pergi ke Jati Anom, melihat keadaan Agung Sedayu.

”Kita harus berjaga-jaga di kademangan ini,” berkata Swandaru.

”Tetapi cobalah mengerti perasaan adikmu, Kakang,” berkata Pandan Wangi, ”Agung Sedayu mempunyai tempat tersendiri di dalam hatinya.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Aku mengerti. Tetapi apakah kepergiannya ke Jati Anom itu akan ada manfaatnya. Maksudku, dalam keadaan yang semakin gawat sekarang ini. Rasa-rasanya dendam terhadap padepokan itu masih tetap membara. Karena itu, maka perjalanan ke Jati Anom masih mungkin akan mengalami kesulitan, atau jika kita bersama-sama pergi ke Jati Anom, kademangan inilah yang akan dapat mengalami kesulitan.”

”Jarak antara Jati Anom dan Sangkal Putung tidak terlalu jauh. Kita dapat menyisihkan waktu sebentar. Tentu di siang hari. Kita siapkan sejumlah pengawal terbaik untuk mengawasi keadaan kademangan ini selama kita pergi,” berkata Pandan Wangi. ”Jangan biarkan Sekar Mirah selalu dibayangi oleh mimpi buruk tentang seseorang yang selalu lekat di hatinya.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan. Dan iapun mulai memikirkan betapa gelisah adik perempuannya itu.

”Baiklah,” berkata Swandaru, ”aku akan mengatur waktu yang paling baik.”

”Tetapi jangan terlalu lama,” berkata Pandan Wangi. Lalu, ”Kau tentu mengerti, bahwa menahan perasaan rindu agaknya terlalu sulit bagi seorang gadis seperti Sekar Mirah.”

Swandaru akhirnya tersenyum sambil berkata, ”Baiklah. Aku akan berbicara dengan Ayah.”

Ketika kemudian Swandaru menyampaikan hal itu kepada ayahnya, maka Ki Demangpun tidak dapat menahannya. Tetapi ia minta agar Swandaru dapat mengatur segala sesuatu agar kademangan yang bakal ditinggalkan tidak akan mengalami kesulitan.

”Bukankah kau dan Pandan Wangi akan mengantarkan Sekar Mirah ke Jati Anom?” bertanya ayahnya.

”Ya Ayah. Dalam keadaan seperti ini, aku tidak akan sampai hati membiarkannya pergi sendiri,” berkata Swandaru.

“Baiklah. Tetapi kapan kalian akan pergi?” bertanya ayahnya.

“Agaknya Sekar Mirah sudah tidak dapat menahan keinginannya lagi untuk pergi ke Jati Anom,” berkata Swandaru, ”apalagi ia mengerti bahwa Agung Sedayu baru saja mengalami kesulitan yang gawat dalam pertempuran melawan orang-orang yang selalu membayanginya, meskipun mempergunakan tangan yang berganti-ganti.”

”Jadi?”

”Biarlah besok kami akan pergi. Tidak sampai senja kami sudah akan kembali lagi,” berkata Swandaru.

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-angguk. Katanya, ”Berhati-hatilah. Kau yang di perjalanan, dan persiapan yang kau tinggalkan harus kau yakini bahwa tidak akan mengalami sesuatu.”

”Kami bertiga bukan anak-anak lagi, Ayah,” berkata Swandaru, ”mungkin suatu kebetulan bahwa Sekar Mirah dan Pandan Wangi memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri, sehingga tugasku di perjalanan tidak akan terlalu berat jika ada sesuatu yang mencoba mengganggu.”

Ki Demang tidak dapat berbuat lain kecuali melepaskan mereka pergi di hari berikutnya. Namun seperti yang sudah dikatakan, maka Swandaru telah mempersiapkan segala-galanya. Para pengawal terpilih berada di tempat yang ditentukan. Meskipun gardu-gardu perondan biasanya kosong di siang hari, Swandaru telah memerintahkan untuk mengisinya, meskipun tidak seperti di malam hari.

”Tetapi jangan membuat penduduk kademangan ini gelisah. Jangan berbuat seolah-olah akan timbul perang. Lakukanlah tugas kalian tanpa menimbulkan kegelisahan dan menarik perhatian. Kalian dapat pergi ke sawah seperti biasa. Kalian dapat melakukan pekerjaan seperti hari-hari yang lain. Namun kalian harus meningkatkan kewaspadaan dan siap bertindak jika terjadi sesuatu karena kepergian kami. Yang berada di gardu-gardupun harus menyesuaikan dirinya, seolah-olah mereka hanya kebetulan saja duduk dan bergurau di antara mereka,” pesan Swandaru kepada para pengawal.

Sementara itu, Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah telah bersiap untuk menempuh perjalanan yang tidak terlalu panjang. Meskipun demikian, mereka harus berhati-hati, bahwa mereka termasuk orang yang dianggap mempunyai sangkut paut yang rapat dengan Agung Sedayu.

Namun yang kemudian berkuda menyusuri bulak-bulak panjang itu adalah tiga orang yang memiliki kemampuan yang tinggi di dalam olah kanuragan. Karena itulah, maka mereka tidak terlalu cemas seandainya mereka bertemu dengan orang-orang yang bermaksud buruk terhadap mereka.

Namun ternyata bahwa perjalanan mereka sama sekali tidak terganggu. Mereka sampai ke padepokan kecil itu dengan selamat.

Kedatangan Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah itu ternyata telah mengejutkan seisi padepokan kecil di Jati Anom itu. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa mereka akan datang. Namun merekapun kemudian dapat mengerti, bahwa Sekar Mirahlah yang paling mendesak untuk segera datang ke padepokan itu.

Ketika Sekar Mirah melihat keadaan Agung Sedayu, bagaimanapun ia mencoba menahan diri, namun sifat kegadisannya tidak dapat disembunyikannya. Pada keadaan yang sudah berangsur baik, Agung Sedayu masih nampak pucat dan lemah. Karena itulah maka Sekar Mirah membayangkan, betapa parah luka Agung Sedayu pada saat itu.

”Untunglah bahwa Kiai Gringsing masih sempat mengobatinya,” berkata Sekar Mirah di dalam hatinya.

Setitik air telah mengembang di pelupuk matanya. Barangkali ia tidak akan menangis seandainya ia harus bertempur seperti apa yang dilakukan oleh penghuni padepokan itu pada saat Gembong Sangiran datang bersama kawan-kawannya. Namun melihat keadaan Agung Sedayu, maka rasa-rasanya hatinya tergores duri.

Kedatangan Sekar Mirah memang dapat membuat Agung Sedayu melupakan keadaannya. Rasa-rasanya ia telah menjadi sembuh sama sekali. Meskipun demikian Kiai Gringsing masih memperingatkannya, agar ia menjaga diri karena luka-lukanya yang belum pulih sama sekali, dan bahwa kekuatannya masih terlalu lemah.

Namun kegembiraan nampak di pendapa saat mereka duduk bersama. Sabungsaripun nampak lebih baik dari keadaan sebelumnya. Ia ikut gembira seperti Agung Sedayu menjadi gembira pula.

Saat-saat berikutnya, ketika Swandaru dan Pandan Wangi berjalan-jalan di kebun belakang padepokan kecil itu, maka Sekar Mirah duduk bersama Agung Sedayu di serambi samping padepokannya. Banyak masalah yang telah mereka bicarakan. Masalah yang menyangkut perkembangan keadaan, dan masalah tentang diri mereka sendiri.

”Kakang,” berkata Sekar Mirah kemudian, ”berkali-kali Kakang mengalami keadaan seperti ini.”

”Ya Sekar Mirah. Keadaan yang sama sekali tidak aku bayangkan akan terjadi. Tetapi seolah-olah aku ditakdirkan untuk menjadi seorang pembunuh. Aku membunuh dan membunuh di luar mauku. Tetapi setiap saat aku dihadapkan pada pilihan membunuh atau dibunuh, ternyata aku memilih lebih baik aku membunuh,” berkata Agung Sedayu.

”Tetapi apa yang Kakang lakukan itu seolah-olah tidak berarti apa-apa,” sahut Sekar Mirah, ”Kakang sudah mempertaruhkan nyawa. Bahkan Kakang telah berbuat jauh lebih baik dari seorang prajurit pada tataran permulaan. Tetapi yang Kakang lakukan, hanya sekedar diketahui untuk segera dilupakan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa gembira bahwa Sekar Mirah datang menengok keadaannya. Tetapi ia mulai berdebar-debar jika Sekar Mirah sudah menyinggung tentang keadaannya.

”Sekar Mirah,” berkata Agung Sedayu, ”jika aku berjuang untuk menyelamatkan diri dari kematian, apakah hal itu perlu selalu diingat oleh orang lain,” desis Agung Sedayu.

”Kakang,” berkata Sekar Mirah, ”kau tidak perlu selalu merendahkan dirimu. Kau lihat Sabungsari. Ia melakukan tidak lebih dari yang kau lakukan. Tetapi setiap prajurit sudah menyebut-nyebut, bahwa ia akan mendapat kehormatan terdahulu dari kawan-kawannya dalam urutan kenaikan tataran.”

”Mungkin hal itu terjadi atas Sabungsari, Sekar Mirah,” jawab Agung Sedayu, ”tetapi ia memang seorang prajurit. Ia melakukan bukan karena ia secara pribadi terlibat ke dalam persoalan-persoalan yang mengancam nyawanya. Tetapi ia melakukan kewajiban seorang prajurit. Berbeda dari yang aku lakukan. Orang-orang itu justru mencari Agung Sedayu. Karena itu aku telah berbuat bagi diriku sendiri. Dengan demikian aku tidak dapat menuntut orang lain memberikan pujian atas perbuatanku dalam bentuk apapun juga.”

”Kakang,” berkata Sekar Mirah, ”sebaiknya kau tidak perlu berbuat demikian. Apa salahnya orang memuji apa yang telah kau lakukan dengan bentuk dan ujud yang sesuai dengan keadaanmu. Jika kau seorang prajurit maka pujian itu akan berujud peningkatan tataran dalam jenjang kepangkatan.”

 

 

”Tetapi itu tidak perlu Sekar Mirah. Biarlah yang aku lakukan itu aku ketahui sendiri tanpa pujian dan imbalan apapun, karena hal itu hanya berarti bagiku pula,” desis Agung Sedayu.

Dada Sekar Mirah mulai bergetar. Setiap kali ia berbicara dengan Agung Sedayu, maka rasa-rasanya ia menjadi sangat jengkel. Dengan suara yang bergetar pula ia berkata, ”Tetapi Kakang. Apakah yang kau lakukan itu bukan untuk mendapatkan pujian pula dalam ujud yang lain. Kau mengharap bahwa setiap orang akan memujimu, bukan saja karena kemampuan dan tingkat ilmumu. Tetapi mereka juga akan memujimu sebagai seorang yang rendah hati. Sebagai seorang yang tidak senang menunjukkan kemampuan dan apalagi jasanya bagi siapapun juga. Bukankah dengan demikian akan sama saja artinya? Meskipun kau lebih senang dipuji sebagai seorang yang rendah hati daripada sebagai seorang yang berilmu tinggi.”

Agung Sedayu terkejut mendengar kata-kata Sekar Mirah. Sejenak ia terdiam. Bahkan iapun kemudian merenungi dirinya sendiri, seolah-olah ia ingin mengetahui apakah yang dikatakan oleh Sekar Mirah itu benar. Jika ia sama sekali tidak menuntut penghargaan dan imbalan atas segala yang pernah dilakukan, apakah itu bukan berarti bahwa ia telah menuntut dalam ujud dan bentuk yang lain. Ia menghendaki pujian dan sebutan sebagai seorang yang rendah hati, sebagai pahlawan yang senang menyembunyikan jasanya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang dalam ia berkata, ”Sekar Mirah. Aku akhirnya menjadi semakin ragu-ragu tentang diriku sendiri. Apakah yang kau katakan itu benar-benar telah bersemi di dalam hatiku. Apakah benar-benar aku telah memilih ujud pujian sesuai dengan sifat dan watakku. Tetapi Sekar Mirah, selama ini aku sama sekali tidak memikirkannya. Apalagi memperhitungkan dan memilih bentuk pujian itu. Yang ada di dalam hatiku hanyalah, bahwa aku tidak ingin meniup sangkakala karena kemenangan-kemenangan yang tidak berarti.”

Sekar Mirah memandang Agung Sedayu dengan tatapan mata yang redup. Sejenak ia merenung. Namun kemudian katanya, ”Kakang Agung Sedayu. Menurut pengamatanku, jika kau ragu-ragu tentang dirimu sendiri, bukanlah hanya pada saat-saat terakhir. Kau memang selalu ragu-ragu tentang dirimu sendiri. Mungkin kau memang seorang yang rendah hati, tetapi mungkin pula kau justru orang yang sangat tinggi hati.”

Agung Sedayu terdiam sejenak. Dicobanya untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Namun ia justru menjadi semakin bimbang tentang dirinya. Meskipun demikian ia tidak dapat ingkar, bahwa dalam beberapa hal ia memang selalu ragu-ragu. Bukan hanya di saat terakhir. Tetapi sifat itu ada sejak ia menyadari kehadirannya.

Meskipun demikian iapun kemudian berkata, ”Sekar Mirah. Aku tentu tidak akan dapat menyebut, apakah diriku orang rendah hati atau justru seorang yang tinggi hati. Tetapi sebenarnyalah bahwa bagiku tidak ada gunanya untuk menunjukkan kepada orang lain, betapa aku mampu melakukan sesuatu melampaui orang lain. Bagiku, tidak ada gunanya untuk menempatkan diri pada baris-baris terdepan dalam keadaan tertentu. Hai itu tidak akan merubah kenyataan-kenyataan yang terjadi atas dan tentang diriku.”

”Tentu ada gunanya,” sahut Sekar Mirah, ”seandainya kau melakukan sesuatu yang terpuji, maka mungkin sekali kau akan mendapat kesempatan untuk meningkatkan diri, apakah itu dalam kedudukan atau dalam urutan perhatian orang lain terhadap dirimu. Jika karena itu maka sesuatu kesempatan terbuka, maka kau akan mendapat tempat pertama dari orang lain yang tidak dapat berbuat seperti yang dapat kau lakukan. Tetapi jika kau dengan sengaja atau tidak dengan sengaja menyembunyikan segala perbuatan yang terpuji itu, maka kau tidak akan pernah mendapat kesempatan apapun juga.”

”Sekar Mirah,” jawab Agung Sedayu, ”aku memang berpendirian, bahwa bukan sepantasnya seseorang dengan sengaja dan apalagi dengan memaksa diri menunjukkan hasil kerja dan perbuatannya kepada orang lain, apalagi dengan pamrih.”

”Aku tidak sependapat,” sahut Sekar Mirah, ”sebenarnyalah aku tidak sependapat, pada saat tamu agung singgah di Sangkal Putung, Kakang Agung Sedayu lebih senang berada di patehan, atau di kandang kuda atau di tempat-tempat lain yang tersembunyi. Tetapi seharusnyalah Kakang Agung Sedayu berada di antara tamu agung itu, seperti juga Kakang Swandaru. Jika Kakang berpendirian tidak perlu dan bukan sepantasnya seseorang dengan sengaja menunjukkan hasil kerja dan perbuatannya, apalagi dengan pamrih, maka bukan pula sepantasnya Kakang bersembunyi, menutup diri dan dengan sengaja dan memaksa diri untuk menghindar. Karena bagiku Kakang, kita justru harus mempergunakan setiap kesempatan untuk mencapai tataran hidup dalam segala segi yang lebih tinggi. Mungkin derajat, mungkin pangkat, dan bahkan mungkin semat.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Setiap kali ia bertemu dan berbicara dengan Sekar Mirah tentang sikap dan pandangan hidup, maka tentu terdapat selisih dan batas. Bahkan nampaknya mereka berdua selalu memilih jalan simpang yang berbeda.

Namun setiap kali, Agung Sedayulah yang terpaksa berdiam diri. Ialah yang selalu mencoba mengerti perasaan Sekar Mirah. Dan ia pulalah yang harus mendengarkan pendapat-pendapat berikutnya tentang masa depan mereka.

Bahkan sudah dapat ditebak, bahwa Sekar Mirah selalu menyebut-nyebut tentang jenjang derajad dalam lingkungan keprajuritan. Sekali-sekali Sekar Mirah masih menyebut-nyebut juga kesempatan yang terbuka selagi Untara masih seorang senapati yang terpercaya di daerah selatan.

Tetapi seperti biasanya pula, sikap itu selalu mengguncang perasaannya. Keragu-raguan dan kebimbangan yang tidak berkeputusan. Karena bagi Agung Sedayu, maka Pajang dan Mataram masih harus menjadi pertimbangan. Selebihnya, apakah ia memang tepat untuk menjadi seorang prajurit dengan segala paugerannya.

”Kakang,” suara Sekar Mirah akhirnya merendah, ”mungkin aku termasuk seorang gadis yang tidak tahu diri. Tetapi justru karena aku merasa diriku terikat oleh satu janji dengan Kakang Agung Sedayu, maka aku berani mengatakannya.”

Agung Sedayu hanya dapat menundukkan kepalanya.

”Kakang, mungkin bagi Kakang, seorang laki-laki, hal ini tidak akan terlalu terasa. Tetapi bagi seorang gadis, maka waktu akan ikut serta menentukan. Umurku setiap hari bertambah, sehingga akhirnya aku akan menjadi seorang perawan tua. Cobalah kau ikut memikirkan Kakang. Sebenarnyalah kedatanganku kemari sama sekali tidak bermaksud membuat hatimu menjadi risau. Akulah yang risau karena aku selalu ingin melihat keadaanmu. Tetapi setiap aku bertemu dengan kau, maka perasaanku tidak lagi dapat aku bendung lagi. Aku hanya ingin kau mengetahui perasaanku Kakang,” suara Sekar Mirah mulai bergetar.

Agung Sedayu mengangguk kecil sambil menjawab, ”Aku mengerti Sekar Mirah. Aku selalu memikirkannya. Tetapi hatiku yang lemah selalu gagal untuk menemukan keputusan.”

”Kakang, kau bukan saja seorang yang rendah hati atau bahkan tinggi hati. Tetapi sebenarnyalah bahwa kau adalah seorang yang rendah diri,” berkata Sekar Mirah kemudian, ”cobalah kau bangkit dari mimpimu yang samar-samar itu. Cobalah mengambil sikap. Hidupku sebagian akan tergantung pula kepadamu.”

”Sekar Mirah,” suara Agung Sedayu semakin merendah, ”aku akan mencoba untuk mengambil sikap. Aku sadar, bahwa aku tidak akan dapat berdiri tanpa alas seperti sekarang ini. Apalagi di masa mendatang, jika saat itu tiba. Saat kita tidak dapat mengelak lagi untuk melangkahi batas kemudaan kita.”

”Aku harap hal itu tidak sekedar kau pikirkan dan kau sadari. Kau tidak perlu mencoba-coba mengambil sikap. Tetapi kau harus sebenarnya mengambil sikap. Aku jangan kau paksa terayun-ayun dalam angan-angan seperti sekarang ini untuk waktu yang tidak terbatas.” Tetapi tiba-tiba suara Sekar Mirah menjadi lambat, ”Maafkan aku Kakang. Aku datang untuk membantu agar Kakang menjadi semakin cepat sembuh. Bukan sebaliknya. Tetapi kadang-kadang aku memang tidak dapat menyembunyikan kerisauan ini.”

”Aku mengerti Sekar Mirah. Aku mengerti,“ desis Agung Sedayu.

Sekar Mirah tidak berbicara lagi. Keduanyapun diam untuk beberapa saat sambil memandang dunia angan-angan masing-masing.

Persoalan yang demikian selalu dan akan selalu terulang dalam setiap pertemuan, sebelum Agung Sedayu dapat mengambil sikap yang tegas dan pasti. Sekar Mirah yang memiliki sifat vang sejalan dengan sifat kakaknya, Swandaru, mempunyai pandangan yang agak berbeda dengan sikap dan pandangan hidup Agung Sedayu. Namun Agung Sedayupun dapat mengerti, bahwa Sekar Mirah adalah seorang gadis yang semakin dalam disekap oleh umurnya.

Dalam kediaman itu, mereka melihat Swandaru dan Pandan Wangi mendekati mereka. Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian mempersilahkan mereka duduk bersama di serambi itu pula.

Dengan demikian maka pembicaraan merekapun mulai berkisar. Sekali-sekali Pandan Wangi membicarakan buah-buahan yang segar yang tergantung di padepokan. Kemudian membicarakan ikan emas yang berwarna kuning berenang di kolam yang jernih.

Namun akhirnya Pandan Wangi bertanya, ”Apakah prajurit Pajang itu akan selamanya berada di sini?”

”Tentu tidak,” jawab Agung Sedayu, ”mereka akan segera ditarik jika keadaanku sudah baik.”

”Dan prajurit-prajurit itu akan datang ke baraknya sebagai pahlawan,” sambung Sekar Mirah, ”tetapi Kakang Agung Sedayu sendiri akan tetap seorang penghuni padepokan kecil ini. Seorang petani yang selalu kotor oleh lumpur dan gatal oleh jerami tanpa memiliki masa depan yang lain.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Sementara Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Sudahlah. Tentu Kakang Agung Sedayu sudah memikirkannya.”

Sekar Mirah tidak menyahut lagi. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam.

Pandan Wangilah yang kemudian mulai lagi dengan pertanyaan yang menyentuh padepokan kecil itu. Hasil panen sawah yang dimiliki dan hasil tanaman di pategalan.

Tetapi rasa-rasanya pembicaraan sudah tidak secerah saat-saat mereka datang. Betapapun Pandan Wangi berusaha mengangkat suasana, namun wajah-wajah telah menjadi muram.

Setelah makan siang, dan matahari telah mulai condong ke barat, maka Swandaru pun mengajak istri dan adiknya kembali ke Sangkal Putung.

”Pada saat yang lain kita akan datang lagi” berkata Swandaru kepada Agung Sedayu.

”Kami mengharap kalian sering datang ke padepokan ini,” minta Agung Sedayu, ”kedatangan kalian memberikan suasana yang berbeda bukan saja bagi diriku sendiri, tetapi juga bagi padepokan ini.”

”Tentu,” sahut Swandaru, ”kali ini kami hanya ingin melihat keadaanmu. Ternyata kau sudah berangsur baik. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kau sudah pulih kembali, sehingga kau tidak perlu mendapat perlindungan lagi dari orang lain.”

Agung Sedayu tersenyum. Namun ketika terpandang olehnya wajah Sekar Mirah yang muram, maka iapun berkata, ”Aku akan memikirkannya dengan sungguh-sungguh Sekar Mirah. Dalam waktu yang dekat aku akan dapat mengambil satu kesimpulan.”

”Dekat bagimu dan dekat bagiku, mungkin agak berbeda,” jawab Sekar Mirah.

”Tetapi itu lebih baik daripada Kakang Agung Sedayu tidak berusaha sama sekali,” Swandarulah yang menyahut.

Sekar Mirah hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu, Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah pun segera minta diri pula kepada semua penghuni padepokan itu. Kepada Kiai Gringsing, Ki Widura dan beberapa orang prajurit yang berada di padepokan itu.

”Apakah kau tidak ingin pergi ke Sangkal Putung?” bertanya Pandan Wangi kepada Glagah Putih.

Glagah Putih tersenyum. Jawabnya, ”Lain kali. Sebenarnya aku ingin menjelajahi setiap tempat. Tetapi aku belum mendapat kesempatan.”

Pandan Wangi tertawa. Swandarupun tertawa pula. Katanya, ”Kau sudah dewasa sekarang. Sebentar lagi kau akan segera mendapat kesempatan itu.”

Glagah Putih pun tertawa pula.

Demikianlah, maka ketiga orang itupun segera kembali ke Sangkal Putung. Kiai Gringsing sempat memberikan beberapa pesan kepada Swandaru mengingat keadaan yang nampaknya masih belum tenang.

Sepeninggal Sekar Mirah, maka Agung Sedayu menjadi banyak merenung. Ada hal-hal yang benar yang dikatakan oleh Sekar Mirah, sehingga karena itu, maka Agung Sedayupun menjadi semakin gelisah.

Agaknya Kiai Gringsing menangkap perubahan pada muridnya yang perasa itu. Ia sudah pernah mendengar beberapa hal tentang hubungan yang agak timpang antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Bahkan Kiai Gringsing pernah juga mendengar Ki Waskita mengeluh, bahwa ia melihat bayangan yang buram dalam hubungan antara kedua anak muda itu.

”Mudah-mudahan Ki Waskita keliru,” desis Kiai Gringsing di dalam hatinya, ”ia juga melihat bayangan yang buram dalam hubungan antara Swandaru dan Pandan Wangi. Namun nampaknya keduanya hidup rukun dan tenang, meskipun gejolak jiwa Swandaru kadang-kadang melonjak-lonjak. Tetapi agaknya Pandan Wangi dapat mengimbanginya dan bahkan kadang-kadang agak mengekangnya. ”

Tetapi hubungan antara Sekar Mirah dan Agung Sedayu nampaknya memang lebih sulit menurut pengamatan Kiai Gringsing. Agung Sedayu dan Sekar Mirah mempunyai watak yang jauh berbeda, bahkan agak berlawanan.

”Mudah-mudahan pada saatnya, keduanya dapat saling menyesuaikan diri,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Meskipun tidak langsung, Kiai Gringsing berusaha untuk mengurangi pahitnya perasaan Agung Sedayu, agar dengan demikian perasaan itu tidak mempengaruhi keadaan wadagnya. Ia sedang dalam usaha memulihkan keadaan tubuhnya yang masih lemah. Bahkan luka-lukanya belum sembuh sama sekali.

”Pusatkan perhatianmu pada penyembuhan wadag dan hatimu,” berkata Kiai Gringsing kepada Agung Sedayu, ”semakin cepat kau sembuh dan pulih kembali, maka semakin cepat kau dapat melakukan tugas-tugasmu yang lain. Kau bukan lahir untuk sekedar berkelahi dan membunuh. Tetapi kau tentu akan sampai pada suatu batas kehidupan manusia sewajarnya.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Baginya berkelahi dan apalagi membunuh adalah pekerjaan yang paling dibencinya. Tetapi yang dibencinya itu ternyata harus dilakukannya juga. Bahkan beberapa kali.

”Sudahlah Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kemudian, ”jangan terlalu risau. Meskipun bukan berarti bahwa kau tidak perlu memikirkan masa depan, tetapi kau harus memperhatikan keadaanmu sekarang.”

”Ya Guru,” suara Agung Sedayu tiba-tiba saja menjadi parau.

Sabungsari yang melihat keadaan AgungSedayu yang nampaknya diselubungi oleh kegelisahan, tidak ingin menambah dengan beban-beban yang akan semakin menggelisahkannya. Karena itu, Sabungsari justru tidak bertanya sama sekali, kenapa Agung Sedayu sepeninggal Sekar Mirah menjadi muram. Tetapi ia justru mencoba mengalihkan perhatian Agung Sedayu terhadap keadaan dirinya sendiri.

Dalam pada itu, Swandaru dan istri serta adiknya tengah berpacu menuju ke Sangkal Putung. Tidak banyak yang mereka percakapkan di sepanjang jalan. Hanya kadang-kadang saja mereka berbincang tentang sawah dan ladang yang mereka lalui. Juga tentang hutan yang tidak terlalu lebat, meskipun masih menyimpan binatang buas didalamnya. Namun harimau sama sekali tidak menggetarkan hati anak-anak muda itu.

Pandan Wangi pun sangat membatasi pembicaraannya. Ia tidak ingin salah ucap, sehingga membuat hati Sekar Mirah menjadi semakin suram. Bagi Sekar Mirah, Agung Sedayu seolah-olah tidak memperhatikan sama sekali masa depan mereka. Atau bagi Sekar Mirah, Agung Sedayu adalah seorang yang tidak mempunyai gairah hidup sama sekali. Ia menerima apa yang datang kepadanya. Tetapi ia sama sekali tidak berusaha untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Apalagi berjuang dengan gairah dan penuh dengan nyala api kehidupan.

Namun justru karena itu, maka perjalanan mereka rasa-rasanya menjadi semakin cepat. Sebelum matahari’ hilang di punggung pegunungan di sebelah barat, mereka telah memasuki kademangan Sangkal Putung.

Namun demikian mereka memasuki regol halaman, maka mereka telah dikejutkan oleh beberapa ekor kuda yang terikat pada tiang-tiang pendek di pinggir halaman. Ketika kemudian mereka berloncatan turun, maka merekapun melihat seorang anak muda yang bertubuh sedang, dengan pedang panjang di lambung menyongsong mereka. Sebuah senyum yang segar membayang di wajahnya yang cerah.

“Prastawa,” hampir berbareng ketiga orang yang baru datang itu menyebut namanya.

Prastawa tertawa. Katanya, ”Hampir saja aku menyusul kalian ke Jati Anom. Tetapi Ki Demang menahanku di sini, karena kalian akan segera datang.”

”Kapan kau datang Prastawa?” bertanya Swandaru.

”Lewat tengah hari. Aku sudah menunggumu terlalu lama,” jawab Prastawa.

”Marilah, duduklah kembali,” ajak Swandaru.

Merekapun kemudian naik kembali ke pendapa. Setelah Swandaru dan istri serta adiknya membasuh kakinya, maka merekapun kemudian duduk di pendapa bersama Ki Demang dan tiga orang pengiring Prastawa yang datang dari Tanah Perdikan Menoreh.

Setelah mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing, maka Swandarupun bertanya, ”Kedatanganmu mengejutkan, apakah ada sesuatu yang penting yang akan kau sampaikan kepada kami di sini, atau kau sekedar ingin menengok keadaan kami?”

Prastawa tersenyum. Katanya, ”Tidak terlalu penting. Tetapi aku memang menyampaikan pesan dari Paman Argapati bagi kalian.”

”Tetapi, bukankah Ayah dalam keadaan baik, sehat dan tidak mengalami sesuatu?” bertanya Pandan Wangi tidak sabar.

”Paman dalam keadaan baik,” jawab Prastawa, ”tetapi Paman sudah lama ingin bertemu dengan kalian berdua. Sebenarnyalah Paman Argapati telah rindu setelah untuk waktu yang lama tidak bertemu.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sambil menundukkan kepalanya ia berdesis, ”Aku agaknya telah mengecewakan Ayah. Seharusnya aku sering menengoknya.”

”Ya. Paman merasa kesepian,“ desis Prastawa.

”Apakah Ayah berpesan agar aku pergi ke Tanah Perdikan Menoreh?” bertanya Pandan Wangi.

”Demikianlah. Tetapi tidak perlu tergesa-gesa. Paman berpesan, kapan-kapan saja jika waktu kalian longgar dan tidak mengganggu pekerjaan kalian di sini,” berkata Prastawa.

Terasa sesuatu menyekat leher Pandan Wangi. Namun kemudian ia berkata sendat, ”Aku akan segera pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.“ Namun kemudian ia berpaling kepada Swandaru, ”Apakah kita akan mendapat kesempatan?”

”Kita akan pergi. Bagaimanapun juga, kita akan menyediakan waktu. Paman Argapati tentu sudah rindu kepadamu. Ia tentu mengalami kesepian karena seolah-olah ia berada seorang diri di Tanah Perdikan yang luas.”

”Aku selalu mengawaninya,” berkata Prastawa, ”aku hanya kadang-kadang saja kembali ke rumah.“

”Syukurlah,” desis Pandan Wangi, ”kaulah yang harus menjaga pamanmu sebaik-baiknya. Meskipun Ayah belum terlalu tua, tetapi justru karena hidupnya yang sepi sejak lama, maka nampaknya ia menjadi jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya.”

”Tetapi Paman masih nampak segar,” sahut Prastawa, yang kemudian bertanya, ”kapan kalian akan pergi? Jika waktunya sudah dekat, kita akan pergi bersama. Tetapi jika waktunya masih agak jauh, maka aku besok akan mendahului kalian, kembali ke Tanah Perdikan, agar Paman tidak menjadi gelisah, karena menurut pendengaran Paman, daerah ini bukanlah daerah yang selalu tenang.”

Pandan Wangi memandang Swandaru sejenak, seolah-olah ia menunggu keputusannya.

Swandaru nampak berpikir sambil menghitung-hitung hari. Lalu iapun kemudian bertanya kepada ayahnya, ”Apakah kademangan ini dapat aku tinggalkan barang dua tiga hari, Ayah?”

”Tetapi sebelumnya kau harus mengatur keadaan. Kau harus menempatkan para pengawal pada tempat yang paling baik dalam keadaan seperti ini,” jawab ayahnya.

”Ya. Aku akan mengatur mereka sebaik-baiknya. Tetapi akupun harus minta diri pula kepada Guru di Jati Anom,” gumamSwandaru.

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-angguk. Meskipun sebenarnya ia kurang tenang ditinggalkan oleh Swandaru, apalagi untuk tiga atau empat hari. Tetapi iapun mengerti, betapa rindunya orang tua terhadap anak perempuan satu-satunya meskipun sudah bersuami.

Sebagai orang tua Ki Demang mengerti, bahwa tidak seharusnya ia melarang anak dan menantunya pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, bagaimanapun juga, ia tidak dapat menahannya.

Karena itu, maka katanya, ”Sebaiknya kau memang minta ijin kepada gurumu. Setidak-tidaknya kau memberitahukan bahwa kau akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Selama kau tidak ada, biarlah Sekar Mirah menggantikan kedudukanmu. Aku tahu, meskipun ia seorang gadis, tetapi ia lebih baik dari setiap pengawal yang ada di Sangkal Putung.”

”Ya,” sahut Swandaru, ”biarlah Sekar Mirah mengamati setiap hari apakah pengawal yang sudah aku atur itu dapat melakukannya dengan baik.”

Namun tiba-tiba saja Prastawa memotong, ”Apakah Sekar Mirah tidak akan ikut serta ke Tanah Perdikan Menoreh?”

”Biarlah ia di rumah mengawani Ayah dan para pengawal,” berkata Swandaru.

”Ya,” sambung Ki Demang, ”aku memerlukannya.”

Tetapi ketika mereka berpaling memandang Sekar Mirah, maka nampak wajahnya menjadi suram. Karena itu, maka Prastawa telah bertanya pula, ”Agaknya Sekar Mirah ingin ikut serta pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Apa salahnya jika kademangan ini diserahkan kepada para pengawal dengan jumlah yang lipat ganda. Bukankah di sini banyak anak-anak muda yang sudah memiliki kemampuan bermain pedang?”

”Tetapi tanpa seorang pendega yang memiliki kelebihan dari mereka, maka rasa-rasanya agak kurang mapan juga,” sahut Ki Demang.

”Biarlah ia tinggal,” desis Swandaru, ”Ayah akan selalu gelisah jika kita semuanya pergi bersama-sama.”

”Itu tidak adil,” berkata Prastawa, ”seharusnya Sekar Mirah pun diperkenankan untuk pergi.”

 

 

”Persoalannya lain Prastawa,” berkata Pandan Wangi, ”sebenarnya ada baiknya jika Sekar Mirah tinggal di rumah. Perjalanan kami pun tentu tidak akan menyenangkan karena kegelisahan perasaan. Mungkin pada kesempatan lain, dalam perjalanan tamasya kita akan pergi bersama-sama. Tetapi tentu saja dengan mengingat keadaan kademangan ini.”

”Kecemasan kalian tentang kademangan ini agak berlebih-lebihan,” berkata Prastawa, ”tetapi jika perlu, kenapa kalian tidak memanggil Agung Sedayu dan menyuruhnya menjaga Kademangan ini?”

”Tentu tidak mungkin,” tiba-tiba saja Sekar Mirahlah yang menjawab, “sebenarnya-lah bahwa aku memang ingin ikut serta bersama kalian menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, tetapi juga tidak terlalu dekat. Aku sependapat bahwa kademangan ini dapat diserahkan kepada para pengawal. Tetapi tentu bukan Kakang Agung Sedayu. Ia bukan peronda upahan yang dapat disuruh melakukan sesuatu sekehendak hati kita. Dan apakah hak kita menyuruhnya menjaga kademangan ini, kecuali atas kehendaknya sendiri, seperti aku tentu tidak akan dapat menyuruhmu tinggal di sini selama kami pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Prastawa menegang sejenak. Namun iapun kemudian menyadari bahwa Sekar Mirah bukan orang lain bagi Agung Sedayu. Ada ikatan di antara mereka, meskipun masih belum ditetapkan sebagai ikatan mati.

Namun dengan demikian, justru keinginannya untuk mengajak Sekar Mirah pergi ke Tanah Perdikan Menoreh menjadi semakin besar, sehingga katanya kemudian, ”Sekar Mirah, aku minta maaf. Mungkin kata-kataku telah terdorong. Tetapi aku sebenarnya tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa kademangan ini dapat mengambil cara apapun agar kau dapat pergi ke Tanah Perdikan Menoreh bersama Kakang Swandaru berdua.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

Yang kemudian berkata adalah Ki Demang, ”Tetapi semuanya terserah kepadamu Sekar Mirah. Jika kau memang benar-benar ingin pergi, pergilah. Tetapi penjagaan para pengawal atas Kademangan ini harus benar-benar diperkuat.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Setiap kali ayahnya memang tidak dapat bertegang hati terhadap adik perempuannya. Apalagi jika mata Sekar Mirah kemudian menjadi kemerah-merahan.

Pandan Wangilah yang kemudian menjadi gelisah. Ia tidak dapat dikelabuhi oleh sikap Prastawa yang bagaimanapun juga. Ia sudah dapat meraba betapa masih lembutnya perasaan Prastawa yang tertuju kepada Sekar Mirah. Sementara Sekar Mirah sudah dengan sepengetahuan beberapa pihak, terikat kepada Agung Sedayu.

Tetapi Pandan Wangi tidak dapat mengatakannya. Justru karena Prastawa adalah adik sepupunya.

Dalam pada itu, maka akhirnya Sekar Mirah berkata, ”Jika Ayah memang mengijinkan, biarlah aku pergi bersama Kakang Swandaru ke Tanah Perdikan Menoreh. Sudah lama aku tidak melihat tlatah di luar kademangan ini. Paling jauh, hari ini kami pergi ke Kademangan Jati Anom.”

”Terserahlah kepadamu,” jawab Ki Demang, ”tetapi seperti yang kau katakan Swandaru, katakanlah rencana kepergianmu kepada gurumu.”

”Besok aku akan pergi ke Jati Anom, Ayah. Aku akan minta diri kepada Guru. Meskipun aku tidak akan mempersilahkan Guru tinggal di sini, tetapi aku memang ingin menitipkan Sangkal Putung kepada Guru.”

”Aku akan ikut pergi ke Jati Anom,” berkata Prastawa, ”sudah lama aku tidak bertemu dengan Agung Sedayu dan saudara sepupunya yang agak dungu itu.”

”Terserahlah,” berkata Swandaru, ”besok aku akan pergi. Siang hari kita kembali. Kami masih mempunyai sisa waktu untuk mengemasi bekal kami karena di keesokan harinya kita semuanya akan berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh.

”Jika demikian, kapan kau sempat mengatur para pengawal?” bertanya ayahnya.

”Sekarang, atau malam nanti Ayah. Untuk itu aku hanya memerlukan waktu sebentar. Aku akan mengumpulkan para pemimpin kelompok dari padukuhan-padukuhan di lingkungan Kademangan Sangkal Putung. Lewat mereka, aku akan mengatur para pengawal di seluruh Kademangan.”

Ki Demang Sangkal Putung merenung sejenak. Nampaknya iapun sedang merenungi kemungkinan yang bakal dilakukan oleh Swandaru. Namun kemudian iapun mengangguk sambil bergumam, ”Terserahlah kepadamu Swandaru. Kau tentu mempunyai perhitungan yang cukup matang.”

”Serahkan kepadaku Ayah,” jawab Swandaru.

Ki Demang tidak mempersoalkannya lagi. Memang baginya, Swandaru adalah anak muda yang sudah cukup dewasa, yang sudah memiliki wawasan yang matang bagi kademangannya.

Seperti yang dikatakan, maka Swandarupun segera memanggil para pemimpin kelompok untuk berkumpul di pendapa Kademangan malam itu juga. Dengan singkat Swandaru memberikan penjelasan tentang rencananya untuk pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Kemudian dengan terperinci Swandaru memberikan pesan kepada para pemimpin kelompok untuk menjaga Kademangan Sangkal Putung sebaik-baiknya selama ia tidak berada di kademangan.

”Aku percaya kepada kalian,” berkata Swandaru, ”meskipun seandainya datang beberapa orang sakti yang pilih tanding. Dengan kemampuan dan ketrampilan kalian dalam olah kanuragan, seorang demi seorangpun dalam kelompok kalian akan dapat mengatasinya. Betapapun tinggi kesaktiannya, namun jumlah kalian yang banyak, akan ikut serta menentukan. Bahkan seandainya ada di antara orang-orang sakti yang datang dengan ilmu sirep. Kalian, bersama-sama akan dapat melawan kekuatan ilmu itu.”

Para pemimpin kelompok itu mendengarkan semua pesan Swandaru dengan saksama. Merekapun sadar, bahwa Sangkal Putung telah beberapa kali dijamah oleh tangan-tangan yang sakti, tetapi berwarna kelam.

Prastawa yang hadir juga di pendapa, merasa kagum atas kemampuan Swandaru mengatur anak-anak muda di Kademangannya. Swandaru memiliki kemampuan berpikir, kemampuan dalam olah kanuragan, dan kemampuan menguasai mereka dengan kewibawaannya.

”Jika di Tanah Perdikan Menoreh ada seseorang yang memiliki ketrampilan yang mumpuni seperti Swandaru,” berkata Prastawa di dalam hatinya, ”maka Tanah Perdikan Menoreh itu tentu akan cepat menjadi besar, melampaui masa Paman Argapati masih memiliki gairah perjuangan di masa mudanya.”

Tetapi sebenarnyalah bahwa Tanah Perdikan Menoreh yang memiliki daerah yang lebih luas dari Sangkal Putung itu nampaknya semakin lama semakin mundur.

”Aku masih belum dapat berbuat seperti Swandaru,” berkata Prastawa di dalam hatinya.

Namun ia berjanji kepada diri sendiri, bahwa ia akan berbuat sebaik-baiknya bagi Tanah Perdikan itu.

”Aku akan mengimbangi perkembangan Kademangan Sangkal Putung,” berkata Prastawa di dalam hatinya, karena iapun merasa, bahwa ia memiliki tanggung jawab atas Tanah Perdikan itu.

Demikianlah, ketika segalanya telah jelas dan pasti, maka para pemimpin kelompok itupun diperkenankan meninggalkan Kademangan. Namun Swandaru masih berpesan, ”Besok malam penjagaan serupa itu harus sudah dapat aku lihat. Dengan demikian aku dapat memperhitungkan, apakah yang kalian lakukan itu sudah cukup baik.”

Demikianlah, ketika para pemimpin kelompok itu kembali ke padukuhannya masing-masing, maka merekapun segera mempersiapkan para pengawal di padukuhan-padukuhan itu. Seperti saat Swandaru memberikan keterangan kepada mereka, maka merekapun berusaha untuk memberikan keterangan sejelas-jelasnya mengenai keadaan padukuhan dan juga mengenai seluruh kademangan.

Malam itu juga, mereka mulai mengatur diri. Mereka membagi para pengawal padukuhan ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Setiap gardu harus terisi. Dan setiap tempat yang ditentukan, harus dilengkapi dengan kentongan. Bukan hanya di dalam gardu-gardu. Tetapi di setiap rumah para pengawal itupun harus siap dengan kentongan agar setiap isyarat dapat menjalar dengan cepat. Bahkan di antara mereka telah ditunjuk beberapa orang yang akan menjadi penghubung dari padukuhan yang satu ke padukuhan yang lain. Mereka harus menyiapkan beberapa ekor kuda yang terbaik yang ada di padukuhan itu.

Ternyata perintah dan petunjuk Swandaru, malam itu sudah tersebar ke setiap telinga para pengawal. Namun merekapun telah mendapat pesan pula dari Swandaru, jangan membuat rakyat Sangkal Putung menjadi gelisah, seolah-olah Sangkal Putung akan dibakar oleh peperangan yang dahsyat. Bagaimanapun juga, mereka masih belum dapat melupakan, saat-saat Sangkal Putung berhadapan dengan kekuatan Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan dari Jipang. Setelah itu, maka meskipun tidak terlalu sering, tetapi Sangkal Putung kadang-kadang didatangi oleh orang-orang yang memiliki kemampuan melampaui manusia biasa.

Pesan itupun telah disampaikan pula oleh setiap pemimpin kelompok kepada kawan-kawannya.

Demikianlah, maka sejak malam itu, para pengawal sudah mencoba mengetrapkan penempatan kelompok-kelompok kecil yang sudah mereka atur dengan sebaik-baiknya, sehingga dengan demikian mereka akan dapat melihat, apakah pembagian yang mereka atur itu sudah cukup baik sesuai dengan petunjuk Swandaru.

Ketika datang hari berikutnya, maka Swandaru dan Prastawa telah bersiap-siap untuk pergi ke Jati Anom, diikuti oleh para pengiring Prastawa yang dibawanya dari Tanah Perdikan Menoreh. Apalagi Prastawa mendengar bahwa kadang-kadang di daerah itu masih timbul bermacam-macam peristiwa yang dapat menimbulkan keadaan yang gawat.

Kedatangan Swandaru ke Jati Anom memang telah mengejutkan seisi padepokan. Namun ketika Swandaru telah menjelaskan kedatangannya bersama Prastawa, maka ketegangan itupun telah mengendor.

”Baru kemarin kau datang,” berkata Kiai Gringsing, ”karena itu kami terkejut karenanya. Tetapi agaknya tidak terjadi sesuatu di Sangkal Putung.”

”Aku hanya akan minta diri,” sahut Swandaru.

Kiai Gringsingpun kemudian memberikan beberapa pesan kepada Swandaru agar ia tidak terlalu lama meninggalkan Sangkal Putung. Namun iapun memberikan pesan, agar mereka berhati-hati di perjalanan.

Swandaru tidak tinggal terlalu lama di Jati Anom. Setelah semua maksudnya diberitahukan kepada Kiai Gringsing, dan setelah segala persiapan dilaporkannya, maka iapun segera minta diri.

Agung Sedayu dan Sabungsari yang sudah berangsur baik, sempat mengantarkan Swandaru dan Prastawa sampai ke gerbang. Ketika keduanya sudah meloncat ke punggung kuda, Prastawa sempat berkata kepada Agung Sedayu, ”Mudah-mudahan kau cepat sembuh. Agaknya kau masih harus berlatih lebih tekun lagi, agar kau tidak dapat lagi dilukai oleh perampok-perampok yang berkeliaran di daerah ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia sudah mengenal Prastawa, sehingga karena itu, ia menjawab, ”Terima kasih Prastawa. Mudah-mudahan aku akan segera sembuh.”

Glagah Putih yang mempunyai kesan yang aneh sejak ia bertemu untuk pertama kali dengan Prastawa, sama sekali tidak senang melihat sikap dan mendengar pesannya. Tetapi ketika ia bergeser, Ki Widura telah menggamitnya sambil berdesis, ”Kau mau apa?”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengurungkan niatnya.

Namun dalam pada itu, Swandaru berkata, ”Jika bukan Kakang Agung Sedayu, dan bukan prajurit muda yang bernama Sabungsari itu, maka keduanya tentu sudah menjadi mayat.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Ia merasa tidak senang mendengar jawaban Swandaru. Tetapi Swandaru justru berkata, ”Keduanya adalah orang aneh dari padepokan kecil ini. Orang-orang Gunung Kendeng itu tentu sudah jera untuk kembali lagi, bahkan seandainya para prajurit telah ditarik kembali.”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Namun ia sadar, bahwa Agung Sedayu adalah saudara seperguruan Swandaru. Jika ia merendahkan ilmu Agung Sedayu, itu berarti, bahwa iapun telah menganggap Swandaru demikian pula.

Karena itu, maka Prastawa itupun tidak menyahut lagi. Ketika sekali lagi Swandaru minta diri, maka iapun mengangguk pula sambil menggerakkan kendali kudanya.

Demikian kuda itu berderap menjauh, diiringi para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh, Sabungsari berdesis, ”Anak muda itu agaknya kurang berhati-hati.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak memberikan tanggapan apapun juga.

Demikianlah maka kuda Swandaru dan Prastawa kemudian berderap membelah tanah persawahan. Debu yang kelabu mengepul ke belakang kaki kuda yang berlari tidak terlalu kencang itu.

Betapapun Prastawa berusaha menahan diri, namun terlontar pula pertanyaannya, ”Apakah orang-orang Gunung Kendeng itu benar-benar orang yang pilih tanding, sehingga Agung Sedayu dan prajurit muda yang bernama Sabungsari itu harus terluka?”

Swandaru memandang Prastawa sejenak. Lalu katanya, ”Kau tentu tidak dapat membayangkan, betapa tinggi ilmunya. Jika ia bukan orang yang berilmu tinggi, maka orang yang melawan Kakang Agung Sedayu dan Sabungsari tentu tidak akan berhasil melarikan diri.”

Prastawa mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, ”Apakah menurut penilaianmu, Agung Sedayu itu dapat menyamai kemampuanmu?”

”Ia adalah murid yang dianggap lebih tua dari aku,” jawab Swandaru, ”setidak-tidaknya kita berdua mempunyai alas kemampuan yang sama. Selanjutnya tergantung kepada kita masing-masing, apakah kita dapat mengembangkan ilmu itu dengan baik.”

Prastawa mengangguk-angguk. Lalu, meskipun agak ragu-ragu ia masih juga bertanya, ”Dan Agung Sedayu juga mampu mengembangkan ilmunya seperti kau?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun ia menjawab, ”Aku tidak tahu Prastawa. Aku tidak dapat menilai dengan tepat. Seandainya aku dapat menilai kemampuan Kakang Agung Sedayu, namun aku tidak akan dapat menilai kemampuanku sendiri sebagai bahan perbandingan.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah, bahwa ia sendiri kurang menyadari, kenapa ia ingin mendengar kekurangan-kekurangan yang ada pada Agung Sedayu. Namun agaknya Swandaru sama sekali tidak menyebutkannya seperti yang diharapkan.

Namun Prastawa masih bertanya, ”Tetapi apakah Agung Sedayu berhasil menyusul kemampuan orang-orang yang terdahulu daripadanya, Untara misalnya, atau orang-orang lain yang dapat kau sebutkan?”

”Sulit untuk mengatakannya Prastawa,” jawab Swandaru. Namun kelanjutannya ternyata membuat Prastawa semakin kecewa, ”Tetapi kakang Agung Sedayu memang orang luar biasa seperti prajurit muda yang terluka itu. Mereka ternyata mampu mengalahkan Carang Waja. Bahkan prajurit muda itu telah berhasil membunuhnya.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak bertanya lebih jauh. Ternyata Swandaru tidak mengerti maksudnya. Ia justru ingin mendengar Swandaru menunjukkan cela yang ada pada Agung Sedayu. Tetapi ia justru selalu kecewa.

Demikianlah kuda-kuda itu berderap semakin jauh dari Jati Anom. Di sepanjang jalan, tidak banyak lagi yang mereka bicarakan. Prastawa seolah-olah sibuk berangan-angan sendiri. Ia tidak lagi berusaha melihat kelemahan Agung Sedayu dari cerita Swandaru. Tetapi Prastawa mulai membayangkan sendiri, kekurangan-kekurangan anak muda yang sedang terluka itu.

”Orang-orang Gunung Kendeng bukan orang-orang yang pantas dikagumi. Namun Agung Sedayu tidak dapat melepaskan diri dari luka-luka yang sangat parah. Seandainya ia tidak berada dalam perawatan gurunya, mungkin ia tidak akan sempat melihat matahari terbit di keesokan harinya,” berkata Prastawa di dalam hatinya, lalu, ”agaknya Swandaru tidak ingin mengatakan kelemahan saudara seperguruannya itu.”

Sementara itu, di dalam perjalanan, mereka tidak mengalami sesuatu. Mereka sampai di Sangkal Putung dengan selamat. Sementara mereka masih sempat berbenah diri, karena di keesokan harinya mereka akan berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh.

Namun di malam hari, Swandaru masih memerlukan untuk melihat, apakah semua pesannya kepada para pengawal sudah dilaksanakan. Ia melihat sendiri, kesiagaan para pengawal dari padukuhan yang satu ke padukuhan yang lain. Bahkan kepada setiap pemimpin kelompok ia masih berpesan agar kesiagaan di siang haripun tetap diperhatikan seperti yang ia pesankan pula.

Ternyata menurut pengamatan Swandaru, kesiagaan para pengawal Kademangan Sangkal Putung tidak lagi mengecewakan, seandainya benar-benar terjadi peristiwa yang gawat selama ia pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.

Karena itu, maka hatinya tidak lagi diberati oleh kademangan. Hanya dalam peristiwa yang luar biasa sajalah, maka para pengawal kademangannya tidak dapat melakukan tugasnya sebaik-baiknya.

Setelah melaporkan hasil pengamatannya kepada ayahnya, maka Swandaru itupun kemudian berkata kepada ayahnya, ”Ayah, besok aku jadi berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh. Tidak ada yang perlu dikawatirkan lagi. Para pengawal akan dapat melakukan kewajibannya sebaik-baiknya. Namun mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu selama aku pergi.”

”Baiklah,” jawab Ki Demang Sangkal Putung, ”tetapi jangan terlalu lama. Jika kalian merasa sudah cukup, maka sebaiknya kalian segera kembali. Daerah ini’ masih dibayangi oleh kemelut yang tidak habis-habisnya.”

Swandaru-mengangguk-angguk, sementara Pandan Wangi dan Sekar Mirahpun telah membenahi bekal yang akan mereka bawa ke Tanah Perdikan Menoreh.

Demikianlah, ketika fajar menyingsing di keesokan harinya, maka sebuah iring-iringan kecil telah meninggalkan Sangkal Putung. Pandan Wangi dan Sekar Mirah telah dengan sengaja memakai pakaian sebagai seorang laki-laki, agar tidak menarik perhatian orang di sepanjang jalan, seperti saat-saat ia pergi berkuda kemanapun juga, sementara orang-orang Sangkal Putung sendiri sudah terlalu sering melihat mereka dalam pakaian seperti itu, sehingga mereka sama sekali tidak merasa heran karenanya.

Tetapi pakaian mereka telah membuat mereka tidak dikenal sama sekali oieh orang-orang yang berpapasan dengan mereka di sepanjang jalan, bahwa keduanya adalah perempuan.

Beberapa orang anak muda melepas mereka sampai ke regol padukuhan, sementara di padukuhan-padukuhan lain di dalam lingkungan Kademangan Sangkal Putung, anak-anak muda memberikan salam dan ucapan selamat jalan.

Demikian mereka meninggalkan batas Kademangan Sangkal Putung, maka kuda merekapun berpacu semakin cepat. Agar tidak terlalu menarik perhatian, maka Swandaru, Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Prastawa berkuda dalam kelompok kecil di depan, kemudian beberapa puluh langkah di belakang mereka adalah para pengawal Prastawa yang menyertainya sejak dari Tanah Perdikan Menoreh.

Swandaru sudah sepakat dengan Pandan Wangi dan Sekar Mirah, bahwa mereka tidak akan melewati kota Mataram. Rasa-rasanya tidak enak di hati jika mereka tidak singgah apabila satu dua orang yang dikenalnya melihat mereka lewat. Apalagi Ki Lurah Branjangan. Atau bahkan Raden Sutawijaya sendiri atau orang lain yang dapat saja memberitahukan kepadanya.

Karena itu, maka mereka telah memilih jalan lain yang melingkari batas kota yang menjadi semakin lama semakin ramai itu.

Ternyata perjalanan mereka tidak mengalami hambatan sama sekali. Mereka menempuh perjalanan yang cukup panjang itu, bagaikan perjalanan tamasya yang menyenangkan setelah beberapa lama mereka tidak pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.

Ketika mereka sampai ke tepi Kali Praga, maka mereka telah beristirahat untuk beberapa lama. Meskipun mereka telah beristirahat pula sebelumnya, namun rasa-rasanya mereka menjadi semakin segar duduk di atas pasir tepian.

Prastawa justru sempat berbaring di atas pasir yang kering, sementara kuda mereka mengunyah rerumputan segar beberapa langkah dari mereka, tertambat pada pepohonan perdu.

Namun dalam pada itu, selagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan itu menikmati segarnya udara di tepian, beberapa pasang mata tengah memandangi mereka dengan saksama dari seberang.

”Apakah mereka yang dimaksud?” bertanya seseorang bertubuh tinggi tegap berdada bidang.

”Mungkin,” sahut yang lain, ”aku masih belum dapat melihat wajah-wajah mereka dengan jelas.”

”Kita mendekat,” desis yang lain.

”Tidak ada kawan menyeberang,” desis orang bertubuh raksasa itu, ”jika kita berempat saja menyeberang, maka mereka mungkin akan sempat memperhatikan kita.”

”Mereka tidak akan menghiraukan orang-orang yang menyeberang,” jawab yang lain pula.

Sejenak orang-orang itu merenungi beberapa orang yang sedang duduk di tepian di seberang.

”Tentu mereka,” desis orang bertubuh raksasa itu, ”Prastawa, kemanakan Ki Gede Menoreh, pergi ke Kademangan Sangkal Putung untuk menjemput anak perempuannya Ki Gede itu. Ia sudah terlalu rindu karena sudah terlalu lama anak perempuannya itu tidak menengoknya.”

”Tetapi tidak seorang perempuan pun di antara mereka,” berkata yang lain.

Orang bertubuh raksasa itu tidak menyahut. Dari kejauhan mereka memang tidak melihat, bahwa ada di antara orang-orang yang sedang beristirahat di tepian itu satu atau apalagi dua orang perempuan.

”Yang paling baik bagi kita adalah mendekat,” desis seorang di antara mereka, ”kita memanggil tukang satang, kemudian menyeberang tanpa menarik perhatian mereka. Tetapi jika kita tetap di sini sambil memperhatikan mereka, maka mungkin sekali mereka akan merasa, bahwa kita telah memperhatikannya.”

”Marilah,” desis orang bertubuh raksasa itu, ”kita menyeberang dan menepi dekat dengan tempat mereka beristirahat, agar jika kita melintas di dekat mereka, kita tidak akan menarik perhatian.”

Keempat orang yang berada di seberang sebelah barat itupun kemudian memanggil tukang satang, dan minta agar mereka diseberangkan dan menepi di tempat yang mereka inginkan.

”Dekat dengan pohon benda itu” desis yang seorang.

”Pohon itu tidak berada di tepian. Tetapi beberapa puluh langkah lagi,” jawab tukang satang.

”Maksudku, di arah pohon itu,” orang yang ingin menyeberang itu menegaskan.

”Di dekat orang-orang yang berhenti di tepian itu?” tukang satang itu menegaskan.

”Ya, ya. Kami agaknya tidak memperhatikan orang-orang itu,” sahut salah seorang dari mereka.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, sebuah rakit telah meluncur menyeberang kali Praga yang berair coklat berlumpur.

Selama mereka berada di atas rakit, mereka hampir tidak berbicara apapun juga. Satu dua rakit yang lain, melintas di dekat rakit mereka. Yang lain menyilang ke arah yang berlawanan.

Saat itu, agaknya jalan tidak terlalu ramai. Tetapi ada juga satu dua orang pedagang yang membawa barang dagangan menyeberang.

Swandaru sama sekali tidak menghiraukan orang-orang yang berada di atas rakit. Yang menyeberang ke arahnya maupun yang berlawanan. Angin yang lembut membuatnya mengantuk. Ketika ia melihat Prastawa memejamkan matanya, iapun tersenyum.

”Apakah kita akan menunggu senja disini?” desis Swandaru.

”Tentu tidak,” Pandan Wangi-lah yang menyahut, ”kita akan langsung sampai ke induk Tanah Perdikan.”

”Tetapi Prastawa akan tidur sejenak. Atau barangkali kita tinggal saja anak itu di situ,” desis Swandaru.

Meskipun Prastawa memejamkan matanya, namun ia sempat tersenyum sambil menjawab, ”Jika kalian akan pergi dahulu, pergilah. Tetapi beri aku kawan di sini.”

”Siapa?” bertanya Swandaru.

Prastawa hanya tersenyum saja. Namun ia masih tetap berbaring di atas pasir yang kering.

Sementara itu, sebuah rakit telah merapat di tepian. Empat orang berloncatan turun. Setelah memberikan sejumlah uang kepada tukang satang, maka merekapun melangkah meninggalkan rakit yang masih tetap berada di tepian, sementara tukang satangnya telah menambatkan rakitnya pada sebatang patok yang banyak terdapat di tepian.

Dengan hati-hati orang-orang itu mencoba mengamati beberapa orang yang berada di tepian. Sambil menggamit kawannya, orang bertubuh raksasa itu bergumam, ”Aku berani dipenggal leherku jika aku salah tebak. Ada di antara mereka orang perempuan.”

”Ya,” kawannya mengangguk-angguk, ”aku sependapat.”

Tetapi mereka tidak berhenti. Keempat orang itu melangkah terus sehingga mereka melintasi pasir tepian dan naik ke rerumputan yang tumbuh bercampur baur dengan batang ilalang.

Swandaru sama sekali tidak menghiraukan orang itu, seperti ia tidak menghiraukan rakit yang lain yang merapat pula di tepian. Namun justru Pandan Wangi-lah yang memperhatikan keempat orang yang naik ke padang rumput. Mereka tidak meninggalkan tepian dan naik ke jalan yang meskipun tidak terlalu ramai, tetapi jalan itu merupakan jalur untuk turun ke tepian jika seseorang ingin menyeberang.

Beberapa saat Pandan Wangi masih memperhatikan orang-orang itu. Meskipun yang dapat dilihatnya hanyalah kepala-kepala mereka, karena badan mereka telah terlindung oleh batang-batang ilalang.

Namun demikian Pandan Wangi tidak mengatakannya kepada siapapun juga, karena ia tidak dapat mengatakan alasan apapun untuk mencurigainya, kecuali satu pertanyaan, kenapa orang itu tidak melintasi tepian dan naik ke jalan, tetapi mereka menghilang di balik rerumputan dan batang-batang ilalang.

Ternyata orang-orang lain dalam kelompok kecil itu tidak ada yang memperhatikan orang-orang itu pula. Sekar Mirah lebih tertarik melihat rakit yang meluncur di atas air yang keruh. Sementara para pengawal Prastawa lebih senang duduk terkantuk-kantuk.

Oleh perasaan yang kurang mantap, maka Pandan Wangipun kemudian bertanya kepada Swandaru, ”Kapan kita meneruskan perjalanan? Agaknya kita sudah cukup lama beristirahat.”

Swandaru kemudian bangkit berdiri. Dipandanginya air sungai yang mengalir di hadapannya. Kemudian rakit yang masih tertambat. Dua orang tukang satang duduk di tepian sambil memeluk lututnya. Sekali-sekali keduanya mengerling kepada beberapa orang yang berhenti di tepian itu dengan penuh harap, agar orang-orang itu memanggil mereka dan menyuruh mereka membawa sekelompok orang itu bersama kuda-kuda mereka.

”Rakit itu dapat kita pergunakan,” berkata Pandan Wangi.

”Baiklah,” sahut Swandaru, ”kita akan segera menyeberang.”

Namun dalam pada itu Prastawa yang masih berbaring sambil memejamkan matanya berkata, ”Aku masih segan bangkit.”

”Tinggallah di sini,“ desis Pandan Wangi.

Prastawa terpaksa bangkit sambil menggeliat. Namun iapun kemudian membenahi pakaiannya meskipun ia masih menguap.

”Aku hampir tertidur. Benar-benar tertidur,” desisnya.

”Jika kau tidur, kami akan meninggalkan kau di sini tanpa seorang kawanpun,” sahut Pandan Wangi.

Prastawa tidak menjawab. Tetapi di luar sadarnya ia memandang Sekar Mirah yang sudah bersiap-siap pula untuk melanjutkan perjalanan.

Namun dalam pada itu, selagi mereka sibuk dengan kuda-kuda mereka, maka sekali lagi Pandan Wangi tertarik perhatiannya kepada keempat orang yang lewat beberapa langkah di hadapannya. Ternyata keempat orang itu telah berada di atas rakit yang membawa mereka kembali ke seberang. Agaknya mereka telah melingkar dan kembali ke tepian beberapa puluh langkah dari tempat Pandan Wangi dan orang-orang yang bersamanya berisirahat.

Tetapi ternyata Pandan Wangi yang mencurigai mereka itu tidak lagi tinggal diam. Sambil menggamit Swandaru ia berdesis, ”Kau perhatikan orang-orang itu Kakang.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Katanya, ”Kenapa dengan mereka?”

”Baru saja mereka menyeberang kemari. Bukankah mereka yang beberapa saat yang lalu berjalan beberapa langkah di hadapan kita?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Sejenak ia memperhatikan orang-orang yang berada di atas rakit, namun yang sudah hampir sampai ke seberang. Kemudian katanya, ”Ya. Aku ingat kepada mereka.”

”Bukankah sangat menarik, bahwa mereka dengan tergesa-gesa kembali ke seberang?” bertanya Pandan Wangi.

 

 

“Ya. Tetapi baiklah kita berpura-pura tidak mengetahui apa yang mereka lakukan,” desis Swandaru.

Sekar Mirah dan Prastawapun kemudian bertanya pula, apa yang telah menarik perhatian mereka. Yang dengan singkat dijawab oleh Pandan Wangi, tentang empat orang yang mecurigakan itu.

Prastawa mengerutkan keningnya. Kemudian iapun berdesis, ”Kita memang harus berhati-hati.”

Swandaru sekali lagi memandang keempat orang yang telah sampai ke seberang. Ia melihat betapa keempat orang itu dengan tangkasnya meloncat ke pasir tepian.

”Apakah maksud mereka?” desis Swandaru.

”Apakah kau dapat menduga, siapakah mereka?” bertanya Pandan Wangi kepada Prastawa.

”Biasanya Tanah Perdikan menoreh selalu tenang. Entahlah, siapa mereka itu,” jawab Prastawa.

Swandaru tidak bertanya lagi. Iapun kemudian menuntun kudanya ke arah sebuah rakit yang berhenti.

Dengan rakit itulah, maka iring-iringan itupun menyeberang. Perlahan-lahan mereka meluncur di atas air yang keruh.

Sementara itu, di seberang yang lain, keempat orang yang telah melintasi sungai itu menunggu rakit itu dengan hati yang berdebar-debar. Salah seorang dari mereka bertanya, ”Apakah kita akan memberitahukan kedatangan mereka kepada Ki Lurah?”

”Sebaiknya memang demikian. Panggillah Ki Lurah kemari,” jawab orang tertua di antara mereka.

Sejenak kemudian, seorang di antara mereka menyelinap menghilang di antara pepohonan. Ketika ia kemudian kembali, maka ia datang bersama seorang yang sudah separo baya.

”Anak-anak manis itu telah datang,” desisnya.

”Ya Ki Lurah,“ jawab salah seorang dari mereka.

”Kita harus dapat mengambil keputusan, apakah kita akan bertindak atas mereka, atau kita akan menunggu,” desis orang yang disebut Ki Lurah.

”Mereka berjumlah tujuh orang. Dua di antara mereka tentu perempuan,” sahut yang lain.

”Kita berlima sekarang,” berkata kawannya.

Orang yang disebut Ki Lurah itu termangu-mangu. Kemudian katanya, ”Kita mempunyai beberapa pilihan. Kita dapat bertindak sekarang, atau nanti jika mereka kembali ke Sangkal Putung. Jumlah mereka tentu berkurang. Anak Tanah Perdikan Menoreh beserta pengawalnya itu tentu tidak akan ikut lagi ke Sangkal Putung.”

Kawan-kawannya berpikir sejenak. Namun seorang yang bertubuh raksasa itu berkata, ”Tetapi kapan mereka akan kembali ke Sangkal Putung? Kita akan kehilangan waktu beberapa hari lagi.”

”Tetapi kau jangan sekedar terburu nafsu. Kau harus menghitung kekuatan orang-orang itu. Yang seorang adalah murid orang bercambuk itu. Ia adalah saudara seperguruan Agung Sedayu, meskipun mungkin ia tidak mempunyai kemampuan setingkat Agung Sedayu yang telah dapat membunuh murid terbaik dari Gunung Kendeng. Dua orang perempuan itu tentu Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Keduanya adalah harimau betina yang harus diperhitungkan. Di samping mereka masih ada empat orang lagi. Empat orang yang tentu harus diperhitungkan pula betapapun lemahnya mereka itu,” berkata orang yang disebut Ki Lurah.

”Kita semuanya berjumlah lima orang,” desis orang bertubuh raksasa itu, ”apakah kita tidak akan dapat mengalahkan mereka? Serahkan kedua orang perempuan itu kepadaku.”

Orang yang disebut Ki Lurah itu tertawa. Katanya, ”Kau akan dibantai mereka sampai lumat. Sudah aku katakan, kedua perempuan itu adalah macan betina yang garang. Yang seorang adalah anak dan sekaligus murid Ki Gede Menoreh dengan pedang rangkapnya, yang seorang adalah murid saudara seperguruan Patih Mantahun dari Jipang yang disebut orang bernyawa rangkap, dengan senjata yang mengerikan, tongkat baja putih berkepala tengkorak berwarna kuning.”

Orang bertubuh raksasa itu mengerutkan keningnya. Orang yang disebutnya Ki Lurah itu adalah orang yang luar biasa. Tetapi ia masih membuat perhitungan yang cermat terhadap lawan-lawan yang kurang meyakinkan itu.

”Mungkin aku dapat bertempur melawan dua orang di antara mereka,” berkata orang yang disebut Ki Lurah itu, ”tetapi satu di antara kedua perempuan itu akan dapat membunuh dua orang di antara kita. Selebihnya, empat orang yang lain akan melubangi perut kalian berdua yang lain.”

Orang itu tidak berbicara lagi. Ki Lurah itu tentu mempunyai pertimbangan yang mapan sehingga ia harus memperhitungkan segalanya dari berbagai segi pandangan,

”Biarlah mereka lewat,” berkata orang yang disebut Ki Lurah itu, ”tetapi kita akan menunggu mereka kembali. Lawan kita tentu sudah berkurang. Kita akan membunuh mereka yang sedang dalam perjalanan kembali ke Sangkal Putung itu.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja.

”Mereka sudah sampai ke tepian. Marilah, kita tinggalkan tempat ini. Jika mereka mencurigai kita dan bertindak lebih dahulu, kita akan mengalami kesulitan,” berkata orang yang disebut Ki Lurah itu.

Ternyata kelima orang itupun kemudian meninggalkan tepian memasuki padang perdu menyusup di balik gerumbul-gerumbul menuju ke padukuhan terdekat, yang hanya berjarak beberapa puluh langkah saja.

Swandaru dan Pandan Wangi melihat kelima orang itu pergi. Prastawa dan Sekar Mirahpun diberitahukannya juga. Agaknya kelima orang itu tidak akan bertindak atas mereka.

”Mereka agaknya hanya mengawasi kita saja,” desis Sekar Mirah.

”Mungkin mereka menunggu di tempat lain. Atau mereka membuat perhitungan tertentu,” desis Swandaru, ”yang penting kita harus berhati-hati.”

Orang-orang dalam kelompok kecil itupun segera turun dari rakit beserta kuda-kuda mereka. Setelah membayar upah menyeberang, maka merekapun segera melanjutkan perjalanan. Yang kemudian berkuda di paling depan adalah Prastawa. Ia merasa, bahwa ia berkewajiban untuk merintis jalan bagi tamu-tamunya, karena mereka sudah berada di tlatah Tanah Perdikan Menoreh.

Namun demikian, sekelompok orang-orang berkuda itu tidak kehilangan kewaspadaan. Bahaya dapat menyergap dimana-mana. Juga di Tanah Perdikan Menoreh yang biasanya diliputi oleh suasana yang tenang.

Tetapi ternyata mereka tidak mengalami gangguan apapun juga. Mereka melintasi bulak-bulak panjang dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi. Namun tidak seorangpun yang datang mengganggu, atau bahkan mencegat perjalanan mereka.

Pandan Wangi menjadi gelisah ketika mereka mendekati padukuhan induk dari Tanah Perdikan Menoreh. Rupa-rupanya ia memasuki daerah kenangan yang sudah lama sekali ditinggalkannya.

Dengan demikian, di luar sadarnya, maka kudanya telah berlari semakin cepat. Rasa-rasanya ingin sekali ia segera datang menghadap ayahnya.

Namun akhirnya sekelompok orang-orang berkuda itu sampai juga ke regol rumah Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Betapa debar jantung Pandan Wangi terasa semakin cepat. Hampir tidak sabar ia mendahului Prastawa memasuki regol dan kemudian meloncat turun di halaman.

Demikian ia menambatkan kudanya, maka iapun segera berlari ke pendapa.

Dalam pada itu, seorang pengawal telah memberitahukan kepada Ki Gede Menoreh kehadiran Prastawa bersama beberapa orang dari Sangkal Putung, termasuk Pandan Wangi. Karena itulah maka iapun kemudian tergesa-gesa menyambut mereka ke pendapa.

Demikian Ki Gede Menoreh membuka pintu pringgitan, Pandan Wangi bergeser mendekat. Sejenak diamatinya orang yang berdiri di pintu. Dilihatnya wajah ayahnya yang nampaknya demikian cepat menjadi tua, meskipun tubuhnya masih nampak tegap dan segar.

”Ayah,” Pandan Wangi pun kemudian berlari memeluk ayahnya. Seperti seorang Ayah yang menyambut anaknya datang dari rantau maka Ki Gede Menoreh pun mendekap kepala anaknya. Sambil membelai rambut Pandan Wangi ia berkata, ”Selamat datang anakku. Marilah, duduklah bersama suamimu dan adikmu.”

Terasa wajah Pandan Wangi menjadi basah. Iapun kemudian melepaskan pelukannya.

”Duduklah,” sekali lagi ayahnya mempersilahkan. Pandan Wangi pun kemudian melangkah kembali ke tengah-tengah pendapa. Swandaru dan Sekar Mirah yang masih berdiripun mengangguk hormat pula kepada Ki Gede Menoreh.

”Marilah Ngger,” Ki Gede berkata sambil tersenyum, ”duduklah.”

Ketiganyapun kemudian duduk di atas tikar pandan yang terbentang di pendapa. Sementara Prastawa bersama pengawalnya langsung membawa kuda mereka ke belakang.

Namun dalam pada itu, Pandan Wangi melihat sesuatu yang mendebarkan pada ayahnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, ”Apakah kaki Ayah sakit?”

Ki Argapati yang kemudian duduk pula bersama mereka tersenyum. Sambil memijit kakinya ia berkata, ”Keadaan kakiku agaknya memang kurang baik pada akhir-akhir ini. Kadang-kadang kakiku terasa sakit tanpa sebab. Untuk lima sampai enam hari rasa sakit itu bagaikan mencengkam. Namun kemudian perasaan sakit itu hilang dengan sendirinya. Tetapi pada saat lain, rasa sakit itu kambuh untuk lima enam hari pula.”

Wajah Pandan Wangi menegang. Ia sadar, bahwa kaki ayahnya memang sudah cacat. Dalam keadaan tidak kambuh sekalipun, apabila ayahnya terlibat dalam pertempuran yang keras, maka kakinya akan terasa sakit. Bahkan kadang-kadang kaki itu telah mengganggunya sehingga ia kehilangan sebagian dari kesempatannya.

Dan kini, agaknya keadaan kaki ayahnya itu menjadi semakin buruk.

”Tetapi jangan hiraukan kakiku,” berkata Ki Argapati sambil tertawa, ”katakan, bagaimana keadaan kalian di perjalanan. Dan bagaimana keadaan seluruh keluarga di Sangkal Putung.”

Swandarulah yang kemudian menjawab, ”Kami dalam keadaan selamat dan baik, Ki Gede. Keluarga di Sangkal Putung pun dalam keadaan sehat dan selamat.”

”Syukurlah. Menoreh juga dalam keadaan sejahtera. Meskipun barangkali tidak dapat menyamai sejahteranya Sangkal Putung,” berkata Ki Gede sambil tertawa.

Swandarupun tertawa pula. Jawabnya, ”Tentu Tanah Perdikan ini mempunyai beberapa kelebihan.”

Ki Gede Menoreh masih tertawa. Ketika ia melihat Prastawa naik pula ke pendapa, ia berkata, ”Prastawa, pamanmu Waskita ada di sini. Panggilah. Ia berada di gandok. Biarlah ia ikut menyambut anak-anak dari Sangkal Putung ini.”

Prastawapun kemudian bergeser surut. Dengan langkah yang cepat ia menuju ke gandok sebelah kanan.

Ki Waskita yang sedang sibuk dengan lampu yang agaknya kehabisan minyak terkejut melihat Prastawa masuk ke gandok. Apalagi ketika anak muda itu berkata, ”Paman, aku datang bersama kakang Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah.”

”O, dimana mereka sekarang?” bertanya Ki Waskita.

”Mereka berada di pendapa,” jawab Prastawa.

”Bagus. Aku akan datang setelah aku mencuci tanganku,” desis Ki Waskita. ”Biarlah anak-anak nanti menyalakan lampu ini.”

Ki Waskitapun kemudian dengan tergesa-gesa mencuci tangannya, dan yang dengan tergesa-gesa pula pergi mendapatkan tamu-tamu dari Sangkal Putung yang telah berada di pendapa.

”Paman sudah lama berada di sini?” bertanya Swandaru.

”Baru kemarin aku datang,” jawab Ki Waskita, sementara Prastawa menyambung, ”Ketika aku pergi ke Sangkal Putung, Paman Waskita belum datang.”

”Rasa-rasanya ada yang menggerakkan aku datang kemari,” berkata Ki Waskita kemudian, ”ternyata aku akan bertemu dengan anak-anak muda Sangkal Putung.”

”Suatu kebetulan Paman, atau Paman memang sudah melihat bahwa kami akan datang hari ini,” desis Pandan Wangi.

”Ah, tentu tidak,” jawab Ki Waskita sambil tersenyum, ”tetapi agaknya ada juga sentuhan di hati ini, sehingga aku telah memerlukan datang kemari.”

”Tentu Paman sudah melihat satu isyarat, bahwa kami bertiga akan datang hari ini dari Sangkal Putung,” berkata Pandan Wangi pula, ”atau barangkali ada isyarat lain yang harus Paman sampaikan kepada kami, sehingga Paman telah menunggu kami di sini.”

”Kau aneh-aneh saja Pandan Wangi. Kau kira aku melihat apa saja yang bakal terjadi? Jika demikian, alangkah senangnya, karena aku tentu sudah melihat, kapan aku akan diundang oleh Ki Demang Sangkal Putung dalam peralatan perkawinan anak gadisnya,” jawab Ki Waskita sambil tertawa.

Yang lainpun tertawa pula. Tetapi Sekar Mirah telah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pipinya terasa menjadi hangat dan jantungnya menjadi semakin berdebar-debar. Namun akhirnya iapun tersenyum pula.

Tanggapan yang lain nampak pada wajah Prastawa. Tetapi ia berusaha menghapus segala kesan di wajahnya.

Ternyata kehadiran Pandan Wangi di Tanah Perdikan Menoreh itu membuat Ki Argapati menjadi gembira. Rasa-rasanya hidupnya yang terasa kering itu menjadi segar. Kehadiran anak gadisnya seakan-akan titik air yang menyiram tanah perdikan Menoreh yang kering di musim kemarau.

Atas permintaan Ki Gede Monereh, maka Pandan Wangi, Swandaru dan Sekar Mirah akan berada di Tanah Perdikan Menoreh untuk beberapa hari. Rasa-rasanya Ki Gede Menoreh masih belum dapat melepaskan rindunya kepada anak dan menantunya.

Selama di Tanah Perdikan Menoreh, Pandan Wangi mempergunakan waktunya untuk menjelajahi seluruh Tanah Perdikan seperti ketika ia masih tinggal bersama ayahnya. Ditemuinya kawan-kawannya bermain. Rasa-rasanya yang pernah dikenal dan hanya tinggal di dalam kenangan itu, telah terulang kembali.

”Kau masih tetap seperti seorang gadis,” desis seorang kawannya yang sebaya.

”Ah, tentu tidak,” sahut Pandan Wangi.

”Aku sudah mempunyai seorang anak laki-laki,” berkata kawannya.

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ketika kemudian kawannya mengambil anaknya dari ruang dalam, seorang anak laki-laki yang sangat manis, terasa hatinya telah tersentuh.

”Marilah, biarlah aku mendukungnya,” minta Pandan Wangi.

”Ah, kau hanya pantas bermain pedang,” jawab kawannya sambil tersenyum.

Pandan Wangi tersenyum pula. Namun betapa hatinya telah bergejolak. Ia sadar, bahwa kawannya hanya ingin bergurau. Tetapi gurau itu benar-benar telah terasa menghunjam di pusat jantung.

Betapa ia mampu menguasai ilmu pedang rangkap, namun ilmu itu justru hanya melibatkan ke dalam pertentangan yang satu ke pertantangan yang lain.

Tiba-tiba terbersit perasaan iri di hatinya melihat kawannya dengan anak laki-lakinya yang manis. Ketika ia kemudian mendukung anak itu di tangannya, maka tiba-tiba saja ia telah menciuminya. Tanpa sesadarnya, pipi anak itupun menjadi basah.

Tetapi Pandan Wangi masih mampu bertahan. Kawannya sama sekali tidak menyangka bahwa pipi anaknya telah dibasahi oleh titik air dari mata Pandan Wangi, yang kemudian telah menyelubungi dengan sikap. Ia berjalan hilir mudik sambil mengayun-ayun anak itu di tangannya.

Meskipun sekali-sekali ia mengusap matanya, namun kawannya menyangka bahwa justru anaknyalah yang telah mengotori wajah Pandan Wangi.

”Marilah, biarlah aku gendong anak nakal itu,” berkata kawannya.

”Biarlah. Beri aku kesempatan sebentar lagi,” jawab Pandan Wangi sambil membelakangi kawannya. Tetapi ia masih mengayun anak itu yang sekali-kali justru tertawa gembira.

Ketika kemudian Pandan Wangi kembali ke rumahnya, kesan tentang seorang anak laki-laki yang manis itu masih terasa mencengkamnya. Bagaimanapun juga ia adalah seorang perempuan. Ia tidak akan dapat berkawan dengan pedang untuk selamanya. Pada suatu saat, ia akan merindukan seorang anak yang tidur di sampingnya. Seorang anak yang akan dapat menyambung darah keturunannya.

Ketika di sore hari Pandan Wangi duduk di pendapa bersama ayah, suami dan adik iparnya, maka ia tidak merahasiakan perasaannya. Dengan sepenuh perasaan ia menceritakan betapa kawannya merasa bahagia dengan menimang anak bayinya.

”Tidak selamanya aku harus menimang pedang,” desis Pandan Wangi.

Ki Argapati mengangguk-angguk. Ia mengerti perasaan anak perempuannya. Pada suatu ketika ia memang akan merindukan seorang anak laki-laki atau perempuan. Namun anaknya itu masih belum dikurniai momongan. Bahkan tanda-tandanyapun belum ada.

”Apakah ia terlalu banyak mengisi waktunya dengan berlatih olah kanuragan,” bertanya Ki Argapati di dalam hatinya.

Tetapi Ki Argapati tidak mengucapkannya. Ia yakin, bahwa anaknya akan dapat memilih saat dan menentukan keadaan. Namun apabila Yang Maha Kasih memang belum mengkurniainya, maka betapapun juga, Pandan Wangi masih harus bersabar.

Dalam pada itu, setelah beberapa hari Pandan Wangi’ berada di Tanah Perdikan Menoreh, maka pada satu kesempatan yang baik, Ki Argapati pun berkata kepadanya dan kepada menantunya tentang keadaannya dan tentang keadaan Tanah Perdikan Menoreh yang semakin lama menjadi semakin mundur.

”Persoalannya tidak terlalu tergesa-gesa untuk dipecahkan,” berkata Ki Argapati, ”tetapi sudah pasti, bahwa kodrat seseorang akan sampai juga pada batasnya. Aku menjadi semakin tua. Keadaan tubuhku menjadi semakin lemah. Ternyata bahwa cacat kakiku menjadi semakin parah. Pada mulanya, kakiku tidak pernah kambuh jika aku tidak terlibat dalam pengerahan tenaga yang berlebih-lebihan. Tetapi kini ternyata rasa sakit itu datang tanpa sebab. Aku tidak menyesalinya, karena hal itu adalah akibat yang wajar dari tingkah lakuku sendiri. Namun, sudah sewajarnya pula bahwa sejak saat ini aku mulai berpikir tentang masa datang bagi Tanah Perdikan ini. Pada saatnya aku akan tidak mampu lagi melakukan kewajibanku.”

Swandaru mendengarkan keterangan Ki Gede Menoreh itu dengan saksama. Ia mengerti dan menyadari sepenuhnya perasaan mertuanya itu. Iapun tidak dapat ingkar, bahwa hari depan Tanah Perdikan Menoreh akan menjadi satu persoalan yang harus dipecahkan. Anak Ki Argapati hanya seorang, Pandan Wangi. Dan Pandan Wangi telah menjadi istrinya.

”Apakah aku akan meninggalkan Sangkal Putung dan kemudian tinggal di Tanah Perdikan Menoreh?” pertanyaan itu tumbuh di hati Swandaru.

Namun dari dasar hatinya yang dalam, ia tidak akan sampai hati meninggalkan kademangan yang telah dibinanya. Ia adalah satu-satunya anak laki-laki. Saudaranya satu-satunya adalah seorang perempuan. Meskipun Sekar Mirah kelak akan kawin pula, dan bakal suaminyapun telah dikenalnya dengan baik, tetapi apakah ia akan dapat berpisah dengan Sangkal Putung.

”Di sini aku hanya seorang menantu. Jika aku tinggal di sini, maka aku adalah seorang laki-laki yang menumpang pada istrinya,” berkata Swandaru di dalam hatinya, sebagaimana sifatnya yang selalu dipengaruhi oleh harga diri. Tetapi sebenarnyalah bahwa Swandaru akan sangat berkeberatan untuk berpisah dengan kademangan yang sudah lama dibinanya.

Dengan demikian maka Swandaru itupun sama sekali tidak menjawabnya. Ia masih dicengkam oleh kekaburan sikap menanggapi masalah yang dilontarkan oleh mertuanya.

Namun dalam pada itu, Ki Argapati berkata, ”Sudah aku katakan, bahwa persoalannya tidak terlalu tergesa-gesa untuk dipecahkan. Karena itu maka aku tidak ingin mendengar jawabanmu sekarang. Kau masih mempunyai waktu untuk memikirkannya. Karena menurut kenyataan lahiriah aku masih sehat. Hanya kadang-kadang saja kakiku terasa sakit. Namun dalam waktu pendek akan segera sembuh kembali. Namun segalanya memang berada di tangan Yang Maha Kuasa.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, ”Baiklah Ki Gede. Aku akan memikirkannya. Persoalan itu adalah persoalan yang wajar, dan yang memang harus mendapat perhatian. Pada saatnya masalah itu memang harus mendapat jawaban, karena Tanah Perdikan Menoreh maupun Kademangan Sangkal Putung tidak boleh berhenti tanpa berkelanjutan.”

”Bagus sekali,” sahut Ki Gede, ”kau benar-benar sudah berpikir dengan matang. Aku sangat berbesar hati. Pemikiran yang sungguh-sungguh memang akan menghasilkan keputusan yang mapan. Apalagi masalahnya adalah masalah yang menentukan bagi satu daerah yang mempunyai masalahnya masing-masing, dan satu daerah yang menjadi wadah dari berbagai bentuk kehidupan dan persoalan.”

Swandaru mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Karena itu, maka Ki Gede pun berpesan kepada anak perempuannya, ”Cobalah membantu suamimu. Apa yang baik menurut pendapatmu, sehingga pada saatnya suamimu akan dapat mengambil satu keputusan yang baik, mapan dan menguntungkan segala pihak.”

”Aku akan mencoba, Ayah,” berkata Pandan Wangi.

”Sekali lagi aku beritahukan bahwa persoalannya tidak sangat tergesa-gesa. Aku akan menunggu.” berkata Ki Gede Menoreh.

Swandaru dan istrinya menyadari, bahwa hal itu adalah hal yang penting sehingga ayahnya menyuruh Prastawa datang menjemputnya di Sangkal Putung. Meskipun ayahnya selalu mengatakan bahwa persoalannya tidak tergesa-gesa, namun persoalan itu memang harus sudah mulai dipikirkan.

Demikianlah, setelah Ki Argapati menyampaikan masalah itu kepada anak dan menantunya, maka rasa-rasanya sebagian beban di hatinya telah diletakkannya di atas pundak anak dan menantunya, yang akan dapat membantu memikulnya

Swandaru dan Pandan Wangipun merasa, bahwa masalah yang terpenting telah disampaikan oleh Ki Argapati kepada mereka, sehingga mereka sudah dapat meninggalkan Tanah Perdikan itu, apabila perasaan rindu mereka terhadap Tanah itu sudah terobati.

Karena itu, maka di hari berikutnya, rasa-rasanya Pandan Wangi hanya sekedar menuntaskan rasa rindunya kepada Tanah Perdikan tempat ia dilahirkan. Ia mengunjungi kawan-kawannya dan tempat-tempat yang pernah memberikan kesan tertentu. Kadang-kadang ia pergi bersama suaminya, namun kadang-kadang ia pergi bersama Sekar Mirah.

Namun dalam pada itu, agaknya Sekar Mirah kadang-kadang menentukan acaranya sendiri. Di luar pengetahuan Swandaru dan Pandan Wangi, kadang-kadang Sekar Mirah telah menentukan untuk melihat sesuatu yang menarik hatinya bersama Prastawa. Bahkan Prastawa dengan sengaja telah mengajak Sekar Mirah ke tempat-tempat yang asing bagi gadis Sangkal Putung itu.

Ada semacam perasaan kurang senang pada Swandaru melihat tingkah adiknya. Namun iapun merasa segan untuk menegurnya. Jika istrinya salah paham, seolah-olah ia tidak percaya kepada adik sepupunya, maka persoalannya akan bergeser menjadi persoalannya dengan istrinya.

 

 

Karena itu, maka Swandaru hanya dapat menahan perasaannya itu di dalam dadanya. Tetapi kadang-kadang dengan sengaja ia telah membawa Sekar Mirah pergi bersamanya mengelilingi Tanah Perdikan Menoreh yang dibatasi oleh pegunungan yang membujur panjang, bersama Pandan Wangi.

Namun dalam kesempatan yang demikian, Prastawa tentu ikut serta bersama mereka

”Aku tidak mengerti, apakah maksudnya,” bertanya Swandaru kepada diri sendiri.

Namun hal itu, seolah-olah telah mendesak Swandaru untuk segera meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, membawa adik perempuannya itu kembali ke Sangkal Putung, sebelum sesuatu yang tidak dikehendakinya berkembang lebih jauh.

”Prastawa memang mempunyai sifat dan watak yang lebih menarik dari Kakang Agung Sedayu,” berkata Swandaru di dalam hatinya, ”anak ini nampak gembira, terbuka dan sedikit sombong. Tetapi bagi seorang perempuan sifat yang demikian nampaknya memang lebih menarik.”

Tanpa menimbulkan kesan yang kurang baik pada Pandan Wangi, maka Swandaru telah bertanya kepada istrinya, apakah mereka sudah cukup lama berada di Tanah Perdikan Menoreh.

”Jika keadaan Sangkal Putung tidak sedang dibayangi oleh peristiwa yang terjadi di Jati Anom, maka aku kerasan tinggal disini untuk waktu yang lebih lama lagi,” berkata Swandaru.

Pandan Wangi menyadari, bahwa Ki Demang Sangkal Putung tentu sudah gelisah menunggu kedatangan mereka kembali. Bahkan jika terjadi sesuatu, maka semua pihak tentu akan menyesalinya.

Karena itu, maka Pandan Wangipun sependapat, bahwa mereka akan segera kembali ke Kademangan Sangkal Putung setelah mereka berada di Tanah Perdikan Menoreh beberapa saat lamanya.

”Kenapa kalian demikian tergesa-gesa kembali?” bertanya Ki Gede Menoreh.

”Keadaan Sangkal Putung agak menggelisahkan akhir-akhir ini Ayah,” Pandan Wangi yang menjawab, ”sementara kita bertiga di sini, maka kemungkinan yang tidak kita kehendaki mungkin sekali terjadi di Sangkal Putung.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Ia sudah mendengar cerita anak-anak Sangkal Putung itu, tentang apa yang telah terjadi di Jati Anom. Karena itu, maka iapun tidak ingin menahannya lebih lama lagi.

”Baiklah,” berkata Ki Argapati, ”sementara kau berada di Sangkal Putung, kau akan sempat memikirkan persoalan yang aku katakan. Tidak usah dengan hati yang risau, karena persoalannya sekali lagi aku katakan fidak terlalu tergesa-gesa.”

Demikianlah, maka Swandaru dan Pandan Wangi pun memutuskan, di keesokan harinya mereka akan kembali ke Sangkal Putung, setelah untuk beberapa lama mereka tinggal di Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, di bagian yang agak terpisah dari daerah yang ramai, beberapa orang menunggu dengan tidak sabar lagi, seolah-olah Swandaru telah bertahun-tahun berada di Tanah Perdikan Menoreh. Salah seorang dari mereka telah membujuk seseorang agar orang itu memberitahukan kepadanya, kapan Swandaru akan kembali.

”Untuk apa?” bertanya orang itu ketika seseorang menemuinya di pategalan dan menyatakan keinginannya untuk mengetahui saat Swandaru kembali ke Jati Anom.

”Tidak apa-apa,” jawab orang itu, ”aku hanya ingin mengejutkannya. Aku adalah kawannya yang sudah lama tidak bertemu.”

Orang itu termangu-mangu. Namun iapun kemudian tertegun melihat beberapa keping uang di tangan orang yang membujuknya itu.

”Kau akan mendapat uang ini jika kau bersedia membantu aku. Kau tidak usah berbuat apa-apa. Kau hanya mengatakan kepadaku jika kau mengetahui atau mendengar dari siapapun juga, kapan Swandaru akan kembali,” bujuk orang itu pula, ”dan kau tidak akan bertanggung jawab tentang apapun juga.”

Rasa-rasanya beberapa keping uang itu telah menggelitiknya pula. Karena itu, maka katanya, ”Aku akan mengatakannya, jika aku mengetahuinya. Tetapi dimana aku dapat bertemu dengan kau lagi?”

”Aku akan menjumpaimu di pategalan ini setiap kali.”

Demikianlah, seperti yang dikatakan, maka orang itu telah menemuinya pula di pategalan itu di hari berikutnya. Ternyata bahwa orang yang berada di pategalannya itupun sudah mendengar dari orang-orang di sekitar rumah Ki Gede, bahwa Swandaru akan kembali pada saat matahari terbit di hari berikutnya.

”Darimana mereka mengetahuinya?” bertanya orang yang membujuknya itu.

”Mereka mendengar dari para pembantu di rumah Ki Gede. Anak Demang Sangkal Putung, bersama istri dan adiknya akan kembali besok. Mereka sudah mengemasi barang-barang yang akan dibawanya,” jawab orang itu.

Orang yang bertanya tentang Swandaru itu tertawa. Katanya, ”Omong kosong. Mereka tentu belum akan mengemasi pakaian atau barang-barangnya yang lain sejak orang-orang itu mendengar berita itu.”

”Tetapi mereka berkata begitu,” orang itu bertahan.

”Baiklah. Aku akan menepati janjiku. Aku akan menyerahkan uang ini kepadamu. Tetapi aku masih minta kau berjanji,” berkata orang yang telah menimang uang ditangannya.

”Janji apa?”

”Jangan mengatakannya kepada siapapun juga. Kepada istrimupun jangan, agar kau tidak mendapat malapetaka karenanya.”

Orang itu termangu-mangu. Tetapi iapun menerima uang yang diberikan kepadanya. Uang beberapa keping itu tentu akan sangat berguna baginya.

”Aku hanya berjanji untuk tidak mengatakannya kepada siapapun juga,” berkata orang itu di dalam hatinya, “sementara keberangkatan anak Sangkal Putung itu telah diketahui oleh banyak orang, terutama di padukuhan induk.”

Karena itu, maka orang itupun merasa, bahwa ia tidak bersalah dengan perbuatannya itu.

Namun dalam pada itu, berita itu ternyata merupakan berita penting bagi orang-orang yang berada di padukuhan kecil yang agak terpisah oleh bulak panjang dari padukuhan-padukuhan Tanah Perdikan Menoreh yang lain.

”Kita akan mencegatnya,” berkata orang yang tertua di antara mereka.

”Kita sudah kehilangan banyak waktu Ki Lurah,” berkata salah seorang dari mereka.

”Sudah aku katakan sejak mereka datang ke Tanah Perdikan ini,” sahut seorang yang bertubuh raksasa.

”Baiklah,” orang yang disebut Ki Lurah itu menjawab, ”kita akan segera bertindak. Kita akan membinasakan mereka. Kita tidak usah memancing Swandaru keluar dari kademangannya. Ia sendiri telah mengumpankan dirinya. Kali ini, yang kita hadapi bukan Agung Sedayu, bukan prajurit muda di Jati Anom yang bernama Sabungsari. Bukan pula Kiai Gringsing atau orang-orang lain yang memiliki kemampuan di luar nalar kita. Yang akan lewat hanyalah Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Meskipun kita gagal membunuh Agung Sedayu dan Sabungsari, karena kedunguan orang-orang Gunung Kendeng, maka kita sekarang akan berhasil membunuh yang lain. Namun sebenarnya tidak banyak bedanya. Yang penting, orang-orang yang sudah termasuk ke dalam deretan nama dari mereka yang harus disingkirkan itu, dapat dibinasakan, siapapun yang lebih dahulu.”

”Tetapi agaknya Swandaru itu termasuk orang yang lebih penting. Karena ia mempunyai Sangkal Putung. Sementara Sangkal Putung berada di garis hubungan antara Pajang Mataram. Karena itu, maka Sangkal Putung akan dapat menjadi duri di dalam garis pertempuran yang mungkin akan terjadi di sekitar Sangkal Putung, Kali Wedi atau Taji. Tetapi mungkin juga terjadi di Prambanan atau sepanjang Sungai Opak,” desis salah seorang dari mereka.

”Banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi kematian mereka bertiga akan melumpuhkan Sangkal Putung, sehingga Sangkal Putung tidak akan dapat mengganggu lagi, jika pasukan Pajang akan menuju ke Mataram,” berkata orang bertubuh raksasa.

”Kita memang tidak akan dapat memperhitungkan Untara. Kita tidak tahu pasti, apa yang akan dilakukan jika terjadi benturan antara Pajang dan Mataram,” berkata orang yang dipanggil Ki Lurah.

”Ia seorang prajurit yang setia dan siap menjalankan segala tugas yang diserahkan kepadanya. Jika Sultan memerintahkannya menyerbu Mataram, maka ia akan pergi,” berkata salah seorang dari mereka.

”Kau salah menilai Untara.” berkata Ki Lurah, ”ia adalah seorang yang berpegangan kepada paugeran. Kepada ketentuan yang berlaku dan benar menurut keyakinannya. Jika ia tahu, bahwa benturan kekuatan antara Pajang dan Mataram itu dipengaruhi oleh satu keadaan tertentu, maka ia akan dapat mengambil sikap sendiri.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka pernah mendengar sikap Untara. Karena itu, maka merekapun mempunyai penilaian khusus terhadap senapati muda itu.

Namun dalam pada itu, orang yang mereka sebut Ki Lurah itupun kemudian berkata, ”Kita tidak perlu menilai siapapun. Kita tidak perlu memikirkan apa yang akan dilakukan oleh para pemimpin di Pajang. Yang harus kita lakukan sekarang adalah membinasakan Swandaru dan kedua orang perempuan itu.”

Tetapi seorang dari antara mereka bertanya, ”Tetapi apakah benar, bahwa mereka akan kembali ke Sangkal Putung hanya bertiga saja?”

”Aku kira demikian. Prastawa, kemanakan Ki Gede Menoreh dan pengawalnya tentu akan tinggal di Tanah Perdikan Menoreh,” jawab Ki Lurah.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka menganggap bahwa mereka tentu akan dapat menyelesaikan tugas mereka, apalagi ketika orang yang disebut Ki Lurah itu berkata, ”Jika kita masih ragu-ragu, biarlah aku mengajak dua orang gegedug dari Gunung Sepikul itu.”

”Apakah kita harus memanggil mereka di sebelah hutan Kepandak?” bertanya salah seorang pengikutnya.

”Kau bodoh sekali. Apakah kau tidak mengenal keduanya lagi?” bertanya Ki Lurah.

”Aku sudah mengenal mereka,“ jawab orang bertubuh raksasa.

”Keduanya berada di antara tukang satang,” jawab Ki Lurah.

Kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Tetapi Ki Lurah berkata, ”Nanti malam aku akan memanggil keduanya. Besok pagi Swandaru akan kembali ke Sangkal Putung. Biarlah keduanya membantu. Mereka akan mendapat bagian pula sekedarnya.”

”Jika mereka berada di antara tukang satang, aku akan mengenalnya,” orang-orang itu masih saling berbisik.

Tetapi ternyata mereka memang tidak mengenal, selain orang yang disebut Ki Lurah.

Katanya kemudian, ”Nanti malam, aku akan membawa mereka kemari.”

Ternyata seperti yang dijanjikan, maka ketika malam turun, Ki Lurah datang ke tempat orang-orang yang besok akan mencegat Swandaru itu bersama dua orang tukang satang.

”Inilah mereka,” berkata Ki Lurah.

”Kau berpakaian seperti benar-benar seorang tukang satang. He, apakah keuntunganmu dengan kerjamu itu, he? Apakah kau sedang bertugas untuk mengamati seseorang,” bertanya yang bertubuh raksasa.

”Tidak,” jawab gegedug dari Gunung Sepikul itu, ”aku sedang kekurangan buruan. Di sini aku mencoba untuk mengadu nasib. Jika ada orang yang pantas aku rampas hartanya, maka aku akan melakukannya. Di tengah sungai atau setelah mereka turun.”

”Kau merusak kehidupan tukang-tukang satang yang lain,” desis Ki Lurah.

”Aku tidak peduli dengan mereka. Merekapun mengetahui bahwa aku akan merampok jika aku melihat korban yang memadai. Tetapi mereka tidak akan berani berbuat apa-apa.”

”Tetapi penyeberangan ini akan menjadi sepi. Orang-orang akan mencari tempat penyeberangan yang lain.”

”Aku juga akan berpindah tempat. Tidak ada seorang tukang satangpun yang akan berani mengganggu aku, dimanapun aku berada di antara mereka,“ jawab salah seorang dari kedua tukang satang itu.

Ki Lurah itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, ”Sebenarnya aku ingin menawarkan pekerjaan bagi kalian.”

”Pekerjaan apa?” bertanya tukang satang itu.

”Kita merampok. Kau akan mendapat harta bendanya, dan kami akan mendapat nyawanya.”

”Maksudmu?” bertanya salah seorang tukang satang itu.

Ki Lurahpun kemudian menceritakan tentang tiga orang yang menurut pengamatan Ki Lurah, akan melintasi Kali Praga besok pagi.

”Apakah kau pasti bahwa mereka akan lewat jalan ini? Bukan daerah penyeberangan lain?” bertanya tukang satang itu.

”Aku sudah memperhitungkannya. Ketika mereka datang, perhitunganku tepat. Mereka pasti akan memilih jalan ini,” jawab Ki Lurah, ”sedangkan menurut perhitunganku, mereka akan kembali lewat jalan ini pula.”

”Siapa mereka?” bertanya tukang satang itu.

”Anak Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang bersuamikan anak Sangkal Putung itu,” jawab Ki Lurah.

”Yang beberapa hari yang lalu lewat jalan ini pula?”

”Sudah aku katakan,” desis Ki Lurah.

”Sebenarnya aku ingin menyelesaikan mereka tanpa kalian. Dengan demikian aku akan mendapatkan seluruhnya. Kalian tidak akan mendapat bagian apapun juga.”

”Aku tidak membutuhkan apa-apa,” berkata Ki Lurah, “aku hanya menginginkan Swandaru tersingkirkan. Aku hanya akan menuntut kematiannya.”

Kedua orang tukang satang itu termangu-mangu. Lalu katanya, ”Kalian telah mengenal aku. Sepasang Elang dari Gunung Sepikul. Kenapa kalian masih hanya memikirkan kepentingan kalian saja? Kenapa kalian hanya menghendaki kematian saja? Tetapi jangan dikira bahwa dengan demikian justru kalian sajalah yang telah mempunyai satu kepentingan yang luar biasa. Aku berduapun mempunyai kepentingan yang besar pada keduanya.”

”Aku tahu. Kalian tentu menghendaki apa yang mereka bawa. Aku sama sekali tidak berkeberatan. Ambillah yang akan kalian ambil daripadanya. Kami hanya menghendaki nyawanya.”

”Kenapa kalian menghubungi kami?” tiba-tiba saja salah seorang dari kedua orang itu bertanya.

”Kami dapat bekerja sendiri. Kalianpun dapat bekerja sendiri. Tetapi kita mungkin akan gagal karena yang akan lewat adalah murid orang bercambuk itu. Agar kita pasti, maka sebaiknya kita akan bekerja bersama. Terutama bagi kalian berdua. Kalian berdua sama sekali tidak akan berdaya menghadapi ketiga orang itu,” berkata Ki Lurah.

Kedua orang dari Gunung Sepikul itu termangu-mangu. Namun merekapun ternyata memang lebih senang bekerja bersama dengan tujuan yang berbeda daripada bekerja sendiri-sendiri, tetapi dibayangi oleh kegagalan.

Demikianlah maka kedua orang dari Gunung Sepikul, di sebelah Alas Kepandak itu akhirnya menyatakan diri untuk bersama-sama mencegat ketiga orang dari Sangkal Putung itu. Ki Lurah ingin meyakinkan kematian ketiga orang itu, sementara kedua orang itu akan mendapat apa saja yang dibawa oleh ketiga orang dari Sangkal Putung itu.

Demikianlah maka mereka telah berjanji untuk bekerja bersama-sama. Karena sebenarnyalah mereka mengakui di dalam hati, bahwa masing-masing dari mereka tidak akan dapat berbuat banyak atas ketiga orang dari Sangkal Putung itu. Meskipun kedua orang dari Gunung Sepikul itu belum mengenal dengan baik anak Demang Sangkal Putung itu, tetapi ia percaya akan keterangan orang yang disebut Ki Lurah itu.

Ketujuh orang itupun kemudian bersepakat untuk melakukan pencegatan itu diseberang Kali Praga, setelah ketiga orang itu meninggalkan tlatah Tanah Perdikan Menoreh.

”Kita tidak usah mempedulikan, apakah ada orang yang melihat atau tidak. Kita akan segera menyelesaikan pekerjaan kita. Sementara berita perampokan itu terdengar oleh orang-orang yang memiliki keberanian serba sedikit untuk membantu, ketiga orang itu sudah terkapar mati. Kita telah lenyap sementara kita dapat menikmati hasil yang kita inginkan,” berkata salah seorang dari Gunung Sepikul itu.

”Kehadiran orang lain hanya akan menambah korban,” desis Ki Lurah, ”kita akan mencegat mereka di padang ilalang, dekat tepian. Kita dapat mendesaknya menjauhi jalan yang memang tidak terlalu ramai itu. Memang lebih baik jika tidak ada orang yang melihat perkelahian di antara kita dengan orang-orang itu. Tetapi jika ada orang yang ingin mencampuri persoalan ini, maka merekapun akan mati pula.”

”Dan aku akan mendapat tambahan rampasan. Mungkin sarung keris dari emas, atau timang bertreteskan berlian,” desis salah seorang dari kedua orang Gunung Sepikul itu.

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Menoreh, Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah pun telah berkemas. Di pagi hari mereka akan berangkat meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, kembali ke Sangkal Putung.

”Besok kami akan mengantar kalian sampai ke tepi Kali Praga,” berkata Prastawa.

”Demikian jauh,” sahut Swandaru.

”Tidak apa-apa. Bukankah kami terbiasa nganglang ke seluruh daerah Tanah Perdikan ini,” berkata Prastawa.

Swandaru tidak mencegahnya. Prastawa bersama beberapa orang pengawal akan mengantar mereka, sampai saatnya mereka menyeberang.

Namun mereka sama sekali tidak memperhitungkan, bahwa di seberang Kali Praga, beberapa orang telah siap menunggu mereka.

Tetapi yang juga tidak disangka-sangka oleh Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah adalah, bahwa ketika mereka duduk di pendapa di malam hari menjelang keberangkatan mereka di keesokan harinya, maka Ki Waskita berkata, ”Aku ingin melihat, bagaimana keadaan Agung Sedayu yang terluka parah itu.”

”Jadi Paman juga akan pergi ke Sangkal Putung?” Pandan Wangi bertanya dengan serta merta.

”Ya. Aku juga akan pergi ke Sangkal Putung, untuk selanjutnya pergi ke Jati Anom. Ke padepokan kecil itu,” jawab Ki Waskita.

”Senang sekali,” sahut Swandaru, ”ada kawan berbincang di perjalanan. Dengan demikian perjalanan kami akan terasa sangat pendek.”

Dengan demikian, maka Ki Waskita pun minta diri pula kepada Ki Gede Menoreh untuk di keesokan harinya pergi bersama-sama dengan anak Ki Demang Sangkal Putung itu, setelah beberapa hari berada di Tanah Perdikan Menoreh. Rasa-rasanya ada perasaan rindu pula kepada Agung Sedayu yang sudah agak lama tidak dilihatnya. Bagi Ki Waskita Agung Sedayu bukanlah orang lain. Anak muda itu adalah satu-satunya orang yang dipercayainya untuk melihat isi kitabnya, selain anak laki-laki-nya yang telah melakukannya pula di luar pengetahuannya. Namun yang ternyata telah memilih jalan sendiri. Ternyata Rudita telah menemukan ujud kedamaian di dalam hatinya melampaui orang lain.

Apalagi ketika Ki Waskita mendengar bahwa Agung Sedayu baru saja mengalami pertempuran yang membuatnya terluka parah. Maka keinginannya untuk bertemu dengan anak muda itu menjadi semakin besar.

Di dini hari, mereka yang akan berangkat ke Sangkal Putung itupun telah mengemasi diri. Bahkan di dapur rumah Ki Gede Menoreh itupun telah sibuk beberapa orang yang menyiapkan makan pagi bagi mereka yang akan pergi ke Sangkal Putung. Sementara Prastawa dan beberapa orang pengawalnya telah siap pula untuk mengantarkan Swandaru sampai ke tepi Kali Praga.

Menjelang matahari terbit, maka sebuah iring-iringan kecil telah meninggalkan rumah Ki Gede Menoreh. Selain mereka yang akan pergi ke Sangkal Putung, maka mereka telah diiringi pula oleh beberapa orang Tanah Perdikan Menoreh sendiri, termasuk Prastawa.

Ada semacam perasaan kecewa di hati Prastawa, bahwa Sekar Mirah demikian cepat meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi ia tidak dapat menahannya. Agaknya Pandan Wangi sendiri memang sudah berniat untuk kembali. Dengan demikian, maka keberangkatan mereka tidak akan dapat ditunda lagi.

Ki Gede Menoreh yang memberikan beberapa pesan pada saat keberangkatan anak dan menantunya, hanya dapat mengantar mereka sampai ke gerbang halamar rumahnya. Selebihnya ia hanya melambaikan tangannya ketika iring-iringan itu mulai bergerak.

Cahaya pagi yang cerah, memantul pada daun-daun padi yang hijau segar. Seolah-olah daun yang bergetar disentuh angin itu bergemerlapan kekuning-kuningan.

Tidak begitu jauh nampak pegunungan Menoreh membujur ke utara, seolah-olah merupakan dinding raksasa yang melindungi Tanah Perdikan itu dari amukan angin-angin dan badai. Sementara tatapan mata ke arah selatan, lepas bebas sampai pada batas langit, menyeberangi samudra yang seakan-akan tidak bertepi.

Iring-iringan itu tidak maju terlalu cepat. Kuda kuda itu berderap melalui bulak panjang dan pendek. Beberapa orang nampak sedang sibuk menggarap sawah mereka.

Pandan Wangi merasa betapa semuanya itu telah dikenalnya sejak masa kanak-kanaknya. Angan-angannya tiba-tiba saja telah melayang ke masa mendatang. Siapakah yang kemudian akan memimpin Tanah Perdikan yang pada saat-saat terakhir seakan-akan tidak berkembang lagi.

Tanpa sesadarnya ia berpaling kepada adik sepupunya, Prastawa, yang berkuda di sebelah Sekar Mirah.

Ternyata tidak hanya pada Swandaru saja yang mempunyai tanggapan yang aneh atas sikap Prastawa terhadap Sekar Mirah. Pandan Wangipun kadang-kadang merasa gelisah melihat sikap adik sepupunya.

Pandan Wangi tahu benar, siapakah Sekar Mirah itu. Dan iapun tahu benar, bahwa ada hubungan yang khusus antara Sekar Mirah dan Agung Sedayu.

”Jika Prastawa tidak dapat mengendalikan dirinya, apakah kira-kira yang akan terjadi,” berkata Pandan Wangi di dalam hatinya, ”Kakang Agung Sedayu bukan seorang yang keras hati. Mungkin ia tidak akan berbuat apa-apa. Jika terjadi sesuatu antara Sekar Mirah dan Prastawa yang pantas menjadi adiknya itu, tentu Agung Sedayu akan melepaskannya tanpa berbuat apa-apa, betapapun sakit hatinya. Mungkin Agung Sedayu akan pergi, menyepi atau bertapa seumur hidupnya. Ia akan semakin kehilangan gairah hidup yang dirasanya terlalu kejam baginya.”

Tetapi Pandan Wangi tidak mengatakan sesuatu. Ia masih ingin melihat perkembangan lebih jauh. Apabila arah hubungan keduanya akan sisip dari hubungan pergaulan yang wajar, maka ia berhak untuk menegur adik sepupunya.

Namun Pandan Wangi melihat pula kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Prastawa atas Tanah Perdikan Menoreh. Apakah mungkin untuk dapat mempercayainya memegang kendali atas Tanah Perdikan yang cukup luas itu.

Dalam pada itu, tumbuh pengakuan di dalam hati Pandan Wangi, ”Aku kurang mempercayainya. Mungkin ia masih terlalu muda. Mungkin pada saat mendatang, ia akan menemukan kepribadiannya. Namun aku masih menyangsikannya.”

Dalam pada itu, iring-iringan itu berjalan terus. Sekali-sekali Pandan Wangi dan Swandaru berpaling jika mereka mendengar gurau yang segar antara Prastawa dan Sekar Mirah. Namun setiap kali dada mereka berdesir digores oleh kegelisahan hati.

Akhirnya perjalanan itupun sampai ke tepi Kali Praga. Mereka memilih tempat menyeberang di penyeberangan yang mereka lewati di saat mereka berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh.

Betapapun perasaan Prastawa dicengkam oleh kekecewaan, namun iring-iringan itu turun pula ke dalam rakit yang akan membawa mereka menyeberang. Pandan Wangi yang sudah berada di atas rakit, masih juga memberikan pesan kepada adik sepupunya, agar ia menjaga Tanah Perdikan Menoreh sebaik-baiknya.

”Ayah dan pamanmu sudah menjadi semakin tua,” berkata Pandan Wangi. ”Kedua-duanya memerlukan pengamatanmu.”

Prastawa mengangguk sambil menjawab, ”Sejauh dapat aku lakukan, aku akan melakukannya.”

Pandan Wangi tersenyum. Katanya, ”Bagus. Tidak ada orang lain yang akan dapat melakukannya di atas Tanah Perdikan Menoreh, selain kau.”

Prastawapun tersenyum pula. Namun kekecewaannya masih tetap membayang ketika rakit itu mulai bergerak.

Yang kemudian duduk dengan kepala tunduk di atas rakit itu adalah Ki Waskita. Ternyata iapun mengamati sikap Prastawa yang membuatnya menjadi gelisah pula seperti Swandaru dan Pandan Wangi. Bahkan lebih dari pada itu. Selain pengamatannya atas sikap kemanakan Ki Gede Menoreh itu, maka setiap kali penglihatan batin Ki Waskitapun dibayangi oleh kabut yang buram pada hubungan antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

Tetapi seperti yang lain, Ki Waskitapun tidak mengatakan kepada siapapun juga. Seperti yang lain, maka yang mereka lihat dan mereka cemaskan barulah prasangka saja.

Demikianlah, maka rakit yang mereka tumpangi itupun meluncur di atas air berwarna lumpur. Jarak yang mereka seberangi memang tidak terlalu panjang, sehingga karena itu, maka mereka lidak memerlukan waktu terlalu lama.

Ketika mereka turun di seberang, dan setelah mereka memberi upah kepada tukang satang yang mendorong rakit mereka melintas, maka mereka pun segera berkemas untuk meneruskan perjalanan. Di seberang masih nampak Prastawa dan pengawalnya melambaikan tangan mereka.

Yarg baru turun dari rakit itupun melambai pula. Namun merekapun kemudian mulai bergerak meninggalkan tepian.

Tetapi demikian kuda mereka meninggalkan pasir tepian yang basah, dua orang yang berpakaian seperti tukang satang pula mendekatinya sambil berkata, ”Kami mohon maaf, bahwa kami telah berani menghentikan perjalanan Tuan.”

Swandaru yang berada di paling depan menarik kendali kudanya. Kemudian iapun bertanya, ”Apakah kalian mempunyai kepentingan dengan kami?”

 

 

”Kami adalah tukang satang, Tuan” berkata salah seorang dari mereka, ”kami-lah yang beberapa hari yang lalu telah menyeberangkan Tuan ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun ia berdesis, ”Aku kira bukan kalian.”

”Ya, bukan kedua orang itu,” desis Sekar Mirah.

Ternyata anak Sangkal Putung itu tidak mudah untuk melupakan pengenalannya atas seseorang pada sesuatu peristiwa. Bahkan Pandan Wangipun yakin pula, bahwa bukan kedua orang itulah yang telah menyeberangkan mereka beberapa hari yang lalu.

Karena itu, maka salah seorang dari tukang satang itupun berkata, ”Memang bukan kami berdua yang telah melakukannya. Maksudku, rakit yang kalian pergunakan adalah rakit kami. Sedang orang-orang yang waktu itu mendorong rakit Tuan dengan satang, memang bukan kami, tetapi saudara-saudara kami.”

Swandaru mengangguk-angguk. Dan orang itu berkata seterusnya, ”Ada sesuatu yang tertinggal di rakit kami, Tuan. Karena itu, kami mohon tuan dapat melihatnya jika barang itu milik Tuan.”

Swandaru termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berkata, ”Tidak ada barang kami yang ketinggalan. Tentu bukan milik kami.”

”Sudah tiga orang yang kami minta untuk melihatnya. Setiap orang yang kami kira pernah kami seberangkan di beberapa hari yang lalu dan kemudian melintas kembali, telah kami persilahkan untuk mengenalinya. Tetapi tidak seorangpun yang merasa kehilangan,” berkata orang itu.

Swandaru memandang Pandan Wangi dan Sekar Mirah sekaligus. Yang nampak justru kebimbangan dan keragu-raguan. Ketika ia memandang Ki Waskita, orang tua itupun nampaknya ragu-ragu.

”Paman,” desis Swandaru, ”apakah kita perlu menengoknya?”

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, ”Jika kita memang tidak merasa kehilangan, maka sebaikya kita tidak perlu singgah.”

”Mungkin Tuan-Tuan mengenal barang apakah yang kami temukan itu. Penting atau tidak penting, atau barang yang tidak berharga sama sekali,” desis salah seorang dari keduanya.

”Apakah ujudnya?” Sekar Mirahlah yang bertanya.

”Sebilah keris,” jawab orang itu.

”Keris,” Sekar Mirah mengulang, ”benar-benar sebilah keris?”

”Ya. Sebilah keris. Apakah keris itu sebuah pusaka atau bukan, kami memang tidak mengetahuinya,” jawab orang itu.

Namun dalam pada itu Ki Waskita berkata, ”Cobalah Ki Sanak bertanya kepada orang yang akan menyeberang kemudian. Mungkin mereka benar-benar telah kehilangan barang itu.”

”Kita dapat melihatnya Paman,” berkata Sekar Mirah, ”sekedar melihat.”

”Sekedar melihat,” orang yang berpakaian tukang satang itu mengulang, ”atau barangkali Tuan dapat memberikan beberapa petunjuk kepada kami, apakah yang sebaiknya kami lakukan atas barang-barang itu. Menyerahkan kepada Ki Demang, atau kepada siapa?”

”Kita akan melihat, sekedar melihat, karena kami memang tidak pernah merasa kehilangan,” desis Sekar Mirah.

Swandaru tidak mencegahnya. Karena itu, maka merekapun kemudian mengikuti kedua orang itu memintas jalan sempit di antara batang-batang ilalang.

”Kita akan pergi kemana?” bertanya Swandaru kepada kedua orang itu.

”Kami mempunyai sebuah gubug kecil di balik pepohonan perdu itu. Tempat untuk sekedar beristirahat jika terik matahari membakar punggung,” jawab orang itu.

Swandaru sama sekali tidak bercuriga. Karena itu, maka iapun mengikut saja kemana orang itu pergi.

Dalam pada itu, lima orang yang lain telah menunggu. Dari balik sebuah gerumbul kelima orang itu mengintip Swandaru yang datang berkuda bersama tiga orang lainnya.

”Mereka berempat,” desis orang yang dipanggil Ki Lurah.

”Yang seorang bukan kawan mereka seperjalanan ketika mereka berangkat,“desis yang lain.

”Persetan orang tua itu. Tetapi nasibnya ternyata sangat buruk, karena kami harus membunuhnya sama sekali,” berkata Ki Lurah.

”Biar sajalah. Kehadirannya tentu tidak akan berpengaruh sama sekali,” berkata seorang yang bertubuh tegap.

Dalam pada itu, Swandaru yang berada di paling depan bertanya pula, ”Mana gubugmu he?”

Kedua orang itupun justru berhenti. Kemudian mereka berpencar beberapa langkah sambil bersiap menghadapi segala kemungkinan. Yang seorang dari mereka kemudian berkata, ”Itulah gubug kami.”

Semua orang berpaling ke arah yang ditunjuk oleh orang itu. Tetapi mereka sama sekali tidak melihat sebuah gubugpun. Yang mereka lihat adalah sebuah gerumbul perdu yang bergerak-gerak mencurigakan.

Ki Waskita segera melihat, apa yang ada di belakang gerumbul itu. Ketajaman penglihatannya menangkap gerak yang tidak wajar dari dedaunan dan ranting-ranting perdu. Bahkan kemudian ia melihat ujung kaki yang mencuat di antara dedaunan dan batang-batang ilalang.

”Kita tidak usah bermain sembunyi-sembunyian,” berkata Ki Waskita kemudian, ”silahkan tampil. Kami akan senang sekali berkenalan dengan Ki Sanak semuanya.”

Kedua orang yang berpakaian seperti tukang satang itu mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menjawab, maka orang yang disebut Ki Lurah itupun sudah meloncat dari balik gerumbul sambil berkata, ”Kami sama sekali tidak bersembunyi. Kami sedang menunggu Tuan-Tuan di bayangan dedaunan yang rimbun.”

Swandaru, Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Ki Waskita menjadi berdebar-debar juga ketika kemudian muncul pula empat orang lainnya. Terlebih-lebih mereka yang segera dapat mengenali keempat orang yang pada saat mereka berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh telah membuat mereka menjadi curiga.

”Itulah mereka,” desis Pandan Wangi.

”Ya,” sahut Swandaru, ”kita sudah terpancing. Agaknya mereka sengaja menjebak kita.”

”Gila,” Sekar Mirah menggeram. Ia merasa bahwa kesalahan terbesar terletak padanya, sehingga mereka telah terjebak ke dalam satu perangkap. Karena itu, maka iapun bergeser maju sambil berkata lantang, ”Apa yang kalian kehendaki dari kami?”

Orang yang disebut Ki Lurah itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia menjawab, ”Luar biasa. Untunglah bahwa aku sudah mendapat beberapa keterangan tentang harimau betina dari Sangkal Putung ini, murid Ki Sumangkar yang mewarisi tongkat baja putihnya.”

”Kau mengenal aku,” geram Sekar Mirah.

”Aku mengenal kau, mengenal anak muda yang bernama Swandaru itu dan mengenal pula istrinya, anak perempuan Kepala Tanah Perdikan Menoreh, yang bersenjata pedang rangkap. Sungguh luar biasa. Seorang perempuan bertongkat baja putih berkepala tengkorak yang kekuning-kuningan, seorang perempuan berpedang rangkap, dan seorang laki-laki bercambuk,” berkata orang yang disebut Ki Lurah.

Dalam pada itu Ki Waskitapun bertanya, ” Bolehkah aku juga memperkenalkan diriku?”

”Jika namamu mempunyai arti dalam pengembaraan olah kanuragan, sebut namamu. Jika tidak, kau tidak berarti apa-apa, selain sekedar menambah pedangku basah dengan darah,” geram salah seorang dari tukang satang itu.

”Aku adalah Paman dari Pandan Wangi,” berkata Ki Waskita, ”sebenarnya aku hanya sekedar menumpang perjalanan. Karena itu, aku bukan apa-apa bagi kalian.”

Orang-orang itu memperhatikan Ki Waskita sejenak. Namun nampaknya orang itu tidak berarti apa-apa. Apalagi menurut pengakuannya, ia adalah Paman Pandan Wangi yang sekedar ikut dalam perjalanan.

Karena itu, maka Ki Lurah itupun berkata, ”Aku tidak peduli siapa kau. Yang aku perlukan kehadirannya adalah Swandaru dan kedua perempuan itu. Tetapi karena kau sudah hadir di sini pula, maka kaupun akan mati.”

”Siapakah sebenarnya kalian, dan apakah keperluan kalian. Aku tidak pernah berhubungan dengan kalian sebelumnya, dan karena itu maka aku tidak pernah mempunyai persoalan dengan kalian,“ desis Swandaru.

Ki Lurah itu tertawa. Katanya, ”Anak yang malang. Kau memang tidak mempunyai persoalan dengan aku. Kesalahanmu satu-satunya adalah bahwa kau murid Kiai Gringsing dan adik seperguruan Agung Sedayu. Ternyata kau berhasil mengembangkan kemampuanmu dengan membangun kademanganmu.”

”Aku tidak mengerti, kenapa hal itu kau sebut sebagai satu kesalahan. Bukankah yang aku lakukan itu sangat bermanfaat bagi banyak orang di kademanganku,” sahut Swandaru.

”Baiklah kita tidak berbantah tentang siapa yang bersalah dan siapa yang tidak bersalah,” potong Ki Lurah, ”tugas yang aku terima, aku harus membunuh Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Karena orang tua itu ada di antara kalian, maka terpaksa aku akan menghabisi nyawanya pula. Juga tanpa mempersoalkan apakah ia bersalah atau tidak bersalah.”

Swandaru menggeram. Dengan nada berat ia berkata, ”Kalian orang-orang upahan yang tidak tahu diri. Kenapa kalian tidak mencari makan dengan cara yang lain. Kenapa kau harus makan dengan tangan yang penuh bernoda darah?”

”Kau salah mengartikan tugasku. Aku bukan orang upahan. Tetapi aku telah melakukan tugasku di atas cita-cita yang besar bagi Tanah ini,” jawab orang itu, ”karena itu, maka sebenarnyalah aku adalah seorang yang melakukan sesuatu atas dasar keyakinan.”

Swandaru menjadi semakin tegang. Ia segera mengerti, siapakah yang dihadapinya. Orang yang menjebaknya itu tentu orang-orang yang berada di dalam barisan yang menyebut diri mereka pendukung-pendukung tegaknya kewibawaan Majapahit.

Karena itu, maka Swandaru tidak dapat menganggap persoalan yang dihadapinya itu sebagai persoalan yang tidak berarti. Orang-orang yang ditugaskan dalam rangka menegakkan kewibawaan Majapahit bukannya orang-orang kebanyakan.

Menurut pengamatan Swandaru, orang-orang yang selalu memburu Agung Sedayu kemanapun ia pergi, adalah orang-orang yang berkeyakinan serupa. Mungkin mereka meminjam tangan orang lain. Orang-orang Pesisir Endut, orang-orang Gunung Kendeng atau orang manapun lagi Tetapi kadang-kadang juga orang-orang yang berada di dalam lingkungan keprajuritan Pajang sendiri.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: