Buku 154 (Seri II Jilid 54)

 

Pangeran Benawa memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil menjawab, “Pertanyaanmu aneh, Agung Sedayu. Setiap orang di Sangkal Putung tahu, bahwa dua hari lagi Ki Demang Sangkal Putung bakal menerima calon menantunya yang ngenger untuk sepekan di kademangan.”

Agung Sedayu menarik nafas panjang, “Ya Pangeran. Agaknya memang demikian.”

“Ya. Dan Ki Demang sudah menyiapkan beberapa puluh ekor ayam dan seekor lembu. Atau barangkali dua ekor lembu,” berkata Pangeran Benawa.

“Ah” Agung Sedayu berdesis.

“Tetapi yang penting bukan itu,” berkata Pangeran Benawa. “Apakah kau pernah mendengar serba sedikit tentang kemungkinan yang akan terjadi pada hari-hari perkawinanmu?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah yang Pangeran maksudkan?”

“Sekali lagi aku katakan, aku akan berkata terus terang dan tidak melingkar-lingkar.” Pangeran Benawa berhenti sejenak, lalu, “Maksudku, apakah kau pernah mendengar kemungkinan satu serangan terhadap Sangkal Putung pada saat kau kawin?”

Pertanyaan yang langsung itu ternyata telah mengejutkan Agung Sedayu dan Glagah Putih. Tetapi sebelum mereka bertanya, Pangeran Benawa telah melanjutkan kata-katanya, “Aku tidak tahu, apakah Kiai Gringsing dan orang-orang tua di padepokanmu atau Untara sudah mendengarnya. Tetapi aku mendengar tembang rawat-rawat, bahwa seseorang telah menyiapkan sepasukan yang sangat kuat untuk menyerang Sangkal Putung pada saat perkawinanmu. Mereka memperhitungkan bahwa di Sangkal Putung akan berkumpul orang-orang penting pendukung lahirnya kekuatan Mataram. Kiai Gringsing, Ki Waskita, Ki Widura, dan mungkin Ki Gede Menoreh. Atau bahkan Kakangmas Sutawijaya sendiri akan hadir. Mereka sudah memperhitungkan kemungkinan ikut campurnya Untara dengan pasukannya serta para pengawal kademangan Sangkal Putung.”

Wajah Agung Sedayu dan Glagah Putih menjadi tegang. Mereka memandang Pangeran Benawa dengan tanpa berkedip. Nampak keragu-raguan pada kedua anak muda itu. Namun sebagaimana selalu terjadi, Pangeran Benawa tidak pernah berbohong kepada Agung Sedayu.

“Pangeran,” berkata Agung Sedayu kemudian, “aku baru mendengar sekarang ini bahwa peristiwa yang nggegirisi itu akan dapat terjadi.”

“Ya. Sudah barang tentu, kau harus memperhatikannya. Bukan maksudku menakut-nakuti atau bahkan berusaha mengurungkan atau menunda hari-hari yang sangat penting bagimu itu. Tetapi aku ingin mendapat jalan keluar, sementara kau dan orang-orang tua di padepokanmu harus tetap bersiap-siap dan berhati-hati. Mungkin cara yang akan aku tempuh untuk menghindari kemungkinan itu keliru dan tidak berhasil, sehingga pertumpahan darah itu benar-benar harus terjadi,” berkata Pangeran Benawa kemudian.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Apakah yang akan Pangeran lakukan? Atau barangkali Pangeran ingin memberikan perintah kepadaku untuk berbuat sesuatu yang dapat menghindarkan kemungkinan yang pahit itu?”

“Aku memang akan menempuh satu jalan,” berkata Pangeran Benawa, “aku akan datang ke peralatan perkawinanmu sebagai Pangeran Benawa.”

“Maksud Pangeran?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku, Pangeran Benawa, putra Sultan Hadiwijaya, akan datang ke Sangkal Putung atas nama Sultan menghadiri perkawinan Agung Sedayu. Aku akan datang dengan segenap kebesaran seorang Pangeran,” berkata Pangeran Benawa.

“Tetapi Pangeran” sahut Agung Sedayu, “aku adalah seorang anak padesan yang tidak berarti apa-apa. Tentu Ki Demang maupun Kakang Untara tidak akan berani mengundang kehadiran Pangeran, apalagi atas nama Kanjeng Sultan, seolah-olah kami telah berbuat deksura, mengundang Sultan Hadiwijaya di Pajang. Kami harus mengenal diri sendiri, dan persiapan apakah yang harus kami lakukan jika kami berani mengundang Sultan.”

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Aku akan datang. Diundang atau tidak diundang.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Hampir ia tidak percaya kepada pendengarannya. Namun Pangeran Benawa menjelaskan, “Mudah-mudahan aku dapat menghindarkan pertumpahan darah. Tetapi sekali lagi aku minta kalian bersiap-siap. Sebelum dan sesudah perkawinan itu sendiri.”

“Tetapi apakah arti kehadiran Pangeran itu?” bertanya Agung Sedayu.

Pangeran Benawa tidak menghiraukan pertanyaan Agung Sedayu. Tetapi ia berkata, “Sampaikan kepada gurumu, pamanmu, Ki Waskita dan aku tidak berkeberatan jika kau menyampaikan kepada Untara. Kemudian mereka akan dapat memberitahukan kepada orang-orang Sangkal Putung, Ki Demang dan Swandaru yang memiliki pengawal yang kuat, umumnya yang sudah diketahui oleh beberapa pihak di Pajang, karena Swandaru memang tidak pernah mempunyai perhitungan untuk merahasiakan kekuatan yang ada di kademangan itu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi Pangeran, agaknya akan lebih baik jika Pangeran singgah di padepokan dan bertemu dengan Guru, Ki Waskita dan Paman Widura.”

“Sudah aku katakan, aku tidak akan singgah di padepokanmu,” jawab Pangeran Benawa. “Kau sajalah yang menyampaikannya. Kau dapat berterus terang bahwa kau telah bertemu dengan aku di sawah. Aku harap kalian mempercayai keteranganku dan benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi jika tidak terjadi sesuatu, jangan memancing persoalan.”

“Terima kasih Pangeran,” jawab Agung Sedayu, “Pangeran telah memberikan keterangan yang sangat berharga bagi kami di Jati Anom dan di Sangkal Putung.”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Kemudian sekilas dipandanginya Glagah Putih. Katanya, “Kau sekarang sudah cukup dewasa. Kau tentu dapat ikut menanggapi peristiwa ini sebagaimana seorang yang telah dewasa pula.”

Glagah Putih mengangguk pula sambil menyahut, “Aku akan mencoba Pangeran.”

“Ya. Kau harus dapat berbuat sesuatu untuk membantu kakak sepupumu,” berkata Pangeran Benawa, “karena itu kaupun harus bersiap-siap lahir dan batin. Tetapi kita semuanya akan berdoa, mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”

“Ya, Pangeran,” jawab Glagah Putih sambil mengangguk hormat.

Demikianlah, Pangeran Benawa pun kemudian minta diri. Dengan langkah panjang Pangeran Benawa meninggalkan Agung Sedayu dan Glagah Putih. Sejenak kemudian Pangeran itupun telah hilang di balik gelapnya malam.

Sejenak Agung Sedayu dan Glagah Putih termangu-mangu. Namun kemudian Agung Sedayupun berkata, “Pangeran Benawa terlalu baik kepadaku.”

“Berita yang sangat penting Kakang,” desis Glagah Putih.

“Aku akan menyampaikannya kepada Guru,” desis Agung Sedayu.

Keduanyapun kemudian meninggalkan tempat itu dengan bergegas kembali ke padepokan. Rasa-rasanya mereka ingin segera berbicara dengan guru dan orang-orang tua di padepokan itu tentang hal yang sangat penting dan yang mungkin akan dapat menimbulkan peristiwa yang sangat gawat itu.

Ketika keduanya memasuki regol padepokan dan melihat orang-orang tua masih duduk di pendapa, Agung Sedayu berdesis, “Syukurlah bahwa mereka seolah-olah sudah siap mendengarkan cerita yang kita bawa.”

Dengan demikian maka Agung Sedayu dan Glagah Putih itupun langsung naik ke pendapa. Dengan kesan tersendiri pada wajah anak-anak muda itu, merekapun kemudian duduk di antara orang-orang tua yang berada di pendapa itu.

Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Widura yang sedang duduk itu melihat kesan yang lain pada wajah anak-anak muda itu. Karena itulah, maka Kiai Gringsing pun langsung bertanya kepada Agung Sedayu, “Apakah ada sesuatu yang telah terjadi? Nampaknya kalian membawa persoalan di dalam hati.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Kemudian katanya, “Guru, Ki Waskita dan Paman Widura. Perkenankanlah aku bertanya, apakah Guru sudah mendengar dari siapapun juga, bahwa mungkin akan terjadi sesuatu pada hari perkawinanku kelak?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya Ki Waskita dan Widura. Namun kemudian iapun bertanya, “Sesuatu apakah yang kau maksud itu Agung Sedayu?”

“Dalam hubungannya dengan orang-orang Pajang,” jawab Agung Sedayu, “bahwa mereka telah merencanakan untuk bertindak pada hari-hari perkawinanku itu.”

Kiai Gringsing masih termangu-mangu. Namun kemudian ia bertanya, “Aku kurang jelas dengan peristiwa yang kau maksud itu. Dan dari siapa kau mendengarnya?”

“Aku mendengar dari Pangeran Benawa,” jawab Agung Sedayu berterus terang seperti yang dikehendaki oleh Pangeran Benawa.

Jawaban itu mengejutkan orang-orang tua yang berada di pendapa itu. Bahkan dengan serta-merta Ki Widura bertanya, “Di mana kau bertemu dengan Pangeran Benawa?”

“Di sawah. Baru saja,” jawab Agung Sedayu. “Pangeran Benawa memberitahukan bahwa ada rencana untuk menyerang Sangkal Putung. Mereka sudah memperhitungkan kekuatan para pengawal kademangan dan kemungkinan hadirnya pasukan Kakang Untara.”

Ki Widura menarik nafas dalam-dalam. Sambil memandang Kiai Gringsing dan Ki Waskita ia berkata, “Tak ada gunanya lagi disembunyikan. Ternyata Agung Sedayu telah mengetahui. Dan bahkan mungkin lebih terperinci dari yang kita ketahui.”

“Jadi paman sudah mengetahui?” bertanya Agung Sedayu.

“Baru sebagian kecil,” jawab Ki Widura.

“Coba katakan apa yang kau ketahui,” minta Kiai Gringsing.

Agung Sedayupun kemudian mengatakan sebagaimana dikatakan oleh Pangeran Benawa. Dan Agung Sedayu pun mengatakan bahwa Pangeran Benawa berniat untuk hadir dalam upacara perkawinan itu.

“Pangeran Benawa akan hadir?” Ki Waskita menjelaskan.

“Ya. Aku sudah mengatakan, bahwa kita merasa terlalu kecil untuk mengundang Pangeran Benawa. Apalagi apabila ia menyebut dirinya atas nama Kanjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang.” jawab Agung Sedayu.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi nampaknya ia telah bersikap bijaksana.”

“Ya,” desis Kiai Gringsing, “Pangeran Benawa benar-benar telah berusaha mengamankan peristiwa yang sangat penting bagi Agung Sedayu.”

“Pangeran yang bijaksana,” desis Widura. Lalu, “Dengan kehadirannya maka nampaknya niat orang-orang Pajang itu harus dipertimbangkan lagi. Jika Pangeran Benawa ada di Sangkal Putung, serta orang-orang yang bermaksud buruk itu benar-benar akan menyerang, maka mereka akan langsung dianggap melawan Kanjeng Sultan Hadiwijaya.”

“Ya,” Kiai Gringsing mengangguk-angguk, “kita tentu akan sangat berterima kasih. Tetapi dengan demikian maka Ki Demang harus mempersiapkan penyambutan khusus bagi Pangeran Benawa yang akan datang resmi atas nama Kanjeng Sultan Hadiwijaya itu.”

Namun dalam pada itu Ki Waskita berkata, “Tetapi kitapun harus memperhatikan pesan Pangeran Benawa, bahwa kita harus tetap berhati-hati. Mungkin sekali orang-orang yang berniat buruk itu telah menggeser rencananya. Mungkin yang kemudian akan datang di Sangkal Putung adalah orang-orang yang tidak dikenal.”

“Tetapi jika satu dua orang di antara mereka tertangkap, maka mereka tentu akan mengaku bahwa mereka adalah prajurit-prajurit Pajang. Mungkin justru prajurit-prajurit dari kesatuan khusus yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Prabadaru itu, karena sulit bagi mereka untuk menyiapkan satu pasukan yang kuat untuk menghadapi pasukan pengawal Sangkal Putung, jika mereka bukan prajurit Pajang sendiri.”

“Ada satu hal yang penting,” berkata Ki Widura, “menurut perhitungan keprajuritan, maka agaknya Pangeran Benawa melalui jalur kepemimpinan prajurit maupun langsung, akan memerintahkan Untara untuk menyiapkan pengamanan atas kehadirannya.”

Kiai Gringsing dan Ki Waskita mengangguk-angguk. Ki Widura adalah seorang bekas perwira Pajang, sehingga ia mempunyai perhitungan yang lebih dekat dengan kemungkinan yang dilakukan oleh para prajurit Pajang.

Namun bagaimanapun juga, Sangkal Putung harus bersiap. Yang dikatakan oleh Pangeran Benawa ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Untara.

Karena itu, sesuai dengan pesan Pangeran Benawa sendiri, maka hal itu akan disampaikannya kepada Ki Demang Sangkal Putung dan Swandaru, serta kepada Untara.

“Dua hari lagi kau akan pergi ke Sangkal Putung,” berkata Kiai Gringsing, “namun seperti pesan Pangeran Benawa, kita harus berhati-hati. Juga pada saat kau pergi ke Sangkal Putung dua hari lagi. Kau harus sudah mulai berhati-hati.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud gurunya.

Demikianlah, untuk beberapa saat mereka masih berbincang. Akhirnya mereka memutuskan, bahwa esok pagi Widura akan pergi ke Jati Anom untuk bertemu dengan Untara, menyampaikan pesan Pangeran Benawa, sementara itu, Kiai Gringsing dan Ki Waskita akan pergi ke Sangkal Putung untuk memberikan beberapa pengarahan kepada Swandaru, persiapan-persiapan apakah yang harus dilakukan. Bukan saja berhubungan dengan pengamanan keadaan, tetapi juga karena Pangeran Benawa akan berkunjung ke Sangkal Putung. Diundang atau tidak diundang.

Pembicaraan itu ternyata baru berhenti lewat tengah malam. Dengan berbagai macam persoalan di dalam diri masing-masing, maka mereka yang duduk di pendapa itupun bangkit dan masuk ke dalam bilik mereka.

Pada pagi hari berikutnya, maka seperti yang telah direncanakan, orang-orang tua di padepokan itu telah pergi menunaikan tugas masing-masing. Kiai Gringsing dan Ki Waskita pergi ke Sangkal Putung, sementara Ki Widura pergi menemui Untara. Sedangkan Agung Sedayu sendiri berada di padepokan bersama Glagah Putih. Seperti biasanya, pada saat-saat yang demikian, keduanya telah tenggelam di dalam sanggar, setelah mereka membantu para cantrik membersihkan kebun dan halaman padepokan.

Dalam pada itu, kedatangan Widura dengan pesan yang dibawa oleh Pangeran Benawa itu telah memperkuat keterangan yang pernah diterima oleh Untara dari seorang perwira yang sangat baik kepadanya. Namun iapun ternyata sependapat, bahwa Pangeran Benawa telah berniat untuk menghindarkan kemungkinan yang paling pahit terjadi di Sangkal Putung.

“Aku mengerti, Paman,” berkata Untara, “bahkan seandainya Pangeran Benawa tidak menjatuhkan perintah kepadaku, aku mempunyai alasan untuk mempersiapkan pasukan yang terdiri dari prajurit-prajurit Pajang untuk berjaga-jaga, karena Pangeran Benawa atas nama Sultan di Pajang akan datang ke Sangkal Putung.”

 

 

“Kita wajib berterima kasih kepada Pangeran Benawa,” berkata Ki Widura. Lalu, “Nampaknya sikap Pangeran Benawa itu tidak baru dilakukan sekarang dalam keadaan serupa ini. Tetapi dalam beberapa hal Pangeran Benawa memang bersikap sangat baik kepada Agung Sedayu.”

Untara mengangguk-angguk. Katanya, “Sayang. Pangeran Benawa sama sekali tidak tertarik kepada bidang pemerintahan.”

Ki Widura menarik nafas dalam-dalam. Seperti kebanyakan orang, iapun sama sekali tidak mengerti sikap dan pendirian Pangeran Benawa menghadapi saat-saat akhir dari pemerintahan ayahandanya.

“Untara,” berkata Widura kemudian, “dua hari lagi Agung Sedayu akan pergi ke Sangkal Putung. Sesuai dengan pesan Pangeran Benawa dan keterangan yang kau dapat, maka perjalanan itupun merupakan perjalanan yang gawat. Mungkin setelah orang-orang yang berniat buruk itu mendengar rencana Pangeran Benawa, mereka segera mencari kesempatan lain. Mungkin justru pada saat Agung Sedayu pergi ke Sangkal Putung itu akan menjadi sasaran mereka yang mempercepat rencana sebelumnya.”

Untara mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga Agung Sedayu adalah adiknya. Jika Pangeran Benawa telah bersedia melindungi Agung Sedayu dengan caranya, maka apakah kakak kandungnya sendiri tidak akan berbuat serupa, justru lebih banyak lagi.

Karena itu, maka Untara pun kemudian berkata, “Baiklah Paman. Jika Pangeran Benawa sendiri sudah mengatakannya, maka aku mempunyai alasan yang kuat untuk menggerakkan prajurit Pajang di Jati Anom. Aku mempunyai alasan bahwa menjelang kehadiran Pangeran Benawa ke Sangkal Putung, maka daerah Sangkal Putung harus diamankan.”

Namun nampaknya Untara tidak perlu berpikir terlalu banyak. Belum lagi pembicaraan itu selesai, dua orang prajurit berkuda dari Pajang telah memasuki regol halaman rumah Untara. Ternyata mereka membawa perintah resmi dari Pangeran Benawa atas nama ayahanda Sultan Hadiwijaya dan diperkuat dengan tanda kekuasaan Sultan sendiri yang tertera di atas perintah itu, tertuju kepada Senapati Pajang di daerah Selatan, untuk mempersiapkan keadaan sebaik-baiknya menjelang kehadiran Pangeran Benawa di Sangkal Putung.

Untara menarik nafas panjang setelah ia selesai membaca perintah itu.

“Begitu cepat,” desisnya.

Kedua utusan berkuda itu termangu-mangu. Bahkan salah seorang dari mereka bertanya, “Apa yang terlalu cepat, Senapati?”

“Tidak. Maksudku, bukankah hari perkawinan itu masih sepekan lagi? Bahkan lebih,” jawab Untara dengan serta merta.

“O,” utusan itu mengangguk-angguk.

Sementara itu Untara pun menyatakan kesiagaannya melaksanakan perintah itu. Katanya, “Aku akan menjalankan perintah itu sebaik-baiknya. Sebagai seorang Senapati, aku bertanggung jawab atas terlaksananya perintah itu.”

Demikianlah, kedua utusan itupun kemudian meninggalkan Jati Anom. Sementara itu Ki Widura berdesis, “Ternyata Pangeran Benawa juga memperhitungkan saat-saat Agung Sedayu pergi ke Sangkal Putung. Sejak sekarang Pangeran Benawa telah menjatuhkan perintah.”

Untara mengangguk-angguk. Namun pada wajahnya tersirat keprihatinan yang mendalam. Desisnya, “Paman, apa yang sebenarnya telah terjadi di Pajang adalah satu gambaran yang suram bagi masa mendatang. Lepas dari kepentinganku terhadap adik kandungku, namun jelas, Pajang telah terpecah-belah.”

Ki Widura mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti perasaan Untara, yang sepanjang masa jabatannya sebagai seorang prajurit telah berusaha berbuat sebaik-baiknya bagi Pajang.

Namun dalam pada itu, Ki Widura pun berkata, “Pada suatu saat kita memang harus memilih kemungkinan yang terbaik dari beberapa kemungkinan yang tidak baik ini, Untara.”

Untara mengangguk kecil. Katanya, “Ya, Paman. Kita tidak boleh mengingkari kenyataan yang kita hadapi.”

Widura memandang wajah Untara sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Kita memang harus bijaksana menghadapi tingkat keadaan sekarang ini.” Namun kemudian katanya, “Ah, sudahlah. Barangkali keperluanku sudah selesai. Bahkan aku mengerti, kau akan meningkatkan kesiagaan prajurit Pajang di Jati Anom sesuai dengan perintah yang kau terima untuk mengamankan daerah ini, karena Pangeran Benawa akan berkunjung ke Sangkal Putung.”

“Ya, Paman. Dua hari lagi, kita akan bersama-sama mengantarkan Agung Sedayu ke Sangkal Putung,” berkata Untara kemudian.

Widura pun kemudian minta diri. Namun dengan demikian hatinya serasa menjadi tenang. Bagaimanapun juga, seorang Senapati di Pajang, bahkan Tumenggung Prabadaru sendiri, harus menghitung kemungkinan yang paling pahit jika mereka harus berhadapan dengan pasukan Untara dan para pengawal Sangkal Putung sekaligus. Apalagi dengan demikian mereka akan dapat ditunjuk dengan pasti, bahwa mereka telah melawan perintah Kanjeng Sultan sendiri.

Namun Tumenggung Prabadaru bukan seorang yang bodoh. Karena itu, ia tentu akan mengambil sikap yang lain dari menyerang Sangkal Putung dengan terang-terangan.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan Ki Waskita sudah berada di Sangkal Putung dengan selamat. Mereka telah diterima dengan hati yang berdebar-debar, justru pada saat Agung Sedayu harus berada di Sangkal Putung dua hari lagi.

Karena itu maka Ki Demang pun dengan tergesa-gesa ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tua itu kepadanya.

“Di mana Swandaru?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ia berada di belakang. Sebentar lagi ia akan datang,” jawab Ki Demang.

Sebenarnya-lah sejenak kemudian, Swandaru telah hadir pula di pendapa. Setelah ia mengucapkan selamat datang kepada gurunya, maka seperti ayahnya, iapun ingin segera mengetahui keperluan gurunya itu.

Dengan singkat dan hati-hati, Kiai Gringsing menerangkan apa yang telah didengarnya dari Untara dan pesan Pangeran Benawa lewat Agung Sedayu.

“Ada dua jenis persiapan yang harus dilakukan di sini,” berkata Kiai Gringsing kemudian. “Persiapan untuk menerima kehadiran Pangeran Benawa dan persiapan untuk mengamankan kademangan ini, meskipun di luar kademangan ini pasukan Pajang di Jati Anom akan bersiaga sebaik-baiknya, justru karena kehadiran Pangeran Benawa.”

“Tetapi dalam suasana yang berbeda,” jawab Ki Waskita, “jika Pangeran Benawa hadir dengan diam-diam, maka hal itu tidak akan menyangkut siapapun juga. Ia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Tetapi jika ia datang dengan kebesaran seorang Pangeran dan apalagi mewakili Sultan Hadiwijaya, maka prajurit Pajang ikut bertanggung-jawab atas pengamanannya apalagi jika ada surat perintah untuk itu bagi Untara, Senapati di daerah ini.”

Swandaru mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa dengan demikian Pangeran Benawa telah memberi kesempatan kepada prajurit Pajang di Jati Anom untuk ikut menjaga dan mengamankan Sangkal Putung. Alasannya bukan karena Agung Sedayu kawin, tetapi karena hadirnya Pangeran Benawa.

Ki Demang Sangkal Putung yang mendengarkan keterangan Kiai Gringsing itu mengangguk-angguk meskipun jantungnya menjadi berdebar juga. Tetapi setelah Ia mendengar penjelasan Kiai Gringsing, maka iapun mengurut dadanya berkata, “Syukurlah. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”

“Seandainya terjadi sesuatu, kita sudah siap,” potong Swandaru. “Apalagi seperti yang dikatakan oleh Guru, pasukan Pajang di Jati Anom pun telah siap pula.”

Dengan demikian, maka Swandaru tetap merasa berkewajiban untuk bersiaga sepenuhnya. Ketika kemudian Kiai Gringsing dan Ki Waskita minta diri, karena mereka harus mempersiapkan Agung Sedayu sebelum diajaknya ke Sangkal Putung, maka Swandaru pun telah memanggil istri dan adiknya, Sekar Mirah yang akan kawin sepekan mendatang.

“Jangan cemas Sekar Mirah,” berkata Ki Demang, “dan kaupun harus berbesar hati, bahwa dalam perkawinanmu mendatang, akan hadir seorang Pangeran yang resmi mewakili Kanjeng Sultan. Jika mengingat diri kita sendiri hanyalah seorang penghuni padukuhan, maka kesediaan Pangeran Benawa itu merupakan satu kehormatan yang sangat besar, apalagi mengingat tujuan utamanya, mengamankan hari-hari perkawinanmu. Bukankah hampir tidak masuk akal, bahwa Pangeran itu telah berbuat demikian baik, terhadapmu dan Agung Sedayu.”

Sekar Mirah hanya menunduk saja. Tetapi kebanggaan itu memang telah mekar di hatinya. Bahkan ia merasa bahwa ternyata dirinya termasuk orang yang mendapat kehormatan yang besar dari Istana Pajang.

Namun dalam pada itu Swandaru pun berkata, “Nah, bagaimanapun juga kau harus berhati-hati. Kita semuanya harus berhati-hati.”

Swandarupun kemudian minta diri kepada ayahnya untuk mengadakan persiapan seperlunya.

“Tetapi jangan mengejutkan rakyat Sangkal Putung,” pesan ayahnya, “meskipun kau akan menyiapkan semua pengawal yang ada, tetapi kaupun harus menjaga, agar ketenangan tetap terjaga di kademangan ini. Jika rakyat menjadi gelisah, maka hal itu akan mempengaruhi tata kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga dengan demikian, seolah-olah hari perkawinan Sekar Mirah mempunyai pengaruh yang kurang baik bagi kehidupan dari Sangkal Putung.”

Swandaru mengangguk-angguk. Ia mengerti kecemasan ayahnya. Jika ia dengan serta-merta menggerakkan seluruh pengawal Kademangan Sangkal Putung dan anak-anak mudanya, maka memang akan timbul kesan, bahwa akan terjadi sesuatu di kademangan itu, sebagaimana pernah terjadi pada saat Tohpati masih berada di sekitar kademangan yang subur itu.

Karena itu, maka Swandaru pun kemudian menyahut, “Baiklah Ayah. Aku akan berhati-hati. Aku akan berusaha berbuat sebaik-baiknya.”

Kiai Gringsing pun sambil mengangguk-angguk kemudian menyahut, “Syukurlah jika segalanya dapat disiapkan tanpa menimbulkan keresahan. Dua hari lagi, kami akan datang bersama dengan Agung Sedayu. Tetapi pada saat itu, Angger Untara sudah mulai berjaga-jaga dengan pasukannya. Namun demikian, sekali lagi, aku peringatkan pesan Pangeran Benawa, bahwa kita memang harus bersiaga.”

“Aku akan berusaha Guru. Sangkal Putung memang merasa berkewajiban untuk berbuat demikian.” jawab Swandaru kemudian.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Kiai Gringsing dan Ki Waskita itupun minta diri. Ki Demang yang berusaha untuk menahan barang setengah hari, ternyata tidak berhasil, karena Kiai Gringsing dan Ki Waskita masih mempunyai kewajiban di padepokan.

“Kami harus mempersiapkan keberangkatan Agung Sedayu ke Sangkal Putung.” jawab Kiai Gringsing, “Saat ini, Ki Widura telah menemui Angger Untara.”

Dengan demikian, maka kedua orang itupun segera meninggalkan Sangkal Putung kembali ke Jati Anom. Seperti perjalanan mereka ke Sangkal Putung, maka perjalanan kembali itupun telah mereka tempuh dengan selamat.

Ketika sampai di padepokan, Ki Widura sudah berada di tempat. Iapun telah menyampaikan hasil pembicaraannya dengan Untara tentang hari-hari perkawinan Agung Sedayu.

“Angger Untara telah menerima perintah,” berkata Ki Widura.

“Jadi benar demikian?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ya. Memang demikian,” jawab Ki Widura.

“Tepat. Aku memang sudah menduga. Dan akupun telah mengatakan kepada Ki Demang, apa yang dapat dilakukan oleh Angger Untara karena Pangeran Benawa akan datang dengan tanda-tanda kebesarannya,” sahut Kiai Gringsing.

“Karena itu, maka kita tidak lagi menjadi sangat gelisah karenanya,” berkata Widura.

Kiai Gringsingpun mengangguk-angguk. Namun setiap kali ia selalu teringat akan pesan Pangeran Benawa lewat Agung Sedayu, bahwa semuanya harus tetap berhati-hati.

Namun persiapan keberangkatan Agung Sedayu itupun berjalan terus. Setelah sehari dilewati, maka datanglah hari berikutnya. Saat Agung Sedayu berangkat ke Sangkal Putung.

Dalam pada itu, Untara yang memang benar-benar mendapat perintah dari Pajang untuk bersiap-siap mengamankan Sangkal Putung yang akan dikunjungi oleh Pangeran Benawa, telah melakukan kewajibannya dengan sebaik-baiknya.

Pada saat yang demikian, maka beberapa orang tua di Jati Anom pun telah bersiap-siap. Seperti yang dikehendaki Untara, maka Agung Sedayu tidak akan berangkat dari padepokannya, tetapi ia akan berangkat dari rumah orang tuanya bersama beberapa orang tua dari Jati Anom, di samping Untara, Widura, Kiai Gringsing dan Ki Waskita.

Pada saat lingsir kulon, maka iring-iringan itupun telah siap untuk berangkat. Mereka akan sampai di Sangkal Putung sedikit lewat senja dan akan diterima oleh Ki Demang menjelang hari perkawinan sepekan mendatang.

Tidak terlalu banyak orang yang ikut dalam iring-iringan itu. Beberapa orang tua yang pernah ikut pergi ke Sangkal Putung pada saat mereka membicarakan hari-hari perkawinan Agung Sedayu dengan Sekar Mirah beberapa bulan yang lewat, dan pada saat perjalanan mereka kembali, telah terjadi sesuatu yang tidak akan pernah mereka lupakan.

Namun orang-orang tua itu tidak jera untuk pergi mengiringkan Agung Sedayu, karena mereka sadar, bahwa Untara tentu akan mempersiapkan prajurit-prajuritnya, meskipun mereka tidak mengerti pesan Pangeran Benawa.

Demikianlah, maka pada saat yang sudah ditentukan, sebuah iring-iringan berkuda telah meninggalkan Jati Anom. Di antara para pengiring, memang terdapat beberapa orang pengawal terpilih dari para prajurit Pajang, meskipun mereka tidak berpakaian seorang prajurit. Tetapi seperti yang lain, mereka berpakaian sebagaimana seseorang yang mengiringkan calon pengantin, termasuk Sabungsari.

Beberapa orang perwira yang tinggal di rumah Untara mengiringkan mereka sampai ke regol halaman. Seorang perwira muda memandang iring-iringan itu sambil bergumam, “Jika aku yang kawin kelak, tidak akan mendapat kehormatan seperti Agung Sedayu.”

Kawannya berpaling. Lalu katanya, “Jangan iri. Agung Sedayu mempunyai nilai tersendiri, meskipun ia bukan seorang perwira.”

Perwira muda itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku akan bertugas.”

“Hampir semua di antara kita mendapat tugas hari ini,” desis yang lain.

Para perwira itupun kemudian kembali memasuki regol halaman. Namun sejenak kemudian, merekapun telah meninggalkan rumah itu di atas punggung kuda. Mereka pergi ke pasukan masing-masing di barak yang berbeda. Sementara para prajurit pun telah siap menunggu.

Ternyata mereka telah mendapat perintah untuk melakukan tugas masing-masing. Beberapa kelompok pasukan berkuda harus menelusuri jalan yang dilalui oleh Agung Sedayu dan pengiringnya sampai ke perbatasan Sangkal Putung. Sementara yang lain mendapat tugas untuk nganglang dan melihat-lihat keadaan di padukuhan sekitarnya.

Namun selain mereka, sebenarnya-lah Untara telah memerintahkan beberapa orang pengawas berada di sekitar Sangkal Putung. Dalam keadaan yang mendesak, mereka harus membunyikan tanda, sehingga tanda itu akan terdengar sampai ke Sangkal Putung. Dengan demikian, Swandaru akan sempat bersiap dan beberapa kelompok pasukan Pajang yang terpencar akan dapat berkumpul menghadapi bahaya yang datang.

Dalam pada itu, sebuah iring-iringan orang berkuda tengah melaju menuju ke Sangkal Putung. Agung Sedayu yang berada di antara mereka merasa betapa jantungnya bergejolak. Bukan karena ia cemas bahwa perjalanannya akan terganggu, atau karena tiba-tiba saja ada serangan yang datang dari arah yang tidak diketahui, namun justru karena ia adalah calon pengantin. Sepekan lagi ia akan dipersandingkan. Sejak malam nanti, ia akan berada di rumah bakal mertuanya, Ki Demang Sangkal Putung.

Sore itu, Sangkal Putung pun telah sibuk mempersiapkan penyambutan bakal pengantin yang menurut pembicaraan akan datang lewat senja. Ki Demang telah sibuk mempersiapkan jamuan. Beberapa orang tua telah siap di kademangan untuk menerima penyerahan bakal pengantin laki-laki yang akan tinggal untuk sepekan sebelum hari perkawinan di kademangan itu.

Namun sementara Ki Demang sibuk di kademangan, Swandaru telah sibuk mengatur para pengawal. Seperti pesan ayahnya, Swandaru berusaha untuk tidak menimbulkan kegelisahan di kalangan rakyat Sangkal Putung. Swandaru justru menempatkan beberapa orang pengawal langsung di rumahnya. Anak-anak muda itu mendapat tugas untuk menghidangkan hidangan kepada para tamu. Tanpa memberikan kesan kesiagaan mereka telah berjaga-jaga di kademangan.

Sementara itu, Swandaru telah mempersiapkan gardu-gardu induk dan banjar-banjar padukuhan untuk berjaga-jaga bagi anak-anak muda yang termasuk dalam kesatuan pengawal. Namun Swandaru sempat membuat alasan yang lain. Mereka diminta untuk berjaga-jaga semalam suntuk untuk ikut merayakan kedatangan Agung Sedayu sebagai calon pengantin laki-laki yang akan menjadi menantu Ki Demang Sangkal Putung.

Namun sementara itu, Swandaru telah memberikan pesan kepada para pemimpin kelompok agar memberikan peringatan kepada setiap pengawal, agar mereka bersiaga jika setiap saat terjadi sesuatu yang memerlukan penanganan mereka.

Meskipun para pengawal cukup bersiaga, tetapi mereka seolah-olah hadir di gardu-gardu dan di banjar karena Swandaru minta mereka berjaga-jaga. Bukan karena mereka harus bersiaga menghadapi kemungkinan yang paling buruk yang akan terjadi.

Apalagi Swandaru telah mengirimkan makanan dan minuman kepada anak-anak muda yang sedang berkelompok di gardu-gardu dan di banjar-banjar padukuhan, sehingga suasananya benar-benar terasa gembira. Yang terdengar, gelak tertawa dan senda gurau yang segar. Sama sekali tidak mencerminkan kegelisahan dan kesiagaan menghadapi segala bahaya yang mungkin datang.

Tetapi dalam pada itu, sebenarnya-lah bahwa malam mendatang, Sangkal Putung tidak akan dilanda oleh peristiwa yang menggetarkan. Sementara anak-anak muda bersiaga, maka di Pajang, beberapa orang telah berkumpul di rumah Ki Tumenggung Prabadaru.

“Pangeran Benawa memang Pangeran yang kurang waras,” geram Tumenggung Prabadaru.

“Benar-benar tidak pantas,” desis Ki Pringgajaya, “tetapi bukannya tanpa maksud bahwa tiba-tiba saja Pangeran Benawa mengumumkan akan menghadiri hari perkawinan anak Jati Anom itu. Apakah alasannya yang sebenarnya? Apakah Agung Sedayu pernah berbuat sesuatu bagi kepentingan Pajang? Apakah ia mempunyai jasa yang luar biasa sehingga anak itu pantas menerima kehormatan yang tidak terduga-duga itu?”

“Agaknya Pangeran Benawa memang telah mencium rencana kita,” berkata Tumenggung Prabadaru. “Kita sudah mengumpulkan orang-orang sakti yang akan dapat menumpas mereka yang tentu berkumpul di Sangkal Putung. Orang-orang tua yang memiliki ilmu yang mapan termasuk Agung Sedayu sendiri. Karena sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu sendiri adalah seorang yang luar biasa. Ia mampu membunuh iblis dari Tal Pitu itu. Namun tiba-tiba saja Pangeran Benawa telah memotong rencana ini dengan menyatakan kesediaannya untuk hadir bahkan atas nama Sultan sendiri.”

“Tentu ada desakan Pangeran Benawa,” desis seorang berjambang lebat.

Ki Tumenggung Prabadaru mengangguk-angguk. Ki Pringgajaya berkata, “Sebenarnya kita bersama-sama sudah mengetahuinya. Dan agaknya Pangeran Benawa pun sadar sepenuhnya, bahwa caranya itupun telah kita ketahui.”

“Tetapi kali ini kita harus mengalah,” desis Ki Tumenggung Prabadaru.

“Hanya untuk beberapa hari,” berkata Ki Pringgajaya, “mereka akan bersiaga sampai hari kelima. Kita akan menunggu, apakah benar Sekar Mirah akan diboyong ke padepokan kecil itu, atau ke rumahnya yang sekarang dipergunakan oleh Untara dan para perwira.”

“Aku condong menebak, sekali lagi seperti kita sedang berteka-teki, bahwa Agung Sedayu akan membawa Sekar Mirah tidak ke rumah orang tuanya, tetapi ke padepokannya,” jawab orang berjambang panjang itu, “Di sana mereka akan merasa lebih bebas.”

“Tetapi ingat,” berkata Ki Pringgajaya, “Sekar Mirah menurut keterangan yang aku dengar, mempunyai sifat yang berbeda dan tidak sesuai dengan sifat dan watak Agung Sedayu.”

“Aku juga mendengar,” jawab Ki Tumenggung Prabadaru. Katanya kemudian, “Kemungkinan yang lain, mereka akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Pringgajaya tersenyum. Dipandanginya Ki Tumenggung Prabadaru sambil bergumam, “Satu pertimbangan yang baik.”

“Bagaimana dengan Tanah Perdikan Menoreh? Aku kira orang-orang tua akan mengantarkan Agung Sedayu ke Tanah Perdikan Menoreh jika benar ia akan pergi ke sana.”

“Bagaimana dengan anak-anak muda yang berkumpul di Tanah Perdikan itu?” bertanya salah seorang di antara mereka.

“Permainan anak-anak. Aku juga pernah mendengar bahwa anak-anak muda dari beberapa daerah telah berkumpul. Tetapi mereka tidak akan berarti apa-apa,” desis Ki Pringgajaya.

“Aku sependapat,” sahut Ki Tumenggung, “mungkin mereka dipersiapkan untuk mengimbangi pasukan khusus kita. Tetapi itu omong kosong saja.”

Beberapa orang yang berada di ruang itupun tersenyum. Seorang perwira bertubuh tinggi berkata, “Raden Sutawijaya menganggap pasukan khusus yang dibentuk di Pajang inipun seperti mainan anak-anak pula sehingga ia berusaha untuk mengimbanginya dengan memanggil anak-anak padesan yang bodoh dan dungu, yang dapat diketahuinya. Mungkin dengan janji-janji yang tidak akan dapat dipenuhinya, namun sangat menarik bagi anak-anak muda itu.”

“Para Demang-lah yang sebenarnya bodoh sekali,” sahut Tumenggung Prabadaru.

“Bagaimana dengan Pesantenan?” tiba-tiba yang bertubuh tinggi itu bertanya.

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Itu satu perkecualian. Pesantenan memang kuat. Tetapi nampaknya Pesantenan tidak akan terlibat langsung meskipun Pesantenan mengirimkan juga anak-anak mudanya ke Tanah Perdikan Menoreh.”

“Mungkin ada perhitungan lain,” desis perwira yang bertubuh tinggi itu.

“Segala kemungkinan memang dapat terjadi. Tetapi kita akan dapat membuat perhitungan sebaik-baiknya. Kita bukan kanak-kanak lagi,” jawab Tumenggung Prabadaru.

Kawan-kawannya terdiam. Mereka mengangguk-angguk kecil. Bagi mereka Tumenggung Prabadaru adalah seorang yang memiliki penglihatan yang tajam dan pengetahuan yang luas. Ia adalah orang yang dapat berhubungan dengan orang-orang yang jumlahnya hanya sedikit, yang memiliki peranan penting dalam gerakan mereka.

“Baiklah,” berkata Tumenggung Prabadaru, “pada saatnya aku akan memanggil kalian lagi. Bersiaplah. Nampaknya tugas kita akan sampai pada saatnya berakhir. Maksudku, tugas yang khusus ini, karena sesudah ini, tugas-tugas lain masih akan menunggu.”

“Kami menunggu perintah. Semakin cepat memang semakin baik. Tetapi segalanya terserah kepada Ki Tumenggung,” sahut perwira yang bertubuh agak tinggi.

Ki Tumenggung tidak menjawab. Sejenak kemudian kawan-kawannya itupun meninggalkannya. Namun sudah pasti bagi mereka, bahwa mereka tidak akan menyergap Sangkal Putung pada saat perkawinan Agung Sedayu meskipun pada saat itu, banyak orang-orang penting yang berkumpul di kademangan itu. Orang-orang penting di sekitar Agung Sedayu yang akan dapat menguntungkan Mataram. Namun sikap Pangeran Benawa harus merubah rencana mereka seluruhnya.

Tetapi Ki Tumenggung sebenarnya tidak membatalkan rencananya. Ia hanya menunda sampai saat yang paling baik untuk melakukannya. Karena Ki Tumenggung mengerti, bahwa Pangeran Benawa tidak akan lama berada di Sangkal Putung. Sehingga sesudah Pangeran Benawa kembali ke Pajang, maka kesempatan masih akan tetap terbuka.

“Mungkin orang-orang yang aku kehendaki sudah tidak berkumpul lagi seperti saat perkawinan itu sendiri,” berkata Ki Tumenggung Prabadaru kepada diri sendiri, “tetapi langkah-langkah yang kemudian akan dapat ditentukan sesuai dengan keadaan.”

Dalam pada itu, Kademangan Sangkal Putung benar-benar menjadi sangat sibuk. Ketika iring-iringan bakal pengantin laki-laki memasuki padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung, maka keadaan kademangan itupun menjadi riuh.

Anak-anak muda yang berada di gardu telah menyambut iring-iringan itu di mulut lorong. Meskipun senja baru saja lewat, tetapi obor-obor telah menyala di gardu-gardu, di regol-regol padukuhan, dan regol-regol halaman.

Bukan saja anak-anak muda, tetapi orang-orang tua dan bahkan anak-anak telah keluar dari halaman rumah mereka. Mereka berdiri di depan regol sambil melambai-lambaikan tangan mereka ketika Agung Sedayu dan iring-iringannya lewat di hadapan mereka.

Jantung Agung Sedayu memang terasa berdegup semakin keras. Rasanya ia berada di satu alam yang lain dari alamnya sehari-hari. Rasa-rasanya semua orang memperhatikannya dan bahkan menghormatinya. Kakaknya, Untara, yang seolah-olah tidak terlalu banyak menghiraukannya dengan sungguh-sungguh dan sebagai seorang senapati, ia telah menggerakkan pasukannya untuk menjaga keselamatannya, sebagaimana diperintahkan oleh Pangeran Benawa di Pajang atas nama Kanjeng Sultan.

 

 

Demikian iring-iringan itu memasuki halaman Kademangan, maka Ki Demang dan orang-orang tua yang sudah siap di Kademangan itupun menyongsongnya. Merekapun kemudian mempersilahkan para tamu yang mengiringkan Agung Sedayu itu naik ke pendapa.

Suasananya memang menjadi cerah. Semuanya nampak gembira. Ki Demang pun nampak gembira sekali menerima calon menantunya yang datang diiringi kakaknya, pamannya dan orang-orang tua dari padepokan Agung Sedayu dan dari Jati Anom.

Setelah menyerahkan kuda mereka kepada anak-anak muda Sangkal Putung yang bertugas di halaman, maka merekapun segera naik ke pendapa. Meskipun hari itu masih belum merupakan hari perkawinan, tetapi Kademangan Sangkal Putung telah nampak terang benderang. Bahkan teratag yang akan dipergunakan sepekan lagi telah siap, meskipun masih belum dipasang janur kuning.

Dalam pada itu, segalanya berjalan seperti yang direncanakan. Swandaru yang telah selesai mengatur para pengawal, telah berada di pendapa itu pula. Tetapi ia tidak ikut duduk di pendapa menemui para tamu, karena ia berada di antara anak-anak muda yang menyiapkan jamuan bagi mereka yang berada di pendapa. Sementara itu, Pandan Wangi masih berada di dapur bersama mereka yang sibuk memasak jamuan makan.

Sementara itu, Sekar Mirah sendiri masih berada di dalam biliknya. Ia sudah tidak banyak berbuat sesuatu. Ia sudah lebih banyak berada di dalam biliknya, meskipun hari perkawinannya yang sebenarnya masih akan berlangsung sepekan lagi.

Di pendapa ternyata telah berlangsung pertemuan dari kedua belah pihak calon pengantin. Untara dan Widura yang mewakili orang tua Agung Sedayu bersama orang-orang tua di Jati Anom dan padepokan kecil Agung Sedayu, sementara di pihak calon pengantin perempuan, Ki Demang didampingi oleh orang-orang tua di Sangkal Putung.

Untuk beberapa saat telah terjadi pembicaraan sesuai dengan upacara yang sedang berlangsung. Seorang tetua dari Jati Anom mewakili keluarga bakal pengantin laki-laki telah menyerahkan Agung Sedayu untuk ngenger di Kademangan Sangkal Putung. Dengan demikian, maka bakal pengantin perempuan dan keluarganya akan dapat melihat, apakah bakal pengantin laki-laki cukup memenuhi keinginan pihak bakal pengantin perempuan. Apakah ia cukup rajin, terampil dan dapat menyesuaikan diri di antara keluarga bakal pengantin perempuan. Jika segalanya seperti yang dikehendaki, maka hari perkawinan itu akan dapat berlangsung dengan rancak. Tetapi jika tidak memenuhi sebagaimana dikehendaki oleh keluarga bakal pengantin perempuan, maka segalanya masih belum terlanjur. Namun sebenarnya-lah hal itu kemudian hanya menjadi sekedar syarat saja. Kedua belah pihak tidak sesungguhnya menghendaki hal yang demikian. Bahkan seandainya ternyata calon pengantin laki-laki sama sekali tidak sesuai dengan gambaran sebelumnya dari pihak calon pengantin perempuan, maka kesempatan membatalkan sudah sangat sempit, sehingga akan dapat menimbulkan berbagai macam persoalan yang khusus.

Dalam pada itu, maka seorang di antara orang-orang tua di Sangkal Putung pun telah menerima penyerahan calon pengantin laki-laki itu. Dengan senang hati keluarga calon pengantin perempuan menerima kehadiran calon pengantin laki-laki di dalam lingkungan keluarga dan akan menganggapnya sebagai keluarga sendiri.

Upacara serah terima itu ternyata memakan waktu yang cukup panjang. Baru kemudian, setelah upacara itu selesai, anak-anak muda mulai menghidangkan minuman dan makanan. Sejenak kemudian, disusul dengan jamuan makan yang sangat baik dan hangat.

Di antara para pengiring dari Jati Anom terdapat pula Glagah Putih. Sambil menggamit Sabungsari, Glagah Putih berbisik, “Nah, percaya?”

“Apa?” bertanya Sabungsari.

“Jika waktu itu kita tidak menghidangkan diri kita bagi nyamuk-nyamuk di pategalan, maka kita menghadapi makan malam seperti ini pula,” berkata Glagah Putih.

“Aku tidak mengerti,” desis Sabungsari.

“Ah, kau memang pelupa,” desis Glagah Putih. “Bukankah saat itu kita menunggu orang-orang tua yang pergi ke kademangan ini di pategalan? Kemudian kita harus ikut serta berkelahi melawan orang-orang gila yang telah mengupah orang-orang Tal Pitu.”

“O,” Sabungsari mengangguk-angguk, “aku mengerti. Tetapi kita berada dalam keadaan yang berbeda.”

“Memang jauh berbeda. Waktu itu kita menjadi hidangan nyamuk yang ganas. Sekarang kita yang mendapat hidangan yang hangat.”

Sabungsari tersenyum. Tetapi ia menggamit Glagah Putih ketika anak itu mulai akan berbicara lagi tentang hidangan, karena seorang anak muda dari Sangkal Putung telah duduk di belakangnya sambil membawa beberapa jenis makanan.

Sejenak kemudian, orang-orang yang berada di pendapa itu telah menikmati minuman dan makanan yang disuguhkan sambil berbicara tentang banyak hal yang terjadi pada saat-saat terakhir. Tentang musim yang tidak ajeg. Tentang Gunung Merapi yang nampak mengepulkan asap yang gelap dan tentang anak-anak muda yang menjadi semakin rajin bekerja di Sangkal Putung. Bahkan kadang-kadang pembicaraan itu diselingi dengan gelak tertawa, jika satu dua orang berbicara sambil mengucapkan kelakar yang segar.

Sementara itu di gardu-gardu, anak-anak mudapun bergurau dengan gembiranya. Di banjar anak-anak mudapun menjadi gembira. Di hadapan mereka dihidangkan makanan dan minuman yang diantar langsung dari rumah Ki Demang Sangkal Putung.

Meskipun demikian, sebagaimana dipesankan oleh Swandaru dengan sungguh-sungguh, mereka tidak boleh lengah barang sekejappun. Pada setiap saat, dua orang di antara mereka bertugas mengawasi keadaan beberapa langkah di luar gardu. Dua orang itu sengaja memisahkan diri bergantian, agar mereka tidak tenggelam dalam gurau yang dapat membuatnya manjadi lengah.

Selain dua orang yang bertugas bergantian di setiap gardu, maka Swandaru pun telah mengatur beberapa pengawal berkuda yang akan melintasi bulak-bulak di antara padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain. Mereka akan meronda untuk melihat suasana dalam keseluruhan.

Bahkan di luar Sangkal Putung, pasukan berkuda Pajang di Jati Anom pun selalu berjaga-jaga. Mereka menjalankan perintah Untara dengan sebaik-baiknya.

Namun malam itu ternyata tidak terjadi sesuatu. Tidak ada hal yang mencurigakan. Semuanya berjalan sewajarnya. Jika ada satu dua orang yang dijumpai oleh para peronda di bulak, adalah orang-orang yang berkepentingan dengan sawah mereka, dan orang yang karena terpaksa dan tidak dapat ditunda, harus pergi ke sungai di malam hari.

Ketika malam menjadi semakin larut, maka Untara dan orang-orang tua dari Jati Anom dan Sangkal Putung itupun menyatakan untuk minta diri. Mereka akan kembali setelah sepekan lagi, pada hari perkawinan. Tetapi sebagaimana kebiasaannya, maka Untara atau Widura sebagai wakil orang tua calon pengantin laki-laki tidak akan turut ke Sangkal Putung. Ada salah seorang di antara mereka yang ditetapkan sebagai besan Ki Demang Sangkal Putung. Ia baru dibenarkan untuk mengujungi Sangkal Putung di hari berikutnya, atau pada malam itu juga setelah segala macam upacara selesai.

Namun agaknya Untara memilih, dirinyalah yang akan menjadi besan Ki Demang. Bukan Widura. Jika ia tidak berada di Sangkal Putung, maka ia akan dapat berada di antara prajurit-prajuritnya.

Tetapi hal itu masih akan dibicarakannya kemudian. Masih ada waktu untuk berbincang dengan orang-orang tua di Jati Anom dan di padepokan Agung Sedayu.

Ki Demang Sangkal Putung tidak menahannya. Malam memang sudah larut. Karena itu, maka iapun telah mengucapkan selamat jalan kepada para tamu setelah sebagaimana kebiasaan pula, minta maaf atas segala kekurangan dan mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga.

Demikianlah, maka sejenak kemudian iring-iringan itupun telah meninggalkan Kademangan Sangkal Putung. Tetapi seorang di antara mereka yang ada di dalam iring-iringan itu di saat berangkat, telah ditinggalkan di Sangkal Putung.

Glagah Putih menjadi berdebar-debar juga melihat Agung Sedayu melambaikan tangannya di tangga pendapa. Meskipun ia sudah agak lama terpisah dari Agung Sedayu yang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh, namun melihat Agung Sedayu yang berangkat bersama-sama dari Jati Anom, dan kemudian harus tinggal di Sangkal Putung, ada juga perasaan iba di dalam hatinya.

“Kasihan Kakang Agung Sedayu,“ Glagah Putih kepada Sabungsari.

“Kenapa?” bertanya Sabungsari.

“Ia kita tinggalkan sendiri,” jawab Glagah Putih.

“Itu lebih baik. Ia lebih senang ditinggal sendiri dari pada kita ikut bersamanya,” jawab Sabungsari, “apalagi sepekan lagi, ia akan sampai kepada puncak kebahagiaan seorang anak muda. Ia akan kawin. Kenapa harus dikasihani?”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun akhirnya ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Akulah yang bodoh. Kenapa aku harus mengasihaninya?”

Sabungsari tertawa. Tetapi ia berusaha untuk tidak menarik perthatian orang lain.

Dalam pada itu, iring-iringan itupun telah berpacu menuju ke Jati Anom. Untara yang berada di depan bersama Widura tertegun sejenak melihat iring-iringan orang berkuda di depan mereka. Namun kemudian ternyata bahwa mereka adalah kelompok kecil prajurit Pajang yang sedang meronda di daerah sekitar Sangkal Putung.

“Terima kasih,” berkata Untara kepada senapati yang memimpin sekelompok kecil pasukan Pajang itu, “lakukan tugasmu sebaik-baiknya.”

Dengan demikian maka orang-orang tua yang pernah menggigil ketakutan di pinggir jalan pada saat mereka dicegat oleh Pringgajaya dan orang-orangnya, menjadi semakm tenang. Mereka mengerti, bahwa pasukan Pajang di Jati Anom tentu mengadakan perondaan di sekitar Sangkal Putung, apalagi jalan dari Sangkal Putung menuju ke Jati Anom.

Tidak seperti apa yang pernah terjadi, iring-iringan itu sama sekali tidak mengalami hambatan. Mereka menuju ke Jati Anom dengan cepat dan lancar.

Namun dalam pada itu, dua orang tengah mengamati perjalanan iring-iringan itu dari balik sebuah gerumbul perdu. Justru dekat di ujung padukuhan pertama di Kademangan Jati Anom.

“Orang-orang kita sudah siap untuk menghancurkan mereka,” berkata salah seorang dari kedua orang itu.

“Ya. Kita sudah cukup kuat sekarang,” jawab yang lain, “di dalam iring-iringan itu terdapat beberapa orang yang pinunjul. Tetapi jumlah kami tentu lebih banyak.”

“Sayang, bahwa segalanya telah ditunda sampai waktu yang tidak terbatas,” desis kawannya.

“Kita dapat mengerti,“ jawab yang lain. “Jika kita memaksa diri untuk bertindak sekarang, maka kita akan terjebak. Kau lihat Untara sudah mendapat alasan yang sangat baik untuk mengerahkan satu pasukan terhadap rencana kami.”

“Tetapi tidak sepanjang umurnya akan berada di Sangkal Putung,” desis yang seorang.

“Jangan dungu begitu,” berkata kawannya, “kesempatan untuk menjebak orang-orang penting di sekitar lahirnya Mataram sebenarnya akan sangat penting artinya. Lewat hari perkawinan itu. maka orang-orang tua yang memiliki ilmu yang tinggi itu tentu sudah akan terpencar lagi. Mungkin Kiai Gringsing masih akan berada di Sangkal Putung untuk beberapa hari. Tetapi Ki Gede Menoreh yang tentu akan hadir, Untara sendiri, Widura dan Ki Waskita, mungkin sudah meninggalkan Sangkal Putung dengan tujuan yang berbeda-beda. Ki Gede akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh. Ki Waskita mungkin akan mengikutinya, atau menunggu saatnya untuk berangkat bersama dengan Agung Sedayu ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Yang lain mengangguk-angguk. Sementara kawannya barkata, “Tetapi kita terbentur pada suatu keadaan yang tidak di perhitungkan sebelumnya. Dengan sikapnya yang kurang waras, Pangeran Benawa telah berusaha untuk melindungi mereka.”

“Kenapa kita tidak berpikir untuk melenyapkan Pangeran itu sekaligus. Sikapnya sama sekali tidak menguntungkan kita dan tidak menguntungkan Pajang,” berkata yang lain.

Kawannya mengerutkan keningnya. Katanya, “Tumenggung Prabadaru sudah pernah menyebutnya juga. Tetapi dalam hal ini, secara terbuka ia menyatakan dirinya mewakili ayahandanya.”

“Sultan juga pikun. Kenapa ia mengijinkan Pangeran Benawa menyatakan diri atas namanya,“ geram yang lain.

“Kenapa kau heran, bahwa Sultan sudah pikun? Jika Sultan tidak pikun atau kehilangan penalaran yang jernih pada waktu mudanya, maka kitapun akan kehilangan kesempatan,“ berkata kawannya, “namun demikian, masih banyak kemungkinan dapat terjadi.”

Kedua orang itu terdiam. Iring-iringan itu sudah menjadi semakin jauh. Namun yang mereka lihat adalah iring-iringan yang lain. Empat orang peronda dari pasukan berkuda Pajang di Jati Anom.

“Nah. kau lihat. Untar apun sudah menjadi gila pula,” geram salah seorang dari kedua orang itu.

Kawannya tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba saja ia menggeram. Rasa-rasanya jantungnya menjadi semakin keras berdentang di dalam dadanya. Namun sementara itu kawannya agaknya lebih sulit lagi untuk menahan diri. sehingga ia menggeram, “Aku akan membinasakan keempat orang peronda itu. Bagi kita berdua, keempat prajurit itu tidak akan berarti apa-apa.”

“Kaupun akan menjadi gila seperti Untara,” sahut kawannya, “darahkupun rasa-rasanya sudah mendidih. Tetapi aku masih sempat berpikir.”

“Apa keberatanmu?” bertanya kawannya.

“Dengan demikian Untara akan menjadi semakin bersiaga. Sebelum dan sesudah hari perkawinan. Mungkin untuk waktu yang lama. Jika kita membunuhnya, maka hal itu akan dapat dipergunakannya sebagai alasan bahwa daerah ini memerlukan kesiagaan sepenuhnya, tidak hanya pada saat perkawinan Agung Sedayu.”

Kawannya mengggertakkan giginya. Tetapi ia mengurungkan niatnya meskipun sambil mengumpat-umpat kasar.

Demikian keempat prajurit yang meronda itu lewat, maka dua orang itupun segera meninggalkan tempatnya. Seorang di antara mereka berkata, “Kita hanya boleh membuat laporan. Tetapi kita tidak boleh bertindak langsung.”

“Aku hampir tidak tahan,” geram yang lain.

Kawannya tidak menjawab. Namun keduanyapun melanjutkan perjalanan mereka di dalam gelap. Agaknya mereka masih akan melanjutkan tugas mereka, mengamati Sangkal Putung dan sekitarnya.

Dalam pada itu di Sangkal Putung, anak-anak muda masih tetap berjaga-jaga. Di gardu-gardu, di banjar, dan bahkan di mulut-mulut lorong. Mereka duduk sambil bergurau dengan riangnya. Seolah-olah mereka tidak sedang bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Namun dalam pada itu, mulut merekapun seolah-olah tidak pernah berhenti mengunyah makanan

Dua orang yang sedang mengamati keadaan itupun mendekati Kademangan Sangkal Putung. Namun yang seorang kemudian berkata, “Biarlah kawan yang lain mengamati Kademangan itu malam ini. Aku kira dari arah lain sudah ada kawan yang mendapat tugas itu. Aku cemas tentang diriku sendiri.”

“Kenapa?” bertanya kawannya.

“Seperti yang kau katakan. Jika aku malam ini menjadi gila. aku akan mengamuk di Sangkal Putung,” jawab yang lain.

Kawanya tidak menjawab. Tetapi ia sendiri meresa betapa jantungnya menggelegak. Karena itu maka katanya, “Baiklah. Kita tidak usah pergi ke Sangkal Putung.”

Dengan demikian, maka kedua orang itupun telah mengambil jalan simpang. Mereka menuju ke padukuhan tetangga dari Kademangan Sangkal Putung, yang nampak jauh lebih sepi dari Sangkal Putung sendiri. Namun demikian, ada juga beberapa anak muda yang berada di gardu-gardu, karena Sangkal Putung telah memberikan beberapa keterangan tentang keadaan yang mungkin terjadi di Sangkal Putung, meskipun tidak selengkapnya.

Tetapi kedua orang itu tidak menghiraukan mereka. Meskipun padukuhan itu berbatasan dengan Sangkal Putung, namun keadaan anak-anak mudanya agak jauh berbeda. Sangkal Putung memang memberikan banyak pengaruh terhadap padukuhan-padukuhan di sekitarnya, tetapi keadaan padukuhan di sekitarnya itu tidak akan dapat menyamai Sangkal Putung, karena di Sangkal Putung ada seorang Swandaru.

Namun yang membuat kedua orang pengamat itu selalu mengumpat-umpat, adalah justru para prajuni Pajang. Ternyata di sekitar Kademangan Sangkal Putung terdapat peronda-peronda yang selalu berkeliling melintasi bulak-bulak di antara padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain.

Karena itu, setiap kali kedua orang itu harus bersembunyi menghindari para peronda, karena mereka masih menyadari, bahwa berbuat sesuatu, apalagi mencelakai para peronda itu, akan berakibat semakin buruk bagi mereka.

Ternyata bahwa kesiagaan para prajurit itu tidak hanya dilakukan pada saat Agung Sedayu diantar ke Sangkal Putung. Pada hari-hari berikutnya para prajuritpun tetap bersiaga di sekitar Sangkal Putung dan Jati Anom. karena menurut perhitungan Untara, untuk mengacaukan perkawinan itu akan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Mungkin tidak di Sangkal Putung sendiri, tetapi dapat dilakukan di Jati Anom atau di padepokan kecil itu.

Tetapi Untara pun mempunyai perhitungan, bahwa tujuan terpenting dan rencana satu gerakan yang besar untuk menyerang Sangkal Putung, bukannya menggagalkan perkawinan Agung Sedayu itu sendiri. Tetapi mereka tentu memperhitungkan bahwa di Sangkal Putung telah berkumpul beberapa orang yang akan dapat mengganggu gerakan mereka untuk selanjutnya.

Karena itu, maka mereka akan dapat mengambil langkah-langkah lain setelah mereka mengetahui bahwa Pangeran Benawa akan datang ke Sangkal Putung pada saat perkawinan Agung Sedayu.

Sementara itu, kesibukan di Sangkal Putung sendiri menjadi semakin meningkat pula. Pada hari-hari berikutnya. Kademangan Sangkal Putung telah siap dengan teratag. Beberapa buah rumah di sekitar rumah Ki Demang telah dibersihkan pula, karena Ki Demang akan meminjam rumah-rumah itu untuk menampung tamu-tamu yang akan bermalam di Sangkal Putung pada hari-hari perkawinan itu.

Dalam kesibukan itu, ternyata kegelisahan Agung Sedayu pun rasa-rasanya menjadi semakin meningkat pula. Meskipun ia tidak asing lagi di rumah Ki Demang, karena ia memang pernah berada di rumah itu, namun justru pada saat-saat orang menjadi sibuk untuk meramaikan hari perkawinannya, ia merasa menjadi orang tersisih. Ia tidak boleh ikut dalam kesibukan apapun juga. Meskipun menurut adat, kehadirannya di rumah calon pengantin perempuan itu untuk menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang rajin, trampil dan mampu bekerja keras, tetapi ternyata bahwa ia sama sekali tidak boleh berbuat apapun juga. Sehingga justru karena itu, maka rasa-rasanya Agung Sedayu justru menjadi orang yang sedang menjadi tawanan.

Namun ternyata bahwa waktu merangkak terus. Hari ke hari berikutnya. Sehingga akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itupun menjadi semakin dekat pula.

Sehari menjelang hari yang ditentukan, bukan saja di Sangkal Putung. tetapi di Jati Anom pun ada upacara malam menjelang hari perkawinan. Orang-orang tua berjaga-jaga sambil berdoa agar perkawinan yang akan diselenggarakan di hari berikutnya akan berlangsung dengan selamat.

Seperti yang telah direncanakan, maka pada hari sebelum hari perkawinan Agung Sedayu, Ki Gede Menoreh telah datang di padepokan kecil di Jati Anom, diiringi oleh beberapa orang pengawal dan Prastawa yang ikut serta. Namun ternyata bahwa orang-orang tua di padepokan itu berada di rumah Untara. Tetapi Glagah Putih yang tinggal di padepokan justru bersama Sabungsari, telah mendapat pesan, agar Ki Gede diantarkan ke rumah Untara.

“Kenapa disana?” bertanya Ki Gede.

“Rumah itu adalah rumah Kakang Agung Sedayu,“ jawab Glagah Putih.

Ki Gede mengangguk-angguk. Namun Glagah Putih tidak dengan tergesa-gesa mempersilahkan Ki Gede pergi ke Jati Anom. Tetapi ia masih mempersilahkannya untuk beristirahat sebentar menikmati hidangan yang kemudian disuguhkan oleh Glagah Putih.

Baru kemudian setelah membersihkan diri, maka Glagah Putih pun mempersilahkan Ki Gede untuk pergi ke Jati Anom, menyusul orang-orang tua yang telah mendahuluinya.

“Marilah Ki Gede,” berkata Glagah Putih, “mereka tentu sudah menunggu.”

Diantar oleh Glagah Putih dan Sabungsari. maka Ki Gede pun kemudian pergi ke Jati Anom dan bersama-sama dengan orang-orang tua, ia telah berjaga-jaga pula di rumah Untara yang juga masih dapat disebut sebagai rumah Agung Sedayu.

Malam itu, Sangkal Putung benar-benar tidak tidur. Bukan saja mereka yang berada di rumah Ki Demang. Tetapi di gardu-gardu, anak-anak muda berjaga-jaga semalam suntuk. Di samping anak-anak muda itu, para prajurit Pajang di Jati Anom pun selalu bersiaga, hilir mudik antara padukuhan yang satu ke padukuhan yang lain. Mereka telah bersiap sepenuhnya jika terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki.

Tetapi agaknya keadaan benar-benar tenang. Tidak ada seorangpun yang nnengganggu ketenangan keadaan.

Namun dalam pada itu, para peronda dan anak-anak muda itu tidak melihat, bahwa ada satu dua orang yang selalu mengamati keadaan yang berkembang di Sangkal Putung. Orang-orang yang ingin melihat, betapa Sangkal Putung benar-benar dalam kesiagaan tertinggi.

Dalam pada itu, malam itu juga, Untara ternyata telah menerima seorang utusan dari Mataram yang diiringi oleh para pengawalnya. Utusan yang menyampaikan ucapan selamat atas hari perkawinan Agung Sedayu. Namun yang ternyata juga membawa pesan khusus, bahwa Raden Sutawijaya tidak dapat hadir dalam upacara itu.

“Perhatian Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga itu sudah merupakan kehormatan yang sangat besar bagi kami,“ jawab Untara, “karena itu kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.”

Namun ternyata utusan itu masih memberikan pesan selanjutnya, “Sebenarnya Senapati ing Ngalaga sudah bersiap-siap untuk hadir. Senapati ing Ngalaga sudah mendengar rencana dari beberapa orang perwira Pajang yang ingin menjebak Agung Sedayu dan beberapa orang-orang tua yang sedang berkumpul di Sangkal Putung. Karena itu, maka Raden Sutawijaya telah siap untuk hadir dengan pasukan yang memungkinkan untuk membantu memberikan perlindungan kepada Sangkal Putung. Namun justru setelah Senapati ing Ngalaga mendengar bahwa Pangeran Benawa akan hadir, rencana itu dibatalkannya.”

 

 

Untara menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Kami tidak menyangka bahwa perhatian Senapati ing Ngalaga terhadap Agung Sedayu adalah sedemikian besarnya.”

Namun dalam pada itu, utusan Raden Sutawijaya itu telah menyerahkan beberapa macam barang bagi Agung Sedayu. Beberapa helai kain panjang dan beberapa helai sutera halus yang sangat bagus.

Tetapi utusan itu tidak bermalam di Jati Anom. Mereka telah minta diri untuk kembali ke Mataram.

Demikianlah, ketika matahari mulai membayang di langit, maka orang-orang tua di Jati Anom sudah bersiap-siap untuk pergi ke Sangkal Putung. Seperti yang direncanakan, maka mereka akan berada di Sangkal Putung untuk mempersiapkan Agung Sedayu yang pada sore harinya akan memasaki upacara perkawinannya.

Setelah makan pagi, maka sebuah iring-iringan yang cukup besar telah meninggalkan Jati Anom, termasuk Glagah Putih dan Sabungsari yang berkuda bersama Prastawa. Namun agaknya sikap dan pembawaan mereka memang berbeda. sehingga kadang-kadang pembicaraan mereka terasa agak kurang sesuai.

Kedatangan mereka di Sangkal Putung telah dipersilahkan langsung ke rumah yang sudah dipersiapkan untuk mereka. Ki Demang-lah yang datang ke rumah itu untuk menerima mereka dan kemudian mempersillahkan mereka beristirahat sambil menunggu saatnya Agung Sedayu dipersiapkan, dengan memberinya pakaian khusus dan kelengkapan-kelengkapan lainnya. Namun dalam pada itu, Agung Sedayu pun telah diantar ke rumah itu pula, untuk tinggal bersama orang-orang tua dari Jati Anom.

Sangkal Putung nampak diliputi oleh suasana gembira. Sementara itu, Untara yang mewakili orang tua Agung Sedayu, tidak ikut bersama orang-orang tua pergi ke Sangkal Putung sebagaimana kebiasaan yang berlaku. Namun justru karena itu, ia dapat memanfaatkan waktunya untuk memimpin penjagaan sebaik-baiknya. Bukan saja di Sangkal Putung dan sekitarnya, tetapi juga di Jati Anom sendiri, karena Untara mengetahui bahwa orang-orang Pajang yang terlibat dalam gerakan yang menggetarkan itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Termasuk Ki Tumenggung Prabadaru, pemimpin pasukan khusus.

Tetapi dalam pada itu, Tumenggung Prabadaru tidak henti-hentinya mengumpat-umpat. Setiap ia menerima laporan tentang kesiagaan Untara di sekitar Sangkal Putung, kemarahannya bagaikan hendak meledakkan jantungnya.

Meskipun demikian, ia benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Seandainya ia memaksakan gerakannya untuk membunuh orang-orang yang mereka kehendaki yang berkumpul di Sangkal Putung, termasuk Agung Sedayu sendiri, Ki Gede Menoreh dan bahkan Pangeran Benawa sementara itu sedang mewakili Kanjeng Sultan.

Tetapi Tumenggung Prabadaru tetap menyiapkan orang-orangnya. Ia tidak membatalkan niatnya, tetapi hanya sekedar menundanya untuk beberapa saat. Jika perkawinan Agung Sedayu itu dianggapnya saat yang tepat, maka ia harus menunggu saat yang tepat berikutnya yang mungkin sulit untuk didapatkannya. Apalagi masih belum jelas, sesudah hari perkawinannya, Agung Sedayu sendiri akan berada di mana. Di Sangkal Putung, di padepokan kecilnya di Jati Anom, atau di Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, selagi Agung Sedayu tidak berada di Tanah Perdikan Menoreh karena hari perkawinannya itu, maka ternyata Raden Sutawijaya sendiri dengan diam-diam telah berada di dalam barak itu. Kepada setiap orang di dalam barak itu, Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga minta agar kehadirannya itu di rahasiakan.

Namun justru kehadirannya itu telah menambah gairah latihan anak-anak muda yang berada di dalam pasukan khusus itu. Terutama anak-anak muda yang telah datang lebih dahulu dari kawan-kawan mereka yang kemudian menjadi pembantu pimpinan dalam barak itu.

Namun Senapati ing Ngalaga itu merasa sangat puas ketika pertama kali ia berada di dalam barak. Ia mendapati kenyataan. bahwa tingkat Ilmu anak-anak muda itu cukup baik. Ternyata Agung Sedayu dan beberapa orang perwira yang terdahulu, telah berhasil menempa mereka menjadi pengawal-pengawal yang pilih tanding.

“Aku tinggal melanjutkan,” berkata Raden Sutawijaya kepada Ki lurah Branjangan, “tetapi aku yakin, bahwa mereka benar-benar akan menjadi anak-anak muda dari sebuah pasukan khusus yang menggetarkan. Sebuah pasukan khusus yang akan dapat memaksa orang-orang yang tergabung dalam gerakan yang terselubung itu untuk melihat satu kenyataan tentang pihak yang akan dihadapinya.

Apalagi ternyata bahwa Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga itu memiliki sikap yang agak berbeda dengan Agung Sedayu. Sikap Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga itu adalah benar-benar sikap seorang prajurit yang berpegang teguh pada paugeran seorang prajurit.

Dengan demikian, maka anak-anak muda dari pasukan khusus itu benar-benar merasa berada di dalam satu pembajaan diri yang berat. Namun mereka menyadari, bahwa yang dilakukan itu akan memberikan banyak manfaat bagi diri mereka dan cita-cita mereka, karena di samping pembajaan lahir, mereka juga mengalami pembajaan batin.

Siang dan malam anak-anak muda yang berada di barak itu sekan-akan tidak pernah mempunyai waktu yang terluang. Mereka mendapat kesempatan untuk tidur pada saat-saat tertentu. Jika mereka tidak mempergunakannya sebaik-baiknya, maka mereka benar-benar kehilangan kesempatan untuk beristirahat.

Tetapi anak-anak muda itu tidak mengeluh. Mereka memahami keadaan yang sedang berkembang. Karena itu, merekapun justru dengan mantap mengikuti segala kewajiban agar mereka dapat menunaikan segala tugas mereka dengan sebaik-baiknya.

Dengan tekad yang membara mereka mengembangkan kemampuan yang mereka bawa sebagai bekal memasuki barak pasukan khusus itu. Di bawah bimbingan para perwira Mataram dan kemudian Raden Suuwijaya sendiri, maka mereka benar-benar memiliki ilmu yang tangguh sebagai pengawal dalam satu pasukan yang dibanggakan. Kemampuan mereka dengan cepat telah menyamai para pengawal dan prajurit. Namun bahkan kemudian dengan pasti ilmu mereka meningkat melampaui kemampuan para prajurit itu sendiri, sehingga mereka benar-benar dapat disebut para pengawal dari pasukan khusus.

“Pada suatu saat Agung Sedayu tentu akan kembali kemari,” berkata Raden Sutawijaya kepada anak-anak muda itu dalam satu kesempatan, karena setiap kali mereka selalu mempertanyakan Agung Sedayu.

Waktu beberapa hari itu ternyata terasa cukup lama bagi anak-anak muda di dalam pasukan khusus itu. Rasa-rasanya Agung Sedayu telah meninggalkan barak itu bukan setengah bulan, tetapi setengah tahun.

Di Sangkal Putung, hari-hari yang ditunggu itu akhirnya telah mereka hadapi. Menjelang siang hari, Agung Sedayu telah bersiap-siap untuk mengenakan pakaian kebesarannya. Setelah mandi dan makan siang, Agung Sedayu mendapat kesempatan untuk beristirahat sebentar, sementara orang-orang tua menyiapkan pakaian yang akan dipergunakannya.

Di rumah Ki Demang, Sekar Mirah justru telah mulai dirias agar pada saatnya, juru rias pengantin perempuan itu tidak harus tergesa-gesa. Pandan Wangi dengan tekun melayani adik iparnya dan menungguinya setiap saat. Karena Sekar Mirah sendiri, seolah-olah tidak mau ditinggalkannya barang sekejap.

Sementara itu, Swandaru sendiri masih sempat berkeliling kademangan sebagaimana dilakukan oleh Untara di luar kademangan itu. Bukan saja di malam hari, tetapi pada hari perkawinan itu, maka di siang haripun gardu-gardu ditunggui oleh anak-anak muda, meskipun jumlahnya tidak seperti di malam hari. Tetapi atas permintaan Swandaru, anak-anak muda itu tetap bersiaga sepenuhnya, meskipun mereka mengetahui bahwa prajurit-prajurit Pajang bersiap-siap pula di sekeliling kademangan itu.

Ketika matahari turun ke barat, maka jantung Agung Sedayu rasa-rasanya telah membengkak. Kegelisahannya telah menghentak-hentak di dalam dadanya.

Selagi Agung Sedayu menunggu saat-saat yang ditentukan dengan tubuh yang basah oleh keringat, bukan saja karena udara yang memang panas, tetapi juga karena kegelisahannya, beberapa orang pengiring yang datang dari Jati Anom sedang berjalan-jalan di luar padukuhan induk Sangkal Putung. Mereka mengisi waktu mereka dengan melihat-lihat keadaan Sangkal Putung yang subur. Sawah yang selalu basah di sepanjang musim. Parit yang tidak pernah kering, dan dedaunan yang selalu hijau rimbun.

Dua orang anak muda yang datang bersama Ki Gede dari Tanah Perdikan Menoreh yang ditemani oleh Glagah Putih dan Sabungsari, menelusuri jalan-jalan kecil di luar padukuhan induk.

Tetapi bagaimanapun juga, Glagah Putih memang agak sulit untuk menyesuaikan diri dengan Prastawa. Mereka kadang-kadang dapat berbicara panjang. Namun pembicaraan mereka selalu sampai pada satu titik yang berbeda arah.

Tetapi Glagah Putih selalu berusaha untuk menahan diri. Ayahnyalah yang menyuruhnya untuk mengawani Prastawa, karena keduanya hampir sebaya. Meskipun Prastawa lebih tua dari Glagah Putih, tetapi perbedaan umur mereka tidak berbeda terlalu jauh.

Sementara itu, seorang kawan Prastawa yang diikut sertakan sebagai pengawal Ki Gede itupun ternyata mempunyai sikap yang mirip dengan Prastawa, karena ia adalah salah seorang di antara kawan-kawan terdekat anak muda itu.

Sabungsari yang lebih tua di antara mereka, telah dapat menempatkan dirinya. Kecuali jiwanya yang memang sudah lebih mantap dan mengedap, iapun mempunyai pandangan yang lebih luas dari anak-anak muda itu.

“Kademangan yang sangat subur,” desis Prastawa.

Kawannya berpaling kepadanya. Kemudian sambil mengangguk ia berkata, “Ya. Tanah yang seolah-olah memang sudah ditakdirkan memberikan apa saja kepada manusia yang menghuninya.”

Glagah Putih yang berjalan bersama mereka menyahut, “Bukankah Tanah Perdikan juga merupakan daerah yang subur?”

Prastawa mengangguk-angguk. “Tetapi kami harus bekerja keras untuk menjadikan Tanah Perdikan daerah yang subur. Dan itu telah kami lakukan.”

Adalah di luar sadar jika Glagah Putih kemudian menyahut, “Nampaknya Kakang Agung Sedayu telah berhasil.”

Prastawa berpaling. Dipandanginya wajah Glagah Putih sejenak. Lalu katanya, “Apa yang dihasilkan oleh Agung Sedayu?”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun dalam pada itu, dengan cepat Sabungsari berkata, “Kita sudah terlalu jauh berjalan. Kita akan kembali ke padukuhan induk. Kita akan sempat beristirahat sebentar menjelang saat Agung Sedayu dipertemukan.”

“Masih cukup waktu,” jawab Prastawa. Lalu, “Aku masih ingin berjalan-jalan. Lebih baik menghirup udara segar daripada kepanasan di gandok itu. Seandainya aku terlambat kembali dan tidak melihat Agung Sedayu dipertemukan, aku tidak menyesal.”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Namun ia tidak menanggapinya dengan jantung mudanya. Dengan sareh ia berkata, “Memang tidak ada yang menarik. Kita sudah sering melihat Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Tetapi keduanya dipertemukan dalam pakaian pengantin, aku belum pernah melihatnya.”

“Jika kau akan kembali, kembalilah,“ geram Prastawa.

“Tidak ada yang mengikat kami dengan keharusan untuk hadir,” sahut kawan Prastawa.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu ternyata Glagah Putih telah menanggapinya, “Mungkin tidak ada yang menarik bagi kalian. Tetapi lain bagi kami. Aku akan kembali dan menunggu sampai saatnya Kakang Agung Sedayu dipertemukan.”

“Marilah,” sambung Sabungsari, “kita kembali bersama-sama.”

Tetapi Prastawa menggeleng sambil menjawab, “Tidak. Aku akan berjalan-lalan.”

Tidak ada alasan untuk memaksanya. Karena itu, maka Sabungsari pun kemudian berkata, “Baiklah. Silahkan berjalan-jalan. Kami berdua akan kembali ke padukuhan induk. Ki Widura minta agar kami menemani kalian. Tetapi pendirian kita berbeda. Karena itu, biarlah kita memilih acara kita masing-masing.”

“Baik,“ jawab Prastawa. Namun tiba-tiba ia menggeram, “Aku tidak akan melihat pengantin itu dipertemukan. Aku tentu tidak akan dapat menahan perasaan iba bahwa Sekar Mirah, anak Ki Demang Sangkal Putung yang subur ini, telah dipersandingkan dengan Agung Sedayu, anak kabur kanginan yang tidak mempunyai pegangan hidup sama sekali.”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Namun ia harus menggamit Glagah Putih yang menjadi tegang dan bergeser maju. Dengan nada datar Sabungsari berkata, “Glagah Putih. Kita akan kembali. Kita masih sempat beristirahat sebentar. Kemudian kita akan menemani Agung Sedayu yang akan diarak untuk dipertemukan dengan pengantin perempuan di pendapa Kademangan.”

Wajah Glagah Putih yang tegang memancarkan kemarahan yang hampir meledak. Dengan hati yang bergejolak ia berkata, “Aku akan kembali. Tetapi aku tidak akan menerima kata-katanya.”

“Itu bukan urusan kita,“ jawab Sabungsari, “sebaiknya kita kembali.”

“Cepat kembali!“ bentak Prastawa, “Mungkin kau akan mendapat bagian hadiah bagi pengantin yang malang itu.”

Wajah Glagah Putih menjadi merah padam. Tetapi sekali lagi Sabungsari berkata, “Jangan hiraukan. Adalah tidak pantas jika kita berselisih pada saat perkawinan ini sebentar lagi akan berlangsung. Jika ada satu dua orang yang melihat dan memberitahukannya kepada orang-orang di Kademangan, maka mereka akan berlari-larian datang untuk melerai. Bahkan Agung Sedayu sendiri mungkin akan datang, meskipun ia sudah memakai pakaian pengantin.”

Glagah Putih menggeram. Tetapi Sabungsari membimbingnya meninggalkan tempat itu. Namun agaknya Glagah Putih benar-benar telah menjadi marah.

Kata-kata Prastawa itu benar-benar telah menyakitkan hatinya. Bukan saja karena Glagah Putih telah dihinakannya. Tetapi ia sudah menghinakan Agung Sedayu pula.

Karena itu. ketika Sabungsari kemudian menariknya pergi, Glagah Putih masih berkata, “Persoalan kita belum selesai. Kelak jika hari-hari perkawinan ini sudah lampau, pada suatu kesempatan kita akan berbicara lagi.”

Wajah Prastawa menjadi merah. Tetapi tiba-tiba saja ia ingat kepada Agung Sedayu. Seorang anak muda yang pernah membunuh orang yang menamakan dirinya Ajar Tal Pitu. Karena itu. maka rasa-rasanya menjadi ngeri juga jika Glagah Putih itu menyampaikan kata-katanya kepada Agung Sedayu.

Tetapi Sabungsari tidak menghiraukannya lagi. Ditariknya tangan Glagah Putih dan kemudian dibimbingnya melangkah kembali ke induk padukuhan.

Sementara itu Prastawa dan kawannya, seorang pengawal Tanah Perdikan Menoreh, masih berdiri termangu-mangu. Namun terbersit kecemasan hati Prastawa apabila Glagah Putih benar-benar menyampaikannya kepada Agung Sedayu.

“Anak itu tumbak cucukan,” desis Prastawa.

“Apakah ia akan mengadukannya?“ bertanya kawannya.

“Mudah-mudahan tidak,” desis Prastawa yang kecemasan.

Namun setelah termangu-mangu sejenak. maka Prastawa pun memutuskan untuk kembali menyusul Glagah Putih dan Sabungsari.

Dalam pada itu matahari menjadi semakin lama semakin rendah. Menjelang saat-saat yang ditentukan, jalan-jalan di padukuhan induk menjadi semakin ramai. Terutama anak-anak muda yang ingin melihat peristiwa yang penting bagi Agung Sedayu dan Sekar Mirah itu. Sementara beberapa orang di antaranya berjaga-jaga di gardu-gardu di ujung lorong.

Bahkan di regol-regol padukuhan Sangkal Putung yang berbatasan dengan kademangan di sekitarnya, anak-anak muda mengawasi keadaan dengan penuh kewaspadaan.

Di hadapan mereka yang berada di jalur jalan ke Pajang, melihat dengan jelas kesiagaan pasukan Pajang yang berada di Jati Anom di bawah pimpinan Untara sendiri. Mereka menjaga jalan yang sebentar lagi akan dilalui oleh Pangeran Benawa memasuki Kademangan Sangkal Putung, lalu menerima iring-iringan dari Pajang itu dan mengantar mereka langsung ke rumah Ki Demang, dipimpin oleh Ki Jagabaya sendiri.

Berita tentang hadirnya Pangeran Benawa memang sangat menarik perhatian. Di sepanjang jalan yang akan dilalui iring-iringan dari Pajang itu, rakyat Sangkal Putung yang tidak sempat pergi ke Kademangan telah siap menunggu. Mereka ingin melihat seorang Pangeran yang akan datang mengunjungi rumah Ki Demang untuk menghadiri upacara perkawinan Agung Sedayu dan anak gadis Ki Demang Sangkal Putung. Bagi rakyat Sangkal Putung, peristiwa itu adalah peristiwa yang jarang sekali terjadi.

Sementara itu, di Kademangan persiapanpun telah selesai seluruhnya, termasuk akan hadirnya Pangeran Benawa. Perhatian Ki Demang dan para bebahu di Kademangan justru sebagian besar tidak pada pengantinnya itu sendiri, karena hal itu akan ditangani oleh orang-orang tua baik dari Sangkal Putung sendiri maupun dari Jati Anom. Yang lebih mendapat perhatian para bebahu itu adalah, bagaimana mereka menyambut hadirnya seorang Pangeran yang datang atas nama Kanjeng Sultan di Pajang itu sendiri.

Demikianlah, dalam ketegangan menunggu, akhirnya seorang penghubung berkuda memasuki regol halaman Kademangan dengan terengah-engah oleh ketergesa-gesaan. Ia melaporkan, bahwa iring-iringan Pangeran Benawa telah mendekati regol batas Kademangan Sangkal Putung.

Karena itulah, maka sejenak kemudian seisi Kademangan itupun menjadi sibuk. Seorang di antara mereka telah memberitahukan ke rumah sebelah, bahwa pengantin laki-laki segera dipersiapkan. Demikian Pangeran Benawa hadir dan naik ke pendapa, maka sesaat kemudian upacara pengantin itu akan segera dimulai. Pengantin Laki-laki harus segera dibawa ke Kademangan diiringi oleh orang-orang tua dari Jati Anom.

Dalam pada itu, sebenarnya-lah bahwa iring-iringan Pangeran Benawa sudah mendekati regol batas Kademangan Sangkal Putung. Prajurit Pajang di Jati Anom menyambut kedatangan iring-iringan itu justru di luar kademangan. Sementara para pengawal kademangan di bawah pimpinan Ki Jagabaya sendiri, tetah siap pula menerima kedatangan mereka di belakang regol.

Ternyata para pengawal Pangeran Benawa tidak terlalu banyak. Namun kehadirannya benar-benar menunjukkan kewibawaan seorang Pangeran. Dalam pakaian kebesaran. Pangeran Benawa berkuda di paling depan. Di sebelah-menyebelahnya agak ke belakang, dua orang pengawal yang terpilih. Di belakang mereka, seorang senapati memimpin sekelompok pengawal pilihan mengiringi Pangeran Benawa memasuki regol Kademangan Sangkal Putung.

Ki Jagabaya telah menerima kehadiran Pangeran Benawa dengan penuh hormat. Kemudian mempersilahkan Pangeran itu meneruskan perjalanannya. Beberapa orang pengawal Kademangan Sangkal Putung telah mengikuti di belakang iring-iringan itu menuju ke padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.

Ternyata bahwa kunjungan Pangeran Benawa merupakan satu peristiwa yang penting bagi Kademangan Sangkal Putung, sebagaimana perkawinan yang akan dilakukan itu merupakan peristiwa yang penting bagi Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

Namun dalam hubungan itu, rakyat Sangkal Putung merasa sangat kagum bahwa perkawinan anak gadis Demang Sangkal Putung telah mendapat kehormatan yang demikian besarnya, sehingga seorang Pangeran telah datang atas nama Sultan Pajang itu sendiri. Satu peristiwa yang sebelumnya tidak pernah mereka duga akan terjadi. Sehingga karena itu, maka merekapun menjadi semakin hormat pula terhadap Demang Sangkal Putung yang memang seorang Demang yang berkewibawaan bagi kademangannya.

Kedatangan Pangeran Benawa telah diterima dengan penuh kehormatan di Kademangan. Ketika Pangeran itu naik ke pendapa, belum seorangpun yang duduk di pendapa itu. Baru kemudian setelah Pangeran Benawa naik dengan para pengiringnya, maka para undangan yang lainpun naik pula dan duduk disisi yang lain. Mereka adalah orang-orang tua di Sangkal Putung yang akan menjadi saksi upacara pengantin yang akan segera dilakukan. Sedangkan anak-anak muda sebagian masih berada di halaman, dan perempuan berada di ruang dalam.

Dalam pada itu, setelah Pangeran Benawa duduk, Ki Demang pun mendekatinya dan mengucapkan selamat datang.

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Bukankah kami tidak terlambat?”

“Tidak. Tidak Pangeran. Sebentar lagi upacara baru akan dimulai,” jawab Ki Demang.

Sebenarnya-lah, sebentar kemudian upacara baru akan dimulai. Agung Sedayu yang sudah siap di rumah sebelah telah diberitahu. Sementara pengantin perempuan telah disiapkan pula untuk dipertemukan.

Sejenak kemudian maka puncak upacara itupun dilaksanakan. Agung Sedayu yang dibawa ke Kademangan telah memasuki regol dan melintasi halaman menuju ke tangga pendapa. Namun yang kemudian berhenti, menunggu pengantin perempuan yang akan turun dari tangga dan melakukan serangkaian upacara.

Di bawah tangga pendapa sudah tersedia pasangan lembu yang dilepas dari sebuah pedati. Kemudian belanga berisi kembang setaman, sebutir telur dan senampan sadak kinang.

Demikianlah, sejenak kemudian maka upacara itu pun telah berlangsung. Sekar Mirah telah diarak keluar dari ruang dalam, sementara para tamu berdiri menghormatinya.

Dibimbing oleh seorang perempuan tua, Sekar Mirah menuruni tangga pendapa. Kemudian melakukan serangkaian upacara sebagaimana seharusnya dengan kembang setaman, pasangan lembu dan telur yang kemudian dibanting sehingga pecah. Baru kemudian keduanya saling melempar sadak kinang.

Sejenak kemudian, sepasang pengantin itupun kemudian diiring oleh orang-orang tua naik dan melintasi pendapa memasuki ruang dalam. Di depan sentong, Ki Demang telah menunggu, duduk di atas sehelai tikar pandan yang bergaris-garis dengan warna cerah.

Kedua pengantinpun kemudian duduk di sebelah menyebelah. Masih ada serangkaian upacara yang dilakukan. Ki Demang seolah-olah telah memangku sepasang pengantin itu, meskipun hanya dengan melekatkan lutut mereka di sebelah kiri dan kanan.

Ketika seorang tua bertanya, maka Ki Demang pun menjawab, “Sudah imbang, Kiai. Bobotnya sama.”

 

 

Demikianlah, setelah melakukan upacara yang lain, sampai saatnya pengantin laki-laki menyuapi segenggam nasi dan menuangkan uang ke pangkuan pengantin perempuan, maka barulah para tamu disuguhi dengan hidangan yang telah disiapkan sebaik-baiknya.

Upacara pengantin itu telah berlangsung dengan meriah. Semua wajah nampak gembira.

Anak-anak mudapun kemudian menjadi sibuk menghidangkan makanan dan minuman. Swandaru yang ada di antara merekapun nampak sibuk pula, sementara Pandan Wangi mempunyai kesibukan sendiri di ruang dalam.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah di luar Kademangan Sangkal Putung, pasukan Pajang yang berada di Jati Anom telah berjaga-jaga sepenuhnya. Mereka mengamankan keadaan di sekeliling kademangan. Bahkan jalan menuju ke Pajang pun tidak lepas dari pengamatan mereka. Untara sendiri yang tidak ikut ke Sangkal Putung, karena ia dianggap sebagai pengganti orang tua Agung Sedayu, berada di antara prajurit-prajuritnya.

Sementara itu, di dalam lingkungan kademangan, anak-anak muda Sangkal Putung masih tetap berjaga-jaga. Meskipun ada satu dua orang pengawal yang karena hubungannya yang sangat erat dengan Swandaru telah mendapat tugas di Kademangan, namun yang lain tetap pada tempatnya.

Tetapi Swandaru tidak lupa untuk mengirimkan hidangan kepada mereka sebagaimana dihidangkan kepada para tamu di rumahnya, sehingga seolah-olah Swandaru telah menjamu semua anak muda di kademangannya.

Pada malam itu, upacara di Kademangan berlangsung tidak terlalu lama. Hidanganpun kemudian mengalir tidak henti-hentinya, sampai saatnya hidangan yang terakhir telah disuguhkan.

Dalam pada itu, ternyata Pangeran Benawa tidak segera meninggalkan Kademangan setelah upacara dan rangkaiannya selesai, ia masih tetap berada di pendapa. Meskipun dalam kedudukannya sebagai seorang Pangeran, namun dengan ramah ia berbicara dengan orang-orang tua Sangkal Putung, dan kemudian dengan orang-orang tua dari Jati Anom, termasuk Ki Waskita dan Kiai Gringsing.

Dalam pada itu, setelah semua upacara berlangsung maka pengantinpun kemudian meninggalkan tempatnya dan memasuki bilik khusus yang telah disediakan.

Setelah berganti pakaian, maka Agung Sedayu pun kemudian keluar lagi dari biliknya dan hadir di pendapa.

Ternyata kehadiran para tamu di pendapa Ki Demang itu agak berbeda dengan tamu pada kebiasaan upacara pengantin. Mereka tidak meninggalkan tempat meskipun upacara sudah selesai. Ternyata Pangeran Benawa masih tetap duduk dan berbincang dengan orang-orang tua. Bahkan kadang-kadang guraunya yang riang membuat para tamu tertawa meledak.

Beberapa orang tamu mulai menjadi gelisah. Mereka telah merasa letih duduk dan bahkan mulai merasa mengantuk. Tetapi Pangeran Benawa sama sekali masih belum nampak akan meninggalkan pertemuan.

“Jika Pangeran masih duduk di situ, maka para tamu akan segan minta diri,” berkata Swandaru kepada kawan-kawannya.

“Jadi apa yang harus kita lakukan?“ bertanya seorang kawannya.

Swandaru pun kemudian masuk ke ruang belakang. Berbicara dengan Pandan Wangi sejenak, apakah yang harus mereka lakukan.

Swandaru dan Pandan Wangi tidak sempat berbicara dengan Ki Demang yang duduk di pendapa. Namun agaknya mereka telah mengambil satu keputusan, bahwa mereka harus menyediakan jamuan khusus di luar rencana. Jika para tamu akan duduk di pendapa sampai pagi, maka kepada mereka harus dihidangkan lagi suguhan lewat tengah malam.

Karena itu, maka Pandan Wangi pun telah berbicara dengan orang-orang tua yang bertugas di dapur. Ternyata mereka sependapat dengan Pandan Wangi, sehingga merekapun telah mulai lagi dengan mempersiapkan hidangan lewat tengah malam.

Dalam pada itu, selagi di Sangkal Putung disibukkan dengan upacara pengantin dan rerangkennya, maka di Pajang telah terjadi satu pertemuan khusus yang dipimpin langsung oleh Tumenggung Prabadaru. Mereka berbicara untuk menanggapi peristiwa yang terjadi di Sangkal Putung.

“Malam ini, kita menunggu beberapa laporan,“ berkata Ki Tumenggung Prabadaru.

“Tetapi satu hal yang pasti, bahwa besok di Sangkal Putung tentu masih berkeliaran prajurit-prajurit Untara,“ berkata salah seorang diantara mereka.

“Bukan hanya besok,” sahut yang lain, “Untara akan memanfaatkan keadaan. Ia akan berjaga-jaga selama adiknya masih berada di Sangkal Putung. Pangeran Benawa sudah berhasil membuka kesempatan kepada Untara untuk melakukan hal itu.”

“Ya. Apalagi besok Sangkal Putung akan merayakan perkawinan itu dengan berbagai macam pertunjukan. Tari topeng dan malam berikutnya wayang beber,” berkata yang lain lagi.

“Kita harus membuat perhitungan,” berkata Ki Tumenggung Prabadaru, “agaknya Agung Sedayu akan tetap berada di Sangkal Putung sampai sepasar, baru kemudian ia akan membawa istrinya itu ke Jati Anom, atau mungkin langsung ke Tanah Perdikan Menoreh.”

“Itu yang belum kita ketahui. Tetapi aku masih berkeyakinan bahwa Agung Sedayu akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh,” berkata salah seorang di antara mereka.

“Kita akan menunggu keterangan. Jika benar Agung Sedayu akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh, maka kita akan mempergunakan kesempatan itu. Kita berharap bahwa Agung Sedayu akan diantar oleh orang-orang tua dan termasuk orang-orang yang malam ini berkumpul di Sangkal Putung. Kita akan membinasakan mereka di perjalanan,” berkata Tumenggung Prabadaru.

“Kita menunggu keterangan dari Pringgajaya,“ desis salah seorang yang lain.

“Ya,” berkata Tumenggung Prabadaru kemudian, “tetapi kita harus tetap siap menghadapi segala kemungkinan. Jika tiba-tiba saja terbuka kesempatan sebelum rencana yang kita buat, maka kila akan bergerak dengan cepat.”

“Jangan cemas, Ki Tumenggung,” berkata seorang di antara mereka, “setiap saat kami siap untuk melakukan tugas ini.”

“Terima kasih,” sahut Tumenggung Prabadaru, “meskipun kita sudah mempunyai rencana, tetapi kalian harus tetap memberikan keterangan setiap saat.”

Orang-orang yang hadir itu mengangguk-ungguk. Namun terasa betapa jantung mereka bergejolak. Rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menunggu sepekan atau dua pekan.

“Jika saja Pangeran Benawa yang kurang waras itu tidak membuat lelucon yang dapat menggagalkan rencana yang sudah matang,” geram seseorang yang bertubuh tinggi kurus.

Dalam pada itu, Pangeran Benawa masih berada di Sangkal Putung. Ternyata ia benar-benar tidak segera kembali ke Pajang. Ia masih berada di Sangkal Putung sampai lewat tengah malam. Untunglah bahwa Swandaru dan Pandan Wangi mengambil sikap yang cepat, sehingga setelah terdengar tabuh lengah malam maka hidanganpun mulai disuguhkan kepada para tamu yang sebagian besar sudah mengantuk.

Seorang tamu yang duduk di sudut berdesis, “Jika tari topeng itu diselenggarakan sekarang, kita tidak akan merasa tersiksa oleh kantuk seperti ini.”

“Lihat,“ desis tetangganya yang duduk di sebelahnya, “hidangan itu akan membuatmu segar.”

“He,” mata orang itu tiba-tiba saja terbuka. Dan ia tersenyum melihat nasi yang masih berasap.

Dalam pada itu, Pangeran Benawa nampaknya sama sekali tidak diganggu oleh perasaan kantuk. Yang kemudian duduk bersamanya adalah orang-orang tua dari Jati Anom termasuk Kiai Gringsing, Ki Waskita, Ki Widura dan Ki Demang sendiri. Agung Sedayu yang sudah tidak lagi berpakaian pengantin duduk pula di antara mereka. Sementara itu, Prastawa telah tidak ada lagi di pendapa. Tetapi ia sudah kembali ke rumah sebelah dan berbaring di bilik yang disediakan untuknya dan para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh.

Bagaimanapun juga, Prastawa merasa sulit sekali untuk melupakan peristiwa itu. Ketika ia melihat Sekar Mirah dalam pakaian pengantin, maka jantungnya seolah-olah menjadi semakin cepat berdenyut. Gadis yang menurut penglihatannya itu sangat cantik, malam ini menjadi semakin cantik dalam pakaian pengantin.

“Tetapi sejak malam ini, Sekar Mirah telah benar-benar menjadi Istri Agung Sedayu,” berkata Prastawa di dalam hatinya.

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Ada semacam tuntutan yang keras yang bergejolak di dalam hatinya. Bahkan Prastawa itupun kemudian menggeram, “Aku tidak ikhlas menyaksikan keduanya hidup bersama. Sekar Mirah terlalu cantik untuk Agung Sedayu yang hidup seperti seekor burung, yang hinggap di segala tempat yang dianggapnya dapat memberinya kehidupan. Dengan demikian ia akan menyiksa Sekar Mirah sepanjang hidupnya.”

Namun setiap kali ia terlempar pada suatu kenyataan, bahwa Sekar Mirah sudah menjadi istri Agung Sedayu. Ikhlas atau tidak ikhlas.

Prastawa yang gelisah itu tidak dapat memejamkan matanya, meskipun ia berusaha untuk sekedar melupakan gejolak perasaanya. Apalagi di luar kadang-kadang masih terdengar anak- anak muda lewat sambil bergurau dengan riangnya.

Dalam pada itu, ternyata Pangeran Benawa berada di Sangkal Putung sampai terdengar ayam jantan berkokok sampai tiga kali. Ketika bayangan kemerahan telah nampak di cakrawala, barulah Pangeran Benawa minta diri.

“Apakah Pangeran tidak beristirahat dahulu di kademangan ini?” bertanya Ki Demang.

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Lain kali Ki Demang. Dalam keadaan yang berbeda mungkin aku akan bermalam di sini.”

“Tetapi Pangeran tentu merasa letih. Hampir semalam suntuk Pangeran tidak beristirahat sama sekali,“ berkata Ki Demang kemudian.

Namun Pangeran Benawa menjawab, “Bertanyalah kepada Agung Sedayu. Tiga malam ia tidak memejamkan matanya sama sekali. Tetapi ia tidak merasa letih.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu iapun mengerti, bahwa Pangeran Benawa adalah seorang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Jika ia menyebut Agung Sedayu, maka sebenarnya-lah Pangeran Benawa sendiri mampu melakukannya. Bahkan lebih dari itu.

Karena itu maka Ki Demang, anak-anaknya, Agung Sedayu dan orang-orang tua yang menungggui saat perkawinan itupun tidak berusaha untuk menahannya lagi. Merekapun akhirnya melepaskan Pangeran Benawa meninggalkan Sangkal Putung menjelang dini hari.

Namun dalam pada itu, beberapa orang pengawalnya-lah yang nampak agak letih. Tetapi merekapun prajurit-prajurit pilihan, sehingga apalagi hanya berjaga-jaga semalam. Tiga hari tiga malampun mereka akan dapat bertahan, sebagaimana dikatakan terhadap Agung Sedayu oleh Pangeran Benawa.

Agung Sedayu yang sudah tidak berpakaian pengantin itu mengantar Pangeran Benawa sampai ke regol. Ketika Pangeran Benawa akan meninggalkannya, maka terdengar Pangeran itu berdesis, “Aku memang ingin menunggui Kademangan ini semalam suntuk. Nampaknya memang tidak akan terjadi sesuatu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya hampir berbisik, “Terima kasih Pangeran.”

“Tetapi ini bukan berarti bahwa untuk seterusnya tidak akan terjadi sesuatu,” desis Pangeran itu, ”berhati-hatilah. Apalagi pada saat-saat kau menempuh perjalanan. Mungkin ke Sangkal Putung, mungkin saat kau kembali ke Tanah Perdikan Menoreh. Nampaknya minyak sudah dituang. Mereka tinggal melontarkan apinya saja. Dan apinyapun sudah dipersiapkan pula.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk. Hampir saja ia bertanya, apa yang akan dilakukan oleh Pangeran Benawa. Jika mungkin, mencegah api yang bakal membakar Pajang. Jika tidak, sekedar membuat api itu susut.

Tetapi Agung Sedayu mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Pangeran Benawa. Pangeran yang tidak dapat dimengerti sikap batinnya itu.

Sejenak kemudian, iring-iringan itu meninggalkan Sangkal Putung dalam bayangan cahaya fajar. Ketika mereka melewati gardu-gardu, sebagian besar anak-anak muda telah tertidur membujur lintang di gardu dan di sebelah, di atas tikar yang mereka bentangkan di bawah pepohonan. Hanya beberapa orang yang bertugas sajalah yang masih duduk memeluk lutut.

Ketika mereka melihat iring-iringan dengan tanda kebesaran Pangeran Benawa lewat, maka merekapun segera berloncatan turun untuk memberikan penghormatan kepada tamu yang sangat terhormat bagi Kademangan Sangkal Putung.

Demikian pula para prajurit Pajang yang berada di luar Kademangan Sangkal Putung. Beberapa bagian dari pasukan itu telah beristirahat di banjar-banjar padukuhan. Sementara bagian yang lain meronda untuk mengamati keadaan.

Seperti para pengawal, maka para prajurit itupun telah tegak berdiri dengan tombak di sisi tubuh mereka. Dengan hormatnya mereka mengangguk dalam-dalam ketika Pangeran Benawa lewat di daerah pengamatan mereka.

Sebenarnya-lah, maka sebentar kemudian matahari telah membayang. Cahaya kemerahan telah berbaur dengan warna kekuning-kuningan. Sejenak kemudian, maka pagipun menjadi semakin cerah oleh cahaya matahari yang terbit di ujung timur.

Pangeran Benawa yang tidak memejamkan mata semalam suntuk itu sama sekali tidak kelihatan letih. Dengan dada tengadah ia berkuda di paling depan. Bahkan pada pakaian, tatapan matanya dan ikat kepalanya sekalipun, sama sekali tidak nampak kusut sebagaimana mereka yang berjaga-jaga semalam suntuk.

Agak berbeda dengan beberapa orang pengiringnya. Meskipun sebagian dari mereka ada yang memberikan kesan seperti Pangeran Benawa, tetapi ada juga prajurit yang hampir terpejam matanya di atas punggung kudanya. Dengan sikap yang lesu, ia berusaha untuk tidak menelungkup di punggung kudanya yang berlari tidak begitu kencang di silirnya angin pagi.

Sepeninggal Pangeran Benawa, maka para tamu yang bertahan di pendapa Kademangan Sangkal Putung pun telah minta diri. Tetapi mereka tidak begitu banyak lagi. Sebelumnya satu-satu para tamu itu beringsut. Mereka minta diri untuk pergi ke pakiwan. Tetapi malam itu mereka tidak pernah kembali lagi ke pendapa.

Namun ternyata bahwa orang-orang tua dari Jati Anom masih tetap berusaha untuk tidak memberikan kesan keadaan mereka sesungguhnya. Betapapun perasaan letih menerpa diri mereka masing masing, namun mereka berusaha untuk tetap nampak segar.

Meskipun demikian, mereka dengan senang hati memenuhi permintaan Ki Demang untuk tidak segera kembali ke Jati Anom pagi itu. Mereka dipersilahkan untuk beristirahat di rumah yang sudah ditentukan.

“Kau tinggal di sini,” berkata seorang tua kepada Agung Sedayu yang akan mengikut mereka.

Agung Sedayu tercenung sejenak. Namun beberapa orang tersenyum melihat tingkah lakunya.

Agak berbeda dengan orang-orang tua yang terdiri dari para tetangga Untara, maka beberapa orang yang lain tetap berada di pendapa Kademangan.

Mereka adalah Ki Gede Menoreh, Kiai Gringsing, Ki Waskita, Ki Widura dan Ki Demang Sangkal Putung sendiri. Bagi mereka, tidak tidur semalam suntuk bukan suatu kewajiban yang meletihkan. Bahkan Glagah Putih dan Sabungsari pun masih tetap nampak gembira di antara beberapa orang anak muda Sangkal Putung di serambi gandok.

Meskipun demikian, namun mereka yang berada di pendapa, di serambi gandok, dan anak-anak muda yang berada di gardu-gardupun telah meninggalkan tempat mereka untuk beristirahat barang sejenak, meskipun ada di antara mereka yang sebenarnya tidak memerlukannya.

Namun pendapa Kademangan itupun akan segera dibersihkan. Beberapa orang akan mengatur pendapa itu untuk kepentingan pertuntukan di malam hari berikutnya. Sehingga dengan demikian, maka kemeriahan malam di Kademangan Sangkal Putung itupun akan berlangsung beberapa hari.

Tetapi sementara itu, ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka orang-orang tua dari Jati Anom pun telah bersiap-siap untuk minta diri. Mereka akan kembali untuk melaporkan peristiwa malam itu kepada Untara yang mewakili orang tua Agung Sedayu.

“Kita tidak dapat melepaskan mereka kembali tanpa perlindungan yang kuat,” berkata Ki Widura.

“Aku akan pergi bersama mereka,” berkata Glagah Putih.

“Bukan kau sendiri,” sahut Ki Waskita, “kita bersama-sama pergi ke Jati Anom.”

“Kita semuanya akan kembali ke Jati Anom?” bertanya Glagah Putih, “Hingga demikian, aku tidak akan kembali lagi kemari?”

“Kenapa?” bertanya Ki Widura.

“Malam nanti aku ingin nonton wayang topeng,” jawab Glagah Putih.

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Kita akan kembali lagi kemari. Kita tidak sampai hati meninggalkan tempat ini segera dalam keadaan yang gawat seperti sekarang, meskipun pasukan Pajang di Jati Anom masih tetap mengamati keadaan.”

Glagah Putih mengangguk angguk. Katanya, “Jika demikian, baiklah. Kita pergi bersama-sama.”

“Tetapi sebaiknya kau justru tinggal di sini,” berkata Ki Waskita kemudian, “kau menemani Agung Sedayu. Aku sebenarnya juga ingin mempersilahkan Angger Sabungsari tinggal, jika Angger Sabungsari tidak keberatan dan tidak mengganggu tugasnya. Jelasnya jika sudah mendapat ijin dari pimpinannya.”

“Aku mendapat ijin untuk menemani Agung Sedayu,“ jawab Sabungsari, “bahkan langsung dari Ki Untara.”

“Jika demikian, biarlah aku dan Ki Waskita sajalah yang mengantarkan mereka. Sore nanti kami akan kembali,” berkata Ki Widura.

“Hanya berdua?” bertanya Kiai Gringsing, “Agaknya akupun ingin ikut bersama kalian. Tetapi sudah barang tentu kita akan mempersilahkan Ki Gede tetap tinggal di sini.”

Ki Gede tersenyum. Tetapi ia tidak membantah. Katanya, “Baiklah. Aku tinggal di sini. Aku belum sempat berbincang-bincang dengan Pandan Wangi. Nampaknya ia masih terlalu sibuk melayani adik iparnya.”

Demikianlah, maka menjelang tengah hari orang-orang tua dari Jati Anom pun telah selesai berkemas, setelah mereka sempat beristirahat beberapa saat. Ki Widura, Ki Waskita dan Kiai Gringsing akan menyertai mereka, karena bagaimanapun juga mereka tetap harus berhati-hati. Meskipun mereka yakin bahwa pasukan Untara masih akan selalu meronda, tetapi bahaya yang tidak diperhitungkan lebih dahulu akan berarti penyesalan di kemudian hari.

Dalam pada itu, karena Ki Gede tidak ikut bersama mereka, maka Prastawapun tinggal pula di Sangkal Putung. Tetapi ia agak kecewa ketika ia mengetahui bahwa Glagah Putih dan Sabungsari tidak ikut bersama dengan orang-orang Jati Anom meninggalkan Sangkal Putung.

Ternyata bahwa perjalanan yang tidak terlalu panjang itu dibayangi oleh ketegangan oleh orang-orang yang pernah mendengar peringatan Untara dan Pangeran Benawa. Namun demikian, merekapun menyadari bahwa Untara tentu masih akan tetap membayangi Sangkal Putung dan Jati Anom dengan pasukannya.

Setelah minta diri kepada Ki Demang, serta sekali lagi menitipkan Agung Sedayu di rumah Ki Demang sebagai anggauta keluarga baru, maka merekapun meninggalkan Sangkal Putung. Sementara Ki Widura terpaksa untuk berjanji kembali ke Sangkal Putung karena Glagah Putih memintanya.

Ternyata bahwa perjalanan mereka sama sekali tidak terganggu. Bahkan mereka masih selalu bertemu dengan pasukan berkuda yang mengamati padukuhan-padukuhan di sekitar Sangkal Putung dan juga jalan dari Sangkal Putung ke Jati Anom. Karena Untara pun tahu, bahwa hari itu orang-orang tua akan kembali dari Sangkal Putung menuju ke Jati Anom.

Dengan resmi orang-orang tua itupun kemudian menemui Untara dan melaporkan. bahwa mereka telah melakukan kewajiban yang dibebankan kepada mereka dengan sebaik-baiknya. Semuanya telah berlangsung dengan selamat. Bahkan Pangeran Benawa telah berada di Sangkal Putung semalam suntuk.

Untara mengangguk-angguk. Tentang Pangeran Benawa ia sudah mendapat laporan dari para petugasnya. Meskipun demikian ia tidak memotong laporan orang-orang tua yang baru datang dari Sangkal Putung itu.

“Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,“ kata Untara kemudian, “sebagaimana kebiasaannya, sebagai orang tua Agung Sedayu, maka aku akan datang ke Sangkal Putung sore nanti. Paman juga akan pergi lagi ke Sangkal Putung?” bertanya Untara.

Widura tersenyum. Katanya, “Aku harus mengantarkan Kiai Gringsing dan Ki Waskita.”

Untara mengerutkan keningnya. Tetapi ketika ia melihat Ki Waskita dan Kiai Gringsing tersenyum, maka ia pun tersenyum pula.

Sementara itu, di Sangkal Putung beberapa orang tengah menyiapkan pendapa Kademangan untuk menyelenggarakan pertunjukan pada malam harinya. Agung Sedayu yang tidak terbiasa duduk termenung, telah ikut pula membantu. Swandaru sudah berusaha untuk mencegahnya dan mempersilahkan beristirahat. Tetapi Agung Sedayu masih saja berada di pendapa bersama anak-anak muda Sangkal Putung.

“Aku sudah berusaha dan mencegahnya, tetapi ia memang ingin berbuat demikian,” jawab Swandaru ketika Ki Demang bertanya kepada anak laki-lakinya.

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah mengenal Agung Sedayu. sehingga karena itu akhirnya Iapun membiarkan anak itu bekerja bersama kawan-kawannya.

Sabungsari yang tinggal di Sangkal Putung. tenyata cepat menyesuaikan diri. Iapun telah ikut membantu mempersiapkan pendapa Kademangan, membenahi tratag dan serambi.

Perhatian Glagah Putih ternyata agak berbeda. Ia tidak ikut membantu kakak sepupunya. Tetapi bersama beberapa orang anak muda ia mengusung gamelan dan menempatkannya di pendapa yang sedang dipersiapkan itu.

Sementara itu, Ki Gede yang berada di rumah sebelah melihat pula kesibukan itu. Karena itu. maka iapun bertanya kepada Prastawa, “Kau tidak ikut membantu anak-anak muda itu?”

Prastawa mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia sama sekali tidak berminat untuk berbuat sesuatu, ia masih suka duduk merenungi dirinya sendiri. Tetapi justru karena Ki Gede bertanya kepadanya, maka ia harus menyesuaikan dirinya.

Dengan segan Prastawa pun berdiri dan melangkah turun ke halaman. Bagaimanapun juga keseganan itu mengganggunya, tetapi ia terpaksa pergi juga ke pendapa Kademangan.

Ketika dilihatnya Agung Sedayu sibuk di pendapa bersama beberapa orang anak muda dan melihat Glagah Putih mengusung gamelan, hatinya menjadi berdebar-debar. Tetapi karena agaknya Glagah Putih tidak menghiraukannya. maka Prastawa pun melangkah naik ke pendapa itu pula.

Sebenarnya-lah bahwa Glagah Putih telah berusaha untuk melupakan apa yang terjadi atas petunjuk Sabungsari. Jika pertengkaran itu berkelanjutan, maka akibatnya akan sangat mengganggu. Prastawa adalah kemenakan Ki Gede Menoreh, sementara Agung Sedayu berada di Tanah Perdikan itu pula. Sehingga jika terjadi sesuatu dengan Prastawa, maka akan dapat berakibat kurang baik bagi Agung Sedayu.

Karena itu, maka nampaknya pada keduanya tidak lagi tersimpan kemarahan yang berkepanjangan. Keduanya kemudian telah bekerja bersama anak-anak muda di pendapa, meskipun yang dikerjakan oleh Prastawa justru yang tidak perlu, karena ia merasa sulit untuk memilih, apa yang sebaiknya dilakukan.

Sabungsari yang melihat kedua anak muda itu, menjadi tenang. Agaknya tidak akan timbul persoalan lagi di antara mereka, kecuali jika ada sebab-sebab yang lain.

Demikianlah, selagi anak-anak muda bekerja di pendapa, Pandan Wangi telah sempat bertemu dan berbincang dengan ayahnya setelah untuk waktu yang agak lama mereka tidak bertemu.

“Aku masih berharap Angger Agung Sedayu kembali ke Tanah Perdikan,” berkata Ki Gede. Lalu tiba-tiba saja ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu Pandan Wangi?”

 

 

“Jika Agung Sedayu bersedia, aku kira hal itu akan lebih baik, Ayah,“ berkata Pandan Wangi, “kita sudah tidak dapat mengharap bahwa Kakang Swandaru akan bersedia meninggalkan kademangan ini. Sementara Prastawa masih harus belajar banyak sekali tentang hidup dan kehidupan.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan berbicara dengan Agung Sedayu. Mudah-mudahan ia tidak berkeberatan. Kecuali bagi Tanah Perdikan Menoreh, ia masih juga mempunyai kewajiban yang meskipun tidak terlalu mengikat, dengan pasukan khusus Mataram yang sedang mengalami tempaan lahir dan batin di Tanah Perdikan Menoreh.”

“Aku kira ia akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh,” desis Pandan Wangi, “jika ia benar-benar pergi ke Tanah Perdikan. aku dan Kakang Swandaru akan ikut mengantar mereka.”

“Tentu,” jawab Ki Gede, “kau dan suamimu harus pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Sudah lama kau tidak melihat Tanah Perdikan itu. Kini Tanah Perdikan itu sudah berkembang.”

“Ki Demang tentu akan pergi juga,” berkata Pandan Wangi.

“Jika kepergian Agung Sedayu ke Tanah Perdikan Menoreh bukan berarti memboyong pengantin perempuan, maka Ki Demang akan dapat ikut serta,” jawab Ki Gede.

“Tentu tidak, pengantin perempuan akan diboyong ke Jati Anom,” sahut Pandan Wangi.

Namun dalam pada itu, jauh dari Sangkal Putung, beberapa orang memang sedang memperhitungkan, apakah Agung Sedayu akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh atau tidak.

“Aku kira ia akan kembali. Dan sudah menjadi keputusan kita bahwa kita harus membuat perhitungan di perjalanan. Betapapun ketatnya pengawalan, namun kita akan dapat membuat perhitungan dengan hati-hati,” berkata seorang yang bertubuh tinggi kekar.

Ternyata kawan-kawannya sependapat. Ki Tumenggung Prabadaru pun nampaknya sependapat pula dengan mereka.

“Rencana ini tidak berdiri sendiri,” berkata Tumenggung itu, “hubungan Mataram dan Pajang menjadi semakin matang. Maksudku, matang untuk diledakkan.”

“Untara adalah unsur baru yang harus diperhitungkan,” berkata yang lain.

“Sudah aku perhitungkan.”

Sebenarnya bahwa mereka telah membuat persiapan-persiapan sebaik-baiknya. Beberapa orang telah menyelidiki kemungkinan yang paling baik untuk melakukan sergapan. Tempat yang paling tepat dan yang masih harus mareka tunggu adalah hasil pengamatan tentang jumlah orang yang akan mengiringkan Agung Sedayu ke Tanah Perdikan Menoreh.

Justru karena keputusan untuk mengambil kesempatan saat Agung Sedayu pergi ke Tanah Perdikan Menoreh, maka orang-orang yang akan membinasakannya sebagai langkah pendahuluan untuk menuju ke Mataram, sama sekali tidak mengganggu hari-hari perkawinannya.

Karena itu, maka hari-hari perkawinan itu dapat berlangsung dengan aman tenang. Kegembiraan anak-anak muda Sangkal Putung terasa meledak sampai tuntas karena tidak ada gangguan. Meskipun demikian, Swandaru selalu memperingatkan, bahwa disamping kegembiraan itu mereka harus tetap berwaspada.

Tetapi agaknya kegiatan para prajurit Pajang yang ditempatkan di sekitar Sangkal Putung telah membuat anak-anak muda dan orang-orang Sangkal Putung sama sekali tidak cemas lagi bahwa hari-hari perkawinan itu akan terganggu.
Namun dalam pada itu, agaknya Ki Gede Menoreh tidak akan berada di Sangkal Putung terlalu lama. Ia tidak dapat menunggu dan pergi bersama-sama Agung Sedayu. Karena itu, maka iapun sudah bersiap-siap untuk mendahului.

Tetapi sebelum ia kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, ia ingin mendapat kepastian, apakah Agung Sedayu akan kembali atau tidak.

Ketika orang-orang tua datang kembali dari Jati Anom bersama Untara yang datang atas nama orang tua Agung Sedayu, maka Ki Gede Menoreh ingin memanfaatkannya untuk membicarakan persoalan Agung Sedayu dan Tanah Perdikan Menoreh.

Sebenarnya-lah bahwa Ki Gede telah mendapatkan kesempatan itu. Setelah dengan resmi Untara bertemu dengan Ki Demang sebagai besannya, maka mulailah mereka berbicara tentang masa-masa mendatang. Mereka mulai berbicara tentang saat-saat Agung Sedayu akan membawa istrinya ke Jati Anom bersepasaran. Untara memang akan ngunduh pengantin di rumahnya, di rumah Agung Sedayu. Rumah peninggalan orang tua mereka.

“Setelah itu?” berkata Ki Gede Menoreh.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Agung Sedayu. Pada hari-hari perkawinannya itu, nampak kegelisahan memang sedang membayanginya. Bukan saja karena ia dipersandingkan. Tetapi menurut penilaian Untara, setelah hari-hari perkawinan itu, lalu bagaimana.

Karena itu Untara tidak lagi bersikap sebagaimana ia bersikap terhadap Agung Sedayu yang seolah-olah masih seorang adik kecil yang harus dibimbing. Ia sudah kawin. Sehingga seharusnya ia dapat mengambil sikap sendiri. Sesuai atau tidak sesuai dengan sikapnya. Meskipun bukan berarti bahwa Untara tidak dapat memberikan petunjuk apapun juga.

Oleh sikap itulah, maka Untara kemudian berkata kepada Agung Sedayu, “Agung Sedayu. Kau bukan lagi anak-anak. Kau sudah harus mempunyai sikap sendiri. Aku tahu apa yang dimaksud oleh Ki Gede. Ki Gede ingin bertanya kepadamu, apakah kau akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh atau tidak.”

Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Diluar sadarnya ia memandang Swandaru dan Pandan Wangi berganti-ganti. Namun kemudian tatapan matanyapun telah membentur pandangan Sekar Mirah.

Tetapi Agung Sedayu segera berpaling. Katanya kepada Untara, ”Kakang, aku masih mempunyai kewajiban yang belum aku selesaikan di Tanah Perdikan Menoreh.”

“Aku tahu,” berkata Untara, “kau masih belum berhasil membantu Ki Gede menjadikan Tanah Perdikan Menoreh sebagaimana yang diinginkan oleh Ki Gede dan rakyat Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi aku sudah tahu, bahwa kau sedang sibuk menempa anak-anak muda yang tergabung dalam pasukan khusus yang disusun oleh Mataram.”

Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Di luar sadarnya ia memandang ke halaman. Ia memperhatikan Sabungsari dan Glagah Putih yang tidak ikut dalam pembicaraan itu, seolah-olah ia menuduh bahwa Sabungsari telah melaporkan hal itu kepada Untara.

Tetapi Untara kemudian berkata, “Laporan tentang pasukan khusus di Tanah Perdikan menoreh itu sudah berada di Pajang, semua perwira di Pajang telah mendapat pemberitahuan dan bukankah justru aneh, bahwa Pajang tidak mengetahui adanya pasukan khusus itu? Segala pihak yang ada di Pajang mempunyai petugas-petugas sandinya masing-masing. Justru karena sikap saling mencurigai dan kurang mempercayai pihak-pihak lain.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Memang benar seperti yang dikatakan oleh kakaknya. Jika Pajang tidak mengetahui, justru aneh sekali. Pasukan khusus itu menempati sebuah lingkungan yang cukup luas. Latihan di tempat terbuka dan pembajaan lahiriah yang berat di daerah pegunungan.

“Tetapi Kakang Untara nampaknya mempunyui sikap tersendiri,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Karena Agung Sedayu pun yakin, bahwa kakaknya bukannya tidak mempunyai sikap setelah ia mengetahui sikap beberapa senapati di Pajang. Dan agaknya sikap itu ingin ditrapkannya sebagai sikap seluruh pasukannya.

Karena itulah, maka akhirnya Agung Sedayu berkata, “Segalanya masih tergantung kepada Sekar Mirah. Jika ia bersedia, maka aku memang masih ingin menyelesaikan tugasku di Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun aku belum dapat mengatakan sekarang, setelah tugas itu selesai, lalu bagaimana?”

“Sudahlah,” potong Ki Gede Menoreh, “jangan berkata seperti itu. Jika kau bersedia, tugas itu tidak akan pernah selesai, karena Tanah Perdikan Menoreh memerlukan perkembangan yang terus menerus sesuai dengan perkembangan jaman. Atau setidak-tidaknya, hal itu akan dapat dibicarakan kemudian.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Aku mohon maaf. bahwa aku sudah membawa pembicaraan ini ke dalam suasana yang bersunguh-sungguh. Tetapi hal ini terpaksa aku sampaikan sekarang, karena aku tidak akan terlalu lama berada di Sangkal Putung, dan justru kebetulan Angger Untara datang kemari,” berkata Ki Gede kemudian. Lalu, ”Karena itu, maka sudah barang tentu Agung Sedayu memerlukan petunjuk-petunjuk dari gurunya dan orang-orang tua yang lain.”

Agung Sedayu seolah-olah dí luar sadarnya telah memandang gurunya yang duduk di sebelah Ki Waskita dan Ki Widura. Ia memang ingin mendengar bukan saja pendapat gurunya, tetapi juga terutama pamannya.

Kiai Gringsing memang merasa berkewajiban untuk memberikan petunjuk kepada muridnya. sebagaimana juga Ki Widura terhadap kemanakannya. Karena itu, maka Kiai Gringsingpun kemudian berkata, “Agung Sedayu. Menilik sikapmu pada saat kau meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, rasa-rasanya kau sudah mempunyai satu gambaran bahwa kau memang akan kembali. Menilik pembicaraanmu dengan Ki Lurah Branjangan dan Raden Sutawijaya sendiri, aku tidak berkeberatan mengatakannya, karena Angger Untara sudah menyebut, bahwa semua prajurit Pajang sudah mengetahui tentang pasukan khusus itu, sebagaimana Mataram juga mengetahui adanya pasukan khusus di Pajang yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Prabadaru. Karena itu, kau dapat mengatakannya bahwa kau memang mempunyai rencana untuk kembali. Namun seperti yang kau katakan tadi, kau perlu berbicara dengan istrimu, karena sekarang kau sudah terikat dalam satu ikatan perkawinan dengan seorang perempuan, sehingga kau telah kehilangan sebagian dari kebebasanmu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia kemudian bertanya kepada pamannya, “Bagaimana pendapat Paman?”

“Pendapatku tidak berbeda dengan pendapat Kiai Gringsing,” jawab Ki Widura. “Jika Sekar Mirah menyatakan persetujuannya, maka aku kira tidak ada persoalan yang akan menghambat kepergianmu ke Tanah Perdikan Menoreh. Apalagi atas persetujuan Pandan Wangi dan Swandaru.”

Agung Sedayu masih mengangguk-angguk. Sekilas dipandanginya wajah Sekar Mirah. Namun ia masih belum bertanya kepadanya. Rasa-rasanya masih ada batas di antara mereka berdua.

Dalam pada itu, justru Ki Gede yang menunggu kepastian itu dengan berdebar-debar telah bertanya, “Bukankah kau tidak berkeberatan Sekar Mirah? Anak perempuanku berada di kademangan ini. Kau akan dapat menjadi gantinya jika kau berada di Tanah Perdikan Menoreh.”

Sekar Mirah termangu-mangu. Dipandanginya ayahnya yang mengerutkan keningnya. Nampaknya Ki Demang sendiri masih diliputi oleh keragu-raguan. Tetapi justru karena Ki Gede telah menyebut, seolah-olah Sekar Mirah akan bertukar tempat dengan Pandan Wangi, maka ia tidak dapat mengatakan sesuatu.

Ternyata Sekar Mirah kemudian hanya dapat menundukkan kepalanya tanpa menjawab sepatah katapun juga. Namun dalam pada itu, justru karena Sekar Mirah tidak menjawab, Ki Gede berkata, “Kediaman seorang perempuan adalah jawaban yang paling tegas, bahwa ia tidak berkeberatan.”

Orang-orang tua yang mendengar kesimpulan itu tersenyum. Ki Demangpun tersenyum juga. Katanya, “Apakah benar begitu Sekar Mirah?”

Sekar Mirah justru menjadi semakin tunduk.

Namun dalam pada itu Ki Widura pun kemudian berkata, “Ki Gede, sebaiknya kita beri kesempatan mereka malam nanti untuk membicarakannya. Besok biarlah mereka memberikan jawabannya yang sudah dapat kita duga sebelumnya.”

“Baiklah,” berkata Ki Gede, “tetapi dengan demikian berarti aku harus bermalam satu malam lagi.”

“Tentu,“ sahut Ki Demang, “Ki Gede akan menunggu sampai sepasar.”

“Ah maaf Ki Demang. Aku tidak dapat meninggalkan Tanah Perdikan terlalu lama. Apalagi kali ini Prastawa ikut bersamaku. Aku mempercayakan Tanah Perdikan kepada orang-orang tua dan para bebahu yang mungkin merasa terlalu letih untuk mengurusinya terlalu lama tanpa aku dan Prastawa,“ jawab Ki Gede.

Ki Demang mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti, karena iapun merasa betapa beratnya meninggalkan tugas teralu lama.

Dengan demikian, maka pembicaraan itu harus tertunda. Agung Sedayu mendapat kesempatan untuk membicarakan persoalannya dengan Sekar Mirah sebelum ia memberikan jawabaannya dengan pasti.

Dalam pada itu, yang menjadi gelisah adalah Prastawa. Ia juga menunggu keputusan Agung Sedayu. Rasa-rasanya ada dua hal yang bertentangan di dalam dirinya. Ia menolak kehadiran Agung Sedayu kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, tetapi rasa-rasanya ia ingin menyarankan kepada Agung Sedayu untuk tinggal di Tanah Perdikan bersama istrinya.

“Jika Sekar Mirah benar-benar berada di rumah Paman Argapati. maka rumah itu tentu akan menjadi segar dan hidup,“ berkata Prastawa.

Namun Prastawa tidak dapat mengharap bahwa Sekar Mirah akan berada di Tanah Perdikan itu tanpa Agung Sedayu.

“Pikiran gila,” geramnya kepada diri sendiri.

Namun segalanya memang seperti yang sudah diduga. Sekar Mirah memang tidak berkeberatan untuk pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Ia lebih senang tinggal di Tanah Perdikan itu sebagai seorang yang dibutuhkan oleh Tanah Perdikan itu, daripada tinggal di sebuah padepokan kecil di Jati Anom. Padepokan yang tidak memberikan harapan apapun bagi masa datang. Sedangkan Sekar Mirah sama sekali tidak bermimpi untuk menjadi istri seorang pertapa yang kurus berpakaian kumal, tinggal di sebuah padepokan kecil bersama beberapa orang cantrik. Siang malam yang dibicarakan hanyalah masalah-masalah kajiwan tanpa mencari keseimbangan dengan masalah-masalah lahiriah.

(dalam cetakan buku asli terdapat bagian yang hilang di sini)

Tetapi seperti yang dikatakan oleh Sabungsari, maka tidak baik baginya untuk tetap marah kepada anak muda itu. Karena itu, bagaimanapun juga, Glagah Putih berusaha untuk menahan diri, meskipun sikap Prastawa di saat ia akan meninggalkan Sangkal Putung itu seolah-olah sengaja membuatnya marah.

“Kau sangat perasa,” desis Sabungsari.

“Beberapa kali ia memperhatikan aku. Mulutnya seolah-olah mencibir penuh penghinaan,” geram Glagah Putih.

“Jika ia benar-benar mencibir, maka ia mirip dengan perempuan,” jawab Sabungsari, “karena itu jangan hiraukan.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Demikianlah, maka iring-iringan dari Tanah Perdikan Menoreh itupun meninggalkan Sangkal Putung. Selagi matahari masih belum memanjat langit, rasa-rasanya udara masih sangat sejuk. Meskipun perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh bukan perjalanan yang terlalu jauh, tetapi lebih baik tidak terlalu panas di perjalanan.

Ada kecemasan pada Agung Seduyu, bahwa justru pada saat yang gawat itu akan terjadi sesuatu pada Ki Gede di perjalanan. Memang di sekitar Sangkal Putung, prajurit Pajang di Jati Anom masih selalu mengawasi keadaan. Tetapi jika Ki Gede sudah lepas dari daerah pengamatan prajurit Pajang, maka mungkin sekali terjadi sesuatu yang tidak diduga sebelumnya.

Sebenarnya-lah, pada hari itu di pagi-pagi buta sebelum Ki Gede meninggalkan Sangkal Putung, seorang petugas sandi yang dipasang oleh Tumenggung Prabadaru di Sangkal Putung telah datang menemuinya. Dengan bersungguh-sungguh ia berkata, “Pagi ini Ki Gede Menoreh akan kembali ke Tanah Perdikan. Jika Ki Tumenggung menyetujui, maka aku kira kita akan dapat berbuat apa saja yang kita kehendaki atas iring-iringan itu. Terlalu mudah untuk membinasakan seorang Ki Gede Menoreh, meskipun ilmunya mumpuni. Kita dapat mengirimkan tiga orang berilmu tinggi dan lima orang pengawal yang lain. Maka seluruh iring-iringan itu akan binasa.”

Ki Tumenggung merenung sejenak, sementara orang itu mendesak, “Jika Ki Tumenggung tidak segera mengambil keputusan, kita sudah terlambat.”

“Panggil Ki Sabdadadi. Aku ingin minta pertimbangannya,” berkata Ki Tumenggung.

“Ki Tumenggung tinggal menjatuhkan perintah. Ki Sabdadadi akan melaksanakan sebaik-baiknya,“ berkata orang itu.

“Panggil!” bentak Ki Tumenggung.

Orang itu tidak menjawab lagi, tetapi segera meninggalkan Katumenggungan menuju ke rumah Ki Sabdadadi.

Sejenak kemudian orang yang disebut Ki Sabdadadi itu sudah berada di serambi samping rumah Ki Tumenggung. Nampaknya mereka memang sedang berbincang dengan sungguh-sungguh tentang kepergian Ki Gede Menoreh ke Tanah Perdikannya.

“Sasaran yang lunak sekali,” desis Ki Sabdadadi, “tetapi apakah Ki Tumenggung tidak mendapat laporan, bahwa pasukan Untara nganglang di segala bulak dan padukuhan?”

“Di sekitar Sangkal Putung,” jawab Ki Tumenggung.

“Tidak hanya di sekitar Sangkal Putung,” jawab Ki Sabdadadi, “jika Ki Gede pagi ini kembali ke Tanah Perdikan, maka semua prajurit Pajang di Jati Anom, yang ditempatkan Untara di sepanjang jalan menuju Mataram pasti digerakkannya. Bahkan pasukannya yang berada di Prambanan pun tentu sudah bergerak.”

“Lewat Prambanan,” jawab Ki Tumenggung, “mungkin di Cupu Watu atau di Tambak Baya.”

Ki Sabdadadi menarik nafas dalam-dalam. “Tidak ada gunanya kita berbuat dengan tergesa-gesa seperti ini. Jika kita mengirimkan beberapa orang, tentu sudah terlambat. Tempat yang paling baik untuk mencegat iring-iringan itu adalah justru setelah mereka menyeberang Sungai Praga. Jika kita melakukannya lewat Prambanan, kita tentu akan membentur kekuatan Mataram yang tentu bersiaga pula dalam keadaan seperti ini.”

“Bodoh sekali jika kita tidak dapat menemukan celah-celahnya,“ berkata Ki Tumenggung, “dengan demikian tugas kita kelak akan berkurang.”

“Tidak semudah itu Ki Tumenggung,” berkata Ki Sabdadadi, “ada beberapa kemungkinan. Kemungkinan yang paling besar adalah kita akan terlambat. Tetapi kemungkinan lain, kita akan bertemu dengan peronda, apakah peronda dari prajurit Pajang di Jati Anom atau dari Mataram. Tetapi kemungkinan yang lain, yang terjadi ini akan dapat menggagalkan rencana kita dalam keseluruhan. Jika bencana ini terjadi atas Ki Gede, maka Untara akan menjadi semakin berhati-hati. Pengawalan yang dilakukan atas adiknya menjadi semakin ketat. Meskipun prajurit Pajang di Jati Anom tidak memiliki senapati seperti Agung Sedayu, tetapi jumlah mereka yang banyak dan latihan latihan keprajuritan yang mapan, akan sangat berpengaruh bagi usaha kita.”

Ki Tumenggung mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menggangguk-angguk. Usaha untuk mencegat Ki Gede Menoreh memang kurang bermanfaat. selain kemungkinan besar bahwa rencana itu akan terlambat dilaksanakan, karena pagi itu juga Ki Gede sudah akan berangkat dari Sangkal Putung.

Dengan demikian, maka Ki Tumenggung pun kemudian memutuskan untuk membatalkan saja usaha membinasakan Ki Gede di perjalanan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, agar hal itu tidak akan mengganggu usaha besar yang telah mereka siapkan. Menyergap iring-iringan Agung Sedayu ke Tanah Perdikan Menoreh. Rencana yang apabila dapat dilakukan dengan baik, akan dapat sekaligus membinasakan beberapa orang penting yang menurut perhitungan akan memperkuat kedudukan Mataram apabila saatnya telah tiba. Dan bagi orang-orang Pajang yang sejalan dengan Ki Tumenggung, maka saat yang ditunggu itu telah dekat. Persiapan-persiapan telah dilakukan dengan baik dan mapan, sehingga keadaan rasa-rasanya memang sudah masak.

Tetapi mereka tidak ingin berbuat dengan tergesa-gesa. Mereka masih harus mempertimbangkan segala kemungkinan dan membuat perkembangan keadaan dan segala segi.

Karena itulah, maka perjalanan Ki Gede kembali ke Tanah Perdikan itupun tidak mendapat gangguan apa-pun di perjalanan. Untara yang kemudian mengirim petugas sandinya, karena sebenarnya iapun menjadi cemas seperti Agung Sedayu, telah mendapat keterangan, bahwa Ki Gede pada hari itu juga telah selamat sampai ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Agar orang-orang di Sangkal Putung tidak gelisah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang buruk atas Ki Gede. maka Untara pun pada malam itu juga telah memberikan kabar kepada Agung Sedayu tentang perjalanan Ki Gede Menoreh.

Kabar itu telah menenangkan hati Agung Sedayu. Bahkan ternyata Swandaru dan Pandan Wangi pun memikirkan pula perjalanan Ki Gede kembali ke Tanah Perdikannya.

Demikianlah, sebagaimana perjalanan Ki Gede, maka Sangkal Putung pun ternyata sama sekali tidak diganggu. Pertunjukan-pertunjukan dapat berlangsung dengan tenang di pendapa Kademangan. Anak-anak dapat menonton pertunjukkan sepuas-puasnya.

 

(bersambung)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: