Buku 161 (Seri II Jilid 61)

 

“Diri kami benar-benar sudah menjadi kosong Ngger. Aku tidak dapat melepaskan ilmu Tunda Bantala tanpa melepaskan dasar ilmuku sebelumnya. Karena itu, maka semua ilmuku telah terlepas seluruhnya. Akik itupun telah kembali kepada ujudnya.”

Hampir saja Agung Sedayu bertanya, apakah ujud akik itu. Tetapi untunglah ia masih dapat menahan diri, sehingga ia tidak langsung menunjukkan beberapa hal yang kurang di dalam dirinya.

“Aku dapat bertanya kepada Ki Waskita,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Karena sebenarnyalah Ki Waskita telah membekalinya dengan beberapa petunjuk meskipun kurang lengkap.

Sejenak kemudian, maka Agung Sedayupun berkata, “Baiklah Kiai. Aku kira hukuman yang paling pantas bagi Kiai dan Mbah Kanthil sudah kalian jalani. Karena itu. maka mulailah hidup yang baru dengan sikap yang baru.”

“Ya Ngger. Dan kamipun akan mencari tempat yang baru. Orang-orang di lingkungan hidup kami yang lama telah memberikan warna kepada kami berdua. Karena itu kami akan mencari lingkungan baru. Aku masih mempunyai satu lingkungan hidup yang lain dari daerah Sumawana. Aku masih mempunyai sebidang tanah di daerah lain. Aku akan membawa Kanthil bersamaku untuk menempuh satu kehidupan baru.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Silahkan Kiai. Mudah-mudahan Kiai berhasil.”

Mbah Kanthil yang masih lemah itu dengan suara gemetar berkata, “Kami berdua mohon maaf yang sebesar-besarnya Ngger. Kami tidak tahu, apa yang sebaiknya kami katakan untuk menyatakan perasaan kami.”

“Kami sudah tahu, meskipun tidak kau katakan,“ jawab Agung Sedayu. “Baiklah, kalian segera berkemas. Kami akan kembali, karena tugas kami hari ini masih menunggu.”

Agung Sedayu dan Sekar Mirah pun kemudian minta diri. Mbah Kanthil yang lemah berusaha lagi mengantar mereka sampai ke pintu depan, sementara Kiai Tali Jiwa mengikuti keduanya sampai ke regol halaman.

Sejenak kemudian terdengar derap kuda-kuda mereka meninggalkan rumah Mbah Kanthil yang untuk waktu yang cukup lama seolah-olah sudah dijauhi oleh tetangga-tetangganya karena sifatnya.

Kiai Tali Jiwa menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia berdesis, “Aku tidak pernah menyangka, bahwa ada juga orang-orang yang mempunyai sikap dan pandangan hidup yang demikian. Seandainya bukan Agung Sedayu suami istri, barangkali aku sudah dicincang oleh orang-orang padukuhan karena pekerjaan ini. Mereka dapat menangkap aku dan Kanthil, mengadukan kepada Ki Gede untuk mendapat hukuman picis. Tentu saja aku tidak akan dapat menyebut nama Prastawa. karena dengan demikian Angger Prastawa tentu sudah akan bertindak lebih dahulu.”

Tiba-tiba saja Kiai Tali Jiwa menjadi gelisah. Jika Prastawa menyadari kegagalannya, mungkin justru ialah yang akan bertindak. Bukan Agung Sedayu. Mungkin untuk menghilangkan jejak. Tetapi mungkin karena kegagalan yang tidak dapat diterimanya.

Karena itu. maka Kiai Tali Jiwa pun menjadi tergesa-gesa masuk kembali ke dalam rumah Mbah Kanthil. Dengan terbata-bata ia berkata, “Kanthil, bersiaplah. Kita pergi sekarang.”

“Sekarang?” bertanya Mbah Kanthil.

“Ya. Apa yang dapat kita katakan jika Angger Prastawa datang dan berusaha untuk menghilangkan jejak,” berkata Kiai Tali Jiwa.

Mbah Kanthil yang sudah mulai pulih kembali tenaganya, tiba-tiba telah menjadi gemetar. Ia sudah tidak mempunyai kemampuan apapun lagi. Seandainya ia dibuat sakit hati oleh siapapun juga, termasuk Prastawa, ia tidak akan dapat membalas atau mengancam akan membalas. Apalagi jika kemarahan Prastawa tidak lagi terkendali sehingga ia langsung mengambil satu tindakan untuk melenyapkan kegagalannya dengan membuang dan menghapus jejak.

Karena itu, maka seperti yang dikatakan oleh Kiai Tali Jiwa, maka iapun segera mengemasi barang-barangnya yang memang tidak terlalu banyak. Namun ketika ia berdesah tentang ayam-ayamnya, maka Kiai Tali Jiwa berkata, “Biar sajalah, lepaskan ayam-ayammu agar mereka dapat mencari makan. Di tempat kita yang baru, kita akan memelihara ayam.”

Mbah Kanthil tidak membantah. Karena itu, maka setelah ia selesai, keduanyapun segera meninggalkan rumahnya.

Mereka mengambil jalan yang paling sepi, sehingga mereka sedikit mungkin bertemu dengan para petani yang sudah mulai turun ke sawah.

Dengan tergesa-gesa mereka berjalan. Sekali-sekali mereka menempuh jalan setapak. Sekali mereka melintas pamatang. Mereka ingin secepatnya keluar dari Tanah Perdikan Menoreh. Betapapun kaki mereka sudah menjadi semakin lemah, maka keduanyapun kemudian telah memilih jalan sempit yang memanjat pegunungan.

Demikian kedua orang itu hilang di balik batu-batu padas dan pohon-pohon perdu, maka Prastawa dan dua orang temannya dengan tertesa-gesa telah pergi ke rumah Mbah Kanthil. Menurut perhitungannya sebagaimana disanggupkan oleh Kiai Tali Jiwa, hari itu adalah hari yang menentukan. Karena itu, maka Prastawa pun dengan hati berdebar-debar menemui Mbah Kanthil dan Kiai Tali Jiwa untuk menanyakan, apakah segalanya sudah selesai, sehingga yang diinginkannya telah didapatkannya hari itu juga.

Demikian besar dorongan di dalam hatinya sehingga Prastawa tidak lagi ingat meninggalkan kudanya, atau dengan cara lain agar kehadirannya di rumah yang terasing itu tidak menarik perhatian. Tetapi Prastawa dan kawan-kawannya itu langsung memasuki halaman rumah Mbah Kanthil masih di atas punggung kuda.

Dengan tergesa-gesa Prastawa dan kawan-kawannya meloncat turun ketika mereka sudah berada di halaman. Tanpa mengikat kudanya, Prastawa kemudian berlari-lari kecil menuju ke pintu rumah Mbah Kanthil yang tertutup. Adalah memang menjadi kebiasaan, bahwa Mbah Kanthil selalu menutup pintu rumahnya, meskipun di siang hari.

Hampir tidak sabar Prastawa mengetuk pintu Mbah Kanthil dengan keras. Sekali dua kali Prastawa masih menunggu. Tetapi setelah tiga kali mengetuk pintunya, dan ternyata pintu itu tidak dibuka, maka iapun menjadi tidak sabar lagi. Dengan sekuat tenaganya pintu rumah itu telah didorongnya ke samping.

Prastawa terkejut. Pintu itu tidak diselarak. karenanya justru ia hampir saja terjatuh karena pintu lereg itu dengan mudah telah terbuka.

“Gila,” geram Prastawa.

Dengan serta merta iapun telah melangkah masuk. Dengan suara lantang ia memanggil, “Mbah Kanthil, Mbah Kanthil.”

Tetapi tidak seorangpun yang menyahut.

“Mbah Kanthil,” Prastawa memanggil lebih keras lagi. Tetapi tidak terdengar seseorang menyahut.

Dengan hati yang berdebar-debar, maka Prastawa pun kemudian mencari di seluruh sudut rumah yang tidak begitu besar itu. Tetapi ia tidak menemukan seorangpun.

Ketika ia memasuki bilik tengah, maka dilihatnya sebuah jambangan berisi air dan reramuannya. Di sebelahnya ia melihat darah yang sudah mengering.

“Gila,” geram Prastawa, “apakah yang sudah terjadi di rumah ini. Nampaknya Kiai Tali Jiwa sudah melakukan lakunya yang terakhir. Tetapi ke mana kedua orang tua ini?”

Kedua kawan Prastawa yang ikut masuk pula ke dalam rumah itu menjadi termangu-mangu. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan. Mereka juga tidak melihat seorangpun. Dan mereka juga tidak dapat menerka, apa yang telah terjadi.

Karena itu, maka kedua orang kawan Prastawa itupun hanya berdiam diri saja. Mereka dengan penuh pertanyaan di dalam hati menunggu apa yang akan dilakukan oleh Prastawa yang keheranan menyaksikan isi rumah itu.

Karena kedua kawannya tidak mengatakan sesuatu, maka Prastawa itupun kemudian mengamati barang-barang yang ada di rumah itu. Ia melihat barang-barang Mbah Kanthil yang bertebaran. Kemudian iapun melihat beberapa perabot rumah yang berserakan yang tertimpa oleh Kiai Tali Jiwa saat ia didorong oleh Sekar Mirah.

Mata Prastawa kemudian tertahan pada buah jambe yang tergolek di lantai. Ketika ia memungut buah jambe itu, maka dilihatnya jambe itu sudah terbelah. Tetapi Prastawa tidak menemukan tiga batang jarum yang terlempar saat jambe itu terjatuh dari tangan Kiai Tali Jiwa.

“Nampaknya telah terjadi sesuatu di rumah ini,” berkata Prastawa kepada kawan-kawannya.

“Ya. Tetapi peristiwa apa?” seorang kawannya justru bertanya.

“Dungu kau!” bentak Prastawa yang hampir kehilangan kesabaran, “Kau lihat barang-barang yang tidak terletak di tempatnya. Geledeg bambu yang terbuka, serta sebagian barang-barang Mbah Kanthil yang berhamburan.”

“Ya,“ sahut kawannya, “nampaknya memang demikian.”

Sejenak Prastawa berdiri dengan tegang. Namun tiba-tiba ia menggeram, “Ki Waskita tidak ada di rumah Paman Argapati. Menurut para peronda, Ki Waskita meninggalkan halaman ini menjelang dini hari atau sesaat lewat tengah malam. Apakah ia telah melibatkan diri dalam peristiwa ini?“

Kawan-kawannya termangu-mangu. Seorang di antara mereka berkata, ”Ki Waskita adalah orang yang dapat melihat tanpa dibatasi jarak dan waktu.”

“Bukan begitu,“ potong Prastawa, “ia hanya dapat melihat isyarat. Kadang-kadang ia salah menterjemahkan isyarat itu.”

“Tetapi kadang-kadang ia dapat menterjemahkannya dengan tepat. Pada saat yang demikian itulah, maka ia harus mendapat perhatian,” jawab kawannya.

Wajah Prastawa menjadi semakin tegang. Tiba-tiba saja ia menggeram, “Mungkin Iblis tua itu telah ikut campur. Tetapi aku harus meyakinkan, apakah telah terjadi sesuatu dengan Agung Sedayu.”

Kawan-kawannya tidak menjawab. Sementara itu Prastawa berkata selanjutnya, “Salah seorang dari kalian, atau kalian berdua, harus dapat mengetahui keadaan Agung Serayu. Lihat, apakah ia pergi ke barak atau tidak?”

“Mungkin ia sudah berangkat ke barak,“ jawab seorang di antara kedua kawannya itu.

“Usahakan! Terserah caramu,” bentak Prastawa.

Kedua kawannya tidak menjawab lagi. Dalam keadaan yang demikian Prastawa tidak dapat diajak berbicara dengan baik.

“Jika Agung Sedayu pergi ke barak, berarti usaha Mbah Kanthil dan Kiai Tali Jiwa telah gagal. Jika usaha itu berhasil, maka Agung Sedayu sekarang tentu berada di rumahnya, berbaring di atas pembaringannya dengan keadaan yang parah,“ berkata Prastawa. Kemudian, “Jika demikian, maka akupun yakin, bahwa Sekar Mirah pun telah kehilangan dirinya dan menurut sesuai dengan perintah Kiai Tali Jiwa, sehingga aku akan mendapatkannya.”

Kedua kawannya mengangguk-angguk.

“Nah, pergilah. Kalian harus segera memberitahukan kepadaku. Aku berada di rumah,” berkata Prastawa kemudian.

Sejenak kemudian maka kedua orang kawan Prastawa itupun telah meninggalkan rumah Mbah Kanthil yang sepi. Sementara Prastawa pun kemudian telah kembali pula ke rumahi Ki Gede dengan teka-teki di dalam hatinya.

Dalam pada itu, maka setelah menitipkan kudanya pada seorang kawannya, kedua kawan Prastawa pun berusaha untuk dapat mengetahui keadaan Agung Sedayu. Namun mereka mulai kecewa ketika mereka mendengar dari kawannya, bahwa Agung Sedayu sudah pergi sejak pagi-pagi. Keduanya kembali sebentar, kemudian berangkat lagi.

“Kemana?” bertanya kawan Prastawa.

“Aku tidak tahu. Yang pertama aku melihatnya ketika aku menyapu halaman. Kemudian, kebetulan aku sedang menyiram batang sirih di sudut halaman itu, aku melihatnya kembali. Tetapi sejenak kemudian, belum lagi aku selesai, keduanya telah pergi lagi berkuda. Jarang aku mehhat keduanya berkuda bersama-sama,“ jawab kawannya yang rumahnya tidak jauh dari rumah Agung Sedayu.

Kawan Prastawa itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak dapat berkata terus terang, meskipun kawannya yang rumahnya dekat Agung Sedayu itu juga salah seorang dari kawan-kawan Prastawa. Tetapi persoalan dengan Mbah Kanthil itu memang tidak banyak orang lain yang mengetahui.

Meskipun demikian, kawan Prastawa yang mendapat perintah untuk mengetahui keadaan Agung Sedayu itupun masih berusaha untuk meyakinkan. Dengan tidak menarik perhatian, keduanyapun kemudian berjalan lewat di muka rumah Agung Sedayu. Ketika mereka melihat Glagah Putih di muka rumahnya sambil membelah kayu bakar yang dijemur di panasnya matahari, maka keduanya berhenti. Dengan hati-hati dan tidak menarik perhatian, maka keduanyapun telah bertanya, dimana Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

“Mereka pergi ke barak,” jawab Glagah Putih.

“Berkuda?” bertanya salah seorang dari kedua orang kawan Prastawa itu.

“Ya. Mereka sudah kesiangan di banding dengan hari-hari sebelumnya,“ jawab Glagah Putih.

Keduanya termangu-mangu. Namun seorang di antaranya bertanya, “Kau sendirian?”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun ia sama sekali tidak berprasangka apapun juga. Karena itu maka jawabnya kemudian, “Ya. Aku sendirian.”

Kedua orang kawan Prastawa itu tidak bertanya lebih jauh. Merekapun berusaha agar Glagah Putih tidak mencurigai mereka. Karena itu, maka merekapun segera berlalu meninggalkan Glagah Putih, sendiri di halaman rumahnya.

Ketika mereka sudah berbelok di tikungan, maka salah seorang dari keduanya berkata, “Agung Sedayu dan Sekar Mirah tidak mengalami sesuatu. Keduanya pergi ke barak justru berkuda.”

“Kita laporkan saja semuanya ini kepada Prastawa. Biarlah ia sendiri yang mengambil kesimpulan,” berkata yang lain.

Keduanyapun kemudian memutuskan untuk pergi ke rumah Prastawa. Namun mereka singgah dahulu ke rumah masing-masing untuk menyimpan kuda mereka. Setelah mereka saling menunggu di regol padukuhan induk, maka merekapun segera pergi ke rumah Prastawa.

Prastawa menggeretakkan giginya ketika ia mendengar laporan itu. Ternyata usahanya dengan menempuh jalan lain itupun telah gagal.

“Mungkin usaha Kiai Tali Jiwa itu tidak terjadi dengan tiba-tiba,” berkata salah seorang kawannya.

“Maksudmu?“ bertanya Prastawa.

“Setelah satu dua hari atau sepekan dua pekan, baru kelihatan apakah usaha itu berhasil atau tidak,” jawab kawannya itu.

“Omong kosong. Jika demikian, Kiai Tali Jiwa dan Mbah Kanthil tentu tak akan meninggalkan rumah itu. Agaknya mereka menyadari kegagalan mereka, sehingga mereka telah pergi,” berkata Prastawa. Namun kemudian, “Agaknya Ki Waskita memang ikut campur. Belum lama ia baru datang dari rumah Agung Sedayu.”

Kedua kawannya mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Mungkin setelah Agung Sedayu berangkat ke barak bersama Sekar Mirah, Ki Waskita kembali ke rumah ini.”

Prastawa mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba katanya, “Marilah kita cari Mbah Kanthil dan Kiai Tali Jiwa.”

“Kemana, dan untuk apa?“ bertanya seorang kawannya.

“Ia harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya,“ jawab Prastawa.

“Apa yang sudah dilakukan atasmu?” bertanya kawannya yang lain.

“Ia sudah menipuku. Aku sudah memberikan sebagian imbalan yang dimintanya. Tetapi usahanya gagal,” jawab Prastawa.

“Tetapi ke arah mana?” bertanya kawannya yang seorang.

Prastawa termangu-mangu. Katanya lemah, “Ke Sumawana?”

“He. apakah kau pernah pergi ke Sunuwana?”

“Sumawana dapat dicari. Aku tidak segan mencarinya. Tetapi jika benar Kiai Tali Jiwa sudah menipumu, maka aku yakin, ia tidak akan kembali ke Sumawana. Apalagi jika ia membawa Mbah Kanthil serta dengannya,“ jawab kawannya.

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Jantungnya terasa berdentang semakin keras. Usahanya yang sia-sia itu membuat hatinya menjadi panas. Tetapi seperti yang dikatakan oleh kawannya, maka sulit baginya untuk mencari Kiai Tali Jiwa dan Mbah Kanthil, yang menurut dugaan mereka adalah memang sengaja melarikan diri karena mereka sadar akan kegagalan mereka.

Sebenarnyalah, pada waktu itu Mbah Kanthil dan Kiai Tali Jiwa sedang berjalan dengan tergesa-gesa di antara padas-padas pegunungan. Terasa kaki mereka menjadi sakit. Matahari yang semakin tinggi menjadi semakin terasa panas menyengat kaki. Sekali-sekali mereka berteduh di bawah dedaunan yang jarang dan berwarna kekuningan di atas bukit berpadas.

Ketika mereka menyusuri jalan menulu ke tempat yang lebih segar, maka merekapun menemukan beberapa padukuhan kecil. Terasa udara menjadi sedikit nyaman. Di atas bukit terdapat beberapa batang pohon raksasa, sehingga dari sumber di bawah pohon-pohon itu mengalir air yang bening melalui parit-parit yang menjalari tanah-tanah persawahan. Meskipun air itu agaknya tidak terlalu banyak, tetapi beberapa padukuhan menjadi hijau. Jauh berbeda dengan tanah berpadas yang baru saja mereka lalui.

“Kakiku sakit,” desis Mbah Kanthil.

“Kita terpaksa berjalan untuk satu tujuan yang jauh,“ berkata Kiai Tali Jiwa.

“Aku masih sangat lemah. Ketika aku melepaskan ilmuku, rasa-rasanya semua tulang-tulangku telah terlepas pula. Sekarang aku harus berjalan sangat jauh,“ kata Mbah Kanthil.

 

 

“Itu lebih baik daripada kau dicekik oleh Angger Prastawa,“ jawab Kiai Tali Jiwa.

“Berapa hari aku harus berjalan?” bertanya Mbah Kanthil.

“Dua hari semalam. Tetapi kita akan dapat berhenti dan beristirahat di malam hari. Kita dapat singgah di banjar padukuhan untuk mohon berlindung barang satu malam,” jawab Kiai Tali Jiwa.

“Tetapi tenagaku lemah sekali, Guru,” keluh perempuan tua itu.

“Jangan panggil aku Guru. Aku sudah tidak mempunyai kemampuan apapun juga,“ jawab Kiai Tali Jiwa.

“Tetapi ilmu kanuragan itu masih ada di dalam dirimu,” jawab Mbah Kanthil.

“Ilmu kanuragan yang tidak berarti apa-apa. Ketika aku didorong oleh Sekar Mirah, aku telah terlempar dan tidak mampu menguasai keseimbanganku lagi,“ jawab Kiai Tali Jiwa dengan nada dalam.

“Sekar Mirah memang orang luar biasa. Perempuan itu bukan ukuran bagi orang-orang kebanyakan,” berkata Mbah Kanthil.

“Ilmu itu tidak ada artinya. Dengan ilmu itu aku tidak dapat menolongmu. Kau harus berusaha untuk bertahan dari kelelahan dan kesulitan di perjalanan. Agaknya kita harus menerima hal ini sebagai hukuman. Meskipun Angger Agung Sedayu dan Sekar Mirah tidak menyeret kita ke hadapan rakyat Tanah Perdikan Menoreh untuk menerima hukuman, namun hukuman itu datang juga kepada kita. Karena itu, marilah kita jalani dengan ikhlas,“ jawab Kiai Tali Jiwa.

Mbah Kanthil menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk mengerti dan menerima kenyataan itu.

Karena itu, maka betapapun juga maka ia telah mencoba untuk mengatasi perasaan lelahnya. Bahkan perasaan sakit pada kaki dan bagian tubuhnya yang lain.

Tetapi Kiai Tali Jiwa pun berusaha untuk membantunya. Bahkan iapun membiarkan Mbah Kanthil untuk setiap kali beristirahat. Berteduh di bawah pepohonan, atau sekali-sekali jika mereka menjumpai air, merendam kakinya untuk beberapa saat.

Dalam kesempatan yang demikian, mereka dapat melihat ke dalam diri mereka sendiri. Mereka dapat menilai masa lalu mereka yang penuh dengan cacat dan noda.

Ketika langit menjadi suram, maka merekapun telah berusaha untuk dapat bermalam di sebuah banjar padukuhan. Dengan langkah yang letih, mereka memasuki sebuah halaman banjar yang tidak terlalu luas dari sebuah padukuhan kecil. Kepada penjaga banjar itu keduanya menyatakan untuk diperkenankan bermalam barang satu malam.

Penjaga banjar itu memandang kedua orang tua itu dengan iba. Karena itu. maka dengan senang hati penjaga banjar itu mempersilahkan keduanya untuk bermalam. Bahkan penjaga itu telah memberikan semangkuk air hangat dan beberapa potong makanan.

Terasa betapa segarnya minuman yang mereka teguk dan betapa nikmatnya makanan yang mereka makan kemudian. Dan di malam yang kemudian turun, terasa betapa berterima-kasihnya kedua orang tua yang sempat bermalam di serambi sebuah banjar yang tidak begitu besar itu.

Dengan mengucapkan beribu terima kasih, maka di pagi harinya Kiai Tali Jiwa dan Mbah Kanthil itupun telah melanjutkan perjalanan. Tubuh mereka terasa menjadi lebih segar setelah mereka beristirahat semalam di serambi banjar.

Namun kemudian, seperti yang terjadi di hari sebelumnya, Mbah Kanthil telah merasa betapa letihnya dan betapa kakinya menjadi pedih. Tetapi ia tidak mengeluh lagi. Ia mencoba untuk menjalaninya dengan ikhlas sebagaimana dikatakan oleh Kiai Tali Jiwa.

Lewat tengah hari, mereka memasuki sebuah padukuhan yang lebih besar dari padukuhan-padukuhan yang telah dilewatinya di seberang pegunungan. Beberapa buah rumah di padukuhan itu nampak dihuni oleh orang-orang yang kecukupan. Pagar padukuhan dan regolnyapun terpelihara baik dan jalan-jalanpun nampak rata dan terawat.

Dengan langkah kelelahan Kiai Tali Jiwa dan Mbah Kanthil memasuki regol padukuhan itu. Ketika mereka memasuki bayangan pepohonan yang hijau, tubuh mereka menjadi sejuk dan terlindung dari sengatan panas matahari.

Tidak banyak orang yang memperhatikan kedua orang yang berjalan dalam keletihan itu. Orang-orang padukuhan itu menganggap keduanya adalah sebagaimana kebanyakan orang-orang yang lewat dari satu padukuhan ke padukuhan lainnya.

Tetapi langkah kedua orang itu tertegun ketika mereka melihat beberapa orang berkerumun di muka sebuah regol halaman. Agaknya orang-orang itu sedang memperhatikan sesuatu yang terjadi di halaman rumah yang cukup besar itu.

Kiai Tali Jiwa dan Mbah Kanthil menjadi ragu-ragu untuk meneruskan langkah mereka. Tetapi merekapun tidak dapat kembali. Karena dengan demikian maka mereka tentu akan menarik perhatian orang-orang yang sedang berkerumun itu.

Karena itu, maka mereka berduapun terpaksa melangkah terus dengan jantung yang berdebaran.

“Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang dapat menyangkut kita berdua,” berkata Kiai Tali Jiwa.

“Asal kita tidak berbuat apa-apa,“ jawab Mbah Kanthil, “kita tidak mempunyai persoalan dengan orang-orang padukuhan ini.”

Kiai Tali Jiwa mengangguk-angguk. Meskipun ada juga keragu-raguan di hati mereka, tetapi merekapun melangkah terus.

Beberapa langkah dari orang-orang yang berkerumun itu, keduanyapun mulai melihat apa yang terjadi. Mereka sedang membujuk seorang perempuan yang agaknya terganggu ingatannya. Perempuan itu menangis di regol sambil berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi beberapa orang memeganginya sambil menenangkannya.

Kiai Tali Jiwa dan Mbah Kanthil melangkah terus. Mereka berbuat sebagaimana sewajarnya, orang yang lewat. Mereka memperlambat langkah mereka. Tetapi mereka tidak berhenti.

Semula orang-orang yang berkerumun itupun tidak banyak memperhatikan keduanya, karena perhatian mereka tertuju kepada perempuan yang terganggu ingatannya itu. Namun tiba-tiba telah terjadi sesuatu di luar dugaan mereka. Perempuan itu tiba-tiba telah menghentakkan diri sehingga terlepas dari pegangan tetangga-tetangganya. Dengan serta merta perempuan itu berlari sambil menjerit tinggi. Sebelum tetangga-tetangganya sempat mencegahnya, perempuan itu telah menerkam Mbah Kanthil pada rambutnya. Dengan marah perempuan itu telah mengguncang rambut Mbah Kanthil sehingga perempuan tua itu menjerit kesakitan.

Sejenak kemudian, tetangga-tetangga perempuan itu dengan tergesa-gesa telah berusaha untuk mencegah perempuan itu berbuat lebih banyak lagi. Dengan paksa maka perempuan itu kemudian berhasil didorong memasuki regol halaman rumahnya. Sementara itu tiga orang anak kecil menangis mengikuti perempuan itu dibimbing oleh seorang laki-laki tua.

Mbah Kanthil yang menjadi sangat terkejut masih berdiri dengan rambut terurai. Jantungnya berdentangan. Sementara nafasnya menjadi tersengal-sengal.

Seorang perempuan dan seorang laki-laki kemudian mendekatinya. Dengan nada menyesal perempuan itu berkata, “Kami minta maaf Ki Sanak. Yang terjadi adalah demikian tiba-tiba sehingga kami tidak dapat mencegahnya.”

“Tidak apa-apa Ki Sanak,” Kiai Tali Jiwalah yang menjawab, “orang itu tidak menyadari apa yang telah dilakukannya. Agaknya perempuan itu sedang terganggu ingatannya.”

“Ya,” jawab perempuan itu, “sejak enam bulan yang lalu ia mengalami penyakit yang aneh. Bahkan akhirnya ia benar benar menjadi seorang yang tidak ubahnya dengan orang gila.”

Kiai Tali Jiwa mengangguk-angguk. Ia masih melihat orang-orang yang sibuk menenangkan perempuan yang kemudian justru berteriak-teriak.

“Bunuh perempuan tua itu,” teriak perempuan yang sakit ingatan itu.

Mbah Kanthil menjadi berdebar-debar. Tetapi ia berusaha untuk memenangkan dirinya dengan membenahi rambutnya. Orang-orang yang mengerumuni perempuan itu tentu akan mencegahnya.

“Apakah memang ada keturunan sakit seperti itu?” bertanya Kiai Tali Jiwa.

“Tidak,“ jawab laki-laki yang bersama seorang perempuan menghampirinya itu, “semula ia hidup tenang dengan suami dan tiga orang anaknya. Tidak ada sakit keturunan. Ayah dan ibunya, bahkan kakek dan neneknya tidak ada yang pernah dijamah oleh sakit ingatan.”

“Lalu, apakah ia pernah mengalami sakit panas yang berlebihan, sehingga mengakibatkan perempuan itu menjadi seperti gila?“ bertanya Kiai Tali Jiwa.

“Apakah sakit panas dapat membuat seseorang menjadi gila?” bertanya laki laki itu.

“Ya. Ki Sanak. Menurut kata orang yang mengerti tentang ilmu obat-obatan. Sakit panas yang sangat tinggi dan untuk waktu yang lama, memang dapat membuat seseorang seperti gila. Dalam keadaan yang demikian, orang yang sakit itu memang sulit untuk disembuhkan,” jawab Kiai Tali Jiwa.

Namun perempuan yang mendekati Kiai Tali Jiwa itu berkata, “Tidak Ki Sanak. Perempuan itu tidak sakit panas dan tidak sakit seperti kebanyakan orang sakit. Ada sesuatu telah terjadi pada dirinya. Ketika suaminya pergi ke tempat yang jauh, maka nasib yang buruk itu telah menimpanya.”

“Nasib yang bagaimana?” bertanya Mbah Kanthil.

“Suaminya bertemu dengan seorang perempuan. Seorang janda yang masih muda. Janda itu telah jatuh cinta kepada suaminya. Tetapi laki-laki itu menolaknya karena ia sudah mempunyai istri dan anak di sini. Tetapi terjadilah malapetaka itu. Janda itu telah minta tolong seorang dukun di seberang gunung, di ujung Tanah Perdikan Menoreh. Dukun yang menurut pendengaranku sangat sakti itu berhasil membuat laki-laki itu bingung, sehingga akhirnya ia telah kehilangan kepribadiannya. Ia lari kepada perempuan yang mencintainya itu. Janda yang masih muda meskipun tidak cantik, serta meninggalkan istri dan anak-anaknya. Bukan itu saja, dukun yang sakti itu telah membuat perempuan itu gila dan sama sekali tidak mengenal dirinya lagi. Apalagi anak-anaknya. Kasihan sekali. Tiga orang anak kecil yang tidak berdosa itu telah kehilangan ayah dan ibunya sekaligus. Meskipun mereka masih hidup, tetapi mereka tidak lagi dapat memberikan kasih sayangnya sebagaimana seorang ayah dan seorang ibu. Ayahnya telah pergi dan jarang sekali kembali menengoknya, sedang ibunya yang ditungguinya setiap hari, sama sekali tidak mengenalnya lagi.”

Cerita itu bagaikan ujung duri yang menusuk jantung Mbah Kanthil yang termangu-mangu. Bahkan terasa tubuhnya menjadi gemetar. Ia ingat benar, bahwa yang dikatakan oleh perempuan itu memang pernah terjadi. Seorang janda telah datang kepadanya untuk memaksa seorang laki-laki mencintainya dan meninggalkan anak istrinya.

Kini, di luar dugaannya, ia melihat akibat dari perbuatannya.

Wajah Mbah Kanthil yang pucat menjadi semakin pucat. Selama ia melakukan pekerjaannya, ia memang tidak pernah secara langsung melihat akibat yang terjadi. Bahkan yang diketahuinya kemudian adalah janda itu datang kepadanya dengan wajah yang cerah. Mengucapkan terima kasih sambil memberikan berbagai macam barang dan bahan makanan, karena usahanya telah berhasil.

Kiai Tali Jiwa yang mempunyai pandangan yang tajam segera mengetahui hubungan antara perempuan yang gila itu dengan Mbah Kanthil yang gemetar. Namun ia masih saja berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi. Bahkan kemudian katanya kepada laki-laki dan perempuan itu, “Sudahlah Ki Sanak. Kami akan melanjutkan perjalanan. Mudah-mudahan perempuan itu cepat sembuh. Mudah-mudahan ada kekuatan yang dapat mengusir malapetaka dari dalam dirinya itu. Tetapi satu hal yang pernah aku dengar dari kawan-kawanku, bahwa kekuatan yang demikian itu tidak akan berumur panjang. Seandainya benar ada kekuatan yang dapat merampas kepribadian suami perempuan itu, dan bahkan membuatnya menjadi gila, namun pada suatu saat kekuatan itu akan pudar. Percayalah. Kawanku itu menganjurkan agar sanak keluarganya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengampun. Maka kekuatan itu akan semakin cepat lenyap dari dalam dirinya.”

“Apakah begitu?” bertanya perempuan dan laki-laki itu hampir berbareng.

“Aku kurang pasti. Tetapi demikianlah yang pernah aku dengar,” jawab Kiai Tali Jiwa.

Laki-laki dan perempuan itu mengangguk-angguk. Bahkan laki-laki itu berdesis, “Terima kasih Ki Sanak. Mudah-mudahan yang Ki Sanak katakan, meskipun hanya Ki Sanak dengar dari orang lain, namun mudah-mudahan dapat terjadi atas perempuan itu. Ia masih saudara sepupuku.”

Kiai Tali Jiwa dan Mbah Kanthil pun kemudian minta diri untuk melanjutkan perjalanan. Betapa jantung Mbah Kanthil bagaikan dihentak oleh jerit dan tangis anak-anak yang kehilangan ayah dan ibunya itu.

Beberapa langkah setelah mereka meninggalkan regol halaman itu, maka Mbah Kanthil pun berdesis, “Itu adalah satu akibat dari perbuatanku. Alangkah rendahnya martabatku selama ini. Aku telah menyiksa sebuah keluarga tanpa kesalahan apapun. Apalagi kepadaku sendiri.”

Kiai Tali Jiwa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita sama-sama melakukan satu perbuatan yang terkutuk. Tetapi masih ada waktu untuk bertobat. Aku merasa betapa dadaku menjadi lapang, ketika aku dapat menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengampun. Mudah-mudahan kita masih sempat mendapat pengampunannya.”

Mbah Kanthil menarik nafas dalam-dalam. Sekali-sekali ia masih berpaling. Tetapi ketika mereka sudah melewati satu tikungan, maka mereka tidak dapat melihat lagi orang-orang yang sedang sibuk di muka dan di sekitar regol.

“Guru,” berkata Mbah Kanthil, “sebenarnyalah bukan hanya keluarga itu satu-satunya yang pernah mengalami bencana karena pokalku. Kini ketika aku menyaksikan langsung apa yang terjadi, maka betapa penyesalan telah menghentak-hentak di hatiku.”

“Aku adalah orang yang memberimu ilmu. Sehingga jika kau merasa bersalah, aku adalah sumber kesalahan itu,” jawab Kiai Tali Jiwa, “tentu akupun merasa bersalah. Tetapi semuanya itu sudah terjadi. Yang dapat kita lakukan adalah menyesali segala perbuatan itu dan berjanji untuk tidak melakukannya kembali. Dan kita memang tidak akan pernah dapat melakukannya lagi. Agaknya itu memang lebih baik bagi kita menjelang hari-hari terakhir.”

“Guru,“ berkata Mbah Kanthil, “penyesalan ini sungguh menyiksa. Apakah Guru tidak mempunyai sisa kemampuan untuk menyembuhkan orang itu?”

“Ilmuku yang baik dan yang buruk telah terkuras habis dari dalam diriku, kecuali sedikit ilmu kanuragan yang tidak berarti,” jawab Kiai Tali Jiwa. “Seandainya masih ada kemampuanku, maka aku tentu akan dengan sangat senang menyembuhkannya.”

“Jadi Guru membiarkan orang itu dalam keadaannya. dan aku disiksa oleh penyesalan?” bertanya Mbah Kanthil kemudian.

“Kau masih mementingkan dirimu sendiri. Seandainya kau masih akan tersiksa oleh penyesalan, maka lengkaplah hukuman yang kita sandang. Kita sudah mengalami hukuman jasmani oleh perjalanan yang melelahkan dan menyakitkan, sementara penyesalan itu telah menghukum kita secara jiwani,” jawab Kiai Tali Jiwa. “Yang penting adalah keadaan orang itu. Bukan keadaanmu.”

“Baiklah. Tetapi bagaimana dengan orang itu?” bertanya Mbah Kanthil pula.

“Sumber kekuatan yang mencengkeramnya telah pudar. Aku kira ia tidak akan mengalami nasib buruk terlalu lama. Dengan lenyapnya segala ilmu dan kemampuanmu, maka lenyap pulalah segala kekuatan yang mendukung perbuatanmu itu. Aku kira, tidak lebih dari lima hari, maka semua orang yang menjadi korbanmu akan terbebaskan. Kecuali jika ada sebab lain,” berkata Kiai Tali Jiwa.

“Sebab lain yang mana?” bertanya mBab Kanthil.

“Jika ia sakit karena perbuatanmu, maka ia akan segera sembuh. Dan menilik keadaannya, sakitnya memang karena pokalmu,“ jawab Kiai Tali Jiwa. “Tetapi jika ia sakit oleh satu kejutan jiwani, maka pengobatannya tentu akan melalui cara lain.”

“Kejutan apakah yang Guru maksud?” Mbah Kanthil bertanya pula.

“Jika ia sakit karena penderitaan jiwa sebab suaminya kawin lagi, adalah persoalan yang tidak ada sangkut pautnya dengan ilmumu,” jawab Kiai Tali Jiwa, “tetapi menilik sikap laki-laki yang meninggalkannya itu, tentu karena tingkah lakumu.”

Mbah Kanthil menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebenarnyalah seperti apa yang dikatakan oleh Kiai Tali Jiwa, ia memang merasa pernah melakukannya atas permintaan seorang janda muda. Tetapi juga tidak mustahil, bahwa masalah-masalah lain seperti yang dikatakan oleh gurunya memperberat penderitaan perempuan itu.

Namun demikian, di dalam hati perempuan tua itupun berdoa kepada Tuhan yang rasa-rasanya baru saja dikenalnya sebagai sumber segala Kuasa dan Kasih, agar penderitaan keluarga yang tidak bersalah itu segera berakhir.

Demikianlah, di sepanjang perjalanannya Mbah Kanthil benar-benar merasa sebagaimana dikatakan oleh gurunya, bahwa ia harus menjalani hukuman lahir dan batin. Hukuman lahir itu akan segera berakhir jika ia sudah berada di tempat yang baru untuk mulai dengan kehidupan barunya. Namun dalam keadaan yang demikian, penyesalan dan kecewa masih akan selalu membayanginya.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Sekar Mirah telah berada di dalam dunia wajar mereka. Mereka tidak lagi dibayangi oleh pengaruh ilmu Kiai Tali Jiwa. Meskipun mereka sudah menduga, siapa yang telah menggerakkan tangan Kiai Tali Jiwa untuk melakukan usahanya yang mengerikan itu, tetapi keduanya sengaja untuk tidak mau mendengar sebuah nama yang akan disebut oleh Kiai Tali Jiwa.

Dengan demkian, maka mereka tidak dapat berbuat pasti untuk melakukan pembalasan dendam jika sekiranya pada suatu saat mereka sedang diselubungi oleh kabut hitam pada penalaran mereka, sehingga mereka melakukan satu kekhilafan.

Namun dalam pada itu, ketika Agung Sedayu sempat bertemu dengan Ki Waskita, maka ia dapat menceritakan lebih banyak tentang apa saja yang dilihat dan didengarnya di rumah Mbah Kanthil bersama Sekar Mirah.

“Nampaknya kedua orang itu telah benar-benar kehilangan segala macam ilmunya,” berkata Ki Waskita. “Bahkan ilmu dasar mereka yang sebenarnya bersifat baikpun telah hanyut pula bersama hisapan keluar atas usaha mereka sendiri.”

Agung Sedayu hanya mengangguk-angguk saja. Namun segala keterangan Ki Waskita dapat memberikan kejelasan kepadanya. Meskipun Ki Waskita sendiri belum pernah mempelajari ilmu seperti yang dimiliki oleh Kiai Tali Jiwa dan Mbah Kanthil, namun pengalamannya yang luas telah memperkenalkannya dengan ujud-ujud yang hampir serupa. Sehingga karena itulah, maka ia dapat memberikan beberapa keterangan yang diperlukan oleh Agung Sedayu dan Sekar Mirah meskipun tidak tuntas.

“Tetapi yang penting,” berkata Ki Waskita, “keduanya sudah tidak akan dapat lagi berbuat sesuatu yang dapat merugikan orang lain dengan caranya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Seperti keterangan Ki Waskita yang pertama pada hari saat puncak peristiwa itu terjadi telah meyakinkan Agung Sedayu, bahwa Kiai Tali Jiwa dan Mbah Kanthil memang tidak akan dapat berbuat sesuatu berlandaskan ilmu hitamnya.

“Karena itu biarlah Sekar Mirah menjadi tenang dan tidak lagi dibayangi oleh kecemasan,” berkata Ki Waskita kemudian.

Dalam pada itu, maka Ki Waskita pun telah berkata, “Agung Sedayu, untunglah pada saat itu aku tidak mengganggumu. Aku tidak sempat berbuat sesuatu. Meskipun aku bermaksud barbuat sesuatu yang akan dapat membantumu, tetapi seandainya aku mendapat kesempatan, aku justru dapat berbuat sebaliknya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia telah mendapatkan satu pengalaman baru. Namun dengan demikian maka ia merasa semakin dekat dengan Yang Maha Pencipta. Pada saat-saat yang gawat, maka Tuhan telah menyelamatkannya, justru karena ia pasrah diri sebulatnya.

“Aku kurang mengerti Paman?“ sahut Agung Sedayu.

“Pada waktu itu, aku melihat satu isyarat, bahwa kau telah mengalami sesuatu yang dapat menyulitkan dirimu. Ketika aku datang, aku melihat kau sudah melakukan sesuatu yang benar. Menghadap dan langsung menyerahkan dirimu kepada perlindungan Yang Maha Kasih. Pada saat-saat aku akan berusaha membantumu untuk mempertegas permohonanmu, aku telah melihat sesuatu yang mendebarkan. Pada saat aku tahu apa yang terjadi, maka kemarahan yang tidak terkendali telah bergejolak di dalam hatiku. Aku telah melihat darah meleleh di antara bibirmu. Jika saat itu aku mendapat kesempatan untuk membantumu, maka akibatnya akan sebaliknya, karena aku telah menghadap Yang Maha Murah dengan kemarahan yang membakar jantung,“ berkata Ki Waskita.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya, namun akhirnya ia mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Ki Waskita. Ki Waskita merasa dirinya tidak dalam keadaan pasrah pada saat itu, tetapi ia telah didorong oleh kemarahan yang menyala di dalam dadanya, sehingga justru bukan penyerahan diri, namun dendamlah yang mendorongnya untuk menghadap.

“Tetapi tangan-Nya sendirilah yang telah mencegah,” berkata Ki Waskita kemedian, “sehingga aku tidak sempat melakukannya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya iapun mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti bahwa dengan demikian, Ki Waskita ingin menasehatkan kepadanya agar ia tidak terjerumus untuk melakukan hal yang demikian. Karena dalam keadaan yang demikian, usaha itu telah diwarnai dengan unsur yang buram. Sehingga kadar permohonannya menjadi turun.

Bahkan di dalam olah kanuragan, gurunya selalu menasehatinya agar ia tidak terbenam ke dalam arus perasaannya. Kemarahan yang tidak terkendali akan melenyapkan setiap usaha untuk berpikir jernih. Karena itu, maka kadang-kadang seorang yang terlibat dalam benturan olah kanuragan telah memancing lawannya agar menjadi sangat marah dan kehilangan kesempatan untuk mempergunakan nalar.

Dalam pada itu, maka Agung Sedayu benar-benar harus berhati-hati sepanjang ia berada di Tanah Perdikan Menoreh. Ia telah mengalami serangan wadag yang dapat diatasinya. Kemudian iapun telah mendapat serangan dengan cara yang lain yang dapat diatasinya pula, meskipun bukan oleh kekuatan dan kemampuannya sendiri, selain atas perlindungan Yang Maha Kasih.

Namun yang terjadi itu tidak merubah sikap Agung Sedayu terhadap barak pasukan khusus dan Tanah Perdikan Menoreh itu sendiri. Pada hari-hari berikutnya, Agung Sedayu dan Sekar Mirah sama sekali tidak menunjukkan bahwa satu peristiwa yang mengguncang jantung telah terjadi.

Baik Agung Serayu maupun Sekar Mirah telah bekerja keras bagi pasukan khusus yang memerlukan penanganan yang cepat. Sementara itu Tanah Perdikan Menoreh pun memerlukan perhatian mereka sebaik-baiknya.

Peristiwa yang mendebarkan itu tidak langsung disampaikan oleh Agung Sedayu kepada Ki Gede Menoreh. Agung Sedayu telah minta agar Ki Waskita sajalah yang menemui Ki Gede dan melaporkannya dengan hati-hati, tanpa memberikan arah dugaan siapa yang telah melakukannya.

Tetapi meskipun demikian, ketika Ki Gede mendengar laporan itu, ia tidak dapat mengingkari prasangka yang telah berkembang di dalam hatinya. Ki Gede pernah mendengar laporan Pandan Wangi dan Swandaru tentang sikap Prastawa. Sementara Ki Gede sendiri mengetahui dengan baik sifat-sifat dari kemanakannya itu.

Meskipun demikian, Ki Gede pun telah bertindak hati-hati. Ia tidak ingin merusak ketenangan Tanah Perdikan Menoreh dengan langkah yang tergesa-gesa.

“Tetapi hal ini perlu mendapat penanganan khusus,“ berkata Ki Gede kepada Ki Waskita.

“Agung Sedayu dan Sekar Mirah sedang berusaha untuk melupakannya Ki Gede,“ jawab Ki Waskita.

“Mungkin mereka dapat memaksakannya,“ berkata Ki Gede, “tetapi sebaiknya mereka tidak melupakan peristiwa ini, sebagai satu pengalaman. Karenanya dengan demikian keduanya akan tetap berhati-hati menghadapi masa-masa yang akan datang.”

“Ya Ki Gede,“ jawab Ki Waskita pula, “aku kira mereka memang harus mengingatnya sebagai satu pengalaman. Bukan benih dendam yang tertanam di dalam hati mereka.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun berkata, “Ya. Tidak ada gunanya kita saling mendendam. Tetapi bukan maksudku bahwa setiap kesalahan dapat berlalu tanpa usaha penyelesaian yang baik, penuh dengan keluhuran budi dan pengampunan, namun tidak meninggalkan keadilan. Lebih-lebih lagi satu usaha untuk mencegah hal yang serupa akan terulang lagi. Karena seseorang yang terpaksa dihukum dalam batas keadilan, sebenarnyalah termasuk satu usaha untuk mencegah hal yang serupa terjadi, dan memberikan jalan kepada orang yang bersalah untuk menyesali perbuatannya dan tidak akan mengulanginya lagi.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa Ki Gede sebagai seorang pemimpin atas sebuah Tanah Perdikan Menoreh yang luas, akan berdiri pada satu paugeran yang berlaku. Ia tidak dapat berbuat tanpa pegangan sekedar menuruti pertimbangan perasaannya sendiri.

Sementara itu, Prastawa benar-benar merasa terpukul oleh kegagalannya, sehingga ia telah dicengkam oleh kebingungan yang sangat.

Setiap saat ia dibayangi oleh kegelisahan. Ia merasa seolah-olah Agung Sedayu selalu mencari kesempatan untuk membalas dendam. Sehingga karena itu, maka iapun telah berusaha untuk menghindarkan dirinya.

Kadang-kadang timbul niatnya untuk menemukan Kiai Tali Jiwa dan menuntut pertanggungan jawab. Tetapi iapun ragu-ragu apakah Kiai Tali Jiwa dan Mbah Kanthil akan dapat diketemukannya di Sumawana.

Karena itu, maka Prastawa pun selalu menghindar dari pikiran untuk menyusul kedua orang itu ke tempat asal Kiai Tali Jiwa.

Namun Prastawa merasa heran, bahwa ketika ia di luar kehendaknya telah bertemu dengan Agung Sedayu di halaman rumah Ki Gede, setelah Agung Sedayu menemui Ki Waskita, ternyata sikap Agung Sedayu terhadapnya tidak berubah. Agung Sedayu masih tetap menyapanya tanpa menunjukkan sikap yang memusuhinya. Bahkan rasa-rasanya tidak ada persoalan sama sekali di antara Agung Sedayu dengan dirinya.

“Apakah Agung Sedayu tidak mengetahui bahwa Kiai Tali Jiwa telah menenungnya, justru karena usaha Kiai Tali Jiwa tidak berhasil?” pertanyaan itu telah bergejolak di hatinya. Namun dalam pada itu, Prastawa bertanya pula kepada dirinya, “Lalu apa yang dilakukan oleh Ki Waskita di dini hari, pada hari yang dijanjikan oleh Kiai Tali Jiwa?”

Pertanyaan-pertanyaan itu telah membuat Prastawa semakin gelisah. Tetapi sikap Agung Sedayu yang tidak berubah dari hari-hari sebelumnya membuatnya agak lebih tenang.

“Mudah-mudahan ia tidak mengetahuinya,” berkata Prastawa di dalam hatinya, “mudah-mudahan demikian kebalnya Agung Sedayu, sehingga yang terjadi itu sama sekali tidak menggetarkan sehelai rambutnya. Sehingga dengan demikian, maka ia tidak akan mendendam dan pada suatu saat akan membalas dengan caranya.”

Dalam keragu-raguan, maka Prastawa di kesempatan lain telah berusaha untuk bertemu dengan Agung Sedayu di regol halaman rumah Ki Gede. Ternyata seperti yang pernah terjadi, Agung Sedayu sama sekali tidak menunjukkan sikap yang dapat menumbuhkan kecemasan di hatinya. Sehingga karena itu, maka Prastawa condong untuk menganggap bahwa Agung Sedayu yang luput dari usaha Kiai Tali Jiwa untuk mencelakainya itu justru sama sekali tidak mengetahuinya.

“Kiai Tali Jiwa dan Mbah Kanthil itulah agaknya penipu yang licik. Mereka telah menipuku. Sebagian upah mereka telah dimintanya, ternyata mereka tidak berbuat apa-apa selain meletakan jambangan berisi reramuan itu di bilik rumah yang hampir roboh itu,” Prastawa bergumam di dalam hatinya. Namun dengan demikian, hatinya justru menjadi sedikit tenang. Apalagi ketika beberapa kali terjadi saat-saat ia bertemu dengan Agung Sedayu atau Sekar Mirah, atau keduanya, sikap mereka sama sekali tidak berubah.

 

 

Sementara itu. Agung Sedayu dan Sekar Mirah telah tenggelam kembali di dalam kerja keras di barak pasukan khusus itu dan di Tanah Perdikan. Glagah Putih telah berusaha membantu mereka, terutama kerja bagi Tanah Perdikan Menoreh. Dengan bekal kemampuannya, maka ia cepat mendapat tempat di antara anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh. Mereka yang kecewa karena waktu Agung Sedayu yang menjadi sempit, telah terisi oleh Glagah Putih, meskipun kedewasaan Glagah Putih masih belum semasak Agung Sedayu. Tetapi justru karena itu, maka ia telah menjadi kawan yang akrab bagi anak-anak muda. Apalagi sebagaimana anak-anak muda yang lain, maka Glagah Putih masih juga memiliki kegemaran seperti mereka. Membuat rumpon di sungai. Membuka pliridan di malam hari. Tetapi kadang-kadang masih juga dihinggapi kenakalan anak-anak muda, yang kadang-kadang mengambil jambu dersana di malam hari sebelum minta ijin pemiliknya, disaat-saat ia meronda, dan lari bersembunyi jika pemiliknya menjadi marah-marah.”

Tetapi para pemilik pohon buah-buahan itu tidak benar-benar menjadi marah, sehingga jika matahari terbit di pagi harinya, mereka sudah melupakannya.

Dengan demikian, maka kehidupan Tanah Perdikan Menoreh kian hari menjadi kian cerah. Meskipun kesejahteraan rakyatnya masih belum mencapai tingkatan Kademangan Sangkal Putung, namun semakin lama telah menjadi semakin mendekati. Bahkan ketrampilan anak-anak mudanyapun agaknya telah cukup membanggakan. Bukan saja dalam olah kanuragan. Tetapi juga dalam kerja di sawah dan ladang. Sebagai pande besi, gembluk undagi dan bahkan dalam pembuatan senjata.

Karena itu, maka Tanah Perdikan Menoreh telah merupakan satu daerah yang dapat mencukupi segala kebutuhannya sendiri, meskipun arus perdagangan dengan daerah di sekitarnya tidak terhenti, dan justru menjadi semakin rancak.

Namun dalam pada itu, dalam keadaan yang semakin baik bagi Tanah Perdikan Menoreh, maka suasana di Pajang rasa-rasanya menjadi semakin keruh. Usaha untuk menumbuhkan persoalan dengan Mataram berjalan semakin tajam. Bahkan rasa-rasanya Pajang telah menjadi semakin masak untuk meledak.

Perkembangan terakhir itu telah sampai pula ke telinga para pemimpin pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan telah jatuh perintah, bahwa pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh harus siaga sehari semalam penuh. Setiap saat pasukan itu dapat ditarik ke Mataram, atau ke tempat-tempat lain yang memerlukan.

Dalam keadan yang demikian, maka Agung Sedayu menjadi gelisah. Ia belum tahu pasti sikap kakaknya, Untara. Apakah kakaknya akan tetap pada pendiriannya sebagai prajurit Pajang, atau ia akan menentukan sikap sendiri. Menilik sikapnya disaat-saat terakhir, setelah ia menyadari kegiatan yang dilakukan oleh Tumenggung Prabadaru, maka agaknya Untara condong untuk menentukan langkahnya sendiri.

Ternyata Untara memang tidak tinggal diam. Ia sadar, bahwa ia tidak akan mendapat kesempatan, seandainya ia mohon kepada para pemimpin di Pajang untuk langsung menghadap Kanjeng Sultan. Tetapi rasa-rasanya Untara tidak dapat mencegah keinginannya untuk melakukannya.

Ia memang telah mencoba untuk memohon menghadap Kanjeng Sultan, namun permohonan itu memang telah ditolak.

Untara pun tahu, bahwa sudah tentu bukan Kanjeng Sultan sendiri yang menolaknya. Bahkan permohonannya untuk menghadap itu tentu tidak akan disampaikan kepada Sultan yang seolah-olah telah mengurung diri di dalam biliknya. Kesehatannya yang semakin lama menjadi semakin mundur itu telah semakin memisahkannya dengan perkembangan pendapat orang-orang Pajang yang bersimpang siur.

Namun Untara tidak berputus asa. Ia sadar sepenuhnya, bahwa di Pajang terdapat orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi iapun sadar, bahwa rencananya tentu tidak akan diduga akan dilakukan oleh seorang Senapati Pajang yang bertugas di luar Pajang.

Dengan cermat Untara selalu berhubungan dengan beberapa orang kepercayaannya di Pajang. Dengan hati-hati Untara menentukan langkahnya. Ia sadar, bahwa rencananya itu mengandung ancaman terhadap jiwanya. Tetapi sebagai seorang prajurit ia tidak dapat ditakut-takuti oleh kemungkinan yang paling buruk terhadap hidupnya.

Karena itulah, ketika saatnya tiba, Untara telah meninggalkan Jati Anom. Hanya satu dua orang sajalah di antara para perwira mengetahui, apa yang akan dilakukannya. Bahkan perwira-perwira itu telah berusaha untuk mencegah agar Untara tidak melakukan rencananya yang sangat berbahaya itu. Tetapi Untara telah menolaknya.

Namun dalam pada itu, beberapa orang kawannya yang dapat dipercaya di Pajang telah berusaha membantunya. Sesuai dengan tugas dan kewajiban mereka di istana, maka mereka telah memberikan jalan kepada Untara melalui saluran yang tidak sewajarnya.

Ketika malam menjadi semakin kelam, maka sesosok tubuh telah merayap mendekati dinding istana. Dalam kegelapan orang itu mengamati isyarat yang tertera pada dinding istana itu. Sebuah guratan gamping bersilang. Tidak begitu besar, tetapi cukup jelas bagi orang itu.

“Di sini aku harus memanjat,” berkata orang itu kepada diri sendiri.

Sesaat kemudian, tubuh itu bagaikan melayang meloncat ke atas dinding. Ketika tubuh itu kemudian meluncur di bagian dalam dinding, maka seakan-akan sama sekali tidak menimbulkan bunyi apapun juga.

Sejenak orang itu berdiri tegang melekat di dinding. Ketika ternyata tidak ada seorangpun yang ada di sekitar tempat itu, ia mulai mengamati lagi isyarat-isyarat yang tertera dengan goresan cairan gamping. Isyarat yang tidak banyak menarik perhatian, tetapi sangat penting artinya bagi orang yang telah memasuki halaman istana itu.

Dari coretan cairan kapur itu, orang itu seolah-olah mendapat petunjuk, kemana ia harus pergi. Ia sudah bersepakat untuk memberikan arti kepada garis-garis yang mendatar, tegak dan bersilang. Iapun mengerti apa yang harus dilakukan jika ia melihat lingkaran-lingkaran kecil disebelah garis-garis tertentu.

Dari isyarat-isyarat itu. maka orang itu dapat mengerti dimana para peronda di halaman istana itu berjaga-jaga, dan daerah manakah yang sering dilalui para peronda jika mereka berkeliling mengamati halaman.

Dengan demikian, maka orang itu dapat menempatkan dirinya di sela-sela daerah pengawasan para prajurit peronda di istana.

Jalan yang paling berbahaya itu ternyata telah ditempuh oleh Untara untuk memastikan langkahnya. Ia bertekad untuk menghadap Sultan di bilik pembaringannya.

“Dua orang prujurit Jipang pada masa pemerintahan Adipati Arya Penangsang dapat memasuki bilik tidur Adipati Pajang. Bahkan tanpa bantuan siapapun juga. Apalagi dengan isyarat-isyarat itu,” berkata Untara di dalam hatinya.

Iapun sadar, bahwa jika perlu ia harus melakukan kekerasan. Tetapi ia sudah memperhitungkannya. Bahkan sampai akibat yang paling parah sekalipun.

Dengan hati-hati ia melintasi pepohonan yang rimbun di kebun istana. Kemudian begeser di dalam gelap di antara gardu-gardu di bagian belakang. Dengan demikian, maka iapun berhasil mendekati pintu butulan istana lewat longkangan. Ia akan sampai ke sebuah lorong sempit menuju ke pintu samping untuk memasuki ruang dalam.

Untara sudah mendapat beberapa petunjuk penting dari kawan-kawannya yang berada di lingkungan istana. Itulah sebabnya, maka iapun dapat mendekati sasaran dengan cepat.

Tetapi sekali-sekali Untara harus berlindung di balik rimbunnya dedaunan jika dua orang prajurit peronda nganglang di halaman. Bukan saja para prajurit, tetapi sekali-sekali juga seorang perwira. Bukan saja mengamati keselamatan isi istana, tetapi juga mengamati apakah Sultan berhubungan dengan orang yang tidak dikehendaki.

Untara malam itu berhasil mendekati pintu bilik Kanjeng Sultan. Dari kawannya ia sudah mendapat peringatan, bahwa ada dua orang prajurit yang berada di ruang dalam. Dua orang prajurit yang berjaga-jaga sambil duduk di sebelah sebuah ploncon tumbak. Namun Untara pun tahu, bahwa seorang di antara kedua prajurit itu adalah kawannya yang dapat dipercaya.

Dengan hati-hati Untara memberikan isyarat ketika ia sudah berada di tempat yang ditentukan. Dari isyarat itu, kawannyapun mengetahui bahwa Untara sudah berada di tempat dan siap melakukan rencananya di dalam istana itu.

Pada saat yang demikian itulah, maka kawannya telah memasukkan serbuk kecubung ke dalam mangkuk. Bukan saja mangkuk kawannya tanpa diketahui, tetapi juga di mangkuknya sendiri.

Sambil berkelakar perlahan-lahan dan menahan tawa untuk menahan kantuk, keduanya sekali-sekali meneguk minuman yang disediakan bagi mereka.

Tetapi ternyata minuman yang mengandung serbuk kecubung itu sudah membuat keduanya menjadi mabuk dan tertidur di luar kehendak mereka.

Pada saat yang demikianlah Untara telah memasuki ruang dalam, dan langsung membuka pintu bilik Kanjeng Sultan.

Kehadiran Untara sangat mengejutkan Sultan yang belum tertidur, seorang diri berada di dalam biliknya. Meskipun dalam keadaan sakit, namun Sultan itu masih juga tangkas bergerak. Tetapi ketika ia meloncat turun dari pembaringannya, maka Untara sudah duduk bersila dengan kepala tunduk.

Sejenak Kanjeng Sultan memandangi seorang dalam pakaian keprajuritan yang duduk sambil menunduk di dalam biliknya. Namun dalam pada itu Kanjeng Sultan Pajang itupun segera mengenalinya.

Karena itu. maka sejenak kemudian Kanjeng Sultan itupun berkata, “Kau, Untara?”

“Ampun Tuanku,” sembah Untara, “hamba datang tidak dengan cara yang sewajarnya.”

Kanjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Sambil duduk di bibir pembaringannya iapun bertanya, “Apakah kau mempunyai suatu kepentingan yang mendesak, sehingga kau datang bukan pada waktunya dan tidak dengan cara yang seharusnya.”

Sambil menyembah Untara pun berkata, “Sebenarnyalah hamba didesak oleh satu keinginan untuk menghadap Tuanku. Tetapi hamba tidak dapat menempuh jalan yang sewajarnya, karena permohonan hamba untuk menghadap tidak pernah dikabulkan.”

Kanjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku belum pernah mendengar permohonanmu.”

“Hamba Tuanku. Hamba sadar, bahwa permohonan hamba tidak akan pernah sampai kepada Tuanku. Karena itu, hamba telah menempuh cara ini. Cara yang barangkali tidak Tuanku kehedaki,” jawab Untara.

Kanjeng Sultan menganguk-angguk. Katanya, “Kau memang seorang yang luar biasa. Kau mampu menembus pengamatan para peronda dan dua orang perwira yang berjaga-jaga di luar. Tetapi berbeda dengan kedatangan dua orang utusan Arya Penangsang pada waktu itu, yang mempergunakan ilmu sirep, sehingga justru kedatangannya telah dapat aku perhitungkan sebelumnya, karena sirepnya itulah yang justru memberitahukan kepadaku. Karena itu, aku sempat mempergunakan ilmu untuk memberikan perisai pada diriku, sehingga usahanya untuk membunuhku telah gagal. Sementara itu, aku memang memerintahkan para penjaga agar mereka berpura-pura tidak melihatnya dan membiarkannya memasuki bilik tidurku.“ Kanjeng Sultan berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kau sama sekali tidak aku ketahui, bahwa kau akan memasuki bilikku. Dan akupun tidak mengerti, bagaimana kau memasuki bilik ini tanpa diketahui oleh kedua orang perwira yang berjaga-jaga di luar dan mengamati pintu bilik ini.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian menyembah sambil menceritakan bagaimana ia dapat memasuki bilik Kanjeng Sultan. Terhadap Kanjeng Sultan, Untara sama sekali tidak menyembunyikan sesuatu.

Kanjeng Sultan mengangguk-angguk. Sambil memandangi Untara yang duduk dengan kepala menunduk, Kangjeng Sultan berkata, “Tekadmu besar sekali. Aku tahu, bahwa di istana itu banyak perwira yang memiliki ilmu melampaui ilmumu. Tetapi kau dengan tekad yang bulat tanpa mengenal takut dengan akibat yang dapat menjerat dirimu, kau berusaha memasuki bilikku, karena kau sudah tidak mempunyai harapan untuk dapat menghadapku dengan cara yang wajar.”

Kanjeng Sultan berhenti sejenak. Baru kemudian ia bertanya, “Apa sebenarnya maksudmu menghadapku?”

Untara beringsut sejengkal. Kemudian katanya, “Tuanku. Hamba merasakan betapa panasnya udara Pajang sekarang ini. Namun dalam pada itu, hamba juga merasakan, jalur pemerintahan di Pajang ini rasa-rasanya tidak lagi berjalan sewajarnya. Hamba tidak lagi tahu, perintah yang manakah yang harus hamba laksanakan sebagai seorang prajurit, dan yang manakah yang sebenarnya ingin menyesatkan hamba, sehingga hamba akan menjadi alat yang mati bagi kepentingan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Sementara itu, hamba berhadapan dengan perkembangan Mataram yang pesat, yang menurut pendengaran hamba, ternyata bahwa Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga, putra angkat Tuanku itu, tidak bersedia menghadap meskipun Tuanku sudah memanggilnya. Apakah dengan demikian dapat diartikan, bahwa pada saatnya Mataram akan memberontak terhadap kekuasaan Pajang?”

Kanjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Untara bukanlah Senapati tinggi di Pajang, yang berhak untuk berbicara langsung dengan Kanjeng Sultan menyangkut kebijaksanaan yang ditempuh oleh para pemimpin di Pajang. Namun dalam keadaan yang rumit dan tidak menentu, Untara telah mengambil jalan sendiri untuk menemuinya dan berbicara tentang kemelut yang terjadi.

Meskipun jalan yang ditempuh oleh Untara itu bukan yang seharusnya dilakukan, tetapi Kanjeng Sultan sama sekali tidak menjadi marah. Bahkan di luar dugaan Untara, Kangjeng Sultan itu berkata, “Untara, adalah kebetulan sekali bahwa kau telah mengambil jalan sendiri di dalam putaran keadaan sekarang ini.”

Untara tidak menjawab. Sementara itu Kanjeng Sultan melanjutkan, “Selama ini aku tidak pernah berprasangka buruk terhadap niat Sutawijaya. Justru ketajaman penglihatannyalah yang memaksanya untuk tidak lagi menginjakkan kakinya di paseban, meskipun mula-mula sikapnya itu terdorong oleh gejolak perasaannya semata-mata. Sementara akupun tidak dapat menyalahkan tingkah laku Benawa yang seolah-olah tidak lagi memiliki perhatian terhadap kelangsungan pemerintahan di Pajang.”

Untara mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Ampun Tuanku. Jadi, apakah yang harus hamba lakukan sebagai seorang prajurit Pajang. Sementara itu hamba tidak lagi mengetahui, apakah pemimpin-pemimpin hamba masih juga berpegang kepada paugeran keprajuritan.”

Kanjeng Sultan terdiam sejenak. Namun kemudian katanya, “Sutawijaya memang akan mendirikan satu pemerintahan tersendiri. Itu memang satu pemberontakan.” Kangjeng Sultan berhenti sejenak, lalu tiba-tiba katanya dengan nada keras, “Aku sendiri akan memimpin prajurit Pajang untuk menghadapinya.”

Sekali lagi Untara terkejut, bahkan menjadi bingung. Sejenak ia termangu-mangu. Ia tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya dimaksud oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang itu.

Kanjeng Sultan sendiri untuk beberapa saat juga terdiam. Seakan-akan ia baru menyadari, bahwa kata-katanya itu memerlukan perenungan yang panjang.

Namun sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Untara. Kau adalah seorang prajurit yang sudah mempunyai pengalaman yang luas. Pengalaman badani dan pengalaman jiwani dalam tugasmu. Karena itu kau tentu sudah dapat menimbang, dan selalu menimbang, mana yang baik dan mana yang kurang baik, dalam perkembangan Pajang sekarang ini.”

“Sesungguhnya hamba tidak mengerti Tuanku,“ sahut Untara yang memang dalam kebingungan.

“Aku tidak dapat menutup mata tentang kenyataan yang terjadi di Pajang. Dan akupun tidak dapat mengabaikan hari depan Pajang yang pernah aku angan-angankan pada saat aku mulai memegang kekuasaan, namun yang sampai saat ini masih belum dapat aku jangkau.”

Kanjeng Sultan berhenti sejenak. Lalu, “Untara. Bagiku tidak ada orang lain yang akan dapat meneruskan cita-citaku untuk mencapai hari esok yang lebih baik, selain Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga.”

“Jadi menurut Kanjeng Sultan, apa yang harus hamba lakukan?” bertanya Untara.

“Terserah kepadamu. Tetapi sekali lagi aku katakan, aku berharap bahwa Sutawijaya akan berhasil,“ gumam Kanjeng Sultan. Namun kemudian, “Meskipun demikian, aku akan hadir di medan peperangan yang akan pecah antara Pajang dan Mataram. Namun sekali lagi aku tegaskan, Sutawijaya harus bangkit untuk memegang kekuasaan, dengan kewajiban menyelamatkan Pajang dan segala cita-cita yang pernah aku letakkan, serta menyusun satu pemerintahan yang tenang dan mengatasi segala kemelut yang terjadi sekarang ini.”

Untara termangu-mangu. ia tidak segera menangkap maksud Kanjeng Sultan yang seolah-olah mengandung pengertian yang saling bertentangan. Tetapi ia tidak sempat mendapat penjelasan lebih lanjut, karena Kanjeng Sultan itupun berkata, “Sudahlah Untara. Kau dapat meninggalkan aku sekarang, sebelum orang-orang lain mengetahui bahwa kau telah berada di dalam bilikku. Bekerjalah sebaik-baiknya. Aku sudah memberikan beberapa bahan kepadamu. Aku tidak berkeberatan jika yang aku katakan itu kau sampaikan kepada Sutawijaya. Dengan demikian, ia akan lebih mantap untuk bertindak. Sebenarnyalah, di pundaknya terletak kewajiban yang maha berat. Membangun hari esok, dengan menyusun satu negara yang gemah ripah kerta raharja, di atas tanah yang loh jinawi.”

 

 

Untara menyembah sambil mengangguk hormat. Kemudian iapun memohon diri dengan nada dalam, “Ampun, Tuanku. Meskipun belum jelas, tetapi hamba dapat menangkap serba sedikit maksud Tuanku. Hamba akan dapat merenunginya dan kemudian mengambil satu sikap yang paling baik bagi hamba dan linkungan hamba di Jati Anom.”

“Baiklah, Untara. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku sudah tidak dapat berbuat terlalu banyak. Tubuhku menjadi semakin lemah. Salamku bagi Sutawijaya, sementara aku akan mengatakan hal yang sama kepada Benawa kapan saja ia menghadap. Tetapi aku yakin, Benawa tidak akan mempunyai keberatan apapun juga. Justru karena ia tidak lagi mau berpikir.”

Untara tidak menjawab. Sementara itu Kanjeng Sultan berkata selanjutnya, “Aku dapat mengerti sikap Benawa. Ia kecewa dan menganggap aku bukan sebagai seorang ayah yang baik. Dan ia tidak dapat membedakan sikapnya kepadaku sebagai ayah dan kepadaku sebagai seorang Raja yang memerintah Pajang.”

Untara masih saja menunduk. Namun akhirnya ia beringsut ketika Kangjeng Sultan berkata, “Pergilah.”

Sekali lagi Untara menyembah. Kemudian iapun bergeser surut.

“Hati-hatilah,“ pesan Kanjeng Sultan.

“Hamba Tuanku. Hamba mohon restu agar hamba dapat berbuat tepat sebagaimana Tuanku kehendaki,“ jawab Untara.

Sejenak kemudian, Untara itupun telah berada di luar bilik. Ia masih melihat dua orang perwira yang berjaga-jaga itu tertidur nyenyak karena serbuk kecubung.

Melalui jalan yang sudah diisyaratkan, Untara dengan sangat berhati-hati meninggalkan Istana Pajang. Ia berhasil meloncati dinding luar Istana Pajang, maka iapun menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian iapun ia telah hilang di dalam kegelapan.

Demikianlah, sambil merenungi setiap kata Kanjeng Sultan, Untara langsung meninggalkan Pajang di malam itu juga. Meskipun ia sadar, bahwa bahaya mungkin sekali akan dijumpainya di perjalanan. Tetapi ia memacu kudanya dalam dinginnya angin malam yang basah.

Namun ternyata bahwa Untara berhasil mendekati Jati Anom tanpa hambatan suatu apa.

Sementara itu, ketika dua orang perwira bermaksud menggantikan dua orang kawannya yang bertugas di depan pintu bilik Kanjeng Sultan memasuki ruang dalam, maka merekapun terkejut. Dua orang kawannya masih belum menyadari apa yang terjadi. Mereka masih terbaring diam.

Dua orang perwira yang akan menggantikannya itu pun telah berusaha membangunkan mereka. Sambil mengguncang-guncang keduanya, mereka memanggil nama orang yang tertidur itu.

Tetapi yang terjadi telah membuat kedua perwira yang akan menggantikannya itu kebingungan. Seorang di antara kedua orang yang tertidur itu justru telah mengigau. Disebutnya beberapa angka bilangan. Satu, dua, tiga, sembilan, seratus, dan bilangan-bilangan yang tidak menentu.

“Kenapa?” bertanya salah seorang di antara kedua orang perwira yang akan mengganti keduanya.

Namun tiba-tiba mereka teringat Kanjeng Sultan yang berada di dalam biliknya. Dengan tegang mereka memandangi bilik yang masih tertutup itu. Namun seorang di antara keduanya berkata, “Apakah terjadi sesuatu dengan Kanjeng Sultan?”

Kawannyapun menegang. Dengan nada gelisah ia berkata, “Kita akan melihatnya. Kita akan mengetuk pintu dan mohon perkenan Kanjeng Sultan untuk bertanya tentang diri Kanjeng Sultan itu.”

Kawannya ragu-ragu. Namun akhirnya iapun mengangguk sambil berkata, “Baiklah. Semoga Kanjeng Sultan tidak menjadi murka.”

“Untuk kepentingan Kanjeng Sultan sendiri,” jawab yang lain.

Keduanyapun kemudian dengan kebimbangan di hati mendekati pintu yang masih tertutup. Dengan hati-hati salah seorang di antara merekapun telah mengetuk pintu bilik itu.

“Siapa?” terdengar pertanyaan dari dalam.

Kedua orang perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Suara itu adalah suara Kanjeng Sultan sendiri, sehingga dengan demikian, maka Kanjeng Sultan itu tentu masih selamat.

Dalam pada itu salah seorang di antara kedua perwira itu menjawab, “Hamba Tuanku, hamba peronda di ruang dalam.”

“Masuklah,” jawab Kanjeng Sultan.

Kedua perwira itu masih saja ragu-ragu. Namun kemudian salah seorang di antara mereka telah mendorong pintu, sehingga pintu itu terbuka.

Kanjeng Sultan duduk di bibir pembaringannya. Dengan nada kesal Kanjeng Sultan itu berkata, “Aku tidak dapat tidur malam ini. Udara terasa panas sekali.“ Kangjeng Sultan itu berhenti sejenak. Dipandanginya dua orang perwira yang duduk sambil menunduk di hadapannya.

“Kenapa kalian mohon menghadap di malam begini?“ bertanya Kanjeng Sultan.

“Ampun Tuanku,” jawab salah seorang dari keduanya, “sebenarnyalah hamba menjadi cemas. Dua orang yang sedang berjaga-jaga di ruang dalam, di hadapan bilik ini, telah menjadi mabuk. Hamba kurang tahu, apakah yang telah menyebabkannya.“

Wajah Kanjeng Sultan menjadi tegang, “Apakah mereka minum tuak?”

“Hamba tidak mencium bau tuak, Tuanku. Justru karena itu hamba menjadi cemas, sehingga hamba memberanikan diri untuk mengetuk pintu bilik Tuanku. Tetapi bukankah tidak terjadi sesuatu atas Tuanku?“ bertanya salah seorang darí kedua perwira itu.

“Tidak. Tidak terjadi sesuatu atasku. Aku tidak apa-apa dan aku memang belum tidur, sehingga jika terjadi sesuatu atasku, tentu aku mengetahuinya. Bagaimanapun juga, meskipun aku sakit-sakitan, tetapi aku masih mampu mempertahankan diri,” jawab Kanjeng Sultan.

“Jika demikian Tuanku,“ berkata satu di antara kedua perwira itu, “perkenankanlah hamba berdua mohon diri untuk menggantikan tugas kawan hamba di luar.”

“Lakukanlah. Hati-hatilah. Bukan mustahil bahwa ada sesuatu telah atau akan terjadi,“ berkata Kanjeng Sultan Hadiwijaya.

Kedua orang perwira itupun kemudian mengundurkan diri. Seorang di antara merekapun kemudian menunggui dua kawannya yang masih belum sadarkan diri sepenuhnya, sementara yang seorang lagi telah melaporkan apa yang telah terjadi kepada perwira yang malam itu bertugas bertanggung jawab atas pengamanan seisi istana.

Laporan itu memang mengejutkan. Beberapa orangpun kemudian telah mengerumuninya dan kemudian membawa kedua orang itu ke gardu para prajurit yang bertugas malam itu.

Seorang yang memiliki pengetahuan tentang pengobatan telah dipanggil untuk mengobati dua orang yang sedang mabuk itu.

“Bukan mabuk tuak,“ berkata orang itu. Sementara itu para perwirapun bergeremang, “Kami memang tidak mencium bau tuak.”

Sejenak orang yang sedang berusaha untuk mengobatinya itupun telah mengamati semangkuk sisa minuman kedua orang perwira itu. Dengan kerut di dahi dukun itu berkata, “Mereka agaknya telah mabuk kecubung.”

“Kecubung?“ bertanya pemimpin prajurit yang bertugas malam itu.

“Ya. Di dalam minuman mereka terdapat bau serbuk kecubung,“ jawab dukun itu.

“Dari manakah datangnya serbuk kecubung itu?“ bertanya pemimpin prajurit itu.

Dukun itupun menggeleng. Jawabnya, “Bukan tugasku untuk mencarinya. Tentu tugas kalian, para prajurit.”

Pemimpin petugas malam itu dan para perwira menjadi heran. Kedua petugas di ruang dalam itu telah mabuk kecubung, sehingga untuk waktu yang lama mereka tidak akan sadarkan diri.

Sementara itu dukun yang memang bertugas di lingkungan keprajuritan itupun segera mengusahakan obat agar keduanya menjadi lebih cepat menyadari keadaannya. Mungkin keduanya dapat menjawab beberapa pertanyaan yang akan dapat membantu para perwira untuk memecahkan teka-teki itu.

“Tetapi tidak terjadi sesuatu dengan Kanjeng Sultan,” berkata salah seorang perwira yang memasuki bilik Kanjeng Sultan sementara kawannya berada di ruang dalam.

“Baiklah,“ berkata pemimipin prajurit itu kepada perwira yang harus bertugas di ruang dalam, “pergilah ke tempat tugasmu. Kawanmu tentu sudah menunggu. Besok aku akan mengusut apa yang sebenarnya telah terjadi.”

Perwira yang seorang itupun kemudian memasuki ruang dalam. Kawannya yang berada di ruang dalam nampaknya menjadi sangat berhati-hati. Tombaknya tidak diletakkannya di dalam ploncon seperti biasanya, tetapi ia sudah menyandarkan tombaknya di dinding, di sisinya.

“Apa kata dukun itu?” bertanya perwira yang tetap berada di ruang dalam itu.

“Keduanya mabuk kecubung,“ jawab kawannya.

“Aneh,” desis yang seorang.

“Itulah yang perlu mendapat perhatian,” berkata kawannya, “dari mana serbuk kecubung itu datang. Tentu ada kecurangan telah terjadi. Tetapi dari siapa, untuk kepentingan apa? Untunglah Kanjeng Sultan tidak mengalami sesuatu.”

“Sebenarnya kita tidak usah mencemaskan Kanjeng Sultan,“ berkata yang lain, “pada saat dua orang pesuruh Arya Penangsang sempat memasuki biliknya dan menusuknya dengan pusaka Jipang, maka selimutnyapun tidak dapat tembus. Bahkan ketika Kanjeng Sultan itu menyingkapkan selimutnya, maka pesuruh Arya Penangsang itu menjadi pingsan.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menjawab, “Itu terjadi pada saat lampau yang panjang. Tetapi keadaan Kanjeng Sultan telah jauh berbeda. Apalagi dalam keadaan sakit.”

“Mungkin Kanjeng Sultan sudah tidak lagi memiliki kemampuan masa mudanya. Tetapi ilmu pelindungnya tentu masih akan mampu bekerja dengan baik.”

Yang lain tidak menjawab lagi. Tetapi ia mulai merenungi seluruh ruangan. Mungkin ada sesuatu pertanda yang dapat dipergunakannya untuk memecahkan teka-teki yang aneh.

Sementara itu, di gardu para petugas di malam itu, para perwira memang sedang sibuk membicarakan persoalan yang baru saja terjadi. Dengan tegang mereka menunggu kedua perwira yang mulai bernafas dengan teratur, sehingga akhirnya mereka benar-benar seperti orang yang tertidur.

“Jangan membuat keduanya terkejut. Jika mereka terkejut, maka mereka akan menjadi seperti orang bingung. Aku harus bekerja keras lagi untuk membuat mereka sadar,” berkata dukun yang mengobati dua orang perwira yang mabuk kecubung. Lalu katanya, “Tetapi jika mereka sempat tidur dengan nyenyak, maka sebentar lagi ia akan bangun dalam keadaan yang wajar.”

“Tetapi sampai kapan mereka akan bangun,“ bertanya pemimpin prajurit yang bertugas.

“Tidak sampai dini hari,” jawab dukun itu.

“Jangan terlalu lama,“ desis pemimpin prajurit itu, “aku memerlukan keterangan mereka segera.”

“Jika kau mencoba membangunkannya, maka mungkin baru esok tengah hari keduanya dapat diajak berbicara,“ berkata dukun itu.

Pemimpin prajurit itu menggeram. Ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi, karena ia dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak dapat diatasinya. Sehingga dengan demikian, maka mereka hanya dapat menunggui kedua orang perwira yang tidur nyenyak.

“Kau jangan pergi,“ geram pemimpin prajurit.

“Siapa yang akan pergi?“ dukun itu bertanya. “Seandainya aku akan pergi, tidak ada orang yang dapat melarang. Tetapi aku harus mempertanggung-jawabkan kedua orang yang tidur itu. Dan itu adalah kewajibanku. Aku tahu apa yang harus aku kerjakan, tanpa perintah orang lain.”

Pemimpin prajurit itu mengumpat perlahan. Tetapi ia berusaha untuk menahan hati. Meskipun ia sudah mengenal dukun itu sejak lama dan mengenal tabiatnya, namun kadang-kadang darahnya serasa bergejolak pula di dalam tubuhnya.

Namun dalam pada itu, para prajurit itu memang hanya dapat menunggu. Dua orang perwira yang menggantikan kedua orang yang mabuk itu berusaha untuk benar-benar dapat mengamati keadaan. Mereka tidak mau terjadi lagi seperti baru saja terjadi atas dua orang perwira yang bertugas sebelumnya. Setiap lubang yang ada di ruang itu diperhatikan dengan saksama. Bahkan mereka berdua telah menolak minuman panas yang disediakan baginya. Bahkan, ternyata bahwa bukan saja kedua orang perwira yang bertugas itu yang mencurigai orang-orang di patehan yang membuat minuman bagi mereka, tetapi dua orang yang bertanggung jawab telah dipanggll untuk diminta keterangannya.

Tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa ada kesengajan untuk membubuhkan serbuk kecubung di dalam minuman. Bahkan kedua orang itu dapat memberikan bagian dari minuman yang dibuatnya untuk para tamu.

“Jangan terlalu dungu!“ bentak pemimpin prajurit itu, “Kau dapat memberikan serbuk itu di dalam mangkuk, sehingga hanya mereka yang mempergunakan mangkuk itu sajalah yang terkena.”

“Tetapi kenapa baru larut malam,“ jawab salah seorang dari mereka yang bertanggung jawab di patehan itu. “Jika kami membubuhkan pada mangkuk para perwira itu, tentu sejak sore mereka sudah tidak sadarkan diri.”

“Mungkin memang sejak sore,” berkata pemimpin prajurit.

“Kami dapat menunjuk saksi, bahwa dua orang perwira yang lain berada di ruang itu pula di ujung malam. Bahkan ketika kami memberikan minuman panas, kedua perwira itu masih berada di ruang dalam. Mereka berbincang sebentar sebelum dua orang perwira yang lain meninggalkan tugas mereka. Tetapi dalam pergantian itu mereka sempat berbincang sambil minum,” berkata salah seorang dari kedua orang yang dimintai keterangan itu. “Setelah itu, kami tidak lagi mendekati mereka.”

“Pergilah,“ geram pemimpin prajurit itu, “tetapi setiap saat kalian berdua dapat kami panggil lagi untuk memberikan keterangan-keterangan yang kami perlukan.”

Kedua orang itupun meninggalkan gardu penjagaan dengan hati yang berdebar-debar. Mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang peristiwa yang terjadi. Tetapi mereka harus mengalami kesulitan jika para prajurit itu benar-benar mencurigai.

“Untunglah,“ berkata yang seorang, “kita mempunyai saksi. Tetapi aku tidak yakin, bahwa kedua orang perwira itu benar-benar akan dapat membersihkan diri kita.”

“Ya,“ jawab yang lain, “mungkin saja mareka menganggap bahwa kita telah membuat satu permainan yang dapat berakibat seperti yang telah terjadi. Tetapi mudah-mudahan mereka segera menemukan jejak. Tentu ada orang-orang yang telah melakukannya dengan cermat sekali sehingga tidak mudah untuk diketahui.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi wajahnya benar-benar menjadi murung. Jika ia terlibat dalam persoalan yang tidak diketahuinya, maka keluarganyapun akan mengalami kesulitan. Ia adalah satu-satunya orang yang bekerja untuk makan dan minum anak mereka. Jika ia terpaksa berhenti bekerja dengan alasan apapun juga, maka anak-anak dan istrinya akan menjadi sangat terlantar.

Dalam pada itu, Untara telah menjadi semakin dekat dengan Jati Anom. Kudanya berpacu cepat sekali di malam yang gelap. Tetapi Untara cukup menguasai jalan yang dilaluinya dan menguasai kudanya.

Namun Untara menjadi berdebar-debar ketika ia merasa bahwa dua orang berkuda telah mengikutinya. Bahkan kedua orang itu berusaha untuk mendahuluinya.

Untara menjadi bimbang. Tetapi ketika ia sudah berada di daerah Kademangan Jati Anom, maka iapun menjadi mapan. Hanya para peronda sajalah yang akan berani melakukan tugas mereka sampai memasuki Kademangan Jati Anom.

Karena itu, Untara justru memperlambat kudanya. Ketika dua orang berkuda itu menjadi semakin dekat, maka Untara pun kemudian melihat, bahwa dua orang berkuda itu memang dua orang prajurit Pajang di Jati Anom yang sedang bertugas.

Dua orang prajurit itupun kemudian memperlambat kuda mereka pula. Setelah keduanya menjadi semakin dekat, maka seorang diantara mereka berkata, “Kami tidak mengetahui bahwa yang kami ikuti adalah Ki Untara.”

“Kalian telah melakukan kewajiban kalian dengan baik,” sahut Untara.

“Tetapi kami tidak mengetahui dan tidak mendengar keterangan bahwa Ki Untara meninggalkan Jati Anom,“ berkata salah seorang dari kedua prajurit itu.

“Aku hanya melihat-lihat keadaan saja,“ jawabnya.

Kedua prajurit itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka berkata di dalam hati, “Satu pekerjaan yang berbahaya.”

Namun demikian, merekapun merasa kagum juga terhadap Untara yang seorang diri melakukan pengamatan. Tetapi bagi kedua orang prajurit itu, Untara tidak saja mengamati keadaan, tetapi ia mengamat-amati para prajurit yang sedang bertugas, termasuk mereka.

Dalam pada itu, setelah keduanya mengikuti Untara beberapa lama dan menjadi semakin dekat dengan rumah Untara yang dipergunakan untuk barak para prajurit Pajang, kedua prajurit itupun telah memisahkan diri. Mereka minta diri kepada Untara untuk melanjutkan tugasnya.

“Baiklah,“ berkata Untara, “lakukan tugas kalian baik-baik.”

Ada juga kebanggaan di hati kedua orang prajurit itu, bahwa Untara melihat langsung bahwa mereka telah menjalankan tugas mereka.

Dalam pada itu, ketika Untara memasuki halaman rumahnya, maka iapun tak mengatakan sesuatu kepada para peronda, selain seperti yang dikatakannya kepada dua orang peronda yang dijumpainya di perjalanan.

Namun dalam pada itu, satu dua orang perwira kepercayaannya dengan hati yang berdebar-debar menunggu hasilnya. Tetapi bahwa mereka mengetahui kedatangannya, maka para perwira khusus itu menjadi tenang. Karena mereka tahu, bahwa Untara baru saja melakukan tugas yang sangat berbahaya. Bahkan dapat membahayakan jiwanya.

Betapa para perwira itu ingin mengetahui, apakah Untara berhasil atau tidak, namun mereka hanya menunggu. Pada saatnya Untara tentu akan memanggil.

Tetapi Untara tidak melakukannya di sisa malam itu. Agaknya Untara langsung pergi ke dalam biliknya setelah membersihkan diri, setelah kaki dan tubuhnya dikotori oleh debu di sepanjang jalan.

Para perwira yang dengan tegang menunggu kedatangannya itupun telah saling berbicara di antara mereka. Namun agaknya mereka tidak dapat menebak, apa yang telah terjadi. Tetapi satu hal yang pasti, Untara telah kembali dengan selamat.

Karena itu, maka para perwira itupun kemudian telah memasuki bilik masing-masing. Tetapi ada juga di antara mereka yang justru turun ke gardu para prajurit yang bertugas berjaga-jaga di regol.

“Malam terasa panas,” berkata perwira itu.

Seorang prajurit yang bertugas menjadi heran. Katanya, “Aku merasa sangat dingin.”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Ya, udara terasa sejuk di luar. Tetapi di dalam bilikku udara terasa panas.”

Tetapi perwira itu sadar, bahwa para prajurit itu tidak yakin akan kata-katanya. Karena itu ia justru berkelakar, “Atau mungkin akulah yang panas. Sudah sebulan aku tidak menengok keluargaku.”

Para prajurit itupun tersenyum. Sementara perwira itu melangkah surut dan turun ke jalan di muka rumah Untara. Ketika perwira itu menengadahkan wajahnya ke langit, maka ia mulai melihat warna merah.

“Hampir fajar,” katanya kepada diri sendiri.

Sebenarnyalah ketika ia melangkah lebih jauh, maka iapun melihat beberapa orang berjalan dengan obor di tangan, menyusuri jalan padukuhan setelah mereka melintasi bulak. Mereka adalah orang yang akan pergi ke pasar untuk menjual hasil bumi yang mereka petik dari kebun dan pategalan. Bahkan ada di antara meraka yang mengisi kesepian malam dengan dendang dan kidung. Tidak terlalu keras, tetapi justru karena itu terdengar olehnya.

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Jika pada saat-saat terakhir sering terjadi gangguan, maka sasaran mereka sama sekali bukan orang-orang yang pergi ke pasar. Bukan orang-orang yang mendapat uang dari penjualan hasil tanah mereka, dan bukan pula rumah-rumah orang kaya. Tetapi kekalutan itu diwarnai dengan tujuan tertentu yang berhubungan dengan tata pemerintahan di Pajang. Udara yang terasa semakin panas antara Pajang dan Mataram, pengaruhnya tidak langsung terasa kepada orang-orang yang sekedar berbuat bagi kehidupan mereka.

“Tetapi jika pada suatu saat api mulai menyala. maka mereka itupun akan ikut pula terbakar,” berkata perwira itu di dalam hatinya, “sedangkan mereka sama sekali tidak mengerti dan bahkan tidak terlibat ke dalam sikap yang langsung berhubungan dengan keadaan waktu sekarang ini.”

Ketika perwira itu merasa langit menjadi semakin terang, maka iapun bergegas untuk kembali ke baraknya, ke rumah Untara. Sejenak kemudian iapun telah selesai mandi dan berpakaian. Sementara kawannyapun berurutan telah membenahi dirinya.

Dalam pada itu, seperti yang diperhitungkan oleh perwira itu, maka berempat ia telah dipanggil Untara yang ternyata telah mengemasi diri. “Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan,” berkata Untara.

Keempat orang perwira kepercayaan Untara itupun mengerti, bahwa yang akan dibicarakan itu tentu masalah yang sangat penting, bukan saja bagi kedudukan mereka di Jati Anom. tetapi juga persoalan Pajang yang lebih luas.

“Aku berhasil menghadap Kanjeng Sultan,” berkata Untara.

Hampir berbareng keempat perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Seorang di antara mereka berdesis, “Syukurlah. Apapun hasilnya, tetapi Ki Untara sudah mendengar sesuatu yang akan dapat kita jadikan pegangan.”

“Tetapi kita masih harus mengambil arti yang tepat dari sikap Kanjeng Sultan,” berkata Untara.

“Maksudmu,“ bertanya seorang di antara para perwira.

Untara termangu-mangu. Nanum kemudian katanya, “Aku dapat merasakan, betapa Sultan sangat sulit untuk mengambil sikap. Baik dalam kedudukannya sebagai raja, maupun sebagai orang tua Raden Sutawijaya. Tetapi bukan saja karena sikap Raden Sutawijaya, tetapi juga karena sikap orang-orang Pajang sendiri, termasuk sikap yang aneh dari Pangeran Benawa. Apalagi pada saat-saat terakhir kesehatan Kanjeng Sultan menjadi sangat menurun.”

Keempat perwira itu mengangguk-angguk. Mereka semuanya mengerti apa yang terjadi di lingkungan Istana Pajang. Bagaimana sikap yang buram dari para senapati dan pemimpin pemerintahan. Bagaimana sikap Pangeran Benawa yang sangat kecewa melihat sikap ayahandanya.

Namun para perwira itu menjadi berdebar-debar ketika Untara mengatakan, “Kanjeng Sultan sudah mengambil keputusan untuk turun ke medan menghadapi Raden Sutawijaya yang dianggapnya memberontak.”

“Aku kurang mengerti,“ desis seorang di antara para perwira.

Untara pun kemudian menguraikan pembicaraannya dengan Kanjeng Sultan. Tidak ada yang dikurangi dan tidak ada yang ditambah.

Keempat orang perwira itu mengangguk-angguk. Sementara Untara berkata, “Kita harus segera menentukan sikap.”

“Kita dapat meraba sikap yang sebenarnya dari Kanjeng Sultan sebagai pribadi,” berkata seorang di antara perwira.

“Ya,” jawab Untara, “sebenarnyalah Kanjeng Sultan mempercayakan hari depan negeri ini kepada Raden Sutawijaya.”

 

 

“Yang sulit dimengerti, kenapa Kanjeng Sultan sendiri akan turun ke medan menghadapi Raden Sutawijaya yang dianggap memberontak. Apakah dengan demikian tidak akan berarti perang akan terjadi? Perang terbuka. Dan jika Sultan akan bertempur dengan segenap kekuatan yang ada, apapun yang dilakukan Kanjeng Sultan, tetapi kehadiran Kanjeng Sultan di peperangan berarti bahwa Pajang benar-benar akan menggilas Mataram,“ berkata seorang perwira.

“Itulah,“ desis Untara, “tetapi aku ingat sekali, bahwa Kanjeng Sultan berkata pula agar aku menyampaikan salamnya kepada Raden Sutawijaya. Kanjeng Sultan pun berkata, bahwa ia percaya bahwa Raden Sutawijaya akan dapat meneruskan cita-cita Kanjeng Sultan sejak ia memegang pimpinan pemerintahan di Pajang, yang sampai kini masih belum dapat dijangkaunya. Apakah dalam hal yang demikian itu Kanjeng Sultan dengan sungguh-sungguh akan menghadapi Raden Sutawijaya?”

Para perwira itu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka bertanya, “Ki Untara, apakah maksud Kanjeng Sultan menurut pendapat Ki Untara?”

Untara memandang keempat kepercayaannya itu berganti-ganti. Kemudian katanya, “Aku memang mempunyai sikap. Aku minta pertimbangan kalian, apakah sikapku ini benar menurut penilaianmu. Tetapi aku minta kalian mengatakan yang sebenarnya menurut pendapat kalian. Jika kalian berbeda pendirian, kalian tidak perlu bersikap pura-pura.”

Keempat perwira itu tidak menyahut. Tetapi nampak di sorot mata mereka, bahwa mereka akan berusaha memenuhi harapan Untara untuk menyatakan sikapnya.

Sejenak Untara merenung. Namun kemudian katanya, “Menurut pendapatku, sebenarnyalah Kanjeng Sultan memerintahkan aku untuk menghadap dan memberitahukan hal ini kepada Raden Sutawijaya. Bukan sekedar salam seorang ayah kepada putranya. Meskipun aku tidak tahu arti sabda Kanjeng Sultan, bahwa Kanjeng Sultan sendiri akan berada di peperangan.”

Keempat perwira itu memperhatikan keterangan Untara itu dengan saksama. Namun agaknya mereka tidak menolak tanggapan Untara terhadap sikap Kanjeng Sultan, sehingga kemudian seorang di antara mereka berkata, “Aku sependapat Ki Untara. Aku merasa pertentangan tumbuh di hati Kanjeng Sultan. Ia harus bersikap menghadapi Mataram yang menurut gelarnya memang dapat disebut menentang Pajang. Tetapi sementara itu, Kanjeng Sultan mengharap agar Raden Sutawijaya dapat meneruskan cita-citanya, mewujudkan susunan masyarakat sebagaimana dikehendaki oleh Kanjeng Sultan pada saat ia mulai mengendalikan pemerintahan, selebihnya kebesaran yang akan dapat memancar ke daerah di sekitarnya.”

Untara memandang ketiga orang perwira yang lain. Meskipun mereka tidak mengatakan sesuatu, tetapi agaknya merekapun menyadarinya.

Karena itu maka Untara berkata, “Jadi kita bersama-sama sependapat, bahwa aku harus menghadap Raden Sutawijaya untuk menyampaikan pernyataan Kanjeng Sultan. Tetapi setelah itu, bagaimana dengan kita sendiri? Jika Pajang pada suatu saat benar-benar bertempur melawan Mataram, dimana kita akan berdiri? Apakah kita akan berdiri berhadapan dengan Mataram?”

Para perwira kepercayaan Untara itu menjadi termangu-mangu. Pertanyaan itu tidak mudah untuk dijawab. Sebagai prajurit Pajang, maka mereka memang tidak terlalu jernih memandang perkembangan Mataram sebelumnya. Namun karena sikap Kanjeng Sultan yang kurang jelas, maka mereka harus merenungkan sikap mereka menghadapi keadaan yang akan terjadi itu.

“Bagaimana pendapat Ki Untara?“ bertanya salah seorang perwira itu.

Untara termangu-mangu. Tetapi katanya kemudian, “Akupun telah dicengkam oleh kebimbangan. Sebenarnya aku harus mengambil sikap menurut pendapat kita. Namun demikian, aku menganggap bahwa ada juga baiknya jika kita mencari pertimbangan, meskipun kepada orang yang selama ini berdiri di luar kita.”

“Apakah itu akan menguntungkan?“ bertanya salah seorang perwira.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebenarnya aku ingin untuk melepaskan diri dari pengaruhnya. Tetapi ternyata aku tidak berhasil. Meskipun kadang-kadang aku bersikap sebagai seorang prajurit menghadapinya, namun pada saat-saat tertentu aku merasa bahwa aku memerlukan pendapatnya.”

“Tetapi apakah orang itu dapat dipercaya sepenuhnya?“ bertanya perwira yang lain. Lalu, “Mungkin sekali Ki Untara akan dapat terjebak oleh sikap orang itu.”

“Tidak. Aku yakin bahwa ia tidak akan berkhianat terhadapku,“ jawab Untara. “Pada saat yang paling sulit ketika aku menghadapi Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan dari Jipang di sekitar daerah Sangkal Putung yang kaya dan subur, aku telah mendapatkan pertolongannya pula. Tanpa dia aku tentu sudah mati pada waktu itu. Selanjutnya di dalam perkembangan keadaan, ia tetap aku anggap orang yang mempunyai sikap tertentu. Jauh lebih besar dari ujud lahiriahnya.”

“Siapa orang itu?” perwira yang lain tidak sabar.

Untara termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Kalian tentu sudah mengenalnya. Kiai Gringsing, yang pernah di panggil orang Ki Tanu Metir. Mungkin ia ingin memisahkan antara dua sebutan itu. Tetapi aku tidak akan dapat memisahkannya.”

Para perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka semuanya mengenal Kiai Gringsing yang tinggal di padepokan di ujung Kademangan Jati Anom. Guru Agung Sedayu, adik Untara itu, dan yang saat itu lebih sering berada di Sangkal Putung. karena orang itu juga guru Swandaru.

Para perwira itu merenung sejenak. Tetapi ternyata mereka tidak menemukan keberatan apapun juga jika Untara menghubunginya. Bagaimanapun juga, para perwira itu mengetahui sikap Agung Sedayu dan Swandaru, kedua murid Kiai Gringsing, menghadapi perkembangan hubungan Pajang dan Mataram.

Namun dalam pada itu, Untara pun berkata, “Tetapi sebagai bekal sikap kita untuk sementara adalah sabda Kanjeng Sultan, bahwa Kanjeng Sultan mempercayakan masa depan tanah ini kepada Raden Sutawijaya, meskipun Kanjeng Sultan itu akan turun ke medan jika terjadi perang.”

Para perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Memang agaknya telah terjadi satu masalah yang rumit di dalam hati Kanjeng Sultan. Tetapi agaknya Kanjeng Sultan dalam keadaannya yang menjadi semakin lemah itu tidak menemukan jalan yang tepat untuk memecahkan persoalan yang timbul, yang rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin baur.

Demikianlah, maka Untara telah mengambil satu keputusan untuk bertemu dengan Kiai Gringsing. Bagaimanapun juga, ternyata Untara masih tetap menghormati orang tua itu. Bukan saja sebagai seorang yang pernah menolong jiwanya, tetapi juga karena menurut pendapat Untara, Kiai Gringsing mempunyai pandangan yang luas karena pengalamannya.

Hari itu Untara tidak berbuat sesuatu. Meskipun para perwira kepercayaannya tidak berkeberatan jika ia menemui Kiai Gringsing, tetapi ia tidak tergesa-gesa melakukannya. Apalagi Kiai Gringsing sedang berada di Sangkal Putung.

“Tidak ada orang yang tepat untuk menemuinya selain Sabungsari,” berkata Untara kepada para perwira itu, “aku akan minta Kiai Gringsing berada di padepokan. Aku merasa lebih bebas berbicara dengan orang tua itu di padepokannya, daripada di Sangkal Putung.”

Para perwira itupun sependapat. Merekapun mengetahui bahwa Sabungsari sering berada di padepokan. Bahkan seolah-olah ia lebih senang berada di padepokan itu daripada di baraknya sendiri.

Di malam hari berikutnya, Untara telah memanggil Sabungsari. Meskipun ia tidak mengatakan persoalan yang sedang dihadapi, tetapi Sabungsari yang mempunyai penggraita yang dalam itu dapat meraba, bahwa persoalan Pajang dan Mataram menjadi semakin hangat.

Karena itu, maka iapun berpendapat bahwa persoalannya memang lebih baik ditangani secepatnya.

“Ki Untara tentu sedang mempertimbangkan suatu sikap,“ berkata Sabungsari di dalam hatinya.

Di hari berikutnya, Sabungsari telah bersiap untuk melakukan perintah Untara, menghubungi Kiai Gringsing. Untara ingin berbicara dengan Kiai Gringsing di padepokan.

“Katakan kepada Kiai Gringsing, yang akan aku bicarakan bukan soal yang penting, tetapi ada hubungannya dengan muridnya, Agung Sedayu,“ berkata Untara kepada Sabungsari yang sudah siap untuk berangkat bersama dua orang prajurit yang lain.

“Baik Ki Untara. Semua pesan akan aku sampaikan,“ jawab Sabungsari, yang sejenak kemudian telah berangkat meninggalkan Jati Anom menuju ke Sangkal Putung.

Di sepanjang perjalanan tidak banyak yang dipercakapkan oleh para prajurit itu. Namun sebenarnyalah di dalam hati Sabungsari sudah menduga, bahwa persoalannya bukan menyangkut masalah Agung Sedayu. Ketika ia menerima perintah Untara di malam hari, ia sudah mempunyai dugaan. Tetapi di hadapan para prajurit yang lain, Untara agaknya tidak ingin memperlihatkan sedikitpun juga persoalan yang sebenarnya sedang dihadapi.

Dalam pada itu, Sabungsari pun mengerti bahwa iapun harus menjaga agar yang tidak dikehendaki oleh Untara itu tidak terloncat dari mulutnya. Karena itu, setiap kali iapun mengatakan bahwa Untara ingin berbicara dengan Kiai Gringsing menyangkut masalah Agung Sedayu.

Kedatangan Sabungsari di Sangkal Putung memang mengejutkan. Kiai Gringsing yang kebetulan memang sedang berada di Sangkal Putung pun segera menemuinya bersama Ki Demang dan Swandaru.

Sebagaimana diperintahkan oleh Untara, maka Sabungsari pun mengatakannya kepada Kiai Gringsing. Meskipun ia sendiri mengetahui bahwa terselip satu persoalan yang penting di balik pesan itu, tetapi yang dikatakannyapun tidak lebih dari apa yang diminta oleh Untara.

“Jadi aku harus pergi ke padepokan?“ bertanya Kiai Gringsing.

“Maksud Ki Untara, biarlah pembicaraan dapat dilakukan setiap saat di sela-sela tugasnya,“ berkata Sabungsari.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi Swandaru menjawab, “Sebenarnya Kakang Untara harus menghormati Guru. Kakang Untara yang merasa dirinya lebih muda, sebaiknya ia datang kepada Guru yang jauh lebih tua daripadanya.”

“Bukan satu hal yang wajib dipersoalkan, Swandaru,“ berkata Kiai Gringsing dengan serta merta, “meskipun Angger Untara jauh lebih muda dari umurku, tetapi ia mempunyai kesibukan yang luar biasa. Aku dapat mengerti.”

“Dipandang dari segi Kakang Untara memang benar,“ jawab Swandaru pula, “tetapi dipandang dari arah Guru, mungkin sebaliknya. Jangan dianggap bahwa Guru tidak lebih dari seorang penganggur yang dapat mempergunakan waktunya tanpa perhitungan kesibukan.”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Tetapi ia telah mengenal Swandaru yang mempunyai sifat yang berbeda dengan Agung Sedayu. Sebenarnyalah Sabungsari sendiri merasa bukan seorang yang dapat menahan hati seperti Swandaru. Tetapi di hadapan guru Swandaru, Sabungsari harus menahan diri.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Ki Demang, “Ada juga perlunya jika aku sekali-sekali menengok padepokan itu.”

“Belum lama Guru berada di Jati Anom,“ jawab Swandaru, “tetapi persoalannya bukan sebaiknya Guru menengok padepokan itu. Aku tidak berkeberatan kapan saja Guru ingin pergi ke padepokan kecil itu, tetapi jika itu justru atas kehendak Guru sendiri. Bukan karena seseorang memanggil Guru.”

“Persoalannya memang menyangkut Angger Untara dan aku, Swandaru. Persoalannya adalah persoalan Agung Sedayu. Aku kira lebih baik Angger Untara memanggil aku untuk berbicara tentang Agung Sedayu daripada ia berdiam diri, sementara terjadi sesuatu atas Agung Sedayu itu.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Ia menjadi kesal, justru gurunya itu sendiri tidak berusaha membantunya. Ia ingin mengangkat harga diri Kiai Gringsing di mata orang-orang Pajang. Tetapi gurunya itu sendiri tidak membantunya.

Karena itu, maka akhirnya iapun berkata kepada diri sendiri, “Terserah saja. Tetapi aku sudah berusaha.”

Dalam pada itu, Ki Demang Sangkal Putung berkata, “Aku mengerti maksud Swandaru. Tetapi segalanya terserah kepada Kiai Gringsing sendiri.”

“Ya,” berkata Swandaru, “semuanya terserah kepada Guru.”

Kiai Gringsing memandang Swandaru sekilas. Kemudian katanya, “Akupun mengerti maksudmu Swandaru. Tetapi aku cemas tentang Agung Sedayu. Jika aku berpegang pada unggah-ungguh, sementara Angger Untara benar-benar tidak dapat menemui aku sendiri, sementara itu Agung Sedayu benar-benar memerlukan bantuan apapun juga, maka kesudahannya akan dapat berakibat kurang baik bagi Agung Sedayu.”

Swandaru tidak membantah lagi. Sementara Sabungsari dan kedua orang prajurit Pajang di Jati Anom itupun duduk dengan gelisah. Meskipun demikian, mereka tidak berbuat sesuatu. Segalanya memang terserah kepada Kiai Gringsing sendiri.

Ternyata Kiai Gringsing tidak berkeberatan untuk pergi ke Jati Anom. Orang tua itu yakin, jika tidak ada sesuatu yang sangat penting. tidak mungkin Untara memanggilnya untuk bertemu.

Karena itu, maka Kiai Gringsing tidak sempat memikirkan harga dirinya sendiri. Meskipun Untara jauh lebih muda daripadanya, tetapi ia tidak berkeberatan untuk memenuhi panggilannya.

Dengan demikian, maka Kiai Gringsing itupun segera membenahi dirinya. Kepada Ki Demang, Swandaru dan Pandan Wangi, Kiai Gringsing itupun minta diri barang satu dua hari.

Ki Demang Sangkal Putung tidak menahannya lagi. Iapun sebenarnya juga merasa cemas jika terjadi sesuatu atas Agung Sedayu, yang akan dapat menyangkut anak perempuannya, Sekar Mirah. Sehingga dengan demikian maka iapun sebenarnya sependapat dengan Kiai Gringsing bahwa orang tua itu segera pergi ke Jati Anom untuk bertemu dengan Untara.

Sejenak kemudian, maka Kiai Gringsing telah berpacu di sepanjang bulak bersama Sabungsari dan kedua orang prajurit yang menemaninya. Ada niat Sabungsari untuk bertanya kepada Kiai Gringsing. apakah yang sebenarnya dimaksud oleh Swandaru. Tetapi niatnya itu diurungkannya, karena Sabungsari berusaha untuk menganggap sikap Swandaru itu sekedar sikap tinggi hati.

Ternyata Sabungsari benar-benar telah berubah. Ia berhasil menggeser sifat dan wataknya setelah ia bergaul dengan Agung Sedayu, setelah ia mengalami satu peristiwa yang menyekat jalan hidupnya. Dari hidupnya yang lama ke hidupnya yang baru.

Dalam pada itu, justru Kiai Gringsing-lah yang bertanya, “Apakah Untara sudah berbicara tentang Agung Sedayu dengan Ki Widura?”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Aku kurang tahu Kiai.”

Kiai Gringsing mengangguk angguk. Katanya, “Apakah kau tidak mendengar serba sedikit. apakah yang telah terjadi?”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak dapat mengatakan sesuatu, karena ia bersama dengan dua orang prajurit yang menyimpan seribu kemungkinan. Dalam keadaan yang tidak pasti, maka mudah sekali timbul kecurigaan di antara kawan sendiri.

Karena itu, maka katanya, ”Kiai, aku hanya menerima perintah untuk menyampaikan pesan Ki Untara seperti yang sudah aku katakan. Yang lain, aku sama sekali tidak mengetahuinya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku memang harus bertemu dengan Angger Untara.”

Demikianlah, mereka berempat menelusuri jalan-jalan bulak dan jalan padukuhan. Bahkan merekapun telah melalui jalan di pinggir sebuah hutan yang tidak terlalu lebat. Meskipun di hutan itu masih ada beberapa ekor binatang buas, tetapi keempat orang itu sama sekali tidak menjadi cemas.

Ternyata mereka sama sekali tidak menemui hambatan di perjalanan. Ketika Kiai Gringsing memasuki regol padepokannya, maka iapun berkata kepada Sabungsari, “Silahkan langsung memberitahukan kepada Angger Untara, bahwa aku sudah berada di padepokan.”

“Baik Kiai,” jawab Sabungsari, “kami tidak usah singgah di padepokan, karena kami akan langsung menyampaikan laporan kepada Ki Untara.”

Kiai Gringsing mengangguk. Tetapi ia bertanya, “Apakah Ki Widura ada di padepokan?”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Tetapi sekali lagi ia menggeleng. Katanya, “Aku juga kurang tahu, Kiai. Tetapi Ki Widura memang sering berada di padepokan itu. Bahkan pada saat Kiai berada di Sangkal Putung, Ki Widura sering berada di padepokan itu. Aku sendiri juga sering berada di padepokan itu. Rasa-rasanya sayang juga padepokan itu menjadi sangat sepi.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku mengucapkan terima kasih.”

Sabungsari dan kedua orang kawannyapun segera meninggalkan Kiai Gringsing yang langsung menuju ke regol padepokannya. Mereka akan menghadap Ki Untara untuk menyampaikan laporan, bahwa Kiai Gringsing sudah berada di padepokannya.

Dalam pada itu, kedatangan Kiai Gringsing telah disambut oleh para cantrik dengan senang hati. Sudah agak lama Kiai Gringsing tidak berada di padepokan. Bahkan ternyata Ki Widura pun berada di Banyu Asri, sehingga rasa-rasanya para cantrik itu menjadi sangat kesepian.

“Kedatangan Kiai Gringsing memberikan kesegaran pada padepokan ini,” berkata salah seorang cantrik.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Bukankah Ki Widura atau Sabungsari sering berada di padepokan ini?”

“Ya,“ jawab cantrik itu, “tetapi kadang-kadang keduanya tidak ada, seperti saat ini.”

“Biarlah saat ini akulah yang mengawani kalian. Tetapi bagaimana dengan para perwira Pajang di Jati Anom? Apakah masih ada yang berada di padepokan ini?“ bertanya Kiai Gringsing.

“Jarang sekali. Apalagi dalam saat-saat terakhir,” jawab cantrik itu.

Kiai Gringsing pun kemudian telah dipersilahkan untuk duduk di ruang dalam. Seorang cantrik telah membuat minuman hangat untuknya.

“Kami hanya mempunyai jagung rebus hari ini Kiai,“ berkata seorang cantrik.

“O, itu sudah cukup,“ jawab Kiai Gringsing sambil tersenyum, “bukankah kalian tahu, bahwa aku senang sekali jagung rebus.”

“Tetapi jagungnya telah terlalu tua,“ berkata cantrik yang lain.

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Meskipun aku sudah tua, tetapi gigiku masih cukup baik untuk mengunyah jagung rebus. Meskipun sudah tua.”

Sebenarnyalah para cantrik itupun kemudian menghidangkan beberapa buah jagung rebus. Tetapi tidak seperti yang mereka katakan, jagung itu masih cukup muda dan tidak terlalu keras.

Dalam pada itu. maka Sabungsari pun telah menghadap Untara dan memberitahukan bahwa Kiai Gringsing sudah berada di padepokan.

“Jadi ia datang bersama kalian?“ bertanya Untara.

“Ya. Nampaknya Kiai Gringsing menjadi sangat cemas tentang Agung Sedayu,“ jawab Sabungsari, “karena itu ia tidak menunggu jarak waktu. Ia segera ingin mendengar apakah yang terjadi atas muridnya yang tertua itu.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia tidak ingin membuat Kiai Gringsing gelisah. Tetapi ia tidak mempunyai alasan yang cukup baik untuk mengundangnya selain alasan yang sebenarnya. Tetapi iapun tidak dapat mengatakan alasan yang sebenarnya di hadapan orang yang kurang diyakini kesetiaannya, sehingga karena itu maka ia dengan terpaksa sekali telah membuat orang tua itu berdebar-debar.

“Baiklah,” berkata Untara, “supaya aku tidak membuatnya terlalu lama berteka-teki, maka aku akan segera menjumpainya. Kau boleh ikut bersamaku.”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Dipandanginya dua orang prajurit yang mengawaninya ke Sangkal Putung. Namun dalam pada itu, agaknya Untara mengerti kebimbangan di hati anak muda itu. Karena itu maka katanya, “Biarlah kedua orang kawanmu itu beristirahat.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah menduga, bahwa Untara tentu tidak akan menghendaki kedua orang itu menyertainya ke padepokan.

Sejenak kemudian, maka Untara pun telah meninggalkan rumahnya diiringi oleh dua orang perwira kepercayaannya dan Sabungsari, yang memang terlalu sering berada di padepokan. Bahkan beberapa orang pengikutnya masih tetap berada di padepokan itu pula. Bahkan seperti Sabungsari, merekapun telah menempatkan diri dalam satu cara kehidupan baru, yang jauh lebih baik dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya.

Kiai Gringsing tidak menduga, bahwa Untara akan datang demikian cepatnya. Karena itu, ketika ia sedang menikmati minuman hangat, ia terkejut ketika seorang cantrik mengatakan kepadanya, bahwa Untara telah datang.

Dengan tergesa-gesa Kiai Gringsing pun segera keluar dan melintasi pendapa menyongsong tamunya ke halaman.

“Marilah Ngger,“ Kiai Gringsing mempersilahkan.

Untara mengangguk hormat. Katanya, “Aku mohon maaf, bahwa aku telah membuat Kiai gelisah.”

“O, tidak apa Ngger. Aku mengucapkan terima kasih, bahwa Angger masih selalu ingat kepadaku dalam soal Agung Sedayu, karena aku adalah gurunya,” jawab Kiai Gringsing.

 

 

Untara menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Kiai Gringsing benar-benar menjadi gelisah karena pesannya lewat Sabungsari.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian mempersilahkan Untara duduk di pendapa. Beberapa saat keduanya masih saling menanyakan keselamatan masing-masing.

Dalam pembicaraan yang akan dilakukan oleh Untara, maka ia sama sekali tidak mencurigai Sabungsari yang sudah banyak mengetahui persoalan yang terjadi di Mataram, karena ia sering berada di perjalanan antara Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh. Justru karena Sabungsari terasa erat sekali hubungannya dengan Agung Sedayu, maka Untara menganggap bahwa sebenarnyalah Sabungsari sudah bersikap, sadar atau tidak sadar.

Karena itu, maka setelah seorang cantrik menghidangkan minuman dan makanan, maka Untara pun mulai mengatakan kepentingannya kepada Kiai Gringsing.

“Maaf Kiai, bahwa aku telah membuat Kiai gelisah,“ berkata Untara.

“Karena itu aku segera datang Ngger. Aku lebih senang untuk lebih cepat mengetahui persoalan Agung Sedayu itu. Dengan demikian, apabila diperlukan, aku akan segera dapat mengambil sikap.”

“Sekali lagi aku mohon maaf Kiai,“ berkata Untara kemudian, “sebenarnyalah aku tidak ingin berbicara tentang Agung Sedayu. Nampaknya Agung Sedayu tidak mengalami sesuatu, karena dari Tanah Perdikan Menoreh tidak terdengar berita yang kurang menyenangkan.”

Wajah Kiai Gringsing menjadi tegang. Dipandanginya Sabungsari dan dua orang perwira kepercayaan Untara yang menyertainya. Baru kemudian ia berkata, “Aku tidak mengerti maksud Angger. Menurut pendengaranku, pesan Angger yang disampaikan oleh Angger Sabungsari kepadaku menyangkut persoalan muridku itu.”

“Ya Kiai. Aku tidak mempunyai cara lain yang lebih baik untuk mengundang Kiai datang ke padepokan ini,” jawab Untara.

Kiai Gringsing termenung sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk. Katanya, “Lalu, apakah maksud Angger yang sebenarnya?”

“Kiai,“ berkata Untara, “Kiai jangan salah mengerti. Aku tidak bermaksud buruk. Tetapi aku sebenarnya ingin mobon nasehat, karena aku sedang menghadapi satu masalah yang rumit.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian bertanya, “Angger Untara. Kau memang pandai membuat hatiku berdebar-debar. Semula aku berdebar-debar karena Angger berpesan lewat Angger Sabungsari, kemudian aku berdebar-debar karena Angger ingin minta nasehat kepadaku. Nasehat apakah yang akan dapat aku berikan kepada Angger Untara dalam keadaan seperti ini?”

“Aku sudah terbiasa dengan sifat Kiai,“ jawab Untara, “Kiai sudah merendahkan diri. Tetapi tidak apa. Aku akan langsung mengatakan persoalannya. Tiga orang prajurit yang bersamaku ini tidak akan mengganggu pembicaraan kita selanjutnya.”

“Tetapi aku sudah mengatakan sebelumnya Ngger. Mungkin aku tidak akan berarti apa-apa. Mungkin aku justru tidak tahu sama sekali persoalan yang Angger kemukakan,“ berkata Kiai Gringsing.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah Kiai. Tanggapan apapun yang akan aku dapatkan, tetapi aku memang ingin mengatakannya.”

“Silahkan Ngger,“ jawab Kiai Gringsing kemudian.

Dalam pada itu. maka Untara pun kemudian menceritakan apa yang dilakukannya dalam usahanya untuk meyakinkan sikapnya menghadapi pergolakan keadaan yang tidak menentu. Bahkan iapun telah mempertaruhkan nyawanya untuk bertemu langsung dengan Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Untunglah, bahwa ia berhasil. Dan Kanjeng Sultan sendiri tidak menganggapnya bersalah. Jika Kanjeng Sultan menganggapnya bersalah, maka Kanjeng Sultan tentu akan menangkapnya dan menyerahkannya kepada para penjaga malam itu.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Angger telah melakukan suatu tugas yang sangat berbahaya.”

“Ya. Tetapi kemudian aku dapat langsung mendengar sikap Kanjeng Sultan, meskipun bagiku masih tetap kabur,“ jawab Untara. Lalu, “Karena itulah, maka aku mohon Kiai datang ke padepokan ini. Aku ingin mendengar pendapat Kiai. Di Sangkal Putung aku merasa kurang bebas untuk berbicara panjang lebar.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk Katanya, “Angger memang aneh. Angger dapat saja membuat aku cemas tentang nasib Angger Agung Sedayu. Tetapi baiklah, akupun justru menjadi ingin tahu, apa yang pernah dikatakan atau dilakukan oleh Kanjeng Sultan pada saat Angger menghadapnya dengan cara yang tidak sewajarnya.”

Untara termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun kemudian menceritakan sikap dan kata-kata Kanjeng Sultan. Dari awal sampai akhir, tanpa ada yang terlampaui. Tetapi juga tidak ditambahinya.

Kiai Gringsing mendengarkannya dengan saksama. Sekali-sekali nampak kerut merut dahinya. Namun kadang-kadang orang tua itu mengangguk-angguk. Namun sekali-sekali ia bergeser setapak. Keterangan Untara benar-benar menarik bagi orang tua itu.

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing itupun menyadari, bahwa pada akhirnya Untara akan bertanya kepadanya, sikap apakah yang sebaiknya dilakukannya.

“Sebenarnyalah bahwa Untara akhirnya memang sampai pada satu pertanyaan. “Kiai, menurut pendapat Kiai, apakah yang harus aku lakukan? Aku adalah seorang prajurit Pajang. Seorang senapati yang memimpin satu pasukan segelar sepapan. Aku kira aku tidak akan menjadi terlalu gelisah jika aku menentukan sikap pribadiku. Tetapi sikapku sebagai senapati adalah sikap satu pasukan, yang tentu akan dapat ikut menentukan keadaan jika perang benar-benar akan pecah, antara Pajang dan Mataram.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Untara sejenak. Kemudian prajurit-prajurit Pajang yang lain yang datang bersamanya.

Sejenak Kiai Gringsing merenung. Kemudian katanya ragu-ragu, “Angger Untara. Pertanyaan Angger adalah satu pertanyaan yang sulit untuk aku jawab. Sebenarnyalah bahwa aku bukan seorang prajurit, sehingga agak sulit bagiku untuk dapat bersikap sebagai seorang prajurit. Karena jika aku memberikan satu pendapat bagi Angger Untara, maka aku tidak akan dapat melupakan, bahwa Angger Untara adalah seorang senapati, seperti yang Angger katakan.”

“Kiai benar. Tetapi pengalaman Kiai yang luas akan dapat memberikan pertimbangan yang sangat menentukan bagiku,” berkata Untara kemudian. “Memang aku tidak mengharap Kiai dapat mengambil satu sikap yang akan bulat-bulat aku ambil sebagai sikapku. Tetapi setidak-tidaknya, akan memberikan banyak petunjuk yang akan dapat menuntun aku untuk mengambil satu sikap yang pasti.”

“Angger Untara,“ berkata Kiai Gringsing, “menurut pendapatku, maka sebenarnyalah yang paling penting dari sikap Kanjeng Sultan adalah kepercayaan Kanjeng Sultan, bahwa Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga adalah satu-satunya orang yang akan dapat mencapai satu keadaan sebagaimana pernah dicita-citakan oleh Kanjeng Sultan di Pajang. Menurut pendapatku, maksud Kanjeng Sultan adalah, bahwa sebaiknya Raden Sutawijaya-lah yang meneruskan segala usaha, dengan landasan kepercayaan kepadanya untuk memimpin pemerintahan.”

“Aku sudah menduga. Tetapi kenapa dalam kesempatan itu juga Kanjeng Sultan mengatakan, bahwa Kanjeng Sultan sendiri akan turun ke medan untuk melawan Raden Sutawijaya?” bertanya Untara.

“Tetapi manakah yang lebih bernilai dari kedua hal yang nampaknya bertentangan itu. Masa depan, atau saat mendatang yang dekat?“ sahut Kiai Gringsing. “Menurut pendapatku, Kanjeng Sultan pun akan lebih menghargai masa depan Pajang. Masa depan yang panjang bagi seluruh rakyat Pajang, karena sebenarnyalah yang dicita-citakan oleh Kanjeng Sultan adalah kebahagiaan seluruh rakyat Pajang. Jika Kanjeng Sultan akan turun ke medan, maka tentu Kanjeng Sultan mempunyai maksud lain yang kurang kita ketahui. Akupun tidak dapat meraba apa yang akan dilakukannya. Tetapi menilik kesehatan Kanjeng Sultan yang semakin menurun, maka niat itupun termasuk satu hal yang kurang dapat dimengerti.”

Untara termangu-mangu. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti maksud Kiai. Dan akupun sependapat dengan Kiai. Dengan demikian, bagaimana pendapat Kiai jika aku mengambil kesimpulan, sebaiknya aku memang menghadap Raden Sutawijaya. Aku merasa, sikapku selama ini adalah sikap seorang prajurit Pajang terhadap perkembangan kekuasaan di luar kekuasaan Pajang. Tetapi ketika aku mendengar langsung sikap Kanjeng Sultan, maka aku akan dapat mengambil satu tindakan yang sesuai dengan kedudukanku sebagai seorang prajurit.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Aku kira sikap itu cukup dapat dipertanggung-jawabkan. Angger memang seorang prajurit. Tetapi kepemimpinan di Pajang sebenarnyalah sudah goyah. Hal itu tentu Angger sadari, dan aku kira beberapa orang lainpun akan menyadarinya pula. Kesetiaan terhadap kedudukan Angger sebagai seorang prajurit bukan satu keharusan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran sikap seorang prajurit itu sendiri.”

“Terima kasih Kiai. Aku sudah menemukan sikap itu. Seperti yang aku duga, Kiai banyak menolong aku. Sebenarnyalah aku sudah mempunyai pendirian yang demikian. Tetapi aku ingin meyakinkan diri bahwa aku sudah melangkah pada jalan yang seharusunya aku lakukan,“ berkata Untara. Lalu, “Aku akan menghadap Raden Sutawijaya untuk menyampaikan salam Kanjeng Sultan, seperti yang pernah dikatakannya kepadaku.”

“Biarlah Raden Sutawijaya membuat uraian tersendiri atas pesan itu,” berkata Kiai Gringsing. “Jika hal itu merupakan satu perintah terhadapnya, maka Raden Sutawijaya yang lantip itu tentu akan mengerti. Sehingga dengan demikian, hari depan Pajang akan berada di tangannya, sebagaimana dikehendaki oleh Kanjeng Sultan. Sementara itu, maka iapun akan dapat menilai sikapmu.”

“Baiklah Kiai. Aku sudah mengambil satu keputusan,“ berkata Untara kemudian, “dalam waktu dekat mendatang, aku akan pergi sebelum suasana bertambah buruk sekarang ini. Ki Tumenggung Prabadaru dapat berbuat sewaktu-waktu, bahkan kadang-kadang di luar perhitungan orang lain.”

Kiai Gringsing mengangguk angguk. Katanya, “Dalam hal ini Angger Untara tentu lebih banyak mengetahui daripada aku. Namun dalam pada itu, Angger Untara juga harus memperhitungkan kemungkinan yang dapat terjadi atas Sangkal Putung, Jati Anom dan kademangan-kademangan yang lain di garis hubungan antara Pajang dan Mataram. Karena menurut pendapatku, sebenarnyalah perang itu akan terjadi.”

Untara mengangguk-angguk. Ia memang seorang senapati yang memerintah pasukan sejelar sepapan. Tetapi apakah ia juga mempunyai pengaruh yang cukup untuk mengatur para demang di daerah yang akan langsung mengalami akibat dari benturan yang akan terjadi antara Pajang dan Mataram?

Namun dalam pada itu, maka katanya, ”Kiai, aku akan berusaha untuk mengatur segala-galanya sehingga jika perang itu terjadi, rakyat tidak akan menjadi korban. Namun segala sesuatunya akan tergantung atas beberapa kemungkinan.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Untara. Bahwa banyak sekali unsur yang harus diperhitungkan dan yang ikut menentukan. Mungkin sekali ada kademangan yang merasa dirinya wajib berpihak kepada Pajang. Tetapi ada juga yang menentukan sikap lain.

“Justru mereka harus mendapat banyak pengamatan. Jika karena perbedaan pandangan maka kademangan akan bertempur melawan kademangan, maka akibatnya akan sangat gawat. Perang yang terjadi di antara rakyat akan meluas, dan korban akan banyak sekali berjatuhan selain perang yang sebenarnya,” berkata Untara kepada diri sendiri.

Demikianlah, akhirnya Untara yang sudah menentukan sikap itu minta diri. Bersama para perwira dan Sabungsari, mereka meninggalkan padepokan kecil yang terasa semakin sepi itu.

Sepeninggal mereka, Kiai Gringsing termangu-mangu seorang diri. Rasa-rasanya perang memang sudah di ambang pintu. Namun seperti Untara, iapun menjadi cemas. Kedemangan-kademangan di sepanjang jalur antara Pajang dan Mataram mungkin mempunyai sikap yang berbeda, sehingga karena itu maka mereka akan saling bermusuhan.

Tetapi hal itu agaknya diperhitungkan masak-masak oleh Untara dan para perwiranya setelah mereka tiba di Jati Anom dari padepokan kecil Kiai Gringsing. Sebagaimana mendung di langit yang menjadi semakin kelam, maka para perwira itupun bertindak cepat untuk mendahului suasana yang semakin memburuk.

“Besok aku akan menghadap Raden Sutawijaya,“ berkata Untara. “Aku sadar, bahwa sikapku selama ini dapat menimbulkan kesan tersendiri pada Raden Sutawijaya. Tetapi aku mengemban sikap Kanjeng Sultan. Tidak ada orang yang lebih aku percayai di Pajang dari Kanjeng Sultan sendiri. Karena itu, maka landasan sikap keprajuritanpun ditentukan oleh pertemuanku dengan Kanjeng Sultan itu, meskipun nampaknya menjadi berubah dari sikapku semula. Tetapi sebenarnyalah yang aku lakukan menurut pendapatku adalah sikap yang sebaik-baiknya bagi seorang prajurit. Karena aku sadar, bahwa beberapa pihak di antara para prajurit dan Kanjeng Sultan telah menentukan sikap sendiri bagi kepentingan mereka sendiri.”

Para perwira itupun menjadi semakin mantap pula. Merekapun segera mengatur diri untuk langsung berbuat sesuatu di kademangan-kademangan, agar tidak timbul benturan di antara rakyat dengan cara mereka sendiri, karena landasan sikap mereka yang berbeda tanpa mengetahui dengan pasti, api yang sudah bergejolak di Istana Pajang selama itu.

Para perwira itu merasa yakin, bahwa kademangan-kademangan di sebelah barat Sangkal Putung tidak akan terlalu sulit untuk dihubungi. Juga kademangan-kademangan di sekitar Sangkal Putung. Tetapi kademangan-kademangan di sebelah timur dan yang lebih jauh lagi dari Sangkal Putung, masih harus diamati sebaik-baiknya.

Dengan para perwiranya, Untara telah menemukan langkah-langkah dan waktu untuk bertindak. Di keesokan harinya mereka harus mulai dengan langkah-langkah mereka, meskipun mereka sadar, bahwa hal itu harus mereka lakukan dengan sangat berhati-hati. Mungkin justru akan dapat menumbuhkan persoalan baru. Namun mereka berharap bahwa dengan demikian, sikap daerah selatan itu akan dapat dikuasai.

Di samping menghubungi kademangan-kademangan maka Untara pun telah memutuskan untuk menempa para prajuritnya, sehingga tidak akan jauh berselisih dengan kemampuan para prajurit yang disebut pasukan khusus oleh Tumenggung Prabadaru, dan pasukan khusus yang sedang dipersiapkan di Tanah Perdikan Menoreh.

“Jika terjadi benturan, prajurit-prajurit di Jati Anom jangan menjadi anak bawang yang pantas dikasihani,“ berkata Untara kepada para perwira.

Para perwirapun sepakat untuk meningkatkan latihan-latihan di hari-hari mendatang. Meskipun kesempatan mereka sudah menjadi terlalu sempit. Namun mereka menganggap bahwa kesempatan yang sempit itu harus mereka pergunakan sebaik-baiknya.

Malam itu telah dipergunakan oleh Untara dan para perwiranya menentukan sikap yang terperinci. Segala sesuatunya akan semakin ditingkatkan setelah Untara menghadap Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun merasa berkewajiban untuk memberikan arah yang lebih tegas kepada Agung Sedayu dan Swandaru mengenai perkembangan keadaan. Menilik perkembangan sikapnya, Agung Sedayu tidak merupakan persoalan lagi. Tetapi Swandaru yang merasa dirinya kuat di antara para pengawal di Sangkal Putung itu, akan dapat menumbuhkan persoalan dalam hubungannya dengan sikap Untara. Agaknya sulit untuk menempatkan Swandaru di bawah satu perhitungan dasar yang mungkin akan dibuat oleh Untara atas persetujuan Raden Sutawijaya, menghadapi sikap orang-orang Pajang yang sudah semakin jauh meninggalkan paugeran keprajuritan. Mungkin Swandaru akan merasa dirinya adalah orang yang paling berhak untuk memimpin semua pasukan yang ada di Sangkal Putung dan sekitarnya.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: