Buku 163 (Seri II Jilid 63)

 

“Kami menyadari arti perjuangan Raden Sutawijaya,“ berkata Ki Gede kemudian.

“Kami mengharap kehadiran Ki Gede dan Ki Waskita, malam sebelum hari yang ditentukan itu datang,“ berkata senapati itu, “Senapati ing Ngalaga akan membicarakan segala sesuatunya tentang perjuangan yang nampaknya harus meningkat menjadi benturan kekuatan itu.”

“Baiklah,“ jawab Ki Gede, “kami akan hadir. Aku akan berbicara pula dengan Angger Agung Sedayu dan Sekar Mirah.”

“Mereka ada di dalam Kesatuan Khusus itu sesuai dengan tugas-tugas mereka,“ jawab senapati itu.

Wajah Ki Gede menegang sejenak. Kemudian katanya, “Bukankah di dalam pasukan itu terdapat banyak senapati, sehingga dapat melepaskan Agung Sedayu dan Sekar Mirah untuk memimpin anak-anak muda Tanah Perdikan ini?”

“Segalanya terserah kepada Ki Lurah Branjangan,“ jawab senapati itu, “namun sepengetahuanku, Agung Sedayu dan Sekar Mirah dianggap bagian dari pasukan itu dalam keseluruhan.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Baiklah aku menunggu. Untunglah di sini ada Ki Waskita yang kebetulan tidak sedang pulang ke rumahnya. Aku dapat minta agar Ki Waskita menemani aku memimpin anak-anak Tanah Perdikan ini jika Agung Sedayu dan Sekar Mirah harus berada di dalam pasukan khusus itu.”

“Mungkin Glagah Putih dapat berada di antara kita,“ berkata Ki Waskita.

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Ia akan menemani Prastawa dan para pemimpin pasukan pengawal. Sebaliknya orang-orang yang sudah berpengalaman, meskipun mereka sudah mendekati separo baya, akan kami ikut sertakan. Mereka akan mengendalikan ledakan perasaan anak-anak muda dan para pengawal.”

“Segalanya terserah kepada Ki Gede,“ berkata senapati itu, “kami percaya bahwa Ki Gede memiliki pengalaman dan pandangan jauh tentang kemungkinan yang bakal terjadi. Selebihnya segala sesuatu akan dapat dibicarakan pada pertemuan di malam menjelang saat yang menentukan itu.”

Dengan demikian, maka senapati dari Mataram itupun kemudian minta diri. Masih banyak yang harus dikerjakan di Mataram menghadapi benturan kekuatan yang akan dapat menentukan masa depan, baik bagi Pajang maupun Mataram.

Kedua senapati itu masih singgah sejenak di barak Kesatuan Khusus. Namun merekapun segera meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, dua orangsSenapati yang lain telah berada di Sangkal Putung untuk menemui para pemimpin di kademangan itu. Ki Demang, Swandaru dan Pandan Wangi serta Kiai Gringsing yang sedang berada di Sangkal Putung, telah menerima mereka dengan hati yang berdebar-debar.

“Saatnya akhirnya datang juga,“ berkata senapati yang datang menemui Ki Demang.

“Kami memang sudah memperhitungkannya,“ jawab Ki Demang. Namun kemudian ia melanjutkan, “Tetapi katakanlah selengkapnya, apa yang akan terjadi.”

Senapati itupun kemudian menyampaikan seluruh pesan Raden Sutawijaya dengan segala rencananya untuk menghadapi pasukan Pajang.

Namun dalam pada itu, wajah Swandaru menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia berkata, “Jadi Raden Sutawijaya akan menarik garis pertahanan di Prambanan?”

“Ya. Raden Sutawijaya akan mempergunakan jalur Kali Opak sebagai batas. Kelemahan pasukan Pajang pada saat menyeberangi sungai itu akan dipergunakan sebagai alas perlawanan Raden Sutawijaya, karena bagaimanapun juga Mataram menyadari, bahwa pasukan Pajang tentu akan lebih besar dan lebih kuat,“ jawab senapati dari Mataram itu.

“Tetapi,“ sahut Swandaru, “apakah aku harus melepaskan kademangan ini? Kau dapat membayangkan, apa yang akan terjadi di kademangan ini. Dendam orang-orang Pajang akan membuat seisi kademangan ini menderita. Jika pertahanan itu di tarik di sebelah barat Kali Opak, berarti bahwa kami harus mengosongkan kademangan ini dari setiap pengawal dan membiarkan kademangan ini menjadi landasan kekuatan pasukan Pajang.“

“Semuanya sudah diperhitungkan,“ berkata senapati itu, “mungkin memang harus ada yang dikorbankan untuk satu kepentingan yang lebih besar. Tetapi seandainya Sangkal Putung akan dipertahankan, tetapi dengan demikian kerusakan pasukan Mataram akan menjadi lebih parah, maka garis perang itupun tentu akan bergeser. Jika Sangkal Putung kemudian harus dikosongkan setelah pertempuran yang menentukan, maka sikap para prajurit Pajang tentu akan lebih keras terhadap rakyat Sangkal Putung. Tetapi jika tidak ada perlawanan ketika mereka melewati kademangan ini, maka sikap mereka akan berbeda. Sementara itu, Sangkal Putung memang dapat dikosongkan dengan mengungsikan para penghuninya ke tempat-tempat yang lebih aman.”

Namun Swandaru masih menjawab, “Kami mempertahankan kademangan ini dengan segenap kemampuan yang ada pada saat Tohpati berusaha untuk merebut lumbung padi yang melimpah ini. Tentu tidak mungkin bagi kami untuk melepaskan begitu saja tanpa mempertahankannya terhadap orang-orang Pajang.”

Kedua senapati yang datang ke Kademangan Sangkal Putung itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Kiai Gringsing untuk mendapatkan pertimbangannya. Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata, “Aku dapat mengerti perasaanmu Swandaru. Tetapi marilah kita mencoba berpikir dengan nalar dan sedikit melihat satu kepentingan yang besar dalam keseluruhan. Seandainya kita mempertahankan Sangkal Putung, maka pada akhirnya kitapun harus bergeser meninggalkan kademangan ini. Jika demikian, akibatnya memang akan jauh lebih parah daripada membiarkan orang-orang Pajang itu lewat.”

“Tetapi mereka akan mempergunakan kademangan ini sebagai landasan. Setidak-tidaknya mereka akan mempergunakan segala isinya untuk kepentingan mereka,“ jawab Swandaru.

“Swandaru,” berkata Kiai Gringsing dengan nada sareh, “pasukan Pajang tidak akan mempergunakan kademangan ini sebagai landasan. Kademangan ini masih terlalu jauh dari Kali Opak bagi sebuah pasanggrahan. Pasukan Pajang tentu akan mengambil tempat yang lebih dekat. Mungkin justru Kademangan Prambanan sendiri.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Sementara itu kedua senapati itupun berharap, bahwa keterangan gurunya akan dapat mempengaruhi sikap Swandaru.

Dalam pada itu, Ki Demang Sangkal Putung-lah yang bertanya, “Tetapi apakah tidak akan terjadi sesuatu yang parah bagi kademangan ini, apabila kita meninggalkannya dan ikut serta membangun sebuah pertahanan di Prambanan?”

“Menurut pendapatku, keadaannya akan lebih baik daripada kita mempertahankannya tetapi kemudian harus meninggalkannya,“ jawab salah seorang dari kedua senapati itu, “karena menurut perhitungan para pemimpin di Mataram, Mataram tentu akan karoban lawan. Karena itu Mataram akan bertahan di seberang Kali Opak. Pada saat pasukan Pajang menyeberangi sungai itu, maka Mataram akan dapat mempergunakannya untuk memperlemah pasukan Pajang itu.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu senapati yang lain berkata, “Kita tidak dapat membayangkan, apa yang akan dilakukan oleh para prajurit yang marah atas Sangkal Putung. Apalagi jika di antara mereka sudah banyak yang terbunuh. Sementara itu, pasukan Mataram pun tentu akan susut terlalu banyak untuk mempertahankan kademangan ini, terutama para pengawal Sangkal Putung sendiri. Sedangkan perlawanan yang demikian dapat dihindari, sehingga kematian yang tidak berarti itupun dapat dihindari pula.”

Swandaru terdiam sejenak. Namun agaknya masih terasa sesuatu bergejolak di dalam hatinya.

Sehingga dalam pada itu. Kiai Gringsing pun berkata, “Kita harus mampu memperhitungkan keadaan berlandaskan kepada kenyataan. Bukan atas dasar perasaan semata-mata. Dengan demikian kita akan mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Perang memang bukan satu keadaan yang menyenangkan. Setiap peperangan akan membawa pengorbanan. Siapapun yang akan menang dan kalah. Karena perang bukanlah satu penyelesaian yang paling baik.”

Swandaru tidak menjawab, meskipun sebenarnya ia masih belum sepenuhnya menerima keadaan yang akan berlaku atas Sangkal Putung.

Tetapi agaknya ia tidak mempunyai pilihan lain. Jika Mataram memang ingin bertahan di seberang Kali Opak, maka jika ia memaksa untuk mempertahankan Sangkal Putung tidak akan dapat berbuat apa-apa menghadapi pasukan Pajang itu sendiri.

Karena itu, maka ia memang tidak mempunyai pilihan lain.

Dengan demikian, maka para pemimpin di Kademangan Sangkal Putung itupun harus menerima satu kenyataan, bahwa mereka tidak akan dapat mempertahankan kademangan mereka seperti yang pernah mereka lakukan atas pasukan Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan, karena suasana dan keadaan yang berbeda.

Sepeninggal kedua Senapati itu, maka Sangkal Putung pun mulai membenahi diri. Ki Demang menyadari, bahwa dengan demikian akan terjadi pengungsian besar-besaran. Sangkal Putung memang harus dikosongkan untuk menghindari korban yang tidak berarti.

“Beberapa pengawal akan tinggal,“ berkata Swandaru, “aku akan memimpin mereka.”

“Untuk apa?“ bertanya Ki Demang.

“Kita tidak akan membiarkan para perampok mempergunakan segala macam kesempatan untuk keuntungan mereka. Sementara itu, jika pasukan Pajang datang, kami akan segera meninggalkan tempat ini, langsung memasuki pertahanan di seberang Kali Opak,“ jawab Swandaru.

“Berbahaya sekali,” jawab Ki Demang, “bagaimana keadaan kalian jika kalian dapat disergap oleh para prajurit Pajang?”

“Kami akan berhati-hati. Tetapi kami tidak dapat membiarkan kademangan ini kosong dan menjadi sasaran para perampok yang tidak menghiraukan keadaan apapun yang terjadi.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Satu tanggung jawab yang besar. Tetapi kalian harus sangat berhati-hati. Kalian harus tahu pasti, dimanakah daerah pertahanan para pengawal Kademangan Sangkal Putung.”

Ki Demang tidak dapat melarang anaknya untuk melakukannya. Karena itu, maka iapun hanya dapat berpesan dengan sungguh-sungguh agar para pengawal yang akan tinggal itu tidak lengah. Setiap kelengahan akan dapat berarti kesulitan yang gawat bagi mereka.

Dalam pada itu, maka Kademangan Sangkal Putung harus mulai berbuat sesuatu. Swandaru-lah yang kemudian memanggil para pemimpin kelompok, sementara Ki Demang memanggil semua bebahu di Kademangan Sangkal Putung.

Sementara Sangkal Putung sibuk mempersiapkan diri, maka dua orang senapati yang lain telah meninggalkan Jati Anom. Mereka telah menyampaikan segala pesan Raden Sutawijaya kepada Untara, karena menurut perhitungan Raden Sutawijaya, Untara yang menerima pesan langsung dari Kanjeng Sultan itu berdiri di pihaknya.

Sebenarnyalah, dengan sikap seorang prajurit, Untara pun segera mempersiapkan diri pula.

Seperti yang sudah di katakan oleh Raden Sutawijaya kepada setiap pemimpin pasukan lewat para penghubung, maka malam sebelum hari yang mendebarkan itu, mereka telah mengadakan sebuah pertemuan khusus bagi para pemimpin.

Raden Sutawijaya sendirilah yang memimpin pertemuan itu, yang dilaksanakan di sebuah banjar padukuhan yang cukup besar di sebelah barat Kali Opak.

Hadir dalam pertemuan itu para pemimpin dari berbagai daerah. Termasuk Swandaru yang mewakili Sangkal Putung. Namun malam itu juga Swandaru akan kembali ke Sangkal Putung untuk menghubungi beberapa orang pengawal yang tinggal untuk tetap mengamati kademangan itu, agar tidak menjadi korban para perampok yang tidak mau mengerti gejolak perjuangan yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri

Namun rasa-rasanya Raden Sutawijaya masih menganggap pertemuan itu belum lengkap. Dengan nada rendah ia bertanya, “Apakah wakil dari pasukan khusus sudah hadir?”

“Aku sudah ada, Raden,“ jawab Ki Lurah Branjangan.

“Apakah Ki Lurah sendiri?“ bertanya Raden Sutawijaya pula.

“Tidak. Aku disertai seorang perwira yang bersamaku mengendalikan Kesatuan Khusus itu,“ jawab Ki Lurah Branjangan.

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Kemudian di pandanginya Ki Gede sambil bertanya, “Apakah Ki Gede hanya berdua dengan Ki Waskita?”

“Ya Raden,“ jawab Ki Gede.

“Dimana Agung Sedayu?“ bertanya Raden Sutawijaya pula

“Agung Sedayu dan Sekar Mirah berangkat bersama Pasukan Khusus,“ jawab Ki Gede.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk Kemudian katanya kepada Ki Lurah Branjangan, “Panggil anak itu. Meskipun barangkali ia bukan pemimpin dari pasukan khusus itu, tetapi aku memerlukannya.”

Wajah Ki Lurah menegang. Namun iapun kemudian menggamit perwira yang menyertai sambil berkata, “Panggil anak itu.”

Ternyata bahwa Raden Sutawijaya masih menunggu. Baru sejenak kemudian Agung Sedayu hadir di pertemuan itu, tidak bersama Sekar Mirah.

“Dimana istrimu, Agung Sedayu?“ bertanya Raden Sutawijaya.

“Ia berada di ujung padukuhan bersama Pandan Wangi,“ jawab Agung Sedayu

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Namun ia merasa bahwa kehadiran Agung Sedayu sudah cukup melengkapi pertemuan itu.

Dengan demikian, maka Raden Sutawijaya pun kemudian mulai membuka pertemuan dengan menguraikan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di keesokan harinya

“Yang penting harus kita hadapi adalah justru sayap pasukan Pajang,“ berkata Raden Sutawijaya, “karena kekuatan yang dengan sepenuh hati oleh dendam dan kebencian akan menghancurkan Mataram adalah kekuatan yang berada di kedua ujung sayap pasukan Pajang.”

Para pemimpin pasukan yang tergabung dalam pasukan Mataram itu mengangguk-angguk. Sementara itu Raden Sutawijaya melanjutkan, “Karena itu, aku ingin meletakkan kekuatan yang terpenting dari pasukan kita juga di ujung-ujung sayap pasukan. Aku hanya memerlukan pasukan yang kecil saja di badan dan pusat gelar. Aku akan tetap memohon kepada Pamanda Ki Juru untuk menjadi Panglima seluruh pasukan Mataram. Aku akan berada di sayap gelar, karena sesuai dengan pesan Ayahanda, bahwa kekuatan yang harus di hadapi oleh Mataram adalah justru pasukan yang paling jauh dari Ayahanda Kanjeng Sultan. Sementara aku akan mengangkat Panglima di sayap yang lain, untuk mengimbangi sayap yang akan aku pimpin sendiri.”

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebagaimana penglihatannya, tidak ada orang lain yang akan dapat dipercaya untuk melakukannya.

Karena itu, maka dengan berat Ki Juru menjawab, “Apaboleh buat Ngger. Jika tidak ada orang lain, maka aku dengan terpaksa sekali akan menerima pengangkatan ini dengan keterangan, bahwa aku akan menghadap Kanjeng Sultan Pajang dengan kepala tunduk.”

“Paman memang tidak akan berbuat banyak di ujung dan pusat gelar, karena aku tahu, Ayahanda Kanjeng Sultan juga tidak akan berbuat banyak,“ jawab Raden Sutawijaya.

Ki Juru mengangguk-angguk. Ia tidak dapat mengelak lagi. Namun iapun mengerti, bahwa tidak akan terlalu berat tugasnya, sesuai dengan pesan Kanjeng Sultan.

“Tetapi jika pesan itu ternyata tidak terujud dalam kenyataan, maka justru tugaskulah yang akan menjadi paling berat,“ gumam Ki Juru.

“Memang mungkin terjadi Paman,“ jawab Raden Sutawijaya, “jika ada pihak yang memotong perintah Kanjeng Sultan, maka mungkin sekali kekuatan lawan akan berpindah. Tetapi dengan demikian, maka kitapun harus cukup cekatan untuk menggeser kekuatan kita di antara gelar yang akan kita pasang.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Meskipun masih juga ada kebimbangan di hatinya.

Sementara itu, maka Raden Sutawijaya pun berkata, “Dalam pada itu, maka aku akan berada di ujung kanan dari pertahanan ini bersama pasukan dari Mataram. Namun aku akan meletakkan pokok kekuatan pada pasukan yang dipimpin oleh Untara. Aku mempunyai perhitungan, bahwa pasukan Untara akan dapat mengimbangi kekuatan pasukan Pajang yang manapun juga. Sementara itu, aku akan meletakkan pasukan khusus dari Tanah Perdikan Menoreh bersama pasukan Tanah Perdikan Menoreh itu sendiri di ujung lain. Dalam pada itu pasukan Sangkal Putung akan berada di sayap sebelah kiri pula, sedang yang lain di sayap kanan.”

Para pemimpin yang berkumpul itu mendengarkan penjelasan Raden Sutawijaya dengan sungguh-sungguh, karena persoalan yang mereka hadapi itu adalah persoalan yang cukup besar. Setiap pemimpin mulai dapat membayangkan ujud pertahanan yang akan dibangun oleh pasukan Mataram.

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya masih belum menjelaskan pasukan yang akan berada di induk pasukan. Justru yang akan berhadapan langsung dengan induk pasukan Pajang.

Baru kemudian Raden Sutawijaya berkata, “Dengan demikian maka kita akan meletakkan kekuatan kita pada sayap pasukan kita. Sementara yang akan berada di induk pasukan adalah Pamanda Ki Juru dengan pasukan Mataram yang berasal dari prajurit Pajang, yang bersama aku membuka Mataram atas perkenan Ayahanda Kanjeng Sultan. Pasukan yang semula adalah pasukan di Pajang.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Ia mengerti, pasukan itu adalah pasukan yang berpengalaman dan memiliki kemampuan yang cukup tinggi, meskipun pada umumnya bukan lagi dapat disebut muda. Pasukan itu adalah pasukan yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar. Yang kemudian di ijinkan untuk membantu Raden SIutawijaya membuka Mataram, di samping beberapa kelompok prajurit, yang atas permohonan mereka sendiri telah berada di Mataram pula.

“Tetapi pasukan itu terlalu kecil,“ berkata Ki Juru.

“Aku yakin, bahwa dengan pasukan yang kecil itu, Ki Juru akan dapat menahan pasukan Pajang yang dipimpin langsung oleh Ayahanda Kanjeng Sultan,“ jawab Raden Sutawijaya.

Ki Juru termangu-mangu sejenak. Tetapi akhirnya iapun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi jika aku mengalami kesulitan, aku akan minta bantuan beberapa kelompok pasukan yang berada di sayap.”

“Tentu Paman,“ jawab Raden Sutawijaya,“ sayap pasukan ini tidak akan berada terlalu jauh. Paman akan dapat mempergunakan isyarat panah sendaren.”

“Aku akan mencoba berbuat sebaik-baiknya,“ berkata Ki Juru.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya berkata, “Karena aku dan Untara akan berada di satu sisi, maka di sisi yang lain, landasan kekuatan ada pada pasukan khusus yang dipimpin oleh Ki Lurah Branjangan. Meskipun pimpinan berada di tangan Ki Lurah, namun aku akan minta Agung Sedayu untuk berada di sayap itu untuk menghadapi orang-orang terpenting dalam pasukan lawan. Aku percayakan pimpinan gelar pada Ki Lurah. Tetapi dalam benturan para senapati, maka aku menempatkan Agung Sedayu dan Sekar Mirah di samping Ki Gede dan Ki Waskita. Sementara itu, Swandaru dan Pandan Wangi di bawah pengawasan Kiai Gringsing akan berada di bagian dalam sayap itu pula. Adapun yang akan berada bersamaku, Untara dan Ki Widura, adalah pimpinan pasukan dari Pasantenan dan Mangir, serta seorang prajurit muda yang diserahi kelompok khusus dari pasukan Untara, Sabungsari.”

Demikianlah untuk beberapa saat, para pimpinan itu masih berbincang ketika Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga memberi kesempatan kepada mereka untuk berpendapat. Namun yang kemudian mereka tentukan adalah tebaran pasukan masing-masing di pinggir Kali Opak.

“Kita akan menentukan kemudian,“ berkata Raden Sutawijaya, “tetapi kita mempergunakan pegangan jarak masing-masing dari paruh pasukan yang dipimpin oleh Paman Juru Martani. Paruh pasukan itu akan berada di hadapan induk pasukan Pajang yang dipimpin oleh Ayahanda Kanjeng Sultan. Sementara tanda-tanda kebesaran akan berada di pasukan Paman Juru. Umbul-umbul, ron-tek dan tunggul. Namun di sayap pasukan pun akan terdapat pula beberapa rontek dan tunggul.”

Demikianlah, setelah semuanya jelas, meskipun para pemimpin itu masih berbincang lebih dalam lagi, Swandaru telah meninggalkan pertemuan itu. Ia sudah tahu, dimanakah pasukan Sangkal Putung kira-kira akan membangun pertahanan. Sementara itu, ia berpacu dengan beberapa orang pengawal menuju ke Sangkal Putung. Jarak yang cukup panjang. Tetapi ia masih akan memberikan beberapa pesan kepada para pengawal. Namun dengan perhitungan, bahwa ia harus berada di Prambanan lagi sebelum pasukan Pajang berada di Prambanan pula.

Dalam pada itu, malam itu juga, pasukan Mataram telah menempatkan diri. Mereka memperhitungkan, bahwa induk pasukan Pajang akan berada di sekitar jalan menuju ke Mataram. Karena itu, maka mereka untuk sementara menempatkan induk pasukan mereka di sebelah jalur jalan itu pula. Namun jika induk pasukan lawan bergeser, induk pasukan Mataram akan bergeser pula.

Tetapi Raden Sutawijaya tidak sekedar mempercayakan pertahanannya pada kekuatan pasukannya. Karena itu, ia telah memerintahkan beberapa orang untuk pergi ke bendungan yang terletak beberapa puluh tonggak di sebelah atas dari Prambanan. Dengan isyarat, maka mereka mempunyai tugas untuk memecahkan sebuah bendungan, sehingga air dari kedung yang terbendung itu akan meluap di sepanjang sungai.

“Bagaimana dengan rakyat yang memerlukan air itu Raden?“ bertanya Kiai Gringsing ketika ia mendengar rencana itu.

“Setelah perang ini selesai, maka kita akan memperbaiki bendungan itu seperti semula,“ jawab Raden Sutawijaya.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam Tetapi ia tidak mencegahnya.

Dalam pada itu, setelah masing-masing menempatkan diri serta menentukan hubungan dan isyarat, maka pasukan dari Mataram itu masih sempat beristirahat beberapa saat, karena malam masih panjang. Namun dalam pada itu, beberapa orang yang bertugas tetap berjaga-jaga dan mengawasi keadaan dengan seksama. Mereka berusaha agar tidak seorangpun yang akan mengamati garis pertahanan mereka. Sehingga dengan demikian, para prajurit Pajang tidak akan mengetahuinya, bahwa Raden Sutawijaya telah menempatkan sebagian terbesar kekuatannya justru di sayap pasukan. Justru karena pesan Kanjeng Sultan akan memisahkan para prajurit yang benar-benar setia kepada Sultan, serta mereka yang berpura-pura setia namun telah membuat rencana mereka sendiri.

Dalam pada itu, Swandaru dan para pengawalnya telah mendekati Sangkal Putung. Terasa betapa sepinya malam. Agaknya orang-orang Sangkal Putung yang mengungsi telah menumbuhkan kegelisahan pula bagi kademangan-kademangan di sekitarnya, sehingga para penghuninya pun sebagian telah mengungsi pula.

“Tetapi Pajang tidak menganggap mereka terlibat langsung,“ berkata Swandaru kepada para pengawal, “karena itu, maka para prajurit Pajang tidak akan mendendam mereka sebagaimana mereka mendendam orang-orang Sangkal Putung.”

Kekelaman yang semakin lengang terasa ketika Swandaru mulai memasuki padukuhan-padukuhan yang termasuk ke dalam Kademangan Sangkal Putung. Seolah-olah tidak ada lampu di rumah-rumah dan tidak ada obor di gardu-gardu yang menyala.

Meskipun demikian, sekelompok pengawal telah menghentikan Swandaru yang melintasi jalan yang gelap.

“Swandaru?“ desis seorang pengawal.

“Ya, aku,“ jawab Swandaru.

“Bagaimana dengan para pengawal dari Mataram?“ bertanya pengawal itu.

“Kita sudah menentukan sebuah garis pertahanan,“ jawab Swandaru, “menjelang fajar menyingsing, kita akan meninggalkan kademangan ini dengan diam-diam, agar kademangan ini tidak menjadi sasaran para perampok. Sementara sebagian kecil dari kita akan menunggu pasukan Pajang mendekati kademangan ini. Yang sebagian kecil itu akan segera bergeser menyingkir jika pasukan Pajang telah nampak di ujung bulak di batas kademangan ini. Kalian dapat menempuh jalan menuju ke hutan dan melintasi hutan yang tidak begitu lebat, menyamping lereng di sebelah selatan gunung dan langsung mencapai Prambanan. Kalian akan menyeberangi Kali Opak sebelum Kali Opak memasuki Kademangan Prambanan.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Namun seorang di antara mereka bertanya, “Siapa di antara kita yang akan tinggal dan baru menyingkir kemudian?”

“Nama-nama itu akan ditentukan kemudian,“ jawab Swandaru. Lalu, “Aku akan ke induk kademangan. Di sana aku akan menentukan.”

Para pengawal itu mengangguk-angguk. Sementara itu Swandaru pun telah meninggalkan mereka dan langsung menuju ke induk kademangan. Di setiap padukuhan, ia memang harus berhenti sejenak untuk memberikan penjelasan.

Beberapa orang yang kebetulan mendapat giliran untuk beristirahat, menguap di bibir gardu sambil bertanya, “Ada apa?”

“Swandaru,“ jawab kawannya.

“Ada apa dengan Swandaru?“ bertanya anak itu lagi.

Kawan-kawannya yang ikut berbincang dengan Swandaru itupun kemudian memberikan penjelasan kepada kawan-kawannya, sementara Swandaru sendiri telah sampai ke padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.

Sambil memberi kesempatan kudanya untuk beristirahat, Swandaru memberikan beberapa penjelasan kepada seorang pengawal yang telah mendapat kepercayaannya untuk memimpin kawan-kawannya yang tinggal di Sangkal Putung, sebelum pasukan Pajang datang.

“Aku akan melakukannya sebaik-baiknya,“ berkata anak muda itu.

Sementara itu, menunggu fajar, Swandaru pun masih sempat membaringkan dirinya di pendapa rumahnya. Rasa-rasanya ia tidak ingin meninggalkan tempat itu lagi, meskipun pasukan Pajang akan datang dan membuat kademangan itu menjadi karang abang.

Tetapi baru saja ia sempat memejamkan matanya, ayam jantan telah berkokok untuk ketiga kalinya. Tanpa dibangunkan, Swandaru telah membuka matanya. Perlahan-lahan ia bangkit dan menggeliat. Kemudian ketika ia turun dari tangga kademangan, maka beberapa orang pengawal itu bersiap-siap pula.

Swandaru tidak sempat mandi. Ia hanya mencuci mukanya. Kemudian iapun siap untuk kembali ke Prambanan.

Meskipun demikian, untuk memberi kesempatan kudanya beristirahat lebih lama, maka iapun telah mempergunakan seekor kuda yang lain, sementara kudanya akan dipergunakan oleh kawannya yang baru akan meninggalkan Sangkal Putung kemudian, apabila pasukan Pajang telah nampak di ujung bulak.

Sejenak kemudian, Swandaru dan sebagian besar dari para pengawal yang tinggal telah berpacu di atas punggung kudanya. Tetapi masih ada beberapa orang yang tinggal di setiap padukuhan. Pengawal yang berada di paling ujung harus mengawasi bulak panjang di hadapan padukuhan. Jika pasukan Pajang muncul, maka mereka akan meninggalkan padukuhan itu melewati jalur jalan yang telah ditentukan, sambil mengajak kawan-kawan mereka di padukuhan-padukuhan yang akan dilewatinya menuju ke Prambanan lewat jalan yang telah ditunjuk oleh swandaru.

Sementara itu, Swandaru sendiri berpacu melalui jalan memintas. Menurut pendapatnya, jalur jalan yang terbiasa dilalui untuk menuju ke Mataram tentu sudah diawasi oleh orang-orang Pajang. Meskipun mereka mungkin tidak akan berbuat apa-apa, tetapi keterangan mereka mungkin akan dapat merugikan Mataram.

Sementara itu, sebenarnyalah bahwa pasukan Pajang telah bersiap. Tetapi ternyata bahwa Kanjeng Sultan tidak tergesa-gesa. Kanjeng Sultan tidak meninggalkan Istana menjelang dini hari. Tetapi Kanjeng Sultan baru bersiap ketika matahari sudah terbit di ujung timur

Ketika seseorang mengusulkan untuk membagi pasukannya dan melingkari daerah pertahanan yang mungkin akan di pergunakan oleh Mataram, untuk langsung menusuk jantung Mataram dari arah lain, Kanjeng Sultan tidak setuju.

“Aku akan melihat, apakah Sutawijaya benar-benar seorang laki-laki di medan perang. Aku akan memecahkan pertahanan Mataram langsung beradu dada,“ berkata Kanjeng Sultan

 

 

Tidak seorang senapati pun yang membantah. Sementara itu Kanjeng Sultan telah siap dengan kadang sentana, para senapati, dan gegedug Pajang yang memiliki nama menggetarkan di medan perang.

Di antara mereka adalah Adipati Tuban. Adipati yang dengan ikhlas telah bertempur di pihak Kanjeng Sultan tanpa mengetahui persoalan yang sedang berkembang di Pajang

Karena itu, maka Kanjeng Sultan telah menunjuk Adipati Tuban dan pasukan yang dibawanya untuk berada di induk pasukan bersama putra kinasih yang telah dipisahkan oleh satu jarak dengan Kanjeng Sultan, Pangeran Benawa.

“Kalian adalah Senapati Pengapit kiri dan kanan. Tetapi kalian jangan renggang dari aku lebih dari panjang tombak kalian,” perintah Kanjeng Sultan. Lalu, “Biarlah para panglima dan senapati berada di sayap pasukan kiri dan kanan.”

Perintah itu telah disambut dengan senang hati oleh Ki Tumenggung Prabadaru dengan kawan-kawannya. Tanpa mengetahui latar belakang perintah Kanjeng Sultan itu, mereka merasa bahwa dengan jarak yang cukup, mereka akan dapat berbuat apa saja di luar pengamatan langsung Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Apalagi Pangeran Benawa sudah mendapat perintah untuk tidak terpisah dari Ayahandanya itu.

“Adipati Tuban memang akan dapat mengganggu,“ berkata Ki Tumenggung Prabadaru. “Untunglah, bahwa ia berada dekat dengan Kanjeng Sultan dan Pangeran Benawa. Sementara Adipati Demak tidak akan banyak menentukan sikap. Ia akan hanyut saja dalam arus peperangan yang akan terjadi di sekitarnya. Karena itu, maka kita akan menghancurkan lewat sayap pasukan ini. Kita tidak mempercayakan kemenangan pasukan Pajang pada induk pasukan. Bahkan kita akan membiarkan kedua pasukan itu hancur. Pasukan Mataram dan induk pasukan Pajang. Kita akan berdiri di atas bangkai mereka. Akan bangkit kemudian satu pemerintahan yang besar, sebagaimana pemerintahan Majapahit lama. Kita akan menjalankan tugas Kakang Panji sebaik-baiknya.”

Demikianlah, maka Tumenggung Prabadaru dengan Kesatuan Khususnya yang sangat kuat berada di sayap kanan, sementara para perwira yang lain, yang mendapat kepercayaan sebagaimana Ki Tumenggung Prabadaru, berada di sayap kiri. Namun dalam pada itu, di samping para perwira dari pasukan Pajang yang telah terpengaruh oleh mimpi buruk Kakang Panji, maka sebenarnyalah di dalam pasukan itu telah tersisip pula orang-orang yang telah menyatakan diri bergabung dengan mereka. Karena itulah, maka pasukan-pasukan yang berada di sayap itupun merupakan pasukan yang cukup kuat dan memiliki kemampuan yang tinggi. Di luar tugas keprajuritannya yang sudah ditanggalkan sejak ia dinyatakan mati, maka Pringgajaya ternyata sempat juga berada di pasukan Pajang dengan nama yang berbeda. Sementara itu orang-orang yang datang dari beberapa padepokan yang ikut pula bermimpi sebagaimana Ki Tumenggung Prabadaru, telah hadir pula di pertempuran itu di luar pengetahuan Kanjeng Sultan. Namun sebenarnyalah Kanjeng Sultan yang bernama Mas Karebet di masa mudanya itu bukan orang yang terlampau dungu, sehingga apa yang terjadi di pasukannya itu akhirnya diketahuinya juga.

Tetapi Kangjeng Sultan tidak berbuat sesuatu. Ketajaman nalarnya telah membuatnya dengan sengaia membiarkan apa yang terjadi, karena menurut perhitungannya yang cermat, maka Sutawijaya tentu telah menerima pesannya dan meletakkan kekuatannya di sayap pasukannya pula.

“Mudah-mudahan Sutawijaya tidak salah hitung,“ berkata Kanjeng Sultan di dalam hatinya.

Demikianlah, maka pasukan Pajang yang besar telah bergerak langsung menuju ke Prambanan. Kanjeng Sultan telah memerintahkan kepada seluruh pasukannya, bahwa menurut laporan yang diterima oleh para petugas sandi, bahwa pasukan Mataram justru telah bergerak lebih dahulu menuju ke Prambanan Karena itu, maka Kanjeng Sultan akan menghadapi pasukan Mataram itu di tempat mereka bertahan.

“Satu cara yang kurang bijaksana,“ berkata seorang senapati kepada Ki Tumenggung Prabadaru, “sebenarnya Kanjeng Sultan dapat membagi pasukan ini. Sebagian dari kita akan menyerang dari arah lain menuju langsung ke Mataram. Kita sudah mengetahui daerah pertahanan yang paling kuat di sekitar Mataram. Namun dengan cara ini kita akan berhadapan langsung dengan benturan yang dahsyat.”

“Bukankah kita akan mendapatkan keuntungan dari benturan ini?“ bertanya Ki Tumenggung Prabadaru. “Kemarahan Sultan yang tidak tertahankan telah membuatnya bernafsu untuk menghukum langsung Raden Sutawijaya. Namun dengan demikian, bukankah berarti bahwa kedua orang ayah dan anak angkat itu akan bersama-sama hancur? Jika kita menembus Mataram dengan cara lain, maka korban tidak akan jatuh dari kedua belah pihak. Mungkin Kanjeng Sultan akan mampu menghimpun pengikutnya untuk menegakkan kekuatannya kembali. Pengalaman pahit karena pemberontakan putra angkatnya yang sangat dikasihinya ini akan dapat merubah keadaannya, sehingga ia akan bangkit lagi dari kelemahannya lahir dan batin sekarang ini.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Nampaknya Ki Tumenggung Prabadaru telah memperhitungkannya dengan cermat. Bahkan mungkin telah dibicarakan pula dengan orang yang menyebut dirinya Kakang Panji.

Iring-iringan pasukan Pajang itu telah membuat rakyat padukuhan yang dilaluinya menjadi sangat cemas. Mereka membayangkan bahwa akan terjadi perang yang sangat dahsyat, menilik kekuatan Pajang yang besar telah dikerahkan menuju ke Mataram.

“Mataram akan menjadi karang abang,“ desis orang-orang padukuhan yang dilalui oleh pasukan itu

“Kanjeng Sultan telah mempergunakan titihan kinasihnya,“ berkata yang lain, “pertanda bahwa Kanjeng Sultan benar-benar telah berada dalam puncak kemampuannya sebagai seorang Raja, Panglima dan Pangayoman. Dengan kendaraan gajah, Kanjeng Sultan adalah Panglima perang yang mampu berbuat apa saja di medan.”

Sebenarnyalah, iring-iringan itu merupakan campur baur antara kebanggaan dan kecemasan rakyat Pajang sendiri. Jika Mataram juga mengerahkan kekuatan yang sama, maka tentu akan terjadi perang yang maha dahsyat. Sebagian dari mereka yang berangkat ke medan itu, untuk selamanya tidak akan pernah kembali lagi kepada anak istrinya, kepada orang tuanya, dan tidak akan pernah melihat lagi kampung halamannya.

Sebenarnya Pajang telah menunjukkan kekuatan yang besar. Dengan melihat pasukan yang dengan kesiagaan perang menuju ke Mataram itu, sebenarnya Pajang adalah satu kekuatan yang luar biasa. Apalagi jika kekuatan Pajang itu bergabung dengan kekuatan Mataram. Maka Pajang tentu akan menjadi satu negara yang disegani. Bukan saja oleh sanak kadang di satu lingkungan, tetapi juga oleh kekuasaan asing yang berkeliaran di sekitar bumi Nusantara.

Tetapi dalam barisan yang panjang dengan kesiagaan tempur yang tinggi itu terdapat beberapa pihak yang hanya nampak satu dalam ujud lahiriahnya, namun yang terbelah di jantungnya. Sehingga dengan demikian, maka yang nampak satu itu adalah gejolak pertentangan yang dahsyat dan mengakar. Dalam ujud yang satu itu telah tersimpan kutukan dan harapan yang kelam dalam doa kematian.

Namun demikian, umbul-umbul, rontek dan kelebet di ujung pasukan mengiringi seekor gajah yang berwarna kelabu dengan kelengkapan yang cemerlang dan berbinar di sinar matahari pagi, telah menggetarkan setiap jantung. Di sebelah-menyebelah, dua orang senapati pengapit di atas pungggung kuda yang tegar. Adipati Tuban dan Pangeran Benawa sendiri. Sementara itu, beberapa lapis di belakangnya adalah Adipati Demak. Baru kemudian, para prajurit dan pengawal dari Pajang, Tuban dan Demak mengiringi di belakang. Sementara itu, di ujung belakang adalah para prajurit dan pasukan yang kemudian akan menebar di sayap kanan dan kiri.

Dalam pada itu, ternyata iring-iringan pasukan Pajang itu sama sekali tidak tergesa-gesa. Meskipun dengan langkah yang mantap dalam irama yang berderap dijiwai oleh nafas peperangan, namun pasukan itu maju secepat langkah-langkah kaki mereka.

Kanjeng Sultan Hadiwijaya tidak banyak memperhatikan padukuhan-padukuhan yang dilaluinya. Dengan sadar, Kanjeng Sultan sudah memperhitungkan, bahwa padukuhan-padukuhan akan menjadi sepi. Para penghuni tentu akan menghindarkan diri dari sentuhan pasukan yang sudah siap untuk membunuh atau dibunuh itu.

Seperti yang diperhitungkan oleh Mataram, maka tentu ada petugas sandi yang akan mendahului perjalanan pasukan Pajang. Dalam ujud orang kebanyakan, mereka benar-benar telah mengamati jalan yang akan dilalui oleh pasukan itu untuk meyakinkan, dimana Mataram membangunkan pertahanan.

Meskipun telah ada laporan sebelumnya, bahwa sebagian pasukan Mataram telah membangun pasranggahan di sebelah barat Kali Opak, namun petugas sandi yang mendahului perjalanan pasukan itu masih harus meyakinkan apa yang telah mereka dengar dari laporan sebelumnya.

Dengan menghindari jalan yang mungkin mendapat pengawasan, maka para petugas itu akhirnya dapat melihat, bahwa di seberang Kali Opak, Mataram benar-benar telah membangun sebuah pasanggrahan. Mereka melihat rontek, umbul-umbul dan panji-panji yang terpasang. Rasa-rasanya dengan sengaja Mataram telah menantang untuk membenturkan kekuatannya.

“Orang-orang Mataram memang gila,” desis petugas sandi itu. “Apakah mereka sudah kehilangan kiblat? Bagaimanapun juga, mereka tidak akan dapat mengimbangi kekuatan dari Pajang. Meskipun mereka mengerahkan semua laki-laki dari mereka yang baru dapat berjalan sampai mereka yang sudah siap dibawa ke liang kubur dari Mataram sendiri, Mangir, Tanah Perdikan Menoreh, Pasantenan di Gunung Kidul, dan Sangkal Putung, bahkan dari daerah asal Senapati ing Ngalaga di Sela, atau selingkar Gunung Merapi dan Merbabu, namun Mataram tidak akan dapat mengimbangi, bahkan sekuku ireng, dari kekuatan Pajang yang dikerahkan sekarang ini.”

Tetapi kawannya tiba-tiba berdesis, “Kita tidak boleh takabur. Kau lihat bahwa Mataram memiliki kekuatan di luar perhitungan nalar. Tentu kau pernah mendengar, bahwa kakek Raden Sutawijaya adalah seorang yang dianggap mampu menangkap petir.”

Kawannya tertawa. Katanya, “Seandainya benar, kau kira ia akan bangkit lagi dari kuburnya? Lihat, langit cerah sekarang ini. Tidak ada petir yang berkeliaran yang barangkali akan ditangkap oleh kakek Senapati ing Ngalaga dan diberikan kepadanya untuk senjata melawan Pajang.”

“Dengar,“ geram kawannya, “marilah kita melihat arti methoknya dan arti miringnya. Jika benar Ki Ageng Sela itu mampu menangkap petir di langit, itu pertanda bahwa ia memiliki kemampuan yang tidak ada duanya di dunia ini. Tetapi seandainya kita ambil arti miringnya, maka petir itu tentu satu sanepa tentang kekuatan yang maha besar.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kau masih belum yakin akan kemampuan Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang di masa mudanya bernama Karebet dan disebut Jaka Tingkir itu? Kemudian ilmunya yang sudah tumurun kepada Pangeran Benawa. Meskipun Pangeran Benawa itu kurang dapat dijajagi jalan pikirannya, tetapi sekarang ia berada di sisi Ayahandanya, di sebelah Adipati Tuban. Kau pernah mendengar kemampuan Adipati Tuban? Nah, kemudian kau harus memperhitungkan kemampuan Adipati Demak. Terlebih-lebih lagi kekuatan yang ada di sayap. Meskipun di antara mereka tidak ada orang yang memiliki kemampuan setinggi Pangeran Benawa, namun kemampuan mereka adalah kemampuan yang terpadu, seperti janget tinatelon. Mungkin seutas janget akan putus oleh kekuatan seekor lembu jantan, tetapi tiga ganda maka kekuatan itu tidak akan terputuskan.”

“Hatiku berkata lain,“ desis kawannya, “tetapi baiklah. Kita akan melaporkan apa yang kita lihat. Kita sudah pasti, bahwa pertahanan Mataram tidak berada di Hutan Tambak Baya atau di tebing Kali Kuning atau di Sangkal Putung, tetapi di seberang Kali Opak. Dengan demikian, maka pasukan Pajang akan dapat mengatur diri sebelum benturan yang sebenarnya terjadi.”

Demikianlah, maka petugas-petugas sandi itupun kemudian kembali menyongsong pasukan Pajang. Merekapun tahu, bahwa di Sangkal Putung masih ada beberapa orang pengawal, tetapi jumlahnya sama sekali tidak berarti. Sehingga merekapun mengambil kesimpulan bahwa pengawal yang ada di Sangkal Putung tentu tidak dimaksudkan untuk menghambat kemajuan pasukan Pajang, selain sekedar untuk melindungi harta benda yang ada di kademangan itu dari tangan-tangan hitam para perampok.

Dengan hasil pengamatan mereka itulah, maka para petugas sandi itupun kemudian kembali ke induk pasukan mereka. Mereka melaporkan secara terperinci, dimana pasukan Mataram membangun pertahanan. Bahkan seolah-olah Mataram telah menantang dengan dada tengadah.

“Mereka telah memasang pertanda kebesaran pasukan mereka di seberang Kali Opak. Nampaknya mereka telah membangun pasanggrahan dan siap menunggu kedatangan pasukan Pajang, yang agaknya telah mereka ketahui bergerak menuju ke Mataram,“ lapor para petugas sandi itu.

Kanjeng Sultan yang mendengar laporan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mataram memang mempunyai telinga dan mata di segala tempat di Pajang ini.”

Adipati Tuban pun menyahut, “Tentu ada orang yang telah berkhianat. Tetapi bukankah pasukan Pajang cukup kuat untuk menghancurkan pasukan Mataram, meskipun mereka telah bersiap di sebelah barat Kali Opak? Betapapun banyak pengikutnya, tetapi pasukan mereka tidak akan sekuat pasukan Pajang yang terdiri dari para prajurit terlatih. Sementara itu agaknya Mataram telah mengerahkan setiap orang laki-laki yang masih pantas untuk menggenggam pedang. Mengerti atau tidak mengerti cara mempergunakannya.”

Kanjeng Sultan mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kita akan melihat, apa yang sudah dipersiapkan oleh Mataram. Sepasukan prajurit yang tangguh di medan perang, atau sekelompok laki-laki yang siap untuk mengusir burung di sawah.”

Pangeran Benawa sama sekali tidak menyahut. Wajahnya nampak berkerut. Tetapi tidak seorangpun yang tahu, apa yang bergejolak di dalam hatinya.

Dalam pada itu, pasukan Pajang itupun perlahan-lahan bergerak maju menuju ke Prambanan. Sementara itu, di bagian belakang dari iring-iringan yang panjang itu, Ki Tumenggung Prabadaru berkata, “Kita akan melihat, bahwa pasukan Pajang yang dibanggakan dan ditempatkan di Jati Anom itu sudah berkhianat.”

“Sudah dapat diduga,“ jawab seorang kawannya, “tetapi pasukan itu tidak akan berarti apa-apa.”

“Jika pasukan itu berdiri sendiri memang tidak akan berarti apa-apa. Tetapi bersama orang-orang Mataram, maka pasukan itu akan dapat menghambat kehancuran Mataram. Tetapi jika itu berarti bahwa pasukan Pajang harus mengorbankan jauh lebih banyak orang-orangnya dan kemudian sampyuh di peperangan, akan membawa arti yang lebih baik bagi kita,“ jawab Ki Tumenggung Prabadaru.

“Tetapi jika pasukan Untara itu diletakkan di sayap, rasa-rasanya akan membumbui pertempuran ini dengan rasa asam yang agak tajam,“ jawab kawannya.

“Jangan cemas. Kesatuan khusus kita akan menggilasnya sampai orang terakhir,“ jawab Ki Tumenggung Prabadaru.

Kawannya tidak menjawab lagi. Iring-iringan itupun semakin lama menjadi semakin maju. Meskipun lambat, tetapi pasukan itu akhirnya mendekati sasaran. Namun sementara itu terik mataharipun telah membakar tubuh.

Ketika pasukan itu melewati Sangkal Putung, maka seperti yang sudah diperhitungkan, tidak ada hambatan apapun yang berarti. Para pengawal yang sudah memperhitungkan kehadiran pasukan Pajang telah menyingkir. Sebagian dari mereka langsung menuju ke Prambanan lewat jalan memintas di lambung Gunung Merapi, namun ada beberapa orang yang tinggal dan akan tetap mengawasi Kademangan Sangkal Putung. Mereka hanya sekedar bergeser keluar kademangan dan bersembunyi di hutan yang tidak terlalu lebat, untuk kemudian memasuki kademangan terdekat atas ijin para penghuninya. Dari tempat itu mereka mengamati kampung halaman mereka yang sepi, agar tidak menjadi sasaran kejahatan.

Dalam terik panasnya matahari, maka sekali-sekali iring-iringan pasukan Pajang yang panjang itupun harus berhenti. Pasukan itu nampaknya memang tidak tergesa-gesa. Dengan perlahan-lahan tetapi penuh keyakinan, pasukan itu mendekati garis pertahanan Mataram.

Para pengamat dari Mataram akhirnya menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat ujung dari rontek, umbul-umbul dan kelebet yang mulai nampak muncul dari ujung bulak panjang di sebelah padukuhan. Para pengamat yang menyeberangi Kali Opak itu melihat, betapa pasukan yang sangat besar itu bergerak maju, seperti seekor ular raksasa yang menelusuri jalurnya dengan sorot mata yang memancarkan api kemarahan.

“Kita akan melaporkan kepada Senapati ing Ngalaga,“ berkata seorang di antara para pengamat itu.

“Baiklah. Kita harus bersiap,“ jawab yang lain.

Ketika para pengamat itu melaporkan apa yang mereka lihat, maka sama sekali tidak nampak kegelisahan di wajah Raden Sutawijaya. Bahkan ia berkata, “Aku hampir tidak sabar menunggu kedatangan mereka. Alangkah lambatnya.”

“Kami melihat seekor gajah di ujung pasukan,“ berkata pengamat itu.

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Sementara itu Ki Juru berkata, “Kanjeng Sultan ada dalam puncak kebesaran seorang Panglima.”

“Ya Paman. Kita akan melihat, apa yang akan mereka lakukan setelah mereka berada di seberang sungai,“ jawab Raden Sutawijaya.

Ki Juru mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berdesis perlahan, “Menempatkan dirinya dalam sebuah pesanggrahan lebih dahulu.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Iapun sependapat dengan Ki Juru. Tetapi ia tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Sehingga karena itu, maka para pemimpin pasukan di lingkungan pasukan Mataram itu segera mempersiapkan diri. Mereka telah berada di lingkungannya masing-masing. Beberapa orang penghubung berkuda hilir mudik di belakang garis pertahanan.

Apalagi sejenak kemudian mulai terdengar bunyi bende dan genderang perang yang mengumandang. Pasukan Pajang mulai mempercepat irama langkah pasukan mereka mendekati pertahanan Mataram.

Raden Sutawijaya yang masih berada di induk pasukan menjadi ragu-ragu. Rasa-rasanya irama yang semakin cepat dan meninggi itu telah mewarnai pasukan Pajang dengan langkah-langkah pasti

Tetapi sekali lagi Ki Juru menggeleng. Katanya, “Aku tetap berpendirian, pasukan Pajang tidak akan turun ke medan.”

“Tetapi kita harus bersiaga sepenuhnya Paman,“ berkata Raden Sutawijaya.

“Bukankah kekuatan Mataram yang berada di sayap pasukan sudah siap untuk bertempur?“ bertanya Ki Juru.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku menyerahkan pimpinan sayap kanan kepada Untara. Meskipun sebenarnya aku bimbang, tetapi aku condong untuk berpendapat, bahwa pasukan Pajang memang tidak akan menyerang hari ini.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Sementara itu, tiba-tiba saja suara bende dan genderang pasukan Pajang menurun cepat. Kemudian justru telah berhenti.

Raden Sutawijaya dan Ki Juru pun kemudian tampil di atas tanggul Kali Opak, di bayangan sebuah gerumbul. Bagaimanapun juga, rasa-rasanya Raden Sutawijaya tidak ingin langsung menampakkan diri di hadapan Ayahanda.

Pasukan Pajang ternyata berhenti di padukuhan di belakang bulak di sebelah timur Kali Opak.

“Paman benar,“ desis Raden Sutawijaya.

“Matahari telah mulai turun,“ berkata Ki Juru,“ besok pagi mereka akan mulai dengan serangan mereka.”

Raden Sutawijaya tidak menyahut. Namun dari kejauhan ia melihat kesibukan pasukan Pajang untuk menyiapkan sebuah pesanggrahan. Mereka memasang rontek, umbul-umbul dan panji-panji sebagaimana Mataram memasang di pesanggrahannya.

Dalam pada itu, maka atas perintah Kanjeng Sultan, maka pasukan Pajang itupun mulai menebar. Mereka menempati sebuah padukuhan yang luas. Bahkan kemudian sayap dari pasukan itu telah memencar ke sebelah-menyebelah, menempatkan pasukan-pasukan di seberang bulak-bulak yang tidak begitu panjang.

Sambil menarik nafas dalam-dalam Ki Juru berkata, “Satu pasukan raksasa.”

Raden Sutawijaya mengangguk kecil. Namun ketegangan di jantungnya nampak di kerut wajahnya. Bagaimanapun juga, Raden Sutawijaya melihat pasukan Pajang itu benar-benar satu pasukan yang sangat kuat. Sementara itu, di ujung pasukan Kanjeng Sultan sendiri memimpin seluruh pasukannya di atas seekor gajah.

Ketika Raden Sutawijaya kemudian kembali ke pesanggrahannya, beberapa orang pengawas bertugas untuk selalu mengamati gerak pasukan-pasukan Pajang. Dalam waktu-waktu tertentu mereka harus membuat laporan kepada setiap pemimpin kesatuan yang ada di sebelah barat Kali Opak.

Dalam pada itu, para pemimpin pasukan di lingkungan pasukan Mataram itupun sempat memperhatikan pasukan Pajang yang besar itu. Bagaimanapun juga mereka harus membuat perhitungan yang sangat cermat. Pasukan lawan memang terlalu kuat.

Tetapi yang mendebarkan adalah justru induk pasukan Mataram yang hanya terdiri dari sebagian pasukan Mataram yang dilimpahkan oleh Pajang pada saat Raden Sutawijaya membuka Alas Mentaok, kemudian mendapat gelar Senapati ing Ngalaga. Padahal pasukan Pajang di induk pasukan itu terdiri dari beberapa pasukan yang kuat. Pasukan pengawal khusus, pasukan dari Tuban dan Demak, serta beberapa kesatuan yang terpercaya.

“Apa yang dapat dilakukan oleh Ki Juru menghadapi pasukan itu?“ berkata beberapa orang pemimpin pasukan di sayap.

“Ada yang tidak kita mengerti dari sikap Raden Sutawijaya,“ sahut yang lain. Lalu, “Tetapi kekuatan di sayap pasukan, tidak akan terlalu jauh berimbang. Jika kita dapat memanfaatkan Kali Opak dengan tebingnya, maka mungkin kita dapat mengurangi kekuatan mereka dalam jumlah yang berarti.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun mereka benar-benar harus memperhitungkan kemungkinan yang dapat mereka lakukan di tebing Kali Opak pada saat pasukan lawan menyeberang.

Pada umumnya para pemimpin pasukan di sayap pasukan Mataram itu cenderung untuk mempergunakan busur dan anak panah di saat pasukan Pajang menyerang. Mulai saat mereka menuruni tebing, kemudian menyeberang sungai dan berusaha memanjat tebing sebelah barat.

 

 

“Kita tidak dapat mulai pada saat mereka menuruni tebing,” berkata seorang di antara mereka, “jika hal itu kita kerjakan, maka justru akan mendorong orang-orang Pajang untuk melindungi pasukannya dengan senjata serupa yang dilontarkan ke tebing sebelah barat.”

“Lalu?“ bertanya yang lain.

“Kita biarkan mereka mendekati tebing Bbrat. Baru kemudian kita akan menyerang mereka dengan anak panah atau lembing. Jika sebagian dari mereka sudah mencapai tebing di sebelah barat, maka kawan-kawannya tidak akan dapat melepaskan anak panah dari jarak yang cukup di belakang kawan-kawan mereka untuk menyerang pasukan kita di atas tebing, karena dengan demikian kemungkinan anak panah mereka akan dapat mengenai kawan mereka sendiri pada punggung,“ jawab kawannya.

Ternyata cara itu perlu mendapat pemecahan segera. Tetapi menilik sikap pasukan Pajang, maka akhirnya para pemimpin pasukan Mataram pun mengerti, bahwa Pajang baru akan membangunn sebuah pesanggrahan.

“Malam nanti kita sempat membicarakannya dengan Raden Sutawijaya,“ berkata seorang pemimpin dari Pasantenan.

Dalam pada itu, mataharipun kemudian turun semakin rendah di sebelah barat. Sementara itu, kedua belah pihak masih sempat saling mengawasi sebelum mereka akan turun ke medan yang akan sangat menggetarkan jantung.

Dalam pada itu, ternyata Kanjeng Sultan pun telah mengamati pertanda kebesaran yang dipasang oleh orang-orang Mataram dari mulut lorong padukuhan di sebelah bulak di seberang timur Kali Opak. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita akan menghadapkan induk pasukan kita di seberang induk pasukan Mataram.”

Para senapati di Pajang menganggap bahwa Kanjeng Sultan lebih banyak menyesuaikan diri kepada gelar yang telah disiapkan oleh Mataram. Karena itu, Adipati Demak pun kemudian berkata, “Ayahanda Sultan, kenapa kita harus menghadapkan induk pasukan kita ke hadapan induk pasukan Kakangmas Sutawijaya? Apakah tidak lebih baik kita menentukan sesuai dengan keadaan medan, sehingga paling menguntungkan bagi kita. Jika Mataram ingin menyesuaikan, biarlah mereka merubah gelar yang akan dipasangnya esok pagi.”

Kanjeng Sultan memandang Adipati Demak dengan wajah yang buram. Katanya, “Aku menganggap bahwa aku sendiri harus menghadapi induk pasukan Mataram. Tidak ada orang yang dapat melawan Sutawijaya atau Ki Juru Martani, selain aku sendiri. Seandainya kita menentukan letak induk pasukan kita, sementara Mataram tidak mau merubah gelar yang sudah dipersiapkan, maka sayap atau lambung yang akan berhadapan dengan induk pasukan Mataram akan dihancurkan sampai lumat. Justru sebelum kita berhasil mencapai tepi barat Kali Opak.

Adipati Demak mengerutkan keningnya. Dengan nada ragu ia berkata, “Aku percaya betapa tingginya ilmu Kakangmas Sutawijaya, karena ilmunya adalah ilmu Ayahanda Sultan sendiri. Tetapi di sini ada Kakangmas Pangeran Benawa.”

Kanjeng Sultan memandang Pangeran Benawa yang tunduk. Adalah di luar dugaan, bahwa tiba-tiba saja Kanjeng Sultan bertanya kepada Pangeran Benawa, “Benawa. Apakah kau merasa mampu untuk menghadapi Kakangmasmu Senapati ing Ngalaga?”

Pangeran Benawa menarik nafas daiam-dalam. Seperti juga pertanyaan itu diucapkan di luar dugaan, maka jawab Pangeran Benawa pun di luar dugaan, “Aku merasa terlalu kecil di hadapan Kakangmas Sutawijaya.”

Adipati Tuban tiba-tiba saja berkata, “Hamba tidak tahu, apakah ilmu hamba akan mampu mengimbangi ilmu Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga. Tetapi jika Kanjeng Sultan memerintahkan, hamba akan bersedia menghadapinya.”

Kagjeng Sultan tersenyum. Katanya, “Bukan maksudku memperkecil arti kehadiranmu. Tetapi aku tidak mau melihat korban yang sia-sia. Yang sebenarnya dapat dihindari. Karena itu, biarlah aku menghadapi Sutawijaya. Ia adalah pemimpin tertinggi Mataram. Tentu ia berada di induk pasukan. Bagaimanapun juga, aku adalah gurunya.”

Tidak seorangpun yang membantah. Mereka mengerti, bahwa betapa tinggi ilmu Raden Sutawijaya, tetapi jika ia berhadapan dengan Kanjeng Sultan Pajang, maka ia tidak akan banyak dapat berbuat. Meskipun Kanjeng Sultan itu sebenarnya baru sakit.

Dalam pada itu, Tumenggung Prabadaru berkata, “Kita menyalakan api dengan baik. Tetapi kita menyiram dengan minyak yang terlalu banyak, sehingga nyala kemarahan Kanjeng Sultan melampaui yang kita harapkan. Meskipun dengan demikian, akibatnya akan menguntungkan bagi kita. He, apakah kita dapat berharap bahwa Kanjeng Sultan mengalami sesuatu di peperangan?”

“Maksudmu, gugur atau terluka parah dan tidak dapat ditolong lagi?“ bertanya yang lain.

Tumenggung Prabadaru mengangguk.

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kanjeng Sultan adalah orang yang memiliki ilmu tidak ada duanya. Tetapi setidak-tidaknya, kelelahan akan menabah penyakitnya menjadi semakin gawat. Nampaknya jiwanya memang sudah semakin dekat dengan batas maut.”

Tumenggung Prabadaru menarik keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Mataram telah bersiap. Besok kita akan menghancurkan mereka bersama dengan hancurnya orang-orang Pajang di induk pasukan. Kekuatan kita semuanya berada di sayap sebagaimana dikehendaki oleh Sultan sendiri.”

“Satu pertanda kemenangan yang gemilang. Agaknya usaha kita mendapat jalan cerah, seolah-olah alam ikut bersama kita mengatur segala rencana sehingga dapat berlangsung sebaik-baiknya,“ sahut seorang kawannya.

Ketika langit menjadi gelap, maka kedua belah pihak telah mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk beristirahat. Hanya beberapa kelompok kecil sajalah yang bertugas untuk mengamati keadaan. Berganti-ganti. Dengan demikian esok pagi mereka akan mendapat kesegaran yang setinggi-tingginya saat mereka tampil di medan perang.

Dalam pada itu, di malam yang semakin larut, terasa kesepian menjadi semakin mencengkam. Yang terdengar adalah arus Kali Opak yang tidak terlalu deras, diiringi derik cengkerik dan desir angin lembut di dedaunan.

Di seberang-menyeberang nampak perapian yang menyala. Selain untuk menghangatkan tubuh, beberapa orang prajurit yang bertugas telah memanasi air di belanga bagi minum mereka jika dingin malam terasa terlalu menghunjam sampai ke tulang.

Dalam pada itu, seorang di antara para Senapati Pajang telah bangkit dari pembaringannya, seonggok jerami di serambi sebuah rumah yang tidak terlalu besar di sebuah padukuhan di seberang timur Kali Opak. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian disentuhnya kawannya yang tidur nyenyak di sebelahnya.

“O,“ desis orang yang dibangunkan.

“Aku akan pergi sebentar,“ berkata orang yang pertama.

“Kenapa?“ bertanya kawannya.

“Aku akan melihat, apakah kita besok benar-benar akan dapat menghancurkan orang-orang Mataram,“ jawab orang yang pertama.

“Tetapi itu sangat berbahaya, Kakang Panji. Bukan saja karena orang-orang Mataram yang berjaga-jaga dengan tertib, tetapi mungkin para pengawal pesanggrahan dari Pajang sendiri akan dapat melihat Kakang Panji yang selama ini tidak banyak dikenal orang,“ jawab kawannya.

Tetapi yang disebut Kakang Panji itu tersenyum. Katanya, ”Kau tidak yakin akan kemampuanku? Aku tidak tahu, apakah Sultan Hadiwijaya itu akan mampu mengimbangi kemampuanku.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku percaya. Tetapi di seberang-menyeberang Kali Opak sekarang ini terdapat banyak orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Sebut saja Kanjeng Sultan Hadiwijaya, Pangeran Benawa, Adipati Tuban dan Adipati Demak. Kemudian meskipun di tingkat yang lebih rendah, Tumenggung Prabadaru dan orang kepercayaannya yang baru dari Bergota, yang berkumis jarang tetapi panjang itu. Kehadiran Kakang Panji akan mungkin sekali diketahui satu dua orang pengawal yang akan sempat memanggil orang-orang itu untuk menangkap Kakang Panji. Jika di seberang Kali Opak terdapat Raden Sutawijaya, Ki Juru Martani dan mungkin gegedug dari Mangir dan Pasantenan itu. Satu isyarat dapat memanggil mereka untuk mengikuti jejak Kakang Panji.”

“Kau sudah mengigau,“ jawab orang yang disebut Kakang Panji itu, “tidak akan ada seorang pengawalpun yang akan sempat melihat aku. Aku akan berada di ruang yang luput dari tatapan mata mereka.”

Tetapi kawannya nampaknya masih juga cemas, sehingga Kakang Panji itu meyakinkan, “Bahkan seandainya tidak seorangpun prajurit Pajang dan para Pengawal Mataram yang tertidur, aku akan dapat menembus penjagaan mereka tanpa perasaan cemas. Bahkan jika demikian aku akan dapat melihat dengan jelas, kekuatan yang sebenarnya dari Mataram. Karena sebenarnyalah aku curiga, apakah kekuatan Mataram benar-benar seimbang. Jika tidak, maka aku harus mengatur, bahwa Mataram tidak dengan serta merta ditumpas. Pasukan di sayap akan mencegah diri dan sekedar bertahan. Biarlah prajurit Pajang di induk pasukan hancur lebih dahulu.”

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak dapat mencegah orang yang disebut Kakang Panji itu.

Sejenak kemudian, orang yang disebut Kakang Panji itu telah siap. Ia mengenakan baju lurik ketan ireng, kain panjang kelengan yang berwarna biru kelam dan ikat kepala berwarna gelap.

Perlahan-lahan Kakang Panji itu melangkah turun ke halaman samping. Namun demikian ia memasuki kegelapan, kawannya mengerutkan keningnya. Kakang Panji itu seolah-olah benar-benar telah hilang.

Dalam pada itu, orang yang disebut Kakang Panji itupun menelusuri pagar halaman. Kemudian meloncat ke halaman sebelah dan memasuki kebun yang rimbun.

Sebenarnyalah orang yang disebut Kakang Panji itu memiliki ilmu yang luar biasa. Ia bukan seorang yang besar di lingkungan prajurit Pajang. Tetapi jika ia dalam ujudnya sebagai Kakang Panji yang tidak banyak dikenal orang, maka ia mempunyai wibawa yang luar biasa. Bahkan satu dua orang yang mendapat kepercayaan untuk berbicara dengan Kakang Panji telah menyebut ujud dan wajahnya dengan keterangan yang berbeda-beda. Bahkan ciri-ciri tubuhnyapun terdapat beberapa cerita yang berlainan.

Dalam kelamnya malam, Kakang Panji telah bergerak bagaikan terbang, keluar dari padukuhannya. Memang tidak seorangpun yang dapat melihatnya. Para prajurit dalam kelompok-kelompok kecil yang berjaga-jaga tidak melihat, seseorang telah meninggalkan padukuhan itu.

Bahkan kemudian, orang yang disebut Kakang Panji itu telah meninggalkan pesanggrahan.

Meskipun demikian, Kakang Panji itu masih sempat melihat kesiagaan para prajurit Pajang yang berjaga-jaga di pesanggrahan yang dipergunakan oleh pasukan induk di bawah pimpinan Kanjeng Sultan Hadiwijaya sendiri.

“Penjagaan yang kuat,“ desis orang yang disebut Kakang Panji itu. Lalu, “Besok kau harus berkelahi melawan anak angkatmu sendiri, Karebet. Adalah salahmu, bahwa kemuktenmu kau habiskan sampai batas umurmu. Kau tidak menyisakan untuk anak cucumu.”

Orang yang disebut Kakang Panji itu tersenyum. Namun iapun kemudian melintas dengan cepat meninggalkan pesanggrahan pasukan induk itu, menuju ke Kali Opak.

Sejenak orang itu berhenti di atas tanggul, melekat pada sebatang pohon, sehingga seolah-olah tubuhnya merupakan bagian dari batang pohon itu sendiri.

Sambil memandang beberapa perapian di pesanggrahan Raden Sutawijaya, orang itu bergumam kepada diri sendiri, “Satu garis pertahanan yang panjang. Tetapi apakah umbul-umbul, rontek-panji-panji dan kelebet itu benar-benar menggambarkan kekuatan Mataram yang sebenarnya, atau sekedar sebuah permainan yang bodoh? Seolah-olah orang-orang Pajang tidak akan dapat membedakan, satu bentangan pertahanan yang kuat atau sekedar garis tipis yang tidak berarti.”

Tetapi orang yang disebut Kakang Panji itu masih tetap berdiri di tempatnya. Dipandanginya daerah pertahanan Mataram yang membentang. Umbul-umbul, rontek dan kelebet yang bergerak disentuh angin malam yang dingin.

Betapa tajamnya penglihatan orang yang disebut Kakang Panji itu. Ia melihat tebaran pertanda kebesaran itu dari ujung sampai ke ujung. Namun agaknya orang yang disebut Kakang Panji itu tidak percaya bahwa pertahanan Mataram sekuat pertanda kebesarannya yang menggetarkan itu.

Gemercik air Kali Opak yang mengisi kesenyapan terdengar dalam irama yang ajeg, terus-menerus tanpa berkeputusan. Sekali-sekali nampak air berkilat memantulkan cahaya bintang-bintang yang bergayutan di langit.

Orang yang disebut Kakang Panji itu menarik nafas panjang. Kemudian diamatinya dengan tatapan matanya yang tajam, bebatuan yang bertebaran di Kali Opak.

Tiba-tiba saja orang itu melenting turun dari tebing. Bagaikan tidak berjejak di tanah ia melintasi Kali Opak. Dalam waktu yang pendek, maka orang itu telah berdiri di bawah tebing seberang.

Sejenak ia berhenti. Dipergunakan pula telinganya yang tajam Ternyata bahwa ia tidak mendengar sesuatu. Tidak ada pengawal Mataram yang nganglang dan lewat di atas tebing.

Karena itu, maka iapun kemudian bergeser tiga langkah mundur untuk mengambil ancang-ancang. Dengan satu loncatan yang ringan, maka orang itu telah berada di atas tebing sebelah barat Kali Opak.

Sejenak orang yang disebut Kakang Panji itu berdiri diam di belakang sebuah gerumbul untuk meyakinkan, apakah tidak ada seorangpun yang akan melihatnya, apabila ia mendekati daerah pertahanan Mataram.

Orang itu kemudian justru berjongkok ketika ia lamat-lamat mendengar dari arah utara beberapa orang yang berjalan menuju ke arahnya.

Tetapi beberapa orang itu ternyata tidak melihatnya. Justru Kakang Panji itulah yang melihat tiga orang pengawal Mataram yang sedang bertugas berjaga-jaga.

“Ternyata penjagaan di daerah pertahanan Mataram cukup tertib,“ berkata orang itu di dalam hatinya. Namun ia masih tetap berada di tempatnya dan sama sekali tidak bergerak.

Baru ketika ketiga orang pengawal itu menjauh, maka orang itupun bangkit berdiri dan sekali lagi mengamati keadaan.

Malam terasa sangat sepi. Angin malam menjadi semakin lembut, dan dedaunan pun seolah-olah telah tertidur nyenyak pada tangkainya yang diam.

Namun dalam pada itu, terasa sesuatu yang aneh pada orang yang disebut Kakang Panji. Telinganya yang tajam mendengar satu desir lembut. Tetapi ia merasa ragu, apakah getar yang lembut itu sentuhan kaki seseorang di rerumputan, atau sentuhan tubuh seekor binatang melata.

Sejenak orang yang disebut Kakang Panji itu seakan-akan membeku. Dicobanya untuk semakin mempertajam pendengarannya, sehingga suara lembut itu terdengar semakin keras. Namun ia masih tetap tidak segera mengetahui, suara apakah yang didengarnya itu.

Baru kemudian orang yang disebut Kakang Panji itu sadar, bahwa yang didengar itu benar-benar desir langkah seeorang. Dekat di sebelahnya.

Tetapi sudah terlambat baginya untuk menghindar. Agaknya telah terjadi sesuatu di luar dugaannya. Menurut perhitungannya, tidak akan ada seorangpun yang akan dapat mengetahui, apa yang telah dilakukannya. Namun begitu cepat, ia dikejutkan oleh satu kenyataan sebelum ia sampai ke pertahanan yang sebenarnya dari orang-orang Mataram.

Ketika orang yang disebut Kakang Panji itu bergeser, terdengar sapa lembut, “Selamat malam, Ki Sanak.”

“Anak setan,“ geram orang yang disebut Kakang Panji.

“Apa yang kau lakukan di sini?“ bertanya suara itu.

“Apa pedulimu?“ sahut orang yang disebut Kakang Panji itu.

“Aku merasa aneh, bahwa seseorang telah dengan diam-diam melintasi Kali Opak di malam begini. Apakah Ki Sanak tidak sabar menunggu sampai esok?“ suara orang itu berat dan terputus-putus.

Orang yang disebut Kakang Panji itu bergeser semakin dekat kepada suara itu. Namun dalam pada itu ia masih sempat menutup wajahnya dengan ikat kepalanya.

Sekali lagi orang itu terkejut. Tiba-tiba saja di hadapannya telah berdiri seseorang yang mengenakan baju lurik ketan ireng, berkain panjang kelengan dan wajahnya disembunyikan di belakang ikat kepalanya.

“Gila,“ geram orang yang disebut Kakang Panji itu, “kau tentu seorang yang luar biasa, bahwa kau dapat mengetahui aku berada di sini.”

“Kau pun orang luar biasa. Kau dapat melalui beberapa orang pengawal prajurit Pajang tanpa diketahui, sementara para pengawal Mataram yang nganglang tidak melihat bagaimana kau menyeberang,“ jawab orang yang menyapanya.

“Siapa kau sebenarnya?“ bertanya orang yang disebut Kakang Panji.

“Kau aneh. Aku tidak tahu siapa kau. Kita sama-sama mempergunakan ikat kepala untuk menyembunyikan wajah. Dengan demikian, kita masing-masing tentu tidak akan mengaku, siapa kita masing-masing sebenarnya. Tetapi agaknya kita sama-sama orang Pajang. Aku tidak melihat seseorang melintas dari barat Kali Opak. Yang aku lihat seseorang justru melintas kebBarat. Karena itu, kesimpulanku kau adalah orang Pajang seperti aku,“ jawab orang yang datang dengan tiba-tiba itu.

Orang yang disebut Kakang Panji itu merasa heran. Ada juga orang Pajang yang dapat melihatnya. Orang yang tentu berkemampuan tinggi.

“Apakah orang ini Kanjeng Sultan Hadiwijaya itu sendiri?“ bertanya orang yang disebut Kakang Panji itu di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, iapun bertanya, “Ki Sanak. Jika kita memang sama-sama orang Pajang, maka biarkan saja aku melakukan tugas yang dibebankan kepadaku. Aku akan melihat kelemahan orang-orang Mataram.”

“Ah, apakah benar kau mendapat tugas yang demikian? Aku justru mendapat tugas sebaliknya. Aku harus mengawasi setiap orang Pajang agar tidak terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki. Jika seorang telah melakukan sesuatu di luar rencana yang telah disepakati, maka mungkin sekali akan dapat menimbulkan persoalan baru yang tidak dikehendaki,“ jawab orang yang datang kemudian.

“Ah, kau keliru Ki Sanak,“ jawab orang yang disebut Kakang Panji, “mungkin prajurit kebanyakan akan dapat dengan mudah diketahui dan karena itu menimbulkan persoalan yang dapat berkembang menjadi peristiwa yang tidak kita kehendaki. Tetapi aku adalah seorang petugas sandi yang sedang menjalankan tugas.”

”Sudahlah,“ jawab orang yang menyusulnya, “marilah kita kembali. Kita akan mentaati setiap perintah untuk tidak berbuat sendiri-sendiri. Kita adalah prajurit-prajurit yang terikat kepada satu paugeran yang tidak dapat kita lawan.“

Orang yang disebut Kakang Panji itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Silahkan Ki Sanak mendahului, aku akan segera menyusul.”

“Ah, kenapa kita tidak bersama-sama saja? Kita hanya berdua. Aku kira, aku memerlukan seorang kawan untuk menyeberangi Kali Opak,“ jawab orang yang datang kemudian itu.

Orang yang disebut Kakang Panji itu termangu-mangu. Tetapi ia sadar sepenuhnya, bahwa orang yang berdiri di hadapannya itu tentu seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Bahkan mungkin tidak terlalu jauh dari ilmunya sendiri, seandainya orang itu tidak dapat dianggap memiliki ilmu yang mengimbanginya.

Karena itu, ia harus berpikir ulang untuk menolak permintaannya. Apalagi jika kemudian timbul perselisihan antara mereka. Dalam keadaan yang demikian, mereka akan dapat kehilangan pengekangan diri, sehingga perselisihan yang sebenarnya hanya akan merusak keadaan.

Selagi orang yang disebut Kakang Panji itu merenung, maka orang yang datang kemudian itu berkata, “Marilah, sebelum ada orang lain yang mengetahuinya.”

Orang yang disebut Kakang Panji itu menggeram. Dengan ketajaman penglihatannya dan ketajaman penggraitanya, ia mencoba mengenali orang yang berdiri di hadapannya. Menilik tubuhnya, orang itu tentu bukan Kanjeng Sultan Hadiwijaya.

Orang lain yang memiliki ilmu pinunjul adalah Pangeran Benawa. Tetapi apakah kemampuan Pangeran Benawa cukup tinggi untuk dapat melihatnya menyeberangi Kali Opak? Sementara tingkah laku orang itu nampaknya terlalu asing dan sama sekali tidak mirip dengan sikap dan tingkah laku Pangeran Benawa

Selagi orang yang disebut Kakang Panji itu merenungi lawan berbicaranya, sekali lagi ia terkejut. Bukan saja orang yang disebut Kakang Panji. Tetapi juga orang yang datang kemudian itu terkejut ketika terdengar suara orang lain lagi, “Terlambat, Ki Sanak. Orang lain itu sudah mengetahuinya.”

“Siapa kau?“ geram orang yang disebut Kakang Panji.

Orang yang datang kemudian itu pun bertanya pula kepada diri sendiri, “Siapa pula yang datang ini?”

Orang yang ketiga itu pun berdesis dengan suaranya yang tidak begitu jelas, “Kita memang sedang merahasiakan diri sendiri. Tetapi jika kalian menganggap bahwa kedatangan kalian belum diketahui orang lain, itu keliru.”

“Aku mengerti. Kau mengetahui kehadiran kami di sini,“ jawab orang kedua.

“Bukan hanya aku,“ jawab orang ketiga itu, “lihatlah.”

Orang ketiga itu menunjuk ke satu arah, sehingga dua orang yang terdahulu memandang ke arah itu pula.

Ternyata seseorang berdiri bersandar sebatang pohon yang besar. Hanya orang-orang yang mempunyai ketajaman penglihatan melampaui orang kebanyakan sajalah yang dapat melihat orang yang bersandar itu, karena seperti orang-orang lain di tempat itu, iapun mengenakan pakaian dalam warna gelap, meskipun bukan lurik ketan ireng dan kain kelengan. Tetapi orang yang bersandar itu mengenakan pakaian hijau lumut yang gelap.

Tetapi orang ketiga itu masih juga berkata sambil menunjuk kearah yang lain pula, “Yang seorang berada di bayangan batu padas di tebing itu.”

Ketika semua berpaling, mereka memang melihat dalam bayangan yang kelam, seseorang dalam pakaian yang gelap seperti orang-orang lain, berdiri dengan tangan bersilang di dada.

Sejenak ketegangan telah mencengkam jantung orang-orang yang berdiri di tempat itu. Bukan hanya seorang, dua orang. Tetapi kemudian ternyata ada lima orang.

Dalam pada itu, orang yang ketiga hadir di tempat itu berkata, “Menurut pengamatanku, kalian berdua adalah orang-orang Pajang, sementara dua orang yang berdiri di bayangan batu padas dan bersandar pohon itu adalah orang Mataram. Agaknya kalian masing-masing telah salah hitung, seolah-olah tidak ada orang yang dapat menyamai kemampuan kalian masing-masing, termasuk aku sendiri. Aku mengira bahwa aku akan dapat dengan leluasa berkeliaran di sebelah timur dan sebelah barat tebing. Tetapi ada juga dua orang Pajang dan dua orang Mataram yang memiliki ilmu kinacek. Ilmu yang melampaui ilmu senapati yang paling baik. Aku merasa bahwa kehadiranku dapat dilihat oleh salah satu atau kedua orang yang tidak aku kenal itu, sementara kalian berdua baru sibuk berbicara tentang diri kalian.”

Orang-orang yang berdiri di dalam kegelapan dengan pakaian berwarna gelap itu menjadi tegang. Mereka masing-masing tidak dapat saling mengenal, meskipun mereka yakin, apabila mereka masing-masing membuka tutup wajah mereka, maka tentu akan terjadi sebaliknya. Apakah mereka itu orang Pajang atau orang Mataram, karena baik Pajang maupun Mataram tidak banyak memiliki orang yang memiliki kemampuan yang mumpuni dan hampir sempurna.

Karena itu, maka orang-orang yang berpakaian serba gelap itu saling mengekang diri. Mereka tidak dapat dengan tergesa-gesa mengambil sikap, karena mereka harus menjaga kemungkinan bahwa persoalan yang timbul akan dapat berkembang semakin luas dan dapat membuat segala rencana yang telah disusun oleh kedua belah pihak akan menjadi berhamburan. Kedua belah pihak tidak mau menanggung akibat buruk yang dapat terjadi di luar perhitungan itu.

Dengan demikian, maka orang yang disebut Kakang Panji itupun berkata, “Bahwa kita berkumpul di sini, adalah satu hal yang sama sekali tidak aku perhitungkan semula. Ternyata kita sama-sama salah hitung.”

“Jika demikian, apakah itu berarti bahwa kau akan kembali ke tempatmu?“ terdengar orang yang bersandar pohon itu bertanya.

 

 

“Ya,“ jawab orang yang disebut Kakang Panji, “aku akan kembali. Aku sadar, bahwa usahaku tidak akan berhasil kali ini. Meskipun demikian, aku ingin memperingatkan kalian. Apakah kalian orang Pajang atau orang Mataram. Jangan halangi aku, karena dengan demikian, akan dapat timbul satu persoalan baru. Mungkin persoalan pribadi di antara kita.”

“Silahkan Ki Sanak,“ desis orang yang bersandar pohon itu, “aku tidak akan menghalangi. Bahkan dengan demikian, kau telah memberi kesempatan aku untuk dapat tidur nyenyak, karena esok kita akan turun ke medan.”

Orang yang disebut Kakang Panji itu menggeram. Bagaimanapun juga, ia menjadi kecewa bahwa ia tidak dapat melakukan rencananya. Bukan saja kepada orang Mataram, tetapi orang Pajang sendiri telah menghalanginya. Bahkan orang yang ketiga hadir di tempat itu seolah-olah orang yang datang dari pihak lain. Bukan orang Pajang dan bukan pula orang Mataram.

Sejenak orang yang disebut Kakang Panji itu termenung. Tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk mengetahui, apakah orang-orang yang hadir itu benar-benar orang yang memiliki ilmu yang tinggi, atau justru hanya sekedar karena satu kebetulan. Jika ia tidak melihat dan mendengar kehadiran mereka, justru karena ia sedang terlibat dalam satu persoalan dengan orang pertama, yang mengaku juga orang Pajang. Tidak aneh, bahwa pembicaraannya dengan orang Pajang yang menyusulnya itu telah memanggil mereka untuk datang dengan diam-diam.

Dalam keragu-raguan itu orang yang disebut Kakang Panji itu bergeser surut. Dipandanginya orang yang berdiri dengan kedua tangannya bersilang di bayangan batu padas.

“Aku akan membunuhnya,“ geram orang yang disebut Kakang Panji itu kepada diri sendiri, “orang Pajang itu dalam keadaan yang paling gawat tentu akan membantu aku, jika orang-orang Mataram itu benar-benar ingin menangkap aku. Tetapi jika ia tidak berbuat apa-apa, maka aku tentu akan dapat menghindarkan diri di medan yang rumit ini, asal aku memegang kesempatan pertama.”

Karena orang yang disebut Kakang Panji itu masih belum menentukan satu sikap, maka orang yang bersandar pohon itu bertanya, “Apalagi yang kau pikirkan Ki Sanak. Silahkan meninggalkan tempat ini. Jika yang seorang itu juga orang Pajang, akupun ingin mempersilahkannya untuk menyeberang. Kita besok mempunyai kesempatan yang cukup untuk menunjukkan kemampuan kita di medan. Jika malam ini kita harus bertempur di sini, maka pertempuran esok tentu tidak akan menarik, karena para prajurit dan pengawal akan lebih senang terilibat langsung malam ini juga.”

Orang yang disebut Kakang Panji itupun bergeser pula melangkah surut. Dipandanginya orang yang datang menyusulnya dan mengaku juga sebagai orang Pajang. Namun orang itu sempat berkata kepada orang yang bersandar pohon, “Baiklah Ki Sanak. Aku akan menyeberang. Besok kita ketemu di medan, meskipun yang akan aku hadapi mungkin bukan kau.”

“Bagus,“ sahut orang yang ketiga datang di tempat itu, “silahkan kalian kembali ke tempat kalian masing-masing. Masih ada waktu untuk tidur nyenyak.”

Orang itulah yang tiba-tiba telah meloncat meninggalkan tempat itu. Ternyata bahwa iapun telah menuruni tebing dan hilang di balik gerumbul-gerumbul liar di tepian.

Sesaat orang yang disebut Kakang Panji itu termangu-mangu. Dipandanginya sekali lagi orang yang berdiri di bayangan batu padas. Kemudian diamatinya tempat di sekitarnya. Sebatang pohon raksasa, beberapa buah batu besar yang tersebar dan batu-batu padas yang beronggok di tepian.

“Satu keadaan yang menguntungkan,“ berkata orang itu di dalam hatinya, “aku akan dapat lolos meskipun orang-orang itu akan mengejar aku. Mereka tentu tidak akan berani menyeberang. Seandainya orang yang mengaku orang Pajang itu kemudian terlambat bertindak dan menjadi sasaran kemarahan orang Mataram itu, adalah karena nasibnya yang sangat buruk. Bahkan karena satu kebodohan yang tidak termaafkan.”

Menurut perhitungan orang yang disebut Kakang Panji itu, yang tinggal adalah dua orang Pajang dan dua orang Mataram, sehingga kekuatan mereka tentu seimbang. Setidak-tidaknya hampir seimbang sehingga banyak kemungkinan yang dapat ditempuh.

Oleh pikiran itu, maka iapun segera mempersiapkan diri. Sasaran yang lebih baik baginya adalah orang yang berdiri di bayangan batu padas itu. Ia tidak perlu bersikap jantan dan menantangnya bertempur beradu dada. Tetapi ia ingin langsung menyerang dan membunuhnya, tanpa peringatan apapun juga.

“Apa yang kau pikirkan?“ bertanya orang yang bersandar pohon itu, “Bukankah lebih baik kalian segera meninggalkan tempat ini?”

“Baiklah,“ jawab orang yang disebut Kakang Panji, “aku akan kembali ke seberang timur. Sampai bertemu esok di medan. Mungkin esok aku akan mendapat kesempatan membunuhmu di medan, meskipun aku tidak tahu siapa kau sebenarnya sekarang ini. Tetapi aku dapat menduga, bahwa kau tentu salah seorang senapati besar dari Mataram.”

Orang yang bersandar pohon itu tidak menjawab. Diamatinya saja orang Pajang itu mulai bergeser, sementara yang lain pun telah melangkah pula ke tebing.

Namun terjadilah hal yang tidak terduga-duga itu. Dengan satu gerak yang tidak kasat mata, maka orang itu telah menyerang orang yang berada di bayangan batu padas. Demikian cepatnya sehingga tidak seorangpun dapat mencegahnya. Apalagi serangan itu dilontarkan oleh seorang yang memiliki ilmu pinunjul.

Meskipun orang itu tidak menyentuhnya, tetapi dari kedua telapak tangan orang yang disebut Kakang Panji yang menghentak dengan lambaran ilmunya yang nggegirisi itu telah terlontar serangan yang sangat berbahaya. Dari kedua telapak tangan itu seakan-akan telah meluncur asap yang bercahaya dengan kecepatan tatit yang menyambar di langit, menghantam orang yang masih berdiri sambil menyilangkan tangannya di dada.

Sejenak kemudian terdengar suara gemuruh. Batu-batu padas telah berguguran, sementara tebing bagaikan bergetar.

Orang-orang yang menyaksikan serangan itu terkejut. Orang yang bersandar pohon dan orang yang mengaku orang Pajang itupun bergeser setapak. Namun untuk sekejap mereka bagaikan terpaku di tempatnya menyaksikan serangan yang tiba-tiba itu

Namun sejenak kemudian, semuanya sudah terlambat bertindak. Orang yang disebut Kakang Panji itu telah hilang. Dengan cepat ia meluncur di sela-sela batu padas dan hilang di antara bebatuan yang berserakan.

Orang yang disebut orang Pajang itu pun termangu-mangu. Namun iapun kemudian mempersiapkan diri. Karena ia juga disebut orang Pajang, maka mungkin sekali orang-orang Mataram akan melimpahkan kesalahan yang dilakukan oleh orang yang menghilang itu kepadanya.

Dalam pada itu, orang yang semula bersandar pohon itupun memandang orang Pajang itu dengan saksama. Seolah-olah ia memang menuntut tanggung jawab atas peristiwa itu kepadanya.

Namun sejenak kemudian, terdengar suara, “Luar biasa. Orang Pajang itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Serangannya telah menggugurkan tebing dan melumatkan selapis batu padas.”

Orang Pajang dan orang Mataram yang tinggal itu pun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang yang berada di bayangan batu padas itu tidak menjadi debu oleh serangan orang Pajang yang menghilang itu. Ia masih berdiri tegak di kegelapan.

“Siapakah orang yang telah melakukan itu?“ bertanya orang yang semula bersandar pohon kepada orang Pajang yang tinggal.

Tetapi orang Pajang itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu. Aku melihat ia menyeberang. Dan aku menyusulnya, karena aku tidak mau terjadi sesuatu sebelum pertempuran yang sebenarnya esok pagi.”

Kedua orang Mataram itupun mengangguk-anggguk. Keduanya percaya, bahwa orang itu memang berbeda sikap dengan orang yang telah melarikan diri. Karena itu, orang yang semula bersandar pohon itu bertanya, “Nampaknya prajurit-prajurit Pajang mempunyai sikapnya sendiri-sendiri.”

“Aku tidak akan membantah. Kalian sudah melihatnya,” jawab orang Pajang itu.

Namun dalam pada itu, orang yang mendapat serangan di bayangan batu padas itu bertanya, “Baiklah. Jika orang yang melarikan diri itu memang tidak dikenal, apakah aku boleh mengenalmu?”

“Tidak ada gunanya,“ jawab orang Pajang itu, “besok kita bertemu di medan.”

“Sudahlah Ngger,“ berkata orang yang semula berdiri bersandar pohon, “kami dapat mengenali Angger. Semula memang tidak. Tetapi peristiwa yang tiba-tiba itu agaknya telah membuat Angger lupa dengan peranan yang Angger lakukan. Suara Angger segera dapat kami kenali.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dilepaskannya kain yang menutup wajahnya sambil berdesis, “Paman pun dapat aku kenal. Sedangkan orang itu pun tidak lagi dapat menyembunyikan dirinya. Tidak ada dua atau tiga orang yang memiliki ketangkasan seperti itu.”

“Kau salah, Adimas,“ jawab orang yang berada di bayangan batu padas itu, “di Mataram ada dua atau tiga orang. Sebagaimana juga di antara para prajurit Pajang.”

 

 

Orang yang melepas tutup wajahnya itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin Kakangmas benar. Ada dua atau tiga orang. Tetapi cara yang mereka lakukan tentu berbeda dengan cara yang Kakangmas lakukan. Kakangmas dapat melemparkan diri tanpa berbuat sesuatu. Sedangkan orang lain akan meloncat menghindar, meskipun ia juga akan berhasil mengelakkan diri dari serangan serupa.”

Orang yang mendapat serangan itupun kemudian membuka ikat kepalanya yang menutupi sebagian dari wajahnya sementara orang yang semula bersandar pohon itupun telah berbuat serupa.

“Satu peristiwa yang tidak pernah aku mimpikan akan terjadi besok,“ berkata orang yang semula berdiri di bayangan batu padas itu.

“Ya, Kakangmas,“ jawab orang Pajang, “tetapi jika Kakangmas Sutawijaya tidak segera bertindak, maka keadaan akan menjadi semakin berlarut-larut.”

“Tetapi kadang-kadang aku masih juga dibayangi oleh satu kecemasan tentang diriku sendiri,“ jawab orang Mataram itu, “rasa-rasanya aku telah melakukan satu dosa yang besar.”

“Yang diperhitungkan adalah hasil keseluruhan yang diharapkan,“ jawab orang Pajang itu, “jika Kakangmas Sutawijaya kemudian berhasil menyusun satu pemerintahan sebagaimana di cita-citakan oleh Ayahanda, maka Kakangmas justru telah melaksanakan satu kewajiban yang sangat berat, yang ternyata oleh Ayahanda tidak dibebankan kepada orang lain kecuali Kakangmas Sutawijaya.”

“Adimas Benawa benar,“ jawab Raden Sutawijaya, “tetapi akupun masih juga selalu bertanya sampai saat ini. Kenapa tidak Adimas Pangeran Benawa?”

“Pertanyaan yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban,“ sahut Pangeran Benawa. Lalu, “Bukankah begitu Paman Juru?”

“Kita memang mempunyai sikap yang kadang-kadang sulit untuk di mengerti orang lain,” jawab orang yang semula bersandar pohon, “tetapi yang penting, bahwa masa depan Mataram adalah kelanjutan cita-cita Pajang yang belum sempat di ujudkan, siapapun juga yang akan memegang pimpinan pemerintahan.”

“Dalam hal ini adalah Kakangmas Senapati ing Ngalaga,“ desis Pangeran Benawa. Kemudian katanya, “Sudahlah Kakangmas. Aku akan kembali ke pesanggrahan. Mungkin Ayahanda memanggilku.”

“Silahkan Adimas. Besok pasukan Pajang dan Mataram akan benar-benar bertempur,“ jawab Sutawijaya.

“Hati-hatilah dengan ujung-ujung pasukan. Orang-orang yang tamak itu berada di sayap,“ berkata Pangeran Benawa.

“Siapa yang berada di induk pasukan?“ bertanya Ki Juru.

“Ayahanda, aku dan Adipati Tuban. Di belakang kami adalah Adimas Adipati Demak. Tetapi semuanya akan terkendali. Ayahanda masih mempunyai wibawa cukup untuk mengendalikan mereka,“ jawab Pangeran Benawa.

“Yang berada di sayap?“ bertanya Sutawijaya.

“Seperti yang sudah aku katakan. Mereka adalah orang-orang tamak itu. Termasuk pasukan khusus Tumenggung Prabadaru. Tetapi bukankah Kakangmas mempunyai cukup pasukan untuk menghadapi mereka?”

Raden sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan berusaha untuk mengimbangi kekuatan di sayap-sayap pasukan. Pasukanku yang hanya sedikit memang berada di sayap.”

“Selamat malam,“ berkata Pangeran Benawa kemudian, “aku akan kembali.”

Raden Sutawijaya mengangguk kecil Katanya, “Hati-hatilah. Mungkin akan dapat terjadi salah paham antara kau dengan orang yang telah menyerangku. Tetapi akupun tidak perlu cemas, karena Adimas adalah seorang yang memiliki ilmu hampir sempurna.”

“Apa yang aku ketahui, pasti Kakangmas sudah mengetahuinya. Tetapi sebaliknya, apa yang Kakangmas ketahui belum tentu aku ketahui,“ jawab Pangeran Benawa.

Raden Sutawijaya tersenyum. Katanya kemudian, “Selamat malam. Aku pun ingin beristirahat.”

Pangeran Benawa pun kemudian menutup lagi wajahnya dengan ikat kepalanya. Kemudian iapun meloncat ke dalam gelap dan hilang di bayangan dedaunan.

Sementara itu, Raden Sutawijaya berdiri tegak mengamati langkah Pangeran Benawa sampai ia tidak dapat melihatnya lagi.

“Anak yang aneh,“ desis Raden Sutawijaya.

“Tidak seorangpun yang tahu, bagaimanakah sikap Pangeran itu sebenarnya,“ berkata Ki Juru. “Tetapi bagaimanapun juga, ia adalah seseorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.”

“Aku menyadari, Paman,“ jawab Raden Sutawijaya. Kemudian, “Kekecewaan yang mencengkam jantungnya, ternyata tidak dapat disembuhkannya meskipun ia sudah berusaha.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi yang seorang, yang telah menyerang Raden, itu pun tentu orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia dapat menyerang Raden dari jarak yang tidak terlalu dekat. Seolah-olah dari telapak tangannya telah memancar cahaya yang dapat menggugurkan batu-batu padas.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk Katanya, “Tentu bukan orang kebanyakan. Menilik sikap Adimas Benawa, orang itu tentu bukan kadang yang dekat atau orang yang mudah dikenal. Ternyata bahwa Adimas Benawa tidak dapat mengenalinya.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin Pangeran Benawa memang tidak kenal. Tetapi mungkin ia memang tidak mau mengatakan, siapakah orang itu sebenarnya.”

“Tetapi mereka saling tidak mengenal, Paman,“ jawab Raden Sutawijaya.

Ki Juru mengangguk-angguk. Bahkan katanya kemudian, “Yang seorang itu pun tidak dapat dikenal pula. Nampaknya ia justru orang yang memiliki kelebihan yang paling tinggi. Orang itu langsung dapat mengetahui bahwa kita juga menunggui apa yang tengah terjadi antara kedua orang Pajang itu.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Adimas pun tidak menyebutnya sama sekali.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baiklah kita beristirahat, Ngger. Kerja kita masih banyak.”

Raden Sutawijaya mengangguk. Sambil melangkah ia berkata, “Marilah. Kita masih mempunyai waktu.”

Keduanyapun kemudian meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba langkah mereka terhenti. Dalam kegelapan mereka melihat sesosok bayangan yang berdiri termangu-mangu.

Sejenak Raden Sutawijaya dan Ki Juru berhenti mematung. Namun kemudian terdengar Raden Sutawijaya berdesis, “Agung Sedayu.”

Agung Sedayu mengangguk kecil sambil menjawab, “Maaf Raden, bahwa aku telah melihat apa yang terjadi. Bukan maksudku melakukan hal-hal yang bukan menjadi tugasku. Tetapi terdorong oleh satu keinginan untuk ikut mengamati keadaan, maka aku telah mendekati pertemuan antara beberapa orang yang semula aku lihat dari kejauhan. Justru karena aku tidak dapat melihat dengan pasti apa yang terjadi, maka aku telah berusaha untuk mendekat dan melihat lebih jelas lagi.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Luar biasa. Kau telah berhasil Agung Sedayu. Kehadiranmu tidak dapat kami ketahui.”

“Jaraknya masih cukup jauh Raden. Dan aku memang berusaha untuk bersembunyi selagi perhatian Raden tertuju kepada orang-orang Pajang.”

Raden Sutawijaya mengangguk angguk. Katanya, “Kenapa kau tidak mendekat saja Agung Sedayu, meskipun kau harus menutup wajahmu agar kau tidak dapat dikenal oleh orang-orang Pajang?”

“Pangeran Benawa tidak akan dapat aku kelabuhi,“ jawab Agung Sedayu.

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Katanya, “Jadi kau tahu juga bahwa salah seorang di antara kedua orang Pajang itu adalah Adimas Benawa?”

“Aku melihatnya, Raden,“ jawab Agung Sedayu.

“Jika demikian, kau melihat juga yang seorang dari orang Pajang itu menyerangku?“ bertanya Raden Sutawijaya.

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun iapun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Ya, Raden. Aku melihat. Tetapi aku belum tahu, siapakah orang yang diserang itu. Baru kemudian aku tahu, bahwa ternyata orang itu adalah Raden. Sedangkan kedua orang yang lain adalah Ki Juru dan Pangeran Benawa. Sementara itu, mengingat kedudukanku, aku tidak berani bertindak apapun juga. Karena dengan demikian, jika terjadi salah langkah, maka aku telah melakukan satu langkah yang dapat menyeretku ke dalam satu keadaan yang gawat.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan demikian mereka dapat mengetahui, bahwa ternyata Agung Sedayu memiliki ilmu yang pantas diperhitungkan.

“Ternyata aku tidak salah hitung untuk menempatkannya di sayap yang berbeda dari kedudukanku sendiri, sehingga dengan demikian ia akan dapat mengimbangi sayap di sebelah lain,“ berkata Raden Sutawijaya di dalam hatinya.

Dalam pada itu, maka Ki Juru pun kemudian berkata, “Baiklah, Marilah kita kembali ke tempat kita masing-masing. Kita masih mempunyai sedikit waktu untuk istirahat.”

“Beristirahatlah, Agung Sedayu,“ sambung Raden Sutawijaya,“ besok kita akan benar-benar mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga. Kita akan benar-benar berada dalam satu pertempuran yang sengit.”

 

 

“Kita tidak sekedar bermain-main, Agung Sedayu,“ tambah Ki Juru.

Agung Sedayu menarik nafas. Ia sadar, bahwa esok pagi pasukan Pajang dan pasukan Mataram akan bertempur. Titik berat pertempuran akan berada di kedua sayap pasukan, karena jusru di induk pasukan Pajang Kanjeng Sultan Hadiwijaya akan tetap memegang kendali.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku mohon diri.”

Sejenak kemudian maka Agung Sedayu pun telah meninggalkan tempat itu. Seperti saat ia datang, maka ketika ia melangkah pergi, maka Raden Sutawijaya dan Ki Juru pun mengangguk-angguk kecil.

“Ia sudah dapat menguasai getaran dari dalam dirinya. Ia mampu meredam bunyi,“ bisik Raden Sutawijaya.

Ki Juru mengangguk-angguk. Sebenarnyalah Agung Sedayu masih mengetrapkan ilmunya meredam suara yang timbul dari sentuhan tubuhnya dan pernafasannya. Bukan maksudnya untuk menyombongkan diri. Namun dalam ketegangan itu, ia tidak sempat mengamati dirinya sendiri, sehingga ilmunya itu masih ditrapkannya.

Baru kemudian, ketika ia menyadarinya, ia merasa menyesal sekali. Seolah-olah ia dengan sengaja telah memamerkan ilmunya itu kepada Raden Sutawijaya dan Ki Juru, yang sebenarnya memiliki ilmu yang lebih tinggi lagi.

“Aku lupa menanggalkan ilmu itu,“ katanya di dalam hati.

Tetapi hal itu sudah terlanjur dilakukannya. Betapapun juga ia menyesal, maka yang sudah terjadi itu tidak akan dapat dihapusnya lagi.

“Mudah-mudahan Raden Sutawijaya dan Ki Juru tidak memperhatikannya, atau mereka mengerti, bahwa dalam ketegangan perasaan, aku lupa melepaskannya,“ berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, untuk menenangkan hatinya yang gelisah.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya dan Ki Juru pun kemudian meninggalkan tempat itu. Sebelum berpisah, Raden Sutawijaya berkata, “Ternyata ada orang pinunjul di pasukan Pajang selain Adimas Benawa. Orang itu tentu orang yang kasar dan licik. Ia telah menyerangku dengan tiba-tiba. Untunglah Agung Sedayu melihatnya, sehingga ia akan berhati-hati menghadapinya apabila orang itu esok berada di sayap yang akan berhadapan dengan sayap Agung Sedayu.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Jawabnya, “Orang itu perlu diperhatikan. Tetapi sulit untuk menemukannya di antara para Senapati Pajang yang banyak jumlahnya.”

Raden Sutawijaya tidak menjawab. Namun kemudian iapun memisahkan diri dari Ki Juru yang kembali ke induk pasukan Mataram.

Sementara itu, Pangeran Benawa yang dengan diam-diam telah berada di pesanggrahan kembali, terkejut ketika seseorang mencarinya. Dengan kepala tunduk, orang itu berkata, “Pangeran, Kanjeng Sultan Hadiwijaya telah memanggil Pangeran.”

“Sekarang?“ bertanya Pangeran Benawa.

“Ya, sekarang Pangeran. Ayahanda Sultan agaknya tidak dapat beristirahat. Mungkin oleh kegelisahan. Tetapi mungkin oleh suasana yang tidak menguntungkan bagi kesehatan Ayahanda Pangeran,“ jawab orang itu.

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam, kemudian katanya, ”Aku akan segera menghadap. Pergilah dahulu.”

Orang itu mengangguk hormat. Kemudian iapun melangkah surut meninggalkan Pangeran Benawa yang termangu-mangu.

Tetapi ia tidak mau membuat ayahandanya bertambah gelisah. Jika kesehatannya menjadi semakin buruk, maka ayahanda Pangeran Benawa itu memerlukan perhatian khusus, justru pada saat pasukan Pajang dan Mataram sudah siap untuk bertempur. Jika ayahandanya tidak dapat mengekang kekuatan di induk pasukan, maka pasukan Mataram akan cepat menjadi hancur, terutama di induk pasukannya.

Karena itu, maka Pangeran Benawa pun segera membenahi pakaiannya. Dengan tergesa-gesa ia telah menyusul orang yang telah diutus oleh ayahandanya untuk memanggilnya.

Ketika ia sampai di bilik pesanggrahan ayahandanya, maka dilihatnya ayahandanya duduk di bibir pembaringannya. Wajahnya nampak tidak terlalu suram, sehingga kesannya ayahandanya justru menjadi bertambah baik keadaan kesehatannya.

“Duduklah di sini, Benawa,“ panggil Kanjeng Sultan.

Pangeran Benawa ragu-ragu. Tetapi ayahandanya memintanya untuk duduk disebelahnya.

“Aku akan berbicara sedikit,“ desis Kanjeng Sultan.

Pangeran Benawa tidak dapat menolak. Iapun kemudian duduk di sisi ayahandanya.

“Apakah kau gagal mengetahui siapa yang telah menyerang Senapati ing Ngalaga?“ bertanya Kangjeng Sultan.

Pertanyaan itu mengejutkan Pangeran Benawa. Dengan kerut di dahinya ia bertanya, “Darimana Ayahanda mengetahuinya?”

Kangjeng Sultan sama sekali tidak menjawab. Bahkan ia berkata, “Orang itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Ia berhasil lolos dari tiga orang yang mumpuni. Kau, Senapati ing Ngalaga, dan Ki Juru Martani. Tetapi soalnya, karena kalian terkejut melihat serangan yang tidak jantan sama sekali itu, sehingga orang itu sempat melarikan diri.”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak perlu bertanya lagi. Dengan demikian jelas baginya, bahwa orang yang datang sesudahnya, dan menunjukkan kedua orang Mataram yang ada di sekitarnya, tentu ayahandanya. Kanjeng Sultan Hadiwijaya.

Karena itu katanya, “Ayahanda, aku memang gagal mengetahui siapa orang itu. Tetapi apakah Ayahanda dapat mengetahuinya?”

”Aku juga tidak berhasil, justru karena aku semula tidak begitu menaruh perhatian atasnya ketika ia menyatakan kesediaannya untuk kembali. Aku sadar, bahwa orang itu pun tentu memiliki ilmu yang tinggi. Jika terjadi benturan kekerasan, meskipun seandainya kita berhasil menguasainya, namun keadaan itu tentu memancing keributan yang dapat mengacaukan semua rencana. Karena itu, aku memutuskan untuk menunda niatku untuk mengetahuinya,“ jawab Kanjeng Sultan.

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Iapun mempunyai pertimbangan yang serupa. Namun orang itu benar-benar terlepas dari pengamatannya.

Dalam pada itu, maka Kanjeng Sultan pun kemudian berkata, “Benawa. Peristiwa ini nampaknya dapat sedikit menyegarkan tubuhku. Tetapi agaknya aku telah memaksa diri sehingga tidak menguntungkan bagi kesehatanku. Namun aku berharap bahwa aku tidak akan mengalami kesulitan selama aku mengendalikan orang-orang Pajang, terutama yang berada di induk pasukan, termasuk Adipati Tuban dan Demak.”

“Aku akan berusaha membantu Ayahanda sejauh dapat aku lakukan,“ jawab Pangeran Benawa.

Kanjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja pandangan matanya menjadi sayu. Dengan suara sendat ia berkata, “Benawa. Ada sesuatu yang melonjak di dalam hatiku mendengar kesediaanmu. Aku gembira sekali, tetapi juga menyesal. Kenapa kau tidak mengatakan hal itu jauh sebelum peristiwa seperti ini terjadi. Jika demikian, mungkin perjalanan sejarah Demak yang kemudian beringsut ke Pajang akan menjadi berbeda.”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Namun ia hanya dapat menundukkan kepalanya.

“Sudahlah,“ berkata Kanjeng Sultan, ”kembalilah kepada pasukanmu. Kau adalah senapati pengapit esok pagi. Beristirahatlah. Aku kira orang yang menyeberang ke tebing barat itu tidak akan mengulangi usahanya setelah ia mengetahui, bahwa di seberang ada juga orang-orang yang berkemampuan tinggi.”

Di seberang, Agung Sedayu berjalan menyusuri tebing kembali ke tempatnya dengan hati-hati. Ia tidak ingin mengganggu orang-orang yang sedang beristirahat. Namun langkahnya tertegun ketika ia melihat dua orang sedang menunggunya.

“Guru,“ desis Agung Sedayu yang melihat Kiai Gringsing dan Ki Waskita berdiri di dekat sebuah gerumbul.

“Aku melihat kau mendekati orang-orang yang sedang menyamar diri itu,“ berkata Kiai Gringsing.

“Aku hanya ingin tahu saja Guru,“ jawab Agung Sedayu.

“Ketika aku melihat kau mendekat, aku justru menahan diri untuk tidak menyaksikan apa yang terjadi, agar tidak membuat suasana bertambah ribut,“ berkata Ki Waskita.

“Guru mengikuti aku?“ bertanya Agung Sedayu.

“Tidak. Hanya secara kebetulan aku melihat kau mendekati mereka yang sedang berada di tebing. Aku tidak mendengar langkahmu dan juga tarikan nafasmu. Jika tidak secara kebetulan, aku kira aku tidak akan melihatmu,“ berkata Kiai Gringsing.

“Ah,“ desah Agung Sedayu, “tentu bukan begitu.”

“Aku gurumu,“ jawab Kiai Gringsing, “jika aku mengatakannya, tentu bukan sekedar basa-basi. Kau tahu itu. Semuanya kami lihat secara kebetulan. Kami berdua memang berada di tebing waktu itu. Secara kebetulan kami melihat sesosok bayangan. Selanjutnya, kami berdua berusaha untuk mengikutinya. Tetapi kemudian kami telah mendengar suara orang bercakap-cakap. Tentu tidak hanya seorang, sehingga kami tidak berusaha untuk lebih dekat lagi sebelum kami tahu pasti apa yang terjadi. Sementara itu, kami bersembunyi di dalam gerumbul di dalam semak-semak. Pada saat itulah, kami melihat kau lewat. Agaknya perhatianmu sepenuhnya kau tujukan kepada orang-orang di tebing itu, sehingga kau tidak melihat kami berdua.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu saja aku tidak dapat melihat Guru berdua dengan Ki Waskita. Tentu Guru dan Ki Waskita pun mempunyai kemampuan untuk menghindarkan diri dari pengamatan orang yang tidak dikehendaki.”

“Tetapi seperti gurumu, aku melihat ilmumu memang sudah semakin meningkat Agung Sedayu. Jika kami yang tua tua ini memuji, jangan kau sangka kami sekedar ingin memuji,” berkata Ki Waskita.

“Sudah lama aku mengikuti bahwa kau memiliki ilmu peredam bunyi. Tetapi ternyata bahwa ilmumu sudah terlalu jauh dari yang aku duga,“ tambah Kiai Gringsing.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih Guru. Sekarang, perkenankanlah aku beristirahat.”

“Kamipun ingin beristirahat pula sebelum ayam jantan berkokok yang terakhir kalinya. Karena pada saat itu, kami harus sudah bersiap di dalam barisan,“ sahut Kiai Gringsing.

Ketiganya kemudian pergi ke tempat masing-masing. Mereka masih ingin beristirahat barang sebentar, agar tubuh mereka menjadi semakin segar.

Dalam pada itu, malampun menjadi semakin sepi. Yang terdengar adalah langkah-langkah beberapa orang prajurit yang meronda, mengamati lingkungan masing-masing. Namun sebenarnyalah mereka tidak mampu mengamati beberapa orang baik dari Pajang maupun dari Mataram yang dengan sengaja ingin menyusup di antara pengamatan mereka.

Tetapi orang yang disebut Kakang Panji itu mengumpat-umpat sambil berbaring di sebelah seorang kepercayaannya, sehingga orang yang masih belum sempat tidur itu berkata, “Kakang Panji jangan mengumpati aku.”

“Dungu. Aku tidak mengumpati kau. Aku mengumpati orang-orang yang berhasil melihat kedatanganku di sebelah barat Kali Opak,“ geram orang yang disebut Kakang Panji.

“Sudahlah. Bukankah mereka tidak berhasil mengenali kakang?“ bertanya kawannya.

“Tidak. Bahkan aku dapat menyerang seorang di antara orang-orang Mataram itu,“ jawab Kakang Panji.

“Orang itu berhasil kau bunuh?“ bertanya kawannya.

“Menurut perhitunganku, orang itu akan mati. Aku menyerang tanpa peringatan dan tanpa ancang-ancang,“ jawab Kakang Panji. “Jadi esok pagi akan kita lihat, apakah Sutawijaya atau Ki Juru Martani yang tidak hadir di peperangan. Karena menurut perhitunganku, dua orang Mataram itu tentu Sutawijaya dan Ki Juru. Tidak ada orang lain di Mataram yang memiliki kemampuan setinggi kedua orang itu, atau setidak-tidaknya mendekati.”

Kepercayaannya yang berbaring di sisinya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Ia ingin dapat tidur barang sekejap, sebelum esok pagi harus maju ke medan.

Karena orang yang ada di sebelahnya tidak menyahut lagi, maka orang yang disebut Kakang Panji itupun kemudian terdiam. Ia harus menelan satu kenyataan, bahwa ia bukan orang yang tidak ada duanya di seluruh jagad Pajang dan Mataram.

Sejenak kemudian, maka seberang-menyeberang Kali Opak itupun menjadi kian sepi. Yang masih bertugas, membuat perapian menjadi semakin besar karena dinginnya malam semakin menggigit tulang. Sementara dua di antara mereka harus nganglang mengamati tebing di daerah tugas masing-masing.

Ketika dedaunan menjadi basah oleh embun, maka beberapa orang petugas di kedua belah pihak telah bangun. Mereka adalah juru makanan yang harus mempersiapkan makan para pemimpin di kedua belah pihak dan para prajurit dan pengawal yang jumlahnya cukup banyak. Karena itu, baik bagi Pajang maupun bagi Mataram, setiap kelompok telah ditunjuk petugasnya masing-masing, agar persiapannya dapat dilakukan lebih cepat.

Dengan tergesa-gesa para petugas itu telah mempersiapkan minum dan makan pagi sebelum pertempuran akan pecah di saat matahari terbit. Para prajurit dan para pengawal harus mempersiapkan diri mereka sebaik-baiknya sebelum turun ke medan.

Dengan demikian, maka di kedua pesanggrahan itu, suasana sudah mulai terasa sibuk.

Pada saat yang demikian, maka para petugas yang merondapun sempat untuk tidur sejenak, kecuali beberapa orang yang telah sempat tidur di belahan pertama malam yang terasa terlalu gelisah itu.

Namun dalam pada itu, ketika bintang-bintang sudah mulai menjadi redup, maka pesanggrahan pasukan Pajang pun mulai digetarkan oleh suara sangkakala. Disusul oleh suara bende dan genderang yang menggegelar membelah sepinya sisa malam.

Para prajurit Pajang yang masih tidur nyenyak itupun segera terbangun. Dengan cepat mereka membenahi diri. Sebagaimana sepasukan prajurit terlatih, maka dalam waktu yang singkat, mereka telah siap untuk bertempur.

Tetapi merekapun menyadari, bahwa langit masih belum terang benar. Karena itu, maka merekapun masih mempunyai kesempatan menunggu sejenak, sementara para petugas mulai mengantar minuman dan makanan.

Para prajurit itupun kemudian makan sekenyang-kenyangnya. Mereka tidak tahu, apakah perang itu akan cepat dapat diselesaikan, atau sampai saatnya matahari terbenam mereka masih belum berhasil memecahkan pertahanan Mataram, sehingga di malam mendatang, mereka harus menarik diri kembali ke pesanggrahan, dan turun lagi ke medan di hari berikutnya.

Dalam pada itu, suara sangkakala, genderang dan bende dari pasukan Pajang itupun telah membangunkan para pengawal, anak-anak muda dan orang-orang yang berada di pasukan Mataram. Bahkan beberapa orang di antara merekapun telah melepaskan panah-panah sendaren melambung ke atas sehingga terdengar siulan nyaring di udara susul menyusul.

Tetapi panah-panah sendaren itu tidak saja terbang di atas pasukan Mataram dari ujung sayap kanan sampai ke ujung sayap kiri. Tetapi beberapa anak panah telah melesat jauh keluar dari pasukan dan sambung bersambung ke arah utara.

Demikianlah, maka pasukan di kedua belah pihak itupun telah terbangun. Mereka telah mengisi perut mereka sebelum mereka akan turun ke medan. Sementara itu, para pemimpin kelompok telah mulai meneliti para prajurit dan pengawal yang menjadi tanggung jawabnya.

Di induk pasukan, Kanjeng Sultan telah bersiap pula. Para pengawal pribadinya yang khususpun telah siap di muka rumah yang dipergunakan oleh Kanjeng Sultan sebagai pesanggrahan, sedang seorang srati telah mempersiapkan gajah yang akan dipergunakan Kanjeng Sultan maju ke medan.

Dengan jantung yang berdebar-debar, kedua belah pihak telah menunggu matahari terbit di ujung timur. Sementara mereka mendapat kesempatan untuk beristirahat setelah mereka mengisi perut mereka dengan sekenyang-kenyangnya.

Namun dalam kegelisahan, orang-orang yang berada di pasukan kedua belah pihak itupun tidak lagi dapat berdiri diam. Tetapi rasa-rasanya kaki dan tangan mereka sudah siap untuk mulai dengan sebuah pertempuran yang besar dan menggetarkan.

Dalam pada itu, maka sekali lagi terdengar pekik sangkakala dan getar suara genderang. Satu pertanda bahwa saatnya telah tiba bagi padukan Pajang untuk mulai dengan sebuah pertempuran yang mendebarkan.

Dalam pada itu, maka Mataram pun telah mengimbanginya pula. Suara genderangpun telah membelah suasana yang dicengkam oleh ketegangan.

Pasukan di kedua belah pihakpun telah bersiap. Para Senapati yang akan memimpin pasukannya masing-masing menjadi sibuk mengatur barisannya, menyesuaikan dengan tugas yang telah dibebankan kepada mereka masing-masing.

Sejenak kemudian, maka pasukan di kedua belah pihakpun telah bersiap. Di induk pasukan Pajang, Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang telah bersiap menyelipkan pusakanya yang tidak terpisah dari padanya. Sebilah keris yang disebutnya dengan Kanjeng Kiai Crubuk. Sementara Pangeran Benawa pun telah bersiap pula sebelah menyebelah dengan Adipati Tuban. Sementara di belakang, pasukan pengawal khusus Adipati Demak pun telah bersiap pula dengan pasukannya.

Namun dalam pada itu, Kanjeng Sultan tidak segera naik ke punggung gajahnya. Dengan wajah yang berkerut dipandanginya tebing Kali Opak, sementara pasukan Mataram telah mulai bergerak mendekati tebing.

Kanjeng Sultan itu menarik nafas dalam-dalam. Meskipun pasukan induk Mataram dilengkapi dengan tanda-tanda kebesaran, namun ketajaman penglihatan batinnya dapat mengetahui, bahwa sebenarnyalah induk pasukan Mataram itu terlalu lemah untuk menghadapi induk pasukan Pajang, apabila kedua pasukan itu benar-benar akan berbenturan.

Namun Ki Juru pun tidak membiarkan kesan yang demikian itu dapat ditangkap oleh orang-orang Pajang. Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk membuat kesan yang lain.

Karena itulah, maka orang-orang Pajang yang melihat pasukan Mataram yang segelar-sepapan, menjadi berdebar-debar juga. Ternyata Mataram juga mampu mengerahkan pasukan yang besar untuk mengimbangi para prajurit Pajang.

Tetapi para pengawal khusus Kanjeng Sultan Hadiwijaya dan para senapati yang ada di induk pasukan menjadi heran. Mereka melihat bahwa Kanjeng Sultan tidak segera memerintahkan pasukan Pajang untuk menggempur pasukan Mataram. Sedangkan pasukan Mataram telah berada beberapa langkah saja dari tebing sebelah barat Kali Opak.

Namun dalam pada itu, para panglima dan senapati yang berada di sayap mempunyai sikap yang lain. Mereka memang tidak terlalu menghiraukan Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Meskipun dalam perhitungan mereka, Kanjeng Sultan itu harus membenturkan diri dan pasukan induknya melawan pasukan Mataram, sehingga keduanya akan menjadi hancur, tetapi ada dorongan yang lebih kuat dari perhitungan itu, untuk meninggalkan saja Kanjeng Sultan Hadiwijaya.

“Pada saatnya hal itu akan terjadi,“ berkata Kakang Panji di dalam hatinya.

Karena itu, maka pasukan yang ada di sayap, agaknya tidak terlalu bersabar seperti pasukan Pajang yang berada di induk pasukan.

Oleh dorongan itulah, maka para panglima dan senapati yang berada di sayap pasukan Pajang, tanpa menunggu langkah pasukan induknya, telah mendahului menuruni tebing di sebelah timur Kali Opak untuk langsung menyerang pertahanan pasukan Mataram.

Dalam pada itu, seorang senapati di induk pasukan yang tidak sabar telah saling bertanya dengan kawan-kawannya, ”Kenapa kita masih menunggu, sementara suara sangkakala dan genderang telah membelah langit?”

Meskipun tidak seorangpun yang menyampaikan pertanyaan itu kepada Kanjeng Sultan, namun agaknya Kanjeng Sultan menyadari, bahwa para prajuritnya ingin mengetahui sikapnya itu.

Karena itu, maka katanya kepada seorang senapati pengawal khususnya, “Beritahukan kepada para Senapati Pengapit, bahwa kita harus menunggu barang sejenak. Menurut pengamatanku, pasukan induk dari Mataram itu terlalu kuat. Mereka meletakkan kekuatannya pada pasukan induknya. Sehingga dengan demikian, maka sayap-sayap mereka menjadi lemah. Karena itu, aku membiarkan para panglima dan senapati di sayap pasukan ini mendahului bertindak. Tanpa perintahku, agaknya mereka menyadari dan telah melakukan satu langkah yang benar. Jika pasukan sayap Mataram mulai merasa terdesak dan menarik sebagian pasukan induk, maka barulah kita menyerang, agar kita tidak dihancurkan oleh pasukan Mataram pada saat kita memanjat tebing Kali Opak.”

Para senapati yang mendengar keterangan itu mengerutkan keningnya. Seorang di antara mereka berkata, “Kanjeng Sultan memang sudah terlalu tua untuk menjadi seorang senapati. Ia terlalu hati-hati menghadapi medan.”

Tetapi kawannya menjawab, “Tidak. Bukan terlalu tua. Justru penglihatan Kanjeng Sultan yang melampaui ketajaman penglihatan kita. Kanjeng Sultan tidak mau memberikan korban tidak berarti bagi pasukan Pajang. Jika benar perhitungan Kanjeng Sultan, maka Mataram akan dihancurkan mulai dari sayap pasukan. Bukankah sayap pasukan Pajang terlampau kuat? Pasukan khusus yang nggegirisi itu berada di sayap pula.”

“Kau kagum atas pasukan khusus itu? Bagaimana dengan kemampuan pasukan khusus itu dengan pengawal khusus kita ini?“ bertanya kawannya.

“Aku bangga akan pasukan kita ini. Tetapi aku tidak menutup kenyataan tentang pasukan khusus yang dipimpin oleh Tumenggung Prabadaru itu,“ jawab yang lain.

Keduanyapun kemudian terdiam. Mereka mulai melihat pasukan Pajang mendekati tebing di sebelah barat, terutama sayap-sayap pasukan. Sebagaimana telah diperhitungkan oleh Kanjeng Sultan, bahwa mereka tidak akan menunggu sampai perintah dalam keseluruhan diberikan. Dan ternyata perhitungan itu tepat sekali.

Kangjeng Sultan memang menjadi berdebar-debar ketika melihat pasukan Pajang yang besar dan kuat itu meloncati bebatuan di Kali Opak. Arus airnya yang tidak terlalu besar, nampaknya tidak menjadi hambatan sama sekali bagi prajurit Pajang itu.

Dalam pada itu, pasukan Mataram telah menjadi semakin menepi. Mereka telah mempersiapkan segala macam senjata yang ada. Namun seperti yang telah mereka sepakati kemudian, maka mereka akan mempergunakan anak panah dan lembing untuk menghambat kemajuan pasukan Pajang yang akan memanjat tebing di sebelah barat Kali Opak.

Tetapi hal itu telah diperhitungkan pula oleh pasukan Pajang. Mereka telah menempatkan pasukan berperisai di bagian terdepan dari pasukan Pajang, untuk melindungi pasukan itu dari patukan anak panah yang akan menghujani pasukan Pajang.

Namun dalam pada itu, panah sendaren yang melesat keluar dari daerah pertahanan Mataram telah menyebabkan isyarat bersambung. Panah sendaren yang jatuh di satu padukuhan telah disambung oleh beberapa orang petugas di padukuhan itu dengan melontarkan panah sendaren. Sambung bersambung.

Ternyata isyarat itu telah menggerakkan beberapa orang pengawal yang berada di dua buah bendungan yang terletak di jalur Kali Opak, itu pada jarak yang tidak terlalu jauh. Dengan serta merta maka orang-orang itu telah memecahkan masing-masing sebuah bendungan yang telah membuat kedung dan waduk untuk menyimpan air bagi musim kering.

Dengan demikian, maka waduk dan kedung itupun telah melemparkan airnya ke Kali Opak, sehingga menumbuhkan banjir. Limpahan air kedung yang berada di bagian atas telah mendorong air di waduk yang berada di bagian bawah, sehingga ketika bendungan di bagian bawah itupun pecah, maka telah terjadi banjir.

Banjir itulah yang tidak diperhitungkan oleh pasukan Pajang.

Sementara itu, para prajurit Pajang telah merayap mendekati tebing sebelah barat. Sedangkan pasukan Mataram telah mulai melontarkan anak panah dari busur-busur mereka, dan lembing-lembing yang mereka lontarkan dengan sepenuh tenaga.

Tetapi para prajurit Pajang telah mempersiapkan perisai untuk melawan anak panah dan lembing itu, sehingga mereka masih tetap merangkak maju. Yang sudah sampai ke tebing, telah berusaha untuk memanjat sambil melindungi diri mereka dengan perisainya.

Tetapi tidak mudah untuk menembus pertahanan orang-orang Mataram. Di sebelah sayap terdapat Pasukan Khusus yang telah ditempa di Tanah Perdikan Menoreh, sedangkan di sayap yang lain adalah para prajurit Pajang, termasuk orang-orang terpilih yang dipimpin oleh Sabungsari.

Karena itu, ketika orang-orang Pajang berusaha merangkak naik, maka pertempuran sebenarnya telah mulai.

Namun dalam pada itu, para sepapati dari kedua belah pihak masih belum melibatkan diri langsung dalam pertempuran itu. Mereka masih harus mengawasi keseluruhan dari pasukannya dalam hubungannya dengan pasukan yang sama-sama berdiri di satu pihak, maupun pasukan lawan.

Dalam pada itu, ketika pertempuran di bibir tebing sebelah barat itu menjadi semakin sengit, maka terjadilah banjir yang tidak diduga sebelumnya. Ujung banjir yang bagaikan kepala seekor naga dengan ekornya yang berwarna coklat kehitam-hitaman, menjalar dengan kecepatan yang mendebarkan.

Satu dua orang prajurit Pajang telah mulai mencapai tanggul. Beberapa orang kawan merekapun sempat menyusul, meloncat naik. Tetapi ada pula di antara mereka yang gagal karena ujung lembing lawan telah melemparkannya kembali ke tepian, sementara kaki-kaki kawan sendiri tidak lagi sempat menghindari tubuhnya yang tergelincir jatuh.

Namun dalam pada itu, terdengarlah suara titir yang menggetarkan. Suara titir itu juga tidak diperhitungkan oleh orang-orang Pajang.

Beberapa orang di bagian atas Kali Opak, yang tidak langsung terlibat benturan kekuatan antara Pajang dan Mataram, telah dikejutkan pula oleh banjir yang tiba-tiba. Satu hal yang sangat aneh menurut pengertian mereka. Tidak ada mendung yang tergantung di langit. Di atas Prambanan, maupun di atas Gunung Merapi. Tidak ada hujan dan angin yang kencang. Namun tiba-tiba saja banjir yang besar telah datang melanda bebatuan.

Karena itulah, tanpa berpikir panjang mereka telah memukul kentongan dalam nada titir. Sambung bersambung. Meskipun suara titir itu tidak sampai ke padukuhan-padukuhan di Prambanan yang telah kosong, karena para penghuninya telah mengungsi, tetapi suaranya di kejauhan itu dapat didengar oleh beberapa orang prajurit Pajang yang sedang bertempur.

Agaknya suara titir itu telah menarik perhatian. Apalagi ketika seorang senapati berusaha untuk meyakinkan pendengarannya dengan meloncat ke atas sebongkah batu padas.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: