Buku 167 (Seri II Jilid 67)

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya yang berdiri di samping Pangeran Benawa pun melihat keadaan itu. Justru lebih tajam lagi. Dan keduanyapun telah mencium bau yang tajam itu pula.

Bau yang tajam itu benar-benar telah menarik perhatian mereka. Meskipun yang tercium oleh kedua orang itu tidak setajam dan tidak menyesakkan dada seperti yang tercium oleh Agung Sedayu sebagai sasaran utama Kakang Panji, namun bau itu benar-benar telah mendebarkan.

“Adimas Pangeran,” desis Raden Sutawijaya, “kau mencium bau wangi ini?”

Pangeran Benawa mengangguk kecil. Jawabnya, “Ya. Aku pasti, bahwa bau inilah yang telah mempengaruhi Agung Sedayu.”

“Kau ingat, bahwa Ayahanda Kanjeng Sultan pernah mengatakan tentang ilmu seperti ini?“ bertanya Raden Sutawijaya.

“Ya. Ayahanda Kanjeng Sultan sebagai guru kita di dalam olah kanuragan,“ jawab Pangeran Benawa, “ilmu yang sudah jarang dan hampir tidak pernah dikenal lagi pada saat ini.”

“Satu ilmu yang hanya dikuasai oleh satu perguruan tertentu pada akhir kekuasaan Majapahit,” berkata Raden Sutawijaya. “Apakah Ki Tumenggung Prabadaru memiliki ilmu yang dahsyat ini dan kali ini telah ditrapkannya untuk melawan Agung Sedayu?”

Pangeran Benawa termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku tidak yakin, bahwa Ki Tumenggung itu memiliki ilmu yang dahsyat ini.”

“Tetapi kita dapat melihatnya sekarang. Kau lihat, perlawanan Agung Sedayu mengalami kesulitan. Ia semakin terdesak, karena ia tidak sempat memusatkan nalar budinya dalam puncak ilmunya. Jika pengaruh ilmu ini tidak mencengkam Agung Sedayu sehingga pemusatan kemampuannya tidak menjadi kabur, maka aku kira Agung Sedayu yang mempunyai kemampuan memperingan tubuhnya itu akan selalu mendapat kesempatan menjauhkan dirinya dan melontarkan ilmunya lewat sorot matanya,“ berkata Raden Sutawijaya pula.

Pangeran Benawa termangu-mangu. Namun yang dapat dilakukannya hanyalah menarik nafas dalam-dalam.

“Adimas,“ berkata Raden Sutawijaya, “jika masih ada seseorang yang menguasai ilmu itu sekarang, maka ia adalah orang yang sulit untuk dikuasai. Mungkin kita juga akan mengalami kesulitan. Apalagi jika orang itu juga menguasai ilmu yang lain seperti Ki Tumenggung Prabadaru.”

“Tetapi Kakangmas, apakah tidak mungkin telah terjadi satu kecurangan?” berkata Pangeran Benawa kemudian.

“Maksudmu, ada orang lain yang membantu Ki Tumenggung dari luar lingkaran perang tanding?“ bertanya Raden Sutawijaya.

“Ya,“ jawab Pangeran Benawa.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin sekali. Tetapi itu benar-benar satu kecurangan. Satu sikap yang sangat licik.”

“Tetapi sangat sulit bagi kita untuk mengetahui di antara sekian banyak orang, siapakah yang dapat dituduh berbuat sangat licik itu. Kita tidak akan dapat meniliknya seorang demi seorang,“ berkata Pangeran Benawa kemudian.

Raden Sutawijaya termangu-mangu. Namun tiba-tiba ia berkata, “Adimas Pangeran. Apakah Ayahanda berada di pesanggrahan?”

Wajah Pangeran Benawa menegang. Tiba-tiba saja ia berdesis, “Apakah Kakangmas menuduh Ayahanda berbuat curang seperti ini?”

“Tidak. Tidak Adimas,“ jawab Raden Sutawijaya tergesa-gesa, “bukan maksudku. Tetapi jika Ayahanda berada di pesanggrahan, apakah Adimas dapat menanyakan, apakah ilmu ini akan mempunyai akibat yang mungkin sangat luas. Karena itu, mungkin Ayahanda akan dapat memberikan petunjuk untuk mengatasinya.”

Pangeran Benawa termenung sejenak. Namun kemudian ia berdesis, “Maaf Kakangmas, aku terlalu cepat menanggapi pertanyaan Kakangmas. Tetapi, baiklah aku mencobanya. Mudah-mudahan Agung Sedayu akan dapat bertahan untuk beberapa saat.”

“Ia akan dapat bertahan untuk waktu yang cukup. Namun jika dibiarkan ilmu yang tajam ini menusuk indra penciumannya, maka ia akan mengalami kesulitan. Lambat laun, tetapi pasti. Aku yakin bahwa bagi orang yang menjadi sasaran ilmu ini, maka bau yang tajam ini benar-benar sangat berpengaruh.”

Pangeran Benawa termangu-mangu sesaat. Namun iapun kemudian berpaling kepada Sabungsari dan Untara. Katanya, “Hati-hatilah. Pertempuran ilmu malam ini adalah pertempuran yang paling gila selama kita berada di tepian Kali Opak ini.”

Untara dan Sabungsari mengangguk meskipun mereka tidak menyahut.

Dalam pada itu, sepeninggal Pangeran Benawa, maka Sabungsaripun berkata, “Raden, apabila Raden yakin, bahwa seseorang telah berlaku licik, mempengaruhi pertempuran itu dengan ilmunya, maka akupun akan dapat melakukannya. Betapapun juga lemahnya ilmuku, tetapi aku akan dapat mempengaruhi kemampuan Ki Tumenggung Prabadaru dengan sorot mataku. Aku memerlukan jarak yang tidak terlalu dekat, dan aku akan dapat berdiri di antara beberapa orang di baris pertama dari lingkaran ini, atau bahkan aku dapat berdiri di antara semak-semak.”

Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga itu tercenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita belum yakin, apakah memang ada orang yang mempengaruhi perang tanding itu. Jika tidak ada, maka yang akan kita lakukan itu merupakan satu aib yang tidak akan mudah kita lupakan.”

Sabungsari mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Raden benar. Aku hanya akan berbuat, jika benar-benar ada pihak lain yang ikut campur. Tetapi jika ilmu yang tidak kita kenal ini telah dilepaskan oleh Ki Tumenggung Prabadaru sendiri, maka kita memang tidak akan dapat berbuat apa-apa selain berdoa, agar Agung Sedayu mendapat kekuatan untuk melawan ilmu itu.”

Sebenarnyalah, Agung Sedayu mengalami kesulitan yang semakin jelas. Bau yang tajam itu semakin menusuk-nusuk hidungnya. Kepalanya menjadi semakin pening dan nalarnya semakin sulit untuk dipergunakannya mengambil satu keputusan.

Tetapi Agung Sedayu masih tetap sadar, bahwa ia harus berjuang untuk mempertahankan dirinya.

Karena itu, maka bagaimanapun juga, ia masih tetap bertempur dengan sengitnya. Ilmu kebalnya telah melindunginya dari bencana yang gawat. Tanpa ilmu kebalnya, maka Agung Sedayu tentu sudah menjadi lumat. Bahkan pengetrapan ilmu kebal yang semakin mantap, telah membuat udara menjadi semakin panas, sehingga mempengaruhi keleluasaan gerak Ki Tumenggung Prabadaru.

Di antara mereka yang menyaksikan pertempuran itu, orang yang disebut Kakang Panji masih saja melontarkan ilmunya dengan sasaran Agung Sedayu. Semakin lama justru menjadi semakin tajam.

Namun demikian, Kakang Panji itu sempat juga mengumpat, karena Agung Sedayu masih saja mampu bertahan untuk waktu yang lama.

“Kenapa Prabadaru tidak segera dapat menyelesaikannya,“ geram Kakang Panji itu di dalam hatinya.

Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Agung Sedayu masih bertempur terus, betapapun sulitnya.

Dalam pada itu. Raden Sutawijaya pun menjadi semakin gelisah. Ia tidak dapat segera mengetahui, apakah Tumenggung Prabadaru telah berbuat curang. Jika ia rnengetahuinya, maka bukan saja Sabungsari, ia sendiri akan dapat berbuat sesuatu untuk membantu Agung Sedayu. Tetapi jika kekuatan yang dapat mempengaruhi indra penciuman itu memang berasal dari kemampuan Ki Tumenggung, maka kecurangan itu akan membuatnya menyesal seumur hidupnya. Bahkan mungkin Agung Sedayu pun akan mengetahuinya, bahwa ia telah diselamatkannya dengan cara yang licik.

Selagi Raden Sutawijaya termangu-mangu, maka Pangeran Benawa telah memasuki pesanggrahan Ayahandanya. Beberapa orang pengawal yang bersiaga tidak mencegahnya, karena mereka mengenal bahwa yang datang itu adalah Pangeran Benawa.

Namun demikian, ketika Pangeran Benawa memasuki ruang tengah, seorang pengawal menghentikannya sambil berdesis, “Pangeran, Ayahanda Pangeran nampaknya sedang tidur nyenyak. Beberapa saat lamanya, Ayahanda selalu gelisah. Bahkan dua kali Ayahanda mengigau di dalam tidurnya yang belum panjang. Baru saja Ayahanda Pangeran nampak dapat beristirahat, terutama batinnya.”

Pangeran Benawa menjadi tegang sesaat. Dengan nada tertahan ia bertanya, “Jadi Ayahanda sedang tidur nyenyak?”

“Ya Pangeran. Belum lama,“ jawab pengawai itu.

“Aku perlu berbicara dengan Ayahanda sekarang,“ desis Pangeran Benawa.

Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Segalanya terserah kepada Pangeran. Tetapi aku hanya memperingatkan, bahwa Kanjeng Sultan memerlukan istirahat lahir dan batin. Kegelisahan yang mencengkamnya, membuatnya sangat gelisah dan tidak menentu.”

Pangeran Benawa tiba-tiba saja menghentakkan tangannya. Namun kemudian katanya, “Aku akan menunggu sejenak. Jika Ayahanda sudah cukup lama beritirahat, aku akan berbicara.”

“Terserah kepada Pangeran,“ jawab pengawal itu. Namun agaknya pengawal itu tidak ikhlas membiarkan Kanjeng Sultan yang sedang tidur nyenyak itu dibangunkan. Apalagi keadaan Kanjeng Sultan yang menjadi semakin memburuk, meskipun segala macam obat telah diminumnya.

Pangeran Benawa yang gelisah berjalan mondar-mandir di ruang tengah, di depan sentong tempat Ayahandanya berbaring. Namun iapun menjadi segan untuk membangunkannya.

Namun dalam kegelisahannya itu, tiba-tiba saja Pangeran Benawa mendengar sapa lembut dari dalam bilik itu, “Siapa yang mondar-mandir di luar?”

Dada Pangeran Benawa berdesir. Ternyata ia sudah membangunkan Ayahandanya yang sedang berkesempatan beristirahat.

Pengawal yang ada di ruang itu memandanginya dengan sorot mata menyalahkannya. Seolah-olah Pangeran Benawa itu sudah mengganggu satu kesempatan yang jarang sekali dimiliki oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya.

Namun demikian, Pangeran Benawa pun kemudian menjawab, “Hamba Ayahanda. Benawa.”

“O, kemarilah. Tentu ada yang membuatmu gelisah,” berkata Kanjeng Sultan.

Pangeran Benawa ragu-ragu. Namun kemudian iapun mendorong pintu bilik dan melangkah memasukinya.

Setelah menutup pintu itu kembali, maka Pangeran Benawa pun duduk dengan kepala tunduk menghadap Ayahandanya yang masih saja berbaring.

“Kemarilah. Duduklah di amben ini,“ panggil Ayahandanya.

Pangeran Benawa yang duduk di lantai termangu-mangu. Namun iapun beringsut mendekat, meskipun ia masih saja duduk di lantai.

“Katakan Benawa. Apa yang telah membuatmu gelisah?“ bertanya Ayahandanya.

“Ampun Ayahanda,“ berkata Pangeran Benawa, “hamba mohon maaf, bahwa hamba telah mengganggu ketenangan Ayahanda yang sedang beristirahat.”

“Katakan. Aku sudah cukup lama tidur dengan nyenyak. Sejak matahari terbenam, aku sudah tertidur tanpa terusik sama sekali,“ jawab Kanjeng Sultan.

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu, Ayahandanya tidak berkata sebenarnya, karena Ayahandanya selalu gelisah di dalam tidurnya.

Tetapi akhirnya Pangeran Benawa pun telah menceritakan apa yang telah terjadi di medan. “Satu pertempuran yang sangat dahsyat Ayahanda. Dan yang paling mendebarkan, bahwa salah satu pihak telah mempergunakan ilmu yang kini jarang adanya. Bahkan baru kali ini aku menjumpainya, meskipun aku pernah mendengar dari Ayahanda sebagai guru hamba dalam olah kanuragan.”

Kanjeng Sultan mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di bibir pembaringannya. Dengan nada dalam ia berkata, “Jadi ada orang yang melepaskan ilmu itu di medan sekarang ini?”

Pangeran Benawa mengangguk kecil. Namun kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Benawa,“ berkata Kanjeng Sultan kemudian, “ilmu itu adalah ilmu yang dahsyat. Ilmu yang menjadi ilmu andalan salah satu cabang perguruan di masa kejayaan Majapahit. Namun aku belum sempat mempelajarinya dengan saksama. Tegasnya, aku kurang mengerti tentang ilmu itu, meskipun aku mengetahui adanya.”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Ayahandanya tidak dapat memberikan petunjuk apapun tentang ilmu itu.

Namun Kanjeng Sultar itu berkata, “Tetapi Benawa, jika aku yang berada di medan, aku tidak akan gentar oleh ilmu itu. Bukankah ilmu itu telah menyerang indra penciuman? Ilmu itu tidak mempunyai pengaruh langsung kepada sasaran, kecuali mengacaukan pemusatan nalar dan budinya. Jika sasaran itu memiliki kebulatan perhatian atas ilmunya sendiri yang sedang dikerahkan, maka jika ilmu itu tidak dihiraukannya, akibatnya tentu akan jauh berkurang dari jika sasaran itu seakan-akan benar-benar mengalami penderitaan oleh serangan ilmu itu.”

Pangeran Benawa mengerutkan keningnya. Sebagai seorang yang berilmu ia menangkap isyarat yang diberikan oleh Kanjeng Sultan itu, meskipun Kanjeng Sultan mengatakan bahwa ia tidak mengerti tentang ilmu itu.

“Itulah yang harus dikerjakan oleh Agung Sedayu menghadapi ilmu lawannya,“ berkata Pangeran Benawa di dalam hatinya. Namun kemudian, “Tetapi bagaimana harus mengatakannya kepada Agung Sedayu?”

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Pangeran Benawa terkejut ketika ia mendengar Ayahandanya membentak, “Benawa. Siapakah yang mengalami kesulitan itu?”

Hampir di luar sadarnya Pangeran Benawa menjawab, “Agung Sedayu, Ayahanda.”

“Agung Sedayu itu berdiri di pihak mana?“ bertanya Kanjeng Sultan itu pula.

“Di pihak Mataram, Ayahanda,“ jawab Pangeran Benawa.

“Dan kau?“ pertanyaan Kanjeng Sultan itu sama sekali tidak diduga oleh Pangeran Benawa. Namun ia telah menjawab sebagaimana terloncat saja di bibirnya, “Di pihak Pajang, Ayahanda.”

“Nah, jika demikian Agung Sedayu itu adalah lawan kita. Buat apa kau merisaukan keadaan lawan kita. Kita adalah orang-orang Pajang yang bertempur melawan Mataram. Apapun yang terjadi, maka kita akan berdiri di pihak Pajang. Kita akan memusnahkan orang-orang Mataram, termasuk Agung Sedayu.”

Pangeran Benawa menjadi bingung. Ia benar-benar tidak tahu, apa yang dimaksud oleh Ayahanda. Apalagi ketika tiba-tiba Ayahandanya berkata, “Pergilah. Kau boleh melihat Ki Tumenggung Prabadaru membantai lawannya yang diagung-agungkan itu.“ Tiba-tiba suara Kanjeng Sultan merendah, “Tetapi aku tidak yakin, jika Ki Tumenggung memiliki ilmu itu. Tentu ada orang lain yang berdiri di belakangnya.”

Pangeran Benawa menjadi semakin bimbang menghadapi sikap Ayahandanya. Namun dalam pada itu, Kanjeng Sultan itupun berkata, “Pergilah ke medan. Lihat. Jika orang-orang Mataram berbuat curang, maka kau harus bertindak menyelamatkan Tumenggung Prabadaru. Besok kita akan membinasakan orang-orang Mataram. Besok aku akan turun ke medan.”

“Ayahanda,“ potong Pangeran Benawa, “Ayahanda sedang sakit. Nampaknya justru menjadi semakin parah di hari-hari terakhir. Hamba berharap Ayahanda dapat menahan diri sehingga Ayahanda menjadi sedikit baik.”

“Aku dalam keadaan baik,“ jawab Kanjeng Sultan, “besok aku siap maju ke medan.”

Pangeran Benawa benar-benar menjadi bingung. Sementara itu Kanjeng Sultan berkata lagi, “Cepat, pergilah ke medan. Lihat apa yang terjadi.”

Pangeran Benawa tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian mundur dari hadapan Kanjeng Sultan. Sikap Ayahandanya itu benar-benar membuatnya semakin bingung menghadapi keadaan.

“Aku memang orang Pajang. Tetapi apakah Ayahanda benar-benar mengartikannya sebagaimana dikatakannya? “ pertanyaan itu selalu membelit hatinya.

Namun dalam pada itu, Pangeran Benawa itupun telah melangkah menuju ke Kali Opak untuk menyeberang dan mendapatkan Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga.

“Meskipun Ayahanda tidak berterus terang dan mengatakan bahwa Ayahanda tidak mengerti tentang ilmu yang menyerang indra penciuman itu, tetapi Ayahanda sudah memberikan petunjuk, bagaimana melawan ilmu itu.” Tetapi yang sulit, bagaimana keterangan itu dapat diketahui oleh Agung Sedayu. Tentu saja tidak mungkin ia meneriakkan keterangan itu langsung. Apalagi menurut keterangannya sendiri di hadapan Ayahandanya, bahwa ia adalah orang Pajang, yang berdiri sepihak dengan Ki Tumenggung Prabadaru.

Dalam penuh kebimbangan Pangeran Benawa melangkah terus menuju ke tepian.

Dalam pada itu, keadaan Agung Sedayu menjadi semakin sulit. Kepalanya bertambah pening, dan nalar budinya bertambah baur tidak menentu. Ia mulai membuat kesalahan-kesalahan sehingga serangan lawannya lebih banyak mengenainya dan mengguncang ilmu kebalnya.

“Gila,“ geram Agung Sedayu.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayupun memiliki pengalaman yang cukup luas. Ia tidak membiarkan dirinya hanyut ke dalam baurnya nalarnya. Ia berusaha mengingat apa yang pernah dilakukannya dalam pertempuran-pertempuran yang pernah dilakukannya.

Namun sengatan ilmu di indra penciumannya itu rasa-rasanya membuatnya hampir gila.

Kakang Panji melihat sasarannya menjadi kebingungan dan hampir kehilangan pengamatan diri. Sebentar lagi Agung Sedayu tidak akan sempat lagi melawan dengan baik. Ia akan dihancurkan oleh Tumenggung Prabadaru tanpa ampun.

Sebenarnyalah Agung Sedayu mengalami kesulitan yang sangat gawat. Beberapa kali ia mencoba untuk mengambil jarak dari lawannya dengan kemampuannya melontarkan diri. Kemudian beberapa kali ia mencoba menyerang Ki Tumenggung dengan sorot matanya. Namun setiap kali serangannya menjadi gagal karena Ki Tumenggung itu mampu bertahan dan melangkah mendekat, kemudian menyerang dengan dahsyatnya.

Pemusatan ilmu Agung Sedayu benar-benar terganggu. Ia belum pernah mengalami kekacauan nalar seperti saat itu. Saat indra penciumannya mendapat serangan yang luar biasa tajamnya, justru oleh bau yang wangi menyengat-nyengat.

Sementara itu, Ki Tumenggung Prabadaru sendiri merasa heran atas keadaan lawannya. Serangan sorot mata Agung Sedayu tidak lagi mampu meremas isi dadanya. Pemusatan ilmunya kacau dan anak muda itu terlalu sering membuat kesalahan.

Jika sekali dua kali bau yang tajam singgah juga di indra penciuman Ki Tumenggung, maka Ki Tumenggung tidak banyak menghiraukannya. Bau itu cepat berlalu tanpa meninggalkan kesan apapun juga padanya.

“Anak yang malang,“ berkata Ki Tumenggung di dalam hatinya, “ia merasa dirinya terlalu besar. Ia telah mengambil alih pertempuran antara aku dan Ki Lurah Branjangan. Ia merasa akan dapat menyelesaikannya dan menerima tantangan untuk berperang tanding. Tetapi ternyata bahwa ia akan mengakhiri segala-galanya di sini.”

Namun Ki Tumenggung sama sekali tidak mempunyai niat untuk mengekang diri. Ia sadar, bahwa di seputar arena pertempuran itu, pada jarak yang agak jauh, beberapa orang berilmu tinggi menyaksikan perang tanding itu. Mereka tentu akan dapat menilai, arti dari kemenangannya. Bahwa ia telah mengalahkan seorang anak muda yang bernama Agung Sedayu, yang memiliki ilmu pilih tanding. Yang dengan mengejutkan telah berhasil membunuh Ajar Tal Pitu yang telah menyelesaikan laku terakhir dari ilmunya dan justru pada puncak kekuatannya di bawah sinar bulan yang bulat. Kemudian membunuh Ki Mahoni yang memiliki ilmu yang aneh, yang jarang ada duanya.

Di tempat lain, Kakang Panjipun tersenyum juga. Namun ia berkata di dalam hatinya, “Tumenggung yang sombong. Besok kau akan kecewa atas kemenanganmu. Jika aku besok memberitahukan kepadamu, bahwa kau memang bukan semata-mata karena kemampuanmu, maka baru kau akan mengerti, siapakah yang sebenarnya memiliki ilmu yang paling sempurna di seluruh medan di tepi Kali Opak ini. Meskipun seandainya di sini ada Raden Sutawijaya, bahkan ada Kanjeng Sultan sekalipun, mereka tidak akan dapat menyelamatkan Agung Sedayu, meskipun secara pribadi mungkin mereka akan dapat menyelamatkan dirinya dari serangan ilmuku ini.”

Kesulitan demi kesulitan telah menikam Agung Sedayu dari segala penjuru. Goncangan-goncangan pada ilmu kebalnya menjadi semakin terasa pada kulit dagingnya. Ia merasa tulang-tulangnya mulai menjadi sakit dan dagingnya menjadi memar meskipun di bawah perlindungan ilmu kebalnya, yang mulai susut oleh kekacauan pemusatan nalar budinya.

Ketika kemudian Pangeran Benawa berada lagi di sekitar medan, dan berdiri di belakang Raden Sutawijaya, ia segera mengatakan, apa yang telah dikatakan oleh Ayahandanya Kanjeng Sultan, serta sikapnya yang aneh dan sulit diraba maksudnya.

“Tetapi dengan demikian Ayahanda sudah memberikan petunjuknya,“ berkata Raden Sutawijaya, “soalnya adalah, bagaimana menyampaikannya kepada Agung Sedayu. Tetapi mungkin kemampuan Ayahanda memusatkan nalar budinya jauh melampaui kemampuan kita semuanya, termasuk Agung Sedayu, sehingga Ayahanda akan dapat membebaskan diri dari serangan yang aneh ini.”

Pangeran Benawa tidak segera menyahut. Dengan ketajaman indranya ia berusaha menangkap bau yang tajam itu. Namun bau itu masih juga sangat mempengaruhi kemampuan nalar budi Agung Sedayu.

Meskipun bagi Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan orang-orang lain bau itu tidak banyak berpengaruh, tetapi bagi Agung Sedayu bau itu telah mengkoyak-koyak pemusatan ilmunya.

Bukan saja Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya saja-lah yang menjadi sangat gelisah. Terlebih-lebih adalah Sekar Mirah. Pandan Wangi yang memegangi bahu perempuan itu, setiap kali berusaha untuk menenangkannya agar Sekar Mirah tidak meloncat memasuki arena.

Sementara itu, Ki Waskita setiap kali hanya dapat menggeretakkan giginya. Ia sadar, apa yang dilihatnya. Agung Sedayu mengalami kesulitan yang menentukan. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa, meskipun iapun menduga, bahwa Ki Tumenggung tidak bertempur sendiri. Tentu ada kekuatan yang telah membantunya. Meskipun demikian, karena ia tidak dapat membuktikannya, maka iapun menjadi ragu-ragu.

Yang terasa sangat pahit adalah perasaan Ki Lurah Branjangan. Iapun melihat kesulitan yang dialami Agung Sedayu. Meskipun ia menyadari bahwa dirinya terlalu kecil di hadapan Ki Tumenggung, namun seolah-olah ia telah menyerahkan Agung Sedayu ke dalam satu pergulatan dengan maut. Jika Agung Sedayu tidak tampil di arena, maka ialah yang sudah menjadi mayat terbujur di tepian Kali Opak itu.

Namun kemudian Agung Sedayu-lah yang mengalami kesulitan menghadapi Ki Tumenggung Prabadaru yang memiliki ilmu yang aneh, yang mampu menyadap kekuatan dari tanah, air, api dan angin. Namun ternyata kemudian, di antara kekuatan itu telah menyerang pula satu kekuatan yang langsung menusuk indra penciuman.

Dalam pada itu, di antara mereka yang berdiri di sekitar arena pertempuran yang dahsyat itu, seseorang nampak dicengkam oleh keragu-raguan yang sangat. Tubuhnya basah oleh keringat, sementara giginya setiap kali terdengar gemeretak. Wajahnya yang biasanya nampak lembut dan sareh, telah menjadi tegang dan bagaikan menyala.

“Licik,“ setiap kali terdengar ia menggeram.

Tetapi ia masih belum berbuat sesuatu. Seperti setiap orang berilmu di sekitar arena itu, ia masih selalu ragu-ragu, apakah benar Ki Tumenggung Prabadaru telah berbuat licik. Atau orang lain berbuat licik bagi kemenangan Ki Tumenggung.

Bagaimanapun juga, orang itu masih mempunyai harga diri yang mengekang setiap keinginannya untuk langsung mencampuri pertempuran itu. Seperti juga orang-orang lain, maka orang itu masih juga berpikir, “Jika ilmu yang mengerikan ini benar-benar dilontarkan oleh Ki Tumenggung Prabadaru, dan karena itu Agung Sedayu dapat dikalahkannya, tidak seorangpun yang berhak membantunya. Adalah nasibnya, bahwa ia akan kalah dan dihancurkan lawannya. Sebagaimana ia pernah memenangkan satu perang tanding dan membunuh lawan-lawannya.”

Sekali lagi orang itu menarik nafas dalam-dalam, sebagaimana telah dilakukannya berulang kali. Ketika ia berpaling dan memandang wajah-wajah di sekitarnya, maka dalam keremangan malam tatapan matanya yang tajam dapat menangkap ketegangan di setiap wajah.

Namun dalam pada itu. orang itu tidak tinggal diam. Ia ingin mengetahui dengan pasti, apakah Ki Tumenggung Prabadaru sendiri-lah yang telah melepaskan ilmu yang nggegirisi. Ilmu yang sudah jarang sekali dikenal. Ilmu yang menyerang indra penciuman.

Ketika orang itu bergeser setapak, maka ia melihat bagaimana Ki Tumenggung Prabadaru menyerang lambung Agung Sedayu langsung dengan sentuhan wadagnya. Kakinya terjulur lurus menghantam pertahanan ilmu kebal Agung Sedayu.

Demikian dahsyatnya serangan orang itu, sehingga Agung Sedayu telah terguncang dan bahkan kemudian iapun terhuyung-huyung. Sejenak kemudian serangan berikutnya telah menyusulnya. Sekali lagi orang itu menjulurkan kakinya menyerang dada. Agung Sedayu tidak mampu lagi bertahan. Dorongan kekuatan Ki Tumenggung itu telah melemparkannya sehingga Agung Sedayupun jatuh terguling di tanah.

Untunglah bahwa Agung Sedayu masih tetap mampu menguasai wadagnya dalam ilmunya meringankan tubuh. Karena itu, maka iapun segera melenting dan bangkit berdiri. Ketika serangan berikutnya memburunya, maka ia tidak dapat berbuat lain kecuali meloncat menghindar.

Namun dalam pada itu, kekuatan badai telah melandanya, sehingga Agung Sedayu bagaikan hanyut oleh arus yang sangat kuat. Tetapi ketika ia menggeliat, maka anak muda itu berhasil keluar dari arus yang sangat kuat yang melemparkannya tanpa ampun.

Tetapi Agung Sedayu tidak terbebas sama sekali dari serangan lawannya yang datang beruntun, seperti arus ombak yang bergulung-gulung susul menyusul.

Kekaburan nalarnya oleh serangan pada indra penciumannya itupun telah mengendorkan pertahanannya, sehingga panas yang memancar dari dalam dirinya pada puncak ilmu kebalnya pun menjadi semakin lunak.

Orang yang dicengkam kegelisahan seperti setiap orang di sekitarnya itupun bergeser semakin jauh. Seolah-olah ia telah berusaha untuk berdiri pada setiap sisi dari lingkaran di seputar arena itu tanpa menarik perhatian orang lain. Namun ketika ia berada di tempat yang agak terbuka dan tidak terlalu rapat, maka iapun berhenti.

Namun dalam pada itu, maka sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata kepada dirinya sendiri, “Aku yakin. Tentu ada kecurangan. Prabadaru tidak akan dapat melepaskan ilmu yang dahsyat ini sambil bertempur demikian cepatnya. Seolah-olah ia tidak menghiraukan sama sekali, apa yang sedang terjadi. Yang diketahuinya adalah, bahwa keadaan lawannya menjadi semakin lemah. Selebihnya, terasa ilmu itu lebih kuat di sisi ini dari di tempat aku berdiri semula.”

Sesaat ia masih berusaha meyakinkan diri. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk. Katanya di dalam hatinya, “Benar-benar satu kecurangan.”

Orang itu berusaha menebarkan pandangan matanya. Namun keremangan malam dan bayangan orang-orang yang berkerumun itu tidak memungkinkannya untuk menemukan seseorang yang telah berbuat curang, yang gtelah membantu Ki Tumenggung Prabadaru dengan ilmunya yang luar biasa. Ilmu yang sudah tidak lagi dapat disadap pada perguruan-perguruan yang masih ada.

Namun demikian, orang itu tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Ia merasa mempunyai kewajiban untuk berbuat sesuatu. Bukan saja karena ia mempunyai ikatan dengan Agung Sedayu. Tetapi kecurangan yang demikian dalam perang tanding benar-benar satu sikap yang tidak terpuji.

Karena itu, meskipun orang itu tidak dapat menemukan, siapakah yang sudah berbuat curang dengan ilmu yang jarang ada bandingnya itu, namun telah bulat niatnya untuk melibatkan diri langsung ke dalamnya.

Namun, ketika ia sudah siap untuk berbuat sesuatu, keragu-raguan mulai menjamahnya. Ia sudah berusaha untuk melupakan satu masa yang lama lampau dalam hidupnya. Juga ilmu yang nggegirisi, yang menjadi ciri kejayaannya. Sebagaimana juga kejayaan saudara-saudara seperguruannya.

Tiba-tiba saja dada orang itu berdesir. Ilmu itu bukan ilmu orang lain. Ilmu itu tentu telah dipelajarinya bersama dalam satu lingkungan, di bawah satu atap padepokan.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.

Sesaat ia dicengkam oleh keragu-raguan yang sangat. Ia pernah berjanji kepada dirinya sendiri, untuk tidak mengungkit ilmu yang sangat dahsyat itu. Bahkan sampai pada suatu saat ia terluka parah dalam satu pertempuran, ia sama sekali tidak mengungkapkan kemampuan ilmunya yang tiada taranya itu. Untuk waktu yang lama ia berusaha untuk menjelajahi dunia kanuragan dengan ilmu yang ada padanya, tanpa ilmu yang nggegirisi dari perguruannya yang satu itu.

Namun orang itu terkejut ketika ia mendengar desah di sebelahnya. Ternyata orang itu tidak dapat menahan ketegangan yang semakin memuncak.

Ternyata pertempuran di seberang barat Kali Opak itu menjadi semakin mendebarkan. Agung Sedayu menjadi semakin terdesak. Bahkan ia mulai merasakan, bahwa ilmu kebalnya bukan saja telah terguncang, namun ia mulai merasakan sentuhan pada kulitnya menyusup pada lapisan ilmu kebalnya yang sudah tertembus.

Agung Sedayu benar-benar kehilangan kemampuan untuk memusatkan nalar budinya. Gangguan pada indra penciumannya menjadi demikian parahnya, sehingga orang-orang Mataram mulai kehilangan harapan.

Tanpa disadari, tiba-tiba saja Sekar Mirah telah berpegangan pada lengan Pandan Wangi erat-erat dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya menggenggam tongkat baja putihnya dengan gemetar. Sementara jantung Pandan Wangi sendiri rasa-rasanya hampir meledak karenanya.

Sekali-sekali Ki Waskita mengusap keringat di keningnya. Namun ia sadar, bahwa permainan semu dalam saat yang demikian tidak akan banyak menolong. Ki Tumenggung Prabadaru akan segera dapat mengenal, manakah yang ujud semu dan manakah yang bukan. Sedangkan Sabungsari masih tetap ragu-ragu, karena Raden Sutawijaya belum yakin benar-benar bahwa ada orang lain yang melibatkan dirinya. Sehingga apabila Agung Sedayu mendapat bantuan dari orang lain, akan berarti kecurangan yang akan membuat nama Agung Sedayu itu sendiri menjadi direndahkan.

Dalam saat yang paling sulit, orang yang merasa mengenal apa yang sesungguhnya terjadi, berusaha untuk memantapkan niatnya. Ketika ia melihat orang yang berdiri selangkah di sebelahnya memalingkan wajahnya ketika orang itu melihat Agung Sedayu terlempar beberapa langkah, maka orang itupun menggeretakkan giginya.

Pada saat yang bersamaan, orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi terguncang pula. Bahkan Sekar Mirah terpekik kecil, dan Ki Waskita menghentakkan tinjunya pada telapak tangannya sendiri.

Tetapi orang-orang yang merasa dirinya dipagari oleh harga diri dan harga diri Agung Sedayu sendiri, tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak mau mengganggu perang tanding yang memang sudah disepakati antara Agung Sedayu dan Ki Tumenggung Prabadaru.

Namun ada seorang yang tahu pasti, bahwa ada kecurangan yang terjadi di pinggir arena itu. Orang itu mengenal dengan pasti pula, ilmu apakah yang telah mempengaruhi medan, terutama sasarannya. Dan orang itupun tahu pasti pula bahwa untuk dapat berhasil dan dengan sebaik-baiknya, maka orang yang mempengaruhi pertempuran itu harus dapat melihat sasarannya pada saat ia melepaskan ilmunya.

Akhirnya orang itu tidak dapat berbuat lain. Ia tidak dapat membiarkan Agung Sedayu mengalami bencana bukan karena ia telah dikalahkan dalam perang tanding yang sebenarnya. Bukan karena ilmu Agung Sedayu berada di bawah lapisan ilmu lawannya. Tetapi justru karena telah terjadi kecurangan di arena perang tanding yang seharusnya sama-sama dihormati itu.

Sesaat orang itu termenung. Ia berdiri di tempat yang tidak menarik perhatian. Di bawah serumpun pohon perdu, selangkah di belakang sekelompok orang yang sedang menyaksikan pertempuran itu. Justru orang-orang Pajang.

Dalam keadaan yang paling gawat, orang-orang Pajang itu sudah menentukan, bahwa pertempuran itu sudah hampir berakhir.

“Kenapa Agung Sedayu tidak mempergunakan cambuknya,” desis salah seorang di antara mereka.

“Tidak ada gunanya,“ jawab yang lain, “sebentar lagi ia akan mati. Namun ia sudah menunjukkan satu perlawanan yang luar biasa. Ia sudah berhasil menunjukkan kelebihannya yang jarang ada bandingnya.”

Orang-orang itu menahan nafasnya ketika mereka melihat sekali lagi Agung Sedayu terdorong surut dan jatuh terpelanting. Sementara Glagah Putih bagaikan menjadi gila melihat peristiwa itu. Seandainya ia tidak lagi menghormati Agung Sedayu yang telah berjanji untuk berperang tanding sampai mati tanpa dapat dipengaruhi oleh apapun, maka ia tentu sudah menyerbu ke arena, apapun akibatnya.

Namun, ketika Kakang Panji tersenyum menyaksikan akibat dari ilmunya yang dahsyat, yang dilontarkannya dengan diam-diam sehingga Agung Sedayu telah kehilangan keseimbangan nalar dan budinya, seseorang mengatupkan giginya rapat-rapat, sambil bergumam di dalam hati, “Apaboleh buat. Aku tidak mempunyai jalan lain.”

Sesaat kemudian, Kakang Panji itupun bukan saja tersenyum. Tetapi ia mulai tertawa kecil. Kepercayaannya yang berdiri di sisinya pun berdesis, “Hampir selesai. Kita akan sempat beristirahat. Besok pasukan Mataram benar-benar akan kita koyak-koyak sampai sayatan yang lumat seperti abu.”

Namun dalam pada itu, telah terjadi sesuatu yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Mula-mula tidak menarik perhatian. Tetapi semakin lama menjadi semakin nyata.

Betapapun gelapnya malam, namun ketajaman mata Kakang Panji dan orang-orang berilmu itu masih mampu menembus, dan meskipun tidak terlalu jelas, melihat apa yang terjadi di medan. Bayangan kehitaman dari Agung Sedayu telah cukup tajam bagi Kakang Panji untuk menetapkan sasarannya.

Tetapi dalam gelapnya malam itu, tiba-tiba mulai membayang warna keputih-putihan. Kabut yang tipis seakan-akan turun dari ujung pepohonan, sehingga keremangan malampun rasa-rasanya menjadi semakin gelap. Mereka yang semula mampu menembus gelapnya malam dengan ketajaman penglihatannya, namun kabut yang keputih-putihan itu benar-benar telah menghalangi pandangan mereka. Apalagi kabut itu semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin tebal, sehingga jarak jangkau pandangan matapun menjadi semakin terbatas. Apalagi di malam hari.

Demikian pula tajamnya pandangan mata Kakang Panji. Rasa-rasanya ujud Agung Sedayu yang sedang mengalami kesulitan di medan itu menjadi semakin kabur, seperti juga orang-orang yang berdiri mengitari arena itu.

Peristiwa yang tiba-tiba itu sangat menggelisahkan Kakang Panji. Ia terikat pada sasaran ilmunya untuk selalu dapat melihatnya. Jika kabut malam itu menjadi semakin tebal, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk selalu dapat mempengaruhi Agung Sedayu dengan ilmunya yang jarang ada bandingnya.

Untuk beberapa saat Kakang Panji termangu-mangu. Ia masih berusaha untuk tetap dapat mengamati Agung Sedayu, betapapun kaburnya. Namun dengan demikian, sejalan dengan semakin pudarnya bayangan Agung Sedayu, maka kekuatan ilmu Kakang Panji yang mencengkam Agung Sedayupun menjadi semakin menipis. Dan sejalan dengan itu pula, maka serangan Kakang Panji yang seharusnya hanya tertuju kepada Agung Sedayu itu mulai menebar.

“Gila. Apa yang sebenarnya terjadi,” tiba-tiba saja Kakang Panji itu menggeram.

Namun dalam pada itu, Kakang Panji adalah orang yang memiliki ilmu dan pengalaman yang sangat luas. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia menggeram, “Setan. Tentu ada iblis yang berusaha untuk mengacaukan rencanaku.”

Tetapi tiba-tiba Kakang Panji sendiri tersentak. Dipandanginya orang-orang kepercayaannya sambil bertanya dengan nada cemas, “He, siapakah yang masih dapat melakukannya? Siapakah yang mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di sini, dan dengan ilmu yang tiada duanya ini telah melawan ilmuku?”

Kepercayaan Kakang Panji itu tercenung. Dalam pada itu, kabut itupun masih saja turun dan menjadi semakin tebal, sehingga setiap orang seakan-akan telah kehilangan penglihatannya meskipun hanya untuk sasaran yang dapat dijangkau dengan tangannya.

Sebenarnyalah, setiap hati dari mereka yang berada di sekitar arena itu menjadi terguncang. Mereka masih belum dapat melihat kebenaran dari peristiwa yang menyebabkan perlawanan Agung Sedayu menjadi terdesak, dan mereka masih belum dapat mengetahui apakah perang tanding antara Agung Sedayu dan Tumenggung Prabadaru itu berlangsung dengan jantan dan jujur. Tiba-tiba mereka telah dikejutkan lagi oleh satu peristiwa yang tidak mereka duga sebelumnya. Dengan cepatnya kabut yang seakan-akan menjadi padat telah menyelubungi arena pertempuran.

Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa menjadi heran pula melihat keadaan itu. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu seakan-akan tanpa batas. Namun menghadapi jenis ilmu yang sudah hampir tidak dikenal lagi itu, merekapun menjadi berdebar-debar.

Serangan terhadap indra penciuman itu masih belum dapat mereka pecahkan, bahkan Kanjeng Sultanpun tidak mau mengatakan lebih dari satu petunjuk bagi Agung Sedayu. Namun mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengatakannya.

Dengan mengerahkan segenap kemampuan lahir dan batinnya, kedua orang yang berilmu hampir sempurna itu berusaha untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Namun akhirnya yang dapat mereka lakukan tidak lagi lebih dari mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Yang paling gelisah adalah Sekar Mirah. Ia melihat Agung Sedayu ada dalam keadaan yang sulit. Bahkan kemudian seolah-olah Agung Sedayu itu telah ditelan gumpalan-gumpalan kabut yang tebal. Dengan demikian maka Sekar Mirah tidak akan dapat melihat, apa yang telah terjadi dengan suaminya. Dan apakah yang dapat dilakukannya jika ia tidak dapat melihat sejauh jangkauan tangannya.

Sekar Mirah berpegangan Pandan Wangi semakin erat. Bukan karena ia menjadi ketakutan. Tetapi kecemasan, kejengkelan, kemarahan dan perasaan-perasaan lain yang bercampur baur di dalam dadanya, seakan-akan memecahkan jantungnya.

Pandan Wangipun tidak kalah tegangnya. Namun seperti orang-orang lain, maka, ia tidak dapat berbuat apa-apa pula.

Karena itulah, maka arena itupun seolah-olah telah menjadi hening. Semua orang diam bagaikan membeku. Masih juga sekali-sekali terdengar gerak dan langkah. Tetapi tiap orang lebih banyak sekedar bersiaga untuk menghadapi kemungkinan. Apalagi dalam kegelapan kabut yang tebal, mereka tidak dapat segera mengenal, yang manakah kawan dan yang manakah lawan.

Dalam pada itu, sebenarnya-lah Agung Sedayu dan Ki Tumenggung Prabadaru pun menjadi bingung menghadapi keadaan itu. Ki Tumenggung yang merasa bahwa tugasnya sudah hampir selesai, mengumpat dengan marahnya. Agung Sedayu yang bergeser selangkah surut, sudah tidak lagi dapat dilihatnya.

“Ini tentu bukan kabut sewajarnya,“ berkata Kakang Panji di dalam hatinya. Lalu, “Tentu ada orang yang ingin membantu Agung Sedayu dengan cara yang licik.”

Sementara itu, Agung Sedayu merasa mendapat kesempatan untuk menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan demikian, iapun mulai disentuh oleh satu dugaan seperti yang dipikirkan oleh Ki Tumenggung Prabadaru.

“Apakah ada orang yang berusaha menyelamatkan aku?“ bertanya Agung Sedayu kepada diri sendiri. Namun kemudian hatinya yang bergejolak itu berkata, “Jika benar demikian, aku tentu akan terhina untuk selamanya. Dalam perang tanding tidak boleh ada kekuatan yang mempengaruhinya, meskipun itu akan dapat menyelamatkan nyawaku.”

Karena itu, untuk saat ia masih berdiri tegak. Ia masih belum dapat menentukan sikap apapun juga.

Yang tidak dapat dimengerti oleh Agung Sedayu adalah kekuatan kabut itu. Agung Sedayu memiliki ketajaman penglihatan melampaui orang kebanyakan. Ia dapat memandang di dalam gelapnya malam yang betapapun kelamnya, pada jarak yang cukup jauh. Namun ternyata bahwa penglihatannya tidak mampu menembus pekatnya kabut yang menyelubungi arena itu.

Demikianlah, untuk sesaat semuanya telah terhenti. Yang bergerak hanyalah kabut itu sendiri. Perlahan-lahan, semakin lama semakin tebal.

Kakang Panji yang berusaha mempengaruhi Agung Sedayu dengan menusuk indra penciumannya terpaksa menghentikan serangannya. Tanpa melihat sasarannya, ilmu itu memang akan dapat menebar. Tidak memusat, sehingga akan dapat mempengaruhi Ki Tumenggung Prabadaru sendiri.

Namun dalam pada itu, Kakang Panji itu menjadi kebingungan. Ia tidak segera tahu, apa yang sebaiknya dilakukan.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung Prabadaru yang kemarahannya telah memuncak, karena menyangka bahwa Agung Sedayu telah berbuat licik, telah menghentakkan ilmunya pula. Ia tidak menyadari, bahwa sebenarnya ada orang lain pula yang telah membantunya, sehingga ia berhasil mendesak Agung Sedayu.

Karena itu, maka dengan ilmu praharanya yang disadapnya dari kekuatan angin, ia berusaha untuk menyapu kabut yang menyelubunginya.

Sejenak kemudian memang terdengar angin yang berputar dengan dahsyatnya. Terdengar pepohonan berguncang tanpa dapat melihat gerak dedaunan. Terasa oleh orang-orang yang berada di sekitar arena, angin prahara bagaikan mengamuk mengguncang tebing Kali Opak.

Terasa kengerian yang sangat telah mencengkam. Apalagi bagi mereka yang ilmunya masih belum mencapai tataran tertinggi. Mereka merasa seolah-olah mereka berada di neraka yang mengerikan. Gelap, guncangan badai yang mengamuk, dan udara yang menjadi semakin panas. Agung Sedayu yang merasa lawannya mulai menyerangnya dengan kekuatan angin, berusaha untuk memantapkan ilmu kebalnya yang hampir saja dikoyak oleh lawannya itu karena pemusatan nalar budinya terganggu oleh serangan pada indra penciumannya.

Tetapi orang-orang yang berada di sekitar tempat itu tidak beranjak dari tempatnya. Mereka tidak melihat apa yang ada disekitarnya. Mungkin putaran badai itu berputar pada jarak yang terlalu dekat. Atau mereka akan tersesat ke sumber panas yang semakin membakar. Atau terjerumus ke dalam satu lubang yang tidak diketahui.

Oleh amuk prahara yang mengguncang-guncang itu, maka kabut yang menyelubungi arena itupun bagaikan diaduk. Nampak arus kabut yang kelabu keputihan itu mulai berputar. Semakin lama semakin cepat. Tetapi kabut itu tidak hanyut dan lenyap, tetapi yang terjadi adalah benar-benar di luar dugaan. Kabut itu memang mulai bergerak dan menjadi semakin tipis. Tetapi tidak di seluruh arena. Bahkan kabut itu kemudian telah berputar bagaikan putaran angin pusaran.

Meskipun di sekitar arena itu berangsur menjadi lebih terang dalam keremangan malam, namun kabut itu seakan-akan justru telah bergumpal dan berputar di sekitar arena. Bagaikan sebuah dinding yang mengitari arena pertempuran antara Agung Sedayu dan Prabadaru, sehingga tidak seorangpun yang dapat menyaksikan apa yang telah terjadi di dalam lingkaran kabut yang berputar itu.

Keadaan yang terjadi itu benar-benar telah mencengkam. Orang-orang yang berada di sekitar arena itu mulai dapat melihat yang satu dan yang lain. Namun kabut tebal yang berputar mengelilingi Agung Sedayu dan Ki Tumenggung Prabadaru itu tidak dapat tertembus oleh pandangan mata mereka.

Kakang Panji menjadi semakin gelisah. Ia sadar sepenuhnya, bahwa seorang yang memiliki kemampuan yang hampir tidak terjangkau oleh nalar, ternyata ada di sekitar arena itu. Iapun sadar, bahwa orang itu mengetahui, bahwa kesulitan yang dialami oleh Agung Sedayu adalah karena gangguan seseorang dari luar arena. Dan kini, orang yang berkesaktian tinggi itu telah menutup kemungkinan itu. Tidak seorangpun akan mempengaruhi pertempuran yang akan terjadi di tengah-tengah putaran kabut yang tebal itu.

“Apa yang sebenarya terjadi Kakang Panji?“ bertanya seorang kepercayaannya yang mulai melihat orang yang disebut Kakang Panji itu berdiri mematung.

“Ilmu yang gila,“ jawab Kakang Panji.

“Kita tidak dapat melihat, apa yang terjadi di dalam lingkaran kabut itu,“ berkata kepercayaannya pula.

“Ya. Karena itu, aku tidak dapat mempengaruhi pertempuran itu lagi,“ jawab Kakang Panji.

“Kita tembus putaran kabut itu. Kita memasukinya dan kita dapat berbuat apa saja di dalamnya,“ berkata kepercayaannya.

“Kau memang belum mengetahui apa-apa tentang ilmu itu. Kabut itu sangat berbahaya. Jika kabut itu sudah berputar dan membatasi satu lingkungan, tidak seorangpun yang akan dapat memasukinya, sedangkan yang di dalamnya tidak akan dapat keluar. Kabut itu dapat membuat seseorang menjadi pingsan oleh nafas yang menjadi sesak,“ jawab Kakang Panji.

Kepercayaannya itu termangu-mangu. Namun kemudian iapun bertanya, “Tetapi apakah Kakang Panji tidak dapat mengetahui, siapakah yang telah melontarkan ilmu yang dahsyat ini?”

Kakang Panji menggeleng. Jawabnya, “Di sekitar arena ini terdapat banyak orang berilmu tinggi. Mereka menebar di antara orang-orang lain yang menyaksikan pertempuran itu. Apalagi di malam hari.”

Kepercayaan itu tidak bertanya lebih lanjut. Dibiarkannya Kakang Panji merenungi keadaan Ki Tumenggung Prabadaru untuk mencari penyelesaian yang mungkin dapat diketemukan, sehingga Ki Tumenggung itu dapat diselamatkan.

Namun dalam pada itu, di dalam putaran yang tebal, Agung Sedayu berdiri berhadapan dengan Ki Tumenggung Prabadaru. Mereka mulai dapat saling melihat dan memandang. Di dalam putaran kabut itu, udara nampak bersih dan segar, sehingga Agung Sedayu beberapa kali sempat menarik nafas dalam-dalam, tanpa diganggu oleh bau yang membuatnya menjadi pening.

“Kepalaku tidak pusing lagi,“ berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Karena itu, maka timbullah pertanyaan di dalam hatinya, apakah kekuatan yang menyerang indra penciumannya itu bukan kekuatan yang timbul dari ilmu Ki Tumenggung Prabadaru.

Namun Agung Sedayu belum berani mengambil kesimpulan itu. Ia masih dibayangi oleh tekanan Ki Tumenggung yang hampir saja merenggut jiwanya.

Dalam pada itu, selagi Agung Sedayu masih termangu-mangu, maka tiba-tiba saja terdengar desing di telinganya. Ketika desing itu kemudian hilang, terdengar suara sebagaimana ia berbicara dengan seseorang.

Jelas dan pasti.

“Agung Sedayu,“ berkata suara itu, “kau sudah hampir saja dikalahkan oleh Ki Tumenggung Prabadaru, karena kau mendapat serangan ilmu yang nggegirisi pada indra penciumanmu. Aku minta maaf, bahwa aku telah mencampuri perang tanding ini. Tetapi sekedar sebagai imbangan, karena ilmu yang menyerang indra penciumanmu pasti bukan ilmu yang dimiliki Ki Tumenggung Prabadaru. Tetapi tentu orang lain. Sementara itu, yang aku lakukan tidak lebih membatasi, agar arena pertempuran ini benar-benar menjadi satu arena perang tanding yang jujur sebagaimana dua orang laki-laki jantan. Aku tahu, bahwa ilmu yang menyerang indra penciumanmu itu mungkin juga tidak dimengerti oleh Ki Tumenggung Prabadaru sendiri, sehingga memang tidak ada kesengajaannya untuk melakukan satu kecurangan.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Suara itu jelas terdengar meskipun tidak berteriak. Tepat seperti seseorang yang berbicara kepadanya dari jarak satu atau dua langkah saja.

Apalagi ternyata bahwa suara itu telah didengar pula oleh Ki Tumenggung yang menggeram, “Persetan. Siapa kau?”

Dan suara itu menjawab, “Ki Tumenggung tidak perlu mengetahui, siapakah aku ini. Aku masih tetap menghormati Ki Tumenggung untuk tetap berperang tanding tanpa pengaruh orang lain.”

Agung Sedayu menarik nafas. Ia kemudian sadar, bahwa orang itu tentu memiliki Aji Pameling yang kuat, sehingga ia akan dapat berbicara dengan siapa saja dan dari jarak sejauh mana saja.

Sementara suara itu terdengar lagi, “Sekarang silahkan kalian meneruskan tekad jantan kalian. Aku sudah membuat sebuah arena yang pantas untuk kalian.”

Wajah Ki Tumenggung menjadi merah seperti nyala api. Dengan suara lantang ia berkata, “Tidak ada orang lain yang telah membantuku. Tetapi jika kabut ini benar-benar dapat membatasi arena dengan jujur, aku tidak berkeberatan.”

“Bagus. Aku tidak akan mengganggu pertempuran yang bakal terjadi. Aku sekedar menyediakan tempat dan melindunginya,“ jawab suara itu.

Sementara itu, Agung Sedayu dan Ki Tumenggung Prabadaru tidak menjawab kata-kata itu lagi. Tetapi keduanya segera bersiap menghadapi perang tanding yang tidak terpengaruh oleh orang lain.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung yang menyadari kemungkinan yang dapat terjadi dalam perang berjarak, maka iapun tiba-tiba telah menyerang Agung Sedayu dengan badainya. Namun dengan cepat dan tubuh tanpa bobot Agung Sedayu bergeser menghindar. Namun karena lingkaran kabut putih itu, maka rasa-rasanya arena menjadi bertambah sempit, sehingga Agung Sedayu tidak dapat dengan leluasa mempergunakan ilmunya yang dapat seakan-akan melenyapkan bobot tubuhnya. Ia tidak mau meloncat sampai membentur dinding kabut yang berputar, karena ia tidak tahu, akibat apa yang akan dapat timbul.

Demikianlah, sekali lagi kedua orang itu terlibat dalam perang yang dahsyat. Dengan kekuatan yang terserap dari angin, api, air dan bumi, seakan-akan Ki Tumenggung Prabadaru tidak memberikan kesempatan lawannya untuk menyerang. Pada jarak yang agak jauh, serangan badai Ki Tumenggung melanda dengan dahsyatnya, sementara serangan panasnya datang bergelombang seperti datangnya ombak samudra.

Namun keadaan Agung Sedayu sudah jauh berbeda. Ia benar-benar dapat memusatkan perlawanannya terhadap Ki Tumenggung Prabadaru tanpa merasa terganggu pada indra penciumannya, sehingga seakan-akan telah melenyapkan kesempatannya untuk memusatkan nalar dan budinya.

Tetapi ketika lingkaran kabut tebal itu menyelubunginya, maka pengaruh itu sudah lenyap sama sekali. Sehingga dengan demikian ia benar-benar merasa bahwa ia memang sedang berperang tanding.

Orang-orang di luar putaran kabut itu menjadi bingung. Tidak ada seorangpun yang dapat melihat. Namun dalam pada itu, mereka mendengar suara Agung Sedayu dan Ki Tumenggung Prabadaru meneruskan pertempuran. Kadang-kadang terdengar Ki Tumenggung menghentakkan tenaganya sambil berteriak. Namun kadang-kadang juga terdengar suara Agung Sedayu berdesah.

Tetapi yang pasti, beberapa orang telah mendengar percakapan antara Agung Sedayu dan Ki Tumenggung Prabadaru di satu pihak, dengan suara yang tidak dikenal di lain pihak.

Dalam pada itu, Sekar Mirah benar-benar telah kehilangan akal. Ia berpegangan Pandan Wangi semakin erat. Kedua perempuan itu kemudian menjadi semakin gelisah ketika mereka mendengar pertempuran di dalam putaran kabut itu menjadi semakin seru.

Ketika Sekar Mirah mencengkam lengan Pandan Wangi semakin keras oleh kegelisahan, maka tiba-tiba saja tumbuh keinginan Pandan Wangi untuk menghiburnya. Katanya, “Sekar Mirah. Dengan suara itu, kita mendapat satu isyarat bahwa Agung Sedayu masih bertempur dengan gigihnya. Ia tidak menyerah kepada keadaan. Dan menurut suara yang terdengar itu, agaknya keduanya akan bertempur dengan jujur, karena selama ini agaknya Tumenggung Prabadaru itu telah dibantu oleh seseorang di luar pengetahuannya sendiri.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Iapun mengerti sebagaimana dikatakan oleh Pandan Wangi, sehingga karena itu, maka iapun mulai berpengharapan bahwa Agung Sedayu akan dapat mempertahankan dirinya.

Yang kemudian benar-benar terpukul adalah orang yang menyebut dirinya Kakang Panji. Ia mendengar pembicaraan antara Agung Sedayu dan Prabadaru itu, sebagaimana didengar oleh banyak orang. Iapun menyadari, bahwa perang tanding yang jujur akan segera berlangsung.

Tetapi orang yang menyebut dirinya Kakang Panji itu untuk sementara tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai kemampuan melawan asap yang tebal, yang bagaikan dinding memagari arena pertempuran yang dahsyat antara Agung Sedayu dan Ki Tumenggung Prabadaru.

Sebenarnyalah kedua orang itu benar-benar telah terlibat dalam pertempuran yang dahsyat. Orang-orang yang berada di luar dinding perang tanding itu hanya dapat membayangkan apa yang telah terjadi. Sekali-sekali mereka mendengar suara menghentak. Tetapi juga suara berdesah.

Orang-orang berilmu tinggi di luar dinding itu menjadi sangat tegang. Tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Mereka juga tidak mau terkena akibat buruk, jika mereka mencoba untuk menembus dinding itu dan melihat apa yang telah terjadi di dalam.

Namun semua orang yang ada di luar dinding itu berpendapat, perang tanding itu benar-benar berlaku sebagaimana perang tanding tanpa dipengaruhi oleh orang lain.

Ki Tumenggung Prabadaru masih selalu berusaha untuk tidak memberikan kesempatan kepada Agung Sedayu untuk mengambil jarak. Dengan kecepatan yang tinggi dan dengan bantuan ilmu-ilmunya ia telah memenuhi lingkaran yang berdinding kabut itu dengan serangan-serangan yang seolah-olah tidak akan terelakkan.

Namun Agung Sedayu benar-benar telah mampu memusatkan kembali nalar budinya kepada semua ilmunya. Ilmu kebalnya menjadi mapan kembali, sehingga selain perisai itu menjadi seakan-akan semakin tebal, maka iapun telah memancarkan panas dari dalam dirinya. Jika panas yang memancar dari ilmu Ki Tumenggung Prabadaru hanya membakar tubuh Agung Sedayu yang dilapisi dengan ilmu kebalnya, maka kekuatan ilmu Agung Sedayu yang memancarkan panas telah memanasi Ki Tumenggung Prabadaru.

Udara di dalam lingkaran kabut itu rasa-rasanya memang menjadi seperti dipanggang dalam panasnya api. Ki Tumenggung yang mengerahkan segenap kemampuannya itu mulai merasa terganggu oleh udara yang sangat panas.

“Gila,“ berkata Ki Tumenggung itu di dalam hatinya, “aku telah mempergunakan tenaga api untuk membakar anak itu. Tetapi aku sendiri telah terpanggang pula di dalamnya. Agaknya anak ini juga mampu memancarkan kekuatan api itu dari dalam dirinya.”

Sebenarnyalah keringat yang bagaikan terperas dari tubuh Ki Tumenggung itu telah membasahi seluruh pakaiannya, sehingga seolah-olah Ki Tumenggung itu telah menyelam dengan seluruh pakaiannya di dalam air.

Karena itulah, maka Ki Tumenggung yang telah mengerahkan segenap kemampuannya telah berada dalam keadaan seperti sebelum orang yang menyebut dirinya Kakang Panji ikut melibatkan diri ke dalam pertempuran itu. Perlahan-lahan ia mulai terdesak. Agung Sedayu seolah-olah menjadi semakin cepat bergerak karena ilmunya yang dapat mengatasi bobot tubuhnya, sehingga ia mampu meloncat dengan langkah-langkah yang panjang, dan melenting terlalu tinggi bagi orang kebanyakan.

Dalam keadaan yang sulit untuk mengelakkan, maka Ki Tumenggung semakin sering membenturkan kekuatan ilmunya yang memang nggegirisi. Namun ternyata bahwa Agung Sedayu benar-benar telah membuat Ki Tumenggung menjadi heran.

Dengan demikian, maka bentakan-bentakan dan desah terdengar semakin sering dan semakin jelas dari luar dinding pertempuran. Tanpa melihat pertempuran itu sendiri, maka orang-orang yang di luar dinding kabut itu berusaha membayangkan, apa yang telah terjadi.

Dalam kesempatan yang dengan susah-payah diusahakan oleh Agung Sedayu untuk melepaskan kekuatan dari sorot matanya, sekali-sekali Ki Tumenggung merasa mengalami kesulitan. Tetapi setiap kali ia berhasil mendorong Agung Sedayu dengan kekuatan badainya, sehingga Agung Sedayu harus melepaskan serangannya yang dahsyat itu. Jika Agung Sedayu memaksa diri untuk duduk sambil memandangi lawannya, maka serangan wadag Ki Tumenggung akan dapat mencapainya dan menghantam dadanya.

“Dinding ini terlalu sempit,“ desah Agung Sedayu, karena ia kurang mendapat kesempatan cukup untuk mengambil jarak dan meremas isi dada Ki Tumenggung Prabadaru dengan sorot matanya. Dalam setiap kesempatan, maka langkah-langkah Ki Tumenggung yang panjang selalu sempat menggapainya.

Meskipun demikian, cengkaman-cengkaman yang terputus-putus dan pendek itu, berhasil sedikit demi sedikit menyakiti isi dada Ki Tumenggung yang menjadi sangat marah. Namun karena itu, hentakan-hentakan ilmunya pun menjadi semakin berbahaya.

Dalam pada itu, Kakang Panji yang kebingungan tiba-tiba saja memanggil dua orang kepercayaannya. Desisnya, “Kita harus berbuat sesuatu.”

“Apa?“ bertanya salah seorang kepercayaannya.

“Kita pecahkan pemusatan ilmu setiap orang yang ada di sekeliling arena ini,” berkata Kakang Panji.

“Maksudmu?“ bertanya kepercayaannya itu.

“Kabut itu tentu diciptakan oleh seseorang. Jika orang itu kehilangan kesempatan untuk memusatkan ilmunya yang sangat dahsyat itu, dengan sendirinya, hasil pemusatan ilmunya itupun akan menjadi kabur dan hilang sama sekali. Kau mengerti?“ bertanya Kakang Panji.

“Caranya?“ bertanya orang itu.

“Terserah kepadamu. Kau buat kekacauan yang menarik perhatian. Aku akan mencari orang yang berusaha untuk tidak terlibat dalam kekacauan itu dan tetap memusatkan nalar budinya. Jika aku dapat menemukannya, maka aku akan berusaha untuk memecahkan ilmunya itu,“ jawab orang itu.

“Barangkali ilmu itu dilontarkan oleh Senapati ing Ngalaga?“ bertanya kepercayaannya.

Orang yang menyebut dirinya Kakang Panji itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku tidak percaya kalau Senapati ing Ngalaga mampu menguasai ilmu semacam itu dengan hampir sempurna. Ilmu yang pada masa kanak-kanakku sudah hampir tidak dikenal orang lagi. Hanya orang-orang yang khusus sajalah yang dapat mempelajarinya dari orang tertentu. Itulah sebabnya, maka aku pasti, bukan Senapati ing Ngalaga. Jika ia murid Jaka Tingkir yang kini bergelar Sultan Hadiwijaya itu, maka ia tidak akan memiliki ilmu ini, karena di dalam padepokan kami tidak terdapat orang yang bernama Karebet itu.”

“Apakah tidak mungkin ada jalur lain yang mengalir kepada Jaka Tingkir itu?“ bertanya kepercayaannya.

“Tidak. Meskipun aku yakin, Sultan Hadiwijaya memiliki ilmu yang tidak kalah dahsyatnya, sebagaimana tentu juga Senapati ing Ngalaga dan Pangeran Benawa. Tetapi bukan dalam ujud seperti ini. Aku mengenal ilmu ini seperti mengenali ilmuku sendiri,“ jawab Kakang Panji.

“Jadi menurut dugaan Kakang Panji, orang yang melontarkan ilmu itu adalah saudara seperguruan Kakang Panji sendiri?“ bertanya kepercayaannya pula.

Orang yang menyebut dirinya Kakang Panji itu menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia berkata, “Cepat. Usahakan, agar timbul kekacauan di sekitar arena ini. Aku akan mencari, siapakah orang yang telah melepaskan ilmu yang dahsyat ini. Meskipun seandainya ia saudara seperguruanku, maka aku merasa tidak ada saudara seperguruanku yang mampu mengimbangi tingkat ilmuku. Aku akan membuat perhitungan dengannya. Asal bukan guruku, yang menurut perhitunganku tentu sudah tidak ada lagi sekarang.”

Kepercayaannya itu termangu-mangu sejenak. Namun Kakang Panji mendesaknya, “Cepat. Bawa kawan-kawanmu. Aku ingin segalanya berlangsung dengan cepat. Tetapi kau tidak usah menimbulkan perkelahian agar kau tidak terbantai tanpa arti ditangan orang-orang berilmu tinggi dari Mataram.”

“Kakang Panji sangat memperkecil arti kemampuanku,“ berkata kepercayaannya.

“Tidak. Tetapi aku berkata sebenarnya. Cepat, sebelum terjadi sesuatu dengan Tumenggung Prabadaru. Aku masih memerlukannya. Besok ia harus mampu memecahkan pertahanan Mataram di sayap kanan dari arah kita. Aku akan menghancurkan Untara di sayap kiri. Senapati yang tidak memiliki kemampuan olah kanuragan yang memadai, tetapi otaknya sangat menyulitkan kita,“ berkata Kakang Panji itu kemudian.

Demikianlah, maka kedua orang kepercayaan Kakang Panji itupun kemudian meninggalkan Kakang Panji seorang diri. Mereka berusaha untuk mencari beberapa orang kawan yang akan bersama-sama berusaha menimbulkan kekacauan dan menarik perhatian.

“Tetapi bukan perkelahian,“ berkata salah seorang dari mereka.

“Itulah sulitnya. Tetapi kitapun menyadari, bahwa orang-orang Mataram dipimpin oleh orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, kita memang harus sangat berhati-hati. Kita tidak siap bertempur malam ini.”

“Orang-orang Mataram juga tidak siap,“ jawab kawannya.

“Tetapi ada bedanya. Orang-orang Mataram bertempur dengan landasan satu keyakinan. Berbeda dengan orang-orang Pajang. Sebagian sudah mulai goyah. Sebagian adalah orang-orang padepokan seperti kita dan sebagian lagi sudah kehilangan pegangan. Nampaknya hanya Ki Tumenggung Prabadaru sajalah yang mempunyai alas keyakinan bersama pasukan khususnya. Karena itu, Kakang Panji berusaha untuk menyelamatkannya,“ jawab kepercayaan Kakang Panji itu.

“Bagaimana dengan Kanjeng Sultan dan Pangeran Benawa? Dibelakang mereka terdapat para sentana dan para Adipati,“ bertanya kawannya.

“Jangan hiraukan mereka. Kita harus menentukan langkah kita sendiri,“ jawab kepercayaan Kakang Panji.

Kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Mereka mulai mengatur diri, apa yang akan mereka lakukan.

Akhirnya mereka memutuskan, bahwa mereka hanya akan menyibak, mendesak dan berusaha menggoyahkan lingkaran yang mengelilingi putaran kabut yang membatasi arena itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian orang-orang itu telah berusaha untuk menarik perhatian. Seorang di antaranya telah mendesak maju sambil bertanya lantang, “He, apakah yang sebenarnya terjadi? Apakah kita menghadapi satu keajaiban berujud kabut itu?”

Beberapa orang berpaling ke arahnya. Sementara di bagian lain, seseorang telah mendesak orang-orang yang sedang termangu-mangu. Dengan suara lantang orang itu berteriak, “He, kabut yang dungu. Minggirlah. Beri kesempatan kami melihat perang tanding antara dua orang yang memiliki kemampuan ilmu yang jarang dapat kami lihat.”

Ternyata di bagian lain terdengar suara menyahut, “Ya. Menepilah. Aku tahu, bahwa kabut itu telah ditimbulkan oleh seseorang yang berilmu tinggi. Tetapi tentu dengan maksud-maksud tertentu, agar kecurangan dapat terjadi dalam perang tanding itu. Kita ingin melihat perang tanding yang jujur. Kita adalah saksi.”

Yang lain lagi menyahut, “Perang tanding tanpa saksi, tidak ada artinya. Salah seorang dari mereka dapat berbuat curang. Juga pihak lain dapat berbuat curang.”

Demikianlah, teriakan-teriakan itu telah benar-benar menarik perhatian. Dalam beberapa hal yang mereka katakan itu nampaknya benar, sehingga beberapa orang mulai merenungi teriakan-teriakan yang timbul di beberapa tempat. Bahkan beberapa orang yang tidak mengerti duduk persoalannya mulai terlibat pula dalam keributan yang timbul. Beberapa orang telah saling mendesak untuk mendekati kabut yang masih saja berputar. Teriakan-teriakan yang semakin keras dan seperti yang diharapkan, maka orang-orang yang berada di sekitar arena itu menjadi agak kacau karenanya.

Dalam pada itu, selagi beberapa orang dengan tidak sadar, ikut serta membuat suasana menjadi semakin kisruh, maka Kakang Panji pun bergeser dari tempatnya. Ia ingin mencari di antara orang yang menjadi ribut itu, seseorang yang berdiri terasing sambil memusatkan ilmunya untuk memagari Ki Tumenggung Prabadaru yang bertempur melawan Agung Sedayu.

Satu dua orang telah diamatinya. Ia tidak menghiraukan para senapati muda dari kedua belah pihak. Menurut pendapatnya, mereka tidak akan mampu melepaskan ilmu sedahsyat itu. Apalagi menurut penilaiannya, tidak ada lagi padepokan yang memberikan tuntunan ilmu seperti itu kepada murid-muridnya.

“Untuk mempelajari ilmu itu diperlukan laku yang sangat berat. Anak-anak muda saat ini lebih senang memiliki ilmu yang dapat langsung digunakan turun ke gelanggang, seperti Agung Sedayu,“ berkata orang itu di dalam hatinya. “Tetapi ketika ia mendapat serangan dari jarak jauh dengan cara yang lembut, ia kehilangan kemampuan untuk melawannya.”

Dengan hati-hati orang yang disebut bernama Kakang Panji itu bergeser terus. Iapun tidak menghiraukan Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya yang sibuk mempelajari keadaan yang tiba-tiba saja menjadi ribut. Apalagi Untara dan Sabungsari.

Namun dalam pada itu, selagi ia mencari orang yang akan dapat disangkanya melontarkan ilmu yang dahsyat itu, perlahan-lahan kabut itupun mulai menjadi bening. Putaran kabut itu serasa menjadi semakin cepat, namun kemudian menjadi semakin tipis.

Orang yang bernama Kakang Panji itu menjadi berdebar-debar. Beberapa orang yang lainpun berdebar-debar pula. Bahkan Raden Sutawijaya telah melangkah maju bersama Pangeran Benawa, diikuti oleh Untara dan Sabungsari.

Sekar Mirah-lah yang hampir tidak dapat menahan diri lagi. Ialah yang kemudian menarik Pandan Wangi untuk mendekati putaran kabut yang menjadi semakin tipis.

Tetapi keduanya tertegun ketika mereka mendengar desah perlahan di belakangnya, “Tunggulah. Jangan menjadi kehilangan penalaran.“

Ketika keduanya berpaling, dilihatnya Ki Waskita berdiri di belakangnya, dan memandanginya dengan cemas.

“Apakah yang sudah terjadi dengan Kakang Agung Sedayu?” suara Sekar Mirah terdengar bergetar oleh gejolak perasaannya.

“Kita akan melihatnya,“ jawab Ki Waskita, “tetapi hati-hatilah. Kita berada dalam lingkaran permainan ilmu yang sangat tinggi.”

Sekar Mirah tertegun sejenak, sementara Pandan Wangi pun menjadi tegang. Sementara itu kabut yang berputar itu menjadi semakin lama semakin tipis.

“Kita telah mendapat petunjuk untuk mengatasi satu kesulitan yang mungkin dapat terjadi atas kita masing-masing,“ desis Pangeran Benawa.

“Ya. Ayahanda sudah memberikan petunjuk itu. Tetapi kita tidak sempat memberitahukan hal itu kepada Agung Sedayu. Namun kabut ini masih belum kau laporkan. Mungkin ada sikap tertentu untuk mengatasinya.”

“Nanti aku akan menghadap,“ jawab Pangeran Benawa, “tetapi ketika aku melaporkan tentang serangan lewat indra penciuman itu, Ayahanda nampaknya merasa perlu segera turun ke medan besok, meskipun Ayahanda benar-benar dalam keadaan sakit.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu. Ia yakin, bahwa apapun yang ada di medan waktu itu, tidak akan mengejutkan Ayahandanya. Namun jika benar Ayahandanya akan turun ke medan, apakah yang akan dilakukannya. Apa pula yang akan dilakukan oleh Adipati Tuban dan Adipati Demak. Sementara itu, Pangeran Benawa merupakan senapati pengiringnya pula.

“Jika aku bertemu dengan Ki Juru, aku harus melaporkannya,“ berkata Senapati ing Ngalaga di dalam hatinya.

Sementara itu, kabut yang menyelubungi arena itupun memang menjadi semakin tipis. Meskipun demikian, orang-orang yang berada di luar arena masih belum dapat melihat dengan jelas, apa yang terdapat di dalam putaran kabut yang mulai larut perlahan-lahan.

Dalam pada itu, Ki Juru ternyata menyaksikan pula apa yang telah terjadi. Tetapi seperti juga halnya dengan Sultan Hadiwijaya, Ki Juru juga tidak berada dalam lingkungan sebuah padepokan yang menguasai ilmu seperti itu. Namun, seperti juga Sultan Hadiwijaya, Ki Juru sudah mempersiapkan diri untuk melawannya jika ia akan menghadapinya, sebagaimana akan dilakukan oleh Sultan Hadiwijaya. Tetapi seperti orang-orang lain, Ki Juru tidak sempat dapat memberitahukan hal itu kepada Agung Sedayu.

Namun, agaknya Ki Juru pun terpaksa harus mengagumi orang yang mampu menciptakan kabut yang tebal yang dapat membatasi arena perang tanding itu.

“Jika orang yang melepaskan ilmu itu, mampu menembus kegelapan kabutnya sendiri, maka ia adalah orang yang sulit untuk dikalahkan dalam keadaan seperti sekarang,“ berkata Ki Juru di dalam hatinya.

Sementara itu, orang-orang yang berada di sekitar arena itu tengah menunggu dengan jantung yang berdebaran, apa yang telah terjadi di dalam arena pertempuran. Sementara itu, mereka tidak lagi mendengar suara bentakan-bentakan dan derap kaki dari kedua orang yang bertempur. Dedaunan tidak lagi terguncang oleh ilmu prahara yang dahsyat. Udarapun tidak lagi dipanggang oleh kekuatan api Ki Tumenggung dan panas yang terpancar dari kelanjutan ilmu kebal Agung Sedayu.

Semakin tipis kabut yang menyelubungi arena itu, maka ketegangan menjadi semakin mencengkam. Kakang Panji pun menjadi sangat tegang menghadapi suasana yang tiba-tiba menjadi sepi. Seolah-olah di tebing Kali Opak itu sama sekali tidak lagi terdapat kehidupan. Bahkan tarikan nafas-pun rasa-rasanya menjadi terhenti karenanya.

“Setan itu melepaskan ilmunya sebelum aku menemukannya,“ geram Kakang Panji.

Sebenarnyalah orang yang dicari oleh Kakang Panji itu telah melepaskan ilmunya. Ia tidak lagi memusatkan nalar budinya, lahir dan batinnya untuk menciptakan kabut yang tebal yang menyelubungi arena dan menghalangi penglihatan, termasuk Kakang Panji, sehingga Kakang Panji itu tidak mampu menyerang Agung Sedayu lewat indra penciumannya.

Karena itu, maka orang yang menyebut dirinya Kakang Panji itu tidak akan dapat menemukan seseorang yang dicarinya itu. Semua orang di tepi Kali Opak itu sedang tercenung memandang kabut yang semakin lama semakin tipis dan bahkan kemudian bagaikan sedang menguap.

Sejenak kemudian, udara di pinggir Kali Opak itu kembali jernih. Setiap orang dapat menembus kegelapan malam sesuai dengan ketajaman penglihatan masing-masing.

Dalam pada itu, orang-orang berilmu tinggi yang ada di pinggir Kali Opak itupun telah tercengkam oleh satu pemandangan yang telah mengguncangkan perasaan mereka. Hampir berbareng mereka bergeser maju. Sementara itu, Sekar Mirah-lah yang benar-benar telah kehilangan pengamatan diri. Terdengar suaranya menjerit panjang. Tanpa menghiraukan apa-pun lagi. Sekar Mirah telah berlari memasuki arena yang menjadi sepi itu, disusul oleh Pandan Wangi yang berusaha untuk menjaga agar tidak terjadi sesuatu atas perempuuan itu, justru dalam suasana yang masih belum begitu jelas.

Tanpa mengekang diri lagi. Sekar Mirah pun telah menjatuhkan diri di atas tubuh Agung Sedayu yang tergolek diam di atas tanah yang basah oleh embun malam dan oleh titik keringat dan darah.

“Kakang, Kakang Agung Sedayu,“ teriak Sekar Mirah sambil mengguncang tubuh Agung Sedayu.

Yang kemudian juga berlari-lari dan hampir bersamaan sampai ke tempat itu adalah Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Untara. Dengan tergesa-gesa Kiai Gringsing berusaha mencegah Sekar Mirah sambil berkata, “Jangan Sekar Mirah. Jangan kau guncang tubuh Agung Sedayu. Aku akan melihat, apakah aku masih mempunyai kesempatan untuk mengobatinya.”

Tetapi Sekar Mirah hampir tidak mendengarnya. Ia masih menangis sambil menelungkup di atas tubuh Agung Sedayu.

Pandan Wangi-lah yang kemudian berbisik di telinganya, “Sekar Mirah. Di sini kau bukan sebagai seorang istri. Tetapi kau adalah seorang senapati.”

Kata-kata itu memang dapat menyentuh hati Sekar Mirah. Namun Sekar Mirah itu masih juga bergumam di dalam isaknya, “Kau dapat berkata begitu Pandan Wangi. Tetapi Kakang Agung Sedayu adalah suamiku.”

“Kau benar Sekar Mirah,“ berkata Untara, “ia juga adikku. Tetapi justru karena itu, berilah kesempatan kepada Agung Sedayu untuk tetap hidup. Serahkan Agung Sedayu kepada Kiai Gringsing.”

Ketegangan di hati Sekar Mirah telah hampir saja meledakkan jantungnya. Namun ia masih juga dapat mengatasi gejolak perasaannya. Karena itu, maka iapun kemudian beringsut ketika Kiai Gringsing mendekatinya dan meraba tubuh Agung Sedayu.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa juga mengamati keadaan Agung Sedayu. Tetapi mereka tidak berdiri terlalu dekat. Bagaimanapun juga, di antara orang-orang berilmu dari dua pihak yang sedang berperang, keduanya harus berhati-hati. Sementara Sabungsari berada di belakang mereka.

Raden Sutawijaya itu berpaling ketika ia merasa seseorang sengaja berdiri di sebelahnya. Ternyata ia adalah Ki Juru, diikuti oleh dua orang senapatinya.

Ki Lurah Branjangan memandang tubuh Agung Sedayu dengan jantung yang berdegupan. Namun ia masih juga tetap memelihara jarak dan bahkan sempat juga melihat, apa yang telah terjadi dengan Ki Tumenggung Prabadaru.

Seperti juga Agung Sedayu, beberapa orang telah mengerumuni Ki Tumenggung Prabadaru. Tubuhnya terbaring tidak terlalu jauh dari Agung Sedayu.

Sementara itu, beberapa orang yang saling bermusuhan itu berkerumun semakin dekat. Namun mereka sama sekali tidak meninggalkan sikap hati-hati mereka. Bagaimanapun juga, banyak hal yang dapat terjadi dalam keadaan yang demikian.

Di belakang Sekar Mirah yang terisak, Glagah Putih bagaikan kehilangan akal. Tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu pada saat-saat Kiai Gringsing mengamati dan meneliti keadaan tubuh Agung Sedayu.

Kecemasan Sekar Mirah memuncak ketika ia sempat melihat Kiai Gringsing mengusap darah yang meleleh dari mulut Agung Sedayu yang masih terbaring diam.

“Aku memerlukan air,“ desis Kiai Gringsing.

Glagah Putih-lah yang dengan serta merta bangkit untuk mengambil air. Namun Ki Waskita menggamitnya sambil berbisik, “Marilah. Kita mengambil bersama-sama. Kita akan mengambil air pada satu belik di pinggir Kali Opak.”

Keduanya pun kemudian beringsut keluar dari kerumunan orang-orang yang sedang dicengkam oleh ketegangan itu. Namun keduanya tertegun ketika Ki Juru justru mendekati mereka sambil berkata, “Kita akan pergi bertiga.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Namun dengan demikian, iapun menyadari, bahwa Ki Juru telah memperingatkan pula, sebagaimana dilakukannya atas Glagah Putih, bahwa keadaan memang sangat gawat.

Ki Waskita tidak menolak, meskipun rasa-rasanya memang janggal, bahwa ia masih harus diantarkan oleh orang yang bernama Ki Juru Martani. Seorang yang mempunyai kedudukan yang tertinggi di Mataram di samping Raden Sutawijaya sendiri. Sementara itu, masih ada dua orang pengawal Ki Juru yang mengikutinya pada jarak beberapa langkah di belakang.

Terasa suasana yang nggegirisi sedang mencengkam. Justru setelah perang tanding antara Agung Sedayu dan Ki Tumenggung Prabadaru itu berakhir.

Sementara itu, masih belum jelas, apa yang terjadi atas Agung Sedayu dan atas Ki Tumenggung Prabadaru itu.

Dalam pada itu, ketika Ki Waskita bersama Glagah Putih dan Ki Juru menuruni tebing, terdengar Ki Juru berkata perlahan-lahan, “Agung Sedayu menghadapi lawan yang luar biasa.”

“Ya, Ki Juru,“ sahut Ki Waskita, “selain kemampuan olah kanuragan, nampaknya Ki Tumenggung mampu juga menyerang Agung Sedayu dengan cara lain.”

“Itulah yang mencurigakan,“ jawab Ki Juru, “aku tidak yakin bahwa Ki Tumenggung-lah yang melakukannya. Justru karena itu, aku mengikuti Ki Waskita sekarang ini. Sebenarnya aku ingin melihat suasana di luar lingkaran yang mengerurnuni kedua tubuh yang terbaring itu. Mungkin aku dapat melihat seseorang yang pantas mendapat perhatian.”

“Tetapi kita tidak melihat siapapun,“ berkata Ki Waskita.

“Ya. Kita tidak melihat seorangpun yang pantas kita curigai. Yang kita lihat adalah beberapa orang yang bergerombol dan saling berbincang. Meskipun mungkin sekali, orang yang telah melepaskan serangan lewat indra penciuman Agung Sedayu adalah seorang di antara mereka,“ jawab Ki Juru.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Iapun kemudian mengerti, Ki Juru tidak sekedar memperingatkan agar ia berhati-hati dan menyertainya. Tetapi memang ada yang dicarinya, meskipun ia tidak menemukannya.

Dalam pada itu, orang yang menyebut dirinya Kakang Panji itupun telah ikut berkerumun pula di dekat tubuh Ki Tumenggung Prabadaru. Sebagaimana orang lain, iapun nampaknya berusaha untuk mengetahui keadaan Ki Tumenggung.

Dalam pada itu, beberapa orang yang dengan cermat mengamati keadaan sempat melihat, meskipun hanya bekas-bekasnya saja, apa yang kira-kira telah terjadi. Kedua orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi itu telah terbaring diam. Agaknya mereka telah bertempur dengan dahsyatnya. Menilik jarak antara kedua orang itu, Ki Tumenggung Prabadaru benar-benar berusaha untuk bertempur pada jarak dekat. Tetapi menurut perhitungan Kiai Gringsing, Agung Sedayu pada saat-saat terakhir, telah memaksa diri untuk menghancurkan lawannya dengan sorot matanya, meskipun lawannya tetap menyerangnya dalam jarak jangkau badannya.

Sejenak kemudian, maka Ki Waskita pun telah kembali bersama Glagah Putih yang membawa air dengan sehelai daun pisang yang di ambilnya di tepi sungai. Sementara Ki Juru telah berdiri pula di sisi Raden Sutawijaya sambil berdesis, “Aku tidak melihat seorangpun yang aneh dan pantas dicurigai.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Iapun berusaha mengamati setiap orang. Namun ia tidak dapat melihat satu hal yang menarik pada orang-orang itu.

Dalam pada itu, selagi Kiai Gringsing sibuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyelamatkan Agung Sedayu yang ternyata masih bernafas, seorang senapati Pajang berdesah di samping tubuh Ki Tumenggung Prabadaru, “Apakah mungkin ia masih dapat tertolong.”

Seorang tabib dari pasukan Pajang telah ada di dekatnya pula. Ketika ia meraba tubuh Ki Tumenggung, maka iapun berdesis, “Ia masih hidup.”

Namun dalam pada itu. orang yang menyebut dirinya Kakang Panji, yang dikenal sebagai seorang senapati yang tidak berarti di antara orang-orang Pajang itupun mengumpat di dalam hatinya, “Kau akan mati Tumenggung dungu.”

Sebenarnyalah, tabib yang berada di sisi Ki Tumenggung itupun sudah tidak berpengharapan lagi. Namun demikian, ia masih juga berkata kepada dua orang pembantunya, “Bawa tubuh Ki Tumenggung ke pesanggrahan.”

Orang yang menamakan dirinya Kakang Panji itu menghentakkan tangannya, ia mengumpat-umpat di dalam hati. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan kenyataan itu. Ki Tumenggung sudah terluka parah di dalam tubuhnya.

“Kenapa kau mati oleh tangan anak-anak,“ Kakang Panji itu masih saja mengumpatinya di dalam hati, “aku berharap terlalu banyak dari Tumenggung yang dungu itu.”

Sementara itu, beberapa orang telah memapah tubuh Ki Tumenggung itu ke seberang sungai dan kembali ke pesanggrahan. Beberapa orang senapati Pajang dan orang-orang yang berpihak kepada orang yang disebut Kakang Panji itupun mengikutinya pula. Satu-satu orang-orang Pajang telah meninggalkan tebing Kali Opak di sebelah barat.

Orang Pajang yang terakhir tinggal adalah Pangeran Benawa. Ia masih berdiri di sebelah Raden Sutawijaya. Bahkan ketika keadaan menjadi semakin mereda, keduanya telah bergeser semakin dekat.

Kiai Gringsing telah menitikkan obat yang dicairkannya di bibir Agung Sedayu untuk membantu daya tahan tubuhnya yang sudah menjadi sangat lemah. Namun yang dilakukan itu adalah cara yang sebagaimana harus dilakukannya sebagai seorang tabib.

Tetapi ia tidak dapat mempercayakan kesembuhan Agung Sedayu hanya dengan obat-obatan saja. Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “Aku harus membantunya, menyalurkan kesegaran pernafasan dan keselarasan arus darahnya yang tersendat.”

Beberapa orang yang berada di sekitar Agung Sedayu yang terbaring itupun segera mengetahui maksudnya. Karena itu, maka beberapa orang di antaranyapun segera bergeser menjauh. Yang akan dilakukan oleh Kiai Gringsing adalah laku yang lain dari kemampuan pengobatan yang dimilikinya.

“Aku tidak mempunyai waktu untuk membawanya ke barak. Aku harus melakukannya sekarang,“ desis Kiai Gringsing.

Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa pun kemudian telah mengambil jarak dari Kiai Gringsing. Namun mereka sama sekali tidak menjadi lengah. Bahkan, ternyata Ki Juru telah memisahkan diri. Bersama kedua orang pengawalnya ia berdiri di sisi lain. Sedangkan Ki Waskita telah berada di tempat yang berbeda pula.

“Sekar Mirah,“ berkata Kiai Gringsing, “bantu aku dengan doamu. Segalanya terserah kepada Yang Maha Agung. Namun kita diperkenankan untuk memohon. Semoga dikabulkan hendaknya.”

Sekar Mirah yang tegang menjadi semakin tegang. Kerongkongannya terasa seakan-akan tersumbat, sehingga ia tidak menjawab selain hanya mengangguk kecil saja.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat beberapa orang telah beringsut menjauh. Mereka seakan-akan telah menjaga dengan hati-hati, agar tidak seorangpun yang akan mengganggu Kiai Gringsing menjalankan tugasnya.

Sekar Mirah, Pandan Wangi dan Untara pun kemudian duduk bersila selangkah dari Agung Sedayu, sementara Kiai Gringsing dengan tegang pula merenungi wajah Agung Sedayu yang terbaring diam. Seolah-olah sedang tertidur nyenyak.

Perlahan-lahan Kiai Gringsing meletakkan tangannya di dada Agung Sedayu, sementara tangannya yang lain bersilang di dada dan terletak di bahunya.

Untuk beberapa saat Kiai Gringsing masih memandang ke sekitarnya. Ia tahu pasti, bahwa Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa, Ki Waskita, Ki Lurah Branjangan, Glagah Putih, Sabungsari dan beberapa orang senapati yang lain berada di sekitarnya, siap untuk bertindak apabila usahanya untuk membantu Agung Sedayu itu terganggu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Kiai Gringsing itupun telah menundukkan kepalanya. Menyumbat kesembilan lubang pada tubuhnya. Memejamkan matanya dan memusatkan segenap nalar budinya. Menyalurkan segenap kekuatan yang terdapat dalam dirinya untuk membantu kesegaran pernafasan Agung Sedayu yang tersumbat dan kelancaran peredaran darahnya yang tersendat, dalam pemusatan permohonannya kepada Yang Maha Agung.

Tebing sebelah barat Kali Opak itupun telah menjadi sepi senyap. Tidak lagi terdapat kesibukan apapun juga. Semuanya rasa-rasanya telah diam membeku. Tubuh-tubuh yang berdiri tegak itupun bagaikan membeku. Bahkan dedaunan dan ranting-ranting pepohonan, angin malam yang semilirpun rasa-rasanya telah berhenti. Diam.

Hanya tangan Kiai Gringsing sajalah yang gemetar. Seolah-olah dari tangan itu mengalir udara hangat ke tubuh Agung Sedayu yang terbaring diam. Aliran udara yang telah membantu meniupkan pernafasan yang sesak di dalam dada Agung Sedayu. Udara yang seolah-olah telah menekan paru-paru anak muda yang hampir diam itu. Menekan jantungnya untuk berdetak kembali dan mengurut urat nadinya, sehingga darahnya mengalir semakin lancar menghangatkan seluruh tubuhnya yang dingin membeku.

Untuk bebrapa saat Kiai Gringsing telah berjuang dalam puncak kemampuannya dan dalam kesungguhan doa. Tangannya semakin lama menjadi semakin gemetar. Bahkan seluruh tubuhnyapun kemudian telah menggigil. Dari telapak tangannya yang terletak di dada Agung Sedayu itu mengalir udara hangat. Namun darah Kiai Gringsing sendiri semakin lama seakan-akan menjadi semakin membeku.

Semua orang yang berdiri dari jarak yang cukup menjadi semakin lama semakin tegang. Mereka tidak melihat dengan pasti, apa yang terjadi. Merekapun tidak melihat perubahan gerak wajah Sekar Mirah dalam kegelapan malam, dari jarak yang tidak terlalu dekat. Sementara itu Sekar Mirah selalu menahan dirinya untuk tidak meloncat memeluk tubuh yang terbaring diam itu.

Yang membuat orang-orang yang menyaksikan itu menjadi semakin tegang adalah, bahwa dalam keremangan malam itu, mereka sempat melihat asap putih yang seolah-olah mengepul dari telapak tangan Kiai Gringsing yang terletak di dada Agung Sedayu itu. Sementara itu tubuh Kiai Gringsing telah menggigil semakin cepat.

Selagi Kiai Gringsing berjuang dengan sepenuh akal budinya, maka di pesanggrahan orang-orang Pajang, dua orang tabib prajurit Pajang yang paling baik pun sedang sibuk berusaha menyelamatkan nyawa Ki Tumenggung Prabadaru. Dengan obat yang paling baik yang ada pada mereka, telah berusaha untuk menambah daya tahan tubuh Ki Tumenggung. Dengan sejenis obat yang dicairkan, mereka berusaha agar Ki Tumenggung masih dapat bertahan.

Setitik demi setitik obat itu dituangkan ke lidah Ki Tumenggung. Dan setitik-setitik obat itu tertelan lewat kerongkongan. Dengan telaten kedua orang tabib itu berusaha dengan sungguh-sungguh agar Ki Tumenggung Prabadaru dapat ditolong jiwanya.

Ketika titik-titik obat itu ternyata tertelan oleh Ki Tumenggung, maka tersirat harapan di wajah kedua tabib yang paling baik dari Pajang itu. Mereka berpengharapan, bahwa obatnya akan dapat berpengaruh atas ketahanan tubuh Ki Tumenggung yang sudah sangat lemah itu.

Beberapa orang senapati Pajang mengikuti perkembangan keadaannya dengan tegang. Mereka memandang tubuh senapati yang jarang ada duanya itu terbaring diam di atas sebuah pembaringan bambu dengan galar pring wulung.

Semua orang telah dicengkam oleh keadaan Ki Tumenggung itu. Lampu minyak di ajug-ajug bergetar ditiup angin malam, menggetarkan bayang-bayang yang hitam di dinding ruangan.

Tidak seorangpun yang berbicara diantara mereka. Dengan hampir tanpa berkedip mereka memandang keadaan tubuh Ki Tumenggung Prabadaru. Seperti para tabib, merekapun mulai berpengharapan ketika mereka melihat titik-titik cairan obat itu dapat melewati kerongkongan.

Dalam pada itu, seorang senapati yang tidak banyak disebut-sebut, tetapi yang justru memiliki kekuasaan bayangan yang sangat besar, memasuki ruangan itu. Sejenak ia memandang tubuh yang terbaring itu. Namun kemudian iapun berlalu sambil mengumpat di dalam hati.

“Besok aku sendiri akan bertempur melawan Senapati ing Ngalga yang sombong itu,“ berkata orang itu di dalam hatinya, “tetapi nampaknya keadaan Agung Sedayu pun cukup parah. Seandainya ia tidak mati, tetapi ia tidak akan dapat melibatkan diri lagi dalam perang ini. Mungkin ia baru akan sembuh setelah Mataram hancur. Atau mungkin iapun akan mati seperti Tumenggung Prabadaru. Sebenarnya kerja para tabib itu adalah kerja yang sia-sia. Meskipun agaknya memang lebih baik berusaha daripada tidak sama sekali.”

Sebenarnya kedua orang tabib itu telah berusaha dengan sungguh-sungguh. Segala kecakapan dan pengetahuan yang ada pada mereka telah mereka pergunakan. Obat yang paling baik yang ada di Pajang pun telah mereka berikan kepada Ki Tumenggung Prabadaru.

Dalam pada itu, segalanya yang terjadi itu ternyata telah sampai ke telinga Kanjeng Sultan. Beberapa orang kepercayaannya dalam tugas khusus telah memberikan laporan, apa yang dapat mereka ketahui tentang perang tanding antara Agung Sedayu dan Ki Tumenggung Prabadaru. Dilengkapi dengan keterangan Pangeran Benawa tentang ilmu yang menyentuh indra penciuman dan tentang kesulitan Agung Sedayu sebelum kabut turun di medan, maka pengamatan Sultan tentang perang tanding itu benar benar menjadi lengkap, seolah-olah Kanjeng Sultan telah melihat sendiri apa yang terjadi.

Namun Kanjeng Sultan masih menunggu Pangeran Benawa, karena Kanjeng Sultan pun sebenarnya ingin mendengar apa yang terjadi dengan Agung Sedayu. Apakah ia akan dapat tertolong jiwanya atau tidak, sebagaimana Kanjeng Sultan juga mengikuti terus perkembangan keadaan Ki Tumenggung Prabadaru.

Pada saat yang demikian, Pangeran Benawa masih berdiri tegak dengan tegangnya. Ia melihat usaha Kiai Gringsing untuk membantu Agung Sedayu menemukan keseimbangannya lahir dan batin.

Dengan telapak tangan di dada Agung Sedayu, tubuh Kiai Gringsing semakin lama menjadi semakin bergetar. Asap yang mengepul pada telapak tangan Kiai Gringsing pun semakin lama menjadi semakin tipis sehingga akhirnya hilang sama sekali.

Pada saat yang demikian, maka Agung Sedayu yang diam itu, telah menarik nafas panjang. Perlahan-lahan pernapasannya menjadi semakin lancar, sementara peredaran darahnya pun tidak lagi tersendat-sendat.

Namun, keadaan Kiai Gringsing-lah yang justru sebaliknya. Kiai Gringsing itupun kemudian menjadi sangat lemah. Perlahan-lahan ia mengangkat tangannya dari dada Agung Sedayu. Tetapi tangan itu justru bertelekan tanah di samping lututnya. Demikian pula tangannya yang sebelah, sehingga Kiai Gringsing itu menyandarkan tubuhnya pada kedua tangannya.

Untara melihat keadaan itu. Dengan cepat ia bergeser maju. Dengan nada cemas ia memanggil, “Kiai. Kiai Gringsing.”

Kiai Gringsing pun menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian tersenyum. Katanya, “Semoga Tuhan mengabulkan permohonan kita. Kau lihat, apakah pernafasan adikmu menjadi baik?”

“Tetapi bagaimana dengan Kiai sendiri?“ bertanya Untara.

“Aku tidak apa-apa,“ jawab Kiai Gringsing, “aku hanya mengalami kelelahan.”

Untara memandang Kiai Gringsing sejenak. Tubuhnya masih gemetar. Tetapi ia sudah tersenyum.

“Jangan hiraukan aku. Aku tidak apa-apa,“ jawab orang tua itu.

Untara masih termangu-mangu. Namun sementara itu Sekar Mirah telah mendekati Agung Sedayu pula, diikuti oleh Pandan Wangi.

Keduanya memperhatikan keadaan tubuh itu dengan saksama. Bahkan perlahan-lahan Sekar Mirah mulai meraba ujung kakinya.

Sepercik harapan telah menyentuh jantung Sekar Mirah. Terasa kaki Agung Sedayu itu menjadi hangat. Tidak dingin membeku. Sementara itu pernafasan Agung Sedayu pun mulai menjadi teratur.

Dalam pada itu, mereka yang berdiri di seputar tempat itupun telah bergeser mendekat pula. Ki Waskita pun telah berjongkok di sebelah Kiai Gringsing sambil berdesis, “Bagaimana keadaan Kiai?”

“Aku tidak apa-apa,“ jawab Kiai Gringsing yang masih bertelekan pada kedua tangannya. “Mudah-mudahan doa kalian diterima oleh Yang Maha Asih.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Iapun kemudian berpaling ke arah Agung Sedayu. Namun Ki Waskita masih belum menyentuhnya. Demikian pula orang-orang lain yang kemudian berjongkok mengerumuni Agung Sedayu dan Kiai Gringsing.

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya sempat berbisik kepada Sabungsari, “Amati keadaan. Jangan lengah.”

“Baik Raden,” jawab Sabungsari yang kemudian menggamit Glagah Putih sambil berkata, “Aku berharap Agung Sedayu akan dapat tertolong jiwanya. Tetapi seperti pesan Raden Sutawijaya, jangan lengah.”

Glagah Putih mengangguk kecil. Iapun kemudian beringsut, mengamati keadaan bersama Sabungsari dan para pengawal Ki Juru Martani.

Sementara itu, keadaan Agung Sedayu semakin lama menjadi semakin baik. Nafasnya menjadi lancar seperti juga peredaran darahnya. Meskipun ia masih tetap terbaring diam, namun yang ada di sekitarnya merasakan, bahwa peralatan tubuh Agung Sedayu mulai bekerja sebagaimana wajarnya.

Harapan dan kegembiraan telah melonjak di hati Sekar Mirah. Tetapi ia benar-benar berusaha untuk bersikap sebaik-baiknya di hadapan orang-orang terpenting dari Mataram. Bahkan jantungnya pun serasa telah mekar oleh kebanggaan bahwa suaminya, Agung Sedayu, ternyata adalah seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa, dan bahkan merupakan orang yang sangat penting artinya bagi Mataram. Berdoa untuknya dan mengharap kesembuhannya, karena suaminya adalah orang yang sangat diperlukan.

Yang kemudian mengangguk angguk adalah Untara.

Sebuah keyakinan telah tumbuh di hatinya pula. Agung Sedayu akan dapat bertahan. Kiai Gringsing telah membantunya dengan segenap kemampuan yang ada padanya.

“Untunglah, Kiai Gringsing bertindak cepat,“ desis Raden Sutawijaya kemudian, “Kiai tidak memaksa untuk membawa Agung Sedayu ke pesanggrahan sebelum berusaha mengobatinya. Mungkin dengan demikian Kiai akan terlambat.”

“Ya Ngger,” jawab Kiai Gringsing di sela-sela nafasnya yang masih terengah-engah, “jika kita membawa Angger Agung Sedayu ke pesanggrahan, mungkin kita memang akan terlambat. Namun untunglah, bahwa kita telah mendapat petunjuk bagaimana kita harus menanganinya.”

Yang terjadi pada Ki Tumenggung Prabadaru ternyata berbeda dengan yang terjadi atas Agung Sedayu. Kelambatan yang dicemaskan atas Agung Sedayu itu, ternyata telah terjadi atas Ki Tumenggung Prabadaru. Pada saat Ki Tumenggung dibawa ke pesanggrahan, maka keadaannya justru menentukan.

Meskipun obat yang diberikan oleh tabib terbaik dengan obat terbaik itu dapat melintasi kerongkongan, namun ternyata bahwa obat itu tidak dapat menolongnya lagi. Terlambat.

Dalam keadaan terakhir, maka nafasnya menjadi semakin sendat. Wajahnya menjadi putih seperti kapas, sementara darahnya bagaikan tidak mengalir lagi.

Ternyata bahwa bagian dalam tubuh Ki Tumenggung Prabadaru benar-benar telah diremukkan oleh Agung Sedayu dengan ilmu pamungkasnya, lewat sorot matanya.

Di hadapan kedua tabib terbaik dari lingkungan keprajuritan Pajang, serta beberapa orang senapati terpilih, maka Ki Tumenggung Prabadaru itupun telah menghembuskan nafasnya yang terakhir tanpa sempat menyadari apa yang telah terjadi.

Kedua tabib itu saling berpandangan. Namun merekapun telah menarik nafas dalam-dalam. Mereka telah berbuat apa saja yang dapat mereka lakukan. Tetapi ternyata bahwa mereka tidak mampu melampaui kuasa dari Yang Maha Agung. Ki Tumenggung Prabadaru telah dipanggil menghadap dengan lantaran Agung Sedayu.

Berita kematian Ki Tumenggung itupun segera tersebar. Seorang kepercayaan Kanjeng Sultan segera melaporkannya. Hampir bersamaan waktunya dengan kehadiran kepercayaannya yang lain, yang telah mendengar kepastian, bahwa Agung Sedayu dapat ditolong oleh Kiai Gringsing.

Kanjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Ketika yang ada di dalam biliknya tinggal seorang prajurit tua yang sudah tidak lagi banyak hadir di medan, dan yang setiap saat dipanggil oleh Kanjeng Sultan dalam persoalan-persoalan yang sangat khusus, maka Kanjeng Sultan itupun kemudian berkata, “Paman Singatama. Saatnya memang telah tiba. Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan di sini.”

“Lalu apa yang akan Kanjeng Sultan lakukan?“ bertanya Ki Singatama.

“Rasa-rasanya tugasku telah selesai. Aku memang tidak dapat menyelesaikannya sendiri. Tetapi aku kini sudah mempunyai satu keyakinan yang teguh, bahwa ada orang yang akan dapat melanjutkannya di masa mendatang. Aku sudah meletakkan dasar-dasar dan alas dari seluruh bangunan yang akan berdiri. Meskipun aku tidak dapat mewujudkan bangunan itu secara lahiriah, tetapi aku sudah meletakkan jiwa dari bangunan itu pada seseorang yang dapat aku percaya, pada suatu saat bangunan itu akan terwujud dengan jiwa yang tidak berubah, meskipun mungkin ujud lahiriahnya agak berbeda,“ berkata Kanjeng Sultan kemudian.

Ki Singatama mengangguk-angguk. Namun kemudian ia masih juga bertanya, “Siapakah yang Kanjeng Sultan maksudkan?”

“Kau sudah tahu,“ jawab Kanjeng Sultan.

Ki Singatama memandang wajah Kanjeng Sultan yang nampak terlalu cekung. Kanjeng Sultan nampak kurus dan pucat. Penyakitnya akan sulit untuk diatasinya. Bahkan rasa-rasanya menjadi semakin menggigit tubuhnya. Dan sakit itu tidak dapat dilawan dengan segala macam ilmu yang bertumpuk di dalam dirinya. Segala macam obat dan segala macam usaha.

“Kanjeng Sultan,” berkata Ki Singatama, “hamba tahu, bahwa yang tuanku maksud tentu Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga. Tetapi menurut penglihatan orang banyak, kini Raden Sutawijaya itu justru telah berdiri berhadapan dengan Kanjeng Sultan sendiri. Ia sudah melawan Kanjeng Sultan, sebagai sesembahannya, sebagai gurunya dan bahkan sebagai ayahnya.”

“Tidak ada jalan lain yang dapat ditempuhnya,“ berkata Kangjeng Sultan, “dan aku tidak berkeberatan.”

“Tetapi sikap Kanjeng Sultan tidak banyak dimengerti. Mungkin ada orang yang terlalu setia kepada tuanku dan masih akan tetap melawan Raden Sutawijaya sampai saat terakhir hidupnya,“ jawab Ki Singatama.

“Mudah-mudahan Sutawijaya dapat menempuh jalan yang tepat, sehingga perlahan-lahan tetapi meyakinkan, ia akan dapat membuktikan, bahwa ia bukan musuh secara jiwani. Bahkan apa yang dilakukannya itu adalah usaha pencapaian cita-cita yang pernah aku letakkan di atas Tanah tercinta ini, tetapi tidak sempat aku selesaikan, karena beberapa pihak yang nampaknya adalah kawan-kawanku, tetapi mereka telah membayangi kekuasaanku.”

Ki Singatama mengangguk-angguk. Ternyata Kanjeng Sultan tahu segala-galanya.

“Paman,” berkata Kangjeng Sultan kemudian, “kita sudah sama-sama tua. Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan. Kita memang wajib menyerahkannya kepada yang muda, meskipun dengan cara yang berbeda yang kadang-kadang kurang kita ketahui. Namun aku yakin seyakin-yakinnya bahwa Sutawijaya akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Meskipun ia ditempa dalam nafas keprajuritan, tetapi aku melihat kemampuannya untuk melihat segi-segi yang lain yang akan berhasil dilakukannya.”

“Hamba mengerti Kanjeng Sultan. Tetapi apakah yang akan Kanjeng Sultan lakukan sekarang, besok atau kapan saja di medan peperangan seperti ini?“ bertanya Ki Singatama. “Apakah mungkin Kanjeng Sultan akan menyerah?”

“Tidak paman. Aku tidak akan menyerah. Aku akan turun ke medan besok. Tetapi tidak untuk mengobarkan api peperangan ini. Aku justru ingin menghentikannya, karena korban telah terlalu banyak. Hari ini Tumenggung Prabadaru mati. Beberapa orang senapati terluka parah. Dan para prajurit dan pengawal dari kedua belah pihakpun terbunuh di peperangan,“ jawab Kanjeng Sultan.

Prajurit tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil menatap ke kejauhan ia membayangkan, apa yang telah terjadi. Pembunuhan, dendam, kebencian dan pengkhianatan. Orang-orang yang bermimpi untuk menegakkan satu kekuasaan yang besar telah membuat Perang menjadi landasan ketamakan mereka.

Namun dalam pada itu. Ki Singatama itupun bertanya, “Kanjeng Sultan. Hamba masih belum dapat menangkap niat tuanku. Seandainya hamba mengerti, cara apakah yang akan tuanku tempuh?”

“Besok aku akan turun ke medan,“ berkata Kangjeng Sultan, namun kemudian wajahnya menunduk dalam-dalam. Ada sepercik gejolak perasaan di dalam dadanya.

Ki Singatama menunggu kelanjutan kalimat Kanjeng Sultan itu. Tetapi ternyata Kanjeng Sultan tidak mengatakan sesuatu. Karena itu, maka Ki Singatamalah yang berkata, “Ampun Tuanku. Bukankah keadaan Tuanku tidak memungkinkan? Tuanku berada dalam keadaan yang sangat lemah sekarang ini?”

“Aku sudah berada di pesanggrahan pada satu medan perang yang besar. Tentu aku sudah siap untuk turun ke gelanggang,“ jawab Kanjeng Sultan.

Ki Singatama mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa yang akan dilakukan Kanjeng Sultan itu tentu bukannya tanpa maksud. Tetapi maksud itulah yang belum dapat ditangkapnya.

“Ki,” berkata Kanjeng Sultan itu kemudian, “apapun yang akan aku lakukan tidak akan berarti apa-apa. Tugas hidupku sudah selesai. Seperti yang sudah aku katakan, ada orang yang akan melanjutkan apa yang belum aku capai sekarang.”

“Kanjeng Sultan,” wajah Ki Singatama menjadi tegang. Tetapi ia hanya dapat menarik nafas dalam. Ki Singatama tidak berani menyatakan perasaannya.

Dalam pada itu, justru Kangjeng Sultan yang bertanya, “Dimana Benawa?”

“Pangeran Benawa ada di seberang Kali Opak, Tuanku. Pangeran melihat pertempuran yang seru, antara Ki Tumenggung Prabadaru melawan Agung Sedayu.”

“Perang tanding itu sudah selesai. Dan akupun sudah mendapat laporan bahwa Ki Tumenggung Prabadaru sudah mati seperti yang sudah aku katakan. Sementara Agung Sedayu mulai sadar kembali,“ berkata Kanjeng Sultan.

“Benar Tuanku. Tetapi Pangeran Benawa belum kembali,“ berkata Ki Singatama.

Kanjeng Sultan mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Panggil seorang prajurit sandi kepercayaanku, Ki.”

Kiai Singatama menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipanggilnya seorang kepercayaan Kanjeng Sultan untuk menghadap.

“Pergilah mendapatkan Benawa,“ berkata Kanjeng Sultan itu, “katakan kepadanya, bahwa aku memerintahkan kepada Pangeran Benawa untuk bersiap. Besok aku akan turun ke medan. Aku akan memimpin sendiri pasukan Pajang menghadapi Mataram.”

Petugas sandi itu termangu-mangu. Namun Kanjeng Sultan meyakinkannya, “Katakan dimanapun kau bertemu dengan Pangeran Benawa. Aku tidak berkeberatan jika orang-orang Mataram mendengar rencanaku ini. Bahkan akan lebih baik jika mereka mengerti sebelumnya.”

Petugas sandi itu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian bertanya, “Apakah hamba harus mencari Pangeran di seberang Kali Opak?”

“Ya. Pergilah. Katakan secepatnya,“ perintah Kanjeng Sultan.

Petugas sandi itupun kemudian meninggalkan pesanggrahan Kanjeng Sultan, menuju ke seberang Kali Opak.

Ketika ia menuruni tebing, maka tidak seorangpun yang dijumpainya. Para petugas yang mengumpulkan kawan-kawan mereka yang sakit dan yang terbunuh di medan telah selesai melakukan tugas mereka. Sementara itu. tidak ada lagi hiruk pikuk perang tanding antara Ki Tumenggung Prabadaru dan Agung Sedayu. Bahkan di seberang Kali Opak itu keadaannya sudah berubah sama sekali. Tidak ada lagi seorangpun yang tinggal.

Petugas sandi itu termangu-mangu. Menurut pendapatnya, Agung Sedayu tentu sudah dibawa ke pesanggrahan orang-orang Mataram. Mungkin sekali Pangeran Benawa ikut bersama Raden Sutawijaya. Jika demikian, maka ia harus memasuki pesanggrahan orang-orang Mataram.

“Aku harus menembus penjagaan orang-orang Mataram,” berkata orang itu kepada diri sendiri. Lalu, “Tetapi lebih baik aku berterus terang. Jika aku memasukinya dengan diam-diam, justru aku akan terjebak oleh pengamatan orang-orang berilmu yang sulit ditembus.”

Karena itu, maka petugas sandi itu sama sekali tidak berusaha untuk berlindung ke dalam gerumbul-gerumbul yang banyak terdapat di tebing Kali Opak. Ia berjalan saja seolah-olah tidak melintasi medan yang di siang hari merupakan ajang pembunuhan.

Sebenarnyalah, ketika peronda dari Mataram melihatnya, maka merekapun langsung menyapanya sambil mengacukan ujung tombak mereka. Namun dengan tenang petugas sandi itu menjawab, “Aku adalah utusan Kanjeng Sultan Hadiwijaya untuk menemui Pangeran Benawa.”

Para peronda itu termangu-mangu sesaat. Namun yang seorang kemudian berkata, “Aku memang melihat Pangeran Benawa di pesanggrahan, mengikuti Agung Sedayu yang terluka itu.”

“Tetapi, apakah benar ia utusan Kanjeng Sultan?” desis yang lain.

Utusan itulah yang menyahut, “Antar aku sampai kepada Pangeran Benawa. Kalian akan melihat, apakah Pangeran Benawa benar-benar mengenaliku.”

Para peronda itu saling berpandangan sejenak. Namun yang tertua di antara mereka berkata, “Marilah. Kita bawa orang ini menghadap Pangeran Benawa.”

Yang lain tidak berkeberatan. Sehingga merekapun kemudian mengantar orang itu ke pesanggrahan untuk menemui Pangeran Benawa.

Dalam pada itu, Pangeran Benawa memang sudah berada di pesanggrahan. Bersama beberapa orang yang lain, ia ikut mengantar Agung Sedayu yang dibawa di atas usungan yang diangkat oleh empat orang, karena Agung Sedayu masih belum dapat berjalan sendiri. Sementara itu, Kiai Gringsing pun masih nampak terlalu letih, berjalan di belakangnya.

Dalam pada itu, Ki Gede Menoreh dan Swandaru terkejut melihat keadaan Agung Sedayu. Dari Pandan Wangi merekapun segera mendapat penjelasan apa yang telah terjadi atasnya.

“Untunglah, bahwa Tuhan masih memperkenankan Kiai Gringsing menjadi lantaran untuk menolong jiwanya,” berkata Pandan Wangi kemudian.

Ki Gede mengangguk-angguk. Dengan suara dalam ia berdesis, “Tuhan memang Maha Agung. Sebenarnyalah Agung Sedayu seorang yang memiliki kelebihan dari orang lain.”

Namun dalam pada itu, Swandaru yang kemudian menyaksikan keadaan saudara seperguruannya itu berkata, “Kakang Agung Sedayu memang masih selalu mencemaskan. Adalah sangat berbahaya bahwa ia telah menghadapkan diri melawan Ki Tumenggung. Untunglah bahwa pemimpin pasukan khusus dari Pajang itu bukan orang yang ilmunya mumpuni, sehingga meskipun keadaan Kakang Agung Sedayu sendiri menjadi parah, ia masih juga dapat melumpuhkan lawannya.”

“Pertempuran yang terjadi adalah pertempuran yang nggegirisi. Benturan ilmu yang belum pernah aku lihat,“ desis Sekar Mirah.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Sekar Mirah sekilas. Kemudian katanya, “Kau selalu terlalu bangga atas suamimu. Bukan apa-apa. Akupun menganggap sikapmu itu wajar sebagai seorang istri. Tetapi yang aku cemaskan, dengan demikian kalian berdua akan keliru menilai ilmu diri sendiri. Ilmu kalian masing-masing. Jika kalian cepat merasa diri mumpuni, maka kalian tidak akan berusaha lebih keras lagi.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Bukan aku saja yang mengatakannya Kakang, tetapi semua orang yang melihat pertempuran itu. Coba, bertanyalah kepada Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga, atau kepada Pangeran Benawa. Dua orang yang kita anggap memiliki ilmu yang hampir sempurna.”

“Mereka adalah orang-orang yang terlalu baik Mirah, sehingga mereka tidak akan mengecewakan orang lain. Mereka tentu akan berusaha membuat hati kita berbangga,“ jawab Swandaru. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Katakan bahwa Agung Sedayu memiliki ilmu yang tinggi, namun bukan saja Agung Sedayu, tetapi kita semua masih harus meningkatkan ilmu kita. Aku sendiri mengalami luka-luka ketika lawanku dengan licik bertempur bersama-sama sebagaimana dialami oleh Ki Gede Menoreh.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ia mulai sadar, bahwa kakaknya memang menganggap kemampuan Agung Sedayu masih belum cukup berkembang, sebagaimana ia sendiri pernah beranggapan demikian. Namun, akhirnya ia melihat satu kenyataan tentang suaminya yang bernama Agung Sedayu itu sebagai seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa.

Dalam pada itu, selagi beberapa orang menunggui Agung Sedayu dengan saling berbincang, maka seorang pengawal telah datang untuk memberitahukan kepada Raden Sutawijaya, bahwa seorang petugas dari Pajang ingin menemui Pangeran Benawa.

“Siapa?“ bertanya Pangeran Benawa langsung kepada orang itu.

“Aku kurang tahu Pangeran. Tetapi orang itu mengaku utusan Kanjeng Sultan,“ jawab pengawal itu.

“Bawa ia kemari,“ berkata Pangeran Benawa.

Demikianlah, maka orang itupun segera dibawa menghadap langsung di antara orang-orang yang menunggui Agung Sedayu.

“Apakah ada perintah Ayahanda?“ bertanya Pangeran Benawa.

“Ya Pangeran,“ jawab petugas itu. “Ayahanda memerintahkan agar Pangeran segera kembali. Tetapi Ayahanda juga memerintahkan agar aku mengatakan di hadapan Pangeran dan orang-orang Mataram, bahwa besok Ayahanda Pangeran sendiri-lah yang akan memimpin pasukan Pajang memasuki arena.”

Pangeran Benawa mengerutkan keningnya. Dengan suara dalam ia bertanya, “Kau yakin?”

“Ya Pangeran. Kanjeng Sultan mengatakannya dengan sungguh-sungguh,“ jawab petugas itu.

Pangeran Benawa memandang Raden Sutawijaya sejenak. Lalu katanya, “Kakangmas, ini tentu satu tantangan resmi Ayahanda bagi kekuatan Mataram. Siapakah besok yang akan tampil memimpin pasukan Mataram untuk menghadapi Ayahanda?”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia berpaling ke arah Ki Juru Martani. Katanya, “Tidak ada orang yang akan berani menghadapi Ayahanda Kanjeng Sultan secara pribadi. Tidak ada orang yang memiliki ilmu yang dapat mengimbanginya. Namun biarlah salah seorang di antara kami, orang-orang Mataram akan tampil di medan menerima segala kemurkaannya. Seandainya Ayahanda Sultan menganggap sepantasnya kami dihukum dan dibinasakan, maka akan terjadi juga agaknya besok pagi.”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Kita sudah terlanjur berada di medan. Pasukan Pajang dan pasukan Mataram sudah berhadap-hadapan. Sulit untuk mengetahui apa yang akan terjadi besok. Aku tidak memahami dengan pasti sikap Ayahanda.”

“Ya,” jawab Raden Sutawijaya, “kita sudah berada di medan perang.”

Demikianlah, maka Pangeran Benawa pun segera minta diri. Dengan tergesa-gesa ia menuju ke pesanggrahannya, diikuti oleh petugas sandi yang dikirim oleh ayahandanya.

“Ketika kau memasuki bilik Ayahanda, apakah Ayahanda seorang diri?“ bertanya Raden Sutawijaya.

“Tidak.” jawab petugas itu, “dengan Ki Singatama.”

“Ki Singatama,“ ulang Pangeran Benawa, “jadi tidak dengan para adipati?”

Petugas sandi itu berlari-lari kecil di belakang Pangeran Benawa. Dengan tersendat-sendat ia menjawab, “Tidak ada orang lain Pangeran. Tidak ada para adipati, dan tidak ada para senapati.”

Pangeran Benawa tidak bertanya lebih lanjut. Tetapi ia mengerti bahwa Ayahanda dalam keragu-raguan yang sangat. Ki Singatama adalah orang yang banyak memberikan pertimbangan, dan jalan pikirannya memang agak sesuai dengan Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Tetapi Ki Singatama bukan seseorang yang mempunyai kedudukan resmi sebagai pemimpin tataran tertinggi di Pajang. Hubungannya dengan Kanjeng Sultan lebih banyak bresifat sebagai seorang sahabat. Orang yang sama-sama telah meningkat ke usia tua. Orang yang memiliki pandangan hidup yang bersamaan pula.

Dalam pada itu, di pesanggrahan orang-orang Mataram, Agung Sedayu sudah membuka matanya. Ia melihat dengan jelas, orang-orang yang mengerumuninya.

“Kakang,“ terdengar suara Sekar Mirah.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam ketika terasa kehangatan tangan istrinya meraba keningnya.

“Bagaimana dengan keadaanmu Kakang?” desis Sekar Mirah.

Agung Sedayu mencoba tersenyum. Katanya, “Aku dalam keadaan baik Mirah.”

“Kau terluka di dalam,” berkata Sekar Mirah, “tetapi Kiai Gringsing cepat menanganimu.”

Agung Sedayu masih tersenyum. Katanya perlahan-lahan, “Aku mengucapkan terima kasih kepada semua pihak. Ternyata aku masih tetap hidup.”

“Kau masih tetap hidup Agung Sedayu,“ berkata Kiai Gringsing, “kau wajib mengucap syukur kepada Tuhan.”

“Ya. Aku mengucap syukur bahwa aku masih diperkenankan untuk tetap hidup sekarang ini,“ sahut Agung Sedayu.

Kiai Gringsing yang kemudian meraba dahi Agung Sedayu berkata, “Suhu badanmu memang agak naik. Tetapi mudah-mudahan tidak akan meningkat terus. Aku sudah menyiapkan obat untukmu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi memang terasa badannya masih belum sepenuhnya dapat dikuasainya. Rasa-rasanya kakinya masih belum dapat bergerak dengan wajar. Namun demikian, terasa pernafasannya sudah menjadi semakin lancar. Darahnya pun telah menghangati seluruh tubuhnya.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Agung Sedayu tidak dapat melupakan apa yang telah terjadi. Perlahan-lahan kembali membayang di dalam hatinya, peristiwa-peristiwa di tepi Kali Opak yang hampir saja merenggut jiwanya.

Hampir di luar sadarnya ia berdesis, “Bagaimana dengan Ki Tumenggung Prabadaru?”

“Keadaannya tidak berbeda dengan keadaanmu Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing sambil memandangi Raden Sutawijaya yang termenung.

“Bahkan lebih parah lagi,” sambung Sekar Mirah, “aku melihatnya sendiri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun bertanya pula, “Bagaimana dengan peperangan ini?”

Kiai Gringsing kembali menatap Raden Sutawijaya yang kemudian beringsut maju. Sambil duduk di sebelah Agung Sedayu yang terbaring Raden Sutawijaya berkata, “Jangan pikirkan hal itu Agung Sedayu. Kau harus beristirahat. Segalanya akan berjalan dengan baik. Jika kau banyak beristirahat lahir dan batin, maka kau akan cepat menjadi baik. Keadaanmu akan segera pulih kembali.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Apakah aku dapat berbuat demikian? Tetapi bagaimana dengan besok? Apakah aku bermimpi, atau masih dalam dunia ketidak-sadaranku, bahwa aku mendengar Kanjeng Sultan sendiri akan turun ke medan besok?”

“Lupakan pertempuran ini,” ulang Raden Sutawijaya, “kami akan mengaturnya sebaik-baiknya.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun Untara yang juga mendekatinya berkata, “Segalanya akan berlangsung dengan baik Agung Sedayu. Beristirahatlah. Tidurlah, kau akan cepat sembuh.”

Agung Sedayu memandang kakaknya sekilas. Terasa ketenangan menyiram perasaannya. Seakan-akan telah menjadi naluri bagi hidupnya, bahwa kakaknya itu akan selalu melindunginya. Sejak ia masih kanak-kanak, maka Untara baginya bagaikan bayang-bayang pepohonan yang teduh dalam teriknya matahari.

Karena itu, ketika ia melihat sorot mata Untara, rasa-rasanya ia berada di dalam perlindungan yang tenteram, meskipun nalarnya menyadari sepenuhnya bahwa kemampuan ilmunya sendiri telah melampaui kemampuan ilmu Untara. Bahkan tataran penguasaan ilmu dari perguruan Ki Sadewa pun telah melampaui tataran penguasaan ilmu oleh Untara.

Karena itulah, maka Agung Sedayu pun kemudian berusaha untuk menenangkan dirinya. Semuanya sudah lengkap berada di dekatnya. Istrinya, gurunya, saudaranya, saudara seperguruannya dan orang-orang yang telah berjuang bersamanya.

Dalam pada itu, ketika Agung Sedayu telah menjadi tenang, maka Raden Sutawijaya pun telah beringsut dari ruang itu. Ia ingin berbicara dengan beberapa orang penting yang akan dapat ikut menanggapi rencana bahwa Kanjeng Sultan sendiri akan turun ke medan.

“Segalanya masih belum jelas,” berkata Raden Sutawijaya, “namun kita harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun aku yakin bahwa Ayahanda tidak akan menghancurkan kita, tetapi mungkin orang lain memiliki sikap tersendiri dan memanfaatkan keadaan ini.”

“Aku sependapat dengan Raden,” berkata Untara, “aku pernah menghadap langsung Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Karena itu, akupun yakin bahwa Kanjeng Sultan tidak menghancurkan kita. Meskipun demikian, kita tidak tahu, apa yang akan terjadi besok.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu. Dipandanginya nyala lampu minyak yang bergetar disentuh angin.

Sementara itu, malampun menjadi semakin jauh melampaui pusatnya. Para prajurit kebanyakan telah lama lelap dalam tidurnya. Para senapati yang semula memperhatikan pertempuran antara Agung Sedayu dan Ki Tumenggung Prabadaru pun telah tertidur dengan nyenyaknya pula, karena mereka sadar, besok mereka harus turun lagi ke medan. Mungkin medan akan menjadi semakin berat, justru setelah Agung Sedayu dan Ki Tumenggung Prabadaru tidak dapat tampil lagi ke medan.

“Baiklah,“ berkata Raden Sutawijaya kemudian, “kita harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Kita harus mencegah pihak-pihak tertentu yang akan memanfaatkan sikap Ayahanda yang kurang jelas itu. Karena itu, semua kesatuan besok harus benar-benar siap untuk bertempur. Ki Lurah Branjangan tetap bersama pasukan khusus itu. Pajang pun telah tidak akan dipimpin lagi oleh Ki Tumenggung Prabadaru, meskipun besok Agung Sedayu tidak akan mungkin tampil di medan.”

Demikianlah, maka Mataram telah benar-benar mempersiapkan diri. Beberapa orang senapati terpenting telah mendapatkan perintahnya masing-masing. Ki Juru Martani besok akan berada di pusat pertahanan pasukan Mataram. Namun, Raden Sutawijaya pun tidak akan mengingkari tanggung jawab. Ia akan meninggalkan sayap kanan dan berada pula di pusat gelar. Ia akan menerima hukuman apa saja yang akan dijatuhkan oleh Ayahandanya, Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Meskipun kedua ayah dan anak angkat itu yang bertemu dipeperangan, namun Raden Sutawijaya tidak akan dapat melawannya. Kecuali ia adalah putra angkat, murid sekaligus hamba Istana Pajang, juga karena ilmu yang dimiliki Kanjeng Sultan itu rasa-rasanya tidak terbatas.

Perintah itupun segera tersebar. Dengan jantung yang berdebaran para senapati Mataram menunggu apa yang akan terjadi esok pagi. Namun demikian, merekapun masih sempat beristirahat meskipun hanya sebentar.

Selagi orang-orang Mataram diguncang oleh kegelisahan, Pangeran Benawa duduk di samping Ki Singatama di hadapan Ayahandanya yang duduk di bibir amben pembaringannya. Dengan wajah pucat Kanjeng Sultan itupun berkata, “Kau besok adalah senapati pengapitku.”

“Hamba, Ayahanda. Tetapi hamba tidak tahu apa yang harus hamba lakukan menghadapi Kakangmas Sutawijaya,“ jawab Pangeran Benawa.

“Apa kata Senapati ing Ngalaga? Bukankah ia memang menantang aku berperang tanding? Atau bertempur dalam gelar antara pasukan Pajang dan Mataram? Aku tahu, bahwa Mataram memiliki Untara yang mumpuni dalam pasang gelar. Mataram memiliki Agung Sedayu yang ternyata mampu membunuh Ki Tumenggung Prabadaru,“ berkata Kanjeng Sultan.

Pangeran Benawa tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. Sementara itu, Ki Singatama pun menunduk pula. Hanya sekali-sekali terdengar nafasnya berdesah.

Dalam pada itu, Kangjeng Sultan pun berkata pula, “Benawa. Akupun tahu, bahwa di Mataram ada orang yang memiliki ilmu yang jarang sekali terdapat sekarang ini. Orang yang mampu menebarkan kabut untuk membatasi penglihatan.”

Pangeran Benawa memandang Ayahandanya sejenak. Namun iapun kemudian menundukkan kepalanya kembali. Meskipun demikian ia masih juga bergumam, “Ilmu itu sekedar untuk mengimbangi kemampuan seseorang yang juga tidak diketahui di antara orang-orang Pajang, yang mampu menyerang Agung Sedayu lewat indra penciumannya, seperti yang pernah hamba katakan kepada Ayahanda.”

Kanjeng Sultan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Benawa, ternyata pada jaman ini masih ada orang yang memiliki ilmu seperti itu. Ilmu yang pada masa mudaku sangat dikagumi dan jarang dikenal. Karena itu, maka perang kali ini benar-benar perang yang menentukan, sehingga dengan demikian, maka tidak ada pilihan lain bagiku daripada turun sendiri langsung ke medan perang.”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Ayahanda. Ketika petugas sandi itu menemui aku dan menyampaikan pesan Ayahanda, maka Kakangmas Sutawijaya pun mendengarnya pula. Bahkan Kakangmas Sutawijaya telah mengambil satu sikap, bahwa besok pasukan Mataram akan menyongsong kehadiran pasukan Pajang. Kakang Sutawijaya akan menerima segala hukuman yang akan Ayahanda trapkan kepada Kakangmas Sutawijaya dan kepada Mataram. Karena sebenarnyalah apa yang Ayahanda kehendaki, akan dapat terjadi.”

Wajah Kangjeng Sultan menegang. Terdengar ia menggeretakkan gigi sambil menggeram, “Pengecut Sutawijaya. Ia harus turun ke medan dan bertempur melawan aku.”

“Tidak ada gunanya,” jawab Pangeran Benawa, “bukankah hal itu hanya akan menambah korban saja di peperangan? Jika perang itu masih berkelanjutan dan akhir dari peperangan itu sudah menentu, apa pula gunanya perang itu sendiri? Apakah artinya kematian-kematian yang tidak dapat dihitung jumlahnya itu, jika kematian itu sama sekali tidak mempengaruhi pertempuran itu sendiri?”

“Aku tidak tahu maksudmu,“ jawab Kanjeng Sultan.

“Tidak ada gunanya Kakangmas Sutawijaya bertempur melawan Ayahanda, karena akhir dari peperangan itu memang sudah diketahuinya,“ jawab Pangeran Benawa. Lalu, “Dan aku sependapat dengan Kakangmas Sutawijaya.”

Kanjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab. Justru ia kemudian berkata, “Benawa. Pergilah beristirahat. Besok kau adalah senapati pengapitku. Perang akan terjadi sebagaimana seharusnya. Perang memang merupakan ajang pembantaian. Ajang dari segala macam kebencian, kebengisan dan tidak berperikemanusiaan. Kita semuanya sudah tahu. Kita semuanya sering menyebutnya. Tetapi kita semuanya setiap kali akan sampai kepada kemungkinan itu. Perang.”

Pangeran Benawa termangu-mangu sejenak. Ia tidak dapat mengerti, apakah yang akan terjadi. Tetapi ia tidak dapat menolak perintah ayahandanya, Sultan Hadiwijaya.

Dalam pada itu, Ki Singatama pun menjadi bingung. Namun seperti Pangeran Benawa, Ki Singatama tidak berani menanyakan maksud Kanjeng Sultan yang sebenarnya, meskipun Ki Singatama itu dapat merabanya di balik tirai sikap Kanjeng Sultan yang keras itu.

Sejenak kemudian, maka Pangeran Benawa pun telah minta diri untuk beristirahat. Meskipun ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat melakukannya sepenuhnya.

Sepeninggal Pangeran Benawa, maka Kanjeng Sultan pun berkata kepada Ki Singatama, “Sudahlah Ki Singatama. Jangan kau pikirkan lagi apa yang akan terjadi. Segalanya akan terjadi sebagaimana seharusnya terjadi.”

“Hamba, Kanjeng Sultan. Hamba akan bersiap-siap. Besok hamba pun akan turun ke medan, meskipun tenaga hamba tidak lagi berarti di medan perang,“ jawab Ki Singatama.

“Ya. Kita semuanya akan turun ke medan. Besok aku akan berada di punggung kendaraan khususku,“ berkata Kanjeng Sultan pula.

Ki Singatama menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia memberanikan diri untuk berkata, “Tetapi Tuanku sangat lemah.”

Kangjeng Sultan Hadiwijaya tersenyum. Katanya, “Apa bedanya Ki Singatama. Bukankah segala tugasku telah selesai? Sebagian besar sudah aku tunaikan semasa mudaku. Selebihnya di sisa hidupku, yang ternyata tidak terlalu dapat dibanggakan.”

“Sikap Tuanku sangat mengesankan hamba,“ desis Ki Singatama.

Tetapi Kanjeng Sultan masih saja tersenyum, bahkan kemudian katanya, “Ki Singatama. Apakah Ki Singatama sudah akan beristirahat?”

“Apakah masih ada yang harus hamba lakukan?“ bertanya Ki Singatama.

“Masih ada Ki Singatama,“ jawab Kanjeng Sultan, “jika kau tidak terlalu letih.”

“Hamba sama sekali tidak letih Tuanku. Hamba tidak berbuat apa-apa selain duduk menghadap Tuanku,“ jawab Ki Singatama.

“Baiklah Ki Singatama. Jika kau tidak berkeberatan, tolong, perintahkan untuk menyiapkan tiga ikat merang,“ berkata Kanjeng Sultan kemudian.

“Tiga ikat merang,“ ulang Ki Singatama, Wajahnya menjadi tegang. Dengan suara patah-patah ia bertanya, “Apa artinya Tuanku?”

“Aku akan mandi,“ jawab Kanjeng Sultan.

“Ya. Hamba tahu. Tiga ikat merang. Tuanku akan mandi keramas,“ suara Ki Singatama menjadi gemetar. Lalu, “Itulah yang hamba tanyakan. Apakah maksud Tuanku untuk siram jamas? Apalagi di malam hari begini. Hamba menghubungkannya dengan niat Tuanku turun ke medan dan keterangan Tuanku tentang tugas Tuanku yang telah selesai.”

Kanjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Tidak ada apa-apa. Besok aku akan turun ke medan dengan membawa pusaka Pajang, Kiai Crubuk. Karena itu aku akan mandi dan keramas.”

Ki Singatama termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya dengan suara yang semakin gemetar, “Tuanku. Hamba pun sudah tua. Hamba pun merasa, bahwa tugas hamba juga sudah selesai. Tetapi hamba masih berbangga hati, bahwa hamba mendapat kesempatan untuk menyediakan air abu merang yang akan Tuanku pakai untuk jamas. Hamba akan mendapat sisanya dan hamba pun akan keramas pula sebagaimana akan Tuanku lakukan. Hamba pun tahu, bahwa Tuanku akan memerintahkan hamba untuk menyediakan kelebet kecil putih yang kemarin Tuanku amati setiap sudutnya. Dan hamba-pun mengerti, apa yang kira-kira akan terjadi.”

“Jangan menduga-duga Ki Singatama,” jawab Kanjeng Sultan. “Sudahlah. Tolong, carikan tiga ikat merang. Jangan lupa, tiga ikat merang.”

Ki Singatama pun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Di luar sadarnya ia telah mengusap setitik air di matanya.

Namun Ki Singatama pun kemudian bergeser surut. Ketika ia sudah berada di luar, maka iapun menghisap udara malam yang semakin dingin, seolah-olah udara malam itupun akan dihirupnya sampai kering.

“Siram jamas,” desisnya.

Dengan langkah yang berat, maka Ki Singatama pun kemudian memerintah seseorang untuk mendapatkan tiga ikat merang.

Malam itu, bahkan sudah lewat tengah malam, Kanjeng Sultan yang tidak tidur sekejappun itu telah mandi sambil membersihkan rambutnya yang panjang terurai.

Dalam pada itu, Ki Singatama telah melayaninya dengan tekun. Ia tidak memerintahkan orang lain menyiapkannya. Kecuali untuk mendapatkan tiga ikat merang, segalanya dilakukannya sendiri. Dan akhirnya sisa air merang yang dibakar untuk keramas itupun telah dipergunakannya pula. Ki Singatama pun telah adus keramas.

Malam itu, Kanjeng Sultan berusaha mengeringkan rambutnya. Kemudian, dengan cunduk jungkat dan rambut terurai, Kanjeng Sultan duduk di atas amben bambu dengan tangan bersilang di dadanya.

Ki Singatama yang juga mengurai rambutnya yang basah, duduk di lantai di hadapan Kanjeng Sultan dengan kepala tunduk dan tangan bersilang di dadanya pula.

Keduanya bagaikan terbangun dari sebuah renungan yang sangat dalam, ketika mereka mendengar ayam jantan berkokok bersahutan untuk yang terakhir kalinya. Sementara itu, para petugas di dapur telah sibuk menyiapkan makan dan minuman bagi para prajurit yang akan turun ke medan di saat matahari terbit.

Dalam pada itu, Kanjeng Sultan pun kemudian turun dari pembaringannya sambil berkata, “Ki Singatama, bantu aku mengenakan pakaian keprajuritan. Aku akan menjadi Senapati Agung pagi ini. Perintah itu tentu sudah sampai ke telinga semua senapati dan mereka akan mendengarkan perintahku.”

Ki Singatama pun menyahut dengan sendat, “Hamba, Tuanku. Apa perintah Tuanku akan hamba laksanakan.”

Demikianlah, Ki Singatama pun telah membantu Kanjeng Sultan Hadiwijaya mengenakan pakaian keprajuritan. Mengenakan kelengkapan seorang Senapati Agung yang akan turun ke medan perang.

“Apakah Tuanku juga akan mengenakan untaian kembang melati sebagai pertanda kesenapatian Tuanku,“ bertanya Ki Singatama dengan sendat.

Tetapi Kanjeng Sultan menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak Ki Singatama. Aku akan mengenakan selempang sebuah kelebet kecil. Kiai Burus.”

Ki Singatama menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah Kanjeng Sultan kemudian mengenakan selempang sehelai kelebet berwarna putih.

Sambil menyisipkan sebilah pusaka kerisnya yang disebut Kiai Crubuk, maka Kanjeng Sultan pun kemudian berkata, “Aku sudah siap Ki Singatama.”

Ki Singatama itupun kemudian berlutut di hadapannya. Sambil memegangi kedua lutut Kanjeng Sultan, Ki Singatama berkata tersendat-sendat, “Tuanku. Apakah tidak ada pilihan lain yang dapat Tuanku lakukan?”

“Sudahlah,“ berkata Kanjeng Sultan, “aku adalah seorang Senapati Agung. Aku akan bertempur di atas seekor gajah, pertanda kebesaran Pajang.”

“Tuanku, terasa tubuh Tuanku gemetar. Keadaan Tuanku benar-benar tidak memungkinkan untuk turun ke medan, apalagi di atas punggung seekor gajah,“ sembah Ki Singatama.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: