Buku 208 (Seri III Jilid 8)

“Anak iblis!“ geram Santop, “sekarang aku datang untuk membuat perhitungan.“

“Bagus. Bagus! Kita akan mencoba sekali lagi kemampuan kita. Tetapi kali ini sampai tuntas, Siapa yang dapat disebut paling baik di antara kita berdua,“ berkata Ki Dumi. “Jika selama ini kita masih menganggap bahwa kita memiliki tingkat ilmu yang sama, maka kita harus membuat kesan lain. Siapa yang kalah di antara kita hari ini, akan tunduk kepada yang menang untuk seterusnya.“

“Kau tidak usah sesorah!“ bentak Santop, “Aku akan memilin lehermu sampai patah.“

“Bagus. Bagus!“ sahut Dumi sambil menarik golok serta sarungnya dan meletakkan di atas sebuah batu.

Sementara itu, Santop pun telah melepas ikat pinggangnya yang digantungi parangnya yang besar dan meletakkannya pula di sebuah dingklik di depan sebuah kedai.

Namun dalam pada itu, keduanya terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar seseorang bertepuk tangan sambil berkata, “Bagus. Ternyata kalian berdua cukup jantan.”

Dengan serta merta Glagah Putih menggamit Raden Rangga yang berdiri dengan wajah berseri-seri. Ternyata Raden Rangga terkejut juga. Bahkan tiba-tiba saja ia bergeser di belakang Glagah Putih. Agaknya Raden Rangga itu menyesal, karena ia berbisik, “Aku tidak sengaja.“

Kedua orang itu memandang Glagah Putih dan Raden Rangga yang berdiri di belakangnya dengan tatapan mata yang garang. Bahkan Ki Santop itu pun kemudian berkata lantang, “He, anak setan. Pergi dari situ! Atau kalian akan aku lemparkan ke lumpur di sawah itu.“

Glagah Putih bergeser mundur. Namun Raden Rangga ada di belakangnya sambil berdesis, “Kita akan melihat mereka berkelahi.“

“Dari kejauhan saja. Kita akan berada di antara orang-orang yang berkerumun itu. Atau Raden memang mencari perkara?“ bertanya Glagah Putih.

Raden Rangga kemudian bergeser mundur pula dan berada di antara orang-orang yang berkerumun pada lingkaran yang agak besar.

“Kalian menjadi saksi!“ teriak Dumi kepada orang-orang yang menonton itu, “Siapakah yang terbaik di antara kami berdua.“

Tidak ada seorangpun yang menjawab. Semua orang justru menjadi tegang. Namun di antara mereka tiba-tiba terdengar suara, “Ya. Kami akan menjadi saksi.“

Semua orang berpaling ke arah suara itu. Sekali lagi Raden Rangga bersembunyi di belakang Glagah Putih yang nampak agak lebih besar daripadanya, karena umurnya memang lebih tua.

Dua orang yang siap berkelahi itu pun berpaling pula ke arah Raden Rangga. Tetapi keduanya ternyata tidak menghiraukannya.

Sejenak kemudian, maka kedua orang yang akan berkelahi itu pun telah mempersiapkan diri. Keduanya bergeser beberapa langkah. Kemudian, Santop-lah yang ternyata lebih dahulu meloncat menyerang Dumi. Namun Dumi pun telah siap. Karena itu, maka iapun segera bergeser menyamping, sehingga serangan Santop itu sama sekali tidak menyentuh sasaran.

Tetapi Santop tidak berhenti. Ia segera berputar dengan kaki terangkat mendatar. Dengan tumitnya ia telah berusaha mengenai lambung Dumi. Namun Dumi melihat serangan itu. Karena itu, maka iapun telah bergeser lagi, dan bahkan dengan tangannya ia sempat menangkis serangan itu ke samping, sehingga sekali lagi serangan Santop itu tidak mengenai sasaran.

Yang kemudian menyerang adalah justru Dumi. Ia tidak mau selalu diburu saja oleh Santop dengan serangan-serangan. Karena itu, demikian Santop tergeser, maka Dumi-lah yang dengan loncatan panjang menjulurkan tangannya ke arah dada lawannya.

Santop terkejut melihat serangan yang tiba-tiba. Karena itu, maka cepat ia menarik satu kakinya surut, kemudian sambil merendah ia memukul serangan itu ke samping. Dengan demikian maka lambung Dumi pun justru terbuka. Dengan serta merta Santop telah melepaskan serangan dengan kakinya yang terjulur menyamping ke arah lambung lawannya.

Dumi tidak membiarkan lambungnya dihantam oleh serangan kaki Santop. Karena itu, maka dengan cepat dan sigap iapun telah meloncat mundur. Berputar setengah lingkaran bertumpu pada tumit, dan justru meloncat kembali dengan setengah kaki mendatar.

Santop terkejut. Ia tidak sempat menghindar. Karena itu, maka iapun telah merendah, melindungi dadanya dengan tangannya yang bersilang di dadanya.

Kaki Dumi ternyata telah menghantam tangan Santop yang melindungi dadanya. Dengan demikian maka benturan yang keras telah terjadi. Namun agaknya Dumi dalam keadaan yang lebih mapan, sehingga karena itu, maka Santop pun telah terdorong dengan kekuatan yang besar, meskipun tidak langsung menghantam dadanya.

Santop terdorong surut. Bahkan keseimbangannya telah terganggu, sehingga Santop telah terdorong dan jatuh berguling. Tetapi ia cepat melenting berdiri sebelum Dumi sempat mengambil sikap, karena Dumi pun telah terdorong pula surut selangkah.

Sejenak kemudian keduanya telah kembali berhadapan dalam kesiagaan tertinggi. Santop dan Dumi telah sampai pada tingkat tertinggi ilmu mereka yang disegani oleh orang-orang di sekitarnya. Dalam perkelahian yang kemudian terjadi, maka orang-orang yang menyaksikannya menjadi semakin kagum kepada keduanya. Mereka saling menyerang dan saling menghindar. Dorong-mendorong. Desak-mendesak dengan kekuatan sepenuhnya.

Beberapa orang tidak dapat menahan diri untuk memuji keduanya. Namun yang lain dengan nada kecut merasa semakin takut kepada kedua orang yang ternyata memiliki ilmu yang bagi mereka sangat nggegirisi itu.

Namun dalam pada itu, hampir di luar sadarnya, Raden Rangga berteriak, “Ayo! Lakukan dengan lebih baik! Atau yang kalian miliki memang hanya itu?“

Ternyata suara Raden Rangga itu didengar kedua orang yang sedang berkelahi itu. Agaknya keduanya memang merasa tersinggung karenanya, sehingga di luar persetujuan mereka berdua, maka Santop dan Durm itu telah berloncatan saling menjauh.

“Mulut siapa yang berbicara itu?“ bertanya Santop dengan nada marah.

Tidak ada seorangpun yang menjawab. Raden Rangga pun tidak. Bahkan ia telah menyusup di antara orang-orang yang mengilingi arena dari jarak yang agak jauh itu.

“Ayo, siapa yang telah menghina kami?“ teriak Dumi, “Salah seorang di antara kalian harus mengaku. Jika tidak, maka kami akan menghancurkan kepala kalian sernuanya.”

“Cepat!“ sambung Santop pula. Bahkan ia telah melangkah mendekat ke arah suara itu. Lalu katanya, “Jika tidak ada yang mengaku, maka kalian harus dapat menunjukkan siapakah yang telah berteriak itu. Jika kalian tidak mau menunjuk, maka kalian semua kami anggap bersalah.”

Orang-orang itu menjadi semakin tegang. Apalagi ketika Santop dan Dumi bersama-sama melangkah mendekat ke arah Raden Rangga.

“Cepat!“ teriak Dumi.

Orang-orang itu terkejut. Suara Dumi bagaikan gelegar guruh di atas kepala mereka. Namun tidak seorangpun yang mengaku.

Dalam pada itu, orang-orang yang mengetahui bahwa Raden Rangga yang berteriak menjadi marah pula kepada anak itu. Ialah yang membuat kedua orang yang sedang berkelahi itu mengancam, dan barangkali keduanya tidak hanya sekedar mengancam. Karena itu, orang yang berdiri di belakang Raden Rangga telah berdesis, “Nah, salahmu. Kau harus bertanggung jawab.“

Raden Rangga berpaling. Katanya, “Tidak. Aku tidak apa-apa.“

“Kau tadi yang berteriak dan membuat keduanya marah,“ orang di belakangnya itu menegaskan.

“Bukan aku,“ jawab Raden Rangga.

“Kau! Aku sendiri melihat dan mendengar,“ orang itu mulai membentak.

Glagah Putih benar-benar menjadi gelisah. Apalagi ketika beberapa orang yang lain pun telah mendesak Raden Rangga, pula karena mereka takut menjadi sasaran kemarahan kedua orang yang ditakuti itu.

“Persoalannya jadi bergeser,“ desis seorang yang berkepala botak tanpa ikat kepala, “karena itu kau harus mengaku, atau kami akan mendorongmu ke arena, bahkan ikut memukulmu.“

Raden Rangga termangu-mangu sejenak. Namim kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan mengaku.”

Tetapi sebelum Raden Rangga melangkah maju, Glagah Putih-lah yang lebih dahulu melangkah keluar kerumunan orang-orang yang melingkari arena perkelahian itu sambil berdesis, “Biar aku saja yang keluar.“

Raden Rangga mengerutkan keningnya. Namun ia mengerti maksud Glagah Putih, sehingga ia tidak berusaha mencegahnya.

Ketika Glagah Putih kemudian maju mendekat, maka kedua orang itu pun tertegun. Santop dengan serta merta berkata, “Kau lagi, anak iblis.“

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun telah berubah sikap. Dengan lantang ia berkata, “Ya. Akulah yang mengharapkan pertarungan kalian menjadi lebih mantap.“

“Apa maksudmu, he?“ bentak Dumi.

“Kalian tidak berkelahi dengan sungguh-sungguh. Apakah kalian hanya sekedar bermain-main untuk memberikan sedikit hiburan kepada orang-orang yang berada di pasar ini?“ bertanya Glagah Putih.

“Anak gila,“ geram Dumi, “apakah kau sadari yang kau katakan?“

“Kenapa tidak?“ jawab Glagah Putih, “Aku sadar sepenuhnya. Aku tahu apa yang terjadi dan aku menjadi kecewa karenanya. Atau seperti yang aku katakan, kemampuan kalian memang hanya sekian.“

Orang-orang yang mengerumuni arena dari jarak jauh itu, sempat juga mendengar kata-kata Glagah Putih. Mereka benar-benar menjadi heran. Namun orang-orang itu merasa belum pernah melihat anak yang lancang mulut itu, sehingga mereka mengira bahwa anak itu tidak mengenal dengan baik orang yang bernama Santop dan Dumi itu, sehingga agaknya anak itu menyangka, bahwa keduanya dapat dibawa berkelakar.

Dengan demikian orang-orang yang berada di arena itu menjadi semakin cemas. Mereka menjadi jengkel kepada Glagah Putih, tetapi merasa cemas juga, bahwa anak itu mengalami nasib yang buruk.

Seorang di antara mereka bergumam di telinga Raden Rangga, “Apakah saudaramu itu gila, he?“

“Tidak, kenapa?“ bertanya Raden Rangga.

“Apakah ia sadar akan apa yang dilakukannya, sebagaimana ditanyakan oleh Ki Dumi?“ bertanya orang itu pula.

“Tentu, kenapa tidak?“ sahut Raden Rangga.

Orang-orang yang mendengar jawaban Raden Rangga itu mengumpat. Seorang di antara mereka menggeram, “Terserah saja jika anak iblis itu akan mengalami nasib buruk. Mereka terlalu dungu untuk mengatahui keadaan yang sebenarnya. Mereka menganggap bahwa mereka sedang berkelakar dengan kakeknya saja.“

Raden Rangga tersenyum mendengar umpatan itu. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab.

Dalam pada itu, Ki Santop dan Ki Dumi menjadi sangat marah mendengar jawaban Glagah Putih. Namun terhadap anak yang masih sangat muda itu, keduanya masih berusaha menahan diri, meskipun dengan demikian tubuh mereka justru menjadi gemetar.

“Anak setan. Aku minta kau pergi dari tempat ini. Aku masih berusaha menahan diri, meskipun melihat tampangmu rasa-rasanya aku ingin meremas mulutmu,“ geram Ki Dumi.

Tetapi jawab Glagah Putih memang sangat menyakitkan hati keduanya. Katanya, “Maaf Ki Sanak. Sudah aku katakan, bahwa aku ingin melihat kalian berkelahi lebih baik. Karena itu aku tidak akan pergi.“

Ki Santop dan Ki Dumi tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba saja keduanya telah meloncat untuk menangkap Glagah Putih.

Glagah Putih tidak menghindar. Dibiarkannva dirinya diseret oleh kedua orang itu ke tengah arena.

Pemilik warung yang melihat hal itu menjadi sangat berdebar-debar. Katanya kepada diri sendiri, “Aku sudah melarangnya. Tetapi anak itu memang keras kepala.”

Demikian Glagah Putih sampai ke tengah arena, maka iapun telah dilepaskan. Dengan nada tinggi Ki Santop berkata, “Berjongkok. Minta maaf kepada kami berdua. Atau kau akan menjadi cacat seumur hidupmu. Kau tentu belum mengenai siapa Santop.“

“Dan siapa Dumi,“ sambung Ki Dumi.

Glagah Putih yang berdiri di antara kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Ki Sanak. Kenapa aku harus minta maaf? Bukankah aku hanya ingin melihat sesuatu yang lebih menarik? Apakah itu salah?“

Ki Santop-lah yang sudah tidak dapat menahan diri. Tiba-tiba tangannya melayang menghantam pipi Glagah Putih sambil membentak, “Aku koyak mulutmu!“

Glagah Putih sudah menyangka, karena itu maka iapun telah berusaha untuk meningkatkan daya tahannya, sehingga pukulan Ki Santop itu tidak terlalu menyakitkan pipinya.

Namun demikian Glagah Putih itu berkata, “Kenapa kau sakiti aku?“

Ki Santop mulai memperhatikan anak itu. Ia telah memukulnya. Ia menyangka, bahwa tiga giginya akan rontok. Tetapi anak itu seakan-akan tidak merasakan sesuatu. Ki Dumi pun ternyata memperhatikannya juga, sehingga iapun menjadi heran karenanya.

Glagah Putih yang melihat sikap ragu pada kedua orang itu telah bertanya, “Ada apa?“

“Persetan,“ geram Ki Santop, “kau sudah terlalu banyak menghina aku. Jangan menyesal bahwa kami berdua akan memukulimu sampai tulang-tulangmu patah.“

“Ki Sanak,“ berkata Glagah Putih, “sudahlah. Aku kira tidak akan ada gunanya kalian memukuli aku. Yang penting bahwa kalian menyadari, bahwa kalian tidak dapat bertindak atas dasar kesenangan dan kepentingan kalian sendiri. Ketika aku melihat salah seorang dari kalian mengambil makanan, minuman dan bahkan uang di kedai itu, aku merasa sangat kecewa. Berapa keuntungan penjual makanan itu? Seharusnya orang-orang yang memiliki kelebihan seperti kalian, justru melindungi orang-orang yang ada di dalam pasar ini. Bukan malahan melakukan pemerasan seperti itu. Apalagi kemudian kalian berkelahi di sini, menakut-nakuti seisi pasar karena sebab-sebab yang tidak jelas.“

“Tutup mulutmu, anak setan!“ bentak Ki Dumi, “Kau mau mengajari aku, he? Kau itu apaku? Kakekku? Anak yang masih ingusan seperti kau ini seharusnya tidak berbuat aneh-aneh yang dapat menyeret lidahmu sendiri.“

“Aku tidak berbuat aneh-aneh. Aku berkata sebenarnya. Bahkan aku memperingatkan kalian berdua, sejak saat ini kalian berdua tidak boleh memeras orang-orang yang berada di pasar ini, atau pasar yang manapun juga. Aku anjurkan kalian berdua membicarakan dengan baik-baik, imbalan yang akan kalian peroleh di tempat kalian masing-masing jika kalian bersedia menjadi pelindung mereka. Dengan demikian maka kalian akan merasa saling memerlukan dengan orang-orang yang berada di pasar ini.“

“Tutup mulutmu!“ bentak Dumi. Yang kemudian mengayunkan tangannya bukan Santop, tetapi Dumi, mengarah ke mulut Glagah Putih.

Glagah Putih memang tidak mengelak. Tetapi ditingkatkannya daya tahan tubuhnya dengan lambaran tenaga cadangannya. Karena itu, tangan Dumi yang terayun seakan telah membentur batu. Karena itu, maka iapun telah menyeringai menahan sakit.

Dengan demikian, maka kedua orang itu telah benar-benar kehilangan kesabaran. Namun keduanya tidak terlalu dungu untuk tidak mengetahui bahwa anak itu tentu memiliki kelebihan. Menurut pengamatan mereka, kedua anak muda itu bukannya orang gila. Karena itu, maka penalarannya yang utuh itu tentu dialasi pula dengan perhitungan tentang tingkah laku mereka.

Karena itu, maka baik Santop maupun Dumi telah bersama-sama menyerang Glagah Putih. Namun Glagah Putih yang memang telah bersiap, sama sekali tidak mengalami kesulitan. Santop dan Dumi memang termasuk orang-orang yang paling ditakuti, namun oleh satu lingkungan yang memang jauh dari kisruhnya dunia olah kanuragan.

Karena itu, sebenarnyalah dibandingkan dengan Glagah Putih, baik Ki Santop maupun Ki Dumi bukanlah orang yang harus diperhitungkan. Meskipun mereka akan bertempur berpasangan, namun Glagah Putih tidak akan mengalami kesulitan apapun juga.

Namun Glagah Putih tidak akan membuat mereka menjadi kehilangan harga diri di hadapan orang-orang yang berkerumun di sekitar arena itu. Karena itulah, maka ia telah maju ke arena tanpa membiarkan Raden Rangga melakukannya. Jika Raden Rangga ingin bermain-main dengan caranya, maka kadang-kadang ia lupa memperhatikan kepentingan orang lain.

Dengan demikian maka Glagah Putih tidak dengan serta merta mengalahkan kedua orang itu. Tetapi dibawanya kedua orang itu untuk bertempur, sebagaimana ia pernah mendengar Agung Sedayu menceritakan cara-cara yang sering dipakainya untuk membuat seseorang jera, tanpa merampas harga dirinya dalam keseluruhan.

Karena itu, maka perkelahian antara Glagah Putih dan kedua orang itupun nampaknya merupakan pertempuran yang sangat seru. Kedua belah pihak saling mendesak dan saling menghindar. Ki Santop dan Ki Dumi yang marah kadang-kadang telah menyerang dengan garangnya sehingga Glagah Putih nampak terdesak mundur. Namun kemudian Glagah Putihlah yang mendesak kedua lawannya.

Orang-orang yang berkerumun di sekitar arena itu memang menjadi sangat heran. Bagaimana mungkin anak yang masih sangat muda itu mampu berkelahi melawan Ki Santop dan Ki Dumi bersama-sama. Padahal menurut pengenalan mereka, Ki Santop dan Ki Dumi adalah orang-orang yang tidak terkalahkan oleh siapapun juga di dalam lingkungan kehidupan mereka. Apalagi anak-anak yang masih sangat muda itu. Namun mereka melihat satu kenyataan, bahwa anak muda itu memang mampu mengimbangi dua orang yang sangat mereka takuti di lingkungan mereka.

Sementara itu, Ki Santop dan Ki Dumi bertempur melawan Glagah Putih dengan mengerahkan segenap kemampuan mereka. Keduanya memang merasa sangat malu, bahwa mereka berdua tidak segera dapat mengalahkan lawannya yang masih sangat muda itu. Bahkan mereka merasa bahwa mereka masih belum mampu mengenai tubuh lawan mereka.

Namun betapa mereka mengerahkan tenaga dan kemampuan, mereka tidak dapat berbuat banyak. Lawan mereka dengan tangkas selalu berhasil menghindarkan diri dari serangan mereka berdua. Tetapi keduanya terkejut ketika satu kenyataan lagi telah terjadi. Justru serangan anak muda itulah yang berhasil mengenainya. Menyentuh tubuhnya, bahkan tidak hanya sekali atau karena kebetulan.

Ki Santop dan Ki Dumi mengumpat didalam hati. Namun mereka harus menghadapinya. Anak yang masih terlalu muda, tetapi mampu bergerak secepat burung sikatan menyambar belalang.

Glagah Putih memang telah sempat mengenai kedua lawannya. Tetapi ia tidak ingin menjatuhkan lawan-lawannya dengan sentuhan tangannya. Jika ia menyentuh lawannya, Glagah Putih sekedar memacu lawannya agar bertempur semakin cepat. Dengan demikian, diharapkan agar lawannya itu menjadi semakin cepat kehabisan tenaga.

Sebenarnyalah bahwa Ki Santop dan Ki Dumi telah mengerahkan segenap kemampuannya. Sentuhan-sentuhan tangan Glagah Putih memang memaksa untuk lebih banyak mengerahkan tenaga.

Ketika Glagah Putih kemudian sempat menyentuh kening Ki Dumi dengan ujung jarinya, maka iapun berdesis, “Kenapa kau tidak menangkisnya?“

“Persetan,“ geram Ki Dumi yang meloncat menerkam Glagah Putih.

Tetapi Glagah Putih meloncat ke samping. Demikian serangan Ki Dumi kehilangan sasaran, maka justru tangan kiri Glagah Putih terayun ke tengkuknya sambil berkata, “Jika aku memukul tengkukmu dengan sisi telapak tanganku ini dan apalagi dengan kekuatan yang besar, maka kau akan jatuh terjerembab. Wajahmu akan penuh dengan debu dan barangkali gigimu terantuk batu dan patah tiga buah sekaligus.“

“Anak setan,“ geram Ki Dumi.

Namun yang meloncat menyerang adalah justru Ki Santop. Kakinya terjulur menyamping, tepat ke arah punggung Glagah Putih. Namun Glagah Putih yang dapat menangkap gerak Ki Santop, sempat menghindari serangan itu. Dengan tangannya ia justru mengangkat kaki yang terjulur itu, begitu tiba-tiba.

Ki Santop terkejut. Demikian kakinya terangkat, maka ia tidak lagi dapat menjaga keseimbangannya, sehingga iapun telah jatuh terduduk. Ki Santop itu mengumpat kasar. Dengan tangkasnya ia meloncat berdiri.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang mengerumuni arena itu menjadi semakin heran. Meskipun sebagian besar dari mereka tidak mengetahui apa yang terjadi, namun mereka dapat juga melihat, bahwa dalam perkelahian itu Ki Santop dan Ki Dumi bersama-sama tidak segera dapat mengalahkan lawannya yang masih sangat muria itu. Bahkan beberapa kali keduanya telah terdesak, dan malahan mereka justru terjatuh dan tertatih-tatih kehilangan keseimbangan.

“Siapakah sebenarnya anak-anak muda itu?“ Pertanyaan itu mulai mengganggu orang-orang yang berada di sekitar arena itu. Bahkan beberapa orang menjadi ragu, bahwa anak-anak muda itu mempunyai niat buruk kepada seisi pasar itu.

Dalam pada itu, Raden Rangga menjadi gembira melihat permainan Glagah Putih. Iapun menyadari bahwa Glagah Putih memang tidak bersungguh-sungguh. Sebenarnya Glagah Putih akan dapat menghentikan perlawanan kedua orang lawannya itu kapan saja ia mau. Namun agaknya Glagah Putih memang menjaga agar kedua orang itu tidak kehilangan harga dirinya dan justru mendendamnya. Karena keduanya tidak akan mampu membalas saikit hatinya kepada Glagah Putih, maka orang-orang yang tidak berdaya ituiah yang akan dapat menjadi sasaran dendam mereka.

Sementara Glagah Putih masih berkelahi, maka Raden Rangga itu pun telah bergeser memasuki arena. Semakin lama semakin dekat. Bahkan kemudian ia hanya berdiri beberapa langkah saja dari mereka yang sedang berkelahi.

Orang-orang yang menyaksikan itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka tidak tahu, apakah anak yang lebih muda itu juga memiliki kemampuan seperti anak muda yang lebih besar, yang sedang berkelahi melawan dua orang yang dianggap memiliki ilmu yang sangat tinggi oleh orang-orang di sekitarnya.

“Anak itulah yang sebenarnya tadi berteriak mengejek Ki Santop dan Ki Dumi. Tetapi anak muda yang lebih besar ituiah yang mengakunya,“ berkata seorang di antara mereka yang berada di seputar arena itu.

“Ya,“ berkata yang lain, “agaknya anak itu memang nakal sekali. Sekarang ia menonton perkelahian itu sampai melekat di hidungnya. Jika terjadi salah langkah, maka itu adalah salahnya sendiri.”

Ternyata Raden Rangga justru telah berjongkok sambil menonton perkelahian antara Glagah Putih dengan kedua orang lawannya. Bahkan sekali-sekali Raden Rangga itu telah bertepuk tangan.

Sikapnya memang sangat menjengkelkan. Orang-orang yang berada di lingkaran sekitar arena itu bertambah cemas melihat anak muda yang berjongkok di dekat medan perkelahian. Apalagi anak itu seakan-akan sama sekali tidak menghiraukan bahaya yang mungkin dapat menimpanya.

Sikap Raden Rangga itu tidak lepas dari perhatian Ki Santop dan Ki Dumi yang selalu merasa terdesak. Apalagi ketika sentuhan-sentuhan tangan Glagah Putih semakin sering mengenai mereka. Bahkan kadang-kadang mulai terasa sakit.

Karena itu, tiba-tiba saja timbul niat yang licik di hati Ki Santop. Pada saat anak itu sama sekali tidak menghiraukan kemungkinan yang dapat terjadi atas dirinya, maka iapun berniat untuk menangkapnya dan menjadikannya perisai untuk memaksakan kehendaknya.

Karena itu, pada saat yang dianggapnya baik selagi Ki Dumi meloncat menjauh, sementara itu Glagah Putih memburunya, maka Ki Santop pun telah meloncat dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tiba-tiba saja ia telah menangkap tangan Raden Rangga dan memilinnya ke belakang.

Raden Rangga tidak melawan. Dibiarkannya tangannya terpilin. Sementara beberapa orang justru berdesis menahan jantung yang bergejolak.

”Anak itu,“ gumam pemilik warung.

“Nah,“ tiba-tiba Ki Santop tertawa berkepanjangan, “sekarang kau tidak dapat berlaku sombong lagi di hadapan kami.“

Glagah Putih termangu-mangu. Sementara itu Ki Dumi pun telah melangkah mengambil jarak.

Pertempuran kemudian terhenti. Ki Dumi yang berdiri beberapa langkah dari Ki Santop berkata, “Bagus. Ternyata kau mampu menangkap tikus kecil itu. Sekarang anak ini tidak dapat berbuat lain kecuali harus tunduk kepada perintah kita.“

“Ya,“ berkata Ki Santop, “kita dapat berbuat apa saja. Jika anak itu mencoba melawan, maka tangan anak ini akan aku patahkan.“

Glagah Putih masih saja termangu-mangu. Ia tidak mengerti niat Raden Rangga. Namun yang pasti, bahwa Glagah Putih sama sekali tidak mencemaskan nasibnya.

“Nah,“ berkata Ki Santop kemudian, “kau harus menuruti segala perintahku.“

Glagah Putih tidak menyahut. Tetapi dipandanginya wajah Ki Santop dengan tajamnya.

“Kemari!“ bentak Ki Santop tiba-tiba.

Glagah Putih masih tetap tidak menyahut. Tetapi ia tidak beranjak sama sekali dari tempatnya.

“Cepat kemari!“ bentak Ki Santop semakin keras, “Kau harus berjongkok, mencium kakiku dan kau harus minta maaf atas segala kesalahanmu.“

Glagah Putih masih tetap berdiri mematung.

Sementara itu Ki Santop telah menekan tangan Raden Rangga sambil berkata lantang, “Cepat, atau tangan anak ini aku putuskan.“

Yang terdengar adalah Raden Rangga berteriak, “Jangan!“

Tetapi sungguh di luar dugaan bahwa Glagah Putih justru bertanya kepada anak muda yang tangannya terpilin itu, “Apa yang jangan?“

Raden Rangga mengerutkan dahinya. Tetapi akhirnya ia tertawa tertahan sambil berdesis, “Anak setan.”

“Cepat berjongkok!“ Ki Santop hampir berteriak.

Karena Glagah Putih masih berdiri tegak, maka Ki Dumi pun mendekatinya. Dengan kasar ia telah mendorong Glagah Putih untuk mendekat dan kemudian berjongkok untuk mencium kaki Ki Santop.

Tetapi ternyata Glagah Putih tidak melakukannya. la memang terdorong maju selangkah. Tetapi ia telah berdiri lagi tegak seperti patung.

Ki Santop menjadi jengkel. Karena itu, maka sekaii lagi ia menekan tangan Raden Rangga keras-keras. Dan sekali lagi terdengar Raden Rangga itu berteriak, “Jangan!“

“Aku tidak peduli,“ geram Ki Santop, “jika kawanmu atau saudaramu itu tidak mau berjongkok dan mencium kakiku, maka tanganmu akan aku patahkan.“

“Lalu, apakah aku tidak akan memakai tangan lagi?“ bertanya Raden Rangga.

“Anak iblis!“ teriak Ki Santop sambil menekan tangan itu lebih keras lagi. “Aku tidak peduli bahwa tanganmu akan benar-benar patah.“

Namun Raden Rangga itu berteriak lagi. “Jangan!“

Ki Santop tidak menghiraukannya. Ia ingin menekan tangan itu semakin keras. Tetapi sesuatu terasa di dalam dadanya. Teriakan anak muda yang tangannya itu dipilinnya rasa-rasanva telah bergetar menusuk ke dalam dadanya. Sementara itu, terasa seakan-akan getaran yang asing merambat dari tangan anak yang dipilinnya itu, menyusup ke dalam darahnya dan mengalir pula ke jantungnya. Dengan demikian jantung orang itupun terasa menjadi sangat pedih.

Tetapi Ki Santop tidak segera mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Karena anak muda yang berkelahi melawannya itu tidak juga mau berjongkok di hadapannya dan mencium kakinya, maka iapun telah berusaha untuk memaksanya dengan menyakiti anak yang tangannya telah dipilinnya itu. Namun setiap kali ia menekan tangan itu, maka pedih di dadanya terasa semakin menusuk.

“Gila,“ katanya di dalam hati, “apa yang telah terjadi?“

Ki Dumi yang kemudian sekali lagi mendorong Glagah Putih, memang menjadi heran melihat sikap Ki Santop yang wajahnya tiba-tiba menjadi sangat tegang.

“Jangan menunggu kami marah,“ geram Ki Dumi, “cepat berjongkoklah!“

Ketika orang itu dengan keras dan kasar mendorong Glagah Putih sekali lagi, maka Glagah Putih memang telah berjongkok di hadapan Raden Rangga yang tangannya terpilin.

Namun adalah di luar dugaan Ki Dumi bahwa justru Ki Santop telah melepaskan tangan Raden Rangga sambil meloncat surut. Dengan kasar ia mengumpat.

“Kenapa?“ Ki Dumi menjadi heran.

Ki Santop memegangi tangannya yang dipergunakannya untuk memilin tangan Raden Rangga. Tetapi pada tangan itu tidak terasa sesuatu. Bahkan dadanya pun tidak lagi merasa tertusuk oleh perasaan pedih dan sakit.

“Aneh,“ desisnya.

Sementara itu Glagah Putih pun telah bangkit pula dan berdiri tegak memandangi Ki Santop yang termangu-mangu. Ki Dumi pun nampaknya menjadi bingung dan kurang tanggap, apakah sebenarnya yang telah terjadi.

“Apa yang aneh?“ bertanya Glagah Putih.

Ki Santop tidak segera menjawab. Diamatinya kedua anak muda itu dengan jantung yang berdebar-debar. Namun di dalam hatinya telah tumbuh satu keyakinan, bahwa kedua orang anak muda itu tentu bukan orang kebanyakan Karena itu, maka iapun kemudian melangkah mendekat sambil menarik nafas dalam-dalam. Nada suaranya pun telah berubah ketika kemudian iapun bertanya, ”Siapakan sebenarnya kalian, Anak Muda?“

Raden Rangga memandang orang itu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kami bukan siapa-siapa Ki. Sanak. Kami adatah pengembara yang menjelajahi bumi ini.”

Ki Dumi menjadi termangu-mangu. Apalagi orang-orang yang berada di sekitar arena itu. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Namun mereka melihat bahwa Ki Santop tidak lagi nampak terlalu garang.

Ki Dumi pun kemudian melangkah mendekat. Dengan nada ragu ia bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Kita harus melihat kenyataan,“ berkata Ki Santop, “aku yakin bahwa kedua anak muda ini memiliki kelebihan, dan bahkan mungkin keduanya adalah orang-orang yang terpilih dalam satu perjalanan untuk tugas-tugas tertentu.“

“Kenapa kau dapat mengambii kesimpulan begitu?” bertanya Ki Dumi.

“Apakah tidak terasa oleh kita,“ berkata K Santop, “apakah yang kita dapatkan selama kita bertempur untuk waktu yang sebenarnya sudah terlalu panjang. Aku yakin bahwa kita tidak akan dapat memenangkan pertempuran ini. Bahkan aku berpendapat, seandainya anak-anak muda ini mau bertindak lebih kasar, kita sudah dikalahkannya.“

Ki Dumi termangu-mangu, sementara itu Ki Santop menjelaskan, “Tangan yang aku pilin itulah yang menjelaskan segala-galanya. Jika semula kita masih bertahan bertempur berdua, akhirnya tangan yang terpilin itu memastikan aku, bahwa sebaiknya aku mengakui kenyataan ini.“

Ki Dumi menarik nafas. Sebenarnya iapun telah menduga, bahwa anak-anak muda itu bukan anak-anak muda kebanyakan sebagaimana mereka sangka semula. Namun dengan demikian maka Ki Dumi pun bertanya, “Jika demikian, apakah yang sebenarnya kalian kehendaki?“

“Tidak ada,“ jawab Raden Rangga, “aku hanya tidak senang melihat kalian berkelahi. Padahal kalian dapat bekerja bersama untuk justru mengamankan pasar ini atau pasar yang lain. Tetapi kalian malahan berkelahi. Apakah yang kalian dapatkan dari perkelahian ini?“

“Dumi berbuat kasar atas kemenakanku,“ jawab Ki Santop.

“Bukankah itu persoalan yang dapat terjadi pada anak-anak yang berkelahi karena berebut kemiri yang tidak mapan milik siapa?“ berkata Raden Rangga.

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Raden Rangga mulai bebicara dan bersikap lain.

Dalam pada itu Ki Santop dan Ki Dami mengangguk-angguk. Sementara Raden Rangga pun berkata, “Nah, bukankah banyak persoalan yang dapat kalian pecahkan jika kalian bekerja bersama? Mungkin pasar ini diganggu oleh orang-orang yang sering mencuri milik orang lain, atau gangguan-gangguan lain yang dapat kalian atasi bersama.“

Ki Santop menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Daerah ini semula aman Ki Sanak. Itulah sebabnya maka kami tidak mempunyai persoalan apapun juga dengan orang lain, sehingga kami telah membuat persoalan sendiri.”

“Kenapa semula?“ bertanya Raden Rangga.

Ki Santop termangu-mangu. Namun iapun kemudian mengatakan, “Memang akhir-akhir ini telah terjadi satu gangguan yang mencemaskan kami.”

“Gangguan apa? Jika demikian kenapa justru kalian tidak bersama-sama menghadapi gangguan itu, malahan kalian berselisih tentang sesuatu yang kurang pantas?” bertanya Raden Rangga.

“Gangguan itu hanya seperti air yang mengalir lewat dan kemudian kering kembali,“ jawab Ki Santop.

“Apa yang terjadi?“ bertanya Raden Rangga.

“Untuk beberapa hari ada empat orang yang tinggal di pasar Prembun,“ berkata Ki Santop, “mereka merampok dan mengambil uang orang-orang yang berada di pasar. Ketika aku mencoba mengatasi mereka, ternyata aku telah menjadi tertawaan mereka. Karena itu, maka akhirnya aku tidak dapat berbuat apa-apa.“

“Orang itu sekarang di mana?“ bertanya Raden Rangga.

“Kami di sini tidak mengetahuinya. Tetapi beberapa orang melihat empat orang itu pergi ke arah timur,“ jawab Ki Santop.

“Sepeninggal orang-orang itu kalian ingin menunjukkan kelebihan kalian kembali setelah kalian dikalahkan oleh keempat orang itu, agar kalian tetap disegani di daerah ini?“ bertanya Raden Rangga.

Ki Santop hanya menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun empat orang itu telah menarik perhatian. Ketika Raden Rangga minta keterangan lebih banyak lagi, maka ternyata bahwa empat orang itu tentu sebagian dari orang-orang yang telah berada di Mataram, namun kehilangan pimpinan mereka, sehingga mereka seperti semut yang diguncang sarangnya.

“Mereka pergi ke arah timur,“ desis Raden Rangga, “tentu satu usaha untuk melaporkan keadaan mereka di Mataram.“

“Apakah kalian mengenai mereka?“ bertanya Ki Dumi.

Tetapi Raden Rangga menggeleng. Katanya, “Aku hanya mendengar beberapa cerita tentang orang-orang seperti itu.“

“Nah, itulah yang dapat kami beritahukan. Kami berkelahi karena kami masih ingin menunjukkan bahwa kami adalah orang-orang yang harus ditakuti. Namun ternyata bahwa kami tidak mampu berbuat sesuatu di hadapan kalian. Namun ada sedikit keraguan pada kami, bukankah kalian tidak termasuk orang-orang sebagaimana keempat orang itu?“ bertanya Ki Santop kemudian.

“Apakah ujud dan sikap kami mendekati orang-orang yang kau katakan itu?“ bertanya Raden Rangga.

“Tidak, sama sekali tidak,“ jawab Ki Santop.

“Nah, jika demikian maka kalian dapat menilai kami berdua,“ jawab Raden Rangga. “Tetapi apakah kalian dapat memberikan petunjuk, kemana keempat orang itu pergi?“

“Kami mendapat keterangan dari orang yang melihatnya, bahwa empat orang itu telah meninggalkan daerah ini lewat Padukuhan Patran dan kemudian melalui Sawit.“

Raden Rangga mengangguk-angguk. Meskipun ia belum tahu pasti letak kedua padukuhan itu, namun Raden Rangga yakin bahwa jalan yang ditempuh oleh orang-orang itu adalah justru menuju ke Timur, yang mungkin akan dapat memberikan paling tidak petunjuk arah. Karena itu, maka Raden Rangga pun telah minta kepada Ki Santop dan Ki Dumi untuk memberikan ancar-ancar padukuhan yang dilalui oleh orang-orang yang ternyata telah melakukan perampasan di jalan-jalan yang dilewatinya.

“Terima kasih,“ berkata Raden Rangga, yang kemudian berpaling kepada Glagah Putih, “kita akan mengikuti perjalanan mereka.”

“Untuk apa?“ bertanya Ki Santop.

Raden Rangga mengerutkan keningnya. Namun dengan nada rendah ia kemudian berkata, “Bukankah tidak pantas jika orang-orang itu merampas di sepanjang perjalanan mereka?“

Ki Santop dan Ki Dumi mengangguk-angguk. Sementara itu Raden Rangga pun berkata, “Sudahlah. Kami minta diri. Sebenarnya kami sekedar singgah untuk makan. Namun kami telah terlibat dalam persoalan kalian. Syukurlah jika kalian dapat mencari jalan pemecahan yang baik dari persoalan yang kalian hadapi.“

Ki Santop dan Ki Dumi tidak menjawab. Tetapi keduanya mengangguk-angguk kecil.

Namun ketika Raden Rangga dan Glagah Putih mulai beringsut, Ki Santop berkata, “Terima kasih Anak-anak Muda. Kalian telah memberikan peringatan dengan cara yang cukup keras namun mampu menyentuh perasaan kami. Kekalahan kami dari kalian, sama sekali tidak menimbulkan dendam. Berbeda dengan kekalahanku dari keempat orang-orang yang telah pergi ke arah timur itu. Jika aku mampu, rasa-rasanya aku ingin membunuh mereka.“

“Lupakan mereka,“ berkata Raden Rangga, “seandainya ada lagi orang-orang seperti itu datang, jangan kau lawan. Atau jika kalian memang ingin mengusir mereka, maka semua orang padukuhan harus ikut serta. Namun kalian harus memperhitungkan korban yang mungkin jatuh. Untuk membunuh empat orang di antara orang-orang seperti yang kau katakan itu, diperlukan kekuatan yang cukup besar. Bahkan korban yang jatuh pun tidak akan kurang dari sepuluh orang. Bahkan mungkin akan dapat berlipat dua.”

Ki Santop dan Ki Dumi mengangguk-angguk pula. Sementara itu Raden Rangga berkata, “Hati-hatilah. Sementara itu, kami akan berjalan menyusuri jejak mereka. Tetapi, kapan mereka meninggalkan tempat ini?”

“Sudah tiga atau empat hari yang lalu,“ jawab Ki Santop.

Raden Rangga mengerutkan keningnya. Mungkin orang-orang itu telah meninggalkan Mataram lebih dahulu dari orang-orang yang terbunuh di keramaian Merti Desa itu.

Demikianlah, maka Raden Rangga dan Glagah Putih telah meninggalkan pasar itu. Mereka berusaha untuk menelusuri jalan yang melewati Padukuhan Patran dan kemudian Sawit.

“Jika mungkin kita akan mengikuti perjalanan mereka,“ berkata Raden Rangga. “Memang sulit, dan mungkin kita akan kehilangan jejak. Tetapi mudah-mudahan orang-orang itu sempat menarik perhatian orang banyak di sepanjang perjalanannya, sehingga memberikan kemungkinan kepada kita untuk mengikutinya.“

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Bukan mustahil. Tetapi kemungkinan lain dapat terjadi.“

Raden Rangga mengangguk-angguk. Namun keduanya berniat untuk mencobanya.

Seperti yang diberitahukan oleh Ki Santop dan Ki Dumi, maka mereka pun telah melewati beberapa bulak pendek dan Padukuhan Patran. Akhirnya mereka memasuki lingkungan Padukuhan Sawit.

Memang sulit bagi Raden Rangga dan Glagah Putih untuk mendapat keterangan tentang empat orang yang pernah melewati padukuhan itu. Jalan yang paling mudah ditempuhnya adalah berbicara dengan orang-orang padukuhan itu.

Namun seharusnyalah bahwa pembicaraan itu tidak justru menarik perhatian mereka. Karena itu, maka Raden Rangga dan Glagah Putih pun ketika melewati sebuah warung singgah pula sejenak, meskipun sebenarnya mereka masih kenyang. Namun Raden Rangga berkata, “Aku merasa sangat haus.“

Glagah Putih hanya tersenyum saja. Hampir saja ia menjawab, bahwa biasanya mereka dapat minum dari air belik di tepian.

Sebenarnyalah, bahwa ketika mereka berada di dalam kedai, mereka sempat memancing pembicaraan tentang empat orang yang pernah melewati padukuhan itu.

“Mereka singgah di warung ini pula,“ berkata pemilik warung itu.

“O, mereka berhenti untuk makan dan minum?“ bertanya Raden Rangga.

“Ya, meskipun agaknya mereka tidak begitu berselera,“ jawab pemiliknya.

“Jadi, untuk apa mereka singgah? Apakah mereka sekedar ingin beristirahat, atau barangkali haus atau kepentingan yang lain?“ bertanya Raden Rangga pula.

“Mereka memerlukan uang,“ jawab pemilik warung itu, “semua uangku yang ada pada waktu itu telah diambilnya tanpa tersisa sekeping pun.“

Raden Rangga dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba mereka melihat pemilik warung itu menjadi tegang sambil bertanya, “Tetapi siapakah kalian ini?“

“Aku bukan kawan mereka,“ jawab Raden Rangga, “aku mendengar tentang empat orang itu di padukuhan di dekat pohon Mancawarna itu. Ternyata keempat orang itu telah memeras beberapa orang yang sedang berada di pasar.“

“Pasar Mancawarna?“ bertanya seseorang.

“Tidak,“ Glagah Putihlah yang menyahut, “tetapi di Pasar Prembun.“

Pemilik warung itu mengangguk-angguk. Namun iapun masih juga bertanya, “Apakah kalian berkepentingan dengan keempat orang itu?“

Raden Rangga menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Glagah Putih menjawab, “Tingkah mereka tidak menyenangkan.“

“Tetapi apa yang dapat kalian perbuat terhadap mereka?“ bertanya pemilik warung itu.

“Setidak-tidaknya aku dapat melaporkannya,“ jawab Glagah Putih pula.

“Lapor kepada siapa? Bebahu padukuhan? Atau bebahu kademangan? Mereka bertindak cepat dan kasar. Bahkan mungkin Ki Demang dan Ki Jagabaya tidak akan dapat mengatasi mereka berempat. Nah, kenapa di Prembun mereka tidak ditangkap?“ desak pemilik warung itu.

Glagah Putih mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Tidak seorangpun yang mampu menangkapnya di Prembun.“

“Kalau begitu, yang kau lakukan adalah sia-sia saja,“ berkata pemilik warung itu.

Glagah Putih tidak menyahut. Menurut jalan pikiran pemilik warung itu, yang akan dilakukan memang sia-sia. Dan Glagah Putih tidak membantah.

Demikianlah, maka sejenak kemudian kedua orang anak muda itu telah minta diri setelah membayar harga minuman yang telah mereka teguk dan sepotong kecil makanan yang telah mereka makan.

Namun di pintu mereka masih mendengar pemilik warung itu berkata, “Anak-anak Muda. Jika kalian tidak berkepentingan langsung, jangan hiraukan orang-orang itu. Mereka adalah orang-orang yang berbahaya.“

“Baiklah. Terima kasih atas peringatan ini,“ jawab Glagah Putih.

Pemilik warung itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Anak-anak muda itu agaknya memang senang bertualang. Tetapi ia akan membentur batu jika ia mengikuti keempat orang yang pergi ke arah timur itu.“

Namun agaknya Raden Rangga dan Glagah Putih tidak menghentikan usahanya. Mereka menjadi semakin yakin bahwa jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang pernah dilalui keempat orang itu. Namun untuk seterusnya keduanya tidak tahu kemana keempat orang itu pergi. Pemilik warung itupun tentu tidak tahu pula, sementara itu pemilik warung itu tidak akan memberitahukan pula seandainya ia mengetahuinya. Meskipun maksudnya baik, sebagaimana pemilik warung di padukuhan yang pernah dilaluinya di dekat pohon Mancawarna itu.

Adalah kebetulan bahwa Raden Rangga dan Glagah Putih kemudian duduk di samping orang itu dan berbicara tentang empat orang yang diikutinya itu. Maka orang itu pun mengangguk-angguk sambil menjawab, “Seisi padukuhan ini menjadi ketakutan ketika berita tentang empat orang itu tersebar. Tetapi empat orang itu hanya merampas uang di kedai itu saja dan pergi meninggaikan padukuhan ini.”

“Mereka pergi ke arah mana Ki Sanak?“ bertanya Raden Rangga.

“Mereka pergi ke padukuhan sebelah. Padukuhan di seberang hutan panjang itu,“ jawab petani itu.

“Terima kasih,“ berkata Raden Rangga yang kemudian bersama Glagah Putih meninggaikan orang itu termangu-mangu.

Ternyata di setiap padukuhan keempat orang itu telah melakukan perampasan. Namun dengan demikian telah mempermudah usaha Raden Rangga dan Glagah Putih untuk menelusuri jalannya. Namun Raden Rangga dan Glagah Putih pun kemudian menjadi berdebar-debar. Ternyata jalan yang ditempuh oleh orang itu menuju ke Jati Anom.

“Mereka pergi ke Jati Anom,“ berkata Raden Rangga sambil mengerutkan keningnya, “agaknya mereka masuk ke daerah yang berbahaya, Seharusnya hal itu mereka sadari.“

“Mungkin mereka tidak berbuat apa-apa di Jati Anom,“ berkata Glagah Putih.

“Mungkin,“ Raden Rangga mengangguk-angguk.

“Jadi bagaimana dengan kita? Apakah kita akan pergi ke Jati Anom pula?“ bertanya Glagah Putih.

“Kita mengikuti jalan yang ditempuh orang-orang itu,“ berkata Raden Rangga.

Sebenarnyalah jalan yang ditelusuri oleh keempat orang itu ternyata menuju ke Jati Anom. Tetapi mereka singgah di beberapa padukuhan untuk melakukan perampasan terhadap orang-orang yang dianggapnya kaya.

“Kita akan dapat menyusul mereka,“ berkata Raden Rangga.

“Mudah-mudahan,“ jawab Glagah Putih, “tetapi jika kita kemudian hanya membunuh mereka, maka keempat orang itu tidak ada gunanya bagi kita.“

Raden Rangga mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil menyahut, “Baiklah. Kita tidak akan membunuh mereka jika kita bertemu dengan mereka. Di dua padukuhan yang baru saja kita lewati, orang-orang itu telah bermalam. Dengan demikian maka jarak kita menjadi sangat pendek.“

“Di depan kita adalah jalan menurun. Kita akan sampai ke Bodeh dan kemudian melewati hutan kecil itu, kita akan sampai ke daerah Kedung Aren, padukuhan di sebelah Banyu Asri,“ berkata Glagah Putih.

“Ya. Kau tentu mulai mengenali padukuhan-padukuhan yang akan kita lewati,“ berkata Raden Rangga “meskipun aku juga mengenalnya, tetapi aku tidak tahu nama-namanya.“

Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia memang mengenali jalan yang terbentang di hadapan mereka. Bahkan beberapa jalur jalan yang lain yang menuju ke Jati Anom pun telah dikenalinya pula.

Demikianlah, maka mereka berjalan terus. Perjalanan yang ditempuh, oleh orang yang diikutinya selama tiga atau empat hari, dapat mereka capai dalam waktu yang tidak terlalu lama, sehingga hari itu juga mereka berharap untuk dapat menyusul keempat orang itu.

Namun ketika mereka sampai di sebuah padukuhan, kedua anak muda itu berdebar-debar. Ternyata keempat orang itu tidak mengambil jalan lurus ke Jati Anom, tetapi mereka telah membelok ke kanan.

“Mereka ternyata telah menghindari Jati Anom,“ berkata Glagah Putih.

“Ya,“ jawab Raden Rangga, “betapapun bodohnya mereka, mereka tentu pernah mendengar tentang kekuatan Mataram yang ada di Jati Anom. Karena itu, maka mereka telah menghindarinya.“

“Kita juga menghindarinya?“ bertanya Glagah Putih.

“Kita mengikuti saja kemana orang-orang itu pergi,“ jawab Raden Rangga.

Sebenarnyalah dari seorang petani mereka mendapat petunjuk, bahwa keempat orang yang telah melakukan perampasan itu telah dilihat oleh dua orang petani yang sedang berada di sawah menuju ke arah selatan, sehingga dengan demikian mereka tidak menuju ke Jati Anom, meskipun jaraknya dengan Jati Anom sudah cukup dekat.

Demikianlah, maka Raden Rangga dan Glagah Putih pun telah mengikuti arah perjalanan keempat orang itu. Mereka memang tidak pergi ke Jati Anom. Namun ternyata jalan yang mereka lalui telah melingkar dan turun di Macanan.

Menurut beberapa petunjuk maka ternyata keempat orang itu telah menuju ke Sangkal Putung. Dengan demikian maka Raden Rangga dan Glagah Putih itu pun telah menuju ke Sangkal Putung pula. Mungkin keempat orang itu akan menghindari Kademangan Sangkal Putung pula.

“Mungkin keempat orang itu akan menghindari Kademangan Sangkal Putung itu sendiri. Tetapi mereka akan melalui Kademangan tetangganya,“ berkata Glagah Putih.

Raden Rangga mengangguk-angguk. “Namun kemungkinan yang lain masih dapat terjadi.”

Ternyata bahwa perjalanan Raden Rangga dan Glagah Putih pun merupakan perjalanan yang lambat. Ketika mereka memasuki Sangkal Putung maka langit pun telah mulai menjadi gelap.

“Sulit untuk mencari warung yang masih terbuka,“ berkata Glagah Putih.

“Kita akan pergi ke sebuah banjar padukuhan. Jangan di padukuhan induk,“ berkata Raden Rangga, “kita mohon untuk dapat bermalam di padukuhan itu, sambil mencari keterangan tentang empat orang yang mungkin masih berada di Sangkal Putung pula.”

Glagah Putih merasa ragu. Katanya, “Jika empat orang itu berada di Sangkal Putung pula, maka mungkin akan timbul kecurigaan terhadap kita jika keempat orang itu berbuat sesuatu.“

Raden Rangga mengangguk-angguk. Katanya, “Aku setuju. Jadi kita akan bermalam di luar padukuhan? Di pinggir hutan misalnya, atau dimana saja, asal di dalam lingkungan Kademangan Sangkal Putung?”

Glagah Putih termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kita akan berada di lingkungan Kademangan Sangkal Putung, meskipun kita tidak tahu di sebelah mana orang-orang itu bermalam, atau mungkin justru telah meninggalkan Sangkal Putung.“

“Tetapi agaknya mereka belum berbuat sesuatu di sini,“ berkata Raden Rangga, “tidak seorangpun yang tanggap tentang kehadiran empat orang itu. Kita sudah berbicara dengan lebih dari seorang di padukuhan sebelah, yang termasuk lingkungan Sangkal Putung pula. Sedangkan di padukuhan sebelumnya, menjelang kita masuk Kademangan ini, hampir setiap orang telah membicarakannya, karena empat orang itu telah melakukan satu perbuatan yang menarik perhatian. Merampok dan merampas. Justru dalam keadaan tenang seperti ini, merampok dan merampas merupakan pekerjaan yang dengan cepat menjadi bahan pembicaraan.“

Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun iapun sadar, jika orang-orang itu tidak berbuat sesuatu di Sangkal Putung dan apalagi untuk seterusnya, maka ia dan Raden Rangga akan kehilangan jejak, sehingga mereka berdua benar-benar harus menelusuri jalan yang belum pernah mereka kenal.

Demikianlah, maka malam itu Glagah Putih dan Raden Rangga memang berada di Sangkal Putung. Tetapi mereka tidak berada di banjar padukuhan itu, namun mereka berada di sebuah hutan kecil yang menjorok memasuki lingkungan Kademangan Sangkal Putung.

Namun ketika malam menjadi semakin malam, keduanya telah meninggaikan hutan itu dan berjalan menyusuri pategalan mendekati padukuhan yang berada di sebelah padukuhan induk kademangan. Tidak ada yang menarik. Semuanya nampak hitam dan sepi. Namun dari kejauhan mereka melihat cahaya obor di mulut lorong padukuhan, terpancang di atas regol.

Untuk beberapa saat keduanya duduk di ujung pategalan di atas rerumputan, sambil memandangi padukuhan yang agaknya telah tertidur nyenyak itu.

Sebenarnyalah bahwa saat itu empat orang yang diikuti oleh Raden Rangga dan Glagah Putih masih berada di Sangkal Putung. Mereka telah meninggalkan sebuah padukuhan yang ramai setelah berhasil merampas benda-benda berharga dari sebuah rumah di padukuhan itu. Padukuhan yang juga disinggahi oleh Raden Rangga dan Glagah Putih, justru setelah lewat padukuhan di ujung Kademangan Pakuwon, dan menjelang mereka turun ke Macanan. Bahkan di padukuhan itu keempat orang itu telah bermalam. Di siang hari keempat orang itu menunggu di pinggir hutan. Baru menjelang malam mereka memasuki Sangkal Putung. Hampir bersamaan waktunya dengan Raden Rangga dan Glagah Putih. Namun dari jurusan yang berbeda.

Ternyata keempat orang itu tidak begitu mengenal keadaan Kademangan Sangkal Putung. Mereka menganggap bahwa Sangkal Putung tidak berbeda dengan kademangan-kademangan lain yang pernah mereka lalui.

Setelah mereka menghindari Jati Anom, yang mereka dengar memiliki kekuatan yang tinggi karena sepasukan prajurit berada di kademangan itu, apalagi dipimpin oleh seorang senapati yang namanya banyak dikenal, Untara, maka mereka berusaha untuk menguras padukuhan-padukuhan yang mereka lewati, termasuk Sangkal Putung.

Namun agaknya keempat orang itu telah terbentur para pengawal Kademangan Sangkal Putung. Berbeda dengan anak-anak muda padukuhan yang lain, yang hampir tidak berani berbuat sesuatu, namun anak-anak muda Sangkal Putung tidak demikian.

Ketika keempat orang itu memasuki halaman rumah seorang yang diduganya cukup berada, maka dua orang peronda telah melihat mereka. Dengan berani kedua orang anak muda itu telah menegur keempat orang itu, apakah maksud mereka memasuki halaman rumah seseorang di malam hari.

“Apakah kalian masih sanak kadang pemilik rumah itu?“ bertanya salah seorang di antara kedua anak muda itu.

Keempat orang itu termangu-mangu sejenak. Namun sikap mereka memang mencurigakan. Karena itulah, maka kedua orang anak muda menjadi berhati-hati menghadapi mereka.

“Siapakah kalian berdua?“ bertanya salah seorang di antara keempat orang itu.

“Kami pengawal kademangan ini,“ jawab salah seorang dari keduanya, “dan siapakah kalian?“

Sejenak keempat orang itu tercenung. Namun kemudian seorang di antaranya berkata, “Kami adalah saudara sepupu pemilik rumah ini. Kami berasal dari tempat yang jauh. Ada keperluan penting yang ingin kami sampaikan kepadanya.“

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Namun seorang di antara mereka bertanya, “Jika kalian memang saudara sepupunya, siapakah nama pemilik rumah ini?“

Orang yang menyebut sepupunya itu memang menjadi agak bingung. Tetapi kemudian menyebut, “Namanya Gangsal. Ia adalah anak kelima dari saudara-saudaranya. Itu nama kecilnya. Aku tidak tahu namanya setelah ia berkeluarga.“

Kedua anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seorang di antaranya berkata, “Aku kira namanya bukan Gangsal. Atau barangkali aku yang kurang tahu.”

“Ya. Kau memang kurang tahu,“ jawab orang yang dicurigai itu.

Anak muda itu mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Tetapi kenapa kalian datang pada saat begini?”

“Kami berjalan sepanjang hari. Kami memang mempunyai keperluan yang sangat penting,“ jawab orang itu.

Anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika memang kalian termasuk sanak kadangnya, silahkan.“

Kedua anak muda itupun kemudian beranjak untuk meninggalkan mereka. Sementara seorang di antara anak muda itu tidak begitu mengerti maksud kawannya. Namun karena kawannya mengajaknya pergi, maka keduanya pun telah melangkah meninggalkan keempat orang itu.

Namun tiba-tiba orang tertua dari keempat orang itu berkata, “Mereka cukup berbahaya.“

“Apakah kita akan menyelesaikan mereka?“ bertanya salah seorang yang lainnya.

Orang tertua itu mengangguk. Sementara itu, seorang kawannya telah menghentikan kedua pengawal itu, “Ki Sanak, berhentilah.“

Kedua pengawal itu memang berhenti. Namun seorang berdesis kepada kawannya, “Cepat, capai kentongan di regol itu jika perlu.“

Namun kawannya itu tidak perlu mengulangi. Ketika kedua anak muda itu melihat seorang di antara keempat orang itu mencabut senjatanya, maka anak muda yang seorang dengan serta merta telah berlari ke regol halaman. Dengan cepat digapainya kentongan kecil yang tergantung, diregol dan dengan sekuat tenaga kentongan itu dipukulnya dengan nada titir.

Keempat orang itu terkejut. Mereka tidak mengira, bahwa hal itu akan dilakukan. Karena itu, maka keempat orang itu pun telah menjadi sangat marah.

Namun yang tertua di antara mereka berkata, “Anak-anak gila. Kita tidak usah berkeberatan jika kawan-kawannya datang. Kita akan membunuh. Berapapun sampai yang lain-lain melarikan diri.“

Kawan-kawannya menarik nafas dalam-dalam. Seorang di antara mereka berkata, “Sudah lama senjataku tidak minum darah. Agaknya sudah datang waktunya aku memberinya minum lagi.“

Keempat orang itu ternyata tidak menjadi bingung mendengar suara kentongan dengan nada titir. Suara kentongan kecil yang tidak begitu keras. Namun ternyata bahwa suara kentongan itu memanggil empat orang dari gardu, sementara yang lain tetap berada di gardu untuk menjaga segala kemungkinan. Namun yang tinggal di gardu itu pun membunyikan kentongan pula dengan nada yang sama.

Ketika keempat orang yang berlari ke arah suara kentongan itu sampai ke tujuan, yang ditemuinya dua orang kawannya yang dengan susah payah bertahan menghadapi dua orang dari antara empat orang yang memasuki halaman itu. Jika keempat orang kawan-kawannya dari gardu itu tidak segera datang, maka kedua orang itu sudah tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Bahkan seorang di antara mereka pada benturan pertama telah terluka. Pundaknya telah terkoyak dan mengucurkan darah yang hangat. Sementara yang seorang lagi benar-benar telah terdesak dan sulit untuk dapat melepaskan diri.

Kentongan kecil yang berhasil memanggil keempat orang dari gardu itu telah tergolek di tanah, sementara pengawal yang membunyikannya telah terluka di pundaknya.

Keempat orang itu pun segera terjun ke arena. Namun dua orang kawan dari mereka yang berkelahi itupun tidak membiarkan kawan-kawannya harus bertempur melawan enam orang. Karena itu, maka keduanya pun segera telah turun pula ke arena.

Sebenarnyalah meskipun berenam, melawan empat orang yang garang itu mereka telah terdesak. Namun keenam orang itu adalah pengawal Kademangan Sangkal Putung yang pernah mengalami pertempuran yang keras, sehingga karena itu, maka mereka pun telah bertahan tanpa gentar.

Tetapi adalah satu kenyataan, bahwa keempat orang yang mereka curigai itu memiliki ilmu yang tinggi, sehingga karena itu, maka keenam orang itu benar-benar telah terdesak. Seorang lagi di antara mereka telah terluka pula di lengan. Bahkan seorang lagi lambungnya telah tersentuh senjata pula.

Namun dalam pada itu, pemilik rumah yang mendengar hiruk-pikuk di halaman itu pun telah terbangun pula. Ketika ia mengintip dari sela-sela pintu, dilihatnya dalam keremangan malam, perkelahian telah terjadi di halaman. Tanpa berpikir lagi, maka orang itupun telah mengambil kentongan di longkangan dan membunyikannya pula.

Orang-orang yang berada di gardu menjadi cemas. Kentongan yang semula telah berhenti, ternyata terdengar lagi dalam nada yang sama. Karena itu, ketika sekelompok anak-anak muda yang mendengar suara kentongan di gardu telah berdatangan, dengan serta merta telah menyusul ke suara kentongan di tempat pertempuran itu terjadi.

Beberapa anak muda telah memasuki halaman. Sementara itu orang tertua di antara keempat orang itu berkata, “Marilah. Semakin banyak kalian datang, semakin banyak korban yang akan jatuh. Siapakah yang ingin cepat mati, tampillah di depan. Tetapi siapa yang ingin selamat, tinggalkan tempat ini.“

Para pengawal Kademangan Sangkal Putung memang berbeda dengan anak-anak muda di padukuhan lain yang pernah dilalui oleh keempat orang itu. Meskipun beberapa orang telah terluka, tetapi anak-anak muda itu sama sekali tidak menjadi gentar dan apalagi melarikan diri.

“Anak-anak setan,“ geram orang tertua di antara keempat orang itu.

Namun anak-anak Sangkal Putung itu bertempur terus dengan gigihnya.

Meskipun demikian keempat orang itu ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi bagi para pengawal. Beberapa orang yang telah terlempar dari arena, harus dipapah menepi. Sementara yang lain mengalir memasuki halaman. Namun seperti yang dikatakan oleh keempat orang itu, korban akan berjatuhan.

Tetapi karena anak-anak muda Sangkal Putung mempunyai pengalaman bertempur, sehingga karena itu maka korban pun pada umumnya masih dapat diselamatkan jiwanya. Kawan-kawannya yang lain dengan cepat mengambil alih lawan mereka yang terluka, dan bahkan yang lain lagi telah melindunginya dan menyelamatkannya.

Meskipun yang datang ternyata semakin banyak, tetapi sulit bagi anak-anak muda Sangkal Putung yang mempunyai pengalaman bertempur itu untuk mengalahkan keempat lawan mereka yang tangguh itu. Bahkan satu demi satu, para pengawal itu telah terluka.

Sementara itu, Raden Rangga dan Glagah Putih yang mendengar suara kentongan itu, menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah Raden Rangga berkata, “Mereka masih berada di kademangan ini.“

“Sebaiknya kita mendekati padukuhan itu,“ berkata Glagah Putih, “ternyata bukan di padukuhan ini mereka bermalam. Tetapi masih di lingkungan Kademangan Sangkal Putung.“

Kedua anak itu pun kemudian bergeser lewat jalan sempit di antara pategalan dan sawah menuju ke padukuhan yang memberikan isyarat pertama-tama, karena kemudian isyarat kentongan itu telah menjalar ke padukuhan-padukuhan yang lain, bahkan di padukuhan induk. Hanya dengan isyarat sandi pada nada pukulan sajalah, orang-orang di Kademangan Sangkal Putung yang tidak mendengar sumber suara kentongan, dapat mengenali dari manakah asalnya isyarat itu.

Namun Raden Rangga dan Glagah Putih telah mendengar arah suara kentongan yang pertama didengarnya, sehingga merekapun telah mendengar arah kemana mereka harus pergi.

Untuk beberapa saat Raden Rangga dan Glagah Putih menunggu di luar padukuhan. Mereka ingin menjajagi apakah yang sebaiknya mereka lakukan.

Namun tiba-tiba keduanya menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat tiga ekor kuda berpacu memasuki padukuhan itu.

Dalam keremangan malam Glagah Putih dan Raden Rangga dengan pandangan matanya yang tajam sempat mengenali orang yang berkuda di paling depan.

“Kakang Swandaru,“ desis Glagah Putih.

Raden Rangga pun mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang Swandaru.“

“Sebaiknya kita memasuki padukuhan itu,“ berkata Glagah Putih.

“Lewat regol?“ bertanya Raden Rangga.

“Tidak,“ jawab Glagah Putih, “kita masuk dengan diam-diam. Kita melihat apa yang terjadi.“

Raden Rangga mengangguk-angguk. Dalam kegelisahan, keduanya bergeser mendekati padukuhan. Justru karena perhatian para pengawal tertuju kepada peristiwa yang sedang terjadi di padukuhan itu, maka tidak seorang pun yang sempat melihat kehadiran Raden Rangga dan Glagah Putih.

“Kita cari dimana keempat orang itu berada. Tentu telah terjadi pertempuran melawan para pengawal Sangkal Putung. Bahkan dengan Kakang Swandaru,“ berkata Glagah Putih.

Dengan diam-diam kedua orang itu pun telah menyusup di antara halaman rumah yang luput dari perhatian para pengawal. Menilik gerak anak-anak muda yang berlari-lari di jalan padukuhan, Raden Rangga dan Glagah Putih mendapat petunjuk arah kemana ia harus pergi.

Sebenarnyalah, beberapa puluh langkah kemudian maka mereka telah melihat sebuah halaman yang penuh dengan anak-anak muda. Bahkan dari atas dinding halaman sebelah yang terlindung dedaunan yang agak rimbun kedua orang anak muda itu dapat melihat apa yang terjadi di halaman itu.

Beberapa orang yang mengerumuni keempat orang itu terpaksa setiap kali berloncatan surut. Bahkan mereka sempat melihat dua orang anak muda yang terlempar keluar dari arena karena dua orang di antara keempat orang itu berhasil melukai dua orang lawan mereka.

Sementara itu, keempat orang itu justru menjadi semakin garang, sehingga anak-anak muda dari Sangkal Putung itu pun menjadi semakin berhati-hati untuk mendekat.

Pada saat yang demikian, halaman itu sudah digetarkan oleh suara cambuk yang melengking tinggi. Rasa-rasanya udara sepadukuhan itu telah ikut tergetar pula karenanya. Suara cambuk itu memang mengejutkan. Swandaru yang telah meloncat turun dari kudanya itupun telah menyibak anak-anak muda yang sedang mengepung keempat orang itu.

Dalam pada itu Glagah Putih yang mendapat kesempatan melihat lebih banyak berdesis, “Kakang Swandaru ternyata datang bersama Mbokayu Pandan Wangi.“

Raden Rangga mengangguk-angguk. Ternyata seorang dari penunggang kuda itu adalah seorang perempuan.

“Minggir!“ terdengar suara Swandaru lantang.

Anak-anak muda Sangkal Putung pun telah bergeser menepi. Keempat orang yang dikepung itu pun ternyata terkejut juga mendengar suara cambuk Swandaru. Sejenak kemudian dua orang telah muncul di antara anak-anak muda pengawal kademangan yang bergeser menepi itu. Seorang laki-laki yang menjinjing cambuk di tangannya dan seorang perempuan yang membawa sepasang pedang di kedua lambungnya. Keempat orang itu menjadi tegang. Sikap kedua orang itu memang berbeda dari sikap para pengawal.

Karena itu, orang tertua di antara keempat orang itu bertanya, “Siapa kau, he?“

“Swandaru,“ jawab Swandaru pendek, “ini istriku.”

“Untuk apa kau datang kemari?“ bertanya orang tertua itu pula.

“Aku anak Demang Sangkal Putung. Nah, kau tentu tahu, untuk apa aku dan istriku serta Ki Jagabaya datang ke tempat ini,“ jawab Swandaru. “Karena itu, menyerahlah. Ulurkan tanganmu untuk diikat.“

“Gila,“ geram orang itu, “kau lihat, berapa banyak korban yang telah jatuh. Jika kau, anak Demang Sangkal Putung, ingin melengkapi korban, marilah. Majulah.“

Swandaru yang marah itu membentak. “Jangan banyak bicara! Menyerah atau aku hancurkan kalian berempat.“

Tetapi empat orang itu adalah orang yang kasar. Karena itu, maka seorang di antaranya telah mengumpat dan berkata, “Tundukkan kepalamu. Aku akan memotongnya seperti memotong kepala seekor ayam.“

Swandaru tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Namun ia masih berusaha untuk mengetahui keadaan keempat orang itu. Karena itu, maka meskipun suaranya menjadi gemetar oleh kemarahan, ia masih juga bertanya, “Siapakah sebenarnya kalian berempat, dan untuk apa kalian datang di kademangan ini pada saat seperti ini?“

“Kami ingin menguras kekayaan yang ada di kademangan ini. Adalah kebetulan jika kau, anak Demang Sangkal Putung dan Ki Jagabaya ada di sini. Jika kami segera dapat menyelesaikan kalian, maka kami akan dapat mengambil isi kademangan ini, apa saja yang kami sukai,“ jawab orang tertua di antara keempat orang itu.

Namun suaranya terputus ketika mereka mendengar ledakan cambuk Swandaru yang rasa-rasanya telah mengoyakkan daun telinga.

Keempat orang itu semakin heran ketika mereka melihat kedua orang suami istri itu mulai melangkah berpencar.

Raden Rangga dan Glagah Putih telah mencari tempat yang lebih baik agar mereka dapat melihat semua peristiwa yang terjadi di halaman itu. Mereka tidak merasa cemas bahwa mereka akan menarik perhatian, karena seluruh perhatian tertuju kepada peristiwa di halaman yang luas dari sebuah rumah yang dianggap milik seorang yang kecukupan itu.

“Apa yang akan kau lakukan?“ orang tertua dari keempat orang itu bertanya.

“Gila!“ bentak Swandaru, “Kau masih bertanya.“

“Maksudku, perempuan ini,“ sahut orang itu.

“Jawab, Pandan Wangi,“ Swandaru hampir berteriak.

Pandan Wangi memandang orang tertua di antara keempat orang itu. Dengan nada rendah Pandan Wangi berkata, “Aku adalah istri anak Ki Demang Sangkal Putung. Aku harus dapat berbuat sebagaimana dilakukan oleh suamiku dan tugasnya.“

“Persetan,“ geram orang tertua itu, “kademangan ini tidak mempunyai lagi laki-laki yang pantas untuk menghadapi kami. Tetapi jangan menyesal jika wajahmu yang cantik itu tergores ujung senjata.“

Pandan Wangi tidak menjawab lagi. Namun sepasang pedangnya telah berada di sepasang tangannya.

“Bagus,“ geram salah seorang dari keempat orang itu, “serahkan perempuan ini kepadaku. Aku akan menangkapnya hidup-hidup dan membawanya dalam perjalanan. Sementara itu, bunuh saja suaminya yang sombong itu. Karena seandainya ia tetap hidup, iapun tentu akan membunuh diri karena kehilangan istrinya yang cantik ini.“

Swandaru menjadi semakin marah. Sekali lagi cambuknya menggelepar dan ledakannya telah menggetarkan udara padukuhan itu.

Glagah Putih menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat Raden Rangga tersenyum sambil berkata, “Tontonan yang menarik sekali. Kekuatan Swandaru itu melampaui kekuatan seekor banteng. He, kau pernah mendengar cerita tentang Eyang Sultan Hadiwijaya ketika masih muda? Dengan tangannya, anak yang disebut Jaka Tingkir atau Mas Karebet itu telah menangkap seekor kerbau liar yang besar sekali, apalagi dalam keadaan mabuk.“

“Ya,” jawab Glagah Putih, “tetapi bukan sesuatu yang aneh bagi Raden. Bukankah Raden juga mampu melakukannya jika Raden ingin?”

“Ah,” desis Raden Rangga. Lalu, “Kau pun dapat melakukannya. Sebenarnya yang dilakukan oleh Jaka Tingkir itu pun bukan puncak dari kemampuannya. Ia telah melakukan pekerjaan lain yang lebih menarik. Berkelahi dan menundukkan empat puluh ekor buaya, dan membunuh Dadungawuk dengan sadak kinang. Semuanya itu dilakukan justru sebelum ia membunuh kerbau hutan yang liar itu dengan tangannya.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Agaknya yang akan terjadi di halaman itu sangat menarik perhatian Raden Rangga.

Sebenarnyalah keempat orang itu telah bersiap menghadapi suami istri anak Ki Demang Sangkal Putung itu. Para pengawal yang semula gagal menangkap keempat orang itu telah diperintahkan untuk minggir.

“Kepung tempat ini, agar mereka tidak dapat melarikan diri,” berkata Swandaru.

“Kau sombong sekali,” geram orang tertua di antara keempat orang itu, “seandainya kau perintahkan para pengawal itu untuk bertempur, maka kalian tidak akan dapat menahan gerak ujung senjata kami. Dan tiba-tiba saja kau berdua akan menghadapi kami berempat. Bukankah ini satu langkah bunuh diri?”

“Sudah aku katakan,” sahut seorang di antara keempat orang itu, “aku akan membawa perempuan ini di sepanjang perjalanan. Kita akan membunuh suaminya.”

Swandaru tidak menunggu lebih lama lagi. Ia mulai menggetarkan cambuknya, bukan sekedar untuk mengejutkan lawan-lawannya. Tetapi ia benar-benar mulai menyerang.

Kedua orang yang terdekat dengan Swandaru itu agaknya cukup tangkas. Mereka pun telah memperhitungkan serangan yang demikian, sehingga karena itu, maka mereka masih sempat meloncat menghindarkan diri.

Sementara itu, dua orang yang lain telah bergeser mengambil jarak, karena mereka harus menghadapi Pandan Wangi yang membawa pedang rangkap.

Namun salah seorang dari kedua orang yang menghadapi Pandan Wangi itu masih sempat berkata, “Kau jangan memaksa diri untuk membuat pengewan-ewan di sini, Anak Manis.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Sementara itu orang itu pun telah berkata selanjutnya, “Bagaimana mungkin kau akan bertempur melawan kami berdua, sedangkan para pengawal itu telah mengalami nasib yang buruk. Berapa orang yang telah terluka dan bahkan mungkin terbunuh. Sekarang kau datang untuk menghadapi kami berdua. Bukankah itu aneh? Seorang di antara kami akan dapat menghadapi kau dan suamimu.”

Pandan Wangi masih tetap berdiam diri. Namun ujung pedangnya mulai bergetar.

Kedua orang lawannya itu pun telah mempersiapkan diri. Mereka pun memperhitungkan, bahwa tentu terdapat sesuatu pada perempuan itu. Jika ia tidak mempunyai bekal yang cukup, maka ia tentu tidak akan berani dengan serta merta menghadapi dua orang lawan sekaligus, yang telah ternyata mampu mengatasi para pengawal yang mengepung mereka.

Ketika pedang Pandan Wangi terjulur, maka seorang di antara mereka bergeser ke samping. Namun senjatanya dengan cepat memukul pedang Pandan Wangi. Ia bermaksud menjatuhkan pedang itu pada sentuhan yang pertama.

Namun pedang Pandan Wangi dengan cepat menggeliat, sehingga senjata lawannya tidak menyentuh pedang itu sama sekali.

Lawannya itu mengerutkan keningnya. Karena kedua lawannya itu juga orang berilmu, maka melihat gerak pedang Pandan Wangi, maka orang itu harus memperhitungkan banyak kemungkinan.

Sebenarnyalah setelah mereka benar-benar bertempur, maka rasa-rasanya keringat dingin mulai membasahi punggung.

Mula-mula hanya seorang sajalah yang berusaha melayani getar pedang Pandan Wangi. Orang yang telah berkata akan menangkapnya hidup hidup dan membawanya sepanjang perjalanan. Sementara itu kawannya hanya akan menyorakinya dan melindunginya jika ada di antara para pengawal yang dengan tiba-tiba menyerbu ke arena.

Namun ternyata bahwa pada langkah-langkah permulaan orang itu sudah mulai terdesak.

“Anak setan,” geram orang itu, “apakah bukan sekedar kebetulan?”

Tetapi bukan sekedar kebetulan. Pandan Wangi memang dengan sengaja menunjukkan, bahwa seorang di antara mereka tidak akan mampu melawannya sepenginang.

Dengan demikian, maka kawannya pun segera melibatkan dirinya pula, sehingga dengan demikian Pandan Wangi benar-benar telah bertempur melawan dua orang.

Dalam pada itu, Pandan Wangi memang ingin menjajagi kedua lawannya. Apakah kelebihan mereka sehingga beberapa orang pengawal telah terluka, ketika mereka dalam jumlah yang berlipat ganda bertempur melawan keempat orang itu.

Ketika Pandan Wangi berusaha mendesak terus, maka akhirnya ia pun menemukan kelebihan lawannya itu. Kecepatan gerak dan arah gerak mereka yang sulit diperhitungkan.

Untuk beberapa saat, Pandan Wangi memang harus berusaha dengan mengungkapkan tenaga cadangannya, agar ia dapat mengimbangi kecakapan gerak lawan-lawannya. Ketika kedua lawannya meningkatkan kemampuan mereka, maka Pandan Wangi pun melakukannya pula.

Dalam pada itu, Raden Rangga yang menyaksikan perkelahian itu telah menggamit Glagah Putih, “Agaknya keempat orang itu memang memiliki kelebihan dari orang-orang yang telah terbunuh di keramaian Merti Desa itu.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat Agaknya orang-orang ini termasuk tataran yang lebih tinggi.”

Keduanya menjadi semakin tertarik melihat kecepatan gerak kedua lawan Pandan Wangi itu. Mereka berloncatan berurutan, namun kadang-kadang mereka telah berloncatan silang-menyilang.

Untunglah bahwa Pandan Wangi memiliki pengalaman yang luas dan bekal yang cukup. Karena itu, maka ia masih dapat mengimbangi kecepatan gerak lawannya yang meningkat semakin tinggi itu.

“Bukan main,” geram salah seorang dari kedua lawannya itu, “perempuan ini ternyata memang beralasan jika ia berani turun ke medan dan menghadapi kita berdua.”

“Tetapi sebentar lagi aku akan menangkapnya hidup-hidup,” desis yang lain.

Dengan demikian maka kedua orang lawan Pandan Wangi itu memang telah meningkatkan kemampuan mereka. Ketika keduanya bergerak semakin cepat dan dengan loncatan-loncatan panjang yang saling menyilang, maka Pandan Wangi memang agak terdesak karenanya.

“Membingungkan,” berkata Pandan Wangi di dalam hatinya, “keduanya mampu melepaskan kesan yang lain dari gerak mereka yang sesungguhnya.”

Sebenarnyalah ketika kedua orang itu meningkatkan ilmu mereka semakin tinggi, maka Pandan Wangi memang mulai terpengaruh. Keduanya seakan-akan memiliki kemampuan untuk mengganggu pemusatan pikiran Pandan Wangi dan memberikan kesan gerak yang lain dari yang mereka lakukan. Dengan demikian kadang-kadang Pandan Wangi telah kehilangan arah sehingga serangannya menjadi tidak mapan. Sementara itu serangan lawannya kadang-kadang datang dari arah yang tidak diduganya.

Pandan Wangi berusaha mengatasinya dengan meningkatkan kecepatan geraknya. Landasan tenaga cadangannya pun telah ditingkatkan, sehingga perempuan itu menjadi semakin kuat dan mampu bergerak semakin cepat.

Tetapi kedua lawannya tidak membiarkan perempuan itu mampu bertahan lebih lama lagi. Keduanya pun benar-benar telah sampai pada satu niat untuk melumpuhkannya, meskipun tidak membunuhnya. Karena itu, maka keduanya pun telah bergerak semakin cepat. Keduanya berloncatan dalam susunan yang semakin rumit. Sehingga dengan demikian maka Pandan Wangi pun harus meningkatkan pula kecepatan geraknya.

Sementara itu, Swandaru ternyata menghadapi lawan yang memiliki ilmu yang sama. Berbeda dengan kedua lawan Pandan Wangi yang meningkatkan ilmunya tahap demi tahap, karena mereka menganggap bahwa Pandan Wangi tidak memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan mereka sampai ke puncak, serta ada usaha dari salah seorang di antara kedua lawannya untuk menangkapnya hidup-hidup, maka lawan Swandaru dengan serta merta telah sampai ke puncak ilmu mereka. Mereka memang ingin dengan cepat menyelesaikan Swandaru dan mengusir anak-anak muda yang mengepung mereka, sementara mereka masih sempat mengambil kekayaan di Kademangan Sangkal Putung. Bahkan tanpa anak Ki Demang itu, menurut orang-orang itu, Sangkal Putung tidak akan mempunyai kekuatan apapun juga.

Sebenarnyalah kadang-kadang Swandaru memang agak kebingungan. Namun iapun telah berlindung di balik senjatanya. Diputarnya cambuknya mengelilingi tubuhnya, sehingga seakan-akan sebuah perisai yang kuat dan rapat melingkari dirinya.

Namun kedua orang lawannya tidak kehilangan akal. Seorang di antara mereka telah berusaha untuk memotong putaran ujung cambuk itu dengan sentuhan. Namun ternyata bahwa kekuatan Swandaru jauh melampaui dugaan kedua orang lawannya. Hampir saja senjata lawannya itu justru hanyut dalam putaran ujung cambuk Swandaru.

Meskipun demikian, kedua lawannya masih mampu mempergunakan ilmunya untuk mengacaukan pertahanan Swandaru. Kedua orang itu memang mampu menimbulkan kesan yang lain dari gerak mereka sesungguhnya, sehingga pada suatu saat, salah seorang di antara keduanya mampu memancing Swandaru untuk bergerak menyamping. Sementara itu. kawannya yang menurut penglihatan Swandaru akan meloncat memburunya, justru tidak melakukannya. Kawannya-lah yang menyerang Swandaru dari sisi.

Untunglah pengalaman dan kemampuan Swandaru masih mampu menggerakkan tubuhnya bergeser selangkah, sehingga serangan itu tidak mengenainya. Bahkan yang terdengar kemudian adalah ledakan cambuk Swandaru mengejar orang yang telah menyerangnya itu. Tetapi dengan tangkas orang itu telah melenting menjauh, sehingga ujung cambuk Swandaru tidak menggapainya.

Dengan demikian maka Swandaru pun menjadi semakin marah. Ia pun telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya. Cambuknya adalah lambang keperkasaannya sehingga dengan demikian, maka dengan mengungkapkan tenaga cadangan yang sangat besar yang berada di dalam dirinya. Swandaru telah menghentakkan cambuknya.

Udara yang bergetar telah menggetarkan setiap jantung. Ujung cambuknya telah melukai tanah yang menjadi arena pertempuran itu. Debu pun telah berhamburan dan kerikil-kerikil tajam telah memercik ke segala arah.

Swandaru benar-benar telah sampai ke puncak kemampuannya. Karena lawannya sempat menghindarinya, maka iapun telah melecutkan cambuknya mendatar.

Tetapi lawannya sempat melenting surut, sementara yang lain justru telah meloncat mendekat sambil mengayunkan senjatanya ke arah lehernya.

Swandaru terkejut. Kedua orang lawannya itu seolah-olah telah digerakkan oleh satu kehendak sehingga tata gerak keduanya benar-benar dapat saling mengisi.

Dengan tangkas pula Swandaru menghindar. Ia meloncat surut. Namun ia masih juga merendah. Sementara itu cambuknya telah terayun sendal pancing menyerang lawannya yang sedang menebaskan senjatanya itu.

Tetapi orang itu pun bergerak dengan cepat. Ia telah meloncat surut pula, sehingga ujung cambuk Swandaru tidak menggapainya. Sementara itu, lawannya yang lain pun telah meloncat pula menyerang. Susul menyusul, semakin lama semakin cepat. Bahkan seperti juga terjadi pada Pandan Wangi, maka untuk beberapa saat kemudian Swandaru kadang-kadang masih juga sempat di kisruhkan oleh kemampuan lawan-lawannya mengacaukan pemusatan perhatiannya, karena keduanya berloncatan silang-menyilang dan bergerak berputaran.

Seperti yang pernah dilakukan, dalam keadaan demikian Swandaru berusaha memutar juntai cambuknya mengelilingi tubuhnya, sementara ia sempat memperbaiki keadaannya.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin cepat. Kedua lawannya masih berusaha untuk menumbuhkan kebingungan. Namun ternyata Swandaru justru menjadi semakin mapan.

Tetapi, kemarahan Swandaru itu memuncak, ketika tiba-tiba saja seorang di antara lawannya yang bergerak saling menyilang itu sempat menyentuh tubuhnya dengan ujung senjatanya. Sebuah goresan kecil telah menyilang di pundaknya, mengkoyak bajunya.

Karena itulah, maka ujung cambuk Swandaru selanjutnya pun menjadi bertambah garang.

Ternyata ketika Swandaru benar-benar sampai di puncak kemampuannya, kedua lawannya pun menjadi sulit untuk mengimbanginya. Cambuk yang meledak-ledak memekakkan telinga itu telah meniupkan angin yang menerpa kulit kedua lawannya. Meskipun ujung cambuk Swandaru itu belum sempat mengenai salah seorang dari kedua lawannya itu. namun keduanya seakan-akan dapat membayangkan, apa yang terjadi jika ujung cambuk itu menyentuhnya.

Apalagi ketika terasa luka di pundak Swandaru itu menjadi pedih, karena keringatnya yang semakin banyak mengalir. Maka kemarahannya bagaikan api yang disiram dengan minyak. Karena itulah, maka cambuknya pun berputar semakin cepat. Kadang-kadang berubah arah, menyambar mendatar. Namun kemudian mematuk dan terayun sendal pancing.

Ternyata kedua lawannya tidak mampu mengimbangi kesempatan dan kekuatan Swandaru. Ketika keduanya berusaha untuk menembus pertahanan Swandaru dengan kemampuan mereka mengacaukan pemusatan perhatian lawan, ternyata Swandaru sudah menjadi lebih mapan. Justru pada saat mereka menyerang, ujung cambuk Swandaru telah menyentuh salah seorang di antara keduanya.

Orang itu telah meloncat beberapa langkah. Terasa ujung cambuk Swandaru itu telah mengkoyak kulitnya, bukan saja segores kecil seperti yang terdapat di pundak Swandaru.

Ternyata kulit lengan orang itu telah menganga. Darah pun telah mengucur dari luka itu. Bahkan rasa-rasanya tulang lengannya pun telah patah pula.

Karena lawannya meloncat menjauh, maka yang lain pun telah melakukannya pula. Keduanya sengaja mengambil jarak untuk memperbaiki keadaan.

Namun Swandaru tidak memberi mereka kesempatan. Dengan serta merta iapun telah memburu pula, justru lawannya yang telah terluka.

Sekali lagi orang itu meloncat menjauh. Ketika Swandaru siap memburu lagi, maka serangan dari lawannya yang lain pun telah datang pula. Karena itu, maka Swandaru harus merubah sasarannya. Dengan serta merta, tanpa banyak pertimbangan lagi, Swandaru sama sekali tidak berusaha menghindar. Tetapi dengan sepenuh kekuatannya Swandaru justru sudah membentur serangan itu dengan serangan pula.

Lawannya-lah yang terkejut karena sikap Swandaru itu. Namun ternyata bahwa dengan cepat ia telah mengambil sikap pula. Justru karena ia sadar, bahwa kekuatan Swandaru ternyata sangat besar, maka ia tidak membiarkan ujung cambuk itu membelit pedangnya.

Karena itu, maka iapun dengan cepat menarik serangannya. Sekali ia berputar, kemudian sambil merendah ia bergeser lagi menjauh ketika cambuk Swandaru mengejarnya dengan ayunan menebas leher.

Pertempuran pun semakin menjadi cepat. Lawannya yang telah terkoyak lengannya pun masih berusaha untuk dapat mengimbangi kekuatan dan kecepatan gerak Swandaru. Namun darah yang mengalir dari lukanya yang jauh lebih besar dari luka di pundak Swandaru membuatnya semakin lama semakin lemah.

Dalam pada itu, Pandan Wangi pun masih bertempur dengan sengitnya. Sekali-sekali perhatiannya masih dikisruhkan oleh tata gerak lawannya. Bahkan kadang-kadang Pandan Wangi harus mengambil jarak untuk memantapkan sikapnya menghadapi kedua lawannya itu.

Sementara itu lawannya benar-benar tidak memberinya kesempatan lagi. Keduanya bergerak dengan cepat dan membingungkan. Bahkan kadang-kadang terasa sambaran angin yang menyentuh kakinya, sehingga debar jantungnya terasa menjadi semakin cepat.

Dalam keadaan yang demikian, Pandan Wangi tidak mempunyai jalan lain. Ia tidak sekedar mempercayakan diri kepada kekuatan dan kecepatan geraknya berlandaskan tenaga cadangannya. Namun ia mulai mempertimbangkan untuk mengetrapkan ilmunya. Ilmu yang akan mampu mengimbangi tata gerak lawannya yang membingungkan itu.

Untuk beberapa saat, Pandan Wangi masih mencoba bertahan. Namun akhirnya, iapun mulai dengan kekuatan ilmunya yang telah ditrapkannya.

Namun kedua lawannya tidak segera mengetahui, apa yang telah terjadi pada Pandan Wangi itu. Ketika mereka berusaha meningkatkan kemampuan mereka dan bermaksud membuat Pandan Wangi menjadi semakin bingung, maka justru mereka-lah yang telah dikejutkan oleh satu kenyataan yang tidak mereka duga sebelumnya.

Ketika Pandan Wangi menghindari serangan yang cepat dari salah seorang di antara kedua orang lawannya, maka lawannya yang lain tidak membiarkannya. Dengan loncatan yang menyilang, lawannya itu telah memancing perhatian Pandan Wangi. Namun yang kemudian benar-benar menyerang adalah lawannya yang lain.

Namun Pandan Wangi tidak mau menjadi sasaran serangan yang tidak henti-hentinya. Ketika lawannya itu benar-benar menyerang, Pandan Wangi menghindar, tetapi ia langsung menyerang lawannya yang seorang.

Tetapi lawannya tidak terkejut oleh serangannya yang justru terasa lamban. Dengan tangkasnya lawannya telah menangkis serangan Pandan Wangi.

Namun, alangkah terkejut orang itu kemudian. Ujung pedang Pandan Wangi masih berjarak sejengkal dari tubuhnya, ketika ia berhasil menangkis serangan itu menurut penglihatannya. Namun ternyata bahwa terasa sebuah goresan telah mengoyak kulitnya.

“Gila,” geram orang itu, “apa yang sebenarnya terjadi.”

Pandan Wangi tidak terpancang pada lawannya yang seorang. Sebelum lawannya itu menyadari apa yang terjadi, Pandan Wangi telah meloncat menyerang lawannya yang lain.

Dengan tangkas lawannya menghindari serangan itu. Menurut perhitungannya ia tidak akan terlambat. Namun Pandan Wangi tidak melepaskannya. Ia telah memburu dan dengan menjulurkan pedangnya lurus ke depan, ia menyerang lambung.

Sekali lagi orang itu berusaha menghindar. Dengan tangkas ia melenting surut.

Namun seperti kawannya, iapun telah mengumpat. Ternyata ujung pedang Pandan Wangi sempat menggapainya tanpa disadarinya. Ia merasa bahwa masih ada jarak antara ujung pedang Pandan Wangi dengan kulitnya. Namun ternyata bahwa lambungnya telah terluka oleh senjata perempuan itu.

Kedua orang itu menjadi bingung sesaat. Mereka tidak mengerti bagaimana hal itu terjadi. Namun mereka pun menyadari bahwa mereka tidak boleh terpancang kepada keadaan itu. Karena itu seorang di antara lawannya tiba-tiba saja telah berteriak, “Perempuan tidak tahu diri. Kau kira kami memang tidak mampu membunuhmu?”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi ia justru telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Ketika hal yang membingungkan itu terjadi sekali lagi, dan pedang Pandan Wangi sempat menggores lengan, maka lawannya segera mengetahui, bahwa perempuan itu ternyata memiliki satu jenis ilmu yang menggetarkan jantung.

“Perempuan iblis,” geram orang yang terluka di lengan dan di lambung itu, “kau kira dengan ilmu iblismu itu kau akan dapat mengalahkan kami?”

Pandan Wangi sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia telah menyerang dengan garangnya. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, justru pada saat lawannya sedang didera oleh kecemasan.

Sebenarnyalah kedua lawannya kedua lawannya benar-benar menjadi gelisah. Bukan Pandan Wangi yang menjadi bingung. Tetapi mereka berdua-lah yang kadang-kadang harus meloncat jauh-jauh untuk mengambil jarak, agar mereka dapat memperbaiki kedudukan mereka menghadapi perempuan yang berilmu tinggi itu.

Sementara itu, cambuk Swandaru pun meledak semakin cepat. Rasa-rasanya suara ledakannya pun menjadi semakin keras. Ujung cambuknya menggapai-gapai kemanapun arah lawannya bergeser.

Bahkan kedua lawannya itu telah berhasil dilukainya dengan ujung cambuk Swandaru. Kulitnya telah terkoyak dan luka pun telah menganga.

Kedua orang lawannya memang bagaikan menjadi gila. Rasa-rasanya luka di tubuh mereka itu telah menggelapkan nalar budi mereka. Bahkan keduanya seakan-akan telah menjadi putus asa. Apalagi ketika mereka melihat, di halaman itu penuh dengan anak-anak muda Kademangan Sangkal Putung.

Karena itu, maka kedua orang lawan Swandaru itu memang tidak melihat kemungkinan untuk menyingkir dari pertempuran. Namun mereka sama sekali tidak bermimpi untuk menjadi tawanan orang Kademangan Sangkal Putung. Jika demikian, maka orang-orang dari padukuhan sebelah menyebelah yang pernah dirampoknya dan mendegar bahwa mereka tertangkap tentu akan ikut memperlakukan mereka dengan sangat buruk.

Dengan demikian, maka tidak ada yang dapat mereka lakukan kecuali bertempur dengan sisa kekuatan yang masih ada sampai saatnya darahnya menjadi kering.

Karena itu, maka kedua orang lawan Swandaru itu sudah tidak bertempur lagi dengan wajar. Mereka dengan putus asa telah berusaha membenturkan dirinya pada kekuatan Swandaru yang seakan-akan tidak terbatas lagi.

Raden Rangga dan Glagah Putih memang menjadi berdebar debar. Dalam keremangan malam, maka penglihatan mereka yang tajam mampu menangkap yang telah terjadi.

“Glagah Putih,” berkata Raden Rangga, “nampaknya pertempuran akan cepat berakhir.”

“Tetapi nampaknya Kakang Swandaru tidak dapat mengendalikan dirinya,” berkata Glagah Putih kemudian.

“Dapat dimengerti,” jawab Raden Rangga.

“Tetapi kita sebenarnya memerlukan orang-orang itu,,” berkata Glagah Putih kemudian.

Raden Rangga menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya “Tetapi apa yang dapat kita lakukan?”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Sementara itu pertempuran pun agaknya sudah sampai pada tataran terakhir. Ketika cambuk Swandaru meledak lagi beberapa kali, maka lawannya benar-benar sudah tidak berdaya.

Tetapi Swandaru adalah seorang yang garang. Meskipun lawannya sudah terdesak sampai ke sudut, namun ia tidak mampu melihat keadaan lawannya itu seutuhnya. Apalagi lawannya masih juga berusaha menggerakkan senjata mereka, dan apalagi luka segores kecil di kulit Swandaru terasa menjadi semakin pedih karena dibasahi oleh keringat yang mengalir.

Karena itu, maka yang terjadi kemudian sama sekali tidak diharapkan oleh Raden Rangga dan Glagah Putih. Kemarahan Swandaru memang tidak terbendung lagi. Cambuknya yang meledak sama sekali tidak dapat dihindarkannya atau ditangkis lagi. Begitu dahsyatnya sehingga terasa dada lawannya itu bagaikan terbelah.

Keduanya benar-benar tidak mampu bertahan lagi. Ledakan cambuk yang terakhir telah merobohkan lawannya yang terakhir pula.

Swandaru yang kemudian berdiri tegak, memandangi kedua lawannya yang terbaring diam. Dalam keremangan malam ia masih melihat salah seorang di antaranya menggeliat. Namun kemudian diam.

Dalam pada itu, pada saat-saat Swandaru meledakkan cambuknya yang terakhir, Raden Rangga telah bergeser dari tempatnya sambil berdesis, “Aku harus mencegahnya.”

Tetapi Glagah Putih menggeleng sambil berkata, “Tidak ada gunanya Raden. Aku mengenal Kakang Swandaru sebagaimana diceritakan oleh Kakang Agung Sedayu.”

“Aku dapat mencegahnya,” berkata Raden Rangga, “apakah kau tidak yakin?”

“Aku yakin Raden,” jawab Glagah Putih, “tetapi persoalannya akan bergeser. Apalagi Kakang Swandaru adalah saudara seperguruan Kakang Agung Sedayu.”

Raden Rangga menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu mereka berdua telah berpaling ke arah Pandan Wangi. Namun mereka pun tidak dapat banyak berharap. Pedang Pandan Wangi pun telah melukai kedua lawannya. Namun agaknya kedua lawannya masih berusaha untuk bertempur terus. Seperti lawan Swandaru, keduanya menjadi berputus asa. Tidak ada jalan untuk lari, dan mereka tidak akan bersedia untuk menjadi tawanan anak-anak Sangkal Putung.

Luka yang silang-menyilang di tubuh mereka telah membuat mereka berdua bagaikan gila.

Namun setiap serangan, justru telah dihentikan oleh ujung pedang Pandan Wangi, sehingga lawan-lawannya itu terdorong surut.

Akhirnya kedua orang lawannya itu tidak mampu lagi berbuat sesuatu. Pada saat-saat terakhir keduanya telah terhuyung-huyung kehilangan segenap tenaga, karena darah mereka bagaikan terkuras habis dari tubuhnya.

Pandan Wangi memang tidak memburunya. Ia sadar sepenuhnya, bahwa lawannya sudah tidak berdaya.

Ketika Pandan Wangi bergeser mendekati kedua orang lawannya yang terbaring, Swandaru pun telah mendekatinya pula sambil bertanya, “Bagaimana dengan kau?”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku telah melumpuhkan mereka.”

Swandaru mengangguk-angguk. Namun ketika ia kemudian berjongkok di sebelah orang-orang yang terbaring itu, maka ia pun berkata, “Lukanya terlalu banyak.”

“Biarlah dicoba untuk menolongnya,” berkata Pandan Wangi.

“Tidak ada gunanya,” jawab Swandaru, “namun biarlah anak-anak memanggil Ki Oneng.”

Namun seperti yang dikatakan oleh Swandaru, maka lawan Pandan Wangi itu pun tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Darah memang terlalu banyak mengalir. Ketika anak-anak muda yang memanggil Ki Oneng datang bersama orang tua itu, ternyata Ki Oneng hanya dapat menggelengkan kepalanya saja.

Raden Rangga dan Glagah Putih hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Glagah Putih selalu menahan jika Raden Rangga siap meloncat memasuki kerumunan anak-anak muda Sangkal Putung

“Dan Kakang Swandaru masih panas,” berkata Glagah Putih, “akan mudah terjadi salah paham.”

“Jadi bagaimana dengan kita? Dengan susah payah kita mengikuti jejaknya. Akhirnya kita temui mereka terbunuh di sini,” berkata Raden Rangga.

“Apa boleh buat. Yang terjadi adalah di luar kekuasaan kita berdua untuk mencegahnya,” berkata Glagah Putih.

Raden Rangga termangu-mangu sejenak. Ia melihat masih ada usaha untuk menolong jiwa dua orang yang bertempur melawan Pandan Wangi. Namun ternyata bahwa kedua orang itu pun tidak dapat tertolong lagi. Darah mereka terlalu banyak mengalir, sementara keduanya seakan-akan memang berusaha untuk membunuh diri, tanpa mau menghentikan perlawanan sampai tarikan nafas mereka yang terakhir.

Dalam pada itu, anak-anak muda Sangkal Putung telah menjadi ribut. Jumlah mereka semakin lama menjadi semakin banyak. Anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan lain di kademangan itu yang mendengar isyarat telah berkumpul, meskipun di setiap padukuhan masih tersisa mereka yang bertugas meronda.

Beberapa di antara mereka masih belum jelas apa yang terjadi. Namun merekapun kemudian mengetahui, bahwa empat orang telah terbunuh di arena. Dua orang oleh Swandaru dan dua orang lainnya oleh Pandan Wangi.

Sementara itu Raden Rangga pun bertanya kepada Glagah Putih, “Bagaimana dengan kita? Apakah kita akan tetap bersembunyi di sini atau kita akan menemui Swandaru?”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak, Namun kemudian katanya, “Apakah ada gunanya kita menemuinya?”

Raden Rangga mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun berkata, “Bukankah Swandaru saudara seperguruan Agung Sedayu?”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Jika kita singgah, maka itu hanya sekedar kita lakukan sebagaimana kita mengadakan kunjungan biasa tanpa ada hubungannya dengan keempat orang yang telah terbunuh itu.”

“Apa salahnya jika kita sekedar bercerita tentang usaha kita mengikuti mereka,” berkata Raden Rangga, “tanpa maksud menyalahkan apa yang telah terjadi.”

Glagah Putih termangu-mangu. Jika Raden Rangga benar dapat bersikap demikian, maka memang tidak ada salahnya mereka singgah di Sangkal Putung.

Untuk beberapa saat keduanya masih menunggu. Swandaru dan Pandan Wangi yang berada di antara anak-anak muda itu nampak memberikan beberapa petunjuk.

“Sebentar lagi anak-anak muda itu akan meninggalkan halaman itu,” berkata Glagah Putih, “mungkin satu dua di antara mereka akan melihat kita di sini, setelah mereka tidak lagi terikat perhatiannya kepada peristiwa yang terjadi di halaman itu.”

“Kita lebih baik turun,” berkata Raden Rangga, “jika mereka melihat kita, kita tidak akan dicurigai sebagaimana jika kita berada di sini.”

Glagah Putih tidak menyahut. Tetapi sebagaimana yang dikatakan oleh Raden Rangga, maka keduanya pun telah turun di halaman sebelah, dan dengan hati-hati keduanya telah keluar dari regol halaman.

Untuk beberapa saat, memang tidak ada orang yang memperhatikan keduanya karena kesibukan anak-anak muda itu sendiri. Namun kemudian tiba-tiba saja seorang anak muda dengan tidak sengaja melihat mereka berdiri termangu-mangu.

Anak muda itu mulai tertarik kepada keduanya. Karena itu tiba-tiba saja anak muda itu menggamit kawannya sambil berkata, “He, siapakah mereka? Agaknya aku belum pernah mengenalnya.”

Kawannya pun mulai memperhatikan kedua anak muda itu. Namun kemudian iapun berdesis, “Ya. Aku belum mengenalnya. Mungkin ada hubungannya dengan keempat orang yang terbunuh itu.”

Karena itu, maka tiba-tiba saja kedua orang anak muda itu telah mencabut senjata mereka. Sementara itu, kawan-kawannya yang melihat keduanya segera memperhatikan arah perhatian mereka pula, sehingga mereka pun telah melihat Raden Rangga dan Glagah Putih yang berdiri termangu-mangu.

Beberapa orang telah mendekatinya dengan senjata tertunduk. Namun Raden Rangga dan Glagah Putih sama sekali tidak berbuat sesuatu. Yang mereka lakukan adalah justru bergeser ke bawah cahaya oncor minyak yang berada di pintu gerbang halaman itu.

“Siapa kau?” terdengar seorang di antara anak-anak muda itu bertanya.

“Glagah Putih,” jawab Glagah Putih, “dari Jati Anom.”

“Kenapa kau berada di sini di malam-malam seperti ini?” bertanya anak muda Sangkal Putung itu. “Justru pada saat di kademangan ini terjadi sesuatu.”

“Satu kebetulan yang tidak menguntungkan bagi kami,” berkata Glagah Putih. Tetapi kemudian katanya, “Namun sebenarnyalah bahwa kami ingin bertemu dengan Kakang Swandaru, yang aku lihat ada di halaman sebelah.”

“Siapa kau, dan untuk apa kau ingin bertemu dengan Swandaru?” bertanya seorang anak muda yang lain.

“Sudah aku katakan, bahwa aku adalah Glagah Putih dari Jati Anom,” jawab Glagah Putih, “aku ingin bertemu Kakang Swandaru, sekedar singgah karena aku sudah lama tidak menemuinya.”

“Sekedar singgah, dan di malam seperti ini?” bertanya anak muda itu.

“Kami memang sedang dalam perjalanan,” jawab Glagah Putih.

Namun beberapa orang anak muda yang mengerumuninya memang menaruh curiga kepada keduanya, justru baru saja terjadi sesuatu yang telah menggemparkan kademangan itu.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba seorang anak muda menyibak kawan-kawannya sambil menyebut namanya, “Glagah Putih”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum. Ternyata seorang anak muda yang dikenalnya telah datang kepadanya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa kau berada di sini di malam hari seperti ini?”

“Kami sedang dalam perjalanan,” berkata Glagah Putih, “sebenarnyalah kami ingin singgah di rumah Kakang Swandaru. Namun ternyata di sini baru terjadi sesuatu yang tidak menguntungkan kehadiran kami.”

Anak muda yang telah mengenalnya itu kemudian berkata, “Tetapi baiklah. Aku akan mengatakannya kepada Swandaru. Jangan pergi.”

Glagah Putih dan Raden Rangga menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu anak-anak muda yang lain pun tidak lagi mengacukan senjata mereka, meskipun mereka masih juga mengamatinya dengan sikap yang hati-hati.

Ketika anak muda itu kemudian menyibak kawan-kawannya dan menemui Swandaru sambil mengatakan bahwa Glagah Putih ada di tempat itu, Swandaru itupun bertanya lantang, “Ada apa anak itu kemari?”

“Katanya ia hanya singgah saja. Ia sedang dalam perjalanan bersama seorang kawannya,” jawab anak muda itu.

“Aku sedang sibuk,” jawab Swandaru.

Anak muda yang menyampaikan kehadiran Glagah Putih itu mengerutkan keningnya. Namun dalam pada itu, Pandan Wangi-lah yang menyahut, “Bukankah Glagah Putih itu sepupu Kakang Agung Sedayu?”

“Ya,” jawab Swandaru, “tetapi aku tidak berkepentingan dengan anak itu.”

“Tetapi jika ia ingin singgah, bukankah tidak ada salahnya?” berkata Pandan Wangi.

“Tetapi aku sedang sibuk sekali sekarang ini,” berkata Swandaru pula.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Diperhatikannya kesibukan anak-anak muda di sekitarnya. Mereka memang sedang dicengkam oleh ketegangan. Tetapi Pandan Wangi tidak dapat membiarkan begitu saja kehadiran adik sepupu Agung Sedayu itu.

Karena itu, maka iapun berkata, “Baiklah Kakang. Biarlah aku saja yang menerima mereka.”

Swandaru tidak berkeberatan. Katanya, “Nanti jika aku sudah selesai, aku akan kembali. Tetapi aku tidak tahu, kapan aku selesai itu.”

Pandan Wangi mengangguk. Ialah yang kemudian meninggalkan tempatnya menemui Glagah Putih.

Glagah Putih mengangguk hormat ketika ia melihat Pandan Wangi menghampirinya. Sementara itu Pandan Wangi pun terkejut ketika ia melihat anak muda yang datang bersama Glagah Putih.

“Aku datang bersama Raden Rangga, Mbokayu,” berkata Glagah Putih.

Pandan Wangi-lah yang kemudian mengangguk hormat. Dengan nada rendah ia berkata, “Maafkan kami Raden. Kami sedang disibukkan oleh peristiwa yang tidak kami inginkan terjadi di kademangan ini.”

“Kami melihatnya,” berkata Raden Rangga, “silahkan jika kalian masih terlalu sibuk. Kami hanya sekedar singgah,” berkata Raden Rangga.

“Marilah, kami ingin mempersilahkan Raden dan Glagah Putih untuk singgah barang sejenak di Kademangan,” Pandan Wangi mempersilahkan.

Tetapi Raden Rangga menggeleng. Katanya, “Terima kasih. Kami sedang dalan perjalanan. Dimana Kakang Swandaru?”

“Kakang Swandaru sedang sibuk dengan anak-anak muda itu,” jawab Pandan Wangi.

“Sampaikan salam kami,” berkata Raden Rangga, “sebenarnya kami memang sedang mengikuti empat orang yang terbunuh itu untuk mendapat satu petunjuk. Tetapi ternyata mereka telah terbunuh di sini, sehingga kami telah kehilangan tuntunan perjalanan kami.”

“O,” Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Maafkan kami Raden. Kami tidak mengetahuinya.”

“Ya. Tidak apa-apa. Kalian memang tidak mengetahuinya,” sahut Raden Rangga tergesa-gesa. Lalu katanya, “Baiklah. Aku dan Glagah Putih minta diri. Kami hanya ingin menunjukkan diri karena kami sudah berada di kademangan ini. Sekarang kami akan meneruskan perjalanan kami.”

“Jadi Raden tidak singgah di Kademangan?” bertanya Pandan Wangi.

“Terima kasih,” jawab Raden Rangga, “silahkan menyelesaikan tugas kalian. Kami minta diri.”

“Maaf Mbokayu,” berkata Glagah Putih, “lain kali saja kami akan singgah.”

Demikianlah, Glagah Putih dan Raden Rangga ternyata hanya sekedar menunjukkan dirinya. Ketika mereka kemudian keluar dari padukuhan itu, Raden Rangga berkata, “Sebenarnya aku juga ingin singgah. Tetapi agaknya Swandaru terlalu sibuk, sehingga tidak sempat menemui kita. Karena itu, maka lebih baik kita tidak mengganggunya.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa agaknya Raden Rangga kurang senang menghadapi sikap Swandaru yang tidak mau menemuinya, betapapun sibuknya. Karena itu, maka lebih baik baginya untuk pergi saja daripada terjadi salah paham. Bahkan Raden Rangga mencoba mengerti, bahwa Swandaru memang sedang sibuk.

Sementara itu Pandan Wangi telah kembali kepada Swandaru, sehingga Swandaru justru bertanya, “Begitu cepat?”

“Mereka tidak singgah. Mereka hanya sekedar menampakkan diri karena mereka telah berada di Sangkal Putung,” jawab Pandan Wangi.

“Mereka siapa?” bertanya Swandaru pula.

“Glagah Putih dengan Raden Rangga,” jawab Pandan Wangi.

“Raden Rangga?” ulang Swandaru.

“Ya. Raden Rangga putra Panembahan Senapati itu,“ jawab Pandan Wangi.

Swandaru menjadi berdebar-debar. Dengan ragu ia bertanya “Jadi mereka sudah pergi?”

“Ya,” jawab Pandan Wangi, “mereka telah meneruskan perjalanan mereka.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak tahu bahwa yang datang adalah puta Panembahan Senapati. Tetapi sudahlah. Anak itu sudah terlanjur pergi. Agaknya keduanya memang sedang bertualang.”

Pandan Wangi juga mengatakan, bahwa anak-anak muda itu sedang mengikuti keempat orang yang terbunuh itu.

“Tetapi mereka dapat mengerti,” berkata Pandan Wangi.

Swandaru mengangguk-angguk. Namun kemudian sekali lagi ia berkata “Biar sajalah anak itu melakukan petualangan. Kita pernah mendengar apa saja yang pernah dilakukan oleh Raden Rangga. Mudah-mudahan ia tidak melakukan yang aneh-aneh itu di Sangkal Putung, karena aku tentu akan mencegahnya, meskipun ia adalah anak Panembahan Senapati.”

“Ah,” desah Pandan Wangi.

“Aku berkata sebenarnya,” desis Swandaru, “anak itu harus dicegah agar tidak semakin menjadi-jadi, sementara ayahandanya tentu akan berterima kasih jika kita membantunya sedikit memberi pelajaran kepada anak itu, agar ia tidak semakin nakal. Justru karena ia merasa tidak ada orang lain yang mampu mencegah segala tingkah lakunya.”

“Tentu bukan begitu,” sahut Pandan Wangi, “agaknya ia dapat mengerti dan nampaknya tidak senakal cerita yang pernah kita dengar.”

“Karena ia merasa berhadapan dengan kita,” jawab Swandaru, “sementara itu agaknya Glagah Putih sudah dijangkiti oleh penyakitnya pula, karena ia merasa sepupu Agung Sedayu.”

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Ia mencoba mengingat sikap anak-anak muda itu, Baru kemudian ia berkata, “Tidak kakang. Menurut penilaianku mereka bersikap wajar. Agaknya bukan karena mereka berada di hadapan saudara seperguruan kakak sepupunya. Tetapi menurut penilaianku, mereka tidak berbuat atau bersikap tidak seharusnya, sebagaimana sikap mereka sewajarnya.”

Swandaru mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mudah-mudahan. Tetapi cerita tentang kenakalan Raden Rangga sudah banyak didengar oleh orang-orang Mataram.”

Pandan Wangi tidak membantah lagi. Apalagi Swandaru pun kemudian telah melangkah pergi, turun dalam kesibukan bersama anak-anak muda Kademangan Sangkal Pulung.

Namun mereka tidak terlalu lama berada di tempat itu. Sejenak kemudian merekapun telah meninggalkan halaman rumah itu dan kembali ke Kademangan, setelah meninggalkan pesan kepada pemimpin pengawal padukuhan itu.

Sejenak kemudian tiga ekor kuda telah berderap meninggalkan padukuhan itu. Swandaru, Pandan Wangi dan Ki Jagabaya.

Dalam pada itu, Raden Rangga dan Glagah Putih berjalan menyusuri bulak panjang. Tanpa mereka sadari, mereka telah menempuh jalan menuju ke padukuhan induk. Karena itu, maka ketika Swandaru, Pandan Wangi dan Ki Jagabaya berpacu menuju ke padukuhan induk, mereka telah menempuh jalan itu pula.

Raden Rangga terhenti ketika ia mendengar derap kaki kuda. Dengan kening yang berkerut ia berkata, “Itu tentu mereka. Swandaru, istrinya, dan seorang lagi yang datang bersama mereka.”

“Bagaimana jika kita diminta singgah?” bertanya Glagah Putih.

“Tidak usah. Kita bersembunyi saja, agar mereka tidak melihat kita, dan kita tidak usah menjawab sapa mereka,” jawab Raden Rangga.

Keduanya pun kemudian telah bergeser menepi dan turun ke pematang. Keduanya telah berlindung di balik lanjaran batang kacang panjang yang subur dan berdaun rimbun.

Sejenak kemudian maka tiga ekor kuda melintas dengan cepat. Karena ketiganya tidak memperhatikannya, maka mereka pun tidak melihat Raden Rangga dan Glagah Putih berjongkok di pematang.

Demikian tiga ekor kuda lewat, maka Raden Rangga pun berdiri sambil menggeliat. Namun di tangannya tergenggam tiga buah kacang panjang yang masih muda.

“Sejak kecil aku gemar kacang panjang seperti ini,” berkata Raden Rangga.

“Dan sekarang Raden sudah besar,” sahut Glagah Putih yang berdiri pula sambil mengibaskan pakaiannya. Katanya pula, “Pakaianku menjadi basah oleh embun yang melekat pada daun lembayung ini.”

Keduanya pun kemudian telah naik ke jalan pula. Sejenak kemudian keduanya telah melanjutkan perjalanan mereka. Raden Rangga sempat pula mengunyah kacang panjang yang dipetiknya dari batangnya yang subur segar.

“Agaknya Swandaru itu mempunyai sifat yang berbeda dengan Agung Sedayu,” berkata Raden Rangga.

“Mungkin,” desis Glagah Putih, “tetapi aku pun tidak terlalu banyak mengenal Kakang Swandaru itu.”

Raden Rangga menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “He, apa yang menarik di kademangan ini?”

“Maksud Raden?” bertanya Glagah Putih.

“Apakah di sini ada sesuatu yang pantas untuk dijadikan permainan?” bertanya Raden Rangga pula.

“Ah, Raden akan mulai lagi?” sahut Glagah Putih.

Raden Rangga mengerutkan keningnya. Namun ia pun tertawa.

“Sudahlah Raden,” berkata Glagah Putih, “pekerjaan kita sudah cukup rumit. Jangan menambah kerumitan tugas ini dengan hal-hal yang tidak ada artinya.”

Raden Rangga menjawab sambil tertawa, “Aku sebenarnya ingin bermain-main dengan Swandaru barang sejenak. Ia sama sekali tidak menghargai kedatangan kita di sini.”

“Bukan tidak menghargai,” jawab Glagah Putih, “Kakang Swandaru memang sedang sibuk sebagaimana kita lihat. Ia bertanggung jawab atas peristiwa yang baru saja terjadi.”

Raden Rangga mengangguk-angguk, Dengan nada tinggi ia berkata, “Baiklah. Aku tidak akan berbuat apa-apa di kademangan yang besar ini.”

Namun Raden Rangga itu telah menarik tongkat pring gadingnya yang terselip di punggungnya. Kemudian digoreskannya tongkat itu pada sepotong pohon turi yang tumbuh di pinggir jalan, berjajar panjang hampir sepanjang bulak.

Glagah Putih menjadi berdebar-debar. Ia melihat semacam sinar yang meloncat dari ujung tongkat yang menggores batang pohon turi itu. Sementara itu Raden Rangga melakukannya beberapa kali, sehingga lebih dari duapuluh batang pohon turi telah disentuhnya. Baru kemudian dia menyelipkan lagi tongkatnya di punggungnya.

“Apa yang Raden lakukan?” bertanya Glagah Putih. Raden Rangga tidak menjawab. Namun Glagah Putih-lah yang kemudian berhenti.

“Kenapa kau berhenti?” bertanya Raden Rangga.

“Aku ingin melihat akibat sentuhan tongkat Raden itu.” jawab Glagah Putih.

“Sudahlah. Tidak apa-apa” jawab Raden Rangga.

“Aku akan menunggu sampai aku melihat akibatnya meskipun sampai pagi sekalipun.” jawab Glagah Putih pula.

“Aku akan pergi,” berkata Raden Rangga.

“Silahkan. Aku tinggal di sini,” jawab Glagah Putih.

Raden Rangga mengumpat pendek. Namun iapun terpaksa ikut menunggu pula.

Sebenarnyalah akibat sentuhan tongkat Raden Rangga itu pun segera terlihat. Daun pohon turi yang batangnya tergores tongkat Raden Rangga itu menjadi layu saat itu pula.

Jantung Glagah Putih menjadi berdebar-debar. Justru karena ia melihat dalam keremangan malam pohon-pohon turi itu menjadi layu, maka iapun telah melangkah mendekat. Glagah Putih telah mengamati batang-batang pohon turi yang tergores oleh ujung tongkat Raden Rangga.

Bekas sentuhan tongkat Raden Rangga itu telah memberikan bekas yang mendebarkan. Batang pohon turi itu bagaikan telah terbakar. Bukan hanya pada bekas sentuhan, tetapi beberapa depa dari permukaan tanah memanjat ke atas.

“Raden,” berkata Glagah Putih, “Raden telah meninggalkan bekas yang kurang mapan di kademangan ini.”

Raden Rangga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Maaf Glagah Putih. Kadang-kadang aku memang tidak mampu mengendalikan diri. Bahkan kadang-kadang aku sulit untuk mengetahui gejolak perasaanku sendiri, sehingga aku merasa asing dengan diriku sendiri.”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Pengakuan Raden Rangga itu membuatnya ragu-ragu untuk mempersalahkannya lebih jauh lagi. Bahkan justru karena itu ia berkata, “Sudahlah. Mudah-mudahan untuk selanjutnya Raden sempat mempertimbangkan tingkah laku Raden.”

“Niatku sudah tumbuh sejak aku mulai melakukan hal-hal yang dianggap kurang wajar,” jawab Raden Rangga, “tetapi aku tidak mampu mengetrapkannya dalam tingkah lakuku. Sesuatu kadang-kadang melonjak di dalam hati tanpa terkuasai. Dan aku menjadi sangat prihatin karenanya.”

Glagah Putih mengangguk-angguk kecil. Ia sudah lama bergaul dengan Raden Rangga. Karena itu, maka seharusnya ia sudah mengetahuinya bahwa hal seperti itu memang terjadi di dalam diri anak muda itu. Sebagaimana dikatakannya, bahwa ia kadang-kadang merasa asing dengan dirinya sendiri.

Ketika Glagah Putih kemudian melihat Raden Rangga itu menunduk dan mengesankan penyesalan yang sangat dalam, maka iapun berkata, “Sudahlah Raden. Kita tinggalkan kademangan ini.”

“Apakah menurut pendapatmu, sebaiknya aku singgah di Kademangan dan mohon maaf kepada Ki Demang dan Swandaru?” bertanya Raden Rangga.

“Tidak perlu Raden,” jawab Glagah Putih yang mencemaskan kemungkinan bahwa justru akan terjadi salah paham.

“Baiklah,” berkata Raden Rangga, “kita pergi keluar dari kademangan ini.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu keduanya pun telah melanjutkan perjalanan keluar dari Kademangan Sangkal Putung. Bahkan terdapat kesan pada Raden Rangga, bahwa ia merasa sangat tergesa-gesa, seakan-akan ia menjadi ketakutan bahwa kesalahannya sempat dilihat orang.

Glagah Putih mencoba memperhatikan sikap Raden Rangga. Memang sudah terjadi beberapa perubahan. Tetapi ledakan-ledakan perasaan masih terjadi di dalam dirinya yang pribadinya kadang-kadang berloncatan dari yang satu ke yang asing itu.

Malam itu, ternyata banyak juga anak-anak muda yang ternyata kemudian lewat di jalan yang di pinggirnya ditumbuhi pohon turi berjajar hampir di sepanjang bulak. Pohon turi yang di musim berbunga memberikan bunganya bagi orang-orang di padukuhan sebelah-menyebelah. Karena banyak orang yang menyukai bunga turi yang dibumbui dengan sejenis sambal kacang tanah.

Tetapi anak-anak muda yang hilir mudik dalam kesibukan mereka itu sama sekali tidak menghiraukan apa yang telah terjadi dengan pohon-pohon turi itu.

Namun di pagi hari berikutnya, maka beberapa orang mulai melihat keanehan itu. Lebih dari dua puluh batang pohon turi menjadi layu. Batangnya bagaikan terbakar di pangkalnya hingga beberapa depa. Kulit batangnya menjadi hangus, sementara itu daunnya pun menjadi layu.

Beberapa orang mulai mengerumuni pohon turi itu. Semakin lama semakin banyak, sehingga akhirnya dua orang pengawal telah pergi ke padukuhan induk, memberikan laporan tentang keanehan yang terjadi pada beberapa batang pohon turi itu.

“Apalagi yang terjadi?” geram Swandaru, “Keempat mayat itu masih belum dikuburkan. Sekarang ada lagi keanehan tentang pohon-pohon turi itu. Apakah kalian tidak dapat mencari pemecahan untuk pohon turi itu, sehingga aku pula yang harus pergi ke sana?”

“Satu keanehan telah terjadi,” sahut salah seorang dari kedua pengawal itu, “satu hal yang belum pernah kami lihat sebelumnya.”

Pandan Wangi-lah yang kemudian berkata, “Marilah Kakang. Sebaiknya kita melihatnya. Mungkin memang tidak berarti. Tetapi mungkin teka-teki itu perlu jawaban.”

Swandaru yang masih merasa letih itu pun kemudian telah mempersiapkan diri. Kemudian bersama Pandan Wangi keduanya telah berkuda menuju ke tempat yang ditunjuk oleh para pengawal itu. Di sebelah padukuhan yang semalam diributkan oleh empat orang perampok yang telah terbunuh itu.

Orang-orang yang menyaksikan keanehan itu pun telah menyibak ketika mereka melihat Swandaru dan Pandan Wangi meloncat turun dari kuda mereka.

Ketika keduanya kemudian mendekati pohon-pohon turi itu, mereka pun ternyata juga menjadi heran. Dengan nada rendah Pandan Wangi berdesis, “Aneh. Tentu bukan karena disambar petir.”

“Tentu tidak,” jawab Swandaru, “jika pohon-pohon ini disambar petir, tentu bagian ujungnya-lah yang menjadi parah. Bukan pokok batangnya. Bahkan tidak akan mungkin sekaligus sekian banyak pohon menjadi layu.”

Untuk beberapa saat mereka berteka-teki. Namun tiba-tiba seperti meledak Swandaru berkata, “Raden Rangga. Tentu pokal anak itu.”

Semua wajah menjadi tegang. Pandan Wangi pun menjadi tegang. Sementara itu, Swandaru pun berkata, “Aku akan menyusulnya. Ia harus bertanggung jawab atas permainannya yang ugal-ugalan ini.”

Pandan Wangi terkejut mendengar ungkapan kemarahan Swandaru itu. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa berkata, “Jangan Kakang.”

“Sudah aku katakan, bahwa anak itu tidak boleh membuat kekisruhan di kademangan ini. Aku tidak mau dipermainkan oleh anak-anak ingusan seperti itu. Aku akan menyusul Raden Rangga, menyeretnya kemari agar ia mempertanggung-jawabkan perbuatannya ini,” geram Swandaru.

“Raden Rangga bersama-sama dengan Glagah Putih, Kakang. Glagah Putih adalah sepupu Kakang Agung Sedayu dan tinggal bersama Kakang Agung Sedayu pula,” berkata Pandan Wangi.

“Maksudmu, jika anak itu menyampaikannya kepada Kakang Agung Sedayu, maka Kakang Agung Sedayu akan dapat menjadi marah? Begitu?” bertanya Swandaru. Lalu katanya, “Aku tidak peduli. Agung Sedayu harus tahu, bahwa adik sepupunya itu tidak mempunyai unggah-ungguh. Ia harus tahu bahwa adiknya memang harus mendapat sedikit peringatan, sebagaimana juga Raden Rangga. Namun jika Kakang Agung Sedayu menjadi salah paham dan melakukan langkah-langkah yang tidak sepantasnya, apa boleh buat. Justru aku, yang menjadi saudara mudanya seperguruan, perlu memberikan sedikit peringatan pula kepadanya. Meskipun aku dalam perguruan lebih muda, tetapi aku sanggup untuk melakukannya.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kakang. Dari pada persoalan akan berlarut-larut, maka aku kira kita harus lebih sabar menghadapi anak-anak nakal itu. Jika Kakang Agung Sedayu marah, mungkin kita masih mempunyai cara untuk meredakannya. Apalagi menurut perhitunganku, Kakang Agung Sedayu tidak akan marah karenanya. Ia akan dapat mengerti, dan bahkan mungkin ia akan berterimakasih. Tetapi bagaimana dengan Panembahan Senapati? Kita tidak tahu pasti, apakah Panembahan Senapati tidak marah jika kita mengambil langkah-langkah untuk sedikit memberinya peringatan?”

“Tetapi anak itu harus diberi peringatan. Pada satu saat ia harus menghadapi satu kenyataan bahwa ia tidak dapat berbuat sesuka hatinya,” berkata Swandaru.

“Aku sependapat Kakang. Tetapi kita harus tahu akibat yang mungkin timbul. Jika Panembahan Senapati tidak berkenan di hatinya, maka persoalannya akan menjadi berkepanjangan,” berkata Pandan Wangi. “Selain itu, jika Kakang menyusul, Kakang akan menyusul kemana? Tidak seorangpun dapat menunjukkan arah kepergian anak-anak itu,” berkata Pandan Wangi pula.

Swandaru mengerutkan keningnya. Kata-kata Pandan Wangi yang terakhir memang memberikan persoalan kepadanya, kemana ia harus menyusul.

Karena itu, maka Swandaru itu pun menggeram. Namun iapun kemudian berkata, “Kau benar Pandan Wangi. Mungkin sehari ini aku belum dapat menemukan mereka.”

“Karena itu, maka urungkan saja niatmu itu Kakang,” berkata Pandan Wangi pula.

Swandaru mengangguk-anguk. Meskipun demikian ia masih bergumam, “Jika aku mengurungkan niatku, bukan karena aku tidak ingin memberikan peringatan kepada kedua anak-anak ugal-ugalan itu. Tetapi karena aku tidak mempunyai waktu untuk mencarinya.”

Pandan Wangi menarik nafas. Tetapi ia tidak menyahut lagi.

Namun justru karena itu, maka Swandaru ternyata mempunyai waktu untuk memperhatikan beberapa pohon turi yang batangnya bagaikan terbakar itu.

Bersama Pandan Wangi ia melihat batang-batang yang hangus dari pangkal batangnya sampai beberapa depa memanjat ke atas. Pohon-pohon itu tentu tidak disambar petir, dan seseorang tentu tidak membakarnya dengan menimbun seonggok kayu di pangkal batangnya dan menyalakannya. Jika demikian maka pekerjaan itu tentu tidak akan selesai dikerjakan semalam suntuk. Dan api pun akan dapat dilihat oleh anak-anak muda yang lewat di tempat itu, atau dari pedukuhan sebelah menyebelah bulak.

Swandaru dan Pandan Wangi memang merasa heran melihat bekas yang mendebarkan itu. Namun dengan demikian terbayang oleh mereka kemampuan anak-anak muda yang semalam singgah di kademangan itu.

“Mereka kecewa bahwa Kakang Swandaru tidak bersedia menerima mereka,” berkata Pandan Wangi di dalam hatinya. Meskipun ia tidak pasti, tetapi ia menduga bahwa hal itu merupakan salah satu sebab, mengapa keduanya telah meninggalkan kesan yang mendebarkan itu.

Swandaru pun merasakan pula hal seperti itu. Tetapi bagi Swandaru, kedua anak muda itulah yang harus menunggunya, karena ia baru dalam kesibukan.

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: