Buku 269 (Seri III Jilid 69)

Para anggota kelompok Gajah Liwung mengangguk-angguk. Mereka pun sudah tanggap bahwa kemungkinan itulah yang mereka lihat kemudian.

Ki Jayaraga sambil mengangguk-angguk berkata, “Sayang aku tidak dapat ikut dalam permainan itu, karena aku akan dapat dikenali oleh Podang Abang, yang mungkin juga merupakan bagian dari mereka.”

“Satu hal yang perlu dipertimbangkan,” berkata Ki Ajar, “sejak semula kita dan para petugas sandi Mataram tidak percaya bahwa Adipati Pati akan mempergunakan cara seperti ini untuk membuat Mataram resah karena hubungannya yang kurang baik dengan Panembahan Senapati. Namun rasa-rasanya ada juga jalur yang dapat dilihat menghubungkan orang-orang yang bergerak di Mataram itu, dengan Gunung Kendeng dan Pati.”

“Aku masih yakin bahwa bukan Kanjeng Adipati Pati yang mempunyai gagasan seperti ini. Tentu ada orang lain yang masih perlu diamati, apakah dengan diam-diam ingin membantu Adipati Pati tanpa persetujuannya, atau orang yang hanya memanfaatkan keadaan. Orang yang akan dapat melemparkan tanggung jawab perbuatannya kepada Kanjeng Adipati Pati, atau dengan sengaja mempertajam retak yang memang terdapat antara Mataram dan Pati,” berkata Ki Jayaraga.

Ki Ajar Gurawa mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan aku dapat mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Tetapi jika aku kemudian terjebak, maka kemungkinan ini harus aku terima dengan penuh kesadaran.”

“Soalnya kemudian, bagaimana kami dapat membantu Ki Ajar,” berkata Sabungsari.

“Aku belum dapat mengatakannya,” jawab Ki Ajar, “jika kelak aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan, maka aku akan dapat memberitahukan cara yang terbaik bagi kalian untuk membantuku.”

“Namun kita harus menentukan satu cara untuk dapat saling berhubungan,” berkata Sabungsari kemudian.

“Ya. Untuk sementara aku masih dapat pulang kembali ke tempat ini. Namun pada suatu saat mungkin aku tidak dapat lagi keluar dari sarang mereka. Atau datang saatnya aku dicurigai dan selalu diawasi,” berkata Ki Ajar.

“Baiklah,” berkata Sabungsari, “kita besok akan menentukan cara itu. Malam nanti kita sempat memikirkannya. Bukankah Ki Ajar ingin beristirahat?”

“Ya. Semalaman aku hampir tidak tidur,” berkata Ki Ajar.

Ketika Ki Ajar dan kedua orang muridnya kemudian membenahi diri dan pergi ke dapur sebelum beristirahat, maka Ki Jayaraga, Sabungsari, Glagah Putih dan beberapa orang yang lain masih sempat berbincang sejenak. Sementara Pranawa dan Rumeksa yang mendapat giliran bertugas di dapur sibuk melayani Ki Ajar dan kedua orang muridnya.

Namun seperti yang dikatakan oleh Ki Ajar, mereka memang belum dapat menentukan langkah-langkah berikutnya, karena Ki Ajar masih belum tahu apa yang akan dilakukannya bersama para pengikut Ki Rangga Resapraja. Bahkan Ki Ajar pun masih belum dapat menentukan apakah jalur yang dilaluinya itu akan sampai kepada kelompok yang juga menyebut namanya Gajah Liwung.

“Yang penting kita menentukan tempat-tempat yang dapat kita pergunakan untuk saling berhubungan,” berkata Glagah Putih.

“Ya,” Sabungsari mengangguk-angguk, “kita akan mengusulkan kepada Ki Ajar, nampaknya pasar di Kotaraja merupakan tempat yang paling baik untuk berhubungan dengan Ki Ajar atau kedua muridnya.”

“Aku dapat menjadi penjual hasil bumi,” berkata Suratama.

Sabungsari mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Pada tingkat pertama, selama Ki Ajar masih dapat kembali ke tempat ini, kita tidak mempunyai kesulitan apa-apa. Sedangkan nanti pada tataran berikutnya, kita akan mempergunakan pasar di Kotaraja untuk berhubungan. Salah seorang di antara kita akan selalu berada di pasar. Mungkin sebagai pedagang, tetapi mungkin juga di kedai-kedai yang kita tentukan.”

Yang lain mengangguk-angguk. Glagah Putih pun kemudian berdesis, “Kita nanti akan menawarkannya kepada Ki Ajar.”

Sore hari, ketika anggota kelompok Gajah Liwung itu sempat berkumpul lagi, maka diputuskan untuk menghadap lagi Ki Wirayuda. Gajah Liwung akan memberikan laporan hubungan yang telah dilakukan oleh Ki Ajar Gurawa dengan Ki Rangga Resapraja.

“Kami berdua akan menghubungi Ki Wirayuda,” berkata Sabungsari sambil menunjuk Glagah Putih.

Ki Ajar Gurawa mengangguk-angguk. Katanya, “Aku menunggu petunjuk-petunjuk lebih jauh. Besok aku harus datang ke rumah Ki Rangga Ranawandawa. Mungkin ada pesan atau perintah yang harus aku lakukan.”

“Baiklah. Sementara itu, kami telah berbicara tentang jalur hubungan yang sebaiknya kita lakukan. Mudah-mudahan Ki Ajar setuju. Nanti biarlah Ki Jayaraga memberikan keterangan dari hasil pembicaraan kami itu.”

Demikianlah, Sabungsari dan Glagah Putih pun telah pergi ke Kota pula. Seperti sebelumnya, keduanya telah menitipkan kuda mereka di rumah Ki Lurah Branjangan, justru saat Ki Lurah tidak ada di rumah.

Ketika Ki Wirayuda mendengar laporan itu, maka iapun berkata, “Kami memang sedang mengamati Ki Rangga Resapraja. Dengan peristiwa itu, maka menjadi jelas bagi kami, bahwa Ki Rangga memang mempunyai jalur hubungan dengan pihak yang belum kita ketahui. Aku tidak dapat menyebut Pati. Atau bahkan mungkin Ki Rangga Resapraja adalah salah seorang dari pimpinan kelompok yang sedang membuat Mataram sibuk dengan kegiatan mereka yang kasar itu. Justru kejahatan.”

“Di samping Ki Rangga Resapraja, masih ada lagi seorang yang terlibat dalam kelompok itu, Ki Wirayuda,” Sabungsari menyambung keterangannya.

“Seorang pejabat?” bertanya Ki Wirayuda.

“Ya. Namanya Ki Rangga Ranawandawa,” jawab Sabungsari.

“Ranawandawa?” ulang Ki Wirayuda dengan dahi yang berkerut.

“Ya. Menurut keterangan orang yang bernama Dipacala. Tetapi nama itu diucapkannya di hadapan Ki Rangga Resapraja,” jawab Sabungsari.

Ki Wirayuda mengangguk-angguk. Namun nampak di wajahnya bahwa ia tidak yakin akan keterangan Sabungsari bahwa Ki Rangga Ranawandawa juga terlibat.

Namun Sabungsari pun kemudian telah memberikan ancar-ancar rumah orang yang disebut Ki Rangga Ranawandawa itu, sebagaimana dikatakan oleh Ki Ajar Gurawa.

Ki Wirayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Jika orang itu yang dimaksud, maka ia memang Rangga Ranawandawa.”

Sabungsari pun telah menceritakan pula ciri-ciri orang itu sendiri, sebagaimana disebut Ki Ajar Gurawa.

Dengan demikian, maka Ki Wirayuda menganggap kelompok yang di antara pemimpinnya terdapat Ki Rangga Resapraja dan Ki Rangga Ranawandawa itu adalah kelompok yang sangat berbahaya.

“Pantas kami selalu kehilangan jejak. Nampaknya segala gerak prajurit sandi ada dalam pengawasan kedua orang itu. Dengan demikian kami tidak pernah berhasil menangkap mereka. Jika kami mendapat keterangan tentang sarang mereka, maka setiap kami datang, sarang itu tentu sudah kosong,” berkata Ki Wirayuda.

“Jika demikian Ki Wirayuda, biarlah kami berusaha membantu dengan cara kami.”

“Sekali lagi aku peringatkan, bahwa nama Gajah Liwung tidak dapat kau pakai lagi. Jika kau mempergunakannya dengan pertanda gambar sebagaimana kau pergunakan sampai saat ini, maka kau justru akan berhadapan dengan prajurit sandi. Sebagaimana kau ketahui bahwa kelompok yang menyebut dirinya Gajah Liwung itu juga mempunyai pertanda gambar sebagai lambang kelompoknya seperti gambar yang kau pergunakan sebagai lambang kelompokmu. Kepala Gajah,” berkata Ki Wirayuda.

Sabungsari mengangguk-angguk. Katanya, “Kami tidak terikat pada lambang kami. Yang penting kami dapat memberikan sumbangan betapapun kecilnya bagi ketenteraman hidup di Mataram ini.”

“Bagus. Didalam tugas keprajuritanmu dan di dalam tugasmu sekarang, nampaknya jalannya sejajar. Mudah-mudahan kita akan dapat segera memecahkan persoalan ini. Jika kita tarik garis ke atas, maka persoalannya harus kita lihat hubungannya dengan sikap Pati. Bukan maksudku mengatakan bahwa kelompok ini ada hubungannya dengan Pati, karena hal itu masih harus dibuktikan, tetapi persoalan antara Pati dan Mataram sekarang ini bukan sekedar mimpi buruk. Tetapi harus benar-benar kita amati sebagai satu kenyataan. Bahkan seperti bisul yang setiap saat akan dapat pecah,” berkata Ki Wirayuda.

Sabungsari dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Wirayuda pun berkata, “Baiklah. Besok aku harus segera menghadap dan memberitahukan hal ini kepada Ki Patih Mandaraka. Nampaknya persoalannya menyangkut orang-orang berkedudukan di Mataram, sehingga Ki Patih memang harus langsung ikut mengamatinya.”

Setelah mendapat beberapa pesan dari Ki Wirayuda, maka Sabungsari dan Glagah Putih pun segera mohon diri.

“Kita semuanya harus berhati-hati,” berkata Ki Wirayuda kemudian.

Sabungsari pun telah menyampaikan rencana pertemuan yang harus tetap dapat dilakukan seandainya Ki Ajar Gurawa kemudian terikat untuk tetap berada di sarang kelompok itu.

“Pasar adalah tempat yang paling baik untuk melakukan hubungan itu,” berkata Sabungsari.

“Ya,” jawab Ki Wirayuda. “Namun pasar akan tetap mendapat pengawasan yang seksama dari pada petugas sandi”

“Kami akan tetap berhati-hati Ki Wirayuda,” desis Sabungsari.

Malam itu juga Sabungsari dan Glagah Putih telah mengambil kuda mereka dan segera kembali ke sarang kelompok Gajah Liwung. Di regol butulan, mereka mengatakan kepada para petugas bahwa mereka baru saja menunggui saudara mereka yang sakit di dalam kota. Malam itu mereka harus pulang ke padukuhan mereka, karena besok pagi-pagi mereka akan ikut pada upacara perkawinan kemanakan mereka.

Karena keduanya nampaknya tidak mencurigakan, maka Sabungsari dan Glagah Putih tidak mengalami kesulitan keluar regol butulan, kembali ke Sumpyuh.

Ketika mereka sampai di sarang mereka, maka rumah itu sudah sepi. Seisi rumah sudah tertidur neyenyak, kecuali Pranawa yang mendapat tugas berjaga-jaga. Sambil terkantuk-kantuk ia duduk di ruang dalam. Di hadapannya memang terbuka sebuah kitab yang dibacanya untuk melawan kantuk. Namun kadang-kadang matanya masih juga terpejam meskipun ia masih tetap duduk.

Tugas yang setengah malam itu memang terasa menjemukan. Sebenarnya Pranawa memilih setengah malam yang pertama. Tetapi ketika ia beradu jari dengan Rumeksa, ia kalah. Karena itu, Rumeksa-lah yang berhak memilih, apakah tengah malam pertama atau tengah malam kedua. Ternyata Rumeksa memilih tengah malam pertama.

Namun kedatangan Sabungsari dan Glagah Putih yang mengejutkan Pranawa itu justru membuat kantuknya hilang. Beberapa saat mereka sempat berbincang. Namun Sabungsari dan Glagah Putih yang tidak bertugas itu pun kemudian telah pergi ke biliknya untuk beristirahat. Kepada Pranawa, Glagah Putih sempat berbisik, “Malam tinggal sedikit. Kau harus bertahan.”

Pranawa tersenyum. Katanya, “Aku akan bertahan. Besok aku akan tidur sehari penuh.”

Ketika kemudian Sabungsari dan Glagah Putih pergi ke bilik mereka, maka Pranawa justru tidak mengantuk lagi. Ia kembali membaca kitab yang masih terbuka, diterangi lampu minyak yang berkeredipan.

Di hari berikutnya, para anggota kelompok Gajah Liwung itu telah menyusun kesepakatan. Jika pada suatu saat Ki Ajar Gurawa dan kedua muridnya tidak lagi sempat kembali ke Sumpyuh, maka mereka akan berusaha untuk dapat menghubungi para anggota yang lain di Pasar Kotaraja. Jika terjadi perubahan lingkungan kegiatan, maka Ki Ajar Gurawa akan berusaha untuk memberitahukannya.

“Sore nanti aku harus pergi ke rumah Ki Rangga Ranawandawa,” berkata Ki Ajar Gurawa, “aku tidak tahu, apakah kehadiranku nanti akan memberikan petunjuk lebih jauh, atau bahkan sebaliknya, di rumah itu sudah disediakan tiang gantungan untuk kami bertiga.”

Ki Jayaraga tersenyum. Katanya, “Apakah artinya tiang gantungan bagi Ki Ajar. Jika leher Ki Ajar menjadi bara, maka tali itu akan terputus sendiri.”

“Ah,” Ki Ajar Gurawa mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata, “Bukankah hanya orang-orang yang berilmu tinggi dapat berbuat demikian?”

Ki Jayaraga justru tertawa. Tetapi ia tidak berkata lebih lanjut.

Hari itu, Ki Jayaraga masih juga pergi ke Kotaraja. Namun ia masih belum dapat bertemu dengan Podang Abang. Demikian pula anggota Gajah Liwung yang lain yang juga pergi ke Kota, sama sekali tidak melihat orang-orang yang dapat menarik perhatian mereka.

Namun anggota Gajah Liwung tidak dapat memancing dengan menimbulkan persoalan, sebagaimana saat mereka berhadapan dengan kelompok-kelompok anak-anak muda yang sudah tidak nampak lagi kegiatannya justru setelah kelompok yang menyebut dirinya Gajah Liwung itu hadir di Kotaraja. Jika anak-anak muda anggota Gajah Liwung yang dipimpin Sabungsari itu melakukan kegiatan, maka mereka justru akan berhadapan dengan prajurit sandi yang nampaknya juga meningkatkan kegiatannya itu.

Sementara itu, Ki Wirayuda pun telah menghadap Ki Patih Mandaraka pagi-pagi begitu matahari terbit. Ki Wirayuda ingin bertemu dengan Ki Patih sebelum Ki Patih pergi ke paseban.

Ketika laporan Sabungsari dan Glagah Putih itu dilaporkan kepada Ki Patih, maka Ki Patih pun telah menanggapinya dengan bersungguh-sungguh.

“Jika demikian, kecurigaan kita selama ini benar adanya,” berkata Ki Patih Mandaraka.

“Ya Ki Patih,” jawab Wirayuda, “tetapi kita masih perlu mencari, siapakah orang-orang yang memperalat atau diperalat oleh Ki Rangga Resapraja itu. Untuk apa mereka melakukannya.”

“Lakukan tugas itu sebaik-baiknya Wirayuda,” berkata Ki Patih, “tetapi kau harus sangat berhati-hati. Mungkin orang-orangmu telah ada pula yang terseret ke dalam jalur kegiatan Ki Ranggam sehingga usahamu akan sia-sia. Sementara itu kau harus tetap melindungi nama Ki Ajar Gurawa agar ia tidak terjebak dalam satu kesulitan.”

Ki Wirayuda mengangguk-angguk. Ia sadar bahwa penyelidikannya selanjutnya atas Ki Rangga Resapraja dan Ki Rangga Ranawandawa harus melalui jalurnya sendiri tanpa mengkaitkan nama Ki Ajar Gurawa yang menyebut dirinya Kerta Dangsa itu. Dengan demikian maka jika jalur penyelidikannya terputus karena orang-orangnya ada yang sudah terpengaruh oleh kedua orang itu, maka persoalannya akan dapat dibatasi.

Ki Ajar Gurawa meninggalkan Sumpyuh sebelum Ki Jayaraga kembali dari Kotaraja. Namun segala pembicaraan telah dilakukan dan mendapatkan kesepakatan. Dengan demikian, maka mereka bersama-sama tinggal melaksanakannya saja.

Perhatian kelompok Gajah Liwung yang dipimpin oleh Sabungsari itu kemudian dipusatkan kepada jalur yang sudah ditempuh oleh Ki Ajar Gurawa. Seperti yang dikatakannya, maka lewat senja hari itu, Ki Ajar akan menghubungi Ki Rangga Ranawandawa. Ki Ajar sudah dibenarkan datang bersama dengan kedua orang muridnya yang disebutnya kemanakannya itu.

Sebenarnyalah ketika senja mulai turun, maka Ki Ajar sudah berjalan menuju ke arah yang dikatakan oleh Dipacala. Ia telah melangkah menuju ke rumah Ki Rangga Ranawandawa yang letaknya memang agak lebih ke pinggir daripada rumah Ki Rangga Rerapraja.

Ternyata Ki Ajar Gurawa yang dikenal dengan nama Ki Kerta Dangsa itu diterima dengan baik oleh Ki Rangga Ranawandawa. Sementara itu Dipacala pun telah berada di rumah itu pula bersama tiga orang yang lain.

Ki Ajar yang bertindak sangat berhati-hati itu tidak berbuat sesuatu kecuali menunggu, la duduk bersama kedua muridnya di sebuah amben yang tidak terlalu panjang di serambi rumah Ki Rangga yang luas. Sementara itu tiga orang yang telah datang lebih dahulu duduk di sisi yang lain. Ketiga orang itu memang nampak kasar dan garang. Namun Ki Ajar sendiri memang berusaha untuk nampak kasar dan garang. Pakaiannya pun telah disesuaikannya pula. Demikian pula kedua orang muridnya yang masih muda itu.

Tetapi rasa-rasanya ketiga orang yang telah ada di serambi itu selalu mengawasinya, sehingga Ki Ajar menjadi agak canggung karenanya.

“Mungkin orang-orang itu merasa belum pernah melihat kami,” berkata Ki Ajar itu di dalam hatinya.

Beberapa saat kemudian, ternyata telah datang lagi dua orang yang tidak kalah kasarnya dari ketiga orang yang telah lebih dahulu ada di serambi itu. Keduanya memandang berkeliling sebelum kemudian duduk di sudut yang lain.

“Kemana kita malam ini?” salah seorang dari kedua orang itu bertanya.

“Tidak malam ini,” Dipacala yang menjawab.

“Jadi?” bertanya orang itu.

“Kita tunggu Ki Rangga Ranawandawa. Mungkin ada pembicaraan yang perlu malam ini,” jawab Dipacala.

Orang itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Rangga yang berada didalam pun telah keluar dan duduk di serambi itu pula.

“Besok kita bergerak,” berkata Ki Rangga, “kita akan mengatur laku kegiatan kita besok.”

“Siapa yang akan pergi?” bertanya salah seorang dari kedua orang yang datang terakhir.

“Kita yang ada di sini,” jawab Ki Rangga.

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Ketika mereka memandang kedua orang murid Ki Ajar Gurawa, seorang di antaranya bertanya, “Bersama kedua anak-anak itu?”

“Ya,” jawab Ki Rangga.

“Apakah sudah tidak ada orang lagi di antara kita, sehingga kita mengajak kanak-kanak yang baru kemarin dapat berjalan? Siapakah mereka?”

“Kau atau aku yang menentukan?” bentak Ki Rangga.

Orang itu terdiam. Ternyata wibawa Ki Rangga Ranawandawa cukup tinggi.

Dalam pada itu Ki Rangga pun berkata selanjutnya, “Kita sudah memutuskan untuk tidak bergerak sama sekali selama sepekan ini. Malam ini adalah malam terakhir. Besok kita mulai dengan satu langkah yang tidak boleh gagal, karena sasarannya sudah benar-benar dipilih dari lima pilihan. Kita besok bergerak dengan kekuatan yang besar, namun kita tidak dapat menunggu kawan-kawan kita yang sedang kembali ke padepokan. Karena itu, aku memutuskan untuk membawa Kerta Dangsa bersama kedua orang kemanakannya itu. Sementara ini kita masih menunggu tiga orang kawan kita yang lain.”

Orang-orang yang ada di serambi itu mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Rangga pun berkata, “Duduklah. Jangan gelisah, dan jangan menilai orang lain yang aku undang ke rumahku.”

Ketika kemudian Ki Rangga masuk lagi ke ruang dalam, salah seorang dari ketiga orang yang datang lebih dahulu bertanya kepada kedua orang yang datang kemudian, “Dimana Wirog itu? Apakah kau tidak bersamanya?”

“Anak itu benar-benar demit,” jawab salah seorang dari keduanya, “ia singgah dirumah Biyang Sentir.”

“Anak itu seharusnya dibunuh saja. Di rumah Biyang Sentir ia akan dapat membuka rahasia jika ia terlalu banyak minum tuak.”

“Pinjal dan Lorog akan mencegahnya,” jawab orang itu.

“Kalau semuanya menjadi mabuk?” berkata salah seorang yang lain di antara ketiga orang itu.

“Jika rahasia itu terbuka, Biyang Sentir memang harus dibunuh. Tetapi Biyang Sentir tidak akan berusaha mengungkit rahasia apapun. Asal Wirog memberinya uang, itu sudah cukup,” jawab salah seorang dari kedua orang yang datang kemudian.

Ki Ajar Gurawa termangu-mangu mendengar pembicaraan itu. Ketika ia dengan sekilas melihat wajah murid-muridnya, ia melihat kerut di dahi mereka. Namun mereka sudah memasuki satu lingkungan yang keras dan kasar, Mereka pun harus dapat menyesuaikan diri dengan sebaik-baiknya.

Sejenak kemudian, maka telah dihidangkan minuman dan makanan bagi mereka. Wedang jahe hangat dengan gula kelapa. Beberapa potong sagon manis dan beberapa bungkus lemet ketela pohon.

Beberapa saat lamanya mereka menunggu. Tetapi ketiga orang itu masih belum datang. Ki Rangga Ranawandawa yang kemudian juga ikut duduk bersama orang-orang itu menjadi gelisah.

“Susul mereka,” berkata Ki Rangga kemudian.

Dipacala yang berkumis melintang itu pun kemudian ikut memerintah, “Susul ketiganya. Aku tidak telaten menunggu.”

“Agaknya mereka sudah tahu bahwa malam ini kita masih belum akan bergerak,” jawab salah seorang dari antara kedua orang yang datang kemudian.

“Tahu atau tidak, aku tidak mau menunggu lama,” jawab Ki Rangga.

Kedua orang itu pun kemudian bangkit berdiri. Tetapi sebelum mereka beranjak keluar, maka mereka telah mendengar suara orang bercakap-cakap di luar.

“Itu mereka,” desis salah seorang dan kedua orang yang akan menjemput itu.

Sejenak kemudian, maka pintu pun terbuka Seorang yang bertubuh tinggi kekar dengan cambang dan kumis tebal melangkah masuk. Suara tertawanya terdengar tinggi sambil berkata, “He, apakah kalian sudah lama menunggu?”

Duduk!” tiba-tiba Ki Rangga membentak.

Wirog, orang yang bertubuh tinggi kekar dengan cambang dan kumis tebal itu, termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bergeser ke amben yang berada di sebelah pintu serambi itu. Dua orang kawannya diam-diam telah melangkah masuk pula dan duduk di sebelah Wirog.

“Kemana saja kalian?” bertanya Ki Rangga.

Ternyata wibawa Ki Rangga memang besar. Wirog yang bertubuh tinggi besar itu seakan-akan telah berkerut, “Kami singgah di kedai minum itu sebentar Ki Rangga.”

“Mabuk lagi?” desak Ki Rangga.

“Tidak. Tidak sampai mabuk,” jawab Wirog.

“Kenapa kau datang sangat terlambat?” bertanya Ki Rangga pula.

“Bukankah malam ini kita tidak akan berbuat sesuatu?” Wirog justru bertanya.

“Meskipun tidak, tetapi bukankah aku minta kalian datang lewat senja?” sahut Ki Rangga.

Wirog itu menundukkan kepalanya. Demikian pula kedua orang kawannya.

“Minumlah jika kau sudah menjadi haus lagi. Kita akan berbicara tentang rencana kita besok,” berkata Ki Rangga kemudian.

Ketiga orang itu masih saja menunduk. Sementara Ji Rangga pun berbicara tentang rencananya.

“Besok kita berkumpul sedikit lewat senja. Jangan terlambat,” berkata Ki Rangga Ranawandawa.

Semua orang yang ada di ruang itu mengangguk.

“Dipacala sendiri akan memimpin kalian ke rumah saudagar emas dan berlian itu. Menurut pengamatan terakhir, setelah peristiwa perampokan yang telah terjadi itu, di rumah itu telah dijaga oleh sekitar lima orang yang dianggap akan mampu melindungi rumah itu. Tetapi kelima orang itu bersama keluarga Ki Saudagar tidak akan mampu membendung kalian. Kita akan mendatangi rumah itu dengan lebih dari sepuluh orang. Tidak usah terjadi pembunuhan. Yang penting harta benda orang itu dapat kalian kuasai. Pembunuhan hanya terjadi dalam keadaan yang tidak mungkin dihindari. Jika seorang saja mati, maka para petugas sandi akan melipat gandakan usaha pencarian,” berkata Ki Rangga.

Yang ada di ruang itu mendengarkan sambil mengangguk-angguk.

Sementara itu Ki Rangga Ranawandawa pun berkata, “Aku kenal baik dengan orang yang akan kalian rampok besok. Karena itu aku tahu pasti, bahwa di dalam rumahnya itu terdapat perhiasan yang tidak ternilai harganya. Menurut penilaianku, saudagar yang satu ini memiliki perhiasan emas dan berlian lebih banyak dari tiga saudagar terkaya yang lain di Kotaraja ini. Meskipun seandainya ada sebagian dari perhiasan itu terjual, namun yang masih tinggal di rumahnya tentu masih cukup banyak. Karena itu, kalian besok harus berhasil.”

Orang yang ada di serambi itu saling memandang. Bahkan ada di antara mereka yang sempat menghitung, termasuk Wirog.

“Sepuluh orang,” desis Wirog.

“Apakah kau tidak dapat menghitung sampai dua belas?” bertanya Ki Rangga.

“Termasuk anak-anak itu?” bertanya Wirog pula.

“Bertanyalah, apakah mereka berani melakukan tugas ini. Jangan bertanya kepada Kerta Dangsa pamannya itu. Bertanyalah kepada kemanakannya itu,” jawab Ki Rangga. “Untuk melakukan tugas ini memang diperlukan keberanian.”

Wirog mengangguk. Tetapi ia masih ragu-ragu.

“Bertanyalah langsung kepada mereka!” bentak Ki Rangga.

Kerta Dangsa menjadi berdebar-debar. Jika ia sudah menjalani ujian, maka kedua muridnya ternyata harus diuji pula. Apakah mereka pantas untuk ikut atau tidak. Karena itu Kerta Dangsa memutuskan untuk tidak mencampuri sikap murid-muridnya. Ia hanya berharap agar murid-muridnya tanggap atas keadaan yang mereka hadapi.

Wirog yang merasa sudah mendapat perintah dari Ki Rangga itu pun telah bangkit dan melangkah mendekati kedua orang murid yang diaku sebagai kemanakan Kerta Dangsa itu. Dengan kasar Wirog bertanya, “Gus, apakah kau akan ikut berburu besok?”

Kerta Dangsa mengerutkan keningnya. Namun nampaknya kemanakannya itu tanggap. Dengan tegas yang tertua di antara mereka menjawab, “Ya. Aku akan ikut Paman. Bukankah Paman akan ikut pula?”

Wirog tertawa. Katanya, “Pamanmu besok tidak pergi bertamasya. Tetapi akan merampok. Mungkin pamanmu mati melawan para gegedug yang diupah untuk melindungi rumah Ki Sudagar itu. Apakah dengan begitu kau juga akan ikut mati?”

“Paman tidak akan mati. Yang mungkin mati adalah kau,” jawab murid Ki Ajar yang diaku sebagai kemanakannya itu.

“Tutup mulutmu!” bentak Wirog, “Kau sudah mulai mengigau. Jika sekali lagi kau menyinggung perasaanku,. aku pilin lehermu.”

Tetapi yang tidak diduga-duga telah terjadi. Tiba-tiba saja murid Ki Ajar yang tertua itu membentak sambil bangkit.

“Apa hakmu mempersoalkan aku dan adikku?”

Wirog terkejut bukan kepalang. Anak muda yang disebutnya masih kanak-kanak itu berani membentaknya. Justru karena itu untuk beberapa saat Wirog berdiri terheran heran.

“Kau heran?” bertanya Dipacala.

“Anak iblis,” Wirog itu menggeram. Dan dengan nada geram ia bertanya, “Kau berani membentak aku?”

“Kau berani mengancam aku,” sahut murid Ki Ajar yang tua itu.

Wirog tiba-tiba saja berpaling kepada Dipacala sambil menggeretakkan gigi menahan kemarahan yang menggelegak di dadanya. Katanya, “Ki Lurah, apa yang boleh aku lakukan atas anak ini?”

“Sekehendakmu. Ia sudah berani menyatakan dirinya ikut dalam perburuan kita. Karena itu maka ia tentu menyadari apa yang dilakukannya. Ia tidak akan tergantung kepada orang lain untuk bersandar atas sikap yang diambilnya,” jawab Dipacala.

Ki Ajar pun mengerti bahwa itu merupakan satu isyarat, bahwa kedua muridnya pun harus diuji. Atau salah seorang daripadanya, untuk menentukan apakah mereka pantas untuk ikut atau malahan justru akan menghambat pekerjaan mereka.

Karena itu, Ki Ajar pun sama sekali tidak mencampurinya la duduk saja terkantuk-kantuk sambil menggaruk punggungnya sekali-sekali jika punggungnya terasa gatal.

Namun dalam pada itu Wirog pun seakan-akan telah mendapat ijin untuk berbuat apa saja atas anak muda yang telah berani menantangnya itu. Karena itu, dengan kasar Wirog telah menggapai pundak anak itu.

Tetapi sementara tangannya dengan jari-jari terbuka terjulur untuk menggapai pundak anak muda itu, maka anak muda itu justru melangkah maju sambil merendahkan dirinya. Dengan cepat ia berbalik sambil menangkap pergelangan tangan Wirog yang bertubuh raksasa itu. Justru mempergunakan tenaga dorong Wirog sendiri, maka murid Ki Ajar itu telah menarik kemudian mengangkat pundaknya, sehingga Wirog yang tubuhnya jauh lebih besar daripadanya itu terangkat dan terputar di udara.

Dengan derasnya Wirog itu pun jatuh terbanting di lantai serambi yang keras, hampir saja menimpa Ki Ajar yang duduk dengan tenang di tempatnya.

Ki Ajar memang dengan cepat bergeser. Hampir tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Namun ia sudah terbebas dari hempasan tubuh yang terbanting jatuh itu.

Terdengar teriakan tertahan. Demikian tubuh itu jatuh terbanting di lantai, maka anak muda yang membantingnya itu melangkah beberapa langkah surut sambil memperhatikan Wirog yang kesakitan terbaring di lantai. Tangannya pun kemudian menggapai-gapai. Ketika tangannya menangkap amben bambu tempat Ki Ajar duduk, maka iapun berusaha untuk bangkit berdiri.

Namun tulang belakang Wirog itu seakan akan telah menjadi berpatahan.

“Iblis kau,” geram Wirog sambil menyeringai, “kau kira kau telah berhasil? Licik.” Sambil berpaling kepada Ki Rangga ia bertanya, “Jika aku tidak dianggap bersalah, aku akan membunuhnya.”

“Kau kira ia akan membiarkan dirinya kau cekik sampai mati?” bertanya Ki Rangga.

“Aku akan membunuhnya,” geram Wirog.

Ternyata baik Ki Rangga maupun Dipacala sama sekali tidak mencegahnya. Wirog melangkah maju mendekati murid Ki Ajar yang tua itu.

Murid Ki Ajar itu memang selangkah surut. Ia berusaha untuk berada di tempat yang lebih lapang. Jika Wirog itu menyerangnya, maka murid Ki Ajar itu benar-benar akan bertempur untuk membuat raksasa yang sombong itu menjadi jera.

Mula-mula Ki Ajar menjadi cemas. Jika muridnya itu menunjukkan unsur-unsur gerak ilmunya yang-sesungguhnya, mungkin Ki Rangga atau Ki Dipacala akan menjadi curiga. Meskipun Ki Ajar tahu bahwa muridnya itu tanggap atas keadaan yang dihadapinya, namun dalam ketidak-sadaran, ia akan dapat terjebak sehingga Ki Rangga mencurigainya, sehingga rencana selanjutnya akan sulit dilakukannya,

Tetapi ternyata bahwa muridnya itu pun mengerti. Karena itu, ia merasa tidak perlu mempergunakan unsur-unsur khusus dari perguruannya atau yang menjadi ciri dari perguruannya.

Ketika Wirog itu mendekatinya, maka murid Ki Ajar itu sudah bertekad untuk melawannya dengan beradu kekuatan. Meskipun tubuhnya jauh lebih kecil dari tubuh Wirog, tetapi dengan landasan tenaga cadangan di dalam dirinya, ia yakin akan dapat mengimbangi kekuatan Wirog itu.

Sebenarnyalah bahwa Wirog memang hanya melandasi keberaniannya atas kekuatannya yang besar. Namun ketika ia berusaha memukul kening lawannya yang masih muda itu, lawannya telah menangkis serangannya dengan cepat, mengangkat tangan lawannya yang terayun itu sehingga lambungnya terbuka. Dengan keras sekali anak muda itu telah memukul lambung Wirog yang terbuka itu.

Terdengar Wirog mengaduh kesakitan, sehingga badannya justru terbungkuk. Dengan kasarnya, murid Ki Ajar yang tua itu telah mencengkam rambutnya dan membenturkan kepala Wirog itu pada lututnya.

Wirog berteriak kesakitan. Sekali lagi tubuhnya jatuh tersungkur di lantai, demikian lawannya itu melepaskan rambutnya. Bahkan kemudian darah telah meleleh dari hidungnya.

Namun kemudian ketika dengan kasar anak muda itu membalik tubuh Wirog dan siap menginjaknya, maka terdengar Ki Rangga mencegahnya, “Cukup. Kau sudah membuktikan bahwa kau memang pantas untuk ikut serta besok bersama pamanmu.”

“Tetapi ia menghina aku,” geram anak muda itu.

“Cukup! Kau dengar kata-kataku?” hentak Ki kangga. Anak muda itu tidak menjawab lagi. Iapun kemudian bergeser kembali ke tempat duduknya. Meskipun wajahnya masih gelap, tetapi anak muda itu telah duduk kembali.

Sementara itu Wirog pun telah bangkit. Sambil mengusap darah dihidungnya ia menggeram, “Aku akan membunuhnya.”

“Kau yang akan dibunuhnya,” sahut Ki Kangga, “karena itu aku perintahkan kalian berdua tidak lagi bermusuhan, agar aku tidak perlu membunuh kalian berdua. Kau tahu bahwa aku tidak pernah bermain-main dengan ancamanku?”

Wirog mengangguk kecil.

“Pergi ke belakang. Bersihkan wajahmu itu di pakiwan,” berkata Ki Rangga kemudian.

Wirog itu kemudian telah pergi ke pakiwan. Sementara Ki Rangga berkata, “Nah, terbukti bahwa kemenakanmu juga pantas untuk ikut, Kerta Dangsa.”

“Sudah aku katakan, mereka lebih kasar dari aku,” berkata Kerta Dangsa.

“Kendalikan kemanakanmu, agar mereka tidak menjadi besar kepala sehingga aku sendiri harus membunuhnya,” berkata, Ki Rangga.

Kerta Dangsa mengangguk sambil menjawab, “Ya Ki Rangga.”

“Satu-satunya hukuman di sini adalah mati. Kami tidak pernah melepaskan anggota kami hidup-hidup Apalagi jika kami tahu bahwa orang itu akan berkhianat,” berkata Ki Rangga selanjutnya.

Kerta Dangsa mengangguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab, lapun tahu bahwa ancaman itu diberikan juga kepadanya dan kepada kedua muridnya itu.

Sejenak kemudian, Wirog pun telah hadir pula setelah mencuci mukanya yang dibasahi oleh darahnya yang mengalir dari hidungnya. la tidak lagi duduk sambil menengadahkan wajahnya. Ternyata anak-anak ingusan itu memiliki kemampuan dan kekuatan yang sangat besar.

“Nah,” berkata Ki Rangga kemudian, “besok kalian harus berkumpul di sini. Lewat senja. Jangan terlambat. Kita masih akan menentukan sikap terakhir. Tetapi tidak akan merubah rencana induk yang sudah aku tetapkan.”

Demikianlah, orang-orang yang hadir di serambi itu pun diijinkan untuk meninggalkan rumah Ki Rangga dengan pesan, besok mereka tidak boleh terlambat. Terutama Wirog dan kawan-kawannya.

Tanpa dipesan lagi, orang-orang itu keluar dari regol halaman Ki Rangga dengan sangat hati-hati. Seorang demi seorang, agar jika ada orang yang melihat, perhatian mereka tidak tertuju langsung kepada beberapa orang sekaligus.

Ki Ajar Gurawa dan kedua orang muridnya pun telah meninggalkan tempat itu pula. Mereka langsung menuju ke Sumpyuh untuk bertemu dengan anggota kelompok Gajah Liwung yang dipimpin oleh Sabungsari.

Ki Ajar menyadari bahwa ia bersama kedua muridnya akan menjadi sangat letih. Malam itu mereka kembali ke Sumpyuh, besok mereka harus kembali ke rumah Ki Rangga Ranawandawa. Namun ketiganya memang sudah berniat untuk memasuki sarang kelompok yang ternyata memang mengarah ke kelompok yang mereka cari.

Ketika rencana itu kemudian disampaikannya kepada anggota-anggota Gajah Liwung, maka Sabungsari pun berkata, “Kita akan melaporkannya kepada Ki Wirayuda, atau kita sendiri langsung akan mencegahnya.”

“Jangan sekarang,” berkata Ki Ajar Gurawa, “biarlah sekarang rencana ini berjalan dengan baik. Jika rencana ini gagal justru saat kami memasuki gerombolan itu, maka mereka tentu akan segera mencurigai kami. Apalagi orang-orang seperti Ki Rangga Ranawandawa dan Rangga Resapraja akan dapat melihat lewat kedudukan mereka dan pengaruhnya atas para petugas sandi.”

“Jadi saudagar itu akan dikorbankan?” bertanya Sabungsari.

“Kali ini saja,” jawab Ki Ajar Gurawa. “Aku akan menjaga agar tidak terjadi korban jiwa. Terutama dari lingkungan Ki Saudagar bersama keluarganya. Apabila kelak gerombolan ini dapat dibongkar sampai tuntas, maka kekayaan gerombolan ini akan dapat diambil alih, dan tentu saja dengan agak kesulitan perhiasan saudagar itu dapat dikembalikan.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Kelompok itu pun pernah menemukan kekayaan yang sangat banyak sekali dan telah diserahkan kepada Ki Wirayuda.

Dengan demikian maka kelompok Gajah Liwung itu pun berjanji untuk tidak ikut campur atas perampokan yang bakal terjadi itu. Demikian pula mereka belum akan melaporkan kepada para petugas sandi.

Pada saat yang telah ditetapkan, maka Ki Ajar Gurawa dan kedua orang muridnya telah berada di rumah Ki Rangga Ranawandawa pula. Ki Ajar Gurawa telah memperingatkan muridnya, apabila Wirog dan kawan-kawannya mendendamnya.

“Aku sudah bersiap menghadapinya, Guru,” jawab muridnya.

“Tetapi menurut perhitunganku, Wirog tidak akan berbuat apa-apa. Orang-orang yang demikian biasanya justru melihat kenyataan. Jika ia sudah dikalahkan, ia tidak akan berani lagi melawan. Apalagi di bawah saksi pimpinannya,” berkata Ki Ajar, “namun memang ada kemungkinan ia minta bantuan orang lain.”

“Kami akan berhati-hati Guru,” jawab muridnya.

Sebenarnyalah Wirog memang merasa tidak mampu mengimbangi kemampuan anak muda itu. Kepada kawan-kawannya ia berkata, “Tenaga anak muda itu luar biasa. Seperti seekor orang hutan. Nampaknya ia memiliki kekuatan dari iblis.”

“Apakah kau tidak ingin membalas dendam?” bertanya seorang kawannya.

“la akan dapat mematahkan leherku. Aku kira pamannya yang bernama Kerta Dangsa itu memiliki kekuatan yang lebih besar,” jawab Wirog yang seakan-akan memang sudah menjadi jera.

Seperti yang diminta oleh Ki Rangga, maka orang-orang yang akan menyertai Dipacala merampok sasaran yang sudah ditentukan itu tidak ada yang datang terlambat. Wirog juga tidak.

Kemudian dengan jelas Ki Rangga memberitahukan sasaran yang akan mereka tuju. Ki Rangga pun menjelaskan keadaan rumah dan ruangan-ruangan yang ada di rumah itu. Pintu-pintu butulan dan longkangan-longkangan.

Sekali lagi Ki Rangga berkata, “Jika tidak terpaksa sekali, jangan ada korban jiwa. Aku kenal baik dengan saudagar yang kaya itu. Bahkan seluruh keluarganya. Jika nasib buruk, satu atau dua orang tertangkap, jangan sebut namaku. Siapa yang berani menyebut namaku, akan mati dalam keadaan yang paling buruk di ruang tahanannya. Aku dapat berbuat apa saja atas mereka yang tertawan. Sementara tidak seorangpun akan percaya bahwa aku terlibat dalam perampokan itu. Tetapi jika ada di antara kalian yang tertangkap dan tidak menyebut namaku, aku akan mengusahakan keadaan yang paling baik baginya di dalam tahanan. Bahkan mungkin dibebaskan.”

Orang-orang itu mengangguk-angguk. Mereka memang tidak merasa perlu menyebut Ki Rangga Ranawandawa. Yang mereka anggap pimpinan mereka adalah Ki Dipacala, yang akan mempertanggungjawabkan segala akibat yang terjadi pada perampokan yang akan mereka lakukan.

Pada saat terakhir, ternyata semua yang berangkat sebanyak lima belas, orang termasuk Ki Ajar dan dua orang muridnya. Dipacala telah membawa tiga orang kawan lagi. Juga di antara orang-orang yang sudah mereka kenal sebelumnya. Dengan demikian, maka orang baru di antara mereka adalah Kerta Dangsa dengan dua orang kemanakannya. Namun Kerta Dangsa telah menjalani ujian kesetiaan paling berat di antara orang-orang itu.

Tetapi sampai sekian jauh, Kerta Dangsa masih belum berani mengungkit hubungan orang-orang itu dengan kelompok yang juga menyebut diri bernama kelompok Gajah Liwung. Juga belum berani bertanya hubungan mereka dengan Pati dan Gunung Kendeng.

Ketika saatnya sudah tiba, maka Dipacala pun mulai mengatur langkah. Mereka akan datang ke tujuan melalui jalan yang berbeda-beda. Pada tengah malam, mereka akan berkumpul di tempat yang sudah ditentukan.

“Hati-hati. Jangan sampai terlihat oleh prajurit yang meronda di malam hari. Mereka tentu akan bertindak tegas terhadap siapapun yang mereka curigai,” pesan Ki Dipacala. Kemudian katanya pula, “Cegah setiap usaha siapapun untuk memukul isyarat dengan kentongan. Terutama orang-orang di halaman rumah saudagar itu. Menurut penilikan kami. di luar rumah itu hanya terdapat sebuah kentongan yang digantung di longkangan sebelah kiri. Kentongan itu harus dikuasai lebih dahulu. Juga harus dijaga pintu butulan. Ada dua pintu butulan. Satu lagi pintu belakang dapur. Tidak seorangpun boleh keluar dari rumah itu. Lima orang upahan yang menjaga rumah itu berada di tiga tempat. Dua orang di gandok kanan dan dua orang di gandok kiri. Sedangkan seorang di antaranya berada di ruang tengah bersama Ki Saudagar sendiri. Ingat, Ki Saudagar juga seorang yang berilmu. Kerta Dangsa mendapat tugas untuk menghadapi Ki Saudagar itu. Hati-hati. Jika tidak, maka kau benar-benar akan mati di rumah itu. Kedua kemenakanmu akan membantumu jika salah seorang upahan itu membantu Ki Saudagar. Kami akan menyelesaikan tugas-tugas yang lain. Ingat, jumlah kita semuanya lima belas orang. Jika kita gagal, maka itu karena kedunguan kita. Tidak perlu menambah jumlah karena hanya akan menambah beban.”

Demikianlah, maka sebelum tengah malam lima belas orang itu sudah meninggalkan rumah Ki Rangga Ranawandawa. Mereka mengikuti jalan masing-masing sesuai dengan rencana. Sebelum tengah malam, mereka harus sudah berkumpul di tempat yang sudah ditentukan.

Sebenarnyalah bahwa Ki Ajar Gurawa memang menjadi berdebar-debar. Bagaimanapun juga ada semacam kegelisahan di dalam hatinya. Nuraninya sama sekali tidak membenarkan tindakan yang akan dilakukannya. Apalagi ia merasa telah mengorbankan seseorang untuk menembus dinding yang menyelubungi sebuah gerombolan yang harus dihancurkan sampai ke akarnya, apapun alasan kehadiran gerombolan itu. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Pengorbanan saudagar itu akan memberikan arti yang besar bagi kelompok Gajah Liwung. Bukan bagi kepentingan kelompok itu sendiri. Tetapi bagi kepentingan Mataram dan bagi kepentingan hidup bebrayan.

“Mudah-mudahan pengorbanan saudagar emas dan permata itu dapat ditebus di hari-hari mendatang,” berkata Ki Ajar di dalam hati, karena Ki Ajar yakin bahwa baik Ki Wirayuda maupun Ki Patih Mandaraka sendiri tentu akan menilai semua langkah yang diambil untuk mematahkan keberadaan gerombolan yang telah membayangi Mataram, dan bahkan telah menimbulkan keresahan.

Kedua murid Ki Ajar pun ternyata juga menjadi gelisah. Mereka telah dengan sengaja memasuki satu lingkungan hitam yang sebelumnya selalu dimusuhinya.

“Apakah langkah ini tidak berbahaya bagi Ki Saudagar?” bertanya muridnya yang muda ketika mereka duduk bertiga saja sambil menunggu langkah-langkah yang akan diambil malam itu.

“Kita akan berusaha untuk melindunginya, Tentu dengan cara yang tidak menimbulkan kecurigaan. Adalah satu keberuntungan lagi bahwa aku-lah yang diwajibkan untuk menghadapi Ki Saudagar,” berkata Ki Ajar Gurawa dengan nada dalam.

Merekapun tidak sempat bercakap-cakap lagi. Sejenak kemudian maka segala-galanya telah siap. Dipacala yang memimpin perampokan malam itu telah menjadi semakin garang. Seperti seekor harimau yang liar dan buas, ia menentukan langkah-langkah yang harus diambil oleh orang-orang yang ikut dalam perampokan itu. Sekali-sekali ia menggeram dan mengancam. Sikapnya memang agak berubah. Seakan-akan dalam keadaan yang demikian, di dalam tubuhnya itu telah hadir kekuatan hitam yang mengerikan.

Kedua orang murid Ki Ajar Gurawa menjadi berdebar-debar melihat sikap itu. Namun Ki Ajar berdesis di telinga mereka, “Dalam keadaan yang demikian kalian harus patuh, asal tidak sampai melanggar landasan penimbangan kita memasuki lingkungan ini. la dapat menjadi buas dan bahkan liar. Apalagi jika tugas ini dibayangi kegagalan.”

Kedua murid Ki Ajar itu mengangguk-angguk.

Ketika saatnya sudah dianggap tepat, maka Dipacala itu pun telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk mulai bergerak. Dua orang yang berjalan lebih dahulu akan memperhatikan suasana.

Setelah yakin bahwa tidak ada orang yang melihat kehadiran mereka, lima belas orang itu pun dengan cepat telah memasuki halaman. Mereka tidak membuka pintu regol halaman, tetapi mereka telah berloncatan dari segala arah, melompati dinding yang mengelilingi halaman dan kebun rumah saudagar itu. Dengan cepat pula setiap orang menempatkan dirinya di tempat yang telah ditentukan. Tiga orang di gandok kiri. Tiga orang di gandok kanan, dan tiga orang siap memasuki ruang dalam. Mereka adalah Ki Ajar dan kedua muridnya. Yang lain mengawasi pintu butulan dan kentongan. Sementara Dipacala sendiri akan merampas emas dan berlian, dibantu oleh seorang kepercayannya, yang juga akan melalui ruang dalam.

“Mereka tentu mengadakan perlawanan,” berkata Dipacala sesaat sebelum mereka berpencar, “karena itu kalian harus siap bertempur, meskipun Ki Rangga berpesan jika tidak terpaksa jangan membunuh, agar para petugas sandi tidak menjadi semakin garang. Memang lebih baik jika mereka tidak melakukan perlawanan.”

Ketika semua sudah siap di tempat masing-masing, maka Dipacala pun telah mengetuk pintu rumah Ki Saudagar itu perlahan-lahan.

Ternyata ketukan itu telah berhasil membangunkan Ki Saudagar. Karena itu, terdengar ia bertanya, “Siapa di luar?”

“Aku Ki Saudagar,” jawab Dipacala.

“Aku siapa?” desak Ki Saudagar.

“Peronda di gardu. Kami ingin memberikan beberapa keterangan,” jawab Dipacala.

“Aku kenal semua orang,” jawab Ki Saudagar, “siapa yang meronda?”

Dipacala telah mendapat keterangan bahwa Ki Saudagar agak kurang rapat bergaul dengan tetangganya, karena pekerjaannya yang sering membawanya ke tempat yang agak jauh sehingga seakan-akan ia jarang sekali ada di rumah. Ia berangkat pagi-pagi dan pulang menjelang senja. Karena itu Dipacala pun tahu, bahwa saudagar itu tidak akan dapat mengenali tetangga-tetangganya dengan baik. Apalagi anak-anak mudanya. Karena itu maka iapun menjawab, “Aku Subi, anak Suta.”

Ternyata Ki Saudagar itu justru ragu-ragu. Jawaban Dipacala yang seakan-akan pasti itu membuatnya bimbang.

“Ki Saudagar,” berkata Dipacala, “kami melihat tiga orang bergerak memasuki padukuhan ini.”

Keterangan singkat itu nampaknya memang menarik perhatian Ki Saudagar. Bahkan kemudian Dipacala mulai berbicara dengan kata-kata yang sengaja dibuat kurang jelas.

Ternyata pancingan Dipacala itu berhasil. Meskipun dengan ragu, namun akhirnya Dipacala mendengar langkah mendekati pintu. Tidak hanya seorang, tapi dua orang.

Dipacala pun memberi isyarat kepada orang-orang yang bersamanya berdiri di muka pintu itu untuk berhati-hati.

Namun ternyata Ki Sudagar pun bertindak sangat hati-hati. Sebelum ia membuka pintu, ia telah menarik ujung dua utas tali yang menggantung di sebelah pintu

Ternyata Dipacala sama sekali tidak menduga, bahwa dengan demikian maka tali-tali yang menjalar panjang itu telah menggerakkan genta yang ada di gandok sebelah menyebelah, sehingga dengan demikian maka orang-orang yang diupah oleh saudagar emas berlian itu segera mempersiapkan diri.

Tetapi ternyata Dipacala benar-benar seorang perampok yang berpengalaman. Iapun segera memberi isyarat agar semua orang tetap tenang. Tiga orang yang berada di gandok kiri dan tiga.orang di gandok kanan pun sama sekali tidak berbuat sesuatu. Bahkan mereka berusaha untuk berada di tempat yang gelap, terlindung dari cahaya lampu minyak di pendapa.

Karena tidak ada gejolak sama sekali di luar pintu pnnggitan, maka Ki Saudagar itu bertanya sekali lagi, “Apa yang telah kau lihat?”

“Ki Saudagar,” jawab Dipacala, “kami berlima melihat tiga orang itu. Kami menjadi ketakutan. Kami ingin minta ijin untuk berada di sini.”

“Kenapa kalian ketakutan?” bertanya Ki Saudagar.

Dipacala memang menjawab. Tetapi jawabannya tidak begitu jelas. Yang terdengar hanyalah, “Tiga orang yang garang.”

Nampaknya Ki Saudagar memang tertarik kepada keterangan yang kurang jelas itu. Perlahan-lahan ia mengangkat selarak pintu pringgitan.

Sejenak kemudian pintu pringgitan itu terbuka. la memang melihat lima orang berdiri di pendapa. Namun lima orang itu tidak seperti,yang dibayangkannya. Bukan lima orang anak muda yang pucat dan ketakutan. Tetapi lima orang laki-laki yang garang.

Ki Saudagar segera menyadari bahwa ia telah terjebak. Karena itu maka iapun segera menarik ujung tali yang menggantung di sebelah pintu. Keras sekali, sehingga genta di gandok sebelah menyebelah itu pun berdentang keras.

Orang-orang yang diupah oleh Ki Saudagar itu pun segera menyadari bahwa sesuatu telah terjadi di rumah Ki Saudagar itu.

Sementara itu Dipacala yang bertugas untuk merampas harta benda milik saudagar itu, terutama emas dan berlian, bersama dengan seorang kepercayaannya justru melangkah surut. Ki Ajar menyadari, bahwa tugasnya adalah memancing saudagar itu untuk bertempur.

Dengan tangkasnya Ki Ajar Gurawa yang di kenal bernama Kerta Dangsa itu menyerang Ki Saudagar dengan pedangnya. Namun Ki Saudagar pun telah bersiap pula, sehingga dengan tangkasnya ia menangkis serangan itu.

Kerta Dangsa berusaha untuk memutar pedangnya. Namun ketika sekali lagi pedangnya terjulur, maka Ki Saudagar pun telah menangkisnya pula. Bahkan dengan cepat, Ki Saudagar telah membalas serangan itu dengan tusukan lurus ke arah jantung. Kerta Dangsa segera meloncat surut. Ketika dengan tangkas saudagar emas berlian itu memburunya, maka kedua kemanakan Kerta Dangsa itu telah melibatkan diri pula.

Seorang dari orang upahan saudagar itu termangu -mangu. Tetapi melawan tiga orang, saudagar itu memang mengalami kesulitan. Sementara itu, Kerta Dangsa dan saudagar itu menjauhi pintu.

Dipacala dan kepercayaannya yang semula termangu-mangu ternyata telah melibatkan diri pula, sehingga saudagar itu harus melawan lima orang bersama-sarna.

Dalam keadaan yang demikian, orang upahan itu tidak mempunyai pilihan. Dengan geram ia telah meloncati tlundak pintu dan dengan sarta merta telah menyerang orang-orang yang tengah bertempur mengeroyok saudagar itu.

Yang langsung melawan orang itu adalah kedua orang kemanakan Kerta Dangsa itu. Dengan golok yang besar kedua kemanakan Kerta Dangsa itu melibat orang upahan itu dengan cepat, sehingga orang itu tidak mempunyai kesempatan untuk membantu Ki Saudagar.

Namun Ki Dipacala dan kepercayaannya tidak berternpur berkepanjangan. Demikian pintu itu tidak terjaga lagi, keduanya telah menyelinap masuk ke dalam rumah itu. Mereka langsung pergi ke bilik induk di ruang dalam rumah Ki Saudagar, Jika mereka menemukan Nyi Saudagar, maka dengan mengancam Nyi Saudagar, pertempuran pun akan cepat selesai.

Tetapi ternyata bilik induk rumah itu kosong sama sekali. Ketika mereka mencari di bilik-bilik yang lain, rumah itu benar benar kosong.

“Kemana penghuni rumah ini?” geram Dipacala.

Kepercayaannya pun termangu-mangu. Ternyata seisi rumah itu telah mengungsi, termasuk anak-anak Ki Saudagar.

“Ternyata Ki Rangga tidak sempat mendapat keterangan tentang keluarga Ki Saudagar,” geram Dipacala.

Namun ia tidak membuang waktu. Dengan cepat ia telah berusaha untuk menemukan harta benda Ki Saudagar di dalam bilik induk rumah Ki Saudagar yang besar dan luas itu.

Di pendapa, Ki Saudagar bertempur dengan Kerta Dangsa, sementara kedua orang kemanakan Kerta Dangsa itu telah berusaha mengikat salah seorang dari kelima orang upahan yang membantu menjaga rumah Ki Saudagar itu dalam pertempuran, sehingga orang itu tidak sempat berbuat lain. Kedua kemanakan Kerta Dangsa itu berloncatan dengan cepatnya. Golok di tangan mereka terayun-ayun mendebarkan jantung.

Sementara itu, dua orang yang berada di gandok sebelah kiri dan dua orang di sebelah kanan pun telah berloncatan keluar. Namun demikian mereka berada di serambi gandok, masing-masing telah menghadapi tiga orang yang garang dengan senjata di tangan masing-masing.

Pertempuran pun tidak dapat dielakkan. Di serambi gandok kiri, serambi gandok kanan dan di pendapa. Sedangkan Dipacala dan kepercayaannya pun telah membongkar seisi bilik induk di dalam rumah Ki Saudagar. Tetapi Dipacala tidak segera menemukan emas dan berlian yang dicarinya.

Ki Sudagar yang merasa cukup aman dibantu oleh lima orang yang dianggap memiliki kemampuan yang tinggi itu, ternyata tidak mampu untuk mengimbangi kekuatan dan kemampuan orang-orang yang menyerang rumahnya itu. Apalagi ketika dua orang yang mengawasi butulan mendapat perintah Ki Dipacala untuk membantu kawan-kawannya yang bertempur di gandok kiri dan kanan, sementara yang lain masih tetap berada di belakang rumah, dan seorang lagi menjaga kentongan di longkangan.

Orang orang yang bertugas membantu menjaga rumah Ki Saudagar itu memang orang-orang pilihan. Tetapi ketika masing-masing harus melawan dua orang, maka sulit bagi mereka untuk bertahan.

Dalam pada itu, Ki Saudagar sendiri memang seorang yang berilmu tinggi. Namun menghadapi Kerta Dangsa maka seakan-akan ia tidak mendapat kesempatan sama sekali. Demikian pula pemimpin dari kelima orang yang diupahnya untuk membantunya. Dua orang anak muda yang dihadapinya benar-benar memiliki kemampuan yang sulit untuk dilawan

Dengan nada berat Kerta Dangsa itu pun berkata, “Menyerah sajalah Ki Saudagar. Kami ingin mendapatkan harta bendamu. Bukan jiwamu.”

“Persetan dengan kalian,” geram Ki Saudagar. Namun Kerta Dangsa menekannya dengan garang. Demikian pula kedua kemanakannya.

Pertempuran yang terjadi di rumah itu semakin lama menjadi semakin sengit. Tidak seorangpun dari mereka yang sempat menggapai pemukul kentongan di longkangan, karena setiap orang yang ada di rumah itu harus bertempur melawan dua orang, kecuali Ki Sudagar sendiri yang bertempur melawan Kerta Dangsa.

Halaman yang luas dari rumah saudagar kaya itu seakan-akan telah memisahkan rumah itu dengan tetangga-tetangganya yang pada umumnya juga berhalaman cukup luas, meskipun rumah mereka tidak sebesar dan sebaik rumah Ki Sudagar.

Di dalam rumah itu, Dipacala masih sibuk mencari harta benda saudagar kaya itu. Namun mereka ternyata lidak segera dapat menemukannya.

“Setan saudagar itu,” geram Dipacala, “dimana ia menyembunyikan harta bendanya?”

Namun dalam pada itu, Kerta Dangsa pun telah membuat perhitungan tersendiri. Jika ia tidak segera menguasai saudagar itu, maka banyak hal dapat terjadi. Jika perkelahian itu didengar orang atau diketahui para peronda, maka persoalannya akan menjadi lain.

Karena itu, maka dengan tangkas Kerta Dangsa itu telah mengurung Ki Sudagar dengan senjatanya. Semakin lama semakin cepat, sehingga saudagar itu tidak mempunyai ruang gerak lagi, karena setiap kali sabetan senjata Kerta Dangsa rasa-rasanya hampir menyentuh kulitnya.

“Ki Sudagar,” berkata Kerta Dangsa sekali lagi, “mumpung kulitmu belum tergores senjata, sebaiknya kau menyerah. Kau jangan menilai harta bendamu lebih dari nyawamu, karena kau masih mungkin mendapatkan harta benda sebanyak lebih dari yang hilang. Tetapi kau tidak akan dapat mencari pengganti nyawamu kemanapun, jika nyawamu hilang.”

“Aku yang akan membunuhmu,” geram Ki- Sudagar. Tetapi justru ujung senjata Kerta Dangsa yang hampir saja menyambar bibirnya.

Sebenarnyalah, Ki Sudagar tidak dapat berbuat sesuatu menghadapi Kerta Dangsa. Namun agaknya Ki Sudagar juga tidak mudah untuk menyerah.

Sementara itu, orang-orang yang, diupah Ki Sudagar yang masing-masing harus bertempur melawan dua orang itu pun hampir tidak mempunyai kesempatan apapun juga. Para perampok bertempur dengan kasar dan keras, sehingga orang-orang upahan itu benar-benar mengalami kesulitan. Sedangkan pemimpin dari orang-orang itu, telah dikuasai pula oleh kedua orang anak muda yang disebut sebagai kemenakan Kerta Dangsa itu.

Ki Sudagar yang bertempur di pendapa itu pun akhirnya menyadari, bahwa kelima orang-orangnya tentu tidak akan sanggup bertahan. Jika ia berkeras untuk bertempur terus, maka perampok-perampok itu akan kehilangan kesabaran dan mungkin akan menyakitinya atau bahkan membunuhnya.

Ki Sudagar tidak mengira bahwa sekelompok perampok dalam jumlah yang begitu besar benar-benar telah memasuki rumahnya. Namun hal itu ternyata telah terjadi.

Apalagi seorang di antara para perampok itu ternyata mampu mengimbangi tataran ilmunya, bahkan melampauinya.

Dalam keadaan yang terdesak maka saudagar itu telah membuat pertimbangan-pertimbangan khusus. Apalagi ketika kemudian dalam pertempuran yang cepat, telah terjadi benturan yang sangat keras. Begitu besar tenaga perampok yang melawannya itu, sehingga senjata saudagar itu telah terlepas dari tangannya.

Dengan cepat Kerta Dangsa telah melekatkan ujung senjatanya kepada saudagar itu sambil berkata, “Perintahkan semua orangmu menghentikan perlawanan, atau kau biarkan mereka rnati. Hanya kau yang diperlukan oleh kami. Kawan-kawanmu tidak berarti apa-apa. Karena itu, jika kau tidak memerintahkan mereka berhenti melawan, maka mereka akan segera mati.”

Saudagar itu termangu-mangu. Tetapi ia memang tidak ingin orang-orangnya mati.

Dalam pada itu, Dipacala yang tidak segera mendapatkan apa yang dicarinya menjadi sangat marah. la telah memerintahkan kawannya yang dipercayakannya itu untuk mengikutinya.

“Kita bantu Kerta Dangsa. Kita paksa saudagar itu menyerah dan berbicara tentang harta bendanya.”

Namun, demikian ia mendekati pintu, maka ia mendengar saudagar itu berteriak, “Kita menyerah! Tidak ada gunanya kita memberikan perlawanan!”

Dipacala itu termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia keluar dari pintu pringgitan, ia melihat saudagar itu telah menyerah. Orang-orangnya pun kemudian telah menyerah pula.

“Kerta Dangsa memang memiliki kelebihan,” berkata Dipacala di dalam hatinya.

Demikianlah, Ki Saudagar telah dipaksa untuk menunjukkan harta bendanya. Iapun sependapat dengan Kerta Dangsa, bahwa harta benda itu dapat dicarinya lagi, tetapi ia tidak akan dapat membeli nyawa dimanapun juga.

Namun Ki Sudagar masih berasa beruntung, bahwa keluarganya telah diungsikannya. Para pembantunya pun telah diijinkan pulang ke rumah di malam hari.

Hal ini lepas dari pengamatan Ki Rangga Ranawandawa, karena Nyi Sudagar dan anak-anaknya baru menyingkir setelah senja turun. Di siang hari mereka memang berada di rumah itu. Demikian pula para pembantu di rumah itu, yang dinilai hanya akan menjadi beban saja jika terjadi sesuatu.

Tetapi untuk selanjutnya hal itu tidak penting. Bagi Dipacala yang penting adalah harta benda saudagar kaya raya itu.

Orang-orang yang diupah oleh saudagar itu pun tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ki Saudagar sendiri telah menyerah. Sementara mereka pun menyadari bahwa jumlah perampok yang datang itu memang terlalu banyak untuk dilawan. Bahkan orang-orang yang diupah itu juga merasa heran, bahwa Ki Saudagar begitu cepatnya kehilangan keberaniannya untuk melawan.

“Lawan Ki Saudagar adalah seorang perampok yang berilmu sangat tinggi,” berkata pemimpin dari orang-orang yang diupah itu di dalam hatinya.

Dengan petunjuk Ki Saudagar, maka harta benda yang berupa emas berlian itu pun segera diketemukan. Bahkan beberapa buah keris yang berpendok emas bertretes berlian. Demikian pula ukiran pada hulu keris itu.

“Maaf Ki Saudagar,” berkata Ki Dipacala, “aku akan membawa semua harta kekayaanmu.”

Ki Saudagar memang tidak dapat mencegahnya. Namun ia berkata, “Terserahlah. Tetapi aku minta tinggalkan keris Kiai Wot.”

Dipacala termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Yang mana yang kau maksud?”

Ki Saudagar termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Apakah aku boleh menunjukkannya?”

Ki Dipacala ternyata mengangguk. Katanya, “Ambillah.”

Ki Saudagar telah mengambil satu di antara beberapa kerisnya yang dimasukkan ke dalam peti yang terdapat di bawah kolong amben di ruang tengah. Tempat yang tidak terduga sebelumnya, karena justru berada di tempat terbuka.

Setelah sebilah kerisnya diambil, maka peti itu pun telah ditutup dan siap untuk dibawa.

“Ki Saudagar,” berkata Dipacala, “maaf bahwa aku masih akan mengganggu. Aku akan membawa Ki Saudagar bersama kami sampai ke bulak panjang. Satu jaminan keselamatan bagi kami.”

Ki Saudagar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat menolak.

Demikianlah, maka para perampok itu pun telah meninggalkan rumah Ki Saudagar. Mereka ternyata telah berpencar kembali.

Ki Dipacala telah memerintahkan Ki Ajar dan kedua orang kemanakannya untuk membawa Ki Saudagar ke bulak panjang dan melepaskannya di bulak panjang.

“Yang lain akan mengambil jalan mereka masing-masing,” berkata Ki Dipacala.

Ki Saudagar tidak dapat mengelak, la menurut saja ketika Ki Ajar Gurawa dan kedua muridnya membawanya keluar melalui dinding kota yang agak rendah. Ketiga orang yang membawa Ki Gurawa itu telah membantu Ki Saudagar meloncat dinding dengan memanjat sebatang pohon yang besar, yang dahannya menyilang di atas dinding.

Ketika Kerta Dangsa sudah meloncat turun, Ki Saudagar menjadi ragu-ragu. Namun kedua murid Ki Ajar itu berkata, “Meloncatlah. Atau kami akan mendorongmu.”

Ki Saudagar memang meloncat turun. Kakinya sedikit terasa sakit. Namun ia telah dipaksa untuk berjalan menjauhi dinding kota, memasuki sebuah bulak panjang lewat jalan setapak di sebelah parit yang mengalir deras.

Kelima orang upahan yang berada di rumahnya tidak berani berbuat sesuatu. Mereka tidak berani pula melaporkan perampokan itu, untuk menjaga keselamatan Ki Sudagar. Dengan demikian maka kesempatan para perampok untuk melarikan diri menjadi cukup luas.

Ketika Ki Ajar Gurawa kemudian sampai di bulak panjang, mendekati padukuhan di seberang, maka Ki Ajar itu pun berkata, “Ki Saudagar. Jaraknya sudah cukup jauh. Aku akan melepaskan Ki Saudagar. Tetapi berhati-hatilah. Jika kau salah langkah, maka yang akan mengalami kesulitan bukan hanya Ki Saudagar, tetapi juga kelompok Ki Sudagar. Jika malam ini kami hanya lima belas orang, kami minta Ki Saudagar mengetahui bahwa jumlah kami seluruhnya adalah lebih dari lima puluh orang.”

“Apakah kalian dari kelompok Gajah Liwung?” bertanya Ki Sudagar.

“Pertanyaan Ki Saudagar tidak pantas,” jawab Ki Ajar.

Ki Sudagar tidak bertanya lagi. la mencoba mengenali wajah Ki Ajar dan kedua orang muridnya. Tetapi wajah itu nampak begitu kotor dan tidak jelas di dalam keremangan malam.

“Kau mencoba mengenali kami?” Ki Ajar itu tertawa. Suaranya pun sama sekali tidak mirip dengan suara Ki AjarGurawa sehari-hari.

Demikianlah, maka Ki Saudagar itu pun telah dilepaskannya. Sementara itu Ki Ajar dan kedua orang muridnya telah menghilang pula di dalam gelap. Namun dengan cepat mereka telah kembali ke kota dengan meloncati dinding kota, menuju ke rumah Ki Ajar Rangga Ranawandawa.

Ki Saudagar sambil membawa kerisnya yang bernama Kiai Wot berjalan perlahan-lahan menuju ke pintu gerbang kota. Wajahnya pucat, serta jantungnya bergejolak keras. Peristiwa yang baru saja terjadi telah mengguncang jiwanya.

Meskipun demikian, saudagar itu masih tetap mampu mempertahankan keseimbangan jiwanya yang terguncang itu. Ia masih tetap menyadari sepenuhnya apa yang telah terjadi atas dirinya. Semua harta bendanya telah dibawa oleh para perampok, selain sebuah pusakanya yang bernama Kiai Wot.

“Aku masih beruntung,” berkata Ki Saudagar, “nyawaku masih dibiarkannya.”

Di pintu gerbang utama, Ki Saudagar melaporkan apa yang telah dialaminya. Kenapa ia menjelang dini hari seorang diri memasuki pintu gerbang utama Kotaraja.

Pemimpin para petugas di pintu gerbang utama itu tidak demikian saja percaya. Ki Saudagar itu telah dibawanya ke gardu di sebelah dalam pintu gerbang itu untuk dimintai keterangan lebih jelas.

Baru kemudian para prajurit yang bertugas itu yakin bahwa Ki Saudagar memang baru saja dirampok.

Meskipun demikian, pemimpin prajurit itu telah mengirimkan dua orang prajurit untuk mengikuti dan melihat sendiri keadaan rumah Ki Saudagar yang baru saja dirampok itu.

Dengan demikian, maka bersama kedua orang prajurit yang telah melihat keadaan rumah Ki Saudagar itu, mereka telah pergi ke gardu induk pengendalian para petugas di dalam Kotaraja malam itu.

Ternyata sejenak kemudian, Kotaraja itu menjadi gelisah. Para prajurit yang bertugas dengan beberapa orang petugas sandi telah datang ke rumah Ki Saudagar yang kaya raya itu. Mereka melihat keadaan rumah Ki Saudagar yang beberapa ruangannya memang menjadi kacau. Dipacala di saat mencari harta benda Ki Saudagar telah membongkar beberapa buah gledeg dan peti-peti kayu. Bahkan ada beberapa bagian dinding yang telah dirusak pula.

Berita perampokan itu dengan cepat telah menjalar. Para peronda di padukuhan itu pun telah dipanggil oleh para prajurit yang ada di rumah saudagar kaya itu. Tetapi tidak seorangpun di antara mereka yang dapat memberikan keterangan tentang perampokan itu.

“Kami tidak melihat seorangpun memasuki padukuhan ini,” jawab para peronda.

“Apakah tidak ada di antara kalian yang mengelilingi padukuhan ini di tengah malam?” bertanya prajurit itu.

Pemimpin peronda itu menjawab, “Aku sendiri bersama tiga orang kawan telah mengelilingi jalan-jalan padukuhan. Kami telah membunyikan kentongan kecil kami sepanjang jalan untuk membangunkan orang-orang yang terlalu nyenyak tidur.”

Pagi-pagi sekali, pasar di Kotaraja itu telah diguncang dengan berita perampokan yang besar itu. Perampokan yang dilakukan oleh lebih dari sepuluh orang. Bahkan sekitar lima belas orang, dan berhasil membawa harta benda yang sangat besar nilainya, milik seorang saudagar kaya di Kotaraja itu.

Hampir setiap orang di pasar itu telah memperbincangkan perampokan itu. Jumlahnya melampaui perampokan yang sebelumnya terjadi di Kotaraja itu juga.

Dalam pada itu, pagi-pagi benar, Sabungsari dan Glagah Putih telah sampai di pasar itu pula. Mereka pun telah mendengar berita perampokan yang berhasil itu. Mereka pun mendengar bahwa tidak seorangpun menjadi korban dalam perampokan itu, meskipun semula Ki Saudagar dengan lima orang yang diminta membantu menunggui rumahnya telah bertempur.

Sabungsari terkejut ketika dilihatnya kedua orang murid Ki Ajar Gurawa ternyata sudah berada di pasar itu pula.

“Dimana Ki Ajar?” bertanya Sabungsari.

Murid yang tertua itu pun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berdesis, “Kami berpisah dengan Guru untuk tidak menimbulkan kesan, bahwa kami selalu bertiga sebagaimana terjadi di rumah saudagar itu.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Dimana Ki Ajar sekarang?”

“Sudah kembali ke Sumpyuh. Kami berdua diminta untuk pergi ke pasar karena Guru yakin, tentu ada satu dua orang di antara kita berada di pasar ini,” jawab murid yang tua itu.

“Kami berdua telah datang pagi-pagi sekali. Mungkin kalian akan berjumpa juga dengan Rumeksa dan Pranawa,” jawab Sabungsari.

Kedua murid Ki Ajar itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka pun kemudian telah berpisah lagi dengan Sabungsari dan Glagah Putih.

Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh Sabungsari, bahwa kedua murid Ki Ajar itu pun kemudian telah bertemu pula dengan Rumeksa dan Pranawa.

Dalam pada itu, Sabungsari dan Glagah Putih pun telah meninggalkan pasar itu dan berjalan-jalan di dalam kota. Tetapi mereka tidak berniat lewat di sekitar tempat tinggal saudagar yang semalam telah dirampok, karena tempat itu tentu masih diawasi oleh para prajurit sandi.

Adalah di luar dugaan, bahwa tiba-tiba saja keduanya telah berjumpa dengan seseorang yang telah mereka kenal baik, Podang Abang.

Sabungsari dan Glagah Putih memang berhenti ketika Podang Abang menyapanya.

“He Anak-Anak Muda. Sepagi ini kalian telah berkeliaran di dalam kota? Apakah sarangmu sekarang tidak jauh dan kota?” bertanya Podang Abang.

“Kau ingin menantang kami?” bertanya Sabungsari tiba-tiba.

“Tidak,” jawab Podang Abang, “aku akan menghindari perselisihan dengan siapapun juga karena aku masih harus menepati janjiku. Bertemu dengan Ki Jayaraga.”

“Katakan, dimana Ki Jayaraga dapat menemuimu? Kapan? Sendiri atau dengan saksi?” bertanya Sabungsari.

Podang Abang mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak dapat menentukan kapan dan dimana. Pada suatu saat biarlah keadaan memutuskan.”

Sabungsari mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ternyata kau masih tetap ragu-ragu, karena kau menyadari kekuranganmu.”

“Jangan memancing persoalan,” desis Podang Abang.

“Aku sengaja memancing persoalan,” jawab Sabungsari, “aku berharap kau marah dan kita akan bertempur. Aku berdua dan kau seorang diri. Itu kalau kau berani.”

Podang Abang ternyata tertawa saja. Katanya, “Nampaknya suaramu adalah suara orang yang sangat kecewa. He, bagaimana dengan kawan-kawanmu? Apakah mereka tidak mampu membantu saudagar kaya raya yang semalam dirampok orang?”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Sementara dengan serta merta Glagah Putih bertanya, “Dari mana kau tahu bahwa telah terjadi perampokan?”

“Dari mana?” Podang Abang tertawa semakin keras. “Bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu, sementara orang-orang di seluruh Kota telah membicarakannya.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Dan kau ikut merasa berhasil dengan keberhasilan para perampok itu?”

Podang Abang ternyata masih saja tertawa. Katanya, “Sudahlah. Aku tidak ingin melayani kalian, karena aku akan dapat menjadi sasaran kekecewaan kalian.”

“Jika kau ikut berhasil, aku hanya akan mengucapkan selamat kepadamu Podang Abang,” berkata Sabungsari.

“Terima kasih. Tetapi bukankah merampok adalah pekerjaan anak-anak? Pekerjaan orang-orang tua adalah duduk sambil minum wedang jahe hangat dengan gula aren,” jawab Podang Abang.

“Baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada Ki Jayaraga. Mungkin ia akan mencarimu. Bahkan mungkin pagi ini ia juga sudah berada di kota ini. Jika kau akan menemuinya, telusuri saja jalan-jalan kota ini.”

Podang Abang mengerutkan keningnya, Ia tidak ketawa lagi. Namun katanya, “Aku akan menemunya kapan saja aku ingin.”

“Sekarang, kau masih akan menikmati kemenanganmu semalam, meskipun bukan kau sendiri yang melakukannya?” bertanya Sabungsari.

“Sudahlah. Kita berpisah sampai di sini,” berkata Podang Abang, yang dengan tergesa-gesa meninggalkan Sabungsari dan Glagah Putih.

Ketika Podang Abang menjadi semakin jauh, maka Sabungsari dan Glagah Putih pun meneruskan langkah mereka menelusuri jalan-jalan kota.

Sementara itu Sabungsari sempat mengamati keadaan di sekitarnya, sebagaimana dilakukan oleh Glagah Putih.

“Kau lihat dua orang di bawah pohon gayam itu?” bertanya Sabungsari.

“Ya,” jawab Glagah Putih.

“Apakah kau menganggap bahwa orang itu mempunyai hubungan dengan Podang Abang?” bertanya Sabungsari pula.

“Nampaknya demikian,” jawab Glagah Putih, “mereka sekarang mengawasi kita.”

Sabungsari mengangguk. Namun iapun telah menggamit Glagah Putih dan memberi isyarat agar mereka berbalik arah dan lewat di sisi yang lain.

Glagah Putih ternyata tanggap. Mereka pun kemudian telah menyeberang jalan dan berbalik arah. Demikian mereka sampai di bawah pohon gayam itu, maka Sabungsari berkata, “Kita beristirahat di sini.”

“Aku juga letih,” desis Glagah Putih.

Keduanya pun kemudian duduk pula di bawah pohon gayam itu.

Tetapi dengan demikian kedua orang yang telah berada di bawah pohon gayam itu kemudian telah meninggalkan tempatnya dan berjalan menyusuri jalan itu perlahan-lahan. Tetapi sekali-sekali keduanya masih berpaling.

Ternyata Glagah Putih sempat juga bergurau dengan mereka. Karena demikian keduanya berpaling, Glagah Putih telah mengangkat tangannya melambai kepada keduanya.

Ternyata keduanya tidak berpaling lagi. Keduanya berjalan semakin cepat meninggalkan tempat itu.

Sambil tersenyum Sabungsari berkata, “Kau telah mengganggu mereka.”

“Kau yang mulai,” jawab Glagah Putih.

Keduanya tertawa tertahan.

Namun dalam pada itu Sabungsari pun berkata, “Aku yakin bahwa Podang Abang terlibat dalam perampokan itu meskipun tidak langsung.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Namun masih harus dibuktikan. Apakah kedua orang yang tadi duduk di sini dapat dimintai keterangan tentang Podang Abang itu?”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku tidak yakin. Mungkin keduanya dengan segala akibatnya akan menolak untuk mengakui bahwa mereka adalah orang-orang Podang Abang.”

Glagah Putih mengangguk-angguk pula. lapun menyadari bahwa tidak mudah untuk mendapatkan keterangan tentang orang-orang sebagaimana Podang Abang. Kadang-kadang seseorang lebih baik mati daripada harus memberikan keterangan tentang mereka yang sangat ditakutinya.

Karena itu, maka Sabungsari pun kemudian memutuskan untuk kembali saja ke Sumpyuh.

“Ki Ajar tentu sudah sudah berada di rumah,” berkata Sabungsari. “Kita akan mendapat banyak cerita tentang usahanya.”

Sabungsari pun kemudian telah mengajak Glagah Putih untuk meninggalkan tempat itu. Mereka memang singgah lagi di pasar. Tetapi mereka tidak bertemu dengan siapapun selain orang-orang yang lain sibuk di pasar itu, sambil sekali-sekali terdengar orang-orang yang masih memperbincangkan perampokan yang ternyata telah menggetarkan Kotaraja itu.

Sebenarnyalah jantung para pimpinan prajurit sandi Mataram telah terguncang. Dari Ki Saudagar yang dirampok itu tidak banyak didapatkan petunjuk tentang orang-orang yang telah merampok rumahnya.

“Mereka memang sulit untuk dikenali,” berkata saudagar itu, “mereka membuat wajah mereka tidak wajar. Suara mereka pun tentu bukan suara mereka sehari-hari. Ada yang melengking tinggi. Ada yang rendah sehingga hampir tidak terdengar. Pimpinannya itu tidak terlalu kasar sebagaimana orang-orangnya. Ketika aku minta sebuah di antara kerisku ditinggal, iapun tidak berkeberatan

Tiga orang perwira prajurit sandi yang berbicara langsung dengan Ki Saudagar memang tidak mendapatkan keterangan yang memuaskan. Tetapi mereka pun dapat mengerti, Ki Saudagar tentu menjadi bingung dan bahkan cemas tentang keselamatannya. Apalagi ketika ia telah dibawa meloncati dinding kota.

“Hanya orang-orang yang berilmu tinggi yang dapat melakukannya,” berkata salah seorang di antara para perwira itu

Yang lain mengangguk-angguk. Seorang perwira yang bertubuh tinggi dengan kumis tipis berkata, “Ya. Tentu orang-orang berilmu tinggi.”

Untuk sementara maka para petugas sandi masih harus menerima kenyataan itu. Mereka mengalami kesulitan untuk melacak para perampok yang telah mengguncang Kotaraja itu. Dua kali terjadi perampokan besar. Namun mereka masih belum menemukan jejaknya sama sekali.

Dalam pada itu, menjelang matahari turun ke cakrawala di sisi barat, orang-orang yang tergabung dalam kelompok Gajah Liwung yang dipimpin oleh Sabungsari itu pun telah berkumpul. Termasuk Ki Jayaraga.

Mereka mulai mendengarkan cerita Ki Ajar Gurawa dalam peranannya sebagai Kerta Dangsa.

“Aku sekarang telah menjadi keluarga mereka,” berkata Ki Ajar Gurawa, “karena itu, aku harus mempunyai rumah sendiri.”

“Maksud Ki Ajar?” bertanya Sabungsari.

“Untuk sementara aku akan tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu jauh dari Kotaraja. Aku akan membeli rumah meskipun kecil. Pada suatu saat, para pemimpin perampok itu tentu akan datang ke rumahku untuk meyakinkan, apakah aku memang pantas untuk mereka jadikan anggota sepenuhnya,” jawab Ki Ajar.

Para anggota Gajah Liwung yang lain agaknya dapat mengerti niat Ki Ajar itu. Dengan demikian maka mereka sama sekali tidak berkeberatan. Namun mereka harus mempunyai jalur berhubungan yang tetap.

“Kita masih tetap memanfaatkan pasar untuk saling berhubungan,” berkata Ki Ajar Gurawa.

“Ya. Setiap pagi tentu ada di antara kami yang berada di pasar,” berkata Sabungsari kemudian.

Dengan demikian disepakati bahwa Ki Ajai Gurawa akan memisahkan diri, khususnya untuk menelusuri jalur yang masih gelap antara kelompok yang juga menyebut dirinya Gajah Liwung dengan Podang Abang, dan terutama dalam hubungannya dengan Gunung Kendeng dan Pati.

Sementara itu, Ki Ajar pun telah menunjukkan bahwa ia telah mendapat bagian yang cukup dari hasil kejahatan yang mereka lakukan semalam.

“Jadi bagian itu langsung diberikan kepada Ki Ajar?” bertanya Sabungsari.

“Ternyata demikian yang telah mereka lakukan. Tetapi agaknya hanya kepada kami bertiga saja bagian dari hasil kejahatan itu diberikan. Agaknya kepada yang lain tidak,” jawab Ki Ajar Gurawa.

“Lalu kapan lagi hal seperti itu dilakukan?” bertanya Glagah Putih.

“Setelah sepekan aku diminta untuk datang lagi ke rumah Ki Rangga Ranawandawa,” jawab Ki Ajar.

Para anggota Gajah Liwung itu pun mengangguk-angguk. Sementara Ki Jayaraga pun berkata, “Ternyata Ki Ajar masih belum dianggap keluarga penuh, karena masih diperlakukan lain dengan anggota-anggota yang lain, meskipun agaknya Ki Ajar telah mendapat kepercayaan sepenuhnya. Karena itu maka aku sependapat dengan Ki Ajar, bahwa dalam pekan ini Ki Ajar harus sudah mempunyai rumah sendiri. Itu pun harus ada kesan, bahwa rumah itu bukan rumah baru baginya.”

Yang lain mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Sabungsari pun berkata, “Baiklah. Kita akan segera berpisah. Tetapi kita sudah menentukan dimana kita akan dapat berbicara dan berhubungan selama itu. Bukankah kita tidak akan mengorbankan orang untuk kedua kalinya?”

“Aku masih minta dipertimbangkan,” berkata Ki Ajar,-“ika hal itu masih diperlukan, aku mohon pengertian. Tetapi aku berjanji, bahwa tidak akan ada korban jiwa.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya, “Bagaimana jika kami membuat laporan kepada Ki Wirayuda tentang peristiwa yang telah terjadi?”

Ki Ajar termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk. “Ki Wirayuda tentu menunggu, karena ketika aku memasuki lingkungan itu, Ki Wirayuda dan bahkan Ki Patih Mandaraka telah mendapatkan laporan. Tetapi jangan lupa menyebutkan, bahwa kami mohon pengertian dan kebijaksanaan Ki Wirayuda. Seumpama kita sedang mengail, maka untuk mengail ikan yang besar tentu dibutuhkan umpan yang besar pula.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Katanya, “Besok aku akan menghadap Ki Wirayuda. Aku akan masuk Kota pagi-pagi benar, bersama dengan orang-orang yang, akan pergi ke pasar untuk menjual hasil kebun mereka.”

Demikianlah, maka di hari berikutnya Sabungsari dan Glagah Putih telah pergi ke Kotaraja untuk menemui Ki Wirayuda. Mereka sadar bahwa mereka harus sangat berhati-hati agar tidak diikuti oleh orang-orang yang telah mengenal mereka, terutama Podang Abang sendiri.

Ternyata di saat matahari terbit, keduanya telah diterima Ki Wirayuda. Mereka pun yakin bahwa tidak ada orang yang telah melihat keduanya masuk regol halaman rumah salah seorang perwira prajurit sandi itu.

Dengan terperinci keduanya telah memberitahukan kepada Ki Wirayuda tentang keikutsertaan Ki Ajar dalam perampokan yang telah terjadi di rumah Ki Sudagar.

“Kenapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku sebelumnya?” bertanya Ki Wirayuda. “Bukankah dengan demikian kita akan dapat menangkap sekelompok orang yang akan dapat kita pakai sebagai rambatan untuk menelusuri kelompok mereka dalam keseluruhan?”

“Ki Ajar meragukannya,” jawab Sabungsari, “bahkan mungkin mereka akan berpegang pada satu sikap, bahwa mereka tidak mempunyai hubungan dengan kelompok yang manapun juga.”

“Tetapi kita akan mempunyai alasan dan bahkan bukti, untuk menangkap Ki Rangga berdua yang terlibat langsung dalam perampokan itu.”

“Ki Wirayuda, agaknya kedua orang Rangga itu pun bukan orang yang bertanggung jawab sepenuhnya. Tentu masih ada orang lain yang tidak dapat dikenali oleh setiap anggota,” jawab Sabungsari. Lalu katanya pula, “Memang sulit untuk sampai kepada orang itu. Tetapi Ki Ajar masih akan minta kesempatan sekali lagi. Dalam waktu sepekan lagi, Ki Ajar telah diminta datang dan berkumpul dirumah Ki Rangga Ranawandawa.”

“Bagaimana mungkin kita akan mengorbankan orang lain lagi? Jika usaha itu gagal, maka korban kita terlalu banyak. Bahkan mungkin Ki Ajar dan kedua muridnya juga akan menjadi korban. Bukankah pada umumnya orang yang sudah tidak diperlukan lagi akan disingkirkan?” jawab Ki Wirayuda.

“Namun Ki Ajar mempunyi perhitungan tersendiri,” jawab Sabungsari. lapun kemudian menceritakan rencana Ki Ajar untuk membeli rumah dan memisahkan diri untuk sementara. Iapun menceritakan bahwa berdua mereka telah bertemu dengan Podang Abang serta dua orang yang agaknya pengikut Podang Abang.”

Ki Wirayuda termangu-inangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Para penghuni Kotaraja telah menjadi gelisah. Jika hal ini tidak segera dapat dipecahkan, maka persoalannya tentu akan sampai kepada Panembahan Senapati. Jika Panembahan Senapati menjadi kecewa terhadap para petugas sandi, maka Panembahan Senapati akan dapat mengambil langkah sendiri, karena Panembahan Senapati adalah seorang yang dapat berbuat banyak hal di luar dugaan kita. Tetapi seandainya Panembahan Senapati sendiri yang memecahkan persoalan ini, kemana wajah kami para petugas sandi, akan kami sembunyikan?”

“Ki Wirayuda,” desis Sabungsari, “kami hanya mohon kesempatan sekali lagi. Unluk selanjutnya, maka kami akan memenuhi segala perintah Ki Wirayuda. Mudah-mudahan yang sekali ini dapat berhasil.”

“Berhasil mendapatkan harta benda sebanyak perampokan yang dilakukan atas Ki Saudagar itu?” desis Ki Wirayuda.

“Tidak, bukan itu maksud kami,” jawab Sabungsari.

Ki Wirayuda termangu-mangu sejenak. Namun agaknya ia sendiri sedang membuat pertimbangan-pertimbangan.

Namun tiba-tiba saja Ki Wirayuda itu berkata, “Kalian menunggu di sini. Aku akan menghadap Ki Patih.”

Sabungsari dan Glagah Putih saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Sabungsari pun berkata, “Baiklah Ki Wirayuda. Kami akan menunggu di sini.”

Demikianlah, Ki Wirayudapun segera membenahi diri. Kemudian iapun telah memerintahkan seorang pembantunya untuk mempersiapkan kudanya.

Sejenak kemudian, maka kudanya pun telah berderap meninggalkan regol halaman rumahnya. Namun Ki Wirayuda sebagai seorang perwira petugas sandi cukup berhati-hati. Meskipun kudanya kemudian berlari, tetapi ia sama sekali tidak nampak tergesa-gesa.

Ketika kemudian ia melaporkan peristiwa perampokan itu kepada Ki Patih Mandaraka, maka Ki Patih pun mengangguk-angguk. Agaknya Ki Patih pun dapat mengerti jalan pikiran Ki Ajar Gurawa. Tetapi Ki Patih pun tidak ingin keresahan rakyat Mataram berkepanjangan.

Karena itu, maka Katanya, “Baiklah. Jika perlu kita akan memberi kesempatan sekali lagi. Mudah-mudahan Ki Ajar Gurawa mendapat jalan untuk menelusuri kelompok itu lebih jauh. Jika tidak, maka kita dapat berbekal Ki Ajar itu sendiri. Kita dapat membicarakan cara yang terbaik dengan Ki Ajar, agar kita dapat menangkap kedua orang Rangga itu. Mungkin kita minta Ki Ajar melakukan satu kegiatan sehingga kita dapat menangkapnya. Ki Ajar tentu akan kita minta berbicara sebagai saksi tentang kedua orang Rangga itu, bahwa keduanya memang terlibat.”

Ki Wirayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Patih. Aku akan menyampaikannya kepada dua orang anggota kelompok Gajah Liwung yang sekarang menunggu di rumahku.”

“Mereka akan kembali ke sarang mereka hari ini?” bertanya Ki Patih.

“Ya. Tetapi sudah tentu dengan sangat berhati-hati. Sambil pulang, aku harus mengamati apakah regol rumahku tidak sedang diawasi oleh seseorang,” jawab Ki Wirayuda. “Baru setelah aku yakin tidak ada seorangpun, mereka akan keluar dari regol rumahku.”

Ki Patih mengangguk-angguk. Katanya, “Bekerjalah dengan sangat berhati-hati. Kedua orang Rangga yang telah menyimpang dari janji prajurit itu harus dapat kita tangkap dengan saksi dan bukti yang lengkap. Syukur kita dapat menyingkap tabir yang lebih dalam lagi, sebagaimana diinginkan oleh Ki Ajar itu.”

Demikianlah, maka Ki Wirayuda pun segera meninggalkan rumah Ki Patih Mandaraka. Seperti yang dikatakannya, ketika ia mendekati rumahnya, maka Ki Wirayuda pun telah mengamati keadaan dengan teliti. Baru kemudian setelah ternyata tidak ada orang yang mencurigakan, maka Ki Wirayuda pun telah masuk regol halaman rumahnya.

Kepada Sabungsari dan Glagah Putih Ki Wirayuda telah menyampaikan semua pernyataan Ki Patih. Jika perlu Ki Patih tidak berkeberatan memberikan kesempatan kepada Ki Ajar untuk sekali lagi mengorbankan sasaran perampokan, asal tidak terjadi korban jiwa.

“Baiklah Ki Wirayuda,” sahut Sabungsari, “jika demikian kami pun akan mohon diri.”

“Hati-hatilah. Nampaknya kita sudah mendekati permainan terakhir,” berkata Wirayuda.

Dengan hati-hati Sabungsari dan Glagah Putih telah meninggalkan rumah Ki Wirayuda. Namun untuk itu, Ki Wirayuda lebih dahulu keluar dari regol rumahnya. Baru kemudian Sabungsari dan Glagah Putih.

Malam itu, para anggauta kelompok Gajah Liwung telah menentukan sikapnya. Ki Ajar ternyata telah membeli sebuah rumah yang kecil dan sedikit kotor. Beberapa peralatan tua masih terdapat di dalam rumah itu. Rumah yang memang sudah beberapa lama tidak dihuni, karena orang yang terakhir yang tinggal di rumah itu telah meninggal tanpa meninggalkan anak dan istri. Karena itu, maka rumah itu telah jatuh ke tangan kemenakannya, dan kemudian telah dijualnya kepada Ki Ajar.

Bersama dua muridnya Ki Ajar pun kemudian telah tinggal dirumah itu. Ia sengaja tidak membersihkan halamannya, selain sumur dan pakiwannya.

Tidak jauh dari rumah itu mengalir sebuah parit yang agak besar membelah padukuhannya, sehingga rumah Ki Ajar itu justru seakan-akan terpencil karena dipisahkan oleh parit itu.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, maka dalam waktu sepekan setelah perampokan itu terjadi, Ki Ajar dengan kedua orang muridnya telah pergi ke rumah Ki Rangga Ranawandawa. Ternyata Ki Ajar Gurawa yang dikenal dengan nama Kerta Dangsa itu benar-benar telah mendapat kepercayaan dari Ki Rangga dan Dipacala. Kerja mereka yang terakhir itu dinilai berhasil dengan baik, meskipun beberapa orang yang terbiasa melakukannya sedang tidak ada di sarang mereka. Tetapi Kerta Dangsa telah mengambil alih peran mereka, sehingga segala sesuatunya berlangsung dengan cepat dan bersih, tanpa korban jiwa yang dapat membuat para petugas sandi menjadi semakin keras bekerja untuk mengungkapkan kejahatan yang telah mereka lakukan.

Namun ternyata tidak ada rencana yang telah tersusun. Dipacala masih belum mengatakan dengan pasti, apa yang akan mereka lakukan kemudian.

Namun Dipacala telah memperkenalkan Kerta Dangsa dengan seorang yang sebelumnya belum pernah dilihatnya.

“Siapa orang pikun ini?” bertanya orang itu. Orang yang bertubuh sedang, tanpa ada tanda-tanda yang menarik perhatian terhadapnya. Wajahnya justru nampak tenang, sementara matanya memancarkan ketajaman penggraitanya.

“Kerta Dangsa,” jawab Dipacala, “orang ini telah menunjukkan kelebihannya dari orang lain.”

“Kau ambil dari mana orang ini?” bertanya orang itu.

“Aku ambil orang itu dari pasar. la berkeliaran di tempat-tempat judi dan sabung ayam,” jawab Dipacala.

“Kau perlukan orang ini? Apakah kau yakin ia tidak berkhianat?” bertanya orang itu langsung di hadapan Kerta Dangsa.

“Ia telah mengalami pendadaran. Ia cukup setia. Tetapi ia memang agak mahal,” jawab Dipacala.

Orang itu mengangguk-angguk, sementara Dipacala menyebut namanya, “Ki Truna Patrap.”

“Orang baru?” bertanya Kerta Dangsa.

“Gila orang ini,” geram Ki Truna Patrap, “seharusnya ia mendapat kesan bahwa aku bukan orang baru.”

Kerta Dangsa tertawa. Katanya, “Asal saja aku bertanya. Aku tidak tahu, aku harus berkata apa saja.”

“Orang ini perlu mendapat perhatian khusus,” berkata Ki Truna Patrap.

“Ia baik,” jawab Ki Dipacala.

“Dimana rumahnya?” bertanya Truna Patrap.

Ki Dipacala termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “Dimana rumahmu?”

“Baru sekarang kau bertanya?” desis Kerta Dangsa.

“Kau memang dungu Dipacala,” berkata Truna Patrap, yang nampaknya kedudukannya tidak kalah dari Dipacala.

“Kita akan melihatnya besok,” berkata Dipacala.

“Baru besok? Bagaimana jika sejak kemarin ia melarikan diri setelah berkhianat?” bertanya Truna Patrap. Lalu katanya, “Sementara kita tidak tahu dimana rumahnya.”

“Tetapi ia tidak berkhianat. Pekerjaan kita dapat kita selesaikan dengan baik. Sampai sekarang juga tidak ada usaha penangkapan atas kita. Jika ia berkhianat, maka kita tentu sudah ditangkap,” jawab Dipacala.

“Sampai sekarang tidak. Tetapi siapa tahu.”

Namun ternyata Kerta Dangsa itu menyahut, “Kau mencurigai aku?”

“Semua orang aku curigai,” jawab Truna Patrap.

“Aku sudah pernah berkata, aku akan meninggalkan gerombolan ini. Aku akan mencari kawan untuk menyusun gerombolan sendiri,” berkata Kerta Dangsa.

“Sudahlah,” cegah Dipacala, “sampai sekarang aku tidak mencurigaimu.”

“Tetapi orang baru ini tiba-tiba saja mencurigai aku,” jawab Kerta Dangsa.

“Aku bukan orang baru, setan!” jawab Ki Truna Patrap, “Aku justru orang penting di sini seperti Dipacala. Aku juga sudah dipercaya untuk memimpin perampokan sebagaimana dilakukan oleh Dipacala, sepekan yang lalu.”

“Nah, jika demikian kenapa kau bersikap seperti itu, sedangkan Ki Dipacala yang mengambil aku dan lingkaran sabung ayam tidak mencurigai? Ki Rangga Ranawandawa tidak mencurigai, dan Ki Rangga Reksapraja juga tidak,” jawab Kerta Dangsa.

“Apakah orang ini sudah mengenal Ki Rangga Reksapraja?” bertanya Truna Patrap.

“Ya. Ia mendapat pendadaran cukup berat. Membunuh Ki Rangga Reksapraja,” jawab Dipacala.

“Ia menjadi begitu sombong,” desis Ki Truna Patrap.

“Sudahlah,” berkata Ki Dipacala, “kita akan menunggu keterangan Ki Rangga. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya dan kapan.”

“Besok kau harus pergi ke rumah iblis itu,” geram Truna Patrap.

“Aku mempunyai rumah seperti kebanyakan orang. He, apakah kau mempunyai rumah, atau kau hanya menumpang di barak?” sahut Kerta Dangsa.

“Cukup!” bentak Ki Truna Patrap, “Aku koyak mulutmu!”

“Lakukan jika kau mampu,” Kerta Dangsapun menjadi garang. Matanya bagaikan akan meloncat dari pelupuknya, sementara nafasnya justru menderu dengan cepat. Tidak lewat hidungnya, tetapi lewat mulutnya.

Wajah Truna Patrap menjadi bertambah tegang. Hampir di luar sadarnya ia berkata kepada Ki Dipacala, “Orangmu telah berani menghina aku.”

“Karena itu, biarkan orang-orangku. Aku justru berharap bahwa kita akan bekerja bersama. Tugas kita akan menjadi semakin berat,” berkata Dipacala.

“Tetapi jangan hinakan aku seperti itu,” berkata Truna Patrap.

“Kau jangan mulai dengan sikapmu yang angkuh,” jawab Dipacala yang menjadi tidak sabar.

“Kau bela orang pikun itu?” bertanya Truna Patrap.

“Aku dan Ki Rangga Ranawandawa telah mengambilnya,” berkata Ki Dipacala, “aku tidak melihat cacat-cacat seperti yang kau katakan.”

“Baiklah,” berkata Truna Patrap. Lalu katanya kepada Kerta Dangsa, “Menjadi kebiasaan kami untuk sekali-sekali menguji kemampuan. Dengan demikian kita akan dapat saling menghormati. Tataran kemampuan kita menjadi jelas. Seperti aku dan Dipacala dianggap mempunyai tataran kemampuan yang setingkat. Bukan saja kemampuan dalam olah kanuragan, tetapi juga kemampuan berpikir dan menentukan sikap.”

“Bagus,” berkata Kerta Dangsa, “itu lebih baik. Aku akan berterima kasih jika kau sempat menguji kemampuanku, meskipun aku pernah mengalami pendadaran.”

“Kita akan mempergunakan sanggar terbuka di belakang rumah Ki Rangga ini,” berkata Truna Patrap, “tetapi jika karena itu kau terlanjur mati, itu bukan salahku.”

“Terima kasih atas penjelasan itu,” berkata Kerta Dangsa, “karena aku pun akan mendapat hak yang sama. Jika terlanjur aku membunuhmu, itu bukan salahku.”

“Diam!” bentak Truna Patrap, “kita akan melihatnya.”

Tetapi Dipacala mengingatkan, “Sanggar terbuka itu milik Ki Rangga. Jika kalian ingin mempergunakan, kalian harus minta ijinnya.”

“Baik,” berkata Truna Patrap, “aku akan minta jinnya.”

Ternyata Truna Patrap benar-benar mencari Ki Rangga yang masih ada di dalam. Dengan wajah gelap Ki Rangga menemuinya.

“Kau tidak sabar menunggu aku, he?” bertanya Ki Rangga

“Bukan, Ki Rangga,” jawab Truna Patrap, “aku akan menimbang kemampuanku dengan orang baru yang gila itu.”

“Kerta Dangsa?” bertanya Ki Rangga yang tanggap.

“Ya. Ia terlalu sombong,” sahut Truna Pairap.

Namun di luar dugaan Ki Rangga berkata, “Lakukan. Katakan kepada Dipacala untuk menjadi saksi. Bawa dua orang yang lain. Mungkin Wirog atau siapa lagi.”

Truna Patrap justru termangu-mangu. Tetapi kemudian katanya, “Baik Ki Rangga. Aku akan membawa mereka ke sanggar terbuka di halaman belakang.”

Demikianlah, beberapa orang telah berada di sanggar. Dipacala memang menjadi saksi, tetapi seperti yang lain, iapun ingin melihat apa yang terjadi di sanggar itu.

Ketika kemudian Truna Patrap telah berdiri berhadapan dengan Kerta Dangsa, maka beberapa orang telah mencemaskan nasib orang yang telah dipungut dari lingkaran perjudian itu. Di hadapan Truna Patrap yang berwibawa di kalangan orang-orang itu, Kerta Dangsa nampak sudah terlalu tua. Dan ketuaan itu telah menimbulkan perasaan iba dari antara mereka.

Kedua murid Ki Ajar Gurawa itu pun menjadi tegang melihat sikap Truna Patrap yang nampak meyakinkan sekali. Namun kedua murid Ki Ajar itu pun yakin akan kemampuan gurunya.

Sementara itu, di dalam sanggar itu telah terdapat beberapa orang yang sebelumnya memang belum pernah dilihat oleh Ki Ajar dan kedua muridnya. Wirog yang pernah ditundukkan oleh murid Ki Ajar yang tua itu ternyata tidak mendendamnya. Ia justru bergeser mendekati kedua murid Ki Ajar itu sambil berdesis, “Aku agak mencemaskan Kerta Dangsa.”

“Kenapa?” bertanya murid Ki Ajar yang tua.

“Truna Patrap adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi, yang tidak kalah dari Ki Dipacala sendiri,” berkata Wirog.

“Pamanku adalah seorang perampok yang ditakuti di masa mudanya. Namun ia kehabisan kawan yang dapat dianggap setia, sehingga ia menghentikan kegiatannya untuk beberapa lama. Karena itu, aku tidak mencemaskannya,”.jawab muridnya yang tua.

“Tetapi kau belum pernah melihat kemampuan Truna Patrap,” berkata Wirog.

“Tetapi Ki Dipacala sudah,” jawab murid Ki Ajar itu.

“Belum,” sahut Wirog, “di rumah saudagar kaya itu, Ki Dipacala tidak berbuat apa-apa.”

Murid Ki Ajar itu pun terdiam, la memang belum pernah melihat kemampuan Ki Dipacala, apalagi pada puncak ilmunya. Sehingga dengan demikian maka iapun tidak dapat mengukur kemampuan Truna Patrap itu.

Meskipun demikian, kedua murid Ki Ajar itu yakin bahwa gurunya tidak akan mengalami kesulitan yang parah.

Namun dalam pada itu, sebelum keduanya mulai, Ki Rangga Ranawandawa sendiri telah memasuki sanggar itu. Dengan lantang ia berkata, “Aku akan menjadi saksi.”

Semua orang memandang kepadanya. Truna Patrap memang menjadi berdebar-debar. Dengan kehadiran Ki Rangga, maka harus benar-benar bersih menghadapi Kerta Dangsa. Namun Kerta Dangsa pun harus berkelahi dengan bersih dan jujur.

“Namun dengan tanganku, aku akan sanggup membunuhnya,” berkata Truna Patrap di dalam hatinya. “Jika itu terjadi, Ki Rangga tidak akan dapat marah kepadaku, karena hal itu terjadi di luar kemauanku. Orang tua itu terlalu lemah, sehingga terkena sentuhan tanganku yang tidak terlalu keras dan tanpa dilambari ilmu puncakku, ia sudah mati.”

Ki Rangga itu pun kemudian justru melangkah ke arena dan berkata kepada Ki Dipacala, yang sudah ada di arena pula, “Kita akan menjadi saksi.”

“Ya Ki Rangga,” jawab Dipacala, “kita akan melihat, siapakah yang lebih kuat di antara mereka.”

Dalam pada itu, Truna Patrap itu pun kemudian berkata lantang, “Beri isyarat, agar aku dapat mulai. Tanpa isyarat, nanti aku akan dituduh curang.”

Ki Dipacala tersenyum. Katanya, “Aku yakin bahwa Ki Truna Patrap tidak akan curang.”

Hampir saja Truna Patrap itu mengumpat. Tetapi diurungkannya, karena ia segera sadar bahwa Ki Rangga ada di sanggar terbuka itu pula. Meskipun Ki Rangga sudah sering mendengar ia mengumpat, namun dalam keadaan yang benar-benar pantas untuk mengumpat.

Demikianlah, maka Ki Rangga-lah yang kemudian memberikan isyarat agar kedua orang yang akan saling menjajagi kemampuannya itu segera mulai.

Ki Truna Patrap yang terlalu yakin akan kekuatannya tidak segera membuka serangan. Bahkan karena lawannya yang nampaknya sudah mendekati usia tuanya itu, Truna Patrap ingin membuat lawannya itu kehilangan kendali dan memeras tenaganya, hingga Kerta Dangsa itu pingsan karena kelelahan. Tetapi jika ternyata Kerta Dangsa itu mampu memberikan perlawanan yang berarti, maka umurnya akan dihabisinya dengan caranya yang direncanakan, agar dianggap tidak sengaja.

Beberapa kali Truna Patrap sengaja membuka pertahanannya. Ia mengharap Kerta Dangsa itu menyerang.

Untuk beberapa saat Kerta Dangsa pun belum berbuat apa apa. Orang yang dianggap sudah terlalu tua itu hanya mengimbangi gerak Truna Patrap.

Namun ketika kemudian dengan sengaja Truna Patrap memancing serangan dengan membuka pertahanannya lagi, tiba-tiba saja Kerta Dangsa itu meloncat begitu cepatnya sambil menjulurkan tangannya. Tetapi serangan itu bukannya serangan yang sungguh-sungguh. Dengan jari telunjuknya, Kerta Dangsa telah menyentuh dahi Truna Patrap sambil berteriak, “Satu!”

Truna Patrap benar-benar terkejut. Sentuhan itu sama sekali tidak menyakiti wadagnya. Tetapi hatinya-lah yang terasa sakit sekali. Sentuhan itu benar-benar satu penghinaan baginya.

Apalagi selagi Truna Patrap itu mengumpat-umpat di dalan hatinya, Kerta Dangsa sekali lagi menyentuh tubuhnya.

Truna Patrap terkejut ketika ia mendengar Ki Rangga justru tertawa sambil berkata, “Nah, kau lihat, Kerta Dangsa benar-benar sedang bermain-main.”

“Licik sekali,” geram Truna Patrap.

“Kenapa?” bertanya Dipacala, yang sebenarnya mengerti bahwa Truna Patrap sangat merendahkan lawannya yang sudah nampak menjelang hari-hari tuanya.

“Setan kau Dipacala,” geram Truna Patrap, “orang itu memanfaatkan saat-saat aku lengah.”

“Jika kau lengah, apakah lawanmu yang salah?” bertanya Ki Rangga Ranawandawa.

Truna Patrap tidak menjawab. Namun dengan demikian iapun menjadi semakin benci kepada orang tua yang menyebut dirinya bernama Kerta Dangsa itu.

Tetapi Truna Patrap tidak lagi berani meremehkan Kerta Dangsa yang telah dua kali menyentuh tubuhnya. Bahkan sekali jari-jari orang itu telah menyentuh dahinya, yang dianggapnya benar-benar satu penghinaan. Sedang sentuhan kedua dilakukan oleh Kerta Dangsa dengan telapak tangannya pada lambung Truna Patrap.

Wirog yang berdiri dekat kedua murid Ki Ajar yang diaku sebagai kemanakannya itu berdesis, “Pamanmu belum mengenal Truna Patrap. Seharusnya kesempatan pertama itu dipergunakan sebaik-baiknya. Kerta Dangsa seharusnya memukul kepala Truna Patrap itu dengan sungguh-sungguh, sehingga ia menjadi pening. Setidak-tidaknya akan sedikit mengurangi kegarangannya kemudian. Tetapi sentuhan itu justru akan menjadi lidah api yang menyulut kemarahannya dan membuatnya seperti seekor harimau terluka.”

“Mudah-mudahan Paman masih dapat mengatasinya. Pengalaman Paman cukup luas dan panjang. Paman telah mengembara dari ujung pesisir timur sampai ujung pesisir barat, menyusuri pesisir utara dan kemudian pesisir selatan,” berkata murid Ki Ajar, “Paman tentu pernah menjumpai orang seperti Truna Patrap itu.”

“Tetapi Truna Patrap ini benar-benar orang tidak berjantung. Jika kemarin dalam perampokan itu Truna Patrap ikut serta, mungkin saudagar itu tidak akan bertahan hidup karena ia telah menyembunyikan seluruh keluarganya. Truna Patrap lebih senang menakut-nakuti perempuan dan keluarga korbannya. Bahkan kadang-kadang Truna Patrap bertingkah aneh terhadap perempuan-perempuan. Untung ia sering didampingi Dipacala yang selalu mencegah tingkah lakunya yang sangat tidak pantas, yang akan dapat membakar kemarahan para petugas sandi dan seluruh rakyat Mataram, sehingga dengan demikian maka mereka akan mempersulit tugas-tugas kita. Apalagi apabila seluruh rakyat bangkit melawan kami. Sampai saat ini, yang kita lakukan masih terbatas pada orang-orang yang sangat kaya, sehingga tidak langsung menyinggung perasaan orang-orang kebanyakan di Kotaraja ini. Mereka masih menahan diri untuk melibatkan diri langsung melawan perampok-perampok yang memiliki kemampuan yang sangat besar seperti gerombolan kita ini.”

Kedua murid Ki Ajar itu termangu-mangu. Namun keterangan Wirog itu sangat menarik perhatian mereka, seakan-akan dalam gerombolan itu terhadap dua warna yang sangat menyolok perbedaannya. Yang sebagian di bawah pengaruh Dipacala, dan yang lain di bawah pengaruh Truna Patrap.

Dalam pada itu, nampaknya Truna Patrap tidak berani lagi bermain-main menghadapi Kerta Dangsa yang dianggapnya sudah mendekati masa tuanya. Namun untuk selanjutnya Truna Patrap masih harus meyakinkan dirinya, bahwa orang tua itu memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk melawannya.

Serangan-serangan Truna Pairap yang datang kemudian memang sangat mendebarkan. Wirog kadang-kadang berdesah melihat Truna Patrap meloncat menyambar lawannya dengan kakinya yang berputar mendatar. Tetapi kaki itu sama sekali tidak mampu menyentuh tubuh Kerta Dangsa.

Untuk beberapa saat Kerta Dangsa-lah yang, justru hanya berloncatan menghindar. Ketika serangan-serangan Truna Patrap menjadi demikian gencar, maka Kerta Dangsa mulai berloncatan surut.

Kedua murid Ki Ajar Gurawa yang tahu pasti tataran kemampuan gurunya justru menarik nafas dalam-dalam. Mereka dapat mengukur seberapa tinggi kemampuan Truna Patrap. Kemampuannya memang cukup bisa dibanggakan sebagai seorang perampok yang garang, meskipun ujudnya sendiri tidak segarang tingkah lakunya.

“Aku mencemaskan pamanmu,” desis Wirog kemudian, “jika pada suatu saat pamanmu tidak mampu lagi melawan, maka datanglah kiamat baginya. Orang seperti Truna Patrap tidak akan bekerja setengah-setengah, apalagi pamanmu telah dianggap menghinanya.”

Kedua murid Ki Ajar sama sekali tidak menjawab. Sementara itu mereka seakan-akan tidak berkedip menyaksikan Ki Ajar Gurawa bertempur melawan Truna Patrap yang semakin lama menjadi semakin keras dan kasar.

Tetapi Kerta Dangsa pun tidak kalah kasarnya. Jika, Truna Patrap mengumpat, Kerta Dangsa pun mengumpat pula. Namun satu hal yang masih dilakukan oleh Kerta Dangsa, ia lebih banyak menghindar daripada menyerang.

Semakin lama pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Sekali-sekali saja Kerta Dangsa menyerang. Namun ia terlalu tangkas untuk dapat dikenai serangan Truna Patrap. Sekali-sekali serangan Truna Patrap memang dapat menyentuh tubuh Kerta Dangsa. Tetapi sentuhan yang lidak berarti, sehingga Kerta Dangsa sama sekali tidak merasa kesakitan. Sedangkan Kerta Dangsa yang tidak banyak menyerang itu, justru telah berhasil mengenai tubuh Truna Patrap meskipun tidak berbahaya sekali.

Dipacala dan Ki Rangga Ranawandawa memperhatikan pertempuran itu dengan seksama. Mereka memang ingin melihat ciri-ciri unsur gerak Kerta Dangsa. Barangkali mereka dapat mengetahui dari aliran yang manakah yang dianutnya.

Namun nampaknya Kerta Dangsa bertempur tanpa landasan ilmu tertentu. Nampaknya hanya karena pengalamannya yang luas sajalah maka Kerta Dangsa dapat mencapai tatarannya yang sekarang. Tetapi justru karena tidak ada landasan ilmu yang mapan itulah, ilmu Kerta Dangsa menjadi sulit diperhitungkan. Kadang-kadang yang dilakukan Kerta Dangsa adalah yang tidak diduga sama sekali, yang orang lain tidak akan melakukannya.

Meskipun demikian, Truna Patrap tidak segera dapat menguasainya. Beberapa kali Truna Patrap justru kehilangan lawannya yang bergerak dengan cepat. Kadang-kadang Kerta Dangsa itu dengan tiba-tiba saja berada di tempat yang tidak diduga sama sekali.

Namun dengan demikian Truna Patrap menjadi semakin marah. Dikerahkannya segenap kemampuannya. Ia sudah terlanjur turun ke arena, sehingga ia harus mampu mengalahkan lawannya. Bahkan lawannya itu harus tidak dapat bangkit lagi. Jika ia kemudian mati, itu bukan salah Truna Patrap.

Tetapi orang yang sudah mendekati hari tuanya itu ternyata cukup liat. Justru Truna Patrap mulai menghadapi kesulitan ketika Kerta Dangsa semakin sering menyerangnya. Pertahanan Truna Patrap yang terlalu percaya kepada dirinya sendiri itu menjadi sering terbuka di luar sadarnya. Sementara Kerta Dangsa telah memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Bahkan Truna Patrap seakan-akan telah terdorong beberapa langkah surut ketika kaki Kerta Dangsa mengenai lambung. Cukup keras.

Dengan lantang pula Truna Patrap itu mengumpat. Tetapi Kerta Dangsa mengumpatinya pula lebih panjang lagi.

Ternyata kemudian, bagaimanapun juga Truna Patrap mengerahkan kemampuannya, namun ia tidak dapat mendesak Kerta Dangsa yang tidak kalah garangnya. Sehingga dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin garang dan semakin kasar.

Sebenarnyalah bahwa Truna Patrap bukan lawan Ki Ajar Gurawa. Jika Ki Ajar menghendaki, maka ia akan dapat dengan cepat menghentikan perlawanan Truna Patrap. Namun jika ia berbuat demikian, maka akan dapat timbul kecurigaan atas Ki Ajar Gurawa. Karena itu, maka Ki Ajar Gurawa sebagai Kerta Dangsa telah membuat perkelahian itu menjadi seakan-akan seimbang. Meskipun ada juga selisihnya, tetapi tidak akan menarik banyak perhatian.

Demikianlah, perkelahian itu masih berlangsung terus. Truna Patrap benar-benar menjadi sangat marah. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia tidak mampu mengalahkan orang yang dianggapnya sudah terlalu tua untuk ikut serta dalam gerombolan mereka. Tetapi orang yang dianggapnya terlalu tua itu ternyata memiliki pengalaman yang sangat luas, sehingga apapun yang dilakukannya, orang itu seakan-akan berhasil mengatasinya.

Wirog yang berdiri di dekat murid-murid Ki Ajar itu berdesis, “Pamanmu memang gila. la sudah tua, tetapi tubuhnya masih juga liat seperti itu. Jika demikian maka agaknya ia akan mampu bertahan. Setidak-tidaknya ia akan dapat menyelamatkan dirinya sampai pada akhir perkelahian itu.”

Kedua murid Ki Ajar mengangguk-angguk Yang tertua di antara mereka berkata, “Paman akan dapat memenangkan perkelahian itu. Aku yakin. Pengalamannya tentu lebih banyak dari Truna Patrap yang lebih muda.”

“Tetapi tenaga Truna Patrap masih lebih segar daripada pamanmu,” desis Wirog.

“Belum tentu. Di samping pengalamannya, Paman memiliki tenaga lebih segar dari orang-orang muda,” jawab muridnya yang tua itu.

Wirog tertawa. Katanya, “Mudah-mudahan. Jika ia tidak mampu bertahan, maka habislah segala-galanya. Mungkin kau pun akan dihabisinya.”

Kedua murid Ki Ajar itu mengangguk-angguk. Namun mereka melihat bahwa tenaga Truna Patrap itu mulai menurun.

Hal itu juga dilihat oleh Dipacala dan Ki Rangga Ranawandawa. Mereka melihat bahwa Truna Patrap telah mulai menjadi letih, sementara Kerta Dangsa masih kelihatan segar sebagaimana ia mulai dengan pertempuran itu.

Hampir berbisik Ki Rangga berkata kepada Dipacala, “Truna Patrap terlalu merendahkan orang tua itu. Ia telah mengerahkan tenaganya saat mereka baru mulai. Agaknya Truna Patrap ingin menunjukkan bahwa dalam saat yang terhitung pendek ia sudah dapat melumpuhkan lawannya yang tua itu.”

Dipacala mengangguk-angguk. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Truna Patrap yang mulai menjadi letih, harus berhadapan dengan Kerta Dangsa yang masih segar. Meskipun Kerta Dangsa bertempur dengan cara yang tidak menentu, berkat pengalamannya maka iapun lambat laun justru dapat menguasai lawannya yang mulai letih.

Namun Ki Ajar Gurawa tidak mau menanam dendam di hati Truna Patrap. Jika orang itu mendendamnya, maka ia tentu akan mencari-cari kesalahannya. Bahkan mungkin akan dapat menjadi hambatan yang menggagalkan usahanya untuk mengetahui rahasia gerombolan yang besar yang tiba-tiba saja telah berada di Mataram itu.

Karena itu, justru pada saat-saat yang menentukan itu, Kerta Dangsa tidak mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Tiba-tiba saja kekuatannya pun ikut menjadi susut. Beberapa kali Kerta Dangsa menyia-nyiakan kesempatan yang sebenarnya dapat menghabisi perlawanan Truna Patrap.

Dipacala tersenyum melihat keadaan Kerta Dangsa. Apalagi di saat-saat nafas Kerta Dangsa mulai tersengal-sengal sebagaimana Truna Patrap.

Tanggapan Ki Rangga Ranawandawa justru menjadi semakin baik buat Kerta Dangsa. Dengan demikian, meskipun Kerta Dangsa juga menjadi kelelahan, namun kemampuannya dapat dinilai seimbang dengan Truna Patrap.

Di luar perhitungan Kerta Dangsa, bahwa ia tidak semata-mata mengalahkan Truna Patrap, ia tidak menyinggung pula harga diri Dipacala. Karena Truna Patrap dianggap setingkat dengan Dipacala, maka apabila Kerta Dangsa mengalahkannya, berarti ia dapat mengalahkan Dipacala pula.

Tetapi ternyata Kerta Dangsa tidak mengalahkan Truna Patrap. Di saat-saat terakhir keduanya seakan-akan telah kehabisan nafas. Saat-saat Truna Patrap terduduk karena letih, maka Kerta Dangsapun terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan.

“Cukup,” berkata Ki Rangga Ranawandawa, “aku telah mendapat satu tenaga baru yang akan dapat ikut memimpin tugas kita selanjutnya.”

“Tugas apa?” bertanya Truna Patrap sambil terengah-engah.

“Kita akan berbicara besok,” berkata Ki Rangga kemudian, “kali ini kita benar-benar akan mengemban tugas yang sangat besar. Tugas yang tidak dapat dilakukan dengan begitu saja sebagaimana tugas-tugas kita kemarin. Jika kita melakukannya, maka sebenarnya selain untuk mengumpulkan dana bagi tugas-tugas besar kita, maka juga merupakan latihan bagi setiap orang yang akan memegang peranan dalam tugas besar kita. Terutama orang-orang yang akan dibebani tanggung jawab.”

Ki Ajar Gurawa memang menjadi berdebar-debar. Meskipun yang lain pun juga berdebar-debar, tetapi persoalan yang timbul di dalam diri mereka adalah berbeda.

Ki Rangga pun kemudian telah memerintahkan orang-orang yang ada di rumahnya itu berkurnpul justru di sanggar terbuka itu. Dengan singkat Ki Rangga mengatakan kepada mereka, bahwa mereka belum akan mendapat tugas apapun pada hari itu, selain untuk mengetahui apakah mereka semuanya telah berada di tempat.

“Tujuh orang Rubah Hitam itu telah ada di sarang,” berkata Truna Patrap yang masih nampak sangat letih.

Ki Rangga Ranawandawa tertawa. Katanya, “Kau telah melakukan satu latihan yang bagus bersama Kerta Dangsa. Bukankah dengan demikian kau telah mengasah ujung kemampuanmu?”

Truna Patrap mengangguk-angguk. Namun ia mengumpat di dalam hati. Ternyata orang baru itu memiliki ilmu yang dapat mengimbanginya.

Namun perhitungan Kerta Dangsa ternyata tepat. Seandainya ia benar-benar mengalahkan Truna Patrap, maka orang itu tentu akan sangat mendendamnya. Tetapi karena Kerta Dangsa kemudian sekedar menyatakan dirinya seimbang, maka Truna Patrap pun tidak mendendam sampai ke tulang sungsumnya.

Bagi Ki Ajar Gurawa, tugas yang disebut sebagai tugas yang besar itu sangat menggelisahkannya. Tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat memaksa Ki Rangga untuk mengatakan kepadanya, apa yang akan dilakukannya dengan tugas besar itu.

Namun tiba-tiba saja Ki Dipacala pun berkata kepada Kerta Dangsa, “Besok aku akan datang ke rumahmu. Semua perintah akan diberikan kepadamu setelah aku tahu bahwa kau bukan gelandangan yang dapat lari begitu saja setiap saat. Apalagi berkhianat.”

“Baik,” jawab Kerta Dangsa yang kemudian memberikan ancar-ancar rumahnya kepada Dipacala. Namun kemudian Kerta Dangsa itu bertanya, “Kapan saatnya kau datang besok?”

“Aku tidak dapat menentukan,” jawab Dipacala.

“Jika demikian, aku tidak berkeliaran di bulak-bulak panjang,” jawab Kerta Dangsa.

Dipacala mengerutkan keningnya. Katanya, “Jika itu masih kau lakukan, kau harus menghentikannya. Kalau kau bergabung bersama kami, kau tidak boleh menyamun lagi.”

Kerta Dangsa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Satu kerja sambilan yang menarik.”

“Tidak,” jawab Dipacala tegas.

Kerta Dangsa tersenyum. Katanya, “Baiklah. Tetapi apa yang aku dapatkan bersama kalian di sini harus dapat aku anggap cukup.”

“Sekali kau ikut melakukan perampokan itu, maka hasilnya akan dapat kau makan seumur hidupmu,” jawab Ki Dipacala.

Kerta Dangsa mengangguk-angguk. Namun ia tidak menjawab.

Sementara itu, Ki Rangga Ranawandawa pun berkata, “Mulai sekarang persiapkan diri kalian untuk satu tugas yang teramat berat. Kalian dapat mulai mengasah kemampuan kalian sebagaimana dilakukan oleh Truna Patrap dengan Kerta Dangsa. Dengan demikian maka pengalaman kalian akan meningkat. Sebab yang akan kita hadapi adalah tugas yang sangat berat. Kalian tidak akan dapat mengingkari lagi benturan dengan kekuatan prajurit Mataram. Namun jika kita tangkas, maka segalanya akan dapat dilakukan dengan cepat. Untuk tugas itu kita memerlukan orang cukup banyak.”

Orang-orang yang mendengarkan keterangan itu memang menjadi berdebar-debar. Namun tidak seorangpun yang bertanya, tugas apakah yang harus mereka lakukan. Mereka menyadari, pertanyaan yang demikian bukan pertanyaan yang baik bagi anggota sebuah gerombolan yang berada dalam satu ikatan kepemimpinan yang kuat.

Namun malam itu orang-orang yang ada di sanggar terbuka itu sempat mendapat suguhan minuman panas dan makan nasi tumpang dengan telor pindang.

Demikian mereka dapat meninggalkan halaman rumah Ki Rangga dengan berhati-hati, maka Kerta Dangsa dan kedua orang yang disebut kemenakannya itu pun dengan segera kembali ke pondok mereka yang baru mereka beli. Narnun seorang di antara kedua orang yang diaku kemenakan itu harus segera pergi ke Sumpyuh untuk melaporkan pertemuan mereka dengan Ki Rangga Ranawandawa.

“Aku harus berada di rumah ini,” berkata Ki Ajar, “karena itu hanya salah seorang di antara kalian berdua yang harus pergi. Itupun dengan cepat. Besok kita harus sudah berada di rumah untuk menunggu kedatangan Dipacala. Kita tidak tahu kapan mereka akan datang. Sebaiknya kita bertiga ada di rumah. Setidak-tidaknya dua di antara kita. Aku akan mengatakan bahwa seorang di antara kita sedang pergi ke sungai. Karena itu, yang pergi ke Sumpyuh harus berjalan semalam suntuk untuk menempuh jarak pulang pergi.”

Murid Ki Ajar yang tua-lah yang langsung pergi ke Sumpyuh untuk memberikan laporan tentang pertemuan yang diadakan di rumah Ki Rangga Ranawandawa. Mereka tidak sabar menunggu sampai besok, sebagaimana yang mereka sepakati untuk melakukan hubungan dengan kelompok Gajah Liwung di pasar.

“Jika besok pagi-pagi ada orang dari kelompok Gajah Liwung datang ke pasar, maka sebaiknya ia sudah mengetahui persoalannya dan sempat langsung berhubungan dengan Ki Wirayuda dan Ki Patih Mandaraka,” pesan Ki Ajar Gurawa.

Demikianlah, maka murid Ki ajar yang tua itu telah menempuh perjalanan malam seorang diri ke Sumpyuh. Bahkan menurut rencana akan terus kembali ke rumah yang dihuni oleh Kerta Dangsa dan kedua orang kemenakannya itu.

Sebagai seorang yang sudah mendapat tempaan lahir dan batin, maka murid Ki Ajar yang tua itu melakukan tugasnya dengan penuh kesungguhan. Ia sama sekali tidak mengeluh. Tetapi itu baginya bukan tugas yang sangat berat.

Kedatangannya di Sumpyuh lewat tengah malam memang mengejutkan. Namun murid Ki Ajar Gurawa yang tua itu ternyata hanya membawa laporan tentang satu kemungkinan yang belum dapat ditentukan. Tetapi kemungkinan itu adalah kemungkinan yang akan sangat penting artinya bagi kelompok Gajah Liwung.

“Kami masih belum tahu apa yang akan terjadi. Tetapi yang akan terjadi itu tentu begitu penting sehingga ada satu kemungkinan, bahwa yang akan terjadi itu dapat merupakan satu gejolak bagi Mataram,” berkata murid Ki Ajar Gurawa yang tua itu.

“Jadi apakah menurut Ki Ajar kami sebaiknya memberikan laporan kepada Ki Wirayuda?” bertanya Sabungsari.

“Ya. Agaknya Ki Wirayuda sebaiknya mengetahui rencana ini. Namun kami belum dapat mengatakan, apakah sebaiknya para petugas sandi dipersiapkan untuk satu tugas khusus atau tidak. Dengan demikian, maka sebaiknya Ki Wirayuda tidak bergerak terlalu luas lebih dahulu,” jawab murid Ki Ajar itu.

Ki Jayaraga yang ikut menemui murid Ki Ajar itu berkata, “Aku mempunyai firasat, bahwa yang akan terjadi tentu satu peristiwa penting yang akan menentukan perkembangan kelompok mereka selanjurnya. Namun tentu ada sangkut pautnya dengan kebijasanaan Mataram sekarang ini. Bahkan aku mempunyai firasat, bahwa janji yang aku buat dengan Podang Abang telah menjadi semakin dekat.”

“Menurut keterangan Ki Rangga, persoalannya memang sangat penting sehingga akan melibatkan banyak orang,” jawab murid Ki Ajar itu.

“Baiklah. Selanjutnya apakah hubungan yang kita rencanakan akan dapat berlangsung?” bertanya Glagah Putih.

“Untuk sementara kita belum mendapatkan jalur yang lain. Tetapi kami tidak tahu, jika tugas yang disebut berat itu sudah diberikan, apakah kami dapat melakukan hubungan sebagaimana kita rencanakan,” jawab murid Ki Ajar Gurawa itu.

“Baiklah,” berkata Sabungsari kemudian, “jika hubungan kami terputus, maka satu-satunya jalan adalah mengawasi pintu regol rumah Ki Rangga Ranawandawa.”

“Ya. Mungkin kita akan mendapat cara yang lebih baik. Mungkin dengan tulisan di atas secarik kertas, atau bahkan kain yang akan dilemparkan di seberang jalan yang berhadapan dengan regol halaman rumah Ki Rangga, atau cara yang lain lagi,” berkata murid Ki Ajar yang tua itu.

“Kita harus sangat berhati-hati. Dengan tulisan, akan mengundang kesulitan jika tulisan itu jatuh ke tangan orang-orang yang menjadi kepercayaan Ki Rangga. Karena itu yang terbaik adalah dengan cara yang tidak meninggalkan jejak apapun, meskipun belum kita ketemukan sekarang,” berkata Ki Jayaraga.

“Ya. Aku sependapat,” sahut murid Ki Ajar, “nanti aku akan berbicara dengan Guru.”

Demikianlah, malam itu juga menjelang dini hari, murid Ki Ajar itu minta diri untuk kembali ke rumah Ki Ajar yang baru dibeli.

“Mereka benar-benar ingin melihat rumah Guru. Mungkin mereka ingin satu kepastian tentang Guru,” berkata murid Ki Ajar itu.

“Untunglah bahwa rumah itu telah ada,” desis Sabungsari.

Namun kemudian ternyata bahwa Sabungsari dan Glagah Putih akan pergi bersama-sama dengan murid Ki Ajar itu ke Kota. Mereka akan langsung menghadap Ki Wirayuda, sementara murid Ki Ajar itu akan kembali ke rumahnya.

Demikianlah, maka di dini hari ketiganya telah meninggqlkan Sumpyuh. Udara yang dingin bagaikan menusuk sampai ke urat-urat darah yang tersembunyi di dalam tubuh. Embun pun mulai membasahi pakaian mereka.

Namun akhirnya mereka pun berpisah. Sabungsari dan Glagah Putih melanjutkan perjalanan mereka ke Kota, sedangkan murid Ki Ajar itu langsung menuju ke pondoknya.

Sabungsari dan Glagah Putih memasuki Kotaraja pada saat fajar mulai naik. Jalan-jalan utama telah banyak dilalui orang yang pergi ke pasar, terutama mereka yang membawa barang dagangan mereka.

Sementara itu, Sabungsari dan Glagah Putih dengan sangat berhati-hati memasuki regol halaman rumah Ki Wirayuda.

Laporan Sabungsari dan Glagah Putih telah mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari Ki Wirayuda. Meskipun masih belum diketahui apa yang akan dilakukan oleh gerombolan itu, namun nampaknya memang akan terjadi sesuatu.

“Kali ini tentu bukan sekedar perampokan,” berkata Ki Wirayuda.

Sabungsari dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Sabungsari berkata, “Nampaknya memang demikian. Murid Ki Ajar yang tua itu pun menganggap bahwa yang akan terjadi tentu satu peristiwa yang penting.”

“Baiklah,” berkata Ki Wirayuda, “aku akan menghadap Ki Patih. Aku akan menyampaikan laporan ini. Apakah harus ada tindakan terhadap kedua orang Rangga itu untuk mencegah peristiwa yang kurang kami mengerti, agar tidak terjadi.”

“Tetapi itu belum akan mencabut persoalannya sampai ke akamya,” desis Glagah Putih, “peristiwa itu mungkin dapat dicegah, tetapi kita akan kehilangan jejak. Peristiwa itu pada suatu saat akan benar-benar terjadi. Sehingga jika kedua orang Rangga itu ditangkap, tentu hanya sekedar menunda peristiwa itu saja.”

“Bukankah dengan menangkap keduanya, permasalahannya akan dapat ditelusur?” desis Ki Wirayuda.

“Apakah Ki Wirayuda akan dapat membuktikan keterlibatan mereka?” desis Sabungsari, “Mungkin dengan menyergap Ki Rangga Ranawandawa. Tetapi Ki Rangga Resapraja? Menurut pendapat kami, Ki Rangga Ranawandawa tentu akan bertahan untuk tidak mengkaitkan nama Ki Rangga Resapraja.”

“Jadi, apakah kita akan menunggu sampai mereka mengguncang Mataram? Kita tidak tahu kapan hal itu terjadi. Dan kita tidak tahu sasaran yang manakah yang akan diambil,” berkata Ki Wirayuda.

“Kita akan mencabut sampai ke akarnya. Bukan sekedar merampas daun-daunnya. Bukankah Ki Wirayuda sependapat bahwa kedua orang Rangga itu bukan orang yang utama di dalam gerombolan mereka?” bertanya Glagah Putih.

Ki Wirayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya aku memang harus berbicara dengan Ki Patih Mandaraka.”

Seperti biasanya Sabungsari dan Glagah Pujih menunggu di rumah Ki Wirayuda. Sementara Ki Wirayuda pergi ke rumah Ki Patih Mandaraka.

Ternyata Ki Patih juga sependapat, bahwa mereka tidak akan menangkap kedua orang Rangga itu lebih dahulu. Namun ia minta Sabungsari dan anggota-anggotanya semakin bersungguh-sungguh mencari jejak.

Nampaknya perang sudah harus diumumkan antara kedua kelompok Gajah Liwung itu.

“Tetapi Sabungsari dan kawan-kawannya jangan mempergunakan pertanda kelompoknya yang sudah dipergunakan oleh kelompok yang lain itu,” berkata Ki Patih Mandaraka.

“Baiklah Ki Patih,” desis Ki Wirayuda, “aku akan selalu berhubungan dengan mereka.”

“Mana yang lebih baik bagimu, apakah kau akan gerakkan para petugas sandi untuk mengamati perkembangan keadaan, atau justru kau percayakan saja kepada kelompok Gajah Liwung yang dipimpin Sabungsari, sementara kegiatan petugas sandi tidak perlu kau tingkatkan?” bertanya Ki Patih Mandaraka.

“Peningkatan kegiatan petugas sandi akan dapat diamati oleh Ki Rangga Resapraja,” jawab Ki Wirayuda.

“Jika demikian, pergunakan kelompok yang dipimpin oleh Sabungsari. Jaga agar kelompok itu tidak justru berbenturan dengan para petugas sandi. Tetapi keduanya tidak pula boleh berhubungan, karena jika demikian maka Ki Rangga Resapraja akan mengetahuinya,” berkata Ki Patih.

Ki Wirayuda mengangguk dalam-dalam. Kemudian iapun minta diri karena dua orang anak muda dari kelompok Gajah Liwung itu ada di rumahnya.

Kepada Sabungsari dan Glagah Putih, Ki Wirayuda telah menyampaikan segala perintah dan pesan Ki Patih Mandaraka. Sehingga dengan demikian, maka Sabungsari dan Glagah Putih pun menyadari, bahwa mereka benar-benar harus mulai melakukan pengamatan yang lebih bersungguh-sungguh dengan segala macam petunjuk dari Ki Ajar Gurawa.

Demikianlah, setelah semua pesan disampaikan kepada Sabungsari dan Glagah Putih, maka kedua orang anak muda it upun segera minta diri. Kelompok mereka yang dipesankan agar tidak mempergunakan nama dan ciri yang telah mereka tetapkan itu, harus segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, Sabungsari dan Glagah Putih mempertimbangkan untuk singgah di rumah Ki Ajar Gurawa untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang !ebih jauh. Namun untunglah bahwa niat itu diurungkan. Murid Ki Ajar telah memberikan isyarat, bahwa kemungkinan akan hadirnya Dipacala di rumah Ki Ajar itu.

Sebenarnyalah Dipacala memang datang ke rumah Ki Ajar Gurawa. Sebagai seorang yang memiliki pengenalan yang tajam, maka Dipacala tidak perlu bertanya kepada siapapun. Ancar-ancar yang diberikan oleh Ki Ajar cukup jelas.

Rumah Kerta Dangsa memang rumah yang sudah tua. Kurang terpelihara dan segala sesuatunya pantas untuk dihuni oleh Kerta Dangsa dengan kedua orang kemenakannya.

Ketika Dipacala memasuki halaman rumah itu, Kerta Dangsa sedang tidur mendekur di serambi rumahnya yang terbuka, tanpa mengenakan baju dan tanpa ikat kepala. Rambutnya dibiarkan tergerai kusut di bawah kepalanya. Sementara seorang kemenakannya sedang membelah kayu, dan yang lain berada di dalam rumahnya.

Ketika Dipacala dengan Wirog memasuki halaman rumah itu, maka kemenakannya yang sedang membelah kayu itu pun telah mempersilahkannya.

Kerta Dangsa yang dibangunkannya dengan tergopoh-gopoh telah turun ke halaman dan mempersilahkan tamu-tamunya duduk di amben di serambi itu. Di tempat yang baru saja dipergunakannya untuk tidur.

“Dimana kakakmu?” bertanya Kerta Dangsa kepada kemenakannya.

“Ada di dalam,” jawab kemenakannya itu.

“Rebus air,” perintah Kerta Dangsa.

Tetapi Dipacala menyahut, “Tidak usah. Aku tidak lama. Aku hanya ingin membuktikan bahwa kau bukan gelandangan yang tidak mempunyai tempat tinggal.”

“Jadi aku masih saja tidak dipercaya?” bertanya Kerta Dangsa.

“Bukan tidak dipercaya. Tetapi aku hanya ingin membuktikan,” jawab Dipacala.

Untuk beberapa lama Dipacala duduk di serambi rumah itu. Ia berbicara tentang kebiasaan Kerta Dangsa berada di bulak-bulak panjang. Bahkan iapun mengulangi perintahnya agar kebiasaan menyamun itu dilepaskannya.

“Aku memang sudah berniat demikian,” jawab Kerta Dangsa.

“Bersama kami, kau akan mendapat jauh lebih banyak dari sekedar menyamun orang-orang yang pulang dari pasar,” berkata Dipacala.

“Pekerjaan itu aku lakukan sekedar untuk tidak menjadi kelaparan,” jawab Kerta Dangsa. Lalu katanya, “Tetapi jika aku sudah mendapat pekerjaan lain yang lebih menjamin hidupku, maka aku akan menghentikan pekerjaan itu.”

“Nah,” berkata Dipacala kemudian, “kau dan kedua orang kemenakanmu harus berada di rumah Ki Rangga Ranawandawa dua hari lagi. Segala perintah akan diberikan di sana . Nampaknya tugas kita memang teramat penting. Tetapi aku sendiri masih belum tahu, apa yang harus kita lakukan.”

Kerta Dangsa mengangguk-angguk. Katanya, “Baik. Aku akan datang. Dua hari lagi, setelah senja turun. Begitu?”

“Ya. Kita akan berkumpul dan mendengarkan perinlah yang akan disampaikan oleh Ki Rangga Ranawandawa,” sahut Dipacala.

Kerta Dangsa mengangguk-angguk. la memang tidak mau bertanya jauh. Karena ia tahu, bahwa hal itu akan dapat menyinggung perasaan Dipacala, dan barangkali jika didengar oleh Ki Rangga Ranawandawa, ia akan dapat dicurigai.

Karena itu, yang dapat dilakukan oleh Kerta Dangsa adalah menyatakan kesediaan untuk datang pula waktu yang telah ditentukan.

Ternyata Dipacala memang tidak terlalu lama berada di rumah Kerta Dangsa. Iapun segera minta diri untuk kembali.

“Kembali ke mana?” bertanya Kerta Dangsa. Dipacala tersenyum. Katanya, “Besok kau akan tahu, dimana aku tinggal bersama Truna Patrap.”

“Orang itu terlalu sombong,” geram Kerta Dangsa.

“Jangan hiraukan,” jawab Dipacala, “tetapi apa yang terjadi justru telah membuat namamu lebih dihargai di antara kami. Truna Patrap termasuk seorang yang disegani. Tetapi kau tidak dapat dikalahkannya, meskipun kau juga tidak dapat mengalahkannya.”

“Jika umurku semuda orang itu,” desis Kerta Dangsa.

Dipacala tertawa. Katanya, “Ketika kau semuda Truna Patrap, maka kau tidak akan berkelahi dengannya, karena kau belum pernah bertemu.”

“Misalnya,” sahut Kerta Dangsa, “aku berkata misalnya.”

Dipacala tertawa. Katanya, “Kau ternyata juga pemarah.”

Kerta Dangsa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berbicara tentang Truna Patrap lagi.

Sejenak kemudian, Dipacala telah meninggalkan rumah Kerta Dangsa. Kedua kemanakan Kerta Dangsa pun mengantar mereka sampai ke regol.

Demikian Dipacala hilang, maka Kerta Dangsa itu berkata, “Orang ini tentu bukan seorang perampok seperti Truna Patrap.”

“Maksud Guru?” bertanya muridnya yang tua.

“Aku kira ia seorang prajurit yang ditempatkan di dalam gerombolan itu sebagai pembantu Ki Rangga Ranawandawa. Tetapi tentu bukan prajurit Mataram,” jawab Ki Ajar Gurawa.

“Kenapa Guru berpendapat demikian?” bertanya muridnya yang muda.

“Ia memang dapat bertindak tegas dan keras. Tetapi seperti sikap seorang pemimpin prajurit di medan perang. Keras dan pasti. Sebagaimana ketika kita merampok saudagar kaya itu. Namun seorang perampok biasa tidak akan mudah memberikan, meskipun hanya sebuah di antara barang-barang rampokannya. Apalagi sebilah keris yang dianggap baik,” jawab Ki Ajar.

“Jika ia seorang prajurit tetapi bukan prajurit Mataram, apakah Guru bermaksud mengatakan bahwa Dipacala datang dari Pati?” bertanya muridnya yang tua.

“Meskipun ia berusaha menyesuaikan gaya bahasanya, tetapi kadang-kadang terasa bahwa gaya bahasanya bukan gaya bahasa orang Mataram,” jawab Ki Ajar.

“Bagaimana dengan yang lain?” desak muridnya yang muda.

“Kita memang menghadapi beberapa gaya bahasa. Memang sebagian tidak terlalu jauh,” jawab Ki Ajar.

Kedua muridnya mengangguk-angguk. Seseorang memang dapat mempelajari dan menggunakan bahasa dengan gaya yang sangat baik. Tetapi orang lain tidak memperdulikannya, sehingga ia berbicara asal saja melontarkan kata-kata.

Namun kedua murid Ki Ajar itu memang condong untuk menduga bahwa Dipacala adalah seorang prajurit dari Pati. Tetapi apakah kehadirannya diketahui atau tidak oleh Adipati Pati, itu menjadi persoalan tersendiri.

Tetapi mereka tidak memperbincangkannya lebih jauh. Yang kemudian direncanakan Ki Ajar adalah menemui Sabungsari, Glagah Putih dan kawan-kawannya.

“Aku akan pergi sendiri,” berkata Ki Ajar. “Jika Dipacala kembali, atau orang lain untuk meyakinkan bahwa rumah ini adalah rumah kita, katakan bahwa aku masih mempunyai janji dengan orang terakhir di bulak panjang. Kemudian aku tidak akan berkeliaran lagi dengan alasan apapun juga. Kau harus meyakinkan mereka, bahwa aku merasa sayang untuk melepaskan orang yang satu ini.”

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: