Buku 292 (Seri III Jilid 92)

Demikian Wikan itu tegak berdiri, maka lawannya yang lebih kecil itu segera menyerangnya. Tetapi lawannya itu menjadi semakin berhati-hati agar ia tidak lagi dapat disekap oleh tangan Wikan. Karena itu, maka anak itu telah berusaha menyerang dengan cepat kemudian menjauhinya dengan cepat pula.

Demikian Wikan tegak berdiri, maka lawannya yang kecil itu pun telah meloncat. Kakinya terjulur dengan derasnya mengarah ke dada Wikan.

Wikan yang baru saja berdiri tegak itu terkejut. Tetapi ia tidak sempat berbuat banyak. Kaki itu benar-benar telah mengenainya. Demikian kerasnya sehingga Wikan itu terdorong surut.

Ternyata lawannya yang marah itu tidak memberinya kesempatan. Anak itu telah meloncat memburunya. Dalam keadaan goyah, maka serangan anak itu telah mendorongnya. Satu pukulan yang keras mengenai kening Wikan.

Wikan tidak dapat mengelak. Pukulan itu telah membuatnya menjadi pening. Tetapi Wikan tidak terjatuh karenanya. Meskipun ia menjadi terhuyung-huyung, tetapi Wikan itu tetap mampu bertahan berdiri diatas kakinya.

Namun lawannya benar-benar tidak mau memberikan kesempatan.

Kemarahannya tidak lagi membuatnya sempat menahan diri. Dengan sekuat tenaganya, anak itu telah menyerang lagi dengan kakinya mengenai perut Wikan.

Serangan itu demikian kerasnya, sementara Wikan masih belum sempat memperbaiki keseimbangannya, sehingga Wikan telah terjatuh lagi di atas pasir tepian.

Anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu itu sama sekali memang tidak mau memberinya kesempatan. Demikian Wikan berusaha untuk bangkit, maka anak itu pun segera menyerangnya. Bahkan beberapa kali, sehingga Wikan benar-benar tidak sempat untuk berdiri.

“Curang! Kau curang!“ teriak Wikan. Suaranya bergetar tinggi.

Untuk beberapa saat Wikan itu masih tetap berbaring, karena ia memang tidak mendapat kesempatan untuk berdiri. Lawannya yang kecil itu seakan-akan menungguinya dan siap untuk menyerang setiap saat.

Yang dicemaskan Pinang itu terjadi. Wasis yang berdiri di atas tanggul itu pun segera meloncat turun. Dengan kasar ia membentak-bentak, “Kau curang anak iblis! Sebelum ia berdiri, kau tidak boleh menyerang.”

“Aku sudah menunggu ia berdiri,” jawab lawan Wikan itu.

“Tetapi ia belum sempat berdiri tegak,” geram Wasis.

“Suruh ia berdiri,” jawab anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu itu, “aku menunggunya.”

Tetapi Glagah Putih sudah mendekatinya. Sambil memegangi pergelangan tangan anak itu, maka ia berkata, “Sudahlah. Kau masih harus menyelesaikan pekerjaanmu, menggiring ikan itu masuk ke dalam air.”

“Aku tidak akan lari,” jawab anak itu, “jika ia masih ingin berkelahi, aku akan berkelahi.”

“Biar mereka menyelesaikan perkelahian itu,“ sahut Wasis, “tetapi anak itu pantas mendapat hukuman lebih dahulu karena kecurangannya.”

“Hukuman?” bertanya Glagah Putih.

“Ya. Ia sudah berbuat curang,” jawab Wasis.

“Sudahlah. Biarlah anak ini aku ajak pergi. Perkelahian tidak menguntungkan anak-anak itu. Mungkin seketika mereka tidak merasa sakit. Tetapi besok, bangun tidur, seluruh tubuh mereka akan terasa sakit-sakitan.”

“Tidak peduli,” jawab Wasis, “serahkan anak itu. Ia harus dihukum.”

“Jangan. Biarlah aku membawanya pergi,” jawab Glagah Putih.

“Berikan kepadaku, atau kau yang akan mendapat hukuman itu!“ bentak Wasis.

“Siapa yang akan menghukum aku?” bertanya Glagah Putih.

“Aku,” jawab Wasis.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Wasis itu masih lebih muda dari Glagah Putih. Tetapi tubuhnya memang nampak kekar dan kuat.

Meskipun demikian, Glagah Putih merasa sangat segan bertengkar dengan anak itu. Apalagi ia tamu di rumah Pinang.

Karena itu, maka Glagah Putih tidak melayaninya. Bahkan digandengnya anak yang tinggal bersamanya itu untuk menjauh.

Anak itu memang meronta. Katanya, “Biar aku selesaikan perkelahian ini.“

“Sudahlah,” jawab Glagah Putih, “kita tinggalkan mereka.“

“Tetapi anak itu tidak boleh mengambil ikan di pliridan.”

“Ya. Ia tidak akan mengambilnya,” jawab Glagah Putih.

Anak yang gemuk itu sudah berdiri. Tetapi ia mulai mengaduh kesakitan. Seluruh tubuhnya mulai terasa sakit. Tulang-tulangnya, kulit dagingnya. Bibirnya yang pecah, matanya yang mulai membengkak, sedangkan telinganya menjadi seolah-olah mengiang-ngiang.

“Ia menyakiti aku Kakang,“ Wikan mulai merengek.

Karena itu, maka Wasis itu pun berkata lantang, “Serahkan anak itu kepadaku! Ia harus dihukum!”

“Sudahlah. Seharusnya kita melerai anak-anak yang berkelahi. Jangan justru kita hanyut dalam perkelahian itu,” jawab Glagah Putih.

Tetapi Wasis yang menjadi sangat marah karena kekalahan Wikan itu tidak menghiraukannya. Apalagi ketika Wikan mulai merengek, “Tangkap anak itu Kakang. Aku belum membalasnya.”

“Cengeng!“ teriak anak yang pergelangan tangannya masih tetap dipegang oleh Glagah Putih itu.

Sambil menarik tangannya, Glagah Putih berkata, “Diam kau.”

Namun Wasis melangkah mendekati Glagah Putih sambil berkata lantang, “Serahkan anak itu!”

“Aku sedang berusaha melerai perkelahian itu. Adalah tidak pantas jika kita berkelahi karena sebab yang tidak jelas. Atau katakan, karena persoalan ikan di pliridan.”

“Aku tidak peduli!” jawab Wasis dengan lantang.

Pinang menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia justru berharap agar Glagah Putih membuat Wasis juga menjadi jera. Menurut pendengarannya, Glagah Putih adalah seorang anak muda yang berilmu sangat tinggi.

Namum dalam pada itu Glagah Putih berkata, “Ki Sanak. Kita sudah terlalu besar untuk berkelahi. Apalagi aku. Aku agaknya lebih besar dan lebih tua dari kau. Jika kita berkelahi, maka orang-orang yang mungkin melihat akan mencela aku. Jika aku menang, tentu sudah sewajarnya karena aku lebih besar. Tetapi jika aku kalah, maka aku akan dicemoohkan orang karena aku kalah dari seorang yang lebih muda dari aku.”

“Aku tidak peduli. Meskipun lebih muda aku tidak takut.”

“Aku percaya kalau kau tidak takut. Tetapi tidak pantas jika kita berkelahi.”

Wasis tidak menghiraukannya. Sambil melangkah maju, Wasis berusaha untuk menggapai anak yang masih tetap dipegangi oleh Glagah Putih. Tetapi anak itu segera memutar dirinya ke belakang Glagah Putih.

Tetapi Wasis berusaha untuk mengejarnya sambil berkata, “Serahkan anak itu, atau kita berkelahi.”

Tetapi Glagah Putih tidak menyerahkan anak itu. Bahkan ia selalu membayangi usaha Wasis untuk menangkapnya.

Karena itu Wasis menjadi sangat marah. Tiba-tiba saja ia menyerang Glagah Putih. Tangannya teranyun dengan derasnya memukul dada Glagah Putih yang terbuka.

Pinang terkejut. Namun kemudian wajahnya berkerut. Ia melihat Glagah Putih sama sekali tidak bergerak. Ia masih saja tetap berdiri tegak sambil memegangi anak yang tersembunyi di balik tubuhnya itu.

Sebenarnyalah Glagah Putih memang tidak bergerak. Ia tidak mengelak dan tidak menangkis. Dibiarkannya Wasis menyerangnya, sementara Glagah Putih hanya meningkatkan saja daya tahan tubuhnya sehingga pukulan Wasis itu tidak menyakitinya.

Wasis terkejut melihat akibat dari serangannya. Selama ini ia merasa sebagai seorang anak muda yang disegani oleh kawan-kawannya. Tetapi anak muda yang berdiri di hadapannya itu sama sekali tidak bergetar oleh serangannya.

Dengan sekuat tenaganya Wasis telah mengulangi serangannya. Demikian kerasnya. Namun ternyata Glagah Putih masih saja berdiri tegak di tempatnya.

Wasis yang marah itu masih mengulangi dua tiga kali. Tetapi serangannya itu sekan-akan sama sekali tidak terasa. Bahkan tangannya sendiri-lah yang mulai merasa sakit.

Ketika Wasis kemudian berhenti, maka Glagah Putih pun berkata, “Jika kau sudah puas, ajak adikmu pulang. Ingat, jangan mengganggu anak-anak Tanak Perdikan ini. Seharusnya mereka menjadi kawan bermain, bukan lawan berkelahi. Ingat pula, menurut kesepakatan orang-orang Tanah Perdikan ini, ikan yang berada di pliridan menjadi hak mereka yang membuat dan menutup pliridan itu, sehingga orang lain tidak boleh mengambilnya.”

Wajah Wasis menjadi sangat tegang. Tetapi ia tidak melihat ancang-ancang Glagah Putih untuk membalasnya. Anak muda itu bahkan kemudian melangkah mundur sambil berkata, “Selamat malam. Aku harap kau mendengar kata kataku.”

Wasis tidak menjawab. Tetapi jantungnya terasa berdetak semakin cepat. Ia tidak mengerti, kenapa anak muda itu sama sekali tidak tergetar oleh serangan-serangannya.

Glagah Putih seakan-akan tidak menghiraukan lagi Wasis yang mematung. Ia juga tidak menghiraukan lagi Wikan yang kebingungan. Digandengnya anak yang tinggal bersamanya itu melangkah pergi. Tetapi Wikan itu masih berteriak, “He, anak cengeng!”

Anak itu tidak menjawab. Iapun kemudian melangkah di sebelah Glagah Putih menuju ke pliridannya sendiri.

Dalam pada itu, Wasis berdiri tegak dengan dada yang bergejolak. Ia tidak mengerti apa yang telah terjadi. Anak muda itu, yang sedikit lebih besar dan lebih tua daripadanya, seakan-akan memiliki perisai di dadanya, sehingga ia sama sekali tidak goyah oleh pukulan-pukulannya.

Di luar sadarnya, Wasis itu berpaling kepada Pinang dan bertanya, “Siapakah anak muda itu Pinang?”

“Namanya Glagah Putih,” jawab Pinang. Lalu katanya, “Anak muda itu-lah yang memimpin pengawal Tanah Perdikan ini, di samping Kakang Prastawa, kemenakan Ki Gede.”

Wajah Wasis menjadi semakin tegang. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Jadi ia salah seorang pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan ini?”

“Ya,” jawab Pinang.

“Kenapa kau tidak memberitahukan kepadaku sebelumnya?” bertanya Wasis.

“Bukankah dengan demikian, maka kau akan menghentikan kenakalan Wikan? Selama ini seolah-olah Wikan telah berbuat apa saja menurut kemauannya sendiri, tanpa menghiraukan tatanan kehidupan anak-anak di padukuhan induk ini. Jika ia menghadapi perlawanan, maka kau selalu membantunya. Bahkan kau tidak segan-segan membantu adikmu, sehingga terasa sangat mengganggu anak-anak yang sedang bermain. Kau dan Wikan juga tidak pernah mendengarkan jika aku mencoba mencegahmu. Nah, adalah kebetulan bahwa kau bertemu dengan Glagah Putih di sini. Tetapi kau masih beruntung, bahwa Glagah Putih tidak berbuat apa-apa atasmu. Jika tanganmu terasa sakit, itu karena kau menyakiti dirimu sendiri.”

“Jika ia salah seorang pemimpin pengawal, apakah ia dapat menangkap aku?” bertanya Wasis.

“Jika ia menghendaki, ia tentu dapat melakukannya. Tetapi rasa-rasanya Glagah Putih tidak akan berbuat demikian. Jika ia mau, ia dapat mengatasimu langsung malam ini. Meskipun ia berhak dan bahkan mampu melakukannya, tetapi ia tidak melakukannya.”

Wasis termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata kepada adiknya, “Kita pulang. Kau tidak boleh mengambil ikan di dalam pliridan, apalagi yang sudah tertutup.”

“Tetapi…” Wikan masih akan membantah.

“Jika kau tidak mau mendengar kata-kataku, kali ini aku sendiri yang akan memukulimu,” jawab Wasis.

Wikan memang menjadi takut. Karena itu, maka ia tidak membantah lagi ketika Wasis mendorongnya meninggalkan tepian.

Sejenak Pinang termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata kepada kedua orang anak yang memiliki pliridan itu, “Aku akan pulang.”

Kedua orang anak itu tidak menjawab. Tetapi ia memandangi saja Pinang yang kemudian melangkah naik ke tanggul dan berjalan di sebelah Wasis.

Beberapa saat kemudian ketiga orang itu pun telah hilang di dalam kegelapan.

Sementara itu, sambil berjalan Wasis masih bertanya, “Kenapa Glagah Putih yang merupakan salah seorang pemimpin pengawal itu berkeliaran di sungai malam-malam begini?”

“Glagah Putih menyertai anak yang tinggal bersamanya di rumah Ki Lurah Agung Sedayu itu,” jawab Pinang.

“Apakah anak itu takut turun sendiri?” bertanya Wasis pula.

Pinang menggeleng. Katanya, “Tidak. Biasanya anak itu turun sendiri. Adalah kebetulan bahwa malam ini ia turun bersama Glagah Putih.”

Wasis tidak bertanya lagi. Namun ia menyesal bahwa ia sudah terlibat dalam perselisihan dengan salah seorang pemimpin pengawal Tanah Perdikan. Wasis semakin menyesali sikapnya, karena anak muda yang bernama Glagah Putih itu tenyata memiliki kelebihan di atas anak muda kebanyakan.

“Seandainya ia membalas,“ berkata Wasis di dalam hatinya. Wasis memang membayangkan seandainya Glagah Putih itu membalasnya, maka nasibnya tentu menjadi sangat buruk.

Tetapi ternyata Glagah Putih itu tidak membalas.

Sementara itu Glagah Putih masih sibuk membantu anak yang tinggal bersamanya di rumah Agung Sedayu itu menggiring ikan yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Apalagi karena malam sudah menjadi terlalu jauh, mereka tidak akan membuka pliridannya untuk yang kedua, karena hasilnya tentu tidak akan memadai.

Dalam pada itu, anak itu masih saja bergeremang sambil menggiring ikan, “Seharusnya kau biarkan aku berkelahi.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kakaknya tentu akan turut campur.”

“Kau cegah kakaknya turut campur. Aku akan menyelesaikan adiknya.”

“Sudahlah. Jangan terlalu bergairah untuk berkelahi,“ berkata Glagah Putih.

“Aku mempertahankan diri,” jawab anak itu.

“Karena itu, aku biarkan kau berkelahi sampai kau mendapatkan satu isyarat bahwa kau menang. Bukankah itu sudah cukup?”

“Tetapi kau tidak menunjukkan bahwa kau menang melawan kakaknya,“ berkata anak itu.

“Ah, itu tidak perlu bagiku. Aku justru menghindari perkelahian itu. Bukankah lebih baik begitu daripada harus berkelahi malam-malam di tepian? Pakaianku akan menjadi kotor, dan bahkan mungkin aku akan tercebur kedalam air lengkap dengan celana, kain, baju dan bahkan ikat kepalaku.”

Anak itu tidak menjawab. Tetapi ia sudah selesai menggiring ikan, sehingga ikan yang terperangkap di dalam pliridan itu sudah masuk ke dalam icir.

Dengan demikian, maka Glagah Putih telah mengambil icir yang dipasangnya dan dibawanya ke tepian berpasir.

Ketika icir itu dibuka, ternyata mereka mendapat cukup banyak ikan dan udang sungai. Nampaknya ikan itu dapat mengurangi kekesalan hati anak itu. Karena itu, ketika ia berjalan pulang, ia sudah tidak bersungut-sungut lagi.

Meskipun demikian, anak yang pulang sambil menjinjing kepis berisi ikan itu masih juga bertanya, “Kenapa kau sama sekali tidak membalas ketika Wasis itu memukulmu?”

Glagah Putih tersenyum. Katanya, “Tidak ada gunanya.”

“Apakah kau tidak merasa sakit?” bertanya anak itu pula.

“Tentu saja sakit. Tetapi perasaan sakit itu masih berada pada batas yang dapat diatasi,” jawab Glagah Putih pula.

Anak itu tidak menjawab lagi. Tetapi iapun kemudian justru berjalan semakin cepat.

Glagah Putih yang berjalan sambil membawa icir yang basah mengikutinya saja di belakang.

Namun menjelang fajar anak itu tidak akan turun lagi ke sungai, karena ia memang tidak membuka lagi pliridannya. Karena Wikan yang gemuk itu, maka ia telah kehilangan waktu dan kehilangan kesempatan menutup pliridannya untuk kedua kalinya di malam itu.

Di sisa malam itu, Glagah Putih masih sempat beristirahat setelah membersihkan dirinya di pakiwan.

Seperti biasanya pagi-pagi Glagah Putih sudah menimba air mengisi jambangan, sedangkan anak yang semalam berkelahi itu sibuk membersihkan ikannya. Sementara itu, Ki Jayaraga yang benar-benar telah pulih kembali, sedang sibuk menyapu halaman depan. Sementara Wacana yang sudah merasa menjadi bertambah baik, telah mencoba pula untuk berbuat sesuatu. Meskipun dengan perlahan, Wacana ikut membersihkan halaman samping rumah Agung Sedayu itu.

“Jangan memaksa diri, Ngger,“ berkata Ki Jayaraga yang kemudian mendekatinya.

Wacana tersenyum. Katanya, “Aku sudah sehat Ki Jayaraga. Tenagaku sudah pulih kembali.”

“Tetapi Angger masih harus berhati-hati. Jangan terlalu letih,“ berkata Ki Jayaraga.

Wacana mengangguk sambil menjawab, “Baik Ki Jayaraga.“

Ki Jayaraga menarik nafas panjang. Tetapi Wacana memang sudah menjadi semakin baik.

Dalam pada itu, setelah selesai mengisi jambangan, Glagah Putih pun telah pergi ke dapur. Rara Wulan yang sibuk membantu Sekar Mirah menyiapkan minuman panas, tiba-tiba saja telah bertanya, “Kapan kita pergi ke Kleringan?“

Glagah Putih itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, “Bukankah kita sudah sepakat bahwa setelah tiga hari, sebagaimana kita bicarakan dengan Ki Jayaraga waktu itu?”

“Bukankah hari ini sudah hari ketiga?” bertanya Rara Wulan.

“Tetapi kita bersepakat untuk pergi setelah hari ketiga,” jawab Glagah Putih.

Sementara itu sambil menyurukkan kayu bakar lebih dalam di perapian, Sekar Mirah berkata, “Bukankah kita tidak perlu terlalu tergesa-gesa Rara?”

“Tetapi rasa-rasanya aku ingin segera bertemu dengan Kanthi. Aku membayangkan gadis itu sepi sendiri di dalam biliknya. Tidak ada orang yang menyapanya. Sementara itu ia tidak lagi berani keluar halaman rumahnya,” desis Rara Wulan.

“Tentu tidak, Rara. Ayah, ibunya dan saudara perempuannya itu mengasihinya,” jawab Sekar Mirah.

“Ketika Kanthi dalam bahaya, mereka memang melindunginya. Tetapi setelah semuanya itu berlalu, maka sikap keluarganya akan berbeda,“ berkata Rara Wulan pula.

“Menurut pendapatku, tidak Rara,“ sahut Glagah Putih, “keluarganya akan membantunya bangkit kembali.”

Rara Wulan mengangguk kecil. Namun kemudian katanya, “Besok kita benar-benar pergi ke Kleringan.”

“Aku akan mengingatkan Ki Jayaraga,” jawab Glagah Putih kemudian.

Rara Wulan mengangguk pula. Namun kemudian Rara Wulan itu pun terdiam. Tangannya-lah yang kemudian sibuk menyiapkan mangkuk-mangkuk tempat minuman.

Seperti yang dikatakan, maka Glagah Putih pun kemudian telah menemui Ki Jayaraga, yang duduk di tangga pendapa bersama Wacana.

Sambil mengusap keringat di keningnya dengan lengan bajunya, maka iapun berkata, “Pagi-pagi Rara Wulan sudah mengingatkan, besok kita pergi ke Kleringan.”

Ki Jayaraga tersenyum. Katanya, “Baiklah. Besok kita pergi ke Kleringan.”

Namun Wacana itu dengan ragu-ragu berkata, “Bagaimana jika aku ikut bersama kalian?”

Ki Jayaraga-lah yang menjawab, ”Jangan besok Ngger. Seperti yang sudah aku katakan, Angger masih perlu beristirahat.”

“Bukankah Kleringan tidak terlalu jauh?” bertanya Wacana.

“Sebaiknya lain kali saja-lah Wacana. Mungkin kau memang ingin berjalan-jalan keluar halaman karena kau sudah menjadi jenuh melihat dinding yang kusam itu. Tetapi pada kesempatan lain kita akan keluar untuk menyegarkan pikiran,“ sahut Glagah Putih.

Wacana memang tidak dapat memaksa. Sebenarnyalah bahwa tenaganya memang belum pulih seutuhnya. Namun rasa-rasanya ada sesuatu yang telah mendorongnya untuk ikut pergi ke Kademangan Kleringan.

Meskipun demikian, Wacana masih berusaha untuk mengerti alasan Ki Jayaraga dan Glagah Putih, kenapa mereka menahan agar Wacana tidak usah pergi ke Kleringan sebelum keadaannya benar-benar menjadi baik.

Ketika kemudian langit mulai memantulkan cahaya matahari yang terbit dari balik cakrawala, maka mereka pun bergantian pergi ke pakiwan.

Setelah berbenah diri, maka mereka pun duduk di ruang dalam untuk minum-minuman hangat yang dihidangkan oleh Rara Wulan. Sementara itu Agung Sedayu sudah bersiap untuk pergi ke barak Pasukan Khusus.

Namun sebelum Agung Sedayu berangkat, Prastawa telah datang untuk menemuinya dan menemui pula Ki Jayaraga.

“Maaf Ki Jayaraga, agaknya masih terlalu pagi untuk mengganggu Ki Jayaraga dan barangkali juga Ki Lurah Agung Sedayu, yang sudah bersiap untuk berangkat ke barak,“ berkata Prastawa setelah ia duduk di ruang dalam pula.

“Apakah ada hal yang sangat penting, Ngger ?” bertanya Ki Jayaraga.

“Tidak terlalu penting, Ki jayaraga. Justru aku yang mementingkan diri sendiri. Aku sengaja datang pagi-pagi sebelum Ki Lurah Agung Sedayu berangkat.”

Ki Jayarata mengangguk-angguk. Tetapi ia menunggu saja Prastawa menyampaikan persoalannya.

“Ki Jayaraga dan Ki Lurah Agung Sedayu. Aku datang diutus oleh Paman Argapati. Atas persetujuan Paman Argapati dan Ayah, Ki Jayaraga dan Ki Lurah Agung Sedayu berdua diminta untuk bersedia sekali lagi menjadi wakil Ayah dan Paman Argapati, untuk menyampaikan lamaran.”

Ki Jayaraga mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya, “Jadi maksudnya kami harus pergi melamar seorang gadis bagi Angger Prastawa, begitu ?”

Prastawa mengangguk sambil menjawab, “Ya, Ki Jayaraga.”

“Kapan kami harus pergi melamar? Tentunya suasananya akan sangat berbeda dengan saat kami menjadi utusan pergi ke Kademangan Kleringan.”

“Agaknya memang demikian,” jawab Prastawa. Lalu katanya kemudian, “Ayah dan Paman Argapati serta Kakang Swandaru semalam sepakat untuk pergi melamar sore nanti.”

“Nanti? Hari ini, maksudmu?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya, Ki Lurah,” jawab Prastawa.

Agung Sedayu mengangguk-angguk sambil bertanya, “Begitu cepat? Apakah kau sudah membicarakannya dengan gadis itu sebelumnya ?”

“Ya,” jawab Prastawa, “bahkan aku sudah menyampaikan kepada kedua orang tuanya, bahwa Ayah akan mengirimkan utusan untuk dengan resmi melamar gadis itu,” jawab Prastawa.

“Apakah kau sudah menyampaikan kepada mereka bahwa utusan itu akan datang hari ini?” bertanya Agung Sedayu.

“Nanti aku akan menemuinya,” jawab Prastawa.

Agung Sedayu mengangguk-angguk, sementara Ki Jayaraga berkata, “Baiklah. Jika Ki Gede dan Ki Argajaya sudah menetapkan bahwa utusan itu akan pergi sore nanti, aku tidak mempunyai keberatan apapun. Mungkin Angger Agung Sedayu juga tidak berkeberatan.”

“Tentu,” jawab Agung Sedayu. Namun Agung Sedayu itu pun kemudian bertanya, “Siapa saja yang akan berangkat?“

“Ki Jayaraga, Ki Lurah Agung Sedayu berdua, dan Kakang Swandaru berdua,” jawab Prastawa.

“Baiklah,” Agung Sedayu mengangguk-angguk, “aku akan pulang lebih awal. Kami akan pergi ke rumah Ki Gede. Agaknya kita akan berangkat bersama-sama dari sana.”

“Terima kasih Ki Lurah,“ berkata Prastawa kemudian. “Aku akan menyampaikannya kepada Paman Argapati dan Kakang Swandaru berdua.”

Demikianlah, maka Prastawa pun segera minta diri setelah beberapa kali ia mengucapkan terima kasih kepada Ki Jayaraga dan kepada Agung Sedayu.

Sepeninggal Prastawa, Agung Sedayu pun segera berangkat menuju ke barak Pasukan Khusus. Seperti yang dijanjikan kepada Prastawa, ia berniat untuk pulang lebih awal.

Dalam pada itu, ketika Glagah Putih berada di halaman belakang, Rara Wulan pun mendekatinya sambil berdesis, “Sore nanti keluarga Prastawa akan pergi melamar.”

“Ya. Ki Jayaraga dan Kakang Agung Sedayu diminta untuk ikut pergi bersama Kakang Swandaru,” jawab Glagah Putih.

“Persoalannya dengan gadis Kleringan itu sudah selesai bagi Prastawa,” desis Rara Wulan.

“Ya. Baginya memang sudah tidak ada persoalan lagi,” jawab Glagah Putih.

Namun Rara Wulan itu berkata, “Tetapi persoalan yang menyangkut Kanthi itu, masih tetap menggelisahkan gadis itu.”

“Persoalan yang disandang Kanthi dan Prastawa memang berbeda,” jawab Glagah Putih.

“Aku mengerti. Tetapi aku hanya sekedar mengatakan keadaan yang mereka sandang masing-masing sekarang ini.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Namun Rara Wulan itu pun berkata, “Kita besok akan tetap berangkat, dengan atau tidak dengan Ki Jayaraga.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Ki Jayaraga sudah mengatakan, bahwa besok Ki Jayaraga siap untuk pergi ke Kademangan Kleringan.”

“Tetapi mungkin ia berubah. Siapapun tentu akan lebih senang pergi melamar seorang gadis daripada pergi menjumpai seorang perempuan yang sedang terjerat oleh malapetaka. Apalagi persoalan yang sebenarnya dengan gadis yang akan dilamar itu sudah jelas, sehingga tidak akan ada hambatan lagi.”

“Tetapi bukankah waktunya tidak bersamaan? Sore nanti Ki Jayaraga akan pergi melamar. Memang sebaiknya ada orang yang dituakan dalam sekelompok utusan itu. Nah, baru besok Ki Jayaraga akan pergi bersama kita ke Kademangan Kleringan.”

Rara Wulan mengangguk kecil. Katanya, “Dua suasana yang tentu akan sangat berbeda.”

Glagah Putih hanya mengangguk kecil pula.

Hari itu Rara Wulan memang nampak gelisah. Tetapi ia berusaha untuk menahan diri. Gadis itu justru banyak menyibukkan diri dengan kerja. Ketika matahari kemudian hampir menggapai puncak langit, maka Rara Wulan pun telah berada di dalam sanggar, sedangkan Glagah Putih telah pergi ke banjar untuk bertemu dengan para pemimpin pengawal.

Seperti yang dijanjikan, maka Agung Sedayu telah kembali dari barak lebih awal dari biasanya. Menjelang sore hari, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah serta Ki Jayaraga telah bersiap. Mereka akan pergi ke rumah Ki Gede lebih dahulu, sebelum bersama-sama dengan Swandaru dan Pandan Wangi memenuhi permintaan Ki Argajaya dan Ki Gede untuk pergi melamar seorang gadis yang akan menjadi istri Prastawa.

Berbeda dengan saat mereka pergi ke Kademangan Kleringan, maka wajah-wajah mereka sore itu nampak cerah. Prastawa yang juga berada di rumah Ki Gede nampak tersenyum-senyum. Dua orang pengawal yang ada di rumah Ki Gede selalu mengganggunya. Tetapi Prastawa justru nampak semakin ceria.

Ketika matahari menjadi semakin rendah di sisi Barat, maka Ki Gede dan Ki Argajaya pun telah mempersilahkan Ki Jayaraga, Agung Sedayu dan Swandaru suami istri untuk berangkat.

“Segala sesuatunya terserah kepada Ki Jayaraga. Menurut Prastawa, agaknya tidak akan ada hambatan lagi. Kedua orang tua gadis itu sudah menyatakan persetujuannya. Mereka pun sudah diberitahu oleh Prastawa bahwa utusan keluarga Prastawa akan datang sore ini,“ berkata Ki Gede.

Demikianlah, sejenak kemudian sekelompok kecil utusan Ki Argajaya pun telah berangkat dari rumah Ki Gede.

Dalam pada itu, Glagah Putih yang sudah berada di rumahnya, duduk di serambi. Sinar matahari yang menjadi semakin lemah masih nampak menembus dedaunan di halaman.

Di dapur, Rara Wulan menjadi sibuk karena Sekar Mirah tidak ada. Tetapi karena ia sudah terbiasa melakukannya sehari-hari bersama Sekar Mirah, maka tangannya pun sudah menjadi trampil. Ketika ia sudah selesai menuang minuman hangat, maka Rara Wulan pun telah menghidangkannya kepada Wacana yang duduk di pringgitan seorang diri. Dibiarkannya angan-angannya menerawang jauh melampaui cakrawala.

“Minumlah,” desis Rara Wulan, “selagi masih hangat.”

“Terima kasih,“ sahut Wacana. Namun kemudian iapun bertanya, “Kapan kalian akan pergi ke Kademangan Kleringan?”

“Besok,” jawab Rara Wulan, “jika yang lain berhalangan apapun sebabnya, aku akan pergi sendiri.”

Wacana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jika benar Rara Wulan pergi sendiri, meskipun ia sudah pulih sekalipun, ia tentu tidak akan pantas untuk menawarkan dirinya menyertai gadis itu.

Ketika kemudian Rara Wulan meninggalkannya, kembali Wacana duduk merenung seorang diri.

Sementara itu, anak yang tinggal di rumah Agung Sedayu yang melihat Glagah Putih duduk sendiri telah mendekatinya. Sambil duduk di sebelahnya ia berkata, “Seharusnya kau mengajar aku ilmu bela diri.”

Glagah Putih mengerutkan dahinya. Dengan nada rendah ia berkata, “Bagus. Kau sudah dapat menyebutnya dengan ilmu bela diri. Bukan cara berkelahi.”

“Ya. Aku mulai mengerti bedanya,” jawab anak itu.

Glagah Putih tersenyum sambil menepuk bahunya. Katanya, ”Aku akan mengajarimu ilmu bela diri. Tetapi sudah tentu tidak setiap hari.”

Anak itu mengangguk. Katanya, “Kapanpun, asal aku dapat sekedar melindungi diriku sendiri serta kawan-kawanku yang memerlukan perlindungan itu.“

“Baik. Kita akan melakukannya malam hari setiap dua hari sekali. Sudah tentu jika aku tidak sedang bertugas.”

“Lalu bagaimana dengan pliridan itu?” bertanya anak itu.

“Pada hari-hari kau berlatih, maka kau akan menutup sekali saja. Di dini hari. Atau bahkan tidak sama sekali.”

Anak itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika perlu, biarlah pliridan itu ditutup sekali saja, atau jika terlalu letih, tidak sama sekali.”

“Nah, jika kau memang benar-benar ingin berlatih ilmu bela diri, maka kau tidak boleh cepat merasa jemu atau cepat merasa mampu. Kau harus berlatih dan belajar dengan telaten dan tekun. Bersungguh-sungguh dan dilandasi dengan niat yang baik.”

Anak itu mengangguk-angguk. Dengan sungguh-sungguh ia menjawab, “Aku akan belajar dengan tekun dan telaten.”

“Bagus. Tetapi ada yang lebih penting. Dilandasi dengan niat yang baik,“ berkata Glagah Putih.

“Ya. Aku akan melandasinya dengan niat baik,” jawab anak itu.

Glagah Putih memang merasakan sesuatu yang agak lain pada anak itu. Mungkin karena umurnya yang semakin bertambah. Sementara itu, peristiwa yang terjadi semalam telah menghentakkannya ke dalam satu kesadaran tentang dirinya yang umurnya semakin bertambah itu. Yang mendorongnya untuk menanggapi kehidupan dengan lebih bersungguh-sungguh pula.

Karena itulah, maka Glagah Putih pun menjadi bersungguh-sungguh pula. Meskipun yang terlintas di hatinya adalah sekedar memberikan bekal kepada anak itu untuk dapat melindungi dirinya sendiri, karena Glagah Putih mengerti bahwa anak itu sulit untuk mengendalikan diri jika rasa keadilannya tersinggung.

Namun Glagah Putih pun menyadari, bahwa selain mengajarinya ilmu bela diri, iapun harus sedikit demi sedikit mengarahkan sikap anak itu agar benar-benar berniat baik dengan dasar ilmu bela diri itu.

Dalam pada itu, Glagah Putih pun kemudian berkata, “Kita akan mulai malam nanti. Bersiaplah.”

“Apa yang harus aku persiapkan?” bertanya anak itu.

“Ketetapan hati,” jawab Glagah Putih, “karena jika kau belajar ilmu bela diri padaku, kau harus menurut segala petunjukku, terutama dalam hubungannya dengan ilmu bela diri. Tetapi sebelumnya kau harus tahu bahwa ilmuku masih terbatas sekali, sehingga apa yang akan aku berikan kepadamu, tidak lebih dari dasar-dasarnya saja.”

“Seperti yang sudah kau ajarkan selama ini?” bertanya anak itu.

“Tentu lebih dari itu. Tetapi jangan bermimpi bahwa kau akan menjadi seorang yang berilmu tinggi.”

Anak itu mengangguk-angguk. Katanya sambil memandang ke kejauhan, “Aku tidak menginginkan terlalu banyak. Tetapi aku ingin tidak ada lagi orang yang merendahkan martabat anak-anak Tanah Perdikan ini.”

Glagah Putih tersenyum sambil menepuk bahu anak itu pula, “Bagus. Aku setuju. Tentu saja dalam batas-batas kewajaran.”

Tetapi anak itu mengerutkan dahinya. Dengan nada ragu ia bertanya. “Apakah batas kewajaran itu dapat diurai dengan jelas, sehingga aku dapat melihat batas itu?”

“Tidak. Tetapi kendali nuranimu akan memberikan isyarat kepadamu.”

Anak itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia bertanya, “Bagaimana aku dapat mengetahuinya?”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Sekarang kau masih belum mampu menangkap sepenuhnya suatu nuranimu. Tetapi pada suatu saat, kau akan dapat melakukannya tanpa ada orang lain yang menunjukkannya.”

Anak itu mengangguk-angguk, meskipun yang dikatakan oleh Glagah Putih itu masih belum cukup jelas baginya.

Dalam pada itu, langit pun terasa menjadi semakin teduh. Anak itu pun kemudian bangkit dan melangkah menggapai sapu lidi yang bersandar di sudut.

Sejenak kemudian anak itu pun telah mulai menyapu halaman, sementara Glagah Putih pergi ke pakiwan untuk mengisi jambangan sekaligus mengisi gentong yang ada di dapur.

Wacana yang duduk sendiri di pringgitan itu pun telah bangkit pula. Iapun tidak mau duduk berdiam diri. Karena itu, iapun telah ikut pula menyapu halaman samping setelah menyingkirkan mangkuk minumannya ke ruang dalam.

Sementara itu, Ki Jayaraga yang menemui kedua orang tua Anggreni yang didampingi pula tiga orang tetangganya yang dituakan, telah menyampaikan lamaran Ki Argajaya atas Anggreni yang akan diperistri oleh anaknya, Prastawa. Segala sesuatunya berjalan dengan lancar. Meskipun demikian, seorang yang dituakan yang mewakili kedua orang tua Anggreni, meskipun kedua orang tuanya juga hadir, telah menjawab lamaran yang disampaikan oleh Ki Jayaraga atas nama Ki Argajaya, “Kami dengan ucapan terima kasih telah menerima lamaran Ki Argajaya yang disampaikan oleh Ki Jayaraga. Namun karena yang akan menjalani adalah Angger Anggreni, maka biarlah ayah dan ibunya membicarakannya dengan gadis itu. Kami mohon waktu sepekan. Selanjutnya kami akan datang menghadap Ki Argajaya.”

Jawaban itu adalah jawaban yang seakan-akan sudah kebiasaan bagi keluarga yang menerima lamaran, justru yang biasanya akan menerima lamaran itu. Karena itu, maka Ki Jayaraga sama sekali tidak berkeberatan untuk menunggu sepekan lagi.

Demikianlah, setelah mendapat hidangan minuman dan makanan, maka utusan Ki Argajaya itu pun segera mohon diri.

Berlima mereka langsung pergi ke rumah Ki Gede, karena Ki Argajaya memang akan menunggu di rumah Ki Gede sampai utusan itu datang kembali.

Suasana di rumah Ki Gede itu pun menjadi cerah. Sambil memberikan laporan tentang tugasnya, sekali-kali Ki Jayaraga sempat mengganggu Prastawa. Suara tertawa pun setiap kali terdengar dari sela-sela bibir mereka.

Namun kemudian Ki Jayaraga, Agung Sedayu dan Sekar Mirah pun telah minta diri meninggalkan suasana yang ceria itu. Mereka minta diri untuk kembali setelah mereka makan malam bersama.

Pada malam harinya, ketika mereka sudah berada di rumah Agung Sedayu, sekali-sekali mereka masih membicarakan hubungan antara Prastawa dan Anggreni yang nampaknya akan menjadi lancar. Sementara itu Sekar Mirah pun menganggap bahwa Anggreni memang pantas untuk menjadi istri Prastawa.

Namun ketika kemudian Sekar Mirah berada di dapur untuk membuat minuman hangat, Rara Wulan mendekatinya sambil bertanya, “Apakah Anggreni cantik, Mbokayu?”

“Ya,” jawab Sekar Mirah, “gadis itu memang cantik.”

“Siapa yang lebih cantik, Anggreni atau Kanthi?” bertanya Rara Wulan pula.

Sekar Mirah mengerutkan dahinya. Namun Sekar Mirah pun menyadari bahwa perhatian Rara Wulan masih terikat kepada Kanthi. Karena itu, maka iapun menjawab, “Keduanya sama-sama cantik. Aku hanya sempat melihat Anggreni sepintas saat ia menghidangkan minuman. Namun nampaknya wajah gadis itu cukup cerah.”

“Tentu,” jawab Rara Wulan, “wajah Anggreni tentu nampak cerah karena ia sedang menerima lamaran dari seseorang yang memang diharapkannya. Tetapi Kanthi tidak akan pernah mengalami masa-masa seperti itu.”

“Kenapa?” bertanya Sekar Mirah.

“Bukankah kita mengetahui keadaannya? Jika saja Kanthi tidak mengalami bencana itu, wajahnya tentu juga akan cerah. Iapun akan nampak sebagai seorang gadis yang cantik dan gembira. Tetapi keadaan telah menyingkirkannya dari kemungkinan itu.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sadar bahwa Rara Wulan sedang dibayangi oleh keadaan Kanthi yang muram. Dalam keadaan demikian, jika ia menyatakan pendapatnya yang berbeda, maka Rara Wulan tentu akan menjadi sangat kecewa.

Justru karena Sekar Mirah terdiam, maka Rara Wulan mulai menyadari sikapnya. Ia mulai merasa bahwa ia lelah terdorong oleh perasaannya, sehingga Sekar Mirah merasa lebih baik untuk diam saja.

Karena itu, maka iapun kemudian berdiri di belakang Sekar Mirah yang baru menuang minuman di dalam mangkuk, sambil berdesis, “Mbokayu. Aku mohon maaf.”

Sekar Mirah pun kemudian berpaling. Dipandanginya wajah Rara Wulan yang menunduk. Dengan lembut ia bertanya, “Kenapa?”

“Aku telah menyinggung perasaan Mbokayu,” desis Rara Wulan.

Sekar Mirah tersenyum. Ditepuknya pundak Rara Wulan sambil berkata lembut, “Tidak Rara. Aku sama sekali tidak merasa tersinggung. Aku justru melihat warna hatimu yang welas asih. Meskipun Kanthi bukan sanak-kadangmu, tetapi kau merasa betapa tidak seimbangnya suasana hati yang meliputi dua orang gadis yang namanya sama-sama dihubungkan dengan Prastawa.”

Rara Wulan mengangguk. Tetapi suaranya tidak dapat melewati kerongkongannya yang terasa menjadi serak.

“Sudahlah,“ berkata Sekar Mirah, “sekarang hidangkan mangkuk-mangkuk minuman hangat itu, untuk menyegarkan mereka yang duduk di ruang dalam itu sebelum mereka pergi ke pembaringan.”

Rara Wulan mengangguk pula. Sementara itu Sekar Mirah pun berkata, “Bukankah kau besok akan pergi ke Kademangan Kleringan?”

“Ya, Mbokayu,” jawab Rara Wulan.

“Baiklah. Setelah menghidangkan minuman itu, pergilah beristirahat,“ berkata Sekar Mirah kemudian.

Rara Wulan mengangguk sambil mengangkat mangkuk-mangkuk minuman. Setelah menghidangkan minuman itu, Rara Wulan memang segera pergi ke pembaringanya. Namun gadis itu memang tidak segera dapat tidur lelap.

Di ruang dalam, Sekar Mirah yang kemudian ikut duduk berbincang, minta agar mereka tidak lagi berbicara tentang Prastawa dan Anggreni.

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Rara Wulan masih saja dibayangi oleh getirnya perasaan Kanthi. Sehingga keceriaan Anggreni bagi Rara Wulan menjadi terasa tidak adil,“ sahut Sekar Mirah.

“Tetapi ia harus dapat memilahkan persoalannya,“ berkata Ki Jayaraga.

“Aku akan mengatakannya besok sebelum ia berangkat ke Kademangan Kleringan. Anggreni memang tidak harus ikut hanyut dalam persoalan yang telah menjerat Kanthi. Kesalahan Anggreni, justru di luar sadar dan kehendaknya sendiri, adalah bahwa Praslawa telah memilihnya meskipun ia tetap bersikap baik terhadap Kanthi,“ berkata Sekar Mirah kemudian. Namun kemudian ia berdesah pula, “Tetapi jika hal itu dianggap sebagai kesalahan.”

“Bukan satu kesalahan,“ berkata Ki Jayaraga selanjutnya, “tetapi baiklah. Kita tidak akan membicarakannya lebih jauh.”

Sekar Mirah menarik nafas panjang, ia sendiri-lah yang minta untuk tidak berbicara tentang Anggreni.

Demikianlah, sambil meneguk minuman hangat, mereka mulai berbicara tentang beberapa hal yang lain. Tentang kehidupan di Tanah Perdikan yang telah menjadi wajar kembali. Namun juga tentang mendung yang mengalir dihembus angin utara. Hubungan yang buram antara Mataram dan Pati.

Agung Sedayu yang juga seorang pemimpin prajurit dari Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh itu pun berkata, “Isyarat untuk bersiaga sepenuhnya bagi Pasukan Khusus masih berlaku. Usaha untuk merintis jalan yang lebih lunak dari peperangan masih terus dilakukan. Namun nampaknya hasilnya tidak seperti diharapkan.”

Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Orang-orang yang tidak bertanggung jawab nampaknya berusaha untuk membakar hati Kanjeng Adipati di Pati. Orang-orang berilmu tinggi yang ada di sekitar Kanjeng Adipati nampaknya menjadi silau oleh kekuatan yang dapat mereka himpun. Bahkan diantaranya terdapat orang-orang yang merasa berhak untuk mendahului langkah Kanjeng Adipati, sebagaimana Ki Manuhara dan Resi Belahan.”

“Tetapi Panembahan Senapati yang merasa lebih tua masih berusaha untuk mencari jalan yang lebih baik. Meskipun demikian, Panembahan Senapati memang tidak dapat menghindari kesiapan untuk perang,“ berkata Agung Sedayu kemudian.

Demikianlah untuk beberapa saat mereka masih berbincang. Namun kemudian Agung Sedayu itu pun berkata, “Sudahlah, Ki Jayaraga. Hari telah larut. Besok Ki Jayaraga akan pergi ke Kleringan bersama Glagah Putih dan Rara Wulan.”

Ki Jayaraga tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku memang sudah berjanji bahwa besok aku akan pergi ke Kademangan Kleringan bersama Angger Rara Wulan dan Glagah Putih.”

Dalam pada itu, Glagah Putih sendiri ternyata masih berada di belakang kandang. Glagah Putih masih sibuk mengajari anak yang tinggal di rumah itu dasar-dasar ilmu bela diri. Glagah Putih menjanjikan untuk belajar di sanggar, jika ia melihat kemajuan dan kesungguhan anak itu.

Tetapi beberapa saat kemudian Glagah Putih pun mengakhirinya sambil berkata, “Malam ini aku kira sudah cukup. Lusa kita akan melanjutkan lagi.”

Anak itu menjadi heran. Dipandanginya Glagah Putih sambil bertanya, “Hanya begini?”

Glagah Putih memandang anak itu dengan tajamnya. Katanya, “Bukankah kita sudah cukup lama berlatih?”

“Bukankah kita baru saja mulai?” jawab anak itu.

“Jangan memaksa diri. Itu justru kurang baik. Kita harus belajar sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya kau dapat menguasai dasar ilmu bela diri itu dengan baik.“

“Tetapi berapa puluh tahun aku akan dapat menguasai dasar ilmu itu, jika kita hanya melakukannya sekejap demi sekejap seperti ini.”

Dahi Glagah Putih berkerut. Ia menjadi jengkel juga kepada anak itu. Karena itu, maka pada langkah awal Glagah Putih akan membuatnya jera. Ia harus menyadari kedudukannya, sehingga untuk selanjutnya, anak itu tidak boleh bersikap demikian.

Karena itu, maka Glagah Putih pun kemudian berkata, “Baiklah. Jika kau berniat untuk meneruskan latihan awal ini. Tetapi dengan janji, bahwa kau tidak boleh berhenti setengah-setengah.”

“Itu tentu lebih baik,” jawab anak itu.

Demikianlah, maka Glagah Putih pun telah mengajak anak itu ke sanggar. Bagi latihan awal, maka latihan yang lama memang lebih baik dilakukan tidak di udara terbuka.

Demikian mereka berada di dalam sanggar, maka Glagah Putih pun berkata, “Kita akan berlatih untuk waktu yang lama. Bukankah begitu? Nah, persiapkan dirimu baik-baik.”

“Aku sudah bersiap sejak semula,” jawab anak itu.

“Pada latihan awal ini, kau harus menirukan apa yang aku lakukan. Ingat, apa saja yang aku lakukan.”

Anak itu mengangguk.

Demikianlah, maka Glagah Putih pun telah mulai dengan gerak-gerak yang paling mendasar, seperti yang telah dilakukan di belakang kandang itu. Kemudian Glagah Putih telah melakukan unsur-unsur gerak berikutnya. Diulanginya beberapa kali, sementara anak itu telah menirukannya. Sambil melakukan gerak-gerak yang mula-mula perlahan-lahan, Glagah Putih menjelaskan arti dan maksud dari gerakan-gerakan itu.

Dengan sungguh-sungguh anak itu menirukan dan mencoba memahami penjelasan Glagah Putih, untuk apa dan kenapa gerakan-gerakan itu dilakukan.

Namun semakin lama Glagah Putih pun bergerak semakin cepat. Diulanginya gerakan-gerakan itu beberapa kali, sehingga anak itu benar-benar mampu melakukannya dengan baik.

Tetapi ketika malam menjadi semakin larut, muka nafas anak itu mulai terengah-engah. Meskipun ia masih tetap bergerak dengan tangkas dan irama yang setiap kali menjadi semakin cepat sebagimana dilakukan oleh Glagah Putih, namun tenaga anak itu telah menjadi semakin susut

Glagah Putih melihat keadaan itu, tetapi ia berpura-pura tidak mengetahuinya. Glagah Putih masih saja melakukan gerakan-gerakan yang keras dan cepat, sambil memberikan beberapa petunjuk tentang gerakan-gerakan yang dilakukan.

Anak itu masih berusaha memaksa dirinya. Tetapi keseimbangannya mulai guncang. Setiap kali ia menjadi terhuyung-huyung dan bahkan hampir terjatuh karenanya.

Glagah Putih masih saja pura-pura tidak mengetahuinya. Sementara Glagah Putih sendiri masih saja segar dan tegar.

Ketika Glagah Putih kemudian melakukan loncatan kecil dalam unsur-unsur gerak dasar yang baru, maka anak itu tidak lagi mampu melakukannya. Keringatnya bagaikan telah terperas hingga kering, sementara wajahnya menjadi pucat, dan nafasnya tersengal-sengal. Bahkan perutnya terasa menjadi mual, sehingga rasa-rasanya akan muntah.

Ketika anak itu kemudian bersandar pada dinding sanggar, maka Glagah Putih pun bertanya, “He, kenapa kau berhenti? Marilah kita berlatih terus.”

Nafas anak itu rasa-rasanya akan menjadi putus. Dengan kata-kata yang sendat ia berkata, “Aku sudah tidak kuat lagi.”

Glagah Putih kemudian berdiri bertolak pinggang sambil berkata, “Jika kita berlatih dalam sekejap kau sudah kelelahan, berapa puluh tahun kau akan dapat menguasai dasar ilmu bela diri itu?”

Wajah anak yang sudah pucat itu menjadi semakin pucat. Meskipun bibirnya bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

Namun Glagah Putih pun menjadi kasihan melihat keadaannya. Karena itu, maka dibimbingnya anak itu ke sebuah lincak bambu.

“Duduklah,“ berkata Glagah Putih.

Anak itu pun kemudian menjatuhkan dirinya di atas lincak bambu itu. Wajahnya masih saja nampak pucat, sementara tubuhnya masih basah oleh keringatnya.

“Duduk sajalah di situ,“ berkata Glagah Putih. Ia masih ingin sekaligus meyakinkan anak itu, apa sebenarnya ilmu bela diri yang harus dipelajarinya itu. Karena itu maka katanya pula, “Lihatlah. Apa yang harus kau pelajari jika kau ingin menguasai dasar-dasar ilmu bela diri. Ingat, baru dasar-dasarnya saja. Jika kau kemudian merambah ke ilmu kanuragan yang lebih rumit, maka kau harus menjadi lebih bersungguh-sungguh dan mengerti dimana kau sedang berdiri. Jika kau memanjat lereng pegunungan, maka kau harus memanjat setapak demi setapak dengan susah payah. Kau harus mengatur ketahanan dan kemampuan tubuhmu, sehingga kau tidak dapat memaksa dirimu untuk menggapai puncaknya dengan satu loncatan, betapapun panjangnya.”

Meskipun anak itu tidak menjawab, tetapi ia menyadari kesalahannya, sehingga Glagah Putih telah langsung menunjuk kelemahannya.

Namun dalam pada itu, perhatiannya mulai tertarik pada unsur-unsur gerak yang dipertunjukkan oleh Glagah Putih. Mula-mula Glagah Putih mulai dari unsur yang tadi dipelajarinya di belakang kandang. Kemudian unsur-unsur berikutnya dan berikutnya. Semakin lama menjadi semakin rumit, dan gerak Glagah Putih pun menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian Glagah Putih pun mulai merambah pada unsur-unsur gerak yang bersentuhan dengan alat-alat yang ada di sanggar itu. Glagah Putih mulai berloncatan di atas palang-palang bambu dan tonggak-tonggak batang kelapa.

Anak itu memang sudah tahu bahwa Glagah Putih adalah seorang anak muda yang berilmu tinggi. Tetapi ketika ia menyaksikan Glagah Putih menunjukkan unsur-unsur gerak yang disebutkan sebagai dasar ilmu bela diri, maka jantungnya menjadi berdebar-debar.

Tetapi Glagah Putih tidak terlalu lama bermain-main di sanggar itu. Beberapa saat kemudian, setelah menurut perhitungannya anak itu menyadari seberapa beratnya ia harus menjalani laku untuk menguasai dasar-dasar ilmu bela diri, maka Glagah Putih pun kemudian berhenti.

Tetapi Glagah Putih sama sekali tidak nampak menjadi letih. Meskipun pakaian Glagah Putih juga menjadi basah oleh keringat, namun tenaganya masih tetap segar sebagaimana saat ia mulai berlatih di belakang kandang.

Ketika Glagah Puutih kemudian duduk di sebelahnya, nafasnya pun tidak terdenggar terengah-engah. Apalagi menjadi tersengal-sengal. Nafasnya masih saja berjalan lancar dan teratur.

“Nah,“ berkata Glagah Putih, “kau sudah melihat, apa yang harus kau pelajari untuk menguasai dasar-dasar ilmu bela diri. Kau tentu dapat membayangkan jalan yang panjang yang harus kau lalui. Karena itu, jika kau tergesa-gesa dan ingin berlari kencang saat kau berangkat, maka kau justru akan jatuh tersungkur di tengah jalan. Kau akan kelelahan dan sama sekali tidak akan sempat mencapai tujuan.”

Anak itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih saja menunduk. Anak itu tidak berani menatap wajah Glagah Putih. Jika di saat-saat sebelumnya ia menganggap Glagah Putih itu seperti kawannya bermain dan bahkan sekali-sekali ia berani menegur dan bahkan mencelanya, tiba-tiba ia merasa menjadi sangat kecil dan tidak berarti apa-apa.

“Sudahlah,“ berkata Glagah Putih, “kita akan beristirahat. Besok aku harus pergi ke Kademangan Kleringan. Sekarang kau pergi ke pakiwan untuk membersihkan diri. Kemudian kau pergi tidur.”

Anak itu mengangguk. Tetapi ia masih belum berani menatap wajah Glagah Putih.

Glagah Putih tersenyum. Ia memang harus menunjukkan wibawanya jika ia akan mengajari anak itu dasar-dasar ilmu bela diri.

Anak itu pun kemudian memang pergi ke pakiwan. Nafasnya sudah menjadi teratur kembali. Saat-saat dengan tegang ia menyaksikan Glagah Putih memainkan unsur-unsur gerak dasar, anak itu memang melupakan keadaan dirinya sendiri.

Meskipun kemudian anak itu merasa sangat kecil di hadapan Glagah Putih, tetapi keinginannya untuk dengan sungguh-sungguh mempelajari dasar-dasar ilmu bela diri justru menjadi semakin menyala di dalam hatinya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Glagah Putih. Namun untuk selanjutnya, ia tidak akan berani lagi berkata kasar sebagaimana sering diucapkannya sebelumnya karena ia menganggap Glagah Putih itu sebagai kawannya bermain saja.

Dalam pada itu, setelah Glagah Putih membersihkan dirinya pula di pakiwan, iapun harus segera beristirahat. Besok pagi-pagi, Rara Wulan tentu sudah ribut menagih janjinya untuk pergi ke Kademangan Kleringan.

Sebenarnyalah, ketika pagi-pagi Glagah Putih bangun dan mengisi jambangan pakiwan, Rara Wulan ternyata sudah lebih dahulu mandi. Sambil berdiri di tepi plataran sumur, ia berkata, “Lebih baik kita berangkat pagi. Udara tentu masih segar dan panas matahari belum menggatalkan kulit.”

“Tetapi tentu tidak terlalu pagi Rara,” jawab Glagah Putih, “biarlah Kakang Agung Sedayu berangkat ke baraknya lebih dahulu. Baru kemudian kita berangkat.“

“Kenapa harus menunggu?” bertanya Rara Wulan.

“Aku merasa segan terhadap mbokayu Sekar Mirah. Ia tentu sedang sibuk melayani Kakang Agung Sedayu. Sementara itu, kita tidak terlalu terikat oleh waktu. Jika kita berangkat terlalu pagi, maka Mbokayu Sekar Mirah akan menjadi sangat sibuk,” jawab Glagah Putih.

Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Namun agaknya ia dapat mengerti. Karena itu maka iapun kemudian mengangguk kecil. Tetapi Rara Wulan itu pun masih berkata. “Baiklah. Tetapi begitu Kakang Agung Sedayu berangkat, kita pun akan segera berangkat.”

Glagah Putih pun mengangguk sambil menjawab, “Ya. Kita akan segera berangkat setelah Kakang Agung Sedayu berangkat.”

Ketika kemudian Rara Wulan meninggalkan Glagah Putih yang masih menimba air, Ki Jayaraga pun mendekatinya. Sambil tersenyum Ki Jayaraga bertanya, “Apakah Rara Wulan mendesakmu untuk berangkat pagi-pagi?”

“Ya,” jawab Glagah Putih, “tetapi aku minta kita berangkat setelah Kakang Agung Sedayu lebih dahulu berangkat.”

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku pun sudah bersiap pagi-pagi. Aku sudah mengira bahwa Rara Wulan akan mendesakmu untuk berangkat sebelum matahari terbit. Aku sudah bangun pagi-pagi sekali, menyapu halaman bersama Wacana, mandi dan kemudian bersiap-siap.”

“Ki Jayaraga sudah mandi?” bertanya Glagah Putih.

Ki Jayaraga mengerutkan dahinya. Iapun justru ganti bertanya, “Apakah aku masih nampak kotor dan kantuk?”

“Tidak, tidak,” jawab Glagah Putih dengan serta-merta.

“Atau karena aku sudah tua, sehingga mandi atau tidak mandi sama saja? Jika demikian, agaknya lebih baik aku tidak mandi saja,“ berkata Ki Jayaraga. Namun kemudian iapun tertawa, sehingga Glagah Putih pun tertawa pula.

“Bukan begitu Ki Jayaraga,” jawab Glagah Putih, “Ki Jayaraga selalu nampak bersih dan rapi. Sebelum atau sesudah mandi. Sanggul kadal menek itu memang sudah nampak halus dan licin.”

Ki Jayaraga tertawa semakin panjang. Namun kemudian katanya, “Cepatlah mandi. Begitu Angger Agung Sedayu berangkat, maka Rara Wulan tentu akan menjadi ribut.”

Ki Jayaraga pun kemudian meninggalkan Glagah Putih yang segera mandi pula.

Demikianlah, setelah makan pagi maka Agung Sedayu pun segera bersiap untuk berangkat ke barak Pasukan Khusus. Ia masih memberikan beberapa pesan kepada Glagah Putih jika kemudian ia akan pergi ke Kademangan Kleringan bersama Ki Jayaraga dan Rara Wulan. Kepada Rara Wulan pun Agung Sedayu pun berpesan pula, “Hati-hati Rara. Jangan mudah terpancing oleh keadaan apapun juga.”

Rara Wulan mengangguk-angguk sambil menjawab, “Baik Kakang. Aku akan berhati- hati.”

Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu pun telah berpacu meninggalkan rumahnya menuju ke barak Pasukan Khusus.

Seperti yang diduga oleh Ki Jayaraga dan Glagah Putih, demikian Agung Sedayu berangkat, maka Rara Wulan pun segera bertanya kepada Glagah Putih, “Kapan kita berangkat?”

Glagah Putih memang tidak mempunyai alasan untuk menunda keberangkatan mereka. Karena itu, iapun berkata, “Baiklah. Kita pun segera berangkat.”

Setelah Glagah Putih memberitahu Ki Jayaraga, maka mereka bertiga pun segera bersiap-siap untuk berangkat.

Seperti Agung Sedayu, maka Sekar Mirah pun telah berpesan kepada Rara Wulan agar ia berhati-hati dan selalu berusaha mengekang diri.

Sesaat kemudian, bertiga mereka telah berangkat menuju ke Kademangan Kleringan.

Memang tidak ada hambatan di perjalanan. Demikian pula ketika mereka memasuki Kademangan Kleringan di seberang bukit. Mereka sama sekali tidak mengalami gangguan apapun juga. Sementara itu kehidupan di Kademangan Kleringan ternyata wajar-wajar saja.

“Kanthi memang bukan orang penting,“ berkata Rara Wulan tiba-tiba.

“Kenapa?” bertanya Glagah Putih dengan heran.

Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Dengan dahi yang berkerut ia memandangi orang-orang yang bekerja di sawah. Orang-orang yang pergi dan pulang dari pasar. Beberapa orang bepergian untuk satu keperluan.

Glagah Putih masih menunggu jawab Rara Wulan sambil berjalan di sebelahnya. Sementara itu Ki Jayaraga meski pun berjalan di depan, tetapi iapun berusaha untuk mendengar apa yang dikatakan oleh Rara Wulan.

Baru beberapa saat kemudian Rara Wulan berkata, “Kanthi memang tidak perlu mendapat perhatian khusus orang-orang Kademangan Kleringan. Biar saja Kanthi menyelesaikan kesulitannya sendiri. Tidak seorang pun yang mempedulikannya. Mereka merasa lebih baik untuk menyelesaikan tugas mereka masing-masing, karena memperhatikan nasib Kanthi tidak akan memberikan keuntungan apa-apa bagi mereka.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Glagah Putih pun menjawab, “Rara. Aku kira apa yang terjadi adalah wajar sekali. Tidak semua orang Kademangan Kleringan mengetahui apa yang terjadi atas diri Kanthi. Sementara itu, putaran peristiwa di Kademangan Kleringan memang tidak boleh berhenti hanya karena persoalan yang menimpa Kanthi. Betapapun orang-orang Kleringan mengetahui persoalan yang menjerat Kanthi, namun ada keterbatasan mereka untuk melibatkan diri mereka.”

“Mereka sudah terjebak ked alam ketidak-pedulian dengan keadaan di sekitar mereka. Hidup dan kehidupan hanya terjadi di seputar diri sendiri,“ berkata Rara Wulan.

“Tidak Rara. Tetapi dalam persoalan yang terjadi atas Kanthi, justru keluarga Kanthi sendiri-lah yang membatasinya, agar tidak banyak diketahui orang. Bukankah begitu? Bukankah semakin banyak orang yang mengetahuinya, maka arang yang tercoreng di kening itu akan semakin banyak dilihat orang?“ sahut Glagah Putih.

Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menjawab.

Demikianlah, maka mereka pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan padukuhan yang mereka tuju.

Ketika mereka memasuki padukuhan, maka jantung Rara Wulan menjadi semakin berdebar-debar. Sekilas Rara Wulan justru membayangkan wajah seorang gadis yang bernama Anggreni, yang cerah ceria menerima lamaran Prastawa. Sementara di sisi lain, ia melihat seorang gadis yang menelungkup dan menangis terisak-isak. Kanthi telah mengalami kegagalan ganda.

“Kenapa hal itu telah dilakukannya, betapapun ia dicengkam oleh perasaan kecewa?“ berkata Rara Wulan di dalam hatinya.

Jantung Rara Wulan menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melewati tikungan dan memasuki jalan yang langsung melewati depan regol halaman rumah kanthi.

Langkah Rara Wulan itu pun menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya Rara Wulan ingin meloncat dan segera sampai ke rumah gadis yang sedang mengalami tekanan batin oleh kelalaiannya sendiri itu.

Ketika ketiganya sampai di depan regol halaman rumah Ki Suracala itu, mereka termangu-mangu sejenak. Regol itu tertutup, tetapi tidak terlalu rapat. Karena itu, ketika Ki Jayaraga menyentuhnya, maka pintu itu pun terdorong sejengkal.

Karena itu, Ki Jayaraga pun telah mendorong pintu itu, sehingga pintu itu pun terbuka.

Ketiga orang yang berdiri di pintu regol itu terkejut. Mereka melihat beberapa orang berada di pendapa. Nampaknya mereka memang sedang gelisah. Satu dua orang nampak sibuk hilir mudik di pringgitan.

“Apa yang terjadi?” desis Rara Wulan.

Karena itu, maka Rara Wulan pun menjadi tidak sabar lagi menunggu. Iapun segera melangkah ke tangga pendapa.

Glagah Putih dan Ki Jayaraga pun segera mengikutinya pula.

Ternyata beberapa orang yang ada di pendapa itu belum mengenal Rara Wulan, Glagah Putih dan Ki Jayaraga. Karena dua orang yang menyongsong mereka telah memperhatikan Rara Wulan, Glagah Putih dan Ki Jayaraga dengan ragu-ragu.

“Apakah Kanthi ada di rumah?” pertanyaan itulah yang mula-mula terlontar dari mulut Rara Wulan.

“Siapakah kalian Ki Sanak?” bertanya salah seorang dari orang-orang yang menyongsongnya.

Ki Jayaraga-lah yang kemudian menjawab, “Kami datang untuk menengok keselamatan keluarga Ki Suracala. Kami adalah sahabatnya yang tinggal di Tanah Perdikan Menoreh.”

“O,“ orang itu mengangguk, “marilah, silahkan duduk. Biarlah kami beritahukan kepada Ki Suracala. Ia sudah menjadi tenang kembali.”

“Apa yang terjadi?” bertanya Ki Jayaraga.

“Nanti saja. Biarlah Ki Suracala sendiri yang menjelaskan,” jawab orang itu.

Ki Jayaraga termangu-mangu sejenak. Demikian pula Glagah Putih dan Rara Wulan. Namun orang yang menyongsongnya itu pun kemudian telah mempersilahkan ketiga orang tamu itu untuk naik dan duduk di pendapa.

Namun demikian mereka duduk di pendapa, terasa suasana yang tegang meliputi orang-orang yang sudah berada lebih dahulu di pendapa itu. Namun tidak seorang pun yang menyapa mereka, dan apalagi menceritakan apa yang terjadi di rumah itu.

Dengan demikian maka Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Rara Wulan duduk termangu-mangu saja di pendapa. Mereka tidak berbicara dan berbuat apapun selain menunggu Ki Suracala.

Rara Wulan hampir tidak sabar menunggu. Tetapi setiap kali ia bergeser, maka Glagah Putih selalu menggamitnya untuk menahan agar Rara Wulan tidak beranjak dari tempatnya.

Baru beberapa saat kemudian, ketika Rara Wulan hampir kehabisan kesabaran, Ki Suracala pun keluar dari ruang dalam, dibimbing oleh seorang laki-laki yang sebaya umurnya.

“Apa yang telah terjadi?” desis Rara Wulan.

“Kita akan mendapat keterangan dari Ki Suracala Ngger,” desis Ki Jayaraga.

Ketika kemudian Ki Suracala melihat Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Sekar Mirah, maka iapun segera mendekati mereka dan duduk bersama mereka.

“Apa yang terjadi, Ki Suracala?” Rara Wulan tidak sabar lagi.

Ki Suracala mengusap matanya yang basah. Tetapi ia tidak segera menjawab. Dicobanya untuk menenangkan hatinya dan mengatur pernafasannya.

Ketika ia kemudian memandang Rara Wulan, maka Rara Wulan pun bertanya sekali lagi, “Apa yang terjadi, Ki Suracala?”

Suara Ki Suracala yang serak bagaikan tertahan di kerongkongan, “Kanthi Ngger.”

“Kenapa dengan Kanthi?” bertanya Rara Wulan dengan serta merta. Wajahnya menjadi merah.

“Ia berada di biliknya,” desis Ki Suracala.

Rara Wulan tidak menunggu lebih lama lagi. Gadis itu pun segera bangkit dan berlari ke ruang dalam.

Rara Wulan sudah mengetahui letak bilik Kanthi. Karena itu, maka iapun segera berlari menuju ke pintu bilik itu.

Demikian ia menyingkap tirai pintu bilik itu, maka dilihatnya Kanthi berbaring di pembaringannya. Tiga orang perempuan termasuk ibu dan kakak perempuannya menungguinya. Seorang lagi adalah seorang yang sudah lebih tua dari ibu Kanthi itu sendiri.

Sejenak Rara Wulan berdiri di pintu. Namun kemudian iapun telah melangkah masuk.

Ketika ibu Kanthi berpaling, maka Rara Wulan itu pun berdesis, “Apakah Kanthi sakit?”

Ibu Kanthi itu memandang Rara Wulan dengan mata yang basah. Isaknya tiba-tiba telah timbul kembali, meskipun ia berusaha untuk menahannya.

Kanthi yang terbaring lemah itu tiba-tiba menggerakkan kepalanya. Ketika ia memandang Rara Wulan, maka Rara Wulan pun sedang memandanginya.

Tiba-tiba saja Kanthi itu menjerit. Semua orang yang ada di dalam bilik itu terkejut. Namun yang terjadi cepat sekali, ketika kemudian Kanthi yang lemah itu bangkit dan meloncat memeluk Rara Wulan.

Rara Wulan pun memeluknya pula. Apalagi ketika Kanthi kemudian menangis sejadi-jadinya.

“Kanthi. Kanthi. Apa yang terjadi?” bertanya Rara Wulan, “Apakah ada orang yang mengganggumu lagi? Atau Ki Suratapa atau Ki Wreksadana?”

Sambil menangis Kanthi menggeleng.

“Jadi, apa yang telah terjadi?” desak Rara Wulan. Kanthi tidak menyahut. Tetapi tangisnya justru semakin menjadi-jadi.

Betapapun keras hati Rara Wulan, namun iapun seorang perempuan. Karena itu, betapapun ia bertahan, namun air matanya pun akhirnya mengalir juga di pipinya.

Ketiga orang perempuan yang berada di bilik itu pun telah mendekat pula. Ibunya yang sudah mulai menangis itu pun telah menjadi terisak.

“Tenanglah Kanthi, tenanglah,“ berkata Rara Wulan sambil berusaha menenangkan Kanthi.

Tangis Kanthi memang mulai mereda. Rara Wulan pun kemudian membimbing Kanthi untuk duduk di pembaringannya.

“Kenapa kau menangis? Apakah ada seseorang yang menyakitimu atau mengancammu, atau tindak kekerasan lain?” bertanya Rara Wulan.

Kanthi menggeleng. Sehingga Rara Wulan pun bertanya mendesak, “Jadi kenapa kau menangis? Apakah kau sakit?”

Kanthi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk lemah.

Rara Wulan pun mengangguk-angguk pula. Katanya, “Jika demikian, berbaringlah. Apakah kau sudah mendapat obatnya?”

Kanthi tidak menyahut.

Rara Wulan pun kemudian berkata pula. “Sudahlah. Berbaringlah. Kau harus banyak beristirahat.”

“Kau jangan pergi,” desis Kanthi.

“Tidak, aku tidak akan pergi,” jawab Rara Wulan.

Kanthi ternyata mau membaringkan dirinya. Tetapi tangannya tetap berpegangan tangan Rara Wulan.

Dalam pada itu, di pendapa, Ki Suracala yang masih terengah-engah itu berkata hampir berbisik kepada Ki Jayaraga dan Glagah Putih dengan suara yang hampir tidak terdengar, “Kanthi telah kehilangan akal. Ia telah mencoba membunuh diri.”

Betapa Ki Jayaraga dan Glagah Putih terkejut sehingga mereka bergeser setapak mendekati Ki Suracala.

Dengan kening yang berkerut Ki Jayaraga itu pun bertanya, “Apakah ada tekanan-tekanan lagi atas gadis itu, sehingga ia mengambil keputusan untuk membunuh diri?”

Ki Suracala menggeleng. Katanya, “Tidak Ki Jayaraga. Tetapi penyesalan itulah yang semakin lama semakin menekan perasaannya, sehingga anak itu telah mengambil keputusan yang salah.”

Ki Jayaraga menarik nafas dalam. Tetapi ia hanya bergumam saja di dalam hatinya, “Sekali Kanthi melakukan kesalahan, jika ia tidak mampu bangkit lagi, maka ia akan melakukan kesalahan-kesalahan berikutnya. Sehingga dengan demikian maka kesalahan-kesalahan itu justru akan bersusun.”

Namun dalam pada itu, Ki Jayaraga bertanya, “Apakah masih saja ada orang yang menyudutkannya dalam kesalahannya?”

“Sepengetahuanku tidak,” jawab Ki Suracala, “kakaknya yang pernah marah-marah kepadanya, justru sebelum terjadi peristiwa yang menggetarkan di rumah ini, telah berusaha untuk membantunya menemukan kembali jalan ke masa depannya. Bahkan kakak perempuannya telah menyatakan kesediaannya untuk memungut anak Kanthi nanti jika anak itu lahir, dan mengakunya sebagai anaknya sendiri. Demikian pula ibunya dan orang-orang yang berhubungan dengan Kanthi, telah berusaha untuk membangkitkan lagi kemauannya untuk tetap hidup. Namun Kanthi masih juga memilih jalan sesat. Untunglah bahwa niatnya itu dapat diketahui, sehingga dapat digagalkan. Tetapi ia sudah sempat tergantung pada blandar di biliknya, ketika kakak perempuannya itu masuk dan langsung berteriak-teriak minta tolong.”

Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Keributan itu-lah agaknya yang telah memanggil beberapa orang tetangga Ki Suracala sehingga mereka datang ke rumah itu.

Dalam pada itu, ditunggui oleh Rara Wulan, Kanthi menjadi sedikit tenang. Kelelahan, kebingungan dan perasaan yang bercampur baur membuatnya menjadi sangat letih. Demikian ia merasakan ketenangan itu, maka Kanthi itu sempat tertidur, meskipun masih saja nampak gelisah.

Baru ketika Kanthi tidur, ibu Kanthi itu memberitahukan kepada Rara Wulan apa yang terjadi.

Rara Wulan pun menjadi sangat terkejut pula. Tetapi ketika ia hampir menjerit, maka iapun segera teringat, bahwa Kanthi sedang tertidur.

Karena itu, ditahannya gejolak perasaannya yang mengguncang dada. Namun demikian, wajah Rara Wulan itu nampak menjadi pucat. Keringatnya mengalir bagaikan diperas, sehingga pakaiannya menjadi basah kuyup.

“Kenapa hal itu dilakukannya?” bertanya Rara Wulan dengan menahan isaknya yang menyesakkan dadanya.

Perempuan itu telah menjawab sebagaimana jawaban yang diberikan oleh Ki Suracala kepada Ki Jayaraga dan Glagah Putih di pendapa.

Rara Wulan mengangguk kecil. Dengan susah payah ia menenangkan jantungnya yang terasa berdegup semakin keras. Bagaimanapun juga Kanthi masih tetap selamat, sehingga masih banyak kemungkinan yang dapat ditunjukkan kepadanya, agar Kanthi dapat bangkit kembali untuk menatap masa depannya.

Untuk beberapa lama, Rara Wulan duduk dan berbincang dengan ketiga orang perempuan yang menunggui Kanthi, yang meskipun tertidur, tetapi terasa betapa kegelisahan masih tetap mencengkam jantungnya.

Namun sejenak kemudian, Kanthi itu terbangun. Ia nampak terkejut dan gelisah. Namun Rara Wulan segera duduk di bibir pembaringannya sambil mengusap dahinya, “Tenanglah Kanthi. Aku masih di sini.”

Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Rara Wulan yang pernah bertempur untuk melindunginya, benar-benar membuat perasaannya menjadi tenang. Gadis itu seakan-akan masih saja tetap melindunginya dari segala macam ancaman, dan bahkan dari dirinya sendiri.

Rara Wulan yang sudah mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya atas Kanthi itu. berusaha untuk dapat membuat gadis itu mulai menyadari bahwa ia tidak boleh kalah dan menyerah. Kanthi harus tetap tegar dan berpengharapan.

Tetapi Rara Wulan masih saja tidak berani menunjuk apa yang sebenarnya telah terjadi atas Kanthi. Sehingga apa yang dikatakannya dengan hati-hati tidak langsung ke sasaran. Rara Wulan berusaha untuk sangat berhati-hati berbicara dengan Kanthi yang hatinya sedang terluka parah.

“Kau harus selalu berdoa Kanthi,“ berkata Rara Wulan, “jika hatimu menatap dengan mantap, maka Yang Maha Agung akan mendengarkan doamu. Kau akan segera sembuh. Baik sakit yang kau derita pada sisi kewadaganmu, maupun sakit yang kau derita pada sisi kejiwaanmu. Yang Maha Agung tidak akan mengecewakan justru jika kau tetap berpengharapan.”

Kanthi mengangguk kecil. Sementara Rara Wulan berkata, “Sekarang kau harus benar-benar meletakkan segala beban perasaanmu. Serahkan semua persoalanmu kepada Yang Maha Agung. Kau harus memohon dan memohon petunjuk dengan lambaran kepercayaan yang bulat.”

Kanthi mengangguk lagi. Sementara ibunya berdesis lirih, “Kau dengar itu Genduk?”

Kanthi mengangguk lagi.

Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Wajah Kanthi yang pucat serta matanya yang lembab membayangkan betapa hatinya terkoyak-koyak.

Ketika Rara Wulan beringsut, dengan cepat Kanthi menangkap tangannya sambil berkata dengan nada tinggi, “Jangan tinggalkan aku. Aku takut.”

“Tidak Kanthi. Aku tidak akan pergi,” jawab Rara Wulan. Namun sebenarnyalah bahwa Rara Wulan berpikir bahwa tentu sulit baginya nanti untuk meninggalkan rumah itu, jika sikap Kanthi tidak berubah.

Sementara itu, di pendapa Ki Suracala masih bercerita tentang anak perempuannya itu. Dari hari ke hari, ia menjadi semakin murung. Ia merasa tidak akan dapat menyembunyikan cela yang melekat di tubuhnya, sehingga akhirnya Kanthi telah kehilangan akal.

Ki Jayaraga mengangguk-angguk kecil. Kemudian katanya dengan nada berat, “Ki Suracala memang harus bersabar, tabah dan pasrah kepada Yang Maha Agung. Dengan kesabaran dan ketabahan, serta doa yang tidak berkeputusan, maka beban yang disandang oleh Kanthi akan terasa menjadi lebih ringan.”

Ki Suracala mengangguk-angguk. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Aku mohon Ki Jayaraga dan Angger Glagah Putih ikut berdoa pula agar Kanthi mendapat pikiran yang terang.”

“Tentu,” jawab Ki Jayaraga, “kami di Tanah Perdikan, bukan saja aku dan angger Glagah Putih tetapi juga yang lain, selalu berdoa agar Kanthi dapat segera bangkit kembali menyongsong masa depannya.”

“Terima Kasih,“ gumam Ki Suracala. Namun kemudian suaranya seakan-akan tertelan kembali, “Tetapi bagaimana dengan anak yang akan lahir itu?”

“Ada seribu jalan yang dapat tiba-tiba saja terbentang di hadapan Kanthi, jika Yang Maha Agung menghendaki,” jawab Ki Jayaraga.

Ki Suracala mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang selalu memohon tanpa berkeputusan. Di malam hari, lewat tengah malam, aku selalu turun ke halaman, memandang bintang-bintang di langit. Kemudian memohon dan memohon. Mohon ampun dan mohon petunjuk.”

“Yang Maha Agung akan mendengarkan permohonan Ki Suracala,” desis Ki Jayaraga.

Ki Suracala pun terdiam sejenak. Namun kemudian seperti orang tersadar dari mimpinya, iapun mempersilahkan Ki Jayaraga dan Glagah Putih untuk bergeser, duduk di antara beberapa orang tetangga Ki Suracala yang berdatangan ketika mereka mendengar keributan di rumah itu. Kepada tetangga-tetangganya Ki Suracala memperkenalkan Ki Jayaraga dan Glagah Putih sebagai tamu-tamunya dari Tanah Perdikan Menoreh.

“Mereka adalah sebagian dari keluarga Ki Argajaya, yang telah menyelamatkan aku dan keluargaku beberapa waktu yang lalu,“ berkata Ki Suracala.

Tetangga-tetangga Ki Suracala itu mengangguk hormat. Mereka mengerti bahwa beberapa waktu yang lalu telah terjadi peristiwa berdarah di rumah itu, sehingga ada di antara mereka yang melaporkan kepada Ki Demang, sehingga Ki Demang telah datang ke rumah itu bersama beberapa orang bebahu kademangan dan padukuhan itu.

Demikianlah, beberapa saat lamanya mereka duduk di pendapa. Namun kemudian tetangga-tetangga Ki Suracala itu satu demi satu telah minta diri, ketika mereka tahu bahwa keadaan telah menjadi tenang. Hanya beberapa orang perempuan saja-lah yang masih tinggal. Sebagian duduk di ruang dalam dan sebagian lagi ada di dapur, membantu menyiapkan minuman dan makanan, karena Nyi Suracala dan keluarganya tidak sempat memikirkannya.

Di pendapa, Ki Jayaraga dan Glagah Putih duduk beberapa lama dengan Ki Suracala. Minuman dan makanan yang dihidangkan telah mereka minum dan mereka makan beberapa potong. Sementara itu, Rara Wulan masih saja berada di ruang dalam.

Sebenarnyalah bahwa Rara Wulan tidak dapat beringsut dari pembaringan Kanthi. Setiap kali Kanthi justru memegangi tangannya dengan erat, seakan-akan tidak akan pernah dilepaskan lagi.

Sebenarnyalah bahwa Rara Wulan sendiri mulai menjadi gelisah. Ia sadar bahwa Ki Jayaraga dan Glagah Putih menunggunya di pendapa. Sementara itu ia tidak dapat meninggalkan Kanthi sama sekali.

Ketika Rara Wulan mengatakan bahwa ia akan menemui Ki Jayaraga dan Glagah Putih sebentar saja di pendapa, Kanthi sama sekali tidak mau melepaskannya.

“Sebentar saja Ngger,“ berkata ibunya, “Angger Rara Wulan akan berbicara sebentar saja dengan Angger Glagah Putih yang menunggunya di pendapa.”

“Tidak. Tidak,“ Kanthi memegang tangan Rara Wulan semakin erat.

“Sudahlah Bibi,” desis Rara Wulan kemudian, “biarlah aku di sini untuk beberapa saat.”

“Tidak hanya untuk beberapa saat. Kau tidak boleh pergi,“ sahut Kanthi.

Sambil menarik nafas panjang. Katanya, “Baik, baik, Kanthi. Aku akan menungguimu di sini.“

Dalam pada itu, Nyi Suracala-lah yang kemudian pergi ke pendapa menemui Ki Jayaraga dan Glagah Putih.

“Kanthi sama sekali tidak mau melepaskan Rara Wulan,“ berkata Nyi Suracala.

Ki Jayaraga dan Glagah Putih hanya mengangguk-angguk saja. Namun sebenarnyalah mereka menjadi gelisah. Jika Rara Wulan tidak dapat meninggalkan Kanthi, apakah mereka pun harus tinggal di Kademangan Kleringan sampai jiwa Kanthi menjadi tenang?

Agaknya Ki Suracala dapat membaca perasaan Ki Jayaraga dan Glagah Putih, karena itu ia-lah yang bertanya kepada Nyi Suracala, “Jika demikian, apakah berarti Angger Rara Wulan harus tetap berada di dalam biliknya?”

“Setiap Angger Rara Wulan beringsut, Kanthi selalu memegangi tangannya erat-erat. Ia hanya mengatakan bahwa Angger Rara Wulan tidak boleh meninggalkannya,” jawab Nyi Suracala.

“Sampai kapan Angger Rara Wulan harus menungguinya?” bertanya Ki Suracala.

“Sudahlah,” potong Ki Jayaraga, “kita akan menunggu, nanti perasaan Kanthi akan menjadi tenang. Agaknya Rara Wulan dianggapnya dapat memberikan perlindungan bagi Kanthi dari tekanan-tekanan atas perasaannya, bahkan yang datang dari dirinya sendiri, karena Rara Wulan memang pernah menyelamatkannya pada saat-saat yang sangat gawat itu.”

Ki Suracala pun mengangguk-angguk. Namun katanya kepada Nyi Suracala, “Dengan perlahan-lahan usahakanlah Nyi, agar Angger Rara Wulan nanti dapat keluar dari bilik Kanthi. Tetapi alangkah terima kasih kita jika Angger Rara Wulan bersedia bermalam barang semalam di sini.”

Nyi Suracala tidak menjawab. Tetapi di luar sadarnya ia memandang Ki Jayaraga dan Glagah Putih.

Namun baik Ki Jayaraga maupun Glagah Putih tidak memberikan tanggapan apapun juga.

Sebenarnyalah bahwa Ki Jayaraga dan Glagah Putih masih belum tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan, jika benar Rara Wulan tidak dapat meninggalkan bilik Kanthi itu.

Meskipun demikian, Nyi Suracala masih juga berkata, “Tetapi baiklah kami usahakan agar Angger Rara Wulan dapat meninggalkan Kanthi nanti pada saatnya. Mudah-mudahan Kanthi menjadi semakin tenang sehingga ia tidak lagi memegangi tangan Angger Rara Wulan tanpa mau melepaskannya sama sekali.”

Dengan demikian, maka Ki Jayaraga dan Glagah Putih harus menunggu. Mereka tidak segera dapat mengajak Rara Wulan pulang.

Karena itu, setelah makan siang Ki Suracala telah mempersilahkan keduanya beristirahat. Bagi mereka disediakan sebuah bilik di gandok kanan.

Tetapi Ki Jayaraga dan Glagah Putih kemudian hanya duduk-duduk saja di serambi gandok sambil memandangi halaman rumah Ki Suracala, yang nampak sejuk oleh pepohonan yang tumbuh di halaman depan. Bahkan terdapat pula beberapa jenis tanaman pajangan. Pohon soka, ceplok piring, dan di sudut pendapa terdapat rumpun-rumpun kembang melati yang sedang berbunga.

Sementara itu, di dalam biliknya Kanthi tetap tidak mau melepaskan tangan Rara Wulan. Ketika ibu dan kakaknya berusaha untuk menenangkannya dan menjelaskan kepadanya bahwa Rara Wulan harus kembali ke Tanah Perdikan. Kanthi tidak mau mendengarkannya lagi.

“Kanthi,“ berkata ibunya, “tentu saja Angger Rara Wulan tidak dapat tinggal di sini terus. Ia harus pulang ke Tanah Perdikan Menoreh. Jika tidak, maka keluarganya tentu akan menjadi cemas dan gelisah. Apalagi beberapa waktu yang lalu, telah terjadi perselisihan di sini.”

“Apapun sebabnya, Rara Wulan tidak boleh pergi,” jawab Kanthi.

“Rara Wulan sendiri mungkin dapat mengerti keadaanmu, Kanthi. Tetapi keluarganya di Tanah Perdikan Menoreh?” bertanya ibunya.

“Tidak. Tidak,“ Kanthi mulai menangis.

“Besok aku datang lagi kemari Kanthi,” desis Rara Wulan.

“Tidak Rara. Jika kau harus pulang ke Tanah Perdikan Menoreh, aku akan ikut. Aku akan bersedia untuk menjadi pembantu di rumahmu. Aku bersedia mencuci pakaian, mengambil air, masak dan semua kerja apapun.”

Rara Wulan terkejut. Tetapi sebelum ia menyahut, maka Kanthi sudah mendahuluinya, “Jika kau tidak membiarkan aku ikut, maka kau tidak boleh pergi. Jika kau memaksa, maka aku akan memilih mati daripada selalu disiksa oleh kegelisahan dan perasaan berdosa.“

Rara Wulan memang menjadi bingung. Ia tidak segera dapat mengambil keputusan. Kedua kemungkinan itu akan sama-sama beratnya. Ia tentu tidak dapat tinggal di rumah Kanthi untuk satu dua hari sekalipun. Apalagi jika hal itu diketahui oleh orang-orang yang mendendam. Iapun tidak mungkin minta Glagah Putih menemaninya di Kademangan Kleringan. Tentu akan dapat menimbulkan prasangka buruk, justru karena ia mempunyai hubungan khusus dengan Glagah Putih,

Sementara itu, Kanthi masih saja tetap berpegangan pada tangan Rara Wulan.

Untuk beberapa saat, Rara Wulan memang tidak memberikan jawaban. Ia masih saja duduk di pembaringan Kanthi. Bahkan makan siang pun dilakukannya di dalam bilik Kanthi, karena dengan demikian serba sedikit Kanthi juga mau makan.

Namun akhirnya Rara Wulan mendapat akal agar ia dapat berbicara dengan Ki Jayaraga dan Glagah Putih. Kepada Kanthi, Rara Wulan itu pun berkata, “Kanthi, aku minta agar kau memberi kesempatan kepadaku untuk pergi ke pakiwan.”

“Tidak,” jawab Kanthi.

“Tentu sulit bagiku untuk menahan diri tidak pergi ke pakiwan. Kau tahu, aku sudah lama berada di sini. Karena itu, aku hanya minta waktu sedikit saja. Aku tidak akan pergi. Aku tahu bahwa aku tidak boleh melakukannya dengan mengelabuimu. Akibatnya tentu akan aku sesali untuk waktu yang sangat lama.”

Sebelum Kanthi menjawab, ibunya berkata, “Kanthi, kau jangan menyiksa Rara Wulan. Setiap orang tentu memerlukan waktu untuk pergi ke pakiwan. Kau dapat saja merasa tenang karena kau mendapat perlindungan. Tetapi ketenanganmu itu akan dapat membuat Angger Rara Wulan gelisah.”

Kanthi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Tetapi jangan terlalu lama, Rara. Dan kau harus kembali ke bilik ini. Sudah aku katakan, bahwa jika kau tidak bersedia tinggal di sini, biarlah aku ikut kau ke rumahmu, dimanapun kau tinggal. Aku bersedia untuk menjadi pembantu di rumahmu. Mencuci, menyapu halaman, menimba air dan apa saja.”

“Aku akan kembali Kanthi. Aku berjanji,” jawab Rara Wulan. Demikianlah, maka akhirnya Rara Wulan dapat keluar dari bilik itu. Ia memang benar-benar pergi ke pakiwan. Tetapi kemudian Rara Wulan telah mencari dan menemui Ki Jayaraga dan Glagah Putih, untuk memberitahukan permintaan Kanthi. Apakah Rara Wulan tinggal di rumah itu, atau Kanthi ikut bersamanya ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Pilihan yang sulit,“ berkata Glagah Putih, “jika kau tinggal di sini Rara, kau tentu dalam keadaan bahaya. Mungkin orang-orang yang mendendam itu masih juga mendendammu, jika mereka tahu kau ada di sini.”

“Jadi, apakah kau harus menemaninya Glagah Putih?“ berkata Ki Jayaraga.

Glagah Putih termangu-mangu. Namun Rara Wulan berkata, “Sebaiknya tidak, Ki Jayaraga. Bagi orang-orang Tanah Perdikan Menoreh yang tidak mengetahui dengan pasti apa yang terjadi di sini, akan dapat menimbulkan rerasan yang kurang baik.”

“Ya,“ Ki Jayaraga mengangguk-angguk, “aku mengerti. Orang-orang yang tidak senang akan membuat cerita yang bermacam-macam tentang kalian berdua. Tetapi untuk membawanya ke Tanah Perdikan Menoreh, ada Prastawa. Jika Kanthi masih sempat melihat Prastawa, maka hatinya yang terluka itu akan terasa pedih kembali.”

Glagah Putih mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia berkata, “Ya. Satu persoalan yang perlu mendapat perhatian, Rara.”

“Tetapi kita harus memilih. Aku tinggal di sini atau Kanthi ikut bersama kita,“ berkata Rara Wulan, “di luar dua kemungkinan itu, Kanthi sudah mengatakan bahwa ia memilih mati.”

Ki Jayaraga dan Glagah Putih justru merenung. Dua pilihan yang mempunyai keberatannya masing-masing.

Namun akhirnya Glagah Putih berkata, “Biarlah Kanthi ikut bersama Rara Wulan ke Tanah Perdikan Menoreh. Kita akan dapat berbicara dengan Prastawa. Kita memerlukan pengertiannya untuk tidak datang ke rumah kita, atau bahkan jika mungkin mengambil jalan lain, jangan lewat di depan rumah kita.”

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Meskipun ragu-ragu, tetapi ia berkata, “Bagaimana jika Rara berterus terang kepada Kanthi?”

“Aku tidak sampai hati, Ki Jayaraga,” jawab Rara Wulan.

Ki Jayaraga itu pun mengangguk-angguk. “Jika demikian, biarlah kita mengajaknya pulang. Tetapi tentu setelah senja, agar tidak banyak orang yang melihat dan menyapanya. Meskipun kehamilannya masih belum nampak bagi mereka yang tidak sangat memperhatikan, tetapi jika kebetulan satu dua orang yang pernah mendengar persoalan Prastawa mengetahui kehadirannya di Tanah Perdikan, maka akan dapat menimbulkan persoalan baru.”

“Aku kira di Tanah Perdikan Menoreh belum ada seorangpun yang mendengarnya,“ sahut Rara Wulan.

“Tidak Rara. Menurut Prastawa, justru Anggreni dan keluarganya sudah mengetahui,” desis Ki Jayaraga.

“Jadi keluarga Anggreni sudah tahu?“ Rara Wulan terkejut, “Betapa gadis itu merasa semakin menang.”

“Tidak,“ Ki Jayaraga menggeleng, “Anggreni bukan jenis yang demikian. Ia dapat mengerti perasaan Kanthi. Ia dapat mengerti perasaan seorang gadis lain yang sakit karena angan-angannya yang lepas. Juga tentang Prastawa. Untunglah bahwa gadis itu tidak mengalami kesulitan yang parah seperti Kanthi. Ia segera dapat bangkit kembali dan berusaha melupakannya.”

Rara Wulan mengerutkan dahinya. Tetapi dengan demikian penilaiannya terhadap Anggreni yang belum pernah dikenalnya itu menjadi agak berubah.

Dalam pada itu, sebelum pembicaraan itu tuntas, maka seorang perempuan berlari-lari mencari Rara Wulan. Dengan gelisah ia berkata, “Kanthi mencarimu, Ngger. Kanthi mulai menangis dan gelisah lagi.”

“Baik. Baik,” jawab Rara Wulan, “aku akan segera datang.”

Rara Wulan yang tergesa-gesa pergi untuk menemui Kanthi masih sempat bertanya kepada Ki Jayaraga dan Glagah Putih, “Jadi kita condong membawa Kanthi ke Tanah Perdikan, daripada aku harus tinggal di sini?”

“Ya,” jawab Ki Jayaraga, “untuk sementara.“

Rara Wulan pun segera berlari ke bilik Kanthi.

“Kenapa lama sekali?” bertanya Kanthi yang langsung berpegangan tangan Rara Wulan. “Kau akan meninggalkan aku?”

“Tidak. Aku baru ke pakiwan dan berbicara sedikit dengan Ki Jayaraga dan Kakang Glagah Putih,” jawab Rara Wulan.

“Apakah mereka tidak mengijinkan kau tinggal di sini atau aku ikut ke rumahmu?” bertanya Kanthi.

“Mereka sama sekali tidak berkeberatan Kanthi,” jawab Rara Wulan. Dan bahkan Rara Wulan itu pun kemudian sekaligus berkata kepada ibu Kanthi, “Nyi Suracala, biarlah Kanthi bersamaku untuk sementara di rumahku. Mudah-mudahan ia menemukan cahaya di hatinya, sehingga hatinya menjadi terang kembali.”

Nyi Suracala termangu-mangu sejenak. Namun Kanthi berkata, “Biarlah aku menyingkir dari rumah ini, Ibu. Bagi Ibu aku adalah anak yang durhaka.”

“Tidak. Tidak Kanthi. Apapun yang terjadi atas dirimu, kau tetap anakku. Aku dan ayahmu tidak akan dapat mencuci tangan dan apalagi mengibaskan kau karena kau telah tergelincir.”

Dalam pada itu, maka kakak perempuannyapun berkata, “Kanthi, Ayah, Ibu, aku dan seluruh keluarga ini justru berusaha membantumu. Bukan berarti kami menganggap kau tidak bersalah. Tetapi setelah kau sendiri mengakuinya bersalah, maka harus diketemukan jalan menuju ke masa depanmu.”

Kanti tercenung. Tetapi ia tidak menjawdb. Meskipun demikian ia masih tetap berpegang tangan Rara Wulan.

Sementara itu, Ki Jayaraga dan Glagah Putih telah dipersilahkan lagi duduk di pendapa. Minuman hangat dan beberapa potong makanan telah dihidangkan.

Pada kesempatan itu, Ki Jayaraga juga menyampaikan keinginan Kanthi dan sekaligus untuk mohon pertimbangannya.

“Jika itu yang diinginkan Kanthi, aku tidak dapat menahannya. Namun masih juga tergantung Angger Rara Wulan, apakah ia bersedia membawa Kanthi,” desis Ki Suracala dengan nada rendah.

“Rara Wulan sudah menyatakan tidak berkeberatan, jika ayah dan ibu Kanthi mengijinkan,” jawab Ki Jayaraga.

Ki Suracala hanya dapat mengangguk-angguk. Nalarnya seakan-akan menjadi pepat menghadapi persoalan anak perempuannya itu. Tetapi seperti juga Nyi Suracala, Ki Suracala sama sekali tidak ingin melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Apapun yang terjadi atas anaknya, maka hubungan darah itu tidak akan pernah dapat diputuskan dengan cara apapun juga.

Dalam pembicaraan selanjutnya antara Kanthi, orang tua Kanthi, serta para tamu dari Tanah Perdikan Menoreh itu, diputuskan bahwa Kanthi akan ikut bersama Rara Wulan ke Tanah Perdikan Menoreh.

Mereka pun sepakat untuk meninggalkan rumah Ki Suracala itu setelah lewat senja, agar tidak banyak orang yang melihatnya.

Demikianlah, ketika gelap malam mulai membayang, Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Rara Wulan pun telah mohon diri. Bersama mereka telah pergi pula Kanthi. Nyi Suracala sempat memeluk anaknya sambil menahan tangisnya yang menyesakkan dadanya.

“Kau tidak boleh terlalu lama pergi Kanthi,“ berkata ibunya di sela isaknya.

Kanthi tidak segera menjawab. Dipandanginya lampu minyak yang sudah menyala di pendapa rumahnya. Kemudian bayangan pepohonan yang mulai menjadi kehitaman. Rumah, halaman dan pepohonan itu adalah bagian dari hidup Kanthi sehari-hari. Namun ia tidak dapat tinggal lebih lama di rumah yang serasa seakan-akan selalu menyiksanya itu.

Kanthi memang juga menitikkan air mata ketika ia minta diri. Tetapi Kanthi merasa lebih baik pergi dari kenangan yang pahit itu. Bahkan jika tidak ada tujuannya pun, ia merasa lebih baik pergi kemanapun juga.

Demikianlah, sejenak kemudian mereka pun telah meninggalkan rumah Ki Suracala. Sementara itu gelap mulai menyelimuti perbukitan.

Kanthi yang tidak pernah pergi kemanapun itu merasa betapa jantungnya berdegup keras. Rumah, halaman, pohon soka dan ceplok piring di halaman, harus ditinggalkannya. Kanthi mengerutkan keningnya kelfika ia teringat akan kucing putihnya. Kucing yang banyak menemaninya di saat-saat hatinya gelisah, dan bahkan akhirnya menjadi pepat dan gelap. Kanthi-lah yang setiap pagi, siang dan sore memberi makan kucing itu.

Tetapi hatinya telah bulat untuk meninggalkan segala-galanya yang ada di dalam rumah itu, termasuk kenangan pahitnya.

Kanthi yang tidak terbiasa berjalan dalam gelap itu telah dibimbing oleh Rara Wulan. Rara Wulan sendiri telah melatih penglihatan dan pendengarannya dengan baik. Iapun telah membiasakan diri untuk berjalan di dalam gelap dan bahkan bertempur di kegelapan. Sehingga karena itu, maka berjalan di dalam gelap itu Rara Wulan sama sekali tidak mengalami kesulitan, sebagaimana ia berjalan di siang hari.

Meskipun Kanthi mengalami kesulitan di perjalanan, tetapi ia sama sekali tidak mengeluh. Ia sudah bertekad untuk meninggalkan rumah dan seisinya. Apapun yang akan dialami di perjalanan dan bahkan di tempat yang dituju, Kanthi tidak mau memikirkannya.

Jalan-jalan di Kademangan Kleringan sudah sepi. Sementara gardu-gardu masih belum terisi. Meskipun demikian, di beberapa gardu telah dipasangi lampu minyak, sementara di regol-regol padukuhan oncor pun telah menyala.

Namun keempat orang itu tidak dapat berjalan cepat. Rara Wulan yang membimbing Kanthi berusaha untuk mengikuti saja kemampuan langkah Kanthi, yang apalagi sedang mengandung muda. Meskipun Rara Wulan belum mengalami, tetapi ia sudah mengetahui bahwa dalam keadaan mengandung muda, seseorang harus sangat berhati-hati.

Beberapa saat kemudian, terasa jalan mulai menanjak. Mereka akan melintasi punggung pegunungan yang jarang didiami orang. Pepohonan menjadi semakin rapat, dan bahkan mereka akan melintasi hutan pegunungan. Meskipun tidak terlalu lebat, tetapi hutan itu masih juga dihuni oleh binatang buas.

Namun Ki Jayaraga, Glagah Putih, bahkan Rara Wulan mengetahui bahwa jarang sekali seseorang mengalami gangguan binatang buas. Hanya binatang buas yang sudah terlalu tua sehingga tidak mampu lagi memburu kijang saja-lah yang merupakan bahaya bagi seseorang.

Namun Rara Wulan yang berjalan di muka sambil membimbing Kanthi termangu-mangu melihat oncor yang menyala di sudut sebuah padukuhan. Ia melihat bayangan beberapa orang yang berkumpul di dekat oncor itu. Bahkan kemudian Rara Wulan mulai mendengar suara tertawa dan bahkan suara ribut di antara mereka.

Kanthi yang kemudian juga melihat mereka ternyata menjadi ketakutan. Dengan eratnya ia berpegangan Rara Wulan. Namun Rara Wulan itu berdesis, “Jangan takut Kanthi. Mereka tidak apa-apa. Mereka tentu anak-anak muda yang sedang bersiap-siap untuk meronda. Bahkan di antara mereka terdapat anak-anak muda yang tidak sedang bertugas, namun mereka ikut berkumpul di sudut padukuhan.”

“Rara, itu padukuhan Cerma,” desis Kanthi.

“O,” Rara Wulan memang belum mengetahui nama padukuhan itu.

“Aku takut,” desis Kanthi.

“Kenapa?” bertanya Rara Wulan.

“Aku lupa mengatakannya, bahwa padukuhan itu banyak dihindari oleh gadis-gadis,” jawab Kanthi. Namun kemudian katanya, “Meskipun aku bukan gadis lagi, tetapi aku takut. Apakah kita dapat kembali dan memilih jalan lain?”

Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Namun agaknya orang-orang yang berkumpul di dekat oncor itu sudah melihat mereka. Karena itu, Rara Wulan berkata, “Mereka sudah melihat kita. Tidak ada gunanya kita memilih jalan lain. Jika mereka memang ingin mengganggu, maka mereka tentu akan mengejar kita. Karena itu sebaiknya kita berjalan terus. Mungkin mereka sama sekali tidak berniat buruk. Hanya prasangka kita saja-lah yang justru telah membayangi kita.”

“Tidak Rara. Anak-anak padukuhan Cerma memang sering mengganggu gadis-gadis, bahkan perempuan-perempuan yang telah berkeluarga pula. Semua orang Kleringan mengetahui hal itu,” desis Kanthi yang justru telah berhenti.

Ki Jayaraga dan Glagah Putih yang berjalan di belakang telah berhenti pula. Namun seperti Rara Wulan, Glagah Putih berdesis, “Tidak apa-apa Kanthi. Kita akan menyapa mereka dengan baik. Mereka tentu dapat membedakan, apakah seseorang dapat diganggu atau tidak.”

Mereka tidak dapat berbicara lebih lanjut. Bahkan Kanthi justru telah bergeser, berdiri di belakang Rara Wulan sambil berpegangan kedua lengannya, “Aku takut.”

Ternyata seperti yang diduga oleh Rara Wulan, anak-anak muda yang duduk di sebelah oncor itu telah melihat keempat orang yang sedang dalam perjalanan menuju ke seberang bukit. Ketika keempat orang itu berhenti, maka seorang anak muda telah berkata lantang, “He, kenapa kalian berhenti? Apakah kalian mengira bahwa kami sekelompok penyamun yang menghadang perjalanan kalian?”

Rara Wulan-lah yang berdesis, “Nah, kau dengar itu? Mereka agaknya justru telah tersinggung karena kita berhenti di sini.”

Kanthi masih saja termangu-mangu. Namun suara yang lain berkata, “Apakah kami harus menjemput kalian dan kemudian mengantar kalian sampai ke bukit?”

Rara Wulan pun berdesis pula, “Marilah, jangan takut.”

Kanthi masih saja ragu-ragu. Namun Ki Jayaraga pun berkata pula, “Marilah. Kita berjalan terus.”

Keempat orang itu kembali melangkah melanjutkan perjalanan. Kanthi berjalan di belakang Rara Wulan sambil berpegangan erat-erat. Namun Rara Wulan seperti berjalan saja tanpa ragu-ragu sama sekali.

Namun sebenarnyalah Rara Wulan memang menjadi curiga. Ia justru condong untuk mempercayai kata-kata Kanthi.

Ketika keempat orang itu semakin mendekat, maka orang-orang yang berkerumun di sekita oncor itu sama sekali tidak mau menyibak.

Dalam pada itu, Glagah Putih yang kemudian berjalan di depan berdesis, “Maaf Ki Sanak. Kami akan lewat.”

Orang-orang yang berkerumun di sekitar obor itu semuanya berpaling ke arah Glagah Putih. Mereka semua adalah anak-anak muda sebaya dengan Glagah Putih itu. Di sebelah mereka berserakan bumbung-bumbung kecil yang berbau tuak. Mulut-mulut anak-anak muda itu pun berbau tuak pula.

Seorang di antara mereka melangkah mendekati Glagah Putih. Namun ia berhenti beberapa langkah daripadanya. Dari keseimbangannya yang gontai nampak bahwa anak muda itu sedikit mabuk oleh tuak.

Sambil memandang Glagah Putih dengan tajamnya anak muda itu bertanya, “He, kau akan membawa perempuan-perempuan itu ke mana?”

“Mereka adalah saudara-saudaraku,” jawab Glarah Putih, “aku sedang dalarn perjalanan pulang.”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Jangan berbohong. Perempuan itu tentu kau ambil dari rumah Nyi Sunthi. He, akan kau bawa ke mana mereka itu?”

“Ki Sanak,“ berkata Glagah Putih kemudian, “aku bukan orang kademangan ini. Aku tidak mengenal Nyi Sunthi. Kedua perempuan ini adalah adikku yang akan aku ajak pulang. Kami baru saja berkunjung ke rumah saudaraku pula.”

Beberapa orang anak muda itu justru tertawa serentak. Seorang di antara mereka berkata, “Kebetulan sekali jika perempuan-perempuan itu tidak kau ambil dari rumah Nyi Sunthi. Tinggalkan mereka di sini. Kami memerlukan keduanya. Jika kau masih mempunyai adik perempuan lagi, ambillah dan bawa pula kemari. Dua atau tiga atau empat. Kami semua di sini berjumlah sebelas orang.”

Kanthi berpegangan Rara Wulan semakin erat. Tubuhnya menggigil dan keringatnya mengalir membasahi seluruh tubuhnya. Ada penyesalan tumbuh di hatinya. Jika ia tidak pergi dari rumahnya, maka ia tidak akan bertemu dengan anak-anak muda yang sedang mabuk itu. Anak-anak muda yang akan dapat semakin menghancurkan hidup dan masa depannya.

Tetapi nampaknya Rara Wulan sama sekali tidak menjadi ketakutan. Ia masih saja berdiri dengan tegar memandang anak-anak muda itu dengan wajah tengadah.

Yang kemudian menjawab adalah Glagah Putih, “Ki Sanak. Jangan merendahkan martabat saudara-saudaraku. Itu akan dapat berakibat kurang baik.”

“Persetan kau,” geram seorang anak muda yang sejak semula duduk berdiam diri. Seorang anak muda yang bertubuh tinggi besar. Wajahnya nampak keras seperti batu padas. Namun dari mulutnya juga menghambur bau tuak, “Pergi kau anak iblis. Bawa orang tua itu. Apakah ia ayahmu?”

“Ya,” jawab Glagah Putih, “kami memang sekeluarga.”

“Nah, sebelum kami kehilangan kesabaran, maka pergilah. Tinggal kedua perempuan itu di sini. Nanti lewat tengah malam, ambil keduanya. Aku akan membiarkan mereka pergi.”

Kanthi menjadi semakin ketakutan. Tetapi Rara Wulan menjadi sangat marah. Apalagi ketika anak muda yang bertubuh raksasa itu mendekatinya sambil berkata, “Bawa oncor itu kemari.”

Seorang anak muda telah mengambil oncor dan membawanya mendekati Rara Wulan dan Kanthi yang berpegangan erat-erat.

“Aku ingin melihat wajah mereka dengan jelas,“ berkata anak muda yang bertubuh raksasa itu.

Namun Kanthi berusaha menyembunyikan wajahnya di belakang kepala Rara Wulan. Ia merasa bahwa di antara anak-anak muda itu tentu sudah ada yang mengenalnya, dan bahkan mungkin mengetahui apa yang telah terjadi atasnya. Jika demikian, maka persoalannya mungkin akan menjadi semakin rumit baginya. Anak-anak muda itu tentu menganggapnya sebagai perempuan yang tidak berharga dan dapat diperlakukan apa saja.

Namun anak muda yang membawa oncor itu terhenti ketika Glagah Putih melangkah dan berdiri selangkah di hadapannya.

“Jangan ganggu adik-adikku,“ berkata Glagah Putih.

“Gila kau,“ anak muda yang bertubuh raksasa itu mengumpat, “apakah kau ingin mengalami nasib paling buruk?”

Tetapi Glagah Putih tidak bergeser. Katanya, “Setiap orang berhak membela diri dari serangan orang lain. Apakah serangan itu dalam ujud kewadagan kami atau serangan yang menyakiti hati kami.”

“He, kau mau apa kelinci kecil? Kau tentu dapat menghitung jumlah kami. Sebelas orang, kami dapat membunuhmu di sini sekarang juga bersama ayahmu. Baru kemudian besok pagi kami bunuh kedua perempuan itu. Atau jika tidak, kami simpan perempuan-perempuan itu barang tiga atau lima hari. Baru kemudian kami lemparkan ke dalam jurang.”

“Penghinaan itu sudah cukup,“ berkata Glagah Putih, “pergilah. Beri kami jalan.”

Anak muda yang bertubuh raksalsa itu tidak menghiraukan kata-kata Glagah Putih. Iapun kemudian menyambar oncor di tangan kawannya dan melangkah mendekati Rara Wulan dan Kanthi yang ketakutan. Tetapi sekali lagi Glagah Putih menghalangi langkahnya.

Dengan marah anak muda bertubuh raksasa itu mendorong Glagah Putih ke samping. Namun anak muda itu terkejut. Ia sendiri justru terdorong selangkah dan hampir saja jatuh terguling. Sementara itu Glagah Putih masih berdiri tegak di tempatnya.

Anak muda bertubuh raksasa itu kemudian berdiri termangu-mangu sambil memandang Glagah Putih, yang tegak dengan kedua kakinya yang bagaikan menghunjam sampai ke pusat bumi.

Anak muda bertubuh raksasa itu agaknya tidak mau melihat kenyataan yang baru saja terjadi. Ia menganggapnya sebagai satu kebetulan, atau bahkan sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Beberapa orang kawannya pun sempat mengerutkan dahi mereka. Tetapi di bawah pengaruh tuak yang mengeruhkan otak mereka, maka mereka pun tidak mau tahu kenyataan itu.

Bahkan mereka yang masih belum dicengkam oleh pengaruh tuak pun menganggap bahwa yang terjadi itu adalah satu kebetulan, bahkan satu kecelakaan kecil.

Karena itu, maka anak muda yang bertubuh raksasa itu kemudian menggeram sambil berkata, “Iblis kecil. Sekali lagi aku peringatkan, jangan membantah. Aku tidak mau mendengar seseorang menentang kehendakku. Karena itu, minggirlah. Ajak setan tua itu pergi. Nanti setelah lewat tengah malam, atau besok pagi-pagi, datanglah kemari. Kedua perempuan itu sudah menunggumu di sini.”

Glagah Putih yang sudah kehabisan kesabaran itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja tangannya telah melayang menampar mulut anak muda itu. Tamparan yang cukup keras, sehingga bibir anak muda itu terasa menjadi pedih. Darah yang merah telah mengalir dari bibirnya yang pecah.

Anak muda itu menyeringai. Bukan saja menahan sakit, tetapi juga karena kemarahan yang membakar ubun-ubunnya.

Karena itu, maka tanpa berbicara lagi tiba-tiba saja anak itu menyerang Glagah Putih. Dengan derasnya tangannya terayun mengarah ke kening Glagah Putih.

Glagah Putih sama sekali tidak menghindar. Tetapi ia menangkis serangan itu dengan tangannya pula.

Ketika benturan terjadi, maka tulang anak muda bertubuh raksasa itu terasa seakan-akan menjadi retak. Kemudian, belum lagi ia sempat mengatasi perasaan sakit, maka tangan Glagah Putih telah memukul perutnya. Meskipun Glagah Putih tidak menghentakkan seluruh tenaganya, namun pukulan itu membuat perutnya menjadi sangat sakit dan mual. Anak muda bertubuh raksasa itu terbungkuk sejenak. Namun kemudian lutut Glagah Putih menghantam dahinya, sehingga anak muda itu terdorong dengan derasnya beberapa langkah surut, dan terbanting jatuh terlentang di tanah.

Peristiwa itu terjadi demikian cepatnya, sehingga tidak seorangpun di antara anak-anak muda itu yang sempat membantu. Baru kemudian anak-anak muda itu menyadari, apa yang telah terjadi di hadapan hidung mereka.

Dengan susah payah anak muda bertubiuh raksasa itu berusaha bangkit. Ketika seorang kawannya berusaha membantunya, maka tangannya segera dikibaskannya sambil menggeram, “Lepaskan. Aku tidak apa-apa. Aku dapat bangkit sendiri.”

Kawannya memang segera melepaskannya. Tetapi anak muda itu justru hampir terjatuh lagi. Namun kemudian ia mampu untuk berdiri di atas kedua kakinya meskipun masih goyah.

Perasaan sakit menjalar di seluruh tubuhnya. Bibirnya yang pecah, tangannya yang terasa retak, perutnya yang mual dan nafasnya yang menjadi sesak. Tetapi juga dahinya yang membentur lutut lawannya itu.

Dengan wajah yang merah padam anak muda itu melangkah maju. Kemudian dengan lantang ia berkata, “Tangkap mereka. Kita akan menunjukkan kepada kedua laki-laki itu, apa yang akan kita lakukan terhadap perempuan-perempuan mereka.”

Perintah itu memang tidak perlu diulangi. Anak-anak muda itu benar-benar merasa terhina oleh perlakuan Glagah Putih terhadap kawannya yang bertubuh raksasa itu. Karena itu, beberapa orang anak muda segera berloncatan maju menghadapi Glagah Putih.

Seorang di antara anak-anak muda itu telah memungut oncor yang terlempar, namun yang masih tetap menyala. Ia berniat mempergunakan oncor itu sebagai senjata. Karena itu, demikian anak muda bertubuh raksasa itu memerintahkan kawan-kawannya untuk menyerang, anak muda yang membawa oncor telah menjulurkan apinya ke arah tubuh Glagah Putih.

Tetapi ia terkejut sekali ketika tanpa diketahui apa yang telah terjadi, oncor itu telah berpindah di tangan Glagah Putih.

Bahkan Glagah Putih-lah yang kemudian menjulurkan oncor itu ke arah beberapa orang anak muda yang siap menyerangnya.

Tetapi tidak semua anak muda itu menyerang Glagah Putih. Dua orang di antaranya berusaha untuk menangkap Ki Jayaraga yang berdiri saja mematung.

Ketika keduanya mendekati Ki Jayaraga, maka Ki Jayaraga pun berkata, “Anak-anak muda. Bukankah aku tidak melibatkan diri sama sekali? Kenapa kalian juga akan menyerang aku?”

“Aku ingin menangkapmu kakek tua. Kemudian mengikatmu, agar kau sempat menyaksikan apa yang akan terjadi kemudian.”

Ki Jayaraga tidak menjawab. Namun demikian kedua anak muda itu mendekat dan berusaha menangkapnya, maka keduanya telah terlempar dan terbanting jatuh.

Karena keduanya sama sekali tidak menduga bahwa hal itu akan terjadi, maka keduanya telah berteriak karena terkejut dan kesakitan.

Tetapi dengan cepat keduanya pun bangkit berdiri, meskipun punggung mereka masih terasa nyeri.

Dalam pada itu, Glagah Putih masih berkelahi melawan beberapa orang anak muda yang kemudian mengepungnya. Tetapi tidak seorangpun yang segera berani mendekatinya, karena Glagah Putih memegang oncor yang masih menyala.

Tetapi karena itu, maka beberapa orang anak muda justru mempunyai perhitungan lain. Termasuk anak muda yang bertubuh raksasa itu. Anak muda yang bertubuh raksasa itu justru tidak lagi berusaha untuk menyerang Glagah Putih bersama beberapa orang kawannya. Selain tulang-tulangnya dan bahkan bibirnya dan dahinya masih terasa sakit, maka iapurr memperhitungkan, jika ia menguasai kedua orang perempuan itu, maka mereka akan dengan mudah dapat menghentikan perlawanan kedua orang laki-laki yang menyertai kedua orang perempuan itu, dan yang mengaku keluarganya.

Kanthi yang ketakutan menjadi semakin ketakutan. Namun Rara Wulan itu pun berkata, “Kanthi, jangan berpegangan aku. Minggirlah, biar aku mencegah mereka menyentuhmu.”

Kanthi sudah mengetahui bahwa Rara Wulan memiliki kemampuan untuk berkelahi. Tetapi saat itu lawannya tidak hanya seorang.

“Minggirlah Kanthi. Jangan berpegangan lagi. Tenanglah,“ berkata Rara Wulan.

Tetapi Kanthi tidak segera melepaskannya. Karena itu, Rara Wulan itu berkata lagi, “Jika kau tidak melepaskan aku, maka aku tidak akan sempat melawan mereka.”

Meskipun dengan ketakutan, akhirnya Kanthi melepaskan Rara Wulan.

Tiga orang anak muda telah mendekatinya, termasuk anak muda yang bertubuh raksasa itu. Namun ketiganya terkejut ketika Rara Wulan menyingsingkan kain panjangnya.

Ketika ketiganya sedang termangu-mangu, maka Rara Wulanpun telah bersiap untuk melawan mereka.

Tetapi seorang di antara anak-anak muda itu justru bertanya, “He, apa yang sedang kau lakukan?”

“Nah, sekarang apa yang kau maui?” bertanya Rara Wulan.

Ketika anak muda itu menjadi terheran-heran. Mereka tidak terbiasa melihat pakaian yang dikenakan di bawah kain panjang Rara Wulan. Sementara itu Rara Wulan berkata, “Ayo, apa yang kalian inginkan dari aku?”

Laki-laki yang bertubuh raksasa itu-lah yang kemudian menjawab, “Aku inginkan kau. Menyerahlah.”

Rara Wulan telah bersiap sepenuhnya ketika anak muda yang bertubuh raksasa itu mendekatinya.

“Anak muda yang mengaku kakakmu itu akan mati. Orang tua itu pun akan mati pula. Tetapi jika kalian berdua menuruti keinginan kami, maka keduanya akan selamat.”

Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi yang terdengar adalah anak muda yang bertubuh raksasa itu berteriak kesakitan, “Iblis betina. Kau akan menyesal dengan tingkah lakumu.”

Rara Wulan tidak menjawab. Dipandanginya anak muda yang mengusap bibirnya. Bibirnya yang pecah itu masih terasa pedih. Namun ternyata Rara Wulan tetap menamparnya sekali lagi, sehingga darah yang mulai berhenti mengalir itu telah mengembun lagi.

Kepada kedua kawannya, maka anak muda yang bertubuh raksasa itu memberi isyarat untuk menangkap Rara Wulan. Karena itu, bertiga mereka maju bersama-sama.

Tetapi Rara Wulan tidak membiarkan dirinya ditangkap. Dengan cepat iapun meloncat menyerang. Mula-mula kakinya menyambar seorang anak muda yang kekurus-kurusan, yang menjulurkan tangannya untuk menangkap Rara Wulan. Demikian kaki itu menyambar dada, maka anak muda itu pun telah terlempar dan jatuh terlentang. Demikian ia berusaha untuk bangkit, maka kawannya yang seorang lagi telah mengaduh kesakitan. Tangan Rara Wulan melayang menampar keningnya, sehingga matanya menjadi berkunang-kunang. Sebelum ia sempat berbuat sesuatu, maka tangan Rara Wulan yang lain telah menghantam lambungnya.

Sementara itu, anak muda yang bertubuh raksasa itu-lah yang kemudian menyerangnya. Ia tidak lagi menahan dirinya. Kakinya terjulur ke arah perut Rara Wulan.

Tetapi Rara Wulan cukup tangkas. Ditebaskannya kaki lawannya ke samping. Demikian anak muda bertubuh raksasa itu terputar oleh kakinya sendiri yang terdorong menyamping, maka Rara Wulan pun melenting dengan satu putaran. Kakinya melayang mendatar menghantam dadanya.

Anak muda yang bertubuh raksasa itu berusaha untuk mempertahankan keseimbangannya agar ia tidak jatuh terlentang.

Sementara itu, sebelas orang anak muda itu pun telah bergerak seluruhnya. Yang terjatuh telah berusaha bangkit. Yang kesakitan berusaha menyembunyikan perasaan sakitnya.

“Kepung mereka!“ teriak anak muda yang bertubuh raksasa, yang agaknya mempunyai pengaruh terbesar di antara kawan-kawannya.

Sebelas anak muda itu pun segera membuat lingkaran untuk mengepung mereka. Beberapa orang terpaksa berdiri di atas tanggul di seberang parit di pinggir jalan itu.

Anak muda yang bertubuh raksasa itu pun kemudian menggeram, “Kami akan bersungguh-sungguh. Tidak seorangpun dari kalian yang akan dapat lolos. Kami akan memperlakukan kalian lebih buruk dari yang kami inginkan semula. Tetapi itu adalah akibat dari kesombongan kalian sendiri.“

Glagah Putih masih berdiri membawa oncor di tangannya. Rara Wulan bersiap di sisi yang lain, membelakangi Kanthi yang gemetar. Sedangkan Ki Jayaraga termangu-mangu memandangi anak-anak muda yang sedang marah itu.

Ketika anak-anak itu mulai bergeser mendekat sehingga kepungan mereka menjadi menyempit, Ki Jayaraga masih sempat berkata, “Anak-Anak Muda. Sebaiknya kalian berpikir sekali lagi sebelum mengambil langkah berikutnya. Bertanyalah kepada diri kalian sendiri, apakah sebenarnya yang sedang kalian lakukan ini? Apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai tatanan hidup di padukuhan kalian? Atau hal ini kalian lakukan tanpa menghiraukan paugeran yang berlaku? Atau dengan tindakan seperti ini kalian merasa menjadi laki-laki jantan yang berani menentang nilai-nilai yang berlaku di dalam pergaulan sesama?”

Pertanyaan itu memang sempat singgah di benak anak-anak muda itu. Ada di antara mereka yang memang bertanya kepada diri sendiri, apakah sebenarnya yang sedang mereka lakukan itu. Bahkan jika mendapat kesempatan, mereka masing-masing akan dapat menilai, apakah yang mereka lakukan itu baik atau buruk.

Tetapi dalam kelompok yang terhitung besar itu, mereka seakan-akan telah kehilangan pribadi mereka masing-masing. Mereka dikendalikan oleh sikap kebersamaan yang gelap.

Yang kemudian menjawab adalah anak muda yang bertubuh raksasa, “Aku tidak peduli apakah yang kau katakan. Aku juga tidak peduli anggapan orang lain. Tetapi kami tidak mau dihinakan dengan cara apapun juga.”

“Apakah kami telah menghinakan kalian?” bertanya Ki Jayaraga, “Bukankah kami tidak berbuat apa-apa?”

“Iblis tua,” geram anak muda bertubuh raksasa itu, “kalian telah menghina kami karena kalian tidak mau tunduk kepada kami. Kalian berani menentang keinginan kami. Selanjutnya kalian telah mencoba untuk melawan kami dengan kekerasan.”

“Tetapi apakah jawab kalian? Siapakah yang memaksa kami untuk berbuat demikian?” bertanya Ki Jayaraga.

“Aku tidak peduli. Tetapi kalian harus mendapat hukuman yang paling berat yang pernah kami berikan kepada orang-orang yang bersalah terhadap kami.”

“Apakah kalian berhak memberikan hukuman?” bertanya Glagah Putih.

“Kenapa tidak? Jika kami kuasa melakukannya, maka adalah hak kami untuk melakukannya,” jawab anak muda yang bertubuh raksasa itu.

“Itukah landasan jalan pikiranmu? Siapa yang kuat, ia dapat memperlakukan apa saja terhadap yang lemah?” bertanya Glagah Putih pula.

“Ya,” jawab anak muda itu.

“Bagus,” desis Glagah Putih, “aku akan melakukan menurut jalan pikiranmu.”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya anak muda bertubuh raksasa itu.

“Menghukum kalian, karena di antara kelompokku dan kelompokmu, kelompokku-lah yang terkuat,” jawab Glagah Putih.

Wajah anak muda itu menjadi merah. Karena itu, maka iapun segera meneriakkan perintah, “Tangkap semuanya! Aku tidak berkeberatan kalian terpaksa membuat mereka tidak berdaya sama sekali. Bukankah kita berhak menghukum mereka?”

Sebelas orang itu bergerak bersama-sama. Namun demikian mereka melangkah, maka mereka terkejut. Glagah Putih justru telah memadamkan oncor itu dengan menyurukkannya ke tanah.

Malam pun menjadi gelap. Sesaat mereka tidak melihat sesuatu. Kanthi menjerit. Namun Rara Wulan segera mendekapnya sambil berdesis, “Aku di sini. Tidak apa-apa.”

Dalam waktu yang singkat, Glagah Putih, Ki Jayaraga dan kemudian Rara Wulan segera dapat menyesuaikan diri. Penglihatan mereka yang terlatih tidak banyak mengalami kesulitan meskipun malam menjadi gelap.

Kepada Kanthi, Rara Wulan berkata, “Kau berdiri saja di situ Kanthi. Jangan bergeser kemana-mana. Kami bertiga melindungimu.”

“Jangan takut. Mereka tidak berbahaya bagi kita,” Glagah Putih juga berdesis.

Kanthi mengangguk. Tetapi tubuhnya masih gemetar.

Sejenak kemudian, maka Glagah Putih mulai berloncatan. Demikian pula Rara Wulan, dan bahkan juga Ki Jayaraga.

Perkelahian pun segera terjadi. Anak-anak muda itu berkelahi sambil berteriak-teriak. Tetapi gelap malam memang terasa mengganggu bagi mereka, karena ketajaman penglihatan mereka tidak dapat menyamai ketajaman penglihatan Glagah Putih, Rara Wulan dan apalagi Ki Jayaraga.

Tetapi perkelahian itu tidak berlangsung terlalu lama. Setiap kali terdengar seorang berteriak kesakitan. Kemudian yang lain memekik tinggi. Tetapi kemudian mengumpat-umpat kasar.

Ternyata keributan itu telah didengar oleh orang-orang padukuhan itu. Orang yang mendengar teriakan-teriakan dan pekik tinggi mula-mula berusaha untuk tidak menghiraukan. Mungkin anak-anak muda yang sering berkumpul di sudut padukuhan itu sedang bergurau. Tetapi kemudian karena teriakan-teriakan itu semakin keras, mereka mengira bahwa anak-anak itu telah mencegat orang dan memperlakukannya tidak sewajarnya, sebagaimana sering mereka lakukan tanpa dapat dihalangi.

Namun kemudian orang itu tidak tahan lagi. Ia bangkit, dan dengan hati-hati pergi keluar meskipun istrinya melarangnya.

“Kau tidak akan dapat menghalangi kemauan anak-anak itu,“ berkata istrinya.

Tetapi laki-laki itu tetap saja keluar sambil berkata, “Aku akan mengajak beberapa orang untuk melihat apa yang terjadi.”

Sebenarnyalah bahwa beberapa orang yang tidak dapat menahan hati telah pergi ke sudut desa. Peristiwa yang sering terjadi di padukuhan mereka telah membuat nama padukuhan mereka semakin lama menjadi semakin buruk.

Dalam keadaan yang semakin memuncak, orang-orang tua mereka perlu untuk mencampuri persoalan anak-anak muda itu, karena mereka yakin bahwa yang sering mengganggu orang-orang lewat tidak setiap anak muda di padukuhan itu.

Dalam pada itu, beberapa orang dan bahkan juga beberapa orang anak muda telah bergerak ke sudut padukuhan. Dua orang di antara mereka telah memanggil Ki Bekel dan Ki Jagabaya. Mereka terpanggil untuk melindungi nama padukuhan mereka, setelah untuk waktu yang cukup lama dicaci orang.

Beberapa saat kemudian, orang-orang itu telah sampai ke sudut padukuhan. Mereka tertegun melihat apa yang terjadi. Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan berdiri tegak, sementara beberapa orang anak muda duduk di tanah di hadapan mereka sambil menunduk.

Melihat beberapa orang datang, maka Glagah Putih, Ki Jayaraga dan Rara Wulan telah bersiap pula. Sementara Kanthi telah berpegangan Rara Wulan lagi dengan eratnya.

Beberapa saat orang-orang yang datang itu berdiri termangu-mangu. Seorang yang tertua di antara mereka pun melangkah maju dengan ragu-ragu. Kemudian orang itu pun bertanya, “Apa yang telah terjadi di sini?”

Glagah Putih yang curiga bahwa orang-orang itu datang untuk membantu anak-anak muda yang telah mereka tundukkan itu menjawab, “Ki Sanak, bertanyalah kepada mereka. Aku harap mereka tidak berbohong.”

Orang tertua di antara mereka itu termangu-mangu. Namun kemudian orang-orang itu menyibak ketika Ki Bekel dan Ki Jagabaya datang.

“Ki Bekel,” desis seseorang.

Dari geremang orang-orang padukuhan itu, Glagah Putih mengetahui bahwa yang datang itu adalah Ki Bekel dan Ki Jagabaya.

Ketika Ki Bekel bertanya, maka Glagah Putih telah mengulangi jawabannya, ”Bertanyalah kepada mereka.”

Ki Bekel mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia memang bertanya, “Apa yang telah terjadi?”

Anak-anak muda itu tidak segera menjawab. Sehingga Ki Bekel telah mengulanginya lagi, “Apa yang telah terjadi, he?”

Anak-anak muda itu masih berdiam diri. Sehingga Ki Bekel mulai menjadi jengkel, “He, apa yang terjadi?”

Karena anak-anak muda itu masih berdiam diri sambil duduk menunduk, maka Ki Bekel telah melangkah mendekati anak muda yang bertubuh raksasa itu sambil berkata, “Nah, kau lagi. Apa yang terjadi?”

Ki Bekel telah mencengkam tengkuk orang itu dan mengguncangnya, “Apa yang terjadi? He, apakah kau mulai menjadi bisu?“

Anak muda yang bertubuh raksasa itu tidak dapat ingkar lagi. Meskipun demikian ia mencoba untuk mengurangi beban kesalahannya, “Ki Bekel. Kami hanya menanyakan keempat orang yang berjalan malam hari lewat padukuhan ini, dari mana dan ke mana. Tetapi terjadi salah paham.”

Ki Bekel tiba-tiba mengangkat wajah anak muda ini sambil bertanya, “Kau mabuk lagi?”

Anak itu tidak menjawab. Tetapi ketika Ki Bekel melepaskan tangannya dan mendorong dahi anak itu sehingga wajah anak itu menengadah, ia berkata, “Kau mabuk lagi. Dan kau tentu berbohong. Di antara keempat orang lewat itu terdapat dua orang perempuan. Nah, apa yang terjadi?”

Anak muda itu menunduk saja. Sehingga Ki Bekel pun kemudian menghadap ke arah Glagah Putih sambil bertanya, “Apa yang terjadi? Katakan, agar segera jelas bagiku.”

Sebelum Glagah Putih menjawab, Ki Jayaraga-lah yang mendahuluinya, karena ia masih saja cemas bahwa jawaban Glagah Putih tidak memuaskan Ki Bekel, sehingga akan benar-benar dapat terjadi salah paham.

“Ki Bekel,“ berkata Ki Jayaraga, “sebenarnyalah bahwa kami berempat akan pulang ke Tanah Perdikan Menoreh lewat jalan ini. Tetapi anak-anak muda itu mengganggu kami. Mereka agaknya sebagian sedang mabuk tuak. Mereka merendahkan martabat perempuan, bukan saja yang berjalan bersama kami. Karena itu, kami terpaksa membela diri dan memaksa mereka untuk menghentikan perlawanan mereka.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Berempat mereka telah mengalahkan sebelas orang anak muda yang termasuk disegani di padukuhan itu.

Tetapi karena Ki Jayaraga menyebut dirinya akan menempuh perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh, maka Ki Bekel itu pun bertanya, “Apakah Ki Sanak termasuk keluarga dari Tanah Perdikan Menoreh?”

“Ya Ki Bekel. Anak muda ini adalah Glagah Putih, saudara sepupu Agung Sedayu.”

“Saudara sepupu Ki Lurah Agung Sedayu?“ ulang Ki Bekel.

“Ki Bekel mengenal Agung Sedayu?” bertanya Ki Jayaraga.

Ki Bekel itu memandang Ki Jayaraga dengan bimbang. Namun kemudian iapun menjawab, “Secara pribadi aku memang belum mengenal, Ki Sanak. Tetapi aku tahu bahwa Ki Lurah Agung Sedayu, pemimpin prajurit dari Pasukan Khusus Mataram yang berada di Tanah Perdikan Menoreh, adalah seorang yang memiliki kelebihan dari orang lain.”

“Ya. Ia memang pemimpin prajurit dari Pasukan Khusus Mataram yang berada di Tanah Perdikan Menoreh,” jawab Ki Jayaraga.

“Jika demikian, kami harus mohon maaf jika terjadi salah paham di padukuhan ini,“ berkata Ki Bekel.

“Sama sekali bukan salah paham Ki Bekel,“ berkata Glagah Putih.

“Maksud Angger?” bertanya Ki Bekel.

“Kami memang tidak salah paham. Kami tahu pasti bahwa anak-anak muda ini ingin mengganggu kedua orang adik kami. Mereka minta kami meninggalkan adik perempuan kami di sini dan mengambil besok pagi. Jika kami tidak mau memenuhi perintahnya, mereka akan memperlakukan kami dengan cara yang sangat buruk. Ki Jayaraga diancam akan diikat untuk menyesali keberaniannya menentang perintah anak-anak muda ini. Nah, jika karena itu kami mempertahankan kehormatan dan harga diri kami, apakah itu salah paham?”

“O,“ wajah Ki Bekel menjadi merah. Tiba-tiba saja ia menarik rambut anak muda yang bertubuh raksasa itu sehingga wajahnya menengadah, “Katakan, apakah itu sekedar salah paham? He?”

Ketika Ki Bekel menghentakkan rambat anak muda itu, maka anak muda itu menyeringai kesakitan. Sementara Ki Jagabaya berdiri di sebelahnya sambil menggeram, ”Jawab. Apakah itu salah paham?”

“Tidak, Bukan salah paham,” jawab anak muda itu.

“Berapa kali aku memperingatkanmu, tetapi kau masih saja melakukannya. Setiap kali aku bertindak lebih keras, maka kau, kawan-kawanmu dan bahkan orang yang tidak tahu menahu selalu menyalahkan aku. Mereka selalu menganggap bahwa aku telah berbuat sewenang-wenang. Tetapi apa yang terjadi sekarang? Lihat, Angger sepupu Ki Lurah Agung Sedayu itu juga masih muda. Semuda kalian semuanya. Tetapi aku tidak yakin bahwa anak muda itu berbuat sebagaimana yang kau lakukan itu!” bentak Ki Jagabaya.

Anak muda yang bertubuh raksasa yang mulutnya berbau tuak itu masih harus menengadahkan wajahnya karena Ki Bekel belum melepaskan rambutnya. Sementara itu, beberapa orang anak muda padukuhan itu pun mengerumuni anak-anak muda yang masih duduk bersila di atas tanah atas perintah Glagah Putih itu.

Sementara itu Ki Jagabaya masih juga berkata lantang, “Lihat. Anak-anak muda yang berkerumun itu adalah kawan-kawanmu. Mereka juga sebaya dengan kalian. Tetapi mereka tidak berbuat sebagaimana kalian. Dengar baik-baik. Padukuhan ini pada hari-hari terakhir sudah dijauhi orang. Di padukuhan ini terkenal ada sekelompok anak-anak muda bengal yang sering bermabuk-mabukan dan mengganggu orang. Nah, malam ini kalian telah terbentur pada satu kenyataan lain dari yang pernah terjadi. Untung saja bahwa Angger sepupu Ki Lurah Agung Sedayu ini tidak meremukkan kalian semuanya.”

Tiba-tiba saja Glagah Putih menyahut, “Aku memang sudah berpikir untuk melakukannya Ki Bekel. Aku akan membuat mereka menjadi cacat agar mereka tidak lagi dapat mengganggu orang.”

Ki Jagabaya mengerutkan dahinya. Bagaimanapun juga ancaman itu membuatnya berdebar-debar. Tetapi Glagah Putih berkata selanjutnya, “Tetapi tidak kali ini. Jika sekali lagi aku melihat peristiwa seperti ini, maka aku tidak akan ragu-ragu lagi. Jika Ki Bekel dan Ki Jagabaya tidak bertindak lebih tegas terhadap mereka, biarlah kami yang melakukannya. Tetapi sudah tentu tidak semestinya kami berbuat demikian, karena kami justru orang dari luar kademangan ini.”

“Baik Ngger,“ sahut Ki Bekel, “kami akan berbuat lebih baik. Mereka harus menjadi jera.”

“Mabuk dan kejahatan jaraknya hanya sejengkal Ki Bekel,“ berkata Glagah Putih, “sementara anak-anak muda yang lain bekerja keras untuk menyiapkan setidak-tidaknya masa depannya sendiri, anak-anak muda ini hanya sekedar bermabuk-mabukan dan mengganggu orang lain. Kenapa hal seperti ini terjadi atas anak-anak muda padukuhan Cerma ini?”

“Kami akan mempelajarinya Ngger,” jawab Ki Bekel.

“Terserahlah kepada Ki Bekel. Tetapi kenakalan anak-anak muda harus mendapat perhatian terbesar di antara tugas-tugas Ki Bekel yang lain. Tingkah lakunya tidak hanya merusak citra anak-anak muda itu sendiri, sementara yang melakukan itu hanya beberapa orang saja. Tetapi apa yang akan terjadi di masa mendatang, jika angkatan yang akan mewarisi jaman itu seperti mereka?“

“Ya, ya Ngger. Kami mengerti,” jawab Ki Bekel.

Namun Ki Jayaraga pun kemudian berkata sareh, “Tetapi bagaimanapun juga mereka adalah anak-anak kita Ki Bekel. Kita tidak dapat mengibaskan tanggung jawab. Tetapi mereka tidak boleh menjadi anak yang manja, yang tidak mau tahu tatanan pergaulan dan tidak mau mempedulikan lingkungannya.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berdesis, “Alangkah sulitnya mencari keseimbangan. Tetapi itu harus dapat dipecahkan.”

Ki Jayaraga kemudian menjawab, “Beban itu tidak dapat kita singkirkan dari pundak kita. Bahkan kadang-kadang orang tua akan dapat menjadi keranjang sampah kegagalan anak-anak muda menatap masa depannya. Seakan-akan kegagalan itu sepenuhnya disebabkan oleh kesalahan orang tua. Tetapi memang terjadi bahwa sepasang orang tua tidak sempat memikirkan anak-anaknya karena berbagai macam sebab. Tetapi kegagalan itu dapat juga terjadi karena kesalahan anak-anak muda itu sendiri. Di rumah ia seorang anak muda bersikap baik. Tetapi ketika ia berada di sudut padukuhan berkumpul bersama-sama kawan-kawannya, maka kepribadiannya akan larut, tenggelam dalam sikap kepribadian bersama. Nah, jika yang terjadi seperti ini, maka kita semuanya hanya dapat menyesalinya.”

Ki Bekel dan Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Ki Bekel bertanya, “Kami, orang-orang tua di padukuhan ini, akan memikirkannya dengan sungguh-sungguh Ki Sanak.”

“Bukan hanya orang-orang tua. Ajak anak-anak muda berbicara. Anak-anak muda yang berjalan di sepanjang jalan yang lurus, namun juga anak-anak muda yang sering melakukan perbuatan seperti ini. Perbincangan di antara kedua sisi sifat anak muda itu mudah-mudahan akan berarti, di bawah pengawasan orang-orang tua.”

“Baik, baik Ki Sanak,” jawab Ki Bekel, “kami akan berusaha. Sementara jika kami perlukan, kami akan dapat berhubungan dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih banyak dari kami. Baik dari Kademangan Kleringan maupun dari Tanah Perdikan Menoreh. Karena kami tahu, bahwa di Tanah Perdikan Menoreh terdapat orang-orang yang bukan saja berilmu tinggi, tetapi juga yang berwawasan luas dan berpengetahuan dalam.“

“Ki Gede tentu akan dengan senang hati menerimanya,” jawab Ki Jayaraga.

Demikianlah, sejenak kemudian Ki Jayaraga pun telah minta diri. Demikian pula Glagah Putih dan Rara Wulan, yang sudah membenahi pakaiannya. Sementara Kanthi masih saja gemetar dan berdebar-debar.

Beberapa saat kemudian, maka keempat orang itu telah meneruskan perjalanan. Dalam pembicaraan mereka sepanjang jalan, Rara Wulan dan Glagah Putih masih saja dibayangi oleh kemarahan mereka atas sikap anak-anak muda itu. Namun Ki Jayaraga-lah yang kemudian berkata, “Banyak sebab kenapa mereka menjadi anak muda yang cacat. Bukan cacat tubuhnya, tetapi cacat jiwanya. Namun bukan berarti bahwa mereka tidak berguna sama sekali. Sifat dan watak mereka dapat berkembang, dan banyak di antara mereka yang menyadari kesalahan mereka di masa muda sehingga kemudian menjadi orang yang berarti bagi lingkungannya. Setidak-tidaknya bagi dirinya sendiri.”

Glagah Putih mengerutkan dahinya. Tetapi ia mencoba untuk mengerti jalan pikiran Ki Jayaraga itu.

Seterusnya mereka lebih banyak berdiam diri. Mereka harus memperhatikan jalan yang akan mereka injak. Lebih-lebih mereka berjalan di lereng pegunungan. Mereka memanjat naik sampai ke punggung, kemudian turun kembali di seberang.

Kanthi memang mengalami kesulitan di perjalanan. Tetapi ia sama sekali tidak mengeluh. Ia sendiri-lah yang memutuskan untuk pergi mengikuti Rara Wulan. karena itu ia tidak dapat menyalahkan orang lain.

Rara Wulan yang membimbing Kanthi cukup mengerti keadaannya. Dengan sabar ia berusaha menunjukkan bidang yang paling baik untuk meletakkan kakinya. Jika Kanthi nampak letih, maka Rara Wulan pun mengajaknya beristirahat. Sementara Ki Jayaraga dan Glagah Putih harus dengan sabar menunggunya.

Sementara itu di Tanah Perdikan Menoreh, Sekar Mirah menjadi gelisah. Ketika senja turun, Sekar Mirah sudah beberapa kali berbicara dengan Agung Sedayu. Mereka memperhitungkan bahwa sebelum senja, Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Rara Wulan tentu sudah kembali.

“Apakah kita akan menyusulnya?” bertanya Agung Sedayu.

“Apakah mungkin mereka akan bermalam?” Sekar Mirah justru bertanya.

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Sementara itu Sekar Mirah berkata pula, “Seharusnya mereka tidak bermalam. Untunglah bahwa mereka pergi bersama Ki Jayaraga.”

“Ya. Sebaiknya mereka memang tidak bermalam. Entahlan, mungkin ada suatu yang memaksa mereka bermalam. Jika tidak demikian, maka Ki Jayaraga tentu tidak akan sependapat,“ berkata Agung Sedayu.

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Tetapi di wajahnya nampak membayang kegelisahan.

“Kita tunggu sampai esok pagi. Jika sampai esok pagi mereka tidak pulang, maka kita akan pergi ke Kleringan,” berkata Sekar Mirah.

“Baiklah,” jawab Agung Sedayu, “besok pagi-pagi aku akan pergi ke barak sebentar. Aku akan segera kembali. Dan jika mereka belum pulang, maka kita akan pergi. Sebaiknya kita pergi berkuda saja.”

“Tetapi bukankah Kakang tidak terlalu lama berada di barak?” bertanya Sekar Mirah.

“Tidak. Aku hanya akan memberikan beberapa pesan saja. Aku akan segera kembali,” jawab Agung Sedayu.

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Namun ia masih saja merasa gelisah.

Karena itu, malam itu Sekar Mirah tidak segera dapat tidur. Setiap kali ia masih saja berbicara tentang Rara Wulan yang belum pulang.

“Ki Jayaraga ada di antara mereka,“ berkata Agung Sedayu, “kita dapat mempercayainya. Bukan saja karena kemampuannya yang sangat tinggi, tetapi penalarannya kebanyakan sejalan dengan penalaran kita.”

Sekar Mirah memang selalu mengangguk. Ia dapat mengerti. Tetapi perasaannya-lah yang agak sulit dikendalikan oleh penalarannya, meskipun ia berusaha.

Namun ketika malam menjadi larut, Sekar Mirah akhirnya tertidur juga.

Yang ikut memikirkan kepergian Rara Wulan, Glagah Putih dan Ki Jayaraga adalah Wacana. Yang dipikirkan justru keadaan Kanthi. Jika Rara Wulan tidak segera kembali, apakah telah terjadi sesuatu di Kademangan Kleringan?

“Apakah sesuatu terjadi lagi atas Kanthi ?“ pertanyaan itu selalu mengganggu Wacana. Ia tidak mencemaskan Ki Jayaraga, Glagah Putih dan Rara Wulan, karena mereka berilmu tinggi. Tetapi justru keadaan Kanthi-lah yang dipikirkannya. Meskipun Wacana sama sekali belum mengenal Kanthi, bahkan melihat pun belum pernah, namun Wacana itu selalu membayangkan. Seorang gadis cantik yang menderita dan hampir kehilangan masa depannya.

Kadang-kadang Wacana sempat membandingkan dengan dirinya sendiri. Wacana pernah merasakan betapa dahsyatnya goncangan perasaan yang hampir saja membuatnya gila. Wacana dapat mengerti bahwa dalam keadaan seperti itu, seseorang akan dapat terjerumus ke dalam satu keadaan di luar kendali nalar budinya.

Ketika fajar membayang di langit, maka Agung Sedayu sudah sibuk mengisi jambangan di pakiwan. Karena Glagah Putih tidak ada di rumah, maka Agung Sedayu-lah yang harus melakukannya. Sementara itu Wacana menyapu halaman depan dan samping. Adapun halaman dan kebun belakang, anak yang tinggal dirumah itu-lah yang membersihkannya. Sedangkan di dapur Sekar Mirahpun sibuk sendiri pula.

Demikian matahari terbit, maka Agung Sedayu-pun telah minum minuman hangat dan makan pagi. Baru sejenak kemudian iapun telah berangkat ke barak Pasukan Khusus.

Sementara itu Sekar Mirah benar-benar menjadi gelisah. Karena itu ketika Agung Sedayu berangkat, sekali lagi ia bertanya, “Bukankah Kakang tidak terlalu lama?”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Kau telah dijangkiti penyakit Rara Wulan.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata, “Aku memang gelisah Kakang.”

“Baiklah. Aku tentu akan cepat kembali. Kita akan menyusul Rara Wulan ke Kademangan Kleringan.”

Demikianlah, sejenak kemudian Agung Sedayu pun telah melarikan kudanya menuju ke barak. Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu sendiri juga menjadi gelisah, karena Rara Wulan masih belum kembali.

Sepeninggal Agung Sedayu, Wacana telah menyusul Sekar Mirah yang sedang sibuk di dapur.

“Kenapa Rara Wulan bermalam?” bertanya Wacana.

“Entahlah. Aku juga gelisah memikirkannya,” jawab Sekar Mirah.

“Tetapi bukankah tidak terjadi sesuatu dengan mereka? Juga dengan Kanthi?” bertanya Wacana yang nampak menjadi sangat cemas pula.

“Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu,“ sahut Sekar Mirah.

Namun Wacana masih saja gelisah. Dari dapur, Wacana itu telah duduk di serambi gandok. Dipandanginya regol halaman seakan tanpa berkedip.

Tetapi akhirnya Wacana menjadi letih. Karena itu, ia justru pergi ke kebun belakang untuk mengisi waktunya dengan melakukan salah satu kesenangannya. Wacana telah mencoba mencangkok beberapa jenis tanaman buah-buahan. Beberapa batang telah berhasil, dan dicobanya ditanam di kebun belakang rumah Agung Sedayu yang cukup longgar.

Dengan teliti Wacana memelihara bibit-bibit hasil cangkokannya yang sudah ditanam. Disiraminya, disiangi, dan setiap kali didangirnya dan diberinya pupuk kandang.

Dalam pada itu, Sekar Mirah yang sedang ada di dapur terkejut ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Suara seorang perempuan. Dan Sekar Mirah dengan cepat mengenal. Suara itu adalah suara Rara Wulan.

Karena itu, maka Sekar Mirah pun segera berlari ke longkangan dan langsung masuk ke rumah bagian belakang. Di pintu ia justru hampir saja bertabrakan dengan Rara Wulan.

Sekar Mirah yang gelisah semalam-malaman itu memeluk Rara Wulan sambil bertanya, “Bukankah kau tidak apa-apa?”

“Tidak Mbokayu. Aku tidak apa-apa.”

“Dimana Glagah Putih dan Ki Jayaraga?” bertanya Sekar Mirah setelah melepaskan Rara Wulan.

“Mereka ada di pendapa, Mbokayu. Kita mempunyai seorang tamu.”

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Dengan kerut di kening Sekar Mirah bertanya, “Siapakah tamu kita?”

“Marilah.“ Rara Wulan menarik tangan Sekar Mirah ke pendapa sambil berkata, “Mbokayu sudah mengenalnya.”

Sekar Mirah tidak menolak, lapun kemudian pergi ke pendapa.

Demikian mereka keluar dari pintu pringgitan, maka Sekar Mirah pun terkejut. Ia melihat Kanthi yang nampak sangat letih, duduk di pendapa bersama Ki Jayaraga.

“Kanthi,” desis Sekar Mirah.

Kanthi yang menunduk itu pun terkejut. Demikian ia mengangkat wajahnya, maka yang dilihatnya adalah Sekar Mirah dan Rara Wulan berdiri di depan pintu pringgitan.

Kanthi itu pun cepat bangkit, dan dengan sisa tenaganya yang letih berlari ke arah Sekar Mirah. Namun iapun kemudian segera berjongkok di hadapan Sekar Mirah sambil memegang kakinya, “Ampun. Aku memberanikan diri untuk mohon perlindungan di sini.”

Sekar Mirah menjadi berdebar-debar. Diangkatnya Kanthi untuk berdiri sambil berkata lembut, “Bangkitlah.”

Kanthi pun bangkit berdiri. Tetapi ia mulai menangis.

“Jangan menangis Kanthi. Kau berada di rumah kami sekarang. Tidak ada lagi yang perlu dicemaskan.”

Kanthi tidak menjawab. Tetapi justru karena ia menahan tangisnya, maka iapun menjadi terisak.

Sekar Mirah membimbingnya dan membawanya duduk kembali bersama Ki Jayaraga.

“Dimana Glagah Putih?” bertanya Sekar Mirah.

“Tadi ia di sini,” jawab Rara Wulan.

Namun Ki Jayaraga menyahut, “Glagah Putih pergi ke belakang.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya kepada Rara Wulan, “Apa yang telah terjadi?”

Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Sementara Kanthi menundukkan kepalanya sambil mengusap air matanya.

“Angger Kanthi ingin mendapatkan suasana baru. Karena itu, ia ingin untuk sementara tinggal bersama Rara Wulan,” jawab Ki Jayaraga.

“O,” Sekar Mirah mengangguk-angguk. Sambil mengusap rambut Kanthi yang kusut ia berkata, “Tentu kami tidak berkeberatan. Tinggallah di sini untuk sementara.”

“Terima kasih,“ desis Kanthi, “bahwa masih ada tempat bagiku. Semula aku mengira bahwa dunia ini sudah tidak dapat menerima aku sama sekali.”

“Tentu tidak, Kanthi. Masih banyak tempat bagimu. Baiklah. Kau dapat menenangkan hatimu di sini. Kau memang memerlukan satu suasana yang baru,“ berkata Sekar Mirah.

Kanthi tidak menjawab. Tetapi isaknya justru terdengar semakin keras.

Rara Wulan yang kemudian duduk di belakangnya, memegang kedua pundaknya sambil berkata, “Sudahlah. Jangan menangis. Bukankah kau perlu beristirahat? Semalaman kau berjalan. Satu hal yang belum pernah kau lakukan sebelumnya.”

Kanthi mengangguk-angguk.

“Baiklah. Duduklah sebentar. Aku baru meletakkan periuk di atas perapian untuk menanak nasi.”

“Sudahlah. Biar Mbokayu duduk di sini. Aku akan ke dapur,” berkata Rara Wulan.

Tetapi sambil tersenyum Sekar Mirah berkata, “Duduklah. Temani Kanthi di sini. Kau tentu juga letih. Nanti, aku ingin kalian berdua bercerita tentang perjalanan kalian.”

Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam, sementara Sekar Mirah bangkit berdiri. Tetapi Ki Jayaraga pun bangkit pula sambil berkata, ”Aku akan ke pakiwan dahulu.”

Demikianlah, maka yang kemudian duduk di pendapa tinggal Rara Wulan menemani Kanthi. Sementara Sekar Mirah pergi ke dapur. Dijerangnya air untuk membuat minuman. Sementara Glagah Putih ternyata sudah berada di dapur.

“He, kau sudah ada di sini?” bertanya Sekar Mirah.

“Aku haus sekali Mbokayu,” jawab Glagah Putih.

“Tamu kita tentu juga haus,” desis Sekar Mirah.

“Ya. Tetapi aku cukup minum air dari kendi itu,“ jawab Glagah Putih.

Sekar Mirah tertawa. Bahkan ia bertanya, “Apakah kita juga akan menyuguhi tamu kita itu dengan air kendi?”

Glagah Putih tersenyum pula. Tetapi iapun kemudian duduk di sisi Sekar Mirah yang menyalakan api di perapian yang satu lagi untuk menjerang air, di sebelah perapian yang dipergunakannya untuk menanak nasi.

“Mbokayu,” desis Glagah Putih, “apakah Kakang Agung Sedayu menunggu kedatangan kami?”

“Seisi rumah ini menjadi gelisah. Kakangmu Agung Sedayu, aku, dan bahkan juga Wacana,” jawab Sekar Mirah.

“Dimana Wacana sekarang?”

“Ia berada di kebun sekarang,” jawab Sekar Mirah.

“Sesuatu telah terjadi di Kleringan,” desis Glagah Putih, yang kemudian dengan singkat menceritakan apa yang telah terjadi atas Kanthi, yang kemudian berniat untuk ikut bersama Rara Wulan yang dianggapnya akan dapat melindunginya.

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berdesis, “Jadi Kanthi itu sudah berniat untuk membunuh diri?”

 

(bersambung)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: