Category Archives: Buku 001 – 010

Buku 001 (Seri I Jilid 1)

Sekali-sekali terdengar petir bersambung di udara. Setiap kali suaranya menggelegar memenuhi lereng Gunung Merapi. Hujan diluar seakan-akan tercurah dari langit. Agung Sedayu masih duduk menggigil diatas amben bambu. Wajahnya menjadi kian pucat. Udara sangat dingin dan suasana sangat mencemaskan. “Aku akan berangkat” tiba-tiba terdengar suara kakaknya, Untara dengan nada rendah. Agung Sedayu mengangkat wajahnya yang pucat. …

Baca lebih lanjut

Buku 002 (Seri I Jilid 2)

Tetapi Agung Sedayu tetap membisu. Dan Demang itupun kemudian tidak berkata-kata lagi, setelah mereka naik ke pendapa. Demikian mereka naik ke pendapa, dada Agung Sedayupun berdesir tajam. Dilihatnya di pendapa itu, terbaring beberapa orang laki-laki yang sedang nyenyak tidur. Di bawah cahaya lampu minyak, tampaklah wajah-wajah mereka yang keras tajam. Sedang beberapa orang di antaranya tumbuh janggut, …

Baca lebih lanjut

Buku 003 (Seri I Jilid 3)

“Nah, katakan, siapa engkau?” ulang Widura. Orang itu seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan kemudian ia bertanya kepada Agung Sedayu, “Sedayu, apakah yang sedang engkau kerjakan? Apakah kau sedang melatih orang ini?” Dada Widura berdesir mendengar pertanyaan itu. Ternyata orang itu telah mengenal Agung Sedayu. Namun karena itu, segera Widura pun mengenalnya, orang itulah agaknya yang menamakan …

Baca lebih lanjut

Buku 004 (Seri I Jilid 4)

Apalagi apabila mereka berhadapan. Namun agaknya Widura sama sekali tidak bersikap demikian. Karena itu, maka sekali lagi Ki Tambak Wedi itu berkata, “Widura, orang-orang seperti kau ini benar-benar merupakan mutiara-mutiara yang tersimpan dalam perbendaharaan keprajuritan Pajang. Aku ingin agar mutiara-mutiara demikian itu tidak akan hilang tertimbun oleh lumpur. Karena itu Widura, aku minta kau membantu Sidanti …

Baca lebih lanjut

Buku 005 (Seri I Jilid 5)

Kembali terdengar tepuk tangan yang gemuruh. Orang-orang yang berdiri berkeliling itu tak akan mau dikecewakan. Mereka benar-benar ingin menyaksikan pertandingan yang pasti akan menyenangkan sekali. Orang-orang itupun kemudian diam kembali ketika Widura berkata pula, “Nah, aku sangka Sidanti ingin mengulangi permainan panah seperti yang telah dilakukannya, bersama-sama Agung Sedayu.” “Ya Kakang” sahut Sidanti. Kini Widura …

Baca lebih lanjut