Category Archives: Buku 011 – 020

Buku 011 (Seri I Jilid 11)

Tenaga Agung Sedayu, Swandaru, Hudaya, Sonya dan Patra Cilik yang terlepas dari ikatan kelompok itu benar-benar menguntungkan. Dengan lincahnya mereka segera menempatkan diri mereka masing-masing. Meskipun kelompok yang diperintahkannya belum dapat segera mengikutinya, namun mereka telah mulai dengan tekanan mereka pada sisi induk pasukan. Karena pasukan Jipang bergerak maju, maka terbukalah sisi dari induk pasukan …

Baca lebih lanjut

Buku 012 (Seri I Jilid 12)

Betapapun kebimbangan bergelora di dalam batinnya, namun akhirnya Sumangkar itu tidak juga dapat membiarkan kekalahan demi kekalahan melanda pasukan murid kakak seperguruannya. Karena itu berkali-kali terdengar ia berdesah, kemudian menggeram. Wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Dan orang tua itu menjadi semakin kuat menggenggam senjatanya. Ketika ia mendengar orang-orang Pajang bersorak, seakan-akan dirinyalah yang disorakinya. Seorang …

Baca lebih lanjut

Buku 013 (Seri I Jilid 13)

Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa lemah. Suara itu melontar dari balik sebatang pohon yang besar. Hampir bersamaan muncullah sebuah bayangan hitam, berjalan beberapa langkah mendekati mereka. “Hem, kalian telah terbenam dalam kepentingan kalian masing-masing sehingga kalian tidak sempat memperhatikan saat-saat yang paling berbahaya dalam hidup seseorang.” Agung Sedayu tersentak. Tiba-tiba dari mulutnya terdengar ia …

Baca lebih lanjut

Buku 014 (Seri I Jilid 14)

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar pertanyaan itu. Baru kini disadari bahwa ia telah melanggar perintah kakaknya. Tetapi menurut pendapatnya, pertanggungan jawab atas peristiwa itu ada pada gurunya. Karena itu maka jawabnya, “Aku telah mencoba melakukan perintah itu Kakang. Tetapi guruku, Kiai Gringsing menyuruh aku kembali membawa orang ini. Kiai Gringsing sendirilah yang akan mengambil alih tugas …

Baca lebih lanjut

Buku 015 (Seri I Jilid 15)

Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka berdua telah terlibat dalam sebuah pekelahian yang semakin sengit. Pedang Sidanti berputar dengan cepatnya sedang senjata khususnya di tangan kiri dipergunakannya sebagai perisai, namun kadang-kadang senjata itulah yang mematuk dengan sangat berbahaya. Sebuah sentuhan dan goresan pada kulit lawan, maka akibatnya akan dapat berarti maut. Tetapi lawan Sidanti itu dapat mempergunakan senjatanya …

Baca lebih lanjut