Category Archives: Buku 021 – 030

Buku 021 (Seri I Jilid 21)

Sekali lagi Sidanti tersenyum. Betapapun dadanya bergolak karena lepasnya Agung Sedayu, namun terhadap anak muda Jati Anom ini ia ingin bersikap baik, sebagai permulaan dari hubungannya dengan anak-anak muda di kademangan ini. “Ia menjadi ketakutan, Paman. Mungkin aku dapat menolongnya.” “Apakah pedulimu atas pengecut itu?” Sidanti mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Hubungan yang baik antara kita …

Baca lebih lanjut

Buku 022 (Seri I Jilid 22)

“Aku tidak pernah mempunyai keberanian yang cukup untuk menegurnya, meskipun aku sering berpapasan dengan gadis itu.” Wuranta tertawa, ditatapnya wajah Alap-Alap yang keras dan bermata seperti mata burung alap-alap itu. Katanya, “Tuan adalah seorang anak muda yang perkasa. Semuda umur Tuan, Tuan telah memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda sebaya Tuan, bahkan yang lebih tua …

Baca lebih lanjut

Buku 023 (Seri I Jilid 23)

Maka katanya kemudian, “Alap-Alap Jalatunda, aku tidak dapat mengerti maksud kata-katamu. Bukankah dengan demikian persoalan kita akan menjadi berkepanjangan? Kau harus berbuat sesuatu supaya kita untuk seterusnya tidak terganggu lagi. Baik oleh Sidanti maupun oleh orang-orang lain.” “Sekar Mirah,” jawab Alap-Alap Jalatunda, “kalau aku dapat datang kemari tanpa diketahui oleh seorang pun, maka pasti tak …

Baca lebih lanjut

Buku 024 (Seri I Jilid 24)

Wuranta sendiri tidak dapat mengerti apa yang terjadi dalam dirinya. Ia sama sekali tidak berkeberatan, apa pun yang akan terjadi dengan Sekar Mirah setelah ia diselamatkan dan berada di tangan keluarganya kembali. Tak ada hubungan apa pun antara dirinya dengan gadis itu, selain peranan yang harus dilakukannya. Namun, ketika peranannya hampir selesai, terasa kenapa demikian …

Baca lebih lanjut

Buku 025 (Seri I Jilid 25)

“Bagaimana dengan Ki Tambak Wedi?” bertanya salah seorang dari mereka. “Bukankah Kiai bertempur melawannya di sini?” “Lari” jawab Ki Tanu Metir pendek. “Orang itu benar-benar licin seperti hantu. Ia berhasil menghilang dari kepungan kami, dan kini berhasil meloloskan diri dari tangan Kiai. Bagaimana dengan Sidanti dan yang seorang lagi?” “Ketiganya dapat melepaskan diri.” “Sayang,” desis para …

Baca lebih lanjut