Category Archives: Buku 041 – 050

Buku 041 (Seri I Jilid 41)

Sementara itu, Ki Tambak Wedi masih saja sibuk mencari orang yang telah mengganggunya. Tetapi seperti hantu, orang itu menghilang tanpa meninggalkan bekas apa pun. “Pasti bukan orang kebanyakan,” desisnya. Dan tiba-tiba saja diingatnya orang yang telah mengintainya, ketika ia menunggu orang-orang berkuda itu. “Kalau orang ini yang mengintai itu, maka apakah yang dapat dilakukan oleh …

Baca lebih lanjut

Buku 042 (Seri I Jilid 42)

“Silahkan. Semua serba darurat.” “Demikianlah agaknya, Ki Gede. Di peperangan semuanya harus menyesuaikan diri.” Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ini adalah anakku. Karena itu, aku tidak menyuruhnya pergi. Dalam keadaan serupa ini, lebih banyak yang diketahuinya, akan lebih baik baginya dan bagi Tanah ini.” Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Baca lebih lanjut

Buku 043 (Seri I Jilid 43)

Ki Argapati yang kemudian berdiri di depan regol itu memandangi bayangan barisan lawan di dalam gelap malam. Ia tidak dapat menduga, berapa besar pasukan lawan itu. Tetapi agaknya pasukan Ki Tambak Wedi itu pun berhenti beberapa puluh langkah di depan regol. Beberapa lama mereka mengatur gelar yang akan dipergunakan dan menempatkan orang-orang terpenting pada tempat yang …

Baca lebih lanjut

Buku 044 (Seri I Jilid 44)

“Carilah alat untuk mengangkat Ki Argapati,” desis orang tua itu. “Ia harus segera berada di dalam rumah. Aku harus mencuci lukanya dan memberikan obat baru lagi.” Seorang dari antara mereka yang melingkarinya segera pergi mencari sebuah ekrak bambu. Dilambari dengan jerami kering, maka Ki Argapati pun kemudian dibaringkannya di atas ekrak itu dan diangkat oleh …

Baca lebih lanjut

Buku 045 (Seri I Jilid 45)

Dengan darah yang bergelora mereka telah bertekad untuk merebut padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Mereka harus merebut kembali pusat pemerintahan yang selama ini telah diduduki oleh Ki Tambak Wedi. Bagaimanapun juga, agaknya tempat itu berpengaruh pula bagi rakyat Menoreh yang berada agak jauh dari padukuhan induk itu. Ki Argapati ternyata benar-benar ingin ikut pula di dalam …

Baca lebih lanjut

Buku 046 (Seri I Jilid 46)

Namun suara cambuk itu masih juga terdengar. Sekali lagi dan sekali lagi. “Persetan,” desis Ki Peda Sura. “Mungkin akulah yang nanti akan menghentikannya. Tetapi kini lebih baik menyelesaikan kelinci-kelinci bodoh ini. Begitu menyenangkan, seperti menebas batang ilalang.” Ki Peda Sura tersenyum. Sepasang senjatanya pun kemudian berputar menyambar-nyambar. Senjata Ki Peda Sura benar-benar telah menimbulkan kengerian …

Baca lebih lanjut

Buku 047 (Seri I Jilid 47)

“Aku akan menunggu sebentar. Kalau tidak segera ada pemberitahuan dari induk pasukanmu yang sedang bertempur itu, aku akan menyusul mereka. Mungkin mereka memerlukan bantuan.” Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipersilahkannya anak muda itu singgah sebentar di padukuhan itu sambil menunggu berita dari padukuhan induk tentang pertempuran untuk merebut kembali daerah yang telah dirampas oleh …

Baca lebih lanjut

Buku 048 (Seri I Jilid 48)

Pandan wangi menundukkan kepalanya. Sudah terbayang di pelupuk matanya, ayahnya membangun sebuah penjara khusus bagi pamannya Argajaya dan kakaknya Sidanti. Bangunan yang kuat, dipagari oleh papan-papan yang tebal dan deriji-deriji kayu yang besar. Sepasukan pengawal pilihan yang akan mengawasinya siang dan malam, siap dengan senjata masing-masing. “Sampai kapan?” ia berdesis di dalam hatinya. Ketika terkilas …

Baca lebih lanjut

Buku 049 (Seri I Jilid 49)

Swandaru menjadi heran melihat sikap itu. Tetapi kemudian ia pun menyadarinya pula, sehingga tiba-tiba saja sikapnya pun menjadi lain. Dengan nada yang datar ia berkata, “Mirah. Kau di sini bukan berada di rumahmu sendiri. Kau harus mencoba menyesuaikan dirimu.” Gupita melihat sikap kedua anak-anak muda yang tiba-tiba menjadi kaku itu. Karena itu, maka ia pun …

Baca lebih lanjut

Buku 050 (Seri I Jilid 50)

Wajah Swandaru menjadi merah padam. Sambil bersungut-sungut ditatapnya wajah Agung Sedayu sejenak. Ketika ia melihat Agung Sedayu masih juga tersenyum, Swandaru bergumam, “Tidak. Aku tidak sedang sakit.” Gurunya tidak segera menyahut. Kini dipandanginya wajah Agung Sedayu yang masih juga tersenyum. “Benar, Guru. Adi Swandaru sedang sakit. Tetapi yang sakit bukan badannya.” Gurunya menjadi tegang. Dengan …

Baca lebih lanjut