Category Archives: Buku 061 – 070

Buku 061 (Seri I Jilid 61)

Sambil menyeringai Kiai Telapak Jalak memutar rantainya seperti baling-baling. Tetapi cambuk Kiai Gringsing menyerangnya mendatar serendah lututnya, sehingga memaksa Kiai Telapak Jalak meloncat tinggi-tinggi. Tetapi begitu kakinya menyentuh tanah, sekali lagi ujung cambuk itu melecut lambungnya dan mengoyak bajunya. Bukan saja bajunya, tetapi juga kulitnya telah menitikkan darah. Kiai Telapak Jalak mengumpat-umpat. Tetapi umpatannya tidak …

Baca lebih lanjut

Buku 062 (Seri I Jilid 62)

“Jangan terlampau memanjakan perasaanmu. Biarkan Sedayu pergi. Memang tidak ada keharusan untuk menuntun kuda di sepanjang lorong padukuhan. Karena itu, ia melakukannya. Petugas-petugas di regol pun tidak melarangnya atau memperingatkannya.” “Persetan,” geram prajurit muda itu, “tetapi ia sudah menghina aku.” Juga akan menjawab. Tetapi kedua kawan prajurit itu berkata, “Ia menjadi kambuh lagi. Bukankah memang …

Baca lebih lanjut

Buku 063 (Seri I Jilid 63)

Masih tidak ada jawaban. Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia kini justru harus menahan kegelian yang hampir meledak, melihat dua orang anak muda yang berdiri tegak seperti tikus di dalam kubangan. “Baiklah. Terserah apa yang akan kalian lakukan. Aku akan kembali,” tetapi Untara menjadi ragu-ragu, apakah kalau keduanya ditinggalkan di tempat itu, mereka tidak akan …

Baca lebih lanjut

Buku 064 (Seri I Jilid 64)

“Bebahu Kademangan Semangkak agaknya telah mengalami kesulitan mengendalikan anak-anak mudanya. Tetapi masih juga dapat dicoba” berkata paman Wita. “Biarlah Ki Jagabaya pergi ke Semangkak.” “Aku akan ikut serta” berkata paman Wita. “Baiklah. Kalau begitu, pergilah kerumah Ki Jagabaya, dan bawalah ia ke Semangkak. Katakan bahwa kau telah menemui aku disini.”

Baca lebih lanjut

Buku 065 (Seri I Jilid 65)

Kedua anak-anak muda itu sama sekali tidak menyahut. Tetapi keduanya hanya menundukkan kepalanya saja, meskipun keduanya dapat mengerti, bahwa yang dikatakan oleh gurunya itu memang bukan sekedar persoalan yang tidak bersungguh-sungguh yang dapat sekedar didengarkannya sambil berbaring. Namun demikian keduanya tidak dapat segera menanggapinya. Tetapi Kiai Gringsing pun memang tidak memerlukan jawaban. Ia hanya sekedar …

Baca lebih lanjut

Buku 066 (Seri I Jilid 66)

Kedua murid Kiai Gringsing itu mengangguk-angguk. Meskipun agak lambat, namun alasan itu akhirnya dimengertinya pula. Rencana yang sudah mereka mengerti itulah yang sebaiknya berjalan, karena rencana yang lain tidak akan dapat mereka sadap dengan mudah, apalagi jika pernah terjadi, orang-orang mereka hilang di daerah Jati Anom. “Apakah kita akan bertindak sendiri?” bertanya Agung Sedayu tiba-tiba. …

Baca lebih lanjut

Buku 067 (Seri I Jilid 67)

Ki Ranadana seakan-akan tersadar dari mimpi buruknya. Tiba-tiba saja ia menengadahkan kepalanya. Ia adalah perwira Pajang yang mengemban tugas langsung dari Senapati di daerah Selatan ini. Karena itu, maka katanya, “Kalian harus tunduk pada perintah kami.” Orang-orang itu tidak membantah lagi. Beriringan mereka digiring ke luar pintu butulan setelah mereka meletakkan senjata mereka, sedang Swandaru …

Baca lebih lanjut

Buku 068 (Seri I Jilid 68)

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Sekilas ia memandang Ki Sumangkar. Dan jawabnya kemudian, “Tidak banyak. Hanya sekedar hadiah untuk bakal menantunya.” “O, jadi Ki Demang Sangkal Putung akan pergi ke bakal menantunya di Menoreh?” “Ya.” Penjual itu tertawa. Katanya, “Kenapa kau membuat dirimu sendiri bingung, dengan ceritera bahwa kau akan pergi ke Mataram? Mungkin kau mencoba …

Baca lebih lanjut

Buku 069 (Seri I Jilid 69)

“Aku kira, jika ada prajurit-prajurit peronda sampai ke daerah ini, maka tentu ada gardu-gardu dan tempat-tempat pengawas yang menjadi tempat peristirahatan dan pusat-pusat perondaan.” “Mungkin demikian,” Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk. “Jika demikian, kita dapat menempuh jalan yang semula akan kita lalui. Bukan jalan ini,” berkata Agung Sedayu kemudian. Tiba-tiba Swandaru mengerutkan keningnya. Sambil berpaling kepada …

Baca lebih lanjut

Buku 070 (Seri I Jilid 70)

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sekali dua kali ayahnya sudah harus menolak lamaran yang datang dari orang-orang penting di Menoreh, bahkan dari daerah tetangga. Agaknya ayahnya pun masih juga menunggu karena ia sudah pernah membicarakannya dengan Kiai Gringsing, apalagi Ki Argapati mengetahui bahwa agaknya anaknya telah bersetuju di dalam hati. Perlahan-lahan Pandan Wangi itu pun …

Baca lebih lanjut