Category Archives: Buku 071 – 080

Buku 071 (Seri I Jilid 71)

Pandan Wangi yang juga mendengar rencana Rudita itu menjadi gelisah. Tetapi ia berterima kasih di dalam hati, bahwa anak-anak muda yang lain seakan-akan tidak berkeberatan atas keputusan yang telah diambil oleh Rudita itu, sehingga dengan demikian tidak timbul persoalan yang tegang di antara mereka. Dalam pada itu Prastawa pun bertanya pula kepada Pandan Wangi karena …

Baca lebih lanjut

Buku 072 (Seri I Jilid 72)

Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia telah mencoba menerobos hutan itu, tetapi memang terlampau sulit, sehingga lebih cepat baginya untuk melingkar di sebelah hutan liar ini. Namun dengan demikian ia telah kehilangan buruannya dan justru menemukan perkemahan Pandan Wangi di pinggir hutan itu. “Memang sulit sekali,” berkata Sutawijaya, “tetapi jika aku menunggu sampai besok, maka aku …

Baca lebih lanjut

Buku 073 (Seri I Jilid 73)

Namun ketika para peronda itu berusaha menghentikan iring-iringan kuda itu, maka mereka pun berloncatan minggir, karena mereka mendengar suara Pandan Wangi yang berkuda di paling depan, “Aku. Akulah yang akan lewat. Pandan Wangi.” Seseorang sempat bertanya keras-keras, “Malam-malam begini?” “Aku dari hutan perburuan,” sahut Pandan Wangi sambil berderap menjauh. Para peronda itu menarik nafas dalam-dalam. …

Baca lebih lanjut

Buku 074 (Seri I Jilid 74)

“Tetapi tentu lawan sudah sangat lemah, dan kita tinggal menghancurkan mereka seperti memijat buah ranti.” “Kau benar. Namun segala jalan akan kita tempuh. Kau harus berusaha dapat menghadap Ki Gede Pemanahan atau orang yang dipercaya, yang dapat diyakini akan menyampaikan kabar itu kepada Ki Gede.” “Ya. Kami akan berusaha.” “Nah, berangkatlah. Saat ini Sutawijaya tentu …

Baca lebih lanjut

Buku 075 (Seri I Jilid 75)

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi. Dalam pada itu, Putut Nantang Pati duduk di atas sebuah batu sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Tubuhnya menjadi gemetar oleh getaran yang serasa menyesakkan dadanya. Di sekitarnya beberapa orang pengawalnya berjaga-jaga dengan senjata telanjang untuk melindunginya selama ia mengerahkan kemampuannya, permukaan dari ilmu yang didapatkannya …

Baca lebih lanjut

Buku 076 (Seri I Jilid 76)

Dengan demikian maka bersama di dalam satu kelompok dengan Ki Lurah Branjangan, Raden Sutawijaya berusaha untuk menahan Daksina. Meskipun Raden Sutawijaya sadar, bahwa Daksina memiliki kemampuan yang lebih baik daripada dirinya sendiri, tetapi seperti yang pernah di lakukan, Raden Sutawijaya tidak berdiri sendiri. Di pihak yang lain, Senapati pangapit Panembahan Alit tertahan oleh Ki Argapati …

Baca lebih lanjut

Buku 077 (Seri I Jilid 77)

Ki Waskita menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa beberapa orang Pengawal Panembahan Agung itu tentu bukan orang kebanyakan. Jika mereka bersama-sama menyerangnya, maka ia akan menjadi agak bingung juga. Namun ia sudah bertekad, bahwa ia harus terlibat dalam perkelahian yang kisruh sehingga Panembahan Agung akan menjadi ragu-ragu melepaskan anak panahnya, karena dengan demikian akan dapat mengenai …

Baca lebih lanjut

Buku 078 (Seri I Jilid 78)

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah menduga sebelumnya. Meskipun demikian, pengakuan Raden Sutawijaya itu telah menggetarkan dadanya. Hubungan antara Raden Sutawijaya dengan seorang gadis yang dikehendaki oleh Sultan Pajang, tentu akan menimbulkan persoalan yang sangat rumit, justru pada saat Mataram sedang tumbuh dan berkembang menjadi suatu negeri yang ramai. “Paman,” berkata Sutawijaya …

Baca lebih lanjut

Buku 079 (Seri I Jilid 79)

Dada Ki Gede Pemanahan menjadi semakin berdebar-debar. Kini ia mulai condong kepada pendapat bahwa agaknya Sultan Hadiwijaya sudah mengetahui apa yang terjadi atas putera angkatnya Raden Sutawijaya. Jika demikian, maka selama ini yang dihadapi adalah sikap yang pura-pura saja dari Sultan. Sebenarnya Sultan Pajang itu telah menyimpan kemarahan yang membara di dadanya. Namun agaknya dengan …

Baca lebih lanjut

Buku 080 (Seri I Jilid 80)

“Nah, jika kau meragukan kebenarannya, kau dapat menemui utusan itu. Ia masih hidup sampai sekarang. Orang itu tentu akan dapat mengatakan bahwa ia ditugaskan langsung oleh Kanjeng Sultan atas dasar laporan petugas sandi. Jika kau masih belum yakin, ajaklah orang itu menghadap Kanjeng Sultan, agar kau tahu pasti bahwa perintah itu datang dari Kanjeng Sultan.” …

Baca lebih lanjut