Category Archives: Buku 081 – 090

Buku 081 (Seri I Jilid 81)

Kiai Gringsing memandang Ki Sumangkar sejenak. Seolah-olah ia minta pertimbangannya. Tetapi Ki Sumangkar tidak memberikan tanggapan apa pun juga. Bahkan orang tua itu sedang menundukkan kepalanya sambil merenungi persoalan yang sedang berlaku itu. Ki Demang Sangkal Putung sama sekali tidak dapat memberikan kesan yang dapat dipertimbangkan. Bahkan ia sendiri bingung menghadapi keadaan itu. Sehingga karena …

Baca lebih lanjut

Buku 082 (Seri I Jilid 82)

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Tetapi terasa sebuah getaran yang aneh telah mengguncangkan dinding jantungnya. Ki Waskita-lah yang kemudian berkata, “Tetapi semuanya itu masih harus dijelaskan. Dan agaknya Kiai Gringsing akan dapat menjelaskannya.” Kiai Gringsing memandang Ki Waskita sejenak. Kemudian ia pun justru bertanya, “Ki Waskita, apakah aku harus mulai dengan Empu Windujati sebelum sampai …

Baca lebih lanjut

Buku 083 (Seri I Jilid 83)

Ki Waskita tidak menyahut. “Memang terlalu sekali. Mereka sama sekali tidak menghormati perjalananku untuk menyampaikan kabar wafatnya Ki Gede Pemanahan. Setiap orang berhak membenci aku, dan bahkan berusaha untuk mencelakai aku sekalipun. Tetapi tidak dalam keadaan seperti sekarang ini.” “Ki Juru,” berkata Ki Waskita, ”tetapi agaknya hal itu akan terjadi di hadapan kita sekarang ini.” …

Baca lebih lanjut

Buku 084 (Seri I Jilid 84)

“Gila!” Sorohpati menggeram. Kemudian katanya di dalam hati, “Sesudah Kangjeng Kiai Pleret, kini Kangjeng Kiai Mendung. Apakah artinya ini semua? Apakah sebenarnya Kangjeng Sultan di Pajang sudah mengetahui bahwa kekuasaan Pajang akan berpindah ke Mataram?” Sejenak Sorohpati berdiam diri. Kemudian seperti orang terbangun dari mimpinya, ia melihat dua orang lewat beberapa langkah di hadapannya. “Pergilah!” …

Baca lebih lanjut

Buku 085 (Seri I Jilid 85)

Terbayang sebuah ngarai yang luas berbatasan gunung-gunung padas yang ditumbuhi batang-batang perdu. Di kaki pegunungan itu terbentang sebuah hutan yag besar, panjang dan lebat. Tetapi Nyai Demang menggelengkan kepalanya. Katanya kepada diri sendiri, “Tentu gambaranku keliru. Bukit-bukit itu panjang membujur ke Utara. Ah entahlah.” Sekilas terbayang gunung Merapi yang megah, berjajar dengan gunung Merbabu, bagaikan …

Baca lebih lanjut

Buku 086 (Seri I Jilid 86)

Pembicaraan mereka pun kemudian dengan lancar merambat kepada berbagai macam persoalan. Kiai Gringsing sengaja tidak dengan tergesa-gesa menyampaikan pesan-pesan dari Ki Demang Sangkal Putung. Agaknya Ki Argapati tentu akan mengumpulkan beberapa orang tua-tua di Tanah Perdikan Menoreh dan membicarakannya sama sekali. Karena itu, maka Kiai Gringsing pun menunggu apabila saatnya telah datang. Seperti yang diduga, …

Baca lebih lanjut

Buku 087 (Seri I Jilid 87)

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing pun sadar, bahwa ia dan kedua kawannya itu pun telah terlibat terlampau jauh seperti saat ia terlibat dalam perang yang terjadi di Sangkal Putung. “Saat itu aku memang memilih Pajang,” bertata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “tetapi Pajang tidak memberikan harapan apa pun juga kepada bumi ini di kemudian …

Baca lebih lanjut

Buku 088 (Seri I Jilid 88)

Kiai Kalasa Sawit memperhatikan kuda-kuda yang berderap meninggalkan halaman rumah yang kotor itu. Demikian kuda-kuda itu lenyap di balik regol, maka ia pun segera memanggil orang-orang yang paling dekat dengan dirinya sambil menghentakkan kakinya, “Gila. Siapakah yang membawa prajurit-prajurit itu kemari?” Seorang yang bertubuh kurus sambil menyandang sebuah canggah bertangkai pendek di bahunya menyahut, “Bukankah …

Baca lebih lanjut

Buku 089 (Seri I Jilid 89)

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, ya Ki Sanak. Aku menyadari kekeliruan itu. Aku akan sangat memperhatikannya dan akan aku sampaikan kelak kepada prajurit Pajang yang masih sering datang untuk memberi bimbingan olah kanuragan.” “Mudah-mudahan tidak menimbulkan salah paham,” berkata Kiai Gringsing kemudian. “Aku akan berusaha,” jawab Ki Demang bersungguh-sungguh.

Baca lebih lanjut

Buku 090 (Seri I Jilid 90)

Tiba-tiba saja Kiai Kalasa Sawit menggeram. Kemarahan yang ditekannya di dalam dadanya, rasa-rasanya tidak tertahankan lagi, sehingga ia tidak dapat mengekang ledakan yang dahsyat. Semua orang Tambak Wedi terkejut, ketika mereka kemudian mendengar Kiai Kalasa Sawit berteriak nyaring. Seperti teriakan seekor orang hutan di tengah-tengah rimba setelah berhasil membunuh lawannya. Dengan serta-merta Kiai Kalasa Sawit …

Baca lebih lanjut