Category Archives: Buku 091 – 100

Buku 091 (Seri I Jilid 91)

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka nampaklah berapa tanda bahwa prajurit Pajang akan dapat menguasai keadaan. Kiai Kalasa Sawit yang bertempur melawan Ki Sumangkar, ternyata sama sekali tidak dapat berbuat lain, kecuali memusatkan perhatiannya kepada lawannya itu. Sementara itu, Kiai Jalawaja dan seorang pengawalnya telah terkurung di dalam lingkaran gelar Cakra Byuha, dan harus menghadapi …

Baca lebih lanjut

Buku 092 (Seri I Jilid 92)

Ki Waskita tersenyum. Katanya, ”Itu memang lebih baik. Tetapi aku kira, aku akan dapat mendahuluinya, karena kebetulan aku mempunyai kepentingan yang lain.” Swandaru memandang gurunya sekilas. Namun ia pun menyadari bahwa ia tidak akan dapat mencegahnya jika memang itu dikehendaki oleh Ki Waskita. Dalam pada itu, maka Ki Waskita pun berkata, ”Karena itu, jika Kiai …

Baca lebih lanjut

Buku 093 (Seri I Jilid 93)

Ki Waskita tidak dapat berbuat lain kecuali menarik kekang kudanya dan berhenti beberapa langkah di hadapan orang berkuda yang telah lebih dahulu berhenti itu. “Apakah ada sesuatu yang terjadi, Ki Sanak?” bertanya Ki Waskita kepada orang yang belum dikenalnya itu. Orang itu memandang Ki Waskita dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Tentu, Ki Sanak. Mungkin kita memang …

Baca lebih lanjut

Buku 094 (Seri I Jilid 94)

Setiap kali mereka melihat gardu parondan, Ki Waskita mengangguk-angguk sambil bergumam, “Bukan main. Ini adalah gambaran dari kekuatan Tanah Perdikan Menoreh yang sebenarnya. Apalagi agaknya mereka bukan saja anak-anak muda yang hanya pandai menggenggam cangkul dan bajak. Tetapi juga anak-anak muda yang pandai memegang pedang.” Ki Argapati mengangguk-angguk pula. Jawabnya, “Peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas …

Baca lebih lanjut

Buku 095 (Seri I Jilid 95)

Gandu Demung mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya. Ya. Maksudku memang demikian. Hubunganku dengan Ki Bajang Garing seperti yang sudah aku katakan, hendaknya menjadi pertimbangan. Selain itu, barangkali Ayah dapat menunjuk kelompok yang lain yang memadai, sebagai kelompok ke tiga.” “Kau belum melihat kekuatan yang sebenarnya dari kelompok kita, kelompok Ki Bajang Garing, dan kelompok-kelompok yang lain,” …

Baca lebih lanjut

Buku 096 (Seri I Jilid 96)

Ketika pada suatu saat perempuan yang menungguinya keluar juga sesaat, terasa kesepian telah mencengkam hatinya di dalam keributan persiapan perelatan perkawinannya besok di luar biliknya. Bahkan dalam kilasan angan-angannya, terbayang wajah ibunya yang cantik, tetapi muram. Sepercik noda telah melekat pada wajah itu, dengan hadirnya dua orang laki laki di dalam hatinya. Laki-laki yang menurunkan …

Baca lebih lanjut

Buku 097 (Seri I Jilid 97)

Berbagai dugaan telah timbul di antara mereka yang berpapasan dengan iring-iringan yang cukup panjang dan terbagi dalam kelompok-kelompok yang satu dengan lainnya terpisah meskipun hanya beberapa langkah, tetapi di bagian belakang, jarak antara kelompok yang satu dengan yang lain sama sekali tidak teratur. Ada yang panjang, tetapi ada yang hampir bergabung. Tetapi, kelompok kecil itu …

Baca lebih lanjut

Buku 098 (Seri I Jilid 98)

Dalam pada itu, Gandu Demung pun telah bersiap pula menghadapi cambuk Swandaru. Seolah-olah ia ingin melihat setiap wajah yang berada di sekitar arena itu. “Bagus,” berkata Gandu Demung kepada orang-orang yang berkerumun itu, “aku sadar bahwa aku akan mati. Tetapi sebelumnya kalian akan menyaksikan bagaimana aku mencincang pengantin baru ini sebelum kalian beramai-ramai menguliti tubuhku.” …

Baca lebih lanjut

Buku 099 (Seri I Jilid 99)

Para prajurit dari Pajang itu masih tetap tegang. Namun pemimpinnya kemudian berkata, “Marilah, kami akan mengawasi perjalanan kalian karena kalian berada di dalam wilayah kekuasaan Pajang.” Terdengar seorang pengawal menggeretakkan giginya. Tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Para pengawal itu pun kemudian meneruskan perjalanan mereka. Di belakang mereka sekelompok prajurit Pajang mengikutinya pada jarak yang …

Baca lebih lanjut

Buku 100 (Seri I Jilid 100)

Tetapi Agung Sedayu sudah bersiap menghadapinya. Dengan serta-merta, sebuah ledakan yang dahsyat telah mengejutkan kedua orang lawannya. Ledakan itu terdengar jauh lebih menggetarkan daripada ledakan-ledakan yang didengarnya sebelumnya. Dalam keragu-raguan itu, Agung Sedayu-lah yang kemudian menyerang lawannya dengan ujung cambuknya. Ledakan yang mengejutkan itu disusul pula oleh ledakan lain, yang langsung menyerang lawannya. Tetapi ternyata, …

Baca lebih lanjut