Category Archives: Buku 101 – 110

Buku 101 (Seri II Jilid 1)

Sebuah padepokan kecil akan lahir disebelah Kademangan Jati Anom. Diatas sebuah pategalan yang sudah ditumbuhi dengan berbagai macam pohon buah-buan, akan dibangun kelengkapan dari sebuah padepokan betapapun kecilnya. Sebuah rumah induk dengan pendapa dan bagian-bagian yang lain, sebuah tempat ibadah, klolam dan sebuah kandang kuda. Dibagian belakang akan terdapat beberapa buah rumah kecil yang akan …

Baca lebih lanjut

Buku 102 (Seri II Jilid 2)

Orang-orang yang membuat lingkaran disekitar arena itu termangu-mangu sejenak. Mereka bagaikan dicengkam oleh peristiwa yang hampir diluar nalar. Ledakan cambuk Swandaru telah mengenai punggung harimau yang menerkamnya dan karah-karah besi baja dan kepingan-kepingan baja yang melingkar diantaranya ternyata telah berhasil menyobek kulit harimau itu, sehingga luka yang panjang telah menganga dipunggungnya. Ketika darah mulai mengalir …

Baca lebih lanjut

Buku 103 (Seri II Jilid 3)

Orang-orang yang berada didalam sanggar itupun menjadi tegang. Mereka mulai membayangkan apa yang bakal terjadi. Kedua anak muda itu adalah anak-anak muda yang memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga apabila keduanya tenggelam dalam arus perasaan yang tidak terkendali, maka akan terjadi perang tanding yang sangat dahsyat didalam sanggar itu. Tetapi didalam sanggar itu ada orang-orang tua …

Baca lebih lanjut

Buku 104 (Seri II Jilid 4)

“Jika gelora didalam dadanya itu mendapat pengarahan yang tepat, maka gairah yang menyala-nyala didalam dada Swandaru itu akan dapat menghasilkan sesuatu yang besar bagi Kademangannya. Tetapi jika sekedar didorong keinginannya sendiri,“ berkata Sumangkar didalam hatiya. Karena itulah, maka setelah berbincang dengan Ki Demang, ia memutuskan untuk pergi ke padepokan kecil Kiai Gringsing didekat Jati Anom. …

Baca lebih lanjut

Buku 105 (Seri II Jilid 5)

“Jika tidak? Ternyata keempat orang perwira itu belum kita kenal sama sekali.“ desis Agung Sedayu. “Tentu agak aneh.” “Apakah mungkin karena sesuatu hal Pajang mengirimkan langsung prajurit-prajurit kedaerah ini?,“ bertanya Agung Sedayu. “Menurut pertimbanganku, itu tidak mungkin. Mereka tinggal memerintahkan saja kepada Untara seandainya mereka mendapat suatu keterangan tentang kejahatan atau semacamnya didaerah ini. Sebanyak-banyaknya …

Baca lebih lanjut

Buku 106 (Seri II Jilid 6)

Ki Argapati termangu-mangu. Sementara Agung Sedayu bertanya, “Tetapi Ki Waskita akan pergi seorang diri tanpa kawan diperjalanan.” Ki Waskita tersenyum. Jawabnya, “Jalan rasa-rasanya menjadi semakin aman.” Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh itu memang memerlukan seorang kawan untuk mempersiapkan pasukannya.

Baca lebih lanjut

Buku 107 (Seri II Jilid 7)

Perintah itupun segera menjalar kepada setiap pemimpin kelompok dan prajurit, meskipun mereka tidak mengetahui alasannya dengan pasti. Namun perintah itupun disusul oleh perintah Swandaru kepada pasukannya, bahwa mereka tidak hanya sekedar menunggu di mulut lembah. Mereka akan mengikuti gerak pasukan Mataram. Jika benar-benar diperlukan, maka mereka akan langsung terlibat kedalam pertempuran.“ Sementara itu, tiga orang …

Baca lebih lanjut

Buku 108 (Seri II Jilid 8)

Sesaat Ki Gede Telengan memusatkan segenap kemampuan ilmu dan kekuatannya pada sorot matanya. Dengan tangan yang tersilang, ia berdiri tegak. Dipandanginya Agung Sedayu yang sedang berusaha memperbaiki keadaannya setelah pisau-pisau yang menyambarnya lewat. Namun tiba tiba terasa seakan-akan urat-urat darahnya bagaikan tersumbat didadanya. Seakan-akan batu sebesar bukit telah menindihnya. Bukan saja darahnya yang berhenti mengalir, …

Baca lebih lanjut

Buku 109 (Seri II Jilid 9)

Ki Gede Menoreh benar-benar berada dalam kesulitan. Seakan-akan ia hanya berkesempatan menahan dan menangkis serangan lawannya. Tetapi ia sendiri tidak sempat menyerang, karena dengan licik Ki Tumenggung Wanakerti selalu menjahuinya. Ki Gede Menoreh tidak mau memaksa diri untuk meloncat menyerang. Ia tidak mau menanggung akibat yang parah karena kakinya. Sehingga dengan demikian maka ia lebih …

Baca lebih lanjut

Buku 110 (Seri II Jilid 10)

Di bagian lain dari sayap itu, Ki Waskita telah berhasil mengatasi kusulitan yang paling gawat. Iapun telah berhasil menekan lawannya yang mulai lelah. Lawannya yang bertubuh dan berkekuatan raksasa itu, ternyata sulit untuk mengimbangi Ki Waskita. Bukan saja ketangkasan dan kecepatan bergerak, tetapi ternyata Ki Waskita memiliki kelebihan daya tahan seperti halnya Kiai Gringsing. Dengan …

Baca lebih lanjut