Category Archives: Buku 111 – 120

Buku 111 (Seri II Jilid 11)

Kendil Wesi pun kemudian kembali kedalam rumahnya yang juga berada dihalaman bagian belakang istana Pajang. Sejenak ia merenung, bagaimana caranya ia dapat keluar dengan seekor kuda. “Tetapi aku harus melakukannya,“ gumamnya. Dengan sangat hati-hati, iapun kemudian pergi kekandang dibelakang rumahnya. Gelapnya malam ternyata banyak imembantunya. Apalagi para prajurit yang tidak lagi bekerja dengan sungguh-sungguh di Pajang, …

Baca lebih lanjut

Buku 112 (Seri II Jilid 12)

Demikianlah maka Agung Sedayupun kemudian menghadap Ki Gede Menoreh ketika ia berada kembali di rumah Ki Gede itu. Rasa-rasanya ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi, meskipun hanya semalam. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika Prastawapun kemudian hadir pula menemuinya dipendapa. Sekaligus Agung Sedayu sempat memandang wajah anakmuda yang buram itu. Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak …

Baca lebih lanjut

Buku 113 (Seri II Jilid 13)

Agung Sedayu masih termangu-mangu. Tetapi ia tidak sampai hati melihat para pengawal mengalami kesulitan. Dan hampir diluar sadarnya ia telah mengangkat cambuknya kembali. Sekali lagi terdengar cambuk Agung Sedayu meledak. Meskipun Agung Sedayu tidak mengenai seorangpun dari ketiga orang lawannya, namun suara cambuknya telah mengejutkan mereka. Sejenak mereka bagaikan kehilangan pengamatan diri oleh getaran didalam …

Baca lebih lanjut

Buku 114 (Seri II Jilid 14)

Pengawal itupun bergeser surut. Sejenak ia hilang diluar pintu paseban dalam. Namun kemudian ia nampak kembali bersama seorang anak muda. Agung Sedayu. Wajah Untara benar-benar menjadi tegang. Ketika Agung Sedayu bergeser sambil berjongkok setapak demi setapak, rasa-rasanya anak itu menjadi sangat lamban. Hampir saja ia berteriak agar adiknya itu bersikap sedikit cepat. Ketika Agung Sedayu …

Baca lebih lanjut

Buku 115 (Seri II Jilid 15)

Dalam pada itu, para petani yang meninggalkan Agung Sedayu itu pun telah memasuki halaman kademangan. Dengan wajah yang merah padam, mereka memaksa para pengawal yang menahan mereka, untuk dapat bertemu dengan Ki Demang. “Ada persoalan apa?” bertanya para pengawal. “Persoalan penting. Persoalan yang akan kami laporkan langsung kepada Ki Demang.” “Tetapi masih banyak tamu di …

Baca lebih lanjut