Category Archives: Buku 121 – 130

Buku 121 (Seri II Jilid 21)

Orang berkumis itu telah menyerang lawannya dengan garang. Ternyata Perguruan Pesisir Endut telah membentuknya menjadi seorang yang memiliki kekuatan yang besar dan kecepatan bergerak yang mengagumkan. Apalagi mereka tidak lagi mempunyai perasaan belas kasihan sedikitpun juga, seperti juga kedua kakak beradik yang dengan garangnya telah berusaha membunuh Glagah Putih tanpa belas kasihan. Para pengikut Sabungsari …

Baca lebih lanjut

Buku 122 (Seri II Jilid 22)

Sabungsari memandang dua buah batu yang memang hampir sama besar. Tetapi ia tidak tahu, bagaimanakah Agung Sedayu akan mengangkat batu yang besarnya sebesar kepala gajah itu. Sabungsari menjadi semakin heran, ketika ia melihat Agung Sedayu kemudian duduk di atas sebuah batu yang lain. Menyilangkan tangannya sambil berkata, ”Berilah aku waktu. Aku yakin, bahwa kita tidak …

Baca lebih lanjut

Buku 123 (Seri II Jilid 23)

Seorang anak muda yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan, yang agaknya pemimpin pasukan pengawal padukuhan itu, maju ke depan regol. Di bawah cahaya lampu obor ia memperhatikan kelima orang prajurit yang berdiri termangu-mangu di luar regol padukuhan. “Apakah aku berhadapan dengan prajurit Pajang di jati Anom?” bertanya anak muda yang bertubuh tinggi itu. “Ya. Kami adalah …

Baca lebih lanjut

Buku 124 (Seri II Jilid 24)

“Apapun yang akan kau lakukan terhadap Untara, Agung Sedayu maupun Swandaru bukanlah urusanku. Bunuhlah aku yang pertama-tama. Aku menuntut kematian sahabatku.” “Siapakah sahabatmu?” bertanya Carang Waja. “Aku tidak perlu menyebutnya. Sudah terlalu banyak orang yang kau bunuh. Karena itu, kau tentu tidak akan dapat mengingatnya lagi.” Carang Waja menggeram. Sementara Sabungsari telah melangkah mendekatinya. “Jika …

Baca lebih lanjut

Buku 125 (Seri II Jilid 25)

“Bukankah kalian pernah melakukannya bagi Senapati Ing Ngalaga, yang mempunyai kedudukan yang hampir sama? Raden Sutawijaya itu pun putra Sultan di Pajang, meskipun putra angkatnya.” “Tetapi ia sangat baik dan seolah-olah tidak ada jarak dengan kami,” berkata salah seorang gadis. “Demikian pula Pangeran Benawa,” sahut Agung Sedayu, “tetapi kalian memang lebih dekat dan sudah pernah melayankan …

Baca lebih lanjut

Buku 126 (Seri II Jilid 26)

Namun agaknya kedua orang anak muda itu tidak akan berselisih. Nampaknya keduanya tidak salah paham dan tidak dibatasi oleh perasaan yang buram. Keduanya nampak berbicara dengan akrab dan ramah. Sekali-sekali terdengar keduanya tertawa. Adipati Partaningrat masih saja bersungut-sungut. Ia benar-benar kecewa karena kedatangan Pangeran Benawa. Meskipun ia sadar, bahwa ia berada di Mataram, berada di …

Baca lebih lanjut

Buku 127 (Seri II Jilid 27)

“Jangan memperkecil diri sendiri. Jika kau berusaha untuk meningkatkan ilmu adalah suatu usaha yang baik. Tetapi jika kau kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri, maka usahamu sebagian telah gagal,” berkata Agung Sedayu. Glagah Putih mencoba mengerti keterangan kakaknya. Karena itu, ia tidak kehilangan gairah yang menyala di dalam hatinya untuk berlatih. “Tetapi kau jangan merasa bahwa …

Baca lebih lanjut

Buku 128 (Seri II Jilid 28)

Dada Agung Sedayu berdebar, ketika ia melihat tangan itu bergerak. Seperti yang diduganya, sebuah cakram telah meluncur mengarah ke keningnya. Karena itu, maka dengan tangkasnya pula, ia menggerakkan cambuknya tepat menghantam cakram yang meluncur ke arahnya, sehingga cakram itu terlempar ke samping. Tetapi sekejap kemudian cakram berikutnya telah menyusul. Agung Sedayu masih sempat menghantam cakram …

Baca lebih lanjut

Buku 129 (Seri II Jilid 29)

Terdengar prajurit itu tertawa tinggi. Jawabnya, “Selama ini aku percaya kepada setiap kata-katamu, Ki Untara. Tetapi kali ini aku lebih senang melepaskan diri dari tanganmu. Aku tahu siapakah kau dan aku tahu sikap dan tindakanmu terhadap bawahanmu. Kau kira aku akan dapat kau tangkap dan kau perlakukan sebagai seorang pengkhianat, dengan alasan-alasan apa pun juga …

Baca lebih lanjut

Buku 130 (Seri II Jilid 30)

“Kiai Gringsing selalu menghalangi. Kiai Gringsing berkeberatan, jika anak yang sedang dalam tingkat pertama dari penyembuhannya itu harus mengalami ketegangan jiwa,” sahut Untara. “Apakah serba sedikit kita tidak akan dapat mendengar keterangannya, yang paling sederhana sekalipun?” bertanya seorang perwira yang lain. Untara menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak ingin menjadi sasaran penyesalan jika terjadi sesuatu pada anak …

Baca lebih lanjut